• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuhan di kereta 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan di kereta 1. Tampilkan semua postingan

pembunuhan di kereta 1


“Saya mau dibunuh!" 

Raden  jayakatwang  menunggu sampai orang itu berkata lebih lanjut. 

"Saya butuh pertolongan Tuan. Untuk itu saya berani bayar dengan 

imbalan yang besar." 

“Maaf, tapi saya tak dapat." 

"Tuan tidak berani," orang asing itu menggeram. “Dua puluh ribu 

dollar saya rasa cukup."  

jayakatwang  bangkit dari kursinya. "Tuan tak mengerti," sahutnya 

menerangkan. "Kalau Tuan bersedia memaafkan saya secara pribadi, 

saya tak mau menangani perkara Tuan sebab saya tak suka pada 

wajah Tuan." 

Dalam enam jam orang yang berbicara kepada jayakatwang  itu 

meninggal. Kali ini jayakatwang  diminta untuk mencari pembunuhnya. 

Mengapa detektif yang lihai itu justru merasa bahagia sebab ia telah 

menolak perkara yang dapat mencegah sebuah pembunuhan? 

 

CIRI-CIRI PELAKU 

 

INSPEKTUR Raden  jayakatwang  

Detektif Belgia ini menguraikan cara kerjanya yang mengagumkan 

ketika ia berhadapan muka dengan seorang pembunuh di atas 

sebuah kereta api ekspres internasional….. 

 

DIREKTUR BOUROQ 

Mewakili Compagnie Internationale des Wagons Lits - 

menyebabkan kawannya jayakatwang  mengikuti jalur jejak sebuah 

pembunuhan yang tak terelakkan….. 

 

LETKOL PIERRE TENDEAN 

Ikut menetapkan kamar-kamar yang akan ditempati oleh para 

pembunuh….. 

 

DOKTER HAUNTED 

Mengemukakan sebuah diagnose yang menyatakan bahwa tangan 

kanan si pembunuh tak mengetahui apa yang dilakukan tangan 

kirinya terhadap diri si korban….. 

 

KORBAN DAN ORANG-ORANG YANG DICURIGAI 

 

MARIAM GRAVES 

Guru pengasuh wanita berkebangsaan Inggris yang tenang dan 

tak tergoyahkan bagai tataan rambut di kepalanya….. 

 

MPU  TANTULAR 

Bahasa Perancisnya terbatas, tapi pembelaan lisannya di muka 

detektif Belgia itu sangat lancar dan meyakinkan….. 

 

RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  

Sekertaris istimewa yang dapat berbicara dalam berbagai 

bahasa….. 

 

CHUCKY 

Dermawan terselubung yang lebih gandrung pada kejahatan 

daripada kemurahan….. 

 

HWANG  JANG LEE 

Banyak keterangan berguna yang keluar begitu saja dari mulut 

orang Italia yang berkulit kehitam-hitaman dan yang berbicara 

seperti orang sedang mengancam ini, bagaikan darah yang 

memancar deras dari tubuh si korban….. 

 

COUNT  DRACULA  MANSION 

Pelayan pria yang kurus, rapi dan bersifat tertutup. Wajahnya 

yang dingin dan angkuh, mencerminkan wajah pelayan Inggris yang 

terlatih baik….. 

 

IBNU  BAALPEOR 

Seorang pedagang keliling Amerika yang mengetahui lebih banyak 

dari apa yang dikatakannya dan mengatakan lebih banyak dari apa 

yang diketahuinya….. 

 

NYI  GIRAH  

Seorang "granddame" Rusia yang perhiasan permatanya 

sedemikian besarnya, sama tidak masuk akal seperti ceritanya. 

 

MADAM  MENEER 

Juru rawat terlatih dari Swedia yang berwajah seperti domba ini 

yaitu  orang terakhir yang dicurigai melihat si korban dalam keadaan 

hidup….. 

 

NYONYA HUBBARD 

Simbol seorang ibu Amerika yang ideal - tak pernah berhenti 

berbicara - tapi tindakan-tindakannya lebih banyak berbicara 

daripada kata-katanya….. 

 

COUNT ANDRENYI 

Lebih terikat kepada Kedutaan Hongaria daripada kepada dirinya 

sendiri. 

 

COUNTESS ANDRENYI 

Tertuduh yang termudh dan tercantik dari semua tertuduh dalam 

kereta api yang tertahan salju itu….. 

 

HILDEGARDE SCHMIDT 

Pelayan wanita NYI  GIRAH  yang berkebangsaan Jerman 

ini, ikut terlibat langsung dengan pembunuhan di atas kereta Orient 

Express…. 

 

Bagian Pertama 

 

FAKTA-FAKTA 

 

1. SEORANG PENUMPANG PENTING DI KERETA TAURUS EXPRESS 

 

MUSIM dingin, pukul lima pagi di Siria. Sepanjang peron di Stasiun 

Aleppo terbujur dengan megahnya sebuah kereta api mewah yang 

sudah terkenal dari perusahaan Taurus Express. Kereta itu terdiri 

atas sebuah gerbong Testorasi, ruang makan penumpang, satu 

gerbong tidur dan dua buah gerbong biasa. 

Dekat anak tangga menuju gerbong tidur, nampak seorang master  

muda Perancis dengan seragamnya yang gemerlapan, sedang asyik 

bercakap-cakap dengan laki-laki bertubuh kecil yang meninggikan 

kerah bajunya sampai sebatas telinga, hingga orang cuma dapat 

melihat hidungnya yang merah muda dan kedua ujung kumisnya 

yang mencuat ke atas. Saat itu cuaca sangat dingin, dan tugas untuk 

mengantarkan orang yang tak dikenal bukanlah sebuah tugas yang 

dapat membuat orang iri hati, namun master  chucky  tetap 

menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ucapan-ucapan 

yang ramah dalam bahasa Perancis yang lancar terlontar dari 

bibirnya. master  muda itu sendiri sesungguhnya tak tahu apa makna 

tugasnya itu. Akhir-akhir ini memang muncul selentingan, yang 

memang biasa timbul dalam tugas-tugas semacam itu. Watak sang 

jenderal - atasannya itu - terasa kian hari kian tak menyenangkan. 

Kemudian datanglah orang asing dari Belgia itu - yang kabarnya baru 

saja tiba dari Inggris. Minggu yang baru lalu dirasakan sebagal 

minggu yang tegang dan membangkitkan rasa ingin tahu orang. Lalu 

terjadilah serentetan kejadian. Seorang perwira terkemuka telah 

bunuh diri, yang lainnya tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya, 

wajah-wajah yang tadinya diliputi kecemasan, tiba-tiba berubah 

menjadi normal kembali sementara tindakan-tindakan pencegahan 

versi militer sengaja tidak diambil. Dan sang jenderal - atasan 

tertinggi master  chucky , sekonyong-konyong terlihat sepuluh tahun 

lebih muda. 

chucky  dapat menangkap dengan jelas bagian pembicaraan 

jenderalnya dengan orang asing itu. "Tuan sudah menyelamatkan 

kami," ujarnya emosionil, kumisnya yang tebal dan putih itu bergetar 

sewaktu ia berbicara. "Tuan telah turut menjaga kehormatan 

Angkatan Darat Perancis - Tuan telah mencegah banyak 

pertumpahan darah yang tak perlu! Bagaimana seharusnya kami 

menyatakan rasa terima kasih kami kepada Tuan? Sampai sekian 

jauh…” 

Dalam menanggapi pernyataan ini, orang asing tersebut (yang 

dikenal dengan Raden  jayakatwang ) lantas menjawab dengan terus terang 

tapi cukup sopan - "Ya memang, tapi apakah saya bisa lupa bahwa 

Tuan dulu juga pernah menyelamatkan saya?" Kemudian sang 

Jenderal segera menyambung pembicaraan mereka dengan 

mengungkit kembali hal-hal yang dulu mereka alami, sambil 

merendahkan diri bahwa ia kurang bertugas dengan sungguh-

sungguh saat itu. Tak lupa ia membumbui pembicaraannya dengan 

menyinggung-nyinggung tentang Perancis, tentang Belgia, tentang 

keagungan, kehormatan dan tentang hal-hal yang telah mempererat 

persahabatan kedua orang itu. Tak lama kemudian pembicaraan yang 

singkat itu pun berakhir. 

Bagi master  chucky  segala sesuatunya sebenarnya masih kabur, 

namun ia telah digerahi tugas oleh perusahaan Taurus Express untuk 

melepas kepergian jayakatwang , dan tugas itu sedang dilaksanakannya 

dengan sekuat tenaga dan kemampuannya, sebab berharap tugas 

itu dapat menjadi batu loncatan bagi karirnya di masa depan. 

"Hari ini hari Minggu," ujar master  chucky . -"Besok, Senin sore, 

Tuan sudah sampai di Istambul." 

Percakapan semacam itu bukanlah pertama kali dilakukannya; 

percakapan itu yaitu  percakapan yang biasa terjadi di peron 

sebelum kereta berangkat dan selalu mesti berulang. 

"Begitulah," sahut jayakatwang  mengiyakan. 

"Dan Tuan bermaksud tinggal beberapa hari di sana, bukan?" 

"Mais oui. Istambul memang kota yang belum pernah kukunjungi. 

Sayang untuk dilewatkan begitu saja - Comme ca." Digosok-

gosokkannya kedua belah telapak tangannya seolah ingin melukiskan 

perasaan yang dikandungnya saat itu. "Tak ada yang menghalangi - 

aku akan menginap di sana sebagai turis untuk beberapa hari." 

"La Sainte Sophie, bagus sekali," ujar master  chucky , yang 

sesungguhnya belum pernah melihatnya. 

Angin dingin meniup keras di sepanjang peron. Kedua lelaki itu 

terlihat gemetar kedinginan. master  chucky  cepat-cepat melirik jam 

tangannya. Pukul lima kurang lima menit - jadi tinggal lima menit 

lagi! 

Ketika diketahuinya bahwa-lawan bicaranya tengah 

memperhatikahnya, master  muda itu cepat-cepat menambahkan, 

"Cuma sedikit orang yang bepergian tahun ini," ujarnya, sambil 

memandangi jendela-jendela gerbong tidur penumpang di atas 

kepala mereka. 

"Ya, memang," sahut jayakatwang  menyetujui. 

"Mudah-mudahan saja Tuan tidak sampai terbungkus salju di 

dalam Taurus!" 

"Apa hal itu pernah kejadian?" 

"Ya, tapi tahun ini belum." 

"Kalau begitu mudah-mudahanlah," ujar jayakatwang  lagi. "Laporan dari 

Eropa mengatakan cuaca buruk." 

"Sapgat buruk. Di Balkan saljunya banyak sekali. 

"Di Jerman juga, aku dengar." 

"Eh bien, " sahut master  chucky  menimpali sewaktu percakapan 

antara keduanya terasa akan terhenti. "Besok sore pukul tujuh empat 

puluh Tuan sudah di Konstantinopel." 

“Ya." sahut jayakatwang , dan lalu menambahkan seperti orang yang 

sudah hampir putus asa, "La Saint Sophle, aku dengar orang bilang 

bagus sekali." 

"Saya rasa memang mengagumkan," balas perwira muda Perancis 

itu. 

Di atas kepala mereka tiba-tiba sebuah jendela gerbong tidur 

disingkapkan orang, dan muncullah kepala seorang wanita yang 

melongok ke luar. 

MARIAM GRAVES cuma tidur sedikit sejak ia meninggalkan Bagdad 

hari Kamis lalu. Di kereta ke Kirkuk, di Rest House di Mosul, maupun 

di kereta tadi malam, ia tak dapat tidur dengan baik. Sekarang, 

sebab sudah jemu berbaring terus-terusan di gerbongnya yang 

dipanasi secara berlebihan itu, ia bangun dan melongok ke luar. 

Ini pastilah Aleppo. Tak ada yang menarik. Cuma peron yang 

memanjang, diterangi lampu ala kadarnya dan suara-suara riuh 

dalam bahasa Arab terdengar di kejauhan. Dua orang pria di bawah 

jendeja tengah bercakap-cakap dalam bahasa Perancis. Yang seorang 

perwira Perancis, dan yang seorang lagi, laki-laki bertubuh pendek 

dengan kumis raksasa. Gadis itu tersenyum pahit. Ia belum pernah 

melihat orang yang tubuhnya terbungkus sampai batas telinga. Kalau 

begitu udara di luar mestinya dingin sekali. sebab itulah kereta api 

itu dipanasi, sampai sedemikian hebatnya. Dicobanya menurunkan 

kerei jendelanya sedikit lagi, tapi tak berhasil. 

LETKOL kereta menghampiri kedua pria yang tengah asyik 

bercakap-cakap itu. Kereta sudah mau berangkat, katanya. Tuan 

sebaiknya naik sekarang. Laki-laki bertubuh kecil itu membuka 

topinya. Nampaklah kepalanya yang bulat telur. Di luar 

kesadarannya, MARIAM GRAVES tersenyum sendiri. Lelaki kecil itu 

membuatnya tertawa geli. Jenis pria yang biasa diremehkan orang. 

Kemudian master  chucky  menyampaikan kata-kata 

perpisahannya. Ia memang sengaja telah mempersiapkan lebih 

dahulu, dan bertekad untuk menyimpannya terus di dalam hati 

hingga saat yang dinantikannya tiba. Kata-kata perpisahannya 

memang indah dan memikat. 

Tanpa bermaksud untuk meremehkan kemampuan master  muda 

Perancis itu, sebaliknya jayakatwang  hanya menyahutinya dengan kata-kata 

yang biasa saja. 

"En voiture, Monsieur, " ujar LETKOL kereta. 

Dengan langkah berat jayakatwang  menaiki kereta. LETKOL menyusul 

di belakangnya. jayakatwang  melambaikan tangan. master  chucky  memberi 

hormat. Dengan hentakan yang tiba-tiba, kereta pun mulai bergerak 

perlahan-lahan. 

“Enfin!" gumam jayakatwang . 

"Brrrrrrr! " gumam master  chucky  yang baru merasakan dinginnya 

udara saat itu. 

"Voila, Monsieur!" LETKOL tadi mencoba menggambarkan 

dengan gerak tangannya keindahan ruang tidur dan kerapihan 

penynsunan barang-barang penumpang di keretanya kepada jayakatwang . 

"Koper Tuan yang kecil itu sengaja saya taruh di sini." 

Telapak tangan LETKOL itu seolah-olah mengingatkan jayakatwang  

pada sesuatu, lalu detektif Belgia itu menyelipkan lipatan uang kertas 

ke dalamnya. 

"Merci, Monsieur." LETKOL itu tiba-tiba terlihat begitu ramah 

dan cekatan, mungkin sebab uang kertas yang baru saja 

diterimanya dari tangan Raden  jayakatwang . Jadi timbul kesan bahwa ia 

LETKOL yang mata duitan. Lalu katanya lagi, "Saya punya karcis 

Tuan, dan kalau boleh saya juga ingin lihat paspor Tuan. Tuan turun 

di Istambul, bukan?" 

jayakatwang  mengabulkan permintaannya. "Aku rasa tak begitu banyak 

penumpang, bukan?" tanyanya lagi pada LETKOL kereta itu. 

"Benar, Tuan. Cuma ada dua orang lagi - kedua-duanya orang 

Inggris. Seorang MPU  dari India dan yang seorang lagi gadis 

Inggris dari Bagdad. Tuan perlu sesuatu?" 

jayakatwang  memesan sebotol kecil Perrier. Pukul lima pagi memang 

saat yang kurang tepat untuk bepergian dengan kereta api. Masih 

dua jam lagi sebelum terang tanah. Mengingat bahwa pada malam-

malam terakhir ini ia kurang tidur dan merasa bahwa tugasnya telah 

berhasil diselesaikannya dengan baik, jayakatwang  lalu jatuh tertidur sambil 

meringkuk di salah satu sudut. 

Sewaktu terbangun, hari sudah pukul sembilan tiga puluh. 

Bergegas-gegas ia pergi ke ruang restorasi dan langsung memesan 

secangkir kopi panas. 

Saat itu cuma ada seorang wanita muda di ruang itu, tak salah lagi 

pastilah gadis Inggris yang dimaksudkan oleh LETKOL itu tadi. 

Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya coklat kehitam-hitaman - 

usianya kira-kira dua puluh delapan tahun. Dari caranya menikmati 

makanannya dan dari caranya memanggil pelayan untuk 

membawakannya kopi secangkir lagi, terasa adanya kesan dingin 

dalam dirinya, yang menandakan bahwa wanita muda itu tahu 

banyak tentang dunia dan tentang perjalanan yang sedang 

dilakukannya. Ia mengenakan gaun bepergian berwarna gelap dari 

bahan yang tipis - sanguat cocok untuk udara panas di kereta api itu. 

Iseng-iseng Raden  jayakatwang  mulai memperhatikan wanita muda itu, 

tanpa setahunya. 

Inilah tampang gadis yang sanggup menjaga dirinya sendiri 

dengan mudah, di mana pun ia berada, katanya dalam hati. Sikapnya 

tenang tapi cekatan. Ia lebih tertarik pada bangun tubuhnya yang 

serasi dan kulitnya yang pucat tapi halus itu. Ia pun menyenangi 

bentuk kepalanya yang dihiasi rambut hitam dan berombak, dan 

matanya yang dingin, acuh tak acuh dan kelabu. Tetapi detektif 

Belgia itu menilai bahwa wanita muda itu hanya berada setingkat di 

atas apa yang disebutnya, 'jollie femme’”. 

Saat itu seseorang melangkah masuk. Seorang pria berperawakan 

tinggi dan berumur kira-kira antara tiga puluh sampai empat puluh 

tahun, ramping, berkulit coklat, dengan beberapa helai rambut yang 

telah beruban di pelipisnya. 

"Si MPU  dari India," ujar jayakatwang  dalam hati. 

Pendatang baru itu membungkukkan badannya sedikit di hadapan 

wanita muda itu sambil berkata, "Pagi, Nona GRAVES.", 

"Selamat pagi, MPU  TANTULAR." 

Rolonel itu masih tetap berdiri, sebelah tangannya berpegangan 

pada kursi di hadapan gadis Inggris itu. 

"Keberatan?" tanyanya. 

"Tentu saja tidak. Duduklah." 

"Aku rasa kau tahu sendiri sarapan pagi itu biasanya tak disertai 

oleh obrolan yang panjang-panjang seperti santapan siang atau 

malam." 

"Mestinya begitu. Tapi yang jelas aku tak akan menggigitmu." 

MPU  dari India itu lalu duduk. "Bung," ia memanggil pelayan. 

Ia memesan telur dan kopi. 

Matanya berhenti sebentar pada jayakatwang , tapi kemudian lewat 

begitu saja, acuh tak acuh. jayakatwang  yang sudah mahir menebak pikiran 

orang Inggris, dapat mengetahui bahwa orang Inggris itu sedang 

berkata dalam hati: "Cuma orang asing keparat." 

Sesuai dengan kebangsaannya, kedua orang Inggris itu memang 

tak banyak bicara. Mereka saling memberi isyarat dan saat itu juga 

wanita muda itu bangun dan kembali ke kamarnya. 

Waktu makan siang, kedua orang itu kembali duduk semeja dan 

kembali mengabaikan orang ketiga yang ada di situ. Kali ini 

percakapan mereka nampak lebih hangat daripada tadi pagi. MPU  

TANTULAR bercerita tentang Punjab dan sesekali ia bertanya 

mengenai Bagdad kepada wanita muda itu, yang kemudian ternyata 

merupakan tempat gadis itu bekerja sebagai guru privat. Dalam 

percakapan itu mereka menyebutkan nama-nama beberapa kenalan 

mereka, yang membuat mereka semakin intim dan bersahabat. Dari 

mulai si Tommy Tua sampai si Reggie Tua. MPU  itu juga 

menanyakan apakah wanita muda itu ingin langsung ke Inggris atau 

ingin sampai Istambul saja. 

"Tidak, aku mau terus." 

"Wah, sayang sekali!" 

"Aku sudah lewat jalan ini dua tahun yang lalu dan sudah pernah 

menginap tiga hari di Istambul." 

"Oh! Begitu! Syukurlah kau mau langsung ke Inggris, sebab aku 

juga." 

MPU  itu mengangguk sedikit, wajahnya terlihat kemerah-

merahan sewaktu ia berbuat begitu. 

"MPU  kita ini rupanya gila pujian," Ujar Raden  jayakatwang  

menghibur dirinya sendiri. "Rupanya bepergian dengan kereta api 

sama bahayanya dengan bepergian dengan kapal laut!" 

Nona GRAVES menambahkan bahwa justru perjalanan mereka 

akan lebih menyenangkan, apabila keduanya ingin langsung menuju 

Inggris. Kelihatan sekali bahwa tingkahnya itu tidak bebas. 

Raden  jayakatwang  memperhatikan MPU  itu menemani si wanita 

muda kembali ke kamarnya. Belakangan keduanya terlihat sedang 

mengagumi ruangan-ruangan yang ada dalam kereta Taurus yang 

mewah itu. Begitu keduanya melongok kebawah, ke arah Pintu 

Cicilia, jayakatwang  mendengar si gadis menghela napas. Saat itu jayakatwang  

sedang berdiri di dekat mereka, sebab itu ia mendengar dengan 

jelas suaranya yang lirih, 

"Bagus sekali! Aku harap - aku harap – “ 

"Apa?" 

"Aku-harap aku bisa ikut menikmatinya!" 

TANTULAR tidak menjawab. Rahangnya yang segi empat itu 

nampak lebih keras dan kaku. 

"Aku mohon pada Yang Mahakuasa, kau bisa dilepaskan dari 

semuanya ini!'” 

"Hush! Jangan gitu dong!" 

"Oh! Tak apa-apa." Ia melirik sebentar ke arah jayakatwang . Lalu ia 

melanjutkan,"Sayangnya aku tak suka kau bekerja sebagai guru - 

yang selalu berada di bawah perintah ibu-ibu yang suka bertindak 

seenaknya, apalagi kalau anak-anaknya banyak tingkah."  

Wanita muda itu tertawa, dari suaranya kelihatan bahwa ia tak 

begitu bisa mengontrol dirinya saat itu. 

"Oh! Kau tak boleh berpikir seperti itu. Guru yang tertindas selalu 

akan tetap jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Aku berani 

tanggung, justru orang-orang tua itulah yang sebenarnya takut aku 

bohongi." 

Sampai di situ keduanya terdiam. Mungkin TANTULAR malu akan 

keterlanjurannya barusan. 

"Persis seperti komedi kecil yang ganjil, yang sedang kulihat ini," 

ujar jayakatwang  dalam hati. 

jayakatwang  masih terus menyimpan komedi kecil yang ganjil itu sampai 

di kemudian hari. 

Malam itu mereka tiba di Konya sekitar setengah dua belas. Kedua 

orang Inggris itu keluar untuk melemaskan kaki mereka, dengan 

berjalan mondar-mandir di peron yang bersalju itu. 

jayakatwang  senang melihat kesibukan di stasiun itu dari balik kaca 

jendelanya. Setelah lewat sepuluh menit ia baru sadar bahwa 

menghirup udara luar saat itu tidak akan berakibat buruk bagi 

kesehatannya. Ia mempersenjatai diri sebaik-baiknya, membungkus 

dirinya dengan mantel sampai berlapis-lapis, menegakkan kerah 

mantel itu sampai batas telinga dan melindungi kakinya dengan 

sepatu salju dari karet. Dengan berpakaian seperti itu, badannya 

baru terasa hangat dan dengan penuh semangat ia melompat turun 

ke peron. Langkahnya mulai mengukur panjang peron itu. jayakatwang  

memutuskan untuk berjalan di peron seberang kereta. 

Samar-samar didengarnya suara orang yang sedang bercakap-

cakap, bersamaan dengan itu pula dilihatnya dua sosok tubuh yang 

sedang berdiri di bawah bayangan sebuah gerobak dorong. Ternyata 

suara itu yaitu  suara TANTULAR, 

“MARIAM.” 

Gadis itu memotong kata-katanya. 

"Jangan sekarang, jangan sekarang. Nanti saja kalau semuanya 

sudah berlalu. Kalau semuanya sudah di belakang kita - nanti -" 

Diam-diam jayakatwang  berpaling ke arah lain. Ia heran.... Hampir-hampir 

tak dikenalinya suara Nona GRAVES yang biasanya dingin dan 

mantap itu… 

"Membangkitkan rasa ingin tahuku saja," ujarnya pada diri sendiri. 

Hari berikutnya detektif Belgia itu menerka bahwa kedua orang 

Inggris itu pasti baru saja bertengkar. Mereka tak begitu banyak 

berbicara satu sama lain. Gadis itu kelihatan cemas. Di bawah 

matanya terlihat lingkaran biru seperti kurang tidur. 

Waktu menunjukkan pukul, setengah tiga siang, ketika tiba-tiba 

saja kereta terhenti. Kepala-kepala bermunculan dari jendela. 

Nampak sekelompok pria sedang berkerumun di salah satu sisi kereta 

sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di bawah ruang restorasi. 

jayakatwang  melongok ke luar dan bertanya pada LETKOL kereta yang 

sedang berjalan bergegas-gegas. LETKOL itu menjawab, dan jayakatwang  

menarik lehernya kembali hingga hampir saja bersentuhan dengan 

kepala MARIAM GRAVES yang rupa-rupanya telah berdiri di 

belakangnya sejak tadi, tanpa sepengetahuan detektif Belgia itu. 

"Ada apa?" tanya wanita muda itu terengah-engah dalam bahasa 

Perancis. "Kenapa kita berhenti di sini?" 

"Tak apa-apa, Mademoiselle. Cuma, sebab ada api kecil di bawah 

gerbong makan. Tidak berbahaya. Apinya sudah dipadamkan. 

Sekarang mereka sedang memperbaiki bagian-bagian yang rusak. 

Tak ada bahaya apa-apa, saya berani jamin." 

MARIAM GRAVES memberi isyarat kecil, seolah ia sedang mengusir 

dan mengenyahkan bahaya itu, seolah ia sedang menghalau sesuatu 

yang dianggapnya sama sekali tidak penting. 

"Ya, ya, saya mengerti. Tapi bagaimana dengan waktu kita?" 

"Waktu?" 

"Ya, jadi tertunda." 

"Ya, mungkin," sahut jayakatwang  membenarkan. 

"Tapi perjalanan kita tak boleh tertunda! Kereta ini semestinya tiba 

pukul 6.55 kita mesti menyeberangi Bosporus dulu, baru bisa menaiki 

kereta Simplon Orient Express setelah sampai di seberang, pada 

pukul 9.00. Terlambat sejam dua jam berarti kita tak dapat 

melanjutkan perjalanan." 

"Ya mungkin saja," ujar jayakatwang  lagi mengiyakan. 

Diamat-amatinya gadis itu dengan rasa ingin tahu. Tangannya 

yang sedang berpegangan pada bingkai jendela kelihatan kurang 

mantap dan bibirnya pun terlihat bergetar. 

"Apakah kejadian ini benar-benar menyusahkan Nona?" tanya 

detektif Belgia itu lagi.  

"Ya, ya memang begitu. Soalnya aku mesti bisa mencegat kereta 

itu, tak boleh tidak." 

Gadis itu membalikkan tubuhnya dan melangkah menyusuri 

koridor, untuk menemui MPU  TANTULAR. 

Kecemasannya tak usah berkepanjangan. Sepuluh menit kemudian 

kereta bergerak kembali. Tiba di Haydapassar cuma terlambat lima 

menit. 

Bosporus ternyata selat yang berbahaya dan berombak besar dan 

jayakatwang  tak begitu senang menyeberanginya. Ia terpisah dengan 

kawan-kawan seperjalanannya, sebab ia diseberangkan dengan 

kapal lain, jadi ia tak bisa bertemu lagi dengan mereka. 

Begitu sampai di Galata Bridge detektif Belgia itu langsung menuju 

Hotel Tokatlian. 

 

2. HOTEL TOKATLIAN 

 

Di Tokatlian, Raden  jayakatwang  memesan sebuah kamar yang 

diperlengkapi dengan kamar mandi. Kemudian ia mendatangi meja 

pengurus hotel dan menanyakan surat-surat yang dialamatkan 

kepadanya. 

Ada tiga buah surat dan satu telegram. Nampak ia mengerutkan 

kening sebentar sewaktu melihat telegram itu. Hal itu sungguh di luar 

dugaannya, 

Dibukanya sampul telegram itu dengan caranya yang khas, teliti 

dan tidak terburu-buru. Huruf-hurufnya terang dan jelas. 

Perkembangan yang Tuan ramalkan mengenai masalah Kassner 

ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan. Harap segera kembali. 

“Voila ce qui est embetant," gumam jayakatwang  kesal. Ditatapnya jam 

dinding yang ada di ruang itu. "Saya mesti berangkat malam ini 

juga," ujarnya kepada si pengurus hotel. "Pukul berapa kereta 

Simplon Orient berangkat?"  

“Pukul sembilan, Monsieur. 

"Saudara bisa pesankan saya tempat tidur di kereta?" 

"Tentu saja bisa, Monsieur. Tak ada kesulitan dalam bulan-bulan 

seperti sekarang. Kelas satu atau kelas dua?" 

"Kelas satu." 

"Tres bien, Monsieur. Mau ke mana Tuan" 

"Ke London." 

"Bien, Monsieur. Akan saya pesankan karcis ke London sekaligus 

tempat tidur Tuan di kereta Istambul - Calais." 

jayakatwang  kembali melirik jam di dinding. Pukul delapan kurang 

sepuluh. "Masih bisa makan malam?" 

"Tentu saja, Monsieur." 

Detektif Belgia itu mengangguk. Ia berlalu begitu saja, tidak jadi 

memesan kamar hotel dan langsung menyeberangi aula menuju 

restoran. 

Sewaktu ia memesan sesuatu kepada pelayan, sekonyong-

konyong bahunya terasa dipegang orang. 

"Ah, mon vieux, tak kusangka kita bisa bertemu di sini!" seru 

seseorang di belakangnya. 

Ternyata yang berbicara tadi yaitu  pria yang berperawakan 

pendek dan tegap, usianya lebih tua sedikit dari jayakatwang  dan 

rambutnya dipotong “crewcut”. Ia tersenyum gembira. 

jayakatwang  cepat-cepat memutar tubuhnya. 

"BOUROQ! 

"jayakatwang ! 

BOUROQ juga seorang BeIgia, seperti jayakatwang , jabatannya direktur 

Compagnie Internationale des Wagons Lits dan persahabatannya 

dengan detektif BeIgia yang cemerlang itu sudah berjalan bertahun-

tahun lamanya. 

"Jauh betul kau dari rumah saat ini," komentar BOUROQ. 

"Ada urusan sedikit di Siria." 

“Ah! Dan kapan kau pulang?" 

'Malam ini." 

"Bagus! Aku juga. Aku cuma sampai Laussane saja, sebab di sana 

aku masih punya urusan. Aku rasa kau naik kereta Simlon Orient, ya 

tidak?" 

"Ya. Aku baru saja memesan tempat tidur di kereta itu. 

Sebenarnya aku berniat untuk menginap beberapa hari lagi di sini, 

tapi aku baru saja menerima telegram yang memanggilku supaya 

segera kembali ke Inggris, sebab aku memang masih punya urusan 

penting di sana yang belum kuselesaikan seluruhnya." 

"Ah!" keluh Tuan BOUROQ lagi. "Les affaires - les affaires! Tetapi kau, 

sekarang kau sudah ada di puncak pohon, mon vieux!" 

"Barangkali aku sudah memperoleh sukses-sukses kecil yang tak 

ada artinya," sahut jayakatwang  merendah. 

Tuan BOUROQ tertawa. 

"Kita akan bertemu lagi nanti," ujarnya. 

Raden  jayakatwang  kini sibuk menghindarkan kumisnya dari sentuhan 

sup yang sedang dihadapinya. Sesudah berhasil melaksanakan tugas 

yang sulit itu, diarahkannya pandangannya ke sekeliling, sambil 

menunggu pesanannya yang berikut. Hanya kira-kira setengah lusin 

orang di restoran itu, dan di antara sejumlah itu hanya dua orang 

yang berhasil menarik perhatian Raden  jayakatwang . 

Kedua orang itu duduk di meja yang letaknya tak begitu jauh dari 

meja jayakatwang . Yang muda berparas lumayan, berusia sekitar tiga 

puluhan, jelas seorang Amerika. Tapi sebenarnya bukan dia yang 

menjadi sasaran perhatian detektif Belgia itu, tapi temannya, yang 

jauh lebih tua. 

Temannya itu lelaki tua yang kira-kira berumur antara enam puluh 

sampai tujuh puluh tahun. Sekilas pandang, lelaki yang mempunyai 

kesan ramah itu nampak seperti dermawan. Kepalanya yang sedikit 

botak, dahinya yang lebar, dan bibirnya yang selalu tersenyum lebar 

dan dihiasi sebaris gigi palsu berwarna putih itu - semuanya seakan 

memberi kesan bahwa kepribadiannya baik dan terbuka. Cuma 

matanya yang mengingkari kesan ini. Mata yang kecil, dalam dan 

licik. Bukan itu saja. Sewaktu ia memberi isyarat kepada kawannya 

yang jauh lebih muda itu, sambil menatap ke sekeliling ruangan, tiba-

tiba matanya terhenti pada jayakatwang , dan meskipun itu hanya 

berlangsung tak lebih dari sedetik saja, namun pandangannya terasa 

seperti pandangan yang keluar dari hati yang dengki dan tidak wajar. 

Lalu lelaki tua itu bangkit dari kursinya. 

"Bayar rekeningnya, RADEN KERTAJAYA ," ujarnya. 

Suaranya agak parau. Suara itu kedengarannya aneh, cukup 

lembut tapi berbahaya. 

Sewaktu jayakatwang  menemui teman lamanya kembali di ruang duduk, 

kedua laki-laki itu tampak sedang bersiap-siap untuk meninggalkan 

hotel. Koper-koper mereka sudah dibawa turun. Lelaki yang lebih 

muda itu mengawasi pelaksanaannya. Setelah itu dibukanya pintu 

kaca hotel sambil berkata, 

"Sudah siap semua, Tuan CHUCKY." 

Lelaki tua itu menyatakan persetujuannya, tapi dengan suara 

menggerutu yang cuma terdengar samar-samar, dan berlalu begitu 

saja. 

"Eh bien, " ujar jayakatwang  kemudian. "Apa kesanmu terhadap kedua 

orang tadi?" 

"Jelas mereka orang Amerika," sahut Tuan BOUROQ. 

"Jelas memang mereka orang Amerika. Maksudku, bagaimana 

kepribadian mereka?" 

"Lelaki muda itu kelihatannya lebih sabar." 

"Dan yang satunya?" 

"Terus terang saja, Kawan, aku tak begitu peduli padanya. 

Tingkahnya kurang simpatik. Dan kesanmu bagaimana?" 

Raden  jayakatwang  berpikir sejenak sebelum menjawab. 

"Waktu ia lewat di depanku di restoran itu," ujarnya menegaskan, 

"aku jadi ingin tahu. Tingkahnya seperti binatang-binatang buas! Tak 

tahu sopan-santun sama sekali! " 

"Tapi tampangnya cukup terhormat dan disegani orang." 

"Precisement! Perawakannya - yakni sangkarnya itu - boleh 

dibilang tak tercela - tapi di balik sangkar itu, sifat binatangnya 

kelihatan dengan jelas.” 

"Kau suka berkhayal yang bukan-bukan," sahut Tuan BOUROQ, tak 

percaya. 

"Mungkin juga begitu. Tapi biar bagaimanapun aku tak bisa 

melepaskan diri dari kenyataan bahwa setan telah lewat begitu 

dekatnya di sampingku." 

"Kaumaksud orang Amerika yang terhormat itu?" 

"Orang Amerika yang terhormat itu." 

"Baiklah," sahut Tuan BOUROQ lagi dengan suara riang. "Bisa jadi 

begitu. Memang banyak setan di dunia ini." 

Saat itu pintu terbuka dan si pengurus hotel nampak berjalan 

menghampiri mereka. Di wajahnya terpancar rasa sesal dan prihatin. 

“Benar-benar luar biasa, Monsieur," ujarnya kepada jayakatwang . "Tidak 

ada tempat tidur di gerbong kelas satu." 

"Comment?" tanya Tuan BOUROQ. "Pada bulan-bulan seperti ini? Ah, 

kalau begitu pasti ada rombongan wartawan atau politikus." 

“Saya tak tahu, Tuan," sahut pengurus hotel itu lagi sambil 

memalingkan kepalanya dengan hormat. "Tapi kenyataannya 

memang begitu." 

"Ya, ya, apa boleh buat," ujar Tuan BOUROQ lagi sambil menatap 

jayakatwang . "Jangan takut, Kawan. Akan kita atur. Selalu ada satu kamar, 

nomor 16, yang tidak terpakai. LETKOL tahu itu!" Ia tersenyum lalu 

menatap jam di dinding. "Mari," ujarnya mengajak. "Sudah waktunya 

kita pergi." 

 

Di stasiun, Tuan BOUROQ disambut dengan hormat oleh seorang 

LETKOL berseragam coklat. 

"Selamat malam, Monsieur. Tuan ditempatkan di kamar no.1" 

Kemudian LETKOL itu memanggil kuli-kuli peron dan mereka 

pun langsung mendorong kereta barang berisikan bawaan para 

penumpang yang bertuliskan ISTAMBUL TRIESTE CALAIS pada 

sebuah flat aluminum yang ditempelkan di kereta barang itu. 

"Aku dengar keretamu penuh malam ini, benar?” 

"Benar-benar tak bisa dipercaya, Monsieur. Rupanya seluruh dunia 

memilih untuk bepergian pada malam ini!" 

"Ya, sama seperti tugasmu untuk mencarikan sebuah kamar buat 

Tuan ini, ia teman baik saya. Berikan saja kamar no.16 itu." 

"Sudah diambil orang, Monsieur.” 

"Apa? Kamar no.16 itu?" 

Keduanya saling berpandangan dengan penuh pengertian, dan 

LETKOL kereta tersenyum. Lelaki tinggi setengah baya, berkulit 

kekuning-kuningan. "Tapi memang begitu, Monsieur. Seperti saya 

katakan tadi, kereta kita penuh-penuh sekali, sampai tak ada tempat 

lagi." 

"Tapi apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Tuan BOUROQ lagi dengan 

marah. "Memangnya akan ada konperensi di suatu tempat? Atau ada 

pesta besar-besaran barangkali?" 

"Bukan, Monsieur. Ini cuma kebetulan saja. Soalnya semua orang 

mau bepergian malam ini. Itu saja soalnya." 

Tuan BOUROQ mengeluarkan suara tak senang. 

"Di Belgrado," ujarnya menerangkan, "akan ada gerbong 

tambahan dari Athena. Juga akan ada kereta jurusan Bukares -  

Paris. Tapi sayangnya kita belum bisa sampai di Belgrado sebelum 

besok malam. Justru soalnya yaitu  untuk malam ini. Apa tak ada 

tempat tidur kosong di gerbong kelas dua?" 

"Ada, Monsieur. " 

"Nah, itu saja sediakan buat teman saya." 

"Tapi itu tempat tidur khusus untuk wanita. Sudah ada yang 

mengisi-wanita Jerman - pembantu seorang wanita bangsawan." 

"La, la, kedengarannya aneh," ujar Tuan BOUROQ lagi. 

"Jangan susah-susah, Kawan," ujar jayakatwang . "Aku mau naik kereta 

biasa saja." 

"Tidak boleh. Tidak boleh." Tuan BOUROQ berpaling ke arah 

LETKOLnya sekali lagi. "Apa semua penumpang sudah datang?" 

"Sudah," ujar yang ditanya, "kecuali satu orang yang belum 

kelihatan batang hidungnya sampai sekarang." Ia berbicara lambat-

lambat, seolah masih ragu-ragu. 

“Cepat katakan yang mana!" 

“Tempat tidur no.7 - di gerbong kelas dua. Orangnya belum juga 

muncul, padahal sekarang sudah pukul sembilan kurang empat 

menit." 

“Siapa itu?" 

“Orang Inggris," sahut LETKOL itu sambil memeriksa daftar 

penumpang yang sedang dipegangnya. "Harris." 

“Nama yang membawa pertanda baik," ujar jayakatwang . “Dalam buku-

bukunya Dickens, biasanya orang bernama Harris tak akan muncul." 

“Taruh koper-koper Tuan ini di kamar no.7," ujar Tuan BOUROQ 

kepada LETKOL itu. "Kalau Tuan Harris ini datang, kita katakan 

saja kepadanya kedatangannya sangat terlambat - kamarnya tak 

dapat ditahan begitu lama - kita akan selesaikan soal ini dengan satu 

atau lain cara. Apa peduliku deagan orang semacam Tuan Harris itu?" 

'"Baik Tuan," sahut LETKOL itu. Lalu ia berpaling kepada 

pembawa koper jayakatwang , memberitahukan kamar mana yang harus 

dimasuki. Kemudian ia menyisih agak ke samping untuk memberi 

jalan bagi jayakatwang  yang akan menaiki kereta. 

"Tout a fait au bout, Monsieur, " teriaknya. "Kamar yang paling 

ujung!” 

jayakatwang  mulai menelusuri koridor kereta, sebuah pekerjaan yang 

memakan waktu, sebab orang-orang yang bepergian pada saat itu 

banyak yang berdiri di sisi rak tempat koper-koper mereka diletakkan. 

Kata "Pardons" yang setiap kali dilontarkannya di hadapan para 

penumpang yang berdesakan itu, dirasakannya sebagai suatu 

pekerjaan rutin yang 

membosankan, persis seperti arah gerak jarum jam. 

Akhirnya detektif Belgia bertubuh kecil itu pun sampai juga di 

kamar yang telah ditentukan itu. Di dalamnya ia melihat orang 

Amerika yang tempo hari ditemuinya di Hotel Tokatlian. Ia sedang 

meletakkan kopernya di rak. 

Orang itu mengerutkan kening sewaktu jayakatwang  melangkah masuk. 

"Maaf," ujarnya. "Saya rasa Tuan keliru." Kemudian ia berkata lagi 

dengan susah payah dalam bahasa Perancis, "Je crois que vous avez 

an erreur. " 

jayakatwang  menjawab dalam bahasa Inggris, "Tuan yang namanya 

Harris?" 

"Bukan, nama saya WISNU WARDANA . Saya…” 

Tiba-tiba terdengar suara LETKOL melewati bahu jayakatwang , suara 

yang tertahan-tahan dan penuh penyesalan. 

"Sudah tak ada tempat tidur lagi di kereta ini, Monsieur. 

Semuanya sudah penuh. Tuan ini memang seharusnya masuk ke 

mari," ujarnya pada WISNU WARDANA . 

jayakatwang  tahu bahwa nada suaranya itu seperti dibuat-buat. Pastilah 

LETKOL itu sudah dijanjikan persenan besar jika ia bisa 

mempertahankan sebuah kamar bagi penumpang tertentu dan 

mencegah masuknya penumpang lain ke situ. Meskipun demikian, 

persenan sebesar apa pun tak berarti baginya jika direktur 

perusahaan sendiri yang memberikan perintah untuk mengosongkan 

kamar itu. 

Tak lama kemudian LETKOL itu muncul dari dalam kamar, 

sehabis meletakkan koper-koper jayakatwang  ke atas rak. 

"Volia, Monsieur," ujarnya. "Semua sudah diatur. Tempat tidur 

Tuan di atas, no.7 itu. Kereta berangkat satu menit lagi." 

Lalu ia bergegas-gegas menyusuri koridor kembali. jayakatwang  pun 

kembali memasuki kamar itu. 

"Jarang aku mengalami kejadian seperti ini," ujarnya dengan 

perasaan lega. "LETKOL kereta api sendiri sampai terpaksa 

mengangkut koper-koper ke raknya di atas! Belum pernah aku 

mendengar kejadian seperti itu!" 

Teman seperjalanannya tersenyum mendengar komentar jayakatwang . 

Jelas sekali kelihatan bahwa orang la itu telah berhasil mengatasi 

gangguan yang itu - barangkali ia sudah mengambil keputusan tak 

baik untuk memperpanjang soal-soal kecil semacam itu, dan lebih 

baik menanggapinya secara filosofis atau secara taktis saja. “Kereta 

ini penuhnya luar biasa," ujarnya. 

Peluit ditiup, terdengar jeritan panjang yang menyedihkan dari 

lokomotif kereta. Kedua penumpang kamar yang sama itu segera 

bergegas menuju koridor. 

Di luar terdengar seseorang berseru, "En voiture! Kita sudah 

berangkat," ujar WISNU WARDANA . 

Tapi mereka belum benar-benar berangkat. Peluit itu berbunyi 

sekali lagi. 

“Kalau aku boleh usul," ujar orang muda itu tiba-tiba, "kalau 

Saudara mau ambil tempat tidur yang di bawah,  saya kira akan lebih 

mudah bagi saudara, dan bagi saya juga." 

Orang muda yang memiliki tenggang rasa yang kuat. 

"Tidak, tak usah," sahut jayakatwang . "Saya tak ingin mengambil hak 

Tuan." 

"Tak apa-apa." 

“Saudara baik sekali." 

Protes bermunculan dari kedua belah pihak. 

“Cuma buat satu malam saja," ujar jayakatwang  menegaskan. "Di 

Belgrado nanti." 

"Oh! Begitu. Jadi Tuan mau turun di Belgrado.” 

"Belum pasti. Tuan lihat…” 

Sekonyong-konyong, kereta terhentak. Kedua lelaki itu bergegas 

mendekati jendela dan memandang lekat-lekat peron bermandikan 

cahaya lampu yang mulai mereka tinggalkan perlahan-lahan. 

Kereta Orient Express memulai perjalanan tiga harinya melintasi 

Eropa. 

 

3. jayakatwang  MENOLAK SEBUAH KASUS 

 

Raden  jayakatwang  terlambat sedikit ketika memasuki gerbong makan 

pada hari berikutnya. Sebenarnya ia sudah bangun pagi-pagi sekali 

lalu sarapan sendirian dan langsung menekuni catatan-catatan yang 

telah dibuatnya khusus mengenai persoalan yang menyebabkannya 

dipanggil kembali ke London. Ia belum melihat teman 

seperjalanannya yang dijumpainya di hotel Tokatlian tempo hari. 

Tuan BOUROQ, yang sudah duduk di situ sejak tadi, langsung 

melambaikan tangannya begitu melihat kawan lamanya dan 

mengajak kawannya duduk di kursi yang masih kosong di 

hadapannya. jayakatwang  duduk dan langsung menyadari bahwa ia tengah 

duduk di meja yang mendapat pelayanan lebih dulu dari meia-meja 

lainnya dan dipenuhi dengan makanan-makanan terpilih. Tidak 

seperti, biasanya, hidangan di kereta ini ternyata sangat lezat. 

Selama itu, rupanya Tuan BOUROQ hanya memperhatikan kelezatan 

hidangan yang terpapar di hadapannya, namun setelah mereka mulai 

menikmati cream cheese yang lunak dan lezat itu perhatian Tuan 

BOUROQ mulai tertuju pada soal-soal di sekelilingnya. Boleh dibilang ia 

seperti orang yang suka berfilsafat ketika menghadapi meja makan. 

"Ah!" keluhnya. "Andaikata saja aku memiliki sebuah pena Balzac! 

Akan kulukis pemandangan di sini." Diayunkannya sebelah tangannya 

seperti orang yang sedang melukis. 

"Memang itu gagasan yang bagus," sahut jayakatwang  menyetujui. 

"Ah, belum apa-apanya kau sudah setuju! Apakah itu sudah 

benar-benar dilakukan orang? Dan aku rasa itu juga membawa 

kenangan yang tak akan terlupakan, Kawan. Di sekeliling kita 

sekarang, ada orang-orang dari segala macam lapisan, segala macam 

bangsa dan semua tingkatan umur. Untuk tiga hari ini, orang-orang 

ini, orang-orang yang tak kenal satu sama lain, berkumpul bersama-

sama. Mereka tidur dan makan di bawah satu atap, mereka tak dapat 

menghindarkan diri dari yang lain. Tapi setelah tiga hari, mereka 

berpisah, masing-masing ke tempat tujuannya sendiri-sendiri, dan 

mungkin mereka tak akan pernah bertemu lagi satu sama lain.” 

“Masih mungkin," sahut jayakatwang , "umpama terjadi sebuah 

kecelakaan -" 

“Ah, jangan bicara begitu, Kawan - .”  

“Memang menurut penilaianmu, itu akan sangat disesalkan, aku 

setuju. Meskipun demikian marilah kita mengumpamakan bahwa 

memang kecelakan itu benar-benar terjadi. Dan barangkali senua 

orang yang ada di sini baru bisa dipersatukan kembali - oleh 

kematian." 

“Mari minum anggur lagi," ujar Tuan BOUROQ sambil menuangkan ke 

gelas mereka masing-masing dengan agak tergesa. "Kelihatannya 

pikiranmu sedikit ngawur, mon cher. Mungkin pencernaanmu tak 

berjalan dengan baik." 

“Ya, benar," jayakatwang  menyetujui, "mungkin makanan di Siria itu tak 

sesuai dengan perutku.” 

Detektif Belgia itu kemudian menghirup anggurnya. Lalu sambil 

bersandar ke belakang, dilayangkannya pandangannya ke sekeliling 

ruang, makan itu, pikirannya mulai berjalan. Ada kira-kira tiga belas 

orang yang duduk di situ, dan sebagaimana yang telah dikatakan 

Tuan BOUROQ tadi, mereka berasal dari segala macam lapisan dan 

segala bangsa. jayakatwang  mulai mempelajari mereka satu per satu. 

Meja yang berhadapan dengan mereka, diduduki oleh tiga orang 

pria. jayakatwang  menduga bahwa mereka mestilah pelancong yang 

bepergian sendiri-sendiri, tapi sudah ditentukan secara cerdik oleh 

pengurus restoran bahwa mereka harus duduk semeja bertiga. 

Seorang Italia yang berkulit hitam dan berperawakan tinggi besar 

nampak sedang asyik membersihkan giginya dengan tusuk gigi. Di 

hadapannya duduk orang Inggris yang berpakaian. rapi, air mukanya 

tenang dan tak dapat diterka bagai air muka pelayan yang sudah 

terlatih baik. Persis di sebelah orang Inggris itu, duduk pria Amerika 

yang bertubuh besar dan berpakaian kelonggaran mungkin seorang 

pelancong yang banyak duit dan biasa bepergian. 

"Tuan mesti berpakaian seperti saya ini, biar kelihatannya 

kebesaran," ujar orang Amerika itu dengan suara yang keras dan 

sepertinya keluar dari hidung. 

Orang Italia itu cepat-cepat menggeser tusuk giginya ke samping 

supaya dapat membuat isyarat dengan bebas. 

“Tentu saja," sahutnya. "Itu yang justru kutekankan terus-

menerus." 

Orang Inggris yang berpakaian rapi itu melongok ke luar jendela 

dan batuk-batuk sebentar. 

Mata jayakatwang  terus juga meneliti orang-orang yang ada di 

sekitarnya. 

Pada sebuah meja kecil, dengan sikap yang tegak lurus, duduk 

salah satu dari wanita-wanita yang paling jelek yang pernah 

dilihatnya. Tapi justru kejelekannya itu termasuk istimewa - sebab 

kejelekan itu rasanya lebih mempesonakan daripada menimbulkan 

perasaan jijik dalam diri orang yang kebetulan melihatnya. Ia duduk 

dengan sikap yang benar-benar tegak lurus sembilan puluh derajat. 

Sekeliling lehernya tergantung serenceng batu permata yang besar-

besar dan menimbulkan rasa tak percaya bagi orang yang melihat, 

meskipun permata-permata itu kelihatannya asli. Jari-jemarinya 

dipenuhi oleh cincin. Mantelnya yang terbuat dari bulu musang itu 

ditempelkan begitu saja di bahunya. Sebuah topi hitam kecil yang 

mahal kelihatannya jadi menyeramkan sebab topi yang dikenakannya 

tak sesuai dengan wajah yang di bawahnya yang mirip dengan muka 

kodok. 

Ia kini sedang berbicara dengan seorang pelayan restoran dengan 

suara jernih, cukup sopan tapi penuh paksaan. 

“Kau yaitu  pelayan yang baik kalau kau mau membawakan 

sebotol besar air putih dan segelas besar air jeruk ke kamarku. 

Cobalah usahakan supaya saya juga bisa dibawakan ayam rebus 

tanpa saus untuk makan malam nanti - juga kalau bisa beberapa 

ekor ikan rebus. 

Pelayan itu menjawab dengan hormat bahwa semuanya akan 

dilaksanakannya dengan baik. 

Wanita itu mengangguk ramah dan langsung bangkit dari 

kursinya. Matanya sempat menatap jayakatwang  dan dalam diri detektif 

Belgia itu tumbuh semacam kesan aneh terhadap diri perempuan 

aristokrat yang acuh tak acuh itu. 

“Itu Puteri GIRAH ," ujar Tuan BOUROQ dengan suara rendah. 

"Dia orang Rusia. Suaminya mengumpulkan uang banyak sekali 

sebelum revolusi meletus dan menanamkannya di luar negeri. Puteri 

GIRAH  luar biasa kaya. Dia punya reputasi internasional." 

jayakatwang  mengangguk. Ia sendiri juga telah mendengar perihal Puteri 

GIRAH  ini. 

“Dia punya kepribadian," ujar Tuan BOUROQ lagi. “Jelek seperti iblis 

tetapi dia telah membuat dirinya sendiri kelihatan menarik. Kau 

setuiu?" 

jayakatwang  mengiyakan. 

Pada meja besar yang lain MARIAM GRAVES sedang duduk 

berhadapan dengan dua orang wanita lain. Seorang di antaranya 

bertubuh jangkung, setengah baya, mengenakan blus bermotif 

petak-petak dan rok bawah dari bahan wol. Rambutnya yang banyak 

dan berwarna kuning pucat itu dijadikan sanggul besar yang sama 

sekali tak menarik. Ia berkaca mata dan bentuk wajahnya yang 

panjang, dan memberi kesan ramah dan lembut itu lebih menyerupai 

seekor domba. Ia sedang asyik mendengarkan, wanita yang ketiga, 

yang berbadan kekar yang berparas menyenangkan, dan kelihatan 

lebih tua dari teman-temannya yang lain. Suaranya rendah dan 

membosankan, ia berbicara seperti orang yang tak kenal istirahat dan 

tak mau berhenti sedikit pun. 

"… dan begitulah kata anak perempuanku, 'Mengapa," katanya 

lagi, 'Ibu tak bisa menerapkan cara-cara Amerika di negeri ini. Di sini 

sudah wajar kalau orang hidup bermalas-malasan,' katanya. 'Tak ada 

yang mendorong mereka untuk bertindak terburu-buru.' Tetapi kalian 

tak usah terkejut kalau kalian tahu apa yang sebenarnya dilakukan 

fakultas kita di sana. Mereka mendapat staf pengaiar yang baik. Aku 

kira tak ada hal yang begitu hebat seperti pendidikan. Kami harus 

menerapkan caracara berpikir orang Barat supaya orang-orang Timur 

di sini mengenalnya. Anak saya bilang -" 

Kereta memasuki terowongan. Suaranya yang tenang dan datar 

itu kini sudah tak terdengar lagi. 

Pada meja berikutnya, sebuah meja kecil, duduk MPU  

TANTULAR - sendirian. Pandangannya terus-menerus diarahkan 

kepada tengkuk MARIAM GRAVES. Mereka tidak duduk bersama 

seperti biasanya. Padahal mereka dapat melakukannya kalau mereka 

mau. Kalau begitu mengapa? 

Barangkali, pikir jayakatwang , “MARIAM GRAVES keberatan. Guru 

pengasuh seperti dia mesti berhati-hati. Pembawaan itu sangat 

penting. Seorang gadis yang memiliki mata pencaharian seperti dia 

memang harus selalu menjaga sikap. 

Pandangan jayakatwang  beralih ke sisi yang satunya. Di ujung sekali, 

berhadapan dengan dinding, duduk seorang wanita setengah baya 

yang berpakaian hitam, wajahnya lebar dan tak menunjukkan 

ekspresi apa-apa. Pastilah orang Jerman atau Skandinavia, pikir 

jayakatwang . Mungkin pembantu wanita Jerman itu. 

Di seberangnya nampak pasangan yang sedang berbicara dengan 

asyiknya sambil memajukan badan mereka ke muka. Yang laki-laki 

mengenakan pakaian wol  Inggris, tapi ia sendiri bukan orang 

Inggris. Meskipun jayakatwang  hanya dapat melihat bagian belakang 

kepalanya, namun bentuk kepalanya dan kedua belah bahunya itu 

sudah dapat menunjukkan bahwa ia memang bukan orang Inggris. 

Tiba-tiba diputarnya kepalanya dan saat itulah baru jayakatwang  dapat 

melihat tampangnya dengan jelas. Pria yang tampan sekitar tiga 

puluhan, dengan kumis, yang bagus dan cukup dapat dibanggakan. 

Wanita yang duduk di hadapannya tampaknya masih gadis 

kemarin sore - usianya kira-kira dua puluh tahun. Ia mengenakan rok 

ketat berwarna hitam dan blus satin putih, di atas kepalanya 

bertengger topi berwarna hitam yang sedang mode dan bersudut 

aneh. Wajahnya cantik, mirip wajah orang asing. Kulitnya putih 

mulus, dengan sepasang mata yang berwarna coklat dan rambut, 

hitam yang bagus. Kuku-kuku tangannya yang terawat baik diberi cat 

kuku berwarna merah tua. Di lehernya tergantung serenceng batu 

permata zamrud yang dimat dengan emas putih. Pandangan dan 

suaranya penuh daya tarik. 

“Elle est jollie - et chic, " gumam jayakatwang  pada diri sendiri. "Suami-

isteri - eh?" 

Tuan BOUROQ mengangguk. "Dari Kedutaan Hongaria kukira," 

katanya. "Pasangan yang setimpal.” 

Cuma ada dua orang lagi yang masih makan siang - teman 

sekamar jayakatwang , WISNU WARDANA  dan majikannya Tuan CHUCKY. Yang 

terakhir ini duduk berhadapan muka dengan jayakatwang , dan untuk kedua 

kalinya detektip Belgia itu sempat mengamat-amati wajahnya yang 

menawan tapi penuh kepalsuan itu, mengamat-amati keramahan dan 

kebajikan semu di balik alis dan matanya yang kecil dan kejam itu. 

Tuan BOUROQ yakin bahwa ia telah melihat perubahan pada air muka 

kawan baiknya itu. 

"Kau sedang memperhatikan binatang buasmu itu?" tanyanya 

pasti. 

jayakatwang  mengangguk. 

Sewaktu pelayan restoran datang membawakan kopi pesanan 

detektif Belgia itu, maka Tuan BOUROQ langsung berdiri. Ia sudah lebih 

dulu berada di situ dan ia juga sudah selesai bersantap siang sejak 

beberapa menit yang lalu. 

"Aku kembali ke kamar," ujarnya memberitahukan. "Datang saja 

ke sana supaya kita bisa ngobrol." 

"Dengan segala senang hati." 

jayakatwang  menghirup kopinya lalu memesan bir. Pelayan restoran 

tampak sedang sibuk melangkah dari meja ke meja sambil 

memegang kotak uangnya, memungut bayaran pada penumpang 

kereta yang sudah selesai bersantap siang. Kini suara wanita Amerika 

setengah baya itu terdengar semakin tinggi dan sedih. 

"Anak perempuan saya bilang, 'Ambil saja bon makanan satu buku 

dan Ibu pasti tak akan mengalami kesulitan - pasti tak akan ada 

kesulitan apa-apa.' Tapi sekarang, rupanya tidak begitu, tidak seperti 

yang diramalkan. Nampaknya pelayan-pelayan di sini mesti diberikan 

persen sepersepuluh dari jumlah harga yang kita makan, begitu juga 

kalau kita mau minta di bawakan sebotol air putih, yang rasanya 

agak aneh di sini. Mereka tak punya anggur Evian atau Vichy, dan itu 

juga kurasakan aneh." 

"Mereka harus … apa yang Ibu katakan tadi? tapi biar 

bagaimanapun mereka tak bisa berbuat lain kecuali menyediakan air 

yang ada di negeri ini," ujar si muka domba itu menerangkan. 

"Ya, biar bagaimana rasanya tetap aneh bagiku." Wanita Amerika 

setengah baya itu memandang dengan jijik pada setumpukan uang 

kembaliannya di atas meja di hadapannya. "Lihatlah barang-barang 

aneh yang diberikannya kepadaku itu. Uang dinar atau apa. Seperti 

seonggokan sampah. Anak perempuan saya bilang -" 

MARIAM GRAVES mendorong kursinya ke belakang dan 

meninggalkan ruang makan setelah lebih dulu membungkuk sedikit 

kepada kedua orang temannya semeja. MPU  TANTULAR juga 

bangun, ia mengikutinya. Setelah mengumpulkan uang kembaliannya 

yang berserakan di atas meja, wanita Amerika setengah baya itu juga 

mengikuti GRAVES, bangun dari kursinya, disusul oleh wanita 

satunya yang parasnya mirip domba. Pasangan Hongaria itu sudah 

pergi duluan. Restoran itu kini sudah hampir kosong hanya tinggal 

jayakatwang , CHUCKY dan WISNU WARDANA . 

CHUCKY terlihat berbicara sebentar dengan temannya, yang 

langsung bangun dan meninggalkan ruang restorasi itu. Kemudian ia 

sendiri juga bangun, tapi bukannya mengikuti WISNU WARDANA , malah ia 

duduk di kursi di hadapan jayakatwang  dengan tak disangka-sangka. 

“Maaf, boleh minta apinya?" tanya orang itu. Suaranya lemah dan 

cukup lembut - suara sengau yang tak begitu kedengaran. "Nama 

saya CHUCKY." 

jayakatwang  menganggukkan kepalanya sedikit memberi hormat. 

Kemudian dimasukkannya tangannya ke dalam saku celananya dan 

dikeluarkannya sebuah kotak korek api yang langsung diberikannya 

kepada orang yang di hadapannya. Orang itu mengambilnya tapi tak 

jadi menyalakan api. 

“Saya rasa," ia melanjutkan, "saat ini saya sedang berbicara 

dengan Tuan Raden  jayakatwang . Benar?” 

jayakatwang  kembali mengangguk. "Anda memang mendapat informasi 

yang benar, Tuan."  

Detektif Belgia itu terpana oleh sorot mata yang lihay di 

hadapannya, sebelum lawan bicaranya melanjutkan kembali. 

"Di negeri saya," ujarnya menerangkan, "kami biasa bicara dengan 

terus terang dan langsung pada inti persoalannya. Tuan jayakatwang , saya 

harap Tuan bersedia melaksanakan tugas yang saya berikan kepada 

Tuan." 

Alis mata detektif Belgia itu nampak naik sedikit. 

"Klien saya sangat terbatas sekarang. Saya cuma mau menangani 

beberapa perkara saja." 

"Tentu saja - saya mengerti. Tapi yang satu ini, Tuan jayakatwang , 

berarti imbalan besar. Lalu ia mengulangi lagi perkataan itu dengan 

suaranya yang lembut dan bernada membujuk, "Imbalan besar." 

Raden  jayakatwang  terdiam satu dua menit. Lalu ia baru menjawab, 

"Apa yang Tuan ingin tugaskan pada saya, Tuan -eer - CHUCKY?" 

"Tuan jayakatwang , saya ini orang kaya - kaya besar. Orang yang punya 

kedudukan seperti itu biasanya punya banyak musuh. Aku punya 

seorang musuh." 

"Cuma seorang?" 

"Apa yang Tuan maksudkan dengan pertanyaan itu?" tanya 

CHUCKY tajam. 

"Tuan, menurut pengalaman saya, jika orang yang seperti Tuan 

sebut barusan, punya banyak musuh, itu tak berarti bahwa Tuan 

harus mencurigai seorang musuh tertentu saja." 

CHUCKY nampaknya lega setelah mendengar penjelasan jayakatwang . 

Lalu ujarnya dengan cepat, 

"Ya, begitulah. Saya menghargai pendapat Anda itu. Satu musuh 

atau lebih, tak jadi soal. Yang penting yaitu  keselamatan saya." 

"Keselamatan?" 

"Hidup saya terancam, Tuan jayakatwang . Sekarang saya sudah jadi 

orang yang selalu bisa menjaga dirinya sendiri." Perlahan-lahan ia 

mengeluarkan tangannya dari saku mantelnya - di dalamnya 

tergenggam pistol otomatis kecil. Kemudian diteruskannya bicaranya 

dengan nada yang bersungguh-sungguh. "Saya rasa saya bukan 

macam orang yang sering diincar. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, 

saya bisa saja menyuruh orang melipatgandakan keselamatan saya. 

Saya kira Anda orang yang paling tepat untuk menerima imbalan dari 

saya, Tuan jayakatwang . Dan ingat - imbalan besar."  

jayakatwang  memandangnya selama beberapa menit sambil berpikir-

pikir, wajah detektif Belgia itu tak menunjukkan ekspresi apa pun. 

Yang seorang lagi tak dapat menerka apa yang ada dalam benak 

lawan bicaranya ketika itu. 

"Saya menyesal, Tuan," sahut jayakatwang  perlahan-lahan. "Sebab saya 

tak bisa melaksanakan tugas yang Tuan berikan pada saya." 

Orang itu memandang jayakatwang  dengan sorot mata yang licik. "Kalau 

begitu katakan saja berapa yang Anda mau?" ujarnya. 

jayakatwang  menggeleng. 

"Tuan tak mengerti. Saya sudah cukup beruntung selama 

menjabat pekerjaan seperti ini. Saya sudah banyak memperoleh uang 

untuk mencukupi kebutuhan hidup dan keperluan-keperluan saya 

yang tak terduga. Sekarang saya cuma mau menangani perkara-

perkara yang menarik perhatian saya saja.” 

"Perasaan Tuan halus sekali," sahut CHUCKY memuji. "Apa dua 

puluh ribu dollar tak cukup menggiurkan buat Tuan?" 

"Tidak." 

"Kalau lebih dari itu, tak dapat lagi. Saya tahu betul apa yang 

berharga buat saya." 

"Buat saya juga, Tuan CHUCKY." 

"Apa yang kurang pada tawaran saya itu?" 

jayakatwang  bangkit dari kursinya. "Kalau saja Tuan mau memaafkan 

saya, sebab alasan pribadi,  terus terang saja, saya menolak 

tawaran Tuan sebab saya tak suka pada wajah Tuan." 

Sehabis berkata demikian jayakatwang  meninggalkan ruangan. 

 

4. JERITAN DI MALAM HARI 

 

Kereta Simplon Orient Express tiba di Belgrado pukul sembilan 

kurang seperempat malam itu. Kereta itu baru berjalan lagi pada 

pukul 9.15, jadi jayakatwang  turun sebentar melihat-lihat peron. Meskipun 

demikian ia tak lama di situ. Udara dingin menusuk tulang, dan 

walaupun peron itu sendiri terlindung, hujan salju yang lebat masih 

saja belum berhenti di luar. jayakatwang  kembali ke kamarnya. LETKOL 

kereta, yang sedang berdiri di peron sambil menghentak-hentakkan 

kakinya ke tanah dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk 

membangkitkan rasa hangat, mengajak detektif Belgia itu bereakap-

cakap sebentar dengannya. 

"Koper-koper Tuan sudah dipindahkan semuanya. Ke kamar no.1, 

kamarnya Tuan BOUROQ." 

"Jadi Tuan BOUROQ sendiri ke mana, kalau begitu?" 

"Ia sudah pindah ke gerbong dari Athena yang baru saja 

disambungkan dengan gerbong-gerbong kita." 

jayakatwang  lekas-lekas mencari kawannya itu. Tuan BOUROQ tak 

mengindahkan keberatan yang dikemukakan jayakatwang . 

"Tak apa-apa. Tak apa-apa. Aku lebih senang begini. Kau ingin 

langsung ke Inggris, jadi sebaiknya kau tetap saja tinggal di gerbong 

ke Calais. Kalau aku, aku lebih senang di sini. Tenang dan tenteram. 

Kereta ini kosong dan cukup lega bagiku, ada satu orang lagi, dokter 

Yunani. Ah! Kawan! Bukan main malam ini. Orang bilang tahun-tahun 

yang lalu belum pernah turun salju sebanyak sekarang. Moga-moga 

kita bisa jalan terus. Aku khawatir kalau kereta mogok di jalan sebab 

salju." 

Pukul 9.15 tepat kereta yang ditumpangi detekif Belgia itu sudah 

hendak berangkat lagi, sebab itu jayakatwang  langsung bangkit, 

mengucapkan selamat malam kepada kawannya, dan kembali 

menyusuri koridor yang panjang itu menuju gerbongnya yang 

terletak di muka di dekat gerbong makan. 

Pada hari kedua di perjalanan, jurang yang memisahkan 

penumpang di kereta itu sudah tak terlihat lagi. Tampak MPU  

TANTULAR sedang berdiri dengan santai di ambang pintu kamarnya, 

asyik berbincang-bincang dengan WISNU WARDANA . Tapi ketika WISNU WARDANA  

melihat jayakatwang  bicaranya terhenti tiba-tiba. Di wajahnya terbayang 

keheranan. 

“Lho," teriaknya, "saya kira Saudara sudah meninggalkan kami. 

Saudara sendiri bilang Saudara turun di Belgrado." 

“Saudara salah paham," sahut jayakatwang  sambil tersenyum "Saya baru 

ingat sekarang, kereta baru  berangkat dari Istambul sewaktu kita 

membicarakan itu. " 

"Tapi, koper Saudara sudah tak ada di tempatnya." 

“Memang, koper saya sudah dipindahkan ke kamar lain, apa lagi." 

"Oh! Begitu!" 

Ia meneruskan obrolannya dengan TANTULAR, sedang jayakatwang  

kembali menyusuri koridor kereta. 

Dua pintu dari pintu kamarnya, dilihatnya wanita Amerika 

setengah baya itu, Nyonya  Hubbard, sedang asyik mengobrol 

dengan wanita yang bentuk wajahnya seperti domba itu, seorang 

Swedia. Sambil berdiri itu Nyonya Hubbard menyodorkan sehelai 

majalah kepada lawan bicaranya. 

"Ambil saja ini," ujarnya. "Aku masih punya yang lainnya, masih 

banyak. Astagfirullah, dinginnya kelewatan ya!" Lalu ia mengangguk 

ke arah jayakatwang . 

"Nyonya baik sekali," sahut wanita Swedia itu. 

"Ah, masa. Aku cuma berharap agar Nona bisa tidur nyenyak 

malam ini supaya kepala Nona yang pusing itu bisa hilang besok 

pagi." 

"Ah, cuma sebab kedinginan. Aku ingin membuat teh dulu." 

"Apa Nona punya aspirin? Sudah baikkan sekarang? Aku punya 

aspirin banyak. Baiklah, selamat malam." 

Wanita Amerika itu langsung mengalihkan perhatiannya pada 

jayakatwang  setelah gadis Swedia itu berlalu meninggalkannya. 

"Kasihan, gadis Swedia itu. Sejauh yang aku ketahui dia itu 

penginjil. Semacam guru begitu. Orangnya menyenangkan, tapi tak 

begitu fasih bahasa Inggris. Ia paling tertarik kalau saya bercerita 

tentang anak perempuan saya."   

Sekarang jayakatwang  nampaknya sudah tahu banyak tentang anak 

perempuan Nyonya Hubbard. Dan rasanya setiap orang di kereta itu 

yang dapat berbahasa Inggris juga demikian! Soal bagaimana ia dan 

suaminya bekerja sebagai staf di perguruan tinggi Amerika yang 

besar di Smyrna, bahwa perjalanan ini yaitu  perjalanan pertama 

Nyonya Hubbard ke Timur, dan apa pendapatnya mengenai orang 

Turki, jalan-jalannya yang tak terurus, dan cara hidupnya yang 

serampangan dan sebagainya, dan sebagainya. 

Tiba-tiba pintu di sebelah mereka terbuka dan pelayan kurus 

berwajah pucat itu- melangkah masuk. Di dalam, jayakatwang  melihat 

sepintas Tuan CHUCKY sedang duduk di tempat tidur. Sewaktu ia 

melihat jayakatwang , wajahnya menjadi merah sebab marah. Lalu pintu 

ditutup kembali. 

Nyonya Hubbard menarik lengan jayakatwang  ke samping. 

"Tuan tahu, saya takut sekali pada orang itu. Oh! Bukan! Bukan 

pelayan pria itu yang saya takuti, tapi penumpang yang di dalam 

kamar itu! Tuannya, ya Tuannya! Ada sesuatu yang tak beres dalam 

dirinya. Anak perempuanku bilang saya terlalu perasa jadi orang. 

'Kalau Mama menyangka orang yang bukan-bukan, Mama bakal 

mati,' begitu kata anak saya selalu. Dan celakanya saya curiga pada 

orang itu. Kebetulan kamarnya di sebelah kamar saja, dan justru itu 

yang saya tak suka. Tadi malam saya sengaja mengunci pintu 

penghubung ke kamarnya rapat-rapat. Rasanya saya mendengar ia 

mencoba membukanya. Tuan tahu, saya tak heran kalau ternyata 

orang itu pembunuh atau salah satu dari perampok kereta seperti 

yang Tuan suka baca. Saya berani bilang mungkin saya ini bodoh, 

tapi kenyataannya memang begitu. Saya takut setengah mati pada 

orang itu! Anak perempuan saya bilang perjalanan saya ini pasti tidak 

sulit, tapi entah mengapa saya sendiri tak bisa merasa tenteram di 

hati. Mungkin saya menduga yang tidak-tidak, tapi saya merasa akan 

terjadi sesuatu, apa saja. Dan bagaimana mungkin orang muda yang 

menyenangkan itu sanggup menjadi sekretarisnya, saya tak habis 

mengerti. " 

Dalam pada itu MPU  TANTULAR dan WISNU WARDANA  nampak sedang 

berjalan ke arah mereka, menyusuri koridor di hadapannya. 

"Mari ke gerbongku saja," ujar WISNU WARDANA  mengundang. "Tapi 

tempat tidurnya belum dibereskan buat malam ini. Nah, sekarang, 

yang sebenarnya saya inginkan mengenai politik Tuan di India yaitu  

ini – “ 

Kedua pria itu terus menyusuri koridor di hadapan mereka menuju 

gerbong WISNU WARDANA . 

Nvonya Hubbard mengucapkan selamat malam kepada jayakatwang . 

"Saya ingin langsung rebah dan membaca," ujarnya. "Selamat 

malam." 

"Selamat malam, Madame. " jayakatwang  memasuki kamarnya, yang 

terletak bersebelahan dengan kamar CHUCKY. Setelah membuka 

pakaian, ia naik ke ranjang, membaca kira-kira setengah jam lalu 

mematikan lampu. , tapi terasa dekat sekali. Pada saat yang sama 

terdengar dentingan lonceng, bunyinya tajam. 

jayakatwang  buru-buru bangun dan menyalakan lampu. Ia baru 

menyadari bahwa kereta sedang berhenti - mungkin di sebuah 

stasiun. 

Tapi rintihan itu membuatnya ngeri. Ia teringat kamar di 

sebelahnya yaitu  kamar CHUCKY. Detektif itu langsung melompat 

dari tempat tidur dan membuka pintu, bersamaan dengan itu pula 

dilihatnya LETKOL lewat bergegas-gegas dan sesampainya di 

kamar CHUCKY, ia mengetuk pintu. jayakatwang  sengaja membiarkan 

pintunya terbuka sedikit supaya dapat mengintip. Didengarnya 

LETKOL mengetuk sekali lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi bel dan 

seberkas sinar muncul dari kamar di sebelah sana, agak jauh. 

LETKOL menoleh sebentar lewat bahunya. Pada saat yang 

berbarengan terdengar sebuah suara dari kamar sebelah: "Ce n'est 

rien. Je me suis trompe." 

"Bien, Monsieur. " LETKOL cepat-cepat melangkah lagi, menuju 

daun pintu yang tadi diterangi oleh seberkas cahaya itu. 

jayakatwang  kembali naik ke tempat tidur, hatinya terasa lega, lalu ia 

mematikan lampu. Diliriknya jamnya. Pukul satu kurang dupuluh tiga 

menit. 

 

5. PEMBUNUHAN 

 

Detektif Belgia itu tak bisa langsung tidur. Ia merasa.kan sesuatu 

yang hilang, kereta tak bergerak sebagaimana mestinya, kereta itu 

diam saja. Jika tempat mereka berhenti memang sebuah stasiun, 

mengapa stasiun itu nampak sepi? Sebaliknya kegaduhan di kereta 

terasa tak seperti biasanya. jayakatwang  mendengar CHUCKY berjalan 

mondar-mandir di kamar sebelah, seolah sedang melakukan sesuatu. 

Didengarnya bunyi seperti orang yang sedang membuka keran air di 

tempat cuci tangan, kemudian suara air mengucur, suara orang 

mencuci tangan, dan akhirnya suara keran air yang ditutup kembali. 

Dalam pada itu juga terdengar langkah-langkah, kaki orang di luar, 

langkah yang terseok-seok bagai langkah kaki orang yang 

mengenakan sandal. 

Raden  jayakatwang  berbaring di tempat tidurnya sambil memandang ke 

langit-langit. Mengapa stasiun di luar itu sepi sekali? 

Kerongkongannya terasa kering. Rupanya ia lupa meminta dibawakan 

sebotol air putih yang biasa diminumnya sebelum pergi tidur. 

Diliriknya jamnya sekali lagi. Tepat pukul satu kurang seperempat. Ia 

ingin mengebel, memanggil LETKOL dan meminta dibawakan air 

putih. Jari-jemarinya sudah meraba-raba pinggir bel, namun 

diurungkannya niatnya setelah tiba-tiba didengarnya bunyi dentingan 

dari seberang sana. Sudah barang tentu LETKOL itu tak dapat 

menjawab sebab panggilan bel sekaligus. 

Ting... ting... ting.... 

Sekali lagi dan sekali lagi bel itu berbunyi. Mana orangnya? Pasti 

orang itu tak sabar menunggu. 

Ti-i-i-ing! 

Siapa pun orangnya, tentu ia sedang memijit tombol kuat-kuat. 

Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh, bunyi 

langkahnya bergema, orang yang ditunggu telah datang. Ia 

mengetuk pintu tak jauh dari pintu kamar jayakatwang .  

Kemudian terdengar suara-suara - suara LETKOL, yang penuh 

hormat dan nada memohon maaf dan satunya lagi suara wanita 

dengan nada mendesak tapi lancar. 

Nyonya Hubbard! 

jayakatwang  tersenyum sendiri. 

Kedengarannya seperti orang berdebat - mungkin saja - dan 

perdebatan itu kedengarannya cuma berlangsung beberapa menit 

saja. Tapi yang jelas kira-kira sembilan puluh persen oleh Nyonya 

Hubbard dan yang sepuluh persen lagi oleh LETKOL. Namun 

akhirnya persoalannya dapat juga diselesaikan. Samar-samar jayakatwang  

mendengar ucapan, "Bonne nuit, Madame, " dan suara pintu 

tertutup. 

Lalu kini giliran jayakatwang  untuk menekan tombol. LETKOL tiba pada 

saat yang diharapkan. Wajahnya kelihatan tegang dan cemas. 

"De leau minerale, s'il vous-plait.” 

"Bien, Monsieur. " Mungkin sorot mata jayakatwang  membuat hatinya 

lega. "La dame Americaine – “ 

"Ya?" 

LETKOL itu menyeka jidatnya. "Bayangkan andaikata Tuan 

sendiri yang menghadapinya! Ia bersikeras - tetap bersikeras - bahwa 

ada seorang pria di kamarnya. Bayangkan sendiri, Tuan. Dalam 

ruangan sesempit ini." Ia mencoba melukiskan dengan tangannya, 

membuat lingkaran kecil. "Di mana kira-kira dia bisa 

menyembunyikan diri? Saya katakan itu tak mungkin. Saya jadi 

berdebat dengan nyonya itu. Tapi ia terus bersikeras. Ia bangun dari 

tempat tidur, dan menunjuk kepada pria yang dimaksud. Dan saya 

tanya,' bagaimana caranya orang itu bisa keluar dan meninggalkan 

pintu yang masih terkunci dari dalam? Tapi nyonya itu tak peduli 

pada alasan saya itu. Dan sepertinya ke jadian ini belum cukup 

menyusahkan kita, ada lagi… salju itu… 

"Salju?" 

"Ya, Tuan. Tuan belum melihatnya? Kereta terpaksa berhenti. Kita 

terhalang oleh, salju tebal. Cuma surga yang tahu berapa lama lagi 

kita harus di sini. Dulu saya pernah terhalang salju juga, lamanya 

tujuh hari." 

"Di mana kita sekarang?" 

"Antara Vincovci dan Brod." 

"La-la," ujar jayakatwang  jengkel. 

LETKOL itu minta permisi sebentar lalu kembali dengan air 

pesanan jayakatwang . 

"Bon soir, Monsieur. " 

jayakatwang  meneguk air itu dan tertidur dengan tenang. 

Ia baru saja terlena ketika sesuatu kembali membuatnya 

terbangun. Kali ini seolah sesuatu yang berat jatuh menimpa daun 

pintu, menimbulkan bunyi berdebam. 

Ia melompat dari tempat tidur, membuka pintu dan melongok ke 

luar. Tak ada apa-apa. Tapi di sebelah kanannya, beberapa langkah 

sepanjang koridor, dilihatnya seorang wanita berpakaian kimono 

ungu sedang berjalan menjauh. Pada ujung yang satunya lagi, di 

tempat duduknya yang biasa, dilihatnya LETKOL sedang asyik 

menghitung-hitung sesuatu di atas secarik kertas yang lebar. 

Suasana sangat sunyi bagaikan di kuburan. 

"Yang jelas syarafku masih normal," ujar jayakatwang  dalam hati dan 

kembali berbaring di tempat tidur. Kali ini ia dapat tidur nyenyak 

sampai pagi. 

Sewaktu terbangun, kereta masih juga belum bergerak. jayakatwang  

menaikkan kerei jendela dan meiongok ke luar. Potongan-potongan 

salju yang tebal mengelilingi kereta. 

jayakatwang  melirik jamnya. Pukul sembilan lewat. 

Pada pukul sepuluh kurang seperempat, dengan setelan dan 

dandanan yang rapi seperti biasanya, ia melangkah menuju gerbong 

restorasi, di mana suara-suara ikut berdukacita terdengar dari setiap 

sudut. 

Jurang pemisah yang mungkin masih ada di antara sesama 

penumpang, sekarang terlihat sudah benar-benar lenyap. Semua 

senasib dan sepenanggungan sebab kecelakaan yang tak 

diharapkan. Barangkali cuma Nyonya Hubbard yang keluh kesahnya 

paling keras kedengaran. 

"Anak perempuanku bilang ini akan merupakan perjalanan yang 

paling gampang di dunia. Duduk saja di kereta dan tahu-tahu saya 

sudah sampai Paris. Tapi sekarang kita malah bisa di sini terus 

sampai berhari-hari," isak Nyonya Hubbard. "Dan kapal saya akan 

berangkat lusa. Bagaimana saya bisa mencegatnya? Terlalu, saya 

bahkan tak bisa menelegram untuk membatalkan pelayaran saya itu. 

Ah! Saya bisa jadi semakin sedih saja kalau berbicara tentang itu.” 

Orang Italia itu juga mengeluh bahwa ia sendiri masih punya 

urusan yang mendesak di Milan. Sedangkan pria Amerika yang 

berperawakan tinggi besar cuma mengatakan, "Sial betul, Ma'am." 

Dan mencoba membangkitkan harapan bahwa kereta akan berhasil 

mengejar ketinggalannya. 

"Kakak perempuan saya dan anak-anaknya pasti sedang 

menunggu saya," ujar wanita Swedia itu sambil menangis terisak-

isak. "Sedangkan saya tak bisa memberi kabar apa pun kepada 

mereka. Apa yang mereka pikir? Mereka pasti mengira saya tertimpa 

kecelakaan." 

"Berapa lama lagi kita tertahan di sini?" tanya MARIAM GRAVES 

kesal. "Tak ada orang yang tahu?" 

Terasa ada nada tak sabar dalam suaranya, namun jayakatwang  

memperhatikan tak ada tanda-tanda kekhawatiran yang mencekam 

seperti yang diperlihatkannya selama pemeriksaan yang dilakukan 

pada kereta Taurus Express itu." 

Nyonya Hubbard mulai lagi. 

“Tak ada seorang pun yang mengetahui apa-apa tentang kereta 

ini. Dan tak ada seorang pun yang mau berbuat sesuatu. Kereta ini 

cuma dipenuhi segerombolan orang-orang tak dikenal yang tak 

berguna. Terlalu, seumpamanya ini terjadi di rumah, paling tidak 

mesti ada seseorang yang mau berbuat sesuatu! " 

TANTULAR sekonyong-konyong berpaling ke jayakatwang  dan mulai 

berbicara dengan bahasa Perancis logat Inggris. 

“Vous etes un directeur de la ligne, je crois, Monsieur. Vous 

pouvez nous dire – “ 

Dengan tersenyum jayakatwang  buru-buru meralatnya. 

"Bukan, bukan," ujarnya dalam bahasa Inggris. “Bukan saya. Tuan 

keliru. Bukan saya yang Tuan kira direktur perusahaan kereta api ini, 

tapi Tuan BOUROQ, teman saya." 

"Oh! Saya minta maaf." 

“Tak apa-apa. Itu wajar. Cuma memang sekarang ini saya 

menempati kamarnya yang dulu." 

Ternyata Tuan BOUROQ tak kelihatan di gerbong restorasi itu. jayakatwang  

lalu melemparkan pandangan ke sekeliling untuk melihat siapa-siapa 

lagi yang tak ada pada saat itu. 

Puteri GIRAH  belum kelihatan, begitu juga pasangan 

Hongaria itu. Demikian juga CHUCKY, pelayan prianya dan pembantu 

wanita berkebangsaan Jerman itu. 

Wanita Swedia itu menyeka matanya. 

“Saya bodoh," ujarnya. "Saya sebenarnya tak boleh menangis. 

Buat apa menangis, Semua ini untuk kebaikkan kita, apa pun yang 

terjadi." 

Namun semangat Kristen yang diperlihatkannya ini, ternyata tak 

mempan pada diri penumpang kereta yang lain. 

"Ya memang segalanya baik-baik saja," ujar WISNU WARDANA  gelisah. 

"Mungkin kita bisa sampai berhari-hari di sini." 

"Ngomong-ngomong, negeri apa ini?" tanya Nyonya Hubbard 

dengan sedih.  

Sewaktu ada yang memberitahu bahwa mereka sedang di wilayah 

Yugoslavia, lalu ia berseru, "Oh! cuma salah satu dari negara-negara 

Balkan itu. Apa yang dapat kalian harapkan!" 

"Cuma Nona penumpang satu-satunya yang masih sabar," ujar 

jayakatwang  kepada Nona GRAVES. 

Ia mengangkat bahu. "Apa yang bisa dilakukan?" 

"Nona pintar berfilsafat, Mademoiselle," sahut jayakatwang  lagi. 

"Justru itu sikap yang obyektif, tidak memihak. Malahan saya kira 

saya ini suka mementingkan diri sendiri. Saya sudah belajar 

bagaimana caranya menahan perasaan." 

Kedengarannya MARIAM GRAVES lebih banyak berbicara untuk diri 

sendiri daripada untuk lawan bicaranya. Bahkan ia sama sekali tak 

melihat ke arah jayakatwang . Pandangannya melewati jayakatwang , jauh keluar 

jendela di mana salju terlihat semakin menumpuk. 

"Nona punya kepribadian kuat, Mademoiselle," Ujar jayakatwang  lembut. 

" Saya kira watak Nona paling keras di antara penumpang lainnya di 

kereta ini." 

"Oh! tidak, benar-benar tidak. Saya tahu orang yang wataknya 

lebih keras dari saya, jauh lebih keras." 

"Dan orang itu yaitu  - ” 

Sekonyong-konyong kelihatan seakan ia baru sadar, bahwa 

sebenarnya ia tengah berhadapan dengan orang asing yang tak 

dikenal, dengan siapa, hingga pagi ini, ia cuma pernah bertukar sapa 

sebanyak tak lebih dari setengah lusin kalimat. 

Gadis itu tertawa, sopan tapi terasa aneh. 

“Baiklah - Nyonya tua itu, umpamanya. Tuan sendiri barangkali 

sudah pernah memperhatikannya - memang ia nyonya tua yang luar 

biasa jelek, tapi biarpun begitu masih mempesonakan orang yang 

melihatnya. Ia hanya perlu mengangkat satu jari saja dan meminta 

sesuatu dengan nada yang sopan - dan seluruh isi kereta seakan-

akan mengerjakan perintahnya itu." 

"Perintah itu juga dilaksanakan kalau yang memintanya Tuan 

BOUROQ," sahut jayakatwang  menerangkan. “Tapi itu pun sebab ia direktur 

perusahaan kereta api ini dan bukannya sebab ia punya kepribadian 

yang kuat." 

MARIAM GRAVES tersenyum. 

Pagi terus merayap menjadi siang. Beberapa penumpang, 

termasuk jayakatwang , terlihat masih duduk di gerbong restorasi itu. Saat 

itu terasa adanya suasana yang lebih hidup dan lebih bergairah 

daripada waktu-waktu sebelumnya, semata-mata untuk 

memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di antara sesama penumpang. 

jayakatwang  sudah mendengar banyak tentang anak perempuan Nyonya 

Hubbard yang sering disebut-sebut itu. Juga tentang kebiasaan-

kebiasaan Tuan Hubbard selama masih hidup, tentang saat 

kematiannya, dari mulai ia bangun pagi dan bersantap dengan bubur 

gandum sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir di 

tempat tidurnya pada malam hari, dengan masih mengemakan kaus 

kaki yang biasa dirajut oleh Nyonya Hubbard sendiri untuk suaminya 

itu. 

Ketika jayakatwang  sedang asyik mendengarkan cerita yang 

membingungkan mengenai tujuan misionari yang sebenarnya dari 

wanita Swedia itu, salah seorang LETKOL kereta datang 

menghampiri dan berdiri di dekat sikunya yang diletakkan di meja. 

"Pardon, Monsieur. 

"Ya?" 

"Salam dari tuan BOUROQ, dan Tuan dipersilakan datang menemuinya 

selama beberapa menit, itu pun kalau Tuan bersedia." 

jayakatwang  langsung bangun dan setelah meminta maaf sekedarnya 

kepada gadis Swedia itu, ia segera mengikuti LETKOL keluar 

ruangan. LETKOL itu bukan LETKOL gerbongnya sendiri, tapi 

LETKOL gerbong Tuan BOUROQ, laki-laki berperawakan tinggi besar 

dan berparas tampan. 

Detektif Belgia itu terus mengikuti langkah LETKOL di 

hadapannya, menyusuri koridor gerbongnya sendiri terus menuju 

gerbong yang lain. LETKOL itu mengetuk pintu sebentar, lalu 

menyisih ke samping untuk mempersilakan jayakatwang  masuk. 

Rupanya kamar itu bukanlah kamar Tuan BOUROQ sendiri, melainkan 

kamar gerbong kelas dua, mungkin dipilih sebab ukurannya yang 

lebih besar sedikit dari kamar-kamar lainnya. Biasanya kamar-kamar 

seperti itu memberi kesan terlalu padat, jadi rupanya Tuan BOUROQ 

memang sengaja memilih kamar yang satu ini, meskipun letaknya di 

gerbong kelas dua. 

Tuan BOUROQ sendiri nampak sedang duduk di sebuah kursi kecil di 

sudut yang berhadapan dengan jayakatwang . Di sudut sebelahnya, dekat 

jendela yang menghadap ke arah Tuan BOUROQ, nampak seorang lelaki 

kecil berkulit kehitam-hitaman sedang melongok ke luar, 

memperhatikan salju turun. Kecuali itu ada pula seorang pria yang 

sedang berdiri dan nampaknya menjadi penghalang bagi jayakatwang  untuk 

melangkah lebih ke depan, sebab perawakan pria itu tinggi besar. Ia 

mengenakan seragam biru, dan pria itu tak lain daripada LETKOL 

gerbongnya sendiri, yang sekaligus menjabat sebagai kepala 

LETKOL kereta. 

"Ah! Temanku yang baik!" seru Tuan BOUROQ dengan suara riang. 

"Mari masuk. Kami memerlukan Anda." 

Raut muka yang diperlihatkan Tuan BOUROQ saat itu, memaksa jayakatwang  

berpikir keras. Sudah jelas bahwa sesuatu yang luar biasa telah 

terjadi. 

"Apa yang terjadi?" tanya jayakatwang  tak sabar. 

"Silakan bertanya. Yang pertama salju keparat ini - dan 

pemberhentian kereta kita ini. Dan sekarang -" 

Tuan BOUROQ berhenti berbicara - kelihatannya ia susah bernapas 

dan tenggorokannya tercekik, sebab itu suaranya pun susah keluar. 

"Dan sekarang apa?" 

"Dan sekarang seorang penumpang ditemukan sudah tak 

bernyawa lagi di atas tempat tidurnya tertikam." 

Tuan BOUROQ berbicara dengan nada suara seperti orang putus asa 

meskipun kedengarannya tenang. 

"Penumpang? Penumpang yang mana?" 

“Orang Amerika. Orang yang namanya – yang namanya -" ia 

memeriksa daftar yang di hadapannya. "CHUCKY -Benar.” 

“CHUCKY?" 

"Ya, Monsieur," sahut LETKOL gerbong sambil menahan napas. 

jayakatwang  menatapnya. Wajahnya putih dan pucat seperti kapur. 

"Baiknya kausuruh dia duduk dulu," ujar jayakatwang  pada Tuan BOUROQ. 

"Kalau tidak dia bisa pingsan." 

Kepala LETKOL kereta menggeserkan tubuhnya sedikit dan 

LETKOL gerbong itu duduk terhenyak di sudut dan langsung 

menutupi mukanya dengan kedua belah tangan. 

"Brrr! " teriak jayakatwang  tiba-tiba. "Tidak main-main nih! " 

"Tentu saja ini serius. Terus terang saja, sebagai permulaan, aku 

rasa pembunuhan ini bagaikan kegaduhan yang begitu saja terjadi 

dalam suasana yang begini tenang bagai air. Tapi bukan itu saja. Di 

sini kita sedang tertahan. Mungkin kita bisa tertahan sampai berjam-

jam - bahkan lebih dari itu - sampai berhari-hari! Keadaan lainnya - 

jika sedang melintasi negeri-negeri lain mungkin ada satu dua polisi 

dari negeri itu yang ditugaskan di kereta kita. Tapi di Yugoslavia ini 

tidak bisa. Kau mengerti?" 

"Jadi kita dalam posisi yang amat sulit," ujar jayakatwang . 

"Bahkan mungkin bisa jadi lebih sulit lagi. Dr. HAUNTED - saya 

sampai lupa, saya belum memperkenalkan Anda. Dr. HAUNTED, 

Tuan jayakatwang ." 

"Dr. HAUNTED berpendapat orang itu meninggal sekitar pukul 

satu malam." 

"Sukar untuk menentukan waktu yang tepat dalam soal-soal 

semacam ini," sahut dokter itu, "tapi saya rasa saya berani ambil 

kepastian bahwa orang itu meninggal antara pukul dua belas tengah 

malam dan pukul dua pagi." 

"Kapan Tuan CHUCKY ini terakhir kelihatan masih hidup?" 

"Ia diketahui masih hidup kira-kira dua puluh menit sebelum pukul 

satu, sewaktu ia berbicara kepada LETKOL," sahut Tuan BOUROQ. 

"Betul," ujar jayakatwang  membenarkan. "Aku sendiri mendengar apa 

yang terjadi saat itu. Apa ini hal terakhir yang diketahui tentang si 

CHUCKY itu?" 

"Ya." 

jayakatwang  memalingkan kepalanya ke arah Dokter HAUNTED, yang 

lalu melanjutkan bicaranya tanpa diminta. 

"Jendela kamar Tuan CHUCKY diketemukan terbuka lebar, seolah-

olah memberi-kesan bahwa pembunuhnya lari dari situ. Tapi menurut 

saya, kesan itu dibuat justru untuk mengelabui kita. Siapa pun juga 

yang melarikan diri dari jendela pasti akan meninggalkan jejak di 

salju. Tapi justru tak ada jejak sama sekali." 

"Kapan pembunuhan itu diketahui?" tanya jayakatwang . 

"TENDEAN!” 

LETKOL gerbong jayakatwang  itu tersentak. Wajahnya masih kelihatan 

pucat dan ketakutan. 

"Ceriterakan hal yang sebenarnya pada kedua Tuan ini," ujar Tuan 

BOUROQ memerintahkan. 

Orang itu berceritera dengan suara yang tersendat-sendat. 

"Pelayan pria Tuan CHUCKY itu saya dengar berkali-kali mengetuk 

pintu kamar tuannya. Tapi tak ada jawaban. Lalu setengah jam yang 

lalu, saya lihat pelayan gerbong restorasi datang menghampiri kamar 

itu. Rupanya ia ingin tahu apakah Tuan CHUCKY ingin makan siang. 

Waktu itu sudah pukul sebelas, Tuan." 

"Lalu saya sendiri yang membukakan pintu untuknya, dengan 

kunci yang ada pada saya. Tapi sewaktu saya mau membukanya, 

ternyata tidak bisa, sebab pintunya sudah dirantai dari dalam, dan 

dikunci, lagi. Tetap tak ada jawaban apa-apa, suasana waktu itu sepi 

sekali dan dinginnya bukan main. Apalagi jendelanya terbuka begitu 

lebar dan sesekali cipratan salju ikut masuk. Saya pikir mungkin 

penghuni kamar itu sudah gila. Lalu cepat-cepat saya minta tolong 

'chef de train'. Kemudian sesudah berhasil memutuskan rantai itu, 

kami berdua masuk. Tapi yang kulihat - Ah! C'etait terrible! 

Kembali LETKOL itu membenamkan wajahnya di telapak 

tangannya. 

"Jadi pintu kamar itu dikunci dan dirantai dari dalam," ujar jayakatwang  

sambil berpikir-pikir. "Jadi ini bukan bunuh diri - eh?" 

Dokter berkebangsaan Yunani itu tertawa sengit. “Memangnya 

orang bunuh diri itu mampu menusuk badannya sendiri sampai 

sepuluh - dua belas - lima belas tempat?" tanyanya. 

Mata jayakatwang  terbuka lebar. "Benar-benar kejam!" ujarnya seolah 

baru tersadar. 

"Pasti itu perempuan," ujar "chef de train" mulai membuka suara. 

"Mengingat keadaannya sih, itu pasti perempuan. Cuma perempuan 

yang bisa menikam sebanyak itu." 

Dokter HAUNTED mengerutkan kening, mulai berpikir keras.  

"Tentunya perempuan yang kuat sekali," ujarnya. "Bukan maksud 

saya untuk berbicara secara teknis - yang cuma membingungkan 

orang saja; tapi saya yakin bahwa satu atau dua tusukan itu pasti 

dihunjamkan kuat-kuat, terutama pada tulang-tulang dan otot-otot 

yang keras." 

"Tapi jelas itu bukan pembunuhan ilmiah," ujar jayakatwang . 

"Malahan pembunuhan yang paling biadab," ujar Dr. HAUNTED 

membantah. "Tusukan-tusukannya kelihatannya sangat berbahaya 

dan membabi buta. Beberapa di antaranya nampaknya cuma 

dilakukan sepintas lalu saja, hampir-hampir tak menimbulkan bekas. 

Tapi tusukan-tusukan yang kuat itu sepertinya dilakukan oleh orang 

yang sengaja memejamkan matanya lalu menusuk dengan buas 

berulang kali." 

"Pasti itu perempuan," ujar chef de train itu lagi mencoba 

meyakinkan keterangannya. "Perempuan biasanya suka seperti itu. 

Kalau mereka benar-benar marah, tenaganya bertambah." Lalu ia 

mengangguk dalam-dalam dan tampaknya begitu yakin, hingga 

orang lain yang ada di situ cenderung untuk mencurigai mungkin itu 

perbuatannya sendiri. 

"Mungkin ada sesuatu yang bisa saya sumbangkan untuk 

menambah pengetahuan Saudara," ujar jayakatwang . "Tuan CHUCKY 

sendiri bicara dengan saya kemarin. Sejauh yang saya bisa mengerti, 

ia menceritakan pada saya bahwa hidupnya sedang diintai bahaya," 

ujarnya lagi pada chef de train itu. 

"Mau dibunuh - yaitu  istilah Amerika-nya bukan?" tanya Tuan 

BOUROQ. "Kalau begitu pembunuhnya bukan perempuan. Pasti 'gangster' 

atau 'tuiang tembak'." 

Chef de train itu kelihatan tertusuk melihat teorinya disangkal. 

"Kalau begitu," ujar jayakatwang  lagi, "sepertinya pembunuhan itu 

dilakukan bukan oleh orang yang ahli dan sepertinya melakukannya 

terburu-buru." Nada suaranya seolah mencela pembunuh bayaran. 

"Di kereta ini ada orang Amerika yang perawakannya tinggi 

besar," ujar Tuan BOUROQ, mengikuti jalan pikirannya tadi, "wajahnya 

pasaran dan selalu berpakaian kumal dan jorok. Ia selalu mengunyah 

permen karet dengan cara yang lain daripada biasa. Kau tahu orang 

yang kumaksudkan?" 

LETKOL itu mengangguk. 

"Oui, Monsieur, kamar no.16. Tapi tak mungkin dia orangnya. 

Seharusnya saya melihatnya kalau ia masuk atau keluar kamar itu." 

"Mungkin juga tidak. Mungkin juga tidak. Tapi kita pasti bisa 

memeriksa dia nanti. Pertanyaannya sekarang yaitu , apa yang 

dapat kita, lakukan?" Lalu ia memandang jayakatwang . 

jayakatwang  membalas pandangan temannya itu. 

"Ayo, Kawan," ujar Tuan BOUROQ. "Aku kira kau sudah cukup 

mengerti apa yang akan kutanyakan kepadamu. Aku tahu 

kemampuanmu. Pimpin pemeriksaan ini! Jangan, jangan, jangan 

menolak. Kaulihat sendiri, bagi kami - ini benar-benar soal yang 

serius, aku bicara mewakili Compagnie Internationale des Wagons 

Lits. Sementara menunggu polisi Yugoslavia, alangkah baiknya kalau 

kita sudah bisa memperlihatkan hasilnya! Kalau tidak pasti kita 

dihadapi dengan seribu satu macam penundaan, gangguan seribu 

satu macam dan yang bisa membuat kepala pusing tujuh keliling. 

Barangkali, siapa tahu, gangguan-gangguan seperti ini bisa 

melibatkan orang-orang yang tak bersalah. Sebaliknya, jika kau 

berhasil memecahkan misteri itu! Wah! Kita tinggal bilang, "Ada 

pembunuhan di kereta ini - dan ini dia pembunuhnya!" 

"Ah, umpamanya aku tak bisa memecahkannya?" 

"Ah, mon cher! " Nada suara Tuan BOUROQ jelas kedengaran seperti 

orang yang sedang membujuk. "Aku tahu reputasimu. Aku tahu 

sedikit cara-caramu memecahkan masalah. Justru ini dia perkara 

yang tepat untukmu. Melihat kembali latar belakang dan riwayat 

hidup penumpang-penumpang kereta ini, menyelidiki kemampuan 

mereka masing-masing kesemuanya ini pasti memakan waktu dan 

menimbulkan hal-hal yang tak enak. Tapi apa aku belum pemah 

mendengar dari mulutmu sendiri, untuk memecahkan suatu masalah 

itu, seseorang cuma perlu bersandar di kursinya dan berpikir? 

Lakukanlah itu. Wawancarailah semua penumpang kereta, periksalah 

tubuh si korban, selidikilah bukti-bukti yang ada, dan kemudian - 

semuanya kuserahkan padamu! Aku yakin kau tidak cuma membual 

saja. Bersandarlah di kursi dan pikirkan masalahnya (sebagaimana 

yang aku sering dengar dari mulutmu sendiri) gunakanlah sel-sel 

kecil berwarna kelabu di belakang kepalamu itu - dan kau akan 

mendapat hasil!" 

Tuan BOUROQ memajukan tubuhnya ke muka memandang wajah 

sahabatnya dengan penuh harap. 

"Kepercayaanmu padaku rupanya sanggup menyentuh hatiku, 

Kawan," ujar jayakatwang  penuh haru. "Seperti yang kaukatakan, kasus 

yang sedang kuhadapi ini boleh dibilang bukanlah kasus yang sulit. 

Aku sendiri kemarin malam - ah, lebih baik jangan kita bicarakan 

sekarang. Sebenarnya kasus ini telah berhasil membangkitkan 

minatku. Belum ada setengah jam yang lalu, sebenarnya aku sudah 

membayangkan, betapa membosankannya membiarkan jam-jam di 

depan kita berlalu begitu saja, sedangkan kita cuma terpaku di sini, 

tak berdaya apa-apa. Dan sekarang - sebuah misteri di hadapanku, 

siap untuk dipecahkan." 

"Jadi kauterima, bukan?" ujar Tuan BOUROQ lagi penuh semangat. 

"C'est entendu. Kau sudah meletakkannya sendiri di tanganku." 

"Baik, kalau begitu. Kami semua di sini siap membantumu." 

"Sebagai permulaan, sebenarnya aku ingin dibuatkan peta kereta 

Istambul - Calais ini, dengan daftar nama penumpang berikut nomor 

kamarnya masing-masing, dan aku juga ingin lihat karcis kereta dan 

paspor-paspor mereka." 

"TENDEAN akan menyiapkannya untukmu." 

LETKOL kereta meninggalkan kamar itu. 

"Penumpang apa lagi yang ada di kereta ini?" tanya jayakatwang . 

"Di gerbong ini cuma Dr. HAUNTED dan aku sendiri. Sedangkan 

di gerbong yang dari Bukares itu cuma ada orang tua yang kakinya 

pincang sebelah. Ia sudah kenal baik dengan LETKOL. Di samping 

itu juga ada beberapa gerbong biasa, tapi ini tidak menyangkut 

persoalan kita, sebab gerbong-gerborig itu sudah dikunci tadi malam 

langsung sehabis makan. Di depan gerbong Istambul Calais cuma 

ada gerbong restorasi." 

"Kalau begitu nampaknya," ujar jayakatwang  lambat-lambat, "kita harus 

mencari pembunuhnya di gerbong Istambul-Calais itu." Lalu ia, 

berpaling ke Dokter HAUNTED. "Gerbong itu kan yang Tuan 

maksud" 

Dokter berkebangsaan Yunani itu mengangguk. "Setengah jam 

setelah lewat tengah malam kita terhalang oleh tumpukan salju itu. 

Sejak itu tak ada orang yang bisa meninggalkan kereta." 

Terdengar suara Tuan BOUROQ dengan nada prihatin, "Pembunuhnya 

pasti ada bersama kita – di kereta sekarang…” 

 

6. SEORANG WANITA 

 

"Pertama-tama," ujar jayakatwang , "aku ingin berbicara sebentar dengan 

Tuan WISNU WARDANA , Barangkali dia bisa memberi kita keterangan yang 

berharga."  

"Tentu saja," sahut Tuan BOUROQ. Lalu ia berpaling ke "chef de 

train." "Panggil Tuan WISNU WARDANA  ke, sini.” 

Chef de train itu meninggalkan gerbong. 

Dalam pada itu LETKOL gerbong Istambul Calais telah kembali 

dengan membawa setumpukan paspor dan karcis penumpang. Tuan 

BOUROQ langsung mengambilnya dari tangannya. 

"Terima kasih, TENDEAN. Saya rasa sekarang baiknya kau kembali 

saja ke posmu untuk sementara. Akan kita ambil kesaksianmu secara 

resmi nanti."  

"Baik, Tuan," lalu TENDEAN pun berlalu dari gerbong itu. 

"Sesudah kita periksa Tuan WISNU WARDANA ," ujar jayakatwang , "barangkali 

Dokter HAUNTED akan ikut bersamaku memeriksa tubuh korban." 

"Tentu saja." 

"Dan setelah selesai memeriksa di sana – “ 

Tapi belum habis jayakatwang  berbicara, muncul chef de train bersama 

RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA . 

Tuan BOUROQ bangun. "Kita sudah agak kejang duduk terus-

menerus," ujarnya dengan simpatik. "Duduk saja di kursiku ini, Tuan 

WISNU WARDANA . Tuan jayakatwang  biar duduk berhadapan - nah, begitu." 

Ia berpaling ke chef de train. "Perintahkan semua orang 

meninggalkan gerbong restorasi," ujarnya, “Supaya Tuan jayakatwang  bisa 

leluasa duduk di situ sendirian. Kau akan mewawancarai penumpang-

penumpang itu di sana, mon cher?” 

"Kalau bisa memang lebih baik di sana," sahut jayakatwang  menyetujui. 

Dalam pada itu WISNU WARDANA  sesekali menatap jayakatwang  dan kemudian 

menatap Tuan BOUROQ bergantian, nampaknya masih bingung dan tak 

begitu memahami pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa 

Perancis yang dirasakannya terlalu cepat. 

"Qu'est-ce qu'il ya? " tanyanya dengan susah payah dalam bahasa 

Perancis. "Pourquoi ?" 

Dengan penuh keyakinan jayakatwang  mengisyaratkannya supaya duduk 

disudut. WISNU WARDANA  mengikuti kemauannya, tapi lalu mulai bertanya 

lagi seolah masih penasaran, sebab pertanyaannya tadi belum 

dijawab jayakatwang . 

"Pourquoi -?" Lalu cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam 

bahasa sendiri, "Ada apa di kereta ini? Ada sesuatu yang terjadi?" 

Bergantian ia memandang jayakatwang  dan Tuan BOUROQ. 

jayakatwang  mengangguk. "Tepat. Ada sesuatu yang terjadi di kereta ini. 

Awas, jangan terkejut. Majikanmu, Tuan CHUCKY, meninggal!" 

WISNU WARDANA  bersiul iseng. Kecuali sorot matanya yang tambah 

bersinar, tak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa ia 

terkejut atau sedih. 

"Jadi, akhirnya mereka bisa melaksanakannya juga! " 

"Apa sebenarnya yang Tuan maksud dengan berbicara seperti itu, 

Tuan WISNU WARDANA ?" 

WISNU WARDANA  kelihatan ragu-ragu. 

"Tuan kira," ujar jayakatwang , "Tuan CHUCKY dibunuh orang?" 

"Iya kan?" Kali ini WISNU WARDANA  baru kelihatan heran. 

"Sebab ya," ujarnya lambat-lambat. "Persis seperti yang kukira. 

Tuan maksud ia mati sewaktu tidur? Saya tak tahu, orang tua itu 

memang keras seperti-seperti -" 

WISNU WARDANA  berhenti, tak menemukan pembandingnya. 

"Bukan, bukan," ujar jayakatwang . "Perkiraan Tuan memang tepat sekali. 

Tuan CHUCKY memang ditikam orang. Tapi saya ingin tahu kenapa 

Tuan begitu yakin bahwa itu yaitu  pembunuhan dan bukan 

kematian yang wajar." 

WISNU WARDANA  ragu-ragu sebentar. "Ini perlu dijelaskan. Siapa Tuan 

sebenarnya? Dan apa jabatan Tuan?" 

"Saya mewakili Compagnie Interilationale des Wagons Lits." jayakatwang  

berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Saya detektif. Nama 

saya Raden  jayakatwang ." 

Kalau pada saat itu jayakatwang  mengira akan ada pengaruhnya, ia 

keliru. WISNU WARDANA  cuma berkata datar, "Oh! Ya?" dan menunggu 

sampai jayakatwang  berkata lebih lanjut. 

"Barangkali Tuan pernah dengar nama itu?" 

"Ya, rasanya nama itu tak asing lagi. Tapi saya selalu mengira 

nama itu nama penjahit baju wanita." 

Raden  jayakatwang  memandangnya dengan rasa tak senang. "Tak 

mungkin! " serunya. 

"Apa yang tak mungkin?" 

"Tak apa-apa. Mari kita lanjutkan pemeriksaan ini. Saya ingin Tuan 

menceritakan pada saya, Tuan WISNU WARDANA , segala sesuatu yang Tuan 

ketahui mengenai diri si korban. Tuan, tak punya hubungan apa-apa 

dengannya?" 

"Tidak. Saya cuma sekretarisnya saja - tak lebih dari pada itu." 

"Berapa lama Tuan memegang jabatan itu?" 

"Baru setahun lebih." 

"Silakan Tuan memberi keterangan yang semua Tuan ketahui 

pada saya." 

"Begitulah, saya ketemu Tuan CHUCKY sewaktu saya masih di 

Persia 

jayakatwang  menyela. 

"Apa yang Tuan kerjakan di sana?" 

"Saya khusus datang dari New York untuk mencari konsesi minyak 

di sana. Saya rasa Tuan tak ingin mendengar ceritanya. Saya dan 

teman-teman saya saat itu tak berhasil mendapatkan konsesi yang 

diinginkan. Kebetulan pada waktu itu Tuan CHUCKY sehotel dengan 

saya. Ia baru saja bertengkar dengan sekretarisnya. Ia menawarkan 

saya menggantikan sekretarisnya, dan langsung saya terima. 

Kebetulan saat itu kontrak kerja saya sudah habis, sebab itu dengan 

senang hati saya terima pekerjaan yang bayarannya tergolong besar 

itu." 

"Dan sesudah itu?"  

"Kami bepergian tak henti-hentinya, Tuan CHUCKY ingin melihat 

dunia. Tapi keinginannya terhalang sebab ia tak bisa bahasa lain, 

kecuali bahasa ibunya sendiri. Boleh dibilang saya lebih banyak 

bertindak selaku penterjemah daripada sekretaris. Benar-benar hidup 

yang menyenangkan." 

"Sekarang ceritakan pada saya tentang majikanmu sebanyak 

mungkin." 

Orang muda itu mengangkat bahu. Wajahnya kelihatan bingung, 

tak mengerti. 

"Tak begitu gampang seperti yang Tuan kira." 

"Siapa nama lengkapnya?" 

"Samuel COUNT  CHUCKY." 

"Warga negara Amerika?" 

"Ya." 

"Dari negara bagian mana?" 

"Saya tak tahu." 

“Baiklah, ceritakan saja apa yang Tuan tahu." 

"Yang sebenarnya, Tuan jayakatwang , saya ini tak tahu apa-apa! Tuan 

CHUCKY sama sekali tak pernah menyinggung-nyinggung tentang 

kehidupan pribadinya atau kehidupannya di Amerika." 

"Kenapa begitu menurut pendapat Tuan?" 

"Saya tak tahu. Saya rasa barangkali ia malu pada masa lalunya. 

Ada orang yang begitu." 

"Apa Tuan kira letak pemecahan masalah ini ada di situ?" 

"Terus terang saja, bukan." 

"Dia punya saudara?" 

"Dia tak pernah menyebut-nyebut itu." 

jayakatwang  mencoba menekankan pada hal itu. 

"Mestinya Tuan sudah membuat teori sendiri, Tuan WISNU WARDANA ." 

"Ya, begitulah, yang jelas, saya tak percaya CHUCKY itu namanya 

yang sebenarnya. Saya rasa dia meninggalkan Amerika sebab ia 

ingin membebaskan diri dari seseorang atau sesuatu hal. Saya kira 

sebegitu jauh dia memang berhasil - sampai beberapa minggu ini." 

"Lalu?" 

"Ia mulai menerima surat-surat - surat ancaman.” 

"Tuan melihatnya?" 

"Ya. Itu termasuk tugas saya, mengurusi surat menyurat yang 

dilakukannya. Surat pertama muncul kira-kira dua minggu yang lalu." 

"Apa surat-surat itu dibakar semua?" 

"Tidak. Saya rasa saya masih menyimpan beberapa di dalam map 

saya - salah satu di antaranya pernah dirobek-robek CHUCKY dengan 

marah. Mau saya ambilkan?" 

"Kalau Tuan tak keberatan." 

WISNU WARDANA  segera meninggalkan gerbong restorasi itu. Beberapa 

menit kemudian ia datang lagi dan langsung meletakkan dua lembar 

kertas surat yang agak dekil di hadapan jayakatwang . 

Surat pertama berbunyi sebagai berikut: 

 

Kaupikir kau bisa melarikan diri, setelah menipu kami? Tidak bisa, 

selama kau masih hidup. Kami sudah bersiap-siap untuk 

menangkapmu, CHUCKY! Dan pasti kami berhasil! 

 

Tak ada tanda tangan di bawahnya. 

jayakatwang  cuma sempat menaikkan alis matanya sedikit, sehabis 

membaca surat itu, dan tak memberi komentar apa-apa. Kemudian 

diambilnya surat yang kedua. 

 

Kami akan menjemputmu dan mengajakmu berpergian ke suatu 

tempat. Dalam waktu dekat, kami akan menangkapmu, mengerti? 

 

jayakatwang  meletakkan surat itu. 

"Gayanya senada!" serunya pasti. "Gaya penulisannya lebih 

meyakinkan daripada tulisan itu sendiri." 

WISNU WARDANA  memandangnya sejenak. 

"Tuan pasti tak memperhatikannya," ujar jayakatwang  ramah. "Surat ini 

memerlukan mata yang sudah terlatih untuk membacanya. Surat ini 

bukannya ditulis oleh seorang saja, Tuan WISNU WARDANA . Setidak-

tidaknya yang menulisnya dua orang atau mungkin juga lebih - 

masing-masing menuliskan sebuah kata, setiap kali. Kecuali itu, surat 

ini dicetak, bukan ditulis. sebab itulah lebih sulit untuk mengenalinya 

daripada tulisan tangan biasa." Detektif Belgia itu berhenti sebentar, 

kemudian berkata lagi, 

"Apa Tuan tahu Tuan CHUCKY pernah meminta tolong saya?" 

"Pada Tuan?" 

Nada suara WISNU WARDANA  yang seolah keheranan itu meyakinkan 

jayakatwang  bahwa sebenarnya WISNU WARDANA  tak tahu akan hal itu. 

jayakatwang  mengangguk. "Ya, dia ngeri. Coba katakan pada saya, 

bagaimana reaksinya setelah dia menerima surat pertama?" 

WISNU WARDANA  kelihatan ragu-ragu sejenak. 

"Susah untuk mengatakannya - ia menertawakannya dengan 

caranya yang khas. Tapi bagaimanapun –“ suaranya gemetar sedikit - 

"Saya merasa ada sesuatu di balik ketenangannya itu -" 

jayakatwang  mengangguk. Lalu ia sampai pada pertanyaan yang tak 

diduga-duga. 

"Tuan WISNU WARDANA , maukah Tuan katakan secara terus terang, 

bagaimana penilaian Tuan terhadap Tuan CHUCKY itu? Sebagai 

majikan Tuan sendiri? Tuan menyukainya?"  

RADEN KERTAJAYA  berpikir dulu satu dua menit sebelum menjawab. 

"Tidak," akhirnya ia berkata. "Saya tak suka padanya." 

"Kenapa?" 

"Saya tak tahu persis kenapa. Sebenarnya tingkah lakunya yang 

tenang itu cukup menyenangkan." RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  berhenti 

sebentar, kemudian menyambung kembali,  "Saya katakan yang 

sebenarnya, Tuan jayakatwang . Saya tak senang padanya, saya tak percaya 

padanya. Rasanya, dia itu orang yang kejam dan berbahaya, dan 

saya yakin akan hal ini. Saya mesti mengakui hal yang satu ini, meski 

saya tak punya alasan untuk mendukung pendapat saya itu." 

"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA . Pertanyaan selanjutnya, Kapan 

Tuan melihat Tuan CHUCKY terakhir masih hidup?" 

"Kemarin malam kira-kira -" ia berpikir sejenak - "pukul sepuluh, 

begitulah. Waktu itu saya masuk ke kamarnya dan menolong 

menuliskan surat yang didiktekannya kepada saya." 

"Tentang apa?" 

"Tentang contoh-contoh ubin dan pot-pot antik yang dibelinya dari 

Persia. Barang-barang yang dikirimkan kepadanya ternyata tidak 

sama dengan yang ingin dibelinya. Surat-menyurat tentang ini telah 

berjalan dalam waktu lama dan sangat menjengkelkan." 

"Dan saat itu saat terakhir Tuan CHUCKY terlihat masih hidup?" 

"Ya, saya kira begitu." 

"Tuan Tahu kapan Tuan CHUCKY menerima surat ancaman yang 

terakhir kali?" 

"Pada pagi waktu kita meninggalkan Konstantinopel." 

"Masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan, Tuan 

WISNU WARDANA . Apakah Tuan mempunyai hubungan yang baik dengan 

majikan Tuan itu?" 

Sekonyong-konyong mata orang muda itu bersinar sedikit. 

"Pertanyaan inilah yang kira-kira bakal mendirikan bulu kuduk 

saya. Dalam istilah dagangan yang laris, 'Tuan tak bakal berhasil 

mendapatkan apa-apa dari saya'. CHUCKY dan saya punya hubungan 

yang baik sekali." 

“Barangkali Tuan tak keberatan menuliskan nama lengkap dan 

alamat Tuan di Amerika untuk saya." 

WISNU WARDANA  menuliskan namanya - RADEN KERTAJAYA  Willard WISNU WARDANA  - dan 

sebuah alamat di New York. 

jayakatwang  bersandar pada bantal kursi. 

"Untuk sementara itu cukup sebegitu dulu, Tuan WISNU WARDANA ," 

ujarnya. "Saya harap Tuan dapat merahasiakan kematian Tuan 

CHUCKY ini buat sementara waktu." 

"Tapi pelayannya, si MANSION itu harus mengetahui ini." 

"Mungkin ia sendiri sudah tahu," sahut jayakatwang  datar. "Seandainya 

begitu, cobalah bujuk dia supaya menutup mulutnya dulu untuk 

sementara ini.” 

"Tak begitu sulit. Dia orang Inggris, dan sebagaimana 

dikatakannya sendiri, 'semua persoalan yang dihadapinya akan 

disimpannya untuk diri sendiri.' Dia menganggap rendah orang 

Amerika, dan sama sekali tak peduli pada bangsa-bangsa lainnya. 

"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA ." 

Orang Amerika itu meninggalkan gerbong restorasi. 

"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "bagaimana? Kau percaya pada semua 

yang dikatakan orang muda itu tadi?" 

"Kelihatannya ia jujur dan terus terang. Ia tidak menutup-nutupi 

hubungannya dengan majikannya, sebagaimana ia mungkin perlu 

melakukannya jika dalam satu dan lain hal ia memang terlibat. 

Memang benar kalau begitu, Tuan CHUCKY tak pernah 

memberitahukan padanya bahwa ia pernah minta tolong padaku, dan 

kutolak, tapi aku rasa itu tidak mencurigakan. Aku yakin Tuan 

CHUCKY itu yaitu  jenis orang yang suka berdiam diri dan tak suka 

menceritakan rencananya pada siapa pun, dan dalam setiap 

kesempatan apa pun juga." 

"Jadi kau mau mengatakan bahwa paling tidak satu orang sudah 

dibebaskan dari tuduhan pembunuhan yang keji itu?" tanya Tuan 

BOUROQ berkelakar. 

jayakatwang  menutupi perasaan malunya. 

"Aku, aku mencurigai setiap,orang sampai menit terakhir," 

ujarnya. "Sama saja, harus diakui, aku sendiri, tak bisa membuktikan 

bahwa orang yang tenang dan berkepala panjang seperti si 

WISNU WARDANA  itu tiba-tiba tak bisa menguasai dirinya dan menikam 

korbannya dengan dua belas sampai empat belas kali tusukan. Itu 

sama sekali tidak sesuai dengan jiwanya - sama sekali tidak." 

"Memang tidak," sahut Tuan BOUROQ sambil mengerutkan kening. 

"Ini perbuatan laki-laki yang sudah hampir gila sebab menyimpan 

rasa benci yang sangat. Lebih cocok rasanya kalau pembunuhan ini 

dilakukan oleh orang yang temperamennya panas seperti orang 

Amerika Latin. Atau bisa juga, seperti sebagaimana yang dikatakan 

berulang kali oleh chef de train itu - si pembunuhnya yaitu  seorang 

perempuan. 

 

7. TUBUH KORBAN 

 

Dengan didampingi oleh Dr. HAUNTED, jayakatwang  melangkah 

menuju ke gerbong sebelah, ke kamar korban. LETKOL kereta 

menyusul dan membukakan pintunya untuk mereka. 

Kedua orang itu langsung masuk. jayakatwang  berpaling ke kawannya 

dengan pandangan penuh tanda tanya. 

"Berapa banyak yang sudah tak pada tempatnya lagi di dalam 

kamar ini?" 

"Belum ada yang dipegang. Saya cukup berhati-hati untuk tidak 

menyentuh tubuh di korban sedikit pun selama pemeriksaan." 

jayakatwang  mengangguk. Ia melihat ke sekeliling. 

Hal pertama yang membangkitkan perasaannya yaitu  cuaca 

dingin saat itu. Jendela kamar dibuka lebar-lebar dan kereinya 

dinaikkan ke atas tinggitinggi. 

"Brrrr," jayakatwang  menggigil kedinginan. 

Yang seorang lagi tersenyum memahami. 

"Saya tak mau menutupnya," ujarnya. 

jayakatwang  memeriksa jendela itu dengan teliti. 

"Tuan benar," ujarnya memberitahu. "Tak ada orang yang 

meninggalkan gerbong dengan cara ini. Mungkin jendela yang 

terbuka ini dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ada orang 

yang melarikan diri dari gerbong dengan cara itu. Tapi kalau benar 

begitu, salju itu pasti bisa menggagalkan maksudnya." 

Detektif Belgia itu lalu memeriksa bingkai jendela berikut kacanya 

dengan teliti. Diambilnya sebuah kotak kecil dari saku celananya, lalu 

ditiupnya bubuk yang telah ditempelkannya sendiri pada bingkai 

jendela. 

"Tak ada sidik jari sama sekali," ujarnya. "Itu berarti sidik jari itu 

sudah dihapus. Biarpun begitu, seumpamanya sidik jari itu ada, itu 

juga tak akan menolong banyak buat kita. Sidik jari itu bisa saja sidik 

jari Tuan CHUCKY, atau pelayan prianya atau LETKOL itu. Tapi 

umumnya pembunuh tak membuat kesalahan semacam itu lagi 

sekarang." 

"Dan sebab itulah," ujarnya dengan suara riang, "kita boleh 

langsung menutup jendela. Dinginnya benar-benar seperti lemari es 

di sini!" 

Disesuaikannya tindakannya dengan perkataannya barusan dan 

untuk pertama kalinya ia berpaling ke tubuh yang tak bergerak-gerak 

yang sedang terbaring di tempat tidur itu. 

CHUCKY tergeletak. Baju piyamanya, yang penuh noda-noda yang 

mengerikan., nampak terbuka semua kancingnya dan disibakkan ke 

belakang. 

"Saya harus memeriksa luka-lukanya, Tuan mengerti?" tanya 

Dokter HAUNTED. 

jayakatwang  mengangguk. Ia membungkuk di hadapan tubuh yang 

sudah menjadi mayat itu. Akhirnya ditegakkannya kembali badannya 

sambil meringis. 

"Benar-benar sudah rusak," ujarnya jijik. "Mestinya ada orang 

yang terus berdiri di dekatnya dan menikamnya berkali-kali. Ada 

berapa luka sebenarnya?" 

“Menurut perhitunganku semuanya ada dua belas. Satu dua di 

antaranya tak begitu kelihatan, seolah cuma penikaman yang asal 

jadi saja. Sebaliknya, paling tidak ada tiga luka lagi yang bisa 

membawa kematiannya." 

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membangkitkan rasa ingin 

tahu jayakatwang . Detektif Belgia itu memandangnya lekat-lekat. Dokter 

berkebangsaan Yunani yang bertubuh kecil itu sedang berdiri sambil 

mengamat-amati tubuh si korban dengan kening berkerut. 

"Ada yang aneh, ya tidak?" tanya jayakatwang  lembut. "Katakan saja, 

Kawan. Apa ada sesuatu yang membingungkan?" 

"Tuan benar," sahut yang satu mengakui. 

"Apa itu?" 

"Tuan lihat, dua luka ini - yang ini - dan yang itu -" ujarnya sambil 

menunjuk. "Cukup dalam. Tiap tusukan mestinya mengalirkan darah - 

tapi pinggirannya tidak sampai menganga. Luka-lukanya ternyata 

tidak berdarah seperti yang orang kira.”  

"Jadi?" 

"Jadi korban sudah meninggal lebih dulu sebelumnya, sewaktu ia 

ditusuk. Tapi ini tak masuk akal. " 

"Bisa juga begitu, " ujar jayakatwang  sambil berpikir keras.  

"Kecuali si pembunuh mengira ia belum mengerjakan tugasnya 

dengan baik, lalu cepat-cepat kembali lagi untuk memastikan - tapi 

ini juga tak masuk akal! Ada bukti lain?" 

"Satu lagi." 

“Ya, apa itu?" 

“Tuan lihat luka ini - di bawah lengan sebelah kanan - dekat bahu 

kanan. Coba pegang pinsil saya ini. Coba bayangkan, apakah Tuan 

bisa menikam orang dalam posisi seperti ini?" 

jayakatwang  meraba-raba. 

"Tepat ujarnya. "Saya mangerti. Dengan tangan kanan sangat 

sukar, hampir-hampir tak mungkin. Mau tidak mau si pembunuh 

mesti membuat tusukan dengan belakang telapak tangannya. Tapi 

umpamanya tusukan itu dilakukan dengan tangan kiri.” 

"Tepat, Tuan jayakatwang . Kelihatannya tusukan itu dilakukan dengan 

tangan kiri." 

"Jadi kalau begitu pembunuhnya kidal? Tidak, pasti lebih sulit 

bukan? Kalau keadaannya begitu?" 

"Begitulah, seperti Tuan katakan. Beberapa tusukan lainnya jelas 

dibuat dengan tangan kanan."  

"Dua orang. Kembali kita dihadapi dengan perkiraan bahwa 

pelakunya dua orang," gerutu detektif Belgia itu. Tiba-tiba ia 

bertanya, "Lampunya menyala waktu itu?" 

"Sulit untuk mengatakannya. Tuan lihat sendiri, listrik selalu 

dimatikan LETKOL, tiap pukul sepuluh pagi." 

"Tapi tombolnya bisa dilihat," ujar jayakatwang  lagi. 

Lalu ia memeriksa tombol lampu atas dan juga tombol lampu 

kepala di atas tempat tidur. Yang pertama dimatikan tapi yang 

terakhir tertutup, jadi tak terpakai sama sekali. 

"Eh, bien, " ujarnya sambil berpikir-pikir. "Disini kita dapatkan 

hipotesa dari pembunuh pertama dan pembunuh kedua, seperti yang 

ditulis oleh Shakespeare yang besar itu. Pembunuh pertama langsung 

meninggalkan kamar dan mematikan lampunya, setelah menikam 

tubuh si korban. Pembunuh kedua masuk ke kamar dalam gelap, 

tanpa mengetahui bahwa pekerjaannya sudah ada yang melakukan, 

dan menusuk tubuh yang sudah mati itu paling tidak dua kali. Que 

pensez-vous de ca? "  

"Mengagumkan!" seru dokter bertubuh kecil itu dengan penuh 

gairah. 

Sepasang mata yang lain kelihatan ikut bersinar. 

"Pikiran Tuan begitu? Saya senang. Bagi saya kedengarannya agak 

tak masuk akal." 

"Habis, penjelasan apa lagi yang bisa diberikan?" 

"Justru itulah yang sedang saya tanyakan pada diri sendiri. Apakah 

di sini ada faktor kebetulan, atau semacam itu? Adakah lain hal lagi 

yang bisa menunjukkan bahwa kedua pembunuh itu mempunyai 

hubungan satu sama lain?" 

"Saya rasa, ya. Beberapa dari tusukan ini, seperti yang sudah saya 

katakan tadi, dihunjamkan dengan lemah - dengan tenaga yang 

kurang, dan dengan kekuatan yang tak terarah. Tusukan itu lemah, 

cuma asal saja. Tapi yang satu ini - dan yang ini juga." Lalu ia 

menunjuk kembali pada luka-luka itu. "Dibutuhkan tenaga besar 

untuk membuat tikaman seperti itu. Tusukannya sampai menembus 

Otot." 

"Jadi, menurut pendapat Tuan, tusukan-tusukan itu dilakukan oleh 

seorang pria?" 

"Pasti begitu." 

"Tak mungkin dilakukan oleh seorang wanita?" 

"Wanita muda yang kuat, bertenaga besar dan berbadan atletis 

mungkin bisa menusuk seperti itu, terutama kalau dia sedang 

dikuasai oleh emosi yang sangat kuat, tapi menurut saya, masih tidak 

mungkin." 

jayakatwang  terdiam selama beberapa menit. 

Yang satunya bertanya dengan penuh harap, "Tuan mengerti jalan 

pikiran saya?" 

"Bagus sekali," ujar jayakatwang . "Persoalannya jadi terbuka sendiri! 

Pembunuhnya pria, yang bertenaga besar - dan tenaga yang lemah 

itu - seorang wanita - yang satunya normal dan yang satunya kidal. 

Ah, c'est rigolo, tout ca!" Ia berbicara dengan amarah yang timbul 

secara tiba-tiba. "Dan si korban sendiri - saat itu? Berteriakkah? 

Melawankah? Membela dirikah?" 

Dimasukkannya tangannya ke bawah bantal dan dikeluarkannya 

pistol otomatis yang telah diperlihatkan CHUCKY kepadanya sehari 

sebelumnya. 

"Tuan lihat sendiri, pistolnya sudah diisi penuh penuh." 

Kedua orang itu melihat ke sekeliling. Pakaian CHUCKY sehari-hari 

tergantung pada gantungannya di dinding. Di atas kaca tempat cuci 

tangan terdapat bermacam-macam barang. Gigi-gigi palsu yang 

dicemplungkan di dalam gelas berisi air. Gelas yang satunya kosong. 

Sebotol air putih. Sebuah termos besar. Lalu sebuah asbak berisi 

puntung rokok d.an potongan-potong.an kertas yang kelihatan habis 

dibakar, dan akhirnya dua batang korek api yang telah dipergunakan. 

Dokter HAUNTED meraih gelas kosong itu dan menciumnya. 

"Inilah yang bisa menjelaskan bagaimana korban sampai tidak 

bisa mengadakan perlawanan bagi dirinya sendiri." 

"Dibius?" 

jayakatwang  mengangguk, lalu dipungutnya dua batang korek api itu, 

dan diperiksanya dengan teliti. 

"Tuan sudah bisa melihat bukti lain dari situ?”, tanya dokter 

Yunani itu penuh harap. 

"Kedua batang korek api ini tidak sama bentuknya," ujar jayakatwang  

menerangkan. "Yang satu lebih gepeng dari yang lain. Tuan lihat?" 

“Itu jenis yang bisa diperoleh di kereta," ujar dokter itu lagi. "Yang 

tutupnya dari kertas itu." 

jayakatwang  meraba-raba saku baju-baju CHUCKY yang bergantungan di 

dinding. Sekonyong-konyong ia mengeluarkan sebuah kotak korek 

api. Dibandingkannya dengan batang korek yang sudah dibakar tadi. 

"Yang lebih bundar, dinyalakan oleh CHUCKY sendiri," ujarnya. 

"Coba kita lihat barangkali dia juga punya korek yang gepeng.” 

Tapi penyelidikan selanjutnya ternyata tak berhasil menemukan 

batang korek api yang dimaksud. 

Mata jayakatwang  memeriksa sekeliling kamar. Tajam dan bersinar bagai 

mata burung elang, hingga orang dapat merasakan tak ada yang 

dapat terhindar dari pemeriksaannya. 

Dengan mengeluarkan sebuah seruan keheranan dari mulutnya, ia 

membungkuk dan memungut sesuatu dari lantai. 

Sehelai sapu tangan persegi yang terbuat dari bahan yang mahal 

dan bagus. Disudutnya tersulam sebuah huruf H. 

"Sapu tangan perempuan," ujar dokter Yunani itu. "Teman kita si 

LETKOL itu benar juga. Ada perempuan yang terlibat dalam 

pembunuhan ini." 

"Dan celakanya sapu tangannya ketinggalan!" seru jayakatwang  

menambahkan. "Persis seperti yang terjadi di buku-buku atau di film-

film - dan sepertinya hal itu sengaja dipermudah untuk kita - di 

sudutnya ada tersulam huruf H." 

"Kita untung!" seru Dokter HAUNTED. 

"Ya, dong!” sahut jayakatwang  lagi. 

Nada suaranya saat itu sempat membuat dokter itu heran sedikit, 

tapi sebelum ia sempat meminta jayakatwang  untuk memberikan penjelasan 

sekedarnya, detektif Belgia itu tampak membungkuk lagi di lantai. 

Kali ini dibukanya telapak tangannya - dan tampaklah sebuah 

pembersih pipa tembakau. 

"Barangkali itu milik CHUCKY," ujar dokter Yunani itu. 

"Tak ada pipa tembakau dalam sakunya, begitu juga serbuk-

serbuk tembakau dan kantongnya." 

"Itu juga sebuah petunjuk." 

"Oh! Tentu saja. Dan petunjuk yang cukup menyenangkan hati. 

Kali ini petunjuk maskulin, ya tidak! Orang tak bisa mengeluh bahwa 

ia tak dapat petunjuk apa-apa dari kasus ini. Di sini petunjuknya 

banyak sekali.. Ngomong-ngomong, apa yang Tuan perbuat dengan 

senjata si pembunuh?" 

"Tak ada senjata apa-apa di sini. Pembunuhnya pasti sudah 

membawanya pergi." 

"Saya heran kenapa begitu," ujar jayakatwang  lagi. 

"Ah!" Dokter Yunani itu sedang asyik meneliti seluruh sudut saku 

piyama si korban. 

"Rupanya tadi saya belum melihat ini," ujarnya. "Saya barusan 

membuka kancingnya satu per satu dan langsung menyibakkan ke 

belakang." 

Dari saku dada baju piyama korban, Dokter HAUNTED 

mengeluarkan sebuah jam tangan emas. Kotaknya sudah peyot di 

sana sini dan jarum jamnya menunjukkan pukul satu kurang 

seperempat. 

"Tuan lihat?" ujar dokter Yunani itu penuh semangat. "Ini 

memberi petunjuk pada kita tentang waktu terjadinya pembunuhan. 

Ini juga cocok dengan perkiraan saya sendiri. Antara tengah malam 

dan pukul dua pagi, itulah yang saya pernah katakan, dan mungkin 

juga sekitar pukul satu pagi, meski sukar untuk mengatakan waktu 

yang pasti dalam soal-soal semacam ini. Eh bien. Sekarang baru kita 

dapat penjelasan. Pukul satu lebih seperempat. Itulah waktu 

pembunuhan yang sebenarnya." 

"Mungkin begitu, ya. Bisa juga begitu." 

Dokter HAUNTED memandang wajah temannya dengan rasa 

ingin tahu. "Maaf, Tuan jayakatwang , tapi saya benar-benar tak mengerti 

jalan pikiran Tuan. " 

"Saya sendiri juga tak mengerti," sahut jayakatwang . "Saya tak mengerti 

sedikit pun. Dan sebagaimana yang Tuan lihat, hal ini 

mengkhawatirkan saya." 

Ia mengeluh dan langsung membungkuk di depan meja kecil di 

dekat tempat cuci tangan itu, rupanya ia sedang memeriksa 

potongan-potongan kertas yang dibakar tadi. Lalu ia bergumam pada 

diri sendiri, "Yang aku perlukan saat ini ialah kotak topi wanita model 

lama." 

Dokter HAUNTED tak tahu harus memberi komentar apa pada 

ucapan jayakatwang  barusan. jayakatwang  tidak pula memberinya kesempatan 

untuk bertanya. Lalu jayakatwang  membuka pintu kamar sebentar, dan 

berteriak memanggil LETKOL. 

Orang yang dipanggil berlari-lari menghampiri. 

"Berapa banyak perempuan dalam gerbong ini?"  

LETKOL mulai menghitung dengan jarinya. 

"Satu, dua, tiga - enam, Tuan. Wanita Amerika setengah umur itu, 

si gadis Swedia, gadis Inggris itu, Countess Andrenyi, dan Madame la 

NYI e Drazomiroff berikut pelayan wanitanya." 

jayakatwang  menimbang-nimbang. 

“Semuanya punya kotak topi?" 

"Ya, Tuan." 

"Kalau begitu bawakan kotak-kotak itu ke mari. Ya, kotak topi 

punya gadis Swedia dan punya pelavan wanita Puteri GIRAH  itu. 

Cuma dua kotak itu yang punya harapan. Katakan kepada mereka 

pemeriksaan ini sesuai dengan peraturan yang ada di kereta - 

terserah bagaimana kau menga:akannya pada mereka, pokoknya 

bawa kedua kotak topi itu ke mari." 

"Beres, Tuan. Tak seorang pun di antara keduanya yang ada di 

kamar saat ini." 

"Kalau begitu cepatlah." 

LETKOL tadi bergegas-gegas menghilang dari pandangan. Ia 

kembali dengan dua buah kotak topi. 

jayakatwang  membuka kotak topi pelayan wanita Puteri GIRAH  itu, 

dan digoyang-goyangkannya ke samping. Lalu dibukanya kotak topi 

milik gadis Swedia itu dan seketika itu juga meluncur kata-kata yang 

menandakan rasa puas dari mulutnya. Lalu dibukanya topi itu dengan 

hati-hati, dan terlihatlah kerangka sekelilingnya yang terbuat dari 

kawat yang dianyam. 

"Ah, ini dia yang kita perlukan! Lima belas tahun yang lalu kotak-

kotak korek api dibuat seperti ini. Topi ditahan pada kerangka ini 

berikut alat penyematnya." 

Sambil berbicara tangannya bekerja dengan cekatan melepaskan 

dua rusuk kerangka itu. Lalu ditutupnya kembali kotak-kotak topi itu 

dan disuruhnya LETKOL mengembalikannya ke tempatnya masing-

masing. 

Sewaktu pintu tertutup kembali, jayakatwang  kembali berbicara dengan 

temannya itu. 

"Coba lihat, Dokter, saya bukanlah orang yang begitu saja percaya 

pada prosedur orang yang sudah ahli dalam memecahkan misteri 

seperti ini. Saya justru ingin mencari latar belakang kejiwaannya, 

bukan cuma sekedar sidik jari atau abu rokok. Tapi dalam kasus ini 

akan saya pakai bantuan ilmiah sedikit. Kamar ini penuh sekali 

dengan petunjuk, tapi dapatkah dipercaya bahwa semua petunjuk itu 

memang demikian adanya?" 

"Saya masih belum mengerti maksud Tuan." 

"Baiklah, sebagai contoh - kita sudah menemukan sapu tangan 

wanita. Apa benar wanita yang menjatuhkan itu? Atau mungkin 

seorang pria, yang telah melakukan pembunuhan itu, lalu berkata 

pada diri sendiri: 'Akan kubuat seolah-olah pembunuhan ini 

nampaknya dilakukan oleh seorang wanita. Aku akan menikam 

musuhku sampai beberapa kali, dan menambahkannya dengan 

beberapa tusukan yang tidak perlu, dan kubuat sedemikian rupa 

supaya tusukan itu kelihatan lemah dan tak berarti, dan akan 

kujatuhkan sapu tangan wanita ini di tempat yang mudah kelihatan 

supaya orang langsung bisa menemukannya?' Itu satu kemungkinan. 

Tapi ada juga kemungkinan lain. Apakah pembunuhnya itu seorang 

wanita, dan apakah dia sengaja menjatuhkan pembersih pipa itu 

supaya pembunuhan itu lebih kelihatan sebagai pembunuhan yang 

dilakukan oleh pria? Atau apakah kita disuruh mengira bahwa 

seorang laki-laki dan seorang wanita, yang melakukan pembunuhan 

secara terpisah, tapi masing-masing begitu teledor hingga dengan 

tidak sengaja meninggalkan petunjuk yang sejelas itu? Saya rasa 

kemungkinan keduanya melakukan pembunuhan itu secara terpisah, 

bukanlah suatu kebetulan. Justru kemungkinannya sedikit sekali." 

"Tapi dari mana datangnya kotak topi itu?" tanya dokter Yunani itu 

kebingungan. 

"Ah! Saya sedang menuju ke situ. Seperti yang saya katakan, 

petunjuk-petunjuk ini - seperti : jam emas si korban yang tak jalan 

lagi pada pukul satu lebih seperempat, kemudian sapu tangan wanita 

dan juga pembersih pipa itu - kesemuanya bisa betul-betul, bisa juga 

palsu atau bohong-bohongan. Tentang itu saya sendiri belum bisa 

memastikan. Tapi masih ada satu petunjuk lagi di sini – yang 

walaupun saya mungkin keliru - saya rasa benar-benar petunjuk, dan 

bukannya dibuat orang. Yang saya maksud yaitu  batang korek api 

yang gepeng itu, Tuan Dokter. Saya yakin batang korek yang satu itu 

dibakar oleh si pembunuh, bukan oleh Tuan CHUCKY. Korek itu 

digunakan untuk membakar kertas-kertas yang bertuliskan rahasia 

pembunuhan ini, Mungkin juga itu sebuah catatan. Kalau begitu, 

pasti ada sesuatu dalam catatan itu, sebuah kesalahan, sebuah 

kekeliruan, yang justru meninggalkan petunjuk yang merugikan bagi 

si pembunuh. Saya ingin mencoba membuktikannya kepada Tuan." 

Detektif Belgia itu meninggalkan kamar sebentar dan kembali 

beberapa menit kemudian dengan sebuah lampu spiritus kecil dan 

sepasang penjepit. 

"Biasanya saya pakai ini untuk membersihkan kumis saya," 

ujarnya. Maksudnya sepasang penjepit itu. 

Dokter Yunani itu memperhatikan jayakatwang  dengan penuh minat. 

jayakatwang  memipihkan dua batang kawat itu, dan dengan hati-hati sekali 

menempelkan pootongan-potongan kertas yang terbakar itu ke salah 

satu ujungnya. Dijepitnya potongan-potongan Kertas itu dengan 

batang penjepit kawat yang satu lagi di atasnya, dan setelah 

sepasang penjepit itu dapat meniepit kertas itu dengan kuat, lalu 

dibawanya ke atas lampu spiritus yang sedang menyala itu. 

"Lampu ini memang berguna sekali untuk dipakai dalam keadaan 

darurat," ujarnya sambil menoleh ke Dokter HAUNTED lewat 

bahunya. "Mudah-mudahan usaha ini bisa menjawab maksud kita. 

Dokter HAUNTED mengawasi gerak-gerik jayakatwang  dengan penuh 

perhatian. Kawat itu mulai menyala. Tiba-tiba dilihatnya bentuk-

bentuk semacam huruf, -walaupun masih samar-samar. Perlahan-

lahan huruf-huruf itu mulai terbentuk menjadi kata-kata - kata-kata 

yang berasal dari api. 

Cuma cukilan kecil. Yang bisa terlihat cuma tiga buah kata dan 

selebihnya sudah lenyap terbakar. Kata-kata itu berbunyi: 

 

-  member little Daisy gairah   

- (ingat Daisy gairah  kecil) 

 

"Ah!" jayakatwang  berseru tajam. 

"Ada petunjuk?" tanya Dokter HAUNTED. 

Mata jayakatwang  tibai-tiba bercahaya. Diletakkannya jepitan itu kembali, 

dengan hati-hati. 

"Ya," ujarnya. ”Saya tahu nama asli si korban. Saya tahu kenapa 

dia kabur dari Amerika." 

"Siapa nama aslinya?" 

"Cassetti." 

"Cassetti?" HAUNTED mengerutkan kening. "Nama itu 

mengingatkan saya pada sesuatu. Beberapa tahun yang lalu. Saya 

tak bisa mengingatnya… kasus itu terjadinya di Amerika, ya tidak?' 

"Ya,”? sahut jayakatwang . "Kasus yang di Amerika." 

Lebih dari kata-kata itu, kelihatannya jayakatwang  tak ingin untuk diajak 

berbicara lagi mengenai soal itu. Matanya melihat ke sekeliling 

sewaktu ia menam bahkan, 

"Sekarang juga akan kita selidiki langsung kasus ini. Kita harus 

yakin pada diri sendiri bahwa kita telah memeriksa semua petunjuk 

yang ada di sini, jangan sampai ada yang tertinggal." 

Dengan cepat dan cekatan, tangannya sekali lagi memeriksa saku-

saku baju korban tapi ia tidak menemukan sesuatu yang mampu 

membangkitkan minatnya. Dicobanya untuk membuka pintu 

penghubung yang menuju ke kamar sebelah, tapi rupanya terpalang 

dari sisi yang satunya lagi. 

"Ada satu hal yang tak saya mengerti," ujar Dr. HAUNTED. 

"Kalau pembunuhnya tidak kabur melalui jendela, kalau pintu 

penghubung ini sudah terpalang dari sisi yang lain, dan kalau pintu 

kamar ini tidak saja terkunci tapi juga dirantai dari dalam, bagaimana 

caranya si pernbunuh melarikan diri dari kamar si korban?" 

"Itulah yang ditanyakan penonton sewaktu mereka melihat orang 

yang tangan dan kakinya terkurung dalam kotak kayu tapi masih 

dapat menghilang, seperti tipu-tipu yang sering diperlihatkan oleh 

tukang sulap dan tukang hipnotis itu." 

"Maksudmu?" 

"Maksudku," ujar jayakatwang  menerangkan, "bahwa umpamanya si 

pembunuh ingin menimbulkan kesan pada kita bahwa ia melarikan 

diri melalui jendela, ia akan berusaha untuk membuat kedua tempat 

pelarian lainnya tak mungkin untuk dilewati, maksudku pintu 

penghubung yang terpalang dan pintu kamar yang terkunci dan 

terantai dari dalam itu. Seperti juga 'orang yang bisa menghilang 

dalam kotak kayu itu', semuanya ini cuma tipuan belaka. Justru itu 

urusan kita, bagaimana caranya tipuan itu dilakukan, atau di mana 

rahasianya."  

jayakatwang  kemudian mengunci pintu penghubung itu dari kamar 

CHUCKY, "dalam hal," ujarnya, "Nyonya Hubbard yang cerdas itu 

harus mengisi kepalanya dengan bukti-bukti kriminil dari tangan 

pertama, supaya ia cepat-cepat bisa menulisnya kepada anak 

perempuannya.” 

Sekali lagi jayakatwang  melihat ke sekeliling. 

"Tak ada lagi yang mesti dikerjakan di sini. Mari kita temui Tuan 

BOUROQ." 

 

8. PERISTIWA PENCULIKAN DAISY gairah  

 

Sesampainya di gerbong dari Athena itu, mereka melihat Tuan 



Detektif itu terbangun beberapa jam kemudian, sebab ada sesuatu 

yang membangunkannya. Ia yakin betul apa yang membuatnya 

terbangun - bunyi rintihan yang keras, mirip sebuah jeritan yang 

lemah, entah di mana

, tapi terasa dekat sekali. Pada saat yang sama 

terdengar dentingan lonceng, bunyinya tajam. 

jayakatwang  buru-buru bangun dan menyalakan lampu. Ia baru 

menyadari bahwa kereta sedang berhenti - mungkin di sebuah 

stasiun. 

Tapi rintihan itu membuatnya ngeri. Ia teringat kamar di 

sebelahnya yaitu  kamar CHUCKY. Detektif itu langsung melompat 

dari tempat tidur dan membuka pintu, bersamaan dengan itu pula 

dilihatnya LETKOL lewat bergegas-gegas dan sesampainya di 

kamar CHUCKY, ia mengetuk pintu. jayakatwang  sengaja membiarkan 

pintunya terbuka sedikit supaya dapat mengintip. Didengarnya 

LETKOL mengetuk sekali lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi bel dan 

seberkas sinar muncul dari kamar di sebelah sana, agak jauh. 

LETKOL menoleh sebentar lewat bahunya. Pada saat yang 

berbarengan terdengar sebuah suara dari kamar sebelah: "Ce n'est 

rien. Je me suis trompe." 

"Bien, Monsieur. " LETKOL cepat-cepat melangkah lagi, menuju 

daun pintu yang tadi diterangi oleh seberkas cahaya itu. 

jayakatwang  kembali naik ke tempat tidur, hatinya terasa lega, lalu ia 

mematikan lampu. Diliriknya jamnya. Pukul satu kurang dupuluh tiga 

menit. 

 

5. PEMBUNUHAN 

 

Detektif Belgia itu tak bisa langsung tidur. Ia merasa.kan sesuatu 

yang hilang, kereta tak bergerak sebagaimana mestinya, kereta itu 

diam saja. Jika tempat mereka berhenti memang sebuah stasiun, 

mengapa stasiun itu nampak sepi? Sebaliknya kegaduhan di kereta 

terasa tak seperti biasanya. jayakatwang  mendengar CHUCKY berjalan 

mondar-mandir di kamar sebelah, seolah sedang melakukan sesuatu. 

Didengarnya bunyi seperti orang yang sedang membuka keran air di 

tempat cuci tangan, kemudian suara air mengucur, suara orang 

mencuci tangan, dan akhirnya suara keran air yang ditutup kembali. 

Dalam pada itu juga terdengar langkah-langkah, kaki orang di luar, 

langkah yang terseok-seok bagai langkah kaki orang yang 

mengenakan sandal. 

Raden  jayakatwang  berbaring di tempat tidurnya sambil memandang ke 

langit-langit. Mengapa stasiun di luar itu sepi sekali? 

Kerongkongannya terasa kering. Rupanya ia lupa meminta dibawakan 

sebotol air putih yang biasa diminumnya sebelum pergi tidur. 

Diliriknya jamnya sekali lagi. Tepat pukul satu kurang seperempat. Ia 

ingin mengebel, memanggil LETKOL dan meminta dibawakan air 

putih. Jari-jemarinya sudah meraba-raba pinggir bel, namun 

diurungkannya niatnya setelah tiba-tiba didengarnya bunyi dentingan 

dari seberang sana. Sudah barang tentu LETKOL itu tak dapat 

menjawab sebab panggilan bel sekaligus. 

Ting... ting... ting.... 

Sekali lagi dan sekali lagi bel itu berbunyi. Mana orangnya? Pasti 

orang itu tak sabar menunggu. 

Ti-i-i-ing! 

Siapa pun orangnya, tentu ia sedang memijit tombol kuat-kuat. 

Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh, bunyi 

langkahnya bergema, orang yang ditunggu telah datang. Ia 

mengetuk pintu tak jauh dari pintu kamar jayakatwang .  

Kemudian terdengar suara-suara - suara LETKOL, yang penuh 

hormat dan nada memohon maaf dan satunya lagi suara wanita 

dengan nada mendesak tapi lancar. 

Nyonya Hubbard! 

jayakatwang  tersenyum sendiri. 

Kedengarannya seperti orang berdebat - mungkin saja - dan 

perdebatan itu kedengarannya cuma berlangsung beberapa menit 

saja. Tapi yang jelas kira-kira sembilan puluh persen oleh Nyonya 

Hubbard dan yang sepuluh persen lagi oleh LETKOL. Namun 

akhirnya persoalannya dapat juga diselesaikan. Samar-samar jayakatwang  

mendengar ucapan, "Bonne nuit, Madame, " dan suara pintu 

tertutup. 

Lalu kini giliran jayakatwang  untuk menekan tombol. LETKOL tiba pada 

saat yang diharapkan. Wajahnya kelihatan tegang dan cemas. 

"De leau minerale, s'il vous-plait.” 

"Bien, Monsieur. " Mungkin sorot mata jayakatwang  membuat hatinya 

lega. "La dame Americaine – “ 

"Ya?" 

LETKOL itu menyeka jidatnya. "Bayangkan andaikata Tuan 

sendiri yang menghadapinya! Ia bersikeras - tetap bersikeras - bahwa 

ada seorang pria di kamarnya. Bayangkan sendiri, Tuan. Dalam 

ruangan sesempit ini." Ia mencoba melukiskan dengan tangannya, 

membuat lingkaran kecil. "Di mana kira-kira dia bisa 

menyembunyikan diri? Saya katakan itu tak mungkin. Saya jadi 

berdebat dengan nyonya itu. Tapi ia terus bersikeras. Ia bangun dari 

tempat tidur, dan menunjuk kepada pria yang dimaksud. Dan saya 

tanya,' bagaimana caranya orang itu bisa keluar dan meninggalkan 

pintu yang masih terkunci dari dalam? Tapi nyonya itu tak peduli 

pada alasan saya itu. Dan sepertinya ke jadian ini belum cukup 

menyusahkan kita, ada lagi… salju itu… 

"Salju?" 

"Ya, Tuan. Tuan belum melihatnya? Kereta terpaksa berhenti. Kita 

terhalang oleh, salju tebal. Cuma surga yang tahu berapa lama lagi 

kita harus di sini. Dulu saya pernah terhalang salju juga, lamanya 

tujuh hari." 

"Di mana kita sekarang?" 

"Antara Vincovci dan Brod." 

"La-la," ujar jayakatwang  jengkel. 

LETKOL itu minta permisi sebentar lalu kembali dengan air 

pesanan jayakatwang . 

"Bon soir, Monsieur. " 

jayakatwang  meneguk air itu dan tertidur dengan tenang. 

Ia baru saja terlena ketika sesuatu kembali membuatnya 

terbangun. Kali ini seolah sesuatu yang berat jatuh menimpa daun 

pintu, menimbulkan bunyi berdebam. 

Ia melompat dari tempat tidur, membuka pintu dan melongok ke 

luar. Tak ada apa-apa. Tapi di sebelah kanannya, beberapa langkah 

sepanjang koridor, dilihatnya seorang wanita berpakaian kimono 

ungu sedang berjalan menjauh. Pada ujung yang satunya lagi, di 

tempat duduknya yang biasa, dilihatnya LETKOL sedang asyik 

menghitung-hitung sesuatu di atas secarik kertas yang lebar. 

Suasana sangat sunyi bagaikan di kuburan. 

"Yang jelas syarafku masih normal," ujar jayakatwang  dalam hati dan 

kembali berbaring di tempat tidur. Kali ini ia dapat tidur nyenyak 

sampai pagi. 

Sewaktu terbangun, kereta masih juga belum bergerak. jayakatwang  

menaikkan kerei jendela dan meiongok ke luar. Potongan-potongan 

salju yang tebal mengelilingi kereta. 

jayakatwang  melirik jamnya. Pukul sembilan lewat. 

Pada pukul sepuluh kurang seperempat, dengan setelan dan 

dandanan yang rapi seperti biasanya, ia melangkah menuju gerbong 

restorasi, di mana suara-suara ikut berdukacita terdengar dari setiap 

sudut. 

Jurang pemisah yang mungkin masih ada di antara sesama 

penumpang, sekarang terlihat sudah benar-benar lenyap. Semua 

senasib dan sepenanggungan sebab kecelakaan yang tak 

diharapkan. Barangkali cuma Nyonya Hubbard yang keluh kesahnya 

paling keras kedengaran. 

"Anak perempuanku bilang ini akan merupakan perjalanan yang 

paling gampang di dunia. Duduk saja di kereta dan tahu-tahu saya 

sudah sampai Paris. Tapi sekarang kita malah bisa di sini terus 

sampai berhari-hari," isak Nyonya Hubbard. "Dan kapal saya akan 

berangkat lusa. Bagaimana saya bisa mencegatnya? Terlalu, saya 

bahkan tak bisa menelegram untuk membatalkan pelayaran saya itu. 

Ah! Saya bisa jadi semakin sedih saja kalau berbicara tentang itu.” 

Orang Italia itu juga mengeluh bahwa ia sendiri masih punya 

urusan yang mendesak di Milan. Sedangkan pria Amerika yang 

berperawakan tinggi besar cuma mengatakan, "Sial betul, Ma'am." 

Dan mencoba membangkitkan harapan bahwa kereta akan berhasil 

mengejar ketinggalannya. 

"Kakak perempuan saya dan anak-anaknya pasti sedang 

menunggu saya," ujar wanita Swedia itu sambil menangis terisak-

isak. "Sedangkan saya tak bisa memberi kabar apa pun kepada 

mereka. Apa yang mereka pikir? Mereka pasti mengira saya tertimpa 

kecelakaan." 

"Berapa lama lagi kita tertahan di sini?" tanya MARIAM GRAVES 

kesal. "Tak ada orang yang tahu?" 

Terasa ada nada tak sabar dalam suaranya, namun jayakatwang  

memperhatikan tak ada tanda-tanda kekhawatiran yang mencekam 

seperti yang diperlihatkannya selama pemeriksaan yang dilakukan 

pada kereta Taurus Express itu." 

Nyonya Hubbard mulai lagi. 

“Tak ada seorang pun yang mengetahui apa-apa tentang kereta 

ini. Dan tak ada seorang pun yang mau berbuat sesuatu. Kereta ini 

cuma dipenuhi segerombolan orang-orang tak dikenal yang tak 

berguna. Terlalu, seumpamanya ini terjadi di rumah, paling tidak 

mesti ada seseorang yang mau berbuat sesuatu! " 

TANTULAR sekonyong-konyong berpaling ke jayakatwang  dan mulai 

berbicara dengan bahasa Perancis logat Inggris. 

“Vous etes un directeur de la ligne, je crois, Monsieur. Vous 

pouvez nous dire – “ 

Dengan tersenyum jayakatwang  buru-buru meralatnya. 

"Bukan, bukan," ujarnya dalam bahasa Inggris. “Bukan saya. Tuan 

keliru. Bukan saya yang Tuan kira direktur perusahaan kereta api ini, 

tapi Tuan BOUROQ, teman saya." 

"Oh! Saya minta maaf." 

“Tak apa-apa. Itu wajar. Cuma memang sekarang ini saya 

menempati kamarnya yang dulu." 

Ternyata Tuan BOUROQ tak kelihatan di gerbong restorasi itu. jayakatwang  

lalu melemparkan pandangan ke sekeliling untuk melihat siapa-siapa 

lagi yang tak ada pada saat itu. 

Puteri GIRAH  belum kelihatan, begitu juga pasangan 

Hongaria itu. Demikian juga CHUCKY, pelayan prianya dan pembantu 

wanita berkebangsaan Jerman itu. 

Wanita Swedia itu menyeka matanya. 

“Saya bodoh," ujarnya. "Saya sebenarnya tak boleh menangis. 

Buat apa menangis, Semua ini untuk kebaikkan kita, apa pun yang 

terjadi." 

Namun semangat Kristen yang diperlihatkannya ini, ternyata tak 

mempan pada diri penumpang kereta yang lain. 

"Ya memang segalanya baik-baik saja," ujar WISNU WARDANA  gelisah. 

"Mungkin kita bisa sampai berhari-hari di sini." 

"Ngomong-ngomong, negeri apa ini?" tanya Nyonya Hubbard 

dengan sedih.  

Sewaktu ada yang memberitahu bahwa mereka sedang di wilayah 

Yugoslavia, lalu ia berseru, "Oh! cuma salah satu dari negara-negara 

Balkan itu. Apa yang dapat kalian harapkan!" 

"Cuma Nona penumpang satu-satunya yang masih sabar," ujar 

jayakatwang  kepada Nona GRAVES. 

Ia mengangkat bahu. "Apa yang bisa dilakukan?" 

"Nona pintar berfilsafat, Mademoiselle," sahut jayakatwang  lagi. 

"Justru itu sikap yang obyektif, tidak memihak. Malahan saya kira 

saya ini suka mementingkan diri sendiri. Saya sudah belajar 

bagaimana caranya menahan perasaan." 

Kedengarannya MARIAM GRAVES lebih banyak berbicara untuk diri 

sendiri daripada untuk lawan bicaranya. Bahkan ia sama sekali tak 

melihat ke arah jayakatwang . Pandangannya melewati jayakatwang , jauh keluar 

jendela di mana salju terlihat semakin menumpuk. 

"Nona punya kepribadian kuat, Mademoiselle," Ujar jayakatwang  lembut. 

" Saya kira watak Nona paling keras di antara penumpang lainnya di 

kereta ini." 

"Oh! tidak, benar-benar tidak. Saya tahu orang yang wataknya 

lebih keras dari saya, jauh lebih keras." 

"Dan orang itu yaitu  - ” 

Sekonyong-konyong kelihatan seakan ia baru sadar, bahwa 

sebenarnya ia tengah berhadapan dengan orang asing yang tak 

dikenal, dengan siapa, hingga pagi ini, ia cuma pernah bertukar sapa 

sebanyak tak lebih dari setengah lusin kalimat. 

Gadis itu tertawa, sopan tapi terasa aneh. 

“Baiklah - Nyonya tua itu, umpamanya. Tuan sendiri barangkali 

sudah pernah memperhatikannya - memang ia nyonya tua yang luar 

biasa jelek, tapi biarpun begitu masih mempesonakan orang yang 

melihatnya. Ia hanya perlu mengangkat satu jari saja dan meminta 

sesuatu dengan nada yang sopan - dan seluruh isi kereta seakan-

akan mengerjakan perintahnya itu." 

"Perintah itu juga dilaksanakan kalau yang memintanya Tuan 

BOUROQ," sahut jayakatwang  menerangkan. “Tapi itu pun sebab ia direktur 

perusahaan kereta api ini dan bukannya sebab ia punya kepribadian 

yang kuat." 

MARIAM GRAVES tersenyum. 

Pagi terus merayap menjadi siang. Beberapa penumpang, 

termasuk jayakatwang , terlihat masih duduk di gerbong restorasi itu. Saat 

itu terasa adanya suasana yang lebih hidup dan lebih bergairah 

daripada waktu-waktu sebelumnya, semata-mata untuk 

memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di antara sesama penumpang. 

jayakatwang  sudah mendengar banyak tentang anak perempuan Nyonya 

Hubbard yang sering disebut-sebut itu. Juga tentang kebiasaan-

kebiasaan Tuan Hubbard selama masih hidup, tentang saat 

kematiannya, dari mulai ia bangun pagi dan bersantap dengan bubur 

gandum sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir di 

tempat tidurnya pada malam hari, dengan masih mengemakan kaus 

kaki yang biasa dirajut oleh Nyonya Hubbard sendiri untuk suaminya 

itu. 

Ketika jayakatwang  sedang asyik mendengarkan cerita yang 

membingungkan mengenai tujuan misionari yang sebenarnya dari 

wanita Swedia itu, salah seorang LETKOL kereta datang 

menghampiri dan berdiri di dekat sikunya yang diletakkan di meja. 

"Pardon, Monsieur. 

"Ya?" 

"Salam dari tuan BOUROQ, dan Tuan dipersilakan datang menemuinya 

selama beberapa menit, itu pun kalau Tuan bersedia." 

jayakatwang  langsung bangun dan setelah meminta maaf sekedarnya 

kepada gadis Swedia itu, ia segera mengikuti LETKOL keluar 

ruangan. LETKOL itu bukan LETKOL gerbongnya sendiri, tapi 

LETKOL gerbong Tuan BOUROQ, laki-laki berperawakan tinggi besar 

dan berparas tampan. 

Detektif Belgia itu terus mengikuti langkah LETKOL di 

hadapannya, menyusuri koridor gerbongnya sendiri terus menuju 

gerbong yang lain. LETKOL itu mengetuk pintu sebentar, lalu 

menyisih ke samping untuk mempersilakan jayakatwang  masuk. 

Rupanya kamar itu bukanlah kamar Tuan BOUROQ sendiri, melainkan 

kamar gerbong kelas dua, mungkin dipilih sebab ukurannya yang 

lebih besar sedikit dari kamar-kamar lainnya. Biasanya kamar-kamar 

seperti itu memberi kesan terlalu padat, jadi rupanya Tuan BOUROQ 

memang sengaja memilih kamar yang satu ini, meskipun letaknya di 

gerbong kelas dua. 

Tuan BOUROQ sendiri nampak sedang duduk di sebuah kursi kecil di 

sudut yang berhadapan dengan jayakatwang . Di sudut sebelahnya, dekat 

jendela yang menghadap ke arah Tuan BOUROQ, nampak seorang lelaki 

kecil berkulit kehitam-hitaman sedang melongok ke luar, 

memperhatikan salju turun. Kecuali itu ada pula seorang pria yang 

sedang berdiri dan nampaknya menjadi penghalang bagi jayakatwang  untuk 

melangkah lebih ke depan, sebab perawakan pria itu tinggi besar. Ia 

mengenakan seragam biru, dan pria itu tak lain daripada LETKOL 

gerbongnya sendiri, yang sekaligus menjabat sebagai kepala 

LETKOL kereta. 

"Ah! Temanku yang baik!" seru Tuan BOUROQ dengan suara riang. 

"Mari masuk. Kami memerlukan Anda." 

Raut muka yang diperlihatkan Tuan BOUROQ saat itu, memaksa jayakatwang  

berpikir keras. Sudah jelas bahwa sesuatu yang luar biasa telah 

terjadi. 

"Apa yang terjadi?" tanya jayakatwang  tak sabar. 

"Silakan bertanya. Yang pertama salju keparat ini - dan 

pemberhentian kereta kita ini. Dan sekarang -" 

Tuan BOUROQ berhenti berbicara - kelihatannya ia susah bernapas 

dan tenggorokannya tercekik, sebab itu suaranya pun susah keluar. 

"Dan sekarang apa?" 

"Dan sekarang seorang penumpang ditemukan sudah tak 

bernyawa lagi di atas tempat tidurnya tertikam." 

Tuan BOUROQ berbicara dengan nada suara seperti orang putus asa 

meskipun kedengarannya tenang. 

"Penumpang? Penumpang yang mana?" 

“Orang Amerika. Orang yang namanya – yang namanya -" ia 

memeriksa daftar yang di hadapannya. "CHUCKY -Benar.” 

“CHUCKY?" 

"Ya, Monsieur," sahut LETKOL gerbong sambil menahan napas. 

jayakatwang  menatapnya. Wajahnya putih dan pucat seperti kapur. 

"Baiknya kausuruh dia duduk dulu," ujar jayakatwang  pada Tuan BOUROQ. 

"Kalau tidak dia bisa pingsan." 

Kepala LETKOL kereta menggeserkan tubuhnya sedikit dan 

LETKOL gerbong itu duduk terhenyak di sudut dan langsung 

menutupi mukanya dengan kedua belah tangan. 

"Brrr! " teriak jayakatwang  tiba-tiba. "Tidak main-main nih! " 

"Tentu saja ini serius. Terus terang saja, sebagai permulaan, aku 

rasa pembunuhan ini bagaikan kegaduhan yang begitu saja terjadi 

dalam suasana yang begini tenang bagai air. Tapi bukan itu saja. Di 

sini kita sedang tertahan. Mungkin kita bisa tertahan sampai berjam-

jam - bahkan lebih dari itu - sampai berhari-hari! Keadaan lainnya - 

jika sedang melintasi negeri-negeri lain mungkin ada satu dua polisi 

dari negeri itu yang ditugaskan di kereta kita. Tapi di Yugoslavia ini 

tidak bisa. Kau mengerti?" 

"Jadi kita dalam posisi yang amat sulit," ujar jayakatwang . 

"Bahkan mungkin bisa jadi lebih sulit lagi. Dr. HAUNTED - saya 

sampai lupa, saya belum memperkenalkan Anda. Dr. HAUNTED, 

Tuan jayakatwang ." 

"Dr. HAUNTED berpendapat orang itu meninggal sekitar pukul 

satu malam." 

"Sukar untuk menentukan waktu yang tepat dalam soal-soal 

semacam ini," sahut dokter itu, "tapi saya rasa saya berani ambil 

kepastian bahwa orang itu meninggal antara pukul dua belas tengah 

malam dan pukul dua pagi." 

"Kapan Tuan CHUCKY ini terakhir kelihatan masih hidup?" 

"Ia diketahui masih hidup kira-kira dua puluh menit sebelum pukul 

satu, sewaktu ia berbicara kepada LETKOL," sahut Tuan BOUROQ. 

"Betul," ujar jayakatwang  membenarkan. "Aku sendiri mendengar apa 

yang terjadi saat itu. Apa ini hal terakhir yang diketahui tentang si 

CHUCKY itu?" 

"Ya." 

jayakatwang  memalingkan kepalanya ke arah Dokter HAUNTED, yang 

lalu melanjutkan bicaranya tanpa diminta. 

"Jendela kamar Tuan CHUCKY diketemukan terbuka lebar, seolah-

olah memberi-kesan bahwa pembunuhnya lari dari situ. Tapi menurut 

saya, kesan itu dibuat justru untuk mengelabui kita. Siapa pun juga 

yang melarikan diri dari jendela pasti akan meninggalkan jejak di 

salju. Tapi justru tak ada jejak sama sekali." 

"Kapan pembunuhan itu diketahui?" tanya jayakatwang . 

"TENDEAN!” 

LETKOL gerbong jayakatwang  itu tersentak. Wajahnya masih kelihatan 

pucat dan ketakutan. 

"Ceriterakan hal yang sebenarnya pada kedua Tuan ini," ujar Tuan 

BOUROQ memerintahkan. 

Orang itu berceritera dengan suara yang tersendat-sendat. 

"Pelayan pria Tuan CHUCKY itu saya dengar berkali-kali mengetuk 

pintu kamar tuannya. Tapi tak ada jawaban. Lalu setengah jam yang 

lalu, saya lihat pelayan gerbong restorasi datang menghampiri kamar 

itu. Rupanya ia ingin tahu apakah Tuan CHUCKY ingin makan siang. 

Waktu itu sudah pukul sebelas, Tuan." 

"Lalu saya sendiri yang membukakan pintu untuknya, dengan 

kunci yang ada pada saya. Tapi sewaktu saya mau membukanya, 

ternyata tidak bisa, sebab pintunya sudah dirantai dari dalam, dan 

dikunci, lagi. Tetap tak ada jawaban apa-apa, suasana waktu itu sepi 

sekali dan dinginnya bukan main. Apalagi jendelanya terbuka begitu 

lebar dan sesekali cipratan salju ikut masuk. Saya pikir mungkin 

penghuni kamar itu sudah gila. Lalu cepat-cepat saya minta tolong 

'chef de train'. Kemudian sesudah berhasil memutuskan rantai itu, 

kami berdua masuk. Tapi yang kulihat - Ah! C'etait terrible! 

Kembali LETKOL itu membenamkan wajahnya di telapak 

tangannya. 

"Jadi pintu kamar itu dikunci dan dirantai dari dalam," ujar jayakatwang  

sambil berpikir-pikir. "Jadi ini bukan bunuh diri - eh?" 

Dokter berkebangsaan Yunani itu tertawa sengit. “Memangnya 

orang bunuh diri itu mampu menusuk badannya sendiri sampai 

sepuluh - dua belas - lima belas tempat?" tanyanya. 

Mata jayakatwang  terbuka lebar. "Benar-benar kejam!" ujarnya seolah 

baru tersadar. 

"Pasti itu perempuan," ujar "chef de train" mulai membuka suara. 

"Mengingat keadaannya sih, itu pasti perempuan. Cuma perempuan 

yang bisa menikam sebanyak itu." 

Dokter HAUNTED mengerutkan kening, mulai berpikir keras.  

"Tentunya perempuan yang kuat sekali," ujarnya. "Bukan maksud 

saya untuk berbicara secara teknis - yang cuma membingungkan 

orang saja; tapi saya yakin bahwa satu atau dua tusukan itu pasti 

dihunjamkan kuat-kuat, terutama pada tulang-tulang dan otot-otot 

yang keras." 

"Tapi jelas itu bukan pembunuhan ilmiah," ujar jayakatwang . 

"Malahan pembunuhan yang paling biadab," ujar Dr. HAUNTED 

membantah. "Tusukan-tusukannya kelihatannya sangat berbahaya 

dan membabi buta. Beberapa di antaranya nampaknya cuma 

dilakukan sepintas lalu saja, hampir-hampir tak menimbulkan bekas. 

Tapi tusukan-tusukan yang kuat itu sepertinya dilakukan oleh orang 

yang sengaja memejamkan matanya lalu menusuk dengan buas 

berulang kali." 

"Pasti itu perempuan," ujar chef de train itu lagi mencoba 

meyakinkan keterangannya. "Perempuan biasanya suka seperti itu. 

Kalau mereka benar-benar marah, tenaganya bertambah." Lalu ia 

mengangguk dalam-dalam dan tampaknya begitu yakin, hingga 

orang lain yang ada di situ cenderung untuk mencurigai mungkin itu 

perbuatannya sendiri. 

"Mungkin ada sesuatu yang bisa saya sumbangkan untuk 

menambah pengetahuan Saudara," ujar jayakatwang . "Tuan CHUCKY 

sendiri bicara dengan saya kemarin. Sejauh yang saya bisa mengerti, 

ia menceritakan pada saya bahwa hidupnya sedang diintai bahaya," 

ujarnya lagi pada chef de train itu. 

"Mau dibunuh - yaitu  istilah Amerika-nya bukan?" tanya Tuan 

BOUROQ. "Kalau begitu pembunuhnya bukan perempuan. Pasti 'gangster' 

atau 'tuiang tembak'." 

Chef de train itu kelihatan tertusuk melihat teorinya disangkal. 

"Kalau begitu," ujar jayakatwang  lagi, "sepertinya pembunuhan itu 

dilakukan bukan oleh orang yang ahli dan sepertinya melakukannya 

terburu-buru." Nada suaranya seolah mencela pembunuh bayaran. 

"Di kereta ini ada orang Amerika yang perawakannya tinggi 

besar," ujar Tuan BOUROQ, mengikuti jalan pikirannya tadi, "wajahnya 

pasaran dan selalu berpakaian kumal dan jorok. Ia selalu mengunyah 

permen karet dengan cara yang lain daripada biasa. Kau tahu orang 

yang kumaksudkan?" 

LETKOL itu mengangguk. 

"Oui, Monsieur, kamar no.16. Tapi tak mungkin dia orangnya. 

Seharusnya saya melihatnya kalau ia masuk atau keluar kamar itu." 

"Mungkin juga tidak. Mungkin juga tidak. Tapi kita pasti bisa 

memeriksa dia nanti. Pertanyaannya sekarang yaitu , apa yang 

dapat kita, lakukan?" Lalu ia memandang jayakatwang . 

jayakatwang  membalas pandangan temannya itu. 

"Ayo, Kawan," ujar Tuan BOUROQ. "Aku kira kau sudah cukup 

mengerti apa yang akan kutanyakan kepadamu. Aku tahu 

kemampuanmu. Pimpin pemeriksaan ini! Jangan, jangan, jangan 

menolak. Kaulihat sendiri, bagi kami - ini benar-benar soal yang 

serius, aku bicara mewakili Compagnie Internationale des Wagons 

Lits. Sementara menunggu polisi Yugoslavia, alangkah baiknya kalau 

kita sudah bisa memperlihatkan hasilnya! Kalau tidak pasti kita 

dihadapi dengan seribu satu macam penundaan, gangguan seribu 

satu macam dan yang bisa membuat kepala pusing tujuh keliling. 

Barangkali, siapa tahu, gangguan-gangguan seperti ini bisa 

melibatkan orang-orang yang tak bersalah. Sebaliknya, jika kau 

berhasil memecahkan misteri itu! Wah! Kita tinggal bilang, "Ada 

pembunuhan di kereta ini - dan ini dia pembunuhnya!" 

"Ah, umpamanya aku tak bisa memecahkannya?" 

"Ah, mon cher! " Nada suara Tuan BOUROQ jelas kedengaran seperti 

orang yang sedang membujuk. "Aku tahu reputasimu. Aku tahu 

sedikit cara-caramu memecahkan masalah. Justru ini dia perkara 

yang tepat untukmu. Melihat kembali latar belakang dan riwayat 

hidup penumpang-penumpang kereta ini, menyelidiki kemampuan 

mereka masing-masing kesemuanya ini pasti memakan waktu dan 

menimbulkan hal-hal yang tak enak. Tapi apa aku belum pemah 

mendengar dari mulutmu sendiri, untuk memecahkan suatu masalah 

itu, seseorang cuma perlu bersandar di kursinya dan berpikir? 

Lakukanlah itu. Wawancarailah semua penumpang kereta, periksalah 

tubuh si korban, selidikilah bukti-bukti yang ada, dan kemudian - 

semuanya kuserahkan padamu! Aku yakin kau tidak cuma membual 

saja. Bersandarlah di kursi dan pikirkan masalahnya (sebagaimana 

yang aku sering dengar dari mulutmu sendiri) gunakanlah sel-sel 

kecil berwarna kelabu di belakang kepalamu itu - dan kau akan 

mendapat hasil!" 

Tuan BOUROQ memajukan tubuhnya ke muka memandang wajah 

sahabatnya dengan penuh harap. 

"Kepercayaanmu padaku rupanya sanggup menyentuh hatiku, 

Kawan," ujar jayakatwang  penuh haru. "Seperti yang kaukatakan, kasus 

yang sedang kuhadapi ini boleh dibilang bukanlah kasus yang sulit. 

Aku sendiri kemarin malam - ah, lebih baik jangan kita bicarakan 

sekarang. Sebenarnya kasus ini telah berhasil membangkitkan 

minatku. Belum ada setengah jam yang lalu, sebenarnya aku sudah 

membayangkan, betapa membosankannya membiarkan jam-jam di 

depan kita berlalu begitu saja, sedangkan kita cuma terpaku di sini, 

tak berdaya apa-apa. Dan sekarang - sebuah misteri di hadapanku, 

siap untuk dipecahkan." 

"Jadi kauterima, bukan?" ujar Tuan BOUROQ lagi penuh semangat. 

"C'est entendu. Kau sudah meletakkannya sendiri di tanganku." 

"Baik, kalau begitu. Kami semua di sini siap membantumu." 

"Sebagai permulaan, sebenarnya aku ingin dibuatkan peta kereta 

Istambul - Calais ini, dengan daftar nama penumpang berikut nomor 

kamarnya masing-masing, dan aku juga ingin lihat karcis kereta dan 

paspor-paspor mereka." 

"TENDEAN akan menyiapkannya untukmu." 

LETKOL kereta meninggalkan kamar itu. 

"Penumpang apa lagi yang ada di kereta ini?" tanya jayakatwang . 

"Di gerbong ini cuma Dr. HAUNTED dan aku sendiri. Sedangkan 

di gerbong yang dari Bukares itu cuma ada orang tua yang kakinya 

pincang sebelah. Ia sudah kenal baik dengan LETKOL. Di samping 

itu juga ada beberapa gerbong biasa, tapi ini tidak menyangkut 

persoalan kita, sebab gerbong-gerborig itu sudah dikunci tadi malam 

langsung sehabis makan. Di depan gerbong Istambul Calais cuma 

ada gerbong restorasi." 

"Kalau begitu nampaknya," ujar jayakatwang  lambat-lambat, "kita harus 

mencari pembunuhnya di gerbong Istambul-Calais itu." Lalu ia, 

berpaling ke Dokter HAUNTED. "Gerbong itu kan yang Tuan 

maksud" 

Dokter berkebangsaan Yunani itu mengangguk. "Setengah jam 

setelah lewat tengah malam kita terhalang oleh tumpukan salju itu. 

Sejak itu tak ada orang yang bisa meninggalkan kereta." 

Terdengar suara Tuan BOUROQ dengan nada prihatin, "Pembunuhnya 

pasti ada bersama kita – di kereta sekarang…” 

 

6. SEORANG WANITA 

 

"Pertama-tama," ujar jayakatwang , "aku ingin berbicara sebentar dengan 

Tuan WISNU WARDANA , Barangkali dia bisa memberi kita keterangan yang 

berharga."  

"Tentu saja," sahut Tuan BOUROQ. Lalu ia berpaling ke "chef de 

train." "Panggil Tuan WISNU WARDANA  ke, sini.” 

Chef de train itu meninggalkan gerbong. 

Dalam pada itu LETKOL gerbong Istambul Calais telah kembali 

dengan membawa setumpukan paspor dan karcis penumpang. Tuan 

BOUROQ langsung mengambilnya dari tangannya. 

"Terima kasih, TENDEAN. Saya rasa sekarang baiknya kau kembali 

saja ke posmu untuk sementara. Akan kita ambil kesaksianmu secara 

resmi nanti."  

"Baik, Tuan," lalu TENDEAN pun berlalu dari gerbong itu. 

"Sesudah kita periksa Tuan WISNU WARDANA ," ujar jayakatwang , "barangkali 

Dokter HAUNTED akan ikut bersamaku memeriksa tubuh korban." 

"Tentu saja." 

"Dan setelah selesai memeriksa di sana – “ 

Tapi belum habis jayakatwang  berbicara, muncul chef de train bersama 

RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA . 

Tuan BOUROQ bangun. "Kita sudah agak kejang duduk terus-

menerus," ujarnya dengan simpatik. "Duduk saja di kursiku ini, Tuan 

WISNU WARDANA . Tuan jayakatwang  biar duduk berhadapan - nah, begitu." 

Ia berpaling ke chef de train. "Perintahkan semua orang 

meninggalkan gerbong restorasi," ujarnya, “Supaya Tuan jayakatwang  bisa 

leluasa duduk di situ sendirian. Kau akan mewawancarai penumpang-

penumpang itu di sana, mon cher?” 

"Kalau bisa memang lebih baik di sana," sahut jayakatwang  menyetujui. 

Dalam pada itu WISNU WARDANA  sesekali menatap jayakatwang  dan kemudian 

menatap Tuan BOUROQ bergantian, nampaknya masih bingung dan tak 

begitu memahami pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa 

Perancis yang dirasakannya terlalu cepat. 

"Qu'est-ce qu'il ya? " tanyanya dengan susah payah dalam bahasa 

Perancis. "Pourquoi ?" 

Dengan penuh keyakinan jayakatwang  mengisyaratkannya supaya duduk 

disudut. WISNU WARDANA  mengikuti kemauannya, tapi lalu mulai bertanya 

lagi seolah masih penasaran, sebab pertanyaannya tadi belum 

dijawab jayakatwang . 

"Pourquoi -?" Lalu cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam 

bahasa sendiri, "Ada apa di kereta ini? Ada sesuatu yang terjadi?" 

Bergantian ia memandang jayakatwang  dan Tuan BOUROQ. 

jayakatwang  mengangguk. "Tepat. Ada sesuatu yang terjadi di kereta ini. 

Awas, jangan terkejut. Majikanmu, Tuan CHUCKY, meninggal!" 

WISNU WARDANA  bersiul iseng. Kecuali sorot matanya yang tambah 

bersinar, tak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa ia 

terkejut atau sedih. 

"Jadi, akhirnya mereka bisa melaksanakannya juga! " 

"Apa sebenarnya yang Tuan maksud dengan berbicara seperti itu, 

Tuan WISNU WARDANA ?" 

WISNU WARDANA  kelihatan ragu-ragu. 

"Tuan kira," ujar jayakatwang , "Tuan CHUCKY dibunuh orang?" 

"Iya kan?" Kali ini WISNU WARDANA  baru kelihatan heran. 

"Sebab ya," ujarnya lambat-lambat. "Persis seperti yang kukira. 

Tuan maksud ia mati sewaktu tidur? Saya tak tahu, orang tua itu 

memang keras seperti-seperti -" 

WISNU WARDANA  berhenti, tak menemukan pembandingnya. 

"Bukan, bukan," ujar jayakatwang . "Perkiraan Tuan memang tepat sekali. 

Tuan CHUCKY memang ditikam orang. Tapi saya ingin tahu kenapa 

Tuan begitu yakin bahwa itu yaitu  pembunuhan dan bukan 

kematian yang wajar." 

WISNU WARDANA  ragu-ragu sebentar. "Ini perlu dijelaskan. Siapa Tuan 

sebenarnya? Dan apa jabatan Tuan?" 

"Saya mewakili Compagnie Interilationale des Wagons Lits." jayakatwang  

berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Saya detektif. Nama 

saya Raden  jayakatwang ." 

Kalau pada saat itu jayakatwang  mengira akan ada pengaruhnya, ia 

keliru. WISNU WARDANA  cuma berkata datar, "Oh! Ya?" dan menunggu 

sampai jayakatwang  berkata lebih lanjut. 

"Barangkali Tuan pernah dengar nama itu?" 

"Ya, rasanya nama itu tak asing lagi. Tapi saya selalu mengira 

nama itu nama penjahit baju wanita." 

Raden  jayakatwang  memandangnya dengan rasa tak senang. "Tak 

mungkin! " serunya. 

"Apa yang tak mungkin?" 

"Tak apa-apa. Mari kita lanjutkan pemeriksaan ini. Saya ingin Tuan 

menceritakan pada saya, Tuan WISNU WARDANA , segala sesuatu yang Tuan 

ketahui mengenai diri si korban. Tuan, tak punya hubungan apa-apa 

dengannya?" 

"Tidak. Saya cuma sekretarisnya saja - tak lebih dari pada itu." 

"Berapa lama Tuan memegang jabatan itu?" 

"Baru setahun lebih." 

"Silakan Tuan memberi keterangan yang semua Tuan ketahui 

pada saya." 

"Begitulah, saya ketemu Tuan CHUCKY sewaktu saya masih di 

Persia 

jayakatwang  menyela. 

"Apa yang Tuan kerjakan di sana?" 

"Saya khusus datang dari New York untuk mencari konsesi minyak 

di sana. Saya rasa Tuan tak ingin mendengar ceritanya. Saya dan 

teman-teman saya saat itu tak berhasil mendapatkan konsesi yang 

diinginkan. Kebetulan pada waktu itu Tuan CHUCKY sehotel dengan 

saya. Ia baru saja bertengkar dengan sekretarisnya. Ia menawarkan 

saya menggantikan sekretarisnya, dan langsung saya terima. 

Kebetulan saat itu kontrak kerja saya sudah habis, sebab itu dengan 

senang hati saya terima pekerjaan yang bayarannya tergolong besar 

itu." 

"Dan sesudah itu?"  

"Kami bepergian tak henti-hentinya, Tuan CHUCKY ingin melihat 

dunia. Tapi keinginannya terhalang sebab ia tak bisa bahasa lain, 

kecuali bahasa ibunya sendiri. Boleh dibilang saya lebih banyak 

bertindak selaku penterjemah daripada sekretaris. Benar-benar hidup 

yang menyenangkan." 

"Sekarang ceritakan pada saya tentang majikanmu sebanyak 

mungkin." 

Orang muda itu mengangkat bahu. Wajahnya kelihatan bingung, 

tak mengerti. 

"Tak begitu gampang seperti yang Tuan kira." 

"Siapa nama lengkapnya?" 

"Samuel COUNT  CHUCKY." 

"Warga negara Amerika?" 

"Ya." 

"Dari negara bagian mana?" 

"Saya tak tahu." 

“Baiklah, ceritakan saja apa yang Tuan tahu." 

"Yang sebenarnya, Tuan jayakatwang , saya ini tak tahu apa-apa! Tuan 

CHUCKY sama sekali tak pernah menyinggung-nyinggung tentang 

kehidupan pribadinya atau kehidupannya di Amerika." 

"Kenapa begitu menurut pendapat Tuan?" 

"Saya tak tahu. Saya rasa barangkali ia malu pada masa lalunya. 

Ada orang yang begitu." 

"Apa Tuan kira letak pemecahan masalah ini ada di situ?" 

"Terus terang saja, bukan." 

"Dia punya saudara?" 

"Dia tak pernah menyebut-nyebut itu." 

jayakatwang  mencoba menekankan pada hal itu. 

"Mestinya Tuan sudah membuat teori sendiri, Tuan WISNU WARDANA ." 

"Ya, begitulah, yang jelas, saya tak percaya CHUCKY itu namanya 

yang sebenarnya. Saya rasa dia meninggalkan Amerika sebab ia 

ingin membebaskan diri dari seseorang atau sesuatu hal. Saya kira 

sebegitu jauh dia memang berhasil - sampai beberapa minggu ini." 

"Lalu?" 

"Ia mulai menerima surat-surat - surat ancaman.” 

"Tuan melihatnya?" 

"Ya. Itu termasuk tugas saya, mengurusi surat menyurat yang 

dilakukannya. Surat pertama muncul kira-kira dua minggu yang lalu." 

"Apa surat-surat itu dibakar semua?" 

"Tidak. Saya rasa saya masih menyimpan beberapa di dalam map 

saya - salah satu di antaranya pernah dirobek-robek CHUCKY dengan 

marah. Mau saya ambilkan?" 

"Kalau Tuan tak keberatan." 

WISNU WARDANA  segera meninggalkan gerbong restorasi itu. Beberapa 

menit kemudian ia datang lagi dan langsung meletakkan dua lembar 

kertas surat yang agak dekil di hadapan jayakatwang . 

Surat pertama berbunyi sebagai berikut: 

 

Kaupikir kau bisa melarikan diri, setelah menipu kami? Tidak bisa, 

selama kau masih hidup. Kami sudah bersiap-siap untuk 

menangkapmu, CHUCKY! Dan pasti kami berhasil! 

 

Tak ada tanda tangan di bawahnya. 

jayakatwang  cuma sempat menaikkan alis matanya sedikit, sehabis 

membaca surat itu, dan tak memberi komentar apa-apa. Kemudian 

diambilnya surat yang kedua. 

 

Kami akan menjemputmu dan mengajakmu berpergian ke suatu 

tempat. Dalam waktu dekat, kami akan menangkapmu, mengerti? 

 

jayakatwang  meletakkan surat itu. 

"Gayanya senada!" serunya pasti. "Gaya penulisannya lebih 

meyakinkan daripada tulisan itu sendiri." 

WISNU WARDANA  memandangnya sejenak. 

"Tuan pasti tak memperhatikannya," ujar jayakatwang  ramah. "Surat ini 

memerlukan mata yang sudah terlatih untuk membacanya. Surat ini 

bukannya ditulis oleh seorang saja, Tuan WISNU WARDANA . Setidak-

tidaknya yang menulisnya dua orang atau mungkin juga lebih - 

masing-masing menuliskan sebuah kata, setiap kali. Kecuali itu, surat 

ini dicetak, bukan ditulis. sebab itulah lebih sulit untuk mengenalinya 

daripada tulisan tangan biasa." Detektif Belgia itu berhenti sebentar, 

kemudian berkata lagi, 

"Apa Tuan tahu Tuan CHUCKY pernah meminta tolong saya?" 

"Pada Tuan?" 

Nada suara WISNU WARDANA  yang seolah keheranan itu meyakinkan 

jayakatwang  bahwa sebenarnya WISNU WARDANA  tak tahu akan hal itu. 

jayakatwang  mengangguk. "Ya, dia ngeri. Coba katakan pada saya, 

bagaimana reaksinya setelah dia menerima surat pertama?" 

WISNU WARDANA  kelihatan ragu-ragu sejenak. 

"Susah untuk mengatakannya - ia menertawakannya dengan 

caranya yang khas. Tapi bagaimanapun –“ suaranya gemetar sedikit - 

"Saya merasa ada sesuatu di balik ketenangannya itu -" 

jayakatwang  mengangguk. Lalu ia sampai pada pertanyaan yang tak 

diduga-duga. 

"Tuan WISNU WARDANA , maukah Tuan katakan secara terus terang, 

bagaimana penilaian Tuan terhadap Tuan CHUCKY itu? Sebagai 

majikan Tuan sendiri? Tuan menyukainya?"  

RADEN KERTAJAYA  berpikir dulu satu dua menit sebelum menjawab. 

"Tidak," akhirnya ia berkata. "Saya tak suka padanya." 

"Kenapa?" 

"Saya tak tahu persis kenapa. Sebenarnya tingkah lakunya yang 

tenang itu cukup menyenangkan." RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  berhenti 

sebentar, kemudian menyambung kembali,  "Saya katakan yang 

sebenarnya, Tuan jayakatwang . Saya tak senang padanya, saya tak percaya 

padanya. Rasanya, dia itu orang yang kejam dan berbahaya, dan 

saya yakin akan hal ini. Saya mesti mengakui hal yang satu ini, meski 

saya tak punya alasan untuk mendukung pendapat saya itu." 

"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA . Pertanyaan selanjutnya, Kapan 

Tuan melihat Tuan CHUCKY terakhir masih hidup?" 

"Kemarin malam kira-kira -" ia berpikir sejenak - "pukul sepuluh, 

begitulah. Waktu itu saya masuk ke kamarnya dan menolong 

menuliskan surat yang didiktekannya kepada saya." 

"Tentang apa?" 

"Tentang contoh-contoh ubin dan pot-pot antik yang dibelinya dari 

Persia. Barang-barang yang dikirimkan kepadanya ternyata tidak 

sama dengan yang ingin dibelinya. Surat-menyurat tentang ini telah 

berjalan dalam waktu lama dan sangat menjengkelkan." 

"Dan saat itu saat terakhir Tuan CHUCKY terlihat masih hidup?" 

"Ya, saya kira begitu." 

"Tuan Tahu kapan Tuan CHUCKY menerima surat ancaman yang 

terakhir kali?" 

"Pada pagi waktu kita meninggalkan Konstantinopel." 

"Masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan, Tuan 

WISNU WARDANA . Apakah Tuan mempunyai hubungan yang baik dengan 

majikan Tuan itu?" 

Sekonyong-konyong mata orang muda itu bersinar sedikit. 

"Pertanyaan inilah yang kira-kira bakal mendirikan bulu kuduk 

saya. Dalam istilah dagangan yang laris, 'Tuan tak bakal berhasil 

mendapatkan apa-apa dari saya'. CHUCKY dan saya punya hubungan 

yang baik sekali." 

“Barangkali Tuan tak keberatan menuliskan nama lengkap dan 

alamat Tuan di Amerika untuk saya." 

WISNU WARDANA  menuliskan namanya - RADEN KERTAJAYA  Willard WISNU WARDANA  - dan 

sebuah alamat di New York. 

jayakatwang  bersandar pada bantal kursi. 

"Untuk sementara itu cukup sebegitu dulu, Tuan WISNU WARDANA ," 

ujarnya. "Saya harap Tuan dapat merahasiakan kematian Tuan 

CHUCKY ini buat sementara waktu." 

"Tapi pelayannya, si MANSION itu harus mengetahui ini." 

"Mungkin ia sendiri sudah tahu," sahut jayakatwang  datar. "Seandainya 

begitu, cobalah bujuk dia supaya menutup mulutnya dulu untuk 

sementara ini.” 

"Tak begitu sulit. Dia orang Inggris, dan sebagaimana 

dikatakannya sendiri, 'semua persoalan yang dihadapinya akan 

disimpannya untuk diri sendiri.' Dia menganggap rendah orang 

Amerika, dan sama sekali tak peduli pada bangsa-bangsa lainnya. 

"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA ." 

Orang Amerika itu meninggalkan gerbong restorasi. 

"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "bagaimana? Kau percaya pada semua 

yang dikatakan orang muda itu tadi?" 

"Kelihatannya ia jujur dan terus terang. Ia tidak menutup-nutupi 

hubungannya dengan majikannya, sebagaimana ia mungkin perlu 

melakukannya jika dalam satu dan lain hal ia memang terlibat. 

Memang benar kalau begitu, Tuan CHUCKY tak pernah 

memberitahukan padanya bahwa ia pernah minta tolong padaku, dan 

kutolak, tapi aku rasa itu tidak mencurigakan. Aku yakin Tuan 

CHUCKY itu yaitu  jenis orang yang suka berdiam diri dan tak suka 

menceritakan rencananya pada siapa pun, dan dalam setiap 

kesempatan apa pun juga." 

"Jadi kau mau mengatakan bahwa paling tidak satu orang sudah 

dibebaskan dari tuduhan pembunuhan yang keji itu?" tanya Tuan 

BOUROQ berkelakar. 

jayakatwang  menutupi perasaan malunya. 

"Aku, aku mencurigai setiap,orang sampai menit terakhir," 

ujarnya. "Sama saja, harus diakui, aku sendiri, tak bisa membuktikan 

bahwa orang yang tenang dan berkepala panjang seperti si 

WISNU WARDANA  itu tiba-tiba tak bisa menguasai dirinya dan menikam 

korbannya dengan dua belas sampai empat belas kali tusukan. Itu 

sama sekali tidak sesuai dengan jiwanya - sama sekali tidak." 

"Memang tidak," sahut Tuan BOUROQ sambil mengerutkan kening. 

"Ini perbuatan laki-laki yang sudah hampir gila sebab menyimpan 

rasa benci yang sangat. Lebih cocok rasanya kalau pembunuhan ini 

dilakukan oleh orang yang temperamennya panas seperti orang 

Amerika Latin. Atau bisa juga, seperti sebagaimana yang dikatakan 

berulang kali oleh chef de train itu - si pembunuhnya yaitu  seorang 

perempuan. 

 

7. TUBUH KORBAN 

 

Dengan didampingi oleh Dr. HAUNTED, jayakatwang  melangkah 

menuju ke gerbong sebelah, ke kamar korban. LETKOL kereta 

menyusul dan membukakan pintunya untuk mereka. 

Kedua orang itu langsung masuk. jayakatwang  berpaling ke kawannya 

dengan pandangan penuh tanda tanya. 

"Berapa banyak yang sudah tak pada tempatnya lagi di dalam 

kamar ini?" 

"Belum ada yang dipegang. Saya cukup berhati-hati untuk tidak 

menyentuh tubuh di korban sedikit pun selama pemeriksaan." 

jayakatwang  mengangguk. Ia melihat ke sekeliling. 

Hal pertama yang membangkitkan perasaannya yaitu  cuaca 

dingin saat itu. Jendela kamar dibuka lebar-lebar dan kereinya 

dinaikkan ke atas tinggitinggi. 

"Brrrr," jayakatwang  menggigil kedinginan. 

Yang seorang lagi tersenyum memahami. 

"Saya tak mau menutupnya," ujarnya. 

jayakatwang  memeriksa jendela itu dengan teliti. 

"Tuan benar," ujarnya memberitahu. "Tak ada orang yang 

meninggalkan gerbong dengan cara ini. Mungkin jendela yang 

terbuka ini dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ada orang 

yang melarikan diri dari gerbong dengan cara itu. Tapi kalau benar 

begitu, salju itu pasti bisa menggagalkan maksudnya." 

Detektif Belgia itu lalu memeriksa bingkai jendela berikut kacanya 

dengan teliti. Diambilnya sebuah kotak kecil dari saku celananya, lalu 

ditiupnya bubuk yang telah ditempelkannya sendiri pada bingkai 

jendela. 

"Tak ada sidik jari sama sekali," ujarnya. "Itu berarti sidik jari itu 

sudah dihapus. Biarpun begitu, seumpamanya sidik jari itu ada, itu 

juga tak akan menolong banyak buat kita. Sidik jari itu bisa saja sidik 

jari Tuan CHUCKY, atau pelayan prianya atau LETKOL itu. Tapi 

umumnya pembunuh tak membuat kesalahan semacam itu lagi 

sekarang." 

"Dan sebab itulah," ujarnya dengan suara riang, "kita boleh 

langsung menutup jendela. Dinginnya benar-benar seperti lemari es 

di sini!" 

Disesuaikannya tindakannya dengan perkataannya barusan dan 

untuk pertama kalinya ia berpaling ke tubuh yang tak bergerak-gerak 

yang sedang terbaring di tempat tidur itu. 

CHUCKY tergeletak. Baju piyamanya, yang penuh noda-noda yang 

mengerikan., nampak terbuka semua kancingnya dan disibakkan ke 

belakang. 

"Saya harus memeriksa luka-lukanya, Tuan mengerti?" tanya 

Dokter HAUNTED. 

jayakatwang  mengangguk. Ia membungkuk di hadapan tubuh yang 

sudah menjadi mayat itu. Akhirnya ditegakkannya kembali badannya 

sambil meringis. 

"Benar-benar sudah rusak," ujarnya jijik. "Mestinya ada orang 

yang terus berdiri di dekatnya dan menikamnya berkali-kali. Ada 

berapa luka sebenarnya?" 

“Menurut perhitunganku semuanya ada dua belas. Satu dua di 

antaranya tak begitu kelihatan, seolah cuma penikaman yang asal 

jadi saja. Sebaliknya, paling tidak ada tiga luka lagi yang bisa 

membawa kematiannya." 

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membangkitkan rasa ingin 

tahu jayakatwang . Detektif Belgia itu memandangnya lekat-lekat. Dokter 

berkebangsaan Yunani yang bertubuh kecil itu sedang berdiri sambil 

mengamat-amati tubuh si korban dengan kening berkerut. 

"Ada yang aneh, ya tidak?" tanya jayakatwang  lembut. "Katakan saja, 

Kawan. Apa ada sesuatu yang membingungkan?" 

"Tuan benar," sahut yang satu mengakui. 

"Apa itu?" 

"Tuan lihat, dua luka ini - yang ini - dan yang itu -" ujarnya sambil 

menunjuk. "Cukup dalam. Tiap tusukan mestinya mengalirkan darah - 

tapi pinggirannya tidak sampai menganga. Luka-lukanya ternyata 

tidak berdarah seperti yang orang kira.”  

"Jadi?" 

"Jadi korban sudah meninggal lebih dulu sebelumnya, sewaktu ia 

ditusuk. Tapi ini tak masuk akal. " 

"Bisa juga begitu, " ujar jayakatwang  sambil berpikir keras.  

"Kecuali si pembunuh mengira ia belum mengerjakan tugasnya 

dengan baik, lalu cepat-cepat kembali lagi untuk memastikan - tapi 

ini juga tak masuk akal! Ada bukti lain?" 

"Satu lagi." 

“Ya, apa itu?" 

“Tuan lihat luka ini - di bawah lengan sebelah kanan - dekat bahu 

kanan. Coba pegang pinsil saya ini. Coba bayangkan, apakah Tuan 

bisa menikam orang dalam posisi seperti ini?" 

jayakatwang  meraba-raba. 

"Tepat ujarnya. "Saya mangerti. Dengan tangan kanan sangat 

sukar, hampir-hampir tak mungkin. Mau tidak mau si pembunuh 

mesti membuat tusukan dengan belakang telapak tangannya. Tapi 

umpamanya tusukan itu dilakukan dengan tangan kiri.” 

"Tepat, Tuan jayakatwang . Kelihatannya tusukan itu dilakukan dengan 

tangan kiri." 

"Jadi kalau begitu pembunuhnya kidal? Tidak, pasti lebih sulit 

bukan? Kalau keadaannya begitu?" 

"Begitulah, seperti Tuan katakan. Beberapa tusukan lainnya jelas 

dibuat dengan tangan kanan."  

"Dua orang. Kembali kita dihadapi dengan perkiraan bahwa 

pelakunya dua orang," gerutu detektif Belgia itu. Tiba-tiba ia 

bertanya, "Lampunya menyala waktu itu?" 

"Sulit untuk mengatakannya. Tuan lihat sendiri, listrik selalu 

dimatikan LETKOL, tiap pukul sepuluh pagi." 

"Tapi tombolnya bisa dilihat," ujar jayakatwang  lagi. 

Lalu ia memeriksa tombol lampu atas dan juga tombol lampu 

kepala di atas tempat tidur. Yang pertama dimatikan tapi yang 

terakhir tertutup, jadi tak terpakai sama sekali. 

"Eh, bien, " ujarnya sambil berpikir-pikir. "Disini kita dapatkan 

hipotesa dari pembunuh pertama dan pembunuh kedua, seperti yang 

ditulis oleh Shakespeare yang besar itu. Pembunuh pertama langsung 

meninggalkan kamar dan mematikan lampunya, setelah menikam 

tubuh si korban. Pembunuh kedua masuk ke kamar dalam gelap, 

tanpa mengetahui bahwa pekerjaannya sudah ada yang melakukan, 

dan menusuk tubuh yang sudah mati itu paling tidak dua kali. Que 

pensez-vous de ca? "  

"Mengagumkan!" seru dokter bertubuh kecil itu dengan penuh 

gairah. 

Sepasang mata yang lain kelihatan ikut bersinar. 

"Pikiran Tuan begitu? Saya senang. Bagi saya kedengarannya agak 

tak masuk akal." 

"Habis, penjelasan apa lagi yang bisa diberikan?" 

"Justru itulah yang sedang saya tanyakan pada diri sendiri. Apakah 

di sini ada faktor kebetulan, atau semacam itu? Adakah lain hal lagi 

yang bisa menunjukkan bahwa kedua pembunuh itu mempunyai 

hubungan satu sama lain?" 

"Saya rasa, ya. Beberapa dari tusukan ini, seperti yang sudah saya 

katakan tadi, dihunjamkan dengan lemah - dengan tenaga yang 

kurang, dan dengan kekuatan yang tak terarah. Tusukan itu lemah, 

cuma asal saja. Tapi yang satu ini - dan yang ini juga." Lalu ia 

menunjuk kembali pada luka-luka itu. "Dibutuhkan tenaga besar 

untuk membuat tikaman seperti itu. Tusukannya sampai menembus 

Otot." 

"Jadi, menurut pendapat Tuan, tusukan-tusukan itu dilakukan oleh 

seorang pria?" 

"Pasti begitu." 

"Tak mungkin dilakukan oleh seorang wanita?" 

"Wanita muda yang kuat, bertenaga besar dan berbadan atletis 

mungkin bisa menusuk seperti itu, terutama kalau dia sedang 

dikuasai oleh emosi yang sangat kuat, tapi menurut saya, masih tidak 

mungkin." 

jayakatwang  terdiam selama beberapa menit. 

Yang satunya bertanya dengan penuh harap, "Tuan mengerti jalan 

pikiran saya?" 

"Bagus sekali," ujar jayakatwang . "Persoalannya jadi terbuka sendiri! 

Pembunuhnya pria, yang bertenaga besar - dan tenaga yang lemah 

itu - seorang wanita - yang satunya normal dan yang satunya kidal. 

Ah, c'est rigolo, tout ca!" Ia berbicara dengan amarah yang timbul 

secara tiba-tiba. "Dan si korban sendiri - saat itu? Berteriakkah? 

Melawankah? Membela dirikah?" 

Dimasukkannya tangannya ke bawah bantal dan dikeluarkannya 

pistol otomatis yang telah diperlihatkan CHUCKY kepadanya sehari 

sebelumnya. 

"Tuan lihat sendiri, pistolnya sudah diisi penuh penuh." 

Kedua orang itu melihat ke sekeliling. Pakaian CHUCKY sehari-hari 

tergantung pada gantungannya di dinding. Di atas kaca tempat cuci 

tangan terdapat bermacam-macam barang. Gigi-gigi palsu yang 

dicemplungkan di dalam gelas berisi air. Gelas yang satunya kosong. 

Sebotol air putih. Sebuah termos besar. Lalu sebuah asbak berisi 

puntung rokok d.an potongan-potong.an kertas yang kelihatan habis 

dibakar, dan akhirnya dua batang korek api yang telah dipergunakan. 

Dokter HAUNTED meraih gelas kosong itu dan menciumnya. 

"Inilah yang bisa menjelaskan bagaimana korban sampai tidak 

bisa mengadakan perlawanan bagi dirinya sendiri." 

"Dibius?" 

jayakatwang  mengangguk, lalu dipungutnya dua batang korek api itu, 

dan diperiksanya dengan teliti. 

"Tuan sudah bisa melihat bukti lain dari situ?”, tanya dokter 

Yunani itu penuh harap. 

"Kedua batang korek api ini tidak sama bentuknya," ujar jayakatwang  

menerangkan. "Yang satu lebih gepeng dari yang lain. Tuan lihat?" 

“Itu jenis yang bisa diperoleh di kereta," ujar dokter itu lagi. "Yang 

tutupnya dari kertas itu." 

jayakatwang  meraba-raba saku baju-baju CHUCKY yang bergantungan di 

dinding. Sekonyong-konyong ia mengeluarkan sebuah kotak korek 

api. Dibandingkannya dengan batang korek yang sudah dibakar tadi. 

"Yang lebih bundar, dinyalakan oleh CHUCKY sendiri," ujarnya. 

"Coba kita lihat barangkali dia juga punya korek yang gepeng.” 

Tapi penyelidikan selanjutnya ternyata tak berhasil menemukan 

batang korek api yang dimaksud. 

Mata jayakatwang  memeriksa sekeliling kamar. Tajam dan bersinar bagai 

mata burung elang, hingga orang dapat merasakan tak ada yang 

dapat terhindar dari pemeriksaannya. 

Dengan mengeluarkan sebuah seruan keheranan dari mulutnya, ia 

membungkuk dan memungut sesuatu dari lantai. 

Sehelai sapu tangan persegi yang terbuat dari bahan yang mahal 

dan bagus. Disudutnya tersulam sebuah huruf H. 

"Sapu tangan perempuan," ujar dokter Yunani itu. "Teman kita si 

LETKOL itu benar juga. Ada perempuan yang terlibat dalam 

pembunuhan ini." 

"Dan celakanya sapu tangannya ketinggalan!" seru jayakatwang  

menambahkan. "Persis seperti yang terjadi di buku-buku atau di film-

film - dan sepertinya hal itu sengaja dipermudah untuk kita - di 

sudutnya ada tersulam huruf H." 

"Kita untung!" seru Dokter HAUNTED. 

"Ya, dong!” sahut jayakatwang  lagi. 

Nada suaranya saat itu sempat membuat dokter itu heran sedikit, 

tapi sebelum ia sempat meminta jayakatwang  untuk memberikan penjelasan 

sekedarnya, detektif Belgia itu tampak membungkuk lagi di lantai. 

Kali ini dibukanya telapak tangannya - dan tampaklah sebuah 

pembersih pipa tembakau. 

"Barangkali itu milik CHUCKY," ujar dokter Yunani itu. 

"Tak ada pipa tembakau dalam sakunya, begitu juga serbuk-

serbuk tembakau dan kantongnya." 

"Itu juga sebuah petunjuk." 

"Oh! Tentu saja. Dan petunjuk yang cukup menyenangkan hati. 

Kali ini petunjuk maskulin, ya tidak! Orang tak bisa mengeluh bahwa 

ia tak dapat petunjuk apa-apa dari kasus ini. Di sini petunjuknya 

banyak sekali.. Ngomong-ngomong, apa yang Tuan perbuat dengan 

senjata si pembunuh?" 

"Tak ada senjata apa-apa di sini. Pembunuhnya pasti sudah 

membawanya pergi." 

"Saya heran kenapa begitu," ujar jayakatwang  lagi. 

"Ah!" Dokter Yunani itu sedang asyik meneliti seluruh sudut saku 

piyama si korban. 

"Rupanya tadi saya belum melihat ini," ujarnya. "Saya barusan 

membuka kancingnya satu per satu dan langsung menyibakkan ke 

belakang." 

Dari saku dada baju piyama korban, Dokter HAUNTED 

mengeluarkan sebuah jam tangan emas. Kotaknya sudah peyot di 

sana sini dan jarum jamnya menunjukkan pukul satu kurang 

seperempat. 

"Tuan lihat?" ujar dokter Yunani itu penuh semangat. "Ini 

memberi petunjuk pada kita tentang waktu terjadinya pembunuhan. 

Ini juga cocok dengan perkiraan saya sendiri. Antara tengah malam 

dan pukul dua pagi, itulah yang saya pernah katakan, dan mungkin 

juga sekitar pukul satu pagi, meski sukar untuk mengatakan waktu 

yang pasti dalam soal-soal semacam ini. Eh bien. Sekarang baru kita 

dapat penjelasan. Pukul satu lebih seperempat. Itulah waktu 

pembunuhan yang sebenarnya." 

"Mungkin begitu, ya. Bisa juga begitu." 

Dokter HAUNTED memandang wajah temannya dengan rasa 

ingin tahu. "Maaf, Tuan jayakatwang , tapi saya benar-benar tak mengerti 

jalan pikiran Tuan. " 

"Saya sendiri juga tak mengerti," sahut jayakatwang . "Saya tak mengerti 

sedikit pun. Dan sebagaimana yang Tuan lihat, hal ini 

mengkhawatirkan saya." 

Ia mengeluh dan langsung membungkuk di depan meja kecil di 

dekat tempat cuci tangan itu, rupanya ia sedang memeriksa 

potongan-potongan kertas yang dibakar tadi. Lalu ia bergumam pada 

diri sendiri, "Yang aku perlukan saat ini ialah kotak topi wanita model 

lama." 

Dokter HAUNTED tak tahu harus memberi komentar apa pada 

ucapan jayakatwang  barusan. jayakatwang  tidak pula memberinya kesempatan 

untuk bertanya. Lalu jayakatwang  membuka pintu kamar sebentar, dan 

berteriak memanggil LETKOL. 

Orang yang dipanggil berlari-lari menghampiri. 

"Berapa banyak perempuan dalam gerbong ini?"  

LETKOL mulai menghitung dengan jarinya. 

"Satu, dua, tiga - enam, Tuan. Wanita Amerika setengah umur itu, 

si gadis Swedia, gadis Inggris itu, Countess Andrenyi, dan Madame la 

NYI e Drazomiroff berikut pelayan wanitanya." 

jayakatwang  menimbang-nimbang. 

“Semuanya punya kotak topi?" 

"Ya, Tuan." 

"Kalau begitu bawakan kotak-kotak itu ke mari. Ya, kotak topi 

punya gadis Swedia dan punya pelavan wanita Puteri GIRAH  itu. 

Cuma dua kotak itu yang punya harapan. Katakan kepada mereka 

pemeriksaan ini sesuai dengan peraturan yang ada di kereta - 

terserah bagaimana kau menga:akannya pada mereka, pokoknya 

bawa kedua kotak topi itu ke mari." 

"Beres, Tuan. Tak seorang pun di antara keduanya yang ada di 

kamar saat ini." 

"Kalau begitu cepatlah." 

LETKOL tadi bergegas-gegas menghilang dari pandangan. Ia 

kembali dengan dua buah kotak topi. 

jayakatwang  membuka kotak topi pelayan wanita Puteri GIRAH  itu, 

dan digoyang-goyangkannya ke samping. Lalu dibukanya kotak topi 

milik gadis Swedia itu dan seketika itu juga meluncur kata-kata yang 

menandakan rasa puas dari mulutnya. Lalu dibukanya topi itu dengan 

hati-hati, dan terlihatlah kerangka sekelilingnya yang terbuat dari 

kawat yang dianyam. 

"Ah, ini dia yang kita perlukan! Lima belas tahun yang lalu kotak-

kotak korek api dibuat seperti ini. Topi ditahan pada kerangka ini 

berikut alat penyematnya." 

Sambil berbicara tangannya bekerja dengan cekatan melepaskan 

dua rusuk kerangka itu. Lalu ditutupnya kembali kotak-kotak topi itu 

dan disuruhnya LETKOL mengembalikannya ke tempatnya masing-

masing. 

Sewaktu pintu tertutup kembali, jayakatwang  kembali berbicara dengan 

temannya itu. 

"Coba lihat, Dokter, saya bukanlah orang yang begitu saja percaya 

pada prosedur orang yang sudah ahli dalam memecahkan misteri 

seperti ini. Saya justru ingin mencari latar belakang kejiwaannya, 

bukan cuma sekedar sidik jari atau abu rokok. Tapi dalam kasus ini 

akan saya pakai bantuan ilmiah sedikit. Kamar ini penuh sekali 

dengan petunjuk, tapi dapatkah dipercaya bahwa semua petunjuk itu 

memang demikian adanya?" 

"Saya masih belum mengerti maksud Tuan." 

"Baiklah, sebagai contoh - kita sudah menemukan sapu tangan 

wanita. Apa benar wanita yang menjatuhkan itu? Atau mungkin 

seorang pria, yang telah melakukan pembunuhan itu, lalu berkata 

pada diri sendiri: 'Akan kubuat seolah-olah pembunuhan ini 

nampaknya dilakukan oleh seorang wanita. Aku akan menikam 

musuhku sampai beberapa kali, dan menambahkannya dengan 

beberapa tusukan yang tidak perlu, dan kubuat sedemikian rupa 

supaya tusukan itu kelihatan lemah dan tak berarti, dan akan 

kujatuhkan sapu tangan wanita ini di tempat yang mudah kelihatan 

supaya orang langsung bisa menemukannya?' Itu satu kemungkinan. 

Tapi ada juga kemungkinan lain. Apakah pembunuhnya itu seorang 

wanita, dan apakah dia sengaja menjatuhkan pembersih pipa itu 

supaya pembunuhan itu lebih kelihatan sebagai pembunuhan yang 

dilakukan oleh pria? Atau apakah kita disuruh mengira bahwa 

seorang laki-laki dan seorang wanita, yang melakukan pembunuhan 

secara terpisah, tapi masing-masing begitu teledor hingga dengan 

tidak sengaja meninggalkan petunjuk yang sejelas itu? Saya rasa 

kemungkinan keduanya melakukan pembunuhan itu secara terpisah, 

bukanlah suatu kebetulan. Justru kemungkinannya sedikit sekali." 

"Tapi dari mana datangnya kotak topi itu?" tanya dokter Yunani itu 

kebingungan. 

"Ah! Saya sedang menuju ke situ. Seperti yang saya katakan, 

petunjuk-petunjuk ini - seperti : jam emas si korban yang tak jalan 

lagi pada pukul satu lebih seperempat, kemudian sapu tangan wanita 

dan juga pembersih pipa itu - kesemuanya bisa betul-betul, bisa juga 

palsu atau bohong-bohongan. Tentang itu saya sendiri belum bisa 

memastikan. Tapi masih ada satu petunjuk lagi di sini – yang 

walaupun saya mungkin keliru - saya rasa benar-benar petunjuk, dan 

bukannya dibuat orang. Yang saya maksud yaitu  batang korek api 

yang gepeng itu, Tuan Dokter. Saya yakin batang korek yang satu itu 

dibakar oleh si pembunuh, bukan oleh Tuan CHUCKY. Korek itu 

digunakan untuk membakar kertas-kertas yang bertuliskan rahasia 

pembunuhan ini, Mungkin juga itu sebuah catatan. Kalau begitu, 

pasti ada sesuatu dalam catatan itu, sebuah kesalahan, sebuah 

kekeliruan, yang justru meninggalkan petunjuk yang merugikan bagi 

si pembunuh. Saya ingin mencoba membuktikannya kepada Tuan." 

Detektif Belgia itu meninggalkan kamar sebentar dan kembali 

beberapa menit kemudian dengan sebuah lampu spiritus kecil dan 

sepasang penjepit. 

"Biasanya saya pakai ini untuk membersihkan kumis saya," 

ujarnya. Maksudnya sepasang penjepit itu. 

Dokter Yunani itu memperhatikan jayakatwang  dengan penuh minat. 

jayakatwang  memipihkan dua batang kawat itu, dan dengan hati-hati sekali 

menempelkan pootongan-potongan kertas yang terbakar itu ke salah 

satu ujungnya. Dijepitnya potongan-potongan Kertas itu dengan 

batang penjepit kawat yang satu lagi di atasnya, dan setelah 

sepasang penjepit itu dapat meniepit kertas itu dengan kuat, lalu 

dibawanya ke atas lampu spiritus yang sedang menyala itu. 

"Lampu ini memang berguna sekali untuk dipakai dalam keadaan 

darurat," ujarnya sambil menoleh ke Dokter HAUNTED lewat 

bahunya. "Mudah-mudahan usaha ini bisa menjawab maksud kita. 

Dokter HAUNTED mengawasi gerak-gerik jayakatwang  dengan penuh 

perhatian. Kawat itu mulai menyala. Tiba-tiba dilihatnya bentuk-

bentuk semacam huruf, -walaupun masih samar-samar. Perlahan-

lahan huruf-huruf itu mulai terbentuk menjadi kata-kata - kata-kata 

yang berasal dari api. 

Cuma cukilan kecil. Yang bisa terlihat cuma tiga buah kata dan 

selebihnya sudah lenyap terbakar. Kata-kata itu berbunyi: 

 

-  member little Daisy gairah   

- (ingat Daisy gairah  kecil) 

 

"Ah!" jayakatwang  berseru tajam. 

"Ada petunjuk?" tanya Dokter HAUNTED. 

Mata jayakatwang  tibai-tiba bercahaya. Diletakkannya jepitan itu kembali, 

dengan hati-hati. 

"Ya," ujarnya. ”Saya tahu nama asli si korban. Saya tahu kenapa 

dia kabur dari Amerika." 

"Siapa nama aslinya?" 

"Cassetti." 

"Cassetti?" HAUNTED mengerutkan kening. "Nama itu 

mengingatkan saya pada sesuatu. Beberapa tahun yang lalu. Saya 

tak bisa mengingatnya… kasus itu terjadinya di Amerika, ya tidak?' 

"Ya,”? sahut jayakatwang . "Kasus yang di Amerika." 

Lebih dari kata-kata itu, kelihatannya jayakatwang  tak ingin untuk diajak 

berbicara lagi mengenai soal itu. Matanya melihat ke sekeliling 

sewaktu ia menam bahkan, 

"Sekarang juga akan kita selidiki langsung kasus ini. Kita harus 

yakin pada diri sendiri bahwa kita telah memeriksa semua petunjuk 

yang ada di sini, jangan sampai ada yang tertinggal." 

Dengan cepat dan cekatan, tangannya sekali lagi memeriksa saku-

saku baju korban tapi ia tidak menemukan sesuatu yang mampu 

membangkitkan minatnya. Dicobanya untuk membuka pintu 

penghubung yang menuju ke kamar sebelah, tapi rupanya terpalang 

dari sisi yang satunya lagi. 

"Ada satu hal yang tak saya mengerti," ujar Dr. HAUNTED. 

"Kalau pembunuhnya tidak kabur melalui jendela, kalau pintu 

penghubung ini sudah terpalang dari sisi yang lain, dan kalau pintu 

kamar ini tidak saja terkunci tapi juga dirantai dari dalam, bagaimana 

caranya si pernbunuh melarikan diri dari kamar si korban?" 

"Itulah yang ditanyakan penonton sewaktu mereka melihat orang 

yang tangan dan kakinya terkurung dalam kotak kayu tapi masih 

dapat menghilang, seperti tipu-tipu yang sering diperlihatkan oleh 

tukang sulap dan tukang hipnotis itu." 

"Maksudmu?" 

"Maksudku," ujar jayakatwang  menerangkan, "bahwa umpamanya si 

pembunuh ingin menimbulkan kesan pada kita bahwa ia melarikan 

diri melalui jendela, ia akan berusaha untuk membuat kedua tempat 

pelarian lainnya tak mungkin untuk dilewati, maksudku pintu 

penghubung yang terpalang dan pintu kamar yang terkunci dan 

terantai dari dalam itu. Seperti juga 'orang yang bisa menghilang 

dalam kotak kayu itu', semuanya ini cuma tipuan belaka. Justru itu 

urusan kita, bagaimana caranya tipuan itu dilakukan, atau di mana 

rahasianya."  

jayakatwang  kemudian mengunci pintu penghubung itu dari kamar 

CHUCKY, "dalam hal," ujarnya, "Nyonya Hubbard yang cerdas itu 

harus mengisi kepalanya dengan bukti-bukti kriminil dari tangan 

pertama, supaya ia cepat-cepat bisa menulisnya kepada anak 

perempuannya.” 

Sekali lagi jayakatwang  melihat ke sekeliling. 

"Tak ada lagi yang mesti dikerjakan di sini. Mari kita temui Tuan 

BOUROQ." 

 

8. PERISTIWA PENCULIKAN DAISY gairah  

 

Sesampainya di gerbong dari Athena itu, mereka melihat Tuan