, ada cacat hukum
dalam jual-beli tanah itu 60 tahun lalu. Keluarga Efferson lalu menawarkan
sedikit uang dengan imbalan persoalan diselesaikan ...."
Penasaran, sesudah selesai berbicara dengan Virginia, Quirk menelepon keluarga
Efferson. Mereka membenarkan, petani tua bekas pemilik tanah mereka, 60 tahun
lalu menjual tanahnya pada sebuah perusahaan penebangan kayu. Namun, sebab
kesulitan uang, pembayaran terhenti setengah jalan. Petani itu lalu mengambil
kembali tanahnya tanpa meluruskan hak kepemilikannya di pengadilan. Belakangan,
perusahaan penebangan kayu itu hidup lagi, ber-ganti nama menjadi Acme Paper.
"Kapan kamu tahu ada yang tidak beres?" tanya Quirk.
"Saya mulai curiga beberapa bulan lalu, waktu sekelompok petugas survei dari
perusahaan kayu mengukur melewati pagar belakang," cerita Gary Efferson.
"Mandornya menunjukkan gambar yang membuat perut saya mual ...."
Bu Quirk meletakkan telepon dengan marah.
Kena setrum
Keesokan harinya, perasaan Bu Quirk makin tak keruan. Ia merasa seperti sedang
naik pesawat yang tiba-tiba oleng, saat tukang pos memberi tahu, anggota dewan
kotapraja yang bertugas menyusun perundang-undangan tewas kena setrum saat
membetulkan antena TV tadi pagi. Seorang pengendara mobil yang kebetulan lewat
bermaksud menolongnya. Namun, si pengendara malah ikut kena setrum, sekaligus
gagal menyelamatkan nyawa sang anggota dewan.
Bu Quirk sadar, korban-korban meninggal dalam beberapa hari terakhir yaitu
orang-orang yang terdapat dalam daftar surat berantai Fendley. Mungkinkah hal ini
terjadi secara kebetulan? Mengirimkan surat berantai kepada seseorang mestinya
tidak akan membuat si penerima meninggal. namun kalau bukan lantaran surat
berantai, mengapa orang-orang itu meninggal? Tiba-tiba Quirk teringat pada
penjualan mobil Fendley yang belakangan meningkat pesat.
65
Sulit dipercaya, Fendley tiba-tiba menjadi orang paling mujur di tengah berbagai
kemalangan yang menimpa orang lain. Apakah nasib sial memang bisa berpindah ke
orang-orang yang dikirimi surat berantai oleh Fendley?
"Fendley, kita punya masalah besar," bilang Quirk, yang tiba-tiba saja menyerobot
masuk kamar kerja bosnya. Fendley melotot dan menaruh telepon buru-buru, tanpa
mengucapkan salam kepada lawan bicaranya.
"Fendley, saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Banyak orang meninggal."
"Bu Quirk, setiap hari selalu ada orang meninggal."
"Maksud saya, orang-orang yang Anda kirimi surat berantai. Tujuh, Fendley, tujuh
orang meninggal."
"Ah, itu 'kan cuma kebetulan," sebut Fendley dengan mata berbinar-binar.
"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun cobalah bertindak!"
Alis mata Fendley merayap naik.
"Bertindak apa?" tanyanya. "Bu Quirk, Anda sakit? Saya sudah berbicara dengan
adik Anda beberapa waktu lalu dan dia juga khawatir."
Dengan mata sama sekali tidak memperlihatkan kepikunan, Bu Quirk menatap tajam.
Beberapa menit sesudah percakapan tadi, Bu Quirk meninggalkan kantor sambil
membawa sebuah kotak berisi barang-barang pribadinya. Tangannya yang lain
menenteng pot berisi tanaman geranium. Dalam perjalanan keluar ia berpapasan
dengan seorang wanita seksi berambut pirang. "Anda tahu ada lowongan sekretaris
di sini?" tanya si wanita. Alih-alih menjawab, Quirk malah menjatuhkan pot geranium
ke kaki si wanita. Gabrukk!
Dalam 24 jam berikutnya, Bu Quirk berada di ruang duduk rumahnya sambil minum
bercangkir-cangkir teh. Tiba-tiba saja Coleen Anderson meneleponnya. Katanya,
sudah sebulan ini ia sering menerima telepon gelap yang kian menakutkan. Malam
hari sering kelihatan orang gentayangan di luar rumah. Malam kemarin, tiga
anjingnya tewas disembelih di halaman, entah oleh siapa. Coleen mengakhiri
ceritanya dengan menangis terisak-isak.
Bu Quirk sadar, keserakahan Harry Fendley-lah biang keladi semua malapetaka ini.
namun bagaimana cara menghentikannya?
Tinggal dua nyawa
Esok paginya, Bu Quirk mendengar kabar, restoran Emilio terbakar. Restoran itu
tempat makan favorit di Endicott. Saat api berkecamuk, di dalam sedang banyak
orang makan. Api meminta tujuh korban. saat penyiar teve menyebutkan nama-
nama korban, Bu Quirk mengambil daftar penerima surat berantai yang
dikirimkannya atas perintah Fendley. Ia mendapati empat dari tujuh korban tercatat
dalam daftar.
Kini total korban, entah akibat surat berantai atau ulah Fendley sendiri, mencapai
sebelas orang. Tinggal dua nama dalam daftar yang masih hidup. Yakni John
McLean, sesama pedagang mobil, dan bekas sekretaris Fendley. Dengan tergesa-
gesa Bu Quirk menyambar tas dan mantelnya, lalu pergi ke Hartley dan McLean
Auto Sales yang terletak di tempat strategis, dekat jalan bebas hambatan. Bu Quirk
66
menemukan McLean sedang melempari poster kampanye Fendley dengan baut di
ruang kerjanya.
"Bu Quirk! Saya kira Anda sudah meninggal!"
"Dan kamu masih tetap berandal kecil yang seminggu sekali dikirim ke kepala
sekolah untuk disabet," balas Bu Quirk cepat.
"Anda lebih menakutkan daripada kepala sekolah," McLean tertawa. "Ada perlu
apa?" sambungnya. "
Kamu akan mati, kecuali kamu segera bertindak,"
McLean duduk membisu saat Bu Quirk menceritakan apa yang terjadi. Air mukanya
berubah dari terkejut menjadi tidak percaya. Bu Quirk tahu, ia cuma menyia-nyiakan
waktu.
"Ya, saya ingat menerima surat semacam itu. Sekretaris saya membuangnya. Jadi,
apa yang harus saya lakukan? Mengirim 13 surat lagi?" tanyanya.
Dada Bu Quirk sesak. Mengapa jawaban itu tidak terpikir olehnya? Bagaimana kalau
13 orang itu mengirimkannya kepada 13 orang lain, begitu seterusnya. Apakah
semuanya akan mati tiba-tiba juga?
McLean tergelak-gelak. "Beri tahu Fendley, saya tidak tahu lelucon apa yang
dirancangnya, tenamun dia memilih orang yang tepat untuk memerankannya. Quirk,
Anda patut mendapat Oscar."
Tanpa basa-basi lagi, Quirk meninggalkan ruangan. Dia tak ingin menyaksikan gaya
Mc-Lean tertawa. namun ia bisa mendengar dengan sangat jelas suara keras yang
timbul saat tengkorak McLean menghajar sudut lemari file. Seorang salesman yang
sedang lewat di depan pintu berteriak. Quirk langsung kabur tanpa menengok.
Berbalik sasaran
Fendley menahan senyum saat bertemu dengan Bu Quirk lagi di kantornya.
"Dua belas tewas, Fendley. Apa yang sebenarnya telah Anda lakukan?" Rasanya
ingin ia menampar Fendley.
"Yang saya lakukan?" Fendley membuka pintu sebuah lemari. Di dalamnya
tertempel sehelai poster yang ditulisi huruf besar-besar, nama 13 orang yang dikirimi
surat berantai. Dipandanginya "karyanya" itu dengan puas. "Cuma ini, Quirk. Saya
juga ingin tahu kenapa begitu manjur ...."
Bu Quirk melihat nama terakhir yang belum dicoret: Becky Ward.
"Bagaimana dengan Becky?"
Fendley mengangkat bahu.
"Terkutuk. Anda bertanggung jawab atas semua ini."
Senyum Fendley berubah kejam dan mata sipitnya bertambah sipit berpayung alis
tebal. "Becky kurang menghormati saya saat ia bekerja di sini," ucapnya sembari
67
mendelik dengan sikap mengancam. Quirk merasa kepalanya melayang. Untunglah
telepon berdering, sehingga perhatiannya mengarah pada gagang telepon.
"Bilang pada anggota Kongres itu, aku akan meneleponnya beberapa menit lagi,"
jawab Fendley kepada seseorang di seberang sana.
"Beri tahu Haroldson perihal kemajuan yang sudah Anda peroleh untuk mendapat
tanah-tanah kami," pancing Quirk.
"Kok Anda tahu?"
"Teman saya Gary Efferson pelahap berita finansial. Ia membaca bahwa istri
Haroldson mendapat posisi menentukan di Acme Paper. Istri Haroldson juga yang
mengepalai perusahaan pembangunan perumahan, perusahaan yang dipimpin
suaminya sebelum terpilih menjadi anggota Kongres. Tanah keluarga Anderson,
Efferson, dan saya, jadi penghalang untuk membangun jalan bebas hambatan. Kalau
Anda memperoleh tanah kami, jarak dari Acme Land ke kota besar cuma 45 menit,
harga tanah Acme Land pun akan melonjak."
Merasa mendapat angin, Quirk melanjutkan, "Anggota Kongres itu membayar Anda
cukup besar untuk membeli tanah dan menjualnya langsung ke Acme, tenamun Anda
serakah. Anda ingin mendapat tanah kami tanpa keluar banyak uang, kalau perlu
gratis."
"Hampir betul," jawab Fendley. "Sebenarnya, ini saran Haroldson. dean shek suami
Anda sudah mulai kalah berjudi sebelum saya mengikat janji dengan Haroldson.
Sayang, ia keburu mati sebelum menyerahkan tanahnya. Kini sudah terlambat bagi
Anda dan siapa pun untuk bertindak," Fendley tertawa geli. "Asal tahu saja, saya
sudah minta adik Anda mengajukan permohonan ke pengadilan, agar Anda
dinyatakan tidak waras."
Diancam begitu, Quirk malah tersenyum. "Maaf, ada yang lupa saya poskan," kata
Quirk kepada si pirang, penggantinya di kantor Fendley. Ia segera mengambil surat
berantai ketiga belas dari laci, lalu memasukkannya ke tas. Ya, surat ketiga belas
yang tak terkirimkan mestinya berbalik menyerang si pengirim. Beberapa waktu
lalu , dia mendengar ada kegaduhan di kantor Fendley.
"Korban ketiga belas sudah jatuh. dean shek pasti senang, tanahnya tak jadi terjual,"
bisik Quirk pelan. (Kisah Rekaan/Vickie Dubois/HI)
10. CINCIN BERLIAN MEMECAH KEBUNTUAN
Hari sudah beranjak siang, namun lampu teras sebuah rumah di Jln. Mawar Jingga itu
masih menyala. Pintu dan jendela ruang utama pun tertutup rapat. "Bukankah dia
ada job hari Minggu ini!" kata Suwarto dalam hati. "Apa ketiduran ya?"
"Mas, bangun, Mas, sudah siang!" untuk kesekian kalinya Suwarto, sopir seorang
perancang busana terkenal itu berteriak memanggil si empunya rumah. namun tetap
saja tak ada jawaban. Dia mencoba mengintip lewat lubang kunci, namun
pandangannya terhalang anak kunci yang menempel di tempatnya. Penasaran,
Suwarto menyusuri samping rumah. Didapatinya daun jendela kaca ruang tamu
sudah renggang dan tak terkunci.
68
Perasaan Suwarto makin tak enak. Dia nekat masuk ke ruang tamu lewat jendela itu.
Ruang berkarpet biru itu gelap. Sreeek, sopir tua itu menyibakkan gorden jendela
dan .... Suwarto nyaris menjerit melihat sesosok tubuh tertelungkup tak bergerak di
lantai. Kondisi ruangan itu tampak berantakan. Meja tamu terbalik, pecahan kaca
bertebaran di mana-mana. Vas kristal dan sejumlah pajangan pecah belah hancur
berkeping-keping.
Cukup lama Suwarto terdiam, tak tahu harus berbuat apa, sebelum akhirnya
mengabarkan kejadian yang baru dilihatnya itu kepada majikannya, Priyo Harsono, si
perancang terkenal itu. Sosok itu ternyata tubuh Irvan, seorang model yang sedang
naik daun.
Jejak di bawah jendela
Sejam lalu Iptu Yudha Prawira beserta anak buahnya tiba di tempat kejadian
perkara. Disusul sejumlah paramedis pimpinan dr. Aswin Chaniago, ahli forensik.
Mereka langsung meneliti korban dan memeriksa tempat kejadian. Saat ditemukan,
korban masih berpakaian lengkap, berbaju tangan panjang kotak-kotak yang
digulung sebatas siku, dipadukan dengan celana jins dan sepatu kulit merek terkenal.
Sepertinya Irvan baru pulang dari bepergian.
"Melihat kondisi tubuh korban yang kaku dan darahnya mulai mengering, saya
perkirakan dia meninggal sebelum tengah malam. Tengkorak belakangnya pecah,"
kata dr. Aswin kepada Iptu Yudha Prawira.
Tampak darah mengalir dari kepala hingga ke telinga dan pipi kiri korban,
menggenangi karpet. Sebagian sudah membeku. Darah itu berasal dari kepala
bagian belakang sebelah kiri. Pada tulang tengkoraknya terdapat lubang berbentuk
segitiga sedalam 3 cm.
Mayat itu dikenali sebagai Irvan Lesmana. Perjaka berusia 24 tahun, berkulit kuning
langsat, dan bertinggi 175 cm itu tengah bersinar di dunia cat walk.
"Menurut Dokter, luka di kepala ini sebab apa?" tanya Iptu Yudha.
"Akibat benturan. Korban kelihatannya terkena tendangan atau pukulan keras dari si
penyerang," sambung dr. Aswin sambil menunjukkan luka memar di dada korban
dan rahang kanannya. "Mungkin si penyerang jago beladiri. Sebelum jatuh ke lantai,
kepala korban membentur ujung bufet, lalu mengenai meja kaca. sebab banyak
darah yang keluar, korban akhirnya meninggal."
Pada salah satu ujung bufet yang tajam itu memang ditemukan sedikit bercak darah
yang sudah mengering.
"Bagaimana dengan kemungkinan kecelakaan? Si penyerang hanya melakukan
tindakan beladiri, misalnya," tanya Briptu Siswardoyo, anak buah Iptu Yudha Prawira.
"Bisa saja. namun melihat pintu yang dikunci dari dalam, bukan tak mungkin
pembunuhan ini sudah direncanakan," kali ini Yudha yang berteori.
Sejenak ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu Briptu Siswardoyo
mendekati Iptu Yudha Prawira. "Saya menemukan ini, Komandan. Kayaknya bukan
pecahan kaca, namun batu permata," bisik Siswardoyo yang sebelumnya sempat
mengumpulkan pecahan-pecahan kaca di atas karpet. "Betul, ini mungkin berlian. Di
mana kamu temukan?" tanya Yudha. "Tak jauh dari lokasi korban terbaring," jawab
Sis.
69
Sebelum memasukkan mayat ke dalam mobil jenazah, kedua petugas polisi itu
memeriksa korban sekali lagi. Didapati korban tampak tidak memakai perhiasan apa
pun. Namun, pada jempol kirinya terdapat tanda putih melingkar seperti bekas cincin.
Lalu di bagian ruas jempol atasnya terlihat ada luka kecil. Yudha menduga, korban
biasa memakai cincin di jempol kiri, seperti gaya anak muda masa kini. Cincin itu
mungkin dilepas secara paksa oleh si pembunuh.
Dari tuturan Suwarto, si pembunuh kelihatannya mengunci pintu dari dalam, lalu
keluar lewat jendela samping ruang tamu yang tidak berteralis. Ini gaya lama pelaku
kejahatan, agar korban tidak segera ditemukan orang lain.
"Hari ini ada acara gladi resik pameran busana rancangan saya. Irvan salah satu
model dan peragawannya. Namun, sampai siang hari dia tidak juga muncul.
Teleponnya juga tidak diangkat-angkat. Saya jadi khawatir. sebab itu, saya lantas
menyuruh Suwarto untuk mengecek dan menjemputnya," jelas Priyo Harsono, si
perancang busana, majikan Suwarto.
"Sudah lama Irvan bekerja dengan Anda?" selidik Yudha.
"Kira-kira setahun lebih. Kematiannya merupakan kehilangan besar buat saya,"
jawab Priyo.
Yudha lalu membawa Suwarto untuk melakukan rekonstruksi penemuan
mayat. saat sampai di dekat jendela tempat Suwarto masuk, Yudha berhenti
sejenak. Pada lantai semen di bawah jendela terlihat bekas tapak sepatu bersol
karet. Sepertinya, lantai semen itu belum kering saat diinjak. Mungkinkah itu jejak
kaki tersangka?
Tamu berjaket hitam
Sore harinya, saat masih berada di rumah korban, Yudha melihat empat orang
berwajah lugu mendatangi rumah itu. "Bapak-bapak ini siapa?" tanya Yudha dengan
nada sopan. "Saya Rahmat, dan mereka kawan-kawan saya. Kami ini tukang yang
sedang merenovasi rumah ini, Pak," ujar lelaki bertubuh tinggi kurus, mewakili
teman-temannya.
"Kok sore begini baru datang?" tanya Briptu Sis. "Hari ini sebenarnya kami libur.
Kami datang cuma ingin minta gaji sama Mas Irvan," kata Rahmat.
"Ooo, begitu."
"Kemarin, sejak siang Mas Irvan pergi. Kami tunggu sampai jam enam sore, sambil
bikin adukan untuk lantai garasi, dia enggak pulang juga."
"Omong-omong, lantai garasinya kok tidak langsung ditutup keramik?" Yudha
mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Pak. saat mau pulang kemarin, lantainya masih basah," jawab Rahmat.
"Jam berapa persisnya kalian mulai menyemen?"
"Kira-kira jam lima."
"Kalau disemen jam lima, jam berapa keringnya?"
70
"Harusnya pagi sudah kering, asal malamnya tidak hujan."
"Bagaimana kalau ada orang yang menginjaknya saat masih basah?"
"Ya, amblas, Pak!" sahut Rahmat dengan logat khas Jawa Timurnya. Yudha lalu
mengajak Rahmat pergi ke samping rumah Irvan.
"Lihat bekas tapak sepatu ini. Kira-kira, kapan lantai sepatu ini diinjak?"
"Mungkin tadi malam," kata Rahmat.
"Kamu lihat perbedaan tapak kaki kanan dan kiri?"
"Ya. Kayaknya cetakan kaki kanan lebih dalam dari yang kiri."
Yudha diam sejenak.
"Apakah ada tamu cacat atau kakinya pincang yang datang selama kalian
merenovasi rumah ini?"
"Rasanya tidak. Memangnya kenapa, Pak?"
"Orang yang pincang atau cacat, misalnya kaki kiri lebih panjang dari yang kanan,
sewaktu berjalan semua beban tubuhnya tertumpu pada kaki yang lebih pendek.
Jadi, kaki kanan lebih menekan ke tanah, seperti terlihat di bekas tapak ini," jelas
Yudha.
Rahmat mengangguk-angguk.
"Briptu Sis, di rumah ini Irvan tinggal sendirian?"
"Tidak, Dan. Dia tinggal bersama seorang pembantu. namun sudah beberapa hari ini
pembantunya pulang kampung."
"Pak Rahmat, berapa tukang yang bekerja merenovasi rumah ini?" kata Yudha.
"Semuanya ada lima, termasuk saya. Yang berdiri di sana itu, Soleh, Yono, dan
Bagyo. Satu lagi, Rajiman sedang sakit."
"Bisa kami menemui dia?"
"Bisa, Pak. Rumahnya dekat sini, kok!"
Iptu Yudha ditemani Briptu Sis, Rahmat, dan dua polisi berpakaian dinas segera
beranjak pergi. Tak jauh dari rumah Irvan, ada gang kecil menuju perkampungan
padat penduduk. Di sanalah letak rumah kontrakan Rajiman.
"Firasat saya enggak enak, Dan," bisik Sis. Yang diajak bicara hanya menepuk-
nepuk bahu Sis. Feeling Sis kali ini tampaknya benar. Di depan rumah Rajiman,
mereka mendapati sepasang sepatu kain beralas karet yang dekil lantaran semen
yang sudah mulai mengering.
Yudha mengetuk pintu, sementara Sis bersiaga. Rajiman yang baru bangun tidur
tampak tak menyangka tamunya yaitu polisi. Dia mencoba kembali menutup pintu.
namun Yudha dengan sigap bertindak. "Rajiman! Diam di tempat! Banyak yang harus
71
kamu jelaskan pada kami di kantor polisi nanti." Sejurus lalu , tangan anak
buah Rahmat itu sudah masuk jepitan borgol.
"namun Komandan, Rajiman 'kan tidak pincang," protes Briptu Sis. "Memang, namun berat
badannya bertumpu pada kaki kanan, sebab dia membawa sesuatu di tangan
kanannya. Dia pasti mencuri sesuatu dari rumah Irvan."
"Kamu yang membunuh Irvan dan merampok barang-barangnya?" tuding Yudha,
begitu mereka tiba di ruang interogasi.
"Ampun, Pak. Bukan saya yang membunuh," jawab Rajiman.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa?"
"Ampun, pak. Saya tidak bohong. Tadi malam, sekitar jam sepuluh saya memang ke
rumah Mas Irvan, mau minta gaji. Saya sudah enggak punya duit, Pak. Dari
kejauhan, saya melihat seseorang keluar dari rumah itu dengan terburu-buru. Saya
tak sempat mengenalinya, sebab dia langsung menyetop taksi."
"Lalu?"
"Saya ketuk pintu, namun tidak ada jawaban. Pintunya sendiri ternyata tidak terkunci."
"lalu kamu masuk?"
"Betul. Saya kaget bukan main, suasananya berantakan sekali. Meja terbalik,
kacanya pecah, dan beling ada di mana-mana. Mas Irvan sendiri tertelungkup di
dekat bufet. Saya goyang-goyangkan badannya, namun dia enggak bergerak."
"Akhirnya kamu memutuskan untuk mencuri? Tega betul kamu!"
"Saya kekepet, Pak. Kalau Mas Irvan mati, siapa yang bayar gaji saya? Makanya
saya ambil beberapa barang elektronik yang bisa dijual."
"Lalu kamu matikan lampu, mengunci pintu dari dalam dan keluar lewat jendela
samping?"
Rajiman mengangguk, lalu tertunduk diam.
"Saya menceritakan yang sebenarnya, Pak. Sungguh!" sambung Rajiman.
"Kamu juga yang mengambil cincin berlian Irvan?"
"Cincin? Seingat saya, malam itu Mas Irvan tidak memakai perhiasan. Mungkin
orang berjaket itu yang mengambilnya."
"Orang berjaket hitam itu, laki-laki atau wanita lesbian ?"
"Kurang jelas, Pak."
"Ingat nomor polisi taksinya?"
"Tidak, Pak. Saya hanya ingat warnanya, biru," tegas Rajiman.
"Ah, taksi warna biru 'kan banyak!"
72
Yudha dan Sis seperti kehabisan kata-kata. Siapa sebenarnya orang berjaket hitam
yang meninggalkan rumah Irvan? Atau, ini cuma akal-akalan Rajiman!
Punya banyak pacar
Hari-hari berikutnya cukup membuat Yudha dan Sis frustrasi. Nyaris tak ada
perkembangan berarti dari kasus yang sedang mereka tangani. Dari teman-teman
Irvan, mereka hanya mendapat dua nama wanita yang belakangan dekat dengan
pria ganteng itu. Yang pertama Dra. Andrini, janda berumur 40-an tahun, direktur
utama sebuah pabrik minuman suplemen. saat tahu Irvan meninggal, wanita ayu
itu tampak shock.
"Anda sudah lama kenal Irvan?"
"Lumayan lama. Dia bintang iklan produk saya."
"Cuma sebatas hubungan kerja, atau ...?"
"Atau apa?"
"Maaf, dari obrolan dengan beberapa orang di kantin kantor ini, saya dengar Anda
punya hubungan khusus dengan ...."
Wajah Andrini tampak memerah.
"Saya kira itu urusan pribadi saya," jawabnya ketus.
"Kabarnya juga, Anda sangat kecewa saat tahu Irvan akan menikah dengan Melani
Febri," sambung Sis.
"Ini juga urusan pribadi. Saya tidak akan menjawabnya."
"Oke, pertanyaan terakhir. Kalau boleh tahu, Sabtu lalu saat Irvan meninggal, Anda
berada di mana?" tanya Yudha.
"Saya memang tidak di rumah sejak jam dua siang. Ada urusan yang tak bisa saya
ceritakan kepada Anda!"
Yudha dan Sis tertegun. Tak banyak yang bisa dikorek dari direktris ketus ini. sebab
itu, mereka akhirnya memutuskan mendatangi wanita kedua yang disebut-sebut
sebagai pacar sekaligus calon istri Irvan, Melani Febri.
"Wah, sudah punya calon istri, masih juga selingkuh dengan tante-tante," komentar
Sis, dalam perjalanan menuju rumah Melani.
"Aku berani bertaruh, kalau kamu jadi Irvan, mungkin kamu lebih playboy dari dia,"
kata Yudha.
Pekarangan rumah Melani tampak luas. Di dekat garasi ada lapangan bulu tangkis
yang cukup terawat. Melani sendiri baru berusia 23 tahun. Tubuh bintang iklan
sampo itu sungguh atletis. Kulitnya yang hitam manis menambah cantik penampilan
model yang tengah menanjak kariernya itu. sesudah berbasa-basi, Yudha dan Sis
langsung menanyai Melani soal calon suaminya itu.
"Anda mengenal Irvan dengan baik, Melani?"
73
"Hmm, orangnya sedikit tertutup dan susah ditebak. namun pada dasarnya dia orang
baik. Kadang terlihat seperti menyimpan masalah, namun setiap ditanya, selalu
menghindar. Sabtu lalu, dia janji mau mengantar saya jalan-jalan ke mal, namun sampai
malam enggak ada kabar. Tahu-tahu, saya mendapat kabar ...," tutur Melani tanpa
bisa melanjutkan kata-katanya.
"Kabarnya, hubungan kalian tidak direstui keluarga Anda?"
"Ya. namun kami bertekad membuktikan, semua prasangka itu salah."
"Prasangka bahwa Irvan itu seorang playboy?"
"Ya. Salah satunya."
"Kamu tahu Irvan punya wanita idaman lain?"
"Pernah dengar, namun saya menganggap itu cuma gosip."
"Bagaimana kalau ternyata benar?"
"Keluarga saya akan membunuhnya."
"Membunuh Irvan?"
"Sudahlah, saya tetap yakin, semua itu gosip."
Jawaban Melani membuat Yudha bak berada di persimpangan jalan. Polisi dengan
jam terbang tinggi dalam menangani kasus-kasus pembunuhan ini menyadari,
persoalannya ternyata tak sesederhana seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Apalagi sesudah datang laporan terakhir dari Briptu Ikhsan. Selain memastikan bahwa
penggumpalan darah di otak sebagai pemicu kematian Irvan, laporan itu juga
menyebut, lelaki ganteng itu sering disodomi.
"Jadi, dia seorang biseksual?" tegas Sis.
"Ingat cerita Andrini dan Melani tentang cincin emas bermata berlian milik Irvan?"
sambung Yudha.
"Maksud Komandan?"
"Mereka bilang, cincin yang hilang itu kado dari Rio, saat Irvan berulang tahun
beberapa bulan sebelum peristiwa ini. Jika seseorang memberi kamu cincin berlian,
apa artinya, Sis?"
Briptu Sis tersenyum penuh arti.
"Rio yang tergila-gila pada Irvan mungkin kecewa begitu tahu 'pacarnya' berencana
menikah dengan Melani. Lalu dia bermaksud mengambil kembali cincin berlian itu."
"Masuk akal juga!" seru Yudha.
74
Mabuk-mabukan di klub
Tanpa membuang waktu, Yudha dan Sis tancap gas ke rumah Rio Titan, yang tidak
lain yaitu manajer Irvan. Nama Rio sering disebut-sebut Priyo Harsono, Andrini,
maupun Melani. Namun, baru kali ini duo polisi itu berniat menanyainya.
Rio yang tinggal di sebuah kawasan elite berperawakan tinggi, berkulit bersih,
dengan kumis tipis. Mengingatkan pada bintang pop Hollywood tahun lima puluhan,
Robert Taylor. namun , saat berbicara, suaranya sangat lembut, bahkan terkesan
kemayu.
"Kok sepi," Iptu Yudha membuka percakapan.
"Ya, anak dan istri saya sedang di rumah mertua," jawab Rio dengan suara agak
serak.
"Anda sudah mendengar berita kematian Irvan, 'kan?"
"Kasihan anak itu," jawab Rio datar.
"Sebagai manajer, Anda pernah berselisih paham dengan almarhum?"
"Pertengkaran serius, rasanya belum pernah. Sudah seminggu ini saya tidak ketemu
dia. Mungkin sibuk ngurus pacarnya, tuh," ada nada cemburu dari getar suara Rio.
"Oh, ya, saat kematian Irvan, Anda ada di mana?"
"Di klub. Kalau enggak percaya, tanya aja manajer klubnya," seru Rio sembari
menyodorkan sebuah kartu nama.
Dari luar Klub Malam "S" yang disebut Rio tampak sepi. namun ternyata di dalamnya
lumayan ramai. Semua pengunjungnya laki-laki. "Komandan, sepertinya kita salah
masuk. Orang-orang di sini semuanya mirip Rio," bisik Sis. Yudha tersenyum kecut,
menyadari mereka ternyata masuk ke tempat gaulnya kaum gay.
Sayoga, manajer klub malam itu membenarkan Rio dan kawan-kawannya pada
Sabtu malam lalu memang berkumpul di klub malamnya. "Mereka bahkan mabuk-
mabukan sampai pagi," terang Sayoga. "Rio biasa mabuk di sini?" selidik Yudha.
"Wah, dia sih jarang mabuk. Setahu saya, dia sedang punya persoalan dengan
gebetan barunya, model ganteng yang sedang naik daun. Katanya sih mau ditinggal
kawin."
Yudha manggut-manggut. Model yang dimaksud Sayoga pasti Irvan Lesmana.
"namun Rio 'kan sudah punya anak dan istri?"
"Bapak kayak enggak tahu aja," sahut Sayoga manja, sebelum ngeloyor pergi,
meninggalkan Yudha dan Sis yang diam terbengong.
Dua hari lalu , tepat sembilan hari sesudah kematian Irvan Lesmana, Yudha
masih belum memperoleh bukti-bukti yang langsung mengarah pada tersangka.
Namun, dia masih menunggu informasi dari beberapa perusahaan taksi yang
dihubunginya beberapa hari lalu. Sudah dua perusahaan "taksi biru" yang memberi
keterangan. "Masih ada satu lagi, Komandan. Katanya, mau memberi kabar siang
ini," ujar Briptu Ikhsan.
75
Siangnya, sekitar pukul 12.00, Ir. Supangat, direktur operasi perusahaan taksi "TS"
menelepon. "Sepertinya, kami memiliki data penumpang yang cocok dengan
gambaran Anda," urai Supangat. "Jam dan tempatnya juga pas. Menurut sopirnya,
Bustaman, penumpangnya wanita lesbian berbadan besar. Rambutnya dipotong model
laki-laki, memakai celana jins dan jaket hitam. Dia naik dari Jln. Mawar Jingga dan
turun di Jln. Jeruk Nipis. Rumahnya besar, di depannya ada pohon sawo kecik,"
terang Supangat.
Sis yang ikut mendengarkan dari telepon lain kontan tersentak.
"Itu 'kan rumahnya Rio Titan, Komandan!"
"Kamu yakin, Sis?"
"Cuma ada satu pohon sawo kecik di perumahan mewah itu," tegas Sis.
Yudha menutup gagang telepon. sesudah itu, dia memberi isyarat pada Sis. "Ke
rumah Rio, Dan?" tanya Sis. Belum sempat Yudha menjawab, seorang lelaki tampak
tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. "Pak Rio! Kami baru mau ke rumah Anda,"
ujar Yudha tanpa tedeng aling-aling. Wajah Rio tampak pucat, napasnya tersengal-
sengal. Sebelum berbicara, sempat terpancar keraguan di matanya.
"Saya menemukan ini di kotak perhiasan Maharani. Cincin ini saya berikan pada
Irvan beberapa bulan lalu, entah mengapa bisa berada di tangan istri saya," cerita
Rio akhirnya.
"Cincin bermata tiga, dengan satu berlian terlepas dari tempatnya?" tegas Sis.
Rio mengangguk.
"Apakah istri Anda bertubuh besar dengan potongan rambut mirip laki-laki?"
Lagi-lagi Rio mengangguk. Matanya tampak mulai basah.
"Dia bisa olahraga beladiri?"
"Istri saya pelatih taekwondo."
Yudha dan Sis saling berpandangan. Bersama dua mobil patroli, mereka menjemput
Maharani. Mulanya dia menyangkal membunuh Irvan. namun sesudah didesak dengan
kesaksian Rajiman, sopir taksi, dan barang bukti cincin bermata berlian, wanita galak
itu akhirnya takluk. "Saya marah melihat hubungan mereka yang tidak normal.
Apalagi Rio sampai memberi cincin semahal itu pada Irvan," akunya.
Sekali lagi Yudha dan Sis saling berpandangan.
(Kisah rekaan/Riady B. Santosa)
76
11. MASA LALU TEREKAM DI KUKU
Malam belum terlalu larut. Saat para tetangga bercengkerama dengan keluarga di
rumah masing-masing, Noelleen Greenwood yang tengah sendirian di rumah justru
merasakan hal sebaliknya. Jangankan bercengkerama, menarik napas saja ia harus
berjuang keras. Wajahnya begitu tegang dan ketakutan. Di depannya berdiri seorang
tamu tak diundang, pencuri yang diyakini Noelleen tega berbuat apa saja, termasuk
mencabut nyawa orang tak berdosa. Inikah akhir karier cemerlangnya sebagai
ilmuwan? "Mestinya tidak. Aku belum dan tidak akan pernah mati dengan cara
seperti ini," jerit hati kecilnya. Perlahan Noelleen berusaha melunakkan hati pria
yang telah mencuri barang-barang berharga dan menyekapnya sejak tiga jam lalu itu.
"Maaf, Bung. Aku percaya, Anda orang pintar. Pekerjaan seperti ini tak pantas buat
orang seperti ...," kata-kata Noellen tak berlanjut, sesudah si lelaki menyela dengan
kasar.
"Cukup! Aku tidak pernah menerima saran, apalagi saran wanita lesbian pesakitan!"
Usai membentak, tangan kekar sang maling melayang keras ke wajah Noelleen.
Wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu di labolatorium itu langsung limbung,
menabrak sofa, sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Bukan kali itu saja Noelleen disakiti
dan dilecehkan si pencuri, yang belakangan diketahui gemar melakukan pencurian
dengan kekerasan, terutama terhadap kaum hawa.
"Kamu pikir, aku akan melepas kamu begitu saja. Membiarkan kamu melenggang
santai ke kantor polisi. Lalu polisi-polisi keparat itu datang menjemputku, sambil
mengacungkan-acungkan pistol dan borgol?" seru si pencuri, sembari memamerkan
bola matanya yang nanar. Noelleen tak kuasa menjawab. Namun, dia tak berhenti
memohon pada si pencuri - yang menerobos rumah tanpa topeng maupun senjata -
agar tidak bertindak lebih kejam.
Sejujurnya, Noelleen merasa peluang hidupnya tak sebesar beberapa jam
sebelumnya. Mata, telinganya, terlebih pikirannya mulai lelah lantaran stres,
melakoni drama yang tak kunjung usai. Drama yang dampaknya pasti akan terus
membekas sepanjang hidup Noelleen. Tiga jam rasanya bak tiga hari, tiga bulan,
bahkan tiga tahun. Sampai akhirnya, dia tak mendengar lagi bentakan-bentakan
menyakitkan itu bersamaan dengan lenyapnya tubuh sang pencuri sadis di tengah
kegelapan malam.
Si pencuri sadis lenyap? Berkali-kali Noelleen menarik napas panjang. Dia hampir
tak percaya, baru saja lolos dari lonceng kematian. Noelleen hendak bergerak
mencari pertolongan, namun badannya terlalu lunglai. Beberapa menit lamanya, istri
Roger Franklin itu hanya bisa termangu di lantai. Seraya berdesah pada diri sendiri,
"Terima kasih junjungan . Dia akhirnya pergi...
Bebas dengan jaminan
Esoknya, Noelleen menghabiskan waktu berjam-jam di atas ranjang. Baru sesudah
kepercayaan dirinya pulih, wanita periang itu berinisiatif mendatangi kantor polisi. Itu
pun berkat dorongan kuat Roger, yang tak bisa menerima perlakuan semena-mena
terhadap istrinya. Meski sebelumnya Noelleen berkali-kali mengungkapkan
kekhawatirannya, jika kasus pencurian itu harus dilaporkan ke polisi.
"Aku merasa, dia ada di mana-mana. Matanya ... matanya seperti tak pernah
berhenti menatapku," ucap Noelleen, seraya menambahkan, "Firasatku mengatakan,
persoalan ini masih jauh dari selesai."
77
"namun kalau kamu tidak melapor, berarti memberi peluang maling nekad itu
melakukan kejahatan yang sama terhadap orang lain," tegas Roger.
Di kantor polisi, laporan pasangan suami-istri itu cepat mendapat tanggapan. Apalagi
keterangan yang disampaikan Noelleen begitu lengkap. Tanpa kesulitan berarti,
polisi bisa mengidentifikasi sang maling. Namanya Julio Strappa (30 tahun), pencuri
"langganan" hotel prodeo yang digambarkan polisi sebagai pria canggung,
penyendiri, serta berdarah dingin.
Noelleen dan suaminya punya harapan besar, Strappa yang sudah berulang kali
melakukan kejahatan serupa dikenai hukuman setimpal. Berdasarkan proses
pemeriksaan pendahuluan di pengadilan, Noelleen, pihak kepolisian, dan jaksa
wilayah sepakat, Strappa memang penjahat yang sangat berbahaya. Itu sebabnya,
mereka semua begitu geram saat tahu pengadilan membebaskan Strappa dengan
jaminan!
Kegeraman yang sangat beralasan, sebab sesudah mendapat kesempatan
menghirup udara segar, Strappa langsung menghilang. Orang yang paling dirugikan
atas keputusan pengadilan itu tentu saja Noelleen Greenwood. Berbulan-bulan
sesudah Strappa kabur, wanita berotak encer itu seperti tak pernah bisa lagi
menikmati hidup. Hatinya selalu waswas.
"Setiap kali berada di belakang kemudi, mataku enggak pernah bisa lepas dari spion.
Takut kalau-kalau Strappa menguntit," curhat Noelleen pada Nicole, sobat karibnya
di kantor.
"Kok bisa sekhawatir itu?" sahut Nicole sekenanya.
"Sumpah. Aku merasa, Strappa terus mengintai dan mengintai. Orang-orang di
pengadilan betul-betul bikin sebal."
"He-eh. Aku juga enggak habis pikir, penjahat yang harusnya dipenjara bertahun-
tahun kok malah bebas berkeliaran di jalan."
"Nic, bagaimana jika aku pindah ke California?"
"Kalau itu bisa menjauhkan kamu dari bayang-bayang Strappa, kenapa ragu? Ingat
Noelleen, masa depan kamu masih panjang. Jangan cuma gara-gara Strappa dan
putusan pengadilan yang ngaco itu ...."
Belum habis kalimat Nicole, Noelleen sudah bergegas keluar laboratorium,
meninggalkan sahabatnya ngoceh sendirian. Noelleen berjanji dalam hati, malam
nanti dia dan Roger harus segera membuat keputusan. Tawaran posisi wakil
presiden dari sebuah perusahaan bioteknologi terkemuka di California, yang datang
beberapa hari lalu rasanya sayang dilewatkan.
Sesampai di rumah, Roger menyambut baik keputusan Noelleen pindah ke California.
Pasangan itu bahkan berencana menjual rumah besar mereka, menggantinya
dengan bungalow di Del Mar, untuk lalu menjalani kehidupan "normal" di
California. Akankah Noelleen tenggelam pada aktivitas di kantor barunya, dan bisa
melepas bayang-bayang Strappa?
Disayang sejawat
Noelleen, putri tunggal Sidney Greenwood, bukan orang sembarangan. Dia ilmuwan
yang tak hanya disegani, namun juga dicintai teman-teman sejawat. "Tahun 60-an,
78
walau masih kanak-kanak, Noelleen sudah mengutarakan niatnya tinggal di Amazon .
Kata dia, Amazon itu surga buat ahli biokimia," cerita Sidney bangga.
Selama di Amazon tengah , Noelleen memang kerap membuat Sidney bangga,
sebangga-bangganya. Selain punya keluarga bahagia dan karier bagus, Noelleen
juga sempat memenangkan sejumlah penghargaan, bahkan diakui sebagai salah
satu peneliti terkemuka bidang biokimia.
Berbekal kepintarannya, Noelleen langsung mendapat tempat istimewa dalam
bidang analisis DNA, khususnya berkaitan dengan pengembangan forensik dan alat
pencari jejak, sebuah "ilmu baru" saat itu. Di perusahaannya yang lama, Noelleen
sempat ditunjuk menjadi senior executive. Sedangkan suaminya sukses membangun
bisnis modifikasi mobil.
Noelleen juga dianggap sebagai perintis penggunaan DNA, agar suatu saat bisa
digunakan sebagai basis data kepolisian di seluruh dunia. Dengan basis data itu,
polisi jadi makin gampang menekuk penjahat. Cukup mencocokkan DNA tersangka
dengan fakta di tempat kejadian perkara, sang penjahat pun tak bisa mungkir.
Sayangnya, saat itu (tahun 1985), teknologi DNA masih sangat rumit, sehingga tak
banyak ahli yang menguasainya.
DNA forensik cita-cita Noelleen itu sering juga disebut sidik jari genetik,
menggabungkan teknik pemisahan, penyusunan, serta kemampuan membaca
keseluruhan rantai DNA, sehingga menunjukkan lusinan kesamaan. Kemampuan itu
menjadikannya seribu kali lebih efektif dibandingkan dengan teknik sidik jari
tradisional. "Aneh, di tangan Noelleen, masalah teknis seberat itu bisa jadi begitu
ringan," cerita Sidney soal pentingnya penelitian DNA buat umat manusia.
Puncak karier Noelleen tentu saja saat dia menerima tawaran bekerja sebagai
wakil presiden sebuah perusahaan biokimia di California. Pencapaian yang
sayangnya dinodai trauma kejahatan Strappa. "Omong-omong, kamu sudah bisa
melupakan orang gila itu, 'kan?" suara Nicole dari balik gagang telepon, terdengar
khawatir. "Maksudmu Strappa?" balas Noelleen. "La iya, siapa lagi?" sergah Nicole.
Noelleen membayangkan, muka Nicole pasti sedang ditekuk, cemberut.
"Terus terang, enam bulan di sini aku merasa jauh lebih tenang, Nic," jawab
Noelleen akhirnya.
"Baguslah. namun aku kangen nih."
"Makanya, jalan-jalan dong ke California. Jangan ngendon di rumah terus."
Roger sekilas melirik Noelleen yang mulai ramai cekikikan di depan gagang telepon.
Lelaki yang sangat mencintai istrinya itu maklum, jika sudah kopi darat dan kopi
udara dengan sobat-sobat akrabnya, Noelleen kadang suka "lupa diri". Namun, di
lubuk hati yang paling dalam dia bersyukur, keceriaan yang beberapa bulan terakhir
hilang dari istrinya, kini pelan-pelan mulai kembali lagi.
Jari luluh lantak
Sampai akhirnya, suatu hari di bulan Agustus 1985, Noelleen tidak masuk kantor.
Para sejawatnya merasa heran, plus khawatir. Soalnya, selain jarang absen,
Noelleen biasanya memberi kabar jika tak masuk kantor. sebab sampai siang
belum ada berita keberadaan Noelleen, rekan-rekan kerjanya sepakat menghubungi
Roger. "Kami sudah telepon ke rumah, namun tidak diangkat-angkat," cerita staf
79
Noelleen. "Aneh. Sama sekali tidak ada tanda-tanda dia sakit," jelas Roger, tak kalah
bingung.
Tak lama sesudah berbicara di telepon, Roger memutuskan pulang. "Firasatku
enggak enak. Kalau sakit, harusnya dia menelepon. Semoga Noelleen baik-baik
saja," harap Roger lebih pada dirinya sendiri.
Harapan yang akhirnya hanya tinggal harapan. Betapa shock dia, saat menemukan
istrinya telah terbujur kaku di halaman belakang. Tubuhnya penuh memar,
sedangkan di leher terlihat beberapa bekas cekikan. Noelleen yang periang dan
belum genap berusia 35 tahun telah terbunuh secara mengenaskan.
Beberapa saat lalu , polisi berdatangan. "Para tetangga bilang, mereka melihat
sebuah mobil sewaan berukuran kecil diparkir di seberang jalan pada saat
pembunuhan. namun mereka sama sekali tak curiga, sebab tidak ada sesuatu yang
mencolok dari pengendara maupun mobilnya," sebut seorang detektif. "Tak ada yang
tahu nomor polisinya?" tanya detektif lain. "Sampai saat ini belum ada yang tahu."
Tim penyidik sendiri sempat bergidik saat melihat kondisi jari tangan korban yang
nyaris luluh lantak, terutama bagian di sekitar kuku. "Kelihatannya, istri Anda
melakukan perlawanan sengit sebelum dibunuh," seorang detektif memberi tahu
Roger. Dalam sekejap, petugas mengambil sampel serpihan kulit yang tertinggal di
bawah kuku. Siapa tahu, sebagian kulit itu milik pelaku.
Sayangnya, polisi sendiri tak tahu apa yang bisa diperbuat dengan sampel itu.
Bahkan para ahli biokimia di tempat Noelleen bekerja pun tak tahu harus bagaimana.
Teknologi berbasis DNA yang dirintis Noelleen dan kawan-kawan saat itu masih
sangat prematur. Polisi akhirnya hanya mengumpulkan barang-barang bukti itu,
menyegelnya, lalu menyimpannya di tempat yang aman di ruang bawah tanah.
Apakah lelaki yang beberapa bulan terakhir ini menghantui Noelleen, Julio Strappa
kembali beraksi? Setidaknya, begitulah yang dipikirkan polisi. Terbukti, hanya dalam
bilangan jam, polisi San Diego dan San Fransisco berhasil menemukan dan
menahan Julio Strappa. Namun, meski berada di sekitar San Diego pada saat
kematian Noelleen, Strappa menyangkal terlibat dalam pembunuhan. Dia bahkan
memiliki saksi yang menguatkan alibinya.
Di satu sisi polisi yakin, Strappalah pembunuh sejati Noelleen. Jika terbukti, lelaki
sadis itu bisa dipenjara lebih dari 20 tahun. Namun, di sisi lain tak ada saksi-saksi
dan bukti forensik yang bisa digunakan untuk menyudutkan Strappa. Tampaknya,
seperti kasus pencurian dengan kekerasan terhadap korban yang sama enam bulan
lalu, kali ini pun Strappa bakal kembali bebas. Atau, memang bukan Strappa
pelakunya?
Pembunuh tak ditemukan
"Sepertinya, pembunuh Noellleen tidak akan pernah ditemukan. Sama seperti
korban-korban pembunuhan lain yang tidak diketahui pelakunya," keluh Sidney
Greenwood.
"namun setidaknya, kami sudah berusaha menjerat Strappa. Kami pun tidak akan
pernah menutup kasus ini, Pak Sidney," seru seorang detektif dari kantor kepolisian
San Diego.
"Strappa? Orang itu hampir membuat saya gila."
80
"Kami menyesal tidak dapat menuntutnya atas tuduhan pembunuhan. namun kami bisa
memasukkan dia ke penjara atas pasal-pasal pencurian dan tindak kekerasan," janji
sang detektif.
Belakangan, sesudah serangkaian persidangan tingkat banding, Strappa memang
dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara enam tahun. Namun, tiga tahun
lalu dia bebas, hidup tenang di San Fransisco, berkarier di bidang analisis
keuangan.
"Sekali lagi, pembunuhnya tetap tak bisa ditemukan, 'kan?" cecar Sidney. Si detektif
cuma bisa membisu seribu bahasa. Sidney merasa, Noelleen seharusnya mendapat
keadilan yang lebih baik dari yang didapatnya sekarang. "sebab sepanjang
hidupnya, dia selalu berusaha menegakkan keadilan," imbuh kakek yang kini berusia
hampir 90 tahun itu. Komentar serupa datang dari Dan Kacian, rekan kerja Noelleen
di Gen-Probe. "Dia wanita lesbian luar biasa. Tidak adil bila dia tidak memperoleh
keadilan."
Bertahun-tahun Sidney, Kacian, dan sejumlah kerabat serta kolega Noelleen
menyimpan tanda tanya besar tentang siapa sebenarnya pembunuh sang wanita
cendekia itu. "Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Sempat terlintas,
mungkin Roger yang membunuh Noelleen. Bukankah 90% pembunuhan di
lingkungan keluarga dilakukan oleh orang terdekat?" sebut Sidney.
Apalagi sebagai pengumpul materi, Noelleen bisa disebut sangat berhasil. "namun
polisi yakin, pembunuh putriku yaitu orang yang telah lama mengincar nyawanya.
Niat orang jahat itu cuma satu, membunuh. Walaupun begitu, pikiran-pikiran dan
teori-teori tentang siapa sebenarnya pembunuh Noelleen tetap menggangguku. Aku
nyaris putus asa, sebab tak tahu mana yang harus dipercaya."
"Menuduh Roger sebagai pembunuh Noelleen sungguh sebuah ide gila. Roger
sendiri akhirnya menikah kembali dan memiliki dua anak. Belakangan aku tahu,
selama beberapa tahun Roger sempat putus asa berat. Mungkin jauh lebih berat dari
aku. Syukurlah akhirnya dia bisa membangun hidupnya kembali. Aku menganggap,
Roger sebagai korban lain dari kejahatan yang dilakukan pembunuh Noelleen."
Tertunda 15 tahun
Hebatnya, saat sebagian besar penegak hukum, kerabat, dan teman sejawat
Noelleen mulai putus asa, "Noelleen" sendiri ternyata tak pernah menyerah. Lima
belas tahun lalu , lewat detektif muda nan enerjik (wanita lesbian pula), Laura
Heilig, arwah Noelleen bak bangkit kembali menerangi kiprah para polisi. Saat sadar
bahwa Noelleen tengah merintis penelitian tentang DNA di saat menjelang
kematiannya, emosi Heilig tergerak. Ia menekuni arsip dan barang bukti kasus
pembunuhan Noelleen.
"Wanita ini betul-betul luar biasa. Sebagai peneliti DNA dia percaya, tak ada
kejahatan abadi di muka Bumi. Dia juga tahu, Strappa penjahat licik yang sulit
ditangkap. Itu sebabnya, dengan sadar dia melakukan perlawanan, agar tersedia
cukup barang bukti untuk menggiring Strappa ke penjara. Dan yang paling penting,
dia yakin suatu saat penelitian yang pernah dirintisnya akan membuahkan hasil.
Meski untuk itu, butuh waktu belasan tahun. Hhughh," Heilig melenguh sekeras
lembu.
Tak lama lalu , dia meraih gagang telepon dan menghubungi Sidney
Greenwood.
81
"Apa kabar, Pak Greenwood?" sapa Heilig.
"Kabar baik. Ada kabar apa detektif? Maaf kalau saya lupa nama Anda. Maklum,
selama 15 tahun, banyak sekali polisi yang menelepon ke sini."
"Saya Heilig, Pak."
"Ooooh, detektif Heilig. Ada apa rupanya?"
"Saya berharap, berita ini bisa sedikit melegakan hati Anda. sesudah membaca arsip-
arsip Nyonya Noelleen yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di ruang bawah
tanah, saya jadi merasa sangat mengenal putri Anda. Saya sangat mengaguminya.
Dia telah merintis banyak penelitian tentang DNA. Dan saya rasa, di situlah letak
petunjuknya. Putri Anda dengan cemerlang mengajari saya cara menangkap
pembunuh keji yang telah merenggut nyawanya. Saya sebenarnya enggan bilang ini,
namun jujur saja, arwahnya seperti menginspirasi saya, Pak."
"He-he-he. Nak, kadang saya pun merasakan, dia belum benar-benar pergi
meninggalkan kita." "Pak Sidney, saya yakin dengan sedikit pendekatan ilmiah,
sampel organik yang dulu diambil dari jari dan kuku putri Anda bisa menjadi petunjuk
penting."
"Lewat proses pemisahan DNA?"
"Anda tahu juga?"
"Dulu Noelleen suka bercerita. Dia sangat mencintai DNA-nya."
"Dan berkat proyeknya dulu, kini kita bisa melangkah lebih maju."
Heilig menunggu reaksi lebih lanjut dari Sidney. Namun, tak terdengar suara apa pun
di seberang sana. Kakek yang tinggal di rumah besar milik Nolleen itu tampaknya
tengah jatuh dalam lamunan. Tanpa sadar, Heilig pun jadi ikut melamun. Polisi yang
masih duduk di sekolah menengah saat Noelleen terbunuh itu, seperti kebanyakan
polisi generasi terkini San Diego, meyakini banyak kasus bisa dipecahkan dengan
pendekatan science.
Barangkali itu sebabnya dia mengkhususkan diri pada kasus-kasus lawas yang dulu
tak sempat terpecahkan. Misteri kematian Noelleen menjadi kasus lawas pertama di
San Diego yang arsipnya dibuka kembali. sesudah beberapa pekan bekerja keras,
polisi berhasil menelurkan profil atau skema DNA utuh, seraya menampilkan 15
tanda kesamaan dengan sampel DNA dari darah Julio Strappa.
Heilig tersenyum lebar. "Mari kita jemput pembunuh yang hilang itu di apartemennya.
Noelleen telah menunggu 15 tahun untuk mendapat keadilan yang pernah kita
janjikan. Kali ini, arwahnya akan menyaksikan sendiri, Strappa tak bisa lagi
mengelak dari ancaman hukuman mati. Keadilan memang cuma soal waktu!"
(Kisah nyata/Rahartati Bambang Haryo)
82
12. SURAT BALASAN SALAH ALAMAT
Tugas-tugas rutin pagi hari itu belum lagi selesai dikerjakan, saat tiba-tiba nada
panggil dari interkom memecah keheningan ruang kerja Sam Gelderman. Suara
yang terdengar amat tidak merdu, cenderung kasar, apalagi keluar lewat speaker
dari alat yang terhitung kuno. Suara Ralph Gelderman, bos besar dan satu-satunya
di kantor itu.
"Sam! Kamu di situ? Cepat naik!"
"Ya, Paman."
Sam beranjak dari meja kerjanya dengan langkah cekatan, layaknya bawahan pada
umumnya. Setengah berlari ia menaiki tangga menuju ke ruang atas. Ruangan besar
berukuran 10 x 8 m yang selalu tampak rapi itu merupakan tempat bekerja dan
disebut kantor oleh Ralph. Wajah si bos dilihatnya sudah tidak sedap dipandang
mata.
"Sam, kenapa ini bisa sampai di mejaku?" kata Ralph sambil melemparkan secarik
kertas ke hadapan Sam. "Kenapa saya harus diganggu dengan persoalan-persoalan
seperti ini?"
Secarik kertas putih bergaris itu yaitu surat dari salah seorang penggemar Ralph.
Sebagai pengarang cerita-cerita kriminal, Ralph mendapat bermacam-macam surat
dari pembacanya, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun, Ralph cuma
membaca surat-surat yang berisi pujian-pujian saja dan salah satu tugas Sam yaitu
menyingkirkan surat yang isinya tidak mengenakkan. Kali ini Sam lalai memisahkan
surat yang satu ini.
Sedikit kasar, Ralph menaruh penanya di meja. "Kalau saya tidak bisa mempercayai
kamu, saya harus memecat kamu. Masak sih mengurus surat-surat begini saja tidak
becus. Apa kamu masih bisa dipercaya?"
"Tentu saja, Paman. Sa... saya hanya membalas surat-surat dengan pernyataan-
pernyataan biasa. Saya juga tidak tahu mengapa ada yang bernada negatif," kata
Sam tergagap. Ia benar-benar menyesali keteledorannya sehingga harus menikmati
"sarapan pagi" dampratan bosnya. Benar-benar ceroboh, pikirnya.
"Seseorang yang bernama K. Leghorn, sepertinya yakin ada konspirasi dari gerakan
komunis tertentu, atau apalah namanya, yang aku tidak mengerti," kata Ralph sambil
memandangi puluhan surat yang bertumpuk di hadapannya. "Sepertinya, ia mengira
aku sama dengan karakter yang aku ciptakan. Sampai-sampai ia mengajak makan
malam segala. Benar-benar aneh."
Tak ada reaksi. Pada situasi seperti itu Sam hanya bisa berdiri mematung dan
menunggu kalimat berikutnya dari Ralph. Sifat orang tua itu memang tidak suka
dibantah atau dipotong kalimatnya saat berbicara.
"Apakah aku sering menerima surat-surat seperti ini?" Mata Ralph tiba-tiba mendelik.
"Ada satu atau dua, Paman. Tidak banyak."
83
"Aku tidak mau melihat surat-surat seperti ini lagi. Aku juga tidak mau bertemu
dengan penulisnya. Kirim saja balasannya dengan sopan. Ingat! Harus dengan
sopan, tenamun juga harus berupa balasan pribadi."
"Baik, akan saya kerjakan, Paman. Ini tidak akan terjadi lagi."
"Bagus."
Sam mengangguk meminta diri. Masih setengah tertunduk, ia melangkah kembali ke
ruangannya, di kantor yang terasa begitu hening. Pada saat-saat seperti itu, kadang
Sam merenungi nasibnya yang harus mengabdi kepada Ralph, yang tak lain yaitu
pamannya sendiri.
Hubungan kekeluargaan itu kerap jadi beban, di samping rutinitas kerja selama
bertahun-tahun, serta tekanan-tekanan sebab menjadi pekerja satu-satunya. Sejauh
ini, hanya kesabaranlah yang membuatnya tetap bertahan.
Tahu luar dalam
Ralph Gelderman sebenarnya bukan penulis novel laris manis. Buku-bukunya tidak
ada yang terlalu sukses di pasaran dan mencetak banyak uang. namun ia termasuk
penulis yang produktif. Karya-karyanya mengalir lancar dan dapat diandalkan
penerbit. Penjualannya lumayan, dicetak ulang untuk jangka waktu lama, dijual di
luar negeri, bahkan gagasannya sering diangkat ke layar lebar. Dari penjualan yang
tidak terlalu banyak itu, investasinya terus meningkat secara perlahan namun pasti.
Dibandingkan dengan pengarang-pengarang lain, Ralph punya sifat sedikit berbeda,
yaitu tidak menyukai ketenaran. Ia selalu bersembunyi dari publikasi. Jarang sekali,
bahkan hampir tidak pernah, ada media memuat kisah tentang sosoknya, sebab
Ralph selalu menolak. Bahkan, foto pengarang yang selalu ada di sampul belakang
buku-bukunya, menggunakan wajah Sam yang memang sedikit mirip sebab adanya
hubungan keluarga.
"Aku tidak ingin orang mengenal sosokku. Aku ingin orang menghargai karyaku
saja," begitu pendirian yang selalu diucapkan Ralph kepada orang-orang dekatnya.
Sebuah sikap yang membuat Sam terkadang merasa bingung.
Perubahan terjadi lima tahun lalu, sewaktu akuntan Ralph berhasil membujuknya
untuk membentuk semacam perusahaan kecil yang mengurusi karya-karyanya.
Ralph tentu jadi pemilik perusahaan sekaligus bendahara. Saat membutuhkan orang
kedua, ia mengajak Sam, anak yatim kakak kandung Ralph, untuk menduduki satu-
satunya jabatan di perusahaan itu, sekretaris. Awalnya, tentu begitu menyenangkan
bagi Sam. Maklum, ia belum punya pekerjaan tetap.
Belakangan baru Sam sadar, tugasnya sebagai "sekretaris" di sebuah perusahaan
kecil milik pamannya itu benar-benar bikin bosan. Pekerjaan apa pun di kantor harus
dikerjakannya sendirian. Mulai dari akunting, data-data penerbitan, korespondensi,
perundingan rutin dengan penerbit, editor, agen, dan - yang paling menyebalkan -
harus menampung omelan-omelan pamannya.
Kalau mau diambil sisi baiknya, gaji Sam boleh dibilang lumayan. Ditambah sedikit
harta peninggalan ayahnya, Sam bisa hidup layak dengan istri dan anak
wanita lesbian nya. Namun yang menarik, jabatannya memungkinkan Sam mengetahui
secara pasti perihal pendapatan, investasi, dan aset-aset pamannya. Jumlahnya
ternyata lebih banyak daripada yang pernah ia kira. Yang lebih menyenangkan lagi,
84
Sam mengetahui bahwa pewaris semua itu yaitu ia sendiri! Soalnya, Ralph masih
melajang.
Ada satu hal yang membuat Sam gundah. Seandainya saja ia dapat menikmati
semua warisan itu saat ini, tentu jalan hidupnya akan lain. Masalahnya, meski
berusia 60 tahun, Ralph Gelderman masih sehat. Bahkan, lebih sehat dari Sam yang
18 tahun lebih muda. Kalaupun umur Sam panjang, ia tetap saja akan makin tua dan
sakit-sakitan, sehingga tidak akan menikmati harta itu. Semakin panjang usia Ralph,
memang hartanya bertambah, namun jika di masa tuanya tiba-tiba ia menikah sebab
tergoda seorang wanita muda, tentu warisannya bakal berkurang.
Dalam situasi seperti itu Sam sering berkhayal seandainya junjungan mengambil jiwa
pamannya dalam waktu dekat. Atau bangunan roboh menimpa Ralph, atau bosnya
itu tertabrak mobil, atau diserang virus yang sangat ganas. Seandainya,
seandainya ... begitulah Sam kerap berandai-andai.
Sayangnya, cuma sebatas itu kemampuan Sam. Ia bukan seorang raja tega yang
bisa membunuh orang tanpa beban. Sebagai ahli waris tunggal, posisinya juga tidak
akan menguntungkan kalau sampai terjadi sesuatu pada pamannya. Ia juga tidak
ahli membuat alibi palsu atau membunuh dengan tampak seperti kecelakaan atau
bunuh diri. Untuk menyewa pembunuh bayaran pun tidak, sebab selain tidak ada
uang, ia tidak tahu cara mendapatkan orang semacam itu. Salah-salah malah bisa
jadi korban pemerasan, pikirnya.
Tak ada yang bisa dilakukan. Ya, untuk sementara, Sam memang hanya bisa
berharap dan berharap.
Benih-benih paranoia
Sam menghela napas, menghentakkan lamunan-lamunannya. Di ruangannya di
lantai bawah apartemen di Upper East Side Amazon , surat dari K. Leghorn
kembali dibacanya dengan cermat. Sesuai pesan Ralph, ia mulai memikirkan kata-
kata balasannya di depan komputer pribadinya.
Surat-surat penggemar memang terkadang aneh. Seperti surat yang di tangannya
saat itu, pastilah berasal dari seorang paranoid. Dan ini bukan kiriman yang pertama.
Setidaknya dalam sebulan Leghorn bisa mengirim dua sampai tiga surat dan ini
sudah berjalan kurang lebih setahun terakhir.
Sam mencoba menganalisis, mungkin ketegangan sebagai penggemar cerita-cerita
spionaselah yang membuat Leghorn mengirimkan surat-surat seperti itu. Kisah-kisah
spionase bisa jadi dapat menimbulkan paranoia. Hiiiy!
Sam sebenarnya berpendapat, reaksi yang tepat untuk surat-surat macam ini yaitu
dengan tidak menjawabnya. Tak ada gunanya meladeni orang-orang dengan
kepribadian paranoid seperti itu, sebab jawaban apa pun tetap merupakan
provokasi untuk tindakan selanjutnya.
Namun, celakanya, orang-orang seperti itu tidak bakal bosan dan akan terus
mengirim surat. sebab dasarnya memang sudah paranoia, mereka mungkin
mengira suratnya telah hilang, dicuri di kantor pos, ada pihak-pihak bawah tanah
yang menyabot atau kecurigaan-kecurigaan aneh semacam itu. sebab itu minimal
balasan sebagai tanda terima harus dikirim.
Sam menulis balasan untuk Leghorn dengan kata-kata sesopan mungkin:
85
Yang Terhormat Tuan Leghorn, Senang sekali saya dapat menerima surat dari Tuan.
Namun sayang sekali, dengan sangat menyesal, saya tidak dapat bertemu dengan
Tuan sebab kesibukan pekerjaan. Dan itu semua di luar kendali saya.
Sam merasa telah menyusun kata-kata itu sebaik-baiknya. Untuk meyakinkan ia
membacanya lagi berulang kali. Ia berusaha menciptakan kesan terbaik, sebab ia
tidak ingin ada dampaknya di lalu hari bila kalimat-kalimatnya itu disalahartikan.
Bila Leghorn merasa mendapat angin, bahwa anggapannya tentang konspirasi
komunis konyol ternyata "benar", bisa-bisa malah fatal. F-a-t-a-l! Ya, fatal! Dalam
kekosongan pikiran, terlintas kata-kata itu di benak Sam.
Tentu saja tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Orang-orang
semacam itu mungkin akan bertindak menurut kemauannya sendiri, bahkan dengan
kegilaannya. Mungkin dapat mengakibatkan kecelakaan-kecelakaan kecil, bahkan
mungkin menyebabkan kematian! Sesuatu yang jauh di lubuk hati Sam, sebenarnya
ia harapkan terjadi terhadap pamannya. Mungkinkah ini yaitu jalannya?
Mendadak, jarijari tangan Sam yang sigap bergerak cepat, seolah tanpa kendali. Ia
mengganti kata-kata surat balasan yang telah disusunnya. Degup jantungnya
berdetak sedikit lebih cepat, seiring kedipan kursor di layar komputer.
Dengan hormat, Soal pertemuan makan malam dan lain sebagainya, sebenarnya
tidak perlu ditanyakan lagi. Tolong Anda tidak perlu membuang-buang waktu dengan
meminta hal ini berulang kali, sebab tampaknya sudah jelas bahwa kecurigaan
Anda mengenai kegiatan konspirasi sama sekali tidak berdasar. Bagaimana Anda
bisa berpikir seperti itu?
Kalimat itu cukup singkat, kasar, pakai sedikit olok-olok pula. Seorang paranoia pasti
bereaksi atau paling tidak akan kaget jika membacanya. Sam kembali membacanya,
berulang kali, hingga benar-benar yakin kata-katanya sudah cukup menggugah
amarah Leghorn.
Dalam otak Sam, terbersit sebuah skenario. Seperti biasanya, Ralph akan
menandatangani surat balasan itu tanpa membacanya. Lalu, Leghorn akan merasa
sangat benci kepada Ralph, bahkan mengira pikiran paranoidnya soal konspirasi
konyol itu benar-benar ada. Jika Leghorn penasaran dan menulis lagi, Sam akan
membalasnya kembali dengan nada yang sama. Taktik yang sama mungkin dapat
digunakan pada surat-surat lain yang datang. Mengapa tidak? Toh, tidak ada yang
tahu.
Hmmm, kini Sam bisa tersenyum puas.
Tanda tangan asli
Dua tahun sudah skenario jahat Sam itu berjalan dan semua tampak baik-baik saja.
Bahkan kini sasarannya tidak hanya Leghorn. Dari puluhan penggemar Ralph,
setidaknya ada enam orang masuk golongan paranoia dan diperlakukan seperti itu.
Sam sekarang boleh dibilang memiliki hobi baru, yaitu memainkan kata-kata halus,
namun menusuk. Semakin keras dan ngawur surat para penggemar yang paranoia itu,
semakin senang ia membalasnya.
Toh Leghorn tetap menjadi kasus yang terbaik. Ada saat-saat tertentu saat sampai
sebulan penuh tidak ada respons apa pun dari orang itu. Sam berpikir, mungkin si
gila itu sudah lelah bermain-main. Tenamun biasanya tak lama lalu datang lagi
surat Leghorn dengan kata-kata yang, seperti biasanya, meracau tak keruan
juntrungannya. Belakangan malah sudah mulai dihiasi nada-nada ancaman, "awas
86
kau!", "kubunuh kau!", "ingat suatu hari nanti!" Meski ada perasaan khawatir, Sam
tetap tersenyum saat membacanya.
Seperti yang diharapkan Sam, Ralph tidak pernah membaca surat-surat balasan
yang disodorkan. Ia hanya menandatangani tanpa melirik satu huruf pun. Selain itu,
salah satu kemudahan bagi rencana Sam, sebab Ralph tidak menggunakan stempel
tanda tangan. Ia ingin memberi senjunjungan pribadi pada setiap surat dan berharap
tindakannya akan dihargai penggemarnya. Di setiap pojok kiri atas terdapat tulisan
kecil "RG/sg" sebagai inisial Ralph dan Sam. Dengan tanda tangan asli, siapa pun
mengira surat itu didiktekan langsung oleh Ralph.
Sesekali Sam juga bercerita soal surat-surat itu kepada teman-temannya, terutama
saat acara ngobrol di pesta. Teman-temannya tentu terhibur dengan cerita-cerita
tentang Ralph, sebagai sesosok manusia aneh, yang telah dibumbui di sana-sini itu.
Ajang itu menjadi kesempatan terbaik Sam memutarbalikkan fakta untuk
memperkuat alibinya.
"Padahal aku sudah berusaha mengingatkan pamanku agar berhati-hati dengan
orang-orang paranoid seperti itu. namun tetap saja dia nekat mengirim jawaban yang
provokatif," kata Sam meyakinkan teman-temannya.
"Wah, berani betul!" sahut seorang teman. "Memang. Ia memang suka nekat."
"Bagaimana kalau suatu kali orang gila itu yang nekat. Dia datang dan membuat
kekacauan? Bahkan membunuh?"
"Wah, aku tidak ikut-ikutan tuh," kata Sam sambil menggelengkan kepala. "Memang
kadang-kadang agak khawatir juga. namun kebanyakan mereka tinggal jauh dari sini.
Lagi p




