yahudi 4
By arwahx.blogspot. com at November 22, 2023
yahudi 4
sejarah bangsa-bangsa dari balik layar. Itu memperjelas, bahwa Zionisme
bukanlah suatu gerakan yang lahir dari 'rahim kebetulan.' Ia merupakan anak
dari sebuah program jangka panjang, yang dibentuk oleh perkumpulan pemilik
modal internasional dengan tujuan menguasai seluruh dunia dengan
kekayaannya. Berikut ini diketengahkan beberapa data lain yang bisa
melengkapi bukti-bukti yang lalu, yang bisa dijadikan bahan tambahan untuk
meneropong beberapa sisi misterius dari pengaruh Kekuatan Terselubung dan
Zionisme di Inggris.
Pada tanggal 28 Januari 1915 Perdana Menteri Asquith menulis dalam buku
hariannya beberapa baris catatan berikut :
"Saya menerima catatan khusus dari Herbert Samuel dengan judul Masa Depan
Palestina. Dia menyangka, bahwa kami mampu menempatkan sebanyak 3
sampai 4 juta bangsa Yahudi Eropa di bumi Palestina. Gagasan semacam ini
bagi kami seperti kumpulan cerita mengenai perang salib baru. Saya
menunjukkan kebencianku terus perang terhadap program dan gagasan yang
akan menambah beban tanggungjawab kami ..... dan seterusnya."
Catatan ini menunjukkan bukti kuat mengenai sikap Asquith terhadap
Zionisme dan Konspirasi internasional. Tidak bisa diragukan lagi, bahwa sikap
benci Asquith dan pemerintahannya menyebabkan pihak Konspirasi
mengambil langkah-langkah baru untuk menumbangkan Asquith. Bahkan juga
akan mendongkel sistem pemerintahan Inggris yang ada pada saat itu.
Memang benar, bahwa para pemilik modal sejak lama telah menguasai
beberapa pabrik senjata di Inggris. Pada saat para perancang program
Konspirasi mengumumkan perang terhadap Asquith yang menentang
Zionisme, Inggris tiba-tiba dihadapkan pada krisis dahsyat di bidang produksi
kimia sebagai bahan dasar bagi industri senjata perang dan amunisi. Direktur
produksi bahan kimia di Inggris ketika itu adalah seorang Yahudi bernama Sir
Frederick Nathan. Ia memberi tender bahan-bahan kimia kepada
perusahaan Browner-Mond dengan kredit besar dari pemerintah sebagai
bantuan. Sedang pemilik perusahaan itu tidak lain adalah dua orang
pengusaha Yahudi terkenal, yaitu Browner dan Mond itu sendiri yang diambil
sebagai nama perusahaannya. Kemudian perusahaan itu membangun pabrik
kimia raksasa di kota Silvertown dengan biaya dari bantuan kredit pemerintah
itu. Ketika pabrik ini mulai memproduksi bahan-bahan kimia, kebutuhan
bahan kimia pemerintah segera bisa diatasi. Pada saat itu media massa yang
kebanyakan telah dikuasai oleh Konspirasi segera menyanjung keberhasilan
Browner dan Mond sebagai patriot yang dibanggakan Inggris. Pada saat negara
sedang dikepung oleh ancaman krisis persenjataan, mereka tampil sebagai juru
selamat. Sedang kecaman pedas dibebankan kepada pemerintah. Tidak lama
kemudian, sesudah proyek Silvertown beroperasi, terjadi ledakan dahsyat yang
menghancurkan pabrik ini beserta 800 rumah di sekitarnya. Akibatnya,
produksi bahan kimia macet dan kembali pula krisis mengancam pemerintahan
Asquith. Sedang para pahlawan palsu beserta para perancangnya telah selamat
dari kecaman, dan mendapat sanjungan serta pujian.
Sebagai penutup perlu kita ingatkan, bahwa Mond yang bergelar Sir Alfred
Mond itu, yang kemudian menjabat pengawas produksi bahan kimia Inggris,
di samping sebagai wakil pemerintah dalam produksi persenjataan di kerajaan
itu adalah kelak menjadi kepala perwakilan Yahudi di Palestina.
Telah kita ketengahkan peristiwa yang terjadi berturut-turut, hingga jatuhnya
pemerintahan Asquith, yang kemudian digantikan oleh pemerintahan tiga
serangkai, yaitu Lloyd George, Balfour dan Churchill. Kemudian menyusul
berbaliknya perimbangan kekuatan dalam Perang Dunia I, sesudah Balfour
melaksanakan kunjungan ke New York untuk menghubungi para pemilik modal
internasional. Mungkin timbul pertanyaan di benak kita mengenai sebab yang
memaksa menteri luar negeri Inggris harus pergi ke New York untuk
menghubungi mereka. Padahal, kelompok Rothschild punya pusat kegiatan di
London, sebagaimana beberapa kali telah kita singgung. Untuk menjawab
pertanyaan seperti itu, kita bisa melihat Encyclopedia Yahudi mengenai
gerakan Zionisme sebagai berikut :
"Perang Dunia I telah memaksa pusat organisasi Zionisme di Berlin berpindah
ke New York. Seluruh kekuasaan dan wewenang diserahkan kepada Komite
Darurat Zionisme di bawah pimpinan seorang jaksa agung Amerika L.B.
Brandes." Dalam kaitan ini, seorang penulis berkebangsaan Inggris mengatakan
dalam bukunya berjudul Waters Flowing to the East halaman 51 :
"Sejak itu, yaitu perpindahan pusat Zionisme dari Berlin ke Amerika,
pengaruhnya tampak makin bertambah besar dalam kehidupan politik di
Amerika dan Eropa. Perwakilan imigrasi Yahudi telah berubah menjadi
kekuatan yang mampu mengirimkan dana dan informasi penting kepada
kelompok sabotase di setiap negeri di dunia." Kemudian seorang pengamat
Amerika dalam bidang peperangan M. Harrisburger menambahkan dalam
bukunya My Experiences in the First World War halaman 145-146 :
"Perusahaan milik orang Yahudi, Eliyans telah mentransfer uang sebesar
700.000 Franc Perancis pada 16 Maret 1916 kepada The Grand Eastern Lodge
di Paris, dan kepada The Grand Eastern Lodge di Roma sebesar 1 juta Lira Italia
pada tanggal 18 Maret tahun yang sama. Hal ini telah tercatat dalam dokumen
perkumpulan itu. Tidaklah keliru, kalau kita meragukan, bahwa uang sebesar
itu hanya untuk dibagikan kepada orang-orang Yahudi miskin. Jumlah itu
sangat besar waktu itu. Di sana pasti ada tujuan lain."
Kita kembali lagi meneropong peristiwa keji yang mengakibatkan Konspirasi
Zionisme berhasil menguasai Inggris sepenuhnya. Dalam periode ini
digambarkan oleh seorang penulis Inggris A.N. Field dalam bukunya That's all
Things halaman 4 sebagai berikut :
"Demikianlah pengaruh Yahudi tampak jelas sesudah Lloyd George memegang
kendali pemerintahan."
Pertemuan pertama yang diadakan oleh komite politik organisasi Zionisme,
sesudah Lloyd George memegang kendali kekuasaan dilaksanakan 7 Februari
1917 di kota London. L. Fray dalam bukunya Waters Flowing to the East
halaman 55 mengatakan :
"Pertemuan pertama yang diadakan oleh Komite politik organisasi Zionisme
adalah tanggal 7 Februari 1917 di rumah kediaman Moshe Gaster di London,
dihadiri oleh :
1) Lord Rothschild, kepala Rothschild and Brothers cabang London, dan
James Rothschild putra Edmond De Rothschild, kepala cabang Perancis
untuk kelompok Rothschild and Brothers, dan kepala Dewan Pemukiman
Yahudi yang mewakili Rothschild di Palestina.
2) Sir Mark Sykes, yang rumah tinggalnya terletak di distrik Ballingham
Guinness London, yang merupakan pusat gerakan Zionisme di Inggris,
3) Sir Herbert Samuel, yang kelak menjadi komisioner Tinggi Inggris pertama
di Palestina dan koordinator imigrasi Yahudi di wilayah itu.
4) Herbert Pantowich, yang kelak menjadi gubernur jenderal di Palestina.
Dialah orang yang bertanggung jawab dalam bidang hukum dan undangundang serta pelaksanaannya di Palestina.
5) Harry Sasheer
6) Joseph Cowen
7) Haim Weisman, seorang ketua Zionisme politik terbesar.
8) Nachom Sokolov, penanggungjawab dalam bidang propaganda yang kelak
menulis buku The History of Zionisme.
Topik utama yang dibahas dalam pertemuan itu adalah strategi yang akan
dipakai sebagai landasan pijak dalam perundingan resmi, yang akan
menentukan perjalanan nasib Palestina, Armenia dan Irak. Seorang politikus
Amerika Jeffrey menambah informasi mengenai pertemuan itu dalam sebuah
komentarnya yang ia sajikan kepada pihak organisasi Zionis di Amerika Serikat
sebagai berikut :
"Saya menyampaikan rincian hasil pertemuan ini kepada organisasi Zionisme di
Amerika. Kemudian sejak itu, mereka mencampuri urusan dalam negeri Inggris,
dan mengarahkan pemerintahan Lloyd George dalam kasus penting yang
menjadi bidangnya."
Selanjutnya kita perlu mengukur, sejauh mana penyusupan Zionisme ke dalam
pemerintahan Inggris pada saat itu diatur. Berikut ini beberapa pengakuan
seorang tokoh Yahudi Samuel Landman yang dibeberkan sendiri kelak dalam
bukunya Yahudi Internasional, diterbitkan di London tahun 1926 sebagai
berikut :
"sesudah persetujuan ditandatangani oleh Sir Mark Sykes dan Haim Weizman serta
Sokolov, mereka sepakat untuk mengirim sepucuk surat kepada jaksa agung Amerika
Serikat L.D. Brandes, yang sekaligus juga kepala Komite Organisasi Zionisme di New
York, untuk memberitahukan, bahwa pemerintah Inggris telah menyetujui untuk
membantu orang-orang Yahudi dalam merebut Palestina dari tangan bangsa Arab.
Imbalannya, persatuan Yahudi internasional bersedia bersekutu dengan Inggris, dan
Zionisme di Amerika bersedia mendesak pemerintah Amerika untuk bergabung dengan
sekutu. Pada saat itu, Amerika belum melibatkan diri dalam perang. Kemudian gerakan
Zionisme di Amerika meniupkan arus kuat untuk mendukung dan menekan
pemerintah Amerika agar terlibat dalam perang memihak Inggris. Ini membuat
kekuatan Inggris menjadi unggul seketika."
"Kami mengirimkan surat serupa kepada jenderal Mac. Donaff, komandan angkatan
darat Inggris. Dr Weizman sejak itu telah menjadi orang yang punya pengaruh besar,
sehingga memungkinkan ia melaksanakan hubungan langsung dengan jenderal Mac.
Donaff, dan bisa mencampuri urusan militer. Ia berhasil memperoleh hak pembebasan 6
orang pemuda Yahudi dari dinas wajib militer. Padahal, negara masih dalam keadaan
perang. Dr Weizman berhasil memperoleh pembebasan mereka dari dinas wajib militer,
karena alasan yang ada hubungannya dengan kepentingan utama bagi negara."
"Adapun kepentingan utama yang dimaksud tidak lain adalah mendirikan kantor
khusus untuk gerakan Zionisme, langsung di bawah pimpinan Weizman. Sedang ke 6
pemuda itu adalah saya sendiri dan 5 kawan lainnya, di antaranya Harry Sasheer,
seorang anggota Komite politik organisasi Zionisme. Pemerintah baru di bawah
pimpinan Lloyd George, Balfour dan Churchill menganggap organisasi Zionisme
sebagai kawan dan sekutunya. Kantor-kantor perwakilan kita mendapat perlakuan
istimewa dalam pelayanan urusan paspor untuk beberapa orang tertentu, transportasi
dan pendanaan. Sebagai contoh, kami sendiri bisa menguruskan dokumen-dokumen
perjalanan untuk seorang Yahudi berkebangsaan Turki Utsmani, karena ia adalah
kawan kami sendiri. Kementerian dalam negeri Kerajaan Inggris dengan mudah
memberi berbagai fasilitas, meskipun kerajaan Turki pada saat itu sedang berperang
melawan Inggris. Setiap warga Turki Utsmani dianggap musuh."
Demikianlah sebagai penutup bab ini, kita bertambah yakin, bahwa langkah
pertama dan paling utama yang ditempuh oleh pemerintah tiga serangkai
adalah, bahwa politik negaranya (Inggris) akan mendukung program
Rothschild untuk mendirikan sebuah negara bagi bangsa Yahudi di bumi
Palestina
DI BALIK PANGGUNG PERJANJIAN
VERSAILLES
Dalam sejarah sering terjadi kesalahan besar, adanya perjanjian dan pertemuan
yang sering memicu akibat buruk yang tidak diharapkan oleh berbagai
negara. Sejarah belum pernah menyaksikan akibat yang lebih buruk daripada
yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I, yaitu perjanjian Versailles, yang
buntutnya masih dirasakan oleh ummat manusia sampai kini. Perjanjian
Versailles yang menandai berakhirnya Perang Dunia I sebenar benarnya merupakan
bibit timbulnya Perang Dunia II. Perjanjian ini telah mencoreng wajah dunia
secara keseluruhan. Dunia terkelompok menjadi wilayah jajahan, yang
diistilahkan dengan kawasan-kawasan pengaruh. Perjanjian Versailles juga
melahirkan penjajahan baru dengan istilah yang menyesatkan, seperti
pemerintah perwakilan, perlindungan, pendudukan, pembinaan, kawasan
pengaruh, dan seterusnya. Timbullah berbagai pertikaian, pemberontakan,
krisis macam-macam, yang diakibatkan oleh pengelompokan bangsa dan
negara menjadi berbagai sekutu, yang pada akhirnya menumbuhkan bibit
kekacauan di mana-mana, dan kecemburuan politik tak terhindarkan lagi.
Sebagai akibat dari semua itu, situasi dunia makin buruk, sesudah perjanjian
Versailles dilaksanakan. Opini dunia mulai menyadari keburukan isi perjanjian
Versailles itu sedikit demi sedikit. Tokoh politisi dunia dibantu oleh para ahli
strategi terus mengamati perkembangan yang terjadi. Akhirnya mereka
meletakkan tanda tanya besar di seputar perjanjian itu. Oleh sebab itu, kita
akan mencoba mengungkap tabir yang menutupi hakikat yang
melatarbelakangi perjanjian itu, agar kita bisa melihat hal-hal yang selama ini
merupakan teka-teki.
A. Kebencian Muncul di Jerman
Para analis netral memberi komentar tentang perjanjian Versailles, bahwa para
wakil dunia berbudaya sebenar benarnya tidak menandatangani isi perjanjian yang
berisi penindasan, sebanyak penindasan yang diderita oleh bangsa Jerman,
sesudah perjanjian itu diberlakukan. Kebenaran ini terlihat dari sikap bangsa
Jerman terhadap perlakuan yang mereka terima akibat diberlakukannya
perjanjian itu beberapa hari sesudah ditandatangani. Akibatnya, bangsa Jerman
naik darah dan dendam, yang kelak berkembang menjadi bahan dasar
pemikiran faham nasionalisme Aryan Jerman. Fenomena kebencian bangsa
Jerman ini kelak melahirkan Hitler dan Nazisme, yang kemudian menyebabkan
pecahnya Perang Dunia II. Kita perlu melihat kembali kerancuan bagaimana
Perang Dunia I berakhir, agar kondisi yang mengelilingi penandatanganan
perjanjian Versailles tanggal 11 November 1918 menjadi jelas.
Permintaan untuk melaksanakan gencatan senjata oleh komandan tertinggi
angkatan bersenjata Jerman bukan berarti menyerah kalah. Peristiwa ini
memicu perbedaan pendapat yang sangat besar. Pasukan Jerman masih
tetap kuat dan masih maju menghadapi musuh. Permintaan komandan
tertinggi Jerman itu semata-mata disebabkan oleh adanya bahaya yang
mengancam dari dalam negeri Jerman sendiri, yaitu bahaya pemberontakan
Komunis yang timbul di bawah pimpinan seorang wanita Yahudi, Roza
Luxemburg.
Ketika pimpinan pasukan Jerman sedang membicarakan kasus gencatan
senjata dengan sekutu, ada peristiwa besar yang terjadi, yang perlu dicatat.
Gerakan pemberontakan Komunis di bawah pimpinan Roza Luxemburg
berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman, khususnya ke
dalam jajaran angkatan laut, yang selama itu menjadi incaran mereka. Pada
awal tahun 1918 tiba-tiba tersiar desas-desus di kalangan angkatan laut Jerman,
bahwa panglima tertinggi angkatan bersenjata akan melaksanakan serbuan
bunuh diri dengan kapal perangnya secara besar-besaran terhadap armada
angkatan laut Amerika, Inggris dan Perancis. Tujuannya ialah untuk
melumpuhkan kapal-kapal sekutu, meskipun untuk itu Jerman akan
kehilangan sebagian besar kapal perangnya. sesudah itu, Jerman akan
melaksanakan serangan udara di pantai-pantai Inggris yang tidak terlindung
oleh armada sekutu. Para penyebar kabar burung itu terus melakukan agitasi
kasak-kusuk, dan melaksanakan api pembangkangan dengan dalih, bahwa
rencana serbuan gila seperti itu sama saja dengan bunuh diri secara konyol, dan
akan mengakibatkan kehancuran fatal. Desas-desus itu terutama difokuskan
pada bayangan yang mengerikan yang akan terjadi, apabila saat itu pesawat
sekutu menjatuhkan bom-bom kimia paling modern terhadap pasukan Jerman.
Maka nasib pasukan Jerman sudah bisa dibayangkan.
Desas-desus itu mencapai puncaknya, ketika para agitator mengumumkan
secara terbuka dari atas kapal Jerman, tentang satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan diri dari nasib yang bakal menimpa, apabila panglima
angkatan bersenjata meneruskan rencana serbuan itu. Pada tanggal 3
November angkatan laut Jerman benar-benar mengeluarkan pernyataan
pembangkangan terhadap panglima tertinggi angkatan bersenjata. Kemudian
disusul oleh pembangkangan unit armada kapal selam pada tanggal 7
November, yang sedang berada dalam perjalanan menuju arah front Barat.
Tiba-tiba tersiar desas-desus yang lain, bahwa mereka sedang berjalan pergi
untuk melarikan diri dari misi serbuan bunuh diri yang didesas-desuskan itu.
Pada saat yang sama di Jerman terjadi kekacauan besar di berbagai pabrik
amunisi dan senjata, yang menyebabkan macetnya produksi. Sejumlah orang
keluar untuk menyebarluaskan tuntutan, agar Jerman menyerah kepada
sekutu. Perkembangan selanjutnya makin bertambah kacau dan keruh,
sehingga Kaisar Jerman terpaksa turun tahta pada tanggal 9 November 1918.
Kemudian segera berdiri sebuah pemerintahan Republik Sosialis. Langkah
pertama yang dilakukan adalah menandatangani gencatan senjata, hanya
beberapa hari berselang kemudian, yaitu pada tanggal 11 November 1918.
namun , kerusuhan itu tidak juga kunjung reda. Bahkan kali ini banyak
orang bertambah sengit menentang tokoh-tokoh Republik Sosialis. Roza
Luxemburg telah memainkan kartu pentingnya, ketika ia mengajukan
persyaratan kepada pemerintahan Republik Sosialis, untuk melepas angkatan
bersenjata dan menggantikan panglimanya, sebagai imbalan untuk meredakan
kerusuhan. Namun ketika Jerman tidak lagi mengandalkan pasukan regulernya
yang mampu menumpas kerusuhan dan kekacauan, Roza Luxemburg beserta
kelompoknya kembali memihak kaum republik sosialis dan bergabung
kedalamnya. Kemudian mereka mengeluarkan pengumuman tentang revolusi
di kota Berlin pada bulan Januari 1919, dan berhasil merebut kekuasaan
bersama para pendukungnya, yang mayoritas adalah orang Yahudi. Namun
revolusi ini sempat memicu dampak ke luar yang tidak disangka-sangka.
Di Moskow terjadi perpecahan tajam antara dua tokoh revolusi Komunis Rusia,
yaitu Lenin dan Trotsky. Lenin menolak mentah-mentah membantu Roza
Luxemburg, sedang Trotsky bersedia membantu dengan segala kekuatan yang
dimiliki Uni Sovyet Rusia. Penolakan Lenin itu menjadi faktor penentu bagi
perkembangan selanjutnya. Roza dan kawan-kawan Yahudinya menjadi
terisolir. Sementara kaum nasionalis Jerman bangkit untuk menyerang Roza
dan para pendukungnya. Mereka dikejar-kejar, dan terjadilah pembantaian
besar-besaran atas orang Yahudi. Seorang kolonel muda dari angkatan
bersenjata Jerman berhasil menangkap Roza beserta pembantu utamanya Karl
Lickenht. Kemudian mereka berdua ditembak mati. Kebencian terhadap unsur
semitik terus memuncak, karena mereka merupakan biang kerok yang telah
merugikan Jerman dalam perang, dan timbulnya kerusuhan besar sesudah itu.
Rumah-rumah yang dihuni oleh orang Yahudi dibakar, dan ratusan ribu orang
Yahudi menemui ajal mereka, akibat dendam mendalam bangsa Jerman
terhadap mereka.
Sejak itu situasi di Jerman membuka pintu bagi fanatisme ras, dan
menghidupkan kembali teori superioritas Aryanisme, atau dengan kata lain
memunculkan Hitler dan Nazismenya. Inilah akibat peran buruk yang
dimainkan oleh pemilik modal Yahudi internasional bagi bangsa Jerman, mulai
dari angkatan lautnya, pabrik senjatanya dan perjanjian Versailles yang sangat
memberatkan Jerman. Lenin sendiri pernah mengatakan, bahwa Roza
Luxemburg adalah orang Yahudi yang bertanggungjawab atas gelombang anti
semitik yang melanda Jerman. Konspirasi sebenar benarnya menemukan kondisi
yang sesuai untuk menyulut api Perang Dunia II, sesudah mereka lebih dulu
merancang dan menciptakan situasi itu. Ini sesuai dengan pernyataan di atas,
bahwa yang bertanggungjawab atas gelombang anti semitik di Eropa, dan
perkembangan situasi yang terus memuncak menuju pertikaian senjata secara
global adalah hasil ulah tangan kotor persekongkolan para pemilik modal
Yahudi internasional sendiri.
kasus Palestina
sesudah Konspirasi berhasil mencapai tujuannya di Jerman, sasaran berikutnya
ditujukan kepada bumi Palestina. Mereka mengincar Palestina sebagai impian
lama yang kini hampir tiba di ambang pintu. Sebagaimana telah kita singgung
terdahulu, bumi Palestina akan dijadikan poros bagi program dan titik
pemusatan kegiatan internasional bagi Konspirasi. Hal ini bisa dimaklumi,
karena Palestina adalah pusat terpenting wilayah Timur Tengah dan Timur
Dekat. Secara geografis, Palestina merupakan jalur penghubung antara tiga
benua, yaitu Afrika, Eropa dan Asia. Di samping itu, kekayaan emas hitam
yang terdapat di wilayah itu merupakan kebutuhan dunia dalam jumlah
melimpah. Dengan demikian, politik Zionisme telah meletakkan dua sasaran
yang hendak dicapai untuk menuju ke Palestina, yaitu :
1) Memaksa negara di dunia untuk mengakui negara nasional bagi bangsa
Yahudi di Palestina, yang kemudian akan dijadikan pusat kegiatan
Konspirasi untuk meletakkan memprakarsai Perang Dunia III.
2) Menguasai seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat di wilayah itu.
Berikut ini diketengahkan tahapan program kerja yang akan dijadikan landasan
bagi pelaksanaannya. Langkah pertama, mereka mengeluarkan deklarasi
Balfour tahun 1917 yang telah mengikat Inggris, Perancis dan Amerika Serikat
untuk mendukung berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di
bumi Palestina. Untuk melaksanakan hal itu, jenderal Allenby langsung diberi
instruksi untuk memukul mundur pasukan Turki Utsmani keluar dari wilayah
Timur Tengah dan menduduki Yerusalem. Penguasa Inggris sengaja
merahasiakan deklarasi Balfour selama masa operasi militernya, dengan
dukungan pasukan Arab nasional, pengkhianat ummat di bawah bendera
Syarif Hussein, Amir Makkah. Sedang para pemilik modal internasional pada
saat operasi militer Inggris di wilayah Palestina masih berlangsung, telah
mendesak pemerintah Inggris untuk menentukan perwakilan Organisasi
Zionisme di Palestina, dan menentukan anggota politisi Zionis untuk menjadi
anggota perwakilan itu. Tuntutan itu diajukan kepada penguasa militer Inggris
di Palestina, jenderal Crayton, dan segera dikabulkan pada bulan Maret 1915.
Politisi yang menjadi anggota perwakilan itu adalah :
™ Kolonel Orampsey Rigor, yang kelak menjadi direktur Bank Standard di
Afrika Selatan, yaitu sebuah bank yang menguasai pertambangan emas
dan logam mulia lainnya di Afrika Selatan. Dan dia pula yang
mendukung dana kepada sistem politik Apartheid.
™ Haim Weizman yang kelak menjadi perdana menteri Israel pertama.
Komite perwakilan Zionisme ini telah berada di Palestina sebelum diadakan
perundingan damai, bahkan sebelum Perang Dunia I usai. Hal ini
dimaksudkan untuk menciptakan momen yang tepat sebelum kasus
Palestina dibicarakan di forum mendatang, yaitu perjanjian Versailles.
Kemudian perundingan damai dimulai, dan para pemilik modal internasional
membuka kedok. Tampak jelaslah pengaruh mereka. Kita tidak perlu
memperjelas lagi, tapi cukup dengan menyebutkan beberapa analisa singkat.
Dalam perundingan ini, ketua utusan Amerika adalah Paul Warburg, yang
sebelumnya telah kita sebutkan sebagai wakil pemilik modal internasional di
Amerika Serikat. Ketua utusan Jerman adalah saudara kandung Paul sendiri,
Mark Warburg. Jangan lupa, Mark mewakili negara musuh sekutu yang kalah
perang. Sementara itu, Paul mewakili negara yang menang perang.
Perundingan damai seperti itu lalu menjadi perundingan pemerasan, yang
seluruh keputusan yang berbuntut jahat dan mengakibatkan timbulnya bahaya
itu bisa disetujui. Pada kasus yang berhubungan dengan Palestina, sejumlah
tokoh Zionis Inggris dalam perundingan itu meletakkan rancangan
pemerintahan perwakilan Inggris di wilayah itu, di antaranya adalah :
™ Profesor Philex Frankfurner, yang kelak menjadi penasihat presiden di
Gedung Putih pada masa pemerintahan Franklin Roosevelt.
™ Sir Herbert Samuel, komisioner tinggi pertama di Palestina sesudah
pendudukan pasukan Inggris.
™ Lushian Wolf, seorang penasihat pribadi perdana menteri Inggris Lloyd
George.
Ketika perundingan pendahuluan dimulai, penasihat khusus bagi perdana
menteri Perancis Monscour Clemenceau adalah Madell. Nama ini adalah nama
samaran. Nama yang sebenar benarnya adalah Rothschild, yaitu salah satu anggota
keluarga besar Rothschild. Sedang salah satu penasihat presiden Amerika
Serikat yang menjadi delegasi dalam perundingan itu adalah Mr. Morganthow,
yang putranya kelak memegang kementerian keuangan pada masa
pemerintahan Roosevelt. Telah kita sebutkan, bahwa para pemilik modal
internasional tidak segan-segan mencampakkan topeng mereka. Untuk
membuktikan hal ini, berikut ini dikutipkan beberapa kalimat yang ditulis oleh
Lushian Wolf dalam bukunya yang berjudul Steadies on The Jewish History
halaman 408 :
"Sejumlah nama politisi muncul pada perundingan perdamaian, dan yang
menandatangani perjanjian itu atas nama negara-negara Italia, Perancis dan
India adalah tokoh-tokoh Yahudi yang mewakili negara masing-masing.
Mereka adalah Baron Somito mewakili Italia, Louis Cloudes mewakili Perancis,
dan Edvin Montagio mewakili India. Mereka semua adalah orang Yahudi.
Sebaiknya baik pula untuk kita simak kata-kata beberapa penulis yang tidak
perlu kita beri komentar. Seorang sejarawan Inggris terkenal Harold Nicolon
dalam bukunya "Menciptakan Perdamaian" 1919-1944 (Making Peace 1919-1944)
halaman 44 mengatakan, bahwa Lushian Wolf minta secara pribadi kepadanya,
agar ia mau menunjukkan pendapatnya tentang orang-orang Yahudi yang
harus diberi perlindungan internasional. Dalam waktu yang sama mereka juga
harus diberi hak seperti layaknya warga negara lain, di mana pun mereka
berada.
Seorang penulis Perancis George Pateau dalam bukunya yang diberi judul
"kasus Yahudi" (The Problem of the Jews) halaman 38 mengatakan :
"Tanggungjawab diberikan kepada orang Yahudi yang telah mengelilingi
presiden Amerika Serikat Wilson, perdana menteri Perancis Clemenceau dan
perdana menteri Inggris Lloyd George, dalam menyulap perundingan damai
menjadi perundingan Yahudi." Selanjutnya perlu juga disinggung mengenai
peristiwa yang terjadi pada saat perundingan berlangsung di Paris tahun 1919,
saat presiden Wilson pada mulanya mengajukan pendapatnya yang sangat jitu.
namun sayang, tiba-tiba ia mendapat telegram tertanggal 28 Maret 1919
terdiri dari 2000 kata, yang dikirim kepadanya secara pribadi oleh Yacob Sheiff,
wakil pemilik modal internasional di Amerika, yang telah kita sebutkan
berulang kali. Telegram itu berisi gagasan pihak yang diwakili Yacob Sheiff
mengenai 5 kasus internasional, yaitu kasus Palestina, pampasan perang
yang harus dibayar oleh Jerman, kasus Sisilia, Terusan Danring dan wilayah
Sarre (Jerman). Telegram ini telah mempengaruhi pendirian presiden Wilson,
dan membuatnya berubah pendirian, sehingga jalan perundingan dibuatnya
berputar haluan. Duta besar Perancis untuk Inggris, pada waktu itu De San
O'clear melukiskan peristiwa itu dalam bukunya mengenai politik yang kelak
ia tulis, berjudul "Jenewa menuju Perdamaian" (Jeneve Towards Peace)
menyebutkan, bahwa isi teks yang terkandung dalam perjanjian Versailles
berkenaan dengan 5 kasus itu adalah hasil rancangan Yacob Sheiff dan
orang-orang sedarahnya.
kasus Palestina merupakan agenda pembicaraan yang paling banyak
difokuskan oleh para peserta. Sebelum gerakan Yahudi terselubung selesai
menentukan pemerintahan perwakilan Inggris di Palestina dalam perundingan
damai itu, mereka telah mengalihkan program mengenai point yang lain, yaitu
persiapan untuk merancang pecahnya Perang Dunia II. Maka isi rumusan
perundingan damai yang dibebankan kepada Jerman sangat tidak adil dan
memberatkan. Hal ini merupakan bibit-bibit ketidakpuasan di kalangan bangsa
Jerman yang kelak memicu dendam nasional. Begitulah kenyataan yang
terjadi dalam peristiwa berikutnya.
Konspirasi tidak lupa untuk menoleh kepada usul mengenai pembentukan
Liga Bangsa-Bangsa (Nations League) Yang telah disahkan dalam perjanjian
Versailles. Maka tidak mengherankan kalau forum internasional ini kelak
menjadi ladang subur bagi penanaman berbagai rancangan yang dibuat oleh
Konspirasi, sekaligus menjadi kuda tunggangan bagi para pemilik modal
internasional. Oleh sebab itu, kelak tokoh Zionis kenamaan Nachom Sokolov,
kepala Komite Eksekutif Konferensi Zionisme menjadi berbangga diri dalam
badan internasional ini. Pada tanggal 25 Agustus 1952 ia mengatakan, bahwa
Liga Bangsa-Bangsa adalah hasil buah pikiran orang-orang Yahudi. Pernyataan
ini dikutip secara harfiah oleh kolonel M.H. Seen dari Amerika, dalam bukunya
"Tangan Kotor" (The Filty Hand), yang sengaja ia tulis untuk memperingatkan
bangsa Amerika mengenai bahaya Zionisme. Juga perlu kita perhatikan
pernyataan Weekham Syde, seorang pakar dalam kasus internasional dan
pimpinan redaksi harian besar berbahasa Inggris The Tunes. la berkali-kali
menyinggung adanya pengaruh terselubung yang dilakukan oleh para pemilik
modal Yahudi internasional. la menulis buku besar dengan judul "Selama 30
Tahun" (In the past 30 Years). Dalam halaman 301-302 ia mengatakan :
Ketika Winston Churchill melaksanakan kunjungan ke tanah Palestina tahun
1921, delegasi Arab datang untuk menyambutnya. Mereka menjelaskan
kepadanya tentang ketidakadilan dan kekejaman langkah-langkah kebijakan
yang ditempuh pemerintah Inggris untuk memenuhi cita-cita Zionisme, yaitu
menguasai bumi Palestina. Mereka mengemukakan, bahwa bangsa Arab telah
mendiami bumi itu sejak ribuan tahun yang silam. Mereka minta agar
Churchill sudi mengusahakan adanya penyelesaian mengenai ketidakadilan
ini. namun Churchill menjawab:
"kasus itu di luar wewenang kekuasaanku, di samping aku sendiri juga tidak
setuju. Bahkan kami yakin, bahwa yang telah digariskan dalam deklarasi Balfour
ini akan lebih baik bagi kemaslahatan dunia, bagi kerajaan Inggris dan bagi
bangsa Arab sendiri. Kami akan tetap mewujudkan rencana itu."
Tidak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana perasaan delegasi Arab
yang mendengar jawaban Churchill itu, yang terus terang menunjukkan
keterlibatan Churchill dengan program terselubung Zionisme. Bahkan kami
pribadi (penulis) baru tahu kasus ini sesudah tahun 1954, pada saat Churchill
melaksanakan kunjungan ke Amerika Serikat dalam suatu pertemuan dengan
Bernard Baruch, seorang Yahudi yang memainkan pecan penting dalam politik
Amerika Serikat dari balik layar selama bertahun-tahun, pada masa
pemerintahan Roosevelt yang menjabat sebagai kepala penasihat presiden di
Gedung Putih. Pada pertemuan itu Churchill menyatakan, bahwa dia adalah
seorang Zionis, dan akan tetap sebagai orang Zionis. Mungkin ketika menjawab
delegasi Arab, Churchill masih teringat ancaman terbuka kepada Inggris, yang
dikeluarkan oleh tokoh Zionis terbesar, Haim Weizman yang dimuat dalam
majalah Gudesha edisi ke 4 tahun 1920, yang bunyinya secara harfiah sebagai
berikut :
"Kami akan tetap hidup berdiam di tanah Palestina, baik Anda mau atau tidak.
Maka langkah yang paling baik untuk Anda lakukan sekarang adalah
mempercepat proses imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina atau memperlambat
sedikit. Namun yang paling baik bagi Anda adalah membantu kami supaya
kekuatan kami tidak berbalik menentang Anda. Kami sekarang berada dalam
gerakan barisan bersama Anda. Dan Anda semua tahu, bahwa kami punya kekuatan di
setiap penjuru dunia."
Ancaman seperti itu bukan satu-satunya. Dalam konferensi Zionisme yang
diadakan di kota Budapest ibukota Hunggaria tahun 1919, para tokoh Zionis
peserta konferensi mengeluarkan ancaman terbuka kepada dunia. Pernyataan
yang bernada mengancam seperti itu juga datang dari Hain Weizman sendiri.
Ia mengatakan :
"Organisasi Zionisme kita akan memainkan perannya dalam mengatur dunia
baru pada masa pasca perang. Kitalah yang menciptakan Liga Bangsa-Bangsa,
dan kita akan berjalan di belakang program yang telah kita buat. Tujuan dan
kepentingan yang kita inginkan telah kita tentukan sebelumnya."
Kami (penulis) menyelesaikan penulisan bab ini tahun 1944, sesudah
mempelajari dokumen dan data-data yang sebelumnya kami kumpulkan. Akan
tetapi, sesudah 8 tahun kemudian sesuai dengan jabatan kami dalam pemerintah
sebagai perwira inteligen rahasia, kami mendapatkan sebuah dokumen rahasia
berbahaya. Kami merasa wajib untuk menyertakan beberapa bagian dari
dokumen itu dalam bab ini, mengingat kasus ini punya arti tersendiri, yaitu
yang berhubungan dengan konferensi puncak Sidang Darurat Para Pendeta
Yahudi se-Eropa, yang diadakan di Budapest tanggal 22 Januari 1952. Berikut
ini adalah ringkasan dari dokumen ini yang mengandung beberapa
paragraf harfiah, yang memungkinkan kami memuatnya, yaitu :
'Laporan dari Eropa tentang konferensi puncak Sidang Darurat Pendeta Yahudi
se-Eropa, pidato rahasia yang disampaikan oleh pendeta tertinggi Yahudi
Emanuel Robinovich tertanggal 12 Januari 1952.
Selamat berbahagia putra-putraku . . .
Kalian telah terpanggil untuk melaksanakan pertemuan istimewa ini untuk
mengkaji kasus dan rancangan pokok bagi program kita yang baru, yaitu
program yang berkaitan dengan perang yang akan datang, sebagaimana yang
kalian telah ketahui. Rancangan kita semula membutuhkan tenggang waktu 20
tahun, sehingga kita mendapatkan seluruh keuntungan yang dihasilkan dari
Perang Dunia II. namun , beberapa pertimbangan baru mengharuskan
adanya pengurangan jangka waktu 5 tahun lebih dini. Langkah-langkah yang
masih kita lakukan demi tujuan kita, sejak 3000 tahun yang lalu sekarang telah
berada dalam jangkauan tangan kita. Sebentar lagi kita pasti akan bisa memetik
buahnya, dengan syarat kita harus melipat gandakan usaha keras dengan
memakai pikiran dan pengalaman apa saja yang kita miliki. Kami bisa
meyakinkan Anda sekalian, bahwa beberapa tahun lagi bangsa kita akan bisa
mengembalikan posisinya di tempat paling atas di dunia. Ini merupakan hak
alami yang telah dirampas semenjak kurun waktu yang sangat panjang. Dan
hal ini akan kembali kepada kita seperti semula, sehingga setiap orang Yahudi
akan menjadi tuan, dan setiap gentile atau non-Yahudi akan menjadi budak ...
(aplaus besar).
Sekarang ini, kami akan menawarkan pemikiran tentang perang mendatang.
Kalian tentu ingat keberhasilan besar mengenai program yang kita laksanakan
sejak tahun 1930. Propaganda besar-besaran yang kita sebarluaskan telah
berhasil meniupkan api kebencian di Jerman terhadap dunia Barat dan
terhadap unsur semitik. Kemudian kita juga meniupkan rasa kebencian bangsa
Barat terhadap bangsa Jerman, yang disebabkan oleh sikap permusuhan
Jerman terhadap unsur semitik. Inilah program pokok yang sekarang sedang
kita laksanakan untuk meniupkan rasa kebencian Timur terhadap Barat, dan di
Barat terhadap Timur. Kita akan memerangi bangsa-bangsa yang bersikap
netral untuk memaksa mereka bergabung dengan blok ini atau blok itu. Kita
tidak akan membiarkan seseorang menghalangi jalan yang kita tempuh. Untuk
mencapai tujuan awal dari program ini, kita akan menanamkan orientasi
militerisme dan naluri perang di Amerika. namun , rancangan undangundang yang kita ajukan kepada kongres Amerika dengan dukungan dari jaksa
agung mengenai wajib militer bagi setiap warga Amerika ternyata ditolak. Kita
mengalami kegagalan sementara. Kita akan mulai usaha baru lagi dengan
bekerja keras, untuk melemparkan tuduhan kepada pihak Uni Sovyet, bahwa
negara itu melakukan kebijakan anti semitik, meskipun terdapat hubungan erat
antara kita dan Komunisme. Kita akan mendukung dengan dana dan pengaruh
bagi organisasi yang membela unsur semitik, khususnya di Amerika. Tujuan
terakhir program ini adalah menciptakan Perang Dunia III, yang akan
mengakibatkan kehancuran total, dan pengaruh yang jauh lebih besar dari
pada seluruh peperangan yang pernah terjadi. Kita akan membuat Israel tetap
netral dalam perang ini, sehingga terhindar dari kehancuran. sesudah itu, Israel
akan menjadi tempat sidang-sidang perundingan, pengawasan dan lain-lain,
yang saat itu akan diserahi tugas untuk mengawasi bangsa-bangsa yang tersisa.
Perang inilah yang akan merupakan pertikaian terakhir dalam sejarah melawan
kaum gentiles. Kita kelak akan membuka kedok yang menutupi wajah identitas
kita yang sebenar benarnya di hadapan mata dunia.
Ada sebuah pertanyaan diajukan oleh salah seorang pendeta Yahudi. Saya
mohon yang mulia pendeta Robinovich menjawab pertanyaan berikut ini,
'Bagaimanakah nasib agama-agama sesudah Perang Dunia III berakhir?' Robinovich
menjawab,
"Di sana tidak akan ada lagi agama sesudah Perang Dunia III, dan tidak ada pula tokohtokoh agama. Keberadaan agama dan tokohnya merupakan ancaman bagi kita, karena
agamalah yang mampu membuat ancaman bagi kita untuk menguasai dunia. Kekuatan
jiwa yang ditimbulkan dari iman pemeluk agama akan melahirkan sikap berani untuk
menghadapi kekuatan kita. namun , kita akan tetap memelihara sebagian dari ajaran
agama yang bersifat lahiriah saja. Sedang agama Yahudi akan tetap merupakan
pegangan bagi setiap bangsa Yahudi, dengan satu tujuan untuk menjaga tali pengikat
antar-bangsa kita, dan sekaligus sebagai tameng untuk menghalangi orang non-Yahudi
tidak masuk ke dalam gerakan barisan kita melalui perkawinan atau lainnya.”
“Untuk mencapai tujuan akhir, bisa saja kita memerlukan cara yang menyedihkan,
seperti pernah kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri yang mengatur
terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata
lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa kita sendiri pada suatu peristiwa
yang akan kita atur dari belakang layar. Kita bisa mendapatkan alasan yang cukup
untuk menarik simpati dan dukungan bangsa Eropa dan Amerika, serta dunia pada
umumnya dari satu sisi. Sedang dari sisi lain, para tokoh militer yang terlibat perang,
seperti pernah kita lakukan dalam pengadilan Nurenburg (Jerman) sesudah Perang
Dunia II. Tumbal itu mungkin mencapai ribuan nyawa bangsa kita, dan kita sendiri
yang akan melakukan pembunuhan terhadap mereka, agar kita bisa melemparkan
tuduhan terhadap pihak lain. Meskipun tumbal itu besar, namun kita tidak perlu
mengukur besar-kecilnya tumbal demi tujuan kita yang terakhir, yaitu menguasai
dunia. Anda sekalian sekarang melihat kemenangan terakhir dengan jelas, seperti
melihat gajah di pelupuk mata. Kalian akan kembali ke negara masing-masing sesudah
konferensi ini untuk mengajak bangsa kita bekerja keras, sehingga akhirnya akan
sampai pada suatu saat, di mana Israel akan membuka hakikat diri yang sebenar benarnya
kepada dunia, sebagai tempat memancarnya cahaya yang akan menerangi seluruh
jagad."
Sampai di sini Robinovich mengakhiri pidatonya. Komentar tidak diperlukan
lagi. Satu hal yang perlu kita singgung adalah, bahwa kongres itu menguatkan
hasil analisa kita sebelumnya, sehubungan dengan kasus anti semitik dan
Nazisme dan seterusnya, yang bisa meyakinkan kita, bahwa kekuatan di balik
layar yang diatur oleh Zionisme pada hakikatnya adalah kekuatan yang
mengeksploitasi gerakan anti semitik dengan memperalat Hitler dan
Nazismenya. Kekuatan itu pula yang sedang merancang dan mendalangi
untuk menjerumuskan dunia ke dalam Perang Dunia III. Hitler dan Nazisme
bagi orang awam belum banyak dikenal.
Banyak yang tidak memperhatikan adanya tangan-tangan terselubung di balik
peristiwa yang terjadi di Jerman, yaitu ketika para pemilik modal Yahudi
internasional mempersenjatai Nazisme, dan membangun perindustrian Jerman
sesudah perjanjian Versailles. Pada saat itu Hitler menggalakkan anti Yahudi. Di
sini timbul pertanyaan, mengapa Stalin dan dunia Barat tutup mulut, ketika
melihat Jerman bangkit dan membangun militernya kembali secara besarbesaran, yang bisa mengancam dunia Barat dan Rusia? Menurut pengamatan
yang cermat, justru Stalin sendiri telah melaksanakan perjanjian kerja-sama
rahasia dengan penguasa militer di Jerman, bahkan sebelum militer berkuasa
untuk melatih dan mempersenjatai angkatan perang Jerman. Dan lagi,
beberapa lembaga keuangan Barat menyalurkan dana-dananya untuk
membiayai pembangunan industri persenjataan Jerman. Tokoh-tokoh Barat
bukan tidak tahu apa yang terjadi di balik layar di Jerman pada waktu itu, dan
kebangkitan kekuatan militernya. Kami (penulis) secara pribadi tahu akan hal
itu dengan yakin, ketika kami menghadiri konferensi perlucutan senjata yang
diadakan di London tahun 1930. Hasil studi analitis mengenai periode 1920-
1938 dalam sejarah modern yang kami lakukan menunjukkan, bahwa pemilik
modal Yahudi internasional telah memusatkan kegiatannya dalam periode ini
untuk meraih tujuan-tujuan sebagai berikut :
1) Menyalakan api Perang Dunia II, sesuai dengan program asli semenjak
dulu. Mereka berhasil.
2) Memerangi pemerintahan dan pergerakan yang memusuhi mereka di
Eropa dengan segala cara dan sarana. Dalam hal ini, mereka juga telah
berhasil dengan gemilang, seperti penyingkiran pemerintahan Asquith
di Inggris pada masa Perang Dunia I.
3) Memaksa Inggris, Perancis, kemudian Amerika Serikat untuk
menyetujui berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di
Palestina. Pada masa Perang Dunia I Inggris telah menjanjikan para
pemilik modal Yahudi internasional untuk mendesak Amerika Serikat
lewat organisasi Yahudi di Amerika, agar negara itu terlibat dalam
perang bersama sekutu dengan imbalan, bahwa Inggris akan membela
cita-cita Zionisme. Data-data inteligen angkatan laut menunjukkan,
bahwa peristiwa penyerbuan Jerman terhadap kapal perang Amerika,
Lusiana, kemudian tenggelam adalah sebuah peristiwa yang sengaja
dirancang sebelumnya sebagai preteks agar Amerika Serikat melibatkan
dirinya dalam Perang itu, persis penyerbuan Pearl Harbour oleh
angkatan udara Jepang tahun 1941, sehingga Amerika-Serikat ketika itu
bisa terjun dalam kancah Perang Dunia II.
Adapun naskah asli dalam perjanjian Versailles tentang nasib tanah Palestina di
bawah kekuasaan pendudukan Inggris disebutkan dalam rumusan berikut ...
yaitu untuk mengubah tanah Palestina menjadi sebuah negara nasional bagi
bangsa Yahudi. 'mengubah" menjadi "mendirikan", dengan maksud menutupi
niat buruk bangsa Yahudi sebenar benarnya di seluruh wilayah itu. Maka rumusan
menjadi sebagai berikut21 :
"His Majesty's government view with favor the establishment in Palestine of a national
home for the Jewish people, and will use their best endeavors to facilitate the
achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which
might prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in
Palestine, of the right and political status enjoyed by Jews in any other country."
(Pemerintah baginda raja melihat dengan tatapan belas kasih mengenai
berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan akan
mengusahakan dengan segala kemampuan pemerintah kerajaan Baginda untuk
mewujudkan cita-cita ini. Sebagaimana sama-sama dimaklumi, tidak ada
langkah yang akan diambil yang kira-kira bisa menyinggung hak sipil atau
agama bagi warga non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status
politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lain manapun).
Dalam ulasan terdahulu telah kita bicarakan, bagaimana kekuatan Konspirasi
bisa menaklukkan arah politik seluruh negara Eropa pada masa antara Perang
Dunia I dan Perang Dunia II, yaitu politik yang ditandai dengan ketamakan
imperialisme dunia Barat dan pemerasan kekayaan terhadap bangsa lainnya di
Dunia. Begitu pula periode itu ditandai oleh adanya perpecahan blok militer
yang saling berhadapan, hingga pecahnya Perang Dunia II. Oleh karena itu,
kita tidak perlu heran, bahwa tujuan paling utama Konspirasi dari Perang
Dunia itu adalah mendirikan negara yang akan menjadi pusat kegiatan
konspirasi Yahudi terhadap bangsa lain di dunia.
"Kami telah berkali-kali mengatakan, bahwa yang menguasai wajah perjalanan
dunia adalah para pemilik modal Yahudi Internasional. Dan yang
menggerakan khususnya perundingan damai itu adalah Yacob Sheiff dan
kelompok Warburg serta para pemilik modal Yahudi internasional lainnya.
Satu-satunya tujuan yang hendak mereka capai adalah menguasai Eropa,
khususnya Jerman."
C. Stalin dan Yahudi
Stalin dilahirkan di desa Gory, wilayah Georgia Rusia. Ibunya seorang pemeluk
agama Kristen Ortodoks bernama E. Catherina Gelades, dan kakeknya seorang
petani kecil. Ayahnya mula-mula bekerja di ladang, dan kemudian berpindah
profesi sebagai tukang sepatu di kota kecil Adilchanov. Meskipun ibunya
pemeluk agama yang taat, tapi ayahnya peminum minuman keras. Ibunya
terpaksa bekerja keras sebagai pencuci pakaian, agar ia bisa membiayai
anaknya mengenyam pendidikan dan menjadi pendeta. Stalin sendiri adalah
anak yang cerdas di kelas, dan akhirnya ia mendapat bea siswa dari sebuah
seminary di kota Tiflis. Namun Stalin terpaksa tidak bisa meneruskan studinya
karena sering terjadi perdebatan sengit dengan guru-gurunya. Akhirnya ia
diusir dari sekolahnya, sesudah 4 tahun belajar di sana. Kemudian ia bergabung
dengan sebuah kelompok yang kala itu telah tersebar luas di seluruh Rusia.
Stalin menikah dengan Catherine Shnaindes dan mendapat seorang putra yang
diberi nama Yasha. Kelak Yasha hidup sebagai seorang mekanik listrik sampai
masa kejayaan ayahnya berakhir. Selain itu, Stalin juga punya seorang istri lain
bernama Nadia Baliova, dikaruniai seorang putra bernama Fasili dan seorang
putri lagi bernama Sevitlana. Fasili kelak menjadi marsekal udara dalam jajaran
angkatan bersenjata Rusia pada masa kejayaan Stalin. Namun sepeninggal
Stalin, Fasili termasuk orang yang disingkirkan dari arena politik oleh Nikiti
Khrouchtchev. Kemudian Fasili menghilang tanpa jejak.
Perkawinan Stalin dengan istri keduanya tidak berumur lama. Sebab, Stalin
jatuh cinta kepada seorang wanita Yahudi jelita bernama Roza Kaganovich,
yang kemudian hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan. Nasib Nadia
(istri pertama) berakhir dengan bunuh diri. Tindakannya yang nekad ini bukan
karena skandal asmara suaminya dengan wanita Yahudi itu, melakukan ia
menderita karena melihat suaminya melakukan kekejaman terhadap musuh
politiknya, yang sebagian besar merupakan saudara seagama Nadia, yaitu
Kristen Ortodoks, yang berbeda dari agama yang dianut oleh wanita Yahudi,
pacar gelap Stalin itu. Adapun Roza Kaganovich tidak lain adalah saudara
kandung Lazar Kaganovich, seorang tokoh Komunis terkemuka pada masa
pemerintahan Stalin, yang menjadi anggota politbiro partai Komunis Rusia, di
samping menjadi kepala pengawas industri berat. Lazer adalah orang yang
paling dekat dengan Stalin, sampai Stalin mati. sesudah Stalin mati,
pemerintahan Khrouchtchev melaksanakan pembersihan besar-besaran untuk
mencampakkan sisa-sisa popularitas Stalin dan para pendukungnya dari arena
politik Rusia dengan cara kejam, seperti pernah dilakukan oleh pendahulunya,
Stalin terhadap lawan politiknya. Lazer Kaganovich juga berhasil
mengawinkan putranya Mikhail dengan putri Stalin Sevitlana pada tanggal 15
Juli 1951. Padahal, Sevitlana ketika itu masih berstatus istri dari salah seorang
yang konon telah menghilang beberapa hari berselang, tanpa diketahui ke
mana ia pergi. Sedang Stalin sendiri kemudian mengawini Roza, sesudah
istrinya mati bunuh diri. Dengan demikian, Stalin telah hidup dalam
lingkungan keluarga Yahudi. Sebab, istrinya adalah Yahudi, menantu lakilakinya adalah Yahudi, dan saudara kandung istrinya yang sekaligus sahabat
karib Stalin adalah juga Yahudi. Bukan hanya sampai di sini. Wakil perdana
menteri dalam pemerintahan Stalin yang merangkap menteri luar negeri, yaitu
Molotov juga beristrikan wanita Yahudi. Istri Molotov ini adalah adik kandung
pemilik modal Yahudi internasional di Amerika Sam Carb, yang mewakili
perusahaan impor-ekspor, berpusat di negara bagian Connecticut. Sedang putri
Molotov adalah tunangan putra Stalin sendiri, Fasili.
Demikianlah yang kita lihat. Politbiro akhirnya dipegang oleh tangan-tangan
satu keluarga. Ini merupakan akibat wajar dari filsafat atheisme dalam bentuk
komunisme, yang pada dasarnya merupakan anak yang lahir dari kandungan
kehidupan lingkungan ghetto Yahudi di Eropa Timur. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan kalau kenyataan ini merupakan sisi gelap dari perkembangan
mendasar yang terjadi di Rusia, dan dunia komunisme umumnya, sampai
Stalin meninggal dunia. Perkembangan ini ditandai dengan publikasi tentang
kejahatan Stalin, dan pembantaian kaum tani yang dilakukannya. Mesin
propaganda Komunis sebelumnya telah berusaha menggambarkan, bahwa
kaum tani adalah pendukung terkuat sistem Komunisme. Dan faham
Komunisme masih akan terus berubah dan berkembang di seluruh dunia.
Pada mulanya Stalin adalah sosok yang dilahirkan oleh situasi. la muncul
menjelang pecah revolusi Oktober 1917, pada saat tokoh-tokoh senior masih
terkungkung dalam sel-sel penjara Czar. Pada masa pemerintahan Lenin, Stalin
belum memainkan peran berarti dalam partai Komunis Rusia, kecuali hanya
beberapa saat ketika Lenin dalam keadaan sakit. Stalin maju ke gerakan barisan
terdepan sesudah terjadi perselisihan tajam antara dia dan Trotsky. Maka sejak
Trotsky bisa disingkirkan, Stalin terus berkuasa sebagai diktator Rusia tanpa
tertandingi sampai matinya. Tahap kenaikan bintang Stalin dalam
kepemimpinan Komunis Rusia dimulai ketika Lenin jatuh sakit bulan Mei 1922,
yaitu ketika sebuah dewan yang terdiri dari Stalin, Zenoviev, Kaminiev,
Trotsky dan Bochorin meneruskan kepemimpinan Komunis Rusia. Kemudian
penyakit Lenin tidak bisa disembuhkan, yang akhirnya menyebabkan
kematiannya. Zenoviev dan Kaminiev merupakan tangan kanan Lenin sejak
awal kekuasaan Lenin, sehingga mereka berdua memandang dirinya sebagai
pewaris yang paling layak untuk meneruskan kepemimpinan Lenin. Trotsky
dalam bukunya yang berjudul Lenin pada halaman 37 dan 48 menyebutkan,
bahwa Zenoviev diperlakukan oleh Stalin seperti budak, sedang Kaminiev
sering dihina. Trotsky memandang Zenoviev dan Kaminiev sebagai saingan
yang mengancam kedudukannya, sesudah Lenin meninggal dunia. Sementara
itu, Stalin memandang Trotsky dengan pandangan curiga, karena sikapnya
yang meragukan terhadap Stalin.
Zenoviev bagi kalangan atas partai Komunis Rusia dipandang sebagai calon
kuat untuk menggantikan Lenin. Pada kongres partai Komunis ke 12 ia diminta
menyampaikan pidato pembukaan menggantikan Lenin yang sedang sakit.
Lenin sendiri sudah menyatakan tidak mampu menyampaikan pidato
sambutan seperti biasanya. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Stalin dan
bukan Zenoviev yang menggantikan Lenin. sesudah sidang ditutup, Stalin
meraih kekuasaan dan kedudukan tinggi atas partai Komunis bersama kawankawannya, hingga pada saat Lenin meninggal dunia tahun 1924. Pada bulan
April 1925 Stalin berhasil menyingkirkan Trotsky dari jabatannya sebagai
komisioner rakyat dalam urusan penahanan atau kementerian penahanan.
sesudah itu, Zenoviev disingkirkan pula dan digantikan oleh Bovadin, Rikov
dan Tomsky. Sedang Zenoviev dan Kaminiev ketika itu bergabung dengan
Trotsky untuk membentuk gerakan oposisi menentang Stalin. namun ,
langkah ini datangnya terlambat, sehingga mereka mendapat pukulan balik
dari Stalin. Pada bulan Februari 1926 Stalin berhasil menyingkirkan Zenoviev
dari politbiro, kemudian dari kepemimpinan Rusia di Leningrad, dan terakhir
dari kepemimpinan rakyat. Lalu datanglah giliran bagi Kaminiev dan Trotsky
pada bulan Oktober 1926. Mereka berdua disingkirkan dari politbiro oleh
Stalin. Pada tahun berikutnya Stalin benar-benar telah menyingkirkan lawanlawan politiknya dari komite sentral partai Komunis Rusia. Tahun 1927 Trotsky
berusaha melaksanakan pembangkangan yang terakhir kalinya dengan
melemparkan tuduhan, bahwa Stalin telah menyalahi garis ideologi Marxisme
yang benar, dan menciptakan diktatorisme keluarga di Rusia. Stalin membalas
tuduhan itu dengan tindakan sangat kejam, dengan melaksanakan pembersihan
besar-besaran yang menumbalkan ratusan ribu orang mati, dan ribuan lainnya
dibuang ke Siberia. Ini diungkapkan oleh Khrouchtchev di kemudian hari.
Stalin telah melakukan pembersihan terhadap para tokoh Komunis senior
Yahudi dan para tokoh proletar generasi pertama yang mencetuskan revolusi
Komunis. Di antara mereka yang terkenal tindakan Stalin itu yang berupa
penahanan, pembuangan dan hukuman mati adalah Trotsky, Zenoviev,
Kaminiev, Martinov, Zalolich, Martov dan lain-lain. Dengan demikian, secara
langsung Stalin telah bebas dari lingkungan orang-orang Yahudi senior pada
akhir hayatnya, kecuali istrinya Roza Kaganovich dan kakak iparnya Lazar
Kaganovich. Hasil studi analitis menunjukkan, bahwa dalam pembersihan
yang dilakukan Stalin pada akhir masa hidupnya terdapat adanya hubungan
rahasia dengan kekuatan terselubung, yang di dalamnya terdapat para tokoh
senior Yahudi Komunis Rusia. Ini menunjukkan, bahwa kekuatan terselubung
itu tidak mempertimbangkan adanya tumbal orang Yahudi atau bukan, selama
semua itu akan mendatangkan keuntungan materi bagi mereka. Peristiwa demi
peristiwa itu sebenar benarnya merupakan rancangan untuk membuka jalan
timbulnya perang ekonomi global, dengan menjadikan dunia sebagai arena
pertarungan pada masa sebelum Perang Dunia II. Perang ekonomi itu
memberi bukti nyata, yang menunjukkan adanya hubungan konspirasi
antara Stalin dengan kekuatan terselubung. Tujuan yang hendak dicapai oleh
kekuatan terselubung sejak Perang Dunia I usai adalah :
1) Mempersiapkan pecahnya Perang Dunia II, seperti telah kita bahas.
2) Menguasai sumber kekayaan bangsa-bangsa gentiles, yang merupakan
tujuan mereka sejak dulu.
Jelaslah kiranya, bahwa untuk menopang tujuan pertama, Konspirasi dituntut
untuk mencapai dua faktor utama. Pertama adalah faktor psikologis dengan
membawa dunia dan Eropa kepada perang, dan meniupkan rasa permusuhan
dan kebencian antar-bangsa, seperti telah kita bicarakan terdahulu. Faktor
kedua adalah menciptakan perimbangan antara blok militer yang saling
berhadapan dalam perang. Ini merupakan jalan pokok menuju pecahnya
perang, karena negara sekutu yang keluar sebagai pemenang dalam Perang
Dunia I, yaitu Amerika, Perancis dan Inggris jauh lebih kuat dibanding dengan
Jerman yang kalah perang, dan menderita luka parah luar-dalam. Maka sebagai
pijakan logis untuk mewujudkan perimbangan kekuatan yang ada, lebih dulu
harus mempersenjatai dan membangun Jerman kembali beserta negara yang
akan dijadikan sekutu oleh para pemilik modal Yahudi internasional. Pada saat
yang sama, negara sekutu yang lebih kuat lebih dulu harus dilemahkan pada
tingkat yang diperlukan. Di samping itu, para pemilik modal Yahudi
internasional mencurahkan dananya dalam bidang industri persenjataan, agar
bisa mengalihkan potensi ekonomi negara yang bersangkutan kepada produksi
senjata, sampai pada masa yang diperlukan. Tidak mengherankan kalau sesudah
Perang Dunia I, negara Barat yang tergabung dalam sekutu bersama Stalin
menutup mulut atas kebangkitan militer Jerman dan pembangunan kembali
negara itu, sehingga melahirkan Hitler dan Nazismenya. Sebagai kekuatan
besar dan makin kuat, Jerman mampu menaklukkan dan menduduki Swedia
dan Austria, serta beberapa negara Eropa lainnya. Sementara itu, Konspirasi
terus mencurahkan perhatiannya untuk mengeruk keuntungan dari bangsabangsa yang bertikai, sebagai pelaksana dari perang ekonomi global yang
dirancang oleh Konspirasi.
Perang ekonomi global ini dimulai dari tahap percobaan antara tahun 1922
sampai 1925 dengan taktik tradisional. Para pemilik modal Yahudi
internasional membanjiri pasar modal negara-negara yang menang perang dan
negara-negara netral dengan saham, kredit dan investasi secara besar-besaran,
sehingga memicu kenaikan harga barang dan meningkatkan produksi
serta kegiatan bisnis. sesudah itu, dana, saham dan investasi yang ada dalam
bursa internasional tiba-tiba ditarik kembali, sehingga memicu krisis
ekonomi drastis dan dahsyat pada tahun 1925. Nilai mata uang merosot
seketika, Selanjutnya saham yang telah ditarik itu dilempar kembali ke pasar
modal dalam bentuk pinjaman dan transaksi, dan nilai mata uang kembali
normal. Dan para pemilik modal Yahudi internasional meraih keuntungan
besar. Para pemilik modal Yahudi Internasional merasa yakin akan
keberhasilan percobaan perang ekonomi ini di atas. Dengan berpijak pada
percobaan itu, mereka mengambil langkah penting dalam perang ekonomi
besar tahun 1930, yang mengakibatkan krisis ekonomi yang melanda hampir
seluruh dunia, yang dikenal dalam sejarah dengan sebutan Krisis Ekonomi
Dunia. Perang ekonomi ini bisa terlaksana berkat bantuan Stalin, sesuai dengan
kesepakatan rahasia. Maka jelaslah bukti yang menunjukkan adanya
persekongkolan antara Stalin dengan para pemilik modal Yahudi internasional.
Operasi perang ekonomi ini dimulai dengan penolakan para pemilik modal
memberi dana kepada perusahaan perkapalan dan pelayaran Amerika dan
Eropa Barat pada umumnya. Sedang perusahaan perkapalan dan pelayaran
Jerman, Jepang dan Italia mendapat dana besar-besaran dan fasilitas dari
mereka. Di tiga negara itu tumbuh industri perkapalan, dan banyak orang
memonopoli dan merajai pelayaran Taut di seluruh dunia. Dan yang menjadi
perhatian khusus bagi para pemilik modal Yahudi internasional adalah kapalkapal barang pengangkut peti daging yang dieskan, dan biji-bijian Amerika
dan Eropa Barat menjadi terbengkalai tanpa bisa dioperasikan. Sementara itu,
kapal Jepang, Jerman dan Italia berlayar dengan leluasa mengangkat berbagai
jenis muatan.
Operasi berikutnya adalah lembaga keuangan dan bank-bank besar beserta
cabang-cabangnya menolak untuk memberi kredit dan pinjaman bagi
pemasaran biji-bijian dan daging yang telah dieskan atau kalengan dan
asuransi produksinya di Amerika dan Eropa pada umumnya. Barang-barang
ini menumpuk dalam gudang tanpa bisa dipasarkan. Pada saat yang
sama, di negara yang dibanjiri barang-barang itu oleh para pemilik modal
internasional, harga barang turun drastis. Daging-daging itu berasal dari
Australia dan Argentina, sedang biji-bijian Rusia dijual kepada para pemilik
modal internasional dengan harga sangat murah, sehingga para petani Rusia
dengan sistem kolektif mengalami beban berat, khususnya para petani
Republik Ukraina di Uni Sovyet. Hal inilah yang memicu kerusuhan
berdarah dan bahaya kelaparan yang melanda seluruh wilayah Republik
Ukraina.
Kenyataan di atas merupakan bukti yang kelak secara terbuka diakui sendiri
oleh Nikita Khrouchtchev dalam konferensi umum partai Komunis Rusia,
dimana Nikita dengan sengit menyerang politik Stalin, dan membeberkan
kebijakannya atas penjualan hasil biji-bijian Rusia kepada lembaga keuangan
internasional dengan harga sangat rendah, sehingga para petani Rusia
mengalami kerugian besar dan dilanda kelaparan. Kecuali itu, Nikita juga
berbicara tentang pembantaian yang dilakukan oleh Stalin pada masa
pemerintahannya. Akibatnya, perekonomian Amerika dan Eropa ambruk,
khususnya dibidang produksi pertanian dan peternakan. Barangkali Stalin
mengharapkan pecahnya revolusi Komunis di Eropa Barat yang ditimbulkan
oleh krisis ekonomi perubahan sosial dan gejolak politik. Namun peristiwa
berikutnya menunjukkan kesalahan dan keluguan perhitungan Stalin,
sebagaimana dilukiskan oleh Nikita. Sedang para pemilik modal internasional
adalah pihak yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu menciptakan krisis
ekonomi global di Amerika, Eropa dan dunia penghasil biji-bijian dan daging.
Dengan demikian, krisis ekonomi, sosial dan politik berkembang mewarnai
kehidupan dunia secara umum. Kredit bank, sertifikat tanah, nota bank dan
lain-lain yang dijadikan jaminan pada lembaga keuangan segera berpindah
tangan kepada para pemilik modal internasional. Semua itu berkat kebijakan
yang ditempuh Stalin dalam konspirasinya bersama mereka.
Selanjutnya kondisi mencekam seperti itu menyebabkan lembaga keuangan
kecil terpaksa gulung tikar, di samping mengakibatkan timbulnya kerusuhan
dan dekadensi moral di mana-mana. kasus ini tidak menjadi pertimbangan
bagi para pemilik modal selama mereka mendapat keuntungan besar. Stalin
telah berspekulasi dengan permainan berbahaya, dan menghancurkan nilainilai manusiawi di kalangan rakyatnya sendiri.
Untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang langkah-langkah setan yang
merancang krisis ekonomi dunia, kita perlu menengok kembali peristiwa
menjelang meledaknya krisis besar ini pada tahun 1929 sampai 1930. Amerika,
Eropa dan negara lain penghasil biji-bijian dan ternak mengalami kelesuan
ekonomi yang sangat parah. Barang hasil produksinya terpaksa tertimbun
dalam gudang, atau terbengkalai dalam kapal, tanpa bisa dikirim ke luar negeri
untuk dipasarkan. Pada saat yang sama bahaya kelaparan melanda berbagai
negara, termasuk negara penghasil biji-bijian dan daging itu sendiri. Sedangkan
Jerman, Jepang dan Italia telah mendapat kesempatan emas untuk mengeruk
keuntungan besar dari krisis ekonomi itu. Kapal mereka bisa leluasa
mengangkut ke pasaran bebas. Orang bisa bebas membeli dan menjual barangbarang Jepang dengan harga yang bersaing. Dalam waktu relatif singkat ketiga
negara ini telah kembali berotot dan bisa membusungkan dadanya di
hadapan bangsa lain di dunia.
Akibat dari krisis besar dunia ini macam-macam. Franklin Roosevelt di
Amerika muncul dengan politiknya yang terkenal itu, yaitu beranjak dari
pengalihan investasi modal nasional Amerika ke dalam bidang industri, dan
membiarkan sebagian tanah pertanian tidak digarap dengan imbalan ganti rugi
yang diberikan kepada para pemiliknya. Roosevelt berhasil dengan rencana
politiknya itu, sehingga ia memenangkan pemilihan umum di Amerika. Krisis
ekonomi yang melanda Amerika bisa diakhiri dari satu sisi. Dari sisi lain,
investasi modal nasional Amerika bisa dialihkan ke dalam industri yang segera
berubah lagi menjadi industri persenjataan perang sejak meletusnya Perang
Dunia II.
Sebagaimana kita lihat, tujuan pokok para pemilik modal internasional adalah,
pertama mewujudkan perimbangan ekonomi antara Eropa dan Amerika di satu
pihak, dan Jerman, Italia dan Jepang di pihak lain. Masing-masing pihak dipacu
untuk mengalihkan industrinya ke bidang produksi persenjataan, untuk
mempersiapkan perang yang benar-benar akan menjadi kenyataan. Sedang tujuan kedua adalah untuk sedapat mungkin menguasai kekayaan lain bangsa.
H al ini sudah mereka capai.
Krisis besar ini tampak mereda antara tahun 1931-1932, dan muncul lagi tahun
1933. Hal ini terjadi, karena para pemilik modal internasional melemparkan
modalnya secara besar-besaran ke pasaran internasional yang memungkinkan
lahirnya transaksi baru. Pemasaran dan barter barang diborong oleh para
pemilik modal itu dengan harga sangat rendah. Adapun Stalin, ia telah gagal
menyalakan api revolusi Komunis di Eropa Barat. Stalin sendiri akhirnya
mengakui, bahwa ia adalah pihak yang dirugikan dalam persekutuan
rahasianya dengan para pemilik modal internasional. Mungkin inilah yang
menyebabkan timbulnya perselisihan terselubung antara keduanya, yang
tanda-tandanya tampak jelas pada tahun 1936. Dunia saat itu belum menyadari,
bahwa krisis ekonomi besar itu pada hakikatnya adalah awal dari rancangan
menuju Perang Dunia II. Juga tidak banyak orang menyadari, bahwa semua itu
terjadi karena ulah Konspirasi Internasional dengan jerat-jerat perangkap yang
sengaja dipasang.
HITLER DAN PERISTIWA YANG
MENYEBABKAN PECAHNYA PERANG DUNIA
II
Kita sampai pada tahap baru dalam sejarah umat manusia yang punya anti
tersendiri bagi generasi sekarang. Tahap ini merupakan lembaran dunia baru
dari akibat yang langsung kita rasakan. Yaitu tahapan yang dimulai sejak pra
Perang Dunia I sampai Perang Dunia II.
Pada bab terdahulu sudah kita bicarakan tentang kondisi dunia dan tentang sisi
gelap politik Eropa. Telah diketengahkan, bagaimana para pemilik modal
internasional mengembalikan kekuatan militer dan industri Jerman, tanpa ada
reaksi dari Stalin dan dunia Barat di tengah-tengah bahaya yang terus
meningkat. Kita jelaskan pula sebab dan latar belakang yang membuat Stalin
mengambil kebijakan untuk melatih dan mempersenjatai para perwira
angkatan bersenjata Jerman mendatang. Data-data itu telah lama diketahui oleh
agen-agen rahasia di seluruh dunia. Juga kegiatan lembaga keuangan besar di
Eropa dan Amerika yang telah memberi kredit besar-besaran kepada
industri Jerman yang Sedang bangkit itu, untuk membuka jalan bagi lahirnya
militerisme Jerman di bawah pimpinan Hitler. Namun kita harus tahu, bahwa
faktor yang sebenar benarnya menaikkan bintang Hitler dan suhu kondisi Eropa
adalah sisi gelap dari kondisi politik yang ada antara tahun 1924-1934.
Bangsa Jerman keluar dari perang penuh dengan kepahitan, dan perjanjian
Versailles menjerat Jerman dengan rantai berupa kewajiban negara yang kalah
perang dan kekacauan sosial melanda negara itu, serta sistem pemerintahannya
runtuh berkeping-keping, betapa pun bangsa Jerman dikenal sebagai bangsa
yang ulet dan rajin bekerja. Kepedihan itu makin bertambah dengan
meningkatnya kekacauan dan penghinaan yang dilontarkan oleh negaranegara sekutu yang Jerman tidak mampu membalasnya. Marah dan dendam
terus ditahan, sambil melihat dengan berat kenyataan yang ada di hadapannya.
Mayoritas bangsa Jerman tahu, bahwa angkatan bersenjatanya belum kalah
perang. Jerman belum menyerah, bahkan bisa dikatakan lebih mendekati
kemenangan. Jerman lah yang melakukan penyerbuan dari segala penjuru
tahun 1918, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Dengan kata lain, Jerman pada
masa akhir perang itu masih tetap merupakan pihak yang mengambil prakarsa.
namun , Jerman ditikam dari belakang oleh kelompok Yahudi, yang
membuat onar dan kekacauan dalam jajaran angkatan bersenjata Jerman, dan
bergabungnya Amerika ke dalam gerakan barisan sekutu dari faktor luar.
Kepemimpinan Roza Luxemburg beserta para pendukung Yahudinya dari
partai Komunis Jerman, peran kaum Komunis yang membuat kekacauan di
Jerman, disusul dengan pemberontakan Komunis, semua itu merupakan
kenangan abadi yang pahit bagi Jerman, bahwa orang Yahudi di mata mereka
adalah sekutu musuh Jerman. Perjanjian Versailles muncul pada saat kondisi psikologis, politik dan sosial
dalam keadaan tidak menentu, penuh dengan dendam kesumat yang
dieksploitasi oleh para pemilik modal internasional, yang akhirnya semua itu
dapat terungkap. Semangat anti Yahudi tumbuh subur mewarnai aspirasi
nasional bangsa Jerman secara menyeluruh.
A. Faktor Ekonomi
Bukan hanya rakyat jelata Jerman yang mengalami perasaan seperti itu. Para
cendekiawan khususnya di kalangan pemerintahan, dan para ahli ekonomi itu
juga merasakan hal itu. namun , perhatian mereka dicurahkan ke kasus
vital lainnya, yaitu kasus ekonomi. Mereka menyadari adanya jurang yang
membuat Jerman terperosok kedalamnya, sesudah para pemilik modal
internasional menguasai perekonomian negara itu, sehingga Jerman secara
ekonomi menggantungkan diri kepada kredit luar negeri, yang ada
hubungannya secara langsung dengan lembaga keuangan internasional lewat
bank negara-negara besar. Para cendekiawan dan politisi Jerman bukan tidak
tahu adanya bahaya hutang-piutang semacam itu yang mencekik leher, ibarat
tangan ikan gurita yang melilit mangsanya sedikit demi sedikit yang akhirnya
bisa mematikan itu. Bunga kredit itu, dan bunga dari bunganya senantiasa
bertambah terus menerus, yang akhirnya berkembang menjadi berlipat ganda
dari kredit semula. Untuk membayar kredit itu pemerintah terpaksa menaikkan
pajak yang dikenakan pada rakyatnya dari hasil pertanian, industri,
perdagangan dan income nasional. Dengan kata lain, arti kredit itu tidak lain
adalah perbudakan nasional bagi seluruh rakyat.
Melihat kenyataan seperti itu, para cendekiawan dan politisi Jerman menyadari
bahaya cekikan perekonomian negara. Mereka segera melaksanakan
kesepakatan untuk mencari jalan keluar, yang bisa menyelamatkan Jerman dari
ancaman bahaya di atas. Dengan demikian, iklim pembebasan krisis ekonomi
telah lahir untuk menyambut setiap langkah yang bisa menyelamatkan Jerman
bersama rakyatnya. Muncullah Hitler dengan Nazismenya yang menyerukan
kebangkitan Jerman dalam segala aspek kehidupan termasuk membebaskan
diri dari ikatan pihak asing, dan mencetak mata uang sendiri, tanpa bergantung
pada kredit. Ia segera mendapat dukungan penuh dari bangsa Jerman. Langkah
pertama yang dilakukan adalah mengatur income nasional, sumber daya alam
Jerman, industri, pertanian dan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa,
demi terwujudnya self-reliance atau berdikari.
Langkah ini pada dasarnya merupakan ungkapan nyata yang mewakili aspirasi
bangsa Jerman, dan tuntutan mereka. Oleh sebab itu, sambutan mereka ibarat
api yang menyambut bensin. Nazisme naik pada tingkat kekuatan politik
paling atas yang terorganisir dengan baik. Pendukungnya terdiri dari unsur
pemuda, para tokoh intelektual dan para politisi, yang secara serentak
menghendaki Jerman muncul kembali sebagai kekuatan dunia yang harus
diperhitungkan. Kehadiran Adolf Hitler di atas pentas percaturan politik Jerman merupakan tokoh penuh dinamika, yang mampu merebut simpati
segenap lapisan warga Jerman. Ditambah dengan keberhasilan Mussolini
dan Fasismenya di Italia yang terus berjaya menunjukkan kekuatannya, dan
munculnya beberapa tokoh diktator di Eropa merupakan faktor yang
mendorong Hitler dan Nazismenya bangkit dan menguasai Eropa.
Melihat perkembangan di Jerman, para pemilik modal internasional mengatur
siasat setan. Meskipun sasaran Hitler ditujukan kepada orang Yahudi, namun
para pemilik modal internasional justru mendorong seruan nasionalisme
ekstrem Nazi dan pembangunan ekonomi, yang digalakan oleh Hitler. Dan
lagi, sesudah Hitler naik daun, para pemilik modal internasional bersedia
menarik beban kredit yang memberatkan Jerman, dan merelakan hutang
pampasan perang yang ditolak oleh Hitler. Bahkan mereka memberi
pinjaman lunak kepada Hitler untuk proyek industri dan perdagangan Jerman.
Mereka kemudian mendesak Stalin dan dunia Barat untuk tutup mulut atas
kebangkitan militer Jerman secara besar-besaran dari waktu ke waktu. Dalam
kasus ini, banyak pengamat sejarah dunia belum menemukan jawaban,
mengapa Stalin dan dunia Barat tinggal diam di hadapan Fuhrer Adolf Hitler,
yang pada awal perjalanannya masih sangat lemah, yang bisa di hancurkan
cukup hanya dengan kekuatan militer Perancis atau Inggris sendiri.
Kegelapan politik saat itu, kenapa para analis, para sejarawan dan para penulis
tidak mempersoalkan perjalanan sejarah, yang membuat Eropa tidak
mengambil tindakan terhadap langkah agresif Hitler, mulai dari pembatalan
perjanjian Versailles, penolakan untuk membayar pampasan perang,
membangun kembali militer Jerman, pendudukan atas wilayah Ruhr untuk
dijadikan kawasan industri persenjataan Jerman, pendudukan Swedia,
penyerbuan terhadap Czekoslovakia, aneksasi Austria ke dalam wilayah
Jerman, dan seterusnya? Keberanian Hitler telah menaikkan namanya dan
Nazisme, baik di dalam maupun di luar Jerman. Hitler telah keluar sebagai
kekuatan yang membuat bulu Roma negara-negara besar berdiri. Sementara
itu, para pemilik modal Yahudi internasional terus membukakan peluang bagi
Hitler, dan mengeluarkan dana besar-besaran secara terselubung, serta
merancang pembunuhan terhadap sejumlah besar putra-putra Yahudi dengan
meminjam tangan Hitler sebagai kambing tebusan (scape goat). Peristiwa ini
kelak dijadikan propaganda untuk menuntut ganti rugi atas kematian mereka.
Ini adalah bagian dari program jangka panjang, untuk membuka jalan bagi
pecahnya Perang Dunia II.
Hitler mendapat kenangan gemilang pada saat Jerman sebenar benarnya masih
dalam keadaan lemah, belum memiliki kekuatan militer yang memadai. Baru
kemudian Hitler membangun angkatan bersenjatanya yang bisa diandalkan. Ia
terpaksa membuka hubungan dengan golongan aristokrat militer Jerman
golongan Arya', yang dikenal oleh dunia dengan sebutan Junkers. Mereka
inilah golongan yang memegang kendali kekuatan militer Jerman sejak
beberapa generasi yang lalu. Maka timbullah Perselisihan intern di kalangan Nazi sendiri, antara golongan moderat yang ingin membangun Jerman dengan
memperkuat sendi-sendinya, dan golongan ekstrim yang punya hubungan
dengan golongan aristokrat militer, penganut faham Karl Reiter yang ingin
mendirikan negara Jerman Tulen yang berdasarkan faham supremasi ras Arya,
untuk menguasai seluruh Eropa dengan kekuatan tangan besi.
Banyak analis sejarah yang membahas kasus pertikaian intern dalam tubuh
Nazi. Begitu pula media massa dan pergerakan politik sering
membicarakannya, namun mereka tidak menyinggung sebab-sebab mendasar
yang melatarbelakangi pertikaian ini. Hitler sendiri sebenar benarnya tidak memihak
kepada golongan ekstrim, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap
bersikap netral tanpa memihak kepada golongan ekstrem, seperti sering
disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada
salah satu pihak yang berselisih sampai tahun 1936, ketika peristiwa demi
peristiwa yang terjadi akhirnya menempatkan Hitler menganut garis moderat.
Ini terlihat jelas dari usaha yang dilakukan untuk mencoba melaksanakan
persahabatan dengan Inggris, dan berusaha menjauhi benturan dengan pihak
gereja dan para penganut Kristen secara umum. Tindakan Hitler yang sangat
berani adalah menutup The Grand Eastern Lodge di Jerman, yang merupakan
sarang Free Masonry, mirip dengan The Grand Eastern Lodge yang terdapat di
kota besar Eropa lainnya yang dikuasai oleh para pemilik modal internasional.
Meskipun perkumpulan The Grand Eastern Lodge di Jerman melarang orang
Yahudi menjadi anggotanya, namun faham atheisme yang terdapat dalam
perkumpulan itu bukan tidak lebih berbahaya daripada prinsip para pemilik
modal Yahudi internasional. Nazisme merupakan salah satu bentuk atheisme
yang mentuhankan negara Jerman. Seluruh dunia harus tunduk kepada Jerman
dengan kekuatan, dan membangun kebudayaan supremasi ras Arya Jerman.
Di tengah-tengah perselisihan antar-kelompok dalam Nazi, pribadi Hitler bagi
kelompok moderat merupakan sosok pimpinan baru dan bapak pembangunan
Jerman. Bagi kelompok ekstrem, Hitler adalah seorang Fuhrer bagi Jerman, dan
seorang pimpinan bangsa Arya. Sedang Hitler sendiri berusaha menjauhkan
diri dari pelukan golongan aristokrat militer Aryan, yang bagi Hitler sendiri
tidak dibutuhkan, karena ia mampu membangun militer Jerman tanpa harus
minta bantuan mereka. Hitler yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk
mewujudkan perdamaian, dan memberi pukulan mematikan kepada para
pemilik modal Yahudi internasional itu adalah melaksanakan persekutuan
dengan negara super power di Eropa pada saat itu, yaitu Inggris. Maka, arah
politik Hitler ditujukan kepada persekutuan sejenis itu. Antara tahun 1933-1936
Hitler selalu berusaha melaksanakan hubungan dengan Inggris, agar bisa
membentuk persekutuan bersama. la memiliki tekad seperti itu sejak masih
dalam bukunya yang diberi judul Perjuanganku. Katanya, "Seandainya aku
diminta untuk membela kerajaan Inggris dengan kekuatan, pastilah permintaan
itu akan kukabulkan dengan senang hati". Hitler kurang jeli, bahwa usaha
untuk mencapai keinginan seperti itu terhalang oleh dua kendala besar, yaitu :
1) Para pemilik modal internasional tahu, bahwa dukungan bagi
kebangkitan dan militerisasi Jerman yang digalakan oleh Hitler akan
membuka jalan bagi pecahnya perang yang mereka rancang
sebelumnya. Di lain pihak, Hitler punya beberapa sasaran utama yang
akan dituju dalam persekutuannya dengan Inggris, di antaranya
mengenyahkan orang-orang Yahudi sampai ke akar-akarnya.
2) Golongan aristokrat militer Aryan di Jerman, yang dari para sejarawan
mendapat julukan "Para Pialang Perang Nazi", tidak mau berkompromi,
kecuali demi kekuasaan Jerman atas seluruh Eropa, dan membangun
kebudayaan yang berpijak pada supremasi bangsa Arya Jerman.
Dengan demikian, kedua kekuatan itu telah sepakat dalam satu hal, yaitu
mencegah Hitler untuk melaksanakan perjanjian persekutuan dengan Inggris,
dan mencegah Jerman dari setiap upaya untuk tidak terlibat dalam perang
yang akan datang. Oleh karena itu, usaha Hitler untuk melaksanakan hubungan
dengan Inggris berkali-kali mengalami kegagalan. Pihak golongan Nazi
ekstrem menjadi jengkel melihat Hitler selalu berusaha berjalan melawan arus
yang ditempuh oleh golongan aristokrat militer Jerman. Akhirnya sebuah
persekongkolan berusaha untuk membunuh Hitler, tetapi gagal. Usaha
pembunuhan kedua terjadi tahun 1936, karena Hitler berusaha lagi
melaksanakan perjanjian persekutuan dengan Inggris. Tujuannya untuk
menghadapi kekuatan para pemilik modal Yahudi internasional, bahaya
Komunisme di Eropa dan untuk menghindari perang yang sudah terasa segera
akan pecah. Usaha Hitler untuk melaksanakan perjanjian persahabatan dengan
Inggris yang terakhir dilakukan bulan Januari 1936 di Berlin, ibukota Jerman.
Inggris diwakili oleh Lord Lowend, sedang Jerman oleh Hitler sendiri dan
tangan kanannya Goering dan menteri luar negerinya Von Reintrop. Kita perlu
mengetahui kasus ini lebih luas, karena ini merupakan titik perubahan sikap
Hitler yang menyentuh perkembangan kondisi Jerman secara keseluruhan.
Untuk itu, kita perlu menelaah buku karya Lord Lowend yang diberi judul Kita
dan Jerman (We are and Germany), dan menengok kembali artikel yang dimuat
oleh harian The Evening Standard berbahasa Inggris edisi 23 April 1936.
Hitler membeberkan kepada Lord Lowend tentang sikap Jerman terhadap
kasus internasional yang dihadapi oleh dunia, khususnya tentang bahaya
Komunisme dan bahaya organisasi para pemilik kapital besar. Hitler
menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap kerasnya terhadap
kelompok Yahudi internasional, dan keprihatinan Jerman atas penyusupan
organisasi Zionisme yang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Hitler
berpendapat, bahwa untuk menghindari bahaya itu harus lebih dulu
menyingkirkan kelompok pemilik modal Yahudi internasional sampai ke akarakarnya, dengan mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh Disraeli,
perdana menteri Inggris kenamaan berdarah Yahudi akhir abad ke 19 dalam
catatan diarynya, "Sesungguhnya yang memerintah dunia adalah segelintir orang
yang jauh berbeda dari apa yang dibayangkan oleh orang yang tidak mengerti apa yang
sebenar benarnya terjadi di balik layar". Reintrop menandaskan kata-kata Hitler. Lord
Lowend kemudian menyebutkan laporan komite kerajaan Inggris yang diberi
tugas menyelidiki skandal percukaian Kanada di bawah pimpinan Mr. Stevens
pada tahun 1927-1928. Von Reintrop sendiri saat itu berada di Kanada. Dalam
laporan itu dijelaskan, bahwa sindikat penyelundupan yang punya hubungan
dengan para pemilik modal Yahudi internasional bisa mengeruk uang setiap
tahunnya lebih dari 100 juta dolar Amerika. Jumlah itu sangat besar waktu itu,
yang diperoleh lewat sogokan, pemerasan dan sebagainya, sehingga timbulgoncangan kehidupan sosial dan politik di Kanada. Untuk memperkuat
laporan pemerintah Inggris itu, Von Reintrop menambahkan, bahwa
kebobrokan seperti itu, lebih dulu harus disingkirkan sumbernya, yaitu
kelompok pemilik modal internasional. Pembicaraan itu berakhir sesudah Von
Reintrop dan Goering memaparkan pemikiran dan pandangan profesor Karl
Reiter dan para ideolog Nazi kepada Lord Lowend. Hitler menutup pertemuan
itu dengan meminta, agar menteri Inggris itu menyampaikan kepada
pemerintahnya tentang sikap dan pandangan Hitler, dan menawarkan untuk
mempertimbangkan kemungkinan terbentuknya persekutuan bersama antara
Jerman dan Inggris. sesudah tiba di Inggris, Lord Lowend menyampaikan
gagasan dan pandangan Hitler kepada pemerintah Inggris, tetapi ditolak
mentah-mentah. Lord Lowend diberi tugas kembali untuk menjelaskan
penolakan ini . Pada tanggal 21 Februari 1936 Lord Lowend kirim surat
kepada Von Reintrop yang berisi penolakan pemerintah Inggris atas gagasan
dan tawaran Hitler, dan menerangkan faktor-faktor penyebabnya. Hitler
kemudian sepenuhnya berpaling kepada golongan aristokrat militer Jerman,
dengan mengambil prinsip dan rancangan mereka. Sejak itu Hitler
berkeyakinan, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa
Jerman dan membinasakan musuh-musuhnya adalah perang.
Sejak tahun 1936 tahap kedua masa pemerintahan Hitler dimulai. Prinsip
Nazisme berhaluan keras telah mewarnai sepak-terjangnya untuk
mempersiapkan diri menghadapi perang. Sementara itu, apa yang terjadi di
Italia mirip dengan apa yang terjadi di Jerman. Akibatnya yang wajar, Hitler
tertarik untuk mendekati Mussolini, yang akhirnya keduanya membentuk
poros Berlin-Roma. Spanyol merupakan medan percobaan bagi kekuatan yang
bertikai di Eropa, yaitu Hitler dan Mussolini berpihak kepada kaum nasionalis.
Perang saudara ini berakhir pada bulan Juli 1936 dengan kemenangan di
pihak jenderal Franco kemudian tampil sebagai pemimpin baru di Spanyol.
B. Pertikaian antara Nazisme dan Kristen
Kaum nasionalis di Spanyol yang didukung oleh Hitler dan golongan Kristen
tidak bisa mengelakkan permusuhan antara Hitler dan gereja Katolik, sejak
Hitler memihak dan bergandengan tangan dengan golongan aristokrasi militer
Jerman. Kasta ini berpegang pada faham atheisme dalam sepak terjangnya,
yaitu menjadikan negara Jerman dan prinsip supremasi ras Arya sebagai
Tuhan. Para tokoh Protestan bergabung dengan gereja Katolik untuk
menghadapi langkah-langkah Hitler. Gabungan ini terjadi karena terpanggil
untuk menentang faham atheisme yang dijadikan pegangan oleh golongan
Nazi ekstrem itu. Pertentangan antara Hitler dan gereja makin tampak jelas
menjelang akhir tahun 1936, dan mencapai puncaknya ketika Paus Pius XI
menulis surat kepausannya kepada gereja di seluruh dunia tanggal 14 Maret
1937. Isinya, Sri Paus menyerang Nazisme secara terbuka, khususnya
sehubungan dengan prinsip ketuhanan nasional bagi suatu bangsa dengan
menjelaskan, bahwa Allah adalah Tuhan bagi semesta alam, bukan hanya bagi
makhluk atau ras tertentu.
Tanggal 19 Agustus 1938 para tokoh gereja Protestan Jerman mengedarkan
surat berisi kecaman keras terhadap prinsip atheisme yang dianut oleh Nazi.
Disebutkan tentang sikap para tokoh Nazi di Jerman terhadap agama Kristen
secara terbuka, disertai dengan pernyataan fuehrer tentang nasionalisme Aryan
Jerman yang di-Tuhan-kan itu. Gereja Protestan bersama Katolik mengambil
sikap melawan dan menentang Hitler dan Nazismenya. Berikut ini adalah
cuplikan isi surat ini :
"Tujuan para tokoh Nazi bukan saja menghancurkan gereja Katolik atau gereja
Protestan, melainkan juga ingin menghancurkan ajaran Kristen yang berlandaskan
Tuhan semesta alam, untuk diganti secara praktis dengan Tuhan Ras Jerman. Apakah
yang dimaksud dengan Tuhan Ras Jerman itu ? Apakah ada bedanya dari Tuhan
bangsa lain? Kalau demikian, setiap bangsa punya Tuhan sendiri, yang berarti tidak
ada Tuhan' sama sekali".
Para tokoh Nazi menanggapi sikap gereja itu dengan sikap keras. Suhu politik
di Jerman hampir mirip dengan situasi perang sipil yang disebabkan oleh
pertikaian kepercayaan agama. Untuk menghadapi perkembangan situasi
dalam negeri, Hitler mengeluarkan undang-undang tegas dengan sangsi
hukuman yang berat bagi setiap ancaman terhadap kekuasaan politik mutlak
negara Nazi. Sejak itu situasi tegang yang terjadi di Jerman tampak mereda.
namun , pertengkaran mendasar antara Nazi dan gereja tetap tidak bisa
berkurang.
Perkembangan situasi di Italia tidak jauh berbeda secara umum dari situasi di
Jerman. namun , pertikaian yang ada di Italia berasal dari persengketaan
tentang perebutan tanah jajahan antara Italia di satu pihak serta Inggris dan
Perancis di pihak lain. Kesamaan Mussolini di Italia dengan Hitler di Jerman
merupakan sekutu alami dalam menghadapi setiap tantangan musuh.
Persekutuan poros Nazi-Fasisme terungkap dengan jelas ketika Italia dan
Jerman terlibat dalam perang saudara di Spanyol, yang keduanya memihak
jenderal Franco, yang akhirnya Francolah yang menang. Demikianlah awal
wajah poros Berlin-Roma. Pada mulanya Hitler dan Mussolini mengira, bahwa
jenderal Franco segera akan bergabung ke dalam persekutuan mereka sesudah
menang perang itu. Namun pandangan politik Franco yang lebih banyak
dipengaruhi oleh keyakinan ajaran agama Kristen yang dianutnya, telah
menjadi penghalang untuk bergabung bersama. Franco tetap bersikap seperti ini, meskipun berkali-kali mendapat tekanan dari Hitler dan Mussolini. Dengan
demikian, kepercayaan yang dipegang teguh telah menjauhkan negerinya dari
kancah perang yang menghancurkan.
Kemudian poros Berlin-Roma mengalihkan perhatiannya ke Timur Jauh. Di
sini mereka mendapatkan sekutu ketika tanpa kesulitan, karena perang
ekonomi yang telah mencapai puncaknya antara Jepang dan Dunia Barat.
Barang-barang produksi Jepang sudah dikenal oleh seluruh dunia dengan
ragam dan modelnya serta harganya yang murah. Hal ini merupakan ancaman
bagi barang-barang produksi Eropa. Pihak Barat mengumumkan perang
terhadap perdagangan dan industri Jepang yang akan menghancurkan
perekonomiannya. Maka wajarlah kalau Jepang mencari kawan yang bisa
dijadikan sekutu, dan menyambut baik pendekatan yang dilakukan oleh poros
Berlin-Roma, yang juga memusuhi Dunia Barat. Dengan demikian,
terbentuklah poros Berlin-Roma-Tokyo. terbukalah sekarang jalan bagi
program para pemilik modal Yahudi internasional. Mereka mengantar dunia
menuju perang yang tidak bisa di hindarkan lagi. Mereka segera bersiap siap
untuk menyambut kedatangan perang itu.
Tokoh yang dipersiapkan untuk memimpin perang dari Inggris adalah
Winston Churchill. Dari Amerika tampil Franklin Roosevelt, yang punya
hubungan dekat dengan Baruch, seorang kapitalis kelas dunia. Lebih
berbahaya lagi, karena ia adalah salah seorang tokoh yang menggerakan
organisasi Zionisme internasional dan Kongres Yahudi internasional selama
hampir setengah abad. Selama hidupnya ia melakukan pengkhianatan
terhadap bangsa Amerika Serikat. Hubungan gelapnya dengan Churchill
bukan merupakan rahasia lagi. Keduanya sering melaksanakan pertemuan dan
kunjungan secara teratur sejak beberapa tahun lamanya. Dan yang paling
menonjol adalah, kunjungan Churchill kepada Baruch pada tahun 1954, ketika
Churchill menyampaikan terus terang hubungannya dengan organisasi
Zionisme, yang telah terjalin sejak lama. Namun ini tidak berarti, bahwa para
pemilik modal Yahudi internasional menemukan jalan mulus untuk mencapai
cita-citanya di Inggris, meskipun Churchill telah membantu proyek yang
dicanangkan.
Di Inggris sendiri terdapat benturan keras dengan sebuah tantangan
terorganisasi yang digerakkan oleh kalangan intelektual kelas atas. Kalangan
ini telah lama menyadari bahaya yang mengancam Inggris yang datang dari
Kongres Yahudi dan para pemilik modal Yahudi internasional.
Orang yang mengingatkan kalangan intelektual tentang bahaya yang
mengancam inggris dari balik layar adalah seorang wartawan bernama Victor
Marsedan , yang bertugas di Rusia untuk harian The Morning Past berbahasa
Inggris yang terbit di London. la menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi
di Rusia ketika itu. Ia juga mendapatkan satu eksemplar buku yang ditulis oleh
Sergay Niloss berjudul "Bahaya Yahudi" yang terbit tahun 1905. Dalam buku
itu profesor Niloss memuat dokumen rahasia yang ia peroleh dari seorang wanita kaya di Paris yang berhasil mencuri dari kekasihnya, seorang kapitalis
Yahudi terkemuka pada saat itu, yang baru saja kembali dari pertemuan
rahasia yang diadakan oleh para tokoh The Grand Eastern Lodge Perancis.
sesudah mengkaji dan menganalisa buku profesor Niloss itu, Victor Marsedan
segera berniat mengingatkan bangsanya tentang bahaya yang sedang
mengancam negerinya. sebenar benarnya ia sudah berniat segera kembali ke London,
tapi situasi dan peristiwa besar yang terjadi di Rusia memaksa ia untuk
menangguhkan kepulangannya hingga tahun 1921. sesudah tiba di Inggris,
Marsedan segera menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Inggris, dan
mengedarkannya dengan judul The Protocols of Learned Elderly of Zion.
Marsedan menyadari, bahwa dengan menerjemahkan dan mengedarkan buku
itu berarti is meletakkan diri dalam posisi berbahaya. Namun ia tetap tidak
mau mundur dari tekadnya. sesudah buku itu beredar, terjadilah goncangan
besar di Inggris, yang kemudian menjalar ke seluruh dunia. Para pemilik modal
Yahudi segera melangkah melaksanakan propaganda besar-besaran dengan
melemparkan tuduhan klasik, seperti biasa mereka lakukan, bahwa dokumen
yang terdapat dalam buku Niloss itu palsu, yang bertujuan hendak meniupkan
gelombang anti semitik.
Kami (penulis) menjadikan buku Niloss ini sebagai rujukan utama. sesudah
melaksanakan kajian dan analisa mendalam selama beberapa tahun, akhirnya
kami sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwa dokumen Niloss, atau
yang dikenal dengan Protocols of learned elderly of Zion tidak lain adalah
ucapan asli yang disampaikan dalam Kongres yang diadakan oleh Amschel
Rothschild tahun 1773 di Frankfurt, yang telah kami kutipkan selengkapnya
pada bab terdahulu. Perlu kami tambahkan di sini, bahwa kekuatan setan itu
sejak lama telah membentuk organisasi yang memiliki jaringan internasional,
dengan tujuan menghancurkan warga dunia. Organisasi ini tidak lain
adalah faham Zionisme dan Komunisme sebagai kedok yang membungkus
gurita busuk. Para pemilik modal internasional tidak bisa memukul Marsedan
secara terbuka. Banyak kawan Marsedan justru akan membuka rahasia lebih
luas lagi. Marsedan tetap bekerja pada harian The Morning Post sampai tahun
1927. Saat itu, golongan yang berpengaruh di Inggris yang menyadari bahaya
Yahudi internasional bisa membujuk pemerintah Inggris untuk mengangkat
Marsedan sebagai orang kepercayaan putra mahkota Inggris, Duke of Wales.
Waktu putra mahkota akan melaksanakan lawatan panjang keliling wilayah
kerajaan Inggris, Marsedan diminta untuk mendampingi sang pangeran.
Sepulang dari lawatan itu, sang pangeran tidak lagi bergaya hidup mewah dan
boros, tapi berubah menjadi orang yang berpandangan jauh. Selama dalam
perjalanan, Marsedan sengaja menunjukkan semua dokumen dan bukti yang
ada padanya tentang seluk-beluk Konspirasi internasional, dan peran yang
dimainkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional dari balik layar.
sesudah beberapa saat pulang dari lawatannya berkeliling bersama sang
pangeran, Marsedan meninggal dunia secara mengejutkan. Ini jelas bukan
peristiwa kebetulan.
Di sisi lain, sesudah kembali dari perjalanannya, sang pangeran mengalihkan
pola hidupnya dari hidup pesta-pora dan bersenang-senang kepada hidup
serius untuk memanfaatkan peluang baik dalam memikirkan politik dan
ekonomi. Ia suka membaur dengan berbagai kalangan rakyat. Sang pangeran
telah meninggalkan adat kebiasaan turun temurun, yang melarang seorang
pangeran campur tangan dalam kasus umum. Ia menentang setiap langkah
politik yang telah ia ketahui berasal dari prakarsa para pemilik modal Yahudi.
Jelaslah kiranya, pangeran telah masuk ke dalam pertikaian melawan kekuatan
terselubung yang sedang memerintah Inggris. Hal ini benar-benar terjadi ketika
ia menaiki tahta kerajaan Inggris bulan Mei 1936 dengan gelar Raja Edward
VIII.
Para pemilik modal Yahudi internasional segera tahu, bahwa pertikaiannya
melawan raja baru Inggris itu adalah perang yang menentukan. Mereka tidak
mau membuang-buang kesempatan dalam penyerangannya kepada Raja
Edward VIII, sejak raja naik tahta. Mereka amat berpengalaman sejak berabadabad lamanya dalam menghadapi kasus seperti ini, dan banyak belajar
untuk mempersiapkan segalanya dalam rangka operasinya. Mereka mulai
menyerbu dengan propaganda gosip yang terkenal itu. Ini ternyata tidak
mudah. Sebab, Raja Edward diketahui hidup bersih sejak ia kembali dari
lawatannya itu. Namun mereka tidak kehilangan akal. Mereka segera
menemukan sasaran yang dicari pada diri wanita terkenal bernama Willy
Simpson. Ia adalah seorang janda jelita berkebangsaan Amerika, yang hendak
dikawin oleh Edward. Segeralah mesin propaganda besar-besaran diarahkan
kepada kasus ini untuk membentuk opini umum di Inggris menentang
wanita itu. kasus ini menjadi isu paling hangat di Inggris, dan memaksa
Edward memilih salah satu alternatif, turun tahta atau kawin dengan Willy
Simpson. Edward diperingatkan oleh perdana menteri Inggris Mr. Boldwin
agar menentukan sikap. Akhirnya Edward memilih turun tahta, dan
melanjutkan pernikahannya dengan Willy Simpson.
Inggris mengalami masa peralihan baru sejak Edward VIII turun tahta.
Pertikaian terjadi antara para pemilik modal Yahudi internasional melawan
para pendukung mantan Raja Edward yang masih bertahan merintangi gerakgerik mereka. Para pemilik modal Yahudi internasional bertekad akan
mengalahkan para pendukung Edward, berapa pun harga yang harus dibayar,
demi menaikkan seorang pendukung Zionisme kawakan Winston Churchill ke
tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri.
Kami pribadi (penulis) bertanya-tanya tentang sebab munculnya dokumen ini,
yaitu The Protocols of Learned Elderly of Zion, ketika ditemukan oleh profesor
Niloss sesudah berapa di alam rahasia sejak tahun 1773, yaitu lebih dari satu
seperempat abad lamanya. Jawaban ini kemudian terungkap dalam analisa
kami mengenai periode itu yang punya arti lebih penting daripada yang
pernah mereka alami dalam sejarah mereka. Dunia telah dipersiapkan untuk
menerjuni Perang Dunia I, sesudah semua jalan yang menuju perang itu terbuka
lebar. Mereka dituntut melaksanakan pertemuan penting dalam rangka
menjajaki kasus perang itu dan rancangannya. Bukan hanya ini saja
keistimewaan periode ini . Di sana terdapat peristiwa demi peristiwa
berbahaya yang telah dipersiapkan oleh pihak Konspirasi secara serentak
terhadap umat manusia. Peristiwa itu belum pernah disaksikan dalam sejarah
dunia, yang menyebabkan para tokoh Konspirasi sendiri terpaksa berbondongbondong membanjiri kota London pada tahun 1893 dengan membawa serta
dokumen-dokumen, berbagai program dan hasil kajian penting mereka.
Berbagai pertemuan rahasia yang mereka adakan terus berlangsung di London
saat itu. Sebagian dokumen rahasia itu disimpan oleh para tokoh Konspirasi
yang berdiam di London, sampai mereka meninggal dunia dan sesudah itu.
Pada waktu para tokoh The Grand Eastern Lodge melaksanakan pertemuan di
Paris tahun 1901, salah seorang peserta kapitalis Yahudi membawa dokumen
itu ke London, langsung sesudah pertemuan itu usai. Pada saat ia menginap di
rumah seorang wanita kaya kekasihnya, dokumen itu lenyap.
Peristiwa yang membuat kekuatan Konspirasi terpaksa melaksanakan berbagai
pertemuan dimulai tahun 1896, ketika terjadi perang Boer yang berkobar di
Afrika Selatan. Para pemilik modal internasional berhasil menguasai tambang
emas di sana. Lalu disusul dengan sejumlah peristiwa pembunuhan terkenal
yang telah kita bicarakan terlebih dahulu. Di samping itu, di belahan bumi lain
terjadi pula perang antara Spanyol dan Amerika tahun 1896. Ada indikasi kuat,
bahwa Winston Churchill muncul pertama kali ketika terjadi perang Boer itu.
Saat itu ia bekerja sebagai koresponden perang di Afrika Selatan. Hubungannya
dengan Zionisme telah terjalin sejak masa mudanya, seperti diakuinya sendiri
pada tahun 1954. Churchill sangat bangga sebagai tokoh Zionis, dan bekerja
sesuai dengan program terselubung berjangka panjang, yang diawasi oleh
Zionisme internasional, yang bertujuan menguasai dunia.
RAHASIA DI BALIK PERANG DUNIA II
(Sebuah Tinjauan Analitis Sejarah)
Setiap peristiwa yang terjadi di Inggris meninggalkan tanda tanya besar bagi
sekelompok kalangan dalam warga Inggris, karena telah lama menyadari
bahaya yang mengancam negeri itu sesuai Perang Dunia I. Media massa yang
kebanyakan dikuasai oleh para pemilik modal internasional mampu menguasai
pendapat umum, dan jalan pemikiran, serta perasaan kelas menengah dan
bawah di Inggris. Lain halnya dengan kalangan intelektual dan golongan atas
lainnya. Mereka ini tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media massa.
Para pemuka Inggris yang berpikiran jernih makin merasakan adanya kekuatan
terselubung. Mereka ini mengatur dan mengendalikan peristiwa dari balik
layar, menciptakan tokoh-tokoh yang bisa dijadikan kaki-tangan, sesuai dengan
program teratur dan terarah, dan berjangka panjang. Peristiwa turunnya
Edward dari singgasana kerajaan Inggris, dan peristiwa yang melatarbelakangi
punya akibat tertentu, sesuai dengan rancangan yang telah digariskan. Para
tokoh terkemuka Inggris menyadari bahaya itu, dan tahu pula dari mana
datangnya bahaya itu. Mereka tahu secara pasti, bahwa para pemilik modal
Yahudi internasional adalah pihak yang membentuk kekuatan terselubung itu,
atau setidaknya yang mewakilinya. Jadi, merekalah yang bertanggungjawab
atas perjalanan sejarah yang terjadi di Eropa, atau bahkan di dunia pada
umumnya. Diyakini pula, bahwa Zionisme bukanlah sebuah organisasi politik
yang punya tujuan dan sasaran biasa. Zionisme adalah organisasi utama yang
melaksanakan program Konspirasi internasional secara umum.
Tokoh Inggris yang mengetahui hakikat dan seluk-beluk Konspirasi adalah
admiral Sir Barry Dumvell, seorang perwira yang pernah memegang jabatan
tinggi berkali-kali pada angkatan laut kerajaan Inggris selama 40 tahun
berturut-turut. la dikenal dengan kedahsyatannya dalam pasukan meriam
angkatan laut Inggris pada Perang Dunia I, dan juga seorang direktur Akademi
Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy Academy). Kemudian ia menjabat
sebagai kepala badan inteligen angkatan laut selama beberapa tahun. Tidak
diragukan lagi, data-data berbahaya yang ia peroleh selama melaksanakan
tugas inteligen itulah yang membuat ia mengetahui secara detail tentang apa
yang terjadi di balik layar. Apalagi ia sering mewakili pemerintahnya dalam
berbagai kesempatan, terutama dalam konferensi yang ada hubungannya
dengan keamanan laut. Adapun kolonel Ramsey adalah tokoh kedua yang
mengetahui seluk-beluk Konspirasi, sesudah Sir Barry Dumvell. Ia seorang
alumnus Akademi Militer Saint Horse (Saint Horse Military Academy), dan
pernah mengabdi sebagai pasukan pengawal kerajaan Inggris (The Royal
British Guard) selama masa Perang Dunia I. Kemudian ia berpindah tugas
sebagai komandan angkatan laut kerajaan Inggris. sesudah terjun ke dunia
politik, ia terpilih sebagai anggota Majelis Umum (House of Common) pada tahun 1931. Ia duduk dalam parlemen itu sampai tahun 1940, ketika ia
meninggalkan kehidupan politik.
Admiral Dumvell dan Ramsey keduanya merupakan orang terdepan dalam
gerakan barisan pasukan yang mengetahui hakikat bahaya yang datang dan para tokoh
Yahudi internasional, yang bergabung pada kelompok pemilik modal
internasional. kasus ini menjadi perhatian khusus bagi mereka berdua sejak
tahun 1938. Mereka berdua menyampaikan peringatan kepada pemerintah
Inggris tentang hakikat bahaya itu. Keduanya mengetahui tujuan langsung
yang dijadikan sasaran pada waktu itu, yaitu menyalakan api perang yang
akan menyeret bangsa lain untuk saling menghantam. Seusai perang pasti akan
muncul kondisi baru yang penuh kecemasan dan kelelahan, yang
memungkinkan Konspirasi melangkah ke tahap berikutnya, yaitu mendirikan
negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Dari tempat inilah kegiatan
Konspirasi selanjutnya akan diatur untuk mengejar mimpi-mimpi gila mereka.
Kami pribadi (penulis) sampai tahun 1937-1938 belum merasa yakin tentang
tujuan akhir Konspirasi dan sejauh mana pengaruh mereka yang menyelusup
masuk ke dalam bangsa-bangsa di dunia. sesudah mempelajari catatan Dumvell
dan Ramsey yang berhubungan dengan kasus Yahudi sejak tahun 1939
sampai tahun 1950, kami meyakini semua itu, khususnya tentang kenyataan
yang mengerikan, dan hakikat apa yang disebut dengan penindasan terhadap
Yahudi. Semua itu memberi image secara jelas mengenai propaganda
beracun yang menelanjangi mereka sendiri dari sifat kemanusiaan. Setiap
orang Yahudi dan para korban propaganda Komunisme dan atheisme wajib
menelaah ulasan berikut dengan pikiran jernih, agar selamat dan marabahaya.
Stalin melaksanakan langkah pembersihan umum secara besar-besaran pada
tahun 1939 terhadap unsur-unsur Yahudi yang didalangi oleh jaringan
revolusioner terselubung. sesudah beberapa waktu berlalu diketahui, bahwa
mereka itu ternyata hanya menjadi kuda tunggangan belaka. Para tokoh
Konspirasi Yahudi internasional tidak memperdulikan untuk menjerumuskan
saudara-saudaranya sebangsa Yahudi sebagai tumbal. Bahkan mereka
memberi bantuan besar-besaran kepada Stalin selama dalam perang. Dan
kami (penulis) adalah salah seorang yang memimpin pengawasan pengiriman
bantuan itu dari Eropa dan Amerika ke Rusia melewati teluk Arab. Mengenai
perang itu sendiri, para pemilik modal Yahudi internasional adalah pihak yang
mendalangi dan membiayainya. Para tokoh Yahudi mengklaim, bahwa mereka
meniupkan api perang itu untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari
kekejaman Nazisme. Demikian pula yang diklaim oleh sekutu mereka dalam
perang ini , termasuk di dalamnya Winston Churchill dan Roosevelt, serta
tokoh-tokoh dunia lainnya. Dengan demikian, pendapat yang beredar dan
yang terus diungkit-ungkit hingga kini adalah, bahwa Jerman di bawah Hitler
telah bertekad untuk memusnahkan orang Yahudi. Dan Perang Dunia II telah
menyelamatkan nasib mereka dari penderitaan yang mereka alami selama ini.
Akibatnya, orang Yahudi yang pada umumnya menganut faham Zionisme bekerja untuk mencari dukungan dari bangsa Eropa dan Amerika terhadap
penindasan Hitler di masa lalu.
Siapakah gerangan orang-orang Yahudi yang tertindas itu?
Apa sebenar benarnya hakikat penindasan Hitler itu?
Dan apa hakikat Zionisme itu?
Kita perlu berhenti sejenak untuk meninjau secara analitis, sehingga kita akan
sampai pada titik yang bisa memberi gambaran jelas. Sejarah telah berbicara
sendiri, bahwa Jerman pada masa Nazi memang memusuhi Yahudi, atau anti
semitisme menurut istilah orang Yahudi. namun , permusuhan itu belum
sampai di luar batas Jerman. Memang benar mereka diperlakukan kejam oleh
Hitler dan para tokoh Nazi. namun , orang Yahudi di luar perbatasan
Jerman tidak mendapat perlakuan keji dari Nazi. Bahkan orang Yahudi di
Eropa masih tetap bisa hidup dengan aman. Hanya sebagian kecil orang
Yahudi yang melarikan diri dari Jerman. Serbuan Hitler bersama pasukan
Nazinya ke wilayah Polandia terjadi pada bulan September 1939, disusul
dengan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan orang-orang Yahudi berbalik sama
sekali. Perang ini membuat seluruh Eropa dalam cengkeraman Jerman
Hitler. Kebencian bangsa Jerman ditumpahkan kepada orang Yahudi di
Polandia, Belgia, Perancis, Belanda dan negara Eropa lainnya, yang sebelum
pecah perang mereka hidup aman. Perang itu sendiri direncanakan oleh para
tokoh Yahudi sejak berakhirnya Perang Dunia I. Sikap anti Yahudi bangsa
Jerman sebelum pecah Perang Dunia II sudah tampak dan terungkap dalam
bentuk kebencian, pemenjaraan dan pembuangan pada saat-saat tertentu.
sesudah pecah perang, sikap orang Yahudi di seluruh dunia menentang Jerman,
sedang kebencian bangsa Jerman terhadap Yahudi berubah menjadi tindakan
kejam. Jerman menganggap orang Yahudi sudah memihak kepada sekutu
musuh Jerman. Wajarlah kalau Jerman juga memerangi Yahudi, sehingga
tumbal perang bertambah banyak.
Bagi kita kasus nya bertambah jelas, bahwa para tokoh Yahudi internasional
lah yang mengatur kondisi buruk seperti itu. Contoh yang jelas adalah kondisi
di Polandia, yang karena perjanjian Versailles telah memicu perselisihan
tajam antara Jerman dan Polandia tentang pemisahan Prusia Timur sebagai
wilayah Jerman yang dipersengketakan oleh Polandia. Prusia Timur dengan
Jerman dibatasi oleh terusan yang memanjang sampai di kota Danzig, sesuai
dengan perjanjian Versailles sebagai kota internasional. Propaganda yang
dilancarkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional menghujani berita
palsu yang membentuk opini umum, bahwa Hitler telah bertekad
menyelesaikan kota Danzig dan terusan Polandia dengan jalan kekerasan.
Padahal kasus nya tidaklah demikian. Nota Hitler yang dikirim kepada
pemerintah Polandia bulan Maret 1939 menjelaskan, agar kasus itu bisa
diselesaikan dengan jalan damai. Usaha damai ini sudah berulang kali
ditempuh, namun tidak membawa hasil. Nota Hitler yang terakhir itu tidak
mendapat jawaban selama berbulan-bulan. Pemerintah Polandia berlagak tidak tahu-menahu, yang membuat Hitler kehabisan kesabaran. Propaganda Yahudi
sendirilah yang mengipas-kipas untuk mendorong Hitler mengambil tindakan
militer terhadap Polandia. Dan terjadilah serbuan Nazi ke Polandia, September
1939.
kasus yang menyebabkan Polandia bersikap tidak tahu-menahu tentang
nota Hitler itu ialah, karena adanya jaminan dari Inggris untuk membela
Polandia bila diserang oleh Jerman. Untuk ini, Polandia menandatangani
sebuah perjanjian dengan Inggris. Jaminan Inggris ini disahkan oleh
pemerintah Inggris atas desakan dan prakarsa para pemilik modal Yahudi
internasional dan kakitangannya. Mungkin ada anggapan, bahwa Inggris
sudah melaksanakan janjinya itu, ketika Inggris mengumumkan perang
terhadap Jerman, sesudah Jerman menyerbu Polandia. namun ,
kenyataannya Inggris sendiri sangat lemah. Pemerintah Inggris sendiri
menyadari ketidakmampuannya untuk mengulurkan bantuan, baik dari laut,
udara atau pun darat. Jaminan Inggris kepada Polandia menyulitkan posisi
pemerintah Inggris sendiri. Di sisi lain, para pemilik modal Yahudi
internasional telah mengetahui lika-liku sebelumnya tentang apa yang akan
terjadi, dan mendesak Inggris untuk mengeluarkan jaminan, dan sekaligus juga
mendesak Polandia untuk memegang jaminan itu. Mereka juga mendorong
orang-orang Yahudi Polandia untuk melaksanakan perlawanan sengit kepada
pasukan Jerman. Ketika Polandia dikejutkan oleh serbuan Nazi, dan ternyata
Inggris tidak mengulurkan bantuan apa pun, rakyat Polandia mengalami nasib
buruk. Jelaslah bagi kita akibat dari semua peristiwa itu. Para tokoh Yahudi
internasional telah merancang dan menyebabkan nasib bangsa mereka sendiri
di Polandia kepada pasukan Nazi. Mereka sebelumnya berhasil memaksa
Hitler membanting haluan untuk berpihak kepada Nazi ekstrem. Dan
kebencian Nazi ekstrem yang telah mendarah daging terhadap bangsa Yahudi
justru menambah keruh suasana di Jerman sesudah Perang Dunia I. Ini satu
bukti lagi, bahwa para tokoh Yahudi internasional adalah dalang setiap
kejahatan internasional dengan program setan, yang bertujuan menguasai
dunia demi kepentingan mereka sendiri. Setiap orang Yahudi patut menyadari,
bahwa para tokoh mereka adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas
setiap peristiwa yang menimpa mereka dan bangsa lain di dunia. Para tokoh
Yahudi atau para sesepuh Zion (The Learned Elderly of Zion) atau kaum Nurani
tidak pernah menganut ajaran suatu agama mana pun, sampai kini. Mereka
tidak punya aqidah tertentu, kecuali 'aqidah' tamak dan gila turun-menurun,
yang selalu membuat onar dan bencana dalam mewujudkan impiannya.
Seandainya mereka benar-benar hendak membela orang Yahudi Polandia
seperti yang mereka klaim, niscaya mereka tidak akan menjerumuskan negara
itu ke dalam perang. Perang itu berarti orang Yahudi sendiri yang mendapat
perlakuan kejam dari pasukan Nazi.
Mengapa orang Yahudi yang konon tertindas, lewat organisasi Zionisme dan
jaringan-jaringannya berhasil masuk ke Amerika, Eropa dan Palestina? Orang
Yahudi kelas bawah sebenar benarnya hanya melaksanakan perintah dan program
para tokoh mereka sendiri. Mereka terkejut oleh perang yang berkecamuk,
karena mereka sebelumnya tidak menyangka. Para tokoh Yahudi, para agen
mereka, dan kaki-tangan mereka adalah orang-orang yang mengatur jaringan
Konspirasi di mana-mana dan mempersiapkan perang. Mereka inilah yang
sebenar benarnya menyelusup ke Eropa, Amerika dan Palestina. Mereka ini pula
yang datang kepada bangsa Barat dengan mengenakan 'pakaian hamil' dengan
mengaku menjadi mangsa perkosaan Hitler dan Nazismenya. Padahal, mereka
sendirilah yang sengaja merancang dan mengatur perkosaan itu. Mereka
datang atas nama Zionisme untuk membela apa yang dinamakan dengan
bangsa Yahudi. Kalau bangsa di dunia hendak membela orang Yahudi,
mestinya para sesepuh Yahudilah yang harus dibinasakan, untuk
menyelamatkan mereka dari kejahatan setan
SISI GELAP POLITIK PERANG DUNIA II
Sudah kita bahas terdahulu, bahwa sekelompok tokoh terkemuka Inggris,
terutama Dumvell dan kolonel Ramsey menyampaikan peringatan kepada
pemerintah Inggris tentang bahaya Yahudi internasional. Ketika Chamberlain
menjadi perdana menteri Inggris, Dumvell dan Ramsey menjelaskan adanya
bahaya Yahudi, dan bahwa para pemilik modal Yahudi internasional adalah
pihak yang akan menyalakan api perang antara Inggris dan Jerman. Tujuan
yang hendak dicapai di balik perang itu juga dijelaskan. Mereka berdua
mencari bukti-bukti yang kuat untuk mendesak, agar Chamberlain mengambil
langkah yang tepat. Chamberlain akhirnya yakin akan adanya bahaya itu.
Pemerintahnya segera mengambil langkah dan sikap hati-hati dan waspada
dalam kasus internasional, dengan mengabaikan isyarat yang digerakkan
oleh para pemilik modal Yahudi internasional. Chamberlain tahu tentang
kebusukan perjanjian Versailles yang menjerat leher Jerman. Maka, ia akan
menyelesaikan kasus internasional yang timbul oleh adanya perjanjian
ini . Akibatnya, pihak kelompok pemilik modal internasional mulai
memandang Chamberlain dengan mata permusuhan dari hari ke hari. Mereka
bertekad untuk menyingkirkan Chamberlain dari kedudukannya.
Waktu krisis Swedia mencapai puncaknya karena invasi pasukan Nazi ke
negeri itu, yang sebelumnya Swedia telah digabungkan dengan Czekoslovakia
sesuai dengan perjanjian Versailles, Chamberlain enggan mengumumkan
perang terhadap Jerman. la lebih mengutamakan langkah damai dengan
mengusulkan diadakannya konferensi untuk membicarakan penyelesaian
damai mengenai krisis ini . Lebih-lebih sesudah Dumvell dan Ramsey
membeberkan seluk-beluk kekuatan terselubung itu, ia lebih waspada
menghadapi para tokoh Yahudi. pihak Jerman sendiri sesudah melihat isyarat
baik dari Inggris, Hitler melihat secercah harapan untuk menjalin hubungan
persahabatan dengan Inggris. Hitler masih tetap menuntut, agar semua beban
ketidakadilan perjanjian Versailles terhadap Jerman segera dicabut. Seluruh
akibat yang ditimbulkan oleh isi perjanjian itu harus diganti rugi. Pertemuan
yang diprakarsai Chamberlain ini diadakan di kota Munich (Munchen) Jerman.
Kemudian Chamberlain kembali ke Inggris dengan membawa berita besar
tentang perdamaian. Para pemilik modal Yahudi internasional melihat gelagat
yang tidak menyenangkan, yang akan menghalangi mereka disebabkan oleh
sikap Chamberlain. Mereka tidak akan berhasil menyalakan api Perang Dunia
II, kecuali apabila mereka bisa menyingkirkan jalan yang menuju perang itu.
Mereka juga menyadari, bahwa Chamberlain sedikit demi sedikit berbalik
memusuhi mereka. Untuk menghadapi Chamberlain, para pemilik modal
Yahudi internasional mengandalkan taktik efektif, seperti yang biasanya
mereka pakai dalam memukul musuhnya. Mereka memakai senjata media
massa dan propaganda besar-besaran yang mereka kuasai, termasuk surat
kabar, majalah dan siaran. Semuanya itu memusatkan serangan terhadap
Chamberlain, dengan melemparkan tuduhan sebagai antek dan kaki tangan
Hitler. Bahkan Chamberlain sempat dituduh sebagai agen Fasisme. Tuduhan
itu disebarluaskan sampai ke seluruh Eropa. Nama Chamberlain menjadi
identik dengan Fasisme. Sampai sekarang literatur internasional yang
membahas pembicaraan Chamberlain dan Hitler di Munich melukiskannya
sebagai tidak membawa hasil positif. Padahal, pertemuan itulah yang
mencegah pecahnya perang, dan menjaga perdamaian internasional.
Dalam rangka mengumpulkan bukti-bukti, Dumvell dan Ramsey menemukan
seorang yang bisa memberi bantuan dalam melakukan usaha menghindari
perang, yaitu Tailor Kant, seorang perwira dari Amerika yang bertugas
menerima dan mengirim teleks kepada jaringan badan inteligen di kedutaan
Amerika di London. Tailor Kant dibantu oleh seorang wanita bernama Anna
Woofkov. Keduanya telah lama mengetahui data-data berbahaya yang terdapat
dalam dokumen rahasia yang sampai kepada kedutaan besar Amerika itu.
Mereka pun tahu, bahwa perang sudah sampai di ambang pintu, tanpa ada
yang menyadari. Akhirnya lubuk hati kedua orang itu berontak, ketika
mengetahui bahwa di belakang perang itu terdapat perancang dan pengatur
yang akan mendapat keuntungan sendiri. Mereka merupakan komplotan
internasional terselubung yang punya hubungan langsung dengan kalangan
pemilik modal Yahudi internasional. Mereka berdua mulai berpikir dalamdalam untuk menemukan cara yang bisa mencegah terjadinya perang itu.
Mereka mempelajari isi dokumen pertukaran informasi lewat antara Churchill
dan Presiden Roosevelt, yang jelas-jelas membuka kedok para tokoh Yahudi
internasional yang sebenar benarnya memegang kendali pemerintah Inggris dan
Amerika dari punggung Churchill dan Roosevelt sendiri.
Tailor Kant tahu, bahwa admiral Dumvell dan kolonel Ramsey sedang
berusaha memerangi tokoh-tokoh Yahudi internasional, serta menghindari
pecahnya perang. Akhirnya Taylor menemui kolonel Ramsey di rumahnya di
Gloster Square 47 London, dan minta agar Ramsey sudi menunjukkan
dokumen asli kepadanya. sesudah diperlihatkan, Taylor terkejut sekaligus lebih
yakin dan bisa lebih banyak membantu usaha pencegahan perang dengan
memperlihatkan dokumen itu kepada Chamberlain.
Sementara itu, di Jerman terjadi pertikaian intern antara Hitler dan para tokoh
Nazi berhaluan ekstrem, yang mewakili kalangan elit Jerman. Meskipun Hitler
telah berganti haluan dan memihak mereka sejak tahun 1936, namun dalam
benak Hitler masih terdapat keyakinan mengenai keharusan adanya
persahabatan dan perdamaian dengan Inggris dan Eropa. Hitler berharap agar
tuntutan Jerman berkenaan dengan perjanjian Versailles bisa dipenuhi,
khususnya pencabutan konsekuensi ini . Sedang para tokoh Nazi
berhaluan keras bertekad untuk mewujudkan supremasi ras Jerman dengan
menguasai Eropa dan dunia pada umumnya dengan kekuatan militer. Di sisi
lain, Hitler telah merasa puas sesudah bertemu Chamberlain. Sebab perdana
menteri Inggris ini tahu benar seluk-beluk bahaya laten Yahudi internasional,
dan bertekad untuk tidak tunduk pada ketamakan para pemilik modal Yahudi
internasional. Itulah sebabnya, Hitler berusaha menghindari benturan dengan
Inggris, namun ternyata tidak mampu mencegah pecahnya perang. Ketegangan
politik terus meningkat oleh propaganda dan desas-desus santer yang tersebar
luas di Eropa, yaitu suatu taktik untuk membakar suasana. Di samping itu,
tekanan kelompok Nazi berhaluan keras di Jerman terhadap Hitler
menyebabkan meletusnya perang pada awal September 1939, ketika Jerman
menyerbu Polandia.
Hitler adalah tipe orang yang punya sifat tidak mundur dari pendiriannya,
kalau hal itu telah terlanjur diucapkan. Ketika mengumumkan perang kepada
Inggris dan sekutu, ia memandang bahwa satu-satunya penyelesaian adalah
dengan perang, meskipun ia masih ingin berdamai dengan Inggris. Namun ia
ingin mengenyahkan para pemilik modal internasional dengan satu pukulan
yang mematikan. Para tokoh Yahudi internasional menyadari, bahwa mereka
sedang mempertaruhkan nasib dalam sebuah permainan konspirasi terbesar
yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah. Untuk itu, mereka bertekad
menyalakan api perang lebih besar lagi, dengan menjadikan Nazisme sebagai
kekuatan yang mampu membakar api perang global, yang dalam perang itu
pasukan Nazi muncul sebagai salah satu super power. Sementara itu, mereka
mendapatkan Chamberlain sebagai batu penghalang di tengah jalan yang
mengganggu, sampai perang berkobar. Chamberlain diketahui punya niat
untuk secepatnya mengakhiri perang, dan melaksanakan perdamaian, atau
menerima syarat yang diajukan oleh Hitler sebelumnya.
Pasukan Jerman menyerbu bagaikan angin topan dan menduduki Polandia,
lalu melalap Perancis dan Eropa Barat. Pasukan lapis baja Jerman yang
dilengkapi dengan tank jenis panser yang terkenal itu, mampu menumbangkan
pasukan Inggris, atau memaksa mereka menyerah dalam sekejap mata. Namun
saat itu tiba-tiba Hitler mengeluarkan perintah tertanggal 22 Mei 1940, agar
pasukannya berhenti menyerang. Perintah yang ditujukan kepada komandan
pasukan lapis baja Jerman, jenderal Von Klaist itu berbunyi sebagai berikut,
"Seluruh divisi lapis baja supaya menghentikan operasinya dengan mengambil
jarak yang cukup dari battery meriam kota Dankert, yang memungkinkan bisa
melakukan gerakan defensif atau berjaga-jaga". Sudah tentu, jenderal Von
Klaist sangat terkejut adanya perintah itu. Sebab, pasukannya ketika itu
mampu menghancurkan pasukan Inggris sama sekali kalau dikehendaki. Ia
lebih terkejut lagi ketika mendapat perintah yang kedua yang lebih
membingungkan lagi. Hitler memberi instruksi untuk menarik mundur
pasukannya ke belakang garis front pertempuran di dekat kota itu, sesudah
pasukan lapis baja Jerman berhasil menyeberang masuk melewati garis
ini . Pasukan Jerman itu terpaksa berhenti selama tiga hari dalam keadaan
tidak menentu. Dalam bukunya berjudul "Ujung Lembah yang Lain" (Another End of the Plain),
seorang kapten dalam pasukan Von Klaist bernama Liddle Hart menulis,
bahwa dua perwira tinggi jenderal Ronchidt dan Von Klaist menghadap Hitler
untuk menyampaikan protes atas instruksi Hitler yang membingungkan.
Namun kedua perwira itu lebih terkejut lagi sesudah mendengar jawaban sang
Fuhrer yang menjelaskan, bahwa perintahnya itu bermaksud memberi
kesempatan pasukan Inggris untuk menarik mundur pasukannya, tanpa
memerlukan jatuhnya korban, dan untuk menjaga wibawa angkatan bersenjata
Inggris yang telah dikenal oleh dunia itu. Hitler punya keyakinan, bahwa
kelestarian kerajaan Inggris masih sangat diperlukan. Di samping itu, Hitler
mengharapkan agar terbuka kesempatan untuk melaksanakan pembicaraan
damai dengan Inggris, yang berarti akan mengakhiri perang melawan Inggris,
dengan syarat Inggris harus memenuhi tuntutan Jerman.
Ada bukti lain, bahwa angkatan udara Jerman menolak untuk melakukan
serangan udara selama bulan-bulan pertama perang itu, yaitu selama
Chamberlain masih menduduki tampuk kepemimpinan pemerintah Inggris.
Pasukan Inggris jugs menolak untuk menyerang kota-kota Jerman yang akan
membawa korban penduduk sipil. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang
dikeluarkan oleh Chamberlain tanggal 2 September 1939, tepatnya pada hari
pecahnya perang. Chamberlain berkata, bahwa pasukannya hanya akan
menyerang sasaran militer. Perang itu berlangsung hingga pasukan Inggris
ditarik mundur dalam kondisi lebih mirip damai daripada perang yang
sebenar benarnya , dari kota Dankert. Pasukan Jerman tidak melaksanakan serbuan
lebih jauh masuk ke wilayah Inggris, kecuali melakukan manuver militer kecilkecilan. Situasi ini ditentang keras oleh tokoh-tokoh Nazi di Jerman, dan para
pemilik modal Yahudi internasional di Inggris. sesudah itu, seperti biasanya
media massa di Inggris menyerang Chamberlain dengan gencar, dibarengi
dengan tekanan berat terhadap pemerintahnya. Chamberlain terpaksa
meletakkan jabatan dalam kondisi seperti dialami oleh Asquith dan
pemerintahnya dalam Perang Dunia I. Kemudian digantikan oleh wajah yang
sama pernah menggantikan Lord Asquith sendiri, yaitu Winston Churchill
menduduki kursi perdana menteri tanggal 11 Mei 1940, langsung ia
mengeluarkan perintah kepada angkatan udara Inggris untuk melaksanakan
serangan udara terhadap sasaran di kota-kota Jerman untuk pertama kalinya.
Inilah awal pengeboman atas kota-kota penduduk sipil di seluruh dunia.
Perkembangan seperti itulah yang ditunggu-tunggu oleh para tokoh Nazi
berhaluan keras. Ini berarti, mereka telah melihat saat yang tepat untuk
melaksanakan penyerbuan besar-besaran ke arah Timur dan Barat. Lebih-lebih
sesudah diketahui ternyata pasukan Nazi dengan mudah bisa merebut beberapa
kemenangan sebelumnya. Mereka segera melaksanakan pertemuan puncak yang
dihadiri oleh eselon satu tokoh-tokoh Nazi untuk membahas perkembangan
yang terjadi. Mereka sepakat memanfaatkan politik Hitler yang condong
kepada Inggris untuk membentengi jalannya perang. Dengan segera mereka
mengutus orang kepercayaannya yang mewakili mereka ke Inggris untuk mendesak, agar Inggris bersedia melaksanakan perjanjian damai dengan Jerman.
Dengan demikian, kekuatan pasukan Jerman bisa difokuskan ke Uni Sovyet
dan menghancurkan Komunisme, kalau Inggris bersikap netral. Utusan yang
dikirim itu adalah Rudolf Heiss, yang saat itu dipandang sebagai tangan kanan
Hitler. Seluruh dunia dikejutkan oleh berita tentang pembelotan Rudolf Heiss
yang melarikan diri, dan minta suaka politik di Inggris. la melarikan diri
dengan pesawat tempur terbang ke London. Di antara orang yang paling
terkejut adalah Hitler sendiri. Ia tidak habis berfikir, kenapa orang
kepercayaannya sampai melarikan diri. Di Inggris, Rudolf Heiss melaksanakan
pembicaraan penting dengan Churchill dan Lord Hamilton. Heiss
membeberkan gagasan dari sejumlah perwira tinggi Jerman yang ingin
melaksanakan perdamaian dengan Inggris. sesudah itu, Hitler akan memutuskan
perhatian militernya untuk memerangi komunisme di Uni Sovyet. Churchill
ternyata menolak. Gejala ini juga menunjukkan, bahwa Hitler dan Heiss
sebenar benarnya menentang kelompok Nazi yang berhaluan keras. Dan benar juga,
kelompok Nazi berhaluan keras mendesak Hitler untuk segera menyerbu
Rusia, tanpa memperhitungkan terbukanya wilayah Jerman dari perlindungan
militer, apabila pasukan Jerman dikerahkan ke arah Rusia. Tidak ada jalan lain
bagi Hitler selain menyerah kepada kehendak mereka. Tepat tanggal 22 Juni
1941 pasukan Jerman menyerbu Rusia secara besar-besaran.
Perang global menjadi kenyataan sesudah Presiden Amerika Roosevelt
mengumumkan perang kepada Jerman. Churchill muncul menjadi tokoh
sekutu terkemuka dan pemimpin kuat di Inggris. Langkah pertamanya ialah
melaksanakan penangkapan terhadap semua lawan politiknya, dan
menjebloskan mereka ke penjara sampai batas yang tidak ditentukan tanpa
diadili. Sebagian tetap meringkuk dalam penjara, meskipun perang telah
selesai. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan yang dikenal dalam sejarah
Inggris. Bagi Churchill, orang yang memusuhi Yahudi internasional atau
Zionisme, dan orang yang mencoba menghalangi berlanjutnya perang adalah
musuhnya. Di antara orang yang ditahan adalah Dumvell dan kolonel Ramsey
beserta istri mereka, serta kawan-kawan dan para pendukung mereka. Faktor
yang menyebabkan bangsa Inggris tutup mulut adalah propaganda yang
tersebar luas, yang dikuasai oleh para pemilik modal Yahudi internasional.
Berita ini mengatakan, bahwa di Inggris terdapat perkumpulan terbesar kelima
yang berkolaborasi dengan Hitler, yang para anggotanya harus segera
diamankan. Kebohongan propaganda itu dibuktikan oleh hasil penyelidikan
mahkamah dan agen rahasia Inggris, bahwa tuduhan yang dilontarkan kepada
para tahanan mengenai kolaborasi mereka dengan Hitler adalah tidak benar.
Kekuatan terselubung juga mencoba melontarkan tuduhan yang sama kepada
Lady Nicholson, istri admiral Nicholson. Namun pengadilan Inggris kemudian
membebaskannya, sesudah terbukti ia tidak bersalah. Churchill mengambil
tindakan lain dengan menahannya tanpa diajukan ke pengadilan, hanya karena
ia pernah menentang keterlibatan Inggris dalam perang. Semua perintah
penangkapan itu dikeluarkan oleh menteri dalam negeri pemerintah Churchill,
Herbert Morrison. Morrison ini tampil kembali dengan wajah aslinya pada
tahun 1954 di Kanada, ketika ia melakukan kegiatan pengumpulan dana
bantuan untuk gerakan Zionisme internasional. Dengan demikian, hubungan
Churchill dengan kelompok Yahudi internasional tampak makin jelas.
Ternyata, penjara bukanlah penghalang bagi suara lantang admiral Dumvell. Ia
terus tetap berusaha membeberkan seluk-beluk kekuatan terselubung itu.
Beberapa saat sesudah keluar dari penjara, karya tulisnya segera beredar dengan
judul From Admiral to Young Marine (Dari Admiral menjadi Marinir Muda).
Dalam buku itu ia membuka rahasia peristiwa yang menyebabkan timbulnya
Perang Dunia II, dan mengingatkan bangsa Inggris akan adanya ancaman
bahaya Zionisme. Kolonel Ramsey juga tidak ketinggalan. la menulis buku
berjudul War without Name (Perang tanpa Nama). Anehnya kedua buku itu
segera lenyap dari peredaran. Diduga keras, kedua buku itu diborong oleh
kelompok Yahudi untuk dimusnahkan. Namun demikian, mata sebagian
bangsa Inggris dan Eropa sempat pula terbuka tentang hal-ikhwal rahasia
Zionisme.
Sedang mantan perdana menteri Inggris Chamberlain sangat terenyuh melihat
negerinya diseret ke pembantaian global, demi membela kepentingan
kelompok pemilik modal Yahudi internasional. Kepedihan Chamberlain
bertambah pahit oleh adanya propaganda yang memusatkan sasarannya
kepada dirinya, sampai akhir hayatnya. Bahkan dalam buku sejarah hingga kini
masih tertulis, bahwa Chamberlain adalah kaki tangan Hitler. Sementara itu,
Churchill ditulis sebagai pahlawan terbesar penuh dengan jasa bagi
kemanusiaan dan bintang kehormatan. Ia dianggap berjasa, karena telah
menghindarkan umat manusia dari malapetaka Nazisme. Sejarah telah menjadi
kumpulan kebohongan yang dibukukan.