si Malin Kundang-nya sendiri,
dan kita bisa menelaah cerita itu dari sisinya, apakah ia memang ternyata as guilty as
charged? Jika permasalahan yang sesungguhnya hanyalah telah terjadinya sebuah
kesalahpahaman, apakah kutukan itu masih efektif menimpa Malin Kundang?
Atau kisah Arthur Fleck dalam film Joker, besutan sutradara Todd Phillips, saat
Arthur menderita kelainan mental sebab cara didikkan dan perawatan orang tuanya
yang salah padanya, namun sayangnya Arthur tidak memasukan faktor Tuhan dalam
perhitungannya—jadilah ia Tuhan atas hidupnya sendiri, sehingga dia melakukan
sesuatu yang ekstrim untuk melampiaskan rasa kekecewaannya. Jadilah dia
mendurhakai orangtuanya dengan membunuh ibunya atau ibu angkatnya itu, setelah
ibunya mendurhakainya terlebih dahulu. Namun itu yaitu sisi ekstrim sebelah
62
kirinya, sebelah kanannya? Perhatikan orang-orang sukses yang Anda kagumi,
biasanya mereka yaitu orang yang bermasalah dengan orang tuanya, namun mereka
menyikapinya dengan lebih tepat. sebab sebagaimana anak-anak menjadi cobaan
bagi kedua orang tuanya, demikian pula para orang tua juga yaitu merupakan bentuk
cobaan bagi anak-anaknya.
Ada pula sebuah riwayat pada jaman Nabi Muhammad saw. mengenai seorang ibu
yang merasa sungguh sakit hati terhadap anaknya—tidak dijelaskan kenapa sang ibu
sungguh merasa sakit hati, mungkin ini tidak penting kita ketahui—namun di situ
dijelaskan betapa sang ibu sangat sakit hati sampai tidak mau memaafkan anaknya
yang sedang sakratul maut berkepanjangan. saat permasalahan itu tiba di hadapan
Rosulullah saw. maka, sang nabi agung itu pun bersabda, sang anak harus dibakar
untuk menghentikan penderitaannya, di titik itulah kemudian hati sang ibu luluh,
sehingga pada akhirnya ia bersedia memaafkan anaknya, dan anaknya pun kemudian
meninggal dunia dengan damai. Power yang dimiliki orang tua terhadap anak-anak
mereka, yaitu sebuah karunia dari Tuhan yang juga harus disikapi dengan benar oleh
para orang tua. Satu yang pasti yaitu , bahwa Tuhan Maha Adil, dan kepada-Nya lah
selalu kita memohon petunjuk, pertolongan dan kekuatan. Orang tua bagaimana pun
yaitu manusia juga, dan mereka pun bisa salah faham, dan bisa berbuat salah.
Santet Ring-Satu
Santet ring-satu yaitu kalimat sugesti buruk yang disampaikan dari orang yang
paling dekat kepada kita atau lingkaran satu pertemanan kita atau ring-satu kita. Jika
Anda juru santetnya maka, mekanisme yang mungkin terjadi dalam santet jenis ini,
yaitu sbb: Dalam santet ring satu ini Anda tidak harus tertuju pada orang yang ingin
Anda sakiti namun Anda dapat menyampaikan suatu kabar berita yang dikemas
seakan-akan itu yaitu gossip yang beredar di kalangan orang banyak yang
menyangkut orang yang Anda tuju lewat teman dekatnya, keluarga terdekatnya,
ataupun melalui pasangannya. Cara paling efektif yaitu melalui pasangannya
dengan menyampaikan berita yang mempengaruhi mental pasangannya, sehingga
pasangannya tersebut yang akan merongrong orang yang Anda ingin jadikan target
untuk terpancing melakukan sebuah tindakan yang gegabah dan masuk ke dalam
perangkap yang Anda buat.
Anda harus tahu siapa orang terdekat si target yang mudah Anda dekati untuk Anda
masukkan pengaruh yang ingin Anda tanamkan, lalu ke masalah pengaruh atau
sugesti yang ingin Anda masukkan tersebut dengan kesan bahwa itu yaitu berita
yang berasal dari gossip yang sedang ramai dibicarakan orang atau menjadi sebuah
kalimat cerita yang mewakili pendapat Anda tentang diri Anda sendiri, misalkan
dengan kalimat:
"Kalau suami sering susah dihubungi pasti sedang selingkuh suami semuanya pasti
begitu" atau "Dengan usia sudah setua ini, saya sudah pasti malas berhubungan
badan lagi dengan suami saya" atau "Semua yang namanya laki-laki pasti pernah
selingkuh, kitanya saja yang tidak pernah tahu selama ini."
Kalimat di atas menggambarkan sebuah kalimat tidak langsung yang dapat
mempengaruhi pikiran bawah sadar pasangannya dan ide atau kalimat tersebut akan
dikeluarkan oleh perkataan pasangannya saat ada konflik dengan suaminya, sehingga
63
lambat laun pasangan tersebut tidak akan harmonis lagi dan dapat memicu
perpecahan di dalam rumah tangganya.
Ide yang ingin Anda sampaikan haruslah terkesan bahwa itu yaitu pengalaman yang
pernah Anda alami dan juga dialami oleh banyak orang, sehingga pikiran bawah sadar
dia menyetujui dan menyimpan ide tersebut ke dalam laci pikiran bawah sadar yang
ada di dalam kepalanya.
Pelajaran paling penting dari Santet Ring-Satu yaitu : siapa pun yang selalu
bersemangat mengabarkan berita-berita buruk atau gossip-gossip tak sedap tentang
Anda, yaitu bukan teman Anda, segera coret dia dari daftar pertemanan Anda.
Santet Perseorangan
Santet Perseorangan bisa dikatakan sebagai santet yang berupa sugesti langsung yang
ditancapkan ke dalam pikiran bawah sadar orang yang ingin kita tuju. Kalimat yang
disampaikan bisa dengan kalimat lembut maupun kalimat kasar, berupa makian atau
kutukan. Kalimat yang disampaikan haruslah dalam situasi dan kondisi yang tepat,
misalkan pada saat dia sendiri sedang ada masalah dengan yang lain. Yang terpenting
lagi, kalimat harus benar-benar memancing emosi si pendengar atau orang yang
dijadikan target. Emosi yang dimaksud di sini bukanlah selalu membuat seseorang
menjadi marah, namun benar-benar dimasukkan ke dalam hatinya yang membuat ia
menerima sugesti yang Anda masukkan tersebut, baik secara perkataan langsung
maupun melalui SMS yang ada di dalam HP-nya si target.
Contoh kalimat santet perseorangan yang mudah diterima dan dijadikan kenyataan
olehnya yaitu sebagai berikut:
Kalimat Lembut
- "Ingat! Di dunia ini tidak ada yang namanya gratis. Suatu saat kamu akan
membayarnya."
- "Suatu saat kamu yang akan bersujud meminta maaf kepada saya."
- "Kamu akan bernasib sama nanti dengan ayahmu."
- "Kamu pasti akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini."
- "Semua perkataanmu akan kembali pada dirimu, Catat itu!"
Kalimat Kasar atau Kutukan
- "Kamu tidak akan punya anak lagi, camkan itu!"
- "Jangan bangga dulu tidak lama lagi Tuhan akan membalasmu."
- "Pikir kamu ganteng kamu semakin lama akan semakin jelek."
- "Kamu pikir kamu akan sembuh dari penyakitmu itu? Tentu tidak!"
- "Kamu bukan siapa-siapa bagi saya, kamu akan hancur dengan sendirinya dan saya
akan melihat kehancuranmu nanti."
- "Penderitaanmu itu belum seberapa, kamu akan jauh lebih menderita nanti."
Kalimat yang disampaikan di atas haruslah dipilih, mana kalimat yang PALING
MENGENA yang bisa mengguncang pada sisi kejiwaan orang yang kita tuju atau
akan dijadikan target.
64
Santet Diri Sendiri—Menzalimi Diri Sendiri
Dari semua jenis santet yang terjadi di muka bumi ini, mungkin inilah yang paling
sering terjadi, dan inilah alasan kami berani menerima tantangan dalam menulis artikel
tentang santet. sebab , “Hei!” tidak ada orang di muka bumi ini yang tidak pernah
menyantet dirinya sendiri. Mungkin ada pengecualian, namun Nabi Adam as. yaitu
termasuk di dalamnya.
“Tidak ada ilah selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-
orang yang zhalim.”—(QS. Al-Anbiya (21):87)
Kebanyakan dari kita yaitu penzalim diri sendiri, baik itu secara sengaja maupun
tidak.Tanpa sengaja kita sering menzalimi diri kita sendiri dengan melampaui batas
aturan-aturan yang telah dibuat oleh Allah dan telah terpatri di diri kita sendiri.
Seringnya hampir setiap orang tidak menyadari hal itu, mereka hanya mendapati
kerugian-kerugian saat melampaui fitrahnya, berupa penyakit yang tidak disadari
timbul akibat melampaui fitrah kita sebagai manusia—lihat bagian 10 artikel ini.
Kebanyakan orang hanya berpikir dan menghindari perbuatan yang merugikan orang
lain, namun sedikit sekali orang yang berbuat adil untuk dirinya sendiri, sehingga itu
pun bisa dikategorikan ke dalam perbuatan menzalimi diri sendiri atau menyakiti diri
sendiri. Itulah mengapa Agama Islam lebih mengusung keadilan, yang bila dimaknai
lebih jauh bisa dikatakan sebagai adil terhadap sesama dan adil pada diri sendiri.
Membagi rata bukanlah sikap adil, namun memberi pada yang berhak, itulah
perbuatan yang adil. Kebanyakan orang salah kaprah dalam mengartikan adil yang
sebenarnya dan mengabaikan sikap adil pada diri sendiri.
Tanpa kita sadari, hampir setiap saat kita menganiaya diri sendiri atau melakukan
perbuatan yang menzalimi diri sendiri, yang merugikan diri sendiri. Para Nabi selalu
memanjatkan doa agar memperoleh ampunan di saat tidak menyadari bahwa dirinya
telah menzalimi diri sendiri.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni
kami dan membeti rahmat kepada Kami, niscaya kami termasuk orang-orang uang
rugi.” (QS. al-Araf: 23)
“Dia (Nuh) berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk
memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak menyetahui (hakikatnya). Kalau Engkau
tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Hud: 47)
'Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-
orang yang zalim.” (QS. al-Anbiya:87)
Menyadari bahwa diri kita yaitu penzalim diri sendiri bukanlah hal yang mudah.
Kita akan lebih mudah untuk tidak menyakiti atau menzalimi orang lain, namun diam-
diam kita pun telah menzalimi diri sendiri lantaran kita lebih “tidak enakkan” pada
orang lain dan akhirnya mengabaikan hak diri kita sebagai pribadi. Tanpa disadari,
perbuatan tersebut dapat memicu penyakit pada diri kita sendiri, lantaran kita
65
tidak bisa berlaku adil pada diri sendiri. Tubuh kita akan melakukan protes dan
menderita. Begitu pun dengan orang yang hatinya tanpa disadari memiliki penyakit
dengki pada orang lain, maka itu pun akan memicu penyakit pada dirinya
sendiri, seperti yang telah dijelaskan pada ayat berikut,
“Atau apakah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, mengira bahwa Allah
tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” (QS. Muhammad: 29)
Bisa jadi, dalam ayat tersebut memang Allah akan menampakkan kedengkian orang-
orang dengki dengan timbulnya penyakit pada diri mereka. Ini sangat erat kaitannya
dengan tubuh yang protes sebab tidak sesuai dengan fitrahnya, sehingga timbulah
penyakit sesuai dengan apa yang telah dia kerjakan. Apa-apa yang dilakukan oleh
anggota tubuh dan tidak sesuai dengan peruntukkannya atau tidak sesuai dengan
fitrahnya, maka akan berdampak tidak baik untuk diri sendiri, ini dijelaskan di dalam
al-Quran, yang berbunyi:
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka itu yaitu untuk dirinya sendiri, dan
barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri;
kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.” (QS. al-Jasiyah: 15)
Bunyi ayat di atas itu menandakan suatu hukum yang sudah pasti akan begitu
kejadiannya, seperti sebuah akibat yang sudah otomatis, dimana siapa pun yang
mengerjakan kebaikan maka akan bermanfaat untuk dirinya sendiri dan siapa pun
yang mengerjakan kejahatan-pun maka akan menimpa dirinya sendiri. Hal ini dapat
terjadi sebab di dalam diri manusia ada yang namanya fitrah tersebut. Fitrah yang
selalu memihak pada kebenaran yang telah diatur oleh Allah demi kebaikan manusia
itu sendiri, meskipun berbuat kesalahan yaitu merupakan fitrah manusia juga—
Humanly corrupted nature.
Tubuh kita tunduk pada fitrah kita sebagai manusia. Tubuh kita juga merupakan
makhluk tersendiri yang kita tumpangi selama di dunia, dengan segala sistem yang
otomatis bekerja sendiri di dalamnya tanpa kita sadari. Tubuh kita yaitu makhluk
hidup sekaligus habitat alam bagi makhluk lainnys seperti sel, bakteri, bahkan cacing,
serta jamur yang menempel atau hidup di dalam tubuh kita. Banyak orang
menyebutnya dengan jagad kecil atau microcosmos, sementara alam semesta raya,
termasuk bumi dan segala isinya disebut dengan macrocosmos, ilmu yang
mempelajari tentang ini dinamakan Cosmology. Alam semesta baik itu jagad besar
maupun jagad kecil, semua tunduk pada pengaturan Allah swt.—the sole agent of the
cosmoses.
“Dan Dia menundukkan apa yang di langit dan apa yang di bumi untukmu semuanya
(sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi yang berpikir.” (QS. al-Jasiyah: 13)
Tubuh kita juga tunduk pada penciptanya, pada Tuhan semesta alam. Tubuh kita
tunduk pada aturan-aturan yang telah dirancang oleh Allah demi kebaikan kita
sendiri. Tubuh kita akan bereaksi pada apa-apa yang telah kita perbuat selama kita
hidup di dunia, baik itu hal baik yang telah kita lakukan pada diri kita, maupun pada
orang lain tanpa kita sadari.
66
Bukti bahwa tubuh kita telah terikat pada fitrah kita sebagai manusia dan bukti bahwa
tubu kita pun tunduk pada pengaturan Allah yaitu di antaranya sebagai berikut:
1. Hampir setiap orang yang mati tenggelam pada saat jasadnya kembali timbul
ke permukaan air, ditemukan dalam keadaan posisi terlentang bila wanita, dan
telungkup bila itu pria.
2. Hampir semua pria mengalami ereksi pada saat-saat menjelang pagi hari,
meskipun tidak mendapatkan rangsangan dari luar.
3. Wanita sangat sulit menahan amarah pada saat menstruasi, sama halnya
dengan ayam betina yang sedang mengerami telurnya atau saat telurnya
baru saja menetas.
4. Wanita mudah tersangsang saat disentuh bagian lehernya.
5. Pria pada masa puber mendapatkan mimpi basah, dimana turunnya hidayah—
atau apakah setan yang mengajarkannya, sebab Nabi saw. tidak pernah
mengalaminya—memberi pelajaran pada pria untuk reproduksi sehingga
manusia tidak punah.
6. Tumbuhnya payudara pada wanita, sementara pria tidak. Namun pria tetap
memiliki puting pada dadanya meski fungsinya masih dipertanyakan.
7. Sel darah putih bekerja keras sedemikian untuk melumpuhkan virus, bakteri
yang masuk ke dalam sistem tubuh.
Tubuh kita yaitu kendaraan—avatar—kita selama hidup di dunia, tubuh diciptakan
untuk kebaikan dan kelangsungan hidup di alam dunia. Tuhan menjadikan manusia
sebagai khalifah di atas muka bumi, agar bumi beserta isinya menjadi lestari dan
diberdayakan, namun penempatan manusia di muka bumi tela diprotes dan diketahui
oleh malaikat, sebab manusia hanya akan berbuat kerusakan dan menumpahkan
darah di muka bumi, namun Allah tentunya yaitu Yang Mahatahu.Tuhan
mengetahui apa yang Dia lakukan, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk
menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Tuhan tahu bawa
hamba-nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya tidak akan melakukan kerusakan
di bumi dan juga tidak akan merusak dirinya sendiri.
Santet Kolektif—Mastermind, Tersantet Kolektif—Azab
Santet Kolektif yaitu santet yang dilakukan secara bersama-sama untuk
menyingkirkan atau menyakiti seseorang atau lebih. Peristiwa ini Pernah kami lihat
secara langsung, dimana seseorang yang ingin menyingkirkan lawannya membayar
banyak orang untuk melakukan puasa selama 40 hari dan atau (santet) Yasinan, demi
menyingkirkan lawannya. Puasa—dan atau Yasinan—dengan niat tidak baik itu
berasal dari syarat seseorang yang dianggapnya memiliki karomah, sehingga saran
tersebut sangat dipercaya menjadi manjur berita banyak orang yang sedang
melakukan puasa dengan niat tidak baik tersebut sehingga memicu perasaan
negatif bagi orang yang mendengarnya sehingga perasaan negatif yang muncul
tersebut mengakibatkan perilaku yang negatif pula, dan atau mendorong mereka
mengambil sebuah keputusan yang salah. saat kami dalam proses mengedit artikel
ini, dan saya mengerjakannya di balik jeruji besi penjara, sementara istri saya Nyi
Damar mengerjakannya di sebuah tempat yang jauh dari sisi saya—dan sampai di
bagian ini, kami tersadar bahwa kami pun telah menjadi korban jenis yang Santet
67
yang satu ini, seperti yang telah kami sedikit ceritakan di bagian Pendahuluan artikel
istimewa ini.
Makna dari Mastermind sendiri yaitu :
“Dimana dua orang atau lebih bergabung dan yang memiliki tujuan yang sama
maka tujuan tersebut akan lebih mudah dicapai capai, semakin banyak yang
tergabung di dalamnya, semakin dahsyat kekuatannya.”
Dalam hal ini yang ingin dicapai yaitu efek positif berupa semangat bersama untuk
mencapai tujuan bersama tersebut, semangat akan memicu rasa antusias dan
fokus pada keberhasilan yang ingin dicapainya secara bersama, meskipun belum
diraihnya. Mastermind juga dapat digunakan untuk mengkaji suatu masalah secara
bersama-sama, bertukar pendapat demi mencapai tujuan. Satu hal yang
membahayakan dari sebuah mastermind yaitu , saat kita merasa berada di pihak
yang banyak, bahwa kita lantas merasa pasti berada di pihak yang benar, padahal
biasanya justru yaitu kebalikannya, namun menjadi benar dan mencapai sebuah
tujuan yang diinginkan tidaklah selalu berjalan beriringan.
“Dimana terdapat kefanatikan berbau agama dalam setiap perkumpulan, maka
ulama Su’ biasanya tercipta”—Imam al-Ghazali.
Santet-Kolektif lebih sering dilancarkan tanpa disadari oleh suatu kelompok,
golongan, komunitas maupun satu keluarga dengan tujuan yang sama yaitu
membayangkan, memvisualkan hal yang sama. Contoh: sebuah keluarga yang
kompak akan dengan sangat mudah menggapai kepentingan bersama seperti
membelikan mobil, merenovasi rumah orang tua, dan bahkan ini sangat jelas terlihat
bila suatu rumah orang tua yang memiliki banyak anak namun rumah orangtua
tersebut hampir roboh, pastilah di dalam keluarga tersebut kurang kompak. Mereka
tidak begitu peduli dengan nasib kedua orangtuanya yang menua.
Keluarga sangat penting sebagai pertahanan bersama demi tercapainya tujuan
bersama serta menghalau serangan kejahatan Santet-kolektif yang berasal dari
keluarga lain atau kelompok lain. Sering berkumpulnya anggota keluarga sangat
penting untuk menyusun sebuah kebersamaan pikiran. Figur seorang ayah memegang
peranan penting dalam mendidik dan mengarahkan anggota keluarga untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu yang dapat dibangun secara bersama-sama.
Santet-Kolektif dapat dipatahkan dengan cara menghancurkan kebersamaan anggota
dari dalam bila salah satu anggota atau anggota keluarga ada yang tidak kompak atau
tidak sejalan dengan pikiran yang lain maka itu setidaknya akan cukup menghambat
proses Santet-Kolektif yang sedang dibangun.
Santet-Kolektif bisa terjadi bila ada persetujuan bersama seperti bila Anda tinggal di
tengah suatu perkampungan di pedalaman dimana masih banyak orang yang iri dan
dengki bila melihat Anda turun dari mobil pribadi Anda. Atau bahkan saat Anda
keluar dari mobil sambil membawa belanjaan yang sangat banyak sekali jumlahnya
maka itu dapat memicu rasa dengki dan iri terhadap orang-orang yang melihat
atau yang ada di sekitar Anda. Dari perbuatan dengki dan iri tersebut akan membuat
orang yang dilihatnya akan menjadi terkena sebuah energi Santet-Kolektif yang dapat
68
membuat orang tersebut menjadi sama miskinnya dengan warga tersebut. Mereka
sangat mempengaruhi satu sama lain. Oleh sebab itu bila di suatu wilayah yang
masyarakatnya masih banyak yang miskin dan bodoh, maka rata-rata akan sangat sulit
untuk diajak menjadi jauh lebih maju, sama halnya dengan peribahasa yang
mengatakan, "Kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan".
Jadi bisa dipastikan bila suatu wilayah yang masih banyak orang miskinnya, pastilah
banyak orang-orang bodoh di tempat tersebut. Berada ditengah orang-orang bodoh
yang jumlahnya sangat banyak yaitu mereka akan saling mempengaruhi dan mudah
dihasut oleh orang lain untuk membuat kita sama miskinnya seperti mereka sebab
mereka sangat senang sekali melihat orang yang dibencinya menjadi menderita,
sebab dengannya mereka dapat merasa lebih baik dan itu sama saja dengan sebuah
indikasi kejiwaan yang sakit. Saran kami sebaiknya ada survei terlebih dahulu situasi
kondisi lingkungan kejiwaan masyarakat di sekitar tempat yang Anda berencana ingin
pindah ke tempat tersebut, apalagi bila Anda beserta pasangan Anda memutuskan
pindah ke suatu pedalaman dengan lingkungan sosial dan pola pikir masyarakatnya
yang bisa menyantet Anda sekeluarga—dan sekali lagi, inilah santet terberat yang
pernah menimpa kami.
Hal ini sama dengan pengaruh yang didapat dari orang-orang banyak yang ada di
sekitar kita hanya saja bedanya ada unsur penyakit iri dan dengki dari orang-orang
tersebut kumpulan tersebut pemakaian kekuatan pikiran secara bersama-sama
untuk melancarkan kampanye negatif, untuk menjatuhkan, menyakiti dan bahkan
menghancurkan Anda sekeluarga.
Mereka saling mendukung dan saling mengingatkan di antara sesamanya untuk terus
fokus pada orang yang dianggapnya sebagai pesaing atau lawan bersama tersebut.
Sementara mereka fokus menjatuhkan Anda secara bersama-sama dan kemudian
Anda lah yang lengah maka Anda akan segera celaka dalam hitungan hanya dalam
kurun 2-3 tahun saja Anda tinggal di tempat tersebut, sepositif apa pun energi yang
Anda pancarkan. Dan sepintar apa pun Anda mengabaikan serangan negatif mereka,
mereka hampir dapat dipastikan akan segera berhasil menyengsarakan Anda.
“Hurry, hurry! Get out off there! Santet-Kolektif ini sangat berbahaya bagi Anda,
pendatang baru di suatu lingkungan yang tidak mendukung Anda.”
Santet-Kolektif ini berlaku pula di dunia maya di setiap komunitas yang Anda masuki
termasuk di tempat Anda bekerja. Terkait dengan platform medsos yang Anda
gunakan, segeralah Anda cek kualitas pertemanan di media sosial yang Anda
gandrungi sekarang, jika lebih banyak yang tidak Anda kenal, atau bahkan lebih
banyak yang tidak menyukai Anda dibandingkan teman medsos yang menyukai Anda,
maka sebaiknya Anda segera out dari situ selamanya—Lihat juga Santet Ain. Dan bila
Anda tidak betah di sebuah lingkungan kerja tertentu, segeralah cari tempat lain,
carilah perusahaan lain, sebab Anda tidak akan berhasil di tempat tersebut.
Doa Berlindung dari Mereka yang Zhalim
“Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.”—(QS. Al-
Qashash (28): 21).
69
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang
zhalim itu.”—(QS. Al-Araf (7): 47).
“Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat
kerusakan itu.”—(QS. Al-Ankabut (29): 30).
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang
zalim.”—QS. Yunus (10): 85)
Santet ‘Ain (Pengaruh Mata Jahat) Para Pengiri, bahkan Para Pengagum
“Berlindunglah kalian kepada Allah Ta’ala dari ‘ain sebab sesungguhnya ‘ain itu
haq (benar).”—Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3508) dan al-Hakim (IV/215) dari
Aiyah ra.
“’Ain itu benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qadar, maka
akan didahului oleh ‘Ain. jika kamu diminta untuk mandi maka mandilah.”—
Shahih: HR. Muslim (no. 2188) dari Ibnu Abbas ra.
“Kebanyakan yang wafat dari umatku setelah (adanya) qadha dan qadar yaitu
dengan sebab ‘ain.”—Hasan: HR. Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 1868), al-Bazzar
(no. 3052), Ibnu Abi Ashim dalam as-Summah (no. 311) dan ath-Thahawi dalam
Syarh Musykilil Atsar (VII/338, no. 2900).
Penyakit ‘ain yaitu penyakit baik pada badan maupun jiwa yang disebabkan oleh
pandangan—pengaruh jahat—mata baik dari orang yang dengki maupun kagum,
sehingga dimanfaatkan oleh setan dan bisa memicu bahaya bagi orang yang
terkena.
“Dikatakan bahwa Fulan terkena ‘Ain, yaitu jika musuh atau orang-orang dengki
memandangnya lalu pandangan mata itu MEMPENGARUHINYA sehingga
menyebabkannya jatuh sakit.”—Ibnul Atsir
“Jiwa orang yang menjadi pemicu ‘Ain bisa saja memicu penyakit ‘Ain tanpa
harus dengan MELIHAT. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan
tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa memicu penyakit ‘Ain, meskipun dia
tidak melihatnya. Ada banyak pemicu ‘Ain yang bisa menyebabkan penyakit,
termasuk hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung—kekuatan visualisasi.”—
Zadul Ma’ad 4/149
“Oleh sebab itu, jelaslah bahwa pemicu ‘Ain bisa terjadi saat melihat gambar
seseorang atau melalui TV, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian
orang itu terkena ‘Ain. Kita mohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah.”—
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
Pengobatan akibat terkena ‘ain terdiri dari beberapa bagian:
Upaya sebelum Terkena ‘Ain
70
Kami langsung saja, hati-hati bermedia sosial, memberitakan pada dunia setiap seluk
beluk kehidupan kita. Tambah banyak yang Anda buka pada dunia, tambah rentan
Anda terhadap jenis kejahatan ini. “Get off Social Media!” Demikian kata Syeikh
Hamza Yusuf Hanson. “Be carefull with social media,” kata mufty Menk Ismail. Ini
sangat serius, saat kita berlomba-lomba menunjukkan pada dunia, segala
“keberhasilan” kita, maka mata dunia akan tertuju pada kita, dan pengaruh jahatnya
bisa mempengaruhi kita. Kurangi update sosmed, dan perbanyak doa dan dzikir dan
ta’awwudz yang disyariatkan, untuk membentengi diri dari bahaya ‘Ain. Dan Santet
jenis ini juga telah menimpa kami.
Dilihat dari akibat yang Ingin Ditimbulkannya.
Relationship (percintaan, persaudaraan, posisi di tengah masyarakat)
Jenis Santet dengan tujuan untuk memisahkan hubungan suami istri yaitu santet atau
sihir tertua di muka bumi ini. Pelakunya bisa jenis santet oleh sesama manusia,
sebagaimana yang telah kita bahas di atas, atau melewati sebuah ritual yang diajarkan
setan dan melalui tangan-tangan setan—the devil’s owns hands. Demikian pula untuk
tujuan memisahka hubungan persaudaraan, seperti dijelaskan dalam QS. Yusuf, di
mana Nabi Yusuf as. mengatakan bahwa setan telah berada di antara beliau dan
saudara-saudaranya. Atau dilakukan melalui ritual mastermind sebagai upaya Santet-
Kolektif, dalam upaya untuk menyingkirkan seseorang.
Kesehatan, Fungsi Sistem Utama dalam Tubuh.
Santet yang ditujukan untuk membunuh atau membuat sakit seseorang, santet yang
dilakukan terhadap Nabi Muhammad saw. masuk ke dalam jenis peruntukkan yang
ini. Namun kabar paling mengerikannya yaitu , juru santetnya kemungkinan besar
yaitu diri kita sendiri, dibanding orang atau pihak lain—silahkan lihat pada bagian
10 artikel ini. Baiknya sebelum berburuk sangka pada jin, setan demit, kaum pendengki
lainnya lebih baik Anda mengeceknya terlebih dahulu di bagian 10, siapa tahu Anda
juga yaitu seorang Penzalim Diri Sendiri, tanpa Anda sadari tentunya.
Harta, Rezeki atau Keuangan—The Tools
Santet bisa mempengaruhi apa yang ada di dalam kehidupan kita, termasuk harta
benda yang kita miliki, rezeki yang kita peroleh dan keuangan kita untuk menjalani
kehidupan kita sehari-hari. Tanpa kita sadari, bahkan mungkin ini pernah terjadi pada
diri Anda juga dan efeknya lebih sering menghancurkan harta benda kita mau pun
orang lain. Semua ini masih berkaitan erat dengan hukum-hukum alam atau
sunatullah—kebiasaan-kebiasaan Allah—yang berlaku di dunia ini, tempat kita hidup
saat ini—Planet Bumi pada dimensi ruang dan waktu kita.
Ternyata santet tidak lain timbul dari keinginan-keinginan orang lain yang tidak
terpenuhi, sehingga timbul keinginan untuk merebut dan mengambil alih dengan
segala bentuk cara, terpicu dari rasa iri dan dengki dan beranggapan bahwa Allah
memiliki keterbatasan sehingga ia merasa tidak kebagian rezeki dari Tuhannya Yang
Mahakaya dan Mahaluas Rahmat-Nya. Padahal kekayaan pun ada ilmunya yang dapat
membuat orang tersebut menjadi kaya dan sejahtera dengan cara yang halal.
71
Keengganan mempelajari ilmu-ilmu kekayaan inilah yang membuat orang itu menjadi
miskin dan menyalahkan orang lain, bahkan Tuhannya atas kemiskinannya itu.
Padahal kemiskinan yang ia alami tersebut disebabkan oleh kemalasan untuk belajar
dan menggali potensi yang ada di dalam dirinya tersebut—atau kemiskinan itu
memang telah tersurat pada kisah hidup Anda sebagai sebuah cobaan, terlepas dari
apa pun yang telah Anda usahakan untuk menghindarinya, jika ini pun yang terjadi
pada seseorang, maka kabar baiknya yaitu : Tuhannya telah mencintainya.
Dunia yaitu hanya sebagai tempat bersenda gurau belaka, demikian kata sang
Penciptanya. Sebuah arena dimana segala ujian Tuhan menghantam. Tuhan ingin
melihat segala usaha kita—setidaknya di pada tingkatkan segala niat kita—dalam
mencapai tingkat keimanan terbaik kepada-Nya, melalui segala ujian dan cobaan itu.
Tentu saja ujian tersebut salah satunya yaitu dengan ujian kekurangan atas rezeki
dan harta benda. Ditambah lagi dengan adanya setan dan bala tentaranya untuk
senantiasa, menanamkan rasa takut akan kekurangan dan kemiskinan agar manusia
menjadi keji, dan menghalalkan segala cara, sebab mungkin itu telah menyentuh rasa
frustasi. Orang-orang yang tanpa sadar memiliki iman yang lemah, akan mudah sekali
terhasut oleh mereka—setan dari kalangan jin dan manusia. Mereka yang lemah iman
akan mudah sekali termakan gossip, mempercayai segala fitnah yang disebarkan oleh
mereka yang bermaksud tersembunyi, terpancing untuk ikut menzalimi sesama
muslim, hanya sebab hasutan.
Permasalahan di dunia ini, dari dulu hingga sekarang, yaitu banyaknya orang yang
malas untuk berusaha, baik itu usaha dalam mengembangkan potensi yang ada dalam
dirinya, maupun usaha dalam pengertian bergerak menjemput rezeki yang sudah
disiapkan Allah untuknya. Kemalasan yang timbul membuat orang tersebut memiliki
banyak kekurangan dan ketertinggalan. Mereka tidak percaya pada adanya sebuah
proses yang berasal dari ketekunan. Mereka terlalu sibuk dengan, “Apa yang bisa
saya dapat SAAT INI?”—immediate gratification. Sehingga mereka tidak
meluangkan waktu untuk berinvestasi sebagai upaya mengamankan penghasilan
dalam jangka panjang. Orang-orang miskin terlalu fokus pada menghasilkan uang
dalam jumlah besar, mereka tidak pernah terpikir untuk menginvestasikan uang,
tenaga, pikiran dan waktu mereka demi mengubah nasibnya menjadi lebih baik, dan
mau bersusah payah terlebih dahulu untuk hasil terbaik.
Ketidaktahuan dan kemalasan mereka membuat mereka miskin. Kemiskinan yang
mereka derita menyebabkan timbulnya benih perasaan iri dan dengki terhadap apa
yang mereka lihat sebagai keberhasilan orang lain. Mereka telah tergoda oleh bisikan
setan, tidak akan pernah terpikir untuk mau bertanya kepada mereka yang memiliki
posisi lebih baik dalam urusan memelihara harta dengan cara yang halal. Mereka
cenderung menuduh orang-orang kaya dengan berbagai tuduhan. Seperti, hasil
kekayaan mereka itu didapat dari tumbal yang dipersembahkan kepada setan, hasil
korupsi, jual narkoba, bahkan tuduhan paling tidak beralasan, seperti orang yang
mereka anggap lebih berhasil itu, disebab kan ia yaitu Agen Yahudi.
Hal ini pernah kami alami selama berdua tinggal di pedalaman Banten Selatan,
dimana kami pindah ke sebuah perkampungan yang mayoritas masyarakatnya masih
hidup di bawah garis kemiskinan. Awalnya kami berpikir positif dan berniat
membantu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar rumah kami—
72
terutama di bidang pendidikan dengan mendirikan sebuah yayasan pendidikan di
sana.
Namun ada pihak-pihak berkuasa yang tidak menginginkan kami berada di sana, ikut
membangun warga masyarakat. Akhirnya serangkaian fitnah bertebaran tentang kami,
agar kami dibenci warga. Meskipun kami berperan aktif membantu kesejahteraan
warga, namun pihak-pihak elit yang berkuasa di kampung itu, di desa itu, di
kecamatan itu, dan akhirnya di kabupaten itu, semakin menjadi-jadi dalam
memojokkan kami, dan menyusun serangkaian usaha untuk menyingkirkan kami dari
tempat tinggal kami. Apalagi setelah kami berhasil beberapa kali memberi
pengertian dan berhasil membatalkan demo warga ke rumah kami, warga yang
terkena hasutan. Kami awalnya dikenal sebagai orang pinter yang pada akhirnya
terpaksa harus vokal setelah beberapa kali melihat penyimpangan, seperti
menjelaskan tentang efek dari lirik solawatan yang harusnya berisi puji-pujian
terhadap Nabi saw. namun isinya malah berisi propaganda mereka yang mengaku
“alim ulama” dan memegang kekuasaan di sekitar situ, yang bermaksud untuk
mempengaruhi warga agar menuruti keinginan mereka tanpa lagi harus pemakaian
akal sehat.
Kami sangat menyadari, bahwa risiko tinggal ditengah-tengah perkampungan yang
masyarakatnya masih miskin, dimiskinkan akan cepat atau lambat, membuat kami
pun terkena santet mastermind, sampai harta benda kami habis mereka hancurkan,
mereka rusak, mereka ambil, dan saya pun divonis pengadilan yang tidak adil itu, dan
saat artikel ini diterbitkan pun saya masih terkriminalisasi berada di dalam penjara,
hanya sebab alasan-alasan politis.
Kerusakan atau kehilangan alat-alat atau penunjang kehidupan yang terjadi pada diri
kita juga merupakan efek dari apa yang kita lakukan atau efek dari menzalimi diri
sendiri dan orang lain—hakikatnya menzalimi orang lain juga menzalimi diri sendiri
(ini yaitu benang merah dalam artikel ini). Alat-alat penunjang ini kami bagi dalam
beberapa kategori, sebagai berikut—silahkan Anda cek sendiri, apa yang terjadi pada
Anda sekeluarga terkait dengan hal-hal di bawah ini:
Pakaian
1. Baju/celana sobek: merasa kurang bisa bergerak dengan leluasa di dalam
lingkungan hidupnya, ada teman yang selalu membuat dia gelisah.
2. Baju/celana hilang: kurang peduli pada kebutuhan penampilan untuk tampil di
depan pasangan, kurangnya komunikasi dengan pasangan.
3. Warna pakaian luntur: tidak dapat mengendalikan perasaan atau emosi
pasangan dengan baik, kurangnya perasaan cinta pada pasangan.
4. Pakaian menciut menjadi kecil: merasa dikucilkan atau dipandang rendah.
5. Tidak muat dipakai: susah untuk melangkah ke masa depan, masih teringat
pada masa lalu.
6. Sepatu jebol: Ingin bebas melangkah kemana saja.
73
7. Sendal hilang: Perasaan mati langkah, kehilangan kebebasan.
8. Sendal putus: Kurang yakin dalam menjalani kehidupan.
Aksesoris
1. Jam tangan selalu telat: merasa selalu kekurangan waktu, waktu yang
dihabiskan untuk hal yang kurang bermanfaat. “Demi masa, sesungguhnya
manusia berada dalam kerugian.”
2. Jam tangan selalu lebih cepat: malas menjalani kehidupan sehari-hari, merasa
bosan dalam kehidupan yang sekarang—atau Anda telah tersedot masuk ke
dalam dimensi ruang dan waktu yang lain, bukan di tempat Anda berada
seharusnya—lihat di bagian 2 artikel ini, tentang al-Quran dan Rembulan.
3. Jam tangan selalu mati: tidak punya progres dalam kehidupan, bersikap
bermalas-malasan.
4. Kacamata pecah: Tidak ingin melihat sebuah kenyataan pahit, ingin lari dari
kenyataan.
5. Anting-anting hilang: Tidak mau mendengar nasihat yang baik.
6. Kalung putus: Perasaan terhimpit dan sesak oleh keadaan.
7. Peralatan make-up hilang: Merasa tidak butuh penampilan yang menarik.
8. Kalung hilang: Kebutuhan untuk dikekang oleh seseorang, atau pihak lain.
9. Gelang putus: Keinginan lepas dari belenggu yang selaman ini mengikat
kebebasannya.
Alat Komunikasi
1. HP rusak: kurangnya komunikasi yang baik dengan pasangan atau dengan
anggota keluarga inti.
2. HP hilang: merasa kurang waktu dalam berkomunikasi dengan pasangan.
3. Layar HP buram: hidup yang suram dan tak ingin melihat penderitaan yang
dirasakan oleh pasangan atau keluarga.
4. Sinyal yang kurang: merasa jauh dari keluarga dan merasa diasingkan.
5. Baterai HP yang cepat lemah: merasa kurang berdaya dalam membiayai orang
yang dicintai mau pun dirinya sendiri.
6. HP jadul: merasa kurang siap dengan banyaknya perubahan baru dalam
hidupnya.
7. Tombol huruf yang lepas pada HP: kurangnya pendidikan dan lebih
mengandalkan HP nya untuk menelepon dibandingkan mengetik sms.
8. Suara yang kurang jelas: bosan mendengar suara lawan bicara, kurang diberi
kesempatan untuk berbicara.
Kendaraan Bermotor
1. Ban kempes: malas menuju ke suatu tempat, tujuan yang tidak pasti,
kurangnya bekal uang untuk memenuhi kebutuhan saat sampai di tempat yang
dituju.
2. Lampu kendaraan bermasalah: merasa tidak mendapat petunjuk saat di tengah
jalan.
74
3. AC bermasalah: tidak ada yang memahami masalahnya, tidak ada yang
mampu meredam rasa kesalnya.
4. Wiper kaca bermasalah: kurang bisa memahami masalah yang sebenarnya,
kurang jernh dalam melihat maksud dan tujuan seseorang.
5. Kaca spion bermasalah: kurang peduli pada lingkungan sekitar, tidak ingin
mengikuti aturan, kurang belajar dari masa lalu.
6. Rem bermasalah: tidak dapat mengendalikan perasaan atau emosi, suka
melanggar peraturan dan norma agama, tidak tahu kapan waktunya harus
berhenti untuk merenung dan merencanakan masa depan.
7. Perseneling/gigi bermasalah: merasa kesulitan bergerak dalam hidup, sulit
untuk pindah dari masalah yang ada dalam hidup.
8. Bensin boros: kurang pandai mengatur keuangan.
9. Tempat duduk yang tidak nyaman: menandakan posisi yang kurang enak di
dalam pekerjaannya dan kurang nyaman dalam lingkungan bertetangga.
10. Body kendaraan berkarat: kurang bisa melindungi yang dicintainya, merasa
dirinya semakin tua, merasa tertinggal jauh oleh para pesaing dalam hidupnya.
11. Body kendaraan lecet: hati yang tersinggung, merasa berat dalam
kehidupannya sehari-hari, merasa ada lawan yang harus segera disingkirkan,
atau ada lawan yang sedang berusaha menyingkirkannya.
Tempat Tinggal/Rumah
1. Genteng bocor: merasa kurang mendapat perlindungan dari orang kuat.
2. Gagang pintu rusak: merasa tidak mampu memperbaiki bagian rumah yang
rusak atau rumah yang dalam pemeliharaan orang lain/dipegang orang lain.
3. Kaca jendela pecah/retak: kurang mau melihat lingkungan sekitar, malas
bersosialisasi.
4. Selokan mampet: kurang lancarnya pemasukan keuangan dalam rumah
tangga.
5. Ruang pengap/kurang aliran udara: merasa terkurung oleh suatu keadaan,
tidak bebas di dalam rumah itu sendiri.
6. Tempat tidur kurang nyaman: kurang mengedepankan hubungan seksual
dengan pasangan.
7. Rumah kemalingan: tidak peduli pada apa yang terjadi dengan rumah tangga.
8. Sofa tamu rusak: tidak ingin dikunjungi orang lain, tidak ingin tamu datang ke
rumah.
9. TV rusak: bosan dengan hiburan yang ada di rumah, ingin berlibur ke luar.
10. Cat rumah terkelupas atau kusam: kurang ceria dalam menjalani kehidupan.
Bagian 7: Faktor-Faktor Pendukung Terjadinya Santet
Santet apa pun itu jenis dan peruntukannya, hakikatnya yaitu merupakan sebentuk
cobaan dari Yang Mahakuasa, cobaan dalam menyikapinya saat itu terjadi pada kita
dan cobaan apakah kita bersedia mempelajarinya agar kita bisa terhindar darinya,
salah satu upaya untuk menghindari efek negatif dari segala sesuatu yaitu dengan
mempelajari dan mendalami sesuatu itu. Kami juga berencana untuk menulis artikel
bertajuk, “Kitab Setan” dan “Kitab”, untuk mendalami apa itu Setan dan Dajjal,
siapa saja golongan mereka, apa motif mereka, kekuatan dan kelemahan mereka. Oh
tentu saja, bukannya Setan yaitu musuh yang nyata? Dan bukannya Dajjal yaitu
75
fitnah terdahsyat? Bagaimana kita bisa lalai mempelajari kedua musuh—besar—dan
terbesar kita selama ini? Sebagaimana digambarkan oleh Rosul Muhammad saw.
tercinta bahwa fitnah/kejahatan Dajjal bahkan lebih dahsyat dibandingkan Setan,
bagaimana kita selama ini telah lalai untuk benar-benar mendalami siapa dia dan
mekanisme dia bekerja?
Dia menawarkan dua hal pada kita, api-nya dan air-nya, dan jika kita sudah dikaruniai
kemampuan melihat hakikatnya, maka mau tak mau terpaksa kami telah memilih ...
api-nya, dengan mengkritik dan berusaha memperbaiki sistem pendidikan yang
dajallic itu, apa pun risikonya, seperti kami pun kemudian ditangkap, didakwa dan
dihukum dengan tidak adil. Doakan ya Pembaca yang mulia, kami diberikan, umur,
waktu dan ilham untuk menulis dan menyajikannya—Kitab Dajjal—bagi Anda.
Izin Allah—The Theory of Everything—Takdir yang Telah Tertulis bagi kita.
Sebagaimana yang telah kita bahas panjang lebar di Bagian 2 artikel ini, terkait Karma
dan Takdir, maka faktor utama terjadinya santet pada kita yaitu sebab itu
merupakan bagian dari takdir yang kita harus jalani, dan telah tertulis di artikel takdir
kita, dan kita tidak dapat menghindarinya, apa pun yang kita lakukan untuk berusaha
menghindarinya, jika itu memang telah tertulis akan terjadi. Sebuah takdir yang
menurut nafs kita buruk, namun itu pasti yang terbaik untuk terjadi pada kita, jika kita
mengimani pada adanya takdir baik dan takdir buruk.
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah;
dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk
kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”—QS. At-Taghabun:
11.
Izin Allah terhadap Iblis
Jin yang jahat, termasuk iblis, diberi IZIN dan POTENSI oleh Allah untuk
menghasut, menyesatkan, memimpin dan mencelakakan manusia yang lemah iman
dan yang tidak beriman—dan menginginkan 3 hal: power, wealth, freedom
(kebebasan dari ketaatan pada Tuhan/berbagai jenis kedurhakaan) via Iblis.
Iblis berkata: “Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba-Mu yang saleh.”–QS. Shad 82-83.
“Hai, putra-putri Adam, janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia
telah mengeluarkan kedua ibu bapak kamu dari surga, ia mencabut dari keduanya
pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya sau’at mereka berdua.
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan
itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”— QS. Al-A’raf 27
“Bukanlah Aku telah wasiatkan kepadamu wahai putra-putri Adam bahwa janganlah
menyembah setan? Sesungguhnya setan yaitu musuh yang nyata bagi kamu dan
bahwa sembahlah Aku. Inilah jalan lebar yang lurus.”—QS. Yasin (36):60-61
76
Sejak jaman dulu—yang paling terkenal Kerajaan kuno Babilonia, sekarang secara
geografis terletak di wilayah antara Syria dan Irak, bahkan di reruntuhannya di kota
kuno Palmyra terdapat gerbang multidimensi Ba’al, salah satu sebutan bagi iblis yang
dipertuhankan—setan dipercaya oleh banyak orang sebagai sesuatu yang wujud
dengan kekuatan yang sangat besar menyamai atau menandingi Tuhan, bahkan
sampai sekarang masih ada/banyak yang memujanya—upacara ritual pemujaan
biasanya dilakukan dengan adanya simbol-simbol tertentu, model busana tertentu,
dilakukan di atas sebuah altar pemujaan, berbagai bentuk
persembahan/pewadalan/korban/darah, api, pembakaran berbagai jenis
substance/zat/bahkan makhluk hidup, bahkan anak-anak, nyanyian mantra pemujaan,
dan tarian—Setan yang dipertuhankan memiliki banyak sekali sebutan, termasuk di
antaranya Ba’al, Baphomet, Lucifer the morning star/the falling angel dengan icon
halilintar sebagai simbolnya. Dan nama-nama lainnya tergantung kebudayaan di
setiap tempat di seluruh dunia, namun apa pun nama dan simbol perwujudannya,
semuanya memiliki sebuah kesamaan mata rantai yang menyimbolkan iblis dan bala
tentaranya.
Walaupun para pemuja setan bermacam-macam—mereka ini termasuk juga di
antaranya para pemimpin/politisi, pengusaha, para entertainer/aktor/pembuat
film/penyanyi/pemusik/penulis dan para scientist/ilmuwan/technocrat kelas nasional
di negaranya masing-masing dan dunia, jika Anda mulai membuka mata batin, Anda
pasti bisa melihat siapa saja mereka, sebab mereka selalu memberitahu pada kita
dengan cara mereka, in a plain sight—pada dasarnya mereka dapat disatukan dalam
kepercayaan tentang adanya kekuatan/power yang aktif selain dari kekuatan dan
kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa ada
pertarungan antara apa yang mereka namakan kekuatan langit/Tuhan dan kekuatan
bumi/setan. Pertempuran antara keduanya berlangsung seru, sekali ini yang menang
dan sekali itu yang menang.
Dalam pandangan agama Islam, antara lain melalui ayat-ayat di atas, setan tidak
memiliki kekuasaan yang bersumber dari dirinya sendiri sedikit pun. Ia hanya
dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk merayu dan menggoda, itu pun terhadap
mereka yang oleh salah satu ayat di atas diistilahkan dengan mereka yang tidak
beriman. Secara tegas, al-Quran menyatakan, “Sesungguhnya ia (setan) tidak
memiliki kekuasaan atas otang-orang yang beriman dan bertawakal kepada
Tuhannya.”(QS. An-Nahl (16):99).
“Dan HASUTLAH siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu,
dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan
kaki dan BERSERIKATLAH dengan mereka pada harta dan anak-anak serta BERI
JANJILAH mereka. Tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan
belaka.”—QS. Al-Isra 64
Dalam kaitannya dengan santet bantuan gaib/jin/setan, yaitu santet yang dilakukan
oleh para pemuja/pengikut setan, dengan melakukan berbagai jenis ritual sihir, demi
memperoleh kekuatan melalui mereka untuk mencelakai/mengenyahkan pihak-pihak
yang dianggap musuh. Ritual-ritual tersebut menandakan segala jenis
abomination/kedurhakaan terhadap larangan-larangan Tuhan, sekaligus sebagai
pernyataan kebebasan/freedom dari aturan Tuhan yang mengikat umat manusia.
Sementara itu, kebebasan bagi orang-orang yang beriman, yaitu keberserahan diri
77
secara total/bertawakal terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun segala jenis
hasutan/bisikan yang menyirami bibit kedengkian dalam hati manusia, sehingga ia
tergerak untuk menyakiti sesama manusia tanpa dasar yang dibolehkan/qishash
yaitu pada hakikatnya berasal dari setan.
Hakikat Iblis
Pada suatu masa, saat manusia belum diciptakan, Iblis memiliki derajat kedekatan
dengan Rabb-nya sekelas dengan derahat kedekatan para malaikat. Ia pun turut
dihadirkan saat Tuhan Yang Maha Menciptakan mengumpulkan para malaikat
untuk mengumumkan bahwa manusia akan diciptakan untuk dijadikan khalifah di
muka bumi. Sementara malaikat pun dengan penuh keheranan kemudian
memberanikan diri untuk bertanya, kenapa makhluk seperti jin—menurut sementara
ulama, sebelum manusia telah diciptakan bangsa jin yang dipercaya menjadi semacam
khalifah di muka bumi dan mereka ternyata malah membuat kekacauan dan
pertumpahan darah di muka bumi—diberikan sebuah posisi yang sangat istimewa itu.
Namun, Iblis diam saja, dia tidak mengatakan apa-apa dalam pertemuan itu, sebuah
pertemuan penting tentang awal mula kisah umat manusia.
Dia diam, tapi ternyata bukan sebab dia tidak memiliki semacam keberatan, dia diam
sebab karakteristiknya yang menyimpan kekecewaan dan kemarahan di dalam hati,
bagaikan api dalam sekam yang akan memicu perasaan dendam yang
membakar, ternyata itulah yang kemudian terjadi, dia diam saja, namun dia ternyata
teramat sangat cemburu. Kenapa Adam? Kenapa manusia? Kenapa menciptakan
sesuatu yang baru? Kenapa bukan dia? Kenapa? Sekedar perumpamaan, bayangkan
saat Anda sedang menanti sebuah promosi di kantor tempat Anda bekerja selama
bertahun-tahun, dan saat saatnya hampir tiba, seorang karyawan baru di angkat
perusahaan untuk menduduki sebuah jabatan yang Anda impikan selama ini.
Jika Anda bersikap diam namun kemudian timbul kebencian, Anda dan saya kini tahu
darimana sikap ini berasal—disalip ditikungan, kita lebih baik bersikap seperti
malaikat, bertanya kemudian berargumen, kemudian menerimanya dengan lapang.
Permasalahannya bahkan perumpamaan di atas tidak terlalu tepat sebenarnya, sebab
waktu itu Iblis telah memiliki sebuah kedudukan yang tinggi, dan dia tidak akan
kehilangan posisi itu meskipun manusia/Adam diberi kedudukan tinggi yang lainnya
juga. Jika kita, tidak ingin melihat orang lain sukses, sesukses kita, kita kini juga tahu
darimana sikap ini berasal. Dalam keinginan meluluhlantakkan orang lain,
menghancurkan mereka, tanpa motivasi selain tidak ingin melihat orang lain sukses—
tentunya berbeda dengan konsep qishas—seperti dengan melakukan aktivitas-
aktivitas bersifat menyantet, kini kita juga tahu darimana sikap ini pun berasal.
Menyantet biasanya dengan cara diam-diam menghancurkan, menghunjam dari
belakang, tanpa kata, tanpa argumen, tanpa penjelasan, “Saya benci saja melihat dia
berhasil”, kini Anda tahu hakikat perilaku ini yaitu perilaku Iblis.
Logika iblis, sungguh materialistis:
“Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau
menciptakannya dari tanah.”—QS. Al-A’raf 12
78
“(Ingatlah) saat Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada
Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia yaitu dari golongan jin maka ia
mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil DIA dan TURUNAN-
TURUNANNYA pemimpin selain dari-Ku, sedang MEREKA yaitu MUSUHMU?
Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.”—
QS. al-Kahfi 50
Telah dikisahkan dalam banyak ayat dalam kitab suci al-Quran, tentang penolakan
Iblis terhadap perintah Allah swt. untuk bersujud kepada Adam. Menurut ayat di atas
dan QS. Al-Kahf 50, ia yaitu sejenis jin, “Iblis (enggan sujud). Dia yaitu dari
golongan jin. sebab karakteristik malaikat tidak mungkin tidak patuh pada perintah
Allah.
Karakteristik Jin
Mari kita bahas beberapa karakteristik jin dari berbagai sumber yang bisa kita
temukan, sekedar untuk refreshing ....
1. Makhluk ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan ciri manusia dan
manusia tidak dapat melihatnya, namun mereka bisa melihat kita:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat
yang kamu tidak bisa melihat mereka.”—QS. Al-A’raf 27.
2. Makhluk ini DAPAT hidup di planet Bumi, namun al-Qur’an tidak
menjelaskannya di bagian yang mana. Ini tercermin dari perintah Allah
kepadanya saat Dia mengusirnya bersama Adam dari surga: “Turunlah
kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada
tempat kediaman di Bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang
ditentukan.”–QS. Al-Baqarah 36.
3. Mereka memiliki KEMAMPUAN melaksanakan pekerjaan-pekerjaan
berat, seperti apa yang mereka lakukan untuk Nabi Sulaiman as.: “Dan
sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaan
Sulaiman) dengan izin Tuhannya.”–QS. Saba 12.
4. Mereka juga memiliki kemampuan menjelajah ke luar Planet Bumi
berdasarkan ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui
(rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang
kuat dan panah-panah api. Sesungguhnya, kami dahulu dapat duduk di
beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).
Tetapi, sekarang siapa yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu) tentu akan
menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”—QS. Al-Jin 8-
9.
5. Tidak semua mereka itu jahat atau membangkang perintah Allah:
“Sesungguhnya, di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. yaitu
kami menempuh jalan yang berbeda-beda.”—QS. Al-Jinn 13.
6. Mereka memiliki kemampuan memahami bahasa manusia, terbukti dari
kemampuan mereka mendengar dan memahami al-Qur’an. Mereka berkata:
“Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan,
(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman
kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun
dengan Tuhan kami.”—QS. Al-Jinn 1-2.
7. Sabda Nabi saw: “Jin ada tiga macam. Ada yang memiliki sayap terbang di
udara, ada yang berupa ular dan anjing, serta ada juga yang bermukim dan
berpindah-pindah.” Hadis yang dinilai sementara ulama ini SAHIH,
diriwayatkan oleh Imam as-Sayuthi (1445-1505), al-Hakim (w. 405 H).
Sebentuk Fitnah/Cobaan—Melibatkan Jin dalam Menyantet
Dan tentu saja, saat hakikat dari kegiatan santet menyantet sebab bersikap seperti
iblis, dan iblis yaitu golongan jin, maka santet dengan pemakaian jin—santet
sihir—yaitu sebuah praktik populer yang yaitu sebuah kenyataan dari keberadaan
jenis santet ini. Anda bisa meriset penamaan atas jenis santet ini dari berbagai kultur
yang ada di dunia, namun hakikatnya yaitu sama, dengan melakukan ritual-ritual
tertentu yang telah disetujui di antara kalangan manusia dan jin penyantet, bahkan ada
artikel -artikel yang ditulis khusus tentang sihir, kitab-kitab sihir jinny.
Apakah manusia dapat memanfaatkan atau memperalat jin, dalam melakukan sebuah
pekerjaan atau untuk mencapai tujuan tertentu, seperti MENYANTET orang?
Demikianlah pertanyaan yang kemudian muncul juga di sini. Kalau yang
memanfaatkan dan memperalatnya yaitu Nabi Sulaiman as., dengan merujuk pada
teks ayat-ayat al-Qur’an, antara lain berupa sebagian jin yang ditundukkan untuk
bekerja kepada beliau. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa jin yang membangkang
perintah Allah untuk tunduk kepada Nabi Sulaiman, akan disiksa-Nya (QS. Shaad
12). Kalau kita berpendapat bahwa para Nabi dapat menguasai dan memperalat jin,
apakah manusia bisa melakukannya juga?
Dalam uraian al-Qur’an—selain Nabi Sulaiman as—tidak ditemukan satu ayat pun
yang berbicara tentang penundukan manusia terhadap jin, atau kemampuan
manusia biasa memperalat mereka. Ayat-ayat yang berbicara tentang hubungan Nabi
Sulaiman dengan jin pun hanya menyatakan: “Dan DIHIMPUNKAN untuk Sulaiman
tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam
barusan).”—QS. An-Naml 17, atau: “Sebagian jin ada yang bekerja di hadapannya
(di bawah kekuasaannya) dengan IZIN Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di
antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang
apinya menyala-nyala.”—QS. Saba’ 12. Tidak terdapat dalam ayat-ayat itu isyarat
tentang penundukan dan pemanfaatan potensi jin—namun ini hanya interpretasi dan
kesan.
Interpretasi yang menyatakan KEBALIKANNYA—bahwa manusia biasa juga bisa
memerintah jin—justru lebih banyak, antara lain yaitu BEBERAPA pendapat ulama
pakar tafsir, sbb:
“Yang HAQ yaitu penundukan jin yang pasti untuk Nabi Sulaiman as. bukan
melalui bacaan atau olah jiwa, tetapi penundukan Ilahi TANPA PERANTARA—
laduni— sesuatu, serta dalam bentuk yang sangat sempurna, disamping hal itu
merupakan sebagian dari kerajaan yang dimohonkannya. Kelihatannya, kita tidak
bisa mengafirkan—mendustakan—siapa yang MENGAKU pemakaian jin,
bahkan kami berkali-kali, telah melihat mereka yang mengaku pemakaian jin dan
kami pun melihat bukti-bukti kebenaran ucapannya dalam bentuk yang tidak dapat
diingkari, kecuali oleh mereka yang bersilat lidah dan kepala batu.”—Syihabuddin
Mahmud al-Alusi, pakar tafsir dari Bagdad (1802-1854).
Ibn Timiyah membagi manusia yang mampu memerintah jin pada tiga tingkat:
1. Memerintah jin sesuai dengan yang diperintahkan Allah, yakni beribadah
hanya kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Siapa yang melakukan ini, ia
termasuk wali Allah yang paling utama.
2. Memanfaatkan jin untuk tujuan-tujuan mubah—bukan yang dilarang, bukan
pula yang dianjurkan agama—sambil memerintahnya melaksanakan
kewajiban dan menghindari larangan Allah. Orang seperti ini bagaikan raja.
Kalau pun ia termasuk wali Allah, peringkatnya di bawah peringkat pertama.
3. pemakaian jin untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya,
seperti syirik dan membunuh—SANTET sihir, atau kedurhakaan lain.
Sebenarnya, yang melakukan hal itulah MALAH yang tertipu oleh setan—
menjadi pengikut iblis/walinya iblis.
Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, seorang ulama al-Azhar kontemporer
yang sangat populer (w.1998), berpendapat bahwa Allah swt. dengan kodrat-Nya
mampu menjadikan jenis makhluk yang rendah memperalat dan mengatasi jenis
makhluk yang tinggi. Di sini, menurutnya, bukan lagi persoalan unsur makhluk, tetapi
ia yaitu KEHENDAK PEMBERI UNSUR, yakni Allah swt. Yang Maha
Berkehendak.
Izin Allah pada Kita untuk Melakukan Pembalasan
Kita membahas ini tentunya, dalam kaitannya dengan konteks hukum syariat Islam,
yang dijelaskan dalam kitab Suci al-Quran:
• Jika Anda benar-benar secara sahih telah terzalimi, meskipun hikmah yang
Anda dapat dari kejadian penzaliman ini, luar biasa luas dan telah
meningkatkan derajat Anda di mata Tuhan.
• Dan Anda sangat menginginkan pembalasan demi ketenangan batin Anda
• Dan Allah membolehkan ini, agar kesewenang-wenangan bisa dihindari, dasar
hukum: QS. Al-Baqarah 2: 178-179.
“Hai orang-orang yang beriman, DIWAJIBKAN atas kamu QISHASH, berkenaan
dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba
dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu
pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara
baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf
dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu yaitu suatu keringanan dari Rabb-
mu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang MELAMPAUI BATAS sesudah itu, maka
81
baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam QISASH itu ada (JAMINAN
kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu
bertakwa.”—QS Al-Baqarah 178-179.
Hukum Qisash, menjamin kelangsungan hidup bagi jiwa manusia, sebab bila
seseorang tahu akan dibunuh secara qishash jika ia membunuh orang lain,
tentulah bila ia berakal, maka ia tidak akan membunuh dan akan menahan diri
dari meremehkan pembunuhan.
Qishash berasal dari Bahasa Arab yang berarti mencari jejak, seperti al-
Qashaash. Sedangkan dalam istilah hukum Islam, berarti pelaku kejahatan
dibalas seperti perbuatannya, jika membunuh maka dibalas dengan
dibunuh dan jika memotong anggota tubuh maka dibalas dengan hal
serupa. Dapat disimpulkan Qishash yaitu melakukan pembalasan yang sama
atau serupa, seperti, “Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang harta dibayar
harta, hutang nama baik dibayar nama baik.”
• Dan Anda melakukan upaya dan doa dalam rangka pembalasan, dan upaya ini
yaitu dengan lewat perantaraan tangan kalian.
• Dan juga, Anda menghadapkan wajah dan jiwa Anda memohon hanya pada-
Nya, lewat doa dan munajat yang terus menerus, tanpa henti—sebab berdoa
yaitu ibadah.
• Dan Allah bisa mengabulkan ini—bisa juga ditangguhkan di akhirat—namun
satu yang pasti, setelah Anda melakukan segenap usahanya, maka jiwa Anda
akan lebih tenang, dibandingkan sebelum melakukan usaha pembalasan, dan yakin
bahwa keadilan akan ditegakkan secara sempurna di Hari Pembalasan.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah
diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh KEMENANGAN. Kehidupan
dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”— QS. Ali Imran 185
Hukum-Hukum Alam
Adanya serangkaian hukum-hukum alam yang telah ditemukan umat manusia, yang
telah mengarahkan kita kepada sebuah jalan yang kita tak mampu berbelok darinya,
termasuk jika pada beberapa titik di sepanjang jalan itu, ternyata Anda pun akan
mengalami kejadian-kejadian tersantet. Berikut kita akan bahas beberapa yang
menurut pendapat kami terkait dengan pembahasan utama dalam artikel ini—yaitu
santet. Mungkin sebagian hukum terkait santet, telah pula dibahas pada bagian lain
artikel ini, namun bagi yang belum kita bahas, kita akan bahas di sini, sbb:
Hukum Keberhakan/Kesahihan
Pengertian Deservability
Kehidupan ini hanya memberi kepada yang berhak, orang yang tidak berhak tidak
akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Anda tentu pernah meminjamkan barang
kepada seseorang yang sebenarnya Anda tahu bahwa ia tidak berhak atau belum
berhak pemakaian barang milik Anda itu, dan Anda tentu saja akhirnya ke




