seraya menghujamkan pisaunya beberapa kali
ke leher Lee. Begitu membabibutanya aksi Yeo, sampai-sampai jari telunjuk Kuan
ikut terpotong.
Tubuh Kim sendiri langsung jatuh menghujam jok. Darah segar mengotori kursi
belakang taksi. Termasuk kaos dan celana yang dikenakan Kuan.
"Kita harus mengamankan senjatanya. Berikan pisaumu," perintah Yeo pada Kuan.
Lima menit lalu , mereka telah sampai di kawasan Kallang Bahru, saat Yeo
minta Hock menghentikan taksi.
"Pui," kata Kuan pada Yeo. "Kausku berlumuran darah."
"Bersembunyilah di belakang semak-semak," lagi-lagi Yeo memberi perintah. "Aku
akan mampir ke flat dan membawakanmu pakaian bersih."
Yeo lalu berlari menuju flat. Sepuluh kmenit lalu , ia sudah kembali ke semak-
semak tempat Kuan bersembunyi, dengan membawa tas plastik berisi celana
panjang biru gelap dan t-shirt warna putih. Kuan pun berganti pakaian, memasukkan
pakaiannya yang berlumuran darah ke dalam tas plastik. namun saat mereka bersiap
hendak meninggalkan semak-semak, terjadi sesuatu yang sama sekali di luar
perhitungan.
45
Kantung plastik ditemukan
Malam itu, detektif Siew Man Seng baru saja pulang berdinas. Polisi yang sudah
bertugas selama 11 tahun itu berkantor di Kantor Polisi Beach Road. Ayah seorang
anak wanita lesbian dan seorang istri ini sudah tinggal di Geylang Bahru selama sekitar
empat setengah tahun. Jadi, dia tahu betul daerah tersebut. Pagi buta itu, hatinya
sedang berbunga-bunga, sebab baru saja sukses menangkap tersangka kasus
penipuan sejam sebelumnya.
Di persimpangan jalan Geylang Baru dan Kallang Bahru, perjalanannya terhalang
lampu merah. Saat menunggu lampu hijau, sepintas dia melihat seseorang berjalan
di belakang mobilnya, sambil menenteng bungkusan plastik. Lampu kembali hijau.
Man Seng pun belok kiri, menuju arah Geylang Bahru. Namun dari balik spion ia
sempat memperhatikan, lelaki yang menyeberang jalan barusan ternyata menghilang
di sebuah jalan buntu.
Nalurinya sebagai detektif mencuat. Bertahun-tahun dia bergaul akrab dengan dunia
kejahatan dan berbagai tipu muslihatnya. Tingkah laku lelaki tadi membuat Man
Seng penasaran. Ia segera berbalik arah, mendekati jalan buntu. Dari kejahuhan dia
melihat sebuah taksi kuning dengan mesin masih menyala. Tak jauh dari taksi,
terhampar semak-semak. Lagi-lagi, insting polisinya memaksa Man Seng memeriksa
lokasi di sekitarnya.
Mendekati semak-semak, ia melihat dua orang pemuda, Yeo Ching Boon dan Ong
Hwee Kuan. "Sedang apa kalian?" teriak Man Seng, benar-benar memecah
kesunyian.
Yeo dan Kuan tampak gugup. Mereka punya feeling, orang yang dihadapinya
seorang polisi. Dalam sekejap, mereka mengambil keputusan untuk mengambil
langkah seribu.
Yeo yang lebih tahu medan, melilih kabur ke arah pertokoan. Sedangkan Kuan
menuju blok-blok apartemen di sekitarnya. Namun malang buat Kuan, dia tidak
hanya berhadapan dengan gelapnya malam, namun juga medan yang sama sekali
belum dikenal. Begitu paniknya, Kuan sampai jatuh, bangun dan jatuh lagi. Kini di
depannya terbentang semak belukar. Ia tahu, jika terus lari, lambat laun pasti akan
tertangkap. Akhirnya ia memutuskan bersembunyi di salah satu semak.
Namun Man Seng bukan polisi ingusan yang gampang dikelabui. Di depan semak-
semak itu ia berhenti. Kecurigaannya memuncak saat melihat jejak kaki, tak jauh
dari salah satu semak. Dengan langkah pasti ia mendekat, mengeluarkan pistol dari
sarungnya dan membidik semak di depannya. "Cepat keluar!" Kuan pun keluar,
masih dengan mata nanar. Meski sempat memberi perlawanan saat hendak
diborgol, pemuda putus sekolah itu akhirnya tak beradaya di tangan Man Seng.
"Mana tasnya?" tanya Man Seng.
"Aku buang saat lari tadi."
"Apa isi tasnya?" "Sisir," jawan Kuan sekenanya.
"Tadinya kami mau merampok Anda. namun begitu tahu Anda polisi, kami
mengurungkan niat tadi."
"Siapa nama temanmu?"
46
"Ah Seng."
Sekilas, Man Seng melihat noda darah di kaus yang kenakan Kuan, meskipun ia
baru saja berganti baju.
"Noda darah siapa di kausmu?" Kuan berpikir, mencari alasan untuk berkelit.
Akhirnya ia menunjukkan jari telunjuknya yang beradrah-darah. "Sebelum Anda
datang, saya berusaha memecahkan sebuah botol, agar bisa dipakai sebagai
senjata. namun sebab ceroboh, botol tadi malah melukai jari telunjuk saya," Kuan
berkilah.
Ia terus berusaha mencari tas yang dibuang Yeo dan Kuan. sebab tak
memungkinkan melakukan pencarian sendirian, Man Seng akhirnya memutuskan
membawa Kuan ke kantor polisi untuk diinterogasi. Namun sebelum masuk mobil,
Kuan sempat minta. "Aku haus sekali. Boleh minta air?" katanya mencoba
mengundang iba. Sebelum Man Seng bereaksi, Kuan telah melangkah menuju
sebuah keran, tak jauh dari semak-semak.
Di kantor polisi Beach Road, Man Seng menceritakan apa yang dilihatnya pada
Inspektur Polisi Poh Keng How. Tak lama lalu , tersebar berita penemuan
mayat seorang polisi, di dalam taksi kuning, tak jauh dari tempat Man Seng
memergoki Yeo dan Kuan. Satuan polisi khusus pun segera segera diterjunkan.
Mereka bergerak cepat dengan segera menginterogasi Kuan. Namun mereka cukup
kesulitan mengorek data dari pemuda lajang tersebut.
Berbagai cara telah dilakukan, namun Kuan lebih memilih tutup mulut. Ia juga menolak
disangkutpautkan dengan kasus pembunuhan kejam terhadap sang polisi wamil.
Beruntung, waktu tampaknya berpihak pada para detektif. Beberapa jam lalu ,
mayat sopir taksi malang korban keganasan tiga sekawan, Chew Theng Hin, berhasil
ditemukan.
Hasil penyisiran di sekitar lokasi kejahatan juga membuahkan hasil menggembirakan.
Kantung plastik tempat Yeo dan Kuan menyimpan pakaian penuh noda darah
misalnya, berhasil dilacak keberadaannya. Kali ini, Kuan tak dapat mengelak lagi,
terlebih sesudah Ong Hwee Huat, adiknya, mengakui pakaian yang ditemukan
memang milik Kuan. Yeo dan Hock pun akhirnya ditangkap, berdasarkan pengakuan
Kuan.
"Beruntung", tiga sekawan yang sudah kerasukan setan ini tak sempat melanjutkan
aksinya. Jika mereka sempat memanfaatkan senjata yang berhasil mereka rebut dari
Mount Vernon, apalagi menjalankan aksi perampokan, korban kebrutalan mereka
pasti bakal lebih heboh dari dua nyawa sia-sia yang telah ditemukan. sampai kini,
tiga sekawan yang akhirnya dihukum mati ini dikenal sebagai salah satu pelaku
kejahatan paling kejam di Singapura.
(Kisah Nyata/Nicky Moey/Icul)
47
07. DIREKRUT JADI MITRA PEMBUNUH
Janos Telek berjalan terseok-seok di sisi Istvan Stefan Hollossy. Hatinya pedih,
sebab sebenarnya ia tak ingin meninggalkan apartemen penuh kenangan di
Timmendorf itu. Apalagi ia harus melakukan perjalanan paling aneh sepanjang
hidupnya, tanpa tahu arah yang dituju, serta kapan dan di mana akan berakhir.
Semuanya tergantung Hollossy, lelaki bengis yang baru saja membelokkan
perjalanan hidupnya. Saat berjalan kaki menuju tempat parkir, pikirannya sempat
menerawang, membayangkan kembali peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa
menit sebelumnya.
... Istvan Stefan Hollossy mengeluarkan sebatang rokok dari saku jas,
menyelipkannya ke sela-sela bibir, lalu menyulutnya dengan santai. Seperti biasa,
gayanya macho dan berwibawa, persis anggota geng mafia. Wajahnya begitu dingin,
dengan mata menatap tajam, langsung ke bola mata lawan bicaranya, Cornelia yang
sedang duduk santai di sofa.
"Kamu bilang, urusan bisnis kita selesai sampai di sini?"
"Ya ..., sebaiknya begitu," ucap wanita lesbian cantik itu.
Hollossy tampak mengangguk pelan. Lelaki bermata kucing dengan ekspresi yang
tak mudah ditebak itu kian tajam manatap Cornelia. Yang dipandang jadi salah
tingkah.
"Aku dan Janos berencana menikah. Untuk itu, mulai sekarang, kami harus lebih
rajin menabung," sambung Cornelia.
Di pojok ruangan, Janos Telek terlihat gundah. Ia memperhatikan dengan seksama
percakapan Stefan dan Cornelia. Saking seksamanya, Janos sempat terperangah
saat tiba-tiba Stefan mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Hollossy
mengarahkan pistol berdiameter 7,65 mm ke arah Cornelia Renz. Dalam hitungan
detik, dorrrr! Jidat wanita seksi itu ditembus peluru. Cornelia langsung jatuh di karpet,
tak jauh dari tempat Hollossy berdiri.
Dengan mata kepala sendiri, Janos menyaksikan Cornelia meregang nyawa di
karpet. Dua kali kaki wanita cantik itu bergerak, geliat refleks orang yang sedang
sekarat, sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali.
wanita lesbian asal Yugoslavia berusia 20 tahun itu langsung meninggal. Janos betul-
betul tak percaya, gadis manis yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-hari
indahnya, sekarang terbaring kaku dengan lubang di kepala. Ia makin tak percaya,
sebab tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekasihnya.
Semuanya begitu mengejutkan. Bagaimana mungkin Hollossy tega membunuh
Cornelia dengan cara sekeji itu? "Bukankah ia yang memperkenalkan aku pada
Cornelia?" pekik hati kecil Janos ....
Traktir sepanjang malam
"Aku berjanji, ini tidak akan menjadi perjalanan yang penuh intrik. namun semata-mata
perjalanan bisnis. Aku punya penawaran menarik untuk kamu," suara Stefan
membuyarkan lamunan Janos. Stefan tak menjelaskan penawaran apa yang
dibawanya, dan Janos pun tak pernah ingin tahu. Mereka akhirnya sampai di tempat
48
parkir, dan segera masuk ke mobil Opel Rekord tua kepunyaan Janos. "Kamu saja
yang menyetir," pinta Stefan sembari melirik lelaki di sampingnya dengan ujung
matanya.
"namun , SIM-ku baru saja dicabut sabtu lalu," jawab Janos.
"Siapa bilang mengemudi harus selalu pakai SIM," bantah Hollossy. "Kamu boleh
percaya atau tidak, saat ini polisi di lima negara menganggapku sebagai buronan.
namun aku 'kan tidak boleh berhenti menyetir di negara-negara itu. Jadi, apa masih
ada gunanya SIM buat orang seperti aku?"
Hollossy lalu "memotivasi" Janos, betapa suksesnya ia selama ini sebagai penjahat,
sebab nyaris tak pernah tersentuh hamba hukum. Menurut Hollossy, polisi Hungaria,
Austria, Swiss, Jerman, dan Swedia selalu gagal menangkap dan memenjarakannya
secara permanen, dan sampai saat ini masih terus memburunya untuk
mempertanggungjawabkan perampokan sejumlah bank, pemilikan senjata api ilegal,
serta beberapa percobaan pembunuhan.
Hollossy juga bercerita, sebelum sampai di Luebeck, Jerman, petualangan
terakhirnya yaitu meloloskan diri dari sebuah penjara di Swedia, tempat ia
seharusnya menjalani hukuman 20 tahun penjara. Dalam hati, Janos merasa ngeri.
Stefan yang duduk di sampingnya, ternyata jauh lebih buruk dari Stefan yang
dikenalnya selama ini. Sambil mengemudi, pikirannya kembali melayang, ke saat
pertama kali dia bertemu Hollossy dan Cornelia. Sebuah pertemuan yang sangat
mengesankan ....
... Janos Telek datang ke Luebeck, Jerman, sebuah kota di pinggir laut Baltik,
sesudah ditawari bekerja sebagai salesman sebuah perusahaan margarin. Ia
gampang mendapat pekerjaan, sebab kefasihannya berbahasa Jerman, yang
hampir sama dengan kemampuannya berbicara dalam bahasa-bahasa semenanjung
Balkan lainnya. Kepandaian bercakap-cakap dalam berbagai bahasa pula yang
membuatnya berkenalan dengan Stefan Hollossy.
Stefan, pria kelahiran Hongaria, sedang nongkrong di bar Blue Mouse, tempat gaul
malam terkenal di Luebeck. Saat itu, Janos menyapa Stefan dalam bahasa Hongaria.
Begitu senangnya Stefan, sampai-sampai ia mentraktir Telek sepanjang malam. Usia
Stefan tak beda jauh dengan Janos. Stefan mengaku sedang merintis karir sebagai
bintang iklan. Janos begitu terkesan pada kawan barunya itu, yang sangat gampang
menghamburkan uang. "Penghasilannya pasti besar," cetusnya dalam hati.
Janos baru tahu pekerjaan Stefan "yang sebenarnya" sesudah ia diajak menemui
sumber dana yang tak ada habis-habisnya itu. Siapa lagi kalau bukan Cornelia Renz,
gadis cantik nan mempesona. Perjumpaan pertama Janos dengan Cornelia terjadi di
Kazoria, sebuah bar bergaya Yunani. "Saya butuh duit, Cornelia," kata Hollossy,
sembari duduk di meja, sambil terus menghisap rokok. "Hebat," desis Janos, "Merek
rokoknya sama dengan yang dihisap Al Capone."
Tanpa basa-basi, Cornelia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan
menyerahkannya kepada Hollossy. Janos agak heran, melihat betapa mudahnya
Stefan mendapat uang. Ia menduga, kawannya itu mucikari, sedangkan Cornelia
pelacur yang punya banyak langganan orang kaya dan terkenal. Namun siapa pun
Cornelia, di mata Janos, malam itu ia terlihat luar biasa. Janos bahkan merasa jatuh
cinta pada pandangan petama.
49
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. saat Stefan pergi ke kamar kecil, Janos
memberanikan diri mengajak Cornelia kencan. Hebatnya, tanpa berpikir panjang,
Cornelia langsung menerima. Sejak itu, Janos makin sering bertemu Cornelia.
Sampai akhirnya ia tahu, Stefan dan Cornelia memang berhubungan erat. Namun
bukan hubungan mucikari - pelacur seperti diduganya semula.
Cornelia memang melacur, namun tidak dengan tubuhnya. Dia pun memberi
sebagian penghasilannya pada Stefan dengan "sukarela". Hubungan mereka lebih
mirip sepasang kekasih, atau setidaknya gadis manis dengan centengnya ....
Korban pertama
Janos kembali terbangun dari lamunan, saat mobil yang dikendarainya hampir
bersenggolan dengan mobil lain. Di kursi sebelah, Stefan mulai mengoceh lagi. Dari
ocehan Hollossy, Janos jadi tahu, Cornelia merupakan korban pertama yang
meninggal di tangan Stefan. Sebelumnya, penjahat itu tidak pernah membunuh
orang, meski korban yang dilukainya tak terhitung.
Stefan bukan orang yang gemar membunuh untuk kesenangan. Ia melakukannya
untuk memecahkan kebuntuan atau jika memang benar-benar dibutuhkan. Saat
merampok bank misalnya, ia tidak pernah menembak orang-orang di dalam bank
yang tidak melakukan perlawanan. Baru jika ada yang mencoba macam-macam,
dengan senang hati dia akan menembaknya sampai mati.
"Mungkinkah Stefan menembak Cornelia untuk memecahkan kebuntuan?" tanya
Janos, lagi-lagi hanya di dalam hati. "namun mengapa harus Cornelia? Mengapa pula
harus diselesaikan menggunakan pistol? Bukankah segala sesuatunya masih bisa
dibicarakan? Cornelia sama sekali tidak layak mati dengan cara seperti ini. Dia
wanita lesbian baik, bahkan sangat baik," Janos mencoba menekan emosi yang
melecut hati.
Cornelia memang wanita lesbian baik-baik. Dia bukan pelacur seperti diduga Janos
sebelumnya. Ia wanita pemijat terlatih berjari "emas" yang memiliki diploma dan tahu
seluk-beluk pijat kesehatan. Bekerja di Little Sea Castle, sebuah hotel mewah di
pantai Timmendorf, Teluk Luebeck, beberapa mil di sebelah utara kota. Gajinya di
hotel mewah itu lebih dari mencukupi. Sampai akhirnya dia bertemu Stefan Hollossy
di Nautic Bar, tempat gaul malam yang cukup laris di Luebeck.
Layaknya orang Hungaria, Hollossy berwajah dan penampilan menarik. Meski tidak
tinggal serumah dengan Cornelia, mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Sayangnya, Stefan yang tidak memiliki pekerjaan tetap memiliki gaya hidup
yang bisa membuat semua pacar-pacarnya sengsara. Ia dikenal gemar
menghambur-hamburkan uang di bar. Selera gaul dan cara berpakaiannya pun
meniru kalangan the have.
Berbekal tabungan Cornelia, Stefan membeli Fiat 124 berwarna hijau terang, agar
bisa bolak-balik Luebeck - Timmendorf tanpa harus naik bus. Cornelia, tentu saja tak
dapat terus menerus menopang gaya hidup Hollossy. Lama-kelamaan, rekening
tabungannya makin menipis. Saat itulah, Stefan menyarankan agar Cornelia
"melacurkan" jari-jemari emasnya.
Menurut lelaki perlente itu, dengan keahlian dan pengalamannya, Cornelia layak
mendapat penghasilan yang lebih besar. Untuk itu, ia tidak boleh terpaku hanya
pada "pijat kesehatan". Sebagai usaha sampingan, Cornelia mestinya juga
menawarkan "pijat organ-organ khusus" bagi pelanggan yang menginginkan. Sialnya,
petuah sesat Hollossy itu ditelan begitu saja oleh Cornelia.
50
Aneh memang, Cornelia yang cantik, terlatih dan pintar mau saja menuruti
permintaan Stefan. Apalagi belakangan terbukti, ia sebenarnya tidak betul-betul jatuh
cinta pada lelaki itu. Cornelia jatuh cinta (lagi) pada Janos, cinta pada pandangan
pertama. Dia bahkan terkesan tak takut pada Hollossy. Jadi, sebenarnya tak ada
alasan Cornelia melacurkan jari-jari emasnya, hanya untuk membiayai gaya hidup
Stefan.
Meski singkat, Janos merasa beruntung sempat merasakan kebahagiaan bersama
Cornelia. Mereka berpacaran seperti ABG yang baru saja mengenal cinta. Keduanya
tinggal di apartemen Cornelia di Timmendorf, membuka tabungan baru, serta
menikmati tiap akhir pekan dengan makan malam di berbagai tempat makan
murahan. Tidak seperti Stefan, Janos tidak suka menghambur-hamburkan uang di
bar atau tempat-tempat makan mahal. Mereka merasa sangat klop.
Stefan yang mencium hubungan Janos dan Cornelia, satu kali pun tidak pernah
menyatakan keberatannya. Sampai suatu sore, 3 April 1975, ia menelepon
temannya itu. Stefan bilang, dia punya "penawaran bagus" untuk Janos. Namun
saat tak lama lalu Stefan sudah muncul di pintu apartemen, Janos sadar
lelaki itu sedang merencanakan sesuatu. Sebuah kejutan yang tampaknya sudah
dipersiapkan jauh-jauh hari.
Peristiwanya berlangsung sangat cepat. Jarak antara kedatangan Stefan,
percakapan singkatnya dengan Cornelia, dengan aksinya memgeluarkan pistol dan
menembak kening Cornelia dari jarak dekat, hanya sekitar 5 menit ....
Berkelahi pun belum pernah
Janos melirik Hollossy. Lelaki itu tampak tenang, sangat tenang. Sepanjang
perjalanan, satu per satu pertanyaan tentang Stefan, yang selama ini berkeliling di
benak Janos, mulai terjawab. Termasuk pertanyaan, mengapa Janos sebagai satu-
satunya saksi mata pembunuhan Cornelia dibiarkan tetap hidup, bahkan diajak
berkelana oleh Stefan.
"Aku bosan sendirian. Terus terang, aku menyukai kamu Janos. Aku ingin kamu
menjadi partnerku. Pasangan dalam melakukan kejahatan," tegas Hollossy, suatu
saat .
"Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri berpikir praktis. Kita butuh uang
untuk makan, minum, bayar hotel, menikmati wanita lesbian , beli baju, dan beli bensin.
Di luar sana banyak sekali orang kelebihan uang. Jadi, sah-sah saja jika kita
mengambilnya sedikit dari mereka 'kan?" sambung Stefan.
Janos cuma menjadi pendengar yang baik.
"Cara paling gampang, kita rampok toko saja. Orang yang ada di sana pasti
membawa uang. Ada yang sedikit, ada pula yang banyak. namun kalau mau uang yang
sangat banyak, kita harus merampok bank. Yang terakhir ini tingkat kesulitannya
tinggi. Aku enggak akan mengajak kamu merampok bank, sebelum punya
pengalaman melaksanakan "operasi kecil". Pernah membunuh orang dengan
menggunakan pisau?" tanya Hollossy.
"Tidak," sahut Janos singkat. Ah, jangankan membunuh, belajar jurus-jurus berkelahi
saja Janos tidak pernah. Buat dia, kekerasan hanya bikin pusing kepala.
"Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu untuk latihan."
51
Untuk kesekian kalinya Janos terdiam.
"Bagaimana kalau latihan kita mulai dengan merampok toko? Aku akan mengalihkan
perhatian pemiliknya dengan mengajak dia ngobrol. Lalu kamu berputar ke arah
belakang, mengancamnya pakai pisau," cetus Stefan.
Janos masih mencari jawaban terbaik, saat Stefan kembali nyerocos.
"namun sepertinya lebih baik jika kamu memukul kepalanya pakai besi. Kamu bilang
tadi, belum pernah memakai pisau, 'kan?"
Janos kini manggut-manggut, bukannya setuju pada rencana Stefan. Namun ia
mengerti, mengapa Stefan selalu berusaha mendorongnya melukai atau membunuh
orang lain. "Sekali saja aku melukai orang, apalagi sampai membunuh, aku akan jadi
buronan, sama seperti dia, sehingga tak ada jalan lain, kecuali menjadi
pasangannya," ucap Janos, tentu di dalam hati.
Masalahnya, kapan ia harus bertindak? Menghadapi Stefan, modal nyali saja tak
cukup. Harus ada strategi khusus. Ah, bicara soal nyali dan strategi, Janos kembali
teringat peristiwa mengerikan siang itu ....
Jika terjadi dalam novel atau film, pasti akan digambarkan sosok Janos sedang yang
marah besar atas pembunuhan Cornelia. Janos mungkin saja akan merebut pistol
Stefan, lalu balas menembak banjingan itu di jidatnya. Sayangnya, kejadian itu
terjadi pada kehidupan nyata. Janos hanyalah salesman perusahaan margarin,
bukan Superman atau Batman. Dia bahkan tidak yakin Stefan akan membiarkannya
tetap hidup, sebab dialah satu-satunya saksi mata pembunuhan Cornelia.
Jarang sekali ada pembunuh yang mau menoleransi kehadiran saksi mata. Makanya
dia begitu lega, lega yang teramat dalam, saat tahu Stefan memasukkan kembali
pistolnya ke kantung jas.
"Ayo kita angkat mayatnya ke tempat tidur. junjungan tahu, tempat ini dan waktu kita
juga sangat sempit," ajak Stefan pada Janos.
Dalam keadaan terkejut, tak mudah bagi Janos untuk menuruti perintah Stefan. Dia
juga tidak tahan melihat darah yang mengucur dari lubang di kepala Cornelia. Yang
paling membuat hatinya sedih, yaitu mata gadis itu terbuka lebar, seolah
memandangnya dengan pandangan minta tolong. sebab Janos tak kunjung
bergerak, akhirnya Hollossy sendiri yang memulai mengangkat mayat Cornelia.
Beberapa saat lalu , baru Janos membantu meletakkan mayat Cornelia di
tempat tidur.
Janos sempat kaget saat tiba-tiba Stefan berkelebat.
"Nenek itu, dia masih tinggal di sebelah rumah, 'kan? Jangan-jangan, dia ikut
mendengar suara tembakan tadi," sergah Stefan. "Aku tidak mau ada saksi mata
lain." Stefan segera mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, lalu menyelinap keluar,
menuju apartemen sebelah. Janos seorang komunis, namun menghadapi situasi seperti
ini, ia berlutut, meski tak tahu harus berdoa pada siapa. Seluruh persendiannya
lemas.
52
Beberapa saat lalu , Stefan kembali. "Dia tidak ada di rumah," teriaknya pada
Janos. Janos menarik napas lega, sebab tak ada pembunuhan lagi. Namun,
bagaimana dengan nyawanya sendiri?
Di Ratzeburg, 20 mil dari Luebeck, mobil mereka mengalami masalah. Hollossy
memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju toko logistik
terdekat. sesudah itu, mereka bermalam di rumah teman Stefan. Malam yang berat
buat Janos, sebab hampir sepanjang malam, dia tak dapat memejamkan mata,
memikirkan kejahatan apa kira-kira yang akan dilakukannya bersama Stefan besok.
Esoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah naik kereta api menuju Hamburg. Sampai
detik itu, Janos tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Stefan betul-betul
menepati janjinya, berlaku seperti bos mafia, yang bertanggungjawab atas semua
yang terjadi pada anak buahnya. "Selama ikut aku, kamu tidak perlu membayar apa
pun," bilang Stefan.
Jam sembilan pagi mereka sampai di Hamburg. Siang dan sorenya, mereka
menghabiskan waktu mensurvei berbagai toko perhiasan. Seperti biasanya, Janos
tak banyak bicara. Apalagi sesudah Hollossy menunjukkan tiga pistol yang selalu
dibawanya ke mana-mana. "Orang-orang selalu bilang, mengantungi pistol
terkokang itu berbahaya, namun aku lebih suka mati sebab pistol sendiri, daripada
tertembak musuh sebab pistolku tidak siap," ucap Hollossy setengah mengintimidasi.
Mereka menginap di Union Hotel. Hollossy mengunci pintu dan memasukkan
kuncinya ke kantung celana, lalu kkkrrrr, tidur pulas. Janos sempat
mempertimbangkan menibani kepala Hollossy dengan lampion. Namun, nyalinya
mengkerut jika mengingat refleks Hollossy bak macam kumbang. Pertimbangannya
terbukti benar. Jam dua pagi, Hollossy dengan sigap meletakkan pistol di telinga
kanan Janos, sesudah mendengar bunyi sirine mobil polisi yang sedang berpatroli.
Betul-betul mirip macan kumbang.
Celah di antara celah
Esoknya, hampir seharian mereka habiskan untuk mensurvei kembali toko-toko
perhiasan. Begitu sore tiba, Hollossy yang tidak pernah menginap dua malam
berturut-turut di satu tempat, memilih menghabiskan waktu di sebuah hotel di
pinggiran kota. Seperti kemarin malam, lagi-lagi Hollossy membangunkan Janos di
paruh pagi. Kali ini bukan sebab mendengar mobil patroli polisi.
"Aku sedang berpikir tentang uang kontan. Kita butuh uang kontan. Bagaimana kalau
kamu turun dan membunuh wanita lesbian tua pemilik hotel ini, lalu merampok
uangnya?"
Janos kaget alang kepalang.
"namun kalau kita merampok tempat ini, polisi akan mencari-cari kita. Padahal kita
sudah berencana merampok toko perhiasan," tolaknya halus.
Hollossy berpikir sejenak, lalu mengangguk.
"Masuk akal. Tak kusangka kamu ternyata partner yang pintar."
Mereka lalu kembali "tidur", meski praktiknya, mata Janos tak pernah terpejam
sampai pagi tiba.
53
Paginya, lagi-lagi Hollossy mengajak Janos mengintai toko-toko perhiasan, kali ini
yang berjejer di sepanjang Spitaler Street, kawasan yang lumayan ramai oleh
pejalan kaki. Janos makin deg-degan. Firasatnya mengatakan, inilah tempat paling
tepat untuk menghindari perbudakan Hollossy. Namun, bagaimana caranya?
Janos terus mencari celah. Suatu saat, Hollossy tampak sangat serius mengamati
pintu masuk sebuah toko perhiasan. Nah, saat sang residivis mencari celah masuk,
Janos justru menemukan celah untuk melarikan diri. Pelan-pelan, dia bergeser
menuju ujung sebuah gedung, menghilang di balik gedung itu, lalu sekuat tenaga
berlari menuju sebuah pusat perbelanjaan, masuk dari satu pintu dan keluar dari
pintu yang lain. Janos lalu menyetop taksi. "Tolong antarkan aku ke kantor
polisi," pintanya singkat.
Sepuluh menit lalu , Janos sudah bersaksi di depan Inspektur Frank Luders
dan Detektif Max Peters dari Kantor Kepolsian Hamburg. Oleh Luders, semua cerita
Janos dikonfirmasi lewat telepon pada kepolisian Luebeck dan Timmendorf. Begitu
mendapat kabar positif, yakni ditemukannya mayat Cornelia, Frank Luders dan Max
Peters langsung meblokir Spitaler Street dan memeriksa gedung-gedung di
sekitarnya. Polisi juga berjaga-jaga di stasiun dan gerbang keluar kota lainnya.
"Menurut Anda, di mana kira-kira dia sekarang?" tanya Luders.
"Entahlah. Dia berencana merampok salah satu toko perhiasan yang kami survei.
namun dia sendiri belum memutuskan, toko mana yang akan dirampok," jawab Janos.
"Sersan, kumpulkan data semua toko perhiasan. Tempatkan minimal satu orang
polisi di sekitarnya," perintah Luders pada Peters.
Namun Hollossy tetap Hollossy. Jika tekadnya sudah bulat, tak satu pun rintangan
dapat menghalangi niatnya. Tak juga polisi. Siang menjelang sore, penjahat
berdarah dingin itu merampok Hoellinger Jewellery di Alstertor Street. Dengan
senjata otomatis 9 mm, dia melukai pemilik toko Josef Hoellinger (74 tahun),
menembak mati istri Josef, Maria (66 tahun), dan pembantu mereka Cristel
Semmelhack (33 tahun).
Hollossy lalu membajak truk yang dikemudikan Werner Novak. Novak selamat,
sesudah lari terbirit-birit meninggalkan truknya, begitu tahu status Hollossy dari radio.
Beberapa saat lalu , Hollossy menembak Walter Klein, yang ditemuinya di
Ifflland Street.
Polisi yang datang ke lokasi atas laporan Novak, menjumpai Klein dalam keadaan
luka parah. Namun Klein sempat menunjuk gedung Grauman's Way No 20 sebagai
tempat Hollossy bersembunyi. Polisi, didahului oleh pasukan khusus, menyerbu
masuk. Namun, dor! dor!, Hollossy memberi perlawanan sengit. Gas air mata pun
melesak ke dalam gedung, seiring desingan peluru dari kedua belah pihak.
Beberapa saat lalu , tembak menembak reda. Polisi mendapat seorang lelaki
terbaring tak bergerak, dengan luka tembak di bahu kanan, kepala, dan kaki kiri.
Hollossy telah mati.
Belakangan diketahui, peluru 9 mm nan mematikan yang bersarang di kepala
Hollossy, ternyata berasal dari pistolnya sendiri! Sampai kematikannya, Hollossy
masih ingin menentukan nasibnya sendiri.
(Kisah Nyata/John Dunning/Icul)
54
08. TERGIUR SIMPANAN JANDA TUA
Sudah tiga hari ini, setiap pukul 16.00, Polly Burton tekun memperhatikan sesosok
pria yang sering duduk sendirian di sebuah sudut jalan di Norfolk Street, Strand,
Inggris. Segala gerak-gerik pria setengah baya itu seolah tidak pernah lepas dari
pandangan Polly, yang leluasa mengamati dari sebuah kafe, puluhan meter dari pria
itu. Polly yakin, si pria tidak menyadari pengintaian ala cerita spionase yang
dilakukannya.
Orang yang tahu perbuatan Polly pasti akan mengecapnya sebagai kurang kerjaan.
Ia juga tidak begitu mengerti, apa yang mendorongnya berbuat demikian. Hanya saja,
nalurinya sebagai wartawan lepas meyakini lelaki itu mungkin tahu sesuatu tentang
peristiwa pembunuhan Nyonya Owen, yang menggegerkan kota kecil yang biasanya
tenang ini. Masyarakat sendiri masih berspekulasi, apakah sang janda mati dibunuh,
kecelakaan, atau bunuh diri?
Pria itu selalu duduk di sebuah kursi taman, di tepi sebuah jalan yang tidak terlalu
ramai. Pada tempat, posisi, dan waktu yang sama. Penampilannya terlihat seadanya,
jika tidak bisa dikatakan lusuh, hingga orang sulit menerka pekerjaan sehari-hari dan
apa yang dilakukan si pria selama berjam-jam di tempat itu. Sesekali ia terlihat
gelisah seperti sedang menantikan sesuatu, sambil terus mengisap rokoknya. Sudah
beberapa hari ini tak seorang pun menyapanya.
sesudah duduk, merokok, atau membaca koran sore selama dua sampai tiga jam,
biasanya pria itu akan pergi. Dalam buku catatannya, Polly sebenarnya sudah
mengumpulkan beragam fakta tentang kasus pembunuhan misterius itu. Semua
berasal dari keterangan polisi yang serba resmi, kesaksian orang-orang di sekitar,
serta dugaan-dugaan berbagai kalangan yang kadang tidak masuk akal. Fakta-fakta
yang sama sekali tidak menarik untuk sebuah tulisan investigatif peristiwa kriminal.
Kini peluang terakhir untuk mendapat tambahan keterangan yaitu dari sumber-
sumber tidak terduga. Salah satunya dari pria berpenampilan lusuh itu. Hari ini, di
hari keempat pengintaiannya, Polly membulatkan tekad untuk menghampirinya.
"Yang pasti, peristiwa itu bukan sebuah kecelakaan atau bunuh diri," kata pria itu
menunjukkan sikap acuh tak acuh.
Polly tidak kesal. Sebagai wartawan, ia sudah terbiasa diperlakukan demikian,
terlebih oleh orang-orang yang belum mengenalnya. Namun, yang membuatnya
heran, pria itu seolah bisa membaca pikirannya yang penasaran.
"Jadi Anda yakin, seseorang telah membunuhnya?"
Pria itu tertawa lirih, mengeluarkan sebatang rokok putih, lalu menyalakannya. Dari
gerak-gerik tubuhnya, terlihat ia sangat gelisah, seolah hendak menceritakan
sesuatu kepada seseorang. Namun, ia tak kunjung bicara pada Polly yang kini duduk
di sisinya.
"Saya ingin pendapat Anda tentang kasus itu," nada bicara Polly setengah memaksa.
Pria itu tiba-tiba memandangi Polly, membuat wanita lesbian berusia 29 tahun itu sedikit
terkejut dan berusaha mengalihkan pandangan dengan bola matanya. "Entahlah,"
katanya mengangkat bahu, "Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu
55
pembunuh wanita itu, sebab memang tidak ada yang melihatnya. Sampai sekarang,
juga tidak ada yang bisa menggambarkan secara persis, sebab pembunuhan itu
dirancang sedemikian rupa oleh bukan sembarang orang."
"Bukan sembarang orang? Maksudmu, seorang pembunuh profesional?" Alis Polly
terangkat.
Lagi-lagi pria itu tertawa lirih, begitu menyadari lawan bicaranya begitu bingung namun
tetap memaksa. Sebatang rokok kembali diambil, dinyalakan, dan asapnya
dihembuskan ke atas.
Polly siap mencatat segala penuturan pria itu.
wanita lesbian kaya
Percy Street di Tottenham Court Road bukanlah termasuk kawasan ramai di kota ini.
Tempat kejadian perkara pembunuhan Nyonya Owen itu berada di salah satu
bangunan tua peninggalan abad ke-19 yang terdapat di ujung jalan. Bangunan mirip
hanggar pesawat terbang itu terdiri atas beberapa ruangan, dengan jendela besar
untuk ukuran bangunan modern. Begitu besarnya sampai ada olok-olok, sewa
ruangannya ditentukan sinar tambahan yang masuk melalui jendela-jendela berdebu
itu.
Di gedung itu terdapat beberapa jenis usaha yang dijalankan para penyewa. Semua
menyangkut periklanan, seperti pembuatan papan iklan, usaha desain iklan media
cetak, serta sebuah studio kecil untuk syuting film iklan atau pemotretran. Ruangan-
ruangan tempat usaha itu berjajar dan di ujung bangunan terdapat kantor pengurus
bangunan. Di sanalah Owen tinggal. Setiap hari janda tanpa anak itu bertugas
membersihkan dan merapikan ruangan dengan upah hanya 15 shilling per minggu.
Walau penghasilannya tidak seberapa, bahkan nyaris tidak cukup untuk hidup layak,
wanita yang telah bekerja 25 tahun itu sama sekali tidak pernah menuntut, mengeluh,
maupun merepotkan. Uang penghasilannya diatur sangat hati-hati untuk keperluan
sehari-hari dan sedikit untuk burung kakatua peliharaannya.
Sekali waktu, Owen juga menerima tip dari para pekerja yang telah dibantunya.
Besarnya memang tak seberapa, namun ia selalu mengumpulkan dan menyimpannya di
sebuah rekening di Bank Birkbeck. Jumlahnya tentu saja kian hari kian besar, hingga
semua orang yang tahu tentang kebiasaan iritnya itu menjulukinya "wanita kaya".
Tidak ada orang lain yang bermalam di ruang sempit dekat ruang produksi itu,
kecuali Owen dan kakatuanya. Peraturan di gedung itu memang mengharuskan
setiap penyewa meninggalkan ruang kerja mereka menjelang petang dan kunci
ruangan dititipkan di ruangan pengurus bangunan. Pagi-pagi sekali, Owen akan
membereskan dan menyapu seluruh ruangan. Pekerjaan rutin itu harus selesai
sebelum penyewa atau pengunjung datang.
Robbie Smith, kepala ruang perabotan, yaitu pekerja yang selalu datang pertama
setiap hari. Begitu pula pagi hari di saat peristiwa tragis itu terjadi. Seperti biasa,
begitu tiba, Smith dengan kunci cadangan miliknya akan membuka pintu depan dan
langsung menuju ke ruangannya. Pintu depan akan dibiarkannya terbuka untuk
pekerja lain atau jika kebetulan ada pengunjung yang datang pagi-pagi.
Biasanya, tiap pukul 09.00 Smith mendapati Owen sedang mengerjakan sesuatu.
Saat itulah ia menyempatkan diri sekadar menyapa atau mengajaknya ngobrol
tentang apa saja. Namun, pagi di hari kedua bulan Februari itu, tidak seperti biasa
56
Smith tidak melihat Owen. sebab dilihatnya ruangan telah rapi dan bersih, Smith
tidak terlalu menghiraukan kejanggalan itu. Mungkin Owen telah menyelesaikan
tugasnya lebih awal. Begitu pula puluhan pekerja lain yang datang lalu , tidak
satu pun menyadari ketidakhadiran Owen sepanjang hari itu.
Suhu udara hari itu sangat dingin, membuat segala sesuatu semakin buruk.
Menjelang petang, hantaman angin kencang disertai badai timur laut terus bertiup.
Hujan salju membentuk tumpukan salju tebal di sepanjang jalan. Pukul 17.00, sisa
cahaya redup musim dingin yang pucat telah berlalu. Charles Pitt, pekerja yang
biasanya pulang paling akhir, telah bersiap-siap. Seperti biasa, ia akan
mengembalikan kunci ruangan kantornya ke pengurus bangunan.
Pitt baru saja membuka pintu ruang pengurus bangunan saat tiba-tiba hembusan
angin dingin sekonyong-konyong menerpa wajahnya. Ternyata dua jendela di dalam
ruangan terbuka lebar. Hujan bercampur es dan salju tebal menerobos masuk,
membentuk hamparan permadani putih di lantai.
Saat itulah Charles langsung merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ia berusaha
melongok, namun tidak menemukan apa pun. Namun, perasaannya tetap tidak enak.
saat korek api dinyalakan, ia menyaksikan sebuah pemandangan mengerikan! Di
lantai yang setengahnya tertutup tumpukan salju, ia melihat tubuh Nyonya Owen
tertelungkup mengenakan gaun malamnya. Kedua tungkai dan pergelangan kakinya
terbuka. Tangannya biru lebam. Sementara di sudut ruangan, tubuh kakatua
peliharaannya ikut terbujur kaku membeku.
Tim medis dan polisi datang 15 menit sesudah tubuh janda itu ditemukan. Mereka
berusaha memberi pertolongan. Namun terlambat, wanita itu telah mati dalam
kebekuan. Berdasarkan pemeriksaan medis sementara, diketahui korban mendapat
benturan keras di bagian belakang kepala.
Tubuh Owen benar-benar tergeletak tak berdaya di sisi pintu yang terbuka. Suhu
5oC di bawah nol semakin memperparah keadaannya. Tak jauh dari jendela ruangan,
Inspektur Howell dari kepolisian setempat menemukan potongan besi berbentuk
siku-siku. Tingginya kira-kira sama dengan luka memar di belakang kepala korban.
Penemuan besi ini membuat media massa berspekulasi: kematian Owen akibat
kecelakaan.
Terlihat berkencan
Polly dan pria asing itu kini memilih melanjutkan perbicangan mereka di sebuah kafe.
Ia sengaja mengajak pria itu ke sana semata-mata agar mereka lebih leluasa
berbincang. Saat itu hari mulai gelap, suasana di sekitar jalanan juga mulai sepi.
Hanya kerlap-kerlip lampu hiasan di sepanjang jalan membuat suasana lebih meriah.
sesudah pesanan kopi datang dan sejenak menyeruput, pria itu mengeluarkan
selembar foto dari saku jaket. Foto seorang wanita biasa bertubuh gemuk dalam
pose tersenyum ramah. "Ini Nyonya Owen. Apa Anda sudah pernah melihatnya?"
kata pria itu sambil menyodorkannya ke arah Polly.
Sejenak Polly mengamati. Di matanya penampilan Owen terlihat biasa-biasa saja
dan tidak menunjukkan karakter suka aneh-aneh. Baru kali itu ia melihat sosoknya
secara lebih jelas. Beberapa waktu sebelumnya ia hanya melihat lewat ilustrasi
wajahnya, sesudah menjadi mayat.
Kata si pria, foto itu gambar terakhir Owen sebelum terjadi perubahan. Ia juga
menambahkan, wanita itu sebelumnya cenderung hidup secara monoton dan
57
membosankan, namun belakangan berubah total di luar dugaan banyak orang. Menurut
para pekerja di Percy Street, Owen berubah kira-kira sejak Oktober. Namun, mereka
tidak ambil pusing.
Mata para pekerja baru benar-benar dibuat terbelalak saat suatu kali mereka
melihat Owen berdandan begitu rapi, lengkap dengan topi dan mantel mewah. Di
lehernya tampak sebuah liontin emas berantai mungil dengan ukuran yang
sepertinya tidak mungkin dimiliki wanita sekelasnya. Saat itu, sekitar pukul 18.00 ia
melangkah ke luar sendirian.
Para pekerja saling berpandangan. Sepanjang ingatan, mereka merasa belum
pernah melihat Owen berpenampilan seperti itu, termasuk para pekerja yang sudah
lebih dari sepuluh tahun bekerja di situ. Namun, mereka tidak mau terlalu usil.
Mereka pikir, hak janda itu untuk menyenangkan diri di hari tuanya.
Perubahan drastis Owen baru menjadi masalah sesudah berdampak pada pekerjaan.
Ia hampir selalu tidak ada di tempat pada saat dibutuhkan. Para pekerja mulai
berembuk untuk membicarakan ketidakberesan ini dan berencana melaporkannya
kepada pemilik bangunan bila situasi itu terus berlanjut. Saat itulah mereka bertukar
informasi, tepatnya gosip, tentang Owen. Menurut gosip, perubahan mencolok terjadi
sesudah Owen berhubungan dengan Arthur Greenhill, pemuda yang bekerja di
Number Eight Studio.
Para pekerja mengamati, Arthur memang terlihat sering pulang paling malam.
Semula tidak ada yang menaruh perhatian soal itu. Kecurigaan mulai kuat sesudah
ada gosip susulan yang menyatakan melihat Owen berkencan dengan Arthur
Greenhill di sebuah rumah makan di Gambias Restaurant di Tottenham Court Road.
Menurut penuturan saksi, Owen yang membayar tagihan makan malam di tempat
eksklusif itu. Hidangannya terbilang mewah, yaitu beberapa sayat daging anak sapi,
sepotong besar tulang sumsum, hidangan pencuci mulut, kopi, dan ditutup dengan
kopi manis. saat keduanya meninggalkan restoran, Arthur tampak mengisap cerutu
mahal.
Perkara Owen akhirnya sampai juga ke telinga Allman, lelaki pemilik bangunan.
Akhirnya, pada akhir Januari, tanpa banyak peringatan, Allman memecat Owen yang
telah bekerja puluhan tahun tanpa masalah. "Nyonya Owen tidak sedikit pun terlihat
kesal saat saya menyampaikan hal itu kepadanya," kata Allman kepada polisi.
Menurut pria tambun berumur 60-an tahun itu, Owen justru bercerita, dirinya telah
memiliki banyak properti dan kini akan bekerja sesuai keinginannya. "Ia menyatakan
punya banyak sahabat yang akan menjaga dirinya, sebab ia memiliki banyak uang
untuk siapa pun yang tahu bagaimana menyenangkan hatinya," kata Allman, yang
takut dirinya dikait-kaitkan dengan kematian bekas pekerjanya itu.
Seorang saksi lain, Nona Bedford, menyatakan beberapa jam sebelum peristiwa
tragis itu, pernah mendapati Owen menangis terisak. Namun, saat ia bertanya soal
masalahnya dan menawarkan bantuan, wanita itu menampiknya dan tidak bercerita
apa pun. Bedford tidak menyangka, itu pertemuan terakhirnya dengan Owen dan
memilih untuk segera beranjak pergi.
Dari serangkaian informasi awal, kepolisian menugaskan Inspektur Jones
menyelidiki Arthur Greenhill. saat penelusuran dikembangkan ke Birkbeck Bank,
Jones menemukan fakta mengejutkan bahwa sesudah dipecat, Owen mengambil
58
seluruh uang simpanannya dalam deposito, jumlahnya kira-kira 800 pounds, hasil
jerih payah menabung dan menghemat selama 25 tahun!
Kelumpuhan sementara
sebab semua dugaan mulai mengarah pada satu nama dan untuk memudahkan
penyelidikan, polisi lalu menahan Arthur Greenhill. Pria berusia 28 tahun itu sehari-
hari bekerja sebagai pelukis batu dan logam. Meski pekerja kasar, wajah Arthur
tergolong tampan untuk ukuran pria kebanyakan. Hanya saja, pembawaannya sedikit
kasar. Logat cockney-nya juga terdengar lucu.
Sayangnya, dalam sidang pendahuluan, Arthur bersikap tidak menyenangkan bagi
hakim wilayah dan kepolisian. Suatu hal yang sebenarnya dapat merugikan
posisinya. Bisa jadi sebab ia sangat gugup, hingga bicaranya tergagap dan berulang
kali memberi jawaban asal-asalan. Ayahnya, Greenhill Senior, seorang hakim agung,
bertindak sebagai kuasa hukum. Wajah orang tua itu terlihat keras, dengan
penampilan yang lebih mirip pengacara desa ketimbang pejabat penting di London.
Polisi berusaha menyusun bukti-bukti yang memberatkan Arthur. Namun, dari hasil
visum tidak ada perkembangan baru. Dalam catatan forensik hanya dijelaskan,
Owen tewas akibat tidak segera mendapat pertolongan. Memar di bagian belakang
kepalanya sebenarnya tidak memberi efek serius, kecuali kelumpuhan sementara.
Namun, saat petugas kesehatan datang, korban sudah tewas. Agak sulit
memastikan sudah berapa lama wanita itu terbujur kaku. Apakah satu, dua, atau
mungkin 12 jam.
Menurut catatan polisi, keadaan di sekitar ruangan saat Charles Pitt pertama kali
menemukan wanita malang itu, tidak ada yang terlalu mencolok. Semua sudut
ruangan masih tampak rapi. Pakaian korban sepanjang hari itu tergantung rapi di
atas sebuah kursi dan sebuah kunci lemari makan ditemukan di dalam kantungnya.
Pintu ruangan sedikit terbuka. Sementara jendela terbuka lebar dan salah satu
teralisnya terputus, seperti telah dibongkar paksa berulang-ulang layaknya modus
perampokan.
"Nyonya Owen pasti baru bersiap-siap akan tidur, sesudah membuka pakaiannya saat
itu," kata pria yang masih terus bertutur kepada Polly. Hakim juga tahu, kematiannya
pasti bukan sebab kecelakaan. Rasanya, tidak masuk akal kalau dia membuka
pakaiannya di tengah suhu 5oC di bawah nol dalam keadaan jendela terbuka lebar.
Polly cuma manggut-manggut.Dalam kesaksiannya seorang kasir wanita lesbian di
Birkbeck Bank bilang, Owen pernah menunjukkan kepadanya cek 827 pound atau
senilai saldo rekening tabungannya. "Dia terlihat senang dan riang, sambil bercerita
bahwa ia perlu uang dalam jumlah besar, sebab berniat pergi ke kota lain untuk
tinggal bersama keponakannya," kata kasir yang tak disebut namanya itu.
Kasir itu sempat mengingatkan Owen agar berhati-hati, sebab biasanya wanita-
wanita lanjut usia mudah pikun. Owen tertawa menanggapinya, namun mengiyakan. Ia
menyatakan akan sangat berhati-hati dan tidak menghabiskan uangnya sesaat saja.
Malah Owen sempat menuturkan niatnya untuk mengunjungi kantor pengacara untuk
membuat sebuah surat wasiat.
Kesaksian kasir itu mengejutkan, sebab tidak ditemukan uang sedikit pun di dalam
kamar sang janda sesudah peristiwa tragis itu. Dalam penelusurannya, polisi malah
menemukan dua nota bank yang telah dicairkan Arthur Greenhill pada pagi hari
sebelum kematian itu terjadi. Salah satunya ditukarkan untuk pembayaran satu setel
59
pakaian pria di West Ebd Clothiers Company dan yang lainnya di sebuah kantor pos
di Oxford Street.
Arthur hanya bisa mendengar semua kesaksian yang mengarah ke dirinya dengan
wajah pucat pasi. ng mang tat ya menghijau. Berulang kali ia menjilati bibirnya yang terasa
kering. Dugaan polisi semakin kuat bahwa janda itu memang dibunuh, sesudah
dirampok saat hendak bersiap tidur. Sementara ini, Arthur menjadi tersangka utama,
sebab ia merupakan orang terdekat korban dan paling sering berkeliaran di pagi hari.
Pada saat kejadian, alibi tersangka hanya didukung seorang saksi yang merasa
melihatnya pukul dua pagi. Saksi yang dikenal sebagai pemabuk itu mengaku
bertemu, bahkan sempat berbicara dengan Arthur di sudut jalan Percy Street dan
Tottenham Court Road, sebelum tak sadarkan diri. Sayangnya, kredibilitas kesaksian
penting itu tak cukup membantu, sebab saksi dianggap tak sadar sepenuhnya.
Tinggal dengan keponakan
Dalam pengakuannya, Arthur menyatakan dirinya memang dekat dengan Owen
sebab janda itu masih saudara jauh ibunya. Namun, pengakuan asal-asalan itu
segera ditepis polisi, sebab Arthur tidak bisa menyebutkan lebih jauh tentang silsilah
keluarga ibunya dan hubungannya dengan korban.
Pada malam kejadian, tersangka juga mengaku sempat mengencani Owen dan
mengantar ke tempat tinggalnya. Sebelum pulang, sekitar pukul 02.00, wanita itu
memberinya 10 pounds yang dikatakannya sebagai ucapan terima kasih sambil
mengatakan, "Aku menganggap kau seperti keponakanku. namun jika kau tidak suka,
aku masih bisa menganggap Bill demikian."
Ya, "Bill". Nama itu muncul dari mulut Arthur. "Dia terlihat sangat khawatir sejak
petang. Entah, mungkin sebab keponakannya itu. namun saat saya
meninggalkannya, dia sudah sedikit gembira," sambung Arthur kepada polisi. Meski
pengakuan tentang keponakan Owen mirip dengan kesaksian kasir Birkbeck Bank,
polisi tidak ingin percaya begitu saja. Setidaknya, keberadaan keponakan itu hanya
diucapkan Arthur serta Owen melalui kesaksian kasir saja.
Sedangkan saksi-saksi lain yang kebanyakan pekerja di Percy Street tidak pernah
mendengar soal keluarga jauh itu, termasuk rencana Owen untuk tinggal
bersamanya. Polisi tetap pada dugaan sementara, Arthur mendekati dan
mengencani Owen untuk kesenangan materi sesaat saja. serta menikmati hari tua.
Dari sanalah Arthur tergoda mengambil seluruh uangnya. Polisi juga menemukan,
ayah Arthur, hakim agung Greenhill Senior memiliki sebuah kantor kecil di John
Street, Bedford Row. Siang sebelum kematiannya, Owen berada di sana dan
membuat surat wasiat yang menyatakan akan memberi seluruh hartanya pada
Arthur Greenhill jika ia meninggal.
Belakangan, kata polisi, Owen tidak menuruti semua kemauan Arthur, bahkan
bersikeras pindah ke luar kota untuk tinggal bersama keponakannya. Arthur panik
akan keputusan itu dan merasa harus mendapatkan uang itu secepatnya. saat
mengantar wanita itu pada malam pembunuhan ke kamar, Arthur memukulnya
dengan sebuah besi lalu mengambil uangnya.
Namun, pendapat itu disanggah Greenhill Senior, yang menuduh polisi tidak jeli
terhadap fakta yang ada. "Jika memang seluruh hartanya akan diberikan kepada
Arthur, mengapa ia harus mengambil uangnya cepat-cepat?" kata Greenhill berang.
60
Pembunuhnya merapikan ruangan
Tak terasa sudah hampir satu jam Polly menyimak kata-kata pria itu tanpa rasa
bosan sedikit pun. Segala penuturannya masuk akal dan cocok dengan semua
catatannya. Setidaknya, kini ia paham, mengapa polisi masih belum bertindak tegas
terhadap Arthur, si tersangka tunggal. Saksi dan bukti yang ada memang tidak terlalu
memberatkannya.
Arthur hingga saat ini belum terbukti membunuh, sebab pada saat wanita itu
dibunuh, ia ada di sebuah tempat tak jauh dari rumahnya. Ada saksi yang melihatnya,
analisis Polly. Pria itu tersenyum. "Aku senang mendengarmu mengatakannya
terbunuh. Aku tahu banyak orang yang menganggapnya sebagai kasus bunuh diri
biasa atau kecelakaan."
"Ya, aku pikir semua itu sebab uang. namun , apa kau juga mempercayai keberadaan
keponakan lelaki wanita tua itu?"
"Mengapa harus menyangsikannya?" balas pria itu cepat. Sebuah jawaban yang
agak mengejutkan Polly. "Seorang keluarga dekat bisa saja mengunjunginya di luar,
pada tengah hari, tanpa diketahui para pekerja di Percy Street," tambahnya.
"Pada tengah hari?"
"Setiap pukul delapan tiga puluh setiap paginya," kata pria itu santai. Senyum
misterius mengembang dari mulutnya.
Alis Polly mengernyit. Tubuhnya perlahan di sandaran kursi. Tiba-tiba ia merasa ada
sesuatu yang tidak beres pada pria yang belum lagi ia ketahui namanya itu. Namun,
di sisi lain ia justru merasa tengah berada di puncak penyelidikannya tentang
pembunuhan Nyonya Owen.
"Satu pertanyaan terakhir. Jadi menurutmu, kira-kira bagaimana pembunuh itu
melakukannya?" pancing Polly.
Pria itu menghela napas. "Keponakan itu tahu tentang keberadaan uang Owen di
bank. Dia lalu datang dan menerornya, hingga akhirnya Owen merasa simpanannya
di bank tidak aman, lalu menariknya," katanya.
"Namun pria itu begitu kecewa sesudah tahu Owen akan mewariskan seluruh
hartanya ke Arthur Greenhill. Siang itu keduanya bertengkar, itulah yang
membuatnya menangis dan terlihat oleh Nona Bedford. Ia pun menghibur diri
dengan bepergian bersama Arthur ke teater."
sesudah Arthur pulang, keponakannya mendatangi Owen. Ia memaksa janda itu
untuk menyerahkan uang depositonya. Merasa dikasari, Owen berontak. Saat itulah
secara refleks ia memukulkan besi siku ke belakang kepala dan membuat wanita itu
terjatuh. Ia pun mengambil uang yang ada di laci lemari. Membiarkan jendela terbuka
lebar agar terkesan telah terjadi perampokan.
saat akan melangkah ke luar, hari sudah hampir pagi. Pembunuh itu berinisiatif
menggantikan tugas Owen dan seakan-akan mengajak semua orang melupakan
keberadaannya. Membereskan dan mengurus pekerjaan pagi itu. Semua tampak
wajar kan?" kata pria misterius itu lagi, sembari beranjak, mengucapkan salam
perpisahan, dan melangkah santai. Untuk sejenak, Polly hanya bisa tertegun
menyaksikannya.
61
"Terima kasih atas kisahmu, ... Bill!"
Pria itu menoleh. Tersenyum sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya. (Kisah
rekaan/Baroness Orczy/Tj)
09. KORBAN KE 13
Sret, sret, ... pluk! Jari-jari Adelia Quirk bergerak gesit menyortir surat-surat yang
datang pagi itu. Dengan cepat terbentuk dua tumpukan. Satu berada di tengah meja
Harry Fendley, terdiri atas tagihan dan pemberitahuan lelang. Tumpukan lain berada
di dasar tempat sampah, berupa beberapa selebaran serta undangan ke acara
jamuan makan malam yang diadakan seorang anggota Kongres, yang fotonya
tergantung di dinding, sedang memeluk bahu Harry Fendley.
Biar saja Harry kecewa berat sebab merasa tidak diundang, pikir Bu Quirk puas.
Tangan wanita kurus dengan rambut keriting tipis berwarna kelabu itu lalu
mendorong kacamata bacanya yang melorot. Dahinya berkerut saat melihat surat
terakhir. Alamatnya diketik rapi, tenamun tidak ada nama pengirimnya. Surat semacam
itu sudah sering dilihatnya selama 30 tahun menjadi sekretaris di Sekolah Menengah
Umum Endicott, sebelum ia pensiun musim semi lalu.
Dengan sebal diremasnya surat itu, lalu dilemparkannya ke tempat sampah.
Tiga belas nama
"Bu Quirk!" Teriakan Fendley membuat Quirk bak kena setrum. Jantungnya serasa
berhenti beberapa detik. "Bu Quirk, tolong jangan buang surat-surat dari para pemilih
saya. Siapa tahu warga negara baik itu sedang menghadapi masalah." Harry
Fendley, ketua Dewan Pengawas Daerah dan tokoh politik setempat, menggali
keranjang sampah dengan terengah-engah, sebab perutnya yang sebesar gentong
itu tertekan.
Ia menarik napas lega saat menemukan surat yang baru saja diremas Quirk.
"Bu Quirk," kata Fendley. "Anda 'kan sekretaris yang baik. Jangan pernah
membuang surat sebelum saya membacanya, tidak peduli dari orang sinting
sekalipun." Fendley menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan sedang
memberi tahu anak idiot. Wajahnya memperlihatkan keprihatinan, sementara alis
matanya bertemu di atas hidung, seperti dua ulat sedang berciuman.
"Anda kelihatan pucat. Anda tidak apa-apa 'kan? Bekerja untuk membayar utang-
utang dean shek mungkin terlalu berat buat Anda. Memang bukan salah Anda, dean shek
jadi penjudi. Saya sudah sering memperingatkan, namun dia tidak mau mendengarkan.
Sayang, asuransi jiwanya tidak bisa menutup semua utang kalian. Kalian berdua
kurang melihat masa depan sih," imbuh Fendley, setengah mengejek.
"Saya betul-betul prihatin, Bu Quirk. Kenapa Anda begitu keras kepala? Tiga
setengah hektar tanah terlalu berat untuk diurus seorang janda seperti Anda. Saya
bukan ingin menakut-nakuti, tenamun sebaiknya jangan sendirian di sana. Kenapa tidak
Anda serahkan saja rumah dan tanah itu kepada saya? Sebagai gantinya, saya akan
menyerahkan surat-surat utang dean shek kepada Anda."
Diolok-olok dan diintimidasi seperti itu, Bu Quirk cuma bisa menyumpah dalam hati.
Fendley sendiri lalu mengalihkan perhatiannya pada surat yang baru saja
62
diselamatkannya dari tempat sampah. Matanya bergerak mengikuti beberapa baris,
lalu memandang Bu Quirk dengan senyum senang.
"Bu Quirk, Anda tahu apa yang Anda buang?" Fendley lalu membacakan isi surat itu:
"Jangan anggap enteng. Surat ini dapat membawa keberuntungan besar atau
sebaliknya, musibah besar bagi Anda. Kirim salinannya sebanyak 13 pucuk dalam
waktu lima hari ...."
"namun itu 'kan surat berantai, Fendley," potong Bu Quirk.
"Buatkan 13 salinannya, Bu Adelia! Kita harus berbagi keberuntungan dengan
teman-teman kita," tegas Fendley menyorongkan kertas itu ke sekretarisnya. "Kirim
satu pada Robert Barnes."
"Lawan Anda pada pemilihan yang lalu?"
"Betul. Kirim juga pada James Hollingshead, walikota kita. Pastikan juga jatah Leroy
Jacobs dan istrinya, Evelyn ...."
Bu Quirk mencatat nama-nama lawan politik, musuh-musuh pribadi serta bekas
sekretaris bosnya itu. Fendley betul-betul menjijikkan.
Rayuan pedagang mobil
Bu Quirk sendiri tak punya banyak teman, sebab ia tak banyak menyukai orang.
Begitu pun sebaliknya. Hanya para tetangganya yang kadang-kadang memberi
perhatian. Suami-istri Anderson, tetangga Bu Quirk yang memiliki 1,24 ha tanah
berhutan di antara tanahnya dan Red Mound National Forest misalnya, selalu
memperlakukan Quirk, seakan-akan dia bibi mereka yang eksentrik.
Tetangganya yang lain, keluarga Efferson, tinggal di lahan yang ditumbuhi pohon
pinus seluas 2 ha dan sering kebanjiran. Mereka selalu memberinya selai buatan
sendiri yang tidak jelas selai apa, keju kambing, ketimun yang diolah entah
bagaimana caranya, lalu mereka beri nama "acar". Mereka sulit ditolak
kedatangannya, sesulit menjauhkan anak-anak anjing yang selalu melibat di sekitar
kaki.
Tanah keluarga Efferson berbatasan dengan Sungai Chicasaw yang memisahkan
tanah mereka dari hutan nasional. Di seberang tanah keluarga Anderson terdapat
Sungai Wooten. Lalu di sebelahnya ada tanah luas tak berpenghuni yang
berseberangan dengan jalan bebas hambatan. Di belakang tanah milik Bu Quirk dan
tetangga-tetangganya terdapat hutan sepanjang beberapa kilometer, milik Acme
Paper, Inc. yang dikenal sebagai tukang caplok tanah.
Dari tiga bidang tanah yang dimiliki perorangan itu, tanah Bu Quirk paling bagus.
Letaknya tinggi di atas punggung bukit yang indah, tidak pernah kebanjiran dan
berpemandangan indah. Bu Quirk merasa Fendley memiliki rencana atas tanah
dan rumahnya. Ia tahu, pedagang mobil bekas yang pandai merayu itu menawarkan
pekerjaan sekretaris, bukan agar ia dapat membayar utang dean shek . namun untuk
membujuknya agar mau melepas tanah warisan sebagai penebus utang.
Bu Quirk pernah melihat wakil dari Brooks Brothers datang ke kantor Fendley
membawa tabung-tabung cetak biru, yang isinya mungkin saja peta survei tanah. Ia
mencoba mendapat informasi dengan menempelkan telinganya ke pintu ruang kerja
Fendley. Namun, yang kedengaran cuma suara kresek ... kresek. Fendley pasti
sudah mengantisipasi ulah sekretaris usilnya dengan memasang peredam suara.
63
Fendley di mata Bu Quirk tak beda dengan ular. Bayangkan, seusai pemakaman, ia
baru tahu kalau selama bebeberapa minggu terakhir, setiap Rabu malam dean shek
bukannya pergi ke persekutuan doa seperti yang dikatakannya, melainkan berjudi.
Itu sebabnya, Fendley bisa memegang surat-surat utang yang ditandatangani
dean shek di hadapan sejumlah saksi. Fendley sendiri tidak secara langsung terlibat
dalam permainan judi itu.
Bu Quirk tahu, menurut hukum ia wajib membayar utang dean shek . namun ia juga tahu,
secara hukum Fendley tidak bisa mengambil rumahnya begitu saja. Dalam hati, Bu
Quirk berjanji, akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan, agar tanah
warisan dean shek tidak jatuh ke tangan orang busuk seperti Harry Fendley.
Ketinggalan berita
Adelia Quirk memandang langit yang menaungi kota berpenduduk 25.000 jiwa itu
dari depan pintu kantornya. Sejak cuaca memburuk beberapa hari lalu dan musim
gugur hendak beranjak ke musim dingin, si bos makin giat menyuruhnya membeli
koran ke seberang kantor. Padahal, suhu dingin bisa memperparah penyakit
artritisnya. Walaupun sudah mengenakan mantel wol tebal, toh angin tetap saja
menyusup.
Saat itulah Quirk menyaksikan tabrakan hebat antara sebuah minivan cokelat dan
sedan Lincoln, tak jauh dari lampu merah. Lincoln yang dikemudikan James
Hollingshead, walikota Endicott, saat itu sedang ngebut. Sebagai walikota, sudah
bertahun-tahun Hollingshead mengabaikan peraturan lalulintas tanpa pernah
dihukum. Namun, kali ini ia tidak bisa menghindar dari hukum alam. Bersama Robert
Barnes, si pengemudi minivan, ia meninggal dunia di tempat.
Sampai malam, peristiwa itu masih terbayang di benak Bu Quirk. Kedua korban
kecelakaan dikenalnya dengan baik, walaupun ia menganggap mereka bukan
manusia baik. Polisi sendiri bilang, kecelakaan itu mungkin disebabkan rem minivan
itu blong.
Kriiing!!! Tiba-tiba telepon berdering. Dengan sebal Bu Quirk mengangkat benda
yang membuyarkan lamunannya itu.
"Halo, Virginia," katanya tanpa semangat, sesudah tahu yang menelepon ternyata
iparnya. "Kamu pasti mau membicarakan kecelakaan itu," sambung Quirk.
"Kecelakaan apa? Oh, maksudmu yang menimpa suami-istri Jacobs, ya? Itu sih
bukan kecelakaan. Leroy memang sengaja menembaknya!"
Tulalit. Namun Quirk lega, berarti ia tak harus bercerita tentang tabrakan mobil yang
menimpa walikota.
"Menembak siapa?"
"Evelyn. Dia menembak Evelyn dan salesman asuransi yang tidur dengan istrinya itu.
Rupanya, setiap kali Leroy pergi bekerja, orang asuransi itu datang. Tadi pagi, Leroy
tiba-tiba kembali."
"Jangan ceritakan apa yang dikatakan Leroy saat ia ditahan ...."
"Leroy tidak menunggu polisi datang," Virginia memotong. Lalu dengan suara
berubah lunak ia berkata, "Ia menembak dirinya sendiri."
64
Bu Quirk mendengarkan cerita Virginia sambil memandang jauh ke langit-langit.
Mengapa begitu banyak orang mati hari ini?
"Dan Johnny Hovatter, dalam keadaan mabuk, terjatuh dari salah satu kudanya.
Lehernya patah," lanjut iparnya.
"Hah? Kapan?"
"Aduuuh, Adelia. Kamu betul-betul tidak menaruh perhatian pada sekelilingmu. 'Kan
ada di koran pagi ini."
Quirk ingat, koran pagi Fendley basah tak bisa dibaca sesudah dipakai melindungi
kepala dari hujan. Sedangkan korannya, Clarion Herald mendarat di kubangan air di
halaman rumahnya, sebab si loper salah lempar.
"Oh, ya, maksudku menelepon kamu sebenarnya ingin menanyakan, kapan keluarga
Efferson akan pindah?"
"Keluarga Efferson? Mereka tidak mau menjual tanahnya, kok. Anak Frieda Wilson
yang bekerja di pengadilan, waktu bertemu di kapsalon bilang




