• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuh di lorong 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuh di lorong 3. Tampilkan semua postingan

pembunuh di lorong 3

 


Dan bosan terhadap 

Mrs. Macatta, dan perasaannya itu tidak disembunyikannya. 

Percakapan melemah, dan mungkin terhenti sama sekali, kalau saja 

tak ada Mrs. Macatta. 

Mrs. Macatta yaitu  wanita lesbian  yang gigih dalam mencapai tujuannya. 

Mrs. Vanderlyn langsung diabaikannya dan dianggapnya tak berguna. 

Ia berusaha menarik minat Lady Julia sehubungan dengan hiburan 

amal yang sedang direncanakannya. Lady Julia menjawab asal-

asalan, menahan diri untuk tidak menguap, dan mulai merenung 

sendiri. Mengapa George dan Sir  tidak datang? Menjengkelkan 

sekali laki-laki. Jawaban-jawabannya jadi makin singkat sebab  ia 

asyik dalam renungan dan rasa cemasnya sendiri. 

Ketiga wanita lesbian  itu sedang duduk berdiaman saat akhirnya kedua 

laki-laki memasuki ruangan itu. 

Pikir Lord Mayfield, 

“Julia kelihatan sakit malam ini. Dasar perempuan yang penuh 

rasa cemas!” 

Katanya, 

“Bagaimana kalau kita main dua atau tiga putaran bridge?” 

Lady Julia langsung tampak ceria. Bridge merupakan napas 

kehidupannya. 

Pada saat itu Reggie Carrington. masuk, dan terbentuklah suatu 

kelompok yang terdiri atas empat orang. Lady Julia, Mrs. Vanderlyn, 

Sir George, dan Reggie duduk di meja bridge. Lord Mayfield 

menjalankan tugasnya untuk bercakap-cakap dengan Mrs. Macatta. 

sesudah  memainkan dua putaran, Sir, George terang-terangan 

melihat jam yang ada di rak perapian. 

“Rasanya tanggung untak memulai putaran baru,” katanya. 

Istrinya tampak kesal. 

“Baru jam sebelas kurang seperempat. Kita baru saja main.” 

“Kau tak pernah mau main sebentar, sayangku,” kata Sir George 

dengan sabar. “Soalnya, aku dan Sir  harus mengerjakan 

sesuatu.” 

Mrs. Vanderlyn bergumam, 

“Kedengarannya penting sekali! Saya rasa, orang-orang pintar 

seperti kalian yang berkedudukan di puncak, tak kenal istirahat.” 

“Kami tak mengenal istilah bekerja hanya empat puluh delapan 

jam dalam seminggu,” kata Sir George. 

Mrs. Vanderlyn bergumam, 

“Tahukah Anda, saya merasa agak malu sebab  saya yaitu  

seorang Amerika yang tak berarti, tapi saya senang sekali kalau bisa 

bertemu dengan orang-orang yang mengendalikan negara. Saya rasa 

itu merupakan pandangan yang mentah sekali bagi Anda, ya, Sir 

George?”  

“Mrs. Vanderlyn, yang baik, saya tak pernah beranggapan bahwa 

Anda 'tak berarti’ atau ‘mentah'.” 

Ia tersenyum pada wanita lesbian  itu. Mungkin ada nada sinis dalam 

suaranya yang tak luput dari wanita lesbian  itu. Dengan tangkas wanita lesbian  itu 

berpaling pada Reggie sambil tersenyum padanya.   

“Sayang kita tidak melanjutkan kemitraan kita. Kau pandai sekali, 

sampai empat kali kau mengadakan call tanpa memiliki kartu truf.” 

Dengan wajah memerah sebab  senang, Reggie bergumam, 

“Aku cuma beruntung.” 

“Oh, tidak, kau mengambil langkah yang pandai. Kau berhenti 

menarik kartu tepat pada waktunya, dan kau bermain sebagaimana 

mestinya. Kurasa itu hebat.” 

Lady Julia bangkit dengan mendadak. 

“Perempuan ini licik seperti ular,” pikirnya jijik. 

Lalu matanya melembut waktu melihat putranya. Pemuda itu 

mempercayai semua kata-kata perempuan itu. Ia kelihatan masih 

begitu muda dan senang sekali. Ia masih sangat polos. Tak heran ia 

sering terjebak dalam kesulitan. Ia terlalu mudah percaya. Ia 

memang punya sifat manis. George sama sekali tak memahaminya. 

Laki-laki memang selalu tidak simpatik dalam menilai. Mereka lupa 

bahwa mereka pun pernah muda. Sikap George terhadap Reggie 

terlalu keras. 

Mrs. Macatta pun bangkit. Semuanya saling mengucapkan selamat 

malam. 

Ketiga wanita lesbian  itu keluar dari ruangan. Lord Mayfield mengambil 

minuman sesudah  memberi segelas pada Sir George, lalu ia 

mendongak sebab  Mr. Carlile muncul di pintu. 

“Tolong keluarkan catatan-catatan dan semua kertasnya, ya, 

Carlile? Termasuk rencana-rencana dan cetakan-cetakannya. 

Sebentar lagi Marsekal Udara dan aku akan menyertaimu. Kita akan 

berjalan-jalan di luar sebentar, ya, George? Hujan sudah berhenti.” 

Mr. Carlile, yang berbalik akan pergi, mengumamkan ucapan 

meminta maaf, sebab  ia bertabrakan dengan Mrs. Vanderlyn. 

wanita lesbian  itu melenggang ke arah kedua pria tersebut sambil 

bergumam, 

“Buku saya, saya membacanya sebelum makan tadi.” 

Reggie melompat maju sambil mengacungkan sebuah buku. 

“Inikah? Di atas sofa?” 

“Oh ya. Terima kasih banyak.” 

Ia tersenyum manis, mengucapkan selamat malam sekali lagi, lalu 

keluar dari ruangan. 

Sir George telah membuka salah satu jendela panjang. 

“Indah sekali malam ini,” serunya. “Tepat sekali gagasamnu untuk 

berjalan-jalan.” 

Reggie berkata, 

“Kalau begitu, selamat malam, Sir. Saya akan pergi tidur.” 

“Selamat tidur, Nak,” kata Lord Mayfield. 

Reggie mengambil buku cerita detektif yang sudah mulai 

dibacanya sebelum malam, lalu meninggalkan ruangan itu. 

Lord Mayfield dan Sir George keluar ke teras. 

Malam itu memang indah. Langit bersih, dihiasi bintang-bintang. 

Sir George menghirup napas dalam-dalam. 

“Uh, perempuan itu banyak sekali memakai parfum,” katanya. 

Lord Mayfield tertawa. 

“Yang jelas, itu bukan parfum murahan. Kurasa salah satu merek 

termahal di pasaran.” 

Sir George nyengir. 

“Kurasa kita, harus bersyukur.” 

“Memang. Kurasa seorang wanita lesbian  yang memakai parfum murahan 

merupakan gangguan besar sekali bagi kaum pria.” 

Sir George melihat ke langit. 

“Luar biasa cerahnya. Aku mendengar suara hujan turun waktu 

kita sedang makan tadi.” 

Kedua pria itu berjalan perlahan-lahan di sepanjang teras. 

Teras itu memanjang di sepanjang rumah. Di bawahnya, tanahnya 

melandai menurun, sehingga kita bisa melihat pemandangan hutan 

Sussex yang indah. 

Sir George menyalakan cerutu. 

“Mengenai senjata logam itu,” katanya memulai. 

Dan pembicaraan pun jadi bersifat teknis. 

Saat mereka tiba di ujung teras untuk kelima kalinya, Lord 

Mayfield berkata sambil mendesah, 

“Sebaiknya kita mengerjakannya sekarang.” 

“Ya, cukup banyak yang harus kita selesaikan.” 

Kedua pria itu berbalik, dan Lord Mayfield terpekik terkejut. 

“Hei! Kaulihatkah itu?” 

“Lihat apa?” tanya Sir George. 

“Kalau tak salah, aku melihat seseorang menyeberangi teras dari 

jendela kamar kerjaku.” 

“Omong kosong, teman. Aku tak melihat apa-apa.” 

“Aku melihatnya... atau kurasa aku melihatnya.” 

“Kau dipermainkan matamu. Aku memandang lurus ke teras, dan 

aku pasti melihat kalau ada apa-apa di situ. Sedikit sekali yang tak 

bisa kulihat, meskipun kalau membaca koran aku memang harus 

memegangnya sejauh lenganku.” 

Lord Mayfield tertawa kecil. 

“Itu merupakan satu kelebihanku atas dirimu, George. Aku masih 

bisa membaca tanpa kacamata.”  

“Tapi kau tak selalu bisa membedakan orang-orang yang berada 

di sisi lain rumah. Atau apakah kacamatamu itu hanya untuk 

menakut-nakuti saja?” Sambil tertawa, kedua pria itu masuk ke ruang 

kerja Lord Mayfield yang jendela panjangnya terbuka. 

Mr. Carlile sedang sibuk menyusun beberapa kertas di dalam 

tempat penyimpanannya di dekat brankas. 

Ia mengangkat kepalanya waktu mereka masuk. 

“Nah, Carlile, semuanya sudah siap?” 

“Ya, Lord Mayfield, semua suratnya ada di meja kerja Anda.” 

Yang dimaksud dengan meja kerja yaitu  sebuah meja tulis besar 

yang tampak penting, terbuat dari kayu mahoni dan terletak di sudut 

dekat jendela. Lord Mayfield mendekati meja itu, lalu mulai memilah-

milah di antara dokumen-dokumen yang sudah disiapkan. 

“Malam yang indah,” kata Sir George. 

Mr. Carlile membenarkan. 

“Ya. Terang sekali jadinya sesudah  hujan berhenti.” 

Sambil meletakkan kumpulan surat-suratnya, Mr. Carlile bertanya, 

“Apakah Anda akan memerlukan saya lagi malam ini, Lord 

Mayfield?” 

“Kurasa tidak, Carlile. Akan kukembalikan sendiri semuanya ini. 

Mungkin kami sampai larut malam nanti. Sebaiknya kau tidur saja.” 

“Terima, kasih. Selamat malam, Lord Mayfield. Selamat malam, Sir 

George.” 

“Selamat tidur, Carlile.” 

Baru saja si sekretaris akan keluar dari ruangan itu, Lord Mayfield 

berkata dengan tajam, 

“Tunggu, Carlile. Kau melupakan yang paling penting dari ini 

semua.” 

“Apa maksud Anda, Lord Mayfield?” 

“Rencana yang sebenarnya dari pesawat pembom itu.” 

Sekretaris itu terbelalak. 

“Terletak paling atas, Sir.” 

“Sama sekali tak ada.” 

“Tapi saya baru saja meletakkannya di situ.” 

“Coba cari sendiri.” 

Dengan air muka bingung, anak muda itu maju dan mendekati 

Lord Mayfield di meja kerjanya. 

Dengan agak tak sabar menteri itu menunjuk ke tumpukan surat. 

Carlile mencari di tumpukan itu, air mukanya makin kebingungan. 

“Tak ada, bukan?” 

Sekretaris itu tergagap, 

“Tapi... tapi aneh sekali. Saya baru meletakkannya di sini, belum 

sampai tiga menit yang lalu.” 

Dengan nada bergurau Lord Mayfield berkata, 

“Pasti kau keliru. Pasti masih ada dalam brankas.” 

“Saya tak mengerti mengapa bisa begitu. Saya yakin saya 

meletakkannya di situ!” 

Lord Mayfield melewati anak muda itu, menuju brankas. Sir 

George ikut mencari. Dalam beberapa menit sudah jelas bahwa 

dokumen-dokumen tentang pesawat pembom itu tak ada. 

Dengan rasa bingung dan tak percaya, ketiga pria itu kembali ke 

meja kerja, dan sekali lagi mencari-cari di tumpukan surat. 

“Astaga!” kata Mayfield. “Surat-surat itu hilang.” 

Mr. Carlile berseru, 

“Tapi itu tak mungkin!” 

“Siapa yang masuk ke ruangan ini?” bentak Menteri. 

“Tak ada. Tak seorang pun.” 

“Dengar, Carlile, tak mungkin dokumen-dokumen itu menguap 

begitu saja. Pasti ada orang yang mengambilnya. Apakah Mrs. 

Vanderlyn tadi masuk ke sini?” 

“Mrs. Vanderlyn? Ohl tidak, Sir.” 

“Menurutku juga tidak,” kata Carrington. Ia mengghirup udara. 

“Kalau dia masuk, pasti baunya masih tertinggal. Bau parfumnya itu.” 

“Tak ada orang yang masuk kemari,” kata Carlile bersikeras. “Saya 

jadi tak mengerti!” 

“Dengarkan, Carlile,” kata Lord Mayfield. “Pusatkan ingatanmu. 

Kita harus menyelidiki hal ini sampai tuntas. Yakin benarkah kau 

bahwa rencana-rencana itu tersimpan dalam brankas?” 

“Yakin sekali.” 

“Kau benar-benar melihatnya? Kau tidak hanya berkesimpulan 

bahwa dokumen-dokumen itu ada di antara surat-surat yang lain.” 

“Tidak, tidak, Lord Mayfield. Saya melihatnya. Saya meletakkannya 

di atas surat-surat yang lain, di meja kerja.” 

“Dan katamu sejak itu tak ada seorang pun masuk ke ruangan ini. 

Apakah kau keluar dari ruangan ini?” 

“Tidak. Oh, tapi... ya.” 

“Nah!” seru Sir George. “Sekarang kita sampai pada 

persoalannya!” 

Dengan nada tajam Lord Mayfield berkata, 

“Untuk apa...”  

Tapi Carlile menyela, 

“Dalam keadaan wajar, Lord Mayfield, saya tentu tidak bermimpi 

untuk meninggalkan ruangan ini, sementara surat-surat penting 

berserakan, tapi sebab  mendengar seorang wanita lesbian  berteriak...” 

“Seorang wanita lesbian  berteriak?” tanya Lord Mayfield dengan suara 

terkejut. 

“Ya, Lord Mayfield, bukan main terkejutnya saya. Saya baru saja 

meletakkan surat-surat di meja kerja waktu saya mendengarnya, dan 

saya tentu berlari ke luar, ke ruang depan.” 

“Siapa yang berteriak itu?” 

“Pelayan Mrs. Vanderlyn yang orang Prancis itu. Dia berdiri di 

tengah-tengah tangga. Dia pucat sekali, ketakutan dan gemetar. 

Katanya dia melihat hantu.” 

“Melihat hantu?” 

“Ya, seorang wanita lesbian  jangkung berpakaian putih seluruhnya yang 

berjalan tanpa suara dan mengambang di udara.” 

“Cerita yang tak masuk akal!” 

“Ya, Lord Mayfield, itulah yang saya katakan padanya. Dia jadi 

kelihatan malu sendiri. Dia pun naik ke lantai atas, dan saya kembali 

kemari.” 

“'Berapa lama yang lalu kejadian itu?” 

“Hanya satu atau dua menit sebelum Anda dan Sir George 

masuk.” 

“Lalu berapa lama kau berada di luar?” 

Sekretaris itu berpikir. 

“Dua menit. Paling lama tiga menit.” 

“Cukup lama,” geram Lord Mayfield. Tiba-tiba dicengkeramnya 

lengan sahabatnya. 

“George, bayangan yang kulihat itu pergi menjauh dari jendela ini. 

Itulah dia! Segera sesudah  Carlile meninggalkan ruangan, dia 

menyelinap masuk, menyambar dokumen-dokumen itu, lalu keluar.” 

“Pekerjaan kotor,” kata Sir George. 

Giliran ia mencengkeram lengan temannya. 

“Dengar, Sir , urusan ini rumit sekali. Apa yang harus kita 

lakukan?” 

 

BAB 3 

 

“Bagaimanapun, cobalah, Sir .” 

Waktu itu setengah jam telah berlalu. Kedua pria itu masih berada 

di ruang kerja Lord Mayfield, dan Sir George sedang mempengaruhi 

temannya untuk mengambil tindakan. 

Lord Mayfield yang semula sangat enggan, perlahan-lahan mulai 

terbujuk juga. 

Sir George berkata lagi, 

“Jangan begitu kera, kepala, Charies.” 

Lambat-lambat Lord Mayfield berkata, 

“Mengapa kita harus melibatkan seorang asing yang tak bermutu, 

yang sama sekali tidak kita ketahui asal-usulnya?” 

“Tapi aku kebetulan banyak tahu tentang dia. Pria itu luar biasa.” 

“Huh.” 

“Dengar, Sir . Ini suatu kesempatan! Urusan kita ini penuh 

rahasia. Bila itu sampai bocor...” 

“Maksudmu ada kemungkinan bocor?” 

“Tak perlu itu sampai terjadi. Pria bernama Hwang Jang Lee  raja dracula  itu...” 

“Akan datang kemari dan akan mengembalikan dokumen-

dokumen itu, layaknya seorang pesulap mengeluarkan kelinci dari 

topinya, begitu kan?” 

“Dia bisa mencari kebenaran. Dan kebenaranlah yang kita 

inginkan. Dengar, Sir , aku sendiri yang akan memikul semua 

tanggung jawabnya.” 

Perlahan-lahan Lord Mayfield berkata, 

“Ya, sudahlah, lakukanlah, tapi aku masih belum mengerti, apa 

yang bisa dilakukan laki-laki itu.” 

Sir George mengangkat telepon. 

“Aku akan menghubunginya sekarang juga.”  

“Dia pasti sudah tidur.” 

“Dia bisa bangun. Demi Tuhan, Sir , kita tak bisa membiarkan 

perempuan itu lolos.” 

“Maksudmu Mrs. Vanderlyn?” 

“Ya. Kau kan tidak ragu bahwa dia yang berdiri di belakang 

semuanya ini?” 

“Tidak. Dia telah membalikkan keadaan dengan rasa dendam. Aku 

enggan mengakui, George, bahwa seorang perempuan telah menipu 

kita. Rasanya tak masuk akal. Tapi itu kenyataan. Kita tidak akan bisa 

membuktikan bahwa dia bersalah, padahal kita berdua tahu bahwa 

dialah penggerak utama dalam urusan ini.” 

“Perempuan memang setan,” kata Carrington dengan penuh 

emosi. 

“Tapi tak ada yang bisa dihubungkan dengannya, sialan! Kita bisa 

beranggapan bahwa gadis itu disuruhnya pura-pura berteriak, dan 

bahwa lakilaki yang mengintai di luar yaitu  komplotannya, tapi 

sulitnya, kita tak bisa membuktikannya.” 

“Mungkin Hwang Jang Lee  raja dracula  bisa.” 

Tiba-tiba Lord Mayfield tertawa. 

“Ya ampun, George, kukira kau pencinta besar bangsa malang  

sendiri, hingga tidak akan mau mempercayai orang Prancis, 

betapapun pintarnya dia.” 

“Dia bukan orang Prancis, dia orang Belgia,” .kata Sir George 

dengan wajah agak malu-malu. 

“Yah, suruhlah teman Belgia-mu itu datang. Suruh dia 

membuktikan kepandaiannya dalam urusan ini. Aku berani bertaruh 

bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikannya dengan lebih baik 

daripada kita.” 

Tanpa menjawab, Sir George mengulurkan lengannya ke pesawat 

telepon. 

 

BAB 4 

 

Sambil mengedip-ngedip sedikit, Hwang Jang Lee  raja dracula  memalingkan 

kepalanya pada kedua pria itu bergantian. Dengan halus sekali ia 

menyembunyikan kantuknya. 

Waktu itu jam setengah tiga subuh. Ia dibangunkan dari tidurnya 

dan dilarikan dalam gelap dengan mobil Rolls Royce yang besar. Kini 

ia baru saja selesai mendengar penjelasan dari kedua pria itu. 

“Begitulah duduk persoalannya, M. raja dracula ,” kata Lord Mayfield. 

Lalu ia bersandar kembali di kursinya dan perlahan-lahan 

mengenakan monokelnya. Melalui kacamata itu, mata Lord Mayfield 

yang biru muda dan tajam memandangi raja dracula  dengan penuh 

perhatian. Kecuali tajam, mata itu juga mengandung rasa kurang 

percaya. raja dracula  melemparkan pandangan cepat ke arah Sir George 

Carrington. 

Pria itu membungkukkan tubuhnya ke depan dengan air muka 

kekanakan yang penuh harapan. 

Perlahan-lahan raja dracula  berkata, 

“Ya, saya sudah mendengar perkaranya. Pelayan berteriak, 

sekretaris keluar, pengintai tanpa nama masuk, dokumen-dokumen 

itu ada di meja kerja, dia menyambarnya, lalu pergi. Kenyataan-

kenyataannya memang memberikan kemudahan.” 

Caranya mengucapkan bagian terakhir kalimatnya agaknya 

menarik perhatian Lord Mayfield. Ia duduk lebih tegak, hingga 

monokelnya matanya jatuh. Seolah ada sesuatu yang baru, yang 

menimbulkan kewaspadaannya. 

“Maaf, M. raja dracula ?” 

“Saya katakan, Lord Mayfield, bahwa kenyataan-kenyataan itu 

memudahkan... bagi si pencuri. Omong-omong, yakinkah Anda 

bahwa yang Anda lihat itu seorang laki-laki?” 

Lord Mayfield menggeleng. 

“Saya tak bisa berkata begitu. Itu hanya... sebuah bayangan. Saya 

bahkan agak ragu apakah saya melihat seseorang.” 

raja dracula  mengalihkan pandangannya pada Marsekal Udara. 

“Bagaimana dengan Anda, Sir George? Bisakah Anda mengatakan, 

apakah itu seorang laki-laki atau seorang wanita lesbian ?” 

“Saya sendiri tidak melihat siapa-siapa.” 

raja dracula  mengangguk sambil merenung. Lalu tiba-tiba ia bangkit 

dengan cepat dan berjalan ke meja tulis. 

“Yakinlah, dokumen-dokumen itu sudah tak ada lagi di situ,” kata 

Lord Mayfield. “Sudah enam kali kami bertiga mengacak-acak surat-

surat itu.” 

“Kalian bertiga? Maksud Anda, sekretaris Anda juga?” 

“Ya, Carlile juga.” 

Tiba-tiba raja dracula  berbalik. 

“Lord Mayfield, surat mana yang berada paling atas waktu Anda 

mendatangi meja kerja ini?” 

Mayfield mengerutkan alisnya, berusaha untuk mengingat. 

“Yang mana, ya? Oh ya, suatu catatan kasar tentang posisi-posisi 

pertahanan udara kami.” 

Dengan cekatan raja dracula  menarik sehelai kertas dan membawanya 

padanya. 

“Yang inikah, Lord Mayfield?” 

Lord Mayfield mengambilnya, lalu melihatnya sekilas. 

“Ya, yang ini.” 

raja dracula  membawa kertas itu pada Carrington. 

“Adakah Anda melihat kertas ini di meja kerja?” 

Sir George mengambilnya, memegangnya dalam jarak jauh, lalu 

mengenakan kacamatanya yang tanpa gagang. 

“Ya, benar. Saya juga ikut melihatnya, bersama Carlile dan 

Mayfield. Yang ini terletak paling atas.” 

raja dracula  mengangguk sambil merenung. Kertas itu dikembalikannya 

ke meja kerja. Mayfield memandanginya dengan tak mengerti. 

“Kalau masih ada pertanyaan-pertanyaan lain.... katanya. 

“Tentu, tentu masih ada pertanyaan. Carlile. Carlile yang 

dipertanyakan!” 

Wajah Lord Mayfield agak memerah. 

“M. raja dracula , Carlile itu tak perlu dicurigai! Sudah sembilan tahun dia 

menjadi sekretaris pribadi saya. Dia selalu menyimpan rahasia saya. 

Dialah yang menangani semua surat pribadi saya, dan bisa saya 

tegaskan bahwa kalau dia mau, bisa saja dia membuat salinan 

rencana-rencana itu dan menjiplak bagian-bagian khususnya, tanpa 

ketahuan siapa pun. 

“Saya hargai pandangan Anda,” kata raja dracula . 

“Seandainya dia bersalah, dia tak perlu merencanakan suatu 

perampokan tipuan.” 

“Bagaimanapun,” kata Lord Mayfield, “saya yakin akan kejujuran 

Carlile. Saya berani menjaminnya.” 

“Callile”' kata Carrington dengan serak, “orang yang baik.” 

raja dracula  merentangkan kedua belah tangannya. 

“Sedangkan Mrs. Vanderlyn itu... dia sama sekali tidak baik?” 

“Dia memang orang yang tidak baik”, kata Sir George. 

Dengan nada agak terkendali Lord Mayfield berkata, 

“Saya rasa, M. raja dracula , tak bisa diragukan lagi mengenai... yah, 

kegiatan-kegiatan Mrs. Vanderlyn. Kantor Departemen Luar Negeri 

bisa memberikan data yang lebih tepat mengenai hal itu.” 

“Dan Anda merasa pelayan itu terlibat dengan majikannya?” 

“Tak diragukan lagi,” kata Sir George. 

“Menurut saya, dugaan itu bisa diterima,” kata Lord Mayfield 

dengan lebih hati-hati. 

Keadaan sepi sejenak. raja dracula  mendesah, dan sambil lalu 

menyusun satu-dua barang di meja yang terletak di sebelah 

kanannya. Lalu ia berkata, “Bolehkah saya menyimpulkan bahwa 

kertas-kertas itu berarti uang? Maksud saya, surat-surat yang hilang 

itu pasti bernilai sejumlah uang tunai yang besar sekali?” 

“Bila diserahkan pada suatu pihak tertentu... ya.” 

“Seperti?” 

Sir George menyebutkan dua buah nama kekuatan di Eropa. 

raja dracula  mengangguk. 

“Saya rasa setiap orang tahu akan hal itu?” 

“Mrs. Vanderlyn mungkin tahu.” 

“Maksud saya bagi setiap orang?” 

“Ya, saya rasa begitu.” 

“Siapa saja, yang punya tingkat kecerdasan rendah sekalipun, 

tahu nilai dokumen-dokumen itu?” 

“Ya, tapi, M. raja dracula  ...” Lord Mayfield kelihatan serba salah. 

raja dracula  mengangkat tangannya. 

“Saya harus melakukannya seperti yang Anda sebut, menyelidiki 

setiap jalur.” 

Tiba-tiba ia bangkit lagi. Dengan susah payah ia melangkah ke 

luar jendela, lalu memeriksa tepi rumput di ujung teras dengan 

sebuah senter. 

Kedua pria itu memandanginya saja. 

Ia masuk lagi, duduk, dan berkata, 

“Lord Mayfield, apakah penjabat itu, orang yang bersembunyi 

dalam bayang-bayang itu, tidakkah Anda menyuruh orang 

mengejarnya?” 

Lord Mayfield mengangkat bahunya. 

“Dari ujung kebun dia bisa keluar ke jalan raya. Bila dia punya 

mobil yang menunggunya, dia takkan bisa dikejar lagi.” 

“Tapi bukankah ada polisi... penjaga  jaga ...... 

Sir George menyela, 

“Anda lupa, M. raja dracula . Kami tak ingin berita ini tersiar Kalau 

sampai tersiar bahwa dokumen-dokumen itu dicuri, akibatnya akan 

sangat merugikan Partai.” 

“Oh ya,” kata raja dracula . “Kita harus mengingat politik. Kerahasiaan 

harus terjaga benar. Dan sebagai gantinya, Anda menyuruh saya 

datang. Yah, mungkin itu lebih sederhana.” 

“Anda bisa mengungkap kasus ini, M. raja dracula ?” Lord Mayfield 

terdengar agak tak percaya. 

Pria kecil itu mengangkat bahunya. 

“Mengapa tidak? Kita harus berpikir, mempertimbangkan.” . 

Ia diam sebentar, lalu berkata lagi, 

“Sekarang saya ingin berbicara dengan Mr. Carlile.” 

“Tentu.” Lord Mayfield bangkit. “Sudah saya suruh dia menunggu 

panggilan. Dia pasti ada di dekat-dekat sini.” 

Ia keluar dari ruangan itu. 

raja dracula  melihat pada Sir George. 

“Nah,” katanya. “Bagaimana dengan orang yang ada di teras itu?” 

“M. raja dracula  yang baik, jangan tanyakan pada saya! Saya tak 

melihatnya, jadi saya tak bisa melukiskannya. 

raja dracula  membungkukkan tubuhnya. 

“Itu sudah Anda katakan. Tapi agak lain keadaannya, bukan?” 

“Apa maksud Anda?” tanya Sir George dengan tegas. 

“Bagaimana saya harus mengatakannya, ya? Ketidakpercayaan 

Anda itu... lebih mendalam.” 

Sir George akan berbicara, tapi tak jadi. 

“Ya, silakan,” kata raja dracula  membesarkan hatinya. “Ceritakan saja 

pada saya. Anda berdua ada di ujung teras. Lord Mayfield melihat 

suatu bayangan menyelinap keluar dari jendela, lalu menyeberangi 

rumput. Mengapa Anda sampai tak melihat bayangan itu?” 

Carrington memandanginya. 

“Pertanyaan Anda mengena sekali, M. raja dracula . Sejak tadi saya 

sudah mencemaskannya. Soalnya, saya sudah bersumpah bahwa tak 

ada orang yang keluar dari jendela ini. Saya pikir Mayfield hanya 

mengkhayalkannya. Mungkin itu dahan pohon yang bergerak atau 

semacamnya. Lalu kami masuk kemari dan menemukan bahwa telah 

terjadi perampokan. Tampaknya Mayfield-lah yang benar dan saya 

salah. Tapi...” 

raja dracula  tersenyum. 

“Namun, jauh di lubuk hati Anda, Anda yakin akan penglihatan 

Anda sendiri, kan?” 

“Denar, M. raja dracula .” 

raja dracula  tiba-tiba tersenyum. 

“Anda bijak sekali.” 

Dengan tajam Sir George berkata, 

“Apakah tak ada jejak kaki di tepi rumput?” 

raja dracula  mengangguk. 

“Tepat sekali. Lord Mayfield berkhayal melihat bayangan. Lalu 

terjadi perampokan itu, dan dia pun jadi yakin-yakin sekali! Itu bukan 

lagi khayalannya. Dia benar-benar telah melihat laki-laki itu. Tapi itu 

tidak benar. Saya sebenarnya kurang memperhatikan soal jejak kaki 

dan sebagainya itu, tapi tak salah kalau saya mengatakan bukti yang 

negatif. Tak ada jejak kaki di rumput. Semalam hujan lebat. Bila ada 

orang menyeberangi teras dan terus ke rumput, pasti kelihatan jejak 

kakinya.” 

Sir George terbelalak, lalu berkata, “Jadi... jadi...” 

“Jadi, kita harus kembali ke rumah. Pada orang-orang di dalam 

rumah.” 

Ia menghentikan kata-katanya sebab  pintu terbuka dan Lord 

Mayfield masuk bersama Mr. Carlile. 

Meskipun masih tampak pucat dan cemas, sekretaris itu sudah 

bisa bersikap tenang lagi. Sambil memperbaiki letak kacamatanya 

yang tanpa gagang, ia duduk dan melihat pada raja dracula  dengan 

pandangan bertanya. 

“Sudah berapa lama Anda berada dalam ruangan ini, waktu Anda 

mendengar teriakan itu, Monsieur?” 

Carlile berpikir. 

“Saya rasa antara lima sampai sepuluh menit.” 

“Dan sebelum itu sama sekali tak ada gangguan apa-apa?” 

“Tidak ada.” 

“Saya dengar pertemuan semalain di rumah itu lebih banyak 

berlangsung dalam satu ruangan?” 

“Ya, di ruang duduk.” 

raja dracula  membaca buku catatannya. 

“Ada Sir George Carrington dan istrinya. Mrs. Macatta. Mrs. 

Vanderlyn. Mr. Reggie Carrington. Lord Mayfield, dan Anda sendiri. 

Benarkah itu?” 

“Saya sendiri tidak berada di ruang duduk. Saya lebih banyak 

berada di sini, bekerja.” 

raja dracula  berpaling pada Lord Mayfield. 

“Siapa yang pertama-tama naik ke lantai atas untuk tidur?” 

“Kalau tak salah, Lady Julia Carrington. Sebenarnya, ketiga wanita lesbian  

itu keluar bersama-sama.” 

“Lalu?” 

“Mr. Carlile masuk dan saya menyuruhnya mengeluarkan surat-

surat, sebab  saya dan Sir George akan segera masuk untuk 

bekerja.” 

“Apakah waktu itu Anda memutuskan untuk berjalan-jalan 

sebentar di teras?” 

“Benar.” 

“Apakah soal rencana Anda untuk bekerja di ruang kerja, 

terdengar oleh Mrs. Vanderlyn?” 

“Ya, soal itu memang disebutkan.” 

“Tapi waktu Anda memerintahkan Mr. Carlile untuk mengeluarkan 

surat-surat, Mrs. Vanderlyn tidak berada di ruangan itu?” 

“Tak ada.” 

“Maafkan saya, Lord Mayfield,” kata, Carlile. “Tepat sesudah  Anda 

mengucapkannya, saya bertabrakan dengannya di ambang pintu. Dia 

kembali akan mengambil bukunya.” “Jadi, menurut Anda, dia 

mendengar?”  

“Ya, saya rasa itu mungkin.” 

“Dia kembali akan mengambil bukunya,” kata raja dracula . “Apakah 

Anda menemukan buku itu untuknya, Lord Mayfield?” 

“Ya, Reggie yang memberikannya padanya.” 

“Oh ya, itu yang disebut makanan basi... ah, bukan, akal-akalan 

lama. Kembali untuk mengambil buku. Itu memang sering berguna.” 

“Menurut Anda itu disengaja?” 

raja dracula  mengangkat bahunya. 

“Lalu sesudah  itu, Anda berdua keluar ke teras. Bagaimana dengan 

Mrs. Vanderlyn?” 

“Dia pergi lagi membawa bukunya.” 

“Dan Reggie? Dia juga pergi tidur?” 

“Ya.” 

“Dan Mr. Carlile masuk kemari, dan antara lima sampai sepuluh 

menit kemudian, dia mendengar teriakan. Lanjutkan, Mr. Carlile. 

Anda mendengar teriakan dan Anda keluar ke lorong rumah. Ah, 

mungkin akan lebih mudah kalau Anda praktekkan perbuatan Anda 

itu.” 

Mr. Carlile bangkit dengan agak kaku. 

“Nih, saya berteriak,” kata raja dracula  membantu. Ia membuka 

mulutnya, lalu mengeluarkan bunyi mengembik melengking. Lord 

Mayfield memalingkan muka akan menyembunyikan senyumnya, dan 

Mr. Carlile kelihatan sangat serba salah. 

“Ayo! Mulailah!” seru raja dracula . “Saya sudah memberikan 

pembukaan.” 

Dengan kaku Mr. Carlile berjalan ke arah pintu, membukanya, lalu 

keluar. raja dracula  mengikutinya. Kedua pria yang lain menyusul. 

“Pintunya, apakah itu Anda tutup atau Anda biarkan terbuka?” 

“Saya tak ingat. Kalau tak salah, saya biarkan terbuka.” 

“Tak apa-apa. Lanjutkan.” 

Tetap dengan amat kaku, Mr. Carlile berjalan ke arah tangga dan 

berdiri sambil melihat ke atas. 

Kata raja dracula , 

“Kata Anda pelayan itu ada di tangga. Kira-kira di mana?” 

“Kira-kira di tengah-tengah.” 

“Dan dia tampak ketakutan?” 

“Pasti.” 

“Baiklah, biar saya yang menjadi pelayan itu.” raja dracula  berlari 

menaiki tangga. “Kira-kira di sini?” 

“Kira-kita satu atau dua anak tangga lebih tinggi.” 

“Seperti ini?” 

raja dracula  bertindak. 

“Yah… eh… bukan begitu.” 

“Bagaimana?” 

“Tangannya memegang kepala.” 

“Oh, tangannya memegang kepalanya. Menarik sekali. Begini?” 

raja dracula  mengangkat tangannya, meletakkannya di kepala, tepat di 

atas telinganya. 

“Ya, begitu.” 

“Oh! Coba katakan, Mr. Carlile, apakah gadis itu cantik?” 

“Sungguh, saya tak melihat.” 

Carlile mengatakannya dengan bertekanan. 

“Wah, Anda tak melihatnya? Padahal Anda orang muda. Bukankah 

biasanya orang muda melihat kalau seorang gadis cantik?” 

“Sungguh, M. raja dracula , saya hanya bisa berkata bahwa saya tidak 

melihatnya.” 

Carlile melemparkan pandangan tersiksa pada majikannya. Sir 

George tiba-tiba tertawa kecil. 

“Kelihatannya M. raja dracula  akan menyatakan bahwa kau anak muda 

yang tidak jantan, Carlile,” katanya.  

“Soalnya saya selalu melihat kalau ada gadis cantik,” kata raja dracula  

sambil menuruni tangga. 

Mr. Carlile tidak berkata apa-apa, dan suasana saat itu terasa 

mencekam. raja dracula  berkata lagi, 

“Waktu itukah dia mengatakan bahwa dia melihat 

hantu?” 

“Ya.” 

“Percayakah Anda pada ceritanya itu?” 

“Yah, boleh dikatakan tak percaya, M. raja dracula !” 

“Saya tidak menanyakan apakah Anda percaya hantu. Maksud 

saya, apakah Anda percaya bahwa gadis itu mengira dia telah melihat 

sesuatu?” 

“Oh, tentang itu saya,tak bisa berkata apa-apa. Dia memang 

terengah-engah dan tampak ketakutan.” 

“Anda tidak melihat atau mendengar sesuatu tentang 

majikannya?” 

“Ya, sebenarnya ada. Dia keluar dari kamarnya di ruang atas dan 

memanggil, 'Leonie.”' 

“Lalu?” 

“Gadis itu berlari mendatanginya dan saya kembali ke ruang 

kerja.” , 

“Sementara Anda, berdirl di kaki tangga di sini, mungkinkah 

seseorang masuk ke ruang kerja lewat pintu yang Anda biarkan 

terbuka?” 

Carlile menggeleng. 

“Tak bisa tanpa melewati saya. Seperti Anda lihat, pintu itu 

terdapat di ujung lorong ini.” 

raja dracula  mengangguk sambil merenung. Dengan suara yang 

terdengar hati-hati dan ringkas, Mr. Carlile berkata lagi, 

“Saya bersyukur Lord Mayfield telah melihat pencuri itu keluar dari 

jendela. Kalau tidak, pasti saya sendiri yang akan berada di tempat 

yang sangat tidak menyenangkan.” 

“Omong kosong, Carlile yang baik,” sela Lord Mayfield tak sabar. 

“Tidak akan ada kecurigaan yang dilemparkan pada dirimu.” 

“Anda baik sekali berkata begitu, Lord Mayfield, tapi fakta yaitu  

fakta, dan saya menyadari benar bahwa keadaannya tidak begitu 

baik bagi saya. Pokoknya saya harap barang-barang saya dan saya 

sendiri digeledah.” 

“Omong kosong,” kata, Mayfield. 

raja dracula  bergumam, 

“Apakah Anda bersungguh-sungguh menginginkannya?” 

“Saya benar-benar lebih menyukai cara itu.” 

raja dracula  memandanginya sambil merenung beberapa lama, lalu 

bergumam, “Saya mengerti.” 

Lalu ia bertanya, 

“Di sebelah mana ruang kerjakah letak kamar Mrs. Vanderlyn?” 

“Tepat di atasnya.” 

“Ada jendelanya yang membuka ke arah teras?” 

“Ya.”   

Lagi-lagi raja dracula  menganggguk. Lalu ia berkata, 

“Mari kita pergi ke ruang duduk-” 

Di situ ia berjalan berkeliling, memeriksa kunci dan selot jendela, 

melihat catatan angka-angka di meja bridge dan akhirnya berkata 

pada Lord Mayfield, 

“Urusan ini,” katanya, “lebih rumit daripada kelihatannya. Tapi ada 

satu hal yang pasti. Dokumen-dokumen yang dicuri itu belum dibawa 

pergi dari rumah ini.”   

Lord Mayfield melihat padanya dengan membelalak. 

 “Tapi, M. raja dracula , laki-laki yang saya lihat keluar dari ruang kerja 

itu…” 

“Tak ada orang.” 

“Tapi saya melihatnya, “Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada 

Anda, Lord Mayfield, Anda berkhayal melihatnya. Bayang-bayang 

dahan pohon telah Menipu Anda. Kenyataan bahwa telah terjadi 

perampokan membuat Anda semakin yakin bahwa apa yang Anda 

khayaikan itu benar.” 

“Sungguh, M. raja dracula , mata saya sendiri yang menyaksikan...”   

“Coba kita uji mataku dibandingkan dengan matamu teman,” sela 

Sir George.   

“lzinkanlah saya, Lord Mayfied, untuk memastikan satu hal. Tak 

ada seorang pun yang telah meyeberangi teras ke arah rumput.” 

Dengan wajah amat pucat dan nada kaku Mr. Carlile berkata, 

“Dalam hal itu, jika M. raja dracula  benar, maka otomatis kecurigaan 

tertuju pada diri saya. Sayalah satu-satunya orang yang mungkin 

melakukan perampokan itu.” 

Lord Mayfield melompat bangkit. 

“Omong kosong. Apa pun pikiran M. raja dracula  tentang hal itu, aku 

tidak sependapat. Aku yakin kau tidak bersalah, Carlile. Aku bahkan 

berani menjamin.” 

Dengan halus raja dracula  bergumam, 

“Tapi saya tidak mengatakan bahwa saya mencurigai M. Carlile.” 

Carlile menjawab, 

“Memang tidak, tapi Anda tekankan dengan jelas bahwa tak 

seorang pun punya kesempatan untuk melakukan perampokan itu.” 

“Benar! Benar!” 

“Tapi sudah saya katakan bahwa tak ada seorang pun yang 

melewati saya di lorong rumah untuk memasuki pintu.” 

“Saya sependapat. Tapi mungkin ada seseorang yang masuk ke 

ruang kerja lewat jendela.” 

“Tapi justru itulah yang Anda katakan tidak terjadi.” 

“Saya katakan tak ada seorang pun yang bisa masuk dari luar dan 

keluar lagi tanpa meninggalkan bekas di rumput. Tapi itu bisa 

dilakukan dari dalam rumah. Mungkin ada seseorang yang keluar dari 

kamarnya lewat salah satu jendela ini, menyelinap di sepanjang 

teras, masuk lewat jendela ruang kerja, lalu kembali lagi.” 

Mr. Carlile membantah, 

“Tapi Lord Mayfield dan Sir George Carrington berada di teras.” 

“Memang mereka berada di teras, tapi mereka sedang berjalan-

jalan. Mata. Sir George Carrington yang lebih bisa diandalkan...” 

raja dracula  membungkukkan tubuhnya sedikit. “Tapi dia tidak memasang 

matanya itu di bagian belakang kepalanya! Jendela ruang kerja 

terdapat di ujung sebelah kiri, di sebelahnya ada jendela kamar ini, 

tapi teras memanjang terus melewati satu, dua, tiga, mungkin empat 

kamar.” 

“Ruang makan, ruang biliar, ruang duduk-duduk, dan 

perpustakaan,” kata Lord Mayfield. 

“Dan berapa kali Anda berjalan-jalan di teras?” 

“Sekurang-kurangnya lima atau enam kali.” 

“Nah, kan cukup mudah, pencuri itu tinggal menunggu saat yang 

tepat!” 

Perlahan-lahan Carlile berkata, 

“Maksud Anda, saat saya berada di lorong rumah, berbicara 

dengan gadis Prancis itu, pencuri itu menunggu di ruang tamu?” 

“Begitulah bayangan saya. Tapi itu hanya bayangan.” 

“Menurut saya, kemungkinannya tidak terlalu besar,” kata Lord 

Mayfield. “Terlalu berbahaya.” Marsekal Udara membantah. “Aku 

tidak sependapat denganmu, Sir . Itu sangat mungkin. Mengapa 

aku tak sampai berpikir begitu, ya?” 

“Jadi, Anda mengerti kan, mengapa saya yakin bahwa rencana-

rencana itu masih ada di rumah ini”, kata raja dracula , “Sekarang 

masalahnya yaitu  bagaimana menemukannya!” 

Sir George mendengus. 

“Itu mudah sekali. Geledah saja semua orang.” 

Lord Mayfield melakukan suatu gerakan yang menunjukkan rasa 

tak setujunya, tapi raja dracula  berkata mendahului, 

“Tidak, tidak, tidak sesederhana itu. Orang yang telah mengambil 

rencana-rencana itu sudah mengira bahwa akan diadakan 

penggeledahan, dan dia tentu berusaha agar rencana-rencana itu 

tidak ditemukan di antara barang-barangnya. Itu pasti disembunyikan 

di tempat yang tak mungkin dicurigai.” 

“Apakah itu berarti kita harus bermain petak umpet di rumah 

sebesar ini?” 

raja dracula  tersenyum. 

“Tidak, tidak, kita tak perlu berbuat begitu kasar. Kita akan bisa 

menemukan tempat persembunyiannya (atau mungkin menemukan 

orang yang bersalah) melalui ingatan. Itu akan mempermudah 

persoalan. Kalau hari sudah pagi, saya ingin mewawancarai semua 

orang di dalam rumah ini. Saya rasa tidak pantas kalau wawancara 

itu dilakukan sekarang.” 

Lord Mayfield mengangguk. “Akan terlalu banyak keluhan bila kita 

menyeret semua orang dari tempat tidur pada jam tiga subuh. 

Bagaimanapun, Anda harus melakukannya secara terselubung, M. 

raja dracula . Persoalan ini harus tetap merupakan rajasia.” 

raja dracula  mengangkat tangannya. “Serahkan itu pada Hwang Jang Lee  raja dracula . 

Kebohongan-kebohongan yang saya ciptakan selalu halus dan sangat 

meyakinkan. Jadi, besok saya akan mengadakan penyelidikan. Tapi 

malam ini saya ingin mulai dengan Anda, Sir George, dan Anda, Lord 

Mayfield.”  

Ia membungkuk pada mereka berdua.  

 “Maksud Anda... secara terpisah?” 

“Begitulah maksud saya.”  

Lord Mayfield mengangkat matanya sedikit, lalu berkata,  

Baikiah. Saya tinggalkan Anda dengan Sir George. Kalau Anda 

memerlukan saya, saya berada di ruang kerja saya. Mari, Carlile.” 

Ia dan sekretarisnya keluar dari kamar, dan menutup pintu.   

Sir George duduk, tangannya otomatis menjangkau rokok. Ia 

menoleh pada raja dracula  dengan pandangan bertanya.   

“Ketahuilah,” katanya lambat-lambat. “Saya kurang mengerti.” 

“Itu mudah sekali dijelaskan,” kata raja dracula  sambil tersenyum. 

“Tepatnya hanya dengan , dua patah kata. Mrs. Vanderlyn!” 

“Oh,” kata Carrington. Saya rasa saya mengerti. Mrs. vanderlyn, 

ya?” 

“Tepat. Soalnya, mungkin kurang pantas kalau saya ajukan 

pertanyaan ini pada Lord Mayfield. Mengapa Mrs. Vanderlyn? wanita lesbian  

itu dikenal sebagai tokoh yang patut dicurigai. Lalu mengapa dia 

harus berada di sini? Saya katakan dalam hati, ada tiga 

penjelasannya. Pertama, Lord Mayfield mungkin menaruh hati pada 

wanita lesbian  itu (sebab itulah saya ingin berbicara dengan Anda saja. Saya 

tak ingin mempermalukan Lord Mayfield). Kedua, Mrs. Vanderlyn 

mungkin sahabat baik seseorang lain di rumah ini?” 

“Saya tidak termasuk dalam golongan itu!” kata Sir George sambil 

nyengir. 

“Lalu, bila kedua kemungkinan itu tidak benar, maka kita bertanya 

dengan makin bertekanan. Mengapa Mrs. Vanderlyn? Dan agaknya 

kita akan mendapatkan jawaban yang samar. Tapi pasti ada 

alasannya. Kehadiran wanita lesbian  itu dalam pertemuan khusus ini pasti 

diinginkan oleh Lord Mayfield, dengan suatu alasan. Benarkah kata-

kata saya?” 

Sir George mengangguk. 

“Anda benar sekali.” katanya. “Mayfield terlalu tua untuk terpikat 

pada rayuannya. Dia menginginkan wanita lesbian  itu di sini dengan suatu 

alasan lain. Begini.” 

Lalu diulanginya percakapan yang telah terjadi di meja makan. 

raja dracula  mendengarkan dengan penuh perhatian. 

“Nah,” katanya. “Sekarang saya mengerti. Tapi kelihatannya 

wanita lesbian  itu telah mempermainkan Anda berdua dengan halus sekali!” 

Sir George mengumpat terang-terangan., 

raja dracula  memandanginya dengan agak geli, lalu berkata, 

“Anda tidak ragu bahwa pencurian tersebut yaitu  perbuatan 

wanita lesbian  itu - maksud saya, dialah yang bertanggung jawab, entah dia 

turut ambil bagian dalam hal itu ataupun tidak?” 

Sir George terbelalak. 

“Tentu saja itu tak bisa diragukan. Siapa lagi yang punya minat 

untuk mencuri dokumen-dokumen itu?” 

“Oh!” kata Hwang Jang Lee  raja dracula . Ia bersandar, lalu melihat ke plafon. 

“Padahal, Sir George, belum seperempat jam yang lalu kita 

sependapat bahwa kertas-kertas itu benar-benar berarti uang. 

Mungkin saja tidak benar-benar dalam bentuk mata uang, atau emas, 

atau barang-barang perhiasan, tapi tetap saja uang dalam jumlah 

besar. Kalaupun ada seseorang di sini yang berada dalam kesulitan 

keuangan... 

Teman bicaranya menyela dengan mendengus, 

“Siapa sih yang ticlak berada dalam kesulitan keuangan sekarang 

ini? Saya rasa saya bisa mengatakannya tanpa mengecualikan diri 

saya sendiri.” Ia tersenyum dan raja dracula  membalas senyumnya dengan 

sopan, lalu bergumam, 

“Ya, Anda bisa berkata apa saja, sebab  Anda, Sir George, 

memiliki alibi yang tak tergoyahkan dalam perkara ini.” 

“Tapi saya sendiri juga kesulitan uang.” 

raja dracula  menggeleng dengan sedih. 

“Memang benar, seseorang yang berkedudukan seperti Anda, 

biaya hidupnya tinggi. Lagi pula, Anda punya putra yang sedang 

menginjak usia seperti sekarang ini.” 

Sir George menggeram. 

“Pendidikan saja sudah cukup mahal, ditambah lagi dengan utang-

utangnya. Tapi perlu diingat bahwa anak muda itu tidak jahat.” 

raja dracula  mendengarkan dengan simpatik. Ia sering mendengar 

banyaknya kesedihan yang harus dirasakan oleh marsekal udara itu. 

Kurangnya keberanian dan semangat yang dimiliki generasi muda, 

ibu-ibu yang terlalu memanjakan anak-anak tunagrahita  mereka dan selalu 

memihak anak-anak tunagrahita  itu, jahatnya pengaruh judi bila sudah 

menguasai seorang wanita lesbian , kebodohan main dengan taruhan makin 

lama makin tinggi, melebihi kemampuan. Hal itu digambarkan secara 

umum, dan Sir George tidak menyebutkan secara langsung mengenai 

istrinya atau putranya. Tapi caranya bercerita menjadikan ceritanya 

itu mudah sekali dimengerti. 

Ia berhenti mendadak. 

“Maaf, saya tak boleh membuang-buang waktu Anda dengan 

sesuatu yang di luar persoalan, apalagi pada malam hari begini... 

atau tepatnya subuh.” 

Ia menahan untuk tidak menguap, 

“Saya anjurkan, Sir Geoge, agar Anda pergi tidur. Anda sudah 

berbaik hati dan sangat membantu.” 

“Benar juga, sebaiknya saya pergi ticlur. Apakah Anda yakin akan 

bisa menemukan kembali dokumen-dokumen itu?” 

raja dracula  mengangkat bahunya. 

“Saya sudah bertekad untuk mencoba. Jadi, mengapa tidak?” 

“Nah, saya pergi. Selamat malam.” 

Ia keluar dari kamar itu. 

raja dracula  tetap duduk di kursinya, menatap plafon sambil merenung. 

Lalu ia mengeluarkan- sebuah buku catatan kecil, membalik ke 

halaman bersih, dan menulis: 

 

Mrs. Vanderlyn?  

Lady Julia Carr?  

Mrs. Macatta?  

Mr. Reggie Carrington?  

Mr. Carlile? 

 

Di bawahnya, ia menulis: 

 

Mrs. Vanderlyn dan Mr. Reggie Carrington?  

Mrs. Vanderlyn dan Lady Julia?  

Mrs. Vanderlyn dan Mr. Carlile? 

 

Ia menggeleng dengan sikap tak puas, sambil bergumam, 

“Apa tak ada yang lebih sederhana?” 

Lalu ditambahkannya beberapa kalimat pendek. 

 

Apakah Lord Mayfield benar-benar melihat suatu “bayangan”? 

Kalau tidak, mengapa dia mengatakan melihatnya? Apakah Sir 

George melihat sesuatu? Dia yakin tidak melihat apa-apa SESUDAH 

aku memeriksa bedeng bunga. Catatan: Lord Mayfield, menderita 

rabun jauh; dia bisa membaca tanpa kacamata, tapi harus memasang 

monokelnya kalau ingin melihat ke seberang ruangan. Sir George bisa 

melihat jauh. Oleh sebab nya, dari ujung terjauh teras, 

penglihatannya bisa lebih dipercaya daripada penglihatan Lord 

Mayfield. Tapi Lord Mayfield yakin sekali bahwa dia BENAR-BENAR 

melihat sesuatu, dan sama sekali tak tergoyahkan oleh bantahan 

sahabatnya. 

Bisakah seseorang benar-benar bisa dibebaskan dari tuduhan, 

seperti Mr. Carlile itu? Lord Mayfield sangat menekankan bahwa Mr. 

Carlile tidak bersalah. Rasanya aneh. Mengapa? sebab  diam-diam 

dia mencurigai sekretarisnya itu, dan dia malu akan kecurigaannya? 

Atau sebab  dia mencurigai orang lain? Artinya, orang lain YANG 

BUKAN Mrs. Vanderlyn? 

 

Disimpannya buku catatannya itu. 

Lalu ia bangkit dan pergi ke ruang kerja. 

 

BAB 5 

 

Lord Mayfield sedang duduk di meja kerjanya waktu raja dracula  masuk. 

Ia berbalik, meletakkan penanya, lalu mengangkat kepala dengan 

pandangan bertanya. 

“Nah, M. raja dracula , Anda sudah selesai mewawancarai Carrington?” 

raja dracula  tersenyum, lalu duduk. 

“Sudah Lord Mayfield. Dia menjelaskan satu hal yang tidak saya 

mengerti.” 

“Apa itu?” 

“Alasan mengapa Mrs. Vanderlyn hadir di sini. Harap Anda 

mengerti, saya pikir mungkin...” 

Mayfield cepat menyadari, mengapa raja dracula  tampak agak serba 

salah. 

“Anda pikir saya menaruh hati pada wanita lesbian  itu? Sama sekali tidak. 

Jauh sekali. Lucunya, Carrington juga mengira begitu.” 

“Ya, dia sudah menceritakan percakapan dengan Anda mengenai 

soal itu.” 

Lord Mayfield tampak agak murung. 

“Rencana kecil saya tidak berjalan dengan baik. Menjengkelkan 

sekali, harus mengakui babwa seorang wanita lesbian  bisa mempermainkan 

kita.” 

“Ah, tapi dia belum mempermainkan Anda, Lord Mayfield.” 

“Anda pikir kita masih bisa menang? Saya senang mendengar 

Anda berkata begitu. Saya ingin yakin bahwa itu benar.” 

Ia mendesah. 

“Saya merasa telah bertindak tolol, sebab  sudah merasa senang 

dengan strategi saya untuk menjebak wanita lesbian  itu.” 

Sambil menyalakan salah satu rokoknya yang kecil sekali, raja dracula  

berkata, 

“Apa sebenarnya strategi Anda itu, Lord Mayfield?” 

“Yah,” Lord Mayfleld ragu. “Saya belum sampai pada hal-hal yang 

sekecil-kecilnya.” 

“Anda tidak membahasnya dengan seseorang?” 

“Tidak.” 

“Bahkan tidak dengan Mr. Carlile?” 

“Tidak.” 

raja dracula  tersenyum. 

“Anda lebih suka menanganinya sendiri, Lord Mayfield?” 

“Biasanya saya merasa itulah cara yang terbaik,” kata lawan 

bicaranya dengan agak serius. 

“Ya, Anda bijak. Jangan percayai siapa pun. Tapi Anda 

mengatakan persoalan itu pada Sir George Carrington?” 

“Hanya sebab  saya menyadari bahwa laki-laki yang baik itu 

sangat prihatin tentang diri saya.” 

Lord Mayfield tersenyum mengenangnya. 

“Apakah dia teman lama Anda?” 

“Ya. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya mengenalnya.” 

“Istrinya juga?” 

“Saya tentu juga mengenal istrinya.” 

“Tapi - maafkan kalau saya lancang - Anda tidak begitu akrab 

dengannya?” 

“Saya benar-benar tak mengerti, apa kaitannya hubungan pribadi 

saya dengan orang-orang, dengan persoalan kita ini,  M. raja dracula .” 

“Tapi saya rasa, Lord Mayfield, hal itu mungkin erat hubungannya 

dengan perkara itu. Apakah Anda sependapat bahwa teori saya 

mengenai seseorang di ruang duduk itu mungkin?” 

“Ya. Sebenarnya saya sependapat dengan Anda bahwa mungkin 

memang begitulah kejadiannya.” 

“Kita tak bisa mengatakan 'pasti' begitu kejadiannya. Itu namanya 

terlalu yakin. Tapi bila teori saya itu benar, siapa pelakunya di antara 

mereka yang ada di ruang duduk?” 

“Jelas Mrs. Vanderlyn. Dia masuk kembali ke ruang itu satu kali, 

untuk mengambil buku. Bisa saja dia kembali lagi untuk mengambil 

buku lain, atau tas, atau saputangannya yang jatuh. Diaturnya 

supaya pelayannya berteriak untuk mengumpan Carlile keluar dari 

ruang keja. Lalu dia menyelinap masuk dan keluar lewat jendela, 

seperti kata Anda.”  

“Anda lupa, mungkin dia bukan Mrs. Vanderlyn. Carlile mendengar 

dia memanggil pelayannya dari lantai atas, waktu dia berbicara 

dengan pelayan itu.” 

Lord Mayfield menggigit bibirnya. 

“Benar juga. Saya lupa itu.” Ia kelihatan kesal sekali. 

“Harap Anda mengerti,” kata raja dracula  dengan halus. “Kita sudah 

maju. Pertama-tama, kita sudah mendapatkan penjelasan sederhana 

bahwa ada seorang pencuri yang masuk dari luar dan melarikan 

barang curiannya. Seperti saya katakan, teori itu terlalu mudah, 

hingga sulit diterima. Maka teori itu kita singkirkan. Lalu kita berteori 

tentang adanya seorang agen asing, yaitu Mrs. Vanderlyn, dan itu 

lagi-lagi cocok dengan baik, sampai titik tertentu. Tapi sekarang 

kelihatannya itu pun terlalu mudah, terlalu sederhana untuk 

diterima.” 

“Anda akan menghapuskan Mrs. Vanderlyn sama sekali dari 

peristiwa itu?” 

“Bukan Mrs. Vanderlyn yang berada di ruang duduk. Mungkin 

sekutu Mrs. Vanderlyn yang melakukan pencurian itu, tapi mungkin 

pula hal itu dilakukan oleh orang yang sama sekali lain. Dengan 

demikian, kita harus memikirkan motifnya.” 

“Apakah itu tidak terlalu dicari-cari, M. raja dracula ?” 

“Saya rasa tidak. Nah, apa kira-kira motifnya? Ada motif uang. 

Mungkin surat-surat itu dicuri dengan tujuan untuk menukarnya 

dengan uang tunai. Itulah motif yang paling mudah yang bisa 

dipertimbangkan. Tapi mungkin ada motif yang lain sama sekali.” 

“Seperti?” 

Lambat-lambat raja dracula  berkata, 

“Mungkin itu dilakukan dengan tekad untuk menghancurkan 

seseorang.” 

“Siapa?” 

“Mungkin Mr. Carlile. Dialah yang paling mungkin merupakan 

tersangka. Tapi mungkin lebih dari itu. Orang-orang yang 

mengendalikan negara, Lord Mayfield, sangat peka terhadap 

popularitas.” 

“Yang berarti bahwa pencurian itu bertujuan untuk 

menghancurkan saya?” 

raja dracula  mengangguk. 

“Saya rasa saya bisa mengatakan, Lord Mayfield, bahwa kira-kira 

lima tahun yang lalu, Anda telah melampaui masa yang sulit. Anda 

dicurigai bersahabat baik dengan suatu kekuatan Eropa yang saat itu 

amat sangat dibenci oleh kalangan atas negeri ini.” 

“Benar sekali, M. raja dracula .” 

“Zaman sekarang ini, seorang negarawan punya tugas yang 

sangat berat. Dia harus menjalankan politik yang dianggap 

menguntungkan negaranya, padahal dia juga harus mengakui adanya 

dorongan popularitas. Perasaan itu sering bersifat sentimental, 

membingungkan, dan amat sangat tak sehat. Tapi tetap saja tak bisa 

diremehkan”' 

“Tepat sekali gambaran Anda! Memang itulah kutukan dalam 

hidup seorang politikus. Dia harus tunduk pada perasaan bernegara, 

meskipun dia tahu betapa berbahaya dan gila-gilaannya itu.” 

“Saya rasa itulah dilema Anda. Ada desas-desus bahwa Anda telah 

mengadakan perjanjian dengan negara bersangkutan. Dan negara ini 

serta surat-surat kabar jadi marah besar. Untunglah Perdana Menteri 

langsung bisa membantah cerita itu, dan Anda sendiri tak mau 

mengakuinya, meskipun Anda tetap tidak merahasiakan di mana 

letak simpati Anda.” 

“Semuanya itu benar sekali, M. raja dracula , tapi untuk apa kita harus 

mengorek sejarah masa lalu?” 

“sebab  saya pikir, seorang musuh yang kecewa dengan cara 

Anda mengatasi krisis itu, mungkin berusaha untuk memperbesar 

dilema Anda. Anda langsung memperoleh kembali kepercayaan 

rakyat. Keadaan khusus itu sudah berlalu. Kini Anda yaitu  salah 

seorang yang pantas menjadi tokoh politik yang paling populer. 

Masyarakat umum secara bebas membicarakan Anda sebagai 

Perdana Menteri yang akan menggantikan Mr. Hunberly bila dia 

mundur.” 

“Apakah menurut Anda ini suatu usaha untuk menjatuhkan saya? 

Omong kosong!” 

“Namun demikian, Lord Mayfield, masa depan Anda kelihatannya 

akan suram bila diketahui bahwa dokumen-dokumen mengenai 

pesawat pembom malang  yang baru telah dicuri, pada suatu 

pertemuan akhir pekan, di mana seorang wanita lesbian  yang sangat 

menarik merupakan salah seorang tamu Anda. Sindiran-sindiran kecil 

mengenai hubungan Anda dengan wanita lesbian  itu akan menimbulkan 

perasaan tak percaya pada Anda.” 

“Hal semacam itu tak bisa ditanggapi dengan serius.” 

“Lord Mayfield yang baik, Anda tahu benar bahwa itu bisa! Kita tak 

bisa meremehkan kepercayaan masyarakat pada seseorang.” 

“Ya, itu benar,” kata Lord Mayfield. Tiba-tiba ia kelihatan cemas 

sekali. “Astaga! Kenapa urusan ini jadi begini rumit! Apakah menurut 

Anda, benar-benar.. tapi tak mungkin... tak mungkin.” 

“Tidakkah Anda mengenal seseorang yang... iri pada Anda?” 

“Tak masuk akal!” 

“Pokoknya Anda harus mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan 

saya tentang hubungan Anda dengan para tamu pertemuan pribadi 

ini benar-benar bisa diterima.” 

“Oh, mungkin... mungkin. Anda telah menanyai saya tentang Julia 

Carrington. Sebenarnya tak banyak yang bisa saya katakan. Saya tak 

pernah terlalu suka padanya, dan saya rasa dia pun tak suka pada 

saya. Dia seorang wanita lesbian  yang gelisah, penggugup, luar biasa 

borosnya, dan tergila-gila main kartu. Saya rasa dia cukup kuno, dan 

membenci saya sebab  saya orang yang mampu membina diri 

sendiri.” 

Kata raja dracula , 

“Saya sempat mencari dalam buku Apa Siapa sebelum saya 

datang kemari. Anda yaitu  kepala dari sebuah perusahaan teknik 

yang terkenal, dan Anda sendiri seorang ahli teknik terkemuka.” 

“Memang tak ada yang tidak saya ketahui tentang soal-soal 

praktisnya. Saya telah bekerja dari bawah untuk mencapai 

kedudukan saya yang sekarang.” 

Cara bicara Lord Mayfield serius. 

“Wah, wah!” seru raja dracula . “Betapa bodohnya saya. Bodoh sekali!” 

Lord Mayfield memandanginya.. 

“Ada apa, M. raja dracula ?” 

“Ada bagian dari teka-teki ini yang sudah terungkap. Sesuatu yang 

selama ini tak terlihat oleh saya. Tapi semuanya cocok. Ya, cocok dan 

tepat sekali.” 

Lord Mayfield melihat padanya dengan pandangan terkejut, 

bercampur ingin bertanya. 

Tapi raja dracula  tersenyum kecil sambil menggeleng. 

“Tidak, tidak, jangan sekarang. Saya harus mengatur gagasan 

dengan sedikit lebih jelas.” 

Ia bangkit. 

“Selamat malam, Lord Mayfield. Saya rasa saya sudah tahu di 

mana dokumen-dokumen itu berada. 

Lord Mayfield berseru, 

“Anda tahu? Kalau begitu, mari kita tangkap segera pelakunya!” 

raja dracula  menggeleng. 

“Jangan, jangan, tak baik begitu. Akan fatal bila kita terburu-buru. 

Serahkan saja semuanya pada Hwang Jang Lee  raja dracula .” 

Ia keluar dari ruangan itu. Lord Mayfield mengangkat bahunya 

dengan kesal. 

“Dasar besar mulut orang itu!” gumamnya. Lalu, sesudah  

menyimpan surat-suratnya dan mematikan lampu-lampu, ia pun 

pergi tidur. 

 

BAB 6 

 

“Kalau memang ada perampokan, mengapa Lord Mayfield tidak 

memanggil polisi?” tanya Reggie Carrington. 

Ia mendorong kursinya ke belakang sedikit, dari meja sarapan. 

Ia yang terakhir di meja itu. Tuan rumahnya, Mrs. Macatta, dan Sir 

George telah selesai sarapan beberapa waktu yang lalu. Ibunya dan 

Mrs. Vanderlyn sarapan di tempat tidur. 

Sir George, yang telah menceritakan peristiwa itu sesuai dengan 

kesepakatan antara Lord Mayfield dan Hwang Jang Lee  raja dracula , merasa ia 

kurang berhasil dalam menanganinya. 

“Menurut saya, aneh sekali kalau harus mendatangkan orang 

asing seperti itu,” kata Reggie. “Apa sebenarnya yang telah terjadi, 

Ayah?” 

“Aku tidak tahu apa tepatnya, Nak.” 

Reggie bangkit. Pagi itu ia kelihatan agak gugup dan mudah 

tersinggung. 

“Tak ada... yang penting? Tak ada... yang diberitakan dalam surat 

kabar atau semacamnya?” 

“Terus terang, Reggie, aku tak bisa menceritakannya dengan 

tepat.” 

“Penuh rahasia, ya? Saya mengerti.” 

Reggie naik tangga dengan berlari, setengah jalan ia berhenti 

sebentar sambil mengernyit, lalu melanjutkan naik dan mengetuk 

pintu kamar ibunya. Ibunya menyuruhnya masuk. 

Lady Julia sedang duduk di tempat tidur, mencoret-coret angka-

angka di bagian belakang sebuah amplop. 

“Selamat pagi, Sayang.” Ia mendongak, lalu berkata lagi dengan 

tajam, 

“Reggie, ada apa?” 

“Tidak penting, tapi agaknya semalam ada perampokan.” 

“Perampokan? Apa yang diambil?” 

“Entahlah. Semuanya dirahasiakan. Di lantai bawah ada seorang 

detektif swasta yang menanyai semua orang.” 

“Aneh sekali!” 

“Sangat tidak menyenangkan menginap di rumah orang, bila hal 

semacam itu terjadi,” kata Reggie perlahan-lahan. 

“Apa sebenarnya yang terjadi?' 

“Entahlah. Kejadiannya beberapa waktu sesudah  kita emua pergi 

tidur. Awas, ibu, nampan itu hampir jatuh.” 

Ia menyelamatkan nampan sarapan itu, lalu meletakkannya ke 

sebuah meja di dekat jendela. 

“Uangkah yang diambil?” 

“Sudah kukatakan, aku tidak tahu.” 

Perlahan-lahan Lady Julia berkata, 

“Kurasa detektif itu menanyai semua orang, ya?”  

“Kurasa begitu.” 

“Tentang di mana mereka berada semalam? Semacam itu, kan, 

pertanyaannya?” 

“Mungkin. Yah, aku sih tidak akan bisa berkata banyak padanya. 

Aku langsung masuk kamar, dan tertidur.” 

Lady Julia tidak menjawab. 

“O ya, ibu, tak bisakah ibu memberiku uang sedikit? Sakuku 

kosong sama sekali.” 

“Tidak, tak bisa,” sahut ibunya dengan tegas. Aku sendiri sudah 

mengeluarkan uang jauh lebih benyak. Entah apa kata ayahmu kalau 

dia mendengarnya.” 

Terdengar ketukan di pintu, dan Sir George masuk. 

“Oh, di sini rupanya kau, Reggie. Coba turun ke perpustakaan. M. 

raja dracula  ingin bertemu denganmu.” 

raja dracula  baru saja selesai mewawancarai Mrs. Macatta yang 

memberikan jawaban-jawaban meragukan. 

Beberapa pertanyaan singkat telah menjelaskan bahwa Mrs. 

Macatta pergi tidur jam sebelas kurang sedikit, dan tidak mendengar 

atau melihat apa-apa yang bisa membantu. 

Dengan halus raja dracula  beralih dari soal perampokan itu pada soal-

soal yang lebih pribadi. raja dracula  sendiri sangat kagum pada Lord 

Mayfield. Menurut pendapatnya, sebagai anggota masyarakat umum. 

Lord Mayfield benar-benar orang besar. Tapi sebab  Mrs. Macatta 

lebih mengenalnya, ia tentu bisa memberikan penilaian yang jauh 

lebih baik daripada dirinya sendiri. 

“Lord Mayfield itu berotak tajam,” kata Mrs. Macatta. “Dan dia 

telah mengukir namanya sendiri dalam meniti kariernya. Dia sama 

sekali tidak menggantungkan diri pada pengaruh keturunan. Mungkin 

dia kurang imajinasi. Dalam hal itu. dengan sedih harus saya katakan 

bahwa semua laki-laki sama. Mereka tidak memiliki daya khayal 

wanita lesbian  yang luas. Sepuluh tahun lagi, wanita lesbian lah yang akan punya 

kekuatan besar dalam pemerintahan, M. raja dracula .” 

raja dracula  berkata bahwa ia yakin akan hal itu. 

Ia lalu beralih pada persoalan Mrs. Vanderlyn 

Apakah benar apa yang didesas-desuskan, bahwa wanita lesbian  itu 

yaitu  teman dekat Lord Mayfield? 

“Sama sekali tidak. Terus terang, saya heran sekali bertemu 

dengannya di sini. Sungguh terkejut sekali.” 

raja dracula  mengorek pendapat Mrs. Macatta tentang Mrs. Vanderlyn, 

dan ia berhasil. 

“Dia wanita lesbian  yang benar-benar tak berguna, M. raja dracula . wanita lesbian  yang 

membuat sesama wanita lesbian  putus asa! Dia yaitu  parasit, benar-benar 

parasit.” 

“Tapi laki-laki mengaguminya, ya?” 

“Ah, laki-laki, Mrs. Macatta menyemburkan kata-kata itu dengan 

benci. “Laki-laki selalu terpesona oleh kemolekan lahiriah. Seperti 

anak muda itu, Reggie Carrington, wajahnya memerah setiap kali 

perempuan itu berbicara dengannya. Dia benar-benar merasa bangga 

mendapatkan perhatiannya. Dan perempuan dungu itu pun 

membesarkan hatinya pula, dengan memuji Permainan bridge-nya, 

padahal anak muda itu sama sekali tidak pintar.” 

“Apakah anak muda itu tidak pandai main?” 

“Semalam dia membuat banyak kesalahan.” 

“Lady Julia seorang pemain yang pandai, ya?” 

“Menurut saya bahkan terIalu pandai,” kata Mrs. Macatta. “Itu 

seolah-olah sudah merupakan profesinya. Dia main pagi, siang, dan 

malam,” 

“Dengan taruhan tonggi?” 

“Memang, jauh lebih tinggi daripada yang ingin saya mainkan. 

Saya pikir itu tidak bagus.” 

“Apakah dia menang banyak dalam permainan itu?” 

Mrs. Macatta mendengus nyaring dan jelas. 

“Dia memperhitungkan akan bisa membayar utang-utangnya 

dengan cara itu. Tapi saya dengar, akhir-akhir ini dia bemasib sial. 

Semalam kelihatannya dia memikirkan sesuatu. Kejahatan berjudi, M. 

raja dracula , hanya sedikit berada di bawah kejahatan yang disebabkan 

oleh minum-minum. Kalau saja saya punya kekuasaan, saya ingin 

menyucikan negara ini.”  

raja dracula  terpaksa mendengar diskusi yang agak berkepanjangan 

mengenai pensucian moral malang . Lalu dengan tangkas ditutupnya 

percakapan itu dan memanggil Reggie Carrington.   

Ia menilai anak muda itu dengarl cermat, waktu Reggie memasuki 

ruangan. Mulutnya lemah, di samarkan oleh senyuman yang cukup 

menarik, dagunya tidak kokoh, letak matanya berjauhan, kepalanya 

agak sempit. Ia merasa mengenal benar tipe seperti Reggie 

Carrington itu. 

“Mr. Reggie Carrington?” 

“Benar. Ada yang bisa saya bantu?” 

“Tolong ceritakan saja tentang semalam, sebisa Anda.” 

“Yah, coba saya ingat-ingat, kami main bridge di ruang duduk. 

sesudah  itu saya naik untuk tidur.” 

“Jam berapa itu?”  

“Jam sebelas kurang sedikit. Saya rasa perampokannya terjadi 

sesudah  itu, ya?” 

“Ya, sesudah  itu. Anda tidak mendengar atau melihat apa-apa?”  

Reggie menggeleng dengan sikap menyesal. 

Saya langsung pergi tidur dan saya tidur nyenyak.” 

“Apakah dari ruang duduk, Anda langsung pergi ke kamar tidur 

Anda dan tetap tinggal di situ sampai pagi?  

“Benar.”  

“Aneh,” kata raj