�َةَِايََدََىَِ،َوَََّْيََِنَمَِؤَْمَُلَْاَلًَِتَْيَِبَثَْ،َت َََلَِدَْلعََاَْوََ
42ّْيََمَِالََلعََاَْ
Penafsiran rûh pada ayat ini ditafsirkan dengan bal nazzalahu Jibrilu min
rabbika. Hal ini menjelaskan bahwa kata rûh pada ayat ini yaitu Jibril yang
menjadi perantara turunnya al-Qur‟an hingga sampai kepada Nabi Muhammad
dengan adil dan benar.
Rûh di dalam Al-Qur‟an juga ditafsiri al-Qarni dengan tafasiran iman. Hal ini
hanya ada pada satu ayat pada surat al-Mujyaitu ayat: 22. Bunyi ayat ini
yaitu :
َبَِ َيُؤِمُنوَن ََقوما ََتَُِد َوََٱل َٱلل ِو َٱلَيوِم ََمنََحاد َيُ َواد وَن ََوَرُسوَلوَُٱلِخِر ََءابَاَءُىمََأوََۥلل َو ََكانُوْا َوَلو
َِإخوََ ََأو ََعِشيَتَ ُهمأَبَناَءُىم ََأو ََكتََأُْولََ َۚ نَ ُهم َِئَك َقُ ُلوِبُِم َِف َم نوَُِليََ ٱَب َِبُروح ََوأَي َدُىم َۚ َن
ََعنوَُٱَرِضَيََۚ ِلِديَنَِفيَهاُرَخََ َلنََ ٱتَََترِيَِمنََتِتَهاََويُدِخُلُهمََجن َ ِئَكَأُْولََ َۚ لل ُوََعنُهمََوَرُضوْا
فِلُحونََٱلل ِوَُىُمَٱَأَلَِإن َِحزَبََۚ لل وَِٱِحزُبَ
ُ
٢٢ مل
22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah
dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang
telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka
dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya hizbullah itu yaitu golongan yang beruntung.
43
Ayat ini ditafsirkan al-Qarni dengan:
َالرَ هََي َ أََ–َدََُتَََِلَ َيَُمًَوَْق َََ–َلَُوَْسَُا َوَََرَِاآلخََِمَِوَْلي ََاَْوَََاللَِِبََنََوَْق َُدَ صََا َشََبَََِنََوَْلَُمََعَْي ََ، ،ََمَْلَََُاللََُعَََرا
َاللَِادََِبَعََِنَْمََِنََوَْالَ وََيُ َوَََنََوَْب َ يَُِ َوََهََُُرَمَْأََفََالََخََوَََوَِلَِوَْسََُرَوَََى ،َ َآبََوَْان َُكََََوَْلََا َوَْأََمَْىَُاءَُنََب َْأََوَْأََمَْىَُاءَُا
َمَْاىَُوَ ق ََ،َوَََانَُيََْمَاْلَِبَِِوَْلَُق ََُِفََْتََبَ ث َََوَِْيَفََِنََوَْادَُعََ َ مَلاَْوَََاللََِِفََْنََوَْالَ وََ ُ مَلْاََكََولئَِ،َأََُمَْىَُاءَُبََرََق َْأََوَْأََمَْهَُان َُوََخَْإَِ
اَىََِرَوَْصَُقََُتَِتَََْنَْمََِيَْرََِتَََْاتٍَنَ جَََةَِرََآلخََِاَِْفََمَْهَُلَُخَِدَْيَُاَ،َوََيََن ََْالدَ ِفََمَْىَِوَ دَُىَعََلََعَََدَِْيَِيَأََْتَوَََوَُْنَمََِرٍَصََْنَبَِ
َطَُخََسََْيَََلَفَََوَُانََوََضَْرََِمَْهَِْيَلََعَََاللََُلَ حََ،ََأَعَُطَِقََن ََْي ََاََلَدَ تََاَمَُْانًَمََاَزََهََي َْفََِّْيََثَِاكَِ،َمَََارَُهََن ََْلاَاَْىََارَُجََشَْاََوََ
َوَََمَْهَِْيَلََعََ َعََوَْضَُرََ، ََأبَََِمَْب َِرَََنَْا َأََُاتَِجََرََلدَ اَعَِْيَفََِرَوَََاتَِمََرََلكََْاََنََمََِمَْاىَُطََعَْا َاللََِبَُزَْحََِكََولئَِ،
44.َةَِرََآلخَِاَْاَوََيََن َْالدَ َةٍَادََعََسََِبََنََْوَزَُائَِلفََْاََمَُىََُكََولئَِأَُ،َوَََهَُاؤََُيَلَِوَْأَوََ
Jika dicermati kata waayyadahum ruhumminhu pada ayat ini ditafsirkan
oleh al-Qarni dengan ََ انََيََْلَِمَاَْبَِِوَْلَُق ََُِفََْتََبَ ث . Maksudnya hati mereka telah dikuatkan
imannya dengan kasih sayang Allah. Di sini berarti kata rûh memiliki arti lain
selain yang telah dijelaskan sebelumnya. Penafsiran rûh semuanya ditafsirkan dengan
hal yang dahsyat. Kata rûh ditafsirkan dengan sesuatu yang tidak biasa, tidak kecil,
dan tidak remeh-temeh. Penafsiran ini sesuai dengan konteks ayat ini . Apabila
ditafsirkan dengan rûh sebagai penggerak kehidupan badan atau ditafsirkan dengan
Jibril, malahan tidak sesuai dengan makna yang tersirat di dalam teks ayat ini .
Selain itu, kalau kita cermati rangkaian kalimatnya, kata rûh pasti berhubungan dan
satu rangkaian dengan Allah swt. atau dengan sifat-Nya.
Di dalam al-Qur‟an, penafsiran rûh masih ada satu varian lagi. Seperti ayat
berikut ini:
لََ ٱيُ نَ ز ُلَ
َ
ِمنَِعَباِدهَََِعَلىَ َۦلر وِحَِمنَأَمرِهَِٱِئَكَةَبَِمل َأَنَاَفَََلَإِلََ َۥَأنَأَنِذُرواَْأَن وََُۦ َمنََيَشاءَُ ٢ ت ُقونَِٱَوَِإل
2. Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan
perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya,
yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang
hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku"
45
Ayat ini ditafsirkan oleh al-Qarni sebagai berikut:
َنََمََِاسََواَالنَ ُفَوَ خَََنََْأ:َبََِّْيََلَِسََرَْ ُ مَلْاََهَِادََِبَعََِنَْمََِاءَُشَََيََنَْىَمََلََعَََهَِِرَمَْأََنَْمََِيَِحَْلوََْاَِبََةََكََئََِلَ َ مَلْاََاللََُلَُزَ ن ََي َُ
46.َصََِلَخَْلَِاَْوَََةَِادََبََلعَِْاَِبََيَْادَِرََف َْإَِوَََيَْضَِائَِرََف َََءَِآأدِبََنََوَْقَُالت َ اَ،َفََنََََأل َِإََقَ ِبَََدََوَْب َُعََْمَََلََوَُن ََأ،َوَََكَِرَْالشَ
Pada ayat ini ada kata yunazzilul malaikata birruh. Kata ini
ditafsirkan oleh al-Qarni dengan َُ َْاََاللََُلَُزَ ن ََي
َ
يَِحَْلوََْاَِبََةََكََئََِلَمل . Hal ini berarti kata ruh
dalam ayat ini yaitu wahyu. Wahyu di sini berarti al-kitab atau al-Qur‟an. Mari
kita tengok satu ayat lagi.
َ َيُلِقيَٱوَِتَذَُلد َرجََ ٱَرِفيُع َِمنَأَمرِهَِٱلَعرِش َِمنَِعَباِدهَََِعَلىَ َۦلر وَح ََۦَمنََيَشاُء ََيوَم لت َلقَِٱلِيُنِذَر
١٥
15. (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang memiliki ´Arsy, Yang
mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan
(manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat
)
Ayat ini ditafsirkan al-Qarni dengan:
،ََهَُرََدَْقََُوَِِبََعََفََرت ََاَْ،َوَََوَِاتََِقَوَْلَُمَََْوَِِبََنََايََاَبََاعًَفََرتَِْاََوَُاتَُجَََرَدَََتَْعََفََرت ََْاََيَْذَِلىَالَّعََْلْاََيَ لَِلعََْاََوََىََُاللَََنَ إَِ
َوَََمَِيَْظَِلعََْاََشَِرَْلعََْاََبَُاحَِصَََوََىَُوََ ،ََوَِِبََنََوَْي ََيََُْيَْذَِالََّيَُحَْلوََمَاَْهَِْيََلَِإََلََسَِرَْي ََُنَْأََهَِادََِبَعَِِبََوَِتَِحَََْرََنَْمَِ،
َوَِيَْيَفَِذَِالََّةَِامََيََلقَِْاََمََوَْي َََمَْىَُرََذَِنَْت َُ،َوَََاللََِادَََبَعََِلَُسَُالرَ َفََوَ خََتَُ،َلََِمَْىَِِرَمََْاََنَْمََِةٍَرََي َْصَِىَبََلََعَََنََوَْنُ َوَْكَُيََف ََ
48.َنََْوَرَُاآلخَِوَََنََوَْلَُوَ َلاَْ
Kata yulqirruh min amrihi pada ayat ini di tafsirkan dengan َلََسَِرَْي ََُنََْأ
يَُحَْالوَََمَْهَِْيََلَإَِ . Yaitu ditafsirkan dengan wahyu atau al-Qur‟an. Kedua ayat yang
disebutkan terakhir memiliki penafsiran yang berbeda berkaitan dengan rûh. Kedua
ayat terakhir ditafsirkan dengan wahyu.
berdasar tafsiran ayat-ayat diatas bahwasannya hakikat dan rahasia rûh
yaitu hanya diketahui oleh Allah, manusia hanya diberikan sedikit sekali
pengetahuan mengenainya. Al-Qur‟an menjelaskan, meskipun karakternya sukar
dipahami atau non-fisis, realitanya rûh yaitu entitas yang tidak dapat diragukan.
Rûh, memakai ungkapan sufi, yaitu sebuah partikel illahiah pada manusia. Rûh
dapat dipahami sebagai sumber energi kehidupan dan menempati sesuatu, sebagai
perantara untuk mengaktualisasikan gerak rûh ini berdasar kehendak
pencipta. Selain rûh ditafsirkan dengan motor penggerak kehidupan jasmani, rûh juga
memiliki varian tafsir yang lain. Diantaranya yaitu rûh ditafsirkan dengan
malaikat Jibril, rûh ditafsirkan dengan Iman, dan yang terakhir rûh ditafsirkan dengan
wahyu Allah atau al-Qur‟an.
Dalam meneliti ayat-ayat rûh, peneliti menemukan hal yang unik. Setiap ada
kata rûh dalam suatu ayat, pasti berhubungan dengan tanda-tanda yang kebesaran
Allah. Rûh dipakai untuk meyakinkan dan menundukkan. Seperti yang ada pada
surat al-Hijr ayat 29, as-Sadjah: 9, dan Shaad: 72. Dalam konteks ayat-ayat ini ,
rûh dipakai untuk pengakuan eksistensi Nabi Adam dan kesempurnaan dari pada
makhluk lain. sedang pada ayat yang lainnya rûh dipakai sebagai pengingat
bagi orang-orang yang membangkang agar ingat semuanya yaitu dari Allah. Seperti
halnya pada surat , An-Nisa‟: 17, Al-Anbiya‟: 91, dan At-tahrim: 12.
3. Perbedaan Rûh dan Jiwa Menurut ‘Aidh al-Qarni
Istilah jiwa atau rûh dalam kadar yang berbeda banyak memiliki arti dan
perbedaan, terkait dengan jumlah dan makna dalam penggunaannya. Jiwa merupakan
sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak dapat dikaji oleh ilmu empirik. Jiwa sering
sekali disebut sebagai salah satu komponen mahluk hidup, termasuk manusia, akan
namun sering tidak dapat dipahami perbedaan yang mendasar antara jiwa dan rûh.
sedang rûh merupakan sesuatu yang datangnya dari Allah yang ditiupkan
kepada jasad manusia melalui malaikat Jibril yang diberikan kepada setiap manusia
dan ruh itu bukanlah jasad. Atau dengan kata lain ruh merupakan sesuatu yang
menyebabkan manusia hidup yang ditiupkan kedalam jasad manusia.
Penjelasan jiwa dalam al-Qur‟an diantaranya dalam surat as-Syams ayat 7-8
sebagai beikut:
ى َوَمب س َووَف ٥ هَبَىى َوتَق فُُجىَرهَب هََمهَبفَأَل ٢ هَبَسىَّ
Artinya: dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Tafsirannya menurut al-Qarni dalam tafsir Muyassar yakni Aku benar-benar
bersumpah dengan setiap jiwa yang diciptakan Allah dan kemudian disempurnakan-
Nya dalam rupa yang sangat baik, yang dibentuk Allah dengan bentuk yang sangat
bagus, dan mewujudkannya dalam perawakan yang indah dan elok.
Maka Allah
menjelaskan kepada jiwa itu mana jalan yang benar dan mana yang batil. Dia juga
menjelaskan kepadanya tentang mana jalan hidayah dan jalan kesesatan. Yang
demikian itu yaitu agar segala alasan terpatahkan.
berdasar penafsiran di atas bahwasannya jiwa yaitu sesuatu yang berada
dalam diri manusia dan mengalami perkembangan kualitas, pertumbuhan sesuai
dengan perjalanan hidup manusia. Semakin dewasa dan bertambahnya umur manusia
maka semakin tinggi pula kualitas jiwanya.
Apabila kita melihat penafsiran „Aidh Al-Qarni makna nafs (jiwa) di dalam
tafsirnya, kita akan menemukan beberapa makna tentang jiwa. Jiwa berpotensi
menuju ke hal yang negatif dan hal yang positif. Atau bisa dibilang rûh yaitu materi
yang labil, bisa tergoncang ke sana dan ke mari. Beberapa tafsiran Al-Qarni dalam
tafsirnya tentang jiwa untuk perbandingan dengan rûh sebagai berikut:
Di dalam surat al-Baqarah ayat 9:
َوَماََيَدعَُٱلل َوَوََٱَِدُعونََُيََ َأَنُفَسُهمََوَماََيشُعُروَنَل ِذيَنََءاَمُنواَْ وَنَِإل
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal
mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Ayat ini ditafsirkan al-Qarni sebagai berikut:
اَمََ،َوَََرََفَْكَُمَالَْىَِارَِمََضَْإَِوَََانََيََْلَِمَاَْىَِارَِهََظَْإَِاَبَِوَْن َُآمَََنََيَْذَِوالََّاللَََنََوَْعَُادَِيَََُمَْهَُن َ أََمَْهَِلَِهَِْبََُنََوَْدَُقََِتَعَْي ََ
َِلََمَْهَُسََفَُن َََْأل َِإََنََوَْعَُدََيََْ َوَََمَْهَِْيَلََعَََدَُوَْعَُت َََمَْهَِاعَِدََخََِةََبََاقَِعَََنَ ، َنََوَْسَ َيَََِلََمَْهَُلََهَْجََُطََرََف َََنَْمََ.
52.َمَْبَِِوَْلَُق ََُادَِسََفََ،َلََِكََِلَذََبَِ
Hal ini menunjukkan bahwa jiwa berpotensi berbuat kesalahan. Konteks ayat
ini yaitu orang-orang musyrik yang mengira bahwa mereka dapat menipu
Allah dan orang-orang muslim. Padahal sejatinya mereka hanya menipu diri sendiri.
Hal ini disebabkan oleh rusaknya hati nurani mereka. Dari penafsiran ayat ini
jelas, al-Qarni menjelaskan bahwa potensi jiwa sebagai pendorong ke perbuatan
negatif yaitu nyata.
Di dalam ayat yang lain juga dijelaskan tentang jiwa:
َََتزِيَنَفٌسََعنَن فٱوََ َعةََوَلَيُؤَخُذَِمنَهاََعدلََوَلَُىمََوَلَيُقَبُلَِمنَهاََشفََ ََشيئاسَت ُقوْاََيوماَل
٤٥ يُنَصُرونََ
48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu)
seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu
pula) tidak diterima syafa´at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka
akan ditolong.
Kata nafsun dalam ayat ini di artikan seseorang. Akan namun kalau kita
cermati keseluruhan dari ayat ini , kata ini dihubungkan dengan siksaan. Ini
berarti bahwa kata nafsun yang bisa berarti jiwa yaitu pendorong bagi perbuatan
yang dianggap maksiat kepada Allah. Sehingga menimbulkan hukuman kelak dihari
kiamat, tidak ada yang bisa menolong mereka. Lihat tafsirannya Al-Qarni berikut ini:
ََلَ،َوَََنََيَْرَِافَِلكَََاَِْفََةًَاعََفََشَََاللََُلََُبَقََْي َََلَاَ،َوًََئَيَْشَََدٍَحََأََنَْعَََدٌَحََََأِنَغََْي َُ،ََلََةَِامََيََلقَِْاََمََوَْاَي ََوَْاف َُخََوََ
َمََدَ قََت ََي َََنَْأَ مَِوَْلي ََذاَاََْىََِفََدٌَحََأََكَُلََِيَََْلَاَ،َوََعًَي َْجَََِضَِرََْلْاََالَُوََمَْأََتَْانََكََََوَْلََ،َوَََةًَيََدَْفََِمَْهَُن َْمََِلََُبَقَْي ََ
54.َابَِذََلعََْاََنََمََِمَْىَِاذَِقََن َْإَِوَََمَْتَِِرََصََْنَلَِ
Masih di dalam surat al-Baqarah, pada ayat 54 juga menyebutkan tentang
nafs. Lihat pada ayat berikut:
َاذُِكُمَٱَقوِمَِإن ُكمَظََلمُتمَأَنُفَسُكمَبَِيَ ََۦلَِقوِموَََِوِإذَقَاَلَُموَسىَ قتُ ُلواَْٱبَارِِئُكمَفَََلِعجَلَفَ ُتوبُوْاَِإىَلَ ٱَّت
٥٤ لر ِحيمَُٱلت و اُبَٱُىَوََۥِإن وََُۚ َخيَل ُكمَِعنَدَبَارِِئُكمَفَ َتاَبََعَليُكمِلُكمَأَنُفَسُكمَذََ
54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku,
sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri sebab kamu telah
menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan
yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu yaitu lebih baik
bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima
taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang".
Kata anfusun di dalam ayat ini yaitu jamak dari nafsun. Dalam konteks
ayat ini kata ini dipakai untuk menunjukkan kaum Nabi Musa yang
menciderai diri sendiri dengan menyembah anak lembu. Dalam tafsirnya Al-Qarni
menafsirkan ayat ini :
اَ.َلًَِإََلََجَْلعَِْاََمَُكَُاذَِاَّت ََِبََمَْكَُسََفَُن َْأََمَْتَُمَْلََظَََمَْكَُن َِإََوَِمَِوَْقََسىَلَِوَْمََُالََقَََّْيََحََِمَْكَُْيَلََاَعََنََت ََمََعَْاَنَِْوَرَُكَُاذَْوََ
َإَِوَْبُ َوَْت َُف ََ َدَِوَْلَُخلَُْاََنََمََِمَْكَُقَِالَِخَََدََْنَعََِمَْكََُلََرٌَي َْاَخََذََىََ،َوََاَضًَعَْب َََمَْكَُضََعَْب َََلََُتَقَْي َََنََْأ:َبََِمَْكَُقَِالََِخََىَلَا
َابٌَوَ الت َ َوََتعاىلَىََُوَُنَ .َإََِمَْكَُِتََبَوَْت َََلٍَوَْب َُقََِبََمَْكَُْيَلََعَََاللََُنَ مََ،َفَََكََذلََِمَُْتَلَْث ََتََامَْ،َفَََارََِالنَ ِفََيَ دَِبَََلاَْ
56.َمَْبََِِمَُيَْحَِ،َالرَ َهَِادََِبَعََِنَْمََِابَََتََنَْمََلَِ
Kata nafsun ini dikaitkan dengan hal negatif, yaitu menciderai diri
sendiri dengan menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Hal ini terjadi pada kaum
Nabi Musa. Hal ini mengindikasikan bahwa kata nafsun dalam ayat ini berkaitan
dengan hal yang negatif. Akan namun masih punya kesempatan untuk berbuat baik
yaitu dengan cara bertaubat kepada Allah. Sama dengan tafsiran al-Baqarah ayat 87:
َمَُانََطََعَْأََدَْقََلََوََ َالت َ وَْا َوَََاةَََرَوَْسى َوَََلََيَْائَِرََسَِْإََِنََْبََنَْمََِلٍَسَُُرَِبََاهََُنَعَْب ََت ََْأ، َعَِنََي َْطََعََْأ، َمََيَْا َبن َيَََرَْسى
َدَِْنَعََِنَْمََِيٍَحَْوََِبََلٌَوَْسَُرَََمَْكَََُاءََاَجََمََلَ كَُفََ.ََأَمََُلَالسَ َوَِْيَلََعَََلََْيَبَِِْبََِهَُناََْيَوَ ق ََوَََاتَِحََاضَِلوََْاََاتَِزََجَِعَْ ُ مَلاَْ
57ا؟قًَي َِْرَفَََنََوَْلَُت َُقَْت ََاَوََقًَي َِْرَفَََمَْتَُب َْذَ كََ،َفَََوَِْيَلََعَََمَُْتَْيَلََعَْت ََ،َاسََْمَْكَُاءََوََىَْأََقَُافَِوَََي ََُلََاللَِ
Tafsiran ini menjelaskan bahwa kata nafsun dihubungkan dengan
penolakan mu‟jizat-mu‟jizat yang diberikan Allah kepada para rasulnya. Begitu juga
penolakan kebenaran dengan diutusnya para rasul dengan kitab-kitab yang
diwahyukan kepada mereka.
Pada ayat-ayat ini di atas, kata nafsun dikaitkan dengan hal-hal yang
negatif. Dan masih banyak lagi ayat yang serupa dengan ayat-ayat yang telah
disebutkan di atas. Di samping ayat-ayat yang mengandung kata nafs yang dikaitkan
dengan hal-hal negatif, kata nafs juga dikaitkan dengan hal-hal positif. Diantara ayat-
ayat yang menjelaskan hal ini yaitu :
أَوىَ ٱجلَن َةَِىَيَٱفَِإن َ ٤٠ لََوىَ ٱلن فَسََعِنَٱَونَ َهىََۦَوأَم اََمنََخاَفََمَقاَمََرب وَِ
َ
٤١ مل
40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya
41. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).
58
Ayat ini ditafsirkan oleh al-Qarni dengan:
َمََمَ أَوََ َوَََابَِسََحَِْلَِلََاللََِيَْدَََيََّْيََب َََامََيََلقَِْاََفََاخَََنَْا َفَََةَِدََاسَِفََالََْاءَِوََىََْلْاََنَِعَََسََفَْىَالن َ هََن ََ، َنَ إَِ،
59.َةٌَنََكََسَْمَََيََىََِةََنَ جلََاَْ
Kata nafsun dalam konteks ayat ini dikaitkan dengan pengendalian hawa
nafsu. Orang yang bisa mengendalikan jiwanya menjauh dari hawa nafsu yang
merusak, dijanjikan Allah dengan surga sebagai tempat tinggalnya kelak. Keterangan
ini memiliki indikasi bahwa nafsun juga berpotensi menuju ke hal yang posistif.
Di dalam ayat lain yang menerangkan nafsun berkaitan dengan perbuatan
yang positif:
طَمِئن ُةَٱلن فُسَٱأَي تُ َهاَيََ
ُ
٢٥ َرب ِكَرَاِضَيةَم رِضي ةَرِجِعيَِإىَلَ ٱ ٢٢مل
27. Hai jiwa yang tenang
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
60
Ayat ini di tafsirkan oleh Al-Qarni dengan:
َىَلَِإََيَْعَِجَِ،َارََّْْيََِنَمَِؤَْمَُْلَِلََمَِْيَعَِالنَ َنََمََِهَُدَ عََاََأبََِ،َوَََوَِِبََانَِيََْلَِاَْوَََاللََِرَِكََْذَِىَلَِإََةَُن َئَِمََطَْ ُ مَلْاََسَُفَْاَالن َ هََي َ أَآي
َواللََُكَََلََاللََِامَِرََكَِْإَِبََةًَيََاضَِرَََكَِب َرََ َفَََكَِْنَعَََيََضََِرََدَْقَََوَُانََحََبَْسََُ، َاللََِادََِبَعََِادٍَدََعَََِفََْيَْلَِخَُادَْ،
61.َِتَْنَ جَََمَْهَُعََمَََيَْلَِخَُادَْ،َوَََّْيََالَِِالصَ
Jiwa-jiwa yang tenang yaitu jiwa-jiwa yang ingat kepada Allah dan iman
kepadaNya. Jiwa-jiwa yang seperti itu diberi jaminan bisa masuk surga kelak.
Tafsiran al-Qarni pada surat al-Fajr: 27-28 yaitu jiwa-jiwa yang dilandasi dengan
iman kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa jiwa juga bisa mendorong kepada
hal yang positif. Penafsiran pada ayat ini juga sama dengan ayat yang ada pada
surat al-Qiyamah ayat 1-4, penafsirannya sebagai berikut:
َوَََاءَِزََجلََاَْوَََابَِسََلَِْاََمَِوَْي ََِبََوَُانََحََبَْسََُاللََُمََسََقََْأ اَهََب َُاحَِصَََمَُوَْلَُت َََِتَْالَ َةَِي َقَِالتَ َةََِنَمَِؤَْ ُ مَلْاََسَِفَْالن َ ِبََمََسََقََْأ،
َنََْلََنَْأََرََافَِلكََْاََانَِسََنَْاَالَِىذَََنَ ظَُيََ.ََأَنََوَْث َُعََب َْيَُسَََاسََالنَ َنَ ،ََأَاتَِقََِبَوَْ ُ مَلْاََلَِعَِْفَوَََاتَِاعََالطَ َكَِرَْىَت ََلََعََ
َجََْلََعَََرََدَِقَْن ََ َبََهََقَِر َفََت َََدََعَْب َََوَِامَِظََعََِعَِى َ؟ َسََا َقََهََعَُمََجَْنََلى ،َ ََألََعَََنََيَْرَِادَِا َوَْأََوَُعََابَِصََأََلََعََنَََْنَْى
َكََي َوَِاَسََقًَلَْخَََ-اهََفَِْيَِلَأَْتََاَوََهََعَِجَََْدََعَْب َََ–َوَُلََامََِنََأ َكََمََاَ، 62.َتَِوَْ َ مَلْاََلََبَْق َََتَْانََا
Pada penafsiran surat al-Qiyamah ayat 1-4 ini , Allah melakukan sumpah
dengan memakai kata nafsun. Artinya kata nafsun juga merupakan kata yang
bisa dikatakan wah, sampai-sampai Allah melakukan sumpah dengan kata ini .
Nafsun ini yaitu nafsun yang dipenuhi dengan keimanan.
Selain nafsun berpotensi kepada hal yang negatif dan positif, nafsun juga
netral. Perhatikan penafsiran pada surat al-„Ankabut ayat 57:
وتَِٱُكل َنَفسََذائَِقُةَََ
َ
إِلَيَناَتُرَجُعونَََۚ مل ٥٢ ُثَ
57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada
Kami kamu dikembalikan.
Ayat ini ditafsirkan Al-Qarni dengan:
63.َاءَِزََاجلََْوَََابَِسََحَِْلَِلََنََوَْعَُجََرَْاَت َُنََي ََْلَِإََُثَ َتَِوَْ مََلْاََةَُقََائَِذَََةٍَايََحَََسٍَفَْن َََلَ كَُ
Pada penafsiran ayat kata nafsun bersifat netral. Kata ini tidak dikaitkan
dengan hal negatif maupun positif. Penafsiran di atas menyatakan bahwa setiap yang
memiliki ruh pasti akan menemui ajalnya alias tewas. Hal ini bisa berlaku bagi
manusia, hewan, tumbuhan dan yang lainnya.
Terkait dengan posisi rûh, Ibnu Taimiyah
64
berpendapat bahwa tempat rûh
atau jiwa yaitu terletak didalam tubuh, artinya tidak ada tempat khusus rûh di dalam
jasad, namun rûh mengalir di dalam jasad sebagaimana kehidupan mengalir di dalam
seluruh jasad, maka berpisah dengan nyawa.
Jiwa menurut al-Qur,an adaah suatu dzat yang bulat (totaliteit) tercakup di
dalamnya rûh dan jasadnya atau dinyatakan kepada jasad saja, atau kepada ruh saja.
namun ruh tidak dinyatakan kepada jasad saja, dan tidak juga kepada jiwa saja. Jadi
rûh itu memberi hidup kepada jasad dan kepada jiwanya sekaligus. Oleh sebab itu,
manusia yang tidak memiliki rûh, hidup namun mati. Badan manusia (tubuh atau
jasad) disebut hidup sebab ada rûhnya, dan disebut berharga sebab ada jiwanya.
Dengan rûh manusia hidup dengan jiwa ia menjadi barang yang berharga. Jiwa yang
dihidupi oleh ruh menjadi mulia.
Jadi perbedaan antara rûh dengan jiwa yaitu perbedaan sifatnya bukan
perbedaan dzatnya. Jiwa disebut dengan darah, sebab keluarnya jiwa menuju
kematian. Hidup tidak sempurna tanpa arah sebagaimana tidak sempurna tanpa jiwa.
Tubuh yang tidak bernafas berarti mati.
Jadi jiwa yaitu suatu kekuatan, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia
yang menurut ahli ilmu bersarang pada akal, kemauan dan perasaan, sedang rûh
itulah yang memberi semangat yang positif. Dengan melihat beberapa ayat yang di
dalamya ada kata nafs, hal positif yang mendorong jiwa yaitu keimanan dan
kesucian. Adapun yang memberi semangat negatif kepada jiwa yaitu hawa nafsu,
yang merupakan kekuatan dan daya syaitoniyah.
67
Wallahu a’lam.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt. dengan izinnya peneliti mampu
memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir. Shalawat dan salam kami
haturkan kepada junjungan manusia Nabi Muhammad (Akmalul Insan) sebab dengan
diutusnya beliau manusia mampu menempuh jalan yang disinari dengan kebenaran.
sesudah melalui perjalanan panjang, akhirnya paripurna penelitian ini dengan beberapa
kesimpulan, diantaranya:
Manusia yaitu makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah swt.
Manusia yaitu makhluk yang bisa berpikir dan berkehendak. Untuk itu manusia
memiliki potensi untuk menjadi lebih tinggi derajadnya daripada malaikat dan lebih
rendah daripada hewan. Tergantung pilihan manusia berkehendak memilih posisi yang
mana. Pilihan itu ada kaitannya tentang rûh, jiwa dan akal. Rûh sejatinya memberi
dorongan positif pada manusia. Apabila rûh dapat menyeimbangkan jiwa dan akal, hal-
hal positif akan selalu melekat pada diri manusia. Kaitannya dengan rûh, pada penelitian
ini, peneliti mengupas lebih dalam makna dan hakikat rûh yang ada di dalam ayat-
ayat al-Qur’an, berdasar kitab tafsir Al-Muyassar karya al-Qarni.
Dalam penelitian ini, mengakomodasi semua ayat yang di dalamnya ada kata
rûh. tahap selanjutnya peneliti menelaah dengan seksama penafsiran ayat-ayat rûh ini
di dalam kitab tafsir Al-Muyassar. Satu penafsiran dari ayat dan penafsiran dari ayat
lainnya didalami makna rûh-nya sesuai dengan basis tafsir yang dipakai , yaitu
memakai metode ijmali.
Hasil dari penelitian ini yaitu ; pertama, metode penafsiran yang dipakai oleh
‘Aidh Al-Qarni yaitu metode ijmali. Hal ini terlihat jelas, bahwa tafsir Al-Muyassar
menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas namun mencakup, dengan bahasa yang
populer mudah dimengerti dan enak dibaca. Sistematika penulisannya sesuai dengan
urutan ayat-ayat di dalam mushaf, yaitu dari sutat Al-Fatihah hingga surat An-Nas.
Kedua, konsep ruh dalam tafsir Muyassar karya ‘Aidh al-Qarni ialah ruh
merupakan paket yang datangnya dari Allah yang ditiupkan kepada jasad manusia
melalui malaikat Jibril yang diberikan kepada setiap manusia. Rûh sebagai motor
penggerak jasad dan akal manusia. sedang hakikat dan rahasia rûh yaitu hanya
diketahui oleh Allah, manusia hanya diberikan sedikit sekali pengetahuan mengenainya.
Al-Qur’an menjelaskan, meskipun karakternya sukar dipahami atau non-fisis, realitanya
eksistensi rûh tidak dapat diragukan keberadaannya. Rûh yaitu sebagai sumber energi
kehidupan dan menempati sesuatu, sebagai perantara untuk mengaktualisasikan gerak rûh
ini berdasar kehendak pencipta. Selama meneliti ayat-ayat yang berkaitan
dengan rûh, peneliti menemukan hal yang unik. Setiap ada kata rûh, pasti konteksnya
yaitu pengagungan, pengakuan, dan penundukan.
Ketiga, rûh memiliki banyak makna di dalam al-Qur’an. Rûh tidak hanya
ditafsiri sebagai motor penggerak tubuh manusia. Rûh juga ditafsiri dengan wahyu,
malaikat Jibril, dan iman. Hal ini sesuai dengan konteks ayat yang ada.
berdasar hasil penelitian ini semoga dapat menjadi salah satu referensi untuk
memahami lebih dalam mengenai konsep rûh menurut ‘Aidh al-Qarni dalam tafsir
Muyassar. Namun hasil penelitian ini hanya membahas mengenai konsep rûh menurut
‘Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar.Untuk itu bagi para pembaca skripsi ini, hendaknya
dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsep rûh menurut para mufasir yang
lain agar keilmuan dan pengetahuan mengenai konsep rûh dapat bertambah lagi. Selain
itu juga perlunya dilakukan kajian ulang terhadap pemaknaan rûh secara terus menerus
dan pengkajian yang teliti dan mendalam sehingga diharapkan dapat menemukan sebuah
pemikiran yang benar.
Manusia terdiri dari ruh dan jasad, karenanya Allah Swt menundukkan keduanya secara keseluruhan,
baik ketika di mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Ruh adalah makhluk. Beberapa hadits
mengidentifikasikan bahwa ruh adalah materi yang lembut. Bagi sementara pihak yang berkata bahwa
ruh adalah qadim, merupakan kekeliruan besar.
Ahli hakikat dari kalangan ahli sunnah berbeda pandangan soal ruh. Ada yang berpendapat, ruh adalah
kehidupan, yang lain berpandangan ruh adalah kenyataan yang ada dalam hati, yang bernuansa lembut.
Allah Swt menjalankan kebiasaan makhluk dengan mencipta kehidupan dalam hati, sepanjang arwahnya
menempel di badan. Manusia hidup dengan sifat kehidupan, tetapi arwah selalu di cetak di dalam hati
dan bisa naik ketika tidur dan terpisah dengan badan, kemudian kembali kepada-Nya.[1]
A. Pengertian al-Ruh
Menurut Ibnu Zakariya (w. 395 H / 1004 M) menjelaskan bahwa kata al-ruh dan semua kata yang
memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, wawu, ha; mempunyai arti dasar besar, luas dan asli. Makna
itu mengisyaratkan bahwa al-ruh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia, baik nilai maupun
kedudukannya dalam diri manusia.[2]
Al-Raqib al-Asfahaniy (w. 503 H / 1108 M), menyatakan di antara makna al-Ruh adalah al-Nafs (jiwa
manusia). Makna disini adalah dalam arti aspek atau dimensi, yaitu bahwa sebagian aspek atau dimensi
jiwa manusia adalah al-ruh.[3]
Nyawa (ruh) menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian, pertama : tubuh halus (jisim lathif).
Sumbernya itu lubang hati yang bertubuh. Lalu bertebar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang
ke segala bagian tubuh yang lain. Mengalirnya dalam tubuh, membanjirnya cahaya hidup, perasaan,
penglihatan, pendengaran, dan penciuman dari padanya kepada anggota-anggotanya itu, menyerupai
membanjirnya cahaya dari lampu yang berkeliling pada sudut-sudut rumah. Sesungguhnya cahaya itu
tidak sampai kepada sebagian dari rumah, melainkan terus disinarinya dan hidup itu adalah seperti
cahaya yang kena pada dinding. Dan nyawa itu adalah seperti lampu. Berjalannya nyawa dan
bergeraknya pada batin adalah seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah, dengan digerakkan
oleh penggeraknya.
Pengertian kedua yaitu yang halus dari manusia, yang mengetahui dan yang merasa. Dan itulah tentang
salah satu pengertian hati, serta itulah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya:
ْوُح ِمْن اَْمِر َرب ِى }اإلسراء : 85{ قُِل الرُّ
“Jawablah! Nyawa (ruh) itu termasuk urusan Tuhanku” (QS. Al-Isra’ : 85)
Dan itu adalah urusan ketuhanan yang menakjubkan, yang melemahkan kebanyakan akal dan paham
dari pada mengetahui hakikatnya.[4]
Dengan adanya al-ruh dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi makhluk yang istimewa, unik,
dan mulia. Inilah yang disebut sebagai khayalan akhar, yaitu makhluk yang istimewa yang berbeda
dengan makhluk lainnya. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam QS. Al-Mu’minun : 14.[5] Kata al-Ruh
disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surat yang tersebar
dalam 21 ayat. Dalam 3 ayat kata al-ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, dalam 11 ayat yang
berarti Jibril, dalam 1 ayat bermakna wahyu atau al-Qur’an, dalam 5 ayat lain al-ruh berhubungan
dengan aspek atau dimensi psikis manusia.[6]
B. Karakteristik al-Ruh
Mengenai ruh ada beberapa karakteristik, antara lain :
1. Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah / bumi
2. Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani dan jiwa manusia. Ruh yang berasal dari Allah itu
merupakan sarana pokok untuk munajat kehadirat-Nya
3. Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur / tak sadar
4. Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tapi dapat pula dibersihkan dan menjadi suci.
5. Ruh karena sangat lembut dan halusnya mengambil “wujud” serupa “wadah”-nya, parallel dengan zat
cair, gas dan cahaya yang “bentuk”-nya serupa tempat ia berada.
6. Tasawuf mengikutsertakan ruh kita beribadah kepada Tuhan
7. Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi
juga tembus ke dalam alam rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat
membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.[7]
C. Al-Ruh sebagai Dimensi Spiritual Psikis Manusia
Dimensi dimaksudkan adalah sisi psikis yang memiliki kadar dan nilai tertentu dalam sistem “organisasi”
jiwa manusia. Dimensi spiritual dimaksudkan adalah sisi jiwa yang memiliki sifat-sifat Ilahiyah
(ketuhanan) dan memiliki daya untuk menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk
mewujudkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Pemilihan sifat-sifat Tuhan bermakna memiliki potensi-
potensi lahir batin. Potensi-potensi itu melekat pada dimensi-dimensi psikis manusia dan memerlukan
aktualisasi.
Dimensi psikis manusia yang bersumber secara langsung dari Tuhan ini adalah dimensi al-ruh. Dimensi
al-ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya, yaitu Allah. Perwujudan dari
sifat-sifat dan daya-daya itu pada gilirannya memberikan potensi secara internal di dalam dirinya untuk
menjadi khalifah Allah, atau wakil Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara
nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa
dimensi al-ruh merupakan daya potensialitas internal dalam diri manusia yang akan mewujud secara
aktual sebagai khalifah Allah.[8]
Dalam al-Qur’an dijelaskan kata al-ruh berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. Berikut
dijelaskan bahwa Allah “meniup”-kan ruh-Nya ke dalam jiwa dan jasad manusia. Sebagaimana yang
terdapat dalam ayat berikut ini :
وِحي فَقَعُواْ لَهُ َساِجِديَن }الحجر : 29{ ْيتُهُ َونَفَْخُت فِيِه ِمن رُّ فَإِذَا َسوَّ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS. Al-Hijr : 29)
Berdasarkan ayat di atas, kata ruh dihubungkan dengan Allah. Istilah yang digunakan untuk menyatakan
hubungan itu juga beragam, seperti al-ruh minhu ruhina, ruhihi, al-ruhiy, ruh min amri rabbi.
Selanjutnya, ruh Allah itu diciptakan kepada manusia melalui proses al-nafakh. Berbeda dengan al-nafs,
sebab nafs telah ada sejak nutfan dalam proses konsepsi, sedangkan ruh baru diciptakan setelah nutfah
mencapai kondisi istimewa. Karena itu merupakan dimensi jiwa yang khusus bagi manusia.[9]
Menurut psikologi transpersonal, ada dua hal penting dalam diri manusia, yaitu potensi-potensi luhur
batin manusia (human highest potentials) dan fenomena kesadaran manusia (human states of
consciousness). Yang menjadi perhatian bagi psikologi transpersonal yaitu dalam wilayah aspek
ruhaniah. Telaahnya berbeda dengan psikologi humanistic, bahwa psikologi humanistic lebih
menekankan pada pemanfaatan potensi-potensi luhur manusia untuk meningkatkan kualitas hubungan
antar manusia. Sedangkan psikologi transpersonal menekankan pada pengalaman subjektif spiritual
transcendental.[10]
Tasawuf Islam mengajarkan metode dan teknik-teknik munajat dan shalat khusyuk guna meningkatkan
derajat ruh mencapai taraf al-nafs al-muthmainnah / lebih tinggi lagi. Sehingga diharapkan manusia
dapat mengembangkan diri mencapai kualitas insan kamil. Adapun ruh diciptakan jauh sebelum manusia
dilahirkan, berfungsi semasa hidup dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya ke dalam hadirat Ilahi. Jadi ruh itu ada dalam diri manusia,
tapi tak kasat mat (invisible) karena sangat halus, gaib serta dimensinya yang jauh lebih tinggi dari alam
pikiran, serta tahapannya pun di atas alam sadar. Ruh dengan demikian merupakan salah satu dimensi
yang ada pada manusia di samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan, yang ada sebelum dan
sesudah masa kehidupan manusia.[11]
D. Hiasan Bagi Ruh
Ruh (roh atau jiwa) juga menunjukkan kelembutan Ilahi, dan seperti halnya si “hati”, ia juga berada di
dalam hati badaniah. Roh dimasukkan ke dalam tubuh melalui “saringan yang halus”. Pengaruhnya
terhadap tubuh ialah seperti lilin di dalam kamar, tanpa meninggalkan tempatnya, cahayanya
memancarkan sinar kehidupan bagi seluruh tubuh.
Pada dasarnya roh merupakan lathifah dan oleh karenanya ia merupakan suatu unsur Ilahi. Sebagai
sesuatu yang halus, ia merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi dari manusia yang
bertanggung jawab terhadap sinar dari penglihatan yang murni, apabila manusia bebas seluruhnya dari
kesadaran fenomenal.[12]
Tingkat perkembangan ruh yang sempurna dihiasi dengan sifat-sifat ketuhanan dan berhak menjadi
wakil Allah. Salah satu aliran berpendapat bahwa nafs harus dibersihkan agar ruh dapat dihiasi.
Beberapa aliran yang lain beranggapan bahwa jika ruh tidak dihias maka nafs tidak dapat dibersihkan.
Pandangan lain adalah bahwa sekalipun seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang
membersihkan nafs, nafs tersebut masih belum bisa dibersihkan seluruhnya dan dia bahkan mungkin
tidak memiliki kesempatan untuk bekerja dengan ruh. Namun jika seseorang bisa menempatkan nafs
tetap berada dalam etika thariqat, yang memusatkan perhatian pada pembersihan hati dan menghias
ruh, maka kemuliaan ketuhanan akan muncul silih berganti melalui pengaruh daya tarik kemurahan dan
kemuliaan Allah.[13]
Cinta adalah daya tarik ketuhanan, apabila menemukan jalannya ke dalam hati, dia akan membakar akar
wujud seseorang, dan menyatukannya dengan wujud mutlak. Hati adalah wilayah persimpangan antara
kesatuan dan keragaman. Ketika hati dimurnikan dari segala karat keragaman, matahari cinta akan
terbit dan memancarkan sinar kesatuan. Cinta adalah ramuan wujud. Orang harus mematikan diri agar
dapat meraih harta karun kehidupan abadi.[14]
Al-ruh merupakan dimensi jiwa manusia yang sifatnya spiritual dan potensi yang berasal dari Tuhan.
Dimensi ini menyebabkan manusia memiliki sifat Ilahiyah (sifat ketuhanan) dan mendorong manusia
untuk mewujudkan sifat Tuhan itu dalam kehidupannya di dunia. Di sinilah fungsinya sebagai khalifah
dapat teraktualisasikan. Dengan ini, maka manusia menjadi makhluk yang semi samawi-ardi, yaitu
makhluk yang memiliki unsur-unsur alam dan potensi-potensi ketuhanan.




