• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Santet 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santet 3. Tampilkan semua postingan

Santet 3

 


k, sedangkan setiap Proton terdiri dari 1 Up Quark dan 2 Down 

Quark. Dengan penemuan maka telah teridentifikasi 3 jenis partikel, yakni: electron, 

Up Quarks dan Down Quarks.  

 

Kemudian Niels Bohr (1885-1962), menyampaikan model atomnya yang lebih 

modern, dengan menyampaikan bahwa atom tersebut ternyata juga memiliki ikatan 

kimia, memiliki Orbit Electron yang berbentuk bulatan-bulatan seperti gelombang air, 

Electron memiliki muatan negatif, Nucleus atau inti atom, yang terdiri dari apa yang 

disebut dengan Proton yang memiliki muatan positif, juga ada Quantum Jumps, atau 

lompatan-lompatan Quantum pada model atom milik Bohr ini. saat  electron 

berpindah orbit, ia akan mengeluarkan energi—light energy = h x frequency—inilah 

cikal bakal dari terciptanya sebuah bom atom. 

 

“Everything you see in the world every diversity, we look in the nature, you and me, 

everything around us, we just the same 3 particles—Electron, Up Quarks, Down 

Quarks—with slightly different arrangement repeated over and over and over. Its 

amazing lesson to draw how the world is put together. Its like a Lego bricks to which 

everything in the world constructed. And ... there is problem with it. The problem is: 

ITS A LIE.”—David Tong 

 

 43 

Ternyata The Fundamental building block of nature BUKANLAH partikel. Menurut 

teori terbaik, penyusun terkecil dari semesta, yaitu  fluid like substance/substansi 

seperti cairan yang tersebar di seluruh alam semesta raya, dan mereka bergerak-gerak 

membentuk riak, dengan cara yang aneh namun menarik perhatian. Itulah bahan 

terdasar dari realita kehidupan kita. Substansi cair ini, telah diberi sebuah nama/istilah 

oleh para ahli teori fisika modern: FIELDS/medan—seperti medan listrik dan medan 

magnet. Fields yaitu  sesuatu yang tersebar di seluruh jagat semesta raya.  

 

“Perticles coming from “nothing” (vacuum).”—Jerome Gauntlett 

 

Sebuah percobaan yang dilakukan oleh Michael Faradays di Cambridge University 

pada sekitar akhir abad ke-18, telah berhasil menemukan The electric Field dan  

magnetic fields/medan listrik dan magnet. Penemuan ini merupakan awal dari 

berkembangnya Quantum Field Theory atau Teori Quantum Mekanik. Fisika Partikel, 

berkembang sejak tahun 1980, dengan ditemukannya empat partikel dalam tiga 

generasi dan memiliki empat daya kekuatan, yakni: Partikel Gluon (kekuatan nuklir 

yang kuat), Partikel W, Z bosons), electron, Electro-magnetism (photons), Neutrino, 

dan Proton.  

 

Pada tahun 2004, David J. Gross, H. David Politzer dan Frank Wilzek dianugerahi 

hadiah Noble di bidang fisika, sebab  mereka berhasil menemukan apa yang disebut 

dengan Asymptotic Freedom in the Theory of The Strong Interaction, adanya strong 

interaction: confinement. The strong force is carried by gluons, mereka tidak memiliki 

massa, namun confined, oleh sebab  itu kita tidak bisa melihat mereka.  

 

The Large Hadron Collider 

 

sebab  masih banyak partikel-partikel yang belum dapat ditemukan sebab  mereka 

tidak dapat dilihat, namun keberadaan mereka bisa di deteksi dengan perilaku 

partikel-partikel lain di dekatnya, maka para ahli fisika partikel dari seluruh dunia 

kemudian membangun sebuah Mesin Pembentur Partikel terbesar di dunia. Mesin ini 

dibangun di dekat Jenewa Swiss dan mereka namakan dengan the Large Hadron 

Collider. Untuk membantu Anda dalam membayangkan mesin ini, inilah 

spesifikasinya, memiliki luas lingkar 27 km, tertanam 100 m di bawah permukaan 

tanah, menelan biaya pembangunan senilan USD 9 milyar, melibatkan sekitar 10,000 

orang dalam pembangunannya, kecepatan proton hingga 99,999999% c, 6000 ton 

magnet yang didinginkan sampai 1.8 K, dan memiliki kabel sepanjang 275,000 km. 

Mesin ini yaitu  sebuah kisah pencarian senilai 9 milyar Dollar Amerika. Beberapa 

kali upaya pembenturan dahsyatnya telah menemukan dua buah Photon dengan fixed 

Energy. Kedua Photon ini kemudian mereka namakan Quarks dan Leptons, mereka 

berhasil ditemukan dengan pemakaian  massa dari Higgs Field, berinteraksi lewat 

gravitasi, electromagnetism, dan kekuatan nuklir yang dahsyat, dengan kata lain, 

kedua partikel ini tak mungkin ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, harus dengan 

pemakaian  sebuah mesin pembentur rumit raksasa tersebut. Namun pun kemudian, 

kapasitas mesin raksasa ini pun belum juga cukup untuk menguak dunia micro 

quantum yang ajaib dan gaib, kini mereka membutuhkan mesin yang jauh lebih besar 

lagi.  

 

 

 

 44 

Segalanya kemudian menjadi Bertambah Rumit dengan adanya Quantum 

Mekanik (QM) 

 

“I think I can safely say that nobody understand quantum mechanics.”—Richard 

Feynman 

 

Ia mengatakan ini pada tahun 1965, dan pada tahun itu pula ironisnya, Richard 

Feynman dan rekannya yaitu  pemenang hadiah Nobel di bidang fisika Quantum 

mekanik. Pada poin itu—waktu itu—tak ada manusia hidup yang memiliki 

pengetahuan yang lebih baik tentang fisika Quantum mekanik dibandingkan  Richard 

Feynman. Quantum Mekanik, memang dikenal selalu terbukti benar melalui 

eksperimen terkait, namun sangat paradoksikal, dengan memicu  paradoks-

paradoks.  

 

Namun ungkapan Richard Feynman yang bernada pesimis di atas, tidak lantas 

menyurutkan langkah para ilmuwan di bidang fisika Quantum generasi berikutnya, 

untuk terus menggali makna dari efek perumusan-perumusan Quantum untuk mencari 

tahu hakikat dari realita alam. Setidaknya para fisikawan Quantum masa ini telah 

berhasil merumuskan pertanyaan-pertanyaan atau paradox-paradox yang lebih baik.  

 

Berikut yaitu  fakta-fakta yang telah dikenal sekitar Quantum Mekanik: 

 

1. Quantum mekanik itu penuh keanehan. 

2. Objek dari Quantum mekanik, bersifat duality—bersikap seperti gelombang 

sekaligus partikel. 

3. Objek dari Quantum mekanik bisa berada di dua tempat, atau lebih dalam 

waktu yang bersamaan—quantum superposition. 

4. Kita tidak akan pernah bisa secara simultan mengetahui dengan persis dua 

atribut/property dari sebuah quantum objek—Heisenberg’s Uncertainty 

principle. 

5. Objek Quantum mekanik bisa saling mempengaruhi dalam jarak jauh 

sekalipun tanpa penghubung apa pun—Quantum Entanglement, the spooky 

action at a distance.  

6. Kita tidak pernah bisa melakukan pengukuran/observasi terhadap objek 

Quantum mekanik, oleh sebab  itu ia bersifat subjektif.  

 

Secara matematis, tidak ada masalah tapi, yang menjadi permasalahan yaitu  apa 

makna dari rumus tersebut.  

 

Bagian 5: Teori Quantum Mekanik 

 

“Apa pun yang terjadi di alam semesta raya ini, kita tak akan pernah mampu untuk 

benar-benar memahaminya.”—Para ahli Fisika Modern 

 

The Ultra Violet Catastrophe dan The Photoelectric Effect 

 

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, 

seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita 

itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu itu bagaikan bintang yang 

berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari Pohon Zaitun yang tumbuh tidak di 

 45 

timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, 

walau pun tidak disentuh api.” —QS. An-Nur 35 

 

Sebuah teori yang paling penting—menurut Prof. Jim al-Khalili, dari Universitas 

Surrey—di dunia Fisika Modern, yaitu  Teori Quantum Mekanik. Kelahiran teori ini 

telah dipicu oleh sebuah obyek, yang tidak pernah ada yang menduga sebelumnya 

bahwa obyek sederhana itu akan memicu lahirnya sebuah teori terpenting, obyek itu 

yaitu  sebuah sebuah bola lampu. Jika kita memaknai ayat di atas, sepertinya ayat itu 

tengah berbicara tentang sebuah perumpamaan dari cahaya Tuhan, dengan 

karakteristik yang hampir mirip dengan karakter dari sebuah bola lampu. 

 

Catastrophy Sinar Ultra Violet 

 

Berlin, pada tahun 1980, saat  itu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang 

engineering sedang tumbuh subur di Jerman. Negara ini telah mengeluarkan dana 

yang sangat besar untuk menemukan model versi Eropa dari penemuan terbaru 

Thomas Alpha Edison, yang terkenal, yakni bola lampu—sebuah simbol harapan 

besar pada kemajuan di bidang teknologi modern.  Sementara itu, pada tahun 1900, 

bola lampu itu sendiri masih mengandung sebuah permasalahan yang cukup aneh. 

Para insinyur waktu itu, telah mengetahui, bahwa jika  kita memanaskan filamen 

yang terdapat di dalamnya dengan pemakaian  aliran listrik, maka ia akan menyala, 

namun para ahli fisika pada waktu itu belum bisa menjelaskan kenapa demikian, 

“Apa hubungan antara panas dari filamen bola lampu dengan warna dari cahaya 

yang dihasilkannya?” Pertanyaan ini merupakan sebuah misteri yang menarik 

perhatian para ilmuwan untuk memecahkannya. Pemerintah Jerman pun kala itu, 

melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mencuri langkah dari para pesaingnya 

pada teknologi ini. 

 

Pada tahun 1887, pemerintah Jerman, telah membangun sebuah fasilitas penelitian, di 

Berlin. Kemudian pada tahun 1900 seorang ilmuwan jenius telah ditugaskan untuk 

bekerja di fasilitas ini, ia yaitu  Max Planck (1858-1947), salah satu misinya yaitu  

untuk memecahkan pertanyaan misterius di atas, “Kenapa warna cahaya yang 

dihasilkannya berubah saat  filamen bola lampu menjadi bertambah panas?”Planck 

bersama rekannya kemudian membangun sebuah mesin radiator untuk menyelidiki 

lebih lanjut hal ini. Sebuah mesin berbentuk tube yang sekaligus bisa memanaskan 

filamen sesuai dengan temperatur yang diinginkan dan juga alat pengukur warna atau 

frekuensi dari cahaya yang kemudian dihasilkannya. Seratus tahun kemudian, hingga 

hari ini, percobaan ini pun terus menerus dilakukan, dengan hasil-hasil yang lebih 

akurat, seiring dengan perkembangan teknologi.  

 

Untuk mendapatkan cahaya berwarna putih cemerlang, sebuah filamen harus 

dipanaskan sampai 2000 derajat Centigrade, dengan daya listrik sekitar 40 kilowatt. 

Sebagai perbantingan, untuk mendapatkan warna cahaya dengan intensitas seterang 

itu, maka filamen pada lampu sebuah sepeda, harus dialiri dengan daya—jika secara 

manual melalui dynamo-nya—setara dengan kekuatan kayuhan sepeda dari seluruh 

peserta tour de Franc. Namun, meskipun cahaya yang dihasilkan berwarna lebih 

putih, cahaya itu sesungguhnya yaitu , putih merah, sangat sedikit mengandung 

warna biru. Bahkan Matahari yang memiliki temperatur sepanas 5,500 derajat 

centigrade pun, hanya menghasilkan cahaya putih dan sedikit sekali Cahaya Ultra 

Violet. “Mengapa intensitas cahaya biru jauh lebih sulit dihasilkan dibandingkan  cahaya 

 46 

merah, apalagi cahaya dengan spectrum lebih lanjut, Ultra Violet?” Fenomena ini 

dianggap sebagai sebuah penyimpangan terhadap common sense, yang cukup 

membuat frustasi para ilmuwan abad ke 19, sampai mereka menyebut fenomena ini 

dengan julukan,“The Ultra Violet Catastrophe.”Planck kemudian mengambil sebuah 

langkah penting untuk memecahkan fenomena ini, dan akhirnya dia berhasil 

menemukan sebuah hubungan matematis antara warna dari cahaya, frekuensinya dan 

energinya—namun waktu itu Planck masih belum memahami makna dibalik 

terdapatnya hubungan matematis itu.  

 

The Photoelectric Effect 

 

saat  gelombang radio ditemukan pada akhir abad ke 19, para ilmuwan kemudian 

berlomba menyusun percobaan untuk memahami bagaimana gelombang tersebut 

ditransmisikan. Komponen dalam percobaan tersebut terdiri dari emas seperti daun, 

sebuah gerbang metal yang pada kedua ujungnya berbentuk bulatan yang berjarak 

sekitar beberapa cm, dimana cahaya bisa melompat dari bulatan metal yang satu ke 

bulatan metal di seberangnya. Kaki gerbang metal itu terhubung ke dalam sebuah 

perangkat lainnya yang berbentuk kotak dimana kedua lembar daun emas tadi 

terpasang.  

 

Dari percobaan diketahui bahwa dengan menyorotkan sinar cahaya yang kuat—

cahaya ultraviolet—terhadap gerbang berbahan metal yang ujungnya berbentuk 

bulatan itu, menghasilkan lompatan listrik atau electric sparks yang jauh lebih kuat, 

bahkan sampai mampu menggerakan kedua daun emas, dibandingkan dengan saat  

ia disinari oleh cahaya merah dengan berbagai intensitasnya. Meski pada saat itu 

mereka belum mengetahui hubungan antara sinar ultraviolet dan lompatan listrik yang 

menguat tersebut, fenomena itu kemudian disebut dengan istilah: The Photoelectric 

Effect.  Kedua fenomena ini, The Ultra Violet Catastrophe dan The Photoelectric 

Effect, merupakan dua permasalahan besar bagi para ahli fisika saat  itu.  

 

Definisi klasik dari cahaya yaitu : riak gelombang energi yang merambati sebuah 

ruang, dan ini telah diyakini sebagai bukti bahwa bumi yaitu  bulat.  

 

Jika kita memperhatikan sifat gelombang pada air, semakin besar gelombangnya, 

semakin besar pula energi yang dihasilkannya, apalagi jika gelombang itu bukan 

hanya yang bersifat gelombang permukaan diakibatkan angin, namun gelombang arus 

bawah diakibatkan oleh aktivitas tektonik seperti tsunami yang memiliki intensitas 

power yang luar biasa, bahkan bisa meyapu rata dengan tanah apa pun yang 

dilaluinya.  

 

Jadi jika cahaya yaitu  merupakan GELOMBANG, maka semakin kuat intensitasnya 

maka ia akan semakin mudah untuk menjatuhkan lebih banyak elektron, namun 

berdasarkan dari percobaan daun emas dan gerbang metal di atas, saat  intensitas 

cahaya merah ditambah terus, akan tetapi kedua helai emas berbentuk daun itu tidak 

bergeming. Lain halnya dengan saat  cahaya putih UV yang dipancarkan ke pada 

ujung gerbang metal yang berbentuk bola kecil itu, dalam sekejap kedua daun emas 

terpukul jatuh. Jadi, memikirkan bahwa cahaya sebagai gelombang dalam hal ini, 

tidak menjelaskan apa pun.  

 

 47 

Untuk memecahkan masalah ini, seseorang harus mampu untuk memikirkan apa yang 

tidak pernah terpikirkan siapa pun sebelumnya. Dan pada tahun 1905, seseorang 

melakukannya, ia yaitu  Albert Einstein (1879-1955). Einstein merumuskan sebuah 

teori baru tentang photoelectric effect yang bersifat heretik revolusional.  

 

“Kita harus melupakan ide bahwa cahaya yaitu  sebuah gelombang, dan kemudian 

memikirkannya sebagai sebuah arus dari peluru-peluru kecil setingkat partikel.”— 

Albert Einstein.  

 

Istilah yang dipakai Einstein untuk menjelaskan partikel cahaya yaitu  Quantum. 

Bagi Einstein, sebuah quantum yaitu  tiny lamp of energy—cercahan kecil energi 

berbentuk cahaya. Pemikiran Einstein yang heretic tersebut merupakan kesimpulan 

paling logis yang memecahkan semua permasalahan besar yang dihadapi para 

fisikawan saat  itu tentang cahaya di atas dalam sekali pukulan, dengan sederhana. 

Fakta kebenaran itu memang seringkali sederhana, dan kesederhanaan itu selalu 

tersembunyi sebab  biasanya manusia cenderung memikirkan penyelesaian yang 

susah-susah.  

 

Menurut Einstein, setiap partikel dari cahaya merah mengandung energi yang sangat 

sedikit, sebab  cahaya merah memiliki frekuensi yang rendah, sehingga, seterang apa 

pun sinarnya, partikal sinar merah tidak pernah akan cukup kuat untuk menghantam 

jatuh helai daun emasnya, berbeda dengan partikel dari cahaya UV, yang meskipun 

redup namun mampu menghantam jatuh kedua helai daun emas, dalam sekejap. Sinar 

UV, memiliki frekuensi yang lebih tinggi. Bayangkan Anda melempari susunan 

kaleng kosong, dengan bola-bola merah terbuat dari busa, sebanyak apa pun bola 

merah yang Anda lemparkan, tak akan mampu menjatuhkan susunan kaleng itu, 

berbeda dengan bola golf yang putih, yang bisa merubuhkan susunan kaleng dalam 

satu lemparan yang tepat sasaran. Quanta UV jauh lebih powerful dan lebih sedikit 

keberadaannya sebab  memang dibutuhkan sekitar 100 kali lipat lebih banyak energi 

untuk menciptakannya, dibandingkan dengan quanta sinar merah.  

 

Terobosan pemikiran Einstein yang ini juga telah memicu  paradox-paradox baru 

yang rumit. Hakikat cahaya yang tadinya yaitu  jelas tidak terbantahkan merupakan 

gelombang dan kini ternyata yaitu  JUGA partikel—dualisme. Sehingga kemudian, 

hal ini menjadi perdebatan tiada ujung di antara para pemikir pemikir terbesar abad 

itu, terutama antara kubu Albert Einstein dan Niels Bohr (1885-1962) dan bahkan 

sampai hari ini, bahkan dengan pertaruhan yang jauh lebih besar lagi, pertaruhan 

tentang definisi dari realita itu sendiri.  

 

Konsep Realita yang Berubah 

 

“Everything we call real is made of things we cannot call real”—Niels Bohr (1885-

1962) 

 

“Segala sesuatu yang kita sebut nyata disusun oleh sesuatu yang tidak nyata.”—

Niels Bohr (1885-1962) 

 

Kubu ilmuwan revolusioner modernist yang dipimpin oleh Niels Bohr, seorang ahli 

fisika jenius asal Denmark. Dan kubu di seberangnya berdiri sang suara logika, Albert 

Einstein, yang saat  itu berada di puncak karir keilmuwanan-nya, sangat terkenal dan 

 48 

berpengaruh dalam skala internasional. Perseteruan ilmiah ini berlangsung puluhan 

tahun, dan dalam konteks tertentu masih berlangsung hingga Anda membaca artikel  ini. 

Perdebatan ini menjalar ke seluruh dunia, berlangsung di setiap universitas, 

konferensi, bahkan bar dan café. Dan ini semua di mulai dari hasil sebuah percobaan 

yang mampu mengelabui, dan bahkan bukan lagi tentang cahaya, namun tentang 

partikel yang menciptakan daya listrik—Percobaan Dua Celah.  

 

The Double Slit Experiment/Percobaan Dua Celah 

 

Partikel-partikel elektron yaitu  bagaikan miniature bola-bola billiard yang masing-

masing membawa energi. 

 

Pada pertengahan tahun 1920-an, sebuah percobaan dilakukan di Bell laboratory New 

Jersey, Amerika, dan menemukan sesuatu yang sungguh mengejutkan tentang 

elektron—meskipun sekarang telah diterima sepenuhnya di dunia fisika modern—

yang sungguh mengejutkan kala itu. sebab  ternyata: CAHAYA yang telah lama 

diyakini sebagai sebuah GELOMBANG, terkadang ia berperilaku juga sebagai 

PARTIKEL.  

 

Dalam percobaan itu, mereka menembakkan aliran elektron kepada sebuah kristal dan 

kemudian memperhatikan sebarannya. Ini sama saja halnya dengan menembakkan  

elektron kepada sebuah layar melalui dua buah celah, kemudian menghantam layar, 

dan kemudian nampaklah pola yang tercipta pada layarnya, pola sebuah gelombang. 

 

Apa yang ditemukan para ilmuwan di Labotarorium Bell itu telah mengguncang para 

ahli fisika di seluruh dunia saat  itu sampai ke ulu mereka. sebab  ternyata, dari 

percobaan itu pun diketahui bahwa, “Elektron yang setelah sekian lama diyakini 

yaitu  merupakan partikel, ternyata bisa pula bertingkah laku seperti gelombang.”  

 

Percobaan serupa terus dilakukan di laboratorium-laboratorium fisika di seluruh dunia 

hingga saat ini. Selain menembakan arus elektron ke layar melalui dua celah sempit 

yang biasa mereka lakukan, mereka juga memutuskan untuk menembakan elektron 

secara satu persatu ke arah layar. Pola yang tercipta pada awalnya sepertinya acak, 

namun lama kelamaan—secara mengejutkan—pola gelombang pun kemudian 

nampak jelas tercipta kembali pada layar.  

 

Berarti jika satu butir elektron bisa melaju sendirian melewati salah satu dari kedua 

celah sebelum ia mendarat di permukaan layar, dan setiap elektron tersebut masih 

berkontribusi terhadap terciptanya pola gelombang yang khas itu—the signature wave 

pattern, itu berarti maka, setiap individu elektron haruslah bersikap seperti 

gelombang.  

 

Untuk menjelaskan hasil yang sangat mengherankan tersebut, Niels Bohr dan 

koleganya menciptakan QUANTUM MEKANIK, sebuah teori gila tentang cahaya 

dan benda yang mengabaikan segala kontradiksi dan bahkan tidak peduli saat  itu 

yaitu  sesuatu yang mustahil untuk dipahami, seperti saat  Niels Bohr sendiri 

mengatakan, “Anyone who isn’t shocked by Quantum Theory, hasn’t understood 

it/Siapa pun yang tidak terguncang dengan Teori Quantum, berarti ia belum 

memahami teori itu.” 

 

 49 

The Copenhagen Interpretation 

 

“Does the Moon seize to exist when I don’t look at it?”—Albert Einstein 

 

“Apakah sang Bulan yang sedang bersinar terang tetap ada saat  saya tidak melihat 

ke arahnya?”—Albert Einstein 

 

Quantum Mekanik mengatakan ini: 

 

“Kita tidak bisa menjelaskan elektron—sebagai objek fisik—saat  ia meluncur dari 

alat penembak, melewati kedua celah, hingga perjalanannya berakhir saat  ia 

menghantam layar monitor. Hal yang bisa kita bahas yaitu , di mana saja titik 

kemungkinan keberadaan elektron selama perjalanannya itu.”  

 

Mari kita garis bawahi betapa anehnya kondisi di atas, dengan sebuah analogi: 

 

Jika kita memutar sebuah koin, maka ia akan terlihat blur, saat  ia masih berputar, 

dan kita tidak bisa mengatakan apakah itu head atau tail yang menghadap kita. Kita 

baru akan tahu, apakah kepala atau buntut saat  ia berhenti berputar, atau saat  kita 

memaksanya untuk berhenti, jadi sebelum ia berhenti berputar, maka posisinya yaitu  

campuran dari keduanya—ia yaitu  kepala dan sekaligus buntu. Nah, posisi 

campuran dari keduanya inilah yang dimaksud Bohr tentang keberadaan fisik elektron 

dalam percobaan di atas, sebelum ia menghantam layar monitor. Seperti halnya saat  

sebuah koin berputar, elektron gelombang kemungkinan sang elektron akan melewati 

kedua celah pada saat yang bersamaan. Gelombang ethereal dari kemungkinan akan 

menghantam layar monitor dan saat  itulah baru ia akan berwujud sebagai partikel.  

 

Dunia Quantum yaitu  sesuatu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Sulit sekali 

untuk menentukan betapa gilanya Dunia Quantum ini. Bohr bahkan pernah 

mengklaim dengan efektif bahwa, “Tidak akan ada yang bisa tahu dimana 

keberadaan elektron dalam perjalanannya sebelum ia menghantam layar.” Yang 

lebih anehnya lagi yaitu  bahkan, elektron itu sebenarnya berada di semua tempat, 

dalam waktu yang bersamaan, sampai ia menghantam layar dan berhenti bergerak dan 

kita kemudian bisa melihatnya. Hanya dengan melihatnya, maka mewujudkannya 

dalam realita.  

 

Sama seperti halnya sesuatu yang tertutup sebuah hijab, baru terwujud saat  hijabnya 

disingkap, dan kita pun dapat melihatnya. saat  sesuatu gordennya disingkap dan 

sesuatu di dalamnya yang tadinya tertutup menjadi terlihat, teramati, pada saat itulah 

sesuatu itu menjadi nyata, hal inilah yang dikenal dengan: The Copenhagen 

Interpretation. Kemudian banyak pihak yang kemudian tidak bisa mencerna 

kesimpulan Bohr, termasuk Albert Einstein juga sangat terganggu dengan interpretasi 

ini, sehingga ia mengatakan sesuatu yang bernada sinis dan sangat terkenal ini, 

“Apakah bulan masih tetap berada di tempatnya saat  saya tidak lagi menoleh ke 

arahnya?” Sayangnya, Bohr kemudian akan terbukti benar.  

 

 

 

 

 

 50 

The Entanglement 

 

“Maha Suci yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa 

yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang 

tidak mereka ketahui.”—QS. Yasin 36 

 

Perdebatan seru dan penuh gairah antara kedua kubu—yang dipimpin oleh Bohr di 

satu sisi, dan Einstein di sisi yang lain—ini kemudian berlangsung hingga 10 tahun 

berikutnya. Kemudian Einstein, bersama dua ilmuwan lainnya, Nathan Rosen dan 

Balrus Podolski, mengira bahwa ia bisa mematahkan Interpretasi Copenhagen-nya 

Bohr. Awalnya ia merasa yakin bahwa ia telah menemukan sebuah kelemahan yang 

fatal dalam klaim-nya itu bahwa, “Reality was summoned into existence by the act of 

looking at it/sebuah kenyataan tercipta saat  kita mengarahkan pandangan 

kepadanya.” 

 

Inti dari argumen Einstein yaitu  membahas aspek Quantum Mekanik, yang disebut 

entanglement. Entanglement yaitu  hubungan keterkaitan yang sangat dekat antara 

sepasang partikel quantum yang ditakdirkan intertwined—terjalin. Contoh kasus 

yaitu  saat  sepasang partikel tercipta dalam waktu yang bersamaan dalam sebuah 

event, maka mereka akan saling terjalin, bagaikan anak kembar identik, yang selama 

hidup mereka akan selalu saling terkait/terjalin.  

 

Mari kita bayangkan sepasang partikel sebagai dua buah koin yang sedang 

spinning/berputar. Kemudian bayangkan bahwa ahwa kedua koin tersebut yaitu  dua 

elektron, tercipta dari sebuah event yang sama dan kemudian bergerak menjauhi satu 

sama lain, kemudian keduanya pun terpisah jauh. Quantum Mekanik mengatakan 

bahwa, “sebab  mereka tercipta secara bersamaan, maka mereka pun 

terjalin/entangled.” Dan sekarang banyak dari aspek/properties yang mereka miliki, 

kemudian selamanya akan selalu terhubung, dimana pun mereka berada, dan sejauh 

apa pun mereka kemudian terpisah. 

 

Anda masih ingat kan interpretasi Copenhagen yang mengatakan, “Until you measure 

one of the coins, neither of them is heads or tails. In fact, heads or tails don’t event 

exists/sampai Anda melakukan pengukuran/monitor/pengamatan/melihat salah satu 

dari koin yang sedang berputar cepat, koin itu bukanlah head atau tail. Faktanya 

bahkan, head dan tail itu tidaklah ada/tidak nyata.”  

 

Dan inilah yang membuat fenomena entanglement semakin menakjubkan, saya 

jelaskan ini dengan analogi sepasang koin: saat  dua koin yang kita ibaratkan yaitu  

sepasang partikel sedang berputar cepat, kemudian salah satunya kita hentikan, dan 

katakanlah berakhir di kepala, sebab  kedua koin terhubung dalam suatu jalinan 

takdir, maka koin kedua pasti akan selalu berhenti pada buntut! Dan ini catatan 

pentingnya: kita tidak akan pernah bisa menduga sebelumnya hasil untuk kedua koin 

tersebut saat  dihentikan, namun yang pasti hasilnya akan selalu berlawanan. Inilah 

yang dibidik Einstein sebagai potensi kelemahan fatal pada interpretasi Copenhagen, 

dan ia teramat sangat yakin bahwa pada akhirnya ia akan memenangkan argumen 

panjang itu.  

 

 

 

 51 

Spooky Action at the Distance!  

 

sebab  berarti sesuatu telah terjadi di antara kedua koin itu, sesuatu yang bahkan 

terlalu gila untuk terbayangkan di pikiran para ilmuwan saat  itu. “Kedua koin 

mampu melakukan sebuah komunikasi rahasia, dalam waktu yang “sekejap” saja, 

berkomunikasi melintasi ruang dan waktu dalam “sekejap”, bahkan itu pun masih 

berlaku saat  kedua koin terpisah jarak yang sangat jauh, semisal satu berada di 

Bumi dan yang lain berada di Planet Neptunus! Berarti kecepatan komunikasi itu, 

yaitu  kecepatan yang melampaui kecepatan cahaya, tentu saja Einstein menolak 

pemikiran ini. Teori Relativitas Einstein, mengatakan bahwa, “Tak ada yang mampu 

melampaui kecepatan cahaya, termasuk informasi.”—Di artikel  Kitab Sihir, Rahasia 

Kuno, karya penulis yang lain, telah penulis sampaikan bahwa, “Kecepatan pikiran 

(informasi) mampu melampaui kecepatan cahaya,” dan pada artikel  yang tengah Anda 

pegang ini, kami berusaha untuk menjelaskannya secara lebih terperinci.  

 

Jadi bagaimana mungkin—menurut Einstein, saat  itu—sebuah koin mampu 

mengetahui dalam waktu yang melebihi kecepatan cahaya, gambar apa yang akan 

mendarat saat  koin yang lainnya berhenti berputar sebelumnya, sehingga ia akan 

berhenti pada gambar yang tidak sama (Kepala/buntut)? Itulah kenapa kemudian 

Einstein memberi  komentarnya yang bernada sinis, “Spooky action at the 

distance/sebuah aksi mengerikan di kejauhan,”dan mengungkapkan bahwa, hal itu 

yaitu  sebuah kesalahan fatal dari konsep Interpretasi Copenhagen/IC.  

 

Einstein bahkan merasa bahwa ia memiliki ide yang lebih baik dengan penjelasan 

yang sederhana dibandingkan  IC. Penulis ingatkan sekali lagi, bahwa putaran sepasang 

koin ini, yaitu  analogi dari elektron dan partikel, jadi tidak lantas jika Anda, 

pembaca yang budiman, melakukan percobaan memutar dua buah koin secara 

bersamaan, lantas keduanya entangled/terjalin, saat  Anda menghentikan satu buah 

dan berakhir di kepala, tidak lantas yang kedua akan berakhir di buntut. Penjelasan 

sederhana Einstein yaitu , “bahwa takdir dari kedua koin, bahwa apakah mereka 

akan berakhir pada kepala atau buntut, telah ditentukan jauh sebelum kita 

mengamatinya.”  

 

Dalam pemikiran Einstein, quantum partikel tidaklah seperti koin yang berputar. 

Mereka yaitu  lebih seperti, katakanlah ibarat sepasang sarung tangan—kiri dan 

kanan—yang dimasukan ke dalam dua buah kotak. Kita tidak pernah akan tahu kotak 

mana yang berisi yang kiri atau yang kanan, sampai kita membuka salah satunya. 

sebab  saat  kita membuka salah satu kotak dan menemukan yang kanan, saat itulah 

kita yakin bahwa kotak yang satunya pastilah berisi yang kiri. Dan penjelasan ini, 

tentunya dengan sendirinya akan menghilangkan pemikiran akan telah terjadinya 

suatu aksi mengerikan di kejauhan.  

 

Jadi, analogi manakah yang kemudian terbukti kebenarannya dalam upaya 

menjelaskan apa itu realita, koinnya Bohr atau sarung tangannya Einstein? Namun 

saat  perang dunia pertama pecah di penghujung tahun 1930, maka jawaban atas 

pertanyaan itu pun tak mungkin segera terjawab, untuk sementara perdebatan sengit 

dalam upaya untuk memahami the nature of reality/hakikat dari apa itu kenyataan, 

kemudian menghadapi jalan buntu.  

 

 

 52 

Antara Hakikat dan Manfaat Penerapan dari Quantum Mekanik 

 

Perang dunia pertama berkecamuk di daratan Eropa, membuat para ilmuwan penting 

banyak yang berhijrah ke Amerika Serikat. Kemudian singkat kata disusul oleh 

perang dunia berikutnya, dan kemudian perang dingin, para ilmuwan yang kini yaitu  

warga Negara Amerika Serikat, telah mendapat sokongan dana dari pemerintah, dan 

kemudian visi baru tentang pemanfaatan teknologi sebagai penunjang kehidupan pun, 

booming. Mereka bisa mengimplementasikan ilmu Quntum Mekanik dengan 

menemukan interaksi-interaksi di antara atom, sehingga bom atom pun tercipta, 

kemudian elektron, cahaya dan kelistrikan, kemudian pemahaman terhadap semi 

konduktor, yang sangat membantu dalam mencapai sebuah era teknologi elektronik 

modern, tanpa harus merenungkan makna filosofis di balik kesemuanya itu, yang 

penting kemajuan teknologi tetap dapat mereka ciptakan.  

 

Mereka kemudian juga menemukan teknologi laser, yang sangat membantu dunia 

kedokteran, teknologi komunikasi yang canggih, sampai teknologi energi nuklir. 

Quantum Mekanik telah teramat sangat sukses, sampai mereka—para ilmuwan itu—

melupakan keberatan Einstein tentang hakikat filosofis dari Quantum Mekanik itu 

sendiri, sehingga perdebatan untuk menemukan makna hakiki telah seolah sirna 

tersapu bersih dan berakhir di bawah karpet pragmatisme. Pragmatisme telah 

mengalahkan pencarian filosofis, terserahlah, yang penting ini semua bekerja sesuai 

dengan apa yang kita inginkan, “Shut up and calculate,”—demikianlah jargon “masa 

bodoh” mereka.  

 

Ditengah kabut keberhasilan penerapan Quantum Mekanik secara pragmatis, masih 

ada beberapa ilmuwan yang masih ingin memahami apa makna filosofis dibalik 

segala keberhasilan itu. saat  itu telah menginjak tahun 60-an, dan seorang ilmuwan, 

terus mencari pemecahan atas argument Einstein vs Bohr, secara tuntas—dialah John 

Bell (1926-1990).  

 

“Bohr was inconsistent, unclear, willfully obscure and right/Bohr tidak konsisten, 

tidak jelas, sengaja sering abu-abu, dan benar.”—Prof. Jim al-Khalili 

 

John Bell, tentunya bukan sosok selebriti yang dikenal masyarakat luas, tetapi dia 

yaitu  sosok pahlawan di kalangan para fisikawan modern, seperti bagi salah satu 

nara sumber kita dalam memahami Quantum Mekanik ini, Prof. Jim al-Khalili, dari 

Surrey University. Kisah kehidupan John Bell yaitu  kisah yang mengagumkan, ia 

lahir di Belfast, pada than 1920 dari keluarga miskin, ayahnya yaitu  seorang dealer 

kuda, dengan penghasilan yang pas-pasan. Keluarga mereka berjuang keras untuk 

bisa membiayainya menyelesaikan kuliah jurusan Ilmu Fisika di Queen University of 

Belfast, dan dia yaitu  anak satu-satunya yang mampu menyelesaikan pendidikan 

sampai ke tingkat universitas.  

 

Pertanyaan-pertanyaan ini masih berkecamuk dalam pikiran Bell, “Did the quantum 

world only existed when it was observed? Or was there a deeper truth out there 

waiting to discover? Faktanya, yang paling menggangu pikiran Bell yaitu , dia 

merasa bahwa masih ada masalah pada jantung pemahaman tentang Quantum 

Mekanik itu sendiri.  

 

 53 

“I hesitate to think it might be wrong but I know it is wrong/Saya ragu bahwa masih 

masalah dalam pemahaman Quantum Mekanik, tapi saya tahu bahwa ada yang 

salah.”—John Bell 

 

Pada awal tahun 1960, Bell memutuskan untuk memecahkan permasalahan di jantung 

Quantum Mekanik tersebut, dan ini yaitu  sebuah tantangan yang sungguh epic. After 

all how dare you check if something is real, something is or isn’t there without 

looking. Bagaimana caranya agar Anda bisa melihat sesuatu yang berada dibalik 

gorden, tanpa menyingkapnya? Namun kemudian, ternyata Bell, berhasil menemukan 

cara yang brilliant, dalam melakukan persis hal di atas. Menurut Prof. Jim al-Khalili, 

cara Bell dalam memecahkan tantangan ini, termasuk salah satu ide paling ingenious, 

dalam sejarah dunia fisika, hingga hari ini. Dan ini merupakan sesuatu yang paling 

sulit dipahami dan dijelaskan. Agar Anda pun, pembaca yang budiman 

memahaminya, mari kita ikuti penjelasan Prof. al-Khalili, tentunya dengan melalui 

perantaraan sebuah analogi, kali ini dengan melalui sebuah permainan kartu remi, 

dengan sebuah taruhan paling besar, hakikat dari realitas itu sendiri.  

 

Analogi Permainan Kartu Remi  

 

Permainan kartunya antara Anda—pembaca yang budiman—dengan seorang Dealer 

Quantum yang misterius. Kartu remi yang dimainkan yaitu  representative dari sub 

atomic particles bahkan quanta dari cahaya—photon. Dan permainan yang sedang 

kita mainkan ini pada akhirnya akan memberi kita kesimpulan argumen siapa yang 

benar, Einstein atau Bohr. Peraturan dalam permainan kartu ini, sederhana namun 

bisa memicu  salah pengertian—deceptible simple. Sang dealer akan menarik 

dua kartu dan ditaruh telungkup di depan Anda. Jika keduanya memiliki warna yang 

sama, (sama-sama hitam atau sama-sama merah), maka Anda menang, jika berbeda 

(satu berwarna hitam dan satu berwarna merah) Anda kalah.  

 

Sekarang sang dealer telah meletakkan dua buah kartu di depan Anda, kemudian 

Anda membuka kartu yang pertama, dan berwarna merah, kartu kedua ternyata hitam, 

Anda kalah. Kemudian pada tarikan kartu kedua pun Anda kalah. Begitu pun pada 

tarikan ketiga, keempat, kelima dan keenam, Anda tetap kalah. Anda kemudian mulai 

berpikir bahwa sang dealer misterius telah berlaku curang, dia telah menyusun 

tumpukan kartunya sedemikian rupa sehingga pasangan kartu yang dia tarik untuk 

Anda pasti akan memiliki warna yang sama. Kemudian, Anda akan memintanya 

mengubah peraturan permainan, jika pasangan kartu yang keluar berbeda warna 

Andalah yang menang. Namun ternyata, Anda tetap selalu dikalahkan oleh sang 

dealer quantum di depan Anda.  

 

Dalam percobaan entanglement, Einstein mengatakan, “Just like the glove were have 

already placed in the boxes so the evil dealer, stacked the cards before we 

played./sama halnya dengan sepasang sarung tangan yang disimpan dalam kedua 

kotak, begitu pun sang dealer, yang mengatur (dengan curang), tumpukan kartunya, 

sehingga ia selalu menang.” Berarti, jika sang dealer memang mencurangi Anda, 

argumen Einstein-lah yang benar. Namun ide Bohr yaitu  sangat berbeda, dia 

mengatakan, “Red and black don’t even exist until you turn them over/Merah atau 

hitam bahkan belum tercipta sampai Anda membuka kedua kartunya.” Sekarang, 

kejeniusan John Bell yaitu , saat  ia bisa menemukan cara untuk menentukan siapa 

yang benar dalam hal ini, Einstein atau Bohr? 

 54 

Inilah yang kemudian Anda lakukan: Anda tidak akan memberitahu sang dealer 

quantum, peraturan permainannya, apakah Anda akan menang jika pasangan kartunya 

sama warna atau berbeda warna, sampai dia meletakkan sepasang kartu di depan 

Anda. Sekarang, sebab  dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran 

Anda setiap kali ia menarik pasangan kartunya, maka dia kemudian tidak akan pernah 

bisa mencurangi Anda. Sekarang dia tidak mungkin lagi bisa menang! Ok, 

sekarang sepasang kartu telah dia tarik dan diletakkan di depan Anda, dalam keadaan 

telungkup. Kemudian Anda menentukan peraturan permainannya, “Jika kartunya 

berbeda Anda menang.”—Inilah inti dari ide yang disampaikan Bell. Jika pada 

akhirnya nanti Anda berhenti main, dan angka kemenangan Anda dan sang dealer 

yaitu  50:50, maka itu berarti Enstein-lah yang benar—sang dealer tetap telah 

melakukan kecurangan atas Anda. Tapi bagaimanakah ternyata, jika Anda tetap 

menjadi pihak yang kalah? 

 

Jika Anda tetap menjadi pihak yang kalah maka berarti, tidak ada penjelasan yang 

kemudian masuk akal. sebab  penjelasannya berarti yaitu : masing-masing kartu 

telah saling berkomunikasi secara diam-diam, dengan saling memberi  signal satu 

sama lain, melalui ruang dan waktu. Dengan sangat terpaksa kemudian kita harus 

menerima kenyataan bahwa: dalam tingkat quantum fundamental, kenyataan benar-

benar tidak dapat diketahui/At the fundamental quantum level, reality is truly 

unknowable.  Bell kemudian menuangkan idenya ke dalam sebuah rumus matematika:  

 

P (a,c    -P      a        P     b,c) << 1 

  

Rumus tersebut menjelaskan bahwa sesuatu yang seolah tidak berjawab, 

“Bagaimana sebenarnya realita itu/ how reality really is.” John Bell 

mempublikasikan jawabannya ini tersebut, pada tahun 1964 dan sungguh luar biasa 

saat  ide luar biasa lengkap dengan perumusan matematika-nya ini ternyata telah 

diabaikan oleh komunitas para ahli fisika pada masa itu. Mungkin sebab  dunia 

memang belum siap dengan jawaban ini. Mungkin sebab  rumus di atas, sulit untuk 

dibuktikan kebenarannya, atau bahkan tidak ada yang menganggap bahwa rumus itu 

berhak mendapat pembuktian.  

 

Sekelompok Hippies yang Ahli Fisika 

 

Namun hal ini akan segera mendapatkan tanggapan dari sebuah kalangan yang paling 

tidak dapat diduga sebelumnya, kalangan para hippies. Sebuah kelompok kecil 

hippies yang juga yaitu  ahli fisika, yang bekerja di Universitas Brooklyn, mereka 

menghisap ganja, ngegembel, dan menyukai perdebatan tentang Buddhism dan 

telepathy dan mereka mencintai Quantum Mekanik, sebab  paralel dengan versi 

realitas aneh mereka, dengan keyakinan mereka yang nyeleneh/esoteric. Kaum hippie 

penganut fisika new age ini telah menarik perhatian publik sebab  mereka telah 

menerbitkan artikel -artikel  yang memang menarik, yang merupakan campuran antara 

Quantum Mekanik dengan Eastern Mysticism. artikel -artikel  seperti, The Tao of Physics 

by Fritjof Capra, The Dancing Wu Li Master by Gary Zukav, dan Space-Time and 

Beyond, toward an Explanation of the unexplainable by Bob Toben.  

 

Dan yang paling penting terhadap cerita ini, yaitu  merekalah yang pada akhirnya 

kembali menaruh perhatian pada perbedaan pendapat antara Einstein dan Bohr, yakni 

tentang hakikat dari realitas itu sendiri/the nature of reality. Mereka memahami 

 55 

bahwa ide Bohr, secara tidak langsung juga telah mendukung ide-ide mereka yang 

esoteric itu. sebab  juga sepasang partikel bisa melakukan, “Spookily communicate 

across space,” maka ESP, telepati, dan clairvoyance mungkin juga benar. Jika saja 

mereka bisa benar-benar membuktikan kebenarannya. Kemudian pada tahun 1972, 

mereka menyadari bahwa dengan sedikit pembuktian matematis, mereka bisa 

membawa persamaan matematika Bell, dibuktikan secara ekperimental.  

 

Salah seorang diantara mereka yaitu  John Klauser, kemudian meminjam peralatan 

dari laboratorium tempat ia bekerja, dan kemudian merancang untuk pertama kalinya, 

sebuah percobaan yang sederhana, genuine, dalam percobaan Quantum Mekanik. 

Percobaan ini yaitu  yang pertama kalinya, dengan alat percobaan yang mereka 

rancang dari sparepart pinjaman dan bahkan sebagian yaitu  hasil curian, sebab  

mereka tidak punya donatur. Dalam beberapa tahun setelahnya, percobaan ini telah 

diperbaiki oleh team yang diketuai oleh Alan Aspec di Paris, sehingga hasilnya pun 

lebih dapat diandalkan.  

 

Setelah satu dekade berlalu semenjak Bell mengumumkan rumus matematika-nya 

tentang Quantum Mekanik yang ia temukan, akhirnya rumus tersebut kini siap untuk 

diuji. Ini yaitu  versi modern dari ekperimen yang pertama kali dilakukan oleh John 

Klauser dan kemudian dilanjutkan oleh Alan Aspec.  Peralatan percobaan yang 

mereka buat terdiri dari sebuah kristal yang bisa mengubah sinar laser yang 

melaluinya menjadi pasangan partikel quanta photon yang entangle/terjalin. Dengan 

kata lain, kristal ini yaitu  alat untuk memproduksi pasangan entanglement 

particles—dalam wujud sepasang partikel yang memiliki pancaran/beams yang persis 

sama.  Kedua quanta photon yang terjalin itu kemudian dipancarkan ke berbagai arah, 

kemudian dibelokkan kembali agar menembus sebuah alat pendeteksi. Kedua quanta 

photon yang terjalin ini, telah kita ibaratkan di atas sebagai sepasang kartu kartu remi, 

yang diletakkan oleh sang dealer quantum misterius itu di depan Anda, dalam 

permainan kartu quantum di atas.  

 

Percobaan ini akan melakukan pengukuran terhadap property/atribut dari sebuah 

photon, yang dikenal dengan istilah polarization/polarisasi, yang kita telah 

analogikan dengan warna kartu dalam analogi permainan kartu yang telah Anda 

mainkan dalam pikiran Anda. Jadi, misalnya Anda menang saat  kedua kartu 

memiliki warna yang sama, misalnya keduanya berwarna merah, setara dengan dua 

quanta photon yang memiliki polarisasi yang matching. Namun, sebab  ini yaitu  

Quantum Mekanik, tentunya akan lebih rumit dibandingkan  analagi permainan kartu kita, 

alat percobaan yang mereka rancang juga memiliki kapasitas untuk mengukur 

property/atribut photon yang lain, selain polarisasi, dan hal ini setara kapasitas kita 

bukan hanya dapat menebak warna kartu pada sisi muka kartu, namun juga kapasitas 

dalam menebak warna punggung kartu, sudah lebih rumit dibandingkan  analogi kartu kan, 

sebab  biasanya punggung kartu memiliki warna yang sama bagi sepak kartu remi.  

 

Percobaan tersebut dimulai saat  tombol sinar laser dinyalakan, alam penghitung 

pasangan quanta photon menunjukkan berapa banyak pasangan terjalin yang 

dihasilkannya, itu setara dengan berapa banyak pasangan kartu yang dalam permainan 

kartu. Sebuah display grafik dalam rangkaian alat percobaan tersebut menunjukkan 

probabilitas bahwa kita bisa memenangkan percobaan jika kita menebak dengan 

benar, semakin banyak photon-nya semakin akurat pengukurannya, uncertainty level 

disetel pada angka 1%, dan hasil perhitungan finalnya yaitu  0.56, angka ini akan kita 

 56 

masukan ke dalam rumus matematika Bell, kemudian kita akan mengulangi 

percobaan ini 3 kali lagi, dengan setingan yang berbeda. Setiap setingan, setara 

dengan setiap peraturan permainan kartu yang pernah Anda mainkan dengan sang 

dealer quantum di atas, dan saat  hasilnya semuanya dimasukkan ke dalam rumus 

Bell, maka jika hasilnya <2 Einstein-lah yang benar—deck kartu bisa disetting untuk 

kemenangan sang dealer quantum, dan memang inilah pandangan Einstein. Namun 

jika hasilnya >2 maka Bohr yang benar, itu artinya deck kartu dalam analogi 

permainan kartu di atas tidak bisa di-setting dan sesuatu yang lain telah bekerja.  

 

Sekarang percobaan dilakukan dengan settingan kedua, hasilnya kali ini 0.82, 

kemudian alat percobaan di reset untuk melakukan percobaan berikutnya dengan 

setingan yang berbeda lagi dari sebelumnya, dan hasilnya yaitu  -0.59, dan yang 

terakhir percobaan ke-4, angka terakhir yang dihasilkan akan pada akhirnya akan 

menunjukkan apakah dunia ini bekerja sesuai dengan pemikiran awan kita, atau 

dengan sebuah tatanan yang bizarre/luar biasa aneh. Kemudian hasil akhirnya 

ternyata yaitu  bukan 0.56, kemudian sinar laser pun dimatikan, percobaan telah 

selesai, Prof. Jim al-Khalili, kemudian memasukkan keempat angka hasil percobaan 

itu ke dalam rumus John Bell, dan hasilnya ternyata yaitu  2.53 (lebih besar dari 2, 

atau >2)! Sebuah bukti absolut bahwa Albert Einstein ternyata salah dan Niels Bohr-

lah yang benar.  

 

“Bulan pun berhenti mewujud saat  kita tidak lagi melihat ke arahnya.”— Prof. Jim 

al-Khalili 

 

Hasil percobaan di atas memiliki efek yang luar biasa mengguncang, jika kita selami 

maknanya bahwa versi realita Einstein terbukti salah, sebab  memang tak akan ada 

yang sanggup menipu alam. Property/atribut dari kedua photon yang saling terjalin, 

bisa saja telah selaras dari awal, namun kita hanya bisa memanggilnya menjadi 

kenyataan saat  kita melakukan sebuah pengukuran terhadap mereka. Sesuatu yang 

tidak kita ketahui, telah menghubungkan mereka menerobos ruang, sesuatu yang kita 

tidak bisa jelaskan, atau bahkan kita bayangkan, kecuali ditangkap dengan memakai 

rumus matematika. Jadi benarlah pernyataan bahwa, “Bulan pun berhenti mewujud 

saat  kita tidak lagi melihat ke arahnya.” Hasil percobaan ini benar-benar telah 

meruntuhkan common sense, tak heran jika kemudian di masa akhir hayatnya Einstein 

kemudian menulis, “All these 50 years of conscious brooding have brought me no 

nearer to the question-what are light quanta. Every Tom and Dick and Harry thinks 

he knows it. But he is mistaken/Setelah selama 50 tahun merenungi ini semua dengan 

penuh kesadaran, ternyata tidak sedikit pun aku menemukan jawaban atas 

pertanyaan, Apa itu quanta cahaya? Setiap kali Tom dan Dick dan Harry, berpikir 

bahwa dia mengetahuinya, ternyata dia pun telah kembali terperdaya.”Meskipun 

percobaan tersebut yaitu  sebuah konfirmasi bahwa, “Apa pun yang terjadi, kita tak 

bisa memahaminya.” Namun ini bukanlah berarti, umat manusia kemudian berhenti 

melakukan segala usaha untuk mencoba memahaminya. Seperti Einstein, Prof. Jim 

al-Khalili tetap yakin, bahwa suatu saat para fisikawan akan pada akhirnya bisa 

memahami apa itu Quantum Mekanik, dan itu pun yang telah tetap membuat para ahli 

fisika modern seperti sang professor tetap tidak bisa memejamkan mata di waktu 

malam, sebab  memikirkannya. 

 

  

 

 57 

Singularity—The Quantum Theory of Gravity—String Theory (Upaya  

memecahkan rumus matematika dari Singularity) 

 

“Moon are “falling” to the Earth/Sang Bulan pun sedang dalam perjalanan abadi 

dalam rangka terjatuh ke permukaan bumi. 

 

Sebelum masuk ke Teori Quantum Gravitasi, mari kita bahas sedikit tentang Apa itu 

teori Gravitasi itu sendiri, sekedar untuk menyegarkan ingatan kita tentangnya.  

 

Pada tahun 1687 Isaac Newton mendefinisikan gravitasi sebagai, dua buah massa 

yang merasakan sebuah daya gravitasi di antara keduanya. Daya itu merupakan 

sebuah kekuatan yang lemah, hal itu dibuktikan dengan percobaan sederhana: sebuah 

klip kertas yang menempel pada sebatang magnet, tidak dapat terjatuh ke lantai,  

berarti daya elektromagnet yang menariknya lebih kuat dibandingkan  daya gravitasi 

Newton.  

 

Sebelum diruntuhkan oleh teori gravitasi Einstein di tahun 1915, Teori Gravitasi 

Newton—The Falling Magnificent Theory, setelah bertahan selama kurang lebih 200 

tahun, telah berhasil di antaranya: Memprediksi keberadaan Planet baru kala itu, 

Planet Neptunus, dengan mengamati pergerakan dari Planet Uranus, dengan 

pemakaian  rumus matematika dari teorinya, dan juga telah berhasil memprediksi 

pergerakan dari semua planet dalam sistem tata surya.  

 

Teori Gravitasi Newton sangat spektakuler, namun demikian, ada hal yang 

mengganggu pikirannya, daya gravitasi yang dicerna Newton, melibatkan sebuah 

komunikasi secara instan/tanpa media dalam jarak yang jauh. If I move the Apple, the 

force between the Apple and the force between the aoole and the Earth is 

instantenously, this bothering Newton, sebab  terciptanya sesuatu secara instan 

merupakan sebuah ide yang janggal—“action in distance”—silahkan lihat bagian 

“Spooky Action at the Distant. Jika menapikan keberadaaan Tuhan, pastilah hal ini 

menjadi aneh. Bagi Tuhan sih tinggal, “Kun!” 

 

“That gravity should be innate inherent and essential to matter so that one body may 

act upon another at distance through a vacuum without the mediation of anything else 

(...) is to me so GREAT an absurdity that I believe no man who has philosophical 

matters any competent facutly of thinking can ever fall to it.”—Sir Isaac Newton 

 

Teori Gravitasi Einstein: In 1905, Einstein found out that, “The universe has a speed 

limit of 300,000 km/s =the speed of light. The special theory of relativity, one of the 

concept of Einstein.  

 

 

“Gravity is the curvature of space and time/gravitasi yaitu  lekukan-lekukan ruang 

dan waktu—gravitasi bukan sebuah daya.”—Einstein’s 1915).  

 

Paradox or Contradiction with Newton’s:  

 

N: Instantenously Theory VS E: The Speed of limit = Something has to give up! 

 

 58 

Pada tahun 2015, terbukti keberadaan Black Hole, pemikiran tentangnya telah ada 

jauh sebelumnya. In a remarkable short of time Einstein know what is the next step, in 

1915 Einstein developed the Theory of General Relativity, “Gravity is not a force! 

Gravity is the manisfestation of the curvature of spacetime.” The slogan: Metacurves 

space and time and curve space and time in a term of how matters moves. 

 

The best proof that Newton’s wrong, into the deeper more profound structure. 

Prediction of the existing of the black holes. Cast Worchil? Who was a German 

scientist, a few week after Einstein wrote the mathematical solution, he finds Black 

Holes solution. Bukti bahwa kecepatan ilham melampaui kecepatan cahaya, ide 

pemikiran tentang adanya Black Hole di tahun 1915, sementara bukti tentang 

keberadaannya di tahun 2015, dari black hole tersebut tercipta sampai informasinya 

sampai ke monitor pemancar bumi, yaitu  milyaran tahun cahaya, sementara idenya 

terbit di pikiran di tahun 1915, lebih cepat sampai idenya dibandingkan  bukti 

keberadaannya. Pemikiran/Ilham lebih cepat mendarat di bumi dibandingkan  kecepatan 

cahaya! Detailin lagi mil, pembuktian black holenya, yakinkan lagi memang ada 

kaitannya dengan kecepatan cahaya. Kalau bener mantep bener! Mantap betul, 

mantul! 

 

“Kecepatan pikiran/ilham dari Tuhan, melebihi kecepatan cahaya.”—Ki Ngawur 

Permana, Nyi Damar Sagiri, Kitab Sihir Rahasia Kuno.  

 

Dua buah “rule books” untuk dua hal dengan skala yang berbeda 

 

yaitu  sbb.: 

 

• General Relativity mengatur skala macro, hal-hal yang sangat besar.  

• Quantum Mechanics mengatur dunia yang sangat kecil—partikel sub atomic.  

 

Para ahli fisika—Physicists—masih berupaya untuk merumuskan secara matematis 

gabungan dari kedua “rule books” dengan skala yang berbeda tersebut di atas, dalam 

sebuah perumusan untuk The Quantum Theory of Gravity. Black holes yaitu  

tempat di mana general relativity dan quantum mechanics dipertemukan—The 

Quantum Theory of Gravity, dan untuk sementara ini mereka pun telah mentok, dan 

mungkin kali ini selamanya mereka akan, well … mentok di dalam Black Hole!  

 

“Quantizing Gravity is the greatest challenge in theoretical fundamental physics 

today. To quantize gravity, you have to know what gravity is! Classically, it’s the 

local curvature of spacetime. Jadi gravitasi, ternyata masih belum diketahui 

hakikatnya! Apparently, quantum gravity (QG).” 

 

Mentok sebab , setelah definisi dan perumusan Newton tentang gravitasi runtuh, 

definisi Einstein pun ternyata pada akhirnya setelah diteliti lebih dalam ke skala 

tingkat quantum, pada akhirnya runtuh juga, sebab  Quantum Gravity (QG) yaitu  

bukan merupakan sebuah teori yang hanya meng-quantize local spacetime curvature, 

QG menurut ahli fisika quantum atau ahli Fisika Partikel yaitu  sesuatu yang 

misterius dan non-local—sesuatu yang gaib! Dan masih gaib saat  Anda membaca 

artikel  ini, dan gaib untuk generasi-generasi yang akan datang, kecuali—tentu saja—

jika Tuhan memberi  pemahaman baru pada umat manusia.  

 

 59 

“… wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa’/dan mereka tidak 

mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya, melainkan apa yang Dia 

kehendaki.”—QS. al-Baqarah 255 

 

Mentoknya Jangkauan Science, Mentoknya The Theory of Everything— The 

Quantum Theory of Gravity 

 

Science telah dianggap sebagai agama atau jalan yang masuk akal bagi kalangan para 

ilmuwan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan paling sulit tentang alam semesta 

raya, namun pada akhirnya science pun kemudian kembali menemui jalan buntu, 

saat  semua jawaban yang mereka harapkan yaitu  jawaban yang tidak melibatkan 

Tuhan, maka tidak akan pernah mereka menemukan sebuah jawaban yang 

memuaskan. The Theory of Everything—is God, without involving God—teori ini pun 

telah terjegal, sebab  begitu para ahli fisika memasuki realm sebuah Black Hole, maka 

di situlah Teory Einstein, General Relativity pun kemudian runtuh! 

 

Benturan yang terjadi di antara dua buah Black Hole, telah menghasilkan riak 

gelombang gravitasi yang menjalar sampai ke detector yang ada di Bumi—Ligo 

experiments yaitu  untuk mendeteksi gelombang gravitasi. Pada tahun 2015 telah 

tertangkap oleh detector yang ada di Bumi, 4 km arms by 1000 size of atomic nuclear. 

 

Terjadinya benturan dua buah Black Hole ini berlangsung pada sekitar 1.3 milyar 

tahun cahaya yang lampau, dan tiba di permukaan Bumi pada tahun 2015, ini yaitu  

salah satu contoh nyata, bahwa “Kecepatan pikiran—ilham tentang adanya Dark 

Star, lebih cepat tiba di dalam benak seorang manusia, John Michell (1783)—lebih 

cepat dibandingkan  kecepatan cahaya.” (tiba tahun 2015)~Kitab Sihir Rahasia Kuno.  

 

Dengan kata lain, “Kecepatan ilham pemikiran yang terbit di benak dan hati 

(pencetus black hole pertama, dark star), dibandingkan  kecepatan gelombang gravitasi 

yang riaknya meluncur dalam kecepatan cahaya.”  

 

Kemudian 3 Black Hole lainnya ditemukan lagi setelah tahun 2015, ilmu astronomi 

pun diperkirakan akan mengalami perkembangan yang menarik, sebab  memiliki 

jendela baru dalam mengamati alam alam semesta—gelombang gravitasi.  

 

saat  Black Holes tak lagi murni sekedar sebuah teori, Black Hole ternyata memang 

benar-benar ada! Di dalam sebuah Black Hole terdapat spacetime singularity.  

 

Everything is an Instantaneous Creation of God. 

 

Phillip Ball, dalam artikel nya yang membahas Quantum Mechanic, Beyond Weird, 

menjelaskan bahwa secara fundamental saat  kita melihat secara lebih mendalam, 

tidak ada itu sebuah hukum alam yang mengikat apa pun, segalanya ternyata bersifat 

random. Sehingga demikian maka kalimat, “Nothing is random, everything is 

connected” pun telah diruntuhkan oleh Quantum Mechanic. Di lihat dari sisi teologi, 

benarlah ternyata kiranya bahwa, “Everything is an instantaneous creation of God”.  

 

Sementara itu dalam khayalan, Holywood, telah ikut mengangkat tema ini, membantu 

kita dalam memvisualisasikan jika suatu saat nanti rumus matematika dari The 

Quantum Theory of Gravity ini pada akhirnya terpecahkan, meskipun dengan cara 

 60 

yang bahkan lebih absurd yakni manusia memasuki black hole via lubang cacing 

(worm hole) tanpa drama—tanpa spaghettified/ripped apart by gravity di mulut Black 

Hole (Event Horizon) yang dinamai Gargantua di film itu, yang sebagian besar ahli 

fisika masa ini akan mengatakan bahwa keberadaan dari teori adanya lubang cacing 

itu yaitu , “Its not even wrong (salah aja enggak, apalagi benar)”. Dan kemudian 

“sesuatu” memberitahu sebuah kode matematika singularity, dan anaknya berhasil 

menyelesaikan rumus matematika dari Quantum Theory of Gravity, dan menyerukan 

“Eureka!” 

 

Film Scifi besutan Sutradara dan sekaligus script writer-nya Christopher Nolan, 

berdurasi sekitar 169 menit, dan menghabiskan dana sekitar USD 165 juta itu, 

berjudul: The Intersellar (tahun 2014), mengisahkan saat  Planet bumi menjelang 

ajalnya, tumbuhan sudah mulai mengering sebab  climate change, sehingga 

keberadaan umat manusia pun berada di ambang kepunahan. Beberapa ekspedisi 

dalam rangka mencari potensi planet baru untuk melangsungkan keberadaan umat 

manusia dengan beberapa skenario pun dilakukan. Dalam prosesnya seorang ahli 

matematika quantum, berhasil memecahkan rumus matematika dari Quantum Theory 

of Gravity, sebab  ayahnya yang berada di dalam Gargantua mengirimnya kode-kode 

yang ia perlukan, ayahnya ini mendapat bantuan dari sebuah entitas gaib yang berada 

di dalam Gargantua—Tuhan kah yang mereka maksud?  

 

Namun dalam kenyataannya, umat manusia masih belum menemukan cara untuk 

melakukan perjalanan ke Black Hole terdekat yang telah berhasil ditemukan untuk 

menemukan rahasia variable-variable matematika dari singularity, sebab  rahasianya 

memang berada di dalam sebuah Black Hole itu. Menggabungkan Teory General 

Gravitasi dan Teory Quantum Mekanik dalam sebuah rumus matematika String 

Theory, bagaikan menggabungkan paham fatalisme dan paham non-fatalisme dalam 

merumuskan apa itu takdir.  

 

 

Bagian 6: Definisi dan Jenis-Jenis Santet  

 

Definisi Santet 

 

Santet yaitu  segala jenis fitnah, yang mengakibatkan segala macam musibah, 

kesengsaraan, dari yang teringan yakni penyakit, terbunuhnya seseorang atau 

sekelompok orang, sampai penghancuran nama baik, dihukum sebab  perbedaan 

pendapat, atau sebab  pihak yang berkuasa telah mengintrepretasikan apa yang kita 

katakan atau kita tulis menurut opini mereka saja tanpa mau mendengarkan apa 

makna yang dimaksudkan oleh si penuturnya, pembekapan dalam berpendapat, dan 

santet/fitnah yang paling berbahaya dari segalanya yaitu  membuat seseorang atau 

sekelompok orang atau seisi dunia mengalami, kelumpuhan berpikir, kebutaan mata 

batinnya dan ketulian telinga hatinya, dan sama sekali tidak mampu lagi melihat 

hakikat dari segala sesuatu, di mana segala sesuatu selalu tidaklah seperti terlihat oleh 

penglihatan lahir saja—lihat 3 hal yang terjadi dalam perjalanan Nabi musa as. dan 

Nabi Khidir as. pada QS. Al-Kahfi. Dan tahukah Anda bahwa media santet yang 

paling dahsyat yaitu  pesawat TV Anda di rumah? Jika Anda ingin Anda sekeluarga 

terbebas dari santet/fitnah yang paling dahsyat, langkah pertama yaitu  dengan 

menendang semua pesawat TV yang ada di rumah Anda ke tempat sampah. Dan 

 61 

media santet kedua terdahsyat? Errrrh ... mungkin HP pintar Anda, itulah sebabnya 

harganya kian terjangkau dari hari ke hari, sampai siapa pun kini bisa memilikinya.  

 

Jenis-Jenis Sentet 

 

Dilihat dari juru santet-nya  

 

Jika dilihat dari SIAPA yang menyantet, jenis santet bisa terdiri dari santet kutukan 

orang tua, santet dengan pemakaian  Jin, santet yang dilakukan oleh diri sendiri—

santet bunuh diri, dan santet yang dilakukan oleh para pengiri dan pendengki secara 

umum (santet yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, santet sesama 

manusia). 

 

Santet Kutukan Orang Tua 

 

Orang tua kita yaitu  ibarat kita yaitu  sebuah lukisan dan mereka yaitu  pelukisnya. 

Bentuk, nada warna, pencahayaan dan semua aspek yang ada di dalamnya mereka 

yang menentukan di awal. Meskipun kanvasnya tetap kita, dan kanvas itu tentu saja 

bisa dilukis ulang, namun begitulah kenyataannya. Tidak ada jawaban yang sempurna 

kenapa Tuhan menginginkan kita terlahir dari situ, selain jawaban bahwa itu yaitu  

kehendak-Nya. Oleh sebab  itu, saat  Anda merasa hidup Anda penuh 

keterpurukkan, cek kualitas hubungan Anda dengan mereka, cek apa saja yang 

mereka katakan pada Anda tentang Anda, terutama saat  Anda masih kecil. sebab  

perkataan mereka yang menjadi kenyataan Anda, yaitu  ibarat mantra-mantra yang 

segera harus Anda patahkan. Bagaimana cara mematahkan sugesti dengan efek santet 

dari mereka? Berhentilah memposisikan mereka sebagai Tuhan dalam kehidupan 

Anda, sebab  mereka jadi orang tua Anda bukan sebab  jasa mereka, tapi sebab  jasa 

Tuhan.  

 

Kisah Malin Kundang mungkin yaitu  kisah yang paling terkenal dan membekas di 

relung hati setiap anak yang membacanya, di situ dikisahkan bagaimana seorang anak 

laki-laki yang bernama Malin Kundang, setelah dewasa dan sukses malah menjadi 

anak yang tidak berbakti pada ibunya, dan kemudian sang ibu yang sakit hati itu, 

mengutuknya menjadi batu. Cerita itu memang berpihak pada sang ibu, atau orang 

tua, yang dianggap benar dalam menjatuhkan hukuman berupa sebuah kutukan, dan 

sebab  si anak memang melakukan kesalahan fatal, maka alam semesta mendukung 

jatuhnya kutukan itu dalam hitungan detik. Namun, mungkin Anda lantas bertanya, 

bagaimana jika yang terjadi hanyalah sebuah miss-communication antara pihak orang 

tua dan anak? Jika misalnya, sang juru cerita yaitu