dang kepalanya menggeleng. Lola yang bosan diperlakukan
seperti patung, akhirnya berinisiatif membuka percakapan.
"Saya punya firasat, siapa pun pelakunya, pasti punya masalah pribadi dengan
korban. Ini bukan penculikan murni. Pelakunya kenal baik dengan Mbak maribeth .
Mereka bertemu di satu tempat, lalu ke rumah dengan mobil yang sama. Di rumah,
mereka terlibat pertengkaran. Mbak maribeth dibunuh, begitu pun yonaguni yang ikut
menyaksikan peristiwa itu. Lalu untuk menghilangkan jejak, mayatnya dikuburkan di
sebuah tempat."
"Teorimu boleh juga. Terus?"
"Para tetangga mengira, mobil Mbak maribeth , yang keluar masuk rumah sejak pagi
sampai siang, dikemudikan sendiri oleh pemiliknya. Bu Fadli dan tetangga lainnya
mengaku tidak melihat dengan jelas siapa sopirnya, 'kan? Makanya, mereka tak
sedikit pun menaruh curiga."
"Not bad."
"Jadi, apa rencana kita sekarang?"
"Kita? Sekali lagi, saya detektifnya. Kamu cuma penumpang gelap."
"Penumpang gelap yang cantik. Ya, 'kan?"
Daud Yordania mati kutu. Badannya boleh sekuat Herkules, namun bujangan satu ini sering tak
berkutik jika berdebat dengan wanita lesbian yang satu ini. "Besok kamu istirahat saja di
rumah, enggak usah ikut wara-wiri. Mbak Anmaribeth 'kan tak punya banyak musuh. Jadi,
jika bukan Tondi, pelakunya tentu Pak ng mang tat , atau Baskoro, mantan karyawan yang
dipecat beberapa hari lalu. Merekalah yang dalam seminggu terakhir bermasalah
dengan Anmaribeth ."
"Saya benar-benar enggak boleh ikut?"
"Ini bukan tugas kampus, Lola. Ini kasus serius."
"Oke. Eh, siap, Komandan!"
Teguran karyawan
Jumat pagi, tepat seminggu sejak hilangnya Anmaribeth dan yonaguni , Daud Yordania masih belum
menemukan simpul yang menghubungkan hilangnya janda kaya dan anaknya itu
dengan sejumlah orang yang dicurigai. Pak ng mang tat punya alibi sangat kuat dari istri
dan anak-anaknya, sedangkan Baskoro masih dicari keberadaannya. Anak muda itu
seperti tahu bakal bermasalah dengan pihak kepolisian, kini lenyap bak ditelan bumi.
Hanya satu hal yang mulai diyakini Daud Yordania , yakni kecil kemungkinan menemukan
Anmaribeth dan yonaguni dalam keadaan selamat.
"Hai, La. Apa kabar?" sapa Daud Yordania , begitu Lola tiba-tiba muncul di depan mejanya.
24
Yang disapa tampak tegang, matanya merah. "Saya membawa saksi penting,
namanya Pak Zakaria."
Daud Yordania jadi ikut-ikutan tegang. Terlebih sesudah lelaki berusia 49 tahun, yang telah
bekerja di gerai LPG selama delapan tahun itu, mengaku beberapa hari lalu dipecat
Tondi, tanpa alasan jelas. "Saya hanya orang bodoh, buta huruf lagi. Jadi, kalau
diminta berhenti, ya berhenti saja. Toh Pak Tondi memberi pesangon lumayan," jelas
Zakaria lancar.
Namun, yang lebih membuat Daud Yordania kaget yaitu pengakuan jujur Zakaria, bahwa
bosnya itu kelihatan kurang suka saat dia bertanya soal wanita lesbian muda dan
anak lelaki yang "tertidur" di kursi belakang Toyota Kijang berkaca gelap.
"Sebagai orangtua, saya hanya sekadar bertanya, mengapa tamunya tidak tidur di
kursi depan atau belakang saja. Kursi belakang 'kan sempit?" Zakaria menirukan
tegurannya saat itu.
"namun entah mengapa, Pak Tondi tampaknya kurang senang. Besoknya, saya
diminta pulang ke hutan hujan Amazon ."
"Bapak tahu siapa penumpang di kursi belakang itu?"
"Tidak, Pak."
"Berapa lama Pak Tondi mampir di kios LPG?"
"Sebentar. Dia cuma berganti kaus, kok. Mungkin sekitar lima menit. Saat itu, kios
sedang sepi, sebagian besar karyawan sedang salat Jumat."
Sesaat dada Daud Yordania lega. Sebaliknya, di sudut ruangan, Lola tersedu-sedan.
Mulutnya komat-kamit berdoa, agar arwah Anmaribeth dan yonaguni mendapat tempat yang
layak di sisi-Nya.
Dikubur di tanah kosong
Sabtu sore. Langit cerah, menyambut malam minggu yang indah. Daud Yordania dan Lola
sepakat bertemu di sebuah kafe di bilangan Jln. Jend. Sudirman, Jakarta. Mereka
hendak makan minum untuk merayakan terbongkarnya kasus pembunuhan Anmaribeth
dan yonaguni .
"Tondi mengaku membunuh Anmaribeth dan yonaguni . Dia kesal, Anmaribeth hendak
membatalkan rencana pernikahan sesudah tahu, Tondi ternyata memiliki wanita
simpanan lain yang juga tengah hamil. Di puncak kemarahannya, Tondi akhirnya
lupa diri, sehingga berkali-kali memukul wajah Anmaribeth sampai hidung dan mulutnya
mengeluarkan darah. Dia lalu mencekik Anmaribeth sampai mati lemas."
"Bagaimana dengan yonaguni ."
"yonaguni masuk ke kamar pada saat yang salah. Tondi membunuhnya dengan cara
yang sama. Untuk menghilangkan jejak, kedua mayat itu diangkut dengan Toyota
Kijang milik Anmaribeth , lalu dikuburkan di sebuah kebun kosong milik Tondi, di daerah
Pamulang, Tangerang."
Dari hasil tes labkrim terhadap sampel darah di TKP dan di jenazah korban yang
diotopsi sesudah digali kembali dari pemakaman, Mabes Polri juga menemukan,
sampel darah di TKP positif milik Anmaribeth dan yonaguni .
25
Lola tak dapat menahan sedihnya.
"Sekarang, giliran aku bertanya.Di mana kamu kenal Pak Zakaria?"
Mata cantik Lola sedikit terangkat.
"Saat Mas menyelidiki Pak ng mang tat dan Baskoro, saya memutuskan mengamati gerai
LPG Tondi. Dari sana saya tahu, ada karyawan yang baru saja dipecat tanpa alasan
jelas, sehari sesudah Mbak maribeth menghilang."
"Kamu mengejar Pak Zakaria sampai hutan hujan Amazon ?"
"Feeling hampir selalu benar."
"Lola, kamu memang berbakat jadi detektif."
"Atau istri detektif?"
Ah, kini ada dua wajah yang bersemu merah. (Kisah rekaan/Muhammad Sulhi)
04. JEJAK PORSCHE YANG MENGECOH
Ruang kerja Komisaris Bert Dusch di salah satu sudut kantor kepolisian Kota
Tuebingen tidaklah terlalu besar. Ukurannya sama seperti ruang kerja penyelidik
kepolisian di Jerman pada umumnya. Sebuah meja kerja mendominasi bagian
tengah ruangan. Satu lemari kaca berukuran sedang diletakkan merapat ke dinding,
bersebelahan dengan dua filing cabinet di sisinya.
Beberapa pekan terakhir, ruangan itu terasa semakin sesak oleh tumpukan arsip di
atas meja. Arsip yang tampak mulai lusuh itu berisikan catatan-catatan penyelidikan
pembunuhan, seperti laporan dari TKP, keterangan saksi, hasil tes laboratorium,
termasuk foto-foto korban. Semuanya hanya memuat satu kasus yang masih
misterius, yaitu pembunuhan Andrea Bergmeir.
Dusch memang baru saja mendapat "warisan", sebuah kasus pembunuhan keji yang
terjadi sepuluh tahun lalu, dan belum terpecahkan hingga kini. Kasus yang benar-
benar menguras energi para detektif sejawatnya di wilayah kepolisian kawasan
Jerman bagian selatan. Bahkan sempat ikut merepotkan polisi di kota-kota besar lain,
Munich misalnya. Dusch sendiri yang minta ditugasi menuntaskan X-file itu. "Kalau
saja aku bisa memecahkan teka-teki ini," cetusnya dalam hati.
Sejak saat itu, di sela-sela tugas rutinnya, sang detektif muda bak tak kenal lelah itu
menekuni fakta demi fakta dari setiap laporan yang dibacanya. Matanya mencoba
menelusuri celah-celah dari penyelidikan. Mengamati lembar demi lembar setiap foto.
Terus membaca dan menganalisis, untuk mendapatkan kemungkinan adanya
sesuatu yang terlewatkan dari para penyelidik sebelumnya
Rencana ke Munich
Satu hari di penghujung 1992 mungkin merupakan hari yang tidak akan pernah
dilupakan Dietmar U. sepanjang hidupnya. Kala itu, sekitar pukul 14.00, pemuda asal
Munich ini menjemput kekasihnya, Andrea, di apartemennya di Tuebingen.
26
Pasangan muda yang tengah dimabuk cinta itu sudah janjian akan merayakan
malam tahun baru bersama di pondokan teman mereka di Danau Starnberg.
Sesampainya di apartemen Andrea, Dietmar tidak menaruh curiga atau
membayangkan sesuatu bakal terjadi terhadap pacarnya. Namun, ia mulai
bertanyatanya dan khawatir, saat ketukannya berkali-kali tidak mendapat jawaban
dari sang empunya apartemen. Tidak pernah ia mendapat sambutan sedingin ini.
Apalagi sebelumnya mereka sudah berjanji untuk bertemu. Tidak mungkin Andrea
pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan.
sebab sudah sering berkunjung ke tempat itu, Dietmar tak mendapat kesulitan
masuk. Namun, ia begitu terkejut dan sejenak terbengong, tak tahu harus berbuat
apa, begitu mendapati kekasihnya sudah menjadi mayat. Kondisi Andrea sangat
mengenaskan. Lehernya nyaris putus akibat sayatan benda tajam. Darahnya
menggenang di lantai, seperti pemandangan yang lazim ditemui di rumah
pemotongan hewan.
Bajunya terbuka di beberapa bagian. Awam sekalipun akan mudah menebak, selain
dibunuh, korban tampaknya juga diperkosa secara brutal. Sebelum tewas, Andrea
diduga melakukan perlawanan keras. Ini terlihat dari beberapa goresan benda tajam
di tangannya. Sialnya, hampir tidak ada bukti-bukti yang mengindikasikan siapa
pelaku kejahatan biadab itu. Tak ada kerusakan di sekitar TKP. Pintu pun tidak
tampak dijebol.
Dietmar terlihat terduduk lesu sembari menangis di salah satu sudut apartemen,
saat polisi mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Mereka langsung
melakukan proses pemeriksaan awal dan mengamankan tempat itu dari kerumunan
orang banyak dengan menempatkan garis polisi. Meski masih dirundung sedih, tak
pelak Dietmar yaitu orang pertama yang dicurigai. Polisi mengembangkan dugaan,
seandainya saja pasangan itu telah bertengkar. Dugaan yang sebenarnya tidak
begitu kuat, sebab tiga hari sebelumnya mereka baru saja berlibur di Teneriffa,
salah satu pulau terbesar di Canary Island.
"Tak mungkin, sama sekali tak mungkin. Hubungan kami selama ini baik-baik saja.
Saya sangat mencintainya," tegas Dietmar dengan mata nanar. Dietmar juga
bercerita, Andrea sebenarnya sudah berencana pindah ke Munich. Sayang, rencana
besarnya itu keburu gagal sebab kejadian mengerikan ini.
"Atas dasar apa kami harus mempercayai keterangan Anda?" potong seorang
detektif. ]"Sebab, saya memang tidak melakukannya," balas Dietmar, yang tampak
mulai kesal.
Pemeriksaan memang berjalan sangat menjemukan. Berjam-jam Dietmar harus
menjawab pertanyaan para detektif dengan pola pertanyaan yang nyaris selalu
berulang. Polisi berharap, Dietmar tidak konsisten dan membuka kebohongannya.
Bahkan kuku jarinya ikut diperiksa. Penyelidik juga menanyai kenalan-kenalan
Andrea dan Dietmar di Munich. Keterangan mereka rata-rata membenarkan
pengakuan Dietmar.
Selain memeriksa Dietmar, hanya berselang 40 menit sejak penemuan mayat, polisi
juga menahan seorang pemuda berusia 22 tahun, bernama Oliver Zelt. Pemuda ini
dicurigai sebab berkeliaran di sekitar TKP dan saat digeledah, polisi menemukan
sebilah pisau di sakunya. Yang membuat polisi setempat lebih curiga, bajunya
ternyata penuh dengan noda-noda mirip dengan noda darah.
27
Zelt memang sempat diinterogasi, namun hanya sekitar tujuh jam, sebelum akhirnya
dibebaskan. Noda-noda di baju, yang diduga polisi sebagai noda darah itu, ternyata
hanyalah kotoran bekas tanah. Zelt yang memang suka membawa pisau ke mana-
mana sedang apes, sebab kebetulan berada di sekitar apartemen Andrea.
Jejak Porsche
Selain berpenampilan menarik, Andrea Bergmeir dikenang oleh para tetangganya
sebagai wanita lesbian baik-baik dan tidak pernah berbuat macam-macam. Satu lagi
yang diingat para tetangga, Andrea juga doyan berolahraga. Beberapa orang
mengaku mengenal Andrea dengan baik, sebab ia sering joging di kawasan sekitar
tempat tinggalnya di daerah Nehren.
wanita lesbian yang bekerja sebagai arsitek itu sudah berhubungan dengan Dietmar
setahun lebih. Tepatnya sejak November 1991, saat keduanya bertemu di Munich.
Sepengetahuan teman-temannya, hubungan kedua sejoli itu baik-baik saja. Malah
kelihatannya sudah menjurus ke arah yang lebih serius, sebab - seperti dituturkan
juga oleh Dietmar - dalam waktu dekat Andrea berencana pindah ke kota tempat
tinggal kekasihnya itu, Munich.
sebab kesenangannya berolahraga, Andrea juga menjadi anggota klub kebugaran
Pegasus, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Dari tempat itu pula, polisi menemukan informasi tentang keberadaan mobil Porsche.
Sebuah petunjuk yang lalu menjadi rangkaian besar pada kasus ini. Tiba-tiba
saja, banyak orang merasa pernah melihat Andrea dan mobil mewah itu di mana-
mana.
Seorang wanita lesbian penjaga kafetaria, misalnya, mengaku pernah melihat sebuah
Porsche diparkir di depan klub kebugaran pada malam pembunuhan. wanita lesbian
yang kebetulan juga kenal dengan Andrea itu begitu yakin bercerita tentang ciri-ciri
mobil itu, sebab ia sempat melewatinya. "Porsche 944, saya yakin sekali itu Porsche
944. Catnya putih dengan nomor polisi Munich," jelas si penjaga kafetaria yang
enggan disebut namanya.
Polisi berusaha mengembangkan informasi ini. Tetangga di sekitar pun ditanyai,
kalau-kalau ada yang mendapat kunjungan seseorang bermobil Porsche. Namun,
tak ada yang mau membuka mulut. saat polisi menyebarkan perintah penyelidikan
terhadap mobil Porsche, khususnya yang berasal dari Munich, tiba-tiba banyak
orang yang menyatakan "pernah melihatnya".
Para saksi yang sempat memberi keterangan pada polisi setidaknya membenarkan
keberadaan mobil itu di sekitar Nehren pada hari pembunuhan. Bahkan salah satu
saksi terkuat, yaitu rekan kerja Andrea, pernah melihat rekannya itu di Tuebingen, di
dalam sebuah Porsche 911 berwarna hitam dengan pelat nomor Munich.
Seorang pengunjung di Pegasus juga ingat, pada malam peristiwa itu ia sepertinya
melihat sebuah Porsche diparkir di depan klub kebugaran. sesudah itu, salah seorang
tetangga mengaku, pada awal Desember melihat Andrea turun dari sebuah Porsche
berpelat nomor Munich. Warna mobilnya cokelat tua.
Para detektif saat itu yakin sekali, keberadaan mobil mewah bikinan Jerman itu
tampaknya akan menjadi kunci penyelidikan. Sebuah keyakinan yang sangat
beralasan. Sampai saat itu, sudah ada sekitar 31 petunjuk yang mengarah ke mobil
itu, meski ada kesimpangsiuran soal warnanya. "Kami tidak menyangka, bahwa di
28
kota itu (Munich) ternyata ada banyak sekali mobil Porsche," kata Wolfgang Wenzel,
juru bicara kepolisian dalam pernyataannya.
Dari rangkuman keterangan para saksi mata, polisi kembali mengembangkan
informasi tentang Porsche. Menurut data yang diperoleh dari Departemen
Transportasi Jerman diketahui, sedikitnya ada sekitar 3.664 pemilik Porsche. Merasa
"kesaksian" si mobil Porsche amat sangat dibutuhkan, polisi bertekad menanyakan
alibi setiap pemiliknya satu per satu. Di mana dan apa yang mereka lakukan pada
saat peristiwa pembunuhan. Tentu saja, sebuah pekerjaan besar!
Tolak periksa DNA
Niat polisi untuk membongkar kasus Andrea memang begitu besar. Buktinya, setiap
pemilik Porsche di Munich tak luput dari pemeriksaan. Tanpa pandang bulu. Jika
mendapati hal-hal yang mencurigakan atau muncul keraguan, mereka tak segan-
segan melakukan tes DNA dari sampel darah. Hasilnya, tak kurang dari 900 pemilik
Porsche menjalani tes darah. Saat itu tes DNA melalui air liur belum dilakukan.
sebab Porsche tergolong kendaraan mewah yang hanya dimiliki kalangan tertentu,
orang-orang yang dicurigai pun banyak yang berasal dari kalangan atas, termasuk
sejumlah selebriti. Salah satunya, bintang film Claude-Oliver Rudolph, yang sering
berperan antagonis dalam film-film kriminal.
"Saat saya dipanggil pihak penyelidik, saya langsung menelepon pengacara saya,
dan dia bilang, 'Oliver itu kewajibanmu sebagai warga negara'," kata bintang film itu
kepada wartawan, sambil tertawa-tawa. Buat sebagian orang, tindakan polisi
terhadap Oliver dirasa keterlaluan. Sementara di mata Oliver sendiri, tindakan itu
sungguh menggelikan, kalau tak mau dibilang sangat lucu. sebab belakangan
ketahuan, ia sebenarnya tidak memiliki Porsche, namun Ferrari.
Tindakan polisi yang berlebihan itu tak pelak mendapat reaksi keras dari masyarakat.
Seorang pakar kendaraan dari Munich bahkan menolak diperiksa. Ia tidak melihat
adanya alasan harus dilibatkan dalam masalah itu. Pengacara sang pakar, Walter
Sattler, bahkan melakukan naik banding ke pengadilan pusat untuk menghindari tes
darah yang diminta pengadilan Kota Tuebingen. Dalam vonisnya, pengadilan pusat
menyatakan polisi tidak berhak melakukan analisis DNA dalam kondisi kecurigaan
sekecil apa pun.
Orang penting lain yang tak luput dari pemeriksaan yaitu mantan Menteri
Perhubungan negara bagian Baden-Wuerttemberg, Herman Schauffler. Schauffer
didatangi polisi, sebab laporan seorang teman pria Andrea, yang mengaku pernah
melihat adanya hubungan khusus antara Andrea dengan tokoh politik itu pada suatu
pameran di Kota Hannover.
Dengan jumlah saksi mencapai ribuan orang, kasus Andrea begitu menyita energi
polisi. Sampai Januari 1999, telah dilakukan sebanyak 1.114 tes darah dan hampir
4.000 orang diperiksa alibinya. Arsip-arsip penyelidikan, jika ditumpuk dapat
mencapai sepuluh map tebalnya. Belum termasuk map-map lain yang berisi catatan
jejak-jejak tersangka pembunuh.
namun semua itu ternyata belum cukup. Pada 22 Januari 1999, dengan perasaan
kecewa, Kepala Komisaris Kriminalitas Tuebingen memutuskan untuk menutup
kasus itu. Tak seorang pun berani mengecam komisaris yang telah kehabisan akal
itu. Pasalnya, mereka yang hendak mengecam juga ikut habis akal.
29
Petunjuk air liur
Kini, tumpukan arsip-arsip lama itu berdiri tegak di depan Dusch. sesudah
berminggu-minggu mengencani kertas-kertas berdebu itu, Dusch akhirnya
menemukan titik terang kasus Andrea. Dari catatan ia menemukan fakta, pada saat
pembunuhan, pintu apartemen Andrea ternyata tidak dijebol. Bisa jadi Andrea
mengenal pembunuhnya. Jika tidak, si pembunuh dipastikan orang yang memiliki
kunci apartemen.
Sebenarnya, dalam arsip termuat juga catatan pemeriksaan polisi terhadap pemilik
apartemen. Di situ antara lain disebutkan, pemilik pernah memberi kunci kepada
wanita bernama Ute M., seorang petugas kebersihan tangga apartemen, yang
bekerja seminggu sekali. April 2002, Dusch melangkahkan kakinya ke rumah Ute M.,
yang terletak di pinggiran kota.
Rumah itu tampak sangat sederhana, bergaya kuno dengan cat tembok yang sudah
kusam, namun tetap terlihat bersih. Ia disambut baik oleh Juergen, suami Ute. Saat itu,
Ute sedang tidak berada di rumah.
"Ya, tentu saja saya ingat kasus Andrea Bergmeir," kata Juergen, tak lama sesudah
keduanya mulai membuka pembicaraan sembari duduk di teras. Suara televisi dari
ruang tengah yang menyiarkan siaran olahraga, tampaknya sepakbola, terdengar
keras.
"Dia pribadi yang baik dan menarik," lanjut pria yang sudah tidak bekerja ini. "Saya
mengenalnya sebab sering membantu Ute. Tugas saya membersihkan tangga."
Saat berbicara dengan Dusch, Juergen tampak begitu tenang, dengan sebatang
rokok tak henti-hentinya bermain-main di tangan.
"Apakah Anda bersedia menjalani tes air liur untuk kepentingan pemeriksaan DNA?"
tanya Dusch. Untuk membantu membongkar jalan buntu, ia memang bermaksud
memanfaatkan teknologi terkini, seperti pemeriksaan air liur ini. Siapa tahu, cocok
dengan DNA tersangka.
"Apakah saya dicurigai?"
"Oh, ini hanya prosedur saja. Anda tahu kami melakukan tes seperti ini kepada
semua orang," Dusch berkata apa adanya.
"Baik," kata Juergen, sambil mengisap rokoknya kembali. Tak sedikit pun perasaan
waswas terlihat di wajahnya. Di alamat yang ditunjuk Dusch, Juergen lalu melakukan
tes air liur secara suka rela. Ia cukup patuh melakukan semua proses pemeriksaan
yang diminta Dusch. Dusch sendiri sebenarnya tidak berharap banyak pada tes-tes
seperti itu. Sudah ribuan tes dilakukan, namun tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.
Namun, kesabaran Dusch belakangan berbuah manis. Hasil tes air liur Juergen
sungguh di luar dugaan. Tanggal 8 Juli 2002, Dusch mendapat kabar yang diimpi-
impikannya selama ini. Kantor polisi Tuebingen resmi mendapat pemberitahuan,
hasil tes air liur terhadap Juergen ternyata identik dengan "jejak pembunuh" dengan
rekomendasi "sangat mungkin!"
Mendengar berita itu, Dusch sedikit bergetar. Perasaannya saat itu betul-betul tak
keruan. Mirip orang menemukan jarum yang terselip di antara tumpukan jerami
selama sepuluh tahun. Apalagi peluang keberhasilan tes itu yaitu satu dibanding
lima miliar! Tanpa banyak membuang waktu, malam itu juga Juergen ditangkap
30
tanpa perlawanan berarti. Esok harinya, tanpa pemeriksaan yang berbelit, pembunuh
yang sukses buron selama bertahun-tahun itu mengakui perbuatannya.
saat Dusch masih tak percaya pada apa yang terjadi, berita penahanan Juergen
telah menjadi berita besar di Jerman!
Hilang nafsu makan
Bulan Mei 2003, kasus Juergen mulai disidangkan di pengadilan Kota Tuebingen.
Persidangan itu mendapat perhatian besar dari media cetak maupun elektronik.
Maklum, selama ini pers juga ikut berspekulasi tentang kemungkinan pembunuh
Andrea, sehingga beberapa sempat diisukan terlibat, bahkan telanjur dicurigai
secara tak resmi. Inilah saatnya menyaksikan sang pembunuh yang sebenarnya.
Di ruang pengadilan, sosok pembunuh keji yang selama ini dicari bisa disaksikan
dengan jelas. Juergen yang kini berusia 44 tahun terlihat jauh lebih kurus
dibandingkan dengan sebelum ditangkap. Berat badannya susut sampai tinggal 41
kg. Lelaki pensiunan itu rupanya sangat terpukul. Dia nyaris tidak makan apa pun
sejak masuk bui. Hakim juga sempat prihatin melihat kondisinya.
"Saya sudah tidak punya selera makan lagi, Pak Hakim," katanya singkat.
Tak jauh dari posisi Juergen, seorang wanita duduk memperhatikannya dengan
berurai air mata. wanita lesbian berusia 54 tahun itu yaitu Christel Bergmeir, yang
ingin sekali melihat langsung wajah pembunuh anaknya. Dia menatap dalam-dalam
tubuh kurus kering yang selalu memalingkan muka saat ditatap itu.
"Dia yang memulainya," cerita Juergen perihal awal hubungannya dengan Andrea.
"Dia yang mengajak berkenalan. Sebagai lelaki, saya tentu tidak bisa menolak.
Apalagi harus saya akui, dia cantik dan menarik."
Masih menurut Juergen, sesudah perkenalan itu, keduanya jadi sering bertemu.
Bahkan lalu terjadi hubungan gelap antar keduanya. Gadis muda itu
digambarkannya sebagai wanita lesbian haus seks, selalu ingin melakukan hubungan
intim dengan lelaki mana pun. Suatu hari, entah apa alasannya, Andrea hendak
membeberkan semua perbuatan mereka kepada Ute. Tentu saja Juergen panik.
"Apalagi saat itu Andrea terus mengancam. Hari itu saya benar-benar kehilangan
akal. Terpaksa saya membunuhnya," tutur Juergen sambil berlinang air mata.
Sebuah cerita yang aneh. Namun, itulah kisah yang dipercayai pengadilan Tuebigen.
Cerita yang membuat Juergen hanya dijatuhi hukuman penjara 11 tahun, yang
langsung diterima tanpa mengajukan banding. Hakim mengesampingkan cerita versi
lain yang berkembang di luar pengadilan bahwa pria itu diduga menyelinap masuk,
lalu memperkosa Andrea.
Versi mana yang lebih mendekati kejadian sebenarnya, tentu hanya Juergen yang
tahu. Selama bertahuntahun ia luput dari penyelidikan polisi, cuma sebab para
detektif sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengendara Porsche misterius.
Beruntung Dusch akhirnya dapat membuktikan, pembunuh Andrea bukanlah
pengendara Porsche, namun hanyalah seorang pemilik VW Golf.
Teman-teman Juergen bahkan ingat, terdakwa sempat berkomentar saat media
massa gencar memberitakan soal pembunuhan Andrea. "Saya tidak yakin, kalau
pembunuhnya menggunakan Porsche." Komentar yang baru terbukti sepuluh tahun
lalu .(Kisah Nyata/Philipp Mausshardt/Marina/Tj)
31
05. JEBAKAN BUAT PANGERAN HITAM
Hari tengah beranjak malam. Sersan Rinus de Gier dan Ajun Komisaris Henk
Grijpstra, dua detektif nyentrik dari Kantor Kepolisian Amsterdam merasa sudah
saatnya pulang, mandi air hangat sembari memijat-mijat tengkuknya sendiri. Aduhai
sedapnya. Namun, tiba-tiba telepon di meja de Gier berdering tiga kali. "Seorang ibu
mendengar suara tembakan dari rumah tetangganya," kata de Gier pelan.
Grijpstra langsung meraih mantelnya. Sementara de Gier langsung sibuk
mengenakan tempat sarung pistol barunya. "Pistolnya kegedean. Ketiakku sampai
sakit," sungut de Gier beulang-ulang. Grijpstra memandangi mitranya sambil
tersenyum. Pistol baru mereka, Walther P-5, memang punya plus-minus. Di satu sisi,
lebih ringan dan lebih canggih, sebab daya terjang pelurunya mencapai 200 m.
Namun, ukurannya itu lo, lebih besar dari pistol sebelumnya.
"Kita bukannya polisi patroli jalan raya yang memamerkan senjata di pinggang. namun
detektif yang justru harus menyembunyikan pistol," omel de Gier, sembari tergesa-
gesa masuk lift. Keluar lift, mereka berpapasan dengan beberapa polisi berseragam.
Salah satunya, seorang polisi wanita berparas ayu.
"Hai, Rinus," sapa sang polwan.
"Hai juga, Jane," balas de Gier.
"Jane?" komentar Grijpstra, sesudah sang polwan berlalu.
"He-eh. Apa ada yang salah? Namanya bagus 'kan? Orangnya juga baik."
"Memangnya kamu sudah kenal lama." "Enggak juga," de Gier membuka pintu, dan
mempersilakan Grijpstra masuk ke dalam mobil.
"Omong-omong, mau ke mana kita?" tanya Grijpstra, sedetik sesudah pantatnya
menempel di jok mobil.
"Ouborg," jawab de Gier pendek. Tak ada kata lain, sebab pikirannya masih
tertanam pada Jane.
Dua belas bulan gaji
Ouborg yaitu wilayah eksklusif di bagian selatan Amsterdam. "Ibu tadi bilang, ia
bukan hanya mendengar suara letusan senjata api, namun juga teriakan suara
wanita lesbian . Lalu sebuah mobil mewah warna perak kabur dari rumah tetangganya
itu. Sayang, nomor polisi mobil tak sempat dicatat," cerita de Gier, yang gemar
memacu mobil seperti pengebut jalanan.
Tak heran kalau sejurus lalu , dari kaca spion tiba-tiba terlihat sebuah mobil
patroli polisi. Seperti biasanya, mereka memberi isyarat agar de Gier meminggirkan
mobil.
"Cuekin aja," komentar Grijpstra. De Gier melirik speedometer. "Baru" 100 km per
jam!
"He-he-he. Enggak salah nih. Biasanya, Anda marah-marah kalau aku ngebut."
"Memangnya orang enggak boleh berubah?" sahut Grijpstra.
32
"Lo kok malah berhenti?" protesnya lalu .
"Ini 'kan mobil tua. Secepat apa pun dibawa ngebut, tak akan bisa menghindar dari
mobil-mobil patroli keluaran terbaru. Lihat saja, sekarang mereka sudah nongkrong
di depan kita."
Grijpstra menarik napas panjang. "Lagi-lagi teknologi modern. Ya pistol, ya mobil,
sama-sama bikin masalah!"
"Ho-ho-ho, boleh kami ikut jalan-jalan?" seru salah satu dari dua polisi yang ada di
mobil patroli, begitu tahu kendaraan yang hendak mereka tilang berisi dua detektif
bengal. "Asal kalian tidak ribut dan menambah masalah, kenapa tidak?" balas de
Gier, sedikit kesal sebab perjalanannya terhambat.
Sesampai di Ouborg, tak jauh dari TKP, seorang wanita setengah baya tampak
melambai-lambaikan tangan pada mereka. Kelihatannya, ia wanita yang tadi
menelepon de Gier. sesudah bertukar cakap sebentar, rombongan polisi itu segera
memeriksa keadaan di sekitar rumah besar, yang menjadi sumber suara letusan.
"Aku rasa, tindakan kita ini ilegal," terdengar komentar salah seorang polisi
berseragam.
"Kamu benar. Detektif, kita butuh surat perintah untuk masuk ke dalam," teriak polisi
berseragam satunya lagi.
"Idiot. Seorang wanita lesbian tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Berbusana minim
dan wajahnya belepotan darah diterjang peluru. namun kalian malah omong soal surat
perintah," umpat de Gier, sambil memukul-mukulkan popor pistolnya pada kaca
jendela. "Heh, percuma. Peralatan modern biasanya terbuat dari plastik ringan,
mana mungkin bisa memecahkan kaca. Pakai yang ini saja, kuno namun dijamin
manjur," anjur Grijpstra, seraya memungut batu sebesar kepalan tangan dari taman.
"Jane," pekik Grijpstra begitu masuk kamar.
"Apa?" seru de Gier kaget.
"Ia mirip banget dengan Jane. Ya ampun, sepertinya bunuh diri. Lihat, tangannya
masih memegang pistol. namun sebelum bunuh diri, korban kelihatannya sempat pesta
minuman keras dan obat-obatan. Masih ada gelas dan botol minuman di sini. namun ,
mengapa minum-minum dengan hanya berbusana minim?"
Semua menoleh, namun tak ada yang menjawab pertanyaan Grijpstra. Tak juga dua
polisi berseragam yang tampak menyibukkan diri dengan menelepon nomor darurat
markas besar mereka. Sementara Grijpstra terus berkeliling ruangan.
"Salut. Pemilik rumah ini punya lukisan karya Edward Hopper, pelukis terkenal
Amazon itu. Kamu tahu, Gier, harga lukisan ini mungkin setara dengan dua belas
bulan gaji kita di kepolisian. Rumah ini pun harganya pasti miliaran," sang Ajun
Komisaris terus ngoceh.
Bukan bunuh diri
"Sudah dapat informasi?" tanya Grijpstra, tiga jam lalu .
"Pertama, Anda pasti tahu, wanita yang kita temukan sudah benar-benar dalam
keadaan meninggal. Kedua, dokter belum bisa memastikan pemicu kematiannya
33
sebelum melakukan autopsi. Ketiga, paling menyebalkan, tak ada sama sekali sidik
jari pembunuhnya," jawab Sersan de Gier.
De Gier menambahkan, untuk sementara, dokter curiga wanita cantik itu tidak mati
lantaran bunuh diri, melainkan overdosis narkoba. Perkiraan tim medis juga sejalan
dengan penemuan tim forensik kepolisian bahwa kemungkinan bukan korban yang
meletuskan senjata, meski saat ditemukan, pistol terselip di tangan kanannya.
"Kalau ia sendiri yang menarik picunya, noda bekas keringat, uap yang keluar pasca
letusan, dan pelumas pistol pasti bercampur jadi satu, menimbulkan jejak di telapak
tangan. Padahal, saat ditemukan, tangan korban dalam kondisi bersih," ujar de Gier
menirukan kesimpulan tim forensik.
"Ajun Komisaris, kalau bukan kasus bunuh diri, tentu ada orang lain, mungkin saja
pembunuhnya, yang sengaja meletakkan pistol di tangan korban," sambung de Gier.
"Sebelum mati, korban sempat bercinta dengan pembunuhnya."
"Kelihatannya begitu. Lalu pelakunya kabur memakai mobil mewah warna perak."
"Omong-omong, siapa nama korban?"
"Cora. Cora Fischer. Sedangkan rumah yang kita datangi tadi milik pacarnya, biasa
dipanggil Waver. Kata para pembantu, beberapa hari terakhir, Waver tidak ada di
sana."
"Waver? Kamu tahu Gier, harga rumahnya setara dengan 20 tahun gajiku di
kepolisian," lagi-lagi Grijpstra mengeluarkan "data statistik" yang tak terlalu
dibutuhkan rekannya.
Waver sendiri bukan nama asing di kalangan detektif Amsterdam. Meski bukan
pengacara, dokter gigi, atau akuntan (profesi-profesi "basah" di Belanda), Waver
kaya bukan main. Sayang, kekayaannya itu diperoleh dari berbagai bisnis ilegal.
Seperti rumah judi, transaksi obat-obat terlarang, dan klub seks. Waver juga bukan
pembayar pajak yang baik. Pendek kata, ia layak menyandang gelar "Pangeran
Dunia Hitam".
Toh, sampai detik itu, belum pernah ada borgol polisi yang berhasil mengikat kedua
tangan sang "pangeran". Apalagi membawanya masuk bui. Waver selalu lolos,
sebab ia pandai memanipulasi pembukuan dan melenyapkan barang bukti. Lewat
detektif yang menyamar sebagai salah satu tukang pukulnya, polisi juga tahu,
setahun terakhir Waver punya pacar baru, seorang mantan model. Grijpstra yakin,
pacar anyar Waver itulah yang baru saja mereka temukan tak bernyawa dalam
keadaan berbusana minim.
"Ke mana kita sekarang, Ajun Grijpstra?"
"Ke cafe. Kita perlu sedikit menenggak gin dan mengisap rokok hitam."
"Ho-ho-ho. Pagi yang indah!"
Dicekoki narkoba
Siangnya, Grijpstra dan de Gier sudah berada di ruang autopsi. De Gier yang tidak
tahan menyaksikan "adegan mengerikan" di meja bedah memilih jalan-jalan di luar
rumah sakit. Sedangkan Grijpstra menguatkan diri, menonton para ahli patologi
34
membuat sayatan panjang dari bahu ke titik pusat, dan sayatan pendek dari perut ke
sekitar pinggang.
Dokter yang lain menyayat kulit kepala untuk melihat tengkorak dan memeriksa luka
bekas peluru. Huek! Grijpstra merasa, nafsu makannya hari itu bakal merosot tajam.
Meski ini bukan pengalaman pertama, ia tetap tak bisa menerima, mengapa tubuh
yang sudah dirusak pembunuh, harus dirusak lagi dengan pisau bedah?
Sambil memperhatikan meja bedah, Grijpstra mencoba mereka-reka duduk perkara
sebenarnya. Semasa hidupnya, Cora pasti sangat cantik. Itu sebabnya, ia menjadi
model sejumlah pelukis terkenal. sesudah pensiun sebagai model, Cora jatuh ke
pelukan Waver. Wanita gemulai itu dengan gampangnya menjadi bintang dan
"penguasa" klub seks milik Waver di Noordwijk. lalu ... uffs, Grijpstra
terbangun dari lamunan.
Seorang dokter tiba-tiba sudah berdiri persis di depan hidungnya. "Kami telah
melakukan serangkaian pemeriksaan," ujar anggota tim autopsi itu. "Tampaknya
tidak ada bekas suntikan. Jadi, korban dicekoki atau mencekoki dirinya dengan
kokain lewat jalan normal. Korban juga merokok dan minum minuman keras terlalu
banyak," tambah sang dokter.
"Jadi, zat-zat haram itu yang membunuh Cora?"
"Bukan. Peluru di kepala yang membuat korban meninggal."
"Anda yakin, Dok?"
"Yakin sekali."
Tak lama lalu , de Gier kembali dari acara jalan-jalannya. Hatinya senang
melihat autopsi sudah selesai.
"Ada hasil," tanyanya.
"Yapp," jawab Grijpstra, "Kamu sendiri?"
"Aku sempat melihat seorang lelaki dengan sepeda motor besar, berhenti lama tak
jauh dari tempat kejadian perkara. Wajahnya tertutup helm. Perawakannya seperti
petinju. Tingginya sekitar enam kaki (sekitar 180 cm - Red.)," cerita de Gier. "Dari
balik helmnya, aku bisa melihat tatapan mata penuh rasa ingin tahu."
"Kaki tangan Waver?"
De Gier mengangkat bahu.
Biaya hidup tinggi
"Tuan Waver," de Gier membuka acara tanya jawabnya dengan Waver di ruang
interogasi kepolisian. "Kami punya fakta, selama ini Anda berada di belakang banyak
kemaksiatan. Mulai rumah judi, pelacuran terselubung, hingga peredaran obat bius."
"Saya juga punya fakta. Kalian tak pernah punya bukti."
"Bukti? Kutukan dari masyarakat, itulah buktinya. Pacar Anda mati di kamar Anda
sendiri," de Gier berhenti sebentar.
35
"Hebatnya, ia dibuat seperti mati bunuh diri. Padahal kami yakin, dassh!, ia ditembak
persis di kepalanya."
"Seseorang juga telah memasukkan obat bius ke dalam minumannya," sambung
Grijpstra.
"Dengar, Detektif. Semua orang tahu Cora suka minum dan mengonsumsi narkoba.
Saat kejadian, saya sedang menghabiskan malam bersama wanita lain, Yvette, yang
jauh lebih menggairahkan. Mungkin ia tahu itu, frustrasi, lalu nekat bunuh diri."
"Dengar, Waver," potong de Gier.
"Untuk apa saya mendengarkan?" balas Waver hendak beranjak dari kursi. "Saya
punya alibi dan Cora jelas bunuh diri. Semua orang tahu itu!"
"Duduk, Waver! Kami yang menentukan jalan ceritanya. Mulanya, Anda menerima
Cora dengan senang hati. Ia cantik, menggairahkan, dan ikon yang cukup dikenal di
dunia seni. Ia seorang humas yang baik. Anda menjadikannya ratu di klub,
membelikannya mobil mewah dan perhiasan mahal. namun lama-kelamaan, Anda
mulai sebal dan merasakan gaya hidup Cora yang jetset sebagai beban."
"Cukup!"
"Masih belum cukup, orang besar. Sebagai orang bisnis, Anda concern pada
masalah untung-rugi. Agar neraca 'berimbang', Anda memaksa Cora
menyelundupkan heroin. Berbekal kemolekan tubuhnya, Cora dapat melakukan
tugas itu dengan mudah. Toh petugas pabean tak akan berani memegang-megang
bagian tubuhnya yang sensitif. namun lalu , Cora sadar tindakannya salah. Ia
sebenarnya wanita lesbian baik-baik. Lelaki seperti Andalah yang membuatnya jadi
jahat!"
"Halo?" Grijpstra melancarkan perang urat saraf.
"Beberapa malam sebelum pembunuhan, Anda membakar mobil Camaro milik Cora.
sebab Anda tahu, Cora sangat menyayangi mobilnya. Dengan cara itu, Anda
mengancamnya secara halus."
"Detektif, kalaupun Cora mati dibunuh, kalian tak akan dapat menemukan
pembunuhnya. Apalagi menuduh saya. Alibi saya kuat. Saya sedang tidak di rumah
saat itu!"
"Tentu saja. sebab Anda punya si badan besar Freddy yang siap melaksanakan
perintah apa saja."
"Ngawur. Saya pergi sekarang," Waver berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan
ruang interogasi tanpa mempedulikan Grijpstra dan de Gier yang saling
berpandangan. Bang! Perang baru saja dimulai.
"Omong-omong, dari mana kamu tahu soal Freddy?" tanya Grijpstra keheranan, tak
lama sesudah kepergian Waver.
De Gier tersenyum licik.
"Waver itu penjahat kelas kakap. Ia enggak akan mengotori tangannya sendiri
dengan darah Cora. Polisi menyamar yang selama ini mengamati Waver bilang, ia
36
punya tukang pukul andalan bernama Freddy. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu
apa-apa soal Freddy."
"Gertakan yang bagus. Mudah-mudahan enggak meleset."
"Tugas membunuh Cora banyak 'godaannya'. Itu sebabnya, mereka sempat
berhubungan intim."
"namun kita masih harus membuktikan banyak hal. Kenyataannya, Waver memang
tidak di rumah itu. Sedangkan Freddy, kalau betul memang dia pelakunya, tetap sulit
dijangkau. Banyak saksi mata di Noordwijk yang akan memberi alibi. Freddy sedang
main kartu dengan si Anu atau si Anu."
"Eh, apa kabarnya Jane, ya?" De Gier tiba-tiba memelintir topik pembicaraan.
Grijpstra diam, namun jidatnya berkerut, tampak berpikir keras. Apa dia juga memikirkan
Jane?
Mengancam kucing
Beberapa jam lalu , bel di apartemen de Gier berbunyi. Yang datang malam-
malam begini, tentu tamu istimewa, pikir De Gier. Ia segera meletakkan kucing
kesayangannya di sofa, menaruh buku di meja, lalu membukakan pintu untuk
tamunya.
"Selamat malam," seru seseorang. "Saya Freddy."
Amboi! Kelihatannya, pancingan pada Waver mengena. Tanpa diminta, Freddy
langsung duduk di sofa. Pantatnya yang segede pantat gajah nyaris menindih kucing
de Gier.
"Yang sedang Anda duduki, aslinya memang tempat duduk kucing saya," jelas de
Gier.
"Kucing tolol!"
"Apa?"
"Dengar. Aku datang membawa sejumlah uang," bilang Freddy, seraya menunjukkan
sebuah amplop. "Ini baru uang muka. Anggap saja sebagai hadiah."
"Cuma itu berita yang kamu bawa?"
"Dasar polisi bandel. namun aku suka polisi begitu. Itu sebabnya bos menawari kamu
uang. Asal tahu saja, sudah banyak polisi yang kami bayar. Bagus kalau polisi
bandel seperti kamu mau bergabung."
"Begitu?"
"Ya!" Freddy menyeringai.
De Gier menyalakan rokoknya.
"Sebenarnya, aku sedang tidak butuh uang panas. Jadi, bisa saja tawaran ini
membuatku tersinggung dan menembak jidatmu. namun aku ogah berkelahi di sini.
Nanti merusak perabot," katanya santai.
37
"Kalau begitu, tunggu apalagi. Bos paling benci orang sok kayak kamu. Tak tahu diri.
Kamu akan merasakan akibatnya!"
"Seperti apa?" tantang de Gier.
Freddy meraih kucing kesayangan de Gier. Lalu mengeluarkan pisau lipat dari
kantung jaketnya. Dalam sekejap, pisau tadi menempel di leher kucing betina yang
sangat ketakutan.
"Aku bisa membedah kucing ini, persis seperti kalian membedah Cora. Bedanya, aku
akan membiarkan isi perutnya berserakan. Tak ada jahitan penutup."
De Gier mulai geram. "Keterlaluan," katanya dalam hati. namun kemarahan itu
ditahannya sekuat tenaga demi keselamatan kucing tersayang.
"Aku juga akan membunuh ibumu dan seluruh isi apartemen ini. Bos dapat
melakukan apa saja dan membeli siapa saja!" ancam Freddy.
De Gier masih lebih suka mendengar ketimbang berdebat. Ia berharap mendapat
informasi tambahan tentang Waver dari anak buahnya yang pongah ini.
"Bisnis heroin dan kokain sedang bagus. Kamu juga bisa seperti aku, berlibur ke
Bermuda, Seychelles, atau Indonesia," ujar Freddy, sambil berjalan keluar
apartemen.
De Gier lega, kucingnya selamat. "Good bye," katanya seraya menutup pintu. "Dan
rasakan nanti pembalasan Tabriz," imbuhnya dalam hati. Tabriz yaitu nama kucing
De Gier. Ia menunggu Freddy masuk lift. Lalu turun lewat tangga. De Gier yang tiba
lebih dulu di luar apartemen memberi isyarat pada Freddy, isyarat tantangan
berkelahi. "Di sana," ujarnya menunjuk ke arah taman.
Freddy yang jago karate dan bertubuh lebih besar tampaknya bakal di atas angin.
namun soal berkelahi tangan kosong, sabuk hitam judo de Gier tak layak dipertanyakan.
Dalam waktu beberapa menit saja, tendangan dan pukulan simultan sersan
berpostur jangkung itu berkelebat tanpa kenal lelah. Freddy tak berdaya, tersungkur
di tanah, pingsan!
Tiga jam lalu , tepatnya jam tiga pagi, rumah Cora Fischer didatangi tamu tak
diundang. Tamu bersepeda itu kelihatannya maling profesional, sebab dengan
mudah menemukan kamar tidur Cora, mengumpulkan beberapa potong pakaian,
membungkus sejumlah perhiasan, lalu pergi begitu saja tanpa diketahui para
tetangga.
Pukulan mematikan
Besoknya, Grijpstra dan de Gier melangkah lebih maju. Mereka langsung
mendatangi sarang sang Pangeran Hitam di klubnya di Noordwijk. Keruan,
kedatangan mereka "disambut ramah" oleh Waver. Pelayan cantik mengenakan rok
mini (maaf, tanpa pakaian dalam) datang membawakan bir. De Gier sempat
memperhatikan wajah Waver. Lelaki yang beberapa hari lalu begitu sombong itu kini
terlihat pucat.
Bahasa tubuhnya menampakkan ketegangan luar biasa. Sepertinya, Grijpstra dan de
Gier hanya tinggal melancarkan beberapa jab dan satu hook telak untuk membuat
lawannya KO. "Saya dengar, Freddy meninggalkan sesuatu di apartemen Anda,"
38
mata Waver mengarah pada de Gier. "Benar. Itu salah satu alasan kami ke sini.
Silakan hitung jumlahnya," jawab de Gier, mengembalikan amplop.
Tak lama sesudah Waver mengambil kembali amplopnya, de Gier melancarkan jab
pertama. "Anda kami tahan, Waver!"
Sang "Pangeran Hitam" tersenyum sinis. "Ditahan untuk apa?"
"Untuk beberapa tuduhan serius. Mengedarkan obat bius, prostituasi terselubung,
dan judi ilegal," jawab Grijpstra tegas.
"Benar-benar gila. Ini klub seks, bukan rumah bordil," Waver hendak beranjak dari
kursinya.
"Kalem, boy. Duduklah. Sersan de Gier 'kan sudah bilang, Anda ditahan!"
"Sudah kubilang juga, kalian tak punya bukti."
"Bagaimana dengan upaya menyogok kolega saya, mengancam kucing de Gier, dan
terakhir, membunuh Cora Fischer?" Grijpstra melancarkan "jab" kedua.
"Omong kosong!" Waver berteriak.
"Sssst, Ajun Komisaris, permainan pianonya bagus banget. Aku mau menikmati
musiknya dulu," de Gier memalingkan wajahnya ke arah panggung.
Waver makin kesal. Apalagi saat Grijpstra menggeledahnya dan menemukan satu
gram kokain dan sebilah belati di kantung celana dan jaket. Sementara itu, pelayan-
pelayan seksi bertelanjang dada bergantian mengantar minuman. "Bagaimana
dengan flute-nya, Gier?" celetuk Grijpstra. De Gier seperti tersentak, lalu
mengeluarkan semacam suling kecil dari balik jasnya.
Disambut tepukan meriah pengunjung klub, de Gier memainkan sebuah lagu syahdu.
Suara flute-nya memenuhi ruangan. Piano dan kombo tak kesulitan mengiringi
improvisasi sang detektif. Grijpstra sendiri tak menyangka, juniornya akan segila itu.
Kegilaan yang makin membuat Waver stres. Bayangkan, para detektif itu tak hanya
menuduhnya dengan beragam kejahatan, namun juga "menguasai" massa klubnya.
Suasana telah terbentuk. Pikiran Waver pun sudah dibuat kacau. Kini saatnya
memberi pukulan mematikan. Tak lama lalu , dari pintu masuk klub, muncul
seorang wanita bertubuh semampai. Tak diragukan lagi, paras dan lekuk tubuhnya
begitu menggoda. Dandanannya tidak seronok, namun berkelas. Rambutnya tertata
dengan baik. Dibalut gaun indah dan perhiasan melingkari tangan dan leher, si
wanita duduk tak jauh dari Grijpstra dan Waver.
De Gier masih asyik memainkan "senjata" melengkingnya di panggung. Sementara
Grijpstra menanti dengan berdebar-debar. Waver sendiri tampak gelisah. Matanya
bergerak tak fokus. Sampai akhirnya tertumbuk pada sosok wanita lesbian yang baru
saja masuk klub. Sesaat air muka Waver berubah. Dari tempat duduknya, Grijpstra
bisa mendengar Waver berdesah, "Cora ...."
Grijpstra segera melambaikan tangan pada detektif Cardozo dan anak buahnya. De
Gier pun menghentikan alunan flute-nya. "Saatnya melakukan penggeledahan," bisik
Grijpstra pada Cardozo. Sang Ajun Komisaris menyerahkan secarik kertas pada
Waver. "Surat izin melakukan penggeledahan," ucapnya cepat. Seperti perkiraan
39
Grijpstra, bukannya membaca "surat tipuan" itu, Waver malah mematung
memandangi wanita elegan tadi, sambil terus berbisik, "Cora ..., Cora ...."
"Cepat, kita harus menemukan sesuatu di klub ini. Prioritaskan pada heroin," sergah
Grijpstra, sesudah bergabung kembali dengan Cardozo dan de Gier. Jika Waver
"tersadar" sebelum barang bukti ditemukan, sia-sia jebakan ini dibuat. Polisi
memfokuskan penggeledahan pada heroin, agar dapat memenjarakan Waver
sementara waktu, sambil menyelidiki keterlibatannya pada kasus pembunuhan Cora.
Pucuk dicinta ulam tiba. Di sebuah ruangan, Cardozo menemukan sebuah "patung
dewa" berukuran sedang yang sangat dikenalnya. "Patung seperti ini pernah kami
sita beberapa waktu lalu. namun lebih enteng, sebab dalamnya sudah bolong. Kami
curiga sebelumnya diisi heroin yang diselundupkan melewati perbatasan," ujar
Cardozo.
"namun patung yang ini beratnya lumayan," imbuh Cardozo.
"Kelihatannya kita telah menemukan harta karun Waver," balas Grijpstra.
"Juga modal untuk membuka outlet narkoba," canda de Gier. Senyum Grijpstra
makin lebar, saat seorang anak buah Cardozo melapor. "Siap, Pak. Tuan Waver
mengakui keterlibatannya pada kasus pembunuhan Cora Fischer."
"Secepat itu?"
"Ya, Pak, dan dia juga masih terus memandangi polwan Jane!"
"Ho-ho-ho, malam yang indah!" (Kisah rekaan/Janwillem van de Wetering/Icul)
06. HOROR DI MOUNT VERNON
Singapura tahun '70-an, bukanlah negeri yang bersahabat buat trio warganya, Ong
Chin Hock, Yeo Ching Boon dan Ong Hwee Kuan. Mereka merasakan betapa
tersiksanya hidup dengan penghasilan pas-pasan. Sementara biaya hidup makin hari
kian tinggi. Malam itu, 21 April 1978, seperti biasanya tiga pemuda berumur 20
tahunan itu bermain biliar di Kallang Amusement Centre (KAC). Hanya di tempat
itulah, mereka dapat tertawa lepas, melupakan segala beban.
Selepas nyodok, mereka ngobrol ngalor ngidul di sebuah taman, tak jauh dari KAC.
Banyak hal diobrolkan, mulai masalah politik sampai kesehatan. namun ujung-ujungnya,
tak jauh dari urusan perut. Maklum, kecuali Chin Hock yang sedang menjalani wajib
militer, Ching Boon dan Hwee Kuan statusnya pengangguran.
"Hidup pasti jauh lebih mudah, kalau kita punya banyak duit," ujar satu dari mereka.
"Ya, dengan duit, kita bisa berbuat apa saja."
"namun dari mana kita bisa mendapat banyak uang?"
Ketiganya terdiam. Kuan yang berwajah kasar melontarkan ide setan,"Bagaimana
kalau kita merampok?"
40
"Ide gila. namun boleh juga," sahut Yeo yang bertampang innocent.
"namun kita harus punya pistol. Zaman sekarang, lebih enak merampok pakai pistol,"
balas Kuan.
"Ya. Aku tahu cara mendapatkan pistol dengan gampang," cetus Yeo.
Ia lalu bercerita tentang tempatnya berdinas saat wajib militer dulu, markas polisi
yang juga berfungsi sebagai asrama pasukan cadangan, di Mount Vernon. Tentang
penjaga pos kecil di pintu gerbang, yang hanya dijaga satu orang dan lebih sering
dipercayakan pada polisi wajib militer. Juga perihal waktu terbaik untuk melakukan
tipu daya, yakni lewat jam dua belas malam, saat konsentrasi petugas jaga mulai
kendur.
"Yang belum aku tahu, bagaimana caranya merebut senjata petugas jaga."
Mereka berpikir keras dan saling melontarkan ide. namun sampai jam sebelas malam,
tak jua terbersit jalan keluar. "Oke. Sekarang kita pulang. namun ingat, kita harus cepat
mencari solusi masalah ini," bisik Yeo pada kedua sohibnya.
Putus sekolah
Yeo, Hock dan Kuan berteman sejak kecil. Ong Chin Hock alias Ah Hock masih
bujang, tinggal di New Upper Changi Road, anak buruh bangunan. Ia putus sekolah,
sehingga terpaksa mengikuti jejak bapaknya sebagai kuli bangunan, sebelum
akhirnya masuk wajib militer.
Sedangkan Yeo Ching Boon, dikenal juga sebagai Ah Pui atau Freddy, masih tinggal
bersama orangtuanya. Anak tertua dari empat bersaudara ini pernah dikeluarkan dari
sekolah sebab berkelahi. Pernah juga bekerja sebagai penjaga gudang pada
sebuah perusahaan tekstil, namun dikeluarkan, lagi-lagi sebab berkelahi.
Hwee Kuan alias Ah Kuan lain lagi. Ia sempat menjadi anggota kelompok Sio Kun
Tong, yang kerap melakukan aksi pencopetan di sekitar Angullia Road. Tahun 1976,
Kuan dan teman-temannya ditangkap polisi, sehabis merampok turis
berkewarganegaraan Malaysia. Bulan April 1977, ia masuk rumah rehabilitasi,
sebab kecanduan narkoba.
Keesokan harinya, tiga sekawan bertemu lagi di KAC. Sorenya, para pengangguran
banyak acara ini melanjutkan aktivitasnya dengan menonton pertandingan sepakbola
di bekas Sekolah Dasar mereka, Tu Li. Di salah satu sudut sekolah inilah, mereka
kembali mendiskusikan niat jahatnya.
"Sebagai modal, kita juga butuh senjata tajam. Aku sarankan pakai pencungkil es
saja," ujar Yeo.
"Aku setuju. namun kita juga perlu pisau," balas Kuan.
"Duitnya dari mana buat beli pisau?" sergah Yeo.
Hock membuka jam yang melingkar di tangannya. "Jual saja ini, pakai untuk
membeli pisau," katanya.
Yeo tertegun sebentar, lalu mengangguk dan tersenyum. "Begini kira-kira
skenarionya. Keculai Kuan, kita semua memakai seragam pakaian wajib militer.
Dengan begitu, akan lebih mudah mendekati pos penjagaan."
41
"Menurutku, kita sebaiknya jangan pakai seragam," komentar Hock. "Di sana kan
ada asrama. Kalau terlalu mencolok, berbahaya. Jika terjadi sesuatu, polisi-polisi
yang tidak sedang bertugas bisa menyulitkan kita."
"Jadi, gimana dong?" nada bicara Yeo terdengar putus asa.
Lagi-lagi mereka saling melontar ide. Namun dari beberapa ide yang dibahas, tak
satu pun disetujui secara aklamasi. Sampai akhirnya, Yeo mengetuk palu."
"Oke, apapun recananya, tak boleh terlalu mencolok. Yang penting kita setuju untuk
segera melaksanakan rencana ini." Anggota tiga sekawan yang lain hanya manggut-
manggut. Yeo pun melanjutkan, "Kita akan mulai bergerak jam dua dinihari, dua hari
dari sekarang. Setuju?"
Hock dan Kuan mengangguk.
Bajak taksi
Dua hari lalu , persisnya sore menjelang malam, tiga sekawan seperti
biasanya berkumpul di KAC. Yeo sempat main biliar dengan sejumlah temannya,
sampai sekitar pukul 21.00. sesudah itu, Yeo pergi ke sebuah kawasan pertokoan,
untuk menjual jam tangan Hock, sekalian membeli dua buah pisau dapur.
"Jam-jam segini banyak patroli polisi berkeliaran. Enggak aman membawa-bawa
senjata tajam. Mending pisau-pisau ini disimpan di rumahku dulu," tegas Yeo.
sesudah menyimpan pisau, Yeo tak langsung keluar. Ia memotong sebuah tali terbuat
dari nilon menjadi empat bagian. Cukup untuk mengikat tangan, kaki, atau menjerat
leher. Lalu memasukkan tali-tali tadi dan alat pencungkil es ke dalam travel bag kecil
kepunyaan adiknya.
Jam dinding menunjukkan angka 10, masih empat jam lagi dari jadwal yang mereka
rencanakan.
"Aku masih butuh duit buat transportasi," bilang Yeo memecah kesunyian.
"Jangan khawatir, aku punya seorang teman yang bisa dipinjami uang," tanggap
Hock. Ditemani Kuan, Hock lalu berangkat menuju rumah temannya di Lorong
Koo. Ketiganya berjanji bertemu kembali pada pukul 11.45 di sekitar Kallang Bahru.
Namun saat bertemu kembali, Hock ternyata datang dengan tangan hampa. Hanya
Yeo berhasil meminjam Sin 10 dolar dari seorang teman.
Sebagian uang itu mereka habiskan untuk makan dan minum di sebuah kafe.
sesudah kenyang, Yeo menuturkan rincian rencananya. "Kita akan beroperasi dari
atas taksi. Di tengah jalan, kita bajak taksinya. Hock lalu mengambil alih kemudi,
sedangkan Kuan duduk di kursi belakang, pura-pura mabuk. Aku sendiri, keluar taksi
dan pura-pura minta bantuan dari polisi di pos jaga. sesudah penjaga mendekat, aku
akan mendorongnya masuk taksi, lalu kita culik dan rampa senjatanya.
Bagaimana?"
"namun jangan biarkan polisi dan sopir taksinya lolos begitu saja," timpal Kuan. "Kamu
'kan tahu, aku punya catatan di kantor polisi. Kalau sopir taksi dan penjaga
mengenali ciri-ciriku, kita akan langsung diciduk."
"Baiklah, kita main aman. Keduanya harus mati. Setuju?" usul Yeo.
42
Kuan tampak senang, sedangkan Hock tak berkomentar sepatah kata pun.
Tepat pukul 01.30, Yeo menyempatkan diri pulang ke flatnya, mengganti pakaian
dengan t-shirt merah dan celana biru gelap. Ia memutuskan tidak memakai pakaian
seragam wajib militer, seperti rencana semula. lalu keluar dengan menenteng
travel bag, dengan pencungkil es terselip di pinggang.
"Semua siap?" tanya Yeo.
"Siap," sahut Kuan dan Hock serentak.
Terjerembab di got
Chew Theng Hin, sopir sekaligus pemilik taksi, tentu tak menyadari nyawanya
sedang di ujung tanduk. Jarang-jarang jam segini ia masih berada di belakang
kemudi. Biasanya ia sudah pulang ke rumahnya di Selegie House. Namun entah
mengapa, pagi itu ia masih ingin berputar-putar mencari penumpang. Hatinya begitu
gembira, saat melihat tiga pemuda melambaikan tangan, menyetop taksinya.
Meski sudah berusia 60 tahun, lelaki berambut pendek ini masih kelihatan energik,
setidaknya jika dibandingkan dengan orangtua seusianya. Dengan tenang, Chew
Theng Hin membuka pintu depan, mempersilakan penumpang nomor satu masuk.
Penumpang nomor dua dan nomor tiga duduk di kursi belakang. Penumpang nomor
satu dengan dingin berkata, "Asrama polisi Mount Vernon!"
Tak sedikitpun terbersit kecurigaan dalam hati Chew. Ya, siapa curiga, jika
penumpangnya bertujuan ke kantor polisi? Kalau bukan penegak hukum, pasti
korban kejahatan yang hendak melaporkan kemalangannya. Chew yang sudah hafal
kawasan itu, segera meluncur melewati Jln. Bendemeer, lalu ke Jln. Aljunied.
Saat mendekati Police Reserve Unit (PRU) Mount Vernon, penumpang nomor satu
meminta Chew belok kiri, ke arah gerbang belakang Mount Vernon yang selalu gelap
gulita. Chew mulai menduga-duga, hendak ke mana sebenarnya tujuan tiga orang
ditaksinya. Akhirnya, saat taksi hampir sampai gerbang belakang PRU Mount
Vernon, penumpang nomor satu menukas cepat, "Berhenti!" Chew pun menginjak
pedal rem.
Saat itulah, tiba-tiba penumpang nomor dua menempelkan pisau di leher Chew.
Lelaki tua itu dapat melihat kilatan dan merasakan dinginnya senjata tajam pengiris
daging dan sayuran tersebut. sesudah itu, penumpang nomor satu menutup mulut
Chew dengan kain. Sambil memamerkan pencungkil es, ia berkata, "Jangan coba-
coba melawan atau membuat gaduh." Ia lalu mengambil tali dan mengikat tangan
Chew erat-erat.
Sampai di sini, Chew mulai sadar, penumpangnya pagi itu bukan manusia baik-baik.
Ia juga mulai punya firasat, sesuatu yang sangat buruk bakal menimpa dirinya.
Sejurus lalu , penumpang nomor tiga turun dari mobil, berjalan ke depan
kendaraan, lalu membuka pintu tempat Chew disandera. "Turun!" bentaknya.
Chew merasa, ini baru awal dari perlakuan buruk yang bakal segera diterimanya.
Instingnya berkata, meski menuruti semua perintah mereka, belum tentu ia akan
dilepas begitu saja.
Akhirnya ia memutuskan memberi perlawanan. Namun gerakan spontan Chew
tak banyak menolong. Penumpang nomor satu mendorongnya dengan bahu,
sedangkan penumpang nomor tiga mempermainkan badan Chew dengan lutut.
43
Breppp! Sesuatu yang mengerikan terjadi. Penumpang nomor dua menusukkan
pisau ke perut sang sopir taksi malang. Chew tersungkur di selokan, sembari
merintih menahan sakit.
Penumpang nomor tiga segera duduk di depan kemudi. Taksi baru saja hendak
tancap gas, saat tiga penumpang yang sudah dikuasai nafsu setan itu melihat
tubuh Chew merangkak naik dari selokan. "Dia masih hidup," teriak salah satu
penumpang. Penumpang nomor satu dan penumpang nomor dua spontan turun dari
mobil, dan tanpa ba bi bu menghujamkan pencungkil es dan pisau dapur ke leher
Chew.
Dalam tempo sekejap, Chew terguling, kembali masuk got, namun tubuhnya tampak
masih bergerak-gerak. Tanpa membuang waktu, penumpang nomor satu dan
penumpang nomor dua menghampiri lelaki tua yang sedang meregang nyawa itu.
Secara bersamaan, mereka menusukkan pisau dan pencungkil es ke daerah vital
sopir malang. Brepp! Kali ini Chew tak lagi bergerak.
Pagi itu, nyawa seorang kakek tak berdosa lenyap sia-sia di tangan Yeo, penumpang
nomor satu, Kuan si penumpang nomor dua dan Hock, penumpang nomor tiga.
Sebaliknya, dengan pandangan nanar, tiga sekawan itu malah bertukar kegembiraan.
Rencana pertama sukses terlaksana. Sasaran pembantaian berikutnya, bakal
menyusul. sesudah Hock mengarahkan taksi rampasan mereka ke pos penjagaan,
persis di depan pintu gerbang PRU Mount Vernon.
Telunjuk terpotong
Lee Kim Lai masih sangat muda saat mendaftar wajib militer. Usianya baru delapan
belas tahun. Ia berasal dari keluarga baik-baik, anak kedua dari empat bersaudara.
Sebagai polisi wajib militer, ia tak boleh memilah-milih tempat berdinas. Itu sebabnya,
dia bahagia saja saat ditempatkan di Mount Vernon. Pagi itu, dia baru saja
menggantikan Koh Kah Kway, rekannya yang telah bertugas sejak pukul 13.00.
Seragam tebal tak sanggup melindungi Kim dari serangan dingin yang menusuk.
Meski begitu, ia tetap berusaha menunaikan tugas dengan penuh rasa
tanggungjawab. Baru beberapa menit menjaga gerbang, ia melihat sebuah taksi
kuning melintas di depan pos jaga. Dari tempatnya berdiri, Kim dapat melihat dengan
jelas seorang pemuda keluar dari pintu depan, lalu menghampirinya.
Pemuda itu, Yeo, menunjukkan kartu keterangan wajib militernya. Kim
memperhatikan dengan seksama kartu yang ditunjukkan Yeo. Sesekali, matanya
melirik ke taksi kuning yang mesinnya masih hidup. "Jadi, kamu wamil yang tinggal
di asrama ini?" tanya Kim ramah.
"Betul sekali. Boleh aku minta tolong untuk memapah kawanku yang mabuk?
Badannya berat sekali. Dia sekarang tergeletak di kursi belakang taksi," sambung
Yeo, sembari menunjuk ke arah taksi kuning.
"Dia tinggal di asrama ini juga?"
"Betul.
"Memangnya kalian dari mana?" tanya Kim, mencoba tetap ramah.
"Kami berdua baru saja jalan-jalan dan bertemu beberapa teman. namun dasar bandel,
dia kelihatannya minum terlalu banyak. Akhirnya, seperti kamu lihat, malah
menyusahkan teman," bohong Yeo.
44
Kim calon polisi yang baik. Ia merasa sebagai seorang wajib militer, tugasnya tak
hanya sebatas perintah yang diberikan komandan, namun juga membantu sesama yang
membutuhkan pertolongan. Apalagi yang membutuhkan pertolongan sesama
penghuni asrama. Itu sebabnya, dengan senang hati ia berjalan menuju pintu
belakang taksi. Saat pintu dibuka, ia memang mendapati seorang lelaki tengah
berbaring di kursi.
Namun ia terkejut saat Yeo tiba-tiba mendorongnya masuk ke dalam taksi. Lebih
terkejut lagi sesudah tahu, pemuda yang sebelumnya berbaring di kursi, Kuan,
ternyata tidak mabuk sama sekali. Kim mencoba melakukan perlawanan. namun dari
belakang, Yeo dengan pencungkil esnya langsung mengancam. "Tetap di dalam dan
jangan coba-coba melawan," bisiknya tepat di telinga Kim.
sesudah menutup pintu, Yeo bergegas ke pintu depan. Saat itu, ia sempat melihat
beberapa orang di lantai satu dan lantai dua markas polisi Mount Vernon
memperhatikannya. Untuk menghindari kecurigaan, Yeo mempercepat langkahnya.
"Cepat kabur! Ada beberapa polisi di atas sana sedang memperhatikan kita,"
perintahnya pada pada Hock. Sedetik lalu , Hock sudah melarikan taksinya
menuju arah Jln. Aljunied. Sementara di kursi belakang, Kuan masih setia
mengancam Lee dengan pisau dapur. "Mana pisau satunya lagi?" teriak Yeo pada
Kuan. Kuan menunjuk sela di antara dua kursi depan.
"Aku engak punya uang. Benar-benar enggak punya uang!" pekik Lee. Ia tampak
begitu ketakutan.
Kuan mulai menempelkan pisau di leher Lee. Namun tanpa diduga, aksi Kuan saat
mengambil pistol dari pinggang Kim ternyata mendapat perlawanan. Dalam
pergumulan, pistol sempat jatuh. Yeo yang bearda di kursi depan langsung
membantu Kuan. Ia berbalik badan,




