• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

pengertian ruh


 Pengertian Ruh 

Untuk memahami persoalan ruh, marilah kita kaji ayat-ayat berikut :  Ayat; 87. Surat Al Baqoroh 

: “dan sungguh telah kami berikan Al Kitab kepada Musa dan kami utus sesudahnya beberapa 

seorang Rasul, dan kami berikan kepada Isa Ibn Maryam beberapa Mukjizat yang nyata. Dan 

kami perkuatkannya dengan ruh yang disajikan. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul, 

yang membawa sesuatu yang tidak kamu sukai, maka (kemudian ) kamu menyombongkan diri ? 

Maka sebagian Rasul kamu dustakan dan sebagian yang lain kamu bunuh” 

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Isa relah diperkuat dengan ruh yang disucikan. Pada 

umumnya orang yang mengartikan Ruh yang disucikan (Rukhul Qudus) = Jibril. Dan mengingat 

bahwa tugas Jibril yaitu  sebagai utusan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para Rasul, 

sedang Rasul bukan hanya Nabi Isa saja, maka mengapa untuk Rasul-rasul lain yang tentunya 

juga memperoleh wahyu sebagaimana diperileh oleh Nabi Isa—tidak pernah disertai keterangan 

: Diperkuat dengan Rukhul qudus ? Ini mengandung arti bahwa Ruhul Qudus bukan Jibril, sebab 

Jibril akan senantiasa mendampingi setiap Rasul, sebab  tugas Jibril penyampai wahyu dan 

bukan hanya khusus mendampingi Isa. Justru sebab  salah pemahaman inilah sesatlah kaum 

nasrani dengan ajaran : Trinitasnya. Trio Tuhan yang terdiri dari : Tuhan Bapak yang ada si 

Surga, Tuhan anak dalam wujud Nabi Isa dan Ruhul Qudus yaitu Jibril. Prinsip Rukhuk Qudus 

Jibril harus kita kaji kembali. 

Sekurang-kurangnya ada tiga buah ayat lagi yang menyebutkan tentang Rukhul Kudus. Antara 

lain : Al Baqoroh 253, Al Maidah 110 dan An Nahl 102. Marilah pengertian Ruhul qudus dari 

ayat 87 itu kita fushshilatkan dengan Al Baqoroh 253. “ Itulah Rasul yang lain. Diantara mereka 

ada Rasul yang Allah berbicara langsung dengan dia. Dan Allah telah mengangkat sebagian 

mereka beberapa derajat lebih tinggi dari yang lain. Dan kami telah berikan kepada Isa anak 

Maryam, tanda tanda yang nyata dan kami telah menguatkannya dengan Ruhul Kudus. Dan 

sekiranya Allah berkehendak tentulah tiada berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah 

rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda yang nyata, akan namun  

mereka perselisihkan. Maka diantara mereka ada yang beriman, dan ada pula yang tidak 

beriman. Dan sekiranya Allah berkehendak, tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan. Akan 

namun  Allah mengerjakan apa yang Ia kehendaki. 

Pemahaman :Meskipun semua para mursalin itu yaitu  utusan Allah, semuanya pantas untuk 

diteladani dan layak untuk diikuti. Namun sebagian mereka mendapat keistimewaan-

keisimewaan tertentu. Keistimewaan atau keutamaan tertentu hanya kehendak Allah dan hanya 

Allah saja yang mengetahui persis dari segala hikmahnya. Misalnya : 

a. Nabi Adam disebut dengan Kholqillah, sebab  Adam diciptakan langsung oleh Allah, 

tanpa perantara. Lihat Ali Imroon 59. 

b. Nabi Ibrahim diberi gelar “Kholilullah”. Kesayangan Allah. sebab  semua tugasnya 

diselesaikan dengan sangat tuntas. Lihat An-Nisa 125 

c. Nabi Musa berpredikat Kalamullah. Sebab hanya dia yang pernah pernah langsung diajak 

berbicara dengan Allah. Nabi musa memperoleh wahyu tanpa perantara Jibril. An Nisa 

164 

d. Isa Ibn Maryam digelari Ruukhillah. Sebab dia diperkuat dengan ruhul qudus. 

e. Nabi Muhammad berfungsi sebagai “Rakhmatan Lil Alamin = pembawa rakhmat untuk 

semesta alam. Lihat An- Anbiya 107 

 

Jadi Ruhul Qudus itu yaitu  suatu keistimewaan yang khas bagi Nabi Isa. Dan sesudah kita 

selesai membahas ayat ini, kita akan kembali kepada ruhul Kudus yang menjadi keistimewaan 

Nabi Isa. “ Akan namun  Allah mengerjakan apa yang Ia kehendaki, yaitu bahwa bunuh-bunuhan, 

sesudah zaman Rasul, padahal mereka sudah mendengar berbagai keterangan mengenai 

keagamaan. Marilah kita Lihat peristiwa sejarah manusia : 

a. Perang Salib merupakn perang antara agam langit untuk memperebutkan tempat suci 

yaitu Baitul Maqdis. Kaum muslimin dan orang nashara saling bunuh membunuh sebab  

persoalan agama. 

b. Kasus perang di eropa antara Katolik dan Protestan menimbulkan korban yang tidak 

sedikit. 

c. Perang saudara antara Ali Bin Abi Tholib dengan Ma’awiyah memakan banyak korban. 

Demikan contoh-contoh yang bisa kita ambil dari sejarah. Dan marilah kita coba mencari apa 

yang menjadi seba-musabab dari timbulnya peperangan ini . 

a. Agama yaitu  sesuatu yang sangat peka. sebab  agama sesorang bisa menjadi demikian 

emosionalnya, yang dengan sendirinya mudah tersinggung. Mudah tersinggungnya inilah 

yang biasanya meletupkan insiden yang menjadi penyeba khusus dari suatu peristiwa 

berdarah. 

b. Masalah agama yaitu  masalah yang pelik, yang membutuhkan pemahaman yang 

sesungguhnya serius. sebab  pada umumnya dari manusia yaitu  berpembawaan 

pemalas, maka mereka tidak mau bersusah-payah untuk memahami masalah agama yang 

pelik ini . Dan sebagai akibatnya akan mudah sekali timbul kesalahpahaman. 

Kesalahpahaman pada mulanya diawali dengan cekcok mulut, yang akhirnya berujung 

dengan kekerasan fisik, yang jika dalam ukuran besar melibatkan umat tentu bisa terjadi 

peperangan. 

c. Dasar agama yaitu  ke-Ikhlasan. Jika orang beragama telah kehilangan ke-Ikhlasannya, 

maka sesungguhnya dia telah kehilangan agamanya. Dia sebenarnya sudah tidak 

beragama lagi! Sebab secara ukhrowi dia tidak akan mendapatkan hasil usahanya selama 

perjuangannya di Dunia. Mengapa begitu ? Lalu untuk siapa dia beramal ? Mungkin 

untuk ambisinya atau untuk kehormatannya  atau kepentingan ekonominya. Yang penting 

jika bukan sebab  keikhlasannya maka berarti bukan untuk Allah, namun  untuk selain Nya. 

Dan jika sudah tercabut ke-Ikhlasannya maka akan berlaku : Tujuan menghalalkan segala 

cara, sehingga bunuh-membunuh bila perlu diperlukan demi tercapainya maksud.  

d. Azas Kebebasan beragama. Antara manusia sesamanya, hanya menjadi pengingat satu 

sama lain. Tidak lebih dari itu. Bikan jadi pemaksa kehendak. Jika Prinsip kebebasan itu 

kita lepaskan maka yang pertama-tama akan terjadi yaitu  cara beragama tanpa disertai 

kesadaran beragama. Akibatnya Dhohir beragama, namun  hakikinya tidak beragama. Orang 

yang kosong seperti ini akan mudah dihasut untuk melibatkan diri dalam suatu 

pergolakan yang hanya akan menimbulkan bencana. 

e. Prinsip bahwa peperangan bersifat darurat. Allah hanya mengizinkan melakukan 

peperangan untuk kepentingan menghilangkan fitnah. Dan fitnah itu yaitu  suatu usaha 

yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghalangi peribadatan kita. Dan inilah 

yang sesungguhnya maksud dari ungkapan : Al Fitnatu Asyaddu Minal Qotli = Fitnah 

lebih kejam daripada pembunuhan ialah bahwa tindakan orang kafir merintangi 

peribadatan kita yaitu  jahat. Dan tingkat kejahatannya lebih besar dari pada pembalasan 

yang kita lakukan berupa pembunuhan dalam peperangan. Kita tidak akan berperang 

kecuali kita kehilangan hak kemerdekaan kita untuk melaksanakan peribadatan . Kita 

mengenal dua macam kekafiran : Kafir Kharby dan kafir dimmy, kafir kharby yang 

memerangi dan kafir dimmy yang kita lindungi. Bunyi ayat Al baqoroh 191 “Bunuhlah 

mereka itu dimana saja kamu dapati dan usirlah mereka itu sebagaimana mereka 

mengusir kamu. Fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan. Dan janganlah kamu 

perangi mereka di sisi Masjidil Kharam, kecuali jika kamu diperangi disana. Jika mereka 

memerangi kamu, maka bunuhlah mereka. Demikian balasan untuk orang kafir. 

f. Memudarnya wibawa agama. Untuk ummat kita –umat islam—puncak dari segala 

puncak kebaikan ummat terjadi di zaman Khoeroh Ummah. Periode ini kurang lebihnya 

berlangsung 30 tahun. Berakhir pada Kholifah Ali Bin Abi Tholib. Sesudah itu, zaman 

kesultanan, zaman dimana istana lebih dominan daripada agama. Makin lama makin 

pudarlah wibawa wibawa agama hingga sekarang, umat telah kehilangan mutunya 

sebagai ummat yang beriman. Dan inilah sunnatullah yang harus berlaku !dan sudah 

barang tentu ummat yang tanpa mutu seperti ini akan mudah terlibat dalam peristiwa-

peristiwa yang sebenarnya tidak pernah menguntungkan kejayaan agama. 

 

Marilah kita kembali kepada masalah : apa yang dikehendaki oleh Allah tentang berbunuh-

bunuhnya manusia. Berdasarkan uraian ini kiranya Allah berkenan menguji manusia, dalam hal-

hal kita sebagai berikut : 

a. Sentimen keagamaan yang timbul dari dari kepekaan agama berdampak ke arah ingin 

menjadi pahlawan di saat damai tidak ada peperangan ataukah berdampak syuhada dari 

jihad fi sabilillah. Orang yang beriman dan memiliki keberanian tentu akan menyimpan 

keberaniannya di masa damai dan baru akan mendemonstrasikannya pada saat benar-

benar dibutuhkan pada waktu terjadinya peperangan. 

b. Rasa tanggapnya tehadap peliknya masalah agama apakah berkecenderungan 

bermujaddalah atau perdebatan yang menimbulkan permusuhan ataukah ke arah mencari 

kebenaran sejati dengan tempat rujukan pokok Al-Quran dan Hadist. Di dalam masalah 

agama, orang yang hanya senang untuk melakukan debat kusir, tandanya bahwa  dia 

tidak serius dalam agamanya. Orang yang serius dalam agamnya merupakan pembawa 

perdamaian dalam masalah kebenaran sejati. Sedang mereka yang tidak serius yaitu  

pembuat kerusuhan. 

c. Adapun ujian ke-Ikhlasan yaitu  bahwa orang yang ikhlas akan menempatkan 

kepentingan agamanya di atas kepentingan segalanya. Dan mereka yang tidak ihklas akan 

menempatkan kepentingan agama di bawah kepentingan yang lain. 

d. Orang yang beragama dengan penuh kesadaran mengetahui apa yang menjadi tanggung 

jawab atas dirinya dan tanggung jawab terhadap Allah atas orang lain. Mereka akan 

memegang prinsip : Peliharalah dirimu dan ahlimu dari siksa api neraka. Dan yang 

sebaliknya orang yang kosong akan menjadi penganjur bagi orang lain, namun  melupakan 

diri sendiri. Dia memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu. 

e. Cara pembelaan terhadap agama yang dibenarkan oleh Allah yaitu  hanya ditujukan 

terhadap kepentingan menghilangkan fitnah. Jenisnya peperangan sama sekali tidak 

diizinkan. 

f. Pengaruh wibawa agama dapat terlihat pada materialistis atau tidak materialitasnya para 

pengikutnya. Jika suatu agama sudah materialistis, maka runtuhlan wibawa dari agam itu. 

Agama yang tujuannya yaitu  akhirat, maka tujuan ini makin memudar berganti dengan 

serba kemunafikan, kepura-puraan untuk mengejar kepentingan pribadi namun  kedoknya 

agama. Dan dalam keadaan seperti inilah dalam keadaan konflik masing-masing pihak 

sedang mengejar kepentingan sendiri-sendiri, maka satu sama lain baik antara orang-

orang yang seagamanya maupim berlainan agama berhadap-hadapan sebagai lawan dari 

kepentingan yang dibelanya. Tingkat permusuhannya, dimulai dari saling menjegal dan 

bila perlu saling membunuh.  

 

Kesimpulan :Peperangan agama yang seharusnya tidak bisa terjadi kecuali jika prinsip Al 

Fitnatu Asyaddu Minal Qotli terpaksa harus dilaksanakan , sebab  prinsip ini sudah dikalahkan 

oleh : Sentimen agama yang tidak sehat, nafsu permusuhan yang timbul sebagai akibat 

kebuntuan dalam mencari kebenaran agama, dan memudarnya wibawa agama, sehingga 

terjadilah pengaliran darah yang seharunya tidak harus tejadi. 

Catatan :Jenis peperangan yang tampak dhohirnya tidak berlatar belakang agama, seperti perang 

dunia I dan II, perang Vietnam, perang Korea, perang kemerdekaan dan terakhir perang teluk, 

penyebabnya yaitu  sebab  ekonomi. Orang menjadi materialistis disebabkan oleh memudarnya 

agama sehingga darah manusia menjadi halal sebab nya. 

Perhatian :Peristiwa peristiwa yang melukiskan permusuhan agama dan contoh paling kecil : 

masalah khilafiyah hinnga terjadi peperangan sebagai contoh terbesarakan selalu disaksikan oleh 

dunia, hingga terjadinya hari kiamat. Sebab itulah ujian dari Allah tentang hakekat kehidupan ini. 

Kita ,,tidak usah terkejut jika membaca sejarah bahwa di Baghdad pernah terjadi peristiwa bunuh 

membunuh diantara pemeluk agama islam madzhab Syafi’I dengan madzhab Hambali hanya 

sebab  perkara : Mengeraskan bacaan Basmallah dalam Sholat. Demikkianlah fakta yang ada! 

Oleh sebab itu bukankah yang terbaik bagi kita yaitu  melaksanakan perintah : Quu anfusakum 

wa ahlikum naaro ! Semoga kita lulus dari ujian ! 

 

Masalah : Rukhul qudus 

 

Seperti yang telah kita ketahui bahwa ruhul qudus yaitu  keistimewaan Nabi Isa. Pada ayat 253 

al Baqoroh Allah hanya menyatakan “Kami telah menguatkannya dengan ruhul qudus. Apa 

keistimewaan yang Allah berikan pada Nabi Isa dengan rukhul qudusnya ? Yang bisa menjawab 

ayat ini dengan setepeat-tepatnya yaitu  ayat –ayat berikut :An-Nisa 171. “Hai Ahli kitab, 

janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu dan janganlah kamu berkata terhadap Allah 

melainkan dengan kebenaran. Sesungguhnya Al Masih Isa anak Maryam, hanyalah seorang 

Rasul Allah dan kalimatnya, disampaikanNya kalimat itu kepada Maryam dan ruh itu dari 

padaNya. Sebab itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulnya dan janganlah kamu 

katakan Tuhan itu bertiga. Berhentilah kamu, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allah 

Tuhan yang Esa. Maha suci dia, dari mempunyai anak. Baginya apa apa yang ada di langit dan 

apa apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai wakil. 

Pemahaman :Yang dimaksud dengan berlebihan-lebihan dalam agama yaitu  meyakini dan 

mengimani bahwa Isa ibn Maryam yaitu  putra Tuhan sebab  : ruhnya berasal dari Tuhan, hanya 

sebab  pemahaman terhadap bagian ayat yang menyatakan: “dan ruh itu daripadanya” = yaitu  

ruhnya Allah sehingga Isa menjadi Putra Tuhan. Yang benar yaitu  : 1. Al Masih Isa Ibn 

Maryam hanyalah rasul dari Allah. 2. “dan kalimatnya” = kata, Kun. Dari Allah telah 

disampaikannya kepada Maryam dan kata Kun benar-benar berasal dari Allah dan bukan yang 

lain. 

Singkatnya :Nabi Isa hanyalah seorang Rasul dari Allah sedang kejadiannya di istimewakan 

oleh Allah , tidak dari prosedur Sunatullah yang lazim. namun  melalui kehendakNya dengan kata 

: Kun, sehingga jadilah Nabi Isa sebagaimana dikehendaki Allah. Maksudnya jika Allah 

berfirman : Kun terhadap kejadiannya Nabi Isa, maka fa yakunlah Nabi Isa ini , artinya = 

maka jadilah Nabi Isa ini . Dan inilah ilmu Allah !. Untuk lebih jelasnya, kita periksa Al 

Imroon 45 “(ingatlah) ketika malaikat berkata : ya Maryam Sesungguhnya Allah memberi kabar 

gembira kepada engkau dengan kalimat dari padaNya(yaitu seorang anak), Namanya : Al Masih 

Isa ibn Maryam, yang mempunyai kebesaran di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang 

yang dekat dengan Allah” 

Penjelasan :Kejadiannya Nabi Isa yaitu  melalui kata Kun dari Allah. Sementara itu bisa kita 

Fushshilatkan dengan Al Imroon 59 : “Sesungguhnya umpama (kejadiannya) Isa di sisi Allah, 

seperti (kejadiannya) Adam. Allah jadikan dia dari tanah. Kemudian Allah berkata padanya : 

Jadilah ! maka jadilah ia “. Untuk melengkapi uraian mengenai masalah Ruh, marilah kita kutip 

ayat 26-29 Al Hijr : “Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari tanah kering, dari tanah 

hitam yamg telah berubah. Jin kami ciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas. 

(Ingatlah) ketika Tuhan berkata kepada malaikat : “Sesungguhnya Aku meciptakan manusia dari 

tanah kering yang telah berubah. Apabila Aku sempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan ke 

dalamnya dari Ruh-ku, maka meniaraplah mereka sujud kepadanya (Adam)” 

Penjelasan :Maksud dari “dan kutiupkan ke dalamnya dari RuhKu = dan kufirmankan untuk 

kesempurnaan Adam itu dengan kalimat : Kun !. Jika kata Kutiupkan ke dalamnya diartikan 

secara harfiah tentu akan memberikan kesan batang tubuh adam yang terbuat dari tanah itu 

seolah-olah seperti gelembung kosong yang kemudian Allah meniupkan Ruhnya atau nyawanya 

kedalamnya. Yang seperti ini teknologinya manusia dan bukan teknologi dari Allah yang cukup 

dengan kata : Kun. 

Kesimpulan :Kata ruh harus diartikan kalimat Kun dari firman Allah bila Dia menghendaki 

sesuatu harus berwujud. Dan kata ruh sama sekali bukan berarti nyawa. Ruhul qudus bukan 

Jibril, namun  kalimat Kun yang merupakan ilmu dan teknologinya Allah bila Dia berkenan 

menghendaki sesuatu. 

 

Marilah kita kembali pada ayat An Nisa 171 yang sedang kita kaji : “dan janganlah kamu berkata 

terhadap Allah melainkan dengan kebenaran = Janganlah kamu katakana bahwa Tuhan bertiga, 

yaitu : Trinitas yang terdiri dari Tuhan Bapa, Tuhan putra =yesus, dan Ruhul Qudus. Atau Allah, 

Yesus dan Maryam. Yang benar yaitu  : 1. Allah yaitu  Tuhan yang Maha Esa. 2. Bahwa Allah 

Maha suci dari segala sifat-sifat dari mahkluknya, seperti punya anak dan lain-lain seperti yang 

termaktub di dalam Kejadian pasal 6 Ayat 6 yang mengatakan “Maka bersesallah Tuhan sebab 

telah dijadikannya manusia di atas bumi, maka ia menduka citakan hatinya”. Selanjutnya Allah 

memerintahkan kepada Ahli kitab: “Berhentilah kamu, itu lebih baik bagimu! Maksudnya yaitu  

: 1. Supaya Ahli Kitab kembali pada kemurnian tauhid. 2. Jangan mengubah isi Taurat dan Injil 

(jangan berkata mengenai Allah kecuali dengan kebenaran). Maksud dari : “Baginya apa-apa 

yang di langit dan apa apa yang di Bumi = Semua yang ada di Bumi yaitu  makhluk Allah 

termasuk Nabi Isa pun yaitu  makhluk Allah dan bukan Putra Allah sebagaimana diajarkan oleh 

aslinya agama langit. Oleh sebab Allah itu sesungguhnya Maha perkasa, maka walaupun Dia 

tunggal –Allah yaitu  Esa—namun  baginya cukup seorang diri untuk menjadi wakil atau pelindung 

dari semua makhluknya 

 

Kesimpulan dari An Nisa 171 yaitu  : 

a. Meng-ada-ada di dalam masalah ketuhanan sebagaimana dilakukan oleh Ahli Kitab dan 

kaum musyrikin pada umumnya –meninggalkan ajaran kemurnian tauhid—dinamakan 

berlebih-lebihan dalam agama. 

b. Mengubah-ubah isi kitab suci yaitu  : Mengatakan mengenai Allah tanpa didasari 

kebenaran. 

c. Kejadiannya Nabi Isa yaitu  berdasarkan : Kalimat KunNya dari Allah.  

d. Ajaran kemurnian Tauhid yaitu  : Semua yang ada di langit dan di bumi yaitu  milik 

Allah, tidak boleh dipertuhankan. 

e. Bagi orang beriman hanya membutuhkan Allah selaku pelindung. 

Catatan : 

a. Di dalam Bahasa semit –Bahasa arab dan ibrani—terdapat dua perkataan yang didalam 

Bahasa arabnya : Ibnun dan Waladun, yang keduanya mempunyai arti sama yaitu : anak. 

Beda antara keduanya ialah :Ibnun mempunyai arti majazi atau rati ungkapan, sedang 

waladun yaitu  arti yang sebenar-benarnya. Orang yahudi bukan tidak mengetahui—namun  

memang sengaja pura-pura tidak tahu—tentang makna : Uzer Ibnullah, misalnya yaitu 

Uzer kekasih Allah, bukan user anak Allah. Saking cerdasnya tokoh ini dia diberi gelar 

Ibnullah. Sebagaimana misalnya juga bisa terjadi bahwa orang yang sangat jahat bisa 

dinamakan “anak setan”, yang juga mempunyai arti majazi atau ungkapan, bukan arti 

anak setan dalam arti yang sebenarnya. namun  kaum nasrani telah mengartikan kata Ibnun 

dengan waladun, sehingga akibatnya nabi Isa yang Ibnullah diartikan sebagai putra Allah. 

Inilah kesalahan kedua mereka sesudah kesalah mengartikan ruhillah dengan nyawa 

Allah. 

b. Sehubungan dengan fakta bahwa Isa Ibn Maryam telah dipertuhankan oleh umat Nasrani, 

maka Rasullullah sedemikian khawatirnya terhadap kemungkinan kesalahan ummatnya 

sendiri sehingga beliau pernah bersabda : “Janganlah kamu angkat-angkat aku, 

sebagaimana orang Nasrani mengangkat-angkat anak Maryam. Aku ini lain tidak yaitu  

hamba Allah. Sebab itu katakanlah : hamba Allah dan utusan Allah” (H.R Bukhori) 

c. Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan kepada sahabat-sahabatnya : “Demi Allah. 

Tidaklah aku senang hati jika kamu angkat-angkat aku melebihi dari kedudukan yang 

telah didudukan aku oleh Allah padanya. Aku ini yaitu  Muhammad anak Abdullah, 

seorang hamba Allah dan Rasulnya. 

Dari pembahasan diatas ternyata memberikan kesimpulan bahwa ruh yaitu  ilmu dan 

teknologinya Allah, bila Dia berkenan mewujudkan sesuatu yang dikehendakinya, cukuplah 

baginya dengan hanya berfirman : kun maka fayakunlah apa yang Dia kehendaki. Untuk lebih 

meyakinkan lagi, marilah kita kaji lebih lanjut masalah ruh ini, satu dan lain hal agar supaya 

lengkaplah pembahasan ruh ini dan dengan lengkapnya uraian yang diharapkan bahwa kita akan 

makin yakin terhadap kemampuan Allah selaku Kholiq dengan teknologi Kun-Nya. 

Ayat An-nahl 1-9 : “ Telah hampir dating siksa Allah, maka janganlah kamu meminta 

dipercepat, Maha suci Allah dan Maha Tinggi dia dari pada apa yang mereka persekutukan(1). 

Allah mengutus Malaikat untuk melaksanakan ruh dari perintahnya kepada siapa yang 

dikehendakiNya, diantara hamba-hambaNya, yaitu hendaknya kamu membawa kabar takut, 

bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, sebab itu takutlah kamu kepadaKu(2). Allah telah 

menjadikan langit dan bumi dengan haq, Maha Tinggi Allah dari pada apa yang mereka 

persekutukan(3). Allah telah menjadikan manusia itu dari air mani, maka tiba-tiba manusia itu 

menjadi penantang yang nyata(4). Dan Allah telah menjadikan binatang-binatang yang empat 

kaki, kamu memperoleh padanya yang memanaskan badanmu dan beberapa manfaat lain dan 

dari padanya kamu makan(5). Pada binatang-binatang itu kamu mendapat keindahan, ketika 

kamu membawanya ke kandang dan ketika melepaskannya(6). Binatang-binatang itu membawa 

beban kamu ke negeri yang tidak dapat kamu sampai padanya, melainkan dengan susah payah. 

Sesungguhnya tuhanmu Maha Penyantun lagi maha Penyayang(7). (Dia cipatakan) Kuda, bighal 

dan keledai, supaya kamu mengendarainya dan menjadi perhiasan. Dan dia menciptakan apa 

yang tidak kamu ketahui(8). Hanya Allah menerangkan jalan yang lurus, diantaranya ada jalan 

yang bengkok. Kalau dia menghendaki, niscaya ditunjukiNya kamu semuanya(9). 

Pemahaman : ayat 1 : berbeda dengan Nabi-nabi sebelumnya , dengan Nabi Muhammad saw 

Allah terikat janji bahwa adzab baru akan jatuh bila yang bersangkutan telah sampai ajalnya. 

Sebagaimana diterangkan pada ayat An-Ankabut 53 : “Mereka(kaum Musrikin Quraisy) itu 

minta kepada engkau supaya disegerakan siksa itu. Kalau tiyaitu  janji yang sudah ditentukan, 

niscaya mereka ditimpa siksa itu. Demi siksa itu akan tiba pada mereka dengan sekonyong-

konyongnya, sedang mereka tidak sadar” 

Penjelasan :permintaan orang Quraisy itu bersifat olok-olok sebab  mereka sesungguhnya tidak 

yakin bahwa siksa Allah akan datang kepada mereka. Ayat ini memang ditujukan untuk kepada 

kaum musyirikan, ketika orang musyrikin meminta supaya—dalam arti menantang—siksa atas 

mereka dipercepat, Allah hanya menjawab : “Telah hampir datang siksa Allah”. Dan ketika 

Allah menjawab kaum orang musyrikin quraisy dengan firman : “ataa amrullohi”Maka 

gelisahlah hati para sahabat Rasulullah, sehingga turunlah kelanjutan ayat itu: “Fa laa tasta jiluu” 

= maka janganlah meminta untuk dipercepat, sehingga mereka merasa tenteram kembali 

(diriwayatkan oleh Marduwaih dari Ibn Abbas). Di ujung ayatnya Allah memperingatkan kepada 

kaum musyrikin bahwa Allah terlalu suci dan terlalu tinggi derajatnya jika hanya dibandingkan 

dengan berhala-berhaa yang mereka pertuhankan. 

Ayat 2 :, juga melayani ceewetnya kaum musyrikin Qurys. Orang-orang kafir bertanya kepada 

Muhammad : Bagaimana engkau mengetahui segala urusan-urusan itu, yang hanya diketahui 

oleh Allah sendiri ? Dan bagaimana engkau bisa mengetahui rahasia-rahasia Allah dan hokum-

hukumnya ? Maka Allah menjawabnya dengan ayat 2 ini : “Allah mengutus malaikat untuk 

melaksanakan Ruh dari perintahnya” = Allah mengutus malaikat untuk melaksanakan kehendak 

KunNya Allah agar supaya dikuasainya ilmu mengenai rahasia-rahasia Allah dan hukum-

hukumnya, yang mestinya hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Jelasnya : Allah mengutus 

Jibril untuk memberikan kursus mengenai : rahasia-rahasia Allah dan hukum-hukumnya dengan 

metodologi Ilmu dan Teknologi Kun. Kepada siapa siapa kursus itu diberikan ? Kursus itu 

diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya, diantara hamba-hambaNya. Dan tentuny a yang 

dimaksud yaitu  : para Nabi dan rasul. Bukan sembarangan orang beroleh kesempatan ini. 

Hanya orang-orang pilihan Allah saja yang diberi kesempatan menjadi pintar secara mendadak 

dan mengagumkan. Dan diantara orang yang pernah memperoleh kursus semacam ini tentunya 

Nabi kita Muhammad saw. Para Nabi dan rasul sesudah menguasai rahasia ketuhanan dan 

hukum-hukumnya. sebab  mereka telah dikursus dengan metodologi Kun, berkewajiban untuk : 

mengajar manusia/umatnya supaya : 1. Takut kepada Allah. 2. Hanya bertuhankan Allah. 3. 

Memahami bahwa Adzab Allah yaitu  pedih. = Dan dengan ilmu dan teknologi : Kun Allah, 

juga menjadikan : 

a. Langit dan bumi dengan sebenar-benarnya 

b. Manusia dari air mani 

c. Binatang ternak 

d. Binatang-binatang pengangkut seperti : kuda, Bighal, dan kedelai. = namun  dalam 

kenyataannya Allah yang Maha tinggi itu, oleh kebanyakan manusia telah : 

dipersekutukan dengan yang selainnya dan ditantang dengan cara yang nyata. Padahal 

Allah yang menciptakan kesemuanya ini, termasuk manusia. = yang dimaksud penantang 

yang nyata, menurut peristiwanya yaitu  –Ubay Ibn Khafah, yang tidak bisa percaya 

bahwa manusia akan dibangkitkan kembali besok pada hari kiamat sesudah menjadi 

tulang belulang, bahkan telah menjadi debu dan tanah. Dia datang kepada Rasulullah saw 

dengan membawa sepotong tulang yang sudah rusak berkata : Apakah engkau ya 

Muhammad mengajarkan bahwa Allah bakal menghidupkan tulang ini, sesudah yang 

rusak seperti ini ? berkenaan dengan kasus ini, maka turunlah An Nahl ayat 4 = manfaat 

binatang ternak bagi manusia yaitu  sedemikian besarnya seperti ; daging, susunya, 

sebagai alat angkut dan merupakan hiasan dan keindahan yang membawa perasaan 

bahagia tersendiri bagi pemiliknya dan yang melihatnya. = ayat-ayat yang relevan dengan 

masalah ternak yaitu  : 

a. Ayat : 21-22 Surat Al Mu’minun : “Sesungguhnya tentang binatang-binatang ternak 

itu menjadi Ibrokh(pengajaran) untukmu. Kami beri kamu dengan (air susunya) yang 

dalam perutnya dan binatang-binatang ternak itu banyak manfaatnya untukmu dan 

diataranya kamu makan (dagingnya)(21). Dan diatas binatang-binatang itu dan diatas 

kapal kamu diangkut”(22) 

b. Ayat : 79-80 surat Al Mu’min : “Allah menjadikan binatang-binatang ternak untukmu 

supaya kamu kendarai sebagiannya dan sebagiannya kamu makan (dagingnya)(79). 

Dan untukmu ada beberapa manfaat pada ternak itu, dan diatasnya kamu dapat 

menyampaikan hajat yang dalam dadamu dan diatas punggung ternak dan diatas 

kapal yang kamu diangkat(80) 

Catatan : Walaupun pada zaman sekarang, binatang sebagai alat transportasi sudah 

makin berkurang peranannya, namun  kiranya tidak mustahil jika dikatakan bahwa 

transportasi modern jaman sekarang ini pertumbuhannya tidak akan secepat seperti 

yang pernah kita saksikan sekiranya tenaga kuda tidak mengilhami manusia untuk 

menggantikannya dengan mesin. = pada ujung ayat 7, dinyatakan bahwa Allah Maha 

Penyantun dan Maha Penyayang. Penyantun yaitu  suatu sifat yang memperhatikan 

terhadap apa yang menjadi kebutuhan. Artinya Allah sangat memperhatikan 

kebutuhan manusia. Dan ini bisa dibuktikan bahwa segala yang ada di bumi memang 

disediakan bagi keperluan manusia. Gabungan penyantun dan penyayang menjadi 

sangat sempurna, yaitu semua milik Allah semua milik Allah diberikan untuk 

kepentingan kebahagian manusia. = ujung ayat 8 menyatakan : “Dan Dia 

menciptakan apa yang tidak kamu ketahui”. Ada pun penjelasannya sebagai berikut : 

Allah memiliki Ilmu dan teknologi ruh atau kun, untuk mewujudkan apa yang 

dikehendakiNya. Yang manusia biasa bisa melihat ciptaan Allah sangat terbatas. 

Dengan demikian sangatlah terbatanya pengetahuan manusia terhadap Kun nya Allah. 

Dan ini lah sebabnya mengapa Allah dalam Surat Al Isna 85 menyatakan : “mereka 

bertanya kepada engkau tentang Ruh (atau Kun). Katakanlah : Ruh (Kun) itu 

sebagina dari urusan Tuhanku. Kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit” 

Marilah persoalan ini kita fushshilatkan dengan : 

a. Ayat Al kahfli 109 : “katakanlah :”kalau sekiranya (air) lautan menjadi tinta untuk 

(menuliskan) Kalimat Kun nya Tuhanku, niscaya keringlah  air lautan itu, 

sebelum habis kalimat Kun Nya tuhan, sekalipun kami datangkan tinta sebanyak 

itu sebagai tambahan” 

Penjelasan : Yang terbanyak yaitu  kalimat Kun nya Allah yang difirmankan 

untuk memenuhi permintaan penduduk surge 

b. Ayat Luqman 27 : “Kalau sekiranya pohon-pohon di Muka Bumi pena dan Laut 

menjadi tinta, ditambaha kemudian dengan tujuh laut lagi, niscaya tidak habis 

kalimat Allah(dituliskan). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha 

Bijaksana: 

Kesimpulan : 

1. Kalimat atau Kata Ruh atau kalimat Kun yaitu  ilmu dan teknologi Allah 

sebagai Maha Pencipta atau Kholiq. 

2. Pengetahuan manusia tehadap kalimat ruh sangat sedikit. = Paket yang sedang 

kita bicarakan : ayat 1-9 An Nahl yaitu  mengenai : Ilmu dan Teknologi 

kalimat Ruh yang merupakan ilmu Allah secara monopoli. Tidak pernah akan 

ada pihak lain mana pun yang memlikinya. Hanya sang Maha Pencipta sajalah 

yang memiliki ilmu khusus ini! Yang menjadi persoalan sekarang yaitu  : 

Apakah hubungan anatara kalimat Ruh dengan peringatan Allah yang tertulis 

pada pangkal ayat 9. : “Hanya Allah menerangkan jalan yang lurus, 

diantaranya ada jalan yang bengkok”. Jalan yang lurus yaitu  jalan yang tidak 

bengkok, yang tidak sesat, berarti yang tidak Musyrik. Dan Musrik artinya 

menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluknya. Contoh : Allah 

mempunyai anak. Lalu misal : Di dalam mencipta makhluknya Allah memang 

bekerja. Allah itu sendiri Maha Bekerja. namun  ketahuilah bahwa cara Allah 

tidak sama seperti cara bekerja manusia. Maksud ujung ayat :”Sekiranya 

Allah menghendaki, niscaya ditunjukinya kamu semuanya = sekirannya Allah 

tidak bermaksud menguji manusia, maka semua manusia –tanpa melalui 

perjuangan beribadah—secara otomatis tidak musyrik, sehingga masuk sorga 

semuanya. 

 

 

 

 

Ruukhul Amien = Ruukhul Qudus 

 

Ayat 192-212 Asy-Syu’ara : “Dan bahwasanya Al Quran yaitu  kitab yang 

diturunkan oleh Tuhan yang memelihara segala alam ini (192). Telah diturunkan 

dengan Ar-Ruukhul Amien (193). Ke dalam jiwa engkau supaya menjadi salah 

seorang yang membawa kabar takut (194). Di turunkan dalam bahasa arab yang 

nyata. (195). Dan bahwanya sebutan Al Quran ini sungguh terdapat dalam kitab-kitab 

orang-orang dahulu (196). Apakah tidak menjadi suatu tanda bagi mereka bahwa ahli 

– ahli agama  Bani Israel megetahui akan hal ini(197). Dan sekirannya kami turunkan 

Al Quran itu datas sebagian orang Ajam (198). Lalu dibacakannya kepada mereka, 

tiyaitu  mereka beriman (199) Sedimikan kami telah teguhkan nafsu mengingkarkan 

itu  dalam jiwa-jiwa orang yang berdosa(200). Maka mereka tidak akan beriman 

hingga mereka melihat adzab yang pedih (201). Maka adzab akan kudatangkan 

kepada mereka secara tiba-tiba sedang mereka tidak mengetahuinya (202) Maka 

mereka berkata : Apakah tidak diberikan perunundaan kepada kita ini ? (203). 

Apakah mereka meminta di segerakan adzab kami (204). Bagaimana pendapat 

engkau jika kami berikan kepada mereka  kejayaan hidup beberapa lama masanya 

(205). Kemudian datang kepada mereka adzab yang dijanjikan (206). Tidyaitu  

kejayaan mereka itu dan kemewahan hidupnya memlihara mereka dari adzab (207). 

Dan tidak kami binasakan suatu kota melainkan telah ada baginya Rasul-rasul yang 

dipertakutkan mereka (208). Untuk peringatan kepada mereka. Dan tiyaitu  kami ini 

orang yang dzolim (209). Dan tiyaitu  setan-setan itu yang menurunkannya dan tidak 

akan sanggup menurunkannya (211). Bahwasanya setan-setan itu sungguh 

disingkirkan dari pada dapat mendengar pembicaraan malaikat (212). 

Pemahaman :(192) kiranya cukup jelas. Yakni al quran bukan berasal dari siapa pun 

kecuali dari Allah.(193-194) Menerangkan mengenai teknik penyampaian dan tujuan 

diturunkannya Al Quran/ Allah melalui Jibril dengan menggunakan ilmu dan 

teknologi rukhul amien = kalimat rukhul qudus = kalimat Kun, menanamkan Al 

Quran dalam dada dan pengertian jiwa nabi saw sehingga beliau mengerti betul 

tentang : 1. Maknanya. 2. Maksud dan tujuannya. 3. Cara menyampaikannya kepada 

manusia. 4. Cara menerpakannya hokum-hukumnya kepada umat. Inti penyampaian 

da’wah Rasulullah saw—dan demikian juga pada da’wah pada zaman kapan pun—

yaitu  agar manusia mempunyai rasa takut kepada Allah. Manusia harus menjadi 

ulama –sebagai pewaris atau generasi penerus Rasulullah saw—sehingga agama 

islam lestari adanya. Dengan demikian kualitas umat tidak merosot menjadi umat 

yang ma’siyat seperti sekarang keadaannya. Uamt tanpa mutu seperti buih air bah. 

Umat yang takut pada Allah yaitu  umat yang beriman. Yang yakin pada agamaNya, 

keakinan yang bukan sekedar keyakinanyang terucapkan pada mulut. namun  terhunjam, 

tertanam dalam hati yang bisa dibuktikan dengan amalan peribadatan yang  nyata, 

baik amalan fisik maupun amalan harta. = jika Allah menetapkan dan menguatkan ke 

imanan dalam dada dan jiwa orang –orang neriman dengan ilmu dan teknologinya 

kalimat Ruh atau kalimat Kun sebagaimana disebutkan oleh ayat 22 Al Mujahaddah 

“Tidak kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir yang berkasih 

sayang dengan kaum-kaum yang melawan Allah dan Rasulnya, walaupun orang itu 

Bapa Mereka, anak mereka atau saudaera mereka atau keluarga mereka. Itulah orang-

orang yang dituliskan oleh Allah keimanannya di dalam hati-hati mereka dan Allah 

menguatkan mereka dengan sesuatu ruh dari padaNya; dan Allah masukan mereka ke 

dalam surge yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. 

Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi Allah. Itulah Hizbullah. Ketahuilah 

bahwa Hizbullah itu orang-orang yang mendapat kemenangan. 

Penjelasan :Azbabun Nuzulnya ayat ini mengenai Abu Ubaidah Ibn Jarrah yang 

dalam pertempurannya badan Abu ubaidah selalu di tantang oleh ayahnya. Dan Abu 

Ubaidah berusaha menghindarkan diri. Oleh sebab  tantangan ayahnya bersifat sangat 

mendesak, maka dengan terpaksa menamatkan riwayat ayahnya. Seorang muslim 

yang sejati yaitu  yang cintanya pada Allah, Rasul dan Jihad agamanya lebih besar 

terhadap orang tuanya. Dan tehadap orang macam Abu Ubaidah Allah mengeluarkan 

Surat Keputusan Kalimat ruh demi memperkukuh keimannanya. Dan siapa mereka 

itu ?mereka yaitu  Hizbullah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir yang 

benar-benar bersifat tegar terhadap musuh-musuh Allah dan Rasulnya. Walaupun 

mereka itu : bapaknya atau anaknya atau saudaranya atau familinya sendiri. 

Kesimpulan : Hizbullah yaitu  pejuang agama di medan tempur, yang benar-benar 

beriman pada Allah dan hari akhir, yang benar-benar bersifat tegar terhadap musuh-

musuh Allah dan Rasulnya sehingga sebab nya Allah mengukuhkan keimanannya 

dengan kalimat Ruh Nya.  

Salah satu tugas Rasul yaitu  : Litakuuna minal mundzarin = menjadi pembawa 

kabar takut. Jika sesudah kita mengetahui masalah agama, namun  rasa takut kita pada 

Allah tidak bertambah, hal itu merupakan pertanda bahwa pengetahuan agama yang 

kita peroleh sesungguhnya belum menembus ke dalam hati kita. Pengetahuan itu baru 

bernilai teoritis dan belum bersifat praktis yang langsung bermanfaat terhadap arti 

kehidupan agama kita. Sentuhan pokok agama terhadap manusia yaitu  rasa takutnya 

kepada Allah. Inilah masalah kunci, yang menyebabkan orang terhindar dari dosa dan 

memperoleh pahala. Dan bagi mereka yang takut pada Allah, mereka tidak peduli 

apakah : 

1. Al Quran diturunkan di dalam bahasa arab ataupun Ajam akan tetap yakin akan 

kebenaran sejati yang dikandungnya (195,198,,199) 

2. Sebutan Al Quran itu terdapat pada kitab-kitab orang-orang terdahulu atau tidak, 

mereka tetap meyakini kebenarannya (196) dan 

3. Ada pengakuan atau tidak dari ahli-ahli agama Yahudi, keyakinannya tidak 

pernah berubah. (197) 

Singkatnya : ayng beriman sebab  merasa takut kepada Allah, sedang yang tidak pada 

Allah bagaimanapun tidak akan pernah berima, kecuali jika mereka sudah melihat 

adzab yang pedih, yang merupakan kesdaran yang datangnya terlambat(201). = Dan 

yang tidak beriman sebab  tidak takut kepada Allah  tidak akan pernah menyadari 

bahwa siksa yang akan menimpa mereka akan datang secara tiba-tiba, sebab 

datangnya kematian bukankah tidak bisa disangka-sangka ? (202). = Dan yang tidak 

takut kepada Allah, sebab nya tidak pernah beriman, pada saat kematian itu datang, 

minta agar supaya diberi waktu tangguh (203). Pdahal pada saat mereka hidup 

mereka selalu menantang dengan dengan cara olok-plok agar supaya siksa itu 

dipercepat (204). = jika dilihat dari kasusnya maka yang dimaksud dengan orang 

yang tidak takut kepada Allah itu musuh-musuh Allah dan orang Qurys dan orang-

orang Yahudi dan mereka dengan terang-terangan memerangi Nabi saw dan para 

sahabatnya. 

Kasusnya : Orang yang tidak takut kepada Allah, akum mujrimin yang terdiir dari 

kaum musyrikin Qurys dan kaum Yahudi, memerangi Allah dan Rasulnya, mereka 

benar-benar musuh Allah menjadi Aduwwal Lillahi. 

Hikmah Ajarannya : Pada zaman sesudah Rasul wafat, maka yang menjadi musuh 

Allah dan Rasulnya yaitu  umat islam itu sendiri, yaitu mereka yang oleh Allah yang 

telah dianugerahi kenikmatan hidup selama bertahun-tahun, namun  kekayaan yang 

mereka kuasai itu tidaklah berguna bagi mereka sendiri bahkan hanya menyebabkan 

datangnya adzab api neraka saja. Penjelasan dari hikmah ajaran ini  yaitu  

sebagai berikut : ayat 205.206.2007 dari Asy-Syu’ara ini dengan azbaabun Nuzul 

sebagai berikut : Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Azbaabun Nuzul sebagai 

berikut : Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari Nabi saw tampak 

gelisah, sehingga para sahabat bertanya kepadanya. Beliau menjawab : mengapa tidak 

? tampak kepadaku bahwa musuhku yaitu  umatku sendiri sesudah aku mati. Pada 

saat itu Nabi sedang dalam keadaan gelisah, sebab  pada waktu itu Allah sedang 

memberikan ramalan –tentu melalui Jibril—nubuah atau ramalan mengenai nasib 

ummatnya pada waktu yang akan datang, berbarengan dengan itu Allah menurunkan 

ayat 205-207 yang dimulai dengan pertanyaan Allah terhadap beliau : tentang 

pendapat Nabi terhadap orang-orang yang oleh Allah telah diberi anugrah kenikmatan 

harta benda selama bertahun-tahun, sayangnya yang bersangkutan tidak mampu 

memanfaatkan nikmat Allah ini . Hal mana terbukti dengan adanya ancaman 

adzab Allah kepada mereka. Maka jawaban dari Nabi : Bahwa musuh Islam yaitu  

umat islam itu sendiri !. Jawaban ini ganda terhadap pernyataan Allah, sebab  melalui 

295 Allah menanyakan pendapat beliau. Sedang para sahabat menanyakan tentang 

kegelisahan beliau, kebanyakan dari orang islam yang oleh Allah diberi anugrah 

kekayaan tidak menggunakan fungsi social dari hartanya, sebab  menngingkari 

kewajiban : Infaq, Sodaqoh dan zakat. Dan oramg macam ini lah : orang munafik 

setulen-tulennya. Mereka yaitu  apa yang dinamakan : Musuh dalam selimut kaum 

muslimin. 

Kesimpulan :Musuh dalam selimutnya kaum muslimin yaitu  kaum munafiqin yaitu 

orang-orang kaya dikalangan kaum muslimin yang mengingkari fungsi social dari 

harta yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya sebab  mereka ingkar membayar : 

infaq, sodaqoh, dan zakat.Ayat( 208-209)Perhatikan sejarah umat terdahulu ! bahwa 

mereka dibinasakan oleh Allah yaitu  umat yang durhaka berlaku ma’siyat terhadap 

Allah, sebab mereka tidak takut kepada Allah. Walaupun terhadap mereka oleh rasul 

Allah diserukan agar supaya takut pada Allah. Tidak ada umat yang dibinasakan oleh 

Allah tanpa sebab kedurhakaan, yakni : sesudah Allah mengutus Rasul terhadap 

ummat itu demi menyerukan takut pada Allah namun  tidak dihiraukannya, maka Allah 

kemudian terpaksa membinasakannya. Ayat yang senada yaitu  : 1. An Nisa 15 : 

“Barang siapa mendapat petunjuk, maka hanya mendapat petunjuk untuk dirinya. 

Barang siapa yang sesat, maka bahaya kesesatan hanya atas dirinya sendiri pula. 

Orang yang memikul dosa tiada akan memikul dosa orang lain. Kami tiada menyiksa 

suatu kaum, sehingga kami utus seorang Rasul kepadanya”. 2. Al Qoshosh 59 : 

“Tuhanmu tiada membinasakan (penduduk) suatu negeri melainkan lebih dulu 

diutusnya seorang Rasul di negerinya yang membacakan ayat-ayat kami kepada 

mereka. Dan kami tidak membinasakan negeri-negeri itu, melainkan bila 

penduduknya dalam melakukan kezaliman” 

Seperti sudah dikatakan : tidak ada umat dibinasakan oleh Allah tanpa sebab 

kedurhakan. Ini merupakan pembelaan Allah atas diriNya bahwa Allah tidak pernah 

berlaku Dzalim, sebagaimana dinyatakan oleh ayat 209 : Harap di ingat bahwa Allah 

tidak pernah berlaku Dzolim. 

Adapun ayat-ayat yang senada dengan bahwa Allah tidak berlaku Dzolim antara lain : 

1. Ali-Imroon 108 : “Demikianlah ayat ayat Allah kami bacakan kepada engkau 

dengan sebenarnya. Dan Allah tiada hendak menganiaya orang-orang dalam alam”. 2. 

At Taubah 70 : “Tidaklah sampai kepada mereka kabar orang-orang yang terdahulu 

sebelum mereka ? (yaitu) kaum Nuh, Ad Tsamud, Kaum Ibrahim, penduduk 

Madyan(kaum Syuaib) dan penduduk kaum Luth. ? Telah datang kepada mereka 

Rasul-rasul yang keterangan. Bukanlah Allah hendak menganiaya mereka., namun  

mereka hendak menganiaya diri mereka sendiri. = Untuk menjawab ocehan-ocehan 

orang kafir-Musyirikin Qurys, yang antara lain mengatakan : “Muhammad yaitu  

seorang Kahin (dukun) dan Al Quran itu yaitu  tenungan yang dibisikan oleh setan 

kepada Muhammad, maka Allah menurunkan 210-212 surat Asy-Syu’ara. 

Kesimpulan : 

1. Rukhul Amien = Rukhul Qudus 

2. Jika Allah dengan teknik dan ilmu kalimat Ruhul AMien atau kalimat Ruhul 

Qudus menanamkan pengertian Al Quran dalam dada dan jiwa Rasulullah saw 

maka demikian pula lah : a. Allah menetapkan dan menguatkan keimanan dalam 

dada dan jiwa orang yang beriman untuk menjadi Hizbullah. B. Allah 

memperteguhkan nafsu berlaku kafir dalam jiwa kaum mujrimin, disebabkan 

mereka tidak takut pada Allah. 

Catatan : 

Untuk ummat Muhammad saw siksa tidak bersifat tunai di dunia, namun  tangguh di 

akhirat. Oleh sebab itu pembinasaan Allah terhadap mereka yang durhaka baru akan 

dilaksanakan dalam bentuk siksa di akhirat. Dan ini sesungguhnya mengandung arti 

sebagai : pemberian kesempatan untuk bertaubat. 

 

Mu’jizat termasuk dalam ruukhul qudus 

Ayat : 110 Al Maidah : “Ingatlah ketika Allah berfirman  : Hai Isa anak Maryam, 

ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkan engkau 

dengan ruukhul Qudus (sehingga engkau mampu) bercakap-cakap dengan manusia 

dalam buaian (bayi). Dan ketika dewasa Aku mengajarkan kitab hikmah taurat dan 

Injil kepadamu dan ketika engkau perbuat bentuk burung daripada tanah dengan 

izinku, kemudian engkau tiup padanya, lalu ia menjadi burung dengan izinKu. Dan 

engkau sembuhkan orang-orang buta dan yang kena penyakit lepra dengan izinku. 

Dan ketika engkau keluarkan orang mati(dari kuburnya dan hidup kembali) dengan 

izinku. Dan kerika Aku tahan Bani Israel hendak membunuhmu, ketika engkau 

memberikan keterangan kepada mereka, lalu mereka berkata, orang yang kafir 

diantara mereka : Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. 

Pemahaman : 

sebab  adanya ruukhul qudus, maka : antara lain Nabi Isa berkemampuan berbicara 

dengan manusia pada saat bayi. Dengan demikian, rukhul qudus artinya mu’jizat. 

Pada waktu beliau sudah dewasa beliau mampu melakukan seperti hal-hal yang 

disebutkan diatas. 

Kesimpulan : 

Mu’jizat termasuk kedalam : ilmu dan teknologinya ruukhul Qudus. 

 

Ruukhul Qudus memenuhi kebutuhan Risalah 

Ayat : 101-105 An-Nahl : “Dan apabila kami letakan suatu ayat di tempat ayat yang 

lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui (terhadap) apa yang 

diturunkannya, mereka berkata “Sesungguhnya kamu yaitu  orang yang mengada-

ada saja”. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (101). Katakanlah : Rukhul 

Qudus bekerja menurunkan ayat-ayat dari Tuihanmu dengan cara sedemikan rupa 

untuk memenuhi kebutuhan risalah, untuk memperteguh (hati) orang-orang yang 

beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah 

diri (102). Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata : 

“Sesungguhna Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya 

(Muhammmad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad 

belajar kepadanya yaitu  bahasa ajam (bukan bahasa arab), sedang Al Qur’an yaitu  

dalam bahasa arab setulen-tulennya (103). Sesungguhnya orang-orang tidak beriman 

keada ayat-ayat Allah, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi 

mereka yaitu  adzab yang pedih (104). Sungguhnya yang megada-adakan 

kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan 

mereka itulah orang-orang yang pendusta(105). 

Pemahaman :  

Ini yaitu  masalah : nasakh-mansukh, ayat yang menggantikan dan ayat yang 

digantikan. Atau ayat yang menghapuskan sesuatu ayat lain yang dihapuskan. Dan 

untuk menerangkan ayat :101, jalan lain yang lebih singkat tidak terlihat kecuali mem 

fushshilatkan dengan Al Baqoroh 106-107 : “Tiyaitu  kami hapuskan suatu ayat dari 

sesuatu ayat atau kami jadikan dia terlupa(niscaya) kami datangkan yang lebih baik 

dari padanya atau yang seumpamanya. Tidakkah engkau ketahui bahwasanya Allah 

atas tiap-tiap sesuatu yaitu  maha kuasa(106) Tidakkah engkau ketahui bahwasanya 

Allah, kepunyaanNya lah kerajaan semua langit dan bumi dan tidaklah ada bagi kamu 

selain Allah, akan pelindung dan penolong(107). 

Marilah kita perhatikan hal-hal sebagai berikut : 

a. Allah menghalalkan kepada Nabi Adam untuk mengawinkan putrinya dengan 

putranya, kemudian mengharamkannya. Adam pernah besanan dengan dirinya 

sendiri 

b. Juga Allah menghalalkan Bani Israel menikah dua bersaudara, sekaligus. 

Kemudian Allah mengharamkannya dalam undang-undang  syariat Taurat dan 

sesudahnya 

c. Allah memerintahkan Bani Israel membunuh penyembah-penyembah anak lembu, 

kemudian menghentikannya. 

d. Nabi Isa menghalalkan kembali Bani Israel untuk : mencari ikan di hari sabtu, 

makan ikan, daging onta dan gajih yang di zaman Nabi Musa pernah diharamkan. 

Jadi keliatannya bahwa yang mansukh—yang dihapuskan yaitu  hokum yang oleh 

Allah dipandang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman, demi memenuhi 

kebutuhan risalah hokum untuk bisa berjalannya syariat agama –yaitu  hokum-

hukum Taurat atau Injil. Dan yang bisa menasakhkan yaitu  Al Quran. Inilah sebab 

sebabnya kaum Yahudi merasa sangat berkepentingan apabila Al Quran 

melaksanakan penggantian hokum-hukum Taurat atau Injil. Sehingga mereka 

mengatakan : “Sesungguhnya kamu(Muhammad) yaitu  orang-orang yang mengada-

ada saja”. KaumYahudi menilai bahwa melaksanakan penggantian hokum taurat atau 

injil dengan hokum final dari Al-Quran sebagai tindakan Nabi Muhammad yang 

bersifat mengada-ada saja. Hal ini berarti bahwa Nasakh-Mansukh yang ada pada Al 

Quran mereka anggap tidak berdasar. Padahal : Nasakh-mansukh termasuk sebagian 

dari pekerjaan Allah dengan ilmu dan teknologinya KunNya atau ruukhul qudusNya 

sebagaimana diterangkan oleh ayat 102, demi memenuhi kebutuhan risalah. Allah 

yang Maha Tahu tentang kebutuhanNya dalam menata makhluk ciptaanNya. Protes 

kaum Yahudi terhadap nasakh-mansukh dengan peryataanya : Bahwa Nabi 

Muhammad melakukan tindakan yang bersifat mengada-adakan, merupakan protes 

terhadap kebijaksanaan Allah. Mereka yang berbuat seperti ini, tidak ridho terhadapa 

keputusan Allah! Ini berbahaya ! bukankah Allah yang memiliki kesemuanya ini ? 

apa hak kita untuk protes ? 

Kesimpulan : 

Dengan mempergunakan ilmu dan teknologinya kalimat Kun atau ruukhul qudusNya 

Allah di dalam Al Quran me-nasakh-mansukhkan hokum-hukum taurat dan injil, 

demi memenuhi kebutuhan risalah syariat agama islam. 

Catatan : 

Didalam Al-Quran tidak terdapat Nasakh-Mansukh. Pernyataan yang benar yaitu  : 

Al Quran menasakh-mansukhkan Taurat-Injil. Ayat-ayat dalam Al Quran bukan 

bernasakh-mansukh, namun  merupakan ayat-ayat peralihan. 

Marilah kita bicarakan 103. 

Azbabun Nuzul : Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah saw mengajar 

seorang abid romawi bule yang bernama Bal’am. Ia tidak bisa berbahasa arab dengan 

fasikh. Ketika kaum musyrikin melihat Rasulullah sering keluar masuk rumah Bal’am 

mereka berkata : “Tentu Bal’am mengajarnya”. Maka Allah menurunkan ayat ini 

sebagai bantahannya. 

Ketahuilah bahwa cara Allah mengajarkan Al Quran kepada RasulNya yaitu  dengan 

ilmu dan teknologi kalimat Kun atau Ruukhul Qudus. Dan kefahaman Rasulullah saw 

terhadap Al Quran yaitu  sedimikian rupa, sehingga beliaupun dijamin tidak akan 

lupa terhadap ayat-ayat Quran seperti yang dinyatakan oleh Al’A’la 6 : “ Nanti kami 

bacakan kepadamu (ya Muhammad), sehingga engkau tidak lupa. Alah seterusnya 

menerangkan bahwa seandainya Muhammad belajar dari Bal’am, maka tentunya Al 

Quran yang berbahasa arab setulen-tulennya, tidak akan bisa disusun oleh pribadi 

Muhahammad, mengingat Bal’am bukan bahasa arab, bahkan dia tidak fasih bahasa 

arab. 

= orang-orang yang tidak beriman – ternasuk orang-orang musyrikin—banyak 

cincongnya—antara lain : Al Quran dinyatakan sebagai hasil dari belajarnya 

Rasulullah dengan mengambil guru abid romawi : Bal’am. Mereka ini sesungguhnya 

hanya mengada-ada sesuatu masalah! Mereka ini hanya mencari satu masalah : yaitu 

supaya bisa terus menerus bermusuhan dengan Rasulullah saw dan kaum mu’minin. 

Dan inilah fitnah dalam arti sebenar-benar fitnah, yaitu merintangi orang menuju 

jalan Allah. Ada pun mengenai teknik yang mereka pakai : kebohongan dan 

kedustaan. Dan hakekat dari orang-orang macam ini ialah : mereka tidak beriman. 

Demikianlah pemahaman 104-105. 

Ternyata rangkaian ayat 102-105 yaitu  suatu kasus. 

 

Kasusnya : 

Di zaman Rasulullah, orang yang menuduh bahwa Al Quran bukan berasal dari Allah, 

namun  dari sumber lain misalnya dari Bal’am maka mereka dikategorikan sebagai 

pendusta atau mengada-adakan kebohongan 

Hikmah ajarannya : 

Di zaman sekarang, yang disebut dengan pendusta yaitu  siapa saja yang tidak 

beriman, yaitu mereka yang membohongi dirinya sendiri demi memuaskan hawa 

nafsunya, sebagaimana kaum musrikin membohongi diri. 

 

Ilmu dan Teknologi manusia dibandingkan dengan kalimat ruukh 

Ayat 1-18 Al Ma’arif : “orang yang menuntut telah (mengajukan) tuntutan siksa, 

ayng (pasti) akan terjadi(1). Bagi orang kafir yang tak dapat menolaknya(2). Adzab 

itu datangnya dari Allah yang mempunyai tangga-tangga untuk naik(3). Malaikkat 

dan ruukh naik padanya dalam sehari yang ukurannya sama dengan 50 ribu tahun(4). 

sebab  itu sabarlah engkau dengan kesabaran yang baik(5). Sesungguhnya mereka itu 

memandang adzab amat jauhnya(6). Dan kami memandangnya amat dekat (7). Di 

hari langit cair bagai hancuran tembaga(8). Dan Gunung-gunung bagai bulu yang 

ditiup(9). Dan tiada seorang teman setia (kerabat) menyakan temannya (10). Padahal 

mereka itu berpandang-pandangan. Orang berdosa ingin, kalau dapat mereka 

menebusi dirinya dari adzab pada hari itu dengan memberikan anak-anaknya(11). 

Dengan isteri dan saudaranya (12). Dan keluarganya, yang memerikan tempat tinggal 

kepadanya(13). Dan dengan semua orang yang ada di bumi. Dia ingin melepaskan 

dirinya dari pada adzab dengan cara yang demikan itu(14). Tidak ! sekali-kali tidak ! 

sesungguhnya neraka itu yaitu  api yang menyala (15). Yang mengupas kulit kepala 

(16) dia memanggil orang yang membelakang dan berpaling (17). Dan orang yang 

mengumpulkan kekayaan dan menyimpannya (18). 

Pemahamannya :