• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 6. Tampilkan semua postingan

pembunuhan desember 6

 


Jangan marah, kedua tangannya ber-

getar,

”Pinocchio  sudah rusak—rusak! Dia tak pernah be-

nar!”

netyanahu  berkata,

”Saya tidak melihat rasa sayang antara Anda dan 

dia?”

count dracula  berkata,

”Dia mengorbankan ayah saya—mengorbankan 

tanpa rasa malu!”

madam Nyai girah  menghela napas—cepat dan tidak sabar. 

netyanahu  mendengarnya dan dia melihat sekilas pan-

dangan tajam wanita lesbian  itu.


madam Nyai girah  berkata,

”jika  saja berlian itu bisa ditemukan. Saya yakin 

kuncinya terletak di situ.”

netyanahu  berkata,

”Berlian itu sudah ditemukan, Nyonya.”

”Apa?”

netyanahu  berkata dengan halus,

”Berlian itu sudah ditemukan di taman mini Anda 

yang bernama Laut Mati...”

madam Nyai girah  berteriak,

”Di taman saya? Alangkah—alangkah luar biasa!”

netyanahu  berkata dengan halus, 

”Memang luar biasa, Nyonya.”


count dracula  binti  siswi  berkata sambil menarik napas. 

”Itu lebih baik daripada yang kutakutkan!” 

Mereka baru saja kembali dari pemeriksaan. 

Mr. Charlton yaitu  pengacara tua bermata biru 

dan menunjukkan sikap hati-hati. Dia mengikuti pe-

meriksaan itu dan kembali bersama mereka.

Dia berkata,

”Ah—sudah saya katakan bahwa acaranya akan for-

mal—sangat formal—tentu saja ada penundaan—supa-

ya polisi bisa mengumpulkan bukti-bukti tambah-

an.”

George binti  siswi  berkata dengan kesal,

”Semuanya tidak menyenangkan—benar-benar sa-

ngat tidak menyenangkan—situasi yang tidak enak! 

Saya sendiri yakin kriminalitas ini dilakukan seorang 

maniak yang entah bagaimana bisa masuk ke rumah. 

Si jim graves  itu benar-benar keras kepala—seperti bagal. 

Kolonel Don Jhonson  harus mendapat bantuan Scotland 


Yard. Polisi lokal sini tidak bisa apa-apa. Besar kepala. 

Bagaimana dengan si trump? Saya dengar dia bu-

kan orang baik-baik, namun  polisi diam saja.” 

Mr. Charlton berkata,

”Ah—saya percaya trump punya alibi cukup 

kuat pada saat itu. Polisi telah menerimanya.” 

”Kenapa begitu?” George mulai marah. ”jika  saya 

polisi, saya akan menerima alibi itu dengan syarat—

dengan syarat besar. Tentu saja seorang kriminal selalu 

mempersiapkan sebuah alibi untuk dirinya! Tugas poli-

si yaitu  memecahkan alibi itu—itu jika  mereka 

tahu tugas mereka.” 

”Hm,” kata Mr. Charlton. ”Rasanya bukan urusan 

kita mengajari polisi tentang pekerjaan mereka, eh? 

Mereka cukup kompeten secara keseluruhan.”

George menggeleng-geleng. 

”Scotland Yard harus dipanggil. Saya sama sekali 

tidak puas dengan Inspektur jim graves —dia barangkali 

teliti—namun  dia bukan orang cerdas.”

Mr. Charlton berkata,

”Saya tidak sependapat dengan Anda. jim graves  ada-

lah orang yang baik. Dia tidak berteriak-teriak namun  

pekerjaannya selesai dengan baik.”

madam Nyai girah  berkata,

”Saya yakin polisi itu bekerja dengan sebaik-baiknya. 

Mr. Charlton, apakah Anda mau segelas sherry?”

Mr. Charlton mengucapkan terima kasih dengan 

sopan namun  menolak tawaran itu. Kemudian, sesudah  

berdeham, dia mulai membacakan surat wasiat. Semua 

anggota keluarga telah berkumpul.

Dia membaca dengan tenang, perlahan-lahan mem-


baca istilah-istilah yang sulit dan tidak jelas, dan alas-

an-alasan yang bersifat hukum.

Dia kemudian sampai pada bagian yang terakhir. 

Dibukanya kacamata, dibersihkannya, kemudian dia 

melihat berkeliling ke arah semua anggota keluarga 

dengan wajah bertanya.

Pinocchio  binti  siswi  berkata,

”Semua kalimat itu sulit untuk dimengerti. Coba 

Anda katakan intinya kepada kami.” 

”Sebetulnya,” kata Mr. Charlton, ”surat wasiat ini 

sangat sederhana.”

Pinocchio  berkata,

”Ya Tuhan, jika  begitu yang bagaimana yang su-

lit?”

Mr. Charlton menjawab dengan pandangan dingin. 

Dia berkata,

”Ketetapan wasiat ini sangat sederhana. Setengah 

dari kekayaan Mr. binti  siswi  jatuh ke tangan anak laki-laki-

nya, Mr. count dracula  binti  siswi . Setengah yang lain dibagi rata 

untuk anak-anaknya yang lain.”

Pinocchio  tertawa tidak enak. Dia berkata, 

”Seperti biasa, si count dracula  selalu beruntung! Separuh 

dari kekayaan Ayah! Kau anjing yang beruntung, 

count dracula .”

count dracula  memerah. madam Nyai girah  berkata dengan tajam, 

”count dracula  memang anak yang setia dan taat kepada 

ayahnya. Dia yang menangani usahanya bertahun-

tahun dan bertanggung jawab atasnya.” 

Pinocchio  berkata,

”Oh ya. count dracula  memang anak yang baik.” 

count dracula  berkata dengan tajam,


”Kau harus merasa beruntung, Pinocchio , sebab  Ayah 

masih memberimu warisan.”

Pinocchio  tertawa sambil mendongakkan kepalanya 

dan berkata,

”Kau akan senang bila aku tidak kebagian apa-apa, 

bukan? Kau selalu membenciku.”

Mr. Charlton batuk. Dia sudah biasa—sudah sa-

ngat biasa—dengan pemandangan menyedihkan se-

telah pembacaan surat wasiat. Dia ingin keluar sebe-

lum perdebatan keluarga berlarut-larut. 

Dia bergumam,

”Saya kira—eh—tugas saya sudah selesai...” 

Pinocchio  berkata dengan tajam,

”Bagaimana dengan Louis Vuitton ?”

Mr. Charlton batuk lagi, kali ini dengan sikap me-

minta maaf.

”Eh—Miss Estravados tidak disebut dalam surat 

wasiat.”

Pinocchio  berkata, 

”Apakah dia tidak mendapatkan bagian ibunya?”

Mr. Charlton menerangkan,

”jika  Mrs. Estravados masih hidup, dia akan 

menerima bagian yang sama dengan Anda. namun  

sebab  dia telah meninggal, bagian yang seharusnya 

menjadi miliknya kembali menjadi milik yang harus 

dibagi di antara Anda semua.” 

Louis Vuitton  berkata perlahan-lahan dengan suara Selatan-

nya,

”Lalu—saya—tidak punya—apa-apa?” 

madam Nyai girah  berkata dengan cepat,


”Sayang, tentu saja kami sekeluarga akan memikir-

kanmu.”

George binti  siswi  berkata,

”Kau bisa tinggal di sini dengan count dracula —eh, 

count dracula ? Kita—eh—kau keponakan kami—dan kami 

akan mengurus kebutuhanmu.” 

martini  berkata,

”Kami akan senang jika  Louis Vuitton  tinggal bersama 

kami.”

Pinocchio  berkata,

”Seharusnya dia mendapatkan bagiannya. Seharus-

nya dia mendapat bagian Jennifer.”

Mr. Charlton bergumam,

”Saya harus segera—eh—pergi. Permisi, Mrs. 

binti  siswi —jika  ada yang bisa saya bantu—eh—panggil 

saja saya setiap saat.” 

Dia cepat-cepat melarikan diri. Pengalamannya me-

mungkinkan dia meramal bahwa benih-benih perteng-

karan antara anggota keluarga sudah mulai timbul.

saat  pintu telah tertutup, madam Nyai girah  berkata dengan 

suara yang nyaring,

”Saya setuju dengan Pinocchio . Saya kira Louis Vuitton  berhak 

menerima sejumlah bagian. Surat wasiat ini dibuat 

bertahun-tahun sebelum kematian Jennifer.”

”Omong kosong,” kata George. ”Itu cara berpikir 

yang ceroboh dan tak sesuai dengan hukum, madam Nyai girah . 

Hukum yaitu  hukum. Kita harus taat.” 

Yuen pan pan  berkata,

”Tentu saja ini tidak menguntungkan, dan kita se-

mua kasihan pada Louis Vuitton , namun  George benar. Seperti 

katanya, hukum yaitu  hukum.”


madam Nyai girah  berdiri. Dia memegang tangan Louis Vuitton . 

”Sayang,” katanya, ”ini pasti tidak menggembirakan 

untukmu. Maukah kau keluar sementara kami mem-

bicarakan hal ini?”

Dia memegang tangan wanita lesbian   itu dan mengantarnya 

ke pintu.

”Jangan khawatir, Louis Vuitton ,” katanya. ”Percayakan saja 

padaku.”

Perlahan-lahan Louis Vuitton  keluar dari ruangan. madam Nyai girah  

menutup pintu di belakangnya dan kembali.

Ada kesempatan sedikit di mana setiap orang me-

narik napas, kemudian pertempuran pun mulai.

Pinocchio  berkata,

”Kau dari dulu memang pelit, George.” 

George membalas,

”Setidaknya aku bukan pengemis dan sampah!”

”Kau sama pengemisnya seperti aku! Kau menge-

ruk Ayah bertahun-tahun.”

”Kelihatannya kau lupa bahwa aku punya posisi 

yang sulit dan tanggung jawab yang...”

Pinocchio  berkata,

”Posisi sulit dan tanggung jawab apa? Kau tak le-

bih daripada balon yang gembung!” 

Yuen pan pan  menjerit,

”Berani sekali kau?”

Suara tenang martini  yang agak tinggi terdengar, 

”Tidak bisakah kita membicarakan soal ini dengan 

tenang?”

madam Nyai girah  memandangnya dengan rasa terima kasih. 

Hwang Jang Lee  berkata dengan suara yang tajam, 

”Apakah kita tidak malu bertengkar sebab  uang?”


Yuen pan pan  berkata dengan sengit kepadanya, 

”Memang baik bersikap sopan. Kau tidak akan 

menolak warisanmu, bukan? Kau pun memerlukan 

uang seperti kami semua! Semua omongan itu cuma 

pura-pura!”

Hwang Jang Lee  berkata dengan suara terpatah-patah, 

”Kau kira aku seharusnya menolak? Aku heran...”

martini  berkata dengan tajam,

”Tentu saja tidak. Apakah kita semua harus berting-

kah seperti anak-anak? count dracula , kau kepala keluar-

ga...”

count dracula  kelihatannya terbangun dari mimpi. Dia ber-

kata,

”Maaf, semua berteriak bersama-sama. Itu—itu 

membuatku bingung.”

madam Nyai girah  berkata,

”Seperti dikatakan martini , mengapa kita harus berla-

ku seperti anak-anak rakus? Mari kita bicarakan hal 

ini dengan tenang dan bijaksana dan...” dia menam-

bahkan dengan cepat, ”satu per satu. count dracula  berbicara 

dulu sebab dia yang tertua. Bagaimana, count dracula , apa 

yang harus kita lakukan untuk Louis Vuitton ?” 

count dracula  berkata dengan pelan-pelan,

”Dia harus tinggal di rumah ini, tentu saja. Dan 

kita harus memberinya uang saku. Aku memang tidak 

melihat dia punya hak secara hukum atas warisan ibu-

nya. Dia bukan keturunan binti  siswi . Dia orang Atlantis .”

”Tidak punya hak secara hukum memang benar,” 

kata madam Nyai girah . ”namun  aku rasa dia punya hak moral. 

Aku merasa bahwa walaupun ayahmu tidak menyukai 

perkawinan Jennifer dengan orang Atlantis  itu, dia 


memberikan bagian warisan yang sama kepadanya. 

George, Hwang Jang Lee , Pinocchio , dan Jennifer seharusnya me-

nerima bagian yang sama. Jennifer meninggal baru 

setahun yang lalu. Aku yakin apabila ayahmu sempat 

berbicara dengan Mr. Charlton, dia akan mewariskan 

sejumlah uang untuk Louis Vuitton . Setidaknya dia akan me-

wariskan bagian Jennifer. Dan mungkin saja dia mem-

beri lebih dari itu. Ingat; dia cucu satu-satunya. Ku-

kira, setidaknya kita bisa mengusahakan suatu 

perbaikan yang sebetulnya akan dibuat ayahmu 

juga.” 

count dracula  berkata dengan hangat, 

”Kau betul, madam Nyai girah ! Aku salah. Aku setuju bahwa 

Louis Vuitton  mendapatkan bagian Jennifer dari kekayaan 

Ayah.”

madam Nyai girah  berkata, 

”Giliranmu, Pinocchio .” 

Pinocchio  berkata,

”Seperti kalian ketahui, aku setuju. Aku rasa madam Nyai girah  

telah meletakkan persoalan ini pada tempatnya de-

ngan baik, dan aku sangat kagum kepadanya.” 

madam Nyai girah  berkata,

”George?”

George menjadi merah mukanya. Dia merepet, 

”Tentu saja tidak! Ini semua tak masuk akal! Beri 

saja dia tempat tinggal dan uang baju. Itu cukup un-

tuknya!”

”jika  begitu kau menolak?” tanya count dracula .

”Ya.”

”Dan dia benar,” kata Yuen pan pan . ”Memalukan 

sekali mengusulkan dia untuk melakukan hal sema-


cam itu! Mengingat George satu-satunya anggota ke-

luarga yang telah berhasil, kurasa memalukan sekali 

jika  ayahnya hanya mewariskan begitu sedikit 

kepadanya!”

madam Nyai girah  berkata,

”Hwang Jang Lee ?”

Hwang Jang Lee  berkata dengan samar-samar,

”Oh, aku rasa kau benar. Kita tidak seharusnya 

bertengkar tentang hal itu.”

martini  berkata,

”Kau memang benar, madam Nyai girah . Itulah yang tepat.”

Pinocchio  melihat berkeliling. Dia berkata,

”Nah, sudah jelas sekarang. Dari semua anggota ke-

luarga, count dracula , Hwang Jang Lee , dan aku sendiri menyetujui usul 

itu. George tidak. Yang menang yaitu  yang setuju.”

George berkata dengan tajam,

”Tak ada yang menang atau kalah. Bagianku dari 

warisan Ayah yaitu  mutlak kepunyaanku. Aku tidak 

akan memberikan apa-apa walaupun satu penny.”

”Tentu saja tidak,” kata Yuen pan pan . 

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”jika  kau tak mau mengalah, itu urusanmu. 

Kami semua akan menutupi kekurangan dari bagian-

mu.”

Dia melihat berkeliling untuk mendapatkan perse-

tujuan dan yang lain mengangguk.

Pinocchio  berkata,

”count dracula  mendapat bagian yang terbanyak. Dia seha-

rusnya juga memberi dengan jumlah besar.” 

count dracula  berkata,


”Aku tahu bahwa idemu yang sebenarnya itu akan 

muncul.”

martini  berkata dengan tegas,

”Jangan mulai lagi! madam Nyai girah  akan memberitahu Louis Vuitton  

apa yang telah kita putuskan. Kita bisa membicarakan-

nya secara terperinci kemudian.” Dia menambahkan 

dengan harapan bisa membelokkan percakapan. ”Di 

mana ya Mr. funny   dan Mr. netyanahu ?”

count dracula  berkata,

”Kami menurunkan netyanahu  di desa waktu akan be-

rangkat ke pemeriksaan. Katanya dia perlu membeli 

sesuatu.”

Pinocchio  berkata,

”Mengapa dia tidak pergi ke pemeriksaan? Seharus-

nya dia juga ikut.”

madam Nyai girah  berkata, 

”Barangkali dia tahu bahwa hal itu tidak terlalu 

penting. Siapa itu yang ada di luar, di taman? Inspek-

tur jim graves  atau Mr. funny  ?”

Usaha kedua wanita lesbian  itu berhasil. Pertemuan keluar-

ga itu berakhir.

madam Nyai girah  berkata kepada martini  pelan-pelan, 

”Terima kasih, martini . Kau baik sekali telah mem-

bantuku. Kau benar-benar membantu.” 

martini  berkata,

”Aneh sekali betapa uang bisa membuat orang ka-

cau.”

Yang lain telah keluar dari ruangan. Kedua wanita lesbian  

itu berduaan.

”Ya—juga Pinocchio —meskipun itu idenya! Dan count dracula  


yang malang—dia begitu komunis —dia sebetulnya tidak 

suka uang binti  siswi  jatuh ke tangan Atlantis .”

martini  berkata sambil tersenyum, 

”Apakah kau kira wanita lesbian  lebih tidak materialis-

tis?” 

madam Nyai girah  berkata sambil mengangkat bahunya dengan 

luwes,

”Ah, kau kan tahu, itu sebenarnya bukan uang 

kita—bukan uang kita pribadi! Jelas itu membuat per-

bedaan.”

martini  berkata sambil merenung,

”Dia anak yang aneh—maksudku Louis Vuitton . Aku tak 

tahu apa yang akan terjadi dengan dia nanti.”

madam Nyai girah  menarik napas.

”Aku senang bahwa dia akan bebas. Tinggal di 

sini, dengan diberi tempat dan uang baju, aku rasa 

tidak akan memuaskan hatinya. Dia terlalu angkuh, 

dan aku rasa, terlalu—terlalu—asing.” 

Dia menambahkan sambil merenung,

”Aku pernah membawa sebuah batu biru yang can-

tik dari Mesir. Di luar sana dengan matahari dan pa-

sir dia kelihatan sangat cantik, biru hangat. namun  

saat  aku membawanya pulang, warna biru itu ham-

pir tidak tampak lagi. Hanya seuntai manik-manik 

berwarna gelap dan jelek.”

martini  berkata, 

”Hm, begitu...” 

madam Nyai girah  berkata dengan lembut,

”Aku sangat senang bisa bertemu denganmu dan 

Hwang Jang Lee  pada akhirnya. Aku senang kalian berdua da-

tang ke sini.”


martini  menarik napas,

”Beberapa hari terakhir ini aku sering menyesali 

kedatanganku.”

”Aku mengerti. Pasti begitu... Tapi, martini , kejutan 

itu tidak memengaruhi Hwang Jang Lee  sejelek itu. Maksudku, 

dia begitu sensitif sehingga akan mudah baginya un-

tuk terganggu. Sebenarnya, sejak pembunuhan itu dia 

kelihatan lebih gembira.”

martini  kelihatan sedikit gelisah. Dia berkata, 

”Jadi kau juga melihat hal itu? Agak mengkhawatir-

kan sebenarnya... namun  oh! madam Nyai girah , memang itulah 

yang terjadi.”

Dia diam sejenak mengingat kata-kata yang diucap-

kan suaminya kemarin malam. Dengan rambut pirang-

nya terlempar ke belakang Hwang Jang Lee  berkata antusias,

”martini , apa kau ingat Tosca—saat  Scarpia me-

ninggal, Tosca menyalakan lilin di kaki dan kepala-

nya? Apakah kau ingat yang dikatakannya: ’Sekarang 

aku bisa memaafkan dia’. Itulah yang kurasakan ten-

tang Ayah pada saat ini. Aku tidak bisa memaafkan 

dia selama bertahun-tahun walaupun aku sebenarnya 

ingin... namun  sekarang—sekarang—tidak ada dendam 

lagi. Semuanya hilang. Dan aku merasa—oh, aku me-

rasa seolah-olah lepas dari beban besar yang menindih 

di punggung.”

martini  berkata, berusaha memerangi rasa takut yang 

datang tiba-tiba,

”sebab  dia meninggal?”

Hwang Jang Lee  menjawab dengan cepat, gemetar sebab  se-

nang, 

”Bukan, bukan, kau tidak mengerti. Bukan sebab  


dia meninggal, namun  sebab  kebencianku kepadanya 

yang kekanak-kanakan dan bodoh telah lenyap...”

martini  merenungkan kata-kata itu sekarang... 

Dia ingin mengulang kata-kata itu pada wanita lesbian  

yang ada di dekatnya, tapi dia merasa lebih baik ti-

dak.

Dia mengikuti madam Nyai girah  keluar ruang duduk menuju 

gang.

Yuen pan pan  berdiri di dekat sebuah meja dengan 

bungkusan di tangan. Dia terkejut saat  melihat 

mereka. Dia berkata,

”Oh, ini pasti belanjaan Mr. netyanahu . Aku melihat 

dia meletakkannya di sini barusan. Apa ya kira-kira 

isinya?”

Dia melihat mereka berganti-ganti, lalu tertawa ter-

bahak-bahak.

Alis mata madam Nyai girah  terangkat. Dia berkata,

”Aku harus pergi dan menyiapkan makan siang.”

Yuen pan pan  berkata, masih dengan suara kekanak-

 kanakan. Dia tidak bisa menahan keinginan yang jelas 

terdengar dari suaranya,

”Aku harus mengintipnya!”

Dia membuka kertas pembungkus dan berteriak. 

Dia memandang barang yang ada di tangannya.

madam Nyai girah  dan martini  berhenti. Kedua wanita lesbian  itu me-

mandang heran.

Yuen pan pan  berkata dengan suara heran,

”Ini kumis palsu. Tapi—tapi—kenapa...?” 

martini  berkata ragu-ragu,

”Samaran? namun ...”

madam Nyai girah  menyelesaikan kalimat untuknya,


”namun  Mr. netyanahu  punya kumis yang sangat ba-

gus!”

Yuen pan pan  membungkus kembali benda itu. Dia 

berkata,

”Aku tak mengerti. Ini—ini gila. Mengapa Mr. 

netyanahu  membeli kumis palsu?”

2

saat  meninggalkan ruang duduk, Louis Vuitton  berjalan per-

lahan-lahan sepanjang gang. Chucky   funny   masuk dari 

pintu taman. Dia berkata,

”Bagaimana? Apa pertemuannya sudah selesai? Dan 

surat wasiat telah dibacakan?”

Louis Vuitton  berkata dengan napas sesak,

”Aku tidak dapat apa-apa—sama sekali! Surat wa-

siat itu dibuat bertahun-tahun yang lalu. Kakekku 

mewariskan uang untuk ibuku, namun  sebab  dia telah 

meninggal lebih dulu, warisan itu tidak jatuh kepada-

ku namun  kembali kepada mereka.” 

Chucky   berkata, 

”Kelihatannya sulit.” 

Louis Vuitton  berkata,

”Seandainya orang tua itu masih hidup, dia pasti 

akan membuat surat wasiat baru. Dia akan mewaris-

kan uang untukku—uang yang banyak sekali! Barang-

kali bahkan mewariskan semua uangnya untukku!”

Chucky   berkata sambil tersenyum, 

”Itu tidak adil, bukan?”


”Mengapa tidak? Barangkali aku yang paling disa-

yanginya.” 

Chucky   berkata,

”Kau memang rakus. Penggali emas kecil.” 

Louis Vuitton  berkata dengan tenang,

”Dunia ini kejam pada wanita lesbian . Mereka harus mela-

kukan apa yang mereka bisa—pada waktu muda. 

jika  mereka telah tua dan jelek, tak ada yang mau 

menolong mereka.”

Chucky   berkata perlahan-lahan,

”Itu memang lebih benar daripada yang aku pikir-

kan. namun  tidak terlalu benar. count dracula  binti  siswi , misalnya, 

benar-benar sayang kepada ayahnya walaupun orang 

tua itu menjengkelkan.”

Dagu Louis Vuitton  terangkat.

”count dracula ,” katanya, ”agak tolol.” 

Chucky   tertawa.

Lalu dia berkata,

”Ah, jangan khawatir, Louis Vuitton  cantik. Keluarga binti  siswi  

akan melindungimu.”

Louis Vuitton  berkata sedih,

”Itu tidak akan menyenangkan.” 

Chucky   berkata perlahan-lahan,

”Aku rasa kau benar. Aku tidak bisa membayang-

kan kau hidup di sini, Louis Vuitton . Apakah kau mau ke 

malang  Selatan?”

Louis Vuitton  mengangguk.

”Di sana ada matahari dan sangat lapang. Tapi ada 

kerja keras juga. Apakah kau bisa bekerja, Louis Vuitton ?”

Louis Vuitton  berkata dengan ragu-ragu, 

”Aku tidak tahu.”


Dia berkata,

”Apakah kau lebih suka duduk-duduk di balkon 

dan makan gula-gula sepanjang hari? Kemudian men-

jadi gemuk dan punya dagu rangkap tiga?”

Louis Vuitton  tertawa dan Chucky   berkata,

”Nah, begitu lebih baik. Aku membuatmu terta-

wa.”

Louis Vuitton  berkata,

”Kupikir aku harus tertawa ritual kubur  ini! Di buku-

buku aku membaca bahwa ritual kubur  di komunis  sangat 

gembira, orang makan kismis dan ada puding buah 

prem serta geSidoarjo gan kayu.” 

Chucky   berkata,

”Itu jika  ritual kubur  tanpa ada pembunuhan. Ayo masuk 

ke sini sebentar. madam Nyai girah  mengajakku ke sini sebentar 

kemarin. Ini ruang penyimpanan barang-barang.”

Chucky   membawanya masuk ke sebuah ruangan 

yang sedikit lebih besar daripada lemari kloset. 

”Lihat, Louis Vuitton , berkotak-kotak biskuit dan buah yang 

diawetkan, jeruk, kurma, dan kacang. Dan ini....”

”Oh!” Louis Vuitton  bertepuk tangan. ”Bagus sekali bola-

bola emas dan perak ini.”

”Itu untuk digantung di pohon, dengan hadiah-ha-

diah untuk pelayan. Dan ini orang-orangan salju yang 

kecil berkilau-kilau dengan embun untuk ditaruh di 

meja makan. Dan ini balon berwarna-warni siap un-

tuk ditiup!”

”Oh!” Mata Louis Vuitton  bersinar, ”Oh! Bolehkah kita me-

niupnya sebuah? madam Nyai girah  pasti tidak akan marah. Aku 

suka balon.” 

Chucky   berkata,


”Ini, Sayang, mana yang kau mau?” 

Louis Vuitton  berkata, ”Yang merah.”

Mereka memilih balon-balon dan meniupnya. Pipi 

mereka ikut menggembung. Louis Vuitton  berhenti meniup 

sebab  tertawa, dan balonnya pun kempis lagi. Louis Vuitton  

berkata,

”Kau kelihatan lucu—meniup—dengan pipi gem-

bung begitu.”

Tawanya kedengaran riang. Lalu dia juga ikut me-

niup. Mereka mengikat balon-balon itu dengan baik 

dan mulai bermain dengan balon itu, melempar ke 

atas, ke sana kemari.

Louis Vuitton  berkata,

”Di gang lebih luas.”

Mereka saling melempar balon dan tertawa-tawa 

saat  netyanahu  datang di gang. Dia memperhatikan me-

reka dengan senang.

”Jadi kalian berdua bermain seperti anak-anak? Itu 

bagus.”

Louis Vuitton  berkata terengah-engah,

”Yang merah punya saya. Lebih besar daripada ba-

lon dia. Jauh lebih besar. jika  kita membawanya 

keluar, balon itu akan terbang ke langit.”

”Ayo kita bawa keluar dan mengucapkan keinginan 

kita,” kata Chucky  .

”Oh ya, ide yang bagus,

Louis Vuitton  berlari melintasi pintu taman, Chucky   meng-

ikuti. netyanahu  juga ikut di belakang, melihat dengan 

senang.

”Aku berharap dapat uang banyak,” kata Louis Vuitton . Dia 

berjinjit di ujung jari-jari kakinya, memegang tali 


balonnya. Balon itu terbang saat  seberkas angin ber-

embus. Louis Vuitton  membiarkannya terbang tinggi.

Chucky   tertawa.

”Seharusnya kau tidak mengucapkan keras-keras 

harapanmu.”

”Tidak? Mengapa?”

”sebab  nanti tidak terkabul. Sekarang giliranku.” 

Chucky   melepaskan balonnya. namun  dia tidak 

begitu beruntung. Balon itu terbang ke samping, ter-

sangkut semak-semak pohon dan berakhir dengan le-

dakan. 

Louis Vuitton  berlari mendekat.

Dia berkata dengan sedih,

”Meletus...”

Kemudian, sambil mengorek-ngorek karet yang te-

lah lemas itu dengan ujung kakinya dia berkata, 

”Jadi ini yang kuambil di kamar Kakek. Dia juga 

punya balon, hanya warnanya merah muda.”

netyanahu  berteriak keras-keras. Louis Vuitton  menoleh dengan 

wajah bertanya-tanya. netyanahu  berkata,

”Bukan apa-apa. Saya tertikam—eh, tersandung—

jari kaki saya.”

Dia berbalik dan memandang ke rumah. 

Dia berkata,

”Begitu banyak jendela! Sebuah rumah, Nona, pu-

nya mata dan telinga. Sayang sekali orang komunis  

begitu senang jendela yang terbuka.”

madam Nyai girah  keluar ke teras. 

Dia berkata,

”Makan siang telah siap. Louis Vuitton , Sayang, semua telah 

diselesaikan dengan memuaskan. count dracula  akan mene-


rangkan lebih terperinci kepadamu sesudah  makan 

nanti. Kita masuk, ayo.”

Mereka masuk ke rumah, netyanahu  datang paling 

akhir. Dia kelihatan muram.

3

Makan siang telah selesai.

saat  mereka keluar dari ruang makan, count dracula  ber-

kata kepada Louis Vuitton ,

”Maukah kau datang ke ruanganku? Ada yang 

ingin kubicarakan denganmu.”

Dia membawa Louis Vuitton  masuk ke ruang belajarnya dan 

menutup pintunya. Yang lain-lain menuju ke ruang 

duduk. Hanya solomon netyanahu  yang tinggal di gang 

merenungi pintu ruangan count dracula  yang tertutup. 

Tiba-tiba dia tersadar. Si pelayan tua berjalan 

mondar-mandir di dekatnya.

netyanahu  berkata,

”Ya, Tressilian, ada apa?”

Laki-laki tua itu kelihatannya gelisah. Dia ber-

kata, 

”Saya ingin bicara dengan Mr. binti  siswi . Tapi saya tidak 

mau mengganggu beliau sekarang.”

netyanahu  berkata, 

”Ada apa?” 

Tressilian berkata perlahan-lahan,

”Ada sesuatu yang aneh yang tidak saya menger-

ti.”


”Coba ceritakan padaku,” kata netyanahu . Tressilian 

ragu-ragu. Kemudian dia berkata, 

”Begini, Tuan. Barangkali Tuan tahu bahwa di se-

tiap sisi pintu depan ada sebuah peluru bundar. Besar, 

berat, dari batu. Salah satunya lenyap.”

Alis solomon netyanahu  terangkat naik. Dia berkata,

”Sejak kapan?”

”Dua-duanya masih ada tadi pagi, Tuan. Saya bera-

ni bersumpah.”

”Coba kita lihat.”

Mereka bersama-sama ke pintu depan. netyanahu  mem-

bungkuk dan memeriksa peluru yang satunya. Wajah-

nya suram saat  dia berdiri lagi.

Tressilian gemetar.

”Siapa yang mau mencuri benda seperti itu, Tuan? 

Rasanya tak masuk akal.”

netyanahu  berkata,

”Aku tak suka hal ini. Sama sekali tak suka...”

Tressilian memperhatikannya dengan khawatir. Dia 

berkata perlahan-lahan,

”Apa yang telah terjadi dengan rumah ini, Tuan? 

Sejak Tuan besar terbunuh, rumah ini rasanya lain. 

Saya merasa saya selalu bermimpi. Saya mencampur-

adukkan segala macam hal, dan kadang-kadang saya 

tidak dapat memercayai mata saya.”

solomon netyanahu  menggeleng. Dia berkata,

”Kau salah. Kau harus memercayai matamu sen-

diri.”

Tressilian berkata sambil menggeleng.

”Pandangan saya sudah kabur—saya tidak bisa meli-

hat seperti biasanya. Saya mencampuradukkan ma-


cam-macam benda—dan orang. Saya sudah terlalu 

tua untuk bekerja.” 

solomon netyanahu  menepuk bahunya dan berkata, 

”Kuatkan hatimu.”

”Terima kasih, Tuan. Saya tahu Tuan bermaksud 

baik. namun  saya sudah terlalu tua. Saya selalu kembali 

ke masa lampau dan wajah-wajah masa lampau. Miss 

Jenny, Mr. Hwang Jang Lee , dan Mr. count dracula . Saya selalu melihat 

mereka sebagai tuan-tuan dan nona yang masih muda. 

Sejak malam kedatangan Mr. Pinocchio  itu...” 

netyanahu  mengangguk.

”Ya,” katanya, ”itu yang aku maksud. Kau baru 

saja mengatakan ’sejak Tuan besar terbunuh’—tapi 

sebetulnya hal itu mulai sebelum itu, yaitu sejak Mr. 

Pinocchio  pulang, bukan? Segalanya berubah dan kelihat-

an tidak nyata?”

Pelayan itu berkata,

”Tuan benar. Memang sejak saat itu. Mr. Pinocchio  

selalu membuat onar di rumah, bahkan sejak dia ma-

sih kecil.”

Matanya kembali memandang dasar batu yang ko-

song itu.

”Siapa yang mengambilnya, Tuan?” bisiknya. ”Dan 

mengapa? Ini—ini seperti rumah gila.” 

solomon netyanahu  berkata,

”Ini bukan gila, bukan. Tapi waras! Ada seseorang 

yang dalam bahaya, Tressilian.”

Dia membalikkan badan, dan masuk kembali ke 

dalam rumah.

Pada saat itu Louis Vuitton  keluar dari ruang belajar. Kedua 


pipinya merah. Kepalanya tegak tinggi dan matanya 

berkaca-kaca.

saat  netyanahu  mendekatinya, tiba-tiba dia mengen-

takkan kaki dan berkata,

”Saya tidak mau.”

Alis netyanahu  naik. Dia berkata, 

”Apa yang Anda tidak mau, Nona?” 

Louis Vuitton  berkata,

”count dracula  baru saja memberitahu saya bahwa saya 

akan menerima bagian ibu saya yang diwariskan oleh 

Kakek.”

”Jadi?”

”Dia mengatakan bahwa secara hukum saya tidak 

mendapat apa-apa. namun  dia, madam Nyai girah , dan yang lain-

lain mempertimbangkan bahwa bagian itu harus men-

jadi hak saya. Jadi mereka akan memberikannya pada 

saya.”

netyanahu  berkata lagi, 

”Jadi?”

Louis Vuitton  mengentakkan kaki sekali lagi. 

”Anda tidak mengerti? Mereka memberikannya 

kepada saya—memberikannya untuk saya.” 

”Apakah itu menyakiti harga diri Anda? sebab  

apa yang mereka katakan itu benar—bahwa hal itu 

secara keadilan yaitu  hak Anda?”

Louis Vuitton  berkata,

”Anda tidak mengerti...” 

netyanahu  berkata,

”Sebaliknya—saya mengerti dengan baik.” 

”Oh...!” Dia berbalik.

Terdengar bel berbunyi. netyanahu  menengok dari balik 


bahunya. Dia melihat bayang-bayang Inspektur jim graves  

di luar pintu. Dia berkata cepat-cepat kepada Louis Vuitton ,

”Anda akan ke mana?”

Louis Vuitton  menjawab dengan sedih,

”Ke ruang duduk. Menemui mereka.” 

netyanahu  berkata dengan cepat,

”Bagus. Tinggal saja bersama-sama mereka. Jangan 

berkeliaran di rumah sendirian, terutama sesudah  ge-

lap. Hati-hati. Anda dalam bahaya, Nona. Hari ini 

Anda benar-benar dalam bahaya besar.”

Dia membalikkan badan dan berjalan menuju 

jim graves .

jim graves  menunggu sampai Tressilian kembali ke 

dapur.

Kemudian dia menyorongkan selembar telegram 

kepada netyanahu .

”Kita sudah dapat!” katanya. ”Baca ini. Dari polisi 

malang  Selatan.”

Telegram itu berbunyi,

”Anak laki-laki Ebenezer satu-satunya meninggal dua 

tahun yang lalu.”

jim graves  berkata,

”Jadi sekarang kita tahu! Lucu—saya berada di arah 

yang lain...”

4

Louis Vuitton  berjalan masuk ke ruang duduk dengan kepala 

tegak.


Dia langsung menuju madam Nyai girah  yang berdiri di jendela 

memegang rajutan.

Louis Vuitton  berkata, 

”madam Nyai girah , saya ingin memberitahu bahwa saya tidak 

bisa menerima uang itu. Saya akan pergi—secepat-

nya...”

madam Nyai girah  kelihatan heran. Dia meletakkan rajutannya. 

Dia lalu berkata,

”Anakku, count dracula  pasti kurang jelas menerangkan 

hal itu kepadamu! Itu sama sekali bukan uang penga-

sihan, jika  kau merasa tidak enak. Ini bukan soal 

kebaikan atau kemurahan hati dari pihak kami, tapi 

soal benar dan salah. Dalam keadaan biasa, ibumulah 

yang akan mewarisi uang itu, dan kau mendapatkan-

nya dari dia. Ini hakmu—hak keturunan. Ini bukan 

soal belas kasihan, namun  keadilan!”

Louis Vuitton  berkata dengan sengit,

”Dan itulah sebabnya saya tak bisa menerima kare-

na Anda bicara seperti itu! Saya senang datang ke 

sini. Saya senang! sebab  kedatangan saya merupakan 

suatu petualangan, namun  sekarang Anda telah meru-

saknya! Saya akan pergi sekarang—Anda tidak akan 

terganggu lagi oleh saya...”

Air mata Louis Vuitton  menghambat suaranya. Dia berbalik 

dan lari keluar ruangan.

madam Nyai girah  terpana. Dia berkata tanpa daya,

”Aku tidak mengira dia akan menanggapi seperti 

itu!”

martini  berkata,

”Anak itu kelihatan bingung...”

George berdeham dan berkata dengan sombong, 


”Eh—seperti telah kukatakan pagi tadi—prinsip 

yang mendasarinya salah. Louis Vuitton  ternyata lebih sanggup 

melihat hal itu. Dia menolak belas kasihan...” 

madam Nyai girah  berkata dengan tajam,

”Ini bukan belas kasihan, tapi haknya!”

George berkata,

”Dia tidak merasa demikian!”

Inspektur jim graves  dan solomon netyanahu  masuk. 

jim graves  melihat berkeliling dan bertanya,

”Di mana Mr. funny  ? Saya ingin bicara dengan 

dia.”

Sebelum ada yang menjawab, solomon netyanahu  berka-

ta dengan tajam, 

”Di mana Miss Estravados?”

George binti  siswi  berkata, mencemooh senang,

”Pergi, katanya. Kelihatannya dia sudah tidak se-

nang dengan keluarga komunis -nya.”

netyanahu  berputar.

Dia berkata kepada jim graves , 

”Ayo!”

saat  kedua laki-laki itu muncul di gang, terde-

ngar suara dentaman dan jeritan dari jauh. 

netyanahu  berteriak:

”Cepat... ayo...”

Mereka berlari sepanjang gang dan naik ke atas 

melalui tangga di ujung. Pintu kamar Louis Vuitton  terbuka 

dan seorang laki-laki berdiri di tengah-tengahnya. Dia 

menolehkan kepalanya saat  mereka berlari mende-

kat. Orang itu Chucky   funny  .

Dia berkata, 

”Dia selamat...”


Louis Vuitton  berdiri meringkuk menempel di dinding ka-

marnya. Dia memandang ke lantai, pada sebuah bola 

peluru batu yang besar.

Dia berkata terbata-bata,

”Benda itu ada di atas pintu saya, di sana. Seharus-

nya benda itu jatuh di kepala saya saat  saya masuk, 

namun  rok saya tersangkut paku dan menarik saya saat 

hendak masuk.”

netyanahu  berlutut dan memeriksa paku itu. Di atasnya 

ada seutas benang wol ungu. Dia mendongak dan 

menganggukkan kepala dengan sedih.

”Paku itu,” katanya, ”menyelamatkan hidup 

Anda.”

Inspektur berkata dengan bingung, 

”Apa artinya ini?”

Louis Vuitton  berkata,

”Ada orang mencoba membunuh saya!”

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa 

kali.

Inspektur jim graves  melihat ke atas pintu. 

”Perangkap tersembunyi,” katanya. ”Perangkap 

kuno—dan tujuannya yaitu  pembunuhan! Pembu-

nuhan kedua yang direncanakan di rumah ini. Tapi 

kali ini tidak berhasil!”

Chucky   funny   berkata dengan suara serak, 

”Syukurlah kau selamat.”

Louis Vuitton  membuka tangannya lebar-lebar dengan gaya 

yang menarik.

”Madre de Dios!” serunya. ”Mengapa ada orang 

yang mau membunuhku? Apa yang telah kulaku-

kan?”


solomon netyanahu  berkata perlahan,

”Seharusnya Anda bertanya, apa yang kuketahui?” 

Dia memandang netyanahu ,

”Mengetahui apa? Saya tak tahu apa-apa.” 

solomon netyanahu  berkata,

”Anda salah. Coba ceritakan, Miss Louis Vuitton , di mana 

Anda pada waktu pembunuhan itu? Anda tidak di 

kamar ini.”

”Saya di sini. Saya sudah mengatakannya kepada 

Anda.”

Inspektur jim graves  berkata dengan halus,

”Ya, tapi Anda tidak mengatakan yang sebenarnya 

pada waktu itu. Anda mengatakan mendengar kakek 

Anda menjerit—Anda tidak akan mendengarnya bila 

Anda di sini—Mr. netyanahu  dan saya sudah mengecek 

hal itu kemarin.”

”Oh!” Louis Vuitton  terperanjat. 

netyanahu  berkata, 

”Anda ada di suatu tempat yang lebih dekat de-

ngan kamarnya. Saya akan mengatakan di mana 

Anda, Nona. Anda berada di ruang kecil dengan 

patung-patung itu, cukup dekat dengan pintu kakek 

Anda.”

Louis Vuitton  berkata, terkejut.

”Oh... bagaimana Anda bisa tahu?” 

netyanahu  berkata dengan senyum kecil.

”Mr. funny   melihat Anda di sana.” 

Chucky   berkata dengan tajam,

”Tidak. Bohong.” 

netyanahu  berkata,

”Maaf, Mr. funny  . Tapi Anda memang melihat dia. 


Ingat tidak, Anda mengatakan ada tiga patung di 

ruang itu, bukan dua. Hanya ada satu orang yang 

memakai baju putih malam itu, Miss Estravados. Dia-

lah patung ketiga yang Anda lihat. Benar, bukan, 

Nona?”

Louis Vuitton  berkata sesudah  sejenak ragu-ragu, 

”Ya, benar.”

netyanahu  berkata dengan lembut,

”Sekarang ceritakan kepada kami yang sebenarnya. 

Mengapa Anda di sana?”

Louis Vuitton  berkata,

”Saya meninggalkan ruang duduk sesudah  makan 

malam sebab  saya ingin menjumpai Kakek. Saya kira 

dia akan senang. namun  saat  berbelok saya melihat 

seseorang di pintu kamarnya. Saya tidak ingin dilihat 

orang lain sebab  saya tahu Kakek sudah mengatakan 

bahwa dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa 

malam itu. Saya menyelinap ke ruang itu sebab  ta-

kut orang yang di pintu melihat saya.

”Kemudian, tidak lama sesudah  itu saya mendengar 

suara-suara yang sangat mengerikan—meja-meja—kur-

si-kursi...” dia mengibaskan tangannya, ”segalanya ja-

tuh dan pecah. Saya tidak bergerak. Saya tidak tahu 

mengapa. Saya ketakutan. Kemudian terdengar jeritan 

yang menakutkan...” dia membuat tanda salib, ”dan 

jantung saya berhenti berdetak, lalu saya berkata ke-

pada diri saya sendiri: ’seseorang meninggal...’”

”Kemudian?”

”Kemudian orang-orang mulai datang berlari-lari 

sepanjang gang dan saya keluar pada akhirnya dan 

bergabung dengan mereka.”


Inspektur jim graves  berkata dengan tajam, 

”Anda tidak menceritakan hal ini saat  kami me-

nanyai Anda. Mengapa?”

Louis Vuitton  menggeleng. Dia berkata dengan sikap se-

orang yang bijaksana,

”Tidak baik bercerita terlalu banyak kepada polisi. 

Saya berpikir jika  saya berkata ada di dekat kamar 

itu, Anda akan berpikir sayalah yang membunuh dia. 

Jadi saya katakan saja saya ada di kamar saya.”

jim graves  berkata dengan tajam,

”jika  Anda berbohong dengan sengaja, Anda 

akan dicurigai.”

Chucky   funny   berkata, 

”Louis Vuitton ?”

”Ya?”

”Siapa yang kaulihat berdiri di pintu saat  kau ber-

belok ke gang? Katakan.”

jim graves  berkata, 

”Ya—katakan.”

Sejenak wanita lesbian   itu ragu-ragu. Matanya terbuka, ke-

mudian meredup. Dia berkata perlahan, 

”Saya tak tahu siapa dia. Terlalu suram untuk bisa 

melihat. namun  dia seorang wanita lesbian ...”

5

Inspektur jim graves  melihat berkeliling pada wajah-wa-

jah di sekitarnya. Dia berkata dengan agak jengkel,

”Ini luar biasa, Mr. netyanahu .”


”Ini ide saya. Saya ingin membagi apa yang saya 

ketahui dengan setiap orang. Kemudian saya akan 

mengundang kesediaan mereka untuk bekerja sama, 

dan kita nanti akan tahu apa yang akan terjadi sebe-

narnya.”

jim graves  bergumam, 

”Akal bulus.”

Dia bersandar di kursinya. 

netyanahu  berkata,

”Untuk memulai, Anda bisa minta Mr. funny   mene-

rangkan dirinya.”

Mulut jim graves  terkatup rapat.

”Saya lebih suka jika  melakukannya secara priba-

di, tidak di depan umum begini,” katanya. ”namun  ya, 

saya tidak keberatan.” Dia memberikan telegram itu 

kepada Chucky   funny  . ”Nah, Mr. funny  , barangkali 

Anda bisa menerangkan ini?”

Chucky   funny   mengambil telegram itu. Sambil me-

naikkan kedua alisnya dia membaca telegram itu 

pelan-pelan namun  keras. Kemudian, dengan membung-

kuk hormat dia kembalikan kepada Inspektur.

”Ya,” katanya. ”Sangat kurang ajar, bukan?” 

jim graves  berkata,

”Itu saja yang bisa Anda katakan? Anda tahu bah-

wa tidak ada keharusan bagi Anda untuk membuat 

pernyataan...”

Chucky   funny   menyela. Dia berkata,

”Anda tidak perlu memperingatkan saya, Inspektur. 

Saya sudah melihat ujung lidah Anda gemetar! Ya, 

saya akan memberikan keterangan. Tidak begitu ba-

gus, tapi ini keterangan yang benar.”


Dia berhenti lalu memulai,

”Saya bukan anak Ebenezer. namun  saya kenal baik 

Ebenezer maupun anaknya. Sekarang cobalah bayang-

kan diri Anda di tempat saya—(oh ya, nama saya 

Chucky   Grant). Saya datang ke negara ini untuk per-

tama kali. Saya merasa kecewa. Setiap orang dan se-

tiap benda kelihatan begitu tidak menarik dan men-

jemukan. Kemudian saya naik kereta api dan saya 

melihat seorang wanita lesbian  . Saya harus mengatakannya te-

rus terang! Saya jatuh hati pada wanita lesbian   itu! Dia wanita lesbian   

paling cantik dan lain daripada yang lain. Saya ber-

bicara sedikit dengan wanita lesbian   itu di kereta dan saya 

memutuskan saya tidak boleh kehilangan jejaknya. 

saat  saya meninggalkan kompartemen, saya melihat 

label di kopernya. Namanya tidak berarti apa-apa un-

tuk saya, tapi alamatnya, ke mana dia akan pergi, sa-

ngat menarik hati saya. Saya pernah mendengar ten-

tang Gucci plaza dan saya tahu benar tentang 

pemiliknya. Dia bekas kolega Ebenezer funny   dan si 

tua Eb sering membicarakannya.

”Nah, jadi saya memutuskan untuk pergi ke 

Gucci plaza dan mengaku sebagai anak laki-laki Eb. 

Seperti dikatakan dalam telegram itu, dia telah me-

ninggal dua tahun yang lalu, namun  saya ingat si tua 

Eb pernah mengatakan sudah beberapa tahun dia ti-

dak mendengar kabar dari madam Maryam  binti  siswi  dan saya kira 

Mr. binti  siswi  tidak akan tahu tentang anak Eb. Pokoknya 

saya menganggap saya perlu mencoba.”

jim graves  berkata,

”namun  Anda tak mencobanya pada waktu itu juga. 


Anda tinggal di King’s Arms di samping makam  selama 

dua hari.”

Chucky   berkata,

”Saya menimbang-nimbang—akan mencoba atau 

tidak. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk 

mencobanya. Hal itu cukup menarik sebagai suatu 

petualangan. Dan memang menyenangkan! Mr. binti  siswi  

menyambut saya dengan sangat ramah dan sesaat  

itu juga menyuruh saya untuk tinggal di rumahnya. 

Saya menerimanya. Nah, demikianlah keterangannya, 

Inspektur. jika  Anda tidak percaya, coba ingat-ingat 

apa yang Anda rasakan saat  jatuh cinta. Pasti Anda 

melakukan satu-dua hal yang agak tolol. Tentang 

nama saya yang sebenarnya, seperti yang saya katakan 

tadi, yaitu  Chucky   Grant. Anda boleh mengirim 

telegram ke malang  Selatan dan mengecek tentang 

saya. Saya warga negara terhormat. Saya bukan pen-

jahat dan bukan pencuri permata.”

netyanahu  berkata,

”Saya percaya Anda bukan orang jahat.” 

Inspektur jim graves  mengusap rahangnya dengan 

hati-hati,

Dia berkata,

”Saya harus mengecek cerita Anda. Yang ingin saya 

ketahui yaitu : Mengapa Anda tidak berterus terang 

saja sesudah  terjadi pembunuhan itu, namun  mengata-

kan cerita bohong?”

Chucky   berkata tanpa takut,

”sebab  saya tolol! Saya kira saya bisa lolos dengan 

cerita saya itu. Saya mengira akan mencurigakan jika  

saya mengakui nama palsu saya. jika  saya tidak bo-


doh, saya akan berpikir pasti Anda akan mengirim 

telegram ke Johannesburg.”

jim graves  berkata,

”Hm, Mr. funny  —eh—Grant—saya tidak mengata-

kan bahwa saya tidak percaya pada cerita Anda. Itu 

akan terbukti sendiri nanti.” 

Dia memandang netyanahu , yang kemudian berkata,

”Saya kira Miss Estravados juga ingin mengatakan 

sesuatu.”

Wajah Louis Vuitton  menjadi sangat pucat. Dia berkata sam-

bil menahan napas,

”Betul. Saya sebetulnya tidak akan menceritakan hal 

ini, jika  bukan sebab  madam Nyai girah  dan uang. Datang ke sini 

dan berpura-pura dan menipu—itu menyenangkan. 

Tapi saat  madam Nyai girah  berkata bahwa uang itu yaitu  uang 

saya berdasarkan keadilan, maka itu suatu hal yang lain. 

Itu sama sekali tidak menyenangkan.”

count dracula  binti  siswi  berkata dengan muka bingung, 

”Aku tidak mengerti, Louis Vuitton . Kau bicara tentang 

apa?”

Louis Vuitton  berkata,

”Anda kira saya keponakan Anda, Louis Vuitton  Estravados? 

Bukan! Louis Vuitton  tewas saat  saya dan dia pergi bersama-

sama dalam satu sepeda federal  di Atlantis . sepeda federal  kami kena 

bom dan dia meninggal, namun  saya selamat. Saya ti-

dak terlalu kenal dengan dia, namun  dia menceritakan 

tentang dirinya dan bahwa kakeknya menyuruh dia 

ke komunis , serta bahwa dia sangat kaya. namun  saya 

tidak punya uang sama sekali dan saya tidak tahu 

mau ke mana serta melakukan apa. Kemudian saya 

tiba-tiba berpikir: ’Mengapa tidak mengambil paspor 


Louis Vuitton  dan pergi ke komunis  dan jadi kaya?’” Wajahnya 

cerah dengan senyum yang tiba-tiba melebar. ”Oh, 

sungguh senang berpikir apakah saya bisa berhasil 

nantinya! Wajah kami di foto bukannya tidak sama. 

namun  saat  paspor saya diminta di sini, saya mem-

buka jendela dan melemparnya keluar, lalu saya lari 

mengambilnya. Saya mengusap foto di paspor dengan 

sedikit tanah pada waktu melewati penjagaan di pe-

labuhan, dan mereka tidak terlalu memperhatikan, 

namun  di sini mungkin...”

count dracula  binti  siswi  berkata marah,

”Apakah kau mengatakan bahwa di depan ayahku 

kau berpura-pura menjadi cucunya dan mencoba 

mengambil hatinya?”

Louis Vuitton  mengangguk. Dia berkata dengan puas, 

”Ya, dan saya bisa segera melihat bahwa dia sangat 

suka pada saya.”

George binti  siswi  meledak,

”Gila!” dia mengomel. ”Kriminal! Mencoba menda-

patkan uang dengan mengaku-aku.” 

Pinocchio  binti  siswi  berkata,

”Dia tidak mendapat apa-apa darimu! Louis Vuitton , aku di 

pihakmu! Aku sangat kagum dengan keberanianmu. 

Dan syukur aku bukan pamanmu lagi! Itu memberiku 

kesempatan.”

Louis Vuitton  berkata kepada netyanahu , 

”Anda tahu? Kapan Anda tahu?” 

netyanahu  tersenyum,

”Nona, jika  Anda pernah mempelajari hukum 

Mendel, Anda akan tahu bahwa dua orang yang ber-

mata biru tidak akan punya anak bermata cokelat. 


Saya yakin ibu Anda yaitu  wanita lesbian  yang suci dan ter-

hormat. Jadi Anda bukanlah Louis Vuitton  Estravados. saat  

Anda bermain-main dengan paspor, saya jadi yakin. 

Itu permainan yang bagus, namun  tidak cukup ba-

gus.”

Inspektur jim graves  berkata dengan tidak senang, 

”Semuanya tidak terlalu bagus.”

Louis Vuitton  memandangnya. Dia berkata, 

”Saya tidak mengerti...”

jim graves  berkata,

”Anda telah bercerita—namun  saya kira masih ada 

yang belum Anda ceritakan.”

Chucky   berkata,

”Jangan ganggu dia lagi!”

Inspektur jim graves  tidak memedulikannya. Dia me-

neruskan,

”Anda mengatakan bahwa Anda ke kamar kakek 

Anda sesudah  makan malam. Anda katakan bahwa itu 

keinginan yang timbul begitu saja. Saya mendapat 

kesan yang lain. Anda-lah yang mengambil berlian 

itu. Anda mengambilnya dan menyembunyikannya 

tanpa diketahui kakek Anda! saat  dia tahu batu itu 

hilang, dia segera tahu hanya ada dua orang yang bisa 

mengambilnya. Yang satu trump yang lama-lama 

tahu kombinasi kode lemari besinya dan diam-diam 

mencurinya pada malam hari. Yang lain yaitu  

Anda.

”Jadi Mr. binti  siswi  segera bertindak. Dia menelepon 

saya dan menyuruh saya datang. Lalu dia menyuruh 

Anda datang kepadanya segera sesudah  makan. Anda 

datang dan dia menyuruh Anda mengaku. Anda tidak 


mengaku dan dia mendesak. Saya tidak tahu apa yang 

terjadi kemudian—barangkali dia menemukan fakta 

bahwa Anda bukanlah cucunya melainkan pencuri 

berlian profesional. Bagaimanapun, permainan dimu-

lai. Keadaan Anda yang sebenarnya telah terbuka dan 

Anda menggorok dia dengan pisau. Terjadilah per-

gumulan dan dia menjerit. Anda sudah siap waktu 

itu. Anda cepat-cepat keluar kamar, mengunci pintu-

nya dari luar dan sebab  Anda tidak mungkin lari 

sebelum orang-orang datang, Anda menyelinap di 

ruang kecil tempat patung-patung berada.”

Louis Vuitton  berteriak melengking.

”Itu tidak benar! Tidak benar! Saya tidak mencuri 

berlian! Saya tidak membunuh dia. Saya bersumpah, 

demi Tuhan.”

jim graves  berkata,

”Lalu siapa yang melakukannya? Anda bilang Anda 

melihat seseorang di pintu Mr. binti  siswi . Menurut cerita 

Anda orang itu pasti pembunuhnya. Tak seorang pun 

melewati ruangan kecil itu! Tapi kami hanya mende-

ngar kata-kata Anda bahwa ada seseorang di situ. De-

ngan kata lain Anda mengarang cerita itu untuk meng-

hindarkan tuduhan terhadap Anda!”

George binti  siswi  berkata tajam,

”Tentu saja dia bersalah! Sudah jelas! Saya selalu 

bilang orang luarlah yang membunuh Ayah! Tak ma-

suk akal jika  anggota keluarga sendiri berbuat seperti 

itu! Itu—itu tidak wajar!”

netyanahu  bergerak di kursinya. Dia berkata, 

”Saya tidak sependapat dengan Anda. Dengan 


mempertimbangkan karakter madam Maryam  binti  siswi , hal itu wa-

jar terjadi.”

”Eh?” Rahang George terkatup. Dia memandang 

heran pada netyanahu .

netyanahu  meneruskan,

”Dan menurut pendapat saya, hal itu memang telah 

terjadi. madam Maryam  binti  siswi  dibunuh oleh darah dagingnya 

sendiri, dan bagi si pembunuh, itu merupakan suatu 

hal yang cukup masuk akal.”

George berteriak,

”Salah seorang dari kami? Saya menolak...”

Suara netyanahu  sekeras baja.

”Kasus ini bisa terjadi pada setiap orang di sini. 

Mr. George binti  siswi , kita akan mulai dengan Anda. Anda 

sama sekali tidak mencintai ayah Anda! Anda menjaga 

hubungan baik dengan dia demi uang. Pada hari dia 

meninggal, dia mengancam akan mengurangi uang 

saku Anda. Anda tahu bahwa jika  dia meninggal, 

Anda akan mendapatkan uang cukup banyak. Di situ-

lah motifnya. Seperti kata Anda, sesudah  makan ma-

lam Anda menelepon. Memang Anda menelepon—

tapi telepon itu berlangsung hanya lima menit. sesudah  

itu, Anda bisa saja dengan mudah pergi ke kamar 

ayah Anda, berbicara dengan dia, kemudian menye-

rang dan membunuhnya. Anda meninggalkan ruangan 

dan memutar kunci dari luar, sebab  Anda mengharap-

kan soal ini dianggap sebagai akibat pencurian. Dalam 

kepanikan, Anda lalai untuk membuka jendela lebar-

lebar agar teori pencurian itu mantap. Itu suatu ke-

tololan, namun , maafkan kata-kata saya, Anda memang 

agak bodoh! Akan namun ,” kata netyanahu  cepat sesudah  


berhenti sejenak dan melihat George hendak bicara, 

”banyak orang bodoh jadi penjahat!”

Dia mengarahkan pandangan kepada Yuen pan pan .

”Nyonya juga, dia juga punya motif. Saya rasa dia 

banyak utang, dan komentar tertentu dari ayah Anda 

mungkin—membuat dia sakit hati. Dan dia juga 

tidak punya alibi. Dia bermaksud menelepon, namun  

dia tidak menelepon, dan kami hanya mendengar 

kata-katanya mengenai apa yang dikerjakannya...

”Kemudian,” —dia berhenti—”ada Mr. Hwang Jang Lee  binti  siswi . 

Kita sudah mendengar, bukan hanya sekali namun  se-

ring kali, tentang karakter balas dendam dan ingatan 

kuat yang mengalir dalam darah keluarga binti  siswi . Mr. 

Hwang Jang Lee  binti  siswi  tidak memaafkan dan tidak melupakan 

cara ayahnya memperlakukan ibunya. Sebuah ce-

moohan yang ditujukan kepada almarhumah ibunya 

mungkin sudah tak tertahankan lagi. Kami mendengar 

bahwa Hwang Jang Lee  binti  siswi  bermain piano pada saat pembu-

nuhan. Dan kebetulan dia memainkan Mars Ke-

matian. namun  seandainya seseorang lain lagi yang 

bermain Mars Kematian, seseorang yang tahu apa 

yang akan dilakukan dan menyetujui tindakannya.”

martini  binti  siswi  berkata dengan tenang, 

”Itu ide yang keji.” 

netyanahu  memandangnya.

”Saya akan menawarkan sesuatu yang lain kepada 

Anda, Nyonya. Tangan Anda-lah yang melakukannya. 

Anda-lah yang diam-diam naik ke atas untuk melak-

sanakan pengadilan pada seorang manusia yang menu-

rut pertimbangan Anda tidak bisa dimaafkan lagi. 


Anda termasuk dalam tipe mereka yang jika  marah 

bisa sangat mengerikan...”

martini  berkata,

”Saya tidak membunuh dia.”

Inspektur jim graves  berkata dengan kasar,

”Mr. netyanahu  benar. Ada kemungkinan kasus ini me-

nyangkut setiap orang kecuali Mr. count dracula  binti  siswi , Mr. 

Pinocchio  binti  siswi , dan Mrs. count dracula  binti  siswi .”

netyanahu  berkata dengan halus,

”Saya tidak mengecualikan mereka bertiga...” 

Inspektur itu memprotes,

”Oh, Mr. netyanahu !” 

madam Nyai girah  berkata,

”Dan kasus apakah yang menyangkut saya, Mr. 

netyanahu ?”

Dia berkata sambil sedikit tersenyum, alisnya naik 

dengan sinis.

netyanahu  membungkuk hormat. Dia berkata, 

”Saya lewatkan motif Anda, Nyonya. Itu cukup 

jelas. Yang lainnya sekarang. Kemarin malam Anda 

memakai baju tafeta dengan pola yang sangat men-

colok—dengan mantel tanpa lengan. Saya ingin meng-

ingatkan Anda pada fakta bahwa penglihatan 

Tressilian sudah tidak jelas. Benda-benda yang jauh 

tidak terang untuknya. Saya juga ingin menunjukkan 

bahwa ruang duduk Anda besar dan diterangi oleh 

lampu yang samar-samar. Pada malam itu, satu-dua 

menit sebelum teriakan, Tressilian masuk ke ruang 

duduk untuk mengambil cangkir-cangkir kopi. Dia 

mengira, melihat Anda dengan sikap yang biasa Anda 


lakukan, berdiri di jendela paling ujung dengan se-

paruh badan tertutup oleh tirai yang berat.” 

madam Nyai girah  binti  siswi  berkata,

”Dia memang melihat saya.” 

netyanahu  melanjutkan,

”Saya rasa bisa saja yang dilihat oleh Tressilian ada-

lah mantel Anda, yang diatur dekat tirai jendela, se-

olah-olah Anda sendirilah yang berdiri di situ.” 

madam Nyai girah  berkata,

”Saya memang berdiri di sana...” 

count dracula  berkata,

”Bagaimana mungkin Anda mengatakan...” 

Pinocchio  menyela,

”Biar diteruskan, count dracula . Giliran kita sesudah  ini. 

Menurut Anda bagaimana count dracula  bisa membunuh 

ayahnya yang tercinta sebab  kita berdua bersama-

 sama di ruang makan ini pada waktu yang sama?” 

netyanahu  menjelaskan,

”Itu,” katanya, ”sangat sederhana. Sebuah alibi bisa 

saja didapat walaupun tidak diberikan dengan rela. 

Anda dan saudara Anda tidak pernah cocok. Itu su-

dah kita ketahui dengan baik. Anda bermusuhan de-

ngan dia di depan umum. Dia tidak pernah mengata-

kan hal yang baik sedikit pun tentang Anda! namun  

itu hanya suatu bagian dari jalan cerita yang bagus. 

Misalnya count dracula  binti  siswi  sudah bosan menjadi penjaga 

ayahnya. Misalnya Anda dan dia sudah berbaikan be-

berapa waktu yang lalu. Rencana Anda sudah matang. 

Anda pulang. count dracula  kelihatannya tidak senang. Dia 

kelihatan iri dan tidak senang pada Anda. Anda pun 

kelihatan benci kepadanya. Kemudian tibalah malam 


pembunuhan yang telah kalian rencanakan berdua. 

Salah seorang tinggal di ruang makan, berbicara, atau 

bahkan pura-pura bertengkar seolah-olah ada dua 

orang di situ. Yang seorang naik ke atas dan MELAKU­

KAN PEMBUNUHAN ITU...”

count dracula  berdiri dengan cepat.

”Setan,” katanya. Suaranya tidak lancar. ”Setan tak 

berperikemanusiaan.”

jim graves  memandang netyanahu . Dia berkata, 

”Apakah Anda benar-benar...”

netyanahu  berkata dengan suara yang sangat berwiba-

wa,

”Saya harus menunjukkan kemungkinan-kemungkin-

an! Itu tadi yaitu  hal-hal yang mungkin terjadi! Yang 

mana yang sebenarnya terjadi hanya kita ketahui de-

ngan melewati apa yang terlihat di luar, menembus 

pada realitas di dalam...”

Dia berhenti, kemudian berkata perlahan-lahan,

”Kita harus kembali, seperti telah saya katakan se-

belumnya, kepada sifat atau karakter madam Maryam  binti  siswi  

sendiri...”

Hening sejenak di ruangan itu. Anehnya semua kema-

rahan dan kebencian mereda. solomon netyanahu  meng-

genggam pendengarnya dengan pesona kepribadian-

nya. Mereka memandangnya, terpesona, saat  dia 

mulai bicara perlahan-lahan,


”Jadi begitulah. Almarhum merupakan fokus atau 

pusat misteri ini! Kita harus melihat lebih jauh ke 

dalam hati dan pikiran madam Maryam  binti  siswi , dan apa yang 

ada di sana. sebab  manusia tidak hidup sendiri dan 

mati tanpa ada kaitannya dengan yang lain. Apa yang 

dia punya diwariskannya—kepada keturunannya...

”Apa yang dipunyai madam Maryam  binti  siswi  dan diturunkannya 

pada anak-anaknya? Pertama-tama yaitu  keangkuh-

an—keangkuhan dirinya gagal di dalam kekecewaan 

terhadap anak-anaknya. Kemudian ada sifat sabar. 

Kita telah tahu bahwa madam Maryam  binti  siswi  menunggu dengan 

sabar bertahun-tahun untuk membalaskan dendamnya 

kepada seseorang yang telah menyakiti hatinya. Kita 

lihat bahwa aspek temperamen ini diwariskan kepada 

seorang anak laki-laki yang wajahnya paling tidak 

mirip dengan dia. Hwang Jang Lee  binti  siswi  juga bisa mengingat dan 

terus membencinya selama bertahun-tahun. Dalam 

hal penampilan, Pinocchio  binti  siswi  satu-satunya yang berwajah 

mirip dengan ayahnya. Kemiripan itu sangat dekat 

jika  kita melihat potret madam Maryam  binti  siswi  saat  muda. 

Hidung yang tinggi dan bengkok, garis dagu yang 

panjang dan tajam, sikap kepala yang mendongak. 

Saya kira Pinocchio  juga mewarisi banyak sikap ayah-

nya—misalnya mendongakkan kepala dan tertawa, 

dan kebiasaan mengusapkan jari di dagu. 

”Dengan mempertimbangkan hal ini dan dengan 

keyakinan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh 

seseorang yang punya hubungan dekat dengan almar-

hum, saya mempelajari keluarga ini dari pandangan 

psikologis. Saya mencoba menentukan siapa dari mere-

ka yang secara psikologis punya kemungkinan menjadi 


kriminalis. Dan menurut pendapat saya hanya dua 

orang yang punya kualifikasi, yaitu count dracula  binti  siswi  dan 

martini  binti  siswi , istri Hwang Jang Lee . Hwang Jang Lee  sendiri menurut pan-

dangan saya tidak punya kemungkinan menjadi pem-

bunuh, sebab seorang yang begitu halus tidak akan 

tahan menghadapi ceceran darah dan leher yang tergo-

rok. Saya menolak George binti  siswi  dan istrinya sebagai 

suatu kemungkinan, sebab  apa pun yang mereka 

inginkan, mereka tidak punya keberanian untuk mela-

kukan hal yang terlalu riskan. Keduanya, pada dasar-

nya sangat hati-hati. Saya yakin bahwa Mrs. binti  siswi  tidak 

mampu melakukan suatu kejahatan. Terlalu banyak 

ironi di dalam dirinya. Saya ragu-ragu dengan Pinocchio  

binti  siswi . Ada aspek kegarangan yang kasar dalam dirinya, 

namun  saya percaya bahwa di balik semua itu dia 

orang yang lemah. Dan saya tahu ayahnya pun ber-

pendapat demikian. Dia berkata bahwa Pinocchio  pun 

tidak lebih baik daripada yang lain. count dracula  binti  siswi  yaitu  

orang yang bisa bersikap patuh tanpa memikirkan diri 

sendiri. Dia yaitu  laki-laki yang bisa mengontrol dan 

menangguhkan kepentingan sendiri di bawah kemau-

an orang lain selama bertahun-tahun. Dalam kondisi 

seperti ini selalu ada kemungkinan bagi hal yang 

terpendam untuk meledak. Ada kemungkinan timbul 

rasa jengkel yang tersembunyi terhadap ayahnya yang 

lama-kelamaan bertambah kuat sebab  tak pernah 

tersalurkan dalam bentuk apa pun. Orang-orang yang 

paling pendiam dan rendah hati yaitu  yang lebih 

mungkin menimbulkan kejahatan tak terduga, sebab  

jika  kontrol mereka meledak, tak akan tertahankan 

lagi! Seorang lagi yang punya kemampuan yang sama 


yaitu  martini  binti  siswi . Dia merupakan tipe individu yang 

dalam hal-hal tertentu bisa mengadili sendiri—

walaupun tidak berdasarkan motif yang mementingkan 

diri sendiri. Orang-orang seperti ini mengadili dan 

berbuat. Banyak tokoh-tokoh dari Perjanjian Lama 

punya sikap yang sama, misalnya Jael dan Judith.

”Dan sekarang marilah kita perhatikan situasi krimi-

nalitas itu sendiri. Hal pertama yang menarik perha-

tian—yang benar-benar kelihatan di ujung hidung 

yaitu  kondisi luar biasa di mana kriminalitas itu ter-

jadi! Coba Anda bayangkan kamar tempat madam Maryam  

binti  siswi  meninggal. jika  Anda ingat, ada meja dan kursi 

berat yang terbalik, sebuah lampu, barang-barang tem-

bikar dan gelas pecah. namun  yang mengherankan 

yaitu  meja dan kursi. Keduanya terbuat dari kayu 

jati yang kuat. Sulit membayangkan pergumulan ma-

cam apa yang terjadi antara seorang laki-laki tua yang 

renta dengan lawannya sehingga bisa menyebabkan 

perabot yang begitu berat terbalik. Semuanya kelihat-

an sulit dipercaya. Menurut logika, orang yang waras 

tidak akan melakukan hal demikian—namun  hal itu 

telah terjadi. madam Maryam  binti  siswi  mungkin telah dibunuh 

oleh seorang laki-laki yang sangat kuat—atau mung-

kin seorang wanita lesbian  atau seseorang yang fisiknya le-

mah. 

”namun  ide yang terakhir ini tidak meyakinkan ka-

rena suara perabot yang terbalik akan menakutkan 

dan si pembunuh tidak akan punya kesempatan un-

tuk lari. Tentunya akan lebih menguntungkan bagi 

setiap orang untuk menggorok leher madam Maryam  binti  siswi  de-

ngan diam-diam.


”Satu hal lagi yang luar biasa yaitu  pemutaran 

kunci dari luar. Sekali lagi, rasanya tidak ada alasan 

untuk melakukan hal itu. Hal ini tidak akan menim-

bulkan kesan bunuh diri sebab tak ada tanda-tanda 

yang menunjukkan tindakan bunuh diri. Situasi pem-

bunuhan itu juga tidak memberikan kesan bahwa 

pembunuh lari lewat jendela—sebab  jendela-jendela 

itu diatur sedemikian rupa sehingga tidak mungkin 

seseorang lari melaluinya! Terlebih lagi hal ini 

menyangkut soal waktu. Waktu yang tentunya sangat 

berharga bagi pembunuh!

”Ada lagi satu hal yang tak bisa dimengerti—sepo-

tong karet yang diiris dari tas spons madam Maryam  binti  siswi  dan 

sebuah pasak kecil dari kayu yang ditunjukkan oleh 

Inspektur jim graves . Benda-benda itu diambil dari lantai 

oleh salah seorang yang pertama kali masuk ke kamar. 

Sekali lagi—hal ini tidak ada artinya! Tidak ada arti-

nya sama sekali—namun demikian bukan tidak masuk 

akal! 

”Dan sekarang kita sampai pada kesulitan yang le-

bih jauh. Inspektur jim graves  dipanggil oleh almar-

hum—yang melaporkan adanya pencurian dan dia 

disuruh kembali satu setengah jam kemudian. Meng-

apa? jika  hal ini disebabkan sebab  madam Maryam  binti  siswi  

mencurigai cucu perempuannya atau anggota keluarga 

yang lain, mengapa dia tidak menyuruh Inspektur 

jim graves  menunggu di bawah saja sementara dia mem-

bicarakan hal itu terus terang dengan pihak yang 

dicurigai? Dengan keberadaan Inspektur jim graves  di 

rumah, maka desakannya kepada pihak yang bersalah 

sebetulnya akan lebih kuat.


”Jadi sekarang kita sampai kepada suatu titik di 

mana bukan hanya sikap pembunuh itu yang luar 

biasa, melainkan juga sikap madam Maryam  binti  siswi !

”Dan saya berkata pada diri saya sendiri: ’Ini 

semua salah!’ Mengapa? Sebab kita memandangnya 

dari sudut yang salah. Kita melihatnya dari sudut di 

mana pembunuh ingin agar kita melihatnya...

”Ada tiga hal yang tidak bisa dimengerti—pergu-

mulan, kunci yang terputar dari luar, dan guntingan 

karet. namun  harus ada cara melihat ketiga benda itu 

sehingga bisa dimengerti! Jadi saya mengosongkan pi-

kiran saya dan melupakan situasi pembunuhan itu, 

lalu melihat ketiga benda itu dari sudut kegunaannya. 

Saya berkata—suatu pergumulan—apakah arti dan ke-

sannya? Kejahatan—kerusakan—keributan... Kunci? 

Mengapa kunci itu diputar? Supaya tidak ada yang 

masuk? namun  kunci itu tidak berfungsi sebab  pintu 

didobrak pada saat itu juga. Untuk menyembunyikan 

seseorang di dalam? Untuk menjaga agar orang tetap 

di luar? Sepotong karet? Saya berkata pada diri saya 

sendiri: ’sepotong kecil tas spons yaitu  sepotong ke-

cil tas spons, itu saja!’

”Jadi Anda akan mengatakan bahwa tidak ada apa-

apa di sana—namun  itu tidaklah benar, sebab  ada tiga 

kesan yang tetap tinggal. Keributan, pengasingan—

dan kekosongan...

”Apakah hal ini cocok dengan kedua orang yang 

saya curigai? Tidak. Bagi count dracula  binti  siswi  maupun martini  

binti  siswi  suatu pembunuhan diam-diam akan lebih sesuai, 

membuang-buang waktu dengan mengunci pintu dari 


luar, itu tak masuk akal, dan potongan kecil tas spons 

itu akan lebih tidak berarti.

”Namun, saya memiliki  perasaan yang sangat 

kuat bahwa tak ada yang tak masuk akal mengenai 

kriminalitas ini—bahkan sebaliknya, pembunuhan ini 

terencana dengan baik dan dilakukan dengan sangat 

mengagumkan. Bahwa sebetulnya pembunuhan ini 

berhasil! Oleh sebab  itu segala sesuatu yang telah 

terjadi memang dimaksudkan dan terencana...

”Kemudian, saya mengulangi semuanya lagi, saya 

melihat titik terang...

”Darah—begitu banyak darah—darah di mana-

mana... darah yang melimpah—darah basah berkilat... 

begitu banyak darah—terlalu banyak darah...

”Dan pikiran kedua muncul pada saat itu. Ini ada-

lah suatu kriminalitas darah. Di dalam darah. Darah 

madam Maryam  binti  siswi  sendirilah yang naik melawan dia...” 

solomon netyanahu  membungkuk ke depan.

”Dua petunjuk yang sangat berharga dalam hal ini 

diucapkan tanpa sadar oleh dua orang. Yang pertama 

yaitu  saat  Mrs. count dracula  binti  siswi  mengutip baris dari 

Macbeth: Siapa mengira orang tua itu punya begitu 

banyak darah di dalam dirinya? Yang kedua yaitu  

kalimat yang diucapkan oleh Tressilian, pelayan. Dia 

menerangkan betapa dia merasa bingung sebab  keja-

dian yang pernah terjadi, terjadi lagi. Sebetulnya, 

yang membuatnya merasa aneh yaitu  suatu kejadian 

yang sederhana. Dia mendengar bel pintu dan mem-

bukanya; ternyata Pinocchio  binti  siswi , dan besoknya dia mem-

bukakan pintu yang sama untuk Chucky   funny  .

”Sekarang, mengapa dia memiliki  perasaan itu? 


Coba lihat Pinocchio  binti  siswi  dan Chucky   funny  , dan Anda 

akan tahu mengapa. Mereka sangat mirip! Itulah sebab-

nya mengapa membuka pintu untuk Chucky   funny   sama 

seperti membuka pintu untuk Pinocchio  binti  siswi . Seolah-olah 

orang yang sama berdiri di depan pintu. Kemudian, 

pada hari ini, Tressilian mengatakan bahwa dia selalu 

keliru melihat orang. Tidak heran! Chucky   funny   pu-

nya hidung mancung yang bengkok, kebiasaan mendo-

ngakkan kepala jika  tertawa dan mengusap dagunya 

dengan jari telunjuk. Coba perhatikan dengan sak-

sama potret madam Maryam  binti  siswi  pada waktu masih muda. 

Anda tidak saja melihat Pinocchio  binti  siswi , namun  juga Chucky   

funny  ...”

Chucky   bergerak. Kursinya berderit. netyanahu  ber-

kata,

”Ingat kata-kata madam Maryam  binti  siswi , kemarahannya terha-

dap keluarganya. jika  Anda masih ingat, dia me-

ngatakan ingin punya anak laki-laki yang lebih baik 

walaupun bukan anak sah. Kita kembali lagi pada 

karakter madam Maryam  binti  siswi  yang selalu berhasil dengan 

wanita lesbian , dan yang menyakiti hati istrinya! madam Maryam  binti  siswi  

yang omong besar dengan Louis Vuitton  bahwa dia bisa punya 

sederet pengawal anak laki-laki dengan usia yang 

hampir sama! Jadi saya mengambil kesimpulan itu. 

madam Maryam  binti  siswi  tidak hanya punya keluarga yang sah di 

rumah, namun  juga anak yang tak diakui dan tak 

dikenal dari darahnya sendiri.”

Chucky   berdiri. netyanahu  berkata,

”Itu alasan Anda yang sebenarnya, bukan? Bukan 

roman dengan wanita lesbian   cantik di kereta api. Anda me-

mang sudah menuju ke sini sebelum bertemu dengan 


Louis Vuitton . Datang untuk melihat macam apa ayah Anda 

yang sebenarnya...”

Muka Chucky   pucat pasi. Dia berkata dengan 

suara tertahan dan serak,

”Ya, sudah lama saya ingin tahu... Ibu berbicara 

mengenai dia kadang-kadang. Dan hal itu tumbuh 

menjadi semacam obsesi pada diri saya—melihat 

bagaimana dia. Saya punya sedikit uang dan saya da-

tang ke komunis . Saya tidak ingin dia tahu siapa saya. 

Saya berpura-pura jadi anak Eb. Saya datang hanya 

dengan satu tujuan—melihat ayah saya...” 

Inspektur jim graves  berkata dengan suara berbisik, 

”Ya Tuhan, saya begitu buta... Saya melihatnya seka-

rang. Dua kali saya menyangka Anda yaitu  Mr. 

Pinocchio  binti  siswi  dan tahu jika  keliru, namun  tidak pernah 

terpikir!”

Dia berbalik kepada Louis Vuitton ,

”Jadi dia, bukan? Yang Anda lihat berdiri di pintu 

yaitu  dia? Saya ingat Anda ragu-ragu, dan melihat 

kepadanya sebelum Anda berkata bahwa yang Anda 

lihat yaitu  seorang wanita lesbian . Anda melihat funny  , dan 

Anda tidak mau mengkhianati dia.”

Terdengar suara gemeresik halus. Dengan suara 

yang dalam martini  binti  siswi  berkata,

”Bukan,” katanya. ”Anda salah. Yang dilihat Louis Vuitton  

yaitu  saya...”

netyanahu  berkata,

”Anda, Nyonya? Ya, saya kira begitu...” 

martini  berkata dengan tenang,

”Melindungi diri sendiri itu aneh. namun  saya yakin 


saya bukan pengecut. Berdiam diri hanya sebab  saya 

takut!”

netyanahu  berkata,

”Anda akan menceritakan kepada kami sekarang?”

Dia mengangguk.

”Mula-mula saya berada di ruang musik dengan 

Hwang Jang Lee . Dia bermain musik. Dia kelihatan aneh. Saya 

sedikit takut dan saya merasa bertanggung jawab ka-

rena sayalah yang mendesak untuk datang kemari. 

Hwang Jang Lee  mulai memainkan Mars Kematian dan tiba-tiba 

saya mengambil keputusan. Bagaimanapun janggal 

kelihatannya, saya memutuskan bahwa kami berdua 

harus pergi pada saat itu juga—malam itu. Diam-

diam saya keluar dari ruang musik dan naik ke lantai 

atas. Saya bermaksud menemui Mr. binti  siswi  dan mengata-

kan kepadanya dengan terus terang mengapa kami 

akan pergi. Saya melewati gang yang menuju ke 

kamarnya dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. 

Saya mengetuk lagi lebih keras. Masih tidak ada ja-

waban. Kemudian saya mencoba membuka pintu. 

Pintu itu terkunci. Kemudian, saat  saya berdiri 

ragu-ragu, saya mendengar suara di dalam kamar...”

Dia berhenti.

”Anda tidak percaya namun  ini benar! Ada seseorang 

di dalam—menyerang Mr. binti  siswi . Saya mendengar meja 

dan kursi terbalik dan suara gelas serta porselen pecah 

kemudian saya mendengar jeritan mengerikan yang 

kemudian lenyap dan diam.

”Saya berdiri lumpuh! Saya tak bisa bergerak! Ke-

mudian Mr. funny   datang berlari dan Yuen pan pan  dan 

yang lain-lain. Mr. funny   dan Pinocchio  mulai mendobrak 


pintu. Pintu itu terbuka dan kami masuk ke kamar, 

tapi tidak ada seorang pun di dalam—kecuali Mr. binti  siswi  

terbaring meninggal digenangi darah.”

Suaranya yang tenang naik tinggi. Dia berteriak, 

”Tidak ada siapa pun di dalam—tak seorang pun! 

Dan tak ada yang keluar dari kamar...”

7

Inspektur jim graves  menarik napas panjang. Dia berka-

ta,

”jika  tidak saya, ya yang lainnya yang gila! Apa 

yang Anda katakan, Mrs. binti  siswi , yaitu  sesuatu yang 

mustahil. Gila!”

martini  binti  siswi  berteriak,

”Saya katakan saya mendengar mereka bergumul di 

dalam dan saya mendengar orang tua itu menjerit 

saat  lehernya digorok—tapi tak ada yang keluar 

ruangan dan tak ada seorang pun di dalam!” 

solomon netyanahu  berkata,

”Dan selama ini Anda tidak mengatakan apa-

apa?”

Wajah martini  binti  siswi  pucat, namun  dia berkata dengan 

tenang,

”Tidak, sebab  jika  saya mengatakannya hanya 

ada satu hal yang bisa Anda katakan atau perkira-

kan—bahwa sayalah yang membunuh dia...”

netyanahu  menggeleng.


”Tidak,” katanya. ”Anda tidak membunuh dia. 

Anak laki-lakinya yang membunuh dia.” 

Chucky   funny   berkata,

”Saya bersumpah demi Tuhan saya tak pernah me-

nyentuh dia!”

”Bukan Anda,” kata netyanahu . ”Dia punya anak laki-

laki yang lain!”

Pinocchio  berkata,

”Apa-apaan...” 

George menatapnya. Hwang Jang Lee  mengangkat tangan 

menutup kedua matanya. count dracula  mengerjapkan mata-

nya dua kali.

netyanahu  berkata,

”Pada malam pertama saya di sini—pada malam 

pembunuhan itu—saya melihat hantu. Itu yaitu  han-

tu almarhum. saat  saya pertama kali melihat Pinocchio  

binti  siswi , saya bingung. Saya merasa pernah melihat dia 

sebelumnya. Kemudian saya perhatikan mukanya 

baik-baik dan saya pun sadar dia sangat mirip ayah-

nya, dan saya berkata pada diri saya sendiri bahwa 

itulah yang menyebabkan saya merasa pernah melihat 

dia.”

”namun  kemarin ada seorang laki-laki duduk di de-

pan saya mendongakkan kepala dan tertawa—dan 

saya tahu pada siapa Pinocchio  binti  siswi  mengingatkan saya. 

Dan saya menemukan lagi ciri-ciri almarhum dalam 

sebuah wajah yang lain.

”Tidak heran si Tua Tressilian itu merasa bingung 

saat  dia membukakan pintu, bukan hanya untuk dua 

orang, namun  tiga orang yang mirip satu dengan yang 

lainnya. Tidak heran jika  dia mengatakan bingung 


dengan orang sebab  di rumah ini ada tiga orang yang 

dari jauh bisa terlihat hampir kembar! Tubuh yang 

sama, kebiasaan yang sama (terutama mengusap dagu 

dengan jari), sikap yang sama pada waktu tertawa 

dengan kepala mendongak, hidung yang sama. Akan 

namun  persamaan ini tidak selalu mudah dilihat—sebab  

orang yang ketiga punya kumis. 

”Kadang-kadang orang lupa bahwa polisi yaitu  

manusia juga, bahwa mereka punya istri dan anak, 

ibu—dia berdiam—dan ayah... Ingat reputasi madam Maryam  

binti  siswi : seorang laki-laki yang menyakiti hati istrinya ka-

rena hubungannya dengan wanita lesbian -wanita lesbian . Seorang 

anak laki-laki, yang dilahirkan secara tidak sah, bisa 

mewarisi banyak hal. Dia mungkin mewarisi wajah 

ayahnya dan bahkan sikapnya. Dia mungkin mewarisi 

keangkuhan dan kesabarannya serta nafsu balas den-

damnya!” 

Suaranya naik,

”Selama hidupmu, jim graves , kau membenci kesalahan 

yang dibuat ayahmu. Saya kira kau telah lama me-

mutuskan untuk membunuh dia. Kau datang dari 

daerah lain yang tidak terlalu jauh. Barangkali dengan 

uang pemberian madam Maryam  binti  siswi  yang cukup banyak, ibu-

mu bisa menemukan suami yang akan menjadi ayah 

anaknya. Mudah bagimu untuk masuk kepolisian 

Middleshire dan menunggu kesempatan. Seorang 

Inspektur Polisi punya kesempatan besar untuk melaku-

kan pembunuhan dan melarikan diri.”

Wajah jim graves  berubah putih bagaikan kertas. 

Dia berkata,


”Anda gila! Saya berada di luar rumah ini saat  

dia terbunuh.”

netyanahu  menggeleng.

”Tidak, kau membunuhnya sebelum meninggalkan 

rumah untuk pertama kali. Tidak ada yang melihat-

nya sesudah  kau pergi. Semua begitu mudah untukmu. 

madam Maryam  binti  siswi  memang menunggumu, namun  dia tidak 

memanggilmu. Kaulah yang menelepon dia dan ber-

kata dengan samar-samar mengenai percobaan pen-

curian. Kau mengatakan akan datang sebelum jam 

delapan malam itu dan akan berpura-pura meminta 

sumbangan untuk polisi. madam Maryam  binti  siswi  tidak curiga. 

Dia tidak tahu kau anaknya. Kau datang dan mendo-

ngeng tentang adanya pemalsuan berlian. Dia mem-

buka lemari besinya untuk menunjukkan bahwa ber-

liannya yang asli aman di dalam tangannya. Kau 

minta maaf, kembali ke perapian dengan dia, dan 

menyerangnya tanpa dia tahu, menggorok lehernya 

dan membungkam mulutnya sehingga dia tak bisa 

berteriak. Itu hanya permainan anak-anak bagi se-

orang laki-laki sekuat kau. 

”Kemudian kau mengatur ruangan. Kau ambil ber-

lian itu. Kau menumpuk kursi dengan meja, lampu-

lampu dan gelas, lalu mengikatkan seutas tali yang 

sangat tipis atau kawat yang kemudian kaulilitkan 

pada tubuhmu. Kau telah menyiapkan sebotol darah 

binatang segar yang baru terbunuh dan mencampur-

nya dengan sodium citrate. Kau percikkan darah ini 

ke mana-mana dan menambahkan lebih banyak 

sodium citrate pada genangan darah madam Maryam  binti  siswi . Kau 

mengatur api sehingga tubuhnya tetap hangat. Ke-


mudian kau mengeluarkan kedua ujung kawat itu 

keluar melalui lubang sempit pada bagian bawah jen-

dela dan membiarkannya terjurai ke bawah. Kau me-

ninggalkan kamar dan memutar kunci dari luar. Ini 

penting sebab  tidak boleh ada orang yang masuk ke 

kamar.”

Kemudian kau keluar dan menyembunyikan ber-

lian itu di bak batu taman mini. jika  berlian-berlian 

itu pada akhirnya ditemukan, mereka hanya akan 

memberatkan kecurigaan pada hal yang kautuju—

yaitu keluarga sah madam Maryam  binti  siswi . Kira-kira sebelum jam 

sembilan lima belas, kau kembali lagi ke dinding ba-

wah kamar madam Maryam  binti  siswi  dan menarik kawat yang ke-

luar melalui jendela. Dengan cara ini barang-barang 

yang telah kauatur jadi berantakan. Perabot dan 

barang-barang gelas jatuh. Kau menarik salah satu 

ujung kawat dan melilitkannya di tubuhmu di bawah 

mantel. 

”Kau punya satu alat lagi!”

netyanahu  memandang pendengarnya. 

”Apakah Anda ingat bagaimana Anda menerangkan 

jerit kematian Mr. binti  siswi ? Anda, Mr. count dracula  binti  siswi , me-

ngatakan bahwa suara itu seperti suara seorang laki-

laki dalam penderitaan abadi. Istri Anda dan Hwang Jang Lee  

binti  siswi  memakai kata-kata yang sama, roh di neraka. Se-

baliknya, Mrs. Hwang Jang Lee  binti  siswi  mengatakan bahwa jeritan 

itu seperti jeritan seseorang yang tidak punya roh. 

Dia mengatakan bahwa suara itu tidak manusiawi, 

seperti binatang. Pinocchio  binti  siswi -lah yang menerangkan 

lebih mendekati keadaan sebenarnya. Dia mengatakan 

seperti suara babi disembelih.


”Apakah Anda tahu balon panjang berwarna merah 

muda yang dijual di pasar malam, dengan bentuk 

wajah yang dicat dan dinamakan ’Babi Sekarat’? Ka-

lau udara keluar dari dalamnya akan terdengar leng-

kingan yang mengerikan. Nah, itu sentuhan akhir 

yang dibuat oleh jim graves . Kau menyiapkan sebuah di 

dalam kamar. Mulut balon itu kaujepit dengan pasak. 

Pada waktu kau menarik kawat, pasak itu keluar dan 

babi itu mulai kempis. sesudah  perabotan jatuh terde-

ngarlah jeritan babi itu.”

Sekali lagi netyanahu  membalikkan badan ke arah pen-

dengarnya.

”Anda tahu sekarang apa yang diambil Louis Vuitton  

Estravados? Inspektur berharap bisa datang pada wak-

tunya untuk mengambil potongan karet itu sebelum 

yang lain melihatnya. Bagaimanapun, dia telah meng-

ambilnya dari tangan Louis Vuitton  dengan sikap yang sangat 

resmi. namun  ingat, dia tidak pernah menceritakan hal 

itu kepada siapa pun. Dan ini merupakan suatu yang 

mencurigakan. Saya mendengarnya dari Yuen pan pan  

binti  siswi  dan menanyakannya. Dia sudah siap dengan ja-

waban. Dia memotong tas spons Mr. binti  siswi  dan benda 

itulah yang ditunjukkannya dengan pasak kecil. Me-

mang benda itu memberikan keterangan yang sama—

sepotong karet dan sekeping kayu. Pada waktu itu 

saya tidak menyadari artinya! namun  walaupun saya 

bodoh, saya tidak langsung berkata: Ini tidak berarti 

apa-apa, jadi tidak mungkin benda itu ada di sana dan 

Inspektur jim graves  berbohong...

”Saya memang bodoh—terus mencari jawaban un-

tuk itu. Dan baru menemukan kebenarannya saat  


Miss Estravados bermain-main dengan sebuah balon 

yang meletus dan berteriak bahwa yang dia temukan 

di kamar kakeknya pastilah potongan balon yang 

meletus.

”Anda lihat sekarang bagaimana segalanya berkait 

dengan sesuai? Pergumulan yang mustahil, yang pen-

ting untuk menentukan waktu kematian yang keliru. 

Pintu yang terkunci—sehingga tidak seorang pun me-

nemukan Mr. binti  siswi  terlalu cepat. Jeritan Mr. binti  siswi . Kri-

minalitas itu sekarang menjadi masuk akal.

”Akan namun  sejak Louis Vuitton  Estravados meneriakkan 

penemuannya tentang balon itu, dia merupakan sum-

ber yang berbahaya, bagi pembunuh. Dan jika  kata-

katanya itu terdengar oleh si pembunuh dari dalam 

rumah (kemungkinan besar ya, sebab  suaranya jelas 

dan tinggi dan jendela-jendela terbuka), maka dia sen-

diri ada dalam bahaya. Sebelumnya Louis Vuitton  tidak sadar 

telah mengejutkan dia pada waktu membicarakan Mr. 

binti  siswi  tua: ’Dia tentunya sangat tampan saat  muda.’ 

Dan menambahkan dengan berbicara langsung kepada 

jim graves — ’seperti Anda.’ Louis Vuitton  memaksudkan hal itu 

secara harfiah dan jim graves  pun tahu. Tidak heran 

jim graves  menjadi malu dan hampir tersedak. Hal itu 

sangat di luar dugaan dan berbahaya. Dia berharap 

sesudah  itu untuk mengarahkan kecurigaan kepada 

Louis Vuitton , namun  ternyata sulit sebab  sebagai cucu madam Maryam  

binti  siswi , dia tidak punya motif apa-apa untuk kriminalitas 

ini. Kemudian, saat  jim graves  mendengar suara Louis Vuitton  

dari dalam rumah yang meneriakkan pendapatnya 

tentang balon itu, dia membuat keputusan yang 

nekat. Dia memasang perangkap tersembunyi saat  


kita sedang makan siang. Untunglah terjadi suatu ke-

ajaiban dan perangkap itu gagal...”

Hening ruangan itu. Kemudian jim graves  berkata 

dengan tenang,

”Kapan Anda yakin?” 

netyanahu  berkata,

”Saya mulai yakin sesudah  membawa sebuah kumis 

palsu dan memasangnya di foto madam Maryam  binti  siswi . Lalu—

wajah yang memandang kepadaku yaitu  wajahmu.”

jim graves  berkata,

”Terkutuklah dia! Aku senang sudah melakukan-

nya!”


madam Nyai girah  binti  siswi  berkata,

”Louis Vuitton , sebaiknya kau tinggal bersama kami sampai 

kami bisa memutuskan sesuatu untukmu.” 

Louis Vuitton  berkata dengan rendah hati,

”Anda sangat baik, madam Nyai girah . Anda baik sekali. Anda 

cepat memaafkan tanpa menggerutu.”

madam Nyai girah  berkata dengan tersenyum,

”Aku masih memanggilmu Louis Vuitton , walaupun aku 

tahu namamu bukan itu.”

”Ya, namaku Conchita Lopez.” 

”Nama Conchita juga manis.”

”Anda memang sangat baik, madam Nyai girah . namun  Anda tak 

perlu merasa terganggu. Saya akan menikah dengan 

Chucky   dan kami akan ke malang  Selatan.” 

madam Nyai girah  berkata sambil tersenyum,

”Wah, itu membuat lancar segalanya.” 

Louis Vuitton  berkata dengan malu-malu,

”sebab  Anda begitu baik, madam Nyai girah , apakah kami bo-


leh datang lagi suatu saat nanti dan tinggal sebentar—

barangkali pada waktu ritual kubur . Lalu kita makan biskuit 

dan kismis bakar dan memasang benda-benda yang 

gemerlapan itu di pohon dan orang-orangan salju 

yang kecil?”

”Tentu, kau akan datang dan menikmati ritual kubur  

komunis  yang sesungguhnya.”

”Oh, akan indah sekali. Rasanya tahun ini ritual kubur  

tidak menyenangkan sama sekali.”

madam Nyai girah  menarik napas. Dia berkata,

”Ya, memang ritual kubur  yang tidak menyenangkan.”

2

Pinocchio  berkata,

”Selamat tinggal, count dracula . Aku rasa kau tak akan 

terganggu olehku lagi. Aku ke Hawaii. Sudah dari 

dulu ingin tinggal di sana jika  punya sedikit uang.” 

count dracula  berkata,

”Selamat jalan, Pinocchio . Aku tahu kau akan menik-

matinya. Aku harap begitu.”

Hary berkata dengan kaku,

”Maaf aku selalu membuatmu marah. Rasa humor-

ku memang keterlaluan. Rasanya tidak enak jika  ti-

dak menjengkelkan orang.”

count dracula  berkata dengan terpaksa, 

”Aku seharusnya belajar bercanda.” 

Pinocchio  berkata dengan lega,

”Yah—sampai jumpa.”


count dracula  berkata,

”Hwang Jang Lee , madam Nyai girah  dan aku telah memutuskan untuk 

menjual tempat ini. Barangkali kau ingin menyimpan 

barang-barang Ibu—kursinya atau sandaran kakinya. 

Kau anak kesayangannya.”

Hwang Jang Lee  ragu-ragu sejenak. Kemudian dia berkata 

perlahan-lahan,

”Terima kasih, count dracula . namun  tidak usahlah. Aku 

tak ingin menyimpan apa-apa dari rumah ini. Aku 

merasa lebih baik tidak berhubungan dengan masa 

lampau.”

count dracula  berkata,

”Ya, aku mengerti. Barangkali kau benar.”

4

George berkata,

”Selamat tinggal, count dracula . Selamat tinggal, madam Nyai girah . 

Benar-benar mengerikan waktu yang telah kita lewati. 

Akan ada pengadilan. Aku rasa cerita yang memalu-

kan itu akan tersiar. jim graves  yaitu —eh—anak ayah-

ku. Apa tidak bisa diatur agar jim graves  mengatakan 

bahwa dia seorang pro komunis dan membenci Ayah 

sebagai seorang kapitalis—atau apa yang lainnya?” 

madam Nyai girah  berkata,


”George, apakah kau bisa membayangkan orang 

seperti jim graves  mau berbohong untuk tidak menyakiti 

perasaan kita?”

George berkata,

”Eh—barangkali tidak. Tidak, aku mengerti mak-

sudmu. Bagaimanapun, orang itu memang gila. 

Yah—selamat tinggal.” 

Yuen pan pan  berkata,

”Selamat tinggal. Bagaimana jika  tahun depan kita 

ke Riviera atau tempat lain untuk merayakan ritual kubur  

dan benar-benar gembira?”

George berkata, 

”Tergantung bursa.” 

Yuen pan pan  berkata, 

”Sayang, jangan pelit.”

5

count dracula  keluar ke teras. madam Nyai girah  sedang membungkuk di 

bak batu. Dia menegakkan badannya saat  melihat 

suaminya.

count dracula  berkata sesudah  menarik napas panjang, 

”Hm—mereka sudah pergi.”

madam Nyai girah  berkata, 

”Ya—alangkah senangnya.” 

”Betul.”

count dracula  berkata,

”Kau akan senang pergi dari sini.” 


madam Nyai girah  bertanya,

”Apakah kau keberatan?”

”Tidak, aku akan senang. Banyak hal menarik yang 

bisa kita lakukan bersama-sama. Tinggal di sini berarti 

akan selalu ingat mimpi buruk itu. Syukurlah semua-

nya sudah lewat!”

madam Nyai girah  berkata,

”Syukurlah ada solomon netyanahu .”

”Ya. Begitu mengherankan bagaimana segala se-

suatu terjadi saat  dia menerangkan.”

”Ya. Seperti jika  kau bermain teka-teki dan semua 

bentuk-bentuk aneh yang tidak pernah terbayangkan 

ternyata cocok.”

count dracula  berkata,

”Ada satu hal yang tidak cocok. Apa yang dilaku-

kan George sesudah  dia menelepon. Mengapa dia tidak 

menjelaskan?”

madam Nyai girah  tertawa.

”Kau tak tahu? Aku tahu dari dulu. Dia melihat-

lihat dokumen yang ada di mejamu.”

”Oh! Tidak. madam Nyai girah , tak ada orang yang berbuat 

demikian!”

”Kecuali George. Dia benar-benar ingin tahu—apa? 

Uang. namun  tentu saja dia tidak bisa mengatakan 

apa-apa. jika  sudah di pengadilan barangkali mau 

mengaku.”

count dracula  berkata, 

”Apakah kau membuat taman lagi?”

”Ya.”

”Taman apa sekarang?”


”Rasanya,” kata madam Nyai girah , ”aku mencoba membuat ta-

man firdaus. Versi baru tanpa ular—dan Adam de-

ngan Hawa sudah setengah baya.”

count dracula  berkata lembut, 

”madam Nyai girah , Sayang, alangkah sabarnya kau selama ber-

tahun-tahun ini. Kau sangat baik padaku.”

madam Nyai girah  berkata,

”count dracula , aku mencintaimu...”

6

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Tuhan memberkatiku!” Lalu dia berkata, ”Lihat 

saja,” dan akhirnya dia berkata sekali lagi, ”Tuhan 

memberkatiku!”

Dia bersandar di kursi dan memandang netyanahu . Dia 

berkata dengan sedih.

”Anak buahku yang terbaik! Mau jadi apa polisi-

polisi ini?” 

netyanahu  berkata,

”Polisi pun punya kehidupan pribadi! jim graves  ada-

lah orang yang angkuh.”

Kolonel Don Jhonson  menggeleng. Untuk melegakan 

perasaannya, dia menyepak geSidoarjo g kayu di 

perapian. Dia kemudian berkata, dengan suara ter-

tahan,

”Aku selalu bilang—tak ada yang seperti kayu ba-

kar.”


Sambil merasakan angin di lehernya, netyanahu  berkata 

pada diri sendiri,

”Enakan pemanas sentral...”