ga badannya telentang.”
Lalu ada seseorang yang hadir di tempat itu berkata kepadaku, “Kami
tidak pernah melihat cobaan yang lebih besar terhadap syaikh ini selain dari
cobaan yang engkau berikan kepadanya. Kami tidak pernah melihatnya
tertawa, walau sekali pun.”
Dari Yunus bin Abdul-A’la, dia berkata, “Aku pernah mendengar Asy-
Syafi’i berkata, ‘Andaikata seseorang menjadi orang sufi pada pagi hari, maka
pada siang harinya tentu dia akan menjadi orang yang dungu’.” Dia juga
3 6 5Bab X: Talhis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
pernah berkata, “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama empat puluh
hari, lalu akainya kembali normal seperti sedia kala
Asy-Syafi’i melantunkan syair,
“"nriggalkan orang yang datang menunjwkk̂ n kekhusyuan
dan jika pergi dia tak ubahnya serigala yang mengerikan. ”
Dari Sufyan, dia berkata, “Aku pernah mendengar Ashim berkata,
‘Kami senantiasa meiihat orang-orang sufi sebagai kumpulan orang-
orang yangbodoh. Hanya saja mereka masih bisa berkilah di belakang hadits’.”
Yahya bin Yahya berkata, “Orang-orang Khawarij iebih kusukai
daripada orang-orang sufi
Dari Yahya bin Mu’adz, dia berkata, “Janganlah engkau bergaul dengan
tiga golongan orang: Ulama yang lalai, orang-orang fakir yang takabur dan
orang-orang sufi yang bodoh.”
Sebagaimana yang sudah kami sebutkan di bagian sanggahan kami
terhadap orang-orang sufi, tentang para fuqaha Mesir yang mengingkari
pernyataan Dzun-Nun, penduduk Bistham terhadap Abu Yazid yang
kemudian mengusirnya, sebagaimana mereka telah mengusir Abu Sulaiman
Ad-Darani, atau Ahmad bin Abul-Hawari dari Sahi At-Tustari yang melarikan
diri. Hal ini terjadi, karena orang-orang salaf menjauhi bid’ah sekecil apa
pun dan menghindarinya, dan karena hendak berpegang kepada As-Sunnah.
Kami diberitahu AbuJ-Fath As-Samarri, dia berkata, “Beberapa fuqaha
duduk di sebuah surau dalam rangka menghadiri jenazah salah seorang fuqaha
yang meninggal dunia. Syaikh Abul-Khaththab Al-Kaludzani, seorang ahli
fiqih, datang lalu berjongkok tepat di hadapanku, hingga dia berdiri lagi di
depan surau. Dia berkata, “Terlalu riskan bagiku andaikan teman-temanku
dan syaikhku meiihat aku masuk ke surau orang-orang sufi ini.”
Aku menimpali, “Dulu pun syaikh kami bersikap yang sama dengan
Anda. tetapi sekarang ini serigala dan domba bisa berkumpul menjadi satu.”
Beberapa Sisi Celaan yang Layak Diberikan kepada orang-orang Sufi
Ibnu Aqil berkata, “Aku mencela orang-orang sufi lewat beberapa sisi
yang syariat pun mencelanya, di antaranya:
Mereka membuat basis pengangguran yaitu surau. Mereka Iebih suka
di Sana dan tidak mau berjama’ah di masjid. Sementara surau itu sendiri bukan
3 6 6 Perangkap Setan
merupakan masjid, tempat tinggal atau toko. Mereka menjadikan surau
sebagai basis pengangguran dan tidak mau bekerja mencari pengliidupan.
Padahal mereka memanjakan badannya seperti halnya binatang, makan,
minum, bernyanyi dan bersenandung. Mereka mengenakan pakaian-pakaian
yang ditambal sekadar sebagai tampdan untuk mengecoh orang-orang
dan para wanita. Mereka tidak menolak pemberian makanan dan dana sekalip
dari kezhaliman dan orang-orang keji serta orang-orang yang biasa merampas
hak orang Iain. Mereka suka bersama dengan anak laki-laki yang ganteng,
berkumpul dengan para wanita lain mahram, sambil mengenakan pakaian
khusus. Mereka membuat istilah-istilah baru dan hal-hal yang dilarang syariat.
Mereka yakin bahwa menyanyi sambil diiringi seruling adalah taqarrub.
Kita juga mendengar bahwa berdoa tatkala sedang menggiring hewan
gembalaan pasti dikabulkan, dengan disertai keyakinan bahwa yang demikian
itu adalah taqarrub. Yang seperti ini termasuk kufur. Karena seseorang yang
meyakini sesuatu yang makruh dan haram itu taqarrub, maka dia termasuk
orang kafir. Sementara hanya ada dua pendapat di kalangan manusia, entah
makruh entah haram.
Orang-orang sufi memasrahkan diri kepada syaikh mereka atau kepada
orang-orang yang berhak menentukan jalan hidupnya, dan apa pun yang
berasal dari syaikh hams diterima apa adanya, Jika mereka menerima murid
laki-laki yang tampan rupanya, maka ada yang berkata, “Ini adalah rahmat.”
Jika mereka bersanding dengan wanita Iain mahram, maka ada yang berkata,
‘Wanita itu sama dengan putrinya.”
Padahal kami tidak mempunyai seorang syaikh, yang semua keadaannya
harus kami terima apa adanya. Sebab tidak ada syaikh yang tidak termasuk
orang mukallaf. Kalau pun ada syaikh yang semua keadaannya bisa diterima,
maka dia adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang pernah berkata, “Jika aku
menyimpang, maka luruskanlah aku.” Dia tidak berkata, “Maka terimalah
apa adanya.”
Para sahabat pun mempertanyakan kepada Rasulullah Sdalam suatu
perkara, ‘Apakah engkau melarang kami berpuasa terus-menerus?”
Begitu pula para malaikat yang mempertanyakan kepada Allah saat
hendak menciptakan manusia, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi tu orangjang akan membuat kerusakanpadanya dan menumpahkan darah?”
(Al-Baqarah: 30)
a w a m
u n
3 6 7Bah X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Musa juga mempertanyakan tindakan Allah, “Apakah Engkai;
memhinasakan kami karenaperbuatan orang-orangyang kurang akal di antara kami? "
(Al-A’raf: 155)
justru kalimat-kalimat seperti ini dijadikan orang-orang sufi sebaga
senjata untuk merendahkan hati orang-orang terdahulu, atau merekî
menjadikannya sebagai alat untuk melunakkan hati para pengikutnya, sepert
firman Allah,
“Maka Fir‘aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu), lain merekii
pacuh kepadanya." (Az'Zukhruf: 54)
Mereka juga melontarkan kalimat-kalimat seperti berikut, “Jika seorang
hamba sudah memiliki ma’rifat, maka apa yang dikerjakannya tidak lagi
berdampak terhadap dirinya.” Begitulah orang-orang zindiq. Sebab para
fuqaha telah sepakat bahwa seseorang yang sudah mencapai ma’rifat justru
hidupnya menjadi sempit dalam melaksanakan kewajiban, seperti
keadaan para nabi yang merasa hidupnya menjadi sempit karena perkara-
perkara yang kecil.
Demi Allah, berbicara tentang orang-orang sufi, maka mereka itu tak
ubahnya orang-orang zindiq. Mereka memadukan antara pakaian para kuli
yang mengenakan pakaian tambalan, dengan orang-orang ateis yang bebas
dalam makan, minum, bernyanyi dan tidak mengenal hukum syariat. Bahkaii
sebenarnya orang-orang zindiq pun tidak menolak syariat. tetapi setelah
muncul orang-orang sufi, mereka pun ikut-ikutan menolak syariat.
Istilah yang pertama-tama mereka ciptakan adalah: Hakikat dan syariat.
Ini istilah yang tidak tepat. Sebab syariat ditetapkan Allah Yang Mahahaij
untuk kemaslahatan manusia. Sedangkan hakikat (menurut versi mereka)
setelah syariat adalah bisikan di dalam jiwa yang disusupkan setan. Siapa pun
yang memaksudkan hakikat di luar syariat adalah orang yang tertipu dan
terpedaya.
m e r a s a
Jika mereka mendengar seseorang meriwayatkan hadits, maka mereki
berkata, “Orang-orang yang perlu dikasihani. Mereka mengambil ilmu yang
mati dan orang yang sudah mati. Sedangkan kami mengambil ilmu dari yang
Mahahidup dan tidak mengenal mati. Jika ada seseorang berkata, “Ayahku
memberitahukan kepadaku dan kakekku”, maka mereka berkata, “Hatiku
memberitahukan kepadaku dan Rabb-ku. ”
3 6 8 Perangkap Setan
Mereka pun rusak dan dengan khurafat-khurafat ini mereka juga
merusak had orang-orang awam. Untuk membela khurafat itu mereka rela
mengorbankan harta. Di antara mereka ada yang menjadi fuqaha dan sekaligus
pemuka zindiq. Mereka mengokohkan kesesatan dan kefasikan orang-orang
sufi itu dengan dukungan fatwa-fatwanya.
Allah tentu akan melindungi syariat dari kejahatan golongan orang-
orang yang lebih suka mengenakan pakaian yang bagus, hidup senang, menipu
dengan kata-kata yang manis, yang mengabaikan kewajiban dan menjauhi
syariat. Tidak ada bukti yang lebih akurat tentang kebatilan mereka selain
dari kesenangan mereka terhadap dunia dan kesenangan hidup. Tidak ada
yang lebih berbahaya bagi syariat selain dari keberadaan para teolog dan sufi.
Merekalah yang telah merusak akidah manusia dengan mengacaukan pikiran,
merusak amal dan kaidah-kaidah agama, yang lebih suka menganggur sambiJ
mendengarkan nyanyian. Padahal orang-orang salaf tidakJah begitu. Di
hadapan pintu akidah mereka tunduk dan pasrah, sedangkan di pintu lain
mereka adalah orang-orang yang giat.
Nasihat yang bisa kami berikan, janganlah pikiran kalian terasuki
perkataan para teolog, jangan dengarkan berbagai macam khurafat yang
diciptakan orang-orang sufi. Men}ibukkan diri mencari penghidupan jauh
lebih baik daripada menganggur bersama orang-orang sufi. Sejauh yang bisa
kami amati tentang cara yang digunakan para teolog dan sufi ini adalah
menciptakan keragu-raguan dan menampilkan hal-hal yang tampak di
permukaan semata.
Ibnu Aqil berkata, “Menurut pendapatku, para teolog masih lebih baik
daripada orang-orang sufi. Sebab para teolog berusaha menepis keraguan
dan syubhat. Hampir semua perkataan mereka terkandung pelecehan
terhadap nubuwah.
Perkataan mereka, “Mereka mengambil ilmu yang mati dan orang yang
sudah mad”, sama dengan melecehkan nubuwah. Perkataan sebagian di antara
mereka, “Hatiku memberitahukan kepadaku dan Kabh-ku”, sama dengan
menegaskan bahwa dia tidak membutuhkan rasul dan nabi, yang berarti dia
telah kufur.
Ini merupakan pernyataan yang hendak memperdayai syariat dan yang
di bawahnya terdapat paham zindiq. Siapa yang mengabaikan penukilan nash,
berarti dia telah mengabaikan masalah syariat. Perkataannya, “Hatiku
3 6 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
memberitahukan kepadaku dan Rabb-ku”, tidak menutup kemungkinan bahwa
itu merupakan bisikan setan. Sebab Allah telah befixman,
“SesunggiJin)ia setari'Setan itu membisikkan kepada kau/an'kawannya agar
mereka membantah kamu.” (Al'An’am: 121)
Itulah yang memang terjadi, karena orang-orang sufi meninggalkan
dalil dan lebih mementingkan apa yang terlintas di dalam hatinya, suatu
lintasan yang tidak aman dan bisikan setan. Memang orang yang keluar dan
syariat itu banyak sekali. Hanya saja AUah juga membela syariat dengan
keberadaan orang-orang yang senantiasa menjaga keasliannya dan memahami
makna-maknanya. Mereka adalah para ulama yang tidak mau membiarkan
para pendusta memiliki kepala yang selalu tegak.
Ibnu Aqil berkata, “Orang-orang berkata, bahwa jika Allah hendak
merobohkan rumah seorang pedagang, maka Dia memasukkan seorang sufi
ke dalam rumahnya. tetapi menunitku, yang tepat adalah merusak agamanya.
Sebab orang-orang sufi memperbolehkan wanita yang sudah mengenakan
sobekan kain perca sebagai ciri orang sufi, untuk berkumpul dengan laki-
laki lain mahramnya. Jika mereka menghadiri suatu acara untuk bernyanyi
dan berdendang, maka mereka pun bercampur menjadi satu, seakan-akan
merupakan undangan bagi masing-masing pasangan untuk menjadi pasangan
pengantin. Sehingga selagi keluar dari tempat itu, hati mereka pun saling
tertambat kepada yang lain. Jika yang wanita sudah bersuami, maka sikapnya
terhadap suami akan berubah. Jika suami meminta untuk dilayani, maka dia
disebut orang banci. Jika suami menahan istrinya dan melarangnya keluar,
maka istri bisa menuntut cerai, asalkan dia sudah mengenakan pakaian yang
menjadi ciri orang sufi. Begitulah yang terjadi di kalangan mereka. Sementara
hukum Al-Kitab dan As-Sunnah tidak lagi menyisa di dalam hati.”
Begitulah yang dikatakan Ibnu Aqil, seorang ulama yang selalu tajam
kritikannya.*
3 7 0 Perangkap Setan
Bab XI:
Talbis Iblis Terhadap Orang-orang
yang Mengaku Mendapat Karamah
^P^EBAGAIMANA yang sudah karrd singgung di atas, bahwa Iblis dapat
^̂ memperdayai manusia karena ilmunya yang minim. Selagi ilmu seseorang
sedikit, maka Iblis semakin leluasa memperdayainya, dan jika ilmunya banyak,
dia tidak dapat leluasa untuk memperdayainya.
Di antara manusia ada yang membual melihat cahaya atau kilatan sinar
di langit pada bulan Ramadhan. Dia berkata, “Aku dapat melihatnya pada
lailatul-qadar.” Pada kesempatan yang lain dia berkata, “Pintu-pintu langit
telah dibukakan di hadapanku.” Kebetulan sesuatu yang dia harapkan juga
terwujud, lalu menganggapnya sebagai karamah. Padahal boleh jadi itu
memang hanya sekadar kebetulan atau merupakan ujian baginya atau
merupakan tipuan Iblis. Orang yang berakal tentu tidak akan terusik
karena masalah seperti ini, sekalipun mungkin itu benar-benar merupakan
k a r a m a h .
Telah diriwayatkan dari Malik bin Dinar dan Habib Al-Ajami, keduanya
pernah berkata, “Sesungguhnya setan itu benar-benar memainkan ahli ibadah,
sebagaimana anak kecil yang memainkan bola.”
3 7 1
Keanehan Kisah^kisah Seputar Karamah Mereka
Sebagian orang-orang zuhud yang lemah ada yang seakan melihat
sesuatu yang menyerupai karamah, sehingga dia membual menyamai nabi.
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Hassan, dia berkata, “Al-Harits A1
Kadzdzab adalah penduduk Damascus. Dia menjadi pembantu Abul Julias,
dia mempunyai seorang ayah di Ghuthah yang telah diperdayai Iblis dan
menjadi ahli ibadah yang zuhud. Dia menampakkan diri sebagai ahli zuhud
karena jubahnya yang bertaburan emas. Jika dia mengucapkan kalimat tasbih,
maka para pendengar tidak akan mendengar kata-kata yang lebih merdu
daripada kata-katanya.
Suatu hari Al-Harits menulis surat kepada ayahnya, “Wahai ayah,
segeralah datang ke tempatku, karena aku telah melihat berbagai macam hal
yang kukhawatirkan berasal dan setan.”
Sang ayah menambahi bualan anaknya dengan membalas surat itu.
“Wahai anakku, terimalah apa yang diperintahkan kepadamu, karena Allah
telah befirman, !Apakah akan A.ku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan
itu tunin'^ Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagiyang hanyak dosa’. (Asy-
Syu’ara’: 221-222). Sementara engkau bukan pendusta dan orang yang
berdosa. Maka laksanakan terus apa yang diperintahkan kepadamu.”
Lalu Al-Harits menemui orang-orang yang ada di masjid satu persatii
dan menceritakan apa yang dialaminya. Dia juga meminta sumpah kepada
mereka, bahwa jika dia melihat sesuatu yang diridhai akan menerimanya, dan
jika tidak, maka dia akan menyembunyikannya.
Dia memperlihatkan hal-hal yang aneh kepada mereka. Suatu hari dia
mendekati sebuah marmer di masjid kemudian dia mengetuk-ngetuk marmei
itu dengan jarinya, lalu marmer itu pun bertasbih. Dia biasa memberikan
buah-buahan musim penghujan selagi pada musim kemarau, atau sebaliknya.
Dia berkata, “Keiuarlah kalian agar aku dapat memperlihatkan para malaikat
kepada kalian.” Lalu dia membawa mereka ke biara Al-Murran. Di sana dia
memperlihatkan beberapa orang yang menunggang kuda.
Lama kelamaan para pengikutnya menjadi banyak, hingga keadaan
dirinya didengar Al-Qasim bin Mukhaimirah, yang berkata kepadanya, “Aku
adalah seorang nabi.”
Al-Qasim menjawab, “Engkau pendusta wahai musuh Allah.”
3 7 2 Perangkap Setan
Abu Idris juga pernah berkata kepadanya, “Alangkah buruk apa yang
engkau kerjakan.” Setelah itu Abu Idris bangkit dan langsung menemui Abdul-
Malik untuk mengabarkan masalah Al-Harits ini. Abdul-Malik mengirim
beberapa kurir untuk mencari Al-Harits, tetapi dia tidak ditemukan. Ketika
Abdul-Malik pergi dan singgah di Al-Unaibirah, dia menyebar sebagian besar
pasukannya untuk melacak Al-Harits ini.
Sementara itu Al-Harits pergi ke Baitul-Maqdis dan bersembunyi di
Sana. Sedangkan para pengikutnya keluar untuk mencari pengikut baru.
Ada seseorang dari penduduk Bashrah yang juga datang ke Baitul
Maqdis. Dia dibawa ke tempat persembunyian Al-Harits, diberitahu
kedudukan Al-Harits yang dianggap sebagai nabi yang diutus. Penduduk
Bashrah itu berkata, “Perkataan-perkataanmu memang bagus, tetapi aku perlu
memik i rkan tawaran in i . ”
“Engkau boleh memikirkannya terlebih dahulu,” kata Al-Harits.
Setelah penduduk Bashrah itu pulang ke tempatnya dan memikirkan
tawaran agar menjadi pengikut Al-Harits, dia pun menemuinya lagi dan
berkata, “Memang perkataan-perkataanmu bagus dan juga mengesan di dalam
hatiku. Aku percaya kepadamu dan ini adalah agama yang lurus.”
Al-Harits memerintahkan agar penduduk Bashrah ini tidak dihalang-
halangi jika ingin masuk ke tempat persembunyian Al-Harits. Sudah beberapa
kaU penduduk Bashrah ini keluar masuk di tempat persembunyian Al-Harits,
sehingga dia hapal setiap jalan di tempat persembunyian itu, dari mana harus
masuk dan keluar dari jalan mana yang dilalui untuk melarikan diri saat darurat.
Dengan begitu dia termasuk salah seorang yang tahu betul tempat tersebut.
Suatu hari dia berkata kepada Al-Harits, ‘Berilah aku izin!”
“Hendak kemana engkau?” tanya Al-Harits.
“Ke Bashrah,” jawab orang itu. Lalu dia melanjutkan, “Aku akan
menjadi penyeru pertama untuk urusanmu ini.”
Setelah diizinkan, penduduk Bashrah itu segera rnenemui Abdul Malik
yang saat im sedang berada di Al-Unaibirah. Ketika sudah dekat dengan para
pengawal Amirul-Mukminin Abdul-Malik, dia berteriak dengan suara lantang,
“Aku punya nasihat, aku punya nasihat.”
“Apa nasihatmu?” tanya para pasukan pengawal.
“Ini khusus untuk Amirul-Multminin,” jawab penduduk Bashrah itu.
3 7 3Bab XI: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang ...
Abdul-Malik mengizinkannya masuk ke tempatnya yang saat itu juga
ada beberapa orang dari rekan-rekan Amkul-Mukminin.
“Aku punya nasihat,” katanya.
‘Apa nasihatmu?” tanya Amirul-Mukminin Abdul-Malik.
“Aku ingin bicara empat mata saja. Maka suruhlah mereka keluar dan
tempat ini,” kata penduduk Bashrah itu.
“Izinkanlah aku unruk lebih dekat lagi,” katanya.
Setelah diizinkan mendekat, Abdul-Malik bertanya, “Kabar apa yang
engkau bawa?”
“Al-Harits. jawabnya.
Ketika mendengar nama Al-Harits, spontan Abdul-Malik meloncat dan
singgasananya. Dengan tak sabar dia bertanya, “Di mana dia?”
“Wahai Amirul-Mukminin, dia berada di Baitul-Maqdis. Aku sudah
tabu tempat keluar masuknya di tempat persembunyiannya,” kata penduduk
Bashrah itu, lalu dia mencenitakan penyamarannya secara detil dari apa saja
yang telah dia lakukan.
“Engkau adalah sahabat Al-Harits, namun saat ini engkau juga menjad:
penguasa di Baitul-Maqdis dan pemimpin kami di sini. Sekarang
perintahkanlah aku menurut kehendakmu!” kata Abdul-Malik.
‘Wahai Amirul-Mukminin, utuslah beberapa orang yang kurang panda
memahami perkataan orang lain bersamaku,” kata penduduk Bashrah.
Maka Abdul-Malik mengutus empat puluh orang bersamanya, sambi.
berpesan kepada mereka, “Pergilah bersama orang ini. Apa pun yang di?.
perintahkan, kalian harus taat.”
Abdul-Malik juga menulis surat kepada pejabat di Baitul-Maqdis bahwa
Fulan (penduduk Bashrah itu) menjadi atasannya hingga dia keluar dari Baitul
Maqdis. Maka dia harus menaatinya, apa pun yang dia perintahkan
Ketika tiba di Baitul-Maqdis, surat dari Amirul-Mukminin Abdul Malik
diserahkan kepada pejabat di sana, yang kemudian berkata, “Perintahkanlah
kepadaku seperri yang engkau kehendaki.”
Penduduk Bashrah itu berkata, “Kumpulkan semua lilin yang ada di
Baitul-Maqdis ini sebanyak-banyaknya, lalu lilin-lilin itu diberikan kepada
setiap penduduk. Jumlah mereka berbaris di setiap lorong dari jalan Baitul-
3 7 4 Perangkap Setan
Maqdis. Jika aku berkata, ‘Nyalakan!’ maka mereka harus menyalakan lilin di
tangannya.
Maka setiap penduduk diberi sebuah lilin dan mereka ditempatkan di
setiap sudut dari lorong Baitul-Maqdis. Penduduk Bashrah pergi ke tempat
persembunyian Al-Harits. Sesampainya di dekat pintu, dia berkata kepada
para penjaganya, “Izinkanlah aku untuk menemui nabi Allah!”
“Pada saat-saat seperti ini seorang pun tidak diperkenankan
menemuinya hingga pagi hari,” kata penjaga.
“Bertahukan saja kepadanya bahwa aku tidak jadi pergi karena rindu
kepadanya,” kata penduduk Bashrah.
Setelah pesannya disampaikan, Al-Harits memerintahkan penjaga
untuk membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka, penduduk Bashrah
itu berteriak dengan suara lantang, “Nyalakan lilin.” Maka dalam sekejap
malam iru seakan berubah menjadi siang hari karena terang oleh nyala lilin
dari segala penjuru.
“Siapa pun yang lewat, tangkap dia!” kata penduduk Bashrah.
Sementara dia masuk ke tempat yang sudah dia amati sebelumnya. Dia terus
mencari Al-Harits, namun tidak menemukannya.
“Mustahil kalian bisa menangkap dan membunuh nabi Allah. Dia telah
diangkat ke langit,” kata rekan-rekan Al-Harits.
Lalu dia mencari lewat sebuah celah yang sebelumnya memang sudah
dipersiapkan Al-Harits dan menghubungkan ke dalam lubang di bawah tanah.
Penduduk Bashrah itu menjulurkan tangannya hingga tangannya bisa
memegang pakaian Al-Harits. Kemudian dia menarik Al-Harits hingga
dapat keluar dari lubang.
“Ikat orang ini!” katanya kepada orang-orang Farghaniyin yang ikut
bersamanya. Ketika mereka menggelendeng Al-Harits melewati para
pengikutnya, mereka berkata, “Apakah kalian akan membunuh seseorang
yang berkata, ‘Kabb-ku adalah Allah?
Salah seorang dari orang-orang Farghaniyin menjawab, “Beginilah
karamah kami. Maka tunjukkanlah karamahmu.”
Mereka membawa Al-Harits ke hadapan Abdul-Malik. Setelah
mendengar semua pengakuannya, maka Amirul-Mukminin Abdul-Malik
meminta disediakan kayu untuk dipancangkan di tanah, lalu Al-Harits disaiib
3 7 5Bah XI: Talbis Mis Terhadap Orang-orang yang ...
di kayu itu. Seorang laki-laki disuruh menikam Al-Harits dengan sebuah
tombak. Ketika tombak dihunjamkan ke tulang iganya, tombak itu mental.
Orang-orang berkata, “Para nabi tidak boleh membawa senjata.”
Ada seseorang yang mengendap-endap mengambil tombak, lalu
menghunjamkan tombak di antara dua tulang iganya, sehingga dapat
membunuhnya.
Al-Walid berkata, “Aku mendengar Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah
memasuki tempat tinggal Abdul-Malik bin Marwan, seraya berkata,
“Andaikan saja aku hadir dan engkau memerintahkan aku untuk membunuh
A l - H a r i t s . ”
‘Memangnya mengapa?” tanya Abdul-Malik.
“Itu cara kematian yang terlalu cepat. Andaikan saja engkau
membuatnya kelaparan, tentu dia akan mati juga.”
Talbis yang Menyerupai Karamah
Berapa banyak orang yang terkecoh oleh sesuatu yang menyerupai
karamah. Telah diriwayatkan kepada kami dari Abu Imran, dia berkata,
“Farqad pernah berkata kepadaku, Wahai Abu Imran, saat ini perhatianku
sedang terfokus kepada masalah pajak yang harus kubayarkan, yaitu sebanyak
enam dirham. Bulan sabit sudah muncul dan saat ini aku belum mempunyai
uang sepeser pun. Maka aku pun berdoa kepada Allah. Ketika aku sedang
berjalan di pinggir sungai Eufrat, tiba-tiba aku menemukan enam dirham,
tidak kurang dan tidak lebih.”
Abu Imran adalah Ibrahim An-Nakha’i, seorang ulama ahli fiqih dari
penduduk Kufah. Perhatikanlah bagaimana perkataannya sebagai seorang
fuqaha yang tidak mudah terkecoh dan bagaimana dia menganggap uang
yang ditemukan Farqad itu sebagai luqathah (barang temuan) dan sama sekali
tidak memandangnya sebagai sesuatu yang menyerupai karamah. Abu Imran
tidak meminta Farqad untuk menguraikan lebih lanjut tentang uang yang dia
temukan itu, karena penduduk Kufah sendiri tidak biasa memperkenalkan
mata uang yang selain dinar. Abu Imran memerintahkannya untuk
menshadaqahkan uang temuan itu, agar Farqad tidak dianggap telah
dimuliakan dengan suatu karamah.
3 7 6 Perangkap Setan
Dari Ibrahim Al-Khurasani, dia berkata, “Suatu hari aku perlu
mengambil wudhu’. Tiba-tiba di dekatku sudah tersedia teko yang terbuat
dari permata dan siwak yang terbuat dan perak, yang ujungnya lebih lembut
daripada benang sutera. Maka aku bersiwak dengan siwak itu dan wudhu’
dengan air yang ada di dalam teko itu. Selesai wudhu’ kutinggalkan kedua
barang itu di tempat tersebut.”
Dalam kisah ini ada seseorang yang tidak tsiqat. Kalau pun kisahnya
benar, justru menunjukkan minimnya ilmu orang tersebut. Sebab andaikan
dia berilmu dan mengerti fiqih, tentu dia tahu bahwa menggunakan siwak
dari perak itu haram, tetapi karena ilmunya yang minim, maka dia tetap
menggunakannya. Jika dia menganggap bahwa hal itu merupakan karamah,
maka sesungguhnya Allah tidak memberikan karamah dengan sesuatu yang
dilarang menurut ketentuan syariat-Nya. Kalau pun tidak, maka Allah
menciptakan yang demikian itu sebagai ujian baginya.
Berlindung dari Sesuatu yang Tampaknya Seperti Karamah
Karena orang-orang yang berpikir menyadari keandalan talbis Iblis,
maka mereka memperingatkan berbagai hal yang tampaknya seperti karamah
dan mereka mengkhawatirkan bahwa hal itu sebenarnya merupakan talbh
I b l i s .
Diriwayatkan kepada kami dari Abuth-Thayyib, dia berkata, “Aku
mendengar Zahrun berkata, ‘Ketika aku sedang berada di sebuah gurun
karena tersesat di sana, kulihat ada seekor burung putih yang berkata
kepadaku, ‘Wahai Zahrun, apakah engkau sedang tersesat?”
“Hei setan, perdayailah orang selain diriku!”
“Apakah engkau sedang tersesat?” tanya burung itu sekali lagi.
Aku menjawab dengan jawaban yang sama. Pada ketiga kalinya dia
terbang Dan hinggap di pundakku, seraya berkata, “Aku bukan setan. Karena
engkau sedang tersesat, maka aku diutus untuk menemuimu.'
burung tersebut menghilang.
Dari Zulfa, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rabi’ah Al-Adawiyah,
“Wahai bibi, mengapa engkau tidak memperkenankan orang-orang masuk
ke tempatmu ini?”
S e t e l a h i t u
3 7 7Bflb XI: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang ...
Dia menjawab, “Apa yang bisa kuharapkan dari mereka? Jika mereka
datang ke sini, maka mereka akan mengisahkan hal-hal yang sama sekali tidak
pernah kulakukan. Sebab aku pernah mendengar mereka berkata bahwa aku
pernah menemukan setumpuk dirham di bawah tempat shalatku dan aku
dimasakkan orang tanpa menggunakan api. Andaikata aku melihat kejadian
yang seperti itu, niscaya aku sudah lari terbirit-birit karena takut.”
“Memang orang-orang banyak berkisah tentang bibi. Mereka berkata,
‘Sesungguhnya di dalam rumah Rabi’ah banyak terdapat makanan dan
minuman’. Apakah makanan dan minuman itu memang ada di rumah bibi?’
Dia menjawab, ‘"Wahai keponakanku, andaikan di dalam rumahku ada
sesuatu, buat apa aku mencarinya?”
Masih menurut penuturan Zulfa tentang Rabi’ah, bahwa suatu hari
tatkala udara sangat dingin, dia dalam keadaan puasa. Dia berkata, ‘Badanku
menggigil, sehingga aku memerlukan makan sahur yang hangat. Sementara
aku hanya mempunyai sepotong lemak. Aku berkata, Andaikan saja aku
mempunyai bawang merah atau bawang bakung untuk mengusir dingin’. Tiba-
tiba muncul seekor burung yang menjatuhkan benda berwarna merah dan
paruhnya. Ketika aku melihamya, aku menahan keinginanku tadi, karena aku
takut burung itu adalah setan.”
Dari Muhammad bin Yazid, dia berkata, “Mereka melihat Wuhaib
sebagai sosok penghuni surga. Jika hal ini diberitahukan kepadanya, maka
dia menangis sesenggukan, seraya berkata, “Aku takut perkataan seperti ini
berasal dari setan.”
Iblis telah memperdayai beberapa orang muta’akhirin, yang telah
mengarang-ngarang kisah tentang berbagai macam karamah para wali, agar
mereka mendapat sanjungan dari orang-orang. Padahal sesuatu yang batil
itu tidak perlu sanjungan. Maka Allah menyingkap belang mereka lewat para
u l a m a .
Dari Sahl bin Abdullah, dia berkata, “Aku membuntuti seseorang yang
dikatakan sebagai wali ketika sedang melewati sebuah jalan di Makkah. Selama
tiga hari dia tidak mempunyai makanan apa pun. Lalu dia menuju sebuah
masjid di kaki bukit, yang di dekatnya ada sebuah sumur. Di atas sumur itu
ada kerekan, tali kerekan dan tempat untuk bersuci. Di dekat sumur juga ada
sebuah pohon delima. Orang itu berada di dalam masjid hingga waktu
3 7 8 Perangkap Setan
maghrib. Kedka waktu maghrib sudah tiba, dba-tiba muncul empat puluh
orang yang membawa kain tenun dan mengenakan sandal dari pelepah korma.
Mereka mengucapkan salam, salah seorang di antara mereka adzan, lalu
disusul iqamat. Maka wall itu shalat bersama mereka. Seusai shaiat dia
menghampiri pohon delima, yang ternyata di pohon itu sudah ada empat
puluh buahnya yang matang. Masing-masing dan empat orang tersebut
memetik satu buah delima dan memakannya, lalu mereka pun pergi.
Sementara aku tetap di situ dalam keadaan lapar. Sebenarnya tatkala mereka
mengambil buah delima itu, aku sudah berkata kepada mereka, ‘Wahai orang-
orang, sesungguhnya aku adalah saudara kalian dalam Islam. Aku ini sedang
kelaparan. tetapi kalian tidak mengajakku berbicara dan tidak pula
m e n a w a r i k u . ”
Pemimpin mereka menjawab, “Kami tidak bisa berbicara dengan orang
yang memiliki batas dengan kami karena sesuatu yang ada pada dirinya. Maka
pergilah, lalu lemparkanlah apa yang engkau miliki ke dalam jurang, lalu
kembali lagi ke sini, niscaya engkau akan mendapatkan apa yang kami
dapatkan.”
Maka aku segera naik ke atas bukit. Namun aku merasa sayang untuk
melemparkan harta yang masih menyisa di tanganku. Karena itu
memendamnya di dalam tanah, lalu aku kembali lagi. Pemimpin mereka
bertanya, “Apakah engkau sudah melemparkannya?”
“Ya,” jawabku.
“Apakah engkau melihat sesuatu?”
“Tidak,” jawabku.
“Jadi engkau benar-benar tidak melihat sesuatu? Kalau begitu
kembalilah ke puncak bukit dan lemparkahlah milikmu iru.”
Maka aku kembali lagi ke puncak bukit dan melemparkan milikku. Maka
pada saat itu pula mataku dibuat silau oleh sinar perwalian. Ketika aku kembak
lagi, ternyata di pohon delima ada satu buah delima yang sudah masak. Aku
memetiknya dan langsung memakannya, sehingga aku tidak lagi tersiksa oleh
lapar dan dahaga. Ketika kembali ke Makkah, aku bertemu dengan empat
puluh orang itu di antara Zam-zam dan Maqam. Mereka menemuiku dan
menanyakan keadaanku setelah mengucapkan salam kepadaku. Aku
menjawab, “Akhirnya aku benar-benar memerlukan perkataan kalian,
r a s a
3 7 9Bab XI: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang...
sebagaimana Allah membuat kalian membutuhkan perkataanku pada awal
mulanya. tetapi ternyata aku tidak mempunyai tempat apa-apa di sisi Allah.”
Dalam sanad kisah ini ada Amr bin Washil, yang didha’ifkan Ibnu Abi
Hatim. Sementara Al-Adami dari ayahnya tidak diketahui secara jelas
identitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini adalah maudhu’.
Perkataan empat puluh orang, “Lemparkan milikmu”, bertentangan
dengan ketentuan syariat yang melarang membuang-buang harta. Yang
disebut para wall itu tenru tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan syariat. Perkataan wali, “Mataku dibuat silau oleh sinar perwalian”,
merupakan kejadian yang sulit diterima, kisah yang dibuat-buat dan perkataan
yang kosong. Orang yang memiliki ilihu tidak akan terpedaya oleh ucapan
seperti ini. Yang bisa terkecoh olehnya adalah orang-orang bodoh yang tidak
mempunyai ilmu.
Dari Abdul-Aziz Al-Baghdadi, dia berkata, “Aku suka memperhadkan
berbagai kisah orang-orang sufi. Suatu hari aku naik ke atas sebuah bukit.
Tiba-tiba kudengar sebuah suara yang membaca ayat,
‘T)an, Dia melindun^ orang-orangjang shalih. “(Al-A’raf: 196)
Aku menoleh ke kanan kiri, tetapi ddak kulihat apa-apa. Maka aku
menerjunkan diri dari atas bukit, yang ternyata aku justru melayang-layang
di udara.”
Siapa pun yang berakal tentu tidak ragu bahwa ini adalah dusta dan
mustahil. Kalaupun itu benar, maka menerjunkan diri dari atas bukit adalah
tindakan yang dilarang. Anggapannya bahwa Allah melindungi orang yang
melakukan sesuatu yang dilarang adalah batil. Firman Allah,
“Dan, janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam
kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)
Bagaimana mungkin disebut orang yang shalih jika menyalahi
perintah Allah? Lebih jelas lagi, siapakah yang member!tahu bahwa dia
termasuk orang-orang yang shaiih?
Berbagai kelompok manusia masuk ke dalam golongan orang-orang
sufi, menyerupai mereka, membual tentang masalah karamah dan
3 8 0 Perangkap Setan
memperlihatkan hal-hal yang mustahil untuk mengecoh had orang-orang
a w a m .
Telah diriwayatkan kepada kami dari Al-Hallaj, bahwa dia pernah
memendam rod, dendeng daging dan manisan di suatu tempat. Sementara
salah seorang di antara rekannya ada yang mengetahui apa yang diperbuatnya
itu. Keesokan harinya dia berkata kepada rekan-rekann3^a, “Jika kalian setuju
bagaimana jika kita pergi dengan berjalan kaki?” Sekedka itu pula dia bangkit
lalu berjalan. Orang-orang mengikutinya. Ketika tiba di tempat dia
memendam barang-barang itu, seorang rekannya yang sudah mengetahui
apa yang diperbuat sebelumnya, berkata, “Kita sekarang ingin makanan ini
d a n i t u . ”
Maka Al-Hallaj meninggalkan rekan-rekannya dan menuju tempat
dipendamnya rod, dendeng dan manisan. Di tempat itu dia shalat dua rakaat,
lalu membawa barang-barang itu ke hadapan rekan-rekannya. Dia
menengadahkan tangan ke udara, lalu melemparkan emas kepada semua
yang hadir dan menciptakan berbagai macam kebohongan yang lain.
Suatu had ada seseorangyang berkata kepadanya, “Semua orang sudah
tahu keping dirham in Kami baru mau percaya kepadamu jika engkau mampu
menunjukkan dirham yang ada nama dirimu.”
Bahkan ketika Al-Hallaj sudah disalib untuk menerima hukuman
mad, dia pun masih sempat membual dan membuat kedustaan. Dari Abu
Amr bin Haiwah, dia berkata, “Tatkala Husain Al-HaUaj digelendeng untuk
menemui hukuman mad, maka aku ikut berjubel-jubel dengan manusia.
Aku berusaha lebih mendekat agar dapat melihatnya secara jelas. Saat itu
dia berkata kepada rekan-rekannya, “Janganlah kalian takut karena
kejadian ini, karena aku pasd akan kembali lagi kepada kalian setelah dga
puluh hari,”
Tentu saja keyakinan Al-Hallaj ini sangat ddak patut. Di bagian awal
dari buku ini sudah kami singgung secara sekilas tentang keyakinan dan
penyimpangan-penjimpangann^^a, dan akhirnya dia dihukum mad atas fatwa
para fiiqaha pada zamann^̂ a.
Sebagian muta’akliirin juga ada yang dengan suka rela duduk di atas
tungku api yang menyala, sambil memperlihatkan bahwa semacam itu adalah
3 8 1Bab XI: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang yang ...
karamah. Kami perlu memaparkan yang demikian itu agar dapat diketahui
bagaimana sikap mereka yang berlebih-lebihan dalam mempermainkan
agama. Kalau memang begitu keadaannya, lalu buat apa syariat Islam tetap
dipertahankan? ■
3 8 2 Perangkap Setan
Bab XII:
Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
î̂ EPERTI yang sudah kami jelaskan di atas bahwa talbis Iblis itu menguat
^▶karena kuatnya cengkeraman kebodohan. Dengan begitu Iblis dapat
leluasa memperdayai orang-orang awam. Untuk membatasi talbis dari cobaan
yang didmpakan Iblis sangat sulit, karena ragamnya sangat banyak. Kami
akan menyebutkan jenis-jenis talbis yang pokok saja. Inilah di antaranya.
Iblis mendatangi orang awam lalu mengusiknya untuk memikirkan Dzat
Allah ̂ dan sifat-sifat-Nya, sehingga dia menjadi ragu terhadap Allah.
Rasulullah ̂ telah memberitahukan hal ini sebagaimana yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah #bersabda,
0 A e y
“Sesunggw/inya setan itu mendatangi salah seorang di antara kalian seraya
bertanya, ‘Siapakahyangmenciptakanmu?’ Diamenjawab, “Allah’. Setan
bertanya, ‘Siapayangmenciptakanlangitdanbumil’Diamenjaiuab, 'Allah’.
3 8 3
Biasanya orang awam merasa dia telah memiliki pemahaman. Lalu Iblis
memperdayainya untuk memusuhi Allah. Di antara mereka ada yang berkata,
“Bagaimana Allah membuat keputusan hukum dan hukuman?” Di antara
mereka ada yang berkata, “Mengapa Allah menyempitkan rezeki orang yang
bertakwa dan melapangkan rezeki orang yang durhaka?’
Di antara mereka ada yang mensyukuri nikmat yang dilimpahkan
kepadanya. tetapi jika cobaan menimpanya, maka dia berpaling, tidak mau
lagi bersyukur dan kufur. Atau, di antara mereka ada yang tujuannya tidak
tercapai atau mendapatkan musibah, lalu dia menjadi kufur, seraya berkata,
“Aku tidak sudi lagi mendirikan shalat.”
Adakalanya seorang Nashrani yang sewenang-wenang dapat
mengalahkan orang Mukmin dan bahkan membunuhnya. Lalu orang awam
yang melihatnya berkata, “Ternyata orang salib itu yang menang. Kalau
memang begitu keadaannya, lalu buat apa kita mendirikan shalat?”
Semua bencana dan cobaan ini dimanfaatkan Iblis untuk memperdayai
mereka, karena mereka jauh dari ilmu dan orang-orang yang berilmu.
Andaikata mereka mau mencari ilmu dari orang-orang yang berilmu, tentu
mereka akan diberitahu bahwa Allah Maha Bijaksana dan Maha Berkuasa,
sehingga setelah itu tidak ada lagi penentangan.
Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam Berkaitan dengan Masalah
F a t w a
Di antara orang-orang awam ada yang merasa puas dengan pikirannya
sendiri dan dia ddak peduli sekalipun bertentangan dengan para uiama. Selagi
fatwa para uiama itu berseberangan dengan kepentingannya, maka dia segera
menyanggah pendapat mereka dan bahkan menyerang mereka. Ibnu Aqil
berkata, “Telah sekian tahun aku menjalani hidup ini. Andaikan tanganku
kumasukkan ke dalam suatu ciptaan seorang pencipta, tentu dia akan berkata,
‘Engkau telah merusak apa yang kuciptakan’. Andaikan kukatakan, Aku
adalah orang yang berilmu’, tentu ia akan berkata, ‘Semoga Allah
memberkahimu karena dmumu itu. Tetapi ini bukan spesiaiisasimu’. Padahal
spesialisasinya itu merupakan masalah rasa belaka. Andaikan aku
menekuninya, tentu aku juga bisa memahaminya. Sebab apa yang kulihat
dari segala urusan adalah masalah akal. Namun jika aku memberikan fatwa
dalam masalah itu, tentu fatwaku tidak akan diterima.”
3 8 5Bah XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
Talbis Iblis terhadap Orang'orang Awam yang Lebih Mengutamakan
Orang-orang Zuhud daripada Para Ulama
Di antara talbis Iblis terhadap mereka ialah tindakan mereka yang lebih
mengutamakan orang-orang yang menampakkan zuhud daripada para ulama.
Andaikan ada seseorang mengenakan mantel bulu muncul di hadapan orang-
orang yang bodoh, maka mereka akan memuja dan menyanjungnya, apalagi
jika orang zuhud yang mengenakan mantel itu selalu mengangguk-anggukkan
kepalanya dan pura-pura khusyu’ di hadapan mereka. Bahkan mereka berkata,
“Orang ini jauh lebih hebat jika dibandingkan orang Fulan yang ulama itu
dan yang masih menyempatkan diri mencari keduniaan. Sedangkan orang
ini adalah orang zuhud yang tidak makan yang kering maupun yang basah
serta tidak menikahi wanita.” Mereka berkata seperti itu karena memang tidak
tahu kelebihan orang yang berilmu daripada orang zuhud, sehingga mereka
lebih mengutamakan orang-orang zuhud itu daripada syariat Muhammad
0. Mereka tidak tahu bahwa beliau menikahi sekian banyak wanita, makan
daging, menyukai yang manis-manis dan madu. Lalu mengapa mereka tidak
memandang yang seperti ini lebih baik dan lebih utama?
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Awam yang Mencela Para Ulama
Di antara talbis terhadap orang-orang awam ialah tindakan mereka yang
mencela dan mencaci para ulama, karena para ulama itu melakukan hal-hal
yang mubah. Ini merupakan kebodohan yang nyata. Mereka lebih tertarik
kepada orang-orang asing, karena memang mereka lebih mementingkan
orang-orang asing itu daripada orang-orang yang berilmu dan penduduk di
daerahnya sendiri, yang mengerti permasalahan dan akidah mereka. Mereka
lebih condong kepada orang asing di luar daerah mereka, apalagi jika termasuk
golongan Bathiniyah. Padahal penanganan urusan harus diserahkan kepada
orang yang lebih tahu keadaan. Allah berfirman,
“Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai
memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartâ harta mereka.”
(An-Nisa’: 6)
Allah juga telah mengaruniakan dalam pengutusan Muhammad 0
kepada manusia, bahwa mereka mengetahui benar keadaan beliau. Firman-
Nya,
3 8 6 Perangkap Setan
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang'orang yang beriman
ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka
sendiri.” (Ali Imran: 164)
“Mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak
mereka sendiri. “(Al-An’am: 20)
Adakaianya muncul orang-orang yang menampakkan zuhud, siap
dengan bualan-bualannya, sekalipun menyalahi syariat dan keluar dari
batasannya. Terkadang engkau melihat orang zuhud dan juga berperan sebagai
tukang ramal berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Besok engkau
akan begin! dan keadaanmu begini.” Orang awam itu pun mengangguk-
anggukkan kepala seraya berkata, Dia berbicara dengan had nuraninya.”
Padahal semua ini adalah kufur.
Memberikan Kebebasan kepada Diri Sendiri untuk Melakukan
K e d u r h a k a a n
Di antara talbis terhadap orang-orang awam ialah kebebasan mereka
dalam melakukan kedurhakaan. Jika dihardik, maka mereka beralasan dengan
perkataan orang-orang zindiq, “Aku tidak setuju dengan pembayaran secara
kontan untuk sesuatu yang seharusnya dibayar secara kredit.”
Andaikan mereka memahami, tentu mereka akan tahu bahwa ini bukan
pembayaran secara kontan, karena sesuatu yang diharamkan. Memang ada
pilihan untuk membayar secara kontan atau kredit, tetapi dalam hal yang
mubah. Perumpamaan mereka ialah seperti orang bodoh yang sedang sakit
demam lalu minum madu. Jika dicela, maka dia berkata, “Syahwat itu
pembayaran secara kontan dan afiat itu pembayaran secara kredit.”
Di samping itu, andaikata mereka memahami hakikat iman, tentu
mereka tahu bahwa apa yang tertunda itu merupakan janji yang past! dipenuhi
dan tidak akan diingkari. Andaikata mereka mengetahui pekerjaan para
pedagang yang di dalam benaknya selalu melintas pikiran tentang setumpuk
harta dan sedikit keuntungan yang mereka harapkan, tentu mereka akan tahu
bahwa apa yang mereka tinggalkan adalah sedikit dan apa yang mereka
harapkan adalah banyak. Andaikata mereka membedakan antara apa yang
dipentingkan dan apa yang diabaikan, tentu mereka akan tahu apa yang harus
segera dilakukan jika mereka tidak mendapatkan keuntungan secara terus-
3 8 7Bab XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
menerus, atau mereka akan terjerembab dalam penyesalan yang seakan tiada
h e n t i .
Di antara mereka ada yang berkata, Allah Maha Pemurah, ampunan
Nya luas dan berharap itu termasuk agama.”
Mereka menyebut angan-angan dan dpuan sebagai harapan. Hal inilah
yang seringkali membinasakan orang-orang awam yang berbuat dosa. Abu
Amr bin Al-Ala berkata, “Aku mendengar bahwa Al-Farazdaq duduk di
hadapan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah. Dia membuat hati
mereka mekar untuk berharap. Lalu mereka bertanya, “Mengapa engkau
menuduh wanita-wanita yang suci telah berbuat zina?”
Al-Farazdaq menjawab, “Katakan kepadaku, bagaimana jika aku
berbuat dosa kepada kedua orang tuaku, seperd aku telah berbuat dosa kepada
Allah, apakah kedua orang tuaku yang mengasihiku akan melemparkan
tubuhku ke dalam tungku api yang menyala-nyala?”
“Tidak,” jawab mereka, “tentu mereka tetap akan menyayangi dirimu.'
“Aku lebih yakin terhadap kasih sayang Allah daripada kedua oran^
tuaku,” kata Al-Farazdaq.
Ini merupakan kebodohan yang nyata, sebab rahmat Allah bukar
merupakan kelembutan perasaan. Taruhlah rahmat AJlah seperd itu, tentunya
Dia ddak akan mematikan burung, ddak membuat seseorang buta sejak ba)"
dan ddak memasukkan seorang pun ke dalam neraka Jahanam.
Dari Abbad, dia berkata, “Al-Ashma’i berkata, Aku bersama Abr
Nuwas di Makkah. Tiba-tiba kami melihat seorang anak laki-laki yang amai
ganteng sedang mencium Hajar Aswad. Abu Nuwas berkata, “Demi Allah,
aku ddak akan membuatnya lolos sehingga aku dapat memeluk anak itu d:
dekat Hajar Aswad.”
“Celaka kau! Bertakwalah kepada Allah, karena engkau sedang berad.
di tanah suci dan di dekat Ka’bah lagi,” kataku,
“Apa salahnya?” katanya sambil mendekad Hajar Aswad, hendal
memeluk anak tampan itu. Dengan secepat kilat Abu Nuwas menempelkar
pipinya ke pipi anak tampan itu seraya memeluknya. Sementara aku melihai
semua adegan itu.
“Benar-benar celaka kau! ini adalah tanah suci,” kataku.
3 8 8 Perangkap Setan
“Engkau tak usah memikirkan hal ini, karena Allah itu Maha Pengasih.”
Lalu dia melantunkan syair,
“Dm kekasih yang pipinya saling heradu
sambil memeluk Major Asuiad mereka bercumbu
dada dosa mereka menyatukan had
seakan~akan terpatri oleh ikatan janji. ”
Perhatikanlah kelancangan semacam ini dalam memandang masalah
kasih sayang, dengan melupakan hukuman karena menodai kesucian Baitul-
H a r a m .
Di antara orang-orang awam ada pula yang berkata, “Para ulama itu
seharusnya menjaga hukum, tetapi nyatanya Fulan berbuat begin! dan Fulan
lain berbuat begitu (dosa). Berarti ddak aneh jika aku lebih mudah melakukan
d o s a . ”
Orang yang bodoh dan orang j'̂ ang berilmu itu sama kedudukannya
dalam masalah kewajiban. Kalaupun ada orang berilmu yang dikuasai hawa
nafsu, maka hal ini tidak bisa dijadikan alasan bagi orang yang bodoh untuk
melakukan dosa.
Di antara orang-orang awam juga ada yang berkata, “Seberapa besar
dosaku sehingga aku dihukum? Apalah arti diriku sehingga aku harus
dihukum? Toh dosaku tidak menimbulkan mudharat terhadap orang lain dan
ketaatanku tidak mendatangkan manfaat, dan ampunan Allah lebih besar
daripada dosaku.”
Ini merupakan kebodohan yang besar. Seakan-akan mereka percaya
bahwa hukuman hanya akan dijatuhkan kepada tindakan pengingkaran atau
kufur. Mereka tidak sadar bahwa menyalahi syariat itu bisa menjadikan mereka
sebagai orang yang ingkar
Ibnu Aqil pernah mendengar seseorang berkata, “Apalah artinya aku
ini sehingga Allah menghukumku?” Maka dia berkata kepada orang itu,
“Andaikan Allah mematikan semua makhluk dan hanya menyisakan dirimu
sendiri di dunia ini, maka engkaulah yang menjadi obyek firman Allah, “Hai
sekalian manusia... ”
Di antara mereka ada yang berkata, “Aku akan bertaubat dan berbuat
b a l k .
3 8 9Bab XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
Berapa banyak orang bodoh yang merasa masih memiliki harapan,
lalu maut menjemputnya sebelum harapan itu terengkuh. Tidak ada baiknya
seseorang berani melakukan kesalahan lalu menunggu-nunggu yang benar.
Boleh jadi dia belum siap untuk bertaubat, boleh jadi belum saatnya menjadi
orang baik dan boleh jadi taubatnya tidak diterima. Andaikan diterima, maka
dia pasti akan menanggung rasa malu selama-lamanya.
Di antara mereka ada yang bertaubat, namun kemudian berhenti
bertaubat. Lalu Iblis memperdayainya dengan berbagai macam dpuan, karena
Iblis tahu hasratnya yang lemah.
Dari Al-Hasan, dia berkata, “]ika. setan melihatmu dalam keadaan ddak
taat kepada Allah, maka dia menganggapnya orang yang mad. Jika dia
melihatmu senantiasa berada pada ketaatan kepada Allah, maka dia
menyingkir darimu. Jika setan melihatmu sesekali begini dan sesekali begitu.
maka dia akan bersemangat menggodamu.”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Awam Berkaitan dengan Masalah
K e t u r u n a n
Boleh jadi salah seorang di antara mereka mempunyai keturunan yang
terpandang, lalu dia terpedaya oleh keturunannya itu. Dia berkata, “Aku
termasuk keturunan Abu Bakar.” Yang lain lagi berkata, “Aku termasuk
keturunan Ali.” Yang lain lagi berkata, “Aku adalah orang terpandang karena
berasal dan keturunan Hasan atau Husain.” Yang lain lagi berkata, “Aku masih
terhitung saudara dengan ulama ini dan itu.”
Mereka memposisikan dirinya pada dua hal:
Mereka berkata, “Siapa yang mencintai seseorang, tentu akan mencintai
anak dan keturunannya.”
Mereka merasa memiliki syafaat dan yang paling memberi syafaat
adalah dia dan keluarganya.
Dua hal ini sama-sama salah. Kaitannya dengan masalah cinta, maki:
cinta Allah itu tidak sama dengan cinta Bani Adam. Allah mencintai orang-
orang yang taat kepada-Nya. Ahli Kitab yang merupakan keturunan Ya’qub.
tidak bisa mengambil manfaat dari bapak mereka. Adapun tentang syafaat.
maka Allah telah befirman,
1 .
2 .
3 9 0 Perangkap Setan
{YA( J - ^ , ' 3 ] P^yj
“Dan, mereka tiada memheri syafaat melainkan kepada orang yang
diridhai Allah(Al-Anbiya’: 21)
Ketika Nuh hendalc membawa serta anak beliau, maka dikatakan
kepada beliau,
“Sesunggwimya dia bukan termasuk kelnargamu,” (Hud: 46)
Ibrahim S3 juga tidak bisa memberi syafaat kepada ayah beliau, begitu
pula Nabi kita terhadap ibu beliau. Beliau juga bersabda kepada Fathimah,
putri beliau, ‘Aku ddak berkuasa terhadap dirimu sedikit pun dari kekuasaan
A l l a h . ”
Siapa yang beranggapan bahwa dia bisa selamat karena keselamatan
ayahnya, sama dengan orang yang merasa kenyang sekalipun yang makan
adalah ayahnya.
Hanya Mengandalkan Satu Jenis Kebaikan dan Mengabaikan
Kebaikan yang Lain
Adakalanya di antara orang-orang awam itu hanya mengandalkan satu
jenis kebaikan dan setelah itu tidak peduli terhadap kebaikan-kebalkan yang
lain. Di antara mereka berkata, “Aku termasuk Ahlus-Sunnah. Sementara
Ahlus-Sunnah itu ada pada kebaikan.” Lalu setelah itu dia tidak menghindari
kedurhakaan.
Dapat dikatakan kepadanya, “Keyakinan itu suatu keharusan. Menahan
diri dari kedurhakaan juga merupakan keharusan. Yang satu tidak dapat
dijaminkan untuk yang lain, karena masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
Orang-orang Rafldhah juga berkata, “Kami harus dibela karena
loyalitas kami terhadap Abiul-Bait.” Lalu mereka pun berbuat dusta semaunya.
Padahal sebenarnya mereka telah mengenyahkan ketakwaan.
Talbis Iblis terhadap Para Penganggur
Iblis memperdayai orang-orang yang lebih suka menganggur dan
mendorong mereka untuk mengambil harta orang lain. Mereka menamakan
3 9 1Bab XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
para penganggur ini dengan sebutan al-fityan (para pemuda). Mereka berkata,
“Pemuda tidak boleh berzina, tidak boleh berdusta dan tidak boleh merusak
kehormatan wanita, tetapi tidak ada salahnya jika mereka mengambil harta
orang lain.” Mereka menyebumya sebagai jalan para pemuda.
Jika mereka mendengar nasihat dari saudara atau anaknya, maka mereka
ddak mau mendengarnya, atau mereka membunuh siapa pun yang menentang
mereka, dan mereka menyebutnya sebagai jalan para pemuda.
Mengutamakan Ibadah Nafilah dan Menyia^nyiakan Ibadab Fardhu
Di antara orang-orang awam ada yang lebih mengutamakan ibadah
nafilah atau sunat dan menyia-nyiakan ibadah fardhu, seperti datang ke masjid
sebelum adzan, mendirikan shalat nafilah, namun ketika shalat di belakang
imam, dia suka mendahului imam. Atau di antara mereka ada yang tidak ikut
shalat fardhu secara berjama’ah di masjid dan lebih suka mendirikan shalat
nafilah pada malam harinya. Yang lain lagi ada yang beribadah sambi)
menangis sesenggukan, tetapi dia juga tidak pernah meninggaikan perbuatan
keji. Jika ditanya, maka dia menjawab, “Satu keburukan dengan satu kebaikan.
Jadi impas. Sementara Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mayoritas di antara mereka melakukan ibadah menurut pendapatnya
sendiri dan tidak benar dalam melakukan ibadah yang seharusnya dia lakukan.
Di antara mereka ada yang sudah hapal Al-Qur’an dan menjadi orang zuhud.
Untuk melengkapinya, dia mengebiri dirinya agar tidak tertarik lagi kepada
w a n i t a .
Mendatangi Majlis-majlis Dzikir
Iblis memperdayai sekian banyak orang awam, lalu mereka pun
mendatangi majlis-majlis dzikir, ikut menangis dan merasa cukup dengan
hal ini. Mereka beranggapan bahwa yang terpenting adalah hadir dalam majlis
itu dan menangis di sana. Sebab mereka mendengar keutamaan mendatang
majlis dzikir. Andaikan mereka tahu bahwa maksudnya adalah amal, maka
perbuatan mereka itu akan menjadi beban baginya, apalagi dia tidah
mengerjakan apa yang didengar.
Banyak orang yang biasa menghadiri majlis dzikir, ikut menangis dan
menampakkan kekhusjoi’an, tetapi mereka juga tidak meninggaikan kebiasaar
mempraktikkan riba, curang dalam jual beli, tidak membenahi kekurangannya
3 9 2 Perangkap Setan
dalam memahami rukun-rukun Islam, tidak berhenti menggunjing dan
berbuat jahat kepada kedua orangtua. Mereka adalah orang-orang yang telah
diperdayai Iblis, sehingga mereka beranggapan bahwa dengan menghadiri
majUs dzikir itu bisa menghapus dosa-dosa mereka.
Ada pula yang beranggapan bahwa dosa mereka terampuni karena
suka mendatangi para ulama dan orang-orang shalih. Atau ada pula yang
suka menunda-nunda taubat, atau hanya suka mendengarkan tetapi tidak
mau beramal.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Mempunyai Harta
Iblis memperdayai orang-orang yang mempunyai harta dari empat sisi:
1. Dari cara mencari harta. Mereka tidak peduli dengan cara bagaimana
mereka mendapatkan harta. Harta mereka lebih banyak diperoleh lewat
riba dan dengan senang hati mereka melakukannya. Mereka tidak lagi
peduli terhadap kesepakatan antar pihak dalam mu’amalah.
2. Dari sisi kebathilan. Di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau
mengeluarkan zakat, karena beranggapan bahwa mereka tidak terbebani
kewajiban mengeluarkan zakat. Ada pula yang mau mengeluarkan
sebagiannya, namun tetap saja memelihara sifat bakhil. Ada pula di
antara mereka yang mencari akal agar tidak terkena kewajiban
mengeluarkan zakat, seperti menghibahkan harta itu sebelum genap
tahun. Setelah genap satu tahun, dia memintanya kembali. Di
antara mereka ada yang memberikan pakaian yang seharga sepuluh
dinar umpamanya kepada orang fakir, tetapi orang fakir itu tetap harus
membayar, sekalipun hanya dua dinar. Di antara mereka ada yang
embayar dengan barang yang buruk. Di antara mereka ada yang
mbayarkan zakat kepada buruhnya sendiri, padahal sebenarnya itu
adalah gaji buruh tersebut. Di antara mereka ada yang mau membayar
zakat sesuai dengan ketentuan, tetapi Iblis membisikinya, “Hartamu
bisa habis nanti.” Karena itu dia tidak mau mengeluarkan shadaqah,
karena didorong kecintaan kepada harta dan kekhawatiran jika harta
i t u h a b i s .
3. Dari sisi penumpukan harta. Orang yang kaya melihat dirinya lebih
baik daripada orang miskin. Ini adalah kebodohan. Karena keutamaan
s a t u
m
m e
3 9 3Bab XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Azoam
itu tergantung kepada keutamaan jiwa, bukan karena harta yang
bertumpuk, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair,
“Orang berakal yang memiliki kekayaan jiiua
lebih baik daripada kekayaan harta benda
keutamaan jiiva di tengah manusia
bukan karena keutamaan keadaannya."
Dari sisi pembelanjaannya. Di antara mereka ada yang membelanjakan
harta secara boros dan berlebih-lebihan. Harta itu dipergunakan untuk
hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, untuk menghiasi tembok.
mempercantik rumah dan membeli berbagai macam gambar,
Terkadang harta itu dibelanjakan untuk pakaian yang membuatnya
takabur. Terkadang untuk membeli makanan secara foya-foya.
Semua perbuatan ini tidak bisa menghindarkan pelakunya dari hal-
hal yang haram atau makruh. Padahal dia harus bertanggung jawab terhadap
s e m u a n y a .
4 .
Dari Anas bin Malik, dia berkata, ‘Rasulullah #bersabda,
0 ^ 0
'pj' C/' Jd-'J
O f ^ ✓o f 0
“Wahai anak Adam, kedua kakimu tidak akan terayun pada Hari Kiamat
di hadapan Allah i)i, se/iingga engkau ditanya tentang empat perkara: Tentang
umurmu, untuk apa engkau menghabiskannya? Tentang jasadmu, untuk
apa engkau melusuhkannya? Tentang hartamu, dari mana engkau
meiKarinya dan kemana engkau membelanjakannya? Tentang ilmumu, apa
yang engkau amalkan?"
Di antara mereka ada yang membelanjakan harta untuk membangun
masjid dan jembatan. Hanya saja dia melakukannya untuk riya’ dan
ketenaran, agar dirinya tetap dikenang dan namanya ditulis pada bangunan
itu. Andaikan perbuatannya itu karena Allah, cukuplah Allah yang
mengetahuinya. Andaikata namanya tidak tertulis pada bangunan yang
dimaksudkan, maka dia tidak mau membelanjakan hartanya untuk bangunan
m e n c a n
I t u .
3 9 4 Perangkap Setan
Tak jauh berbeda dengan perbuatan ini adalah menyalakan liJin di jalan-
jalan pada bulan Ramadhan, sementara masjidnya dalam keadaan gelap karena
tidak ada penerangannya. Jika dia hanya menyalakan lentera, maka dia tidak
mendapatkan ketenaran. Padahal andaikata anggaran untuk membeli lilin iru
diberikan kepada orang-orang miskin, jauh lebih baik dan bermanfaat.
Ada pula di antara mereka yang mengeluarkan shadaqah dengan
memperhihatkannya kepada orang banyak. Caranya, dia memasuldsan sedikit
uang ke dalam bungkusan yang besar, agar mereka berkomentar, Fulan
memberikan sejumlah uang kepada Fulan.”
Kebalikan dari semua ini, orang-orang shaiih pada zaman dahulu suka
memasukkan kepingan uang dinar yang lebih berat ke dalam tempat yang
kecil, ia memberikannya kepada orang-orang miskin secara sembunyi-
sembunyi. Jika orang miskin itu melihat bentuknya, tentu dia menganggap
jumlahnya sedikit. Tetapi jika sudah memegangnya, dia akan tahu ternyata
jumlahnya lebih banyak dari perkiraan semula. Dengan begitu orang miskin
tersebut semakin bertambah gembira, sehingga pahalanya berlipat ganda.
Di antara mereka ada yang memberikan shadaqah kepada orang yang
ddak mempunyai perhatian saudara, sementara saudaranya sendiri yang
membutuhkan ditelantarkan. Padahal saudara dan kerabat lebih berhak
menerima shadaqahnya. Dari Sulaiman bin Amir, dia berkata, “Aku
mendengar RasuluUah 0bersabda.
« ^ ^ ^ %
“Shadaqah yang diberikan kepada orang miskin itu (pahalanya) adalah
shadaqah. Sedangkan shadaqah yang diberikan kepada kerabat ada dua
(pahala), yaitu (pahala) shadaqah dan (pahala) hubungan kekerabatan.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Di antara mereka ada yang mengetahui dua macam pahala ini andaikan
dia memberikan shadaqah kepada kerabat. Tetapi antara dirinya dan
kerabatnya ada permusuhan dalam masalah keduniaan. Karena itu dia tidak
mau berbaik had kepada kerabamya, sekalipun kerabamya itu miskin. Padahal
andaikan dalam keadaan seperti itu dia memberikan shadaqah kepada
kerabatnya itu, maka dia akan mendapatkan pahala shadaqah, pahala
kekerabatan dan pahala karena mampu menepis hawa nafsu.
.) !
3 9 5Bab XII: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Awam
Di antara mereka ada yang mengeluarkan shadaqah pada waktu haji.
Lalu Iblis membisikinya bahwa haji yang dia lakukan adalah untuk taqarub,
Padahal dia menunaikan haji untuk mencari ketenaran dan riya’.
Ada seseorang berkata kepada Bisyr Al-Hafi, “Aku sudah memper-
siapkan uang sebanyak dua ribu dirham untuk menunaikan haji.”
“Apakah engkau sudah pernah menunaikan haji sebelum ini?” tanya Bisyr.
“Sudah,” jawab orang itu.
“Kalau begitu bantulah orang yang mempunyai hutang untuk melunasi
hutangnya,” kata Bisyr.
“Tapi hatiku lebih sreg untuk menunaikan haji,” jawab orang itu.
“Apakah maksudmu juga untuk bepergian ke sana, lalu bisa kembali
lagi?’ tanya Bisyr.
“Karena aku melihat orang lain juga menunaikan” jawab orang itu
memberi alasan.
Di antara mereka ada yang membelanjakan hartanya untuk
mendatangkan para penyanyi, lalu mengumpulkan orang-orang miskin untuk
mendengarkannya dan menjamu mereka. Sebagaimana yang sudah kami
jelaskan, hal ini bisa merusak had mereka.
Di antara mereka ada yang menghiasi anak putrinya dengan berbagai
macam perhiasan, dan menganggap hal itu sebagai taqarub. Celakanya lagi,
jika ada ulama yang datang kepada mereka, maka para ulama itu ddak
mengingkarinya, karena hendak menjaga tradisi.
Di antara mereka ada yang bersikap secara sewenang-wenang dalam
berwasiat dan ddak memberikan hak sedikit pun kepada ahli warisnya, dengan
alasan, bahwa semua adalah harta bendanya sendiri. Ardnya, dia bebas
mengeluarkannya, apa pun yang dikehendakinya. Padahal andaikata jatuh
saldt, dia masih bergantung kepada ahli warisnya.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Miskin
Orang-orang miskin pun ddak luput dari ta/Hs Iblis. Di antara mereka
ada yang sengaja menampakkan diri sebagai orang miskin padahal sebenarnya
dia kaya. Jika dia terus-menerus menengadahkan tangan kepada orang lain
dan mengemis, berard dia memperbanyak api neraka. Dari Abu Hurairah
dari Nabi beliau bersabda,
3 9 6 Perangkap Setan
O x
a t > 0 -'■» '■t- ,>'«'!a l w - j 3 < . \
(r^
“Barangsiapa meminta-minca harta manusia karena men̂ nginkan harta yang
banyak, herarti dia meminta bara (neraka). Maka terserah apakah dia
meminta yang sedikit atau banyak." (HR. Muslim)
Jika orang itu tidak mendapatkan sesuatu dari orang lain, lalu dengan
kemiskinan yang dia tunjukkan itu agar dia dianggap orang yang zuhud, berarti
dia telah riya’. Jika dia menyembunyikan nikmat Allah yang ada di tangannya,
dan dengan kemiskinan yang dia tunjukkan itu dia merasa tidak berkewajiban
mengeluarkan shadaqah, berarti di samping kikir dia juga menyimpan
pengaduan terhadap Allah. Jika dia benar-benar miskin, yang harus dilakukan
justru menyembunyikan kemiskinannya dan bersikap secara wajar. Di antara
orang salaf ada yang membawa anak kunci, agar orang lain menganggapnya
mempunyai rumah. Padahal dia tidak meneta




