k, sedangkan setiap Proton terdiri dari 1 Up Quark dan 2 Down
Quark. Dengan penemuan maka telah teridentifikasi 3 jenis partikel, yakni: electron,
Up Quarks dan Down Quarks.
Kemudian Niels Bohr (1885-1962), menyampaikan model atomnya yang lebih
modern, dengan menyampaikan bahwa atom tersebut ternyata juga memiliki ikatan
kimia, memiliki Orbit Electron yang berbentuk bulatan-bulatan seperti gelombang air,
Electron memiliki muatan negatif, Nucleus atau inti atom, yang terdiri dari apa yang
disebut dengan Proton yang memiliki muatan positif, juga ada Quantum Jumps, atau
lompatan-lompatan Quantum pada model atom milik Bohr ini. saat electron
berpindah orbit, ia akan mengeluarkan energi—light energy = h x frequency—inilah
cikal bakal dari terciptanya sebuah bom atom.
“Everything you see in the world every diversity, we look in the nature, you and me,
everything around us, we just the same 3 particles—Electron, Up Quarks, Down
Quarks—with slightly different arrangement repeated over and over and over. Its
amazing lesson to draw how the world is put together. Its like a Lego bricks to which
everything in the world constructed. And ... there is problem with it. The problem is:
ITS A LIE.”—David Tong
43
Ternyata The Fundamental building block of nature BUKANLAH partikel. Menurut
teori terbaik, penyusun terkecil dari semesta, yaitu fluid like substance/substansi
seperti cairan yang tersebar di seluruh alam semesta raya, dan mereka bergerak-gerak
membentuk riak, dengan cara yang aneh namun menarik perhatian. Itulah bahan
terdasar dari realita kehidupan kita. Substansi cair ini, telah diberi sebuah nama/istilah
oleh para ahli teori fisika modern: FIELDS/medan—seperti medan listrik dan medan
magnet. Fields yaitu sesuatu yang tersebar di seluruh jagat semesta raya.
“Perticles coming from “nothing” (vacuum).”—Jerome Gauntlett
Sebuah percobaan yang dilakukan oleh Michael Faradays di Cambridge University
pada sekitar akhir abad ke-18, telah berhasil menemukan The electric Field dan
magnetic fields/medan listrik dan magnet. Penemuan ini merupakan awal dari
berkembangnya Quantum Field Theory atau Teori Quantum Mekanik. Fisika Partikel,
berkembang sejak tahun 1980, dengan ditemukannya empat partikel dalam tiga
generasi dan memiliki empat daya kekuatan, yakni: Partikel Gluon (kekuatan nuklir
yang kuat), Partikel W, Z bosons), electron, Electro-magnetism (photons), Neutrino,
dan Proton.
Pada tahun 2004, David J. Gross, H. David Politzer dan Frank Wilzek dianugerahi
hadiah Noble di bidang fisika, sebab mereka berhasil menemukan apa yang disebut
dengan Asymptotic Freedom in the Theory of The Strong Interaction, adanya strong
interaction: confinement. The strong force is carried by gluons, mereka tidak memiliki
massa, namun confined, oleh sebab itu kita tidak bisa melihat mereka.
The Large Hadron Collider
sebab masih banyak partikel-partikel yang belum dapat ditemukan sebab mereka
tidak dapat dilihat, namun keberadaan mereka bisa di deteksi dengan perilaku
partikel-partikel lain di dekatnya, maka para ahli fisika partikel dari seluruh dunia
kemudian membangun sebuah Mesin Pembentur Partikel terbesar di dunia. Mesin ini
dibangun di dekat Jenewa Swiss dan mereka namakan dengan the Large Hadron
Collider. Untuk membantu Anda dalam membayangkan mesin ini, inilah
spesifikasinya, memiliki luas lingkar 27 km, tertanam 100 m di bawah permukaan
tanah, menelan biaya pembangunan senilan USD 9 milyar, melibatkan sekitar 10,000
orang dalam pembangunannya, kecepatan proton hingga 99,999999% c, 6000 ton
magnet yang didinginkan sampai 1.8 K, dan memiliki kabel sepanjang 275,000 km.
Mesin ini yaitu sebuah kisah pencarian senilai 9 milyar Dollar Amerika. Beberapa
kali upaya pembenturan dahsyatnya telah menemukan dua buah Photon dengan fixed
Energy. Kedua Photon ini kemudian mereka namakan Quarks dan Leptons, mereka
berhasil ditemukan dengan pemakaian massa dari Higgs Field, berinteraksi lewat
gravitasi, electromagnetism, dan kekuatan nuklir yang dahsyat, dengan kata lain,
kedua partikel ini tak mungkin ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, harus dengan
pemakaian sebuah mesin pembentur rumit raksasa tersebut. Namun pun kemudian,
kapasitas mesin raksasa ini pun belum juga cukup untuk menguak dunia micro
quantum yang ajaib dan gaib, kini mereka membutuhkan mesin yang jauh lebih besar
lagi.
44
Segalanya kemudian menjadi Bertambah Rumit dengan adanya Quantum
Mekanik (QM)
“I think I can safely say that nobody understand quantum mechanics.”—Richard
Feynman
Ia mengatakan ini pada tahun 1965, dan pada tahun itu pula ironisnya, Richard
Feynman dan rekannya yaitu pemenang hadiah Nobel di bidang fisika Quantum
mekanik. Pada poin itu—waktu itu—tak ada manusia hidup yang memiliki
pengetahuan yang lebih baik tentang fisika Quantum mekanik dibandingkan Richard
Feynman. Quantum Mekanik, memang dikenal selalu terbukti benar melalui
eksperimen terkait, namun sangat paradoksikal, dengan memicu paradoks-
paradoks.
Namun ungkapan Richard Feynman yang bernada pesimis di atas, tidak lantas
menyurutkan langkah para ilmuwan di bidang fisika Quantum generasi berikutnya,
untuk terus menggali makna dari efek perumusan-perumusan Quantum untuk mencari
tahu hakikat dari realita alam. Setidaknya para fisikawan Quantum masa ini telah
berhasil merumuskan pertanyaan-pertanyaan atau paradox-paradox yang lebih baik.
Berikut yaitu fakta-fakta yang telah dikenal sekitar Quantum Mekanik:
1. Quantum mekanik itu penuh keanehan.
2. Objek dari Quantum mekanik, bersifat duality—bersikap seperti gelombang
sekaligus partikel.
3. Objek dari Quantum mekanik bisa berada di dua tempat, atau lebih dalam
waktu yang bersamaan—quantum superposition.
4. Kita tidak akan pernah bisa secara simultan mengetahui dengan persis dua
atribut/property dari sebuah quantum objek—Heisenberg’s Uncertainty
principle.
5. Objek Quantum mekanik bisa saling mempengaruhi dalam jarak jauh
sekalipun tanpa penghubung apa pun—Quantum Entanglement, the spooky
action at a distance.
6. Kita tidak pernah bisa melakukan pengukuran/observasi terhadap objek
Quantum mekanik, oleh sebab itu ia bersifat subjektif.
Secara matematis, tidak ada masalah tapi, yang menjadi permasalahan yaitu apa
makna dari rumus tersebut.
Bagian 5: Teori Quantum Mekanik
“Apa pun yang terjadi di alam semesta raya ini, kita tak akan pernah mampu untuk
benar-benar memahaminya.”—Para ahli Fisika Modern
The Ultra Violet Catastrophe dan The Photoelectric Effect
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya,
seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita
itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu itu bagaikan bintang yang
berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari Pohon Zaitun yang tumbuh tidak di
45
timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi,
walau pun tidak disentuh api.” —QS. An-Nur 35
Sebuah teori yang paling penting—menurut Prof. Jim al-Khalili, dari Universitas
Surrey—di dunia Fisika Modern, yaitu Teori Quantum Mekanik. Kelahiran teori ini
telah dipicu oleh sebuah obyek, yang tidak pernah ada yang menduga sebelumnya
bahwa obyek sederhana itu akan memicu lahirnya sebuah teori terpenting, obyek itu
yaitu sebuah sebuah bola lampu. Jika kita memaknai ayat di atas, sepertinya ayat itu
tengah berbicara tentang sebuah perumpamaan dari cahaya Tuhan, dengan
karakteristik yang hampir mirip dengan karakter dari sebuah bola lampu.
Catastrophy Sinar Ultra Violet
Berlin, pada tahun 1980, saat itu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang
engineering sedang tumbuh subur di Jerman. Negara ini telah mengeluarkan dana
yang sangat besar untuk menemukan model versi Eropa dari penemuan terbaru
Thomas Alpha Edison, yang terkenal, yakni bola lampu—sebuah simbol harapan
besar pada kemajuan di bidang teknologi modern. Sementara itu, pada tahun 1900,
bola lampu itu sendiri masih mengandung sebuah permasalahan yang cukup aneh.
Para insinyur waktu itu, telah mengetahui, bahwa jika kita memanaskan filamen
yang terdapat di dalamnya dengan pemakaian aliran listrik, maka ia akan menyala,
namun para ahli fisika pada waktu itu belum bisa menjelaskan kenapa demikian,
“Apa hubungan antara panas dari filamen bola lampu dengan warna dari cahaya
yang dihasilkannya?” Pertanyaan ini merupakan sebuah misteri yang menarik
perhatian para ilmuwan untuk memecahkannya. Pemerintah Jerman pun kala itu,
melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mencuri langkah dari para pesaingnya
pada teknologi ini.
Pada tahun 1887, pemerintah Jerman, telah membangun sebuah fasilitas penelitian, di
Berlin. Kemudian pada tahun 1900 seorang ilmuwan jenius telah ditugaskan untuk
bekerja di fasilitas ini, ia yaitu Max Planck (1858-1947), salah satu misinya yaitu
untuk memecahkan pertanyaan misterius di atas, “Kenapa warna cahaya yang
dihasilkannya berubah saat filamen bola lampu menjadi bertambah panas?”Planck
bersama rekannya kemudian membangun sebuah mesin radiator untuk menyelidiki
lebih lanjut hal ini. Sebuah mesin berbentuk tube yang sekaligus bisa memanaskan
filamen sesuai dengan temperatur yang diinginkan dan juga alat pengukur warna atau
frekuensi dari cahaya yang kemudian dihasilkannya. Seratus tahun kemudian, hingga
hari ini, percobaan ini pun terus menerus dilakukan, dengan hasil-hasil yang lebih
akurat, seiring dengan perkembangan teknologi.
Untuk mendapatkan cahaya berwarna putih cemerlang, sebuah filamen harus
dipanaskan sampai 2000 derajat Centigrade, dengan daya listrik sekitar 40 kilowatt.
Sebagai perbantingan, untuk mendapatkan warna cahaya dengan intensitas seterang
itu, maka filamen pada lampu sebuah sepeda, harus dialiri dengan daya—jika secara
manual melalui dynamo-nya—setara dengan kekuatan kayuhan sepeda dari seluruh
peserta tour de Franc. Namun, meskipun cahaya yang dihasilkan berwarna lebih
putih, cahaya itu sesungguhnya yaitu , putih merah, sangat sedikit mengandung
warna biru. Bahkan Matahari yang memiliki temperatur sepanas 5,500 derajat
centigrade pun, hanya menghasilkan cahaya putih dan sedikit sekali Cahaya Ultra
Violet. “Mengapa intensitas cahaya biru jauh lebih sulit dihasilkan dibandingkan cahaya
46
merah, apalagi cahaya dengan spectrum lebih lanjut, Ultra Violet?” Fenomena ini
dianggap sebagai sebuah penyimpangan terhadap common sense, yang cukup
membuat frustasi para ilmuwan abad ke 19, sampai mereka menyebut fenomena ini
dengan julukan,“The Ultra Violet Catastrophe.”Planck kemudian mengambil sebuah
langkah penting untuk memecahkan fenomena ini, dan akhirnya dia berhasil
menemukan sebuah hubungan matematis antara warna dari cahaya, frekuensinya dan
energinya—namun waktu itu Planck masih belum memahami makna dibalik
terdapatnya hubungan matematis itu.
The Photoelectric Effect
saat gelombang radio ditemukan pada akhir abad ke 19, para ilmuwan kemudian
berlomba menyusun percobaan untuk memahami bagaimana gelombang tersebut
ditransmisikan. Komponen dalam percobaan tersebut terdiri dari emas seperti daun,
sebuah gerbang metal yang pada kedua ujungnya berbentuk bulatan yang berjarak
sekitar beberapa cm, dimana cahaya bisa melompat dari bulatan metal yang satu ke
bulatan metal di seberangnya. Kaki gerbang metal itu terhubung ke dalam sebuah
perangkat lainnya yang berbentuk kotak dimana kedua lembar daun emas tadi
terpasang.
Dari percobaan diketahui bahwa dengan menyorotkan sinar cahaya yang kuat—
cahaya ultraviolet—terhadap gerbang berbahan metal yang ujungnya berbentuk
bulatan itu, menghasilkan lompatan listrik atau electric sparks yang jauh lebih kuat,
bahkan sampai mampu menggerakan kedua daun emas, dibandingkan dengan saat
ia disinari oleh cahaya merah dengan berbagai intensitasnya. Meski pada saat itu
mereka belum mengetahui hubungan antara sinar ultraviolet dan lompatan listrik yang
menguat tersebut, fenomena itu kemudian disebut dengan istilah: The Photoelectric
Effect. Kedua fenomena ini, The Ultra Violet Catastrophe dan The Photoelectric
Effect, merupakan dua permasalahan besar bagi para ahli fisika saat itu.
Definisi klasik dari cahaya yaitu : riak gelombang energi yang merambati sebuah
ruang, dan ini telah diyakini sebagai bukti bahwa bumi yaitu bulat.
Jika kita memperhatikan sifat gelombang pada air, semakin besar gelombangnya,
semakin besar pula energi yang dihasilkannya, apalagi jika gelombang itu bukan
hanya yang bersifat gelombang permukaan diakibatkan angin, namun gelombang arus
bawah diakibatkan oleh aktivitas tektonik seperti tsunami yang memiliki intensitas
power yang luar biasa, bahkan bisa meyapu rata dengan tanah apa pun yang
dilaluinya.
Jadi jika cahaya yaitu merupakan GELOMBANG, maka semakin kuat intensitasnya
maka ia akan semakin mudah untuk menjatuhkan lebih banyak elektron, namun
berdasarkan dari percobaan daun emas dan gerbang metal di atas, saat intensitas
cahaya merah ditambah terus, akan tetapi kedua helai emas berbentuk daun itu tidak
bergeming. Lain halnya dengan saat cahaya putih UV yang dipancarkan ke pada
ujung gerbang metal yang berbentuk bola kecil itu, dalam sekejap kedua daun emas
terpukul jatuh. Jadi, memikirkan bahwa cahaya sebagai gelombang dalam hal ini,
tidak menjelaskan apa pun.
47
Untuk memecahkan masalah ini, seseorang harus mampu untuk memikirkan apa yang
tidak pernah terpikirkan siapa pun sebelumnya. Dan pada tahun 1905, seseorang
melakukannya, ia yaitu Albert Einstein (1879-1955). Einstein merumuskan sebuah
teori baru tentang photoelectric effect yang bersifat heretik revolusional.
“Kita harus melupakan ide bahwa cahaya yaitu sebuah gelombang, dan kemudian
memikirkannya sebagai sebuah arus dari peluru-peluru kecil setingkat partikel.”—
Albert Einstein.
Istilah yang dipakai Einstein untuk menjelaskan partikel cahaya yaitu Quantum.
Bagi Einstein, sebuah quantum yaitu tiny lamp of energy—cercahan kecil energi
berbentuk cahaya. Pemikiran Einstein yang heretic tersebut merupakan kesimpulan
paling logis yang memecahkan semua permasalahan besar yang dihadapi para
fisikawan saat itu tentang cahaya di atas dalam sekali pukulan, dengan sederhana.
Fakta kebenaran itu memang seringkali sederhana, dan kesederhanaan itu selalu
tersembunyi sebab biasanya manusia cenderung memikirkan penyelesaian yang
susah-susah.
Menurut Einstein, setiap partikel dari cahaya merah mengandung energi yang sangat
sedikit, sebab cahaya merah memiliki frekuensi yang rendah, sehingga, seterang apa
pun sinarnya, partikal sinar merah tidak pernah akan cukup kuat untuk menghantam
jatuh helai daun emasnya, berbeda dengan partikel dari cahaya UV, yang meskipun
redup namun mampu menghantam jatuh kedua helai daun emas, dalam sekejap. Sinar
UV, memiliki frekuensi yang lebih tinggi. Bayangkan Anda melempari susunan
kaleng kosong, dengan bola-bola merah terbuat dari busa, sebanyak apa pun bola
merah yang Anda lemparkan, tak akan mampu menjatuhkan susunan kaleng itu,
berbeda dengan bola golf yang putih, yang bisa merubuhkan susunan kaleng dalam
satu lemparan yang tepat sasaran. Quanta UV jauh lebih powerful dan lebih sedikit
keberadaannya sebab memang dibutuhkan sekitar 100 kali lipat lebih banyak energi
untuk menciptakannya, dibandingkan dengan quanta sinar merah.
Terobosan pemikiran Einstein yang ini juga telah memicu paradox-paradox baru
yang rumit. Hakikat cahaya yang tadinya yaitu jelas tidak terbantahkan merupakan
gelombang dan kini ternyata yaitu JUGA partikel—dualisme. Sehingga kemudian,
hal ini menjadi perdebatan tiada ujung di antara para pemikir pemikir terbesar abad
itu, terutama antara kubu Albert Einstein dan Niels Bohr (1885-1962) dan bahkan
sampai hari ini, bahkan dengan pertaruhan yang jauh lebih besar lagi, pertaruhan
tentang definisi dari realita itu sendiri.
Konsep Realita yang Berubah
“Everything we call real is made of things we cannot call real”—Niels Bohr (1885-
1962)
“Segala sesuatu yang kita sebut nyata disusun oleh sesuatu yang tidak nyata.”—
Niels Bohr (1885-1962)
Kubu ilmuwan revolusioner modernist yang dipimpin oleh Niels Bohr, seorang ahli
fisika jenius asal Denmark. Dan kubu di seberangnya berdiri sang suara logika, Albert
Einstein, yang saat itu berada di puncak karir keilmuwanan-nya, sangat terkenal dan
48
berpengaruh dalam skala internasional. Perseteruan ilmiah ini berlangsung puluhan
tahun, dan dalam konteks tertentu masih berlangsung hingga Anda membaca artikel ini.
Perdebatan ini menjalar ke seluruh dunia, berlangsung di setiap universitas,
konferensi, bahkan bar dan café. Dan ini semua di mulai dari hasil sebuah percobaan
yang mampu mengelabui, dan bahkan bukan lagi tentang cahaya, namun tentang
partikel yang menciptakan daya listrik—Percobaan Dua Celah.
The Double Slit Experiment/Percobaan Dua Celah
Partikel-partikel elektron yaitu bagaikan miniature bola-bola billiard yang masing-
masing membawa energi.
Pada pertengahan tahun 1920-an, sebuah percobaan dilakukan di Bell laboratory New
Jersey, Amerika, dan menemukan sesuatu yang sungguh mengejutkan tentang
elektron—meskipun sekarang telah diterima sepenuhnya di dunia fisika modern—
yang sungguh mengejutkan kala itu. sebab ternyata: CAHAYA yang telah lama
diyakini sebagai sebuah GELOMBANG, terkadang ia berperilaku juga sebagai
PARTIKEL.
Dalam percobaan itu, mereka menembakkan aliran elektron kepada sebuah kristal dan
kemudian memperhatikan sebarannya. Ini sama saja halnya dengan menembakkan
elektron kepada sebuah layar melalui dua buah celah, kemudian menghantam layar,
dan kemudian nampaklah pola yang tercipta pada layarnya, pola sebuah gelombang.
Apa yang ditemukan para ilmuwan di Labotarorium Bell itu telah mengguncang para
ahli fisika di seluruh dunia saat itu sampai ke ulu mereka. sebab ternyata, dari
percobaan itu pun diketahui bahwa, “Elektron yang setelah sekian lama diyakini
yaitu merupakan partikel, ternyata bisa pula bertingkah laku seperti gelombang.”
Percobaan serupa terus dilakukan di laboratorium-laboratorium fisika di seluruh dunia
hingga saat ini. Selain menembakan arus elektron ke layar melalui dua celah sempit
yang biasa mereka lakukan, mereka juga memutuskan untuk menembakan elektron
secara satu persatu ke arah layar. Pola yang tercipta pada awalnya sepertinya acak,
namun lama kelamaan—secara mengejutkan—pola gelombang pun kemudian
nampak jelas tercipta kembali pada layar.
Berarti jika satu butir elektron bisa melaju sendirian melewati salah satu dari kedua
celah sebelum ia mendarat di permukaan layar, dan setiap elektron tersebut masih
berkontribusi terhadap terciptanya pola gelombang yang khas itu—the signature wave
pattern, itu berarti maka, setiap individu elektron haruslah bersikap seperti
gelombang.
Untuk menjelaskan hasil yang sangat mengherankan tersebut, Niels Bohr dan
koleganya menciptakan QUANTUM MEKANIK, sebuah teori gila tentang cahaya
dan benda yang mengabaikan segala kontradiksi dan bahkan tidak peduli saat itu
yaitu sesuatu yang mustahil untuk dipahami, seperti saat Niels Bohr sendiri
mengatakan, “Anyone who isn’t shocked by Quantum Theory, hasn’t understood
it/Siapa pun yang tidak terguncang dengan Teori Quantum, berarti ia belum
memahami teori itu.”
49
The Copenhagen Interpretation
“Does the Moon seize to exist when I don’t look at it?”—Albert Einstein
“Apakah sang Bulan yang sedang bersinar terang tetap ada saat saya tidak melihat
ke arahnya?”—Albert Einstein
Quantum Mekanik mengatakan ini:
“Kita tidak bisa menjelaskan elektron—sebagai objek fisik—saat ia meluncur dari
alat penembak, melewati kedua celah, hingga perjalanannya berakhir saat ia
menghantam layar monitor. Hal yang bisa kita bahas yaitu , di mana saja titik
kemungkinan keberadaan elektron selama perjalanannya itu.”
Mari kita garis bawahi betapa anehnya kondisi di atas, dengan sebuah analogi:
Jika kita memutar sebuah koin, maka ia akan terlihat blur, saat ia masih berputar,
dan kita tidak bisa mengatakan apakah itu head atau tail yang menghadap kita. Kita
baru akan tahu, apakah kepala atau buntut saat ia berhenti berputar, atau saat kita
memaksanya untuk berhenti, jadi sebelum ia berhenti berputar, maka posisinya yaitu
campuran dari keduanya—ia yaitu kepala dan sekaligus buntu. Nah, posisi
campuran dari keduanya inilah yang dimaksud Bohr tentang keberadaan fisik elektron
dalam percobaan di atas, sebelum ia menghantam layar monitor. Seperti halnya saat
sebuah koin berputar, elektron gelombang kemungkinan sang elektron akan melewati
kedua celah pada saat yang bersamaan. Gelombang ethereal dari kemungkinan akan
menghantam layar monitor dan saat itulah baru ia akan berwujud sebagai partikel.
Dunia Quantum yaitu sesuatu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Sulit sekali
untuk menentukan betapa gilanya Dunia Quantum ini. Bohr bahkan pernah
mengklaim dengan efektif bahwa, “Tidak akan ada yang bisa tahu dimana
keberadaan elektron dalam perjalanannya sebelum ia menghantam layar.” Yang
lebih anehnya lagi yaitu bahkan, elektron itu sebenarnya berada di semua tempat,
dalam waktu yang bersamaan, sampai ia menghantam layar dan berhenti bergerak dan
kita kemudian bisa melihatnya. Hanya dengan melihatnya, maka mewujudkannya
dalam realita.
Sama seperti halnya sesuatu yang tertutup sebuah hijab, baru terwujud saat hijabnya
disingkap, dan kita pun dapat melihatnya. saat sesuatu gordennya disingkap dan
sesuatu di dalamnya yang tadinya tertutup menjadi terlihat, teramati, pada saat itulah
sesuatu itu menjadi nyata, hal inilah yang dikenal dengan: The Copenhagen
Interpretation. Kemudian banyak pihak yang kemudian tidak bisa mencerna
kesimpulan Bohr, termasuk Albert Einstein juga sangat terganggu dengan interpretasi
ini, sehingga ia mengatakan sesuatu yang bernada sinis dan sangat terkenal ini,
“Apakah bulan masih tetap berada di tempatnya saat saya tidak lagi menoleh ke
arahnya?” Sayangnya, Bohr kemudian akan terbukti benar.
50
The Entanglement
“Maha Suci yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang
tidak mereka ketahui.”—QS. Yasin 36
Perdebatan seru dan penuh gairah antara kedua kubu—yang dipimpin oleh Bohr di
satu sisi, dan Einstein di sisi yang lain—ini kemudian berlangsung hingga 10 tahun
berikutnya. Kemudian Einstein, bersama dua ilmuwan lainnya, Nathan Rosen dan
Balrus Podolski, mengira bahwa ia bisa mematahkan Interpretasi Copenhagen-nya
Bohr. Awalnya ia merasa yakin bahwa ia telah menemukan sebuah kelemahan yang
fatal dalam klaim-nya itu bahwa, “Reality was summoned into existence by the act of
looking at it/sebuah kenyataan tercipta saat kita mengarahkan pandangan
kepadanya.”
Inti dari argumen Einstein yaitu membahas aspek Quantum Mekanik, yang disebut
entanglement. Entanglement yaitu hubungan keterkaitan yang sangat dekat antara
sepasang partikel quantum yang ditakdirkan intertwined—terjalin. Contoh kasus
yaitu saat sepasang partikel tercipta dalam waktu yang bersamaan dalam sebuah
event, maka mereka akan saling terjalin, bagaikan anak kembar identik, yang selama
hidup mereka akan selalu saling terkait/terjalin.
Mari kita bayangkan sepasang partikel sebagai dua buah koin yang sedang
spinning/berputar. Kemudian bayangkan bahwa ahwa kedua koin tersebut yaitu dua
elektron, tercipta dari sebuah event yang sama dan kemudian bergerak menjauhi satu
sama lain, kemudian keduanya pun terpisah jauh. Quantum Mekanik mengatakan
bahwa, “sebab mereka tercipta secara bersamaan, maka mereka pun
terjalin/entangled.” Dan sekarang banyak dari aspek/properties yang mereka miliki,
kemudian selamanya akan selalu terhubung, dimana pun mereka berada, dan sejauh
apa pun mereka kemudian terpisah.
Anda masih ingat kan interpretasi Copenhagen yang mengatakan, “Until you measure
one of the coins, neither of them is heads or tails. In fact, heads or tails don’t event
exists/sampai Anda melakukan pengukuran/monitor/pengamatan/melihat salah satu
dari koin yang sedang berputar cepat, koin itu bukanlah head atau tail. Faktanya
bahkan, head dan tail itu tidaklah ada/tidak nyata.”
Dan inilah yang membuat fenomena entanglement semakin menakjubkan, saya
jelaskan ini dengan analogi sepasang koin: saat dua koin yang kita ibaratkan yaitu
sepasang partikel sedang berputar cepat, kemudian salah satunya kita hentikan, dan
katakanlah berakhir di kepala, sebab kedua koin terhubung dalam suatu jalinan
takdir, maka koin kedua pasti akan selalu berhenti pada buntut! Dan ini catatan
pentingnya: kita tidak akan pernah bisa menduga sebelumnya hasil untuk kedua koin
tersebut saat dihentikan, namun yang pasti hasilnya akan selalu berlawanan. Inilah
yang dibidik Einstein sebagai potensi kelemahan fatal pada interpretasi Copenhagen,
dan ia teramat sangat yakin bahwa pada akhirnya ia akan memenangkan argumen
panjang itu.
51
Spooky Action at the Distance!
sebab berarti sesuatu telah terjadi di antara kedua koin itu, sesuatu yang bahkan
terlalu gila untuk terbayangkan di pikiran para ilmuwan saat itu. “Kedua koin
mampu melakukan sebuah komunikasi rahasia, dalam waktu yang “sekejap” saja,
berkomunikasi melintasi ruang dan waktu dalam “sekejap”, bahkan itu pun masih
berlaku saat kedua koin terpisah jarak yang sangat jauh, semisal satu berada di
Bumi dan yang lain berada di Planet Neptunus! Berarti kecepatan komunikasi itu,
yaitu kecepatan yang melampaui kecepatan cahaya, tentu saja Einstein menolak
pemikiran ini. Teori Relativitas Einstein, mengatakan bahwa, “Tak ada yang mampu
melampaui kecepatan cahaya, termasuk informasi.”—Di artikel Kitab Sihir, Rahasia
Kuno, karya penulis yang lain, telah penulis sampaikan bahwa, “Kecepatan pikiran
(informasi) mampu melampaui kecepatan cahaya,” dan pada artikel yang tengah Anda
pegang ini, kami berusaha untuk menjelaskannya secara lebih terperinci.
Jadi bagaimana mungkin—menurut Einstein, saat itu—sebuah koin mampu
mengetahui dalam waktu yang melebihi kecepatan cahaya, gambar apa yang akan
mendarat saat koin yang lainnya berhenti berputar sebelumnya, sehingga ia akan
berhenti pada gambar yang tidak sama (Kepala/buntut)? Itulah kenapa kemudian
Einstein memberi komentarnya yang bernada sinis, “Spooky action at the
distance/sebuah aksi mengerikan di kejauhan,”dan mengungkapkan bahwa, hal itu
yaitu sebuah kesalahan fatal dari konsep Interpretasi Copenhagen/IC.
Einstein bahkan merasa bahwa ia memiliki ide yang lebih baik dengan penjelasan
yang sederhana dibandingkan IC. Penulis ingatkan sekali lagi, bahwa putaran sepasang
koin ini, yaitu analogi dari elektron dan partikel, jadi tidak lantas jika Anda,
pembaca yang budiman, melakukan percobaan memutar dua buah koin secara
bersamaan, lantas keduanya entangled/terjalin, saat Anda menghentikan satu buah
dan berakhir di kepala, tidak lantas yang kedua akan berakhir di buntut. Penjelasan
sederhana Einstein yaitu , “bahwa takdir dari kedua koin, bahwa apakah mereka
akan berakhir pada kepala atau buntut, telah ditentukan jauh sebelum kita
mengamatinya.”
Dalam pemikiran Einstein, quantum partikel tidaklah seperti koin yang berputar.
Mereka yaitu lebih seperti, katakanlah ibarat sepasang sarung tangan—kiri dan
kanan—yang dimasukan ke dalam dua buah kotak. Kita tidak pernah akan tahu kotak
mana yang berisi yang kiri atau yang kanan, sampai kita membuka salah satunya.
sebab saat kita membuka salah satu kotak dan menemukan yang kanan, saat itulah
kita yakin bahwa kotak yang satunya pastilah berisi yang kiri. Dan penjelasan ini,
tentunya dengan sendirinya akan menghilangkan pemikiran akan telah terjadinya
suatu aksi mengerikan di kejauhan.
Jadi, analogi manakah yang kemudian terbukti kebenarannya dalam upaya
menjelaskan apa itu realita, koinnya Bohr atau sarung tangannya Einstein? Namun
saat perang dunia pertama pecah di penghujung tahun 1930, maka jawaban atas
pertanyaan itu pun tak mungkin segera terjawab, untuk sementara perdebatan sengit
dalam upaya untuk memahami the nature of reality/hakikat dari apa itu kenyataan,
kemudian menghadapi jalan buntu.
52
Antara Hakikat dan Manfaat Penerapan dari Quantum Mekanik
Perang dunia pertama berkecamuk di daratan Eropa, membuat para ilmuwan penting
banyak yang berhijrah ke Amerika Serikat. Kemudian singkat kata disusul oleh
perang dunia berikutnya, dan kemudian perang dingin, para ilmuwan yang kini yaitu
warga Negara Amerika Serikat, telah mendapat sokongan dana dari pemerintah, dan
kemudian visi baru tentang pemanfaatan teknologi sebagai penunjang kehidupan pun,
booming. Mereka bisa mengimplementasikan ilmu Quntum Mekanik dengan
menemukan interaksi-interaksi di antara atom, sehingga bom atom pun tercipta,
kemudian elektron, cahaya dan kelistrikan, kemudian pemahaman terhadap semi
konduktor, yang sangat membantu dalam mencapai sebuah era teknologi elektronik
modern, tanpa harus merenungkan makna filosofis di balik kesemuanya itu, yang
penting kemajuan teknologi tetap dapat mereka ciptakan.
Mereka kemudian juga menemukan teknologi laser, yang sangat membantu dunia
kedokteran, teknologi komunikasi yang canggih, sampai teknologi energi nuklir.
Quantum Mekanik telah teramat sangat sukses, sampai mereka—para ilmuwan itu—
melupakan keberatan Einstein tentang hakikat filosofis dari Quantum Mekanik itu
sendiri, sehingga perdebatan untuk menemukan makna hakiki telah seolah sirna
tersapu bersih dan berakhir di bawah karpet pragmatisme. Pragmatisme telah
mengalahkan pencarian filosofis, terserahlah, yang penting ini semua bekerja sesuai
dengan apa yang kita inginkan, “Shut up and calculate,”—demikianlah jargon “masa
bodoh” mereka.
Ditengah kabut keberhasilan penerapan Quantum Mekanik secara pragmatis, masih
ada beberapa ilmuwan yang masih ingin memahami apa makna filosofis dibalik
segala keberhasilan itu. saat itu telah menginjak tahun 60-an, dan seorang ilmuwan,
terus mencari pemecahan atas argument Einstein vs Bohr, secara tuntas—dialah John
Bell (1926-1990).
“Bohr was inconsistent, unclear, willfully obscure and right/Bohr tidak konsisten,
tidak jelas, sengaja sering abu-abu, dan benar.”—Prof. Jim al-Khalili
John Bell, tentunya bukan sosok selebriti yang dikenal masyarakat luas, tetapi dia
yaitu sosok pahlawan di kalangan para fisikawan modern, seperti bagi salah satu
nara sumber kita dalam memahami Quantum Mekanik ini, Prof. Jim al-Khalili, dari
Surrey University. Kisah kehidupan John Bell yaitu kisah yang mengagumkan, ia
lahir di Belfast, pada than 1920 dari keluarga miskin, ayahnya yaitu seorang dealer
kuda, dengan penghasilan yang pas-pasan. Keluarga mereka berjuang keras untuk
bisa membiayainya menyelesaikan kuliah jurusan Ilmu Fisika di Queen University of
Belfast, dan dia yaitu anak satu-satunya yang mampu menyelesaikan pendidikan
sampai ke tingkat universitas.
Pertanyaan-pertanyaan ini masih berkecamuk dalam pikiran Bell, “Did the quantum
world only existed when it was observed? Or was there a deeper truth out there
waiting to discover? Faktanya, yang paling menggangu pikiran Bell yaitu , dia
merasa bahwa masih ada masalah pada jantung pemahaman tentang Quantum
Mekanik itu sendiri.
53
“I hesitate to think it might be wrong but I know it is wrong/Saya ragu bahwa masih
masalah dalam pemahaman Quantum Mekanik, tapi saya tahu bahwa ada yang
salah.”—John Bell
Pada awal tahun 1960, Bell memutuskan untuk memecahkan permasalahan di jantung
Quantum Mekanik tersebut, dan ini yaitu sebuah tantangan yang sungguh epic. After
all how dare you check if something is real, something is or isn’t there without
looking. Bagaimana caranya agar Anda bisa melihat sesuatu yang berada dibalik
gorden, tanpa menyingkapnya? Namun kemudian, ternyata Bell, berhasil menemukan
cara yang brilliant, dalam melakukan persis hal di atas. Menurut Prof. Jim al-Khalili,
cara Bell dalam memecahkan tantangan ini, termasuk salah satu ide paling ingenious,
dalam sejarah dunia fisika, hingga hari ini. Dan ini merupakan sesuatu yang paling
sulit dipahami dan dijelaskan. Agar Anda pun, pembaca yang budiman
memahaminya, mari kita ikuti penjelasan Prof. al-Khalili, tentunya dengan melalui
perantaraan sebuah analogi, kali ini dengan melalui sebuah permainan kartu remi,
dengan sebuah taruhan paling besar, hakikat dari realitas itu sendiri.
Analogi Permainan Kartu Remi
Permainan kartunya antara Anda—pembaca yang budiman—dengan seorang Dealer
Quantum yang misterius. Kartu remi yang dimainkan yaitu representative dari sub
atomic particles bahkan quanta dari cahaya—photon. Dan permainan yang sedang
kita mainkan ini pada akhirnya akan memberi kita kesimpulan argumen siapa yang
benar, Einstein atau Bohr. Peraturan dalam permainan kartu ini, sederhana namun
bisa memicu salah pengertian—deceptible simple. Sang dealer akan menarik
dua kartu dan ditaruh telungkup di depan Anda. Jika keduanya memiliki warna yang
sama, (sama-sama hitam atau sama-sama merah), maka Anda menang, jika berbeda
(satu berwarna hitam dan satu berwarna merah) Anda kalah.
Sekarang sang dealer telah meletakkan dua buah kartu di depan Anda, kemudian
Anda membuka kartu yang pertama, dan berwarna merah, kartu kedua ternyata hitam,
Anda kalah. Kemudian pada tarikan kartu kedua pun Anda kalah. Begitu pun pada
tarikan ketiga, keempat, kelima dan keenam, Anda tetap kalah. Anda kemudian mulai
berpikir bahwa sang dealer misterius telah berlaku curang, dia telah menyusun
tumpukan kartunya sedemikian rupa sehingga pasangan kartu yang dia tarik untuk
Anda pasti akan memiliki warna yang sama. Kemudian, Anda akan memintanya
mengubah peraturan permainan, jika pasangan kartu yang keluar berbeda warna
Andalah yang menang. Namun ternyata, Anda tetap selalu dikalahkan oleh sang
dealer quantum di depan Anda.
Dalam percobaan entanglement, Einstein mengatakan, “Just like the glove were have
already placed in the boxes so the evil dealer, stacked the cards before we
played./sama halnya dengan sepasang sarung tangan yang disimpan dalam kedua
kotak, begitu pun sang dealer, yang mengatur (dengan curang), tumpukan kartunya,
sehingga ia selalu menang.” Berarti, jika sang dealer memang mencurangi Anda,
argumen Einstein-lah yang benar. Namun ide Bohr yaitu sangat berbeda, dia
mengatakan, “Red and black don’t even exist until you turn them over/Merah atau
hitam bahkan belum tercipta sampai Anda membuka kedua kartunya.” Sekarang,
kejeniusan John Bell yaitu , saat ia bisa menemukan cara untuk menentukan siapa
yang benar dalam hal ini, Einstein atau Bohr?
54
Inilah yang kemudian Anda lakukan: Anda tidak akan memberitahu sang dealer
quantum, peraturan permainannya, apakah Anda akan menang jika pasangan kartunya
sama warna atau berbeda warna, sampai dia meletakkan sepasang kartu di depan
Anda. Sekarang, sebab dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran
Anda setiap kali ia menarik pasangan kartunya, maka dia kemudian tidak akan pernah
bisa mencurangi Anda. Sekarang dia tidak mungkin lagi bisa menang! Ok,
sekarang sepasang kartu telah dia tarik dan diletakkan di depan Anda, dalam keadaan
telungkup. Kemudian Anda menentukan peraturan permainannya, “Jika kartunya
berbeda Anda menang.”—Inilah inti dari ide yang disampaikan Bell. Jika pada
akhirnya nanti Anda berhenti main, dan angka kemenangan Anda dan sang dealer
yaitu 50:50, maka itu berarti Enstein-lah yang benar—sang dealer tetap telah
melakukan kecurangan atas Anda. Tapi bagaimanakah ternyata, jika Anda tetap
menjadi pihak yang kalah?
Jika Anda tetap menjadi pihak yang kalah maka berarti, tidak ada penjelasan yang
kemudian masuk akal. sebab penjelasannya berarti yaitu : masing-masing kartu
telah saling berkomunikasi secara diam-diam, dengan saling memberi signal satu
sama lain, melalui ruang dan waktu. Dengan sangat terpaksa kemudian kita harus
menerima kenyataan bahwa: dalam tingkat quantum fundamental, kenyataan benar-
benar tidak dapat diketahui/At the fundamental quantum level, reality is truly
unknowable. Bell kemudian menuangkan idenya ke dalam sebuah rumus matematika:
P (a,c -P a P b,c) << 1
Rumus tersebut menjelaskan bahwa sesuatu yang seolah tidak berjawab,
“Bagaimana sebenarnya realita itu/ how reality really is.” John Bell
mempublikasikan jawabannya ini tersebut, pada tahun 1964 dan sungguh luar biasa
saat ide luar biasa lengkap dengan perumusan matematika-nya ini ternyata telah
diabaikan oleh komunitas para ahli fisika pada masa itu. Mungkin sebab dunia
memang belum siap dengan jawaban ini. Mungkin sebab rumus di atas, sulit untuk
dibuktikan kebenarannya, atau bahkan tidak ada yang menganggap bahwa rumus itu
berhak mendapat pembuktian.
Sekelompok Hippies yang Ahli Fisika
Namun hal ini akan segera mendapatkan tanggapan dari sebuah kalangan yang paling
tidak dapat diduga sebelumnya, kalangan para hippies. Sebuah kelompok kecil
hippies yang juga yaitu ahli fisika, yang bekerja di Universitas Brooklyn, mereka
menghisap ganja, ngegembel, dan menyukai perdebatan tentang Buddhism dan
telepathy dan mereka mencintai Quantum Mekanik, sebab paralel dengan versi
realitas aneh mereka, dengan keyakinan mereka yang nyeleneh/esoteric. Kaum hippie
penganut fisika new age ini telah menarik perhatian publik sebab mereka telah
menerbitkan artikel -artikel yang memang menarik, yang merupakan campuran antara
Quantum Mekanik dengan Eastern Mysticism. artikel -artikel seperti, The Tao of Physics
by Fritjof Capra, The Dancing Wu Li Master by Gary Zukav, dan Space-Time and
Beyond, toward an Explanation of the unexplainable by Bob Toben.
Dan yang paling penting terhadap cerita ini, yaitu merekalah yang pada akhirnya
kembali menaruh perhatian pada perbedaan pendapat antara Einstein dan Bohr, yakni
tentang hakikat dari realitas itu sendiri/the nature of reality. Mereka memahami
55
bahwa ide Bohr, secara tidak langsung juga telah mendukung ide-ide mereka yang
esoteric itu. sebab juga sepasang partikel bisa melakukan, “Spookily communicate
across space,” maka ESP, telepati, dan clairvoyance mungkin juga benar. Jika saja
mereka bisa benar-benar membuktikan kebenarannya. Kemudian pada tahun 1972,
mereka menyadari bahwa dengan sedikit pembuktian matematis, mereka bisa
membawa persamaan matematika Bell, dibuktikan secara ekperimental.
Salah seorang diantara mereka yaitu John Klauser, kemudian meminjam peralatan
dari laboratorium tempat ia bekerja, dan kemudian merancang untuk pertama kalinya,
sebuah percobaan yang sederhana, genuine, dalam percobaan Quantum Mekanik.
Percobaan ini yaitu yang pertama kalinya, dengan alat percobaan yang mereka
rancang dari sparepart pinjaman dan bahkan sebagian yaitu hasil curian, sebab
mereka tidak punya donatur. Dalam beberapa tahun setelahnya, percobaan ini telah
diperbaiki oleh team yang diketuai oleh Alan Aspec di Paris, sehingga hasilnya pun
lebih dapat diandalkan.
Setelah satu dekade berlalu semenjak Bell mengumumkan rumus matematika-nya
tentang Quantum Mekanik yang ia temukan, akhirnya rumus tersebut kini siap untuk
diuji. Ini yaitu versi modern dari ekperimen yang pertama kali dilakukan oleh John
Klauser dan kemudian dilanjutkan oleh Alan Aspec. Peralatan percobaan yang
mereka buat terdiri dari sebuah kristal yang bisa mengubah sinar laser yang
melaluinya menjadi pasangan partikel quanta photon yang entangle/terjalin. Dengan
kata lain, kristal ini yaitu alat untuk memproduksi pasangan entanglement
particles—dalam wujud sepasang partikel yang memiliki pancaran/beams yang persis
sama. Kedua quanta photon yang terjalin itu kemudian dipancarkan ke berbagai arah,
kemudian dibelokkan kembali agar menembus sebuah alat pendeteksi. Kedua quanta
photon yang terjalin ini, telah kita ibaratkan di atas sebagai sepasang kartu kartu remi,
yang diletakkan oleh sang dealer quantum misterius itu di depan Anda, dalam
permainan kartu quantum di atas.
Percobaan ini akan melakukan pengukuran terhadap property/atribut dari sebuah
photon, yang dikenal dengan istilah polarization/polarisasi, yang kita telah
analogikan dengan warna kartu dalam analogi permainan kartu yang telah Anda
mainkan dalam pikiran Anda. Jadi, misalnya Anda menang saat kedua kartu
memiliki warna yang sama, misalnya keduanya berwarna merah, setara dengan dua
quanta photon yang memiliki polarisasi yang matching. Namun, sebab ini yaitu
Quantum Mekanik, tentunya akan lebih rumit dibandingkan analagi permainan kartu kita,
alat percobaan yang mereka rancang juga memiliki kapasitas untuk mengukur
property/atribut photon yang lain, selain polarisasi, dan hal ini setara kapasitas kita
bukan hanya dapat menebak warna kartu pada sisi muka kartu, namun juga kapasitas
dalam menebak warna punggung kartu, sudah lebih rumit dibandingkan analogi kartu kan,
sebab biasanya punggung kartu memiliki warna yang sama bagi sepak kartu remi.
Percobaan tersebut dimulai saat tombol sinar laser dinyalakan, alam penghitung
pasangan quanta photon menunjukkan berapa banyak pasangan terjalin yang
dihasilkannya, itu setara dengan berapa banyak pasangan kartu yang dalam permainan
kartu. Sebuah display grafik dalam rangkaian alat percobaan tersebut menunjukkan
probabilitas bahwa kita bisa memenangkan percobaan jika kita menebak dengan
benar, semakin banyak photon-nya semakin akurat pengukurannya, uncertainty level
disetel pada angka 1%, dan hasil perhitungan finalnya yaitu 0.56, angka ini akan kita
56
masukan ke dalam rumus matematika Bell, kemudian kita akan mengulangi
percobaan ini 3 kali lagi, dengan setingan yang berbeda. Setiap setingan, setara
dengan setiap peraturan permainan kartu yang pernah Anda mainkan dengan sang
dealer quantum di atas, dan saat hasilnya semuanya dimasukkan ke dalam rumus
Bell, maka jika hasilnya <2 Einstein-lah yang benar—deck kartu bisa disetting untuk
kemenangan sang dealer quantum, dan memang inilah pandangan Einstein. Namun
jika hasilnya >2 maka Bohr yang benar, itu artinya deck kartu dalam analogi
permainan kartu di atas tidak bisa di-setting dan sesuatu yang lain telah bekerja.
Sekarang percobaan dilakukan dengan settingan kedua, hasilnya kali ini 0.82,
kemudian alat percobaan di reset untuk melakukan percobaan berikutnya dengan
setingan yang berbeda lagi dari sebelumnya, dan hasilnya yaitu -0.59, dan yang
terakhir percobaan ke-4, angka terakhir yang dihasilkan akan pada akhirnya akan
menunjukkan apakah dunia ini bekerja sesuai dengan pemikiran awan kita, atau
dengan sebuah tatanan yang bizarre/luar biasa aneh. Kemudian hasil akhirnya
ternyata yaitu bukan 0.56, kemudian sinar laser pun dimatikan, percobaan telah
selesai, Prof. Jim al-Khalili, kemudian memasukkan keempat angka hasil percobaan
itu ke dalam rumus John Bell, dan hasilnya ternyata yaitu 2.53 (lebih besar dari 2,
atau >2)! Sebuah bukti absolut bahwa Albert Einstein ternyata salah dan Niels Bohr-
lah yang benar.
“Bulan pun berhenti mewujud saat kita tidak lagi melihat ke arahnya.”— Prof. Jim
al-Khalili
Hasil percobaan di atas memiliki efek yang luar biasa mengguncang, jika kita selami
maknanya bahwa versi realita Einstein terbukti salah, sebab memang tak akan ada
yang sanggup menipu alam. Property/atribut dari kedua photon yang saling terjalin,
bisa saja telah selaras dari awal, namun kita hanya bisa memanggilnya menjadi
kenyataan saat kita melakukan sebuah pengukuran terhadap mereka. Sesuatu yang
tidak kita ketahui, telah menghubungkan mereka menerobos ruang, sesuatu yang kita
tidak bisa jelaskan, atau bahkan kita bayangkan, kecuali ditangkap dengan memakai
rumus matematika. Jadi benarlah pernyataan bahwa, “Bulan pun berhenti mewujud
saat kita tidak lagi melihat ke arahnya.” Hasil percobaan ini benar-benar telah
meruntuhkan common sense, tak heran jika kemudian di masa akhir hayatnya Einstein
kemudian menulis, “All these 50 years of conscious brooding have brought me no
nearer to the question-what are light quanta. Every Tom and Dick and Harry thinks
he knows it. But he is mistaken/Setelah selama 50 tahun merenungi ini semua dengan
penuh kesadaran, ternyata tidak sedikit pun aku menemukan jawaban atas
pertanyaan, Apa itu quanta cahaya? Setiap kali Tom dan Dick dan Harry, berpikir
bahwa dia mengetahuinya, ternyata dia pun telah kembali terperdaya.”Meskipun
percobaan tersebut yaitu sebuah konfirmasi bahwa, “Apa pun yang terjadi, kita tak
bisa memahaminya.” Namun ini bukanlah berarti, umat manusia kemudian berhenti
melakukan segala usaha untuk mencoba memahaminya. Seperti Einstein, Prof. Jim
al-Khalili tetap yakin, bahwa suatu saat para fisikawan akan pada akhirnya bisa
memahami apa itu Quantum Mekanik, dan itu pun yang telah tetap membuat para ahli
fisika modern seperti sang professor tetap tidak bisa memejamkan mata di waktu
malam, sebab memikirkannya.
57
Singularity—The Quantum Theory of Gravity—String Theory (Upaya
memecahkan rumus matematika dari Singularity)
“Moon are “falling” to the Earth/Sang Bulan pun sedang dalam perjalanan abadi
dalam rangka terjatuh ke permukaan bumi.
Sebelum masuk ke Teori Quantum Gravitasi, mari kita bahas sedikit tentang Apa itu
teori Gravitasi itu sendiri, sekedar untuk menyegarkan ingatan kita tentangnya.
Pada tahun 1687 Isaac Newton mendefinisikan gravitasi sebagai, dua buah massa
yang merasakan sebuah daya gravitasi di antara keduanya. Daya itu merupakan
sebuah kekuatan yang lemah, hal itu dibuktikan dengan percobaan sederhana: sebuah
klip kertas yang menempel pada sebatang magnet, tidak dapat terjatuh ke lantai,
berarti daya elektromagnet yang menariknya lebih kuat dibandingkan daya gravitasi
Newton.
Sebelum diruntuhkan oleh teori gravitasi Einstein di tahun 1915, Teori Gravitasi
Newton—The Falling Magnificent Theory, setelah bertahan selama kurang lebih 200
tahun, telah berhasil di antaranya: Memprediksi keberadaan Planet baru kala itu,
Planet Neptunus, dengan mengamati pergerakan dari Planet Uranus, dengan
pemakaian rumus matematika dari teorinya, dan juga telah berhasil memprediksi
pergerakan dari semua planet dalam sistem tata surya.
Teori Gravitasi Newton sangat spektakuler, namun demikian, ada hal yang
mengganggu pikirannya, daya gravitasi yang dicerna Newton, melibatkan sebuah
komunikasi secara instan/tanpa media dalam jarak yang jauh. If I move the Apple, the
force between the Apple and the force between the aoole and the Earth is
instantenously, this bothering Newton, sebab terciptanya sesuatu secara instan
merupakan sebuah ide yang janggal—“action in distance”—silahkan lihat bagian
“Spooky Action at the Distant. Jika menapikan keberadaaan Tuhan, pastilah hal ini
menjadi aneh. Bagi Tuhan sih tinggal, “Kun!”
“That gravity should be innate inherent and essential to matter so that one body may
act upon another at distance through a vacuum without the mediation of anything else
(...) is to me so GREAT an absurdity that I believe no man who has philosophical
matters any competent facutly of thinking can ever fall to it.”—Sir Isaac Newton
Teori Gravitasi Einstein: In 1905, Einstein found out that, “The universe has a speed
limit of 300,000 km/s =the speed of light. The special theory of relativity, one of the
concept of Einstein.
“Gravity is the curvature of space and time/gravitasi yaitu lekukan-lekukan ruang
dan waktu—gravitasi bukan sebuah daya.”—Einstein’s 1915).
Paradox or Contradiction with Newton’s:
N: Instantenously Theory VS E: The Speed of limit = Something has to give up!
58
Pada tahun 2015, terbukti keberadaan Black Hole, pemikiran tentangnya telah ada
jauh sebelumnya. In a remarkable short of time Einstein know what is the next step, in
1915 Einstein developed the Theory of General Relativity, “Gravity is not a force!
Gravity is the manisfestation of the curvature of spacetime.” The slogan: Metacurves
space and time and curve space and time in a term of how matters moves.
The best proof that Newton’s wrong, into the deeper more profound structure.
Prediction of the existing of the black holes. Cast Worchil? Who was a German
scientist, a few week after Einstein wrote the mathematical solution, he finds Black
Holes solution. Bukti bahwa kecepatan ilham melampaui kecepatan cahaya, ide
pemikiran tentang adanya Black Hole di tahun 1915, sementara bukti tentang
keberadaannya di tahun 2015, dari black hole tersebut tercipta sampai informasinya
sampai ke monitor pemancar bumi, yaitu milyaran tahun cahaya, sementara idenya
terbit di pikiran di tahun 1915, lebih cepat sampai idenya dibandingkan bukti
keberadaannya. Pemikiran/Ilham lebih cepat mendarat di bumi dibandingkan kecepatan
cahaya! Detailin lagi mil, pembuktian black holenya, yakinkan lagi memang ada
kaitannya dengan kecepatan cahaya. Kalau bener mantep bener! Mantap betul,
mantul!
“Kecepatan pikiran/ilham dari Tuhan, melebihi kecepatan cahaya.”—Ki Ngawur
Permana, Nyi Damar Sagiri, Kitab Sihir Rahasia Kuno.
Dua buah “rule books” untuk dua hal dengan skala yang berbeda
yaitu sbb.:
• General Relativity mengatur skala macro, hal-hal yang sangat besar.
• Quantum Mechanics mengatur dunia yang sangat kecil—partikel sub atomic.
Para ahli fisika—Physicists—masih berupaya untuk merumuskan secara matematis
gabungan dari kedua “rule books” dengan skala yang berbeda tersebut di atas, dalam
sebuah perumusan untuk The Quantum Theory of Gravity. Black holes yaitu
tempat di mana general relativity dan quantum mechanics dipertemukan—The
Quantum Theory of Gravity, dan untuk sementara ini mereka pun telah mentok, dan
mungkin kali ini selamanya mereka akan, well … mentok di dalam Black Hole!
“Quantizing Gravity is the greatest challenge in theoretical fundamental physics
today. To quantize gravity, you have to know what gravity is! Classically, it’s the
local curvature of spacetime. Jadi gravitasi, ternyata masih belum diketahui
hakikatnya! Apparently, quantum gravity (QG).”
Mentok sebab , setelah definisi dan perumusan Newton tentang gravitasi runtuh,
definisi Einstein pun ternyata pada akhirnya setelah diteliti lebih dalam ke skala
tingkat quantum, pada akhirnya runtuh juga, sebab Quantum Gravity (QG) yaitu
bukan merupakan sebuah teori yang hanya meng-quantize local spacetime curvature,
QG menurut ahli fisika quantum atau ahli Fisika Partikel yaitu sesuatu yang
misterius dan non-local—sesuatu yang gaib! Dan masih gaib saat Anda membaca
artikel ini, dan gaib untuk generasi-generasi yang akan datang, kecuali—tentu saja—
jika Tuhan memberi pemahaman baru pada umat manusia.
59
“… wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihiii illaa bimaa syaaa’/dan mereka tidak
mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya, melainkan apa yang Dia
kehendaki.”—QS. al-Baqarah 255
Mentoknya Jangkauan Science, Mentoknya The Theory of Everything— The
Quantum Theory of Gravity
Science telah dianggap sebagai agama atau jalan yang masuk akal bagi kalangan para
ilmuwan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan paling sulit tentang alam semesta
raya, namun pada akhirnya science pun kemudian kembali menemui jalan buntu,
saat semua jawaban yang mereka harapkan yaitu jawaban yang tidak melibatkan
Tuhan, maka tidak akan pernah mereka menemukan sebuah jawaban yang
memuaskan. The Theory of Everything—is God, without involving God—teori ini pun
telah terjegal, sebab begitu para ahli fisika memasuki realm sebuah Black Hole, maka
di situlah Teory Einstein, General Relativity pun kemudian runtuh!
Benturan yang terjadi di antara dua buah Black Hole, telah menghasilkan riak
gelombang gravitasi yang menjalar sampai ke detector yang ada di Bumi—Ligo
experiments yaitu untuk mendeteksi gelombang gravitasi. Pada tahun 2015 telah
tertangkap oleh detector yang ada di Bumi, 4 km arms by 1000 size of atomic nuclear.
Terjadinya benturan dua buah Black Hole ini berlangsung pada sekitar 1.3 milyar
tahun cahaya yang lampau, dan tiba di permukaan Bumi pada tahun 2015, ini yaitu
salah satu contoh nyata, bahwa “Kecepatan pikiran—ilham tentang adanya Dark
Star, lebih cepat tiba di dalam benak seorang manusia, John Michell (1783)—lebih
cepat dibandingkan kecepatan cahaya.” (tiba tahun 2015)~Kitab Sihir Rahasia Kuno.
Dengan kata lain, “Kecepatan ilham pemikiran yang terbit di benak dan hati
(pencetus black hole pertama, dark star), dibandingkan kecepatan gelombang gravitasi
yang riaknya meluncur dalam kecepatan cahaya.”
Kemudian 3 Black Hole lainnya ditemukan lagi setelah tahun 2015, ilmu astronomi
pun diperkirakan akan mengalami perkembangan yang menarik, sebab memiliki
jendela baru dalam mengamati alam alam semesta—gelombang gravitasi.
saat Black Holes tak lagi murni sekedar sebuah teori, Black Hole ternyata memang
benar-benar ada! Di dalam sebuah Black Hole terdapat spacetime singularity.
Everything is an Instantaneous Creation of God.
Phillip Ball, dalam artikel nya yang membahas Quantum Mechanic, Beyond Weird,
menjelaskan bahwa secara fundamental saat kita melihat secara lebih mendalam,
tidak ada itu sebuah hukum alam yang mengikat apa pun, segalanya ternyata bersifat
random. Sehingga demikian maka kalimat, “Nothing is random, everything is
connected” pun telah diruntuhkan oleh Quantum Mechanic. Di lihat dari sisi teologi,
benarlah ternyata kiranya bahwa, “Everything is an instantaneous creation of God”.
Sementara itu dalam khayalan, Holywood, telah ikut mengangkat tema ini, membantu
kita dalam memvisualisasikan jika suatu saat nanti rumus matematika dari The
Quantum Theory of Gravity ini pada akhirnya terpecahkan, meskipun dengan cara
60
yang bahkan lebih absurd yakni manusia memasuki black hole via lubang cacing
(worm hole) tanpa drama—tanpa spaghettified/ripped apart by gravity di mulut Black
Hole (Event Horizon) yang dinamai Gargantua di film itu, yang sebagian besar ahli
fisika masa ini akan mengatakan bahwa keberadaan dari teori adanya lubang cacing
itu yaitu , “Its not even wrong (salah aja enggak, apalagi benar)”. Dan kemudian
“sesuatu” memberitahu sebuah kode matematika singularity, dan anaknya berhasil
menyelesaikan rumus matematika dari Quantum Theory of Gravity, dan menyerukan
“Eureka!”
Film Scifi besutan Sutradara dan sekaligus script writer-nya Christopher Nolan,
berdurasi sekitar 169 menit, dan menghabiskan dana sekitar USD 165 juta itu,
berjudul: The Intersellar (tahun 2014), mengisahkan saat Planet bumi menjelang
ajalnya, tumbuhan sudah mulai mengering sebab climate change, sehingga
keberadaan umat manusia pun berada di ambang kepunahan. Beberapa ekspedisi
dalam rangka mencari potensi planet baru untuk melangsungkan keberadaan umat
manusia dengan beberapa skenario pun dilakukan. Dalam prosesnya seorang ahli
matematika quantum, berhasil memecahkan rumus matematika dari Quantum Theory
of Gravity, sebab ayahnya yang berada di dalam Gargantua mengirimnya kode-kode
yang ia perlukan, ayahnya ini mendapat bantuan dari sebuah entitas gaib yang berada
di dalam Gargantua—Tuhan kah yang mereka maksud?
Namun dalam kenyataannya, umat manusia masih belum menemukan cara untuk
melakukan perjalanan ke Black Hole terdekat yang telah berhasil ditemukan untuk
menemukan rahasia variable-variable matematika dari singularity, sebab rahasianya
memang berada di dalam sebuah Black Hole itu. Menggabungkan Teory General
Gravitasi dan Teory Quantum Mekanik dalam sebuah rumus matematika String
Theory, bagaikan menggabungkan paham fatalisme dan paham non-fatalisme dalam
merumuskan apa itu takdir.
Bagian 6: Definisi dan Jenis-Jenis Santet
Definisi Santet
Santet yaitu segala jenis fitnah, yang mengakibatkan segala macam musibah,
kesengsaraan, dari yang teringan yakni penyakit, terbunuhnya seseorang atau
sekelompok orang, sampai penghancuran nama baik, dihukum sebab perbedaan
pendapat, atau sebab pihak yang berkuasa telah mengintrepretasikan apa yang kita
katakan atau kita tulis menurut opini mereka saja tanpa mau mendengarkan apa
makna yang dimaksudkan oleh si penuturnya, pembekapan dalam berpendapat, dan
santet/fitnah yang paling berbahaya dari segalanya yaitu membuat seseorang atau
sekelompok orang atau seisi dunia mengalami, kelumpuhan berpikir, kebutaan mata
batinnya dan ketulian telinga hatinya, dan sama sekali tidak mampu lagi melihat
hakikat dari segala sesuatu, di mana segala sesuatu selalu tidaklah seperti terlihat oleh
penglihatan lahir saja—lihat 3 hal yang terjadi dalam perjalanan Nabi musa as. dan
Nabi Khidir as. pada QS. Al-Kahfi. Dan tahukah Anda bahwa media santet yang
paling dahsyat yaitu pesawat TV Anda di rumah? Jika Anda ingin Anda sekeluarga
terbebas dari santet/fitnah yang paling dahsyat, langkah pertama yaitu dengan
menendang semua pesawat TV yang ada di rumah Anda ke tempat sampah. Dan
61
media santet kedua terdahsyat? Errrrh ... mungkin HP pintar Anda, itulah sebabnya
harganya kian terjangkau dari hari ke hari, sampai siapa pun kini bisa memilikinya.
Jenis-Jenis Sentet
Dilihat dari juru santet-nya
Jika dilihat dari SIAPA yang menyantet, jenis santet bisa terdiri dari santet kutukan
orang tua, santet dengan pemakaian Jin, santet yang dilakukan oleh diri sendiri—
santet bunuh diri, dan santet yang dilakukan oleh para pengiri dan pendengki secara
umum (santet yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, santet sesama
manusia).
Santet Kutukan Orang Tua
Orang tua kita yaitu ibarat kita yaitu sebuah lukisan dan mereka yaitu pelukisnya.
Bentuk, nada warna, pencahayaan dan semua aspek yang ada di dalamnya mereka
yang menentukan di awal. Meskipun kanvasnya tetap kita, dan kanvas itu tentu saja
bisa dilukis ulang, namun begitulah kenyataannya. Tidak ada jawaban yang sempurna
kenapa Tuhan menginginkan kita terlahir dari situ, selain jawaban bahwa itu yaitu
kehendak-Nya. Oleh sebab itu, saat Anda merasa hidup Anda penuh
keterpurukkan, cek kualitas hubungan Anda dengan mereka, cek apa saja yang
mereka katakan pada Anda tentang Anda, terutama saat Anda masih kecil. sebab
perkataan mereka yang menjadi kenyataan Anda, yaitu ibarat mantra-mantra yang
segera harus Anda patahkan. Bagaimana cara mematahkan sugesti dengan efek santet
dari mereka? Berhentilah memposisikan mereka sebagai Tuhan dalam kehidupan
Anda, sebab mereka jadi orang tua Anda bukan sebab jasa mereka, tapi sebab jasa
Tuhan.
Kisah Malin Kundang mungkin yaitu kisah yang paling terkenal dan membekas di
relung hati setiap anak yang membacanya, di situ dikisahkan bagaimana seorang anak
laki-laki yang bernama Malin Kundang, setelah dewasa dan sukses malah menjadi
anak yang tidak berbakti pada ibunya, dan kemudian sang ibu yang sakit hati itu,
mengutuknya menjadi batu. Cerita itu memang berpihak pada sang ibu, atau orang
tua, yang dianggap benar dalam menjatuhkan hukuman berupa sebuah kutukan, dan
sebab si anak memang melakukan kesalahan fatal, maka alam semesta mendukung
jatuhnya kutukan itu dalam hitungan detik. Namun, mungkin Anda lantas bertanya,
bagaimana jika yang terjadi hanyalah sebuah miss-communication antara pihak orang
tua dan anak? Jika misalnya, sang juru cerita yaitu




