• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 4. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 4



 , ada cacat hukum 

dalam jual-beli tanah itu 60 tahun lalu. Keluarga Efferson lalu  menawarkan 

sedikit uang dengan imbalan persoalan diselesaikan ...."  

 

Penasaran, sesudah  selesai berbicara dengan Virginia, Quirk menelepon keluarga 

Efferson. Mereka membenarkan, petani tua bekas pemilik tanah mereka, 60 tahun 

lalu menjual tanahnya pada sebuah perusahaan penebangan kayu. Namun, sebab  

kesulitan uang, pembayaran terhenti setengah jalan. Petani itu lalu mengambil 

kembali tanahnya tanpa meluruskan hak kepemilikannya di pengadilan. Belakangan, 

perusahaan penebangan kayu itu hidup lagi, ber-ganti nama menjadi Acme Paper. 

 

"Kapan kamu tahu ada yang tidak beres?" tanya Quirk.  

 

"Saya mulai curiga beberapa bulan lalu, waktu sekelompok petugas survei dari 

perusahaan kayu mengukur melewati pagar belakang," cerita Gary Efferson. 

"Mandornya menunjukkan gambar yang membuat perut saya mual ...."  

 

Bu Quirk meletakkan telepon dengan marah.  

 

Kena setrum 

 Keesokan harinya, perasaan Bu Quirk makin tak keruan. Ia merasa seperti sedang 

naik pesawat yang tiba-tiba oleng, saat  tukang pos memberi tahu, anggota dewan 

kotapraja yang bertugas menyusun perundang-undangan tewas kena setrum saat 

membetulkan antena TV tadi pagi. Seorang pengendara mobil yang kebetulan lewat 

bermaksud menolongnya. Namun, si pengendara malah ikut kena setrum, sekaligus 

gagal menyelamatkan nyawa sang anggota dewan.  

 

Bu Quirk sadar, korban-korban meninggal dalam beberapa hari terakhir yaitu  

orang-orang yang terdapat dalam daftar surat berantai Fendley. Mungkinkah hal ini 

terjadi secara kebetulan? Mengirimkan surat berantai kepada seseorang mestinya 

tidak akan membuat si penerima meninggal. namun  kalau bukan lantaran surat 

berantai, mengapa orang-orang itu meninggal? Tiba-tiba Quirk teringat pada 

penjualan mobil Fendley yang belakangan meningkat pesat. 

 

 65

Sulit dipercaya, Fendley tiba-tiba menjadi orang paling mujur di tengah berbagai 

kemalangan yang menimpa orang lain. Apakah nasib sial memang bisa berpindah ke 

orang-orang yang dikirimi surat berantai oleh Fendley? 

 

"Fendley, kita punya masalah besar," bilang Quirk, yang tiba-tiba saja menyerobot 

masuk kamar kerja bosnya. Fendley melotot dan menaruh telepon buru-buru, tanpa 

mengucapkan salam kepada lawan bicaranya. 

 

"Fendley, saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Banyak orang meninggal."  

 

"Bu Quirk, setiap hari selalu ada orang meninggal." 

 

"Maksud saya, orang-orang yang Anda kirimi surat berantai. Tujuh, Fendley, tujuh 

orang meninggal."  

 

"Ah, itu 'kan cuma kebetulan," sebut Fendley dengan mata berbinar-binar. 

 

"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun  cobalah bertindak!" 

 

Alis mata Fendley merayap naik.  

 

"Bertindak apa?" tanyanya. "Bu Quirk, Anda sakit? Saya sudah berbicara dengan 

adik Anda beberapa waktu lalu dan dia juga khawatir." 

 

Dengan mata sama sekali tidak memperlihatkan kepikunan, Bu Quirk menatap tajam. 

Beberapa menit sesudah  percakapan tadi, Bu Quirk meninggalkan kantor sambil 

membawa sebuah kotak berisi barang-barang pribadinya. Tangannya yang lain 

menenteng pot berisi tanaman geranium. Dalam perjalanan keluar ia berpapasan 

dengan seorang wanita seksi berambut pirang. "Anda tahu ada lowongan sekretaris 

di sini?" tanya si wanita. Alih-alih menjawab, Quirk malah menjatuhkan pot geranium 

ke kaki si wanita. Gabrukk! 

 

Dalam 24 jam berikutnya, Bu Quirk berada di ruang duduk rumahnya sambil minum 

bercangkir-cangkir teh. Tiba-tiba saja Coleen Anderson meneleponnya. Katanya, 

sudah sebulan ini ia sering menerima telepon gelap yang kian menakutkan. Malam 

hari sering kelihatan orang gentayangan di luar rumah. Malam kemarin, tiga 

anjingnya tewas disembelih di halaman, entah oleh siapa. Coleen mengakhiri 

ceritanya dengan menangis terisak-isak. 

 

Bu Quirk sadar, keserakahan Harry Fendley-lah biang keladi semua malapetaka ini. 

namun  bagaimana cara menghentikannya?  

 

Tinggal dua nyawa 

 Esok paginya, Bu Quirk mendengar kabar, restoran Emilio terbakar. Restoran itu 

tempat makan favorit di Endicott. Saat api berkecamuk, di dalam sedang banyak 

orang makan. Api meminta tujuh korban. saat  penyiar teve menyebutkan nama-

nama korban, Bu Quirk mengambil daftar penerima surat berantai yang 

dikirimkannya atas perintah Fendley. Ia mendapati empat dari tujuh korban tercatat 

dalam daftar.  

 

Kini total korban, entah akibat surat berantai atau ulah Fendley sendiri, mencapai 

sebelas orang. Tinggal dua nama dalam daftar yang masih hidup. Yakni John 

McLean, sesama pedagang mobil, dan bekas sekretaris Fendley. Dengan tergesa-

gesa Bu Quirk menyambar tas dan mantelnya, lalu pergi ke Hartley dan McLean 

Auto Sales yang terletak di tempat strategis, dekat jalan bebas hambatan. Bu Quirk 

 66

menemukan McLean sedang melempari poster kampanye Fendley dengan baut di 

ruang kerjanya.  

 

"Bu Quirk! Saya kira Anda sudah meninggal!"  

 

"Dan kamu masih tetap berandal kecil yang seminggu sekali dikirim ke kepala 

sekolah untuk disabet," balas Bu Quirk cepat. 

 

"Anda lebih menakutkan daripada kepala sekolah," McLean tertawa. "Ada perlu 

apa?" sambungnya. " 

 

Kamu akan mati, kecuali kamu segera bertindak,"  

 

McLean duduk membisu saat  Bu Quirk menceritakan apa yang terjadi. Air mukanya 

berubah dari terkejut menjadi tidak percaya. Bu Quirk tahu, ia cuma menyia-nyiakan 

waktu. 

 

"Ya, saya ingat menerima surat semacam itu. Sekretaris saya membuangnya. Jadi, 

apa yang harus saya lakukan? Mengirim 13 surat lagi?" tanyanya.  

 

Dada Bu Quirk sesak. Mengapa jawaban itu tidak terpikir olehnya? Bagaimana kalau 

13 orang itu mengirimkannya kepada 13 orang lain, begitu seterusnya. Apakah 

semuanya akan mati tiba-tiba juga?  

 

McLean tergelak-gelak. "Beri tahu Fendley, saya tidak tahu lelucon apa yang 

dirancangnya, tenamun  dia memilih orang yang tepat untuk memerankannya. Quirk, 

Anda patut mendapat Oscar."  

 

Tanpa basa-basi lagi, Quirk meninggalkan ruangan. Dia tak ingin menyaksikan gaya 

Mc-Lean tertawa. namun  ia bisa mendengar dengan sangat jelas suara keras yang 

timbul saat tengkorak McLean menghajar sudut lemari file. Seorang salesman yang 

sedang lewat di depan pintu berteriak. Quirk langsung kabur tanpa menengok.  

 

Berbalik sasaran 

Fendley menahan senyum saat  bertemu dengan Bu Quirk lagi di kantornya.  

 

"Dua belas tewas, Fendley. Apa yang sebenarnya telah Anda lakukan?" Rasanya 

ingin ia menampar Fendley.  

 

"Yang saya lakukan?" Fendley membuka pintu sebuah lemari. Di dalamnya 

tertempel sehelai poster yang ditulisi huruf besar-besar, nama 13 orang yang dikirimi 

surat berantai. Dipandanginya "karyanya" itu dengan puas. "Cuma ini, Quirk. Saya 

juga ingin tahu kenapa begitu manjur ...."  

 

Bu Quirk melihat nama terakhir yang belum dicoret: Becky Ward.  

 

"Bagaimana dengan Becky?"  

 

Fendley mengangkat bahu.  

 

"Terkutuk. Anda bertanggung jawab atas semua ini."  

 

Senyum Fendley berubah kejam dan mata sipitnya bertambah sipit berpayung alis 

tebal. "Becky kurang menghormati saya saat  ia bekerja di sini," ucapnya sembari 

 67

mendelik dengan sikap mengancam. Quirk merasa kepalanya melayang. Untunglah 

telepon berdering, sehingga perhatiannya mengarah pada gagang telepon.  

 

"Bilang pada anggota Kongres itu, aku akan meneleponnya beberapa menit lagi," 

jawab Fendley kepada seseorang di seberang sana.  

 

"Beri tahu Haroldson perihal kemajuan yang sudah Anda peroleh untuk mendapat 

tanah-tanah kami," pancing Quirk.  

 

"Kok Anda tahu?"  

 

"Teman saya Gary Efferson pelahap berita finansial. Ia membaca bahwa istri 

Haroldson mendapat posisi menentukan di Acme Paper. Istri Haroldson juga yang 

mengepalai perusahaan pembangunan perumahan, perusahaan yang dipimpin 

suaminya sebelum terpilih menjadi anggota Kongres. Tanah keluarga Anderson, 

Efferson, dan saya, jadi penghalang untuk membangun jalan bebas hambatan. Kalau 

Anda memperoleh tanah kami, jarak dari Acme Land ke kota besar cuma 45 menit, 

harga tanah Acme Land pun akan melonjak."  

 

Merasa mendapat angin, Quirk melanjutkan, "Anggota Kongres itu membayar Anda 

cukup besar untuk membeli tanah dan menjualnya langsung ke Acme, tenamun  Anda 

serakah. Anda ingin mendapat tanah kami tanpa keluar banyak uang, kalau perlu 

gratis." 

 

"Hampir betul," jawab Fendley. "Sebenarnya, ini saran Haroldson. dean shek  suami 

Anda sudah mulai kalah berjudi sebelum saya mengikat janji dengan Haroldson. 

Sayang, ia keburu mati sebelum menyerahkan tanahnya. Kini sudah terlambat bagi 

Anda dan siapa pun untuk bertindak," Fendley tertawa geli. "Asal tahu saja, saya 

sudah minta adik Anda mengajukan permohonan ke pengadilan, agar Anda 

dinyatakan tidak waras."  

 

Diancam begitu, Quirk malah tersenyum. "Maaf, ada yang lupa saya poskan," kata 

Quirk kepada si pirang, penggantinya di kantor Fendley. Ia segera mengambil surat 

berantai ketiga belas dari laci, lalu memasukkannya ke tas. Ya, surat ketiga belas 

yang tak terkirimkan mestinya berbalik menyerang si pengirim. Beberapa waktu 

lalu , dia mendengar ada kegaduhan di kantor Fendley.  

 

"Korban ketiga belas sudah jatuh. dean shek  pasti senang, tanahnya tak jadi terjual," 

bisik Quirk pelan. (Kisah Rekaan/Vickie Dubois/HI)  

 

 

10. CINCIN BERLIAN MEMECAH KEBUNTUAN 

 

Hari sudah beranjak siang, namun  lampu teras sebuah rumah di Jln. Mawar Jingga itu 

masih menyala. Pintu dan jendela ruang utama pun tertutup rapat. "Bukankah dia 

ada job hari Minggu ini!" kata Suwarto dalam hati. "Apa ketiduran ya?"  

 

"Mas, bangun, Mas, sudah siang!" untuk kesekian kalinya Suwarto, sopir seorang 

perancang busana terkenal itu berteriak memanggil si empunya rumah. namun  tetap 

saja tak ada jawaban. Dia mencoba mengintip lewat lubang kunci, namun  

pandangannya terhalang anak kunci yang menempel di tempatnya. Penasaran, 

Suwarto menyusuri samping rumah. Didapatinya daun jendela kaca ruang tamu 

sudah renggang dan tak terkunci.  

 

 68

Perasaan Suwarto makin tak enak. Dia nekat masuk ke ruang tamu lewat jendela itu. 

Ruang berkarpet biru itu gelap. Sreeek, sopir tua itu menyibakkan gorden jendela 

dan .... Suwarto nyaris menjerit melihat sesosok tubuh tertelungkup tak bergerak di 

lantai. Kondisi ruangan itu tampak berantakan. Meja tamu terbalik, pecahan kaca 

bertebaran di mana-mana. Vas kristal dan sejumlah pajangan pecah belah hancur 

berkeping-keping.  

 

Cukup lama Suwarto terdiam, tak tahu harus berbuat apa, sebelum akhirnya 

mengabarkan kejadian yang baru dilihatnya itu kepada majikannya, Priyo Harsono, si 

perancang terkenal itu. Sosok itu ternyata tubuh Irvan, seorang model yang sedang 

naik daun.  

 

Jejak di bawah jendela 

 Sejam lalu  Iptu Yudha Prawira beserta anak buahnya tiba di tempat kejadian 

perkara. Disusul sejumlah paramedis pimpinan dr. Aswin Chaniago, ahli forensik. 

Mereka langsung meneliti korban dan memeriksa tempat kejadian. Saat ditemukan, 

korban masih berpakaian lengkap, berbaju tangan panjang kotak-kotak yang 

digulung sebatas siku, dipadukan dengan celana jins dan sepatu kulit merek terkenal. 

Sepertinya Irvan baru pulang dari bepergian.  

 

"Melihat kondisi tubuh korban yang kaku dan darahnya mulai mengering, saya 

perkirakan dia meninggal sebelum tengah malam. Tengkorak belakangnya pecah," 

kata dr. Aswin kepada Iptu Yudha Prawira.  

 

Tampak darah mengalir dari kepala hingga ke telinga dan pipi kiri korban, 

menggenangi karpet. Sebagian sudah membeku. Darah itu berasal dari kepala 

bagian belakang sebelah kiri. Pada tulang tengkoraknya terdapat lubang berbentuk 

segitiga sedalam 3 cm.  

 

Mayat itu dikenali sebagai Irvan Lesmana. Perjaka berusia 24 tahun, berkulit kuning 

langsat, dan bertinggi 175 cm itu tengah bersinar di dunia cat walk.  

 

"Menurut Dokter, luka di kepala ini sebab  apa?" tanya Iptu Yudha. 

 

"Akibat benturan. Korban kelihatannya terkena tendangan atau pukulan keras dari si 

penyerang," sambung dr. Aswin sambil menunjukkan luka memar di dada korban 

dan rahang kanannya. "Mungkin si penyerang jago beladiri. Sebelum jatuh ke lantai, 

kepala korban membentur ujung bufet, lalu mengenai meja kaca. sebab  banyak 

darah yang keluar, korban akhirnya meninggal."  

 

Pada salah satu ujung bufet yang tajam itu memang ditemukan sedikit bercak darah 

yang sudah mengering.  

 

"Bagaimana dengan kemungkinan kecelakaan? Si penyerang hanya melakukan 

tindakan beladiri, misalnya," tanya Briptu Siswardoyo, anak buah Iptu Yudha Prawira.  

 

"Bisa saja. namun  melihat pintu yang dikunci dari dalam, bukan tak mungkin 

pembunuhan ini sudah direncanakan," kali ini Yudha yang berteori.  

 

Sejenak ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu Briptu Siswardoyo 

mendekati Iptu Yudha Prawira. "Saya menemukan ini, Komandan. Kayaknya bukan 

pecahan kaca, namun  batu permata," bisik Siswardoyo yang sebelumnya sempat 

mengumpulkan pecahan-pecahan kaca di atas karpet. "Betul, ini mungkin berlian. Di 

mana kamu temukan?" tanya Yudha. "Tak jauh dari lokasi korban terbaring," jawab 

Sis. 

 69

 

Sebelum memasukkan mayat ke dalam mobil jenazah, kedua petugas polisi itu 

memeriksa korban sekali lagi. Didapati korban tampak tidak memakai perhiasan apa 

pun. Namun, pada jempol kirinya terdapat tanda putih melingkar seperti bekas cincin. 

Lalu di bagian ruas jempol atasnya terlihat ada luka kecil. Yudha menduga, korban 

biasa memakai cincin di jempol kiri, seperti gaya anak muda masa kini. Cincin itu 

mungkin dilepas secara paksa oleh si pembunuh.  

 

Dari tuturan Suwarto, si pembunuh kelihatannya mengunci pintu dari dalam, lalu 

keluar lewat jendela samping ruang tamu yang tidak berteralis. Ini gaya lama pelaku 

kejahatan, agar korban tidak segera ditemukan orang lain. 

 

"Hari ini ada acara gladi resik pameran busana rancangan saya. Irvan salah satu 

model dan peragawannya. Namun, sampai siang hari dia tidak juga muncul. 

Teleponnya juga tidak diangkat-angkat. Saya jadi khawatir. sebab  itu, saya lantas 

menyuruh Suwarto untuk mengecek dan menjemputnya," jelas Priyo Harsono, si 

perancang busana, majikan Suwarto.  

 

"Sudah lama Irvan bekerja dengan Anda?" selidik Yudha.  

 

"Kira-kira setahun lebih. Kematiannya merupakan kehilangan besar buat saya," 

jawab Priyo.  

 

Yudha lalu  membawa Suwarto untuk melakukan rekonstruksi penemuan 

mayat. saat  sampai di dekat jendela tempat Suwarto masuk, Yudha berhenti 

sejenak. Pada lantai semen di bawah jendela terlihat bekas tapak sepatu bersol 

karet. Sepertinya, lantai semen itu belum kering saat  diinjak. Mungkinkah itu jejak 

kaki tersangka?  

 

Tamu berjaket hitam 

Sore harinya, saat  masih berada di rumah korban, Yudha melihat empat orang 

berwajah lugu mendatangi rumah itu. "Bapak-bapak ini siapa?" tanya Yudha dengan 

nada sopan. "Saya Rahmat, dan mereka kawan-kawan saya. Kami ini tukang yang 

sedang merenovasi rumah ini, Pak," ujar lelaki bertubuh tinggi kurus, mewakili 

teman-temannya.  

 

"Kok sore begini baru datang?" tanya Briptu Sis. "Hari ini sebenarnya kami libur. 

Kami datang cuma ingin minta gaji sama Mas Irvan," kata Rahmat. 

 

"Ooo, begitu."  

 

"Kemarin, sejak siang Mas Irvan pergi. Kami tunggu sampai jam enam sore, sambil 

bikin adukan untuk lantai garasi, dia enggak pulang juga."  

 

"Omong-omong, lantai garasinya kok tidak langsung ditutup keramik?" Yudha 

mengalihkan pembicaraan.  

 

"Belum, Pak. saat  mau pulang kemarin, lantainya masih basah," jawab Rahmat.  

 

"Jam berapa persisnya kalian mulai menyemen?"  

 

"Kira-kira jam lima."  

 

"Kalau disemen jam lima, jam berapa keringnya?"  

 

 70

"Harusnya pagi sudah kering, asal malamnya tidak hujan."  

 

"Bagaimana kalau ada orang yang menginjaknya saat masih basah?"  

 

"Ya, amblas, Pak!" sahut Rahmat dengan logat khas Jawa Timurnya. Yudha lalu 

mengajak Rahmat pergi ke samping rumah Irvan.  

 

"Lihat bekas tapak sepatu ini. Kira-kira, kapan lantai sepatu ini diinjak?"  

 

"Mungkin tadi malam," kata Rahmat. 

 

"Kamu lihat perbedaan tapak kaki kanan dan kiri?"  

 

"Ya. Kayaknya cetakan kaki kanan lebih dalam dari yang kiri."  

 

Yudha diam sejenak.  

 

"Apakah ada tamu cacat atau kakinya pincang yang datang selama kalian 

merenovasi rumah ini?" 

 

"Rasanya tidak. Memangnya kenapa, Pak?"  

 

"Orang yang pincang atau cacat, misalnya kaki kiri lebih panjang dari yang kanan, 

sewaktu berjalan semua beban tubuhnya tertumpu pada kaki yang lebih pendek. 

Jadi, kaki kanan lebih menekan ke tanah, seperti terlihat di bekas tapak ini," jelas 

Yudha. 

 

Rahmat mengangguk-angguk.  

 

"Briptu Sis, di rumah ini Irvan tinggal sendirian?"  

 

"Tidak, Dan. Dia tinggal bersama seorang pembantu. namun  sudah beberapa hari ini 

pembantunya pulang kampung."  

 

"Pak Rahmat, berapa tukang yang bekerja merenovasi rumah ini?" kata Yudha.  

 

"Semuanya ada lima, termasuk saya. Yang berdiri di sana itu, Soleh, Yono, dan 

Bagyo. Satu lagi, Rajiman sedang sakit." 

 

"Bisa kami menemui dia?"  

 

"Bisa, Pak. Rumahnya dekat sini, kok!"  

 

Iptu Yudha ditemani Briptu Sis, Rahmat, dan dua polisi berpakaian dinas segera 

beranjak pergi. Tak jauh dari rumah Irvan, ada gang kecil menuju perkampungan 

padat penduduk. Di sanalah letak rumah kontrakan Rajiman.  

 

"Firasat saya enggak enak, Dan," bisik Sis. Yang diajak bicara hanya menepuk-

nepuk bahu Sis. Feeling Sis kali ini tampaknya benar. Di depan rumah Rajiman, 

mereka mendapati sepasang sepatu kain beralas karet yang dekil lantaran semen 

yang sudah mulai mengering.  

 

Yudha mengetuk pintu, sementara Sis bersiaga. Rajiman yang baru bangun tidur 

tampak tak menyangka tamunya yaitu  polisi. Dia mencoba kembali menutup pintu. 

namun  Yudha dengan sigap bertindak. "Rajiman! Diam di tempat! Banyak yang harus 

 71

kamu jelaskan pada kami di kantor polisi nanti." Sejurus lalu , tangan anak 

buah Rahmat itu sudah masuk jepitan borgol.  

 

"namun  Komandan, Rajiman 'kan tidak pincang," protes Briptu Sis. "Memang, namun  berat 

badannya bertumpu pada kaki kanan, sebab  dia membawa sesuatu di tangan 

kanannya. Dia pasti mencuri sesuatu dari rumah Irvan." 

 

"Kamu yang membunuh Irvan dan merampok barang-barangnya?" tuding Yudha, 

begitu mereka tiba di ruang interogasi. 

 

"Ampun, Pak. Bukan saya yang membunuh," jawab Rajiman. 

 

"Kalau bukan kamu, lalu siapa?"  

 

"Ampun, pak. Saya tidak bohong. Tadi malam, sekitar jam sepuluh saya memang ke 

rumah Mas Irvan, mau minta gaji. Saya sudah enggak punya duit, Pak. Dari 

kejauhan, saya melihat seseorang keluar dari rumah itu dengan terburu-buru. Saya 

tak sempat mengenalinya, sebab  dia langsung menyetop taksi."  

 

"Lalu?"  

 

"Saya ketuk pintu, namun  tidak ada jawaban. Pintunya sendiri ternyata tidak terkunci." 

 

"lalu  kamu masuk?"  

 

"Betul. Saya kaget bukan main, suasananya berantakan sekali. Meja terbalik, 

kacanya pecah, dan beling ada di mana-mana. Mas Irvan sendiri tertelungkup di 

dekat bufet. Saya goyang-goyangkan badannya, namun  dia enggak bergerak."  

 

"Akhirnya kamu memutuskan untuk mencuri? Tega betul kamu!"  

 

"Saya kekepet, Pak. Kalau Mas Irvan mati, siapa yang bayar gaji saya? Makanya 

saya ambil beberapa barang elektronik yang bisa dijual." 

 

"Lalu kamu matikan lampu, mengunci pintu dari dalam dan keluar lewat jendela 

samping?"  

 

Rajiman mengangguk, lalu  tertunduk diam.  

 

"Saya menceritakan yang sebenarnya, Pak. Sungguh!" sambung Rajiman.  

 

"Kamu juga yang mengambil cincin berlian Irvan?" 

 

"Cincin? Seingat saya, malam itu Mas Irvan tidak memakai perhiasan. Mungkin 

orang berjaket itu yang mengambilnya."  

 

"Orang berjaket hitam itu, laki-laki atau wanita lesbian ?"  

 

"Kurang jelas, Pak."  

 

"Ingat nomor polisi taksinya?"  

 

"Tidak, Pak. Saya hanya ingat warnanya, biru," tegas Rajiman.  

 

"Ah, taksi warna biru 'kan banyak!"  

 72

 

Yudha dan Sis seperti kehabisan kata-kata. Siapa sebenarnya orang berjaket hitam 

yang meninggalkan rumah Irvan? Atau, ini cuma akal-akalan Rajiman!  

 

Punya banyak pacar 

 Hari-hari berikutnya cukup membuat Yudha dan Sis frustrasi. Nyaris tak ada 

perkembangan berarti dari kasus yang sedang mereka tangani. Dari teman-teman 

Irvan, mereka hanya mendapat dua nama wanita yang belakangan dekat dengan 

pria ganteng itu. Yang pertama Dra. Andrini, janda berumur 40-an tahun, direktur 

utama sebuah pabrik minuman suplemen. saat  tahu Irvan meninggal, wanita ayu 

itu tampak shock.  

 

"Anda sudah lama kenal Irvan?"  

 

"Lumayan lama. Dia bintang iklan produk saya."  

 

"Cuma sebatas hubungan kerja, atau ...?"  

 

"Atau apa?"  

 

"Maaf, dari obrolan dengan beberapa orang di kantin kantor ini, saya dengar Anda 

punya hubungan khusus dengan ...."  

 

Wajah Andrini tampak memerah. 

 

"Saya kira itu urusan pribadi saya," jawabnya ketus. 

 

"Kabarnya juga, Anda sangat kecewa saat  tahu Irvan akan menikah dengan Melani 

Febri," sambung Sis.  

 

"Ini juga urusan pribadi. Saya tidak akan menjawabnya." 

 

"Oke, pertanyaan terakhir. Kalau boleh tahu, Sabtu lalu saat Irvan meninggal, Anda 

berada di mana?" tanya Yudha.  

 

"Saya memang tidak di rumah sejak jam dua siang. Ada urusan yang tak bisa saya 

ceritakan kepada Anda!"  

 

Yudha dan Sis tertegun. Tak banyak yang bisa dikorek dari direktris ketus ini. sebab  

itu, mereka akhirnya memutuskan mendatangi wanita kedua yang disebut-sebut 

sebagai pacar sekaligus calon istri Irvan, Melani Febri. 

 

"Wah, sudah punya calon istri, masih juga selingkuh dengan tante-tante," komentar 

Sis, dalam perjalanan menuju rumah Melani.  

 

"Aku berani bertaruh, kalau kamu jadi Irvan, mungkin kamu lebih playboy dari dia," 

kata Yudha.  

 

Pekarangan rumah Melani tampak luas. Di dekat garasi ada lapangan bulu tangkis 

yang cukup terawat. Melani sendiri baru berusia 23 tahun. Tubuh bintang iklan 

sampo itu sungguh atletis. Kulitnya yang hitam manis menambah cantik penampilan 

model yang tengah menanjak kariernya itu. sesudah  berbasa-basi, Yudha dan Sis 

langsung menanyai Melani soal calon suaminya itu.  

 

"Anda mengenal Irvan dengan baik, Melani?"  

 73

 

"Hmm, orangnya sedikit tertutup dan susah ditebak. namun  pada dasarnya dia orang 

baik. Kadang terlihat seperti menyimpan masalah, namun  setiap ditanya, selalu 

menghindar. Sabtu lalu, dia janji mau mengantar saya jalan-jalan ke mal, namun  sampai 

malam enggak ada kabar. Tahu-tahu, saya mendapat kabar ...," tutur Melani tanpa 

bisa melanjutkan kata-katanya.  

 

"Kabarnya, hubungan kalian tidak direstui keluarga Anda?"  

 

"Ya. namun  kami bertekad membuktikan, semua prasangka itu salah."  

 

"Prasangka bahwa Irvan itu seorang playboy?"  

 

"Ya. Salah satunya."  

 

"Kamu tahu Irvan punya wanita idaman lain?"  

 

"Pernah dengar, namun  saya menganggap itu cuma gosip."  

 

"Bagaimana kalau ternyata benar?" 

 

"Keluarga saya akan membunuhnya."  

 

"Membunuh Irvan?"  

 

"Sudahlah, saya tetap yakin, semua itu gosip."  

 

Jawaban Melani membuat Yudha bak berada di persimpangan jalan. Polisi dengan 

jam terbang tinggi dalam menangani kasus-kasus pembunuhan ini menyadari, 

persoalannya ternyata tak sesederhana seperti yang dibayangkan sebelumnya. 

Apalagi sesudah  datang laporan terakhir dari Briptu Ikhsan. Selain memastikan bahwa 

penggumpalan darah di otak sebagai pemicu  kematian Irvan, laporan itu juga 

menyebut, lelaki ganteng itu sering disodomi.  

 

"Jadi, dia seorang biseksual?" tegas Sis.  

 

"Ingat cerita Andrini dan Melani tentang cincin emas bermata berlian milik Irvan?" 

sambung Yudha. 

 

"Maksud Komandan?"  

 

"Mereka bilang, cincin yang hilang itu kado dari Rio, saat Irvan berulang tahun 

beberapa bulan sebelum peristiwa ini. Jika seseorang memberi kamu cincin berlian, 

apa artinya, Sis?" 

 

Briptu Sis tersenyum penuh arti.  

 

"Rio yang tergila-gila pada Irvan mungkin kecewa begitu tahu 'pacarnya' berencana 

menikah dengan Melani. Lalu dia bermaksud mengambil kembali cincin berlian itu."  

 

"Masuk akal juga!" seru Yudha.  

 

 

 

 

 74

Mabuk-mabukan di klub 

 Tanpa membuang waktu, Yudha dan Sis tancap gas ke rumah Rio Titan, yang tidak 

lain yaitu  manajer Irvan. Nama Rio sering disebut-sebut Priyo Harsono, Andrini, 

maupun Melani. Namun, baru kali ini duo polisi itu berniat menanyainya. 

 

Rio yang tinggal di sebuah kawasan elite berperawakan tinggi, berkulit bersih, 

dengan kumis tipis. Mengingatkan pada bintang pop Hollywood tahun lima puluhan, 

Robert Taylor. namun , saat  berbicara, suaranya sangat lembut, bahkan terkesan 

kemayu.  

 

"Kok sepi," Iptu Yudha membuka percakapan.  

 

"Ya, anak dan istri saya sedang di rumah mertua," jawab Rio dengan suara agak 

serak.  

 

"Anda sudah mendengar berita kematian Irvan, 'kan?"  

 

"Kasihan anak itu," jawab Rio datar.  

 

"Sebagai manajer, Anda pernah berselisih paham dengan almarhum?"  

 

"Pertengkaran serius, rasanya belum pernah. Sudah seminggu ini saya tidak ketemu 

dia. Mungkin sibuk ngurus pacarnya, tuh," ada nada cemburu dari getar suara Rio.  

 

"Oh, ya, saat kematian Irvan, Anda ada di mana?"  

 

"Di klub. Kalau enggak percaya, tanya aja manajer klubnya," seru Rio sembari 

menyodorkan sebuah kartu nama.  

 

Dari luar Klub Malam "S" yang disebut Rio tampak sepi. namun  ternyata di dalamnya 

lumayan ramai. Semua pengunjungnya laki-laki. "Komandan, sepertinya kita salah 

masuk. Orang-orang di sini semuanya mirip Rio," bisik Sis. Yudha tersenyum kecut, 

menyadari mereka ternyata masuk ke tempat gaulnya kaum gay.  

 

Sayoga, manajer klub malam itu membenarkan Rio dan kawan-kawannya pada 

Sabtu malam lalu memang berkumpul di klub malamnya. "Mereka bahkan mabuk-

mabukan sampai pagi," terang Sayoga. "Rio biasa mabuk di sini?" selidik Yudha. 

"Wah, dia sih jarang mabuk. Setahu saya, dia sedang punya persoalan dengan 

gebetan barunya, model ganteng yang sedang naik daun. Katanya sih mau ditinggal 

kawin."  

 

Yudha manggut-manggut. Model yang dimaksud Sayoga pasti Irvan Lesmana.  

 

"namun  Rio 'kan sudah punya anak dan istri?" 

 

"Bapak kayak enggak tahu aja," sahut Sayoga manja, sebelum ngeloyor pergi, 

meninggalkan Yudha dan Sis yang diam terbengong. 

 

Dua hari lalu , tepat sembilan hari sesudah  kematian Irvan Lesmana, Yudha 

masih belum memperoleh bukti-bukti yang langsung mengarah pada tersangka. 

Namun, dia masih menunggu informasi dari beberapa perusahaan taksi yang 

dihubunginya beberapa hari lalu. Sudah dua perusahaan "taksi biru" yang memberi 

keterangan. "Masih ada satu lagi, Komandan. Katanya, mau memberi kabar siang 

ini," ujar Briptu Ikhsan. 

 

 75

Siangnya, sekitar pukul 12.00, Ir. Supangat, direktur operasi perusahaan taksi "TS" 

menelepon. "Sepertinya, kami memiliki  data penumpang yang cocok dengan 

gambaran Anda," urai Supangat. "Jam dan tempatnya juga pas. Menurut sopirnya, 

Bustaman, penumpangnya wanita lesbian  berbadan besar. Rambutnya dipotong model 

laki-laki, memakai celana jins dan jaket hitam. Dia naik dari Jln. Mawar Jingga dan 

turun di Jln. Jeruk Nipis. Rumahnya besar, di depannya ada pohon sawo kecik," 

terang Supangat.  

 

Sis yang ikut mendengarkan dari telepon lain kontan tersentak. 

 

"Itu 'kan rumahnya Rio Titan, Komandan!" 

 

"Kamu yakin, Sis?"  

 

"Cuma ada satu pohon sawo kecik di perumahan mewah itu," tegas Sis.  

 

Yudha menutup gagang telepon. sesudah  itu, dia memberi isyarat pada Sis. "Ke 

rumah Rio, Dan?" tanya Sis. Belum sempat Yudha menjawab, seorang lelaki tampak 

tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. "Pak Rio! Kami baru mau ke rumah Anda," 

ujar Yudha tanpa tedeng aling-aling. Wajah Rio tampak pucat, napasnya tersengal-

sengal. Sebelum berbicara, sempat terpancar keraguan di matanya. 

 

"Saya menemukan ini di kotak perhiasan Maharani. Cincin ini saya berikan pada 

Irvan beberapa bulan lalu, entah mengapa bisa berada di tangan istri saya," cerita 

Rio akhirnya.  

 

"Cincin bermata tiga, dengan satu berlian terlepas dari tempatnya?" tegas Sis.  

 

Rio mengangguk.  

 

"Apakah istri Anda bertubuh besar dengan potongan rambut mirip laki-laki?"  

 

Lagi-lagi Rio mengangguk. Matanya tampak mulai basah.  

 

"Dia bisa olahraga beladiri?"  

 

"Istri saya pelatih taekwondo."  

 

Yudha dan Sis saling berpandangan. Bersama dua mobil patroli, mereka menjemput 

Maharani. Mulanya dia menyangkal membunuh Irvan. namun  sesudah  didesak dengan 

kesaksian Rajiman, sopir taksi, dan barang bukti cincin bermata berlian, wanita galak 

itu akhirnya takluk. "Saya marah melihat hubungan mereka yang tidak normal. 

Apalagi Rio sampai memberi  cincin semahal itu pada Irvan," akunya.  

 

Sekali lagi Yudha dan Sis saling berpandangan.  

 

(Kisah rekaan/Riady B. Santosa)  

 

 

 

 

 

 76

11. MASA LALU TEREKAM DI KUKU 

 

Malam belum terlalu larut. Saat para tetangga bercengkerama dengan keluarga di 

rumah masing-masing, Noelleen Greenwood yang tengah sendirian di rumah justru 

merasakan hal sebaliknya. Jangankan bercengkerama, menarik napas saja ia harus 

berjuang keras. Wajahnya begitu tegang dan ketakutan. Di depannya berdiri seorang 

tamu tak diundang, pencuri yang diyakini Noelleen tega berbuat apa saja, termasuk 

mencabut nyawa orang tak berdosa. Inikah akhir karier cemerlangnya sebagai 

ilmuwan? "Mestinya tidak. Aku belum dan tidak akan pernah mati dengan cara 

seperti ini," jerit hati kecilnya. Perlahan Noelleen berusaha melunakkan hati pria 

yang telah mencuri barang-barang berharga dan menyekapnya sejak tiga jam lalu itu. 

"Maaf, Bung. Aku percaya, Anda orang pintar. Pekerjaan seperti ini tak pantas buat 

orang seperti ...," kata-kata Noellen tak berlanjut, sesudah  si lelaki menyela dengan 

kasar.  

 

"Cukup! Aku tidak pernah menerima saran, apalagi saran wanita lesbian  pesakitan!" 

Usai membentak, tangan kekar sang maling melayang keras ke wajah Noelleen. 

Wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu di labolatorium itu langsung limbung, 

menabrak sofa, sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Bukan kali itu saja Noelleen disakiti 

dan dilecehkan si pencuri, yang belakangan diketahui gemar melakukan pencurian 

dengan kekerasan, terutama terhadap kaum hawa.  

 

"Kamu pikir, aku akan melepas kamu begitu saja. Membiarkan kamu melenggang 

santai ke kantor polisi. Lalu polisi-polisi keparat itu datang menjemputku, sambil 

mengacungkan-acungkan pistol dan borgol?" seru si pencuri, sembari memamerkan 

bola matanya yang nanar. Noelleen tak kuasa menjawab. Namun, dia tak berhenti 

memohon pada si pencuri - yang menerobos rumah tanpa topeng maupun senjata - 

agar tidak bertindak lebih kejam.  

 

Sejujurnya, Noelleen merasa peluang hidupnya tak sebesar beberapa jam 

sebelumnya. Mata, telinganya, terlebih pikirannya mulai lelah lantaran stres, 

melakoni drama yang tak kunjung usai. Drama yang dampaknya pasti akan terus 

membekas sepanjang hidup Noelleen. Tiga jam rasanya bak tiga hari, tiga bulan, 

bahkan tiga tahun. Sampai akhirnya, dia tak mendengar lagi bentakan-bentakan 

menyakitkan itu bersamaan dengan lenyapnya tubuh sang pencuri sadis di tengah 

kegelapan malam.  

 

Si pencuri sadis lenyap? Berkali-kali Noelleen menarik napas panjang. Dia hampir 

tak percaya, baru saja lolos dari lonceng kematian. Noelleen hendak bergerak 

mencari pertolongan, namun  badannya terlalu lunglai. Beberapa menit lamanya, istri 

Roger Franklin itu hanya bisa termangu di lantai. Seraya berdesah pada diri sendiri, 

"Terima kasih junjungan . Dia akhirnya pergi...  

 

Bebas dengan jaminan 

 Esoknya, Noelleen menghabiskan waktu berjam-jam di atas ranjang. Baru sesudah  

kepercayaan dirinya pulih, wanita periang itu berinisiatif mendatangi kantor polisi. Itu 

pun berkat dorongan kuat Roger, yang tak bisa menerima perlakuan semena-mena 

terhadap istrinya. Meski sebelumnya Noelleen berkali-kali mengungkapkan 

kekhawatirannya, jika kasus pencurian itu harus dilaporkan ke polisi.  

 

"Aku merasa, dia ada di mana-mana. Matanya ... matanya seperti tak pernah 

berhenti menatapku," ucap Noelleen, seraya menambahkan, "Firasatku mengatakan, 

persoalan ini masih jauh dari selesai." 

 

 77

"namun  kalau kamu tidak melapor, berarti memberi peluang maling nekad itu 

melakukan kejahatan yang sama terhadap orang lain," tegas Roger. 

 

Di kantor polisi, laporan pasangan suami-istri itu cepat mendapat tanggapan. Apalagi 

keterangan yang disampaikan Noelleen begitu lengkap. Tanpa kesulitan berarti, 

polisi bisa mengidentifikasi sang maling. Namanya Julio Strappa (30 tahun), pencuri 

"langganan" hotel prodeo yang digambarkan polisi sebagai pria canggung, 

penyendiri, serta berdarah dingin.  

 

Noelleen dan suaminya punya harapan besar, Strappa yang sudah berulang kali 

melakukan kejahatan serupa dikenai hukuman setimpal. Berdasarkan proses 

pemeriksaan pendahuluan di pengadilan, Noelleen, pihak kepolisian, dan jaksa 

wilayah sepakat, Strappa memang penjahat yang sangat berbahaya. Itu sebabnya, 

mereka semua begitu geram saat  tahu pengadilan membebaskan Strappa dengan 

jaminan!  

 

Kegeraman yang sangat beralasan, sebab  sesudah  mendapat kesempatan 

menghirup udara segar, Strappa langsung menghilang. Orang yang paling dirugikan 

atas keputusan pengadilan itu tentu saja Noelleen Greenwood. Berbulan-bulan 

sesudah  Strappa kabur, wanita berotak encer itu seperti tak pernah bisa lagi 

menikmati hidup. Hatinya selalu waswas.  

 

"Setiap kali berada di belakang kemudi, mataku enggak pernah bisa lepas dari spion. 

Takut kalau-kalau Strappa menguntit," curhat Noelleen pada Nicole, sobat karibnya 

di kantor. 

 

"Kok bisa sekhawatir itu?" sahut Nicole sekenanya.  

 

"Sumpah. Aku merasa, Strappa terus mengintai dan mengintai. Orang-orang di 

pengadilan betul-betul bikin sebal."  

 

"He-eh. Aku juga enggak habis pikir, penjahat yang harusnya dipenjara bertahun-

tahun kok malah bebas berkeliaran di jalan."  

 

"Nic, bagaimana jika aku pindah ke California?" 

 

"Kalau itu bisa menjauhkan kamu dari bayang-bayang Strappa, kenapa ragu? Ingat 

Noelleen, masa depan kamu masih panjang. Jangan cuma gara-gara Strappa dan 

putusan pengadilan yang ngaco itu ...."  

 

Belum habis kalimat Nicole, Noelleen sudah bergegas keluar laboratorium, 

meninggalkan sahabatnya ngoceh sendirian. Noelleen berjanji dalam hati, malam 

nanti dia dan Roger harus segera membuat keputusan. Tawaran posisi wakil 

presiden dari sebuah perusahaan bioteknologi terkemuka di California, yang datang 

beberapa hari lalu rasanya sayang dilewatkan.  

 

Sesampai di rumah, Roger menyambut baik keputusan Noelleen pindah ke California. 

Pasangan itu bahkan berencana menjual rumah besar mereka, menggantinya 

dengan bungalow di Del Mar, untuk lalu  menjalani kehidupan "normal" di 

California. Akankah Noelleen tenggelam pada aktivitas di kantor barunya, dan bisa 

melepas bayang-bayang Strappa?  

 

Disayang sejawat 

 Noelleen, putri tunggal Sidney Greenwood, bukan orang sembarangan. Dia ilmuwan 

yang tak hanya disegani, namun  juga dicintai teman-teman sejawat. "Tahun 60-an, 

 78

walau masih kanak-kanak, Noelleen sudah mengutarakan niatnya tinggal di Amazon . 

Kata dia, Amazon  itu surga buat ahli biokimia," cerita Sidney bangga.  

 

Selama di Amazon  tengah , Noelleen memang kerap membuat Sidney bangga, 

sebangga-bangganya. Selain punya keluarga bahagia dan karier bagus, Noelleen 

juga sempat memenangkan sejumlah penghargaan, bahkan diakui sebagai salah 

satu peneliti terkemuka bidang biokimia.  

 

Berbekal kepintarannya, Noelleen langsung mendapat tempat istimewa dalam 

bidang analisis DNA, khususnya berkaitan dengan pengembangan forensik dan alat 

pencari jejak, sebuah "ilmu baru" saat itu. Di perusahaannya yang lama, Noelleen 

sempat ditunjuk menjadi senior executive. Sedangkan suaminya sukses membangun 

bisnis modifikasi mobil. 

 

Noelleen juga dianggap sebagai perintis penggunaan DNA, agar suatu saat bisa 

digunakan sebagai basis data kepolisian di seluruh dunia. Dengan basis data itu, 

polisi jadi makin gampang menekuk penjahat. Cukup mencocokkan DNA tersangka 

dengan fakta di tempat kejadian perkara, sang penjahat pun tak bisa mungkir. 

Sayangnya, saat itu (tahun 1985), teknologi DNA masih sangat rumit, sehingga tak 

banyak ahli yang menguasainya.  

 

DNA forensik cita-cita Noelleen itu sering juga disebut sidik jari genetik, 

menggabungkan teknik pemisahan, penyusunan, serta kemampuan membaca 

keseluruhan rantai DNA, sehingga menunjukkan lusinan kesamaan. Kemampuan itu 

menjadikannya seribu kali lebih efektif dibandingkan dengan teknik sidik jari 

tradisional. "Aneh, di tangan Noelleen, masalah teknis seberat itu bisa jadi begitu 

ringan," cerita Sidney soal pentingnya penelitian DNA buat umat manusia.  

 

Puncak karier Noelleen tentu saja saat  dia menerima tawaran bekerja sebagai 

wakil presiden sebuah perusahaan biokimia di California. Pencapaian yang 

sayangnya dinodai trauma kejahatan Strappa. "Omong-omong, kamu sudah bisa 

melupakan orang gila itu, 'kan?" suara Nicole dari balik gagang telepon, terdengar 

khawatir. "Maksudmu Strappa?" balas Noelleen. "La iya, siapa lagi?" sergah Nicole. 

Noelleen membayangkan, muka Nicole pasti sedang ditekuk, cemberut. 

 

"Terus terang, enam bulan di sini aku merasa jauh lebih tenang, Nic," jawab 

Noelleen akhirnya.  

 

"Baguslah. namun  aku kangen nih."  

 

"Makanya, jalan-jalan dong ke California. Jangan ngendon di rumah terus."  

 

Roger sekilas melirik Noelleen yang mulai ramai cekikikan di depan gagang telepon. 

Lelaki yang sangat mencintai istrinya itu maklum, jika sudah kopi darat dan kopi 

udara dengan sobat-sobat akrabnya, Noelleen kadang suka "lupa diri". Namun, di 

lubuk hati yang paling dalam dia bersyukur, keceriaan yang beberapa bulan terakhir 

hilang dari istrinya, kini pelan-pelan mulai kembali lagi.  

 

Jari luluh lantak 

Sampai akhirnya, suatu hari di bulan Agustus 1985, Noelleen tidak masuk kantor. 

Para sejawatnya merasa heran, plus khawatir. Soalnya, selain jarang absen, 

Noelleen biasanya memberi kabar jika tak masuk kantor. sebab  sampai siang 

belum ada berita keberadaan Noelleen, rekan-rekan kerjanya sepakat menghubungi 

Roger. "Kami sudah telepon ke rumah, namun  tidak diangkat-angkat," cerita staf 

 79

Noelleen. "Aneh. Sama sekali tidak ada tanda-tanda dia sakit," jelas Roger, tak kalah 

bingung.  

 

Tak lama sesudah  berbicara di telepon, Roger memutuskan pulang. "Firasatku 

enggak enak. Kalau sakit, harusnya dia menelepon. Semoga Noelleen baik-baik 

saja," harap Roger lebih pada dirinya sendiri. 

 

Harapan yang akhirnya hanya tinggal harapan. Betapa shock dia, saat  menemukan 

istrinya telah terbujur kaku di halaman belakang. Tubuhnya penuh memar, 

sedangkan di leher terlihat beberapa bekas cekikan. Noelleen yang periang dan 

belum genap berusia 35 tahun telah terbunuh secara mengenaskan.  

 

Beberapa saat lalu , polisi berdatangan. "Para tetangga bilang, mereka melihat 

sebuah mobil sewaan berukuran kecil diparkir di seberang jalan pada saat 

pembunuhan. namun  mereka sama sekali tak curiga, sebab  tidak ada sesuatu yang 

mencolok dari pengendara maupun mobilnya," sebut seorang detektif. "Tak ada yang 

tahu nomor polisinya?" tanya detektif lain. "Sampai saat ini belum ada yang tahu."  

 

Tim penyidik sendiri sempat bergidik saat melihat kondisi jari tangan korban yang 

nyaris luluh lantak, terutama bagian di sekitar kuku. "Kelihatannya, istri Anda 

melakukan perlawanan sengit sebelum dibunuh," seorang detektif memberi tahu 

Roger. Dalam sekejap, petugas mengambil sampel serpihan kulit yang tertinggal di 

bawah kuku. Siapa tahu, sebagian kulit itu milik pelaku.  

 

Sayangnya, polisi sendiri tak tahu apa yang bisa diperbuat dengan sampel itu. 

Bahkan para ahli biokimia di tempat Noelleen bekerja pun tak tahu harus bagaimana. 

Teknologi berbasis DNA yang dirintis Noelleen dan kawan-kawan saat itu masih 

sangat prematur. Polisi akhirnya hanya mengumpulkan barang-barang bukti itu, 

menyegelnya, lalu menyimpannya di tempat yang aman di ruang bawah tanah. 

 

Apakah lelaki yang beberapa bulan terakhir ini menghantui Noelleen, Julio Strappa 

kembali beraksi? Setidaknya, begitulah yang dipikirkan polisi. Terbukti, hanya dalam 

bilangan jam, polisi San Diego dan San Fransisco berhasil menemukan dan 

menahan Julio Strappa. Namun, meski berada di sekitar San Diego pada saat 

kematian Noelleen, Strappa menyangkal terlibat dalam pembunuhan. Dia bahkan 

memiliki saksi yang menguatkan alibinya.  

 

Di satu sisi polisi yakin, Strappalah pembunuh sejati Noelleen. Jika terbukti, lelaki 

sadis itu bisa dipenjara lebih dari 20 tahun. Namun, di sisi lain tak ada saksi-saksi 

dan bukti forensik yang bisa digunakan untuk menyudutkan Strappa. Tampaknya, 

seperti kasus pencurian dengan kekerasan terhadap korban yang sama enam bulan 

lalu, kali ini pun Strappa bakal kembali bebas. Atau, memang bukan Strappa 

pelakunya?  

 

Pembunuh tak ditemukan 

 "Sepertinya, pembunuh Noellleen tidak akan pernah ditemukan. Sama seperti 

korban-korban pembunuhan lain yang tidak diketahui pelakunya," keluh Sidney 

Greenwood.  

 

"namun  setidaknya, kami sudah berusaha menjerat Strappa. Kami pun tidak akan 

pernah menutup kasus ini, Pak Sidney," seru seorang detektif dari kantor kepolisian 

San Diego.  

 

"Strappa? Orang itu hampir membuat saya gila."  

 

 80

"Kami menyesal tidak dapat menuntutnya atas tuduhan pembunuhan. namun  kami bisa 

memasukkan dia ke penjara atas pasal-pasal pencurian dan tindak kekerasan," janji 

sang detektif.  

 

Belakangan, sesudah  serangkaian persidangan tingkat banding, Strappa memang 

dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara enam tahun. Namun, tiga tahun 

lalu  dia bebas, hidup tenang di San Fransisco, berkarier di bidang analisis 

keuangan. 

 

"Sekali lagi, pembunuhnya tetap tak bisa ditemukan, 'kan?" cecar Sidney. Si detektif 

cuma bisa membisu seribu bahasa. Sidney merasa, Noelleen seharusnya mendapat 

keadilan yang lebih baik dari yang didapatnya sekarang. "sebab  sepanjang 

hidupnya, dia selalu berusaha menegakkan keadilan," imbuh kakek yang kini berusia 

hampir 90 tahun itu. Komentar serupa datang dari Dan Kacian, rekan kerja Noelleen 

di Gen-Probe. "Dia wanita lesbian  luar biasa. Tidak adil bila dia tidak memperoleh 

keadilan."  

 

Bertahun-tahun Sidney, Kacian, dan sejumlah kerabat serta kolega Noelleen 

menyimpan tanda tanya besar tentang siapa sebenarnya pembunuh sang wanita 

cendekia itu. "Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Sempat terlintas, 

mungkin Roger yang membunuh Noelleen. Bukankah 90% pembunuhan di 

lingkungan keluarga dilakukan oleh orang terdekat?" sebut Sidney.  

 

Apalagi sebagai pengumpul materi, Noelleen bisa disebut sangat berhasil. "namun  

polisi yakin, pembunuh putriku yaitu  orang yang telah lama mengincar nyawanya. 

Niat orang jahat itu cuma satu, membunuh. Walaupun begitu, pikiran-pikiran dan 

teori-teori tentang siapa sebenarnya pembunuh Noelleen tetap menggangguku. Aku 

nyaris putus asa, sebab  tak tahu mana yang harus dipercaya."  

 

"Menuduh Roger sebagai pembunuh Noelleen sungguh sebuah ide gila. Roger 

sendiri akhirnya menikah kembali dan memiliki dua anak. Belakangan aku tahu, 

selama beberapa tahun Roger sempat putus asa berat. Mungkin jauh lebih berat dari 

aku. Syukurlah akhirnya dia bisa membangun hidupnya kembali. Aku menganggap, 

Roger sebagai korban lain dari kejahatan yang dilakukan pembunuh Noelleen."  

 

Tertunda 15 tahun 

 Hebatnya, saat  sebagian besar penegak hukum, kerabat, dan teman sejawat 

Noelleen mulai putus asa, "Noelleen" sendiri ternyata tak pernah menyerah. Lima 

belas tahun lalu , lewat detektif muda nan enerjik (wanita lesbian  pula), Laura 

Heilig, arwah Noelleen bak bangkit kembali menerangi kiprah para polisi. Saat sadar 

bahwa Noelleen tengah merintis penelitian tentang DNA di saat menjelang 

kematiannya, emosi Heilig tergerak. Ia menekuni arsip dan barang bukti kasus 

pembunuhan Noelleen. 

 

"Wanita ini betul-betul luar biasa. Sebagai peneliti DNA dia percaya, tak ada 

kejahatan abadi di muka Bumi. Dia juga tahu, Strappa penjahat licik yang sulit 

ditangkap. Itu sebabnya, dengan sadar dia melakukan perlawanan, agar tersedia 

cukup barang bukti untuk menggiring Strappa ke penjara. Dan yang paling penting, 

dia yakin suatu saat penelitian yang pernah dirintisnya akan membuahkan hasil. 

Meski untuk itu, butuh waktu belasan tahun. Hhughh," Heilig melenguh sekeras 

lembu.  

 

Tak lama lalu , dia meraih gagang telepon dan menghubungi Sidney 

Greenwood.  

 

 81

"Apa kabar, Pak Greenwood?" sapa Heilig.  

 

"Kabar baik. Ada kabar apa detektif? Maaf kalau saya lupa nama Anda. Maklum, 

selama 15 tahun, banyak sekali polisi yang menelepon ke sini."  

 

"Saya Heilig, Pak."  

 

"Ooooh, detektif Heilig. Ada apa rupanya?" 

 

"Saya berharap, berita ini bisa sedikit melegakan hati Anda. sesudah  membaca arsip-

arsip Nyonya Noelleen yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di ruang bawah 

tanah, saya jadi merasa sangat mengenal putri Anda. Saya sangat mengaguminya. 

Dia telah merintis banyak penelitian tentang DNA. Dan saya rasa, di situlah letak 

petunjuknya. Putri Anda dengan cemerlang mengajari saya cara menangkap 

pembunuh keji yang telah merenggut nyawanya. Saya sebenarnya enggan bilang ini, 

namun  jujur saja, arwahnya seperti menginspirasi saya, Pak."  

 

"He-he-he. Nak, kadang saya pun merasakan, dia belum benar-benar pergi 

meninggalkan kita." "Pak Sidney, saya yakin dengan sedikit pendekatan ilmiah, 

sampel organik yang dulu diambil dari jari dan kuku putri Anda bisa menjadi petunjuk 

penting." 

 

"Lewat proses pemisahan DNA?" 

 

"Anda tahu juga?"  

 

"Dulu Noelleen suka bercerita. Dia sangat mencintai DNA-nya."  

 

"Dan berkat proyeknya dulu, kini kita bisa melangkah lebih maju." 

 

Heilig menunggu reaksi lebih lanjut dari Sidney. Namun, tak terdengar suara apa pun 

di seberang sana. Kakek yang tinggal di rumah besar milik Nolleen itu tampaknya 

tengah jatuh dalam lamunan. Tanpa sadar, Heilig pun jadi ikut melamun. Polisi yang 

masih duduk di sekolah menengah saat  Noelleen terbunuh itu, seperti kebanyakan 

polisi generasi terkini San Diego, meyakini banyak kasus bisa dipecahkan dengan 

pendekatan science. 

 

Barangkali itu sebabnya dia mengkhususkan diri pada kasus-kasus lawas yang dulu 

tak sempat terpecahkan. Misteri kematian Noelleen menjadi kasus lawas pertama di 

San Diego yang arsipnya dibuka kembali. sesudah  beberapa pekan bekerja keras, 

polisi berhasil menelurkan profil atau skema DNA utuh, seraya menampilkan 15 

tanda kesamaan dengan sampel DNA dari darah Julio Strappa.  

 

Heilig tersenyum lebar. "Mari kita jemput pembunuh yang hilang itu di apartemennya. 

Noelleen telah menunggu 15 tahun untuk mendapat keadilan yang pernah kita 

janjikan. Kali ini, arwahnya akan menyaksikan sendiri, Strappa tak bisa lagi 

mengelak dari ancaman hukuman mati. Keadilan memang cuma soal waktu!"  

 

(Kisah nyata/Rahartati Bambang Haryo)  

 

 

 

 

 82

12. SURAT BALASAN SALAH ALAMAT 

 

Tugas-tugas rutin pagi hari itu belum lagi selesai dikerjakan, saat  tiba-tiba nada 

panggil dari interkom memecah keheningan ruang kerja Sam Gelderman. Suara 

yang terdengar amat tidak merdu, cenderung kasar, apalagi keluar lewat speaker 

dari alat yang terhitung kuno. Suara Ralph Gelderman, bos besar dan satu-satunya 

di kantor itu.  

 

"Sam! Kamu di situ? Cepat naik!"  

 

"Ya, Paman."  

 

Sam beranjak dari meja kerjanya dengan langkah cekatan, layaknya bawahan pada 

umumnya. Setengah berlari ia menaiki tangga menuju ke ruang atas. Ruangan besar 

berukuran 10 x 8 m yang selalu tampak rapi itu merupakan tempat bekerja dan 

disebut kantor oleh Ralph. Wajah si bos dilihatnya sudah tidak sedap dipandang 

mata.  

 

"Sam, kenapa ini bisa sampai di mejaku?" kata Ralph sambil melemparkan secarik 

kertas ke hadapan Sam. "Kenapa saya harus diganggu dengan persoalan-persoalan 

seperti ini?"  

 

Secarik kertas putih bergaris itu yaitu  surat dari salah seorang penggemar Ralph. 

Sebagai pengarang cerita-cerita kriminal, Ralph mendapat bermacam-macam surat 

dari pembacanya, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun, Ralph cuma 

membaca surat-surat yang berisi pujian-pujian saja dan salah satu tugas Sam yaitu  

menyingkirkan surat yang isinya tidak mengenakkan. Kali ini Sam lalai memisahkan 

surat yang satu ini.  

 

Sedikit kasar, Ralph menaruh penanya di meja. "Kalau saya tidak bisa mempercayai 

kamu, saya harus memecat kamu. Masak sih mengurus surat-surat begini saja tidak 

becus. Apa kamu masih bisa dipercaya?"  

 

"Tentu saja, Paman. Sa... saya hanya membalas surat-surat dengan pernyataan-

pernyataan biasa. Saya juga tidak tahu mengapa ada yang bernada negatif," kata 

Sam tergagap. Ia benar-benar menyesali keteledorannya sehingga harus menikmati 

"sarapan pagi" dampratan bosnya. Benar-benar ceroboh, pikirnya.  

 

"Seseorang yang bernama K. Leghorn, sepertinya yakin ada konspirasi dari gerakan 

komunis tertentu, atau apalah namanya, yang aku tidak mengerti," kata Ralph sambil 

memandangi puluhan surat yang bertumpuk di hadapannya. "Sepertinya, ia mengira 

aku sama dengan karakter yang aku ciptakan. Sampai-sampai ia mengajak makan 

malam segala. Benar-benar aneh."  

 

Tak ada reaksi. Pada situasi seperti itu Sam hanya bisa berdiri mematung dan 

menunggu kalimat berikutnya dari Ralph. Sifat orang tua itu memang tidak suka 

dibantah atau dipotong kalimatnya saat berbicara.  

 

"Apakah aku sering menerima surat-surat seperti ini?" Mata Ralph tiba-tiba mendelik.  

 

"Ada satu atau dua, Paman. Tidak banyak."  

 

 83

"Aku tidak mau melihat surat-surat seperti ini lagi. Aku juga tidak mau bertemu 

dengan penulisnya. Kirim saja balasannya dengan sopan. Ingat! Harus dengan 

sopan, tenamun  juga harus berupa balasan pribadi."  

 

"Baik, akan saya kerjakan, Paman. Ini tidak akan terjadi lagi."  

 

"Bagus."  

 

Sam mengangguk meminta diri. Masih setengah tertunduk, ia melangkah kembali ke 

ruangannya, di kantor yang terasa begitu hening. Pada saat-saat seperti itu, kadang 

Sam merenungi nasibnya yang harus mengabdi kepada Ralph, yang tak lain yaitu  

pamannya sendiri.  

 

Hubungan kekeluargaan itu kerap jadi beban, di samping rutinitas kerja selama 

bertahun-tahun, serta tekanan-tekanan sebab  menjadi pekerja satu-satunya. Sejauh 

ini, hanya kesabaranlah yang membuatnya tetap bertahan.  

 

Tahu luar dalam 

Ralph Gelderman sebenarnya bukan penulis novel laris manis. Buku-bukunya tidak 

ada yang terlalu sukses di pasaran dan mencetak banyak uang. namun  ia termasuk 

penulis yang produktif. Karya-karyanya mengalir lancar dan dapat diandalkan 

penerbit. Penjualannya lumayan, dicetak ulang untuk jangka waktu lama, dijual di 

luar negeri, bahkan gagasannya sering diangkat ke layar lebar. Dari penjualan yang 

tidak terlalu banyak itu, investasinya terus meningkat secara perlahan namun  pasti.  

 

Dibandingkan dengan pengarang-pengarang lain, Ralph punya sifat sedikit berbeda, 

yaitu tidak menyukai ketenaran. Ia selalu bersembunyi dari publikasi. Jarang sekali, 

bahkan hampir tidak pernah, ada media memuat kisah tentang sosoknya, sebab  

Ralph selalu menolak. Bahkan, foto pengarang yang selalu ada di sampul belakang 

buku-bukunya, menggunakan wajah Sam yang memang sedikit mirip sebab  adanya 

hubungan keluarga.  

 

"Aku tidak ingin orang mengenal sosokku. Aku ingin orang menghargai karyaku 

saja," begitu pendirian yang selalu diucapkan Ralph kepada orang-orang dekatnya. 

Sebuah sikap yang membuat Sam terkadang merasa bingung.  

 

Perubahan terjadi lima tahun lalu, sewaktu akuntan Ralph berhasil membujuknya 

untuk membentuk semacam perusahaan kecil yang mengurusi karya-karyanya. 

Ralph tentu jadi pemilik perusahaan sekaligus bendahara. Saat membutuhkan orang 

kedua, ia mengajak Sam, anak yatim kakak kandung Ralph, untuk menduduki satu-

satunya jabatan di perusahaan itu, sekretaris. Awalnya, tentu begitu menyenangkan 

bagi Sam. Maklum, ia belum punya pekerjaan tetap.  

 

Belakangan baru Sam sadar, tugasnya sebagai "sekretaris" di sebuah perusahaan 

kecil milik pamannya itu benar-benar bikin bosan. Pekerjaan apa pun di kantor harus 

dikerjakannya sendirian. Mulai dari akunting, data-data penerbitan, korespondensi, 

perundingan rutin dengan penerbit, editor, agen, dan - yang paling menyebalkan - 

harus menampung omelan-omelan pamannya.  

 

Kalau mau diambil sisi baiknya, gaji Sam boleh dibilang lumayan. Ditambah sedikit 

harta peninggalan ayahnya, Sam bisa hidup layak dengan istri dan anak 

wanita lesbian nya. Namun yang menarik, jabatannya memungkinkan Sam mengetahui 

secara pasti perihal pendapatan, investasi, dan aset-aset pamannya. Jumlahnya 

ternyata lebih banyak daripada yang pernah ia kira. Yang lebih menyenangkan lagi, 

 84

Sam mengetahui bahwa pewaris semua itu yaitu  ia sendiri! Soalnya, Ralph masih 

melajang.  

 

Ada satu hal yang membuat Sam gundah. Seandainya saja ia dapat menikmati 

semua warisan itu saat ini, tentu jalan hidupnya akan lain. Masalahnya, meski 

berusia 60 tahun, Ralph Gelderman masih sehat. Bahkan, lebih sehat dari Sam yang 

18 tahun lebih muda. Kalaupun umur Sam panjang, ia tetap saja akan makin tua dan 

sakit-sakitan, sehingga tidak akan menikmati harta itu. Semakin panjang usia Ralph, 

memang hartanya bertambah, namun  jika di masa tuanya tiba-tiba ia menikah sebab  

tergoda seorang wanita muda, tentu warisannya bakal berkurang.  

 

Dalam situasi seperti itu Sam sering berkhayal seandainya junjungan  mengambil jiwa 

pamannya dalam waktu dekat. Atau bangunan roboh menimpa Ralph, atau bosnya 

itu tertabrak mobil, atau diserang virus yang sangat ganas. Seandainya, 

seandainya ... begitulah Sam kerap berandai-andai.  

 

Sayangnya, cuma sebatas itu kemampuan Sam. Ia bukan seorang raja tega yang 

bisa membunuh orang tanpa beban. Sebagai ahli waris tunggal, posisinya juga tidak 

akan menguntungkan kalau sampai terjadi sesuatu pada pamannya. Ia juga tidak 

ahli membuat alibi palsu atau membunuh dengan tampak seperti kecelakaan atau 

bunuh diri. Untuk menyewa pembunuh bayaran pun tidak, sebab  selain tidak ada 

uang, ia tidak tahu cara mendapatkan orang semacam itu. Salah-salah malah bisa 

jadi korban pemerasan, pikirnya.  

 

Tak ada yang bisa dilakukan. Ya, untuk sementara, Sam memang hanya bisa 

berharap dan berharap.  

 

Benih-benih paranoia 

Sam menghela napas, menghentakkan lamunan-lamunannya. Di ruangannya di 

lantai bawah apartemen di Upper East Side Amazon , surat dari K. Leghorn 

kembali dibacanya dengan cermat. Sesuai pesan Ralph, ia mulai memikirkan kata-

kata balasannya di depan komputer pribadinya.  

 

Surat-surat penggemar memang terkadang aneh. Seperti surat yang di tangannya 

saat itu, pastilah berasal dari seorang paranoid. Dan ini bukan kiriman yang pertama. 

Setidaknya dalam sebulan Leghorn bisa mengirim dua sampai tiga surat dan ini 

sudah berjalan kurang lebih setahun terakhir.  

 

Sam mencoba menganalisis, mungkin ketegangan sebagai penggemar cerita-cerita 

spionaselah yang membuat Leghorn mengirimkan surat-surat seperti itu. Kisah-kisah 

spionase bisa jadi dapat menimbulkan paranoia. Hiiiy!  

 

Sam sebenarnya berpendapat, reaksi yang tepat untuk surat-surat macam ini yaitu  

dengan tidak menjawabnya. Tak ada gunanya meladeni orang-orang dengan 

kepribadian paranoid seperti itu, sebab  jawaban apa pun tetap merupakan 

provokasi untuk tindakan selanjutnya. 

 

Namun, celakanya, orang-orang seperti itu tidak bakal bosan dan akan terus 

mengirim surat. sebab  dasarnya memang sudah paranoia, mereka mungkin 

mengira suratnya telah hilang, dicuri di kantor pos, ada pihak-pihak bawah tanah 

yang menyabot atau kecurigaan-kecurigaan aneh semacam itu. sebab  itu minimal 

balasan sebagai tanda terima harus dikirim.  

 

Sam menulis balasan untuk Leghorn dengan kata-kata sesopan mungkin:  

 

 85

Yang Terhormat Tuan Leghorn, Senang sekali saya dapat menerima surat dari Tuan. 

Namun sayang sekali, dengan sangat menyesal, saya tidak dapat bertemu dengan 

Tuan sebab  kesibukan pekerjaan. Dan itu semua di luar kendali saya.  

 

Sam merasa telah menyusun kata-kata itu sebaik-baiknya. Untuk meyakinkan ia 

membacanya lagi berulang kali. Ia berusaha menciptakan kesan terbaik, sebab  ia 

tidak ingin ada dampaknya di lalu  hari bila kalimat-kalimatnya itu disalahartikan. 

Bila Leghorn merasa mendapat angin, bahwa anggapannya tentang konspirasi 

komunis konyol ternyata "benar", bisa-bisa malah fatal. F-a-t-a-l! Ya, fatal! Dalam 

kekosongan pikiran, terlintas kata-kata itu di benak Sam.  

 

Tentu saja tidak ada yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Orang-orang 

semacam itu mungkin akan bertindak menurut kemauannya sendiri, bahkan dengan 

kegilaannya. Mungkin dapat mengakibatkan kecelakaan-kecelakaan kecil, bahkan 

mungkin menyebabkan kematian! Sesuatu yang jauh di lubuk hati Sam, sebenarnya 

ia harapkan terjadi terhadap pamannya. Mungkinkah ini yaitu  jalannya?  

 

Mendadak, jarijari tangan Sam yang sigap bergerak cepat, seolah tanpa kendali. Ia 

mengganti kata-kata surat balasan yang telah disusunnya. Degup jantungnya 

berdetak sedikit lebih cepat, seiring kedipan kursor di layar komputer.  

 

Dengan hormat, Soal pertemuan makan malam dan lain sebagainya, sebenarnya 

tidak perlu ditanyakan lagi. Tolong Anda tidak perlu membuang-buang waktu dengan 

meminta hal ini berulang kali, sebab  tampaknya sudah jelas bahwa kecurigaan 

Anda mengenai kegiatan konspirasi sama sekali tidak berdasar. Bagaimana Anda 

bisa berpikir seperti itu?  

 

Kalimat itu cukup singkat, kasar, pakai sedikit olok-olok pula. Seorang paranoia pasti 

bereaksi atau paling tidak akan kaget jika membacanya. Sam kembali membacanya, 

berulang kali, hingga benar-benar yakin kata-katanya sudah cukup menggugah 

amarah Leghorn.  

 

Dalam otak Sam, terbersit sebuah skenario. Seperti biasanya, Ralph akan 

menandatangani surat balasan itu tanpa membacanya. Lalu, Leghorn akan merasa 

sangat benci kepada Ralph, bahkan mengira pikiran paranoidnya soal konspirasi 

konyol itu benar-benar ada. Jika Leghorn penasaran dan menulis lagi, Sam akan 

membalasnya kembali dengan nada yang sama. Taktik yang sama mungkin dapat 

digunakan pada surat-surat lain yang datang. Mengapa tidak? Toh, tidak ada yang 

tahu.  

 

Hmmm, kini Sam bisa tersenyum puas.  

 

Tanda tangan asli 

Dua tahun sudah skenario jahat Sam itu berjalan dan semua tampak baik-baik saja. 

Bahkan kini sasarannya tidak hanya Leghorn. Dari puluhan penggemar Ralph, 

setidaknya ada enam orang masuk golongan paranoia dan diperlakukan seperti itu. 

Sam sekarang boleh dibilang memiliki hobi baru, yaitu memainkan kata-kata halus, 

namun  menusuk. Semakin keras dan ngawur surat para penggemar yang paranoia itu, 

semakin senang ia membalasnya.  

 

Toh Leghorn tetap menjadi kasus yang terbaik. Ada saat-saat tertentu saat  sampai 

sebulan penuh tidak ada respons apa pun dari orang itu. Sam berpikir, mungkin si 

gila itu sudah lelah bermain-main. Tenamun  biasanya tak lama lalu  datang lagi 

surat Leghorn dengan kata-kata yang, seperti biasanya, meracau tak keruan 

juntrungannya. Belakangan malah sudah mulai dihiasi nada-nada ancaman, "awas 

 86

kau!", "kubunuh kau!", "ingat suatu hari nanti!" Meski ada perasaan khawatir, Sam 

tetap tersenyum saat membacanya.  

 

Seperti yang diharapkan Sam, Ralph tidak pernah membaca surat-surat balasan 

yang disodorkan. Ia hanya menandatangani tanpa melirik satu huruf pun. Selain itu, 

salah satu kemudahan bagi rencana Sam, sebab  Ralph tidak menggunakan stempel 

tanda tangan. Ia ingin memberi senjunjungan  pribadi pada setiap surat dan berharap 

tindakannya akan dihargai penggemarnya. Di setiap pojok kiri atas terdapat tulisan 

kecil "RG/sg" sebagai inisial Ralph dan Sam. Dengan tanda tangan asli, siapa pun 

mengira surat itu didiktekan langsung oleh Ralph.  

 

Sesekali Sam juga bercerita soal surat-surat itu kepada teman-temannya, terutama 

saat acara ngobrol di pesta. Teman-temannya tentu terhibur dengan cerita-cerita 

tentang Ralph, sebagai sesosok manusia aneh, yang telah dibumbui di sana-sini itu. 

Ajang itu menjadi kesempatan terbaik Sam memutarbalikkan fakta untuk 

memperkuat alibinya.  

 

"Padahal aku sudah berusaha mengingatkan pamanku agar berhati-hati dengan 

orang-orang paranoid seperti itu. namun  tetap saja dia nekat mengirim jawaban yang 

provokatif," kata Sam meyakinkan teman-temannya.  

 

"Wah, berani betul!" sahut seorang teman. "Memang. Ia memang suka nekat."  

 

"Bagaimana kalau suatu kali orang gila itu yang nekat. Dia datang dan membuat 

kekacauan? Bahkan membunuh?"  

 

"Wah, aku tidak ikut-ikutan tuh," kata Sam sambil menggelengkan kepala. "Memang 

kadang-kadang agak khawatir juga. namun  kebanyakan mereka tinggal jauh dari sini. 

Lagi p