Sesuatu. Demikian pula senjata api, dalam satu hal. Senjata baru itu
memberikan pada bangsa-bangsa Eropa keunggulan militer atas
kebudayaan Amerika dan Asia, meskipun senjata api juga merupakan
faktor penting di Eropa. Percetakan memainkan peranan penting
dalam menyebarkan gagasan-gagasan baru kaum humanis Renaisans.
Dan seni percetakan merupakan salah satu faktor yang memaksa
Gereja untuk melepaskan posisi awalnya sebagai satu-satunya
penyebar pengetahuan. Penemuan-penemuan dan instrumen-instrumen
baru mulai mengikuti dengan cepat. Salah satu instrumen penting,
misalnya, yaitu teleskop, yang menghasilkan suatu landasan yang
sama sekali baru untuk astronomi."
"Dan akhirnya datanglah roket dan penyelidikan ruang angkasa."
"Nah, kamu melangkah terlalu cepat. Tapi dapat dikatakan bahwa
proses yang dimulai pada zaman Renaisans itu akhirnya bisa
membawa orang ke bulan. Atau juga ke Hiroshima dan Chernobyl.
Bagaimanapun, semua itu dimulai dengan perubahan-perubahan pada
bidang kebudayaan dan ekonomi. Syarat yang penting yaitu transisi
dari ekonomi untuk sekadar menyambung hidup ke ekonomi moneter.
Menjelang akhir Abad Pertengahan, kota-kota telah berkembang,
dengan perdagangan yang efektif dan pertukaran barang-barang baru
yang ramai, ekonomi moneter dan perbankan. Kelas menengah
bangkit dan mengembangkan suatu kebebasan tertentu dalam kaitan
dengan syarat-syarat dasar kehidupan. Barang kebutuhan menjadi
sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Keadaan ini menuntut orang
untuk rajin, imajinatif, dan cerdik. Individu berhadapan dengan
tuntutan-tuntutan baru."
"Itu agak mirip dengan cara kota-kota Yunani dikembangkan dua
ribu tahun sebelumnya."
"Tidak sepenuhnya salah. Telah kuceritakan padamu bagaimana
filsafat Yunani melepaskan diri dari gambaran dunia mitologi yang
terkait dengan kebudayaan petani. Dengan cara yang sama, kelas
menengah Renaisans memberontak dari para tuan tanah feodal dan
kekuasaan Gereja. Maka, ditemukanlah kembali kebudayaan Yunani
melalui hubungan yang lebih dekat dengan bangsa Arab di Spanyol
dan kebudayaan Bizantium di timur."
"Tiga sungai kecil yang menyebar dari zaman Yunani kuno
bergabung kembali menjadi satu sungai besar."
"Kamu memang murid yang penuh perhatian. Itu memberimu
latar belakang bagi Renaisans. Kini akan kuceritakan padamu tentang
gagasan-gagasan baru."
"Oke, tapi aku nanti harus pulang dan makan."
Alberto duduk kembali di sofa. Dia memandang Nyai girah . "Di atas
semuanya, Renaisans menimbulkan pandangan baru tentang
manusia. Humanisme Renaisans membawa kepercayaan baru pada
manusia dan nilainya, sangat bertentangan dengan tekanan dari Abad
Pertengahan yang penuh prasangka pada hakikat manusia yang penuh
dosa. Kini manusia dianggap sangat hebat dan berharga. Salah satu
tokoh utama dari zaman Renaisans yaitu Marsilio Picino, yang
berseru: `Kenalilah dirimu sendiri, wahai keturunan Ilahi dalam
samaran sebagai manusia!' Tokoh utama lainnya, Pico della
Mirandola, menulis Pidato tentang Kemuliaan Manusia (Oration
on the Dignity of Man), sesuatu yang pasti tak terpikirkan di Abad
Pertengahan.
"Sepanjang periode Abad Pertengahan, titik tolak selalu pada
Tuhan. Kaum Humanis zaman Renaisans mengambil titik tolak dari
manusia itu sendiri."
"Tapi begitu juga para filosof Yunani."
"Karena itulah maka kita membicarakan `kelahiran kembali'
humanisme zaman Yunani kuno. Tapi humanisme Renaisans jauh
lebih dikenal karena tekanannya pada individualisme. Kita bukan
hanya umat manusia, kita yaitu individu-individu yang unik.
Gagasan ini selanjutnya mendorong pada pemujaan yang tak
terkendali pada kecerdasan pikiran. Maka yang ideal jadinya yaitu
yang kita namakan manusia Renaisans, yaitu manusia dengan
kecerdasan universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan,
kesenian, dan ilmu pengetahuan. Pandangan baru mengenai manusia
itu juga mewujudkan dirinya dalam minat pada anatomi manusia.
Seperti di zaman kuno, orang berusaha sekali lagi membedah
manusia yang telah mati untuk mengetahui bagaimana susunan tubuh
itu. Ini sangat penting bagi ilmu kedokteran maupun kesenian. Sekali
lagi, karya seni biasa melukiskan tubuh telanjang. Memang sudah
waktunya, setelah seribu tahun menahan diri. Manusia sekali lagi
menjadi berani untuk menjadi dirinya sendiri. Tidak ada lagi yang
membuat malu."
"Kedengarannya memabukkan," kata Nyai girah , menyandarkan
lengannya pada meja kecil yang berdiri di antara dirinya dan sang
filosof.
"Tak pelak lagi, pandangan baru mengenai umat manusia
mendorong pada suatu cara pandang yang sama sekali berbeda.
Manusia ada bukan semata-mata demi Tuhan. Oleh karena itu,
manusia boleh berbahagia dalam kehidupannya di sini sekarang. Dan
dengan kebebasan baru untuk berkembang ini, kemungkinannya
menjadi tak terbatas. Tujuannya kini yaitu melanggar semua
batasan. Ini juga suatu gagasan baru, dilihat dari sudut pandang
humanistik Yunani; kaum Humanis dari zaman Yunani kuno
menekankan pentingnya ketenangan, sikap yang tak berlebihan, dan
pengendalian diri."
"Dan kaum Humanis Renaisans kehilangan kendali mereka?"
"Jelas mereka kehilangan sifat tidak berlebihan. Mereka bertindak
seakan-akan seluruh dunia telah dibangunkan kembali. Mereka
menjadi sangat sadar akan zaman mereka, dan itulah yang mendorong
mereka membuat istilah `Abad Pertengahan' untuk menyebut abad-
abad antara zaman Yunani kuno dan zaman mereka sendiri. Timbul
perkembangan yang tiada tara dalam seluruh bidang kehidupan.
Kesenian dan arsitektur, literatur, musik, filsafat, dan ilmu
pengetahuan berkembang luar biasa. Aku akan menyebutkan satu
contoh konkret. Kita pernah membicarakan Romawi Kuno, yang
berjaya dengan julukan-julukan seperti `kota dari segala kota' dan
`pusat alam raya'. Pada Abad Pertengahan, kota itu hancur, dan pada
1417 metropolis kuno itu hanya berpenduduk 17.000 orang."
"Tidak lebih banyak dari Lillesand, tempat tinggal count dracula ."
"Kaum Humanis Renaisans beranggapan bahwa tugas merekalah
membangun kembali Kota Roma; yang pertama dan terutama yaitu
mulai membangun gereja besar St. Petrus di atas kuburan Rasul
Petrus. Dan Gereja St. Petrus sama sekali tidak menunjukkan
kesederhanaan dan pengendalian diri. Banyak sekali seniman besar
Renaisans ikut ambil bagian dalam proyek pembangunan ini, yang
terbesar di dunia. Itu dimulai pada 1506 dan berlangsung selama
seratus dua puluh tahun, dan dibutuhkan lima puluh tahun lagi
sebelum alun-alun besar St. Petrus berhasil diselesaikan."
"Itu pasti gereja raksasa!"
"Gereja itu panjangnya 200 meter dan tingginya 300 meter, dan
menempati area lebih dari 16.000 meter. Tapi cukup itu sajalah
cerita tentang kepongahan manusia Renaisans. Karena yang juga
penting yaitu bahwa Renaisans mempunyai pandangan baru
mengenai alam. Kenyataan bahwa manusia merasa nyaman berada di
dunia ini dan tidak menganggap kehidupan semata-mata sebagai
persiapan untuk akhirat, menciptakan suatu pendekatan yang sama
sekali baru terhadap dunia fisik. Alam kini dianggap sebagai hal yang
positif. Banyak yang mempunyai pandangan bahwa Tuhan juga hadir
dalam ciptaannya. Jika memang tak terbatas, Dia pasti ada dalam
segala sesuatu. Gagasan ini dinamakan panteisme. Para filosof Abad
Pertengahan, berkeras bahwa ada tirai yang tak dapat ditembus antara
Tuhan dan Ciptaan. Dapat dikatakan bahwa alam itu Ilahi—dan
bahkan ia merupakan `jelmaan Tuhan'. Gagasan-gagasan semacam ini
tidak selalu di terima dengan baik oleh Gereja. NasibGiordano
Bruno merupakan contoh dramatis dalam hal ini. Dia bukan hanya
menyatakan bahwa Tuhan hadir di alam ini, dia pun percaya bahwa
alam raya itu tidak terbatas jangkauannya. Dia dihukum berat karena
gagasan-gagasannya."
"Bagaimana?"
"Dia dibakar di tiang pancang di Pasar Bunga Roma pada 1600."
"Sungguh mengerikan ... dan tolol. Dan Anda menyebutnya
humanisme?"
"Tidak, sama sekali tidak. Bruno seorang humanis, tapi
penghukumnya bukan. Pada zaman Renaisans, apa yang kita namakan
antihumanisme pun berkembang. Dengan ini yang aku maksudkan
yaitu kekuasaan otoriter Negara dan Gereja. Pada masa Renaisans,
berkobar keinginan untuk mengadili para wanita penyihir, membakar
para penganut bid'ah, sihir dan takhayul, perang-perang keagamaan
yang bersimbah darah—dan yang tidak kalah dari semua itu,
penaklukan yang sangat kejam atas Amerika. Tapi, humanisme selalu
mengandung sisi gelap. Tidak ada zaman yang sepenuhnya baik atau
sepenuhnya buruk. Kebaikan dan keburukan yaitu benang kembar
yang menjalin sejarah umat manusia. Dan seringkali keduanya saling
berkait. Ini berlaku dalam kata kunci kita selanjutnya, yaitu metode
ilmiah baru, inovasi Renaisans lainnya yang akan kuceritakan
padamu."
"Apakah itu saat mereka membangun pabrik-pabrik baru?"
"Tidak, belum. Tapi prasyarat bagi seluruh perkembangan teknis
yang terjadi setelah Renaisans yaitu metode ilmiah baru. Dengan itu
yang kumaksudkan yaitu pendekatan yang sama sekali baru terhadap
ilmu pengetahuan. Hasil-hasil teknis dari metode ini baru tampak
jelas belakangan."
"Apakah metode baru ini?"
"Utamanya yaitu proses penyelidikan alam dengan indra kita
sendiri. Sejak abad keempat belas, semakin banyak ahli pikir yang
memberikan peringatan terhadap kepercayaan buta kepada otoritas
lama, entah itu doktrin agama atau filsafat alam Aristoteles. Juga
timbul peringatan terhadap kepercayaan bahwa segala masalah dapat
dipecahkan semata-mata melalui pikiran. Kepercayaan yang
berlebihan pada pentingnya akal telah mengakar sepanjang Abad
Pertengahan. Kini di katakan bahwa setiap penyelidikan terhadap
fenomena alam harus didasarkan pada pengamatan, pengalaman, dan
percobaan. Kita menyebut ini metode empiris."
"Yang berarti?"
"Yang berarti bahwa orang mendasarkan pengetahuannya tentang
sesuatu pada pengalamannya sendiri—dan bukan pada perkamen-
perkamen berdebu dan omong kosong imajinasi. Ilmu empiris telah
dikenal pada zaman Yunani kuno, tapi percobaan sistematis benar-
benar sesuatu yang baru."
"Kukira mereka tidak memiliki sedikit pun peralatan seperti yang
kita miliki sekarang."
"Tentu saja mereka tidak memiliki kalkulator atau timbangan
elektronik. Tapi, mereka mempunyai matematika dan juga timbangan.
Dan yang paling penting dari semua itu yaitu pengungkapan
pengamatan-pengamatan ilmiah dalam istilah matematika yang tepat.
`Ukurlah apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu
yang tidak dapat diukur,' kata si orang Italia, Galileo Galilei, yang
merupakan salah seorang ilmuwan paling penting dari abad ketujuh
belas. Dia juga mengatakan bahwa buku alam ditulis dengan bahasa
matematika."
"Dan semua percobaan serta pengukuran ini memungkinkan
terjadinya penemuan-penemuan baru."
"Tahap pertama yaitu metode ilmiah baru. Ini memungkinkan
terjadinya revolusi teknis itu sendiri, dan terobosan teknis membuka
jalan menuju berbagai penemuan sejak itu. Dapat kamu katakan
bahwa manusia telah mulai melepaskan diri dari kondisi alamiahnya.
Alam bukan lagi sesuatu di mana manusia semata-mata merupakan
bagiannya. `Pengetahuan yaitu kekuasaan' kata filosof Inggris
Francis Bacon, dengan demikian dia menekankan nilai praktis dari
pengetahuan—dan ini benar-benar baru. Manusia sungguh-sungguh
mulai ikut campur terhadap alam dan mulai mengontrolnya."
"Tapi bukan hanya dengan jalan yang baik?"
"Tidak, inilah yang kumaksudkan sebelumnya saat aku berbicara
tentang benang baik dan benang buruk yang saling berjalin dalam
segala sesuatu yang kita kerjakan. Revolusi teknik yang dimulai pada
zaman Renaisans mendorong munculnya kemajuan dan pengangguran,
obat-obatan dan penyakit baru, peningkatan efisiensi dalam bidang
pertanian dan pemiskinan lingkungan, peralatan praktis seperti mesin
cuci dan kulkas serta polusi dan limbah industri. Ancaman serius
terhadap lingkungan yang kita hadapi sekarang telah membuat banyak
orang memandang revolusi teknik itu sebagai penyesuaian yang keliru
terhadap kondisi-kondisi alam. Ada yang menyatakan bahwa kita
telah memulai sesuatu yang tidak dapat lagi kita kontrol. Para tokoh
yang lebih optimistis beranggapan bahwa kita masih hidup di buaian
teknologi, dan bahwa meskipun zaman ilmiah jelas telah menghadapi
berbagai kesulitan, lambat laun kita akan belajar mengontrol alam
tanpa sekaligus mengancam keberadaan alam itu sendiri dan dengan
demikian juga keberadaan kita."
Galileo GALILEI
"Menurut Anda?"
"Menurutku mungkin ada sedikit kebenaran pada kedua pandangan
itu. Dalam beberapa bidang, kita harus berhenti ikut campur terhadap
alam, tapi dalam bidang-bidang yang lain kita dapat terus. Satu hal
jelas: Tidak ada jalan kembali ke Abad Pertengahan. Sejak
Renaisans, umat manusia telah menjadi lebih dari sekadar bagian
dari penciptaan. Manusia telah mulai ikut campur terhadap alam dan
membentuknya sesuai dengan citranya sendiri. Sungguh benar
ungkapan, `manusia yaitu ciptaan yang luar biasa!'"
"Kita telah berhasil sampai ke bulan. Orang dari Abad
Pertengahan mana yang akan percaya bahwa hal semacam itu
mungkin?"
Francis BACON
"Tidak ada, itu jelas. Yang membawa kita menuju padangan dunia
yang baru. Sepanjang Abad Pertengahan orang-orang telah berdiri di
bawah langit dan mendongak ke arah matahari, bulan, dan bintang,
serta planet-planet. Tapi tak seorang pun meragukan bahwa bumi
yaitu pusat alam raya. Tidak ada pengamatan yang dapat
menanamkan keraguan sedikit pun bahwa bumi tetap diam, sementara
`benda-benda angkasa' berputar mengelilinginya di orbit mereka.
Kita menyebut ini gambaran dunia geosentris, atau dengan kata lain,
kepercayaan bahwa segala sesuatu berpusat di seputar bumi.
Keyakinan Kristen bahwa Tuhan memerintah dari langit jauh di atas
kita, jauh di atas benda-benda angkasa, juga ikut memberikan
sumbangan pada bertahannya gambaran dunia ini."
"Kuharap masalahnya sesederhana itu!"
"Tapi pada 1543 sebuah buku kecil diterbitkan dengan judul
Tentang Pergerakan Lingkaran Langit (On the Revolutions of the
Celestial Spheres). Buku itu ditulis oleh seorang ahli astronomi
Polandia bernama Nicolaus Copernicus, yang meninggal pada hari
buku ini diterbitkan. Copernicus menyatakan bahwa bukan
matahari yang bergerak mengelilingi bumi, melainkan sebaliknya.
Dia beranggapan ini sangat mungkin berdasarkan pengamatan-
pengamatan terhadap benda-benda angkasa yang ada. Alasan atas
kepercayaan orang bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi
yaitu bumi berputar mengelilingi porosnya sendiri, begitu katanya.
Dia menyatakan bahwa semua pengamatan terhadap benda-benda
angkasa jauh lebih mudah dipahami jika orang beranggapan bahwa
bumi maupun planet-planet lain berputar di sekeliling matahari. Kita
menyebut ini gambaran dunia heliosentris, yang berarti bahwa
segala sesuatu berpusat di sekeliling matahari."
"Dan gambaran itu yang benar?"
Nicolaus COPERNICUS
"Tidak sepenuhnya. Pemikiran utamanya—bahwa bumi
bergerak mengelilingi matahari—sudah tentu benar. Tapi dia juga
menyatakan bahwa matahari merupakan pusat alam raya. Kini kita
tahu bahwa matahari hanyalah salah satu bintang-bintang yang tak
terbatas jumlahnya, dan bahwa seluruh bintang di sekitar kita
hanyalah salah satu dari bermiliar-miliar galaksi. Copernicus juga
percaya bahwa bumi dan planet-planet lainnya bergerak dalam orbit
yang berputar mengelilingi matahari."
"Bukankah memang demikian?"
"Tidak. Dia tidak mempunyai landasan apa-apa untuk mendasarkan
kepercayaannya pada orbit yang berputar selain dari gagasan kuno
bahwa benda-benda angkasa itu bulat dan bergerak berputar semata-
mata karena mereka `ada di angkasa'. Sejak zaman Plato, bulatan atau
lingkaran telah dianggap sebagai bentuk geometris paling sempurna.
Tapi pada awal 1600-an, ahli astronomi Jerman, Johannes Kepler,
menunjukkan hasil pengamatan komprehensifnya yang membuktikan
bahwa planet-planet itu bergerak dalam orbit yang berbentuk elips—
atau bulat telur—dengan matahari pada pusatnya. Dia juga
mengemukakan bahwa kecepatan sebuah planet itu paling besar
saat ia berada paling dekat dengan matahari, dan bahwa semakin
jauh orbit sebuah planet dari matahari semakin lambat ia bergerak.
Sebelum masa Kepler tidak pernah dinyatakan bahwa bumi itu
hanyalah sebuah planet sebagaimana planet-planet lain. Kepler juga
menekankan bahwa hukum fisika yang sama berlaku di mana pun di
seluruh alam raya."
"Bagaimana dia mengetahui hal itu?"
"Sebab dia telah menyelidiki gerakan planet-planet dengan
indranya sendiri dan tidak membutakan matanya dengan memercayai
takhayul-takhayul kuno. Galileo Galilei, yang hidup pada masa yang
kira-kira sama dengan Kepler, juga menggunakan teleskop untuk
mengamati benda-benda angkasa. Dia mempelajari kawah-kawah
bulan dan mengatakan bahwa bulan mempunyai gunung-gunung dan
lembah-lembah yang serupa dengan yang ada di bumi. Selain itu, dia
mendapati bahwa Planet Jupiter mempunyai empat bulan. Maka,
bumi bukan satu-satunya yang mempunyai bulan. Tapi makna terbesar
dari Galileo yaitu bahwa dialah yang pertama-tama merumuskan
apa yang dinamakan Hukum Kelembaman."
"Dan itu yaitu ?"
"Galileo merumuskannya begini: Sebuah benda akan tetap berada
dalam keadaannya, diam atau bergerak, selama tidak ada kekuatan
luar yang memaksanya untuk berubah."
"Benar juga."
"Tapi ini yaitu pengamatan yang sangat penting. Sejak zaman
Yunani kuno, salah satu argumen utama untuk melawan keyakinan
bahwa bumi bergerak memutari porosnya sendiri yaitu bahwa bumi
mestinya akan bergerak begitu cepatnya sehingga sebuah batu yang
dilemparkan lurus ke udara akan jatuh beberapa meter jauhnya dari
tempat ia dilemparkan."
"Jadi mengapa tidak?"
"Jika kamu duduk di dalam kereta api dan kamu menjatuhkan
sebuah apel, apel itu tidak jatuh ke belakang sebab kereta api sedang
bergerak. la jatuh lurus ke bawah. Itu yaitu akibat hukum
kelembaman. Apel itu mempertahankan kecepatan yang persis sama
seperti sebelum kamu menjatuhkannya."
"Rasanya aku mengerti."
"Nah, pada masa Galileo tidak ada kereta api. Tapi jika kamu
menggelindingkan sebuah bola di tanah—dan dengan tiba-tiba
membiarkannya ..."
"... ia akan terus menggelinding ..."
"... sebab ia mempertahankan kecepatan setelah kamu
melepaskannya."
"Tapi ia akan berhenti akhirnya, jika ruangannya tidak cukup
panjang."
"Itu karena kekuatan lain memperlambatnya. Pertama, lantai,
terutama jika itu lantai kayu yang kasar. Lalu, kekuatan gaya berat
cepat atau lambat akan menghentikannya. Tapi tunggu, aku akan
menunjukkan sesuatu padamu."
Alberto Knox bangkit dan berjalan menuju meja tua. Dia
mengeluarkan sesuatu dari salah satu laci. saat kembali ke
tempatnya, dia meletakkan benda itu di atas meja. Itu cuma sebuah
papan kayu, yang tebalnya di pinggiran yang satu beberapa milimeter
lebih tipis daripada pinggiran satunya. Di samping papan, yang
hampir menutupi seluruh meja, dia meletakkan sebuah kelereng hijau.
"Ini dinamakan landasan miring," katanya. "Kamu pikir apa yang
akan terjadi jika aku melepaskan kelereng itu di sini, di pinggiran
yang papannya lebih tebal?"
Nyai girah menarik napas dengan pasrah. "Aku bertaruh sepuluh
crown ia akan menggelinding turun ke meja dan berakhir di lantai."
"Mari kita lihat."
Alberto melepaskan kelereng itu dan ia bergerak persis seperti
yang dikatakan Nyai girah . Ia menggelinding turun ke meja, mengenai
taplak meja, jatuh ke lantai dan akhirnya menabrak dinding.
"Mengesankan," ejek Nyai girah .
"Ya, kan? Inilah jenis percobaan yang dilakukan Galileo, kamu
tahu."
"Apakah dia memang tolol?"
"Sabar! Dia ingin menyelidiki segala sesuatu dengan seluruh
indranya, jadi kita baru saja mulai. Katakan dulu padaku mengapa
kelereng itu menggelinding ke bawah pada papan miring itu?"
"Ia menggelinding sebab ia berat."
"Baiklah. Dan apakah yang dimaksud berat itu sesungguhnya,
Nak?"
"Itu pertanyaan bodoh."
"Bukan pertanyaan bodoh jika kamu tidak dapat menjawabnya.
Mengapa kelereng itu menggelinding ke lantai?"
"Karena adanya gaya berat."
"Tepat—atau gravitasi, seperti yang juga kita katakan. Berat itu
ada hubungannya dengan gaya berat. Itulah kekuatan yang
menggerakkan kelereng."
Alberto memungut kelereng dari lantai. Dia berdiri membungkuk
di atas papan miring dengan kelereng itu lagi.
"Kini aku akan menggelindingkan kelereng itu dari bawah ke atas
melintasi papan," katanya. "Perhatikan baik-baik bagaimana ia
bergerak."
Nyai girah memerhatikan kelereng itu lambat laun berbelok dan
tertarik menurun di bagian yang menurun.
"Apa yang terjadi?" tanya Alberto.
"la menggelinding melandai sebab papan itu pun melandai."
"Kini aku akan menyapukan tinta pada kelereng ini ... jadi
barangkali kita akan dapat mencermati dengan tepat apa yang kamu
maksudkan dengan melandai."
Dia mengaduk sikat tinta dan mewarnai seluruh kelereng itu hingga
menjadi hitam. Lalu dia menggelindingkannya lagi. Kini Nyai girah dapat
melihat dengan tepat di mana kelereng itu menggelinding sebab ia
meninggalkan garis hitam di atas papan.
"Bagaimana kamu akan menggambarkan jalannya kelereng itu?"
"Ia melengkung ... kelihatannya seperti bagian dari sebuah
lingkaran."
"Tepat sekali."
Alberto mendongak ke arahnya dan menaikkan alisnya.
"Tetapi, ini bukan benar-benar sebuah lingkaran. Bentuk ini
dinamakan parabola."
"Bagiku itu tidak jadi soal."
"Ah, tapi mengapa kelereng itu bergerak dengan cara persis
seperti itu?"
Nyai girah berpikir keras. Lalu dia berkata, "Karena papan itu
melandai, kelereng tertarik ke bahwa oleh kekuatan gaya berat."
"Ya, ya! Ini benar-benar sebuah sensasi! Lihat, aku mengajak
seorang gadis yang belum lagi genap lima belas tahun ke lotengku,
dan dia mengetahui sesuatu yang persis sama dengan yang diketahui
Galileo hanya dengan satu percobaan!"
Isaac NEWTON
Alberto menepukkan kedua tangannya. Untuk sesaat Nyai girah
khawatir dia telah menjadi gila. Dia melanjutkan: "Kamu saksikan
apa yang terjadi saat dua kekuatan bekerja secara serentak pada
objek yang sama. Galileo mendapati bahwa hal itu berlaku, misalnya,
pada peluru meriam. la didorong ke angkasa, melaju di lintasannya di
atas bumi, tapi akhirnya akan ditarik ke bumi. Peluru itu memiliki
lintasan seperti kelereng di papan miring. Dan ini benar-benar
merupakan suatu penemuan baru pada masa Galileo. Aristoteles
beranggapan bahwa sebuah proyektil yang dilemparkan miring ke
udara, mula-mula akan menggambarkan suatu garis lengkung yang
mulus dan kemudian jatuh tegak lurus ke bumi. Ini tidak benar, tapi
tidak seorang pun dapat mengetahui bahwa Aris toteles keliru
sebelum hal itu dibuktikan."
"Apakah itu benar-benar jadi soal?"
"Apakah itu jadi soal? Tentu saja! Ini mengandung makna penting
kosmik, anakku. Dari semua penemuan ilmiah dalam sejarah umat
manusia, jelas inilah yang paling penting."
"Aku yakin Anda akan mengatakan padaku sebabnya."
"Lalu datanglah ahli fisika Inggris Isaac Newton, yang hidup dari
1642 hingga 1727. Dialah yang memberikan deskripsi final tentang
tata surya dan orbit planet. Dia tidak hanya dapat menggambarkan
bagaimana gerakan planet-planet mengelilingi matahari, dia pun
menjelaskan mengapa begitu. Dia mampu melakukan hal itu sebagian
dengan mengacu pada apa yang kita sebut dinamika Galileo."
"Apakah planet-planet itu seperti kelereng di atas papan miring?"
"Semacam itu, ya. Tapi tunggu sebentar, Nyai girah ."
"Apakah aku punya pilihan?"
"Kepler telah mengemukakan bahwa pasti ada suatu gaya yang
mengakibatkan benda-benda angkasa saling menarik satu sama lain.
Pasti ada, misalnya, gaya dari matahari yang membuat planet-planet
tetap bertahan di orbitnya. Gaya semacam itu dapat menjelaskan
mengapa planet-planet bergerak lebih lambat dalam orbit mereka jika
posisinya semakin jauh dari matahari. Kepler juga percaya bahwa
naik dan turunnya pasang di laut—naik dan turunnya permukaan laut
—pasti merupakan akibat daya tarik bulan,"
"Dan itu benar."
"Ya, memang benar. Tapi itu yaitu teori yang ditolak Galileo.
Dia mengejek Kepler, yang dikatakannya telah memberikan
persetujuan pada gagasan bahwa bulan mengatur air. Itu karena
Galileo menolak gagasan bahwa kekuatan gaya tarik dapat
menjangkau jarak yang sangat jauh, dan juga di antara benda-benda
angkasa."
"Dia salah di situ."
"Ya. Dalam hal yang satu itu dia salah. Dan itu lucu, sungguh,
sebab dia begitu disibukkan dengan gaya berat bumi dan benda-
benda yang berjatuhan. Dia bahkan mengatakan bagaimana kekuatan
yang semakin besar dapat mengontrol gerakan suatu benda."
"Tapi kita sedang membicarakan Newton."
"Ya, maka datanglah Newton. Dia merumuskan apa yang kita
namakan Hukum Gravitasi Universal. Hukum ini menyatakan bahwa
setiap objek menarik semua objek lainnya dengan suatu kekuatan
yang semakin meningkat sebanding dengan ukuran objek itu dan
menurun sebanding dengan jarak antara objek-objek itu."
"Kukira aku mengerti. Misalnya, ada daya tarik yang lebih besar
antara dua gajah daripada antara dua tikus. Dan ada daya tarik yang
lebih besar antara dua gajah di kebun binatang dari pada antara
seekor gajah india di India dan seekor gajah afrika di Afrika."
"Jadi kamu sudah memahaminya. Dan kini yaitu titik utamanya.
Newton membuktikan bahwa daya tarik— atau gravitasi—ini bersifat
universal. Artinya, dapat berlaku di mana-mana, juga di angkasa di
antara benda-benda angkasa. Konon dia mendapatkan gagasan ini
saat sedang duduk di bawah sebuah pohon apel. saat melihat
sebuah apel jatuh dari pohonnya, dia bertanya-tanya pada dirinya
sendiri apakah bulan akan ditarik ke bumi dengan kekuatan yang
sama, dan apakah ini alasannya mengapa bulan tetap berada di orbit
bumi selamanya."
"Cerdik. Tapi sebenarnya tidak terlalu cerdik juga."
"Mengapa tidak, Nyai girah ?"
"Yah, jika bulan ditarik ke bumi dengan kekuatan yang sama yang
menyebabkan apel itu jatuh, suatu hari bulan akan menabrak bumi dan
bukannya berputar-putar selamanya."
"Inilah yang membawa kita pada hukum Newton mengenai orbit
planet. Dalam kasus tentang bagaimana bumi menarik bulan, kamu
lima puluh persen benar, tapi lima puluh persen salah. Mengapa
bulan tidak jatuh ke bumi? Sebab memang benar bahwa kekuatan
gaya berat bumi yang menarik bulan itu sangat besar. Coba pikirkan
tentang kekuatan yang dibutuhkan untuk mengangkat permukaan laut
satu atau dua meter pada saat pasang naik."
"Rasanya aku tidak mengerti."
"Ingat papan miring Galileo. Apa yang terjadi saat aku
menggelindingkan kelereng melintasinya?"
"Apakah kedua kekuatan yang berbeda itu berlaku di bulan?"
"Tepat. Konon saat tata surya itu dimulai, bulan dilemparkan
keluar—keluar dari bumi, maksudnya—dengan kekuatan sangat
besar. Kekuatan ini akan tetap bekerja selamanya sebab ia bergerak
dalam kehampaan tanpa perlawanan ..."
"Tapi ia juga tertarik ke bumi dikarenakan kekuatan gaya berat
bumi, bukan?"
"Tepat. Kedua kekuatan itu tetap, dan keduanya bekerja secara
simultan. Oleh karena itu, bulan akan terus berada di orbit bumi."
"Benarkah penjelasannya sesederhana itu?"
"Memang sesederhana itu, dan kesederhanaan yang sama berlaku
pada seluruh teori Newton. Dalam memperhitungkan orbit planet, dia
telah menerapkan dua hukum alam yang telah dikemukakan
sebelumnya oleh Galileo. Yang satu yaitu hukum kelembaman, yang
dinyatakan Newton begini: `Suatu benda tetap dalam keadaannya
yang diam atau bergerak lurus hingga ia dipaksa untuk mengubah
keadaan itu oleh gaya yang memengaruhinya.' Hukum lain telah
dibuktikan oleh Galileo di atas papan miring: Jika dua gaya bekerja
pada suatu benda secara simultan, benda itu akan bergerak mengikuti
jalur elips."
"Dan begitulah cara Newton menjelaskan mengapa semua planet
bergerak mengelilingi matahari."
"Ya, semua planet bergerak dalam orbit elips mengelilingi
matahari sebagai akibat adanya dua gerakan yang tidak setara:
pertama, gerakan lurus saat tata surya terbentuk, dan kedua,
gerakan ke arah matahari akibat gaya berat."
"Sangat cerdas."
"Sangat. Newton membuktikan bahwa hukum yang sama mengenai
benda-benda yang bergerak berlaku di mana-mana di seluruh alam
raya. Dengan demikian, dia mengesampingkan kepercayaan Abad
Pertengahan bahwa ada satu perangkat hukum untuk langit dan
perangkat lain untuk bumi. Pandangan dunia heliosentris telah
menemukan penegasan dan penjelasan finalnya."
Alberto bangkit dan menyimpan kembali papan miring itu. Dia
memungut kelereng dan menempatkannya di atas meja di antara
mereka.
Nyai girah berpikir betapa banyak yang dapat mereka ketahui hanya
dari sepotong kayu miring dan sebuah kelereng. saat dia menatap
kelereng hijau itu, yang masih tercelup tinta, tidak dapat tidak dia
memikirkan bulatan bumi. Katanya, "Dan orang harus menerima
begitu saja bahwa mereka hidup di sembarang planet di suatu tempat
di angkasa?"
"Ya—pandangan dunia yang baru itu dalam banyak hal merupakan
suatu beban berat. Situasinya dapat dibandingkan dengan apa yang
terjadi di kemudian hari saat Darwin membuktikan bahwa manusia
berevolusi dari binatang. Dalam kedua kasus ini , manusia
kehilangan status istimewanya dalam penciptaan. Dan dalam kedua
kasus itu, Gereja menentang keras."
"Aku dapat memahami hal itu. Sebab di manakah Tuhan dalam
seluruh urusan baru ini? Akan lebih sederhana jika bumi merupakan
pusat dan Tuhan serta planet-planet itu ada di atas."
"Tapi itu bukan tantangan yang paling besar. saat Newton telah
membuktikan bahwa beberapa hukum alam berlaku di mana-mana di
seluruh jagat raya, orang mungkin berpikir bahwa dengan cara itu dia
akan merusak kepercayaan pada kemahakuasaan Tuhan. Tapi
keteguhan Newton sendiri tak pernah tergoyahkan. Dia menganggap
hukum alam sebagai bukti adanya Tuhan Yang Mahabesar dan
Mahakuasa. Ada kemungkinan bahwa gambaran manusia tentang
dirinya sendiri lebih buruk."
"Maksud Anda bagaimana?"
"Sejak Renaisans, orang telah terbiasa menjalani kehidupan
mereka di sebuah planet dalam galaksi yang maha luas itu. Aku tidak
yakin bahwa kita telah menerima hal itu sepenuhnya bahkan sekarang
ini. Tapi memang ada orang-orang bahkan pada zaman Renaisans
yang mengatakan bahwa kita mempunyai posisi yang lebih penting
daripada sebelumnya."
"Aku tidak paham."
"Sebelumnya, bumi merupakan pusat dunia. Tapi sejak para ahli
astronomi mengatakan bahwa tidak ada pusat mutlak dari alam raya,
maka terpikirkanlah bahwa ada banyak pusat lain sebagaimana ada
banyak orang lain. Setiap orang dapat menjadi pusat suatu alam
raya."
"Ah, kukira aku mengerti."
"Renaisans mengakibatkan timbulnya semangat keagamaan baru.
saat filsafat dan ilmu pengetahuan lambat laun memisahkan diri
dari teologi, berkembang suatu kesalehan Kristen yang baru. Lalu,
Renaisans datang dengan pandangan baru mengenai manusia. Ini
berpengaruh pada kehidupan beragama. Hubungan pribadi individu
dengan Tuhan kini lebih penting daripada hubungannya dengan
Gereja sebagai suatu organisasi."
"Seperti mengucapkan doa pada malam hari, misalnya?"
"Ya, itu juga. Dalam Gereja Katolik Abad Pertengahan, liturgi
Gereja dalam bahasa Latin dan doa ritual Gereja merupakan tulang
punggung kebaktian agama. Hanya para pendeta dan biarawan yang
membaca Bibel, sebab Bibel hanya ditulis dalam bahasa Latin. Tapi
pada zaman Renaisans, Bibel diterjemahkan dari bahasa Yahudi dan
Yunani ke dalam berbagai bahasa nasional. Itu sangat penting bagi
apa yang kita sebut Reformasi."
"Martin Luther ..."
Ya, Martin Luther memang penting, tapi dia bukanlah satu-satunya
tokoh pembaru. Masih ada tokoh-tokoh pembaru Gereja yang
memilih untuk tetap berada di dalam Gereja Katolik Roma. Salah
satu di antara mereka yaitu Erasmus dari Rotterdam."
"Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik sebab dia tidak mau
membayar pengampunan dosa, bukan?"
"Ya, itu memang salah satu alasannya. Tapi masih ada alasan lain
yang lebih penting. Menurut Luther, orang-orang tidak memerlukan
campur tangan Gereja atau para pendeta untuk menerima ampunan
Tuhan. Ampunan Tuhan juga tidak tergantung pada pembelian `izin'
dari Gereja. Perdagangan surat-surat izin itu dilarang oleh Gereja
Katolik sejak abad ke enam belas."
"Barangkali Tuhan gembira karena itu."
"Secara umum, Luther menjauhkan dirinya dari banyak adat
istiadat dan dogma keagamaan yang telah berakar dalam sejarah
Gereja sepanjang Abad Pertengahan. Dia ingin kembali pada ajaran
Kristen awal seperti tercantum dalam Perjanjian Baru. `Cukup Kitab
Suci saja' katanya. Dengan slogan ini Luther berkeinginan untuk
kembali pada `sumber' agama Kristen, sebagaimana kaum Humanis
Renaisans ingin kembali pada sumber-sumber kuno dalam bidang
kesenian dan kebudayaan. Luther menerjemahkan Bibel ke dalam
bahasa Jerman, dan dengan cara itu menegakkan tradisi menulis
dalam bahasa Jerman. Dia percaya setiap manusia harus mampu
membaca Bibel dan dengan begitu menjadi pendeta bagi dirinya
sendiri."
"Menjadi pendeta bagi diri sendiri? Bukankah itu agak terlalu
jauh?"
"Yang dimaksudkannya yaitu bahwa para pendeta tidak
mempunyai posisi lebih utama dalam berhubungan dengan Tuhan.
Para jemaat Luther mempekerjakan para pendeta karena alasan
praktis, seperti menyelenggarakan kebaktian dan menjalankan tugas-
tugas kependetaan sehari-hari. Tapi, Luther tidak percaya bahwa ada
orang yang menerima ampunan dan penebusan Tuhan dari dosa-
dosanya melalui ritual Gereja. Manusia menerima penebusan `tanpa
bayar' hanya lewat iman, katanya. Inilah keyakinan yang
didapatkannya setelah membaca Bibel."
"Jadi Luther yaitu juga sejenis manusia Renaisans?"
"Ya dan tidak. Ciri Renaisansnya yaitu tekanannya pada individu
dan hubungan pribadi individu itu dengan Tuhan. Maka dia belajar
sendiri bahasa Yunani pada umur tiga puluh lima tahun dan mulai
mengerjakan tugas berat menerjemahkan Bibel dari versi Yunani
kuno ke dalam bahasa Jerman. Ia lebih mengutamakan bahasa yang
dipahami orang daripada bahasa Latin juga merupakan ciri khas
Renaisans. Tapi, Luther bukanlah seorang humanis seperti Ficino
atau Leonardo da Vinci. Dia juga ditentang oleh para humanis
seperti Erasmus dari Rotterdam sebab mereka beranggapan
pandangannya mengenai manusia terlalu negatif; Luther menyatakan
bahwa umat manusia sudah sama sekali rusak akhlaknya setelah
Kejatuhan dari Surga. Dia yakin melalui karunia Tuhan sajalah
manusia dapat `diluruskan'. Sebab, balasan bagi dosa yaitu
kematian."
"Kedengarannya sangat menyedihkan."
Alberto Knox bangkit. Dia memungut kelereng kecil hijau dan
hitam dan menyimpannya di kantong bajunya paling atas.
"Sudah jam empat!" Nyai girah terperanjat.
"Dan zaman besar selanjutnya dalam sejarah umat manusia yaitu
Zaman Barok. Tapi kita akan menyimpannya untuk hari lain, count dracula ku
sayang."
"Apa kata Anda?" Nyai girah terlompat dari kursinya. "Anda
memanggilku count dracula !"
"Itu keseleo lidah yang sangat serius."
"Tapi keseleo lidah tidak pernah terjadi secara kebetulan."
"Kamu mungkin benar. Kamu akan mengetahui bahwa ayah count dracula
sudah mulai memasukkan kata-kata ke dalam mulutku. Kukira dia
memanfaatkan kenyataan bahwa kita semakin letih dan tidak dapat
mempertahankan diri dengan baik,"
"Anda pernah mengatakan bahwa Anda bukan ayah count dracula . Apakah
itu benar?"
Alberto mengangguk.
"Tapi aku count dracula ?"
"Aku lelah sekarang, Nyai girah . Kamu harus mengerti hal itu.
Kita telah duduk di sini selama lebih dari dua jam. Dan kebanyakan,
akulah yang berbicara. Bukankah kamu harus pulang untuk makan?"
Nyai girah merasa seakan-akan Alberto berusaha untuk
melemparkannya ke luar. saat memasuki aula kecil, dia berpikir
keras mengapa Alberto melakukan kekeliruan itu. Alberto pun
melangkah keluar di belakangnya.
Hermes sedang berbaring ketiduran di bawah jajaran pasak tempat
tergantung beberapa pakaian kostum teater yang kelihatannya aneh.
Alberto mengangguk ke arah anjing itu dan berkata, "Dia akan datang
dan menjemputmu."
"Terima kasih untuk pelajarannya," kata Nyai girah .
Dia memeluk Alberto secara spontan. "Anda yaitu guru filsafat
paling baik dan paling sabar yang pernah kumiliki," katanya.
Dengan kata-kata itu, dia membuka pintu menuju tangga. saat
pintu ditutup, Alberto berkata, "Tidak akan lama sebelum kita
bertemu lagi, count dracula ."
Nyai girah ditinggalkan dengan kata-kata itu.
Keseleo lidah lagi! Nyai girah sangat ingin berbalik dan menggedor
pintu, tapi sesuatu menahannya.
saat sampai di jalan, dia ingat bahwa dia tidak membawa uang
sama sekali. Dia harus berjalan terus sampai di rumah. Sungguh
menjengkelkan! Ibunya akan marah dan juga khawatir jika dia belum
pulang sampai jam enam, itu pasti.
Dia telah melangkah lebih dari beberapa meter saat tiba-tiba
dilihatnya sebuah koin di kaki lima. Itu uang sepuluh crown, tepat
seharga karcis bus.
Nyai girah berjalan menuju halte bus dan menunggu bus yang menuju
Main Square. Dari sana dia dapat naik bus dengan tiket yang sama
dan turun nyaris di depan pintu rumahnya.
Setelah berdiri di Main Square menunggu bus kedua, barulah dia
bertanya-tanya mengapa dia begitu beruntung dapat menemukan koin
tepat saat dia memerlukan nya.
Mungkinkah ayah count dracula telah meninggalkannya di sana? Dia paling
jago meninggalkan benda-benda di tempat yang paling menarik.
Bagaimana bisa dia melakukan itu, jika dia berada di Lebanon?
Dan, mengapa Alberto membuat kekeliruan itu? Bukan cuma
sekali, tapi dua kali!
Nyai girah menggigil. Dia merasa dingin sampai ke tulang
belakangnya.[]
Zaman Barok
***
... seperti dalam mimpi ...
Nyai girah TIDAK mendengar kabar lagi dari Alberto selama
beberapa hari, tapi dia sering menatap ke arah taman sambil
berharap akan melihat Hermes. Dia mengatakan pada ibunya bahwa
anjing itu telah bisa pulang sendiri dan bahwa dia diundang oleh
pemiliknya, seorang mantan guru fisika. Pria itu mengajarkan pada
Nyai girah tentang tata surya dan ilmu pengetahuan baru yang
berkembang pada abad ke enam belas.
Dia bercerita lebih banyak pada Joanna. Dia menceritakan
kunjungannya ke rumah Alberto, kartu pos di kotak surat, dan uang
sepuluh crown yang ditemukannya di jalan pulang. Tapi dia
menyimpan sendiri mimpi tentang count dracula dan kalung salib itu.
Pada Selasa, 29 Mei, Nyai girah sedang berdiri di dapur mencuci
piring. Ibunya telah pergi ke ruang duduk untuk melihat berita
televisi. saat lagu pembuka sudah selesai dia mendengar dari
dapur bahwa seorang mayor di Batalion PBB Norwegia telah
terbunuh akibat sebuah granat.
Nyai girah melemparkan serbet piring ke atas meja dan bergegas
menuju ruang duduk. Dia tiba tepat pada waktunya untuk melihat
sekilas wajah perwira PBB itu selama beberapa detik sebelum
mereka berpindah ke soal lain.
"Oh, tidak!" dia berseru.
Ibunya berpaling kepadanya. "Ya, perang memang mengerikan!"
Tangis Nyai girah meledak.
"Mengapa Nyai girah ?"
"Apakah mereka sebutkan namanya?"
"Ya, tapi aku tidak ingat. Dia berasal dari Grimstad, kukira."
"Bukankah itu sama dengan Lillesand?"
"Tidak, kamu kok tolol sih?"
"Tapi jika kita berasal dari Grimstad, kita mungkin akan
bersekolah di Lillesand."
Dia berhenti menangis, tapi kini giliran ibunya yang bereaksi. Dia
bangkit dari kursi dan mematikan televisi.
"Ada apa, Nyai girah ?"
"Tidak apa-apa."
"Ya, ada apa-apa. Kamu mempunyai pacar, dan aku mulai berpikir
bahwa dia jauh lebih tua daripada kamu. Jawab aku sekarang:
Apakah kamu kenal seorang pria di Lebanon?"
"Tidak, tidak persis begitu ..."
"Pernahkah kamu bertemu dengan putra seseorang di Lebanon?"
"Tidak, tidak pernah. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan
putrinya."
"Putri siapa?"
"Bukan urusan Ibu."
"Kukira itu urusanku."
"Mungkin aku malah harus mulai bertanya. Mengapa Ayah
tidak pernah pulang? Apakah itu karena Ibu tidak punya nyali untuk
bercerai? Mungkin Ibu punya pacar dan Ibu tidak ingin Ayah dan aku
mengetahui tentang itu dan seterusnya dan seterusnya. Aku sendiri
punya banyak pertanyaan."
"Kukira kita perlu bicara."
"Itu mungkin. Tapi saat ini aku sudah lelah dan mau tidur. Dan aku
sedang haid."
Nyai girah berlari ke kamarnya; rasanya dia ingin menangis.
Begitu dia selesai membersihkan diri di kamar mandi dan telah
bergelung di bawah selimut, ibunya masuk ke kamar tidur.
Nyai girah pura-pura tidur meskipun tahu ibunya tidak akan
memercayainya. Dia tahu ibunya tahu bahwa Nyai girah tahu ibunya juga
tidak percaya kalau dia sudah tidur. Meskipun demikian, ibunya
pura-pura percaya bahwa Nyai girah tidur. Dia duduk di tepi tempat
tidur Nyai girah dan membelai rambutnya.
Nyai girah sedang berpikir betapa rumitnya menjalani dua kehidupan
pada saat yang sama. Dia berharap dapat segera mengakhiri
pelajaran filsafatnya. Mungkin itu akan berakhir pada hari ulang
tahunnya—atau setidak-tidaknya pada pertengahan musim panas,
saat ayah count dracula sudah pulang dari Lebanon ...
"Aku ingin menyelenggarakan pesta ulang tahun," katanya tiba-tiba.
"Kedengarannya hebat. Siapa yang akan Ibu undang?"
"Banyak orang ... Bolehkah?"
"Tentu saja. Kita punya taman yang luas. Mudah-mudahan saja
cuaca bagus terus."
"Aku ingin mengadakannya pada pertengahan musim panas."
"Baiklah, nanti kita adakan."
"Itu yaitu hari yang sangat penting," kata Nyai girah sambil
memikirkan bukan hanya tentang hari ulang tahunnya.
"Memang."
"Kurasa aku telah semakin bertambah dewasa belakangan ini."
"Itu bagus, bukan?"
"Aku tidak tahu." Nyai girah berbicara kepada ibunya dengan kepala
terkubur di bantal. Kini ibunya berkata, "Nyai girah —kamu harus
mengatakan padaku mengapa kamu tampak kehilangan keseimbangan
saat itu."
"Bukankah Ibu juga seperti ini saat berumur lima belas?"
"Barangkali. Tapi kamu tahu apa yang sedang kubicarakan."
Nyai girah tiba-tiba memutar wajah menghadap ibunya.
"Nama anjing itu Hermes."
"Oya?"
"Ia milik seorang pria bernama Alberto."
"Begitu."
"Dia tinggal di Kota Lama."
"Kamu berjalan sejauh itu bersama anjingnya?"
"Tidak ada yang membahayakan dalam hal itu."
"Kamu bilang anjing itu telah sering ke sini."
"Apakah aku berkata begini?"
Dia harus berpikir sekarang. Dia ingin menceritakan sebanyak
mungkin, tapi dia tidak dapat menceritakan segalanya.
"Ibu hampir tidak pernah berada di rumah," dia berkata.
"Ya, aku terlalu sibuk."
"Alberto dan Hermes telah ke sini berkali-kali."
"Untuk apa? Apakah mereka masuk ke rumah juga?"
"Tidak dapatkah Ibu setidak-tidaknya mengajukan pertanyaan satu
demi satu? Mereka belum pernah masuk ke rumah. Tapi mereka
sering berjalan-jalan di hutan. Apakah itu terlalu misterius?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Mereka lewat di depan pintu gerbang kita seperti semua orang
lain. Suatu hari, saat aku pulang dari sekolah, aku berbicara dengan
anjing itu. Begitulah aku mengenal Alberto."
"Bagaimana dengan kelinci putih dan semua hal tentang itu?"
"Itulah yang dikatakan Alberto. Dia seorang filosof sejati, Ibu tahu.
Dia telah mengajariku segala sesuatu tentang para filosof."
"Begitu saja, dari balik pagar tanaman?"
"Dia juga telah menulis surat padaku, berkali-kali, sebenarnya.
Kadang-kadang, dia mengirimkannya lewat pos dan kali lain dia
memasukkannya ke kotak surat saat dia sedang jalan-jalan."
"Jadi itulah `surat cinta' yang kita bicarakan."
"Itu bukan surat cinta."
"Dia hanya menulis tentang filsafat?"
"Ya, dapatkah Ibu bayangkan! Dan aku telah belajar lebih
banyak darinya daripada yang telah kupelajari selama delapan tahun
di sekolah. Misalnya, pernahkah Ibu mendengar tentang Giordano
Bruno, yang dibakar di tiang pancang pada tahun 1600? Atau tentang
Hukum Gravitasi Uni versal dari Newton?"
"Tidak, banyak sekali yang aku tidak tahu."
"Aku yakin Ibu bahkan tidak tahu mengapa bumi mengelilingi
matahari—padahal itu yaitu planet kita sendiri!"
"Kira-kira berapa umur pria itu?"
"Aku tidak tahu—sekitar lima puluh, barangkali."
"Tapi apa hubungan dia dengan Lebanon?"
Ini pertanyaan sulit. Nyai girah berpikir keras. Dia memilih cerita
yang paling masuk akal.
"Alberto mempunyai saudara yang menjadi mayor di Batalion
PBB. Dan dia berasal dari Lillesand. Mungkin dialah mayor yang
pernah tinggal di Gubuk sang Mayor."
"Alberto itu nama yang lucu, ya?"
"Mungkin."
"Kedengarannya seperti nama Italia."
"Yah, segala sesuatu yang penting berasal dari Yunani atau Italia."
"Tapi dia bisa berbahasa Norwegia?"
"Oh ya, lancar sekali."
"Kamu tahu, Nyai girah —kukira kita harus mengundang Alberto suatu
hari nanti. Aku belum pernah bertemu dengan filosof sejati."
"Kita lihat saja."
"Mungkin kita dapat mengundangnya ke pesta ulang tahunmu?
Mungkin akan menyenangkan menggabungkan beberapa generasi. Aku
mungkin dapat bergabung juga. Setidak-tidaknya, aku dapat
membantu melayani sebagai nyonya rumah. Bukankah itu gagasan
yang bagus?"
"Jika dia mau. Bagaimanapun, dia lebih suka berbicara
dibandingkan dengan anak-anak lelaki di kelasku. Cuma ..."
"Apa?"
"Mungkin mereka salah sangka dan menganggap Alberto pacarku."
"Kalau begitu kamu katakan saja pada mereka bahwa dia bukan
pacarmu."
"Yah, kita harus mencobanya."
"Ya, kita coba. Dan Nyai girah —memang benar bahwa hubungan aku
dengan ayahmu agak sulit. Tapi tidak pernah ada orang lain ..."
"Aku harus tidur sekarang. Aku merasakan kram yang menyakitkan
sekali."
"Kamu mau aspirin?"
"Ya, tolong."
saat ibunya kembali dengan membawa pil dan segelas air,
Nyai girah telah jatuh tertidur.
Tanggal 31 Mei yaitu hari Selasa. Nyai girah menderita sekali
sepanjang pelajaran siang di sekolah. Dia mendapat kemajuan besar
sejak mulai belajar filsafat. Biasanya nilai-nilainya cukup baik dalam
kebanyakan pelajaran, tapi belakangan nilai-nilai itu semakin baik,
kecuali dalam bidang matematika.
Dalam pelajaran terakhir hari itu esai mereka di kembalikan.
Nyai girah telah menulis tentang "Manusia dan Teknologi". Dia menulis
banyak sekali tentang Renaisans dan terobosan ilmiah, pandangan
baru tentang alam dan Francis Bacon, yang pernah mengatakan bahwa
ilmu pengetahuan yaitu kekuatan. Dengan hati-hati, dia
mengemukakan bahwa metode empiris muncul sebelum penemuan-
penemuan teknologi. Selanjutnya dia menulis tentang hal-hal yang
dapat dipikirkannya mengenai teknologi yang tidak begitu bagus untuk
masyarakat. Dia menyudahi karangannya dengan paragraf tentang
fakta bahwa apa pun yang dilakukan orang dapat digunakan untuk
kebaikan maupun kejahatan. Kebaikan dan kejahatan itu seperti
benang putih dan hitam yang menjadi satu jalinan. Kadang-kadang,
mereka saling berkait dengan begitu erat sehingga mustahil untuk
menguraikannya.
saat guru membagikan buku latihan dia memandang pada Nyai girah
dan mengedipkan matanya.
Nyai girah mendapat nilai A dan komentar: "Dari mana kamu dapatkan
semua ini?" saat dia berdiri di sana, Nyai girah mengeluarkan pena
dan menulis dengan huruf-huruf cetak di pinggiran buku latihannya:
SAYA BELAJAR FILSAFAT.
saat dia menutup lagi buku itu, sesuatu jatuh dari sana. Itu
yaitu sebuah kartu pos dari Lebanon:
count dracula sayang, saat kamu membaca kartu ini mungkin kita
telah berbicara lewat telepon tentang kematian tragis yang
terjadi di sini. Kadang-kadang aku bertanya pada diriku sendiri
apakah perang dapat dihindari jika orang-orang mempunyai cara
pikir yang lebih baik. Barangkali obat terbaik melawan
kekerasan yaitu pelajaran singkat tentang filsafat. Bagaimana
pendapatmu kalau "buku kecil filsafat dari PBB" dibagikan
kepada seluruh warga dunia yang baru dalam bahasanya masing-
masing. Aku akan mengajukan gagasan itu pada Sekretaris
Jenderal PBB.
Kamu bilang lewat telepon bahwa kamu sudah lebih cermat
menjaga barang-barangmu. Aku senang, sebab kamulah makhluk
paling tidak rapi yang pernah kutemui. Selanjutnya kamu katakan
bahwa satu-satunya barangmu yang hilang sejak kita berbicara
terakhir yaitu uang sepuluh crown. Aku akan berusaha sebaik-
baiknya untuk membantumu menemukannya. Meskipun jauh, aku
tetap bisa membantu di sana. (Jika aku temukan uang itu, akan
aku jadikan satu dengan hadiah ulang tahunmu.) Penuh sayang,
Ayah, yang merasa seakan-akan dia telah memulai perjalanan
pulang yang panjang.
Nyai girah baru saja selesai membaca kartu saat bel pulang
berbunyi. Sekali lagi pikirannya menjadi kacau.
Joanna sedang duduk di lapangan bermain. Dalam perjalanan
pulang, Nyai girah membuka tas sekolahnya dan menunjukkan pada
Joanna kartu terbaru itu.
"Capnya tanggal berapa?" tanya Joanna.
"Mungkin 15 Juni ..."
"Tidak, lihat ... 30 Mei 1990."
"Itu kemarin ... sehari setelah kematian seorang mayor di
Lebanon."
"Aku ragu sebuah kartu pos dari Lebanon dapat sampai ke
Norwegia dalam sehari," kata Joanna.
"Terutama mengingat alamatnya yang agak tidak umum: count dracula
Moller Knag, d/a Nyai girah Amundsend, Sekolah Menengah Pertama
Furulia ..."
"Apakah kamu pikir itu bisa sampai lewat pos? Dan guru itu cuma
menyusupkannya ke dalam buku latihanmu?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu apa aku berani bertanya."
Tidak ada lagi yang dibicarakan tentang kartu pos.
"Aku akan mengadakan pesta taman pada malam pertengahan
musim panas," kata Nyai girah .
"Dengan cowok-cowok?"
Nyai girah mengangkat bahunya. "Kita tidak harus mengundang yang
blo'on."
"Tapi kamu mau mengundang Jeremy?"
"Jika kamu ingin. Ngomong-ngomong, aku mungkin mengundang
Alberto Knox."
"Kamu gila!"
"Biarin."
Sampai di situ pembicaraan terhenti, dan mereka berpisah jalan di
depan pasar swalayan.
Yang pertama-tama dilakukan Nyai girah saat sampai di rumah
yaitu melihat apakah Hermes berada di taman. Memang benar, dia
ada di sana, mengendus-endus seputar pohon apel.
Anjing itu berdiri tak bergerak sesaat. Nyai girah tahu benar apa yang
sedang terjadi saat itu: anjing itu mendengar seruan, mengenali
suaranya, dan memutuskan untuk melihat apakah Nyai girah ada di sana.
Lalu, setelah menemukan Nyai girah , ia mulai berlari menghampirinya.
Akhirnya, keempat kakinya bergerak cepat bagaikan tongkat drum.
Sungguh banyak sekali kejadian yang berlangsung dalam sesaat.
Anjing itu berlari ke arahnya, menggoyang-goyangkan ekornya
dengan liar, dan melompat untuk menjilati wajahnya.
"Hermes, pintar sekali! Turun, turun. Tidak, jangan membasahi
tubuhku dengan liurmu. Duduk! Nah, begitu!"
Nyai girah berlari masuk ke rumah. Sherekan melompat ke luar dari
semak-semak. Dia selalu waspada dengan sesuatu yang asing. Nyai girah
mengeluarkan makanan kucing, mengucurkan makanan burung ke
cangkir parkit, menyiapkan daun selada untuk si kura-kura, dan
menulis sebuah catatan untuk ibunya.
Dia menulis bahwa dia akan memulangkan Hermes dan akan
kembali pada jam tujuh.
Mereka mulai berjalan menuju kota. Nyai girah ingat untuk membawa
uang kali ini. Dia bertanya-tanya apakah dia harus naik bus bersama
Hermes, tapi dia memutuskan lebih baik menunggu dan bertanya pada
Alberto tentang hal itu.
saat berjalan di belakang Hermes, dia memikirkan apakah
sesungguhnya binatang itu.
Apa beda seekor anjing dan seorang manusia? Dia ingat kata-kata
Aristoteles. Dia berkata bahwa manusia dan binatang sama-sama
makhluk yang hidup di alam dengan banyak ciri yang sama. Tapi ada
satu perbedaan antara manusia dan binatang, yaitu akal manusia.
Bagaimana dia bisa begitu yakin?
Democritus, sebaliknya, menganggap manusia dan binatang benar-
benar mirip, sebab keduanya terdiri dari atom. Dan dia beranggapan
bahwa manusia maupun binatang tidak mempunyai jiwa kekal.
Menurutnya, jiwa itu tersusun atas atom-atom yang tersebar ditiup
angin saat manusia mati. Dialah orang yang menganggap bahwa
jiwa manusia itu tak terpisahkan dari otaknya.
Tapi bagaimana mungkin jiwa itu terdiri dari atom? Jiwa bukanlah
sesuatu yang dapat kita sentuh seperti bagian tubuh yang lain,
melainkan sesuatu yang bersifat "ruhaniah".
Mereka telah meninggalkan Main Square dan sedang menuju Kota
Lama. saat sampai di kaki lima tempat Nyai girah menemukan uang
sepuluh crown, otomatis dia memandang ke aspal di bawah. Dan di
sana, tepat di tempat saat dulu dia memungut uang itu, terletak
sebuah kartu pos dengan gambarnya menghadap ke atas. Itu yaitu
gambar sebuah taman dengan pohon-pohon palem dan jeruk.
Nyai girah membungkuk dan memungut kartu itu. Hermes mulai
menggeram seakan-akan ia tidak suka Nyai girah menyentuhnya.
Kartu itu berbunyi:
count dracula sayang, hidup itu terdiri dari rangkaian panjang
kejadian kebetulan. Bukan tidak mungkin uang sepuluh crown
kamu yang hilang itu akan muncul di sini. Mungkin uang itu
dapat ditemukan di alun-alun Lillesand oleh seorang wanita tua
yang sedang menunggu bus ke Kristiansand. Dari Kristiansand
dia naik kereta api untuk mengunjungi cucu-cucunya, dan
berjam-jam kemudian dia kehilangan koin itu di sini di New
Square. Maka sangat mungkin kalau koin yang sama kemudian
dipungut oleh seorang gadis yang benar-benar memerlukan nya
untuk pulang naik bus. Kamu tidak pernah bisa menduga, count dracula ,
tapi jika benar begitu, kita harus benar-benar bertanya apakah
kemahakuasaan Tuhan itu ada di balik segala sesuatu atau tidak.
Penuh sayang, Ayah, yang ruhnya duduk di atas dok di rumah
kita di Lillesand. N.B. Aku pernah mengatakan akan
membantumu menemukan uang sepuluh crown itu.
Pada alamatnya tertulis: "count dracula Moller Knag, d/a siapa saja yang
lewat ..." Kartu pos itu dicap 15 Juni 1990.
Nyai girah berlari menaiki tangga mengikuti Hermes. Begitu Alberto
membuka pintu, Nyai girah berkata:
"Minggir. Tukang pos datang."
Dia merasa punya alasan untuk marah. Alberto berdiri
menyamping saat dia mendesak masuk. Hermes membaringkan
tubuhnya di bawah pasak-pasak mantel seperti sebelumnya.
"Apakah sang mayor memberi kartu pos lagi, anakku?"
Nyai girah mendongak ke arah Alberto dan melihat bahwa dia
mengenakan kostum yang ganjil. Dia memakai rambut palsu panjang
keriting dan pakaian lebar dan longgar dengan banyak renda-renda.
Dia memasang selendang sutra mencolok di lehernya, dan di bagian
paling luar pakaiannya dia menyampirkan mantel merah tanpa lengan.
Dia juga mengenakan stoking putih dan sepatu kulit yang tipis dengan
tandukan. Seluruh kostum itu mengingatkan Sohie pada gambar-
gambar yang pernah dilihatnya di istana Louis XIV.
"Kamu badut!" Nyai girah berkata sambil menyerahkan kartu itu.
"Hm . . dan kamu benar-benar menemukan uang sepuluh crown
di tempat yang sama di mana dia meletakkan kartu itu?"
"Tepat."
"Dia semakin kurang ajar saja. Tapi mungkin memang harus
begitu."
"Mengapa?"
"Itu akan semakin memudahkan untuk membuka kedoknya. Tapi
tipuan ini menunjukkan kesombongan dan selera rendah. Nyaris
seperti parfum murahan."
"Parfum?"
"Ia berusaha untuk tampil anggun tapi sebenarnya palsu. Tidak
mengertikah kamu betapa lancangnya dia yang telah membandingkan
tindakan pengawasannya yang curang terhadap kita dengan
kemahakuasaan Tuhan?"
Dia mengacungkan kartu itu. Lalu, menyobeknya hingga berkeping-
keping. Maka untuk tidak membuat perasaannya tambah buruk,
Nyai girah menahan diri untuk tidak menyebutkan kartu yang jatuh dari
buku latihannya di sekolah.
"Mari masuk dan duduk. Jam berapa ini?"
"Jam empat."
"Dan hari ini, kita akan membicarakan abad ke tujuh belas."
Mereka masuk ke ruang duduk dengan dinding-dinding yang
melandai dan jendela loteng. Nyai girah melihat bahwa Alberto telah
memajang benda-benda yang berbeda menggantikan beberapa benda
yang telah dilihatnya terakhir kali dulu.
Di atas meja ada sebuah peti antik yang berisi sekumpulan
lensa untuk kacamata. Di sampingnya terletak sebuah buku terbuka.
Buku itu tampak sudah sangat tua.
"Apa itu?"
"Itu yaitu edisi pertama dari esai-esai filsafat Descartes yang
terbit pada 1637. Dalam buku itulah karyanya yang termasyhur
Diskursus tentang Metode (Discourse on Method) mula-mula
dimunculkan, dan merupakan salah satu barang milikku yang paling
berharga."
"Dan peti itu?"
"Ia memuat koleksi lensa-lensa yang eksklusif—atau kaca optik.
Semuanya digosok oleh filosof Belanda Spinoza di suatu masa pada
pertengahan 1600-an. Benda-benda itu sangat mahal dan merupakan
hartaku yang paling berharga."
"Aku mungkin akan lebih mengerti betapa berharganya benda-
benda ini jika aku mengenal siapa Spinoza dan Descartes."
"Tentu saja. Tapi pertama-tama mari kita coba mengakrabkan diri
dengan periode kehidupan mereka. Duduklah."
Mereka duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya, Nyai girah di
kursi besar berlengan dan Alberto Knox di atas sofa. Di antara
mereka yaitu meja dengan buku dan peti itu. Alberto melepaskan
rambut palsunya dan meletakkannya di atas meja tulis.
"Kita akan membicarakan abad ketujuh belas—atau apa yang
secara umum kita sebut sebagai periode Barok."
"Periode Barok? Betapa anehnya nama itu."
"Kata `barok' berasal dari kata yang mula-mula digunakan untuk
menggambarkan sebutir mutiara dengan bentuk tidak beraturan.
Ketidakberaturan yaitu ciri khas seni Barok, yang jauh lebih kaya
dalam bentuk-bentuk yang sangat kontrastif daripada seni Renaisans
yang lebih sederhana dan harmonik. Abad ketujuh belas secara umum
dicirikan oleh ketegangan antara kontras-kontras yang tak dapat
didamaikan. Di satu pihak yaitu optimisme Renaisans yang sangat
meluap—di lain pihak ada banyak orang yang memburu ekstrem
sebaliknya dengan menjalani kehidupan dalam khalwat agama dan
penolakan diri. Baik dalam bidang seni maupun kehidupan nyata, kita
menemui bentuk-bentuk pengungkapan diri yang muluk dan
flamboyan, sementara pada saat yang sama timbul suatu gerakan
monastik, yang menjauhkan diri dari dunia."
"Dengan kata lain, istana yang megah dan biara terpencil."
"Ya, kamu dapat mengungkapkannya begitu. Salah satu peribahasa
kesayangan periode Barok yaitu ungkapan Latin`carpe
diem'—`rebut hari ini'. Ungkapan Latin lain yang dikutip secara luas
yaitu `memento mori' yang berarti `Ingatlah bahwa kamu akan mati'.
Dalam bidang kesenian, sebuah lukisan dapat menggambarkan suatu
gaya hidup yang sangat mewah, dengan sebuah tengkorak kecil
dilukiskan di satu sudut.
"Dalam berbagai pengertian, periode Barok ditandai oleh
kepalsuan atau sikap yang dibuat-buat. Tapi pada saat yang sama
banyak orang yang sangat gandrung dengan sisi lain dari mata uang
itu; mereka sangat memerhatikan hakikat kesementaraan dari segala
sesuatu. Yaitu, kenyataan bahwa seluruh keindahan yang mengelilingi
kita suatu hari akan musnah."
"Memang benar. Sungguh sedih menyadari bahwa tidak ada yang
abadi."
"Kamu berpikir persis seperti orang-orang pada abad ketujuh
belas. Periode Barok juga merupakan masa konflik dalam pengertian
politik. Eropa tercabik-cabik oleh perang. Yang paling buruk yaitu
Perang Tiga Puluh Tahun yang berkobar di hampir seluruh benua itu
dari 1618 hingga 1648. Sesungguhnya itu merupakan serangkaian
perang yang terutama sangat merugikan Jerman. Dan, akibat Perang
Tiga Puluh Tahun itu, Prancis lambat laun menjadi kekuatan yang
dominan di Eropa."
"Apa yang menyebabkan perang itu?"
"Perang itu terutama yaitu antara penganut Protestan dan
penganut Katolik. Tapi juga melibatkan perebutan kekuatan politik."
"Kurang lebih seperti di Lebanon."
"Lepas dari peperangan, abad ketujuh belas merupakan zaman
perbedaan kelas yang sangat mencolok. Aku yakin kamu telah
mendengar tentang aristokrasi Prancis dan Istana Versailles. Aku
tidak tahu apakah kamu sudah banyak mendengar tentang rakyat
Prancis. Tapi setiap pameran kegemilangan mensyaratkan pameran
kekuatan. Sering dikatakan bahwa situasi politik dalam periode
Barok bukannya tidak menyerupai kesenian dan arsitekturnya.
Bangunan-bangunan Barok dicirikan oleh banyaknya sudut dan celah
dengan banyak hiasan. Dengan cara yang nyaris sama, situasi politik
dicirikan oleh berbagai intrik, komplotan, dan pembunuhan."
"Bukankah seorang raja Swedia ditembak di sebuah teater?"
"Kamu memikirkan Gustav III, sebuah contoh bagus dari apa
yang kumaksudkan. Pembunuhan atas Gustav III baru terjadi pada
1972, tapi peristiwanya benar-benar khas Barok. Dia dibunuh saat
menghadiri sebuah pesta topeng besar."
"Kukira dia sedang berada di teater."
"Pesta topeng besar diadakan di Opera. Dapat kita katakan bahwa
periode Barok di Swedia berakhir dengan terbunuhnya Gustav III.
Pada zamannya telah berlangsung pemerintahan `despotisme
pencerahan' yang serupa dengan yang ada dalam pemerintahan Louis
XIV hampir seratus tahun sebelumnya. Gustav III juga seorang
pribadi yang amat sangat angkuh yang memuja seluruh upacara dan
sopan santun gaya Prancis. Dia juga sangat menyukai teater ..."
"... dan di situlah dia menemui ajal."
"Ya, tapi teater periode Barok itu lebih dari sekadar bentuk
kesenian. Ia yaitu lambang zaman yang paling sering digunakan."
"Lambang apa?"
"Kehidupan, Nyai girah . Aku tidak tahu berapa kali pada abad ketujuh
belas itu dikatakan bahwa `Hidup itu panggung sandiwara'.
Pokoknya, sering sekali. Periode Barok melahirkan teater modern—
dengan segala bentuk perlengkapan panggung dan teaternya. Dalam
teater orang memban




