sepenuhnya tergantung
pada Tuhan (menurut al-Ghazali) atau pada the observer/pengamat (menurut
Interpretasi Copenhagen)."
Di tahun 1978 pada sebuah artikel yang dimuat Studia Islamica, Lenn Goodman
menuliskan sebuah pertanyaan, “Apakah al-Ghazali menapikan sebab-akibat?” Dan
mendemonstrasikan bahwa al-Ghazali tidak menapikan keberadaan dari sesuatu yang
dalam pengamatan kita disebut sebab-akibat (causation). Menurut analisis dari
Goodman, Ghazali tidak pernah mengklaim bahwa tidak ada hubungan sama sekali
antara pemicu yang teramati dengan akibat yang teramati, namun al-Ghazali
memiliki pendapat bahwa TIDAK SELALU HARUS ADA HUBUNGAN antara
sebab yang sedang diamati dengan akibat yang sedang diamati.
24
Baiklah, itu kita kembali kepada pembahasan kita tentang Occasionalism tadi, paham
ini muncul pada suatu waktu di kalangan para pemikir barat. Kaum occassionalist
mengatakan, “Atom tidak memiliki durasi, dan atom bisa tercipta dan menghilang
secara instan (sekejap mata), sehingga dengan demikian Anda tidak bisa mengatakan
bahwa ada sebuah pemicu ilmiah di dunia ini. Anda tak bisa mengatakan bahwa,
“A menyebabkan B”, tapi Anda bisa mengatakan bahwa perilaku Tuhan di dunia ini
biasanya memang konsisten, biasanya memang, “Jika A maka B.” Anda bisa
memiliki asumsi bahwa jika Anda melemparkan bola kasti ke jendela kaca, maka
Tuhan akan memecahkan kaca itu, sebab memang demikianlah cara Tuhan Yang
Maha Kuasa atas segala sesuatu itu bekerja,“Jadilah! Maka jadilah,” tak memerlukan
mekanisme apa pun. Dan oleh sebab itu Anda tidak bisa lagi mengatakan bahwa bola
Kasti itulah yang menyebabkan pecahnya kaca jendela dalam contoh asumsi tersebut.
Yang paling menarik yaitu sebuah kenyataan bahwa saat pandangan teologi Islami
klasik yang tentunya berbasis pada ketuhanan ini (theist)—yang kemudian tumbuh
subur itu dimulai dan terpusat di kawasan Turki—justru tambah berdiri semakin
tegak, di tengah-tengah era peradaban dunia modern yang dimulai pada sekitar abad
ke 20 ini. Setelah pada abad ke 19—dimana penalaran terhadap alam semesta saat
itu bersifat masih sangat mekanistis (anti metafisis)—saat nalar menganggap bahwa
pendapat Asy’arite ini sangatlah absurd dan tidak masuk akal. saat atom-atom pun
sudah berhasil mereka ukur dan mereka tuangkan ke dalam rumus-rumus persamaan
matematika, mereka pun bisa membuktikan bahwa pendapat Asy’arite—sementara—
dinyatakan salah, sebab atom ternyata memiliki durasi. Jadilah, kaum Mu’tajila (non
fatalisme, yang menganut Hukum Sebab-Akibat) telah dianggap sebagai pihak yang
benar, setidaknya sampai di sekitar awal abad ke 20. Dengan perkembangan terbaru
di dunia Fisika Modern, dengan generasi para ahli fisika terbaru, yang salah satunya
yaitu Stephen Hawking, yang menulis sebuah artikel yang sangat terkenal, “The Brief
History of Time.”Singkatnya di dalam artikel itu, Hawking menulis, “Anda tidak dapat
mengatakan bahwa atom memiliki durasi, bahkan Anda tidak dapat menjelaskan
secara koheren tentang keberadaan dari partikel-partikel sebagai bagian-bagian
yang lebih kecil dari atom itu sendiri, Anda dapat melihatnya (berperilaku) sebagai
partikel-partikel DAN Anda pun dapat melihatnya (berperilaku) sebagai gelombang
(hal ini dikenal sebagai dualisme partikel), Anda bisa melihatnya sebagai fenomena
universal yang berubah terus menerus secara instant—pada kesempatan berbeda,
menanggapi pernyataan Einstein, Hawking mengatakan, “Tuhan ternyata memang
bermain dadu, dan lebih parahnya lagi, bahkan Dia kemudian menyembunyikan
dadunya.”—dan hal ini mewakili apa yang sebenarnya berlangsung di jagat raya
secara universal—secara Cosmologis.”
Dengan adanya pernyataan Hawking di atas, maka konsep Asyarism, kemudian telah
kembali diakui sebagai sesuatu yang SELARAS, setidaknya dengan konsep
penciptaan alam semesta atau Cosmology modern, dibandingkan sebelumnya, yang bahkan
pernah disalahkan, seperti telah dijelaskan di atas. sebab pemikiran occassionalism-
nya, yang selalu menapikan real causality. Jadi kesimpulannya: Tidak ada itu hukum
Sebab-Akibat yang dimaksud.
Di luar telah terjawabnya salah satu sisi metafisis dengan sebuah teori fisika
modern—Quantum Mekanik, pihak yang berseberangan, yakni Mu’tazalaits/Muta’jila
tetap pada prinsipnya yang berpegang teguh pada sisi moralitas Tuhan, dan janjinya
bahwa Dia tidak akan pernah menganiaya makhluknya, dan koherensi dari Islam itu
25
sendiri, sebagai bagian dari ketetapan-Nya, dan oleh sebab nya Tuhan akan
memberi ganjaran dan hukuman kepada manusia atas amal perbuatannya masing-
masing. Dan hal ini baru akan dapat dipenuhi secara masuk akal, jika terdapat
hubungan berdasar kokoh yang jelas antara amal perbuatan manusia dan konsekuensi
moral, sebagai hukum yang mengikat itu, sehingga mereka pun bersikukuh
bahwasannya atom HARUS memiliki durasi—tidak tercipta secara instan, dan
dapat menghilang kapan pun secara instan, tanpa sebuah aturan atau keteraturan, atau
sebuah dasar jejakkan hukum yang mengikat perilakunya dengan jelas, sehingga tak
bisa dituangkan dalam perumusan secara matematis—Lihat bagian tentang Quantum
Mekanik pada artikel ini. Fisika Modern berpihak kepada kaum yang menapikan
adanya Hukum Sebab Akibat.
Big Bang, Masa Lalu, Masa Sekarang, dan Masa Depan
Untuk menambah lagi wawasan kita tentang hal ini, mari kita simak bersama
penjelasan dari Syaikh Dr. Abdal Hakam Murad, seorang teolog Islam
berkewarganegaraan Inggris dari Cambridge University London, sebagai berikut:
“Ini sangat penting untuk dipahami, seringkali Islam telah dituduh menganut faham
fatalisme, sementara science atau ilmu pengetahuan alam, yang telah dianggap
sebagai akidah dasar modern—setidaknya menurut mereka yang kekurangan
informasi—sebagai dasar yang cukup dalam mendukung keberadaan dari
kehormatan umat manusia terkait dengan kemampuan kita dalam kebebasan dalam
melakukan pilihan, tapi faktanya yaitu justru kebalikannya—bahwa manusia sama
sekali tidak memiliki kekuasaan untuk memilih.
Jika dunia material keberadaannya telah termaktub dalam sebuah keteraturan, maka
kesadaran dalam diri kita pun hanyalah bagian dari dunia material tersebut, dan
juga segala proses yang terjadi dalam otak manusia, dimana proses setiap
pengambilan keputusan diformulasikan dan diukur— yaitu juga termasuk sebuah
proses fisik, sehingga ia pun tunduk pada hukum-hukum fisik yang mengikat segala
hal lainnya di dunia material ini. Dengan kata lain, ditinjau dari sudut pandang
ilmiah yang tepat, ternyata pemikiran tentang adanya “free will”, malah akan
menjadi sebuah pemikiran yang sama sekali tidak ilmiah, terkesan aneh dan bahkan
yaitu sebuah takhyul. Ini sama sekali bukanlah sesuatu yang berada di luar jejaring
kausalitas (causality), sebab jejaring kausalitas hanya dapat bekerja dalam
ketentuan-ketentuan tertentu.
Andaikan dalam sekian nano detik setelah terjadinya Ledakan Big Bang, sebuah
mega komputer kemudian menghitung trajectory dan energi, dari massa dari setiap
partikel—sub atomic particle, yang terlepas sebab ledakan dahsyat itu, maka segala
hal tentang yang terjadi di masa depan akan dapat diketahui. Dan hal ini pula yang
disampaikan oleh para ahli fisika partikel—Fisika Quantum dan String Theory, yang
menjelaskan tentang super luminary particles yang disebut Tachyons, partikel yang
mampu bergerak melampaui kecepatan cahaya, yang telah terbukti setidaknya secara
teori—bahkan dalam “particle entanglement”, sepasang partikel dapat saling
bertukar informasi dalam waktu, tanpa waktu, langsung, secara instan—lihat bagian
Quantum mekanik di artikel ini.
26
Jika partikel-partikel tersebut dapat—melakukan perjalanan dengan—melesat
melebihi kecepatan cahaya, menurut teori relativitas, itu berarti bahwa partikel-
partikel akan—get back in time—kembali ke masa lalu. Dan menurut mayoritas dari
para ahli fisika yang hidup di masa modern ini, memang mereka bahkan akan sampai
ke awal waktu, dan atau ke akhir waktu, dan ini yaitu sebuah kenyataan yang
terjadi. Dan jika demikian, itu berarti bahwa, realitas di masa sekarang ini, yang
sedang kita alami, BUKAN HANYA merupakan produk dari serangkaian kejadian
yang terjadi sebelumnya, akan tetapi juga merupakan konsekuensi dari serangkaian
kejadian yang telah terjadi di masa depan. Ini akan menghadapkan kita pada sebuah
konsekuensi filosofis yang MEMAKSA kita untuk menerima kenyataan bahwa masa
depan itu telah nyata dan ada. Masa depan bukanlah sesuatu atau serangkaian
kemungkinan yang belum terealisasi. Masa depan yaitu sebuah kenyataan yang
telah tercipta, sama halnya seperti masa lalu. Dan jika demikian halnya maka, ide
dari freewill, menjadi tidak lagi memiliki makna. Ide tentang adanya freewill yaitu
murni merupakan sebuah takhyul, khayalan atau waham belaka.” Kira-kira
demikian, menurut Syeikh Abdal Hakam Murad.
Bagian 3: Takdir dan Posisi Usaha Makhluk
Andailah demikian halnya, bahwa freewill ternyata yaitu sebuah takhyul semata
menurut Fisika Modern. Maka, mungkin kita harus merenungkan ini berjenak-jenak.
Mari kita bahas lebih lanjut tentang takdir sbb:
“Takdir yaitu ketentuan terhadap sesuatu berdasar sistem yang ditetapkan-Nya.”—
Prof. Dr. M. Quraish Shihab
saat Amirul Mukminin, Umar Bin Khaththab sampai di negeri Syam, ia diberitahu
bahwa wabah kolera sedang terjadi di sana. Maka Umar memutuskan untuk kembali
ke Madinah. Abu Ubaidah bertanya, “Apakah Anda hendak lari dari TAKDIR, wahai
Amirul Mukminin?” Umar menjawab,”Ya. Lari dari TAKDIR Allah kepada TAKDIR
Allah.”—Paradoxical.
TAKDIR yaitu rahasia Allah, ILMU Allah swt.yang ditulis di Lauh Mahfuz, tetapi
tidak ada seorang manusia pun yang tahu TAKDIR-nya sendiri atau pun TAKDIR
orang lain. Dalam hal kisah Umar Bin Khaththab memutuskan untuk kembali ke
Madinah untuk menghindari wabah kolera yang sedang terjadi di negeri Syam di atas,
yaitu hanya sebagai bentuk USAHA yang dapat ia lakukan untuk menghindari
sesuatu yang tidak disukai. Namun jika memang wabah kolera DITAKDIRKAN
kepada mereka, maka dimana pun mereka berada, pasti akan terkena juga. Tetapi
sebagai suatu usaha, untuk menjauhi wilayah yang terjangkit yaitu merupakan suatu
tindakan yang benar, sebenar usaha berbentuk berdoa untuk agar terhindar dari segala
keburukan yang telah atau dikhawatirkan akan menimpa kita.
Seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan Yang Maha Tahu, tidak percaya adanya
kitab Lauh Mahfuz, sebagai simbol atas pengetahuan-Nya akan segala sesuatu, pernah
menyatakan pemikirannya pada saya. Dan saya saat itu sama sekali tidak mau
mendebatnya, sebab logika berpikirnya saja sudah cacat menurut saya, saya hanya
menyimak pola pemikirannya saja. Begini, katanya pada saya, “Jika di Kitab-Nya
tertulis umur saya 65 tahun, terus saya berolah raga, memelihara kesehatan, pola
makan seimbang, dan ternyata umur saya bisa mencapai 90 tahun, bukan 65 tahun,
27
berarti Dia keliru, Dia tidak tahu.” Saya tanya, “Darimana Anda tahu bahwa pada
Kitab-Nya tertulis umur Anda hanya sampai 65 tahun, yang tahu itu kan hanya
Tuhan, Anda tidak tahu?” Namun dia tetap ngotot, dengan argumennya itu, sama
sekali tidak bisa melihat cacat pikirnya, bahwa dia telah menempatkan dirinya sebagai
Tuhan di situ. Kemudian dia mempertanyakan hal terkait dengan, “Buat apa
berusaha, jika semuanya telah tertulis dalam kitab takdirnya?” Ilustrasinya kali ini
dengan sebuah permainan bola, jika skor permainan terlah tertulis, misal katanya, 2-0,
lantas kesebelasan yang kalah sia-sia dong berusaha memenangkan pertandingan?
Saya jawab, pertama: bertanding untuk menang tidak mutlak selalu menjadi tujuan
suatu kesebelasan, bisa saja bahkan mereka bertujuan kalah untuk sebuah strategi.
Dan kemungkinan takdir dalam sebuah pertandingan kan ada beberapa yang bisa saya
pikirkan sekarang, tidak jadi bertanding sebab suatu hal, bisa sama kuat, bisa ada
yang menang dan bisa ada yang kalah, atau WO. Ya … kalau semua merasa sia-sia,
tidak akan ada yang bersedia kalah misalnya, ya tidak ada sportivitas dong, kata saya,
sepak bola kan pada dasarnya sebuah industri hiburan juga. Jadi jelas di sini tidak ada
yang sia-sia dalam berusaha.
Paradox Doa dan Takdir
Ketetapan Allah untuk setiap hamba guna menepis mudarat yang sedang menimpanya
atau dikhawatirkan menimpa dirinya pun yaitu TAKDIR.
Abu Hamid al-Ghazali menyatakan, “Jika ditanyakan apa faedah do’a, sedangkan
TAKDIR itu pasti terjadi? Maka jawabannya, sesungguhnya upaya menolak musibah
itu merupakan bagian dari TAKDIR.”
Dan satu lagi kabar gembiranya, paradox doa:
“Jika Allah tidak akan mengabulkan doa Anda, Dia tidak akan membimbing Anda
untuk memanjatkan doa itu.”—Ibn Al Qayyim
Jadi Setiap doa pasti memang akan dikabulkan Allah, sebab Allah jualah yang
memberi petunjuk pada kita untuk memanjatkan doa-doa tertentu itu.
Ini mirip dengan tugas kita, dalam mengenal Allah. Kita diperintahkan untuk
berusaha dan berdoa agar mengenal-Nya seperti yang diinginkan-Nya, tapi kita tak
akan pernah bisa mencapainya, tanpa petunjuk-petunjuk dari-Nya.—Paradoxical.
“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberi kepada setiap sesuatu bentuk
kejadiannya, kemudian memberinya PETUNJUK.”—(QS. Thaahaa 20:50)
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan dan
menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan menentukan kadar (masing-masing) dan
memberi petunjuk.”—(QS. Al-A’laa 87:1-3)
Makna Hatta dalam QS. Al-Anfal 53
Mari kita simak sekali lagi tentang konsep takdir dan Doa, kali ini menurut pendapat
Prof. Dr. KH. Abdul Syakur Yasin, MA—Buya Syakur sbb. Terkait dengan makna
“hatta”:
28
QS. Al-Anfal 53
Depag: “Yang demikian itu sebab sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu
nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa
yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui.”
Al-Mishbah: “Yang demikian itu yaitu sebab sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga
kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
QS. Ar-Rad 11:
Depag: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan jika Allah menghendaki
keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak
ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Al-Mishbah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada
satu kaum/masyarakat sampai mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri
mereka.”
Terjemahan Depag RI atas (QS Ar-R’ad 13: 11):
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, (hattaa/sebelum)
mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan jika Allah menghendaki
keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.”
“Allah tidak akan mengubah sesuatu yang ada pada suatu bangsa—hattaa,
diterjemahkan Depag RI dengan: sebelum, sementara Buya Syakur memahaminya
dengan: sekali pun—mereka ingin mengubahnya.”
Kemudian lanjut Buya Syakur:
“Kalau Allah tidak akan mengubah apa pun yang ada pada suatu bangsa sekali pun
bangsa itu ingin mengubahnya. Sekarang pada pribadi, “Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah nasib seseorang sekali pun orang itu bersungguh-sungguh ingin
mengubahnya.” Jika Allah sudah menentukan seseorang harus mati, dan dia ingin
sembuh, dan kebetulan dia milyarder, konglomerat. Sekali pun dokter sealam dunia
dihadirkan semuanya tidak akan bisa menyelamatkan nyawanya, tetap ia harus mati,
itu maksud saya. Jadi di sini, yang menjadi masalahnya yaitu , mereka yang
menterjemahkan ini depag, depag ini menterjemahkan hatta dengan:
“hingga/sampai/sebelum” perlu dipertanyakan, dari mana hatta maknanya sebelum,
ini? Dan itu dibiarkan sejak bertahun-tahun sampai sekarang, dan saya sudah usul
berulang-ulang, terjemahan depag direvisi ulang, sudah bilang berkali-kali sampai
hampir bosan. Tapi saya tidak akan pernah bosan, diperbaiki lagi, sebab dulu yang
menterjemahkan itu sebelas professor, tapi semuanya ahli hukum Islam semua,
29
fukoha semua, itu tidak ada antropolog-nya psikolognya, pedagogiknya
kosmologinya, astronominya, fisiologinya, gak ada, menterjemahkan al-Quran yang
begitu besar. Ke depan terjemahkan bikin besar, bikin seribu orang panitianya dari
berbagai macam disiplin ilmu, sebetulnya dulu Pak Munawir Sazali secara lisan
sudah setuju akan direvisikan, tapi saat tidak dilaksanakan lama, saya tanyakan
alasannya, ternyata tidak ada dana. Gitu aja. Makanya sekarang, yuk kita bareng-
bareng menuntut kementrian agama untuk merevisi terjemahan resmi itu. Dari mulai
bismillah terjemahannya tidak tepat, “Dengan Nama Allah” ya “Atas Nama Allah”
dong. Dalam bahasa Indonesia, ada (frase) “dengan nama”? Gak ada. Adanya “Atas
Nama”, saya sering ceramah mewakili tuan rumah sebab suaranya lagi serak,
“Tolong Pak Kiai, sambutan “atas nama” tuan rumah. Tolong Pak Kiai sambutan,
dengan nama tuan rumah, atau atas nama? Atas nama. Maka saya pun mengatakan,
“Atas nama Tuan Rumah, saya mengucapkan terima kasih memenuhi undangan
kami, dan saya juga atas nama tuan rumah, mohon maaf jika hidangannya
kurang sedep, kan gitu? Yang berterima kasih siapa? Bukan saya, bukan? Nah begitu
kita mengatakan Bismillah itu “atas Nama Allah”, maka kita betul-betul diperintah
oleh Allah, itulah makna ibadahnya. Bukan dengan, jika dengan bisa bermakna,
“bersama-sama dengan Allah”, nantinya. Jadi saat kita minum, nah itu ... jadi
hatta ini, dan memang kata hatta ini, euh sangat sulit sekali hatta ini, berbelit sekali
sehingga di Mesir ada seseorang yang mengambil program doktor dalam Bahasa
Arab, dia menggali makna hatta, dan dia berhasil mendapat gelar doktor sebab dia
mampu menguraikan nama hatta sampai terkenal (dengan julukan) Doktor Hatta, ya
... Bung Hatta tuh, itu niru nama orang Mesir, yang dulu namanya mah Abdullah,
sebab desertasinya tentang hatta, jadi Doktor Hatta, nah itu ... jadi yang lebih tepat
buka SEBELUM tapi SEKALIPUN. Nah, jadi yang bisa megubah takdir, yang punya
takdir dong, bukan kita. Maka kalau kita ingin mengubah takdir, bukan dengan
bekerja keras mengubahnya, kita makhluk yang bisa mengubahnya yaitu khalik,
gimana caranya? Ya bikin proposal (berdoa), ya gitu aja. Makasih.”
Pak Quraish Shihab, dalam Tafsir-nya Al-Mishbah, menerjemahkan kata “hatta” kira-
kira semakna dengan Depag, beliau lebih fokus pada menjelaskan tentang aspek
sosial dari kedua ayat ini. Kata kaum yang beliau sorot dalam penafsirannya. Dalam
kaitannya dengan deterministic vs freewill, Prof. Quraish Shihab berada di tengah-
tengah, beliau memaknainya seperti penjelasan Ali bin Abi Thalib dengan sang
penanya.
Hal senada—bahwa diperlukan sebuah tim besar untuk menterjemahkan al-Quran,
yang terdiri dari para ahli dari berbagai kalangan disiplin ilmu, bukan hanya para ahli
fikih—tentang keluasan al-Quran juga disampaikan oleh Prof. Dr. Buya Hamka,
dalam tafsir karyanya al-Azhar.
“Banyak yang bilang, cukup baca al-Quran, semuanya ada di situ. Pendapat itu tidak
benar, al-Quran itu terlalu besar, dan global, perlu dikupas lebih dalam makna
pemahamannya dengan pemakaian semua ilmu pengetahuan yang ada, dikupas
oleh semua ahli di bidang pengetahuannya masing-masing.”—Demikian kira-kira
Buya Hamka dalam tafsir karyanya Tafsir al-Azhar.
30
Eschatology dan Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran
Sementara itu, menurut seorang ahli Eschatology (Ilmu Akhir Zaman) terbaik—
menurut kami—yang masih bisa kita temukan, Syeikh Imran Hosein, “Memahami al-
Quran, tidak bisa dengan cara memahami setiap ayat secara terpisah, kita harus
harus paham Bahasa Arab, nahwu shorof-nya, asbabun nuzul-nya, juga harus
dengan benar-benar berusaha sekeras mungkin untuk memahaminya secara
keseluruhan, bagaikan sebuah untaian kalung dan ini berarti termasuk tidak
meninggalkan ayat-ayat mutasyabihat di dalamnya. sebab Allah tidak mungkin
menurunkan ayat-ayat mutasyhabihat tersebut dengan sia-sia. Dalam kaitannya
dengan ayat jenis ini”, Syeikh Imran melanjutkan bahwa, sebagai seorang muslim
beliau berhak menakwilkan makna ayat-ayat dengan makna tersembunyi itu sebab
al-Quran memang diturunkan bagi kaum yang berpikir, jadi kita memang wajib
memikirkannya. Sang Syeikh juga lebih menekankan perpaduan antara ilmu yang
didapatkan dengan mempelajarinya dan dengan Ilmu Laduni, yang langsung dari sisi
Allah swt.—majma’a al-bahrain/pertemuan dua samudera ilmu, QS al-Kahf. Tanpa
perpaduan kedua ilmu ini, sang Syeikh berpandangan bahwa seseorang bukanlah
seorang ulama sejati, dan beliau memberi julukan pada mereka yang hanya
mengandalkan ilmu yang didapat dengan cara mempelajarinya dari guru, artikel , baik
itu secara formil atau informil, melalui institusi sekolah, madrasah, pesantren, sebagai
the school boys/anak sekolahan/ulama satu sisi ilmu.
“Tak ada yang terjadi pada kitab ini (al-Quran) secara kebetulan, setiap kata, setiap
kalimatnya telah tersusun, dan secara spesifik ditempatkan padanya menurut pada
sebuah rancangan Ilahiah dan memiliki tujuan tertentu. Seseorang bisa saja
mempelajari terjemahan dari Quran, tapi tidak ada seorang pun yang akan mampu
mempelajarinya melalui terjemahannya saja.”—Imran N Hosein dalam artikel nya: An
Introduction to Methodology for Study of the Quran.
Bagaimana mungkin orang yang mengangkat dirinya sebagai musuh Islam, bisa
mempelajari al-Quran pada saat hatinya diliputi kegelapan? Bagaimana mungkin dia
bisa melepaskan diri dari belenggu gelapnya hati, saat fungsi Quran yaitu
membimbing umat manusia menuju cahaya? Seseorang harus mengusahakan
memurnikan hatinya—tazkiyah untuk bisa mendapatkan cahaya.
Kitab itu menyatakan bahwa, ia diturunkan kepada mereka yang berpikir dan proses
berpikir yaitu inti dari mempelajari sesuatu:
“Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat kepada orang-orang yang berpikir.”—QS
Yunus 10:24
Menembus Sistem Pemaknaan al-Quran—al-Quran dan Bintang-Bintang
“Kita harus menemukan sistem pemaknaan dalam setiap subyek yang sedang kita
pelajari dalam al-Quran, agar kita mampu mengungkap makna sejatinya.”—Syeikh
Imran Hosein
saat kita tidak bisa membaca makna dari pola keterkaitan dalam sebuah konstelasi
bintang di langit, dan bahkan saat kita sama sekali tidak bisa menemukan adanya
pola keterkaitan itu, maka bintang-bintang di langit tidak akan bisa kita gunakan
31
sebagai penunjuk arah. Demikian juga halnya dengan saat kita ingin benar-benar
mempelajari makna dari ayat-ayat yang ada dalam al-Quran, kita pun harus mampu
melihat pola keterkaitan seluruh ayat yang tersebar lintas surah dalam al-Quran, dan
hanya saat kita telah menemukan pola keterkaitannya, maka kita bisa memahami
makna dari arti yang sesungguhnya.
Tidak semua pelaut memiliki pengetahuan tentang navigasi melalui konstellasi
perbintangan; dan tentu juga hanya para scholar/alim Islam yang akan mencurahkan
waktu dan tenaga mereka untuk mempelajari sistem Pemahaman/System Meaning
dari subjek-subjek yang tengah mereka pelajari dalam al-Quran, dan hal ini tidak
dapat dicapai tanpa pemakaian kedua jenis ilmu, ilmu eksternal dan ilmu
laduni/internal insight. Al-Quran sendiri menggambarkan penggabungan kedua ilmu
ini dengan istilah Majma’al-Bahrain (pertemuan dua buah samudera) dan
dicontohkan dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba yang saleh, yang dijuluki
Khidir, dalam QS. al-Kahfi.
Oleh sebab itu dalam mempelajari ayat-ayat al-Quran, seseorang harus dapat
menemukan sistem pemaknaan dari subjek yang tengah ia pelajari, ia harus selalu
berjuang untuk menemukan penjelasan harmonis dan terpadu dari semua data yang
tersebar dalam kitab suci itu, terkait subjek yang sedang dipelajari. Sebagaimana tidak
ada sebuah bintang yang posisinya tidak terkait ke dalam sebuah rasi di langit yang
memaknakan sesuatu secara terintegrasi. Tidak ada ayat yang bertentangan dengan
ayat yang lainnya dan tidak pula ada ayat yang menapikan ayat yang lainnya, jika kita
masih merasa menemukan yang demikian, berarti kita belum menemukan peta sistem
pemaknaan yang tepat.
Di dalam al-Quran terdapat dua jenis ayat—seperti yang sudah kita ketahui—ayat-
ayat Mutashabihat, ayat-ayat yang memerlukan interpretasi/penakwilan agar
maknanya bisa ditembus dan ayat-ayat Muhkamat, ayat-ayat yang bisa langsung
dipahami maknanya dengan jelas, dan hanya membutuhkan penjelasan/penafsiran.
Ayat-ayat Muhkamat dikenal juga dengan umm al kitab, atau jantungnya kitab. Ayat-
ayat Muhkamat meliputi ayat-ayat tentang hukum: halal/diperbolehkan menurut al-
Quran dan haram/dilarang menurut al-Quran.
“Huwalladziii angzala‘alaikalkitaba minhu aayaatummuhkamaatun
hunnaummulkitabi waukhorumutasyaabihaat fa ammalladziina fii quluubihim
zaigungfayattabi’uuna maatasyaabaha minhub’tigooo al fitnati wab’tigooo
ata’wiilihi wamaa ya’lamu ta’wiilahuuu illallaah, warroosikhuuna fil’ilmi
yaquuluuna aamannaabihi kullummin‘ingdirobbinaa wamaa yadzdzakkaru illaaa
uuluulalbaab’.”— (QS. Ali-Imran 3:7)
Terjemahan Al-Mishbah:
“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu di antara (ayat-ayat)-nya
ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Quran, dan yang lain mutasyabihat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan,
maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat yang
mutasyabihat untuk memicu fitnah dan untuk mencari-cari dengan sungguh-
sungguh takwilnya (yang sesuai dengan kesesatan mereka), padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya
32
berkata, “Kamu beriman dengannya semua dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulul Albab.”
Dan saat dinyatakan dalam ayat di atas, bahwa satu-satunya yang mengetahui
makna dari ayat-ayat mutashabihat yaitu Allah, dan juga mereka yang rasikhuna fi
al-ilm (i.e. mereka yang mantap dasar pengetahuannya/Ulul Albab/firmly grounded in
knowledge), dan saat ayat di atas disimpulkan bahwa tidak akan ada yang mampu
menerima maksudnya kecuali para Ulul Albab (mereka yang memiliki basirah dan
pemahaman yang mantap), maka implikasinya yaitu —untuk menembus ayat-ayat
mutashabihat—seorang alim/scholar tak hanya bahwa mereka harus mendedikasikan
waktu dan usahanya untuk mempelajari al-Quran dengan memakai metodology yang
tepat dan basirah (mata spiritual), tetapi ia juga harus dapat memperoleh pengetahuan
secara langsung dari Allah swt. seperti Nabi Khidir as.—QS. al-Kahf 18:65. Salah
satu cara Allah memberi langsung ilmu dari sisi-Nya yaitu dengan melalui
nubuwah terakhir yang masih berlaku setelah Nabi Muhammad saw. meninggalkan
umatnya, itulah ruya, mimpi yang benar/the true dream, tentang bagaimana cara agar
kita bisa mendapatkan ilmu Laduni/ilmu langsung dari sisinya, dan tentang ruya,
mungkin akan kita bahas dalam artikel tersendiri, semoga Allah memberi umur dan
waktu yang berkah bagi kita.
Namun, sedikit saja kita bahas di sini, saat science telah menyerah memberi
semua penjelasan, maka kemana lagi kita melabuhkan harapan jika kita yaitu para
pencari kebenaran sejati? Kita akankembali pada firman-firman Ilahiah dalam kitab
sucinya, dan keterangan Nabi kita tercinta. Sebelum kita menembus batas kedua
samudera ilmu, maka kita harus pertama-tama, membaca firman-firman itu, setiap
hari. Setiap hari dengan metode al-Quran dan Bulan (Hijriah). sebab , bulan yaitu
sesuatu yang sakral dalam fungsinya menunjukkan waktu dimensi kita. Jika Anda
telah merasa bahwa waktu seakan cepat sekali berlau, bertambah cepat sekali berlalu,
berarti Anda telah tertarik masuk ke dalam dimensi waktu lain yang bukan ditentukan
oleh Rembulan, tapi—menurut Ilmu Akhir Zaman yaitu ditentukan—oleh Dajjal
sendiri. Salah satu cara melepaskan diri darinya, yaitu dengan cara membaca al-
Quran setiap hari, dan tamat setiap bulan (Hijirah), dengan jadwal tertentu tanpa
melakukan pemotongan surah.
Metode Pembacaan al-Quran dan Rembulan
Kita tidak akan membaca—hanya membaca dan berusaha sekuat jiwa dan raga untuk
menembus makna dari yang kita baca yaitu dua hal yang berbeda— al-Quran
sesuai dengan penentuan Juz, atau pemotongan-pemotongan itu. Dari mana juga
datangnya ketentuan membaca al-Quran dengan cara memotong-motong surah?
Mulai hari ini kita akan mulai membaca al-Quran, dengan pemakaian metode al-
Quran dan Rembulan—metode penemuan Syeikh Imran Hosein, nanti rasakan
keajaiban mukjizatnya pada diri Anda.
Dan nanti setelah Anda melakukannya secara rutin, mungkin artikel bertajuk, “Kitab
Laduni”, akan terbit, doakan saja. Sebelum itu, jika Anda juga bersungguh-sungguh,
kita akan selalu khatam membaca al-Quran, setiap bulan dengan format jadwal:
((tanggal (Hijriyah):Quran Surah ke-), sbb: (1:1-2), (2:3), (3:4), (4:5), (5:6), (6:7),
(7:8-9), (8:10-11), (9:12-13), (10:14-15), (11:16), (12:17-18), (13:19-20), (14:21-22),
(15:23-24), (16:25-27), (17:28-29), (18:30-33), (19:34-37), (20:38-40), (21:41-43),
33
(22:44-48), (23:49-54), (24:55-58), (25:59-66), (26:67-70), (27:71-77), (28:78-88),
(29:89-96), (30:97-114). Dan tentu saja usahakan membacanya dengan tartil, dan
langkah pertama untuk dapat memahaminya dengan benar yaitu dengan
menginginkannya, menginginkan mendapatkan pemahaman seperti pemahaman para
Ulul Albab. Menurut sebagian ulama, para Ulul Albab, yaitu mereka yang memiliki
sifat-sifat: 1) Takwa antara dirinya dan Allah, 2) Kerendahan hati antara dirinya dan
manusia, 3) Zuhud, yakni meninggalkan kenikmatan duniawi padahal dia mampu
memilikinya, sebab ingin mendekatkan diri kepada Allah, 4) Mujahadah,
kesungguhan mengolah jiwa menghadapi nafsunya. sebab al-Quran memang
diturunkan bagi para Ulul Albab, maka Anda dan saya akan berusaha sekuat tenaga
untuk mencapai derajat ini, mari kita mulai dengan sebuah perasaan untuk teramat
sangat menginginkannya.
Untuk menembus makna ayat-ayat mutasyabihat—ya kita, harus berusaha, meminta
pada-Nya, untuk juga bisa menembusnya—kita harus memiliki pengetahuan yang
mantap, dengan melakukan penyucian jiwa, sebab ayat-ayat ini diturunkan tidak sia-
sia, dan memang untuk dipahami dengan benar, namun tidak dapat terungkap
maknanya hanya dengan pemakaian ilmu eksternal, namun harus pemakaian
kedua ilmu, ilmu eksternal dan ilmu yang langsung tercurah dari sisi-Nya—Ilmu
Laduni, sebab ayat-ayat ini berbicara tentang persoalan metafisika. Langkah
pertama yaitu dengan membaca al-Quran sesuai dengan bentuk rembulan di atas.
Bismillah.
Hubungan kemampuan memahami ayat-ayat mutashabihat dengan takdir yaitu , ilmu
tentang akhir zaman/Eschatology, terkait takdir gambaran besar perjalanan umat
manusia di dunia ini, dari mulai ia diciptakan, menjalani lakonnya di panggung
permainan kehidupan, sampai ia pun kembali pada sang penciptanya. Dan untuk
memahami takdir kita sendiri, tentunya kita perlu memahami gambar besarnya, dan
sebab data-data tentang Ilmu Akhir Zaman, termasuk tentang fitnah Dajjal/The Anti-
Christ yang terdahsyat tersembunyi di dalam ayat-ayat muthashabihat.
“yaitu sebuah kegilaan, saat kita—generasi-generasi berikutnya—harus berhenti
memikirkan makna dibalik al-Quran yang belum tergali, sebab dianggap pekerjaan
itu telah rampung diselesaikan oleh ulama salaf.”—Prof. Dr. Syakur Yasin, MA.
Sikap Terbaik: Sebelum Suatu Takdir Terjadi, Tugas Kita Melakukan Usaha
Terbaik (Doa pun yaitu Sebentuk Usaha)
“Melalui kesiapan dan disiplin kita mengendalikan takdir kita”—Master Sersan
Farell, karakter dalam film the Edge of Tomorrow.
“saat takdir yang ‘kita pilih’ menghasilkan takdir yang kita impikan.”—Nyi Damar
Sagiri
Pagi itu kami berdua berniat ke pasar terdekat, kebetulan, sebagian jalan menuju ke
Pasar Cibaliung masih sedang dalam perbaikan selang 3 bulan itu, sehinga sebagian
jalan dialihkan ke arah lain, sedikit memutar kemudian nanti nyambung di sebuah
titik ke sebagian jalan yang sudah selesai diperbaiki menuju pasar. Kondisi jalanan
alternatif ini pun tidak lebih baik dibandingkan kondisi jalanan yang sedang diperbaiki,
malah sebagian batunya telah tergelincir semua entah kemana, menyisakan jalanan
34
tanah telanjang di antara bebatuan yang sudah terpental ke sana sini, musim hujan
membuat jalanan tanah liat itu licin dan berlumpur seperti sawah. Setelah melewati
satu bagian jalan tersulit, yang sebelumnya Ki Ngawur turun, dan melakukan
perhitungan kemana arah ban, dan menyisihkan segala kemungkinan mobil kami selip
dan menggantung di atas batuan yang menggunung, dan mengambil beberapa batu
besar, kecil, sedang, kemudian menyusunnya di sekitar palung lumpur memanjang,
akhirnya dengan Bismillah, mobil kami berhasil melewati rintangan pertama, di
tanjakan tersulit itu. Pilihan memang hanya 2, maju terus tanpa merusak kendaraan
kami terlalu parah, atau mundur teratur, dan menahan lapar, tapi sampai berapa hari?
Waktu itu stok di warung-warung terdekat pun telah menipis sebab terputusnya
jalanan utama menuju pasar.
Setelah melewati beberapa portal sempit, yang hampir menggores bodi kendaraan
kami, dan itu pun setelah kami melakukan berbagai usaha, turun dari kendaraan,
melihat-lihat, menimbang-nimbang, menjalankannya super pelan dan penuh perasaan.
Kini di depan kami rintangan berikutnya pun segera tampak, sebuah mobil pick up,
yang mengalami selip, bagian kiri bannya terbenam di jalanan lumpur. Tambah
dicoba—dengan cara menggas mobil sepenuh kekuatannya, ban belakang dari pick up
bermuatan penuh itu tambah terbenam ke dalam cengkraman lumpur. Kami terpaksa
menunggunya, memandangi dari jarak sekitar 10 meter, sebab kami tidak mungkin
lewat, sebelum pick up itu terbebas dari pagutan lumpur. Sang sopir tetap berada di
belakang kemudinya, 3 orang anak buahnya, nampak berusaha mendorong mobil
tersebut dari belakang, sementara satu orang memasang tali tambang, dan berusaha
menarik kendaraan itu sendirian, bersendal jepit, di atas jalanan licin berlumpur. Dia
berusaha menarik pick up itu bagaikan seorang raksasa yang akan dengan mudah bisa
melakukannya, dan tentu saja yang ada tali sendal jepitnya terputus, dan fokusnya
langsung beralih ke sendal jepitnya tersebut. Satu, dua, tiga pengendara motor yang
lewat, segera turun dari kendaraan mereka untuk mengulurkan bantuan, berupa ...
memegangi tali yang mengikat mobil dan mereka pun seperti kuda-kuda penarik
gerobak, berusaha menarik mobil tersebut, dengan satu aba-aba. Setelah beberapa kali
mencoba, tentu saja mereka masih belum berhasil ....
Sekarang ada sekitar 15 orang mengerubungi mobil itu, dan sudah sekitar 15 menit
lebih kami menyaksikannya dari kejauhan.
“Tak ada yang terpikir mengatasinya dengan memberi batu di sekitar ban belakang
yang kejeblos ya Pah?” Saya menoleh ke arah Ki Ngawur yang masih memegang
kemudi mobil kami.
“Tentu saja tidak.” Jawab Ki Ngawur getir.
Tak lama kemudian seorang dari mereka mendatangi mobil kami dan menyatakan
sebuah ide, untuk menyangkutkan tali yang tadi gagal mereka tarik ramai-ramai untuk
membebaskan ban belakang pick up itu, ke mobil kami dan kami tarik mundur
dengan kekuatan penuh. Saya ternganga kagum dengan ide itu, kemudian kami jawab,
“Mobil kami bukan mobil derek.”
Orang itu menjawab, “Tetap lebih kuat dari orang kan?”
35
Kami menjawab, “Kenapa kalian tidak mencari batu, kemudian susun di depan ban
mobil belakangnya?”
Orang itu tidak menjawab, dan tidak pula mengindahkan ide kami. Kembali
pertunjukkan itu terhampar di hadapan kami dan mobil pick up itu tambah kelihatan
miring, dengan suara mesin yang meraung-raung, lebih keras seiring raungan sang
sopir yang mulai terdengar putus asa memberi komando.
Akhirnya ki Ngawur keluar dari mobil, hal pertama yang harus ia lakukan yaitu
memperbaiki posisi celananya, yang terus melorot, sebab salah satu tujuan kami ke
pasar yaitu membelikannya ikat pinggang baru. Sekitar 5 menit, ki Ngawur berhasil
mengatasi rintangan pertama, kemudian step berikutnya yaitu mencari beberapa
batu, kemudian akhirnya ... ia mengangkut batu-batu itu seorang diri. Ya, tak ada
yang tergerak membantunya, saya duduk di mobil, setalah Ki ngawur melarang saya
untuk ikut mencari dan mengangkut batu, saya tinggal di mobil dan mulai berdoa,
“Tuhanku, bantu kami mengatasi hal ini, jika tidak kami akan terpaksa kelaparan, di
sini, di ujung dunia.”
Kemudian saya lihat, Ki ngawur mulai berbicara dengan sopir pick up itu, dan ia
terlihat setuju untuk menghentikan usaha lamanya, untuk memberi Ki ngawur waktu
meletakkan beberapa batu di sekitar ban kiri belang mobil itu. Satu orang terlihat
mulai membantunya, berusaha menginjak batu batu tersebut agar lebih padat, dan
kemudian sekitar 10 menit kemudian, dengan aba-aba dari Ki Ngawur, mobil pick up
tersebut berhasil membebaskan dirinya, dari jebakan lumpur.
Kemudian spontan semua yang ada di situ, kecuali Ki Ngawur, berteriak,
“Allahuakbar!” Mereka ingat Tuhan, tapi mereka lupa bahwa batu lebih keras
dibandingkan lumpur, dan itu bisa mengubah takdir Tuhan. Doa
, dan usaha akan mengubah takdir, tapi usaha yang seperti apa? Usaha yang tepat,
yang dengan hasil pemikiran terbaik. Bahkan usaha yang dibutuhkan untuk
memecahkan sebuah permasalahan bahkan seringkalinya hanya, berdoa untuk
meminta petunjuk, dan menjalankan petunjuk itu. Bahkan ternyata, usaha yang harus
dilakukan bahkan jauh lebih mudah dibandingkan yang selama ini terpikir. Setelah kita
melakukan sebuah usaha, kita wajib menganalisis hasilnya, dan jika hasilnya jauh dari
harapan, berarti masih ada yang salah dalam usaha kita.
Contoh kejadian di atas sangatlah sederhana, bahkan kami tidak lagi berdoa meminta
petunjuk akan caranya, sebab itu telah ada dalam file plot usaha kami dalam
menghadapi permasalahan serupa, meski dari sekitar 15 orang yang ada di atas, tidak
ada satu pun yang berpikiran sama. Ilustrasi paling keren, dari bagaimana kita wajib
mengubah plot usaha, untuk MENGUBAH TAKDIR, disampaikan dalam film The
Edge of Tomorrow, dengan slogannya: Live. Die. Repeat—seperti permainan sebuah
video game—yang tayang tahun 2014 yang lalu. Film ini menceritakan tentang sekian
ribu kali Mayor William Cage, yang diperankan oleh Tom Cruise, harus berusaha
mengubah plot usahanya hanya dalam waktu SATU HARI saja, dalam upaya
mengubah hasilnya, dan akhirnya ia pun berhasil mengubah TAKDIR dengan
memenangkan sebuah peperangan yang PALING SULIT untuk dimenangkan umat
36
manusia melawan pasukan alien the Mimic, setelah sekian ribu kali mengubah plot
usahanya—lihat bagian: The Butterfly Effect di artikel ini.
Kita mungkin tidak bisa menjalani sebuah hari sekian ribu kali, dan mati setiap hari
untuk mereset hari untuk memperbaiki plot usaha kita, atau pun melihat apa yang
terjadi di masa depan, bahkan meskipun Anda mungkin termasuk yang meyakini
bahwa Anda telah menjalani rebirth/reinkarnasi ribuan kali, jika Anda tidak bisa
mengingatnya seperti Mayor Cage, bagaimana Anda bisa mengubah plot usaha Anda
untuk mengubah takdir Anda? Namun yang jelas, kita dikaruniai sekian ribu hari
sepanjang hidup kita yang ini, untuk mengubah plot usaha kita dalam mengubah
TAKDIR kita, meskipun kita tidak harus mengalami langsung sekian ribu alternatif
paradox takdir kita, namun kita memiliki senjata ampuh dalam mengatasinya, yaitu
DOA. Doa dalam meminta bantuan dan PETUNJUK, agar kita bisa mendapatkan
TAKDIR TERBAIK dari sekian ribu bahkan mungkin sekian juta alternatif paradox
takdir yang bisa menimpa kita. Kemudian, tentu saja, mengasah diri agar kita mampu
menginterpretasikan jawaban dari doa-doa tersebut dalam mengubah plot usaha kita.
sebab petunjuk yang terabaikan, akan bagaikan pohon yang tidak berbuah.
Seberapa besar keinginan Anda akan sebuah TAKDIR, seberapa sering Anda berdoa
memohon petunjuk?
“A sound guided man will get the best series of fate.”
Firasat—Masa Depan yang Bocor atau Manifestasi dari Persangkaan?—
paradoxical
Jika Anda tengah membaca artikel ini, kemungkinan besar Anda yaitu seorang
pembaca artikel -artikel semisal artikel yang kami tulis ini yang biasanya. Dan
kemungkinannya Anda juga telah membaca atau setidaknya pernah mendengar
sebuah artikel berjudul, The Secret, karya Rhonda Byrne. Meskipun biasanya artikel
karya kami ditaruh bersebelahan dengan artikel -artikel karya Bu Byrne—Kitab Sihir dan
The Magic, waktu itu yang kami lihat bersebelahan di Gramedia Melawai—di rak-rak
artikel milik Gramedia, namun pada dasarnya aliran artikel -artikel itu secara prinsip
mendasarnya yaitu berbeda. artikel The Secret yaitu termasuk artikel beraliran New
Age. Gerakan New Age yaitu sebuah gerakan pemahaman spiritual, semenjak tahun
1970-an.
saat sebuah takdir buruk—buruk menurut nafs kita—menimpa kita, dan kita
merasa TELAH diberi sebentuk petunjuk akan kedatangannya, misalnya lewat mimpi,
apakah itu sebab kita memikirkan sebuah pikiran yang mendalam, sehingga terbawa
mimpi, terus terjadi sebab kita tersugesti—persangkaan. Atau kah itu sebentuk
firasat, atas masa depan yang dibocorkan buat kita, namun tidak bisa kita hindari,
sebab itu akan tetap terjadi sebab Allah menghendakinya? Terus kenapa kita diberi
tahu di awal? Apakah ini pun, petunjuk ini pun merupakan bagian dari sebuah
rentetan takdir? Bicara tentang rentetan takdir, kita akan masuk ke pembahasan
berikutnya, The Butterfly Effect.
Kalau semuanya telah ditentukan, dan kita tidak akan bisa mengelak atas takdirnya,
lantas kenapa harus berusaha? Pertanyaannya yang kemudian timbul pasti kan itu:
sebab Allah memerintahkan kita untuk berusaha sekalipun kita tidak yakin atas hasil
37
dari usaha itu. Melakukan usaha yaitu sebuah menghambaan diri kepada-Nya,
sebab kita diperintah olehnya untuk berusaha.
Prinsip yang dianut yaitu bertentangan dengan prinsip Islam yakni keberserahan
diri secara total pada Tuhan. Menurut paham New Age, usaha kita yaitu penentu
segala takdir. Kita yaitu pemilik kekuatan itu sendiri, dan takdir pun tergantung
sepenuhnya pada usaha kita. Konsep gerakan New Age, sepertinya rada mirip dengan
konsep karmic.
Bagian 4: Santet dan The Theory of Everyting
Hukum Keterkaitan Santet dengan Fitrah, Chaos Theory, The Butterfly Effect,
dan Teori Syncronicity.
“Sebagai manusia kita SEMUA takluk pada hukum fitrah kemanusiaan itu sendiri,
tugas kita yaitu kembali memahaminya, memikirkannya dan menyelaraskan diri
dengannya, jika tidak maka kita tidak akan mampu berbahagia dalam hidup ini, kita
akan tersantet kelalaian kita terkait fitrah—salah menekan tombolnya, maka bom
waktu yang tertanam dalam diri kita akan meledak. Fitrah yaitu keberserahan diri
secara total kepada Allah swt. bagaikan bayi yang baru lahir yang sangat tergantung
pada orang tua atau walinya, meskipun ia kemudian membutuhkan ini dan itu,
dengan cara memberi senyuman yang meluluhkan hati siapa pun yang melihat
senyuman itu dan kemudian ia akan menangis dan berteriak, jika ia membutuhkan
sesuatu dalam waktu yang cepat.”—QK
Chaos Theory yaitu sebuah cabang matematika dengan fokus pada perilaku dari
sistem dinamika, yang sangat sensitif terpengaruh oleh kondisi-kondisi awal. Teori
ini berbunyi kira-kira begini:
“Dalam sebuah sistem kompleks yang sepintas terlihat acak, ternyata selalu ada
sebuah pattern/pola, sebuah loop/lingkaran feedback yang konstan, pengulangan-
pengulangan, self-similarity, fractals, self-organization, dan ketergantungan pada
sebuah pemrograman pada sebuah titik yang dikenal sensitif, se-sensitif sebuah
ketergantungan pada kondisi-kondisi awal.”
“Tak ada yang acak, segalanya saling behubungan.”—Fisika Klasik
Dalam Chaos Theory, butterfly effect yaitu sebuah ketergantungan yang sangat
sensitif, terhadap suatu kondisi awal, dari sebuah rentetan takdir, di mana sebuah
perubahan terkecil sekalipun dalam sebuah state of deterministic nonlinear system,
bisa mengubah efek dari sesuatu secara signifikan pada state berikutnya. Determinism
yaitu sebuah teori filosofis, yang menyatakan bahwa, “Segala kejadian, termasuk
pilihan-pilihan berbasis moral—yaitu ditentukan sepenuhnya oleh pemicu
sebelumnya.”
Istilah ini dicetuskan pertama kali oleh Edward Lorenz—seorang ahli peneliti cuaca
dan matematikawan—yang merupakan penjelasan dari fenomena tersebut dengan
pemakaian sebuah contoh perumpamaan, perilaku detail dari sebuah tornado—
titik waktu terjadinya, dan jalur yang dilewatinya—ternyata dipengaruhi oleh minor
perturbation, sekecil kepakan sayap seekor kupu-kupu, nun jauh di sana dan terjadi
38
beberapa minggu sebelumnya. Jadilah fenomena yang ditemukannya, dinamakan efek
kepak sayap seekor kupu-kupu, di kejauhan di beberapa minggu sebelum sebuah
tornado terbentuk—The Butterfly Effect.
Ilustrasi dari the butterfly effect ini, ilustrasi paling keren, dari bagaimana kita wajib
mengubah plot usaha—sekecil apa pun—sebagai usaha untuk MENGUBAH
TAKDIR, disampaikan dalam film The Edge of Tomorrow, dengan slogannya: Live.
Die. Repeat—seperti permainan sebuah video game—yang tayang tahun 2014 yang
lalu. Film ini menceritakan tentang sekian ribu kali Mayor William Cage, yang
diperankan oleh Tom Cruise, harus berusaha mengubah plot usahanya hanya dalam
waktu SATU HARI saja, dalam upaya mengubah hasilnya, dan akhirnya ia pun
berhasil mengubah TAKDIR dengan memenangkan sebuah peperangan yang
PALING SULIT untuk dimenangkan umat manusia melawan pasukan alien the
Mimic, setelah sekian ribu kali mengubah plot usahanya. Di dalam film tersebut
diilustrasikan, perubahan sekecil apa pun, akan berpengaruh pada hasil akhir, yaitu:
Menang atau kalah, hidup atau mati.
Kita mungkin tidak bisa menjalani sebuah hari sekian ribu kali, dan mati setiap hari
untuk mereset hari untuk memperbaiki plot usaha kita, atau pun melihat apa yang
terjadi di masa depan, bahkan meskipun Anda mungkin termasuk yang meyakini
bahwa Anda telah menjalani rebirth/reinkarnasi ribuan kali, jika Anda tidak bisa
mengingatnya seperti Mayor Cage, bagaimana Anda bisa mengubah plot usaha Anda
untuk mengubah takdir Anda? Namun yang jelas, kita dikaruniai sekian ribu hari
sepanjang hidup kita yang ini, untuk mengubah plot usaha kita dalam mengubah
TAKDIR kita, meskipun kita tidak harus mengalami langsung sekian ribu alternatif
paradox takdir kita, namun kita memiliki senjata ampuh dalam mengatasinya, yaitu
DOA. Doa dalam meminta bantuan dan PETUNJUK, agar kita bisa mendapatkan
TAKDIR TERBAIK dari sekian ribu bahkan mungkin sekian juta alternatif paradox
takdir yang bisa menimpa kita. Kemudian, tentu saja, mengasah diri agar kita mampu
menginterpretasikan jawaban dari doa-doa tersebut dalam mengubah plot usaha kita.
sebab petunjuk yang terabaikan, akan bagaikan pohon yang tidak berbuah.
Seberapa besar keinginan Anda akan sebuah TAKDIR, seberapa sering Anda berdoa
memohon petunjuk?
A sound guided man will get the best series of fate.—QK
The Butterfly Effect—Determinism vs free will
Dalam teori ini terdapat paradox, kemana BE berpihak? Pada free will atau pada
Determinism? Bagaimana kalau kita tidak pernah tahu pilihan mana yang terbaik yang
harus kita ambil? Dan bagaimana kalau kita melakukan suatu error dalam melakukan
sesuatu tanpa kita inginkan, atau di luar kekuasaan kita, atau ketidakmampuan kita
dalam memilih? Atau ketidakkuasaan kita dalam mengatur sekian banyak variable
yang terlibat dalam keputusan yang harus kita ambil?
Sayyidina Ali pernah ditanya, “Apa itu free will, dan apa itu determinism?” Ini
jawaban beliau: “Coba kamu angkat kaki kiri kamu.” Maka si penanya mengangkat
kaki kirinya. Kemudian beliau berkata: “Sekarang coba kamu angkat kaki kananmu,
tanpa menurunkan kaki kirimu, dan tahan 5 menit.”
39
Santet dan The Butterfly Effect
The Butterfly Effect yaitu dari setiap plot usaha berbeda yang kita lakukan akan
menentukan takdir yang berbeda, sehubungan dengan hasil akhir yang terjadi. Kita
bisa memilih satu takdir terbaik dari serangkaian takdir yang tersedia untuk kita,
dengan melakukan plot usaha terbaik yang kita ambil, setelah memohon petunjuk
pada yang Maha Mengetahui segala takdir, dan mengintrepretasikan petunjuk itu
dengan tepat. Mungkin Anda kemudian bertanya, “Bagaimana mengintrepertasikan
petunjuk-petunjuk-Nya dengan tepat?” Salah satu plot usaha yang bisa Anda ambil
yaitu dengan membaca artikel -artikel karya kami yang berbicara seputar, cara
menginterpretasikan petunjuk-petunjuk penting yang bertebaran di seputar kita, di
antaranya yaitu dalam artikel Misteri Nomor Hp, dan artikel Kitab Sihir.
Takdir yang kita inginkan yaitu tujuan, atau tujuan-tujuan yang ingin kita capai—
termasuk tujuan paling akhir atau final decree: surga atau neraka—hasil sentesis kita
terhadap segala bentuk PETUNJUK, dan hasil dari penerapan plot usaha yang sesuai
dengan keinginan kita, akan kita simpan di dalam bank file plot usaha kita, dan
kumpulan dari banyak file plot usaha kita akan menjadi believe system kita, plot usaha
yang masuk ke dalam bank file kita, bisa jadi bukan merupakan pengalaman langsung
kita sendiri, akan tetapi pengalaman orang yang mereka tulis dalam artikel , kemudian
kita baca, mereka share di media radio, kemudian kita dengar, atau mereka share di
media TV atau film kemudian kita lihat.
The Butterfly Effect dalam kaitannya dengan santet yaitu , pada saat kita BISA
membelok-belokan sebuah believe system seseorang, maka kita akan bisa mengubah plot
usaha yang mereka pilih, dan ini bisa termasuk sebuah inaction yang mereka pilih,
dan oleh sebab itu kita bisa ikut MEMBENGKOKKAN TAKDIR mereka.
Pembahasan tentang beberapa teknik pembelokkan believe system seseorang, akan
kita bahas di bagian lain dalam artikel ini (Inception). Sehingga untuk menghindari
terkena santet, salah satu upaya yang bisa kita lakukan yaitu jangan sampai lawan
kita mengetahui tujuan-tujuan paling penting kita, atau detail plot usaha yang akan
kita jalankan.
“Tetaplah terlihat tanpa tujuan dan sulit terbaca, sehingga lawan tak dapat
mematahkan dan membelok-belokan langkah kita.”
Mulai sekarang perhatikan selalu dengan siapa Anda membagi mimpi-mimpi Anda,
tujuan-tujuan yang ingin Anda capai, dan lebih pentingnya lagi siapa yang selalu
mematahkan dan atau membelokan plot usaha yang telah Anda bagi dengannya?
Siapa pun, yang berusaha mematahkannya, maka ia yaitu lawan Anda dalam
mencapai takdir yang Anda inginkan.
“Tak Ada” yang Linear—Nothing is Kharmic
“I ask my Lord his favor, He answers as He will.”—Thoros of Myr, The Red Priest,
The Game of Thrones TV Series.
40
“Pada hakikatnya, tidak ada itu hukum sebab-akibat, sebab hanya ada satu SEBAB,
Dialah Allah swt.—pemicu segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi hanya atas
kehendak-Nya, sekehendak-Nya saja.”—Nyi Damar Sagiri
Dalam ilmu matematika dan science, dikenal nonlinear system, sebuah sistem di mana
perubahan yang terjadi pada input tidak berbanding lurus dengan perubahan yang
terjadi pada output. sebab , dalam kehidupan ini, memang tidak ada komposisi semua
variable yang terlibat, yang linear—usaha kita tidak berbanding lurus secara
proporsional dengan hasil yang kita dapat. Jika selalu berbanding lurus, malah jadinya
mencurigakan, jadi ingat kasus skandal audit keuangan Enron, ketahuan sebab dia
memiliki trend performa perusahaan yang dibuat linear.
Skandal Enron mencuat ke publik pada bulan Oktober 2001, yang pada akhirnya
mendatangkan kebangkrutkan pada perusahaan tersebut—Enron, sebuah perusahaan
Amerika yang bergerak di bidang energi, berbasis di Houston Texas, didirikan tahun
1985 dan roboh pada tahun 2001, dan juga pembubaran Arthur Andersen, kantor
akuntan publik the big 5, waktu itu—di seluruh dunia, termasuk kantor cabangnya
yang ada di Jakarta. Kasus ini menjadi kasus kebangkrutan terbesar dalam sejarah
korporasi di Amerika waktu itu, Enron telah dianggap sebagai kasus kegagalan audit
keuangan terbesar dalam sejarah, dan memicu beberapa petinggi perusahaan itu
mendapatkan hukuman penjara, selain berbagai tuntutan dari para pemegang
sahamnya, dan tentu saja telah kehilangan kepercayaan juga dari para pelanggannya.
Laporan-laporan keuangan yang diterbitkan Enron sangat rumit, telah
membingungkan banyak pihak yang berkepentingan atasnya, untuk melakukan
analisis laporan-laporan keuangan itu. Perusahaan itu, dengan bantuan akuntannya
Arthur Andersen telah memodifikasi laporan-laporan itu—secara tidak jujur telah
melakukan sebuah Earning Management—untuk menunjukan performa yang
menguntungkan Enron. Skandal kejatuhan Enron sebab ketidakjujurannya—
financial reports’ corruption and fraud—itu, yang mengakibatkan kerugian pada para
pemegang sahamnya, telah membuat Presiden George W Bush, menandatangani The
Sarbanes-Oxley Act, yang berisi konsekuensi hukum atas segala ketidakjujuran dari
sebuah penyajian laporan keuangan yang berusaha mengelabui para shareholder-nya,
pada Bulan Juli 2002
“Earnings Management is the active manipulation of accounting results for the
purpose of creating an altered impression of business performance.”—Charles W
Mulford and Eugene E Comiskey
Harga saham Enron terus meroket dalam kurun 1997-2000, sampai di tahun 2000,
performa harga sahamnya mengalahkan NASDAQ’s composite index (index harga
sagam gabungan), dengan trend peningkatan yang bisa dikatakan LINEAR. Hal ini
memicu kecurigaan pada berbagai pihak pengamat harga saham. sebab dalam
kehidupan ini—biasanya—tak ada sesuatu yang linear, apalagi dengan kehadiran
sedemikian banyak variable yang terlibat dalam sesuatu itu, sehingga hal ini—sesuatu
yang linear—memicu sorotan, termasuk dari media, sehingga pada akhirnya
management reporting yang ia lakukan pun terbongkar.
“Something is rotten with the state of Enron.”—The New York Times, September 9,
2001.
41
Yang Dilakukan Siti Hajar dan Ismail as. pun tidak Linear
Hukum sebab akibat di atas, termasuk efek kupu-kupu, hanya berlaku di alam syariat,
namun alam hakikat tidak mengenalnya. Alam hakikat tidak mengenal adanya hukum
sebab akibat. 7x equal eternity. Siti Hajar berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwa
sebanyak 7 kali, 7 yaitu simbol angka spiritual, yang bisa berarti banyak, atau
bahkan infinity. Itu merupakan simbol dari Tuhan, bahwa jika membutuhkan sesuatu
memintalah dengan usaha berupa doa, dan aktivitas lain, sebanyak-banyaknya,
bahkan mungkin selamanya. Tuhan Maha memenuhi segala kebutuhan semua
makhluknya. Tugas kita berusaha—Doa dan upaya lainnya—maka Dia akan
mengabulkannya.
Kemudian menurut kisah di al-Qur’an tersebut, jawaban atas usaha dari Siti Hajar,
tidak lantas berhubungan langsung dengan apa yang dia lakukan. Membuat sebuah
sumur, menurut nalar kita yaitu dengan menggali tanah, sedalam yang diperlukan.
Dan mungkin, bukan itu pula bentuk pertolongan yang ada di benak Siti Hajar waktu
itu. Dari ujung kaki Ismail as. memancar air, Air Zamzam yang abadi, kita pun
pernah kebagian meminum air penuh berkah ini, dan akan bisa terus menikmatinya
lagi.
“I ask my Lord a favour, He answers as his will.”—Thoros of Myr
“Tidak ada yang berbanding lurus sepenuhnya, yang ada biasanya berliku namun
berpola.—Nyi Damar Sagiri
The Theory of Everything
Sejak dimulai dari jaman Romawi Kuno—sekitar 2000 tahun silam—umat manusia
telah memiliki ketertarikan untuk mengetahui dan terus berupaya mencari tahu
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul menyangkut hakikat keberadaan
dirinya dan alam semesta raya. Rangkaian pertanyaan itu, dimulai dengan sebuah
pertanyaan microcosmic, “Terbuat dari apa sih kita?” Pertanyaan ini pada akhirnya
terus berkembang pada pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang bersifat macrocosmic,
“Terbuat dari apa sih segala sesuatu yang ada di alam semesta raya ini? Bagaimana
sih segala sesuatu tercipta?”—Cosmology yaitu sebuah cabang ilmu yang mencari
tahu mengenai “How?” atau bagaimana alam semesta tercipta. Science atau ilmu
pengetahuan alam, sejauh ini memang hanya mampu menjawab pertanyaan tentang,
“Apa?” dan “Bagaimana?” Akan tetapi, “Mengapa?” yaitu bagian bagi para
teolog untuk menjawabnya.
sebab meskipun akan selalu ada sebuah jawaban bagi setiap pertanyaan ilmiah apa
pun yang mungkin timbul dalam benak seorang ilmuwan sekelas Stephen Hawking
sekali pun, permasalahannya kemudian yaitu seberapa mau mereka—kita—
menerima sebuah jawaban yang dihasilkan dari sebuah pertanyaan yang diajukan.
Sebuah pertanyaan mungkin apa akhirnya akan terjawab dalam bentuk sebuah rumus
rumit matematika yang memuaskan semua pihak, atau hanya akan memicu
sebuah pernyataan atau teori paradoxical yang masih menunggu generasi-generasi
berikutnya untuk memecahkannya, atau pemecahan yang tidak memuaskan konsensus
nalar, bahkan mungkin tak akan pernah mampu memuaskan nalar dalam batas
42
kemampuan logika semata. Seperti Darwin yang tidak puas dengan jawaban yang
memuaskan para teolog Islam tentang pertanyaan, “The Origin of The Human
Species”, yang meyakini bahwa manusia beradab pertama yaitu Adam as. yang
diciptakan dari sari tanah liat. Sampai kapan pun, akan ada yang lebih puas dengan
masing-masing jawaban di atas, “The Truth is there.”
Seiring juga dengan kemajuan teknologi yang dicapai peradaban manusia, sebagai
salah hasil dari pemecahan-pemecahan beberapa pertanyaan yang berhasil
dirumuskan secara matematis, pertanyaan-pertanyaan itu pun kemudian telah melebar
menjadi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat macrocosmic. Dalam artikel , The Real
Building Block of The Universe & The Fundamental Laws of Physic, Jerome
Gauntlett/David Tong, berusaha menjelaskan dengan sederhana untuk kalangan
awan, tentang apa sih bahan bangunan dan hukum-hukum dasar Fisika yang
membangun semesta raya ini. Dengan dimulai dengan mencari tahu unit terkecil
pembentuk dari segala hal, atau apa yang mereka sebut dengan The Theory of
Everything. Dalam upaya untuk mencari tahu penyusun segala sesuatu, David Tong
menjelaskan bahwa sebelum ditemukannya atom, unsur—yang tersusun dalam
sebuah Tabel Periodik 120 Element—pernah dianggap sebagai bagian terkecil dari
segala sesuatu. Meskipun ide tentang atom telah disampaikan Democrates dan
Lucricus, pada peradaban Yunani Kuno—sekitar 2500 tahun silam.
Pada tahun 1897 JJ Thomson menemukan bahwa ternyata ada yang lebih kecil lagi
dibandingkan atom, sebuah partikel yang ia namakan electron. Elemen pada daftar unsur
periodik ternyata bukanlah penyusun terkecil dari segala sesuatu. Kemudian sekitar15
tahun setelah JJ Thomson menemukan electron, Ernst Rutherford kemudian
menemukan bagian-bagian dari sebuah atom. Model atom Rutherford, terdiri dari inti
atom (Nucleus yang terdiri dari Proton dan Neutron), orbit-orbit electron elips yang
mengitari inti atom (Nucleus). Dan kemudian diketahui pula ternyata di dalam setiap
Proton dan Neutron terdapat 3 partikel yang lebih kecil lagi yang dinamakan Quarks,
ada dua jenis Quark, Up Quark dan Down Quark. Sebuah Neutron terdiri dari 2 Up
Quark, 1 Down Quar




