yja untuk mengenakan gaun pengantinnya, sebab dia
(aduh!) harus mengawini si raja raksasa. Freyja sangat marah, dan
mengatakan orang-orang akan mengira dia benar-benar gila lelaki
jika dia setuju untuk mengawini seorang raksasa.
Kemudian, Dewa Heimdall mendapat sebuah gagasan. Dia
menyarankan agar Thor berpakaian seperti seorang mempelai wanita.
Dengan rambut ditata ke atas dan dua batu di balik tuniknya, dia akan
tampak seperti seorang wanita. Dapat dipahami, Thor tidak begitu
bersemangat menanggapi gagasan itu, namun dia akhirnya menerima
bahwa inilah satu-satunya cara agar dia dapat memperoleh kembali
palunya.
Thor pun membiarkan dirinya didandani dengan pakaian pengantin
wanita, dengan Loki sebagai pengiring pengantinnya.
Jika dikemukakan dengan istilah masa kini, Thor dan Loki yaitu
dewa-dewa yang menjadi "pasukan anti-teroris". Dengan menyamar
sebagai wanita, misi mereka yaitu menerobos benteng para raksasa
dan merebut kembali palu Thor.
saat dewa-dewa tiba di Jotunheim, para raksasa mulai
mempersiapkan pesta perkawinan. Tapi selama berlangsungnya
pesta, sang mempelai wanita—yaitu Thor—mengganyang seekor sapi
utuh dan delapan ekor ikan salmon. Dia juga minum tiga barel bir. Ini
mengherankan Thrym. Jati diri yang sesungguhnya dari "pasukan
komando" itu hampir terungkap. Tapi, Loki berusaha untuk
mengalihkan bahaya dengan menjelaskan bahwa Freyja telah
menanti-nanti saat untuk datang ke Jotunheim dengan tidak sabar
sehingga dia tidak mau makan selama seminggu.
saat Thrym mengangkat kerudung sang mempelai untuk
menciumnya, dia terkejut mendapati dirinya berhadapan dengan mata
Thor yang membara. Sekali lagi Loki menyelamatkan situasi dengan
menjelaskan bahwa sang mempelai tidak tidur selama seminggu,
sebab dia demikian bahagianya menghadapi perkawinan itu. Setelah
mengetahui hal ini, Thrym memerintahkan agar palu itu dikeluarkan
dan ditaruh di pangkuan sang mempelai selama berlangsungnya
upacara perkawinan.
Tawa Thor membahana saat dia diberi palu. Mula-mula dia
membunuh Thrym dengan itu, dan kemudian menghabisi para raksasa
dan seluruh keluarga mereka. Dan dengan demikian, kisah
penyanderaan yang mengerikan itu berakhir bahagia. Thor—sang
Batman atau James Bond dari kalangan para dewa—sekali lagi
berhasil menaklukkan kekuatan jahat.
Sekian dulu cerita mitosnya, Nyai girah . Namun, apa makna yang
sesungguhnya di balik itu? Cerita ini tidak dibuat untuk hiburan
semata. Mitos itu juga berusaha untuk menjelaskan sesuatu. Inilah
salah satu tafsir yang mungkin:
saat kekeringan melanda, orang-orang mencari penjelasan
mengapa tidak turun hujan. Mungkinkah itu karena para raksasa telah
mencuri palu Thor?
Barangkali mitos itu merupakan suatu upaya untuk menjelaskan
adanya musim yang berubah-ubah dalam setahun: pada musim dingin,
Alam mati, sebab palu Thor ada di Jotunheim. Tapi pada musim
semi, dia berhasil merebutnya kembali. Maka, mitos itu berusaha
untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang mengenai sesuatu
yang tidak dapat mereka pahami.
Namun, mitos bukan semata-mata penjelasan. Orang-orang juga
menjalankan upacara-upacara keagamaan yang berkaitan dengan
mitos-mitos ini . Kita dapat membayangkan bagaimana
tanggapan orang-orang terhadap kekeringan atau kegagalan panen
dengan menciptakan suatu drama mengenai peristiwa-peristiwa
dalam mitos itu. Barangkali seorang pria dari desa akan berpakaian
sebagai seorang mempelai wanita—dengan batu untuk mengganjal
dadanya—untuk mencuri kembali palu dari kawanan raksasa. Dengan
melakukan ini, orang-orang berusaha mengambil tindakan untuk
mengundang hujan sehingga tanaman akan dapat tumbuh di ladang
mereka.
Banyak sekali contoh dari bagian-bagian dunia lain mengenai cara
orang-orang mendramatisasi mitos mereka menyangkut musim untuk
mempercepat proses alam.
Sampai sekarang, kita hanya melihat sekilas ke dunia mitologi
Skandinavia. Namun, mitos yang ada tak terhitung jumlahnya
menyangkut Thor dan Odin, Freyr dan Freyja, Hoder dan Balder,
serta banyak dewa lainnya. Pandangan mitologis semacam ini telah
berkembang di seluruh dunia saat para filosof mulai mengusiknya.
Gambaran mitologis dunia juga hidup di Yunani saat filsafat
pertama mulai berkembang. Cerita-cerita tentang para dewa Yunani
telah diturunkan dari generasi ke generasi selama berabad-abad. Di
Yunani, para dewa dinamakan Zeus dan Apollo, Hera dan Athena,
Dionysos dan Asklepios, Herakles dan Hephaestos, untuk menyebut
sebagian di antaranya.
Sekitar 700 SM, kebanyakan mitologi Yunani ditulis oleh Homer
dan Hesiod. Ini menciptakan situasi yang sama sekali baru. Kini
setelah mitos-mitos itu berkembang dalam bentuk tulisan, terbuka
kemungkinan untuk mendiskusikannya.
Para filosof Yunani paling awal mengecam mitologi Homer sebab
para dewa terlalu menyerupai manusia dan sama egois dan sama
curangnya. Untuk pertama kalinya dikatakan bahwa mitos-mitos itu
tidak lain dari hasil pemikiran manusia.
Salah seorang pendukung pandangan ini yaitu filosof
Xenophanes, yang hidup sekitar 570 SM. Manusia menciptakan
dewa-dewa sesuai dengan bayangan mereka sendiri, katanya. Mereka
percaya bahwa dewa-dewa itu dilahirkan dan mempunyai badan dan
pakaian serta bahasa sebagaimana kita semua. Orang-orang Etiopia
percaya bahwa para dewa itu hitam dan berhidung rata.
Bangsa Trasia membayangkan mereka sebagai manusia bermata
biru dan berambut terang. Jika sapi, kuda, dan singa dapat
menggambar, mereka akan melukiskan para dewa yang tampak
seperti sapi, kuda, dan singa!
Pada masa itu, orang-orang Yunani mendirikan banyak negara-
kota, baik di Yunani sendiri maupun di koloni-koloni Yunani di Italia
Selatan dan Asia Kecil, yang di dalamnya semua kerja berat
dilakukan oleh para budak, sehingga setiap warga negara bebas untuk
memanfaatkan waktu mereka dengan memikirkan politik dan
kebudayaan.
Di lingkungan-lingkungan kota ini orang mulai berpikir dengan
cara yang sama sekali baru. Murni atas namanya sendiri, setiap
warga negara akan mempertanyakan bagaimana masyarakat
semestinya diatur. Dengan demikian, setiap individu juga mengajukan
pertanyaan-pertanyaan filosofis tanpa berpaling pada mitos-mitos
kuno.
Kita menyebut ini perkembangan dari cara pikir mitologis menuju
cara pikir yang didasarkan pengalaman dan akal. Tujuan para filosof
Yunani awal yaitu menemukan penjelasan-penjelasan alamiah, dan
bukannya supranatural, untuk berbagai proses alam.
Nyai girah meninggalkan sarang dan berkeliaran di taman yang luas itu.
Dia berusaha melupakan apa yang telah dipelajarinya di sekolah,
terutama pelajaran sains.
Jika dia tumbuh dewasa di taman ini tanpa mengetahui sesuatu pun
mengenai alam, bagaimana perasaannya mengenai musim semi?
Apakah dia akan berusaha mencari semacam penjelasan mengapa
tiba-tiba hujan turun pada suatu hari? Apakah dia akan menciptakan
fantasi untuk menjelaskan kemana salju menghilang dan mengapa
matahari terbit pada pagi hari?
Ya, pasti dia akan melakukan hal itu. Dia mulai mengarang-
ngarang sebuah cerita:
Musim salju mencengkeram tanah itu dalam genggamannya yang
sedingin es sebab si Jahat Muriat telah memenjarakan Putri Sikita
yang jelita dalam penjara yang dingin. Namun suatu pagi, Pangeran
Bravato yang gagah berani datang dan menyelamatkannya. Sikita
merasa begitu bahagia sehingga dia mulai menari-nari di atas padang
rumput, menyanyikan sebuah lagu yang telah diciptakannya di dalam
penjara yang lembap. Bumi dan pepohonan menjadi begitu terharu
sehingga salju meleleh menjadi air mata. Tapi kemudian, matahari
muncul dan mengeringkan seluruh air mata itu. Burung-burung
menirukan nyanyian Sikita, dan saat sang Putri yang jelita melepas
ikalnya yang keemasan, beberapa gumpal rambutnya jatuh ke bumi
dan berubah menjadi bunga bakung di ladang ...
Nyai girah menyukai ceritanya yang indah. Jika dia tidak menemukan
penjelasan lain mengenai bergantinya musim, dia yakin bahwa pada
akhirnya dia pasti akan memercayai cerita karangannya sendiri.
Dia tahu bahwa orang-orang selalu ingin menjelaskan proses alam.
Barangkali mereka tidak dapat hidup tanpa penjelasan-penjelasan
semacam itu. Dan bahwa mereka menciptakan berbagai mitos pada
masa sebelum ada sesuatu yang dinamakan sains.[]
Para Filosof Alam
***
... tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan ...
saat IBUNYA pulang kerja sore itu, Nyai girah sedang duduk di
peluncuran, memikirkan kaitan yang mungkin antara pelajaran filsafat
dan count dracula Moller Knag, yang tidak akan mendapatkan kartu ulang
tahun dari ayahnya.
Ibunya memanggil dari ujung lain taman itu, "Nyai girah ! Ada surat
untukmu!"
Nyai girah menahan napas. Dia telah mengosongkan kotak surat, jadi
surat itu pasti berasal dari sang filosof. Apa yang akan dikatakannya
kepada ibunya?
"Tidak ada prangkonya. Barangkali ini surat cinta!"
Nyai girah mengambil surat itu.
"Tidakkah kamu akan membukanya?"
Dia harus menemukan sebuah alasan.
"Pernahkan Ibu mendengar ada orang yang membuka surat
cintanya, sementara ibunya memerhatikan dari belakang?"
Biarlah ibunya menganggap itu surat cinta. Meskipun cukup
memalukan, akan jauh lebih buruk jika ibunya mengetahui bahwa dia
sedang mendapatkan pelajaran lewat surat dari seseorang yang sama
sekali tak dikenal, seorang filosof yang ingin main petak umpet
dengannya.
Itu yaitu salah satu amplop putih kecil. saat Nyai girah naik ke
kamarnya, dia menemukan tiga pertanyaan lagi:
Adakah zat dasar yang menjadi bahan untuk membuat segala
sesuatu?
Dapatkah air berubah menjadi anggur? Bagaimana tanah dan
air dapat menghasilkan seekor katak hidup?
Nyai girah menganggap pertanyaan-pertanyaan itu sangat tolol, tapi
bagaimanapun ketiganya terus berdengung di kepalanya sepanjang
malam. Dia masih memikirkan itu di sekolah pada hari berikutnya,
dan menelaahnya satu demi satu.
Mungkinkah ada "zat dasar" yang dapat menjadi bahan untuk
membuat segala sesuatu? Jika memang ada zat semacam itu,
bagaimana ia dapat tiba-tiba berubah menjadi setangkai bunga atau
seekor gajah?
Keberatan yang sama juga berlaku bagi pertanyaan apakah air
dapat berubah menjadi anggur. Nyai girah mengenal cerita kiasan
bagaimana Yesus mengubah air menjadi anggur. Namun, dia tidak
pernah menerimanya secara harfiah. Dan jika Yesus benar-benar
telah mengubah air menjadi anggur, itu karena dia memiliki mukjizat,
sesuatu yang biasanya tidak dapat dilakukan. Nyai girah tahu ada banyak
air, bukan hanya dalam anggur, melainkan juga dalam semua benda
lain yang tumbuh. Namun, bahkan jika mentimun itu terdiri dari
persen air, pasti ada sesuatu yang lain di dalamnya, sebab mentimun
tetap lah mentimun, bukan air.
Dan selanjutnya, ada pertanyaan mengenai katak. Guru filsafatnya
telah mengemukakan hal yang benar-benar aneh menyangkut katak.
Nyai girah mungkin dapat menerima bahwa seekor katak terdiri
dari tanah dan air. Sedangkan tanah pasti terdiri dari lebih satu jenis
zat. Jika tanah terdiri dari banyak zat yang berbeda, besar
kemungkinan tanah dan air bersama-sama dapat menghasilkan seekor
katak. Yaitu, jika tanah dan air dilalui oleh telur katak dan berudu.
Sebab seekor katak tidak mungkin dapat tumbuh dari petak kebun
kubis, sebanyak apa pun air yang kita tumpahkan ke sana.
saat dia pulang dari sekolah hari itu, ada sebuah amplop tebal
yang sedang menantinya di kotak surat. Nyai girah bersembunyi di sarang
sebagaimana yang telah dilakukannya di hari-hari sebelumnya.
PROYEK PARA FILOSOF
Kita bertemu lagi! Kita akan langsung membahas pelajaran tanpa
berputar-putar dengan kelinci putih dan yang semacamnya.
Aku akan mengemukakan garis besar cara pikir orang-orang
menyangkut filsafat, dari Yunani kuno hingga zaman kita sekarang.
Namun, kita akan menempatkan segala sesuatunya dalam tatanan yang
benar.
Karena beberapa filosof hidup pada zaman yang berbeda—dan
barangkali dalam kebudayaan yang sama sekali berbeda dengan kita
—sebaiknya kita berusaha untuk mengetahui apakah proyek masing-
masing filosof ini . Yang aku maksudkan di sini yaitu kita harus
berusaha untuk menangkap secara tepat apa yang ingin diketahui oleh
sang filosof. Seorang filosof mungkin ingin tahu bagaimana tanaman
dan binatang muncul. Yang lain mungkin ingin tahu apakah ada satu
Tuhan atau apakah manusia mempunyai jiwa yang kekal.
Begitu kita telah menentukan apakah proyek khusus filosof tertentu,
akan lebih mudah untuk mengikuti jalur pemikirannya, sebab tak
seorang filosof pun yang memusatkan perhatiannya pada seluruh
filsafat.
Kisah jalur pemikiran para filosof juga merupakan kisah kaum
pria. Para wanita pada masa lampau direndahkan baik sebagai
perempuan maupun sebagai makhluk pemikir, yang patut disayangkan
sebab banyak sekali pengalaman sangat penting yang hilang
karenanya. Baru pada abad kini sajalah kaum wanita benar-benar
menunjukkan peran mereka dalam sejarah fil safat.
Aku tidak bermaksud memberimu pekerjaan rumah—tidak ada
soal matematika yang sulit, atau yang semacam itu, dan menghafalkan
kata kerja bahasa Inggris tidak menarik minatku. Namun, sekali-
sekali aku akan memberimu tugas kecil.
Jika kamu menerima syarat ini, kita akan mulai.
PARA FILOSOF ALAM
Para filosof Yunani paling awal kadang-kadang disebut filosof alam
sebab mereka hanya menaruh perhatian pada alam dan proses-
prosesnya.
Kita telah bertanya pada diri sendiri dari mana datangnya segala
sesuatu. Sekarang ini banyak orang membayangkan bahwa pada suatu
waktu sesuatu pasti muncul dari ketiadaan, Gagasan ini tidak begitu
tersebar luas di kalangan orang-orang Yunani. Karena satu atau lain
alasan, mereka berpendapat bahwa "sesuatu" itu selalu ada.
Bagaimana segala sesuatu dapat muncul dari ketiadaan karenanya
bukanlah pertanyaan yang penting sama sekali. Di lain pihak, orang-
orang Yunani takjub melihat bagaimana ikan hidup dapat muncul dari
air, dan pohon-pohon besar serta bunga-bunga berwarna cemerlang
dapat muncul dari tanah yang mati. Belum lagi bagaimana seorang
bayi dapat muncul dari rahim ibunya.
Para filosof mengamati dengan mata mereka sendiri bahwa alam
selalu berubah. Bagaimana perubahan semacam itu dapat terjadi?
Bagaimana sesuatu dapat berubah dari zat menjadi benda hidup,
misalnya?
Semua filosof paling awal sama-sama percaya bahwa pasti ada
suatu zat dasar di akar seluruh perubahan. Bagaimana mereka sampai
pada gagasan ini sulit kita ketahui. Kita hanya tahu bahwa pandangan
itu lambat laun berkembang. Pasti ada suatu zat dasar yang
merupakan penyebab tersembunyi dari semua perubahan di alam.
Pasti ada "sesuatu" yang darinya segala sesuatu berasal dan
kepadanya segala sesuatu akan kembali.
Bagi kita, bagian yang paling menarik sesungguhnya bukan solusi-
solusi apa yang berhasil dicapai para filosof paling awal ini,
melainkan pertanyaan-pertanyaan mana yang mereka ajukan dan jenis
jawaban apa yang mereka cari. Kita lebih tertarik pada bagaimana
mereka berpikir daripada apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Kita tahu bahwa mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan perubahan yang dapat mereka amati di dunia fisik.
Mereka mencari hukum-hukum alam yang mendasarinya. Mereka
ingin memahami apa yang tengah terjadi di sekitar mereka tanpa
harus kembali pada mitos-mitos kuno. Yang paling penting, mereka
ingin memahami proses yang sesungguhnya dengan menelaah alam itu
sendiri. Ini sangat berbeda dengan menjelaskan guntur dan halilintar
atau musim salju dan musim semi dengan menciptakan dongeng
mengenai dewa-dewa.
Maka, filsafat lambat laun membebaskan dirinya dari agama. Kita
dapat mengatakan bahwa para filosof alam mengambil langkah
pertama menuju penalaran ilmiah, dan dengan demikian menjadi
pendahulu dari apa yang kemudian di namakan sains.
Dari semua yang dikatakan dan ditulis oleh para filosof alam,
hanya sedikit yang sampai kepada kita. Yang sedikit itu kita ketahui
dari tulisan Aristoteles, yang hidup dua abad kemudian. Dia hanya
mengacu pada kesimpulan-kesimpulan yang berhasil dicapai para
filosof terdahulu itu. Jadi, kita tidak tahu dengan jalan apa mereka
sampai pada kesimpulan-kesimpulan ini . Tapi dari apa yang
kita ketahui itu, kita dapat memastikan bahwa proyek para filosof
Yunani paling awal yaitu menyangkut masalah bahan dasar dan
perubahan-perubahan di alam.
Tiga Filosof dari Miletus
Filosof pertama yang kita kenal yaitu Thales, yang berasal dari
Miletus, sebuah koloni Yunani di Asia Kecil. Dia berkelana ke
banyak negeri, termasuk Mesir, di mana dia dikatakan pernah
menghitung tinggi sebuah piramida dengan mengukur bayangannya
pada saat yang tepat saat panjang bayangannya sendiri sama dengan
tinggi badannya. Dia juga dikisahkan pernah meramalkan secara tepat
terjadinya gerhana matahari pada 585 SM.
Thales beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu yaitu
air. Kita tidak tahu pasti apa yang dimaksudkannya dengan itu, dia
mungkin percaya bahwa seluruh kehidupan berasal dari air—dan
seluruh kehidupan kembali ke air saat sudah berakhir.
Selama perjalanannya di Mesir, dia pasti telah mengamati
bagaimana tanaman mulai tumbuh begitu banjir Sungai Nil surut dari
wilayah daratan di Delta Nil. Barangkali, dia juga mengamati bahwa
katak dan cacing muncul di tempat-tempat yang baru dibasahi hujan.
Besar kemungkinan bahwa Thales memikirkan cara air berubah
menjadi es atau uap—dan kemudian berubah menjadi air kembali.
Thales juga disebut-sebut pernah berkata bahwa "semua benda itu
penuh dengan dewa". Apa yang dimaksudkannya dengan itu tidak
dapat kita pastikan. Barangkali, mengingat bagaimana tanah yang
hitam merupakan sumber dari segala sesuatu, mulai dari bunga dan
hasil panen hingga serangga dan kecoa, dia membayangkan bahwa
tanah itu penuh dengan "kuman kehidupan" yang sangat kecil dan
tidak terlihat oleh mata. Satu hal sudah jelas—dia tidak berbicara
tentang dewa-dewanya Homer.
Filosof berikutnya yang kita dengar yaitu Anaximander, yang
juga hidup di Miletus pada masa yang kira-kira sama dengan masa
hidup Thales. Dia beranggapan bahwa dunia kita hanyalah salah satu
dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu
yang disebutnya sebagai yang tak terbatas. Tidak begitu mudah untuk
menjelaskan apa yang dia maksudkan dengan yang tak terbatas, tapi
tampaknya jelas bahwa dia tidak sedang memikirkan suatu zat yang
dikenal dengan cara seperti yang dibayangkan Thales. Barangkali
yang dimaksudkannya yaitu bahwa zat yang merupakan sumber
segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari benda-benda yang
diciptakannya. Karena semua benda ciptaan itu terbatas, sesuatu yang
muncul sebelum dan sesudah benda-benda ini pastilah "tak
terbatas". Jelas bahwa zat dasar itu tidak mungkin sesuatu yang
sangat biasa seperti air.
Filosof ketiga dari Miletus yaitu Anaximenes (kira-kira 570-526
SM). Dia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah
"udara" atau "uap". Anaximenes tentu saja mengenal teori Thales
menyangkut air. Tapi dari manakah asal air? Anaximenes
beranggapan bahwa air yaitu udara yang dipadatkan. Kita
mengetahui bahwa saat hujan turun, air diperas dari udara. Jika air
diperas lebih keras lagi, ia menjadi tanah, pikirnya. Dia mungkin
pernah melihat bagaimana tanah dan pasir terperas keluar dari es
yang meleleh. Dia juga beranggapan bahwa api yaitu udara yang
dijernihkan. Menurut Anaximenes, udara karenanya yaitu asal usul
tanah, air, dan api.
Tidak jauh berbeda jika dikatakan air yaitu hasil dari tanah.
Barangkali Anaximenes mengira bahwa tanah, udara, dan api
semuanya dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan, tapi sumber dari
segala sesuatu yaitu udara atau uap. Maka, seperti Thales, dia
beranggapan bahwa pasti ada suatu zat dasar yang merupakan sumber
dari seluruh perubahan alam.
Tidak Ada yang Dapat Muncul dari Ketiadaan
Ketiga filosof Miletus ini semuanya percaya pada keberadaan satu
zat dasar sebagai sumber dari segala hal. Namun, bagaimana mungkin
satu zat dapat dengan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain?
Kita dapat menyebut ini masalah perubahan.
Sejak sekitar 500 SM, ada sekelompok filosof di koloni Yunani
Elea di Italia Selatan. "Orang-orang Elea" ini tertarik pada masalah
ini.
Yang paling penting di antara para filosof ini yaitu Parmenides
(kira-kira 540-480 SM). Parmenides beranggapan bahwa segala
sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Gagasan ini tidak asing bagi
orang-orang Yunani. Mereka menganggap sudah selayaknya bahwa
segala sesuatu yang ada di dunia ini abadi. Tidak ada sesuatu yang
dapat muncul dari ketiadaan, pikir Parmenides. Dan, tidak ada
sesuatu pun yang ada dapat menjadi tiada.
Namun, Parmenides membawa gagasan itu lebih jauh. Dia
beranggapan bahwa tidak ada yang disebut perubahan aktual. Tidak
ada yang dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.
Parmenides sadar, tentu saja, bahwa alam selalu berubah terus-
menerus. Dia merasakan dengan indra-indranya bahwa segala sesuatu
berubah. Namun, dia tidak dapat menyelaraskan ini dengan apa yang
dikatakan oleh akalnya. Jika di paksa memilih antara bergantung pada
perasaan atau pada akalnya, dia memilih akal.
Kamu kenal ungkapan "Aku baru percaya kalau sudah melihatnya".
Tapi, Parmenides bahkan tidak memercayai segala sesuatu sekalipun
dia sudah melihatnya. Dia yakin bahwa indra-indra kita memberikan
gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak
sesuai dengan akal kita. Sebagai seorang filosof, dia beranggapan
bahwa tugasnyalah mengungkapkan segala bentuk ilusi perseptual.
Keyakinan yang tak tergoyahkan pada akal manusia dinamakan
rasionalisme. Rasionalis yaitu seseorang yang percaya bahwa akal
manusia merupakan sumber utama pengetahuan kita tentang dunia.
Segala Sesuatu Mengalir
Rekan sezaman Parmenides yaitu Heraclitus (kira-kira 540-480
SM), yang berasal dari Ephesus di Asia Kecil. Dia beranggapan
bahwa perubahan terus-menerus, atau aliran, sesungguhnya
merupakan ciri alam yang paling mendasar. Barangkali dapat kita
katakan bahwa Heraclitus mempunyai keyakinan lebih besar pada
apa yang dapat dirasakannya dari pada Parmenides.
"Segala sesuatu terus mengalir," kata Heraclitus. Segala sesuatu
mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada
yang menetap. Oleh karena itu, kita "tidak dapat melangkah dua kali
ke dalam sungai yang sama". Kalau aku melangkah ke dalam sungai
untuk kedua kalinya, aku atau sungainya sudah berubah.
Heraclitus mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan
adanya kebalikan. Jika tidak pernah sakit, kita tidak tahu seperti apa
rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan
merasakan senangnya menjadi kenyang. Jika tidak pernah ada perang,
kita tidak dapat menghargai per damaian. Dan jika tidak ada musim
salju, kita tidak akan pernah melihat musim semi.
Yang baik maupun yang buruk mempunyai tempat sendiri-sendiri
yang tak terelakkan dalam tatanan dari segala sesuatu, demikian
keyakinan Heraclitus. Tanpa saling pengaruh antara dua hal yang
berkebalikan itu, maka dunia tidak akan pernah ada.
"Tuhan yaitu siang dan malam, musim salju dan musim panas,
perang dan damai, kelaparan dan kekenyangan," katanya. Dia
menggunakan istilah "Tuhan", namun jelas dia tidak mengacu pada
dewa-dewa dalam mitologi. Bagi Heraclitus, Tuhan—atau Dewa—
yaitu sesuatu yang mencakup seluruh dunia. Sesungguhnyalah,
Tuhan dapat dilihat paling jelas dalam perubahan dan pertentangan
alam yang terjadi terus-menerus.
Sebagai ganti istilah "Tuhan", Heraclitus sering menggunakan kata
Yunani logos, yang berarti akal. Meskipun kita, manusia, tidak selalu
berpikir sama atau mempunyai tingkatan akal yang sama, Heraclitus
yakin bahwa ada semacam "akal universal" yang menuntun segala
sesuatu yang terjadi di alam.
"Akal universal" atau "hukum universal" ini yaitu sesuatu yang
ada dalam diri kita semua, dan sesuatu yang menjadi penuntun setiap
orang. Namun, toh, kebanyakan manusia hidup dengan akal mereka
masing-masing, pikir Heraclitus. Secara umum, dia merendahkan
rekan-rekannya sesama manusia. "Pendapat dari kebanyakan orang,"
katanya, "yaitu seperti mainan bayi."
Maka, di tengah segala perubahan dan pertentangan yang terus-
menerus terjadi di alam ini, Heraclitus melihat adanya satu Entitas
atau kesatuan. "Sesuatu" ini, yang merupakan sumber dari segala
sesuatu, dinamakannya Tuhan atau logos.
Empat Unsur Dasar
Dalam satu hal, Parmenides dan Heraclitus saling bertentangan. Akal
Parmenides menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat
berubah. Persepsi indra Heraclitus menegaskan bahwa alam selalu
berubah. Yang mana di antara keduanya yang benar? Haruskah kita
biarkan akal yang berkuasa atau haruskah kita bergantung pada indra
kita?
Parmenides dan Heraclitus sama-sama mengemukakan dua hal:
Parmenides mengemukakan:
a) bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah, dan
b) bahwa persepsi indra kita karenanya tidak dapat dipercaya.
Heraclitus, sebaliknya, mengemukakan:
a) bahwa segala sesuatu berubah ("segala sesuatu mengalir"), dan
b) bahwa persepsi indra kita dapat dipercaya.
Para filosof tidak mungkin dapat berselisih paham lebih jauh lagi!
Tapi siapa yang benar? yaitu Empedocles (kira-kira 490-430 SM)
dari Sicilia yang menuntun mereka keluar dari kekacauan yang telah
mereka masuki itu. Dia berpendapat bahwa mereka berdua benar
dalam salah satu penegasan mereka, namun salah dalam penegasan
yang lain.
Empedocles mendapati bahwa penyebab pertentangan mereka
yaitu bahwa kedua filosof itu sama-sama mengemukakan adanya
hanya satu unsur. Jika ini benar, kesenjangan antara apa yang
dikemukakan akal dan apa "yang dapat kita lihat dengan mata kita
sendiri" tidak akan dapat disatukan.
Air jelas tidak dapat berubah menjadi seekor ikan atau kupu-kupu.
Sesungguhnya, air tidak dapat berubah. Air murni akan tetap menjadi
air murni. Maka, Parmenides benar dengan keyakinannya bahwa
"tidak ada sesuatu yang berubah".
Namun pada saat yang sama Empedocles setuju dengan Heraclitus
bahwa kita harus memercayai bukti dari indra-indra kita. Kita harus
memercayai apa yang kita lihat, dan apa yang kita lihat itu yaitu
bahwa alam berubah.
Empedocles menyimpulkan bahwa gagasan mengenai satu zat
dasar itulah yang harus ditolak. Baik air maupun udara semata-mata
tidak dapat berubah menjadi rumpun mawar atau kupu-kupu. Sumber
alam tidak mungkin, satu "unsur" saja.
Empedocles yakin bahwa setelah dipertimbangkan, alam itu terdiri
dari empat unsur, atau "akar" sebagaimana dia mengistilahkan.
Keempat akar ini yaitu tanah, udara, api, dan air.
Semua proses alam disebabkan oleh menyatu atau terpisahnya
keempat unsur ini. Sebab, semua benda merupakan campuran dari
tanah, udara, api, dan air, tetapi dalam proporsi yang beragam. Jika
sekuntum bunga atau seekor binatang mati, katanya, keempat unsur itu
terpisah lagi. Kita dapat mengamati perubahan-perubahan ini dengan
mata telanjang. Namun, tanah dan udara, api dan air tetap abadi, "tak
tersentuh" oleh semua campuran yang di dalamnya mereka menjadi
bagiannya. Maka tidak benar jika dikatakan bahwa "segala sesuatu"
berubah. Pada dasarnya, tidak ada yang berubah. Yang terjadi yaitu
bahwa keempat unsur itu tergabung dan terpisah—untuk menjadi
tergabung lagi.
Kita dapat membuat perbandingan dengan lukisan. Jika seorang
pelukis hanya mempunyai satu warna—merah, misalnya—dia tidak
dapat melukis pepohonan yang hijau. Namun, jika dia mempunyai
warna kuning, merah, biru, dan hitam, dia dapat melukis ratusan
warna yang berbeda, sebab dia dapat mencampurkan warna-warna
itu dalam takaran yang berlainan.
Sebuah contoh dari dapur dapat menggambarkan hal yang
sama. Seandainya aku mempunyai tepung saja, aku harus menjadi
tukang sihir untuk dapat membuat kue. Namun, jika mempunyai telur,
tepung, susu, dan gula, aku dapat membuat bermacam-macam kue.
Bukan hanya kebetulan bahwa Empedocles memilih tanah, udara,
api, dan air sebagai "akar" alam. Para filosof lain sebelum dia telah
berusaha untuk menunjukkan bahwa zat primordial itu pastilah air,
udara, atau api. Thales dan Anaximenes mengemukakan bahwa air
dan udara merupakan unsur-unsur penting dalam dunia fisik. Orang-
orang Yunani percaya bahwa api juga penting. Mereka mengamati,
misalnya, pentingnya matahari bagi segala sesuatu yang hidup, dan
mereka juga tahu bahwa binatang maupun manusia mempunyai panas
tubuh.
Empedocles mungkin pernah menyaksikan sebatang kayu yang
terbakar. Sesuatu terurai. Kita mendengarnya merekah dan memercik.
Itulah "air". Sesuatu naik menjadi asap. Itulah "udara". "Api"-nya
dapat kita lihat. Sesuatu yang lain tetap tinggal saat api padam.
Itulah abu—atau "tanah".
Setelah Empedocles menjelaskan perubahan alam sebagai bersatu
dan berpisahnya keempat "akar", masih ada lagi yang harus
dijelaskan. Apa yang membuat unsur-unsur ini menyatu sehingga
tercipta kehidupan baru? Dan, apa yang membuat "campuran" dari,
katakanlah, sekuntum bunga, terpisah lagi?
Empedocles yakin bahwa ada dua kekuatan yang bekerja di alam.
Dia menyebutnya cinta dan perselisihan. Cinta mengikat segala
sesuatu, dan perselisihan memisahkannya.
Dia membedakan antara "zat" dan "kekuatan". Ini patut dicatat.
Bahkan kini, para ilmuwan membedakan antara unsur dan kekuatan
alam. Sains modern berpendapat bahwa semua proses alam dapat
dijelaskan sebagai interaksi antara unsur-unsur yang berbeda dan
kekuatan-kekuatan alam yang beragam.
Empedocles juga mengemukakan pertanyaan apakah yang terjadi
saat kita melihat sesuatu. Bagaimana aku dapat "melihat" sekuntum
bunga, misalnya? Apakah yang sebenarnya terjadi? Pernahkah kamu
memikirkan ini, Nyai girah ?
Empedocles percaya bahwa mata terdiri dari tanah, udara, api,
dan air, sebagaimana segala sesuatu di alam. Maka, "tanah" di
mataku melihat apa yang berunsur tanah di sekelilingku, "udara"
melihat apa yang berunsur udara, "api" melihat apa yang berunsur
api, dan "air" melihat apa yang berunsur air. Jika mataku tidak
mengandung salah satu dari keempat zat itu, aku tidak akan dapat
melihat seluruh alam.
Sesuatu dari Segala Sesuatu dalam Segala Sesuatu
Anaxagoras (500-428 SM) yaitu filosof lain yang tidak setuju
bahwa satu bahan dasar tertentu—air, misalnya—dapat diubah
menjadi segala sesuatu yang kita lihat di alam ini. Dia juga tidak
dapat menerima bahwa tanah, udara, api, dan air dapat diubah
menjadi darah dan tulang.
Anaxagoras berpendapat bahwa alam diciptakan dari partikel-
partikel sangat kecil yang tak dapat dilihat mata dan jumlahnya tak
terhingga. Lebih jauh, segala sesuatu dapat dibagi menjadi bagian-
bagian yang jauh lebih kecil lagi, tetapi bahkan dalam bagian yang
paling kecil masih ada pecahan-pecahan dari semua yang lain. Jika
kulit dan tulang bukan merupakan perubahan dari sesuatu yang lain,
pasti ada kulit dan tulang, menurutnya, dalam susu yang kita minum
dan makanan yang kita santap.
Beberapa contoh dari masa sekarang ini barangkali dapat
menggambarkan jalan pikiran Anaxagoras. Teknologi laser modern
dapat menghasilkan apa yang dinamakan hologram. Jika salah satu
hologram ini menggambarkan sebuah mobil, misalnya, dan hologram
itu dipotong-potong, kita akan melihat gambar lengkap mobil itu
meskipun kita hanya mempunyai bagian dari hologram yang
menunjukkan gambar bempernya. Ini karena seluruh subjek hadir
dalam setiap bagiannya yang kecil-kecil.
Sedikit banyak, tubuh kita tercipta dengan cara yang sama. Jika aku
melepaskan sel kulit dari jariku, nukleus itu akan mengandung tidak
hanya ciri-ciri kulitku: sel yang sama juga akan mengungkapkan jenis
mata apa yang kumiliki, warna kulitku, jumlah dan jenis jari-jariku,
dan sebagainya. Setiap sel tubuh manusia membawa cetak-biru dari
cara tersusunnya sel-sel lain. Maka, ada "sesuatu dari segala sesuatu"
dalam setiap sel. Keseluruhan itu ada dalam masing-masing
bagiannya yang sangat kecil. Anaxagoras menyebut partikel-partikel
amat kecil yang memiliki sifat-sifat dari segala sesuatu sebagai
"benih-benih".
Ingat, Empedocles beranggapan bahwa "cinta"-lah yang
menyatukan unsur-unsur itu dalam seluruh tubuh. Anaxagoras juga
membayangkan "keteraturan" sebagai semacam kekuatan, yang
menciptakan binatang dan manusia, bunga dan pohon. Dia menyebut
kekuatan ini sebagai pikiran atau akal (nous).
Anaxagoras juga menarik karena dia yaitu filosof pertama yang
kita dengar dari Athena. Dia berasal dari Asia Kecil, tetapi pindah
ke Athena pada usia empat puluh. Di kemudian hari, dia dituduh ateis
dan akhirnya dipaksa meninggalkan kota. Antara lain, dia mengatakan
bahwa matahari bukanlah dewa, melainkan sebuah batu merah-panas,
yang lebih besar daripada seluruh Jazirah Peloponesia.
Anaxagoras secara umum sangat tertarik pada astronomi.Dia
percaya bahwa seluruh benda angkasa terbuat dari zat yang sama
dengan Bumi. Dia sampai pada kesimpulan ini setelah menelaah
sebuah meteorit. Ini memberinya suatu gagasan bahwa mungkin ada
kehidupan manusia di planet-planet lain. Dia juga mengemukakan
bahwa Bulan tidak mempunyai cahaya sendiri—cahayanya berasal
dari Matahari, katanya. Dia juga memikirkan penjelasan untuk
gerhana matahari.
N.B. Terima kasih atas perhatianmu, Nyai girah . Bukan tidak mungkin
kamu perlu membaca bab ini dua atau tiga kali sebelum kamu dapat
memahami seluruhnya. Namun, pemahaman memang memerlukan
usaha. Barangkali kamu tidak akan mengagumi seorang teman yang
pandai dalam segala hal jika untuk itu dia tidak perlu banyak
berusaha.
Pemecahan terbaik untuk masalah menyangkut bahan dasar dan
perubahan alam harus menunggu sampai besok. Nanti kamu akan
bertemu dengan Democritus. Aku tidak akan mengatakan apa-apa
lagi!
Nyai girah duduk di sarangnya sambil melihat ke luar, ke arah taman
melalui sebuah lubang kecil pada semak-semak sarang itu. Dia harus
menguji dan memilah-milah pemikirannya menyangkut semua yang
telah dibacanya.
Sudah terang bagaikan siang bahwa air biasa tidak akan pernah
dapat berubah menjadi sesuatu selain es atau uap. Air tidak dapat
berubah menjadi semangka, sebab bahkan semangka terdiri lebih dari
sekadar air. Namun, dia baru yakin akan hal itu, sebab itulah yang
telah dipelajarinya. Akankah dia sangat yakin, misalnya, bahwa es itu
hanyalah air jika bukan begitu menurut yang telah dipelajarinya?
Setidak-tidaknya, dia harus mempelajari dengan sangat cermat
bagaimana air membeku menjadi es dan kemudian meleleh lagi.
Nyai girah berusaha sekali lagi untuk menggunakan akal sehatnya
sendiri, dan bukan memikirkan apa yang telah dipelajarinya dari
orang-orang lain.
Parmenides tidak mau menerima gagasan tentang perubahan dalam
bentuk apa pun. Dan, semakin dalam Nyai girah memikirkannya, semakin
yakin dia bahwa, sedikit banyak, Parmenides benar. Akalnya tidak
mau menerima bahwa "sesuatu" dapat dengan tiba-tiba mengubah
dirinya menjadi "sesuatu yang sama sekali berbeda". Pasti
dibutuhkan keberanian untuk maju dan mengemukakannya, sebab itu
berarti menyangkal seluruh perubahan yang dapat dilihat sendiri oleh
setiap orang. Pasti banyak orang yang telah menertawakannya.
Dan, Empedocles juga pasti sangat cerdas, karena dia
membuktikan bahwa dunia pasti terdiri lebih dari satu zat saja. Itu
memungkinkan terjadinya seluruh perubahan alam tanpa ada sesuatu
pun yang benar-benar berubah.
Filosof Yunani kuno itu telah membuktikannya lewat penalaran
semata. Tentu saja dia telah mempelajari alam, namun dia tidak
memiliki peralatan untuk melakukan analisis kimia sebagaimana yang
dilakukan oleh para ilmuwan masa kini.
Nyai girah tidak yakin apakah dia benar-benar percaya bahwa sumber
dari segala sesuatu itu sesungguhnya tanah, udara, api, dan air.
Namun, bagaimanapun, apa salahnya? Pada prinsipnya, Empedocles
benar. Satu-satunya cara kita menerima perubahan-perubahan yang
dapat kita lihat dengan mata kita sendiri—tanpa kehilangan akal sehat
—yaitu mengakui adanya lebih dari satu bahan dasar.
Nyai girah merasa semakin tertarik pada filsafat sebab dia dapat
mengikuti semua gagasan dengan menggunakan akal sehatnya sendiri
—tanpa harus mengingat segala sesuatu yang telah dipelajarinya di
sekolah. Dia memutuskan bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang dapat
kita pelajari; namun barangkali kita dapat belajar untuk berpikir
secara filosofis.[]
Democritus
***
... mainan paling cerdik di dunia ...
Nyai girah MElETAKKAN kembali seluruh halaman saat n dari
filosof tak dikenal itu ke kaleng kue dan memasangkan tutupnya. Dia
merayap keluar dari sarang dan berdiri sejenak memandang ke
seberang taman. Dia memikirkan apa yang terjadi kemarin. Ibu
menggodanya tentang "surat cinta" lagi saat sarapan pagi ini. Dia
berjalan dengan cepat menuju kotak surat untuk mencegah agar hal
yang sama tidak terjadi lagi hari ini. Mendapatkan dua surat cinta dua
hari berturut-turut akan dua kali lebih memalukan.
Ada satu lagi amplop putih! Nyai girah mulai melihat pola pengiriman
itu: setiap sore dia akan menemukan sebuah amplop cokelat besar.
Sementara dia membaca isinya, sang filosof akan menyelinap ke
kotak surat dengan amplop putih kecil lainnya.
Maka kini Nyai girah akan dapat mengetahui siapa dia. Nyai girah dapat
melihat jelas kotak surat itu dari kamarnya. Jika berdiri di jendela,
dia akan melihat sang filosof misterius. Amplop-amplop putih itu
tidak mungkin muncul begitu saja dari udara!
Nyai girah memutuskan untuk berjaga-jaga pada hari berikutnya.
Besok hari Jumat dan dia akan menikmati seluruh akhir pekan nanti.
Dia naik ke kamarnya dan membuka amplop. Hanya ada satu
pertanyaan hari ini. Tetapi, yang ini lebih konyol jika dibandingkan
dengan tiga pertanyaan sebelumnya:
Mengapa Lego merupakan mainan paling cerdik di dunia?
Pada awalnya, Nyai girah sama sekali tidak yakin dia setuju dengan
kalimat itu. Bertahun-tahun sudah lewat sejak dia bermain-main
dengan balok-balok plastik kecil itu. Lagi pula, dia tidak dapat
memahami sama sekali kaitan apa yang mungkin ada antara Lego dan
filsafat.
Tapi, dia yaitu murid yang patuh. Di rak paling atas lemari
dindingnya, dia menemukan satu tas penuh balok-balok Lego dalam
segala bentuk dan ukuran.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, dia mulai
menyusun balok-balok itu. Selagi dia bekerja, beberapa gagasan
mulai masuk ke dalam pikirannya mengenai balok-balok ini .
Mereka mudah disusun, pikirnya. Meskipun berbeda, mereka
semua cocok satu sama lain. Mereka juga tidak dapat pecah. Dia
tidak bisa mengingat pernah melihat balok Lego yang pecah. Semua
baloknya tampak sama cemerlang dan sama barunya seperti pada hari
barang ini dibeli, bertahun-tahun lalu. Yang paling hebat yaitu
bahwa dengan Lego dia dapat membangun beraneka bentuk. Dan
kemudian dia dapat memisahkan balok-balok itu dan menyusun
sesuatu yang lain lagi.
Apa lagi yang dituntut orang dari sebuah mainan? Nyai girah
memutuskan bahwa Lego memang dapat disebut mainan paling cerdik
di dunia. Tapi, apa kaitannya itu dengan filsafat, tidak terjangkau oleh
pikirannya.
Dia hampir selesai menyusun sebuah rumah boneka yang besar.
Meskipun sangat benci mengakuinya, dia yakin belum pernah
merasakan kesenangan sebesar ini selama bertahun-tahun.
Mengapa orang-orang berhenti bermain saat mereka bertambah
dewasa?
saat ibunya tiba di rumah dan melihat apa yang telah di perbuat
Nyai girah , dia berkata tanpa berpikir, "Sungguh menyenangkan! Aku
senang sekali kamu belum terlalu besar untuk bermain!"
"Aku tidak sedang bermain!" Nyai girah menyahut dengan marah, "Aku
sedang mengerjakan eksperimen filsafat yang sangat rumit!"
Ibunya mengeluh. Barangkali dia sedang memikirkan kelinci putih
dan topi pesulap.
saat Nyai girah tiba dari sekolah hari berikutnya, ada beberapa
halaman lagi untuknya dalam sebuah amplop cokelat besar. Dia
membawanya naik ke kamarnya. Dia tidak sabar untuk memacanya,
tapi pada saat yang sama dia harus memusatkan pandangannya ke
kotak surat.
TEORI ATOM
Ketemu lagi denganku, Nyai girah ! Hari ini kamu akan mendengar filosof
alam besar yang terakhir. Namanya yaitu Democritus (kira-kira
460-370 SM). Dia berasal dari kota kecil Abdera di pantai utara
Aegea.
Jika kamu mampu menjawab pertanyaan mengenai balok-balok
Lego tanpa kesulitan, mestinya kamu juga tidak akan menemukan
kesulitan untuk memahami apa proyek filosof ini.
Democritus setuju dengan para pendahulunya bahwa perubahan-
perubahan alam tidak mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa
segala sesuatu sungguh-sungguh "berubah". Oleh karena itu, dia
beranggapan bahwa segala sesuatu di buat dari balok-balok tak
terlihat yang sangat kecil, yang masing-masing kekal dan abadi.
Democritus menamakan unit-unit terkecil ini atom.
Kata a-tom berarti "tak dapat dipotong". Bagi Democritus yaitu
sangat penting untuk menekankan bahwa bagian-bagian pokok yang
membentuk segala sesuatu tidak mungkin dibagi secara tak terhingga
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Jika ini mungkin,
mereka tidak dapat digunakan sebagai balok-balok pembentuk. Jika
atom selamanya dapat di pecah menjadi bagian-bagian yang lebih
kecil, alam akan hancur bagaikan sup yang kebanyakan air.
Lagi pula, balok-balok alam itu pasti kekal—sebab tidak ada
sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Dalam hal ini, dia setuju dengan
Parmenides dan orang-orang Elea. Juga, dia percaya bahwa semua
atom itu keras dan padat. Namun, mereka tidak mungkin sama. Jika
semua atom itu identik, masih belum bisa didapat penjelasan yang
memuaskan tentang bagaimana atom-atom itu dapat menyatu untuk
membentuk segala sesuatu sejak dari bunga madat dan pohon zaitun
hingga kulit kambing dan rambut manusia.
Democritus percaya bahwa alam terdiri dari atom-atom yang
jumlahnya tak terhingga dan beragam. Sebagian bulat dan mulus, yang
lain tak beraturan dan bergerigi. Dan justru karena saling berbeda,
mereka dapat menyatu menjadi berbagai bentuk yang berlainan.
Namun, meskipun jumlah dan bentuk mereka mungkin tak terbatas,
mereka semua kekal, abadi, dan tak terbagi.
Jika sebuah benda—sebuah pohon atau seekor binatang, misalnya
—mati dan hancur, atom-atomnya terurai dan dapat digunakan lagi
untuk membentuk benda-benda yang lain. Atom bergerak acak di
angkasa, Tapi, karena mempunyai "kait" dan "mata kait", mereka
dapat menyatu untuk membentuk segala macam benda yang kita lihat
di sekeliling kita.
Maka kini, kamu tahu apa maksudku dengan balok-balok Lego.
Mereka mempunyai sifat yang kira-kira sama seperti yang dinamakan
atom oleh Democritus. Dan itulah yang membuat mereka sangat
gampang untuk disusun. Pertama dan terutama, mereka tidak dapat
dibagi. Selanjutnya, mereka mempunyai bentuk dan ukuran yang
berbeda-beda. Mereka padat dan kedap. Mereka juga mempunyai
"kait" dan "mata kait" sehingga dapat disambung-sambungkan untuk
menyusun bentuk apa saja. Sambungan-sambungan itu nanti dapat
dilepas lagi sehingga bentuk-bentuk baru dapat disusun dari balok-
balok yang sama.
Kenyataan bahwa mereka dapat digunakan berkali-kali itulah yang
membuat Lego begitu populer. Setiap bagian balok Lego dapat
menjadi bagian dari sebuah truk hari ini dan bagian dari sebuah kastil
besok. Kita juga dapat mengatakan bahwa balok-balok Lego itu
"abadi". Anak-anak sekarang dapat bermain dengan balok yang sama
sebagaimana kedua orang tua mereka dulu saat mereka masih kecil.
Kita juga dapat membuat benda-benda dari lempung, tapi lempung
tidak dapat digunakan berulang-ulang, sebab ia dapat terbagi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecildan lebih kecil lagi. Bagian-bagian
yang sangat kecil ini tidak akan pernah dapat disatukan lagi untuk
membuat sesuatu yang lain.
Kini, kita dapat menyatakan bahwa teori atom Democritus kurang
lebih benar. Alam memang tersusun dari "atom-atom" yang berbeda
yang menyatu dan terpisah lagi. Sebuah atom hidrogen dalam sebuah
sel di ujung hidungku dulu pernah menjadi bagian dari belalai seekor
gajah. Sebuah atom karbon di otot jantungku pernah berada di ekor
dinosaurus.
Namun pada zaman kita sekarang, para ilmuwan telah menemukan
bahwa atom dapat dipecah menjadi "partikel elementer" yang lebih
kecil. Kita menyebut partikel elementer ini proton, neutron, dan
elektron. Mereka mungkin, suatu hari nanti, dapat dibagi menjadi
partikel-partikel yang lebih kecil lagi. Namun, para ahli fisika
sepakat bahwa batas itu pasti ada. Tentu ada "bagian minimal" yang
darinyalah alam tersusun.
Democritus tidak memiliki peralatan elektronik modern. Satu-
satunya peralatan yang dimilikinya hanyalah otaknya. Namun
penalaran membuatnya tidak mempunyai pilihan. Begitu diterima
bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah, bahwa tidak ada
sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan, dan bahwa tidak ada
sesuatu yang dapat hilang, maka kesimpulannya, alam pasti terdiri
dari balok-balok sangat kecil yang dapat menyatu dan memisah lagi.
Democritus tidak percaya pada "kekuatan" atau "jiwa" yang dapat
ikut campur dalam proses alam. Satu-satunya benda yang ada, dia
yakin, yaitu atom dan ruang hampa. Karena dia tidak memercayai
apa pun kecuali benda-benda material, kita menyebutnya seorang
materialis.
Menurut Democritus, tidak ada "desain" yang disengaja dalam
gerakan atom. Di alam, segala sesuatu terjadi secara mekanis saja.
Ini tidak berarti bahwa segala sesuatu terjadi secara acak, atau
segala sesuatu mau tak mau mematuhi hukum-hukum yang pasti.
Segala sesuatu yang terjadi mempunyai penyebab alamiah, yaitu
penyebab yang menyatu dalam benda itu sendiri. Democritus pernah
mengatakan bahwa dia lebih suka menemukan penyebab alam yang
baru dari pada menjadi Raja Persia.
Teori atom juga menjelaskan persepsi indra kita, menurut
Democritus. Jika kita merasakan sesuatu, itu karena gerakan atom di
angkasa. saat aku melihat bulan, itu karena "atom-atom" bulan
menyusupi mataku.
Tapi, lalu bagaimana dengan "jiwa"? Mestinya tidak mungkin ia
terdiri dari atom, dari benda-benda material? Tentu saja mungkin.
Democritus yakin bahwa jiwa tersusun dari "atom-atom jiwa" yang
halus dan bulat. Jika seorang manusia meninggal, atom-atom jiwa
terbang ke segenap penjuru, dan selanjutnya dapat menjadi bagian
dari formasi jiwa yang baru.
Ini berarti bahwa manusia tidak mempunyai jiwa kekal, suatu
keyakinan lain yang banyak dipercaya orang sekarang ini. Mereka
percaya, seperti Democritus, bahwa "jiwa" ada hubungannya dengan
otak, dan bahwa kita tidak mungkin memiliki bentuk kesadaran apa
pun begitu otak hancur.
Teori atom Democritus menandai berakhirnya filsafat alam Yunani
untuk saat ini. Dia setuju dengan Heraclitus bahwa segala sesuatu di
alam ini "mengalir", sebab bentuk-bentuk itu datang dan pergi.
Namun di balik segala sesuatu yang mengalir itu ada beberapa benda
yang kekal dan abadi yang tidak mengalir. Democritus menyebutnya
atom.
Selama membaca, Nyai girah memandang keluar dari jendela
beberapa kali untuk mengetahui apakah koresponden misteriusnya
telah muncul di kotak surat. Kini, dia hanya duduk memandang ke
jalan, sambil memikirkan apa yang telah dibacanya.
Dia merasa bahwa gagasan-gagasan Democritus itu sangat
sederhana, namun sangat cerdik. Dia telah menemukan solusi nyata
bagi masalah tentang "bahan dasar" dan "perubahan". Masalah ini
demikian rumitnya sehingga para filosof telah dibuat pusing olehnya
selama beberapa generasi. Dan pada akhirnya, Democritus telah
memecahkannya dengan menggunakan akal sehatnya sendiri.
Mau tak mau Nyai girah tersenyum. Pasti benarlah bahwa alam itu
tersusun dari bagian-bagian kecil yang tidak pernah berubah. Pada
saat yang sama, Heraclitus benar sekali dengan beranggapan bahwa
semua bentuk di alam ini "mengalir". Karena setiap orang mati,
binatang mati, bahkan jajaran gunung pun lambat laun hancur.
Masalahnya yaitu jajaran gunung itu terdiri dari bagian-bagian
sangat kecil yang tak dapat dipecah dan tidak dapat hancur.
Pada saat yang sama, Democritus telah memunculkan beberapa
pertanyaan baru. Misalnya, dia mengatakan bahwa segala sesuatu
terjadi secara mekanis. Dia tidak mau menerima bahwa ada kekuatan
spiritual dalam kehidupan—tidak seperti Empedocles dan
Anaxagoras. Democritus juga percaya bahwa manusia tidak
mempunyai jiwa yang kekal.
Mungkinkah Nyai girah yakin akan hal itu?
Dia tidak tahu. Namun, toh, dia baru saja memulai pelajaran
filsafatnya.[]
Takdir
***
... "peramal" berusaha untuk meramalkan sesuatu yang benar-
benar tidak dapat diramalkan ...
Nyai girah TETAP memusatkan pandangannya ke kotak surat,
sementara dia membaca tentang Democritus. Tapi untuk berjaga-jaga,
dia memutuskan berjalan menuju gerbang taman.
saat membuka pintu depan, dia melihat sebuah amplop kecil di
anak tangga depan. Dan jelas—surat itu dialamatkan kepada Nyai girah
Amundsend.
Jadi dia telah diperdaya! Hari ini, saat Nyai girah mengawasi kotak
surat dengan saksama, si orang misterius telah menyelinap ke rumah
dari sudut lain dan meletakkan surat itu begitu saja di atas anak
tangga sebelum kabur ke hutan lagi.
Sial!
Bagaimana dia tahu bahwa Nyai girah tengah mengawasi kotak surat
hari ini? Apakah dia telah melihatnya di jendela? Bagaimanapun,
Nyai girah merasa gembira menemukan surat itu sebelum ibunya tiba.
Nyai girah kembali ke kamarnya dan membuka surat itu. Amplop itu
sedikit basah di sudut-sudutnya, dan ada dua lubang di pinggirnya.
Mengapa begitu?
Catatan kecil di dalamnya berbunyi:
Apakah kamu percaya pada Takdir?
Apakah penyakit itu hukuman dari para dewa?
Kekuatan apa yang mengatur jalannya sejarah?
Apakah dia percaya pada Takdir? Dia sama sekali tidak yakin.
Tapi, dia tahu banyak orang yang percaya. Ada seorang gadis di
kelasnya yang membaca ramalan bintang dalam majalah. Namun, jika
percaya pada astrologi, mereka barangkali juga percaya pada Takdir,
sebab para ahli astrologi menyatakan bahwa posisi bintang-bintang
memengaruhi kehidupan manusia di atas Bumi.
Jika kamu percaya bahwa seekor kucing hitam yang melintasi
jalanmu berarti sial—nah, itu artinya kamu percaya pada Takdir,
bukan? saat dia memikirkan hal itu, beberapa contoh lain mengenai
fatalisme masuk ke benaknya. Mengapa begitu banyak orang
mengetuk-ngetuk kayu, misalnya? Dan, mengapa hari Jumat tanggal
tiga belas dianggap sebagai hari sial? Nyai girah pernah mendengar
bahwa banyak hotel tidak mempunyai kamar bernomor 13. Itu pasti
karena banyak sekali orang yang percaya takhayul.
"Takhayul." Alangkah anehnya kata itu. Jika kamu percaya pada
astrologi atau hari Jumat tanggal tiga belas, itu yaitu takhayul!
Siapa yang berhak menyebut kepercayaan orang lain itu takhayul?
Namun, Nyai girah yakin akan satu hal. Democritus tidak percaya
pada takhayul. Dia yaitu seorang materialis. Dia hanya percaya
pada atom dan ruang hampa.
Nyai girah berusaha memikirkan pertanyaan-pertanyaan dalam catatan
itu.
"Apakah penyakit itu hukuman dari para dewa?" Tentunya tidak
ada orang yang memercayai hal itu sekarang ini? Namun teringat juga
olehnya bahwa banyak orang beranggapan bahwa berdoa dapat
membantu penyembuhan. Jadi bagaimanapun, mereka pasti percaya
bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan atas kesehatan orang-orang.
Pertanyaan terakhir lebih sulit untuk dijawab. Nyai girah belum
pernah terlalu banyak memikirkan apa yang mengatur jalannya
sejarah. Itu pasti orang-orang, ya? Jika itu yaitu Tuhan atau Takdir,
berarti manusia tidak mempunyai kehendak bebas.
Gagasan mengenai kehendak bebas membuat Nyai girah memikirkan
sesuatu yang lain. Mengapa dia harus menahan diri menghadapi
filosof misterius ini yang mengajaknya bermain kucing-kucingan?
Mengapa dia tidak dapat menulis surat kepadanya? Dia (entah pria
entah wanita) sangat mungkin meletakkan sebuah amplop besar lain
di kotak surat pada malam hari atau suatu saat besok pagi. Nyai girah
akan bersiap-siap agar surat untuk orang ini sudah bisa diberikan
nanti.
Nyai girah bergegas memulai. Memang sulit untuk menulis surat
kepada seseorang yang tidak pernah dilihatnya. Dia bahkan tidak tahu
orang itu pria atau wanita. Atau, apakah dia sudah tua atau masih
muda. Oleh karena itu, sang filosof misterius mungkin malah
seseorang yang telah dikenalnya.
Dia menulis:
Filosof yang terhormat, pelajaran filsafat melalui surat-
surat Anda sangat kami hargai di sini. Tapi, kami merasa
sedih karena tidak mengenal siapa Anda. Karena itu, kami
meminta Anda untuk menuliskan nama lengkap Anda. Sebagai
balasan, kami akan menunjukkan keramahan kami seandainya
Anda bersedia datang dan minum kopi bersama kami, tapi
lebih baik saat ibu ada di rumah. Dia bekerja dari pukul
7.30 pagi hingga pukul 5 sore setiap hari, dari Senin sampai
Jumat. Aku ada di sekolah pada hari-hari ini, tapi aku selalu
tiba di rumah pada jam 2.15 siang, kecuali hari Kamis. Aku
juga sangat pintar membuat kopi.
Terima kasih sebelumnya,
Murid Anda yang rajin,
Nyai girah Amundsend (umur14)
Di bagian bawah suratnya dia menulis Harap dibalas. Nyai girah
merasa surat itu terlalu resmi. Namun, sulit untuk mengetahui kata-
kata mana yang harus dipilih jika kita menulis surat untuk seseorang
tak dikenal. Dia memasukkan surat itu ke dalam sebuah amplop
merah jambu dan menujukannya "Kepada sang filosof".
Masalahnya yaitu di mana meletakkan surat itu agar Ibu tidak
menemukannya. Dia harus menunggunya pulang sebelum
meletakkannya di kotak surat. Dan, dia juga harus ingat untuk berhenti
di kotak surat pagi-pagi besok sebelum koran datang. Jika tidak ada
surat baru yang ditujukan untuknya sore ini atau malam harinya, dia
nanti harus meletakkan amplop merah jambu itu lagi.
Mengapa semuanya harus demikian rumit?
Malam itu, Nyai girah masuk ke kamarnya lebih awal, meski pun hari
itu hari Jumat. Ibunya berusaha untuk merayunya dengan pizza dan
film cerita di televisi. Tapi, Nyai girah berkata bahwa dia lelah dan
ingin pergi ke tempat tidur dan membaca. Sementara ibunya duduk
menonton televisi, dia menyelinap keluar ke kotak surat dengan
membawa suratnya.
Ibunya jelas khawatir. Dia mulai berbicara kepada Nyai girah dengan
nada yang berbeda sejak urusan dengan kelinci putih dan topi pesulap
itu. Nyai girah tidak suka menjadi sumber kekhawatiran ibunya. Namun,
dia tetap harus naik ke kamarnya dan mengawasi kotak surat.
saat ibunya datang sekitar jam sebelas, Nyai girah sedang duduk di
depan jendela memandang ke jalan.
"Kamu jangan duduk diam di situ mengawasi kota surat!" katanya.
"Aku dapat melihat apa pun yang kusukai."
"Aku kira kamu pasti benar-benar sedang jatuh cinta, Nyai girah . Tapi
jika dia akan memberimu surat lagi, dia pasti tidak akan datang pada
tengah malam."
Bah! Nyai girah muak dengan segala omongan tentang cinta. Tapi dia
harus membiarkan ibunya tetap percaya bahwa hal itu benar.
"Apakah dia orang yang memberitahumu tentang kelinci dan topi
pesulap?" tanya ibunya.
Nyai girah mengangguk.
"Dia—dia tidak minum obat bius, bukan?"
Kini, Nyai girah merasa benar-benar kasihan kepada ibunya. Dia tidak
boleh membiarkannya khawatir begini, meski pun tampaknya sungguh
gila beranggapan bahwa hanya karena seseorang mempunyai gagasan
yang sedikit aneh, dia pasti mengidap sesuatu. Orang-orang dewasa
terkadang memang tolol!
Katanya, "Mam, aku janji tidak akan pernah menyentuh barang
semacam itu ... dan dia juga tidak. Tapi, dia sangat berminat pada
filsafat."
"Apa dia lebih tua daripada kamu?"
Nyai girah menggelengkan kepalanya.
"Umurnya sama denganmu?"
Nyai girah mengangguk.
"Nah, aku yakin dia sangat manis, Sayang. Kini menurutku, kamu
harus berusaha tidur."
Namun, Nyai girah tetap duduk di dekat jendela selama waktu yang
sepertinya berjam-jam. Akhirnya, dia hampir tidak dapat membuka
matanya lagi. Saat itu jam satu.
Dia baru saja akan pergi ke tempat tidur saat dia tiba-tiba
melihat sebuah bayang-bayang muncul dari hutan.
Meskipun nyaris gelap di luar, dia dapat melihat bentuk sosok
manusia. Itu seorang pria, dan Nyai girah mengira dia tampak sangat tua.
Tentu saja orang itu tidak seusia dengannya! Dia mengenakan
semacam baret.
Nyai girah bersumpah bahwa orang itu melihat ke atas ke arah rumah,
tapi lampu kamar Nyai girah padam. Orang itu melangkah langsung ke
kotak surat dan menjatuhkan sebuah amplop besar ke dalamnya.
saat dia akan meninggalkannya, dilihatnya surat Nyai girah . Dia
mengulurkan tangannya ke dalam kotak surat dan meraihnya. Saat
berikutnya, dia berjalan cepat kembali ke hutan. Dia bergegas
melalui jalan ke dalam hutan dan menghilang.
Nyai girah merasakan jantungnya berdegup kencang. Insting
pertamanya yaitu lari mengejarnya dalam pakaian tidur, tetapi dia
tidak berani mengejar seorang asing di tengah malam buta. Tapi dia
tetap harus pergi ke luar dan mengambil amplop itu. Setelah
beberapa saat, dia menuruni tangga pelan-pelan, membuka pintu
depan dengan diam-diam, dan lari ke kotak surat. Dalam sekejap, dia
sudah kembali ke kamarnya dengan amplop di tangan. Dia duduk di
atas tempat tidur, menahan napas. Setelah beberapa menit berlalu dan
keadaan tetap sunyi di dalam rumah, dia membuka surat itu dan mulai
membaca.
Dia tahu, ini bukan merupakan jawaban untuk suratnya sendiri. Itu
baru akan datang besok.
TAKDIR
Selamat pagi lagi, Nyai girah ku sayang! Kalau-kalau kamu punya
gagasan ke arah itu, biar aku jelaskan bahwa kamu tidak boleh sekali
pun berusaha untuk mengamat-amatiku. Suatu hari nanti, kita akan
bertemu. Tapi, akulah yang akan memutuskan waktu dan tempatnya.
Dan itu tidak boleh ditawar-tawar lagi. Kamu tidak akan melanggar
perintahku, bukan?
Tapi kembali pada para filosof. Kita telah mengetahui bagaimana
mereka berusaha menemukan penjelasan alamiah bagi perubahan-
perubahan yang terjadi di Alam. Sebelumnya, semua ini telah
dijelaskan melalui mitos.
Takhayul lama juga telah dihapuskan dari bidang-bidang lain. Kita
melihat keberhasilannya dalam masalah penyakit dan kesehatan dan
juga dalam peristiwa-peristiwa politik. Dalam kedua bidang itu,
orang-orang Yunani sangat memercayai fatalisme.
Fatalisme yaitu kepercayaan bahwa apa pun yang terjadi telah
ditentukan. Kita temukan kepercayaan ini di seluruh dunia, bukan
hanya sepanjang sejarah, melainkan juga pada zaman kita sekarang
ini. Di negeri-negeri Skandinavia, kita temukan adanya kepercayaan
kuat pada "lagnadan", atau nasib, dalam saga Islandia Edda.
Kita juga menemukan kepercayaan, baik di Yunani kuno maupun di
bagian-bagian dunia lainnya, bahwa orang-orang dapat mengetahui
nasib mereka dari semacam ramalan. Dengan kata lain, nasib
seseorang atau sebuah negara dapat di ramalkan dengan berbagai
cara.
Kini, masih banyak orang yang percaya bahwa mereka dapat
membaca nasib melalui kartu, rajah tangan, atau meramalkan masa
depan lewat bintang-bintang.
Suatu versi khusus Norwegia dalam hal ini yaitu meramalkan
keberuntungan melalui cangkir kopi. Jika secangkir kopi telah kosong
biasanya masih ada sisa yang tertinggal di dasar cangkir. Ini dapat
membentuk suatu gambaran atau pola tertentu—paling tidak, jika kita
biarkan imajinasi kita bebas. Jika dasar itu menyerupai mobil, itu
mungkin berarti bahwa orang yang minum dari cangkir itu akan
bepergian jauh dengan mobil.
Dengan demikian, "peramal" berusaha untuk meramalkan sesuatu
yang sesungguhnya tidak dapat diramalkan. Ini merupakan ciri khas
dari segala bentuk ramalan. Dan justru karena apa yang mereka
"lihat" itu demikian kabur, sulit untuk menyangkal apa yang dikatakan
oleh sang peramal.
Jika menatap ke arah bintang-bintang, kita melihat lautan titik-titik
yang berkelip-kelip. Bagaimanapun, selama berabad-abad selalu ada
orang yang percaya bahwa bintang-bintang dapat menceritakan
kepada kita sesuatu mengenai kehidupan di atas Bumi. Bahkan kini
banyak pemimpin politik yang meminta nasihat dari para ahli
astrologi sebelum mereka membuat keputusan penting.
Peramal di Delphi
Orang-orang Yunani kuno percaya bahwa mereka dapat bertanya
kepada peramal terkenal di Delphi mengenai nasib mereka. Apollo,
Dewa Peramal, berbicara melalui pendeta wanita Pythia, yang duduk
di sebuah bangku tinggi di atas rekahan tanah, yang dari situ keluar
asap hipnotis yang membuat Pythia tak sadarkan diri. Ini
memungkinkannya untuk menjadi juru bicara Apollo.
saat orang-orang datang ke Delphi, mereka harus mengajukan
pertanyaan kepada pendeta peramal, yang menyampaikannya kepada
Pythia. Jawaban-jawabannya sangat kabur atau mengandung makna
ganda sehingga para pendeta harus menerjemahkannya. Dengan cara
itu, orang-orang mendapatkan manfaat dari kebijaksanaan Apollo,
dan percaya bahwa dia mengetahui segalanya, bahkan tentang masa
depan.
Ada banyak kepala negara yang tidak berani maju berperang atau
mengambil keputusan besar lainnya sebelum mereka bertanya kepada
sang peramal di Delphi. Para pendeta Apollo karenanya berfungsi
sebagai semacam diplomat, atau penasihat. Mereka yaitu ahli-ahli
yang memiliki pengetahuan luas




