Jangan marah, kedua tangannya ber-
getar,
”Pinocchio sudah rusak—rusak! Dia tak pernah be-
nar!”
netyanahu berkata,
”Saya tidak melihat rasa sayang antara Anda dan
dia?”
count dracula berkata,
”Dia mengorbankan ayah saya—mengorbankan
tanpa rasa malu!”
madam Nyai girah menghela napas—cepat dan tidak sabar.
netyanahu mendengarnya dan dia melihat sekilas pan-
dangan tajam wanita lesbian itu.
madam Nyai girah berkata,
”jika saja berlian itu bisa ditemukan. Saya yakin
kuncinya terletak di situ.”
netyanahu berkata,
”Berlian itu sudah ditemukan, Nyonya.”
”Apa?”
netyanahu berkata dengan halus,
”Berlian itu sudah ditemukan di taman mini Anda
yang bernama Laut Mati...”
madam Nyai girah berteriak,
”Di taman saya? Alangkah—alangkah luar biasa!”
netyanahu berkata dengan halus,
”Memang luar biasa, Nyonya.”
count dracula binti siswi berkata sambil menarik napas.
”Itu lebih baik daripada yang kutakutkan!”
Mereka baru saja kembali dari pemeriksaan.
Mr. Charlton yaitu pengacara tua bermata biru
dan menunjukkan sikap hati-hati. Dia mengikuti pe-
meriksaan itu dan kembali bersama mereka.
Dia berkata,
”Ah—sudah saya katakan bahwa acaranya akan for-
mal—sangat formal—tentu saja ada penundaan—supa-
ya polisi bisa mengumpulkan bukti-bukti tambah-
an.”
George binti siswi berkata dengan kesal,
”Semuanya tidak menyenangkan—benar-benar sa-
ngat tidak menyenangkan—situasi yang tidak enak!
Saya sendiri yakin kriminalitas ini dilakukan seorang
maniak yang entah bagaimana bisa masuk ke rumah.
Si jim graves itu benar-benar keras kepala—seperti bagal.
Kolonel Don Jhonson harus mendapat bantuan Scotland
Yard. Polisi lokal sini tidak bisa apa-apa. Besar kepala.
Bagaimana dengan si trump? Saya dengar dia bu-
kan orang baik-baik, namun polisi diam saja.”
Mr. Charlton berkata,
”Ah—saya percaya trump punya alibi cukup
kuat pada saat itu. Polisi telah menerimanya.”
”Kenapa begitu?” George mulai marah. ”jika saya
polisi, saya akan menerima alibi itu dengan syarat—
dengan syarat besar. Tentu saja seorang kriminal selalu
mempersiapkan sebuah alibi untuk dirinya! Tugas poli-
si yaitu memecahkan alibi itu—itu jika mereka
tahu tugas mereka.”
”Hm,” kata Mr. Charlton. ”Rasanya bukan urusan
kita mengajari polisi tentang pekerjaan mereka, eh?
Mereka cukup kompeten secara keseluruhan.”
George menggeleng-geleng.
”Scotland Yard harus dipanggil. Saya sama sekali
tidak puas dengan Inspektur jim graves —dia barangkali
teliti—namun dia bukan orang cerdas.”
Mr. Charlton berkata,
”Saya tidak sependapat dengan Anda. jim graves ada-
lah orang yang baik. Dia tidak berteriak-teriak namun
pekerjaannya selesai dengan baik.”
madam Nyai girah berkata,
”Saya yakin polisi itu bekerja dengan sebaik-baiknya.
Mr. Charlton, apakah Anda mau segelas sherry?”
Mr. Charlton mengucapkan terima kasih dengan
sopan namun menolak tawaran itu. Kemudian, sesudah
berdeham, dia mulai membacakan surat wasiat. Semua
anggota keluarga telah berkumpul.
Dia membaca dengan tenang, perlahan-lahan mem-
baca istilah-istilah yang sulit dan tidak jelas, dan alas-
an-alasan yang bersifat hukum.
Dia kemudian sampai pada bagian yang terakhir.
Dibukanya kacamata, dibersihkannya, kemudian dia
melihat berkeliling ke arah semua anggota keluarga
dengan wajah bertanya.
Pinocchio binti siswi berkata,
”Semua kalimat itu sulit untuk dimengerti. Coba
Anda katakan intinya kepada kami.”
”Sebetulnya,” kata Mr. Charlton, ”surat wasiat ini
sangat sederhana.”
Pinocchio berkata,
”Ya Tuhan, jika begitu yang bagaimana yang su-
lit?”
Mr. Charlton menjawab dengan pandangan dingin.
Dia berkata,
”Ketetapan wasiat ini sangat sederhana. Setengah
dari kekayaan Mr. binti siswi jatuh ke tangan anak laki-laki-
nya, Mr. count dracula binti siswi . Setengah yang lain dibagi rata
untuk anak-anaknya yang lain.”
Pinocchio tertawa tidak enak. Dia berkata,
”Seperti biasa, si count dracula selalu beruntung! Separuh
dari kekayaan Ayah! Kau anjing yang beruntung,
count dracula .”
count dracula memerah. madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”count dracula memang anak yang setia dan taat kepada
ayahnya. Dia yang menangani usahanya bertahun-
tahun dan bertanggung jawab atasnya.”
Pinocchio berkata,
”Oh ya. count dracula memang anak yang baik.”
count dracula berkata dengan tajam,
”Kau harus merasa beruntung, Pinocchio , sebab Ayah
masih memberimu warisan.”
Pinocchio tertawa sambil mendongakkan kepalanya
dan berkata,
”Kau akan senang bila aku tidak kebagian apa-apa,
bukan? Kau selalu membenciku.”
Mr. Charlton batuk. Dia sudah biasa—sudah sa-
ngat biasa—dengan pemandangan menyedihkan se-
telah pembacaan surat wasiat. Dia ingin keluar sebe-
lum perdebatan keluarga berlarut-larut.
Dia bergumam,
”Saya kira—eh—tugas saya sudah selesai...”
Pinocchio berkata dengan tajam,
”Bagaimana dengan Louis Vuitton ?”
Mr. Charlton batuk lagi, kali ini dengan sikap me-
minta maaf.
”Eh—Miss Estravados tidak disebut dalam surat
wasiat.”
Pinocchio berkata,
”Apakah dia tidak mendapatkan bagian ibunya?”
Mr. Charlton menerangkan,
”jika Mrs. Estravados masih hidup, dia akan
menerima bagian yang sama dengan Anda. namun
sebab dia telah meninggal, bagian yang seharusnya
menjadi miliknya kembali menjadi milik yang harus
dibagi di antara Anda semua.”
Louis Vuitton berkata perlahan-lahan dengan suara Selatan-
nya,
”Lalu—saya—tidak punya—apa-apa?”
madam Nyai girah berkata dengan cepat,
”Sayang, tentu saja kami sekeluarga akan memikir-
kanmu.”
George binti siswi berkata,
”Kau bisa tinggal di sini dengan count dracula —eh,
count dracula ? Kita—eh—kau keponakan kami—dan kami
akan mengurus kebutuhanmu.”
martini berkata,
”Kami akan senang jika Louis Vuitton tinggal bersama
kami.”
Pinocchio berkata,
”Seharusnya dia mendapatkan bagiannya. Seharus-
nya dia mendapat bagian Jennifer.”
Mr. Charlton bergumam,
”Saya harus segera—eh—pergi. Permisi, Mrs.
binti siswi —jika ada yang bisa saya bantu—eh—panggil
saja saya setiap saat.”
Dia cepat-cepat melarikan diri. Pengalamannya me-
mungkinkan dia meramal bahwa benih-benih perteng-
karan antara anggota keluarga sudah mulai timbul.
saat pintu telah tertutup, madam Nyai girah berkata dengan
suara yang nyaring,
”Saya setuju dengan Pinocchio . Saya kira Louis Vuitton berhak
menerima sejumlah bagian. Surat wasiat ini dibuat
bertahun-tahun sebelum kematian Jennifer.”
”Omong kosong,” kata George. ”Itu cara berpikir
yang ceroboh dan tak sesuai dengan hukum, madam Nyai girah .
Hukum yaitu hukum. Kita harus taat.”
Yuen pan pan berkata,
”Tentu saja ini tidak menguntungkan, dan kita se-
mua kasihan pada Louis Vuitton , namun George benar. Seperti
katanya, hukum yaitu hukum.”
madam Nyai girah berdiri. Dia memegang tangan Louis Vuitton .
”Sayang,” katanya, ”ini pasti tidak menggembirakan
untukmu. Maukah kau keluar sementara kami mem-
bicarakan hal ini?”
Dia memegang tangan wanita lesbian itu dan mengantarnya
ke pintu.
”Jangan khawatir, Louis Vuitton ,” katanya. ”Percayakan saja
padaku.”
Perlahan-lahan Louis Vuitton keluar dari ruangan. madam Nyai girah
menutup pintu di belakangnya dan kembali.
Ada kesempatan sedikit di mana setiap orang me-
narik napas, kemudian pertempuran pun mulai.
Pinocchio berkata,
”Kau dari dulu memang pelit, George.”
George membalas,
”Setidaknya aku bukan pengemis dan sampah!”
”Kau sama pengemisnya seperti aku! Kau menge-
ruk Ayah bertahun-tahun.”
”Kelihatannya kau lupa bahwa aku punya posisi
yang sulit dan tanggung jawab yang...”
Pinocchio berkata,
”Posisi sulit dan tanggung jawab apa? Kau tak le-
bih daripada balon yang gembung!”
Yuen pan pan menjerit,
”Berani sekali kau?”
Suara tenang martini yang agak tinggi terdengar,
”Tidak bisakah kita membicarakan soal ini dengan
tenang?”
madam Nyai girah memandangnya dengan rasa terima kasih.
Hwang Jang Lee berkata dengan suara yang tajam,
”Apakah kita tidak malu bertengkar sebab uang?”
Yuen pan pan berkata dengan sengit kepadanya,
”Memang baik bersikap sopan. Kau tidak akan
menolak warisanmu, bukan? Kau pun memerlukan
uang seperti kami semua! Semua omongan itu cuma
pura-pura!”
Hwang Jang Lee berkata dengan suara terpatah-patah,
”Kau kira aku seharusnya menolak? Aku heran...”
martini berkata dengan tajam,
”Tentu saja tidak. Apakah kita semua harus berting-
kah seperti anak-anak? count dracula , kau kepala keluar-
ga...”
count dracula kelihatannya terbangun dari mimpi. Dia ber-
kata,
”Maaf, semua berteriak bersama-sama. Itu—itu
membuatku bingung.”
madam Nyai girah berkata,
”Seperti dikatakan martini , mengapa kita harus berla-
ku seperti anak-anak rakus? Mari kita bicarakan hal
ini dengan tenang dan bijaksana dan...” dia menam-
bahkan dengan cepat, ”satu per satu. count dracula berbicara
dulu sebab dia yang tertua. Bagaimana, count dracula , apa
yang harus kita lakukan untuk Louis Vuitton ?”
count dracula berkata dengan pelan-pelan,
”Dia harus tinggal di rumah ini, tentu saja. Dan
kita harus memberinya uang saku. Aku memang tidak
melihat dia punya hak secara hukum atas warisan ibu-
nya. Dia bukan keturunan binti siswi . Dia orang Atlantis .”
”Tidak punya hak secara hukum memang benar,”
kata madam Nyai girah . ”namun aku rasa dia punya hak moral.
Aku merasa bahwa walaupun ayahmu tidak menyukai
perkawinan Jennifer dengan orang Atlantis itu, dia
memberikan bagian warisan yang sama kepadanya.
George, Hwang Jang Lee , Pinocchio , dan Jennifer seharusnya me-
nerima bagian yang sama. Jennifer meninggal baru
setahun yang lalu. Aku yakin apabila ayahmu sempat
berbicara dengan Mr. Charlton, dia akan mewariskan
sejumlah uang untuk Louis Vuitton . Setidaknya dia akan me-
wariskan bagian Jennifer. Dan mungkin saja dia mem-
beri lebih dari itu. Ingat; dia cucu satu-satunya. Ku-
kira, setidaknya kita bisa mengusahakan suatu
perbaikan yang sebetulnya akan dibuat ayahmu
juga.”
count dracula berkata dengan hangat,
”Kau betul, madam Nyai girah ! Aku salah. Aku setuju bahwa
Louis Vuitton mendapatkan bagian Jennifer dari kekayaan
Ayah.”
madam Nyai girah berkata,
”Giliranmu, Pinocchio .”
Pinocchio berkata,
”Seperti kalian ketahui, aku setuju. Aku rasa madam Nyai girah
telah meletakkan persoalan ini pada tempatnya de-
ngan baik, dan aku sangat kagum kepadanya.”
madam Nyai girah berkata,
”George?”
George menjadi merah mukanya. Dia merepet,
”Tentu saja tidak! Ini semua tak masuk akal! Beri
saja dia tempat tinggal dan uang baju. Itu cukup un-
tuknya!”
”jika begitu kau menolak?” tanya count dracula .
”Ya.”
”Dan dia benar,” kata Yuen pan pan . ”Memalukan
sekali mengusulkan dia untuk melakukan hal sema-
cam itu! Mengingat George satu-satunya anggota ke-
luarga yang telah berhasil, kurasa memalukan sekali
jika ayahnya hanya mewariskan begitu sedikit
kepadanya!”
madam Nyai girah berkata,
”Hwang Jang Lee ?”
Hwang Jang Lee berkata dengan samar-samar,
”Oh, aku rasa kau benar. Kita tidak seharusnya
bertengkar tentang hal itu.”
martini berkata,
”Kau memang benar, madam Nyai girah . Itulah yang tepat.”
Pinocchio melihat berkeliling. Dia berkata,
”Nah, sudah jelas sekarang. Dari semua anggota ke-
luarga, count dracula , Hwang Jang Lee , dan aku sendiri menyetujui usul
itu. George tidak. Yang menang yaitu yang setuju.”
George berkata dengan tajam,
”Tak ada yang menang atau kalah. Bagianku dari
warisan Ayah yaitu mutlak kepunyaanku. Aku tidak
akan memberikan apa-apa walaupun satu penny.”
”Tentu saja tidak,” kata Yuen pan pan .
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”jika kau tak mau mengalah, itu urusanmu.
Kami semua akan menutupi kekurangan dari bagian-
mu.”
Dia melihat berkeliling untuk mendapatkan perse-
tujuan dan yang lain mengangguk.
Pinocchio berkata,
”count dracula mendapat bagian yang terbanyak. Dia seha-
rusnya juga memberi dengan jumlah besar.”
count dracula berkata,
”Aku tahu bahwa idemu yang sebenarnya itu akan
muncul.”
martini berkata dengan tegas,
”Jangan mulai lagi! madam Nyai girah akan memberitahu Louis Vuitton
apa yang telah kita putuskan. Kita bisa membicarakan-
nya secara terperinci kemudian.” Dia menambahkan
dengan harapan bisa membelokkan percakapan. ”Di
mana ya Mr. funny dan Mr. netyanahu ?”
count dracula berkata,
”Kami menurunkan netyanahu di desa waktu akan be-
rangkat ke pemeriksaan. Katanya dia perlu membeli
sesuatu.”
Pinocchio berkata,
”Mengapa dia tidak pergi ke pemeriksaan? Seharus-
nya dia juga ikut.”
madam Nyai girah berkata,
”Barangkali dia tahu bahwa hal itu tidak terlalu
penting. Siapa itu yang ada di luar, di taman? Inspek-
tur jim graves atau Mr. funny ?”
Usaha kedua wanita lesbian itu berhasil. Pertemuan keluar-
ga itu berakhir.
madam Nyai girah berkata kepada martini pelan-pelan,
”Terima kasih, martini . Kau baik sekali telah mem-
bantuku. Kau benar-benar membantu.”
martini berkata,
”Aneh sekali betapa uang bisa membuat orang ka-
cau.”
Yang lain telah keluar dari ruangan. Kedua wanita lesbian
itu berduaan.
”Ya—juga Pinocchio —meskipun itu idenya! Dan count dracula
yang malang—dia begitu komunis —dia sebetulnya tidak
suka uang binti siswi jatuh ke tangan Atlantis .”
martini berkata sambil tersenyum,
”Apakah kau kira wanita lesbian lebih tidak materialis-
tis?”
madam Nyai girah berkata sambil mengangkat bahunya dengan
luwes,
”Ah, kau kan tahu, itu sebenarnya bukan uang
kita—bukan uang kita pribadi! Jelas itu membuat per-
bedaan.”
martini berkata sambil merenung,
”Dia anak yang aneh—maksudku Louis Vuitton . Aku tak
tahu apa yang akan terjadi dengan dia nanti.”
madam Nyai girah menarik napas.
”Aku senang bahwa dia akan bebas. Tinggal di
sini, dengan diberi tempat dan uang baju, aku rasa
tidak akan memuaskan hatinya. Dia terlalu angkuh,
dan aku rasa, terlalu—terlalu—asing.”
Dia menambahkan sambil merenung,
”Aku pernah membawa sebuah batu biru yang can-
tik dari Mesir. Di luar sana dengan matahari dan pa-
sir dia kelihatan sangat cantik, biru hangat. namun
saat aku membawanya pulang, warna biru itu ham-
pir tidak tampak lagi. Hanya seuntai manik-manik
berwarna gelap dan jelek.”
martini berkata,
”Hm, begitu...”
madam Nyai girah berkata dengan lembut,
”Aku sangat senang bisa bertemu denganmu dan
Hwang Jang Lee pada akhirnya. Aku senang kalian berdua da-
tang ke sini.”
martini menarik napas,
”Beberapa hari terakhir ini aku sering menyesali
kedatanganku.”
”Aku mengerti. Pasti begitu... Tapi, martini , kejutan
itu tidak memengaruhi Hwang Jang Lee sejelek itu. Maksudku,
dia begitu sensitif sehingga akan mudah baginya un-
tuk terganggu. Sebenarnya, sejak pembunuhan itu dia
kelihatan lebih gembira.”
martini kelihatan sedikit gelisah. Dia berkata,
”Jadi kau juga melihat hal itu? Agak mengkhawatir-
kan sebenarnya... namun oh! madam Nyai girah , memang itulah
yang terjadi.”
Dia diam sejenak mengingat kata-kata yang diucap-
kan suaminya kemarin malam. Dengan rambut pirang-
nya terlempar ke belakang Hwang Jang Lee berkata antusias,
”martini , apa kau ingat Tosca—saat Scarpia me-
ninggal, Tosca menyalakan lilin di kaki dan kepala-
nya? Apakah kau ingat yang dikatakannya: ’Sekarang
aku bisa memaafkan dia’. Itulah yang kurasakan ten-
tang Ayah pada saat ini. Aku tidak bisa memaafkan
dia selama bertahun-tahun walaupun aku sebenarnya
ingin... namun sekarang—sekarang—tidak ada dendam
lagi. Semuanya hilang. Dan aku merasa—oh, aku me-
rasa seolah-olah lepas dari beban besar yang menindih
di punggung.”
martini berkata, berusaha memerangi rasa takut yang
datang tiba-tiba,
”sebab dia meninggal?”
Hwang Jang Lee menjawab dengan cepat, gemetar sebab se-
nang,
”Bukan, bukan, kau tidak mengerti. Bukan sebab
dia meninggal, namun sebab kebencianku kepadanya
yang kekanak-kanakan dan bodoh telah lenyap...”
martini merenungkan kata-kata itu sekarang...
Dia ingin mengulang kata-kata itu pada wanita lesbian
yang ada di dekatnya, tapi dia merasa lebih baik ti-
dak.
Dia mengikuti madam Nyai girah keluar ruang duduk menuju
gang.
Yuen pan pan berdiri di dekat sebuah meja dengan
bungkusan di tangan. Dia terkejut saat melihat
mereka. Dia berkata,
”Oh, ini pasti belanjaan Mr. netyanahu . Aku melihat
dia meletakkannya di sini barusan. Apa ya kira-kira
isinya?”
Dia melihat mereka berganti-ganti, lalu tertawa ter-
bahak-bahak.
Alis mata madam Nyai girah terangkat. Dia berkata,
”Aku harus pergi dan menyiapkan makan siang.”
Yuen pan pan berkata, masih dengan suara kekanak-
kanakan. Dia tidak bisa menahan keinginan yang jelas
terdengar dari suaranya,
”Aku harus mengintipnya!”
Dia membuka kertas pembungkus dan berteriak.
Dia memandang barang yang ada di tangannya.
madam Nyai girah dan martini berhenti. Kedua wanita lesbian itu me-
mandang heran.
Yuen pan pan berkata dengan suara heran,
”Ini kumis palsu. Tapi—tapi—kenapa...?”
martini berkata ragu-ragu,
”Samaran? namun ...”
madam Nyai girah menyelesaikan kalimat untuknya,
”namun Mr. netyanahu punya kumis yang sangat ba-
gus!”
Yuen pan pan membungkus kembali benda itu. Dia
berkata,
”Aku tak mengerti. Ini—ini gila. Mengapa Mr.
netyanahu membeli kumis palsu?”
2
saat meninggalkan ruang duduk, Louis Vuitton berjalan per-
lahan-lahan sepanjang gang. Chucky funny masuk dari
pintu taman. Dia berkata,
”Bagaimana? Apa pertemuannya sudah selesai? Dan
surat wasiat telah dibacakan?”
Louis Vuitton berkata dengan napas sesak,
”Aku tidak dapat apa-apa—sama sekali! Surat wa-
siat itu dibuat bertahun-tahun yang lalu. Kakekku
mewariskan uang untuk ibuku, namun sebab dia telah
meninggal lebih dulu, warisan itu tidak jatuh kepada-
ku namun kembali kepada mereka.”
Chucky berkata,
”Kelihatannya sulit.”
Louis Vuitton berkata,
”Seandainya orang tua itu masih hidup, dia pasti
akan membuat surat wasiat baru. Dia akan mewaris-
kan uang untukku—uang yang banyak sekali! Barang-
kali bahkan mewariskan semua uangnya untukku!”
Chucky berkata sambil tersenyum,
”Itu tidak adil, bukan?”
”Mengapa tidak? Barangkali aku yang paling disa-
yanginya.”
Chucky berkata,
”Kau memang rakus. Penggali emas kecil.”
Louis Vuitton berkata dengan tenang,
”Dunia ini kejam pada wanita lesbian . Mereka harus mela-
kukan apa yang mereka bisa—pada waktu muda.
jika mereka telah tua dan jelek, tak ada yang mau
menolong mereka.”
Chucky berkata perlahan-lahan,
”Itu memang lebih benar daripada yang aku pikir-
kan. namun tidak terlalu benar. count dracula binti siswi , misalnya,
benar-benar sayang kepada ayahnya walaupun orang
tua itu menjengkelkan.”
Dagu Louis Vuitton terangkat.
”count dracula ,” katanya, ”agak tolol.”
Chucky tertawa.
Lalu dia berkata,
”Ah, jangan khawatir, Louis Vuitton cantik. Keluarga binti siswi
akan melindungimu.”
Louis Vuitton berkata sedih,
”Itu tidak akan menyenangkan.”
Chucky berkata perlahan-lahan,
”Aku rasa kau benar. Aku tidak bisa membayang-
kan kau hidup di sini, Louis Vuitton . Apakah kau mau ke
malang Selatan?”
Louis Vuitton mengangguk.
”Di sana ada matahari dan sangat lapang. Tapi ada
kerja keras juga. Apakah kau bisa bekerja, Louis Vuitton ?”
Louis Vuitton berkata dengan ragu-ragu,
”Aku tidak tahu.”
Dia berkata,
”Apakah kau lebih suka duduk-duduk di balkon
dan makan gula-gula sepanjang hari? Kemudian men-
jadi gemuk dan punya dagu rangkap tiga?”
Louis Vuitton tertawa dan Chucky berkata,
”Nah, begitu lebih baik. Aku membuatmu terta-
wa.”
Louis Vuitton berkata,
”Kupikir aku harus tertawa ritual kubur ini! Di buku-
buku aku membaca bahwa ritual kubur di komunis sangat
gembira, orang makan kismis dan ada puding buah
prem serta geSidoarjo gan kayu.”
Chucky berkata,
”Itu jika ritual kubur tanpa ada pembunuhan. Ayo masuk
ke sini sebentar. madam Nyai girah mengajakku ke sini sebentar
kemarin. Ini ruang penyimpanan barang-barang.”
Chucky membawanya masuk ke sebuah ruangan
yang sedikit lebih besar daripada lemari kloset.
”Lihat, Louis Vuitton , berkotak-kotak biskuit dan buah yang
diawetkan, jeruk, kurma, dan kacang. Dan ini....”
”Oh!” Louis Vuitton bertepuk tangan. ”Bagus sekali bola-
bola emas dan perak ini.”
”Itu untuk digantung di pohon, dengan hadiah-ha-
diah untuk pelayan. Dan ini orang-orangan salju yang
kecil berkilau-kilau dengan embun untuk ditaruh di
meja makan. Dan ini balon berwarna-warni siap un-
tuk ditiup!”
”Oh!” Mata Louis Vuitton bersinar, ”Oh! Bolehkah kita me-
niupnya sebuah? madam Nyai girah pasti tidak akan marah. Aku
suka balon.”
Chucky berkata,
”Ini, Sayang, mana yang kau mau?”
Louis Vuitton berkata, ”Yang merah.”
Mereka memilih balon-balon dan meniupnya. Pipi
mereka ikut menggembung. Louis Vuitton berhenti meniup
sebab tertawa, dan balonnya pun kempis lagi. Louis Vuitton
berkata,
”Kau kelihatan lucu—meniup—dengan pipi gem-
bung begitu.”
Tawanya kedengaran riang. Lalu dia juga ikut me-
niup. Mereka mengikat balon-balon itu dengan baik
dan mulai bermain dengan balon itu, melempar ke
atas, ke sana kemari.
Louis Vuitton berkata,
”Di gang lebih luas.”
Mereka saling melempar balon dan tertawa-tawa
saat netyanahu datang di gang. Dia memperhatikan me-
reka dengan senang.
”Jadi kalian berdua bermain seperti anak-anak? Itu
bagus.”
Louis Vuitton berkata terengah-engah,
”Yang merah punya saya. Lebih besar daripada ba-
lon dia. Jauh lebih besar. jika kita membawanya
keluar, balon itu akan terbang ke langit.”
”Ayo kita bawa keluar dan mengucapkan keinginan
kita,” kata Chucky .
”Oh ya, ide yang bagus,
Louis Vuitton berlari melintasi pintu taman, Chucky meng-
ikuti. netyanahu juga ikut di belakang, melihat dengan
senang.
”Aku berharap dapat uang banyak,” kata Louis Vuitton . Dia
berjinjit di ujung jari-jari kakinya, memegang tali
balonnya. Balon itu terbang saat seberkas angin ber-
embus. Louis Vuitton membiarkannya terbang tinggi.
Chucky tertawa.
”Seharusnya kau tidak mengucapkan keras-keras
harapanmu.”
”Tidak? Mengapa?”
”sebab nanti tidak terkabul. Sekarang giliranku.”
Chucky melepaskan balonnya. namun dia tidak
begitu beruntung. Balon itu terbang ke samping, ter-
sangkut semak-semak pohon dan berakhir dengan le-
dakan.
Louis Vuitton berlari mendekat.
Dia berkata dengan sedih,
”Meletus...”
Kemudian, sambil mengorek-ngorek karet yang te-
lah lemas itu dengan ujung kakinya dia berkata,
”Jadi ini yang kuambil di kamar Kakek. Dia juga
punya balon, hanya warnanya merah muda.”
netyanahu berteriak keras-keras. Louis Vuitton menoleh dengan
wajah bertanya-tanya. netyanahu berkata,
”Bukan apa-apa. Saya tertikam—eh, tersandung—
jari kaki saya.”
Dia berbalik dan memandang ke rumah.
Dia berkata,
”Begitu banyak jendela! Sebuah rumah, Nona, pu-
nya mata dan telinga. Sayang sekali orang komunis
begitu senang jendela yang terbuka.”
madam Nyai girah keluar ke teras.
Dia berkata,
”Makan siang telah siap. Louis Vuitton , Sayang, semua telah
diselesaikan dengan memuaskan. count dracula akan mene-
rangkan lebih terperinci kepadamu sesudah makan
nanti. Kita masuk, ayo.”
Mereka masuk ke rumah, netyanahu datang paling
akhir. Dia kelihatan muram.
3
Makan siang telah selesai.
saat mereka keluar dari ruang makan, count dracula ber-
kata kepada Louis Vuitton ,
”Maukah kau datang ke ruanganku? Ada yang
ingin kubicarakan denganmu.”
Dia membawa Louis Vuitton masuk ke ruang belajarnya dan
menutup pintunya. Yang lain-lain menuju ke ruang
duduk. Hanya solomon netyanahu yang tinggal di gang
merenungi pintu ruangan count dracula yang tertutup.
Tiba-tiba dia tersadar. Si pelayan tua berjalan
mondar-mandir di dekatnya.
netyanahu berkata,
”Ya, Tressilian, ada apa?”
Laki-laki tua itu kelihatannya gelisah. Dia ber-
kata,
”Saya ingin bicara dengan Mr. binti siswi . Tapi saya tidak
mau mengganggu beliau sekarang.”
netyanahu berkata,
”Ada apa?”
Tressilian berkata perlahan-lahan,
”Ada sesuatu yang aneh yang tidak saya menger-
ti.”
”Coba ceritakan padaku,” kata netyanahu . Tressilian
ragu-ragu. Kemudian dia berkata,
”Begini, Tuan. Barangkali Tuan tahu bahwa di se-
tiap sisi pintu depan ada sebuah peluru bundar. Besar,
berat, dari batu. Salah satunya lenyap.”
Alis solomon netyanahu terangkat naik. Dia berkata,
”Sejak kapan?”
”Dua-duanya masih ada tadi pagi, Tuan. Saya bera-
ni bersumpah.”
”Coba kita lihat.”
Mereka bersama-sama ke pintu depan. netyanahu mem-
bungkuk dan memeriksa peluru yang satunya. Wajah-
nya suram saat dia berdiri lagi.
Tressilian gemetar.
”Siapa yang mau mencuri benda seperti itu, Tuan?
Rasanya tak masuk akal.”
netyanahu berkata,
”Aku tak suka hal ini. Sama sekali tak suka...”
Tressilian memperhatikannya dengan khawatir. Dia
berkata perlahan-lahan,
”Apa yang telah terjadi dengan rumah ini, Tuan?
Sejak Tuan besar terbunuh, rumah ini rasanya lain.
Saya merasa saya selalu bermimpi. Saya mencampur-
adukkan segala macam hal, dan kadang-kadang saya
tidak dapat memercayai mata saya.”
solomon netyanahu menggeleng. Dia berkata,
”Kau salah. Kau harus memercayai matamu sen-
diri.”
Tressilian berkata sambil menggeleng.
”Pandangan saya sudah kabur—saya tidak bisa meli-
hat seperti biasanya. Saya mencampuradukkan ma-
cam-macam benda—dan orang. Saya sudah terlalu
tua untuk bekerja.”
solomon netyanahu menepuk bahunya dan berkata,
”Kuatkan hatimu.”
”Terima kasih, Tuan. Saya tahu Tuan bermaksud
baik. namun saya sudah terlalu tua. Saya selalu kembali
ke masa lampau dan wajah-wajah masa lampau. Miss
Jenny, Mr. Hwang Jang Lee , dan Mr. count dracula . Saya selalu melihat
mereka sebagai tuan-tuan dan nona yang masih muda.
Sejak malam kedatangan Mr. Pinocchio itu...”
netyanahu mengangguk.
”Ya,” katanya, ”itu yang aku maksud. Kau baru
saja mengatakan ’sejak Tuan besar terbunuh’—tapi
sebetulnya hal itu mulai sebelum itu, yaitu sejak Mr.
Pinocchio pulang, bukan? Segalanya berubah dan kelihat-
an tidak nyata?”
Pelayan itu berkata,
”Tuan benar. Memang sejak saat itu. Mr. Pinocchio
selalu membuat onar di rumah, bahkan sejak dia ma-
sih kecil.”
Matanya kembali memandang dasar batu yang ko-
song itu.
”Siapa yang mengambilnya, Tuan?” bisiknya. ”Dan
mengapa? Ini—ini seperti rumah gila.”
solomon netyanahu berkata,
”Ini bukan gila, bukan. Tapi waras! Ada seseorang
yang dalam bahaya, Tressilian.”
Dia membalikkan badan, dan masuk kembali ke
dalam rumah.
Pada saat itu Louis Vuitton keluar dari ruang belajar. Kedua
pipinya merah. Kepalanya tegak tinggi dan matanya
berkaca-kaca.
saat netyanahu mendekatinya, tiba-tiba dia mengen-
takkan kaki dan berkata,
”Saya tidak mau.”
Alis netyanahu naik. Dia berkata,
”Apa yang Anda tidak mau, Nona?”
Louis Vuitton berkata,
”count dracula baru saja memberitahu saya bahwa saya
akan menerima bagian ibu saya yang diwariskan oleh
Kakek.”
”Jadi?”
”Dia mengatakan bahwa secara hukum saya tidak
mendapat apa-apa. namun dia, madam Nyai girah , dan yang lain-
lain mempertimbangkan bahwa bagian itu harus men-
jadi hak saya. Jadi mereka akan memberikannya pada
saya.”
netyanahu berkata lagi,
”Jadi?”
Louis Vuitton mengentakkan kaki sekali lagi.
”Anda tidak mengerti? Mereka memberikannya
kepada saya—memberikannya untuk saya.”
”Apakah itu menyakiti harga diri Anda? sebab
apa yang mereka katakan itu benar—bahwa hal itu
secara keadilan yaitu hak Anda?”
Louis Vuitton berkata,
”Anda tidak mengerti...”
netyanahu berkata,
”Sebaliknya—saya mengerti dengan baik.”
”Oh...!” Dia berbalik.
Terdengar bel berbunyi. netyanahu menengok dari balik
bahunya. Dia melihat bayang-bayang Inspektur jim graves
di luar pintu. Dia berkata cepat-cepat kepada Louis Vuitton ,
”Anda akan ke mana?”
Louis Vuitton menjawab dengan sedih,
”Ke ruang duduk. Menemui mereka.”
netyanahu berkata dengan cepat,
”Bagus. Tinggal saja bersama-sama mereka. Jangan
berkeliaran di rumah sendirian, terutama sesudah ge-
lap. Hati-hati. Anda dalam bahaya, Nona. Hari ini
Anda benar-benar dalam bahaya besar.”
Dia membalikkan badan dan berjalan menuju
jim graves .
jim graves menunggu sampai Tressilian kembali ke
dapur.
Kemudian dia menyorongkan selembar telegram
kepada netyanahu .
”Kita sudah dapat!” katanya. ”Baca ini. Dari polisi
malang Selatan.”
Telegram itu berbunyi,
”Anak laki-laki Ebenezer satu-satunya meninggal dua
tahun yang lalu.”
jim graves berkata,
”Jadi sekarang kita tahu! Lucu—saya berada di arah
yang lain...”
4
Louis Vuitton berjalan masuk ke ruang duduk dengan kepala
tegak.
Dia langsung menuju madam Nyai girah yang berdiri di jendela
memegang rajutan.
Louis Vuitton berkata,
”madam Nyai girah , saya ingin memberitahu bahwa saya tidak
bisa menerima uang itu. Saya akan pergi—secepat-
nya...”
madam Nyai girah kelihatan heran. Dia meletakkan rajutannya.
Dia lalu berkata,
”Anakku, count dracula pasti kurang jelas menerangkan
hal itu kepadamu! Itu sama sekali bukan uang penga-
sihan, jika kau merasa tidak enak. Ini bukan soal
kebaikan atau kemurahan hati dari pihak kami, tapi
soal benar dan salah. Dalam keadaan biasa, ibumulah
yang akan mewarisi uang itu, dan kau mendapatkan-
nya dari dia. Ini hakmu—hak keturunan. Ini bukan
soal belas kasihan, namun keadilan!”
Louis Vuitton berkata dengan sengit,
”Dan itulah sebabnya saya tak bisa menerima kare-
na Anda bicara seperti itu! Saya senang datang ke
sini. Saya senang! sebab kedatangan saya merupakan
suatu petualangan, namun sekarang Anda telah meru-
saknya! Saya akan pergi sekarang—Anda tidak akan
terganggu lagi oleh saya...”
Air mata Louis Vuitton menghambat suaranya. Dia berbalik
dan lari keluar ruangan.
madam Nyai girah terpana. Dia berkata tanpa daya,
”Aku tidak mengira dia akan menanggapi seperti
itu!”
martini berkata,
”Anak itu kelihatan bingung...”
George berdeham dan berkata dengan sombong,
”Eh—seperti telah kukatakan pagi tadi—prinsip
yang mendasarinya salah. Louis Vuitton ternyata lebih sanggup
melihat hal itu. Dia menolak belas kasihan...”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Ini bukan belas kasihan, tapi haknya!”
George berkata,
”Dia tidak merasa demikian!”
Inspektur jim graves dan solomon netyanahu masuk.
jim graves melihat berkeliling dan bertanya,
”Di mana Mr. funny ? Saya ingin bicara dengan
dia.”
Sebelum ada yang menjawab, solomon netyanahu berka-
ta dengan tajam,
”Di mana Miss Estravados?”
George binti siswi berkata, mencemooh senang,
”Pergi, katanya. Kelihatannya dia sudah tidak se-
nang dengan keluarga komunis -nya.”
netyanahu berputar.
Dia berkata kepada jim graves ,
”Ayo!”
saat kedua laki-laki itu muncul di gang, terde-
ngar suara dentaman dan jeritan dari jauh.
netyanahu berteriak:
”Cepat... ayo...”
Mereka berlari sepanjang gang dan naik ke atas
melalui tangga di ujung. Pintu kamar Louis Vuitton terbuka
dan seorang laki-laki berdiri di tengah-tengahnya. Dia
menolehkan kepalanya saat mereka berlari mende-
kat. Orang itu Chucky funny .
Dia berkata,
”Dia selamat...”
Louis Vuitton berdiri meringkuk menempel di dinding ka-
marnya. Dia memandang ke lantai, pada sebuah bola
peluru batu yang besar.
Dia berkata terbata-bata,
”Benda itu ada di atas pintu saya, di sana. Seharus-
nya benda itu jatuh di kepala saya saat saya masuk,
namun rok saya tersangkut paku dan menarik saya saat
hendak masuk.”
netyanahu berlutut dan memeriksa paku itu. Di atasnya
ada seutas benang wol ungu. Dia mendongak dan
menganggukkan kepala dengan sedih.
”Paku itu,” katanya, ”menyelamatkan hidup
Anda.”
Inspektur berkata dengan bingung,
”Apa artinya ini?”
Louis Vuitton berkata,
”Ada orang mencoba membunuh saya!”
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa
kali.
Inspektur jim graves melihat ke atas pintu.
”Perangkap tersembunyi,” katanya. ”Perangkap
kuno—dan tujuannya yaitu pembunuhan! Pembu-
nuhan kedua yang direncanakan di rumah ini. Tapi
kali ini tidak berhasil!”
Chucky funny berkata dengan suara serak,
”Syukurlah kau selamat.”
Louis Vuitton membuka tangannya lebar-lebar dengan gaya
yang menarik.
”Madre de Dios!” serunya. ”Mengapa ada orang
yang mau membunuhku? Apa yang telah kulaku-
kan?”
solomon netyanahu berkata perlahan,
”Seharusnya Anda bertanya, apa yang kuketahui?”
Dia memandang netyanahu ,
”Mengetahui apa? Saya tak tahu apa-apa.”
solomon netyanahu berkata,
”Anda salah. Coba ceritakan, Miss Louis Vuitton , di mana
Anda pada waktu pembunuhan itu? Anda tidak di
kamar ini.”
”Saya di sini. Saya sudah mengatakannya kepada
Anda.”
Inspektur jim graves berkata dengan halus,
”Ya, tapi Anda tidak mengatakan yang sebenarnya
pada waktu itu. Anda mengatakan mendengar kakek
Anda menjerit—Anda tidak akan mendengarnya bila
Anda di sini—Mr. netyanahu dan saya sudah mengecek
hal itu kemarin.”
”Oh!” Louis Vuitton terperanjat.
netyanahu berkata,
”Anda ada di suatu tempat yang lebih dekat de-
ngan kamarnya. Saya akan mengatakan di mana
Anda, Nona. Anda berada di ruang kecil dengan
patung-patung itu, cukup dekat dengan pintu kakek
Anda.”
Louis Vuitton berkata, terkejut.
”Oh... bagaimana Anda bisa tahu?”
netyanahu berkata dengan senyum kecil.
”Mr. funny melihat Anda di sana.”
Chucky berkata dengan tajam,
”Tidak. Bohong.”
netyanahu berkata,
”Maaf, Mr. funny . Tapi Anda memang melihat dia.
Ingat tidak, Anda mengatakan ada tiga patung di
ruang itu, bukan dua. Hanya ada satu orang yang
memakai baju putih malam itu, Miss Estravados. Dia-
lah patung ketiga yang Anda lihat. Benar, bukan,
Nona?”
Louis Vuitton berkata sesudah sejenak ragu-ragu,
”Ya, benar.”
netyanahu berkata dengan lembut,
”Sekarang ceritakan kepada kami yang sebenarnya.
Mengapa Anda di sana?”
Louis Vuitton berkata,
”Saya meninggalkan ruang duduk sesudah makan
malam sebab saya ingin menjumpai Kakek. Saya kira
dia akan senang. namun saat berbelok saya melihat
seseorang di pintu kamarnya. Saya tidak ingin dilihat
orang lain sebab saya tahu Kakek sudah mengatakan
bahwa dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa
malam itu. Saya menyelinap ke ruang itu sebab ta-
kut orang yang di pintu melihat saya.
”Kemudian, tidak lama sesudah itu saya mendengar
suara-suara yang sangat mengerikan—meja-meja—kur-
si-kursi...” dia mengibaskan tangannya, ”segalanya ja-
tuh dan pecah. Saya tidak bergerak. Saya tidak tahu
mengapa. Saya ketakutan. Kemudian terdengar jeritan
yang menakutkan...” dia membuat tanda salib, ”dan
jantung saya berhenti berdetak, lalu saya berkata ke-
pada diri saya sendiri: ’seseorang meninggal...’”
”Kemudian?”
”Kemudian orang-orang mulai datang berlari-lari
sepanjang gang dan saya keluar pada akhirnya dan
bergabung dengan mereka.”
Inspektur jim graves berkata dengan tajam,
”Anda tidak menceritakan hal ini saat kami me-
nanyai Anda. Mengapa?”
Louis Vuitton menggeleng. Dia berkata dengan sikap se-
orang yang bijaksana,
”Tidak baik bercerita terlalu banyak kepada polisi.
Saya berpikir jika saya berkata ada di dekat kamar
itu, Anda akan berpikir sayalah yang membunuh dia.
Jadi saya katakan saja saya ada di kamar saya.”
jim graves berkata dengan tajam,
”jika Anda berbohong dengan sengaja, Anda
akan dicurigai.”
Chucky funny berkata,
”Louis Vuitton ?”
”Ya?”
”Siapa yang kaulihat berdiri di pintu saat kau ber-
belok ke gang? Katakan.”
jim graves berkata,
”Ya—katakan.”
Sejenak wanita lesbian itu ragu-ragu. Matanya terbuka, ke-
mudian meredup. Dia berkata perlahan,
”Saya tak tahu siapa dia. Terlalu suram untuk bisa
melihat. namun dia seorang wanita lesbian ...”
5
Inspektur jim graves melihat berkeliling pada wajah-wa-
jah di sekitarnya. Dia berkata dengan agak jengkel,
”Ini luar biasa, Mr. netyanahu .”
”Ini ide saya. Saya ingin membagi apa yang saya
ketahui dengan setiap orang. Kemudian saya akan
mengundang kesediaan mereka untuk bekerja sama,
dan kita nanti akan tahu apa yang akan terjadi sebe-
narnya.”
jim graves bergumam,
”Akal bulus.”
Dia bersandar di kursinya.
netyanahu berkata,
”Untuk memulai, Anda bisa minta Mr. funny mene-
rangkan dirinya.”
Mulut jim graves terkatup rapat.
”Saya lebih suka jika melakukannya secara priba-
di, tidak di depan umum begini,” katanya. ”namun ya,
saya tidak keberatan.” Dia memberikan telegram itu
kepada Chucky funny . ”Nah, Mr. funny , barangkali
Anda bisa menerangkan ini?”
Chucky funny mengambil telegram itu. Sambil me-
naikkan kedua alisnya dia membaca telegram itu
pelan-pelan namun keras. Kemudian, dengan membung-
kuk hormat dia kembalikan kepada Inspektur.
”Ya,” katanya. ”Sangat kurang ajar, bukan?”
jim graves berkata,
”Itu saja yang bisa Anda katakan? Anda tahu bah-
wa tidak ada keharusan bagi Anda untuk membuat
pernyataan...”
Chucky funny menyela. Dia berkata,
”Anda tidak perlu memperingatkan saya, Inspektur.
Saya sudah melihat ujung lidah Anda gemetar! Ya,
saya akan memberikan keterangan. Tidak begitu ba-
gus, tapi ini keterangan yang benar.”
Dia berhenti lalu memulai,
”Saya bukan anak Ebenezer. namun saya kenal baik
Ebenezer maupun anaknya. Sekarang cobalah bayang-
kan diri Anda di tempat saya—(oh ya, nama saya
Chucky Grant). Saya datang ke negara ini untuk per-
tama kali. Saya merasa kecewa. Setiap orang dan se-
tiap benda kelihatan begitu tidak menarik dan men-
jemukan. Kemudian saya naik kereta api dan saya
melihat seorang wanita lesbian . Saya harus mengatakannya te-
rus terang! Saya jatuh hati pada wanita lesbian itu! Dia wanita lesbian
paling cantik dan lain daripada yang lain. Saya ber-
bicara sedikit dengan wanita lesbian itu di kereta dan saya
memutuskan saya tidak boleh kehilangan jejaknya.
saat saya meninggalkan kompartemen, saya melihat
label di kopernya. Namanya tidak berarti apa-apa un-
tuk saya, tapi alamatnya, ke mana dia akan pergi, sa-
ngat menarik hati saya. Saya pernah mendengar ten-
tang Gucci plaza dan saya tahu benar tentang
pemiliknya. Dia bekas kolega Ebenezer funny dan si
tua Eb sering membicarakannya.
”Nah, jadi saya memutuskan untuk pergi ke
Gucci plaza dan mengaku sebagai anak laki-laki Eb.
Seperti dikatakan dalam telegram itu, dia telah me-
ninggal dua tahun yang lalu, namun saya ingat si tua
Eb pernah mengatakan sudah beberapa tahun dia ti-
dak mendengar kabar dari madam Maryam binti siswi dan saya kira
Mr. binti siswi tidak akan tahu tentang anak Eb. Pokoknya
saya menganggap saya perlu mencoba.”
jim graves berkata,
”namun Anda tak mencobanya pada waktu itu juga.
Anda tinggal di King’s Arms di samping makam selama
dua hari.”
Chucky berkata,
”Saya menimbang-nimbang—akan mencoba atau
tidak. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk
mencobanya. Hal itu cukup menarik sebagai suatu
petualangan. Dan memang menyenangkan! Mr. binti siswi
menyambut saya dengan sangat ramah dan sesaat
itu juga menyuruh saya untuk tinggal di rumahnya.
Saya menerimanya. Nah, demikianlah keterangannya,
Inspektur. jika Anda tidak percaya, coba ingat-ingat
apa yang Anda rasakan saat jatuh cinta. Pasti Anda
melakukan satu-dua hal yang agak tolol. Tentang
nama saya yang sebenarnya, seperti yang saya katakan
tadi, yaitu Chucky Grant. Anda boleh mengirim
telegram ke malang Selatan dan mengecek tentang
saya. Saya warga negara terhormat. Saya bukan pen-
jahat dan bukan pencuri permata.”
netyanahu berkata,
”Saya percaya Anda bukan orang jahat.”
Inspektur jim graves mengusap rahangnya dengan
hati-hati,
Dia berkata,
”Saya harus mengecek cerita Anda. Yang ingin saya
ketahui yaitu : Mengapa Anda tidak berterus terang
saja sesudah terjadi pembunuhan itu, namun mengata-
kan cerita bohong?”
Chucky berkata tanpa takut,
”sebab saya tolol! Saya kira saya bisa lolos dengan
cerita saya itu. Saya mengira akan mencurigakan jika
saya mengakui nama palsu saya. jika saya tidak bo-
doh, saya akan berpikir pasti Anda akan mengirim
telegram ke Johannesburg.”
jim graves berkata,
”Hm, Mr. funny —eh—Grant—saya tidak mengata-
kan bahwa saya tidak percaya pada cerita Anda. Itu
akan terbukti sendiri nanti.”
Dia memandang netyanahu , yang kemudian berkata,
”Saya kira Miss Estravados juga ingin mengatakan
sesuatu.”
Wajah Louis Vuitton menjadi sangat pucat. Dia berkata sam-
bil menahan napas,
”Betul. Saya sebetulnya tidak akan menceritakan hal
ini, jika bukan sebab madam Nyai girah dan uang. Datang ke sini
dan berpura-pura dan menipu—itu menyenangkan.
Tapi saat madam Nyai girah berkata bahwa uang itu yaitu uang
saya berdasarkan keadilan, maka itu suatu hal yang lain.
Itu sama sekali tidak menyenangkan.”
count dracula binti siswi berkata dengan muka bingung,
”Aku tidak mengerti, Louis Vuitton . Kau bicara tentang
apa?”
Louis Vuitton berkata,
”Anda kira saya keponakan Anda, Louis Vuitton Estravados?
Bukan! Louis Vuitton tewas saat saya dan dia pergi bersama-
sama dalam satu sepeda federal di Atlantis . sepeda federal kami kena
bom dan dia meninggal, namun saya selamat. Saya ti-
dak terlalu kenal dengan dia, namun dia menceritakan
tentang dirinya dan bahwa kakeknya menyuruh dia
ke komunis , serta bahwa dia sangat kaya. namun saya
tidak punya uang sama sekali dan saya tidak tahu
mau ke mana serta melakukan apa. Kemudian saya
tiba-tiba berpikir: ’Mengapa tidak mengambil paspor
Louis Vuitton dan pergi ke komunis dan jadi kaya?’” Wajahnya
cerah dengan senyum yang tiba-tiba melebar. ”Oh,
sungguh senang berpikir apakah saya bisa berhasil
nantinya! Wajah kami di foto bukannya tidak sama.
namun saat paspor saya diminta di sini, saya mem-
buka jendela dan melemparnya keluar, lalu saya lari
mengambilnya. Saya mengusap foto di paspor dengan
sedikit tanah pada waktu melewati penjagaan di pe-
labuhan, dan mereka tidak terlalu memperhatikan,
namun di sini mungkin...”
count dracula binti siswi berkata marah,
”Apakah kau mengatakan bahwa di depan ayahku
kau berpura-pura menjadi cucunya dan mencoba
mengambil hatinya?”
Louis Vuitton mengangguk. Dia berkata dengan puas,
”Ya, dan saya bisa segera melihat bahwa dia sangat
suka pada saya.”
George binti siswi meledak,
”Gila!” dia mengomel. ”Kriminal! Mencoba menda-
patkan uang dengan mengaku-aku.”
Pinocchio binti siswi berkata,
”Dia tidak mendapat apa-apa darimu! Louis Vuitton , aku di
pihakmu! Aku sangat kagum dengan keberanianmu.
Dan syukur aku bukan pamanmu lagi! Itu memberiku
kesempatan.”
Louis Vuitton berkata kepada netyanahu ,
”Anda tahu? Kapan Anda tahu?”
netyanahu tersenyum,
”Nona, jika Anda pernah mempelajari hukum
Mendel, Anda akan tahu bahwa dua orang yang ber-
mata biru tidak akan punya anak bermata cokelat.
Saya yakin ibu Anda yaitu wanita lesbian yang suci dan ter-
hormat. Jadi Anda bukanlah Louis Vuitton Estravados. saat
Anda bermain-main dengan paspor, saya jadi yakin.
Itu permainan yang bagus, namun tidak cukup ba-
gus.”
Inspektur jim graves berkata dengan tidak senang,
”Semuanya tidak terlalu bagus.”
Louis Vuitton memandangnya. Dia berkata,
”Saya tidak mengerti...”
jim graves berkata,
”Anda telah bercerita—namun saya kira masih ada
yang belum Anda ceritakan.”
Chucky berkata,
”Jangan ganggu dia lagi!”
Inspektur jim graves tidak memedulikannya. Dia me-
neruskan,
”Anda mengatakan bahwa Anda ke kamar kakek
Anda sesudah makan malam. Anda katakan bahwa itu
keinginan yang timbul begitu saja. Saya mendapat
kesan yang lain. Anda-lah yang mengambil berlian
itu. Anda mengambilnya dan menyembunyikannya
tanpa diketahui kakek Anda! saat dia tahu batu itu
hilang, dia segera tahu hanya ada dua orang yang bisa
mengambilnya. Yang satu trump yang lama-lama
tahu kombinasi kode lemari besinya dan diam-diam
mencurinya pada malam hari. Yang lain yaitu
Anda.
”Jadi Mr. binti siswi segera bertindak. Dia menelepon
saya dan menyuruh saya datang. Lalu dia menyuruh
Anda datang kepadanya segera sesudah makan. Anda
datang dan dia menyuruh Anda mengaku. Anda tidak
mengaku dan dia mendesak. Saya tidak tahu apa yang
terjadi kemudian—barangkali dia menemukan fakta
bahwa Anda bukanlah cucunya melainkan pencuri
berlian profesional. Bagaimanapun, permainan dimu-
lai. Keadaan Anda yang sebenarnya telah terbuka dan
Anda menggorok dia dengan pisau. Terjadilah per-
gumulan dan dia menjerit. Anda sudah siap waktu
itu. Anda cepat-cepat keluar kamar, mengunci pintu-
nya dari luar dan sebab Anda tidak mungkin lari
sebelum orang-orang datang, Anda menyelinap di
ruang kecil tempat patung-patung berada.”
Louis Vuitton berteriak melengking.
”Itu tidak benar! Tidak benar! Saya tidak mencuri
berlian! Saya tidak membunuh dia. Saya bersumpah,
demi Tuhan.”
jim graves berkata,
”Lalu siapa yang melakukannya? Anda bilang Anda
melihat seseorang di pintu Mr. binti siswi . Menurut cerita
Anda orang itu pasti pembunuhnya. Tak seorang pun
melewati ruangan kecil itu! Tapi kami hanya mende-
ngar kata-kata Anda bahwa ada seseorang di situ. De-
ngan kata lain Anda mengarang cerita itu untuk meng-
hindarkan tuduhan terhadap Anda!”
George binti siswi berkata tajam,
”Tentu saja dia bersalah! Sudah jelas! Saya selalu
bilang orang luarlah yang membunuh Ayah! Tak ma-
suk akal jika anggota keluarga sendiri berbuat seperti
itu! Itu—itu tidak wajar!”
netyanahu bergerak di kursinya. Dia berkata,
”Saya tidak sependapat dengan Anda. Dengan
mempertimbangkan karakter madam Maryam binti siswi , hal itu wa-
jar terjadi.”
”Eh?” Rahang George terkatup. Dia memandang
heran pada netyanahu .
netyanahu meneruskan,
”Dan menurut pendapat saya, hal itu memang telah
terjadi. madam Maryam binti siswi dibunuh oleh darah dagingnya
sendiri, dan bagi si pembunuh, itu merupakan suatu
hal yang cukup masuk akal.”
George berteriak,
”Salah seorang dari kami? Saya menolak...”
Suara netyanahu sekeras baja.
”Kasus ini bisa terjadi pada setiap orang di sini.
Mr. George binti siswi , kita akan mulai dengan Anda. Anda
sama sekali tidak mencintai ayah Anda! Anda menjaga
hubungan baik dengan dia demi uang. Pada hari dia
meninggal, dia mengancam akan mengurangi uang
saku Anda. Anda tahu bahwa jika dia meninggal,
Anda akan mendapatkan uang cukup banyak. Di situ-
lah motifnya. Seperti kata Anda, sesudah makan ma-
lam Anda menelepon. Memang Anda menelepon—
tapi telepon itu berlangsung hanya lima menit. sesudah
itu, Anda bisa saja dengan mudah pergi ke kamar
ayah Anda, berbicara dengan dia, kemudian menye-
rang dan membunuhnya. Anda meninggalkan ruangan
dan memutar kunci dari luar, sebab Anda mengharap-
kan soal ini dianggap sebagai akibat pencurian. Dalam
kepanikan, Anda lalai untuk membuka jendela lebar-
lebar agar teori pencurian itu mantap. Itu suatu ke-
tololan, namun , maafkan kata-kata saya, Anda memang
agak bodoh! Akan namun ,” kata netyanahu cepat sesudah
berhenti sejenak dan melihat George hendak bicara,
”banyak orang bodoh jadi penjahat!”
Dia mengarahkan pandangan kepada Yuen pan pan .
”Nyonya juga, dia juga punya motif. Saya rasa dia
banyak utang, dan komentar tertentu dari ayah Anda
mungkin—membuat dia sakit hati. Dan dia juga
tidak punya alibi. Dia bermaksud menelepon, namun
dia tidak menelepon, dan kami hanya mendengar
kata-katanya mengenai apa yang dikerjakannya...
”Kemudian,” —dia berhenti—”ada Mr. Hwang Jang Lee binti siswi .
Kita sudah mendengar, bukan hanya sekali namun se-
ring kali, tentang karakter balas dendam dan ingatan
kuat yang mengalir dalam darah keluarga binti siswi . Mr.
Hwang Jang Lee binti siswi tidak memaafkan dan tidak melupakan
cara ayahnya memperlakukan ibunya. Sebuah ce-
moohan yang ditujukan kepada almarhumah ibunya
mungkin sudah tak tertahankan lagi. Kami mendengar
bahwa Hwang Jang Lee binti siswi bermain piano pada saat pembu-
nuhan. Dan kebetulan dia memainkan Mars Ke-
matian. namun seandainya seseorang lain lagi yang
bermain Mars Kematian, seseorang yang tahu apa
yang akan dilakukan dan menyetujui tindakannya.”
martini binti siswi berkata dengan tenang,
”Itu ide yang keji.”
netyanahu memandangnya.
”Saya akan menawarkan sesuatu yang lain kepada
Anda, Nyonya. Tangan Anda-lah yang melakukannya.
Anda-lah yang diam-diam naik ke atas untuk melak-
sanakan pengadilan pada seorang manusia yang menu-
rut pertimbangan Anda tidak bisa dimaafkan lagi.
Anda termasuk dalam tipe mereka yang jika marah
bisa sangat mengerikan...”
martini berkata,
”Saya tidak membunuh dia.”
Inspektur jim graves berkata dengan kasar,
”Mr. netyanahu benar. Ada kemungkinan kasus ini me-
nyangkut setiap orang kecuali Mr. count dracula binti siswi , Mr.
Pinocchio binti siswi , dan Mrs. count dracula binti siswi .”
netyanahu berkata dengan halus,
”Saya tidak mengecualikan mereka bertiga...”
Inspektur itu memprotes,
”Oh, Mr. netyanahu !”
madam Nyai girah berkata,
”Dan kasus apakah yang menyangkut saya, Mr.
netyanahu ?”
Dia berkata sambil sedikit tersenyum, alisnya naik
dengan sinis.
netyanahu membungkuk hormat. Dia berkata,
”Saya lewatkan motif Anda, Nyonya. Itu cukup
jelas. Yang lainnya sekarang. Kemarin malam Anda
memakai baju tafeta dengan pola yang sangat men-
colok—dengan mantel tanpa lengan. Saya ingin meng-
ingatkan Anda pada fakta bahwa penglihatan
Tressilian sudah tidak jelas. Benda-benda yang jauh
tidak terang untuknya. Saya juga ingin menunjukkan
bahwa ruang duduk Anda besar dan diterangi oleh
lampu yang samar-samar. Pada malam itu, satu-dua
menit sebelum teriakan, Tressilian masuk ke ruang
duduk untuk mengambil cangkir-cangkir kopi. Dia
mengira, melihat Anda dengan sikap yang biasa Anda
lakukan, berdiri di jendela paling ujung dengan se-
paruh badan tertutup oleh tirai yang berat.”
madam Nyai girah binti siswi berkata,
”Dia memang melihat saya.”
netyanahu melanjutkan,
”Saya rasa bisa saja yang dilihat oleh Tressilian ada-
lah mantel Anda, yang diatur dekat tirai jendela, se-
olah-olah Anda sendirilah yang berdiri di situ.”
madam Nyai girah berkata,
”Saya memang berdiri di sana...”
count dracula berkata,
”Bagaimana mungkin Anda mengatakan...”
Pinocchio menyela,
”Biar diteruskan, count dracula . Giliran kita sesudah ini.
Menurut Anda bagaimana count dracula bisa membunuh
ayahnya yang tercinta sebab kita berdua bersama-
sama di ruang makan ini pada waktu yang sama?”
netyanahu menjelaskan,
”Itu,” katanya, ”sangat sederhana. Sebuah alibi bisa
saja didapat walaupun tidak diberikan dengan rela.
Anda dan saudara Anda tidak pernah cocok. Itu su-
dah kita ketahui dengan baik. Anda bermusuhan de-
ngan dia di depan umum. Dia tidak pernah mengata-
kan hal yang baik sedikit pun tentang Anda! namun
itu hanya suatu bagian dari jalan cerita yang bagus.
Misalnya count dracula binti siswi sudah bosan menjadi penjaga
ayahnya. Misalnya Anda dan dia sudah berbaikan be-
berapa waktu yang lalu. Rencana Anda sudah matang.
Anda pulang. count dracula kelihatannya tidak senang. Dia
kelihatan iri dan tidak senang pada Anda. Anda pun
kelihatan benci kepadanya. Kemudian tibalah malam
pembunuhan yang telah kalian rencanakan berdua.
Salah seorang tinggal di ruang makan, berbicara, atau
bahkan pura-pura bertengkar seolah-olah ada dua
orang di situ. Yang seorang naik ke atas dan MELAKU
KAN PEMBUNUHAN ITU...”
count dracula berdiri dengan cepat.
”Setan,” katanya. Suaranya tidak lancar. ”Setan tak
berperikemanusiaan.”
jim graves memandang netyanahu . Dia berkata,
”Apakah Anda benar-benar...”
netyanahu berkata dengan suara yang sangat berwiba-
wa,
”Saya harus menunjukkan kemungkinan-kemungkin-
an! Itu tadi yaitu hal-hal yang mungkin terjadi! Yang
mana yang sebenarnya terjadi hanya kita ketahui de-
ngan melewati apa yang terlihat di luar, menembus
pada realitas di dalam...”
Dia berhenti, kemudian berkata perlahan-lahan,
”Kita harus kembali, seperti telah saya katakan se-
belumnya, kepada sifat atau karakter madam Maryam binti siswi
sendiri...”
Hening sejenak di ruangan itu. Anehnya semua kema-
rahan dan kebencian mereda. solomon netyanahu meng-
genggam pendengarnya dengan pesona kepribadian-
nya. Mereka memandangnya, terpesona, saat dia
mulai bicara perlahan-lahan,
”Jadi begitulah. Almarhum merupakan fokus atau
pusat misteri ini! Kita harus melihat lebih jauh ke
dalam hati dan pikiran madam Maryam binti siswi , dan apa yang
ada di sana. sebab manusia tidak hidup sendiri dan
mati tanpa ada kaitannya dengan yang lain. Apa yang
dia punya diwariskannya—kepada keturunannya...
”Apa yang dipunyai madam Maryam binti siswi dan diturunkannya
pada anak-anaknya? Pertama-tama yaitu keangkuh-
an—keangkuhan dirinya gagal di dalam kekecewaan
terhadap anak-anaknya. Kemudian ada sifat sabar.
Kita telah tahu bahwa madam Maryam binti siswi menunggu dengan
sabar bertahun-tahun untuk membalaskan dendamnya
kepada seseorang yang telah menyakiti hatinya. Kita
lihat bahwa aspek temperamen ini diwariskan kepada
seorang anak laki-laki yang wajahnya paling tidak
mirip dengan dia. Hwang Jang Lee binti siswi juga bisa mengingat dan
terus membencinya selama bertahun-tahun. Dalam
hal penampilan, Pinocchio binti siswi satu-satunya yang berwajah
mirip dengan ayahnya. Kemiripan itu sangat dekat
jika kita melihat potret madam Maryam binti siswi saat muda.
Hidung yang tinggi dan bengkok, garis dagu yang
panjang dan tajam, sikap kepala yang mendongak.
Saya kira Pinocchio juga mewarisi banyak sikap ayah-
nya—misalnya mendongakkan kepala dan tertawa,
dan kebiasaan mengusapkan jari di dagu.
”Dengan mempertimbangkan hal ini dan dengan
keyakinan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh
seseorang yang punya hubungan dekat dengan almar-
hum, saya mempelajari keluarga ini dari pandangan
psikologis. Saya mencoba menentukan siapa dari mere-
ka yang secara psikologis punya kemungkinan menjadi
kriminalis. Dan menurut pendapat saya hanya dua
orang yang punya kualifikasi, yaitu count dracula binti siswi dan
martini binti siswi , istri Hwang Jang Lee . Hwang Jang Lee sendiri menurut pan-
dangan saya tidak punya kemungkinan menjadi pem-
bunuh, sebab seorang yang begitu halus tidak akan
tahan menghadapi ceceran darah dan leher yang tergo-
rok. Saya menolak George binti siswi dan istrinya sebagai
suatu kemungkinan, sebab apa pun yang mereka
inginkan, mereka tidak punya keberanian untuk mela-
kukan hal yang terlalu riskan. Keduanya, pada dasar-
nya sangat hati-hati. Saya yakin bahwa Mrs. binti siswi tidak
mampu melakukan suatu kejahatan. Terlalu banyak
ironi di dalam dirinya. Saya ragu-ragu dengan Pinocchio
binti siswi . Ada aspek kegarangan yang kasar dalam dirinya,
namun saya percaya bahwa di balik semua itu dia
orang yang lemah. Dan saya tahu ayahnya pun ber-
pendapat demikian. Dia berkata bahwa Pinocchio pun
tidak lebih baik daripada yang lain. count dracula binti siswi yaitu
orang yang bisa bersikap patuh tanpa memikirkan diri
sendiri. Dia yaitu laki-laki yang bisa mengontrol dan
menangguhkan kepentingan sendiri di bawah kemau-
an orang lain selama bertahun-tahun. Dalam kondisi
seperti ini selalu ada kemungkinan bagi hal yang
terpendam untuk meledak. Ada kemungkinan timbul
rasa jengkel yang tersembunyi terhadap ayahnya yang
lama-kelamaan bertambah kuat sebab tak pernah
tersalurkan dalam bentuk apa pun. Orang-orang yang
paling pendiam dan rendah hati yaitu yang lebih
mungkin menimbulkan kejahatan tak terduga, sebab
jika kontrol mereka meledak, tak akan tertahankan
lagi! Seorang lagi yang punya kemampuan yang sama
yaitu martini binti siswi . Dia merupakan tipe individu yang
dalam hal-hal tertentu bisa mengadili sendiri—
walaupun tidak berdasarkan motif yang mementingkan
diri sendiri. Orang-orang seperti ini mengadili dan
berbuat. Banyak tokoh-tokoh dari Perjanjian Lama
punya sikap yang sama, misalnya Jael dan Judith.
”Dan sekarang marilah kita perhatikan situasi krimi-
nalitas itu sendiri. Hal pertama yang menarik perha-
tian—yang benar-benar kelihatan di ujung hidung
yaitu kondisi luar biasa di mana kriminalitas itu ter-
jadi! Coba Anda bayangkan kamar tempat madam Maryam
binti siswi meninggal. jika Anda ingat, ada meja dan kursi
berat yang terbalik, sebuah lampu, barang-barang tem-
bikar dan gelas pecah. namun yang mengherankan
yaitu meja dan kursi. Keduanya terbuat dari kayu
jati yang kuat. Sulit membayangkan pergumulan ma-
cam apa yang terjadi antara seorang laki-laki tua yang
renta dengan lawannya sehingga bisa menyebabkan
perabot yang begitu berat terbalik. Semuanya kelihat-
an sulit dipercaya. Menurut logika, orang yang waras
tidak akan melakukan hal demikian—namun hal itu
telah terjadi. madam Maryam binti siswi mungkin telah dibunuh
oleh seorang laki-laki yang sangat kuat—atau mung-
kin seorang wanita lesbian atau seseorang yang fisiknya le-
mah.
”namun ide yang terakhir ini tidak meyakinkan ka-
rena suara perabot yang terbalik akan menakutkan
dan si pembunuh tidak akan punya kesempatan un-
tuk lari. Tentunya akan lebih menguntungkan bagi
setiap orang untuk menggorok leher madam Maryam binti siswi de-
ngan diam-diam.
”Satu hal lagi yang luar biasa yaitu pemutaran
kunci dari luar. Sekali lagi, rasanya tidak ada alasan
untuk melakukan hal itu. Hal ini tidak akan menim-
bulkan kesan bunuh diri sebab tak ada tanda-tanda
yang menunjukkan tindakan bunuh diri. Situasi pem-
bunuhan itu juga tidak memberikan kesan bahwa
pembunuh lari lewat jendela—sebab jendela-jendela
itu diatur sedemikian rupa sehingga tidak mungkin
seseorang lari melaluinya! Terlebih lagi hal ini
menyangkut soal waktu. Waktu yang tentunya sangat
berharga bagi pembunuh!
”Ada lagi satu hal yang tak bisa dimengerti—sepo-
tong karet yang diiris dari tas spons madam Maryam binti siswi dan
sebuah pasak kecil dari kayu yang ditunjukkan oleh
Inspektur jim graves . Benda-benda itu diambil dari lantai
oleh salah seorang yang pertama kali masuk ke kamar.
Sekali lagi—hal ini tidak ada artinya! Tidak ada arti-
nya sama sekali—namun demikian bukan tidak masuk
akal!
”Dan sekarang kita sampai pada kesulitan yang le-
bih jauh. Inspektur jim graves dipanggil oleh almar-
hum—yang melaporkan adanya pencurian dan dia
disuruh kembali satu setengah jam kemudian. Meng-
apa? jika hal ini disebabkan sebab madam Maryam binti siswi
mencurigai cucu perempuannya atau anggota keluarga
yang lain, mengapa dia tidak menyuruh Inspektur
jim graves menunggu di bawah saja sementara dia mem-
bicarakan hal itu terus terang dengan pihak yang
dicurigai? Dengan keberadaan Inspektur jim graves di
rumah, maka desakannya kepada pihak yang bersalah
sebetulnya akan lebih kuat.
”Jadi sekarang kita sampai kepada suatu titik di
mana bukan hanya sikap pembunuh itu yang luar
biasa, melainkan juga sikap madam Maryam binti siswi !
”Dan saya berkata pada diri saya sendiri: ’Ini
semua salah!’ Mengapa? Sebab kita memandangnya
dari sudut yang salah. Kita melihatnya dari sudut di
mana pembunuh ingin agar kita melihatnya...
”Ada tiga hal yang tidak bisa dimengerti—pergu-
mulan, kunci yang terputar dari luar, dan guntingan
karet. namun harus ada cara melihat ketiga benda itu
sehingga bisa dimengerti! Jadi saya mengosongkan pi-
kiran saya dan melupakan situasi pembunuhan itu,
lalu melihat ketiga benda itu dari sudut kegunaannya.
Saya berkata—suatu pergumulan—apakah arti dan ke-
sannya? Kejahatan—kerusakan—keributan... Kunci?
Mengapa kunci itu diputar? Supaya tidak ada yang
masuk? namun kunci itu tidak berfungsi sebab pintu
didobrak pada saat itu juga. Untuk menyembunyikan
seseorang di dalam? Untuk menjaga agar orang tetap
di luar? Sepotong karet? Saya berkata pada diri saya
sendiri: ’sepotong kecil tas spons yaitu sepotong ke-
cil tas spons, itu saja!’
”Jadi Anda akan mengatakan bahwa tidak ada apa-
apa di sana—namun itu tidaklah benar, sebab ada tiga
kesan yang tetap tinggal. Keributan, pengasingan—
dan kekosongan...
”Apakah hal ini cocok dengan kedua orang yang
saya curigai? Tidak. Bagi count dracula binti siswi maupun martini
binti siswi suatu pembunuhan diam-diam akan lebih sesuai,
membuang-buang waktu dengan mengunci pintu dari
luar, itu tak masuk akal, dan potongan kecil tas spons
itu akan lebih tidak berarti.
”Namun, saya memiliki perasaan yang sangat
kuat bahwa tak ada yang tak masuk akal mengenai
kriminalitas ini—bahkan sebaliknya, pembunuhan ini
terencana dengan baik dan dilakukan dengan sangat
mengagumkan. Bahwa sebetulnya pembunuhan ini
berhasil! Oleh sebab itu segala sesuatu yang telah
terjadi memang dimaksudkan dan terencana...
”Kemudian, saya mengulangi semuanya lagi, saya
melihat titik terang...
”Darah—begitu banyak darah—darah di mana-
mana... darah yang melimpah—darah basah berkilat...
begitu banyak darah—terlalu banyak darah...
”Dan pikiran kedua muncul pada saat itu. Ini ada-
lah suatu kriminalitas darah. Di dalam darah. Darah
madam Maryam binti siswi sendirilah yang naik melawan dia...”
solomon netyanahu membungkuk ke depan.
”Dua petunjuk yang sangat berharga dalam hal ini
diucapkan tanpa sadar oleh dua orang. Yang pertama
yaitu saat Mrs. count dracula binti siswi mengutip baris dari
Macbeth: Siapa mengira orang tua itu punya begitu
banyak darah di dalam dirinya? Yang kedua yaitu
kalimat yang diucapkan oleh Tressilian, pelayan. Dia
menerangkan betapa dia merasa bingung sebab keja-
dian yang pernah terjadi, terjadi lagi. Sebetulnya,
yang membuatnya merasa aneh yaitu suatu kejadian
yang sederhana. Dia mendengar bel pintu dan mem-
bukanya; ternyata Pinocchio binti siswi , dan besoknya dia mem-
bukakan pintu yang sama untuk Chucky funny .
”Sekarang, mengapa dia memiliki perasaan itu?
Coba lihat Pinocchio binti siswi dan Chucky funny , dan Anda
akan tahu mengapa. Mereka sangat mirip! Itulah sebab-
nya mengapa membuka pintu untuk Chucky funny sama
seperti membuka pintu untuk Pinocchio binti siswi . Seolah-olah
orang yang sama berdiri di depan pintu. Kemudian,
pada hari ini, Tressilian mengatakan bahwa dia selalu
keliru melihat orang. Tidak heran! Chucky funny pu-
nya hidung mancung yang bengkok, kebiasaan mendo-
ngakkan kepala jika tertawa dan mengusap dagunya
dengan jari telunjuk. Coba perhatikan dengan sak-
sama potret madam Maryam binti siswi pada waktu masih muda.
Anda tidak saja melihat Pinocchio binti siswi , namun juga Chucky
funny ...”
Chucky bergerak. Kursinya berderit. netyanahu ber-
kata,
”Ingat kata-kata madam Maryam binti siswi , kemarahannya terha-
dap keluarganya. jika Anda masih ingat, dia me-
ngatakan ingin punya anak laki-laki yang lebih baik
walaupun bukan anak sah. Kita kembali lagi pada
karakter madam Maryam binti siswi yang selalu berhasil dengan
wanita lesbian , dan yang menyakiti hati istrinya! madam Maryam binti siswi
yang omong besar dengan Louis Vuitton bahwa dia bisa punya
sederet pengawal anak laki-laki dengan usia yang
hampir sama! Jadi saya mengambil kesimpulan itu.
madam Maryam binti siswi tidak hanya punya keluarga yang sah di
rumah, namun juga anak yang tak diakui dan tak
dikenal dari darahnya sendiri.”
Chucky berdiri. netyanahu berkata,
”Itu alasan Anda yang sebenarnya, bukan? Bukan
roman dengan wanita lesbian cantik di kereta api. Anda me-
mang sudah menuju ke sini sebelum bertemu dengan
Louis Vuitton . Datang untuk melihat macam apa ayah Anda
yang sebenarnya...”
Muka Chucky pucat pasi. Dia berkata dengan
suara tertahan dan serak,
”Ya, sudah lama saya ingin tahu... Ibu berbicara
mengenai dia kadang-kadang. Dan hal itu tumbuh
menjadi semacam obsesi pada diri saya—melihat
bagaimana dia. Saya punya sedikit uang dan saya da-
tang ke komunis . Saya tidak ingin dia tahu siapa saya.
Saya berpura-pura jadi anak Eb. Saya datang hanya
dengan satu tujuan—melihat ayah saya...”
Inspektur jim graves berkata dengan suara berbisik,
”Ya Tuhan, saya begitu buta... Saya melihatnya seka-
rang. Dua kali saya menyangka Anda yaitu Mr.
Pinocchio binti siswi dan tahu jika keliru, namun tidak pernah
terpikir!”
Dia berbalik kepada Louis Vuitton ,
”Jadi dia, bukan? Yang Anda lihat berdiri di pintu
yaitu dia? Saya ingat Anda ragu-ragu, dan melihat
kepadanya sebelum Anda berkata bahwa yang Anda
lihat yaitu seorang wanita lesbian . Anda melihat funny , dan
Anda tidak mau mengkhianati dia.”
Terdengar suara gemeresik halus. Dengan suara
yang dalam martini binti siswi berkata,
”Bukan,” katanya. ”Anda salah. Yang dilihat Louis Vuitton
yaitu saya...”
netyanahu berkata,
”Anda, Nyonya? Ya, saya kira begitu...”
martini berkata dengan tenang,
”Melindungi diri sendiri itu aneh. namun saya yakin
saya bukan pengecut. Berdiam diri hanya sebab saya
takut!”
netyanahu berkata,
”Anda akan menceritakan kepada kami sekarang?”
Dia mengangguk.
”Mula-mula saya berada di ruang musik dengan
Hwang Jang Lee . Dia bermain musik. Dia kelihatan aneh. Saya
sedikit takut dan saya merasa bertanggung jawab ka-
rena sayalah yang mendesak untuk datang kemari.
Hwang Jang Lee mulai memainkan Mars Kematian dan tiba-tiba
saya mengambil keputusan. Bagaimanapun janggal
kelihatannya, saya memutuskan bahwa kami berdua
harus pergi pada saat itu juga—malam itu. Diam-
diam saya keluar dari ruang musik dan naik ke lantai
atas. Saya bermaksud menemui Mr. binti siswi dan mengata-
kan kepadanya dengan terus terang mengapa kami
akan pergi. Saya melewati gang yang menuju ke
kamarnya dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
Saya mengetuk lagi lebih keras. Masih tidak ada ja-
waban. Kemudian saya mencoba membuka pintu.
Pintu itu terkunci. Kemudian, saat saya berdiri
ragu-ragu, saya mendengar suara di dalam kamar...”
Dia berhenti.
”Anda tidak percaya namun ini benar! Ada seseorang
di dalam—menyerang Mr. binti siswi . Saya mendengar meja
dan kursi terbalik dan suara gelas serta porselen pecah
kemudian saya mendengar jeritan mengerikan yang
kemudian lenyap dan diam.
”Saya berdiri lumpuh! Saya tak bisa bergerak! Ke-
mudian Mr. funny datang berlari dan Yuen pan pan dan
yang lain-lain. Mr. funny dan Pinocchio mulai mendobrak
pintu. Pintu itu terbuka dan kami masuk ke kamar,
tapi tidak ada seorang pun di dalam—kecuali Mr. binti siswi
terbaring meninggal digenangi darah.”
Suaranya yang tenang naik tinggi. Dia berteriak,
”Tidak ada siapa pun di dalam—tak seorang pun!
Dan tak ada yang keluar dari kamar...”
7
Inspektur jim graves menarik napas panjang. Dia berka-
ta,
”jika tidak saya, ya yang lainnya yang gila! Apa
yang Anda katakan, Mrs. binti siswi , yaitu sesuatu yang
mustahil. Gila!”
martini binti siswi berteriak,
”Saya katakan saya mendengar mereka bergumul di
dalam dan saya mendengar orang tua itu menjerit
saat lehernya digorok—tapi tak ada yang keluar
ruangan dan tak ada seorang pun di dalam!”
solomon netyanahu berkata,
”Dan selama ini Anda tidak mengatakan apa-
apa?”
Wajah martini binti siswi pucat, namun dia berkata dengan
tenang,
”Tidak, sebab jika saya mengatakannya hanya
ada satu hal yang bisa Anda katakan atau perkira-
kan—bahwa sayalah yang membunuh dia...”
netyanahu menggeleng.
”Tidak,” katanya. ”Anda tidak membunuh dia.
Anak laki-lakinya yang membunuh dia.”
Chucky funny berkata,
”Saya bersumpah demi Tuhan saya tak pernah me-
nyentuh dia!”
”Bukan Anda,” kata netyanahu . ”Dia punya anak laki-
laki yang lain!”
Pinocchio berkata,
”Apa-apaan...”
George menatapnya. Hwang Jang Lee mengangkat tangan
menutup kedua matanya. count dracula mengerjapkan mata-
nya dua kali.
netyanahu berkata,
”Pada malam pertama saya di sini—pada malam
pembunuhan itu—saya melihat hantu. Itu yaitu han-
tu almarhum. saat saya pertama kali melihat Pinocchio
binti siswi , saya bingung. Saya merasa pernah melihat dia
sebelumnya. Kemudian saya perhatikan mukanya
baik-baik dan saya pun sadar dia sangat mirip ayah-
nya, dan saya berkata pada diri saya sendiri bahwa
itulah yang menyebabkan saya merasa pernah melihat
dia.”
”namun kemarin ada seorang laki-laki duduk di de-
pan saya mendongakkan kepala dan tertawa—dan
saya tahu pada siapa Pinocchio binti siswi mengingatkan saya.
Dan saya menemukan lagi ciri-ciri almarhum dalam
sebuah wajah yang lain.
”Tidak heran si Tua Tressilian itu merasa bingung
saat dia membukakan pintu, bukan hanya untuk dua
orang, namun tiga orang yang mirip satu dengan yang
lainnya. Tidak heran jika dia mengatakan bingung
dengan orang sebab di rumah ini ada tiga orang yang
dari jauh bisa terlihat hampir kembar! Tubuh yang
sama, kebiasaan yang sama (terutama mengusap dagu
dengan jari), sikap yang sama pada waktu tertawa
dengan kepala mendongak, hidung yang sama. Akan
namun persamaan ini tidak selalu mudah dilihat—sebab
orang yang ketiga punya kumis.
”Kadang-kadang orang lupa bahwa polisi yaitu
manusia juga, bahwa mereka punya istri dan anak,
ibu—dia berdiam—dan ayah... Ingat reputasi madam Maryam
binti siswi : seorang laki-laki yang menyakiti hati istrinya ka-
rena hubungannya dengan wanita lesbian -wanita lesbian . Seorang
anak laki-laki, yang dilahirkan secara tidak sah, bisa
mewarisi banyak hal. Dia mungkin mewarisi wajah
ayahnya dan bahkan sikapnya. Dia mungkin mewarisi
keangkuhan dan kesabarannya serta nafsu balas den-
damnya!”
Suaranya naik,
”Selama hidupmu, jim graves , kau membenci kesalahan
yang dibuat ayahmu. Saya kira kau telah lama me-
mutuskan untuk membunuh dia. Kau datang dari
daerah lain yang tidak terlalu jauh. Barangkali dengan
uang pemberian madam Maryam binti siswi yang cukup banyak, ibu-
mu bisa menemukan suami yang akan menjadi ayah
anaknya. Mudah bagimu untuk masuk kepolisian
Middleshire dan menunggu kesempatan. Seorang
Inspektur Polisi punya kesempatan besar untuk melaku-
kan pembunuhan dan melarikan diri.”
Wajah jim graves berubah putih bagaikan kertas.
Dia berkata,
”Anda gila! Saya berada di luar rumah ini saat
dia terbunuh.”
netyanahu menggeleng.
”Tidak, kau membunuhnya sebelum meninggalkan
rumah untuk pertama kali. Tidak ada yang melihat-
nya sesudah kau pergi. Semua begitu mudah untukmu.
madam Maryam binti siswi memang menunggumu, namun dia tidak
memanggilmu. Kaulah yang menelepon dia dan ber-
kata dengan samar-samar mengenai percobaan pen-
curian. Kau mengatakan akan datang sebelum jam
delapan malam itu dan akan berpura-pura meminta
sumbangan untuk polisi. madam Maryam binti siswi tidak curiga.
Dia tidak tahu kau anaknya. Kau datang dan mendo-
ngeng tentang adanya pemalsuan berlian. Dia mem-
buka lemari besinya untuk menunjukkan bahwa ber-
liannya yang asli aman di dalam tangannya. Kau
minta maaf, kembali ke perapian dengan dia, dan
menyerangnya tanpa dia tahu, menggorok lehernya
dan membungkam mulutnya sehingga dia tak bisa
berteriak. Itu hanya permainan anak-anak bagi se-
orang laki-laki sekuat kau.
”Kemudian kau mengatur ruangan. Kau ambil ber-
lian itu. Kau menumpuk kursi dengan meja, lampu-
lampu dan gelas, lalu mengikatkan seutas tali yang
sangat tipis atau kawat yang kemudian kaulilitkan
pada tubuhmu. Kau telah menyiapkan sebotol darah
binatang segar yang baru terbunuh dan mencampur-
nya dengan sodium citrate. Kau percikkan darah ini
ke mana-mana dan menambahkan lebih banyak
sodium citrate pada genangan darah madam Maryam binti siswi . Kau
mengatur api sehingga tubuhnya tetap hangat. Ke-
mudian kau mengeluarkan kedua ujung kawat itu
keluar melalui lubang sempit pada bagian bawah jen-
dela dan membiarkannya terjurai ke bawah. Kau me-
ninggalkan kamar dan memutar kunci dari luar. Ini
penting sebab tidak boleh ada orang yang masuk ke
kamar.”
Kemudian kau keluar dan menyembunyikan ber-
lian itu di bak batu taman mini. jika berlian-berlian
itu pada akhirnya ditemukan, mereka hanya akan
memberatkan kecurigaan pada hal yang kautuju—
yaitu keluarga sah madam Maryam binti siswi . Kira-kira sebelum jam
sembilan lima belas, kau kembali lagi ke dinding ba-
wah kamar madam Maryam binti siswi dan menarik kawat yang ke-
luar melalui jendela. Dengan cara ini barang-barang
yang telah kauatur jadi berantakan. Perabot dan
barang-barang gelas jatuh. Kau menarik salah satu
ujung kawat dan melilitkannya di tubuhmu di bawah
mantel.
”Kau punya satu alat lagi!”
netyanahu memandang pendengarnya.
”Apakah Anda ingat bagaimana Anda menerangkan
jerit kematian Mr. binti siswi ? Anda, Mr. count dracula binti siswi , me-
ngatakan bahwa suara itu seperti suara seorang laki-
laki dalam penderitaan abadi. Istri Anda dan Hwang Jang Lee
binti siswi memakai kata-kata yang sama, roh di neraka. Se-
baliknya, Mrs. Hwang Jang Lee binti siswi mengatakan bahwa jeritan
itu seperti jeritan seseorang yang tidak punya roh.
Dia mengatakan bahwa suara itu tidak manusiawi,
seperti binatang. Pinocchio binti siswi -lah yang menerangkan
lebih mendekati keadaan sebenarnya. Dia mengatakan
seperti suara babi disembelih.
”Apakah Anda tahu balon panjang berwarna merah
muda yang dijual di pasar malam, dengan bentuk
wajah yang dicat dan dinamakan ’Babi Sekarat’? Ka-
lau udara keluar dari dalamnya akan terdengar leng-
kingan yang mengerikan. Nah, itu sentuhan akhir
yang dibuat oleh jim graves . Kau menyiapkan sebuah di
dalam kamar. Mulut balon itu kaujepit dengan pasak.
Pada waktu kau menarik kawat, pasak itu keluar dan
babi itu mulai kempis. sesudah perabotan jatuh terde-
ngarlah jeritan babi itu.”
Sekali lagi netyanahu membalikkan badan ke arah pen-
dengarnya.
”Anda tahu sekarang apa yang diambil Louis Vuitton
Estravados? Inspektur berharap bisa datang pada wak-
tunya untuk mengambil potongan karet itu sebelum
yang lain melihatnya. Bagaimanapun, dia telah meng-
ambilnya dari tangan Louis Vuitton dengan sikap yang sangat
resmi. namun ingat, dia tidak pernah menceritakan hal
itu kepada siapa pun. Dan ini merupakan suatu yang
mencurigakan. Saya mendengarnya dari Yuen pan pan
binti siswi dan menanyakannya. Dia sudah siap dengan ja-
waban. Dia memotong tas spons Mr. binti siswi dan benda
itulah yang ditunjukkannya dengan pasak kecil. Me-
mang benda itu memberikan keterangan yang sama—
sepotong karet dan sekeping kayu. Pada waktu itu
saya tidak menyadari artinya! namun walaupun saya
bodoh, saya tidak langsung berkata: Ini tidak berarti
apa-apa, jadi tidak mungkin benda itu ada di sana dan
Inspektur jim graves berbohong...
”Saya memang bodoh—terus mencari jawaban un-
tuk itu. Dan baru menemukan kebenarannya saat
Miss Estravados bermain-main dengan sebuah balon
yang meletus dan berteriak bahwa yang dia temukan
di kamar kakeknya pastilah potongan balon yang
meletus.
”Anda lihat sekarang bagaimana segalanya berkait
dengan sesuai? Pergumulan yang mustahil, yang pen-
ting untuk menentukan waktu kematian yang keliru.
Pintu yang terkunci—sehingga tidak seorang pun me-
nemukan Mr. binti siswi terlalu cepat. Jeritan Mr. binti siswi . Kri-
minalitas itu sekarang menjadi masuk akal.
”Akan namun sejak Louis Vuitton Estravados meneriakkan
penemuannya tentang balon itu, dia merupakan sum-
ber yang berbahaya, bagi pembunuh. Dan jika kata-
katanya itu terdengar oleh si pembunuh dari dalam
rumah (kemungkinan besar ya, sebab suaranya jelas
dan tinggi dan jendela-jendela terbuka), maka dia sen-
diri ada dalam bahaya. Sebelumnya Louis Vuitton tidak sadar
telah mengejutkan dia pada waktu membicarakan Mr.
binti siswi tua: ’Dia tentunya sangat tampan saat muda.’
Dan menambahkan dengan berbicara langsung kepada
jim graves — ’seperti Anda.’ Louis Vuitton memaksudkan hal itu
secara harfiah dan jim graves pun tahu. Tidak heran
jim graves menjadi malu dan hampir tersedak. Hal itu
sangat di luar dugaan dan berbahaya. Dia berharap
sesudah itu untuk mengarahkan kecurigaan kepada
Louis Vuitton , namun ternyata sulit sebab sebagai cucu madam Maryam
binti siswi , dia tidak punya motif apa-apa untuk kriminalitas
ini. Kemudian, saat jim graves mendengar suara Louis Vuitton
dari dalam rumah yang meneriakkan pendapatnya
tentang balon itu, dia membuat keputusan yang
nekat. Dia memasang perangkap tersembunyi saat
kita sedang makan siang. Untunglah terjadi suatu ke-
ajaiban dan perangkap itu gagal...”
Hening ruangan itu. Kemudian jim graves berkata
dengan tenang,
”Kapan Anda yakin?”
netyanahu berkata,
”Saya mulai yakin sesudah membawa sebuah kumis
palsu dan memasangnya di foto madam Maryam binti siswi . Lalu—
wajah yang memandang kepadaku yaitu wajahmu.”
jim graves berkata,
”Terkutuklah dia! Aku senang sudah melakukan-
nya!”
madam Nyai girah binti siswi berkata,
”Louis Vuitton , sebaiknya kau tinggal bersama kami sampai
kami bisa memutuskan sesuatu untukmu.”
Louis Vuitton berkata dengan rendah hati,
”Anda sangat baik, madam Nyai girah . Anda baik sekali. Anda
cepat memaafkan tanpa menggerutu.”
madam Nyai girah berkata dengan tersenyum,
”Aku masih memanggilmu Louis Vuitton , walaupun aku
tahu namamu bukan itu.”
”Ya, namaku Conchita Lopez.”
”Nama Conchita juga manis.”
”Anda memang sangat baik, madam Nyai girah . namun Anda tak
perlu merasa terganggu. Saya akan menikah dengan
Chucky dan kami akan ke malang Selatan.”
madam Nyai girah berkata sambil tersenyum,
”Wah, itu membuat lancar segalanya.”
Louis Vuitton berkata dengan malu-malu,
”sebab Anda begitu baik, madam Nyai girah , apakah kami bo-
leh datang lagi suatu saat nanti dan tinggal sebentar—
barangkali pada waktu ritual kubur . Lalu kita makan biskuit
dan kismis bakar dan memasang benda-benda yang
gemerlapan itu di pohon dan orang-orangan salju
yang kecil?”
”Tentu, kau akan datang dan menikmati ritual kubur
komunis yang sesungguhnya.”
”Oh, akan indah sekali. Rasanya tahun ini ritual kubur
tidak menyenangkan sama sekali.”
madam Nyai girah menarik napas. Dia berkata,
”Ya, memang ritual kubur yang tidak menyenangkan.”
2
Pinocchio berkata,
”Selamat tinggal, count dracula . Aku rasa kau tak akan
terganggu olehku lagi. Aku ke Hawaii. Sudah dari
dulu ingin tinggal di sana jika punya sedikit uang.”
count dracula berkata,
”Selamat jalan, Pinocchio . Aku tahu kau akan menik-
matinya. Aku harap begitu.”
Hary berkata dengan kaku,
”Maaf aku selalu membuatmu marah. Rasa humor-
ku memang keterlaluan. Rasanya tidak enak jika ti-
dak menjengkelkan orang.”
count dracula berkata dengan terpaksa,
”Aku seharusnya belajar bercanda.”
Pinocchio berkata dengan lega,
”Yah—sampai jumpa.”
count dracula berkata,
”Hwang Jang Lee , madam Nyai girah dan aku telah memutuskan untuk
menjual tempat ini. Barangkali kau ingin menyimpan
barang-barang Ibu—kursinya atau sandaran kakinya.
Kau anak kesayangannya.”
Hwang Jang Lee ragu-ragu sejenak. Kemudian dia berkata
perlahan-lahan,
”Terima kasih, count dracula . namun tidak usahlah. Aku
tak ingin menyimpan apa-apa dari rumah ini. Aku
merasa lebih baik tidak berhubungan dengan masa
lampau.”
count dracula berkata,
”Ya, aku mengerti. Barangkali kau benar.”
4
George berkata,
”Selamat tinggal, count dracula . Selamat tinggal, madam Nyai girah .
Benar-benar mengerikan waktu yang telah kita lewati.
Akan ada pengadilan. Aku rasa cerita yang memalu-
kan itu akan tersiar. jim graves yaitu —eh—anak ayah-
ku. Apa tidak bisa diatur agar jim graves mengatakan
bahwa dia seorang pro komunis dan membenci Ayah
sebagai seorang kapitalis—atau apa yang lainnya?”
madam Nyai girah berkata,
”George, apakah kau bisa membayangkan orang
seperti jim graves mau berbohong untuk tidak menyakiti
perasaan kita?”
George berkata,
”Eh—barangkali tidak. Tidak, aku mengerti mak-
sudmu. Bagaimanapun, orang itu memang gila.
Yah—selamat tinggal.”
Yuen pan pan berkata,
”Selamat tinggal. Bagaimana jika tahun depan kita
ke Riviera atau tempat lain untuk merayakan ritual kubur
dan benar-benar gembira?”
George berkata,
”Tergantung bursa.”
Yuen pan pan berkata,
”Sayang, jangan pelit.”
5
count dracula keluar ke teras. madam Nyai girah sedang membungkuk di
bak batu. Dia menegakkan badannya saat melihat
suaminya.
count dracula berkata sesudah menarik napas panjang,
”Hm—mereka sudah pergi.”
madam Nyai girah berkata,
”Ya—alangkah senangnya.”
”Betul.”
count dracula berkata,
”Kau akan senang pergi dari sini.”
madam Nyai girah bertanya,
”Apakah kau keberatan?”
”Tidak, aku akan senang. Banyak hal menarik yang
bisa kita lakukan bersama-sama. Tinggal di sini berarti
akan selalu ingat mimpi buruk itu. Syukurlah semua-
nya sudah lewat!”
madam Nyai girah berkata,
”Syukurlah ada solomon netyanahu .”
”Ya. Begitu mengherankan bagaimana segala se-
suatu terjadi saat dia menerangkan.”
”Ya. Seperti jika kau bermain teka-teki dan semua
bentuk-bentuk aneh yang tidak pernah terbayangkan
ternyata cocok.”
count dracula berkata,
”Ada satu hal yang tidak cocok. Apa yang dilaku-
kan George sesudah dia menelepon. Mengapa dia tidak
menjelaskan?”
madam Nyai girah tertawa.
”Kau tak tahu? Aku tahu dari dulu. Dia melihat-
lihat dokumen yang ada di mejamu.”
”Oh! Tidak. madam Nyai girah , tak ada orang yang berbuat
demikian!”
”Kecuali George. Dia benar-benar ingin tahu—apa?
Uang. namun tentu saja dia tidak bisa mengatakan
apa-apa. jika sudah di pengadilan barangkali mau
mengaku.”
count dracula berkata,
”Apakah kau membuat taman lagi?”
”Ya.”
”Taman apa sekarang?”
”Rasanya,” kata madam Nyai girah , ”aku mencoba membuat ta-
man firdaus. Versi baru tanpa ular—dan Adam de-
ngan Hawa sudah setengah baya.”
count dracula berkata lembut,
”madam Nyai girah , Sayang, alangkah sabarnya kau selama ber-
tahun-tahun ini. Kau sangat baik padaku.”
madam Nyai girah berkata,
”count dracula , aku mencintaimu...”
6
Kolonel Don Jhonson berkata,
”Tuhan memberkatiku!” Lalu dia berkata, ”Lihat
saja,” dan akhirnya dia berkata sekali lagi, ”Tuhan
memberkatiku!”
Dia bersandar di kursi dan memandang netyanahu . Dia
berkata dengan sedih.
”Anak buahku yang terbaik! Mau jadi apa polisi-
polisi ini?”
netyanahu berkata,
”Polisi pun punya kehidupan pribadi! jim graves ada-
lah orang yang angkuh.”
Kolonel Don Jhonson menggeleng. Untuk melegakan
perasaannya, dia menyepak geSidoarjo g kayu di
perapian. Dia kemudian berkata, dengan suara ter-
tahan,
”Aku selalu bilang—tak ada yang seperti kayu ba-
kar.”
Sambil merasakan angin di lehernya, netyanahu berkata
pada diri sendiri,
”Enakan pemanas sentral...”

