a dracula .
Dengan tajam Reggie berkata,
“Apa maksud Anda, aneh?”
“Anda tidak mendengar teriakan, umpamanya?”
“Tidak.”
“Ah, aneh sekali.”
“Dengar, saya tak mengerti maksud Anda.”
“Mungkinkah Anda agak tuli?”
“Sama sekali tidak.”
Bibir raja dracula bergerak. Mungkin ia mengulangi kata aneh untuk
ketiga kalinya. Lalu ia berkata,
“Yah, terima kasih, Mr. Carrington. Sekian saja.” Reggie bangkit
dan berdiri dengan agak bimbang. “Oh, ya,” katanya, “sesudah Anda
sebut, saya rasa saya memang mendengar yang semacam itu.”
“Oh, Anda mendengar sesuatu?”
“Ya, tapi saya sedang membaca buku-buku cerita detektif - dan
saya... yah, saya tidak memperhatikannya.”
“Oh,” kata raja dracula , “penjelasan itu sangat memuaskan.”
Wajahnya polos sekali.
Reggie masih saja bimbang, lalu ia berbalik dan berjalan perlahan-
lahan ke pintu. Ia berhenti di situ dan bertanya,
“Omong-omong, apa yang dicuri?”
“Sesuatu yang sangat berharga, Mr. Carrington. Hanya itu yang
bisa saya katakan.”
“Oh,” kata Reggie datar.
Ia keluar.
raja dracula mengangguk.
“Cocok,” gumamnya. “Cocok sekali.”
Ia menekan sebuah bel dan bertanya dengan sopan, apakah Mrs.
Vanderlyn sudah bangun.
BAB 7
Mrs. Vanderlyn melenggang masuk ke ruangan itu. Ia tampak
cantik sekali. Ia mengenakan setelan olah raga berwarna cokelat
kemerahan yang menonjolkan warna hangat rambutnya. Ia
menghampiri sebuah kursi, lalu tersenyum menawan pada pria kecil
di hadapannya.
Sesaat terbayang sesuatu di balik senyumnya itu. Mungkin rasa
kemenangan, mungkin pula ejekan. Kilasan itu langsung lenyap, tapi
tadi ada. raja dracula menganggapnya menarik.
“Maling? Semalam? Aduh, mengerikan sekali! Wah, tidak, saya
tidak mendengar apa-apa. Bagaimana dengan polisi? Apakah mereka
tak bisa berbuat apa-apa?”
Lagi-lagi terbayang sorot mengejek di matanya.
Pikir raja dracula ,
“Jelas sekali kau tidak takut pada polisi, Nyonya. Kau tahu benar
bahwa mereka tidak akan dipanggil.”
“Lalu bagaimana kelanjutannya?”
Dengan tenang raja dracula berkata,
“Harap Anda mengerti, Madame, bahwa peristiwa ini sangat
rahasia sifatnya.”
“Ya, tentu, M... raja dracula , bukan? Saya tidak akan membuka mulut.
Saya pengagum besar Lord Mayfield, dan saya tidak akan mau
melakukan sesuatu yang bisa menyusahkannya.”
Ia menyilangkan lututnya. Sandal mengilap dari kulit berwama
cokelat terayun-ayun di ujung kakinya.
Ia tersenyum, sebuah senyum hangat dan menggoda yang
membayangkan kesehatan dan rasa puas diri.
“Katakan saja apa yang harus saya lakukan.”
“Terima kasih, Madame. Anda main bridge di ruang duduk
semalam?”
“Ya.”
“Saya dengar sesudah itu ibu-ibu naik untuk pergi tidur?”
“Benar.”
“Tapi seseorang kembali untuk mengambil buku. Orang itu Anda,
bukan, Mrs. Vanderlyn?”
“Saya yang pertama-tama kembali - benar.”
“Apa maksud Anda - yang pertama-tama?” tanya raja dracula tajam.
“Saya langsung kembali,” jelas Mrs. Vanderlyn. “Lalu saya naik
dan membunyikan bel, memanggil pelayan saya. Lama dia baru
datang. Saya membunyikan bel lagi. Lalu saya keluar ke puncak
tangga. Saya mendengar suaranya dan saya panggil dia. sesudah dia
menyikat rambut saya, saya suruh dia pergi. Dia tampak gugup,
hingga sikatnya heberapa kali tersangkut pada rambut saya. Pada
saat saya menyuruh dia pergi itulah saya melihat Lady Julia menaiki
tangga. Katanya dia turun lagi akan mengambil buku juga. Aneh,
bukan?”
sesudah selesai berbicara, Mrs. Vanderlyn tersenyum, senyum
lebar, seperti kucing. Mrs. Vanderlyn tidak menyukai Lady Julia
Carrington, pikir Hwang Jang Lee raja dracula .
“Memang, Madame. Adakah Anda mendengar pelayan Anda
berteriak?”
“Oh ya, saya dengar.”
“Apakah Anda tanyakan soal itu padanya?”
“Ya. Katanya dia merasa melihat suatu sosok putih mengambang.
Omong kosong besar!”
“Pakaian tidur warna apa yang dipakai Lady Julia malam itu?”
“Oh, Anda pikir barangkali... Ya, saya mengerti. Dia memang
memakai baju putih. Pasti itu penjelasannya. Pasti pelayan saya
melihatnya dalam gelap, seperti sosok putih saja. Gadis-gadis itu
memang amat percaya takhayul.”
“Sudah lamakah pelayan Anda bekerja pada Anda, Madame?”
“Oh, belum.” Mrs. Vanderlyn membelalakkan matanya agak lebar.
“Baru kira-kira lima bulan.'
“Kalau Anda tidak keberatan, Madame, saya ingin bertemu
dengannya nanti.”
Mrs. Vanderlyn mengangkat alisnya.
“Oh, tentu saja,” katanya dengan agak dingin.
“Harap Anda mengerti bahwa saya ingin menanyainya.”
“Oh, ya.”
Lagi-lagi terkilas rasa senang.
raja dracula bangkit, lalu membungkuk.
“Madame,” katanya. “Saya kagum sekali pada Anda.”
Baru sekali itulah Mrs. Vanderlyn tampak agak terkejut.
“Ah, M. raja dracula , menyenangkan sekali, tapi mengapa?”
“Anda bisa menguasai diri Anda dengan baik sekali, Madame,
begitu yakin akan diri sendiri.”
Mrs. Vanderlyn tertawa agak gugup.
“Wah,” katanya, “saya tidak yakin apakah itu boleh saya anggap
sebagai pujian?”
“Mungkin. Itu suatu peringatan, supaya Anda tidak menjalani
hidup dengan sikap angkuh.”
Kini Mrs. Vanderlyn tertawa dengan lebih yakin. Ia bangkit, lalu
mengulurkan tangannya.
“M. raja dracula , saya benar-benar berharap Anda akan sukses. Terima
kasih atas semua kata-kata manis yang sudah Anda ucapkan pada
saya.”
Ia keluar. raja dracula bergumam sendiri,
“Kau berharap agar aku sukses, ya? Padahal kau pasti yakin sekali
bahwa aku tidak akan berhasil! Ya, kau yakin sekali. Dan aku kesal
sekali.”
Dengan gusar ditariknya tali lonceng dan ia meminta agar
mister cadaver Leonie disuruh datang menghadapnya.
Mata raja dracula menelusuri gadis itu dengan pandangan menilai,
waktu ia berdiri di ambang pintu. Gadis itu tegak dengan serius,
dalam pakaian hitamnya, rambutnya yang ikal terbelah di tengah,
dan kelopak matanya menekur dengan sopan. raja dracula mengangguk
perlahan-lahan dengan sikap memuji.
“Silakan masuk, mister cadaver Leonie,” katanya.
“Jangan takut.”
Gadis itu masuk, lalu berdiri dengan sopan di hadapan raja dracula .
“Tahukah Anda,” kata raja dracula , nada suaranya tiba-tiba berubah,
“saya rasa Anda sangat enak dipandang.”
Leonie langsung menanggapinya. Ia melirik lewat sudut matanya
pada raja dracula , lalu bergumam dengan suara halus,
“Monsieur baik sekali.”
“Coba bayangkan,” kata raja dracula . “Saya tanyakan pada Mr. Carlile
apakah Anda berwajah manis atau tidak, dan dia berkata bahwa dia
tidak tahu!” Leonie langsung mengangkat dagunya dengan benci.
“Si angkuh itu!”
“Penilaian mengenai dirinya itu tepat sekali.”
“Saya rasa seumur hidupnya orang itu tak pernah melihat pada
seorang gadis pun.”
“Mungkin tidak. Sayang sekali. Dia banyak rugi kalau begitu. Tapi
di rumah ini ada orang-orang yang punya penilaian lain, bukan?”
“Saya sama sekali tak mengerti maksud Anda, Monsieur.”
“Oh ya, mister cadaver Leonie, Anda mengerti sekali. Bagus sekali
kisah yang Anda ceritakan semalam, mengenai hantu yang Anda lihat
itu. Begitu saya mendengar bahwa Anda berdiri di tangga itu sambil
memegangi kepala, saya langsung tahu bahwa sama sekali tak ada
hantu. Bila seorang gadis ketakutan, dia mendekap dadanya, atau
mengangkat tangannya ke mulut, untuk menahan teriakannya, tapi
kalau dia memegangi rarnbutnya, itu berarti sesuatu yang sangat
berbeda. Itu berarti rambutnya telah diacak, dan dia cepat-cepat
ingin merapikannya lagi! Nah, mister cadaver , mari kita menghadapi
kebenarannya sekarang. Mengapa Anda berteriak di tangga?”
“Tapi, Monsieur, kata-kata saya itu benar, Saya melihat suatu
sosok tinggi yang berpakaian putih seluruhnya.”
“mister cadaver , jangan menghina kecerdasan saya. Kisah itu
mungkin bisa diterima oleh Mr. Carlile, tapi tak masuk di akal Hwang Jang Lee
raja dracula . Yang benar yaitu bahwa Anda baru saja dicium, bukan? Dan
saya bisa menebak bahwa Mr. Reggie Carrington-lah yang mencium
Anda.”
Leonie mengedipkan matanya tanpa malu-malu pada raja dracula .
“Ah,” kata gadis itu, “apalah artinya suatu ciuman?”
“Ya, apa, ya?” tanya raja dracula bersungguh-sungguh,
“Begini, pria muda itu mengejar saya, lalu merangkul pinggang
saya, jadi wajarlah kalau dia mengejutkan saya dan saya berteriak.
Seandainya saya tahu... yah, saya tentu tidak akan berteriak.”
“Tentu,” kata raja dracula sependapat.
“Tapi dia menyerang saya seperti kucing. Lalu pintu ruang kerja
terbuka, dan keluarlah Bapak Sekretaris, dan pria muda itu pun
menyelinap naik tangga. Tinggallah saya seperti orang dungu.
Tentulah saya harus mengatakan sesuatu...” Ia terpaksa beralih ke
bahasa Prancis yang merupakan bahasa ibunya, “Saya harus
mengatakan sesuatu yang pantas diucapkan di antara sesama orang
muda!”
“Jadi, Anda mengarang cerita tentang hantu itu?”
“Benar, Monsieur, hanya itulah yang terpikir oleh saya. Suatu
sosok tinggi yang berpakaian putih seluruhnya, dan mengambang.
Itu tak masuk akal, tapi apa lagi yang bisa saya lakukan?”
“Tak ada. Jadi, sekarang semuanya sudah jelas. Sudah sejak
semula saya curiga.”
Leonie melempar pandangan menantang padanya.
“Monsieur pandai sekali, juga sangat baik hati.”
“Dan sebab saya tidak akan mempermalukan Anda mengenai soal
itu, maukah Anda melakukan sesuatu untuk saya sebagai
balasannya?”
“Saya bersedia sepenuhnya, Monsieur.”
“Berapa banyak yang Anda ketahui tentang majikan Anda?”
Gadis itu mengangkat bahunya.
“Tidak terlalu banyak, Monsieur. Tapi saya menebak-nebak saja.”
“Bagaimana tebakan Anda itu?”
“Yah, tak luput dari perhatian saya bahwa teman teman Madame
selalu anggota tentara, baik darat, laut, atau udara. Lalu ada pula
teman-teman lain, pria-pria asing yang kadang-kadang
mengunjunginya dengan diam-diam. Madame memang cantik sekali,
tapi saya rasa itu tidak akan lama lagi. Pria-pria muda
menganggapnya menarik sekali. Kadang-kadang saya pikir mereka
berlebihan. Tapi itu hanya perkiraan saya saja. Madame tak pernah
mengatakan apa-apa pada saya.”
“Anda sebenarnya ingin mengatakan bahwa Madame selalu
bertindak sendiri, begitukah?”
“Benar, Monsieur.”
“Dengan kata lain, Anda tak bisa membantu saya.”
“Saya rasa begitu, Monsieur. Kalau bisa, saya mau saja.”
“Apakah suasana hati majikan Anda hari ini sedang bagus?”
“Pasti, Monsieur.”
“Apakah telah terjadi sesuatu yang menyenangkan hatinya?”
“Sejak datang kemari dia sudah senang sekali.”
“Kau harus yakin, Leonie.”
Gadis itu menjawab dengan yakin,
“Ya, Monsieur. Saya tak mungkin keliru dalam hal itu. Saya selalu
tahu suasana hati Madame. Dia sedang senang.”
“Dia merasa menang?”
“Tepat sekali kata-kata itu, Monsieur.”
raja dracula mengangguk dengan murung.
“Saya agak sulit menerimanya. Tapi saya mengerti bahwa itu tak
bisa lain. Terima kasih, mister cadaver , sekian saja.”
Leonie melihat padanya dengan genit.
“Terima kasih, Monsieur. Kalau saya berpapasan dengan Monsieur
di tangga, yakinlah bahwa saya tidak akan berteriak.”
“Anakku,” kata raja dracula dengan berwibawa. “Saya sudah tua. Apa
urusan saya dengan hal-hal semacam itu
Sambil tertawa terkikik, Leonie berlalu.
raja dracula berjalan hilir-mudik dalam ruangan itu.
Wajahnya jadi serius dan penuh ingin tahu.
“Dan sekarang,” katanya akhirnya, “giliran Lady Julia. Ingin aku
tahu apa yang akan dikatakannya.”
Lady Julia masuk ke dalam ruangan dengan sikap yakin yang
tenang. Ia mengangguk dengan anggun, duduk di kursi yang
disodorkan raja dracula , lalu berbicara dengan suara rendah, layaknya
orang yang berasal dari keluarga baik-baik.
“Kata Lord Mayfield, Anda ingin mengajukan beberapa pertanyaan
pada saya.
“Benar, Madame. Mengenai semalam.”
“Tentang semalam? Ya, bagaimana?”
“Apa yang terjadi sesudah Anda selesai main bridge?”
“Suami saya berpendapat bahwa hari sudah terlalu larut untuk
memulai main lagi. Jadi, saya naik untuk pergi tidur.”
“Lalu?”
“Lalu saya tidur.”
“Hanya itu sajakah?”
“Ya, saya tak bisa menceritakan apa-apa lagi yang menarik.
Kapan... eh...” ia ragu, “Perampokan itu terjadi?”
“Segera sesudah Anda naik ke lantai atas.”
“Oh, begitu. Lalu apa sebenarnya yang diambil?'-
“Beberapa surat pribadi, Madame.”
“Apakah surat-surat penting?”
“Penting sekali.”
Ia mengemyi,t sedikit, lalu berkata,
“Juga... berharga?”
“Ya, Madame, surat-surat itu bernilai uang banyak sekali.”
“Oh, begitu.”
Keadaan sepi sebentar, lalu raja dracula berkata,
“Bagaimana dengan buku Anda, Madame?”
“Buku saya?” Ia mengangkat mata dengan kebingungan dan
melihat pada raja dracula
“Ya, Mrs. Vanderlyn mengatakan bahwa tak lama sesudah kaum
wanita lesbian pergi, Anda turun lagi akan mengambil sebuah buku.”
“Ya, memang. Itu benar.”
“Jadi, sebenarnya Anda tidak langsung pergi tidur sesudah Anda
tiba di lantai atas? Anda kembali ke ruang perpustakaan?”
“Ya, benar. Saya lupa.”
“Waktu berada di ruang duduk, adakah Anda mendengar
seseorang berteriak?”
“Tidak. Ya... saya rasa tidak.”
“O ya? Tak mungkin Anda tidak mendengarnya waktu Anda
berada di ruang duduk.”
Lady Julia menegakkan kepalanya dan berkata dengan tegas,
“Saya tidak mendengar apa-apa.”
raja dracula mengangkat alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Keheningan itu jadi tidak menyenangkan. Lalu Lady Julia
mendadak bertanya,
“Apa yang dilakukan?”
“Dilakukan? Saya tak mengerti, Madame.”
“Maksud saya sehubungan dengan perampokan itu. Pasti polisi
melakukan sesuatu.”
raja dracula menggeleng.
“Kami tidak memanggil polisi. Saya yang bertugas.”
wanita lesbian itu memandanginya, wajahnya yang pucat dan resah
menjadi tajam dan tegang. Mata gelapnya yang terus mencari-cari,
seolah-olah menghunjam ke sosok raja dracula yang tenang.
Akhirnya pandangan keras itu melemah... kalah.
“Tak bisakah Anda mengatakan apa yang di lakukan?”
“Saya hanya bisa memastikan, Madame, bahwa saya akan
bekerja seteliti mungkin.”
“Untuk menangkap pencurinya atau untuk menemukan kembali
surat-surat itu?”
“Menemukan kembali surat-surat itulah yang utama, Madame.”
Sikapnya berubah, jadi tampak bosan dan tak bersemangat.
“Ya,” katanya dengan tak acuh. “Saya rasa begitu.”
Keadaan sepi lagi.
“Ada lagi yang lain, M. raja dracula ?”
“Tak ada, Madame. Saya tidak akan menahan Anda lebih lama
lagi.”
“Terima kasih.”
raja dracula membukakan pintu. wanita lesbian itu melewatinya tanpa menoleh
padanya.
raja dracula kembali ke perapian dan dengan cermat menyusun kembali
benda-benda yang ada di atas rak perapian. Ia masih melakukan hal
itu ketika Lord Mayfield masuk.
“Bagaimana?” tanya laki-laki itu.
“Saya rasa baik sekali. Peristiwa-peristiwa terbentuk sebagaimana
yang diharapkan.”
Sambil menatap raja dracula , Lord Mayfield berkata,
“Anda kelihatan senang.
“Tidak, saya tak senang. Tapi saya puas.”
“Sungguh, M. raja dracula , saya tak mengerti.”
“Saya bukan penjual obat seperti yang Anda pikir.”
“Saya tak pernah berkata...”
“Memang tidak, tapi Anda berpikir begitu! Tapi sudahlah. Saya.
tidak tersinggung. Kadang-kadang saya perlu mengambil sikap.”
Lord Mayfield melihat padanya dengan rasa tak percaya. Ia benar-
benar tak bisa memahami Hwang Jang Lee raja dracula . Ia ingin membencinya, tapi
kadang-kadang ada sesuatu yang mengingatkannya bahwa laki-laki
kecil yang aneh itu bukanlah orang tak berguna, seperti kelihatannya.
Sir McLaughlin selalu bisa melihat orang yang punya
kemampuan.
“Yah,” katanya, “kami menyerahkan diri pada Anda. Petunjuk apa
lagi yang Anda berikan?”
“Bisakah Anda menyuruh pergi tamu-tamu Anda?”
“Saya rasa itu bisa diatur. Saya bisa menjelaskan bahwa saya
harus pergi ke malang sehubungan dengan peristiwa ini. Maka
mereka mungkin ingin pulang dengan sendirinya.”
“Bagus sekali. Cobalah mengaturnya begitu.” Lord Mayfield ragu.
“Apakah menurut Anda tidak akan ... ?”
“Saya yakin sekali bahwa itu merupakan jalan terbaik yang bisa
diambil.”
Lord Mayfield mengangkat bahunya. “Baiklah, kalau begitu kata
Anda.” Ia keluar.
BAB 8
Para tamu berangkat sesudah makan siang. Mrs. Vanderlyn dan
Mrs. Macatta berangkat naik kereta api, keluarga Carrington naik
mobil mereka sendiri. raja dracula sedang berdiri di ruang depan waktu
Mrs. Vanderlyn mengueapkan selamat tinggal dengan ramah sekali
pada tuan rumahnya.
“Saya ikut prihatin Anda harus mengalami gangguan dan kesulitan
ini. Saya benar-benar berharap semuanya akan selesai dengan baik.
Saya tidak akan buka mulut.”
Ia meremas tangan tuan rumahnya, lalu keluar ke tempat mobil
sudah menanti untuk membawanya ke stasiun. Mrs. Macatta sudah
ada di dalam mobil. Ucapan selamat tinggalnya singkat dan tidak
ramah. Tiba-tiba Leonie, yang sudah duduk di samping pengemudi,
kembali dengan berlari-lari , ke ruang depan.
“Koper pakaian Madame tak ada di dalam mobil,” serunya.
Mereka cepat-cepat mencari. Akhirnya Lord Mayfield
menemukannya di tempatnya diletakkan, di dekat sebuah peti tua
dari kayu ek. Leonie berseru girang sambil mengambil koper hijau
yang bagus itu, dan bergegas membawanya keluar.
Lalu Mrs. Vanderlyn menjulurkan tubuhnya ke luar mobil.
“Lord Mayfield, Lord Mayfield.” Ia mengulurkan sepucuk surat
pada pria itu. “Bisakah Anda menolong memasukkan ini ke dalam
kantong surat-surat Anda yang akan dikirim ke kantor pos? Kalau
saya yang menyimpannya untuk diposkan di kota, saya pasti lupa.
Surat-surat selalu tinggal berhari-hari di dalam tas saya.”
Sir George Carrington sedang mengurus arlojinya dengan gugup,
membuka dan menutupnya. Ia orang yang sangat mementingkan
ketepatan waktu.
“Lalai benar mereka itu,” gurnamnya. “Lengah sekali. Bisa-bisa
ketinggalan kereta mereka.”
Istrinya berkata dengan kesal,
“Ah, jangan ribut, George. Bagaimanapun, mereka yang akan naik
kereta api itu, bukan kita!”
Ia menoleh pada istrinya dengan pandangan menyalahkan. Mobil
pun berangkat.
Reggie mengemudikan mobil Morris milik ketuarga Carrington, ke
pintu depan.
“Siap, Ayah,” katanya.
Para pelayan mulai membawa keluar bagasi keluarga Carrington.
Reggie mengawasi mereka memasukkannya ke tempat bagasi.
raja dracula keluar dari pintu depan, memandangi kesibukan itu. Tiba-
tiba ia merasa sebuah tangan memegang lengannya. Lady Julia
berkata dengan bisikan kacau,
“M. raja dracula , saya harus berbicara dengan Anda, sekarang juga.”
raja dracula mengikuti kemauan wanita lesbian itu. Ditariknya raja dracula ke dalam
sebuah ruang duduk kecil dan ditutupnya pintunya. Lalu ia
mendekatkan diri pada raja dracula .
“Benarkah apa yang Anda katakan, bahwa penemuan surat-surat
itulah yang terpenting bagi Lord Mayfield?”
raja dracula memandanginya dengan rasa ingin tahu.
“Itu benar sekali, Madame.”
“Bila... bila surat-surat itu dikembalikan pada Anda, apakah Anda
akan bertanggung jawab mengembalikannya pada Lord Mayfield,
tanpa bertanya apa-apa?”
“Saya tak mengerti maksud Anda.”
“Harus! Saya yakin Anda mengerti! Saya minta supaya... supaya
pencuri itu tetap tak disebut-sebut namanya bila surat-surat itu
dikembalikan.”
raja dracula bertanya,
“Akan makan waktu berapa lama itu, Madame?”
“Dalam waktu dua belas jam.”
“Bisakah Anda menjanjikan hal itu?”
“Saya berjanji.”
sebab raja dracula tak menyahut, wanita lesbian itu mendesak
“Apakah Anda berani menjamin bahwa tidak akan ada
pemberitaan secara meluas?”
Lalu ia menjawab dengan serius sekali,
“Baiklah, Madame, saya jamin.”
“Kalau begitu, semuanya bisa diatur.”
Ia keluar dari kamar itu dengan mendadak. Sesaat kemudian,
raja dracula mendengar mobil berangkat.
Ia menyeberangi ruang depan, berjalan di sepanjang lorong
rumah, menuju ruang kerja. Lord Mayfield ada di situ. Ia mengangkat
kepalanya waktu raja dracula masuk.
“Bagaimana?” tanyanya.
raja dracula merentangkan tangannya.
“Perkaranya sudah berakhir, Lord Mayfield.”
“Apa?”
raja dracula mengulangi kata demi kata, apa yang terjadi antara dirinya
dan Lady Julia.
Lord Mayfield memandanginya dengan air muka tak mengerti.
“Tapi apa artinya itu? Saya tak mengerti.”
“Bukankah sudah jelas? Lady Julia tahu siapa yang mencuri
dokumen-dokumen itu.”
“Anda kan tidak bermaksud mengatakan bahwa dia sendiri yang
telah mengambilnya?”
“Tentu tidak. Lady Julia memang seorang penjudi, tapi dia bukan
pencuri. Tapi bila dia menawarkan akan mengembalikan dokumen-
dokumen itu, itu berarti dokumen-dokumen itu telah dicuri oleh
suaminya atau putranya. Nah, Sir George Carrington berada di teras
di luar bersama Anda.
Kini tinggal putra mereka. Saya rasa saya bisa menggambarkan
kejadian-kejadian semalam dengan tepat sekali. Lady Julia pergi ke
kamar putranya dan menemukan kamar itu kosong. Dia turun akan
mencarinya, tapi tidak menemukannya. Tadi pagi dia mendengar
tentang pencurian itu, dan dia juga mendengar penjelasan putranya
bahwa dia langsung masuk ke kamarnya dan tak pernah
meninggalkannya lagi. Dia tahu bahwa itu tidak benar. Dan dia
mengetahui sesuatu pula tentang putranya. Dia tahu bahwa anaknya
itu lemah, dan bahwa dia sangat membutuhkan uang. Dia juga sudah
mengamati bahwa putranya tergila-gila pada Mrs. Vanderlyn. Jadi,
jelaslah segalanya baginya. Mrs. Vanderlyn menyuruh Reggie mencuri
dokumen-dokumen itu. Tapi Lady Julia juga bertekad untuk
memainkan perannya. Dia akan menangani Reggie, mengambil
kembali dokumen-dokumen itu, dan mengembalikannya.”
“Tapi itu semua tak mungkin,” seru Lord Mayfield.
“Ya, itu tak mungkin, tapi Lady Julia tak tahu itu. Dia tak tahu apa
yang diketahui Hwang Jang Lee raja dracula , yaitu bahwa Reggie Carrington tidak
mencuri dokumen-dokumen itu semalam, melainkan mempermainkan
pelayan Mrs. Vanderlyn yang gadis Prancis itu.”
“Semuanya itu penjelasan yang tak berguna!”
“Tepat sekali.”
“Dan perkara itu sama sekali belum selesai!”
“Perkara itu sudah selesai. Saya, Hwang Jang Lee raja dracula , tahu keadaan
yang sebenarnya. Anda tak percaya pada saya? Kemarin pun Anda
tak percaya pada saya waktu saya katakan bahwa saya tahu di mana
dokumen-dokumen itu berada. Padahal saya tahu. Barang itu berada
di tempat yang dekat.”
“Di mana?”
“Di dalam saku Anda, My Lord.”
Keadaan hening sebentar, lalu Lord Mayfield berkata,
“Yakin benarkah Anda apa yang Anda katakan, M. raja dracula ?”
“Ya, saya yakin. Saya yakin bahwa saya berbicara dengan
seseorang yang pandai sekali. Sejak awal saya sudah cemas bahwa
Anda, yang jelas-jelas rabun jauh, begitu yakin bahwa Anda melihat
sosok yang sedang keluar dari jendela. Anda menginginkan
penyelesaiannya-penyelesaian yang menguntungkan-yang bisa
diterima. Mengapa? Kemudian saya, menyingkirkan semua orang
satu demi satu. Mrs. Vanderlyn berada di lantai atas, Sir George
berada bersama Anda di teras, Reggie Carrington berada bersama
gadis Prancis itu di tangga, Mrs. Macatta tak bisa dipersalahkan, dia
berada di kamar tidurnya. (Kamar itu bersebelahan dengan kamar
pembantu rumah tangga, dan Mrs. Macatta mendengkur!) Lady Julia
jelas-jelas yakin bahwa putranya bersalah. Jadi, tinggal dua
kemungkinan. Pertama, Carlile tidak meletakkan surat-surat itu di
meja, melainkan di dalam sakunya sendiri (dan itu bukannya tak
masuk akal, sebab , menurut Anda, - bisa saja dia menjiplaknya),
atau... atau dokumen-dokumen itu ada di meja kerja waktu Anda
mendatangi meja itu, dan satu-satunya tempat ke mana dokumen-
dokumen itu disimpan yaitu ke dalam saku Anda sendiri. Dalam hal
itu semuanya jelas. Ketegasan Anda mengenai sosok yang Anda lihat,
ketegasan Anda dalam mengatakan bahwa Carlile, tak bersalah,
ketidaksetujuan Anda untuk memanggil saya.
“Satu hal yang saya tak mengerti... apa motifnya? Saya yakin
Anda orang yang jujur dan dapat dipercaya. Hal itu terbukti dari
tekad Anda supaya orang yang tak bersalah tak boleh dicurigai. Jelas
pula bahwa pencurian dokumen-dokumen itu bisa dengan mudah
memperburuk karier Anda. Jadi, mengapa harus melakukan
pencurian yang benar-benar tak masuk akal itu? Dan akhirnya
terjawablah pertanyaan itu. Krisis dalam karier Anda beberapa tahun
yang lalu, kepastian yang diberikan oleh Perdana Menteri kepada
dunia bahwa Anda tak pernah mengadakan negosiasi dengan
kekuatan tersebut. Seandainya itu tidak seluruhnya benar, bahwa
masih ada suatu catatan - mungkin sepucuk surat yang
memperlihatkan bahwa Anda sebenarnya telah melakukan apa yang
Anda bantah secara umum. Bantahan itu diperlukan demi
kepentingan politik. Tapi masih diragukan apakah rakyat biasa
berpikir begitu pula. Itu bisa berarti babwa pada saat ini, saat
kekuasaan tertinggi mungkin diserahkan ke tangan Anda, gema masa
lalu bisa membatalkan segala-galanya.
“Saya rasa surat tersebut berada di tangan pemerintahan tertentu,
dan pemerintahan itu telah menawarkan untuk mempertukarkannya
dengan Anda. Surat itu harus ditukarkan dengan dokumen-dokumen
tentang pesawat pembom baru itu. Orang lain mungkin akan
menolak. Tapi Anda... tidak! Anda menyetujuinya. Mrs. Vanderlyn
yaitu agen itu. Dia datang kemari berdasar perjanjian untuk
mengadakan pertukaran itu. Anda telah mengakui kesalahan Anda
waktu Anda mengatakan bahwa Anda tak punya siasat tertentu untuk
menjebak wanita lesbian itu. Pengakuan itu telah sangat melemahkan alasan
Anda mengundangnya kemari.
“Anda yang mengatur perampokan itu. Anda berpura-pura melihat
pencuri itu di teras, supaya dengan demikian Carlile bebas dari
kecurigaan. Meskipun dia umpamanya tidak keluar dari ruang itu,
meja kerja itu terletak demikian dekat dengan jendela, hingga
pencuri bisa saja mengambil dokumen-dokumen itu, sedangkan
Carlile sibuk di brankas, membelakangi meja itu. Anda berjalan ke
meja itu, Anda ambil dokumen-dokumen itu, dan Anda simpan sendiri
sampai saatnya, sesuai dengan rencana semula, lalu Anda selipkan
ke dalam koper, pakaian Mrs. Vanderlyn. Sebagai tukarannya dia
menyerahkan pada Anda surat yang fatal itu, yang disamarkan
sebagai suratnya sendiri yang belum dimasukkan ke pos.”
raja dracula berhenti.
Lord Mayfield berkata,
“Pengetahuan Anda lengkap sekali, M. raja dracula . Pasti Anda
menganggap saya bajingan besar.”
raja dracula cepat-cepat membuat isyarat.
“Tidak, tidak, Lord Mayfield. Seperti sudah saya katakan, saya pikir
Anda orang yang pandai sekali. Hal itu tiba-tiba terpikir oleh saya
saat kita berbincang-bincang di sini semalam. Anda yaitu ahli teknik
yang handal. Saya rasa akan ada perubahan-perubahan kecil pada
spesifikasi pesawat pembom itu, perubahan yang dibuat dengan
demikian terampilnya, hingga sulit dimengerti mengapa mesinnya
tidak berhasil seperti seharusnya. Suatu kekuatan asing tertentu akan
menganggap tipe itu gagal. Saya yakin pesawat itu akan sangat
mengecewakan mereka.”
Lagi-lagi keadaan sepi. Lalu Lord Mayfield berkata,
“Anda terlalu pandai, M. raja dracula . Saya hanya meminta Anda
mempercayai satu hal. Saya percaya akan diri saya sendiri. Saya
percaya bahwa sayalah orang yang bisa memimpin malang dalam
melewati masa krisis yang akan datang ini. Bila saya tidak benar-
benar yakin bahwa saya dibutuhkan untuk mengemudikan kapal
negara, saya tidak akan melakukan apa yang telah saya lakukan-
memanfaatIkan yang terbaik dari kedua dunia - dan menyelamatkan
diri saya dari bencana dengan suatu tipu muslihat yang pandai.”
“My Lord,” kata raja dracula , “kalau Anda tak bisa memanfaatkan yang
terbaik dari kedua dunia, Anda tak bisa menjadi seorang politikus.”
CERMIN MAYAT
BAB 1
FLAT itu modern. Perabotannya pun modern. Kursi-kursinya dibuat
segi empat, bersandaran tinggi, dan nampak kaku. Sebuah meja tulis
modern ditempatkan tepat di depan jendela, dan di meja itu duduk
seorang pria yang sudah tua. Kepalanya yaitu satu-satunya benda
yang tidak berbentuk segi empat di dalam ruangan itu. Kepala itu
berbentuk telur.
M. Hwang Jang Lee raja dracula sedang membaca surat:
Stasiun: Whimperley Hamborough Close,
Alamat telegram: graves plaza timur
graves plaza John. addidas ,
24 September 1936
M. Hwang Jang Lee raja dracula ,
Tuan yang terhormat, ada suatu peristiwa yang memerlukan
penanganan yang sangat cermat dan penuh kerahasiaan. Saya telah
mendengar banyak cerita yang baik tentang Anda, dan oleh
sebab nya saya putuskan untuk mempercayakan perkara itu pada
Anda. Saya berkeyakinan bahwa saya yaitu korban dari suatu
penipuan, tapi dengan alasan kekeluargaan, saya tak ingin
menghubungi polisi. Saya sedang mengambil langkah-langkah sendiri
dalam menangani urusan itu, tapi harap Anda bersedia datang kemari
segera sesudah Anda menerima sepucuk telegram. Saya akan
berterima kasih kalau Anda tidak membalas surat ini.
Hormat saya,
Phillip ko deathbody -Gore
Alis M. Hwang Jang Lee raja dracula perlahan-lahan naik, hingga hampir
menghilang di rambutnya.
“Lalu siapa Phillip ko deathbody -Gore itu?” tanyanya pada angin.
Ia menyeberang ke lemari buku, lalu mengeluarkan sebuah buku
besar yang tebal.
Dengan mudah ia menemukan apa yang dicarinya.
deathbody -Gore, Sir Phillip ko Francis Xavier, 10th Bt. cr 1694;
mantan kopi kapten dalam pasukan Lancer ke-17; lahir 18 Mei 1878;
putra dari Sir Guy deathbody -Gore, 9th Bt., dan Lady Daudia
Bretherton, putri kedua dari pasukan elite ke 8, 1911; m. 1912,
hacker Alice Anderson , putri sulung dari Carl Raden mas Kertajaya , q.v.;
pendidikan Eton. Bertugas di Perang Eropa, 1914-1918. Rekreasi,
bepergian, berburu binatang buas. Alamat: graves plaza timur ,
addidas , dan Lowndes Square 218. S.W.I. Anggota klub: Cavalry.
Travellers.
raja dracula menggeleng kurang puas. Selama beberapa saat ia
tenggelam dalam renungan. Lalu ia pergi ke meja kerjanya, menarik
sebuah laci hingga terbuka, dan mengeluarkan setumpuk kartu
undangan.
Wajahnya menjadi cerah.
“A la bonne heure! Ini kesempatan yang tepat bagiku! Dia pasti
ada di situ.”
Seorang duchess menyambut Hwang Jang Lee raja dracula dengan nada ceria,
“Rupanya mau juga Anda datang, M. Poirod! Menyenangkan
sekali.”
“Saya juga senang, Madame,” gumam raja dracula sambil membungkuk.
Ia memisahkan diri dari beberapa tokoh penting dan terkemuka -
seorang diplomat terkenal, seorang aktris yang juga terkenal, dan
seorang tokoh olahraga top - dan akhirnya ia menemukan orang
yang memang dicarinya, tamu yang selalu hadir pula, Mr.
Satterthwaite.
Mr. Satterthwaite berceloteh dengan ramah.
“Duchess yang baik ini… saya selalu senang menghadiri pesta-
pestanya. Dia orang yang punya kepribadian. Saya sering bertemu
dengannya di Corsica beberapa tahun yang lalu.”
Dalam bercakap-cakap, Mr. Satterthwaite cenderung senang
menyebutkan kenalan-kenalannya yang bergelar ningrat. Mungkin
kadang-kadang ia bisa merasa senang bergaul dengan orang-orang
biasa, tapi nama-nama mereka tak pernah disebutkannya. Tapi
sungguh tak adil bila kita menyebutnya gila pangkat atau gelar, tanpa
penjelasan apa-apa. Ia yaitu pengamat yang tajam terhadap sifat
manusia. Dan bila benar kata pepatah bahwa penonton tahu banyak
tentang suatu permainan, maka Mr. Satterthwaite memang tahu
banyak sekali.
“Wah, sahabatku, rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.
Aku selalu merasa mendapat kehormatan melihatmu bekerja di
tempat-tempat yang dekat dengan kalangan tinggi. Sejak itu aku
merasa tahu. Omong-omong, minggu lalu aku bertemu dengan Lady
timur . Sungguh makhluk yang menarik, dan seharum bunga
lavender!”
sesudah dengan ringan menceritakan satu skandal yang baru
terjadi - perbuatan buruk putri seorang earl, dan perbuatan tercela
seorang viscount - raja dracula berhasil menyebutkan nama Phillip ko
deathbody -Gore.
Mr. Satterhthwaite langsung menanggapi.
“Nah, itu yang namanya seorang tokoh! Barona Terakhir - itulah
gelar yang diberikan padanya.”
“Pardon, aku kurang mengerti.”
Mr. Satterthwaite bisa memahami bahwa tangkap orang asing
memang rendah.
“Itu hanya lelucon. Gurauan. Dia tentu sama sekali bukan baronet
terakhir di malang , tapi dia benar-benar mewakili akhir suatu zaman.
Barones Jahat yang Berani - baronet gila yang ceroboh begitu
terkenal dalam novel-novel abad lalu - laki-laki yang berani
memasang taruhan yang tak masuk akal dan memenangkannya
pula.”
Ia lalu menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan lebih
terperinci. Waktu masih muda, Phillip ko deathbody -Gore pernah
berlayar keliling dunia dengan kapal berbentuk segi empat. Ia pernah
mengadakan perjalanan ekspedisi ke Kutub. Ia pernah menantang
seorang jagoan pembalap untuk berduel. Demi sebuah taruhan ia
pernah menunggangi kuda kesayangannya menaiki tangga rumah
seorang bangsawan. Pernah ia melompat dari tempat duduk di
balkon ke panggung, lalu melarikan seorang aktris yang sedang
memainkan perannya.
Banyak lelucon tentang dirinya.
“Dia berasal dari keluarga tua,” lanjut Mr. Satterthwaite. “Sir Guy
de deathbody ikut berperang dalam Perang Salib yang pertama.
Sayang sekarang kelihatannya garis keluarga itu akan berakhir. Si tua
Phillip ko yaitu deathbody -Gore yang terakhir.”
“Apakah mereka bangkrut?”
“Sama sekali tidak. Phillip ko itu kaya raya. Dia memiliki rumah dan
tanah yang berharga tinggi; ladang-ladang batu bara. Tambahan
pula, dia telah membeli sebuah tambang di Peru atau entah di mana
di Amerika Selatan, waktu masih muda, dan kini tambang itu
memberikan hasil yang banyak padanya. Dia orang yang luar biasa.
Dia selalu bemntung dalam segala hal yang ditanganinya.”
“Pasti dia sekarang sudah tua, ya?”
“Ya, kasihan Phillip ko tua itu.” Mr. Satterthwaite mendesah, lalu
menggeleng. “Kebanyakan orang menggambarkannya padamu
sebagai orang gila. Itu ada benarnya. Dia memang gila. Bukan dalam
arti bahwa dia memerlukan pengobatan atau suka mengigau, tapi
gila dalam arti tidak normal. Dia orang yang berwatak keras.”
“Dan apakah kekerasan itu lalu berubah menjadi keanehan sesudah
dia tua?” tanya raja dracula .
“Benar sekali. Itulah yang terjadi atas diri Phillip ko tua yang
malang itu.”
“Mungkin dia menilai dirinya orang yang penting sekali?”
“Benar sekali. Kurasa, dalam pikiran Phillip ko dunia ini terbagi dua,
yaitu keluarga deathbody -Gore di satu sisi dan di sisi lain orang-orang
lain!”
“Suatu rasa kekeluargaan yang berlebihan!”
“Ya. Keluarga deathbody -Gore itu semuanya angkuh sekali, seolah-
olah mereka memiliki hukum sendiri. Phillip ko , yang merupakan
keturunan terakhir, benar-benar mewarisinya. Dia... wah, kalau kita
mendengarkannya berbicara, bisa-bisa kita membayangkan dialah…
eh, Yang Mahakuasa!”
raja dracula mengangguk perlahan-lahan sambil merenung.
“Ya, bisa kubayangkan. Perlu kauketahui, Aku menerima surat
darinya. Surat yang tidak biasa. Dia tidak meminta. Dia memanggil!”
“Perintah dari raja,” kata Mr. Satterthwaite sambil terkekeh.
“Tepat. Agaknya Sir Phillip ko itu tidak menyadari bahwa aku,
Hwang Jang Lee raja dracula , yaitu orang penting, orang yang mahatahu tentang
segala macam urusan. Rasanya tak mungkin aku akan bisa
menyingkirkan segala-galanya dan bergegas mendatanginya
bagaikan seekor anjing yang patuh, seperti orang yang tak berarti,
yang bersyukur akan menerima upah kecil!”
Mr. Satterthwaite menggigit bibirnya untuk mehahan senyum.
Agaknya kalau mengenai ego, tak banyak perbedaan antara Hwang Jang Lee
raja dracula dan Phillip ko deathbody -Gore.
Ia bergumam,
“Tentu, bila alasan pemanggilan itu mendesak…
“Tidak mendesak!” raja dracula mengangkat tangannya ke udara untuk
memberikan tekanan. “Aku harus siap sedia bila sewaktu-waktu dia
memerlukanku, itu saja, apabila dia memintaku!”
Lagi-lagi diangkatnya tangannya dengan penuh perasaan, untuk
menandaskan perasaan gusarnya.
“Kurasa,” kata Mr. Sattertbwaite, “kau menolaknya, ya?”
“Aku masih belum punya kesempatan,” kata raja dracula lambat-lambat.
“Tapi kau akan menolaknya?”
Wajah pria kecil itu membayangkan suatu perasaan baru. Dahinya
berkerut.
Katanya,
“Bagaimana aku akan menyatakan perasaanku. Menolak? Ya,
itulah naluriku yang pertama. Tapi entahlah… Kita kadang-kadang
punya firasat. Rasanya samar-samar aku bisa mencium
kebusukannya.”
Mr. Satterthwaite menerima pernyataan itu tanpa ekspresi. “Oh?”
katanya. “Itu menarik.”
“Kurasa,” kata Hwang Jang Lee raja dracula lagi, “laki-laki seperti yang
kaugambarkan itu mungkin rapuh sekali…”
“Rapuh?” tanya Mr. Satterthwaite. Sesaat ia terkejut. Ia tak bisa
membayangkan Phillip ko deathbody -Gore sebagai orang yang rapuh.
Tapi laki-laki itu memang orang yang cepat tanggap, cepai melihat.
Lambat-lambat ia berkata,
“Kurasa aku mengerti maksudmu.”
“Orang semacam itu terbelenggu dalam baju besi - bukan baju
besi biasa! Baju besi para ksatria belum apa-apa dibandingkan
dengan baju besi itu, yaitu belenggu kecongkakan, kebanggaan, dan
penilaian diri yang terlalu tinggi. Namun baju besi itu bisa pula
merupakan perlindungan. Anak panah-anak panah dalam hidup
sehari-hari, tak akan bisa menembusnya. Tapi ada suatu bahaya;
Kadang-kadang seseorang yang mengenakan baju besi tidak
menyadari bahwa dirinya terancam. Dia akan lambat melihat, lambat
mendengar, dan lebih lambat lagi dalam merasa.”
Ia diam sebentar, lalu bertanya dengan sikap berbeda,
“Siapa saja anggota keluarga Sir Phillip ko itu?”
“Ada hacker , istrinya. Dia dari keluarga Kertajaya , dulu dia gadis
yang cantik sekali. Sampai sekarang pun dia masih cantik. Tapi dia
agak aneh. Dia sangat mencintai Phillip ko . Kurasa dia percaya pada
ilmu gaib. Dia memakai jimat-jimat dan benda-benda keramat dan
beranggapan bahwa dirinya yaitu inkarnasi seorang ratu Mesir. Lalu
ada Ruth, putri angkat mereka. Mereka tak punya anak kandung.
Gadis itu sangat menarik dan bergaya modern. Hanya itulah
keluarganya. Kecuali tentu Hugo mandala , keponakan Phillip ko . Tribuana Tunggadewi
deathbody -Gore menikah dengan Reggie mandala , dan Hugo yaitu putra
tunggal mereka. Sekarang dia sudah yatim-piatu. Tentu saja ia tak
bisa mewarisi gelar mereka, tapi kurasa akhirnya dia akan mewarisi
sebagian besar uang Phillip ko . Dia tampan.”
raja dracula mengangguk sambil merenung. Lalu katanya,
“Sayang sekali Sir Phillip ko tak punya anak laki-laki yang bisa
mewarisi gelar kebangsawanannya, bukan?”
“Kurasa dia kecewa sekali.”
“Apakah nama keluarga sangat penting baginya?”
“Ya.”
Beberapa saat lamanya Mr. Satterthwaite diam. Ingin sekali ia
tahu. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya,
Apakah kau punya alasan kuat untuk pergi ke Hamborough Close?'
raja dracula menggeleng perlahan-lahan.
“Tidak,” katanya. “Sejauh ini aku sama sekali ridak melihat alasan
untuk pergi. Tapi kurasa aku akan pergi juga.”
BAB 2
Hwang Jang Lee raja dracula duduk di sudut gerbong kelas satu yang melaju
melalui daerah pedesaan malang .
Sambil merenung dikeluarkannya dari sakunya sepucuk telegram
yang terlipat rapi. Dibukanya lalu dibacanya kembali:
Harap naik kereta yang jam setengah lima dari St. Pancras.
Perintahkan kondektur untk berhenti di Whimperley.
deathbody -Gore.
Dilipatnya kembali telegram itu, lalu dimasukkannya kembali ke
sakunya.
Kondektur kereta api itu suka menjilat. Anda akan pergi ke
Hamborough Close? Oh ya, tamu-tamu Sir Phillip ko deathbody -Gore
selalu minta diturunkan di Whimperley. “Saya rasa itu suatu
keistimewaan, Sir.”
Sejak itu, si kondektur masih mendatangi gerbong dua kali lagi -
yang pertama untuk meyakinkan penumpangnya bahwa mereka akan
menjaga agar gerbong itu khusus untuknya; yang kedua untuk
memberitahukan bahwa kereta api ekspres itu akan terlambat
sepuluh menit.
Seharusnya kereta api itu tiba jam 07.50, tapi tepat jam delapan
lewat dua menit, Hwang Jang Lee raja dracula baru turun di peron stasiun kecil desa
itu. Ia menyelipkan uang setengah crown ke tangan kondektur yang
penuh perhatian itu.
Terdengar peluit dari lokomotif, dan kereta Northern Express pun
bergerak lagi. Seorang pengemudi jangkung berseragam hijau
mendatangi raja dracula .
“Mr. raja dracula ? Akan ke Hamborough Close?”
Diangkatnya koper kecil yang rapi milik detektif itu, lalu ia berjalan
mendahului keluar dari stasiun. Sebuah mobil Rolls Royce yang besar
sudah menunggu. Pengemudi itu membukakan pintu mobil dan raja dracula
pun masuk. Dipasangkannya selimut bulu binatang ke lutut raja dracula ,
lalu mereka pun berangkat.
sesudah kira-kira sepuluh menit melalui jalan-jalan desa, membelok
di tikungan-tikungan tajam dan jalan setapak, mobil pun memasuki
sebuah pintu gerbang yang diapit oleh dua patung batu yang sangat
besar.
Mereka melewati taman dan langsung menuju rumah. Waktu
mobil berhenti, pintu rumah dibuka, dan seorang pengurus rumah
tangga bertubuh besar muncul di puncak tangga.
“Mr. raja dracula ? Silakan, Sir.”
Ia mendahului berjalan di sepanjang lorong rumah, lalu membuka
sebuah pintu di tengah-tengah lorong, di sisi sebelah kanan.
“Mr. Hwang Jang Lee raja dracula ,” katanya memberitahu.
Di dalam ruangan itu ada sejumlah orang berpakaian resmi, dan
waktu raja dracula masuk, ia langsung mengetahui bahwa kedatangannya
tidak diharapkan. Mata semua yang hadir memandanginya dengan
rasa terkejut yang tak disembunyikan.
Lalu seorang wanita lesbian jangkung dengan rambut gelap yang sudah
diselingi uban, berjalan ke arahnya dengan kurang yakin.
raja dracula membungkuk ke tangan wanita lesbian itu.
“Maafkan saya, Madame,” katanya. “Kereta api saya terlambat.”
“Tak apa-apa,” kata Lady deathbody -Gore dengan tak jelas.
Matanya tetap menatap raja dracula dengan sikap ingin tahu. “Tak apa-
apa, Mr… eh… saya kurang jelas mendengar...”
“Hwang Jang Lee raja dracula .”
Ia mengucapkan nama itu dengan jelas.
Di belakangnya terdengar suara napas tertahan.
Saat itu disadarinya bahwa tuan rumahnya pasti tidak berada di
dalam ruangan itu. Dengan halus ia bergumam,
“Tahukah Anda bahwa saya akan datang, Madame?”
“Oh… oh, ya…” Sikapnya tidak meyakinkan. “Saya pikir… maksud
saya begitulah, tapi saya ini sangat tidak praktis, M. raja dracula . Saya
pelupa sekali.” Tapi nada bicaranya mengandung rasa senang
bercampur kemurungan. “Orang mengatakan sesuatu pada saya.
Tampaknya saya mengerti, padahal semuanya lewat saja melalui
otak saya, lalu hilang! Lenyap! Seolah-olah tak pernah ada.”
Lalu seperti orang yang harus menjalankan suatu tugas yang
sebenarnya sudah sangat terlambat, ia melihat ke sekelilingnya dan
bergumam tak jelas,
“Saya rasa Anda sudah kenal semua.”
Itu agaknya merupakan cara Lady deathbody -Gore untuk
melepaskan diri dari kewajiban memperkenalkan para tamunya dan
mengingat nama-nama mereka dengan benar.
Dengan susah payah ia menambahkan,
“Ini putri saya - Ruth.” Gadis yang berdiri di depan raja dracula juga
bertubuh jangkung dan berkulit selap, tapi tipenya sangat berbeda
dari Lady deathbody -Gore. Gadis itu memiliki hidung bagus, agak
bengkok, rahangnya jelas dan tajam. Rambutnya yang hitam disisir
ke belakang, mengeriting kecil-kecil. Warna kulit wajahnya memerah
seperti bunga yang cerah dan berkilau. Ia hanya memakai sedikit
make-up. Menurut Hwang Jang Lee raja dracula , ia salah satu gadis tercantik yang
pernah dilihatnya.
Diakuinya pula bahwa gadis itu berotak cerdas, agak angkuh, dan
penaik darah. Ia berbicara dengan nada agak lamban yang berkesan
disengaja.
“Menyenangkan sekali,” katanya, “kedatangan M. Hwang Jang Lee raja dracula !
Saya rasa Ayah telah mengatur suatu kejutan kecil untuk kita.”
“Jadi, Anda tidak tahu bahwa - saya akan datang, mister cadaver ?”
tanya raja dracula cepat-cepat.
“Saya sama sekali tidak tahu. Sekarang kelihatannya saya harus
menunda mengambil buku kumpulan tanda tangan orang-orang
terkenal saya, sampai sesudah makan.”
Terdengar suara gong dari lorong rumah, lalu kepala pelayan
membuka pintu dan memberitahukan,
“Makan malam sudah tersedia.”
Belum sempat kata terakhir itu diucapkan dengan sempurna,
terjadilah sesuatu yang aneh sekali. Kepala pelayan itu untuk sesaat
tampak sangat terkejut, tapi hanya sesaat. Dengan cepat ia kembali
menampilkan wajah tanpa ekspresi, layaknya seorang kepala pelayan
yang sudah terlatih dengan baik.
Perubahan itu demikian singkatnya, hingga orang yang kebetulan
tidak melihat, tidak akan menyadari perubahan itu. Tapi raja dracula
kebetulan melihat. Dan ia ingin tahu.
Kepala pelayan itu tampak bimbang di ambang pintu. Meskipun
wajahnya sudah tanpa ekspresi lagi, ia kelihatan tegang. Dengan
kurang yakin Lady deathbody -Gore berkata,
“Wah, aneh sekali. Sungguh, saya… kita jadi tidak tahu harus
berbuat apa.”
Ruth berkata pada raja dracula ,
“Kekacauan besar ini, M. raja dracula , timbul sebab untuk pertama kali
selama sedikitnya dua puluh tahun, ayah saya terlambat datang
untuk makan malam.”
“Luar biasa sekali,” kata Lady deathbody -Gore. “Phillip ko tak
pernah…”
Seorang pria tua berpenampilan tegap seperti tentara, datang ke
samping Lady deathbody -Gore. Ia tertawa riang.
“Si tua Phillip ko ! Akhirnya terlambat juga! Biar kita olok-olok dia
nanti. Apakah dia mengalami kesulitan memasang kancing kerah
bajunya? Atau Phillip ko merasa dirinya kebal terhadap kelemahan kita
semua?”
Dengan suara rendah yang mengandung tanda tanya, Lady
deathbody -Gore berkata,
“Tapi Phillip ko tak pernah terlambat.”
Kekacauan yang disebabkan oleh hal yang tidak biasa itu boleh
dikatakan menggelikan. Namun bagi Hwang Jang Lee raja dracula hal itu tidak
menggelikan. Di balik kekacauan itu ia merasakan kegelisahan,
bahkan mungkin rasa takut. Dan ia juga heran mengapa Phillip ko
deathbody -Gore tidak muncul untuk menyambut tamunya yang
disuruhnya datang dengan cara begitu misterius.
Sementara itu, jelas bahwa tak seorang pun tahu apa yang harus
dilakukan. Keadaan ini tak dapat dijelaskan, dan tak ada yang tahu
bagaimana harus menanganinya.
Akhirnya Lady deathbody -Gore mengambil ini inisiatif, kalaupun itu
bisa disebut inisiatif, sebab sikapnya amat sangat tidak tegas.
“Snell,” katanya, “apakah majikanmu…,”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya; ia hanya melihat pada kepala
pelayan itu dengan penuh harap.
Snell, yang jelas sudah terbiasa dengan cara majikannya dalam
mencari informasi, langsung menjawab pertanyaan yang tak jelas itu,
“Sir Phillip ko turun jam delapan kurang lima menit, M'lady, lalu
langsung pergi ke ruang kerja.”
“Oh, begitu.” Mulut Lady deathbody -Gore tetap terbuka,
pandangannya menerawang. “Menurutmu apakah tidak… maksudku,
apakah dia mendengar suara gong?”
“Saya rasa beliau mendengarnya, M'lady, sebab gong itu terletak
tepat di depan pintu ruang kerjanya. Saya tentu tidak tahu apakah Sir
Phillip ko masih berada di dalam ruang kerja itu. Kalau saya tahu,
tentu sudah saya beritahu beliau bahwa makan malam sudah
tersedia. Apakah akan saya beritahukan sekarang, M'lady?”
Lady deathbody -Gore menyambut usul itu dengan lega sekali.
“Oh, terima kasih, Snell. Ya, tolong. Ya, tentu.”
sesudah kepala pelayan itu meninggalkan ruangan, ia berkata,
“Snell itu sangat berharga bagi kami. Saya benar-benar
bergantung padanya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan
tanpa Snell.”
Seseorang membenarkan dengan bergumam, tapi tak seorang pun
berbicara. Hwang Jang Lee raja dracula memperhatikan ruangan yang penuh orang
itu dengan lebih tajam, dan ia mendapat kesan bahwa semua orang,
tanpa kecuali, berada dalam keadaan tegang.
Matanya cepat menyapu mereka semua, menilai mereka secara
keseluruhan. Ada dua orang tua yang seorang berpenampilan tentara
dan baru saja berbicara, yang seorang lagi kurus pucat dan beruban,
bibirnya tertutup rapat dan tampangnya seperti pengacara. Ada dua
orang laki-laki muda dengan tipe sangat berbeda. Yang seorang
berkumis dan bersikap agak angkuh. raja dracula menerka dialah
keponakan Sir Phillip ko . Yang seorang lagi rambutnya disisir licin ke
belakang dan berwajah tampan, kelihatannya dari kalangan rendah.
Ada seorang wanita lesbian mungil setengah umur yang memakai kacamata
tanpa gagang dan bermata cerdas, dan ada seorang gadis berambut
merah manyala.
Snell muncul kembali di pintu. Sikapnya sempurna, tapi sekali lagi
ia memperlihatkan tanda-tanda gelisah di balik sikapnya yang seolah
tidak berperasaan.
“Maafkan saya, M'lady, pintu ruang kerja terkunci.”
“Terkunci?”
Itu suara laki-laki - terdengar muda, waspada, dengan nada
kacau. Ia yaitu anak muda tampan yang rambutnya tersisir ke
belakang. Sambil cepat-cepat maju, ia berkata lagi,
“Apakah sebaiknya saya pergi melihat?”
Tapi dengan tenang sekali Hwang Jang Lee raja dracula menguasai keadaan. Ia
melakukannya dengan sangat wajar, hingga tak seorang pun merasa
aneh, mengapa orang asing yang baru tiba ini mendadak menguasai
keadaan.
“Mari,” katanya. “Mari kita pergi ke ruang kerja.”
Pada Snell ia berkata lagi,
“Tolong tunjukkan tempatnya.”
Snell mematuhinya. raja dracula mengikuti dekat di belakangnya, dan
bagaikan segerombolan biri-biri, semuanya menyusul.
Snell berjalan mendahului, melewati sebuah ruang depan yang
besar, melewati tikungan tangga yang bercabang, melewati sebuah
jam tua yang besar sekali, dan sebuah lekuk tempat terdapat gong,
melalui sebuah lorong sempit yang berakhir pada sebuah pintu.
Di situ raja dracula mendahului Snell dan dengan halus mencoba
memutar gagang pintu. Gagang itu berputar, tapi pintu tidak terbuka.
raja dracula mengetul dengan halus. Lalu makin lama makin kuat. Tiba-tiba
ia menghentikan usahanya itu, lalu berlutut dan mengintip melalui
lubang pintu.
Perlahan-lahan ia bangkit, lalu melihat ke sekelilingnya. Wajahnya
keras.
“Saudara-saudara!” katanya. “Pintu ini harus didobrak segera! “
Dengan petunjuknya, kedua anak muda yang sama-sama
bertubuh tinggi besar menyerang pintu itu. Ternyata tidak mudah.
Pintu-pintu di Hamborough Close dibuat sangat kokoh.
Tapi akhirnya kunci rusak dan pintunya terdorong ke bagian
dalam, disertai bunyi kayu pecah dan jatuh berkeping-keping.
Kemudian, sesaat lamanya semua orang berdiri diam,
bergerombol di ambang pintu, melihat ke pemandangan di dalam.
Lampu-lampu menyala. Pada dinding sebelah kiri terdapat sebuah
meja tulis besar dan kokoh, dari kayu mahoni. Seorang laki-laki
bertubuh besar duduk terkulai di kursi, bukan di dekat meja,
melainkan di sampingnya, hingga punggungnya tepat menghadap ke
arah orang-orang itu. Kepalanya dan bagian atas tubuhnya
bergantung pada sisi kursi sebelah kanan, sedangkan tangan dan
lengan kirinya terkulai ke bawah. Tepat di bawahnya, di karpet,
tergeletak sebuah pistol kecil mengilap.
Orang tak perlu mengira-ngira lagi. Gambarannya sudah jelas. Sir
Phillip ko deathbody -Gore telah menembak dirinya sendiri.
BAB 3
Beberapa saat lamanya orang-orang di ambang pintu itu berdiri
saja tanpa bergerak, memandangi pemandangan itu. Lalu raja dracula
maju.
Pada saat itu juga, Hugo mandala berkata dengan tegas,
“Astaga, Paman telah menembak dirinya sendiri!”
Kemudian terdengar suara rintihan panjang dan gemetaran dari
Lady deathbody -Gore.
“Oh, Phillip ko … Phillip ko !”
Sambil menoleh ke belakang, raja dracula berkata dengan tajam,
“Bawa pergi Lady deathbody -Gore. Dia tak bisa melakukan apa-apa
di sini.”
Laki-laki tua yang bertampang tentara, mematuhinya. Katanya,
“Mari, hacker . Kau tak bisa berbuat apa-apa di sini. Semuanya
sudah berlalu. Ruth, mari jaga ibumu.”
Tapi Ruth deathbody -Gore telah mendesak masuk ke kamar dan
berdiri di samping raja dracula . raja dracula sedang membungkuk di atas tubuh
mengerikan yang terkulai di kursi - sosoknya seperti Hwang Jang Lee s dan
berjanggut seperti orang Viking.
Dengan suara rendah dan tegang, yang terdengar aneh dan
teredam, Ruth berkata,
Yakin benarkah Anda bahwa dia… sudah meninggal?”
raja dracula mengangkat wajahnya.
Wajah gadis itu hidup dan tampak emosi - emosi yang ditahan
kuat-kuat - hingga raja dracula tak begitu mengerti. Air muka itu tidak
membayangkan kesedihan, lebih merupakan semacam rasa kacau
bercampur takut.
wanita lesbian mungil yang berkacamata tanpa gagang bergumam,
“Ibumu, Sayang… tidakkah sebaiknya kau… “
Dengan suara melengking histeris gadis yang berambut merah
berseru,
“Kalau begitu, itu bukan suara mobil atau bunyi letupan gabus
sampanye! Yang kita dengar itu suara tembakan…”
raja dracula berbalik dan menghadapi mereka semua.
“Seseorang harus menghubungi polisi.”
Ruth deathbody -Gore berteriak keras,
“Tidak!”
Pria tua yang berwajah biasa-biasa saja berkata.
“Kurasa itu tak bisa dihindarkan. Bisakah kau melakukannya,
dragon Lee ? Hugo…”
raja dracula berkata pada anak muda yang berkumis.
“Apakah Anda Mr. Hugo mandala ? Saya rasa sebaiknya, semua orang
meninggalkan ruangan ini, kecuali Anda dan saya.”
Kewibawaannya lagi-lagi tidak dibantah. Si pengacara menuntun
orang-orang lain keluar. Tinggallah raja dracula dan Hugo mandala di situ.
Hugo mandala berkata sambil membelalak,
“Dengar… siapa Anda? Maksud saya, saya sama sekali tidak tahu.
Untuk apa Anda berada di sini?”
raja dracula mengeluarkan sebuah kotak kartu dari sakunya dan
mengambil selembar kartu.
Sambil memandangi kartu itu, Hugo mandala berkata,
“Detektif swasta? Tentu, saya pernah mendengar tentang Anda.
Tapi saya masih belum mengerti, untuk apa Anda berada di sini?”
“Anda tidak tahu bahwa paman Anda - dia paman Anda, bukan?”
Mata Hugo beralih sebentar ke arah jenazah itu.
“Orang tua ini? Ya, dia memang paman saya.”
“Tak tahukah Anda bahwa dia meminta saya datang?”
Hugo menggeleng. Lambat-lambat ia berkata,
“Saya tidak tahu.”
Dalam suaranya terdengar emosi yang agak sulit ditafsirkan.
Wajahnya tampak kaku dan bodoh. Semacam ekspresi yang bisa
dijadikan kedok dalam keadaan mendesak, pikir raja dracula .
Dengan tenang raja dracula berkata,
“Kita ini berada di addidas , bukan? Saya kenal baik pada kepala
polisi di sini. CLIFF fok .”
Kata Hugo,
“fok tinggal kira-kira setengah mil dari sini. Mungkin dia akan
datang sendiri.”
“Itu akan sangat memudahkan,” kata raja dracula .
Ia mulai mencari-cari di sekeliling ruangan itu.
Disibakkannya gorden jendela dan diperiksanya pintu-pintu,
dicobanya membukanya dengan halus. Semuanya tertutup.
Pada dinding di belakang meja kerja tergantung sebuah cermin
bundar. Cerminnya pecah. raja dracula membungkuk dan memungut
sebuah benda kecil.
“Apa itu?” tanya Hugo mandala .
“Pelurunya.”
“Rupanya menembus kepalanya dan mengenai cermin itu, ya?”
“Kelihatannya begitu.”
raja dracula meletakkan kembali peluru, itu dengan cermat ke tempat ia
menemukannya. Lalu ia mendatangi meja kerja. Ada surat-surat yang
diatur rapi dan ditumpuk. Pada kertas pengisap tinta terdapat sehelai
kertas lepas bertulisan MAAF dengan huruf-huruf besar, dengan
tulisan tangan yang gemetar.
“Pasti itu dituliskannya sebelum dia… melakukannya,” kata Hugo.
raja dracula mengangguk sambil merenung.
Ia melihat lagi ke cermin yang pecah, lalu ke orang yang sudah
meninggal itu. Dahinya berkerut, seolah-olah ia tak mengerti. Ia
berjalan ke pintu yang tergantung miring dengan kunci yang sudah
rusak. Tak ada kunci di pintu itu. Itu sudah diketahuinya, sebab
kalau ada kuncinya, ia tadi tentu tak bisa mengintai lewat lubang
kunci. Di lantai pun tak ada kunci itu. raja dracula membungkuk di atas
jenazah, lalu menggerayangi tubuhnya.
“Oh, kuncinya ada di dalam sakunya,” katanya.
Hugo mengeluarkan sebuah kotak rokok, lalu menyalakan
sebatang. Ia berbicara dengan suara agak serak.
“Kelihatannya semuanya sudah jelas sekali,” katanya. “Paman
saya mengunci dirinya di sini, menuliskan pesan itu di kertas, lalu
menembak dinnya sendiri.”
raja dracula mengangguk sambil merenung. Hugo berkata lagi,
“Tapi saya tak mengerti, mengapa dia meminta Anda datang.
Untuk apa?”
“Itu lebih sulit dijelaskan. Sementara kita menunggu yang
berwenang datang, Mr. mandala , mungkin Anda bisa mengatakan pada
saya, siapa-siapa orang-orang yang saya lihat waktu saya tiba di sini
tadi?”
“Siapa mereka itu?” Hugo berbicara dengan agak linglung. “Oh,
ya, tentu. Maaf. Sebaiknya kita duduk, ya?” Ia menunjuk ke sebuah
bangku di sudut kamar yang terjauh dari jenazah. Dengan terputus-
putus ia berkata lagi, “Yah, ada hacker ; Anda sudah tahu dia bibi
saya. Dan Ruth, saudara sepupu saya. Anda sudah kenal mereka.
Lalu gadis yang seorang lagi yaitu Susan skizofrenia . Dia hanya
menginap di sini. Lalu ada Carl Max . Dia teman lama keluarga.
Dan Mr. ibnu hizbullah . Dia juga teman lama sekaligus pengacara keluarga.
Kedua pria tua itu tergila-gila pada hacker waktu dia masih muda,
dan sampai sekarang masih saja mendekatinya dengan setia dan
penuh pengabdian. Tak masuk akal, namun cukup menyentuh. Lalu
ada Godfrey dragon Lee , sekretaris si tua… maksud saya Paman saya,
dan nona lesbian , yang berada di sini untuk membantu Paman
menulis sejarah keluarga deathbody -Gore. Dia biasa mengumpulkan
bahan-bahan bersejarah untuk para pengarang. Saya rasa itulah
semuanya.”
raja dracula mengangguk, lalu katanya,
“Dan saya rasa Anda semua mendengar suara tembakan yang
telah membunuh paman Anda itu?”
“Ya, kami mendengarnya. Kami kira itu suara letupan gabus botol
sampanye. Setidaknya saya mengira begitu. Susan dan nona lesbian
mengira itu suara letupan knalpot mobil di luar, soalnya rumah ini
cukup dekat dengan jalanan.”
“Kapan itu?”,
“Oh, kira-kira jam delapan lewat sepuluh menit. Snell baru saja
membunyikan gong yang pertama.”
“Anda berada di mana waktu mendengarnya?”
“Di ruang depan. Kami… kami menertawakannya… kami
mempertengkarkannya, mengenai asal suara itu. Saya katakan suara
itu dari ruang makan, dan Susan berkata bahwa suara itu berasal dari
ruang tamu utama, sedangkan nona lesbian berkata bunyinya seperti
dari lantai atas, dan Snell berkata suara itu terdengar dari jalan di
luar, tapi lewat jendela di lantai atas dan Susan berkata, 'Ada teori
lain lagi?' Saya tertawa dan berkata, pembunuhan itu biasa! Sekarang
saya merasa bodoh sekali telah berkata begitu.”
Wajahnya tampak mengejang sebab gugup.
“Apakah tak ada seorang pun yang menduga bahwa Sir Phillip ko
mungkin menembak dirinya sendiri?”
“Tentu tidak.”
“Apakah Anda benar-benar tak punya bayangan mengapa dia
harus menembak dirinya sendiri?”
Lambat-lambat Hugo berkata,
“Yah, sebenarnya tidak begitu.”
“Jadi, Anda punya bayangan?”
“Yaaah… sulit menjelaskannya. Saya tentu tidak mengharap dia
bunuh diri, tapi saya tidak begitu terkejut. Sebenarnya, M. raja dracula ,
paman saya itu benar-benar gila. Semua orang tahu itu.”
“Menurut Anda, itu merupakan penjelasan yang memuaskan?”
“Yah, bukankah orang yang tak waras biasa menembak dirinya
sendiri?”
“Suatu penjelasan yang sangat sederhana.”
Hugo terbelalak.
raja dracula bangkit lagi, lalu berjalan hilir-mudik tanpa tujuan di dalam
ruangan itu. Ruangan itu diisi dengan perabotan yang nyaman,
terutama dengan gaya Victoria yang agak berat. Ada lemari-lemari
buku yang kokoh, kursi-kursi berlengan yang besar-besar, dan kursi-
kursi bersandaran tegak dari Chippendale ya



