Seperti alam raya dengan cerita-cerita
yang menakjubkan."
"Seperti yang sudah kuduga
. Botol biru itu yaitu individualisme.
Itulah, misalnya, reaksi Soren?Kierkegaard terhadap idealisme kaum
Romantik. Tapi itu juga memengaruhi seorang tokoh Denmark lain
yang hidup pada masa yang sama dengan Kierkegaard, yaitu penulis
dongeng terkenal Hans Christian Andersen. Dia mempunyai
ketajaman mata yang sama untuk kekayaan perincian alam yang luar
biasa. Seorang filosof yang melihat hal yang sama lebih dari seabad
sebelumnya yaitu Leibniz dari Jerman. Dia bereaksi terhadap
filsafat idealistik Spinoza sebagaimana Kierkegaard bereaksi
terhadap Hegel."
"Aku dapat mendengar Anda, tapi Anda kedengaran sangat lucu
sehingga aku ingin tertawa."
"Itu dapat dimengerti. Cobalah seteguk lagi dari botol merah.
Ayolah, mari duduk di sini di undakan. Kita akan membicarakan
sedikit tentang Kierkegaard sebelum kita berhenti untuk hari ini."
Nyai girah duduk di atas undakan di samping Alberto. Dia minum
sedikit dari botol merah dan segala sesuatu mulai menyatu lagi.
Sesungguhnya semua itu begitu menyatu; sekali lagi dia mempunyai
perasaan bahwa perbedaan tidak ada artinya lagi. Tapi dia hanya
perlu menyentuhkan botol biru ke bibirnya lagi agar dunia di
sekitarnya tampak kurang-lebih sama dengan saat Alice datang
membawa dua botol ini .
"Tapi manakah yang benar?" kini dia bertanya. "Apakah botol
merah atau botol biru yang memberikan gambaran yang benar?"
"Dua-duanya, yang merah dan yang biru, Nyai girah . Kita tidak dapat
mengatakan bahwa kaum Romantik salah dengan pendapat mereka
bahwa hanya ada satu realitas. Tapi mungkin mereka agak sedikit
sempit dalam memandang segala sesuatu."
"Bagaimana dengan botol biru?"
"Kukira Kierkegaard pasti telah meneguk banyak-banyak dari yang
itu. Dia jelas mempunyai pandangan yang tajam bagi makna penting
individu. Kita ini lebih dari sekadar `anak-anak zaman'. Dan selain
itu, kita masing-masing yaitu individu unik yang hanya hidup
sekali."
"Dan Hegel tidak banyak membicarakan hal itu?"
"Tidak, dia lebih tertarik pada jangkauan sejarah yang luas. Inilah
yang membuat Kierkegaard marah. Dia beranggapan bahwa
idealisme kaum Romantik maupun `historisisme' Hegel telah
mengaburkan tanggung jawab individu terhadap kehidupannya
sendiri. Oleh karena itu, bagi Kierkegaard, Hegel dan kaum
Romantik mempunyai kesalahan yang sama."
"Aku dapat mengerti mengapa dia begitu marah."
"Soren Kierkegaard dilahirkan pada 113 dan dididik dengan
sangat keras oleh ayahnya. Melankolia keagamaannya merupakan
warisan dari ayahnya ini."
"Kedengarannya tidak menyenangkan."
"Karena melankolia inilah, dia merasa wajib membatalkan
pertunangannya, sesuatu yang dianggap tidak begitu baik oleh
kalangan borjuis Copenhagen. Bagaimanapun, lambat laun dia
berusaha untuk memberikan sesuatu sebagaimana yang diterimanya,
dan makin lama dia makin menjadi apa yang di kemudian hari
digambarkan oleh Henrik Ibsen sebagai `musuh masyarakat'."
KIERKEGAARD
"Semua itu dikarenakan pertunangannya yang batal?"
"Tidak, bukan hanya karena itu. Menjelang akhir hayatnya,
terutama, dia menjadi sangat kritis terhadap masyarakat. `Seluruh
Eropa sedang menuju kebangkrutan', katanya. Dia percaya bahwa dia
hidup pada suatu zaman yang sama sekali tidak mengindahkan hasrat
dan kesetiaan. Dia sangat marah pada kehambaran Gereja Lutheran
Denmark yang telah mapan. Dia sangat keras mengkritik apa yang
mungkin kamu sebut `agama Kristen Minggu'."
"Belakangan ini kita membicarakan `agama Kristen keyakinan'.
Kebanyakan anak-anak hanya merasa yakin karena hadiah-hadiah
yang mereka dapatkan."
"Ya, kamu mengerti maksudnya. Bagi Kierkegaard, agama Kristen
itu sekaligus luar biasa dan sangat irasional sehingga
kemungkinannya hanyalah ya atau tidak. Tidaklah baik menjadi `agak'
saleh atau saleh `sampai tahap tertentu'. Sebab Yesus itu benar-benar
bangkit pada Hari Paskah—atau tidak sama sekali. Dan jika memang
dia benar-benar bangkit dari kematian, jika dia memang benar-benar
mati—hal ini merupakan sesua tu yang luar biasa sehingga agama
ini harus menyusup ke dalam seluruh kehidupan kita."
"Ya, kukira aku mengerti."
"Tapi Kierkegaard melihat bagaimana Gereja dan juga masyarakat
pada umumnya melakukan pendekatan yang tidak disertai keyakinan
pada masalah-masalah keagamaan. Bagi Kierkegaard, agama dan
pengetahuan itu seperti api dan air. Tidak cukup bagi kita untuk
percaya bahwa agama Kristen itu `benar'. Mempunyai keyakinan
Kristiani berarti mengikuti jalan hidup Kristiani." "Apa hubungannya
ini dengan Hegel?" "Kamu benar. Mungkin kita berangkat dari tempat
yang salah." "Maka kusarankan Anda mengulangi dan mulai dari
awal lagi." "Kier kegaard mulai mempelajari teologi saat berusia
tujuh belas tahun, tapi dia justru semakin asyik dengan pertanyaan-
pertanyaan filosofis. saat dia berusia dua puluh tujuh tahun, dia
mengambil gelar masternya dengan disertasi `Mengenai Konsep
Ironi'. Dalam karya ini, dia benar- benar bergelut dengan ironi
Romantik dan permainan kaum Romantik yang tak terikat dengan
ilusi. Dia menempatkan `ironi Socrates' sebagai lawannya. Meskipun
Socrates telah memanfaatkan ironi, tujuannya yaitu untuk
mendapatkan kebenaran-kebenaran mendasar tentang kehidupan.
Tidak seperti kaum Romantik, Socrates yaitu seperti apa yang
disebut Kierkegaard sebagai pemikir `eksis tensial'. Ya itu, seorang
pemikir yang membawa seluruh eskistensinya ke dalam perenungan
filosofisnya."
"Jadi?"
"Setelah membatalkan pertunangannya pada 114, Kierkegaard
pergi ke Berlin di mana dia menghadiri kuliah-kuliah Schelling."
"Apakah dia bertemu dengan Hegel?"
"Tidak, Hegel telah meninggal sepuluh tahun sebelumnya, tapi
gagasan-gagasannya sangat berpengaruh di Berlin dan di banyak
bagian Eropa. `Sistem'-nya digunakan sebagai semacam penjelasan
serbaguna untuk segala macam pertanyaan. Kierkegaard
mengemukakan bahwa jenis `kebenaran objektif yang menjadi
keasyikan Hegelisme sama sekali tidak relevan dengan kehidupan
pribadi seorang individu."
"Kalau begitu, jenis kebenaran mana yang relevan?"
"Menurut Kierkegaard, yang penting bukannya mencari Kebenaran
dengan huruf K besar, tetapi menemukan jenis kebenaran-kebenaran
yang memberikan makna bagi kehidupan individu. Yang lebih penting
yaitu menemukan `kebenaran untukku'. Maka dia menggerakkan
individu, atau setiap orang, untuk melawan `sistem'. Kierkegaard
menganggap Hegel telah lupa bahwa dia yaitu seorang manusia.
Inilah yang ditulisnya mengenai penganut Hegel: `Sementara sang
Profesor yang membosankan menjelaskan segenap misteri kehidupan,
dalam keasyikannya dia melupakan namanya sendiri; bahwa dia
seorang manusia, tidak kurang dan tidak lebih, bukan bagian dari
suatu paragraf.'"
"Dan apakah, menurut Kierkegaard, manusia itu?"
"Tidak mungkin mengatakannya dalam pengertian umum. Suatu
deskripsi luas mengenai hakikat manusia atau sosok manusia itu sama
sekali tidak menarik bagi Kierkegaard. Satu-satunya hal yang penting
yaitu `keberadaan' manusia itu sendiri. Dan kamu tidak merasakan
keberadaanmu sendiri di belakang meja. Hanya pada waktu kita
bertindak—dan terutama saat kita menentukan pilihan-pilihan
penting—lah kita berhubungan dengan keberadaan kita sendiri. Ada
cerita tentang Buddha yang dapat memberikan gambaran apa yang
dimaksudkan Kierkegaard."
"Tentang Buddha?"
"Ya, sebab filsafat Buddha juga mengambil keberadaan manusia
sebagai titik tolak. Konon ada seorang biarawan yang bertanya
kepada Buddha kalau-kalau dia dapat memberikan jawaban yang
lebih jelas terhadap pertanyaan mendasar, yaitu, apakah dunia itu dan
apakah manusia itu. Buddha menjawab dengan menyamakan si
biarawan dengan seorang manusia yang terkena panah beracun.
Orang yang terluka itu tidak menaruh minat teoretis pada masalah
terbuat dari bahan apa anak panah itu, jenis racun apa yang
digunakan, atau dari arah mana ia datang."
"Dia terutama ingin ada seseorang yang dapat melepaskan anak
panah itu dan merawat lukanya."
"Ya, memang begitu. Itu secara eksistensial penting baginya. Baik
Buddha maupun Kierkegaard mempunyai perasaan kuat mengenai
keberadaan yang sangat singkat. Dan seperti yang tadi kukatakan,
karenanya kamu tidak akan duduk di belakang meja dan
membicarakan filsafat mengenai hakikat ruh dunia."
"Tidak, tentu saja tidak."
"Kierkegaard juga mengatakan bahwa kebenaran itu `subjektif'.
Dengan ini yang dimaksudkannya bukanlah bahwa yang kita pikirkan
atau kita percayai itu tidak penting, tetapi bahwa kebenaran-
kebenaran yang benar-benar penting itu bersifat pribadi. Hanya
kebenaran-kebenaran inilah `yang benar bagiku.'"
"Dapatkah Anda memberikan contoh tentang kebenaran subjektif?"
"Suatu pertanyaan yang penting yaitu , misalnya, apakah ajaran
Kristen itu benar. Ini bukanlah pertanyaan yang dapat kamu
kemukakan secara teoretis atau akademis. Bagi seseorang yang
`memahami dirinya sendiri dalam kehidupan', ini merupakan masalah
hidup dan mati. Itu bukan sesuatu yang dapat kamu diskusikan sambil
duduk-duduk demi diskusi itu sendiri. Itu yaitu sesuatu yang harus
didekati dengan kemauan dan ketulusan paling murni."
"Dapat dimengerti."
"Jika kamu jatuh ke dalam air, kamu tidak mempunyai minat
teoretis pada pertanyaan apakah kamu akan tenggelam atau tidak.
Bukan masalah `menarik' atau `tidak menarik' jika ada buaya raksasa
di dalam air. Itu masalah hidup dan mati."
"Aku mengerti, terima kasih banyak."
"Jadi kita harus membedakan antara pertanyaan filosofis apakah
Tuhan itu ada dan hubungan individu itu dengan pertanyaan yang
sama, suatu situasi di mana setiap manusia benar-benar sendirian.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya dapat didekati melalui
iman. Hal-hal yang dapat kita ketahui melalui akal, atau pengetahuan,
menurut Kierkegaard sama sekali tidak penting."
"Kukira Anda lebih baik menjelaskan itu."
"Delapan ditambah empat yaitu dua belas. Kita dapat sepenuhnya
yakin akan hal ini. Itulah contoh dari jenis `kebenaran akal' yang telah
dibicarakan oleh para filosof sejak Descartes. Tapi apakah kita
memasukkannya dalam doa kita sehari-hari? Apakah itu sesuatu yang
akan kita renungkan pada saat kita hendak menemui ajal? Sama sekali
tidak. Kebenaran-kebenaran semacam itu bisa jadi `objektif dan
`umum', namun semuanya itu sama sekali tidak penting bagi
keberadaan setiap manusia."
"Bagaimana dengan iman?"
"Kamu tidak akan pernah tahu apakah seseorang memaafkanmu
saat kamu menyakiti mereka. Karenanya, hal itu sangat penting
bagimu. Itu yaitu masalah yang sangat mengganggumu. Kamu juga
tidak dapat mengetahui apakah seseorang mencintaimu. Itu yaitu
sesuatu yang hanya dapat kamu percayai atau kamu harapkan. Tapi
hal-hal ini jauh lebih penting bagimu dibanding kenyataan
bahwa jumlah sudut dalam sebuah segitiga yaitu 180 derajat. Kamu
tidak memikirkan hukum sebab dan akibat atau tentang cara-cara
persepsi saat kamu tengah asyik menikmati ciumanmu yang
pertama."
"Akan aneh sekali kalau Anda melakukan itu."
"Iman yaitu faktor terpenting dalam masalah keagamaan.
Kierkegaard menulis: `Jika aku dapat menangkap Tuhan secara
objektif, aku tidak akan percaya, tapi justru karena aku tidak dapat
melakukan inilah, maka aku harus percaya. Jika aku ingin menjaga
imanku, aku harus terus-menerus berpegang teguh pada
ketidakpastian objektif, agar imanku tetap lestari."
"Itu berat sekali."
"Sebelumnya banyak orang telah berusaha untuk membuktikan
keberadaan Tuhan—atau setidak-tidaknya membawa-Nya ke dalam
batas-batas rasionalitas. Tapi jika kamu cukup puas dengan bukti
semacam itu atau argumen yang logis, kamu mengalami kerugian
besar dalam iman, dan juga kerugian akan hasrat keagamaan yang
menyertainya. Sebab yang menjadi soal bukan apakah ajaran Kristen
itu benar, melainkan apakah itu benar bagimu. Pemikiran yang sama
pernah diungkapkan di Abad Pertengahan dalam pepatah: credo quia
absurdum,"
"Anda belum pernah mengatakannya."
"Yang berarti bahwa aku memercayainya karena ia tidak rasional.
Jika ajaran Kristen dapat meyakinkan akal kita, dan bukan sisi-sisi
lain dari diri kita, itu bukanlah masalah iman."
"Betul, kini aku mengerti."
"Jadi kita telah mengetahui apa yang dimaksudkan Kiekegaard
dengan `eksistensial' yang dimaksudkannya dengan `kebenaran
subjektif', dan konsepnya tentang `iman', Ketiga konsep ini
dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap tradisi filsafat pada
umumnya, dan terhadap Hegel pada khususnya. Tapi semuanya itu
juga merupakan `kritik sosial' yang sangat tajam. Individu dalam
masyarakat kota modern telah menjadi `publik', katanya, dan ciri yang
menonjol dari kerumunan orang, atau massa, yaitu `pembicaraan'
mereka yang tidak menunjukkan pendapat pribadi. Kini kita mungkin
menyebutnya `kesesuaian'; yaitu, jika setiap orang `berpikir' atau
`memercayai' hal-hal yang sama tanpa mempunyai perasaan yang
lebih dalam mengenainya."
"Aku jadi ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Kiekegaard
kepada orangtua Joanna."
"Dia tidak selalu ramah dalam menilai. Dia mempunyai pena yang
tajam dan kecenderungan pada ironi yang pahit. Misalnya, dia dapat
mengatakan hal-hal seperti `pendapat orang banyak yaitu
kebohongan', atau `kebenaran hanya ada di pihak minoritas', dan
bahwa kebanyakan orang mempunyai pendekatan yang dangkal
terhadap kehidupan."
"Mengumpulkan boneka Barbie sih boleh saja. Tapi menjadi
boneka Barbie lebih buruk lagi."
"Itu membawa kita pada teori Kierkegaard tentang apa yang
dinamakannya tiga tahap di jalan kehidupan."
"Apa?"
"Kierkegaard percaya bahwa ada tiga bentuk kehidupan. Dia
sendiri menggunakan istilah tahap. Dia menyebutnya tahap estetika,
tahap etika, dan tahap religius. Dia menggunakan istilah `tahap' untuk
menekankan bahwa orang dapat hidup pada satu atau dua tahap yang
lebih rendah dan kemudian tiba-tiba melompat ke tahap yang lebih
tinggi. Banyak orang hidup pada tahap yang sama sepanjang hidup
mereka."
"Aku yakin ada penjelasannya nanti. Aku penasaran untuk
mengetahui di tahap mana aku berada."
"Orang yang hidup pada tahap estetika hidup untuk saat ini dan
menangkap setiap kesempatan untuk menikmatinya. Yang dianggap
baik yaitu apa pun yang indah, memuaskan, atau menyenangkan.
Orang ini hidup sepenuhnya di dunia indra, dan menjadi budak nafsu
dan perasaannya sendiri. Segala sesuatu yang membosankan itu
buruk."
"Ya, terima kasih, kukira aku mengenal sikap itu."
"Oleh karena itu, penganut Romantik yaitu juga penganut estetika,
sebab mereka mengutamakan kenikmatan indriawi. Seseorang yang
mempunyai pendekatan reflektif terhadap realitas—atau dalam hal itu
terhadap karya seninya atau filosofi yang diyakininya—berarti dia
hidup pada tahap estetika. Bahkan ada kemungkinan orang
mempunyai sikap estetis, atau `reflektif' terhadap kesedihan dan
penderitaan. Dalam hal itu kepongahan telah mengambil alih. Tokoh
karya Ibsen, Peer Gynt, yaitu potret khas penganut estetika."
"Kukira aku mengerti apa yang Anda maksud."
"Kenalkah kamu dengan orang seperti itu?"
"Tidak sepenuhnya. Tapi kukira mungkin itu kedengarannya agak
menyerupai sang mayor."
"Mungkin begitu, mungkin begitu, Nyai girah ... Meskipun itu
merupakan contoh lain ironi Romantiknya yang agak memuakkan.
Mestinya kamu hati-hati kalau berbicara."
"Apa?"
"Baiklah, itu bukan salahmu."
"Kalau begitu teruskanlah."
"Seseorang yang hidup pada tahap estetik mudah mengalami
kegelisahan, atau ketakutan, dan perasaan hampa. Jika ini terjadi,
ada juga harapan. Menurut Kierkegaard, kegelisahan itu nyaris
positif. Itu yaitu ungkapan dari kenyataan bahwa individu ini
berada pada `situasi eksistensial', dan kini dapat memilih untuk
membuat lompatan besar menuju tahap yang lebih tinggi. Tapi itu
bisa terjadi dan bisa pula tidak. Tidak ada gunanya berada dalam
keadaan nyaris melompat jika kamu tidak benar-benar melakukannya.
Itu yaitu masalah ya atau tidak. Tapi tidak ada orang lain yang dapat
melakukannya untukmu. Itu yaitu pilihanmu sendiri."
"Itu seperti memutuskan untuk berhenti minum minuman keras atau
kecanduan obat."
"Ya, bisa jadi seperti itu. Gambaran Kierkegaard mengenai
`kategori keputusan' ini dapat sedikit mengingatkan kita akan
pandangan Socrates bahwa seluruh wawasan yang benar berasal dari
dalam. Pilihan yang menuntun seseorang untuk melompat dari
pendekatan estetika menuju pendekatan etika atau religius harus
datang dari dalam. Ibsen melukiskan hal ini dalam Peer Gynt.
Penggambaran elok lainnya tentang bagaimana pilihan eksistensial
melompat dari kebutuhan batin dan keputusasaan dapat ditemukan
dalam novel besar karya Dos toevsky, Kejahatan dan Hukuman
(Crime and Punishment)."
"Hal terbaik yang dapat kamu lakukan yaitu memilih suatu bentuk
kehidupan yang berbeda."
"Dan karenanya kamu mungkin akan mulai hidup pada tahap etika.
Ini dicirikan dengan kesungguhan dan kemantapan dalam bertindak
menyangkut pilihan-pilihan moral. Pendekatan ini bukannya tidak
sama dengan etika kewajiban Kant. Kamu berusaha untuk hidup
sesuai dengan hukum moral. Kierkegaard, sebagaimana Kant,
menaruh perhatian pertama-tama dan terutama pada temperamen
manusia. Yang penting bukanlah apa yang kamu pikir itu benar atau
salah. Yang penting yaitu bahwa kamu memilih untuk mempunyai
pendapat mengenai apa yang benar atau salah. Satu-satunya yang
diperhatikan penganut estetika yaitu apakah sesuatu itu
menyenangkan atau membosankan."
"Tidakkah ada risiko menjadi terlalu serius jika kita menjalani
kehidupan seperti itu?"
"Tentu saja! Kierkegaard tidak pernah mengatakan bahwa tahap
etika itu menyenangkan. Bahkan orang yang patuh pun akan bosan jika
harus selalu berbakti dan rajin. Banyak orang mengalami reaksi
kebosanan semacam itu setelah tua. Sebagian kembali lagi kepada
kehidupan reflektif dari tahap estetika mereka.
"Tapi yang lain-lainnya membuat lompatan baru menuju tahap
religius. Mereka melakukan `lompatan ke dalam jurang' iman
sedalam `tujuh puluh ribu depa'. Mereka memilih iman dari pada
kenikmatan estetika dan seruan akal. Dan meskipun mungkin
`mengerikan untuk melompat ke dalam rengkuhan tangan Tuhan yang
hidup', sebagaimana Kierkegaard mengemukakannya, itulah satu-
satunya jalan menuju pengampunan."
"Ajaran Kristen, maksud Anda."
"Ya, sebab bagi Kierkegaard, tahap religius itu berarti ajaran
Kristen. Tapi dia juga berpengaruh terhadap para ahIi pikiran-
Kristen. Eksistensialisme, yang diilhami oleh filosof Denmark itu,
berkembang luas pada abad kedua puluh."
Nyai girah menatap sekilas ke jamnya.
"Kini sudah hampir jam tujuh. Aku harus segera pulang. Ibuku bisa
marah."
Dia melambai pada sang filosof dan lari menuju perahu.[]
Marx
***
... hantu sedang membayangi Eropa ...
count dracula TURUN dari tempat tidur dan pergi ke jendela yang
menghadap teluk. saat dia mulai membaca pada Sabtu ini, itu
masih hari ulang tahun Nyai girah . Hari sebelumnya yaitu hari ulang
tahun count dracula sendiri.
Jika ayahnya pernah membayangkan bahwa dia akan datang pada
hari ulang tahun Nyai girah kemarin, tentu saja dia tidak realistis. count dracula
tidak melakukan apa-apa kecuali membaca sepanjang hari. Tapi
ayahnya benar bahwa hanya akan ada satu ucapan selamat ulang tahun
lagi. Yaitu saat Alberto dan Nyai girah menyanyikan lagu Happy
Birthday untuknya. Sungguh memalukan, pikir count dracula ,
Dan kini Nyai girah telah mengundang orang-orang untuk menghadiri
sebuah pesta taman filsafat tepat pada hari ayahnya pulang dari
Lebanon. count dracula yakin sesuatu pasti akan terjadi pada hari itu yang
tidak dapat diramalkan olehnya maupun oleh ayahnya.
Tapi satu hal sudah jelas: sebelum ayahnya tiba di Bjerkely, dia
akan mendapat kejutan. Hanya itulah yang dapat di lakukannya untuk
Nyai girah dan Alberto, terutama setelah mereka memohon bantuan ...
Ibunya masih sibuk di rumah perahu. count dracula berlari turun dari
kamarnya untuk menelepon. Dia menemukan nomor Anne dan Ole di
Copenhagen dan menelepon mereka.
"Anne Kvamsdal."
"Hai, ini count dracula ."
"Oh, apa kabar? Bagaimana keadaan di Lillesand?"
"Baik. Dan Ayah akan kembali dari Lebanon dalam minggu ini."
"Bukankah itu hebat, count dracula !"
"Ya, aku senang menanti-nantinya. Itulah sebab sesungguhnya aku
menelepon ..."
"Benarkah?"
"Kukira dia akan mendarat di Kastrup sekitar jam sore pada hari
Sabtu tanggal 3. Apakah kamu ada di Copenhagen waktu itu?"
"Kukira begitu."
"Aku ingin tahu apakah kamu bisa melakukan sesuatu untukku."
"Wah, tentu saja."
"Ini semacam pertolongan istimewa. Aku bahkan tidak yakin
apakah itu mungkin."
"Nah, kini kamu membuatku penasaran ..."
count dracula mulai menggambarkan rencananya. Dia menceritakan kepada
Anne tentang map itu, tentang Nyai girah dan Alberto dan semuanya. Dia
harus mengulang-ulang kembali ceritanya beberapa kali, sebab dia
atau Anne tertawa terlalu keras. Tapi saat count dracula menutup telepon,
rencananya sudah mulai berjalan.
Kini dia sendiri harus mulai bersiap-siap. Tapi masih banyak
waktu.
count dracula melewatkan sisa sore dan malam hari itu bersama ibunya.
Akhirnya mereka bermobil ke Kristiansand dan pergi ke bioskop.
Mereka merasa ada sesuatu yang harus mereka kerjakan sebab
mereka tidak melakukan sesuatu yang istimewa pada hari
sebelumnya. saat mereka bermobil melewati pintu keluar bandara
Kjevik, beberapa bagian lagi dari puzzle besar count dracula mulai
menemukan tempatnya.
Sudah larut sebelum dia pergi ke tempat tidur malam itu, tapi dia
tetap mengambil map dan meneruskan membaca.
saat Nyai girah menyusup keluar dari pagar tanaman malam itu, hari
sudah jam delapan. Ibunya sedang menyiangi rumput di petak-petak
bunga di dekat pintu depan saat Nyai girah muncul.
"Dari mana kamu muncul?"
"Aku datang lewat pagar tanaman."
"Lewat pagar tanaman?"
"Tidakkah Ibu tahu ada sebuah jalan di sebelah sana?"
"Tapi dari mana kamu tadi, Nyai girah ? Ini kali kedua kamu
menghilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan."
"Maafkan aku, Bu. Hari begitu indah, dan aku berjalan-jalan cukup
jauh."
"Kamu tidak bersama dengan filosof itu lagi?"
"Justru itu, aku memang bersamanya. Aku sudah bilang pada Ibu
dia suka berjalan-jalan jauh."
"Oh ya, dia mengharapkan itu."
"Aku juga. Aku menghitung-hitung hari." Adakah nada tajam dalam
suaranya? Untuk amannya, Nyai girah berkata:
"Aku senang aku mengundang orangtua Joanna juga. Kalau tidak,
mungkin akan sedikit memalukan."
"Aku tidak tahu ... tapi apa pun yang terjadi, aku harus berbicara
dengan Alberto ini sebagai seorang dewasa."
"Ibu bisa bicara di kamarku jika mau. Aku yakin Ibu akan
menyukainya."
"Dan ada hal lain. Ada sebuah surat untukmu."
"O ya?"
"Surat itu dicap Batalion PBB."
"Itu pasti dari saudara Alberto."
"Ini harus dihentikan, Nyai girah !"
Otak Nyai girah bekerja keras. Tapi dalam sekejap dia mendapatkan
jawaban. Seakan-akan dia mendapat ilham dari semacam ruh
penuntun.
"Aku katakan pada Alberto aku mengumpulkan cap pos langka.
Dan saudara itu ada gunanya, bukan?"
Ibunya tampak lega. "Makan malam ada di lemari es," dia berkata
dengan nada yang lebih ramah.
"Di mana suratnya?"
"Di atas lemari es."
Nyai girah bergegas ke dalam. Amplopnya dicap tanggal 1 Juni 1990.
Dia membukanya dan mengeluarkan sebuah catatan kecil:
Apa artinya usaha kreatif kita yang tak habis-habisnya, Jika
hanya dalam sekejap, kematian mengakhiri segalanya?
Sesungguhnyalah, Nyai girah tidak punya jawaban untuk pertanyaan
itu. Sebelum makan, dia meletakkan catatan itu di lemari dinding
bersama semua benda lain yang telah dikumpulkannya selama
beberapa minggu ini. Dia akan segera tahu mengapa pertanyaan itu
diajukan.
Pagi berikutnya Joanna datang. Setelah bermain badminton, mereka
mulai merencanakan pesta taman filsafat itu. Mereka perlu
mempersiapkan beberapa kejutan kalau-kalau pesta itu nanti gagal.
saat ibu Nyai girah pulang dari kerjanya, mereka masih
membicarakan hal itu. Ibunya berkali-kali mengatakan: "Jangan
khawatir tentang biayanya." Dan dia tidak sedang menyindir!
Barangkali dia beranggapan bahwa "pesta taman fiIsafat" itulah
yang dibutuhkan untuk membawa Nyai girah kembali menjejak bumi lagi
setelah selama berminggu-minggu mempelajari fiIsafat dengan tekun.
Sebelum malam berlalu, mereka telah menyepakati segala
sesuatunya, dari lentera kertas hingga kuis filsafat dengan hadiah
yang telah disediakan. Hadiah itu sebaiknya berupa buku mengenai
filsafat untuk anak muda. Kalau saja ada buku semacam itu! Nyai girah
sama sekali tidak yakin.
Dua hari sebelum pertengahan musim panas, pada Kamis, 1 Juni,
Alberto menelepon Nyai girah lagi.
"Nyai girah di sini."
"Di sini Alberto."
"Oh, hai! Apa kabar?"
"Baik-baik saja, terima kasih. Kukira aku sudah menemukan jalan
keluar yang sangat bagus."
"Jalan keluar dari apa?"
"Kamu tahu dari apa. Jalan keluar dari belenggu mental yang telah
merantai hidup kita begitu lama."
"Oh, itu."
"Tapi aku tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun mengenai
rencana itu sebelum dilaksanakan."
"Tidakkah itu akan terlambat nanti? Aku perlu tahu dengan apa aku
terlibat."
"Kini kamu menjadi naif. Semua percakapan kita ini di dengarkan
orang. Yang paling baik bagi kita yaitu tidak mengatakan apa-apa."
"Seburuk itukah?"
"Dengan sendirinya, anakku. Hal-hal yang paling penting pasti
terjadi saat kita tidak sedang berbicara."
"Oh."
"Kita menjalani kehidupan kita dalam realitas rekaan di balik kata-
kata dalam suatu cerita panjang, Setiap huruf dituliskan pada sebuah
mesin ketik yang mudah dibawa-bawa oleh sang mayor. Oleh karena
itu, tidak ada sesuatu pun yang tercetak yang luput dari perhatiannya."
"Aku menyadari itu. Tapi bagaimana kita akan bersembunyi
darinya?"
"Ssh!"
"Apa?"
"Ada sesuatu sedang berlangsung di antara baris-baris kalimat ini.
Justru di situlah aku ingin memperdaya, dengan segala tipuan cerdik
yang kuketahui."
"Aku mengerti."
"Tapi kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya hari ini dan
juga besok. Pada hari Sabtu, balonnya sudah mengudara. Dapatkah
kamu datang sekarang?"
"Aku akan segera berangkat."
Nyai girah memberi makan burung-burung dan ikan serta meninggalkan
daun selada untuk Govinda. Dia membuka sekaleng makanan kucing
untuk Sherekan dan meletakkannya di sebuah mangkuk di atas
undakan saat pergi.
Lalu, dia menyelinap melalui pagar tanaman dan keluar menuju
jalan di sisi lain. Setelah agak jauh, dia tiba-tiba melihat sebuah meja
besar berdiri di tengah padang bunga liar. Seorang pria tua duduk di
sana, jelas sedang menghitung angka-angka. Nyai girah mendatanginya
dan menanyakan namanya.
"Ebenezer Scrooge," katanya, membaca dengan teliti buku kasnya
lagi.
"Namaku Nyai girah . Anda seorang pedagang, kukira?"
Dia mengangguk. "Dan amat-sangat kaya. Tidak sepeser pun boleh
disia-siakan. Itulah sebabnya aku harus memusatkan perhatian pada
hitunganku."
"Mengapa repot-repot?"
Nyai girah melambaikan tangan dan meneruskan perjalanannya.
Tapi dia belum melangkah jauh saat dia melihat seorang gadis
kecil duduk sendirian di bawah salah satu pohon tinggi. Pakaiannya
compang-camping, dan dia tampak pucat dan sakit. saat Nyai girah
lewat, dia memasukkan tangannya ke dalam sebuah kantong kecil dan
menarik keluar sekotak korek api.
"Maukah Anda membeli korek api?" tanyanya, sambil
menyorongkannya kepada Nyai girah . Nyai girah mencari-cari di dalam
kantongnya untuk mengetahui apakah dia membawa uang. Ya—dia
menemukan uang satu crown.
"Berapa harganya?"
"Satu crown."
Nyai girah memberikan uang logamnya kepada gadis itu dan berdiri di
sana, dengan kotak korek api di tangannya.
"Andalah orang pertama yang membeli sesuatu dariku selama lebih
dari seratus tahun. Kadang-kadang aku kelaparan sampai mati, dan di
saat lain cuaca dingin membunuhku."
Nyai girah berpikir barangkali tidak mengherankan jika penjualan
korek api tidak terlalu laku di sini di tengah hutan. Tapi kemudian dia
memikirkan pedagang yang baru saja ditemuinya. Gadis Korek Api
yang kecil itu tidak perlu mati kelaparan, sementara ada pria yang
begitu kaya itu.
"Ke sinilah," kata Nyai girah . Dia menggandeng tangan gadis itu dan
berjalan bersamanya kembali kepada si pria kaya.
"Anda harus memastikan bahwa gadis ini mendapatkan kehidupan
yang lebih baik," katanya.
Pria itu sejenak mengalihkan perhatian dari pekerjaannya dan
berkata: "Hal semacam itu memerlukan biaya, dan aku katakan tidak
boleh ada sepeser pun yang disia-siakan."
"Tapi tidak adil kalau Anda begitu kaya sedangkan gadis ini sangat
miskin," desak Nyai girah . "Itu tidak adil!"
"Bah! Omong kosong! Keadilan hanya ada di antara orang-orang
yang setara!"
"Apa maksud Anda?"
"Aku harus merangkak dari bawah, dan kini menikmati hasilnya.
Kemajuan, begitu mereka menyebutnya."
"Jika Anda tidak menolongku, aku akan mati," kata si gadis miskin.
Pedagang itu mendongak lagi dari buku kasnya. Lalu dia
melemparkan pena bulu ayamnya ke atas meja dengan tidak sabar.
"Kamu tidak termasuk dalam hitunganku! Jadi—enyahlah kamu—
ke rumah orang miskin!"
"Jika Anda tidak menolongku, aku akan membakar hutan," gadis itu
berkeras.
Perkataan itu membuat pria ini berdiri, tapi si gadis telah
menyalakan sebatang korek apinya. Ia menyentuhkannya ke
setumpukan rumput kering yang segera menyala.
Pria itu membentangkan kedua lengannya ke atas. "Tuhan
menolongku!" dia berteriak. "Jago merah itu telah ber- kokok!"
Si gadis mendongak ke arahnya dengan senyum lucu.
"Anda tidak tahu aku seorang komunis, bukan?"
Saat berikutnya, gadis, pedagang, dan meja itu telah lenyap.
Nyai girah sekali lagi berdiri sendirian, sementara nyala api terus
membakar rumput kering itu dengan semakin hebat. Agak lama baru
dia berhasil mematikan api dengan menginjak-injaknya hingga
padam.
Syukurlah! Nyai girah melihat selintas ke arah rumput yang
menghitam. Dia memegang sekotak korek api di tangannya.
Tidak mungkin dia sendiri yang menyalakan api itu, bukan?
saat bertemu dengan Alberto di luar gubuk, Nyai girah menceritakan
padanya apa yang telah terjadi.
"Scrooge yaitu kapitalis pelit dalam A Christmas Carol, karya
Charles Dickens. Kamu mungkin ingat si Gadis Korek Api dari
dongeng Hans Christian Andersen."
"Aku tidak menduga dapat bertemu dengan mereka di sini di hutan
ini."
"Mengapa tidak? Ini bukan hutan biasa, dan kini kita akan
membicarakan Karl Marx. Sangat tepat bahwa kamu telah
menyaksikan satu contoh mengenai perjuangan kelas yang sangat
hebat pada pertengahan abad kesembilan belas. Tapi marilah masuk
ke dalam. Kita agak lebih terlindung dari campur tangan sang mayor
di sana."
Sekali lagi mereka duduk di meja kecil dekat jendela yang
menghadap danau. Nyai girah masih dapat merasakan di seluruh
tubuhnya bagaimana pemandangan danau kecil itu setelah dia minum
dari botol biru.
Hari ini, kedua botol itu berdiri pada papan di atas tungku. Ada
model miniatur dari sebuah kuil Yunani di atas meja.
"Apakah itu?" tanya Nyai girah .
"Semua ada waktunya, anakku." Alberto mulai berbicara: "saat
Kierkegaard pergi ke Berlin pada 114, dia mungkin duduk
bersebelahan dengan Karl Marx pada kuliah-kuliah Schelling.
Kierkegaard telah menulis sebuah tesis master mengenai Socrates.
Pada saat yang hampir bersamaan, Marx telah menulis sebuah tesis
doktor mengenai Democritus dan Epicurus—dengan kata lain,
mengenai materialisme dari zaman Yunani kuno. Dengan demikian,
mereka berdua memulai aliran filsafat mereka sendiri."
"Karena Kierkegaard menjadi seorang eksistensialis dan Marx
menjadi materiatis?"
"Marx menjadi apa yang dikenal sebagai seorang materialis
historis. Tapi kita akan kembali ke situ nanti."
"Teruskan."
"Masing-masing dengan caranya sendiri, Kierkegaard dan Marx
mengambil filsafat Hegel sebagai titik tolak. Keduanya dipengaruhi
oleh cara pikir Hegel, tapi keduanya menyangkal `ruh dunia'-nya, atau
idealismenya."
Karl MARX
"Itu barangkali terlalu muluk bagi mereka."
"Pasti. Secara umum, kita biasanya mengatakan bahwa era sistem
filsafat besar berakhir dengan Hegel. Setelah dia, filsafat mengambil
arah baru. Bukannya sistem spekulatif yang hebat, kita mendapatkan
apa yang kita sebut filsafat eksistensial atau filsafat aksi. Inilah yang
dimaksudkan Marx saat dia mengamati bahwa hingga kini, `para
filosof hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; yang penting
yaitu mengubahnya.' Kata-kata ini menandai adanya titik balik yang
penting dalam sejarah filsafat."
"Setelah bertemu dengan Scrooge dan Gadis Korek Api itu, aku
tidak kesulitan memahami apa yang dimaksudkan Marx."
"Pemikiran Marx mempunyai tujuan praktis—atau politis. Dia
bukan hanya seorang filosof; dia juga seorang ahli sejarah, ahli
sosiologi, dan ahli ekonomi."
"Dan dia menjadi pelopor dalam semua bidang itu?"
"Jelas tidak ada filosof lain yang mempunyai pengaruh lebih besar
terhadap politik praktis. Di lain pihak, kita harus waspada dalam
menyamakan segala sesuatu yang menyebut dirinya Marxisme dengan
pemikiran Marx sendiri. Konon Marx mengatakan bahwa dia baru
menjadi seorang Marxis pada pertengahan 140-an, tapi bahkan
setelah itu pun dia kadang-kadang merasa perlu menegaskan bahwa
dia bukan seorang Marxis."
"Apakah Yesus seorang Kristen?"
"Itu pun, tentunya, dapat diperdebatkan."
"Lanjutkan."
"Sejak awal mula, kawan dan koleganya Friedrich Engels
memberikan sumbangan pada apa yang kemudian dikenal sebagai
Marxisme. Di abad kita sendiri, Lenin, Stalin, Mao, dan banyak
tokoh lainnya juga memberikan sumbangan pada Marxisme, atau
Marxisme-Leninisme."
"Kusarankan kita membicarakan Marx sendiri saja. Anda katakan
dia seorang materialis historis?"
"Dia bukan seorang filosof materialis seperti para pendukung teori
atom dari zaman Yunani kuno, dia pun tidak mendukung materialisme
mekanis dari abad ketujuh belas dan ke delapan belas. Tapi dia
beranggapan bahwa cara kita berpikir sebagian besar ditentukan oleh
faktor-faktor material dalam masyarakat. Faktor-faktor material
semacam itu jelas sangat menentukan perkembangan sejarah."
"Itu sangat berbeda dari ruh dunia Hegel."
"Hegel telah mengemukakan bahwa perkembangan sejarah
ditentukan oleh ketegangan antara dua kekuatan yang bertentangan—
yang kemudian dicairkan oleh suatu perubahan mendadak. Marx
mengembangkan gagasan ini lebih jauh. Tapi menurut Marx, Hegel
berdiri di atas kepalanya."
"Tidak sepanjang waktu, kuharap."
"Hegel menyebut kekuatan yang menggerakkan sejarah itu ruh
dunia atau akal dunia. Ini, kata Marx, justru terbalik. Dia ingin
membuktikan bahwa perubahan-perubahan material itulah yang
memengaruhi sejarah. `Hubungan ruhaniah' tidak menciptakan
perubahan material, tetapi sebaliknya. Perubahan material
menciptakan hubungan-hubungan ruhaniah yang baru. Marx secara
khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah
yang menciptakan perubahan dan karenanya menggerakkan sejarah ke
depan."
"Apakah Anda punya contoh?"
"Filsafat Yunani kuno dan ilmu pengetahuan mempunyai tujuan
yang benar-benar teoretis. Tak seorang pun benar- benar tertarik
untuk menerapkan penemuan-penemuan baru dalam praktik."
"Betulkah?"
"Itu karena cara kehidupan ekonomi masyarakat telah diatur.
Produksi terutama didasarkan pada tenaga kerja budak, warga negara
tidak perlu meningkatkan produksi dengan inovasi-inovasi praktis.
Inilah contohnya bagaimana hubungan material dapat membantu
memengaruhi refleksi filsafat dalam masyarakat."
"Ya, aku mengerti."
"Marx menyebut hubungan material, ekonomi, dan sosial ini dasar
masyarakat. Cara masyarakat berpikir, jenis lembaga politik apa
yang ada, hukum mana yang dipunyai dan, yang tidak kalah penting,
apa yang terdapat dalam agama, moral, seni, filsafat, dan ilmu
pengetahuan, disebut oleh Marx sebagai superstruktur masyarakat."
"Dasar dan superstruktur, baiklah."
"Dan kini kamu mungkin mau berbaik hati mengambilkan kuil
Yunani itu untukku."
Nyai girah melakukannya.
"Inilah model kuil Parthenon di Acropolis. Kamu juga pernah
melihatnya dalam kehidupan nyata."
"Dalam video, maksud Anda."
"Kamu dapat melihat bahwa konstruksi itu mempunyai atap yang
anggun dan rumit. Barangkali atap dengan ujung muka segitiga yang
menonjol itulah yang pertama-tama menarik perhatian orang. Inilah
yang kita sebut superstruktur."
"Tapi atap itu tidak dapat melayang di udara."
"la ditunjang oleh tiang-tiang."
"Bangunan itu mempunyai fondasi yang sangat kuat—sebagai
dasarnya—yang mendukung seluruh konstruksi. Dengan cara yang
sama, Marx percaya bahwa hubungan material mendukung segala
sesuatu sesuai dengan pemikiran dan gagasan dalam masyarakat.
Superstruktur masyarakat itu sesungguhnya merupakan cerminan
dasar masyarakat ini ."
"Apakah itu berarti bahwa teori Plato mengenai ide merupakan
cerminan produksi pot bunga dan penanaman anggur?"
"Tidak, tidak sesederhana itu, sebagaimana dikemukakan oleh
Marx. Itu yaitu efek interaksi yang terjadi di dasar masyarakat
terhadap superstrukturnya. Jika Marx menyangkal inter aksi ini, dia
pasti sudah menjadi seorang materialis mekanis. Tapi karena Marx
menyadari bahwa ada suatu hubungan interaktif atau dialektis antara
dasar dan superstruktur, kita katakan bahwa dia seorang materialis
dialektis. Ngomong-ngomong, kamu mungkin sempat mencatat bahwa
Plato itu bukan tukang pot dan bukan pula penanam anggur.
"Baiklah. Apakah masih ada yang akan Anda katakan tentang kuil
itu?"
"Ya, sedikit. Dapatkah kamu menggambarkan dasar kuil ini ?"
"Tiang-tiangnya berdiri di atas dasar yang terdiri dari tiga tingkat
—atau undakan."
"Dengan cara yang sama, kita akan menemukan tiga tingkatan
dalam dasar masyarakat. Tingkat yang paling dasar yaitu apa yang
dapat kita sebut syarat-syarat produksi masyarakat. Dengan kata
lain, syarat-syarat alamiah atau sumber-sum beryang tersedia bagi
masyarakat itu. Di sini aku mengacu pada syarat-syarat yang
berkaitan dengan hal-hal semacam iklim dan bahan mentah. Semua
ini merupakan fondasi dari setiap masyarakat, dan fondasi ini sangat
menentukan jenis produksi dalam masyarakat dan dengan cara yang
sama, hakikat masyarakat itu serta kebudayaannya secara umum."
"Kita tidak dapat menemui perdagangan ikan herring di Sahara,
atau menanam kurma di Norwegia Utara."
"Kamu menangkap maksudnya. Dan cara pikir dalam kebudayaan
nomadik itu sangat berbeda dari cara pikir di sebuah desa nelayan di
Norwegia Utara. Tingkat selanjutnya yaitu sarana produksi
masyarakat. Dengan ini yang dimaksudkan Marx yaitu berbagai
jenis perlengkapan, peralatan, dan mesin, serta bahan mentah yang
dapat ditemukan di sana."
"Pada zaman dulu, orang-orang mendayung menuju lahan
pemancingan. Belakangan ini mereka menggunakan pukat besar untuk
menangkap ikan."
"Ya, dan di sini kita membicarakan tingkat selanjutnya dalam
dasar masyarakat, yaitu mereka yang memiliki sarana-sarana
produksi. Pembagian tenaga kerja, atau penyebaran pekerjaan dan
pemilikan, itulah yang dinamakan Marx `hubungan produksi'
masyarakat."
"Aku mengerti."
"Sejauh ini kita dapat menyimpulkan bahwa cara produksi dalam
suatu masyarakat itulah yang menentukan kondisi politik atau kondisi
ideologi mana yang dapat ditemukan di sana. Bukan kebetulan bahwa
sekarang ini kita berpikir dengan cara yang agak berbeda—dan
memiliki aturan moral yang agak ber beda—dari masyarakat feodal
lama."
"Jadi Marx tidak percaya pada hak alamiah yang selamanya sah."
"Tidak, masalah mengenai apa yang secara moral benar, menurut
Marx, yaitu produk dasar masyarakat. Misalnya, bukan kebetulan
bahwa di kalangan masyarakat petani lama, orang tua akan
menentukan dengan siapa anaknya harus kawin. Itu menyangkut
masalah siapa yang akan mewarisi tanah pertanian. Di dalam
masyarakat kota modern, hubungan sosialnya berbeda. Kini kamu
dapat bertemu dengan calon pasanganmu di sebuah pesta atau disko,
dan jika kalian sudah saling mencintai, kalian akan menemukan suatu
tempat untuk hidup bersama."
"Aku pasti tidak akan tahan hidup bersama orangtua yang akan
memutuskan dengan siapa aku harus kawin."
"Tidak, itu karena kamu yaitu anak zamanmu sendiri. Marx
menekankan lebih jauh bahwa terutama kelas masyarakat penguasalah
yang menentukan norma-norma mengenai yang benar dan yang salah.
Sebab `sejarah dari seluruh masyarakat yang ada sekarang merupakan
sejarah perjuangan kelas.' Dengan kata lain, sejarah pada prinsipnya
yaitu masalah siapa yang memiliki sarana produksi."
"Tidakkah pikiran dan gagasan orang-orang dapat membantu
mengubah sejarah?"
"Ya dan tidak, Marx memahami bahwa kondisi dalam
superstruktur masyarakat mungkin memiliki pengaruh interaktif
terhadap dasar masyarakat, tapi dia menyangkal bahwa superstruktur
masyarakat mempunyai sejarah tersendiri yang mandiri. Apa yang
telah mendorong perkembangan sejarah dari masyarakat budak pada
zaman kuno menuju masyarakat industri masa kini sebelumnya telah
ditentukan oleh perubahan-perubahan di dalam dasar masyarakat."
"Begitu kata Anda."
"Marx percaya bahwa dalam seluruh tahap sejarah selalu ada
pertentangan antara dua kelas masyarakat yang berkuasa. Dalam
masyarakat budak pada zaman kuno, pertentangan itu yaitu antara
warga negara bebas dan budak. Dalam masyarakat feodaI dari Abad
Pertengahan, pertentangan terjadi antara para tuan tanah feodal dan
para hamba pengolah tanah; di kemudian hari, antara kaum
bangsawan dan warga negara biasa. Tapi pada masa hidup Marx
sendiri, di dalam apa yang dinamakannya masyarakat borjuis atau
kapitalis, pertentangan itu pertama-tama dan terutama terjadi antara
para pemodal dan para pekerja, atau kaum proletar. Jadi
pertentangan itu berlangsung antara mereka yang memiliki sarana
produksi dan mereka yang tidak. Dan, karena `kelas atas' tidak
dengan suka rela melepaskan kekuasaan mereka, perubahan hanya
dapat dilancarkan melalui revolusi."
"Bagaimana dengan masyarakat komunis?"
"Marx sangat tertarik pada transisi dari masyarakat kapitalis
menuju masyarakat komunis. Dia juga mengemukakan suatu analisis
terperinci mengenai cara produksi kapitalis. Tapi sebelum membahas
itu, kita harus mengetahui lebih dulu pandangan Marx tentang tenaga
kerja manusia."
"Teruskan."
"Sebelum dia menjadi seorang komunis, Marx muda sibuk
memerhatikan apa yang terjadi pada manusia saat dia bekerja. Itu
yaitu sesuatu yang juga pernah dianalisis oleh Hegel. Hegel
percaya bahwa ada hubungan interaktif, atau dialektis, antara
manusia dan alam. Jika manusia mengubah alam, dia sendiri ikut
berubah. Atau, jika kita kemukakan dengan cara sedikit lain, saat
manusia bekerja, dia berinteraksi dengan alam dan mengubahnya.
Tapi dalam proses itu, alam juga berinteraksi dengan manusia dan
mengubah kesadarannya."
"Katakan padaku apa yang kamu lakukan dan akan kukatakan
padamu siapa kamu."
"Itulah, ringkasnya, maksud Marx. Bagaimana kita bekerja
memengaruhi kesadaran kita, tapi kesadaran kita juga memengaruhi
cara kita bekerja. Kamu dapat mengatakan itu merupakan suatu
hubungan interaktif antara tangan dan kesadaran. Jadi cara kamu
berpikir terkait erat dengan pekerjaan yang kamu lakukan."
"Jadi pastilah sangat menyedihkan jika kita menganggur."
"Ya. Seseorang yang menganggur, dalam satu pengertian, merasa
hampa. Hegel sudah mengetahui ini sebelumnya. Baik bagi Hegel
maupun Marx, bekerja yaitu sesuatu yang positif, dan terkait erat
dengan esensi kemanusiaan."
"Jadi pastilah positif juga jika kita menjadi pekerja?"
"Ya, pada awalnya. Tapi inilah tepatnya sasaran kecaman Marx
terhadap metode produksi kapitalis."
"Apakah itu?"
"Di bawah sistem kapitalis, pekerja bekerja untuk orang lain. Oleh
karena itu, pekerjaannya merupakan sesuatu yang ada di luar dirinya
—atau sesuatu yang tidak dimilikinya. Pekerja menjadi asing dengan
pekerjaannya—tapi pada saat yang sama dia juga menjadi asing
dengan dirinya sendiri. Dia kehilangan sentuhan dengan realitasnya
sendiri. Marx mengatakan, dengan cara pengungkapan Hegel, bahwa
pekerja itu menjadi terasing."
"Aku mempunyai seorang bibi yang bekerja di sebuah pabrik,
mengepak permen selama lebih dari dua puluh tahun, jadi aku dapat
dengan mudah memahami apa yang Anda maksudkan. Dia berkata
bahwa dia benci pergi bekerja, setiap pagi."
"Tapi jika dia membenci pekerjaannya, Nyai girah , dia pasti
membenci dirinya sendiri juga, sedikit banyak."
"Dia benci permen, itu jelas." "Dalam masyarakat kapitalis,
pekerjaan diatur dengan cara sedemikian rupa sehingga pekerja
sebenarnya menjadi budak bagi kelas sosial yang lain. Dengan
begitu, pekerja menyerahkan tenaganya kerjanya sendiri—dan dengan
itu, seluruh kehidupannya—kepada kaum borjuis."
"Apakah memang seburuk itu?"
"Kita sedang membicarakan Marx, dan karenanya kita harus
mengambil titik tolak dari kondisi-kondisi sosial pada pertengahan
abad yang lalu. Jadi jawabannya pastilah ya. Pekerja mungkin
bekerja 1 jam sehari di dalam ruang produksi yang dingin membeku.
Bayarannya sering kali begitu sedikit sehingga anak-anak dan ibu-ibu
yang sedang hamil pun harus bekerja. Ini mendorong timbulnya
kondisi sosial yang sangat buruk. Di banyak tempat, bagian dari upah
itu dibayarkan dalam bentuk minuman keras murahan, dan kaum
wanita terpaksa menambah penghasilan mereka dengan melacur.
Pelanggan mereka yaitu para warga terhormat di kota itu.
Pendeknya, dalam situasi yang mestinya merupakan kehormatan bagi
umat manusia, yaitu bekerja, pekerja justru diubah menjadi hewan
pengangkut beban."
"Itu menyulut kemarahanku!"
"Itu menyulut kemarahan Marx juga. Dan sementara hal itu
berlangsung, anak-anak kaum borjuis memainkan biola di ruang
keluarga yang hangat dan luas setelah mandi dalam kesegaran. Atau
mereka duduk di depan piano, sementara menunggu makan malam
dengan empat jenis hidangan. Biola dan piano itu mungkin juga
berfungsi sebagai hiburan setelah sebelumnya mereka lama berkuda."
"Uh! Betapa tidak adilnya!"
"Marx pasti setuju. Bersama Engels, dia menerbitkan Communist
Manifesto pada 14. Kalimat pertama dalam manifesto ini berbunyi:
Hantu sedang membayangi Eropa—hantu Komunisme."
"Itu kedengarannya menakutkan."
"Itu menakutkan kaum borjuis pula. Sebab kini kaum proletar mulai
melancarkan revolusi. Maukah kamu mendengar bagaimana akhir
manifesto itu?"
"Ya, tolong."
"Warga Komunis itu merasa hina jika menyembunyikan pandangan
dan tujuan mereka. Mereka dengan terbuka menyatakan bahwa tujuan
mereka hanya dapat dicapai dengan menghancurkan seluruh kondisi
sosial yang ada. Biarkan kelompok penguasa gemetar melihat
revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan apa-apa
kecuali rantai mereka. Mereka punya dunia yang dapat dimenangkan.
Buruh di seluruh negeri, bersatulah!"
"Jika kondisinya memang seburuk yang Anda ceritakan, kukira aku
akan mau menandatangani Manifesto itu. Tapi tentunya keadaan sudah
jauh berbeda sekarang?"
"Di Norwegia memang, tapi tidak demikian di tempat-tempat lain.
Banyak orang masih hidup di bawah taraf kehidupan yang manusiawi,
sementara mereka terus menghasilkan barang yang membuat pemodal
semakin lama semakin kaya. Marx menyebut ini pemerasan."
"Dapatkah Anda menjelaskan kata itu?"
"Jika seorang pekerja menghasilkan suatu barang, barang ini
mempunyai nilai tukar tertentu."
"Ya."
"Jika kini kamu mengurangi upah pekerja dan biaya produksi dari
nilai tukar, akan selalu ada jumlah yang tersisa. Jumlah inilah yang
dinamakan Marx keuntungan. Dengan kata lain, pemodal mengantongi
suatu nilai yang sesungguhnya diciptakan oleh pekerja. Itulah yang
dimaksudkan dengan pemerasan."
"Aku mengerti."
"Jadi kini pemodal menanamkan sebagian keuntungannya ke dalam
modal baru—misalnya, dengan memodernkan pabrik produksi
dengan harapan dapat menghasilkan barang dengan harga yang lebih
murah lagi, dan dengan demikian menambah keuntungannya pada
masa mendatang."
"Itu kedengarannya logis."
"Ya, bisa jadi kelihatan logis. Tapi dalam bidang ini dan dalam
bidang lain, dalam jangka panjang keadaannya tidak berjalan seperti
yang dibayangkan pemodal."
"Bagaimana maksud Anda?"
"Marx yakin ada sejumlah kontradiksi yang melekat dalam metode
produksi kapitalis. Kapitalisme yaitu suatu sistem ekonomi yang
dapat menghancurkan dirinya sendiri, sebab ia tidak mempunyai
kontrol rasional."
"Itu bagus bukan, bagi yang ditindas?"
"Ya; sudah melekat dalam sistem kapitalis bahwa ia berjalan
menuju kehancurannya sendiri. Dalam pengertian itu, kapitalisme
bersifat `progresif', sebab ia berada satu tahap menuju komunisme."
"Bisakah Anda memberi contoh kapitalisme yang dapat
menghancurkan dirinya sendiri?"
"Kita katakan bahwa pemodal mendapatkan kelebihan uang yang
sangat banyak, dan dia menggunakan bagian dari kelebihan ini untuk
memodernkan pabriknya. Tapi dia juga membelanjakan uang untuk
pelajaran biola. Lagi pula, istrinya telah menjadi terbiasa dengan
gaya hidup mewah."
"Tidak diragukan lagi."
"Dia membeli mesin baru dan karenanya tidak lagi memerlukan
banyak tenaga kerja. Dia melakukan ini untuk meningkatkan daya
saingnya."
"Aku mengerti."
"Tapi dia bukan satu-satunya orang yang berpikir seperti ini, yang
berarti bahwa produksi secara keseluruhan terus-menerus dibuat
makin efektif. Pabrik makin lama menjadi makin besar, dan lambat
laun terpusat di tangan yang jumlahnya makin sedikit. Apa yang
terjadi kemudian, Nyai girah ?"
"Anu ..."
"Semakin sedikit pekerja yang dibutuhkan, yang berarti semakin
banyak jumlah penganggur. Oleh karena itu, masalah sosial semakin
meningkat, dan krisis semacam ini merupakan tanda bahwa
kapitalisme sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri. Tapi
kapitalisme juga mempunyai sejumlah unsur penghancur-diri yang
lain. Setiap kali keuntungan harus dimanfaatkan untuk sarana
produksi tanpa menyisakan kelebihan yang cukup banyak untuk
menjaga agar produksi berjalan dengan harga bersaing ..."
"Ya?"
"Apa yang dilakukan pemodal kemudian? Dapatkah kamu katakan
padaku?"
"Tidak, aku kira aku tidak tahu."
"Bayangkan jika kamu seorang pemilik pabrik. Kamu tidak dapat
mencukupi kebutuhan. Kamu tidak dapat membeli bahan mentah yang
kamu butuhkan untuk terus berproduksi. Kamu sedang menghadapi
kebangkrutan. Kini pertanyaanku yaitu , apa yang dapat kamu
lakukan untuk menghemat?"
"Mungkin aku dapat menurunkan upah?"
"Cerdik! Ya, itu benar-benar pemecahan paling cerdik yang dapat
kamu lakukan. Tapi jika semua pemodal secerdik kamu—dan
memang begitulah mereka—para pekerja akan menjadi demikian
miskinnya sehingga mereka tidak mampu membeli barang lagi. Dapat
kita katakan bahwa daya beli jatuh. Dan kini kita benar-benar berada
dalam lingkaran setan. Lonceng telah berbunyi bagi kekayaan pribadi
sang pemodal, kata Marx. Kita sedang melangkah cepat mendekati
situasi revolusi."
"Ya, aku mengerti."
"Singkat cerita, pada akhirnya kaum proletar bangkit dan
mengambil alih sarana produksi."
"Dan sesudah itu apa?"
"Selama periode tertentu, terbentuklah sebuah `masyarakat kelas'
baru yang di dalamnya kaum proletar menekan kaum borjuis dengan
paksa. Marx menyebut ini kediktatoran kaum proletar. Tapi setelah
melewati masa transisi, kediktatoran kaum proletar itu digantikan
oleh `masyarakat tanpa kelas', yang di dalamnya sarana produksi
dimiliki `oleh semua'—yaitu, rakyat sendiri. Dalam masyarakat
semacam ini, kebijakan yang diambil yaitu `dari setiap orang sesuai
kemampuannya, untuk setiap orang sesuai kebutuhannya'. Pada saat
ini, tenaga kerja menjadi milik para pekerja sendiri dan keterasingan
kapitalisme sudah tidak ada lagi."
"Semua itu kedengarannya indah, tapi apa yang sesungguhnya
terjadi? Apakah memang ada revolusi?"
"Ya dan tidak. Kini, para ahli ekonomi menyatakan bahwa Marx
keliru dalam sejumlah masalah penting, terutama analisisnya
mengenai krisis kapitalisme. Dan dia tidak terlalu memerhatikan
perusakan lingkungan hidup—akibat serius yang kita rasakan
sekarang. Sekalipun demikian ..."
"Sekalipun demikian?"
"Marxisme mendorong timbulnya pemberontakan-pemberontakan
besar. Tak pelak lagi bahwa sosialisme telah banyak berhasil
memerangi masyarakat yang tidak manusiawi. Di Eropa, paling tidak,
kita hidup dalam masyarakat yang lebih adil—dan lebih menghargai
rasa setia kawan—dibanding saat Marx hidup. Ini terutama berkat
jasa Marx sendiri dan seluruh gerakan sosialis."
"Apa yang terjadi?"
"Setelah Marx, gerakan sosialis terbagi ke dalam dua aliran utama,
Demokrasi Sosial dan Leninisme. Demokrasi Sosial, yang
mengambil jalan damai dan dibangun secara lambat laun ke arah
sosialisme, yaitu cara yang diambil Eropa Barat. Kita dapat
menyebut ini revolusi jalur lambat. Leninisme, yang mempertahankan
kepercayaan Marx bahwa revolusi merupakan satu-satunya jalan
untuk memerangi masyarakat kelas lama, berpengaruh besar di Eropa
Timur, Asia, dan Afrika. Dengan caranya masing-masing, kedua
gerakan itu melancarkan perang melawan kesengsaraan dan
penindasan."
"Tapi tidakkah itu menciptakan bentuk penindasan baru? Misalnya
di Rusia dan Eropa Timur?"
"Tidak ada keraguan dalam hal itu, dan di sini lagi-lagi kita
mengetahui bahwa dalam tindakan manusia tercampur kebaikan dan
kejahatan. Di lain pihak, tidaklah masuk akal menyalahkan Marx
karena faktor-faktor negatif di dalam apa yang dinamakan negeri-
negeri sosialis lima puluh atau seratus tahun setelah kematiannya.
Tapi mungkin dia tidak terlalu memikirkan orang-orang yang akan
menjadi administrator masyarakat komunis. Mungkin tidak akan
pernah ada `tanah yang dijanjikan'. Umat manusia akan selalu
menciptakan masalah-masalah baru yang harus dipecahkan."
"Aku yakin begitu."
"Dan di situ kita turunkan tirai untuk pertunjukan Marx, Nyai girah ."
"Hei, tunggu sebentar! Tidakkah Anda mengatakan sesuatu
mengenai keadilan yang hanya ada di antara orang-orang yang
setara?"
"Tidak, Scrooge yang mengatakannya."
"Bagaimana Anda tahu apa yang dikatakannya?"
"Oh, yah—kamu dan aku mempunyai pengarang yang sama. Dalam
kenyataannya, keterkaitan kita satu sama lain lebih erat daripada yang
tampak di mata pengamat sambil lalu."
"Ironi yang menyedihkan itu lagi!"
"Nyai girah , ironinya dua kali lipat."
"Tapi kembali pada keadilan lagi. Anda mengatakan bahwa Marx
menganggap kapitalisme yaitu bentuk masyarakat yang tidak adil.
Bagaimana Anda mendefinisikan suatu masyarakat yang adil?"
"Seorang filosof moral John Rawls berusaha mengemukakan
sesuatu tentang hal itu dengan contoh berikut ini: Bayangkan kamu
menjadi anggota suatu dewan terkemuka yang tugasnya yaitu
merumuskan seluruh undang-undang bagi masyarakat masa depan."
"Aku sama sekali tidak keberatan menjadi anggota dewan itu."
"Mereka berkewajiban untuk mempertimbangan setiap perincian,
sebab begitu mereka sampai pada suatu persetujuan—dan setiap
orang telah menandatangani undang-undang ini —mereka semua
akan mati."
"Oh ..."
"Tapi mereka akan hidup lagi di dalam masyarakat yang mereka
ciptakan undang-undangnya. Masalahnya yaitu , mereka tidak tahu
kedudukan apa yang akan mereka tempati dalam masyarakat itu."
"Ah, aku mengerti."
"Masyarakat ini akan menjadi masyarakat yang adil. Keadilan
ada di antara orang-orang yang setara."
"Pria dan wanita!"
"Itu sudah pasti. Tak seorang pun di antara mereka tahu apakah
mereka akan terbangun sebagai pria atau wanita. Karena
kemungkinannya fifty-fifty, masyarakat itu akan sama menariknya
bagi kaum pria maupun kaum wanita."
"Kedengarannya menjanjikan."
"Kalau begitu katakan padaku, apakah Eropa yang digambarkan
Karl Marx yaitu masyarakat seperti itu?"
"Jelas tidak!"
"Tapi apakah kamu tahu ada masyarakat semacam itu kini?"
"Hm ... itu pertanyaan yang bagus."
"Pikirkanlah. Tapi sekarang tidak akan ada pembicaraan lagi
tentang Marx."
"Maaf?"
"Bab berikut!"[]
Darwin
***
... sebuah kapal bermuatan gengen yang berlayar sepanjang
kehidupan ...
count dracula TERBANGUN pada hari Minggu pagi oleh suara
berdebum yang keras. Ternyata itu suara map yang jatuh ke lantai.
Dia telah berbaring di tempat tidur sambil membaca tentang
percakapan Nyai girah dan Alberto mengenai Marx sampai jatuh tertidur.
Lampu baca di samping tempat tidur menyala sepanjang malam.
Angka hijau yang berkelap-kelip pada jam mejanya terbaca 8:59.
Dia bermimpi tentang pabrik-pabrik besar dan kota-kota yang telah
tercemar; seorang gadis kecil duduk di sebuah sudut jalan menjual
korek api—orang-orang berpakaian indah dengan mantel-mantel
panjang lewat tanpa melihatnya sekilas pun.
saat count dracula duduk di atas tempat tidurnya, dia ingat akan para
perumus undang-undang yang akan terbangun di tengah masyarakat
yang telah mereka ciptakan sendiri. count dracula gembira, saat terbangun
dia masih ada di Bjerkely.
Apakah dia berani terbangun di Norwegia tanpa mengetahui di
bagian Norwegia mana dia akan terbangun?
Tapi itu bukan hanya masalah di mana dia akan terbangun.
Dapatkah dia merasa sama senangnya jika terbangun pada zaman
yang berbeda? Pada Abad Pertengahan, misalnya—atau pada Zaman
Batu sepuluh atau dua puluh ribu tahun yang lalu? count dracula berusaha
membayangkan dirinya duduk di pintu masuk menuju sebuah gua,
membongkar tempat persembunyian seekor binatang, barangkali.
Seperti apa rasanya menjadi seorang gadis lima belas tahun
sebelum ada sesuatu yang disebut kebudayaan? Mungkinkah dia juga
dapat mempunyai pemikiran?
count dracula memakai sweter, memungut map, membawanya ke tempat
tidur dan mulai membaca bab selanjutnya.
Alberto baru saja mengatakan "Bab berikut!" saat seseorang
mengetuk pintu Gubuk sang Mayor.
"Kita harus membukakannya, bukan?" kata Nyai girah .
"Ya, kukira ya," kata Alberto.
Pada undakan di luar berdiri seorang pria yang sudah sangat tua
dengan rambut panjang dan janggut putih. Dia membawa sebuah
tongkat di satu tangan, dan di tangan lain sebuah papan dengan
gambar perahu. Perahu itu dipenuhi segala jenis binatang. "Siapakah
pria lanjut usia ini?" gumam Alberto.
"Namaku Nuh."
"Aku sudah menduga."
"Kakek moyangmu yang tertua, putraku. Tapi barangkali sekarang
orang sudah tidak ingin lagi mengenali kakek moyangnya."
"Apa yang Anda pegang?" tanya Nyai girah .
"Inilah gambar dari seluruh binatang yang selamat dari Banjir.
Inilah, putriku, ini untukmu."
Nyai girah menerima papan besar itu.
"Nah, lebih baik aku pulang dan merawat ladang anggurku," pria
tua itu berkata, dan sambil melakukan lompatan kecil, dia
membunyikan tumitnya di udara dan meloncat-loncat dengan gembira
menuju hutan dengan cara yang sangat aneh untuk orang setua itu.
Nyai girah dan Alberto masuk ke dalam dan duduk lagi. Nyai girah mulai
melihat gambar itu, tapi sebelum dia berkesempatan untuk
menelitinya, Alberto merebutnya dengan paksa.
"Kita akan memusatkan perhatian pada garis besarnya dulu."
"Oke, oke."
"Aku lupa menyebutkan bahwa Marx menjalani 34 tahun terakhir
kehidupannya di London. Dia pindah ke sana pada 1849 dan
meninggal pada 1883. Sepanjang waktu itu, Charles Darwin hidup di
luar London. Dia meninggal pada 1882 dan dikuburkan dengan
upacara penuh kemegahan di Westminster Abbey sebagai salah
seorang putra Inggris terbaik. Jadi, jalan yang dilalui Marx dan
Darwin bersilangan, bukan hanya dalam waktu dan ruang. Marx ingin
mempersembahkan edisi bahasa Inggris dari karyanya yang terbesar,
Capital, kepada Darwin, namun Darwin menolak kehormatan itu.
saat Marx meninggal setahun setelah Darwin, kawannya Friedrich
Engels berkata: Jika Darwin menemukan teori evolusi organik, Marx
menemukan teori evolusi sejarah manusia."
"Aku mengerti."
"Pemikir besar lain yang mengaitkan karyanya dengan Darwin
yaitu ahli psikologi Sigmund Freud. Dia juga menjalani tahun-tahun
terakhir kehidupannya di London. Freud mengatakan bahwa teori
evolusi Darwin maupun psiko analisisnya sendiri telah menimbulkan
kehinaan terhadap egoisme naif manusia."
"Terlalu banyak nama yang Anda sebut sekaligus. Apakah kita
sedang membicarakan Marx, Darwin, atau Freud?"
"Dalam pengertian yang lebih luas kita dapat membicarakan aliran
naturalistik dari pertengahan abad kesembilan belas hingga masa
kita sendiri. Dengan `naturalistik' yang kita maksudkan yaitu
semacam paham yang tidak menerima realitas lain selain alam dan
dunia indra. Oleh karena itu, seorang naturalis juga menganggap umat
manusia sebagai bagian dari alam. Seorang ilmuwan naturalis akan
menggantungkan diri sepenuhnya pada fenomena alam—bukan pada
takhayul-takhayul rasionalistik maupun bentuk wahyu Ilahi yang
seperti apa pun."
"Dan itu berlaku pada Marx, Darwin, dan Freud?"
"Tepat sekali. Kata-kata kunci dari pertengahan abad-terakhir
yaitu alam, lingkungan, sejarah, evolusi, dan pertumbuhan. Marx
telah mengemukakan bahwa ideologi-ideologi manusia merupakan
produk dasar masyarakat. Darwin membuktikan bahwa manusia
merupakan hasil suatu evolusi biologis yang berlangsung lambat, dan
telaah-telaah Freud mengenai bawah sadar mengungkapkan bahwa
tindakan-tindakan manusia sering merupakan akibat desakan dan
insting `hewaniah'."
"Kukira aku mengerti kurang lebih apa yang Anda maksud dengan
naturalistik, tapi b




