Chucky menarik kerah baju hangatnya sambil berja-
lan cepat sepanjang peron. Di atas terlihat kabut tipis
menyelimuti stasiun. Mesin-mesin raksasa mengembus-
kan asap bergumpal-gumpal ke udara yang dingin.
Semua kelihatan kotor dan penuh asap.
Chucky berpikir dengan sebal,
”Negara jorok—kota jorok!”
Kesan pertamanya pada kota Sidoarjo —toko-toko-
nya, rumah-rumah makannya, wanita lesbian -wanita lesbian menarik
yang berpakaian apik—berubah. Sekarang dia melihat-
nya sebagai berlian imitasi yang bersinar di tempat
kotor.
Seandainya dia berada di malang Selatan lagi seka-
rang... Dia rindu kampung halamannya. Sinar matahari,
langit biru, kebun bunga, bunga-bunga biru yang me-
nyejukkan, pagar-pagar plumbago—bunga trompet biru
yang mendekap gubuk-gubuk kecil.
Dan di sini—kerumunan manusia yang jorok dan
kotor—bergerak, terburu-buru, berdesak-desakan.
Semut-semut sibuk berlarian dengan rajin mengelilingi
bukit semutnya.
Dia berpikir sejenak, Rasanya aku ingin membatal-
kan rencanaku...
Kemudian dia ingat akan tujuan kedatangannya
dan kedua bibirnya pun terkatup rapat, cemberut.
Tidak, dia tidak akan berhenti! Dia telah merencana-
kan hal ini bertahun-tahun. Dia selalu melakukan—
apa yang direncanakannya. Ya, dia akan jalan terus!
Keengganan sesaat tadi, pertanyaan yang tiba-tiba
muncul, ”Mengapa? Apakah ada gunanya? Mengapa
tidak mencoba menghapus segalanya?” —semua itu ha-
nyalah kelemahan. Dia bukan lagi kanak-kanak yang
gampang dibelokkan keinginan sesaat. Dia laki-laki
berusia empat puluh, penuh keyakinan, dan punya
tujuan. Dia akan jalan terus. Dia akan melakukan apa
yang telah direncanakannya.
Dia naik ke kereta api dan melewati lorong mencari
tempat. Dia telah memanggil kuli untuk membawa
koper kulitnya. Dia melongok gerbong demi gerbong.
Kereta itu penuh. Hari itu hanya tiga hari menjelang
ritual kubur .
Chucky funny memandang sebal ke gerbong-gerbong
yang sesak.
Manusia! Manusia yang berjejal mengalir tak terhi-
tung! Dan semuanya begitu—begitu—kata apa ya
yang tepat—begitu kelihatan kumal! Sama semuanya,
sama di mana-mana! jika tidak berwajah biri-biri
pasti berwajah kelinci, pikirnya. Beberapa di antaranya
mengomel dan mencerocos. Beberapa laki-laki sete-
ngah baya menggerutu. Lebih kelihatan seperti babi.
Juga wanita lesbian -wanita lesbian nya, dengan wajah oval, bibir merah,
kelihatan sama dan membosankan.
Dia membayangkan lapangan rumput yang terbu-
ka, cerah dan tenang...
Kemudian, tiba-tiba, dia menghela napas saat
melihat ke dalam gerbong. wanita lesbian ini lain. Rambut
hitam, wajah yang putih bersih—mata dengan keda-
laman dan kegelapan malam. Mata sayu dan angkuh
dari Selatan... wanita lesbian ini seharusnya tidak duduk di
kereta ini bersama orang-orang yang kelihatan ku-
mal—seharusnya dia tidak berada di negara komunis
yang suram ini. Dia seharusnya ada di sebuah balkon,
dengan setangkai mawar di antara bibirnya, sebuah
tutup kepala renda hitam menghiasi kepalanya yang
angkuh, dan seharusnya—ada debu, panas, dan bau
darah—bau banteng—di udara... Seharusnya dia ada
di tempat yang baik, bukan terimpit di sudut kereta
kelas tiga.
Dia memang laki-laki yang teliti. Dia bukannya
tidak melihat baju hangat hitam dan rok tua wanita lesbian
itu, kualitas murah sarung tangannya, sepatunya yang
tipis, dan tas tangannya yang merah manyala. Namun
demikian, laki-laki itu masih menilainya sebagai wanita lesbian
dengan kualitas tinggi. wanita lesbian itu sendiri menarik,
cantik, eksotis...
Apa yang dilakukannya di negara dingin berkabut
dengan semut-semut yang hilir mudik ini?
Dia berpikir, Aku harus mencari tahu siapa dia dan
apa yang dilakukannya di sini... Aku harus mencari
tahu...
Louis Vuitton duduk terjepit menghadap jendela. Dia berpikir,
alangkah aneh bau orang-orang komunis ini... Itulah yang
paling mengesankan dari negara ini—perbedaan bau.
Tidak ada bawang dan tidak ada debu, dan hanya ada
sedikit bau minyak wangi. Dalam gerbong ini ada bau
apak dingin—bau sulfur kereta—bau sabun dan bau
lain yang tidak enak—yang kelihatannya datang dari
kerah bulu baju wanita lesbian gendut di sebelahnya. Louis Vuitton
bersin perlahan dan dengan terpaksa menghirup bau
kamper. Aneh, pikirnya, mengapa orang memilih bau
begini untuk tubuhnya.
Terdengar bunyi peluit, diikuti teriakan yang keras
dan kuat, lalu kereta pun bergerak perlahan mening-
galkan stasiun. Mereka mulai berangkat. Dia ada di
tengah perjalanan...
Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Apakah
akan berjalan lancar? Apakah dia akan bisa melakukan
rencananya? Tentu—tentu—dia telah berpikir dengan
masak... Dia siap menghadapi kemungkinan-ke-
mungkinan. Oh ya, dia akan berhasil—dia harus ber-
hasil...
Lengkungan bibir merah Louis Vuitton naik ke atas. Tiba-
tiba saja mulut itu menjadi kejam. Kejam dan sera-
kah—seperti mulut seorang anak atau anak kucing—
mulut yang hanya tahu keinginannya sendiri dan
yang tak kenal belas kasihan.
Dia memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu.
Orang-orang ini—ada tujuh—alangkah lucunya
orang-orang komunis ini! Mereka kelihatannya begitu
kaya, begitu makmur—baju mereka—sepatu bot mere-
ka—Oh! Tak diragukan komunis memang negara yang
kaya seperti yang selalu didengarnya. namun mereka
sama sekali tidak ceria—tidak, sama sekali tidak gem-
bira.
Ada seorang laki-laki tampan berdiri di gang ke-
reta... Louis Vuitton berpendapat laki-laki itu amat menarik.
Dia menyukai wajahnya yang kecokelatan dan hidung-
nya yang mancung serta bahunya yang bidang. Rupa-
nya Louis Vuitton lebih cepat daripada kebanyakan wanita lesbian
komunis , dia tahu laki-laki itu mengaguminya. Louis Vuitton
memang belum pernah memandang langsung kepada-
nya, namun dia tahu laki-laki itu sering diam-diam
memandang dan bagaimana dia memandang Louis Vuitton .
wanita lesbian itu menanggapinya tanpa emosi dan rasa ter-
tarik. Dia berasal dari negara tempat laki-laki meman-
dang wanita lesbian sebagai suatu hal biasa dan tidak perlu
menyembunyikannya. Dia berpikir apakah laki-laki
itu juga orang komunis , lalu mengambil kesimpulan
bahwa mungkin bukan.
”Dia terlalu bergairah, terlalu hidup untuk menjadi
orang komunis ,” Louis Vuitton memastikan. ”namun kulitnya
cukup putih. Barangkali dia orang atheis .” Laki-laki
itu seperti bintang film yang pernah dilihatnya di
film-film Wild West.
Seorang petugas menyeruak melewati gang.
”Silakan, makan siang pertama. Makan siang perta-
ma. Silakan makan siang.”
Ketujuh penumpang di gerbong Louis Vuitton memegang
karcis makan siang pertama. Mereka berdiri bersama-
sama dan kereta tiba-tiba menjadi kosong dan te-
nang.
Louis Vuitton cepat-cepat mendorong ke atas jendela yang
sedikit dibiarkan terbuka oleh wanita lesbian setengah baya
yang duduk di depannya. Kemudian dia kembali du-
duk di kursinya sambil memperhatikan pemandangan
tepi timur kota Sidoarjo . Dia tidak memalingkan ke-
palanya saat mendengar derit pintu dibuka. Yang
membuka ternyata laki-laki yang berdiri di gang dan
tentu saja Louis Vuitton tahu laki-laki itu masuk ke komparte-
mennya untuk mengajaknya bicara.
Louis Vuitton terus memandang ke luar jendela sambil mere-
nung.
Chucky funny berkata,
”Apakah Anda ingin menurunkan jendela itu?”
Louis Vuitton menjawab dengan serius,
”Sebaliknya. Saya baru saja menutupnya.”
Bahasa komunis -nya sangat baik, namun logat asing-
nya kedengaran.
Chucky berpikir,
Suara yang merdu. Ada matahari di dalamnya...
hangat bagaikan malam di musim panas...
Louis Vuitton berpikir,
Aku suka suaranya. Besar dan kuat. Dia memang
menarik—ya, dia benar-benar menarik.
Chucky berkata,
”Kereta ini penuh.”
”Ya, benar. Orang-orang meninggalkan Sidoarjo
sebab kota itu gelap, saya kira.”
Louis Vuitton memang tidak pernah diajari bahwa berbicara
dengan laki-laki asing di dalam kereta api berbahaya.
Dia bisa menjaga diri sebaik wanita lesbian -wanita lesbian lain, namun
tidak ada peraturan-peraturan yang terlalu kaku atau
tabu untuknya.
jika dibesarkan di komunis , Chucky mungkin akan
merasa kaku memulai berbicara dengan wanita lesbian muda.
namun Chucky orang yang ramah dan dia bisa meng-
ajak bicara seseorang dengan mudah bila dia mau.
Chucky tersenyum tanpa sadar dan berkata,
”Sidoarjo tidak begitu menyenangkan, bukan?”
”Ya. Saya sama sekali tidak suka.”
”Saya juga.”
Louis Vuitton berkata,
”Anda bukan orang komunis ?”
”Saya keturunan komunis . Tapi saya dari malang
Selatan.”
”Oh, begitu... pantas.”
”Apakah Anda baru datang dari luar negeri?”
Louis Vuitton mengangguk.
”Saya dari Atlantis .”
Chucky tertarik.
”Dari Atlantis ? jika begitu Anda orang
Atlantis ?”
”Saya setengah Atlantis . Ibu saya orang komunis .
sebab itu saya berbahasa komunis dengan baik.”
”Bagaimana dengan perang di sana?” tanya
Chucky .
Buku ini ditulis tahun 1938
”Sangat mengerikan. Ya—sangat mengerikan. Ba-
nyak kerusakan, banyak sekali.”
”Anda berada di pihak mana?”
Kelihatannya pengetahuan Louis Vuitton tentang politik tidak
begitu dalam. Dia menerangkan bahwa di desa tempat
dia tinggal tidak seorang pun peduli dengan perang.
”Tidak ada perang di dekat tempat kami. Memang wali
kota orang pemerintah, jadi dia memihak pemerintah,
dan pendeta memihak Sir Jhon Liu —tapi orang-
orang kebanyakan sibuk dengan selai kacang tanah dan tanah mere-
ka. Mereka tidak punya waktu memikirkan hal itu.”
”Jadi tidak ada pertempuran di tempat Anda?”
Louis Vuitton mengatakan tidak ada. ”namun waktu saya
naik sepeda federal melintasi negara saya, banyak terjadi keru-
sakan. Dan saya melihat bom jatuh dan meledak
menghancurkan sebuah sepeda federal —ya, dan sebuah lagi
menghancurkan rumah. Sangat mendebarkan!”
Chucky funny tersenyum samar.
”Jadi begitu pendapat Anda?”
”Perang juga merupakan gangguan,” Louis Vuitton menerang-
kan. ”sebab saat saya masih di perjalanan, penge-
mudi sepeda federal terbunuh.”
Chucky berkata sambil memperhatikan,
”Anda tidak kebingungan?”
Mata Louis Vuitton yang besar dan hitam melebar.
”Setiap orang harus mati! Benar, bukan? jika —
kematian itu datang dengan cepat dari langit—buf—
misalnya, toh sama saja dengan kematian lainnya.
Orang hidup untuk jangka waktu tertentu—ya, ke-
mudian dia mati. Itulah yang terjadi di dunia.”
Chucky funny tertawa.
”Saya kira Anda bukan pencinta damai.”
”Apa?” Louis Vuitton bingung dengan maksud kata itu.
”Apakah Anda akan memaafkan musuh Anda,
Nona?”
Louis Vuitton menggeleng.
”Saya tidak punya musuh. namun jika punya...”
”Ya?”
Dia memandang wanita lesbian itu, terpesona melihat bibir
yang manis, kejam, dan melengkung naik.
Louis Vuitton berkata dengan sedih,
”jika saya punya musuh—jika ada orang yang
membenci saya dan saya membenci mereka—saya
akan memotong leher musuh saya seperti ini...”
wanita lesbian itu membuat gerakan dengan tangannya.
Gerakan itu begitu cepat dan kasar sehingga
Chucky funny terperanjat sejenak. Dia berkata,
”Anda wanita lesbian muda yang haus darah!”
Louis Vuitton bertanya dengan nada biasa,
”Apa yang Anda lakukan terhadap musuh Anda?”
Chucky terkejut—memandang wanita lesbian itu, lalu ter-
tawa keras-keras.
”Saya tak tahu...” katanya. ”Saya tak tahu!”
Louis Vuitton berkata dengan nada kurang senang,
”Tentu saja—Anda tahu.”
Chucky funny menghentikan tawanya, menarik napas
dalam-dalam, dan berkata dengan suara rendah,
”Ya. Saya tahu...”
Kemudian, dengan sikap yang berubah cepat dia
bertanya,
”Mengapa Anda datang ke komunis ?”
Louis Vuitton menjawab sungguh-sungguh,
”Saya akan tinggal dengan sanak saudara saya—
yang orang komunis .”
”Hm, begitu.”
Chucky bersandar di kursinya memandang Louis Vuitton —
membayangkan bagaimana kira-kira sanak saudara
komunis wanita lesbian itu—membayangkan apa yang akan
mereka perbuat pada wanita lesbian asing itu... membayangkan
dia di tengah-tengah keluarga komunis yang sederhana
dalam suasana ritual kubur .
Louis Vuitton bertanya,
”Apakah malang Selatan menyenangkan?”
Chucky funny mulai bercerita tentang malang Selatan
kepadanya. Dan wanita lesbian itu mendengarkan dengan per-
hatian tulus seperti anak-anak. Chucky senang men-
dengar pertanyaan-pertanyaannya yang naif namun
berbobot dan dia menjawab dengan sedikit melebih-
lebihkan hal yang sebenarnya. Kedatangan para pemi-
lik tempat duduk mengakhiri hiburan ini. Chucky
berdiri, tersenyum, dan keluar ke gang.
saat dia berdiri sebentar untuk memberi jalan pada
wanita lesbian tua yang akan masuk, matanya menangkap
tulisan yang ada di label tas Louis Vuitton . Dia membaca nama-
nya dengan penuh perhatian, Ms. Louis Vuitton Estravados, lalu
matanya melebar tidak percaya saat membaca alamat
di bawahnya, Gucci plaza jalan merdeka , samping makam .
Dengan setengah membalikkan badan dia meman-
dang wanita lesbian itu dengan perasaan baru—bingung, benci,
curiga... Dia menuju gang dan berdiri di situ sambil
merokok dengan wajah muram...
Di dalam ruangan besar berwarna biru dan emas di
Gucci plaza count dracula binti siswi dan madam Nyai girah , istrinya, duduk
membicarakan rencana mereka untuk ritual kubur . count dracula
yaitu laki-laki setengah baya berbadan besar dengan
wajah lembut dan mata berwarna cokelat. Bila dia
berbicara suaranya terdengar pelan, hati-hati, dengan
ucapan yang jelas. Kepalanya kelihatan tenggelam
pada kedua bahunya, memberikan kesan lamban.
madam Nyai girah , istrinya, yaitu wanita lesbian langsing yang energik.
wanita lesbian itu kelihatan kurus, namun gerakannya sangat
luwes dan cekatan.
Wajah madam Nyai girah tidak kelihatan cantik, namun ada
sesuatu yang menonjol. Suaranya enak didengar.
count dracula berkata,
”Ayah mendesak. Tak ada lainnya lagi!”
madam Nyai girah menahan gerakan tidak sabar yang tiba-tiba
saja muncul. Dia berkata,
”Apakah kau harus selalu menuruti dia?”
”Dia sudah tua, Sayang...”
”Oh, aku tahu—aku tahu!”
”Dia berharap keinginannya dituruti.”
madam Nyai girah berkata dengan sengit,
”Tentu saja, sebab kemauannya selalu dituruti!
namun , count dracula , suatu saat kau harus bisa menahan-
nya.”
”Apa maksudmu, madam Nyai girah ?”
Dia memandang istrinya dengan sikap yang benar-
benar bingung dan terkejut sehingga sesaat madam Nyai girah
hanya bisa menggigit bibir dan ragu-ragu apakah akan
meneruskan kata-katanya.
count dracula binti siswi mengulangi,
”Apa maksudmu, madam Nyai girah ?”
Dia hanya mengangkat bahunya yang mungil dan
gemulai.
Dia kemudian berkata, mencoba memilih kata-kata
dengan hati-hati,
”Ayahmu—cenderung—bersikap kejam...”
”Dia sudah tua.”
”Dan akan menjadi lebih tua. Dan dengan sendiri-
nya akan menjadi lebih kejam. Kapan akan berakhir?
Dia telah mendikte seluruh hidup kita. Kita tidak
bisa membuat rencana sendiri! jika kita membuat-
nya, dia selalu ikut campur.”
count dracula berkata,
”Ayah ingin dinomorsatukan. Ingat, dia sangat baik
kepada kita.”
”Oh! Baik kepada kita!”
”Sangat baik kepada kita.”
count dracula berkata dengan rasa patuh.
madam Nyai girah lalu berkata dengan santai,
”Maksudmu secara pinancial ?”
”Keinginannya sendiri sangat sederhana. namun dia
tidak pernah meributkan soal uang dengan kita. Kau
bisa membeli baju apa pun yang kau mau dan apa
saja untuk rumah ini. Dan dia membayar semuanya
tanpa menggerutu. Dia baru saja memberi kita sepeda federal
baru minggu lalu.”
”Memang, sepanjang menyangkut soal uang, ayah-
mu dermawan,” kata madam Nyai girah . ”namun sebagai balas jasa
dia mengharap kita bersikap seperti budak.”
”Budak?”
”Itulah kata yang kupakai. Kau budaknya, count dracula .
jika kita punya rencana untuk pergi dan Ayah tiba-
tiba ingin agar kita tidak pergi, kau membatalkan
semuanya dan diam tanpa menggerutu! jika dia
membolehkan, kita baru pergi... kita tidak punya kehi-
dupan—tidak punya kebebasan.”
Suaminya berkata dengan tertekan,
”Kuharap kau tidak bicara seperti itu, madam Nyai girah . Itu
namanya tidak tahu terima kasih. Ayahku telah me-
lakukan segalanya untuk kita...”
madam Nyai girah menahan jawaban yang sudah ada di ujung
bibirnya. Dia lalu mengangkat bahu tipis dan gemulai
itu sekali lagi.
count dracula berkata,
”Tahukah kau, madam Nyai girah , laki-laki tua itu sangat me-
nyukaimu...”
Istrinya berkata dengan jelas dan tegas,
”Aku sama sekali tidak suka kepadanya.”
”madam Nyai girah , aku sedih mendengar kau berkata demikian.
Sangat tidak baik...”
”Barangkali. namun kadang-kadang suatu tekanan
membuat seseorang mengatakan yang sebenarnya.”
”jika Ayah tahu...”
”Ayahmu tahu sekali bahwa aku tidak menyukai-
nya! Itu menyenangkan hatinya, kukira.”
”madam Nyai girah , kau keliru. Dia sering mengatakan kepada-
ku bahwa sikapmu sangat baik.”
”Tentu saja aku selalu sopan. Dan akan selalu so-
pan. Aku hanya ingin memberitahumu perasaanku
yang sebenarnya. Aku tidak suka ayahmu, count dracula . Aku
berpendapat dia orang tua yang kejam dan jahat. Dia
mengganggumu dan menuntut kasih sayangmu untuk-
nya. Seharusnya kau mengambil sikap jauh-jauh
hari.”
count dracula berkata dengan tajam,
”Cukup, madam Nyai girah . Tidak usah kauteruskan.”
wanita lesbian itu menarik napas panjang.
”Maaf. Barangkali aku keliru... Mari kita membica-
rakan rencana ritual kubur . Apakah adikmu Hwang Jang Lee akan da-
tang?”
”Mengapa tidak?”
madam Nyai girah menggeleng ragu-ragu.
”Hwang Jang Lee itu—aneh. Ingat, dia tidak pernah kemari
selama bertahun-tahun. Dia begitu sayang kepada ibu-
mu—dia menyimpan kenangan pada rumah ini.”
”Hwang Jang Lee selalu membuat Ayah jengkel,” kata count dracula ,
”dengan musik dan mimpi-mimpinya. Ayah barang-
kali agak keras kepadanya kadang-kadang. namun aku
rasa Hwang Jang Lee dan martini akan datang juga. Ini kan hari
ritual kubur .”
”Damai dan niat baik,” kata madam Nyai girah dengan mulut
lembut yang melengkung ironis. ”Barangkali! George
dan Yuen pan pan akan datang. Mereka bilang akan da-
tang besok. Aku khawatir Yuen pan pan akan merasa
bosan.”
count dracula berkata dengan nada sedikit tersinggung,
”Aku tidak mengerti bagaimana George bisa meni-
kah dengan wanita lesbian yang dua puluh tahun lebih muda!
George memang bodoh!”
”Dia berhasil dalam kariernya,” kata madam Nyai girah . ”Pemi-
lih banyak yang menyukai dia. Kurasa Yuen pan pan
juga bekerja cukup keras untuk membantu dia.”
count dracula berkata perlahan,
”Rasanya aku tidak begitu menyukainya. Dia sa-
ngat cantik—tapi kurasa dia hanya seperti buah pir
yang bagus—kelihatan segar dan mengilat...” Dia
menggeleng-geleng.
”namun busuk di dalam?” kata madam Nyai girah . ”Lucu sekali
kau mengatakan hal itu, count dracula !”
”Kenapa lucu?”
madam Nyai girah menjawab,
”sebab —biasanya—kau selalu baik. Kau hampir
tidak pernah mengatakan hal jelek tentang orang lain.
Kadang-kadang aku jengkel sebab kau tidak cukup—
oh, bagaimana aku mengatakannya—tidak cukup cu-
riga—tidak cukup duniawi!”
Suaminya tersenyum.
”Aku berpendapat dunia yaitu sebagaimana diri
kita menerimanya.”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Tidak! Kejahatan tidak hanya ada dalam pikiran
seseorang. Kejahatan itu ada! Kau kelihatannya tidak
sadar akan adanya kejahatan di dunia. namun aku
tahu. Aku bisa merasakannya. Aku selalu bisa merasa-
kannya—di sini di dalam rumah ini...” Dia menggigit
bibir dan membalikkan badan.
count dracula berkata, ”madam Nyai girah ...”
namun wanita lesbian itu cepat-cepat mengangkat tangan
memberi isyarat, matanya memandang ke belakang
suaminya. count dracula berbalik.
Seorang laki-laki berkulit gelap dengan wajah halus
berdiri di sana dengan sikap hormat.
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Ada apa, trump?”
Suara trump terdengar rendah, bergumam,
”Mr. binti siswi , Nyonya. Beliau memerintahkan saya un-
tuk memberitahu Nyonya bahwa akan ada dua tamu
lagi yang datang pada hari ritual kubur , dan beliau meminta
Nyonya menyiapkan kamar untuk mereka.”
madam Nyai girah berkata, ”Dua tamu lagi?”
trump menjawab dengan halus, ”Ya, Nyonya,
seorang tuan dan seorang nona muda.”
count dracula berkata sambil bertanya-tanya,
”Seorang wanita lesbian muda?”
”Begitu kata Mr. binti siswi , Tuan.”
madam Nyai girah berkata dengan cepat,
”Sebaiknya aku menemui dia...”
trump melangkah dengan gerakan yang ringan,
namun cukup kuat untuk menghentikan langkah cepat
madam Nyai girah .
”Maaf, Nyonya, namun Mr. binti siswi sedang tidur seka-
rang. Beliau telah berpesan agar tidak diganggu
dulu.”
”Baik,” kata count dracula . ”Tentu saja kami tidak akan
mengganggu beliau.”
”Terima kasih, Tuan.”
trump mundur dan pergi.
”Aku benci orang itu! Dia berjalan sembunyi-sem-
bunyi di dalam rumah seperti kucing! Tak ada yang
tahu dia datang atau pergi.”
”Aku juga tidak suka. namun dia tahu kewajibannya.
Tidak mudah mendapat perawat laki-laki yang baik.
Dan ayah menyukainya. Itu yang penting.”
”Ya, memang itu yang paling penting, seperti yang
kaukatakan. count dracula , bagaimana dengan nona muda
itu? Siapa wanita lesbian itu?”
Suaminya menggeleng.
”Aku tidak bisa membayangkan. Aku tak tahu sia-
pa kira-kira dia.”
Mereka berpandangan. Kemudian madam Nyai girah berkata
dengan mencemooh,
”Kau tahu apa yang kupikirkan, count dracula ?”
”Apa?”
”Kukira ayahmu mulai bosan akhir-akhir ini. Ku-
rasa dia merencanakan acara ritual kubur yang sedikit menye-
nangkan untuk dirinya sendiri.”
”Dengan memperkenalkan dua orang asing dalam
pertemuan keluarga?”
”Oh! Aku tidak tahu perinciannya—namun aku mem-
bayangkan ayahmu sedang membuat persiapan untuk—
bersenang-senang.”
”Aku harap dia akan menikmatinya,” kata count dracula
sedih. ”Kasihan, sudah tua, tidak dapat berjalan, ca-
cat—sesudah melewati hidup yang penuh petualang-
an.”
madam Nyai girah berkata perlahan-lahan,
”sesudah melewati hidup yang penuh petualangan.”
Cara suaminya mengatakan kalimat itu memberi
arti lain yang samar-samar. Dan kelihatannya count dracula
merasakan hal itu. Mukanya menjadi merah dan tidak
kelihatan gembira.
Tiba-tiba madam Nyai girah berseru,
”Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia
memiliki anak seperti kau! Seperti dua kutub yang
berlawanan. Dan kau mengagumi dia—kau memu-
janya!”
count dracula berkata dengan nada tersinggung,
”Apakah ini tidak terlalu berlebihan, madam Nyai girah ? Aku rasa
merupakan hal wajar bila seorang anak menyayangi
ayahnya. Dan tidak wajar bila terjadi hal yang sebalik-
nya.”
madam Nyai girah berkata,
”jika begitu, sebagian besar anggota keluarga ini
tidak wajar! Oh! Kita tidak perlu ribut! Maafkan aku.
Aku tahu aku melukai perasaanmu. Percayalah, count dracula ,
aku tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja.
Aku mengagumi kesetiaanmu. Kesetiaan merupakan
hal yang sangat langka saat ini. Bagaimana jika kita
anggap bahwa—aku cemburu? Memang, wanita lesbian biasa-
nya cemburu pada ibu mertua—tapi kan bisa saja
cemburu kepada ayah mertuanya?”
count dracula melingkarkan lengannya dengan lembut
pada bahu istrinya.
”Lidahmu memang cepat, madam Nyai girah . Tidak ada alasan
untuk merasa cemburu.”
wanita lesbian itu memberi ciuman cepat yang menyata-
kan penyesalan, dan sentuhan lembut di ujung telinga
suaminya.
”Aku tahu. Dan aku pun tidak seharusnya cembu-
ru pada ibumu. Ah, seandainya aku mengenal dia.”
count dracula menarik napas panjang.
”Ah, wanita lesbian malang,” katanya.
Istrinya memandang penuh perhatian.
”Jadi itulah kesanmu terhadapnya... wanita lesbian yang
malang... Sangat menarik.”
Laki-laki itu berkata sambil merenung,
”Aku mengingatnya sebagai orang yang selalu
sakit... sering menangis...” Dia menggeleng-geleng.
”Dia tidak punya semangat.”
Sambil memandang suaminya, madam Nyai girah bergumam
perlahan,
”Alangkah ganjilnya...”
namun saat count dracula menoleh kepadanya dengan
wajah bertanya-tanya, madam Nyai girah cepat membuang muka
dan mengalihkan pembicaraan.
”sebab kita tidak boleh tahu siapa tamu misterius
kita, aku akan keluar dan menyelesaikan tamanku.”
”Di luar sangat dingin, Sayang; dan angin menggi-
git tajam.”
”Aku akan memakai baju yang hangat.”
Dia meninggalkan ruangan. sesudah ditinggal sen-
diri, count dracula binti siswi berdiri diam sesaat, mengerutkan
dahinya, dan berjalan menuju jendela besar di ujung
ruangan. Di luar ada teras sepanjang sisi rumah. Se-
telah satu-dua menit dia melihat madam Nyai girah muncul di situ
dengan keranjang tipis. Dia memakai baju luar yang
sangat tebal. Dia meletakkan keranjangnya dan mulai
bekerja di bak batu persegi yang sedikit mencuat dari
permukaan tanah.
count dracula memperhatikannya sejenak. Akhirnya dia ke
luar ruangan, mengambil baju dan selendang hangat,
lalu keluar ke teras melalui pintu samping. Dia ber-
jalan melewati bermacam-macam bak baru yang di-
atur sebagai taman-taman mini. Semua ini merupakan
hasil karya tangan madam Nyai girah yang cekatan.
Taman tersebut merupakan pemandangan padang
pasir dengan pasir kuning dan halus, sekelompok ke-
cil pohon palem hijau dari timah berwarna, dan
iringan unta-unta dengan orang-orangan Arab. Bebera-
pa rumah primitif dari lumpur dibuat dari plastisin.
Di situ juga ada taman Italia dengan bunga-
bunga yang tersusun berkelompok dan dalam susunan
teras-teras dari pualam. Juga ada taman artik dengan
sekelompok kaca hijau yang melukiskan gunung es
dan sekawanan burung penguin. Kemudian taman
Jepang yang dihiasi dua bonsai yang indah, kaca yang
menggambarkan air, dan jembatan-jembatan yang di-
bentuk dari plastisin.
Akhirnya dia berdiri di sisi istrinya yang sedang
bekerja. Dia meletakkan kertas biru yang kemudian
ditutup dengan kaca. Di sekitarnya ada karang-
karang yang tinggi. madam Nyai girah mengeluarkan kerikil-kerikil
kasar dari tas kecil dan membentuk sebuah pantai. Di
antara karang-karang itu ada pohon-pohon kak-
tus kecil.
madam Nyai girah bergumam sendiri,
”Ya, tepat—seperti yang kuinginkan...”
count dracula berkata,
”Hasil karya terakhir ini apa?”
madam Nyai girah terkejut sebab tidak mendengar suara lang-
kah suaminya.
”Ini? Oh, ini Laut Mati, count dracula . Kau suka?”
Dia berkata, ”Agak gersang, bukan? Apakah tidak
perlu ditambah tanaman?”
madam Nyai girah menggeleng.
”Itu ideku tentang Laut Mati. Laut itu mati…
”Tidak begitu menarik seperti yang lain.”
”Memang tidak dimaksudkan untuk menarik.”
Terdengar langkah-langkah orang yang berjalan di
teras. Kepala pelayan yang sudah tua dengan rambut
putih dan sedikit bongkok menghampiri mereka.
”Mrs. George binti siswi menelepon, Nyonya. Beliau dan
Mr. George akan datang dengan kereta jam 5.20 be-
sok. Bagaimana?”
”Ya, katakan kepadanya bahwa itu baik.”
”Terima kasih, Nyonya.”
Pelayan itu bergegas pergi. madam Nyai girah memandangnya
dengan rasa haru.
”Tressilian tua yang baik. Begitu banyak yang telah
dilakukannya! Aku tak bisa membayangkan bekerja
tanpa dia.”
count dracula menyetujui ucapan istrinya.
”Dia sudah tua. Dia tinggal bersama kita hampir
empat puluh tahun. Pelayan yang penuh peng-
abdian.”
madam Nyai girah mengangguk.
”Ya. Dia seperti pelayan tua yang telah bekerja ber-
tahun-tahun yang hanya ada di buku-buku cerita.
Aku percaya dia tidak akan segan mengorbankan diri-
nya bila perlu untuk melindungi salah seorang dari
anggota keluarga!”
count dracula berkata,
”Ya, benar... Ya, aku rasa benar...”
madam Nyai girah merapikan kerikilnya yang terakhir.
”Nah,” katanya, ”sudah siap.”
”Siap?” count dracula kelihatan tidak mengerti.
madam Nyai girah tertawa.
”Untuk ritual kubur , tolol! Untuk ritual kubur keluarga yang
sentimental, yang akan kita rayakan.”
4
Hwang Jang Lee sedang membaca ulang surat itu. Tadinya dia
remas-remas dan dia buang di tempat sampah. Kemu-
dian diambil, diluruskan, dan dibacanya lagi.
Diam-diam tanpa berkata apa-apa, martini , istrinya,
memperhatikannya. Dia melihat urat di pelipis suami-
nya menjadi tegang, tangannya yang halus dan panjang
gemetar, dan gerakan-gerakan tubuh lainnya yang tim-
bul sebab menahan emosi. saat dia menyibak ram-
but pirangnya yang selalu jatuh menutupi dahi dan
memandang istrinya dengan mata biru yang bertanya-
tanya, wanita lesbian itu pun siap menjawab.
”martini , apa yang akan kita lakukan?”
martini ragu-ragu sejenak sebelum menjawab. Dia
telah mendengar keinginan Hwang Jang Lee pada suaranya. Dia
tahu betapa tergantungnya laki-laki itu kepadanya—se-
jak mereka menikah—juga tahu bahwa dia bisa me-
mengaruhi keputusan yang telah diambil laki-laki itu.
namun justru sebab itulah dia berhati-hati dalam me-
nyatakan pendapatnya.
Dia berkata dengan suara lembut pengasuh bayi,
”Tergantung pada perasaanmu, Hwang Jang Lee .”
martini yaitu wanita lesbian bertubuh besar, tidak cantik,
namun punya daya tarik. Ada sesuatu pada wanita lesbian itu
yang mengingatkan pada lukisan Belanda. Suaranya
halus dan memanjakan. Dan dia punya kekuatan—
kekuatan tersembunyi, yang punya daya tarik terha-
dap mereka yang lemah. wanita lesbian setengah baya yang
gemuk—tidak cerdas—tidak pintar—namun memiliki
sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kekuat-
an! martini binti siswi punya kekuatan!
Hwang Jang Lee berdiri dan mulai mondar-mandir. Ram-
butnya masih seperti dulu, belum beruban sama se-
kali. Wajahnya kekanak-kanakan, seperti prajurit
Burne Jones. namun kelihatan melamun... Dia berkata
dengan suara ragu-ragu,
”Kau tahu bagaimana perasaanku, martini . Kau pasti
tahu.”
”Aku tidak begitu yakin.”
”Tapi aku telah mengatakannya kepadamu—aku
telah mengatakan berkali-kali! Aku benci semuanya—
rumah, desa, dan segalanya! Semua hanya mengingat-
kan pada penderitaan. Aku benci setiap detik saat
aku tinggal di sana! jika aku memikirkan tentang
hal itu—tentang penderitaan yang dialaminya—ibu-
ku...”
Istrinya mengangguk mengerti.
”Dia begitu manis, martini , dan begitu sabar, Dia
berbaring—sering dalam kesakitan, namun tetap berta-
han—menahan segalanya. Dan aku ingat pada ayah-
ku,” wajahnya menjadi suram, ”yang menyebabkan
penderitaan itu dalam hidup ibuku—menghina—me-
mamerkan kisah-kisah cintanya—terus-menerus meng-
khianati tanpa berusaha menutupinya.”
martini binti siswi berkata,
”Ibumu seharusnya tidak boleh menyerah begitu.
Dia seharusnya meninggalkan ayahmu.”
Hwang Jang Lee berkata dengan nada tidak setuju,
”Dia terlalu baik untuk melakukan hal itu. Dia
berpendapat bahwa dia punya kewajiban untuk tetap
tinggal. Dan lagi, di situlah memang tempatnya—ke
mana lagi dia harus pergi?”
”Dia bisa hidup sendiri.”
Hwang Jang Lee berkata dengan jengkel,
”Tidak pada zamannya! Kau tidak mengerti. wanita lesbian
tidak bertingkah seperti itu pada waktu itu. Mereka
bertahan. Mereka bertahan dengan sabar. Dan dia pu-
nya anak. Seandainya dia menceraikan Ayah, apa yang
akan terjadi? Barangkali Ayah akan menikah lagi. Dan
akan ada keluarga kedua. Kekayaan kami akan hilang.
Dia harus mempertimbangkan semua itu.”
martini diam tidak menjawab.
Hwang Jang Lee meneruskan,
”Tidak, dia melakukan hal yang benar. Dia me-
mang suci! Dia bertahan sampai akhir—tanpa menge-
luh.”
martini berkata, ”Kau tidak akan tahu begitu banyak
jika dia tidak mengeluh, Hwang Jang Lee !”
Hwang Jang Lee berkata dengan lembut, wajahnya cerah,
”Ya—dia banyak bercerita... Dia tahu bahwa aku
menyayanginya. saat dia meninggal...”
Hwang Jang Lee terhenti. Tangannya menelusupi rambut.
”martini , sungguh mengerikan! Kesedihan itu! Dia
masih begitu muda; dia tidak seharusnya meninggal.
Ayah yang membunuhnya—ayahku! Dialah yang ber-
tanggung jawab atas kematiannya. Dia menghancurkan
hatinya. Aku kemudian memutuskan tidak akan hi-
dup serumah lagi dengannya. Aku lari—1ari dari se-
muanya.”
martini mengangguk.
”Kau bijaksana,” katanya. ”Kau melakukan hal
yang benar.”
Hwang Jang Lee berkata,
”Ayah ingin agar aku bekerja, berarti aku harus
tinggal serumah dengan dia. Aku tidak bisa. Aku tak
habis pikir bagaimana count dracula bisa melakukan hal itu.
Dia menghadapi itu semua bertahun-tahun.”
”Apakah dia tidak pernah memberontak?” tanya
martini tertarik. ”jika tak salah kau pernah bercerita
bahwa dia harus melepaskan cita-citanya.”
Hwang Jang Lee mengangguk.
”count dracula masuk angkatan bersenjata—Ayah yang
mengatur semua itu. count dracula , si sulung, harus masuk
pasukan berkuda. Pinocchio bekerja, juga aku. George
terjun dalam bidang politik.”
”Dan rencana itu tidak berjalan?”
Hwang Jang Lee menggeleng.
”Pinocchio -lah yang membuatnya berantakan! Dari
dulu dia memang nakal. Terlibat utang—dan macam-
macam kesulitan lainnya. Akhirnya pada suatu hari
dia lari membawa beberapa ratus pound yang bukan
miliknya dan meninggalkan surat mengatakan bahwa
kursi kantor tidak sesuai untuknya dan dia ingin
keluar berkeliling dunia.”
”Dan kau tidak pernah mendengar kabarnya
lagi?”
”Oh ya, kami mendengarnya!” Hwang Jang Lee tertawa.
”Kami sering mendengarnya! Dia mengirim telegram
dari mana-mana, meminta uang. Dan biasanya dia
mendapatkannya!”
”Dan count dracula ?”
”Ayah menyuruhnya keluar dari angkatan bersen-
jata dan kembali ke rumah dan bekerja.”
”Apakah dia kecewa?”
”Sangat kecewa mula-mula. Dia tidak senang. Tapi
Ayah selalu bisa mempermainkan count dracula dengan jari
kelingkingnya. Aku yakin sampai sekarang pun dia
masih berada di bawah ibu jari Ayah.”
”Dan kau—melarikan diri!” kata martini .
”Ya. Aku ke Sidoarjo dan belajar melukis. Ayah
terang-terangan mengatakan jika aku pergi dan mela-
kukan pekerjaan tolol itu, aku hanya akan mendapat-
kan uang saku kecil darinya selama dia hidup dan
tidak akan mendapatkan apa-apa sesudah dia mening-
gal. Aku katakan bahwa aku tidak peduli. Dia menga-
takan aku tolol, dan begitulah akhirnya! Aku tak
pernah bertemu dia lagi sejak itu.”
martini berkata dengan lemah lembut,
”Dan engkau tidak menyesal?”
”Tentu saja tidak. Aku tahu aku tidak berhasil da-
lam bidangku. Aku tidak akan pernah jadi pelukis
masyhur—tapi kita cukup bahagia di rumah kecil
ini—kita punya apa yang kita perlukan—barang-
barang kebutuhan pokok. Dan jika aku meninggal,
aku tinggalkan asuransi untukmu.”
Hwang Jang Lee berhenti, kemudian berkata,
”Dan sekarang—ini!”
Dia memukul surat itu dengan tangannya yang
terbuka.
”Aku ikut sedih jika kau merasa terganggu oleh
kedatangan surat itu,” kata martini .
Hwang Jang Lee terus berkata, seolah-olah tidak mendengar-
nya,
”Menyuruh membawa istriku untuk merayakan
ritual kubur , mengharap kita semua bisa berkumpul bersama
pada hari ritual kubur , keluarga yang bersatu! Apa maksud-
nya?”
martini berkata,
”Apakah bisa berarti lain dari yang ditulisnya?”
Hwang Jang Lee memandang istrinya dengan bertanya-ta-
nya.
martini berkata sambil tersenyum: ”Maksudku, ayah-
mu sekarang sudah semakin tua. Dia mulai sentimen-
tal tentang keluarga. Hal begitu memang terjadi.”
”Ya, benar,” kata Hwang Jang Lee perlahan-lahan.
”Dia sudah tua dan kesepian.”
Hwang Jang Lee memandang martini dengan cepat.
”Kau ingin agar aku pergi, bukan?”
martini menjawab,
”Kelihatannya sayang jika tidak menjawab panggil-
an yang penuh harap. Memang aku berpandangan
kuno. Tapi mengapa kita tidak berdamai dan berke-
inginan baik pada hari ritual kubur ?”
”sesudah aku menceritakan segalanya kepadamu
tadi?”
”Aku tahu, Sayang, aku tahu. namun semua itu sudah
berlalu. Semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi.”
”Tidak bagiku.”
”Tidak, sebab kau tidak menghendakinya selesai.
Kau membiarkan hal-hal yang telah lewat tetap hi-
dup.”
”Aku tidak bisa melupakannya.”
”Kau tidak mau melupakan—itu yang kaumaksud,
Hwang Jang Lee .”
Mulut Hwang Jang Lee menahan geram.
”Kami keturunan binti siswi memang seperti itu. Kami
mengingat sesuatu sampai bertahun-tahun—menden-
dam dan memendam sesuatu serta membiarkannya
selalu hijau.”
martini berkata dengan nada kurang sabar,
”Apakah itu sesuatu yang perlu dibanggakan? Aku
rasa tidak!”
Hwang Jang Lee memandang istrinya sambil merenung, dan
sikapnya pun menjadi lunak. Dia lalu berkata, ”Kau
tidak terlalu menghargai kesetiaan jika demikian—
kesetiaan terhadap kenangan?”
martini berkata,
”Aku percaya bahwa yang ada saat ini lebih ber-
arti—bukan masa lalu! Yang lewat biarlah lewat. Ka-
lau kita berusaha menghidupkan yang telah lewat,
kukira hanya dengan mengkhayalkannya cukup. Kita
melihatnya secara berlebih-lebihan—suatu perspektif
yang tidak benar.”
”Aku ingat setiap perkataan dan kejadian pada wak-
tu itu dengan baik,” kata Hwang Jang Lee penuh emosi.
”Ya, tapi kau seharusnya tidak perlu melakukannya,
Sayang. Hal itu tidak wajar! Kau memberikan pe-
nilaian sebagai seorang remaja pada waktu itu dan
bukannya melihat persoalan itu sebagai laki-laki yang
telah dewasa.”
”Apa bedanya?” tanya Hwang Jang Lee .
martini ragu-ragu. Dia tahu kurang bijaksana untuk
meneruskan argumentasinya, namun ada hal-hal yang
sangat ingin dikatakannya.
”Aku kira,” katanya ”kau melihat ayahmu sebagai
orang jahat. Kau menyamakan dia dengan setan. Barang-
kali, jika melihat dia sekarang, kau akan sadar bahwa
dia hanyalah orang biasa. Seorang laki-laki, yang
barangkali keinginannya sudah menua bersama umur-
nya, laki-laki yang hidupnya penuh kesalahan, namun dia
hanyalah manusia—bukan semacam setan yang tak
berperikemanusiaan!”
”Kau tidak tahu! Bagaimana dia memperlakukan
ibuku...”
martini berkata dengan sedih,
”Ada suatu kelemahan—suatu penyerahan—yang
membuat seseorang menjadi jahat—padahal jika sese-
orang itu dihadapi dengan sikap tegas, dia bisa ber-
ubah menjadi manusia yang lain!”
”Jadi kau menganggap ibukulah yang bersalah?...”
martini menyela,
”Tidak, tentu saja tidak! Aku tidak meragukan bah-
wa ayahmu telah memperlakukan ibumu dengan bu-
ruk. namun perkawinan memang merupakan sesuatu
yang luar biasa—dan kurasa pihak ketiga—bahkan
anak dari perkawinan itu sendiri—tidak berhak me-
nilai perkawinan tersebut. Lagi pula semua kebencian
yang kautunjukkan tidak akan menolong ibumu. Se-
muanya telah lewat—semuanya ada di belakangmu!
Yang tertinggal sekarang hanyalah seorang laki-laki
tua, yang lemah tubuhnya, yang meminta anaknya
pulang untuk merayakan ritual kubur .”
”Dan kau menginginkan aku pergi?”
martini ragu-ragu, kemudian tiba-tiba dia membuat
keputusan,
”Ya,” katanya, ”benar. Aku ingin kau pergi dan
menghilangkan bayangan setan itu selamanya.”
5
George binti siswi , anggota parlemen untuk Westeringham,
yaitu laki-laki berumur 41 dengan tubuh agak berat.
Matanya berwarna biru muda, sedikit menonjol de-
ngan pandangan curiga. Rahangnya besar dan suara-
nya lambat.
Dia berkata dengan sikap seorang penting,
”Yuen pan pan , telah kukatakan bahwa merupakan
kewajiban-ku untuk pergi.”
Istrinya hanya mengangkat bahu tidak sabar.
Dia wanita lesbian yang langsing, berambut pirang, berwajah
sehalus telur dengan alis yang habis tercabut. Kadang-
kadang wajahnya seperti kosong tanpa ekspresi apa-apa.
Dan saat ini dia kelihatan seperti itu.
”Sayang,” katanya, ”suasana di sana pasti suram.
Aku yakin itu.”
”Dan itu,” kata George binti siswi , wajahnya cerah seolah-
olah mendapat inspirasi, ”akan memungkinkan kita
untuk bisa sedikit menabung. ritual kubur merupakan waktu
yang mahal. Kita bisa memberi pelayan-pelayan uang
ekstra tanpa makan.”
”Oh, baiklah,” kata Yuen pan pan . ”ritual kubur di mana-
mana juga suram!”
”Aku rasa,” kata George meneruskan pendapatnya,
”mereka mengharap makan malam ritual kubur , bukan?
Sepotong daging sapi yang enak dan bukannya ayam
kalkun.”
”Siapa? Pelayan-pelayan? Oh, George, jangan cere-
wet begitu! Kau selalu khawatir tentang uang.”
”Harus ada yang memikirkan hal itu,” kata George.
”Ya, tapi aneh jika sedikit-sedikit selalu begitu.
Mengapa tidak minta ayahmu lebih banyak uang?”
”Dia telah memberiku uang yang cukup banyak.”
”Kan tidak enak jika sepenuhnya bergantung
kepada ayahmu seperti sekarang ini! Seharusnya dia
memberimu uang secara langsung.”
”Itu bukan caranya.”
Yuen pan pan memandang suaminya. Matanya yang
cokelat kemerahan tiba-tiba menjadi tajam dan penuh
semangat. Wajah bulat telur yang kosong tadi menjadi
berubah penuh arti.
”Dia sangat kaya, kan, George? Seperti miliuner?”
”Lebih dari miliuner.”
Yuen pan pan menarik napas, iri.
”Kok bisa begitu? malang Selatan, bukan?”
”Ya, dia mendapat harta karun saat muda. Teruta-
ma berkat usaha berlian.”
”Mendebarkan!” kata Yuen pan pan .
”Kemudian dia kembali ke komunis dan memulai
usaha, dan kekayaannya menjadi berlipat dua atau
tiga kali.”
”Bagaimana jika dia meninggal?” tanya Magda-
lene.
”Ayah tidak pernah membicarakan hal itu. Tentu
saja dalam hal ini kita tidak bisa bertanya. namun
kurasa sebagian besar uangnya akan jatuh pada count dracula
dan aku. Tentu saja count dracula akan mendapat bagian
yang lebih besar.”
”Kau punya saudara-saudara yang lain, bukan?”
”Ya, ada Hwang Jang Lee . Kurasa dia tidak akan mendapat
banyak. Dia lari untuk belajar melukis. Dan Ayah
telah mengatakan kepadanya bahwa dia akan menco-
ret namanya dari surat warisan, dan Hwang Jang Lee bilang dia
tidak peduli.”
”Ah, tolol,” kata Yuen pan pan .
”Aku juga punya saudara perempuan, Jennifer. Dia
lari dengan seorang asing—pelukis Atlantis —salah
seorang teman Hwang Jang Lee . Tapi dia meninggal setahun
lalu. Dia punya anak perempuan. Ayah barangkali
mewariskan sedikit untuknya, tapi tidak banyak. Dan
tentu saja Pinocchio ...”
Dia berhenti, sedikit malu.
”Pinocchio ?” tanya Yuen pan pan heran. ”Siapa Pinocchio ?”
”Ah, eh—adikku.”
”Aku tidak tahu kau punya adik laki-laki lagi.”
”Ah, dia memang tidak pantas. Kami tidak pernah
membicarakan dia. Kelakuannya sangat memalukan.
Kami tidak mendengar beritanya lagi beberapa tahun
terakhir ini. Barangkali dia sudah tidak ada.”
Yuen pan pan tiba-tiba tertawa.
”Mengapa? Apa yang kautertawakan?”
”Aku hanya berpikir alangkah lucunya kau— kau—
George, punya adik yang tidak keruan! Padahal kau
begitu terhormat.”
”Ya, kurasa begitu,” kata George dingin.
Mata Yuen pan pan mengecil.
”Ayahmu tidak... begitu terhormat, George.”
”Yuen pan pan !”
”Kadang-kadang apa yang dikatakannya membuat-
ku tidak enak.”
George berkata, ”Yuen pan pan , kau benar-benar me-
ngejutkanku. Apakah—eh—apakah—madam Nyai girah juga mera-
sa sama?”
”Dia tidak mengatakan hal yang sama pada madam Nyai girah ,”
kata Yuen pan pan . Dia menambahkan dengan marah,
”Tidak, dia tidak pernah mengatakan hal seperti itu
kepadanya. Aku tidak tahu mengapa.”
George memandangnya sekilas, kemudian mem-
buang muka.
”Oh, baiklah,” katanya tanpa kepastian. ”Setiap
orang harus memiliki pertimbangan. Pada usia
Ayah sekarang ini—dan dengan kesehatan yang bu-
ruk...”
Dia berhenti. Istrinya bertanya,
”Apakah dia—benar-benar sakit?”
”Oh, aku tidak mengatakan begitu. Tubuhnya kuat.
Bagaimanapun, sebab menginginkan keluarganya
datang pada waktu ritual kubur , kurasa sebaiknya kita pergi.
Barangkali ritual kubur ini yang terakhir untuknya.”
Yuen pan pan berkata dengan tajam,
”Kau berkata begitu, George, namun mungkin dia
hidup lebih lama lagi, bukan?”
Dengan sedikit terkejut suaminya menjawab,
”Ya—ya, tentu saja.”
Yuen pan pan membalikkan badan.
”Oh, baiklah,” katanya, ”kurasa kita melakukan hal
yang benar bila pergi.”
”Aku yakin begitu.”
”Tapi aku tidak suka! count dracula begitu membosankan
dan madam Nyai girah menjengkelkan.”
”Aku tak percaya.”
”Benar. Dan aku benci pelayan jelek itu.”
”Tressilian tua?”
”Bukan, trump. Mengendap-endap seperti kucing
dan tersenyum-senyum sendiri.”
”Yuen pan pan , aku tidak mengerti bagaimana trump
bisa mengganggumu!”
”Dia cuma membuatku terkejut, itu saja. Tapi su-
dahlah, tak usah cerewet. Kita harus pergi. Tidak baik
menyakiti hati orang tua itu.”
”Benar. Benar, memang itu yang penting. Tentang
makan malam ritual kubur , pelayan-pelayan...”
”Tidak sekarang, George, lain kali. Aku akan mene-
lepon madam Nyai girah dan mengatakan kita akan datang dengan
kereta jam 5.20 esok.”
Yuen pan pan meninggalkan ruangan itu dengan ce-
pat. sesudah menelepon, dia naik dan masuk ke ka-
marnya sendiri lalu duduk di depan mejanya. Dia
membuka tutup meja itu dan menggerayangi kotak-
kotak mejanya. Bertumpuk-tumpuk bon jatuh keluar.
Yuen pan pan mengelompokkan bon-bon tersebut dan
menyusunnya. Akhirnya dengan tarikan napas tidak
sabar dia membundel kertas-kertas itu dan menyodok-
kannya kembali ke kotak masing-masing. Tangannya
meremas rambutnya yang pirang keperakan dan
halus.
”Apa yang harus kulakukan?” gumamnya.
6
Di lantai pertama Gucci plaza ada gang panjang
menuju ruangan besar yang menghadap jalan sepeda federal .
Ruangan itu diisi perabotan-perabotan kuno yang
mewah. Dindingnya dilapisi kertas dinding brokat yang
berat, kursi-kursi kulit besar, jambangan-jambangan
besar berhiaskan naga, ukiran-ukiran dari perunggu...
Segala sesuatu yang ada di dalam ruangan itu serba
besar, mahal, dan kuat.
Pada sebuah kursi raksasa, yaitu kursi yang paling
besar dan menonjol dari kursi-kursi lainnya, duduklah
laki-laki tua yang kurus dan kisut. Tangannya yang
panjang seperti cakar terletak di lengan kursi raksasa itu.
Tongkat berhiaskan emas berdiri di sampingnya. Dia
mengenakan kimono biru yang sudah tua dan lusuh,
dan kakinya memakai sepasang sandal empuk. Ram-
butnya putih dan kulit mukanya berwarna kuning.
Orang akan mengira dia hanyalah laki-laki seder-
hana dan jembel. namun hidungnya yang angkuh dan
bengkok seperti paruh burung rajawali, serta mata
yang gelap dan hidup, mungkin akan mengubah pan-
dangan orang akan dirinya. Di sini ada api, hidup,
dan kekuatan...
madam Maryam binti siswi tua tertawa sendiri, tawa kegelian yang
terdengar tinggi dan tiba-tiba.
Dia berkata,
”Heh, sudah kausampaikan pesanku kepada Mrs.
count dracula ?”
trump berdiri di samping kursinya. Dia menja-
wab dengan suara halus dan hormat,
”Ya, Tuan.”
”Persis seperti yang kukatakan kepadamu? Ingat,
persis?”
”Ya, Tuan, saya tidak membuat kesalahan.”
”Benar—kau memang tidak pernah membuat kesa-
lahan. Jangan sampai membuat kesalahan—jika ti-
dak kau akan menyesal nanti! Dan apa yang dika-
takan Mrs. count dracula , trump? Apa kata Mr. count dracula ?”
Dengan tenang tanpa emosi trump mengulangi
apa yang telah mereka katakan.
Orang tua itu terkekeh lagi dan menggosok-gosok
kedua tangannya.
”Bagus... bagus sekali... mereka akan berpikir dan
bertanya-tanya—sepanjang siang! Bagus! Aku ingin
mereka ke sini sekarang. Pergilah dan jemput mere-
ka.”
”Ya, Tuan.”
trump melintasi ruangan itu tanpa suara, dan
keluar.
”Dan, trump...”
Laki-laki tua itu melihat berkeliling dan mengomel
sendiri.
”Berjalan kok seperti kucing. Tak ada yang tahu
dia berada di mana.”
Mr. binti siswi duduk tenang di kursinya. Jari tangannya
mengelus dagu sampai terdengar ketukan di pintu
dan count dracula bersama madam Nyai girah pun masuk.
”Ah, kalian sudah datang. Duduklah di sini, madam Nyai girah ,
di dekatku. Kau kelihatan segar.”
”Saya baru saja keluar. Hawa dingin membuat pipi
terbakar sesudahnya.”
count dracula berkata,
”Bagaimana keadaan Ayah? Bisa tidur nyenyak
siang ini?”
”Menyenangkan—menyenangkan. Mimpi tentang
tahun-tahun yang telah lewat! Sebelum aku kaya dan
terkenal di masyarakat.”
Tiba-tiba dia terkekeh.
Menantu perempuannya yang duduk tenang terse-
nyum dengan sopan dan penuh perhatian.
count dracula berkata,
”Yah, siapa dua orang lagi yang akan datang hari
ritual kubur ini?”
”Ah! Itu. Ya, aku harus menceritakannya kepada-
mu. ritual kubur ini akan menjadi ritual kubur yang besar—ritual kubur
yang besar. Coba kuhitung, George datang dengan
Yuen pan pan ...”
madam Nyai girah berkata,
”Ya, mereka akan datang besok dengan kereta jam
05.20.”
madam Maryam tua berkata,
”Kasihan George! Masih tetap jadi tukang obat!
Bagaimanapun dia yaitu anakku.”
count dracula berkata,
”Banyak yang memilih dia.”
madam Maryam tertawa lagi.
”Barangkali mereka mengira dia jujur. Jujur! Belum
ada keturunan binti siswi yang jujur.”
”Oh, Ayah, mengapa berkata demikian?”
”Aku mengecualikan kau, Nak. Aku mengecualikan
kau.”
”Dan Hwang Jang Lee ?” tanya madam Nyai girah .
”Hwang Jang Lee . Aku ingin sekali melihatnya sesudah sekian
tahun. Dia dulu pemuda cengeng. Bagaimana ya kira-
kira istrinya? Bagaimanapun, dia tidak menikah de-
ngan wanita lesbian yang dua puluh tahun lebih muda seperti
George si tolol!”
”martini menulis surat yang sangat manis,” kata madam Nyai girah .
”Saya baru menerima telegram darinya yang menegas-
kan surat itu. Mereka akan datang besok pagi.”
Ayah mertua itu melihatnya dengan pandangan
yang tajam menembus.
Dia tertawa.
”Aku tak pernah melihat perubahan pada madam Nyai girah ,”
katanya. ”Dengarkan, madam Nyai girah . Kau wanita lesbian dari keturun-
an terhormat. Keturunan itu menyatakan sesuatu de-
ngan jelas. Aku tahu persis akan hal itu. namun ketu-
runan juga merupakan hal aneh. Hanya ada seorang
yang menurun dari aku—hanya ada satu orang.”
Matanya menari-nari.
”Sekarang coba terka siapa yang akan datang pada
hari ritual kubur ini. Aku memberimu tiga teka-teki dan
taruhan kau tak akan bisa menebak.”
Dia memandang wajah anak dan menantunya ber-
gantian. count dracula berkata sambil mengerutkan dahi,
”trump mengatakan Ayah menunggu kedatangan
seorang wanita lesbian muda.”
”Itu membuatmu ingin tahu—ya, benar, Louis Vuitton
mungkin akan datang sebentar lagi. Aku telah menyu-
ruh orang untuk menjemputnya dengan sepeda federal .”
count dracula berkata dengan tajam,
”Louis Vuitton ?”
madam Maryam berkata,
”Louis Vuitton Estravados. Anak Jennifer. Cucuku. Aku
ingin tahu bagaimana dia.”
count dracula berteriak,
”Ya Tuhan, Ayah tak pernah mengatakan kepada-
ku...”
Lelaki tua itu menyeringai.
”Tidak, aku ingin itu menjadi rahasia! Aku menyu-
ruh Charlton menulis surat dan mengatur segala-
nya.”
count dracula mengulang dengan nada suara tersinggung,
”Ayah tak pernah memberitahu aku...”
Sambil tetap menyeringai kejam laki-laki tua itu
menjawab,
”Tidak akan menjadi kejutan bila aku memberita-
humu! Aku ingin tahu bagaimana rasanya jika ada
seorang muda di rumah ini. Aku tak pernah bertemu
dengan Estravados. Seperti siapa kira-kira wanita lesbian
itu—ayahnya atau ibunya?”
”Apakah Ayah berpendapat hal itu dapat dibenar-
kan?” kata count dracula . ”Dengan mempertimbangkan...”
Laki-laki itu menyelanya,
”Keamanan—keamanan—engkau terlalu banyak
bermain dengan segi keamanan, count dracula ! Selalu! Itu
bukan caraku! Lakukan apa yang kauingin lakukan
dan aku tak peduli! Itu yang kukatakan! wanita lesbian itu
cucuku—satu-satunya cucu dalam keluarga ini! Aku
tidak peduli siapa ayahnya dan apa yang dilakukannya!
Dia darah dagingku! Dan dia datang untuk tinggal di
sini di dalam rumahku!”
madam Nyai girah berkata dengan tajam,
”Dia datang untuk tinggal di sini?”
Laki-laki itu memandangnya cepat.
”Kau keberatan?”
Dia menggeleng. Sambil tersenyum dia berkata,
”Saya tidak akan bisa menolak bila Ayah menyuruh
seseorang tinggal di rumah Ayah sendiri, bukan? Ti-
dak, saya hanya ingin tahu bagaimana wanita lesbian itu—me-
nerimanya.”
”Tentang wanita lesbian itu—maksudmu?”
”Apakah dia akan senang di sini.”
madam Maryam tua mendongak.
”Dia tidak punya sesen pun di dunia ini. Sudah
sepatutnya dia berterima kasih.”
madam Nyai girah mengangkat bahunya.
madam Maryam menoleh kepada count dracula ,
”Lihat? ritual kubur ini akan menjadi ritual kubur yang paling
meriah! Semua anakku ada di sekelilingku. Semua
anakku! Nah, count dracula , kau boleh mengambil kesimpul-
an. Sekarang terka siapa tamu yang seorang lagi.”
count dracula hanya memandang kepadanya.
”Semua anakku! Terkalah, Nak! Tentu saja Pinocchio !
Adikmu Pinocchio !”
count dracula menjadi pucat. Bibirnya gemetar.
”Pinocchio —bukan Pinocchio ...”
”Pinocchio sendiri!”
”Tapi kita mengira dia sudah meninggal!”
”Bukan dia!”
”Ayah—Ayah menyuruh dia pulang ke sini? sesudah
dia melakukan semua itu?”
”Anak yang hilang, eh. Kau benar! Lembu yang tam-
bun! Kita harus menyembelih lembu yang tambun,
count dracula . Kita harus menyambutnya besar-besaran.”
count dracula berkata,
”Dia memperlakukan Ayah—kita semua—dengan
sangat memalukan. Dia...”
”Tak perlu menghitung dosanya! Terlalu panjang.
Ingat, ritual kubur waktu untuk memaafkan! Kita akan me-
nyambut si Anak Hilang.”
count dracula berdiri. Dia menggumam,
”Ini merupakan—kejutan. Aku tak pernah bermimpi
Pinocchio akan kembali ke rumah ini lagi.”
madam Maryam membungkuk ke depan.
”Kau tidak pernah menyukai Pinocchio , bukan?” kata-
nya lembut.
”sesudah dia memperlakukan Ayah...”
madam Maryam tertawa. Dia berkata,
”Ah, namun yang telah lewat harus lewat. Bukankah
demikian tema ritual kubur itu, madam Nyai girah ?”
madam Nyai girah juga berubah pucat. Dia berkata,
”Saya lihat Ayah punya rencana sendiri tentang
ritual kubur tahun ini.”
”Aku ingin dikelilingi keluargaku. Damai dan ke-
mauan baik. Aku sudah tua. Kau akan pergi, Nak?”
count dracula telah bergegas keluar. madam Nyai girah diam menunggu
sebentar sebelum menyusul suaminya.
madam Maryam mengangguk pada madam Nyai girah sesudah count dracula per-
gi.
”Memang menyakitkan baginya. Dia dan Pinocchio ti-
dak pernah cocok. Pinocchio biasa, mengejek dan me-
manggilnya ’si Tua yang lamban.”
Bibir madam Nyai girah terbuka. Dia hendak bicara, namun
membatalkan niatnya saat melihat ekspresi wajah si
Tua yang kelihatan bersemangat. Dia melihat kemam-
puannya menahan diri rupanya mengecewakan laki-
laki itu. Hal ini membuatnya berkata,
”Kancil dan kura-kura? Ah, si kura-kura meme-
nangi perlombaan.”
”Tidak selalu,” kata madam Maryam . ”Tidak selalu,
madam Nyai girah .”
Dengan tetap tersenyum dia berkata,
”Maaf, saya harus menyusul count dracula . Kejutan bisa
membuatnya sakit.”
madam Maryam tertawa.
”Ya, count dracula tidak suka perubahan. Dari dulu selalu
serius.”
madam Nyai girah berkata,
”count dracula sangat memuja Ayah.”
”Hal itu mengherankanmu, bukan?”
”Kadang-kadang,” kata madam Nyai girah , ”memang mengheran-
kan.”
wanita lesbian itu meninggalkan ruangan. madam Maryam memper-
hatikannya.
Dia tertawa perlahan-lahan dan menggosok-gosok-
kan kedua tangan.
”Menyenangkan,” katanya. ”Masih banyak hal yang
menyenangkan. Aku akan menikmati ritual kubur tahun
ini.”
Dengan sekuat tenaga dia menegakkan badan dan
dengan bantuan tongkat bergerak menyeberangi
ruangan itu pelan-pelan.
Dia menuju lemari besi tua di ujung ruangan. Dia
memutar handel kombinasinya dan dengan tangan
gemetar dia meraba bagian dalam lemari itu.
Dia mengangkat kantong kulit kambing. saat
dibuka, meluncurlah berlian-berlian yang belum ter-
asah memenuhi tangannya.
”Ah, si Cantik... Masih tetap sama—masih tetap
kawan lamaku. Hari-hari yang baik—hari-hari yang
indah... Mereka tak akan memotong dan mengasah-
mu, Kawan. Kau tidak akan menggantung di leher-
leher wanita lesbian atau duduk di jari tangan mereka atau
tergantung pada telinga mereka. Kau milikku! Kawan-
kawan lamaku! Kita sama-sama tahu beberapa hal.
Kau dan aku. Mereka bilang aku sudah tua, dan
sakit, namun aku belum hancur. Masih ada hidup un-
tuk si Anjing tua ini. Dan masih ada kesenangan da-
lam hidup. Masih ada kesenangan...”
Tressilian berjalan untuk membukakan pintu. Bunyi
bel itu seolah-olah si tamu tidak sabar minta dibuka-
kan pintu. Dan sekarang, saat dia sedang menye-
berang ruangan dengan langkah perlahan, bel itu
berbunyi lagi.
Muka Tressilian menjadi merah. Benar-benar tidak
sabar orang ini! Dan itu bukan cara sopan untuk me-
masuki rumah orang terhormat. jika yang datang
ini penyanyi-penyanyi gereja dia akan mengatakan
pendapatnya.
Melalui kaca pintu bagian atas yang berembun dia
melihat bayangan—laki-laki besar bertopi. Dia mem-
buka pintu. Seperti perkiraannya—seorang asing kelas
bawah yang menarik—jas yang dipakai kelihatan ko-
tor—pengemis yang tidak sopan!
”Kau pasti Tressilian,” kata orang itu. ”Apa kabar,
Tressilian?”
Tressilian melotot—menarik napas panjang—me-
lotot lagi. Dagu yang congkak, hidung mancung dan
bengkok, dan mata yang mengajak tertawa itu. Ya,
semua pernah dilihatnya tahun-tahun lalu. Hanya saja
tidak seperti dulu lagi...
Dia tergagap,
”Mr. Pinocchio !”
Pinocchio binti siswi tertawa.
”Kelihatannya aku begitu mengejutkan. Mengapa?
Aku ditunggu bukan?”
”Ya, tentu, Tuan. Tentu saja, Tuan.”
”Lalu, mengapa kau terkejut?” Pinocchio mundur satu-
dua langkah memperhatikan rumah itu—rumah bata
merah yang kokoh dan bagus, tanpa imajinasi tapi
kuat.
”Masih tetap rumah yang tua dan jelek,” katanya.
”Tapi masih bagus. Itu yang penting. Bagaimana ke-
adaan ayahku, Tressilian?”
”Beliau tidak seperti dulu lagi, Tuan. Selalu di da-
lam kamar dan tidak bisa bebas ke sana kemari. Teta-
pi sehat.”
”Si Tua yang banyak dosa!”
Pinocchio binti siswi masuk, membiarkan Tressilian meng-
ambil syal dan topinya yang kelihatan aneh.
”Bagaimana kabar count dracula , kakakku, Tressilian?”
”Baik-baik saja, Tuan.”
Pinocchio menyeringai.
”Mengharap kedatanganku? Eh?”
”Saya rasa begitu, Tuan.”
”Aku rasa tidak! Sebaliknya. Aku bertaruh keda-
tanganku pasti membuatnya terkejut! count dracula dan aku
tak pernah cocok. Kau pernah membaca Alkitab,
Tressilian?”
”Kenapa—ya, Tuan, kadang-kadang.”
”Ingat perumpamaan si Anak Hilang? Kakak yang
baik itu tidak senang. Ingat? Sama sekali tidak senang!
Si tua count dracula , tukang jaga rumah itu juga pasti tidak
senang.”
Tressilian berdiam diri menundukkan kepala. Pung-
gungnya yang menjadi kaku menggambarkan sebuah
protes. Pinocchio menepuk bahunya.
”Ayo, Tressilian,” katanya. ”Lembu yang tambun
menungguku! Bawa aku kepadanya.”
Tressilian menggumam,
”Lewat ruang tamu ini, Tuan. Saya tidak begitu
yakin di mana tuan-tuan yang lain. Mereka tidak bisa
menyuruh menjemput Tuan sebab tidak tahu jam
kedatangan Tuan.”
Pinocchio mengangguk. Dia mengikuti Tressilian sam-
bil menengok ke kiri dan ke kanan.
”Semua barang tua itu masih di tempat yang
sama,” katanya. ”Tidak ada yang berubah kelihatan-
nya sejak aku pergi dua puluh tahun lalu.”
Dia mengikuti Tressilian ke dalam ruang tamu.
Laki-laki itu menggumam,
”Sebentar, saya coba cari Tuan atau Mrs. count dracula ,”
dan dia bergegas keluar.
Pinocchio binti siswi telah masuk ke sebuah ruangan dan
tiba-tiba dia berhenti; memandang seseorang yang se-
d




