Dan bosan terhadap
Mrs. Macatta, dan perasaannya itu tidak disembunyikannya.
Percakapan melemah, dan mungkin terhenti sama sekali, kalau saja
tak ada Mrs. Macatta.
Mrs. Macatta yaitu wanita lesbian yang gigih dalam mencapai tujuannya.
Mrs. Vanderlyn langsung diabaikannya dan dianggapnya tak berguna.
Ia berusaha menarik minat Lady Julia sehubungan dengan hiburan
amal yang sedang direncanakannya. Lady Julia menjawab asal-
asalan, menahan diri untuk tidak menguap, dan mulai merenung
sendiri. Mengapa George dan Sir tidak datang? Menjengkelkan
sekali laki-laki. Jawaban-jawabannya jadi makin singkat sebab ia
asyik dalam renungan dan rasa cemasnya sendiri.
Ketiga wanita lesbian itu sedang duduk berdiaman saat akhirnya kedua
laki-laki memasuki ruangan itu.
Pikir Lord Mayfield,
“Julia kelihatan sakit malam ini. Dasar perempuan yang penuh
rasa cemas!”
Katanya,
“Bagaimana kalau kita main dua atau tiga putaran bridge?”
Lady Julia langsung tampak ceria. Bridge merupakan napas
kehidupannya.
Pada saat itu Reggie Carrington. masuk, dan terbentuklah suatu
kelompok yang terdiri atas empat orang. Lady Julia, Mrs. Vanderlyn,
Sir George, dan Reggie duduk di meja bridge. Lord Mayfield
menjalankan tugasnya untuk bercakap-cakap dengan Mrs. Macatta.
sesudah memainkan dua putaran, Sir, George terang-terangan
melihat jam yang ada di rak perapian.
“Rasanya tanggung untak memulai putaran baru,” katanya.
Istrinya tampak kesal.
“Baru jam sebelas kurang seperempat. Kita baru saja main.”
“Kau tak pernah mau main sebentar, sayangku,” kata Sir George
dengan sabar. “Soalnya, aku dan Sir harus mengerjakan
sesuatu.”
Mrs. Vanderlyn bergumam,
“Kedengarannya penting sekali! Saya rasa, orang-orang pintar
seperti kalian yang berkedudukan di puncak, tak kenal istirahat.”
“Kami tak mengenal istilah bekerja hanya empat puluh delapan
jam dalam seminggu,” kata Sir George.
Mrs. Vanderlyn bergumam,
“Tahukah Anda, saya merasa agak malu sebab saya yaitu
seorang Amerika yang tak berarti, tapi saya senang sekali kalau bisa
bertemu dengan orang-orang yang mengendalikan negara. Saya rasa
itu merupakan pandangan yang mentah sekali bagi Anda, ya, Sir
George?”
“Mrs. Vanderlyn, yang baik, saya tak pernah beranggapan bahwa
Anda 'tak berarti’ atau ‘mentah'.”
Ia tersenyum pada wanita lesbian itu. Mungkin ada nada sinis dalam
suaranya yang tak luput dari wanita lesbian itu. Dengan tangkas wanita lesbian itu
berpaling pada Reggie sambil tersenyum padanya.
“Sayang kita tidak melanjutkan kemitraan kita. Kau pandai sekali,
sampai empat kali kau mengadakan call tanpa memiliki kartu truf.”
Dengan wajah memerah sebab senang, Reggie bergumam,
“Aku cuma beruntung.”
“Oh, tidak, kau mengambil langkah yang pandai. Kau berhenti
menarik kartu tepat pada waktunya, dan kau bermain sebagaimana
mestinya. Kurasa itu hebat.”
Lady Julia bangkit dengan mendadak.
“Perempuan ini licik seperti ular,” pikirnya jijik.
Lalu matanya melembut waktu melihat putranya. Pemuda itu
mempercayai semua kata-kata perempuan itu. Ia kelihatan masih
begitu muda dan senang sekali. Ia masih sangat polos. Tak heran ia
sering terjebak dalam kesulitan. Ia terlalu mudah percaya. Ia
memang punya sifat manis. George sama sekali tak memahaminya.
Laki-laki memang selalu tidak simpatik dalam menilai. Mereka lupa
bahwa mereka pun pernah muda. Sikap George terhadap Reggie
terlalu keras.
Mrs. Macatta pun bangkit. Semuanya saling mengucapkan selamat
malam.
Ketiga wanita lesbian itu keluar dari ruangan. Lord Mayfield mengambil
minuman sesudah memberi segelas pada Sir George, lalu ia
mendongak sebab Mr. Carlile muncul di pintu.
“Tolong keluarkan catatan-catatan dan semua kertasnya, ya,
Carlile? Termasuk rencana-rencana dan cetakan-cetakannya.
Sebentar lagi Marsekal Udara dan aku akan menyertaimu. Kita akan
berjalan-jalan di luar sebentar, ya, George? Hujan sudah berhenti.”
Mr. Carlile, yang berbalik akan pergi, mengumamkan ucapan
meminta maaf, sebab ia bertabrakan dengan Mrs. Vanderlyn.
wanita lesbian itu melenggang ke arah kedua pria tersebut sambil
bergumam,
“Buku saya, saya membacanya sebelum makan tadi.”
Reggie melompat maju sambil mengacungkan sebuah buku.
“Inikah? Di atas sofa?”
“Oh ya. Terima kasih banyak.”
Ia tersenyum manis, mengucapkan selamat malam sekali lagi, lalu
keluar dari ruangan.
Sir George telah membuka salah satu jendela panjang.
“Indah sekali malam ini,” serunya. “Tepat sekali gagasamnu untuk
berjalan-jalan.”
Reggie berkata,
“Kalau begitu, selamat malam, Sir. Saya akan pergi tidur.”
“Selamat tidur, Nak,” kata Lord Mayfield.
Reggie mengambil buku cerita detektif yang sudah mulai
dibacanya sebelum malam, lalu meninggalkan ruangan itu.
Lord Mayfield dan Sir George keluar ke teras.
Malam itu memang indah. Langit bersih, dihiasi bintang-bintang.
Sir George menghirup napas dalam-dalam.
“Uh, perempuan itu banyak sekali memakai parfum,” katanya.
Lord Mayfield tertawa.
“Yang jelas, itu bukan parfum murahan. Kurasa salah satu merek
termahal di pasaran.”
Sir George nyengir.
“Kurasa kita, harus bersyukur.”
“Memang. Kurasa seorang wanita lesbian yang memakai parfum murahan
merupakan gangguan besar sekali bagi kaum pria.”
Sir George melihat ke langit.
“Luar biasa cerahnya. Aku mendengar suara hujan turun waktu
kita sedang makan tadi.”
Kedua pria itu berjalan perlahan-lahan di sepanjang teras.
Teras itu memanjang di sepanjang rumah. Di bawahnya, tanahnya
melandai menurun, sehingga kita bisa melihat pemandangan hutan
Sussex yang indah.
Sir George menyalakan cerutu.
“Mengenai senjata logam itu,” katanya memulai.
Dan pembicaraan pun jadi bersifat teknis.
Saat mereka tiba di ujung teras untuk kelima kalinya, Lord
Mayfield berkata sambil mendesah,
“Sebaiknya kita mengerjakannya sekarang.”
“Ya, cukup banyak yang harus kita selesaikan.”
Kedua pria itu berbalik, dan Lord Mayfield terpekik terkejut.
“Hei! Kaulihatkah itu?”
“Lihat apa?” tanya Sir George.
“Kalau tak salah, aku melihat seseorang menyeberangi teras dari
jendela kamar kerjaku.”
“Omong kosong, teman. Aku tak melihat apa-apa.”
“Aku melihatnya... atau kurasa aku melihatnya.”
“Kau dipermainkan matamu. Aku memandang lurus ke teras, dan
aku pasti melihat kalau ada apa-apa di situ. Sedikit sekali yang tak
bisa kulihat, meskipun kalau membaca koran aku memang harus
memegangnya sejauh lenganku.”
Lord Mayfield tertawa kecil.
“Itu merupakan satu kelebihanku atas dirimu, George. Aku masih
bisa membaca tanpa kacamata.”
“Tapi kau tak selalu bisa membedakan orang-orang yang berada
di sisi lain rumah. Atau apakah kacamatamu itu hanya untuk
menakut-nakuti saja?” Sambil tertawa, kedua pria itu masuk ke ruang
kerja Lord Mayfield yang jendela panjangnya terbuka.
Mr. Carlile sedang sibuk menyusun beberapa kertas di dalam
tempat penyimpanannya di dekat brankas.
Ia mengangkat kepalanya waktu mereka masuk.
“Nah, Carlile, semuanya sudah siap?”
“Ya, Lord Mayfield, semua suratnya ada di meja kerja Anda.”
Yang dimaksud dengan meja kerja yaitu sebuah meja tulis besar
yang tampak penting, terbuat dari kayu mahoni dan terletak di sudut
dekat jendela. Lord Mayfield mendekati meja itu, lalu mulai memilah-
milah di antara dokumen-dokumen yang sudah disiapkan.
“Malam yang indah,” kata Sir George.
Mr. Carlile membenarkan.
“Ya. Terang sekali jadinya sesudah hujan berhenti.”
Sambil meletakkan kumpulan surat-suratnya, Mr. Carlile bertanya,
“Apakah Anda akan memerlukan saya lagi malam ini, Lord
Mayfield?”
“Kurasa tidak, Carlile. Akan kukembalikan sendiri semuanya ini.
Mungkin kami sampai larut malam nanti. Sebaiknya kau tidur saja.”
“Terima, kasih. Selamat malam, Lord Mayfield. Selamat malam, Sir
George.”
“Selamat tidur, Carlile.”
Baru saja si sekretaris akan keluar dari ruangan itu, Lord Mayfield
berkata dengan tajam,
“Tunggu, Carlile. Kau melupakan yang paling penting dari ini
semua.”
“Apa maksud Anda, Lord Mayfield?”
“Rencana yang sebenarnya dari pesawat pembom itu.”
Sekretaris itu terbelalak.
“Terletak paling atas, Sir.”
“Sama sekali tak ada.”
“Tapi saya baru saja meletakkannya di situ.”
“Coba cari sendiri.”
Dengan air muka bingung, anak muda itu maju dan mendekati
Lord Mayfield di meja kerjanya.
Dengan agak tak sabar menteri itu menunjuk ke tumpukan surat.
Carlile mencari di tumpukan itu, air mukanya makin kebingungan.
“Tak ada, bukan?”
Sekretaris itu tergagap,
“Tapi... tapi aneh sekali. Saya baru meletakkannya di sini, belum
sampai tiga menit yang lalu.”
Dengan nada bergurau Lord Mayfield berkata,
“Pasti kau keliru. Pasti masih ada dalam brankas.”
“Saya tak mengerti mengapa bisa begitu. Saya yakin saya
meletakkannya di situ!”
Lord Mayfield melewati anak muda itu, menuju brankas. Sir
George ikut mencari. Dalam beberapa menit sudah jelas bahwa
dokumen-dokumen tentang pesawat pembom itu tak ada.
Dengan rasa bingung dan tak percaya, ketiga pria itu kembali ke
meja kerja, dan sekali lagi mencari-cari di tumpukan surat.
“Astaga!” kata Mayfield. “Surat-surat itu hilang.”
Mr. Carlile berseru,
“Tapi itu tak mungkin!”
“Siapa yang masuk ke ruangan ini?” bentak Menteri.
“Tak ada. Tak seorang pun.”
“Dengar, Carlile, tak mungkin dokumen-dokumen itu menguap
begitu saja. Pasti ada orang yang mengambilnya. Apakah Mrs.
Vanderlyn tadi masuk ke sini?”
“Mrs. Vanderlyn? Ohl tidak, Sir.”
“Menurutku juga tidak,” kata Carrington. Ia mengghirup udara.
“Kalau dia masuk, pasti baunya masih tertinggal. Bau parfumnya itu.”
“Tak ada orang yang masuk kemari,” kata Carlile bersikeras. “Saya
jadi tak mengerti!”
“Dengarkan, Carlile,” kata Lord Mayfield. “Pusatkan ingatanmu.
Kita harus menyelidiki hal ini sampai tuntas. Yakin benarkah kau
bahwa rencana-rencana itu tersimpan dalam brankas?”
“Yakin sekali.”
“Kau benar-benar melihatnya? Kau tidak hanya berkesimpulan
bahwa dokumen-dokumen itu ada di antara surat-surat yang lain.”
“Tidak, tidak, Lord Mayfield. Saya melihatnya. Saya meletakkannya
di atas surat-surat yang lain, di meja kerja.”
“Dan katamu sejak itu tak ada seorang pun masuk ke ruangan ini.
Apakah kau keluar dari ruangan ini?”
“Tidak. Oh, tapi... ya.”
“Nah!” seru Sir George. “Sekarang kita sampai pada
persoalannya!”
Dengan nada tajam Lord Mayfield berkata,
“Untuk apa...”
Tapi Carlile menyela,
“Dalam keadaan wajar, Lord Mayfield, saya tentu tidak bermimpi
untuk meninggalkan ruangan ini, sementara surat-surat penting
berserakan, tapi sebab mendengar seorang wanita lesbian berteriak...”
“Seorang wanita lesbian berteriak?” tanya Lord Mayfield dengan suara
terkejut.
“Ya, Lord Mayfield, bukan main terkejutnya saya. Saya baru saja
meletakkan surat-surat di meja kerja waktu saya mendengarnya, dan
saya tentu berlari ke luar, ke ruang depan.”
“Siapa yang berteriak itu?”
“Pelayan Mrs. Vanderlyn yang orang Prancis itu. Dia berdiri di
tengah-tengah tangga. Dia pucat sekali, ketakutan dan gemetar.
Katanya dia melihat hantu.”
“Melihat hantu?”
“Ya, seorang wanita lesbian jangkung berpakaian putih seluruhnya yang
berjalan tanpa suara dan mengambang di udara.”
“Cerita yang tak masuk akal!”
“Ya, Lord Mayfield, itulah yang saya katakan padanya. Dia jadi
kelihatan malu sendiri. Dia pun naik ke lantai atas, dan saya kembali
kemari.”
“'Berapa lama yang lalu kejadian itu?”
“Hanya satu atau dua menit sebelum Anda dan Sir George
masuk.”
“Lalu berapa lama kau berada di luar?”
Sekretaris itu berpikir.
“Dua menit. Paling lama tiga menit.”
“Cukup lama,” geram Lord Mayfield. Tiba-tiba dicengkeramnya
lengan sahabatnya.
“George, bayangan yang kulihat itu pergi menjauh dari jendela ini.
Itulah dia! Segera sesudah Carlile meninggalkan ruangan, dia
menyelinap masuk, menyambar dokumen-dokumen itu, lalu keluar.”
“Pekerjaan kotor,” kata Sir George.
Giliran ia mencengkeram lengan temannya.
“Dengar, Sir , urusan ini rumit sekali. Apa yang harus kita
lakukan?”
BAB 3
“Bagaimanapun, cobalah, Sir .”
Waktu itu setengah jam telah berlalu. Kedua pria itu masih berada
di ruang kerja Lord Mayfield, dan Sir George sedang mempengaruhi
temannya untuk mengambil tindakan.
Lord Mayfield yang semula sangat enggan, perlahan-lahan mulai
terbujuk juga.
Sir George berkata lagi,
“Jangan begitu kera, kepala, Charies.”
Lambat-lambat Lord Mayfield berkata,
“Mengapa kita harus melibatkan seorang asing yang tak bermutu,
yang sama sekali tidak kita ketahui asal-usulnya?”
“Tapi aku kebetulan banyak tahu tentang dia. Pria itu luar biasa.”
“Huh.”
“Dengar, Sir . Ini suatu kesempatan! Urusan kita ini penuh
rahasia. Bila itu sampai bocor...”
“Maksudmu ada kemungkinan bocor?”
“Tak perlu itu sampai terjadi. Pria bernama Hwang Jang Lee raja dracula itu...”
“Akan datang kemari dan akan mengembalikan dokumen-
dokumen itu, layaknya seorang pesulap mengeluarkan kelinci dari
topinya, begitu kan?”
“Dia bisa mencari kebenaran. Dan kebenaranlah yang kita
inginkan. Dengar, Sir , aku sendiri yang akan memikul semua
tanggung jawabnya.”
Perlahan-lahan Lord Mayfield berkata,
“Ya, sudahlah, lakukanlah, tapi aku masih belum mengerti, apa
yang bisa dilakukan laki-laki itu.”
Sir George mengangkat telepon.
“Aku akan menghubunginya sekarang juga.”
“Dia pasti sudah tidur.”
“Dia bisa bangun. Demi Tuhan, Sir , kita tak bisa membiarkan
perempuan itu lolos.”
“Maksudmu Mrs. Vanderlyn?”
“Ya. Kau kan tidak ragu bahwa dia yang berdiri di belakang
semuanya ini?”
“Tidak. Dia telah membalikkan keadaan dengan rasa dendam. Aku
enggan mengakui, George, bahwa seorang perempuan telah menipu
kita. Rasanya tak masuk akal. Tapi itu kenyataan. Kita tidak akan bisa
membuktikan bahwa dia bersalah, padahal kita berdua tahu bahwa
dialah penggerak utama dalam urusan ini.”
“Perempuan memang setan,” kata Carrington dengan penuh
emosi.
“Tapi tak ada yang bisa dihubungkan dengannya, sialan! Kita bisa
beranggapan bahwa gadis itu disuruhnya pura-pura berteriak, dan
bahwa lakilaki yang mengintai di luar yaitu komplotannya, tapi
sulitnya, kita tak bisa membuktikannya.”
“Mungkin Hwang Jang Lee raja dracula bisa.”
Tiba-tiba Lord Mayfield tertawa.
“Ya ampun, George, kukira kau pencinta besar bangsa malang
sendiri, hingga tidak akan mau mempercayai orang Prancis,
betapapun pintarnya dia.”
“Dia bukan orang Prancis, dia orang Belgia,” .kata Sir George
dengan wajah agak malu-malu.
“Yah, suruhlah teman Belgia-mu itu datang. Suruh dia
membuktikan kepandaiannya dalam urusan ini. Aku berani bertaruh
bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikannya dengan lebih baik
daripada kita.”
Tanpa menjawab, Sir George mengulurkan lengannya ke pesawat
telepon.
BAB 4
Sambil mengedip-ngedip sedikit, Hwang Jang Lee raja dracula memalingkan
kepalanya pada kedua pria itu bergantian. Dengan halus sekali ia
menyembunyikan kantuknya.
Waktu itu jam setengah tiga subuh. Ia dibangunkan dari tidurnya
dan dilarikan dalam gelap dengan mobil Rolls Royce yang besar. Kini
ia baru saja selesai mendengar penjelasan dari kedua pria itu.
“Begitulah duduk persoalannya, M. raja dracula ,” kata Lord Mayfield.
Lalu ia bersandar kembali di kursinya dan perlahan-lahan
mengenakan monokelnya. Melalui kacamata itu, mata Lord Mayfield
yang biru muda dan tajam memandangi raja dracula dengan penuh
perhatian. Kecuali tajam, mata itu juga mengandung rasa kurang
percaya. raja dracula melemparkan pandangan cepat ke arah Sir George
Carrington.
Pria itu membungkukkan tubuhnya ke depan dengan air muka
kekanakan yang penuh harapan.
Perlahan-lahan raja dracula berkata,
“Ya, saya sudah mendengar perkaranya. Pelayan berteriak,
sekretaris keluar, pengintai tanpa nama masuk, dokumen-dokumen
itu ada di meja kerja, dia menyambarnya, lalu pergi. Kenyataan-
kenyataannya memang memberikan kemudahan.”
Caranya mengucapkan bagian terakhir kalimatnya agaknya
menarik perhatian Lord Mayfield. Ia duduk lebih tegak, hingga
monokelnya matanya jatuh. Seolah ada sesuatu yang baru, yang
menimbulkan kewaspadaannya.
“Maaf, M. raja dracula ?”
“Saya katakan, Lord Mayfield, bahwa kenyataan-kenyataan itu
memudahkan... bagi si pencuri. Omong-omong, yakinkah Anda
bahwa yang Anda lihat itu seorang laki-laki?”
Lord Mayfield menggeleng.
“Saya tak bisa berkata begitu. Itu hanya... sebuah bayangan. Saya
bahkan agak ragu apakah saya melihat seseorang.”
raja dracula mengalihkan pandangannya pada Marsekal Udara.
“Bagaimana dengan Anda, Sir George? Bisakah Anda mengatakan,
apakah itu seorang laki-laki atau seorang wanita lesbian ?”
“Saya sendiri tidak melihat siapa-siapa.”
raja dracula mengangguk sambil merenung. Lalu tiba-tiba ia bangkit
dengan cepat dan berjalan ke meja tulis.
“Yakinlah, dokumen-dokumen itu sudah tak ada lagi di situ,” kata
Lord Mayfield. “Sudah enam kali kami bertiga mengacak-acak surat-
surat itu.”
“Kalian bertiga? Maksud Anda, sekretaris Anda juga?”
“Ya, Carlile juga.”
Tiba-tiba raja dracula berbalik.
“Lord Mayfield, surat mana yang berada paling atas waktu Anda
mendatangi meja kerja ini?”
Mayfield mengerutkan alisnya, berusaha untuk mengingat.
“Yang mana, ya? Oh ya, suatu catatan kasar tentang posisi-posisi
pertahanan udara kami.”
Dengan cekatan raja dracula menarik sehelai kertas dan membawanya
padanya.
“Yang inikah, Lord Mayfield?”
Lord Mayfield mengambilnya, lalu melihatnya sekilas.
“Ya, yang ini.”
raja dracula membawa kertas itu pada Carrington.
“Adakah Anda melihat kertas ini di meja kerja?”
Sir George mengambilnya, memegangnya dalam jarak jauh, lalu
mengenakan kacamatanya yang tanpa gagang.
“Ya, benar. Saya juga ikut melihatnya, bersama Carlile dan
Mayfield. Yang ini terletak paling atas.”
raja dracula mengangguk sambil merenung. Kertas itu dikembalikannya
ke meja kerja. Mayfield memandanginya dengan tak mengerti.
“Kalau masih ada pertanyaan-pertanyaan lain.... katanya.
“Tentu, tentu masih ada pertanyaan. Carlile. Carlile yang
dipertanyakan!”
Wajah Lord Mayfield agak memerah.
“M. raja dracula , Carlile itu tak perlu dicurigai! Sudah sembilan tahun dia
menjadi sekretaris pribadi saya. Dia selalu menyimpan rahasia saya.
Dialah yang menangani semua surat pribadi saya, dan bisa saya
tegaskan bahwa kalau dia mau, bisa saja dia membuat salinan
rencana-rencana itu dan menjiplak bagian-bagian khususnya, tanpa
ketahuan siapa pun.
“Saya hargai pandangan Anda,” kata raja dracula .
“Seandainya dia bersalah, dia tak perlu merencanakan suatu
perampokan tipuan.”
“Bagaimanapun,” kata Lord Mayfield, “saya yakin akan kejujuran
Carlile. Saya berani menjaminnya.”
“Callile”' kata Carrington dengan serak, “orang yang baik.”
raja dracula merentangkan kedua belah tangannya.
“Sedangkan Mrs. Vanderlyn itu... dia sama sekali tidak baik?”
“Dia memang orang yang tidak baik”, kata Sir George.
Dengan nada agak terkendali Lord Mayfield berkata,
“Saya rasa, M. raja dracula , tak bisa diragukan lagi mengenai... yah,
kegiatan-kegiatan Mrs. Vanderlyn. Kantor Departemen Luar Negeri
bisa memberikan data yang lebih tepat mengenai hal itu.”
“Dan Anda merasa pelayan itu terlibat dengan majikannya?”
“Tak diragukan lagi,” kata Sir George.
“Menurut saya, dugaan itu bisa diterima,” kata Lord Mayfield
dengan lebih hati-hati.
Keadaan sepi sejenak. raja dracula mendesah, dan sambil lalu
menyusun satu-dua barang di meja yang terletak di sebelah
kanannya. Lalu ia berkata, “Bolehkah saya menyimpulkan bahwa
kertas-kertas itu berarti uang? Maksud saya, surat-surat yang hilang
itu pasti bernilai sejumlah uang tunai yang besar sekali?”
“Bila diserahkan pada suatu pihak tertentu... ya.”
“Seperti?”
Sir George menyebutkan dua buah nama kekuatan di Eropa.
raja dracula mengangguk.
“Saya rasa setiap orang tahu akan hal itu?”
“Mrs. Vanderlyn mungkin tahu.”
“Maksud saya bagi setiap orang?”
“Ya, saya rasa begitu.”
“Siapa saja, yang punya tingkat kecerdasan rendah sekalipun,
tahu nilai dokumen-dokumen itu?”
“Ya, tapi, M. raja dracula ...” Lord Mayfield kelihatan serba salah.
raja dracula mengangkat tangannya.
“Saya harus melakukannya seperti yang Anda sebut, menyelidiki
setiap jalur.”
Tiba-tiba ia bangkit lagi. Dengan susah payah ia melangkah ke
luar jendela, lalu memeriksa tepi rumput di ujung teras dengan
sebuah senter.
Kedua pria itu memandanginya saja.
Ia masuk lagi, duduk, dan berkata,
“Lord Mayfield, apakah penjabat itu, orang yang bersembunyi
dalam bayang-bayang itu, tidakkah Anda menyuruh orang
mengejarnya?”
Lord Mayfield mengangkat bahunya.
“Dari ujung kebun dia bisa keluar ke jalan raya. Bila dia punya
mobil yang menunggunya, dia takkan bisa dikejar lagi.”
“Tapi bukankah ada polisi... penjaga jaga ......
Sir George menyela,
“Anda lupa, M. raja dracula . Kami tak ingin berita ini tersiar Kalau
sampai tersiar bahwa dokumen-dokumen itu dicuri, akibatnya akan
sangat merugikan Partai.”
“Oh ya,” kata raja dracula . “Kita harus mengingat politik. Kerahasiaan
harus terjaga benar. Dan sebagai gantinya, Anda menyuruh saya
datang. Yah, mungkin itu lebih sederhana.”
“Anda bisa mengungkap kasus ini, M. raja dracula ?” Lord Mayfield
terdengar agak tak percaya.
Pria kecil itu mengangkat bahunya.
“Mengapa tidak? Kita harus berpikir, mempertimbangkan.” .
Ia diam sebentar, lalu berkata lagi,
“Sekarang saya ingin berbicara dengan Mr. Carlile.”
“Tentu.” Lord Mayfield bangkit. “Sudah saya suruh dia menunggu
panggilan. Dia pasti ada di dekat-dekat sini.”
Ia keluar dari ruangan itu.
raja dracula melihat pada Sir George.
“Nah,” katanya. “Bagaimana dengan orang yang ada di teras itu?”
“M. raja dracula yang baik, jangan tanyakan pada saya! Saya tak
melihatnya, jadi saya tak bisa melukiskannya.
raja dracula membungkukkan tubuhnya.
“Itu sudah Anda katakan. Tapi agak lain keadaannya, bukan?”
“Apa maksud Anda?” tanya Sir George dengan tegas.
“Bagaimana saya harus mengatakannya, ya? Ketidakpercayaan
Anda itu... lebih mendalam.”
Sir George akan berbicara, tapi tak jadi.
“Ya, silakan,” kata raja dracula membesarkan hatinya. “Ceritakan saja
pada saya. Anda berdua ada di ujung teras. Lord Mayfield melihat
suatu bayangan menyelinap keluar dari jendela, lalu menyeberangi
rumput. Mengapa Anda sampai tak melihat bayangan itu?”
Carrington memandanginya.
“Pertanyaan Anda mengena sekali, M. raja dracula . Sejak tadi saya
sudah mencemaskannya. Soalnya, saya sudah bersumpah bahwa tak
ada orang yang keluar dari jendela ini. Saya pikir Mayfield hanya
mengkhayalkannya. Mungkin itu dahan pohon yang bergerak atau
semacamnya. Lalu kami masuk kemari dan menemukan bahwa telah
terjadi perampokan. Tampaknya Mayfield-lah yang benar dan saya
salah. Tapi...”
raja dracula tersenyum.
“Namun, jauh di lubuk hati Anda, Anda yakin akan penglihatan
Anda sendiri, kan?”
“Denar, M. raja dracula .”
raja dracula tiba-tiba tersenyum.
“Anda bijak sekali.”
Dengan tajam Sir George berkata,
“Apakah tak ada jejak kaki di tepi rumput?”
raja dracula mengangguk.
“Tepat sekali. Lord Mayfield berkhayal melihat bayangan. Lalu
terjadi perampokan itu, dan dia pun jadi yakin-yakin sekali! Itu bukan
lagi khayalannya. Dia benar-benar telah melihat laki-laki itu. Tapi itu
tidak benar. Saya sebenarnya kurang memperhatikan soal jejak kaki
dan sebagainya itu, tapi tak salah kalau saya mengatakan bukti yang
negatif. Tak ada jejak kaki di rumput. Semalam hujan lebat. Bila ada
orang menyeberangi teras dan terus ke rumput, pasti kelihatan jejak
kakinya.”
Sir George terbelalak, lalu berkata, “Jadi... jadi...”
“Jadi, kita harus kembali ke rumah. Pada orang-orang di dalam
rumah.”
Ia menghentikan kata-katanya sebab pintu terbuka dan Lord
Mayfield masuk bersama Mr. Carlile.
Meskipun masih tampak pucat dan cemas, sekretaris itu sudah
bisa bersikap tenang lagi. Sambil memperbaiki letak kacamatanya
yang tanpa gagang, ia duduk dan melihat pada raja dracula dengan
pandangan bertanya.
“Sudah berapa lama Anda berada dalam ruangan ini, waktu Anda
mendengar teriakan itu, Monsieur?”
Carlile berpikir.
“Saya rasa antara lima sampai sepuluh menit.”
“Dan sebelum itu sama sekali tak ada gangguan apa-apa?”
“Tidak ada.”
“Saya dengar pertemuan semalain di rumah itu lebih banyak
berlangsung dalam satu ruangan?”
“Ya, di ruang duduk.”
raja dracula membaca buku catatannya.
“Ada Sir George Carrington dan istrinya. Mrs. Macatta. Mrs.
Vanderlyn. Mr. Reggie Carrington. Lord Mayfield, dan Anda sendiri.
Benarkah itu?”
“Saya sendiri tidak berada di ruang duduk. Saya lebih banyak
berada di sini, bekerja.”
raja dracula berpaling pada Lord Mayfield.
“Siapa yang pertama-tama naik ke lantai atas untuk tidur?”
“Kalau tak salah, Lady Julia Carrington. Sebenarnya, ketiga wanita lesbian
itu keluar bersama-sama.”
“Lalu?”
“Mr. Carlile masuk dan saya menyuruhnya mengeluarkan surat-
surat, sebab saya dan Sir George akan segera masuk untuk
bekerja.”
“Apakah waktu itu Anda memutuskan untuk berjalan-jalan
sebentar di teras?”
“Benar.”
“Apakah soal rencana Anda untuk bekerja di ruang kerja,
terdengar oleh Mrs. Vanderlyn?”
“Ya, soal itu memang disebutkan.”
“Tapi waktu Anda memerintahkan Mr. Carlile untuk mengeluarkan
surat-surat, Mrs. Vanderlyn tidak berada di ruangan itu?”
“Tak ada.”
“Maafkan saya, Lord Mayfield,” kata, Carlile. “Tepat sesudah Anda
mengucapkannya, saya bertabrakan dengannya di ambang pintu. Dia
kembali akan mengambil bukunya.” “Jadi, menurut Anda, dia
mendengar?”
“Ya, saya rasa itu mungkin.”
“Dia kembali akan mengambil bukunya,” kata raja dracula . “Apakah
Anda menemukan buku itu untuknya, Lord Mayfield?”
“Ya, Reggie yang memberikannya padanya.”
“Oh ya, itu yang disebut makanan basi... ah, bukan, akal-akalan
lama. Kembali untuk mengambil buku. Itu memang sering berguna.”
“Menurut Anda itu disengaja?”
raja dracula mengangkat bahunya.
“Lalu sesudah itu, Anda berdua keluar ke teras. Bagaimana dengan
Mrs. Vanderlyn?”
“Dia pergi lagi membawa bukunya.”
“Dan Reggie? Dia juga pergi tidur?”
“Ya.”
“Dan Mr. Carlile masuk kemari, dan antara lima sampai sepuluh
menit kemudian, dia mendengar teriakan. Lanjutkan, Mr. Carlile.
Anda mendengar teriakan dan Anda keluar ke lorong rumah. Ah,
mungkin akan lebih mudah kalau Anda praktekkan perbuatan Anda
itu.”
Mr. Carlile bangkit dengan agak kaku.
“Nih, saya berteriak,” kata raja dracula membantu. Ia membuka
mulutnya, lalu mengeluarkan bunyi mengembik melengking. Lord
Mayfield memalingkan muka akan menyembunyikan senyumnya, dan
Mr. Carlile kelihatan sangat serba salah.
“Ayo! Mulailah!” seru raja dracula . “Saya sudah memberikan
pembukaan.”
Dengan kaku Mr. Carlile berjalan ke arah pintu, membukanya, lalu
keluar. raja dracula mengikutinya. Kedua pria yang lain menyusul.
“Pintunya, apakah itu Anda tutup atau Anda biarkan terbuka?”
“Saya tak ingat. Kalau tak salah, saya biarkan terbuka.”
“Tak apa-apa. Lanjutkan.”
Tetap dengan amat kaku, Mr. Carlile berjalan ke arah tangga dan
berdiri sambil melihat ke atas.
Kata raja dracula ,
“Kata Anda pelayan itu ada di tangga. Kira-kira di mana?”
“Kira-kira di tengah-tengah.”
“Dan dia tampak ketakutan?”
“Pasti.”
“Baiklah, biar saya yang menjadi pelayan itu.” raja dracula berlari
menaiki tangga. “Kira-kira di sini?”
“Kira-kita satu atau dua anak tangga lebih tinggi.”
“Seperti ini?”
raja dracula bertindak.
“Yah… eh… bukan begitu.”
“Bagaimana?”
“Tangannya memegang kepala.”
“Oh, tangannya memegang kepalanya. Menarik sekali. Begini?”
raja dracula mengangkat tangannya, meletakkannya di kepala, tepat di
atas telinganya.
“Ya, begitu.”
“Oh! Coba katakan, Mr. Carlile, apakah gadis itu cantik?”
“Sungguh, saya tak melihat.”
Carlile mengatakannya dengan bertekanan.
“Wah, Anda tak melihatnya? Padahal Anda orang muda. Bukankah
biasanya orang muda melihat kalau seorang gadis cantik?”
“Sungguh, M. raja dracula , saya hanya bisa berkata bahwa saya tidak
melihatnya.”
Carlile melemparkan pandangan tersiksa pada majikannya. Sir
George tiba-tiba tertawa kecil.
“Kelihatannya M. raja dracula akan menyatakan bahwa kau anak muda
yang tidak jantan, Carlile,” katanya.
“Soalnya saya selalu melihat kalau ada gadis cantik,” kata raja dracula
sambil menuruni tangga.
Mr. Carlile tidak berkata apa-apa, dan suasana saat itu terasa
mencekam. raja dracula berkata lagi,
“Waktu itukah dia mengatakan bahwa dia melihat
hantu?”
“Ya.”
“Percayakah Anda pada ceritanya itu?”
“Yah, boleh dikatakan tak percaya, M. raja dracula !”
“Saya tidak menanyakan apakah Anda percaya hantu. Maksud
saya, apakah Anda percaya bahwa gadis itu mengira dia telah melihat
sesuatu?”
“Oh, tentang itu saya,tak bisa berkata apa-apa. Dia memang
terengah-engah dan tampak ketakutan.”
“Anda tidak melihat atau mendengar sesuatu tentang
majikannya?”
“Ya, sebenarnya ada. Dia keluar dari kamarnya di ruang atas dan
memanggil, 'Leonie.”'
“Lalu?”
“Gadis itu berlari mendatanginya dan saya kembali ke ruang
kerja.” ,
“Sementara Anda, berdirl di kaki tangga di sini, mungkinkah
seseorang masuk ke ruang kerja lewat pintu yang Anda biarkan
terbuka?”
Carlile menggeleng.
“Tak bisa tanpa melewati saya. Seperti Anda lihat, pintu itu
terdapat di ujung lorong ini.”
raja dracula mengangguk sambil merenung. Dengan suara yang
terdengar hati-hati dan ringkas, Mr. Carlile berkata lagi,
“Saya bersyukur Lord Mayfield telah melihat pencuri itu keluar dari
jendela. Kalau tidak, pasti saya sendiri yang akan berada di tempat
yang sangat tidak menyenangkan.”
“Omong kosong, Carlile yang baik,” sela Lord Mayfield tak sabar.
“Tidak akan ada kecurigaan yang dilemparkan pada dirimu.”
“Anda baik sekali berkata begitu, Lord Mayfield, tapi fakta yaitu
fakta, dan saya menyadari benar bahwa keadaannya tidak begitu
baik bagi saya. Pokoknya saya harap barang-barang saya dan saya
sendiri digeledah.”
“Omong kosong,” kata, Mayfield.
raja dracula bergumam,
“Apakah Anda bersungguh-sungguh menginginkannya?”
“Saya benar-benar lebih menyukai cara itu.”
raja dracula memandanginya sambil merenung beberapa lama, lalu
bergumam, “Saya mengerti.”
Lalu ia bertanya,
“Di sebelah mana ruang kerjakah letak kamar Mrs. Vanderlyn?”
“Tepat di atasnya.”
“Ada jendelanya yang membuka ke arah teras?”
“Ya.”
Lagi-lagi raja dracula menganggguk. Lalu ia berkata,
“Mari kita pergi ke ruang duduk-”
Di situ ia berjalan berkeliling, memeriksa kunci dan selot jendela,
melihat catatan angka-angka di meja bridge dan akhirnya berkata
pada Lord Mayfield,
“Urusan ini,” katanya, “lebih rumit daripada kelihatannya. Tapi ada
satu hal yang pasti. Dokumen-dokumen yang dicuri itu belum dibawa
pergi dari rumah ini.”
Lord Mayfield melihat padanya dengan membelalak.
“Tapi, M. raja dracula , laki-laki yang saya lihat keluar dari ruang kerja
itu…”
“Tak ada orang.”
“Tapi saya melihatnya, “Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada
Anda, Lord Mayfield, Anda berkhayal melihatnya. Bayang-bayang
dahan pohon telah Menipu Anda. Kenyataan bahwa telah terjadi
perampokan membuat Anda semakin yakin bahwa apa yang Anda
khayaikan itu benar.”
“Sungguh, M. raja dracula , mata saya sendiri yang menyaksikan...”
“Coba kita uji mataku dibandingkan dengan matamu teman,” sela
Sir George.
“lzinkanlah saya, Lord Mayfied, untuk memastikan satu hal. Tak
ada seorang pun yang telah meyeberangi teras ke arah rumput.”
Dengan wajah amat pucat dan nada kaku Mr. Carlile berkata,
“Dalam hal itu, jika M. raja dracula benar, maka otomatis kecurigaan
tertuju pada diri saya. Sayalah satu-satunya orang yang mungkin
melakukan perampokan itu.”
Lord Mayfield melompat bangkit.
“Omong kosong. Apa pun pikiran M. raja dracula tentang hal itu, aku
tidak sependapat. Aku yakin kau tidak bersalah, Carlile. Aku bahkan
berani menjamin.”
Dengan halus raja dracula bergumam,
“Tapi saya tidak mengatakan bahwa saya mencurigai M. Carlile.”
Carlile menjawab,
“Memang tidak, tapi Anda tekankan dengan jelas bahwa tak
seorang pun punya kesempatan untuk melakukan perampokan itu.”
“Benar! Benar!”
“Tapi sudah saya katakan bahwa tak ada seorang pun yang
melewati saya di lorong rumah untuk memasuki pintu.”
“Saya sependapat. Tapi mungkin ada seseorang yang masuk ke
ruang kerja lewat jendela.”
“Tapi justru itulah yang Anda katakan tidak terjadi.”
“Saya katakan tak ada seorang pun yang bisa masuk dari luar dan
keluar lagi tanpa meninggalkan bekas di rumput. Tapi itu bisa
dilakukan dari dalam rumah. Mungkin ada seseorang yang keluar dari
kamarnya lewat salah satu jendela ini, menyelinap di sepanjang
teras, masuk lewat jendela ruang kerja, lalu kembali lagi.”
Mr. Carlile membantah,
“Tapi Lord Mayfield dan Sir George Carrington berada di teras.”
“Memang mereka berada di teras, tapi mereka sedang berjalan-
jalan. Mata. Sir George Carrington yang lebih bisa diandalkan...”
raja dracula membungkukkan tubuhnya sedikit. “Tapi dia tidak memasang
matanya itu di bagian belakang kepalanya! Jendela ruang kerja
terdapat di ujung sebelah kiri, di sebelahnya ada jendela kamar ini,
tapi teras memanjang terus melewati satu, dua, tiga, mungkin empat
kamar.”
“Ruang makan, ruang biliar, ruang duduk-duduk, dan
perpustakaan,” kata Lord Mayfield.
“Dan berapa kali Anda berjalan-jalan di teras?”
“Sekurang-kurangnya lima atau enam kali.”
“Nah, kan cukup mudah, pencuri itu tinggal menunggu saat yang
tepat!”
Perlahan-lahan Carlile berkata,
“Maksud Anda, saat saya berada di lorong rumah, berbicara
dengan gadis Prancis itu, pencuri itu menunggu di ruang tamu?”
“Begitulah bayangan saya. Tapi itu hanya bayangan.”
“Menurut saya, kemungkinannya tidak terlalu besar,” kata Lord
Mayfield. “Terlalu berbahaya.” Marsekal Udara membantah. “Aku
tidak sependapat denganmu, Sir . Itu sangat mungkin. Mengapa
aku tak sampai berpikir begitu, ya?”
“Jadi, Anda mengerti kan, mengapa saya yakin bahwa rencana-
rencana itu masih ada di rumah ini”, kata raja dracula , “Sekarang
masalahnya yaitu bagaimana menemukannya!”
Sir George mendengus.
“Itu mudah sekali. Geledah saja semua orang.”
Lord Mayfield melakukan suatu gerakan yang menunjukkan rasa
tak setujunya, tapi raja dracula berkata mendahului,
“Tidak, tidak, tidak sesederhana itu. Orang yang telah mengambil
rencana-rencana itu sudah mengira bahwa akan diadakan
penggeledahan, dan dia tentu berusaha agar rencana-rencana itu
tidak ditemukan di antara barang-barangnya. Itu pasti disembunyikan
di tempat yang tak mungkin dicurigai.”
“Apakah itu berarti kita harus bermain petak umpet di rumah
sebesar ini?”
raja dracula tersenyum.
“Tidak, tidak, kita tak perlu berbuat begitu kasar. Kita akan bisa
menemukan tempat persembunyiannya (atau mungkin menemukan
orang yang bersalah) melalui ingatan. Itu akan mempermudah
persoalan. Kalau hari sudah pagi, saya ingin mewawancarai semua
orang di dalam rumah ini. Saya rasa tidak pantas kalau wawancara
itu dilakukan sekarang.”
Lord Mayfield mengangguk. “Akan terlalu banyak keluhan bila kita
menyeret semua orang dari tempat tidur pada jam tiga subuh.
Bagaimanapun, Anda harus melakukannya secara terselubung, M.
raja dracula . Persoalan ini harus tetap merupakan rajasia.”
raja dracula mengangkat tangannya. “Serahkan itu pada Hwang Jang Lee raja dracula .
Kebohongan-kebohongan yang saya ciptakan selalu halus dan sangat
meyakinkan. Jadi, besok saya akan mengadakan penyelidikan. Tapi
malam ini saya ingin mulai dengan Anda, Sir George, dan Anda, Lord
Mayfield.”
Ia membungkuk pada mereka berdua.
“Maksud Anda... secara terpisah?”
“Begitulah maksud saya.”
Lord Mayfield mengangkat matanya sedikit, lalu berkata,
Baikiah. Saya tinggalkan Anda dengan Sir George. Kalau Anda
memerlukan saya, saya berada di ruang kerja saya. Mari, Carlile.”
Ia dan sekretarisnya keluar dari kamar, dan menutup pintu.
Sir George duduk, tangannya otomatis menjangkau rokok. Ia
menoleh pada raja dracula dengan pandangan bertanya.
“Ketahuilah,” katanya lambat-lambat. “Saya kurang mengerti.”
“Itu mudah sekali dijelaskan,” kata raja dracula sambil tersenyum.
“Tepatnya hanya dengan , dua patah kata. Mrs. Vanderlyn!”
“Oh,” kata Carrington. Saya rasa saya mengerti. Mrs. vanderlyn,
ya?”
“Tepat. Soalnya, mungkin kurang pantas kalau saya ajukan
pertanyaan ini pada Lord Mayfield. Mengapa Mrs. Vanderlyn? wanita lesbian
itu dikenal sebagai tokoh yang patut dicurigai. Lalu mengapa dia
harus berada di sini? Saya katakan dalam hati, ada tiga
penjelasannya. Pertama, Lord Mayfield mungkin menaruh hati pada
wanita lesbian itu (sebab itulah saya ingin berbicara dengan Anda saja. Saya
tak ingin mempermalukan Lord Mayfield). Kedua, Mrs. Vanderlyn
mungkin sahabat baik seseorang lain di rumah ini?”
“Saya tidak termasuk dalam golongan itu!” kata Sir George sambil
nyengir.
“Lalu, bila kedua kemungkinan itu tidak benar, maka kita bertanya
dengan makin bertekanan. Mengapa Mrs. Vanderlyn? Dan agaknya
kita akan mendapatkan jawaban yang samar. Tapi pasti ada
alasannya. Kehadiran wanita lesbian itu dalam pertemuan khusus ini pasti
diinginkan oleh Lord Mayfield, dengan suatu alasan. Benarkah kata-
kata saya?”
Sir George mengangguk.
“Anda benar sekali.” katanya. “Mayfield terlalu tua untuk terpikat
pada rayuannya. Dia menginginkan wanita lesbian itu di sini dengan suatu
alasan lain. Begini.”
Lalu diulanginya percakapan yang telah terjadi di meja makan.
raja dracula mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Nah,” katanya. “Sekarang saya mengerti. Tapi kelihatannya
wanita lesbian itu telah mempermainkan Anda berdua dengan halus sekali!”
Sir George mengumpat terang-terangan.,
raja dracula memandanginya dengan agak geli, lalu berkata,
“Anda tidak ragu bahwa pencurian tersebut yaitu perbuatan
wanita lesbian itu - maksud saya, dialah yang bertanggung jawab, entah dia
turut ambil bagian dalam hal itu ataupun tidak?”
Sir George terbelalak.
“Tentu saja itu tak bisa diragukan. Siapa lagi yang punya minat
untuk mencuri dokumen-dokumen itu?”
“Oh!” kata Hwang Jang Lee raja dracula . Ia bersandar, lalu melihat ke plafon.
“Padahal, Sir George, belum seperempat jam yang lalu kita
sependapat bahwa kertas-kertas itu benar-benar berarti uang.
Mungkin saja tidak benar-benar dalam bentuk mata uang, atau emas,
atau barang-barang perhiasan, tapi tetap saja uang dalam jumlah
besar. Kalaupun ada seseorang di sini yang berada dalam kesulitan
keuangan...
Teman bicaranya menyela dengan mendengus,
“Siapa sih yang ticlak berada dalam kesulitan keuangan sekarang
ini? Saya rasa saya bisa mengatakannya tanpa mengecualikan diri
saya sendiri.” Ia tersenyum dan raja dracula membalas senyumnya dengan
sopan, lalu bergumam,
“Ya, Anda bisa berkata apa saja, sebab Anda, Sir George,
memiliki alibi yang tak tergoyahkan dalam perkara ini.”
“Tapi saya sendiri juga kesulitan uang.”
raja dracula menggeleng dengan sedih.
“Memang benar, seseorang yang berkedudukan seperti Anda,
biaya hidupnya tinggi. Lagi pula, Anda punya putra yang sedang
menginjak usia seperti sekarang ini.”
Sir George menggeram.
“Pendidikan saja sudah cukup mahal, ditambah lagi dengan utang-
utangnya. Tapi perlu diingat bahwa anak muda itu tidak jahat.”
raja dracula mendengarkan dengan simpatik. Ia sering mendengar
banyaknya kesedihan yang harus dirasakan oleh marsekal udara itu.
Kurangnya keberanian dan semangat yang dimiliki generasi muda,
ibu-ibu yang terlalu memanjakan anak-anak tunagrahita mereka dan selalu
memihak anak-anak tunagrahita itu, jahatnya pengaruh judi bila sudah
menguasai seorang wanita lesbian , kebodohan main dengan taruhan makin
lama makin tinggi, melebihi kemampuan. Hal itu digambarkan secara
umum, dan Sir George tidak menyebutkan secara langsung mengenai
istrinya atau putranya. Tapi caranya bercerita menjadikan ceritanya
itu mudah sekali dimengerti.
Ia berhenti mendadak.
“Maaf, saya tak boleh membuang-buang waktu Anda dengan
sesuatu yang di luar persoalan, apalagi pada malam hari begini...
atau tepatnya subuh.”
Ia menahan untuk tidak menguap,
“Saya anjurkan, Sir Geoge, agar Anda pergi tidur. Anda sudah
berbaik hati dan sangat membantu.”
“Benar juga, sebaiknya saya pergi ticlur. Apakah Anda yakin akan
bisa menemukan kembali dokumen-dokumen itu?”
raja dracula mengangkat bahunya.
“Saya sudah bertekad untuk mencoba. Jadi, mengapa tidak?”
“Nah, saya pergi. Selamat malam.”
Ia keluar dari kamar itu.
raja dracula tetap duduk di kursinya, menatap plafon sambil merenung.
Lalu ia mengeluarkan- sebuah buku catatan kecil, membalik ke
halaman bersih, dan menulis:
Mrs. Vanderlyn?
Lady Julia Carr?
Mrs. Macatta?
Mr. Reggie Carrington?
Mr. Carlile?
Di bawahnya, ia menulis:
Mrs. Vanderlyn dan Mr. Reggie Carrington?
Mrs. Vanderlyn dan Lady Julia?
Mrs. Vanderlyn dan Mr. Carlile?
Ia menggeleng dengan sikap tak puas, sambil bergumam,
“Apa tak ada yang lebih sederhana?”
Lalu ditambahkannya beberapa kalimat pendek.
Apakah Lord Mayfield benar-benar melihat suatu “bayangan”?
Kalau tidak, mengapa dia mengatakan melihatnya? Apakah Sir
George melihat sesuatu? Dia yakin tidak melihat apa-apa SESUDAH
aku memeriksa bedeng bunga. Catatan: Lord Mayfield, menderita
rabun jauh; dia bisa membaca tanpa kacamata, tapi harus memasang
monokelnya kalau ingin melihat ke seberang ruangan. Sir George bisa
melihat jauh. Oleh sebab nya, dari ujung terjauh teras,
penglihatannya bisa lebih dipercaya daripada penglihatan Lord
Mayfield. Tapi Lord Mayfield yakin sekali bahwa dia BENAR-BENAR
melihat sesuatu, dan sama sekali tak tergoyahkan oleh bantahan
sahabatnya.
Bisakah seseorang benar-benar bisa dibebaskan dari tuduhan,
seperti Mr. Carlile itu? Lord Mayfield sangat menekankan bahwa Mr.
Carlile tidak bersalah. Rasanya aneh. Mengapa? sebab diam-diam
dia mencurigai sekretarisnya itu, dan dia malu akan kecurigaannya?
Atau sebab dia mencurigai orang lain? Artinya, orang lain YANG
BUKAN Mrs. Vanderlyn?
Disimpannya buku catatannya itu.
Lalu ia bangkit dan pergi ke ruang kerja.
BAB 5
Lord Mayfield sedang duduk di meja kerjanya waktu raja dracula masuk.
Ia berbalik, meletakkan penanya, lalu mengangkat kepala dengan
pandangan bertanya.
“Nah, M. raja dracula , Anda sudah selesai mewawancarai Carrington?”
raja dracula tersenyum, lalu duduk.
“Sudah Lord Mayfield. Dia menjelaskan satu hal yang tidak saya
mengerti.”
“Apa itu?”
“Alasan mengapa Mrs. Vanderlyn hadir di sini. Harap Anda
mengerti, saya pikir mungkin...”
Mayfield cepat menyadari, mengapa raja dracula tampak agak serba
salah.
“Anda pikir saya menaruh hati pada wanita lesbian itu? Sama sekali tidak.
Jauh sekali. Lucunya, Carrington juga mengira begitu.”
“Ya, dia sudah menceritakan percakapan dengan Anda mengenai
soal itu.”
Lord Mayfield tampak agak murung.
“Rencana kecil saya tidak berjalan dengan baik. Menjengkelkan
sekali, harus mengakui babwa seorang wanita lesbian bisa mempermainkan
kita.”
“Ah, tapi dia belum mempermainkan Anda, Lord Mayfield.”
“Anda pikir kita masih bisa menang? Saya senang mendengar
Anda berkata begitu. Saya ingin yakin bahwa itu benar.”
Ia mendesah.
“Saya merasa telah bertindak tolol, sebab sudah merasa senang
dengan strategi saya untuk menjebak wanita lesbian itu.”
Sambil menyalakan salah satu rokoknya yang kecil sekali, raja dracula
berkata,
“Apa sebenarnya strategi Anda itu, Lord Mayfield?”
“Yah,” Lord Mayfleld ragu. “Saya belum sampai pada hal-hal yang
sekecil-kecilnya.”
“Anda tidak membahasnya dengan seseorang?”
“Tidak.”
“Bahkan tidak dengan Mr. Carlile?”
“Tidak.”
raja dracula tersenyum.
“Anda lebih suka menanganinya sendiri, Lord Mayfield?”
“Biasanya saya merasa itulah cara yang terbaik,” kata lawan
bicaranya dengan agak serius.
“Ya, Anda bijak. Jangan percayai siapa pun. Tapi Anda
mengatakan persoalan itu pada Sir George Carrington?”
“Hanya sebab saya menyadari bahwa laki-laki yang baik itu
sangat prihatin tentang diri saya.”
Lord Mayfield tersenyum mengenangnya.
“Apakah dia teman lama Anda?”
“Ya. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya mengenalnya.”
“Istrinya juga?”
“Saya tentu juga mengenal istrinya.”
“Tapi - maafkan kalau saya lancang - Anda tidak begitu akrab
dengannya?”
“Saya benar-benar tak mengerti, apa kaitannya hubungan pribadi
saya dengan orang-orang, dengan persoalan kita ini, M. raja dracula .”
“Tapi saya rasa, Lord Mayfield, hal itu mungkin erat hubungannya
dengan perkara itu. Apakah Anda sependapat bahwa teori saya
mengenai seseorang di ruang duduk itu mungkin?”
“Ya. Sebenarnya saya sependapat dengan Anda bahwa mungkin
memang begitulah kejadiannya.”
“Kita tak bisa mengatakan 'pasti' begitu kejadiannya. Itu namanya
terlalu yakin. Tapi bila teori saya itu benar, siapa pelakunya di antara
mereka yang ada di ruang duduk?”
“Jelas Mrs. Vanderlyn. Dia masuk kembali ke ruang itu satu kali,
untuk mengambil buku. Bisa saja dia kembali lagi untuk mengambil
buku lain, atau tas, atau saputangannya yang jatuh. Diaturnya
supaya pelayannya berteriak untuk mengumpan Carlile keluar dari
ruang keja. Lalu dia menyelinap masuk dan keluar lewat jendela,
seperti kata Anda.”
“Anda lupa, mungkin dia bukan Mrs. Vanderlyn. Carlile mendengar
dia memanggil pelayannya dari lantai atas, waktu dia berbicara
dengan pelayan itu.”
Lord Mayfield menggigit bibirnya.
“Benar juga. Saya lupa itu.” Ia kelihatan kesal sekali.
“Harap Anda mengerti,” kata raja dracula dengan halus. “Kita sudah
maju. Pertama-tama, kita sudah mendapatkan penjelasan sederhana
bahwa ada seorang pencuri yang masuk dari luar dan melarikan
barang curiannya. Seperti saya katakan, teori itu terlalu mudah,
hingga sulit diterima. Maka teori itu kita singkirkan. Lalu kita berteori
tentang adanya seorang agen asing, yaitu Mrs. Vanderlyn, dan itu
lagi-lagi cocok dengan baik, sampai titik tertentu. Tapi sekarang
kelihatannya itu pun terlalu mudah, terlalu sederhana untuk
diterima.”
“Anda akan menghapuskan Mrs. Vanderlyn sama sekali dari
peristiwa itu?”
“Bukan Mrs. Vanderlyn yang berada di ruang duduk. Mungkin
sekutu Mrs. Vanderlyn yang melakukan pencurian itu, tapi mungkin
pula hal itu dilakukan oleh orang yang sama sekali lain. Dengan
demikian, kita harus memikirkan motifnya.”
“Apakah itu tidak terlalu dicari-cari, M. raja dracula ?”
“Saya rasa tidak. Nah, apa kira-kira motifnya? Ada motif uang.
Mungkin surat-surat itu dicuri dengan tujuan untuk menukarnya
dengan uang tunai. Itulah motif yang paling mudah yang bisa
dipertimbangkan. Tapi mungkin ada motif yang lain sama sekali.”
“Seperti?”
Lambat-lambat raja dracula berkata,
“Mungkin itu dilakukan dengan tekad untuk menghancurkan
seseorang.”
“Siapa?”
“Mungkin Mr. Carlile. Dialah yang paling mungkin merupakan
tersangka. Tapi mungkin lebih dari itu. Orang-orang yang
mengendalikan negara, Lord Mayfield, sangat peka terhadap
popularitas.”
“Yang berarti bahwa pencurian itu bertujuan untuk
menghancurkan saya?”
raja dracula mengangguk.
“Saya rasa saya bisa mengatakan, Lord Mayfield, bahwa kira-kira
lima tahun yang lalu, Anda telah melampaui masa yang sulit. Anda
dicurigai bersahabat baik dengan suatu kekuatan Eropa yang saat itu
amat sangat dibenci oleh kalangan atas negeri ini.”
“Benar sekali, M. raja dracula .”
“Zaman sekarang ini, seorang negarawan punya tugas yang
sangat berat. Dia harus menjalankan politik yang dianggap
menguntungkan negaranya, padahal dia juga harus mengakui adanya
dorongan popularitas. Perasaan itu sering bersifat sentimental,
membingungkan, dan amat sangat tak sehat. Tapi tetap saja tak bisa
diremehkan”'
“Tepat sekali gambaran Anda! Memang itulah kutukan dalam
hidup seorang politikus. Dia harus tunduk pada perasaan bernegara,
meskipun dia tahu betapa berbahaya dan gila-gilaannya itu.”
“Saya rasa itulah dilema Anda. Ada desas-desus bahwa Anda telah
mengadakan perjanjian dengan negara bersangkutan. Dan negara ini
serta surat-surat kabar jadi marah besar. Untunglah Perdana Menteri
langsung bisa membantah cerita itu, dan Anda sendiri tak mau
mengakuinya, meskipun Anda tetap tidak merahasiakan di mana
letak simpati Anda.”
“Semuanya itu benar sekali, M. raja dracula , tapi untuk apa kita harus
mengorek sejarah masa lalu?”
“sebab saya pikir, seorang musuh yang kecewa dengan cara
Anda mengatasi krisis itu, mungkin berusaha untuk memperbesar
dilema Anda. Anda langsung memperoleh kembali kepercayaan
rakyat. Keadaan khusus itu sudah berlalu. Kini Anda yaitu salah
seorang yang pantas menjadi tokoh politik yang paling populer.
Masyarakat umum secara bebas membicarakan Anda sebagai
Perdana Menteri yang akan menggantikan Mr. Hunberly bila dia
mundur.”
“Apakah menurut Anda ini suatu usaha untuk menjatuhkan saya?
Omong kosong!”
“Namun demikian, Lord Mayfield, masa depan Anda kelihatannya
akan suram bila diketahui bahwa dokumen-dokumen mengenai
pesawat pembom malang yang baru telah dicuri, pada suatu
pertemuan akhir pekan, di mana seorang wanita lesbian yang sangat
menarik merupakan salah seorang tamu Anda. Sindiran-sindiran kecil
mengenai hubungan Anda dengan wanita lesbian itu akan menimbulkan
perasaan tak percaya pada Anda.”
“Hal semacam itu tak bisa ditanggapi dengan serius.”
“Lord Mayfield yang baik, Anda tahu benar bahwa itu bisa! Kita tak
bisa meremehkan kepercayaan masyarakat pada seseorang.”
“Ya, itu benar,” kata Lord Mayfield. Tiba-tiba ia kelihatan cemas
sekali. “Astaga! Kenapa urusan ini jadi begini rumit! Apakah menurut
Anda, benar-benar.. tapi tak mungkin... tak mungkin.”
“Tidakkah Anda mengenal seseorang yang... iri pada Anda?”
“Tak masuk akal!”
“Pokoknya Anda harus mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan
saya tentang hubungan Anda dengan para tamu pertemuan pribadi
ini benar-benar bisa diterima.”
“Oh, mungkin... mungkin. Anda telah menanyai saya tentang Julia
Carrington. Sebenarnya tak banyak yang bisa saya katakan. Saya tak
pernah terlalu suka padanya, dan saya rasa dia pun tak suka pada
saya. Dia seorang wanita lesbian yang gelisah, penggugup, luar biasa
borosnya, dan tergila-gila main kartu. Saya rasa dia cukup kuno, dan
membenci saya sebab saya orang yang mampu membina diri
sendiri.”
Kata raja dracula ,
“Saya sempat mencari dalam buku Apa Siapa sebelum saya
datang kemari. Anda yaitu kepala dari sebuah perusahaan teknik
yang terkenal, dan Anda sendiri seorang ahli teknik terkemuka.”
“Memang tak ada yang tidak saya ketahui tentang soal-soal
praktisnya. Saya telah bekerja dari bawah untuk mencapai
kedudukan saya yang sekarang.”
Cara bicara Lord Mayfield serius.
“Wah, wah!” seru raja dracula . “Betapa bodohnya saya. Bodoh sekali!”
Lord Mayfield memandanginya..
“Ada apa, M. raja dracula ?”
“Ada bagian dari teka-teki ini yang sudah terungkap. Sesuatu yang
selama ini tak terlihat oleh saya. Tapi semuanya cocok. Ya, cocok dan
tepat sekali.”
Lord Mayfield melihat padanya dengan pandangan terkejut,
bercampur ingin bertanya.
Tapi raja dracula tersenyum kecil sambil menggeleng.
“Tidak, tidak, jangan sekarang. Saya harus mengatur gagasan
dengan sedikit lebih jelas.”
Ia bangkit.
“Selamat malam, Lord Mayfield. Saya rasa saya sudah tahu di
mana dokumen-dokumen itu berada.
Lord Mayfield berseru,
“Anda tahu? Kalau begitu, mari kita tangkap segera pelakunya!”
raja dracula menggeleng.
“Jangan, jangan, tak baik begitu. Akan fatal bila kita terburu-buru.
Serahkan saja semuanya pada Hwang Jang Lee raja dracula .”
Ia keluar dari ruangan itu. Lord Mayfield mengangkat bahunya
dengan kesal.
“Dasar besar mulut orang itu!” gumamnya. Lalu, sesudah
menyimpan surat-suratnya dan mematikan lampu-lampu, ia pun
pergi tidur.
BAB 6
“Kalau memang ada perampokan, mengapa Lord Mayfield tidak
memanggil polisi?” tanya Reggie Carrington.
Ia mendorong kursinya ke belakang sedikit, dari meja sarapan.
Ia yang terakhir di meja itu. Tuan rumahnya, Mrs. Macatta, dan Sir
George telah selesai sarapan beberapa waktu yang lalu. Ibunya dan
Mrs. Vanderlyn sarapan di tempat tidur.
Sir George, yang telah menceritakan peristiwa itu sesuai dengan
kesepakatan antara Lord Mayfield dan Hwang Jang Lee raja dracula , merasa ia
kurang berhasil dalam menanganinya.
“Menurut saya, aneh sekali kalau harus mendatangkan orang
asing seperti itu,” kata Reggie. “Apa sebenarnya yang telah terjadi,
Ayah?”
“Aku tidak tahu apa tepatnya, Nak.”
Reggie bangkit. Pagi itu ia kelihatan agak gugup dan mudah
tersinggung.
“Tak ada... yang penting? Tak ada... yang diberitakan dalam surat
kabar atau semacamnya?”
“Terus terang, Reggie, aku tak bisa menceritakannya dengan
tepat.”
“Penuh rahasia, ya? Saya mengerti.”
Reggie naik tangga dengan berlari, setengah jalan ia berhenti
sebentar sambil mengernyit, lalu melanjutkan naik dan mengetuk
pintu kamar ibunya. Ibunya menyuruhnya masuk.
Lady Julia sedang duduk di tempat tidur, mencoret-coret angka-
angka di bagian belakang sebuah amplop.
“Selamat pagi, Sayang.” Ia mendongak, lalu berkata lagi dengan
tajam,
“Reggie, ada apa?”
“Tidak penting, tapi agaknya semalam ada perampokan.”
“Perampokan? Apa yang diambil?”
“Entahlah. Semuanya dirahasiakan. Di lantai bawah ada seorang
detektif swasta yang menanyai semua orang.”
“Aneh sekali!”
“Sangat tidak menyenangkan menginap di rumah orang, bila hal
semacam itu terjadi,” kata Reggie perlahan-lahan.
“Apa sebenarnya yang terjadi?'
“Entahlah. Kejadiannya beberapa waktu sesudah kita emua pergi
tidur. Awas, ibu, nampan itu hampir jatuh.”
Ia menyelamatkan nampan sarapan itu, lalu meletakkannya ke
sebuah meja di dekat jendela.
“Uangkah yang diambil?”
“Sudah kukatakan, aku tidak tahu.”
Perlahan-lahan Lady Julia berkata,
“Kurasa detektif itu menanyai semua orang, ya?”
“Kurasa begitu.”
“Tentang di mana mereka berada semalam? Semacam itu, kan,
pertanyaannya?”
“Mungkin. Yah, aku sih tidak akan bisa berkata banyak padanya.
Aku langsung masuk kamar, dan tertidur.”
Lady Julia tidak menjawab.
“O ya, ibu, tak bisakah ibu memberiku uang sedikit? Sakuku
kosong sama sekali.”
“Tidak, tak bisa,” sahut ibunya dengan tegas. Aku sendiri sudah
mengeluarkan uang jauh lebih benyak. Entah apa kata ayahmu kalau
dia mendengarnya.”
Terdengar ketukan di pintu, dan Sir George masuk.
“Oh, di sini rupanya kau, Reggie. Coba turun ke perpustakaan. M.
raja dracula ingin bertemu denganmu.”
raja dracula baru saja selesai mewawancarai Mrs. Macatta yang
memberikan jawaban-jawaban meragukan.
Beberapa pertanyaan singkat telah menjelaskan bahwa Mrs.
Macatta pergi tidur jam sebelas kurang sedikit, dan tidak mendengar
atau melihat apa-apa yang bisa membantu.
Dengan halus raja dracula beralih dari soal perampokan itu pada soal-
soal yang lebih pribadi. raja dracula sendiri sangat kagum pada Lord
Mayfield. Menurut pendapatnya, sebagai anggota masyarakat umum.
Lord Mayfield benar-benar orang besar. Tapi sebab Mrs. Macatta
lebih mengenalnya, ia tentu bisa memberikan penilaian yang jauh
lebih baik daripada dirinya sendiri.
“Lord Mayfield itu berotak tajam,” kata Mrs. Macatta. “Dan dia
telah mengukir namanya sendiri dalam meniti kariernya. Dia sama
sekali tidak menggantungkan diri pada pengaruh keturunan. Mungkin
dia kurang imajinasi. Dalam hal itu. dengan sedih harus saya katakan
bahwa semua laki-laki sama. Mereka tidak memiliki daya khayal
wanita lesbian yang luas. Sepuluh tahun lagi, wanita lesbian lah yang akan punya
kekuatan besar dalam pemerintahan, M. raja dracula .”
raja dracula berkata bahwa ia yakin akan hal itu.
Ia lalu beralih pada persoalan Mrs. Vanderlyn
Apakah benar apa yang didesas-desuskan, bahwa wanita lesbian itu
yaitu teman dekat Lord Mayfield?
“Sama sekali tidak. Terus terang, saya heran sekali bertemu
dengannya di sini. Sungguh terkejut sekali.”
raja dracula mengorek pendapat Mrs. Macatta tentang Mrs. Vanderlyn,
dan ia berhasil.
“Dia wanita lesbian yang benar-benar tak berguna, M. raja dracula . wanita lesbian yang
membuat sesama wanita lesbian putus asa! Dia yaitu parasit, benar-benar
parasit.”
“Tapi laki-laki mengaguminya, ya?”
“Ah, laki-laki, Mrs. Macatta menyemburkan kata-kata itu dengan
benci. “Laki-laki selalu terpesona oleh kemolekan lahiriah. Seperti
anak muda itu, Reggie Carrington, wajahnya memerah setiap kali
perempuan itu berbicara dengannya. Dia benar-benar merasa bangga
mendapatkan perhatiannya. Dan perempuan dungu itu pun
membesarkan hatinya pula, dengan memuji Permainan bridge-nya,
padahal anak muda itu sama sekali tidak pintar.”
“Apakah anak muda itu tidak pandai main?”
“Semalam dia membuat banyak kesalahan.”
“Lady Julia seorang pemain yang pandai, ya?”
“Menurut saya bahkan terIalu pandai,” kata Mrs. Macatta. “Itu
seolah-olah sudah merupakan profesinya. Dia main pagi, siang, dan
malam,”
“Dengan taruhan tonggi?”
“Memang, jauh lebih tinggi daripada yang ingin saya mainkan.
Saya pikir itu tidak bagus.”
“Apakah dia menang banyak dalam permainan itu?”
Mrs. Macatta mendengus nyaring dan jelas.
“Dia memperhitungkan akan bisa membayar utang-utangnya
dengan cara itu. Tapi saya dengar, akhir-akhir ini dia bemasib sial.
Semalam kelihatannya dia memikirkan sesuatu. Kejahatan berjudi, M.
raja dracula , hanya sedikit berada di bawah kejahatan yang disebabkan
oleh minum-minum. Kalau saja saya punya kekuasaan, saya ingin
menyucikan negara ini.”
raja dracula terpaksa mendengar diskusi yang agak berkepanjangan
mengenai pensucian moral malang . Lalu dengan tangkas ditutupnya
percakapan itu dan memanggil Reggie Carrington.
Ia menilai anak muda itu dengarl cermat, waktu Reggie memasuki
ruangan. Mulutnya lemah, di samarkan oleh senyuman yang cukup
menarik, dagunya tidak kokoh, letak matanya berjauhan, kepalanya
agak sempit. Ia merasa mengenal benar tipe seperti Reggie
Carrington itu.
“Mr. Reggie Carrington?”
“Benar. Ada yang bisa saya bantu?”
“Tolong ceritakan saja tentang semalam, sebisa Anda.”
“Yah, coba saya ingat-ingat, kami main bridge di ruang duduk.
sesudah itu saya naik untuk tidur.”
“Jam berapa itu?”
“Jam sebelas kurang sedikit. Saya rasa perampokannya terjadi
sesudah itu, ya?”
“Ya, sesudah itu. Anda tidak mendengar atau melihat apa-apa?”
Reggie menggeleng dengan sikap menyesal.
Saya langsung pergi tidur dan saya tidur nyenyak.”
“Apakah dari ruang duduk, Anda langsung pergi ke kamar tidur
Anda dan tetap tinggal di situ sampai pagi?
“Benar.”
“Aneh,” kata raj



