Ruh 3

 


�َةَِايََدََىَِ،َوَََّْيََِنَمَِؤَْمَُلَْاَلًَِتَْيَِبَثَْ،َت َََلَِدَْلعََاَْوََ

42ّْيََمَِالََلعََاَْ

 

Penafsiran rûh pada ayat ini  ditafsirkan dengan bal nazzalahu Jibrilu min 

rabbika. Hal ini menjelaskan bahwa kata rûh pada ayat ini  yaitu  Jibril yang 

menjadi perantara turunnya al-Qur‟an hingga sampai kepada Nabi Muhammad 

dengan adil dan benar. 

                                                          

 

Rûh di dalam Al-Qur‟an juga ditafsiri al-Qarni dengan tafasiran iman. Hal ini 

hanya ada  pada satu ayat pada surat al-Mujyaitu  ayat: 22. Bunyi ayat ini  

yaitu : 

َبَِ َيُؤِمُنوَن ََقوما ََتَُِد َوََٱل  َٱلل ِو َٱلَيوِم ََمنََحاد  َيُ َواد وَن ََوَرُسوَلوَُٱلِخِر ََءابَاَءُىمََأوََۥلل َو ََكانُوْا َوَلو

َِإخوََ  ََأو ََعِشيَتَ ُهمأَبَناَءُىم ََأو ََكتََأُْولََ َۚ  نَ ُهم َِئَك َقُ ُلوِبُِم َِف َم نوَُِليََ ٱَب َِبُروح ََوأَي َدُىم َۚ  َن

ََعنوَُٱَرِضَيََۚ  ِلِديَنَِفيَهاُرَخََ َلنََ ٱتَََترِيَِمنََتِتَهاََويُدِخُلُهمََجن َ  ِئَكَأُْولََ َۚ  لل ُوََعنُهمََوَرُضوْا

فِلُحونََٱلل ِوَُىُمَٱَأَلَِإن َِحزَبََۚ  لل وَِٱِحزُبَ

ُ

  ٢٢ مل

22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari 

akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah 

dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau 

saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang 

telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka 

dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka 

ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di 

dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas 

terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, 

bahwa sesungguhnya hizbullah itu yaitu  golongan yang beruntung.

43

 

Ayat ini  ditafsirkan al-Qarni dengan:  

َالرَ هََي َ أََ–َدََُتَََِلَ َيَُمًَوَْق َََ–َلَُوَْسَُا َوَََرَِاآلخََِمَِوَْلي ََاَْوَََاللَِِبََنََوَْق َُدَ صََا َشََبَََِنََوَْلَُمََعَْي ََ، ،ََمَْلَََُاللََُعَََرا

َاللَِادََِبَعََِنَْمََِنََوَْالَ وََيُ َوَََنََوَْب َ يَُِ َوََهََُُرَمَْأََفََالََخََوَََوَِلَِوَْسََُرَوَََى ،َ َآبََوَْان َُكََََوَْلََا َوَْأََمَْىَُاءَُنََب َْأََوَْأََمَْىَُاءَُا

َمَْاىَُوَ ق ََ،َوَََانَُيََْمَاْلَِبَِِوَْلَُق ََُِفََْتََبَ ث َََوَِْيَفََِنََوَْادَُعََ َ مَلاَْوَََاللََِِفََْنََوَْالَ وََ ُ مَلْاََكََولئَِ،َأََُمَْىَُاءَُبََرََق َْأََوَْأََمَْهَُان َُوََخَْإَِ

اَىََِرَوَْصَُقََُتَِتَََْنَْمََِيَْرََِتَََْاتٍَنَ جَََةَِرََآلخََِاَِْفََمَْهَُلَُخَِدَْيَُاَ،َوََيََن ََْالدَ ِفََمَْىَِوَ دَُىَعََلََعَََدَِْيَِيَأََْتَوَََوَُْنَمََِرٍَصََْنَبَِ

َطَُخََسََْيَََلَفَََوَُانََوََضَْرََِمَْهَِْيَلََعَََاللََُلَ حََ،ََأَعَُطَِقََن ََْي ََاََلَدَ تََاَمَُْانًَمََاَزََهََي َْفََِّْيََثَِاكَِ،َمَََارَُهََن ََْلاَاَْىََارَُجََشَْاََوََ

َوَََمَْهَِْيَلََعََ َعََوَْضَُرََ، ََأبَََِمَْب َِرَََنَْا َأََُاتَِجََرََلدَ اَعَِْيَفََِرَوَََاتَِمََرََلكََْاََنََمََِمَْاىَُطََعَْا َاللََِبَُزَْحََِكََولئَِ،

44.َةَِرََآلخَِاَْاَوََيََن َْالدَ َةٍَادََعََسََِبََنََْوَزَُائَِلفََْاََمَُىََُكََولئَِأَُ،َوَََهَُاؤََُيَلَِوَْأَوََ

 

                                                          

 

Jika dicermati kata waayyadahum ruhumminhu pada ayat ini  ditafsirkan 

oleh al-Qarni dengan ََ انََيََْلَِمَاَْبَِِوَْلَُق ََُِفََْتََبَ ث  . Maksudnya hati mereka telah dikuatkan 

imannya dengan kasih sayang Allah. Di sini berarti kata rûh memiliki  arti lain 

selain yang telah dijelaskan sebelumnya. Penafsiran rûh semuanya ditafsirkan dengan 

hal yang dahsyat. Kata rûh ditafsirkan dengan sesuatu yang tidak biasa, tidak kecil, 

dan tidak remeh-temeh. Penafsiran ini sesuai dengan konteks ayat ini . Apabila 

ditafsirkan dengan rûh sebagai penggerak kehidupan badan atau ditafsirkan dengan 

Jibril, malahan tidak sesuai dengan makna yang tersirat di dalam teks ayat ini . 

Selain itu, kalau kita cermati rangkaian kalimatnya, kata rûh pasti berhubungan dan 

satu rangkaian dengan Allah swt. atau dengan sifat-Nya. 

Di dalam al-Qur‟an, penafsiran rûh masih ada satu varian lagi. Seperti ayat 

berikut ini: 

لََ ٱيُ نَ ز ُلَ

َ

ِمنَِعَباِدهَََِعَلىَ َۦلر وِحَِمنَأَمرِهَِٱِئَكَةَبَِمل َأَنَاَفَََلَإِلََ َۥَأنَأَنِذُرواَْأَن وََُۦ َمنََيَشاءَُ   ٢ ت  ُقونَِٱَوَِإل 

2. Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan 

perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, 

yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang 

hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku"

45

 

Ayat ini  ditafsirkan oleh al-Qarni sebagai berikut: 

َنََمََِاسََواَالنَ ُفَوَ خَََنََْأ:َبََِّْيََلَِسََرَْ  ُ مَلْاََهَِادََِبَعََِنَْمََِاءَُشَََيََنَْىَمََلََعَََهَِِرَمَْأََنَْمََِيَِحَْلوََْاَِبََةََكََئََِلَ َ مَلْاََاللََُلَُزَ ن ََي َُ

46.َصََِلَخَْلَِاَْوَََةَِادََبََلعَِْاَِبََيَْادَِرََف َْإَِوَََيَْضَِائَِرََف َََءَِآأدِبََنََوَْقَُالت َ اَ،َفََنََََأل َِإََقَ ِبَََدََوَْب َُعََْمَََلََوَُن ََأ،َوَََكَِرَْالشَ 

 

 Pada ayat ini  ada  kata yunazzilul malaikata birruh. Kata ini  

ditafsirkan oleh al-Qarni dengan َُ َْاََاللََُلَُزَ ن ََي

َ

يَِحَْلوََْاَِبََةََكََئََِلَمل  . Hal ini berarti kata ruh 

dalam ayat ini  yaitu  wahyu. Wahyu di sini berarti al-kitab atau al-Qur‟an. Mari 

kita tengok satu ayat lagi. 

                                                          


 

َ َيُلِقيَٱوَِتَذَُلد َرجََ ٱَرِفيُع َِمنَأَمرِهَِٱلَعرِش َِمنَِعَباِدهَََِعَلىَ َۦلر وَح ََۦَمنََيَشاُء ََيوَم  لت َلقَِٱلِيُنِذَر

١٥  

15. (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang memiliki  ´Arsy, Yang 

mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang 

dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan 

(manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat

 

Ayat ini  ditafsirkan al-Qarni dengan: 

،ََهَُرََدَْقََُوَِِبََعََفََرت ََاَْ،َوَََوَِاتََِقَوَْلَُمَََْوَِِبََنََايََاَبََاعًَفََرتَِْاََوَُاتَُجَََرَدَََتَْعََفََرت ََْاََيَْذَِلىَالَّعََْلْاََيَ لَِلعََْاََوََىََُاللَََنَ إَِ

َوَََمَِيَْظَِلعََْاََشَِرَْلعََْاََبَُاحَِصَََوََىَُوََ ،ََوَِِبََنََوَْي ََيََُْيَْذَِالََّيَُحَْلوََمَاَْهَِْيََلَِإََلََسَِرَْي ََُنَْأََهَِادََِبَعَِِبََوَِتَِحَََْرََنَْمَِ،

َوَِيَْيَفَِذَِالََّةَِامََيََلقَِْاََمََوَْي َََمَْىَُرََذَِنَْت َُ،َوَََاللََِادَََبَعََِلَُسَُالرَ َفََوَ خََتَُ،َلََِمَْىَِِرَمََْاََنَْمََِةٍَرََي َْصَِىَبََلََعَََنََوَْنُ َوَْكَُيََف ََ

48.َنََْوَرَُاآلخَِوَََنََوَْلَُوَ َلاَْ

 

Kata yulqirruh min amrihi pada ayat ini  di tafsirkan dengan َلََسَِرَْي ََُنََْأ

يَُحَْالوَََمَْهَِْيََلَإَِ . Yaitu ditafsirkan dengan wahyu atau al-Qur‟an. Kedua ayat yang 

disebutkan terakhir memiliki  penafsiran yang berbeda berkaitan dengan rûh. Kedua 

ayat terakhir ditafsirkan dengan wahyu. 

berdasar  tafsiran ayat-ayat diatas bahwasannya hakikat dan rahasia rûh 

yaitu  hanya diketahui oleh Allah, manusia hanya diberikan sedikit sekali 

pengetahuan mengenainya. Al-Qur‟an menjelaskan, meskipun karakternya sukar 

dipahami atau non-fisis, realitanya rûh yaitu  entitas yang tidak dapat diragukan. 

Rûh, memakai  ungkapan sufi, yaitu  sebuah partikel illahiah pada manusia. Rûh 

dapat dipahami sebagai sumber energi kehidupan dan menempati sesuatu, sebagai 

                                                          

perantara untuk mengaktualisasikan gerak rûh ini  berdasar  kehendak 

pencipta. Selain rûh ditafsirkan dengan motor penggerak kehidupan jasmani, rûh juga 

memiliki  varian tafsir yang lain. Diantaranya yaitu  rûh ditafsirkan dengan 

malaikat Jibril, rûh ditafsirkan dengan Iman, dan yang terakhir rûh ditafsirkan dengan 

wahyu Allah atau al-Qur‟an. 

Dalam meneliti ayat-ayat rûh, peneliti menemukan hal yang unik. Setiap ada 

kata rûh dalam suatu ayat, pasti berhubungan dengan tanda-tanda yang kebesaran 

Allah. Rûh dipakai untuk meyakinkan dan menundukkan. Seperti yang ada  pada 

surat al-Hijr ayat 29, as-Sadjah: 9, dan Shaad: 72. Dalam konteks ayat-ayat ini ,  

rûh dipakai  untuk pengakuan eksistensi Nabi Adam dan kesempurnaan dari pada 

makhluk lain. sedang  pada ayat yang lainnya rûh dipakai  sebagai pengingat 

bagi orang-orang yang membangkang agar ingat semuanya yaitu  dari Allah. Seperti 

halnya pada surat , An-Nisa‟: 17, Al-Anbiya‟: 91, dan At-tahrim: 12. 

3. Perbedaan Rûh dan Jiwa Menurut ‘Aidh al-Qarni 

Istilah jiwa atau rûh dalam kadar yang berbeda banyak memiliki arti dan 

perbedaan, terkait dengan jumlah dan makna dalam penggunaannya. Jiwa merupakan 

sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak dapat dikaji oleh ilmu empirik. Jiwa sering 

sekali disebut sebagai salah satu komponen mahluk hidup, termasuk manusia, akan 

namun  sering tidak dapat dipahami perbedaan yang mendasar antara jiwa dan rûh.  

sedang  rûh merupakan sesuatu yang datangnya dari Allah yang ditiupkan 

kepada jasad manusia melalui malaikat Jibril yang diberikan kepada setiap manusia 

dan ruh itu bukanlah jasad. Atau dengan kata lain ruh merupakan sesuatu yang 

menyebabkan manusia hidup yang ditiupkan kedalam jasad manusia.  

Penjelasan jiwa dalam al-Qur‟an diantaranya dalam surat as-Syams ayat 7-8 

sebagai beikut: 

ى   َوَمب س  َووَف      ٥ هَبَىى  َوتَق   فُُجىَرهَب هََمهَبفَأَل  ٢ هَبَسىَّ

Artinya: dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),  maka Allah mengilhamkan 

kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 


 

Tafsirannya menurut al-Qarni dalam tafsir Muyassar yakni Aku benar-benar 

bersumpah dengan setiap jiwa yang diciptakan Allah dan kemudian disempurnakan-

Nya dalam rupa yang sangat baik, yang dibentuk Allah dengan bentuk yang sangat 

bagus, dan mewujudkannya dalam perawakan yang indah dan elok.

Maka Allah 

menjelaskan kepada jiwa itu mana jalan yang benar dan mana yang batil. Dia juga 

menjelaskan kepadanya tentang mana jalan hidayah dan jalan kesesatan. Yang 

demikian itu yaitu  agar segala alasan terpatahkan.

 

berdasar  penafsiran di atas bahwasannya jiwa yaitu  sesuatu yang berada 

dalam diri manusia dan mengalami perkembangan kualitas, pertumbuhan sesuai 

dengan perjalanan hidup manusia. Semakin dewasa dan bertambahnya umur manusia 

maka semakin tinggi pula kualitas jiwanya. 

Apabila kita melihat penafsiran „Aidh Al-Qarni makna nafs (jiwa) di dalam 

tafsirnya, kita akan menemukan beberapa makna tentang jiwa. Jiwa berpotensi 

menuju ke hal yang negatif dan hal yang positif. Atau bisa dibilang rûh yaitu  materi 

yang labil, bisa tergoncang ke sana dan ke mari. Beberapa tafsiran Al-Qarni dalam 

tafsirnya tentang jiwa untuk perbandingan dengan rûh sebagai berikut: 

Di dalam surat al-Baqarah ayat 9: 

َوَماََيَدعَُٱلل َوَوََٱَِدُعونََُيََ  َأَنُفَسُهمََوَماََيشُعُروَنَل ِذيَنََءاَمُنواَْ  وَنَِإل 

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal 

mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.


 

Ayat ini  ditafsirkan al-Qarni sebagai berikut:  

                      

 

اَمََ،َوَََرََفَْكَُمَالَْىَِارَِمََضَْإَِوَََانََيََْلَِمَاَْىَِارَِهََظَْإَِاَبَِوَْن َُآمَََنََيَْذَِوالََّاللَََنََوَْعَُادَِيَََُمَْهَُن َ أََمَْهَِلَِهَِْبََُنََوَْدَُقََِتَعَْي ََ

َِلََمَْهَُسََفَُن َََْأل َِإََنََوَْعَُدََيََْ َوَََمَْهَِْيَلََعَََدَُوَْعَُت َََمَْهَِاعَِدََخََِةََبََاقَِعَََنَ ، َنََوَْسَ َيَََِلََمَْهَُلََهَْجََُطََرََف َََنَْمََ.

52.َمَْبَِِوَْلَُق ََُادَِسََفََ،َلََِكََِلَذََبَِ

 

Hal ini menunjukkan bahwa jiwa berpotensi berbuat kesalahan. Konteks ayat 

ini  yaitu  orang-orang musyrik yang mengira bahwa mereka dapat menipu 

Allah dan orang-orang muslim. Padahal sejatinya mereka hanya menipu diri sendiri. 

Hal ini disebabkan oleh rusaknya hati nurani mereka. Dari penafsiran ayat ini  

jelas, al-Qarni menjelaskan bahwa potensi jiwa sebagai pendorong ke perbuatan 

negatif yaitu  nyata. 

Di dalam ayat yang lain juga dijelaskan tentang jiwa: 

َََتزِيَنَفٌسََعنَن فٱوََ َعةََوَلَيُؤَخُذَِمنَهاََعدلََوَلَُىمََوَلَيُقَبُلَِمنَهاََشفََ ََشيئاسَت  ُقوْاََيوماَل 

  ٤٥ يُنَصُرونََ

48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) 

seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu 

pula) tidak diterima syafa´at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka 

akan ditolong.

 

Kata nafsun dalam ayat ini  di artikan seseorang. Akan namun  kalau kita 

cermati keseluruhan dari ayat ini , kata ini  dihubungkan dengan siksaan. Ini 

berarti bahwa kata nafsun yang bisa berarti jiwa yaitu  pendorong bagi perbuatan 

yang dianggap maksiat kepada Allah. Sehingga menimbulkan hukuman kelak dihari 

kiamat, tidak ada yang bisa menolong mereka. Lihat tafsirannya Al-Qarni berikut ini: 

                                                       

 

ََلَ،َوَََنََيَْرَِافَِلكَََاَِْفََةًَاعََفََشَََاللََُلََُبَقََْي َََلَاَ،َوًََئَيَْشَََدٍَحََأََنَْعَََدٌَحََََأِنَغََْي َُ،ََلََةَِامََيََلقَِْاََمََوَْاَي ََوَْاف َُخََوََ

َمََدَ قََت ََي َََنَْأَ مَِوَْلي ََذاَاََْىََِفََدٌَحََأََكَُلََِيَََْلَاَ،َوََعًَي َْجَََِضَِرََْلْاََالَُوََمَْأََتَْانََكََََوَْلََ،َوَََةًَيََدَْفََِمَْهَُن َْمََِلََُبَقَْي ََ

54.َابَِذََلعََْاََنََمََِمَْىَِاذَِقََن َْإَِوَََمَْتَِِرََصََْنَلَِ

 

Masih di dalam surat al-Baqarah, pada ayat 54 juga menyebutkan tentang 

nafs. Lihat pada ayat berikut: 

َاذُِكُمَٱَقوِمَِإن ُكمَظََلمُتمَأَنُفَسُكمَبَِيَ ََۦلَِقوِموَََِوِإذَقَاَلَُموَسىَ  قتُ ُلواَْٱبَارِِئُكمَفَََلِعجَلَفَ ُتوبُوْاَِإىَلَ ٱَّت 

  ٥٤ لر ِحيمَُٱلت  و اُبَٱُىَوََۥِإن وََُۚ  َخيَل ُكمَِعنَدَبَارِِئُكمَفَ َتاَبََعَليُكمِلُكمَأَنُفَسُكمَذََ 

54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, 

sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri sebab  kamu telah 

menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan 

yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu yaitu  lebih baik 

bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima 

taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha 

Penyayang".

 

 

Kata anfusun di dalam ayat ini  yaitu  jamak dari nafsun. Dalam konteks 

ayat ini  kata ini  dipakai  untuk menunjukkan kaum Nabi Musa yang 

menciderai diri sendiri dengan menyembah anak lembu. Dalam tafsirnya Al-Qarni 

menafsirkan ayat ini : 

اَ.َلًَِإََلََجَْلعَِْاََمَُكَُاذَِاَّت ََِبََمَْكَُسََفَُن َْأََمَْتَُمَْلََظَََمَْكَُن َِإََوَِمَِوَْقََسىَلَِوَْمََُالََقَََّْيََحََِمَْكَُْيَلََاَعََنََت ََمََعَْاَنَِْوَرَُكَُاذَْوََ

َإَِوَْبُ َوَْت َُف ََ َدَِوَْلَُخلَُْاََنََمََِمَْكَُقَِالَِخَََدََْنَعََِمَْكََُلََرٌَي َْاَخََذََىََ،َوََاَضًَعَْب َََمَْكَُضََعَْب َََلََُتَقَْي َََنََْأ:َبََِمَْكَُقَِالََِخََىَلَا

َابٌَوَ الت َ َوََتعاىلَىََُوَُنَ .َإََِمَْكَُِتََبَوَْت َََلٍَوَْب َُقََِبََمَْكَُْيَلََعَََاللََُنَ مََ،َفَََكََذلََِمَُْتَلَْث ََتََامَْ،َفَََارََِالنَ ِفََيَ دَِبَََلاَْ

56.َمَْبََِِمَُيَْحَِ،َالرَ َهَِادََِبَعََِنَْمََِابَََتََنَْمََلَِ

 

Kata nafsun ini  dikaitkan dengan hal negatif, yaitu menciderai diri 

sendiri dengan menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Hal ini terjadi pada kaum 

                                                  

 

Nabi Musa. Hal ini mengindikasikan bahwa kata nafsun dalam ayat ini  berkaitan 

dengan hal yang negatif. Akan namun  masih punya kesempatan untuk berbuat baik 

yaitu dengan cara bertaubat kepada Allah. Sama dengan tafsiran al-Baqarah ayat 87: 

َمَُانََطََعَْأََدَْقََلََوََ َالت َ وَْا َوَََاةَََرَوَْسى َوَََلََيَْائَِرََسَِْإََِنََْبََنَْمََِلٍَسَُُرَِبََاهََُنَعَْب ََت ََْأ، َعَِنََي َْطََعََْأ، َمََيَْا َبن َيَََرَْسى

َدَِْنَعََِنَْمََِيٍَحَْوََِبََلٌَوَْسَُرَََمَْكَََُاءََاَجََمََلَ كَُفََ.ََأَمََُلَالسَ َوَِْيَلََعَََلََْيَبَِِْبََِهَُناََْيَوَ ق ََوَََاتَِحََاضَِلوََْاََاتَِزََجَِعَْ ُ مَلاَْ

57ا؟قًَي َِْرَفَََنََوَْلَُت َُقَْت ََاَوََقًَي َِْرَفَََمَْتَُب َْذَ كََ،َفَََوَِْيَلََعَََمَُْتَْيَلََعَْت ََ،َاسََْمَْكَُاءََوََىَْأََقَُافَِوَََي ََُلََاللَِ

 

Tafsiran ini  menjelaskan bahwa kata nafsun dihubungkan dengan 

penolakan mu‟jizat-mu‟jizat yang diberikan Allah kepada para rasulnya. Begitu juga 

penolakan kebenaran dengan diutusnya para rasul dengan kitab-kitab yang 

diwahyukan kepada mereka. 

Pada ayat-ayat ini  di atas, kata nafsun dikaitkan dengan hal-hal yang 

negatif. Dan masih banyak lagi ayat yang serupa dengan ayat-ayat yang telah 

disebutkan di atas. Di samping ayat-ayat yang mengandung kata nafs yang dikaitkan 

dengan hal-hal negatif, kata nafs juga dikaitkan dengan hal-hal positif. Diantara ayat-

ayat yang menjelaskan hal ini  yaitu : 

أَوىَ ٱجلَن َةَِىَيَٱفَِإن َ ٤٠ لََوىَ ٱلن فَسََعِنَٱَونَ َهىََۦَوأَم اََمنََخاَفََمَقاَمََرب وَِ

َ

  ٤١ مل

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan 

menahan diri dari keinginan hawa nafsunya 

41. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

58

 

 

Ayat ini  ditafsirkan oleh al-Qarni dengan: 

َمََمَ أَوََ َوَََابَِسََحَِْلَِلََاللََِيَْدَََيََّْيََب َََامََيََلقَِْاََفََاخَََنَْا َفَََةَِدََاسَِفََالََْاءَِوََىََْلْاََنَِعَََسََفَْىَالن َ هََن ََ، َنَ إَِ،

59.َةٌَنََكََسَْمَََيََىََِةََنَ جلََاَْ

 

                                                          

 

Kata nafsun dalam konteks ayat ini  dikaitkan dengan pengendalian hawa 

nafsu. Orang yang bisa mengendalikan jiwanya menjauh dari hawa nafsu yang 

merusak, dijanjikan Allah dengan surga sebagai tempat tinggalnya kelak. Keterangan 

ini memiliki  indikasi bahwa nafsun juga berpotensi menuju ke hal yang posistif. 

Di dalam ayat lain yang menerangkan nafsun berkaitan dengan perbuatan 

yang positif: 

طَمِئن ُةَٱلن فُسَٱأَي  تُ َهاَيََ 

ُ

  ٢٥ َرب ِكَرَاِضَيةَم رِضي ةَرِجِعيَِإىَلَ ٱ  ٢٢مل

27. Hai jiwa yang tenang 

28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

60

 

 

Ayat ini  di tafsirkan oleh Al-Qarni dengan: 

َىَلَِإََيَْعَِجَِ،َارََّْْيََِنَمَِؤَْمَُْلَِلََمَِْيَعَِالنَ َنََمََِهَُدَ عََاََأبََِ،َوَََوَِِبََانَِيََْلَِاَْوَََاللََِرَِكََْذَِىَلَِإََةَُن َئَِمََطَْ  ُ مَلْاََسَُفَْاَالن َ هََي َ أَآي

َواللََُكَََلََاللََِامَِرََكَِْإَِبََةًَيََاضَِرَََكَِب َرََ َفَََكَِْنَعَََيََضََِرََدَْقَََوَُانََحََبَْسََُ، َاللََِادََِبَعََِادٍَدََعَََِفََْيَْلَِخَُادَْ،

61.َِتَْنَ جَََمَْهَُعََمَََيَْلَِخَُادَْ،َوَََّْيََالَِِالصَ 

 

Jiwa-jiwa yang tenang yaitu  jiwa-jiwa yang ingat kepada Allah dan iman 

kepadaNya. Jiwa-jiwa yang seperti itu diberi jaminan bisa masuk surga kelak.  

Tafsiran al-Qarni pada surat al-Fajr: 27-28  yaitu  jiwa-jiwa yang dilandasi dengan 

iman kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa jiwa juga bisa mendorong kepada 

hal yang positif. Penafsiran pada ayat ini  juga sama dengan ayat yang ada pada 

surat al-Qiyamah ayat 1-4, penafsirannya sebagai berikut: 

َوَََاءَِزََجلََاَْوَََابَِسََلَِْاََمَِوَْي ََِبََوَُانََحََبَْسََُاللََُمََسََقََْأ اَهََب َُاحَِصَََمَُوَْلَُت َََِتَْالَ َةَِي َقَِالتَ َةََِنَمَِؤَْ ُ مَلْاََسَِفَْالن َ ِبََمََسََقََْأ،

َنََْلََنَْأََرََافَِلكََْاََانَِسََنَْاَالَِىذَََنَ ظَُيََ.ََأَنََوَْث َُعََب َْيَُسَََاسََالنَ َنَ ،ََأَاتَِقََِبَوَْ ُ مَلْاََلَِعَِْفَوَََاتَِاعََالطَ َكَِرَْىَت ََلََعََ

                                                                                                                                                                                           

 

َجََْلََعَََرََدَِقَْن ََ َبََهََقَِر َفََت َََدََعَْب َََوَِامَِظََعََِعَِى َ؟ َسََا َقََهََعَُمََجَْنََلى ،َ ََألََعَََنََيَْرَِادَِا َوَْأََوَُعََابَِصََأََلََعََنَََْنَْى

َكََي َوَِاَسََقًَلَْخَََ-اهََفَِْيَِلَأَْتََاَوََهََعَِجَََْدََعَْب َََ–َوَُلََامََِنََأ َكََمََاَ، 62.َتَِوَْ  َ مَلْاََلََبَْق َََتَْانََا

 

Pada penafsiran surat al-Qiyamah ayat 1-4 ini , Allah melakukan sumpah 

dengan memakai  kata nafsun. Artinya kata nafsun juga merupakan kata yang 

bisa dikatakan wah, sampai-sampai Allah melakukan sumpah dengan kata ini . 

Nafsun ini  yaitu  nafsun yang dipenuhi dengan keimanan. 

Selain nafsun berpotensi kepada hal yang negatif dan positif, nafsun juga 

netral. Perhatikan penafsiran pada surat al-„Ankabut ayat 57: 

وتَِٱُكل َنَفسََذائَِقُةَََ

َ

إِلَيَناَتُرَجُعونَََۚ   مل   ٥٢ ُثَ 

57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada 

Kami kamu dikembalikan. 

Ayat ini  ditafsirkan Al-Qarni dengan: 

63.َاءَِزََاجلََْوَََابَِسََحَِْلَِلََنََوَْعَُجََرَْاَت َُنََي ََْلَِإََُثَ َتَِوَْ مََلْاََةَُقََائَِذَََةٍَايََحَََسٍَفَْن َََلَ كَُ

 

Pada penafsiran ayat kata nafsun bersifat netral. Kata ini  tidak dikaitkan 

dengan hal negatif maupun positif. Penafsiran di atas menyatakan bahwa setiap yang 

memiliki  ruh pasti akan menemui ajalnya alias tewas. Hal ini bisa berlaku bagi 

manusia, hewan, tumbuhan dan yang lainnya.  

Terkait dengan posisi rûh, Ibnu Taimiyah

64

 berpendapat bahwa tempat rûh 

atau jiwa yaitu  terletak didalam tubuh, artinya tidak ada tempat khusus rûh di dalam 

jasad, namun  rûh mengalir di dalam jasad sebagaimana kehidupan mengalir di dalam 

seluruh jasad, maka berpisah dengan nyawa.

Jiwa menurut al-Qur,an adaah suatu dzat yang bulat (totaliteit) tercakup di 

dalamnya rûh dan jasadnya atau dinyatakan kepada jasad saja, atau kepada ruh saja. 

namun  ruh tidak dinyatakan kepada jasad saja, dan tidak juga kepada jiwa saja. Jadi 

rûh itu memberi hidup kepada jasad dan kepada jiwanya sekaligus. Oleh sebab  itu, 

manusia yang tidak memiliki  rûh, hidup namun  mati. Badan manusia (tubuh atau 

jasad) disebut hidup sebab  ada rûhnya, dan disebut berharga sebab  ada jiwanya. 

Dengan rûh manusia hidup dengan jiwa ia menjadi barang yang berharga. Jiwa yang 

dihidupi oleh ruh menjadi mulia. 

Jadi perbedaan antara rûh dengan jiwa yaitu  perbedaan sifatnya bukan 

perbedaan dzatnya. Jiwa disebut dengan darah, sebab keluarnya jiwa menuju 

kematian. Hidup tidak sempurna tanpa arah sebagaimana tidak sempurna tanpa jiwa. 

Tubuh yang tidak bernafas berarti mati.  

Jadi jiwa yaitu  suatu kekuatan, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia 

yang menurut ahli ilmu bersarang pada akal, kemauan dan perasaan, sedang  rûh 

itulah yang memberi semangat yang positif. Dengan melihat beberapa ayat yang di 

dalamya ada  kata nafs, hal positif yang mendorong jiwa yaitu  keimanan dan 

kesucian. Adapun yang memberi semangat negatif kepada jiwa yaitu  hawa nafsu, 

yang merupakan kekuatan dan daya syaitoniyah.

67

 Wallahu a’lam. 

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt. dengan izinnya peneliti mampu 

memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir. Shalawat dan salam kami 

haturkan kepada junjungan manusia Nabi Muhammad (Akmalul Insan) sebab  dengan 

diutusnya beliau manusia mampu menempuh jalan yang disinari dengan kebenaran. 

sesudah  melalui perjalanan panjang, akhirnya paripurna penelitian ini dengan beberapa 

kesimpulan, diantaranya: 

 Manusia yaitu  makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah swt. 

Manusia yaitu  makhluk yang bisa berpikir dan berkehendak. Untuk itu manusia 

memiliki  potensi untuk menjadi lebih tinggi derajadnya daripada malaikat dan lebih 

rendah daripada hewan. Tergantung pilihan manusia berkehendak memilih posisi yang 

mana. Pilihan itu ada kaitannya tentang rûh, jiwa dan akal. Rûh sejatinya memberi  

dorongan positif pada manusia. Apabila rûh dapat menyeimbangkan jiwa dan akal, hal-

hal positif akan selalu melekat pada diri manusia. Kaitannya dengan rûh, pada penelitian 

ini, peneliti mengupas lebih dalam makna dan hakikat rûh yang ada  di dalam ayat-

ayat al-Qur’an, berdasar  kitab tafsir Al-Muyassar karya al-Qarni. 

Dalam penelitian ini, mengakomodasi semua ayat yang di dalamnya ada  kata 

rûh. tahap  selanjutnya peneliti menelaah dengan seksama penafsiran ayat-ayat rûh ini  

di dalam kitab tafsir Al-Muyassar. Satu penafsiran dari ayat dan penafsiran dari ayat 


 

lainnya didalami makna rûh-nya sesuai dengan basis tafsir yang dipakai , yaitu 

memakai  metode ijmali. 

Hasil dari penelitian ini yaitu ; pertama, metode penafsiran yang dipakai  oleh 

‘Aidh Al-Qarni yaitu  metode ijmali. Hal ini terlihat jelas, bahwa tafsir Al-Muyassar 

menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas namun  mencakup, dengan bahasa yang 

populer mudah dimengerti dan enak dibaca. Sistematika penulisannya sesuai dengan 

urutan ayat-ayat di dalam mushaf, yaitu dari sutat Al-Fatihah hingga surat An-Nas. 

Kedua, konsep ruh dalam tafsir Muyassar karya ‘Aidh al-Qarni ialah ruh 

merupakan paket yang datangnya dari Allah yang ditiupkan kepada jasad manusia 

melalui malaikat Jibril yang diberikan kepada setiap manusia. Rûh sebagai motor 

penggerak jasad dan akal manusia. sedang  hakikat dan rahasia rûh yaitu  hanya 

diketahui oleh Allah, manusia hanya diberikan sedikit sekali pengetahuan mengenainya. 

Al-Qur’an menjelaskan, meskipun karakternya sukar dipahami atau non-fisis, realitanya 

eksistensi rûh tidak dapat diragukan keberadaannya. Rûh yaitu  sebagai sumber energi 

kehidupan dan menempati sesuatu, sebagai perantara untuk mengaktualisasikan gerak rûh 

ini  berdasar  kehendak pencipta. Selama meneliti ayat-ayat yang berkaitan 

dengan rûh, peneliti menemukan hal yang unik. Setiap ada kata rûh, pasti konteksnya 

yaitu  pengagungan, pengakuan, dan penundukan. 

Ketiga, rûh memiliki  banyak makna di dalam al-Qur’an. Rûh tidak hanya 

ditafsiri sebagai motor penggerak tubuh manusia. Rûh juga ditafsiri dengan wahyu, 

malaikat Jibril, dan iman. Hal ini sesuai dengan konteks ayat yang ada. 

berdasar  hasil penelitian ini semoga dapat menjadi salah satu referensi untuk 

memahami lebih dalam mengenai konsep rûh menurut ‘Aidh al-Qarni dalam tafsir 

Muyassar. Namun hasil penelitian ini hanya membahas mengenai konsep rûh menurut 

‘Aidh al-Qarni dalam tafsir Muyassar.Untuk itu bagi para pembaca skripsi ini, hendaknya 

dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsep rûh menurut para mufasir yang 

lain agar keilmuan dan pengetahuan mengenai konsep rûh dapat bertambah lagi. Selain 

itu juga perlunya dilakukan kajian ulang terhadap pemaknaan rûh secara terus menerus 

dan pengkajian yang teliti dan mendalam sehingga diharapkan dapat menemukan sebuah 

pemikiran yang benar. 



Manusia terdiri dari ruh dan jasad, karenanya Allah Swt menundukkan keduanya secara keseluruhan, 

baik ketika di mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Ruh adalah makhluk. Beberapa hadits 

mengidentifikasikan bahwa ruh adalah materi yang lembut. Bagi sementara pihak yang berkata bahwa 

ruh adalah qadim, merupakan kekeliruan besar. 

Ahli hakikat dari kalangan ahli sunnah berbeda pandangan soal ruh. Ada yang berpendapat, ruh adalah 

kehidupan, yang lain berpandangan ruh adalah kenyataan yang ada dalam hati, yang bernuansa lembut. 

Allah Swt menjalankan kebiasaan makhluk dengan mencipta kehidupan dalam hati, sepanjang arwahnya 

menempel di badan. Manusia hidup dengan sifat kehidupan, tetapi arwah selalu di cetak di dalam hati 

dan bisa naik ketika tidur dan terpisah dengan badan, kemudian kembali kepada-Nya.[1] 


A. Pengertian al-Ruh 

Menurut Ibnu Zakariya (w. 395 H / 1004 M) menjelaskan bahwa kata al-ruh dan semua kata yang 

memiliki kata aslinya terdiri dari huruf ra, wawu, ha; mempunyai arti dasar besar, luas dan asli. Makna 

itu mengisyaratkan bahwa al-ruh merupakan sesuatu yang agung, besar dan mulia, baik nilai maupun 

kedudukannya dalam diri manusia.[2] 

Al-Raqib al-Asfahaniy (w. 503 H / 1108 M), menyatakan di antara makna al-Ruh adalah al-Nafs (jiwa 

manusia). Makna disini adalah dalam arti aspek atau dimensi, yaitu bahwa sebagian aspek atau dimensi 

jiwa manusia adalah al-ruh.[3] 

Nyawa (ruh) menurut al-Ghazali mengandung dua pengertian, pertama : tubuh halus (jisim lathif). 

Sumbernya itu lubang hati yang bertubuh. Lalu bertebar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang 

ke segala bagian tubuh yang lain. Mengalirnya dalam tubuh, membanjirnya cahaya hidup, perasaan, 

penglihatan, pendengaran, dan penciuman dari padanya kepada anggota-anggotanya itu, menyerupai 

membanjirnya cahaya dari lampu yang berkeliling pada sudut-sudut rumah. Sesungguhnya cahaya itu 

tidak sampai kepada sebagian dari rumah, melainkan terus disinarinya dan hidup itu adalah seperti 

cahaya yang kena pada dinding. Dan nyawa itu adalah seperti lampu. Berjalannya nyawa dan 

bergeraknya pada batin adalah seperti bergeraknya lampu pada sudut-sudut rumah, dengan digerakkan 

oleh penggeraknya. 

Pengertian kedua yaitu yang halus dari manusia, yang mengetahui dan yang merasa. Dan itulah tentang 

salah satu pengertian hati, serta itulah yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya: 

ْوُح ِمْن اَْمِر َرب ِى }اإلسراء : 85{  قُِل الرُّ

“Jawablah! Nyawa (ruh) itu termasuk urusan Tuhanku” (QS. Al-Isra’ : 85) 

Dan itu adalah urusan ketuhanan yang menakjubkan, yang melemahkan kebanyakan akal dan paham 

dari pada mengetahui hakikatnya.[4] 

Dengan adanya al-ruh dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi makhluk yang istimewa, unik, 

dan mulia. Inilah yang disebut sebagai khayalan akhar, yaitu makhluk yang istimewa yang berbeda 

dengan makhluk lainnya. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dalam QS. Al-Mu’minun : 14.[5] Kata al-Ruh 

disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surat yang tersebar 

dalam 21 ayat. Dalam 3 ayat kata al-ruh berarti pertolongan atau rahmat Allah, dalam 11 ayat yang 

berarti Jibril, dalam 1 ayat bermakna wahyu atau al-Qur’an, dalam 5 ayat lain al-ruh berhubungan 

dengan aspek atau dimensi psikis manusia.[6] 

B. Karakteristik al-Ruh 

Mengenai ruh ada beberapa karakteristik, antara lain : 

1. Ruh berasal dari Tuhan, dan bukan berasal dari tanah / bumi 

2. Ruh adalah unik, tak sama dengan akal budi, jasmani dan jiwa manusia. Ruh yang berasal dari Allah itu 

merupakan sarana pokok untuk munajat kehadirat-Nya 

3. Ruh tetap hidup sekalipun kita tidur / tak sadar 

4. Ruh dapat menjadi kotor dengan dosa dan noda, tapi dapat pula dibersihkan dan menjadi suci. 

5. Ruh karena sangat lembut dan halusnya mengambil “wujud” serupa “wadah”-nya, parallel dengan zat 

cair, gas dan cahaya yang “bentuk”-nya serupa tempat ia berada. 

6. Tasawuf mengikutsertakan ruh kita beribadah kepada Tuhan 

7. Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat Allah tidak saja sampai pada taraf kesadaran lahiriah, tapi 

juga tembus ke dalam alam rohaniah. Kalimat Allah yang termuat dalam ruh itu pada gilirannya dapat 

membawa ruh itu sendiri ke alam ketuhanan.[7] 

C. Al-Ruh sebagai Dimensi Spiritual Psikis Manusia 

Dimensi dimaksudkan adalah sisi psikis yang memiliki kadar dan nilai tertentu dalam sistem “organisasi” 

jiwa manusia. Dimensi spiritual dimaksudkan adalah sisi jiwa yang memiliki sifat-sifat Ilahiyah 

(ketuhanan) dan memiliki daya untuk menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk 

mewujudkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Pemilihan sifat-sifat Tuhan bermakna memiliki potensi-

potensi lahir batin. Potensi-potensi itu melekat pada dimensi-dimensi psikis manusia dan memerlukan 

aktualisasi. 

Dimensi psikis manusia yang bersumber secara langsung dari Tuhan ini adalah dimensi al-ruh. Dimensi 

al-ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimiliki oleh sumbernya, yaitu Allah. Perwujudan dari 

sifat-sifat dan daya-daya itu pada gilirannya memberikan potensi secara internal di dalam dirinya untuk 

menjadi khalifah Allah, atau wakil Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara 

nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa 

dimensi al-ruh merupakan daya potensialitas internal dalam diri manusia yang akan mewujud secara 

aktual sebagai khalifah Allah.[8] 

Dalam al-Qur’an dijelaskan kata al-ruh berhubungan dengan aspek atau dimensi psikis manusia. Berikut 

dijelaskan bahwa Allah “meniup”-kan ruh-Nya ke dalam jiwa dan jasad manusia. Sebagaimana yang 

terdapat dalam ayat berikut ini : 

وِحي فَقَعُواْ لَهُ َساِجِديَن }الحجر : 29{ ْيتُهُ َونَفَْخُت فِيِه ِمن رُّ  فَإِذَا َسوَّ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan ke dalamnya ruh 

(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS. Al-Hijr : 29) 

Berdasarkan ayat di atas, kata ruh dihubungkan dengan Allah. Istilah yang digunakan untuk menyatakan 

hubungan itu juga beragam, seperti al-ruh minhu ruhina, ruhihi, al-ruhiy, ruh min amri rabbi. 

Selanjutnya, ruh Allah itu diciptakan kepada manusia melalui proses al-nafakh. Berbeda dengan al-nafs, 

sebab nafs telah ada sejak nutfan dalam proses konsepsi, sedangkan ruh baru diciptakan setelah nutfah 

mencapai kondisi istimewa. Karena itu merupakan dimensi jiwa yang khusus bagi manusia.[9]  

Menurut psikologi transpersonal, ada dua hal penting dalam diri manusia, yaitu potensi-potensi luhur 

batin manusia (human highest potentials) dan fenomena kesadaran manusia (human states of 

consciousness). Yang menjadi perhatian bagi psikologi transpersonal yaitu dalam wilayah aspek 

ruhaniah. Telaahnya berbeda dengan psikologi humanistic, bahwa psikologi humanistic lebih 

menekankan pada pemanfaatan potensi-potensi luhur manusia untuk meningkatkan kualitas hubungan 

antar manusia. Sedangkan psikologi transpersonal menekankan pada pengalaman subjektif spiritual 

transcendental.[10] 

Tasawuf Islam mengajarkan metode dan teknik-teknik munajat dan shalat khusyuk guna meningkatkan 

derajat ruh mencapai taraf al-nafs al-muthmainnah / lebih tinggi lagi. Sehingga diharapkan manusia 

dapat mengembangkan diri mencapai kualitas insan kamil. Adapun ruh diciptakan jauh sebelum manusia 

dilahirkan, berfungsi semasa hidup dan setelah meninggal ruh akan pindah ke alam baqa untuk 

mempertanggungjawabkan perbuatannya ke dalam hadirat Ilahi. Jadi ruh itu ada dalam diri manusia, 

tapi tak kasat mat (invisible) karena sangat halus, gaib serta dimensinya yang jauh lebih tinggi dari alam 

pikiran, serta tahapannya pun di atas alam sadar. Ruh dengan demikian merupakan salah satu dimensi 

yang ada pada manusia di samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan, yang ada sebelum dan 

sesudah masa kehidupan manusia.[11] 

D. Hiasan Bagi Ruh 

Ruh (roh atau jiwa) juga menunjukkan kelembutan Ilahi, dan seperti halnya si “hati”, ia juga berada di 

dalam hati badaniah. Roh dimasukkan ke dalam tubuh melalui “saringan yang halus”. Pengaruhnya 

terhadap tubuh ialah seperti lilin di dalam kamar, tanpa meninggalkan tempatnya, cahayanya 

memancarkan sinar kehidupan bagi seluruh tubuh. 

Pada dasarnya roh merupakan lathifah dan oleh karenanya ia merupakan suatu unsur Ilahi. Sebagai 

sesuatu yang halus, ia merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi dari manusia yang 

bertanggung jawab terhadap sinar dari penglihatan yang murni, apabila manusia bebas seluruhnya dari 

kesadaran fenomenal.[12] 

Tingkat perkembangan ruh yang sempurna dihiasi dengan sifat-sifat ketuhanan dan berhak menjadi 

wakil Allah. Salah satu aliran berpendapat bahwa nafs harus dibersihkan agar ruh dapat dihiasi. 

Beberapa aliran yang lain beranggapan bahwa jika ruh tidak dihias maka nafs tidak dapat dibersihkan. 

Pandangan lain adalah bahwa sekalipun seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang 

membersihkan nafs, nafs tersebut masih belum bisa dibersihkan seluruhnya dan dia bahkan mungkin 

tidak memiliki kesempatan untuk bekerja dengan ruh. Namun jika seseorang bisa menempatkan nafs 

tetap berada dalam etika thariqat, yang memusatkan perhatian pada pembersihan hati dan menghias 

ruh, maka kemuliaan ketuhanan akan muncul silih berganti melalui pengaruh daya tarik kemurahan dan 

kemuliaan Allah.[13] 

Cinta adalah daya tarik ketuhanan, apabila menemukan jalannya ke dalam hati, dia akan membakar akar 

wujud seseorang, dan menyatukannya dengan wujud mutlak. Hati adalah wilayah persimpangan antara 

kesatuan dan keragaman. Ketika hati dimurnikan dari segala karat keragaman, matahari cinta akan 

terbit dan memancarkan sinar kesatuan. Cinta adalah ramuan wujud. Orang harus mematikan diri agar 

dapat meraih harta karun kehidupan abadi.[14]  

Al-ruh merupakan dimensi jiwa manusia yang sifatnya spiritual dan potensi yang berasal dari Tuhan. 

Dimensi ini menyebabkan manusia memiliki sifat Ilahiyah (sifat ketuhanan) dan mendorong manusia 

untuk mewujudkan sifat Tuhan itu dalam kehidupannya di dunia. Di sinilah fungsinya sebagai khalifah 

dapat teraktualisasikan. Dengan ini, maka manusia menjadi makhluk yang semi samawi-ardi, yaitu 

makhluk yang memiliki unsur-unsur alam dan potensi-potensi ketuhanan.