Rûh yaitu salah satu makhluk Allah yang tidak kasat mata. Banyak sekali
rahasia-rahasia rûh yang harus dijelaskan secara rasional, agar manusia yang
badannya dialiri oleh spirit rûh bisa mengetahui apa sebenarnya rûh itu. Di dalam
Al-Qur‟an sudah termaktub bahwa Allah memberi pengetahuan kepada manusia
tentang rûh hanya sedikit saja, yaitu pada surat Al-Isra‟: 85. Akan namun di dalam
Al-Qur‟an masih banyak ayat-ayat yang di dalamnya memuat kata rûh. Hal ini
berarti eksistensi dan pengetahuan ruh masih bisa digali lagi. Penelitian yang
dilakukan peneliti ini mengangkat judul Konsep Ruh Menurut „Aidh Al-Qarni
dalam Tafsir Al-Muyassar. Al-Qarni yaitu salah satu ulama‟ besar di Arab Saudi
yang dianggap produktif dan progressif yang sampai saat ini masih hidup. Peneliti
ingin mengetahui apakah Al-Qarni memiliki progress konsep tentang rûh yang
selama ini pembahasannya dianggap stagnan.
Penelitian ini menerapkan library research, artinya penelitian yang
dilakukan ini yaitu berbasis pada literatur. Data primer sekaligus dijadikan objek
pada penelitian ini yaitu tafsir Al-Muyassar karya „Aidh Al-Qarni. Ground
Theory yang dipakai yaitu tafsir ijmali, sebab objek yang dipakai
merupakan praktik dari tafsir ijmali. Kemudian semua ayat yang ada kata rûh di
dalamnya dikumpulkan, kemudian dianalisis. Data-data yang telah dikumpulkan
ini kemudian dianalisa dengan analisis deskriptif. Artinya memberi
deskriptif analisa terhadap obyek penelitian, dari data yang berhasil dikumpulkan
untuk kemudian ditarik kesimpulan.
Hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam meneliti ayat-ayat ruh
dalam tafsir Muyassar yaitu rûh memiliki banyak makna di dalam Al-Qur‟an.
Makna rûh menurut Al-Qarni diantaranya yaitu rûh sebagai penggerak badan
manusia, rûh dengan makna malaikat Jibril, dan rûh dengan arti wahyu Allah.
Secara keseluruhan, pemaknaan rûh menurut „Aidh Al-Qarni tidak berbeda
dengan para ulama‟ salaf. Hakikat rûh berbeda dengan jiwa (nafsun). Ruh yaitu
penggerak positif yang mendorong manusia untuk sampai kepada Allah.
sedang Nafsun sifatnya fifty-fifty, kemungkinan bisa baik dan kemungkinan
mendorong kepada hal yang buruk. Ini yaitu hal yang bisa meningkatkan derajad
sekaligus bisa menurunkan derajad manusia. Berbeda dengan rûh, tanpa rûh
manusia tidak akan hidup. Peneliti berharap penelitian ini memberi kontribusi
bagi kahazanah keilmuan, khususnya dalam pemahaman rûh. Memahami rûh
dengan pemahaman yang benar akan menghantarkan pada kuatnya iman kepada
Allah swt.
Al-Qur‟an akan selalu menjadi obyek kajian yang selalu mengundang
perhatian dan pemikiran bagi para pemerhatinya. Hal itu tidak hanya
disebabkan oleh posisinya sebagai scripture
yang transenden semata,
melainkan juga sebab muatan nilainya yang tak pernah lekang dimakan
zaman, shalih likulli zaman wa makan.sebab itu, tak heran jika ia selalu
dijadikan referensi utama untuk mengabsahkan perilaku, menjustifikasi
tindakan perorangan maupun kolektif, melandasi berbagai aspirasi,
memelihara berbagai harapan, dan juga memperkukuh identitas kolektif. Al-
Qur‟an yaitu sumber dari segala sumber hukum bagi umat islam.
Posisi signifikan itulah yang membuat al-Qur‟an tidak saja sebagai
pusat wacana keislaman yang mendorong Umat Islam untuk melakukan
interpretasi dan pengembangan makna ayat-ayatnya (gerak sentrifugal)
, tapi
juga menjadikannya sebagai referensi utama dalam hidup (gerak
sentripetal)
.sebab itu, semenjak pewahyuannya hingga sekarang, al-Qur‟an
menjadi produsen budaya yang telah banyak memberi kontribusi
terhadapperadaban umat Islam dalam kurun waktu 14 abad lebih.
Al-Qur‟an sebagai kitab suci umat Islam merupakan kumpulan firman
Allah (kalam Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. yang
mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia. Diantara tujuan
diturunkannya Al-Qur‟an yaitu untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam
mencapai kebahagiaan hidup, baik dunia maupun di akhirat kelak.
Agar tujuan itu dapat direalisasikan oleh manusia, maka al-Qur‟an
datang dengan petunjuk-petunjuk, keterangan-keterangan, aturan-aturan,
prinsip-prinsip dan konsep-konsep, baik yang bersifat global maupun yang
terinci, yang eksplisit maupun implisit dalam berbagai persoalan dan bidang
kehidupan.
Akan namun , kendatipun al-Qur‟an mengandung berbagai ragam
masalah, ternyata pembicaraannya tentang suatu masalah tidak selalu tersusun
secara sistematis seperti halnya buku pengetahuan yang dikarang oleh
manusia. Bahkan, dapat dikatakan bahwa al-Qur‟an yaitu kitab yang paling
tidak sistematis bila dilihat dari sudut metodologi ilmiah. Disamping tidak
sistematis, al-Qur‟an juga jarang menyajikan suatu masalah secara terinci dan
detail. Pembicaraan al-Qur‟an, pada umumnya bersifat global, partial, dan
seringkali menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip pokoknya saja.
Diantaranya yaitu (1) Untuk membersihkan dan mensucikan jiwa dari segala bentuk
syirik serta memantapkan keyakinan tentang ke-Esaan yang sempurna bagi Tuhan semesta alam.
(2) Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia
merupakan umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah swt dan
pelaksanaan tugas kekhalifahan. (3) Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar
suku atau bangsa, namun kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan
supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran , kesatuan kepribadian manusia,
kesatuan kemerdekaan dan determinasi, kesatuan social, politik, dan ekonomi dan kesemuanya
berada di bawah satu kesatuan, yaitu ke-Esaan Allah. (4) Untuk mengajak manusia berfikir dan
bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan
mufakat yang dipimpin hikmah kebijaksanaan. (5) Untuk membasmi kemiskinan material dan
spiritual, kebodohan, penyakit dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia
dalam bidang social ,ekonomi, politik, dan juga agama. (6) Untuk memadukan kebenaran dan
keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan social sebagai landasan
pokok kehidupan masyarakat manusia. (7) Untuk memberi jalan tengah antara falsafah kolektif
komunisme, menciptakan Ummatan Wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran. (8) Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan suatu
peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan Nur Ilahi. (lihat lebih lanjut M.
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an: Tafsir Maudhu‟I atas pelbagai persoalan Umat ,Bandung :
Mizan,1996, hlm. 12-13)
Manusia yaitu mahluk yang paling unik dan penuh
dengan misteri, baik dari segi fisiknya, karakteristiknya, potensi-potensi dan
unsur-unsur yang mempengaruhinya. Membicarakan manusia yaitu
pembicaraan yang tidak akan ada habisnya dan seolah tidak ada tepinya.Oleh
sebab itu manusia merupakan objek kajian yang tidak akanada habisnya.
Jika kita membicarakan tentang hakekat manusia, maka akan muncul
pertanyaan eksistensi manusia, apakah itu rûhnya, jiwanya atau jasadnya?.
Pertanyaan ini dijawab oleh dua sumber yaitu ilmu dan wahyu. Jawaban
ilmu bersumber dari manusia sedang wahyu bersumber dari Al-Qur‟an
atau Tuhan.
Manusia berasal dari unsur tanah, kemudian dimasukkannya rûh ke
dalam jasmani ini , maka manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasad dan
rûh. Kehidupan ruhaniah atau batiniah itu meyatakan diri pada pikiran dan
perasaan dalam pengertian yang luas.
Secara keilmuan disebutkan, manusia terdiri dari jasad materi dan rûh
yang yang tidak jauh beda dengan hewan, yang membedakannya yaitu
manusia memiliki “jiwa” yang memungkinkan manusia berfikir dan hatinya
dapat menjadi sumber penghayatan ruhaniah dan tangan menjadi pangkal
teknik, mewujudkan apa yang dipikirkan oleh otak dan dirasa oleh qalb/hati.
Manusia terdiri dari dua unsur pokok, yakni gumpalan darah
(materi/badan) dan hembusan rûh (immateri). Satu unsur dengan unsur yang
lain merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat disebut
Manusia memang menarik untuk dikaji, baik itu yang berhubungan dengan jasmani
maupun rohani. Menurut Ibnu Sina, manusia terdiri dari dua bagian, yaitu badan dan jiwa; badan
akan rusak, sedang jiwa tidak. Manusia akan memperoleh kebahagiaan melalui jiwa yang bersih
atau tenang, dan akan memperoleh kesengsaraan melalui jiwa yang kotor atau tidak tenang. Begitu
juga dengan pekerjaan manusia, ia terdiri dari dua bagian pula, yaitu pekerjaan badan dan
pekerjaan jiwa. Dua pekerjaan iniakan sangat berpengaruh pada diri manusia itu sendiri. Kadang
dapat meninggikan derajat manusia dan kadang dapat merendahkan derajatnya. Jadi, dua pekerjaan
ini sangat tergantung kepada manusia itu sendiri ( lebih lanjut lihat Hakim Muda Harahap, Rahasia
al-Qur‟an ( menguak Alam Semesta, Manusia, Malaikat dan keruntuhan Alam), Depok :
manusia. Bagi sistem nafs (jiwa), rûh menjadi faktor penting bagi aktivitas diri
manusia ketika hidup di muka bumi ini.Sebab tanpa rûh, manusia sebagai
totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.
Rûh yaitu zat murni yang esensinya tinggi, hidup dan hakekatnya
berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra, sedang
rûh menyatu ke dalam tubuh sebagaimana menyatunya air ke dalam bunga,
tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh,
selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama misteri rûh menjadi
perdebatan di kalangan ulama Islam (teolog, filosof dan ahli sufi) yang
berusaha menyingkap dan membuka tabir keberadaannya. Mereka mencoba
mengupas dan melakukan kajian yang mendalam untuk mendapatkan
pengetahuan tentang hakekat rûh.
Menurut Abu Haitam rûh yaitu nafas yang berjalan di seluruh jasad
manusia. Dengan rûh ini manusia bisa hidup dan menggerakkan seluruh
anggota badannya. Manusia juga bisa meraba, merasa, mendengar, melihat,
dan lain sebagainya dengan adanya rûh ini . Jika rûh keluar dari jasad
manusia, manusia tidak akan bisa beraktifitas lagi atau dikatakan mati.
Menurut Al-Ghazali, rûh yaitu daya yang mendatangkan kehidupan.
Rûh seperti cahaya yang memanarkan sinarnya ke seluruh badan manusia.
Dengan sinar dari cahaya ini , anggota badan manusia dapat hidup.
Sebaliknya, apabila cahaya tersbut padam, semua anggota badan tidak akan
bisa bergerak. Dari beberapa penjelasan makna rûh ini , rûh merupakan
kekuatan penggerak atau motor bagi jasad manusia.
Informasi tentang rûh dalam al-Qur‟an lebih sedikit dibandingkan
dengan jiwa, kata rûh yang sedikit itu juga dipakai beberapa hal yang
berbeda. Rûh merupakan „sesuatu‟ yang menyebabkan manusia itu hidup, atau
bahasa lain sesuatu sesuatu yang menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang
tadinya mati. sesudah rûh ditiupkan ke dalam tubuh manusia, kemudian akan
muncul sifat-sifat ke-Tuhanan. Hal ini mengacu pada firman Allah, bahwa
Allah meniupkan rûh -Nya kedalam tubuh manusia dan kemudian
disempurnakan.
Sebagaimana firman Allah SWT berikut:
ِٔ أَلفٱَروَ ألَبصَ ٱلسَّمَعوَ ٱَوَجَعَلَلكممم ۦۖهم َونَ َفَخ ِفيِه ِمن رُّوِحهِ ُثمَّ َسوَّى . َدَةقَِليالمَّاَتشكمرمونَ ٔ
Artinya: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (namun ) kamu sedikit sekali bersyukur. (Qs as-
Sajadah: 9).
Dalam firman Allah disebutkan bahwa permasalahan rûh merupakan
urusan Allah, manusia hanya diberikan pengetahuan sedikit. Sebagaimana
dijelaskan dalam Q.s. al-Israa‟ ayat 85 sebagai berikut:
قَِليال ِإّلَّ لِعلمِ ٱ ِمنَ أموتِيتممَوَمآ َرِّب أَمرِ ِمن لرُّوحم ٱ قملِ ۖۖ لرُّوحِ ٱ َعنِ لموَنكَ ئَوَيس
Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:
"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit". (Q.s. al-Isra‟: 85).
Oleh sebab itu sudah jelas Allah menegaskan, manusia hanya diberi
sedikit pengetahuan yang mengkaji tentang yang ghaib.berdasar hal
ini , peneliti berusaha mengkaji dan meneliti informasi yang sedikit
ini untuk menemukan data-data lain di dalam kajian ini .
Persoalan rûh yaitu persoalan yang amat pelik, sehingga banyak
orang beranggapan bahwa soal ruh itu tidak perlu diperbincangkan,
membingungkan. Sungguh pun demikian, pada umumnya diakui bahwa rûh
yaitu suatu yang amat penting bagi kehidupan manusia. Dalam kaitan ini
timbul persoalan, jika rûh itu amat penting bagi manusia, bukankah ia harus
mengetahuinya? Jika manusia tidak dapat mengetahui sesuatu yang amat
penting baginya,bukankah itu berarti bahwa ia gagal memahami dirinya? Dan
dalam kondisi manusia gagal memahami dirinya, apakah layak ia diminta
pertanggungjawaban atas segala perbuatannya? Di sisi lain, ternyata Tuhan
seperti yang diajarkan oleh agama meminta pertanggungjawaban manusia atas
perbuatannya. Kenyataan ini mau tidak mau mengharuskan adanya
pengetahuan manusia memahami dirinya, memahami sesuatu yang amat
penting bagi dirinya, yaitu rûh. Jika tidak, ketentuan Tuhan meminta
pertanggungjawaban kepada manusia menjadi sia-sia dan kehilangan makna.
Dilihat dari sisi ini, maka ketentuan Tuhan untuk meminta
pertanggungjawaban manusia atas segalaperbuatannya tentu disertai dan
didasarkan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk
memahami dirinya, memahami segala akibat-akibat perbuatannya, memahami
sesuatu yang amat penting baginya yakni rûh.
Pembahasan rûh termuat dalam al-Qur‟an. Begitu hebatnya Al-Qur‟an
dan memang selayaknya kehidupan manusiaini berpedoman pada Al-Qur‟an,
untuk itu perlu menggali lebih dalam kandungan yang ada di dalam Al-
Qur‟an. Salah satu cara menggali isi kandungannya yaitu dengan
caramentafsirkannya.Sejak zaman sahabat, Al-Qur‟an ini telah digali bahkan
sampaisaat ini sudah begitu banyak ulama yang menafsirkan Al-Qur‟an
dengan gaya dan pola pemikiran masing-masing. Aidh Al-Qarni yaitu salah
satu dari sejumlah mufassir yang pernah ada yang memiliki pola pemikiran
tersendiri dalam menafsirkan ayat.
„Aidh al-Qarni merupakan seorang lama yang telah menjalani dakwah
Islam lebih dari seperempat abad ini masih mengajar pengajian hadis
Mukhtasharal-Bukhari, Mukhtashar Muslim, al-Muntakhab, al-Lu`lu` wa al-
Marjan dan jugamengajarkan ilmu akidah, sirah, fikih dalam pengajian-
pengajiannya di berbagai tempat.
Beliau juga menulis sebuah kitab Tafsir
bernama al-Muyassar.
Tafsir Muyassar merupakan tafsir al-Qur‟an karya „Aidh al-Qarni.
Melalui tafsir yang disajikan secara ringkas dan sederhana ini, `Aidh al-Qarni
berharap semakin banyak orang yang dapat memahami kandungan al-Qur`an.
Dalam kesederhanaannya, tafsir ini memberi banyak kemudahan bagi
pembaca untuk memahami makna dan kandungan setiap ayat, hubungan antar
ayat, hukum-hukum syariat yang tersurat maupun yang tersirat dari setiap
ayat, dan juga isyarat serta hikmah dari turunnya sebuah ayat atau sebuah
surah.
Banyak hal rumit yang ditemui dalam kitab-kitab tafsir lain sengaja
dihindari oleh mufasir. Misalnya, mufasir tidak menguraikan sebuah ayat dari
aspek bahasanya, pilihan kata dan masalah tatabahasa (nahwu-sharaf) nya, hal
ihwal satranya, maupun persoalan makna ayat-ayat mutasyâbih yang sering
menjadi bahan perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir. „Aidh al-Qarni
juga menghindari cerita-cerita isra`iliyat, riwayat-riwayat yang lemah, dan
berbagai riwayat yang masih diperselisihkan ke-otentikan-nya. Singkatnya,
dalam tafsir Muyassar langsung menuju kepada pokok persoalan dan mencoba
memberi kesimpulan secara jelas.
Hasil penafsiran antara ulama satu dengan ulama yang lainnya
memilikiperbedaan. Perbedan hasil penafsiran bukan hanya disebabkan oleh
pebedaantingkat atau latar belakang pendidikan seseorang, akan namun
penafsiran juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa sejarah, politik, dan
pemikiran yangberkembang, serta kondisi masyarakatnya. Demikian pula
tafsir sebagai hasilkarya manusia, terjadi keanekaragaman pendapat dan
pikiran penafsiran, baikperbedaan misi yang diemban, perbedaan latar
belakang ilmu yang dimiliki, situasi dan kondisi dan sebagainya. Sehingga
bila diamati setiap mufassir yang ada, mereka memiliki kecendrungan, metode
dan corak yang berbeda.
berdasar pentingnya pemahaman mengenai konsep rûh manusia
ini di atas dan juga keistimewaan tafsir Muyassar karya „Aidh al-Qarni
yang disajikan secara sederhana dan mudah dipahami oleh para pembacanya
maka penulis merasa perlu melakukan kajian mengenai bagaimana penafsiran
„Aidh al-Qarni tentang konsep rûh manusia dalam tafsirnya Muyassar yang
dituangkan dalam judul “Konsep rûh Menurut „Aidh al-Qarni dalam Tafsir Al-
Muyassar”.
Dengan memperhatikan topik yang ada, penulis berpendapat bahwa
kajian ini merupakan sebuah kajian yang cukup menarik untuk dibahas. Al-
Qarni yaitu seorang ulama yang telah menelurkan banyak karya. Salah satu
yang menjadi best seller yaitu karya la tahzan yang kontennya sangat
memotivasi para pembacanya dalam mengarungi kehidupan. Cara
penyampaian nilai-nilai dalam buku ini mudah untuk dipahami oleh
setiap pembacanya. Kemudian bagaimana Al-Qarni membahas tentang ruh
yang menjadi daya penggerak bagi aktifitas kehidupan manusia. Hal ini perlu
dilihat dalam cara beliau menafsirkan terminology rûh dalam tafsir Muyassar-
nya. Hal ini yang membuat peneliti tertarik dengan penafsiran rûh di dalam
tafsirnya. Melihat bahwa di dalam buku la tahzan-nya banyak memuat
motivasi hidup manusia. Dengan pertimbangan ini, peneliti tertarik menelisik
lebih jauh tentang rûh yang menjadi basis dasar kehidupan manusia di dunia
dan kehidupan manusia di akhirat kelak.
B. Rumusan Masalah
berdasar latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalah
yang berguna untuk dijadikan acuan dalam penyusunan skripsi ini. Rumusan
masalah ini yakni:
1. Bagaimana metode penafsiran dalam tafsir Muyassar karya „Aidh al-
Qarni?
2. Bagaimana konsep rûh dalam tafsir Muyassar karya „Aidh al-Qarni?
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dalam skripsi ini yaitu :
a. Manfaat secara teoritis, penelitian ini dapat memberi kontribusi
pengetahuan dan pemikiran dalam disiplin ilmu tafsir terutama
mengenai pemikiran „Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar tentang
konsep rûh.
b. Manfaat secara praktis, penelitian ini dapat memberi sumbangan
ilmu pengetahuan agama Islam terutama ilmu al-Qur‟an dan tafsir, dan
menambah wawasan bagi peneliti, sarjana muslim dan umat Islam
secara umum, dalam memberi perhatian terhadap harta anak yatim
menurut al-Qur‟an, yang dijelaskan oleh „Aidh al-Qarni dalam tafsir
Muyassar. Selain itu menambah keimanan umat Islam terhadap
kebenaran al-Qur‟an dengan menjelaskan bahwa al-Qur‟an dapat
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi ummatnya.
c. Menyuguhkan informasi tambahan kepada para pembaca tentang
penafsiran rûh dalam tafsir Muyassar.
D. Tinjauan Pustaka
Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian
penulis kemukakan supaya terlihat sumbangan pengetahuan dari penelitian ini.
Selain itu agar tidak terjadi pengulangan penelitian yang sudah pernah diteliti
oleh pihak lain dengan prmasalahan yang sama, diantaranya sebagai berikut:
1. Skripsi M. Iqbal Alam Islami, dengan judul “Konsep Rûh Dalam
Perspektif Hadis (Pemahaman Hadis Tentang Rûh dalam Kitab Ar- rûh
Karya Ibnul Qoyim Al-Jauziyah)”.
Dalam skripsi ini menjelaskan
bahwasannya secara garis besar, seluruh hadis yang ada dalam kitab ar-
rûh yaitu hadis hasan. Ibn Qayyim al-Jauziyah memakai istilah rûh
dan nafs untuk pengertian yang sama. Manusia memiiki tiga jiwa, yauti
nafs mutmainah, nafs lawwamah, dan nafs amarah.Pada hakekatnya
kehidupan rûh semua manusia melakukan perjalanan sangat panjang dari
alam rahim, kemudian di dunia hingga sampai meninggal. Semua manusia
hendaknya jangan terlena dengan keidupan di dunia yang bersifat
sementara. Setiap orang yang meninggal tidak terputus amalnya dan
pahala yang mengalir baginya disebabkan sebab ia memunyai ilmu yang
bermanfaat, anak-anak yang selalu mendoakannya dan shodaqoh jariyah
selama di dunia. Orang yang masih hidup juga dapat berinteraksi dengan
orang yang sudah meningggal seperti halnya bertemu di alam mimpi.
2. Skripsi Kholil Amin, dengan judul “Kesaksian Jiwa (Rûh) Menurut Al-
Qur‟an (Studi Analisis Tafsir Qs. Al-„Araaf: 172)”.
Dalam skripsi ini
disebutkan bahwa dalam Al-Qur‟an dalam surat al-„Araafayat 172,
mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap manusia,
dan bahwa hal ini merupakan fitrah manusia sejak asal kejadiannya.
Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid sejak azali (mengakui ke-
Esaan Allah), atau ia paling tidak berkecenderungan untuk mengesakan
Tuhan, sebab manusia sudah bersaksi dihadapan Allah. Semua manusia
kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban selama mereka
hidup di dunia. Tidak Islam, tidak Kristen, Budha, ateis sampai politeis.
3. Skripsi Sumarni, dengan judul “Makna Rûh dalam Eksistensi Manusia
(Studi Atas pandangan Taqiyuddin An-Nabhani)”.
Dalam skripsi ini
menjelaskan bahwasannya yang menjadi sumber masalah tentang makna
rûh di dunia tasawuf yaitu pemahaman bahwa manusia tersusun atas
materi atau jasad dan rûh. Rûh yang ada dalam diri manusia dan yang
membedakannya dengan manusia lain (orang kafir) tidak berkaitan
dengan rahasia hidup, dan bukan pula muncul dari rahasia hidup.
sedangakn rûh dengan pengertian kerohanian (ar- rûhaniyah) yang
ada dalam diri manusia bukanlah berupa sirrul hayah (rahasia
hidup/nyawa), bahkan tidak ada kaitannya dengan nyawa. rûh dalam
pengertian ini jelas merupakan sesuatu yang lain.
4. Skripsi Ubaidillah, dengan judul “Konsep Rûh dan Nafs (Studi Atas
Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Rûh dan Nafs)”.
dalam skripsi
ini menjelaskan bahwasannya Rûh bukanlah rahasia kehidupan, namun
rahasia kemanusiaan. Para ulama yang mengatakan bahwa rûh yaitu
rahasia kehidupan, semua ini terjadi disebabkan sebab kesamaran antara
istilah al- rûh dan al-nafs. Didalam kitab secara umum istilah al-nafs
dimaknakan dengan dua pengertian yang keduanya bisa dipahami dalam
konteks kalimat. Pertama, al-nafs sebagai entitas organic yang hidup yang
padanya berlaku fenomena kematian. Yang kedua, al-nafs yang khusus
untuk manusia semata yaitu jiwa yang mati dan memiliki pengobatan
khusus yang diistilahkan dengan psikoterapi. Al-nafs ini yaitu
gabungan dari rasa dengan indera dan di dalamnya ada cinta, benci, sakit
jiwa, santai, bahagia, dan derita. sedang ruh yaitu sebab bagi adanya
pengetahuan, pembebanan hukum, dan pemberian status kekhalifahan
sebab ia bersumber langsung dari Allah. Rûh bukanlah rahasia kehidupan
organik, akan namun merupakan rahasia kemanusiaan, yang tidak bisa
dihentikan oleh kematian. Peniupan rûh merupakan penyebab terjadinya
peralihan dari basyar menuju insan (peniupan ruh yaitu missing link
dalam teori Darwin mengenai proses terjadinya manusia). Al-fu‟ad, al-aql,
al-fikr, dan al-qalb yaitu sebagai simbol-simbol manusia.
berdasar hasil kajian-kajian penelitian terdahulu, maka penulis
berusaha mengangkat hal-hal yang belum dikaji dalam penelitian-penelitian
ini . Dalam penelitian ini lebih fokus pada konsep atau penafsiran „Aidh
al-Qarni mengenai konsep rûh manusia dalam tafsir Muyassar.
sesudah mengadakan penelusuran kepustakaan, peneliti menemukan
adanya perbedaan-perbedaan antara penelitian oleh peneliti sendiri dengan
penelitian-penelitian sebelumnya.
Dalam penelitian sebelumnnya oleh M. Iqbal Alam Islami objek
kajiannya yaitu konsep rûh dalam perspektif hadis ( pemahaman hadis
tentang rûh dalam kitab Ar- rûh karya Ibnul Qoyim Al-Jauziyah). Menjelaskan
bahwasannya secara garis besar, seluruh hadis yang ada dalam kitab ar- rûh
yaitu hadis hasan. sedang penelitian yang akan peneliti lakukan ialah
konsep ruh menurut „Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar.
Selanjutnya perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Kholil Amin terletak pada kajian surat yang
dikaji. Skripsi Kholil hanya meneliti tafsir QS. Al-„Araaf saja sedang
penelitian yang akan peneliti lakukan ialah ayat-ayat yang membahas
mengenai rûh manusia dalam tafsir Muyassar.
Adapun letak perbedaan penellitian yang dilakukan oleh Sumarni
dengan penelitian yang akan peneliti lakukan ialah terletak pada sumber
kajiannya. Penelitian Sumarni memakai tafsir yang dilakukan oleh
Taqiyuddin An-Nabhawi sedang penelitian yang akan peneliti lakukan
memakai sumber tafsir „Aidh al-Qarni yakni tafsir Muyassar.
sedang perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ubaidillah, dengan judul “Konsep Ruh dan Nafs (Studi Atas Penafsiran
Muhammad Syahrur Terhadap Rûh dan Nafs)” juga terletak pada sumber yang
dipakai . Penelitian yang akan peneliti lakukan memakai sumber
rujukan tafsir Muyassar oleh „Aidh al-Qarni sedang penelitian oleh
Ubaidillah memakai sumber rujukan dari pemikiran Muhammad Syahrur.
E. Metodologi Penelitan
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Untuk mendapatkan
kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dalam
penelitian ini metode yang dipakai sebagai berikut:
Sumber sekunder atau sumber pendukung dalam penelitian ini
yaitu buku-buku, skripsi, artikel-artikel ataupun jurnal-jurnal atau
hasil pemikiran dan penelitian lainnya yang memiliki relevansi dengan
penelitian ini. Contoh sumber sekunder yang dipakai dalam
penelitian ini yaitu :
1. Buku karya Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur'an, yang
diterbitkan oleh Paramadina pada tahun 2000.
2. Esiklopedi Islam yang diterbitkan olehpenerbit Ichtiar Van Hoeve
pada tahun 1994.
3. Buku karya M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur‟an : Tafsir
Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat, diterbitkan oleh Penerbit
Mizan pada tahun 2007.
4. Skripsi karya Ubaidillah, Konsep Rûh dan Nafs (Studi Atas
Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ruh dan Nafs),
penelitian dari mahasiswa Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan
Kalijaga, pada tahun 2004.
3. Metode Analisis Data
Sejalan dengan penelitiannya yaitu penelitian kepustakaan, maka
pengumpulan datanya dilakukan dengan metode dokumentasi,
yakni
dengan menelusuri sumber-sumber yang dijadikan sebagai bahan
penelitian yang berasal dari bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan
tema yang dibahas. sedang dalam menganalisis data memakai
metode content analysis yaitu data yang sudah terkumpul kemudian
diolah, namun sebelumnya data yang ada diseleksi dan diklasifikasikan
sesuai dengan permasalahan yang dikaji, kemudian baru di analisis sesuai
dengan data kualitatif yang sudah ada. Analisis kualitatif sesuai untuk
data deskriptif, yaitu data yang di analisis menurut isinya.
Adapun tahapan analisis isi yang ditempuh penulis yaitu dengan
langkah-langkah:
a. Menentukan permasalahan
b. Menyusun kerangka pemikiran
c. Menyusun perangkat metodologi
d. Analisis data
e. Interpretasi data.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memberi arahan dan gambaran yang jelas tentang hal-hal
yang ditulis dalam skripsi ini, berikut ini penulis jelaskan dalam sistematika
penulisan. Dan secara garis besar skripsi ini terdiri dari lima bab, tiap bab di
bagi menjadi sub bab, dan setiap sub bab memiliki pembahasan masing-
masing yang mana antara yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
Adapun lima bab yang dimaksud sebagai berikut:
Bab pertama, pendahuluan yang memuat; latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua, kajian teori yang memuat; deskripsi tentang ruh manusia,
pengertian rûh, ayat-ayat mengenai rûh, dan juga menjelaskan tentang rûh
menurut Al-Qur‟an.
Bab ketiga,pada bab ini memuat; biografi „Aidh al-Qarni dan latar
belakang pendidikan, sekilas tentang tafsir Muyassar dan karya-karya beliau
selain kitab tafsir yang menjadi objek pembahasan. Metode penafsiran dalam
tafsir muyassardan tentang bagaimana konsep rûh menurut „Aidh al-Qarni
dengan dalam tafsir muyasssar.
Bab keempat, merupakan bab penutup yang memuat; kesimpulan hasil
penelitian yang dijabarkan pada bab pembahasan, kemudian dilanjutkan
dengan saran-saran dan penutup.
DESKRIPSI TENTANG RÛH MANUSIA
A. Makna Rûh Menurut Bahasa dan Istilah
Kata rûh dalam bahasa Indonesia sering diucapkan dengan roh seakar kata dengan
kata rih ( ريح) yang berarti angin.
Oleh sebab itu rûh disebut juga dengan an-nafas yaitu
nafas atau nyawa.
Nafas atau nyawa yang ada dalam diri manusia laksana angin, bisa
dirasakan, tapi tidak bisa dilihat sebab saking halusnya. Di samping itu, rûh juga berarti
jiwa atau an-nafs.Bagi orang Arab, rûh menunjukkan arti laki-laki, sedang an-nafs
menunjukkan arti perempuan. Menurut Abu Haitham, rûh yaitu nafas yang berjalan
diseluruh jasad. Jika rûhnya keluar, maka manusia tidak bernafas.
Manusia terdiri dari rûh dan jasad, sebab nya Allah Swt menundukkan keduanya
secara keseluruhan, baik ketika di mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Rûh yaitu
makhluk. Beberapa hadits mengidentifikasikan bahwa rûh yaitu materi yang lembut.
Menurut al-Ragib al- Asfahaniy (w. 503 H/ 1108 M), diantara makna al- rûh
yaitu an-Nafs (jiwa manusia).
Makna disini yaitu dalam arti aspek atau dimensi, yaitu
bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia yaitu rûh. Hal ini dapat dipahami dari
analogi yang dipakai nya yang menyamakannya dengan al-Insan yaitu al-hayawan,
yaitu bahwa salah satu sisi manusia yaitu sisi kebinatangan, maka disebutlah ia dengan
al-hayawan al-natiq (hewan yang berbicara). Berbeda dengan itu, Ibnu Zakariya (w. 395
H/ 1004 M) menjelaskan bahwa kata al- rûh dan semua kata yang memiliki kata aslinya
terdiri dari huruf ra,waw, ha, memiliki arti dasar besar, luas dan asli.
Makna itu
mengisyaratkan bahwa al- rûh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia.
Menurut al-Ghazali, rûh yaitu daya yang mendatangkan kehidupan, disebut juga
dengan daya kebinatangan atau rûh binatang. Rûh laksana cahaya, ia telah mendatangkan
daya kehidupan terhadap seluruh organ atau anggota tubuh. Sementara itu, Ibnu Qoyyim
berpendapat bahwa rûh yaitu daya yang berbentuk cahaya yang dapat bergerak dari
dunia maknawi menuju badan yang bersifat materi. Rûh lah yang telah memberi
kehidupan pada jasmani sehingga dapat diraba dan dirasakan.
Allamah Thabathaba‟i selanjutnya mengemukakan pendapatnya tentang ayat al-
Isra‟ ayat 85:
٥٨ لِعلِم ِإَّلا َقِليالٱا أُوتِيُتم ميَن لرُّوُح ِمن أَمِر َرِّبي َومَ ٱُقِل ۖ لرُّوحِ ٱُلوَنَك َعِن ئَوَيس
85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"
Beliau menyatakan bahwa dari segi kebahasaan makna rûh yaitu sumber hidup
yang dengannya hewan (manusia dan binatang) merasa dan memiliki gerak yang
dikehendakinya. Kata ini juga dipakai untuk menunjuk hal-hal yang berdampak baik lagi
diinginkan. Beralasan dengan makna kata rûh, yang berlainan sesuai konteksnya,
Thabathaba‟i berkesimpulan bahwa rûh yang ditanyakan dalam al-Qur‟an surat al-Isra‟
ayat 85 yaitu berkaitan dengan hakikat rûh itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu
yaitu bahwa rûh itu urusan Tuhan dan ilmu yang dimiliki manusia berkaitan dengan
hakekat rûh tidak memadai. Rûh memiliki wilayah dalam wujud ini, memiliki
kekhususan dan ciri-ciri serta dampak dari alam raya ini yang sungguh indah dan
mengagumkan, namun ada tirai yang menghalangi manusia untuk mengetahuinya,
demikian menurut Thabatha‟i
Meskipun ada keterbatasan keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia,
terutama pada saat ini turun, menurut Quraish Shihab tidak berarti bahwa manusia tidak
boleh melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menyingkap makna rûh ini. Hal ini
dapat dilakukan sebab dewasa ini telah tersedia bagi pada ilmuwan sarana dan prasarana
yang akan dapat mengantarkan manusia untuk mencari jawaban atas pertanyaan tentang
rûh ini . akan namun apa yang kemudian dilakukan manusia untuk mengetahui
hakekat rûh ini dalam pengertian umum saja atau sampai hakikat yang detail? Sampai saat
ini hakekat dari rûh ini masih menjadi misteri dan yang diperoleh para ilmuwan baru
sampai pada hal-hal yang sifatnya umum saja.
Rûh Allah ini, seperti yang dinyatakan dalam ayat-ayat di atas, masuk ke dalam
diri manusia melalui suatu proses yang di dalam al-Qur‟an dipakai istilah al-Nafakh.
Secara bahasa nafakh berarti tiupan atau hembusan. Jadi Allah meniupkan atau
menghembuskan rûh-Nya kepada manusia. Pengertian bahasa seperti ini tidak tepat serta
tidak sesuai, sebab tidak mungkin bagi Allah melakukan aktifitas “tiupan” ataupun
„hembusan‟. Menurut al-Ghazali al-nafakh di sini tidak dapat diartikan secara harfiah,
sebab itu mustahil bagi Allah. Al-nafakh di sini dapat dilihat dari dua sisi. Dilihat dari sisi
Allah, al-nafakh yaitu kemurahan Allah (al-jud al-ilahi) yang memberi wujud
kepada sesuatu yang menerimanya. Al-jud ini mengalir dengan sendirinya (fayyad fi al-
nafsihi) atas segala hakekat yang diadakan-Nya. Dengan demikian, penciptaan ini bersifat
emanasi, yakni rûh mengalir dari zat Allah melalui al-jud al-ilahi kepada manusia tanpa
suatu perubahan pada diri Allah.
berdasar pengertian di atas maka yang dimaksud rûh yaitu sesuatu yang
menyebabkan manusia itu hidup, atau dengan kata lain ruh yaitu sesuatu yang
menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang tadinya mati.
B. Rûh dalam Perspektif Al-Qur’an
1. Macam-macam makna Rûh dalam Al-Qur‟an
Menurut M. Qiraish Shihab dalam tafsir al-Misbah bahwa kata rûh terulang di
dalam al-Qur‟an sebannyak dua puluh empat (24) kali
dengan berbagai konteks dan
berbagai makna, dan tidak semua berkaitan dengan manusia. Dalam al-Qodar
misalnya dibicarakan tentang tentang turunnya Malaikat dan rûh pada malam Lailat
al-Qadr. Ada juga tentang rûh yang membawa al-Qur‟an.
Kata al-rûh dalam al-Qur‟an dipakai dalam berbagai arti, yang pertama, kata
al-rûh dikaitkan dengan kata al-quds, seperti yang ini dalam ayat berikut :
Berbeda dengan Hakim Muda Harahap, menurut dia dalam al-Qur‟an ada 22 kata al-Ruh, yang
ini dalam 20 ayat. (lebih lanjut lihat Hakim Muda Harahap, Rahasia al-Qur‟an, menguak Alam Semesta,
Manusia, Malaikat dan keruntuhan Alam, Depok : Darul Hikmah,2007.hlm.110 ).
ۖ تَرجَ دَ َوَرَفَع بَعَضُهم ۖ للاوُ ٱَكلاَم مان مينُهم بَعض َعَلى بَعَضُهم لرُُّسُل َفضالَناٱتِلَك ۞
لاِذيَن ِمنٱ قَتَتلَ ٱللاُو َما ٱَوَلو َشاَء ۖ لُقُدسِ ٱبُِروِح وُ ِت َوأَيادنَ لبَ ي ينَ ٱبَن َمرََيَ ٱِعيَسى َوَءاتَيَنا
َوَلوَشاءَ ۖ َكَفرَ مان َءاَمَن َوِمنُهم مان ختَ َلُفوْا َفِمنُهمٱِكِن ُت َولَ لبَ ي ينَ ٱَجاَءهتُُم بَعِدِىم مين بَعِدَما
٣٨٢يُرِيدُ َما للاَو يَفَعلُ ٱِكنا قَتتَ ُلواْ َولَ ٱللاُو َما ٱ
Artinya: Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian
yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia)
dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.Dan Kami berikan
kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan
Ruhul Qudus.
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-
bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang
kepada mereka beberapa macam keterangan, akan namun mereka berselisih, maka
ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan namun
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Qs: Al-baqarah: 253).
11
Tentang al-rûh al-quds ada beberapa pendapat.Pertama, yang di maksud al-
rûh al-quds itu yaitu Malaikat Jibril.Kedua, kitab injil.Ketiga, rûh yang dapat
menghidupkan orang mati. Keempat, rûh yang di anugerah kan kepada Nabi Isa a.s.,
sebagai penghormatan kepadanya.
Yang kedua, kata al-rûh dikaitkan dengan kata al-Amin, seperti yang ini
pada ayat berikut:
٣٩٢ أَلِميُ ٱ لرُّوحُ ٱنَ َزَل ِبِو
Artinya : “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)”. (Q.s. as-Syu‟ara‟
(26): 193).
Yang dimaksud dengan ar-rûh al-Amin disini yaitu malaikat jibril yang
terpercaya untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi-Nabi Allah.
Maksudnya: kejadian Isa a.s. yaitu kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul
Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur mufasirin, bahwa Ruhul
Qudusitu ialah malaikat Jibril. ( lihat Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Al-Bayan
Selanjutnya, al-Qur‟an juga menyebutkan kata rûh sebagai sesuatu yang
dibawa Malaikat dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya.
٣ ت اُقونِ ٱفَ أَنَا ِإَّلا وَ ََّل إِلَ ۥأَناوُ َأن أَنِذُرواْ ۦِٓعَباِدهِ ِمن َمن َيَشاءُ َعَلى ۦلرُّوِح ِمن أَمرِهِ ٱِئَكَة بِ لَ ملٱ يُ نَ زيلُ
Artinya:“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan
perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya,
yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan aku, Maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". (Qs. Al-Nahl(16):
2).
َرجَ ٱ َرِفيعُ لتااَلقِ ٱلِيُنِذَر َيوَم ۦِعَباِدهِ ِمن َمن َيَشاءُ َعَلى ۦلرُّوَح ِمن أَمرِهِ ٱلَعرِش يُلِقي ٱِت ُذو لدا
٣٨
Artinya :“ (Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki 'Arsy, yang
mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan
(manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)”. (Qs. Al-Mu‟min [40]: 15).
Kata rûh, sebagai sesuatu dari perintah Allah yang disampaikan malaikat
kepada hamba-hamba Tuhan, itu memiliki pengertian wahyu Allah.
نُورا وُ ِكن َجَعلنَ ُن َولَ إِليَ ٱُب َوََّل لِكتَ ٱَما َتدرِي َماُكنتَ ۖ أَمرِنَا مين ُروحا إِلَيكَ ِلَك َأوَحيَناوََكذَ
ِدي ٨٣ مُّسَتِقيم طِصرَ ِإَل لََتهِدي َوِإناكَ ۖ ِعَباِدنَا ِمن َمن ناَشاءُ ۦبِوِ َّنا
Artinya : “ Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran)
dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab
(Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, namun kami menjadikan
Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di
antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus”.(Qs. Al Syura[42]: 52).
Di samping itu, kata rûh juga di pakai untuk menyatakan sesuatu yang
dihembuskan dari Tuhan ke dalam diri manusia, dan menjadi bagian dari diri manusia
dan selanjutnya tuhan jugamenjadikan untuknya penglihatan, pendengaran, dan hati.
Dalam al-Qur‟an, kata rûh baik dalam pengertian wahyu ataupun sesuatu yang
dihembuskan Tuhan ke dalam diri manusia, selalu diberikan keterangan sebagai amr
dari Tuhan. Secara jelas, al-Qur‟an memberi jawaban pertanyaan dalam ayat
berikut.
٥٨ لِعلِم ِإَّلا قَِليالٱميَن أُوتِيُتم َوَمآ َرِّبي لرُّوُح ِمن أَمرِ ٱُقِل ۖ لرُّوحِ ٱوَنَك َعِن لُ ئَوَيس
Artinya: “ Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit". (Qs. Al-Isra‟[17]: 85).
Jadi, rûh dalam al-Qur‟an diartikan secara tegas dan jelas sebagai amrdari
Tuhan.Oleh sebab itu, kata kunci untuk memahami apakah rûh itu yaitu terletak
pada kata amr. Dalam kaitan ini, penjelasan-penjelasan al-Qur‟an tentang amr
menjadi sangat penting untuk menyingkap dan memahami rûh itu. Tanpa pemahaman
yang lengkap tentang amr ini, pengertian rûh akan sulit dipahami.
Kata kunci amr berasal dari kata kerja amara yang artinya perintah. Dalam
bentuk imarah artinya yaitu kepemimpinan.Ulu al-Amrartinya yaitu al-ru‟asa,
para pemimpin. Dengan demikian, arti kata amr yaitu pimpinan, perintah, perkara,
dan urusan.
Dengan demikian maka ruh yaitu berasal dari perkara Allah. Kemudian
Allah mendifinisikan perkara-Nya dalam firman-Nya:
َا أَمرُهُ َوإِلَيوِ َمَلُكوُت ُكلي َشيء ۦلاِذي بَِيِدهِ ٱنَ َفُسبحَ ٥٣ ُكن فَ َيُكونُ ۥ َلوُ يَ ُقولَ َأن ائَشي ِإَذا أَرَادَ ۥِٓإَّنا
٥٢ تُرَجُعونَ
Artinya :“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu
hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci
(Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah
kamu dikembalikan ”. (Qs: Yasiin: 82-83).
Dengan demikian jelaslah bahwa; pertama,perkara Allah yaitu firman-Nya
terhadap sesuatu, yaitu “kun” (jadilah). “kun” yaitu kalimat penyebab maujud dan
maujud itu sendiri yaitu wujud sesuatu namun bukan dari segala segi melainkan dari
segi hubungannya kepada Allah dan pemeliharaan-Nya terhadapnya. Maka firman-
Nya yaitu perbuatan-Nya. berdasar dalil ini menunjukkan bahwa wujud sesuatu
yaitu firman Allah SWT dari segi hubungannya kepadaNya dan ketidak
bergantungannya kepada sebab-sebab yang lain. Jadi perkara Allah yaitu kalimat
samawi penyebab suatu maujud, dan perbuatan Allah SWT yang tak tergantung
dengan sebab-sebab alamiah dan tidak terikat dengan ruang dan waktu serta lainnya.
Kedua, Bahwa perkara Allah dalam setiap sesuatu yaitu malakut (supra natural)
segala sesuatu.Maka setiap sesuatu memiliki perkara.
Jadi, kata rûh yang dalam al-Qur‟an diberi penjelasan sebagai amr min Allah
memiliki pengertian pimpinan, perintah, perkara, dan urusan dari Allah. Fungsinya
tidak lain merupakan bimbingan dan petunjuk bagi manusia. Dalam pengertian
sebagai pembimbing atau pemberi petunjuk itulah, al-rûh dalam al-Qur‟an juga
dipakai untuk menyebut nama Malaikat, dengan sebutan al-rûh al-Amin, yaitu
malaikat Jibril yang bertugas membimbing para Nabi menurunkan dan mengajarkan
wahyu. Al-rûh juga diartikan sebagai wahyu yang terkumpul dalam kitab suci sebagai
pedoman hidup (way of life) bagi manusia.
Lalu, apakah rûh dari Tuhan yang dihembuskan dalam diri manusia itu? Jika
direnungkan dari ayat di atas (Qs. Al-Sajdah)32): 9, yang menghubungkan tiupan rûh
ke dalam diri manusia dengan dijadikannya pendengaran, penglihatan, dan hati,
dapatlah ditarik pengertian bahwa rûh itu yaitu pimpinan yang ada dalam diri
manusia, yang membimbing pendengaran, penglihatan, dan hatinya untuk memahami
kebenaran. Jadi, al-rûh dalam diri manusia yaitu bimbingan dan pimpinan Tuhan
dalam diri manusia.
2. Makna rûh yang berkaitan dengan manusia
Kata rûh dalam al-Qur‟an memiliki berbagai macam makna, namun dalam
penelitian ini penulis hanyaakan membahas mengenai makna rûh yang berkaitan
dengan manusia.
Rûh merupakan sesuatu yang menyebabkan manusia itu hidup, atau dengan
kata lain rûh yaitu sesuatu yang menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang tadinya
mati. Dengan adanya al-rûh dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi
makhluk yang istimewa, unik, dan mulia. Inilah yang disebut sebagai khalaqan
akhar, yaitu makhluk yang istimewa yang berbeda dengan mahluk lainnya. Al-Qur‟an
menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:
ضَغَة ِعظَ ٱَفَخَلقَنا لَعَلَقَة ُمضَغةٱلنُّطَفَة َعَلَقة َفَخَلقَنا ٱُُثا َخَلقَنا
ُ
وُ أَنَشأنَ ُُثا َم ََلمالِعظَ ٱما َفَكَسونَا مل
٣١ ِلِقيَ لَ ٱللاُو َأحَسُن ٱ فَ َتَباَركَ ۖ َءاَخرَ َخلًقا
Artinya: “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami
bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (Qs: Al-mu‟minun:
14).
Istilah khalqan akhar mengisyaratkan bahwa manusia berbeda dengan mahluk
lainnya, seperti hewan, sebab didalam jiwanya ada dimensi al-rûh. Proses
perkembangan fisik dan jiwa manusia,dalam ayat ini , sama dengan binatang.
namun semenjak ia menerima al-rûh, maka ia menjadi lain, sebab ia memiliki al-rûh.
Menurut M. Quraish Shihab (1364-…H/1944-…M), bahwa dengan ditiupkannya al-
rûh, maka manusia menjadi makhluk yang istimewa dan unik, yang berbeda dengan
mahluk lainnya. sedang nafs juga dimiliki makhluk lainnya, seperti orang hutan.
Kalau demikian, nafs bukan unsur yang menjadikan manusia makhluk unit dan
istemewa.
Isyarat ini dipahami dari ayat ini diatas dan juga ayat-ayat
tentang penciptaan Adam, seperti berikut:
Allah berfirman di dalam surat Al-Hijr : 29:
٣٩ ِجِدينَ سَ ۥَلوُ فَ َقُعواْ رُّوِحي ِمن ِفيوِ َونَ َفختُ ۥفَِإَذا َسوايُتوُ
Artinya:”Maka apabila Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan
ke dalamnya ruh (ciptaan ku) maka tunduk lah kamu kepadanya dengan
bersujud”.
Penciptaan janin manusia secara umum dijelaskan dalam Surat Al-Hijr ayat:9.
sesudah rûh ditiupkan, Allah memberi anugerah yang berwujud anggota badan
yang mulai berkembang. Surat Al-Hijr ayat:9 sebagai berikut:
٩ َتشُكُرونَ ماا قَِليال ۖ َدةَ ئألَفٱَر وَ ألَبصَ ٱلسامَع وَ ٱَوَجَعَل َلُكُم ۦ ُو َونَ َفَخ ِفيِو ِمن رُّوِحوِ ُُثا َسواى
Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati
namun kamu sedikit sekali yang bersyukur”
Ayat-ayat ini di atas, mengisyaratkan bahwa pengertian secara umum rûh
memiliki unsur material dan immaterial. Dalam surat al-Mu‟min: 14
ضَغَة ِعظَ ٱُمضَغة َفَخَلقَنا لَعَلَقةَ ٱلنُّطَفَة َعَلَقة َفَخَلقَنا ٱُُثا َخَلقَنا
ُ
َم ََلما ُُثا لِعظَ ٱما َفَكَسونَا مل
٣١ ِلِقيَ لَ ٱللاُو َأحَسُن ٱفَ َتَباَرَك ۖ ُو َخلًقا َءاَخرَ أَنَشأنَ
14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan
daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Ayat ini dapat dipahami bahwa sejak terjadinya pembuahan, yaitu
terjadinya pertemuan antara sel sperma dan sel telur, maka kehidupan telah dimulai.
sebab ia telah hidup, maka secara otomatis memiliki nafs, sebab setiap yang hidup
memiliki nafs. Proses masuknya rûh di dalam janin ketika janin ini berumur
sekitar 120 hari di dalam kandungan. Pada umur 120 hari ini , Allah
memeritahkan malaikat untuk meniupkan rûh ke dalam janin.
Rûh sangat multi dimensi yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Rûh dapat
keluar masuk ke dalam tubuh manusia. Rûh hidup sebelum tubuh manusia ada (Qs.
Al-A‟raf[7]: 172, al-Ahzab: 72). Kematian tubuh bukan berarti kematian rûh. Rûh l
masuk dalam tubuh manusia ketika tubuh ini siap menerimanya. Menurut hadist
Nabi, bahwa kesiapan itu ketika manusia berusia empat bulan dalam kandungan.,
Rûh yaitu rahasia kehidupan (nyawa), dan dia yaitu urusan Allah SWT. Allah
menempatkan rûh di dalam diri manusia dan menyandarkan pada zat-Nya. Allah
berfirman; Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan
kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya. (QS. Shaad:72). Maksudnya ruh dari ciptaan-Ku; bukan bermakna bagian
dari-Ku. Sebab Allah SWT berfirman,
٥٨لِعلِم ِإَّلا قَِليال ٱوتِيُتم ميَن لرُّوُح ِمن أَمِر َرِّبي َوَما أُ ٱُقِل
"Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit". (QS. Al-Israa': 85), yakni bahwa ruh itu tercipta dengan perintah
dari Allah.
Manusia tidak mampu menjangkau realitas rûh. Akan namun manusia dapat
memahami bahwa rûh itu ada dari penampakan-penampakannya (madzahir), yakni
tumbuh, bergerak, dan berkembang, yang semua itu menunjukkan eksistensi rûh. Rûh
yang menjadi rahasia kehidupan yaitu urusan Allah kepada materi yang terbentuk
menjadi tubuh manusia supaya bisa tumbuh, bergerak dan bereproduksi pada materi
itu.Selama potensi tumbuh, bergerak, dan berkembang ada dalam diri manusia maka,
dikatakan bahwa ia hidup, artinya ia memiliki ruh. Jika penampakan-penampakan itu
lenyap ia disebut mati, itu berarti tidak memiliki ruh.
3. Kedudukan Rûh Pada Manusia
Dalam banyak literatur Islam, arti rûh yang ada dalam ayat-ayat al-Qur‟an
yang berkaitan dengan penciptaan Adam as. dan keturunannya, dinyatakan bahwa rûh
Ruh yang berarti rahasia kehidupan yaitu urusan dari Allah kepada materi yang terbentuk menjadi tubuh
manusia supaya bisa tumbuh, bergerak dan bisa bereproduksi pada materi itu. Manusia tubuhnya akan kehilangan
kemampuan itu, ketika ruhnya diambil. Lihat Muhammad Husain Absullah, Mafahim Islamiyah,
itulah yang membuat manusia siap untuk memiliki sifat-sifat yang luhur dan
mengikuti kebenaran. Rûh merupakan unsur yang di dalamnya terkandung kesiapan
manusia untuk merealisasikan hal-hal yang paling luhur dan sifat-sifat yang paling
suci. rûh lah yang membuat manusia siap untuk membumbung tinggi melampui
peringkat hewan.
Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari seluruh makhluk
ciptaan Allah. Manusia, dalam beberapa hal, sama dengan hewan, misalnya keadaan
fisik dan emosinya untuk mempertahankan diri. Ruh yang ada dalam dirinya
menjadikan manusia cenderung mencari Allah dan rindu akan keutamaan yang akan
mengantarkannya mencapai kesempurnaan manusiawi. Oleh sebab itulah manusia
layak untuk menjadi khalifatullah di bumi ini. Pendek kata bahwa yang membedakan
manusia dari hewan yaitu percikan rûh dari Allah atas dirinya.
Rûh menurut al-Ghazali menunjukkan kelembutan ilahi (lathifah ilahiyyah) dan
berada dalam hati badaniah manusia. Rûh dimasukkan ke dalam tubuh melalui
saringan yang halus. Pengaruhnya terhadap tubuh yaitu seperti lilin di dalam kamar.
Tanpa meninggalkan tempatnya, cahayanya memancarkan sinar kehidupan bagi
seluruh tubuh. sebab rûh merupakan lathifah, maka ia merupakan suatu unsur ilahi.
Sebagai sesuatu yang halus, rûh merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi
dari manusia.
Sebagai konsekuensi bahwa rûh berasal dari Allah, maka ia memiliki sifat-sifat
yang dibawa dari asalnya ini . pada saat yang sama, kebutuhan manusia terhadap
agama juga merupakan suatu hal yang logis sebab berasal dari sumber yang sama,
yaitu Allah. Itulah sebabnya mengapa dalam agama keyakinan terhadap Allah
menempati prioritas yang utama bahkan sebagai porosnya. namun sebab tarikan-
tarikan fisik yang sangat kuat dan luar biasa dalam diri manusia, kesadaran ilahiyah
yang ada dalam dirinya menjadi tertimbun ke dasar yang paling dalam. Itulah
gambaran yang dilukiskan dalam surat at-Tin dengan pernyataan “kemudian kami
kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, yaitu pada keadaan ketika ruh
belum dihembuskan ke dalam dirinya.
l
٨ ِفِليَ سَ َأسَفلَ وُ ُُثا َرَددنَ
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka),(Q.S. At-Tin: 5).
Manusia berada dalam fitrahnya yang benar, demikian dikatakan oleh Abdul
Majid dkk. Ketika unsur rûh mengendalikan dan mengarahkan unsur jasmani. Ketika
itu rûh memberi pengetahuan, pengertian, kehendak, ikhtiar, dan ketetapan atau
keputusan atas sesuatu kepada jasmaninya. Manusia dikatakan tidak berada dalam
fitrahnya yang normal, ketika kecenderungan jasmani terlalu mendominasinya, dan
menguasai berbagai perilakunya. Terlebih ketika dominasi jasmani ini sampai
memadamkan lentera rûh dan petunjuk-petunjuknya, sehingga tertutuplah
pengetahuan, pengertian, kehendak, dan ikhtiar.
Dalam dua keadaan di atas, manusia telah menadi campuran yang saling
terkait. Dalam campuran itu, kadang-kadang dikuasai oleh nafsu jasmani dan pada
saat yang lain diarahkan oleh unsur rûh. Suatu saat manusia melakukan perbuatan
buruk




