• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 3. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 3

 


seraya menghujamkan pisaunya beberapa kali 

ke leher Lee. Begitu membabibutanya aksi Yeo, sampai-sampai jari telunjuk Kuan 

ikut terpotong.  

 

Tubuh Kim sendiri langsung jatuh menghujam jok. Darah segar mengotori kursi 

belakang taksi. Termasuk kaos dan celana yang dikenakan Kuan. 

 

"Kita harus mengamankan senjatanya. Berikan pisaumu," perintah Yeo pada Kuan.  

 

Lima menit lalu , mereka telah sampai di kawasan Kallang Bahru, saat  Yeo 

minta Hock menghentikan taksi.  

 

"Pui," kata Kuan pada Yeo. "Kausku berlumuran darah."  

 

"Bersembunyilah di belakang semak-semak," lagi-lagi Yeo memberi perintah. "Aku 

akan mampir ke flat dan membawakanmu pakaian bersih."  

 

Yeo lalu berlari menuju flat. Sepuluh kmenit lalu , ia sudah kembali ke semak-

semak tempat Kuan bersembunyi, dengan membawa tas plastik berisi celana 

panjang biru gelap dan t-shirt warna putih. Kuan pun berganti pakaian, memasukkan 

pakaiannya yang berlumuran darah ke dalam tas plastik. namun  saat  mereka bersiap 

hendak meninggalkan semak-semak, terjadi sesuatu yang sama sekali di luar 

perhitungan.  

 

 

 45

Kantung plastik ditemukan 

Malam itu, detektif Siew Man Seng baru saja pulang berdinas. Polisi yang sudah 

bertugas selama 11 tahun itu berkantor di Kantor Polisi Beach Road. Ayah seorang 

anak wanita lesbian  dan seorang istri ini sudah tinggal di Geylang Bahru selama sekitar 

empat setengah tahun. Jadi, dia tahu betul daerah tersebut. Pagi buta itu, hatinya 

sedang berbunga-bunga, sebab  baru saja sukses menangkap tersangka kasus 

penipuan sejam sebelumnya.  

 

Di persimpangan jalan Geylang Baru dan Kallang Bahru, perjalanannya terhalang 

lampu merah. Saat menunggu lampu hijau, sepintas dia melihat seseorang berjalan 

di belakang mobilnya, sambil menenteng bungkusan plastik. Lampu kembali hijau. 

Man Seng pun belok kiri, menuju arah Geylang Bahru. Namun dari balik spion ia 

sempat memperhatikan, lelaki yang menyeberang jalan barusan ternyata menghilang 

di sebuah jalan buntu.  

 

Nalurinya sebagai detektif mencuat. Bertahun-tahun dia bergaul akrab dengan dunia 

kejahatan dan berbagai tipu muslihatnya. Tingkah laku lelaki tadi membuat Man 

Seng penasaran. Ia segera berbalik arah, mendekati jalan buntu. Dari kejahuhan dia 

melihat sebuah taksi kuning dengan mesin masih menyala. Tak jauh dari taksi, 

terhampar semak-semak. Lagi-lagi, insting polisinya memaksa Man Seng memeriksa 

lokasi di sekitarnya.  

 

Mendekati semak-semak, ia melihat dua orang pemuda, Yeo Ching Boon dan Ong 

Hwee Kuan. "Sedang apa kalian?" teriak Man Seng, benar-benar memecah 

kesunyian.  

 

Yeo dan Kuan tampak gugup. Mereka punya feeling, orang yang dihadapinya 

seorang polisi. Dalam sekejap, mereka mengambil keputusan untuk mengambil 

langkah seribu.  

 

Yeo yang lebih tahu medan, melilih kabur ke arah pertokoan. Sedangkan Kuan 

menuju blok-blok apartemen di sekitarnya. Namun malang buat Kuan, dia tidak 

hanya berhadapan dengan gelapnya malam, namun  juga medan yang sama sekali 

belum dikenal. Begitu paniknya, Kuan sampai jatuh, bangun dan jatuh lagi. Kini di 

depannya terbentang semak belukar. Ia tahu, jika terus lari, lambat laun pasti akan 

tertangkap. Akhirnya ia memutuskan bersembunyi di salah satu semak.  

 

Namun Man Seng bukan polisi ingusan yang gampang dikelabui. Di depan semak-

semak itu ia berhenti. Kecurigaannya memuncak saat  melihat jejak kaki, tak jauh 

dari salah satu semak. Dengan langkah pasti ia mendekat, mengeluarkan pistol dari 

sarungnya dan membidik semak di depannya. "Cepat keluar!" Kuan pun keluar, 

masih dengan mata nanar. Meski sempat memberi  perlawanan saat  hendak 

diborgol, pemuda putus sekolah itu akhirnya tak beradaya di tangan Man Seng.  

 

"Mana tasnya?" tanya Man Seng.  

 

"Aku buang saat lari tadi."  

 

"Apa isi tasnya?" "Sisir," jawan Kuan sekenanya.  

 

"Tadinya kami mau merampok Anda. namun  begitu tahu Anda polisi, kami 

mengurungkan niat tadi."  

 

"Siapa nama temanmu?"  

 

 46

"Ah Seng."  

 

Sekilas, Man Seng melihat noda darah di kaus yang kenakan Kuan, meskipun ia 

baru saja berganti baju.  

 

"Noda darah siapa di kausmu?" Kuan berpikir, mencari alasan untuk berkelit. 

Akhirnya ia menunjukkan jari telunjuknya yang beradrah-darah. "Sebelum Anda 

datang, saya berusaha memecahkan sebuah botol, agar bisa dipakai sebagai 

senjata. namun  sebab  ceroboh, botol tadi malah melukai jari telunjuk saya," Kuan 

berkilah.  

 

Ia terus berusaha mencari tas yang dibuang Yeo dan Kuan. sebab  tak 

memungkinkan melakukan pencarian sendirian, Man Seng akhirnya memutuskan 

membawa Kuan ke kantor polisi untuk diinterogasi. Namun sebelum masuk mobil, 

Kuan sempat minta. "Aku haus sekali. Boleh minta air?" katanya mencoba 

mengundang iba. Sebelum Man Seng bereaksi, Kuan telah melangkah menuju 

sebuah keran, tak jauh dari semak-semak.  

 

Di kantor polisi Beach Road, Man Seng menceritakan apa yang dilihatnya pada 

Inspektur Polisi Poh Keng How. Tak lama lalu , tersebar berita penemuan 

mayat seorang polisi, di dalam taksi kuning, tak jauh dari tempat Man Seng 

memergoki Yeo dan Kuan. Satuan polisi khusus pun segera segera diterjunkan. 

Mereka bergerak cepat dengan segera menginterogasi Kuan. Namun mereka cukup 

kesulitan mengorek data dari pemuda lajang tersebut.  

 

Berbagai cara telah dilakukan, namun  Kuan lebih memilih tutup mulut. Ia juga menolak 

disangkutpautkan dengan kasus pembunuhan kejam terhadap sang polisi wamil. 

Beruntung, waktu tampaknya berpihak pada para detektif. Beberapa jam lalu , 

mayat sopir taksi malang korban keganasan tiga sekawan, Chew Theng Hin, berhasil 

ditemukan.  

 

Hasil penyisiran di sekitar lokasi kejahatan juga membuahkan hasil menggembirakan. 

Kantung plastik tempat Yeo dan Kuan menyimpan pakaian penuh noda darah 

misalnya, berhasil dilacak keberadaannya. Kali ini, Kuan tak dapat mengelak lagi, 

terlebih sesudah  Ong Hwee Huat, adiknya, mengakui pakaian yang ditemukan 

memang milik Kuan. Yeo dan Hock pun akhirnya ditangkap, berdasarkan pengakuan 

Kuan.  

 

"Beruntung", tiga sekawan yang sudah kerasukan setan ini tak sempat melanjutkan 

aksinya. Jika mereka sempat memanfaatkan senjata yang berhasil mereka rebut dari 

Mount Vernon, apalagi menjalankan aksi perampokan, korban kebrutalan mereka 

pasti bakal lebih heboh dari dua nyawa sia-sia yang telah ditemukan. sampai kini, 

tiga sekawan yang akhirnya dihukum mati ini dikenal sebagai salah satu pelaku 

kejahatan paling kejam di Singapura.  

 

(Kisah Nyata/Nicky Moey/Icul)  

 

 

 

 

 

 

 47

07. DIREKRUT JADI MITRA PEMBUNUH 

 

Janos Telek berjalan terseok-seok di sisi Istvan Stefan Hollossy. Hatinya pedih, 

sebab  sebenarnya ia tak ingin meninggalkan apartemen penuh kenangan di 

Timmendorf itu. Apalagi ia harus melakukan perjalanan paling aneh sepanjang 

hidupnya, tanpa tahu arah yang dituju, serta kapan dan di mana akan berakhir.  

 

Semuanya tergantung Hollossy, lelaki bengis yang baru saja membelokkan 

perjalanan hidupnya. Saat berjalan kaki menuju tempat parkir, pikirannya sempat 

menerawang, membayangkan kembali peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa 

menit sebelumnya.  

 

... Istvan Stefan Hollossy mengeluarkan sebatang rokok dari saku jas, 

menyelipkannya ke sela-sela bibir, lalu menyulutnya dengan santai. Seperti biasa, 

gayanya macho dan berwibawa, persis anggota geng mafia. Wajahnya begitu dingin, 

dengan mata menatap tajam, langsung ke bola mata lawan bicaranya, Cornelia yang 

sedang duduk santai di sofa.  

 

"Kamu bilang, urusan bisnis kita selesai sampai di sini?"  

 

"Ya ..., sebaiknya begitu," ucap wanita lesbian  cantik itu.  

 

Hollossy tampak mengangguk pelan. Lelaki bermata kucing dengan ekspresi yang 

tak mudah ditebak itu kian tajam manatap Cornelia. Yang dipandang jadi salah 

tingkah.  

 

"Aku dan Janos berencana menikah. Untuk itu, mulai sekarang, kami harus lebih 

rajin menabung," sambung Cornelia.  

 

Di pojok ruangan, Janos Telek terlihat gundah. Ia memperhatikan dengan seksama 

percakapan Stefan dan Cornelia. Saking seksamanya, Janos sempat terperangah 

saat  tiba-tiba Stefan mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Hollossy 

mengarahkan pistol berdiameter 7,65 mm ke arah Cornelia Renz. Dalam hitungan 

detik, dorrrr! Jidat wanita seksi itu ditembus peluru. Cornelia langsung jatuh di karpet, 

tak jauh dari tempat Hollossy berdiri.  

 

Dengan mata kepala sendiri, Janos menyaksikan Cornelia meregang nyawa di 

karpet. Dua kali kaki wanita cantik itu bergerak, geliat refleks orang yang sedang 

sekarat, sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali.  

 

wanita lesbian  asal Yugoslavia berusia 20 tahun itu langsung meninggal. Janos betul-

betul tak percaya, gadis manis yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-hari 

indahnya, sekarang terbaring kaku dengan lubang di kepala. Ia makin tak percaya, 

sebab  tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekasihnya.  

 

Semuanya begitu mengejutkan. Bagaimana mungkin Hollossy tega membunuh 

Cornelia dengan cara sekeji itu? "Bukankah ia yang memperkenalkan aku pada 

Cornelia?" pekik hati kecil Janos ....  

 

Traktir sepanjang malam 

 "Aku berjanji, ini tidak akan menjadi perjalanan yang penuh intrik. namun  semata-mata 

perjalanan bisnis. Aku punya penawaran menarik untuk kamu," suara Stefan 

membuyarkan lamunan Janos. Stefan tak menjelaskan penawaran apa yang 

dibawanya, dan Janos pun tak pernah ingin tahu. Mereka akhirnya sampai di tempat 

 48

parkir, dan segera masuk ke mobil Opel Rekord tua kepunyaan Janos. "Kamu saja 

yang menyetir," pinta Stefan sembari melirik lelaki di sampingnya dengan ujung 

matanya. 

 

"namun , SIM-ku baru saja dicabut sabtu lalu," jawab Janos.  

 

"Siapa bilang mengemudi harus selalu pakai SIM," bantah Hollossy. "Kamu boleh 

percaya atau tidak, saat ini polisi di lima negara menganggapku sebagai buronan. 

namun  aku 'kan tidak boleh berhenti menyetir di negara-negara itu. Jadi, apa masih 

ada gunanya SIM buat orang seperti aku?" 

 

Hollossy lalu "memotivasi" Janos, betapa suksesnya ia selama ini sebagai penjahat, 

sebab  nyaris tak pernah tersentuh hamba hukum. Menurut Hollossy, polisi Hungaria, 

Austria, Swiss, Jerman, dan Swedia selalu gagal menangkap dan memenjarakannya 

secara permanen, dan sampai saat ini masih terus memburunya untuk 

mempertanggungjawabkan perampokan sejumlah bank, pemilikan senjata api ilegal, 

serta beberapa percobaan pembunuhan.  

 

Hollossy juga bercerita, sebelum sampai di Luebeck, Jerman, petualangan 

terakhirnya yaitu  meloloskan diri dari sebuah penjara di Swedia, tempat ia 

seharusnya menjalani hukuman 20 tahun penjara. Dalam hati, Janos merasa ngeri. 

Stefan yang duduk di sampingnya, ternyata jauh lebih buruk dari Stefan yang 

dikenalnya selama ini. Sambil mengemudi, pikirannya kembali melayang, ke saat 

pertama kali dia bertemu Hollossy dan Cornelia. Sebuah pertemuan yang sangat 

mengesankan ....  

 

... Janos Telek datang ke Luebeck, Jerman, sebuah kota di pinggir laut Baltik, 

sesudah  ditawari bekerja sebagai salesman sebuah perusahaan margarin. Ia 

gampang mendapat pekerjaan, sebab  kefasihannya berbahasa Jerman, yang 

hampir sama dengan kemampuannya berbicara dalam bahasa-bahasa semenanjung 

Balkan lainnya. Kepandaian bercakap-cakap dalam berbagai bahasa pula yang 

membuatnya berkenalan dengan Stefan Hollossy.  

 

Stefan, pria kelahiran Hongaria, sedang nongkrong di bar Blue Mouse, tempat gaul 

malam terkenal di Luebeck. Saat itu, Janos menyapa Stefan dalam bahasa Hongaria. 

Begitu senangnya Stefan, sampai-sampai ia mentraktir Telek sepanjang malam. Usia 

Stefan tak beda jauh dengan Janos. Stefan mengaku sedang merintis karir sebagai 

bintang iklan. Janos begitu terkesan pada kawan barunya itu, yang sangat gampang 

menghamburkan uang. "Penghasilannya pasti besar," cetusnya dalam hati. 

 

Janos baru tahu pekerjaan Stefan "yang sebenarnya" sesudah  ia diajak menemui 

sumber dana yang tak ada habis-habisnya itu. Siapa lagi kalau bukan Cornelia Renz, 

gadis cantik nan mempesona. Perjumpaan pertama Janos dengan Cornelia terjadi di 

Kazoria, sebuah bar bergaya Yunani. "Saya butuh duit, Cornelia," kata Hollossy, 

sembari duduk di meja, sambil terus menghisap rokok. "Hebat," desis Janos, "Merek 

rokoknya sama dengan yang dihisap Al Capone."  

 

Tanpa basa-basi, Cornelia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan 

menyerahkannya kepada Hollossy. Janos agak heran, melihat betapa mudahnya 

Stefan mendapat uang. Ia menduga, kawannya itu mucikari, sedangkan Cornelia 

pelacur yang punya banyak langganan orang kaya dan terkenal. Namun siapa pun 

Cornelia, di mata Janos, malam itu ia terlihat luar biasa. Janos bahkan merasa jatuh 

cinta pada pandangan petama. 

 

 49

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. saat  Stefan pergi ke kamar kecil, Janos 

memberanikan diri mengajak Cornelia kencan. Hebatnya, tanpa berpikir panjang, 

Cornelia langsung menerima. Sejak itu, Janos makin sering bertemu Cornelia. 

Sampai akhirnya ia tahu, Stefan dan Cornelia memang berhubungan erat. Namun 

bukan hubungan mucikari - pelacur seperti diduganya semula.  

 

Cornelia memang melacur, namun  tidak dengan tubuhnya. Dia pun memberi  

sebagian penghasilannya pada Stefan dengan "sukarela". Hubungan mereka lebih 

mirip sepasang kekasih, atau setidaknya gadis manis dengan centengnya ....  

 

Korban pertama 

 Janos kembali terbangun dari lamunan, saat  mobil yang dikendarainya hampir 

bersenggolan dengan mobil lain. Di kursi sebelah, Stefan mulai mengoceh lagi. Dari 

ocehan Hollossy, Janos jadi tahu, Cornelia merupakan korban pertama yang 

meninggal di tangan Stefan. Sebelumnya, penjahat itu tidak pernah membunuh 

orang, meski korban yang dilukainya tak terhitung.  

 

Stefan bukan orang yang gemar membunuh untuk kesenangan. Ia melakukannya 

untuk memecahkan kebuntuan atau jika memang benar-benar dibutuhkan. Saat 

merampok bank misalnya, ia tidak pernah menembak orang-orang di dalam bank 

yang tidak melakukan perlawanan. Baru jika ada yang mencoba macam-macam, 

dengan senang hati dia akan menembaknya sampai mati. 

 

"Mungkinkah Stefan menembak Cornelia untuk memecahkan kebuntuan?" tanya 

Janos, lagi-lagi hanya di dalam hati. "namun  mengapa harus Cornelia? Mengapa pula 

harus diselesaikan menggunakan pistol? Bukankah segala sesuatunya masih bisa 

dibicarakan? Cornelia sama sekali tidak layak mati dengan cara seperti ini. Dia 

wanita lesbian  baik, bahkan sangat baik," Janos mencoba menekan emosi yang 

melecut hati. 

 

Cornelia memang wanita lesbian  baik-baik. Dia bukan pelacur seperti diduga Janos 

sebelumnya. Ia wanita pemijat terlatih berjari "emas" yang memiliki diploma dan tahu 

seluk-beluk pijat kesehatan. Bekerja di Little Sea Castle, sebuah hotel mewah di 

pantai Timmendorf, Teluk Luebeck, beberapa mil di sebelah utara kota. Gajinya di 

hotel mewah itu lebih dari mencukupi. Sampai akhirnya dia bertemu Stefan Hollossy 

di Nautic Bar, tempat gaul malam yang cukup laris di Luebeck.  

 

Layaknya orang Hungaria, Hollossy berwajah dan penampilan menarik. Meski tidak 

tinggal serumah dengan Cornelia, mereka sering menghabiskan waktu bersama. 

Sayangnya, Stefan yang tidak memiliki  pekerjaan tetap memiliki  gaya hidup 

yang bisa membuat semua pacar-pacarnya sengsara. Ia dikenal gemar 

menghambur-hamburkan uang di bar. Selera gaul dan cara berpakaiannya pun 

meniru kalangan the have. 

 

Berbekal tabungan Cornelia, Stefan membeli Fiat 124 berwarna hijau terang, agar 

bisa bolak-balik Luebeck - Timmendorf tanpa harus naik bus. Cornelia, tentu saja tak 

dapat terus menerus menopang gaya hidup Hollossy. Lama-kelamaan, rekening 

tabungannya makin menipis. Saat itulah, Stefan menyarankan agar Cornelia 

"melacurkan" jari-jemari emasnya.  

 

Menurut lelaki perlente itu, dengan keahlian dan pengalamannya, Cornelia layak 

mendapat penghasilan yang lebih besar. Untuk itu, ia tidak boleh terpaku hanya 

pada "pijat kesehatan". Sebagai usaha sampingan, Cornelia mestinya juga 

menawarkan "pijat organ-organ khusus" bagi pelanggan yang menginginkan. Sialnya, 

petuah sesat Hollossy itu ditelan begitu saja oleh Cornelia. 

 50

 

Aneh memang, Cornelia yang cantik, terlatih dan pintar mau saja menuruti 

permintaan Stefan. Apalagi belakangan terbukti, ia sebenarnya tidak betul-betul jatuh 

cinta pada lelaki itu. Cornelia jatuh cinta (lagi) pada Janos, cinta pada pandangan 

pertama. Dia bahkan terkesan tak takut pada Hollossy. Jadi, sebenarnya tak ada 

alasan Cornelia melacurkan jari-jari emasnya, hanya untuk membiayai gaya hidup 

Stefan.  

 

Meski singkat, Janos merasa beruntung sempat merasakan kebahagiaan bersama 

Cornelia. Mereka berpacaran seperti ABG yang baru saja mengenal cinta. Keduanya 

tinggal di apartemen Cornelia di Timmendorf, membuka tabungan baru, serta 

menikmati tiap akhir pekan dengan makan malam di berbagai tempat makan 

murahan. Tidak seperti Stefan, Janos tidak suka menghambur-hamburkan uang di 

bar atau tempat-tempat makan mahal. Mereka merasa sangat klop.  

 

Stefan yang mencium hubungan Janos dan Cornelia, satu kali pun tidak pernah 

menyatakan keberatannya. Sampai suatu sore, 3 April 1975, ia menelepon 

temannya itu. Stefan bilang, dia punya "penawaran bagus" untuk Janos. Namun 

saat  tak lama lalu  Stefan sudah muncul di pintu apartemen, Janos sadar 

lelaki itu sedang merencanakan sesuatu. Sebuah kejutan yang tampaknya sudah 

dipersiapkan jauh-jauh hari.  

 

Peristiwanya berlangsung sangat cepat. Jarak antara kedatangan Stefan, 

percakapan singkatnya dengan Cornelia, dengan aksinya memgeluarkan pistol dan 

menembak kening Cornelia dari jarak dekat, hanya sekitar 5 menit ....  

 

Berkelahi pun belum pernah 

Janos melirik Hollossy. Lelaki itu tampak tenang, sangat tenang. Sepanjang 

perjalanan, satu per satu pertanyaan tentang Stefan, yang selama ini berkeliling di 

benak Janos, mulai terjawab. Termasuk pertanyaan, mengapa Janos sebagai satu-

satunya saksi mata pembunuhan Cornelia dibiarkan tetap hidup, bahkan diajak 

berkelana oleh Stefan. 

 

"Aku bosan sendirian. Terus terang, aku menyukai kamu Janos. Aku ingin kamu 

menjadi partnerku. Pasangan dalam melakukan kejahatan," tegas Hollossy, suatu 

saat .  

 

"Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri berpikir praktis. Kita butuh uang 

untuk makan, minum, bayar hotel, menikmati wanita lesbian , beli baju, dan beli bensin. 

Di luar sana banyak sekali orang kelebihan uang. Jadi, sah-sah saja jika kita 

mengambilnya sedikit dari mereka 'kan?" sambung Stefan. 

 

Janos cuma menjadi pendengar yang baik. 

 

"Cara paling gampang, kita rampok toko saja. Orang yang ada di sana pasti 

membawa uang. Ada yang sedikit, ada pula yang banyak. namun  kalau mau uang yang 

sangat banyak, kita harus merampok bank. Yang terakhir ini tingkat kesulitannya 

tinggi. Aku enggak akan mengajak kamu merampok bank, sebelum punya 

pengalaman melaksanakan "operasi kecil". Pernah membunuh orang dengan 

menggunakan pisau?" tanya Hollossy. 

 

"Tidak," sahut Janos singkat. Ah, jangankan membunuh, belajar jurus-jurus berkelahi 

saja Janos tidak pernah. Buat dia, kekerasan hanya bikin pusing kepala. 

 

"Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu untuk latihan."  

 51

 

Untuk kesekian kalinya Janos terdiam. 

 

"Bagaimana kalau latihan kita mulai dengan merampok toko? Aku akan mengalihkan 

perhatian pemiliknya dengan mengajak dia ngobrol. Lalu kamu berputar ke arah 

belakang, mengancamnya pakai pisau," cetus Stefan.  

 

Janos masih mencari jawaban terbaik, saat  Stefan kembali nyerocos.  

 

"namun  sepertinya lebih baik jika kamu memukul kepalanya pakai besi. Kamu bilang 

tadi, belum pernah memakai pisau, 'kan?"  

 

Janos kini manggut-manggut, bukannya setuju pada rencana Stefan. Namun ia 

mengerti, mengapa Stefan selalu berusaha mendorongnya melukai atau membunuh 

orang lain. "Sekali saja aku melukai orang, apalagi sampai membunuh, aku akan jadi 

buronan, sama seperti dia, sehingga tak ada jalan lain, kecuali menjadi 

pasangannya," ucap Janos, tentu di dalam hati. 

 

Masalahnya, kapan ia harus bertindak? Menghadapi Stefan, modal nyali saja tak 

cukup. Harus ada strategi khusus. Ah, bicara soal nyali dan strategi, Janos kembali 

teringat peristiwa mengerikan siang itu ....  

 

Jika terjadi dalam novel atau film, pasti akan digambarkan sosok Janos sedang yang 

marah besar atas pembunuhan Cornelia. Janos mungkin saja akan merebut pistol 

Stefan, lalu balas menembak banjingan itu di jidatnya. Sayangnya, kejadian itu 

terjadi pada kehidupan nyata. Janos hanyalah salesman perusahaan margarin, 

bukan Superman atau Batman. Dia bahkan tidak yakin Stefan akan membiarkannya 

tetap hidup, sebab  dialah satu-satunya saksi mata pembunuhan Cornelia.  

 

Jarang sekali ada pembunuh yang mau menoleransi kehadiran saksi mata. Makanya 

dia begitu lega, lega yang teramat dalam, saat  tahu Stefan memasukkan kembali 

pistolnya ke kantung jas.  

 

"Ayo kita angkat mayatnya ke tempat tidur. junjungan  tahu, tempat ini dan waktu kita 

juga sangat sempit," ajak Stefan pada Janos. 

 

Dalam keadaan terkejut, tak mudah bagi Janos untuk menuruti perintah Stefan. Dia 

juga tidak tahan melihat darah yang mengucur dari lubang di kepala Cornelia. Yang 

paling membuat hatinya sedih, yaitu  mata gadis itu terbuka lebar, seolah 

memandangnya dengan pandangan minta tolong. sebab  Janos tak kunjung 

bergerak, akhirnya Hollossy sendiri yang memulai mengangkat mayat Cornelia. 

Beberapa saat lalu , baru Janos membantu meletakkan mayat Cornelia di 

tempat tidur.  

 

Janos sempat kaget saat  tiba-tiba Stefan berkelebat.  

 

"Nenek itu, dia masih tinggal di sebelah rumah, 'kan? Jangan-jangan, dia ikut 

mendengar suara tembakan tadi," sergah Stefan. "Aku tidak mau ada saksi mata 

lain." Stefan segera mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, lalu menyelinap keluar, 

menuju apartemen sebelah. Janos seorang komunis, namun  menghadapi situasi seperti 

ini, ia berlutut, meski tak tahu harus berdoa pada siapa. Seluruh persendiannya 

lemas.  

 

 52

Beberapa saat lalu , Stefan kembali. "Dia tidak ada di rumah," teriaknya pada 

Janos. Janos menarik napas lega, sebab  tak ada pembunuhan lagi. Namun, 

bagaimana dengan nyawanya sendiri? 

 

Di Ratzeburg, 20 mil dari Luebeck, mobil mereka mengalami masalah. Hollossy 

memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju toko logistik 

terdekat. sesudah  itu, mereka bermalam di rumah teman Stefan. Malam yang berat 

buat Janos, sebab  hampir sepanjang malam, dia tak dapat memejamkan mata, 

memikirkan kejahatan apa kira-kira yang akan dilakukannya bersama Stefan besok. 

 

Esoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah naik kereta api menuju Hamburg. Sampai 

detik itu, Janos tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Stefan betul-betul 

menepati janjinya, berlaku seperti bos mafia, yang bertanggungjawab atas semua 

yang terjadi pada anak buahnya. "Selama ikut aku, kamu tidak perlu membayar apa 

pun," bilang Stefan. 

 

Jam sembilan pagi mereka sampai di Hamburg. Siang dan sorenya, mereka 

menghabiskan waktu mensurvei berbagai toko perhiasan. Seperti biasanya, Janos 

tak banyak bicara. Apalagi sesudah  Hollossy menunjukkan tiga pistol yang selalu 

dibawanya ke mana-mana. "Orang-orang selalu bilang, mengantungi pistol 

terkokang itu berbahaya, namun  aku lebih suka mati sebab  pistol sendiri, daripada 

tertembak musuh sebab  pistolku tidak siap," ucap Hollossy setengah mengintimidasi.  

 

Mereka menginap di Union Hotel. Hollossy mengunci pintu dan memasukkan 

kuncinya ke kantung celana, lalu kkkrrrr, tidur pulas. Janos sempat 

mempertimbangkan menibani kepala Hollossy dengan lampion. Namun, nyalinya 

mengkerut jika mengingat refleks Hollossy bak macam kumbang. Pertimbangannya 

terbukti benar. Jam dua pagi, Hollossy dengan sigap meletakkan pistol di telinga 

kanan Janos, sesudah  mendengar bunyi sirine mobil polisi yang sedang berpatroli. 

Betul-betul mirip macan kumbang.  

 

Celah di antara celah 

Esoknya, hampir seharian mereka habiskan untuk mensurvei kembali toko-toko 

perhiasan. Begitu sore tiba, Hollossy yang tidak pernah menginap dua malam 

berturut-turut di satu tempat, memilih menghabiskan waktu di sebuah hotel di 

pinggiran kota. Seperti kemarin malam, lagi-lagi Hollossy membangunkan Janos di 

paruh pagi. Kali ini bukan sebab  mendengar mobil patroli polisi.  

 

"Aku sedang berpikir tentang uang kontan. Kita butuh uang kontan. Bagaimana kalau 

kamu turun dan membunuh wanita lesbian  tua pemilik hotel ini, lalu merampok 

uangnya?"  

 

Janos kaget alang kepalang.  

 

"namun  kalau kita merampok tempat ini, polisi akan mencari-cari kita. Padahal kita 

sudah berencana merampok toko perhiasan," tolaknya halus. 

 

Hollossy berpikir sejenak, lalu mengangguk.  

 

"Masuk akal. Tak kusangka kamu ternyata partner yang pintar." 

 

Mereka lalu kembali "tidur", meski praktiknya, mata Janos tak pernah terpejam 

sampai pagi tiba.  

 

 53

Paginya, lagi-lagi Hollossy mengajak Janos mengintai toko-toko perhiasan, kali ini 

yang berjejer di sepanjang Spitaler Street, kawasan yang lumayan ramai oleh 

pejalan kaki. Janos makin deg-degan. Firasatnya mengatakan, inilah tempat paling 

tepat untuk menghindari perbudakan Hollossy. Namun, bagaimana caranya? 

 

Janos terus mencari celah. Suatu saat, Hollossy tampak sangat serius mengamati 

pintu masuk sebuah toko perhiasan. Nah, saat  sang residivis mencari celah masuk, 

Janos justru menemukan celah untuk melarikan diri. Pelan-pelan, dia bergeser 

menuju ujung sebuah gedung, menghilang di balik gedung itu, lalu sekuat tenaga 

berlari menuju sebuah pusat perbelanjaan, masuk dari satu pintu dan keluar dari 

pintu yang lain. Janos lalu  menyetop taksi. "Tolong antarkan aku ke kantor 

polisi," pintanya singkat. 

 

Sepuluh menit lalu , Janos sudah bersaksi di depan Inspektur Frank Luders 

dan Detektif Max Peters dari Kantor Kepolsian Hamburg. Oleh Luders, semua cerita 

Janos dikonfirmasi lewat telepon pada kepolisian Luebeck dan Timmendorf. Begitu 

mendapat kabar positif, yakni ditemukannya mayat Cornelia, Frank Luders dan Max 

Peters langsung meblokir Spitaler Street dan memeriksa gedung-gedung di 

sekitarnya. Polisi juga berjaga-jaga di stasiun dan gerbang keluar kota lainnya. 

 

"Menurut Anda, di mana kira-kira dia sekarang?" tanya Luders. 

 

"Entahlah. Dia berencana merampok salah satu toko perhiasan yang kami survei. 

namun  dia sendiri belum memutuskan, toko mana yang akan dirampok," jawab Janos.  

 

"Sersan, kumpulkan data semua toko perhiasan. Tempatkan minimal satu orang 

polisi di sekitarnya," perintah Luders pada Peters. 

 

Namun Hollossy tetap Hollossy. Jika tekadnya sudah bulat, tak satu pun rintangan 

dapat menghalangi niatnya. Tak juga polisi. Siang menjelang sore, penjahat 

berdarah dingin itu merampok Hoellinger Jewellery di Alstertor Street. Dengan 

senjata otomatis 9 mm, dia melukai pemilik toko Josef Hoellinger (74 tahun), 

menembak mati istri Josef, Maria (66 tahun), dan pembantu mereka Cristel 

Semmelhack (33 tahun). 

 

Hollossy lalu membajak truk yang dikemudikan Werner Novak. Novak selamat, 

sesudah  lari terbirit-birit meninggalkan truknya, begitu tahu status Hollossy dari radio. 

Beberapa saat lalu , Hollossy menembak Walter Klein, yang ditemuinya di 

Ifflland Street.  

 

Polisi yang datang ke lokasi atas laporan Novak, menjumpai Klein dalam keadaan 

luka parah. Namun Klein sempat menunjuk gedung Grauman's Way No 20 sebagai 

tempat Hollossy bersembunyi. Polisi, didahului oleh pasukan khusus, menyerbu 

masuk. Namun, dor! dor!, Hollossy memberi  perlawanan sengit. Gas air mata pun 

melesak ke dalam gedung, seiring desingan peluru dari kedua belah pihak. 

Beberapa saat lalu , tembak menembak reda. Polisi mendapat seorang lelaki 

terbaring tak bergerak, dengan luka tembak di bahu kanan, kepala, dan kaki kiri. 

Hollossy telah mati. 

 

Belakangan diketahui, peluru 9 mm nan mematikan yang bersarang di kepala 

Hollossy, ternyata berasal dari pistolnya sendiri! Sampai kematikannya, Hollossy 

masih ingin menentukan nasibnya sendiri. 

 

(Kisah Nyata/John Dunning/Icul)  

 

 54

08. TERGIUR SIMPANAN JANDA TUA 

 

 Sudah tiga hari ini, setiap pukul 16.00, Polly Burton tekun memperhatikan sesosok 

pria yang sering duduk sendirian di sebuah sudut jalan di Norfolk Street, Strand, 

Inggris. Segala gerak-gerik pria setengah baya itu seolah tidak pernah lepas dari 

pandangan Polly, yang leluasa mengamati dari sebuah kafe, puluhan meter dari pria 

itu. Polly yakin, si pria tidak menyadari pengintaian ala cerita spionase yang 

dilakukannya.  

 

Orang yang tahu perbuatan Polly pasti akan mengecapnya sebagai kurang kerjaan. 

Ia juga tidak begitu mengerti, apa yang mendorongnya berbuat demikian. Hanya saja, 

nalurinya sebagai wartawan lepas meyakini lelaki itu mungkin tahu sesuatu tentang 

peristiwa pembunuhan Nyonya Owen, yang menggegerkan kota kecil yang biasanya 

tenang ini. Masyarakat sendiri masih berspekulasi, apakah sang janda mati dibunuh, 

kecelakaan, atau bunuh diri?  

 

Pria itu selalu duduk di sebuah kursi taman, di tepi sebuah jalan yang tidak terlalu 

ramai. Pada tempat, posisi, dan waktu yang sama. Penampilannya terlihat seadanya, 

jika tidak bisa dikatakan lusuh, hingga orang sulit menerka pekerjaan sehari-hari dan 

apa yang dilakukan si pria selama berjam-jam di tempat itu. Sesekali ia terlihat 

gelisah seperti sedang menantikan sesuatu, sambil terus mengisap rokoknya. Sudah 

beberapa hari ini tak seorang pun menyapanya.  

 

sesudah  duduk, merokok, atau membaca koran sore selama dua sampai tiga jam, 

biasanya pria itu akan pergi. Dalam buku catatannya, Polly sebenarnya sudah 

mengumpulkan beragam fakta tentang kasus pembunuhan misterius itu. Semua 

berasal dari keterangan polisi yang serba resmi, kesaksian orang-orang di sekitar, 

serta dugaan-dugaan berbagai kalangan yang kadang tidak masuk akal. Fakta-fakta 

yang sama sekali tidak menarik untuk sebuah tulisan investigatif peristiwa kriminal.  

 

Kini peluang terakhir untuk mendapat tambahan keterangan yaitu  dari sumber-

sumber tidak terduga. Salah satunya dari pria berpenampilan lusuh itu. Hari ini, di 

hari keempat pengintaiannya, Polly membulatkan tekad untuk menghampirinya.  

 

"Yang pasti, peristiwa itu bukan sebuah kecelakaan atau bunuh diri," kata pria itu 

menunjukkan sikap acuh tak acuh.  

 

Polly tidak kesal. Sebagai wartawan, ia sudah terbiasa diperlakukan demikian, 

terlebih oleh orang-orang yang belum mengenalnya. Namun, yang membuatnya 

heran, pria itu seolah bisa membaca pikirannya yang penasaran.  

 

"Jadi Anda yakin, seseorang telah membunuhnya?"  

 

Pria itu tertawa lirih, mengeluarkan sebatang rokok putih, lalu menyalakannya. Dari 

gerak-gerik tubuhnya, terlihat ia sangat gelisah, seolah hendak menceritakan 

sesuatu kepada seseorang. Namun, ia tak kunjung bicara pada Polly yang kini duduk 

di sisinya.  

 

 

"Saya ingin pendapat Anda tentang kasus itu," nada bicara Polly setengah memaksa.  

 

Pria itu tiba-tiba memandangi Polly, membuat wanita lesbian  berusia 29 tahun itu sedikit 

terkejut dan berusaha mengalihkan pandangan dengan bola matanya. "Entahlah," 

katanya mengangkat bahu, "Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu 

 55

pembunuh wanita itu, sebab  memang tidak ada yang melihatnya. Sampai sekarang, 

juga tidak ada yang bisa menggambarkan secara persis, sebab  pembunuhan itu 

dirancang sedemikian rupa oleh bukan sembarang orang."  

 

"Bukan sembarang orang? Maksudmu, seorang pembunuh profesional?" Alis Polly 

terangkat.  

 

Lagi-lagi pria itu tertawa lirih, begitu menyadari lawan bicaranya begitu bingung namun  

tetap memaksa. Sebatang rokok kembali diambil, dinyalakan, dan asapnya 

dihembuskan ke atas.  

 

Polly siap mencatat segala penuturan pria itu.  

 

wanita lesbian  kaya 

 Percy Street di Tottenham Court Road bukanlah termasuk kawasan ramai di kota ini. 

Tempat kejadian perkara pembunuhan Nyonya Owen itu berada di salah satu 

bangunan tua peninggalan abad ke-19 yang terdapat di ujung jalan. Bangunan mirip 

hanggar pesawat terbang itu terdiri atas beberapa ruangan, dengan jendela besar 

untuk ukuran bangunan modern. Begitu besarnya sampai ada olok-olok, sewa 

ruangannya ditentukan sinar tambahan yang masuk melalui jendela-jendela berdebu 

itu.  

 

Di gedung itu terdapat beberapa jenis usaha yang dijalankan para penyewa. Semua 

menyangkut periklanan, seperti pembuatan papan iklan, usaha desain iklan media 

cetak, serta sebuah studio kecil untuk syuting film iklan atau pemotretran. Ruangan-

ruangan tempat usaha itu berjajar dan di ujung bangunan terdapat kantor pengurus 

bangunan. Di sanalah Owen tinggal. Setiap hari janda tanpa anak itu bertugas 

membersihkan dan merapikan ruangan dengan upah hanya 15 shilling per minggu.  

 

Walau penghasilannya tidak seberapa, bahkan nyaris tidak cukup untuk hidup layak, 

wanita yang telah bekerja 25 tahun itu sama sekali tidak pernah menuntut, mengeluh, 

maupun merepotkan. Uang penghasilannya diatur sangat hati-hati untuk keperluan 

sehari-hari dan sedikit untuk burung kakatua peliharaannya.  

 

Sekali waktu, Owen juga menerima tip dari para pekerja yang telah dibantunya. 

Besarnya memang tak seberapa, namun  ia selalu mengumpulkan dan menyimpannya di 

sebuah rekening di Bank Birkbeck. Jumlahnya tentu saja kian hari kian besar, hingga 

semua orang yang tahu tentang kebiasaan iritnya itu menjulukinya "wanita kaya". 

 

Tidak ada orang lain yang bermalam di ruang sempit dekat ruang produksi itu, 

kecuali Owen dan kakatuanya. Peraturan di gedung itu memang mengharuskan 

setiap penyewa meninggalkan ruang kerja mereka menjelang petang dan kunci 

ruangan dititipkan di ruangan pengurus bangunan. Pagi-pagi sekali, Owen akan 

membereskan dan menyapu seluruh ruangan. Pekerjaan rutin itu harus selesai 

sebelum penyewa atau pengunjung datang.  

 

Robbie Smith, kepala ruang perabotan, yaitu  pekerja yang selalu datang pertama 

setiap hari. Begitu pula pagi hari di saat peristiwa tragis itu terjadi. Seperti biasa, 

begitu tiba, Smith dengan kunci cadangan miliknya akan membuka pintu depan dan 

langsung menuju ke ruangannya. Pintu depan akan dibiarkannya terbuka untuk 

pekerja lain atau jika kebetulan ada pengunjung yang datang pagi-pagi.  

 

Biasanya, tiap pukul 09.00 Smith mendapati Owen sedang mengerjakan sesuatu. 

Saat itulah ia menyempatkan diri sekadar menyapa atau mengajaknya ngobrol 

tentang apa saja. Namun, pagi di hari kedua bulan Februari itu, tidak seperti biasa 

 56

Smith tidak melihat Owen. sebab  dilihatnya ruangan telah rapi dan bersih, Smith 

tidak terlalu menghiraukan kejanggalan itu. Mungkin Owen telah menyelesaikan 

tugasnya lebih awal. Begitu pula puluhan pekerja lain yang datang lalu , tidak 

satu pun menyadari ketidakhadiran Owen sepanjang hari itu. 

 

Suhu udara hari itu sangat dingin, membuat segala sesuatu semakin buruk. 

Menjelang petang, hantaman angin kencang disertai badai timur laut terus bertiup. 

Hujan salju membentuk tumpukan salju tebal di sepanjang jalan. Pukul 17.00, sisa 

cahaya redup musim dingin yang pucat telah berlalu. Charles Pitt, pekerja yang 

biasanya pulang paling akhir, telah bersiap-siap. Seperti biasa, ia akan 

mengembalikan kunci ruangan kantornya ke pengurus bangunan.  

 

Pitt baru saja membuka pintu ruang pengurus bangunan saat  tiba-tiba hembusan 

angin dingin sekonyong-konyong menerpa wajahnya. Ternyata dua jendela di dalam 

ruangan terbuka lebar. Hujan bercampur es dan salju tebal menerobos masuk, 

membentuk hamparan permadani putih di lantai. 

 

Saat itulah Charles langsung merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ia berusaha 

melongok, namun  tidak menemukan apa pun. Namun, perasaannya tetap tidak enak. 

saat  korek api dinyalakan, ia menyaksikan sebuah pemandangan mengerikan! Di 

lantai yang setengahnya tertutup tumpukan salju, ia melihat tubuh Nyonya Owen 

tertelungkup mengenakan gaun malamnya. Kedua tungkai dan pergelangan kakinya 

terbuka. Tangannya biru lebam. Sementara di sudut ruangan, tubuh kakatua 

peliharaannya ikut terbujur kaku membeku. 

 

Tim medis dan polisi datang 15 menit sesudah  tubuh janda itu ditemukan. Mereka 

berusaha memberi pertolongan. Namun terlambat, wanita itu telah mati dalam 

kebekuan. Berdasarkan pemeriksaan medis sementara, diketahui korban mendapat 

benturan keras di bagian belakang kepala.  

 

Tubuh Owen benar-benar tergeletak tak berdaya di sisi pintu yang terbuka. Suhu 

5oC di bawah nol semakin memperparah keadaannya. Tak jauh dari jendela ruangan, 

Inspektur Howell dari kepolisian setempat menemukan potongan besi berbentuk 

siku-siku. Tingginya kira-kira sama dengan luka memar di belakang kepala korban. 

Penemuan besi ini membuat media massa berspekulasi: kematian Owen akibat 

kecelakaan.  

 

Terlihat berkencan 

 Polly dan pria asing itu kini memilih melanjutkan perbicangan mereka di sebuah kafe. 

Ia sengaja mengajak pria itu ke sana semata-mata agar mereka lebih leluasa 

berbincang. Saat itu hari mulai gelap, suasana di sekitar jalanan juga mulai sepi. 

Hanya kerlap-kerlip lampu hiasan di sepanjang jalan membuat suasana lebih meriah. 

 

sesudah  pesanan kopi datang dan sejenak menyeruput, pria itu mengeluarkan 

selembar foto dari saku jaket. Foto seorang wanita biasa bertubuh gemuk dalam 

pose tersenyum ramah. "Ini Nyonya Owen. Apa Anda sudah pernah melihatnya?" 

kata pria itu sambil menyodorkannya ke arah Polly.  

 

Sejenak Polly mengamati. Di matanya penampilan Owen terlihat biasa-biasa saja 

dan tidak menunjukkan karakter suka aneh-aneh. Baru kali itu ia melihat sosoknya 

secara lebih jelas. Beberapa waktu sebelumnya ia hanya melihat lewat ilustrasi 

wajahnya, sesudah  menjadi mayat. 

 

Kata si pria, foto itu gambar terakhir Owen sebelum terjadi perubahan. Ia juga 

menambahkan, wanita itu sebelumnya cenderung hidup secara monoton dan 

 57

membosankan, namun  belakangan berubah total di luar dugaan banyak orang. Menurut 

para pekerja di Percy Street, Owen berubah kira-kira sejak Oktober. Namun, mereka 

tidak ambil pusing. 

 

Mata para pekerja baru benar-benar dibuat terbelalak saat  suatu kali mereka 

melihat Owen berdandan begitu rapi, lengkap dengan topi dan mantel mewah. Di 

lehernya tampak sebuah liontin emas berantai mungil dengan ukuran yang 

sepertinya tidak mungkin dimiliki wanita sekelasnya. Saat itu, sekitar pukul 18.00 ia 

melangkah ke luar sendirian. 

 

Para pekerja saling berpandangan. Sepanjang ingatan, mereka merasa belum 

pernah melihat Owen berpenampilan seperti itu, termasuk para pekerja yang sudah 

lebih dari sepuluh tahun bekerja di situ. Namun, mereka tidak mau terlalu usil. 

Mereka pikir, hak janda itu untuk menyenangkan diri di hari tuanya.  

 

Perubahan drastis Owen baru menjadi masalah sesudah  berdampak pada pekerjaan. 

Ia hampir selalu tidak ada di tempat pada saat dibutuhkan. Para pekerja mulai 

berembuk untuk membicarakan ketidakberesan ini dan berencana melaporkannya 

kepada pemilik bangunan bila situasi itu terus berlanjut. Saat itulah mereka bertukar 

informasi, tepatnya gosip, tentang Owen. Menurut gosip, perubahan mencolok terjadi 

sesudah  Owen berhubungan dengan Arthur Greenhill, pemuda yang bekerja di 

Number Eight Studio. 

 

Para pekerja mengamati, Arthur memang terlihat sering pulang paling malam. 

Semula tidak ada yang menaruh perhatian soal itu. Kecurigaan mulai kuat sesudah  

ada gosip susulan yang menyatakan melihat Owen berkencan dengan Arthur 

Greenhill di sebuah rumah makan di Gambias Restaurant di Tottenham Court Road.  

 

Menurut penuturan saksi, Owen yang membayar tagihan makan malam di tempat 

eksklusif itu. Hidangannya terbilang mewah, yaitu beberapa sayat daging anak sapi, 

sepotong besar tulang sumsum, hidangan pencuci mulut, kopi, dan ditutup dengan 

kopi manis. saat  keduanya meninggalkan restoran, Arthur tampak mengisap cerutu 

mahal. 

 

Perkara Owen akhirnya sampai juga ke telinga Allman, lelaki pemilik bangunan. 

Akhirnya, pada akhir Januari, tanpa banyak peringatan, Allman memecat Owen yang 

telah bekerja puluhan tahun tanpa masalah. "Nyonya Owen tidak sedikit pun terlihat 

kesal saat  saya menyampaikan hal itu kepadanya," kata Allman kepada polisi. 

 

Menurut pria tambun berumur 60-an tahun itu, Owen justru bercerita, dirinya telah 

memiliki banyak properti dan kini akan bekerja sesuai keinginannya. "Ia menyatakan 

punya banyak sahabat yang akan menjaga dirinya, sebab  ia memiliki banyak uang 

untuk siapa pun yang tahu bagaimana menyenangkan hatinya," kata Allman, yang 

takut dirinya dikait-kaitkan dengan kematian bekas pekerjanya itu. 

 

Seorang saksi lain, Nona Bedford, menyatakan beberapa jam sebelum peristiwa 

tragis itu, pernah mendapati Owen menangis terisak. Namun, saat ia bertanya soal 

masalahnya dan menawarkan bantuan, wanita itu menampiknya dan tidak bercerita 

apa pun. Bedford tidak menyangka, itu pertemuan terakhirnya dengan Owen dan 

memilih untuk segera beranjak pergi.  

 

Dari serangkaian informasi awal, kepolisian menugaskan Inspektur Jones 

menyelidiki Arthur Greenhill. saat  penelusuran dikembangkan ke Birkbeck Bank, 

Jones menemukan fakta mengejutkan bahwa sesudah  dipecat, Owen mengambil 

 58

seluruh uang simpanannya dalam deposito, jumlahnya kira-kira 800 pounds, hasil 

jerih payah menabung dan menghemat selama 25 tahun!  

 

Kelumpuhan sementara 

sebab  semua dugaan mulai mengarah pada satu nama dan untuk memudahkan 

penyelidikan, polisi lalu menahan Arthur Greenhill. Pria berusia 28 tahun itu sehari-

hari bekerja sebagai pelukis batu dan logam. Meski pekerja kasar, wajah Arthur 

tergolong tampan untuk ukuran pria kebanyakan. Hanya saja, pembawaannya sedikit 

kasar. Logat cockney-nya juga terdengar lucu.  

 

Sayangnya, dalam sidang pendahuluan, Arthur bersikap tidak menyenangkan bagi 

hakim wilayah dan kepolisian. Suatu hal yang sebenarnya dapat merugikan 

posisinya. Bisa jadi sebab  ia sangat gugup, hingga bicaranya tergagap dan berulang 

kali memberi jawaban asal-asalan. Ayahnya, Greenhill Senior, seorang hakim agung, 

bertindak sebagai kuasa hukum. Wajah orang tua itu terlihat keras, dengan 

penampilan yang lebih mirip pengacara desa ketimbang pejabat penting di London. 

 

Polisi berusaha menyusun bukti-bukti yang memberatkan Arthur. Namun, dari hasil 

visum tidak ada perkembangan baru. Dalam catatan forensik hanya dijelaskan, 

Owen tewas akibat tidak segera mendapat pertolongan. Memar di bagian belakang 

kepalanya sebenarnya tidak memberi efek serius, kecuali kelumpuhan sementara. 

Namun, saat petugas kesehatan datang, korban sudah tewas. Agak sulit 

memastikan sudah berapa lama wanita itu terbujur kaku. Apakah satu, dua, atau 

mungkin 12 jam. 

 

Menurut catatan polisi, keadaan di sekitar ruangan saat Charles Pitt pertama kali 

menemukan wanita malang itu, tidak ada yang terlalu mencolok. Semua sudut 

ruangan masih tampak rapi. Pakaian korban sepanjang hari itu tergantung rapi di 

atas sebuah kursi dan sebuah kunci lemari makan ditemukan di dalam kantungnya. 

Pintu ruangan sedikit terbuka. Sementara jendela terbuka lebar dan salah satu 

teralisnya terputus, seperti telah dibongkar paksa berulang-ulang layaknya modus 

perampokan.  

 

"Nyonya Owen pasti baru bersiap-siap akan tidur, sesudah  membuka pakaiannya saat 

itu," kata pria yang masih terus bertutur kepada Polly. Hakim juga tahu, kematiannya 

pasti bukan sebab  kecelakaan. Rasanya, tidak masuk akal kalau dia membuka 

pakaiannya di tengah suhu 5oC di bawah nol dalam keadaan jendela terbuka lebar. 

 

Polly cuma manggut-manggut.Dalam kesaksiannya seorang kasir wanita lesbian  di 

Birkbeck Bank bilang, Owen pernah menunjukkan kepadanya cek 827 pound atau 

senilai saldo rekening tabungannya. "Dia terlihat senang dan riang, sambil bercerita 

bahwa ia perlu uang dalam jumlah besar, sebab  berniat pergi ke kota lain untuk 

tinggal bersama keponakannya," kata kasir yang tak disebut namanya itu. 

 

Kasir itu sempat mengingatkan Owen agar berhati-hati, sebab  biasanya wanita-

wanita lanjut usia mudah pikun. Owen tertawa menanggapinya, namun  mengiyakan. Ia 

menyatakan akan sangat berhati-hati dan tidak menghabiskan uangnya sesaat saja. 

Malah Owen sempat menuturkan niatnya untuk mengunjungi kantor pengacara untuk 

membuat sebuah surat wasiat. 

 

Kesaksian kasir itu mengejutkan, sebab  tidak ditemukan uang sedikit pun di dalam 

kamar sang janda sesudah  peristiwa tragis itu. Dalam penelusurannya, polisi malah 

menemukan dua nota bank yang telah dicairkan Arthur Greenhill pada pagi hari 

sebelum kematian itu terjadi. Salah satunya ditukarkan untuk pembayaran satu setel 

 59

pakaian pria di West Ebd Clothiers Company dan yang lainnya di sebuah kantor pos 

di Oxford Street.  

 

Arthur hanya bisa mendengar semua kesaksian yang mengarah ke dirinya dengan 

wajah pucat pasi. ng mang tat ya menghijau. Berulang kali ia menjilati bibirnya yang terasa 

kering. Dugaan polisi semakin kuat bahwa janda itu memang dibunuh, sesudah  

dirampok saat hendak bersiap tidur. Sementara ini, Arthur menjadi tersangka utama, 

sebab  ia merupakan orang terdekat korban dan paling sering berkeliaran di pagi hari.  

 

Pada saat kejadian, alibi tersangka hanya didukung seorang saksi yang merasa 

melihatnya pukul dua pagi. Saksi yang dikenal sebagai pemabuk itu mengaku 

bertemu, bahkan sempat berbicara dengan Arthur di sudut jalan Percy Street dan 

Tottenham Court Road, sebelum tak sadarkan diri. Sayangnya, kredibilitas kesaksian 

penting itu tak cukup membantu, sebab  saksi dianggap tak sadar sepenuhnya.  

 

Tinggal dengan keponakan 

Dalam pengakuannya, Arthur menyatakan dirinya memang dekat dengan Owen 

sebab  janda itu masih saudara jauh ibunya. Namun, pengakuan asal-asalan itu 

segera ditepis polisi, sebab  Arthur tidak bisa menyebutkan lebih jauh tentang silsilah 

keluarga ibunya dan hubungannya dengan korban.  

 

Pada malam kejadian, tersangka juga mengaku sempat mengencani Owen dan 

mengantar ke tempat tinggalnya. Sebelum pulang, sekitar pukul 02.00, wanita itu 

memberinya 10 pounds yang dikatakannya sebagai ucapan terima kasih sambil 

mengatakan, "Aku menganggap kau seperti keponakanku. namun  jika kau tidak suka, 

aku masih bisa menganggap Bill demikian."  

 

Ya, "Bill". Nama itu muncul dari mulut Arthur. "Dia terlihat sangat khawatir sejak 

petang. Entah, mungkin sebab  keponakannya itu. namun  saat  saya 

meninggalkannya, dia sudah sedikit gembira," sambung Arthur kepada polisi. Meski 

pengakuan tentang keponakan Owen mirip dengan kesaksian kasir Birkbeck Bank, 

polisi tidak ingin percaya begitu saja. Setidaknya, keberadaan keponakan itu hanya 

diucapkan Arthur serta Owen melalui kesaksian kasir saja.  

 

Sedangkan saksi-saksi lain yang kebanyakan pekerja di Percy Street tidak pernah 

mendengar soal keluarga jauh itu, termasuk rencana Owen untuk tinggal 

bersamanya. Polisi tetap pada dugaan sementara, Arthur mendekati dan 

mengencani Owen untuk kesenangan materi sesaat saja. serta menikmati hari tua.  

 

Dari sanalah Arthur tergoda mengambil seluruh uangnya. Polisi juga menemukan, 

ayah Arthur, hakim agung Greenhill Senior memiliki sebuah kantor kecil di John 

Street, Bedford Row. Siang sebelum kematiannya, Owen berada di sana dan 

membuat surat wasiat yang menyatakan akan memberi  seluruh hartanya pada 

Arthur Greenhill jika ia meninggal.  

 

Belakangan, kata polisi, Owen tidak menuruti semua kemauan Arthur, bahkan 

bersikeras pindah ke luar kota untuk tinggal bersama keponakannya. Arthur panik 

akan keputusan itu dan merasa harus mendapatkan uang itu secepatnya. saat  

mengantar wanita itu pada malam pembunuhan ke kamar, Arthur memukulnya 

dengan sebuah besi lalu mengambil uangnya.  

 

Namun, pendapat itu disanggah Greenhill Senior, yang menuduh polisi tidak jeli 

terhadap fakta yang ada. "Jika memang seluruh hartanya akan diberikan kepada 

Arthur, mengapa ia harus mengambil uangnya cepat-cepat?" kata Greenhill berang.  

 

 60

Pembunuhnya merapikan ruangan 

Tak terasa sudah hampir satu jam Polly menyimak kata-kata pria itu tanpa rasa 

bosan sedikit pun. Segala penuturannya masuk akal dan cocok dengan semua 

catatannya. Setidaknya, kini ia paham, mengapa polisi masih belum bertindak tegas 

terhadap Arthur, si tersangka tunggal. Saksi dan bukti yang ada memang tidak terlalu 

memberatkannya.  

 

Arthur hingga saat ini belum terbukti membunuh, sebab  pada saat wanita itu 

dibunuh, ia ada di sebuah tempat tak jauh dari rumahnya. Ada saksi yang melihatnya, 

analisis Polly. Pria itu tersenyum. "Aku senang mendengarmu mengatakannya 

terbunuh. Aku tahu banyak orang yang menganggapnya sebagai kasus bunuh diri 

biasa atau kecelakaan."  

 

"Ya, aku pikir semua itu sebab  uang. namun , apa kau juga mempercayai keberadaan 

keponakan lelaki wanita tua itu?" 

 

"Mengapa harus menyangsikannya?" balas pria itu cepat. Sebuah jawaban yang 

agak mengejutkan Polly. "Seorang keluarga dekat bisa saja mengunjunginya di luar, 

pada tengah hari, tanpa diketahui para pekerja di Percy Street," tambahnya. 

 

"Pada tengah hari?" 

 

"Setiap pukul delapan tiga puluh setiap paginya," kata pria itu santai. Senyum 

misterius mengembang dari mulutnya. 

 

Alis Polly mengernyit. Tubuhnya perlahan di sandaran kursi. Tiba-tiba ia merasa ada 

sesuatu yang tidak beres pada pria yang belum lagi ia ketahui namanya itu. Namun, 

di sisi lain ia justru merasa tengah berada di puncak penyelidikannya tentang 

pembunuhan Nyonya Owen. 

 

"Satu pertanyaan terakhir. Jadi menurutmu, kira-kira bagaimana pembunuh itu 

melakukannya?" pancing Polly.  

 

Pria itu menghela napas. "Keponakan itu tahu tentang keberadaan uang Owen di 

bank. Dia lalu datang dan menerornya, hingga akhirnya Owen merasa simpanannya 

di bank tidak aman, lalu menariknya," katanya.  

 

"Namun pria itu begitu kecewa sesudah  tahu Owen akan mewariskan seluruh 

hartanya ke Arthur Greenhill. Siang itu keduanya bertengkar, itulah yang 

membuatnya menangis dan terlihat oleh Nona Bedford. Ia pun menghibur diri 

dengan bepergian bersama Arthur ke teater." 

 

sesudah  Arthur pulang, keponakannya mendatangi Owen. Ia memaksa janda itu 

untuk menyerahkan uang depositonya. Merasa dikasari, Owen berontak. Saat itulah 

secara refleks ia memukulkan besi siku ke belakang kepala dan membuat wanita itu 

terjatuh. Ia pun mengambil uang yang ada di laci lemari. Membiarkan jendela terbuka 

lebar agar terkesan telah terjadi perampokan.  

 

saat  akan melangkah ke luar, hari sudah hampir pagi. Pembunuh itu berinisiatif 

menggantikan tugas Owen dan seakan-akan mengajak semua orang melupakan 

keberadaannya. Membereskan dan mengurus pekerjaan pagi itu. Semua tampak 

wajar kan?" kata pria misterius itu lagi, sembari beranjak, mengucapkan salam 

perpisahan, dan melangkah santai. Untuk sejenak, Polly hanya bisa tertegun 

menyaksikannya.  

 

 61

"Terima kasih atas kisahmu, ... Bill!" 

 

Pria itu menoleh. Tersenyum sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya. (Kisah 

rekaan/Baroness Orczy/Tj)  

 

 

09. KORBAN KE 13 

 

Sret, sret, ... pluk! Jari-jari Adelia Quirk bergerak gesit menyortir surat-surat yang 

datang pagi itu. Dengan cepat terbentuk dua tumpukan. Satu berada di tengah meja 

Harry Fendley, terdiri atas tagihan dan pemberitahuan lelang. Tumpukan lain berada 

di dasar tempat sampah, berupa beberapa selebaran serta undangan ke acara 

jamuan makan malam yang diadakan seorang anggota Kongres, yang fotonya 

tergantung di dinding, sedang memeluk bahu Harry Fendley.  

 

Biar saja Harry kecewa berat sebab  merasa tidak diundang, pikir Bu Quirk puas. 

Tangan wanita kurus dengan rambut keriting tipis berwarna kelabu itu lalu 

mendorong kacamata bacanya yang melorot. Dahinya berkerut saat  melihat surat 

terakhir. Alamatnya diketik rapi, tenamun  tidak ada nama pengirimnya. Surat semacam 

itu sudah sering dilihatnya selama 30 tahun menjadi sekretaris di Sekolah Menengah 

Umum Endicott, sebelum ia pensiun musim semi lalu.  

 

Dengan sebal diremasnya surat itu, lalu dilemparkannya ke tempat sampah.  

 

Tiga belas nama 

 "Bu Quirk!" Teriakan Fendley membuat Quirk bak kena setrum. Jantungnya serasa 

berhenti beberapa detik. "Bu Quirk, tolong jangan buang surat-surat dari para pemilih 

saya. Siapa tahu warga negara baik itu sedang menghadapi masalah." Harry 

Fendley, ketua Dewan Pengawas Daerah dan tokoh politik setempat, menggali 

keranjang sampah dengan terengah-engah, sebab  perutnya yang sebesar gentong 

itu tertekan. 

 

Ia menarik napas lega saat  menemukan surat yang baru saja diremas Quirk.  

 

"Bu Quirk," kata Fendley. "Anda 'kan sekretaris yang baik. Jangan pernah 

membuang surat sebelum saya membacanya, tidak peduli dari orang sinting 

sekalipun." Fendley menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan sedang 

memberi tahu anak idiot. Wajahnya memperlihatkan keprihatinan, sementara alis 

matanya bertemu di atas hidung, seperti dua ulat sedang berciuman.  

 

"Anda kelihatan pucat. Anda tidak apa-apa 'kan? Bekerja untuk membayar utang-

utang dean shek  mungkin terlalu berat buat Anda. Memang bukan salah Anda, dean shek  

jadi penjudi. Saya sudah sering memperingatkan, namun  dia tidak mau mendengarkan. 

Sayang, asuransi jiwanya tidak bisa menutup semua utang kalian. Kalian berdua 

kurang melihat masa depan sih," imbuh Fendley, setengah mengejek.  

 

"Saya betul-betul prihatin, Bu Quirk. Kenapa Anda begitu keras kepala? Tiga 

setengah hektar tanah terlalu berat untuk diurus seorang janda seperti Anda. Saya 

bukan ingin menakut-nakuti, tenamun  sebaiknya jangan sendirian di sana. Kenapa tidak 

Anda serahkan saja rumah dan tanah itu kepada saya? Sebagai gantinya, saya akan 

menyerahkan surat-surat utang dean shek  kepada Anda."  

 

Diolok-olok dan diintimidasi seperti itu, Bu Quirk cuma bisa menyumpah dalam hati. 

Fendley sendiri lalu  mengalihkan perhatiannya pada surat yang baru saja 

 62

diselamatkannya dari tempat sampah. Matanya bergerak mengikuti beberapa baris, 

lalu memandang Bu Quirk dengan senyum senang. 

 

"Bu Quirk, Anda tahu apa yang Anda buang?" Fendley lalu membacakan isi surat itu: 

"Jangan anggap enteng. Surat ini dapat membawa keberuntungan besar atau 

sebaliknya, musibah besar bagi Anda. Kirim salinannya sebanyak 13 pucuk dalam 

waktu lima hari ...."  

 

"namun  itu 'kan surat berantai, Fendley," potong Bu Quirk.  

 

"Buatkan 13 salinannya, Bu Adelia! Kita harus berbagi keberuntungan dengan 

teman-teman kita," tegas Fendley menyorongkan kertas itu ke sekretarisnya. "Kirim 

satu pada Robert Barnes."  

 

"Lawan Anda pada pemilihan yang lalu?" 

 

"Betul. Kirim juga pada James Hollingshead, walikota kita. Pastikan juga jatah Leroy 

Jacobs dan istrinya, Evelyn ...." 

 

Bu Quirk mencatat nama-nama lawan politik, musuh-musuh pribadi serta bekas 

sekretaris bosnya itu. Fendley betul-betul menjijikkan.  

 

Rayuan pedagang mobil 

 Bu Quirk sendiri tak punya banyak teman, sebab  ia tak banyak menyukai orang. 

Begitu pun sebaliknya. Hanya para tetangganya yang kadang-kadang memberi 

perhatian. Suami-istri Anderson, tetangga Bu Quirk yang memiliki 1,24 ha tanah 

berhutan di antara tanahnya dan Red Mound National Forest misalnya, selalu 

memperlakukan Quirk, seakan-akan dia bibi mereka yang eksentrik.  

 

Tetangganya yang lain, keluarga Efferson, tinggal di lahan yang ditumbuhi pohon 

pinus seluas 2 ha dan sering kebanjiran. Mereka selalu memberinya selai buatan 

sendiri yang tidak jelas selai apa, keju kambing, ketimun yang diolah entah 

bagaimana caranya, lalu mereka beri nama "acar". Mereka sulit ditolak 

kedatangannya, sesulit menjauhkan anak-anak anjing yang selalu melibat di sekitar 

kaki.  

 

Tanah keluarga Efferson berbatasan dengan Sungai Chicasaw yang memisahkan 

tanah mereka dari hutan nasional. Di seberang tanah keluarga Anderson terdapat 

Sungai Wooten. Lalu di sebelahnya ada tanah luas tak berpenghuni yang 

berseberangan dengan jalan bebas hambatan. Di belakang tanah milik Bu Quirk dan 

tetangga-tetangganya terdapat hutan sepanjang beberapa kilometer, milik Acme 

Paper, Inc. yang dikenal sebagai tukang caplok tanah. 

 

Dari tiga bidang tanah yang dimiliki perorangan itu, tanah Bu Quirk paling bagus. 

Letaknya tinggi di atas punggung bukit yang indah, tidak pernah kebanjiran dan 

berpemandangan indah. Bu Quirk merasa Fendley memiliki  rencana atas tanah 

dan rumahnya. Ia tahu, pedagang mobil bekas yang pandai merayu itu menawarkan 

pekerjaan sekretaris, bukan agar ia dapat membayar utang dean shek . namun  untuk 

membujuknya agar mau melepas tanah warisan sebagai penebus utang. 

 

Bu Quirk pernah melihat wakil dari Brooks Brothers datang ke kantor Fendley 

membawa tabung-tabung cetak biru, yang isinya mungkin saja peta survei tanah. Ia 

mencoba mendapat informasi dengan menempelkan telinganya ke pintu ruang kerja 

Fendley. Namun, yang kedengaran cuma suara kresek ... kresek. Fendley pasti 

sudah mengantisipasi ulah sekretaris usilnya dengan memasang peredam suara.  

 63

 

Fendley di mata Bu Quirk tak beda dengan ular. Bayangkan, seusai pemakaman, ia 

baru tahu kalau selama bebeberapa minggu terakhir, setiap Rabu malam dean shek  

bukannya pergi ke persekutuan doa seperti yang dikatakannya, melainkan berjudi. 

Itu sebabnya, Fendley bisa memegang surat-surat utang yang ditandatangani 

dean shek  di hadapan sejumlah saksi. Fendley sendiri tidak secara langsung terlibat 

dalam permainan judi itu. 

 

Bu Quirk tahu, menurut hukum ia wajib membayar utang dean shek . namun  ia juga tahu, 

secara hukum Fendley tidak bisa mengambil rumahnya begitu saja. Dalam hati, Bu 

Quirk berjanji, akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan, agar tanah 

warisan dean shek  tidak jatuh ke tangan orang busuk seperti Harry Fendley.  

 

Ketinggalan berita 

 Adelia Quirk memandang langit yang menaungi kota berpenduduk 25.000 jiwa itu 

dari depan pintu kantornya. Sejak cuaca memburuk beberapa hari lalu dan musim 

gugur hendak beranjak ke musim dingin, si bos makin giat menyuruhnya membeli 

koran ke seberang kantor. Padahal, suhu dingin bisa memperparah penyakit 

artritisnya. Walaupun sudah mengenakan mantel wol tebal, toh angin tetap saja 

menyusup. 

 

Saat itulah Quirk menyaksikan tabrakan hebat antara sebuah minivan cokelat dan 

sedan Lincoln, tak jauh dari lampu merah. Lincoln yang dikemudikan James 

Hollingshead, walikota Endicott, saat itu sedang ngebut. Sebagai walikota, sudah 

bertahun-tahun Hollingshead mengabaikan peraturan lalulintas tanpa pernah 

dihukum. Namun, kali ini ia tidak bisa menghindar dari hukum alam. Bersama Robert 

Barnes, si pengemudi minivan, ia meninggal dunia di tempat.  

 

Sampai malam, peristiwa itu masih terbayang di benak Bu Quirk. Kedua korban 

kecelakaan dikenalnya dengan baik, walaupun ia menganggap mereka bukan 

manusia baik. Polisi sendiri bilang, kecelakaan itu mungkin disebabkan rem minivan 

itu blong.  

 

Kriiing!!! Tiba-tiba telepon berdering. Dengan sebal Bu Quirk mengangkat benda 

yang membuyarkan lamunannya itu. 

 

"Halo, Virginia," katanya tanpa semangat, sesudah  tahu yang menelepon ternyata 

iparnya. "Kamu pasti mau membicarakan kecelakaan itu," sambung Quirk.  

 

"Kecelakaan apa? Oh, maksudmu yang menimpa suami-istri Jacobs, ya? Itu sih 

bukan kecelakaan. Leroy memang sengaja menembaknya!" 

 

Tulalit. Namun Quirk lega, berarti ia tak harus bercerita tentang tabrakan mobil yang 

menimpa walikota.  

 

"Menembak siapa?"  

 

"Evelyn. Dia menembak Evelyn dan salesman asuransi yang tidur dengan istrinya itu. 

Rupanya, setiap kali Leroy pergi bekerja, orang asuransi itu datang. Tadi pagi, Leroy 

tiba-tiba kembali."  

 

"Jangan ceritakan apa yang dikatakan Leroy saat ia ditahan ...."  

 

"Leroy tidak menunggu polisi datang," Virginia memotong. Lalu dengan suara 

berubah lunak ia berkata, "Ia menembak dirinya sendiri." 

 64

 

Bu Quirk mendengarkan cerita Virginia sambil memandang jauh ke langit-langit. 

Mengapa begitu banyak orang mati hari ini?  

 

"Dan Johnny Hovatter, dalam keadaan mabuk, terjatuh dari salah satu kudanya. 

Lehernya patah," lanjut iparnya.  

 

"Hah? Kapan?" 

 

"Aduuuh, Adelia. Kamu betul-betul tidak menaruh perhatian pada sekelilingmu. 'Kan 

ada di koran pagi ini."  

 

Quirk ingat, koran pagi Fendley basah tak bisa dibaca sesudah  dipakai melindungi 

kepala dari hujan. Sedangkan korannya, Clarion Herald mendarat di kubangan air di 

halaman rumahnya, sebab  si loper salah lempar.  

 

"Oh, ya, maksudku menelepon kamu sebenarnya ingin menanyakan, kapan keluarga 

Efferson akan pindah?" 

 

"Keluarga Efferson? Mereka tidak mau menjual tanahnya, kok. Anak Frieda Wilson 

yang bekerja di pengadilan, waktu bertemu di kapsalon bilang