• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Santet 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santet 2. Tampilkan semua postingan

Santet 2

 


sepenuhnya tergantung 

pada Tuhan (menurut al-Ghazali) atau pada the observer/pengamat (menurut 

Interpretasi Copenhagen)." 

 

Di tahun 1978 pada sebuah artikel yang dimuat Studia Islamica, Lenn Goodman 

menuliskan sebuah pertanyaan, “Apakah al-Ghazali menapikan sebab-akibat?” Dan 

mendemonstrasikan bahwa al-Ghazali tidak menapikan keberadaan dari sesuatu yang 

dalam pengamatan kita disebut sebab-akibat (causation). Menurut analisis dari 

Goodman, Ghazali tidak pernah mengklaim bahwa tidak ada hubungan sama sekali 

antara pemicu  yang teramati dengan akibat yang teramati, namun al-Ghazali 

memiliki pendapat bahwa TIDAK SELALU HARUS ADA HUBUNGAN antara 

sebab yang sedang diamati dengan akibat yang sedang diamati.  

 

 24 

Baiklah, itu kita kembali kepada pembahasan kita tentang Occasionalism tadi, paham 

ini muncul pada suatu waktu di kalangan para pemikir barat. Kaum occassionalist 

mengatakan, “Atom tidak memiliki durasi, dan atom bisa tercipta dan menghilang 

secara instan (sekejap mata), sehingga dengan demikian Anda tidak bisa mengatakan 

bahwa ada sebuah pemicu  ilmiah di dunia ini. Anda tak bisa mengatakan bahwa, 

“A menyebabkan B”, tapi Anda bisa mengatakan bahwa perilaku Tuhan di dunia ini 

biasanya memang konsisten, biasanya memang, “Jika A maka B.” Anda bisa 

memiliki asumsi bahwa jika Anda melemparkan bola kasti ke jendela kaca, maka 

Tuhan akan memecahkan kaca itu, sebab  memang demikianlah cara Tuhan Yang 

Maha Kuasa atas segala sesuatu itu bekerja,“Jadilah! Maka jadilah,” tak memerlukan 

mekanisme apa pun. Dan oleh sebab  itu Anda tidak bisa lagi mengatakan bahwa bola 

Kasti itulah yang menyebabkan pecahnya kaca jendela dalam contoh asumsi tersebut. 

 

Yang paling menarik yaitu  sebuah kenyataan bahwa saat  pandangan teologi Islami 

klasik yang tentunya berbasis pada ketuhanan ini (theist)—yang kemudian tumbuh 

subur itu dimulai dan terpusat di kawasan Turki—justru tambah berdiri semakin 

tegak, di tengah-tengah era peradaban dunia modern yang dimulai pada sekitar abad 

ke 20 ini. Setelah pada abad ke 19—dimana penalaran terhadap alam semesta saat  

itu bersifat masih sangat mekanistis (anti metafisis)—saat  nalar menganggap bahwa 

pendapat Asy’arite ini sangatlah absurd dan tidak masuk akal. saat  atom-atom pun 

sudah berhasil mereka ukur dan mereka tuangkan ke dalam rumus-rumus persamaan 

matematika, mereka pun bisa membuktikan bahwa pendapat Asy’arite—sementara—

dinyatakan salah, sebab  atom ternyata memiliki durasi. Jadilah, kaum Mu’tajila (non 

fatalisme, yang menganut Hukum Sebab-Akibat) telah dianggap sebagai pihak yang 

benar, setidaknya sampai di sekitar awal abad ke 20. Dengan perkembangan terbaru 

di dunia Fisika Modern, dengan generasi para ahli fisika terbaru, yang salah satunya 

yaitu  Stephen Hawking, yang menulis sebuah artikel  yang sangat terkenal, “The Brief 

History of Time.”Singkatnya di dalam artikel  itu, Hawking menulis, “Anda tidak dapat 

mengatakan bahwa atom memiliki durasi, bahkan Anda tidak dapat menjelaskan 

secara koheren tentang keberadaan dari partikel-partikel sebagai bagian-bagian 

yang lebih kecil dari atom itu sendiri, Anda dapat melihatnya (berperilaku) sebagai 

partikel-partikel DAN Anda pun dapat melihatnya (berperilaku) sebagai gelombang 

(hal ini dikenal sebagai dualisme partikel), Anda bisa melihatnya sebagai fenomena 

universal yang berubah terus menerus secara instant—pada kesempatan berbeda, 

menanggapi pernyataan Einstein, Hawking mengatakan, “Tuhan ternyata memang 

bermain dadu, dan lebih parahnya lagi, bahkan Dia kemudian menyembunyikan 

dadunya.”—dan hal ini mewakili apa yang sebenarnya berlangsung di jagat raya 

secara universal—secara Cosmologis.” 

 

Dengan adanya pernyataan Hawking di atas, maka konsep Asyarism, kemudian telah 

kembali diakui sebagai sesuatu yang SELARAS, setidaknya dengan konsep 

penciptaan alam semesta atau Cosmology modern, dibandingkan  sebelumnya, yang bahkan 

pernah disalahkan, seperti telah dijelaskan di atas. sebab  pemikiran occassionalism-

nya, yang selalu menapikan real causality. Jadi kesimpulannya: Tidak ada itu hukum 

Sebab-Akibat yang dimaksud. 

 

Di luar telah terjawabnya salah satu sisi metafisis dengan sebuah teori fisika 

modern—Quantum Mekanik, pihak yang berseberangan, yakni Mu’tazalaits/Muta’jila 

tetap pada prinsipnya yang berpegang teguh pada sisi moralitas Tuhan, dan janjinya 

bahwa Dia tidak akan pernah menganiaya makhluknya, dan koherensi dari Islam itu 

 25 

sendiri, sebagai bagian dari ketetapan-Nya, dan oleh sebab nya Tuhan akan 

memberi  ganjaran dan hukuman kepada manusia atas amal perbuatannya masing-

masing. Dan hal ini baru akan dapat dipenuhi secara masuk akal, jika terdapat 

hubungan berdasar kokoh yang jelas antara amal perbuatan manusia dan konsekuensi 

moral, sebagai hukum yang mengikat itu, sehingga mereka pun bersikukuh 

bahwasannya atom HARUS memiliki durasi—tidak tercipta secara instan, dan 

dapat menghilang kapan pun secara instan, tanpa sebuah aturan atau keteraturan, atau 

sebuah dasar jejakkan hukum yang mengikat perilakunya dengan jelas, sehingga tak 

bisa dituangkan dalam perumusan secara matematis—Lihat bagian tentang Quantum 

Mekanik pada artikel  ini. Fisika Modern berpihak kepada kaum yang menapikan 

adanya Hukum Sebab Akibat.  

 

Big Bang, Masa Lalu, Masa Sekarang, dan Masa Depan 

 

Untuk menambah lagi wawasan kita tentang hal ini, mari kita simak bersama 

penjelasan dari Syaikh Dr. Abdal Hakam Murad, seorang teolog Islam 

berkewarganegaraan Inggris dari Cambridge University London, sebagai berikut: 

  

“Ini sangat penting untuk dipahami, seringkali Islam telah dituduh menganut faham 

fatalisme, sementara science atau ilmu pengetahuan alam, yang telah dianggap 

sebagai akidah dasar modern—setidaknya menurut mereka yang kekurangan 

informasi—sebagai dasar yang cukup dalam mendukung keberadaan dari 

kehormatan umat manusia terkait dengan kemampuan kita dalam kebebasan dalam 

melakukan pilihan, tapi faktanya yaitu  justru kebalikannya—bahwa manusia sama 

sekali tidak memiliki kekuasaan untuk memilih.  

 

Jika dunia material keberadaannya telah termaktub dalam sebuah keteraturan, maka 

kesadaran dalam diri kita pun hanyalah bagian dari dunia material tersebut, dan 

juga segala proses yang terjadi dalam otak manusia, dimana proses setiap 

pengambilan keputusan diformulasikan dan diukur— yaitu  juga termasuk sebuah 

proses fisik, sehingga ia pun tunduk pada hukum-hukum fisik yang mengikat segala 

hal lainnya di dunia material ini. Dengan kata lain, ditinjau dari sudut pandang 

ilmiah yang tepat, ternyata pemikiran tentang adanya “free will”, malah akan 

menjadi sebuah pemikiran yang sama sekali tidak ilmiah, terkesan aneh dan bahkan 

yaitu  sebuah takhyul. Ini sama sekali bukanlah sesuatu yang berada di luar jejaring 

kausalitas (causality), sebab  jejaring kausalitas hanya dapat bekerja dalam 

ketentuan-ketentuan tertentu.  

 

Andaikan dalam sekian nano detik setelah terjadinya Ledakan Big Bang, sebuah 

mega komputer kemudian menghitung trajectory dan energi, dari massa dari setiap 

partikel—sub atomic particle, yang terlepas sebab  ledakan dahsyat itu, maka segala 

hal tentang yang terjadi di masa depan akan dapat diketahui. Dan hal ini pula yang 

disampaikan oleh para ahli fisika partikel—Fisika Quantum dan String Theory, yang 

menjelaskan tentang super luminary particles yang disebut Tachyons, partikel yang 

mampu bergerak melampaui kecepatan cahaya, yang telah terbukti setidaknya secara 

teori—bahkan dalam “particle entanglement”, sepasang partikel dapat saling 

bertukar informasi dalam waktu, tanpa waktu, langsung, secara instan—lihat bagian 

Quantum mekanik di artikel  ini. 

 

 26 

Jika partikel-partikel tersebut dapat—melakukan perjalanan dengan—melesat 

melebihi kecepatan cahaya, menurut teori relativitas, itu berarti bahwa partikel-

partikel akan—get back in time—kembali ke masa lalu. Dan menurut mayoritas dari 

para ahli fisika yang hidup di masa modern ini, memang mereka bahkan akan sampai 

ke awal waktu, dan atau ke akhir waktu, dan ini yaitu  sebuah kenyataan yang 

terjadi. Dan jika demikian, itu berarti bahwa, realitas di masa sekarang ini, yang 

sedang kita alami, BUKAN HANYA merupakan produk dari serangkaian kejadian 

yang terjadi sebelumnya, akan tetapi juga merupakan konsekuensi dari serangkaian 

kejadian yang telah terjadi di masa depan. Ini akan menghadapkan kita pada sebuah 

konsekuensi filosofis yang MEMAKSA kita untuk menerima kenyataan bahwa masa 

depan itu telah nyata dan ada. Masa depan bukanlah sesuatu atau serangkaian 

kemungkinan yang belum terealisasi. Masa depan yaitu  sebuah kenyataan yang 

telah tercipta, sama halnya seperti masa lalu. Dan jika demikian halnya maka, ide 

dari freewill, menjadi tidak lagi memiliki makna. Ide tentang adanya freewill yaitu  

murni merupakan sebuah takhyul, khayalan atau waham belaka.” Kira-kira 

demikian, menurut Syeikh Abdal Hakam Murad. 

 

Bagian 3: Takdir dan Posisi Usaha Makhluk 

 

Andailah demikian halnya, bahwa freewill ternyata yaitu  sebuah takhyul semata 

menurut Fisika Modern. Maka, mungkin kita harus merenungkan ini berjenak-jenak. 

Mari kita bahas lebih lanjut tentang takdir sbb: 

 

“Takdir yaitu  ketentuan terhadap sesuatu berdasar sistem yang ditetapkan-Nya.”—

Prof. Dr. M. Quraish Shihab 

 

saat  Amirul Mukminin, Umar Bin Khaththab sampai di negeri Syam, ia diberitahu 

bahwa wabah kolera sedang terjadi di sana. Maka Umar memutuskan untuk kembali 

ke Madinah. Abu Ubaidah bertanya, “Apakah Anda hendak lari dari TAKDIR, wahai 

Amirul Mukminin?” Umar menjawab,”Ya. Lari dari TAKDIR Allah kepada TAKDIR 

Allah.”—Paradoxical. 

 

TAKDIR yaitu  rahasia Allah, ILMU Allah swt.yang ditulis di Lauh Mahfuz, tetapi 

tidak ada seorang manusia pun yang tahu TAKDIR-nya sendiri atau pun TAKDIR 

orang lain. Dalam hal kisah Umar Bin Khaththab memutuskan untuk kembali ke 

Madinah untuk menghindari wabah kolera yang sedang terjadi di negeri Syam di atas, 

yaitu  hanya sebagai bentuk USAHA yang dapat ia lakukan untuk menghindari 

sesuatu yang tidak disukai. Namun jika memang wabah kolera DITAKDIRKAN 

kepada mereka, maka dimana pun mereka berada, pasti akan terkena juga. Tetapi 

sebagai suatu usaha, untuk menjauhi wilayah yang terjangkit yaitu  merupakan suatu 

tindakan yang benar, sebenar usaha berbentuk berdoa untuk agar terhindar dari segala 

keburukan yang telah atau dikhawatirkan akan menimpa kita. 

 

Seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan Yang Maha Tahu, tidak percaya adanya 

kitab Lauh Mahfuz, sebagai simbol atas pengetahuan-Nya akan segala sesuatu, pernah 

menyatakan pemikirannya pada saya. Dan saya saat  itu sama sekali tidak mau 

mendebatnya, sebab  logika berpikirnya saja sudah cacat menurut saya, saya hanya 

menyimak pola pemikirannya saja. Begini, katanya pada saya, “Jika di Kitab-Nya 

tertulis umur saya 65 tahun, terus saya berolah raga, memelihara kesehatan, pola 

makan seimbang, dan ternyata umur saya bisa mencapai 90 tahun, bukan 65 tahun, 

 27 

berarti Dia keliru, Dia tidak tahu.” Saya tanya, “Darimana Anda tahu bahwa pada 

Kitab-Nya tertulis umur Anda hanya sampai 65 tahun, yang tahu itu kan hanya 

Tuhan, Anda tidak tahu?” Namun dia tetap ngotot, dengan argumennya itu, sama 

sekali tidak bisa melihat cacat pikirnya, bahwa dia telah menempatkan dirinya sebagai 

Tuhan di situ. Kemudian dia mempertanyakan hal terkait dengan, “Buat apa 

berusaha, jika semuanya telah tertulis dalam kitab takdirnya?” Ilustrasinya kali ini 

dengan sebuah permainan bola, jika skor permainan terlah tertulis, misal katanya, 2-0, 

lantas kesebelasan yang kalah sia-sia dong berusaha memenangkan pertandingan? 

Saya jawab, pertama: bertanding untuk menang tidak mutlak selalu menjadi tujuan 

suatu kesebelasan, bisa saja bahkan mereka bertujuan kalah untuk sebuah strategi. 

Dan kemungkinan takdir dalam sebuah pertandingan kan ada beberapa yang bisa saya 

pikirkan sekarang, tidak jadi bertanding sebab  suatu hal, bisa sama kuat, bisa ada 

yang menang dan bisa ada yang kalah, atau WO. Ya … kalau semua merasa sia-sia, 

tidak akan ada yang bersedia kalah misalnya, ya tidak ada sportivitas dong, kata saya, 

sepak bola kan pada dasarnya sebuah industri hiburan juga. Jadi jelas di sini tidak ada 

yang sia-sia dalam berusaha. 

 

Paradox Doa dan Takdir 

 

Ketetapan Allah untuk setiap hamba guna menepis mudarat yang sedang menimpanya 

atau dikhawatirkan menimpa dirinya pun yaitu  TAKDIR. 

 

Abu Hamid al-Ghazali menyatakan, “Jika ditanyakan apa faedah do’a, sedangkan 

TAKDIR itu pasti terjadi? Maka jawabannya, sesungguhnya upaya menolak musibah 

itu merupakan bagian dari TAKDIR.” 

 

Dan satu lagi kabar gembiranya, paradox doa:  

 

“Jika Allah tidak akan mengabulkan doa Anda, Dia tidak akan membimbing Anda 

untuk memanjatkan doa itu.”—Ibn Al Qayyim 

 

Jadi Setiap doa pasti memang akan dikabulkan Allah, sebab  Allah jualah yang 

memberi  petunjuk pada kita untuk memanjatkan doa-doa tertentu itu. 

 

Ini mirip dengan tugas kita, dalam mengenal Allah. Kita diperintahkan untuk 

berusaha dan berdoa agar mengenal-Nya seperti yang diinginkan-Nya, tapi kita tak 

akan pernah bisa mencapainya, tanpa petunjuk-petunjuk dari-Nya.—Paradoxical. 

 

“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberi  kepada setiap sesuatu bentuk 

kejadiannya, kemudian memberinya PETUNJUK.”—(QS. Thaahaa 20:50) 

 

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan dan 

menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan menentukan kadar (masing-masing) dan 

memberi petunjuk.”—(QS. Al-A’laa 87:1-3) 

 

Makna Hatta dalam QS. Al-Anfal 53 

 

Mari kita simak sekali lagi tentang konsep takdir dan Doa, kali ini menurut pendapat 

Prof. Dr. KH. Abdul Syakur Yasin, MA—Buya Syakur sbb. Terkait dengan makna 

“hatta”: 

 28 

 

QS. Al-Anfal 53 

 

Depag: “Yang demikian itu sebab  sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu 

nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa 

yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha 

Mengetahui.” 

 

Al-Mishbah: “Yang demikian itu yaitu  sebab  sesungguhnya Allah tidak akan 

mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga 

kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah 

Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 

 

QS. Ar-Rad 11: 

 

Depag: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum 

mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan jika  Allah menghendaki 

keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak 

ada pelindung bagi mereka selain Dia.” 

 

Al-Mishbah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada 

satu kaum/masyarakat sampai mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri 

mereka.” 

 

Terjemahan Depag RI atas (QS Ar-R’ad 13: 11): 

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, (hattaa/sebelum) 

mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan jika  Allah menghendaki 

keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada 

pelindung bagi mereka selain Dia.” 

 

“Allah tidak akan mengubah sesuatu yang ada pada suatu bangsa—hattaa, 

diterjemahkan Depag RI dengan: sebelum, sementara Buya Syakur memahaminya 

dengan: sekali pun—mereka ingin mengubahnya.”  

 

Kemudian lanjut Buya Syakur:  

 

“Kalau Allah tidak akan mengubah apa pun yang ada pada suatu bangsa sekali pun 

bangsa itu ingin mengubahnya.  Sekarang pada pribadi, “Sesungguhnya Allah tidak 

akan mengubah nasib seseorang sekali pun orang itu bersungguh-sungguh ingin 

mengubahnya.” Jika Allah sudah menentukan seseorang harus mati, dan dia ingin 

sembuh, dan kebetulan dia milyarder, konglomerat. Sekali pun dokter sealam dunia 

dihadirkan semuanya tidak akan bisa menyelamatkan nyawanya, tetap ia harus mati, 

itu maksud saya. Jadi di sini, yang menjadi masalahnya yaitu , mereka yang 

menterjemahkan ini depag, depag ini menterjemahkan hatta dengan: 

“hingga/sampai/sebelum” perlu dipertanyakan, dari mana hatta maknanya sebelum, 

ini? Dan itu dibiarkan sejak bertahun-tahun sampai sekarang, dan saya sudah usul 

berulang-ulang, terjemahan depag direvisi ulang, sudah bilang berkali-kali sampai 

hampir bosan. Tapi saya tidak akan pernah bosan, diperbaiki lagi, sebab  dulu yang 

menterjemahkan itu sebelas professor, tapi semuanya ahli hukum Islam semua, 

 29 

fukoha semua, itu tidak ada antropolog-nya psikolognya, pedagogiknya 

kosmologinya, astronominya, fisiologinya, gak ada, menterjemahkan al-Quran yang 

begitu besar. Ke depan terjemahkan bikin besar, bikin seribu orang panitianya dari 

berbagai macam disiplin ilmu, sebetulnya dulu Pak Munawir Sazali secara lisan 

sudah setuju akan direvisikan, tapi saat  tidak dilaksanakan lama, saya tanyakan 

alasannya, ternyata tidak ada dana. Gitu aja. Makanya sekarang, yuk kita bareng-

bareng menuntut kementrian agama untuk merevisi terjemahan resmi itu. Dari mulai 

bismillah terjemahannya tidak tepat, “Dengan Nama Allah” ya “Atas Nama Allah” 

dong. Dalam bahasa Indonesia, ada (frase) “dengan nama”? Gak ada. Adanya “Atas 

Nama”, saya sering ceramah mewakili tuan rumah sebab  suaranya lagi serak, 

“Tolong Pak Kiai, sambutan “atas nama” tuan rumah. Tolong Pak Kiai sambutan, 

dengan nama tuan rumah, atau atas nama? Atas nama. Maka saya pun mengatakan, 

“Atas nama Tuan Rumah, saya mengucapkan terima kasih memenuhi undangan 

kami, dan saya juga atas nama tuan rumah, mohon maaf jika  hidangannya 

kurang sedep, kan gitu? Yang berterima kasih siapa? Bukan saya, bukan? Nah begitu 

kita mengatakan Bismillah itu “atas Nama Allah”, maka kita betul-betul diperintah 

oleh Allah, itulah makna ibadahnya. Bukan dengan, jika dengan bisa bermakna, 

“bersama-sama dengan Allah”, nantinya. Jadi saat  kita minum, nah itu ... jadi 

hatta ini, dan memang kata hatta ini, euh sangat sulit sekali hatta ini, berbelit sekali 

sehingga di Mesir ada seseorang yang mengambil program doktor dalam Bahasa 

Arab, dia menggali makna hatta, dan dia berhasil mendapat gelar doktor sebab  dia 

mampu menguraikan nama hatta sampai terkenal (dengan julukan) Doktor Hatta, ya 

... Bung Hatta tuh, itu niru nama orang Mesir, yang dulu namanya mah Abdullah, 

sebab  desertasinya tentang hatta, jadi Doktor Hatta, nah itu ... jadi yang lebih tepat 

buka SEBELUM tapi SEKALIPUN. Nah, jadi yang bisa megubah takdir, yang punya 

takdir dong, bukan kita. Maka kalau kita ingin mengubah takdir, bukan dengan 

bekerja keras mengubahnya, kita makhluk yang bisa mengubahnya yaitu  khalik, 

gimana caranya? Ya bikin proposal (berdoa), ya gitu aja. Makasih.” 

 

Pak Quraish Shihab, dalam Tafsir-nya Al-Mishbah, menerjemahkan kata “hatta” kira-

kira semakna dengan Depag, beliau lebih fokus pada menjelaskan tentang aspek 

sosial dari kedua ayat ini. Kata kaum yang beliau sorot dalam penafsirannya. Dalam 

kaitannya dengan deterministic vs freewill, Prof. Quraish Shihab berada di tengah-

tengah, beliau memaknainya seperti penjelasan Ali bin Abi Thalib dengan sang 

penanya.  

 

Hal senada—bahwa diperlukan sebuah tim besar untuk menterjemahkan al-Quran, 

yang terdiri dari para ahli dari berbagai kalangan disiplin ilmu, bukan hanya para ahli 

fikih—tentang keluasan al-Quran juga disampaikan oleh Prof. Dr. Buya Hamka, 

dalam tafsir karyanya al-Azhar. 

 

“Banyak yang bilang, cukup baca al-Quran, semuanya ada di situ. Pendapat itu tidak 

benar, al-Quran itu terlalu besar, dan global, perlu dikupas lebih dalam makna 

pemahamannya dengan pemakaian  semua ilmu pengetahuan yang ada, dikupas 

oleh semua ahli di bidang pengetahuannya masing-masing.”—Demikian kira-kira 

Buya Hamka dalam tafsir karyanya Tafsir al-Azhar.  

 

 

 

 

 30 

Eschatology dan Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran 

 

Sementara itu, menurut seorang ahli Eschatology (Ilmu Akhir Zaman) terbaik—

menurut kami—yang masih bisa kita temukan, Syeikh Imran Hosein, “Memahami al-

Quran, tidak bisa dengan cara memahami setiap ayat secara terpisah, kita harus 

harus paham Bahasa Arab, nahwu shorof-nya, asbabun nuzul-nya, juga harus 

dengan benar-benar berusaha sekeras mungkin untuk memahaminya secara 

keseluruhan, bagaikan sebuah untaian kalung dan ini berarti termasuk tidak 

meninggalkan ayat-ayat mutasyabihat di dalamnya. sebab  Allah tidak mungkin 

menurunkan ayat-ayat mutasyhabihat tersebut dengan sia-sia. Dalam kaitannya 

dengan ayat jenis ini”, Syeikh Imran melanjutkan bahwa, sebagai seorang muslim 

beliau berhak menakwilkan makna ayat-ayat dengan makna tersembunyi itu sebab  

al-Quran memang diturunkan bagi kaum yang berpikir, jadi kita memang wajib 

memikirkannya. Sang Syeikh juga lebih menekankan perpaduan antara ilmu yang 

didapatkan dengan mempelajarinya dan dengan Ilmu Laduni, yang langsung dari sisi 

Allah swt.—majma’a al-bahrain/pertemuan dua samudera ilmu, QS al-Kahf. Tanpa 

perpaduan kedua ilmu ini, sang Syeikh berpandangan bahwa seseorang bukanlah 

seorang ulama sejati, dan beliau memberi  julukan pada mereka yang hanya 

mengandalkan ilmu yang didapat dengan cara mempelajarinya dari guru, artikel , baik 

itu secara formil atau informil, melalui institusi sekolah, madrasah, pesantren, sebagai 

the school boys/anak sekolahan/ulama satu sisi ilmu. 

 

“Tak ada yang terjadi pada kitab ini (al-Quran) secara kebetulan, setiap kata, setiap 

kalimatnya telah tersusun, dan secara spesifik ditempatkan padanya menurut pada 

sebuah rancangan Ilahiah dan memiliki tujuan tertentu. Seseorang bisa saja 

mempelajari terjemahan dari Quran, tapi tidak ada seorang pun yang akan mampu 

mempelajarinya melalui terjemahannya saja.”—Imran N Hosein dalam artikel nya: An 

Introduction to Methodology for Study of the Quran. 

 

Bagaimana mungkin orang yang mengangkat dirinya sebagai musuh Islam, bisa 

mempelajari al-Quran pada saat hatinya diliputi kegelapan? Bagaimana mungkin dia 

bisa melepaskan diri dari belenggu gelapnya hati, saat  fungsi Quran yaitu  

membimbing umat manusia menuju cahaya? Seseorang harus mengusahakan 

memurnikan hatinya—tazkiyah untuk bisa mendapatkan cahaya. 

 

Kitab itu menyatakan bahwa, ia diturunkan kepada mereka yang berpikir dan proses 

berpikir yaitu  inti dari mempelajari sesuatu:  

 

“Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat kepada orang-orang yang berpikir.”—QS 

Yunus 10:24 

 

Menembus Sistem Pemaknaan al-Quran—al-Quran dan Bintang-Bintang 

 

“Kita harus menemukan sistem pemaknaan dalam setiap subyek yang sedang kita 

pelajari dalam al-Quran, agar kita mampu mengungkap makna sejatinya.”—Syeikh 

Imran Hosein 

 

saat  kita tidak bisa membaca makna dari pola keterkaitan dalam sebuah konstelasi 

bintang di langit, dan bahkan saat  kita sama sekali tidak bisa menemukan adanya 

pola keterkaitan itu, maka bintang-bintang di langit tidak akan bisa kita gunakan 

 31 

sebagai penunjuk arah. Demikian juga halnya dengan saat  kita ingin benar-benar 

mempelajari makna dari ayat-ayat yang ada dalam al-Quran, kita pun harus mampu 

melihat pola keterkaitan seluruh ayat yang tersebar lintas surah dalam al-Quran, dan 

hanya saat  kita telah menemukan pola keterkaitannya, maka kita bisa memahami 

makna dari arti yang sesungguhnya.  

 

Tidak semua pelaut memiliki pengetahuan tentang navigasi melalui konstellasi 

perbintangan; dan tentu juga hanya para scholar/alim Islam yang akan mencurahkan 

waktu dan tenaga mereka untuk mempelajari sistem Pemahaman/System Meaning 

dari subjek-subjek yang tengah mereka pelajari dalam al-Quran, dan hal ini tidak 

dapat dicapai tanpa pemakaian  kedua jenis ilmu, ilmu eksternal dan ilmu 

laduni/internal insight. Al-Quran sendiri menggambarkan penggabungan kedua ilmu 

ini dengan istilah Majma’al-Bahrain (pertemuan dua buah samudera) dan 

dicontohkan dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba yang saleh, yang dijuluki 

Khidir, dalam QS. al-Kahfi. 

  

Oleh sebab  itu dalam mempelajari ayat-ayat al-Quran, seseorang harus dapat 

menemukan sistem pemaknaan dari subjek yang tengah ia pelajari, ia harus selalu 

berjuang untuk menemukan penjelasan harmonis dan terpadu dari semua data yang 

tersebar dalam kitab suci itu, terkait subjek yang sedang dipelajari. Sebagaimana tidak 

ada sebuah bintang yang posisinya tidak terkait ke dalam sebuah rasi di langit yang 

memaknakan sesuatu secara terintegrasi. Tidak ada ayat yang bertentangan dengan 

ayat yang lainnya dan tidak pula ada ayat yang menapikan ayat yang lainnya, jika kita 

masih merasa menemukan yang demikian, berarti kita belum menemukan peta sistem 

pemaknaan yang tepat.  

 

Di dalam al-Quran terdapat dua jenis ayat—seperti yang sudah kita ketahui—ayat-

ayat Mutashabihat, ayat-ayat yang memerlukan interpretasi/penakwilan agar 

maknanya bisa ditembus dan ayat-ayat Muhkamat, ayat-ayat yang bisa langsung 

dipahami maknanya dengan jelas, dan hanya membutuhkan penjelasan/penafsiran. 

Ayat-ayat Muhkamat dikenal juga dengan umm al kitab, atau jantungnya kitab. Ayat-

ayat Muhkamat meliputi ayat-ayat tentang hukum: halal/diperbolehkan menurut al-

Quran dan haram/dilarang menurut al-Quran.  

 

“Huwalladziii angzala‘alaikalkitaba minhu aayaatummuhkamaatun 

hunnaummulkitabi waukhorumutasyaabihaat fa ammalladziina fii quluubihim 

zaigungfayattabi’uuna maatasyaabaha minhub’tigooo al fitnati wab’tigooo 

ata’wiilihi wamaa ya’lamu ta’wiilahuuu illallaah, warroosikhuuna fil’ilmi 

yaquuluuna aamannaabihi kullummin‘ingdirobbinaa wamaa yadzdzakkaru illaaa 

uuluulalbaab’.”— (QS. Ali-Imran 3:7) 

 

Terjemahan Al-Mishbah: 

 

“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu di antara (ayat-ayat)-nya 

ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Quran, dan yang lain mutasyabihat. 

Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, 

maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat yang 

mutasyabihat untuk memicu  fitnah dan untuk mencari-cari dengan sungguh-

sungguh takwilnya (yang sesuai dengan kesesatan mereka), padahal tidak ada yang 

mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya 

 32 

berkata, “Kamu beriman dengannya semua dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat 

mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulul Albab.” 

 

Dan saat  dinyatakan dalam ayat di atas, bahwa satu-satunya yang mengetahui 

makna dari ayat-ayat mutashabihat yaitu  Allah, dan juga mereka yang rasikhuna fi 

al-ilm (i.e. mereka yang mantap dasar pengetahuannya/Ulul Albab/firmly grounded in 

knowledge), dan saat  ayat di atas disimpulkan bahwa tidak akan ada yang mampu 

menerima maksudnya kecuali para Ulul Albab (mereka yang memiliki basirah dan 

pemahaman yang mantap), maka implikasinya yaitu —untuk menembus ayat-ayat 

mutashabihat—seorang alim/scholar tak hanya bahwa mereka harus mendedikasikan 

waktu dan usahanya untuk mempelajari al-Quran dengan memakai metodology yang 

tepat dan basirah (mata spiritual), tetapi ia juga harus dapat memperoleh pengetahuan 

secara langsung dari Allah swt. seperti Nabi Khidir as.—QS. al-Kahf 18:65. Salah 

satu cara Allah memberi  langsung ilmu dari sisi-Nya yaitu  dengan melalui 

nubuwah terakhir yang masih berlaku setelah Nabi Muhammad saw. meninggalkan 

umatnya, itulah ruya, mimpi yang benar/the true dream, tentang bagaimana cara agar 

kita bisa mendapatkan ilmu Laduni/ilmu langsung dari sisinya, dan tentang ruya, 

mungkin akan kita bahas dalam artikel  tersendiri, semoga Allah memberi  umur dan 

waktu yang berkah bagi kita.  

 

Namun, sedikit saja kita bahas di sini, saat  science telah menyerah memberi  

semua penjelasan, maka kemana lagi kita melabuhkan harapan jika kita yaitu  para 

pencari kebenaran sejati? Kita akankembali pada firman-firman Ilahiah dalam kitab 

sucinya, dan keterangan Nabi kita tercinta. Sebelum kita menembus batas kedua 

samudera ilmu, maka kita harus pertama-tama, membaca firman-firman itu, setiap 

hari. Setiap hari dengan metode al-Quran dan Bulan (Hijriah). sebab , bulan yaitu  

sesuatu yang sakral dalam fungsinya menunjukkan waktu dimensi kita. Jika Anda 

telah merasa bahwa waktu seakan cepat sekali berlau, bertambah cepat sekali berlalu, 

berarti Anda telah tertarik masuk ke dalam dimensi waktu lain yang bukan ditentukan 

oleh Rembulan, tapi—menurut Ilmu Akhir Zaman yaitu  ditentukan—oleh Dajjal 

sendiri. Salah satu cara melepaskan diri darinya, yaitu  dengan cara membaca al-

Quran setiap hari, dan tamat setiap bulan (Hijirah), dengan jadwal tertentu tanpa 

melakukan pemotongan surah. 

 

Metode Pembacaan al-Quran dan Rembulan 

 

Kita tidak akan membaca—hanya membaca dan berusaha sekuat jiwa dan raga untuk 

menembus makna dari yang kita baca yaitu  dua hal yang berbeda— al-Quran 

sesuai dengan penentuan Juz, atau pemotongan-pemotongan itu. Dari mana juga 

datangnya ketentuan membaca al-Quran dengan cara memotong-motong surah? 

Mulai hari ini kita akan mulai membaca al-Quran, dengan pemakaian  metode al-

Quran dan Rembulan—metode penemuan Syeikh Imran Hosein, nanti rasakan 

keajaiban mukjizatnya pada diri Anda.  

 

Dan nanti setelah Anda melakukannya secara rutin, mungkin artikel  bertajuk, “Kitab 

Laduni”, akan terbit, doakan saja. Sebelum itu, jika Anda juga bersungguh-sungguh, 

kita akan selalu khatam membaca al-Quran, setiap bulan dengan format jadwal: 

((tanggal (Hijriyah):Quran Surah ke-), sbb: (1:1-2), (2:3), (3:4), (4:5), (5:6), (6:7), 

(7:8-9), (8:10-11), (9:12-13), (10:14-15), (11:16), (12:17-18), (13:19-20), (14:21-22), 

(15:23-24), (16:25-27), (17:28-29), (18:30-33), (19:34-37), (20:38-40), (21:41-43), 

 33 

(22:44-48), (23:49-54), (24:55-58), (25:59-66), (26:67-70), (27:71-77), (28:78-88), 

(29:89-96), (30:97-114). Dan tentu saja usahakan membacanya dengan tartil, dan 

langkah pertama untuk dapat memahaminya dengan benar yaitu  dengan 

menginginkannya, menginginkan mendapatkan pemahaman seperti pemahaman para 

Ulul Albab. Menurut sebagian ulama, para Ulul Albab, yaitu  mereka yang memiliki 

sifat-sifat: 1) Takwa antara dirinya dan Allah, 2) Kerendahan hati antara dirinya dan 

manusia, 3) Zuhud, yakni meninggalkan kenikmatan duniawi padahal dia mampu 

memilikinya, sebab  ingin mendekatkan diri kepada Allah, 4) Mujahadah, 

kesungguhan mengolah jiwa menghadapi nafsunya. sebab  al-Quran memang 

diturunkan bagi para Ulul Albab, maka Anda dan saya akan berusaha sekuat tenaga 

untuk mencapai derajat ini, mari kita mulai dengan sebuah perasaan untuk teramat 

sangat menginginkannya.  

 

Untuk menembus makna ayat-ayat mutasyabihat—ya kita, harus berusaha, meminta 

pada-Nya, untuk juga bisa menembusnya—kita harus memiliki pengetahuan yang 

mantap, dengan melakukan penyucian jiwa, sebab  ayat-ayat ini diturunkan tidak sia-

sia, dan memang untuk dipahami dengan benar, namun tidak dapat terungkap 

maknanya hanya dengan pemakaian  ilmu eksternal, namun harus pemakaian  

kedua ilmu, ilmu eksternal dan ilmu yang langsung tercurah dari sisi-Nya—Ilmu 

Laduni, sebab  ayat-ayat ini berbicara tentang persoalan metafisika. Langkah 

pertama yaitu  dengan membaca al-Quran sesuai dengan bentuk rembulan di atas. 

Bismillah.  

 

Hubungan kemampuan memahami ayat-ayat mutashabihat dengan takdir yaitu , ilmu 

tentang akhir zaman/Eschatology, terkait takdir gambaran besar perjalanan umat 

manusia di dunia ini, dari mulai ia diciptakan, menjalani lakonnya di panggung 

permainan kehidupan, sampai ia pun kembali pada sang penciptanya. Dan untuk 

memahami takdir kita sendiri, tentunya kita perlu memahami gambar besarnya, dan 

sebab  data-data tentang Ilmu Akhir Zaman, termasuk tentang fitnah Dajjal/The Anti-

Christ yang terdahsyat tersembunyi di dalam ayat-ayat muthashabihat.  

 

“yaitu  sebuah kegilaan, saat  kita—generasi-generasi berikutnya—harus berhenti 

memikirkan makna dibalik al-Quran yang belum tergali, sebab  dianggap pekerjaan 

itu telah rampung diselesaikan oleh ulama salaf.”—Prof. Dr. Syakur Yasin, MA. 

 

Sikap Terbaik: Sebelum Suatu Takdir Terjadi, Tugas Kita Melakukan Usaha 

Terbaik (Doa pun yaitu  Sebentuk Usaha) 

 

“Melalui kesiapan dan disiplin kita mengendalikan takdir kita”—Master Sersan 

Farell, karakter dalam film the Edge of Tomorrow. 

 

“saat  takdir yang ‘kita pilih’ menghasilkan takdir yang kita impikan.”—Nyi Damar 

Sagiri 

 

Pagi itu kami berdua berniat ke pasar terdekat, kebetulan, sebagian jalan menuju ke 

Pasar Cibaliung masih sedang dalam perbaikan selang 3 bulan itu, sehinga sebagian 

jalan dialihkan ke arah lain, sedikit memutar kemudian nanti nyambung di sebuah 

titik ke sebagian jalan yang sudah selesai diperbaiki menuju pasar. Kondisi jalanan 

alternatif ini pun tidak lebih baik dibandingkan  kondisi jalanan yang sedang diperbaiki, 

malah sebagian batunya telah tergelincir semua entah kemana, menyisakan jalanan 

 34 

tanah telanjang di antara bebatuan yang sudah terpental ke sana sini, musim hujan 

membuat jalanan tanah liat itu licin dan berlumpur seperti sawah. Setelah melewati 

satu bagian jalan tersulit, yang sebelumnya Ki Ngawur turun, dan melakukan 

perhitungan kemana arah ban, dan menyisihkan segala kemungkinan mobil kami selip 

dan menggantung di atas batuan yang menggunung, dan mengambil beberapa batu 

besar, kecil, sedang, kemudian menyusunnya di sekitar palung lumpur memanjang, 

akhirnya dengan Bismillah, mobil kami berhasil melewati rintangan pertama, di 

tanjakan tersulit itu. Pilihan memang hanya 2, maju terus tanpa merusak kendaraan 

kami terlalu parah, atau mundur teratur, dan menahan lapar, tapi sampai berapa hari? 

Waktu itu stok di warung-warung terdekat pun telah menipis sebab  terputusnya 

jalanan utama menuju pasar.  

 

Setelah melewati beberapa portal sempit, yang hampir menggores bodi kendaraan 

kami, dan itu pun setelah kami melakukan berbagai usaha, turun dari kendaraan, 

melihat-lihat, menimbang-nimbang, menjalankannya super pelan dan penuh perasaan. 

Kini di depan kami rintangan berikutnya pun segera tampak, sebuah mobil pick up, 

yang mengalami selip, bagian kiri bannya terbenam di jalanan lumpur. Tambah 

dicoba—dengan cara menggas mobil sepenuh kekuatannya, ban belakang dari pick up 

bermuatan penuh itu tambah terbenam ke dalam cengkraman lumpur. Kami terpaksa 

menunggunya, memandangi dari jarak sekitar 10 meter, sebab  kami tidak mungkin 

lewat, sebelum pick up itu terbebas dari pagutan lumpur. Sang sopir tetap berada di 

belakang kemudinya, 3 orang anak buahnya, nampak berusaha mendorong mobil 

tersebut dari belakang, sementara satu orang memasang tali tambang, dan berusaha 

menarik kendaraan itu sendirian, bersendal jepit, di atas jalanan licin berlumpur. Dia 

berusaha menarik pick up itu bagaikan seorang raksasa yang akan dengan mudah bisa 

melakukannya, dan tentu saja yang ada tali sendal jepitnya terputus, dan fokusnya 

langsung beralih ke sendal jepitnya tersebut. Satu, dua, tiga pengendara motor yang 

lewat, segera turun dari kendaraan mereka untuk mengulurkan bantuan, berupa ... 

memegangi tali yang mengikat mobil dan mereka pun seperti kuda-kuda penarik 

gerobak, berusaha menarik mobil tersebut, dengan satu aba-aba. Setelah beberapa kali 

mencoba, tentu saja mereka masih belum berhasil .... 

 

Sekarang ada sekitar 15 orang mengerubungi mobil itu, dan sudah sekitar 15 menit 

lebih kami menyaksikannya dari kejauhan. 

 

“Tak ada yang terpikir mengatasinya dengan memberi batu di sekitar ban belakang 

yang kejeblos ya Pah?” Saya menoleh ke arah Ki Ngawur yang masih memegang 

kemudi mobil kami. 

 

“Tentu saja tidak.” Jawab Ki Ngawur getir. 

 

Tak lama kemudian seorang dari mereka mendatangi mobil kami dan menyatakan 

sebuah ide, untuk menyangkutkan tali yang tadi gagal mereka tarik ramai-ramai untuk 

membebaskan ban belakang pick up itu, ke mobil kami dan kami tarik mundur 

dengan kekuatan penuh. Saya ternganga kagum dengan ide itu, kemudian kami jawab,  

 

“Mobil kami bukan mobil derek.”  

 

Orang itu menjawab, “Tetap lebih kuat dari orang kan?”  

 

 35 

Kami menjawab, “Kenapa kalian tidak mencari batu, kemudian susun di depan ban 

mobil belakangnya?”  

 

Orang itu tidak menjawab, dan tidak pula mengindahkan ide kami. Kembali 

pertunjukkan itu terhampar di hadapan kami dan mobil pick up itu tambah kelihatan 

miring, dengan suara mesin yang meraung-raung, lebih keras seiring raungan sang 

sopir yang mulai terdengar putus asa memberi  komando.  

 

Akhirnya ki Ngawur keluar dari mobil, hal pertama yang harus ia lakukan yaitu  

memperbaiki posisi celananya, yang terus melorot, sebab  salah satu tujuan kami ke 

pasar yaitu  membelikannya ikat pinggang baru. Sekitar 5 menit, ki Ngawur berhasil 

mengatasi rintangan pertama, kemudian step berikutnya yaitu  mencari beberapa 

batu, kemudian akhirnya ... ia mengangkut batu-batu itu seorang diri. Ya, tak ada 

yang tergerak membantunya, saya duduk di mobil, setalah Ki ngawur melarang saya 

untuk ikut mencari dan mengangkut batu, saya tinggal di mobil dan mulai berdoa,  

 

“Tuhanku, bantu kami mengatasi hal ini, jika tidak kami akan terpaksa kelaparan, di 

sini, di ujung dunia.”  

Kemudian saya lihat, Ki ngawur mulai berbicara dengan sopir pick up itu, dan ia 

terlihat setuju untuk menghentikan usaha lamanya, untuk memberi Ki ngawur waktu 

meletakkan beberapa batu di sekitar ban kiri belang mobil itu. Satu orang terlihat 

mulai membantunya, berusaha menginjak batu batu tersebut agar lebih padat, dan 

kemudian sekitar 10 menit kemudian, dengan aba-aba dari Ki Ngawur, mobil pick up 

tersebut berhasil membebaskan dirinya, dari jebakan lumpur.  

 

Kemudian spontan semua yang ada di situ, kecuali Ki Ngawur, berteriak, 

“Allahuakbar!” Mereka ingat Tuhan, tapi mereka lupa bahwa batu lebih keras 

dibandingkan  lumpur, dan itu bisa mengubah takdir Tuhan. Doa 

 

 

, dan usaha akan mengubah takdir, tapi usaha yang seperti apa? Usaha yang tepat, 

yang dengan hasil pemikiran terbaik. Bahkan usaha yang dibutuhkan untuk 

memecahkan sebuah permasalahan bahkan seringkalinya hanya, berdoa untuk 

meminta petunjuk, dan menjalankan petunjuk itu. Bahkan ternyata, usaha yang harus 

dilakukan bahkan jauh lebih mudah dibandingkan  yang selama ini terpikir. Setelah kita 

melakukan sebuah usaha, kita wajib menganalisis hasilnya, dan jika hasilnya jauh dari 

harapan, berarti masih ada yang salah dalam usaha kita.  

 

Contoh kejadian di atas sangatlah sederhana, bahkan kami tidak lagi berdoa meminta 

petunjuk akan caranya, sebab  itu telah ada dalam file plot usaha kami dalam 

menghadapi permasalahan serupa, meski dari sekitar 15 orang yang ada di atas, tidak 

ada satu pun yang berpikiran sama. Ilustrasi paling keren, dari bagaimana kita wajib 

mengubah plot usaha, untuk MENGUBAH TAKDIR, disampaikan dalam film The 

Edge of Tomorrow, dengan slogannya: Live. Die. Repeat—seperti permainan sebuah 

video game—yang tayang tahun 2014 yang lalu. Film ini menceritakan tentang sekian 

ribu kali Mayor William Cage, yang diperankan oleh Tom Cruise, harus berusaha 

mengubah plot usahanya hanya dalam waktu SATU HARI saja, dalam upaya 

mengubah hasilnya, dan akhirnya ia pun berhasil mengubah TAKDIR dengan 

memenangkan sebuah peperangan yang PALING SULIT untuk dimenangkan umat 

 36 

manusia melawan pasukan alien the Mimic, setelah sekian ribu kali mengubah plot 

usahanya—lihat bagian: The Butterfly Effect di artikel  ini. 

 

Kita mungkin tidak bisa menjalani sebuah hari sekian ribu kali, dan mati setiap hari 

untuk mereset hari untuk memperbaiki plot usaha kita, atau pun melihat apa yang 

terjadi di masa depan, bahkan meskipun Anda mungkin termasuk yang meyakini 

bahwa Anda telah menjalani rebirth/reinkarnasi ribuan kali, jika Anda tidak bisa 

mengingatnya seperti Mayor Cage, bagaimana Anda bisa mengubah plot usaha Anda 

untuk mengubah takdir Anda? Namun yang jelas, kita dikaruniai sekian ribu hari 

sepanjang hidup kita yang ini, untuk mengubah plot usaha kita dalam mengubah 

TAKDIR kita, meskipun kita tidak harus mengalami langsung sekian ribu alternatif 

paradox takdir kita, namun kita memiliki senjata ampuh dalam mengatasinya, yaitu 

DOA. Doa dalam meminta bantuan dan PETUNJUK, agar kita bisa mendapatkan 

TAKDIR TERBAIK dari sekian ribu bahkan mungkin sekian juta alternatif paradox 

takdir yang bisa menimpa kita. Kemudian, tentu saja, mengasah diri agar kita mampu 

menginterpretasikan jawaban dari doa-doa tersebut dalam mengubah plot usaha kita. 

sebab  petunjuk yang terabaikan, akan bagaikan pohon yang tidak berbuah.  

 

Seberapa besar keinginan Anda akan sebuah TAKDIR, seberapa sering Anda berdoa 

memohon petunjuk? 

 

“A sound guided man will get the best series of fate.” 

 

Firasat—Masa Depan yang Bocor atau Manifestasi dari Persangkaan?—

paradoxical 

 

Jika Anda tengah membaca artikel  ini, kemungkinan besar Anda yaitu  seorang 

pembaca artikel -artikel  semisal artikel  yang kami tulis ini yang biasanya. Dan 

kemungkinannya Anda juga telah membaca atau setidaknya pernah mendengar 

sebuah artikel  berjudul, The Secret, karya Rhonda Byrne. Meskipun biasanya artikel  

karya kami ditaruh bersebelahan dengan artikel -artikel  karya Bu Byrne—Kitab Sihir dan 

The Magic, waktu itu yang kami lihat bersebelahan di Gramedia Melawai—di rak-rak 

artikel  milik Gramedia, namun pada dasarnya aliran artikel -artikel  itu secara prinsip 

mendasarnya yaitu  berbeda. artikel  The Secret yaitu  termasuk artikel  beraliran New 

Age. Gerakan New Age yaitu  sebuah gerakan pemahaman spiritual, semenjak tahun 

1970-an.  

 

saat  sebuah takdir buruk—buruk menurut nafs kita—menimpa kita, dan kita 

merasa TELAH diberi sebentuk petunjuk akan kedatangannya, misalnya lewat mimpi, 

apakah itu sebab  kita memikirkan sebuah pikiran yang mendalam, sehingga terbawa 

mimpi, terus terjadi sebab  kita tersugesti—persangkaan. Atau kah itu sebentuk 

firasat, atas masa depan yang dibocorkan buat kita, namun tidak bisa kita hindari, 

sebab  itu akan tetap terjadi sebab  Allah menghendakinya? Terus kenapa kita diberi 

tahu di awal? Apakah ini pun, petunjuk ini pun merupakan bagian dari sebuah 

rentetan takdir? Bicara tentang rentetan takdir, kita akan masuk ke pembahasan 

berikutnya, The Butterfly Effect. 

 

Kalau semuanya telah ditentukan, dan kita tidak akan bisa mengelak atas takdirnya, 

lantas kenapa harus berusaha? Pertanyaannya yang kemudian timbul pasti kan itu: 

sebab  Allah memerintahkan kita untuk berusaha sekalipun kita tidak yakin atas hasil 

 37 

dari usaha itu. Melakukan usaha yaitu  sebuah menghambaan diri kepada-Nya, 

sebab  kita diperintah olehnya untuk berusaha.  

 

Prinsip yang dianut yaitu  bertentangan dengan prinsip Islam yakni keberserahan 

diri secara total pada Tuhan. Menurut paham New Age, usaha kita yaitu  penentu 

segala takdir. Kita yaitu  pemilik kekuatan itu sendiri, dan takdir pun tergantung 

sepenuhnya pada usaha kita. Konsep gerakan New Age, sepertinya rada mirip dengan 

konsep karmic.  

 

Bagian 4: Santet dan The Theory of Everyting 

 

Hukum Keterkaitan Santet dengan Fitrah, Chaos Theory, The Butterfly Effect, 

dan Teori Syncronicity. 

 

“Sebagai manusia kita SEMUA takluk pada hukum fitrah kemanusiaan itu sendiri, 

tugas kita yaitu  kembali memahaminya, memikirkannya dan menyelaraskan diri 

dengannya, jika tidak maka kita tidak akan mampu berbahagia dalam hidup ini, kita 

akan tersantet kelalaian kita terkait fitrah—salah menekan tombolnya, maka bom 

waktu yang tertanam dalam diri kita akan meledak. Fitrah yaitu  keberserahan diri 

secara total kepada Allah swt. bagaikan bayi yang baru lahir yang sangat tergantung 

pada orang tua atau walinya, meskipun ia kemudian membutuhkan ini dan itu, 

dengan cara memberi  senyuman yang meluluhkan hati siapa pun yang melihat 

senyuman itu dan kemudian ia akan menangis dan berteriak, jika ia membutuhkan 

sesuatu dalam waktu yang cepat.”—QK 

 

Chaos Theory yaitu  sebuah cabang matematika dengan fokus pada perilaku dari 

sistem dinamika, yang sangat sensitif terpengaruh oleh kondisi-kondisi awal.  Teori 

ini berbunyi kira-kira begini: 

 

 “Dalam sebuah sistem kompleks yang sepintas terlihat acak, ternyata selalu ada 

sebuah pattern/pola, sebuah loop/lingkaran feedback yang konstan, pengulangan-

pengulangan, self-similarity, fractals, self-organization, dan ketergantungan pada 

sebuah pemrograman pada sebuah titik yang dikenal sensitif, se-sensitif sebuah 

ketergantungan pada kondisi-kondisi awal.” 

 

“Tak ada yang acak, segalanya saling behubungan.”—Fisika Klasik 

  

Dalam Chaos Theory, butterfly effect yaitu  sebuah ketergantungan yang sangat 

sensitif, terhadap suatu kondisi awal, dari sebuah rentetan takdir, di mana sebuah 

perubahan terkecil sekalipun dalam sebuah state of deterministic nonlinear system, 

bisa mengubah efek dari sesuatu secara signifikan pada state berikutnya. Determinism 

yaitu  sebuah teori filosofis, yang menyatakan bahwa, “Segala kejadian, termasuk 

pilihan-pilihan berbasis moral—yaitu  ditentukan sepenuhnya oleh pemicu  

sebelumnya.”  

 

Istilah ini dicetuskan pertama kali oleh Edward Lorenz—seorang ahli peneliti cuaca 

dan matematikawan—yang merupakan penjelasan dari fenomena tersebut dengan 

pemakaian  sebuah contoh perumpamaan, perilaku detail dari sebuah tornado—

titik waktu terjadinya, dan jalur yang dilewatinya—ternyata dipengaruhi oleh minor 

perturbation, sekecil kepakan sayap seekor kupu-kupu, nun jauh di sana dan terjadi 

 38 

beberapa minggu sebelumnya. Jadilah fenomena yang ditemukannya, dinamakan efek 

kepak sayap seekor kupu-kupu, di kejauhan di beberapa minggu sebelum sebuah 

tornado terbentuk—The Butterfly Effect. 

 

Ilustrasi dari the butterfly effect ini, ilustrasi paling keren, dari bagaimana kita wajib 

mengubah plot usaha—sekecil apa pun—sebagai usaha untuk MENGUBAH 

TAKDIR, disampaikan dalam film The Edge of Tomorrow, dengan slogannya: Live. 

Die. Repeat—seperti permainan sebuah video game—yang tayang tahun 2014 yang 

lalu. Film ini menceritakan tentang sekian ribu kali Mayor William Cage, yang 

diperankan oleh Tom Cruise, harus berusaha mengubah plot usahanya hanya dalam 

waktu SATU HARI saja, dalam upaya mengubah hasilnya, dan akhirnya ia pun 

berhasil mengubah TAKDIR dengan memenangkan sebuah peperangan yang 

PALING SULIT untuk dimenangkan umat manusia melawan pasukan alien the 

Mimic, setelah sekian ribu kali mengubah plot usahanya. Di dalam film tersebut 

diilustrasikan, perubahan sekecil apa pun, akan berpengaruh pada hasil akhir, yaitu: 

Menang atau kalah, hidup atau mati. 

 

Kita mungkin tidak bisa menjalani sebuah hari sekian ribu kali, dan mati setiap hari 

untuk mereset hari untuk memperbaiki plot usaha kita, atau pun melihat apa yang 

terjadi di masa depan, bahkan meskipun Anda mungkin termasuk yang meyakini 

bahwa Anda telah menjalani rebirth/reinkarnasi ribuan kali, jika Anda tidak bisa 

mengingatnya seperti Mayor Cage, bagaimana Anda bisa mengubah plot usaha Anda 

untuk mengubah takdir Anda? Namun yang jelas, kita dikaruniai sekian ribu hari 

sepanjang hidup kita yang ini, untuk mengubah plot usaha kita dalam mengubah 

TAKDIR kita, meskipun kita tidak harus mengalami langsung sekian ribu alternatif 

paradox takdir kita, namun kita memiliki senjata ampuh dalam mengatasinya, yaitu 

DOA. Doa dalam meminta bantuan dan PETUNJUK, agar kita bisa mendapatkan 

TAKDIR TERBAIK dari sekian ribu bahkan mungkin sekian juta alternatif paradox 

takdir yang bisa menimpa kita. Kemudian, tentu saja, mengasah diri agar kita mampu 

menginterpretasikan jawaban dari doa-doa tersebut dalam mengubah plot usaha kita. 

sebab  petunjuk yang terabaikan, akan bagaikan pohon yang tidak berbuah.  

 

Seberapa besar keinginan Anda akan sebuah TAKDIR, seberapa sering Anda berdoa 

memohon petunjuk? 

 

A sound guided man will get the best series of fate.—QK 

 

The Butterfly Effect—Determinism vs free will 

 

Dalam teori ini terdapat paradox, kemana BE berpihak? Pada free will atau pada 

Determinism? Bagaimana kalau kita tidak pernah tahu pilihan mana yang terbaik yang 

harus kita ambil? Dan bagaimana kalau kita melakukan suatu error dalam melakukan 

sesuatu tanpa kita inginkan, atau di luar kekuasaan kita, atau ketidakmampuan kita 

dalam memilih? Atau ketidakkuasaan kita dalam mengatur sekian banyak variable 

yang terlibat dalam keputusan yang harus kita ambil? 

 

Sayyidina Ali pernah ditanya, “Apa itu free will, dan apa itu determinism?” Ini 

jawaban beliau: “Coba kamu angkat kaki kiri kamu.” Maka si penanya mengangkat 

kaki kirinya. Kemudian beliau berkata: “Sekarang coba kamu angkat kaki kananmu, 

tanpa menurunkan kaki kirimu, dan tahan 5 menit.” 

 39 

 

Santet dan The Butterfly Effect 

 

The Butterfly Effect yaitu  dari setiap plot usaha berbeda yang kita lakukan akan 

menentukan takdir yang berbeda, sehubungan dengan hasil akhir yang terjadi. Kita 

bisa memilih satu takdir terbaik dari serangkaian takdir yang tersedia untuk kita, 

dengan melakukan plot usaha terbaik yang kita ambil, setelah memohon petunjuk 

pada yang Maha Mengetahui segala takdir, dan mengintrepretasikan petunjuk itu 

dengan tepat. Mungkin Anda kemudian bertanya, “Bagaimana mengintrepertasikan 

petunjuk-petunjuk-Nya dengan tepat?” Salah satu plot usaha yang bisa Anda ambil 

yaitu  dengan membaca artikel -artikel  karya kami yang berbicara seputar, cara 

menginterpretasikan petunjuk-petunjuk penting yang bertebaran di seputar kita, di 

antaranya yaitu  dalam artikel  Misteri Nomor Hp, dan artikel  Kitab Sihir. 

 

Takdir yang kita inginkan yaitu  tujuan, atau tujuan-tujuan yang ingin kita capai— 

termasuk tujuan paling akhir atau final decree: surga atau neraka—hasil sentesis kita 

terhadap segala bentuk PETUNJUK, dan hasil dari penerapan plot usaha yang sesuai 

dengan keinginan kita, akan kita simpan di dalam bank file plot usaha kita, dan 

kumpulan dari banyak file plot usaha kita akan menjadi believe system kita, plot usaha 

yang masuk ke dalam bank file kita, bisa jadi bukan merupakan pengalaman langsung 

kita sendiri, akan tetapi pengalaman orang yang mereka tulis dalam artikel , kemudian 

kita baca, mereka share di media radio, kemudian kita dengar, atau mereka share di 

media TV atau film kemudian kita lihat.  

 

The Butterfly Effect dalam kaitannya dengan santet yaitu , pada saat kita BISA 

membelok-belokan  sebuah believe system seseorang, maka kita akan bisa mengubah plot 

usaha yang mereka pilih, dan ini bisa termasuk sebuah inaction yang mereka pilih, 

dan oleh sebab  itu kita bisa ikut MEMBENGKOKKAN TAKDIR mereka.  

 

Pembahasan tentang beberapa teknik pembelokkan believe system seseorang, akan 

kita bahas di bagian lain dalam artikel  ini (Inception). Sehingga untuk menghindari 

terkena santet, salah satu upaya yang bisa kita lakukan yaitu  jangan sampai lawan 

kita mengetahui tujuan-tujuan paling penting kita, atau detail plot usaha yang akan 

kita jalankan. 

 

“Tetaplah terlihat tanpa tujuan dan sulit terbaca, sehingga lawan tak dapat 

mematahkan dan membelok-belokan  langkah kita.” 

 

Mulai sekarang perhatikan selalu dengan siapa Anda membagi mimpi-mimpi Anda, 

tujuan-tujuan yang ingin Anda capai, dan lebih pentingnya lagi siapa yang selalu 

mematahkan dan atau membelokan plot usaha yang telah Anda bagi dengannya? 

Siapa pun, yang berusaha mematahkannya, maka ia yaitu  lawan Anda dalam 

mencapai takdir yang Anda inginkan.  

 

“Tak Ada” yang Linear—Nothing is Kharmic 

 

“I ask my Lord his favor, He answers as He will.”—Thoros of Myr, The Red Priest, 

The Game of Thrones TV Series. 

 

 40 

“Pada hakikatnya, tidak ada itu hukum sebab-akibat, sebab  hanya ada satu SEBAB, 

Dialah Allah swt.—pemicu  segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi hanya atas 

kehendak-Nya, sekehendak-Nya saja.”—Nyi Damar Sagiri 

 

Dalam ilmu matematika dan science, dikenal nonlinear system, sebuah sistem di mana 

perubahan yang terjadi pada input tidak berbanding lurus dengan perubahan yang 

terjadi pada output. sebab , dalam kehidupan ini, memang tidak ada komposisi semua 

variable yang terlibat, yang linear—usaha kita tidak berbanding lurus secara 

proporsional dengan hasil yang kita dapat. Jika selalu berbanding lurus, malah jadinya 

mencurigakan, jadi ingat kasus skandal audit keuangan Enron, ketahuan sebab  dia 

memiliki trend performa perusahaan yang dibuat linear.  

 

Skandal Enron mencuat ke publik pada bulan Oktober 2001, yang pada akhirnya 

mendatangkan kebangkrutkan pada perusahaan tersebut—Enron, sebuah perusahaan 

Amerika yang bergerak di bidang energi, berbasis di Houston Texas, didirikan tahun 

1985 dan roboh pada tahun 2001, dan juga pembubaran Arthur Andersen, kantor 

akuntan publik the big 5, waktu itu—di seluruh dunia, termasuk kantor cabangnya 

yang ada di Jakarta. Kasus ini menjadi kasus kebangkrutan terbesar dalam sejarah 

korporasi di Amerika waktu itu, Enron telah dianggap sebagai kasus kegagalan audit 

keuangan terbesar dalam sejarah, dan memicu  beberapa petinggi perusahaan itu 

mendapatkan hukuman penjara, selain berbagai tuntutan dari para pemegang 

sahamnya, dan tentu saja telah kehilangan kepercayaan juga dari para pelanggannya.  

 

Laporan-laporan keuangan yang diterbitkan Enron sangat rumit, telah 

membingungkan banyak pihak yang berkepentingan atasnya, untuk melakukan 

analisis laporan-laporan keuangan itu. Perusahaan itu, dengan bantuan akuntannya 

Arthur Andersen telah memodifikasi laporan-laporan itu—secara tidak jujur telah 

melakukan sebuah Earning Management—untuk menunjukan performa yang 

menguntungkan Enron. Skandal kejatuhan Enron sebab  ketidakjujurannya—

financial reports’ corruption and fraud—itu, yang mengakibatkan kerugian pada para 

pemegang sahamnya, telah membuat Presiden George W Bush, menandatangani The 

Sarbanes-Oxley Act, yang berisi konsekuensi hukum atas segala ketidakjujuran dari 

sebuah penyajian laporan keuangan yang berusaha mengelabui para shareholder-nya, 

pada Bulan Juli 2002 

 

“Earnings Management is the active manipulation of accounting results for the 

purpose of creating an altered impression of business performance.”—Charles W 

Mulford and Eugene E Comiskey 

 

Harga saham Enron terus meroket dalam kurun 1997-2000, sampai di tahun 2000, 

performa harga sahamnya mengalahkan NASDAQ’s composite index (index harga 

sagam gabungan), dengan trend peningkatan yang bisa dikatakan LINEAR. Hal ini 

memicu  kecurigaan pada berbagai pihak pengamat harga saham. sebab  dalam 

kehidupan ini—biasanya—tak ada sesuatu yang linear, apalagi dengan kehadiran 

sedemikian banyak variable yang terlibat dalam sesuatu itu, sehingga hal ini—sesuatu 

yang linear—memicu  sorotan, termasuk dari media, sehingga pada akhirnya 

management reporting yang ia lakukan pun terbongkar. 

 

“Something is rotten with the state of Enron.”—The New York Times, September 9, 

2001. 

 41 

 

Yang Dilakukan Siti Hajar dan Ismail as. pun tidak Linear 

 

Hukum sebab akibat di atas, termasuk efek kupu-kupu, hanya berlaku di alam syariat, 

namun alam hakikat tidak mengenalnya. Alam hakikat tidak mengenal adanya hukum 

sebab akibat. 7x equal eternity. Siti Hajar berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa 

sebanyak 7 kali, 7 yaitu  simbol angka spiritual, yang bisa berarti banyak, atau 

bahkan infinity.  Itu merupakan simbol dari Tuhan, bahwa jika membutuhkan sesuatu 

memintalah dengan usaha berupa doa, dan aktivitas lain, sebanyak-banyaknya, 

bahkan mungkin selamanya. Tuhan Maha memenuhi segala kebutuhan semua 

makhluknya. Tugas kita berusaha—Doa dan upaya lainnya—maka Dia akan 

mengabulkannya. 

 

Kemudian menurut kisah di al-Qur’an tersebut, jawaban atas usaha dari Siti Hajar, 

tidak lantas berhubungan langsung dengan apa yang dia lakukan. Membuat sebuah 

sumur, menurut nalar kita yaitu  dengan menggali tanah, sedalam yang diperlukan. 

Dan mungkin, bukan itu pula bentuk pertolongan yang ada di benak Siti Hajar waktu 

itu. Dari ujung kaki Ismail as. memancar air, Air Zamzam yang abadi, kita pun 

pernah kebagian meminum air penuh berkah ini, dan akan bisa terus menikmatinya 

lagi. 

 

“I ask my Lord a favour, He answers as his will.”—Thoros of Myr 

 

“Tidak ada yang berbanding lurus sepenuhnya, yang ada biasanya berliku namun 

berpola.—Nyi Damar Sagiri 

 

The Theory of Everything 

 

Sejak dimulai dari jaman Romawi Kuno—sekitar 2000 tahun silam—umat manusia 

telah memiliki ketertarikan untuk mengetahui dan terus berupaya mencari tahu 

jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul menyangkut hakikat keberadaan 

dirinya dan alam semesta raya. Rangkaian pertanyaan itu, dimulai dengan sebuah 

pertanyaan microcosmic, “Terbuat dari apa sih kita?” Pertanyaan ini pada akhirnya 

terus berkembang pada pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang bersifat macrocosmic, 

“Terbuat dari apa sih segala sesuatu yang ada di alam semesta raya ini? Bagaimana 

sih segala sesuatu tercipta?”—Cosmology yaitu  sebuah cabang ilmu yang mencari 

tahu mengenai “How?” atau bagaimana alam semesta tercipta. Science atau ilmu 

pengetahuan alam, sejauh ini memang hanya mampu menjawab pertanyaan tentang, 

“Apa?” dan “Bagaimana?” Akan tetapi, “Mengapa?” yaitu  bagian bagi para 

teolog untuk menjawabnya.  

 

sebab  meskipun akan selalu ada sebuah jawaban bagi setiap pertanyaan ilmiah apa 

pun yang mungkin timbul dalam benak seorang ilmuwan sekelas Stephen Hawking 

sekali pun, permasalahannya kemudian yaitu  seberapa mau mereka—kita— 

menerima sebuah jawaban yang dihasilkan dari sebuah pertanyaan yang diajukan. 

Sebuah pertanyaan mungkin apa akhirnya akan terjawab dalam bentuk sebuah rumus 

rumit matematika yang memuaskan semua pihak, atau hanya akan memicu  

sebuah pernyataan atau teori paradoxical yang masih menunggu generasi-generasi 

berikutnya untuk memecahkannya, atau pemecahan yang tidak memuaskan konsensus 

nalar, bahkan mungkin tak akan pernah mampu memuaskan nalar dalam batas 

 42 

kemampuan logika semata. Seperti Darwin yang tidak puas dengan jawaban yang 

memuaskan para teolog Islam tentang pertanyaan, “The Origin of The Human 

Species”, yang meyakini bahwa manusia beradab pertama yaitu  Adam as. yang 

diciptakan dari sari tanah liat. Sampai kapan pun, akan ada yang lebih puas dengan 

masing-masing jawaban di atas, “The Truth is there.” 

 

Seiring juga dengan kemajuan teknologi yang dicapai peradaban manusia, sebagai 

salah hasil dari pemecahan-pemecahan beberapa pertanyaan yang berhasil 

dirumuskan secara matematis, pertanyaan-pertanyaan itu pun kemudian telah melebar 

menjadi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat macrocosmic. Dalam artikel , The Real 

Building Block of The Universe & The Fundamental Laws of Physic, Jerome 

Gauntlett/David Tong, berusaha menjelaskan dengan sederhana untuk kalangan 

awan, tentang apa sih bahan bangunan dan hukum-hukum dasar Fisika yang 

membangun semesta raya ini. Dengan dimulai dengan mencari tahu unit terkecil 

pembentuk dari segala hal, atau apa yang mereka sebut dengan The Theory of 

Everything. Dalam upaya untuk mencari tahu penyusun segala sesuatu, David Tong 

menjelaskan bahwa sebelum ditemukannya atom, unsur—yang tersusun dalam 

sebuah Tabel Periodik 120 Element—pernah dianggap sebagai bagian terkecil dari 

segala sesuatu. Meskipun ide tentang atom telah disampaikan Democrates dan 

Lucricus, pada peradaban Yunani Kuno—sekitar 2500 tahun silam.  

 

Pada tahun 1897 JJ Thomson menemukan bahwa ternyata ada yang lebih kecil lagi 

dibandingkan  atom, sebuah partikel yang ia namakan electron. Elemen pada daftar unsur 

periodik ternyata bukanlah penyusun terkecil dari segala sesuatu. Kemudian sekitar15 

tahun setelah JJ Thomson menemukan electron,  Ernst Rutherford kemudian 

menemukan bagian-bagian dari sebuah atom. Model atom Rutherford, terdiri dari inti 

atom (Nucleus yang terdiri dari Proton dan Neutron), orbit-orbit electron elips yang 

mengitari inti atom (Nucleus). Dan kemudian diketahui pula ternyata di dalam setiap 

Proton dan Neutron terdapat 3 partikel yang lebih kecil lagi yang dinamakan Quarks, 

ada dua jenis Quark, Up Quark dan Down Quark. Sebuah Neutron terdiri dari 2 Up 

Quark, 1 Down Quar