nak sekadar mampir ke rumah temannya? "Mudah-mudahan bukan penculikan,"
timpal seorang petugas jaga kepada rekan detektifnya.
Semoga bukan penculikan. Sebab, dari 171 kasus pembekapan bocah bermotif uang
tebusan yang dilaporkan di Jepang, pada tahun 1945 - 1993, 31 korbannya tewas
dibunuh penculiknya. Statistik yang tentu saja membuat kecut hati para orangtua!
Titik terang Kikuo
Untuk memperjelas persoalan, polisi segera bergerak cepat. sesudah menanyai
sejumlah saksi mata, yaitu para tetangga dan teman-teman Murakoshi, polisi
mendapat informasi, si anak hilang itu terakhir kali terlihat bermain dengan Kikuo,
temannya yang berusia lebih tua. Tanpa membuang waktu, sejumlah detektif
mengejar keterangan Kikuo di rumahnya. Jawaban Kikuo sedikit memberi titik terang.
107
"Memang benar. Tadinya kami bermain bersama. namun lalu , saat kami
sedang mengisi pistol air Murakoshi, datang seorang laki-laki. Orang itu mengajak
ngobrol Murakoshi. sebab sudah ada yang menemani, saya lalu meninggalkan
mereka berdua," jawab Kikuo lancar.
"Kamu sempat mendengar pembicaraan mereka?" tanya seorang detektif.
"Pria itu menegur duluan. Mereka ngobrol soal pistol-pistolan yang dipegang
Murokoshi."
"Hanya itu?"
"Hanya itu yang saya tahu, sebab saya langsung pergi," Kikuo mengangguk.
Polisi juga menanyai ciri-ciri pria asing yang membawa pergi Murakoshi. Menurut
Kikuo, si pria masih muda, tingginya sekitar 160 cm dan memakai jas parasut warna
abu-abu. Hanya sampai di situ keterangan yang dapat dikorek polisi dari anak laki-
laki yang tadinya diharapkan menjadi saksi kunci. Belakangan, ternyata masih ada
lagi satu ciri fisik penting si pria asing yang luput dari perhatian Kikuo. Lelaki
pembawa lari Murokashi itu ternyata berkaki pincang.
Polisi juga mulai mencari motif, sebab tampaknya kasus ini mengarah pada
penculikan. Seorang detektif datang ke rumah Yoshinobu, menanyakan apakah
pengusaha muda itu punya masalah di kantor. Baik dengan sesama teman kerja
maupun rekan bisnis di luar perusahaan. Namun, sejauh ini belum ada nama yang
dianggap pantas masuk daftar orang-orang yang dicurigai.
Agar pencarian berjalan efektif, polisi menyebarkan ciri-ciri Murakoshi, terutama saat
terakhir kali meninggalkan rumah. Tingginya sekitar satu meter, dengan rambut
dipotong pendek layaknya anak-anak kecil di Jepang saat itu. Di saat-saat
terakhirnya, ia memakai sweater hitam, kaus oblong, dan celana panjang kuning
setrip hitam-abu-abu, kaus kaki biru tua, dan sepatu hitam.
Berdasarkan data, fakta, dan laporan yang masuk, dugaan polisi masih belum
berubah: kasus hilangnya Murakoshi kemungkinan besar penculikan. Namun, polisi
belum berani menyimpulkan secara resmi. Mereka terus menunggu kontak dari
penculiknya.
Lolos jebakan polisi
sesudah beberapa hari tak ditemukan, kasus Murokashi tak lagi menjadi milik polisi
dan warga sekitar. Sejumlah media cetak terbitan Tokyo ikut mengekspos kisah
hilangnya bocah yang dikenal selalu ceria itu. Sejak pemberitaan gencar itu, seluruh
Tokyo bak larut dalam lautan duka mendalam yang menimpa keluarga besar
Yoshinobu.
Tanggal 3 April 1963, Maruyama Tasaku, ketua Asosiasi Pengacara Jepang, bahkan
secara resmi menyampaikan permintaan pada penculik, agar tak melanjutkan aksi
kejinya. Seorang pejabat polisi, saat ditanya wartawan, juga menjanjikan "perlakuan
khusus", jika penculik Murakoshi bersedia menyerahkan diri. Selain mereka berdua,
masih banyak lagi "orang penting" yang ikut berbicara di media, mengimbau
pembebasan Murakoshi.
Esok harinya, poster Murakoshi mulai dicetak secara besar-besaran dan disebarkan
ke seantero kota. Pihak keluarga berharap, gencarnya pemberitaan dan banyaknya
poster yang disebarkan membuat hati si penculik (jika memang benar Murakoshi
108
diculik) luluh, sehingga tak melanjutkan niat jahatnya. Kadang, cara seperti ini lebih
efektif ketimbang memburu langsung si penculik.
Contoh keberhasilannya sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya, pemberitaan
meluas di media massa seperti ini pernah terjadi pada kasus penculikan terhadap
seorang anak wanita lesbian . Bertubi-tubinya "hantaman" media massa, tampaknya
membuat si penculik stres, sehingga memutuskan "menyerah". Ia meninggalkan
korbannya tak jauh dari sebuah stasiun rel bawah tanah Shinjuku.
Begitu juga dengan kasus pembekapan dengan tebusan Kim Min Soo, seorang
bocah asal Korea Selatan di Chiba. sesudah diberitakan secara luas, kasus
penculikan itu akhirnya berujung damai. Si bocah pun kembali ke pangkuan
orangtuanya dengan selamat, sesudah sempat dibekap selama dua bulan.
Apakah taktik serupa mempan untuk menekuk penculik Murokashi? Tentu saja
waktu yang akan membuktikan. Namun, setidaknya, ramainya pembicaraan tentang
nasib bocah yang tengah menjadi "anak kesayangan" Tokyo itu membuat
penculiknya tahu alamat dan nomor telepon keluarga korban. Alhasil, tanggal 6 April,
telepon di rumah orangtua Murakoshi - yang telah lama disadap polisi - berdering.
Untuk pertama kalinya sejak dilaporkan raib, penculik Murakoshi menelepon, dan
seperti diduga sebelumnya, meminta uang tebusan. Buat polisi, dering telepon itu
sekaligus memastikan, mereka memang benar-benar berhadapan dengan penculik
bocah. Salah satu pelaku tindak kriminal yang paling mereka benci. Orang dewasa
yang memanfaatkan ketidak-berdayaan bocah-bocah tak berdosa.
"Anda benar-benar akan membawa uangnya, 'kan?" bunyi suara di seberang sana.
"Tentu, tentu, saya akan bawa uangnya," Yoshinobu agak gugup.
"namun ingat, tidak ada orang lain. Anda harus sendirian."
"Tidak masalah. Saya akan datang sendirian. Di mana harus diserahkan?" "Apa?"
"Uangnya. Di mana harus saya serahkan?" ulang Yoshinobu
"Datanglah ke Jln. Showa Dori. Di ujung jalan, Anda akan melihat Sunagawa Motor
Company."
"Maksud Anda, Shinagawa Motor?"
"Ya, betul. Shinagawa. Ada lima truk yang diparkir di sana. Letakkan uangnya di truk
ketiga dari depan. Sekali lagi saya ingatkan, sebaiknya Anda datang sendirian. Kalau
tidak ...," si penculik mengancam.
"Bagaimana kalau saya ditemani seorang anggota keluarga?"
"Mmmm."
"Dia akan jadi sopir saya. Bagaimana?"
"Mmmmm."
"Boleh 'kan?"
109
"Okelah. Sampai nanti."
Menyadari pentingnya "transaksi" yang akan dilakukan, polisi langsung melakukan
persiapan. Mereka menempatkan lusinan detektif berbaju preman di sekitar titik
pertemuan. Sayangnya, meskipun rencana penyergapan yang mempertaruhkan
nyawa bocah tak berdosa itu dipersiapkan dengan matang, hasilnya ternyata
mengecewakan. Keteledoran kecil yang dilakukan kerabat sekaligus sopir Yoshinobu
berdampak sangat besar. Pelaku penculikan lolos begitu saja dari jebakan polisi.
Sopir Yoshinobu salah memahami kode lambaian tangan yang dilakukan seorang
perwira polisi. Tanda itu dianggapnya sebagai isyarat agar mengambil rute terdekat
dan segera menyerahkan uang tebusan yang telah disiapkan, sesuai petunjuk
penculik. Akibatnya, polisi di lapangan tak lagi terkoordinasi, mereka bahkan baru
sampai ke titik penyerahan uang tiga menit sesudah tebusan ditaruh. Polisi mencoba
menyisir lokasi kejadian, namun terlambat, sebab si penculik dan uang tebusan Yen
500.000 telah kabur entah ke mana.
Kegagalan tadi jelas berimplikasi besar. Si penculik menjadi orang yang benar-benar
"beruntung". Uang didapat, sandera tetap di tangan. Tak ada yang bisa
memperkirakan, bagaimana nasib bocah itu kini. Murakoshi yang malang, dia bisa
saja kembali, namun bisa juga tak akan pernah terlihat lagi.
Gagal berulang tahun
Sejak gagalnya "transaksi" penyelamatan Murakoshi, makin banyak pihak yang
mengkhawatirkan nasib anak tak berdosa itu. Logikanya, jika si penculik sudah
mendapatkan semua yang diminta, buat apa lagi menyimpan sandera? Bukankah
keberadaan si bocah justru menjadi beban yang sangat merepotkan? Hanya ada dua
pilihan yang dimiliki si penculik, melepaskan sandera atau membunuhnya. Nah,
kemungkinan kedua inilah yang ditakutkan warga kota.
Di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah, para kepala stasiun berinisiatif
mengumandangkan himbauan agar si penculik membebaskan Murakoshi. Himbauan
yang disampaikan secara berkala itu menunjukkan keprihatinan mendalam
masyarakat Tokyo atas raibnya Murakoshi. Berbagai tulisan tentang ibu kandung
Murakoshi, Toyoko, yang dicetak sejumlah media tulis, terasa menyentuh. Dalam
tulisan itu diceritakan, betapa Toyoko tak pernah bisa benar-benar tidur, sejak
anaknya diculik.
"Saya berharap, Murakoshi dibebaskan sebelum ulang tahunnya yang kelima, 17
April nanti. Saya juga ingin membawanya ke festival anak, tanggal 5 Mei. Setiap
tahun kami sekeluarga selalu ke sana," harap Toyoko, seperti dilansir sejumlah
media cetak. Namun, permintaan Toyoko tampaknya hanya akan menjadi sekadar
permintaan. Terbukti, sampai hari ulang tahunnya tiba, bahkan sampai festival anak
selesai dilaksanakan, Murakoshi tak juga kembali ke rumah.
Di luar stasiun kereta api serta rumah keluarga, kerabat, dan tetangga, imbauan dan
gerakan moral menuntut Murokashi dibebaskan pun makin sering terdengar.
Berbagai LSM mendesak penculik agar tak menjadikan bocah tak berdosa sebagai
tameng kehajatannya. Para politisi pun tak mau kalah, ikut bersuara. Total jenderal,
tak kurang dari 700 ribu orang menjadi sukarelawan, sebagian besar bergerak
secara tak resmi, membantu polisi mencari Murakoshi.
Namun, hari berlalu, bulan berganti, tahun pun bergulir, jejak si penculik masih juga
misterius. Untuk mengatasi kebuntuan, polisi bahkan memperbanyak dan
menyebarkan rekaman percakapan telepon antara si penculik dengan orangtua
110
korban, ke stasiun-stasiun radio dan televisi. Rekaman itu menjadi bahan
perbincangan menarik di media massa.
Tujuan polisi, agar khalayak - berbekal kaset rekaman tadi - ikut memberi penilaian
atau informasi yang langsung mengarah pada pelaku, mendapat sambutan luar
biasa. Menurut para ahli bahasa, dialek si penculik menunjukkan dia berasal dari
Tohuku, sebuah daerah di utara Jepang. Dari rekaman suara itu terungkap pula,
pelaku kerap menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan dunia militer.
Pelaku diperkirakan berusia sekitar 40-an tahun, bisa juga lebih.
Selain komentar, banyak juga telepon masuk ke kantor polisi, rata-rata menyatakan
"sepertinya mengenal" orang yang suaranya mirip dengan suara penculik di kaset
rekaman. Namun, sesudah diselidiki lebih jauh, polisi belum atau tidak menemukan
bukti-bukti keterlibatan orang-orang yang dilaporkan sebagai pemilik suara mirip
penculik Murakoshi itu.
Toh aparat penegak hukum tak pernah putus asa. Penyelidikan terus bergulir.
Sampai akhirnya, tahun 1964, seiring peresmian kereta api cepat Shinkansen dan
status Tokyo sebagai tuan rumah olimpiade, perhatian warga terhadap kasus
Murakoshi mulai terpecah. Sepertinya, sulit buat polisi menemukan jalan keluar
kasus ini. Bahkan hidup-mati Murokashi pun tak diketahui.
Kirim rekaman ke Amazon
Ajaibnya, justru saat hampir semua orang sudah melupakan tragedi yang menimpa
anak kesayangan Yoshinobu, persisnya Juni 1965, dua tahun tiga bulan sesudah
kasus penculikan Murokashi pertama kali dilaporkan, polisi mengumumkan
keberhasilannya menemukan jejak tersangka penculikan. Hasil penyelidikan yang
melibatkan 30 ribu polisi dan 13 ribu calon tersangka itu, menurut aparat penegak
hukum, mulai mengerucut pada sebuah nama, Kohara Tamotsu.
Pria 29 tahun, yang sudah beberapa kali keluar-masuk penjara (termasuk tahun
1956, saat dia ditahan sebab pencurian, data yang dijadikan dasar penelusuran
polisi) terakhir melakoni pekerjaan sebagai tukang servis jam tangan. Anak petani
miskin yang memiliki 10 saudara itu, terserang penyakit tulang saat duduk di kelas
5 SD, sehingga satu kakinya tak dapat berjalan normal. Umur 15, dia belajar teknik
servis jam di Ishikawa, kota kecil tak jauh dari kampung halamannya.
Bosan tinggal di kampung, Kohara mengadu nasib di belantara Tokyo saat
menginjak usia 27 tahun. Dia mendapat pekerjaan sebagai tukang servis di sebuah
toko jam, dengan gaji Yen 24.000 per bulan. Gaji yang sebenarnya lumayan, namun
buat Kohara, uang sebesar itu tak sebanding dengan kebujunjungan hidupnya di kota
sebesar Tokyo.
Tak heran, dia meninggalkan banyak utang di mana-mana. Utang itu makin lama
makin menumpuk, sehingga kadang harus dilunasinya dengan melakukan tindak
kejahatan. Sebelum terlibat kasus penculikan Murakoshi, setidaknya Kohara telah
lima kali ditangkap aparat kepolisian, dua kali di antaranya membuat penjahat
kambuhan ini masuk bui.
Polisi yakin, Kohara yang berasal dari utara Jepang (dialeknya cocok dengan dialek
penculik hasil rekaman polisi) yaitu pelaku sejati penculikan Murakoshi. Untuk lebih
meyakinkan, polisi Jepang mengirim dua sampel rekaman suara ke Amazon tengah
untuk diperbandingkan. Sampel pertama berisi rekaman suara Kohara paling akhir,
sedangkan sampel kedua, berisi rekaman suara penculik saat meminta uang
tebusan di telepon beberapa tahun lalu.
111
Hasilnya, pas bin cocok. Dua suara yang diperbandingkan disimpulkan berasal dari
satu sumber. Namun, meski telah didukung oleh bukti ilmu pengetahuan, polisi tetap
mengharapkan pengakuan Kohara. Di Jepang pengakuan tersangka tetap menjadi
dasar paling kuat untuk menjebloskan seseorang ke penjara. Apalagi jika
tuduhannya tindak pidana berat. Sialnya, dari hari ke hari, sikap Kohara justru makin
menyebalkan. Dia kerap berpolah tidak kooperatif. Bahkan Kohara bersikukuh tak
pernah melakukan penculikan seperti yang dituduhkan kepadanya. "Saat kejadian itu
berlangsung, saya sedang ada di rumah," jawabnya mantap, meski alibinya itu tak
didukung saksi mata. Untuk ukuran seorang penjahat, Kohara tergolong cerdas,
walaupun kecerdasannya itu tampak nyata, lebih sering dimanfaatkan untuk menipu
dan berbuat tidak jujur.
Guna membungkam kebandelan Kohara, polisi akhirnya merencanakan interogasi
maraton, antara tanggal 3 Juli dan 4 juli 1965. Kohara didesak dengan berbagai
pertanyaan, disajikan berbagai fakta, termasuk uutang-utangnya yang langsung
lunas pasca penculikan Murakoshi, atau alibinya yang dengan mudah dipatahkan
sebab tak didukung saksi mata. Kerja keras polisi akhirnya berbuah manis.
Dalam rasa lelahnya, Kohara mengaku. Dia mengaku menculik Murokashi seorang
diri, tanpa bantuan orang lain. Motifnya semata demi uang, lantaran terbelit utang
yang menggunung. saat melihat Murakoshi di sebuah taman kecil, niat jahat
langsung terbersit di hati Kohara. Setan membisikinya untuk membujuk bocah yang
sedang bermain pistol air itu, mengajak ngobrol, lalu jalan-jalan menjauhi kawasan
tempat tinggal Murakoshi.
Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, mereka sampai di Kuil Entsuji, Minami Senju,
Arakawa Ward, Tokyo. Namun, Kohara sebal, sebab di perjalanan, Murakoshi terus-
menerus merengek minta pulang. sebab tidak ingin mengundang perhatian orang
banyak, Kohara memutuskan membungkam mulut Murakoshi, selamanya. Buah hati
Yoshinobu itu dicekik sampai meninggal, di sebuah tempat sepi di lingkungan kuil.
Mayatnya sempat disembunyikan di gudang, sebelum akhirnya dikuburkan di
pekuburan belakang kuil.
Berdasarkan pengakuan Kohara, dini hari itu juga polisi langsung mengecek
pekuburan di belakang Kuil Ensutji. Benar saja, mereka menemukan sisa tulang
belulang Murakoshi, tak jauh dari batu maribeth n bertuliskan "Ikeda". Orangtua korban
yang diberi tahu soal penemuan mayat anaknya tampak sangat terpukul. Tak lama
lalu , mereka mendatangi lokasi penemuan mayat. Harapan menjumpai
Murakoshi dalam keadaan hidup pupus sudah.
"Ini benar sepatu Murakoshi?" tanya seorang polisi, di lokasi penggalian.
"Ya. Celananya juga," papar sang ayah pelan.
sesudah itu, suasana berubah hening. Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan
kepedihan hati orangtua Murakoshi, polisi yang bertahun-tahun menyelidiki kasus ini,
dan banyak orang yang masih menginginkan Murakoshi dapat kembali bermain
dengan teman-teman sebayanya. Yang terdengar hanya bunyi denting pacul dan
peralatan lain untuk menggali, saat terbentur batu-batu kerikil.
Kepedihan itu sedikit terobati saat pada 1967, pengadilan memutuskan Kohara
sangat layak dijatuhi hukuman mati. Di usia 38 tahun, tepatnya tanggal 23 Desember
1971, hidup Kohara berakhir di tiang gantungan di Kosuge, Tokyo.
112
Satu hal yang menarik, Kohara ternyata mendapat ide untuk melakukan penculikan
Murakoshi, saat sedang menonton film di gedung bioskop. Ceritanya, 11 hari
sebelum beraksi, ia berniat refereshing, menonton sebuah film yang baru saja dirilis,
judulnya High and Low, dibintangi Mifune Toshiro. Entah disengaja, entah kebetulan
semata, cerita film itu ternyata berputar-putar soal penculikan bocah!
(Kisah nyata/Mark Schreiber/Icul)
16. RAHASIANYA DI BALIK CELANA
Durban, Afrika Selatan. Malam terus beranjak semakin larut. Sudah tiga jam Maud
Aken mondar-mandir di ruang tamu, sambil berkali-kali melihat jam dinding. Sesekali
wanita lesbian tua itu membuka pintu, berharap Joy, anak gadisnya, datang. Biasanya
Joy sampai di rumah tak lewat pukul tujuh malam. namun malam itu wajah cantik
anaknya tak juga muncul hingga pukul sepuluh malam.
Padahal, pihak kantor bilang, Joy pulang pukul enam sore. Perasaan keibuannya
mengatakan, ada sesuatu yang tak beres dengan anak gadisnya. namun perasaannya
tak mampu membedakan, apakah Joy mengalami ... Jangan-jangan .... Ah, tidak!
Berkali-kali ia menyuruh Colin, anak laki-lakinya, untuk pergi ke kantor Joy. Berkali-
kali itu pula Colin menolak.
"Buat apa ke sana? Dia 'kan sudah keluar kantor," bantahnya. Jawaban itu membuat
ibunya kesal. namun ia tahu Colin benar. Mulutnya tampak berkomat-kamit tipis
merapalkan sesuatu. Entah gerutu, entah doa.
Baju pesta sia-sia
Semakin malam, Maud tampak semakin gusar. Tiba-tiba saja ia menjadi begitu
benci terhadap malam, sebab gelap selalu menjadi persembunyian orang-orang
jahat yang melakukan tindak kriminal. Ia yakin sekali, telah terjadi sesuatu yang tak
beres dengan Joy. Sebelum berangkat, gadis itu bilang akan pergi ke pesta
kawannya sepulang kerja.
Maud bahkan sudah menyiapkan gaun yang bakal dipakai anaknya. Gaun itu kini
masih tergantung rapi di kamarnya.
Tak sabar dengan Colin yang selalu membantah, Maud masuk ke kamar, berganti
pakaian, hendak berangkat ke kantor Joy sendirian. Begitu keluar menuju garasi, ia
mendapati Colin sudah berada di dalam mobil.
Meski tak bisa menyembunyikan kekesalannya, si ibu menurut saja saat Colin
membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berangkat dengan sama-sama kesal.
Sepanjang perjalanan, mereka diam satu sama lain, sibuk dengan pikirannya
masing-masing.
Setengah jam lalu , mereka sampai di lokasi kantor Joy. Suasana lengang.
Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya beberapa yang masih menyala. Beberapa
orang petugas keamanan menghentikan mobil mereka di pintu masuk. "Selamat
malam! Ada yang bisa kami bantu?" Dengan penuh kecemasan, Maud menjelaskan
maksud kedatangan mereka berdua. Namun, dari para petugas keamanan itu
mereka tak memperoleh informasi tambahan apa-apa.
113
Joy sudah meninggalkan kantor sejak pukul enam sore. Titik. Seperti biasa, ia
meninggalkan kantor sendirian. Cuma itu informasi yang mereka dapat. Informasi itu
seolah memperkuat dugaan Maud bahwa memang telah terjadi sesuatu yang tidak
beres dengan Joy. Pastilah sesuatu yang sangat buruk, hingga Joy tak sempat
menelepon ke rumah.
Dari kantor Joy, Colin melajukan mobilnya ke kantor polisi. Di sana, mereka
mendapat sambutan yang sama, "Selamat malam! Ada yang bisa kami bantu?" Kali
ini Colin mewakili ibunya, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Beberapa menit
lalu , mereka ditemui langsung oleh Brigadir Polisi Grobler. Dengan kecemasan
yang tak surut sedikit pun, Maud tampak tegang saat menjawab pertanyaan polisi
tentang anaknya.
"Umur 20 tahun. Sekretaris. Cantik. Rambut hitam sebahu. Meninggalkan kantor
pukul enam sore. Sendirian. Memakai ...." Colin menjelaskan dengan rinci.
Dari catatan polisi, tak ada laporan tentang kecelakaan lalu lintas malam itu. Grobler
hanya bisa berjanji, mereka akan membantu mencari Joy. Tak menunggu sampai
Matahari terbit, namun malam itu juga. "Ibu tak perlu terlalu risau hanya sebab
perasaan. Mungkin Joy langsung berangkat ke pesta dan lupa tak menelepon
rumah," hibur Grobler.
namun Maud seperti tak bisa dihibur. Ia meninggalkan kantor polisi dengan wajah
semakin gusar. Seorang polisi ikut mengantar ke rumah mereka. Sampai di rumah,
polisi memeriksa kamar Joy. Ia membolak-balik gaun Joy yang tergantung rapi. Tak
ada petunjuk apa-apa yang bisa didapat. Ia lalu meninggalkan rumah dengan
pesan agar kamar Joy tidak diutak-atik.
"Mungkin nanti kami memperoleh petunjuk," katanya.
Tak urung, ini malah membuat Maud bersungut-sungut. Malam itu, ia tak bisa
memicingkan mata sebentar pun. Di kepalanya berkecamuk berbagai dugaan.
Malam seperti beringsut sedemikian pelan. Maud tak sabar menunggu pagi.
Menunggu cahaya Matahari yang akan menerangi muka orang-orang jahat.
Menjelang pagi, Maud dan Colin mendahului Matahari terbit, bergegas pergi ke
kantor polisi lagi, menanyakan kabar pencarian Joy. Belum ada kemajuan. Hanya
ada informasi tambahan bahwa sebelum Joy menghilang, ia dua kali disambangi
tamu. Seorang pria yang sangat tampan, kata kawan-kawan Joy yang kebanyakan
cewek. Umurnya jauh lebih tua dari Joy. namun tak ada satu pun kawan Joy yang
mengenal pria itu.
Di kantor, Joy dikenal tertutup soal kehidupan asamaranya. Bahkan Maud pun
mengaku tak banyak tahu tentang kawan-kawan Joy. Ia bahkan tak tahu apakah Joy
sudah punya pacar atau belum. Joy tak pernah bercerita. Juga tak pernah
memperkenalkan pria itu kepada Maud. Cindy, kawan dekat Joy di kantor,
mengatakan kepada polisi bahwa ia pernah berpapasan dengan Joy bersama pria
tampan itu, mengendarai mobil Ford Anglia warna merah.
Semua kawan Joy dimintai keterangan tentang pria itu. namun tak banyak informasi
yang didapatkan. Setiap kali polisi bertanya kepada mereka, jawaban pertama
yaitu bahwa pria itu tampan. Sangat tampan. Jawaban khas wanita lesbian . Menurut
dugaan mereka, pria itu umurnya kira-kira belasan tahun di atas Joy. Ia pernah dua
kali menjemput Joy ke kantor.
114
Pada kunjungan pertama, keduanya tampak akrab, mesra. namun pada kunjungan
kedua, Joy tampak seperti menyembunyikan rasa kesal pada pria itu. Cuma itu
informasi yang bisa digali polisi. Jelas saja polisi tak bisa mempersempit pencarian
hanya dengan bekal informasi itu. Di Durban, ada ribuan pria tampan dan mobil
Anglia merah.
"Salah satunya yaitu saya," kata Grobler berkelakar kepada Ajun Brigadir Polisi
Leon, salah seorang anak buahnya. Ia berani bergurau saat Maud sudah
meninggalkan kantor polisi. Hari itu juga, Maud menelepon John, suaminya yang
bekerja di Pretoria, memintanya pulang. Selama ini, John dan Joy yaitu dua seteru
yang tak pernah akur. Meski Joy yaitu anak kandung John sendiri, hubungan
keduanya jauh dari kesan hubungan seorang ayah dan anak.
Joy tak pernah menggubris ucapan bapaknya. Ayahnya pun tak pernah peduli
dengan apa yang terjadi pada anak gadisnya.
Maud curiga, suaminya ikut bertanggung jawab terhadap hilangnya Joy. namun ia tak
mengatakan hal itu kepada polisi. Ia tak ingin masalah keluarganya menjadi catatan
polisi. Merasa dicurigai, John tak sanggup menahan murkanya. "Binatang buas saja
tak akan memangsa anaknya sendiri," umpatnya sambil meninggalkan Maud.
Teropong pakaian dalam
Hingga seminggu sejak Joy hilang, belum ada tanda-tanda polisi menemukan
jejaknya. "Polisi tak bisa diandalkan!" keluh Maud di depan Grobler, saat
kekesalannya memuncak. "Polisi bukan dewa, Bu!" elak Grobler. namun ia cuma
mengucapkannya di dalam hati. Ia takut menyinggung perasaan Maud.
Tiap malam, Maud tidur tak lebih dari empat jam. Seminggu sejak Joy hilang,
wajahnya tampak kusut. Asmanya sampai kumat. Colin pun ikut merasa bersalah
atas hilangnya Joy. Bahkan John, ayahnya, sampai mengambil cuti kerja. Di hari
kedelapan, Colin menyarankan ibunya untuk minta bantuan Nelson Palmer, seorang
paranormal yang juga mantan kepala SMA tempat Colin dan Joy bersekolah dulu.
Awalnya, Maud tak menghiraukan saran Colin. Ia tidak begitu percaya dengan
semua yang berbau klenik. namun Colin lalu berhasil meyakinkan ibunya bahwa
Nelson tidak seperti paranormal kebanyakan. Di kalangan orang-orang dekatnya,
Nelson dikenal sebagai paranormal nyentrik, misterius, dan sangat pilih-pilih. Ia lebih
sering menolak permintaan daripada mengabulkan.
Ia bisa melihat sesuatu di tempat yang jauh, namun ia sendiri tidak mau disebut
paranormal. "Ilmu yang saya gunakan ini sama sekali bukan klenik. Sama seperti
teknologi telepon yang memungkinkan dua orang bicara dari tempat yang jauh. Saya
tidak menggunakan kemampuan saya secara sembarangan!" katanya kepada Maud.
"namun ini bukan permintaan sembarangan, Pak Nelson. Ini menyangkut nyawa Joy,
anak saya, juga bekas murid Pak Nelson," bujuk Maud. Dengan bantuan wajahnya
yang memelas, Maud tak butuh waktu lama untuk membuat Nelson menganggukkan
kepala. Ia lalu minta kepada Maud untuk membawa beberapa pakaian Joy,
termasuk beberapa pakaian dalamnya. "Maaf. Saya tak bermaksud jorok. namun saya
ingin mengetahui sebuah rahasia. Saya perlu barang yang sangat pribadi."
Hari itu juga, Maud, John, dan Colin datang ke rumah Nelson sambil membawa
beberapa potong pakaian Joy. Nelson membawa mereka ke ruang pribadinya,
sebuah kamar yang sangat rapi dan penuh buku, jauh dari kesan kamar paranormal.
Sambil disaksikan ketiga orang keluarga Joy, Nelson mulai melakukan ritusnya. Ia
115
meletakkan pakaian-pakaian Joy di meja, memegangnya dalam keadaan mata
terpejam.
Selama beberapa menit, suasana senyap. Yang terdengar hanya napas Nelson yang
naik turun. Beberapa saat lalu Nelson bicara. Suaranya berat, "Joy sudah
meninggal!" Mendengar kata-kata itu, Maud lunglai. Tungkainya seolah tak sanggup
menahan tubuhnya tetap berdiri. Suasana ruangan sesaat menjadi muram. Entah
mengapa Maud percaya begitu saja dengan kata-kata Nelson, seolah-olah ia telah
terbiasa mempercayai tukang ramal.
"Jika sudah meninggal, di mana mayatnya?" tanya Maud sambil tak kuat menahan
air mata sedihnya. Nelson lalu melanjutkan ritusnya lagi, memegang pakaian
Joy, sambil matanya terpejam. Sesaat napasnya kembali terdengar naik turun. "Dia
ada di sebuah tempat ... seperti ... sebuah saluran air .... Di dekatnya ada ...
bukit ...." Ia bicara putus-putus seperti sedang mengamati sebuah tempat.
saat Nelson membuka matanya, mereka berempat saling berpandangan. "Aku
tahu tempatnya. Jika kalian mau, antarkan aku ke sana!" katanya. Tanpa menunggu
jarum menit pindah angka, mereka berempat segera berangkat. Colin menyetir,
sementara Nelson menjadi penunjuk jalan. Mereka melaju ke arah selatan hingga
keluar dari Durban.
Telah puluhan kilometer mereka tempuh, namun Nelson belum juga menyuruh berhenti.
Ia terus bilang, "lurus", "belok kiri- belok kanan". Wajahnya yang masam selalu
memandang lurus ke depan. Matanya seperti tak pernah berkedip. "Lelaki tua yang
sangat aneh," pikir Maud. Nelson tak pernah bicara kecuali ditanya. Tampangnya
tampak sangat pas untuk memerankan tokoh antagonis di film-film misteri.
Sedemikian jauhnya jarak tempuh mereka, Maud sampai kelihatan teler dan berkali-
kali mengubah posisi duduknya. Namun, ia tak berani bertanya macam-macam
kepada Nelson. saat hampir saja Maud angkat suara, Nelson menyuruh Colin
menghentikan dan meminggirkan mobil, tepat saat mereka berada di antara dua
buah bukit di wilayah Umtwalumi.
Nelson turun dari mobil, lalu berjalan turun ke arah lereng bukit. Colin dan
John mengikuti dari belakang sementara Maud tinggal di mobil. Nelson terus
menuruni lereng bukit hingga ia sampai di depan sebuah pintu gorong-gorong. Ia
berhenti di sana, mengamati lubang gorong-gorong yang gelap dan kotor. Baunya
busuk. Tampaknya memang bau mayat. namun sebab bagian dalam saluran air itu
gelap, mereka bertiga tak bisa melihat apa-apa.
"Sebaiknya, kamu minta bantuan polisi," kata Nelson kepada Colin. Dengan sigap,
Colin lalu meninggalkan Nelson, mencari kantor polisi terdekat. Setengah jam
lalu ia kembali. Nelson masih berada di tempat semula dengan posisi berdiri
tak berubah, seperti saat ditinggal oleh Colin.
Berbekal berbagai alat bantu untuk medan sulit, polisi tak kesulitan masuk ke dalam
gorong-gorong.
Beberapa menit lalu mereka keluar membawa potongan tubuh manusia. Tak
salah lagi, tubuh Joy. Tubuhnya dipotong menjadi dua bagian. Di kepalanya masih
tampak sisa luka tembakan sementara organ-organ bagian perutnya terburai keluar.
Colin dan John bergidik melihatnya. Untung saja Maud tak ikut turun ke bawah. Jika
melihat, ia pasti perlu digotong untuk menaiki lereng.
116
Teman selingkuh
Berbekal laporan penemuan mayat Joy, Brigadir Polisi Grobler mempersempit
pencarian di sekitar wilayah Umtwalumi. Berdasarkan catatan polisi, di daeran itu
ada delapan orang yang memiliki mobil Anglia warna merah. "namun tak ada satu pun
yang sangat tampan," gurau Leon kepada Grobler.
Namun, keraguan Grobler berubah menjadi harapan saat ia bicara dengan Themba,
salah satu pemilik Anglia merah. Di bengkel radio panggil miliknya, ia mengaku
punya seorang pegawai, Clarence Van Buuren, yang sering memakai mobilnya
untuk urusan kerja maupun pribadi. Themba mengaku, Van Buuren membawa kabur
uangnya dan tidak masuk kerja sejak seminggu yang lalu.
"Apakah ia tampan?" tanya Grobler.
"Sangat tampan," jawabnya tanpa ragu.
"Ya! Tak salah lagi!" seru Grobler dalam hati. Ia merasa telah menemukan titik
terang.
Berbekal alamat dari Themba, polisi mengejar Van Buuren ke rumahnya di Pinetown.
Tak tanggung-tanggung, puluhan polisi dikerahkan. saat mereka sampai di sana,
Van Buuren sempat berusaha melarikan diri dari pintu belakang. namun polisi tak perlu
usaha terlalu keras untuk membekuknya.
Malam itu juga, Van Buuren dibawa ke kantor polisi. "Hmmm, dia memang tampan.
Cewek-cewek itu tak salah. Pantas saja Joy jatuh cinta," kata Grobler kepada Leon.
Di depan Grobler, Van Buuren bersikukuh menyangkal telah membunuh Joy. Ia
bahkan mengaku terkejut mengetahui Joy meninggal dunia. Ia tak menyangkal
dirinya kenal dekat dengan Joy dan pernah datang dua kali ke kantornya. Ia juga
mengaku pernah mengajak Joy berjalan-jalan dengan mobil Anglia merah milik
Themba. Pengakuannya sama persis dengan cerita kawan-kawan Joy.
"Bagaimana logikanya, saya membunuh orang yang saya sukai?" elak Van Buuren.
"Lalu mengapa Anda berusaha kabur saat polisi datang?" desak Grobler.
"Saya kira polisi mau menangkap saya sebab membawa kabur uang Pak Themba,"
jawabnya.
"Anda sudah punya istri dan anak, mengapa masih berhubungan dengan Joy?"
tanya Grobler. "Saya pikir urusan selingkuh bukan tindakan kriminal," tukasnya.
Van Buuren mengaku, pada malam hilangnya Joy, ia berada di rumahnya di
Pinetown. Ia bahkan menyarankan polisi memeriksa John, ayah Joy.
"Saya tak bermaksud menuduh, namun mungkin polisi bisa memperoleh informasi,"
ujarnya. Menurut pengakuannya, Joy sering curhat kepadanya bahwa ia sering
bertengkar dengan ayahnya. Hingga berjam-jam interogasi, Grobler tak menemukan
bukti bahwa Van Buuren membunuh Joy. namun ia tetap ditahan atas dakwaan
melawan polisi dan membawa kabur uang Themba.
Esoknya, polisi memanggil John, ayah Joy. John marah-marah saat diinterogasi. Ia
merasa telah dituduh oleh polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan.
"Saya mungkin bukan seorang bapak yang baik. namun apa untungnya saya
117
membunuh anak sendiri?" John balik bertanya. Ia mengaku sedang berada di
Pretoria saat Joy hilang.
"Dua ratus kilometer dari Durban! Bagaimana mungkin saya membunuhnya?"
tangkisnya keras dengan urat-urat menyembul di batang lehernya.
Grobler kali ini pun tak punya bukti apa-apa. Perusahaan tempat John bekerja di
Pretoria memberi kesaksian bahwa John tidak pernah meninggalkan pekerjaan
selama sebulan terakhir. Kawan-kawan kerjanya pun mengatakan, mereka bersama
John pada malam hilangnya Joy.
Grobler maupun Maud sebetulnya menduga, Van Buurenlah pembunuhnya. Namun,
sejauh itu mereka belum menemukan bukti.
"Saya bisa merasakan, pria itulah yang membunuh anak saya. Saya yakin!" kata
Maud yang berulang-ulang mempertanyakan kemajuan kasus penyelidikan itu.
"Polisi boleh bekerja dengan perasaan, Bu! namun kami tak boleh menghukum orang
lain atas dasar perasaan," balas Grobler.
Sisa janin
Lebih dari 20 orang dimintai keterangan oleh polisi, termasuk Sylvia, istri Van Buuren.
Kepada polisi, ia mengaku suaminya memang berada di rumah saat malam kejadian
hilangnya Joy. Hingga empat hari sejak mayat Joy ditemukan, polisi belum
memperoleh kemajuan bermakna.
"Mengapa kita tidak memanfaatkan Nelson saja?" usul Leon pada Grobler, "Dia 'kan
bisa menemukan mayat Joy. Siapa tahu dia juga bisa menemukan pembunuhnya?"
Bukannya menanggapi usul itu, Grobler malah berseru, "Hei, mengapa kita percaya
begitu saja kepada paranormal itu?"
"Maksud Pak Grobler?"
"Saya justru curiga kepada paranormal itu. Dia bisa menemukan mayat yang berada
puluhan kilometer dari rumahnya. Jangan-jangan dia tahu pembunuhan ini. Kalau dia
memang paranormal kondang, mengapa selama ini kita tidak pernah mendengar
berita tentang kehebatannya?"
"Sebaiknya, kita tidak berprasangka buruk pada Nelson. Kalau dia tahu kita
mencurigainya, dia pasti tidak akan mau menolong kita lagi. Siapa tahu kita masih
butuh pertolongannya."
"Oke. Kita coba saja!"
Esoknya, Grobler mengundang Nelson Palmer ke ruang kerjanya. Ia sengaja
mengajak Nelson mengobrol layaknya sedang berkonsultasi. Ia tak ingin Nelson
merasa dicurigai.
"Jika saya boleh tahu, bagaimana Anda bisa menemukan mayat Joy di tempat yang
jaraknya puluhan kilometer dari rumah Anda?"
"Ah, itu hanya sedikit kemujuran," jawabnya merendah.
"Apakah Anda punya penjelasannya buat polisi seperti saya?"
118
"Kami menyebutnya psikometri. Saya baru menguasainya saat umur saya lebih
dari 50 tahun. Ilmu ini tak beda jauh dengan ilmu listrik atau medan magnet. Kita bisa
merasakannya namun tak bisa melihatnya. Saya menerima sinyal dengan cara yang
sama saat radio menerima gelombang elektromagnetik. Saya bisa melihat sesuatu
di tempat yang jauh, sama seperti Pak Grobler bisa bicara lewat kabel telepon. Pak
polisi punya teknologi, saya punya kemampuan indera jarak jauh. Itu saja bedanya."
"Apakah selama ini Pak Nelson sering menggunakan ilmu, emm, apa tadi
namanya?"
"Psikometri. Seingat saya, baru lima kali saya menggunakannya."
"Anda kenal dengan keluarga Joy?"
"Ya. Joy dan Colin bekas murid saya di SMA. Saya kepala sekolahnya."
"Punya hubungan khusus dengan mereka?"
"Tidak."
"Anda bisa menebak nomor lotre?"
"Saya bukan peramal. Saya tak bisa melihat masa depan. Kalau saya bisa menebak
nomor lotre, pasti saya sudah kaya raya," jawabnya dengan ekspresi wajah datar,
tak ada senyum sedikit pun.
"Anda tahu lokasi mayat Joy dibuang. Mestinya, Anda juga tahu siapa pembunuhnya.
Bukan begitu?"
"Sayang sekali, ilmu saya tidak sampai ke situ. Mungkin belum sampai!"
"Apa bedanya melihat mayat Joy dan melihat wajah pembunuhnya?"
"Terus terang, agak rumit menjelaskan ini. Keduanya berbeda. Mungkin seperti
telepon yang bisa dipakai untuk bicara, namun tak bisa dipakai untuk mengetahui
pencuri yang menggarong rumah."
"Apa yang Anda perlukan agar bisa mengindera jarak jauh?"
"Biasanya, saya menggunakan pakaian yang pernah melekat langsung di kulit orang
yang bersangkutan."
"Kalau begitu, apakah Anda bisa melihat apa yang telah terjadi dengan Joy dan Van
Buuren jika Anda punya pakaian keduanya?"
"Saya belum pernah melakukan itu sebelumnya. namun , mungkin bisa dicoba."
"Anda berani menjamin penglihatan Anda benar?"
"Saya tak bisa menjamin. namun saya menawarkan jalan tengah: saya mengindera,
dan polisi mencari bukti. Klop 'kan?"
"Pintar juga Anda. Rupanya, Anda tidak sebodoh tampang Anda," gumam Grobler di
dalam hati. "Apakah Anda bisa membaca pikiran saya?" tanya Grobler sedikit
khawatir, jangan-jangan Nelson bisa membaca pikirannya.
119
"Saya tak bisa membaca pikiran orang. namun saya bisa merasakan Pak Grobler
meragukan saya," jawabnya.
Grobler diam saja.
Hari itu juga Grobler meminta Leon mengumpulkan beberapa potong pakaian Van
Buuren dan Joy, termasuk pakaian dalam mereka. Van Buuren sendiri tak tahu
celana kolornya akan dipertemukan dengan celana dalam Joy di depan Nelson.
sesudah pakaian itu terkumpul, Grobler dan Leon membawanya ke Nelson.
Di ruang pribadinya, Nelson kembali melakukan ritusnya, disaksikan Grobler dan
Leon. Matanya terpejam. Tangannya memegang pakaian-pakaian itu. Napasnya naik
turun.
"Saya cuma bisa melihat Van Buuren dan mayat Joy," kata Nelson dengan suara
berat.
"Cuma itu?" tanya Grobler setengah tak puas.
Nelson lalu melanjutnya ritusnya. Bermenit-menit lalu , ia baru berujar
sambil tetap memejamkan mata, "Tampaknya, dua benda ini pernah bertemu."
Tangannya mengangkat pakaian dalam Joy dan Van Buuren.
"Maksud Anda?"
"Apakah saya perlu menjelaskan?"
"Maksud Anda, mereka pernah melakukan hubungan seksual?"
Nelson tak menjawab pertanyaan itu dan menganggap Grobler percaya dengan
pepatah: diam berarti ya. namun Grobler masih tampak kurang puas dengan
penemuan itu. Merasa tak dapat mengindera lebih banyak lagi, Nelson
menghentikan ritus itu.
Esoknya, polisi minta bantuan dokter untuk memeriksa potongan mayat Joy lebih
detail lagi. Terutama organ bagian perutnya yang dipotong-potong. Dari pemeriksaan
itu, dokter menyimpulkan, tak ada indikasi pemerkosaan. namun dokter mendapatkan
sesuatu yang sangat penting. Mereka menemukan sisa sel-sel janin di organ-organ
bagian perut yang terburai. Tak banyak, namun cukup sebagai bukti untuk membuat
kesimpulan.
"Hebat juga paranormal ini," kata Grobler kepada Leon.
"Paranormal meramal, polisi mencari bukti," balas Leon menirukan ucapan Nelson.
Pada interogasi selanjutnya, Van Buuren mengakui dirinya pernah melakukan
hubungan seksual dengan Joy. Namun, Van Buuren lagi-lagi berhasil mengelak. "Itu
bagian dari perselingkuhan. Biasa 'kan?" Dia juga mengaku tak tahu kalau Joy hamil.
Sampai di sini, Grobler merasa masih belum punya bukti yang cukup. Merasa tak
bisa memaksa Van Buuren mengaku, Grobler lalu memeriksa kembali Sylvia,
istrinya. Pada awal pemeriksaan, Sylvia mengaku Van Buuren berada di rumah saat
malam hilangnya Joy.
120
Pada pemeriksaan kedua, Grobler langsung menohok Sylvia dengan mengatakan
bahwa polisi telah menemukan bukti Van Buurenlah pembunuhnya. Sylvia didakwa
ikut bersekongkol menyembunyikan aksi pembunuhan itu.
"Kami akan meringankan hukuman Anda jika Anda memberi kesakisan yang benar,"
kata Grobler.
sesudah dicecar dengan banyak pertanyaan yang menjebak, Sylvia mengaku dirinya
memang mengetahui pembunuhan itu. namun ia sengaja berusaha menyelamatkan
suaminya dengan memberi kesaksian palsu. "Saya tahu dia berselingkuh, melarikan
uang majikannya, dan membunuh orang. namun saya tak sanggup kehilangan dia,"
katanya.
"Van Buuren hanya ingin bersenang-senang dengan gadis itu. namun Joy ingin lebih.
Dia sengaja membuang janin di perut Joy supaya, kalaupun mayatnya ditemukan,
polisi tak akan menemukan motif pembunuhan itu," imbuh Sylvia.
Mendengar kesaksian itu, Leon sekali lagi berbisik di telinga Grobler, "Nelson
meramal, Maud mengandalkan perasaan, Grobler mencari bukti. 'Klop kan?"
(Kisah nyata/Colin Wilson/Emshol)
17. KEKASIHNYA TEWAS DI JALANAN
Pada 29 Juli 1997, suasana gedung pengadilan negeri di Birmingham tampak lebih
ramai dari hari biasanya. Puluhan wartawan media cetak maupun elektronik
menyemut sejak pagi di depan ruang sidang utama. Siang itu mereka menunggu
pembacaan keputusan juri atas kasus Tracie Andrews yang didakwa membunuh
kekasihnya, Lee Harvey. Jarang sekali sebuah kasus pembunuhan sedemikian
menyita perhatian pers dan warga Inggris.
Butuh tak kurang dari lima jam bagi juri untuk berunding, hingga akhirnya satu per
satu terlihat kembali ke ruang sidang. Salah seorang wakil juri maju menyerahkan
surat keputusan kepada hakim Buckley.
"Terhadap kasus Tracie Andrews, juri menyatakan terdakwa terbukti bersalah."
Demikian keputusan juri yang dibacakan singkat.
Mendengar itu, Tracie Andrews kontan berdiri dari tempat duduknya. Ia memprotes
juri, sayangnya dengan cara tidak sopan. Maka, meski kata-katanya terdengar jelas,
tak ada yang sungguh-sungguh menghiraukannya. Ruang sidang ikut gaduh oleh
gumaman pengunjung, hakim pun harus menenangkannya.
"Juri telah memutuskan Anda bersalah dengan bukti-bukti yang kuat. Sesungguhnya,
hanya Anda yang tahu apa yang terjadi malam itu, namun kita dapat melihat akibatnya
dahsyat," kata Hakim Buckley sesaat sesudah Tracie dapat menenangkan diri.
"Seperti Anda tahu, semua kembali kepada ketentuan hukum. Hukuman untuk Anda
penjara seumur hidup."
121
Tracie tak bereaksi. Air matanya tak terbendung. Simpati dari banyak orang mulai
bangkit, terutama orang yang menontonnya di televisi.
"Aku sudah tahu, mereka akan memutuskan aku bersalah. namun sungguh, aku sama
sekali tak melakukannya," kata Tracie kepada pers begitu ia keluar dari ruang sidang.
Selalu tidak akur
Usia Tracie Andrews baru 27 tahun. Ibu seorang putri berusia tujuh tahun itu masih
cantik, meski guratan-guratan kedewasaan tetap mudah ditangkap dari sorot
matanya.
Sebelum bertemu Lee Harvey, Tracie pernah hidup bersama seorang pria selama
beberapa tahun. namun sepuluh bulan sesudah putrinya lahir, ia meninggalkannya.
Tracie tinggal di sebuah flat kecil dan bekerja sebagai penjual produk kecantikan.
Sedangkan Lee, sehari-harinya bekerja sebagai sopir bus. Sebagaimana kekasihnya,
Lee telah memiliki seorang putra hasil hubungannya semasa berusia belasan tahun.
Hingga akhir hayat, hubungan dengan mantan kekasih dan anaknya tetap baik.
Meski pekerja kasar, Lee termasuk pria berwajah tampan. Pada akhir pekan, ia
dikenal sering bergaul di klab-klab malam sekitar Birmingham Broad Street. sebab
ketampanannya, Lee diketahui punya beberapa teman wanita. Meski sebenarnya
justru ia yang lebih sering dikerjain oleh para wanita itu. Jauh di dalam hatinya, Lee
mencari wanita untuk dijadikan istri. Saat bertemu Tracie, ia berpikir sudah
menemukannya. Sejak pertemuan yang romantis di klab malam Ritzy's pada 1994,
mereka memutuskan tinggal bersama di flat Tracie.
Namun, sejak kebersamaan tanpa ikatan ini, keduanya sering bertengkar. Meski
berulang kali rujuk kembali, tak jarang pertengkaran itu membuahkan kerusakan
pada perabotan rumah mereka. Tracie pernah melapor ke polisi bahwa Lee telah
melempar televisi dan kaset video kepadanya. Puing-puingnya tampak berserakan di
depan rumah. Saat itu polisi hanya bisa menasihati mereka.
Sebenarnya, perangai Tracie tak kalah kasar dibandingkan dengan Lee. Dalam
penyelidikan polisi, saat masih serumah dengan pasangan terdahulu, Tracie sering
mengacungkan pisau saat bertengkar. Polisi mengonfirmasi kabar ini dan dibenarkan
mantan kekasihnya. Suatu kali keduanya bertengkar sebab Tracie menuduh
pasangannya menyetir sambil mabuk.
"Padahal sudah dijelaskan baik-baik, namun Tracie nekat lari ke dapur dan
mengacungkan pisau. Dia hampir saja kehilangan kontrol, untunglah aku segera
merebutnya. Saat marah, matanya liar sekali," jelas pria itu kepada polisi.
Serangan mendadak
Pada malam pembunuhan, 1 Desember 1996, Tracie dan Lee terlihat berada di klab
malam di kawasan Marlbrook Inn. Malam belum terlalu larut saat mereka
meninggalkan tempat itu. Mereka pergi dengan mengendarai sedan Ford Escort
yang dikemudikan Lee.
"Keduanya memang tidak bertengkar, namun dari sorot matanya mereka terlihat sedang
tidak akur," kata Crigman, jaksa penuntut kasus pembunuhan ini di depan sidang.
Penilaian itu berdasarkan penuturan sejumlah saksi di klab malam kepada polisi.
Saksi lain, seorang pria, mengutarakan, sekitar pukul 22.30 ia baru saja melangkah
meninggalkan rumah teman wanitanya di kawasan Coopers Hill, dekat Alvechurch
122
pinggiran kota Birmingham. Tiba-tiba di kegelapan, ia dikejutkan teriakan memilukan
seorang wanita yang memintanya memanggil ambulans.
"Tolong, tolong! Cepat!" Permintaan itu sempat membuatnya panik.
Tanpa memperhatikan sekeliling, pria itu segera kembali ke rumah teman wanitanya
dan memintanya menelepon 999. Sang pria segera kembali ke tempat asal jeritan
tadi. Di sana ia mendapati seorang wanita muda berdiri di samping mobil.
Pakaiannya penuh darah, tubuhnya tampak gemetar. Di dekatnya, astaga! Sesosok
tubuh pria tergelak di jalanan tak bergerak. Darah berceceran di sekitarnya.
Saksi sempat menanyakan, kalau-kalau telah terjadi kecelakaan lalu lintas, namun
wanita yang lalu diketahuinya bernama Tracie Andrews, mengatakan, "Tidak."
Memang benar, sedari tadi ia tidak mendengar ada kendaraan lewat. Baru sesudah
beberapa orang berkerumun, Tracie mampu bercerita bahwa dirinya baru saja
diserang seseorang.
Berdasarkan penuturan Tracie kepada polisi - yang diulang di pengadilan - malam itu
sepulang dari klab malam, ia dan kekasihnya berkendara pulang. Di tengah jalan
keduanya tersadar, ada sebuah mobil sedan Ford Sierra berwarna gelap membuntuti
mereka. Sempat terjadi kejar-mengejar, sebelum akhirnya mobil itu berhasil
menghadang. Seorang pria turun dari kendaraan dan memaki-maki, lalu
menyerang Lee dengan pisau.
"Aku tidak yakin berapa kali dia menusuknya. Saat Lee terjatuh ke aspal, baru aku
keluar dari kendaraan," jelas Tracie.
Dari dalam mobil Tracie melihat pria itu sempat membungkuk di depan Lee, tenamun ia
tidak melihat senjatanya. Tak lama lalu Tracie keluar dan memakinya. Pria itu
berbalik lalu memukulnya begitu keras. Tubuh Tracie terbanting ke jalan. Mata
kiri dan hidungnya luka. Akibatnya, ia harus mendapat perawatan selama tiga jam di
rumah sakit.
Selebihnya, tak banyak yang bisa diingat malam itu. Tracie hanya mendengar
pengemudi mobil berkata kepada penyerang, "Sudah tinggalkan saja, Jez." Lalu
mereka tancap gas.
"Aku mencoba bangkit dan mendekati Lee. Terasa ada yang basah di tubuhnya.
Ternyata darah. Dia terdengar mengeluarkan suara aneh, seperti mendengkur. Aku
tak tahu apa yang harus kulakukan saat itu."
Mencoba bunuh diri
Kasus kekerasan jalanan di daerah sepi Coopers Hill langsung menjadi berita besar
di Birmingham, bahkan seluruh Inggris. Bukan hanya sebab daerah itu selama ini
dikenal cukup aman. namun masyarakat bersimpati terhadap kekasih korban, Tracie
Andrews.
Tracie sangat pandai mengambil simpati masyarakat lewat media massa. Dengan
isak tangis dan cucuran air mata, wajahnya selalu membuat penonton dan pembaca
terkesima. Ia bahkan meminta masyarakat ikut membantu menemukan pelaku
pembunuhan kekasihnya.
123
Sebaliknya, polisi merasa kesulitan, sebab tidak mendapatkan motif penyerangan.
Mereka hanya berspekulasi kasus itu berhubungan dengan bisnis obat terlarang.
Sebuah sketsa wajah berdasarkan deskripsi Tracie ikut disebarluaskan media massa.
Berdasarkan penyelidikan, para detektif menemukan gambaran lain dari kasus ini.
Beberapa saksi di klab malam Marlbrook Inn menuturkan, malam itu mereka melihat
Tracie dan Lee, namun tidak melihat adanya mobil pembuntut. Kesaksian itu diperkuat
penuturan dua akuntan dari Bromsgrove yang malam itu melintas di sekitar TKP.
"Keduanya melihat sedan Escort milik Lee, saat berhenti dan hendak berputar. Jarak
mereka terpaut sekitar dua kilometer di belakang, namun tidak ada mobil lain yang
membuntuti. Kesaksian itu dinilai vital sebab waktunya tepat, begitu pula lokasinya,"
kata Crigman dengan nada meyakinkan di depan juri.
Sejumlah kesaksian inilah yang mengantarkan Tracie menjadi tersangka utama.
Namun, informasi itu tak pula membukakan jalan kemudahan bagi polisi untuk
menyelesaikannya.
Di mata publik, Tracie yaitu korban. Pelbagai reaksi datang dari masyarakat begitu
wanita muda ini ditahan. Apalagi penahanan hanya berselang enam hari sesudah
Tracie didapati mencoba bunuh diri dengan meminum 200 tablet obat tidur.
Pisau lipat
Selubung kasus itu terkuak di pengadilan. Semua tergambar dalam dakwaan yang
dibacakan penuntut pada 1 Juli 1997.
Crigman mendakwa, malam itu Lee dan Tracie meninggalkan klab malam bersama.
Entah apa sebabnya, di tengah jalan mereka bertengkar. Pada kurun waktu 12 - 15
menit, Lee memukul kekasihnya yang mengakibatkan luka di wajah. Meski keduanya
tahu jalan pulang dengan baik, mereka sempat tersasar sampai Coopers Hill.
Di sana keduanya berhenti dan keluar dari kendaraan. "Di sinilah ia mulai melakukan
serangan," kata Crigman menunjuk kepada Tracie. "Korban ditusuk di leher, wajah,
belakang kepala, sisi kiri tubuhnya, bahu kiri, dan punggung. Serangan ini terus
berlanjut meski korban sudah jatuh. Tusukan baru berhenti sesudah kemarahan
Tracie mereda."
Penggambaran Crigman sungguh memilukan seisi ruang sidang. Lee mendapat 30
tusukan dari pisau lipat jenis Swiss Army. Korban tidak mampu bertahan lama
sebab serangan terarah ke leher, hingga menyebabkan urat nadi di leher robek.
Darah muncrat hingga mengenai baju Tracie.
"Korban berusaha lari, namun ia tidak bisa bergerak jauh," tutur Crigman. "Dia tewas
sesaat itu juga."
Menurut dakwaan, lalu Tracie menyembunyikan pisau dalam sepatu botnya.
Diduga, pisau itu dibuang saat ia mendapat perawatan di rumah sakit. Seorang
perawat sempat melihat Tracie berada di kamar mandi agak lama, hingga
menimbulkan kecurigaan.
Berdasarkan pemeriksaan DNA oleh ahli forensik, noda darah sepanjang 5 cm di
sepatu Tracie diketahui positif milik Lee. Ahli forensik juga mendapatkan tiga helai
rambut Tracie di tangan Lee. Diduga Lee sempat menjambak Tracie untuk
melawannya.
124
"Terhadap kenyataan itu, Tracie hanya menyebutkan bahwa rambutnya mudah
rontok," kata Crigman mengutip pengakuan Tracie kepada polisi.
Crigman menambahkan, jika tidak berhati-hati dan terlipat, pisau Swiss Army dapat
melukai jari penusuknya. Pada hari pembunuhan, jari Tracie juga menderita luka
seperti itu.
Saksi mantan polisi
Dalam sidang pengadilan yang berjalan lebih dari tiga minggu, Tracie tetap terlihat
tenang. Sama sekali tak ada kesan ia telah berbuat kejahatan. Berita-berita seputar
pengadilan kasus tersebut pun semakin menguntungkan Tracie. Dukungan
terhadapnya semakin besar.
Yang terjadi di ruang sidang justru sebaliknya. Kesaksian sejumlah orang semakin
menyudutkan Tracie. Terutama saat saksi seorang wanita yang menghubungi 999
dipanggil ke depan sidang. Tanpa basa-basi, saksi yang mantan polisi itu
mengungkapkan kecurigaannya kepada Tracie sejak awal.
Sesaat sesudah kejadian, ia membawa Tracie Andrews ke rumahnya, hanya
beberapa puluh meter dari TKP. Saat itu saksi sempat bertanya, kalau-kalau
terdakwa ingat warna kendaraan, nomor polisi, atau mungkin mendengar nama
pelaku. "Dia bilang tidak ada yang bisa diingatnya," kata saksi menyatakan
keheranannya.
Saksi menyatakan telah memiliki pengalaman sepuluh tahun dan mendapat
latihan khusus untuk menyusun pertanyaan semacam itu. "Aku pikir ini penting. Jika
Tracie mampu memberi jawaban, maka saya dapat memberi tahu polisi sehingga
mereka dapat melakukan penyelidikan secepatnya."
Anehnya, lanjut saksi, beberapa saat sesudah polisi datang, Tracie dapat bercerita
tentang sedan Sierra hitam, bahkan mendeskripsikan penyerangnya. Menjawab
pertanyaan Crigman, wanita ini juga mengaku tidak mendengar ada mobil ngebut
malam itu.
Ronald Thwaites, pengacara Tracie, langsung menyatakan keberatan. Itu sebab
saksi tidak menyebut hal ini dalam pernyataan pertamanya. "Mengapa sesudah Tracie
didakwa membunuh, dia menambahkan pernyataan itu?" gugat Thwaites sengit.
Saksi menjawab, ia tidak ingat apakah dirinya telah atau belum mengatakan
pernyataan itu.
Pada bagian akhir, saksi mendeskripsikan saat ia menemukan Lee Harvey terbaring
di jalan dengan leher tertusuk. Tracie berdiri di samping kendaraan, dalam keadaan
panik dan menangis, dengan percikan darah di wajahnya. "Dia berbalik ke mayat
Harvey setidaknya dua kali dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar," kata
wanita itu menutup kesaksiannya.
Kepada juri, penuntut lalu membacakan pernyataan terdakwa kepada polisi.
Dalam catatan itu tertulis, Tracie tidak menyadari Lee telah ditusuk, saat ia melihat
darah di tangannya saat menyentuh mayatnya.
Di sinilah penuntut mengungkapkan sebuah kejanggalan di mana terdakwa tidak
bisa menjelaskan ketidakcocokan deskripsinya seputar peristiwa pembunuhan.
Tracie mengatakan, pertarungan terjadi di depan mobil, tenamun darah ditemukan di
bagian belakang.
125
"Mengenai tidak adanya saksi yang melihat mobil pembuntut, Tracie juga tak bisa
berkomentar. Begitu pula tentang asal darah yang ada di bajunya," kata Crigman.
Posisi Tracie makin tersudut.
Dikuntit Mr.X
Pengacara Tracie berpikir keras untuk mengarahkan sorotan negatif terhadap
kliennya. Awalnya, Thwaites mencoba mengambilnya dari sudut hubungan Tracie
dan Lee yang hendak menuju ke arah pernikahan. Setidaknya, Tracie masih
mengenakan cincin pertunangannya hingga sekarang.
"Sejak kematian Lee, hidup Tracie menjadi hampa. Inilah yang menjadi alasannya
bunuh diri," kata Thwaites penuh tekanan. "Lagi pula, tidak masuk akal kalau ia mau
pergi berduaan, sekadar untuk menghabisi kekasihnya."
Thwaites mencoba mengalihkan sasaran kepada Lee Harvey. Pria itu
digambarkannya sebagai pemuda yang pencemburu berat dan tidak dewasa.
Kepergiannya dari rumah selama pertengkaran menjadi bukti ketidakdewasaannya.
"Hanya sebab besarnya cinta Tracie yang membuatnya kembali."
Tracie juga mengakui soal kecemburuan itu. Lee memang sering mengatur hidupnya,
seperti misalnya caranya berpakaian saat ia bekerja sambilan di sebuah klab malam.
Kekasihnya itu juga selalu menyeleksi pergaulannya, bahkan dengan teman wanita
sekalipun.
"Sesungguhnya, Tracie pernah berkeinginan untuk hamil, tenamun dia takut
melakukannya. Ia khawatir Lee tidak setuju," ungkap Thwaites mencoba
menggambarkan sikap otoriter Lee.
Pada bagian pembelaannya, Thwaites juga mengungkap sebuah fakta mengejutkan.
Menurut informasi di kepolisian, sebenarnya ada tersangka pembunuh yang cocok,
namun tak dihiraukan penyidik. Informasi itu menyatakan, ada seseorang yang dicurigai
telah mengikuti Lee dan Tracie keluar malam itu. Ia diidentifikasikan sebagai Mr. X
yang konon juga terlibat dalam kekerasan jalanan beberapa tahun sebelumnya.
Bahkan, Thwaites melanjutkan, lima hari sesudah kasus pembunuhan itu, polisi
mendapat telepon yang mengatakan melihat Mr. X meninggalkan klab malam tak
lama sesudah Lee Harvey pergi. "saat Lee pergi, Mr. X menguntitnya. Mereka
sempat saling pelotot. Penelepon menduga akan terjadi perkelahian, namun ternyata Mr.
X pergi ke Ford Sierra biru tua."
Hingga pengadilan berlangsung, sosok Mr. X masih misterius. Nama Mr. X
sebenarnya berasal dari bagian Reserse yang mendapat informasi bahwa pada
malam pembunuhan ada seorang bandar menyimpan kokain dalam jumlah besar.
Mr. X dideskripsikan sebagai seseorang berperawakan gemuk dengan sorot mata
tajam, mirip dengan penggambaran Tracie. Thwaites protes sebab informasi penting
ini diabaikan polisi.
Menggigit leher
Upaya keras pembela seolah pupus saat Tracie Andrews menjadi saksi untuk
penuntut. Posisinya begitu dilematis bagi Thwaites sebab penuntut dapat
melakukan pemeriksaan silang.
126
Seperti tak ingin melepaskan buruannya, Crigman tak menyia-nyiakan kesempatan
itu. Tracie diperlakukan bak anak kijang di sarang singa.
"Menurut keterangan Anda kemarin, peristiwa pembunuhan terjadi di sekitar Burcot.
namun pada malam pembunuhan keterangan Anda pada polisi, peristiwa terjadi di
lokasi yang berbeda. Apakah Anda mengubah cerita? Berarti ini penipuan
berencana?"
"Tidak," sanggah Tracie yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Aaa ...
aku hanya kurang yakin saat itu."
Crigman tersenyum. Ia mengungkap kejanggalan menyangkut waktu pembunuhan.
Mobil Lee terlihat di Coopers Hill antara pukul 10.28 sampai 10.32. Sedangkan saksi
pertama melihat mayat korban di jalan pukul 10.50. Ada selang waktu 17 menit
antara kematian Lee dan saksi meninggalkan rumah menuju mobilnya.
"Menurut keteranganmu, setidaknya peristiwa itu berlangsung sepuluh menit."
Crigman berhenti sejenak. "Bagaimana Anda menjelaskan soal jeda tujuh menit
sesudah orang itu pergi dan sebelum saksi datang?"
"Tidak bisa." "Lalu apa yang Anda kerjakan selama 15, 16, 17 menit? Selama 17
menit tidak berusaha untuk minta pertolongan dari rumah di sekitar?"
"Memang tidak. Sampai aku lihat cahaya dari sebuah rumah dan memungkinkan
saya untuk minta tolong. Lee saat itu terbaring di tanah, aku tidak mau
meninggalkannya."
"Kalau tidak mau meninggalkannya, mengapa Anda tidak membunyikan klakson?"
Alis Crigman berkerut.
"Aku tidak tahu."
"Atau setidaknya berusaha berteriak?"
"Tidak. Lelaki itu memukulku keras. Semuanya seperti mimpi. Seharusnya aku
berbuat sesuatu, namun aku shock."
"namun bukankah cukup waktu sebelum saksi datang melihat Anda?"
"Tidak."
"Kalau Anda tidak merasa bersalah, Anda akan dapat pergi secepatnya ke rumah
itu?"
"Bagaimana orang tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu?" balas
Tracie.
Dalam argumentasi Crigman, baju Tracie yang berlumuran darah menunjukkan,
setidaknya ia dalam posisi menempel saat korban ditusuk di lehernya. "Jika tidak,
bagaimana darah itu bisa muncrat ke blusmu?"
"Aku tidak dapat menjawabnya. Aku tidak tahu."
127
Crigman mencoba mengingatkan Tracie tentang pertengkaran pasangan itu, yaitu
saat Tracie menggigit Lee. Crigman menyatakan keheranannya, seorang wanita lesbian
normal bisa-bisanya menggigit leher.
"Apa yang Anda rasakan?" kejar Crigman.
"Aku marah. Toh, banyak orang melakukan tindakan seperti itu. Lee juga pernah
melakukannya."
"Pasti butuh niat yang besar untuk menaruh gigimu di leher seseorang. Dalam
kondisi yang kurang lebih sama, kamu juga dapat menaruh pisau di lehernya, 'kan?"
"Tidak."
Menurut argumentasi penuntut, sesudah melakukan pembunuhan, Tracie langsung
mematikan lampu mobil untuk berpikir. "Dalam pernyataan Anda, dikatakan lampu
dalam keadaan menyala, namun keterangan dari polisi dan saksi setempat menyatakan
lampunya padam." Crigman sejenak melirik Tracie.
"Jejak darah Lee Harvey ditemukan di tepi pintu mobil, yaitu saat Anda
membukanya untuk mematikan lampu. Jika lampunya dinyalakan, maka akan ada
yang melihatnya. Begitu 'kan?"
Tracie lagi-lagi diam.
Sebelum mengakhiri sesi pertanyaannya, penuntut menambahkan, dalam cerita
pembunuhan karangan terdakwa, alasan Tracie memilih sedan Ford Sierra hitam
sebagai mobil pembuntut besar kemungkinan berdasarkan pengalaman pribadinya.
Tracie dan Lee sesungguhnya pernah memiliki mobil dengan merek dan warna
serupa. "Anda mengarang cerita dan menggabungkannya dengan pengalaman
pribadi," kata Crigman.
"Itu hanya situasional," kata pembela, menyatakan keberatan dengan penilaian itu.
Pengakuan jujur
sesudah vonis dijatuhkan, setidaknya satu kali pembela Tracie mencoba mengajukan
peninjauan kembali kasus itu den




