“Saya mau dibunuh!"
Raden jayakatwang menunggu sampai orang itu berkata lebih lanjut.
"Saya butuh pertolongan Tuan. Untuk itu saya berani bayar dengan
imbalan yang besar."
“Maaf, tapi saya tak dapat."
"Tuan tidak berani," orang asing itu menggeram. “Dua puluh ribu
dollar saya rasa cukup."
jayakatwang bangkit dari kursinya. "Tuan tak mengerti," sahutnya
menerangkan. "Kalau Tuan bersedia memaafkan saya secara pribadi,
saya tak mau menangani perkara Tuan sebab saya tak suka pada
wajah Tuan."
Dalam enam jam orang yang berbicara kepada jayakatwang itu
meninggal. Kali ini jayakatwang diminta untuk mencari pembunuhnya.
Mengapa detektif yang lihai itu justru merasa bahagia sebab ia telah
menolak perkara yang dapat mencegah sebuah pembunuhan?
CIRI-CIRI PELAKU
INSPEKTUR Raden jayakatwang
Detektif Belgia ini menguraikan cara kerjanya yang mengagumkan
ketika ia berhadapan muka dengan seorang pembunuh di atas
sebuah kereta api ekspres internasional…..
DIREKTUR BOUROQ
Mewakili Compagnie Internationale des Wagons Lits -
menyebabkan kawannya jayakatwang mengikuti jalur jejak sebuah
pembunuhan yang tak terelakkan…..
LETKOL PIERRE TENDEAN
Ikut menetapkan kamar-kamar yang akan ditempati oleh para
pembunuh…..
DOKTER HAUNTED
Mengemukakan sebuah diagnose yang menyatakan bahwa tangan
kanan si pembunuh tak mengetahui apa yang dilakukan tangan
kirinya terhadap diri si korban…..
KORBAN DAN ORANG-ORANG YANG DICURIGAI
MARIAM GRAVES
Guru pengasuh wanita berkebangsaan Inggris yang tenang dan
tak tergoyahkan bagai tataan rambut di kepalanya…..
MPU TANTULAR
Bahasa Perancisnya terbatas, tapi pembelaan lisannya di muka
detektif Belgia itu sangat lancar dan meyakinkan…..
RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA
Sekertaris istimewa yang dapat berbicara dalam berbagai
bahasa…..
CHUCKY
Dermawan terselubung yang lebih gandrung pada kejahatan
daripada kemurahan…..
HWANG JANG LEE
Banyak keterangan berguna yang keluar begitu saja dari mulut
orang Italia yang berkulit kehitam-hitaman dan yang berbicara
seperti orang sedang mengancam ini, bagaikan darah yang
memancar deras dari tubuh si korban…..
COUNT DRACULA MANSION
Pelayan pria yang kurus, rapi dan bersifat tertutup. Wajahnya
yang dingin dan angkuh, mencerminkan wajah pelayan Inggris yang
terlatih baik…..
IBNU BAALPEOR
Seorang pedagang keliling Amerika yang mengetahui lebih banyak
dari apa yang dikatakannya dan mengatakan lebih banyak dari apa
yang diketahuinya…..
NYI GIRAH
Seorang "granddame" Rusia yang perhiasan permatanya
sedemikian besarnya, sama tidak masuk akal seperti ceritanya.
MADAM MENEER
Juru rawat terlatih dari Swedia yang berwajah seperti domba ini
yaitu orang terakhir yang dicurigai melihat si korban dalam keadaan
hidup…..
NYONYA HUBBARD
Simbol seorang ibu Amerika yang ideal - tak pernah berhenti
berbicara - tapi tindakan-tindakannya lebih banyak berbicara
daripada kata-katanya…..
COUNT ANDRENYI
Lebih terikat kepada Kedutaan Hongaria daripada kepada dirinya
sendiri.
COUNTESS ANDRENYI
Tertuduh yang termudh dan tercantik dari semua tertuduh dalam
kereta api yang tertahan salju itu…..
HILDEGARDE SCHMIDT
Pelayan wanita NYI GIRAH yang berkebangsaan Jerman
ini, ikut terlibat langsung dengan pembunuhan di atas kereta Orient
Express….
Bagian Pertama
FAKTA-FAKTA
1. SEORANG PENUMPANG PENTING DI KERETA TAURUS EXPRESS
MUSIM dingin, pukul lima pagi di Siria. Sepanjang peron di Stasiun
Aleppo terbujur dengan megahnya sebuah kereta api mewah yang
sudah terkenal dari perusahaan Taurus Express. Kereta itu terdiri
atas sebuah gerbong Testorasi, ruang makan penumpang, satu
gerbong tidur dan dua buah gerbong biasa.
Dekat anak tangga menuju gerbong tidur, nampak seorang master
muda Perancis dengan seragamnya yang gemerlapan, sedang asyik
bercakap-cakap dengan laki-laki bertubuh kecil yang meninggikan
kerah bajunya sampai sebatas telinga, hingga orang cuma dapat
melihat hidungnya yang merah muda dan kedua ujung kumisnya
yang mencuat ke atas. Saat itu cuaca sangat dingin, dan tugas untuk
mengantarkan orang yang tak dikenal bukanlah sebuah tugas yang
dapat membuat orang iri hati, namun master chucky tetap
menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Ucapan-ucapan
yang ramah dalam bahasa Perancis yang lancar terlontar dari
bibirnya. master muda itu sendiri sesungguhnya tak tahu apa makna
tugasnya itu. Akhir-akhir ini memang muncul selentingan, yang
memang biasa timbul dalam tugas-tugas semacam itu. Watak sang
jenderal - atasannya itu - terasa kian hari kian tak menyenangkan.
Kemudian datanglah orang asing dari Belgia itu - yang kabarnya baru
saja tiba dari Inggris. Minggu yang baru lalu dirasakan sebagal
minggu yang tegang dan membangkitkan rasa ingin tahu orang. Lalu
terjadilah serentetan kejadian. Seorang perwira terkemuka telah
bunuh diri, yang lainnya tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya,
wajah-wajah yang tadinya diliputi kecemasan, tiba-tiba berubah
menjadi normal kembali sementara tindakan-tindakan pencegahan
versi militer sengaja tidak diambil. Dan sang jenderal - atasan
tertinggi master chucky , sekonyong-konyong terlihat sepuluh tahun
lebih muda.
chucky dapat menangkap dengan jelas bagian pembicaraan
jenderalnya dengan orang asing itu. "Tuan sudah menyelamatkan
kami," ujarnya emosionil, kumisnya yang tebal dan putih itu bergetar
sewaktu ia berbicara. "Tuan telah turut menjaga kehormatan
Angkatan Darat Perancis - Tuan telah mencegah banyak
pertumpahan darah yang tak perlu! Bagaimana seharusnya kami
menyatakan rasa terima kasih kami kepada Tuan? Sampai sekian
jauh…”
Dalam menanggapi pernyataan ini, orang asing tersebut (yang
dikenal dengan Raden jayakatwang ) lantas menjawab dengan terus terang
tapi cukup sopan - "Ya memang, tapi apakah saya bisa lupa bahwa
Tuan dulu juga pernah menyelamatkan saya?" Kemudian sang
Jenderal segera menyambung pembicaraan mereka dengan
mengungkit kembali hal-hal yang dulu mereka alami, sambil
merendahkan diri bahwa ia kurang bertugas dengan sungguh-
sungguh saat itu. Tak lupa ia membumbui pembicaraannya dengan
menyinggung-nyinggung tentang Perancis, tentang Belgia, tentang
keagungan, kehormatan dan tentang hal-hal yang telah mempererat
persahabatan kedua orang itu. Tak lama kemudian pembicaraan yang
singkat itu pun berakhir.
Bagi master chucky segala sesuatunya sebenarnya masih kabur,
namun ia telah digerahi tugas oleh perusahaan Taurus Express untuk
melepas kepergian jayakatwang , dan tugas itu sedang dilaksanakannya
dengan sekuat tenaga dan kemampuannya, sebab berharap tugas
itu dapat menjadi batu loncatan bagi karirnya di masa depan.
"Hari ini hari Minggu," ujar master chucky . -"Besok, Senin sore,
Tuan sudah sampai di Istambul."
Percakapan semacam itu bukanlah pertama kali dilakukannya;
percakapan itu yaitu percakapan yang biasa terjadi di peron
sebelum kereta berangkat dan selalu mesti berulang.
"Begitulah," sahut jayakatwang mengiyakan.
"Dan Tuan bermaksud tinggal beberapa hari di sana, bukan?"
"Mais oui. Istambul memang kota yang belum pernah kukunjungi.
Sayang untuk dilewatkan begitu saja - Comme ca." Digosok-
gosokkannya kedua belah telapak tangannya seolah ingin melukiskan
perasaan yang dikandungnya saat itu. "Tak ada yang menghalangi -
aku akan menginap di sana sebagai turis untuk beberapa hari."
"La Sainte Sophie, bagus sekali," ujar master chucky , yang
sesungguhnya belum pernah melihatnya.
Angin dingin meniup keras di sepanjang peron. Kedua lelaki itu
terlihat gemetar kedinginan. master chucky cepat-cepat melirik jam
tangannya. Pukul lima kurang lima menit - jadi tinggal lima menit
lagi!
Ketika diketahuinya bahwa-lawan bicaranya tengah
memperhatikahnya, master muda itu cepat-cepat menambahkan,
"Cuma sedikit orang yang bepergian tahun ini," ujarnya, sambil
memandangi jendela-jendela gerbong tidur penumpang di atas
kepala mereka.
"Ya, memang," sahut jayakatwang menyetujui.
"Mudah-mudahan saja Tuan tidak sampai terbungkus salju di
dalam Taurus!"
"Apa hal itu pernah kejadian?"
"Ya, tapi tahun ini belum."
"Kalau begitu mudah-mudahanlah," ujar jayakatwang lagi. "Laporan dari
Eropa mengatakan cuaca buruk."
"Sapgat buruk. Di Balkan saljunya banyak sekali.
"Di Jerman juga, aku dengar."
"Eh bien, " sahut master chucky menimpali sewaktu percakapan
antara keduanya terasa akan terhenti. "Besok sore pukul tujuh empat
puluh Tuan sudah di Konstantinopel."
“Ya." sahut jayakatwang , dan lalu menambahkan seperti orang yang
sudah hampir putus asa, "La Saint Sophle, aku dengar orang bilang
bagus sekali."
"Saya rasa memang mengagumkan," balas perwira muda Perancis
itu.
Di atas kepala mereka tiba-tiba sebuah jendela gerbong tidur
disingkapkan orang, dan muncullah kepala seorang wanita yang
melongok ke luar.
MARIAM GRAVES cuma tidur sedikit sejak ia meninggalkan Bagdad
hari Kamis lalu. Di kereta ke Kirkuk, di Rest House di Mosul, maupun
di kereta tadi malam, ia tak dapat tidur dengan baik. Sekarang,
sebab sudah jemu berbaring terus-terusan di gerbongnya yang
dipanasi secara berlebihan itu, ia bangun dan melongok ke luar.
Ini pastilah Aleppo. Tak ada yang menarik. Cuma peron yang
memanjang, diterangi lampu ala kadarnya dan suara-suara riuh
dalam bahasa Arab terdengar di kejauhan. Dua orang pria di bawah
jendeja tengah bercakap-cakap dalam bahasa Perancis. Yang seorang
perwira Perancis, dan yang seorang lagi, laki-laki bertubuh pendek
dengan kumis raksasa. Gadis itu tersenyum pahit. Ia belum pernah
melihat orang yang tubuhnya terbungkus sampai batas telinga. Kalau
begitu udara di luar mestinya dingin sekali. sebab itulah kereta api
itu dipanasi, sampai sedemikian hebatnya. Dicobanya menurunkan
kerei jendelanya sedikit lagi, tapi tak berhasil.
LETKOL kereta menghampiri kedua pria yang tengah asyik
bercakap-cakap itu. Kereta sudah mau berangkat, katanya. Tuan
sebaiknya naik sekarang. Laki-laki bertubuh kecil itu membuka
topinya. Nampaklah kepalanya yang bulat telur. Di luar
kesadarannya, MARIAM GRAVES tersenyum sendiri. Lelaki kecil itu
membuatnya tertawa geli. Jenis pria yang biasa diremehkan orang.
Kemudian master chucky menyampaikan kata-kata
perpisahannya. Ia memang sengaja telah mempersiapkan lebih
dahulu, dan bertekad untuk menyimpannya terus di dalam hati
hingga saat yang dinantikannya tiba. Kata-kata perpisahannya
memang indah dan memikat.
Tanpa bermaksud untuk meremehkan kemampuan master muda
Perancis itu, sebaliknya jayakatwang hanya menyahutinya dengan kata-kata
yang biasa saja.
"En voiture, Monsieur, " ujar LETKOL kereta.
Dengan langkah berat jayakatwang menaiki kereta. LETKOL menyusul
di belakangnya. jayakatwang melambaikan tangan. master chucky memberi
hormat. Dengan hentakan yang tiba-tiba, kereta pun mulai bergerak
perlahan-lahan.
“Enfin!" gumam jayakatwang .
"Brrrrrrr! " gumam master chucky yang baru merasakan dinginnya
udara saat itu.
"Voila, Monsieur!" LETKOL tadi mencoba menggambarkan
dengan gerak tangannya keindahan ruang tidur dan kerapihan
penynsunan barang-barang penumpang di keretanya kepada jayakatwang .
"Koper Tuan yang kecil itu sengaja saya taruh di sini."
Telapak tangan LETKOL itu seolah-olah mengingatkan jayakatwang
pada sesuatu, lalu detektif Belgia itu menyelipkan lipatan uang kertas
ke dalamnya.
"Merci, Monsieur." LETKOL itu tiba-tiba terlihat begitu ramah
dan cekatan, mungkin sebab uang kertas yang baru saja
diterimanya dari tangan Raden jayakatwang . Jadi timbul kesan bahwa ia
LETKOL yang mata duitan. Lalu katanya lagi, "Saya punya karcis
Tuan, dan kalau boleh saya juga ingin lihat paspor Tuan. Tuan turun
di Istambul, bukan?"
jayakatwang mengabulkan permintaannya. "Aku rasa tak begitu banyak
penumpang, bukan?" tanyanya lagi pada LETKOL kereta itu.
"Benar, Tuan. Cuma ada dua orang lagi - kedua-duanya orang
Inggris. Seorang MPU dari India dan yang seorang lagi gadis
Inggris dari Bagdad. Tuan perlu sesuatu?"
jayakatwang memesan sebotol kecil Perrier. Pukul lima pagi memang
saat yang kurang tepat untuk bepergian dengan kereta api. Masih
dua jam lagi sebelum terang tanah. Mengingat bahwa pada malam-
malam terakhir ini ia kurang tidur dan merasa bahwa tugasnya telah
berhasil diselesaikannya dengan baik, jayakatwang lalu jatuh tertidur sambil
meringkuk di salah satu sudut.
Sewaktu terbangun, hari sudah pukul sembilan tiga puluh.
Bergegas-gegas ia pergi ke ruang restorasi dan langsung memesan
secangkir kopi panas.
Saat itu cuma ada seorang wanita muda di ruang itu, tak salah lagi
pastilah gadis Inggris yang dimaksudkan oleh LETKOL itu tadi.
Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya coklat kehitam-hitaman -
usianya kira-kira dua puluh delapan tahun. Dari caranya menikmati
makanannya dan dari caranya memanggil pelayan untuk
membawakannya kopi secangkir lagi, terasa adanya kesan dingin
dalam dirinya, yang menandakan bahwa wanita muda itu tahu
banyak tentang dunia dan tentang perjalanan yang sedang
dilakukannya. Ia mengenakan gaun bepergian berwarna gelap dari
bahan yang tipis - sanguat cocok untuk udara panas di kereta api itu.
Iseng-iseng Raden jayakatwang mulai memperhatikan wanita muda itu,
tanpa setahunya.
Inilah tampang gadis yang sanggup menjaga dirinya sendiri
dengan mudah, di mana pun ia berada, katanya dalam hati. Sikapnya
tenang tapi cekatan. Ia lebih tertarik pada bangun tubuhnya yang
serasi dan kulitnya yang pucat tapi halus itu. Ia pun menyenangi
bentuk kepalanya yang dihiasi rambut hitam dan berombak, dan
matanya yang dingin, acuh tak acuh dan kelabu. Tetapi detektif
Belgia itu menilai bahwa wanita muda itu hanya berada setingkat di
atas apa yang disebutnya, 'jollie femme’”.
Saat itu seseorang melangkah masuk. Seorang pria berperawakan
tinggi dan berumur kira-kira antara tiga puluh sampai empat puluh
tahun, ramping, berkulit coklat, dengan beberapa helai rambut yang
telah beruban di pelipisnya.
"Si MPU dari India," ujar jayakatwang dalam hati.
Pendatang baru itu membungkukkan badannya sedikit di hadapan
wanita muda itu sambil berkata, "Pagi, Nona GRAVES.",
"Selamat pagi, MPU TANTULAR."
Rolonel itu masih tetap berdiri, sebelah tangannya berpegangan
pada kursi di hadapan gadis Inggris itu.
"Keberatan?" tanyanya.
"Tentu saja tidak. Duduklah."
"Aku rasa kau tahu sendiri sarapan pagi itu biasanya tak disertai
oleh obrolan yang panjang-panjang seperti santapan siang atau
malam."
"Mestinya begitu. Tapi yang jelas aku tak akan menggigitmu."
MPU dari India itu lalu duduk. "Bung," ia memanggil pelayan.
Ia memesan telur dan kopi.
Matanya berhenti sebentar pada jayakatwang , tapi kemudian lewat
begitu saja, acuh tak acuh. jayakatwang yang sudah mahir menebak pikiran
orang Inggris, dapat mengetahui bahwa orang Inggris itu sedang
berkata dalam hati: "Cuma orang asing keparat."
Sesuai dengan kebangsaannya, kedua orang Inggris itu memang
tak banyak bicara. Mereka saling memberi isyarat dan saat itu juga
wanita muda itu bangun dan kembali ke kamarnya.
Waktu makan siang, kedua orang itu kembali duduk semeja dan
kembali mengabaikan orang ketiga yang ada di situ. Kali ini
percakapan mereka nampak lebih hangat daripada tadi pagi. MPU
TANTULAR bercerita tentang Punjab dan sesekali ia bertanya
mengenai Bagdad kepada wanita muda itu, yang kemudian ternyata
merupakan tempat gadis itu bekerja sebagai guru privat. Dalam
percakapan itu mereka menyebutkan nama-nama beberapa kenalan
mereka, yang membuat mereka semakin intim dan bersahabat. Dari
mulai si Tommy Tua sampai si Reggie Tua. MPU itu juga
menanyakan apakah wanita muda itu ingin langsung ke Inggris atau
ingin sampai Istambul saja.
"Tidak, aku mau terus."
"Wah, sayang sekali!"
"Aku sudah lewat jalan ini dua tahun yang lalu dan sudah pernah
menginap tiga hari di Istambul."
"Oh! Begitu! Syukurlah kau mau langsung ke Inggris, sebab aku
juga."
MPU itu mengangguk sedikit, wajahnya terlihat kemerah-
merahan sewaktu ia berbuat begitu.
"MPU kita ini rupanya gila pujian," Ujar Raden jayakatwang
menghibur dirinya sendiri. "Rupanya bepergian dengan kereta api
sama bahayanya dengan bepergian dengan kapal laut!"
Nona GRAVES menambahkan bahwa justru perjalanan mereka
akan lebih menyenangkan, apabila keduanya ingin langsung menuju
Inggris. Kelihatan sekali bahwa tingkahnya itu tidak bebas.
Raden jayakatwang memperhatikan MPU itu menemani si wanita
muda kembali ke kamarnya. Belakangan keduanya terlihat sedang
mengagumi ruangan-ruangan yang ada dalam kereta Taurus yang
mewah itu. Begitu keduanya melongok kebawah, ke arah Pintu
Cicilia, jayakatwang mendengar si gadis menghela napas. Saat itu jayakatwang
sedang berdiri di dekat mereka, sebab itu ia mendengar dengan
jelas suaranya yang lirih,
"Bagus sekali! Aku harap - aku harap – “
"Apa?"
"Aku-harap aku bisa ikut menikmatinya!"
TANTULAR tidak menjawab. Rahangnya yang segi empat itu
nampak lebih keras dan kaku.
"Aku mohon pada Yang Mahakuasa, kau bisa dilepaskan dari
semuanya ini!'”
"Hush! Jangan gitu dong!"
"Oh! Tak apa-apa." Ia melirik sebentar ke arah jayakatwang . Lalu ia
melanjutkan,"Sayangnya aku tak suka kau bekerja sebagai guru -
yang selalu berada di bawah perintah ibu-ibu yang suka bertindak
seenaknya, apalagi kalau anak-anaknya banyak tingkah."
Wanita muda itu tertawa, dari suaranya kelihatan bahwa ia tak
begitu bisa mengontrol dirinya saat itu.
"Oh! Kau tak boleh berpikir seperti itu. Guru yang tertindas selalu
akan tetap jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Aku berani
tanggung, justru orang-orang tua itulah yang sebenarnya takut aku
bohongi."
Sampai di situ keduanya terdiam. Mungkin TANTULAR malu akan
keterlanjurannya barusan.
"Persis seperti komedi kecil yang ganjil, yang sedang kulihat ini,"
ujar jayakatwang dalam hati.
jayakatwang masih terus menyimpan komedi kecil yang ganjil itu sampai
di kemudian hari.
Malam itu mereka tiba di Konya sekitar setengah dua belas. Kedua
orang Inggris itu keluar untuk melemaskan kaki mereka, dengan
berjalan mondar-mandir di peron yang bersalju itu.
jayakatwang senang melihat kesibukan di stasiun itu dari balik kaca
jendelanya. Setelah lewat sepuluh menit ia baru sadar bahwa
menghirup udara luar saat itu tidak akan berakibat buruk bagi
kesehatannya. Ia mempersenjatai diri sebaik-baiknya, membungkus
dirinya dengan mantel sampai berlapis-lapis, menegakkan kerah
mantel itu sampai batas telinga dan melindungi kakinya dengan
sepatu salju dari karet. Dengan berpakaian seperti itu, badannya
baru terasa hangat dan dengan penuh semangat ia melompat turun
ke peron. Langkahnya mulai mengukur panjang peron itu. jayakatwang
memutuskan untuk berjalan di peron seberang kereta.
Samar-samar didengarnya suara orang yang sedang bercakap-
cakap, bersamaan dengan itu pula dilihatnya dua sosok tubuh yang
sedang berdiri di bawah bayangan sebuah gerobak dorong. Ternyata
suara itu yaitu suara TANTULAR,
“MARIAM.”
Gadis itu memotong kata-katanya.
"Jangan sekarang, jangan sekarang. Nanti saja kalau semuanya
sudah berlalu. Kalau semuanya sudah di belakang kita - nanti -"
Diam-diam jayakatwang berpaling ke arah lain. Ia heran.... Hampir-hampir
tak dikenalinya suara Nona GRAVES yang biasanya dingin dan
mantap itu…
"Membangkitkan rasa ingin tahuku saja," ujarnya pada diri sendiri.
Hari berikutnya detektif Belgia itu menerka bahwa kedua orang
Inggris itu pasti baru saja bertengkar. Mereka tak begitu banyak
berbicara satu sama lain. Gadis itu kelihatan cemas. Di bawah
matanya terlihat lingkaran biru seperti kurang tidur.
Waktu menunjukkan pukul, setengah tiga siang, ketika tiba-tiba
saja kereta terhenti. Kepala-kepala bermunculan dari jendela.
Nampak sekelompok pria sedang berkerumun di salah satu sisi kereta
sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di bawah ruang restorasi.
jayakatwang melongok ke luar dan bertanya pada LETKOL kereta yang
sedang berjalan bergegas-gegas. LETKOL itu menjawab, dan jayakatwang
menarik lehernya kembali hingga hampir saja bersentuhan dengan
kepala MARIAM GRAVES yang rupa-rupanya telah berdiri di
belakangnya sejak tadi, tanpa sepengetahuan detektif Belgia itu.
"Ada apa?" tanya wanita muda itu terengah-engah dalam bahasa
Perancis. "Kenapa kita berhenti di sini?"
"Tak apa-apa, Mademoiselle. Cuma, sebab ada api kecil di bawah
gerbong makan. Tidak berbahaya. Apinya sudah dipadamkan.
Sekarang mereka sedang memperbaiki bagian-bagian yang rusak.
Tak ada bahaya apa-apa, saya berani jamin."
MARIAM GRAVES memberi isyarat kecil, seolah ia sedang mengusir
dan mengenyahkan bahaya itu, seolah ia sedang menghalau sesuatu
yang dianggapnya sama sekali tidak penting.
"Ya, ya, saya mengerti. Tapi bagaimana dengan waktu kita?"
"Waktu?"
"Ya, jadi tertunda."
"Ya, mungkin," sahut jayakatwang membenarkan.
"Tapi perjalanan kita tak boleh tertunda! Kereta ini semestinya tiba
pukul 6.55 kita mesti menyeberangi Bosporus dulu, baru bisa menaiki
kereta Simplon Orient Express setelah sampai di seberang, pada
pukul 9.00. Terlambat sejam dua jam berarti kita tak dapat
melanjutkan perjalanan."
"Ya mungkin saja," ujar jayakatwang lagi mengiyakan.
Diamat-amatinya gadis itu dengan rasa ingin tahu. Tangannya
yang sedang berpegangan pada bingkai jendela kelihatan kurang
mantap dan bibirnya pun terlihat bergetar.
"Apakah kejadian ini benar-benar menyusahkan Nona?" tanya
detektif Belgia itu lagi.
"Ya, ya memang begitu. Soalnya aku mesti bisa mencegat kereta
itu, tak boleh tidak."
Gadis itu membalikkan tubuhnya dan melangkah menyusuri
koridor, untuk menemui MPU TANTULAR.
Kecemasannya tak usah berkepanjangan. Sepuluh menit kemudian
kereta bergerak kembali. Tiba di Haydapassar cuma terlambat lima
menit.
Bosporus ternyata selat yang berbahaya dan berombak besar dan
jayakatwang tak begitu senang menyeberanginya. Ia terpisah dengan
kawan-kawan seperjalanannya, sebab ia diseberangkan dengan
kapal lain, jadi ia tak bisa bertemu lagi dengan mereka.
Begitu sampai di Galata Bridge detektif Belgia itu langsung menuju
Hotel Tokatlian.
2. HOTEL TOKATLIAN
Di Tokatlian, Raden jayakatwang memesan sebuah kamar yang
diperlengkapi dengan kamar mandi. Kemudian ia mendatangi meja
pengurus hotel dan menanyakan surat-surat yang dialamatkan
kepadanya.
Ada tiga buah surat dan satu telegram. Nampak ia mengerutkan
kening sebentar sewaktu melihat telegram itu. Hal itu sungguh di luar
dugaannya,
Dibukanya sampul telegram itu dengan caranya yang khas, teliti
dan tidak terburu-buru. Huruf-hurufnya terang dan jelas.
Perkembangan yang Tuan ramalkan mengenai masalah Kassner
ternyata tidak sebagaimana yang diharapkan. Harap segera kembali.
“Voila ce qui est embetant," gumam jayakatwang kesal. Ditatapnya jam
dinding yang ada di ruang itu. "Saya mesti berangkat malam ini
juga," ujarnya kepada si pengurus hotel. "Pukul berapa kereta
Simplon Orient berangkat?"
“Pukul sembilan, Monsieur.
"Saudara bisa pesankan saya tempat tidur di kereta?"
"Tentu saja bisa, Monsieur. Tak ada kesulitan dalam bulan-bulan
seperti sekarang. Kelas satu atau kelas dua?"
"Kelas satu."
"Tres bien, Monsieur. Mau ke mana Tuan"
"Ke London."
"Bien, Monsieur. Akan saya pesankan karcis ke London sekaligus
tempat tidur Tuan di kereta Istambul - Calais."
jayakatwang kembali melirik jam di dinding. Pukul delapan kurang
sepuluh. "Masih bisa makan malam?"
"Tentu saja, Monsieur."
Detektif Belgia itu mengangguk. Ia berlalu begitu saja, tidak jadi
memesan kamar hotel dan langsung menyeberangi aula menuju
restoran.
Sewaktu ia memesan sesuatu kepada pelayan, sekonyong-
konyong bahunya terasa dipegang orang.
"Ah, mon vieux, tak kusangka kita bisa bertemu di sini!" seru
seseorang di belakangnya.
Ternyata yang berbicara tadi yaitu pria yang berperawakan
pendek dan tegap, usianya lebih tua sedikit dari jayakatwang dan
rambutnya dipotong “crewcut”. Ia tersenyum gembira.
jayakatwang cepat-cepat memutar tubuhnya.
"BOUROQ!
"jayakatwang !
BOUROQ juga seorang BeIgia, seperti jayakatwang , jabatannya direktur
Compagnie Internationale des Wagons Lits dan persahabatannya
dengan detektif BeIgia yang cemerlang itu sudah berjalan bertahun-
tahun lamanya.
"Jauh betul kau dari rumah saat ini," komentar BOUROQ.
"Ada urusan sedikit di Siria."
“Ah! Dan kapan kau pulang?"
'Malam ini."
"Bagus! Aku juga. Aku cuma sampai Laussane saja, sebab di sana
aku masih punya urusan. Aku rasa kau naik kereta Simlon Orient, ya
tidak?"
"Ya. Aku baru saja memesan tempat tidur di kereta itu.
Sebenarnya aku berniat untuk menginap beberapa hari lagi di sini,
tapi aku baru saja menerima telegram yang memanggilku supaya
segera kembali ke Inggris, sebab aku memang masih punya urusan
penting di sana yang belum kuselesaikan seluruhnya."
"Ah!" keluh Tuan BOUROQ lagi. "Les affaires - les affaires! Tetapi kau,
sekarang kau sudah ada di puncak pohon, mon vieux!"
"Barangkali aku sudah memperoleh sukses-sukses kecil yang tak
ada artinya," sahut jayakatwang merendah.
Tuan BOUROQ tertawa.
"Kita akan bertemu lagi nanti," ujarnya.
Raden jayakatwang kini sibuk menghindarkan kumisnya dari sentuhan
sup yang sedang dihadapinya. Sesudah berhasil melaksanakan tugas
yang sulit itu, diarahkannya pandangannya ke sekeliling, sambil
menunggu pesanannya yang berikut. Hanya kira-kira setengah lusin
orang di restoran itu, dan di antara sejumlah itu hanya dua orang
yang berhasil menarik perhatian Raden jayakatwang .
Kedua orang itu duduk di meja yang letaknya tak begitu jauh dari
meja jayakatwang . Yang muda berparas lumayan, berusia sekitar tiga
puluhan, jelas seorang Amerika. Tapi sebenarnya bukan dia yang
menjadi sasaran perhatian detektif Belgia itu, tapi temannya, yang
jauh lebih tua.
Temannya itu lelaki tua yang kira-kira berumur antara enam puluh
sampai tujuh puluh tahun. Sekilas pandang, lelaki yang mempunyai
kesan ramah itu nampak seperti dermawan. Kepalanya yang sedikit
botak, dahinya yang lebar, dan bibirnya yang selalu tersenyum lebar
dan dihiasi sebaris gigi palsu berwarna putih itu - semuanya seakan
memberi kesan bahwa kepribadiannya baik dan terbuka. Cuma
matanya yang mengingkari kesan ini. Mata yang kecil, dalam dan
licik. Bukan itu saja. Sewaktu ia memberi isyarat kepada kawannya
yang jauh lebih muda itu, sambil menatap ke sekeliling ruangan, tiba-
tiba matanya terhenti pada jayakatwang , dan meskipun itu hanya
berlangsung tak lebih dari sedetik saja, namun pandangannya terasa
seperti pandangan yang keluar dari hati yang dengki dan tidak wajar.
Lalu lelaki tua itu bangkit dari kursinya.
"Bayar rekeningnya, RADEN KERTAJAYA ," ujarnya.
Suaranya agak parau. Suara itu kedengarannya aneh, cukup
lembut tapi berbahaya.
Sewaktu jayakatwang menemui teman lamanya kembali di ruang duduk,
kedua laki-laki itu tampak sedang bersiap-siap untuk meninggalkan
hotel. Koper-koper mereka sudah dibawa turun. Lelaki yang lebih
muda itu mengawasi pelaksanaannya. Setelah itu dibukanya pintu
kaca hotel sambil berkata,
"Sudah siap semua, Tuan CHUCKY."
Lelaki tua itu menyatakan persetujuannya, tapi dengan suara
menggerutu yang cuma terdengar samar-samar, dan berlalu begitu
saja.
"Eh bien, " ujar jayakatwang kemudian. "Apa kesanmu terhadap kedua
orang tadi?"
"Jelas mereka orang Amerika," sahut Tuan BOUROQ.
"Jelas memang mereka orang Amerika. Maksudku, bagaimana
kepribadian mereka?"
"Lelaki muda itu kelihatannya lebih sabar."
"Dan yang satunya?"
"Terus terang saja, Kawan, aku tak begitu peduli padanya.
Tingkahnya kurang simpatik. Dan kesanmu bagaimana?"
Raden jayakatwang berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Waktu ia lewat di depanku di restoran itu," ujarnya menegaskan,
"aku jadi ingin tahu. Tingkahnya seperti binatang-binatang buas! Tak
tahu sopan-santun sama sekali! "
"Tapi tampangnya cukup terhormat dan disegani orang."
"Precisement! Perawakannya - yakni sangkarnya itu - boleh
dibilang tak tercela - tapi di balik sangkar itu, sifat binatangnya
kelihatan dengan jelas.”
"Kau suka berkhayal yang bukan-bukan," sahut Tuan BOUROQ, tak
percaya.
"Mungkin juga begitu. Tapi biar bagaimanapun aku tak bisa
melepaskan diri dari kenyataan bahwa setan telah lewat begitu
dekatnya di sampingku."
"Kaumaksud orang Amerika yang terhormat itu?"
"Orang Amerika yang terhormat itu."
"Baiklah," sahut Tuan BOUROQ lagi dengan suara riang. "Bisa jadi
begitu. Memang banyak setan di dunia ini."
Saat itu pintu terbuka dan si pengurus hotel nampak berjalan
menghampiri mereka. Di wajahnya terpancar rasa sesal dan prihatin.
“Benar-benar luar biasa, Monsieur," ujarnya kepada jayakatwang . "Tidak
ada tempat tidur di gerbong kelas satu."
"Comment?" tanya Tuan BOUROQ. "Pada bulan-bulan seperti ini? Ah,
kalau begitu pasti ada rombongan wartawan atau politikus."
“Saya tak tahu, Tuan," sahut pengurus hotel itu lagi sambil
memalingkan kepalanya dengan hormat. "Tapi kenyataannya
memang begitu."
"Ya, ya, apa boleh buat," ujar Tuan BOUROQ lagi sambil menatap
jayakatwang . "Jangan takut, Kawan. Akan kita atur. Selalu ada satu kamar,
nomor 16, yang tidak terpakai. LETKOL tahu itu!" Ia tersenyum lalu
menatap jam di dinding. "Mari," ujarnya mengajak. "Sudah waktunya
kita pergi."
Di stasiun, Tuan BOUROQ disambut dengan hormat oleh seorang
LETKOL berseragam coklat.
"Selamat malam, Monsieur. Tuan ditempatkan di kamar no.1"
Kemudian LETKOL itu memanggil kuli-kuli peron dan mereka
pun langsung mendorong kereta barang berisikan bawaan para
penumpang yang bertuliskan ISTAMBUL TRIESTE CALAIS pada
sebuah flat aluminum yang ditempelkan di kereta barang itu.
"Aku dengar keretamu penuh malam ini, benar?”
"Benar-benar tak bisa dipercaya, Monsieur. Rupanya seluruh dunia
memilih untuk bepergian pada malam ini!"
"Ya, sama seperti tugasmu untuk mencarikan sebuah kamar buat
Tuan ini, ia teman baik saya. Berikan saja kamar no.16 itu."
"Sudah diambil orang, Monsieur.”
"Apa? Kamar no.16 itu?"
Keduanya saling berpandangan dengan penuh pengertian, dan
LETKOL kereta tersenyum. Lelaki tinggi setengah baya, berkulit
kekuning-kuningan. "Tapi memang begitu, Monsieur. Seperti saya
katakan tadi, kereta kita penuh-penuh sekali, sampai tak ada tempat
lagi."
"Tapi apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Tuan BOUROQ lagi dengan
marah. "Memangnya akan ada konperensi di suatu tempat? Atau ada
pesta besar-besaran barangkali?"
"Bukan, Monsieur. Ini cuma kebetulan saja. Soalnya semua orang
mau bepergian malam ini. Itu saja soalnya."
Tuan BOUROQ mengeluarkan suara tak senang.
"Di Belgrado," ujarnya menerangkan, "akan ada gerbong
tambahan dari Athena. Juga akan ada kereta jurusan Bukares -
Paris. Tapi sayangnya kita belum bisa sampai di Belgrado sebelum
besok malam. Justru soalnya yaitu untuk malam ini. Apa tak ada
tempat tidur kosong di gerbong kelas dua?"
"Ada, Monsieur. "
"Nah, itu saja sediakan buat teman saya."
"Tapi itu tempat tidur khusus untuk wanita. Sudah ada yang
mengisi-wanita Jerman - pembantu seorang wanita bangsawan."
"La, la, kedengarannya aneh," ujar Tuan BOUROQ lagi.
"Jangan susah-susah, Kawan," ujar jayakatwang . "Aku mau naik kereta
biasa saja."
"Tidak boleh. Tidak boleh." Tuan BOUROQ berpaling ke arah
LETKOLnya sekali lagi. "Apa semua penumpang sudah datang?"
"Sudah," ujar yang ditanya, "kecuali satu orang yang belum
kelihatan batang hidungnya sampai sekarang." Ia berbicara lambat-
lambat, seolah masih ragu-ragu.
“Cepat katakan yang mana!"
“Tempat tidur no.7 - di gerbong kelas dua. Orangnya belum juga
muncul, padahal sekarang sudah pukul sembilan kurang empat
menit."
“Siapa itu?"
“Orang Inggris," sahut LETKOL itu sambil memeriksa daftar
penumpang yang sedang dipegangnya. "Harris."
“Nama yang membawa pertanda baik," ujar jayakatwang . “Dalam buku-
bukunya Dickens, biasanya orang bernama Harris tak akan muncul."
“Taruh koper-koper Tuan ini di kamar no.7," ujar Tuan BOUROQ
kepada LETKOL itu. "Kalau Tuan Harris ini datang, kita katakan
saja kepadanya kedatangannya sangat terlambat - kamarnya tak
dapat ditahan begitu lama - kita akan selesaikan soal ini dengan satu
atau lain cara. Apa peduliku deagan orang semacam Tuan Harris itu?"
'"Baik Tuan," sahut LETKOL itu. Lalu ia berpaling kepada
pembawa koper jayakatwang , memberitahukan kamar mana yang harus
dimasuki. Kemudian ia menyisih agak ke samping untuk memberi
jalan bagi jayakatwang yang akan menaiki kereta.
"Tout a fait au bout, Monsieur, " teriaknya. "Kamar yang paling
ujung!”
jayakatwang mulai menelusuri koridor kereta, sebuah pekerjaan yang
memakan waktu, sebab orang-orang yang bepergian pada saat itu
banyak yang berdiri di sisi rak tempat koper-koper mereka diletakkan.
Kata "Pardons" yang setiap kali dilontarkannya di hadapan para
penumpang yang berdesakan itu, dirasakannya sebagai suatu
pekerjaan rutin yang
membosankan, persis seperti arah gerak jarum jam.
Akhirnya detektif Belgia bertubuh kecil itu pun sampai juga di
kamar yang telah ditentukan itu. Di dalamnya ia melihat orang
Amerika yang tempo hari ditemuinya di Hotel Tokatlian. Ia sedang
meletakkan kopernya di rak.
Orang itu mengerutkan kening sewaktu jayakatwang melangkah masuk.
"Maaf," ujarnya. "Saya rasa Tuan keliru." Kemudian ia berkata lagi
dengan susah payah dalam bahasa Perancis, "Je crois que vous avez
an erreur. "
jayakatwang menjawab dalam bahasa Inggris, "Tuan yang namanya
Harris?"
"Bukan, nama saya WISNU WARDANA . Saya…”
Tiba-tiba terdengar suara LETKOL melewati bahu jayakatwang , suara
yang tertahan-tahan dan penuh penyesalan.
"Sudah tak ada tempat tidur lagi di kereta ini, Monsieur.
Semuanya sudah penuh. Tuan ini memang seharusnya masuk ke
mari," ujarnya pada WISNU WARDANA .
jayakatwang tahu bahwa nada suaranya itu seperti dibuat-buat. Pastilah
LETKOL itu sudah dijanjikan persenan besar jika ia bisa
mempertahankan sebuah kamar bagi penumpang tertentu dan
mencegah masuknya penumpang lain ke situ. Meskipun demikian,
persenan sebesar apa pun tak berarti baginya jika direktur
perusahaan sendiri yang memberikan perintah untuk mengosongkan
kamar itu.
Tak lama kemudian LETKOL itu muncul dari dalam kamar,
sehabis meletakkan koper-koper jayakatwang ke atas rak.
"Volia, Monsieur," ujarnya. "Semua sudah diatur. Tempat tidur
Tuan di atas, no.7 itu. Kereta berangkat satu menit lagi."
Lalu ia bergegas-gegas menyusuri koridor kembali. jayakatwang pun
kembali memasuki kamar itu.
"Jarang aku mengalami kejadian seperti ini," ujarnya dengan
perasaan lega. "LETKOL kereta api sendiri sampai terpaksa
mengangkut koper-koper ke raknya di atas! Belum pernah aku
mendengar kejadian seperti itu!"
Teman seperjalanannya tersenyum mendengar komentar jayakatwang .
Jelas sekali kelihatan bahwa orang la itu telah berhasil mengatasi
gangguan yang itu - barangkali ia sudah mengambil keputusan tak
baik untuk memperpanjang soal-soal kecil semacam itu, dan lebih
baik menanggapinya secara filosofis atau secara taktis saja. “Kereta
ini penuhnya luar biasa," ujarnya.
Peluit ditiup, terdengar jeritan panjang yang menyedihkan dari
lokomotif kereta. Kedua penumpang kamar yang sama itu segera
bergegas menuju koridor.
Di luar terdengar seseorang berseru, "En voiture! Kita sudah
berangkat," ujar WISNU WARDANA .
Tapi mereka belum benar-benar berangkat. Peluit itu berbunyi
sekali lagi.
“Kalau aku boleh usul," ujar orang muda itu tiba-tiba, "kalau
Saudara mau ambil tempat tidur yang di bawah, saya kira akan lebih
mudah bagi saudara, dan bagi saya juga."
Orang muda yang memiliki tenggang rasa yang kuat.
"Tidak, tak usah," sahut jayakatwang . "Saya tak ingin mengambil hak
Tuan."
"Tak apa-apa."
“Saudara baik sekali."
Protes bermunculan dari kedua belah pihak.
“Cuma buat satu malam saja," ujar jayakatwang menegaskan. "Di
Belgrado nanti."
"Oh! Begitu. Jadi Tuan mau turun di Belgrado.”
"Belum pasti. Tuan lihat…”
Sekonyong-konyong, kereta terhentak. Kedua lelaki itu bergegas
mendekati jendela dan memandang lekat-lekat peron bermandikan
cahaya lampu yang mulai mereka tinggalkan perlahan-lahan.
Kereta Orient Express memulai perjalanan tiga harinya melintasi
Eropa.
3. jayakatwang MENOLAK SEBUAH KASUS
Raden jayakatwang terlambat sedikit ketika memasuki gerbong makan
pada hari berikutnya. Sebenarnya ia sudah bangun pagi-pagi sekali
lalu sarapan sendirian dan langsung menekuni catatan-catatan yang
telah dibuatnya khusus mengenai persoalan yang menyebabkannya
dipanggil kembali ke London. Ia belum melihat teman
seperjalanannya yang dijumpainya di hotel Tokatlian tempo hari.
Tuan BOUROQ, yang sudah duduk di situ sejak tadi, langsung
melambaikan tangannya begitu melihat kawan lamanya dan
mengajak kawannya duduk di kursi yang masih kosong di
hadapannya. jayakatwang duduk dan langsung menyadari bahwa ia tengah
duduk di meja yang mendapat pelayanan lebih dulu dari meia-meja
lainnya dan dipenuhi dengan makanan-makanan terpilih. Tidak
seperti, biasanya, hidangan di kereta ini ternyata sangat lezat.
Selama itu, rupanya Tuan BOUROQ hanya memperhatikan kelezatan
hidangan yang terpapar di hadapannya, namun setelah mereka mulai
menikmati cream cheese yang lunak dan lezat itu perhatian Tuan
BOUROQ mulai tertuju pada soal-soal di sekelilingnya. Boleh dibilang ia
seperti orang yang suka berfilsafat ketika menghadapi meja makan.
"Ah!" keluhnya. "Andaikata saja aku memiliki sebuah pena Balzac!
Akan kulukis pemandangan di sini." Diayunkannya sebelah tangannya
seperti orang yang sedang melukis.
"Memang itu gagasan yang bagus," sahut jayakatwang menyetujui.
"Ah, belum apa-apanya kau sudah setuju! Apakah itu sudah
benar-benar dilakukan orang? Dan aku rasa itu juga membawa
kenangan yang tak akan terlupakan, Kawan. Di sekeliling kita
sekarang, ada orang-orang dari segala macam lapisan, segala macam
bangsa dan semua tingkatan umur. Untuk tiga hari ini, orang-orang
ini, orang-orang yang tak kenal satu sama lain, berkumpul bersama-
sama. Mereka tidur dan makan di bawah satu atap, mereka tak dapat
menghindarkan diri dari yang lain. Tapi setelah tiga hari, mereka
berpisah, masing-masing ke tempat tujuannya sendiri-sendiri, dan
mungkin mereka tak akan pernah bertemu lagi satu sama lain.”
“Masih mungkin," sahut jayakatwang , "umpama terjadi sebuah
kecelakaan -"
“Ah, jangan bicara begitu, Kawan - .”
“Memang menurut penilaianmu, itu akan sangat disesalkan, aku
setuju. Meskipun demikian marilah kita mengumpamakan bahwa
memang kecelakan itu benar-benar terjadi. Dan barangkali senua
orang yang ada di sini baru bisa dipersatukan kembali - oleh
kematian."
“Mari minum anggur lagi," ujar Tuan BOUROQ sambil menuangkan ke
gelas mereka masing-masing dengan agak tergesa. "Kelihatannya
pikiranmu sedikit ngawur, mon cher. Mungkin pencernaanmu tak
berjalan dengan baik."
“Ya, benar," jayakatwang menyetujui, "mungkin makanan di Siria itu tak
sesuai dengan perutku.”
Detektif Belgia itu kemudian menghirup anggurnya. Lalu sambil
bersandar ke belakang, dilayangkannya pandangannya ke sekeliling
ruang, makan itu, pikirannya mulai berjalan. Ada kira-kira tiga belas
orang yang duduk di situ, dan sebagaimana yang telah dikatakan
Tuan BOUROQ tadi, mereka berasal dari segala macam lapisan dan
segala bangsa. jayakatwang mulai mempelajari mereka satu per satu.
Meja yang berhadapan dengan mereka, diduduki oleh tiga orang
pria. jayakatwang menduga bahwa mereka mestilah pelancong yang
bepergian sendiri-sendiri, tapi sudah ditentukan secara cerdik oleh
pengurus restoran bahwa mereka harus duduk semeja bertiga.
Seorang Italia yang berkulit hitam dan berperawakan tinggi besar
nampak sedang asyik membersihkan giginya dengan tusuk gigi. Di
hadapannya duduk orang Inggris yang berpakaian. rapi, air mukanya
tenang dan tak dapat diterka bagai air muka pelayan yang sudah
terlatih baik. Persis di sebelah orang Inggris itu, duduk pria Amerika
yang bertubuh besar dan berpakaian kelonggaran mungkin seorang
pelancong yang banyak duit dan biasa bepergian.
"Tuan mesti berpakaian seperti saya ini, biar kelihatannya
kebesaran," ujar orang Amerika itu dengan suara yang keras dan
sepertinya keluar dari hidung.
Orang Italia itu cepat-cepat menggeser tusuk giginya ke samping
supaya dapat membuat isyarat dengan bebas.
“Tentu saja," sahutnya. "Itu yang justru kutekankan terus-
menerus."
Orang Inggris yang berpakaian rapi itu melongok ke luar jendela
dan batuk-batuk sebentar.
Mata jayakatwang terus juga meneliti orang-orang yang ada di
sekitarnya.
Pada sebuah meja kecil, dengan sikap yang tegak lurus, duduk
salah satu dari wanita-wanita yang paling jelek yang pernah
dilihatnya. Tapi justru kejelekannya itu termasuk istimewa - sebab
kejelekan itu rasanya lebih mempesonakan daripada menimbulkan
perasaan jijik dalam diri orang yang kebetulan melihatnya. Ia duduk
dengan sikap yang benar-benar tegak lurus sembilan puluh derajat.
Sekeliling lehernya tergantung serenceng batu permata yang besar-
besar dan menimbulkan rasa tak percaya bagi orang yang melihat,
meskipun permata-permata itu kelihatannya asli. Jari-jemarinya
dipenuhi oleh cincin. Mantelnya yang terbuat dari bulu musang itu
ditempelkan begitu saja di bahunya. Sebuah topi hitam kecil yang
mahal kelihatannya jadi menyeramkan sebab topi yang dikenakannya
tak sesuai dengan wajah yang di bawahnya yang mirip dengan muka
kodok.
Ia kini sedang berbicara dengan seorang pelayan restoran dengan
suara jernih, cukup sopan tapi penuh paksaan.
“Kau yaitu pelayan yang baik kalau kau mau membawakan
sebotol besar air putih dan segelas besar air jeruk ke kamarku.
Cobalah usahakan supaya saya juga bisa dibawakan ayam rebus
tanpa saus untuk makan malam nanti - juga kalau bisa beberapa
ekor ikan rebus.
Pelayan itu menjawab dengan hormat bahwa semuanya akan
dilaksanakannya dengan baik.
Wanita itu mengangguk ramah dan langsung bangkit dari
kursinya. Matanya sempat menatap jayakatwang dan dalam diri detektif
Belgia itu tumbuh semacam kesan aneh terhadap diri perempuan
aristokrat yang acuh tak acuh itu.
“Itu Puteri GIRAH ," ujar Tuan BOUROQ dengan suara rendah.
"Dia orang Rusia. Suaminya mengumpulkan uang banyak sekali
sebelum revolusi meletus dan menanamkannya di luar negeri. Puteri
GIRAH luar biasa kaya. Dia punya reputasi internasional."
jayakatwang mengangguk. Ia sendiri juga telah mendengar perihal Puteri
GIRAH ini.
“Dia punya kepribadian," ujar Tuan BOUROQ lagi. “Jelek seperti iblis
tetapi dia telah membuat dirinya sendiri kelihatan menarik. Kau
setuiu?"
jayakatwang mengiyakan.
Pada meja besar yang lain MARIAM GRAVES sedang duduk
berhadapan dengan dua orang wanita lain. Seorang di antaranya
bertubuh jangkung, setengah baya, mengenakan blus bermotif
petak-petak dan rok bawah dari bahan wol. Rambutnya yang banyak
dan berwarna kuning pucat itu dijadikan sanggul besar yang sama
sekali tak menarik. Ia berkaca mata dan bentuk wajahnya yang
panjang, dan memberi kesan ramah dan lembut itu lebih menyerupai
seekor domba. Ia sedang asyik mendengarkan, wanita yang ketiga,
yang berbadan kekar yang berparas menyenangkan, dan kelihatan
lebih tua dari teman-temannya yang lain. Suaranya rendah dan
membosankan, ia berbicara seperti orang yang tak kenal istirahat dan
tak mau berhenti sedikit pun.
"… dan begitulah kata anak perempuanku, 'Mengapa," katanya
lagi, 'Ibu tak bisa menerapkan cara-cara Amerika di negeri ini. Di sini
sudah wajar kalau orang hidup bermalas-malasan,' katanya. 'Tak ada
yang mendorong mereka untuk bertindak terburu-buru.' Tetapi kalian
tak usah terkejut kalau kalian tahu apa yang sebenarnya dilakukan
fakultas kita di sana. Mereka mendapat staf pengaiar yang baik. Aku
kira tak ada hal yang begitu hebat seperti pendidikan. Kami harus
menerapkan caracara berpikir orang Barat supaya orang-orang Timur
di sini mengenalnya. Anak saya bilang -"
Kereta memasuki terowongan. Suaranya yang tenang dan datar
itu kini sudah tak terdengar lagi.
Pada meja berikutnya, sebuah meja kecil, duduk MPU
TANTULAR - sendirian. Pandangannya terus-menerus diarahkan
kepada tengkuk MARIAM GRAVES. Mereka tidak duduk bersama
seperti biasanya. Padahal mereka dapat melakukannya kalau mereka
mau. Kalau begitu mengapa?
Barangkali, pikir jayakatwang , “MARIAM GRAVES keberatan. Guru
pengasuh seperti dia mesti berhati-hati. Pembawaan itu sangat
penting. Seorang gadis yang memiliki mata pencaharian seperti dia
memang harus selalu menjaga sikap.
Pandangan jayakatwang beralih ke sisi yang satunya. Di ujung sekali,
berhadapan dengan dinding, duduk seorang wanita setengah baya
yang berpakaian hitam, wajahnya lebar dan tak menunjukkan
ekspresi apa-apa. Pastilah orang Jerman atau Skandinavia, pikir
jayakatwang . Mungkin pembantu wanita Jerman itu.
Di seberangnya nampak pasangan yang sedang berbicara dengan
asyiknya sambil memajukan badan mereka ke muka. Yang laki-laki
mengenakan pakaian wol Inggris, tapi ia sendiri bukan orang
Inggris. Meskipun jayakatwang hanya dapat melihat bagian belakang
kepalanya, namun bentuk kepalanya dan kedua belah bahunya itu
sudah dapat menunjukkan bahwa ia memang bukan orang Inggris.
Tiba-tiba diputarnya kepalanya dan saat itulah baru jayakatwang dapat
melihat tampangnya dengan jelas. Pria yang tampan sekitar tiga
puluhan, dengan kumis, yang bagus dan cukup dapat dibanggakan.
Wanita yang duduk di hadapannya tampaknya masih gadis
kemarin sore - usianya kira-kira dua puluh tahun. Ia mengenakan rok
ketat berwarna hitam dan blus satin putih, di atas kepalanya
bertengger topi berwarna hitam yang sedang mode dan bersudut
aneh. Wajahnya cantik, mirip wajah orang asing. Kulitnya putih
mulus, dengan sepasang mata yang berwarna coklat dan rambut,
hitam yang bagus. Kuku-kuku tangannya yang terawat baik diberi cat
kuku berwarna merah tua. Di lehernya tergantung serenceng batu
permata zamrud yang dimat dengan emas putih. Pandangan dan
suaranya penuh daya tarik.
“Elle est jollie - et chic, " gumam jayakatwang pada diri sendiri. "Suami-
isteri - eh?"
Tuan BOUROQ mengangguk. "Dari Kedutaan Hongaria kukira,"
katanya. "Pasangan yang setimpal.”
Cuma ada dua orang lagi yang masih makan siang - teman
sekamar jayakatwang , WISNU WARDANA dan majikannya Tuan CHUCKY. Yang
terakhir ini duduk berhadapan muka dengan jayakatwang , dan untuk kedua
kalinya detektip Belgia itu sempat mengamat-amati wajahnya yang
menawan tapi penuh kepalsuan itu, mengamat-amati keramahan dan
kebajikan semu di balik alis dan matanya yang kecil dan kejam itu.
Tuan BOUROQ yakin bahwa ia telah melihat perubahan pada air muka
kawan baiknya itu.
"Kau sedang memperhatikan binatang buasmu itu?" tanyanya
pasti.
jayakatwang mengangguk.
Sewaktu pelayan restoran datang membawakan kopi pesanan
detektif Belgia itu, maka Tuan BOUROQ langsung berdiri. Ia sudah lebih
dulu berada di situ dan ia juga sudah selesai bersantap siang sejak
beberapa menit yang lalu.
"Aku kembali ke kamar," ujarnya memberitahukan. "Datang saja
ke sana supaya kita bisa ngobrol."
"Dengan segala senang hati."
jayakatwang menghirup kopinya lalu memesan bir. Pelayan restoran
tampak sedang sibuk melangkah dari meja ke meja sambil
memegang kotak uangnya, memungut bayaran pada penumpang
kereta yang sudah selesai bersantap siang. Kini suara wanita Amerika
setengah baya itu terdengar semakin tinggi dan sedih.
"Anak perempuan saya bilang, 'Ambil saja bon makanan satu buku
dan Ibu pasti tak akan mengalami kesulitan - pasti tak akan ada
kesulitan apa-apa.' Tapi sekarang, rupanya tidak begitu, tidak seperti
yang diramalkan. Nampaknya pelayan-pelayan di sini mesti diberikan
persen sepersepuluh dari jumlah harga yang kita makan, begitu juga
kalau kita mau minta di bawakan sebotol air putih, yang rasanya
agak aneh di sini. Mereka tak punya anggur Evian atau Vichy, dan itu
juga kurasakan aneh."
"Mereka harus … apa yang Ibu katakan tadi? tapi biar
bagaimanapun mereka tak bisa berbuat lain kecuali menyediakan air
yang ada di negeri ini," ujar si muka domba itu menerangkan.
"Ya, biar bagaimana rasanya tetap aneh bagiku." Wanita Amerika
setengah baya itu memandang dengan jijik pada setumpukan uang
kembaliannya di atas meja di hadapannya. "Lihatlah barang-barang
aneh yang diberikannya kepadaku itu. Uang dinar atau apa. Seperti
seonggokan sampah. Anak perempuan saya bilang -"
MARIAM GRAVES mendorong kursinya ke belakang dan
meninggalkan ruang makan setelah lebih dulu membungkuk sedikit
kepada kedua orang temannya semeja. MPU TANTULAR juga
bangun, ia mengikutinya. Setelah mengumpulkan uang kembaliannya
yang berserakan di atas meja, wanita Amerika setengah baya itu juga
mengikuti GRAVES, bangun dari kursinya, disusul oleh wanita
satunya yang parasnya mirip domba. Pasangan Hongaria itu sudah
pergi duluan. Restoran itu kini sudah hampir kosong hanya tinggal
jayakatwang , CHUCKY dan WISNU WARDANA .
CHUCKY terlihat berbicara sebentar dengan temannya, yang
langsung bangun dan meninggalkan ruang restorasi itu. Kemudian ia
sendiri juga bangun, tapi bukannya mengikuti WISNU WARDANA , malah ia
duduk di kursi di hadapan jayakatwang dengan tak disangka-sangka.
“Maaf, boleh minta apinya?" tanya orang itu. Suaranya lemah dan
cukup lembut - suara sengau yang tak begitu kedengaran. "Nama
saya CHUCKY."
jayakatwang menganggukkan kepalanya sedikit memberi hormat.
Kemudian dimasukkannya tangannya ke dalam saku celananya dan
dikeluarkannya sebuah kotak korek api yang langsung diberikannya
kepada orang yang di hadapannya. Orang itu mengambilnya tapi tak
jadi menyalakan api.
“Saya rasa," ia melanjutkan, "saat ini saya sedang berbicara
dengan Tuan Raden jayakatwang . Benar?”
jayakatwang kembali mengangguk. "Anda memang mendapat informasi
yang benar, Tuan."
Detektif Belgia itu terpana oleh sorot mata yang lihay di
hadapannya, sebelum lawan bicaranya melanjutkan kembali.
"Di negeri saya," ujarnya menerangkan, "kami biasa bicara dengan
terus terang dan langsung pada inti persoalannya. Tuan jayakatwang , saya
harap Tuan bersedia melaksanakan tugas yang saya berikan kepada
Tuan."
Alis mata detektif Belgia itu nampak naik sedikit.
"Klien saya sangat terbatas sekarang. Saya cuma mau menangani
beberapa perkara saja."
"Tentu saja - saya mengerti. Tapi yang satu ini, Tuan jayakatwang ,
berarti imbalan besar. Lalu ia mengulangi lagi perkataan itu dengan
suaranya yang lembut dan bernada membujuk, "Imbalan besar."
Raden jayakatwang terdiam satu dua menit. Lalu ia baru menjawab,
"Apa yang Tuan ingin tugaskan pada saya, Tuan -eer - CHUCKY?"
"Tuan jayakatwang , saya ini orang kaya - kaya besar. Orang yang punya
kedudukan seperti itu biasanya punya banyak musuh. Aku punya
seorang musuh."
"Cuma seorang?"
"Apa yang Tuan maksudkan dengan pertanyaan itu?" tanya
CHUCKY tajam.
"Tuan, menurut pengalaman saya, jika orang yang seperti Tuan
sebut barusan, punya banyak musuh, itu tak berarti bahwa Tuan
harus mencurigai seorang musuh tertentu saja."
CHUCKY nampaknya lega setelah mendengar penjelasan jayakatwang .
Lalu ujarnya dengan cepat,
"Ya, begitulah. Saya menghargai pendapat Anda itu. Satu musuh
atau lebih, tak jadi soal. Yang penting yaitu keselamatan saya."
"Keselamatan?"
"Hidup saya terancam, Tuan jayakatwang . Sekarang saya sudah jadi
orang yang selalu bisa menjaga dirinya sendiri." Perlahan-lahan ia
mengeluarkan tangannya dari saku mantelnya - di dalamnya
tergenggam pistol otomatis kecil. Kemudian diteruskannya bicaranya
dengan nada yang bersungguh-sungguh. "Saya rasa saya bukan
macam orang yang sering diincar. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi,
saya bisa saja menyuruh orang melipatgandakan keselamatan saya.
Saya kira Anda orang yang paling tepat untuk menerima imbalan dari
saya, Tuan jayakatwang . Dan ingat - imbalan besar."
jayakatwang memandangnya selama beberapa menit sambil berpikir-
pikir, wajah detektif Belgia itu tak menunjukkan ekspresi apa pun.
Yang seorang lagi tak dapat menerka apa yang ada dalam benak
lawan bicaranya ketika itu.
"Saya menyesal, Tuan," sahut jayakatwang perlahan-lahan. "Sebab saya
tak bisa melaksanakan tugas yang Tuan berikan pada saya."
Orang itu memandang jayakatwang dengan sorot mata yang licik. "Kalau
begitu katakan saja berapa yang Anda mau?" ujarnya.
jayakatwang menggeleng.
"Tuan tak mengerti. Saya sudah cukup beruntung selama
menjabat pekerjaan seperti ini. Saya sudah banyak memperoleh uang
untuk mencukupi kebutuhan hidup dan keperluan-keperluan saya
yang tak terduga. Sekarang saya cuma mau menangani perkara-
perkara yang menarik perhatian saya saja.”
"Perasaan Tuan halus sekali," sahut CHUCKY memuji. "Apa dua
puluh ribu dollar tak cukup menggiurkan buat Tuan?"
"Tidak."
"Kalau lebih dari itu, tak dapat lagi. Saya tahu betul apa yang
berharga buat saya."
"Buat saya juga, Tuan CHUCKY."
"Apa yang kurang pada tawaran saya itu?"
jayakatwang bangkit dari kursinya. "Kalau saja Tuan mau memaafkan
saya, sebab alasan pribadi, terus terang saja, saya menolak
tawaran Tuan sebab saya tak suka pada wajah Tuan."
Sehabis berkata demikian jayakatwang meninggalkan ruangan.
4. JERITAN DI MALAM HARI
Kereta Simplon Orient Express tiba di Belgrado pukul sembilan
kurang seperempat malam itu. Kereta itu baru berjalan lagi pada
pukul 9.15, jadi jayakatwang turun sebentar melihat-lihat peron. Meskipun
demikian ia tak lama di situ. Udara dingin menusuk tulang, dan
walaupun peron itu sendiri terlindung, hujan salju yang lebat masih
saja belum berhenti di luar. jayakatwang kembali ke kamarnya. LETKOL
kereta, yang sedang berdiri di peron sambil menghentak-hentakkan
kakinya ke tanah dan mengibas-ngibaskan tangannya untuk
membangkitkan rasa hangat, mengajak detektif Belgia itu bereakap-
cakap sebentar dengannya.
"Koper-koper Tuan sudah dipindahkan semuanya. Ke kamar no.1,
kamarnya Tuan BOUROQ."
"Jadi Tuan BOUROQ sendiri ke mana, kalau begitu?"
"Ia sudah pindah ke gerbong dari Athena yang baru saja
disambungkan dengan gerbong-gerbong kita."
jayakatwang lekas-lekas mencari kawannya itu. Tuan BOUROQ tak
mengindahkan keberatan yang dikemukakan jayakatwang .
"Tak apa-apa. Tak apa-apa. Aku lebih senang begini. Kau ingin
langsung ke Inggris, jadi sebaiknya kau tetap saja tinggal di gerbong
ke Calais. Kalau aku, aku lebih senang di sini. Tenang dan tenteram.
Kereta ini kosong dan cukup lega bagiku, ada satu orang lagi, dokter
Yunani. Ah! Kawan! Bukan main malam ini. Orang bilang tahun-tahun
yang lalu belum pernah turun salju sebanyak sekarang. Moga-moga
kita bisa jalan terus. Aku khawatir kalau kereta mogok di jalan sebab
salju."
Pukul 9.15 tepat kereta yang ditumpangi detekif Belgia itu sudah
hendak berangkat lagi, sebab itu jayakatwang langsung bangkit,
mengucapkan selamat malam kepada kawannya, dan kembali
menyusuri koridor yang panjang itu menuju gerbongnya yang
terletak di muka di dekat gerbong makan.
Pada hari kedua di perjalanan, jurang yang memisahkan
penumpang di kereta itu sudah tak terlihat lagi. Tampak MPU
TANTULAR sedang berdiri dengan santai di ambang pintu kamarnya,
asyik berbincang-bincang dengan WISNU WARDANA . Tapi ketika WISNU WARDANA
melihat jayakatwang bicaranya terhenti tiba-tiba. Di wajahnya terbayang
keheranan.
“Lho," teriaknya, "saya kira Saudara sudah meninggalkan kami.
Saudara sendiri bilang Saudara turun di Belgrado."
“Saudara salah paham," sahut jayakatwang sambil tersenyum "Saya baru
ingat sekarang, kereta baru berangkat dari Istambul sewaktu kita
membicarakan itu. "
"Tapi, koper Saudara sudah tak ada di tempatnya."
“Memang, koper saya sudah dipindahkan ke kamar lain, apa lagi."
"Oh! Begitu!"
Ia meneruskan obrolannya dengan TANTULAR, sedang jayakatwang
kembali menyusuri koridor kereta.
Dua pintu dari pintu kamarnya, dilihatnya wanita Amerika
setengah baya itu, Nyonya Hubbard, sedang asyik mengobrol
dengan wanita yang bentuk wajahnya seperti domba itu, seorang
Swedia. Sambil berdiri itu Nyonya Hubbard menyodorkan sehelai
majalah kepada lawan bicaranya.
"Ambil saja ini," ujarnya. "Aku masih punya yang lainnya, masih
banyak. Astagfirullah, dinginnya kelewatan ya!" Lalu ia mengangguk
ke arah jayakatwang .
"Nyonya baik sekali," sahut wanita Swedia itu.
"Ah, masa. Aku cuma berharap agar Nona bisa tidur nyenyak
malam ini supaya kepala Nona yang pusing itu bisa hilang besok
pagi."
"Ah, cuma sebab kedinginan. Aku ingin membuat teh dulu."
"Apa Nona punya aspirin? Sudah baikkan sekarang? Aku punya
aspirin banyak. Baiklah, selamat malam."
Wanita Amerika itu langsung mengalihkan perhatiannya pada
jayakatwang setelah gadis Swedia itu berlalu meninggalkannya.
"Kasihan, gadis Swedia itu. Sejauh yang aku ketahui dia itu
penginjil. Semacam guru begitu. Orangnya menyenangkan, tapi tak
begitu fasih bahasa Inggris. Ia paling tertarik kalau saya bercerita
tentang anak perempuan saya."
Sekarang jayakatwang nampaknya sudah tahu banyak tentang anak
perempuan Nyonya Hubbard. Dan rasanya setiap orang di kereta itu
yang dapat berbahasa Inggris juga demikian! Soal bagaimana ia dan
suaminya bekerja sebagai staf di perguruan tinggi Amerika yang
besar di Smyrna, bahwa perjalanan ini yaitu perjalanan pertama
Nyonya Hubbard ke Timur, dan apa pendapatnya mengenai orang
Turki, jalan-jalannya yang tak terurus, dan cara hidupnya yang
serampangan dan sebagainya, dan sebagainya.
Tiba-tiba pintu di sebelah mereka terbuka dan pelayan kurus
berwajah pucat itu- melangkah masuk. Di dalam, jayakatwang melihat
sepintas Tuan CHUCKY sedang duduk di tempat tidur. Sewaktu ia
melihat jayakatwang , wajahnya menjadi merah sebab marah. Lalu pintu
ditutup kembali.
Nyonya Hubbard menarik lengan jayakatwang ke samping.
"Tuan tahu, saya takut sekali pada orang itu. Oh! Bukan! Bukan
pelayan pria itu yang saya takuti, tapi penumpang yang di dalam
kamar itu! Tuannya, ya Tuannya! Ada sesuatu yang tak beres dalam
dirinya. Anak perempuanku bilang saya terlalu perasa jadi orang.
'Kalau Mama menyangka orang yang bukan-bukan, Mama bakal
mati,' begitu kata anak saya selalu. Dan celakanya saya curiga pada
orang itu. Kebetulan kamarnya di sebelah kamar saja, dan justru itu
yang saya tak suka. Tadi malam saya sengaja mengunci pintu
penghubung ke kamarnya rapat-rapat. Rasanya saya mendengar ia
mencoba membukanya. Tuan tahu, saya tak heran kalau ternyata
orang itu pembunuh atau salah satu dari perampok kereta seperti
yang Tuan suka baca. Saya berani bilang mungkin saya ini bodoh,
tapi kenyataannya memang begitu. Saya takut setengah mati pada
orang itu! Anak perempuan saya bilang perjalanan saya ini pasti tidak
sulit, tapi entah mengapa saya sendiri tak bisa merasa tenteram di
hati. Mungkin saya menduga yang tidak-tidak, tapi saya merasa akan
terjadi sesuatu, apa saja. Dan bagaimana mungkin orang muda yang
menyenangkan itu sanggup menjadi sekretarisnya, saya tak habis
mengerti. "
Dalam pada itu MPU TANTULAR dan WISNU WARDANA nampak sedang
berjalan ke arah mereka, menyusuri koridor di hadapannya.
"Mari ke gerbongku saja," ujar WISNU WARDANA mengundang. "Tapi
tempat tidurnya belum dibereskan buat malam ini. Nah, sekarang,
yang sebenarnya saya inginkan mengenai politik Tuan di India yaitu
ini – “
Kedua pria itu terus menyusuri koridor di hadapan mereka menuju
gerbong WISNU WARDANA .
Nvonya Hubbard mengucapkan selamat malam kepada jayakatwang .
"Saya ingin langsung rebah dan membaca," ujarnya. "Selamat
malam."
"Selamat malam, Madame. " jayakatwang memasuki kamarnya, yang
terletak bersebelahan dengan kamar CHUCKY. Setelah membuka
pakaian, ia naik ke ranjang, membaca kira-kira setengah jam lalu
mematikan lampu. , tapi terasa dekat sekali. Pada saat yang sama
terdengar dentingan lonceng, bunyinya tajam.
jayakatwang buru-buru bangun dan menyalakan lampu. Ia baru
menyadari bahwa kereta sedang berhenti - mungkin di sebuah
stasiun.
Tapi rintihan itu membuatnya ngeri. Ia teringat kamar di
sebelahnya yaitu kamar CHUCKY. Detektif itu langsung melompat
dari tempat tidur dan membuka pintu, bersamaan dengan itu pula
dilihatnya LETKOL lewat bergegas-gegas dan sesampainya di
kamar CHUCKY, ia mengetuk pintu. jayakatwang sengaja membiarkan
pintunya terbuka sedikit supaya dapat mengintip. Didengarnya
LETKOL mengetuk sekali lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi bel dan
seberkas sinar muncul dari kamar di sebelah sana, agak jauh.
LETKOL menoleh sebentar lewat bahunya. Pada saat yang
berbarengan terdengar sebuah suara dari kamar sebelah: "Ce n'est
rien. Je me suis trompe."
"Bien, Monsieur. " LETKOL cepat-cepat melangkah lagi, menuju
daun pintu yang tadi diterangi oleh seberkas cahaya itu.
jayakatwang kembali naik ke tempat tidur, hatinya terasa lega, lalu ia
mematikan lampu. Diliriknya jamnya. Pukul satu kurang dupuluh tiga
menit.
5. PEMBUNUHAN
Detektif Belgia itu tak bisa langsung tidur. Ia merasa.kan sesuatu
yang hilang, kereta tak bergerak sebagaimana mestinya, kereta itu
diam saja. Jika tempat mereka berhenti memang sebuah stasiun,
mengapa stasiun itu nampak sepi? Sebaliknya kegaduhan di kereta
terasa tak seperti biasanya. jayakatwang mendengar CHUCKY berjalan
mondar-mandir di kamar sebelah, seolah sedang melakukan sesuatu.
Didengarnya bunyi seperti orang yang sedang membuka keran air di
tempat cuci tangan, kemudian suara air mengucur, suara orang
mencuci tangan, dan akhirnya suara keran air yang ditutup kembali.
Dalam pada itu juga terdengar langkah-langkah, kaki orang di luar,
langkah yang terseok-seok bagai langkah kaki orang yang
mengenakan sandal.
Raden jayakatwang berbaring di tempat tidurnya sambil memandang ke
langit-langit. Mengapa stasiun di luar itu sepi sekali?
Kerongkongannya terasa kering. Rupanya ia lupa meminta dibawakan
sebotol air putih yang biasa diminumnya sebelum pergi tidur.
Diliriknya jamnya sekali lagi. Tepat pukul satu kurang seperempat. Ia
ingin mengebel, memanggil LETKOL dan meminta dibawakan air
putih. Jari-jemarinya sudah meraba-raba pinggir bel, namun
diurungkannya niatnya setelah tiba-tiba didengarnya bunyi dentingan
dari seberang sana. Sudah barang tentu LETKOL itu tak dapat
menjawab sebab panggilan bel sekaligus.
Ting... ting... ting....
Sekali lagi dan sekali lagi bel itu berbunyi. Mana orangnya? Pasti
orang itu tak sabar menunggu.
Ti-i-i-ing!
Siapa pun orangnya, tentu ia sedang memijit tombol kuat-kuat.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh, bunyi
langkahnya bergema, orang yang ditunggu telah datang. Ia
mengetuk pintu tak jauh dari pintu kamar jayakatwang .
Kemudian terdengar suara-suara - suara LETKOL, yang penuh
hormat dan nada memohon maaf dan satunya lagi suara wanita
dengan nada mendesak tapi lancar.
Nyonya Hubbard!
jayakatwang tersenyum sendiri.
Kedengarannya seperti orang berdebat - mungkin saja - dan
perdebatan itu kedengarannya cuma berlangsung beberapa menit
saja. Tapi yang jelas kira-kira sembilan puluh persen oleh Nyonya
Hubbard dan yang sepuluh persen lagi oleh LETKOL. Namun
akhirnya persoalannya dapat juga diselesaikan. Samar-samar jayakatwang
mendengar ucapan, "Bonne nuit, Madame, " dan suara pintu
tertutup.
Lalu kini giliran jayakatwang untuk menekan tombol. LETKOL tiba pada
saat yang diharapkan. Wajahnya kelihatan tegang dan cemas.
"De leau minerale, s'il vous-plait.”
"Bien, Monsieur. " Mungkin sorot mata jayakatwang membuat hatinya
lega. "La dame Americaine – “
"Ya?"
LETKOL itu menyeka jidatnya. "Bayangkan andaikata Tuan
sendiri yang menghadapinya! Ia bersikeras - tetap bersikeras - bahwa
ada seorang pria di kamarnya. Bayangkan sendiri, Tuan. Dalam
ruangan sesempit ini." Ia mencoba melukiskan dengan tangannya,
membuat lingkaran kecil. "Di mana kira-kira dia bisa
menyembunyikan diri? Saya katakan itu tak mungkin. Saya jadi
berdebat dengan nyonya itu. Tapi ia terus bersikeras. Ia bangun dari
tempat tidur, dan menunjuk kepada pria yang dimaksud. Dan saya
tanya,' bagaimana caranya orang itu bisa keluar dan meninggalkan
pintu yang masih terkunci dari dalam? Tapi nyonya itu tak peduli
pada alasan saya itu. Dan sepertinya ke jadian ini belum cukup
menyusahkan kita, ada lagi… salju itu…
"Salju?"
"Ya, Tuan. Tuan belum melihatnya? Kereta terpaksa berhenti. Kita
terhalang oleh, salju tebal. Cuma surga yang tahu berapa lama lagi
kita harus di sini. Dulu saya pernah terhalang salju juga, lamanya
tujuh hari."
"Di mana kita sekarang?"
"Antara Vincovci dan Brod."
"La-la," ujar jayakatwang jengkel.
LETKOL itu minta permisi sebentar lalu kembali dengan air
pesanan jayakatwang .
"Bon soir, Monsieur. "
jayakatwang meneguk air itu dan tertidur dengan tenang.
Ia baru saja terlena ketika sesuatu kembali membuatnya
terbangun. Kali ini seolah sesuatu yang berat jatuh menimpa daun
pintu, menimbulkan bunyi berdebam.
Ia melompat dari tempat tidur, membuka pintu dan melongok ke
luar. Tak ada apa-apa. Tapi di sebelah kanannya, beberapa langkah
sepanjang koridor, dilihatnya seorang wanita berpakaian kimono
ungu sedang berjalan menjauh. Pada ujung yang satunya lagi, di
tempat duduknya yang biasa, dilihatnya LETKOL sedang asyik
menghitung-hitung sesuatu di atas secarik kertas yang lebar.
Suasana sangat sunyi bagaikan di kuburan.
"Yang jelas syarafku masih normal," ujar jayakatwang dalam hati dan
kembali berbaring di tempat tidur. Kali ini ia dapat tidur nyenyak
sampai pagi.
Sewaktu terbangun, kereta masih juga belum bergerak. jayakatwang
menaikkan kerei jendela dan meiongok ke luar. Potongan-potongan
salju yang tebal mengelilingi kereta.
jayakatwang melirik jamnya. Pukul sembilan lewat.
Pada pukul sepuluh kurang seperempat, dengan setelan dan
dandanan yang rapi seperti biasanya, ia melangkah menuju gerbong
restorasi, di mana suara-suara ikut berdukacita terdengar dari setiap
sudut.
Jurang pemisah yang mungkin masih ada di antara sesama
penumpang, sekarang terlihat sudah benar-benar lenyap. Semua
senasib dan sepenanggungan sebab kecelakaan yang tak
diharapkan. Barangkali cuma Nyonya Hubbard yang keluh kesahnya
paling keras kedengaran.
"Anak perempuanku bilang ini akan merupakan perjalanan yang
paling gampang di dunia. Duduk saja di kereta dan tahu-tahu saya
sudah sampai Paris. Tapi sekarang kita malah bisa di sini terus
sampai berhari-hari," isak Nyonya Hubbard. "Dan kapal saya akan
berangkat lusa. Bagaimana saya bisa mencegatnya? Terlalu, saya
bahkan tak bisa menelegram untuk membatalkan pelayaran saya itu.
Ah! Saya bisa jadi semakin sedih saja kalau berbicara tentang itu.”
Orang Italia itu juga mengeluh bahwa ia sendiri masih punya
urusan yang mendesak di Milan. Sedangkan pria Amerika yang
berperawakan tinggi besar cuma mengatakan, "Sial betul, Ma'am."
Dan mencoba membangkitkan harapan bahwa kereta akan berhasil
mengejar ketinggalannya.
"Kakak perempuan saya dan anak-anaknya pasti sedang
menunggu saya," ujar wanita Swedia itu sambil menangis terisak-
isak. "Sedangkan saya tak bisa memberi kabar apa pun kepada
mereka. Apa yang mereka pikir? Mereka pasti mengira saya tertimpa
kecelakaan."
"Berapa lama lagi kita tertahan di sini?" tanya MARIAM GRAVES
kesal. "Tak ada orang yang tahu?"
Terasa ada nada tak sabar dalam suaranya, namun jayakatwang
memperhatikan tak ada tanda-tanda kekhawatiran yang mencekam
seperti yang diperlihatkannya selama pemeriksaan yang dilakukan
pada kereta Taurus Express itu."
Nyonya Hubbard mulai lagi.
“Tak ada seorang pun yang mengetahui apa-apa tentang kereta
ini. Dan tak ada seorang pun yang mau berbuat sesuatu. Kereta ini
cuma dipenuhi segerombolan orang-orang tak dikenal yang tak
berguna. Terlalu, seumpamanya ini terjadi di rumah, paling tidak
mesti ada seseorang yang mau berbuat sesuatu! "
TANTULAR sekonyong-konyong berpaling ke jayakatwang dan mulai
berbicara dengan bahasa Perancis logat Inggris.
“Vous etes un directeur de la ligne, je crois, Monsieur. Vous
pouvez nous dire – “
Dengan tersenyum jayakatwang buru-buru meralatnya.
"Bukan, bukan," ujarnya dalam bahasa Inggris. “Bukan saya. Tuan
keliru. Bukan saya yang Tuan kira direktur perusahaan kereta api ini,
tapi Tuan BOUROQ, teman saya."
"Oh! Saya minta maaf."
“Tak apa-apa. Itu wajar. Cuma memang sekarang ini saya
menempati kamarnya yang dulu."
Ternyata Tuan BOUROQ tak kelihatan di gerbong restorasi itu. jayakatwang
lalu melemparkan pandangan ke sekeliling untuk melihat siapa-siapa
lagi yang tak ada pada saat itu.
Puteri GIRAH belum kelihatan, begitu juga pasangan
Hongaria itu. Demikian juga CHUCKY, pelayan prianya dan pembantu
wanita berkebangsaan Jerman itu.
Wanita Swedia itu menyeka matanya.
“Saya bodoh," ujarnya. "Saya sebenarnya tak boleh menangis.
Buat apa menangis, Semua ini untuk kebaikkan kita, apa pun yang
terjadi."
Namun semangat Kristen yang diperlihatkannya ini, ternyata tak
mempan pada diri penumpang kereta yang lain.
"Ya memang segalanya baik-baik saja," ujar WISNU WARDANA gelisah.
"Mungkin kita bisa sampai berhari-hari di sini."
"Ngomong-ngomong, negeri apa ini?" tanya Nyonya Hubbard
dengan sedih.
Sewaktu ada yang memberitahu bahwa mereka sedang di wilayah
Yugoslavia, lalu ia berseru, "Oh! cuma salah satu dari negara-negara
Balkan itu. Apa yang dapat kalian harapkan!"
"Cuma Nona penumpang satu-satunya yang masih sabar," ujar
jayakatwang kepada Nona GRAVES.
Ia mengangkat bahu. "Apa yang bisa dilakukan?"
"Nona pintar berfilsafat, Mademoiselle," sahut jayakatwang lagi.
"Justru itu sikap yang obyektif, tidak memihak. Malahan saya kira
saya ini suka mementingkan diri sendiri. Saya sudah belajar
bagaimana caranya menahan perasaan."
Kedengarannya MARIAM GRAVES lebih banyak berbicara untuk diri
sendiri daripada untuk lawan bicaranya. Bahkan ia sama sekali tak
melihat ke arah jayakatwang . Pandangannya melewati jayakatwang , jauh keluar
jendela di mana salju terlihat semakin menumpuk.
"Nona punya kepribadian kuat, Mademoiselle," Ujar jayakatwang lembut.
" Saya kira watak Nona paling keras di antara penumpang lainnya di
kereta ini."
"Oh! tidak, benar-benar tidak. Saya tahu orang yang wataknya
lebih keras dari saya, jauh lebih keras."
"Dan orang itu yaitu - ”
Sekonyong-konyong kelihatan seakan ia baru sadar, bahwa
sebenarnya ia tengah berhadapan dengan orang asing yang tak
dikenal, dengan siapa, hingga pagi ini, ia cuma pernah bertukar sapa
sebanyak tak lebih dari setengah lusin kalimat.
Gadis itu tertawa, sopan tapi terasa aneh.
“Baiklah - Nyonya tua itu, umpamanya. Tuan sendiri barangkali
sudah pernah memperhatikannya - memang ia nyonya tua yang luar
biasa jelek, tapi biarpun begitu masih mempesonakan orang yang
melihatnya. Ia hanya perlu mengangkat satu jari saja dan meminta
sesuatu dengan nada yang sopan - dan seluruh isi kereta seakan-
akan mengerjakan perintahnya itu."
"Perintah itu juga dilaksanakan kalau yang memintanya Tuan
BOUROQ," sahut jayakatwang menerangkan. “Tapi itu pun sebab ia direktur
perusahaan kereta api ini dan bukannya sebab ia punya kepribadian
yang kuat."
MARIAM GRAVES tersenyum.
Pagi terus merayap menjadi siang. Beberapa penumpang,
termasuk jayakatwang , terlihat masih duduk di gerbong restorasi itu. Saat
itu terasa adanya suasana yang lebih hidup dan lebih bergairah
daripada waktu-waktu sebelumnya, semata-mata untuk
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di antara sesama penumpang.
jayakatwang sudah mendengar banyak tentang anak perempuan Nyonya
Hubbard yang sering disebut-sebut itu. Juga tentang kebiasaan-
kebiasaan Tuan Hubbard selama masih hidup, tentang saat
kematiannya, dari mulai ia bangun pagi dan bersantap dengan bubur
gandum sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir di
tempat tidurnya pada malam hari, dengan masih mengemakan kaus
kaki yang biasa dirajut oleh Nyonya Hubbard sendiri untuk suaminya
itu.
Ketika jayakatwang sedang asyik mendengarkan cerita yang
membingungkan mengenai tujuan misionari yang sebenarnya dari
wanita Swedia itu, salah seorang LETKOL kereta datang
menghampiri dan berdiri di dekat sikunya yang diletakkan di meja.
"Pardon, Monsieur.
"Ya?"
"Salam dari tuan BOUROQ, dan Tuan dipersilakan datang menemuinya
selama beberapa menit, itu pun kalau Tuan bersedia."
jayakatwang langsung bangun dan setelah meminta maaf sekedarnya
kepada gadis Swedia itu, ia segera mengikuti LETKOL keluar
ruangan. LETKOL itu bukan LETKOL gerbongnya sendiri, tapi
LETKOL gerbong Tuan BOUROQ, laki-laki berperawakan tinggi besar
dan berparas tampan.
Detektif Belgia itu terus mengikuti langkah LETKOL di
hadapannya, menyusuri koridor gerbongnya sendiri terus menuju
gerbong yang lain. LETKOL itu mengetuk pintu sebentar, lalu
menyisih ke samping untuk mempersilakan jayakatwang masuk.
Rupanya kamar itu bukanlah kamar Tuan BOUROQ sendiri, melainkan
kamar gerbong kelas dua, mungkin dipilih sebab ukurannya yang
lebih besar sedikit dari kamar-kamar lainnya. Biasanya kamar-kamar
seperti itu memberi kesan terlalu padat, jadi rupanya Tuan BOUROQ
memang sengaja memilih kamar yang satu ini, meskipun letaknya di
gerbong kelas dua.
Tuan BOUROQ sendiri nampak sedang duduk di sebuah kursi kecil di
sudut yang berhadapan dengan jayakatwang . Di sudut sebelahnya, dekat
jendela yang menghadap ke arah Tuan BOUROQ, nampak seorang lelaki
kecil berkulit kehitam-hitaman sedang melongok ke luar,
memperhatikan salju turun. Kecuali itu ada pula seorang pria yang
sedang berdiri dan nampaknya menjadi penghalang bagi jayakatwang untuk
melangkah lebih ke depan, sebab perawakan pria itu tinggi besar. Ia
mengenakan seragam biru, dan pria itu tak lain daripada LETKOL
gerbongnya sendiri, yang sekaligus menjabat sebagai kepala
LETKOL kereta.
"Ah! Temanku yang baik!" seru Tuan BOUROQ dengan suara riang.
"Mari masuk. Kami memerlukan Anda."
Raut muka yang diperlihatkan Tuan BOUROQ saat itu, memaksa jayakatwang
berpikir keras. Sudah jelas bahwa sesuatu yang luar biasa telah
terjadi.
"Apa yang terjadi?" tanya jayakatwang tak sabar.
"Silakan bertanya. Yang pertama salju keparat ini - dan
pemberhentian kereta kita ini. Dan sekarang -"
Tuan BOUROQ berhenti berbicara - kelihatannya ia susah bernapas
dan tenggorokannya tercekik, sebab itu suaranya pun susah keluar.
"Dan sekarang apa?"
"Dan sekarang seorang penumpang ditemukan sudah tak
bernyawa lagi di atas tempat tidurnya tertikam."
Tuan BOUROQ berbicara dengan nada suara seperti orang putus asa
meskipun kedengarannya tenang.
"Penumpang? Penumpang yang mana?"
“Orang Amerika. Orang yang namanya – yang namanya -" ia
memeriksa daftar yang di hadapannya. "CHUCKY -Benar.”
“CHUCKY?"
"Ya, Monsieur," sahut LETKOL gerbong sambil menahan napas.
jayakatwang menatapnya. Wajahnya putih dan pucat seperti kapur.
"Baiknya kausuruh dia duduk dulu," ujar jayakatwang pada Tuan BOUROQ.
"Kalau tidak dia bisa pingsan."
Kepala LETKOL kereta menggeserkan tubuhnya sedikit dan
LETKOL gerbong itu duduk terhenyak di sudut dan langsung
menutupi mukanya dengan kedua belah tangan.
"Brrr! " teriak jayakatwang tiba-tiba. "Tidak main-main nih! "
"Tentu saja ini serius. Terus terang saja, sebagai permulaan, aku
rasa pembunuhan ini bagaikan kegaduhan yang begitu saja terjadi
dalam suasana yang begini tenang bagai air. Tapi bukan itu saja. Di
sini kita sedang tertahan. Mungkin kita bisa tertahan sampai berjam-
jam - bahkan lebih dari itu - sampai berhari-hari! Keadaan lainnya -
jika sedang melintasi negeri-negeri lain mungkin ada satu dua polisi
dari negeri itu yang ditugaskan di kereta kita. Tapi di Yugoslavia ini
tidak bisa. Kau mengerti?"
"Jadi kita dalam posisi yang amat sulit," ujar jayakatwang .
"Bahkan mungkin bisa jadi lebih sulit lagi. Dr. HAUNTED - saya
sampai lupa, saya belum memperkenalkan Anda. Dr. HAUNTED,
Tuan jayakatwang ."
"Dr. HAUNTED berpendapat orang itu meninggal sekitar pukul
satu malam."
"Sukar untuk menentukan waktu yang tepat dalam soal-soal
semacam ini," sahut dokter itu, "tapi saya rasa saya berani ambil
kepastian bahwa orang itu meninggal antara pukul dua belas tengah
malam dan pukul dua pagi."
"Kapan Tuan CHUCKY ini terakhir kelihatan masih hidup?"
"Ia diketahui masih hidup kira-kira dua puluh menit sebelum pukul
satu, sewaktu ia berbicara kepada LETKOL," sahut Tuan BOUROQ.
"Betul," ujar jayakatwang membenarkan. "Aku sendiri mendengar apa
yang terjadi saat itu. Apa ini hal terakhir yang diketahui tentang si
CHUCKY itu?"
"Ya."
jayakatwang memalingkan kepalanya ke arah Dokter HAUNTED, yang
lalu melanjutkan bicaranya tanpa diminta.
"Jendela kamar Tuan CHUCKY diketemukan terbuka lebar, seolah-
olah memberi-kesan bahwa pembunuhnya lari dari situ. Tapi menurut
saya, kesan itu dibuat justru untuk mengelabui kita. Siapa pun juga
yang melarikan diri dari jendela pasti akan meninggalkan jejak di
salju. Tapi justru tak ada jejak sama sekali."
"Kapan pembunuhan itu diketahui?" tanya jayakatwang .
"TENDEAN!”
LETKOL gerbong jayakatwang itu tersentak. Wajahnya masih kelihatan
pucat dan ketakutan.
"Ceriterakan hal yang sebenarnya pada kedua Tuan ini," ujar Tuan
BOUROQ memerintahkan.
Orang itu berceritera dengan suara yang tersendat-sendat.
"Pelayan pria Tuan CHUCKY itu saya dengar berkali-kali mengetuk
pintu kamar tuannya. Tapi tak ada jawaban. Lalu setengah jam yang
lalu, saya lihat pelayan gerbong restorasi datang menghampiri kamar
itu. Rupanya ia ingin tahu apakah Tuan CHUCKY ingin makan siang.
Waktu itu sudah pukul sebelas, Tuan."
"Lalu saya sendiri yang membukakan pintu untuknya, dengan
kunci yang ada pada saya. Tapi sewaktu saya mau membukanya,
ternyata tidak bisa, sebab pintunya sudah dirantai dari dalam, dan
dikunci, lagi. Tetap tak ada jawaban apa-apa, suasana waktu itu sepi
sekali dan dinginnya bukan main. Apalagi jendelanya terbuka begitu
lebar dan sesekali cipratan salju ikut masuk. Saya pikir mungkin
penghuni kamar itu sudah gila. Lalu cepat-cepat saya minta tolong
'chef de train'. Kemudian sesudah berhasil memutuskan rantai itu,
kami berdua masuk. Tapi yang kulihat - Ah! C'etait terrible!
Kembali LETKOL itu membenamkan wajahnya di telapak
tangannya.
"Jadi pintu kamar itu dikunci dan dirantai dari dalam," ujar jayakatwang
sambil berpikir-pikir. "Jadi ini bukan bunuh diri - eh?"
Dokter berkebangsaan Yunani itu tertawa sengit. “Memangnya
orang bunuh diri itu mampu menusuk badannya sendiri sampai
sepuluh - dua belas - lima belas tempat?" tanyanya.
Mata jayakatwang terbuka lebar. "Benar-benar kejam!" ujarnya seolah
baru tersadar.
"Pasti itu perempuan," ujar "chef de train" mulai membuka suara.
"Mengingat keadaannya sih, itu pasti perempuan. Cuma perempuan
yang bisa menikam sebanyak itu."
Dokter HAUNTED mengerutkan kening, mulai berpikir keras.
"Tentunya perempuan yang kuat sekali," ujarnya. "Bukan maksud
saya untuk berbicara secara teknis - yang cuma membingungkan
orang saja; tapi saya yakin bahwa satu atau dua tusukan itu pasti
dihunjamkan kuat-kuat, terutama pada tulang-tulang dan otot-otot
yang keras."
"Tapi jelas itu bukan pembunuhan ilmiah," ujar jayakatwang .
"Malahan pembunuhan yang paling biadab," ujar Dr. HAUNTED
membantah. "Tusukan-tusukannya kelihatannya sangat berbahaya
dan membabi buta. Beberapa di antaranya nampaknya cuma
dilakukan sepintas lalu saja, hampir-hampir tak menimbulkan bekas.
Tapi tusukan-tusukan yang kuat itu sepertinya dilakukan oleh orang
yang sengaja memejamkan matanya lalu menusuk dengan buas
berulang kali."
"Pasti itu perempuan," ujar chef de train itu lagi mencoba
meyakinkan keterangannya. "Perempuan biasanya suka seperti itu.
Kalau mereka benar-benar marah, tenaganya bertambah." Lalu ia
mengangguk dalam-dalam dan tampaknya begitu yakin, hingga
orang lain yang ada di situ cenderung untuk mencurigai mungkin itu
perbuatannya sendiri.
"Mungkin ada sesuatu yang bisa saya sumbangkan untuk
menambah pengetahuan Saudara," ujar jayakatwang . "Tuan CHUCKY
sendiri bicara dengan saya kemarin. Sejauh yang saya bisa mengerti,
ia menceritakan pada saya bahwa hidupnya sedang diintai bahaya,"
ujarnya lagi pada chef de train itu.
"Mau dibunuh - yaitu istilah Amerika-nya bukan?" tanya Tuan
BOUROQ. "Kalau begitu pembunuhnya bukan perempuan. Pasti 'gangster'
atau 'tuiang tembak'."
Chef de train itu kelihatan tertusuk melihat teorinya disangkal.
"Kalau begitu," ujar jayakatwang lagi, "sepertinya pembunuhan itu
dilakukan bukan oleh orang yang ahli dan sepertinya melakukannya
terburu-buru." Nada suaranya seolah mencela pembunuh bayaran.
"Di kereta ini ada orang Amerika yang perawakannya tinggi
besar," ujar Tuan BOUROQ, mengikuti jalan pikirannya tadi, "wajahnya
pasaran dan selalu berpakaian kumal dan jorok. Ia selalu mengunyah
permen karet dengan cara yang lain daripada biasa. Kau tahu orang
yang kumaksudkan?"
LETKOL itu mengangguk.
"Oui, Monsieur, kamar no.16. Tapi tak mungkin dia orangnya.
Seharusnya saya melihatnya kalau ia masuk atau keluar kamar itu."
"Mungkin juga tidak. Mungkin juga tidak. Tapi kita pasti bisa
memeriksa dia nanti. Pertanyaannya sekarang yaitu , apa yang
dapat kita, lakukan?" Lalu ia memandang jayakatwang .
jayakatwang membalas pandangan temannya itu.
"Ayo, Kawan," ujar Tuan BOUROQ. "Aku kira kau sudah cukup
mengerti apa yang akan kutanyakan kepadamu. Aku tahu
kemampuanmu. Pimpin pemeriksaan ini! Jangan, jangan, jangan
menolak. Kaulihat sendiri, bagi kami - ini benar-benar soal yang
serius, aku bicara mewakili Compagnie Internationale des Wagons
Lits. Sementara menunggu polisi Yugoslavia, alangkah baiknya kalau
kita sudah bisa memperlihatkan hasilnya! Kalau tidak pasti kita
dihadapi dengan seribu satu macam penundaan, gangguan seribu
satu macam dan yang bisa membuat kepala pusing tujuh keliling.
Barangkali, siapa tahu, gangguan-gangguan seperti ini bisa
melibatkan orang-orang yang tak bersalah. Sebaliknya, jika kau
berhasil memecahkan misteri itu! Wah! Kita tinggal bilang, "Ada
pembunuhan di kereta ini - dan ini dia pembunuhnya!"
"Ah, umpamanya aku tak bisa memecahkannya?"
"Ah, mon cher! " Nada suara Tuan BOUROQ jelas kedengaran seperti
orang yang sedang membujuk. "Aku tahu reputasimu. Aku tahu
sedikit cara-caramu memecahkan masalah. Justru ini dia perkara
yang tepat untukmu. Melihat kembali latar belakang dan riwayat
hidup penumpang-penumpang kereta ini, menyelidiki kemampuan
mereka masing-masing kesemuanya ini pasti memakan waktu dan
menimbulkan hal-hal yang tak enak. Tapi apa aku belum pemah
mendengar dari mulutmu sendiri, untuk memecahkan suatu masalah
itu, seseorang cuma perlu bersandar di kursinya dan berpikir?
Lakukanlah itu. Wawancarailah semua penumpang kereta, periksalah
tubuh si korban, selidikilah bukti-bukti yang ada, dan kemudian -
semuanya kuserahkan padamu! Aku yakin kau tidak cuma membual
saja. Bersandarlah di kursi dan pikirkan masalahnya (sebagaimana
yang aku sering dengar dari mulutmu sendiri) gunakanlah sel-sel
kecil berwarna kelabu di belakang kepalamu itu - dan kau akan
mendapat hasil!"
Tuan BOUROQ memajukan tubuhnya ke muka memandang wajah
sahabatnya dengan penuh harap.
"Kepercayaanmu padaku rupanya sanggup menyentuh hatiku,
Kawan," ujar jayakatwang penuh haru. "Seperti yang kaukatakan, kasus
yang sedang kuhadapi ini boleh dibilang bukanlah kasus yang sulit.
Aku sendiri kemarin malam - ah, lebih baik jangan kita bicarakan
sekarang. Sebenarnya kasus ini telah berhasil membangkitkan
minatku. Belum ada setengah jam yang lalu, sebenarnya aku sudah
membayangkan, betapa membosankannya membiarkan jam-jam di
depan kita berlalu begitu saja, sedangkan kita cuma terpaku di sini,
tak berdaya apa-apa. Dan sekarang - sebuah misteri di hadapanku,
siap untuk dipecahkan."
"Jadi kauterima, bukan?" ujar Tuan BOUROQ lagi penuh semangat.
"C'est entendu. Kau sudah meletakkannya sendiri di tanganku."
"Baik, kalau begitu. Kami semua di sini siap membantumu."
"Sebagai permulaan, sebenarnya aku ingin dibuatkan peta kereta
Istambul - Calais ini, dengan daftar nama penumpang berikut nomor
kamarnya masing-masing, dan aku juga ingin lihat karcis kereta dan
paspor-paspor mereka."
"TENDEAN akan menyiapkannya untukmu."
LETKOL kereta meninggalkan kamar itu.
"Penumpang apa lagi yang ada di kereta ini?" tanya jayakatwang .
"Di gerbong ini cuma Dr. HAUNTED dan aku sendiri. Sedangkan
di gerbong yang dari Bukares itu cuma ada orang tua yang kakinya
pincang sebelah. Ia sudah kenal baik dengan LETKOL. Di samping
itu juga ada beberapa gerbong biasa, tapi ini tidak menyangkut
persoalan kita, sebab gerbong-gerborig itu sudah dikunci tadi malam
langsung sehabis makan. Di depan gerbong Istambul Calais cuma
ada gerbong restorasi."
"Kalau begitu nampaknya," ujar jayakatwang lambat-lambat, "kita harus
mencari pembunuhnya di gerbong Istambul-Calais itu." Lalu ia,
berpaling ke Dokter HAUNTED. "Gerbong itu kan yang Tuan
maksud"
Dokter berkebangsaan Yunani itu mengangguk. "Setengah jam
setelah lewat tengah malam kita terhalang oleh tumpukan salju itu.
Sejak itu tak ada orang yang bisa meninggalkan kereta."
Terdengar suara Tuan BOUROQ dengan nada prihatin, "Pembunuhnya
pasti ada bersama kita – di kereta sekarang…”
6. SEORANG WANITA
"Pertama-tama," ujar jayakatwang , "aku ingin berbicara sebentar dengan
Tuan WISNU WARDANA , Barangkali dia bisa memberi kita keterangan yang
berharga."
"Tentu saja," sahut Tuan BOUROQ. Lalu ia berpaling ke "chef de
train." "Panggil Tuan WISNU WARDANA ke, sini.”
Chef de train itu meninggalkan gerbong.
Dalam pada itu LETKOL gerbong Istambul Calais telah kembali
dengan membawa setumpukan paspor dan karcis penumpang. Tuan
BOUROQ langsung mengambilnya dari tangannya.
"Terima kasih, TENDEAN. Saya rasa sekarang baiknya kau kembali
saja ke posmu untuk sementara. Akan kita ambil kesaksianmu secara
resmi nanti."
"Baik, Tuan," lalu TENDEAN pun berlalu dari gerbong itu.
"Sesudah kita periksa Tuan WISNU WARDANA ," ujar jayakatwang , "barangkali
Dokter HAUNTED akan ikut bersamaku memeriksa tubuh korban."
"Tentu saja."
"Dan setelah selesai memeriksa di sana – “
Tapi belum habis jayakatwang berbicara, muncul chef de train bersama
RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA .
Tuan BOUROQ bangun. "Kita sudah agak kejang duduk terus-
menerus," ujarnya dengan simpatik. "Duduk saja di kursiku ini, Tuan
WISNU WARDANA . Tuan jayakatwang biar duduk berhadapan - nah, begitu."
Ia berpaling ke chef de train. "Perintahkan semua orang
meninggalkan gerbong restorasi," ujarnya, “Supaya Tuan jayakatwang bisa
leluasa duduk di situ sendirian. Kau akan mewawancarai penumpang-
penumpang itu di sana, mon cher?”
"Kalau bisa memang lebih baik di sana," sahut jayakatwang menyetujui.
Dalam pada itu WISNU WARDANA sesekali menatap jayakatwang dan kemudian
menatap Tuan BOUROQ bergantian, nampaknya masih bingung dan tak
begitu memahami pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa
Perancis yang dirasakannya terlalu cepat.
"Qu'est-ce qu'il ya? " tanyanya dengan susah payah dalam bahasa
Perancis. "Pourquoi ?"
Dengan penuh keyakinan jayakatwang mengisyaratkannya supaya duduk
disudut. WISNU WARDANA mengikuti kemauannya, tapi lalu mulai bertanya
lagi seolah masih penasaran, sebab pertanyaannya tadi belum
dijawab jayakatwang .
"Pourquoi -?" Lalu cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam
bahasa sendiri, "Ada apa di kereta ini? Ada sesuatu yang terjadi?"
Bergantian ia memandang jayakatwang dan Tuan BOUROQ.
jayakatwang mengangguk. "Tepat. Ada sesuatu yang terjadi di kereta ini.
Awas, jangan terkejut. Majikanmu, Tuan CHUCKY, meninggal!"
WISNU WARDANA bersiul iseng. Kecuali sorot matanya yang tambah
bersinar, tak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa ia
terkejut atau sedih.
"Jadi, akhirnya mereka bisa melaksanakannya juga! "
"Apa sebenarnya yang Tuan maksud dengan berbicara seperti itu,
Tuan WISNU WARDANA ?"
WISNU WARDANA kelihatan ragu-ragu.
"Tuan kira," ujar jayakatwang , "Tuan CHUCKY dibunuh orang?"
"Iya kan?" Kali ini WISNU WARDANA baru kelihatan heran.
"Sebab ya," ujarnya lambat-lambat. "Persis seperti yang kukira.
Tuan maksud ia mati sewaktu tidur? Saya tak tahu, orang tua itu
memang keras seperti-seperti -"
WISNU WARDANA berhenti, tak menemukan pembandingnya.
"Bukan, bukan," ujar jayakatwang . "Perkiraan Tuan memang tepat sekali.
Tuan CHUCKY memang ditikam orang. Tapi saya ingin tahu kenapa
Tuan begitu yakin bahwa itu yaitu pembunuhan dan bukan
kematian yang wajar."
WISNU WARDANA ragu-ragu sebentar. "Ini perlu dijelaskan. Siapa Tuan
sebenarnya? Dan apa jabatan Tuan?"
"Saya mewakili Compagnie Interilationale des Wagons Lits." jayakatwang
berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Saya detektif. Nama
saya Raden jayakatwang ."
Kalau pada saat itu jayakatwang mengira akan ada pengaruhnya, ia
keliru. WISNU WARDANA cuma berkata datar, "Oh! Ya?" dan menunggu
sampai jayakatwang berkata lebih lanjut.
"Barangkali Tuan pernah dengar nama itu?"
"Ya, rasanya nama itu tak asing lagi. Tapi saya selalu mengira
nama itu nama penjahit baju wanita."
Raden jayakatwang memandangnya dengan rasa tak senang. "Tak
mungkin! " serunya.
"Apa yang tak mungkin?"
"Tak apa-apa. Mari kita lanjutkan pemeriksaan ini. Saya ingin Tuan
menceritakan pada saya, Tuan WISNU WARDANA , segala sesuatu yang Tuan
ketahui mengenai diri si korban. Tuan, tak punya hubungan apa-apa
dengannya?"
"Tidak. Saya cuma sekretarisnya saja - tak lebih dari pada itu."
"Berapa lama Tuan memegang jabatan itu?"
"Baru setahun lebih."
"Silakan Tuan memberi keterangan yang semua Tuan ketahui
pada saya."
"Begitulah, saya ketemu Tuan CHUCKY sewaktu saya masih di
Persia
jayakatwang menyela.
"Apa yang Tuan kerjakan di sana?"
"Saya khusus datang dari New York untuk mencari konsesi minyak
di sana. Saya rasa Tuan tak ingin mendengar ceritanya. Saya dan
teman-teman saya saat itu tak berhasil mendapatkan konsesi yang
diinginkan. Kebetulan pada waktu itu Tuan CHUCKY sehotel dengan
saya. Ia baru saja bertengkar dengan sekretarisnya. Ia menawarkan
saya menggantikan sekretarisnya, dan langsung saya terima.
Kebetulan saat itu kontrak kerja saya sudah habis, sebab itu dengan
senang hati saya terima pekerjaan yang bayarannya tergolong besar
itu."
"Dan sesudah itu?"
"Kami bepergian tak henti-hentinya, Tuan CHUCKY ingin melihat
dunia. Tapi keinginannya terhalang sebab ia tak bisa bahasa lain,
kecuali bahasa ibunya sendiri. Boleh dibilang saya lebih banyak
bertindak selaku penterjemah daripada sekretaris. Benar-benar hidup
yang menyenangkan."
"Sekarang ceritakan pada saya tentang majikanmu sebanyak
mungkin."
Orang muda itu mengangkat bahu. Wajahnya kelihatan bingung,
tak mengerti.
"Tak begitu gampang seperti yang Tuan kira."
"Siapa nama lengkapnya?"
"Samuel COUNT CHUCKY."
"Warga negara Amerika?"
"Ya."
"Dari negara bagian mana?"
"Saya tak tahu."
“Baiklah, ceritakan saja apa yang Tuan tahu."
"Yang sebenarnya, Tuan jayakatwang , saya ini tak tahu apa-apa! Tuan
CHUCKY sama sekali tak pernah menyinggung-nyinggung tentang
kehidupan pribadinya atau kehidupannya di Amerika."
"Kenapa begitu menurut pendapat Tuan?"
"Saya tak tahu. Saya rasa barangkali ia malu pada masa lalunya.
Ada orang yang begitu."
"Apa Tuan kira letak pemecahan masalah ini ada di situ?"
"Terus terang saja, bukan."
"Dia punya saudara?"
"Dia tak pernah menyebut-nyebut itu."
jayakatwang mencoba menekankan pada hal itu.
"Mestinya Tuan sudah membuat teori sendiri, Tuan WISNU WARDANA ."
"Ya, begitulah, yang jelas, saya tak percaya CHUCKY itu namanya
yang sebenarnya. Saya rasa dia meninggalkan Amerika sebab ia
ingin membebaskan diri dari seseorang atau sesuatu hal. Saya kira
sebegitu jauh dia memang berhasil - sampai beberapa minggu ini."
"Lalu?"
"Ia mulai menerima surat-surat - surat ancaman.”
"Tuan melihatnya?"
"Ya. Itu termasuk tugas saya, mengurusi surat menyurat yang
dilakukannya. Surat pertama muncul kira-kira dua minggu yang lalu."
"Apa surat-surat itu dibakar semua?"
"Tidak. Saya rasa saya masih menyimpan beberapa di dalam map
saya - salah satu di antaranya pernah dirobek-robek CHUCKY dengan
marah. Mau saya ambilkan?"
"Kalau Tuan tak keberatan."
WISNU WARDANA segera meninggalkan gerbong restorasi itu. Beberapa
menit kemudian ia datang lagi dan langsung meletakkan dua lembar
kertas surat yang agak dekil di hadapan jayakatwang .
Surat pertama berbunyi sebagai berikut:
Kaupikir kau bisa melarikan diri, setelah menipu kami? Tidak bisa,
selama kau masih hidup. Kami sudah bersiap-siap untuk
menangkapmu, CHUCKY! Dan pasti kami berhasil!
Tak ada tanda tangan di bawahnya.
jayakatwang cuma sempat menaikkan alis matanya sedikit, sehabis
membaca surat itu, dan tak memberi komentar apa-apa. Kemudian
diambilnya surat yang kedua.
Kami akan menjemputmu dan mengajakmu berpergian ke suatu
tempat. Dalam waktu dekat, kami akan menangkapmu, mengerti?
jayakatwang meletakkan surat itu.
"Gayanya senada!" serunya pasti. "Gaya penulisannya lebih
meyakinkan daripada tulisan itu sendiri."
WISNU WARDANA memandangnya sejenak.
"Tuan pasti tak memperhatikannya," ujar jayakatwang ramah. "Surat ini
memerlukan mata yang sudah terlatih untuk membacanya. Surat ini
bukannya ditulis oleh seorang saja, Tuan WISNU WARDANA . Setidak-
tidaknya yang menulisnya dua orang atau mungkin juga lebih -
masing-masing menuliskan sebuah kata, setiap kali. Kecuali itu, surat
ini dicetak, bukan ditulis. sebab itulah lebih sulit untuk mengenalinya
daripada tulisan tangan biasa." Detektif Belgia itu berhenti sebentar,
kemudian berkata lagi,
"Apa Tuan tahu Tuan CHUCKY pernah meminta tolong saya?"
"Pada Tuan?"
Nada suara WISNU WARDANA yang seolah keheranan itu meyakinkan
jayakatwang bahwa sebenarnya WISNU WARDANA tak tahu akan hal itu.
jayakatwang mengangguk. "Ya, dia ngeri. Coba katakan pada saya,
bagaimana reaksinya setelah dia menerima surat pertama?"
WISNU WARDANA kelihatan ragu-ragu sejenak.
"Susah untuk mengatakannya - ia menertawakannya dengan
caranya yang khas. Tapi bagaimanapun –“ suaranya gemetar sedikit -
"Saya merasa ada sesuatu di balik ketenangannya itu -"
jayakatwang mengangguk. Lalu ia sampai pada pertanyaan yang tak
diduga-duga.
"Tuan WISNU WARDANA , maukah Tuan katakan secara terus terang,
bagaimana penilaian Tuan terhadap Tuan CHUCKY itu? Sebagai
majikan Tuan sendiri? Tuan menyukainya?"
RADEN KERTAJAYA berpikir dulu satu dua menit sebelum menjawab.
"Tidak," akhirnya ia berkata. "Saya tak suka padanya."
"Kenapa?"
"Saya tak tahu persis kenapa. Sebenarnya tingkah lakunya yang
tenang itu cukup menyenangkan." RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA berhenti
sebentar, kemudian menyambung kembali, "Saya katakan yang
sebenarnya, Tuan jayakatwang . Saya tak senang padanya, saya tak percaya
padanya. Rasanya, dia itu orang yang kejam dan berbahaya, dan
saya yakin akan hal ini. Saya mesti mengakui hal yang satu ini, meski
saya tak punya alasan untuk mendukung pendapat saya itu."
"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA . Pertanyaan selanjutnya, Kapan
Tuan melihat Tuan CHUCKY terakhir masih hidup?"
"Kemarin malam kira-kira -" ia berpikir sejenak - "pukul sepuluh,
begitulah. Waktu itu saya masuk ke kamarnya dan menolong
menuliskan surat yang didiktekannya kepada saya."
"Tentang apa?"
"Tentang contoh-contoh ubin dan pot-pot antik yang dibelinya dari
Persia. Barang-barang yang dikirimkan kepadanya ternyata tidak
sama dengan yang ingin dibelinya. Surat-menyurat tentang ini telah
berjalan dalam waktu lama dan sangat menjengkelkan."
"Dan saat itu saat terakhir Tuan CHUCKY terlihat masih hidup?"
"Ya, saya kira begitu."
"Tuan Tahu kapan Tuan CHUCKY menerima surat ancaman yang
terakhir kali?"
"Pada pagi waktu kita meninggalkan Konstantinopel."
"Masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan, Tuan
WISNU WARDANA . Apakah Tuan mempunyai hubungan yang baik dengan
majikan Tuan itu?"
Sekonyong-konyong mata orang muda itu bersinar sedikit.
"Pertanyaan inilah yang kira-kira bakal mendirikan bulu kuduk
saya. Dalam istilah dagangan yang laris, 'Tuan tak bakal berhasil
mendapatkan apa-apa dari saya'. CHUCKY dan saya punya hubungan
yang baik sekali."
“Barangkali Tuan tak keberatan menuliskan nama lengkap dan
alamat Tuan di Amerika untuk saya."
WISNU WARDANA menuliskan namanya - RADEN KERTAJAYA Willard WISNU WARDANA - dan
sebuah alamat di New York.
jayakatwang bersandar pada bantal kursi.
"Untuk sementara itu cukup sebegitu dulu, Tuan WISNU WARDANA ,"
ujarnya. "Saya harap Tuan dapat merahasiakan kematian Tuan
CHUCKY ini buat sementara waktu."
"Tapi pelayannya, si MANSION itu harus mengetahui ini."
"Mungkin ia sendiri sudah tahu," sahut jayakatwang datar. "Seandainya
begitu, cobalah bujuk dia supaya menutup mulutnya dulu untuk
sementara ini.”
"Tak begitu sulit. Dia orang Inggris, dan sebagaimana
dikatakannya sendiri, 'semua persoalan yang dihadapinya akan
disimpannya untuk diri sendiri.' Dia menganggap rendah orang
Amerika, dan sama sekali tak peduli pada bangsa-bangsa lainnya.
"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA ."
Orang Amerika itu meninggalkan gerbong restorasi.
"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "bagaimana? Kau percaya pada semua
yang dikatakan orang muda itu tadi?"
"Kelihatannya ia jujur dan terus terang. Ia tidak menutup-nutupi
hubungannya dengan majikannya, sebagaimana ia mungkin perlu
melakukannya jika dalam satu dan lain hal ia memang terlibat.
Memang benar kalau begitu, Tuan CHUCKY tak pernah
memberitahukan padanya bahwa ia pernah minta tolong padaku, dan
kutolak, tapi aku rasa itu tidak mencurigakan. Aku yakin Tuan
CHUCKY itu yaitu jenis orang yang suka berdiam diri dan tak suka
menceritakan rencananya pada siapa pun, dan dalam setiap
kesempatan apa pun juga."
"Jadi kau mau mengatakan bahwa paling tidak satu orang sudah
dibebaskan dari tuduhan pembunuhan yang keji itu?" tanya Tuan
BOUROQ berkelakar.
jayakatwang menutupi perasaan malunya.
"Aku, aku mencurigai setiap,orang sampai menit terakhir,"
ujarnya. "Sama saja, harus diakui, aku sendiri, tak bisa membuktikan
bahwa orang yang tenang dan berkepala panjang seperti si
WISNU WARDANA itu tiba-tiba tak bisa menguasai dirinya dan menikam
korbannya dengan dua belas sampai empat belas kali tusukan. Itu
sama sekali tidak sesuai dengan jiwanya - sama sekali tidak."
"Memang tidak," sahut Tuan BOUROQ sambil mengerutkan kening.
"Ini perbuatan laki-laki yang sudah hampir gila sebab menyimpan
rasa benci yang sangat. Lebih cocok rasanya kalau pembunuhan ini
dilakukan oleh orang yang temperamennya panas seperti orang
Amerika Latin. Atau bisa juga, seperti sebagaimana yang dikatakan
berulang kali oleh chef de train itu - si pembunuhnya yaitu seorang
perempuan.
7. TUBUH KORBAN
Dengan didampingi oleh Dr. HAUNTED, jayakatwang melangkah
menuju ke gerbong sebelah, ke kamar korban. LETKOL kereta
menyusul dan membukakan pintunya untuk mereka.
Kedua orang itu langsung masuk. jayakatwang berpaling ke kawannya
dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Berapa banyak yang sudah tak pada tempatnya lagi di dalam
kamar ini?"
"Belum ada yang dipegang. Saya cukup berhati-hati untuk tidak
menyentuh tubuh di korban sedikit pun selama pemeriksaan."
jayakatwang mengangguk. Ia melihat ke sekeliling.
Hal pertama yang membangkitkan perasaannya yaitu cuaca
dingin saat itu. Jendela kamar dibuka lebar-lebar dan kereinya
dinaikkan ke atas tinggitinggi.
"Brrrr," jayakatwang menggigil kedinginan.
Yang seorang lagi tersenyum memahami.
"Saya tak mau menutupnya," ujarnya.
jayakatwang memeriksa jendela itu dengan teliti.
"Tuan benar," ujarnya memberitahu. "Tak ada orang yang
meninggalkan gerbong dengan cara ini. Mungkin jendela yang
terbuka ini dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ada orang
yang melarikan diri dari gerbong dengan cara itu. Tapi kalau benar
begitu, salju itu pasti bisa menggagalkan maksudnya."
Detektif Belgia itu lalu memeriksa bingkai jendela berikut kacanya
dengan teliti. Diambilnya sebuah kotak kecil dari saku celananya, lalu
ditiupnya bubuk yang telah ditempelkannya sendiri pada bingkai
jendela.
"Tak ada sidik jari sama sekali," ujarnya. "Itu berarti sidik jari itu
sudah dihapus. Biarpun begitu, seumpamanya sidik jari itu ada, itu
juga tak akan menolong banyak buat kita. Sidik jari itu bisa saja sidik
jari Tuan CHUCKY, atau pelayan prianya atau LETKOL itu. Tapi
umumnya pembunuh tak membuat kesalahan semacam itu lagi
sekarang."
"Dan sebab itulah," ujarnya dengan suara riang, "kita boleh
langsung menutup jendela. Dinginnya benar-benar seperti lemari es
di sini!"
Disesuaikannya tindakannya dengan perkataannya barusan dan
untuk pertama kalinya ia berpaling ke tubuh yang tak bergerak-gerak
yang sedang terbaring di tempat tidur itu.
CHUCKY tergeletak. Baju piyamanya, yang penuh noda-noda yang
mengerikan., nampak terbuka semua kancingnya dan disibakkan ke
belakang.
"Saya harus memeriksa luka-lukanya, Tuan mengerti?" tanya
Dokter HAUNTED.
jayakatwang mengangguk. Ia membungkuk di hadapan tubuh yang
sudah menjadi mayat itu. Akhirnya ditegakkannya kembali badannya
sambil meringis.
"Benar-benar sudah rusak," ujarnya jijik. "Mestinya ada orang
yang terus berdiri di dekatnya dan menikamnya berkali-kali. Ada
berapa luka sebenarnya?"
“Menurut perhitunganku semuanya ada dua belas. Satu dua di
antaranya tak begitu kelihatan, seolah cuma penikaman yang asal
jadi saja. Sebaliknya, paling tidak ada tiga luka lagi yang bisa
membawa kematiannya."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membangkitkan rasa ingin
tahu jayakatwang . Detektif Belgia itu memandangnya lekat-lekat. Dokter
berkebangsaan Yunani yang bertubuh kecil itu sedang berdiri sambil
mengamat-amati tubuh si korban dengan kening berkerut.
"Ada yang aneh, ya tidak?" tanya jayakatwang lembut. "Katakan saja,
Kawan. Apa ada sesuatu yang membingungkan?"
"Tuan benar," sahut yang satu mengakui.
"Apa itu?"
"Tuan lihat, dua luka ini - yang ini - dan yang itu -" ujarnya sambil
menunjuk. "Cukup dalam. Tiap tusukan mestinya mengalirkan darah -
tapi pinggirannya tidak sampai menganga. Luka-lukanya ternyata
tidak berdarah seperti yang orang kira.”
"Jadi?"
"Jadi korban sudah meninggal lebih dulu sebelumnya, sewaktu ia
ditusuk. Tapi ini tak masuk akal. "
"Bisa juga begitu, " ujar jayakatwang sambil berpikir keras.
"Kecuali si pembunuh mengira ia belum mengerjakan tugasnya
dengan baik, lalu cepat-cepat kembali lagi untuk memastikan - tapi
ini juga tak masuk akal! Ada bukti lain?"
"Satu lagi."
“Ya, apa itu?"
“Tuan lihat luka ini - di bawah lengan sebelah kanan - dekat bahu
kanan. Coba pegang pinsil saya ini. Coba bayangkan, apakah Tuan
bisa menikam orang dalam posisi seperti ini?"
jayakatwang meraba-raba.
"Tepat ujarnya. "Saya mangerti. Dengan tangan kanan sangat
sukar, hampir-hampir tak mungkin. Mau tidak mau si pembunuh
mesti membuat tusukan dengan belakang telapak tangannya. Tapi
umpamanya tusukan itu dilakukan dengan tangan kiri.”
"Tepat, Tuan jayakatwang . Kelihatannya tusukan itu dilakukan dengan
tangan kiri."
"Jadi kalau begitu pembunuhnya kidal? Tidak, pasti lebih sulit
bukan? Kalau keadaannya begitu?"
"Begitulah, seperti Tuan katakan. Beberapa tusukan lainnya jelas
dibuat dengan tangan kanan."
"Dua orang. Kembali kita dihadapi dengan perkiraan bahwa
pelakunya dua orang," gerutu detektif Belgia itu. Tiba-tiba ia
bertanya, "Lampunya menyala waktu itu?"
"Sulit untuk mengatakannya. Tuan lihat sendiri, listrik selalu
dimatikan LETKOL, tiap pukul sepuluh pagi."
"Tapi tombolnya bisa dilihat," ujar jayakatwang lagi.
Lalu ia memeriksa tombol lampu atas dan juga tombol lampu
kepala di atas tempat tidur. Yang pertama dimatikan tapi yang
terakhir tertutup, jadi tak terpakai sama sekali.
"Eh, bien, " ujarnya sambil berpikir-pikir. "Disini kita dapatkan
hipotesa dari pembunuh pertama dan pembunuh kedua, seperti yang
ditulis oleh Shakespeare yang besar itu. Pembunuh pertama langsung
meninggalkan kamar dan mematikan lampunya, setelah menikam
tubuh si korban. Pembunuh kedua masuk ke kamar dalam gelap,
tanpa mengetahui bahwa pekerjaannya sudah ada yang melakukan,
dan menusuk tubuh yang sudah mati itu paling tidak dua kali. Que
pensez-vous de ca? "
"Mengagumkan!" seru dokter bertubuh kecil itu dengan penuh
gairah.
Sepasang mata yang lain kelihatan ikut bersinar.
"Pikiran Tuan begitu? Saya senang. Bagi saya kedengarannya agak
tak masuk akal."
"Habis, penjelasan apa lagi yang bisa diberikan?"
"Justru itulah yang sedang saya tanyakan pada diri sendiri. Apakah
di sini ada faktor kebetulan, atau semacam itu? Adakah lain hal lagi
yang bisa menunjukkan bahwa kedua pembunuh itu mempunyai
hubungan satu sama lain?"
"Saya rasa, ya. Beberapa dari tusukan ini, seperti yang sudah saya
katakan tadi, dihunjamkan dengan lemah - dengan tenaga yang
kurang, dan dengan kekuatan yang tak terarah. Tusukan itu lemah,
cuma asal saja. Tapi yang satu ini - dan yang ini juga." Lalu ia
menunjuk kembali pada luka-luka itu. "Dibutuhkan tenaga besar
untuk membuat tikaman seperti itu. Tusukannya sampai menembus
Otot."
"Jadi, menurut pendapat Tuan, tusukan-tusukan itu dilakukan oleh
seorang pria?"
"Pasti begitu."
"Tak mungkin dilakukan oleh seorang wanita?"
"Wanita muda yang kuat, bertenaga besar dan berbadan atletis
mungkin bisa menusuk seperti itu, terutama kalau dia sedang
dikuasai oleh emosi yang sangat kuat, tapi menurut saya, masih tidak
mungkin."
jayakatwang terdiam selama beberapa menit.
Yang satunya bertanya dengan penuh harap, "Tuan mengerti jalan
pikiran saya?"
"Bagus sekali," ujar jayakatwang . "Persoalannya jadi terbuka sendiri!
Pembunuhnya pria, yang bertenaga besar - dan tenaga yang lemah
itu - seorang wanita - yang satunya normal dan yang satunya kidal.
Ah, c'est rigolo, tout ca!" Ia berbicara dengan amarah yang timbul
secara tiba-tiba. "Dan si korban sendiri - saat itu? Berteriakkah?
Melawankah? Membela dirikah?"
Dimasukkannya tangannya ke bawah bantal dan dikeluarkannya
pistol otomatis yang telah diperlihatkan CHUCKY kepadanya sehari
sebelumnya.
"Tuan lihat sendiri, pistolnya sudah diisi penuh penuh."
Kedua orang itu melihat ke sekeliling. Pakaian CHUCKY sehari-hari
tergantung pada gantungannya di dinding. Di atas kaca tempat cuci
tangan terdapat bermacam-macam barang. Gigi-gigi palsu yang
dicemplungkan di dalam gelas berisi air. Gelas yang satunya kosong.
Sebotol air putih. Sebuah termos besar. Lalu sebuah asbak berisi
puntung rokok d.an potongan-potong.an kertas yang kelihatan habis
dibakar, dan akhirnya dua batang korek api yang telah dipergunakan.
Dokter HAUNTED meraih gelas kosong itu dan menciumnya.
"Inilah yang bisa menjelaskan bagaimana korban sampai tidak
bisa mengadakan perlawanan bagi dirinya sendiri."
"Dibius?"
jayakatwang mengangguk, lalu dipungutnya dua batang korek api itu,
dan diperiksanya dengan teliti.
"Tuan sudah bisa melihat bukti lain dari situ?”, tanya dokter
Yunani itu penuh harap.
"Kedua batang korek api ini tidak sama bentuknya," ujar jayakatwang
menerangkan. "Yang satu lebih gepeng dari yang lain. Tuan lihat?"
“Itu jenis yang bisa diperoleh di kereta," ujar dokter itu lagi. "Yang
tutupnya dari kertas itu."
jayakatwang meraba-raba saku baju-baju CHUCKY yang bergantungan di
dinding. Sekonyong-konyong ia mengeluarkan sebuah kotak korek
api. Dibandingkannya dengan batang korek yang sudah dibakar tadi.
"Yang lebih bundar, dinyalakan oleh CHUCKY sendiri," ujarnya.
"Coba kita lihat barangkali dia juga punya korek yang gepeng.”
Tapi penyelidikan selanjutnya ternyata tak berhasil menemukan
batang korek api yang dimaksud.
Mata jayakatwang memeriksa sekeliling kamar. Tajam dan bersinar bagai
mata burung elang, hingga orang dapat merasakan tak ada yang
dapat terhindar dari pemeriksaannya.
Dengan mengeluarkan sebuah seruan keheranan dari mulutnya, ia
membungkuk dan memungut sesuatu dari lantai.
Sehelai sapu tangan persegi yang terbuat dari bahan yang mahal
dan bagus. Disudutnya tersulam sebuah huruf H.
"Sapu tangan perempuan," ujar dokter Yunani itu. "Teman kita si
LETKOL itu benar juga. Ada perempuan yang terlibat dalam
pembunuhan ini."
"Dan celakanya sapu tangannya ketinggalan!" seru jayakatwang
menambahkan. "Persis seperti yang terjadi di buku-buku atau di film-
film - dan sepertinya hal itu sengaja dipermudah untuk kita - di
sudutnya ada tersulam huruf H."
"Kita untung!" seru Dokter HAUNTED.
"Ya, dong!” sahut jayakatwang lagi.
Nada suaranya saat itu sempat membuat dokter itu heran sedikit,
tapi sebelum ia sempat meminta jayakatwang untuk memberikan penjelasan
sekedarnya, detektif Belgia itu tampak membungkuk lagi di lantai.
Kali ini dibukanya telapak tangannya - dan tampaklah sebuah
pembersih pipa tembakau.
"Barangkali itu milik CHUCKY," ujar dokter Yunani itu.
"Tak ada pipa tembakau dalam sakunya, begitu juga serbuk-
serbuk tembakau dan kantongnya."
"Itu juga sebuah petunjuk."
"Oh! Tentu saja. Dan petunjuk yang cukup menyenangkan hati.
Kali ini petunjuk maskulin, ya tidak! Orang tak bisa mengeluh bahwa
ia tak dapat petunjuk apa-apa dari kasus ini. Di sini petunjuknya
banyak sekali.. Ngomong-ngomong, apa yang Tuan perbuat dengan
senjata si pembunuh?"
"Tak ada senjata apa-apa di sini. Pembunuhnya pasti sudah
membawanya pergi."
"Saya heran kenapa begitu," ujar jayakatwang lagi.
"Ah!" Dokter Yunani itu sedang asyik meneliti seluruh sudut saku
piyama si korban.
"Rupanya tadi saya belum melihat ini," ujarnya. "Saya barusan
membuka kancingnya satu per satu dan langsung menyibakkan ke
belakang."
Dari saku dada baju piyama korban, Dokter HAUNTED
mengeluarkan sebuah jam tangan emas. Kotaknya sudah peyot di
sana sini dan jarum jamnya menunjukkan pukul satu kurang
seperempat.
"Tuan lihat?" ujar dokter Yunani itu penuh semangat. "Ini
memberi petunjuk pada kita tentang waktu terjadinya pembunuhan.
Ini juga cocok dengan perkiraan saya sendiri. Antara tengah malam
dan pukul dua pagi, itulah yang saya pernah katakan, dan mungkin
juga sekitar pukul satu pagi, meski sukar untuk mengatakan waktu
yang pasti dalam soal-soal semacam ini. Eh bien. Sekarang baru kita
dapat penjelasan. Pukul satu lebih seperempat. Itulah waktu
pembunuhan yang sebenarnya."
"Mungkin begitu, ya. Bisa juga begitu."
Dokter HAUNTED memandang wajah temannya dengan rasa
ingin tahu. "Maaf, Tuan jayakatwang , tapi saya benar-benar tak mengerti
jalan pikiran Tuan. "
"Saya sendiri juga tak mengerti," sahut jayakatwang . "Saya tak mengerti
sedikit pun. Dan sebagaimana yang Tuan lihat, hal ini
mengkhawatirkan saya."
Ia mengeluh dan langsung membungkuk di depan meja kecil di
dekat tempat cuci tangan itu, rupanya ia sedang memeriksa
potongan-potongan kertas yang dibakar tadi. Lalu ia bergumam pada
diri sendiri, "Yang aku perlukan saat ini ialah kotak topi wanita model
lama."
Dokter HAUNTED tak tahu harus memberi komentar apa pada
ucapan jayakatwang barusan. jayakatwang tidak pula memberinya kesempatan
untuk bertanya. Lalu jayakatwang membuka pintu kamar sebentar, dan
berteriak memanggil LETKOL.
Orang yang dipanggil berlari-lari menghampiri.
"Berapa banyak perempuan dalam gerbong ini?"
LETKOL mulai menghitung dengan jarinya.
"Satu, dua, tiga - enam, Tuan. Wanita Amerika setengah umur itu,
si gadis Swedia, gadis Inggris itu, Countess Andrenyi, dan Madame la
NYI e Drazomiroff berikut pelayan wanitanya."
jayakatwang menimbang-nimbang.
“Semuanya punya kotak topi?"
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu bawakan kotak-kotak itu ke mari. Ya, kotak topi
punya gadis Swedia dan punya pelavan wanita Puteri GIRAH itu.
Cuma dua kotak itu yang punya harapan. Katakan kepada mereka
pemeriksaan ini sesuai dengan peraturan yang ada di kereta -
terserah bagaimana kau menga:akannya pada mereka, pokoknya
bawa kedua kotak topi itu ke mari."
"Beres, Tuan. Tak seorang pun di antara keduanya yang ada di
kamar saat ini."
"Kalau begitu cepatlah."
LETKOL tadi bergegas-gegas menghilang dari pandangan. Ia
kembali dengan dua buah kotak topi.
jayakatwang membuka kotak topi pelayan wanita Puteri GIRAH itu,
dan digoyang-goyangkannya ke samping. Lalu dibukanya kotak topi
milik gadis Swedia itu dan seketika itu juga meluncur kata-kata yang
menandakan rasa puas dari mulutnya. Lalu dibukanya topi itu dengan
hati-hati, dan terlihatlah kerangka sekelilingnya yang terbuat dari
kawat yang dianyam.
"Ah, ini dia yang kita perlukan! Lima belas tahun yang lalu kotak-
kotak korek api dibuat seperti ini. Topi ditahan pada kerangka ini
berikut alat penyematnya."
Sambil berbicara tangannya bekerja dengan cekatan melepaskan
dua rusuk kerangka itu. Lalu ditutupnya kembali kotak-kotak topi itu
dan disuruhnya LETKOL mengembalikannya ke tempatnya masing-
masing.
Sewaktu pintu tertutup kembali, jayakatwang kembali berbicara dengan
temannya itu.
"Coba lihat, Dokter, saya bukanlah orang yang begitu saja percaya
pada prosedur orang yang sudah ahli dalam memecahkan misteri
seperti ini. Saya justru ingin mencari latar belakang kejiwaannya,
bukan cuma sekedar sidik jari atau abu rokok. Tapi dalam kasus ini
akan saya pakai bantuan ilmiah sedikit. Kamar ini penuh sekali
dengan petunjuk, tapi dapatkah dipercaya bahwa semua petunjuk itu
memang demikian adanya?"
"Saya masih belum mengerti maksud Tuan."
"Baiklah, sebagai contoh - kita sudah menemukan sapu tangan
wanita. Apa benar wanita yang menjatuhkan itu? Atau mungkin
seorang pria, yang telah melakukan pembunuhan itu, lalu berkata
pada diri sendiri: 'Akan kubuat seolah-olah pembunuhan ini
nampaknya dilakukan oleh seorang wanita. Aku akan menikam
musuhku sampai beberapa kali, dan menambahkannya dengan
beberapa tusukan yang tidak perlu, dan kubuat sedemikian rupa
supaya tusukan itu kelihatan lemah dan tak berarti, dan akan
kujatuhkan sapu tangan wanita ini di tempat yang mudah kelihatan
supaya orang langsung bisa menemukannya?' Itu satu kemungkinan.
Tapi ada juga kemungkinan lain. Apakah pembunuhnya itu seorang
wanita, dan apakah dia sengaja menjatuhkan pembersih pipa itu
supaya pembunuhan itu lebih kelihatan sebagai pembunuhan yang
dilakukan oleh pria? Atau apakah kita disuruh mengira bahwa
seorang laki-laki dan seorang wanita, yang melakukan pembunuhan
secara terpisah, tapi masing-masing begitu teledor hingga dengan
tidak sengaja meninggalkan petunjuk yang sejelas itu? Saya rasa
kemungkinan keduanya melakukan pembunuhan itu secara terpisah,
bukanlah suatu kebetulan. Justru kemungkinannya sedikit sekali."
"Tapi dari mana datangnya kotak topi itu?" tanya dokter Yunani itu
kebingungan.
"Ah! Saya sedang menuju ke situ. Seperti yang saya katakan,
petunjuk-petunjuk ini - seperti : jam emas si korban yang tak jalan
lagi pada pukul satu lebih seperempat, kemudian sapu tangan wanita
dan juga pembersih pipa itu - kesemuanya bisa betul-betul, bisa juga
palsu atau bohong-bohongan. Tentang itu saya sendiri belum bisa
memastikan. Tapi masih ada satu petunjuk lagi di sini – yang
walaupun saya mungkin keliru - saya rasa benar-benar petunjuk, dan
bukannya dibuat orang. Yang saya maksud yaitu batang korek api
yang gepeng itu, Tuan Dokter. Saya yakin batang korek yang satu itu
dibakar oleh si pembunuh, bukan oleh Tuan CHUCKY. Korek itu
digunakan untuk membakar kertas-kertas yang bertuliskan rahasia
pembunuhan ini, Mungkin juga itu sebuah catatan. Kalau begitu,
pasti ada sesuatu dalam catatan itu, sebuah kesalahan, sebuah
kekeliruan, yang justru meninggalkan petunjuk yang merugikan bagi
si pembunuh. Saya ingin mencoba membuktikannya kepada Tuan."
Detektif Belgia itu meninggalkan kamar sebentar dan kembali
beberapa menit kemudian dengan sebuah lampu spiritus kecil dan
sepasang penjepit.
"Biasanya saya pakai ini untuk membersihkan kumis saya,"
ujarnya. Maksudnya sepasang penjepit itu.
Dokter Yunani itu memperhatikan jayakatwang dengan penuh minat.
jayakatwang memipihkan dua batang kawat itu, dan dengan hati-hati sekali
menempelkan pootongan-potongan kertas yang terbakar itu ke salah
satu ujungnya. Dijepitnya potongan-potongan Kertas itu dengan
batang penjepit kawat yang satu lagi di atasnya, dan setelah
sepasang penjepit itu dapat meniepit kertas itu dengan kuat, lalu
dibawanya ke atas lampu spiritus yang sedang menyala itu.
"Lampu ini memang berguna sekali untuk dipakai dalam keadaan
darurat," ujarnya sambil menoleh ke Dokter HAUNTED lewat
bahunya. "Mudah-mudahan usaha ini bisa menjawab maksud kita.
Dokter HAUNTED mengawasi gerak-gerik jayakatwang dengan penuh
perhatian. Kawat itu mulai menyala. Tiba-tiba dilihatnya bentuk-
bentuk semacam huruf, -walaupun masih samar-samar. Perlahan-
lahan huruf-huruf itu mulai terbentuk menjadi kata-kata - kata-kata
yang berasal dari api.
Cuma cukilan kecil. Yang bisa terlihat cuma tiga buah kata dan
selebihnya sudah lenyap terbakar. Kata-kata itu berbunyi:
- member little Daisy gairah
- (ingat Daisy gairah kecil)
"Ah!" jayakatwang berseru tajam.
"Ada petunjuk?" tanya Dokter HAUNTED.
Mata jayakatwang tibai-tiba bercahaya. Diletakkannya jepitan itu kembali,
dengan hati-hati.
"Ya," ujarnya. ”Saya tahu nama asli si korban. Saya tahu kenapa
dia kabur dari Amerika."
"Siapa nama aslinya?"
"Cassetti."
"Cassetti?" HAUNTED mengerutkan kening. "Nama itu
mengingatkan saya pada sesuatu. Beberapa tahun yang lalu. Saya
tak bisa mengingatnya… kasus itu terjadinya di Amerika, ya tidak?'
"Ya,”? sahut jayakatwang . "Kasus yang di Amerika."
Lebih dari kata-kata itu, kelihatannya jayakatwang tak ingin untuk diajak
berbicara lagi mengenai soal itu. Matanya melihat ke sekeliling
sewaktu ia menam bahkan,
"Sekarang juga akan kita selidiki langsung kasus ini. Kita harus
yakin pada diri sendiri bahwa kita telah memeriksa semua petunjuk
yang ada di sini, jangan sampai ada yang tertinggal."
Dengan cepat dan cekatan, tangannya sekali lagi memeriksa saku-
saku baju korban tapi ia tidak menemukan sesuatu yang mampu
membangkitkan minatnya. Dicobanya untuk membuka pintu
penghubung yang menuju ke kamar sebelah, tapi rupanya terpalang
dari sisi yang satunya lagi.
"Ada satu hal yang tak saya mengerti," ujar Dr. HAUNTED.
"Kalau pembunuhnya tidak kabur melalui jendela, kalau pintu
penghubung ini sudah terpalang dari sisi yang lain, dan kalau pintu
kamar ini tidak saja terkunci tapi juga dirantai dari dalam, bagaimana
caranya si pernbunuh melarikan diri dari kamar si korban?"
"Itulah yang ditanyakan penonton sewaktu mereka melihat orang
yang tangan dan kakinya terkurung dalam kotak kayu tapi masih
dapat menghilang, seperti tipu-tipu yang sering diperlihatkan oleh
tukang sulap dan tukang hipnotis itu."
"Maksudmu?"
"Maksudku," ujar jayakatwang menerangkan, "bahwa umpamanya si
pembunuh ingin menimbulkan kesan pada kita bahwa ia melarikan
diri melalui jendela, ia akan berusaha untuk membuat kedua tempat
pelarian lainnya tak mungkin untuk dilewati, maksudku pintu
penghubung yang terpalang dan pintu kamar yang terkunci dan
terantai dari dalam itu. Seperti juga 'orang yang bisa menghilang
dalam kotak kayu itu', semuanya ini cuma tipuan belaka. Justru itu
urusan kita, bagaimana caranya tipuan itu dilakukan, atau di mana
rahasianya."
jayakatwang kemudian mengunci pintu penghubung itu dari kamar
CHUCKY, "dalam hal," ujarnya, "Nyonya Hubbard yang cerdas itu
harus mengisi kepalanya dengan bukti-bukti kriminil dari tangan
pertama, supaya ia cepat-cepat bisa menulisnya kepada anak
perempuannya.”
Sekali lagi jayakatwang melihat ke sekeliling.
"Tak ada lagi yang mesti dikerjakan di sini. Mari kita temui Tuan
BOUROQ."
8. PERISTIWA PENCULIKAN DAISY gairah
Sesampainya di gerbong dari Athena itu, mereka melihat Tuan
Detektif itu terbangun beberapa jam kemudian, sebab ada sesuatu
yang membangunkannya. Ia yakin betul apa yang membuatnya
terbangun - bunyi rintihan yang keras, mirip sebuah jeritan yang
lemah, entah di mana
, tapi terasa dekat sekali. Pada saat yang sama
terdengar dentingan lonceng, bunyinya tajam.
jayakatwang buru-buru bangun dan menyalakan lampu. Ia baru
menyadari bahwa kereta sedang berhenti - mungkin di sebuah
stasiun.
Tapi rintihan itu membuatnya ngeri. Ia teringat kamar di
sebelahnya yaitu kamar CHUCKY. Detektif itu langsung melompat
dari tempat tidur dan membuka pintu, bersamaan dengan itu pula
dilihatnya LETKOL lewat bergegas-gegas dan sesampainya di
kamar CHUCKY, ia mengetuk pintu. jayakatwang sengaja membiarkan
pintunya terbuka sedikit supaya dapat mengintip. Didengarnya
LETKOL mengetuk sekali lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi bel dan
seberkas sinar muncul dari kamar di sebelah sana, agak jauh.
LETKOL menoleh sebentar lewat bahunya. Pada saat yang
berbarengan terdengar sebuah suara dari kamar sebelah: "Ce n'est
rien. Je me suis trompe."
"Bien, Monsieur. " LETKOL cepat-cepat melangkah lagi, menuju
daun pintu yang tadi diterangi oleh seberkas cahaya itu.
jayakatwang kembali naik ke tempat tidur, hatinya terasa lega, lalu ia
mematikan lampu. Diliriknya jamnya. Pukul satu kurang dupuluh tiga
menit.
5. PEMBUNUHAN
Detektif Belgia itu tak bisa langsung tidur. Ia merasa.kan sesuatu
yang hilang, kereta tak bergerak sebagaimana mestinya, kereta itu
diam saja. Jika tempat mereka berhenti memang sebuah stasiun,
mengapa stasiun itu nampak sepi? Sebaliknya kegaduhan di kereta
terasa tak seperti biasanya. jayakatwang mendengar CHUCKY berjalan
mondar-mandir di kamar sebelah, seolah sedang melakukan sesuatu.
Didengarnya bunyi seperti orang yang sedang membuka keran air di
tempat cuci tangan, kemudian suara air mengucur, suara orang
mencuci tangan, dan akhirnya suara keran air yang ditutup kembali.
Dalam pada itu juga terdengar langkah-langkah, kaki orang di luar,
langkah yang terseok-seok bagai langkah kaki orang yang
mengenakan sandal.
Raden jayakatwang berbaring di tempat tidurnya sambil memandang ke
langit-langit. Mengapa stasiun di luar itu sepi sekali?
Kerongkongannya terasa kering. Rupanya ia lupa meminta dibawakan
sebotol air putih yang biasa diminumnya sebelum pergi tidur.
Diliriknya jamnya sekali lagi. Tepat pukul satu kurang seperempat. Ia
ingin mengebel, memanggil LETKOL dan meminta dibawakan air
putih. Jari-jemarinya sudah meraba-raba pinggir bel, namun
diurungkannya niatnya setelah tiba-tiba didengarnya bunyi dentingan
dari seberang sana. Sudah barang tentu LETKOL itu tak dapat
menjawab sebab panggilan bel sekaligus.
Ting... ting... ting....
Sekali lagi dan sekali lagi bel itu berbunyi. Mana orangnya? Pasti
orang itu tak sabar menunggu.
Ti-i-i-ing!
Siapa pun orangnya, tentu ia sedang memijit tombol kuat-kuat.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergopoh-gopoh, bunyi
langkahnya bergema, orang yang ditunggu telah datang. Ia
mengetuk pintu tak jauh dari pintu kamar jayakatwang .
Kemudian terdengar suara-suara - suara LETKOL, yang penuh
hormat dan nada memohon maaf dan satunya lagi suara wanita
dengan nada mendesak tapi lancar.
Nyonya Hubbard!
jayakatwang tersenyum sendiri.
Kedengarannya seperti orang berdebat - mungkin saja - dan
perdebatan itu kedengarannya cuma berlangsung beberapa menit
saja. Tapi yang jelas kira-kira sembilan puluh persen oleh Nyonya
Hubbard dan yang sepuluh persen lagi oleh LETKOL. Namun
akhirnya persoalannya dapat juga diselesaikan. Samar-samar jayakatwang
mendengar ucapan, "Bonne nuit, Madame, " dan suara pintu
tertutup.
Lalu kini giliran jayakatwang untuk menekan tombol. LETKOL tiba pada
saat yang diharapkan. Wajahnya kelihatan tegang dan cemas.
"De leau minerale, s'il vous-plait.”
"Bien, Monsieur. " Mungkin sorot mata jayakatwang membuat hatinya
lega. "La dame Americaine – “
"Ya?"
LETKOL itu menyeka jidatnya. "Bayangkan andaikata Tuan
sendiri yang menghadapinya! Ia bersikeras - tetap bersikeras - bahwa
ada seorang pria di kamarnya. Bayangkan sendiri, Tuan. Dalam
ruangan sesempit ini." Ia mencoba melukiskan dengan tangannya,
membuat lingkaran kecil. "Di mana kira-kira dia bisa
menyembunyikan diri? Saya katakan itu tak mungkin. Saya jadi
berdebat dengan nyonya itu. Tapi ia terus bersikeras. Ia bangun dari
tempat tidur, dan menunjuk kepada pria yang dimaksud. Dan saya
tanya,' bagaimana caranya orang itu bisa keluar dan meninggalkan
pintu yang masih terkunci dari dalam? Tapi nyonya itu tak peduli
pada alasan saya itu. Dan sepertinya ke jadian ini belum cukup
menyusahkan kita, ada lagi… salju itu…
"Salju?"
"Ya, Tuan. Tuan belum melihatnya? Kereta terpaksa berhenti. Kita
terhalang oleh, salju tebal. Cuma surga yang tahu berapa lama lagi
kita harus di sini. Dulu saya pernah terhalang salju juga, lamanya
tujuh hari."
"Di mana kita sekarang?"
"Antara Vincovci dan Brod."
"La-la," ujar jayakatwang jengkel.
LETKOL itu minta permisi sebentar lalu kembali dengan air
pesanan jayakatwang .
"Bon soir, Monsieur. "
jayakatwang meneguk air itu dan tertidur dengan tenang.
Ia baru saja terlena ketika sesuatu kembali membuatnya
terbangun. Kali ini seolah sesuatu yang berat jatuh menimpa daun
pintu, menimbulkan bunyi berdebam.
Ia melompat dari tempat tidur, membuka pintu dan melongok ke
luar. Tak ada apa-apa. Tapi di sebelah kanannya, beberapa langkah
sepanjang koridor, dilihatnya seorang wanita berpakaian kimono
ungu sedang berjalan menjauh. Pada ujung yang satunya lagi, di
tempat duduknya yang biasa, dilihatnya LETKOL sedang asyik
menghitung-hitung sesuatu di atas secarik kertas yang lebar.
Suasana sangat sunyi bagaikan di kuburan.
"Yang jelas syarafku masih normal," ujar jayakatwang dalam hati dan
kembali berbaring di tempat tidur. Kali ini ia dapat tidur nyenyak
sampai pagi.
Sewaktu terbangun, kereta masih juga belum bergerak. jayakatwang
menaikkan kerei jendela dan meiongok ke luar. Potongan-potongan
salju yang tebal mengelilingi kereta.
jayakatwang melirik jamnya. Pukul sembilan lewat.
Pada pukul sepuluh kurang seperempat, dengan setelan dan
dandanan yang rapi seperti biasanya, ia melangkah menuju gerbong
restorasi, di mana suara-suara ikut berdukacita terdengar dari setiap
sudut.
Jurang pemisah yang mungkin masih ada di antara sesama
penumpang, sekarang terlihat sudah benar-benar lenyap. Semua
senasib dan sepenanggungan sebab kecelakaan yang tak
diharapkan. Barangkali cuma Nyonya Hubbard yang keluh kesahnya
paling keras kedengaran.
"Anak perempuanku bilang ini akan merupakan perjalanan yang
paling gampang di dunia. Duduk saja di kereta dan tahu-tahu saya
sudah sampai Paris. Tapi sekarang kita malah bisa di sini terus
sampai berhari-hari," isak Nyonya Hubbard. "Dan kapal saya akan
berangkat lusa. Bagaimana saya bisa mencegatnya? Terlalu, saya
bahkan tak bisa menelegram untuk membatalkan pelayaran saya itu.
Ah! Saya bisa jadi semakin sedih saja kalau berbicara tentang itu.”
Orang Italia itu juga mengeluh bahwa ia sendiri masih punya
urusan yang mendesak di Milan. Sedangkan pria Amerika yang
berperawakan tinggi besar cuma mengatakan, "Sial betul, Ma'am."
Dan mencoba membangkitkan harapan bahwa kereta akan berhasil
mengejar ketinggalannya.
"Kakak perempuan saya dan anak-anaknya pasti sedang
menunggu saya," ujar wanita Swedia itu sambil menangis terisak-
isak. "Sedangkan saya tak bisa memberi kabar apa pun kepada
mereka. Apa yang mereka pikir? Mereka pasti mengira saya tertimpa
kecelakaan."
"Berapa lama lagi kita tertahan di sini?" tanya MARIAM GRAVES
kesal. "Tak ada orang yang tahu?"
Terasa ada nada tak sabar dalam suaranya, namun jayakatwang
memperhatikan tak ada tanda-tanda kekhawatiran yang mencekam
seperti yang diperlihatkannya selama pemeriksaan yang dilakukan
pada kereta Taurus Express itu."
Nyonya Hubbard mulai lagi.
“Tak ada seorang pun yang mengetahui apa-apa tentang kereta
ini. Dan tak ada seorang pun yang mau berbuat sesuatu. Kereta ini
cuma dipenuhi segerombolan orang-orang tak dikenal yang tak
berguna. Terlalu, seumpamanya ini terjadi di rumah, paling tidak
mesti ada seseorang yang mau berbuat sesuatu! "
TANTULAR sekonyong-konyong berpaling ke jayakatwang dan mulai
berbicara dengan bahasa Perancis logat Inggris.
“Vous etes un directeur de la ligne, je crois, Monsieur. Vous
pouvez nous dire – “
Dengan tersenyum jayakatwang buru-buru meralatnya.
"Bukan, bukan," ujarnya dalam bahasa Inggris. “Bukan saya. Tuan
keliru. Bukan saya yang Tuan kira direktur perusahaan kereta api ini,
tapi Tuan BOUROQ, teman saya."
"Oh! Saya minta maaf."
“Tak apa-apa. Itu wajar. Cuma memang sekarang ini saya
menempati kamarnya yang dulu."
Ternyata Tuan BOUROQ tak kelihatan di gerbong restorasi itu. jayakatwang
lalu melemparkan pandangan ke sekeliling untuk melihat siapa-siapa
lagi yang tak ada pada saat itu.
Puteri GIRAH belum kelihatan, begitu juga pasangan
Hongaria itu. Demikian juga CHUCKY, pelayan prianya dan pembantu
wanita berkebangsaan Jerman itu.
Wanita Swedia itu menyeka matanya.
“Saya bodoh," ujarnya. "Saya sebenarnya tak boleh menangis.
Buat apa menangis, Semua ini untuk kebaikkan kita, apa pun yang
terjadi."
Namun semangat Kristen yang diperlihatkannya ini, ternyata tak
mempan pada diri penumpang kereta yang lain.
"Ya memang segalanya baik-baik saja," ujar WISNU WARDANA gelisah.
"Mungkin kita bisa sampai berhari-hari di sini."
"Ngomong-ngomong, negeri apa ini?" tanya Nyonya Hubbard
dengan sedih.
Sewaktu ada yang memberitahu bahwa mereka sedang di wilayah
Yugoslavia, lalu ia berseru, "Oh! cuma salah satu dari negara-negara
Balkan itu. Apa yang dapat kalian harapkan!"
"Cuma Nona penumpang satu-satunya yang masih sabar," ujar
jayakatwang kepada Nona GRAVES.
Ia mengangkat bahu. "Apa yang bisa dilakukan?"
"Nona pintar berfilsafat, Mademoiselle," sahut jayakatwang lagi.
"Justru itu sikap yang obyektif, tidak memihak. Malahan saya kira
saya ini suka mementingkan diri sendiri. Saya sudah belajar
bagaimana caranya menahan perasaan."
Kedengarannya MARIAM GRAVES lebih banyak berbicara untuk diri
sendiri daripada untuk lawan bicaranya. Bahkan ia sama sekali tak
melihat ke arah jayakatwang . Pandangannya melewati jayakatwang , jauh keluar
jendela di mana salju terlihat semakin menumpuk.
"Nona punya kepribadian kuat, Mademoiselle," Ujar jayakatwang lembut.
" Saya kira watak Nona paling keras di antara penumpang lainnya di
kereta ini."
"Oh! tidak, benar-benar tidak. Saya tahu orang yang wataknya
lebih keras dari saya, jauh lebih keras."
"Dan orang itu yaitu - ”
Sekonyong-konyong kelihatan seakan ia baru sadar, bahwa
sebenarnya ia tengah berhadapan dengan orang asing yang tak
dikenal, dengan siapa, hingga pagi ini, ia cuma pernah bertukar sapa
sebanyak tak lebih dari setengah lusin kalimat.
Gadis itu tertawa, sopan tapi terasa aneh.
“Baiklah - Nyonya tua itu, umpamanya. Tuan sendiri barangkali
sudah pernah memperhatikannya - memang ia nyonya tua yang luar
biasa jelek, tapi biarpun begitu masih mempesonakan orang yang
melihatnya. Ia hanya perlu mengangkat satu jari saja dan meminta
sesuatu dengan nada yang sopan - dan seluruh isi kereta seakan-
akan mengerjakan perintahnya itu."
"Perintah itu juga dilaksanakan kalau yang memintanya Tuan
BOUROQ," sahut jayakatwang menerangkan. “Tapi itu pun sebab ia direktur
perusahaan kereta api ini dan bukannya sebab ia punya kepribadian
yang kuat."
MARIAM GRAVES tersenyum.
Pagi terus merayap menjadi siang. Beberapa penumpang,
termasuk jayakatwang , terlihat masih duduk di gerbong restorasi itu. Saat
itu terasa adanya suasana yang lebih hidup dan lebih bergairah
daripada waktu-waktu sebelumnya, semata-mata untuk
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di antara sesama penumpang.
jayakatwang sudah mendengar banyak tentang anak perempuan Nyonya
Hubbard yang sering disebut-sebut itu. Juga tentang kebiasaan-
kebiasaan Tuan Hubbard selama masih hidup, tentang saat
kematiannya, dari mulai ia bangun pagi dan bersantap dengan bubur
gandum sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir di
tempat tidurnya pada malam hari, dengan masih mengemakan kaus
kaki yang biasa dirajut oleh Nyonya Hubbard sendiri untuk suaminya
itu.
Ketika jayakatwang sedang asyik mendengarkan cerita yang
membingungkan mengenai tujuan misionari yang sebenarnya dari
wanita Swedia itu, salah seorang LETKOL kereta datang
menghampiri dan berdiri di dekat sikunya yang diletakkan di meja.
"Pardon, Monsieur.
"Ya?"
"Salam dari tuan BOUROQ, dan Tuan dipersilakan datang menemuinya
selama beberapa menit, itu pun kalau Tuan bersedia."
jayakatwang langsung bangun dan setelah meminta maaf sekedarnya
kepada gadis Swedia itu, ia segera mengikuti LETKOL keluar
ruangan. LETKOL itu bukan LETKOL gerbongnya sendiri, tapi
LETKOL gerbong Tuan BOUROQ, laki-laki berperawakan tinggi besar
dan berparas tampan.
Detektif Belgia itu terus mengikuti langkah LETKOL di
hadapannya, menyusuri koridor gerbongnya sendiri terus menuju
gerbong yang lain. LETKOL itu mengetuk pintu sebentar, lalu
menyisih ke samping untuk mempersilakan jayakatwang masuk.
Rupanya kamar itu bukanlah kamar Tuan BOUROQ sendiri, melainkan
kamar gerbong kelas dua, mungkin dipilih sebab ukurannya yang
lebih besar sedikit dari kamar-kamar lainnya. Biasanya kamar-kamar
seperti itu memberi kesan terlalu padat, jadi rupanya Tuan BOUROQ
memang sengaja memilih kamar yang satu ini, meskipun letaknya di
gerbong kelas dua.
Tuan BOUROQ sendiri nampak sedang duduk di sebuah kursi kecil di
sudut yang berhadapan dengan jayakatwang . Di sudut sebelahnya, dekat
jendela yang menghadap ke arah Tuan BOUROQ, nampak seorang lelaki
kecil berkulit kehitam-hitaman sedang melongok ke luar,
memperhatikan salju turun. Kecuali itu ada pula seorang pria yang
sedang berdiri dan nampaknya menjadi penghalang bagi jayakatwang untuk
melangkah lebih ke depan, sebab perawakan pria itu tinggi besar. Ia
mengenakan seragam biru, dan pria itu tak lain daripada LETKOL
gerbongnya sendiri, yang sekaligus menjabat sebagai kepala
LETKOL kereta.
"Ah! Temanku yang baik!" seru Tuan BOUROQ dengan suara riang.
"Mari masuk. Kami memerlukan Anda."
Raut muka yang diperlihatkan Tuan BOUROQ saat itu, memaksa jayakatwang
berpikir keras. Sudah jelas bahwa sesuatu yang luar biasa telah
terjadi.
"Apa yang terjadi?" tanya jayakatwang tak sabar.
"Silakan bertanya. Yang pertama salju keparat ini - dan
pemberhentian kereta kita ini. Dan sekarang -"
Tuan BOUROQ berhenti berbicara - kelihatannya ia susah bernapas
dan tenggorokannya tercekik, sebab itu suaranya pun susah keluar.
"Dan sekarang apa?"
"Dan sekarang seorang penumpang ditemukan sudah tak
bernyawa lagi di atas tempat tidurnya tertikam."
Tuan BOUROQ berbicara dengan nada suara seperti orang putus asa
meskipun kedengarannya tenang.
"Penumpang? Penumpang yang mana?"
“Orang Amerika. Orang yang namanya – yang namanya -" ia
memeriksa daftar yang di hadapannya. "CHUCKY -Benar.”
“CHUCKY?"
"Ya, Monsieur," sahut LETKOL gerbong sambil menahan napas.
jayakatwang menatapnya. Wajahnya putih dan pucat seperti kapur.
"Baiknya kausuruh dia duduk dulu," ujar jayakatwang pada Tuan BOUROQ.
"Kalau tidak dia bisa pingsan."
Kepala LETKOL kereta menggeserkan tubuhnya sedikit dan
LETKOL gerbong itu duduk terhenyak di sudut dan langsung
menutupi mukanya dengan kedua belah tangan.
"Brrr! " teriak jayakatwang tiba-tiba. "Tidak main-main nih! "
"Tentu saja ini serius. Terus terang saja, sebagai permulaan, aku
rasa pembunuhan ini bagaikan kegaduhan yang begitu saja terjadi
dalam suasana yang begini tenang bagai air. Tapi bukan itu saja. Di
sini kita sedang tertahan. Mungkin kita bisa tertahan sampai berjam-
jam - bahkan lebih dari itu - sampai berhari-hari! Keadaan lainnya -
jika sedang melintasi negeri-negeri lain mungkin ada satu dua polisi
dari negeri itu yang ditugaskan di kereta kita. Tapi di Yugoslavia ini
tidak bisa. Kau mengerti?"
"Jadi kita dalam posisi yang amat sulit," ujar jayakatwang .
"Bahkan mungkin bisa jadi lebih sulit lagi. Dr. HAUNTED - saya
sampai lupa, saya belum memperkenalkan Anda. Dr. HAUNTED,
Tuan jayakatwang ."
"Dr. HAUNTED berpendapat orang itu meninggal sekitar pukul
satu malam."
"Sukar untuk menentukan waktu yang tepat dalam soal-soal
semacam ini," sahut dokter itu, "tapi saya rasa saya berani ambil
kepastian bahwa orang itu meninggal antara pukul dua belas tengah
malam dan pukul dua pagi."
"Kapan Tuan CHUCKY ini terakhir kelihatan masih hidup?"
"Ia diketahui masih hidup kira-kira dua puluh menit sebelum pukul
satu, sewaktu ia berbicara kepada LETKOL," sahut Tuan BOUROQ.
"Betul," ujar jayakatwang membenarkan. "Aku sendiri mendengar apa
yang terjadi saat itu. Apa ini hal terakhir yang diketahui tentang si
CHUCKY itu?"
"Ya."
jayakatwang memalingkan kepalanya ke arah Dokter HAUNTED, yang
lalu melanjutkan bicaranya tanpa diminta.
"Jendela kamar Tuan CHUCKY diketemukan terbuka lebar, seolah-
olah memberi-kesan bahwa pembunuhnya lari dari situ. Tapi menurut
saya, kesan itu dibuat justru untuk mengelabui kita. Siapa pun juga
yang melarikan diri dari jendela pasti akan meninggalkan jejak di
salju. Tapi justru tak ada jejak sama sekali."
"Kapan pembunuhan itu diketahui?" tanya jayakatwang .
"TENDEAN!”
LETKOL gerbong jayakatwang itu tersentak. Wajahnya masih kelihatan
pucat dan ketakutan.
"Ceriterakan hal yang sebenarnya pada kedua Tuan ini," ujar Tuan
BOUROQ memerintahkan.
Orang itu berceritera dengan suara yang tersendat-sendat.
"Pelayan pria Tuan CHUCKY itu saya dengar berkali-kali mengetuk
pintu kamar tuannya. Tapi tak ada jawaban. Lalu setengah jam yang
lalu, saya lihat pelayan gerbong restorasi datang menghampiri kamar
itu. Rupanya ia ingin tahu apakah Tuan CHUCKY ingin makan siang.
Waktu itu sudah pukul sebelas, Tuan."
"Lalu saya sendiri yang membukakan pintu untuknya, dengan
kunci yang ada pada saya. Tapi sewaktu saya mau membukanya,
ternyata tidak bisa, sebab pintunya sudah dirantai dari dalam, dan
dikunci, lagi. Tetap tak ada jawaban apa-apa, suasana waktu itu sepi
sekali dan dinginnya bukan main. Apalagi jendelanya terbuka begitu
lebar dan sesekali cipratan salju ikut masuk. Saya pikir mungkin
penghuni kamar itu sudah gila. Lalu cepat-cepat saya minta tolong
'chef de train'. Kemudian sesudah berhasil memutuskan rantai itu,
kami berdua masuk. Tapi yang kulihat - Ah! C'etait terrible!
Kembali LETKOL itu membenamkan wajahnya di telapak
tangannya.
"Jadi pintu kamar itu dikunci dan dirantai dari dalam," ujar jayakatwang
sambil berpikir-pikir. "Jadi ini bukan bunuh diri - eh?"
Dokter berkebangsaan Yunani itu tertawa sengit. “Memangnya
orang bunuh diri itu mampu menusuk badannya sendiri sampai
sepuluh - dua belas - lima belas tempat?" tanyanya.
Mata jayakatwang terbuka lebar. "Benar-benar kejam!" ujarnya seolah
baru tersadar.
"Pasti itu perempuan," ujar "chef de train" mulai membuka suara.
"Mengingat keadaannya sih, itu pasti perempuan. Cuma perempuan
yang bisa menikam sebanyak itu."
Dokter HAUNTED mengerutkan kening, mulai berpikir keras.
"Tentunya perempuan yang kuat sekali," ujarnya. "Bukan maksud
saya untuk berbicara secara teknis - yang cuma membingungkan
orang saja; tapi saya yakin bahwa satu atau dua tusukan itu pasti
dihunjamkan kuat-kuat, terutama pada tulang-tulang dan otot-otot
yang keras."
"Tapi jelas itu bukan pembunuhan ilmiah," ujar jayakatwang .
"Malahan pembunuhan yang paling biadab," ujar Dr. HAUNTED
membantah. "Tusukan-tusukannya kelihatannya sangat berbahaya
dan membabi buta. Beberapa di antaranya nampaknya cuma
dilakukan sepintas lalu saja, hampir-hampir tak menimbulkan bekas.
Tapi tusukan-tusukan yang kuat itu sepertinya dilakukan oleh orang
yang sengaja memejamkan matanya lalu menusuk dengan buas
berulang kali."
"Pasti itu perempuan," ujar chef de train itu lagi mencoba
meyakinkan keterangannya. "Perempuan biasanya suka seperti itu.
Kalau mereka benar-benar marah, tenaganya bertambah." Lalu ia
mengangguk dalam-dalam dan tampaknya begitu yakin, hingga
orang lain yang ada di situ cenderung untuk mencurigai mungkin itu
perbuatannya sendiri.
"Mungkin ada sesuatu yang bisa saya sumbangkan untuk
menambah pengetahuan Saudara," ujar jayakatwang . "Tuan CHUCKY
sendiri bicara dengan saya kemarin. Sejauh yang saya bisa mengerti,
ia menceritakan pada saya bahwa hidupnya sedang diintai bahaya,"
ujarnya lagi pada chef de train itu.
"Mau dibunuh - yaitu istilah Amerika-nya bukan?" tanya Tuan
BOUROQ. "Kalau begitu pembunuhnya bukan perempuan. Pasti 'gangster'
atau 'tuiang tembak'."
Chef de train itu kelihatan tertusuk melihat teorinya disangkal.
"Kalau begitu," ujar jayakatwang lagi, "sepertinya pembunuhan itu
dilakukan bukan oleh orang yang ahli dan sepertinya melakukannya
terburu-buru." Nada suaranya seolah mencela pembunuh bayaran.
"Di kereta ini ada orang Amerika yang perawakannya tinggi
besar," ujar Tuan BOUROQ, mengikuti jalan pikirannya tadi, "wajahnya
pasaran dan selalu berpakaian kumal dan jorok. Ia selalu mengunyah
permen karet dengan cara yang lain daripada biasa. Kau tahu orang
yang kumaksudkan?"
LETKOL itu mengangguk.
"Oui, Monsieur, kamar no.16. Tapi tak mungkin dia orangnya.
Seharusnya saya melihatnya kalau ia masuk atau keluar kamar itu."
"Mungkin juga tidak. Mungkin juga tidak. Tapi kita pasti bisa
memeriksa dia nanti. Pertanyaannya sekarang yaitu , apa yang
dapat kita, lakukan?" Lalu ia memandang jayakatwang .
jayakatwang membalas pandangan temannya itu.
"Ayo, Kawan," ujar Tuan BOUROQ. "Aku kira kau sudah cukup
mengerti apa yang akan kutanyakan kepadamu. Aku tahu
kemampuanmu. Pimpin pemeriksaan ini! Jangan, jangan, jangan
menolak. Kaulihat sendiri, bagi kami - ini benar-benar soal yang
serius, aku bicara mewakili Compagnie Internationale des Wagons
Lits. Sementara menunggu polisi Yugoslavia, alangkah baiknya kalau
kita sudah bisa memperlihatkan hasilnya! Kalau tidak pasti kita
dihadapi dengan seribu satu macam penundaan, gangguan seribu
satu macam dan yang bisa membuat kepala pusing tujuh keliling.
Barangkali, siapa tahu, gangguan-gangguan seperti ini bisa
melibatkan orang-orang yang tak bersalah. Sebaliknya, jika kau
berhasil memecahkan misteri itu! Wah! Kita tinggal bilang, "Ada
pembunuhan di kereta ini - dan ini dia pembunuhnya!"
"Ah, umpamanya aku tak bisa memecahkannya?"
"Ah, mon cher! " Nada suara Tuan BOUROQ jelas kedengaran seperti
orang yang sedang membujuk. "Aku tahu reputasimu. Aku tahu
sedikit cara-caramu memecahkan masalah. Justru ini dia perkara
yang tepat untukmu. Melihat kembali latar belakang dan riwayat
hidup penumpang-penumpang kereta ini, menyelidiki kemampuan
mereka masing-masing kesemuanya ini pasti memakan waktu dan
menimbulkan hal-hal yang tak enak. Tapi apa aku belum pemah
mendengar dari mulutmu sendiri, untuk memecahkan suatu masalah
itu, seseorang cuma perlu bersandar di kursinya dan berpikir?
Lakukanlah itu. Wawancarailah semua penumpang kereta, periksalah
tubuh si korban, selidikilah bukti-bukti yang ada, dan kemudian -
semuanya kuserahkan padamu! Aku yakin kau tidak cuma membual
saja. Bersandarlah di kursi dan pikirkan masalahnya (sebagaimana
yang aku sering dengar dari mulutmu sendiri) gunakanlah sel-sel
kecil berwarna kelabu di belakang kepalamu itu - dan kau akan
mendapat hasil!"
Tuan BOUROQ memajukan tubuhnya ke muka memandang wajah
sahabatnya dengan penuh harap.
"Kepercayaanmu padaku rupanya sanggup menyentuh hatiku,
Kawan," ujar jayakatwang penuh haru. "Seperti yang kaukatakan, kasus
yang sedang kuhadapi ini boleh dibilang bukanlah kasus yang sulit.
Aku sendiri kemarin malam - ah, lebih baik jangan kita bicarakan
sekarang. Sebenarnya kasus ini telah berhasil membangkitkan
minatku. Belum ada setengah jam yang lalu, sebenarnya aku sudah
membayangkan, betapa membosankannya membiarkan jam-jam di
depan kita berlalu begitu saja, sedangkan kita cuma terpaku di sini,
tak berdaya apa-apa. Dan sekarang - sebuah misteri di hadapanku,
siap untuk dipecahkan."
"Jadi kauterima, bukan?" ujar Tuan BOUROQ lagi penuh semangat.
"C'est entendu. Kau sudah meletakkannya sendiri di tanganku."
"Baik, kalau begitu. Kami semua di sini siap membantumu."
"Sebagai permulaan, sebenarnya aku ingin dibuatkan peta kereta
Istambul - Calais ini, dengan daftar nama penumpang berikut nomor
kamarnya masing-masing, dan aku juga ingin lihat karcis kereta dan
paspor-paspor mereka."
"TENDEAN akan menyiapkannya untukmu."
LETKOL kereta meninggalkan kamar itu.
"Penumpang apa lagi yang ada di kereta ini?" tanya jayakatwang .
"Di gerbong ini cuma Dr. HAUNTED dan aku sendiri. Sedangkan
di gerbong yang dari Bukares itu cuma ada orang tua yang kakinya
pincang sebelah. Ia sudah kenal baik dengan LETKOL. Di samping
itu juga ada beberapa gerbong biasa, tapi ini tidak menyangkut
persoalan kita, sebab gerbong-gerborig itu sudah dikunci tadi malam
langsung sehabis makan. Di depan gerbong Istambul Calais cuma
ada gerbong restorasi."
"Kalau begitu nampaknya," ujar jayakatwang lambat-lambat, "kita harus
mencari pembunuhnya di gerbong Istambul-Calais itu." Lalu ia,
berpaling ke Dokter HAUNTED. "Gerbong itu kan yang Tuan
maksud"
Dokter berkebangsaan Yunani itu mengangguk. "Setengah jam
setelah lewat tengah malam kita terhalang oleh tumpukan salju itu.
Sejak itu tak ada orang yang bisa meninggalkan kereta."
Terdengar suara Tuan BOUROQ dengan nada prihatin, "Pembunuhnya
pasti ada bersama kita – di kereta sekarang…”
6. SEORANG WANITA
"Pertama-tama," ujar jayakatwang , "aku ingin berbicara sebentar dengan
Tuan WISNU WARDANA , Barangkali dia bisa memberi kita keterangan yang
berharga."
"Tentu saja," sahut Tuan BOUROQ. Lalu ia berpaling ke "chef de
train." "Panggil Tuan WISNU WARDANA ke, sini.”
Chef de train itu meninggalkan gerbong.
Dalam pada itu LETKOL gerbong Istambul Calais telah kembali
dengan membawa setumpukan paspor dan karcis penumpang. Tuan
BOUROQ langsung mengambilnya dari tangannya.
"Terima kasih, TENDEAN. Saya rasa sekarang baiknya kau kembali
saja ke posmu untuk sementara. Akan kita ambil kesaksianmu secara
resmi nanti."
"Baik, Tuan," lalu TENDEAN pun berlalu dari gerbong itu.
"Sesudah kita periksa Tuan WISNU WARDANA ," ujar jayakatwang , "barangkali
Dokter HAUNTED akan ikut bersamaku memeriksa tubuh korban."
"Tentu saja."
"Dan setelah selesai memeriksa di sana – “
Tapi belum habis jayakatwang berbicara, muncul chef de train bersama
RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA .
Tuan BOUROQ bangun. "Kita sudah agak kejang duduk terus-
menerus," ujarnya dengan simpatik. "Duduk saja di kursiku ini, Tuan
WISNU WARDANA . Tuan jayakatwang biar duduk berhadapan - nah, begitu."
Ia berpaling ke chef de train. "Perintahkan semua orang
meninggalkan gerbong restorasi," ujarnya, “Supaya Tuan jayakatwang bisa
leluasa duduk di situ sendirian. Kau akan mewawancarai penumpang-
penumpang itu di sana, mon cher?”
"Kalau bisa memang lebih baik di sana," sahut jayakatwang menyetujui.
Dalam pada itu WISNU WARDANA sesekali menatap jayakatwang dan kemudian
menatap Tuan BOUROQ bergantian, nampaknya masih bingung dan tak
begitu memahami pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa
Perancis yang dirasakannya terlalu cepat.
"Qu'est-ce qu'il ya? " tanyanya dengan susah payah dalam bahasa
Perancis. "Pourquoi ?"
Dengan penuh keyakinan jayakatwang mengisyaratkannya supaya duduk
disudut. WISNU WARDANA mengikuti kemauannya, tapi lalu mulai bertanya
lagi seolah masih penasaran, sebab pertanyaannya tadi belum
dijawab jayakatwang .
"Pourquoi -?" Lalu cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam
bahasa sendiri, "Ada apa di kereta ini? Ada sesuatu yang terjadi?"
Bergantian ia memandang jayakatwang dan Tuan BOUROQ.
jayakatwang mengangguk. "Tepat. Ada sesuatu yang terjadi di kereta ini.
Awas, jangan terkejut. Majikanmu, Tuan CHUCKY, meninggal!"
WISNU WARDANA bersiul iseng. Kecuali sorot matanya yang tambah
bersinar, tak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa ia
terkejut atau sedih.
"Jadi, akhirnya mereka bisa melaksanakannya juga! "
"Apa sebenarnya yang Tuan maksud dengan berbicara seperti itu,
Tuan WISNU WARDANA ?"
WISNU WARDANA kelihatan ragu-ragu.
"Tuan kira," ujar jayakatwang , "Tuan CHUCKY dibunuh orang?"
"Iya kan?" Kali ini WISNU WARDANA baru kelihatan heran.
"Sebab ya," ujarnya lambat-lambat. "Persis seperti yang kukira.
Tuan maksud ia mati sewaktu tidur? Saya tak tahu, orang tua itu
memang keras seperti-seperti -"
WISNU WARDANA berhenti, tak menemukan pembandingnya.
"Bukan, bukan," ujar jayakatwang . "Perkiraan Tuan memang tepat sekali.
Tuan CHUCKY memang ditikam orang. Tapi saya ingin tahu kenapa
Tuan begitu yakin bahwa itu yaitu pembunuhan dan bukan
kematian yang wajar."
WISNU WARDANA ragu-ragu sebentar. "Ini perlu dijelaskan. Siapa Tuan
sebenarnya? Dan apa jabatan Tuan?"
"Saya mewakili Compagnie Interilationale des Wagons Lits." jayakatwang
berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Saya detektif. Nama
saya Raden jayakatwang ."
Kalau pada saat itu jayakatwang mengira akan ada pengaruhnya, ia
keliru. WISNU WARDANA cuma berkata datar, "Oh! Ya?" dan menunggu
sampai jayakatwang berkata lebih lanjut.
"Barangkali Tuan pernah dengar nama itu?"
"Ya, rasanya nama itu tak asing lagi. Tapi saya selalu mengira
nama itu nama penjahit baju wanita."
Raden jayakatwang memandangnya dengan rasa tak senang. "Tak
mungkin! " serunya.
"Apa yang tak mungkin?"
"Tak apa-apa. Mari kita lanjutkan pemeriksaan ini. Saya ingin Tuan
menceritakan pada saya, Tuan WISNU WARDANA , segala sesuatu yang Tuan
ketahui mengenai diri si korban. Tuan, tak punya hubungan apa-apa
dengannya?"
"Tidak. Saya cuma sekretarisnya saja - tak lebih dari pada itu."
"Berapa lama Tuan memegang jabatan itu?"
"Baru setahun lebih."
"Silakan Tuan memberi keterangan yang semua Tuan ketahui
pada saya."
"Begitulah, saya ketemu Tuan CHUCKY sewaktu saya masih di
Persia
jayakatwang menyela.
"Apa yang Tuan kerjakan di sana?"
"Saya khusus datang dari New York untuk mencari konsesi minyak
di sana. Saya rasa Tuan tak ingin mendengar ceritanya. Saya dan
teman-teman saya saat itu tak berhasil mendapatkan konsesi yang
diinginkan. Kebetulan pada waktu itu Tuan CHUCKY sehotel dengan
saya. Ia baru saja bertengkar dengan sekretarisnya. Ia menawarkan
saya menggantikan sekretarisnya, dan langsung saya terima.
Kebetulan saat itu kontrak kerja saya sudah habis, sebab itu dengan
senang hati saya terima pekerjaan yang bayarannya tergolong besar
itu."
"Dan sesudah itu?"
"Kami bepergian tak henti-hentinya, Tuan CHUCKY ingin melihat
dunia. Tapi keinginannya terhalang sebab ia tak bisa bahasa lain,
kecuali bahasa ibunya sendiri. Boleh dibilang saya lebih banyak
bertindak selaku penterjemah daripada sekretaris. Benar-benar hidup
yang menyenangkan."
"Sekarang ceritakan pada saya tentang majikanmu sebanyak
mungkin."
Orang muda itu mengangkat bahu. Wajahnya kelihatan bingung,
tak mengerti.
"Tak begitu gampang seperti yang Tuan kira."
"Siapa nama lengkapnya?"
"Samuel COUNT CHUCKY."
"Warga negara Amerika?"
"Ya."
"Dari negara bagian mana?"
"Saya tak tahu."
“Baiklah, ceritakan saja apa yang Tuan tahu."
"Yang sebenarnya, Tuan jayakatwang , saya ini tak tahu apa-apa! Tuan
CHUCKY sama sekali tak pernah menyinggung-nyinggung tentang
kehidupan pribadinya atau kehidupannya di Amerika."
"Kenapa begitu menurut pendapat Tuan?"
"Saya tak tahu. Saya rasa barangkali ia malu pada masa lalunya.
Ada orang yang begitu."
"Apa Tuan kira letak pemecahan masalah ini ada di situ?"
"Terus terang saja, bukan."
"Dia punya saudara?"
"Dia tak pernah menyebut-nyebut itu."
jayakatwang mencoba menekankan pada hal itu.
"Mestinya Tuan sudah membuat teori sendiri, Tuan WISNU WARDANA ."
"Ya, begitulah, yang jelas, saya tak percaya CHUCKY itu namanya
yang sebenarnya. Saya rasa dia meninggalkan Amerika sebab ia
ingin membebaskan diri dari seseorang atau sesuatu hal. Saya kira
sebegitu jauh dia memang berhasil - sampai beberapa minggu ini."
"Lalu?"
"Ia mulai menerima surat-surat - surat ancaman.”
"Tuan melihatnya?"
"Ya. Itu termasuk tugas saya, mengurusi surat menyurat yang
dilakukannya. Surat pertama muncul kira-kira dua minggu yang lalu."
"Apa surat-surat itu dibakar semua?"
"Tidak. Saya rasa saya masih menyimpan beberapa di dalam map
saya - salah satu di antaranya pernah dirobek-robek CHUCKY dengan
marah. Mau saya ambilkan?"
"Kalau Tuan tak keberatan."
WISNU WARDANA segera meninggalkan gerbong restorasi itu. Beberapa
menit kemudian ia datang lagi dan langsung meletakkan dua lembar
kertas surat yang agak dekil di hadapan jayakatwang .
Surat pertama berbunyi sebagai berikut:
Kaupikir kau bisa melarikan diri, setelah menipu kami? Tidak bisa,
selama kau masih hidup. Kami sudah bersiap-siap untuk
menangkapmu, CHUCKY! Dan pasti kami berhasil!
Tak ada tanda tangan di bawahnya.
jayakatwang cuma sempat menaikkan alis matanya sedikit, sehabis
membaca surat itu, dan tak memberi komentar apa-apa. Kemudian
diambilnya surat yang kedua.
Kami akan menjemputmu dan mengajakmu berpergian ke suatu
tempat. Dalam waktu dekat, kami akan menangkapmu, mengerti?
jayakatwang meletakkan surat itu.
"Gayanya senada!" serunya pasti. "Gaya penulisannya lebih
meyakinkan daripada tulisan itu sendiri."
WISNU WARDANA memandangnya sejenak.
"Tuan pasti tak memperhatikannya," ujar jayakatwang ramah. "Surat ini
memerlukan mata yang sudah terlatih untuk membacanya. Surat ini
bukannya ditulis oleh seorang saja, Tuan WISNU WARDANA . Setidak-
tidaknya yang menulisnya dua orang atau mungkin juga lebih -
masing-masing menuliskan sebuah kata, setiap kali. Kecuali itu, surat
ini dicetak, bukan ditulis. sebab itulah lebih sulit untuk mengenalinya
daripada tulisan tangan biasa." Detektif Belgia itu berhenti sebentar,
kemudian berkata lagi,
"Apa Tuan tahu Tuan CHUCKY pernah meminta tolong saya?"
"Pada Tuan?"
Nada suara WISNU WARDANA yang seolah keheranan itu meyakinkan
jayakatwang bahwa sebenarnya WISNU WARDANA tak tahu akan hal itu.
jayakatwang mengangguk. "Ya, dia ngeri. Coba katakan pada saya,
bagaimana reaksinya setelah dia menerima surat pertama?"
WISNU WARDANA kelihatan ragu-ragu sejenak.
"Susah untuk mengatakannya - ia menertawakannya dengan
caranya yang khas. Tapi bagaimanapun –“ suaranya gemetar sedikit -
"Saya merasa ada sesuatu di balik ketenangannya itu -"
jayakatwang mengangguk. Lalu ia sampai pada pertanyaan yang tak
diduga-duga.
"Tuan WISNU WARDANA , maukah Tuan katakan secara terus terang,
bagaimana penilaian Tuan terhadap Tuan CHUCKY itu? Sebagai
majikan Tuan sendiri? Tuan menyukainya?"
RADEN KERTAJAYA berpikir dulu satu dua menit sebelum menjawab.
"Tidak," akhirnya ia berkata. "Saya tak suka padanya."
"Kenapa?"
"Saya tak tahu persis kenapa. Sebenarnya tingkah lakunya yang
tenang itu cukup menyenangkan." RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA berhenti
sebentar, kemudian menyambung kembali, "Saya katakan yang
sebenarnya, Tuan jayakatwang . Saya tak senang padanya, saya tak percaya
padanya. Rasanya, dia itu orang yang kejam dan berbahaya, dan
saya yakin akan hal ini. Saya mesti mengakui hal yang satu ini, meski
saya tak punya alasan untuk mendukung pendapat saya itu."
"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA . Pertanyaan selanjutnya, Kapan
Tuan melihat Tuan CHUCKY terakhir masih hidup?"
"Kemarin malam kira-kira -" ia berpikir sejenak - "pukul sepuluh,
begitulah. Waktu itu saya masuk ke kamarnya dan menolong
menuliskan surat yang didiktekannya kepada saya."
"Tentang apa?"
"Tentang contoh-contoh ubin dan pot-pot antik yang dibelinya dari
Persia. Barang-barang yang dikirimkan kepadanya ternyata tidak
sama dengan yang ingin dibelinya. Surat-menyurat tentang ini telah
berjalan dalam waktu lama dan sangat menjengkelkan."
"Dan saat itu saat terakhir Tuan CHUCKY terlihat masih hidup?"
"Ya, saya kira begitu."
"Tuan Tahu kapan Tuan CHUCKY menerima surat ancaman yang
terakhir kali?"
"Pada pagi waktu kita meninggalkan Konstantinopel."
"Masih ada satu pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan, Tuan
WISNU WARDANA . Apakah Tuan mempunyai hubungan yang baik dengan
majikan Tuan itu?"
Sekonyong-konyong mata orang muda itu bersinar sedikit.
"Pertanyaan inilah yang kira-kira bakal mendirikan bulu kuduk
saya. Dalam istilah dagangan yang laris, 'Tuan tak bakal berhasil
mendapatkan apa-apa dari saya'. CHUCKY dan saya punya hubungan
yang baik sekali."
“Barangkali Tuan tak keberatan menuliskan nama lengkap dan
alamat Tuan di Amerika untuk saya."
WISNU WARDANA menuliskan namanya - RADEN KERTAJAYA Willard WISNU WARDANA - dan
sebuah alamat di New York.
jayakatwang bersandar pada bantal kursi.
"Untuk sementara itu cukup sebegitu dulu, Tuan WISNU WARDANA ,"
ujarnya. "Saya harap Tuan dapat merahasiakan kematian Tuan
CHUCKY ini buat sementara waktu."
"Tapi pelayannya, si MANSION itu harus mengetahui ini."
"Mungkin ia sendiri sudah tahu," sahut jayakatwang datar. "Seandainya
begitu, cobalah bujuk dia supaya menutup mulutnya dulu untuk
sementara ini.”
"Tak begitu sulit. Dia orang Inggris, dan sebagaimana
dikatakannya sendiri, 'semua persoalan yang dihadapinya akan
disimpannya untuk diri sendiri.' Dia menganggap rendah orang
Amerika, dan sama sekali tak peduli pada bangsa-bangsa lainnya.
"Terima kasih, Tuan WISNU WARDANA ."
Orang Amerika itu meninggalkan gerbong restorasi.
"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "bagaimana? Kau percaya pada semua
yang dikatakan orang muda itu tadi?"
"Kelihatannya ia jujur dan terus terang. Ia tidak menutup-nutupi
hubungannya dengan majikannya, sebagaimana ia mungkin perlu
melakukannya jika dalam satu dan lain hal ia memang terlibat.
Memang benar kalau begitu, Tuan CHUCKY tak pernah
memberitahukan padanya bahwa ia pernah minta tolong padaku, dan
kutolak, tapi aku rasa itu tidak mencurigakan. Aku yakin Tuan
CHUCKY itu yaitu jenis orang yang suka berdiam diri dan tak suka
menceritakan rencananya pada siapa pun, dan dalam setiap
kesempatan apa pun juga."
"Jadi kau mau mengatakan bahwa paling tidak satu orang sudah
dibebaskan dari tuduhan pembunuhan yang keji itu?" tanya Tuan
BOUROQ berkelakar.
jayakatwang menutupi perasaan malunya.
"Aku, aku mencurigai setiap,orang sampai menit terakhir,"
ujarnya. "Sama saja, harus diakui, aku sendiri, tak bisa membuktikan
bahwa orang yang tenang dan berkepala panjang seperti si
WISNU WARDANA itu tiba-tiba tak bisa menguasai dirinya dan menikam
korbannya dengan dua belas sampai empat belas kali tusukan. Itu
sama sekali tidak sesuai dengan jiwanya - sama sekali tidak."
"Memang tidak," sahut Tuan BOUROQ sambil mengerutkan kening.
"Ini perbuatan laki-laki yang sudah hampir gila sebab menyimpan
rasa benci yang sangat. Lebih cocok rasanya kalau pembunuhan ini
dilakukan oleh orang yang temperamennya panas seperti orang
Amerika Latin. Atau bisa juga, seperti sebagaimana yang dikatakan
berulang kali oleh chef de train itu - si pembunuhnya yaitu seorang
perempuan.
7. TUBUH KORBAN
Dengan didampingi oleh Dr. HAUNTED, jayakatwang melangkah
menuju ke gerbong sebelah, ke kamar korban. LETKOL kereta
menyusul dan membukakan pintunya untuk mereka.
Kedua orang itu langsung masuk. jayakatwang berpaling ke kawannya
dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Berapa banyak yang sudah tak pada tempatnya lagi di dalam
kamar ini?"
"Belum ada yang dipegang. Saya cukup berhati-hati untuk tidak
menyentuh tubuh di korban sedikit pun selama pemeriksaan."
jayakatwang mengangguk. Ia melihat ke sekeliling.
Hal pertama yang membangkitkan perasaannya yaitu cuaca
dingin saat itu. Jendela kamar dibuka lebar-lebar dan kereinya
dinaikkan ke atas tinggitinggi.
"Brrrr," jayakatwang menggigil kedinginan.
Yang seorang lagi tersenyum memahami.
"Saya tak mau menutupnya," ujarnya.
jayakatwang memeriksa jendela itu dengan teliti.
"Tuan benar," ujarnya memberitahu. "Tak ada orang yang
meninggalkan gerbong dengan cara ini. Mungkin jendela yang
terbuka ini dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ada orang
yang melarikan diri dari gerbong dengan cara itu. Tapi kalau benar
begitu, salju itu pasti bisa menggagalkan maksudnya."
Detektif Belgia itu lalu memeriksa bingkai jendela berikut kacanya
dengan teliti. Diambilnya sebuah kotak kecil dari saku celananya, lalu
ditiupnya bubuk yang telah ditempelkannya sendiri pada bingkai
jendela.
"Tak ada sidik jari sama sekali," ujarnya. "Itu berarti sidik jari itu
sudah dihapus. Biarpun begitu, seumpamanya sidik jari itu ada, itu
juga tak akan menolong banyak buat kita. Sidik jari itu bisa saja sidik
jari Tuan CHUCKY, atau pelayan prianya atau LETKOL itu. Tapi
umumnya pembunuh tak membuat kesalahan semacam itu lagi
sekarang."
"Dan sebab itulah," ujarnya dengan suara riang, "kita boleh
langsung menutup jendela. Dinginnya benar-benar seperti lemari es
di sini!"
Disesuaikannya tindakannya dengan perkataannya barusan dan
untuk pertama kalinya ia berpaling ke tubuh yang tak bergerak-gerak
yang sedang terbaring di tempat tidur itu.
CHUCKY tergeletak. Baju piyamanya, yang penuh noda-noda yang
mengerikan., nampak terbuka semua kancingnya dan disibakkan ke
belakang.
"Saya harus memeriksa luka-lukanya, Tuan mengerti?" tanya
Dokter HAUNTED.
jayakatwang mengangguk. Ia membungkuk di hadapan tubuh yang
sudah menjadi mayat itu. Akhirnya ditegakkannya kembali badannya
sambil meringis.
"Benar-benar sudah rusak," ujarnya jijik. "Mestinya ada orang
yang terus berdiri di dekatnya dan menikamnya berkali-kali. Ada
berapa luka sebenarnya?"
“Menurut perhitunganku semuanya ada dua belas. Satu dua di
antaranya tak begitu kelihatan, seolah cuma penikaman yang asal
jadi saja. Sebaliknya, paling tidak ada tiga luka lagi yang bisa
membawa kematiannya."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membangkitkan rasa ingin
tahu jayakatwang . Detektif Belgia itu memandangnya lekat-lekat. Dokter
berkebangsaan Yunani yang bertubuh kecil itu sedang berdiri sambil
mengamat-amati tubuh si korban dengan kening berkerut.
"Ada yang aneh, ya tidak?" tanya jayakatwang lembut. "Katakan saja,
Kawan. Apa ada sesuatu yang membingungkan?"
"Tuan benar," sahut yang satu mengakui.
"Apa itu?"
"Tuan lihat, dua luka ini - yang ini - dan yang itu -" ujarnya sambil
menunjuk. "Cukup dalam. Tiap tusukan mestinya mengalirkan darah -
tapi pinggirannya tidak sampai menganga. Luka-lukanya ternyata
tidak berdarah seperti yang orang kira.”
"Jadi?"
"Jadi korban sudah meninggal lebih dulu sebelumnya, sewaktu ia
ditusuk. Tapi ini tak masuk akal. "
"Bisa juga begitu, " ujar jayakatwang sambil berpikir keras.
"Kecuali si pembunuh mengira ia belum mengerjakan tugasnya
dengan baik, lalu cepat-cepat kembali lagi untuk memastikan - tapi
ini juga tak masuk akal! Ada bukti lain?"
"Satu lagi."
“Ya, apa itu?"
“Tuan lihat luka ini - di bawah lengan sebelah kanan - dekat bahu
kanan. Coba pegang pinsil saya ini. Coba bayangkan, apakah Tuan
bisa menikam orang dalam posisi seperti ini?"
jayakatwang meraba-raba.
"Tepat ujarnya. "Saya mangerti. Dengan tangan kanan sangat
sukar, hampir-hampir tak mungkin. Mau tidak mau si pembunuh
mesti membuat tusukan dengan belakang telapak tangannya. Tapi
umpamanya tusukan itu dilakukan dengan tangan kiri.”
"Tepat, Tuan jayakatwang . Kelihatannya tusukan itu dilakukan dengan
tangan kiri."
"Jadi kalau begitu pembunuhnya kidal? Tidak, pasti lebih sulit
bukan? Kalau keadaannya begitu?"
"Begitulah, seperti Tuan katakan. Beberapa tusukan lainnya jelas
dibuat dengan tangan kanan."
"Dua orang. Kembali kita dihadapi dengan perkiraan bahwa
pelakunya dua orang," gerutu detektif Belgia itu. Tiba-tiba ia
bertanya, "Lampunya menyala waktu itu?"
"Sulit untuk mengatakannya. Tuan lihat sendiri, listrik selalu
dimatikan LETKOL, tiap pukul sepuluh pagi."
"Tapi tombolnya bisa dilihat," ujar jayakatwang lagi.
Lalu ia memeriksa tombol lampu atas dan juga tombol lampu
kepala di atas tempat tidur. Yang pertama dimatikan tapi yang
terakhir tertutup, jadi tak terpakai sama sekali.
"Eh, bien, " ujarnya sambil berpikir-pikir. "Disini kita dapatkan
hipotesa dari pembunuh pertama dan pembunuh kedua, seperti yang
ditulis oleh Shakespeare yang besar itu. Pembunuh pertama langsung
meninggalkan kamar dan mematikan lampunya, setelah menikam
tubuh si korban. Pembunuh kedua masuk ke kamar dalam gelap,
tanpa mengetahui bahwa pekerjaannya sudah ada yang melakukan,
dan menusuk tubuh yang sudah mati itu paling tidak dua kali. Que
pensez-vous de ca? "
"Mengagumkan!" seru dokter bertubuh kecil itu dengan penuh
gairah.
Sepasang mata yang lain kelihatan ikut bersinar.
"Pikiran Tuan begitu? Saya senang. Bagi saya kedengarannya agak
tak masuk akal."
"Habis, penjelasan apa lagi yang bisa diberikan?"
"Justru itulah yang sedang saya tanyakan pada diri sendiri. Apakah
di sini ada faktor kebetulan, atau semacam itu? Adakah lain hal lagi
yang bisa menunjukkan bahwa kedua pembunuh itu mempunyai
hubungan satu sama lain?"
"Saya rasa, ya. Beberapa dari tusukan ini, seperti yang sudah saya
katakan tadi, dihunjamkan dengan lemah - dengan tenaga yang
kurang, dan dengan kekuatan yang tak terarah. Tusukan itu lemah,
cuma asal saja. Tapi yang satu ini - dan yang ini juga." Lalu ia
menunjuk kembali pada luka-luka itu. "Dibutuhkan tenaga besar
untuk membuat tikaman seperti itu. Tusukannya sampai menembus
Otot."
"Jadi, menurut pendapat Tuan, tusukan-tusukan itu dilakukan oleh
seorang pria?"
"Pasti begitu."
"Tak mungkin dilakukan oleh seorang wanita?"
"Wanita muda yang kuat, bertenaga besar dan berbadan atletis
mungkin bisa menusuk seperti itu, terutama kalau dia sedang
dikuasai oleh emosi yang sangat kuat, tapi menurut saya, masih tidak
mungkin."
jayakatwang terdiam selama beberapa menit.
Yang satunya bertanya dengan penuh harap, "Tuan mengerti jalan
pikiran saya?"
"Bagus sekali," ujar jayakatwang . "Persoalannya jadi terbuka sendiri!
Pembunuhnya pria, yang bertenaga besar - dan tenaga yang lemah
itu - seorang wanita - yang satunya normal dan yang satunya kidal.
Ah, c'est rigolo, tout ca!" Ia berbicara dengan amarah yang timbul
secara tiba-tiba. "Dan si korban sendiri - saat itu? Berteriakkah?
Melawankah? Membela dirikah?"
Dimasukkannya tangannya ke bawah bantal dan dikeluarkannya
pistol otomatis yang telah diperlihatkan CHUCKY kepadanya sehari
sebelumnya.
"Tuan lihat sendiri, pistolnya sudah diisi penuh penuh."
Kedua orang itu melihat ke sekeliling. Pakaian CHUCKY sehari-hari
tergantung pada gantungannya di dinding. Di atas kaca tempat cuci
tangan terdapat bermacam-macam barang. Gigi-gigi palsu yang
dicemplungkan di dalam gelas berisi air. Gelas yang satunya kosong.
Sebotol air putih. Sebuah termos besar. Lalu sebuah asbak berisi
puntung rokok d.an potongan-potong.an kertas yang kelihatan habis
dibakar, dan akhirnya dua batang korek api yang telah dipergunakan.
Dokter HAUNTED meraih gelas kosong itu dan menciumnya.
"Inilah yang bisa menjelaskan bagaimana korban sampai tidak
bisa mengadakan perlawanan bagi dirinya sendiri."
"Dibius?"
jayakatwang mengangguk, lalu dipungutnya dua batang korek api itu,
dan diperiksanya dengan teliti.
"Tuan sudah bisa melihat bukti lain dari situ?”, tanya dokter
Yunani itu penuh harap.
"Kedua batang korek api ini tidak sama bentuknya," ujar jayakatwang
menerangkan. "Yang satu lebih gepeng dari yang lain. Tuan lihat?"
“Itu jenis yang bisa diperoleh di kereta," ujar dokter itu lagi. "Yang
tutupnya dari kertas itu."
jayakatwang meraba-raba saku baju-baju CHUCKY yang bergantungan di
dinding. Sekonyong-konyong ia mengeluarkan sebuah kotak korek
api. Dibandingkannya dengan batang korek yang sudah dibakar tadi.
"Yang lebih bundar, dinyalakan oleh CHUCKY sendiri," ujarnya.
"Coba kita lihat barangkali dia juga punya korek yang gepeng.”
Tapi penyelidikan selanjutnya ternyata tak berhasil menemukan
batang korek api yang dimaksud.
Mata jayakatwang memeriksa sekeliling kamar. Tajam dan bersinar bagai
mata burung elang, hingga orang dapat merasakan tak ada yang
dapat terhindar dari pemeriksaannya.
Dengan mengeluarkan sebuah seruan keheranan dari mulutnya, ia
membungkuk dan memungut sesuatu dari lantai.
Sehelai sapu tangan persegi yang terbuat dari bahan yang mahal
dan bagus. Disudutnya tersulam sebuah huruf H.
"Sapu tangan perempuan," ujar dokter Yunani itu. "Teman kita si
LETKOL itu benar juga. Ada perempuan yang terlibat dalam
pembunuhan ini."
"Dan celakanya sapu tangannya ketinggalan!" seru jayakatwang
menambahkan. "Persis seperti yang terjadi di buku-buku atau di film-
film - dan sepertinya hal itu sengaja dipermudah untuk kita - di
sudutnya ada tersulam huruf H."
"Kita untung!" seru Dokter HAUNTED.
"Ya, dong!” sahut jayakatwang lagi.
Nada suaranya saat itu sempat membuat dokter itu heran sedikit,
tapi sebelum ia sempat meminta jayakatwang untuk memberikan penjelasan
sekedarnya, detektif Belgia itu tampak membungkuk lagi di lantai.
Kali ini dibukanya telapak tangannya - dan tampaklah sebuah
pembersih pipa tembakau.
"Barangkali itu milik CHUCKY," ujar dokter Yunani itu.
"Tak ada pipa tembakau dalam sakunya, begitu juga serbuk-
serbuk tembakau dan kantongnya."
"Itu juga sebuah petunjuk."
"Oh! Tentu saja. Dan petunjuk yang cukup menyenangkan hati.
Kali ini petunjuk maskulin, ya tidak! Orang tak bisa mengeluh bahwa
ia tak dapat petunjuk apa-apa dari kasus ini. Di sini petunjuknya
banyak sekali.. Ngomong-ngomong, apa yang Tuan perbuat dengan
senjata si pembunuh?"
"Tak ada senjata apa-apa di sini. Pembunuhnya pasti sudah
membawanya pergi."
"Saya heran kenapa begitu," ujar jayakatwang lagi.
"Ah!" Dokter Yunani itu sedang asyik meneliti seluruh sudut saku
piyama si korban.
"Rupanya tadi saya belum melihat ini," ujarnya. "Saya barusan
membuka kancingnya satu per satu dan langsung menyibakkan ke
belakang."
Dari saku dada baju piyama korban, Dokter HAUNTED
mengeluarkan sebuah jam tangan emas. Kotaknya sudah peyot di
sana sini dan jarum jamnya menunjukkan pukul satu kurang
seperempat.
"Tuan lihat?" ujar dokter Yunani itu penuh semangat. "Ini
memberi petunjuk pada kita tentang waktu terjadinya pembunuhan.
Ini juga cocok dengan perkiraan saya sendiri. Antara tengah malam
dan pukul dua pagi, itulah yang saya pernah katakan, dan mungkin
juga sekitar pukul satu pagi, meski sukar untuk mengatakan waktu
yang pasti dalam soal-soal semacam ini. Eh bien. Sekarang baru kita
dapat penjelasan. Pukul satu lebih seperempat. Itulah waktu
pembunuhan yang sebenarnya."
"Mungkin begitu, ya. Bisa juga begitu."
Dokter HAUNTED memandang wajah temannya dengan rasa
ingin tahu. "Maaf, Tuan jayakatwang , tapi saya benar-benar tak mengerti
jalan pikiran Tuan. "
"Saya sendiri juga tak mengerti," sahut jayakatwang . "Saya tak mengerti
sedikit pun. Dan sebagaimana yang Tuan lihat, hal ini
mengkhawatirkan saya."
Ia mengeluh dan langsung membungkuk di depan meja kecil di
dekat tempat cuci tangan itu, rupanya ia sedang memeriksa
potongan-potongan kertas yang dibakar tadi. Lalu ia bergumam pada
diri sendiri, "Yang aku perlukan saat ini ialah kotak topi wanita model
lama."
Dokter HAUNTED tak tahu harus memberi komentar apa pada
ucapan jayakatwang barusan. jayakatwang tidak pula memberinya kesempatan
untuk bertanya. Lalu jayakatwang membuka pintu kamar sebentar, dan
berteriak memanggil LETKOL.
Orang yang dipanggil berlari-lari menghampiri.
"Berapa banyak perempuan dalam gerbong ini?"
LETKOL mulai menghitung dengan jarinya.
"Satu, dua, tiga - enam, Tuan. Wanita Amerika setengah umur itu,
si gadis Swedia, gadis Inggris itu, Countess Andrenyi, dan Madame la
NYI e Drazomiroff berikut pelayan wanitanya."
jayakatwang menimbang-nimbang.
“Semuanya punya kotak topi?"
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu bawakan kotak-kotak itu ke mari. Ya, kotak topi
punya gadis Swedia dan punya pelavan wanita Puteri GIRAH itu.
Cuma dua kotak itu yang punya harapan. Katakan kepada mereka
pemeriksaan ini sesuai dengan peraturan yang ada di kereta -
terserah bagaimana kau menga:akannya pada mereka, pokoknya
bawa kedua kotak topi itu ke mari."
"Beres, Tuan. Tak seorang pun di antara keduanya yang ada di
kamar saat ini."
"Kalau begitu cepatlah."
LETKOL tadi bergegas-gegas menghilang dari pandangan. Ia
kembali dengan dua buah kotak topi.
jayakatwang membuka kotak topi pelayan wanita Puteri GIRAH itu,
dan digoyang-goyangkannya ke samping. Lalu dibukanya kotak topi
milik gadis Swedia itu dan seketika itu juga meluncur kata-kata yang
menandakan rasa puas dari mulutnya. Lalu dibukanya topi itu dengan
hati-hati, dan terlihatlah kerangka sekelilingnya yang terbuat dari
kawat yang dianyam.
"Ah, ini dia yang kita perlukan! Lima belas tahun yang lalu kotak-
kotak korek api dibuat seperti ini. Topi ditahan pada kerangka ini
berikut alat penyematnya."
Sambil berbicara tangannya bekerja dengan cekatan melepaskan
dua rusuk kerangka itu. Lalu ditutupnya kembali kotak-kotak topi itu
dan disuruhnya LETKOL mengembalikannya ke tempatnya masing-
masing.
Sewaktu pintu tertutup kembali, jayakatwang kembali berbicara dengan
temannya itu.
"Coba lihat, Dokter, saya bukanlah orang yang begitu saja percaya
pada prosedur orang yang sudah ahli dalam memecahkan misteri
seperti ini. Saya justru ingin mencari latar belakang kejiwaannya,
bukan cuma sekedar sidik jari atau abu rokok. Tapi dalam kasus ini
akan saya pakai bantuan ilmiah sedikit. Kamar ini penuh sekali
dengan petunjuk, tapi dapatkah dipercaya bahwa semua petunjuk itu
memang demikian adanya?"
"Saya masih belum mengerti maksud Tuan."
"Baiklah, sebagai contoh - kita sudah menemukan sapu tangan
wanita. Apa benar wanita yang menjatuhkan itu? Atau mungkin
seorang pria, yang telah melakukan pembunuhan itu, lalu berkata
pada diri sendiri: 'Akan kubuat seolah-olah pembunuhan ini
nampaknya dilakukan oleh seorang wanita. Aku akan menikam
musuhku sampai beberapa kali, dan menambahkannya dengan
beberapa tusukan yang tidak perlu, dan kubuat sedemikian rupa
supaya tusukan itu kelihatan lemah dan tak berarti, dan akan
kujatuhkan sapu tangan wanita ini di tempat yang mudah kelihatan
supaya orang langsung bisa menemukannya?' Itu satu kemungkinan.
Tapi ada juga kemungkinan lain. Apakah pembunuhnya itu seorang
wanita, dan apakah dia sengaja menjatuhkan pembersih pipa itu
supaya pembunuhan itu lebih kelihatan sebagai pembunuhan yang
dilakukan oleh pria? Atau apakah kita disuruh mengira bahwa
seorang laki-laki dan seorang wanita, yang melakukan pembunuhan
secara terpisah, tapi masing-masing begitu teledor hingga dengan
tidak sengaja meninggalkan petunjuk yang sejelas itu? Saya rasa
kemungkinan keduanya melakukan pembunuhan itu secara terpisah,
bukanlah suatu kebetulan. Justru kemungkinannya sedikit sekali."
"Tapi dari mana datangnya kotak topi itu?" tanya dokter Yunani itu
kebingungan.
"Ah! Saya sedang menuju ke situ. Seperti yang saya katakan,
petunjuk-petunjuk ini - seperti : jam emas si korban yang tak jalan
lagi pada pukul satu lebih seperempat, kemudian sapu tangan wanita
dan juga pembersih pipa itu - kesemuanya bisa betul-betul, bisa juga
palsu atau bohong-bohongan. Tentang itu saya sendiri belum bisa
memastikan. Tapi masih ada satu petunjuk lagi di sini – yang
walaupun saya mungkin keliru - saya rasa benar-benar petunjuk, dan
bukannya dibuat orang. Yang saya maksud yaitu batang korek api
yang gepeng itu, Tuan Dokter. Saya yakin batang korek yang satu itu
dibakar oleh si pembunuh, bukan oleh Tuan CHUCKY. Korek itu
digunakan untuk membakar kertas-kertas yang bertuliskan rahasia
pembunuhan ini, Mungkin juga itu sebuah catatan. Kalau begitu,
pasti ada sesuatu dalam catatan itu, sebuah kesalahan, sebuah
kekeliruan, yang justru meninggalkan petunjuk yang merugikan bagi
si pembunuh. Saya ingin mencoba membuktikannya kepada Tuan."
Detektif Belgia itu meninggalkan kamar sebentar dan kembali
beberapa menit kemudian dengan sebuah lampu spiritus kecil dan
sepasang penjepit.
"Biasanya saya pakai ini untuk membersihkan kumis saya,"
ujarnya. Maksudnya sepasang penjepit itu.
Dokter Yunani itu memperhatikan jayakatwang dengan penuh minat.
jayakatwang memipihkan dua batang kawat itu, dan dengan hati-hati sekali
menempelkan pootongan-potongan kertas yang terbakar itu ke salah
satu ujungnya. Dijepitnya potongan-potongan Kertas itu dengan
batang penjepit kawat yang satu lagi di atasnya, dan setelah
sepasang penjepit itu dapat meniepit kertas itu dengan kuat, lalu
dibawanya ke atas lampu spiritus yang sedang menyala itu.
"Lampu ini memang berguna sekali untuk dipakai dalam keadaan
darurat," ujarnya sambil menoleh ke Dokter HAUNTED lewat
bahunya. "Mudah-mudahan usaha ini bisa menjawab maksud kita.
Dokter HAUNTED mengawasi gerak-gerik jayakatwang dengan penuh
perhatian. Kawat itu mulai menyala. Tiba-tiba dilihatnya bentuk-
bentuk semacam huruf, -walaupun masih samar-samar. Perlahan-
lahan huruf-huruf itu mulai terbentuk menjadi kata-kata - kata-kata
yang berasal dari api.
Cuma cukilan kecil. Yang bisa terlihat cuma tiga buah kata dan
selebihnya sudah lenyap terbakar. Kata-kata itu berbunyi:
- member little Daisy gairah
- (ingat Daisy gairah kecil)
"Ah!" jayakatwang berseru tajam.
"Ada petunjuk?" tanya Dokter HAUNTED.
Mata jayakatwang tibai-tiba bercahaya. Diletakkannya jepitan itu kembali,
dengan hati-hati.
"Ya," ujarnya. ”Saya tahu nama asli si korban. Saya tahu kenapa
dia kabur dari Amerika."
"Siapa nama aslinya?"
"Cassetti."
"Cassetti?" HAUNTED mengerutkan kening. "Nama itu
mengingatkan saya pada sesuatu. Beberapa tahun yang lalu. Saya
tak bisa mengingatnya… kasus itu terjadinya di Amerika, ya tidak?'
"Ya,”? sahut jayakatwang . "Kasus yang di Amerika."
Lebih dari kata-kata itu, kelihatannya jayakatwang tak ingin untuk diajak
berbicara lagi mengenai soal itu. Matanya melihat ke sekeliling
sewaktu ia menam bahkan,
"Sekarang juga akan kita selidiki langsung kasus ini. Kita harus
yakin pada diri sendiri bahwa kita telah memeriksa semua petunjuk
yang ada di sini, jangan sampai ada yang tertinggal."
Dengan cepat dan cekatan, tangannya sekali lagi memeriksa saku-
saku baju korban tapi ia tidak menemukan sesuatu yang mampu
membangkitkan minatnya. Dicobanya untuk membuka pintu
penghubung yang menuju ke kamar sebelah, tapi rupanya terpalang
dari sisi yang satunya lagi.
"Ada satu hal yang tak saya mengerti," ujar Dr. HAUNTED.
"Kalau pembunuhnya tidak kabur melalui jendela, kalau pintu
penghubung ini sudah terpalang dari sisi yang lain, dan kalau pintu
kamar ini tidak saja terkunci tapi juga dirantai dari dalam, bagaimana
caranya si pernbunuh melarikan diri dari kamar si korban?"
"Itulah yang ditanyakan penonton sewaktu mereka melihat orang
yang tangan dan kakinya terkurung dalam kotak kayu tapi masih
dapat menghilang, seperti tipu-tipu yang sering diperlihatkan oleh
tukang sulap dan tukang hipnotis itu."
"Maksudmu?"
"Maksudku," ujar jayakatwang menerangkan, "bahwa umpamanya si
pembunuh ingin menimbulkan kesan pada kita bahwa ia melarikan
diri melalui jendela, ia akan berusaha untuk membuat kedua tempat
pelarian lainnya tak mungkin untuk dilewati, maksudku pintu
penghubung yang terpalang dan pintu kamar yang terkunci dan
terantai dari dalam itu. Seperti juga 'orang yang bisa menghilang
dalam kotak kayu itu', semuanya ini cuma tipuan belaka. Justru itu
urusan kita, bagaimana caranya tipuan itu dilakukan, atau di mana
rahasianya."
jayakatwang kemudian mengunci pintu penghubung itu dari kamar
CHUCKY, "dalam hal," ujarnya, "Nyonya Hubbard yang cerdas itu
harus mengisi kepalanya dengan bukti-bukti kriminil dari tangan
pertama, supaya ia cepat-cepat bisa menulisnya kepada anak
perempuannya.”
Sekali lagi jayakatwang melihat ke sekeliling.
"Tak ada lagi yang mesti dikerjakan di sini. Mari kita temui Tuan
BOUROQ."
8. PERISTIWA PENCULIKAN DAISY gairah
Sesampainya di gerbong dari Athena itu, mereka melihat Tuan

