• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 6. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 6


 nak sekadar mampir ke rumah temannya? "Mudah-mudahan bukan penculikan," 

timpal seorang petugas jaga kepada rekan detektifnya.  

 

Semoga bukan penculikan. Sebab, dari 171 kasus pembekapan bocah bermotif uang 

tebusan yang dilaporkan di Jepang, pada tahun 1945 - 1993, 31 korbannya tewas 

dibunuh penculiknya. Statistik yang tentu saja membuat kecut hati para orangtua!  

 

Titik terang Kikuo 

 Untuk memperjelas persoalan, polisi segera bergerak cepat. sesudah  menanyai 

sejumlah saksi mata, yaitu para tetangga dan teman-teman Murakoshi, polisi 

mendapat informasi, si anak hilang itu terakhir kali terlihat bermain dengan Kikuo, 

temannya yang berusia lebih tua. Tanpa membuang waktu, sejumlah detektif 

mengejar keterangan Kikuo di rumahnya. Jawaban Kikuo sedikit memberi titik terang.  

 

 107

"Memang benar. Tadinya kami bermain bersama. namun  lalu , saat  kami 

sedang mengisi pistol air Murakoshi, datang seorang laki-laki. Orang itu mengajak 

ngobrol Murakoshi. sebab  sudah ada yang menemani, saya lalu meninggalkan 

mereka berdua," jawab Kikuo lancar. 

 

"Kamu sempat mendengar pembicaraan mereka?" tanya seorang detektif. 

 

"Pria itu menegur duluan. Mereka ngobrol soal pistol-pistolan yang dipegang 

Murokoshi." 

 

"Hanya itu?"  

 

"Hanya itu yang saya tahu, sebab  saya langsung pergi," Kikuo mengangguk.  

 

Polisi juga menanyai ciri-ciri pria asing yang membawa pergi Murakoshi. Menurut 

Kikuo, si pria masih muda, tingginya sekitar 160 cm dan memakai jas parasut warna 

abu-abu. Hanya sampai di situ keterangan yang dapat dikorek polisi dari anak laki-

laki yang tadinya diharapkan menjadi saksi kunci. Belakangan, ternyata masih ada 

lagi satu ciri fisik penting si pria asing yang luput dari perhatian Kikuo. Lelaki 

pembawa lari Murokashi itu ternyata berkaki pincang.  

 

Polisi juga mulai mencari motif, sebab  tampaknya kasus ini mengarah pada 

penculikan. Seorang detektif datang ke rumah Yoshinobu, menanyakan apakah 

pengusaha muda itu punya masalah di kantor. Baik dengan sesama teman kerja 

maupun rekan bisnis di luar perusahaan. Namun, sejauh ini belum ada nama yang 

dianggap pantas masuk daftar orang-orang yang dicurigai. 

 

Agar pencarian berjalan efektif, polisi menyebarkan ciri-ciri Murakoshi, terutama saat 

terakhir kali meninggalkan rumah. Tingginya sekitar satu meter, dengan rambut 

dipotong pendek layaknya anak-anak kecil di Jepang saat itu. Di saat-saat 

terakhirnya, ia memakai sweater hitam, kaus oblong, dan celana panjang kuning 

setrip hitam-abu-abu, kaus kaki biru tua, dan sepatu hitam.  

 

Berdasarkan data, fakta, dan laporan yang masuk, dugaan polisi masih belum 

berubah: kasus hilangnya Murakoshi kemungkinan besar penculikan. Namun, polisi 

belum berani menyimpulkan secara resmi. Mereka terus menunggu kontak dari 

penculiknya.  

 

Lolos jebakan polisi 

 sesudah  beberapa hari tak ditemukan, kasus Murokashi tak lagi menjadi milik polisi 

dan warga sekitar. Sejumlah media cetak terbitan Tokyo ikut mengekspos kisah 

hilangnya bocah yang dikenal selalu ceria itu. Sejak pemberitaan gencar itu, seluruh 

Tokyo bak larut dalam lautan duka mendalam yang menimpa keluarga besar 

Yoshinobu. 

 

Tanggal 3 April 1963, Maruyama Tasaku, ketua Asosiasi Pengacara Jepang, bahkan 

secara resmi menyampaikan permintaan pada penculik, agar tak melanjutkan aksi 

kejinya. Seorang pejabat polisi, saat ditanya wartawan, juga menjanjikan "perlakuan 

khusus", jika penculik Murakoshi bersedia menyerahkan diri. Selain mereka berdua, 

masih banyak lagi "orang penting" yang ikut berbicara di media, mengimbau 

pembebasan Murakoshi.  

 

Esok harinya, poster Murakoshi mulai dicetak secara besar-besaran dan disebarkan 

ke seantero kota. Pihak keluarga berharap, gencarnya pemberitaan dan banyaknya 

poster yang disebarkan membuat hati si penculik (jika memang benar Murakoshi 

 108

diculik) luluh, sehingga tak melanjutkan niat jahatnya. Kadang, cara seperti ini lebih 

efektif ketimbang memburu langsung si penculik.  

 

Contoh keberhasilannya sudah ada. Beberapa bulan sebelumnya, pemberitaan 

meluas di media massa seperti ini pernah terjadi pada kasus penculikan terhadap 

seorang anak wanita lesbian . Bertubi-tubinya "hantaman" media massa, tampaknya 

membuat si penculik stres, sehingga memutuskan "menyerah". Ia meninggalkan 

korbannya tak jauh dari sebuah stasiun rel bawah tanah Shinjuku. 

 

Begitu juga dengan kasus pembekapan dengan tebusan Kim Min Soo, seorang 

bocah asal Korea Selatan di Chiba. sesudah  diberitakan secara luas, kasus 

penculikan itu akhirnya berujung damai. Si bocah pun kembali ke pangkuan 

orangtuanya dengan selamat, sesudah  sempat dibekap selama dua bulan.  

 

Apakah taktik serupa mempan untuk menekuk penculik Murokashi? Tentu saja 

waktu yang akan membuktikan. Namun, setidaknya, ramainya pembicaraan tentang 

nasib bocah yang tengah menjadi "anak kesayangan" Tokyo itu membuat 

penculiknya tahu alamat dan nomor telepon keluarga korban. Alhasil, tanggal 6 April, 

telepon di rumah orangtua Murakoshi - yang telah lama disadap polisi - berdering.  

 

Untuk pertama kalinya sejak dilaporkan raib, penculik Murakoshi menelepon, dan 

seperti diduga sebelumnya, meminta uang tebusan. Buat polisi, dering telepon itu 

sekaligus memastikan, mereka memang benar-benar berhadapan dengan penculik 

bocah. Salah satu pelaku tindak kriminal yang paling mereka benci. Orang dewasa 

yang memanfaatkan ketidak-berdayaan bocah-bocah tak berdosa. 

 

"Anda benar-benar akan membawa uangnya, 'kan?" bunyi suara di seberang sana.  

 

"Tentu, tentu, saya akan bawa uangnya," Yoshinobu agak gugup. 

 

"namun  ingat, tidak ada orang lain. Anda harus sendirian."  

 

"Tidak masalah. Saya akan datang sendirian. Di mana harus diserahkan?" "Apa?"  

 

"Uangnya. Di mana harus saya serahkan?" ulang Yoshinobu  

 

"Datanglah ke Jln. Showa Dori. Di ujung jalan, Anda akan melihat Sunagawa Motor 

Company."  

 

"Maksud Anda, Shinagawa Motor?" 

 

"Ya, betul. Shinagawa. Ada lima truk yang diparkir di sana. Letakkan uangnya di truk 

ketiga dari depan. Sekali lagi saya ingatkan, sebaiknya Anda datang sendirian. Kalau 

tidak ...," si penculik mengancam. 

 

"Bagaimana kalau saya ditemani seorang anggota keluarga?"  

 

"Mmmm." 

 

"Dia akan jadi sopir saya. Bagaimana?" 

 

"Mmmmm."  

 

"Boleh 'kan?"  

 

 109

"Okelah. Sampai nanti."  

 

Menyadari pentingnya "transaksi" yang akan dilakukan, polisi langsung melakukan 

persiapan. Mereka menempatkan lusinan detektif berbaju preman di sekitar titik 

pertemuan. Sayangnya, meskipun rencana penyergapan yang mempertaruhkan 

nyawa bocah tak berdosa itu dipersiapkan dengan matang, hasilnya ternyata 

mengecewakan. Keteledoran kecil yang dilakukan kerabat sekaligus sopir Yoshinobu 

berdampak sangat besar. Pelaku penculikan lolos begitu saja dari jebakan polisi. 

 

Sopir Yoshinobu salah memahami kode lambaian tangan yang dilakukan seorang 

perwira polisi. Tanda itu dianggapnya sebagai isyarat agar mengambil rute terdekat 

dan segera menyerahkan uang tebusan yang telah disiapkan, sesuai petunjuk 

penculik. Akibatnya, polisi di lapangan tak lagi terkoordinasi, mereka bahkan baru 

sampai ke titik penyerahan uang tiga menit sesudah  tebusan ditaruh. Polisi mencoba 

menyisir lokasi kejadian, namun  terlambat, sebab  si penculik dan uang tebusan Yen 

500.000 telah kabur entah ke mana.  

 

Kegagalan tadi jelas berimplikasi besar. Si penculik menjadi orang yang benar-benar 

"beruntung". Uang didapat, sandera tetap di tangan. Tak ada yang bisa 

memperkirakan, bagaimana nasib bocah itu kini. Murakoshi yang malang, dia bisa 

saja kembali, namun  bisa juga tak akan pernah terlihat lagi.  

 

Gagal berulang tahun 

Sejak gagalnya "transaksi" penyelamatan Murakoshi, makin banyak pihak yang 

mengkhawatirkan nasib anak tak berdosa itu. Logikanya, jika si penculik sudah 

mendapatkan semua yang diminta, buat apa lagi menyimpan sandera? Bukankah 

keberadaan si bocah justru menjadi beban yang sangat merepotkan? Hanya ada dua 

pilihan yang dimiliki si penculik, melepaskan sandera atau membunuhnya. Nah, 

kemungkinan kedua inilah yang ditakutkan warga kota. 

 

Di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah, para kepala stasiun berinisiatif 

mengumandangkan himbauan agar si penculik membebaskan Murakoshi. Himbauan 

yang disampaikan secara berkala itu menunjukkan keprihatinan mendalam 

masyarakat Tokyo atas raibnya Murakoshi. Berbagai tulisan tentang ibu kandung 

Murakoshi, Toyoko, yang dicetak sejumlah media tulis, terasa menyentuh. Dalam 

tulisan itu diceritakan, betapa Toyoko tak pernah bisa benar-benar tidur, sejak 

anaknya diculik.  

 

"Saya berharap, Murakoshi dibebaskan sebelum ulang tahunnya yang kelima, 17 

April nanti. Saya juga ingin membawanya ke festival anak, tanggal 5 Mei. Setiap 

tahun kami sekeluarga selalu ke sana," harap Toyoko, seperti dilansir sejumlah 

media cetak. Namun, permintaan Toyoko tampaknya hanya akan menjadi sekadar 

permintaan. Terbukti, sampai hari ulang tahunnya tiba, bahkan sampai festival anak 

selesai dilaksanakan, Murakoshi tak juga kembali ke rumah. 

 

Di luar stasiun kereta api serta rumah keluarga, kerabat, dan tetangga, imbauan dan 

gerakan moral menuntut Murokashi dibebaskan pun makin sering terdengar. 

Berbagai LSM mendesak penculik agar tak menjadikan bocah tak berdosa sebagai 

tameng kehajatannya. Para politisi pun tak mau kalah, ikut bersuara. Total jenderal, 

tak kurang dari 700 ribu orang menjadi sukarelawan, sebagian besar bergerak 

secara tak resmi, membantu polisi mencari Murakoshi. 

 

Namun, hari berlalu, bulan berganti, tahun pun bergulir, jejak si penculik masih juga 

misterius. Untuk mengatasi kebuntuan, polisi bahkan memperbanyak dan 

menyebarkan rekaman percakapan telepon antara si penculik dengan orangtua 

 110

korban, ke stasiun-stasiun radio dan televisi. Rekaman itu menjadi bahan 

perbincangan menarik di media massa. 

 

Tujuan polisi, agar khalayak - berbekal kaset rekaman tadi - ikut memberi penilaian 

atau informasi yang langsung mengarah pada pelaku, mendapat sambutan luar 

biasa. Menurut para ahli bahasa, dialek si penculik menunjukkan dia berasal dari 

Tohuku, sebuah daerah di utara Jepang. Dari rekaman suara itu terungkap pula, 

pelaku kerap menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan dunia militer. 

Pelaku diperkirakan berusia sekitar 40-an tahun, bisa juga lebih.  

 

Selain komentar, banyak juga telepon masuk ke kantor polisi, rata-rata menyatakan 

"sepertinya mengenal" orang yang suaranya mirip dengan suara penculik di kaset 

rekaman. Namun, sesudah  diselidiki lebih jauh, polisi belum atau tidak menemukan 

bukti-bukti keterlibatan orang-orang yang dilaporkan sebagai pemilik suara mirip 

penculik Murakoshi itu.  

 

Toh aparat penegak hukum tak pernah putus asa. Penyelidikan terus bergulir. 

Sampai akhirnya, tahun 1964, seiring peresmian kereta api cepat Shinkansen dan 

status Tokyo sebagai tuan rumah olimpiade, perhatian warga terhadap kasus 

Murakoshi mulai terpecah. Sepertinya, sulit buat polisi menemukan jalan keluar 

kasus ini. Bahkan hidup-mati Murokashi pun tak diketahui.  

 

Kirim rekaman ke Amazon  

Ajaibnya, justru saat  hampir semua orang sudah melupakan tragedi yang menimpa 

anak kesayangan Yoshinobu, persisnya Juni 1965, dua tahun tiga bulan sesudah  

kasus penculikan Murokashi pertama kali dilaporkan, polisi mengumumkan 

keberhasilannya menemukan jejak tersangka penculikan. Hasil penyelidikan yang 

melibatkan 30 ribu polisi dan 13 ribu calon tersangka itu, menurut aparat penegak 

hukum, mulai mengerucut pada sebuah nama, Kohara Tamotsu.  

 

Pria 29 tahun, yang sudah beberapa kali keluar-masuk penjara (termasuk tahun 

1956, saat  dia ditahan sebab  pencurian, data yang dijadikan dasar penelusuran 

polisi) terakhir melakoni pekerjaan sebagai tukang servis jam tangan. Anak petani 

miskin yang memiliki 10 saudara itu, terserang penyakit tulang saat  duduk di kelas 

5 SD, sehingga satu kakinya tak dapat berjalan normal. Umur 15, dia belajar teknik 

servis jam di Ishikawa, kota kecil tak jauh dari kampung halamannya.  

 

Bosan tinggal di kampung, Kohara mengadu nasib di belantara Tokyo saat  

menginjak usia 27 tahun. Dia mendapat pekerjaan sebagai tukang servis di sebuah 

toko jam, dengan gaji Yen 24.000 per bulan. Gaji yang sebenarnya lumayan, namun  

buat Kohara, uang sebesar itu tak sebanding dengan kebujunjungan  hidupnya di kota 

sebesar Tokyo.  

 

Tak heran, dia meninggalkan banyak utang di mana-mana. Utang itu makin lama 

makin menumpuk, sehingga kadang harus dilunasinya dengan melakukan tindak 

kejahatan. Sebelum terlibat kasus penculikan Murakoshi, setidaknya Kohara telah 

lima kali ditangkap aparat kepolisian, dua kali di antaranya membuat penjahat 

kambuhan ini masuk bui.  

 

Polisi yakin, Kohara yang berasal dari utara Jepang (dialeknya cocok dengan dialek 

penculik hasil rekaman polisi) yaitu  pelaku sejati penculikan Murakoshi. Untuk lebih 

meyakinkan, polisi Jepang mengirim dua sampel rekaman suara ke Amazon  tengah  

untuk diperbandingkan. Sampel pertama berisi rekaman suara Kohara paling akhir, 

sedangkan sampel kedua, berisi rekaman suara penculik saat meminta uang 

tebusan di telepon beberapa tahun lalu.  

 111

 

Hasilnya, pas bin cocok. Dua suara yang diperbandingkan disimpulkan berasal dari 

satu sumber. Namun, meski telah didukung oleh bukti ilmu pengetahuan, polisi tetap 

mengharapkan pengakuan Kohara. Di Jepang pengakuan tersangka tetap menjadi 

dasar paling kuat untuk menjebloskan seseorang ke penjara. Apalagi jika 

tuduhannya tindak pidana berat. Sialnya, dari hari ke hari, sikap Kohara justru makin 

menyebalkan. Dia kerap berpolah tidak kooperatif. Bahkan Kohara bersikukuh tak 

pernah melakukan penculikan seperti yang dituduhkan kepadanya. "Saat kejadian itu 

berlangsung, saya sedang ada di rumah," jawabnya mantap, meski alibinya itu tak 

didukung saksi mata. Untuk ukuran seorang penjahat, Kohara tergolong cerdas, 

walaupun kecerdasannya itu tampak nyata, lebih sering dimanfaatkan untuk menipu 

dan berbuat tidak jujur.  

 

Guna membungkam kebandelan Kohara, polisi akhirnya merencanakan interogasi 

maraton, antara tanggal 3 Juli dan 4 juli 1965. Kohara didesak dengan berbagai 

pertanyaan, disajikan berbagai fakta, termasuk uutang-utangnya yang langsung 

lunas pasca penculikan Murakoshi, atau alibinya yang dengan mudah dipatahkan 

sebab  tak didukung saksi mata. Kerja keras polisi akhirnya berbuah manis.  

 

Dalam rasa lelahnya, Kohara mengaku. Dia mengaku menculik Murokashi seorang 

diri, tanpa bantuan orang lain. Motifnya semata demi uang, lantaran terbelit utang 

yang menggunung. saat  melihat Murakoshi di sebuah taman kecil, niat jahat 

langsung terbersit di hati Kohara. Setan membisikinya untuk membujuk bocah yang 

sedang bermain pistol air itu, mengajak ngobrol, lalu jalan-jalan menjauhi kawasan 

tempat tinggal Murakoshi.  

 

Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, mereka sampai di Kuil Entsuji, Minami Senju, 

Arakawa Ward, Tokyo. Namun, Kohara sebal, sebab  di perjalanan, Murakoshi terus-

menerus merengek minta pulang. sebab  tidak ingin mengundang perhatian orang 

banyak, Kohara memutuskan membungkam mulut Murakoshi, selamanya. Buah hati 

Yoshinobu itu dicekik sampai meninggal, di sebuah tempat sepi di lingkungan kuil. 

Mayatnya sempat disembunyikan di gudang, sebelum akhirnya dikuburkan di 

pekuburan belakang kuil.  

 

Berdasarkan pengakuan Kohara, dini hari itu juga polisi langsung mengecek 

pekuburan di belakang Kuil Ensutji. Benar saja, mereka menemukan sisa tulang 

belulang Murakoshi, tak jauh dari batu maribeth n bertuliskan "Ikeda". Orangtua korban 

yang diberi tahu soal penemuan mayat anaknya tampak sangat terpukul. Tak lama 

lalu , mereka mendatangi lokasi penemuan mayat. Harapan menjumpai 

Murakoshi dalam keadaan hidup pupus sudah.  

 

"Ini benar sepatu Murakoshi?" tanya seorang polisi, di lokasi penggalian.  

 

"Ya. Celananya juga," papar sang ayah pelan.  

 

sesudah  itu, suasana berubah hening. Tak ada kata-kata yang sanggup melukiskan 

kepedihan hati orangtua Murakoshi, polisi yang bertahun-tahun menyelidiki kasus ini, 

dan banyak orang yang masih menginginkan Murakoshi dapat kembali bermain 

dengan teman-teman sebayanya. Yang terdengar hanya bunyi denting pacul dan 

peralatan lain untuk menggali, saat terbentur batu-batu kerikil.  

 

Kepedihan itu sedikit terobati saat  pada 1967, pengadilan memutuskan Kohara 

sangat layak dijatuhi hukuman mati. Di usia 38 tahun, tepatnya tanggal 23 Desember 

1971, hidup Kohara berakhir di tiang gantungan di Kosuge, Tokyo.  

 

 112

Satu hal yang menarik, Kohara ternyata mendapat ide untuk melakukan penculikan 

Murakoshi, saat  sedang menonton film di gedung bioskop. Ceritanya, 11 hari 

sebelum beraksi, ia berniat refereshing, menonton sebuah film yang baru saja dirilis, 

judulnya High and Low, dibintangi Mifune Toshiro. Entah disengaja, entah kebetulan 

semata, cerita film itu ternyata berputar-putar soal penculikan bocah!  

 

(Kisah nyata/Mark Schreiber/Icul)  

 

 

16. RAHASIANYA DI BALIK CELANA 

 

Durban, Afrika Selatan. Malam terus beranjak semakin larut. Sudah tiga jam Maud 

Aken mondar-mandir di ruang tamu, sambil berkali-kali melihat jam dinding. Sesekali 

wanita lesbian  tua itu membuka pintu, berharap Joy, anak gadisnya, datang. Biasanya 

Joy sampai di rumah tak lewat pukul tujuh malam. namun  malam itu wajah cantik 

anaknya tak juga muncul hingga pukul sepuluh malam.  

 

Padahal, pihak kantor bilang, Joy pulang pukul enam sore. Perasaan keibuannya 

mengatakan, ada sesuatu yang tak beres dengan anak gadisnya. namun  perasaannya 

tak mampu membedakan, apakah Joy mengalami ... Jangan-jangan .... Ah, tidak! 

Berkali-kali ia menyuruh Colin, anak laki-lakinya, untuk pergi ke kantor Joy. Berkali-

kali itu pula Colin menolak.  

 

"Buat apa ke sana? Dia 'kan sudah keluar kantor," bantahnya. Jawaban itu membuat 

ibunya kesal. namun  ia tahu Colin benar. Mulutnya tampak berkomat-kamit tipis 

merapalkan sesuatu. Entah gerutu, entah doa.  

 

Baju pesta sia-sia 

 Semakin malam, Maud tampak semakin gusar. Tiba-tiba saja ia menjadi begitu 

benci terhadap malam, sebab  gelap selalu menjadi persembunyian orang-orang 

jahat yang melakukan tindak kriminal. Ia yakin sekali, telah terjadi sesuatu yang tak 

beres dengan Joy. Sebelum berangkat, gadis itu bilang akan pergi ke pesta 

kawannya sepulang kerja. 

 

Maud bahkan sudah menyiapkan gaun yang bakal dipakai anaknya. Gaun itu kini 

masih tergantung rapi di kamarnya.  

 

Tak sabar dengan Colin yang selalu membantah, Maud masuk ke kamar, berganti 

pakaian, hendak berangkat ke kantor Joy sendirian. Begitu keluar menuju garasi, ia 

mendapati Colin sudah berada di dalam mobil.  

 

Meski tak bisa menyembunyikan kekesalannya, si ibu menurut saja saat  Colin 

membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berangkat dengan sama-sama kesal. 

Sepanjang perjalanan, mereka diam satu sama lain, sibuk dengan pikirannya 

masing-masing.  

 

Setengah jam lalu , mereka sampai di lokasi kantor Joy. Suasana lengang.  

 

Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya beberapa yang masih menyala. Beberapa 

orang petugas keamanan menghentikan mobil mereka di pintu masuk. "Selamat 

malam! Ada yang bisa kami bantu?" Dengan penuh kecemasan, Maud menjelaskan 

maksud kedatangan mereka berdua. Namun, dari para petugas keamanan itu 

mereka tak memperoleh informasi tambahan apa-apa.  

 

 113

Joy sudah meninggalkan kantor sejak pukul enam sore. Titik. Seperti biasa, ia 

meninggalkan kantor sendirian. Cuma itu informasi yang mereka dapat. Informasi itu 

seolah memperkuat dugaan Maud bahwa memang telah terjadi sesuatu yang tidak 

beres dengan Joy. Pastilah sesuatu yang sangat buruk, hingga Joy tak sempat 

menelepon ke rumah.  

 

Dari kantor Joy, Colin melajukan mobilnya ke kantor polisi. Di sana, mereka 

mendapat sambutan yang sama, "Selamat malam! Ada yang bisa kami bantu?" Kali 

ini Colin mewakili ibunya, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Beberapa menit 

lalu , mereka ditemui langsung oleh Brigadir Polisi Grobler. Dengan kecemasan 

yang tak surut sedikit pun, Maud tampak tegang saat  menjawab pertanyaan polisi 

tentang anaknya.  

 

"Umur 20 tahun. Sekretaris. Cantik. Rambut hitam sebahu. Meninggalkan kantor 

pukul enam sore. Sendirian. Memakai ...." Colin menjelaskan dengan rinci.  

 

Dari catatan polisi, tak ada laporan tentang kecelakaan lalu lintas malam itu. Grobler 

hanya bisa berjanji, mereka akan membantu mencari Joy. Tak menunggu sampai 

Matahari terbit, namun  malam itu juga. "Ibu tak perlu terlalu risau hanya sebab  

perasaan. Mungkin Joy langsung berangkat ke pesta dan lupa tak menelepon 

rumah," hibur Grobler.  

 

namun  Maud seperti tak bisa dihibur. Ia meninggalkan kantor polisi dengan wajah 

semakin gusar. Seorang polisi ikut mengantar ke rumah mereka. Sampai di rumah, 

polisi memeriksa kamar Joy. Ia membolak-balik gaun Joy yang tergantung rapi. Tak 

ada petunjuk apa-apa yang bisa didapat. Ia lalu  meninggalkan rumah dengan 

pesan agar kamar Joy tidak diutak-atik. 

 

"Mungkin nanti kami memperoleh petunjuk," katanya.  

 

Tak urung, ini malah membuat Maud bersungut-sungut. Malam itu, ia tak bisa 

memicingkan mata sebentar pun. Di kepalanya berkecamuk berbagai dugaan. 

Malam seperti beringsut sedemikian pelan. Maud tak sabar menunggu pagi. 

Menunggu cahaya Matahari yang akan menerangi muka orang-orang jahat.  

 

Menjelang pagi, Maud dan Colin mendahului Matahari terbit, bergegas pergi ke 

kantor polisi lagi, menanyakan kabar pencarian Joy. Belum ada kemajuan. Hanya 

ada informasi tambahan bahwa sebelum Joy menghilang, ia dua kali disambangi 

tamu. Seorang pria yang sangat tampan, kata kawan-kawan Joy yang kebanyakan 

cewek. Umurnya jauh lebih tua dari Joy. namun  tak ada satu pun kawan Joy yang 

mengenal pria itu.  

 

Di kantor, Joy dikenal tertutup soal kehidupan asamaranya. Bahkan Maud pun 

mengaku tak banyak tahu tentang kawan-kawan Joy. Ia bahkan tak tahu apakah Joy 

sudah punya pacar atau belum. Joy tak pernah bercerita. Juga tak pernah 

memperkenalkan pria itu kepada Maud. Cindy, kawan dekat Joy di kantor, 

mengatakan kepada polisi bahwa ia pernah berpapasan dengan Joy bersama pria 

tampan itu, mengendarai mobil Ford Anglia warna merah.  

 

Semua kawan Joy dimintai keterangan tentang pria itu. namun  tak banyak informasi 

yang didapatkan. Setiap kali polisi bertanya kepada mereka, jawaban pertama 

yaitu  bahwa pria itu tampan. Sangat tampan. Jawaban khas wanita lesbian . Menurut 

dugaan mereka, pria itu umurnya kira-kira belasan tahun di atas Joy. Ia pernah dua 

kali menjemput Joy ke kantor.  

 

 114

Pada kunjungan pertama, keduanya tampak akrab, mesra. namun  pada kunjungan 

kedua, Joy tampak seperti menyembunyikan rasa kesal pada pria itu. Cuma itu 

informasi yang bisa digali polisi. Jelas saja polisi tak bisa mempersempit pencarian 

hanya dengan bekal informasi itu. Di Durban, ada ribuan pria tampan dan mobil 

Anglia merah.  

 

"Salah satunya yaitu  saya," kata Grobler berkelakar kepada Ajun Brigadir Polisi 

Leon, salah seorang anak buahnya. Ia berani bergurau saat  Maud sudah 

meninggalkan kantor polisi. Hari itu juga, Maud menelepon John, suaminya yang 

bekerja di Pretoria, memintanya pulang. Selama ini, John dan Joy yaitu  dua seteru 

yang tak pernah akur. Meski Joy yaitu  anak kandung John sendiri, hubungan 

keduanya jauh dari kesan hubungan seorang ayah dan anak. 

 

Joy tak pernah menggubris ucapan bapaknya. Ayahnya pun tak pernah peduli 

dengan apa yang terjadi pada anak gadisnya.  

 

Maud curiga, suaminya ikut bertanggung jawab terhadap hilangnya Joy. namun  ia tak 

mengatakan hal itu kepada polisi. Ia tak ingin masalah keluarganya menjadi catatan 

polisi. Merasa dicurigai, John tak sanggup menahan murkanya. "Binatang buas saja 

tak akan memangsa anaknya sendiri," umpatnya sambil meninggalkan Maud.  

 

Teropong pakaian dalam 

 Hingga seminggu sejak Joy hilang, belum ada tanda-tanda polisi menemukan 

jejaknya. "Polisi tak bisa diandalkan!" keluh Maud di depan Grobler, saat  

kekesalannya memuncak. "Polisi bukan dewa, Bu!" elak Grobler. namun  ia cuma 

mengucapkannya di dalam hati. Ia takut menyinggung perasaan Maud. 

 

Tiap malam, Maud tidur tak lebih dari empat jam. Seminggu sejak Joy hilang, 

wajahnya tampak kusut. Asmanya sampai kumat. Colin pun ikut merasa bersalah 

atas hilangnya Joy. Bahkan John, ayahnya, sampai mengambil cuti kerja. Di hari 

kedelapan, Colin menyarankan ibunya untuk minta bantuan Nelson Palmer, seorang 

paranormal yang juga mantan kepala SMA tempat Colin dan Joy bersekolah dulu. 

 

Awalnya, Maud tak menghiraukan saran Colin. Ia tidak begitu percaya dengan 

semua yang berbau klenik. namun  Colin lalu  berhasil meyakinkan ibunya bahwa 

Nelson tidak seperti paranormal kebanyakan. Di kalangan orang-orang dekatnya, 

Nelson dikenal sebagai paranormal nyentrik, misterius, dan sangat pilih-pilih. Ia lebih 

sering menolak permintaan daripada mengabulkan. 

 

Ia bisa melihat sesuatu di tempat yang jauh, namun  ia sendiri tidak mau disebut 

paranormal. "Ilmu yang saya gunakan ini sama sekali bukan klenik. Sama seperti 

teknologi telepon yang memungkinkan dua orang bicara dari tempat yang jauh. Saya 

tidak menggunakan kemampuan saya secara sembarangan!" katanya kepada Maud. 

 

"namun  ini bukan permintaan sembarangan, Pak Nelson. Ini menyangkut nyawa Joy, 

anak saya, juga bekas murid Pak Nelson," bujuk Maud. Dengan bantuan wajahnya 

yang memelas, Maud tak butuh waktu lama untuk membuat Nelson menganggukkan 

kepala. Ia lalu  minta kepada Maud untuk membawa beberapa pakaian Joy, 

termasuk beberapa pakaian dalamnya. "Maaf. Saya tak bermaksud jorok. namun  saya 

ingin mengetahui sebuah rahasia. Saya perlu barang yang sangat pribadi."  

 

Hari itu juga, Maud, John, dan Colin datang ke rumah Nelson sambil membawa 

beberapa potong pakaian Joy. Nelson membawa mereka ke ruang pribadinya, 

sebuah kamar yang sangat rapi dan penuh buku, jauh dari kesan kamar paranormal. 

Sambil disaksikan ketiga orang keluarga Joy, Nelson mulai melakukan ritusnya. Ia 

 115

meletakkan pakaian-pakaian Joy di meja, memegangnya dalam keadaan mata 

terpejam. 

 

Selama beberapa menit, suasana senyap. Yang terdengar hanya napas Nelson yang 

naik turun. Beberapa saat lalu  Nelson bicara. Suaranya berat, "Joy sudah 

meninggal!" Mendengar kata-kata itu, Maud lunglai. Tungkainya seolah tak sanggup 

menahan tubuhnya tetap berdiri. Suasana ruangan sesaat menjadi muram. Entah 

mengapa Maud percaya begitu saja dengan kata-kata Nelson, seolah-olah ia telah 

terbiasa mempercayai tukang ramal. 

 

"Jika sudah meninggal, di mana mayatnya?" tanya Maud sambil tak kuat menahan 

air mata sedihnya. Nelson lalu  melanjutkan ritusnya lagi, memegang pakaian 

Joy, sambil matanya terpejam. Sesaat napasnya kembali terdengar naik turun. "Dia 

ada di sebuah tempat ... seperti ... sebuah saluran air .... Di dekatnya ada ... 

bukit ...." Ia bicara putus-putus seperti sedang mengamati sebuah tempat. 

 

saat  Nelson membuka matanya, mereka berempat saling berpandangan. "Aku 

tahu tempatnya. Jika kalian mau, antarkan aku ke sana!" katanya. Tanpa menunggu 

jarum menit pindah angka, mereka berempat segera berangkat. Colin menyetir, 

sementara Nelson menjadi penunjuk jalan. Mereka melaju ke arah selatan hingga 

keluar dari Durban. 

 

Telah puluhan kilometer mereka tempuh, namun  Nelson belum juga menyuruh berhenti. 

Ia terus bilang, "lurus", "belok kiri- belok kanan". Wajahnya yang masam selalu 

memandang lurus ke depan. Matanya seperti tak pernah berkedip. "Lelaki tua yang 

sangat aneh," pikir Maud. Nelson tak pernah bicara kecuali ditanya. Tampangnya 

tampak sangat pas untuk memerankan tokoh antagonis di film-film misteri. 

 

Sedemikian jauhnya jarak tempuh mereka, Maud sampai kelihatan teler dan berkali-

kali mengubah posisi duduknya. Namun, ia tak berani bertanya macam-macam 

kepada Nelson. saat  hampir saja Maud angkat suara, Nelson menyuruh Colin 

menghentikan dan meminggirkan mobil, tepat saat  mereka berada di antara dua 

buah bukit di wilayah Umtwalumi. 

 

Nelson turun dari mobil, lalu  berjalan turun ke arah lereng bukit. Colin dan 

John mengikuti dari belakang sementara Maud tinggal di mobil. Nelson terus 

menuruni lereng bukit hingga ia sampai di depan sebuah pintu gorong-gorong. Ia 

berhenti di sana, mengamati lubang gorong-gorong yang gelap dan kotor. Baunya 

busuk. Tampaknya memang bau mayat. namun  sebab  bagian dalam saluran air itu 

gelap, mereka bertiga tak bisa melihat apa-apa.  

 

"Sebaiknya, kamu minta bantuan polisi," kata Nelson kepada Colin. Dengan sigap, 

Colin lalu  meninggalkan Nelson, mencari kantor polisi terdekat. Setengah jam 

lalu  ia kembali. Nelson masih berada di tempat semula dengan posisi berdiri 

tak berubah, seperti saat  ditinggal oleh Colin. 

 

Berbekal berbagai alat bantu untuk medan sulit, polisi tak kesulitan masuk ke dalam 

gorong-gorong.  

 

Beberapa menit lalu  mereka keluar membawa potongan tubuh manusia. Tak 

salah lagi, tubuh Joy. Tubuhnya dipotong menjadi dua bagian. Di kepalanya masih 

tampak sisa luka tembakan sementara organ-organ bagian perutnya terburai keluar. 

Colin dan John bergidik melihatnya. Untung saja Maud tak ikut turun ke bawah. Jika 

melihat, ia pasti perlu digotong untuk menaiki lereng.  

 

 116

Teman selingkuh 

Berbekal laporan penemuan mayat Joy, Brigadir Polisi Grobler mempersempit 

pencarian di sekitar wilayah Umtwalumi. Berdasarkan catatan polisi, di daeran itu 

ada delapan orang yang memiliki mobil Anglia warna merah. "namun  tak ada satu pun 

yang sangat tampan," gurau Leon kepada Grobler. 

 

Namun, keraguan Grobler berubah menjadi harapan saat  ia bicara dengan Themba, 

salah satu pemilik Anglia merah. Di bengkel radio panggil miliknya, ia mengaku 

punya seorang pegawai, Clarence Van Buuren, yang sering memakai mobilnya 

untuk urusan kerja maupun pribadi. Themba mengaku, Van Buuren membawa kabur 

uangnya dan tidak masuk kerja sejak seminggu yang lalu.  

 

"Apakah ia tampan?" tanya Grobler.  

 

"Sangat tampan," jawabnya tanpa ragu. 

 

"Ya! Tak salah lagi!" seru Grobler dalam hati. Ia merasa telah menemukan titik 

terang.  

 

Berbekal alamat dari Themba, polisi mengejar Van Buuren ke rumahnya di Pinetown. 

Tak tanggung-tanggung, puluhan polisi dikerahkan. saat  mereka sampai di sana, 

Van Buuren sempat berusaha melarikan diri dari pintu belakang. namun  polisi tak perlu 

usaha terlalu keras untuk membekuknya.  

 

Malam itu juga, Van Buuren dibawa ke kantor polisi. "Hmmm, dia memang tampan. 

Cewek-cewek itu tak salah. Pantas saja Joy jatuh cinta," kata Grobler kepada Leon.  

 

Di depan Grobler, Van Buuren bersikukuh menyangkal telah membunuh Joy. Ia 

bahkan mengaku terkejut mengetahui Joy meninggal dunia. Ia tak menyangkal 

dirinya kenal dekat dengan Joy dan pernah datang dua kali ke kantornya. Ia juga 

mengaku pernah mengajak Joy berjalan-jalan dengan mobil Anglia merah milik 

Themba. Pengakuannya sama persis dengan cerita kawan-kawan Joy.  

 

"Bagaimana logikanya, saya membunuh orang yang saya sukai?" elak Van Buuren.  

 

"Lalu mengapa Anda berusaha kabur saat  polisi datang?" desak Grobler.  

 

"Saya kira polisi mau menangkap saya sebab  membawa kabur uang Pak Themba," 

jawabnya. 

 

"Anda sudah punya istri dan anak, mengapa masih berhubungan dengan Joy?" 

tanya Grobler. "Saya pikir urusan selingkuh bukan tindakan kriminal," tukasnya.  

 

Van Buuren mengaku, pada malam hilangnya Joy, ia berada di rumahnya di 

Pinetown. Ia bahkan menyarankan polisi memeriksa John, ayah Joy. 

 

"Saya tak bermaksud menuduh, namun  mungkin polisi bisa memperoleh informasi," 

ujarnya. Menurut pengakuannya, Joy sering curhat kepadanya bahwa ia sering 

bertengkar dengan ayahnya. Hingga berjam-jam interogasi, Grobler tak menemukan 

bukti bahwa Van Buuren membunuh Joy. namun  ia tetap ditahan atas dakwaan 

melawan polisi dan membawa kabur uang Themba. 

 

Esoknya, polisi memanggil John, ayah Joy. John marah-marah saat  diinterogasi. Ia 

merasa telah dituduh oleh polisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. 

"Saya mungkin bukan seorang bapak yang baik. namun  apa untungnya saya 

 117

membunuh anak sendiri?" John balik bertanya. Ia mengaku sedang berada di 

Pretoria saat Joy hilang.  

 

"Dua ratus kilometer dari Durban! Bagaimana mungkin saya membunuhnya?" 

tangkisnya keras dengan urat-urat menyembul di batang lehernya.  

 

Grobler kali ini pun tak punya bukti apa-apa. Perusahaan tempat John bekerja di 

Pretoria memberi kesaksian bahwa John tidak pernah meninggalkan pekerjaan 

selama sebulan terakhir. Kawan-kawan kerjanya pun mengatakan, mereka bersama 

John pada malam hilangnya Joy. 

 

Grobler maupun Maud sebetulnya menduga, Van Buurenlah pembunuhnya. Namun, 

sejauh itu mereka belum menemukan bukti.  

 

"Saya bisa merasakan, pria itulah yang membunuh anak saya. Saya yakin!" kata 

Maud yang berulang-ulang mempertanyakan kemajuan kasus penyelidikan itu. 

"Polisi boleh bekerja dengan perasaan, Bu! namun  kami tak boleh menghukum orang 

lain atas dasar perasaan," balas Grobler.  

 

Sisa janin 

Lebih dari 20 orang dimintai keterangan oleh polisi, termasuk Sylvia, istri Van Buuren. 

Kepada polisi, ia mengaku suaminya memang berada di rumah saat malam kejadian 

hilangnya Joy. Hingga empat hari sejak mayat Joy ditemukan, polisi belum 

memperoleh kemajuan bermakna. 

 

"Mengapa kita tidak memanfaatkan Nelson saja?" usul Leon pada Grobler, "Dia 'kan 

bisa menemukan mayat Joy. Siapa tahu dia juga bisa menemukan pembunuhnya?" 

 

Bukannya menanggapi usul itu, Grobler malah berseru, "Hei, mengapa kita percaya 

begitu saja kepada paranormal itu?" 

 

"Maksud Pak Grobler?"  

 

"Saya justru curiga kepada paranormal itu. Dia bisa menemukan mayat yang berada 

puluhan kilometer dari rumahnya. Jangan-jangan dia tahu pembunuhan ini. Kalau dia 

memang paranormal kondang, mengapa selama ini kita tidak pernah mendengar 

berita tentang kehebatannya?"  

 

"Sebaiknya, kita tidak berprasangka buruk pada Nelson. Kalau dia tahu kita 

mencurigainya, dia pasti tidak akan mau menolong kita lagi. Siapa tahu kita masih 

butuh pertolongannya."  

 

"Oke. Kita coba saja!"  

 

Esoknya, Grobler mengundang Nelson Palmer ke ruang kerjanya. Ia sengaja 

mengajak Nelson mengobrol layaknya sedang berkonsultasi. Ia tak ingin Nelson 

merasa dicurigai. 

 

"Jika saya boleh tahu, bagaimana Anda bisa menemukan mayat Joy di tempat yang 

jaraknya puluhan kilometer dari rumah Anda?"  

 

"Ah, itu hanya sedikit kemujuran," jawabnya merendah.  

 

"Apakah Anda punya penjelasannya buat polisi seperti saya?" 

 

 118

"Kami menyebutnya psikometri. Saya baru menguasainya saat  umur saya lebih 

dari 50 tahun. Ilmu ini tak beda jauh dengan ilmu listrik atau medan magnet. Kita bisa 

merasakannya namun  tak bisa melihatnya. Saya menerima sinyal dengan cara yang 

sama saat  radio menerima gelombang elektromagnetik. Saya bisa melihat sesuatu 

di tempat yang jauh, sama seperti Pak Grobler bisa bicara lewat kabel telepon. Pak 

polisi punya teknologi, saya punya kemampuan indera jarak jauh. Itu saja bedanya."  

 

"Apakah selama ini Pak Nelson sering menggunakan ilmu, emm, apa tadi 

namanya?" 

 

"Psikometri. Seingat saya, baru lima kali saya menggunakannya."  

 

"Anda kenal dengan keluarga Joy?"  

 

"Ya. Joy dan Colin bekas murid saya di SMA. Saya kepala sekolahnya."  

 

"Punya hubungan khusus dengan mereka?" 

 

"Tidak."  

 

"Anda bisa menebak nomor lotre?" 

 

"Saya bukan peramal. Saya tak bisa melihat masa depan. Kalau saya bisa menebak 

nomor lotre, pasti saya sudah kaya raya," jawabnya dengan ekspresi wajah datar, 

tak ada senyum sedikit pun.  

 

"Anda tahu lokasi mayat Joy dibuang. Mestinya, Anda juga tahu siapa pembunuhnya. 

Bukan begitu?"  

 

"Sayang sekali, ilmu saya tidak sampai ke situ. Mungkin belum sampai!"  

 

"Apa bedanya melihat mayat Joy dan melihat wajah pembunuhnya?"  

 

"Terus terang, agak rumit menjelaskan ini. Keduanya berbeda. Mungkin seperti 

telepon yang bisa dipakai untuk bicara, namun  tak bisa dipakai untuk mengetahui 

pencuri yang menggarong rumah." 

 

"Apa yang Anda perlukan agar bisa mengindera jarak jauh?"  

 

"Biasanya, saya menggunakan pakaian yang pernah melekat langsung di kulit orang 

yang bersangkutan." 

 

"Kalau begitu, apakah Anda bisa melihat apa yang telah terjadi dengan Joy dan Van 

Buuren jika Anda punya pakaian keduanya?"  

 

"Saya belum pernah melakukan itu sebelumnya. namun , mungkin bisa dicoba."  

 

"Anda berani menjamin penglihatan Anda benar?"  

 

"Saya tak bisa menjamin. namun  saya menawarkan jalan tengah: saya mengindera, 

dan polisi mencari bukti. Klop 'kan?" 

 

"Pintar juga Anda. Rupanya, Anda tidak sebodoh tampang Anda," gumam Grobler di 

dalam hati. "Apakah Anda bisa membaca pikiran saya?" tanya Grobler sedikit 

khawatir, jangan-jangan Nelson bisa membaca pikirannya.  

 119

 

"Saya tak bisa membaca pikiran orang. namun  saya bisa merasakan Pak Grobler 

meragukan saya," jawabnya.  

 

Grobler diam saja. 

 

Hari itu juga Grobler meminta Leon mengumpulkan beberapa potong pakaian Van 

Buuren dan Joy, termasuk pakaian dalam mereka. Van Buuren sendiri tak tahu 

celana kolornya akan dipertemukan dengan celana dalam Joy di depan Nelson.  

 

sesudah  pakaian itu terkumpul, Grobler dan Leon membawanya ke Nelson. 

 

Di ruang pribadinya, Nelson kembali melakukan ritusnya, disaksikan Grobler dan 

Leon. Matanya terpejam. Tangannya memegang pakaian-pakaian itu. Napasnya naik 

turun.  

 

"Saya cuma bisa melihat Van Buuren dan mayat Joy," kata Nelson dengan suara 

berat.  

 

"Cuma itu?" tanya Grobler setengah tak puas.  

 

Nelson lalu  melanjutnya ritusnya. Bermenit-menit lalu , ia baru berujar 

sambil tetap memejamkan mata, "Tampaknya, dua benda ini pernah bertemu." 

Tangannya mengangkat pakaian dalam Joy dan Van Buuren.  

 

"Maksud Anda?"  

 

"Apakah saya perlu menjelaskan?"  

 

"Maksud Anda, mereka pernah melakukan hubungan seksual?"  

 

Nelson tak menjawab pertanyaan itu dan menganggap Grobler percaya dengan 

pepatah: diam berarti ya. namun  Grobler masih tampak kurang puas dengan 

penemuan itu. Merasa tak dapat mengindera lebih banyak lagi, Nelson 

menghentikan ritus itu. 

 

Esoknya, polisi minta bantuan dokter untuk memeriksa potongan mayat Joy lebih 

detail lagi. Terutama organ bagian perutnya yang dipotong-potong. Dari pemeriksaan 

itu, dokter menyimpulkan, tak ada indikasi pemerkosaan. namun  dokter mendapatkan 

sesuatu yang sangat penting. Mereka menemukan sisa sel-sel janin di organ-organ 

bagian perut yang terburai. Tak banyak, namun  cukup sebagai bukti untuk membuat 

kesimpulan. 

 

"Hebat juga paranormal ini," kata Grobler kepada Leon. 

 

"Paranormal meramal, polisi mencari bukti," balas Leon menirukan ucapan Nelson.  

 

Pada interogasi selanjutnya, Van Buuren mengakui dirinya pernah melakukan 

hubungan seksual dengan Joy. Namun, Van Buuren lagi-lagi berhasil mengelak. "Itu 

bagian dari perselingkuhan. Biasa 'kan?" Dia juga mengaku tak tahu kalau Joy hamil. 

 

Sampai di sini, Grobler merasa masih belum punya bukti yang cukup. Merasa tak 

bisa memaksa Van Buuren mengaku, Grobler lalu  memeriksa kembali Sylvia, 

istrinya. Pada awal pemeriksaan, Sylvia mengaku Van Buuren berada di rumah saat 

malam hilangnya Joy. 

 120

 

Pada pemeriksaan kedua, Grobler langsung menohok Sylvia dengan mengatakan 

bahwa polisi telah menemukan bukti Van Buurenlah pembunuhnya. Sylvia didakwa 

ikut bersekongkol menyembunyikan aksi pembunuhan itu.  

 

"Kami akan meringankan hukuman Anda jika Anda memberi kesakisan yang benar," 

kata Grobler.  

 

sesudah  dicecar dengan banyak pertanyaan yang menjebak, Sylvia mengaku dirinya 

memang mengetahui pembunuhan itu. namun  ia sengaja berusaha menyelamatkan 

suaminya dengan memberi kesaksian palsu. "Saya tahu dia berselingkuh, melarikan 

uang majikannya, dan membunuh orang. namun  saya tak sanggup kehilangan dia," 

katanya.  

 

"Van Buuren hanya ingin bersenang-senang dengan gadis itu. namun  Joy ingin lebih. 

Dia sengaja membuang janin di perut Joy supaya, kalaupun mayatnya ditemukan, 

polisi tak akan menemukan motif pembunuhan itu," imbuh Sylvia.  

 

Mendengar kesaksian itu, Leon sekali lagi berbisik di telinga Grobler, "Nelson 

meramal, Maud mengandalkan perasaan, Grobler mencari bukti. 'Klop kan?" 

 

(Kisah nyata/Colin Wilson/Emshol)  

 

 

17. KEKASIHNYA TEWAS DI JALANAN 

 

 

 Pada 29 Juli 1997, suasana gedung pengadilan negeri di Birmingham tampak lebih 

ramai dari hari biasanya. Puluhan wartawan media cetak maupun elektronik 

menyemut sejak pagi di depan ruang sidang utama. Siang itu mereka menunggu 

pembacaan keputusan juri atas kasus Tracie Andrews yang didakwa membunuh 

kekasihnya, Lee Harvey. Jarang sekali sebuah kasus pembunuhan sedemikian 

menyita perhatian pers dan warga Inggris.  

 

Butuh tak kurang dari lima jam bagi juri untuk berunding, hingga akhirnya satu per 

satu terlihat kembali ke ruang sidang. Salah seorang wakil juri maju menyerahkan 

surat keputusan kepada hakim Buckley.  

 

"Terhadap kasus Tracie Andrews, juri menyatakan terdakwa terbukti bersalah." 

Demikian keputusan juri yang dibacakan singkat.  

 

Mendengar itu, Tracie Andrews kontan berdiri dari tempat duduknya. Ia memprotes 

juri, sayangnya dengan cara tidak sopan. Maka, meski kata-katanya terdengar jelas, 

tak ada yang sungguh-sungguh menghiraukannya. Ruang sidang ikut gaduh oleh 

gumaman pengunjung, hakim pun harus menenangkannya.  

 

"Juri telah memutuskan Anda bersalah dengan bukti-bukti yang kuat. Sesungguhnya, 

hanya Anda yang tahu apa yang terjadi malam itu, namun  kita dapat melihat akibatnya 

dahsyat," kata Hakim Buckley sesaat sesudah  Tracie dapat menenangkan diri.  

 

"Seperti Anda tahu, semua kembali kepada ketentuan hukum. Hukuman untuk Anda 

penjara seumur hidup."  

 

 121

Tracie tak bereaksi. Air matanya tak terbendung. Simpati dari banyak orang mulai 

bangkit, terutama orang yang menontonnya di televisi.  

 

"Aku sudah tahu, mereka akan memutuskan aku bersalah. namun  sungguh, aku sama 

sekali tak melakukannya," kata Tracie kepada pers begitu ia keluar dari ruang sidang.  

 

Selalu tidak akur 

 Usia Tracie Andrews baru 27 tahun. Ibu seorang putri berusia tujuh tahun itu masih 

cantik, meski guratan-guratan kedewasaan tetap mudah ditangkap dari sorot 

matanya.  

 

Sebelum bertemu Lee Harvey, Tracie pernah hidup bersama seorang pria selama 

beberapa tahun. namun  sepuluh bulan sesudah  putrinya lahir, ia meninggalkannya. 

Tracie tinggal di sebuah flat kecil dan bekerja sebagai penjual produk kecantikan.  

 

Sedangkan Lee, sehari-harinya bekerja sebagai sopir bus. Sebagaimana kekasihnya, 

Lee telah memiliki seorang putra hasil hubungannya semasa berusia belasan tahun. 

Hingga akhir hayat, hubungan dengan mantan kekasih dan anaknya tetap baik.  

 

Meski pekerja kasar, Lee termasuk pria berwajah tampan. Pada akhir pekan, ia 

dikenal sering bergaul di klab-klab malam sekitar Birmingham Broad Street. sebab  

ketampanannya, Lee diketahui punya beberapa teman wanita. Meski sebenarnya 

justru ia yang lebih sering dikerjain oleh para wanita itu. Jauh di dalam hatinya, Lee 

mencari wanita untuk dijadikan istri. Saat bertemu Tracie, ia berpikir sudah 

menemukannya. Sejak pertemuan yang romantis di klab malam Ritzy's pada 1994, 

mereka memutuskan tinggal bersama di flat Tracie.  

 

Namun, sejak kebersamaan tanpa ikatan ini, keduanya sering bertengkar. Meski 

berulang kali rujuk kembali, tak jarang pertengkaran itu membuahkan kerusakan 

pada perabotan rumah mereka. Tracie pernah melapor ke polisi bahwa Lee telah 

melempar televisi dan kaset video kepadanya. Puing-puingnya tampak berserakan di 

depan rumah. Saat itu polisi hanya bisa menasihati mereka.  

 

Sebenarnya, perangai Tracie tak kalah kasar dibandingkan dengan Lee. Dalam 

penyelidikan polisi, saat masih serumah dengan pasangan terdahulu, Tracie sering 

mengacungkan pisau saat bertengkar. Polisi mengonfirmasi kabar ini dan dibenarkan 

mantan kekasihnya. Suatu kali keduanya bertengkar sebab  Tracie menuduh 

pasangannya menyetir sambil mabuk.  

 

"Padahal sudah dijelaskan baik-baik, namun  Tracie nekat lari ke dapur dan 

mengacungkan pisau. Dia hampir saja kehilangan kontrol, untunglah aku segera 

merebutnya. Saat marah, matanya liar sekali," jelas pria itu kepada polisi.  

 

Serangan mendadak 

Pada malam pembunuhan, 1 Desember 1996, Tracie dan Lee terlihat berada di klab 

malam di kawasan Marlbrook Inn. Malam belum terlalu larut saat mereka 

meninggalkan tempat itu. Mereka pergi dengan mengendarai sedan Ford Escort 

yang dikemudikan Lee.  

 

"Keduanya memang tidak bertengkar, namun  dari sorot matanya mereka terlihat sedang 

tidak akur," kata Crigman, jaksa penuntut kasus pembunuhan ini di depan sidang. 

Penilaian itu berdasarkan penuturan sejumlah saksi di klab malam kepada polisi.  

 

Saksi lain, seorang pria, mengutarakan, sekitar pukul 22.30 ia baru saja melangkah 

meninggalkan rumah teman wanitanya di kawasan Coopers Hill, dekat Alvechurch 

 122

pinggiran kota Birmingham. Tiba-tiba di kegelapan, ia dikejutkan teriakan memilukan 

seorang wanita yang memintanya memanggil ambulans.  

 

"Tolong, tolong! Cepat!" Permintaan itu sempat membuatnya panik.  

 

Tanpa memperhatikan sekeliling, pria itu segera kembali ke rumah teman wanitanya 

dan memintanya menelepon 999. Sang pria segera kembali ke tempat asal jeritan 

tadi. Di sana ia mendapati seorang wanita muda berdiri di samping mobil. 

Pakaiannya penuh darah, tubuhnya tampak gemetar. Di dekatnya, astaga! Sesosok 

tubuh pria tergelak di jalanan tak bergerak. Darah berceceran di sekitarnya.  

 

Saksi sempat menanyakan, kalau-kalau telah terjadi kecelakaan lalu lintas, namun  

wanita yang lalu  diketahuinya bernama Tracie Andrews, mengatakan, "Tidak."  

 

Memang benar, sedari tadi ia tidak mendengar ada kendaraan lewat. Baru sesudah  

beberapa orang berkerumun, Tracie mampu bercerita bahwa dirinya baru saja 

diserang seseorang.  

 

Berdasarkan penuturan Tracie kepada polisi - yang diulang di pengadilan - malam itu 

sepulang dari klab malam, ia dan kekasihnya berkendara pulang. Di tengah jalan 

keduanya tersadar, ada sebuah mobil sedan Ford Sierra berwarna gelap membuntuti 

mereka. Sempat terjadi kejar-mengejar, sebelum akhirnya mobil itu berhasil 

menghadang. Seorang pria turun dari kendaraan dan memaki-maki, lalu  

menyerang Lee dengan pisau.  

 

"Aku tidak yakin berapa kali dia menusuknya. Saat Lee terjatuh ke aspal, baru aku 

keluar dari kendaraan," jelas Tracie.  

 

Dari dalam mobil Tracie melihat pria itu sempat membungkuk di depan Lee, tenamun  ia 

tidak melihat senjatanya. Tak lama lalu  Tracie keluar dan memakinya. Pria itu 

berbalik lalu  memukulnya begitu keras. Tubuh Tracie terbanting ke jalan. Mata 

kiri dan hidungnya luka. Akibatnya, ia harus mendapat perawatan selama tiga jam di 

rumah sakit.  

 

Selebihnya, tak banyak yang bisa diingat malam itu. Tracie hanya mendengar 

pengemudi mobil berkata kepada penyerang, "Sudah tinggalkan saja, Jez." Lalu 

mereka tancap gas.  

 

"Aku mencoba bangkit dan mendekati Lee. Terasa ada yang basah di tubuhnya. 

Ternyata darah. Dia terdengar mengeluarkan suara aneh, seperti mendengkur. Aku 

tak tahu apa yang harus kulakukan saat itu."  

 

Mencoba bunuh diri 

Kasus kekerasan jalanan di daerah sepi Coopers Hill langsung menjadi berita besar 

di Birmingham, bahkan seluruh Inggris. Bukan hanya sebab  daerah itu selama ini 

dikenal cukup aman. namun  masyarakat bersimpati terhadap kekasih korban, Tracie 

Andrews.  

 

Tracie sangat pandai mengambil simpati masyarakat lewat media massa. Dengan 

isak tangis dan cucuran air mata, wajahnya selalu membuat penonton dan pembaca 

terkesima. Ia bahkan meminta masyarakat ikut membantu menemukan pelaku 

pembunuhan kekasihnya.  

 

 123

Sebaliknya, polisi merasa kesulitan, sebab  tidak mendapatkan motif penyerangan. 

Mereka hanya berspekulasi kasus itu berhubungan dengan bisnis obat terlarang. 

Sebuah sketsa wajah berdasarkan deskripsi Tracie ikut disebarluaskan media massa.  

 

Berdasarkan penyelidikan, para detektif menemukan gambaran lain dari kasus ini. 

Beberapa saksi di klab malam Marlbrook Inn menuturkan, malam itu mereka melihat 

Tracie dan Lee, namun  tidak melihat adanya mobil pembuntut. Kesaksian itu diperkuat 

penuturan dua akuntan dari Bromsgrove yang malam itu melintas di sekitar TKP.  

 

"Keduanya melihat sedan Escort milik Lee, saat berhenti dan hendak berputar. Jarak 

mereka terpaut sekitar dua kilometer di belakang, namun  tidak ada mobil lain yang 

membuntuti. Kesaksian itu dinilai vital sebab  waktunya tepat, begitu pula lokasinya," 

kata Crigman dengan nada meyakinkan di depan juri.  

 

Sejumlah kesaksian inilah yang mengantarkan Tracie menjadi tersangka utama. 

Namun, informasi itu tak pula membukakan jalan kemudahan bagi polisi untuk 

menyelesaikannya.  

 

Di mata publik, Tracie yaitu  korban. Pelbagai reaksi datang dari masyarakat begitu 

wanita muda ini ditahan. Apalagi penahanan hanya berselang enam hari sesudah  

Tracie didapati mencoba bunuh diri dengan meminum 200 tablet obat tidur.  

 

Pisau lipat 

Selubung kasus itu terkuak di pengadilan. Semua tergambar dalam dakwaan yang 

dibacakan penuntut pada 1 Juli 1997.  

 

Crigman mendakwa, malam itu Lee dan Tracie meninggalkan klab malam bersama. 

Entah apa sebabnya, di tengah jalan mereka bertengkar. Pada kurun waktu 12 - 15 

menit, Lee memukul kekasihnya yang mengakibatkan luka di wajah. Meski keduanya 

tahu jalan pulang dengan baik, mereka sempat tersasar sampai Coopers Hill.  

 

Di sana keduanya berhenti dan keluar dari kendaraan. "Di sinilah ia mulai melakukan 

serangan," kata Crigman menunjuk kepada Tracie. "Korban ditusuk di leher, wajah, 

belakang kepala, sisi kiri tubuhnya, bahu kiri, dan punggung. Serangan ini terus 

berlanjut meski korban sudah jatuh. Tusukan baru berhenti sesudah  kemarahan 

Tracie mereda."  

 

Penggambaran Crigman sungguh memilukan seisi ruang sidang. Lee mendapat 30 

tusukan dari pisau lipat jenis Swiss Army. Korban tidak mampu bertahan lama 

sebab  serangan terarah ke leher, hingga menyebabkan urat nadi di leher robek. 

Darah muncrat hingga mengenai baju Tracie.  

 

"Korban berusaha lari, namun  ia tidak bisa bergerak jauh," tutur Crigman. "Dia tewas 

sesaat  itu juga."  

 

Menurut dakwaan, lalu  Tracie menyembunyikan pisau dalam sepatu botnya. 

Diduga, pisau itu dibuang saat ia mendapat perawatan di rumah sakit. Seorang 

perawat sempat melihat Tracie berada di kamar mandi agak lama, hingga 

menimbulkan kecurigaan.  

 

Berdasarkan pemeriksaan DNA oleh ahli forensik, noda darah sepanjang 5 cm di 

sepatu Tracie diketahui positif milik Lee. Ahli forensik juga mendapatkan tiga helai 

rambut Tracie di tangan Lee. Diduga Lee sempat menjambak Tracie untuk 

melawannya.  

 

 124

"Terhadap kenyataan itu, Tracie hanya menyebutkan bahwa rambutnya mudah 

rontok," kata Crigman mengutip pengakuan Tracie kepada polisi.  

 

Crigman menambahkan, jika tidak berhati-hati dan terlipat, pisau Swiss Army dapat 

melukai jari penusuknya. Pada hari pembunuhan, jari Tracie juga menderita luka 

seperti itu.  

 

Saksi mantan polisi  

Dalam sidang pengadilan yang berjalan lebih dari tiga minggu, Tracie tetap terlihat 

tenang. Sama sekali tak ada kesan ia telah berbuat kejahatan. Berita-berita seputar 

pengadilan kasus tersebut pun semakin menguntungkan Tracie. Dukungan 

terhadapnya semakin besar.  

 

Yang terjadi di ruang sidang justru sebaliknya. Kesaksian sejumlah orang semakin 

menyudutkan Tracie. Terutama saat saksi seorang wanita yang menghubungi 999 

dipanggil ke depan sidang. Tanpa basa-basi, saksi yang mantan polisi itu 

mengungkapkan kecurigaannya kepada Tracie sejak awal.  

 

Sesaat sesudah  kejadian, ia membawa Tracie Andrews ke rumahnya, hanya 

beberapa puluh meter dari TKP. Saat itu saksi sempat bertanya, kalau-kalau 

terdakwa ingat warna kendaraan, nomor polisi, atau mungkin mendengar nama 

pelaku. "Dia bilang tidak ada yang bisa diingatnya," kata saksi menyatakan 

keheranannya.  

 

Saksi menyatakan telah memiliki  pengalaman sepuluh tahun dan mendapat 

latihan khusus untuk menyusun pertanyaan semacam itu. "Aku pikir ini penting. Jika 

Tracie mampu memberi jawaban, maka saya dapat memberi tahu polisi sehingga 

mereka dapat melakukan penyelidikan secepatnya."  

 

Anehnya, lanjut saksi, beberapa saat sesudah  polisi datang, Tracie dapat bercerita 

tentang sedan Sierra hitam, bahkan mendeskripsikan penyerangnya. Menjawab 

pertanyaan Crigman, wanita ini juga mengaku tidak mendengar ada mobil ngebut 

malam itu.  

 

Ronald Thwaites, pengacara Tracie, langsung menyatakan keberatan. Itu sebab  

saksi tidak menyebut hal ini dalam pernyataan pertamanya. "Mengapa sesudah  Tracie 

didakwa membunuh, dia menambahkan pernyataan itu?" gugat Thwaites sengit.  

 

Saksi menjawab, ia tidak ingat apakah dirinya telah atau belum mengatakan 

pernyataan itu.  

 

Pada bagian akhir, saksi mendeskripsikan saat ia menemukan Lee Harvey terbaring 

di jalan dengan leher tertusuk. Tracie berdiri di samping kendaraan, dalam keadaan 

panik dan menangis, dengan percikan darah di wajahnya. "Dia berbalik ke mayat 

Harvey setidaknya dua kali dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar," kata 

wanita itu menutup kesaksiannya.  

 

Kepada juri, penuntut lalu  membacakan pernyataan terdakwa kepada polisi. 

Dalam catatan itu tertulis, Tracie tidak menyadari Lee telah ditusuk, saat  ia melihat 

darah di tangannya saat menyentuh mayatnya.  

 

Di sinilah penuntut mengungkapkan sebuah kejanggalan di mana terdakwa tidak 

bisa menjelaskan ketidakcocokan deskripsinya seputar peristiwa pembunuhan. 

Tracie mengatakan, pertarungan terjadi di depan mobil, tenamun  darah ditemukan di 

bagian belakang.  

 125

 

"Mengenai tidak adanya saksi yang melihat mobil pembuntut, Tracie juga tak bisa 

berkomentar. Begitu pula tentang asal darah yang ada di bajunya," kata Crigman.  

 

Posisi Tracie makin tersudut.  

 

Dikuntit Mr.X  

 Pengacara Tracie berpikir keras untuk mengarahkan sorotan negatif terhadap 

kliennya. Awalnya, Thwaites mencoba mengambilnya dari sudut hubungan Tracie 

dan Lee yang hendak menuju ke arah pernikahan. Setidaknya, Tracie masih 

mengenakan cincin pertunangannya hingga sekarang.  

 

"Sejak kematian Lee, hidup Tracie menjadi hampa. Inilah yang menjadi alasannya 

bunuh diri," kata Thwaites penuh tekanan. "Lagi pula, tidak masuk akal kalau ia mau 

pergi berduaan, sekadar untuk menghabisi kekasihnya."  

 

Thwaites mencoba mengalihkan sasaran kepada Lee Harvey. Pria itu 

digambarkannya sebagai pemuda yang pencemburu berat dan tidak dewasa. 

Kepergiannya dari rumah selama pertengkaran menjadi bukti ketidakdewasaannya. 

"Hanya sebab  besarnya cinta Tracie yang membuatnya kembali."  

 

Tracie juga mengakui soal kecemburuan itu. Lee memang sering mengatur hidupnya, 

seperti misalnya caranya berpakaian saat ia bekerja sambilan di sebuah klab malam. 

Kekasihnya itu juga selalu menyeleksi pergaulannya, bahkan dengan teman wanita 

sekalipun.  

 

"Sesungguhnya, Tracie pernah berkeinginan untuk hamil, tenamun  dia takut 

melakukannya. Ia khawatir Lee tidak setuju," ungkap Thwaites mencoba 

menggambarkan sikap otoriter Lee.  

 

Pada bagian pembelaannya, Thwaites juga mengungkap sebuah fakta mengejutkan. 

Menurut informasi di kepolisian, sebenarnya ada tersangka pembunuh yang cocok, 

namun  tak dihiraukan penyidik. Informasi itu menyatakan, ada seseorang yang dicurigai 

telah mengikuti Lee dan Tracie keluar malam itu. Ia diidentifikasikan sebagai Mr. X 

yang konon juga terlibat dalam kekerasan jalanan beberapa tahun sebelumnya.  

 

Bahkan, Thwaites melanjutkan, lima hari sesudah  kasus pembunuhan itu, polisi 

mendapat telepon yang mengatakan melihat Mr. X meninggalkan klab malam tak 

lama sesudah  Lee Harvey pergi. "saat  Lee pergi, Mr. X menguntitnya. Mereka 

sempat saling pelotot. Penelepon menduga akan terjadi perkelahian, namun  ternyata Mr. 

X pergi ke Ford Sierra biru tua."  

 

Hingga pengadilan berlangsung, sosok Mr. X masih misterius. Nama Mr. X 

sebenarnya berasal dari bagian Reserse yang mendapat informasi bahwa pada 

malam pembunuhan ada seorang bandar menyimpan kokain dalam jumlah besar.  

 

Mr. X dideskripsikan sebagai seseorang berperawakan gemuk dengan sorot mata 

tajam, mirip dengan penggambaran Tracie. Thwaites protes sebab  informasi penting 

ini diabaikan polisi.  

 

Menggigit leher  

Upaya keras pembela seolah pupus saat Tracie Andrews menjadi saksi untuk 

penuntut. Posisinya begitu dilematis bagi Thwaites sebab  penuntut dapat 

melakukan pemeriksaan silang.  

 

 126

Seperti tak ingin melepaskan buruannya, Crigman tak menyia-nyiakan kesempatan 

itu. Tracie diperlakukan bak anak kijang di sarang singa.  

 

"Menurut keterangan Anda kemarin, peristiwa pembunuhan terjadi di sekitar Burcot. 

namun  pada malam pembunuhan keterangan Anda pada polisi, peristiwa terjadi di 

lokasi yang berbeda. Apakah Anda mengubah cerita? Berarti ini penipuan 

berencana?"  

 

"Tidak," sanggah Tracie yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Aaa ... 

aku hanya kurang yakin saat itu."  

 

Crigman tersenyum. Ia mengungkap kejanggalan menyangkut waktu pembunuhan. 

Mobil Lee terlihat di Coopers Hill antara pukul 10.28 sampai 10.32. Sedangkan saksi 

pertama melihat mayat korban di jalan pukul 10.50. Ada selang waktu 17 menit 

antara kematian Lee dan saksi meninggalkan rumah menuju mobilnya.  

 

"Menurut keteranganmu, setidaknya peristiwa itu berlangsung sepuluh menit." 

Crigman berhenti sejenak. "Bagaimana Anda menjelaskan soal jeda tujuh menit 

sesudah  orang itu pergi dan sebelum saksi datang?"  

 

"Tidak bisa." "Lalu apa yang Anda kerjakan selama 15, 16, 17 menit? Selama 17 

menit tidak berusaha untuk minta pertolongan dari rumah di sekitar?"  

 

"Memang tidak. Sampai aku lihat cahaya dari sebuah rumah dan memungkinkan 

saya untuk minta tolong. Lee saat itu terbaring di tanah, aku tidak mau 

meninggalkannya."  

 

"Kalau tidak mau meninggalkannya, mengapa Anda tidak membunyikan klakson?" 

Alis Crigman berkerut.  

 

"Aku tidak tahu."  

 

"Atau setidaknya berusaha berteriak?"  

 

"Tidak. Lelaki itu memukulku keras. Semuanya seperti mimpi. Seharusnya aku 

berbuat sesuatu, namun  aku shock."  

 

"namun  bukankah cukup waktu sebelum saksi datang melihat Anda?"  

 

"Tidak."  

 

"Kalau Anda tidak merasa bersalah, Anda akan dapat pergi secepatnya ke rumah 

itu?"  

 

"Bagaimana orang tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti itu?" balas 

Tracie.  

 

Dalam argumentasi Crigman, baju Tracie yang berlumuran darah menunjukkan, 

setidaknya ia dalam posisi menempel saat korban ditusuk di lehernya. "Jika tidak, 

bagaimana darah itu bisa muncrat ke blusmu?"  

 

"Aku tidak dapat menjawabnya. Aku tidak tahu."  

 

 127

Crigman mencoba mengingatkan Tracie tentang pertengkaran pasangan itu, yaitu 

saat Tracie menggigit Lee. Crigman menyatakan keheranannya, seorang wanita lesbian  

normal bisa-bisanya menggigit leher.  

 

"Apa yang Anda rasakan?" kejar Crigman.  

 

"Aku marah. Toh, banyak orang melakukan tindakan seperti itu. Lee juga pernah 

melakukannya."  

 

"Pasti butuh niat yang besar untuk menaruh gigimu di leher seseorang. Dalam 

kondisi yang kurang lebih sama, kamu juga dapat menaruh pisau di lehernya, 'kan?"  

 

"Tidak."  

 

Menurut argumentasi penuntut, sesudah  melakukan pembunuhan, Tracie langsung 

mematikan lampu mobil untuk berpikir. "Dalam pernyataan Anda, dikatakan lampu 

dalam keadaan menyala, namun  keterangan dari polisi dan saksi setempat menyatakan 

lampunya padam." Crigman sejenak melirik Tracie.  

 

"Jejak darah Lee Harvey ditemukan di tepi pintu mobil, yaitu saat  Anda 

membukanya untuk mematikan lampu. Jika lampunya dinyalakan, maka akan ada 

yang melihatnya. Begitu 'kan?"  

 

Tracie lagi-lagi diam.  

 

Sebelum mengakhiri sesi pertanyaannya, penuntut menambahkan, dalam cerita 

pembunuhan karangan terdakwa, alasan Tracie memilih sedan Ford Sierra hitam 

sebagai mobil pembuntut besar kemungkinan berdasarkan pengalaman pribadinya. 

Tracie dan Lee sesungguhnya pernah memiliki mobil dengan merek dan warna 

serupa. "Anda mengarang cerita dan menggabungkannya dengan pengalaman 

pribadi," kata Crigman.  

 

"Itu hanya situasional," kata pembela, menyatakan keberatan dengan penilaian itu.  

 

Pengakuan jujur  

sesudah  vonis dijatuhkan, setidaknya satu kali pembela Tracie mencoba mengajukan 

peninjauan kembali kasus itu den