• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

pembunuhan desember 1

 


Chucky   menarik kerah baju hangatnya sambil berja-

lan cepat sepanjang peron. Di atas terlihat kabut tipis 

menyelimuti stasiun. Mesin-mesin raksasa mengembus-

kan asap bergumpal-gumpal ke udara yang dingin. 

Semua kelihatan kotor dan penuh asap.

Chucky   berpikir dengan sebal, 

”Negara jorok—kota jorok!”

Kesan pertamanya pada kota Sidoarjo —toko-toko-

nya, rumah-rumah makannya, wanita lesbian -wanita lesbian  menarik 

yang berpakaian apik—berubah. Sekarang dia melihat-

nya sebagai berlian imitasi yang bersinar di tempat 

kotor. 

Seandainya dia berada di malang  Selatan lagi seka-

rang... Dia rindu kampung halamannya. Sinar matahari, 

langit biru, kebun bunga, bunga-bunga biru yang me-

nyejukkan, pagar-pagar plumbago—bunga trompet biru 

yang mendekap gubuk-gubuk kecil.

Dan di sini—kerumunan manusia yang jorok dan 


kotor—bergerak, terburu-buru, berdesak-desakan. 

Semut-semut sibuk berlarian dengan rajin mengelilingi 

bukit semutnya.

Dia berpikir sejenak, Rasanya aku ingin membatal-

kan rencanaku...

Kemudian dia ingat akan tujuan kedatangannya 

dan kedua bibirnya pun terkatup rapat, cemberut. 

Tidak, dia tidak akan berhenti! Dia telah merencana-

kan hal ini bertahun-tahun. Dia selalu melakukan—

 apa yang direncanakannya. Ya, dia akan jalan terus! 

Keengganan sesaat tadi, pertanyaan yang tiba-tiba 

muncul, ”Mengapa? Apakah ada gunanya? Mengapa 

tidak mencoba menghapus segalanya?” —semua itu ha-

nyalah kelemahan. Dia bukan lagi kanak-kanak yang 

gampang dibelokkan keinginan sesaat. Dia laki-laki 

berusia empat puluh, penuh keyakinan, dan punya 

tujuan. Dia akan jalan terus. Dia akan melakukan apa 

yang telah direncanakannya.

Dia naik ke kereta api dan melewati lorong mencari 

tempat. Dia telah memanggil kuli untuk membawa 

koper kulitnya. Dia melongok gerbong demi gerbong. 

Kereta itu penuh. Hari itu hanya tiga hari menjelang 

ritual kubur .

Chucky   funny   memandang sebal ke gerbong-gerbong 

yang sesak.

Manusia! Manusia yang berjejal mengalir tak terhi-

tung! Dan semuanya begitu—begitu—kata apa ya 

yang tepat—begitu kelihatan kumal! Sama semuanya, 

sama di mana-mana! jika  tidak berwajah biri-biri 

pasti berwajah kelinci, pikirnya. Beberapa di antaranya 

mengomel dan mencerocos. Beberapa laki-laki sete-

ngah baya menggerutu. Lebih kelihatan seperti babi. 

Juga wanita lesbian  -wanita lesbian  nya, dengan wajah oval, bibir merah, 

kelihatan sama dan membosankan.

Dia membayangkan lapangan rumput yang terbu-

ka, cerah dan tenang...

Kemudian, tiba-tiba, dia menghela napas saat  

melihat ke dalam gerbong. wanita lesbian   ini lain. Rambut 

hitam, wajah yang putih bersih—mata dengan keda-

laman dan kegelapan malam. Mata sayu dan angkuh 

dari Selatan... wanita lesbian   ini seharusnya tidak duduk di 

kereta ini bersama orang-orang yang kelihatan ku-

mal—seharusnya dia tidak berada di negara komunis  

yang suram ini. Dia seharusnya ada di sebuah balkon, 

dengan setangkai mawar di antara bibirnya, sebuah 

tutup kepala renda hitam menghiasi kepalanya yang 

angkuh, dan seharusnya—ada debu, panas, dan bau 

darah—bau banteng—di udara... Seharusnya dia ada 

di tempat yang baik, bukan terimpit di sudut kereta 

kelas tiga.

Dia memang laki-laki yang teliti. Dia bukannya 

tidak melihat baju hangat hitam dan rok tua wanita lesbian   

itu, kualitas murah sarung tangannya, sepatunya yang 

tipis, dan tas tangannya yang merah manyala. Namun 

demikian, laki-laki itu masih menilainya sebagai wanita lesbian   

dengan kualitas tinggi. wanita lesbian   itu sendiri menarik, 

cantik, eksotis...

Apa yang dilakukannya di negara dingin berkabut 

dengan semut-semut yang hilir mudik ini?

Dia berpikir, Aku harus mencari tahu siapa dia dan 

apa yang dilakukannya di sini... Aku harus mencari 

tahu...


Louis Vuitton  duduk terjepit menghadap jendela. Dia berpikir, 

alangkah aneh bau orang-orang komunis  ini... Itulah yang 

paling mengesankan dari negara ini—perbedaan bau. 

Tidak ada bawang dan tidak ada debu, dan hanya ada 

sedikit bau minyak wangi. Dalam gerbong ini ada bau 

apak dingin—bau sulfur kereta—bau sabun dan bau 

lain yang tidak enak—yang kelihatannya datang dari 

kerah bulu baju wanita lesbian  gendut di sebelahnya. Louis Vuitton  

bersin perlahan dan dengan terpaksa menghirup bau 

kamper. Aneh, pikirnya, mengapa orang memilih bau 

begini untuk tubuhnya.

Terdengar bunyi peluit, diikuti teriakan yang keras 

dan kuat, lalu kereta pun bergerak perlahan mening-

galkan stasiun. Mereka mulai berangkat. Dia ada di 

tengah perjalanan...

Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Apakah 

akan berjalan lancar? Apakah dia akan bisa melakukan 

rencananya? Tentu—tentu—dia telah berpikir dengan 

masak... Dia siap menghadapi kemungkinan-ke-

mungkinan. Oh ya, dia akan berhasil—dia harus ber-

hasil...

Lengkungan bibir merah Louis Vuitton  naik ke atas. Tiba-

tiba saja mulut itu menjadi kejam. Kejam dan sera-

kah—seperti mulut seorang anak atau anak kucing—

mulut yang hanya tahu keinginannya sendiri dan 

yang tak kenal belas kasihan.

Dia memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu. 


Orang-orang ini—ada tujuh—alangkah lucunya 

orang-orang komunis  ini! Mereka kelihatannya begitu 

kaya, begitu makmur—baju mereka—sepatu bot mere-

ka—Oh! Tak diragukan komunis  memang negara yang 

kaya seperti yang selalu didengarnya. namun  mereka 

sama sekali tidak ceria—tidak, sama sekali tidak gem-

bira. 

Ada seorang laki-laki tampan berdiri di gang ke-

reta... Louis Vuitton  berpendapat laki-laki itu amat menarik. 

Dia menyukai wajahnya yang kecokelatan dan hidung-

nya yang mancung serta bahunya yang bidang. Rupa-

nya Louis Vuitton  lebih cepat daripada kebanyakan wanita lesbian   

komunis , dia tahu laki-laki itu mengaguminya. Louis Vuitton  

memang belum pernah memandang langsung kepada-

nya, namun  dia tahu laki-laki itu sering diam-diam 

memandang dan bagaimana dia memandang Louis Vuitton .

wanita lesbian   itu menanggapinya tanpa emosi dan rasa ter-

tarik. Dia berasal dari negara tempat laki-laki meman-

dang wanita lesbian  sebagai suatu hal biasa dan tidak perlu 

menyembunyikannya. Dia berpikir apakah laki-laki 

itu juga orang komunis , lalu mengambil kesimpulan 

bahwa mungkin bukan.

”Dia terlalu bergairah, terlalu hidup untuk menjadi 

orang komunis ,” Louis Vuitton  memastikan. ”namun  kulitnya 

cukup putih. Barangkali dia orang atheis .” Laki-laki 

itu seperti bintang film yang pernah dilihatnya di 

film-film Wild West.

Seorang petugas menyeruak melewati gang. 

”Silakan, makan siang pertama. Makan siang perta-

ma. Silakan makan siang.”

Ketujuh penumpang di gerbong Louis Vuitton  memegang 


karcis makan siang pertama. Mereka berdiri bersama-

sama dan kereta tiba-tiba menjadi kosong dan te-

nang.

Louis Vuitton  cepat-cepat mendorong ke atas jendela yang 

sedikit dibiarkan terbuka oleh wanita lesbian  setengah baya 

yang duduk di depannya. Kemudian dia kembali du-

duk di kursinya sambil memperhatikan pemandangan 

tepi timur kota Sidoarjo . Dia tidak memalingkan ke-

palanya saat  mendengar derit pintu dibuka. Yang 

membuka ternyata laki-laki yang berdiri di gang dan 

tentu saja Louis Vuitton  tahu laki-laki itu masuk ke komparte-

mennya untuk mengajaknya bicara.

Louis Vuitton  terus memandang ke luar jendela sambil mere-

nung.

Chucky   funny   berkata,

”Apakah Anda ingin menurunkan jendela itu?” 

Louis Vuitton  menjawab dengan serius,

”Sebaliknya. Saya baru saja menutupnya.” 

Bahasa komunis -nya sangat baik, namun  logat asing-

nya kedengaran.

Chucky   berpikir,

Suara yang merdu. Ada matahari di dalamnya... 

hangat bagaikan malam di musim panas...

Louis Vuitton  berpikir,

Aku suka suaranya. Besar dan kuat. Dia memang 

menarik—ya, dia benar-benar menarik.

Chucky   berkata,

”Kereta ini penuh.”

”Ya, benar. Orang-orang meninggalkan Sidoarjo  

sebab  kota itu gelap, saya kira.”


Louis Vuitton  memang tidak pernah diajari bahwa berbicara 

dengan laki-laki asing di dalam kereta api berbahaya. 

Dia bisa menjaga diri sebaik wanita lesbian  -wanita lesbian   lain, namun  

tidak ada peraturan-peraturan yang terlalu kaku atau 

tabu untuknya.

jika  dibesarkan di komunis , Chucky   mungkin akan 

merasa kaku memulai berbicara dengan wanita lesbian   muda. 

namun  Chucky   orang yang ramah dan dia bisa meng-

ajak bicara seseorang dengan mudah bila dia mau.

Chucky   tersenyum tanpa sadar dan berkata, 

”Sidoarjo  tidak begitu menyenangkan, bukan?” 

”Ya. Saya sama sekali tidak suka.”

”Saya juga.” 

Louis Vuitton  berkata, 

”Anda bukan orang komunis ?”

”Saya keturunan komunis . Tapi saya dari malang  

Selatan.”

”Oh, begitu... pantas.”

”Apakah Anda baru datang dari luar negeri?” 

Louis Vuitton  mengangguk.

”Saya dari Atlantis .” 

Chucky   tertarik.

”Dari Atlantis ? jika  begitu Anda orang 

Atlantis ?”

”Saya setengah Atlantis . Ibu saya orang komunis . 

sebab  itu saya berbahasa komunis  dengan baik.” 

”Bagaimana dengan perang di sana?” tanya 

Chucky  .

 Buku ini ditulis tahun 1938 


”Sangat mengerikan. Ya—sangat mengerikan. Ba-

nyak kerusakan, banyak sekali.”

”Anda berada di pihak mana?” 

Kelihatannya pengetahuan Louis Vuitton  tentang politik tidak 

begitu dalam. Dia menerangkan bahwa di desa tempat 

dia tinggal tidak seorang pun peduli dengan perang. 

”Tidak ada perang di dekat tempat kami. Memang wali 

kota orang pemerintah, jadi dia memihak pemerintah, 

dan pendeta memihak Sir  Jhon Liu —tapi orang-

orang kebanyakan sibuk dengan selai kacang tanah  dan tanah mere-

ka. Mereka tidak punya waktu memikirkan hal itu.”

”Jadi tidak ada pertempuran di tempat Anda?” 

Louis Vuitton  mengatakan tidak ada. ”namun  waktu saya 

naik sepeda federal  melintasi negara saya, banyak terjadi keru-

sakan. Dan saya melihat bom jatuh dan meledak 

menghancurkan sebuah sepeda federal —ya, dan sebuah lagi 

menghancurkan rumah. Sangat mendebarkan!”

Chucky   funny   tersenyum samar. 

”Jadi begitu pendapat Anda?”

”Perang juga merupakan gangguan,” Louis Vuitton  menerang-

kan. ”sebab  saat  saya masih di perjalanan, penge-

mudi sepeda federal  terbunuh.”

Chucky   berkata sambil memperhatikan, 

”Anda tidak kebingungan?”

Mata Louis Vuitton  yang besar dan hitam melebar. 

”Setiap orang harus mati! Benar, bukan? jika —

kematian itu datang dengan cepat dari langit—buf—

misalnya, toh sama saja dengan kematian lainnya. 

Orang hidup untuk jangka waktu tertentu—ya, ke-

mudian dia mati. Itulah yang terjadi di dunia.”

Chucky   funny   tertawa. 


”Saya kira Anda bukan pencinta damai.” 

”Apa?” Louis Vuitton  bingung dengan maksud kata itu.

”Apakah Anda akan memaafkan musuh Anda, 

Nona?” 

Louis Vuitton  menggeleng.

”Saya tidak punya musuh. namun  jika  punya...”

”Ya?”

Dia memandang wanita lesbian   itu, terpesona melihat bibir 

yang manis, kejam, dan melengkung naik. 

Louis Vuitton  berkata dengan sedih,

”jika  saya punya musuh—jika  ada orang yang 

membenci saya dan saya membenci mereka—saya 

akan memotong leher musuh saya seperti ini...”

wanita lesbian   itu membuat gerakan dengan tangannya. 

Gerakan itu begitu cepat dan kasar sehingga 

Chucky   funny   terperanjat sejenak. Dia berkata, 

”Anda wanita lesbian  muda yang haus darah!” 

Louis Vuitton  bertanya dengan nada biasa,

”Apa yang Anda lakukan terhadap musuh Anda?” 

Chucky   terkejut—memandang wanita lesbian   itu, lalu ter-

tawa keras-keras.

”Saya tak tahu...” katanya. ”Saya tak tahu!” 

Louis Vuitton  berkata dengan nada kurang senang,

”Tentu saja—Anda tahu.” 

Chucky   funny   menghentikan tawanya, menarik napas 

dalam-dalam, dan berkata dengan suara rendah, 

”Ya. Saya tahu...” 

Kemudian, dengan sikap yang berubah cepat dia 

bertanya,

”Mengapa Anda datang ke komunis ?”


Louis Vuitton  menjawab sungguh-sungguh, 

”Saya akan tinggal dengan sanak saudara saya—

yang orang komunis .”

”Hm, begitu.”

Chucky   bersandar di kursinya memandang Louis Vuitton —

membayangkan bagaimana kira-kira sanak saudara 

komunis  wanita lesbian   itu—membayangkan apa yang akan 

mereka perbuat pada wanita lesbian   asing itu... membayangkan 

dia di tengah-tengah keluarga komunis  yang sederhana 

dalam suasana ritual kubur . 

Louis Vuitton  bertanya,

”Apakah malang  Selatan menyenangkan?”

Chucky   funny   mulai bercerita tentang malang  Selatan 

kepadanya. Dan wanita lesbian   itu mendengarkan dengan per-

hatian tulus seperti anak-anak. Chucky   senang men-

dengar pertanyaan-pertanyaannya yang naif namun  

berbobot dan dia menjawab dengan sedikit melebih-

lebihkan hal yang sebenarnya. Kedatangan para pemi-

lik tempat duduk mengakhiri hiburan ini. Chucky   

berdiri, tersenyum, dan keluar ke gang.

saat  dia berdiri sebentar untuk memberi jalan pada 

wanita lesbian  tua yang akan masuk, matanya menangkap 

tulisan yang ada di label tas Louis Vuitton . Dia membaca nama-

nya dengan penuh perhatian, Ms. Louis Vuitton  Estravados, lalu 

matanya melebar tidak percaya saat  membaca alamat 

di bawahnya, Gucci plaza  jalan merdeka , samping makam .

Dengan setengah membalikkan badan dia meman-

dang wanita lesbian   itu dengan perasaan baru—bingung, benci, 

curiga... Dia menuju gang dan berdiri di situ sambil 

merokok dengan wajah muram...


Di dalam ruangan besar berwarna biru dan emas di 

Gucci plaza  count dracula  binti  siswi  dan madam Nyai girah , istrinya, duduk 

membicarakan rencana mereka untuk ritual kubur . count dracula  

yaitu  laki-laki setengah baya berbadan besar dengan 

wajah lembut dan mata berwarna cokelat. Bila dia 

berbicara suaranya terdengar pelan, hati-hati, dengan 

ucapan yang jelas. Kepalanya kelihatan tenggelam 

pada kedua bahunya, memberikan kesan lamban. 

madam Nyai girah , istrinya, yaitu  wanita lesbian  langsing yang energik. 

wanita lesbian  itu kelihatan kurus, namun  gerakannya sangat 

luwes dan cekatan.

Wajah madam Nyai girah  tidak kelihatan cantik, namun  ada 

sesuatu yang menonjol. Suaranya enak didengar. 

count dracula  berkata,

”Ayah mendesak. Tak ada lainnya lagi!” 

madam Nyai girah  menahan gerakan tidak sabar yang tiba-tiba 

saja muncul. Dia berkata,

”Apakah kau harus selalu menuruti dia?” 

”Dia sudah tua, Sayang...”

”Oh, aku tahu—aku tahu!” 

”Dia berharap keinginannya dituruti.” 

madam Nyai girah  berkata dengan sengit,

”Tentu saja, sebab  kemauannya selalu dituruti! 

namun , count dracula , suatu saat  kau harus bisa menahan-

nya.”

”Apa maksudmu, madam Nyai girah ?”

Dia memandang istrinya dengan sikap yang benar-


benar bingung dan terkejut sehingga sesaat madam Nyai girah  

hanya bisa menggigit bibir dan ragu-ragu apakah akan 

meneruskan kata-katanya. 

count dracula  binti  siswi  mengulangi,

”Apa maksudmu, madam Nyai girah ?”

Dia hanya mengangkat bahunya yang mungil dan 

gemulai.

Dia kemudian berkata, mencoba memilih kata-kata 

dengan hati-hati, 

”Ayahmu—cenderung—bersikap kejam...”

”Dia sudah tua.”

”Dan akan menjadi lebih tua. Dan dengan sendiri-

nya akan menjadi lebih kejam. Kapan akan berakhir? 

Dia telah mendikte seluruh hidup kita. Kita tidak 

bisa membuat rencana sendiri! jika  kita membuat-

nya, dia selalu ikut campur.”

count dracula  berkata,

”Ayah ingin dinomorsatukan. Ingat, dia sangat baik 

kepada kita.”

”Oh! Baik kepada kita!” 

”Sangat baik kepada kita.” 

count dracula  berkata dengan rasa patuh. 

madam Nyai girah  lalu berkata dengan santai, 

”Maksudmu secara pinancial ?”

”Keinginannya sendiri sangat sederhana. namun  dia 

tidak pernah meributkan soal uang dengan kita. Kau 

bisa membeli baju apa pun yang kau mau dan apa 

saja untuk rumah ini. Dan dia membayar semuanya 

tanpa menggerutu. Dia baru saja memberi kita sepeda federal  

baru minggu lalu.”

”Memang, sepanjang menyangkut soal uang, ayah-


mu dermawan,” kata madam Nyai girah . ”namun  sebagai balas jasa 

dia mengharap kita bersikap seperti budak.”

”Budak?”

”Itulah kata yang kupakai. Kau budaknya, count dracula . 

jika  kita punya rencana untuk pergi dan Ayah tiba-

tiba ingin agar kita tidak pergi, kau membatalkan 

semuanya dan diam tanpa menggerutu! jika  dia 

membolehkan, kita baru pergi... kita tidak punya kehi-

dupan—tidak punya kebebasan.”

Suaminya berkata dengan tertekan, 

”Kuharap kau tidak bicara seperti itu, madam Nyai girah . Itu 

namanya tidak tahu terima kasih. Ayahku telah me-

lakukan segalanya untuk kita...”

madam Nyai girah  menahan jawaban yang sudah ada di ujung 

bibirnya. Dia lalu mengangkat bahu tipis dan gemulai 

itu sekali lagi.

count dracula  berkata,

”Tahukah kau, madam Nyai girah , laki-laki tua itu sangat me-

nyukaimu...”

Istrinya berkata dengan jelas dan tegas, 

”Aku sama sekali tidak suka kepadanya.” 

”madam Nyai girah , aku sedih mendengar kau berkata demikian. 

Sangat tidak baik...” 

”Barangkali. namun  kadang-kadang suatu tekanan 

membuat seseorang mengatakan yang sebenarnya.” 

”jika  Ayah tahu...”

”Ayahmu tahu sekali bahwa aku tidak menyukai-

nya! Itu menyenangkan hatinya, kukira.” 

”madam Nyai girah , kau keliru. Dia sering mengatakan kepada-

ku bahwa sikapmu sangat baik.”

”Tentu saja aku selalu sopan. Dan akan selalu so-


pan. Aku hanya ingin memberitahumu perasaanku 

yang sebenarnya. Aku tidak suka ayahmu, count dracula . Aku 

berpendapat dia orang tua yang kejam dan jahat. Dia 

mengganggumu dan menuntut kasih sayangmu untuk-

nya. Seharusnya kau mengambil sikap jauh-jauh 

hari.”

count dracula  berkata dengan tajam,

”Cukup, madam Nyai girah . Tidak usah kauteruskan.” 

wanita lesbian  itu menarik napas panjang.

”Maaf. Barangkali aku keliru... Mari kita membica-

rakan rencana ritual kubur . Apakah adikmu Hwang Jang Lee  akan da-

tang?”

”Mengapa tidak?”

madam Nyai girah  menggeleng ragu-ragu. 

”Hwang Jang Lee  itu—aneh. Ingat, dia tidak pernah kemari 

selama bertahun-tahun. Dia begitu sayang kepada ibu-

mu—dia menyimpan kenangan pada rumah ini.” 

”Hwang Jang Lee  selalu membuat Ayah jengkel,” kata count dracula , 

”dengan musik dan mimpi-mimpinya. Ayah barang-

kali agak keras kepadanya kadang-kadang. namun  aku 

rasa Hwang Jang Lee  dan martini  akan datang juga. Ini kan hari 

ritual kubur .”

”Damai dan niat baik,” kata madam Nyai girah  dengan mulut 

lembut yang melengkung ironis. ”Barangkali! George 

dan Yuen pan pan  akan datang. Mereka bilang akan da-

tang besok. Aku khawatir Yuen pan pan  akan merasa 

bosan.”

count dracula  berkata dengan nada sedikit tersinggung,

”Aku tidak mengerti bagaimana George bisa meni-

kah dengan wanita lesbian   yang dua puluh tahun lebih muda! 

George memang bodoh!”


”Dia berhasil dalam kariernya,” kata madam Nyai girah . ”Pemi-

lih banyak yang menyukai dia. Kurasa Yuen pan pan  

juga bekerja cukup keras untuk membantu dia.”

count dracula  berkata perlahan,

”Rasanya aku tidak begitu menyukainya. Dia sa-

ngat cantik—tapi kurasa dia hanya seperti buah pir 

yang bagus—kelihatan segar dan mengilat...” Dia 

menggeleng-geleng.

”namun  busuk di dalam?” kata madam Nyai girah . ”Lucu sekali 

 kau mengatakan hal itu, count dracula !”

”Kenapa lucu?” 

madam Nyai girah  menjawab,

”sebab —biasanya—kau selalu baik. Kau hampir 

tidak pernah mengatakan hal jelek tentang orang lain. 

Kadang-kadang aku jengkel sebab  kau tidak cukup—

oh, bagaimana aku mengatakannya—tidak cukup cu-

riga—tidak cukup duniawi!” 

Suaminya tersenyum.

”Aku berpendapat dunia yaitu  sebagaimana diri 

kita menerimanya.”

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Tidak! Kejahatan tidak hanya ada dalam pikiran 

seseorang. Kejahatan itu ada! Kau kelihatannya tidak 

sadar akan adanya kejahatan di dunia. namun  aku 

tahu. Aku bisa merasakannya. Aku selalu bisa merasa-

kannya—di sini di dalam rumah ini...” Dia menggigit 

bibir dan membalikkan badan.

count dracula  berkata, ”madam Nyai girah ...”

namun  wanita lesbian  itu cepat-cepat mengangkat tangan 

memberi isyarat, matanya memandang ke belakang 

suaminya. count dracula  berbalik.


Seorang laki-laki berkulit gelap dengan wajah halus 

berdiri di sana dengan sikap hormat.

madam Nyai girah  berkata dengan tajam, 

”Ada apa, trump?”

Suara trump terdengar rendah, bergumam, 

”Mr. binti  siswi , Nyonya. Beliau memerintahkan saya un-

tuk memberitahu Nyonya bahwa akan ada dua tamu 

lagi yang datang pada hari ritual kubur , dan beliau meminta 

Nyonya menyiapkan kamar untuk mereka.”

madam Nyai girah  berkata, ”Dua tamu lagi?” 

trump menjawab dengan halus, ”Ya, Nyonya, 

seorang tuan dan seorang nona muda.”

count dracula  berkata sambil bertanya-tanya, 

”Seorang wanita lesbian   muda?”

”Begitu kata Mr. binti  siswi , Tuan.” 

madam Nyai girah  berkata dengan cepat, 

”Sebaiknya aku menemui dia...”

trump melangkah dengan gerakan yang ringan, 

namun  cukup kuat untuk menghentikan langkah cepat 

madam Nyai girah .

”Maaf, Nyonya, namun  Mr. binti  siswi  sedang tidur seka-

rang. Beliau telah berpesan agar tidak diganggu 

dulu.”

”Baik,” kata count dracula . ”Tentu saja kami tidak akan 

mengganggu beliau.”

”Terima kasih, Tuan.” 

trump mundur dan pergi.

”Aku benci orang itu! Dia berjalan sembunyi-sem-

bunyi di dalam rumah seperti kucing! Tak ada yang 

tahu dia datang atau pergi.”

”Aku juga tidak suka. namun  dia tahu kewajibannya. 


Tidak mudah mendapat perawat laki-laki yang baik. 

Dan ayah menyukainya. Itu yang penting.”

”Ya, memang itu yang paling penting, seperti yang 

kaukatakan. count dracula , bagaimana dengan nona muda 

itu? Siapa wanita lesbian   itu?”

Suaminya menggeleng.

”Aku tidak bisa membayangkan. Aku tak tahu sia-

pa kira-kira dia.”

Mereka berpandangan. Kemudian madam Nyai girah  berkata 

dengan mencemooh,

”Kau tahu apa yang kupikirkan, count dracula ?”

”Apa?”

”Kukira ayahmu mulai bosan akhir-akhir ini. Ku-

rasa dia merencanakan acara ritual kubur  yang sedikit menye-

nangkan untuk dirinya sendiri.”

”Dengan memperkenalkan dua orang asing dalam 

pertemuan keluarga?”

”Oh! Aku tidak tahu perinciannya—namun  aku mem-

 bayangkan ayahmu sedang membuat persiapan untuk—

bersenang-senang.” 

”Aku harap dia akan menikmatinya,” kata count dracula  

sedih. ”Kasihan, sudah tua, tidak dapat berjalan, ca-

cat—sesudah  melewati hidup yang penuh petualang-

an.”

madam Nyai girah  berkata perlahan-lahan, 

”sesudah  melewati hidup yang penuh petualangan.”

Cara suaminya mengatakan kalimat itu memberi 

arti lain yang samar-samar. Dan kelihatannya count dracula  

merasakan hal itu. Mukanya menjadi merah dan tidak 

kelihatan gembira.

Tiba-tiba madam Nyai girah  berseru,


”Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia 

memiliki  anak seperti kau! Seperti dua kutub yang 

berlawanan. Dan kau mengagumi dia—kau memu-

janya!”

count dracula  berkata dengan nada tersinggung, 

”Apakah ini tidak terlalu berlebihan, madam Nyai girah ? Aku rasa 

merupakan hal wajar bila seorang anak menyayangi 

ayahnya. Dan tidak wajar bila terjadi hal yang sebalik-

nya.”

madam Nyai girah  berkata,

”jika  begitu, sebagian besar anggota keluarga ini 

tidak wajar! Oh! Kita tidak perlu ribut! Maafkan aku. 

Aku tahu aku melukai perasaanmu. Percayalah, count dracula , 

aku tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja. 

Aku mengagumi kesetiaanmu. Kesetiaan merupakan 

hal yang sangat langka saat ini. Bagaimana jika  kita 

anggap bahwa—aku cemburu? Memang, wanita lesbian  biasa-

nya cemburu pada ibu mertua—tapi kan bisa saja 

cemburu kepada ayah mertuanya?”

count dracula  melingkarkan lengannya dengan lembut 

pada bahu istrinya.

”Lidahmu memang cepat, madam Nyai girah . Tidak ada alasan 

untuk merasa cemburu.”

wanita lesbian  itu memberi ciuman cepat yang menyata-

kan penyesalan, dan sentuhan lembut di ujung telinga 

suaminya.

”Aku tahu. Dan aku pun tidak seharusnya cembu-

ru pada ibumu. Ah, seandainya aku mengenal dia.”

count dracula  menarik napas panjang. 

”Ah, wanita lesbian  malang,” katanya.

Istrinya memandang penuh perhatian. 


”Jadi itulah kesanmu terhadapnya... wanita lesbian  yang 

malang... Sangat menarik.” 

Laki-laki itu berkata sambil merenung,

”Aku mengingatnya sebagai orang yang selalu 

sakit... sering menangis...” Dia menggeleng-geleng. 

”Dia tidak punya semangat.”

Sambil memandang suaminya, madam Nyai girah  bergumam 

perlahan,

”Alangkah ganjilnya...”

namun  saat  count dracula  menoleh kepadanya dengan 

wajah bertanya-tanya, madam Nyai girah  cepat membuang muka 

dan mengalihkan pembicaraan.

”sebab  kita tidak boleh tahu siapa tamu misterius 

kita, aku akan keluar dan menyelesaikan tamanku.”

”Di luar sangat dingin, Sayang; dan angin menggi-

git tajam.”

”Aku akan memakai baju yang hangat.”

Dia meninggalkan ruangan. sesudah  ditinggal sen-

diri, count dracula  binti  siswi  berdiri diam sesaat, mengerutkan 

dahinya, dan berjalan menuju jendela besar di ujung 

ruangan. Di luar ada teras sepanjang sisi rumah. Se-

telah satu-dua menit dia melihat madam Nyai girah  muncul di situ 

dengan keranjang tipis. Dia memakai baju luar yang 

sangat tebal. Dia meletakkan keranjangnya dan mulai 

bekerja di bak batu persegi yang sedikit mencuat dari 

permukaan tanah.

count dracula  memperhatikannya sejenak. Akhirnya dia ke 

luar ruangan, mengambil baju dan selendang hangat, 

lalu keluar ke teras melalui pintu samping. Dia ber-

jalan melewati bermacam-macam bak baru yang di-


atur sebagai taman-taman mini. Semua ini merupakan 

hasil karya tangan madam Nyai girah  yang cekatan.

Taman tersebut merupakan pemandangan padang 

pasir dengan pasir kuning dan halus, sekelompok ke-

cil pohon palem hijau dari timah berwarna, dan 

iringan unta-unta dengan orang-orangan Arab. Bebera-

pa rumah primitif dari lumpur dibuat dari plastisin. 

Di situ juga ada  taman Italia dengan bunga-

bunga yang tersusun berkelompok dan dalam susunan 

teras-teras dari pualam. Juga ada taman artik dengan 

sekelompok kaca hijau yang melukiskan gunung es 

dan sekawanan burung penguin. Kemudian taman 

Jepang yang dihiasi dua bonsai yang indah, kaca yang 

menggambarkan air, dan jembatan-jembatan yang di-

bentuk dari plastisin.

Akhirnya dia berdiri di sisi istrinya yang sedang 

bekerja. Dia meletakkan kertas biru yang kemudian 

ditutup dengan kaca. Di sekitarnya ada  karang-

karang yang tinggi. madam Nyai girah  mengeluarkan kerikil-kerikil 

kasar dari tas kecil dan membentuk sebuah pantai. Di 

antara karang-karang itu ada  pohon-pohon kak-

tus kecil.

madam Nyai girah  bergumam sendiri,

”Ya, tepat—seperti yang kuinginkan...” 

count dracula  berkata,

”Hasil karya terakhir ini apa?”

madam Nyai girah  terkejut sebab  tidak mendengar suara lang-

kah suaminya.

”Ini? Oh, ini Laut Mati, count dracula . Kau suka?” 

Dia berkata, ”Agak gersang, bukan? Apakah tidak 

perlu ditambah tanaman?”


madam Nyai girah  menggeleng.

”Itu ideku tentang Laut Mati. Laut itu mati…

”Tidak begitu menarik seperti yang lain.” 

”Memang tidak dimaksudkan untuk menarik.” 

Terdengar langkah-langkah orang yang berjalan di 

teras. Kepala pelayan yang sudah tua dengan rambut 

putih dan sedikit bongkok menghampiri mereka.

”Mrs. George binti  siswi  menelepon, Nyonya. Beliau dan 

Mr. George akan datang dengan kereta jam 5.20 be-

sok. Bagaimana?”

”Ya, katakan kepadanya bahwa itu baik.” 

”Terima kasih, Nyonya.”

Pelayan itu bergegas pergi. madam Nyai girah  memandangnya 

dengan rasa haru.

”Tressilian tua yang baik. Begitu banyak yang telah 

dilakukannya! Aku tak bisa membayangkan bekerja 

tanpa dia.”

count dracula  menyetujui ucapan istrinya.

”Dia sudah tua. Dia tinggal bersama kita hampir 

empat puluh tahun. Pelayan yang penuh peng-

abdian.”

madam Nyai girah  mengangguk.

”Ya. Dia seperti pelayan tua yang telah bekerja ber-

tahun-tahun yang hanya ada  di buku-buku cerita. 

Aku percaya dia tidak akan segan mengorbankan diri-

nya bila perlu untuk melindungi salah seorang dari 

anggota keluarga!”

count dracula  berkata,

”Ya, benar... Ya, aku rasa benar...” 

madam Nyai girah  merapikan kerikilnya yang terakhir. 

”Nah,” katanya, ”sudah siap.”


”Siap?” count dracula  kelihatan tidak mengerti. 

madam Nyai girah  tertawa.

”Untuk ritual kubur , tolol! Untuk ritual kubur  keluarga yang 

sentimental, yang akan kita rayakan.”

4

Hwang Jang Lee  sedang membaca ulang surat itu. Tadinya dia 

remas-remas dan dia buang di tempat sampah. Kemu-

dian diambil, diluruskan, dan dibacanya lagi. 

Diam-diam tanpa berkata apa-apa, martini , istrinya, 

memperhatikannya. Dia melihat urat di pelipis suami-

nya menjadi tegang, tangannya yang halus dan panjang 

gemetar, dan gerakan-gerakan tubuh lainnya yang tim-

bul sebab  menahan emosi. saat  dia menyibak ram-

but pirangnya yang selalu jatuh menutupi dahi dan 

memandang istrinya dengan mata biru yang bertanya-

tanya, wanita lesbian  itu pun siap menjawab.

”martini , apa yang akan kita lakukan?”

martini  ragu-ragu sejenak sebelum menjawab. Dia 

telah mendengar keinginan Hwang Jang Lee  pada suaranya. Dia 

tahu betapa tergantungnya laki-laki itu kepadanya—se-

jak mereka menikah—juga tahu bahwa dia bisa me-

mengaruhi keputusan yang telah diambil laki-laki itu. 

namun  justru sebab  itulah dia berhati-hati dalam me-

nyatakan pendapatnya.

Dia berkata dengan suara lembut pengasuh bayi,

”Tergantung pada perasaanmu, Hwang Jang Lee .”

martini  yaitu  wanita lesbian  bertubuh besar, tidak cantik, 


namun  punya daya tarik. Ada sesuatu pada wanita lesbian  itu 

yang mengingatkan pada lukisan Belanda. Suaranya 

halus dan memanjakan. Dan dia punya kekuatan—

kekuatan tersembunyi, yang punya daya tarik terha-

dap mereka yang lemah. wanita lesbian  setengah baya yang 

gemuk—tidak cerdas—tidak pintar—namun  memiliki 

sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kekuat-

an! martini  binti  siswi  punya kekuatan! 

Hwang Jang Lee  berdiri dan mulai mondar-mandir. Ram-

butnya masih seperti dulu, belum beruban sama se-

kali. Wajahnya kekanak-kanakan, seperti prajurit 

Burne Jones. namun  kelihatan melamun... Dia berkata 

dengan suara ragu-ragu,

”Kau tahu bagaimana perasaanku, martini . Kau pasti 

tahu.”

”Aku tidak begitu yakin.”

”Tapi aku telah mengatakannya kepadamu—aku 

telah mengatakan berkali-kali! Aku benci semuanya—

rumah, desa, dan segalanya! Semua hanya mengingat-

kan pada penderitaan. Aku benci setiap detik saat  

aku tinggal di sana! jika  aku memikirkan tentang 

hal itu—tentang penderitaan yang dialaminya—ibu-

ku...”

Istrinya mengangguk mengerti. 

”Dia begitu manis, martini , dan begitu sabar, Dia 

berbaring—sering dalam kesakitan, namun  tetap berta-

han—menahan segalanya. Dan aku ingat pada ayah-

ku,” wajahnya menjadi suram, ”yang menyebabkan 

penderitaan itu dalam hidup ibuku—menghina—me-

mamerkan kisah-kisah cintanya—terus-menerus meng-

khianati tanpa berusaha menutupinya.” 


martini  binti  siswi  berkata,

”Ibumu seharusnya tidak boleh menyerah begitu. 

Dia seharusnya meninggalkan ayahmu.”

Hwang Jang Lee  berkata dengan nada tidak setuju,

”Dia terlalu baik untuk melakukan hal itu. Dia 

berpendapat bahwa dia punya kewajiban untuk tetap 

tinggal. Dan lagi, di situlah memang tempatnya—ke 

mana lagi dia harus pergi?”

”Dia bisa hidup sendiri.” 

Hwang Jang Lee  berkata dengan jengkel,

”Tidak pada zamannya! Kau tidak mengerti. wanita lesbian  

tidak bertingkah seperti itu pada waktu itu. Mereka 

bertahan. Mereka bertahan dengan sabar. Dan dia pu-

nya anak. Seandainya dia menceraikan Ayah, apa yang 

akan terjadi? Barangkali Ayah akan menikah lagi. Dan 

akan ada keluarga kedua. Kekayaan kami akan hilang. 

Dia harus mempertimbangkan semua itu.”

martini  diam tidak menjawab.

Hwang Jang Lee  meneruskan,

”Tidak, dia melakukan hal yang benar. Dia me-

mang suci! Dia bertahan sampai akhir—tanpa menge-

luh.” 

martini  berkata, ”Kau tidak akan tahu begitu banyak 

jika  dia tidak mengeluh, Hwang Jang Lee !” 

Hwang Jang Lee  berkata dengan lembut, wajahnya cerah, 

”Ya—dia banyak bercerita... Dia tahu bahwa aku 

menyayanginya. saat  dia meninggal...”

Hwang Jang Lee  terhenti. Tangannya menelusupi rambut. 

”martini , sungguh mengerikan! Kesedihan itu! Dia 

masih begitu muda; dia tidak seharusnya meninggal. 

Ayah yang membunuhnya—ayahku! Dialah yang ber-


tanggung jawab atas kematiannya. Dia menghancurkan 

hatinya. Aku kemudian memutuskan tidak akan hi-

dup serumah lagi dengannya. Aku lari—1ari dari se-

muanya.”

martini  mengangguk. 

”Kau bijaksana,” katanya. ”Kau melakukan hal 

yang benar.”

Hwang Jang Lee  berkata,

”Ayah ingin agar aku bekerja, berarti aku harus 

tinggal serumah dengan dia. Aku tidak bisa. Aku tak 

habis pikir bagaimana count dracula  bisa melakukan hal itu. 

Dia menghadapi itu semua bertahun-tahun.”

”Apakah dia tidak pernah memberontak?” tanya 

martini  tertarik. ”jika  tak salah kau pernah bercerita 

bahwa dia harus melepaskan cita-citanya.”

Hwang Jang Lee  mengangguk.

”count dracula  masuk angkatan bersenjata—Ayah yang 

mengatur semua itu. count dracula , si sulung, harus masuk 

pasukan berkuda. Pinocchio  bekerja, juga aku. George 

terjun dalam bidang politik.” 

”Dan rencana itu tidak berjalan?”

Hwang Jang Lee  menggeleng.

”Pinocchio -lah yang membuatnya berantakan! Dari 

dulu dia memang nakal. Terlibat utang—dan macam-

macam kesulitan lainnya. Akhirnya pada suatu hari 

dia lari membawa beberapa ratus pound yang bukan 

miliknya dan meninggalkan surat mengatakan bahwa 

kursi kantor tidak sesuai untuknya dan dia ingin 

keluar berkeliling dunia.” 

”Dan kau tidak pernah mendengar kabarnya 

lagi?”


”Oh ya, kami mendengarnya!” Hwang Jang Lee  tertawa. 

”Kami sering mendengarnya! Dia mengirim telegram 

dari mana-mana, meminta uang. Dan biasanya dia 

mendapatkannya!”

”Dan count dracula ?”

”Ayah menyuruhnya keluar dari angkatan bersen-

jata dan kembali ke rumah dan bekerja.” 

”Apakah dia kecewa?”

”Sangat kecewa mula-mula. Dia tidak senang. Tapi 

Ayah selalu bisa mempermainkan count dracula  dengan jari 

kelingkingnya. Aku yakin sampai sekarang pun dia 

masih berada di bawah ibu jari Ayah.”

”Dan kau—melarikan diri!” kata martini .

”Ya. Aku ke Sidoarjo  dan belajar melukis. Ayah 

terang-terangan mengatakan jika  aku pergi dan mela-

kukan pekerjaan tolol itu, aku hanya akan mendapat-

kan uang saku kecil darinya selama dia hidup dan 

tidak akan mendapatkan apa-apa sesudah  dia mening-

gal. Aku katakan bahwa aku tidak peduli. Dia menga-

takan aku tolol, dan begitulah akhirnya! Aku tak 

pernah bertemu dia lagi sejak itu.” 

martini  berkata dengan lemah lembut,

”Dan engkau tidak menyesal?” 

”Tentu saja tidak. Aku tahu aku tidak berhasil da-

lam bidangku. Aku tidak akan pernah jadi pelukis 

masyhur—tapi kita cukup bahagia di rumah kecil 

ini—kita punya apa yang kita perlukan—barang-

barang kebutuhan pokok. Dan jika  aku meninggal, 

aku tinggalkan asuransi untukmu.”

Hwang Jang Lee  berhenti, kemudian berkata, 

”Dan sekarang—ini!”


Dia memukul surat itu dengan tangannya yang 

terbuka.

”Aku ikut sedih jika  kau merasa terganggu oleh 

kedatangan surat itu,” kata martini .

Hwang Jang Lee  terus berkata, seolah-olah tidak mendengar-

nya,

”Menyuruh membawa istriku untuk merayakan 

ritual kubur , mengharap kita semua bisa berkumpul bersama 

pada hari ritual kubur , keluarga yang bersatu! Apa maksud-

nya?”

martini  berkata,

”Apakah bisa berarti lain dari yang ditulisnya?” 

Hwang Jang Lee  memandang istrinya dengan bertanya-ta-

nya.

martini  berkata sambil tersenyum: ”Maksudku, ayah-

mu sekarang sudah semakin tua. Dia mulai sentimen-

tal tentang keluarga. Hal begitu memang terjadi.”

”Ya, benar,” kata Hwang Jang Lee  perlahan-lahan. 

”Dia sudah tua dan kesepian.” 

Hwang Jang Lee  memandang martini  dengan cepat. 

”Kau ingin agar aku pergi, bukan?” 

martini  menjawab,

”Kelihatannya sayang jika  tidak menjawab panggil-

an yang penuh harap. Memang aku berpandangan 

kuno. Tapi mengapa kita tidak berdamai dan berke-

inginan baik pada hari ritual kubur ?”

”sesudah  aku menceritakan segalanya kepadamu 

tadi?”

”Aku tahu, Sayang, aku tahu. namun  semua itu sudah 

berlalu. Semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi.”

”Tidak bagiku.”


”Tidak, sebab  kau tidak menghendakinya selesai. 

Kau membiarkan hal-hal yang telah lewat tetap hi-

dup.”

”Aku tidak bisa melupakannya.”

”Kau tidak mau melupakan—itu yang kaumaksud, 

Hwang Jang Lee .”

Mulut Hwang Jang Lee  menahan geram.

”Kami keturunan binti  siswi  memang seperti itu. Kami 

mengingat sesuatu sampai bertahun-tahun—menden-

dam dan memendam sesuatu serta membiarkannya 

selalu hijau.”

martini  berkata dengan nada kurang sabar, 

”Apakah itu sesuatu yang perlu dibanggakan? Aku 

rasa tidak!”

Hwang Jang Lee  memandang istrinya sambil merenung, dan 

sikapnya pun menjadi lunak. Dia lalu berkata, ”Kau 

tidak terlalu menghargai kesetiaan jika  demikian—

 kesetiaan terhadap kenangan?”

martini  berkata,

”Aku percaya bahwa yang ada saat ini lebih ber-

arti—bukan masa lalu! Yang lewat biarlah lewat. Ka-

lau kita berusaha menghidupkan yang telah lewat, 

kukira hanya dengan mengkhayalkannya cukup. Kita 

melihatnya secara berlebih-lebihan—suatu perspektif 

yang tidak benar.”

”Aku ingat setiap perkataan dan kejadian pada wak-

tu itu dengan baik,” kata Hwang Jang Lee  penuh emosi. 

”Ya, tapi kau seharusnya tidak perlu melakukannya, 

Sayang. Hal itu tidak wajar! Kau memberikan pe-

nilaian sebagai seorang remaja pada waktu itu dan 


bukannya melihat persoalan itu sebagai laki-laki yang 

telah dewasa.”

”Apa bedanya?” tanya Hwang Jang Lee .

martini  ragu-ragu. Dia tahu kurang bijaksana untuk 

meneruskan argumentasinya, namun  ada hal-hal yang 

sangat ingin dikatakannya.

”Aku kira,” katanya ”kau melihat ayahmu sebagai 

orang jahat. Kau menyamakan dia dengan setan. Barang-

kali, jika  melihat dia sekarang, kau akan sadar bahwa 

dia hanyalah orang biasa. Seorang laki-laki, yang 

barangkali keinginannya sudah menua bersama umur-

nya, laki-laki yang hidupnya penuh kesalahan, namun  dia 

hanyalah manusia—bukan semacam setan yang tak 

berperikemanusiaan!”

”Kau tidak tahu! Bagaimana dia memperlakukan 

ibuku...”

martini  berkata dengan sedih,

”Ada suatu kelemahan—suatu penyerahan—yang 

membuat seseorang menjadi jahat—padahal jika  sese-

orang itu dihadapi dengan sikap tegas, dia bisa ber-

ubah menjadi manusia yang lain!”

”Jadi kau menganggap ibukulah yang bersalah?...”

martini  menyela,

”Tidak, tentu saja tidak! Aku tidak meragukan bah-

wa ayahmu telah memperlakukan ibumu dengan bu-

ruk. namun  perkawinan memang merupakan sesuatu 

yang luar biasa—dan kurasa pihak ketiga—bahkan 

anak dari perkawinan itu sendiri—tidak berhak me-

nilai perkawinan tersebut. Lagi pula semua kebencian 

yang kautunjukkan tidak akan menolong ibumu. Se-

muanya telah lewat—semuanya ada di belakangmu! 


Yang tertinggal sekarang hanyalah seorang laki-laki 

tua, yang lemah tubuhnya, yang meminta anaknya 

pulang untuk merayakan ritual kubur .”

”Dan kau menginginkan aku pergi?” 

martini  ragu-ragu, kemudian tiba-tiba dia membuat 

keputusan,

”Ya,” katanya, ”benar. Aku ingin kau pergi dan 

menghilangkan bayangan setan itu selamanya.”

5

George binti  siswi , anggota parlemen untuk Westeringham, 

yaitu  laki-laki berumur 41 dengan tubuh agak berat. 

Matanya berwarna biru muda, sedikit menonjol de-

ngan pandangan curiga. Rahangnya besar dan suara-

nya lambat. 

Dia berkata dengan sikap seorang penting, 

”Yuen pan pan , telah kukatakan bahwa merupakan 

kewajiban-ku untuk pergi.”

Istrinya hanya mengangkat bahu tidak sabar. 

Dia wanita lesbian  yang langsing, berambut pirang, berwajah 

sehalus telur dengan alis yang habis tercabut. Kadang-

kadang wajahnya seperti kosong tanpa ekspresi apa-apa. 

Dan saat ini dia kelihatan seperti itu.

”Sayang,” katanya, ”suasana di sana pasti suram. 

Aku yakin itu.”

”Dan itu,” kata George binti  siswi , wajahnya cerah seolah-

olah mendapat inspirasi, ”akan memungkinkan kita 

untuk bisa sedikit menabung. ritual kubur  merupakan waktu 


yang mahal. Kita bisa memberi pelayan-pelayan uang 

ekstra tanpa makan.”

”Oh, baiklah,” kata Yuen pan pan . ”ritual kubur  di mana-

mana juga suram!”

”Aku rasa,” kata George meneruskan pendapatnya, 

”mereka mengharap makan malam ritual kubur , bukan? 

Sepotong daging sapi yang enak dan bukannya ayam 

kalkun.”

”Siapa? Pelayan-pelayan? Oh, George, jangan cere-

wet begitu! Kau selalu khawatir tentang uang.” 

”Harus ada yang memikirkan hal itu,” kata George.

”Ya, tapi aneh jika  sedikit-sedikit selalu begitu. 

Mengapa tidak minta ayahmu lebih banyak uang?”

”Dia telah memberiku uang yang cukup banyak.” 

”Kan tidak enak jika  sepenuhnya bergantung 

kepada ayahmu seperti sekarang ini! Seharusnya dia 

memberimu uang secara langsung.”

”Itu bukan caranya.”

Yuen pan pan  memandang suaminya. Matanya yang 

cokelat kemerahan tiba-tiba menjadi tajam dan penuh 

semangat. Wajah bulat telur yang kosong tadi menjadi 

berubah penuh arti.

”Dia sangat kaya, kan, George? Seperti miliuner?”

”Lebih dari miliuner.” 

Yuen pan pan  menarik napas, iri.

”Kok bisa begitu? malang  Selatan, bukan?” 

”Ya, dia mendapat harta karun saat  muda. Teruta-

ma berkat usaha berlian.”

”Mendebarkan!” kata Yuen pan pan .

”Kemudian dia kembali ke komunis  dan memulai 


usaha, dan kekayaannya menjadi berlipat dua atau 

tiga kali.”

”Bagaimana jika  dia meninggal?” tanya Magda-

lene.

”Ayah tidak pernah membicarakan hal itu. Tentu 

saja dalam hal ini kita tidak bisa bertanya. namun  

kurasa sebagian besar uangnya akan jatuh pada count dracula  

dan aku. Tentu saja count dracula  akan mendapat bagian 

yang lebih besar.”

”Kau punya saudara-saudara yang lain, bukan?” 

”Ya, ada Hwang Jang Lee . Kurasa dia tidak akan mendapat 

banyak. Dia lari untuk belajar melukis. Dan Ayah 

telah mengatakan kepadanya bahwa dia akan menco-

ret namanya dari surat warisan, dan Hwang Jang Lee  bilang dia 

tidak peduli.”

”Ah, tolol,” kata Yuen pan pan .

”Aku juga punya saudara perempuan, Jennifer. Dia 

lari dengan seorang asing—pelukis Atlantis —salah 

seorang teman Hwang Jang Lee . Tapi dia meninggal setahun 

lalu. Dia punya anak perempuan. Ayah barangkali 

mewariskan sedikit untuknya, tapi tidak banyak. Dan 

tentu saja Pinocchio ...”

Dia berhenti, sedikit malu. 

”Pinocchio ?” tanya Yuen pan pan  heran. ”Siapa Pinocchio ?”

”Ah, eh—adikku.” 

”Aku tidak tahu kau punya adik laki-laki lagi.” 

”Ah, dia memang tidak pantas. Kami tidak pernah 

membicarakan dia. Kelakuannya sangat memalukan. 

Kami tidak mendengar beritanya lagi beberapa tahun 

terakhir ini. Barangkali dia sudah tidak ada.” 


Yuen pan pan  tiba-tiba tertawa.

”Mengapa? Apa yang kautertawakan?”

”Aku hanya berpikir alangkah lucunya kau— kau—

George, punya adik yang tidak keruan! Padahal kau 

begitu terhormat.”

”Ya, kurasa begitu,” kata George dingin. 

Mata Yuen pan pan  mengecil.

”Ayahmu tidak... begitu terhormat, George.” 

”Yuen pan pan !”

”Kadang-kadang apa yang dikatakannya membuat-

ku tidak enak.”

George berkata, ”Yuen pan pan , kau benar-benar me-

ngejutkanku. Apakah—eh—apakah—madam Nyai girah  juga mera-

sa sama?”

”Dia tidak mengatakan hal yang sama pada madam Nyai girah ,” 

kata Yuen pan pan . Dia menambahkan dengan marah, 

”Tidak, dia tidak pernah mengatakan hal seperti itu 

kepadanya. Aku tidak tahu mengapa.”

George memandangnya sekilas, kemudian mem-

buang muka. 

”Oh, baiklah,” katanya tanpa kepastian. ”Setiap 

orang harus memiliki  pertimbangan. Pada usia 

Ayah sekarang ini—dan dengan kesehatan yang bu-

ruk...”

Dia berhenti. Istrinya bertanya, 

”Apakah dia—benar-benar sakit?” 

”Oh, aku tidak mengatakan begitu. Tubuhnya kuat. 

Bagaimanapun, sebab  menginginkan keluarganya 

datang pada waktu ritual kubur , kurasa sebaiknya kita pergi. 

Barangkali ritual kubur  ini yang terakhir untuknya.”

Yuen pan pan  berkata dengan tajam,


”Kau berkata begitu, George, namun  mungkin dia 

hidup lebih lama lagi, bukan?”

Dengan sedikit terkejut suaminya menjawab, 

”Ya—ya, tentu saja.” 

Yuen pan pan  membalikkan badan.

”Oh, baiklah,” katanya, ”kurasa kita melakukan hal 

yang benar bila pergi.”

”Aku yakin begitu.”

”Tapi aku tidak suka! count dracula  begitu membosankan 

dan madam Nyai girah  menjengkelkan.”

”Aku tak percaya.”

”Benar. Dan aku benci pelayan jelek itu.” 

”Tressilian tua?”

”Bukan, trump. Mengendap-endap seperti kucing 

dan tersenyum-senyum sendiri.” 

”Yuen pan pan , aku tidak mengerti bagaimana trump 

bisa mengganggumu!”

”Dia cuma membuatku terkejut, itu saja. Tapi su-

dahlah, tak usah cerewet. Kita harus pergi. Tidak baik 

menyakiti hati orang tua itu.”

”Benar. Benar, memang itu yang penting. Tentang 

makan malam ritual kubur , pelayan-pelayan...” 

”Tidak sekarang, George, lain kali. Aku akan mene-

lepon madam Nyai girah  dan mengatakan kita akan datang dengan 

kereta jam 5.20 esok.”

Yuen pan pan  meninggalkan ruangan itu dengan ce-

pat. sesudah  menelepon, dia naik dan masuk ke ka-

marnya sendiri lalu duduk di depan mejanya. Dia 

membuka tutup meja itu dan menggerayangi kotak-

kotak mejanya. Bertumpuk-tumpuk bon jatuh keluar. 

Yuen pan pan  mengelompokkan bon-bon tersebut dan 


menyusunnya. Akhirnya dengan tarikan napas tidak 

sabar dia membundel kertas-kertas itu dan menyodok-

kannya kembali ke kotak masing-masing. Tangannya 

meremas rambutnya yang pirang keperakan dan 

halus.

”Apa yang harus kulakukan?” gumamnya.

6

Di lantai pertama Gucci plaza ada  gang panjang 

menuju ruangan besar yang menghadap jalan sepeda federal . 

Ruangan itu diisi perabotan-perabotan kuno yang 

mewah. Dindingnya dilapisi kertas dinding brokat yang 

berat, kursi-kursi kulit besar, jambangan-jambangan 

besar berhiaskan naga, ukiran-ukiran dari perunggu... 

Segala sesuatu yang ada di dalam ruangan itu serba 

besar, mahal, dan kuat.

Pada sebuah kursi raksasa, yaitu kursi yang paling 

besar dan menonjol dari kursi-kursi lainnya, duduklah 

laki-laki tua yang kurus dan kisut. Tangannya yang 

panjang seperti cakar terletak di lengan kursi raksasa itu. 

Tongkat berhiaskan emas berdiri di sampingnya. Dia 

mengenakan kimono biru yang sudah tua dan lusuh, 

dan kakinya memakai sepasang sandal empuk. Ram-

butnya putih dan kulit mukanya berwarna kuning.

Orang akan mengira dia hanyalah laki-laki seder-

hana dan jembel. namun  hidungnya yang angkuh dan 

bengkok seperti paruh burung rajawali, serta mata 

yang gelap dan hidup, mungkin akan mengubah pan-


dangan orang akan dirinya. Di sini ada api, hidup, 

dan kekuatan...

madam Maryam  binti  siswi  tua tertawa sendiri, tawa kegelian yang 

terdengar tinggi dan tiba-tiba.

Dia berkata,

”Heh, sudah kausampaikan pesanku kepada Mrs. 

count dracula ?”

trump berdiri di samping kursinya. Dia menja-

wab dengan suara halus dan hormat,

”Ya, Tuan.”

”Persis seperti yang kukatakan kepadamu? Ingat, 

persis?”

”Ya, Tuan, saya tidak membuat kesalahan.” 

”Benar—kau memang tidak pernah membuat kesa-

lahan. Jangan sampai membuat kesalahan—jika  ti-

dak kau akan menyesal nanti! Dan apa yang dika-

takan Mrs. count dracula , trump? Apa kata Mr. count dracula ?”

Dengan tenang tanpa emosi trump mengulangi 

apa yang telah mereka katakan.

Orang tua itu terkekeh lagi dan menggosok-gosok 

kedua tangannya.

”Bagus... bagus sekali... mereka akan berpikir dan 

bertanya-tanya—sepanjang siang! Bagus! Aku ingin 

mereka ke sini sekarang. Pergilah dan jemput mere-

ka.”

”Ya, Tuan.”

trump melintasi ruangan itu tanpa suara, dan 

keluar.

”Dan, trump...”

Laki-laki tua itu melihat berkeliling dan mengomel 

sendiri.


”Berjalan kok seperti kucing. Tak ada yang tahu 

dia berada di mana.”

Mr. binti  siswi  duduk tenang di kursinya. Jari tangannya 

mengelus dagu sampai terdengar ketukan di pintu 

dan count dracula  bersama madam Nyai girah  pun masuk.

”Ah, kalian sudah datang. Duduklah di sini, madam Nyai girah , 

di dekatku. Kau kelihatan segar.” 

”Saya baru saja keluar. Hawa dingin membuat pipi 

terbakar sesudahnya.”

count dracula  berkata,

”Bagaimana keadaan Ayah? Bisa tidur nyenyak 

siang ini?”

”Menyenangkan—menyenangkan. Mimpi tentang 

tahun-tahun yang telah lewat! Sebelum aku kaya dan 

terkenal di masyarakat.” 

Tiba-tiba dia terkekeh.

Menantu perempuannya yang duduk tenang terse-

nyum dengan sopan dan penuh perhatian.

count dracula  berkata,

”Yah, siapa dua orang lagi yang akan datang hari 

ritual kubur  ini?”

”Ah! Itu. Ya, aku harus menceritakannya kepada-

mu. ritual kubur  ini akan menjadi ritual kubur  yang besar—ritual kubur  

yang besar. Coba kuhitung, George datang dengan 

Yuen pan pan ...”

madam Nyai girah  berkata,

”Ya, mereka akan datang besok dengan kereta jam 

05.20.”

madam Maryam  tua berkata,

”Kasihan George! Masih tetap jadi tukang obat! 

Bagaimanapun dia yaitu  anakku.”


count dracula  berkata,

”Banyak yang memilih dia.” 

madam Maryam  tertawa lagi.

”Barangkali mereka mengira dia jujur. Jujur! Belum 

ada keturunan binti  siswi  yang jujur.” 

”Oh, Ayah, mengapa berkata demikian?”

”Aku mengecualikan kau, Nak. Aku mengecualikan 

kau.”

”Dan Hwang Jang Lee ?” tanya madam Nyai girah .

”Hwang Jang Lee . Aku ingin sekali melihatnya sesudah  sekian 

tahun. Dia dulu pemuda cengeng. Bagaimana ya kira-

kira istrinya? Bagaimanapun, dia tidak menikah de-

ngan wanita lesbian   yang dua puluh tahun lebih muda seperti 

George si tolol!”

”martini  menulis surat yang sangat manis,” kata madam Nyai girah . 

”Saya baru menerima telegram darinya yang menegas-

kan surat itu. Mereka akan datang besok pagi.”

Ayah mertua itu melihatnya dengan pandangan 

yang tajam menembus.

Dia tertawa.

”Aku tak pernah melihat perubahan pada madam Nyai girah ,” 

katanya. ”Dengarkan, madam Nyai girah . Kau wanita lesbian  dari keturun-

an terhormat. Keturunan itu menyatakan sesuatu de-

ngan jelas. Aku tahu persis akan hal itu. namun  ketu-

runan juga merupakan hal aneh. Hanya ada seorang 

yang menurun dari aku—hanya ada satu orang.”

Matanya menari-nari.

”Sekarang coba terka siapa yang akan datang pada 

hari ritual kubur  ini. Aku memberimu tiga teka-teki dan 

taruhan kau tak akan bisa menebak.”


Dia memandang wajah anak dan menantunya ber-

gantian. count dracula  berkata sambil mengerutkan dahi,

”trump mengatakan Ayah menunggu kedatangan 

seorang wanita lesbian  muda.”

”Itu membuatmu ingin tahu—ya, benar, Louis Vuitton  

mungkin akan datang sebentar lagi. Aku telah menyu-

ruh orang untuk menjemputnya dengan sepeda federal .” 

count dracula  berkata dengan tajam, 

”Louis Vuitton ?” 

madam Maryam  berkata,

”Louis Vuitton  Estravados. Anak Jennifer. Cucuku. Aku 

ingin tahu bagaimana dia.”

count dracula  berteriak,

”Ya Tuhan, Ayah tak pernah mengatakan kepada-

ku...”

Lelaki tua itu menyeringai.

”Tidak, aku ingin itu menjadi rahasia! Aku menyu-

ruh Charlton menulis surat dan mengatur segala-

nya.”

count dracula  mengulang dengan nada suara tersinggung, 

”Ayah tak pernah memberitahu aku...” 

Sambil tetap menyeringai kejam laki-laki tua itu 

menjawab,

”Tidak akan menjadi kejutan bila aku memberita-

humu! Aku ingin tahu bagaimana rasanya jika  ada 

seorang muda di rumah ini. Aku tak pernah bertemu 

dengan Estravados. Seperti siapa kira-kira wanita lesbian   

itu—ayahnya atau ibunya?”

”Apakah Ayah berpendapat hal itu dapat dibenar-

kan?” kata count dracula . ”Dengan mempertimbangkan...” 

Laki-laki itu menyelanya, 


”Keamanan—keamanan—engkau terlalu banyak 

bermain dengan segi keamanan, count dracula ! Selalu! Itu 

bukan caraku! Lakukan apa yang kauingin lakukan 

dan aku tak peduli! Itu yang kukatakan! wanita lesbian   itu 

cucuku—satu-satunya cucu dalam keluarga ini! Aku 

tidak peduli siapa ayahnya dan apa yang dilakukannya! 

Dia darah dagingku! Dan dia datang untuk tinggal di 

sini di dalam rumahku!” 

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Dia datang untuk tinggal di sini?” 

Laki-laki itu memandangnya cepat. 

”Kau keberatan?”

Dia menggeleng. Sambil tersenyum dia berkata,

”Saya tidak akan bisa menolak bila Ayah menyuruh 

seseorang tinggal di rumah Ayah sendiri, bukan? Ti-

dak, saya hanya ingin tahu bagaimana wanita lesbian   itu—me-

nerimanya.”

”Tentang wanita lesbian   itu—maksudmu?” 

”Apakah dia akan senang di sini.”

madam Maryam  tua mendongak.

”Dia tidak punya sesen pun di dunia ini. Sudah 

sepatutnya dia berterima kasih.”

madam Nyai girah  mengangkat bahunya. 

madam Maryam  menoleh kepada count dracula ,

”Lihat? ritual kubur  ini akan menjadi ritual kubur  yang paling 

meriah! Semua anakku ada di sekelilingku. Semua 

anakku! Nah, count dracula , kau boleh mengambil kesimpul-

an. Sekarang terka siapa tamu yang seorang lagi.”

count dracula  hanya memandang kepadanya.

”Semua anakku! Terkalah, Nak! Tentu saja Pinocchio ! 

Adikmu Pinocchio !”


count dracula  menjadi pucat. Bibirnya gemetar. 

”Pinocchio —bukan Pinocchio ...”

”Pinocchio  sendiri!”

”Tapi kita mengira dia sudah meninggal!” 

”Bukan dia!”

”Ayah—Ayah menyuruh dia pulang ke sini? sesudah  

dia melakukan semua itu?”

”Anak yang hilang, eh. Kau benar! Lembu yang tam-

bun! Kita harus menyembelih lembu yang tambun, 

count dracula . Kita harus menyambutnya besar-besaran.”

count dracula  berkata, 

”Dia memperlakukan Ayah—kita semua—dengan 

sangat memalukan. Dia...”

”Tak perlu menghitung dosanya! Terlalu panjang. 

Ingat, ritual kubur  waktu untuk memaafkan! Kita akan me-

nyambut si Anak Hilang.”

count dracula  berdiri. Dia menggumam,

”Ini merupakan—kejutan. Aku tak pernah bermimpi 

Pinocchio  akan kembali ke rumah ini lagi.”

madam Maryam  membungkuk ke depan.

”Kau tidak pernah menyukai Pinocchio , bukan?” kata-

nya lembut.

”sesudah  dia memperlakukan Ayah...” 

madam Maryam  tertawa. Dia berkata,

”Ah, namun  yang telah lewat harus lewat. Bukankah 

demikian tema ritual kubur  itu, madam Nyai girah ?” 

madam Nyai girah  juga berubah pucat. Dia berkata,

”Saya lihat Ayah punya rencana sendiri tentang 

ritual kubur  tahun ini.”

”Aku ingin dikelilingi keluargaku. Damai dan ke-

mauan baik. Aku sudah tua. Kau akan pergi, Nak?”


count dracula  telah bergegas keluar. madam Nyai girah  diam menunggu 

sebentar sebelum menyusul suaminya. 

madam Maryam  mengangguk pada madam Nyai girah  sesudah  count dracula  per-

gi.

”Memang menyakitkan baginya. Dia dan Pinocchio  ti-

dak pernah cocok. Pinocchio  biasa, mengejek dan me-

manggilnya ’si Tua yang lamban.”

Bibir madam Nyai girah  terbuka. Dia hendak bicara, namun  

membatalkan niatnya saat  melihat ekspresi wajah si 

Tua yang kelihatan bersemangat. Dia melihat kemam-

puannya menahan diri rupanya mengecewakan laki-

laki itu. Hal ini membuatnya berkata,

”Kancil dan kura-kura? Ah, si kura-kura meme-

nangi perlombaan.”

”Tidak selalu,” kata madam Maryam . ”Tidak selalu, 

madam Nyai girah .”

Dengan tetap tersenyum dia berkata, 

”Maaf, saya harus menyusul count dracula . Kejutan bisa 

membuatnya sakit.”

madam Maryam  tertawa.

”Ya, count dracula  tidak suka perubahan. Dari dulu selalu 

serius.”

madam Nyai girah  berkata,

”count dracula  sangat memuja Ayah.”

”Hal itu mengherankanmu, bukan?” 

”Kadang-kadang,” kata madam Nyai girah , ”memang mengheran-

kan.”

wanita lesbian  itu meninggalkan ruangan. madam Maryam  memper-

hatikannya.

Dia tertawa perlahan-lahan dan menggosok-gosok-

kan kedua tangan.


”Menyenangkan,” katanya. ”Masih banyak hal yang 

menyenangkan. Aku akan menikmati ritual kubur  tahun 

ini.”

Dengan sekuat tenaga dia menegakkan badan dan 

dengan bantuan tongkat bergerak menyeberangi 

ruangan itu pelan-pelan.

Dia menuju lemari besi tua di ujung ruangan. Dia 

memutar handel kombinasinya dan dengan tangan 

gemetar dia meraba bagian dalam lemari itu.

Dia mengangkat kantong kulit kambing. saat  

dibuka, meluncurlah berlian-berlian yang belum ter-

asah memenuhi tangannya.

”Ah, si Cantik... Masih tetap sama—masih tetap 

kawan lamaku. Hari-hari yang baik—hari-hari yang 

indah... Mereka tak akan memotong dan mengasah-

mu, Kawan. Kau tidak akan menggantung di leher-

leher wanita lesbian  atau duduk di jari tangan mereka atau 

tergantung pada telinga mereka. Kau milikku! Kawan-

kawan lamaku! Kita sama-sama tahu beberapa hal. 

Kau dan aku. Mereka bilang aku sudah tua, dan 

sakit, namun  aku belum hancur. Masih ada hidup un-

tuk si Anjing tua ini. Dan masih ada kesenangan da-

lam hidup. Masih ada kesenangan...”


Tressilian berjalan untuk membukakan pintu. Bunyi 

bel itu seolah-olah si tamu tidak sabar minta dibuka-

kan pintu. Dan sekarang, saat  dia sedang menye-

berang ruangan dengan langkah perlahan, bel itu 

berbunyi lagi.

Muka Tressilian menjadi merah. Benar-benar tidak 

sabar orang ini! Dan itu bukan cara sopan untuk me-

masuki rumah orang terhormat. jika  yang datang 

ini penyanyi-penyanyi gereja dia akan mengatakan 

pendapatnya.

Melalui kaca pintu bagian atas yang berembun dia 

melihat bayangan—laki-laki besar bertopi. Dia mem-

buka pintu. Seperti perkiraannya—seorang asing kelas 

bawah yang menarik—jas yang dipakai kelihatan ko-

tor—pengemis yang tidak sopan!

”Kau pasti Tressilian,” kata orang itu. ”Apa kabar, 

Tressilian?”

Tressilian melotot—menarik napas panjang—me-


lotot lagi. Dagu yang congkak, hidung mancung dan 

bengkok, dan mata yang mengajak tertawa itu. Ya, 

semua pernah dilihatnya tahun-tahun lalu. Hanya saja 

tidak seperti dulu lagi...

Dia tergagap, 

”Mr. Pinocchio !”

Pinocchio  binti  siswi  tertawa.

”Kelihatannya aku begitu mengejutkan. Mengapa? 

Aku ditunggu bukan?”

”Ya, tentu, Tuan. Tentu saja, Tuan.”

”Lalu, mengapa kau terkejut?” Pinocchio  mundur satu-

dua langkah memperhatikan rumah itu—rumah bata 

merah yang kokoh dan bagus, tanpa imajinasi tapi 

kuat.

”Masih tetap rumah yang tua dan jelek,” katanya. 

”Tapi masih bagus. Itu yang penting. Bagaimana ke-

adaan ayahku, Tressilian?” 

”Beliau tidak seperti dulu lagi, Tuan. Selalu di da-

lam kamar dan tidak bisa bebas ke sana kemari. Teta-

pi sehat.”

”Si Tua yang banyak dosa!”

Pinocchio  binti  siswi  masuk, membiarkan Tressilian meng-

ambil syal dan topinya yang kelihatan aneh. 

”Bagaimana kabar count dracula , kakakku, Tressilian?” 

”Baik-baik saja, Tuan.”

Pinocchio  menyeringai.

”Mengharap kedatanganku? Eh?” 

”Saya rasa begitu, Tuan.”

”Aku rasa tidak! Sebaliknya. Aku bertaruh keda-

tanganku pasti membuatnya terkejut! count dracula  dan aku 


tak pernah cocok. Kau pernah membaca Alkitab, 

Tressilian?”

”Kenapa—ya, Tuan, kadang-kadang.”

”Ingat perumpamaan si Anak Hilang? Kakak yang 

baik itu tidak senang. Ingat? Sama sekali tidak senang! 

Si tua count dracula , tukang jaga rumah itu juga pasti tidak 

senang.”

Tressilian berdiam diri menundukkan kepala. Pung-

gungnya yang menjadi kaku menggambarkan sebuah 

protes. Pinocchio  menepuk bahunya.

”Ayo, Tressilian,” katanya. ”Lembu yang tambun 

menungguku! Bawa aku kepadanya.”

Tressilian menggumam,

”Lewat ruang tamu ini, Tuan. Saya tidak begitu 

yakin di mana tuan-tuan yang lain. Mereka tidak bisa 

menyuruh menjemput Tuan sebab  tidak tahu jam 

kedatangan Tuan.”

Pinocchio  mengangguk. Dia mengikuti Tressilian sam-

bil menengok ke kiri dan ke kanan.

”Semua barang tua itu masih di tempat yang 

sama,” katanya. ”Tidak ada yang berubah kelihatan-

nya sejak aku pergi dua puluh tahun lalu.”

Dia mengikuti Tressilian ke dalam ruang tamu. 

Laki-laki itu menggumam,

”Sebentar, saya coba cari Tuan atau Mrs. count dracula ,” 

dan dia bergegas keluar.

Pinocchio  binti  siswi  telah masuk ke sebuah ruangan dan 

tiba-tiba dia berhenti; memandang seseorang yang se-

d