mataram kuno
By arwahx.blogspot. com at Mei 10, 2023
mataram kuno
Kerajaan Mataram Kuno
Wangsa Sailendra
1. Asal usul Wangsa Sailendra.
Istilah Sailendrawangsa dijumpai pertama kali di dalam prasasti
Kalasan tahun 700 Saka(778M). 1 Kemudian istilah itu muncul pula di
dalam prasasti dari desa Kelurak tahun 704 Saka (782 M). di dalam
prasasti Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka tahun 714 Saka (792 M),
dan di dalam prasasti Kayumwungan tahun 746 Saka (824 M), Yang
amat menarik perhatian ialah bahwa istilah Sailendrawangsa itu muncul
pula di luar Jawa, yaitu di dalam prasasti Ligor B 5 , Nalanda, dan Leiden.
Prasasti – prasasti ini semuanya memakai bahasa
Sanskerta, dan tiga diantaranya – kecuali prasasti Kayumwungan –
memakai huruf siddham, bukan huruf Pallawa atau huruf Jawa Kuno
sebagaimana umumnya prasasti – prasasti di Jawa. Kenyataan ini
ditambah dengan kenyataan bahwa ada beberapa nama wangsa di India
dan daratan Asia Tenggara yang sama artinya dengan Sailendra, yaitu
raja gunung, menimbulkan pelbagai teori tentang asal usul wangsa
Sailendra di Jawa itu. R.C. Majumdar beranggapan bahwa wangsa
Sailendra di Indonesia, baik yang di Jawa maupun yang di Sriwijaya,
berasal dari Kalingga di India Selatan. G. Coedes lebih condong
kepada anggapan bahwa wangsa Sailendra itu berasal dari Fu-nan atau
Kamboja. Menurut pendapatnya ejaan Fu-nan dalam berita Cina itu
berasal dari kata Khmer kuno vnam atau bnam yang berarti gunung;
dalam bahasa Khmer sekarang phnom. Raja – raja Fu-nan disebut
parwatabhupala, yang berarti raja gunung sama dengan kata Sailendra.
Setelah kerajaan Fu-nan itu runtuh sekitar tahun 620 M, ada anggota
wangsa raja – raja Fu-nan itu yang menyingkir ke Jawa, dan muncul
sebagai penguasa di sini pada pertengahan abad VIII M, dengan
memakai nama wangsa Sailendra.
J. Przyluski menunjukkan bahwa argumentasi Coedes itu didasarkan
atas tafsiran yang meragukan dari data bait di dalam prasasti Kuk Prah
Kot, yang menurut Coedes merupakan petunjuk bahwa raja – raja
Sailendra di Jawa menganggap dirinya keturunan wangsa Sailendra Fu-
nan. Menurut Przyluski istilah wangsa Sailendra itu menunjukkan bahwa
raja – raja itu menganggap dirinya berasal dari Sailendra yang berarti raja
gunung, dan merupakan sebutan bagi Siwa = Girisa. Dengan perkataan
lain, raja – raja wangsa Sailendra di Jawa itu tentu menganggap
leluhurnya ada di atas gunung. Hal ini merupakan petunjuk baginya
bahwa istilah Sailendra itu asli Indonesia.
Pendapat – pendapat ini di atas telah dibahas oleh Nilakanta
Sastri, dan ia sendiri mengajukan pendapat bahwa wangsa Sailendra di
Jawa itu berasal dari daerah Pandya di India Selatan. 9 Akhirnya, J.L.
Moens, dalam salah satu karangannya yang menarik perhatian,
mengemukakan pendapat bahwa wangsa Sailendra itu dari India Selatan,
yang semula berkuasa di sekitar Palembang, tetapi pada tahun 683 M
melarikan diri ke Jawa karena serangan dari Sriwijaya dari Semenanjung
Tanah Melayu. .
Di antara pendapat – pendapat diatas yang kemudian banyak dianut
ialah pendapat G. Coedes, lebih – lebih setelah J.G. de Carparis dapat
menemukan istilah Waranaradhirajaraja di dalam prasasti candi Plaosan
Lor, juga prasasti Kelurak, dan ia mengidentifikasikan Waranara itu
dengan Narawaranagara atau Na-fu-na di dalam berita – berita Cina, yaitu
pusat kerajaan Fu-nan setelah berpindah dari Wyadhapura atau T’e-mu
setelah mendapat serangan dari Chen-la dibawah pimpinan
Bhawawarman dan Citrasena pada pertengahan kedua abad VI M.
Selanjutnya de Casparis mengatakan bahwa setelah pindah ke Na-fu-na
yang biasa dilokasikan di dekat Angkor Borei ada di antara raja – raja itu
yang pergi ke Jawa dan keturunan – keturunannya. Jadi, menurut de
Casparis, di Jawa mula – mula berkuasa wangsa raja – raja yang
beragama Siwa, tetapi setelah kedatangan raja dari Na-fu-na itu yang
berhasil menaklukannya, di Jawa Tengah terdapat dua wangsa raja –
raja, yaitu raja – raja dari wangsa yang beragama Siwa, dan para
pendatang baru itu, yang kemudian menamakan dirinya wangsa
Sailendra, yang beragama Buddha. Pendapat de Casparis ini diilhami
oleh F.H. van Naerssen, yang melihat bahwa di dalam prasasti Kalasan
tahun 778 M, yang berbahasa Sanskerta ada dua pihak, yaitu pihak raja
wangsa Sailendra, yang hanya disebut sebagai Permata wangsa
Sailendra tanpa nama, dan Rakai Panangkaran, raja bawahannya dari
wangsa Sanjaya.
Selanjutnya de Casparis mencoba mengadakan rekonstruksi jalannya
sejarah kerajaan Mataram sampai dengan pertengahan abad IX M
dengan landasan anggapan bahwa sejak pertengahan abad VIII M ada
dua wangsa raja – raja yang berkuasa, yaitu wangsa Sailendra yang
berasal dari Fu-nan, dan penganut agama Buddha Mahayana, yang
berhasil menaklukkan raja – raja dari wangsa Sanjaya yang beragama
Siwa. Raja – raja wangsa Sanjaya itu, sejak Rakai Panangkaran hanya
berkuasa sebagai raja bawahan, dan dalam beberapa kesempatan
pembangunan candi – candi membantu raja wangsa Sailendra dengan
memberikan tanah – tanah sebagai sima bagi candi – candi itu.
Pendapat de Casparis ini dikembangkan lagi oleh F.D.K. Bosch, dengan
perubahan – perubahan di sana – sini.
Pendapat bahwa wangsa Sailendra itu berasal dari luar Indonesia
(India atau Kamboja) ditentang oleh R.Ng. Poerbatjaraka. Ia merasa amat
tersinggung membaca teori – teori ini, seolah – olah bangsa
Indonesia ini sejak dahulu kala hanyalah mampu untuk diperintah oleh
bangsa asing.
Menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan – keturunannya itu ialah
raja – raja dari wangsa Sailendra, asli Indonesia, yang semula menganut
agama Siwa, tetapi sejak Rakai Panangkaran berpindah agama menjadi
penganut agama Buddha Mahayana. Sebagai salah satu alasan ia
menunjuk kepada kitab Carita Parahyangan, yang antara lain memuat
keterangan bahwa Rahyang Sanjaya telah menganjurkan anaknya
Rahyangta Panaraban, untuk meninggalkan agama yang dianutnya,
karena ia ditakuti oleh semua orang. nama Rahyangta Panaraban
diidentifikasikannya dengan Rakai Panangkaran.
Penemuan prasasti batu berbahasa Melayu Kuno di desa Sojomerto,
Kabupaten Pekalongan, dan sebuah prasasti batu berbahasa Sanskerta
yang tidak diketahui dengan jelas asalnya 16 dan kini tersimpan di
Museum Adam Malik, mungkin sekali memperkuat anggapan
Poerbatjaraka. Prasasti dari Sojomerto itu menyebutkan Dapunta
Selendra, nama ayah dan ibunya, yaitu Santanu dan Bhadrawati, dan
istrinya yang bernama Sampula. Masih ada tokoh lagi yang disebut di
dalam prasasti yang sayang sekali namanya tidak terbaca seluruhnya.
Demikian pula istilah yang menunjukkan hubungan antara tokoh ini
dengan Dapunta Selendra tidak terbaca seluruhnya. Tokoh ini diberi
predikat Hyang, jadi mungkin sekali tokoh yang telah diperdewakan, dan
dianggap sebagai leluhur Dapunta Selendra.
Sebagaimana Isanawangsa berpangkal kepada Pu Sindok yang
bergelar Sri Isanawikramadharmmottunggadewa dan Rajasawangsa
berpangkal kepada Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa tentunya
Sailendra wangsa berpangkal kepada seorang leluhur yang gelarnya
mengandung unsur Sailendra. Di dalam prasasti Sojomerto itu dijumpai
nama Dapunta Selendra, yang jelas merupakan ejaan Indonesia dari kata
Sanskerta Sailendra. Sesuai dengan asal usul nama – nama wangsa
yang lain itu dapatlah disini disimpulkan bahwa wangsa Sailendra itu
berpangkal kepada Dapunta Selendra. Kenyataan bahwa ia
memakai bahasa Melayu Kuno di dalam prasastinya menunjukkan
bahwa ia seorang Indonesia asli, mungkin sekali berasal dari Sumatra.
karena di Sumatralah dijumpai lebih banyak prasasti berbahasa Melayu kuno.
Dari prasasti Sojomerto itu jelas bahwa Dapunta Selendra ialah
penganut agama Siwa. Kapan dan apa sebabnya raja – raja wangsa
Sailendra itu mulai menganut agama Buddha mungkin dapat diketahui
dari prasasti milik Bapak Adam Malik, yang untuk sementara disebut
dengan nama Sangkhara. Prasasti ini berbahasa Sanskerta, tetapi
sayang yang diketemukan kembali hanya bagian akhirnya. Rupa –
rupanya prasasti ini dituliskan di atas dua batu, tetapi batu yang pertama
yang memuat permulaan prasasti tidak ada. Dengan demikian, tidak
diketahui kapan prasasti ini dikeluarkan kalaupun ada angka tahunnya.
Melihat bagian belakang prasasti yang tidak rata, dan ada bagian yang
merupakan tonjolan, rupa – rupanya prasasti ini dahulu ditempatkan
dalam suatu bangunan.
Bagian yang tersisa berisi keterangan bahwa pada suatu ketika ayah
raja Sangkhara jatuh sakit, dan selama delapan hari ia sangat menderita
karena panas yang membakar. Akhirnya ia meninggal tanpa dapat
disembuhkan oleh pendeta gurunya. Oleh karena itu, raja Sangkhara
merasa takut kepada sang guru yang dianggapnya tidak benar, dan ia lalu
meninggalkan kebaktian kepada Sangkhara (Dewa Siwa). Bagian
penutup prasasti memang membayangkan bahwa raja Sangkhara itu
kemudian menjadi penganut agama Buddha, karena antara lain dikatakan
bahwa ia telah memberikam anugerah kepada bhiksusnggha.
Kalau tafsiran itu benar, di sini dijumpai suatu sumber prasasti yang
memberikan keterangan tentang perpindahan agama dari agama Siwa ke
agama Buddha, dan raja yang berpindah agama itu ialah raja Sangkhara
yang hingga kini belum pernah ditemui namanya di dalam sumber –
sumber yang telah dikenal sebelumnya.
Prasasti ini tidak lengkap hingga tidak diketahui angka tahunnya. Akan
tetapi, dari segi paleografi dapat diperkirakan bahwa prasasti ini berasal
dari pertengahan abad VIII M. Mungkin sekali ini merupakan bukti
epigrafis dari teori Poerbatjaraka yang didasarkan atas keterangan di
dalam kitab Carita Parahyangan. Dengan perkataan lain, mungkin sekali
pendapat Poerbatjaraka mengenai asal usul wangsa Sailendra benar,
yaitu bahwa mereka itu orang Indonesia asli, dan bahwa hanya ada satu
wangsa, wangsa Sailendra, yang anggota – anggotanya semula
menganut agama Siwa. Akan tetapi, sejak pemerintahan Rakai
Panangkaran menjadi penganut agama Buddha Mahayana, untuk
kemudian pindah lagi menjadi penganut agama Siwa sejak pemerintahan
Rakai Pikatan.
2. Ho-ling dan Kanjuruhan
Munculnya wangsa Sailendra itu bersamaan dengan perubahan
dalam penyebutan Jawa didalam berita – berita Cina. Kalau sebelumnya,
yaitu dalam abad V M, berita – berita Cina dari zaman dinasti Sung Awal
(420 – 470 M) menyebut Jawa dengan She-p’o, berita – berita Cina dari
zaman dinasti Tang (618 – 906 M) menyebut Jawa dengan sebutan Ho-
ling sampai tahun 818 M. untuk kemudian berubah lagi menjadi She-p’o
mulai tahun 820 M sampai tahun 856 M. Seperti telah dikatakan,
prasasti Sojomerto itu mungkin sekali berasal dari pertengahan abad VII
M, dan berita Cina yang pertama menyebut Ho-ling berasal dari tahun 640
M. Berita – berita dari zaman dinasti Tang ada dua versi, yaitu Ch’iu-T’ang
shu dan Hsin T’ang shu (618 – 906 M). Berita tentang Ho-ling antara lain
sebagai berikut : Ho-ling yang juga disebut She-p’o. terletak di laut
selatan. Di sebelah timurnya terletak P’o-li dan di sebelah baratnya
terletak To-p’o-teng. Di sebelah selatannya adalah lautan, sedang di
sebelah utaranya terletak Chen-la, Tembok kota dibuat dari tonggak –
tonggak kayu. Raja tinggal di sebuah bangunan besar bertingkat,
beratapkan daun palem (?), dan duduk di atas bangku yang terbuat dari
gading. Dipergunakan pula tikar yang terbuat dari kulit bambu. Kalau
makan, orang tidak memakai sendok atau sumpit, tetapi dengan
tangan saja. Penduduknya mengenal tulisan dan sedikit tentang ilmu
perbintangan.
Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas dan perak, cula badak, dan
gading. Kerajaan ini amat makmur; ada sebuah gua (?) yang selalu
mengeluarkan air garam (bledug, Jw.). Penduduk membuat minuman
keras dari bunga kelapa (atau bunga aren). Bunga pohon ini panjangnya
dapat mencapai tiga kaki, dan besarnya sama dengan tangan orang.
Bunga ini dipotong, dan airnya ditampung dijadikan minuman keras;
rasanya amat manis, tetapi orang cepat sekali mabuk dibuatnya. Di Ho-
ling banyak perempuan yang berbisa; apabila orang mengadakan
hubungan kelamin dengan perempuan – perempuan itu, ia akan luka –
luka bernanah dan akan mati, tetapi mayatnya tidak membusuk.
Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-
ya; raja sering pergi kesana untuk menikmati pemandangan ke laut.
Apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon
setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, dan
panjangnya dua kaki empat inci.
Dalam masa Chen-kuan (627 – 649 M), raja Ho-ling, bersama dengan
raja To-ho-lo dan To-p’o-teng, mengirimkan utusan ke Cina menyerahkan
upeti. kaisar memberikan surat jawaban dengan dibubuhi cap kekaisaran,
dan ketika utusan dari To-ho-lo meminta kuda – kuda yang baik,
permintaan itu dikabulkan oleh Kaisar. Utusan dari Ho-ling datang lagi
pada tahun – tahun 666, 767, dan 768 M. Utusan yang datang pada tahun
813 M (atau 815 M) mempersembahkan empat budak sheng-chih
(jenggi), burung kakatua yang bermacam – macam warnanya, burung
p’in-chia (?), dan benda – benda yang lain. Kaisar amat berkenan hatinya,
dan memberikan anugerah gelar kehormatan kepada utusan itu. Utusan
itu mohon agar gelar itu diberikan saja kepada adiknya. Kaisar amat
terkesan akan sikap itu, dan memberi anugerah gelar kehormatan kepada
keduanya.
Pada tahun 674 M rakyat kerajaan itu menobatkan seorang
perempuan sebagai ratu yaitu ratu Hsi-mo. Pemerintahannya meskipun
sangat keras akan tetapi adil. Barang – barang yang terjatuh di jalan tidak
ada yang berani menyentuhnya. Pada waktu raja orang – orang Ta-shih
mendengar berita semacam itu, ia mengirim pundi – pundi berisi emas
untuk diletakkan di jalan di negeri ratu Hsi-mo. Setiap orang yang
melewatinya menyingkir, sampai tiga tahun pundi – pundi itu tak ada yang
menyentuhnya. Pada suatu hari putra mahkota yang lewat disitu tanpa
sengaja telah menginjaknya. Ratu sangat marah, dan akan
memerintahkan hukuman mati terhadap putra mahkota. Para menteri
mohon pengampunan baginya. Akan tetapi, ratu mengatakan bahwa
karena yang bersalah adalah kakinya, kaki itu harus dipotong. Sekali lagi
para menteri mohon pengampunan; akhirnya ratu memerintahkan agar
jari – jari kaki putra mahkota itu yang dipotong, sebagai peringatan bagi
penduduk seluruh kerajaan. Mendengar hal itu raja Ta-shih takut dan
mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan ratu Hsi-mo.
Raja tinggal di kota She-p’o (She-p’o-tch’eng), tetapi leluhurnya yang
bernama Ki-yen telah memindahkan pusat kerajaan ke timur, ke kota
P’olu-chia-ssu. Di sekeliling She-p’o ada 28 kerajaan kecil, dan tidak ada
diantaranya yang tidak tunduk. Ada 32 pejabat tinggi kerajaan, dan yang
terutama diantara mereka ialah ta-tso-kan-hsiung. 24 Menurut berita
dalam Ying-huan-tschelio perpindahan itu terjadi dalam masa T’ien-pao
(742 – 755 M). 25
Berdasarkan keterangan mengenai panjangnya bayangan gnomon
ditengah musim panas itu orang harus menetapkan letak Ho-ling ada
pada 6o8’ LU, jadi tidak mungkin ada di Jawa. Akan tetapi, ada
kemungkinan juga bahwa penulis Hsin-T’ang shu itu telah membuat dua
kali kekeliruan, yaitu bahwa mestinya waktunya ditengah musim dingin,
dan bahwa bayangan gnomon itu jatuh disebelah utaranya. Kalau
pembetulan ini diterima, Ho-ling terletak pada 6o8’ LS, 26 jadi di pantai
utara Jawa. Pemecahan semacam ini sesuai dengan lokalisasi Lang-pi-
ya di Desa Krapyak dekat Gunung Lasem. 27} L-C Damais
mengindentifikasikan Ho-ling dengan Walaing. 28 Identifikasi itu mungkin
secara fonetis memang dapat dipertanggung jawabkan, tetapi sepanjang
yang dapat disimpulkan dari sumber epigrafi, Walaing yang memang
sering disebut sebagai nama tempat didalam pelbagai prasasti, tidak
merupakan pusat kerajaan. Dari prasasti –prasasti diketahui bahwa
kerajaan wangsa Sailendra itu disebut Mataram, dan ibu kotanya disebut
Medang, sampai ke zaman pemerintahan Pu Sindok. Letak ibu kota
Medang memang berpindah – pindah, tetapi tidak pernah ada Medang i
Walaing. Desa Medang memang dijumpai mulai dari daerah Bagelen di
Jawa Tengah sampai didekat Madiun Jawa Timur, tetapi yang terbanyak
ialah antara Purwodadi – Grobogan dan Blora. Lokasi di daerah ini sesuai
pula dengan keterangan tentang adanya gua yang selalu mengeluarkan
air garam, dan memang di Desa Kuwu di daerah Purwodadi – Grobogan
itulah hingga kini masih dijumpai apa yang dalam bahasa daerah disebut
bledug, dan orang disitu membuat garam dari bledug itu. Ratu Hsi-mo atau Sima dalam bahasa Indonesia, mungkin pengganti
atau salah seorang pengganti Dapunta Selendra. Perlu dicatat disini
bahwa pada masa pemerintahan Sima itu Ho-ling telah ada seorang
pendeta agama Buddha yang termasyur bernama Yoh-na-p’o-to-lo atau
Jnabhadra. ia telah membantu seorang pendeta Vina, Hwi-ning (664
– 666 M), dalam menerjemahkan kitab suci agama Buddha dari bahasa
Sanskerta ke dalam bahasa Cina. ini berarti bahwa setidak – tidaknya
kedua pendeta itu dapat berdiskusi dalam satu bahasa yang mereka
kuasai bersama, disamping bahasa Sanskerta, bahasa Cina atau bahasa
daerah, yang didalam berita – berita Cina disebut bahasa K’un-lun.
Yang mereka terjemahkan ialah Nie-p’an (Nirwana) dari Sang
Buddha dan pembakaran jenazahnya. Menurut keterangan I-tsing
ternyata naskah ini berbeda dengan naskah Nirwana dari aliran
Hinayana. Ini juga ternyata dari keterangan I-tsing yang mengatakan
bahwa naskah yang diterjemahkan itu termasuk dalam Ngo-ki-muo
(Agama),yang tergolong dalam kitab – kitab sutra yang pertama dari aliran
Hinayana. Dari keterangan I-tsing diketahui pula bahwa di pulau – pulau
di Laut Selatan, termasuk di Ho-ling, hampir semua penduduknya
menganut agama Buddha Hinayana terutama dari Mulasarwastiwada.
Keterangan I-tsing itu bertentangan dengan kenyataan bahwa
Dapunta Selendra adalah penganut agama Siwa; dan demikian pula
tentunya pengganti – penggantinya sampai dengan Rakai Mataram Sang
Ratu Sanjaya.
Akan tetapi, mengingat bahwa di Jawa ini tidak selalu rakyat mengikuti
agama yang dianut oleh rajanya, sebagaimana antara lain ternyata dari
banyaknya peninggalan – peninggalan candi kecil yang berlandaskan
agama Siwa disekitar candi Borobudur, masalah agama itu tidak perlu
. merupakan keberatan terhadap anggapan bahwa sampai pemerintahan
Sanjaya raja – raja wangsa Sailendra adalah penganut Siwa.
Dalam masa pemerintahan ratu Sima itu ada ancaman dari raja T-shih,
Istilah Ta-shih merupakan transkripsi dari tajika, yang biasa digunakan
untuk menyebut orang – orang Arab di India, Timbul pertanyaan apakah
yang dimaksudkan dengan raja Ta-shih yang hendak menyerang Ho-ling
itu. Mungkinkah di kepulauan Indonesia pada abad VII M itu sudah ada
orang – orang Arab (atau yang oleh orang Cina dianggap sebagai orang
Arab) yang menetap dan merupakan suatu kelompok masyarakat
tersendiri?
Prasasti Hampran dan prasasti Sangkhara itu berasal dari suatu masa
yang bersamaan dengan terjadinya perpindahan ibu kota kerajaan Ho-
ling dari She-p;o-tch’eng ke P’o-lu-chia-sse, seperti yang tertera dari
berita Cina dari zaman rajakula T’ang. Seperti telah disebutkan, berita
Cina itu mengatakan bahwa raja Ho-ling tinggal di kota She-p’o, tetapi
nenek moyangnya yang bernama Ki-yen telah memindahkan ibu kotanya
ke timur, ke P’o-lu-chia-sse. Karena selanjutnya disebut – sebut ta-tso-
kan-hiung, yang oleh Boechari ditafsirkan sebagai “Daksa, saudara / raja
/ yang gagah berani, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
disini ialah Rakai Watukura Dyah Balitung, yang memerintah antara tahun
899 – 911 M.
Masalahnya sekarang siapakah Ki-yen itu, dan apa sebabnya ia
memindahkan pusat kerajaannya. Seperti telah dikatakan pemindahan
pusat kerajaan itu biasanya terjadi apabila kota itu telah diserbu oleh
musuh. Akan tetapi, antara tahun 742 – 755 M itu tidak ada satu sumber-
pun yang memberitakan adanya serangan. Apa yang kira – kira terjadi
antara tahun itu adalah pergantian pemerintahan Sanjaya ke Rakai
Panangkaran.
kalau Sangkhara itu dapat diidentifikasikan dengan Rakai Panangkaran –
sehingga nama lengkap raja ini ialah Rakai Panangkaran Dyah
Sangkhara Sri Sanggramadhananjaya – maka pergantian itu disertai pula
dengan perubahan agama yang dianut oleh raja; dan ini mungkin dapat
menimbulkan pergolakan. 35 Mungkin masih ada anggota keluarga raja
yang lain yang masih taat kepada agama leluhurnya, yaitu agama Siwa,
dengan mungkin masih mempertahankan guru mereka. Mungkin juga
Bhanu di dalam prasasti Hampran itu salah seorang anggota wangsa
Sailendra yang diserahi sebagai penguasa daerah, yang masih tetap
menganut agama Siwa.
Apakah Rakai Panangkaran yang memindahkan pusat kerajaannya
lebih ke timur dari daerah Kedu, yaitu lembah di lereng gunung Merapi?
Kesulitannya ialah bahwa pertama – tama harus tahu dahulu letak She-
p’o-tch’eng (Yawapura), pusat kerajaan Rakai Watukura Dyah Balitung.
Apakah di daerah Kedu, ataukah di daerah sekitar Prambanan, ataukah
di daerah Purwodadi – Grobogan (?), yang terang sudah tidak lagi di
daerah Pekalongan / Banyumas. Andaikata dapat ditunjukkan bahwa
Rakai Watukura berpusat kerajaan di daerah Kedu mengingat gelar
rakainya yang menunjukkan bahwa ia mempunyai daerah lungguh di
daerah Kedu Selatan, – mungkin sekali Rakai Panangkaran telah
memindahkan pusat kerajaannya ke sekitar Prambanan, atau di daerah
Purwodadi – Grobogan. Seperti yang akan dikemukakan dalam uraian
selanjutnya, Rakai Panangkaran telah membangun pelbagai candi,
antaranya candi Sewu yang mestinya berfungsi sebagai candi kerajaan,
khusus untuk pemujaan dewa tertinggi, yaitu manjusri, dan candi Kalasan.
Dengan uraian ini seolah – olah Ki-yen sudah diidentifikasikan
dengan Rakai Panangkaran. Seperti telah ditunjukkan oleh L-C Damais
mungkin sekali Ki-yen itu tidak lengkap, mestinya Lo-ki-li-yen, yang
merupakan transkripsi dari gelar Rakarayan, atau lo-ki-yen yang
merupakan transkripsi dari Rakryan. jadi, Ki-yen bukan nama,
melainkan hanya gelar; maka dapat diidentifikasikan dengan siapa saja
yang bergelar Rakarayan. Mengenai lokasi P’o-li-chia-sse memang
belum dapat didapat penyelesaian yang memuaskan. yang dapat
dikatakan disini barulah bahwa p’o-lu itu dapat merupakan transkripsi dari
waru. Nama tempat Waru atau yang mengandung unsur Waru memang
banyak sekali, baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Akan tetapi,
mungkin Waru harus dicari di sekitar Rembang, karena memenuhi syarat
dekat dengan Krapyak, suatu tempat yang sering dikunjungi raja untuk
menikmati pemandangan laut.
Bagaimana kalau ternyata Rakai Watukura Dyah Balitung bertakhta di
daerah Prambanan atau Purwodadi – Grobogan (?) Tentulah harus
dibayangkan bahwa nenek moyangnya telah memindahkan pusat
kerajaan lebih ke timur lagi, mungkin sampai ke Jawa Timur. Dalam
hubungan ini perlu dikemukakan bahwa hingga kini para sarjana
cenderung untuk menghubungkan berita perpindahan pusat kerajaan Ho-
ling ke timur itu dengan munculnya prasasti Dinoyo di daerah Malang
yang berangka tahun 682 Saka (21 Nopember 760 M).
Di dalam prasasti Dinoyo itu diperingati pembuatan arca Agastya dari
batu hitam dengan bangunan candinya oleh raja Gajayana, sebagai
pengganti arca Agastya yang telah dibuat dari kayu cendana oleh nenek
moyangnya.
Gajayana adalah anak raja Dewa singha yang telah memerintah kerajaan
dibawah naungan api Putikeswara, Setelah Dewasingha mangkat
anaknya yang semula bernama Limwa, menggantikan duduk diatas
takhta kerajaan Kanjuruhan, dengan nama Gajayana. Ia beranak
perempuan yang bernama Uttejana, yang kawin dengan Jananiya.
Gajayana memang pemuja Agastya, dan setelah ia melihat arca Sang
Maharesi yang dibuat oleh nenek moyangnya dari kayu cendana, ia
memerintahkan kepada para pemahat untuk membuat arca batu hitam
yang indah dan bersama para pembesar dan rakyat ia memerintahkan
pembangunan sebuah candi yang indah untuk para pertapa, para
sthapaka, dan rakyat. Pada kesempatan itu raja menganugerahkan
sebidang tanah, sapi yang gemuk – gemuk dan sejumlah kerbau, serta
budak laki – laki dan perempuan sebagai penjaganya. Demikian pula raja
menganugerahkan segala sesuatu untuk keperluan para pendeta, seperti
untuk keperluan pemujaan api dan untuk persembahan caru bagi Sang
Maharesi, dan untuk keperluan penyucian diri dan sebuah bangunan yang
besar dan permai untuk tempat beristirahat para pengunjung, lengkap
dengan persediaan padi jelai, tempat tidur, dan pakaian. Dua bait terakhir
prasasti ini berisi kutukan bagi mereka yang tidak menjunjung tinggi
amanat raja, dan sebaliknya mengharapkan kesejahteraan bagi mereka
yang ikut memperbesar jasa dengan memelihara bangunan suci itu
beserta segenap kelengkapannya.
Isi prasasti ini mungkin berkaitan dengan nama sebuah kerajaan
di Jawa Timur yang bernama Kanjuruhan. Nama ini rupa – rupanya
hingga sekarang masih ada dalam nama sebuah desa tidak jauh dari
Dinoyo, tempat penemuan prasasti, yaitu des Kejuron ditepi Kali Merto.
Disebelah utara Desa Kejuron itu masih ada peninggalan candi yang
memiliki ciri – ciri arsitekturnya termasuk bangunan candi yang tua, yaitu
candi Badut. Apakah memang candi Badut itu yang disebutkan didalam
prasasti ini sebagai candi untuk pemujaan Agastya belumlah dapat
dipastikan, karena disekitarnya, yaitu didesa Merjosari, Besuki, dan
Ketawang Gede juga ditemukan sisa – sisa bangunan kuno yang
menunjukkan ciri – ciri arsitektur yang sama.
Poerbatjaraka mengidentifikasikan Gajayana dengan Ki-yen didalam
berita Cina yang memindahkan kerajaan Ho-ling ke Timur. Fonetis
identifikasi ini kurang dapat diterima. Lagi pula ada keberatan yang
lebih mendasar, yaitu kenyataan bahwa didalam prasasti ini disebut –
sebut arca Agastya dari kayu cendana yang telah dibuat oleh nenek
moyang raja Gajayana. Selain itu, dari kata – kata didalam prasasti
terbayang bahwa sebelumnya raja Dewasingha, ayahnya, telah
memerintah dengan tenang di kerajaan Kanjuruhan. Jadi, tidak
mungkinlah kiranya Gajayana diidentifikasikan dengan Ki-yen. Bahkan
mungkin harus disimpulkan bahwa kerajaan Kanjuruhan itu tidak ada
hubungannya sama sekali dengan kerajaan Ho-ling atau Mataram di
Jawa Tengah. Apabila yang dimaksud dengan arca Agastya dari kayu
cendana yang telah dibuat oleh nenek moyang raja Gajayana itu tidak lain
dari sebuah patung pemujaan nenek moyang yang biasa dibuat oleh
kesatuan masyarakat yang belum menganut agama Hindu / Buddha, jadi
semacam mulabera, yang kemudian, setelah kelompok itu menganut
kebudayaan India dan berkembang menjadi suatu kerajaan, ditingkatkan
menjadi semacam patung dewaraja. Kalau demikian halnya,
Dewasingha dan Gajayana itu ialah keturunan kepala daerah yang
menguasai Kejuron dan sekitarnya, yang telah mengangkat dirinya
menjadi raja dalam gaya India, lengkap dengan upacara pentahbisannya.
Kerajaan Kanjuruhan itu tidak lama berkembangnya. Mungkin
kemudian kerajaan itu ditaklukkan oleh Mataram, dan penguasa –
penguasanya dianggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakryan
Kanuruhan. Gelar ini mulai muncul didalam prasasti raja Watukura Dyah
Balitung, dan kedudukannya menjadi amat penting dalam zaman
Dharmawangsa Airlangga dan zaman Kadiri. Mungkin sekali memang
Rakai Watukura yang menaklukkan Kanjuruhan itu, karena dari raja ini
didapatkan prasasti Kubu – Kubu tahun 827 Saka (17 Oktober 905 M),
yang menyebut bahwa pada zaman pemerintahannya telah terjadi
penyerangan ke Banten, dan Banten dapat dikalahkan. Berdasarkan
nama – nama tempat yang lain didalam prasasti ini mungkin Banten itu
harus dicari didaerah Jawa Timur.
3. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
Sebelum membicarakan masalah perpindahan pusat kerajaan itu
baiklah terlebih dahulu disebutkan disini beberapa sumber prasasti dari
masa sebelum perpindahan itu. Pertama – tama disebutkan disini prasasti
di desa Lebak, Kecamatan Grabag (Magelamg), di lereng Gunung
Merbabu, yang lebih dikenal dengan nama prasasti Tuk Mas. Prasasti
ini dipahatkan pada sebuah batu alam yang besar yang berdiri didekat
suatu mata air. Hurufnya Pallawa yang tergolong muda, dan bahasanya
Sanskerta. Menurut analisis paleografis dari Krom prasasti ini berasal dari
pertengahan abad VII M. 48 Isinya pujian kepada suatu mata air yang
keluar dari gunung, menjadi sebuah sungai yang mengalirkan airnya yang
dingin dan bersih melalui pasir dan batu – batu, bagaikan Sungai Gangga.
Diatas tulisan itu dipahatkan bermacam – macam laksana dan alat –
alat upacara antara lain cakra, sangkha, trisula, kundi, kapak, gunting,
kudi, pisau, tongkat, dan empat bunga padma. laksana – laksana itu jelas
menunjuk kepada agama Siwa. Dapat dibayangkan bahwa mata air itu
dianggap sebagai sumber air yang suci, dan bahwa didekatnya tentu ada
asrama pendeta – pendeta yang mengelola sumber air ini.
Prasasti yang kedua adalah prasasti Canggal, yang berasal dari
halaman percandian diatas Gunung Wukir di Kecamatan Salam,
Magelang. Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, dan
berangka tahun 654 Saka (6 Oktober 732 M). Dalam bait pertama
dikatakan bahwa raja Sanjaya telah mendirikan lingga diatas bukit pada
tanggal 6 Oktober tahun 732 M. Lima bait berikutnya berisi puji – pujian
kepada Siwa, Brahma, dan Wisnu, dengan catatan bahwa untuk Siwa
sendiri tersedia tiga bait. Bait ke-7 memuji – muji Pulau Jawa yang subur
dan banyak menghasilkan gandum (atau padi) dan kaya akan tambang
emas. Di Pulau Jawa itu ada sebuah bangunan suci untuk pemujaan Siwa
yang amat indah, untuk kesejahteraan dunia, yang dikelilingi oleh sungai
– sungai yang suci, antara lain Sungai Gangga. Bangunan suci itu terletak
diwilayah Kunjarakunja. Dua bait berikutnya ditujukan kepada raja Sanna,
yang memerintah dengan lemah lembut bagaikan seorang ayah yang
mengasuh anaknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang, dan dengan
demikian ia menjadi termashur dimana – mana. Setelah ia dapat
menaklukkan musuh – musuhnya, ia memerintah untuk waktu yang lama
dengan menjunjung tinggi keadilan bagaikan Manu. Akan tetapi, setelah
ia kembali ke surga untuk menikmati jasa – jasanya yang amat banyak,
dunia ini terpecah dan kebingungan karena sedih kehilangan
pelindungnya. Tiga bait terakhir ditujukan kepada pengganti Sanna, yaitu
Raja Sanjaya, anak Sannaha, saudara perempuan Raja Sanna. Ia
seorang raja yang gagah berani, yang telah menaklukkan raja – raja
disekelilingnya, bagaikan Raghu ia juga dihormati oleh para pujangga
karena dipandang sebagai raja yang paham akan isi kitab – kitab suci. Ia
bagaikan Meru yang menjulang tinggi, dan meletakkan kakinya jauh
diatas kepala raja – raja yang lain. Selama ia memerintah dunia ini yang
berikat pinggangkan samudra dan berdada gunung – gunung, rakyatnya
dapat tidur ditepi jalan tanpa merasa takut akan penyamun dan bahaya
yang lain. Dewi Kali hanya dapat menangis – nangis karena tidak dapat
berbuat apa – apa.
Dari prasasti itu diketahui bahwa pada tahun 732 M Raja Sanjaya yang
jelas beragama Siwa telah mendirikan sebuah lingga diatas bukit.
Mungkin bangunan lingga itu adalah candi yang hingga kini masih ada
sisa – sisanya diatas Gunung Wukir, mengingat bahwa prasastinya
memang berasal dari halaman percandian itu. Pendirian lingga mungkin sekali memperingati kenyataan bahwa ia telah dapat
membangun kembali kerajaan dan bertakhta dengan aman tenteram
setelah menaklukkan musuh – musuhnya. Seperti yang dapat
disimpulkan dari kata – kata pada baik ke-9 yang menerangkan
mangkatnya raja Sanna, Sanna itu gugur dalam peperangan karena
diserang oleh musuh. Mungkin sekali kembalinya Sanjaya diatas
takhta kerajaan itu terjadi pada tahun 717 M, yaitu tahun permulaan tarikh
Sanjaya, yang hanya digunakan oleh Daksa didalam tiga prasastinya.
Sanna, Sannaha, dan Sanjaya mungkin sekali keturunan – keturunan
Dapunta Selendra, sehingga mereka-pun masuk anggota wangsa
Sailendra. Hal ini antara lain dapat disimpulkan dari daftar raja – raja yang
disebutkan didalam prasasti Mantyasih.
Disitu Sanjaya disebut sebagai raja yang pertama yang bertakhta di
Medang. Ia kemudian disusul oleh Rakai Panangkaran, yang jelas
menamakan dirinya Permata wangsa Sailendra. mungkin diantara
Dapunta Selendra dan Sima, atau Sima dan Sanna, masih ada seorang
raja lagi yang hingga kini belum diketemukan didalam sumber sejarah. 56
Dapat dipahami mengapa raja Sanjaya disebut sebagai raja pertama
yang bertakhta di Medang. Seperti telah dikatakan pendahulunya, yaitu
raja Sanna, telah diserang oleh musuh, dan rupa – rupanya gugur dalam
pertempuran, Mungkin sekali ibu kota kerajaan juga telah diserbu dan
dijarah. Oleh karena itu, setelah Sanjaya dinobatkan menjadi raja, perlu
dibangun ibu kota yang baru, dengan istana yang baru disertai dengan
pembangunan candi untuk pemujaan lingga kerajaan. Mungkin ini
berhubungan dengan kepercayaan bahwa istana yang telah diserbu oleh
musuh itu sudah kehilangan tuahnya. Hal itu dapat dilihat berkali – kali
dalam sejarah Nusantara sampai ke zaman Surakarta. 58 Istana yang
dibangun oleh Sanjaya itu terletak di Poh Pitu. Akan tetapi, dimana letak
Poh Pitu itu hingga sekarang belum dapat ditemukan.
Yang menarik perhatian adalah keterangan bahwa di Pulau Jawa ada
sebuah bangunan suci untuk pemujaan Siwa didaerah Kunjarakunja yang
dikelilingi oleh sungai – sungai suci, yang terutama diantaranya adalah
Sungai Gangga. Candi manakah yang dimaksuf itu? Adakah candi itu
sama dengan candi untuk lingga yang dibangun Sanjaya di Gunung
Wukir? Ataukah sebuah candi yang lain yang belum dapat
diidentifikasikan? yang terang bukanlah candi Prambanan, karena candi
Prambanan itu baru diresmikan tahun 856 M, seperti yang dapat
disimpulkan dari prasasti Siwagerha Tentunya harus dicari adalah
candi Siwa yang dibangun oleh raja sebelum Sanjaya. Mungkinkah yang
dimaksudkan dengan candi Siwa didalam prasasti Canggal itu candi
Banon dekat Mendut, yang hanya tinggal arca – arcanya saja yang besar
dan bercorak “klasik”? Letak candi itu memang disuatu daerah diantara
Sungai Progo dan Sungai Elo, jadi sesuai dengan pemerian didalam
prasasti, dengan menduga bahwa yang dimaksud dengan Sungai
Gangga itu adalah Kali Progo, sebagai sungai yang terbesar didaerah ini.
Mengingat besarnya arca – arcanya memang pantas untuk suatu candi
kerajaan.
Tentang nama Kunjarakunja, Poerbatjaraka pernah mengemukakan
pendapat bahwa yang dimaksudkan adalah daerah Sleman sekarang
berdasarkan arti Kunjarakunja, yaitu hutan gajah, dan adanya daerah
wanua ing alas i saliman didalam tiga prasasti pada batu sima.
Pendapat itu sekarang harus diragukan kebenarannya, karena nama
daerah didalam ketiga prasasti ini – sekarang ditambah dengan tiga
batu lagi yang memuat nama daerah itu – harus dibaca wanua ing i alas i
salimar. Lagi pula kata Kunjarakunja dapat juga berarti hutan Ficus
Religiosa atau hutan pohon bodhi dan sejenisnya, karena kata kunjara
tidak hanya berarti gajah, tetapi nama beberapa jenis pohon, antara lain
pohon bodhi (Ficusreligiosa).
Bahwa Sanjaya dikatakan telah menaklukkan raja – raja
disekelilingnya memang dapat dipahami. Peristiwa yang serupa juga
dapat dilihat nanti pada raja Dharmmawangsa Airlangga, yang juga harus
menaklukkan kembali raja – raja bawahan yang sebelumnya mengakui
kemaharajaan Dharmmawangsa Teguh. Tentu demikian pula halnya
dengan raja Sanjaya. Setelah Sanna diserang oleh musuh dan pusat
kerajaannya dihancurkan, tentu ada diantara raja – raja kecil yang semula
mengakui kemaharajaannya yang lalu menganggap dirinya tidak terikat
hubungan sebagai raja bawahan lagi dari maharaja Ho-ling, karena itu
setelah Sanjaya berhasil menduduki takhta kerajaan kembali dengan
membangun pusat kerajaan baru, ia harus menaklukkan raja – raja yang
tidak mau lagi mengakui kemaha rajaannya.
Prasasti berikut ialah prasasti Hampran tahun 672 Saka (24 Juli 750
M). Prasasti ini ditulis diatas batu alam yang besar di Desa
Plumpungan dekat Salatiga. Bahasanya Sanskerta, dan hurufnya bukan
lagi huruf Pallawa, tetapi huruf Jawa Kuno. Jadi, inilah huruf Jawa Kuno
yang tertua didalam prasasti yang berangka tahun. Isinya memperingati
pemberian tanah di Desa Hampra n yang terletak diwilayah Trgramwya,
oleh orang yang bernama Bhanu demi kebaktian terhadap Isa, dengan
persetujuan dari sang Siddhadewi.
Menurut de Casparis, Bhanu itu seorang raja dari wangsa Sailendra,
mengingat bahwa didalam prasasti Ligor B ada nama raja Wisnu, dan
didalam prasasti Kelurak ada nama raja Indra. Ia berpendapat bahwa
Bhanu itu tentu penganut agama Buddha, karena Isa merupakan nama
lain dari sang Buddha. Akan tetapi, pendapat itu kurang meyakinkan
karena didalam prasasti Hampran itu Bhanu tidak memakai gelar
kerajaan. Bahwa Isa merupakan nama lain dari Buddha tidak dapat
dibuktikan; istilah itu biasanya dipakai untuk menyebut Siwa.
Ditinjau dari segi palaeografi mungkin prasasti Sangkhara harus
diletakkan antara prasasti Canggal dan prasasti Hampran, atau segera
sesudah prasasti Hampran. Seperti telah disinggung sebelumnya,
prasasti ini berisi keterangan bahwa raja Sangkhara telah meninggalkan
kebaktian yang lain – lain, juga terhadap Siwa, setelah ia merasa takut
kepada gurunya yang tidak benar (anrtagurubhayas) yang rupa – rupanya
dianggap telah membuat ayahnya sakit dan wafat. Didalam bait
sebelumnya dikatakan bahwa ayahnya itu telah berjanji untuk
melaksanakan apa yang dikatakan oleh sang guru, karena ia memang
mau taat kepadanya. Raja Sangkhara kemudian membangun sebuah
prasada yang indah, karena ingat akan janjinya sendiri. Dalam bait
terakhir ada pujian terhadap bhiksusanggha. Pujian inilah yang memberi
bayangan bahwa raja Sangkhara itu lalu menjadi penganut agama
Buddha. Lebih – lebih mengingat keterangan dari seorang kolektor di Solo
yang mengatakan bahwa prasasti itu berasal dari suatu tempat yang
masih ada sisa – sisa bangunannya yang berlandaskan agama Buddha,
sekalipun mungkin bangunan itu tidak terlalu besar, dan terbuat dari bata.
4. Rakai Panangkaran dan pengganti – penggantinya.
Dari uraian diatas dapatlah digambarkan bahwa Rakai Mataram Sang
Ratu Sanjaya telah membangun kembali kerajaan setelah raja Sanna
gugur dalam pertempuran karena serangan musuh, dan pusat
kerajaannya dihancurkan. Pada tahun 717 M Sanjaya dinobatkan menjadi
raja di Medang yang mungkin terletak di Poh Pitu. Pada tahun 732 M, ia
mendirikan bangunan suci untuk pemujaan lingga diatas Gunung Wukir,
sebagai lambang telah ditaklukkannya lagi raja – raja kecil disekitarnya
yang dahulu mengakui kemaharajaan raja Sanna.
Akan tetapi, pada suatu ketika ia jatuh sakit dan meninggal dalam
penderitaan yang amat sangat, selama delapan hari karena ingin
mematuhi apa yang dikatakan oleh gurunya. Anaknya yang bernama
Sangkhara, atau mungkin lengkapnya Rakai Panangkaran Dyah
Sangkhara Sri Sanggramadhananjaya, karena takut akan Sang Guru
yang tidak benar lalu meninggalkan agama Siwa, menjadi penganut
agama Buddha Mahayana, dan memindahkan pusat kerajaannya ke
timur, mungkin disekitar Sragen disebelah timur Bengawan Solo, atau ke
daerah Purwodadi – Grobogan. Ia lalu membangun serangkaian candi –
candi kerajaan, antara lain candi Sewu untuk pemujaan Manjusri,
sebagaimana dapat diketahui dari prasasti Kelurak tahun 704 Saka (26
September 782 M), candi Plaosan Lor yang melambangkan kesatuan
kerajaan, dan candi Borobudur untuk pemujaan pendiri rajakula
Sailendra Ia juga membangun candi Kalasan pada tahun 700 Saka
778 M) dan mungkin sebuah bangunan lagi di Bukit Ratu Baka, karena
ada prasasti berbahasa Sanskerta dibukit ini tahun 700 Saka (778 M)
yang memperingati pembangunan Abhayagiriwihara. Masih ada sisa
– sisa bangunan candi Buddha yang besar, seperti arca – arca Buddha
dan Boddhisatwa di Bogem dan di desa Boyolali. Arca – arca Bogem amat
besar, pantas diletakkan dalam candi kerajaan,
Prasasti – prasasti yang disebutkan diatas, yaitu prasasti Kalasan
tahun 778 / 779 M, prasasti Kelurak tahun 782 M, prasasti
Abhayagiriwihara dari Bukit Ratu Baka tahun 792 M, dan prasasti dari
candi Plaosan Lor semuanya memakai huruf siddham dan
berbahasa Sanskerta. Ini pun merupakan suatu hal yang baru.
Sebagaimana diketahui huruf siddham itu banyak dipakai di India Utara
dan Sri Lanka. Kemungkinan besar bahwa Rakai Panangkaran, setelah
meninggalkan gurunya yang lama, lalu berpindah agama dan mengambil
seorang guru baru yang menganut agama Buddha, dan berasal dari India
Utara atau Sri Lanka. Didalam prasasti Kelurak memang disebutkan
adanya seorang guru di Gaudidwipa yang telah memimpin upacara
pentahbisan arca Manjusri (di candi Sewu). Gaudi atau Gauda ada di
Benggala. 75 Didalam prasasti Abhayaguruwihara disebutkan adanya
hubungan dengan Sri Lanka. Penggunaan huruf siddham itu hingga
kini diketahui hanya terbatas pada keempat prasasti itu, dan kemudian
didapatkan pula meterai – meterai tanah liat yang berisi mantra – mantra
agama Buddha (formula ye-te), baik di Jawa Timur (Banyuwangi), Bali
(Pejeng, Tampaksiring, Buleleng), dan Sumatra (Palembang). Ada
juga prasasti di Bali yang memakai huruf siddham, tetapi berbahasa
Bali Kuno, yaitu prasasti dari Sanur dari tahun 835 Saka (914 M).
Anehnya bagian prasasti ini yang berbahasa Sanskerta memakai
huruf Kawi atau Jawa Kuno. Di Jawa Timur huruf siddham muncul
dalam abad XIII M pada bagian belakang arca Amoghapasa dari
perunggu yang merupakan replika dari arca Amoghapasa dari Padang
Roco dekat Sungai Langsat, dan pada sandaran arca – arca dari candi
Jago dan candi Singasari.
Didalam prasasti Kelurak itu Sang Permata wangsa Sailendra juga
disebut Sri Warawiramardana, yang berarti pembunuh musuh – musuh
yang gagah perwira. Gelar ini juga dijumpai didalam prasasti Ligor B yang
terdapat dipantai barat Semenanjung Tanah Melayu dipahatkan pada
bagian belakang prasasti raja Sriwijaya yang tidak disebut namanya, yang
biasanya disebut prasasti Ligor A, dan berangka tahun 775 M. Prasasti
Ligor B, sekalipun mulai dengan kata swasti, yang didalam prasasti –
prasasti Jawa Kuno biasanya mengawali angka tahun, ternyata tidak
bertarikh. Prasasti ini ternyata juga hanya berisi 4 baris tulisan yang
merupakan bait prasasti berbahasa Sanskerta, dan setengah baris yang
merupakan permulaan bait kedua. Disini disebut nama raja Wisnu,
pembunuh musuh – musuh yang sombong tiada bersisa, dan karena ia
keturunan wangsa Sailendra, ia bergelar Sri Maharaja. Mungkin bait
kedua dan selanjutnya akan menyebut anak cucunya sampai raja yang
menulis prasasti ini. Juga didalam prasasti Nalanda dari raja
Dewapaladewa, yang berasal dari kira – kira pertengahan abad IX M,
dijumpai nama ini. Didalam prasasti ini ia disebut sebagai kakek raja
Balaputradewa, dengan sebutan Raja Jawa, permata wangsa Sailendra,
Sri Wirawairimathana. Ia mempunyai anak bernama Samaragrawira yang
kawin dengan Tara, anak raja Dharmasetu dari Somawangsa. Dari
perkawinan ini lahirlah raja Balaputradewa, raja Sriwijaya, penganut
agama Buddha, yang telah mendirikan biara di Nalanda, dan minta kepada raja Dewa Paladewa untuk memberikan tanah – tanahnya
sebagai sima bagi biara ini.
Tentulah disini dihadapkan dengan satu tokoh yang sama yang
disebut Permata wangsa Sailendra. Pembunuh musuh – musuh yang
sombong, atau pembunuh musuh – musuh yang gagah perwira.
Berdasarkan prasasti Kelurak, tokoh ini dapat diidentifikasikan dengan
Rakai Panangkaran yang disebut didalam prasasti Kalasan dan Ratu
Baka dengan sebutan Tejahpurnnapanna Panamkarana. Menurut
prasasti Nalanda, Rakai Panangkaran beranak Samaragrawira, yang
dapat kiranya disamakan dengan Samaratungga didalam prasasti
Kayumwungan yang berangka tahun 746 Saka (26 Mei 824 M).
Prasasti Kayumwungan itu ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa
Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno. Bagian yang berbahasa Sanskerta
berisi keterangan tentang raja Samaratungga, Permata wangsa
Sailendra, dan anaknya perempuan yang bernama Pramodawarddhani.
Putri ini telah mendirikan sebuah bangunan suci agama Buddha dengan
nama Srimad Wenuwana dan mentahbiskan arca Sri Ghananatha
didalamnya, pada hari Kamis Legi, paringkelan Tunglai, tanggal 26 Mei
tahun 824 M. Bagian yang berbahasa Jawa Kuno menyebutkan
Rakarayan Patapan pu Palar suami istri, yang pada hari bulan yang sama
memberikan tanah sawah di Waluang, di Babadan, yang masuk wilayah
/.../ di Kisir yang masuk wilayah Kayumwungan, di santwi Karung yang
masuk wilayah Petir, di Kaliru /nga/ n dan Kuling yang masuk Tri Haji,
seluruh sawah yang memerlukan benih sebanyak 16,5 amet padi,
sebagai sima bagi bangunan suci ini. Penetapan sima itu terdapat
di daerah Parakan – Temanggung.
Menurut J.G. de Casparis prasasti ini memperingati pembangunan
candi Borobudur, Pawon, dan Mendut oleh Samaratungga dan
Pramodawarddhani. Akan tetapi, pendapat ini kurang meyakinkan,
dan memang berdasarkan suatu salah pengertian. Menurut de Casparis
Wenuwana ialah tempat Sang Buddha pertama kali memberikan
ajarannya, dan ia melihat adegan ajaran pertama itu dipahatkan dibawah
arca induk candi Mendut berupa dharmmacakra yang diapit oleh dua ekor
kijang. Dari lukisan ini saja semestinya ia ingat bahwa tempat Sang
Buddha pertama kali membeberkan ajarannya itu ialah Mrgadawa atau
Taman Kijang, dan bukan Wenuwana. Poerbatjaraka, dalam kesempatan
menyanggah disertasi de Casparis itu, mengemukakan pendapat bahwa
Wenuwana itu harus diidentifikasikan dengan candi Ngawen,
berdasarkan alasan bahwa kata ngawen itu berasal dari kata ka-awian,
yang berarti tempat bambu, atau tempat yang banyak bambunya, yang
lebih sesuai dengan pengertian Wenuwana. Memang candi ini cukup
jauh letaknya dari Parakan – Temanggung, tetapi pada prinsipnya tidak
perlu keberatan, karena tanah sima dapat saja jauh letaknya dari
candinya; sima yang demikian itu biasa disebut angsa. Akan tetapi, kalau
prasasti Kayumwungan itu dibaca dengan seksama, Srimad Wenuwana
itu harus dicari didaerah Parakan – Temanggung juga, karena disitu
dikatakan bahwa candi itu dibangun didesa ini (iha grame). Sayang
hingga sekarang tidak ditemukan sisa – sisa bangunan agama Buddha
yang pantas diidentifikasikan dengan candi dalam prasasti itu didaerah ini
Yang menarik perhatian ialah bahwa prasasti ini terdiri atas dua bagian
dan ditulis dalam dua bahasa. Bagaimana hubungan antara
Samaratungga dengan Rakarayan Patapan pu Palar? Mungkinkah
Rakarayan Patapan pu Palar itu seorang anggota wangsa Sailendra yang
tetap menganut agama Siwa, dan berfungsi sebagai kepala daerah
dengan memperoleh daerah Patapan sebagai lungguhnya? pada waktu
kerabatnya yang berkuasa sebagai maharaja membangun candi Buddha
didaerahnya, ia menyumbangkan tanah – tanah untuk dijadikan sima bagi
bangunan suci itu. Inilah kiranya jawaban yang paling dapat diterima atas
pertanyaan ini.
Rakai Patapan sendiri ada juga membangun bangunan suci diwilayah
kekuasaannya. Hal ini dapat dilihat dari prasasti Sang Hyang Wintang
(Gondosuli I), yang berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini ditulis diatas
batu alam yang besar, terdapat di Desa Gondosuli, didekat sisa – sisa
bangunan candi beragama Siwa. Sayang sekali tidak ada angka
tahunnya. Didalam prasasti itu diperingati pembangunan candi yang
disebut dengan istilah sang hyang haji disebelah utara prasada yang
bernama Sang Hyang Wintang. Memang sekitar dua kilometer dari desa
Gondosuli itu ada sisa – sisa bangunan lagi dari batu yang berlandaskan
agama Siwa.
Pentahbisan bangunan suci itu dipimpin oleh seorang Sthapaka yang
putus dalam ilmunya, bernama Dang Karayan Siwarjita. Untuk bangunan
itu disediakan pula tanah – tanah sima-nya, yaitu di Tanah Bunga, di
Pragaluh, di Pamandyan, di Tiru Ayun, di Wunut, di Pawijahhan, di Kayu
Ara Mandir, di Wangun Waharu, di Mundu, di Kakalyan, dan di Tarukan,
seluruhnya memerlukan benih sebanyak 41 lattir(?).
Yang menarik perhatian disini adalah bahwa prasasti ini mulai dengan
menyebut ibu dari Rakrayan Partapan dan istrinya, saudara –
saudaranya, dan yang teramat menarik adalah nama paman Dang
Karatan Partapan, yaitu Wisnurata. Mungkinkah Wisnu ini sama dengan
Wisnu dalam prasasti Ligor B, permata wangsa Sailendra yang juga
disebut pembunuh musuh – musuh yang sombong tiada bersisa, alias
Rakai Panangkaran? Kalau tambahan rata ditafsirkan sebagai kata
Sanskerta, mungkin sekali ia kependekan dari kata uparata yang dapat
berari telah meninggal. Dengan perkataan lain, pada waktu Rakai
Patapan pu Palar mengeluarkan prasasti Gondosuli itu pamannya, Wisnu
atau Rakai Panangkaran – dalam hal ini mungkin ibunya adalah adik
Rakai Panangkaran – yang masih setia kepada agama Siwa. Jadi, ia
saudara sepupu Samaratungga.
Ada lagi seorang Rakai Patapan dengan nama Pu Manuku, yaitu
didalam prasasti Munduan tahun 728 Saka (21 Januari 807 M) dan
didalam prasasti Tulang Air tahun Saka (15 Juni 850 M). Didalam prasasti
Munduan itu Rakai Patapan pu Manuku membatasi tanah – tanah di
Munduan dan Haji Huma, untuk dianugerahkan kepada hambanya yang
bernama Sang Patoran, dengan diberi kewajiban untuk menggembalakan
kambing bernama sang Madmak. Ia lalu membuat perumahan ditempat
ketinggian di tanah – tanah ini. Oleh karena itu, perumahan itu
dinamakan Walawindu. Selanjutnya daerah itu dibebaskan dari kewajiban
membayar pajak jual beli, dan semua denda – denda atas semua
pelanggaran hukum didaerah itu tidak perlu dibayarkan kepada Rakai
Parapan. Ketentuan itu berlaku bagi Sang Patoran dan mereka yang
tinggal di Walawindu (sebagai gembala kambing). Penetapan sima itu
disaksikan oleh semua patih diwilayah Patapan, yaitu dari Kayumwungan
dan Mantyasih, dan pejabat – pejabat dari Air Warungan, Petir,
Pandakyan, dan pejabat Desa Munduan dan Haji Huma.
Prasasti Tulang air yang didapatkan kembali sebanyak dua prasasti
diatas batu yang cukup besar, berasal dari dekat candi perot, didaerah
Temanggung. Kedua batu berisi naskah yang sama; sayang sekali yang
satu keadaannya cukup parah karena aus. Prasasti kedua cukup baik,
hanya ada bagian – bagian yang aus ditengah bawahnya. Isinya
keterangan tentang penetapan Sima didesa Tulang Air oleh Rakai
Patapan pu Manuku pada hari Minggu Pahing, paringkelan Tunglai, hari
bulan 15 Juni 850 M. Pada waktu itu yang menjadi raja adalah Rakai
Pikatan. Disusul kemudian dengan daftar para pejabat tinggi kerajaan,
para pembantu mereka yang hadir pada penetapan sima, para pejabat
daerah dan pejabat desa yang bertindak sebagai saksi. Struktur prasasti
semacam itu dijumpai pada prasasti Wanua Tengah tahun 785 Saka (10
Juni 863 M), yang menetapkan sima ialah Rakai Pikatan pu Manuku,
sedang yang menjadi raja ialah Rakarayan Kayuwangi pu Lokapala.
Mengingat persamaan struktur itu, dan kenyataan bahwa didalam daftar
raja = raja Mataram yang terdapat didalam prasasti Mantyasih, Rakai
Kayuwangi disebut setelah Rakai Pikatan, dan Rakai Pikatan sesudah
Rakai Garung, de Casparis mengidentifikasikan Rakai Patapan pu Palar
dengan Rakai Garung.
Memang ini merupakan kesimpulan yang logis. Akan
tetapi, harus dicari contoh – contoh perubahan gelar rakai yang dapat cukup meyakinkan. Selama ini
perubahan gelar rakai itu terbatas pada para pejabat tinggi kerajaan dan para pangeran, misalnya rakai
wka naik menjadi rakai halu atau sekali dijumpai dalam zaman Dharmmawangsa Airlangga seorang
Rakai Pangkaja naik menjadi Rakai Halu, tetapi ini memang anugerah raja kepada adiknya, yang
memang ada hak untuk menyandang gelar halu, Selama ini perubahan gelar rakai yang menyangkut
Identifikasi ini memang sulit dibuktikan secara meyakinkan, kecuali
kalau pada suatu ketika dijumpai nama Rakai Garung pu Palar sezaman
dengan Rakai Patapan pu Palar. Bahwa nama Rakai Patapan itu berubah
lebih mudah menerangkannya. De Casparis mengemukakan pendapat
bahwa nama Pu Manuku itu dipakai oleh orang – orang yang telah
mengundurkan diri dari pemerintahan, seperti Rakai Patapan dan Rakai
Pikatan. Masih dapat ditambah lagi dengan Rakarayan Kalangbungkal
Dyah Manuku didalam prasasti Kasugihan tahun 829 Saka (8 Nopember
907 M), yang mungkin dapat diidentifikasikan dengan Rakai
Watuhumalang yang sudah mengundurkan diri dari pemerintahan.
Akan tetapi, dengan munculnya Rakai Patapan pu Manuku didalam
prasasti Munduan tahun 807 M, keterangan itu menjadi kurang
meyakinkan.
Rakarayan i Garung sendiri pernah juga mengeluarkan prasasti, yaitu
prasasti Garung tahun 741 Saka (21 Maret 819 M). Didalam prasasti ini
ia tidak memakai gelar sri maharaja. Akan tetapi, disitu dikatakan bahwa
perintahnya diturunkan kepada Sang Pamgat Amrati pu Mananggungi,
agar daerah Mamrati dibebaskan dari beberapa jenis pungutan. Jadi,
kalaupun dia bukan seorang raja, sekurang – kurangnya ia seorang
penguasa daerah yang otonom. Dengan dimuatnya nama Rakai Garung
dalam deretan nama raja – raja yang pernah memerintah di Mataram,
dapatlah disimpulkan bahwa ia adalah anggota wangsa Sailendra yang
tetap menganut agama Siwa, dan menjabat penguasa daerah dengan
kekuasaan swatantra, pada waktu Samaratungga berkuasa.
Tinggal sekarang masalah Rakai Panunggalan dan Rakai Warak.
Mengenai dua tokoh ini tidak ada sumber lain yang dapat memberi
keterangan, kecuali dari prasasti Mantyasih dan Wanua Tengah III yang
berangka tahun 830 Saka (908 M). Prasasti Wanua Tengah yang juga
dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung seperti halnya prasasti
Mantyasih memuat daftar nama – nama raja Mataram Kuno. Nama –
nama raja yang disebutkan dalam kedua prasasti tidak sama. Jika dalam
prasasti Mantyasih, daftar ini hanya menyebutkan urutan nama –
nama raja yang memerintah di Medang (rahyang ta rumuhun ri mdang ri
poh pitu) dan gelar mereka saja, dalam prasasti Wanua Tengah III selain
nama – nama mereka juga memuat kapan raja – raja ini naik takhta.
Selain itu, nama – nama raja yang disebut lebih banyak jumlahnya dari
yang disebut dalam prasasti Mantyasih, juga ada nama raja yang berbeda
seperti Rakai Panunggalan yang disebut dalam prasasti Mantyasih
setelah Rakai Panangkaran dan sebelum Rakai Warak, dalam prasasti
Wanua Tengah III nama itu tidak ada dan sebagai gantinya ada tokoh
yang disebut Rake Panaraban (784 – 803 M). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Rakai Panunggalan sama dengan Rakai Panaraban.
Sri Maharaja Watuhumalang dalam prasasti Mantyasih disebut sebagai
Rake Wungkalhumalang dyah jbang dalam prasasti Wanua Tengah III.
Mengingat kata watu sinonim dengan wungkal, dipastikan bahwa Rake
Wungkalhumalang dyah Jbang adalah Watuhumalang (894 – 898 M).
Sementara itu, Sri Maharaja Rakai Warak dalam prasasti Mantyasih,
dalam prasasti Wanua Tengah III disebut Rake Warak Dyah Manara.
Setelah meninggal ia dipusarakan di Kelasa (san lumah i kelasa).
Ada empat raja yang tidak disebutkan dalam prasasti Mantyasih, yaitu
Dyah Gula (5 Agustus 827 – 24 Januari 828 M), Dyah Tagwas (5 Pebruari
– 27 September 885 M), Rake Panumwangan Dyah Dawendra (27
September 885 – 27 Januari 887 M), dan Rakai Gurunwangi Dyah Badra
yang hanya menjadi raja selama 28 hari sebelum melarikan diri dari
keratonnya. Menurut Kusen perbedaan daftar nama – nama raja dalam
prasasti Mantyasih dan Wanua Tengah III disebabkan oleh perbedaan
latar belakang dikeluarkannya prasasti. Prasasti Mantyasih diterbitkan
dalam rangka melegitimasikan dirinya sebagai pewaris takhta yang sah,
sehingga yang disebutkan hanya raja – raja yang berdaulat penuh atas
seluruh wilayah kerajaan. Dyah Gula, Dyah Tagwas, Dyah Dewandra,
dan Dyah Badra tidak dimasukkan dalam daftar karena mereka tidak
pernah berdaulat penuh diwilayah kerajaan Mataram Kuno. Hal ini terlihat
dari singkatnya masa pemerintahan mereka karena digulingkan dari
takhta. Prasasti Wanua Tengah III dikeluarkan sehubungan dengan
perubahan – perubahan status sawah sebagai sima di Wanua Tengah,
sehingga semua penguasa yang mempunyai sangkut paut dengan
perubahan status sawah disebutkan. Nama Sanjaya sebagai cikal bakal
kerajaan Mataram Kuno pun tidak disebutkan karena status sawah di
Wanua Tengah III sebagai sima baru dimulai pada masa pemerintahan
Rake Panangkaran.
Kembali kepada prasasti Mantyasih, mungkin gelar sri maharaja yang
diberikan kepada Rakai Panunggalan dan Rakai Warak itu agak
berlebihan; sebab dalam kenyataannya yang mengeluarkan prasasti
dengan gelar maharaja adalah anggota wangsa Sailendra yang
beragama Buddha. Dapatlah diperkirakan bahwa sejak Rakai
Panangkaran berpindah agama ke agama Buddha Mahayana dengan
mendatangkan guru dari India atau Sri Lanka, ia berkuasa sebagai
maharaja dengan mendirikan bangunan – bangunan suci kerajaan,
seperti candi Plaosan, Sewu, dan Borobudur. Sementara itu, anggota
wangsa Sailendra yang lain yang tetap menganut agama Siwa berkuasa
sebagai kepala – kepala daerah atau raja – raja kecil dengan daerah
kekuasaan masing – masing secara otonom. Seperti dalam prasasti Sang
Hyang Wintang, Rakai Patapan pu Palar menyebut daerah kekuasaannya
dengan yang rajya diraksa iya sabanakna yang desa itas tatah purwwa
daksina pascima uttara itas tatah, tetapi nama – nama desa didalam
prasasti itu dan didalam prasasti Kayumwungan, wilayah kekuasaan
Rakai Patapan itu memang terbatas. Demikian pula halnya dengan Rakai
Panunggalan dan Rakai Warak. Jadi, dalam sejarah kerajaan Mataram
tidak pernah ada dua wangsa, yang satu asli Indonesia beragama Siwa,
yang selama ini disebut Sanjayawangsa, yang lain berasal dari luar
Indonesia dan beragama Buddha, yang selama ini disebut
Sailendrawangsa, melainkan hanya satu wangsa, yaitu wangsa
Sailendra, yang anggota – anggotanya ada yang beragama Siwa dan ada
yang beragama Buddha Mahayana. Dapunta Selendra, pendiri wangsa
ini, sampai kepada raja Sankhara menganut agama Siwa, lalu Rakai
Panangkaran berpindah ke agama Buddha Mahayana karena takut akan
guru ayahnya yang dianggapnya tidak benar (anrta). Disinilah lalu timbul
dua cabang dari wangsa ini. Sebagian masih tetap menganut agama
Siwa, seperti Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung, dan
mungkin dalam deretan anggota wangsa Sailendra yang tetap menganut
agama Siwa ini dapat dimasukkan Bhanu dan Rakai Patapan.
Rakai Panangkaran yang berpindah agama ke Buddha Mahayana
memerintah sebagai Maharaja cukup lama, sekurang – kurangnya sejak
kira – kira tahun 750 sampai sekitar tahun 792 M. Ia digantikan oleh
Samaratungga, yang mempunyai anak sekurang – kurangnya dua orang.
Yang kedua, mungkin dari permaisuri, ialah Balaputradewa. Mungkin
Rakai Patapan pu Palar, sekalipun ia membantu memberikan tanah –
tanah sebagai sima bagi pembangunan candi oleh Samaratungga dan
anaknya, berambisi untuk menjadi maharaja. Dalam hal ini rupa –
rupanya lalu diadakan perkawinan antar keluarga, yaitu
Pramodawarddhani, putri mahkota, dikawinkan dengan Rakai Pikatan,
anak Rakai Patapan pu Palar, yang tetap menganut agama Siwa.
Setelah Samaratungga meninggal atau mengundurkan diri dari
pemerintahan, Rakai Pikatan menggantikannya sebagai maharaja di
Medang. Karena ia menganut agama Siwa, ia memerintahkan
membangun candi kerajaan yang lain yang berlandaskan agama Siwa,
yaitu Loro Jonggrang di Prambanan. Ini diketahui dari prasasti Siwagerha
tahun 778 Saka (12 Nopember 856 M). Kemudian untuk menunjukkan
bahwa ia tidak ingin sama sekali mengabaikan candi kerajaan yang
dibangun oleh Rakai Panangkaran, yaitu candi Plaosan Lor, dan mungkin
juga untuk menjaga perasaan permaisurinya, yaitu Pramodawarddhani
yang beragama Buddha, ia menambahkan sekurang – kurangnya dua
candi perwara berupa bangunan stupa dikanan kiri jalan masuk ke candi
induk sebelah utara, yang bertulisan astupa sri maharaja rakai pikatan,
dan anumoda rakai gunungwangi dyah saladu. Bahwa bangunan atau
tulisan diatas bangunan stupa itu merupakan tambahan pada waktu
kemudian dari waktu pembangunan percandian itu dapat dilihat dari
perbedaan tulisannya dengan tulisan pada candi perwara yang lain.
Kenyataan ini tidak dibicarakan oleh J.G. de Casparis.
Sebelum membicarakan prasasti Siwagerha lebih mendalam, lebih
baik menyebutkan sumber – sumber prasasti yang lain dari masa
sebelumnya. Pertama – tama adalah prasasti berbahasa Melayu Kuno
dari Gondosuli yang berangka tahun 749 Saka (17 Mei 827 M). Prasasti
ini memperingati nya
dahulu di Medang di Poh Pitu; dengan perkataan lain Rakai Panunggalan itu berkuasa dan meninggal
serta kemungkinan – kemungkinan yang lain. Mungkin saja seorang rakai yang lain diluar yang disebut
didalam daftar raja – raja dalam prasasti Mantyasih yang berpetualang ke Komboja dan berhasil
menjadi raja disana. Kalau keterangan dalam Cerita Parahyangan mengenai serangan Sanjaya ke
Khmer itu dianggap mengandung kebenaran, mungkin ada seorang pangeran Khmer yang ikut
pasukan Sanjaya kembali ke Jawa, mendapat pendidikan dosini, lalu pada suatu ketika ia kembali ke
Kamboja. Ingat misalnya kasus Adityawarman, yang setelah mengabdi di Majapahit lalu kembali ke
Malayu menjadi Maharaja dinegeri leluhurnya sendiri itu.
unsur Girindra, dan mengingat pula pernyataan bahwa di dalam Nagarakertagama Ken Angrok disebut
anak Girindra (Nag, 40, 2), Girindrawangsa itu tentulah menunjukkan wangsa raja – raja Majapahit,
mungkin merupakan cabang keturunan – keturunan Rajasa / Ken Angrok.
Dalam hal ini masih ditunggu penelitian dari para ahli linguistik historis untuk menentukan daerah
asal bahasa Melayu Kuno itu, sebab di Jawa Tengah juga dijumpai beberapa prasasti lain yang
berbahasa Melayu Kuno.
Menurut keterangan Bapak Adam Malik, penjual prasasti itu mengatakan batu itu berasal dari Jawa
Barat. Akan tetapi, ada seorang kolektor di Solo yang mengatakan kepada Boechari bahwa batu itu
berasal dari dekat Sragen, di sebelah timur Solo, dan ditempat itu masih dijumpai sisa – sisa bangunan
bangunan dari bata. Kolektor itu masih menyimpan sebuah kepala arca Buddha yang indah buatannya,
terbuat dari terakota. Mengingat kebiasaan penjual barang purbakala yang tidak pernah mau menyebut
tempat asal barang yang dijualnya, dan mengingat isi prasasti itu, mungkin sekali keterangan kolektor
di Solo itu yang benar.
Sebetulnya masih ada satu nama wangsa lagi yang dijumpai di dalam Sejarah Kuno Indonesia, yaitu
Girindrawangsa. Istilah ini ditemukan di dalam kitab Lubdhaka karangan Pu Tan Akung, yang semula
dikira berasal dari zaman Kadiri. Akan tetapi, karena ada raja – raja Majapahit yang bergelar dengan
bahwa ia tidak ingin sama sekali mengabaikan candi kerajaan yang
dibangun oleh Rakai Panangkaran, yaitu candi Plaosan Lor, dan mungkin
juga untuk menjaga perasaan permaisurinya, yaitu Pramodawarddhani
yang beragama Buddha, ia menambahkan sekurang – kurangnya dua
candi perwara berupa bangunan stupa dikanan kiri jalan masuk ke candi
induk sebelah utara, yang bertulisan astupa sri maharaja rakai pikatan,
dan anumoda rakai gunungwangi dyah saladu. 100 Bahwa bangunan atau
tulisan diatas bangunan stupa itu merupakan tambahan pada waktu
kemudian dari waktu pembangunan percandian itu dapat dilihat dari
perbedaan tulisannya dengan tulisan pada candi perwara yang lain.
Kenyataan ini tidak dibicarakan oleh J.G. de Casparis.
Sebelum membicarakan prasasti Siwagerha lebih mendalam, lebih
baik menyebutkan sumber – sumber prasasti yang lain dari masa
sebelumnya. Pertama – tama adalah prasasti berbahasa Melayu Kuno
dari Gondosuli yang berangka tahun 749 Saka (17 Mei 827 M). Prasasti
ini memperingati
Prasati ligor ini bertulisan
pada dua sisinya. Pada sisi A terdapat prasasti dari raja Sriwijaya yang tidak disebut namanya,
berangka tahun 697 Saka (775 M). Pada sisi B terdapat prasasti yang hanya terdiri atas 4 baris, ternyata
tidak diselesaikan. Pada sisi B inilah terdapat nama raja yang mengaku dirinya terlahir dari wangsa
Sailendra. Masalah yang timbul ialah mengenai angka tahunnya. Adakah prasasti Ligor B ini berasal
dari tahun yang sama dengan prasasti Ligor A, atau lebih muda? Boechari pernah mengemukakan
dugaan bahwa prasasti Ligor B dikeluarkan oleh raja Balaputradewa, raja Sriwijaya yang mengaku
sebagai cucu raja Jawa dari wangsa Sailendra yang bergelar Sri Wirawairimathana; jadi kira – kira tige
perempat abad lebih muda dari prasasti Ligor A. (Boechari: “Report on research on Sriwijaya”, Country
Report SPAFA Workshop on Sriwijaya,
pergantian daerah lungguh sebagai penguasa daerah biasa (bukan pejabat tinggi kerajaan di pusat)
belum pernah dijumpai. Dalam hal ini alasan de Casparis adalah bahwa disalah satu prasasti pernah
disebutkan wihara i garung, dan mungkin karena amat terkenalnya biara di Garung itu, daerah Garung
juga disebut Patapan (=pertapaan) Sampai sekarang ada kota
kecamatan yang bernama Garung di lereng barat Gunung Sindoro, disebelah utara Wonosobo. Dari
nama – nama tempat di pelbagai prasasti diperoleh kesan bahwa Patapan harus dicari di sebelah timur
Gunung Sindoro dan Sumbing.
Boechari pernah menyokong pendapat itu dengan mengatakan bahwa mungkin kata manuku, yang
didalam kamus Jawa Kuno diartikan menyerang dapat juga dianggap mengandung arti yang sama
dengan manungku (puja) atau manekung dalam bahasa Jawa sekarang, yang berarti mengheningkan
cipta, bersemedi, dan lain – lain Meskipun demikian, untuk sementara identifikasi Rakai Patapan pu Palar dengan Rakai Patapan pu
Manuku dapat diterima. Bagian nama itu, yaitu garbhajanmanama, dapat berubah – ubah sesuai
dengan perubahan kegiatan dari orang yang memakainya. Dapat saja Rakai Patapan pada tahun 807
M memakai nama Pu Palar karena sedang . baru menyerang musuh, sedang pada tingkat terakhir
hidupnya ia memakai nama Pu Manuku dalam pengertian bersemedi, yaitu setelah ia mengundurkan
diri dari segala kegiatan keduniawian.
Prasasti ini belum diterbitkanl tetapi telah dibaca oleh Boechari, Sebenarnya tafsiran ini masih agak
meragukan, Hal ini terletak pada penafsiran kalimat yang berbunyi : so yan tyaktanyabhaktir
jagadasiwiharac chankarac chankarakhyah. Terutama kasus ablatif jagadsiwaharac chankarac itu,
Mungkin kalimat ini dapat diterjemahkan dengan ia, yang bernama Sangkhara, yang melenyapkan
ketidak tenteraman dunia? Memang kedengarannya agak janggal, tetapi mengingat bagian akhir
prasasti membayangkan bahwa raja Sangkhara itu menjadi penganut agama Buddha dengan memberi
anugerah kepada bhiksusanggha, mungkin sekali kejanggalan itu bersumber kepada kekurang
pahaman penulis prasasti, yang mungkin sekali seorang pendeta pribumi, akan tata bahasa Sanskerta.
Karena raja meninggalkan kebaktian kepada Siwa, kalimatnya dinyatakan dengan kasus ablatif, yang
pada umumnya menunjukkan gerakan suatu arah yang lain (dari Siwa ke Buddha). Menurut tata
bahasa Sanskerta yang benar, mungkin kalimat di atas harus diterjemahkan dengan ia yang bernama
Sangkhara, yang meninggalkan kebaktian kepada yang lain – lain kecuali kepada Siwa. Dengan
terjemahan semacam itu harus ditafsirkan bahwa raja Sangkhara lalu menjadi penganut agama Siwa,
yang kurang sesuai dengan keterangan pada akhir prasasti yang membayangkan bahwa ia menjadi
penganut agama Buddha. Yang menarik perhatian lagi ialah keterangan bahwa raja Sangkhara
menyebut gurunya sebagai “guru yang tidak benar (anrtaguru)”
Disini perlu dikemukakan pendapat bahwa mungkin sekali gelar lengkap dari Rakai Panangkaran
ialah Rakai Panangkaran Dyah Sangkhara Sri Sanggaramadhananjaya.
L-C Damais menyebutkan bahwa berita
perpindahan itu termuat dalam Yuan-che-lei-pin yang ditulis pada tahun 1669 M, dan bahwa
perpindahan itu terjadi dalam masa T’ien-pao, antara tahun 742 dan 775 M atau tahun 664 dan 667
Saka . Rupa – rupanya disini terdapat beberapa
salah cetak. Bandingkan karangannya sebelumnya Bibliographie Indonesienne, Didalam prasasti mana saja nama Walaing itu ditemukan dapat dilihat dalam karya Damais,
“Repertoire Onomastique de l’Epigraphie Javanaise (jyusqu’a Pu Sindok Sri Isanawikrama
Dharmmotunggadewa)”, sampai kepada kesimpulan bahwa sampai dengan abad VI M orang – orang Arab tidak
berlayar lebih ke timur dari pantai barat India. Akan tetapi, dalam abad – abad berikutnya memang ada
pedagang – pedagang Arab (Ta-shih) dan Persia (Po-pase) yang sampai ke Cina.
Kitab Carita Parahyangan memberi keterangan bahwa Rahiyang Sanjaya telah menyuruh anaknya,
Rahiyangta Panaraban, untuk tidak menganut agama yang dianutnya. ini juga membayangkan adanya
pergantian agama. Keterangan Poerbatjaraka yang mengatakan bahwa Rakai Panangkaran itu
berganti agama setelah ayahnya Sanjaya menempatkannya di Sriwijaya, (Riwayat Indonesia, I, 1952)
tidak perlu rasanya dibahas disini.
yang menyebutkan bahwa Desa Watukura masih ada hingga sekarang, di
Kecamatan Bubutan, Kabupaten Purworejo, disebelah barat Kali Bogowonto, dekat pantai selatan. Mungkin candi Plaosan Lor dan candi Borobudur juga dibangun pada masa pemerintahan Rakai
Panangkaran, sebagai candi – candi kerajaan yang berlandaskan agama Buddha Mahayana.
Ferrand pernah mengemukakan pendapat bahwa Pó-lu-chia-sse itu merupakan transkripsi dari
Baruyasik, dan mengidentifikasikannya dengan Warus Gresik, yang sekarang masih tertinggal pada
nama Gresik di Jawa Timur ,melokasikan Pó-lu-chia-sse di Barus, disebelah selatan Kedah.
Kern menyangsikan apakah Ki-yen daoat disamakan dengan raja yang
mengeluarkan prasasti Dinoyo, karena ia berpendapat bahwa Ki-yenitu bukan raja, hanya seorang
pangeran. Prasasti Dinoyo itu ditemukan terputus menjadi tiga bagian. Bagian yang tengah ditemukan di desa
Dinoyo, sedang bagian atas dan bagian bawah ditemukan di Desa Merjosari, kira – kira 2 Km disebelah
barat Dinoyo. Mengingat kasus di Gunung Wukir dan prasasti Canggal, mungkin sekali prasasti Dinoyo
ini asalnya justru dari Merjosari, yang memang ternyata menghasilkan sisa – sisa bangunan. De
Casparis menduga bahwa batu prasasti itu berasal dari Desa Kejuron, pendapat ini mungkin kurang
dapat diterima karena Kejuron mungkin justru merupakan pusat kerajaan, sedang prasasti itu tentulah
tidak didirikan di pusat kerajaan, tetapi didekat candinya.
Yen
memang dapat merupakan transkripsi yana, tetapi ki tidak mungkin sama dengan gaja. Huruf yang
berbunyi ki itu, selain merupakan transkripsi dari ka juga dapat menggantikan kata Sri, untuk gaja biasa
dipakai bunyi ngo-yo.
Kesimpulan ini dihasilkan dalam pembicaraan pribadi
antara Hermann Kulke dan Boechari di Borobudur pada tanggal 9 Juli 1979.
Sebetulnya rakryan kanuruhan sudah muncul dalam prasasti Kancana tahun 782 Saka
(860 M), jadi dalam masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Akan tetapi, prasasti ini adalah prasasti
tinulad, yang ditulis kembali pada zaman Majapahit. Nama kanuruhan juga terdapat diantara tulisan –
tulisan singkat pada candi – candi perwara percandian Loro Jonggrang yang diperkirakan candi
induknya ditahbiskan pada tahun 856 M. Percandian ini ternyata belum selesai seluruhnya, sehingga
nama kanuruhan dapat saja tertera disitu pada masa pemerintahan Rakai Watukura.
Prasasti Canggal ini ditemukan kembali di dua tempat. Bagian yang terbesar ditemukan di Desa
Canggal dibawah bukit, tetapi ada potongan kecil dari bagian bawah prasasti yang ditemukan di
halaman percandian candi Gunung Wukir. Karena itu disimpulkan bahwa tempat asal prasasti ini
adalah di halaman percandian diatas bukit.
Musuh ini mungkin sekali
berasal dari Galuh seperti yang termuat dalam kitab Carita Parahyangan. Didalam kitab ini dikatakan
bahwa Sanna kemudian melarikan diri ke Gunung Merapi, tetapi kemudian Sanjaya dapat kembali
menduduki takhta kerajaan.
baru dua prasasti yang ditemukan yang
memakai tahun Sanjaya, yaitu prasasti Taji Gunung yang berangka tahun 194 Sanjaya (910 M) dan
prasasti Timbanan Wungkal yang berangka tahun 196 Sanjaya (913 M). Sekarang ditambah lagi
dengan prasasti Tihang yang berangka tahun 198 Sanjaya (914 M).
Mengenai prasasti Mantyasih dan daftar raja – raja yang termuat didalamnya akan dibicarakan dalam
uraian selanjutnya.
Ini tidak lebih dari suatu dugaan, tetapi didasarkan kenyataan didalam sejarah kuno bahwa raja yang
keempat setelah pendiri wangsa akan mengalami musibah. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa
raja Kertanegara yang merupakan raja keempat dari Rajasawangsa, dan Dharmmawangsa Teguh
yang merupakan raja keempat dari Isanawangsa juga mengalami musibah. Dalam hal ini mungkin
Sanna ialah raja yang keempat sesudah Dapunta Sailendra. Memang sampai sekarang tidak diketahui apa nama kerajaan di Jawa Tengah ini sebelum masa
pemerintahan Sanjaya. Nama Mataram mungkin baru dipakai sejak Sanjaya, ia bergelar Rakai
Mataram, demikian pula nama Medang sebagai pusat kerajaan. Carita Parahyangan menyebut nama
kerajaan Sanna dan Sanjaya itu Galuh. Memang dari prasasti Sojomerto dan beberapa prasasti lain
yang hingga kini belum dapat dibaca, tetapi jelas memakai huruf Pallawa, yang ditemukan
didaerah Pekalongan, mungkin sekali pusat kerajaan wangsa Sailendra itu mula – mula didaerah
Pekalongan sekarang.
Carita Parahyangan menyebutkan bahwa Sanjaya bahkan menaklukkan Malayu, Khmer, dan Cina.
Mengingat bahwa sampai sekarang belum dapat dipastikan nilai sejarah dari kitab Carita Parahyangan
itu, keterangan ini tidak dipermasalahkan disini.
Poerbatjaraka mengusulkan pembetulan pembacaan nama Trigosti (trigramuryamahitam diganti
dengan trigostyasahitam), dan mengidentifikasikan tempat ini dengan Salatiga, berdasarkan tafsiran
bahwa sinonim trigosti isalah trisala. Trisala ini dalam kaidah bahasa Indonesia menjadi Salatiga. Aksan
tetapi, menurut pengamatan Boechari atas cetakan kertas maupun pada batu aslinya pembacaan
trigramuryamahitam itu tidak perlu diragukan.
J.G. de Casparis menafsirkan Siddhadewi itu dengan de volmaakte vorstin; dalam pikirannya
terbayang seorang ratu, meskipun ia tidak berani berspekulasi lebih jauh mengenai tokoh itu.
Mengingat kata anumatan yang berhubungan dengan Siddhadewi ini mungkin sekali yang
dimaksudkan dengan kata itu bukanlah seorang ratu melainkan seorang dewa perempuan. Atau,
barangkali seorang ratu yang telah meninggal? Mengingat bahwa ada juga istilah sang siddha dewata
untuk menyebut seorang yang telah meninggal dan telah diperdewakan.
Mengenai nama Indra didalam prasasti Kelurak itu kemudian de Casparis meralatnya. Berdasarkan
pengamatan lebih lanjut, pembacaan dharanindranamma harus dibetulkan menjadi dharanindarena
Bahwa bangunan terbuat dari bata tidak harus perlu ditafsirkan sebagai bangunan yang tidak
dibangun oleh raja. Candi Banon yang juga terbuat dari bata, tetapi arca – arcanya terbuat dari batu
dalam ukuran yang besar, dan pahatannya memang indah, sehingga tidak mungkin kiranya candi
Banon itu dibangun oleh raja bawahan.
Fragmen yang ada di Museum Nasional telah diterbitkan oleh J.G. de Casparis, Prasasti Indonesia,
II, 1956, hlm. 175 – 206. Kemudian bagian sebelah kiri prasasti ini ditemukan di sawah didepan candi
Plaosan, dan ternyata dahulu prasasti ini dibuatkan sebuah bangunan khusus, yang ditempatkan tepat
ditengah – tengah diantara dua dwarapala diluar tembok keliling candi. Diharapakan angka tahun
prasasti ini dapat terbaca pada fragmen yang ditemukan didepan candi Plaosan itu.
J. Dumarcay sampai kepada kesimpulan bahwa candi Borobudur mulai dibangun pada pertengahan
kedua abad VIII M berdasarkanpenelitian atas tahap – tahap pembangunan candi itu (J.Dumarcay,
“Histoire architecture du Borobudur””, Memories Archeologiques, no. XII, EFEO, 1977), Sebelumnya
didalam karangan singkat ia menunjukkan adanya 5 tahap pembangunan candi Borobudur, dan tahap
terakhir dimulai pada permulaan abad X M
Boechari, Dumarcay dapat menyetujui anggapan Boechari bahwa Borobudur mulai dibangun pada
pertengahan kedua abad VIII M.
Transkripsi fragmen yang telah ditemukan pada pertengahan abad yang lalu terdapat dalam
karangan F.D.k. Bosch, “De inscriptie van Kelurak”, TBG, LXIII 1928, hlm. 1 – 64. Prasasti ini
dibicarakan oleh J.G. de Casparis dalam desertasinya (Prasasti Indonesia, I, 1950, hlm. 11 – 24). Pada
tahun 1960 ditemukan lagi beberapa potong prasasti ini di pendopo teras di bukit Ratu Baka (Prasasti
Indonesia, II, hlm. 341 – 343), dan de Casparis membicarakan beberapa bait yang memuat keterangan
tentang hubungan antara Sri Lanka dan Indonesia (“New evidence ...”, hlm. 241 – 248). Disini
disebutkan bahwa prasasti ini berangka tahun 714 Saka (792 M), dan menyebut Tejahpurnnapanna
Panamkarana, atau Rakai Panangkaran.
Mengenai isi mantra – mantra yang tertera pada materiai – materiai di Bali itu
Transkripsi dan terjemahan prasasti dimuat juga didalam K.A. Nilakanta Sastri, History of Sriwijaya,
hlm. 125; G. Coerdes, “Le Sailendra, tueur des heros ennemies”, Bingkisan Budi, 1950, hlm. 58 – 70.
81 Boechari pernah mengemukakan dugaan bahwa prasasti Ligor B itu ditulis oleh Balaputradewa, Raja
Sriwijaya keturunan Sailendra, yang memerintah Sriwijaya pada pertengahan abag IX M
Dibelakang nama Wisnurata itu terdapat keterangan sarabhara di nayaka watak wunut, yang oleh de
Casparis diterjemahkan dengan hij is belast met de functie van nayaka over het ressort Bunut.
Terjemahan ini tidak mengikuti kaidah; untuk memperoleh terjemahan semacam itu diharapkan kalimat
Melayu Kunonya berbunyi sarabhara/ ... / nayaka di watak wunut. Kata sarabhara dapat berarti penuh
kekuatan, tetapi juga “minta bantuan”. Karena ada bagian kalimat yang berbunyi di nayaka watak
wunut, rasanya lebih tepat kalimat itu diterjemahkan dengan: (Pada suatu ketika ia) meminta bantuan
kepada nayaka di wilayah Wunut. Pada peristiwa apa Wisnurata itu minta bantuan kepada nayaka di
wilayah Wunut itu tidak ada sumber yang menerangkan
Raja raja Mataram Kuno dari Sanjaya sampai Balitung, sebuah rekonstruksi
berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III”, Berkala Arkeologi, Tahun XIV, Edisi Khusus 1994, hlm. 92.
98 Suwadji Syafei pernah mengemukakan pendapat bahwa mungkin sekali Jayawarman II dari Kamboja
dapat diidentifikasikan dengan Rakai Panunggalan (Suwadji Syafei, “What historical relay=tions were
there between Cambodia and Indonesia from the eight to the ninth century”, Majalah Aekeologi, Th. I
no. 1, 1977, hlm. 31 – 41). Pendapat ini kurang meyakinkan karena Rakai Panunggalan didalam
prasasti Mantyasih disebut diantara rahyang ta rumuhun ri mdang ri poh pitu = yang diperdewakan
Related Posts:
mataram kuno Kerajaan Mataram Kuno Wangsa Sailendra 1. Asal usul Wangsa Sailendra. Istilah Sailendrawangsa dijumpai pertama kali di dalam prasasti Ka… Read More