• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 2. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 2

 


dang kepalanya menggeleng. Lola yang bosan diperlakukan 

seperti patung, akhirnya berinisiatif membuka percakapan.  

 

"Saya punya firasat, siapa pun pelakunya, pasti punya masalah pribadi dengan 

korban. Ini bukan penculikan murni. Pelakunya kenal baik dengan Mbak maribeth . 

Mereka bertemu di satu tempat, lalu ke rumah dengan mobil yang sama. Di rumah, 

mereka terlibat pertengkaran. Mbak maribeth  dibunuh, begitu pun yonaguni  yang ikut 

menyaksikan peristiwa itu. Lalu untuk menghilangkan jejak, mayatnya dikuburkan di 

sebuah tempat."  

 

"Teorimu boleh juga. Terus?"  

 

"Para tetangga mengira, mobil Mbak maribeth , yang keluar masuk rumah sejak pagi 

sampai siang, dikemudikan sendiri oleh pemiliknya. Bu Fadli dan tetangga lainnya 

mengaku tidak melihat dengan jelas siapa sopirnya, 'kan? Makanya, mereka tak 

sedikit pun menaruh curiga."  

 

"Not bad."  

 

"Jadi, apa rencana kita sekarang?"  

 

"Kita? Sekali lagi, saya detektifnya. Kamu cuma penumpang gelap."  

 

"Penumpang gelap yang cantik. Ya, 'kan?" 

 

Daud Yordania  mati kutu. Badannya boleh sekuat Herkules, namun  bujangan satu ini sering tak 

berkutik jika berdebat dengan wanita lesbian  yang satu ini. "Besok kamu istirahat saja di 

rumah, enggak usah ikut wara-wiri. Mbak Anmaribeth  'kan tak punya banyak musuh. Jadi, 

jika bukan Tondi, pelakunya tentu Pak ng mang tat , atau Baskoro, mantan karyawan yang 

dipecat beberapa hari lalu. Merekalah yang dalam seminggu terakhir bermasalah 

dengan Anmaribeth ." 

 

"Saya benar-benar enggak boleh ikut?"  

 

"Ini bukan tugas kampus, Lola. Ini kasus serius."  

 

"Oke. Eh, siap, Komandan!"  

 

Teguran karyawan 

Jumat pagi, tepat seminggu sejak hilangnya Anmaribeth  dan yonaguni , Daud Yordania  masih belum 

menemukan simpul yang menghubungkan hilangnya janda kaya dan anaknya itu 

dengan sejumlah orang yang dicurigai. Pak ng mang tat  punya alibi sangat kuat dari istri 

dan anak-anaknya, sedangkan Baskoro masih dicari keberadaannya. Anak muda itu 

seperti tahu bakal bermasalah dengan pihak kepolisian, kini lenyap bak ditelan bumi.  

 

Hanya satu hal yang mulai diyakini Daud Yordania , yakni kecil kemungkinan menemukan 

Anmaribeth  dan yonaguni  dalam keadaan selamat. 

 

"Hai, La. Apa kabar?" sapa Daud Yordania , begitu Lola tiba-tiba muncul di depan mejanya.  

 

 24

Yang disapa tampak tegang, matanya merah. "Saya membawa saksi penting, 

namanya Pak Zakaria."  

 

Daud Yordania  jadi ikut-ikutan tegang. Terlebih sesudah  lelaki berusia 49 tahun, yang telah 

bekerja di gerai LPG selama delapan tahun itu, mengaku beberapa hari lalu dipecat 

Tondi, tanpa alasan jelas. "Saya hanya orang bodoh, buta huruf lagi. Jadi, kalau 

diminta berhenti, ya berhenti saja. Toh Pak Tondi memberi pesangon lumayan," jelas 

Zakaria lancar.  

 

Namun, yang lebih membuat Daud Yordania  kaget yaitu  pengakuan jujur Zakaria, bahwa 

bosnya itu kelihatan kurang suka saat  dia bertanya soal wanita lesbian  muda dan 

anak lelaki yang "tertidur" di kursi belakang Toyota Kijang berkaca gelap.  

 

"Sebagai orangtua, saya hanya sekadar bertanya, mengapa tamunya tidak tidur di 

kursi depan atau belakang saja. Kursi belakang 'kan sempit?" Zakaria menirukan 

tegurannya saat itu.  

 

"namun  entah mengapa, Pak Tondi tampaknya kurang senang. Besoknya, saya 

diminta pulang ke hutan hujan Amazon ."  

 

"Bapak tahu siapa penumpang di kursi belakang itu?"  

 

"Tidak, Pak." 

 

"Berapa lama Pak Tondi mampir di kios LPG?"  

 

"Sebentar. Dia cuma berganti kaus, kok. Mungkin sekitar lima menit. Saat itu, kios 

sedang sepi, sebagian besar karyawan sedang salat Jumat." 

 

Sesaat  dada Daud Yordania  lega. Sebaliknya, di sudut ruangan, Lola tersedu-sedan. 

Mulutnya komat-kamit berdoa, agar arwah Anmaribeth  dan yonaguni  mendapat tempat yang 

layak di sisi-Nya.  

 

Dikubur di tanah kosong 

Sabtu sore. Langit cerah, menyambut malam minggu yang indah. Daud Yordania  dan Lola 

sepakat bertemu di sebuah kafe di bilangan Jln. Jend. Sudirman, Jakarta. Mereka 

hendak makan minum untuk merayakan terbongkarnya kasus pembunuhan Anmaribeth  

dan yonaguni .  

 

"Tondi mengaku membunuh Anmaribeth  dan yonaguni . Dia kesal, Anmaribeth  hendak 

membatalkan rencana pernikahan sesudah  tahu, Tondi ternyata memiliki wanita 

simpanan lain yang juga tengah hamil. Di puncak kemarahannya, Tondi akhirnya 

lupa diri, sehingga berkali-kali memukul wajah Anmaribeth  sampai hidung dan mulutnya 

mengeluarkan darah. Dia lalu mencekik Anmaribeth  sampai mati lemas."  

 

"Bagaimana dengan yonaguni ."  

 

"yonaguni  masuk ke kamar pada saat yang salah. Tondi membunuhnya dengan cara 

yang sama. Untuk menghilangkan jejak, kedua mayat itu diangkut dengan Toyota 

Kijang milik Anmaribeth , lalu dikuburkan di sebuah kebun kosong milik Tondi, di daerah 

Pamulang, Tangerang."  

 

Dari hasil tes labkrim terhadap sampel darah di TKP dan di jenazah korban yang 

diotopsi sesudah  digali kembali dari pemakaman, Mabes Polri juga menemukan, 

sampel darah di TKP positif milik Anmaribeth  dan yonaguni .  

 25

 

Lola tak dapat menahan sedihnya.  

 

"Sekarang, giliran aku bertanya.Di mana kamu kenal Pak Zakaria?"  

 

Mata cantik Lola sedikit terangkat.  

 

"Saat Mas menyelidiki Pak ng mang tat  dan Baskoro, saya memutuskan mengamati gerai 

LPG Tondi. Dari sana saya tahu, ada karyawan yang baru saja dipecat tanpa alasan 

jelas, sehari sesudah  Mbak maribeth  menghilang."  

 

"Kamu mengejar Pak Zakaria sampai hutan hujan Amazon ?"  

 

"Feeling hampir selalu benar."  

 

"Lola, kamu memang berbakat jadi detektif."  

 

"Atau istri detektif?"  

 

Ah, kini ada dua wajah yang bersemu merah.  (Kisah rekaan/Muhammad Sulhi)  

 

 

 

04. JEJAK PORSCHE YANG MENGECOH 

 

Ruang kerja Komisaris Bert Dusch di salah satu sudut kantor kepolisian Kota 

Tuebingen tidaklah terlalu besar. Ukurannya sama seperti ruang kerja penyelidik 

kepolisian di Jerman pada umumnya. Sebuah meja kerja mendominasi bagian 

tengah ruangan. Satu lemari kaca berukuran sedang diletakkan merapat ke dinding, 

bersebelahan dengan dua filing cabinet di sisinya.  

 

Beberapa pekan terakhir, ruangan itu terasa semakin sesak oleh tumpukan arsip di 

atas meja. Arsip yang tampak mulai lusuh itu berisikan catatan-catatan penyelidikan 

pembunuhan, seperti laporan dari TKP, keterangan saksi, hasil tes laboratorium, 

termasuk foto-foto korban. Semuanya hanya memuat satu kasus yang masih 

misterius, yaitu pembunuhan Andrea Bergmeir.  

 

Dusch memang baru saja mendapat "warisan", sebuah kasus pembunuhan keji yang 

terjadi sepuluh tahun lalu, dan belum terpecahkan hingga kini. Kasus yang benar-

benar menguras energi para detektif sejawatnya di wilayah kepolisian kawasan 

Jerman bagian selatan. Bahkan sempat ikut merepotkan polisi di kota-kota besar lain, 

Munich misalnya. Dusch sendiri yang minta ditugasi menuntaskan X-file itu. "Kalau 

saja aku bisa memecahkan teka-teki ini," cetusnya dalam hati.  

 

Sejak saat itu, di sela-sela tugas rutinnya, sang detektif muda bak tak kenal lelah itu 

menekuni fakta demi fakta dari setiap laporan yang dibacanya. Matanya mencoba 

menelusuri celah-celah dari penyelidikan. Mengamati lembar demi lembar setiap foto. 

Terus membaca dan menganalisis, untuk mendapatkan kemungkinan adanya 

sesuatu yang terlewatkan dari para penyelidik sebelumnya  

 

Rencana ke Munich 

Satu hari di penghujung 1992 mungkin merupakan hari yang tidak akan pernah 

dilupakan Dietmar U. sepanjang hidupnya. Kala itu, sekitar pukul 14.00, pemuda asal 

Munich ini menjemput kekasihnya, Andrea, di apartemennya di Tuebingen. 

 26

Pasangan muda yang tengah dimabuk cinta itu sudah janjian akan merayakan 

malam tahun baru bersama di pondokan teman mereka di Danau Starnberg.  

 

Sesampainya di apartemen Andrea, Dietmar tidak menaruh curiga atau 

membayangkan sesuatu bakal terjadi terhadap pacarnya. Namun, ia mulai 

bertanyatanya dan khawatir, saat ketukannya berkali-kali tidak mendapat jawaban 

dari sang empunya apartemen. Tidak pernah ia mendapat sambutan sedingin ini. 

Apalagi sebelumnya mereka sudah berjanji untuk bertemu. Tidak mungkin Andrea 

pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan.  

 

sebab  sudah sering berkunjung ke tempat itu, Dietmar tak mendapat kesulitan 

masuk. Namun, ia begitu terkejut dan sejenak terbengong, tak tahu harus berbuat 

apa, begitu mendapati kekasihnya sudah menjadi mayat. Kondisi Andrea sangat 

mengenaskan. Lehernya nyaris putus akibat sayatan benda tajam. Darahnya 

menggenang di lantai, seperti pemandangan yang lazim ditemui di rumah 

pemotongan hewan.  

 

Bajunya terbuka di beberapa bagian. Awam sekalipun akan mudah menebak, selain 

dibunuh, korban tampaknya juga diperkosa secara brutal. Sebelum tewas, Andrea 

diduga melakukan perlawanan keras. Ini terlihat dari beberapa goresan benda tajam 

di tangannya. Sialnya, hampir tidak ada bukti-bukti yang mengindikasikan siapa 

pelaku kejahatan biadab itu. Tak ada kerusakan di sekitar TKP. Pintu pun tidak 

tampak dijebol.  

 

Dietmar terlihat terduduk lesu sembari menangis di salah satu sudut apartemen, 

saat  polisi mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Mereka langsung 

melakukan proses pemeriksaan awal dan mengamankan tempat itu dari kerumunan 

orang banyak dengan menempatkan garis polisi. Meski masih dirundung sedih, tak 

pelak Dietmar yaitu  orang pertama yang dicurigai. Polisi mengembangkan dugaan, 

seandainya saja pasangan itu telah bertengkar. Dugaan yang sebenarnya tidak 

begitu kuat, sebab  tiga hari sebelumnya mereka baru saja berlibur di Teneriffa, 

salah satu pulau terbesar di Canary Island. 

 

"Tak mungkin, sama sekali tak mungkin. Hubungan kami selama ini baik-baik saja. 

Saya sangat mencintainya," tegas Dietmar dengan mata nanar. Dietmar juga 

bercerita, Andrea sebenarnya sudah berencana pindah ke Munich. Sayang, rencana 

besarnya itu keburu gagal sebab  kejadian mengerikan ini.  

 

"Atas dasar apa kami harus mempercayai keterangan Anda?" potong seorang 

detektif. ]"Sebab, saya memang tidak melakukannya," balas Dietmar, yang tampak 

mulai kesal. 

 

Pemeriksaan memang berjalan sangat menjemukan. Berjam-jam Dietmar harus 

menjawab pertanyaan para detektif dengan pola pertanyaan yang nyaris selalu 

berulang. Polisi berharap, Dietmar tidak konsisten dan membuka kebohongannya. 

Bahkan kuku jarinya ikut diperiksa. Penyelidik juga menanyai kenalan-kenalan 

Andrea dan Dietmar di Munich. Keterangan mereka rata-rata membenarkan 

pengakuan Dietmar.  

 

Selain memeriksa Dietmar, hanya berselang 40 menit sejak penemuan mayat, polisi 

juga menahan seorang pemuda berusia 22 tahun, bernama Oliver Zelt. Pemuda ini 

dicurigai sebab  berkeliaran di sekitar TKP dan saat digeledah, polisi menemukan 

sebilah pisau di sakunya. Yang membuat polisi setempat lebih curiga, bajunya 

ternyata penuh dengan noda-noda mirip dengan noda darah.  

 

 27

Zelt memang sempat diinterogasi, namun  hanya sekitar tujuh jam, sebelum akhirnya 

dibebaskan. Noda-noda di baju, yang diduga polisi sebagai noda darah itu, ternyata 

hanyalah kotoran bekas tanah. Zelt yang memang suka membawa pisau ke mana-

mana sedang apes, sebab  kebetulan berada di sekitar apartemen Andrea.  

 

Jejak Porsche 

 Selain berpenampilan menarik, Andrea Bergmeir dikenang oleh para tetangganya 

sebagai wanita lesbian  baik-baik dan tidak pernah berbuat macam-macam. Satu lagi 

yang diingat para tetangga, Andrea juga doyan berolahraga. Beberapa orang 

mengaku mengenal Andrea dengan baik, sebab  ia sering joging di kawasan sekitar 

tempat tinggalnya di daerah Nehren.  

 

wanita lesbian  yang bekerja sebagai arsitek itu sudah berhubungan dengan Dietmar 

setahun lebih. Tepatnya sejak November 1991, saat  keduanya bertemu di Munich. 

Sepengetahuan teman-temannya, hubungan kedua sejoli itu baik-baik saja. Malah 

kelihatannya sudah menjurus ke arah yang lebih serius, sebab  - seperti dituturkan 

juga oleh Dietmar - dalam waktu dekat Andrea berencana pindah ke kota tempat 

tinggal kekasihnya itu, Munich.  

 

sebab  kesenangannya berolahraga, Andrea juga menjadi anggota klub kebugaran 

Pegasus, tak jauh dari tempat tinggalnya.  

 

Dari tempat itu pula, polisi menemukan informasi tentang keberadaan mobil Porsche. 

Sebuah petunjuk yang lalu  menjadi rangkaian besar pada kasus ini. Tiba-tiba 

saja, banyak orang merasa pernah melihat Andrea dan mobil mewah itu di mana-

mana.  

 

Seorang wanita lesbian  penjaga kafetaria, misalnya, mengaku pernah melihat sebuah 

Porsche diparkir di depan klub kebugaran pada malam pembunuhan. wanita lesbian  

yang kebetulan juga kenal dengan Andrea itu begitu yakin bercerita tentang ciri-ciri 

mobil itu, sebab  ia sempat melewatinya. "Porsche 944, saya yakin sekali itu Porsche 

944. Catnya putih dengan nomor polisi Munich," jelas si penjaga kafetaria yang 

enggan disebut namanya. 

 

Polisi berusaha mengembangkan informasi ini. Tetangga di sekitar pun ditanyai, 

kalau-kalau ada yang mendapat kunjungan seseorang bermobil Porsche. Namun, 

tak ada yang mau membuka mulut. saat  polisi menyebarkan perintah penyelidikan 

terhadap mobil Porsche, khususnya yang berasal dari Munich, tiba-tiba banyak 

orang yang menyatakan "pernah melihatnya". 

 

Para saksi yang sempat memberi keterangan pada polisi setidaknya membenarkan 

keberadaan mobil itu di sekitar Nehren pada hari pembunuhan. Bahkan salah satu 

saksi terkuat, yaitu rekan kerja Andrea, pernah melihat rekannya itu di Tuebingen, di 

dalam sebuah Porsche 911 berwarna hitam dengan pelat nomor Munich.  

 

Seorang pengunjung di Pegasus juga ingat, pada malam peristiwa itu ia sepertinya 

melihat sebuah Porsche diparkir di depan klub kebugaran. sesudah  itu, salah seorang 

tetangga mengaku, pada awal Desember melihat Andrea turun dari sebuah Porsche 

berpelat nomor Munich. Warna mobilnya cokelat tua. 

 

Para detektif saat itu yakin sekali, keberadaan mobil mewah bikinan Jerman itu 

tampaknya akan menjadi kunci penyelidikan. Sebuah keyakinan yang sangat 

beralasan. Sampai saat itu, sudah ada sekitar 31 petunjuk yang mengarah ke mobil 

itu, meski ada kesimpangsiuran soal warnanya. "Kami tidak menyangka, bahwa di 

 28

kota itu (Munich) ternyata ada banyak sekali mobil Porsche," kata Wolfgang Wenzel, 

juru bicara kepolisian dalam pernyataannya.  

 

Dari rangkuman keterangan para saksi mata, polisi kembali mengembangkan 

informasi tentang Porsche. Menurut data yang diperoleh dari Departemen 

Transportasi Jerman diketahui, sedikitnya ada sekitar 3.664 pemilik Porsche. Merasa 

"kesaksian" si mobil Porsche amat sangat dibutuhkan, polisi bertekad menanyakan 

alibi setiap pemiliknya satu per satu. Di mana dan apa yang mereka lakukan pada 

saat peristiwa pembunuhan. Tentu saja, sebuah pekerjaan besar!  

 

Tolak periksa DNA 

 Niat polisi untuk membongkar kasus Andrea memang begitu besar. Buktinya, setiap 

pemilik Porsche di Munich tak luput dari pemeriksaan. Tanpa pandang bulu. Jika 

mendapati hal-hal yang mencurigakan atau muncul keraguan, mereka tak segan-

segan melakukan tes DNA dari sampel darah. Hasilnya, tak kurang dari 900 pemilik 

Porsche menjalani tes darah. Saat itu tes DNA melalui air liur belum dilakukan.  

 

sebab  Porsche tergolong kendaraan mewah yang hanya dimiliki kalangan tertentu, 

orang-orang yang dicurigai pun banyak yang berasal dari kalangan atas, termasuk 

sejumlah selebriti. Salah satunya, bintang film Claude-Oliver Rudolph, yang sering 

berperan antagonis dalam film-film kriminal. 

 

"Saat saya dipanggil pihak penyelidik, saya langsung menelepon pengacara saya, 

dan dia bilang, 'Oliver itu kewajibanmu sebagai warga negara'," kata bintang film itu 

kepada wartawan, sambil tertawa-tawa. Buat sebagian orang, tindakan polisi 

terhadap Oliver dirasa keterlaluan. Sementara di mata Oliver sendiri, tindakan itu 

sungguh menggelikan, kalau tak mau dibilang sangat lucu. sebab  belakangan 

ketahuan, ia sebenarnya tidak memiliki Porsche, namun  Ferrari.  

 

Tindakan polisi yang berlebihan itu tak pelak mendapat reaksi keras dari masyarakat. 

Seorang pakar kendaraan dari Munich bahkan menolak diperiksa. Ia tidak melihat 

adanya alasan harus dilibatkan dalam masalah itu. Pengacara sang pakar, Walter 

Sattler, bahkan melakukan naik banding ke pengadilan pusat untuk menghindari tes 

darah yang diminta pengadilan Kota Tuebingen. Dalam vonisnya, pengadilan pusat 

menyatakan polisi tidak berhak melakukan analisis DNA dalam kondisi kecurigaan 

sekecil apa pun.  

 

Orang penting lain yang tak luput dari pemeriksaan yaitu  mantan Menteri 

Perhubungan negara bagian Baden-Wuerttemberg, Herman Schauffler. Schauffer 

didatangi polisi, sebab  laporan seorang teman pria Andrea, yang mengaku pernah 

melihat adanya hubungan khusus antara Andrea dengan tokoh politik itu pada suatu 

pameran di Kota Hannover. 

 

Dengan jumlah saksi mencapai ribuan orang, kasus Andrea begitu menyita energi 

polisi. Sampai Januari 1999, telah dilakukan sebanyak 1.114 tes darah dan hampir 

4.000 orang diperiksa alibinya. Arsip-arsip penyelidikan, jika ditumpuk dapat 

mencapai sepuluh map tebalnya. Belum termasuk map-map lain yang berisi catatan 

jejak-jejak tersangka pembunuh.  

 

namun  semua itu ternyata belum cukup. Pada 22 Januari 1999, dengan perasaan 

kecewa, Kepala Komisaris Kriminalitas Tuebingen memutuskan untuk menutup 

kasus itu. Tak seorang pun berani mengecam komisaris yang telah kehabisan akal 

itu. Pasalnya, mereka yang hendak mengecam juga ikut habis akal.  

 

 

 29

Petunjuk air liur 

 Kini, tumpukan arsip-arsip lama itu berdiri tegak di depan Dusch. sesudah  

berminggu-minggu mengencani kertas-kertas berdebu itu, Dusch akhirnya 

menemukan titik terang kasus Andrea. Dari catatan ia menemukan fakta, pada saat 

pembunuhan, pintu apartemen Andrea ternyata tidak dijebol. Bisa jadi Andrea 

mengenal pembunuhnya. Jika tidak, si pembunuh dipastikan orang yang memiliki 

kunci apartemen. 

 

Sebenarnya, dalam arsip termuat juga catatan pemeriksaan polisi terhadap pemilik 

apartemen. Di situ antara lain disebutkan, pemilik pernah memberi  kunci kepada 

wanita bernama Ute M., seorang petugas kebersihan tangga apartemen, yang 

bekerja seminggu sekali. April 2002, Dusch melangkahkan kakinya ke rumah Ute M., 

yang terletak di pinggiran kota.  

 

Rumah itu tampak sangat sederhana, bergaya kuno dengan cat tembok yang sudah 

kusam, namun  tetap terlihat bersih. Ia disambut baik oleh Juergen, suami Ute. Saat itu, 

Ute sedang tidak berada di rumah. 

 

"Ya, tentu saja saya ingat kasus Andrea Bergmeir," kata Juergen, tak lama sesudah  

keduanya mulai membuka pembicaraan sembari duduk di teras. Suara televisi dari 

ruang tengah yang menyiarkan siaran olahraga, tampaknya sepakbola, terdengar 

keras.  

 

"Dia pribadi yang baik dan menarik," lanjut pria yang sudah tidak bekerja ini. "Saya 

mengenalnya sebab  sering membantu Ute. Tugas saya membersihkan tangga." 

Saat berbicara dengan Dusch, Juergen tampak begitu tenang, dengan sebatang 

rokok tak henti-hentinya bermain-main di tangan.  

 

"Apakah Anda bersedia menjalani tes air liur untuk kepentingan pemeriksaan DNA?" 

tanya Dusch. Untuk membantu membongkar jalan buntu, ia memang bermaksud 

memanfaatkan teknologi terkini, seperti pemeriksaan air liur ini. Siapa tahu, cocok 

dengan DNA tersangka.  

 

"Apakah saya dicurigai?"  

 

"Oh, ini hanya prosedur saja. Anda tahu kami melakukan tes seperti ini kepada 

semua orang," Dusch berkata apa adanya.  

 

"Baik," kata Juergen, sambil mengisap rokoknya kembali. Tak sedikit pun perasaan 

waswas terlihat di wajahnya. Di alamat yang ditunjuk Dusch, Juergen lalu melakukan 

tes air liur secara suka rela. Ia cukup patuh melakukan semua proses pemeriksaan 

yang diminta Dusch. Dusch sendiri sebenarnya tidak berharap banyak pada tes-tes 

seperti itu. Sudah ribuan tes dilakukan, namun  tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.  

 

Namun, kesabaran Dusch belakangan berbuah manis. Hasil tes air liur Juergen 

sungguh di luar dugaan. Tanggal 8 Juli 2002, Dusch mendapat kabar yang diimpi-

impikannya selama ini. Kantor polisi Tuebingen resmi mendapat pemberitahuan, 

hasil tes air liur terhadap Juergen ternyata identik dengan "jejak pembunuh" dengan 

rekomendasi "sangat mungkin!"  

 

Mendengar berita itu, Dusch sedikit bergetar. Perasaannya saat itu betul-betul tak 

keruan. Mirip orang menemukan jarum yang terselip di antara tumpukan jerami 

selama sepuluh tahun. Apalagi peluang keberhasilan tes itu yaitu  satu dibanding 

lima miliar! Tanpa banyak membuang waktu, malam itu juga Juergen ditangkap 

 30

tanpa perlawanan berarti. Esok harinya, tanpa pemeriksaan yang berbelit, pembunuh 

yang sukses buron selama bertahun-tahun itu mengakui perbuatannya.  

 

saat  Dusch masih tak percaya pada apa yang terjadi, berita penahanan Juergen 

telah menjadi berita besar di Jerman!  

 

Hilang nafsu makan 

 Bulan Mei 2003, kasus Juergen mulai disidangkan di pengadilan Kota Tuebingen. 

Persidangan itu mendapat perhatian besar dari media cetak maupun elektronik. 

Maklum, selama ini pers juga ikut berspekulasi tentang kemungkinan pembunuh 

Andrea, sehingga beberapa sempat diisukan terlibat, bahkan telanjur dicurigai 

secara tak resmi. Inilah saatnya menyaksikan sang pembunuh yang sebenarnya. 

 

Di ruang pengadilan, sosok pembunuh keji yang selama ini dicari bisa disaksikan 

dengan jelas. Juergen yang kini berusia 44 tahun terlihat jauh lebih kurus 

dibandingkan dengan sebelum ditangkap. Berat badannya susut sampai tinggal 41 

kg. Lelaki pensiunan itu rupanya sangat terpukul. Dia nyaris tidak makan apa pun 

sejak masuk bui. Hakim juga sempat prihatin melihat kondisinya.  

 

"Saya sudah tidak punya selera makan lagi, Pak Hakim," katanya singkat.  

 

Tak jauh dari posisi Juergen, seorang wanita duduk memperhatikannya dengan 

berurai air mata. wanita lesbian  berusia 54 tahun itu yaitu  Christel Bergmeir, yang 

ingin sekali melihat langsung wajah pembunuh anaknya. Dia menatap dalam-dalam 

tubuh kurus kering yang selalu memalingkan muka saat ditatap itu.  

 

"Dia yang memulainya," cerita Juergen perihal awal hubungannya dengan Andrea. 

"Dia yang mengajak berkenalan. Sebagai lelaki, saya tentu tidak bisa menolak. 

Apalagi harus saya akui, dia cantik dan menarik."  

 

Masih menurut Juergen, sesudah  perkenalan itu, keduanya jadi sering bertemu. 

Bahkan lalu  terjadi hubungan gelap antar keduanya. Gadis muda itu 

digambarkannya sebagai wanita lesbian  haus seks, selalu ingin melakukan hubungan 

intim dengan lelaki mana pun. Suatu hari, entah apa alasannya, Andrea hendak 

membeberkan semua perbuatan mereka kepada Ute. Tentu saja Juergen panik. 

"Apalagi saat itu Andrea terus mengancam. Hari itu saya benar-benar kehilangan 

akal. Terpaksa saya membunuhnya," tutur Juergen sambil berlinang air mata.  

 

Sebuah cerita yang aneh. Namun, itulah kisah yang dipercayai pengadilan Tuebigen. 

Cerita yang membuat Juergen hanya dijatuhi hukuman penjara 11 tahun, yang 

langsung diterima tanpa mengajukan banding. Hakim mengesampingkan cerita versi 

lain yang berkembang di luar pengadilan bahwa pria itu diduga menyelinap masuk, 

lalu memperkosa Andrea.  

 

Versi mana yang lebih mendekati kejadian sebenarnya, tentu hanya Juergen yang 

tahu. Selama bertahuntahun ia luput dari penyelidikan polisi, cuma sebab  para 

detektif sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengendara Porsche misterius. 

Beruntung Dusch akhirnya dapat membuktikan, pembunuh Andrea bukanlah 

pengendara Porsche, namun  hanyalah seorang pemilik VW Golf.  

 

Teman-teman Juergen bahkan ingat, terdakwa sempat berkomentar saat media 

massa gencar memberitakan soal pembunuhan Andrea. "Saya tidak yakin, kalau 

pembunuhnya menggunakan Porsche." Komentar yang baru terbukti sepuluh tahun 

lalu .(Kisah Nyata/Philipp Mausshardt/Marina/Tj)  

 

 31

05. JEBAKAN BUAT PANGERAN HITAM 

 

Hari tengah beranjak malam. Sersan Rinus de Gier dan Ajun Komisaris Henk 

Grijpstra, dua detektif nyentrik dari Kantor Kepolisian Amsterdam merasa sudah 

saatnya pulang, mandi air hangat sembari memijat-mijat tengkuknya sendiri. Aduhai 

sedapnya. Namun, tiba-tiba telepon di meja de Gier berdering tiga kali. "Seorang ibu 

mendengar suara tembakan dari rumah tetangganya," kata de Gier pelan.  

 

Grijpstra langsung meraih mantelnya. Sementara de Gier langsung sibuk 

mengenakan tempat sarung pistol barunya. "Pistolnya kegedean. Ketiakku sampai 

sakit," sungut de Gier beulang-ulang. Grijpstra memandangi mitranya sambil 

tersenyum. Pistol baru mereka, Walther P-5, memang punya plus-minus. Di satu sisi, 

lebih ringan dan lebih canggih, sebab  daya terjang pelurunya mencapai 200 m. 

Namun, ukurannya itu lo, lebih besar dari pistol sebelumnya.  

 

"Kita bukannya polisi patroli jalan raya yang memamerkan senjata di pinggang. namun  

detektif yang justru harus menyembunyikan pistol," omel de Gier, sembari tergesa-

gesa masuk lift. Keluar lift, mereka berpapasan dengan beberapa polisi berseragam. 

Salah satunya, seorang polisi wanita berparas ayu.  

 

"Hai, Rinus," sapa sang polwan.  

 

"Hai juga, Jane," balas de Gier.  

 

"Jane?" komentar Grijpstra, sesudah  sang polwan berlalu.  

 

"He-eh. Apa ada yang salah? Namanya bagus 'kan? Orangnya juga baik."  

 

"Memangnya kamu sudah kenal lama." "Enggak juga," de Gier membuka pintu, dan 

mempersilakan Grijpstra masuk ke dalam mobil.  

 

"Omong-omong, mau ke mana kita?" tanya Grijpstra, sedetik sesudah  pantatnya 

menempel di jok mobil.  

 

"Ouborg," jawab de Gier pendek. Tak ada kata lain, sebab  pikirannya masih 

tertanam pada Jane.  

 

Dua belas bulan gaji 

Ouborg yaitu  wilayah eksklusif di bagian selatan Amsterdam. "Ibu tadi bilang, ia 

bukan hanya mendengar suara letusan senjata api, namun  juga teriakan suara 

wanita lesbian . Lalu sebuah mobil mewah warna perak kabur dari rumah tetangganya 

itu. Sayang, nomor polisi mobil tak sempat dicatat," cerita de Gier, yang gemar 

memacu mobil seperti pengebut jalanan.  

 

Tak heran kalau sejurus lalu , dari kaca spion tiba-tiba terlihat sebuah mobil 

patroli polisi. Seperti biasanya, mereka memberi isyarat agar de Gier meminggirkan 

mobil.  

 

"Cuekin aja," komentar Grijpstra. De Gier melirik speedometer. "Baru" 100 km per 

jam!  

 

"He-he-he. Enggak salah nih. Biasanya, Anda marah-marah kalau aku ngebut."  

 

"Memangnya orang enggak boleh berubah?" sahut Grijpstra.  

 32

 

"Lo kok malah berhenti?" protesnya lalu .  

 

"Ini 'kan mobil tua. Secepat apa pun dibawa ngebut, tak akan bisa menghindar dari 

mobil-mobil patroli keluaran terbaru. Lihat saja, sekarang mereka sudah nongkrong 

di depan kita."  

 

Grijpstra menarik napas panjang. "Lagi-lagi teknologi modern. Ya pistol, ya mobil, 

sama-sama bikin masalah!" 

 

"Ho-ho-ho, boleh kami ikut jalan-jalan?" seru salah satu dari dua polisi yang ada di 

mobil patroli, begitu tahu kendaraan yang hendak mereka tilang berisi dua detektif 

bengal. "Asal kalian tidak ribut dan menambah masalah, kenapa tidak?" balas de 

Gier, sedikit kesal sebab  perjalanannya terhambat.  

 

Sesampai di Ouborg, tak jauh dari TKP, seorang wanita setengah baya tampak 

melambai-lambaikan tangan pada mereka. Kelihatannya, ia wanita yang tadi 

menelepon de Gier. sesudah  bertukar cakap sebentar, rombongan polisi itu segera 

memeriksa keadaan di sekitar rumah besar, yang menjadi sumber suara letusan. 

"Aku rasa, tindakan kita ini ilegal," terdengar komentar salah seorang polisi 

berseragam.  

 

"Kamu benar. Detektif, kita butuh surat perintah untuk masuk ke dalam," teriak polisi 

berseragam satunya lagi.  

 

"Idiot. Seorang wanita lesbian  tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Berbusana minim 

dan wajahnya belepotan darah diterjang peluru. namun  kalian malah omong soal surat 

perintah," umpat de Gier, sambil memukul-mukulkan popor pistolnya pada kaca 

jendela. "Heh, percuma. Peralatan modern biasanya terbuat dari plastik ringan, 

mana mungkin bisa memecahkan kaca. Pakai yang ini saja, kuno namun  dijamin 

manjur," anjur Grijpstra, seraya memungut batu sebesar kepalan tangan dari taman.  

 

"Jane," pekik Grijpstra begitu masuk kamar.  

 

"Apa?" seru de Gier kaget.  

 

"Ia mirip banget dengan Jane. Ya ampun, sepertinya bunuh diri. Lihat, tangannya 

masih memegang pistol. namun  sebelum bunuh diri, korban kelihatannya sempat pesta 

minuman keras dan obat-obatan. Masih ada gelas dan botol minuman di sini. namun , 

mengapa minum-minum dengan hanya berbusana minim?"  

 

Semua menoleh, namun  tak ada yang menjawab pertanyaan Grijpstra. Tak juga dua 

polisi berseragam yang tampak menyibukkan diri dengan menelepon nomor darurat 

markas besar mereka. Sementara Grijpstra terus berkeliling ruangan.  

 

"Salut. Pemilik rumah ini punya lukisan karya Edward Hopper, pelukis terkenal 

Amazon  itu. Kamu tahu, Gier, harga lukisan ini mungkin setara dengan dua belas 

bulan gaji kita di kepolisian. Rumah ini pun harganya pasti miliaran," sang Ajun 

Komisaris terus ngoceh.  

 

Bukan bunuh diri 

 "Sudah dapat informasi?" tanya Grijpstra, tiga jam lalu .  

 

"Pertama, Anda pasti tahu, wanita yang kita temukan sudah benar-benar dalam 

keadaan meninggal. Kedua, dokter belum bisa memastikan pemicu  kematiannya 

 33

sebelum melakukan autopsi. Ketiga, paling menyebalkan, tak ada sama sekali sidik 

jari pembunuhnya," jawab Sersan de Gier. 

 

De Gier menambahkan, untuk sementara, dokter curiga wanita cantik itu tidak mati 

lantaran bunuh diri, melainkan overdosis narkoba. Perkiraan tim medis juga sejalan 

dengan penemuan tim forensik kepolisian bahwa kemungkinan bukan korban yang 

meletuskan senjata, meski saat ditemukan, pistol terselip di tangan kanannya.  

 

"Kalau ia sendiri yang menarik picunya, noda bekas keringat, uap yang keluar pasca 

letusan, dan pelumas pistol pasti bercampur jadi satu, menimbulkan jejak di telapak 

tangan. Padahal, saat ditemukan, tangan korban dalam kondisi bersih," ujar de Gier 

menirukan kesimpulan tim forensik.  

 

"Ajun Komisaris, kalau bukan kasus bunuh diri, tentu ada orang lain, mungkin saja 

pembunuhnya, yang sengaja meletakkan pistol di tangan korban," sambung de Gier. 

 

"Sebelum mati, korban sempat bercinta dengan pembunuhnya."  

 

"Kelihatannya begitu. Lalu pelakunya kabur memakai mobil mewah warna perak." 

 

"Omong-omong, siapa nama korban?" 

 

"Cora. Cora Fischer. Sedangkan rumah yang kita datangi tadi milik pacarnya, biasa 

dipanggil Waver. Kata para pembantu, beberapa hari terakhir, Waver tidak ada di 

sana."  

 

"Waver? Kamu tahu Gier, harga rumahnya setara dengan 20 tahun gajiku di 

kepolisian," lagi-lagi Grijpstra mengeluarkan "data statistik" yang tak terlalu 

dibutuhkan rekannya.  

 

Waver sendiri bukan nama asing di kalangan detektif Amsterdam. Meski bukan 

pengacara, dokter gigi, atau akuntan (profesi-profesi "basah" di Belanda), Waver 

kaya bukan main. Sayang, kekayaannya itu diperoleh dari berbagai bisnis ilegal. 

Seperti rumah judi, transaksi obat-obat terlarang, dan klub seks. Waver juga bukan 

pembayar pajak yang baik. Pendek kata, ia layak menyandang gelar "Pangeran 

Dunia Hitam". 

 

Toh, sampai detik itu, belum pernah ada borgol polisi yang berhasil mengikat kedua 

tangan sang "pangeran". Apalagi membawanya masuk bui. Waver selalu lolos, 

sebab  ia pandai memanipulasi pembukuan dan melenyapkan barang bukti. Lewat 

detektif yang menyamar sebagai salah satu tukang pukulnya, polisi juga tahu, 

setahun terakhir Waver punya pacar baru, seorang mantan model. Grijpstra yakin, 

pacar anyar Waver itulah yang baru saja mereka temukan tak bernyawa dalam 

keadaan berbusana minim.  

 

"Ke mana kita sekarang, Ajun Grijpstra?" 

 

"Ke cafe. Kita perlu sedikit menenggak gin dan mengisap rokok hitam." 

 

"Ho-ho-ho. Pagi yang indah!"  

 

Dicekoki narkoba 

Siangnya, Grijpstra dan de Gier sudah berada di ruang autopsi. De Gier yang tidak 

tahan menyaksikan "adegan mengerikan" di meja bedah memilih jalan-jalan di luar 

rumah sakit. Sedangkan Grijpstra menguatkan diri, menonton para ahli patologi 

 34

membuat sayatan panjang dari bahu ke titik pusat, dan sayatan pendek dari perut ke 

sekitar pinggang.  

 

Dokter yang lain menyayat kulit kepala untuk melihat tengkorak dan memeriksa luka 

bekas peluru. Huek! Grijpstra merasa, nafsu makannya hari itu bakal merosot tajam. 

Meski ini bukan pengalaman pertama, ia tetap tak bisa menerima, mengapa tubuh 

yang sudah dirusak pembunuh, harus dirusak lagi dengan pisau bedah?  

 

Sambil memperhatikan meja bedah, Grijpstra mencoba mereka-reka duduk perkara 

sebenarnya. Semasa hidupnya, Cora pasti sangat cantik. Itu sebabnya, ia menjadi 

model sejumlah pelukis terkenal. sesudah  pensiun sebagai model, Cora jatuh ke 

pelukan Waver. Wanita gemulai itu dengan gampangnya menjadi bintang dan 

"penguasa" klub seks milik Waver di Noordwijk. lalu  ... uffs, Grijpstra 

terbangun dari lamunan.  

 

Seorang dokter tiba-tiba sudah berdiri persis di depan hidungnya. "Kami telah 

melakukan serangkaian pemeriksaan," ujar anggota tim autopsi itu. "Tampaknya 

tidak ada bekas suntikan. Jadi, korban dicekoki atau mencekoki dirinya dengan 

kokain lewat jalan normal. Korban juga merokok dan minum minuman keras terlalu 

banyak," tambah sang dokter.  

 

"Jadi, zat-zat haram itu yang membunuh Cora?"  

 

"Bukan. Peluru di kepala yang membuat korban meninggal."  

 

"Anda yakin, Dok?"  

 

"Yakin sekali." 

 

Tak lama lalu , de Gier kembali dari acara jalan-jalannya. Hatinya senang 

melihat autopsi sudah selesai.  

 

"Ada hasil," tanyanya.  

 

"Yapp," jawab Grijpstra, "Kamu sendiri?" 

 

"Aku sempat melihat seorang lelaki dengan sepeda motor besar, berhenti lama tak 

jauh dari tempat kejadian perkara. Wajahnya tertutup helm. Perawakannya seperti 

petinju. Tingginya sekitar enam kaki (sekitar 180 cm - Red.)," cerita de Gier. "Dari 

balik helmnya, aku bisa melihat tatapan mata penuh rasa ingin tahu."  

 

"Kaki tangan Waver?" 

 

De Gier mengangkat bahu.  

 

Biaya hidup tinggi 

"Tuan Waver," de Gier membuka acara tanya jawabnya dengan Waver di ruang 

interogasi kepolisian. "Kami punya fakta, selama ini Anda berada di belakang banyak 

kemaksiatan. Mulai rumah judi, pelacuran terselubung, hingga peredaran obat bius." 

 

"Saya juga punya fakta. Kalian tak pernah punya bukti." 

 

"Bukti? Kutukan dari masyarakat, itulah buktinya. Pacar Anda mati di kamar Anda 

sendiri," de Gier berhenti sebentar.  

 

 35

"Hebatnya, ia dibuat seperti mati bunuh diri. Padahal kami yakin, dassh!, ia ditembak 

persis di kepalanya." 

 

"Seseorang juga telah memasukkan obat bius ke dalam minumannya," sambung 

Grijpstra.  

 

"Dengar, Detektif. Semua orang tahu Cora suka minum dan mengonsumsi narkoba. 

Saat kejadian, saya sedang menghabiskan malam bersama wanita lain, Yvette, yang 

jauh lebih menggairahkan. Mungkin ia tahu itu, frustrasi, lalu nekat bunuh diri." 

 

"Dengar, Waver," potong de Gier.  

 

"Untuk apa saya mendengarkan?" balas Waver hendak beranjak dari kursi. "Saya 

punya alibi dan Cora jelas bunuh diri. Semua orang tahu itu!"  

 

"Duduk, Waver! Kami yang menentukan jalan ceritanya. Mulanya, Anda menerima 

Cora dengan senang hati. Ia cantik, menggairahkan, dan ikon yang cukup dikenal di 

dunia seni. Ia seorang humas yang baik. Anda menjadikannya ratu di klub, 

membelikannya mobil mewah dan perhiasan mahal. namun  lama-kelamaan, Anda 

mulai sebal dan merasakan gaya hidup Cora yang jetset sebagai beban."  

 

"Cukup!" 

 

"Masih belum cukup, orang besar. Sebagai orang bisnis, Anda concern pada 

masalah untung-rugi. Agar neraca 'berimbang', Anda memaksa Cora 

menyelundupkan heroin. Berbekal kemolekan tubuhnya, Cora dapat melakukan 

tugas itu dengan mudah. Toh petugas pabean tak akan berani memegang-megang 

bagian tubuhnya yang sensitif. namun  lalu , Cora sadar tindakannya salah. Ia 

sebenarnya wanita lesbian  baik-baik. Lelaki seperti Andalah yang membuatnya jadi 

jahat!" 

 

"Halo?" Grijpstra melancarkan perang urat saraf.  

 

"Beberapa malam sebelum pembunuhan, Anda membakar mobil Camaro milik Cora. 

sebab  Anda tahu, Cora sangat menyayangi mobilnya. Dengan cara itu, Anda 

mengancamnya secara halus." 

 

"Detektif, kalaupun Cora mati dibunuh, kalian tak akan dapat menemukan 

pembunuhnya. Apalagi menuduh saya. Alibi saya kuat. Saya sedang tidak di rumah 

saat itu!"  

 

"Tentu saja. sebab  Anda punya si badan besar Freddy yang siap melaksanakan 

perintah apa saja."  

 

"Ngawur. Saya pergi sekarang," Waver berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan 

ruang interogasi tanpa mempedulikan Grijpstra dan de Gier yang saling 

berpandangan. Bang! Perang baru saja dimulai.  

 

"Omong-omong, dari mana kamu tahu soal Freddy?" tanya Grijpstra keheranan, tak 

lama sesudah  kepergian Waver.  

 

De Gier tersenyum licik.  

 

"Waver itu penjahat kelas kakap. Ia enggak akan mengotori tangannya sendiri 

dengan darah Cora. Polisi menyamar yang selama ini mengamati Waver bilang, ia 

 36

punya tukang pukul andalan bernama Freddy. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu 

apa-apa soal Freddy."  

 

"Gertakan yang bagus. Mudah-mudahan enggak meleset." 

 

"Tugas membunuh Cora banyak 'godaannya'. Itu sebabnya, mereka sempat 

berhubungan intim."  

 

"namun  kita masih harus membuktikan banyak hal. Kenyataannya, Waver memang 

tidak di rumah itu. Sedangkan Freddy, kalau betul memang dia pelakunya, tetap sulit 

dijangkau. Banyak saksi mata di Noordwijk yang akan memberi alibi. Freddy sedang 

main kartu dengan si Anu atau si Anu."  

 

"Eh, apa kabarnya Jane, ya?" De Gier tiba-tiba memelintir topik pembicaraan.  

 

Grijpstra diam, namun  jidatnya berkerut, tampak berpikir keras. Apa dia juga memikirkan 

Jane?  

 

Mengancam kucing 

Beberapa jam lalu , bel di apartemen de Gier berbunyi. Yang datang malam-

malam begini, tentu tamu istimewa, pikir De Gier. Ia segera meletakkan kucing 

kesayangannya di sofa, menaruh buku di meja, lalu  membukakan pintu untuk 

tamunya. 

 

"Selamat malam," seru seseorang. "Saya Freddy."  

 

Amboi! Kelihatannya, pancingan pada Waver mengena. Tanpa diminta, Freddy 

langsung duduk di sofa. Pantatnya yang segede pantat gajah nyaris menindih kucing 

de Gier. 

 

"Yang sedang Anda duduki, aslinya memang tempat duduk kucing saya," jelas de 

Gier. 

 

"Kucing tolol!"  

 

"Apa?" 

 

"Dengar. Aku datang membawa sejumlah uang," bilang Freddy, seraya menunjukkan 

sebuah amplop. "Ini baru uang muka. Anggap saja sebagai hadiah."  

 

"Cuma itu berita yang kamu bawa?" 

 

"Dasar polisi bandel. namun  aku suka polisi begitu. Itu sebabnya bos menawari kamu 

uang. Asal tahu saja, sudah banyak polisi yang kami bayar. Bagus kalau polisi 

bandel seperti kamu mau bergabung."  

 

"Begitu?"  

 

"Ya!" Freddy menyeringai.  

 

De Gier menyalakan rokoknya.  

 

"Sebenarnya, aku sedang tidak butuh uang panas. Jadi, bisa saja tawaran ini 

membuatku tersinggung dan menembak jidatmu. namun  aku ogah berkelahi di sini. 

Nanti merusak perabot," katanya santai.  

 37

 

"Kalau begitu, tunggu apalagi. Bos paling benci orang sok kayak kamu. Tak tahu diri. 

Kamu akan merasakan akibatnya!"  

 

"Seperti apa?" tantang de Gier.  

 

Freddy meraih kucing kesayangan de Gier. Lalu mengeluarkan pisau lipat dari 

kantung jaketnya. Dalam sekejap, pisau tadi menempel di leher kucing betina yang 

sangat ketakutan. 

 

"Aku bisa membedah kucing ini, persis seperti kalian membedah Cora. Bedanya, aku 

akan membiarkan isi perutnya berserakan. Tak ada jahitan penutup."  

 

De Gier mulai geram. "Keterlaluan," katanya dalam hati. namun  kemarahan itu 

ditahannya sekuat tenaga demi keselamatan kucing tersayang.  

 

"Aku juga akan membunuh ibumu dan seluruh isi apartemen ini. Bos dapat 

melakukan apa saja dan membeli siapa saja!" ancam Freddy. 

 

De Gier masih lebih suka mendengar ketimbang berdebat. Ia berharap mendapat 

informasi tambahan tentang Waver dari anak buahnya yang pongah ini.  

 

"Bisnis heroin dan kokain sedang bagus. Kamu juga bisa seperti aku, berlibur ke 

Bermuda, Seychelles, atau Indonesia," ujar Freddy, sambil berjalan keluar 

apartemen.  

 

De Gier lega, kucingnya selamat. "Good bye," katanya seraya menutup pintu. "Dan 

rasakan nanti pembalasan Tabriz," imbuhnya dalam hati. Tabriz yaitu  nama kucing 

De Gier. Ia menunggu Freddy masuk lift. Lalu turun lewat tangga. De Gier yang tiba 

lebih dulu di luar apartemen memberi isyarat pada Freddy, isyarat tantangan 

berkelahi. "Di sana," ujarnya menunjuk ke arah taman.  

 

Freddy yang jago karate dan bertubuh lebih besar tampaknya bakal di atas angin. 

namun  soal berkelahi tangan kosong, sabuk hitam judo de Gier tak layak dipertanyakan. 

Dalam waktu beberapa menit saja, tendangan dan pukulan simultan sersan 

berpostur jangkung itu berkelebat tanpa kenal lelah. Freddy tak berdaya, tersungkur 

di tanah, pingsan!  

 

Tiga jam lalu , tepatnya jam tiga pagi, rumah Cora Fischer didatangi tamu tak 

diundang. Tamu bersepeda itu kelihatannya maling profesional, sebab  dengan 

mudah menemukan kamar tidur Cora, mengumpulkan beberapa potong pakaian, 

membungkus sejumlah perhiasan, lalu pergi begitu saja tanpa diketahui para 

tetangga. 

 

Pukulan mematikan 

Besoknya, Grijpstra dan de Gier melangkah lebih maju. Mereka langsung 

mendatangi sarang sang Pangeran Hitam di klubnya di Noordwijk. Keruan, 

kedatangan mereka "disambut ramah" oleh Waver. Pelayan cantik mengenakan rok 

mini (maaf, tanpa pakaian dalam) datang membawakan bir. De Gier sempat 

memperhatikan wajah Waver. Lelaki yang beberapa hari lalu begitu sombong itu kini 

terlihat pucat.  

 

Bahasa tubuhnya menampakkan ketegangan luar biasa. Sepertinya, Grijpstra dan de 

Gier hanya tinggal melancarkan beberapa jab dan satu hook telak untuk membuat 

lawannya KO. "Saya dengar, Freddy meninggalkan sesuatu di apartemen Anda," 

 38

mata Waver mengarah pada de Gier. "Benar. Itu salah satu alasan kami ke sini. 

Silakan hitung jumlahnya," jawab de Gier, mengembalikan amplop. 

 

Tak lama sesudah  Waver mengambil kembali amplopnya, de Gier melancarkan jab 

pertama. "Anda kami tahan, Waver!"  

 

Sang "Pangeran Hitam" tersenyum sinis. "Ditahan untuk apa?"  

 

"Untuk beberapa tuduhan serius. Mengedarkan obat bius, prostituasi terselubung, 

dan judi ilegal," jawab Grijpstra tegas. 

 

"Benar-benar gila. Ini klub seks, bukan rumah bordil," Waver hendak beranjak dari 

kursinya.  

 

"Kalem, boy. Duduklah. Sersan de Gier 'kan sudah bilang, Anda ditahan!"  

 

"Sudah kubilang juga, kalian tak punya bukti."  

 

"Bagaimana dengan upaya menyogok kolega saya, mengancam kucing de Gier, dan 

terakhir, membunuh Cora Fischer?" Grijpstra melancarkan "jab" kedua.  

 

"Omong kosong!" Waver berteriak.  

 

"Sssst, Ajun Komisaris, permainan pianonya bagus banget. Aku mau menikmati 

musiknya dulu," de Gier memalingkan wajahnya ke arah panggung.  

 

Waver makin kesal. Apalagi saat  Grijpstra menggeledahnya dan menemukan satu 

gram kokain dan sebilah belati di kantung celana dan jaket. Sementara itu, pelayan-

pelayan seksi bertelanjang dada bergantian mengantar minuman. "Bagaimana 

dengan flute-nya, Gier?" celetuk Grijpstra. De Gier seperti tersentak, lalu 

mengeluarkan semacam suling kecil dari balik jasnya. 

 

Disambut tepukan meriah pengunjung klub, de Gier memainkan sebuah lagu syahdu. 

Suara flute-nya memenuhi ruangan. Piano dan kombo tak kesulitan mengiringi 

improvisasi sang detektif. Grijpstra sendiri tak menyangka, juniornya akan segila itu. 

Kegilaan yang makin membuat Waver stres. Bayangkan, para detektif itu tak hanya 

menuduhnya dengan beragam kejahatan, namun  juga "menguasai" massa klubnya.  

 

Suasana telah terbentuk. Pikiran Waver pun sudah dibuat kacau. Kini saatnya 

memberi pukulan mematikan. Tak lama lalu , dari pintu masuk klub, muncul 

seorang wanita bertubuh semampai. Tak diragukan lagi, paras dan lekuk tubuhnya 

begitu menggoda. Dandanannya tidak seronok, namun  berkelas. Rambutnya tertata 

dengan baik. Dibalut gaun indah dan perhiasan melingkari tangan dan leher, si 

wanita duduk tak jauh dari Grijpstra dan Waver. 

 

De Gier masih asyik memainkan "senjata" melengkingnya di panggung. Sementara 

Grijpstra menanti dengan berdebar-debar. Waver sendiri tampak gelisah. Matanya 

bergerak tak fokus. Sampai akhirnya tertumbuk pada sosok wanita lesbian  yang baru 

saja masuk klub. Sesaat  air muka Waver berubah. Dari tempat duduknya, Grijpstra 

bisa mendengar Waver berdesah, "Cora ...."  

 

Grijpstra segera melambaikan tangan pada detektif Cardozo dan anak buahnya. De 

Gier pun menghentikan alunan flute-nya. "Saatnya melakukan penggeledahan," bisik 

Grijpstra pada Cardozo. Sang Ajun Komisaris menyerahkan secarik kertas pada 

Waver. "Surat izin melakukan penggeledahan," ucapnya cepat. Seperti perkiraan 

 39

Grijpstra, bukannya membaca "surat tipuan" itu, Waver malah mematung 

memandangi wanita elegan tadi, sambil terus berbisik, "Cora ..., Cora ...."  

 

"Cepat, kita harus menemukan sesuatu di klub ini. Prioritaskan pada heroin," sergah 

Grijpstra, sesudah  bergabung kembali dengan Cardozo dan de Gier. Jika Waver 

"tersadar" sebelum barang bukti ditemukan, sia-sia jebakan ini dibuat. Polisi 

memfokuskan penggeledahan pada heroin, agar dapat memenjarakan Waver 

sementara waktu, sambil menyelidiki keterlibatannya pada kasus pembunuhan Cora. 

 

Pucuk dicinta ulam tiba. Di sebuah ruangan, Cardozo menemukan sebuah "patung 

dewa" berukuran sedang yang sangat dikenalnya. "Patung seperti ini pernah kami 

sita beberapa waktu lalu. namun  lebih enteng, sebab  dalamnya sudah bolong. Kami 

curiga sebelumnya diisi heroin yang diselundupkan melewati perbatasan," ujar 

Cardozo.  

 

"namun  patung yang ini beratnya lumayan," imbuh Cardozo.  

 

"Kelihatannya kita telah menemukan harta karun Waver," balas Grijpstra.  

 

"Juga modal untuk membuka outlet narkoba," canda de Gier. Senyum Grijpstra 

makin lebar, saat  seorang anak buah Cardozo melapor. "Siap, Pak. Tuan Waver 

mengakui keterlibatannya pada kasus pembunuhan Cora Fischer."  

 

"Secepat itu?"  

 

"Ya, Pak, dan dia juga masih terus memandangi polwan Jane!"  

 

"Ho-ho-ho, malam yang indah!" (Kisah rekaan/Janwillem van de Wetering/Icul)  

 

 

 

06. HOROR DI MOUNT VERNON 

 

Singapura tahun '70-an, bukanlah negeri yang bersahabat buat trio warganya, Ong 

Chin Hock, Yeo Ching Boon dan Ong Hwee Kuan. Mereka merasakan betapa 

tersiksanya hidup dengan penghasilan pas-pasan. Sementara biaya hidup makin hari 

kian tinggi. Malam itu, 21 April 1978, seperti biasanya tiga pemuda berumur 20 

tahunan itu bermain biliar di Kallang Amusement Centre (KAC). Hanya di tempat 

itulah, mereka dapat tertawa lepas, melupakan segala beban.  

 

Selepas nyodok, mereka ngobrol ngalor ngidul di sebuah taman, tak jauh dari KAC. 

Banyak hal diobrolkan, mulai masalah politik sampai kesehatan. namun  ujung-ujungnya, 

tak jauh dari urusan perut. Maklum, kecuali Chin Hock yang sedang menjalani wajib 

militer, Ching Boon dan Hwee Kuan statusnya pengangguran.  

 

"Hidup pasti jauh lebih mudah, kalau kita punya banyak duit," ujar satu dari mereka.  

 

"Ya, dengan duit, kita bisa berbuat apa saja."  

 

"namun  dari mana kita bisa mendapat banyak uang?"  

 

Ketiganya terdiam. Kuan yang berwajah kasar melontarkan ide setan,"Bagaimana 

kalau kita merampok?"  

 

 40

"Ide gila. namun  boleh juga," sahut Yeo yang bertampang innocent.  

 

"namun  kita harus punya pistol. Zaman sekarang, lebih enak merampok pakai pistol," 

balas Kuan.  

 

"Ya. Aku tahu cara mendapatkan pistol dengan gampang," cetus Yeo.  

 

Ia lalu bercerita tentang tempatnya berdinas saat wajib militer dulu, markas polisi 

yang juga berfungsi sebagai asrama pasukan cadangan, di Mount Vernon. Tentang 

penjaga pos kecil di pintu gerbang, yang hanya dijaga satu orang dan lebih sering 

dipercayakan pada polisi wajib militer. Juga perihal waktu terbaik untuk melakukan 

tipu daya, yakni lewat jam dua belas malam, saat  konsentrasi petugas jaga mulai 

kendur.  

 

"Yang belum aku tahu, bagaimana caranya merebut senjata petugas jaga."  

 

Mereka berpikir keras dan saling melontarkan ide. namun  sampai jam sebelas malam, 

tak jua terbersit jalan keluar. "Oke. Sekarang kita pulang. namun  ingat, kita harus cepat 

mencari solusi masalah ini," bisik Yeo pada kedua sohibnya.  

 

Putus sekolah 

 Yeo, Hock dan Kuan berteman sejak kecil. Ong Chin Hock alias Ah Hock masih 

bujang, tinggal di New Upper Changi Road, anak buruh bangunan. Ia putus sekolah, 

sehingga terpaksa mengikuti jejak bapaknya sebagai kuli bangunan, sebelum 

akhirnya masuk wajib militer.  

 

Sedangkan Yeo Ching Boon, dikenal juga sebagai Ah Pui atau Freddy, masih tinggal 

bersama orangtuanya. Anak tertua dari empat bersaudara ini pernah dikeluarkan dari 

sekolah sebab  berkelahi. Pernah juga bekerja sebagai penjaga gudang pada 

sebuah perusahaan tekstil, namun dikeluarkan, lagi-lagi sebab  berkelahi. 

 

Hwee Kuan alias Ah Kuan lain lagi. Ia sempat menjadi anggota kelompok Sio Kun 

Tong, yang kerap melakukan aksi pencopetan di sekitar Angullia Road. Tahun 1976, 

Kuan dan teman-temannya ditangkap polisi, sehabis merampok turis 

berkewarganegaraan Malaysia. Bulan April 1977, ia masuk rumah rehabilitasi, 

sebab  kecanduan narkoba.  

 

Keesokan harinya, tiga sekawan bertemu lagi di KAC. Sorenya, para pengangguran 

banyak acara ini melanjutkan aktivitasnya dengan menonton pertandingan sepakbola 

di bekas Sekolah Dasar mereka, Tu Li. Di salah satu sudut sekolah inilah, mereka 

kembali mendiskusikan niat jahatnya. 

 

"Sebagai modal, kita juga butuh senjata tajam. Aku sarankan pakai pencungkil es 

saja," ujar Yeo.  

 

"Aku setuju. namun  kita juga perlu pisau," balas Kuan.  

 

"Duitnya dari mana buat beli pisau?" sergah Yeo. 

 

Hock membuka jam yang melingkar di tangannya. "Jual saja ini, pakai untuk 

membeli pisau," katanya.  

 

Yeo tertegun sebentar, lalu mengangguk dan tersenyum. "Begini kira-kira 

skenarionya. Keculai Kuan, kita semua memakai seragam pakaian wajib militer. 

Dengan begitu, akan lebih mudah mendekati pos penjagaan." 

 41

 

"Menurutku, kita sebaiknya jangan pakai seragam," komentar Hock. "Di sana kan 

ada asrama. Kalau terlalu mencolok, berbahaya. Jika terjadi sesuatu, polisi-polisi 

yang tidak sedang bertugas bisa menyulitkan kita." 

 

"Jadi, gimana dong?" nada bicara Yeo terdengar putus asa. 

 

Lagi-lagi mereka saling melontar ide. Namun dari beberapa ide yang dibahas, tak 

satu pun disetujui secara aklamasi. Sampai akhirnya, Yeo mengetuk palu."  

 

"Oke, apapun recananya, tak boleh terlalu mencolok. Yang penting kita setuju untuk 

segera melaksanakan rencana ini." Anggota tiga sekawan yang lain hanya manggut-

manggut. Yeo pun melanjutkan, "Kita akan mulai bergerak jam dua dinihari, dua hari 

dari sekarang. Setuju?" 

 

Hock dan Kuan mengangguk.  

 

Bajak taksi 

 Dua hari lalu , persisnya sore menjelang malam, tiga sekawan seperti 

biasanya berkumpul di KAC. Yeo sempat main biliar dengan sejumlah temannya, 

sampai sekitar pukul 21.00. sesudah  itu, Yeo pergi ke sebuah kawasan pertokoan, 

untuk menjual jam tangan Hock, sekalian membeli dua buah pisau dapur.  

 

"Jam-jam segini banyak patroli polisi berkeliaran. Enggak aman membawa-bawa 

senjata tajam. Mending pisau-pisau ini disimpan di rumahku dulu," tegas Yeo. 

sesudah  menyimpan pisau, Yeo tak langsung keluar. Ia memotong sebuah tali terbuat 

dari nilon menjadi empat bagian. Cukup untuk mengikat tangan, kaki, atau menjerat 

leher. Lalu memasukkan tali-tali tadi dan alat pencungkil es ke dalam travel bag kecil 

kepunyaan adiknya. 

 

Jam dinding menunjukkan angka 10, masih empat jam lagi dari jadwal yang mereka 

rencanakan.  

 

"Aku masih butuh duit buat transportasi," bilang Yeo memecah kesunyian.  

 

"Jangan khawatir, aku punya seorang teman yang bisa dipinjami uang," tanggap 

Hock. Ditemani Kuan, Hock lalu  berangkat menuju rumah temannya di Lorong 

Koo. Ketiganya berjanji bertemu kembali pada pukul 11.45 di sekitar Kallang Bahru. 

Namun saat bertemu kembali, Hock ternyata datang dengan tangan hampa. Hanya 

Yeo berhasil meminjam Sin 10 dolar dari seorang teman.  

 

Sebagian uang itu mereka habiskan untuk makan dan minum di sebuah kafe.  

 

sesudah  kenyang, Yeo menuturkan rincian rencananya. "Kita akan beroperasi dari 

atas taksi. Di tengah jalan, kita bajak taksinya. Hock lalu mengambil alih kemudi, 

sedangkan Kuan duduk di kursi belakang, pura-pura mabuk. Aku sendiri, keluar taksi 

dan pura-pura minta bantuan dari polisi di pos jaga. sesudah  penjaga mendekat, aku 

akan mendorongnya masuk taksi, lalu  kita culik dan rampa senjatanya. 

Bagaimana?" 

 

"namun  jangan biarkan polisi dan sopir taksinya lolos begitu saja," timpal Kuan. "Kamu 

'kan tahu, aku punya catatan di kantor polisi. Kalau sopir taksi dan penjaga 

mengenali ciri-ciriku, kita akan langsung diciduk." 

 

"Baiklah, kita main aman. Keduanya harus mati. Setuju?" usul Yeo.  

 42

 

Kuan tampak senang, sedangkan Hock tak berkomentar sepatah kata pun.  

 

Tepat pukul 01.30, Yeo menyempatkan diri pulang ke flatnya, mengganti pakaian 

dengan t-shirt merah dan celana biru gelap. Ia memutuskan tidak memakai pakaian 

seragam wajib militer, seperti rencana semula. lalu  keluar dengan menenteng 

travel bag, dengan pencungkil es terselip di pinggang.  

 

"Semua siap?" tanya Yeo. 

 

"Siap," sahut Kuan dan Hock serentak.  

 

Terjerembab di got 

 Chew Theng Hin, sopir sekaligus pemilik taksi, tentu tak menyadari nyawanya 

sedang di ujung tanduk. Jarang-jarang jam segini ia masih berada di belakang 

kemudi. Biasanya ia sudah pulang ke rumahnya di Selegie House. Namun entah 

mengapa, pagi itu ia masih ingin berputar-putar mencari penumpang. Hatinya begitu 

gembira, saat  melihat tiga pemuda melambaikan tangan, menyetop taksinya.  

 

Meski sudah berusia 60 tahun, lelaki berambut pendek ini masih kelihatan energik, 

setidaknya jika dibandingkan dengan orangtua seusianya. Dengan tenang, Chew 

Theng Hin membuka pintu depan, mempersilakan penumpang nomor satu masuk. 

Penumpang nomor dua dan nomor tiga duduk di kursi belakang. Penumpang nomor 

satu dengan dingin berkata, "Asrama polisi Mount Vernon!" 

 

Tak sedikitpun terbersit kecurigaan dalam hati Chew. Ya, siapa curiga, jika 

penumpangnya bertujuan ke kantor polisi? Kalau bukan penegak hukum, pasti 

korban kejahatan yang hendak melaporkan kemalangannya. Chew yang sudah hafal 

kawasan itu, segera meluncur melewati Jln. Bendemeer, lalu ke Jln. Aljunied.  

 

Saat mendekati Police Reserve Unit (PRU) Mount Vernon, penumpang nomor satu 

meminta Chew belok kiri, ke arah gerbang belakang Mount Vernon yang selalu gelap 

gulita. Chew mulai menduga-duga, hendak ke mana sebenarnya tujuan tiga orang 

ditaksinya. Akhirnya, saat  taksi hampir sampai gerbang belakang PRU Mount 

Vernon, penumpang nomor satu menukas cepat, "Berhenti!" Chew pun menginjak 

pedal rem. 

 

Saat itulah, tiba-tiba penumpang nomor dua menempelkan pisau di leher Chew. 

Lelaki tua itu dapat melihat kilatan dan merasakan dinginnya senjata tajam pengiris 

daging dan sayuran tersebut. sesudah  itu, penumpang nomor satu menutup mulut 

Chew dengan kain. Sambil memamerkan pencungkil es, ia berkata, "Jangan coba-

coba melawan atau membuat gaduh." Ia lalu mengambil tali dan mengikat tangan 

Chew erat-erat.  

 

Sampai di sini, Chew mulai sadar, penumpangnya pagi itu bukan manusia baik-baik. 

Ia juga mulai punya firasat, sesuatu yang sangat buruk bakal menimpa dirinya. 

Sejurus lalu , penumpang nomor tiga turun dari mobil, berjalan ke depan 

kendaraan, lalu  membuka pintu tempat Chew disandera. "Turun!" bentaknya. 

Chew merasa, ini baru awal dari perlakuan buruk yang bakal segera diterimanya. 

Instingnya berkata, meski menuruti semua perintah mereka, belum tentu ia akan 

dilepas begitu saja.  

 

Akhirnya ia memutuskan memberi  perlawanan. Namun gerakan spontan Chew 

tak banyak menolong. Penumpang nomor satu mendorongnya dengan bahu, 

sedangkan penumpang nomor tiga mempermainkan badan Chew dengan lutut. 

 43

Breppp! Sesuatu yang mengerikan terjadi. Penumpang nomor dua menusukkan 

pisau ke perut sang sopir taksi malang. Chew tersungkur di selokan, sembari 

merintih menahan sakit.  

 

Penumpang nomor tiga segera duduk di depan kemudi. Taksi baru saja hendak 

tancap gas, saat  tiga penumpang yang sudah dikuasai nafsu setan itu melihat 

tubuh Chew merangkak naik dari selokan. "Dia masih hidup," teriak salah satu 

penumpang. Penumpang nomor satu dan penumpang nomor dua spontan turun dari 

mobil, dan tanpa ba bi bu menghujamkan pencungkil es dan pisau dapur ke leher 

Chew.  

 

Dalam tempo sekejap, Chew terguling, kembali masuk got, namun  tubuhnya tampak 

masih bergerak-gerak. Tanpa membuang waktu, penumpang nomor satu dan 

penumpang nomor dua menghampiri lelaki tua yang sedang meregang nyawa itu. 

Secara bersamaan, mereka menusukkan pisau dan pencungkil es ke daerah vital 

sopir malang. Brepp! Kali ini Chew tak lagi bergerak. 

 

Pagi itu, nyawa seorang kakek tak berdosa lenyap sia-sia di tangan Yeo, penumpang 

nomor satu, Kuan si penumpang nomor dua dan Hock, penumpang nomor tiga. 

Sebaliknya, dengan pandangan nanar, tiga sekawan itu malah bertukar kegembiraan. 

Rencana pertama sukses terlaksana. Sasaran pembantaian berikutnya, bakal 

menyusul. sesudah  Hock mengarahkan taksi rampasan mereka ke pos penjagaan, 

persis di depan pintu gerbang PRU Mount Vernon.  

 

Telunjuk terpotong 

Lee Kim Lai masih sangat muda saat  mendaftar wajib militer. Usianya baru delapan 

belas tahun. Ia berasal dari keluarga baik-baik, anak kedua dari empat bersaudara. 

Sebagai polisi wajib militer, ia tak boleh memilah-milih tempat berdinas. Itu sebabnya, 

dia bahagia saja saat ditempatkan di Mount Vernon. Pagi itu, dia baru saja 

menggantikan Koh Kah Kway, rekannya yang telah bertugas sejak pukul 13.00. 

 

Seragam tebal tak sanggup melindungi Kim dari serangan dingin yang menusuk. 

Meski begitu, ia tetap berusaha menunaikan tugas dengan penuh rasa 

tanggungjawab. Baru beberapa menit menjaga gerbang, ia melihat sebuah taksi 

kuning melintas di depan pos jaga. Dari tempatnya berdiri, Kim dapat melihat dengan 

jelas seorang pemuda keluar dari pintu depan, lalu menghampirinya.  

 

Pemuda itu, Yeo, menunjukkan kartu keterangan wajib militernya. Kim 

memperhatikan dengan seksama kartu yang ditunjukkan Yeo. Sesekali, matanya 

melirik ke taksi kuning yang mesinnya masih hidup. "Jadi, kamu wamil yang tinggal 

di asrama ini?" tanya Kim ramah.  

 

"Betul sekali. Boleh aku minta tolong untuk memapah kawanku yang mabuk? 

Badannya berat sekali. Dia sekarang tergeletak di kursi belakang taksi," sambung 

Yeo, sembari menunjuk ke arah taksi kuning.  

 

"Dia tinggal di asrama ini juga?"  

 

"Betul. 

 

"Memangnya kalian dari mana?" tanya Kim, mencoba tetap ramah. 

 

"Kami berdua baru saja jalan-jalan dan bertemu beberapa teman. namun  dasar bandel, 

dia kelihatannya minum terlalu banyak. Akhirnya, seperti kamu lihat, malah 

menyusahkan teman," bohong Yeo.  

 44

 

Kim calon polisi yang baik. Ia merasa sebagai seorang wajib militer, tugasnya tak 

hanya sebatas perintah yang diberikan komandan, namun  juga membantu sesama yang 

membutuhkan pertolongan. Apalagi yang membutuhkan pertolongan sesama 

penghuni asrama. Itu sebabnya, dengan senang hati ia berjalan menuju pintu 

belakang taksi. Saat pintu dibuka, ia memang mendapati seorang lelaki tengah 

berbaring di kursi.  

 

Namun ia terkejut saat Yeo tiba-tiba mendorongnya masuk ke dalam taksi. Lebih 

terkejut lagi sesudah  tahu, pemuda yang sebelumnya berbaring di kursi, Kuan, 

ternyata tidak mabuk sama sekali. Kim mencoba melakukan perlawanan. namun  dari 

belakang, Yeo dengan pencungkil esnya langsung mengancam. "Tetap di dalam dan 

jangan coba-coba melawan," bisiknya tepat di telinga Kim. 

 

sesudah  menutup pintu, Yeo bergegas ke pintu depan. Saat itu, ia sempat melihat 

beberapa orang di lantai satu dan lantai dua markas polisi Mount Vernon 

memperhatikannya. Untuk menghindari kecurigaan, Yeo mempercepat langkahnya.  

 

"Cepat kabur! Ada beberapa polisi di atas sana sedang memperhatikan kita," 

perintahnya pada pada Hock. Sedetik lalu , Hock sudah melarikan taksinya 

menuju arah Jln. Aljunied. Sementara di kursi belakang, Kuan masih setia 

mengancam Lee dengan pisau dapur. "Mana pisau satunya lagi?" teriak Yeo pada 

Kuan. Kuan menunjuk sela di antara dua kursi depan.  

 

"Aku engak punya uang. Benar-benar enggak punya uang!" pekik Lee. Ia tampak 

begitu ketakutan.  

 

Kuan mulai menempelkan pisau di leher Lee. Namun tanpa diduga, aksi Kuan saat 

mengambil pistol dari pinggang Kim ternyata mendapat perlawanan. Dalam 

pergumulan, pistol sempat jatuh. Yeo yang bearda di kursi depan langsung 

membantu Kuan. Ia berbalik badan,