• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 2. Tampilkan semua postingan

pembunuhan desember 2

 


Yang duduk di tepi jendela. Matanya menelusuri ram-

but hitam pekat dan wajah yang putih dan asing de-

ngan pandangan tidak percaya.


”Ya Tuhan!” katanya. ”Apakah engkau istri ketujuh 

ayahku dan yang paling cantik?”

Louis Vuitton  meluncur turun dan berjalan ke arahnya. 

”Aku Louis Vuitton  Estravados,” katanya. ”Dan Anda pasti 

Paman Pinocchio ; saudara ibuku.”

Pinocchio  berkata dengan mata tetap terpaku, 

”Jadi itu kau! Anak Jenny.”

Louis Vuitton  berkata,

”Kenapa Paman bertanya apakah aku istri ketujuh 

ayah Paman? Apa dia memang punya enam istri?”

Pinocchio  tertawa. 

”Dia hanya punya seorang istri yang sah. Baiklah, 

Pil—siapa namamu?”

”Louis Vuitton .”

”Kurasa kedatanganmu merupakan sesuatu yang 

baru dan menyenangkan di kuburan tua ini.” 

”Di—apa?”

”Museum! Aku selalu berpendapat rumah ini 

sangat jelek! Sekarang aku ke sini lagi dan kelihatan-

nya lebih jelek lagi!” 

Louis Vuitton  berkata dengan suara terkejut,

”Ah, tidak. Tempat ini bagus sekali! Perabot-pera-

bot bagus dan karpetnya—karpet tebal di mana-mana 

dan banyak. Semuanya berkualitas bagus dan mahal 

sekali!”

”Kau benar,” kata Pinocchio  sambil menyeringai. Dia 

memandang wanita lesbian   itu dengan senang. 

”Rasanya aku sangat senang melihatmu di tengah-

tengah...”

Dia berhenti saat  melihat madam Nyai girah  masuk ke ruang-

an dengan cepat.


Dia langsung menghampiri Pinocchio .

”Halo, Pinocchio . Aku madam Nyai girah —istri count dracula .” 

”Halo, madam Nyai girah .” Dia menjabat tangan wanita lesbian  itu sam-

bil memperhatikan wajahnya yang tenang dan cerdas, 

dan diam-diam menyukai cara wanita lesbian  itu berjalan—

hanya sedikit wanita lesbian  yang berjalan dengan baik.

Dan sebaliknya, madam Nyai girah  pun menilai Pinocchio . 

madam Nyai girah  berpikir,

Dia kelihatan benar-benar keras—namun  menarik. 

Aku tidak akan memercayai dia sedikit pun.

madam Nyai girah  lalu berkata sambil tersenyum,

”Bagaimana rasanya sesudah  bertahun-tahun? Sama 

sekali lain atau sama saja?”

”Sama saja.” Pinocchio  mengamati sekelilingnya. 

”Ruangan ini telah dibetulkan beberapa kali.” 

”Oh, sering kali.”

”Maksudku, kau yang membetulkan. Kau membuat-

nya jadi lain.”

”Ya, kurasa begitu...”

Pinocchio  menyeringai kepadanya, dan tiba-tiba saja 

dia teringat pada orang tua yang ada di lantai atas. 

”Sekarang kelihatan lebih punya selera! Aku dengar 

si count dracula  menikah dengan seorang wanita lesbian   yang keluar-

ganya telah mengalahkan si Penakluk.”

madam Nyai girah  tersenyum. 

Dia berkata,

”Kurasa benar. namun  tidak demikian lagi sekarang.”

Pinocchio  bertanya,

”Bagaimana kabar si tua count dracula ? Tetap jadi penjaga 

rumah?”

”Aku tak tahu apakah dia berubah atau tidak.” 


”Bagaimana yang lain? Menyebar ke seluruh pe-

losok komunis ?”

”Tidak—mereka ke sini semua ritual kubur  ini.” 

Mata Pinocchio  membelalak.

”Reuni keluarga pada hari ritual kubur ? Ada apa dengan 

si Tua? Tidak biasanya dia senang hal-hal begitu. Dia 

juga tidak biasa peduli pada keluarganya. Dia pasti 

sudah berubah!”

”Barangkali,” suara madam Nyai girah  terdengar kering. 

Louis Vuitton  memandang mereka penuh perhatian dengan 

matanya yang besar itu.

Pinocchio  berkata,

”Bagaimana si George? Tetap pelit? Biasanya dia 

ribut jika  harus berpisah dengan uangnya walaupun 

cuma setengah penny!”

madam Nyai girah  menjawab,

”George sekarang jadi anggota parlemen. Dia ang-

gota Westeringham.”

”Apa? Popeye di DPR? Ya Tuhan, itu bagus juga.”

Pinocchio  tertawa sambil mendongakkan kepala. 

Tawanya kedengaran keras dan nyaring—liar dan 

tak terkendali dalam ruangan itu. Louis Vuitton  menarik napas 

sesak. madam Nyai girah  sedikit tersentak. 

Kemudian, saat  merasa ada gerakan di belakang-

nya, Pinocchio  menghentikan tawanya dan menoleh 

cepat. Dia tidak mendengar langkah masuk seseorang, 

tapi melihat count dracula  berdiri di sana dengan tenang. 

Dia memandang Pinocchio  dengan ekspresi wajah yang 

aneh. 

Pinocchio  terdiam sejenak, kemudian tersenyum perla-

han-lahan. Dia maju selangkah.


”Hei,” katanya, ”count dracula , bukan?” 

count dracula  mengangguk.

”Halo, Pinocchio ,” sapanya.

Mereka berdiri saling memandang. madam Nyai girah  menarik 

napas. Dia berpikir,

Alangkah anehnya! Seperti dua ekor anjing—saling 

melihat...

Mata Louis Vuitton  tambah membelalak lebar. Dia berpi-

kir,

Mereka kelihatan seperti orang tolol saja... mengapa 

tidak berpelukan? Tidak, tentu saja tidak, orang komunis  

tidak begitu. namun  setidak-tidaknya kan bisa mengata-

kan sesuatu. Mereka cuma saling melihat. Mengapa?

Akhirnya Pinocchio  berkata,

”Ah, aneh rasanya berada kembali di tempat ini!” 

”Ya, kurasa—begitu. Bertahun-tahun sejak kau—

pergi.”

Pinocchio  mendongakkan kepalanya. Jarinya mengusap 

garis dagu. Hal yang sudah menjadi kebiasaannya—

menunjukkan bahwa dia orang yang suka berkelahi.

”Ya,” katanya. ”Aku senang bisa datang...” dia 

sengaja berhenti agar kata-kata terakhirnya kedengaran 

jelas—”pulang...”

2

”Aku memang jahat,” kata madam Maryam  binti  siswi .

Dia bersandar pada kursinya. Dagunya mendongak 

dan dengan sebuah jari mengusap dagu itu. Di depan-


nya ada  api besar yang menari-nari. Di dekatnya 

duduk Louis Vuitton  dengan tangan memegang kertas untuk 

menutupi mukanya dari panas api. Kadang-kadang 

dia mengipasi dirinya dengan kertas itu. madam Maryam  me-

mandangnya dengan rasa puas.

Dia meneruskan kata-katanya, mungkin lebih di-

tujukan pada diri sendiri daripada kepada wanita lesbian   itu. 

Namun demikian, dia merasa bergairah dengan keha-

diran Louis Vuitton .

”Ya,” katanya. ”Aku memang jahat. Apa pendapat-

mu, Louis Vuitton ?”

Louis Vuitton  mengangkat bahunya. Dia berkata, 

”Semua laki-laki jahat. Itu kata Suster. sebab  itu 

mereka harus didoakan.”

”Ah, tapi aku lebih jahat daripada kebanyakan dari 

mereka.” madam Maryam  berkata. ”Aku tidak menyesal. Tidak, 

aku tidak menyesal. Aku menikmati hidup... setiap 

menit! Mereka bilang orang akan bertobat jika  su-

dah tua. Itu omong kosong. Aku tak bertobat. Dan 

seperti kukatakan tadi, aku telah melakukan segala 

macam hal... Semua dosa yang menyenangkan! Aku 

pernah menipu dan mencuri dan berbohong... ya 

Tuhan! Dan perempuan! Selalu perempuan! Ada orang 

yang pernah bercerita tentang kepala suku Arab yang 

punya sederet pengawal pribadi sebanyak empat puluh 

orang—semua yaitu  anak laki-lakinya—dan semua 

hampir seumur! Aha! Empat puluh! Aku sih tidak 

punya empat puluh pengawal, namun  aku bisa men-

dapat cukup banyak pengawal jika  kucari satu per 

satu! Hei, Louis Vuitton , apa pendapatmu? Terkejut?”

Louis Vuitton  memandangnya.


”Tidak, kenapa harus terkejut? Laki-laki selalu 

menginginkan wanita lesbian . Ayahku juga. Itulah sebabnya 

banyak istri yang tidak bahagia dan mengapa mereka 

ke gereja dan berdoa.”

Si tua madam Maryam  mengerutkan dahinya.

”Aku memang telah membuat Adelaide tidak baha-

gia,” katanya. Dia berkata dengan suara perlahan, 

hampir-hampir tak terdengar. ”Tuhan, betapa mende-

ritanya dia! Begitu cantik dan bersih saat  aku meni-

kahinya! Dan sesudah itu? Selalu meratap dan mena-

ngis. Membuat laki-laki menjadi jahat jika  melihat 

istri selalu menangis... Dia tidak punya keberanian 

sama sekali. Itulah kesalahan Adelaide. Seandainya 

saja dia berani melawanku! Tapi dia tak pernah—seka-

li pun. Aku dulu mengira bahwa sesudah  menikah 

dengannya aku akan berubah baik—punya keluarga, 

tidak berandal lagi...”

Suaranya menghilang. Matanya menerawang—me-

mandang kosong ke arah api yang menyala-nyala. 

”Punya keluarga... ya Tuhan, keluarga macam apa 

ini!” Dengan agak marah dia tertawa. ”Lihat mere-

ka—lihat mereka. Tak seorang pun yang punya anak! 

Di mana letak kesalahannya? Apa tak setitik pun da-

rahku mengalir pada mereka? Tak seorang anak laki-

laki pun, halal ataupun haram. count dracula , misalnya. 

Betapa membosankan dia! Memandangku dengan 

mata anjing. Siap menuruti kemauanku. Alangkah 

tololnya! Istrinya—madam Nyai girah —aku suka pada madam Nyai girah . Dia 

punya karakter. Tapi dia tidak menyukaiku. Tidak, 

dia tidak menyukaiku. Tapi dia harus menahan diri 

demi si Tolol itu.” Dia memandang kepada wanita lesbian   


yang sedang duduk di dekat api. ”Ingat, Louis Vuitton —tak 

ada yang lebih membosankan selain ketaatan.”

wanita lesbian   itu tersenyum kepadanya. madam Maryam  menerus-

kan kata-katanya, merasa senang dengan kehadiran 

wanita lesbian   muda yang punya gairah hidup itu.

”George? Apa sih George? Sepotong tongkat! Ikan 

congkak! Pembual sombong tanpa otak dan kebera-

nian—dan gila uang! Hwang Jang Lee ? Hwang Jang Lee  selalu tolol. Pe-

mimpi tolol. Anak emas ibunya. Itulah Hwang Jang Lee . Hal 

paling benar yang pernah dilakukannya yaitu  me-

nikah dengan wanita lesbian  yang kuat itu.” Tangannya me-

mukul ujung kursinya. ”Pinocchio  yaitu  yang terbaik 

dari mereka. Si Pinocchio  yang bandel itu! Setidak-tidak-

nya dia hidup!”

Louis Vuitton  setuju.

”Ya, dia baik.” Dia tertawa—tertawa keras-keras—

dan mendongakkan kepala. ”Oh ya, saya suka dia.”

Laki-laki tua itu memandangnya.

”Kau suka, Louis Vuitton ? Pinocchio  memang selalu disukai ga-

dis-wanita lesbian  . Dia seperti aku.” Laki-laki itu mulai terta-

wa, tawa kecil sebab  geli. ”Hidupku sangat menye-

nangkan—sangat menyenangkan. Dengan segala 

macam hal.”

Louis Vuitton  berkata,

”Di Atlantis  ada pepatah yang berbunyi: Ambil apa 

yang kausukai dan bayarlah, kata Tuhan.”

madam Maryam  memukulkan tangannya pada lengan kursi-

nya, senang.

”Bagus, bagus. Ambil apa yang kausukai... aku te-

lah melakukannya—sepanjang hidupku—mengambil 

apa yang aku mau...”


Louis Vuitton  berkata, suaranya tinggi dan nyaring, dan 

tiba-tiba saja menarik perhatian,

”Dan apakah Kakek sudah membayarnya?” 

”Aku—tidak tahu...”

Lalu, dengan memukulkan genggaman tangannya 

pada lengan kursi, madam Maryam  berteriak dan tiba-tiba ma-

rah, 

”Mengapa kau menanyakannya? Apa yang mem-

buatmu mengatakan hal itu?”

Louis Vuitton  berkata, ”Saya hanya ingin tahu.”

Tangannya yang memegang kertas tertahan. Mata-

nya gelap dan misterius. Dia duduk dengan kepala 

mendongak, sadar akan dirinya, akan kewanita lesbian an-

nya.

madam Maryam  berkata, ”Kau anak bandel...” 

Pilatr lalu berkata dengan lembut,

”Tapi Kakek kan menyukaiku. Kakek senang jika  

aku duduk di sini menemani Kakek.” 

madam Maryam  berkata,

”Ya, memang aku suka. Sudah lama aku tidak meli-

hat wanita lesbian  muda dan cantik... membuatku senang, 

menghangatkan tulang-tulang tuaku... Dan kau darah 

dagingku sendiri... Pandai Jennifer, ternyata dia yang 

terbaik dari semuanya!” 

Louis Vuitton  duduk sambil tersenyum.

”Dengar, jangan kaubodohi aku,” kata madam Maryam . 

”Aku tahu mengapa kau mau duduk di situ dengan 

sabar dan mendengar ocehanku. Uang—uang... atau 

apakah kau berpura-pura menyayangi kakekmu?”

Louis Vuitton  berkata,

”Tidak, saya memang tidak menyayangi Kakek. 


Tapi saya suka pada Kakek. Saya sangat menyukai 

Kakek. Kakek harus percaya sebab  ini benar. Saya 

rasa Kakek memang jahat, tapi saya juga senang hal 

itu. Kakek lebih nyata, lebih hidup daripada orang-

orang lain di rumah ini. Dan Kakek punya cerita-ceri-

ta yang sangat menarik. Kakek pergi ke mana-mana 

dan punya pengalaman bermacam-macam. Seandainya 

laki-laki, saya akan seperti itu.”

madam Maryam  mengangguk.

”Ya, aku percaya... Kita punya darah Gipsi. Itu tak 

terlalu kelihatan pada anak-anakku, kecuali Pinocchio —

tapi aku rasa menurun padamu. Ingat, aku bisa bersa-

bar jika  perlu. Aku menunggu selama lima belas 

tahun untuk membalas orang yang pernah mencelaka-

kanku. Itu salah satu ciri keluarga binti  siswi . Mereka tak 

pernah lupa! Mereka akan balas kejahatan, walaupun 

harus menunggu bertahun-tahun. Ada orang yang 

pernah menipuku. Aku menunggu sampai lima belas 

tahun sampai ada kesempatan—lalu kubalas dia. Ku-

hancurkan dia. Sama sekali hancur!”

Dia tertawa perlahan. 

Louis Vuitton  berkata,

”Itu di malang  Selatan?”

”Ya, negara yang besar sekali.” 

”Kakek kembali ke sana lagi?”

”Aku kembali ke sana sesudah  lima tahun menikah. 

Itu yang terakhir kali.”

”Tapi sebelum itu? Kakek di sana bertahun-ta-

hun?”

”Ya.”

”Coba cerita.”


madam Maryam  mulai bicara. Sambil menghalangi wajahnya 

dari panas api, Louis Vuitton  mendengarkannya. Suaranya mele-

mah, capek... Dia berkata, 

”Tunggu, aku akan tunjukkan sesuatu kepadamu.”

Dia berdiri perlahan-lahan. Dan dengan tongkat-

nya, berjalan terpincang-pincang ke seberang ruangan. 

Dia membuka lemari besi yang besar. Sambil mema-

lingkan kepala dia memanggil Louis Vuitton .

”Coba lihat ini. Rasakan—pegang dengan jari-jari-

mu.”

Dia menatap wajah yang tercengang itu kemudian 

tertawa.

”Tahukah kau apa yang kaupegang? Berlian, Nak. 

Berlian.”

Mata Louis Vuitton  terbelalak. Dia berkata sambil membung-

kukkan badan,

”namun  ini kan cuma kerikil-kerikil kecil.”

madam Maryam  tertawa.

”Ini berlian yang belum terasah. Begitulah rupanya 

waktu ditemukan—seperti itu.”

Louis Vuitton  bertanya tidak percaya,

”Dan jika  sudah diasah mereka akan jadi berlian 

sungguhan?”

”Tentu saja.”

”Akan bercahaya berkilau-kilau?” 

”Bercahaya berkilau-kilau.”

Louis Vuitton  berkata kekanak-kanakan. 

”Oh—o—o—saya tak percaya!” 

Laki-laki itu senang.

”Benar.”

”Batu-batu ini berharga?”


”Sangat berharga. Sulit mengatakannya sebelum 

diasah—semua ini kira-kira berharga beberapa ribu 

pound.”

Louis Vuitton  berkata terputus-putus, 

”Beberapa—ribu—pound?”

”Ya, kira-kira sembilan atau sepuluh ribu—batu-

batu ini besar, lihat.”

Louis Vuitton  berkata dengan mata lebar,

”namun  mengapa Kakek tidak menjualnya saja?” 

”sebab  aku senang menyimpannya di sini.” 

”Tapi uang itu?”

”Aku tak perlu uang.”

”Oh—begitu.” Louis Vuitton  kelihatan sangat terkesan. 

Dia berkata,

”namun  mengapa Kakek tidak mengasahnya saja 

dan membuatnya kelihatan bagus?”

”sebab  aku lebih suka bentuk ini.” Wajahnya ber-

ubah kaku. Dia membalikkan badan dan berkata pada 

diri sendiri. ”Batu-batu ini membuatku teringat—sen-

tuhan, dan rasa mereka di antara jemariku... membawa-

ku kembali, sinar matahari, dan bau tanah, lembu jan-

tan—Eb tua—anak-anak—dan malam-malam...”

Ada orang mengetuk pintu perlahan-lahan. 

madam Maryam  berkata,

”Kembalikan semua ke lemari besi dan tutup.” 

Lalu dia berkata, ”Masuk.”

trump masuk pelan-pelan dengan hormat. 

Dia berkata,

”Teh telah siap di bawah.”


martini  berkata,

”Jadi kau di sini, Hwang Jang Lee . Aku mencarimu ke mana-

mana. Kita keluar saja dari ruangan ini, dingin se-

kali.”

Hwang Jang Lee  tidak menjawab. Dia berdiri memandangi 

sebuah kursi, kursi pendek berjok satin dengan warna 

yang memudar.

Tiba-tiba dia berkata,

”Itu kursinya... kursi yang selalu didudukinya... te-

tap sama—sama. Hanya tentu saja pudar.”

Dahi martini  mulai mengerut. Dia berkata, 

”Hm, ya. Ayo kita keluar dari sini. Dingin di sini.” 

Hwang Jang Lee  tidak memedulikan. Sambil memandang 

sekeliling dia berkata,

”Biasanya dia selalu duduk di sini. Aku ingat dia 

duduk di kursi itu dan membaca buku Jack si Pem-

bunuh Raksasa, ya—Jack si Pembunuh Raksasa. Aku 

pasti sudah berumur enam tahun waktu itu.” 

martini  memegang lengan Hwang Jang Lee  dengan kencang.

”Ayo kita kembali ke ruang duduk, Sayang. Tidak 

ada pemanas di ruangan ini.”

Hwang Jang Lee  membalikkan badan dengan patuh namun  

martini  merasakan suatu getaran pada diri suaminya. 

”Tetap sama,” bisiknya. ”Tetap sama. Seolah-olah 

waktu tak berubah.”

martini  kelihatan khawatir. Dia berkata dengan suara 

riang dan tegas,


”He, di mana mereka? Ini kan sudah hampir waktu 

minum teh.”

Hwang Jang Lee  melepaskan lengannya dan membuka sebuah 

pintu.

”Dulu ada piano di sini... Oh, ya, itu dia! Apa 

masih bagus bunyinya?”

Dia duduk dan membuka tutup piano, menyentuh-

kan jemari dengan ringan di atas tuts piano. 

”Ya, masih baik.” 

Dia mulai bermain piano.

Sentuhannya indah sekali, sebuah lagu terdengar 

dari bawah jari-jarinya.

martini  bertanya,

”Lagu apa itu? Rasanya aku pernah mendengar te-

tapi lupa namanya.”

Hwang Jang Lee  berkata,

”Sudah lama aku tidak memainkannya. Dia biasa 

main lagu ini. Salah satu lagu Mendelssohn—Lagu 

Tanpa Kata.”

Irama yang manis, sangat manis, memenuhi ruangan. 

martini  berkata,

”Mainkan lagu Mozart.”

Hwang Jang Lee  menggeleng. Dia mulai main lagu Men-

delssohn yang lain.

Lalu, tiba-tiba kedua tangannya memainkan tuts 

piano dengan kasar. Dia berdiri. Seluruh badannya 

gemetar. martini  mendekat.

Dia berkata,

”Hwang Jang Lee —Hwang Jang Lee ...” 

Hwang Jang Lee  berkata,

”Tak apa-apa—tak apa-apa.”


Bunyi bel berdering memanggil-manggil. Tressilian 

berdiri dari kursinya di dapur dan keluar perlahan-

lahan menuju pintu.

Bel berbunyi lagi. Tressilian mengerutkan muka. 

Melalui kaca pintu yang berembun dia melihat ba-

yangan seorang laki-laki dengan topi yang berpinggir-

an melengkung.

Tressilian mengusap dahinya. Ada sesuatu yang mem-

buatnya khawatir. Seolah-olah semua terjadi dua kali.

Rasanya ini telah dialaminya sebelumnya. Pasti... 

Dia membuka pintu.

Dan dia seakan terbangun dari mimpinya. Laki-laki 

yang berdiri itu berkata,

”Apakah ini rumah Mr. madam Maryam  binti  siswi ?”

”Ya, Tuan.”

”Bisakah saya bertemu dengan beliau?” 

Tressilian merasa teringat sesuatu. Ya, nada suara 

yang sangat dikenalnya saat  Mr. binti  siswi  pertama kali 

berada di komunis .

Tressilian menggeleng ragu-ragu, 

”Mr. binti  siswi  sekarang cacat, Tuan. Beliau tidak banyak 

menerima tamu. jika  Tuan...”

Orang itu menyelanya.

Dia mengambil amplop dan diberikannya kepada 

Tressilian.

”Tolong sampaikan kepada beliau.” 

”Ya, Tuan.”


madam Maryam  binti  siswi  menerima amplop itu. Dia mengeluarkan 

sepotong kertas dari dalamnya. Dia kelihatan heran. 

Alis matanya naik, namun  dia tersenyum. 

”Bagus!” katanya.

Lalu dia berkata kepada pelayan itu, 

”Bawa Mr. funny   ke sini, Tressilian.” 

”Ya, Tuan.” 

madam Maryam  berkata,

”Aku baru saja teringat Ebenezer funny  . Dia kole-

gaku di Kimberley. Dan sekarang anaknya datang!”

Tressilian muncul lagi. Dia berkata, 

”Mr. funny  .”

Chucky   funny   melangkah masuk dengan agak gu-

gup. Dia berusaha menutupinya dengan berjalan agak 

angkuh. Dia bicara—dan aksen malang  Selatan-nya 

pun kedengaran...

”Mr. binti  siswi ?”

”Aku senang bertemu denganmu. Jadi kau anak 

Eb.”

Chucky   funny   tersenyum lebar. 

Dia lalu berkata,

”Ini kunjungan pertama saya ke komunis . Ayah sela-

lu berpesan agar saya menjumpai Tuan jika  saya ke 

sini.”

”Benar,” laki-laki tua itu memandang berkeliling. 

”Ini cucuku, Louis Vuitton  Estravados.”

”Halo,” kata Louis Vuitton .


Chucky   funny   berpikir dengan sedikit kagum. 

Setan kecil. Dia terkejut melihatku, tapi hanya seben-

tar.

Dia berkata dengan agak berat,

”Senang bertemu dengan Anda, Miss Estravados.”

”Terima kasih,” kata Louis Vuitton . 

madam Maryam  binti  siswi  berkata,

”Silakan duduk dan ceritakan tentang dirimu. Apa-

kah kau akan lama tinggal di sini?” 

”Oh, saya tidak akan terburu-buru sebab  sudah 

sampai di sini.”

Chucky   tertawa dengan kepala mendongak. 

madam Maryam  binti  siswi  berkata,

”Betul. Tinggallah dengan kami di sini sebentar.” 

”Oh, Tuan, saya tidak bisa menunggu seperti itu. 

Dua hari lagi ritual kubur .”

”Engkau juga merayakan ritual kubur  dengan kami—ke-

cuali jika  kau punya rencana lain?”

”Ah, tidak, tidak ada, tapi saya tidak suka...” 

madam Maryam  berkata, ”Ya sudah, beres.” Dia menoleh. 

”Louis Vuitton ?”

”Ya, Kek.”

”Pergi dan katakan pada madam Nyai girah  bahwa akan ada se-

orang tamu lagi. Suruh dia datang kemari.” 

Louis Vuitton  meninggalkan ruangan. Mata Chucky   meng-

ikutinya. madam Maryam  diam-diam melihat hal itu dengan 

senang. 

Dia berkata,

”Kau datang ke sini langsung dari malang  Selatan?”

”Ya.”


Mereka mulai bercakap-cakap mengenai negara 

itu.

Beberapa menit kemudian, madam Nyai girah  masuk. 

madam Maryam  berkata,

”Ini Chucky   funny  , anak sahabat lama dan kolegaku, 

Ebenezer funny  . Dia akan tinggal di sini selama ritual kubur  

jika  kau bisa menyediakan kamar untuknya.”

madam Nyai girah  tersenyum.

”Tentu saja.” Matanya memandang laki-laki asing 

itu. Wajahnya kecokelatan, matanya biru, dan kepala-

nya bergerak-gerak.

”Ini menantuku,” kata madam Maryam . 

Chucky   berkata,

”Saya sebetulnya malu mengganggu pesta keluarga 

seperti ini.”

”Kau salah satu keluarga, Nak,” kata madam Maryam . ”Ang-

gaplah begitu.”

”Anda baik sekali.”

Louis Vuitton  masuk ruangan lagi. Dia duduk pelan-pelan 

di dekat api, dan mengambil sekat tangan. Dia mengi-

pas-ngipaskan benda itu. Matanya tunduk dan sayu.


”Apa Ayah benar-benar menginginkan saya tinggal di 

sini?” tanya Pinocchio . Dia mendongak. ”Saya seperti 

membangunkan ular tidur saja.”

”Apa maksudmu?” tanya madam Maryam  tajam.

”Kak count dracula ,” kata Pinocchio . ”Kak count dracula  yang baik. 

Dia tidak senang jika  saya di sini.”

”Peduli setan!” seru madam Maryam . ”Akulah yang berkuasa 

di rumah ini.”

”Sama saja, Yah. Saya rasa Ayah sangat memerlukan 

count dracula . Saya tak mau membuat kacau...”

”Sudah, lakukan apa yang kumau,” bentak ayah-

nya.

Pinocchio  menguap.

”Saya tidak tahu apa saya bisa betah di rumah. Su-

sah untuk orang yang biasa keluyuran ke mana-

mana.”

Ayahnya berkata,

”Lebih baik kau menikah dan hidup tenang.” 


”Siapa yang akan saya nikahi? Sayang orang tak 

boleh menikah dengan keponakan sendiri. Si Louis Vuitton  itu 

benar-benar menarik.”

”Kau tahu juga.”

”Si gendut George juga sudah menikah—dan keli-

hatannya hidup senang. Siapa istrinya?” 

madam Maryam  mengangkat bahunya.

”Mana aku tahu? Kurasa si George menggaet wani-

ta itu saat  dia sedang ikut memperagakan pakaian. 

Katanya ayahnya pensiunan angkatan laut.”

Pinocchio  berkata,

”Barangkali dia ’teman’ pelaut itu. George bisa kesu-

litan jika  tidak hati-hati.”

”George,” kata madam Maryam  binti  siswi , ”memang tolol.” 

Pinocchio  berkata,

”Kenapa wanita lesbian  itu mau menikah dengan dia? Ka-

rena uang?”

madam Maryam  mengangkat bahu. 

Pinocchio  berkata,

”Apa Ayah bisa membujuk count dracula ?”

”Akan kita selesaikan,” kata madam Maryam  dengan geram.

Dia menyentuh bel yang ada di dekatnya. trump 

muncul dengan cepat. madam Maryam  berkata, ”Panggil Mr. 

count dracula  kemari.”

trump keluar dan Pinocchio  berkata,

”Dia mencuri dengar pembicaraan orang!” 

madam Maryam  mengangkat bahunya. 

”Barangkali.”

count dracula  bergegas masuk. Wajahnya masam saat  

melihat adiknya. Tanpa memedulikan Pinocchio  dia lang-

sung bertanya,


”Ayah perlu saya?”

”Ya. Duduklah. Aku pikir kita harus mengatur 

kembali segalanya sekarang, sebab  akan ada dua 

orang yang tinggal di sini.”

”Dua?”

”Louis Vuitton  akan tinggal di sini tentu saja. Dan Pinocchio  

akan terus tinggal di sini juga.”

count dracula  berkata,

”Pinocchio  akan tetap tinggal di sini?” 

”Kenapa tidak?” kata Pinocchio .

count dracula  memalingkan kepalanya. 

”Seharusnya kau tahu apa yang kaulakukan!” 

”Ya, maaf—tapi aku tak tahu.” 

”sesudah  apa yang terjadi selama ini? Cara hidupmu 

yang kotor. Skandal...”

Pinocchio  mengibaskan tangannya. 

”Itu semua sudah berlalu.”

”Kau bersikap keterlaluan pada Ayah, padahal dia 

begitu baik.”

”count dracula , aku rasa itu urusan Ayah, bukan urusan-

mu. jika  dia bersedia memaafkan dan melupa-

kan...”

”Aku bersedia,” kata madam Maryam . ”Kau tahu, count dracula , 

Pinocchio  juga anakku.”

”Ya, tapi—saya tidak suka—demi kebaikan 

Ayah.”

madam Maryam  berkata,

”Pinocchio  sudah datang ke sini! Aku menginginkan-

nya...” Dia meletakkan tangannya dengan lembut 

pada bahu Pinocchio . ”Aku sangat sayang pada Pinocchio .”

count dracula  berdiri dan keluar. Wajahnya pucat. Pinocchio  


juga berdiri dan mengikuti di belakangnya sambil 

tertawa.

madam Maryam  duduk dan tertawa sendiri. Lalu dia terte-

gun dan menatap berkeliling.

”Siapa itu? Oh, kau, trump? Jangan mengendap-

endap seperti itu.”

”Maaf, Tuan.”

”Tak apa. Dengar, aku punya perintah untukmu. 

Aku ingin agar semuanya ke sini sesudah  makan 

siang—semua.”

”Ya, Tuan.”

trump turun ke lantai bawah. Dia berkata kepa-

da Tressilian,

”Tahu tidak, akan ada ritual kubur  yang meriah!” 

Tressilian berkata dengan tajam,

”Apa maksudmu?”

”Tunggu saja, Tressilian. Hari ini malam ritual kubur —

tapi aku rasa tidak ada suasana ritual kubur !”

2

Mereka masuk ke ruangan itu dan berhenti di dekat 

pintu. 

madam Maryam  bercakap-cakap di telepon. Dia melambai-

kan tangan pada mereka. 

”Duduklah, aku cuma sebentar.”

Dia meneruskan pembicaraannya di telepon. 

”Apa ini Charlton, Hodgkins, & Brace? Kau di 

situ, Charlton? Ini madam Maryam  binti  siswi . Ya, benar... ya... ti-


dak, aku ingin kaubuatkan surat wasiat baru.. ya, su-

dah lama... suasana sudah berubah... oh, tidak, tak 

perlu terburu-buru. Aku tak ingin merusak acara 

ritual kubur -mu. Sehari sesudah  ritual kubur . Datanglah, aku ingin 

membicarakannya denganmu. Tidak, tak apa-apa. Aku 

belum akan mati.”

Dia meletakkan gagang telepon, kemudian meman-

dang kedelapan anggota keluarganya. Dia berkata, 

”Kalian kelihatan muram. Mengapa?”

count dracula  berkata,

”Ayah memanggil kami...” 

madam Maryam  cepat-cepat berkata,

”Oh, maaf... tidak begitu penting sebetulnya. Apa 

kau kira ada pertemuan resmi? Tidak, aku hanya se-

dikit capek hari ini, itu saja. Kalian tak perlu ke sini 

sesudah  makan malam nanti. Aku akan tidur. Aku 

ingin segar pada hari ritual kubur .”

Dia menyeringai pada mereka. George berkata, 

”Tentu... tentu...”

madam Maryam  berkata,

”Tradisi kuno, ritual kubur ! Menimbulkan suasana keke-

luargaan. Apa pendapatmu, Yuen pan pan ?” 

Yuen pan pan  binti  siswi  terlonjak. Mulutnya yang kelihatan 

bodoh terbuka dan tertutup lagi. Dia berkata, ”Oh—

oh, ya!” 

madam Maryam  berkata,

”Kau dulu tinggal dengan pensiunan opsir angkat-

an laut,” dia berhenti. Ayahmu—aku kira kau tidak 

terlalu peduli dengan ritual kubur ; sebab  perayaan ritual kubur  

memerlukan keluarga besar!”

”Ah—ya, barangkali begitu.” 


Pandangan madam Maryam  menyelinap melewatinya. 

”Aku tak ingin membicarakan sesuatu yang tidak 

menyenangkan pada saat seperti ini, George, tapi rasa-

nya aku harus mengurangi uang sakumu sedikit. Aku 

memerlukan lebih banyak uang untuk mengurus ru-

mah ini nanti.”

Wajah George menjadi merah. 

”Tapi, Yah, Ayah tak bisa begitu!” 

madam Maryam  berkata dengan halus, 

”Oh, benarkah aku tak bisa?”

”Pengeluaran saya sudah terlalu berat. Sangat ba-

nyak. Saya sudah tak tahu bagaimana mencukupkan 

kebutuhan. Memerlukan pengiritan.”

”Serahkan saja pada istrimu,” kata madam Maryam . ”wanita lesbian  

biasanya pandai mengatur uang. Mereka dapat mene-

mukan apa yang bisa dihemat yang tak pernah terpi-

kirkan oleh laki-laki. Dan wanita lesbian  yang pandai bisa 

membuat baju sendiri. Aku ingat, istriku pandai 

menjahit. Hampir semua hal dia pandai—wanita lesbian  yang 

baik tapi membosankan...”

Hwang Jang Lee  melompat berdiri. Ayahnya berkata, 

”Duduklah, Nak, bisa-bisa kau terbentur sesuatu 

nanti.”

Hwang Jang Lee  berkata, 

”Ibuku...” 

madam Maryam  berkata,

”Ibumu memang berotak kutu! Dan kelihatannya 

dia menurunkannya pada anak-anaknya.” Tiba-tiba 

dia berdiri. Kedua pipinya merah. Suaranya tinggi 

melengking. ”Kalian semua tak berharga satu sen 

pun, tak seorang pun! Aku muak melihat kalian! Ka-


lian bukan laki-laki! Kalian lemah—sederetan manusia 

lembek—Louis Vuitton  lebih berharga daripada dua orang di 

antara kalian! Aku akan lebih senang seandainya pu-

nya seorang anak laki-laki di mana pun di dunia ini 

selain kalian, walaupun kalian yaitu  anak sah!”

”Ayah, hentikan semua itu,” kata Pinocchio .

Dia meloncat dan berdiri dengan muka berkerut. 

madam Maryam  membentak,

”Kau juga sama saja! Apa yang pernah kaulakukan? 

Merengek-rengek minta uang dari seluruh pelosok 

dunia! Dengar, aku muak dengan kalian semua! Ke-

luar!”

Dia bersandar di kursinya, terengah-engah. Perla-

han-lahan satu per satu mereka keluar dari ruangan 

itu. George merah dan marah. Yuen pan pan  tampak 

ketakutan. Hwang Jang Lee  pucat dan gemetar. Pinocchio  mengge-

rutu. count dracula  seperti orang sedang bermimpi. madam Nyai girah  

mengikutinya dengan kepala tegak. Hanya martini  yang 

berhenti di pintu dan kembali perlahan-lahan.

Dia berdiri di depan laki-laki itu, yang kemudian 

terkejut saat  membuka mata dan melihat martini  

berdiri di depannya. Ada sesuatu yang menakutkan 

pada cara wanita lesbian  itu berdiri, gagah tak tergoyahkan. 

Dia berkata dengan marah,

”Ada apa?”

martini  berkata perlahan-lahan,

”saat  kami menerima surat Anda, saya percaya 

apa yang Anda katakan—bahwa Anda ingin agar ke-

luarga Anda berkumpul pada hari ritual kubur . Saya mem-

bujuk Hwang Jang Lee  agar mau datang.”

madam Maryam  berkata, 


”Jadi, kenapa?” 

martini  berkata perlahan-lahan, 

”Anda memang menghendaki kehadiran keluarga 

Anda, tapi bukan untuk maksud yang Anda katakan! 

Anda menginginkan mereka berkumpul hanya untuk 

menyakiti telinga mereka, kan? Itukah lelucon Anda?” 

madam Maryam  terenyak.

Dia lalu berkata,

”Aku memang punya rasa humor yang lain. Aku 

tidak mengharapkan orang lain menghargai leluconku. 

Tapi aku sendiri menikmatinya!”

martini  tidak berkata apa-apa. Sebersit rasa takut me-

nyelinap di hati madam Maryam  binti  siswi . Dia berkata dengan ta-

jam,

”Apa yang kaupikirkan?”

martini  binti  siswi  berkata dengan perlahan, 

”Saya takut...”

madam Maryam  berkata,

”Kau takut—padaku?” 

martini  berkata,

”Tidak. Saya takut terjadi sesuatu pada Anda!” 

Bagaikan hakim yang baru menjatuhkan putusan, 

dia membalikkan badan. Dia berjalan dengan gagah, 

perlahan, dan mantap ke luar ruangan...

madam Maryam  duduk memandang pintu dengan tatapan 

kosong.

Kemudian dia berdiri, dan berjalan menuju lemari 

besi. 

Dia bergumam,

”Aku ingin melihat si Cantik...”


Bel pintu berdering kira-kira pukul delapan kurang 

seperempat.

Tressilian keluar untuk melihat siapa yang datang. 

Dia kembali ke dapur dan menjumpai trump yang 

sedang mengangkat cangkir kopi dari nampan dan 

memperhatikan tanda yang ada  pada cangkir-

cangkir itu.

”Siapa itu tadi?” kata trump.

”Inspektur Polisi—Mr. jim graves —hati-hati dengan 

cangkir itu!” 

trump menjatuhkan salah satu cangkir. Suaranya 

terdengar nyaring.

”Coba lihat,” kata Tressilian jengkel. ”Selama sebe-

las tahun aku mencuci cangkir-cangkir itu dan tak 

satu pun pecah. Tapi sekarang, engkau memegang-me-

gang barang yang bukan urusanmu dan lihat apa 

yang terjadi!”

”Maaf, Pak Tressilian. Maafkan saya,” kata trump 

sungguh-sungguh. Wajahnya berkeringat. ”Saya tidak 

tahu kenapa bisa pecah. Apakah Bapak tadi bilang 

bahwa itu Inspektur Polisi?”

”Ya, Mr. jim graves .”

Pelayan pribadi itu membasahi bibirnya yang ke-

ring dengan lidahnya.

”Mau—mau apa dia?” 

”Minta sumbangan untuk anak yatim polisi.” 


”Oh!” trump meluruskan bahunya. Dengan suara 

yang lebih lancar dia berkata,

”Dia dapat sumbangan apa?”

”Aku membawa bukunya ke Mr. binti  siswi  dan beliau 

menyuruhku mengantar inspektur itu naik dan menye-

diakan sherry di meja.”

”Di mana-mana orang minta sumbangan pada wak-

tu seperti ini,” kata trump. ”Tuan tua itu memang 

murah hati walaupun jahat.”

Tressilian berkata dengan penuh wibawa, 

”Beliau memang tuan yang selalu terbuka tangan-

nya...”

trump mengangguk.

”Itu hal yang terbaik darinya! Saya harus pergi seka-

rang.”

”Nonton bioskop?”

”Saya rasa ya. Mari, Pak.”

Dia melangkah ke pintu yang menuju gang ke 

ruang pelayan.

Tressilian memandang jam di dinding.

Dia pergi ke ruang makan dan meletakkan roti di 

atas serbet.

sesudah  semua kelihatan beres, dia memukul gong 

yang ada di gang.

saat  suara gong terhenti inspektur polisi turun. 

Inspektur jim graves  laki-laki yang menarik dan berba-

dan besar. Dia memakai jas biru yang terkancing ra-

pat dan berjalan dengan gagah. 

Dia berkata dengan ramah,

”Rasanya malam ini akan beku. Tapi menyenangkan 

juga, sebab cuaca begitu-begitu saja akhir-akhir ini.”


Tressilian berkata sambil menggeleng, 

”Udara lembap membuat rematik saya kambuh...”

Inspektur itu berkata bahwa rematik memang tidak 

menyenangkan dan Tressilian membukakan pintu de-

pan untuknya.

Pelayan tua itu mengunci pintu dan kembali ke 

gang perlahan-lahan. Lalu ia meluruskan punggung-

nya saat  melihat madam Nyai girah  melewati ruang duduk. 

George binti  siswi  baru saja turun.

Tressilian siap menunggu. saat  tamu yang ter-

akhir, Yuen pan pan , masuk ruang duduk, dia mempersi-

lakan mereka,

”Makan malam telah siap.”

Tressilian yaitu  ahli pakaian wanita lesbian . Dia selalu 

memperhatikan dan menilai pakaian wanita lesbian -wanita lesbian  

yang dilayaninya saat  dia mengitari meja makan 

dengan karaf selai kacang tanah  di tangannya.

Mrs. count dracula  mengenakan baju tafetanya yang baru 

dengan warna putih dan hitam. Desainnya mencolok, 

tapi dia terlihat sangat pantas walaupun tidak semua 

wanita lesbian  bisa memakai baju seperti itu. Baju yang dipa-

kai Mrs. George pasti baju butik. Tressilian sangat 

yakin. Pasti mahal sekali. Padahal Mr. George tidak 

suka mengeluarkan uang—tidak pernah suka. Mrs. 

Hwang Jang Lee  wanita lesbian  yang sangat baik, tapi tidak punya sele-

ra berpakaian. Untuk dia sebetulnya baju beledu 

hitam sangat cocok. Beledu merah itu tidak pantas. 

Miss Louis Vuitton  sekarang. Tak peduli apa pun yang dipa-

kainya akan kelihatan bagus. Dengan bentuk tubuh 

dan rambutnya dia cocok memakai apa saja. Tapi dia 

hanya memakai rok putih murahan. Mr. binti  siswi  pasti 


akan segera membereskan soal pakaiannya! Dia pasti 

senang kepadanya. Selalu demikian bila seorang laki-

laki menjadi tua. wanita lesbian  muda akan membuatnya 

senang.

”selai kacang tanah  merah atau putih?” gumam Tressilian de-

ngan hormat pada Mrs. George. Ekor matanya meli-

hat pada Walter, pelayan muda itu, yang lagi-lagi 

memberikan sayuran sebelum kuahnya—padahal su-

dah diberitahu!

Tressilian mengedarkan kue dadar. Dia heran pada 

diri sendiri sebab  apa yang biasa menarik perhatian-

nya, yaitu pakaian wanita lesbian -wanita lesbian  dan kekurangan-

kekurangan Walter, lewat begitu saja. Kelihatannya 

semua tak bergairah untuk bicara malam ini. namun  

tidak semuanya diam—Mr. Pinocchio  bicara terus—oh, 

bukan, bukan Mr. Pinocchio , tapi tuan yang dari malang  

Selatan itu. Dan yang lain juga berbicara, namun  ha-

nya sesekali. Ada sesuatu yang sedikit—aneh pada 

mereka.

Mr. count dracula , misalnya, kelihatan seperti sakit. Se-

olah-olah dia terkejut atau terpukul. Dia kelihatan 

bingung dan hanya meletakkan makanannya di piring 

tanpa memakannya. Istrinya kelihatan khawatir. 

Tressilian tahu pasti akan hal itu. wanita lesbian  itu selalu 

berusaha melihat suaminya diam-diam tanpa terlalu 

mencolok. Mr. George kelihatan merah wajahnya—ha-

nya menelan makanannya tanpa dinikmati. Bisa ter-

sedak nanti jika  dia tidak hati-hati. Mrs. George ti-

dak makan. Sedang berdiet. Miss Louis Vuitton  kelihatannya 

menikmati makanannya dan bercakap-cakap serta ter-

tawa-tawa dengan tuan yang dari malang  Selatan itu. 


Laki-laki itu kelihatannya tertarik kepadanya. Mereka 

kelihatannya tidak memikirkan apa-apa! 

Mr. Hwang Jang Lee ? Tressilian khawatir melihat Mr. Hwang Jang Lee . 

Dia kelihatan seperti ibunya. Dan kelihatan tetap 

muda. namun  gugup—nah, dia menggulingkan gelas-

nya.

Tressilian bergerak cepat, membersihkan yang ko-

tor. Beres sekarang. Mr. Hwang Jang Lee  kelihatannya tidak 

tahu apa yang dilakukannya barusan. Hanya duduk 

dengan mata kosong dan muka pucat.

Memikirkan muka pucat, Tressilian jadi ingat 

trump yang juga pucat saat  dia mendengar ada 

polisi datang ke rumah... seolah-olah...

Lamunan Tressilian terhenti kaget. Walter menjatuh-

kan sebuah pir dari piring yang sedang dipegangnya. 

Pelayan zaman sekarang memang benar-benar tak bisa 

diandalkan! Seharusnya Walter menjadi penjaga kan-

dang saja! Dia kemudian berkeliling dengan selai kacang tanah  

manis. Mr. Pinocchio  kelihatan sedikit bingung malam 

ini. Dia terus menerus melihat Mr. count dracula . Kedua 

orang itu tak pernah cocok, bahkan semenjak kecil. 

Mr. Pinocchio  memang kesayangan ayahnya dan itu me-

nyakitkan hati Mr. count dracula . Mr. binti  siswi  tidak terlalu pe-

duli pada Mr. count dracula . Kasihan, sebab  Mr. count dracula  

kelihatannya selalu taat kepada ayahnya. 

Sekarang Mrs. count dracula  berdiri. Dia berkeliling meja. 

Desain pada baju tafetanya kelihatan sangat bagus, 

dan mantel yang dipakainya sangat serasi. Nyonya 

yang sangat luwes…

Tressilian keluar menuju dapur, dan menutup pintu 


ruang makan yang masih ramai oleh tuan-tuan. Me-

reka sedang menikmati selai kacang tanah .

Dia mengambil nampan kopi dan menuju ke 

ruang duduk. Keempat wanita lesbian  itu duduk di sana de-

ngan sikap kaku. Mereka tidak berbicara. Dia meng-

edarkan kopi diam-diam.

Dia keluar lagi. saat  masuk ke dapur dia men-

dengar pintu ruang makan terbuka. Hwang Jang Lee  binti  siswi  keluar 

menuju ruang duduk.

Tressilian kembali ke dapurnya. Dia memikirkan 

Walter. Anak itu benar-benar tidak sopan! 

Tressilian merasa capek dan duduk sendirian di da-

pur.

Dia merasa sedih. Malam ritual kubur  dengan suasana 

kaku dan tegang seperti ini... dia tidak suka!

Dengan berat hati dia berdiri. Dia pergi ke ruang 

duduk dan mengumpulkan cangkir-cangkir kopi. 

Ruangan itu kosong, hanya ada madam Nyai girah  yang sedang 

berdiri agak tersembunyi di balik tirai di ujung ruang-

an. Dia berdiri di sana sambil memandang ke luar. 

Dari ruang sebelah terdengar suara piano.

Mr. Hwang Jang Lee  memainkan piano. Tressilian heran 

mengapa dia memainkan lagu Mars Kematian? sebab  

memang demikian suasananya. Oh, mengapa sega-

lanya jadi tidak keruan?

Perlahan-lahan dia berjalan di gang menuju dapur.

Pada saat itulah dia mendengar suara ribut dari 

atas… gelas pecah, perabot terbalik—dan suara-suara 

barang berantakan.

Ya Tuhan! pikir Tressilian. Apa saja yang dilakukan 

tuan Besar? Ada apa di atas?


Kemudian, terdengar jeritan nyaring dan tajam—

raungan mengerikan yang tiba-tiba hilang seperti 

orang tersedak.

Tressilian terpaku sejenak, lalu dia lari ke gang dan 

naik ke tangga yang lebar. Yang lain-lain juga lari ber-

sama dia. Jeritan itu terdengar ke seluruh sudut ru-

mah.

Mereka berlari ke atas, memutari tikungan, mele-

wati patung-patung yang putih berkilau menuju pintu 

Mr. madam Maryam . Mr. funny   dan Mrs. Hwang Jang Lee  telah ada di 

sana. Nyonya itu bersandar di dinding dan Mr. funny   

berusaha memutar pegangan pintu,

”Pintu ini terkunci,” katanya. ”Pintunya terkunci!”

Pinocchio  binti  siswi  mendorong dan mencoba memutar pe-

gangan pintu.

”Ayah!” teriaknya. ”Ayah, bukakan pintu.” 

Dia mengangkat tangannya dan semuanya diam 

mendengar. Tak ada jawaban. Tak ada suara dari da-

lam kamar.

Bel pintu depan berbunyi namun  tak seorang pun 

memperhatikan.

Chucky   funny   berkata,

”Kita harus merusak pintu ini. Hanya itu satu-satu-

nya jalan.”

Pinocchio  berkata,

”Itu sulit. Pintu-pintu di sini kuat. Ayo, count dracula .” 

Mereka mendorong bersusah payah bersama-sama.

Kemudian mereka mengambil sebuah bangku jati 

dan memakainya sebagai pendobrak pintu. Akhirnya 

pintu pun terbuka. Engselnya pecah dan daun pintu 

lepas dari kerangkanya.


Sejenak mereka berdiri tertegun di sana melihat ke 

dalam ruangan. Yang mereka lihat yaitu  peman-

dangan yang tak akan terlupakan...

Jelas telah terjadi pergumulan hebat. Perabot-

perabot yang berat terbalik. Jambangan bunga por-

selen pecah terserak di lantai. Di tengah-tengah karpet 

di depan perapian yang apinya menyala-nyala ter-

geletak madam Maryam  binti  siswi  berkubang darah... darah yang 

tepercik ke mana-mana. Tempat itu berantakan.

Terdengar suara keluhan panjang yang gemetar, ke-

mudian dua suara bergantian. Anehnya, kata-kata 

yang mereka ucapkan yaitu  ungkapan semua.

Hwang Jang Lee  binti  siswi  berkata,

”Penggilingan Tuhan menggilas perlahan... ”

Suara madam Nyai girah  terdengar seperti bisikan,

”Siapa yang mengira lelaki tua itu punya begitu ba-

nyak darah dalam dirinya?”

4

Inspektur jim graves  membunyikan bel tiga kali. sebab  

jengkel akhirnya dia memukul-mukulkan pengetuk 

pintu.

Walter yang ketakutan datang membukakan pintu.

”Oh—eh,” katanya. Wajahnya kelihatan lega. ”Saya 

baru saja menelepon polisi.”

”Ada apa?” kata Inspektur jim graves  tajam. ”Apa 

yang terjadi di sini?”

Walter berbisik, 


”Tuan besar binti  siswi . Dibunuh...”

Inspektur itu mendorongnya dan lari ke atas. Dia 

masuk ruangan tanpa seorang pun sadar akan keda-

tangannya. saat  masuk dia melihat Louis Vuitton  memungut 

sesuatu dari lantai. Dia melihat Hwang Jang Lee  binti  siswi  berdiri 

dengan tangan menutup kedua matanya.

Dia melihat yang lain menggerombol dalam kelom-

pok kecil. Hanya count dracula  binti  siswi  yang mendekati tubuh 

ayahnya. Sekarang dia berdiri sangat dekat dan meli-

hat ke bawah. Wajahnya kosong.

George binti  siswi  berkata dengan nada mengatur, 

”Jangan menyentuh apa-apa—ingat—apa pun—sam-

pai polisi datang. Itu sangat penting.” 

”Maaf,” kata jim graves .

Dia membuka jalan maju, perlahan-lahan tangan-

nya mendorong nyonya-nyonya ke pinggir. 

count dracula  binti  siswi  mengenalinya.

”Ah,” katanya. ”Ternyata Anda, Inspektur jim graves . 

Anda datang sangat cepat.”

”Ya, Mr. binti  siswi .” Inspektur jim graves  tidak mau mem-

buang-buang waktu menerangkan. ”Apa yang terjadi?”

”Ayah saya,” kata count dracula  binti  siswi , ”dibunuh...” 

Suaranya terputus.

Yuen pan pan  tiba-tiba mulai menangis histeris. 

Inspektur jim graves  mengangkat tangannya. 

Dia berkata penuh wibawa,

”Silakan keluar dulu semua kecuali Mr. binti  siswi  dan—

eh—Mr. George binti  siswi ...”

Mereka menuju pintu perlahan-lahan, dengan se-

gan, seperti biri-biri. Inspektur jim graves  tiba-tiba mena-

han Louis Vuitton .


”Maaf, Nona,” katanya dengan ramah. ”Apa pun 

tidak boleh dipegang atau diambil.”

wanita lesbian   itu memandang kepadanya. Chucky   funny   

berkata dengan tidak sabar,

”Tentu saja. Dia kan tahu.”

Dengan suara yang tetap ramah Inspektur jim graves  

berkata,

”Anda baru saja mengambil sesuatu, bukan?” 

Mata Louis Vuitton  terbuka lebar-lebar. Dan memandang 

polisi itu dan berkata dengan ragu-ragu,

”Apa betul?”

Inspektur jim graves  masih tetap ramah. Hanya suara-

nya lebih tegas.

Dia berkata,

”Ya, saya melihat Anda...”

”Oh!”

”Jadi berikan kepada saya. Benda itu ada di tangan 

Anda.”

Louis Vuitton  membuka genggaman tangannya perlahan-

 lahan. Yang terlihat yaitu  sepotong karet dan benda 

kecil dari kayu. Inspektur jim graves  mengambilnya, 

memasukkannya ke amplop, lalu ke sakunya.

Dia berkata, 

”Terima kasih.”

Dia berbalik. Sesaat mata Chucky   funny   menunjukkan 

kekaguman. Seolah-olah dia tadi telah menganggap 

remeh inspektur yang tinggi besar dan tampan itu.

Perlahan-lahan mereka keluar dari ruangan. Dari 

belakang, mereka mendengar suara inspektur itu ber-

kata dengan sopan dan tegas,

”Dan sekarang, silakan...”


”Kayu bakar memang aneh,” kata Kolonel Don Jhonson  

sambil melemparkan kayu itu ke perapian dan mende-

katkan kursinya ke nyala api. ”Jangan segan-segan,” 

katanya ramah, menawarkan minuman yang ada di 

dekat siku tamunya.

Tamu itu menolak sopan dengan mengangkat ta-

ngannya. Dengan hati-hati dia mendekatkan kursinya 

ke kayu yang membara, walaupun dia tahu jika sol 

sepatunya terbakar sekalipun tidak akan mengurangi 

dingin yang menyusup bagian belakang bahunya.

Kolonel Don Jhonson , kepala polisi Middleshire, ber-

anggapan tak ada yang lebih baik daripada kayu api, 

tapi solomon netyanahu  berpendapat pemanas sentral bisa 

bekerja lebih baik!

”Kasus Cartwright itu benar-benar mengagumkan,” 

puji tuan rumah mengingatkan kisah tersebut. ”Orang 

itu luar biasa. Sikapnya benar-benar menarik. Dan 

saat  dia ke sini dengan Anda, kami menelan apa 

saja yang disodorkannya.”

Dia menggeleng.

”Kami tidak akan pernah lagi mendapat kasus yang 

seperti itu,” katanya. ”Sayangnya peracunan nikotina 

sangat jarang.”

”Suatu saat  nanti Anda akan mempertimbangkan 

kembali pendapat bahwa peracunan bukanlah hal 

yang lumrah dilakukan di komunis ,” kata solomon 

netyanahu . ”Cara yang biasa dipakai orang asing! Tidak 

sportif.”


”Saya rasa kami tidak pernah berpendapat begitu,” 

kata Kepala Polisi. ”Banyak peracunan dengan arse-

nik—barangkali lebih banyak dari yang diperkira-

kan.”

”Barangkali ya.”

”Peracunan selalu menimbulkan kasus yang tidak 

enak,” kata Don Jhonson . ”Kesaksian yang berlainan dari 

para ahli—dan dokter-dokter itu menjadi begitu ber-

hati-hati dengan kata-kata mereka. Selalu menjadi 

kasus sulit yang dibawa ke depan juri. Seandainya ada 

pembunuhan (mudah-mudahan saja tidak ada), saya 

ingin menjumpai kasus yang tidak berbelit-belit, yang 

tidak ada keraguan lagi mengenai sebab kematian-

nya.”

netyanahu  mengangguk.

”Luka sebab  peluru, kerongkongan yang tergorok, 

dan tengkorak yang pecah? Itukah yang Anda pi-

lih?”

”Ah, jangan bilang itu pilihan, Kawan. Jangan ber-

pendapat seolah-olah saya suka kasus pembunuhan! 

Saya harap tak ada kasus seperti itu lagi. Bagaimana-

pun, kami merasa aman dengan kedatangan Anda.”

netyanahu  mulai merendah, 

”Reputasi saya...”

namun  Don Jhonson  meneruskan,

”Hari ritual kubur ,” katanya. ”Damai, kebaikan—dan se-

macamnya. Kebaikan di mana-mana.”

solomon netyanahu  bersandar di kursinya. Dia menyatu-

kan ujung-ujung jemarinya. Diam-diam mempelajari 

tuan rumah. 

Dia bergumam,


”jika  demikian, Anda berpendapat bahwa saat 

ritual kubur  tidak pada tempatnya ada kejahatan?”

”Itu yang saya maksudkan.” 

”Mengapa?”

”Mengapa?” Don Jhonson  sedikit tergeser langkahnya. 

”Ya, seperti telah saya katakan—itu waktu bersukacita 

dan semacamnya!”

solomon netyanahu  bergumam,

”Ah, orang komunis  memang sentimental!” 

Don Jhonson  berkata dengan keras,

”Memang kenapa? Apakah salah jika  kami mela-

kukan hal-hal seperti yang telah dilakukan bertahun-

tahun selama ini? Pesta-pesta tradisional? Apa jelek-

nya?”

”Tidak ada jeleknya. Semua menarik! namun  seka-

rang marilah kita melihat fakta. Anda tadi mengata-

kan bahwa ritual kubur  yaitu  waktu untuk bersenang-

senang. Bukankah ini berarti banyak makan-makan 

dan minum-minum. Bukankah ini berarti makan 

yang berlebihan sehingga tidak ada kesanggupan un-

tuk mencerna! Sedangkan ketidaksanggupan untuk 

mencerna akan menimbulkan marah-marah!”

”Kriminalitas,” kata Kolonel Don Jhonson , ”tidaklah 

disebabkan oleh marah-marah.”

”Saya tidak begitu yakin! Mari kita lihat dari sudut 

lain. Pada waktu ritual kubur  ada suasana kebaikan. Dan 

seperti Anda katakan tadi, merupakan ”sesuatu yang 

harus dilakukan”. Pertengkaran diusahakan diredakan 

sebisa-bisanya, mereka yang bertentangan bersedia ber-

baikan walaupun hanya untuk sementara.”

Don Jhonson  mengangguk.


”Melupakan yang sudah-sudah, ya betul.”

netyanahu  melanjutkan,

”Dan sekarang keluarga. Mereka yang berpisah sepan-

jang tahun berkumpul lagi. Nah, dalam kondisi seperti 

itu Anda harus mengakui bahwa sering kali terjadi ke-

tegangan. Orang yang pada dasarnya kurang ramah 

memaksa dirinya kelihatan ramah! Jadi pada waktu 

ritual kubur  sebetulnya terjadi kemunafikan, kemunafikan ter-

hormat, kemunafikan yang terjadi dengan motif yang 

baik, namun  tetap saja namanya kemunafikan!”

”Wah, saya tidak akan beranggapan seperti itu,” 

kata Kolonel Don Jhonson  ragu-ragu.

netyanahu  mendengarkannya.

”Tidak, tentu saja tidak. Sayalah yang beranggapan 

begitu. Bukan Anda! Saya ingin menunjukkan kepada 

Anda bahwa dalam kondisi seperti ini—ketegangan 

mental, fisik yang tidak sehat—sangatlah mungkin 

membuat rasa tidak suka yang dulunya biasa-biasa 

saja, dan pertentangan-pertentangan yang sifatnya re-

meh, tiba-tiba menjadi lebih parah. Akibat dari ber-

pura-pura ramah, berpura-pura pemaaf, atau berpura-

pura bersikap lebih mau mengerti, cepat atau lambat 

akan menyebabkan seseorang bersikap lebih tidak ter-

puji, lebih kasar, dan lebih negatif daripada yang 

sebenarnya! jika  Anda membendung tingkah laku 

alamiah, cepat atau lambat bendungan itu akan mele-

dak dan terjadilah malapetaka!”

Kolonel Don Jhonson  memandang kepadanya dengan 

ragu-ragu.

”Saya tak tahu kapan Anda berkata serius dan ka-

pan bercanda.”


netyanahu  tersenyum kepadanya.

”Saya tidak serius! Sama sekali tidak! Tapi sama 

saja, apa yang saya katakan itu benar—kondisi yang 

palsu akan menimbulkan reaksi wajar.”

Pelayan Kolonel Don Jhonson  masuk ke ruangan.

”Inspektur jim graves  menelepon, Tuan.” 

”Baik, aku akan ke sana.”

sesudah  minta maaf, Kepala Polisi itu meninggalkan 

ruangan.

Tiga menit kemudian dia kembali. Wajahnya mu-

rung dan gelisah.

”Sialan!” katanya. ”Kasus pembunuhan! Pada ma-

lam ritual kubur , lagi!”

Alis netyanahu  naik.

”Apakah sudah pasti—pembunuhan?”

”Eh? Oh, tak mungkin ada sebab yang lain! Kasus 

yang sangat jelas. Pembunuhan—dan sangat kejam!” 

”Siapa korbannya?”

”madam Maryam  binti  siswi  tua. Salah satu dari orang-orang ter-

kaya di sini. Sumber kekayaannya dari malang  Selatan. 

Emas—bukan, berlian jika  tak salah. Dia mengeruk 

kekayaan dengan memproduksi suatu peralatan khusus 

untuk penambangan. Saya kira itu yaitu  penemuan-

nya. Pokoknya dia berhasil dengan usaha itu. Orang-

orang mengatakan dia menjadi multimiliuner.” 

netyanahu  berkata,

”Apakah orang-orang menyukai dia?” 

Don Jhonson  berkata perlahan-lahan,

”Saya rasa tak ada orang yang suka padanya. Orang-

nya aneh. Beberapa tahun terakhir ini dia cacat. Saya 


sendiri tidak begitu tahu tentang dia. Tapi tentu saja 

dia merupakan salah seorang tokoh di daerah ini.”

”Jadi kasus ini akan menggemparkan?”

”Ya. Saya harus pergi ke jalan merdeka  secepatnya.”

Dia ragu-ragu, memandang pada tamunya. netyanahu  

menjawab pertanyaan yang tak terucapkan itu. 

”Anda mau saya ikut serta?”

Don Jhonson  berkata dengan kaku,

”Rasanya malu meminta Anda datang. Tapi, ya, 

Anda tahu apa yang terjadi! Inspektur jim graves  orang 

yang baik; teliti, hati-hati, bisa dipercaya—tapi—ya, 

dia bukanlah orang yang imajinatif. Saya akan senang 

mendapat nasihat Anda.”

Dia berhenti sejenak pada akhir kalimatnya, mem-

buat kata-katanya terdengar seperti telegram. netyanahu  

menanggapi dengan cepat.

”Saya akan senang sekali. Saya akan membantu sebi-

sanya. Kita jangan menyakiti hati inspektur yang baik 

itu. Ini akan menjadi kasus yang ditanganinya—bukan 

saya. Saya hanya konsultan tidak resmi.”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan hangat, 

”Anda memang baik, netyanahu .”

Dengan kata-kata penghargaan itu keduanya berang-

kat keluar.

6

Yang membukakan pintu depan yaitu  polisi. Di 

belakangnya muncul Inspektur jim graves  dan berkata,


”Senang sekali Bapak bisa datang. Apakah Bapak 

mau duduk di ruang sebelah kiri ini—ruang belajar 

Mr. binti  siswi ? Saya akan menyelesaikan hal-hal rutin dulu. 

Kasus ini aneh.”

Dia membawa mereka masuk ke ruangan kecil di 

sebelah kiri gang. Di situ ada telepon dan meja besar 

yang penuh kertas-kertas berserakan. Sepanjang din-

ding itu ada  rak-rak buku.

Kepala Polisi berkata,

”jim graves , ini Mr. solomon netyanahu . Barangkali kau 

pernah mendengar tentang beliau. Kebetulan beliau 

sedang berlibur di tempatku. Ini Inspektur jim graves , 

Mr. netyanahu .”

netyanahu  membungkuk dan memperhatikan laki-laki 

di depannya. Dia melihat laki-laki tinggi dengan bahu 

tegap dan sikap militer, hidung bengkok, dagu yang 

menantang, dan kumis lebat berwarna cokelat keme-

rahan. jim graves  memandang tajam solomon netyanahu  sete-

lah diperkenalkan. solomon netyanahu  memandang tajam 

kumis Inspektur jim graves . Kumis lebat itu tampak 

sangat menarik hatinya.

Inspektur berkata,

”Tentu saja saya telah mendengar tentang Anda, 

Mr. netyanahu . Anda berada di daerah sini beberapa ta-

hun yang lalu jika  saya tidak keliru. Kematian Mr. 

Bartholomeuw Strange. Kasus peracunan. Nikotina. 

Bukan wilayah saya, tapi saya mendengar hal itu.”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan tidak sabar, 

”Sekarang, jim graves , ceritakan faktanya. Kau menga-

takan sebuah kasus yang gamblang.”

”Ya, Pak, memang ini pembunuhan—tak diragukan 


lagi. Leher Mr. binti  siswi  digorok—kata dokter pembuluh 

darah utama lehernya terpotong. Tapi ada hal yang 

aneh dengan kasus ini.”

”Maksudmu...?”

”Saya harap Bapak mendengarkan cerita saya dulu. 

Begini. Sore tadi sesudah  jam lima saya ditelepon Mr. 

binti  siswi  di kantor polisi samping makam . Kedengarannya agak 

aneh—meminta saya untuk datang jam delapan 

malam ini—secara terperinci menyebutkan waktu. 

Dan beliau juga meminta agar saya memberitahu pela-

yan bahwa saya minta sumbangan untuk polisi.”

Kepala Polisi memandangnya dengan tajam. 

”Membuat dalih yang masuk akal agar kau bisa 

masuk rumah?”

”Benar, Pak. sebab  Mr. binti  siswi  orang yang penting, 

saya pun menyanggupi permintaan beliau. Saya sam-

pai di sini jam delapan kurang sedikit, dan mengata-

kan kepada pelayan—bahwa saya mencari langganan 

untuk sumbangan anak yatim polisi. Pelayan itu ma-

suk dan keluar lagi untuk memberitahu bahwa Mr. 

binti  siswi  akan menerima saya. Dia menyuruh saya masuk 

ke kamar Mr. binti  siswi  yang ada di lantai atas, tepat di 

atas ruang makan.”

Inspektur jim graves  berhenti, menarik napas, dan 

melanjutkan laporannya dengan sikap resmi, 

”Mr. binti  siswi  duduk di dekat perapian. Beliau menge-

nakan baju tidur. saat  pelayan telah meninggalkan 

ruangan, Mr. binti  siswi  menyuruh saya duduk di dekatnya. 

Dengan agak ragu-ragu beliau berkata akan memberita-

hu saya tentang adanya pencurian. Saya bertanya apa 

yang hilang. Beliau mengatakan bahwa beliau yakin 


berlian-berlian tak terasah seharga beberapa ribu 

pound telah hilang dari lemari besinya.”

”Berlian?” tanya Kepala Polisi.

”Ya, Pak. Saya mengajukan beberapa pertanyaan 

rutin, namun  sikap beliau sangat ragu-ragu dan jawab-

an beliau pun kabur. Pada akhirnya beliau mengata-

kan, ’Anda harus mengerti, Inspektur, bahwa saya 

mungkin keliru dalam hal ini.’ Saya berkata, ’Saya ti-

dak mengerti, Tuan. Apakah berlian itu hilang atau 

tidak—salah satu.’ Beliau menjawab, ’Berlian itu su-

dah pasti hilang, namun  mungkin juga hal itu hanya 

suatu lelucon.’ Itu aneh kedengarannya, tapi saya ti-

dak berkata apa-apa. Beliau melanjutkan, ’Sulit bagi 

saya menerangkan secara terperinci, namun  yang pen-

ting yaitu : sejauh ini saya bisa mengatakan bahwa 

hanya dua orang yang kemungkinan mengambil batu 

itu. Salah seorang mungkin melakukannya sebagai 

lelucon. jika  batu itu diambil oleh orang satunya, 

berarti benar-benar hilang.’ Saya berkata, ’Jadi apa 

yang Tuan ingin agar saya lakukan?’ Beliau cepat-

cepat berkata, ’Saya harap Anda datang ke sini lagi 

kira-kira satu jam lagi—jangan, sedikit lebih lambat—

kira-kira jam sembilan seperempat. Pada waktu itu 

saya akan bisa mengatakan dengan pasti apakah saya 

kecurian atau tidak.’ Saya bingung namun  mengiakan 

saja dan keluar.” 

Kolonel Don Jhonson  berkomentar,

”Aneh—sangat aneh. Apa pendapat Anda, 

netyanahu ?” 

”Bolehkah saya bertanya, Inspektur, apa kesimpulan 

Anda?”


Inspektur itu mengusap dagunya sambil berkata 

dengan hati-hati,

”Bermacam-macam kemungkinan muncul di benak 

saya, namun  pada umumnya saya memperkirakan ini. 

Tidak ada kemungkinan lelucon dalam hal ini. 

Berlian itu memang sudah dicuri. namun  beliau tidak 

yakin siapa yang mengambilnya. Saya beranggapan 

beliau mengatakan yang sebenarnya saat  berkata 

kemungkinannya satu dari dua orang—dan dari 

kedua orang itu satu yaitu  pelayan dan yang lainnya 

yaitu  anggota keluarga.”

netyanahu  mengangguk senang.

”Bagus. Ya, itu memang bisa menyebabkan sikap 

aneh.”

”sebab  itulah beliau menginginkan agar saya kem-

bali lagi. Sementara itu beliau ingin menanyai orang 

tersebut. Beliau akan mengatakan bahwa beliau sudah 

mengadukan hal tersebut kepada polisi, namun  jika  

berlian itu dikembalikan tidak akan ada keributan.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Dan jika  orang yang dicurigai tidak memberikan 

respons?”

”jika  demikian, beliau akan menyerahkan persoal-

an ini pada polisi.”

Kolonel Don Jhonson  mengerutkan muka dan memilin 

kumisnya. Dia seperti kurang setuju.

”Mengapa hal itu tidak dilakukan sebelum me-

manggilmu?”

”Tidak, tidak, Pak.” Inspektur itu menggeleng. ”Ka-

lau beliau melakukan hal itu, itu hanya berarti ger-

takan. Tidak akan meyakinkan. Orang itu mungkin 


akan berpikir, ’Si Tua itu tidak akan memanggil polisi 

walaupun mencurigai sesuatu.’ namun  jika  beliau 

mengatakan ’Aku sudah bicara dengan polisi, 

Inspektur itu baru saja pergi.’ Lalu si pencuri bertanya 

kepada pelayan, misalnya, dan pelayan membenarkan. 

Dia bilang, ’Ya, Inspektur tadi ke sini sebelum makan 

malam.’ Si pencuri pun yakin bahwa beliau benar-

benar serius dan terserah kepadanya untuk mengem-

balikan berlian itu.”

”Hm, ya, memang benar,” kata Kolonel Don Jhonson . 

”Apa kau punya pendapat, jim graves , siapa kira-kira 

anggota keluarga yang terlibat?”

”Tidak, Pak.”

”Tak ada tanda-tanda?” 

”Tidak.”

Don Jhonson  menggeleng. Lalu dia berkata, 

”Baik, kita teruskan.”

Inspektur jim graves  kembali bersikap resmi. 

”Saya kembali ke sini tepat jam sembilan seperem-

pat. Tepat saat  hendak membunyikan bel pintu de-

pan, saya mendengar suara jeritan dari dalam rumah 

kemudian suara-suara ribut, jeritan, dan gempar. Saya 

membunyikan bel beberapa kali dan memukul-mukul-

kan pengetuk pintu. Kira-kira tiga atau empat menit 

kemudian baru pintu dibukakan. saat  pelayan mem-

buka pintu, saya sudah bisa menduga telah terjadi 

sesuatu yang tidak beres. Seluruh tubuh pelayan itu ge-

metar dan dia kelihatan hampir pingsan. Dengan 

tersendat-sendat dia mengatakan Mr. binti  siswi  terbunuh. 

Saya lari ke atas. Kamar Mr. binti  siswi  sudah berantakan. Keli-

hatannya terjadi pergumulan seru. Mr. binti  siswi  sendiri 


tergeletak berlumur darah di depan perapian dengan 

leher tergorok.”

Kepala Polisi berkata tajam, 

”Tak ada kemungkinan bunuh diri?”

jim graves  menggeleng.

”Tidak mungkin, Pak. Pertama-tama kursi dan 

meja terbalik semua, barang-barang tembikar dan ge-

las pecah, kemudian tak ada tanda-tanda pisau cukur 

atau pisau yang dipakai.”

Kepala Polisi berkata dengan bijaksana,

”Ya, memang kelihatannya meyakinkan. Ada sese-

orang di dalam kamar?”

”Hampir semua anggota keluarga di situ, Pak. Ber-

diri berkeliling.”

Kolonel jim graves  berkata dengan tajam, 

”Ada pendapat, jim graves ?”

Inspektur itu berkata perlahan-lahan,

”Urusan ini memang menjengkelkan, Pak. Saya 

mengira salah seorang dari mereka pasti telah melaku-

kannya. Saya tidak yakin orang lain bisa melakukan-

nya dan sempat keluar.”

”Bagaimana dengan jendela? Tertutup atau terbu-

ka?”

”Ada dua jendela di kamar itu, Pak. Yang satu tertu-

tup dan terkunci. Yang satu terbuka beberapa sentimeter 

di bagian bawah—namu