• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Ruh 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruh 1. Tampilkan semua postingan

Ruh 1

 


Rûh yaitu  salah satu makhluk Allah yang tidak kasat mata. Banyak sekali 

rahasia-rahasia rûh yang harus dijelaskan secara rasional, agar manusia yang 

badannya dialiri oleh spirit rûh bisa mengetahui apa sebenarnya rûh itu. Di dalam 

Al-Qur‟an sudah termaktub bahwa Allah memberi pengetahuan kepada manusia 

tentang rûh hanya sedikit saja, yaitu pada surat Al-Isra‟: 85. Akan namun  di dalam 

Al-Qur‟an masih banyak ayat-ayat yang di dalamnya memuat kata rûh. Hal ini 

berarti eksistensi dan pengetahuan ruh masih bisa digali lagi. Penelitian yang 

dilakukan peneliti ini mengangkat judul Konsep Ruh Menurut „Aidh Al-Qarni 

dalam Tafsir Al-Muyassar. Al-Qarni yaitu  salah satu ulama‟ besar di Arab Saudi 

yang dianggap produktif dan progressif yang sampai saat ini masih hidup. Peneliti 

ingin mengetahui apakah Al-Qarni memiliki  progress konsep tentang rûh yang 

selama ini pembahasannya dianggap stagnan.  

Penelitian ini menerapkan library research, artinya penelitian yang 

dilakukan ini yaitu  berbasis pada literatur. Data primer sekaligus dijadikan objek 

pada penelitian ini yaitu  tafsir Al-Muyassar karya „Aidh Al-Qarni. Ground 

Theory yang dipakai  yaitu  tafsir ijmali, sebab  objek yang dipakai  

merupakan praktik dari tafsir ijmali. Kemudian semua ayat yang ada kata rûh di 

dalamnya dikumpulkan, kemudian dianalisis. Data-data yang telah dikumpulkan 

ini  kemudian dianalisa dengan analisis deskriptif. Artinya memberi   

deskriptif analisa terhadap obyek penelitian, dari data yang berhasil dikumpulkan 

untuk kemudian ditarik kesimpulan. 

Hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam meneliti ayat-ayat ruh 

dalam tafsir Muyassar yaitu  rûh memiliki  banyak makna di dalam Al-Qur‟an. 

Makna rûh menurut Al-Qarni diantaranya yaitu  rûh sebagai penggerak badan 

manusia, rûh dengan makna malaikat Jibril, dan rûh dengan arti wahyu Allah. 

Secara keseluruhan, pemaknaan rûh menurut „Aidh Al-Qarni tidak berbeda 

dengan para ulama‟ salaf. Hakikat rûh berbeda dengan jiwa (nafsun). Ruh yaitu  

penggerak positif yang mendorong manusia untuk sampai kepada Allah. 

sedang  Nafsun sifatnya fifty-fifty, kemungkinan bisa baik dan kemungkinan 

mendorong kepada hal yang buruk. Ini yaitu  hal yang bisa meningkatkan derajad 

sekaligus bisa menurunkan derajad manusia. Berbeda dengan rûh, tanpa rûh 

manusia tidak akan hidup. Peneliti berharap penelitian ini memberi  kontribusi 

bagi kahazanah keilmuan, khususnya dalam pemahaman rûh. Memahami rûh 

dengan pemahaman yang benar akan menghantarkan pada kuatnya iman kepada 

Allah swt. 

 

Al-Qur‟an akan selalu menjadi obyek kajian yang selalu mengundang 

perhatian dan pemikiran bagi para pemerhatinya. Hal itu tidak hanya 

disebabkan oleh posisinya sebagai scripture

 yang transenden semata, 

melainkan juga sebab  muatan nilainya yang tak pernah lekang dimakan 

zaman, shalih likulli zaman wa makan.sebab  itu, tak heran jika ia selalu 

dijadikan referensi utama untuk mengabsahkan perilaku, menjustifikasi 

tindakan perorangan maupun kolektif, melandasi berbagai aspirasi, 

memelihara berbagai harapan, dan juga memperkukuh identitas kolektif. Al-

Qur‟an yaitu  sumber dari segala sumber hukum bagi umat islam. 

Posisi signifikan itulah yang membuat al-Qur‟an tidak saja sebagai 

pusat wacana keislaman yang mendorong Umat Islam untuk melakukan 

interpretasi dan pengembangan makna ayat-ayatnya (gerak sentrifugal)

, tapi 

juga menjadikannya sebagai referensi utama dalam hidup (gerak 

sentripetal)

.sebab  itu, semenjak pewahyuannya hingga sekarang, al-Qur‟an 

menjadi produsen budaya yang telah banyak memberi  kontribusi 

terhadapperadaban umat Islam dalam kurun waktu 14 abad lebih.  

Al-Qur‟an sebagai kitab suci umat Islam merupakan kumpulan firman 

Allah (kalam Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. yang 

mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia. Diantara tujuan 

diturunkannya Al-Qur‟an yaitu  untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam 

mencapai kebahagiaan hidup, baik dunia maupun di akhirat kelak.


Agar tujuan itu dapat direalisasikan oleh manusia, maka al-Qur‟an 

datang dengan petunjuk-petunjuk, keterangan-keterangan, aturan-aturan, 

prinsip-prinsip dan konsep-konsep, baik yang bersifat global maupun yang 

terinci, yang eksplisit maupun implisit dalam berbagai persoalan dan bidang 

kehidupan.  

Akan namun , kendatipun al-Qur‟an mengandung berbagai ragam 

masalah, ternyata pembicaraannya tentang suatu masalah tidak selalu tersusun 

secara sistematis seperti halnya buku pengetahuan yang dikarang oleh 

manusia. Bahkan, dapat dikatakan bahwa al-Qur‟an yaitu  kitab yang paling 

tidak sistematis bila dilihat dari sudut metodologi ilmiah. Disamping tidak 

sistematis, al-Qur‟an juga jarang menyajikan suatu masalah secara terinci dan 

detail. Pembicaraan al-Qur‟an, pada umumnya bersifat global, partial, dan 

seringkali menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip pokoknya saja.

 Diantaranya yaitu  (1) Untuk membersihkan dan mensucikan jiwa dari segala bentuk 

syirik serta memantapkan keyakinan tentang ke-Esaan yang sempurna bagi Tuhan semesta alam. 

(2) Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia 

merupakan umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah swt dan 

pelaksanaan tugas kekhalifahan. (3) Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar 

suku atau bangsa, namun  kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan 

supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran , kesatuan kepribadian manusia, 

kesatuan kemerdekaan dan determinasi, kesatuan social, politik, dan ekonomi dan kesemuanya 

berada di bawah satu kesatuan, yaitu ke-Esaan Allah. (4) Untuk mengajak manusia berfikir dan 

bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan 

mufakat yang dipimpin hikmah kebijaksanaan.  (5) Untuk membasmi kemiskinan material dan 

spiritual, kebodohan, penyakit dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia 

dalam bidang social ,ekonomi, politik, dan juga agama. (6) Untuk memadukan kebenaran dan 

keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan social sebagai landasan 

pokok kehidupan masyarakat manusia. (7) Untuk memberi  jalan tengah antara falsafah kolektif 

komunisme, menciptakan Ummatan Wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah 

kemungkaran. (8) Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan suatu 

peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan Nur Ilahi. (lihat lebih lanjut M. 

Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an: Tafsir Maudhu‟I atas pelbagai persoalan Umat ,Bandung : 

Mizan,1996, hlm. 12-13) 

Manusia yaitu  mahluk yang paling unik dan penuh 

dengan misteri, baik dari segi fisiknya, karakteristiknya, potensi-potensi dan 

unsur-unsur yang mempengaruhinya. Membicarakan manusia yaitu  

pembicaraan yang tidak akan ada habisnya dan seolah tidak ada tepinya.Oleh 

sebab  itu manusia merupakan objek kajian yang tidak akanada habisnya.  

Jika kita membicarakan tentang hakekat manusia, maka akan muncul 

pertanyaan eksistensi manusia, apakah itu rûhnya, jiwanya atau jasadnya?. 

Pertanyaan ini  dijawab oleh dua sumber yaitu ilmu dan wahyu. Jawaban 

ilmu bersumber dari manusia sedang  wahyu bersumber dari Al-Qur‟an 

atau Tuhan. 

Manusia berasal dari unsur tanah, kemudian dimasukkannya rûh ke 

dalam jasmani ini , maka manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasad dan 

rûh. Kehidupan ruhaniah atau batiniah itu meyatakan diri pada pikiran dan 

perasaan dalam pengertian yang luas.


 

Secara keilmuan disebutkan, manusia terdiri dari jasad materi dan rûh 

yang yang tidak jauh beda dengan hewan, yang membedakannya yaitu  

manusia memiliki “jiwa” yang memungkinkan manusia berfikir dan hatinya 

dapat menjadi sumber penghayatan ruhaniah dan tangan menjadi pangkal 

teknik, mewujudkan apa yang dipikirkan oleh otak dan dirasa oleh qalb/hati.


 

Manusia terdiri dari dua unsur pokok, yakni gumpalan darah 

(materi/badan) dan hembusan rûh (immateri). Satu unsur dengan unsur yang 

lain merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat disebut 

                                                     

 Manusia memang menarik untuk dikaji, baik itu yang berhubungan dengan jasmani 

maupun rohani. Menurut Ibnu Sina, manusia terdiri dari dua bagian, yaitu badan dan jiwa; badan 

akan rusak, sedang jiwa tidak. Manusia akan memperoleh kebahagiaan melalui jiwa yang bersih 

atau tenang, dan akan memperoleh kesengsaraan melalui jiwa yang kotor atau tidak tenang. Begitu 

juga dengan pekerjaan manusia, ia terdiri dari dua bagian pula, yaitu pekerjaan badan dan 

pekerjaan jiwa. Dua pekerjaan iniakan sangat berpengaruh pada diri manusia itu sendiri. Kadang 

dapat meninggikan derajat manusia dan kadang dapat merendahkan derajatnya. Jadi, dua pekerjaan 

ini sangat tergantung kepada manusia itu sendiri ( lebih lanjut lihat Hakim Muda Harahap, Rahasia 

al-Qur‟an ( menguak Alam Semesta, Manusia, Malaikat dan keruntuhan Alam), Depok : 

manusia. Bagi sistem nafs (jiwa), rûh menjadi faktor penting bagi aktivitas diri 

manusia ketika hidup di muka bumi ini.Sebab tanpa rûh, manusia sebagai 

totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.

Rûh yaitu  zat murni yang esensinya tinggi, hidup dan hakekatnya 

berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra, sedang  

rûh menyatu ke dalam tubuh sebagaimana menyatunya air ke dalam bunga, 

tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh, 

selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama misteri rûh menjadi 

perdebatan di kalangan ulama Islam (teolog, filosof dan ahli sufi) yang 

berusaha menyingkap dan membuka tabir keberadaannya. Mereka mencoba 

mengupas dan melakukan kajian yang mendalam untuk mendapatkan 

pengetahuan tentang hakekat rûh. 

Menurut Abu Haitam rûh yaitu  nafas yang berjalan di seluruh jasad 

manusia. Dengan rûh ini manusia bisa hidup dan menggerakkan seluruh 

anggota badannya. Manusia juga bisa meraba, merasa, mendengar, melihat, 

dan lain sebagainya dengan adanya rûh ini . Jika rûh keluar dari jasad 

manusia, manusia tidak akan bisa beraktifitas lagi atau dikatakan mati.  

Menurut Al-Ghazali, rûh yaitu  daya yang mendatangkan kehidupan. 

Rûh seperti cahaya yang memanarkan sinarnya ke seluruh badan manusia. 

Dengan sinar dari cahaya ini , anggota badan manusia dapat hidup. 

Sebaliknya, apabila cahaya tersbut padam, semua anggota badan tidak akan 

bisa bergerak. Dari beberapa penjelasan makna rûh ini , rûh merupakan 

kekuatan penggerak atau motor bagi jasad manusia. 

Informasi tentang rûh dalam al-Qur‟an lebih sedikit dibandingkan 

dengan jiwa, kata rûh yang sedikit itu juga dipakai  beberapa hal yang 

berbeda. Rûh merupakan „sesuatu‟ yang menyebabkan manusia itu hidup, atau 

bahasa lain sesuatu sesuatu yang menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang 

tadinya mati. sesudah  rûh ditiupkan ke dalam tubuh manusia, kemudian akan 

muncul sifat-sifat ke-Tuhanan. Hal ini mengacu pada firman Allah, bahwa 

                                                    

Allah meniupkan rûh -Nya kedalam tubuh manusia dan kemudian 

disempurnakan.  

Sebagaimana firman Allah SWT berikut: 

 

ِٔ أَلفٱَروَ ألَبصَ  ٱلسَّمَعوَ ٱَوَجَعَلَلكممم ۦۖهم َونَ َفَخ ِفيِه ِمن رُّوِحهِ ُثمَّ َسوَّى    . َدَةقَِليالمَّاَتشكمرمونَ ٔ 

Artinya: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya 

roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, 

penglihatan dan hati; (namun ) kamu sedikit sekali bersyukur. (Qs as-

Sajadah: 9).

 

Dalam firman Allah disebutkan bahwa permasalahan rûh merupakan 

urusan Allah, manusia hanya diberikan pengetahuan sedikit. Sebagaimana 

dijelaskan dalam Q.s. al-Israa‟ ayat 85 sebagai berikut: 

 

 قَِليال ِإّلَّ  لِعلمِ ٱ ِمنَ  أموتِيتممَوَمآ  َرِّب  أَمرِ  ِمن لرُّوحم ٱ قملِ ۖۖ لرُّوحِ ٱ َعنِ  لموَنكَ ئَوَيس

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 

"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi 

pengetahuan melainkan sedikit". (Q.s. al-Isra‟: 85).


 Oleh sebab  itu sudah jelas Allah menegaskan, manusia hanya diberi 

sedikit pengetahuan yang mengkaji tentang yang ghaib.berdasar  hal 

ini , peneliti berusaha mengkaji dan meneliti informasi yang sedikit 

ini  untuk menemukan data-data lain di dalam kajian ini . 

Persoalan rûh yaitu  persoalan yang amat pelik, sehingga banyak 

orang beranggapan bahwa soal ruh itu tidak perlu diperbincangkan, 

membingungkan. Sungguh pun demikian, pada umumnya diakui bahwa rûh 

yaitu  suatu yang amat penting bagi kehidupan manusia. Dalam kaitan ini 

timbul persoalan, jika rûh itu amat penting bagi manusia, bukankah ia harus 

mengetahuinya? Jika manusia tidak dapat mengetahui sesuatu yang amat 

penting baginya,bukankah itu berarti bahwa ia gagal memahami dirinya? Dan 

                                                    

dalam kondisi manusia gagal memahami dirinya, apakah layak ia diminta 

pertanggungjawaban atas segala perbuatannya? Di sisi lain, ternyata Tuhan 

seperti yang diajarkan oleh agama meminta pertanggungjawaban manusia atas 

perbuatannya. Kenyataan ini mau tidak mau mengharuskan adanya 

pengetahuan manusia memahami dirinya, memahami sesuatu yang amat 

penting bagi dirinya, yaitu rûh. Jika tidak, ketentuan Tuhan meminta 

pertanggungjawaban kepada manusia menjadi sia-sia dan kehilangan makna. 

Dilihat dari sisi ini, maka ketentuan Tuhan untuk meminta 

pertanggungjawaban manusia atas segalaperbuatannya tentu disertai dan 

didasarkan kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk 

memahami dirinya, memahami segala akibat-akibat perbuatannya, memahami 

sesuatu yang amat penting baginya yakni rûh. 

Pembahasan rûh termuat dalam al-Qur‟an. Begitu hebatnya Al-Qur‟an 

dan memang selayaknya kehidupan manusiaini berpedoman pada Al-Qur‟an, 

untuk itu perlu menggali lebih dalam kandungan yang ada di dalam Al-

Qur‟an. Salah satu cara menggali isi kandungannya yaitu  dengan 

caramentafsirkannya.Sejak zaman sahabat, Al-Qur‟an ini telah digali bahkan 

sampaisaat ini sudah begitu banyak ulama yang menafsirkan Al-Qur‟an 

dengan gaya dan pola pemikiran masing-masing. Aidh Al-Qarni yaitu  salah 

satu dari sejumlah mufassir yang pernah ada yang memiliki pola pemikiran 

tersendiri dalam menafsirkan ayat. 

„Aidh al-Qarni merupakan seorang lama yang telah menjalani dakwah 

Islam lebih dari seperempat abad ini masih mengajar pengajian hadis 

Mukhtasharal-Bukhari, Mukhtashar Muslim, al-Muntakhab, al-Lu`lu` wa al-

Marjan dan jugamengajarkan ilmu akidah, sirah, fikih dalam pengajian-

pengajiannya di berbagai tempat.

Beliau juga menulis sebuah kitab Tafsir 

bernama al-Muyassar. 

Tafsir Muyassar merupakan tafsir al-Qur‟an karya „Aidh al-Qarni. 

Melalui tafsir yang disajikan secara ringkas dan sederhana ini, `Aidh al-Qarni 

                                                     

berharap semakin banyak orang yang dapat memahami kandungan al-Qur`an. 

Dalam kesederhanaannya, tafsir ini memberi  banyak kemudahan bagi 

pembaca untuk memahami makna dan kandungan setiap ayat, hubungan antar 

ayat, hukum-hukum syariat yang tersurat maupun yang tersirat dari setiap 

ayat, dan juga isyarat serta hikmah dari turunnya sebuah ayat atau sebuah 

surah. 

Banyak hal rumit yang ditemui dalam kitab-kitab tafsir lain sengaja 

dihindari oleh mufasir. Misalnya, mufasir tidak menguraikan sebuah ayat dari 

aspek bahasanya, pilihan kata dan masalah tatabahasa (nahwu-sharaf) nya, hal 

ihwal satranya, maupun persoalan makna ayat-ayat mutasyâbih yang sering 

menjadi bahan perbedaan pendapat di kalangan ulama tafsir. „Aidh al-Qarni 

juga menghindari cerita-cerita isra`iliyat, riwayat-riwayat yang lemah, dan 

berbagai riwayat yang masih diperselisihkan ke-otentikan-nya. Singkatnya, 

dalam tafsir Muyassar langsung menuju kepada pokok persoalan dan mencoba 

memberi  kesimpulan secara jelas.

 

Hasil penafsiran antara ulama satu dengan ulama yang lainnya 

memilikiperbedaan. Perbedan hasil penafsiran bukan hanya disebabkan oleh 

pebedaantingkat atau latar belakang pendidikan seseorang, akan namun  

penafsiran juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa sejarah, politik, dan 

pemikiran yangberkembang, serta kondisi masyarakatnya. Demikian pula 

tafsir sebagai hasilkarya manusia, terjadi keanekaragaman pendapat dan 

pikiran penafsiran, baikperbedaan misi yang diemban, perbedaan latar 

belakang ilmu yang dimiliki, situasi dan kondisi dan sebagainya. Sehingga 

bila diamati setiap mufassir yang ada, mereka memiliki kecendrungan, metode 

dan corak yang berbeda. 

berdasar  pentingnya pemahaman mengenai konsep rûh manusia 

ini  di atas dan juga keistimewaan tafsir Muyassar karya „Aidh al-Qarni 

yang disajikan secara sederhana dan mudah dipahami oleh para pembacanya 

maka penulis merasa perlu melakukan kajian mengenai bagaimana penafsiran 

                  

„Aidh al-Qarni tentang konsep rûh manusia dalam tafsirnya Muyassar yang 

dituangkan dalam judul “Konsep rûh Menurut „Aidh al-Qarni dalam Tafsir Al-

Muyassar”. 

Dengan memperhatikan topik yang ada, penulis berpendapat bahwa 

kajian ini merupakan sebuah kajian yang cukup menarik untuk dibahas. Al-

Qarni yaitu  seorang ulama yang telah menelurkan banyak karya. Salah satu 

yang menjadi best seller yaitu  karya la tahzan yang kontennya sangat 

memotivasi para pembacanya dalam mengarungi kehidupan. Cara 

penyampaian nilai-nilai dalam buku ini  mudah untuk dipahami oleh 

setiap pembacanya. Kemudian bagaimana Al-Qarni membahas tentang ruh 

yang menjadi daya penggerak bagi aktifitas kehidupan manusia. Hal ini perlu 

dilihat dalam cara beliau menafsirkan terminology rûh dalam tafsir Muyassar-

nya. Hal ini yang membuat peneliti tertarik dengan penafsiran rûh di dalam 

tafsirnya. Melihat bahwa di dalam buku la tahzan-nya banyak memuat 

motivasi hidup manusia. Dengan pertimbangan ini, peneliti tertarik menelisik 

lebih jauh tentang rûh yang menjadi basis dasar kehidupan manusia di dunia 

dan kehidupan manusia di akhirat kelak.  

B. Rumusan Masalah 

berdasar  latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalah 

yang berguna untuk dijadikan acuan dalam penyusunan skripsi ini. Rumusan 

masalah ini  yakni: 

1. Bagaimana metode penafsiran dalam tafsir Muyassar karya „Aidh al-

Qarni? 

2. Bagaimana konsep rûh dalam tafsir Muyassar karya „Aidh al-Qarni? 

 

2. Manfaat Penelitian 

Manfaat penelitian dalam skripsi ini yaitu : 

a. Manfaat secara teoritis, penelitian ini dapat memberi  kontribusi 

pengetahuan dan pemikiran dalam disiplin ilmu tafsir terutama 

mengenai pemikiran „Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar tentang 

konsep rûh. 

b. Manfaat secara praktis, penelitian ini dapat memberi  sumbangan 

ilmu pengetahuan agama Islam terutama ilmu al-Qur‟an dan tafsir, dan 

menambah wawasan bagi peneliti, sarjana muslim dan umat Islam 

secara umum, dalam memberi  perhatian terhadap harta anak yatim 

menurut al-Qur‟an, yang dijelaskan oleh „Aidh al-Qarni dalam tafsir 

Muyassar. Selain itu menambah keimanan umat Islam terhadap 

kebenaran al-Qur‟an dengan menjelaskan bahwa al-Qur‟an dapat 

menyelesaikan permasalahan yang dihadapi ummatnya. 

c. Menyuguhkan informasi tambahan kepada para pembaca tentang 

penafsiran rûh dalam tafsir Muyassar. 

D. Tinjauan Pustaka  

Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian 

penulis kemukakan supaya terlihat sumbangan pengetahuan dari penelitian ini. 

Selain itu agar tidak terjadi pengulangan penelitian yang sudah pernah diteliti 

oleh pihak lain dengan prmasalahan yang sama, diantaranya sebagai berikut:   

1. Skripsi M. Iqbal Alam Islami, dengan judul “Konsep Rûh Dalam 

Perspektif Hadis (Pemahaman Hadis Tentang Rûh dalam Kitab Ar- rûh 

Karya Ibnul Qoyim Al-Jauziyah)”.

Dalam skripsi ini menjelaskan 

bahwasannya secara garis besar, seluruh hadis yang ada dalam kitab ar- 

rûh yaitu  hadis hasan. Ibn Qayyim al-Jauziyah memakai  istilah rûh 

                                                     


dan nafs untuk pengertian yang sama. Manusia memiiki tiga jiwa, yauti 

nafs mutmainah, nafs lawwamah, dan nafs amarah.Pada hakekatnya 

kehidupan rûh semua manusia melakukan perjalanan sangat panjang dari 

alam rahim, kemudian di dunia hingga sampai meninggal. Semua manusia 

hendaknya jangan terlena dengan keidupan di dunia yang bersifat 

sementara. Setiap orang yang meninggal tidak terputus amalnya dan 

pahala yang mengalir baginya disebabkan sebab  ia memunyai ilmu yang 

bermanfaat, anak-anak yang selalu mendoakannya dan shodaqoh jariyah 

selama di dunia. Orang yang masih hidup juga dapat berinteraksi dengan 

orang yang sudah meningggal seperti halnya bertemu di alam mimpi. 

2. Skripsi Kholil Amin, dengan judul “Kesaksian Jiwa (Rûh) Menurut Al-

Qur‟an (Studi Analisis Tafsir Qs. Al-„Araaf: 172)”.

Dalam skripsi ini 

disebutkan bahwa dalam Al-Qur‟an dalam surat al-„Araafayat 172, 

mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap manusia, 

dan bahwa hal ini  merupakan fitrah manusia sejak asal kejadiannya. 

Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid sejak azali (mengakui ke-

Esaan Allah), atau ia paling tidak berkecenderungan untuk mengesakan 

Tuhan, sebab  manusia sudah bersaksi dihadapan Allah. Semua manusia 

kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban selama mereka 

hidup di dunia. Tidak Islam, tidak Kristen, Budha, ateis sampai politeis.  

3. Skripsi Sumarni, dengan judul “Makna Rûh dalam Eksistensi Manusia 

(Studi Atas pandangan Taqiyuddin An-Nabhani)”.


 Dalam skripsi ini 

menjelaskan bahwasannya yang menjadi sumber masalah tentang makna 

rûh di dunia tasawuf yaitu  pemahaman bahwa manusia tersusun atas 

materi atau jasad dan rûh. Rûh yang ada  dalam diri manusia dan yang 

membedakannya dengan manusia lain (orang kafir) tidak berkaitan 

dengan rahasia hidup, dan bukan pula muncul dari rahasia hidup. 

sedangakn rûh dengan pengertian kerohanian (ar- rûhaniyah) yang 

                                                     

ada  dalam diri manusia bukanlah berupa sirrul hayah (rahasia 

hidup/nyawa), bahkan tidak ada kaitannya dengan nyawa. rûh dalam 

pengertian ini jelas merupakan sesuatu yang lain. 

4. Skripsi Ubaidillah, dengan judul “Konsep Rûh dan Nafs (Studi Atas 

Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Rûh dan Nafs)”.


dalam skripsi 

ini menjelaskan bahwasannya Rûh bukanlah rahasia kehidupan, namun  

rahasia kemanusiaan. Para ulama yang mengatakan bahwa rûh yaitu  

rahasia kehidupan, semua ini terjadi disebabkan sebab  kesamaran antara 

istilah al- rûh dan al-nafs. Didalam kitab secara umum istilah al-nafs 

dimaknakan dengan dua pengertian yang keduanya bisa dipahami dalam 

konteks kalimat. Pertama, al-nafs sebagai entitas organic yang hidup yang 

padanya berlaku fenomena kematian. Yang kedua, al-nafs yang khusus 

untuk manusia semata yaitu jiwa yang mati dan memiliki  pengobatan 

khusus yang diistilahkan dengan psikoterapi. Al-nafs ini  yaitu  

gabungan dari rasa dengan indera dan di dalamnya ada cinta, benci, sakit 

jiwa, santai, bahagia, dan derita. sedang  ruh yaitu  sebab bagi adanya 

pengetahuan, pembebanan hukum, dan pemberian status kekhalifahan 

sebab  ia bersumber langsung dari Allah. Rûh bukanlah rahasia kehidupan 

organik, akan namun  merupakan rahasia kemanusiaan, yang tidak bisa 

dihentikan oleh kematian. Peniupan rûh merupakan penyebab terjadinya 

peralihan dari basyar menuju insan (peniupan ruh yaitu  missing link 

dalam teori Darwin mengenai proses terjadinya manusia). Al-fu‟ad, al-aql, 

al-fikr, dan al-qalb yaitu  sebagai simbol-simbol manusia. 

berdasar  hasil kajian-kajian penelitian terdahulu, maka penulis 

berusaha mengangkat hal-hal yang belum dikaji dalam penelitian-penelitian 

ini . Dalam penelitian ini lebih fokus pada konsep atau penafsiran „Aidh 

al-Qarni mengenai konsep rûh manusia dalam tafsir Muyassar. 

                                                     

sesudah  mengadakan penelusuran kepustakaan, peneliti menemukan 

adanya perbedaan-perbedaan antara penelitian oleh peneliti sendiri dengan 

penelitian-penelitian sebelumnya. 

Dalam penelitian sebelumnnya oleh M. Iqbal Alam Islami objek 

kajiannya yaitu  konsep rûh dalam perspektif  hadis ( pemahaman hadis 

tentang rûh dalam kitab Ar- rûh karya Ibnul Qoyim Al-Jauziyah). Menjelaskan 

bahwasannya secara garis besar, seluruh hadis yang ada dalam kitab ar- rûh 

yaitu  hadis hasan. sedang  penelitian yang akan peneliti lakukan ialah 

konsep ruh menurut „Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar. 

Selanjutnya  perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan dengan 

penelitian yang dilakukan oleh Kholil Amin terletak pada kajian surat yang 

dikaji. Skripsi Kholil hanya meneliti tafsir QS. Al-„Araaf saja sedang  

penelitian yang akan peneliti lakukan ialah ayat-ayat yang membahas 

mengenai rûh manusia dalam tafsir Muyassar.  

Adapun letak perbedaan penellitian yang dilakukan oleh Sumarni 

dengan penelitian yang akan peneliti lakukan ialah terletak pada sumber 

kajiannya. Penelitian Sumarni memakai  tafsir yang dilakukan oleh 

Taqiyuddin An-Nabhawi sedang  penelitian yang akan peneliti lakukan 

memakai  sumber tafsir „Aidh al-Qarni yakni tafsir Muyassar.  

sedang  perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh 

Ubaidillah, dengan judul “Konsep Ruh dan Nafs (Studi Atas Penafsiran 

Muhammad Syahrur Terhadap Rûh dan Nafs)” juga terletak pada sumber yang 

dipakai . Penelitian yang akan peneliti lakukan memakai  sumber 

rujukan tafsir Muyassar oleh „Aidh al-Qarni sedang  penelitian oleh 

Ubaidillah memakai  sumber rujukan dari pemikiran Muhammad Syahrur. 

E. Metodologi Penelitan  

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk 

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.


 Untuk mendapatkan 

                                                     

 

kajian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dalam 

penelitian ini metode yang dipakai  sebagai berikut: 


Sumber sekunder atau sumber pendukung dalam penelitian ini 

yaitu  buku-buku, skripsi, artikel-artikel ataupun jurnal-jurnal atau 

hasil pemikiran dan penelitian lainnya yang memiliki relevansi dengan 

penelitian ini. Contoh sumber sekunder yang dipakai  dalam 

penelitian ini yaitu : 

1.  Buku karya Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur'an, yang 

diterbitkan oleh Paramadina pada tahun 2000. 

2. Esiklopedi Islam yang diterbitkan olehpenerbit Ichtiar Van Hoeve 

pada tahun 1994. 

3. Buku karya M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur‟an : Tafsir 

Maudhu‟i atas Pelbagai Persoalan Umat, diterbitkan oleh  Penerbit 

Mizan pada tahun 2007. 

4. Skripsi karya Ubaidillah, Konsep Rûh dan Nafs (Studi Atas 

Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ruh dan Nafs), 

penelitian dari mahasiswa Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan 

Kalijaga, pada tahun 2004. 

3. Metode Analisis Data 

Sejalan dengan penelitiannya yaitu penelitian kepustakaan, maka 

pengumpulan datanya dilakukan dengan metode dokumentasi,

 yakni 

dengan menelusuri sumber-sumber yang dijadikan sebagai bahan 

penelitian yang berasal dari bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan 

tema yang dibahas. sedang  dalam menganalisis data memakai  

                                                    

metode content analysis yaitu data yang sudah terkumpul kemudian 

diolah, namun  sebelumnya data yang ada diseleksi dan diklasifikasikan 

sesuai dengan permasalahan yang dikaji, kemudian  baru di analisis sesuai 

dengan  data kualitatif yang  sudah ada. Analisis kualitatif sesuai untuk 

data deskriptif, yaitu data yang di analisis menurut isinya.

 

Adapun tahapan analisis isi yang ditempuh penulis yaitu  dengan 

langkah-langkah: 

a. Menentukan permasalahan 

b. Menyusun kerangka pemikiran 

c. Menyusun perangkat metodologi 

d. Analisis data 

e. Interpretasi data.


F. Sistematika Pembahasan 

Untuk memberi  arahan dan gambaran yang jelas tentang hal-hal 

yang ditulis dalam skripsi ini, berikut ini penulis jelaskan dalam sistematika 

penulisan. Dan secara garis besar skripsi ini terdiri dari lima bab, tiap bab di 

bagi menjadi sub bab, dan setiap sub bab memiliki  pembahasan masing-

masing yang mana antara yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. 

Adapun lima bab yang dimaksud  sebagai berikut: 

Bab pertama, pendahuluan yang memuat; latar belakang masalah, 

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika 

pembahasan. 

Bab kedua, kajian teori yang memuat; deskripsi tentang ruh manusia, 

pengertian rûh, ayat-ayat mengenai rûh, dan juga menjelaskan tentang rûh 

menurut Al-Qur‟an. 

Bab ketiga,pada bab ini memuat; biografi „Aidh al-Qarni dan latar 

belakang  pendidikan, sekilas tentang tafsir Muyassar dan karya-karya beliau 

                                                     

selain kitab tafsir yang menjadi objek pembahasan. Metode penafsiran dalam 

tafsir muyassardan tentang bagaimana konsep rûh menurut „Aidh al-Qarni 

dengan dalam tafsir muyasssar.  

Bab keempat, merupakan bab penutup yang memuat; kesimpulan hasil 

penelitian yang dijabarkan pada bab pembahasan, kemudian dilanjutkan 

dengan saran-saran dan penutup. 

 


DESKRIPSI TENTANG RÛH MANUSIA 

A. Makna Rûh Menurut Bahasa dan Istilah 

Kata rûh dalam bahasa Indonesia sering diucapkan dengan roh seakar kata dengan 

kata rih ( ريح) yang berarti angin.


Oleh sebab  itu rûh disebut juga dengan an-nafas yaitu 

nafas atau nyawa.

Nafas atau nyawa yang ada dalam diri manusia laksana angin, bisa 

dirasakan, tapi tidak bisa dilihat sebab  saking halusnya. Di samping itu, rûh juga berarti 

jiwa atau an-nafs.Bagi orang Arab, rûh menunjukkan arti laki-laki, sedang  an-nafs 

menunjukkan arti perempuan. Menurut Abu Haitham, rûh yaitu  nafas yang berjalan 

diseluruh jasad. Jika rûhnya keluar, maka manusia tidak bernafas.

 

Manusia terdiri dari rûh dan jasad, sebab nya Allah Swt menundukkan keduanya 

secara keseluruhan, baik ketika di mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Rûh yaitu  

makhluk. Beberapa hadits mengidentifikasikan bahwa rûh yaitu  materi yang lembut.  

Menurut al-Ragib al- Asfahaniy (w. 503 H/ 1108 M), diantara makna al- rûh 

yaitu  an-Nafs (jiwa manusia).


Makna disini yaitu  dalam arti aspek atau dimensi, yaitu 

bahwa sebagian aspek atau dimensi jiwa manusia yaitu  rûh. Hal ini dapat dipahami dari 

analogi yang dipakai nya yang menyamakannya dengan al-Insan yaitu  al-hayawan, 

yaitu bahwa salah satu sisi manusia yaitu  sisi kebinatangan, maka disebutlah ia dengan 

al-hayawan al-natiq (hewan yang berbicara). Berbeda dengan itu, Ibnu Zakariya (w. 395 

H/ 1004 M) menjelaskan bahwa kata al- rûh dan semua kata yang memiliki kata aslinya 

terdiri dari huruf ra,waw, ha, memiliki  arti dasar besar, luas dan asli.

Makna itu 

mengisyaratkan bahwa al- rûh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia. 

Menurut al-Ghazali, rûh yaitu  daya yang mendatangkan kehidupan, disebut juga 

dengan daya kebinatangan atau rûh binatang. Rûh laksana cahaya, ia telah mendatangkan 

daya kehidupan terhadap seluruh organ atau anggota tubuh. Sementara itu, Ibnu Qoyyim 

                                                          

 

berpendapat bahwa rûh yaitu  daya yang berbentuk cahaya yang dapat bergerak dari 

dunia maknawi menuju badan yang bersifat materi. Rûh lah yang telah memberi  

kehidupan pada jasmani sehingga dapat diraba dan dirasakan.


 

Allamah Thabathaba‟i selanjutnya mengemukakan pendapatnya tentang ayat al-

Isra‟ ayat 85: 

  ٥٨ لِعلِم ِإَّلا َقِليالٱا أُوتِيُتم ميَن لرُّوُح ِمن أَمِر َرِّبي َومَ ٱُقِل  ۖ  لرُّوحِ ٱُلوَنَك َعِن ئَوَيس

85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk 

urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" 

 

Beliau menyatakan bahwa dari segi kebahasaan makna rûh yaitu  sumber hidup 

yang dengannya hewan (manusia dan binatang) merasa dan memiliki gerak yang 

dikehendakinya. Kata ini juga dipakai untuk menunjuk hal-hal yang berdampak baik lagi 

diinginkan. Beralasan dengan makna kata rûh, yang berlainan sesuai konteksnya, 

Thabathaba‟i berkesimpulan bahwa rûh yang ditanyakan dalam al-Qur‟an surat al-Isra‟ 

ayat 85 yaitu  berkaitan dengan hakikat rûh itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu 

yaitu  bahwa rûh itu urusan Tuhan dan ilmu yang dimiliki manusia berkaitan dengan 

hakekat rûh tidak memadai. Rûh memiliki wilayah dalam wujud ini, memiliki  

kekhususan dan ciri-ciri serta dampak dari alam raya ini yang sungguh indah dan 

mengagumkan, namun  ada tirai yang menghalangi manusia untuk mengetahuinya, 

demikian menurut Thabatha‟i

 

Meskipun ada keterbatasan keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, 

terutama pada saat ini turun, menurut Quraish Shihab tidak berarti bahwa manusia tidak 

boleh melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menyingkap makna rûh ini. Hal ini 

dapat dilakukan sebab  dewasa ini telah tersedia bagi pada ilmuwan sarana dan prasarana 

yang akan dapat mengantarkan manusia untuk mencari jawaban atas pertanyaan tentang 

rûh ini . akan namun  apa yang kemudian dilakukan manusia untuk mengetahui 

hakekat rûh ini dalam pengertian umum saja atau sampai hakikat yang detail? Sampai saat 

                                                         

ini hakekat dari rûh ini  masih menjadi misteri dan yang diperoleh para ilmuwan baru 

sampai pada hal-hal yang sifatnya umum saja. 

Rûh Allah ini, seperti yang dinyatakan dalam ayat-ayat di atas, masuk ke dalam 

diri manusia melalui suatu proses yang di dalam al-Qur‟an dipakai  istilah al-Nafakh. 

Secara bahasa nafakh berarti tiupan atau hembusan. Jadi Allah meniupkan atau 

menghembuskan rûh-Nya kepada manusia. Pengertian bahasa seperti ini tidak tepat serta 

tidak sesuai, sebab tidak mungkin bagi Allah melakukan aktifitas “tiupan” ataupun 

„hembusan‟. Menurut al-Ghazali al-nafakh di sini tidak dapat diartikan secara harfiah, 

sebab itu mustahil bagi Allah. Al-nafakh di sini dapat dilihat dari dua sisi. Dilihat dari sisi 

Allah, al-nafakh yaitu  kemurahan Allah (al-jud al-ilahi) yang memberi  wujud 

kepada sesuatu yang menerimanya. Al-jud ini mengalir dengan sendirinya (fayyad fi al-

nafsihi) atas segala hakekat yang diadakan-Nya. Dengan demikian, penciptaan ini bersifat 

emanasi, yakni rûh mengalir dari zat Allah melalui al-jud al-ilahi kepada manusia tanpa 

suatu perubahan pada diri Allah.

berdasar  pengertian di atas maka yang dimaksud rûh yaitu  sesuatu yang 

menyebabkan manusia itu hidup, atau dengan kata lain ruh yaitu  sesuatu yang 

menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang tadinya mati. 

B. Rûh dalam Perspektif Al-Qur’an 

1. Macam-macam makna Rûh dalam Al-Qur‟an 

Menurut M. Qiraish Shihab dalam tafsir al-Misbah bahwa kata rûh terulang di 

dalam al-Qur‟an sebannyak dua puluh empat (24) kali

 dengan berbagai konteks dan 

berbagai makna, dan tidak semua berkaitan dengan manusia. Dalam al-Qodar 

misalnya dibicarakan tentang tentang turunnya Malaikat dan rûh pada malam Lailat 

al-Qadr. Ada juga tentang rûh yang membawa al-Qur‟an. 

Kata al-rûh dalam al-Qur‟an dipakai dalam berbagai arti, yang pertama, kata 

al-rûh dikaitkan dengan kata al-quds, seperti yang ini  dalam ayat berikut : 

                                                          

Berbeda dengan Hakim Muda Harahap, menurut dia dalam al-Qur‟an ada  22 kata al-Ruh, yang 

ini  dalam 20 ayat. (lebih lanjut lihat Hakim Muda Harahap, Rahasia al-Qur‟an, menguak Alam Semesta, 

Manusia, Malaikat dan keruntuhan Alam, Depok : Darul Hikmah,2007.hlm.110 ). 


 

 ۖ   تَرجَ  دَ  َوَرَفَع بَعَضُهم ۖ   للاوُ ٱَكلاَم  مان مينُهم بَعض َعَلى   بَعَضُهم لرُُّسُل َفضالَناٱتِلَك ۞

 لاِذيَن ِمنٱ قَتَتلَ ٱللاُو َما ٱَوَلو َشاَء  ۖ  لُقُدسِ ٱبُِروِح  وُ ِت َوأَيادنَ  لبَ ي ينَ  ٱبَن َمرََيَ ٱِعيَسى  َوَءاتَيَنا

 َوَلوَشاءَ  ۖ   َكَفرَ  مان َءاَمَن َوِمنُهم مان ختَ َلُفوْا َفِمنُهمٱِكِن ُت َولَ  لبَ ي ينَ  ٱَجاَءهتُُم  بَعِدِىم مين بَعِدَما

  ٣٨٢يُرِيدُ  َما للاَو يَفَعلُ ٱِكنا قَتتَ ُلواْ َولَ  ٱللاُو َما ٱ

Artinya: Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian 

yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) 

dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.Dan Kami berikan 

kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan 

Ruhul Qudus.

 Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-

bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang 

kepada mereka beberapa macam keterangan, akan namun  mereka berselisih, maka 

ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. 

Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan namun  

Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Qs: Al-baqarah: 253).

11

 

Tentang al-rûh al-quds ada beberapa pendapat.Pertama, yang di maksud al- 

rûh al-quds itu yaitu  Malaikat Jibril.Kedua, kitab injil.Ketiga, rûh yang dapat 

menghidupkan orang mati. Keempat, rûh yang di anugerah kan kepada Nabi Isa a.s., 

sebagai penghormatan kepadanya.


 

Yang kedua, kata al-rûh dikaitkan dengan kata al-Amin, seperti yang ini  

pada ayat berikut:  

  ٣٩٢ أَلِميُ ٱ لرُّوحُ ٱنَ َزَل ِبِو 

Artinya : “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)”. (Q.s. as-Syu‟ara‟ 

(26): 193).

 

Yang dimaksud dengan ar-rûh al-Amin disini yaitu  malaikat jibril yang 

terpercaya untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi-Nabi Allah. 

                                                          

 Maksudnya: kejadian Isa a.s. yaitu  kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul 

Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur mufasirin, bahwa Ruhul 

Qudusitu ialah malaikat Jibril. ( lihat Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Al-Bayan 

Selanjutnya, al-Qur‟an juga menyebutkan kata rûh sebagai sesuatu yang 

dibawa Malaikat dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya. 

  ٣ ت اُقونِ ٱفَ  أَنَا ِإَّلا  وَ ََّل إِلَ   ۥأَناوُ  َأن أَنِذُرواْ  ۦِٓعَباِدهِ  ِمن َمن َيَشاءُ  َعَلى   ۦلرُّوِح ِمن أَمرِهِ ٱِئَكَة بِ لَ  ملٱ يُ نَ زيلُ 

Artinya:“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan 

perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, 

yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) 

melainkan aku, Maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". (Qs. Al-Nahl(16): 

2). 

َرجَ  ٱ َرِفيعُ   لتااَلقِ ٱلِيُنِذَر َيوَم  ۦِعَباِدهِ  ِمن َمن َيَشاءُ  َعَلى   ۦلرُّوَح ِمن أَمرِهِ ٱلَعرِش يُلِقي ٱِت ُذو لدا

٣٨  

Artinya :“ (Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki  'Arsy, yang 

mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang 

dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan 

(manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)”. (Qs. Al-Mu‟min [40]: 15).  

Kata rûh, sebagai sesuatu dari perintah Allah yang disampaikan malaikat 

kepada hamba-hamba Tuhan, itu memiliki  pengertian wahyu Allah.  

 نُورا وُ ِكن َجَعلنَ  ُن َولَ  إِليَ  ٱُب َوََّل لِكتَ  ٱَما  َتدرِي َماُكنتَ  ۖ   أَمرِنَا مين ُروحا إِلَيكَ  ِلَك َأوَحيَناوََكذَ  

ِدي   ٨٣ مُّسَتِقيم طِصرَ   ِإَل   لََتهِدي َوِإناكَ  ۖ   ِعَباِدنَا ِمن َمن ناَشاءُ  ۦبِوِ  َّنا

Artinya : “ Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) 

dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab 

(Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, namun  kami menjadikan 

Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di 

antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi 

petunjuk kepada jalan yang lurus”.(Qs. Al Syura[42]: 52).  

Di samping itu, kata rûh juga di pakai untuk menyatakan sesuatu yang 

dihembuskan dari Tuhan ke dalam diri manusia, dan menjadi bagian dari diri manusia 

dan selanjutnya tuhan jugamenjadikan untuknya penglihatan, pendengaran, dan hati. 

Dalam al-Qur‟an, kata rûh baik dalam pengertian wahyu ataupun sesuatu yang 

dihembuskan Tuhan ke dalam diri manusia, selalu diberikan keterangan sebagai amr 

dari Tuhan. Secara jelas, al-Qur‟an memberi  jawaban pertanyaan dalam ayat 

berikut. 


 

  ٥٨ لِعلِم ِإَّلا قَِليالٱميَن  أُوتِيُتم َوَمآ َرِّبي  لرُّوُح ِمن أَمرِ ٱُقِل   ۖ   لرُّوحِ ٱوَنَك َعِن لُ ئَوَيس

Artinya: “ Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu 

termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan 

sedikit". (Qs. Al-Isra‟[17]: 85).  

Jadi, rûh dalam al-Qur‟an diartikan secara tegas dan jelas sebagai amrdari 

Tuhan.Oleh sebab  itu, kata kunci untuk memahami apakah rûh itu yaitu  terletak 

pada kata amr. Dalam kaitan ini, penjelasan-penjelasan al-Qur‟an tentang amr 

menjadi sangat penting untuk menyingkap dan memahami rûh itu. Tanpa pemahaman 

yang lengkap tentang amr ini, pengertian rûh akan sulit dipahami.

Kata kunci amr berasal dari kata kerja amara yang artinya perintah. Dalam 

bentuk imarah artinya yaitu  kepemimpinan.Ulu al-Amrartinya yaitu  al-ru‟asa, 

para pemimpin. Dengan demikian, arti kata amr yaitu  pimpinan, perintah, perkara, 

dan urusan. 

Dengan demikian maka ruh yaitu  berasal dari perkara Allah. Kemudian 

Allah mendifinisikan perkara-Nya dalam firman-Nya:  

َا أَمرُهُ   َوإِلَيوِ  َمَلُكوُت ُكلي َشيء ۦلاِذي بَِيِدهِ  ٱنَ َفُسبحَ   ٥٣ ُكن فَ َيُكونُ  ۥ َلوُ  يَ ُقولَ  َأن ائَشي ِإَذا أَرَادَ  ۥِٓإَّنا

  ٥٢ تُرَجُعونَ 

Artinya :“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu 

hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. Maka Maha Suci 

(Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah 

kamu dikembalikan ”. (Qs: Yasiin: 82-83). 

Dengan demikian jelaslah bahwa; pertama,perkara Allah yaitu  firman-Nya 

terhadap sesuatu, yaitu “kun” (jadilah). “kun” yaitu  kalimat penyebab maujud dan 

maujud itu sendiri yaitu  wujud sesuatu namun  bukan dari segala segi melainkan dari 

segi hubungannya kepada Allah dan pemeliharaan-Nya terhadapnya. Maka firman-

Nya yaitu  perbuatan-Nya. berdasar  dalil ini menunjukkan bahwa wujud sesuatu 

                                                          

yaitu  firman Allah SWT dari segi hubungannya kepadaNya dan ketidak 

bergantungannya kepada sebab-sebab yang lain. Jadi perkara Allah yaitu  kalimat 

samawi penyebab suatu maujud, dan perbuatan Allah SWT yang tak tergantung 

dengan sebab-sebab alamiah dan tidak terikat dengan ruang dan waktu serta lainnya. 

Kedua, Bahwa perkara Allah dalam setiap sesuatu yaitu  malakut (supra natural) 

segala sesuatu.Maka setiap sesuatu memiliki perkara.

Jadi, kata rûh yang dalam al-Qur‟an diberi penjelasan sebagai amr min Allah 

memiliki  pengertian pimpinan, perintah, perkara, dan urusan dari Allah. Fungsinya 

tidak lain merupakan bimbingan dan petunjuk bagi manusia. Dalam pengertian 

sebagai pembimbing atau pemberi petunjuk itulah, al-rûh dalam al-Qur‟an juga 

dipakai untuk menyebut nama Malaikat, dengan sebutan al-rûh al-Amin, yaitu 

malaikat Jibril yang bertugas membimbing para Nabi menurunkan dan mengajarkan 

wahyu. Al-rûh juga diartikan sebagai wahyu yang terkumpul dalam kitab suci sebagai 

pedoman hidup (way of life) bagi manusia. 

Lalu, apakah rûh dari Tuhan yang dihembuskan dalam diri manusia itu? Jika 

direnungkan dari ayat di atas (Qs. Al-Sajdah)32): 9, yang menghubungkan tiupan  rûh 

ke dalam diri manusia dengan dijadikannya pendengaran, penglihatan, dan hati, 

dapatlah ditarik pengertian bahwa rûh itu yaitu  pimpinan yang ada dalam diri 

manusia, yang membimbing pendengaran, penglihatan, dan hatinya untuk memahami 

kebenaran. Jadi, al-rûh dalam diri manusia yaitu  bimbingan dan pimpinan Tuhan 

dalam diri manusia. 

2. Makna rûh yang berkaitan dengan manusia 

Kata rûh dalam al-Qur‟an memiliki  berbagai macam makna, namun dalam 

penelitian ini penulis hanyaakan membahas mengenai makna rûh yang berkaitan 

dengan manusia. 

Rûh merupakan sesuatu yang menyebabkan manusia itu hidup, atau dengan 

kata lain rûh yaitu  sesuatu yang menyebabkan sesuatu menjadi hidup yang tadinya 

                                                         

mati. Dengan adanya al-rûh dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi 

makhluk yang istimewa, unik, dan mulia. Inilah yang disebut sebagai khalaqan 

akhar, yaitu makhluk yang istimewa yang berbeda dengan mahluk lainnya. Al-Qur‟an 

menjelaskan hal ini dalam ayat berikut:  

ضَغَة ِعظَ  ٱَفَخَلقَنا  لَعَلَقَة ُمضَغةٱلنُّطَفَة َعَلَقة َفَخَلقَنا ٱُُثا َخَلقَنا 

ُ

 وُ أَنَشأنَ   ُُثا  َم ََلمالِعظَ  ٱما َفَكَسونَا مل

  ٣١ ِلِقيَ لَ  ٱللاُو َأحَسُن ٱ فَ َتَباَركَ  ۖ   َءاَخرَ  َخلًقا

Artinya: “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu 

saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang 

disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan 

segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan 

segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami 

bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) 

lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (Qs: Al-mu‟minun: 

14). 

Istilah khalqan akhar mengisyaratkan bahwa manusia berbeda dengan mahluk 

lainnya, seperti hewan, sebab  didalam jiwanya ada  dimensi al-rûh. Proses 

perkembangan fisik dan jiwa manusia,dalam ayat ini , sama dengan binatang. 

namun  semenjak ia menerima al-rûh, maka ia menjadi lain, sebab  ia memiliki al-rûh. 

Menurut M. Quraish Shihab (1364-…H/1944-…M), bahwa dengan ditiupkannya al-

rûh, maka manusia menjadi makhluk yang istimewa dan unik, yang berbeda dengan 

mahluk lainnya. sedang  nafs juga dimiliki makhluk lainnya, seperti orang hutan. 

Kalau demikian, nafs bukan unsur yang menjadikan manusia makhluk unit dan 

istemewa.

 Isyarat ini  dipahami dari ayat ini  diatas dan juga ayat-ayat 

tentang penciptaan Adam, seperti berikut:  

 

Allah berfirman di dalam surat Al-Hijr : 29: 

  ٣٩ ِجِدينَ سَ   ۥَلوُ  فَ َقُعواْ  رُّوِحي ِمن ِفيوِ  َونَ َفختُ  ۥفَِإَذا َسوايُتوُ 

                                                          


 

Artinya:”Maka apabila Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan 

ke dalamnya ruh (ciptaan ku) maka tunduk lah kamu kepadanya dengan 

bersujud”.


 

Penciptaan janin manusia secara umum dijelaskan dalam Surat Al-Hijr ayat:9. 

sesudah  rûh ditiupkan, Allah memberi  anugerah yang berwujud anggota badan 

yang mulai berkembang. Surat Al-Hijr ayat:9 sebagai berikut: 

  ٩ َتشُكُرونَ  ماا قَِليال ۖ   َدةَ ئألَفٱَر وَ ألَبصَ  ٱلسامَع وَ ٱَوَجَعَل َلُكُم  ۦ ُو َونَ َفَخ ِفيِو ِمن رُّوِحوِ ُُثا َسواى  

Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh 

(ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati 

namun  kamu sedikit sekali yang bersyukur”


 

Ayat-ayat ini  di atas, mengisyaratkan bahwa pengertian secara umum rûh 

memiliki unsur material dan immaterial. Dalam surat al-Mu‟min: 14  

ضَغَة ِعظَ  ٱُمضَغة َفَخَلقَنا  لَعَلَقةَ ٱلنُّطَفَة َعَلَقة َفَخَلقَنا ٱُُثا َخَلقَنا 

ُ

َم ََلما ُُثا لِعظَ  ٱما َفَكَسونَا مل

  ٣١ ِلِقيَ لَ  ٱللاُو َأحَسُن ٱفَ َتَباَرَك  ۖ  ُو َخلًقا َءاَخرَ أَنَشأنَ  

14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal 

darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami 

jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan 

daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka 

Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. 

Ayat ini  dapat dipahami bahwa sejak terjadinya pembuahan, yaitu 

terjadinya pertemuan antara sel sperma dan sel telur, maka kehidupan telah dimulai. 

sebab  ia telah hidup, maka secara otomatis memiliki nafs, sebab setiap yang hidup 

memiliki nafs. Proses masuknya rûh di dalam janin ketika janin ini  berumur 

sekitar 120 hari di dalam kandungan. Pada umur 120 hari ini , Allah 

memeritahkan malaikat untuk meniupkan rûh ke dalam janin.  

Rûh sangat multi dimensi yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Rûh dapat 

keluar masuk ke dalam tubuh manusia. Rûh hidup sebelum tubuh manusia ada (Qs. 

Al-A‟raf[7]: 172, al-Ahzab: 72). Kematian tubuh bukan berarti kematian rûh. Rûh l

masuk dalam tubuh manusia ketika tubuh ini  siap menerimanya. Menurut hadist 

Nabi, bahwa kesiapan itu ketika manusia berusia empat bulan dalam kandungan.,

 

Rûh yaitu  rahasia kehidupan (nyawa), dan dia yaitu  urusan Allah SWT. Allah 

menempatkan rûh di dalam diri manusia dan menyandarkan pada zat-Nya. Allah 

berfirman; Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan 

kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud 

kepadanya. (QS. Shaad:72). Maksudnya ruh dari ciptaan-Ku; bukan bermakna bagian 

dari-Ku. Sebab Allah SWT berfirman,  

 

  ٥٨لِعلِم ِإَّلا قَِليال ٱوتِيُتم ميَن لرُّوُح ِمن أَمِر َرِّبي َوَما أُ ٱُقِل 

"Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan 

melainkan sedikit". (QS. Al-Israa': 85), yakni bahwa ruh itu tercipta dengan perintah 

dari Allah.

 

Manusia tidak mampu menjangkau realitas rûh. Akan namun  manusia dapat 

memahami bahwa rûh itu ada dari penampakan-penampakannya (madzahir), yakni 

tumbuh, bergerak, dan berkembang, yang semua itu menunjukkan eksistensi rûh. Rûh 

yang menjadi rahasia kehidupan yaitu  urusan Allah kepada materi yang terbentuk 

menjadi tubuh manusia supaya bisa tumbuh, bergerak dan bereproduksi pada materi 

itu.Selama potensi tumbuh, bergerak, dan berkembang ada dalam diri manusia maka, 

dikatakan bahwa ia hidup, artinya ia memiliki ruh. Jika penampakan-penampakan itu 

lenyap ia disebut mati, itu berarti tidak memiliki ruh.


 

3. Kedudukan Rûh Pada Manusia 

Dalam banyak literatur Islam, arti rûh yang ada  dalam ayat-ayat al-Qur‟an 

yang berkaitan dengan penciptaan Adam as. dan keturunannya, dinyatakan bahwa rûh 

                                                          

Ruh yang berarti rahasia kehidupan yaitu  urusan dari Allah kepada materi yang terbentuk menjadi tubuh 

manusia supaya bisa tumbuh, bergerak dan bisa bereproduksi pada materi itu. Manusia tubuhnya akan kehilangan 

kemampuan itu, ketika ruhnya diambil. Lihat Muhammad Husain Absullah, Mafahim Islamiyah, 

 

itulah yang membuat manusia siap untuk memiliki  sifat-sifat yang luhur dan 

mengikuti kebenaran. Rûh  merupakan unsur yang di dalamnya terkandung kesiapan 

manusia untuk merealisasikan hal-hal yang paling luhur dan sifat-sifat yang paling 

suci. rûh lah yang membuat manusia siap untuk membumbung tinggi melampui 

peringkat hewan. 

Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan dari seluruh makhluk 

ciptaan Allah. Manusia, dalam beberapa hal, sama dengan hewan, misalnya keadaan 

fisik dan emosinya untuk mempertahankan diri. Ruh yang ada dalam dirinya 

menjadikan manusia cenderung mencari Allah dan rindu akan keutamaan yang akan 

mengantarkannya mencapai kesempurnaan manusiawi. Oleh sebab  itulah manusia 

layak untuk menjadi khalifatullah di bumi ini. Pendek kata bahwa yang membedakan 

manusia dari hewan yaitu  percikan rûh dari Allah atas dirinya.

 

Rûh menurut al-Ghazali menunjukkan kelembutan ilahi (lathifah ilahiyyah) dan 

berada dalam hati badaniah manusia. Rûh dimasukkan ke dalam tubuh melalui 

saringan yang halus. Pengaruhnya terhadap tubuh yaitu  seperti lilin di dalam kamar. 

Tanpa meninggalkan tempatnya, cahayanya memancarkan sinar kehidupan bagi 

seluruh tubuh. sebab  rûh merupakan lathifah, maka ia merupakan suatu unsur ilahi. 

Sebagai sesuatu yang halus, rûh merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi 

dari manusia. 

Sebagai konsekuensi bahwa rûh berasal dari Allah, maka ia memiliki sifat-sifat 

yang dibawa dari asalnya ini . pada saat yang sama, kebutuhan manusia terhadap 

agama juga merupakan suatu hal yang logis sebab  berasal dari sumber yang sama, 

yaitu Allah. Itulah sebabnya mengapa dalam agama keyakinan terhadap Allah 

menempati prioritas yang utama bahkan sebagai porosnya. namun  sebab  tarikan-

tarikan fisik yang sangat kuat dan luar biasa dalam diri manusia, kesadaran ilahiyah 

yang ada dalam dirinya menjadi tertimbun ke dasar yang paling dalam. Itulah 

gambaran yang dilukiskan dalam surat at-Tin dengan pernyataan “kemudian kami 

kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”, yaitu pada keadaan ketika ruh 

belum dihembuskan ke dalam dirinya. 

                                                          l

  ٨ ِفِليَ سَ   َأسَفلَ  وُ ُُثا َرَددنَ  

 

5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya 

(neraka),(Q.S. At-Tin: 5). 

Manusia berada dalam fitrahnya yang benar, demikian dikatakan oleh Abdul 

Majid dkk. Ketika unsur rûh mengendalikan dan mengarahkan unsur jasmani. Ketika 

itu rûh memberi  pengetahuan, pengertian, kehendak, ikhtiar, dan ketetapan atau 

keputusan atas sesuatu kepada jasmaninya. Manusia dikatakan tidak berada dalam 

fitrahnya yang normal, ketika kecenderungan jasmani terlalu mendominasinya, dan 

menguasai berbagai perilakunya. Terlebih ketika dominasi jasmani ini  sampai 

memadamkan lentera rûh dan petunjuk-petunjuknya, sehingga tertutuplah 

pengetahuan, pengertian, kehendak, dan ikhtiar.

Dalam dua keadaan di atas, manusia telah menadi campuran yang saling 

terkait. Dalam campuran itu, kadang-kadang dikuasai oleh nafsu jasmani dan pada 

saat yang lain diarahkan oleh unsur rûh. Suatu saat manusia melakukan perbuatan 

buruk