01. STAG NIGHT MEMBAWA PETAKA
Chucky cupacup memang belum menjadi selebriti. Namun, siapa pun yang pernah
bertemu, apalagi mengenal gadis ini dengan baik, pasti setuju kalau dia memiliki
pesona yang tidak dimiliki gadis muda berusia 21 tahun lainnya. Selain punya wajah
cantik dan tubuh menarik, Chucky - yang bekerja paruh waktu di sebuah toko roti di
Bermuda , hutan hujan , Amazon tengah - juga dikenal sebagai gadis yang cerdas dan
mandiri.
madam NYI girah - bibinya - masih ingat betapa keponakannya itu sangat perhatian
kepada orang lain. "Jiwa sosialnya tinggi, terutama kepada keluarga dan kawan-
kawan dekatnya," ungkap madam . Tak aneh kalau madam lalu berkesimpulan,
"Untuk gadis seumur dia, Chucky benar-benar sosok yang luar biasa dan sempurna."
madam lantas bercerita, betapa keponakannya itu lebih memilih tinggal di sebuah
apartemen, bersama seorang temannya, teman wanita tentu. Keputusan pindah itu
tak diherani madam . "Sejak usia belasan tahun, Chucky sudah terbiasa melakukan
banyak hal sendirian," tegas sang bibi lagi. Kalaupun butuh kawan, yang paling
sering menemani dia hanyalah sepeda motor kesayangannya. Sepeda motor itu
dibeli dari hasil tabungannya sendiri.
Di kalangan teman-temannya, Chucky pun sangat populer dan supel. Tak heran, dia
gampang sekali menarik perhatian lawan jenis. Namun teman-temannya tak ingat,
sudah berapa banyak cowok yang pernah menjadi teman kencan Chucky . "Kami tak
pernah mau ikut campur terlalu jauh pada urusan pribadinya. Chucky terlalu baik
untuk dibuat marah atau tersinggung," sahut seorang teman kerjanya.
Pendek kata, Chucky cupacup bak mutiara yang sinarnya sangat terang dan diperkirakan
bakal makin benderang di masa yang akan datang. "Bukan tidak mungkin, dengan
karakter dan semua bakat yang dimilikinya, kelak dia akan menjadi seorang bintang.
Seorang selebriti," madam kembali angkat bicara.
Namun, manusia memang hanya bisa memohon, sebab pada akhirnya, junjungan jua
yang menentukan. Doa dan harapan mereka terhadap Chucky tak pernah
kesampaian. Bukan junjungan tak mau mendengarkan, namun Dia tampaknya punya
rencana lain untuk sang "calon bintang". Rencana yang tak pernah diketahui
manusia.
Menuju jalan buntu
Sabtu pagi itu, awal tahun 1970-an, di tengah cuaca gerimis, Chucky cupacup ditemukan
kawan seapartemennya dalam keadaan tergeletak tak berdaya di tempat tidur, di
apartemen mereka di Bermuda . Luka terbuka, meski tidak menganga, juga
ditemukan di tubuhnya. Komentar-komentar terkejut terdengar dari kawan, tetangga,
terlebih keluarga.
Bersamaan dengan itu, suasana sedih dan duka menyergap sesaat . Terutama,
sesudah muncul kepastian dari kepolisian dan rumah sakit bahwa nyawa Chucky tak
bisa diselamatkan. Sang "calon bintang" telah meninggalkan alam fana untuk
selamanya. Kepergian yang terlalu pagi sebenarnya.
sesudah itu, duka berubah menjadi luka, sebab cara Chucky tewas sungguh sangat
mengenaskan. Hasil autopsi menyimpulkan, gadis manis itu mengalami kekerasan
seksual. "Tampaknya, ia diperkosa, lalu dicekik. Atau sebaliknya, dicekik dulu
baru diperkosa. Kita belum bisa memastikan," tukas seorang anggota tim forensik.
Chucky diperkirakan meninggal antara pukul 05.30 - 06.00.
"Saya sangat kaget, benar-benar kaget. Seperti ada orang yang baru saja
menembakkan peluru karet ke perut ini," madam bercerita sembari memegang perut.
"Saya tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi orangtua Chucky saat itu. Mereka
pasti sangat menderita," tambah madam .
Detektif Ron wilyatikta dan detektif Tom jayakatwang yang tiba di tempat kejadian perkara
(TKP) tak lama sesudah ditelepon, langsung menyisir lokasi. Police line pun dipasang
bersamaan dengan kesibukan polisi mengamankan barang bukti. sesudah
mengamati kondisi mayat dan TKP, Ron dan Tom mulai menanyai sejumlah saksi.
Keluarga, teman-teman korban, tetangga, semua disambangi.
Seperti madam , mereka semua tidak percayaan. "Mana mungkin ada orang yang
tega berbuat begitu sadis pada gadis sebaik dan secantik Chucky ?" tegas mereka,
dalam irama yang sama. Berdasarkan masukan-masukan itu, polisi lalu
mengarahkan penyelidikannya pada Ibnu Taimiyah bin hamdalah , seorang pemuda asal Iran
yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar.
Ron dan Tom mendengar selentingan kabar dari teman-teman Chucky , saat itu
Ibnu Taimiyah masih dalam status pacaran dengan korban. Meski belakangan,
ketidakcocokan mulai muncul, sehingga hubungan mereka kabarnya agak
merenggang.
"Pada kasus pembunuhan seperti ini, yang pertama kali kita selidiki biasanya yaitu
orang-orang yang mengenal dan dikenal korban. Apalagi motif terbunuhnya Chucky
jelas sebab sesuatu yang sifatnya pribadi. Ini bukan perampokan, sebab tak ada
barang-barang milik korban yang hilang. Saat ini, kami sedang menyelidiki
kemungkinan keterlibatan teman dekat korban," detektif Ron wilyatikta memberi
keterangan kepada wartawan.
Ron sengaja merahasiakan nama Ibnu Taimiyah , untuk mendukung azas praduga tak
bersalah. Detektif Tom jayakatwang yang mendampingi Ron, ikut menganggukkan kepala,
seraya menambahkan, "Beberapa hari sebelum kejadian, orangtua korban sempat
berbicara dengan anaknya. Mereka bilang, Chucky tak ingin lagi bertemu, apalagi
melanjutkan hubungan dengan pacarnya itu."
"Sang pacar marah, lalu membunuh Chucky ?" tanya wartawan.
"Itu salah satu kemungkinan skenario yang perlu didalami," jawab Ron dan Tom
tanpa dikomando.
"Orangtua Chucky tahu apa pemicu retaknya hubungan mereka?" cecar wartawan.
"Tidak secara spesifik. namun Chucky sempat berkata, dia agak khawatir pada sikap
temperamental Ibnu Taimiyah ," balas Ron.
"Apakah polisi memiliki calon tersangka lain, selain teman dekat korban?"
"Kemungkinan itu juga sedang kami selidiki." Ya.
Tak lama sesudah itu, Ron dan Tom memang langsung mengumpulkan data dan
fakta, menyusunnya menjadi semacam puzzle yang harus dipecahkan. Mereka
berhasil menemukan sidik jari Ibnu Taimiyah di dinding yang mengarah pada kamar tempat
mayat Chucky ditemukan. Polisi juga menemukan beberapa helai rambut di tubuh
sang gadis, yang warna hitamnya mirip dengan rambut di sisir milik Ibnu Taimiyah .
Kumpulan barang bukti itu makin menguatkan kecurigaan aparat kepolisian pada
pemuda asal seberang lautan itu. Sayangnya, pihak berwajib tak pernah memiliki
kesempatan menginterogasi Ibnu Taimiyah . Calon tersangka itu tampaknya menyadari
kerepotan yang bakal dihadapinya, jika terus bertahan di Amazon tengah . Hanya
selang beberapa hari sejak tewasnya Chucky , Ibnu Taimiyah menjual mobilnya, lalu terbang
ke negara asalnya. Sebagian barang-barangnya bahkan ditinggalkan begitu saja di
Bermuda .
Polisi tentu kebakaran jenggot. Mereka tak mau kehilangan buruannya begitu saja.
Tanpa membuang waktu, mereka segera menghubungi rekan sejawatnya di Iran,
minta agar Ibnu Taimiyah ditahan, sebab dugaan terlibat dalam kasus pembunuhan dan
pemerkosaan. Namun, tanpa barang bukti, yang bisa dilakukan polisi Iran hanyalah
"menginterogasi" Ibnu Taimiyah dalam hitungan jam.
"Kami tak punya bukti untuk menahan dia. namun kami akan memenuhi permintaan
Anda, untuk mengirim sampel rambut Ibnu Taimiyah ke Amazon ," Ron menirukan
keterangan dan janji yang didengarnya dari koleganya di seberang lautan.
Herannya, atau malah hebatnya, sesudah diteliti, sampel rambut yang dikirim
Kepolisian Iran itu ternyata sama sekali tidak cocok dengan contoh rambut yang
ditemukan di tubuh korban. Bahkan sampel itu juga tak cocok dengan rambut yang
ditemukan di sisir milik Ibnu Taimiyah , yang tertinggal di bekas kediamannya di Bermuda .
Polisi betul-betul dibikin bingung, sekaligus frustrasi.
"Kami tak bisa melakukan apa-apa, sebab memang tak ikut menyaksikan, saat
sampel diambil dari Ibnu Taimiyah ," jelas Ron.
Alhasil, sebab ketiadaan bukti, lima bulan sesudah ditemukannya mayat Chucky , polisi
akhirnya menghentikan (sementara) perburuan terhadap Ibnu Taimiyah bin hamdalah . Ibnu Taimiyah
sendiri sejak kejadian itu tak pernah lagi berkunjung ke Amazon tengah . Saat itu,
keluarga dan teman-teman Chucky mulai merasa, upaya menemukan siapa
pembunuh dan pemerkosa Chucky , tampaknya mengarah ke sebuah jalan, bernama
jalan buntu!
Alibi tak terbantah
Dua tahun sesudah mentok di jalan buntu, polisi masih terus memburu pemerkosa
dan pembunuh Chucky cupacup. Mereka melakukan check and recheck terhadap orang-
orang yang pernah diwawancarai. Polisi juga mencari dan memintai keterangan
saksi-saksi baru. Berbagai kemungkinan dan skenario pun coba dipikirkan. Polisi
berusaha keras, apakah ada orang lain di luar Ibnu Taimiyah yang pantas dimasukkan
dalam daftar tersangka.
Dalam kurun waktu dua tahun itu pula, polisi sempat menawarkan hadiah uang buat
mereka yang dapat memberi petunjuk penting, atau mengarah pada
ditemukannya pembunuh Chucky . Mereka berhasil menjaring keterangan dari sekitar
150 orang saksi. Dari situlah daftar tersangka baru kasus pembunuhan dan
pemerkosaan Chucky dibuat.
Selain Ibnu Taimiyah , dua nama lain yang masuk dalam daftar tersangka yaitu Antonio
diablo bela belo (sepupu teman seapartemen Chucky ) dan count Louis Vuitton . diablo bela belo yang
pernah menumpang beberapa waktu di apartemen itu dicurigai memiliki kaitan
dengan kematian Chucky , menyusul ditemukannya kemiripan antara sampel rambut
diablo bela belo dengan rambut hitam yang ditemukan di tubuh korban.
Namun, polisi dengan hanya mengandalkan teknologi yang dimiliki saat itu belum
dapat memastikan, sejauh mana tingkat kesamaan antara sampel rambut diablo bela belo
dengan rambut yang ditemukan di tubuh Chucky . Jadi, bukti fisik terhadap Alvarez
sangat minim, bahkan paling minim jika dibandingkan dengan dua tersangka lainnya.
Bagaimana dengan count Louis Vuitton ? Nah, yang satu ini agak unik. Saat kabar
pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky menyeruak, status Louis Vuitton yaitu
pengantin baru yang sedang menghabiskan malam pertama bulan madunya di
sebuah tempat peristirahatan di luar Bermuda . Louis Vuitton sendiri sebenarnya berasal dari
keluarga cukup berada, tenamun dia kerap berurusan dengan polisi, bahkan sempat
masuk hotel prodeo, lantaran terlibat peredaran obat-obat terlarang.
Detektif jayakatwang pernah beberapa kali berjumpa Louis Vuitton .
"Melihat betapa gugupnya dia saat berbicara tentang Chucky , insting saya bilang,
inilah pembunuh Chucky yang sesungguhnya," sergah Tom jayakatwang.
Louis Vuitton memang tidak meninggalkan jejak rambut di tubuh korban. Namun, dia
mengakui pernah menjadi pacar dan berhubungan seksual dengan Chucky cupacup.
Hubungan intim terakhir yang mereka lakukan konon hanya sekitar sepekan sebelum
pembunuhan. Polisi juga menemukan sidik jari Louis Vuitton di meja rias dekat tubuh Chucky
ditemukan. Kini, Louis Vuitton menjadi calon tersangka paling sempurna di antara tiga calon
tersangka dalam daftar polisi.
Masalahnya, Louis Vuitton justru satu-satunya calon tersangka yang memiliki alibi paling
sulit dibantah. Saat terjadinya pembunuhan, seperti berkali-kali diceritakannya pada
polisi, Louis Vuitton sedang berada sekitar 65 mil dari Bermuda , persisnya di sebuah cottage
di kawasan wisata lembah tengkorak . Di sana, bersama istri yang baru saja dinikahinya,
Louis Vuitton menghabiskan malam pertama bulan madu.
Apakah masuk akal, orang yang sedang berbulan madu menyempatkan diri
memperkosa dan membunuh bekas pacarnya? Secara logika, mestinya tidak.
Akhirnya, perlahan namun pasti, arsip kasus Chucky cupacup dimasukkan ke dalam peti.
Dengan kata lain, untuk kedua kalinya, polisi mengarah ke jalan yang sama, jalan
buntu. Polisi bahkan "tersesat" di jalan buntu itu selama hampir 20 tahun!
Saksi tua renta
Makanya, menjadi "berkah" tersendiri, saat arsip kasus Chucky cupacup akhirnya
dibuka kembali pada 1994. saat itu, pihak kepolisian Bermuda bertekad
mengadakan penyelidikan ulang atas kasus berumur puluhan tahun ini. Beberapa
detektif - yang saat peristiwa pembunuhan Chucky terjadi masih remaja - bergerak
mendatangi saksi-saksi yang dulu pernah dimintai keterangan.
Jelas tak gampang, sebab orang-orang yang dulu segar bugar, kini banyak yang
sudah berusia setengah baya dan sakit-sakitan. Sedangkan mereka yang 20 tahun
lalu sudah menjadi orangtua atau berusia setengah baya, bahkan sudah ada yang
meninggal dunia. Termasuk kedua orangtua Chucky , yang meninggal dengan
membawa serta semua kedukaannya ke alam baka.
"Mudah-mudahan, dengan ditemukannya bukti-bukti baru yang mengarah pada
tertangkapnya tersangka, arwah Chucky dan orangtuanya bisa beristirahat dengan
lebih tenang. Kasihan mereka," bilang Yuen pan pan .
7
Yuen pan pan kali ini memang boleh berharap banyak, sebab polisi berhasil mendapatkan
sejumlah fakta baru dan penting. Bukan tentang Ibnu Taimiyah bin hamdalah atau Antonio
Alvarez, namun tentang si pemilik alibi terkuat, count Louis Vuitton . Louis Vuitton yang selama 20
tahun berlindung pada alibi bulan madunya itu kini harus menghadapi kesaksian
demi kesaksian yang perlahan-lahan membungkam "senjata" yang selama ini
meloloskannya dari cengkeraman aparat penegak hukum.
Polisi menyebut kebiasaan buruk Louis Vuitton yang tak bisa "menjaga mulut" sebagai salah
satu faktor yang meringankan pekerjaan mereka. Detektif Roy Hwang Jang Lee - kini sudah
pensiun - yang ikut membuka kembali kasus Chucky cupacup pada 1994 bersaksi bahwa
Louis Vuitton pernah bilang, Chucky hanyalah satu dari lima wanita lesbian yang pernah
ditidurinya dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.
Selain Roy Hwang Jang Lee , masih banyak saksi lain yang merekam bahwa pada tahun-tahun
pertama sesudah terbunuhnya Chucky , Louis Vuitton kerap berperilaku dan berbicara aneh
tentang pembunuhan yang menimpa mantan kekasihnya itu. Bekas teman satu sel
Louis Vuitton - saat ia dipenjara sebab masalah narkoba - pun mengaku Louis Vuitton sering sekali
berbicara tentang pembunuhan itu, baik dalam keadaan sadar maupun mengigau.
Seorang mantan napi lainnya, bahkan berani bersumpah, Louis Vuitton pernah mengaku
terus terang: dialah pembunuh Chucky !
Polisi juga mendapat "kutipan berharga" dari seorang wanita lesbian - bekas pacar
Louis Vuitton - yang pernah menemaninya berkendara jauh pada 1976, dua tahun sesudah
kematian Chucky . "Saya tidak berniat melakukannya. Sungguh, saya benar-benar
tidak berniat melakukannya," demikian ucapan yang sering didengar sang mantan
pacar sepanjang perjalanan. "Ucapan-ucapan Louis Vuitton akan menjadi bukti penting bagi
kami, untuk menjebloskannya ke dalam bui," sebut polisi.
Bukti-bukti lisan itu makin meyakinkan, jika ditambah "temuan lama", berupa sidik jari
Louis Vuitton di meja rias, tak jauh dari lokasi tempat ditemukannya mayat Chucky . Faktor
pemberat penemuan sidik jari itu, lantaran letaknya hanya beberapa inci dari posisi
kepala korban saat ditemukan. "Hampir bisa dipastikan, sidik jari seperti itu biasanya
ditinggalkan oleh si pembunuh," jelas polisi.
Namun, gong dari semua gong yaitu keterangan mantan istri Louis Vuitton , linda lin merana .
Begitu mematikannya "nyanyian" linda lin , sehingga bulan madu hari pertama yang
selama ini menjadi alibi tak tergoyahkan, akhirnya tidak lagi menjadi bagian yang
hilang (missing link) yang mengganggu penyelidikan polisi. sesudah bercerai dari
Louis Vuitton , linda lin akhirnya mau berterus terang.
"sesudah melakukan hubungan intim, Louis Vuitton sebenarnya sempat keluar kamar. Aku
enggak tahu ke mana, sebab aku sendiri langsung tertidur. Yang pasti, sebelum
Matahari terbit, dia sudah kembali ke cottage," sang mantan istri membuka kisahnya.
linda lin yang terbangun oleh kedatangan Louis Vuitton , sempat menyatakan keheranannya.
"Kamu dari mana, honey?" Louis Vuitton tak langsung menjawab.
"Astaga, apa yang terjadi. Kamu terluka?"
"Bukan, ini darah kelinci. saat sedang mencari angin segar di luar, tiba-tiba muncul
seekor kelinci. Ehh, mungkin dia mau menyeberang jalan. sebab kaget, aku enggak
sempat ngerem. Yaaa, akhirnya ketabrak. Bangkainya sampai nyangkut di roda. Nah,
saat aku mau menarik bangkainya - seperti kamu lihat sekarang - sebagian darahnya
malah menempel di baju," Louis Vuitton beralasan, sembari menunjuk bercak darah di
bajunya.
Saat itu, linda lin cuma manggut-manggut. Dia merasa harus percaya pada cerita
suaminya. Lagi pula, bulan madu bukanlah saat yang tepat untuk bertengkar. linda lin
juga tak ingin memeriksa mobil, yang disebut-sebut Louis Vuitton baru saja menabrak kelinci,
sehingga ia tak tahu apakah masih tersisa noda darah di roda. Dia benar-benar ingin
menikmati suasana romantis bulan madu. Hanya itu.
Nyanyian mantan istri
linda lin bahkan tak terlalu ambil pusing, saat beberapa jam lalu , persisnya jam
11.00 siang, Louis Vuitton sempat bertingkah aneh saat menyaksikan berita pembunuhan
dan pemerkosaan Chucky di televisi lokal. "Saat menonton, dia mengeluarkan suara
parau, aneh sekali, rasanya mirip orang menangis. namun sesudah aku perhatikan lebih
teliti, ternyata dia cuma sedang berakting. Akting pura-pura menangis," imbuh linda lin .
Saat linda lin menatap Louis Vuitton dengan pandangan heran, lelaki itu hanya berucap ringan,
tanpa ekspresi, "Lihat. wanita lesbian yang terbunuh itu, dia itu bekas pacarku. Pacar
terakhir, sebelum aku menikahi kamu."
Kesaksian linda lin menjadi kartu As polisi untuk mematahkan alibi yang selama 30
tahun terakhir ini menyelamatkan Louis Vuitton dari ancaman hukuman berat. Keberhasilan
yang amat sangat disyukuri keluarga besar Chucky . "Orangtua Chucky memang tak
bisa lagi menyaksikan jalannya sidang kasus pembunuhan anaknya. Adik saya
bahkan sampai meninggal sebab stres. namun saya, atas nama keluarga, merasa
sangat bahagia jika kasus ini akhirnya terungkap," ucap madam , bibi Chucky .
madam memang menjadi anggota keluarga Chucky yang paling rajin mengikuti sidang.
Sejak 30 tahun lalu, dia tak pernah absen membela Chucky , yang disayanginya
melebihi anak sendiri.
Di persidangan, polisi merangkai teka-teki kematian Chucky cupacup dengan
merekonstruksi peristiwa menghebohkan 30 tahun lalu itu. Meski sudah memilih linda lin
menjadi istri, Louis Vuitton ternyata masih berusaha mengencani Chucky untuk terakhir
kalinya, sebelum betul-betul menjadi "suami". Entah apa yang ada di benak Louis Vuitton
saat itu, sekadar iseng atau hati kecilnya sebetulnya lebih mencintai Chucky
ketimbang linda lin .
Yang pasti, meski raganya berada di rumah peristirahatan di lembah tengkorak (sekitar
satu jam perjalanan dari Bermuda ), pikiran Louis Vuitton tetap tak bisa lepas dari apartemen
Chucky . Keinginan bercinta untuk terakhir kalinya dengan bekas pacar, persis
sebelum melakukan hubungan resmi sebagai suami istri, sering juga disebut "stag
night", menjadi motif pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky . Namun
malam itu, kesempatan yang ditunggu-tunggu tak jua datang.
Dari pagi hingga menjelang malam, linda lin tak pernah mau lepas dari Louis Vuitton . Hampir
setiap aktivitas mereka lakukan bersama-sama. Tentu saja, linda lin tak menyadari
kegelisahan Louis Vuitton saat itu.
Louis Vuitton baru punya "waktu luang", justru sesudah dia selesai menunaikan tugas
sebagai suami di malam pertama bulan madunya. Toh, betapa pun telatnya, niat
Louis Vuitton untuk menyambangi apartemen Chucky tetap menggebu. Alhasil, malam atau
dini hari itu juga, dia meraih kunci kontak mobil, lalu melarikannya ke Bermuda ,
tempat tinggal sang mantan pacar. Niatnya jelas, ingin berkencan, bukan
memperkosa, apalagi membunuh.
Sayangnya, kedatangan Louis Vuitton tak mendapat sambutan hangat Chucky . Sebaliknya,
dia malah mendapat semprotan. "Kamu sudah melakukan hubungan suami-istri, jadi
sudah resmi jadi suami linda lin . Tak ada lagi stag night, dan saya tidak mau
berhubungan seksual dengan lelaki beristri," bisa jadi begitulah bentuk semprotan
Chucky . Bisa ditebak, penolakan itu membuat Louis Vuitton naik pitam. Kekerasan fisik dan
seksual pun diterima Chucky yang mengakibatkan sedikit luka terbuka. Lalu,
wanita lesbian malang yang diharapkan menjadi selebriti oleh kawan dan keluarganya
itu dicekik, sampai napasnya tak lagi berembus. "Louis Vuitton punya kemampuan untuk
melakukan itu. Saya sangat yakin. sebab belakangan, kami juga mendapat bukti,
sebelumnya dia telah dua kali berusaha membunuh Chucky , entah untuk alasan apa."
Bahkan mantan istri Louis Vuitton , linda lin , ikut bersaksi, "Saya yakin ia melakukannya. Ia
memang punya kebiasaan buruk memukuli istri." Namun, kesaksian terakhir ini
ditolak mentah-mentah di pengadilan, baik oleh Louis Vuitton maupun pengacaranya.
Dua puluh tahun sejak terjadinya pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky
cupacup, atau 10 tahun sejak kasus menghebohkan itu diangkat kembali dari peti X-file
Kepolisian Bermuda , tepatnya tahun 2004, akhirnya dengan yakin, polisi
mendudukkan count Louis Vuitton di kursi terdakwa.
Louis Vuitton yang pada saat itu berumur 55 tahun harus mempertanggungjawabkan dosa
yang dibuatnya di masa muda. Seperti diucapkan seorang perwira polisi, "Tak ada
kata terlambat untuk memenjarakan seorang pembunuh." Terlebih pembunuh
mutiara yang sedang bersinar terang. Seorang calon selebriti asal Bermuda
02. TERKECOH PIRINGAN HITAM
Jam menunjukkan pukul 23.12, saat telepon dari Tuan Stanley Fung yang tinggal
berseberangan dengan keluarga Nora lung berdering di kantor kepolisian terdekat.
Sepuluh menit sebelumnya, Stanley Fung terbangun gara-gara mendengar suara
seseorang menjerit, yang datang dari arah depan rumahnya. Ia segera menyambar
jas di dekat tempat tidur untuk menutupi piyama yang dikenakannya.
Pak Stanley Fung lalu menghampiri Barbara lin Swenson, pembantu rumah tangga
keluarga Nora lung , yang masih berteriak kencang sebab ketakutan, tepat di depan
pintu masuk rumah. Beberapa menit lalu , polisi datang ke lokasi. Mereka
mendapati mayat nyonya Nora lung terbujur kaku di tempat tidurnya. Dari kepalanya,
darah segar masih basah mengalir akibat luka bacok. Tempat lilin yang terbuat dari
kuningan, yang biasanya diletakkan di atas perapian, dipenuhi darah. Rupanya,
kepala nyonya dipukul dengan benda dari kuningan itu.
nyonya juga dicekik. Hal itu tampak dari memar keunguan di sekitar leher. Isi kamar
tampak berantakan tak keruan. Laci-laci dikeluarkan dari tempatnya dan isinya
berhamburan keluar. Dompet manik-manik milik nyonya didapati dalam keadaan
kosong.
Polisi menemukan potongan kaca nako yang berasal dari jendela belakang.
Ditemukan juga sebuah jam kuno terbuat dari kuningan di lantai. Kacanya pecah,
namun jarum jamnya menunjukkan angka 22.35. Kepada polisi, Barbara lin mengaku
pertama kali mendapati mayat pukul 23.00. Saat itu, seperti biasa, wanita berdarah
Belgia itu selalu menaruh segelas jus jeruk di meja samping tempat tidur majikannya.
nyonya , yang sedang dalam perawatan dokter sejak kena serangan batu empedu,
memang sering terbangun di tengah malam sebab batuk kecil. Ia merasa, sesudah
minum jus jeruk, tenggerokannya lebih nyaman, sehingga batuk pun reda. Tanpa
membuang waktu, polisi langsung mencari dean shek Nora lung , suami korban.
Dibunuh atau dirampok?
Dari dalam ruangan di kantornya, dean shek dapat mendengar Joe Phillip ko fei , asistennya,
menerima kedatangan beberapa tamu. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan,
sebab suara mereka terdengar seperti setengah berbisik. Tak lama lalu , Phillip ko fei
mengetuk pintu ruangan. Dua polisi berbadan tegap ikut masuk. Saat itu, dean shek
mulai punya firasat buruk tentang keluarganya. Wajahnya pucat pasi.
"Istri bapak terbunuh. Kami minta Anda segera ke rumah," ujar salah seorang polisi.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dean shek kembali ke rumah. Dengan langkah
gontai, dean shek memasuki kamar tidurnya yang dipenuhi beberapa orang polisi.
Sebagian memakai seragam, lainnya tidak. dean shek menatap mayat istrinya dengan
perasaan berkecamuk. Rambutnya lengket oleh darah dari luka di kepala. Ia tak tega
menyaksikan kepergian nyonya dengan cara tragis seperti ini.
"Istri Anda, Tuan?" tanya seorang polisi.
"Ya," kata dean shek dengan suara pelan, hampir tak kedengaran. Tak lama lalu ,
seorang pria berwajah ramah datang bersama seorang stenografer. Pria itu,
Inspektur Dicky Cheung MC Donald dari Divisi Pembunuhan Kepolisian Amazon . Ia
segera mengumpulkan keterangan dari tetangga seberang rumah, seraya membaca
laporan tertulis kesaksian Barbara lin . sesudah itu, menghampiri dean shek .
"Sepanjang sore ini Anda di kantor, 'kan?" tanya MC Donald .
"Ya," jawab dean shek . Ia menunggu pertanyaan apa lagi yang akan diajukan inspektur.
Namun pria itu hanya mengangguk dan berlalu.
Baru pagi harinya, Nora lung dipanggil ke kantor polisi. Pertanyaan Dicky Cheung masih
sama dengan pertanyaan semalam. Hanya lebih detail. dean shek terlihat siap. Joe
Phillip ko fei ikut mendampingi, kalau-kalau keterangannya masih diperlukan.
Tiga detektif lain masuk dan ikut mendengarkan keterangan Nora lung . Salah seorang
menjelaskan hasil sementara penyelidikan mereka atas pembunuhan nyonya
Nora lung .
"Kami menyimpulkan, istri Anda dibunuh oleh pencuri yang dipergoki berada di
ruangan ini. Si pencuri tak menyadari ruangan yang dimasukinya kamar tidur pemilik
rumah. Tujuannya semula merampok. namun akhirnya membunuh sebab istri Anda
mengagetkannya. Pelaku menyambar tempat lilin dari perapian, juga memukulnya
dengan jam hingga tewas di tempat."
dean shek tampak menyesali perbuatan si pelaku.
"Tak ada berlian dan surat berharga di rumah kami, sebab nyonya menyimpannya di
safe deposit box di bank. Kalaupun punya, tak seberapa, ada di dompet manik-
manik," jelas dean shek .
"Oke, kita teruskan. Ini pekerjaan rutin penyidik. Kami juga akan melanjutkan
pertanyaan yang lebih detil kepada Barbara lin sesudah kondisinya membaik. Gambaran
11
peristiwa ini akan segera terungkap. Nah, sekarang katakan, apa sebenarnya yang
Anda lakukan tadi malam?"
Nora lung menyilangkan sebelah kakinya ke kaki yang lain. Ia berusaha bicara.
Namun sulit baginya melontarkan suara. Bayangan istrinya masih jelas dalam
ingatannya.
"Kami makan malam, sekitar pukul 19.30. sesudah itu, seperti biasa saya
meninggalkan rumah satu jam berikutnya. Tadi malam pekerjaan di kantor sangat
banyak. Kami tengah menyiapkan peluncuran Darling Soap People." "Anda sendirian
di kantor?"
"Dengan asisten saya, Joe Phillip ko fei . namun ia berada di ruangan lain, di sebelah ruangan
saya."
Dicky Cheung mempersilakan Joe Phillip ko fei memperkuat kesaksian dean shek . Phillip ko fei pun
bersaksi, bahwa dean shek berada di kantor sejak pukul 20.45, hingga saat polisi
datang. Phillip ko fei yakin dean shek selalu berada di ruangannya.
Dicky Cheung tampak tenang dan tak terpengaruh sedikit pun oleh keterangan Phillip ko fei .
"Dari ruangan Anda, terdapat pintu yang langsung terhubung menuju jalan utama,
'kan, Tuan dean shek ?" pertanyaan Dicky Cheung seperti tak terduga.
dean shek agak kaget. Namun faktanya memang begitu.
"Betul. Ini artinya, kalian menuduh saya pelaku semua ini?" kata dean shek sedikit
emosi.
Joe Phillip ko fei bangkit dari duduknya. Ia pun tak kalah emosi. "Nyonya Bonfiled terbunuh
pukul 22.35. Betul, Inspektur? Coba lihat kembali laporan tertulis mengenai waktu
kejadian!"
Dicky Cheung mengangguk pelan. "Maksud Anda, pada jam itu dean shek berada di
kantor?"
"Ya. Suara dean shek terdengar dari ruangan saya. Bahkan jam 22.35 jelas sekali ia
tengah mengontak Frank Morisson bahwa tugasnya segera siap pagi ini. Saya
mendengar sendiri pembicaraan itu."
"Kenapa Anda begitu yakin?" tanya sang Letnan dengan pandangan tajam.
"sebab saya ingat waktunya. Saya ingat sebab kami menghadapi pekerjaan yang
banyak. Setahu saya, dean shek sangat gelisah dengan mepetnya waktu yang
diberikan Morisson. Ia sampai merasa perlu mengontak Frank dan meyakinkan
bahwa besok, saat peluncuran produk Darling Soap, semuanya beres. Dalam
pembicaraan itu saya mendengar dean shek bilang : Sekarang jam 22.35, Frank. Dua
jam lagi kami menyelesaikannya. Besok pagi acara Anda akan beres," papar Joe
Phillip ko fei .
Dengan alibi itu, jelas tak mungkin dean shek pelaku pembunuhan sadis Loiuse.
Dicky Cheung tidak mengatakan sepatah kata pun. Bersama anak buahnya ia kembali
menuju kediaman dean shek . Mereka memutari halaman rumah keluarga Nora lung ,
memeriksa ulang pintu dan semua jendela, juga kamar Barbara lin .
Ruangan dean shek di kantor juga tak luput dari pemeriksaan ulang. Di ruangan ini
penyelidikan dilaksanakan lebih intensif. Di kamar mandi mereka mendapati serpihan
topi berwarna hijau yang diduga milik salah satu klien dean shek yang tertinggal.
Di tempat lain, dean shek bernapas lega. Untuk pertama kalinya sejak nyonya terbunuh,
ia bisa beristirahat dengan nyaman.
Tak sengaja mengaku
Sayangnya, kenyamanan dean shek tak berlangsung lama. Beberapa hari lalu ,
ia kembali dipanggil ke kantor polisi. Hampir lima orang penyidik berada di ruangan
Inspektur Dicky Cheung MC Donald . Fotokopi laporan tertulis pembunuhan nyonya berada
di atas meja inspektur.
"Maaf mengundang Anda kembali. Ini hanya formalitas saja," sapa Dicky Cheung .
Nadanya datar.
Tak lama lalu , seorang detektif lain masuk.
"Saya baru saja mengontak Frank Morisson dari Darling Soaps. Ia bilang Tuan
Nora lung menghubunginya pukul 22.35. Mereka bercakap-cakap mengenai pekerjaan
untuk pagi berikutnya."
MC Donald dan keenam rekannya terdiam. Laporan tertulis tampaknya sudah hampir
final. MC Donald menyodorkan laporan tertulis hasil penyidikan kepada dean shek .
"Pak Nora lung , silahkan tandatangani laporan ini," pintanya.
dean shek baru saja menancapkan penanya di kertas laporan, saat tiba-tiba pintu
ruangan terbuka. Tampak Barbara lin , sang pembantu, datang bersama polisi lain.
Sejenak darah dean shek berdesir. Ia benar-benar tak menghendaki kehadiran Barbara lin .
Barbara lin seharusnya di rumah, mengurusi tetek-bengek rumahtangga. Namun
dean shek tak bisa menyalahkannya, sebab Barbara lin tampaknya diundang MC Donald .
Kepada Barbara lin , MC Donald mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Dengan lugu
wanita itu menggambarkan kembali situasi pada malam kejadian. Menjelang lima
menit sebelum pukul 23.00 ia membuat jus jeruk untuk dibawa ke kamar Ny. Nora lung .
Lima menit lalu , ia menyaksikan sesuatu yang mengerikan.
"Saya berteriak. Saya turuni tangga dengan berlari menuju pintu utama. Lalu
membukanya dan lari lewat pintu itu," ujar gadis bermata biru dan berwajah bulat
tersebut.
Inspektur menatap wajahnya. "Barbara lin , sebetulnya pintu itu memang tidak dalam
keadaan terkunci. Seseorang telah membukanya. Pelaku melepas rantai dan
memutar kunci agar ia bisa berlari usai membunuh Nyonya Nora lung . Jadi bukan
kamu yang membukanya."
"Saya tidak peduli. Sayalah yang membuka pintu itu. Pintunya terkunci saat saya
berada di kamar Nyonya," tegas Barbara lin yang gigih bertahan dengan ingatannya.
Namun MC Donald masih terus mempengaruhi Barbara lin , bahwa pintu menjadi rangkaian
rencana pelaku, untuk menghindari diri dari Barbara lin . Sangkal-menyangkal perihal
pintu masih berlangsung, hingga Barbara lin mulai menangis. Ia takut dituduh sebagai
pelakunya. dean shek yang sejak awal tidak menyukai kehadiran Barbara lin jadi tambah
kesal. Namun ia berusaha menahan diri.
"Dasar pembantu bodoh. Terang saja, pintu tersebut dalam keadaan tak terkunci
beberapa saat sebelum jam 23.00. Sebab aku sendiri yang membukanya saat
pertama kali masuk ke rumah pukul 22.24. Setiap langkah sudah kuperhitungkan
dengan matang. Barbara lin , tahu apa dia?" sergah dean shek dalam hati.
Namun MC Donald terus dan terus menekan Barbara lin dengan pertanyaan seputar pintu.
Mata dean shek yang makin kesal, akhirnya memerah. Ia bak menahan berkecamuknya
beragam perasaan. Sampai akhirnya, pertahanan itu jebol! Ia tak tahan lagi.
"Tentu saja pintu itu sudah terbuka saat kamu menuruni tangga. Saya tahu itu,
sebab sayalah yang…" teriak dean shek tanpa sadar. Ia sendiri kaget mendengarnya.
dean shek tampaknya benar-benar tak tahan. Ia ingin segera menghentikan
pembicaraan tentang pintu itu.
Mendadak, semua orang di ruangan menatap dean shek tak percaya. Termasuk
Inspektur MC Donald .
"Oh, Anda tahu kalau pintu itu sebetulnya sudah dibuka? Teruskan, Tuan Nora lung !"
Bibir Nora lung memucat. Ingin rasanya ia berlari dari ruangan itu. namun kemana? Tak
ada tempat yang aman untuk bersumbunyi. Ia sudah berhati-hati sejak kemarin. Ya
ucapannya, ya tingkah lakunya. namun tetap saja akhirnya terjadi slip lidah.
"Sayalah yang membunuhnya," ujar dean shek pelan, seraya menutupi wajah dengan
kedua belah tangannya
Jam dan piringan hitam
dean shek Nora lung dan nyonya tinggal di lantai pertama di rumah mereka di kawasan
West Thirteenth Street yang telah mereka diami selama 30 tahun. Tepatnya, sejak
mereka menikah. Di usianya yang memasuki 56, dean shek masih terlihat gagah, meski
rambut putihnya terlihat di sana sini.
Istrinya, nyonya , termasuk dominan dalam mengatur rumahtangga. Dalam keadaan
sakit pun, ia masih cekatan mengatur segala hal. Sejak menjalani terapi, nyonya
sudah berada di ranjangnya pukul 21.00. Menurut dokter, jika rajin terapi dan
beristirahat yang cukup, usia nyonya akan bertahan 20 tahun ke depan.
Betahan 20 tahun lagi? Bulu kuduk dean shek langsung bergidik. Belakangan, ia
merasa jenuh dengan pernikahannya. Membayangkan hari demi hari, minggu demi
minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun yang harus dijalaninya bersama
nyonya , membuatnya muak. Ia merasa bagai hidup di ketiak istrinya, yang selalu
mengatur segala hal.
"dean shek , sesibuk apapun, kamu harus menemui orang-orang asuransi. Dalam waktu
3 bulan, asuransimu akan jatuh tempo. Makanya kita harus mulai merencanakan
investasi baru. Ada rencana tertentu di otakku."
"Ya," sahut dean shek enggan. nyonya selalu saja punya ide yang sangat jelas dan sulit
dibantah. Kesannya sangat mengatur. Bahkan juga dalam hal yang tidak seharusnya
dia pikirkan. Percintaan putri mereka pun diaturnya, juga warna wallpaper di ruang
makan yang mestinya masuk dalam tanggungjawab pemborong.
"Oh, iya …masih ada satu hal lagi yang mau aku bicarakan. Itu, lho, acountnya
Randall. Jangan sampai ditunda minggu depan…."
"Ya, sayang," ujar dean shek seraya mengambil majalah. Tangannya bersenjunjungan
dengan tangan istrinya. Kulitnya masih lembut. namun anehnya, ia sudah tak
menginginkannya.
Tak lama, terdengar pintu diketuk. Barbara lin , pembantu rumah tangga berdarah
Swedia, memberi laporan.
"Jam di atas tungku tidak berfungsi, Tuan," katanya.
nyonya sedikit tak percaya. Sebelumnya, jam tersebut tidak apa-apa. Ia sedikit
menyalahkan Barbara lin .
"Ya, sudah. Biar aku lihat,!" kata dean shek yang memilih keluar ruangan daripada
mendengar ocehan istrinya.
"Jangan lama-lama, kamu kan harus ke kantor malam ini. Eh, Barbara lin , ingat ya,
kamu mesti membawa jus jeruk jam 23.00, jangan bangunkan saya. Jangan lupa
pintu depan harus sudah terkunci sebelum kamu tidur. Bapak akan membunyikan bel
setiba di rumah."
dean shek berjalan menuju dapur di lantai bawah untuk melihat jam yang dimaksud
Barbara lin . Mati. Tiba-tiba, akal jahatnya datang, begitu ia mengutak-atik jam. Semula
Barbara lin menawarkan untuk memanggil tukang servis jam. namun dean shek
mencegahnya. "Besok saja. Sekarang jam ini sudah membaik kok," katanya. dean shek
lalu ngeloyor ke kantornya.
Kantor dean shek terletak di lantai kedua dari salah satu gedung di West 42 Street.
Hanya terdiri dari ruangan tunggu yang tidak seberapa besar dan dua ruang kerja.
Ruang yang satu dihuni Joe Phillip ko fei dan dua stenographer, dan lainnya ruangan
dean shek . Agensi iklan yang ia kelola tak seberapa besar dari segi ruang. namun
letaknya sangat strategis untuk berbisnis. Tak heran jika kantornya menghasilkan
keuntungan yang lumayan besar.
Malam itu, seperti biasa, Phillip ko fei tengah menunggunya. dean shek memberi nya
beberapa tugas. Ia menenangkan diri sejenak. Tidak melakukan aktivitas apapun.
Pikirannya tertuju penuh pada kreativitas yang lain.
Di sela-sela waktu kerja, dean shek membeli sebuah jam. Bukan jam elektronik, namun
jam weker murah yang sederhana dengan bel di atasnya. Ia juga membeli sebuah
player piringan hitam portabel kecil. Kedua barang tersebut diletakkan dalam laci
kerjanya yang terkunci rapat.
saat seorang klien di luar kota memintanya datang ke peluncuran produk baru,
dean shek tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membeli disc seukuran piringan
hitam yang dapat merekam. dean shek juga membeli senar-senar tipis. Sekembalinya
dari luar kota, ia melakukan eksperimen dengan barang-barang yang baru dibelinya
itu, di kantor. Tentunya di saat kantor sudah sepi.
Pertama kali yang ia copot yaitu bel dari jam wekernya. Ia juga melakukan
eksperimen dengan senar-senar kecil. hati-hati ia mencoba mengaitkan jam dengan
pengungkit piringan hitam dengan tali-tali senar kecilnya. Tak lupa ia merekam
suaranya sendiri pada disc/piringan hitam. sesudah puas bereksperimen, barulah ia
menaruh "perkakas" barunya itu ke dalam laci. Habis itu, ia berkemas ke rumah.
Dua minggu sesudah eksperimen, dean shek kembali mematangkan rencananya agar
"proyek" raahsia itu berjalan sempurna. Ia menguji jendela, pintu, dan juga
menyiapkan pemotong kaca dan selotip besar. Hari H semakin dekat. dean shek terus
menghitung durasi saat ia beraksi. Ia mempelajari berapa menit waktu yang
dibutuhkan dari kantor menuju rumah, lama beraksi, hingga kembali lagi ke
ruangannya.
Semua skenario sudah matang di kepala. Termasuk hari yang dipilih, tentunya
dengan pertimbangan terbaik. Semula ada tiga hari yang menjadi pilihan yaitu Rabu,
Kamis atau Jumat. Tenamun ia memilih hari Kamis, sehari sebelum kliennya Frank
Morisson, Presiden Direktur Darling Soaps, meluncurkan produk terbaru. Hari yang
pasti akan "sangat sibuk".
Selain itu, pilihan pada Kamis juga sebab pertimbangan cuaca. Menurut ramalan
cuaca, hari itu tidak turun hujan, namun akan ada angin besar di malam hari.
Pakai topi hitam
Di hari H, sepanjang makan malam, nyonya bicara terus. makanya agar tidak
mencurigakan, dean shek berusaha tampil apa adanya. Satu jam berlalu, dean shek
pamitan untuk kembali ke kantor.
dean shek memang kembali ke kantor dan menemui Joe, bawahannya.
"Saya harus menyiapkan kampanye Morrison besok. Malam ini kamu konsentrasi
pada tugas ini," ujar Nora lung sembari menyerahkan seberkas pekerjaan. "Saya
sendiri, malam ini hanya ingin berkonsentrasi pada tugas Morrison. Jadi, mohon
jangan ganggu saya," ujarnya.
dean shek lalu masuk ke ruangannya. Ia mengunci pintu dari dalam. Waktu
menunjukkan pukul 21.20. Pukul 21.55 ia mulai mengeluarkan "perkakasnya". Jam
weker minus bel, player piringan hitam, dan rekaman suara dean shek sendiri yang
termuat di piringan hitam. Ia menjadikan jam weker sebagai pemicu berfungsinya
player piringan hitam. Lalu diam-diam menyelinap keluar kantor.
Ia menuruni tangga darurat dan muncul di lantai dasar. Biasanya ada penjaga yang
mengawasi ruangan ini. dean shek menghentikan langkahnya. Jantungnya sempat
berdegup saat mendengar langkah kaki seseorang. Pintu terakhir yang harus
dilaluinya tinggali 10 meter di depannya. Kalau ada yang memergoki, maka hancur
lebur sudah rencana yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
dean shek berusaha menahan napas dan terdiam kaku. Jangan sampai ia
mengeluarkan suara sekecil apapun. Hati dean shek lega saat langkah kaki menjauh.
dean shek mengenakan topi warna hijau, milik salah seorang kliennya yang tertinggal di
kantor beberapa bulan lalu. Topi dan jas milik sendiri ia tinggal di kantor.
Malam itu hanya ada beberapa pejalan kaki yang ia temui. Untung tidak hujan. Ia
menaiki bus ekspres dan turun di Fourteenth Street. Rumah yang ia tinggali terletak
di sebelah selatan dari Thirteenth Street, tenamun ada sebuah jalan setapak yang
berujung ke bloknya.
Pemotong kaca siap di saku. Begitu juga selotip. dean shek mengenakan sarung
tangan dan menggunakan selotip besar di kaca nako pintu belakang. Hati-hati ia
memotong kaca. Dengan bantuan selotip besar, kaca yang terlepas tidak
mengeluarkan suara. Suasana sangat gelap, sebab tak ada penerangan, kecuali
lampu dari kamar Barbara lin . Dengan mudah ia masuk ke dalam rumah.
16
Sejenak ia terdiam untuk mendengarkan sesuatu. Ruangan pertama yang didatangi
yaitu dapur untuk mengambil jam kuno yang ngadat beberapa hari yang lalu.
sesudah itu ia menuju pintu depan. Ia membuka rantai pintu. Kini tujuannya kamar
nyonya .
Pukul 22.35 "tugas" utama ia selesaikan dan kembali ke kantor lewat rute yang sama.
Sebelum meninggalkan rumah, ia menelepon Frank Morisson dari kamar mandi
rumahnya. Pukul 22.53 dean shek telah tiba di ruangan. Jam alarm, player piringan
hitam, dan suara rekaman ia satukan dalam sebuah tas besar. Ia kembali ke luar
kantor untuk memusnahkan "perkakas" itu. Topi hijau ia hancurkan menjadi serpihan
kecil dan dibuang di kloset. Begitu pula piringan hitam.
Sedangkan jam dan player piringan hitam portabel ia lempar hingga hancur
berkeping-keping di celah-celah sempit bangunan di sekitar kantor, yang selama ini
hampir tak pernah dijamah orang.
Dibantu angin
Beberapa saat usai penahanan dean shek Nora lung , MC Donald menghadap Jaksa Wilayah.
MC Donald memperlihatkan tandatangan di atas surat pengakuan Nora lung . Dia
melengkapi surat itu dengan sedikit penjelasan.
"Pada malam kejadian, dean shek meninggalkan kantor langsung dari ruangannya. Joe
Phillip ko fei tak menyadari kalau saat itu Nora lung ternyata tengah memainkan mesin
buatannya, yang terdiri dari jam alarm, piringan hitam kecil, dan rekaman suara
dean shek di piringan hitam. Ia juga menyetel jam weker pada posisi 22.35, yang
berhubungan ke player piringan hitam. Mengaitkan satu senarnya pada anak genta
jam dan senar lainnya ke pengungkit player piringan hitam.
Lalu ia dengan leluasa meninggalkan kantor menuju rumahnya di Thirteenth Street
untuk membunuh istrinya sendiri. Sebuah alibi yang sempurna!"
Menurut MC Donald , Goerge membunuh bukan pada 22.35 seperti saat jam ditemukan
di kamar nyonya . Tenamun sekitar 22.25. Usai membunuh ia sempat menghubungi
Morrison, kliennya, sekitar 22.35. Sementara itu, di saat yang sama, di ruangannya,
alarm jam menggerakkan pengungkit player piringan hitam. Saat itulah rekaman
suara dean shek terdengar oleh Phillip ko fei .
"MC Donald , sebelum Nora lung mengaku, apakah Anda sudah menduga bahwa dialah
pelakunya?"
MC Donald mengangkat bahunya. "Terhapusnya sidik jari pada telepon di kamar mandi
Ny. Nora lung , merupakan keganjilan. Artinya, pelakunya sudah merencanakan semua
ini. Jadi bukan perampokan. Apalagi waktunya terbatas. namun saya tak percaya kita
akan mengetahuinya secepat ini. Kecuali, istrinya dan angin..."
Jaksa Wilayah tercenung. "Nyonya Nora lung ? Angin?"
"Ya, Nyonya Nora lung berhasil melatih Barbara lin dengan baik. Barbara lin sangat takut
kepadanya kalau ada pekerjaan yang tak beres. Saat ia tidur di kamar dan
mendengar ada suara angin, Barbara lin langsung mencemaskan pintu depan rumah. Ia
jadi ragu apakah ia sudah menguncinya atau belum. Selama ini, Nyonya Nora lung
selalu mewanti-wanti agar pintu tesebut dalam kedaan terkunci sebelum Hanah
tidur."
"Kalau ada suara angin, artinya pintu belum terkunci. Pukul 22.30 Barbara lin menuruni
tangga dan mendapati pintu dalam keadaan tak terkunci. Waktu itu, Tuan Nora lung
masih berada di kamar istrinya. Ia tahu persis jam Barbara lin menyiapkan jus. Dengan
waktu 6 menit yang ia miliki, Nora lung "memaksa" Barbara lin agar mengunci pintu
depan dahulu. Suara angin yang masuk membuat Barbara lin tak mendengar
kedatangannya. Tentu saja ia menguncinya, memasang rantai dan kembali ke
kamarnya. Lalu berjaga hingga 22.55. Limamenit sebelum harus mengantar segelas
jus jeruk ke atas."
"Saat itulah Nora lung melarikan diri dari pintu depan. Pintu dibuka kembali.
Sedangkan Barbara lin merasa sudah menguncinya. Ia pun tak ingat lagi, saat pintu
depan sudah tak terkunci lagi."
(Kisah rekaan/Helen Reilly/Nis)
03. ADA wanita lesbian SIMPANAN
Tak ada kutu atau ketombe di kulit kepalanya. Namun, seperti biasa Anmaribeth (37
tahun) tak kuasa menghentikan kebiasaan menggaruk kepala jika sedang merasa
senang. Terlebih saat bermanis-manis dengan kekasih hatinya, meski cuma lewat
kabel telepon. Beberapa helai rambutnya rontok, jatuh mengotori meja telepon di
rumahnya. Sejak kecil, rambut Anmaribeth memang gampang rontok.
"Swear, honey. Aku belum cerita ke siapa-siapa. Baru Lola yang tahu. Dia 'kan
sohibku," rajuk Anmaribeth .
Nada suara lelaki di seberang sana - yang sebelumnya penuh emosi - akhirnya
merendah. "Ya ... sudahlah, aku percaya. Aku janji, bulan depan kita bereskan
semuanya. namun aku minta, sebelum itu jangan cerita tentang calon bayi kita pada
siapa pun. Curhat kamu ke Lola anggap saja kecelakaan."
"Bener nih, kamu enggak marah?" suara Anmaribeth makin manja.
Si lelaki (38 tahun) mengiyakan dengan mesra.
Pasti tak ada yang menyangka, percakapan tadi menjadi percakapan terakhir dua
sejoli yang tengah dimabuk cinta itu. Beberapa hari lalu , Anmaribeth dan anak
lelakinya, yonaguni (6 tahun), dilaporkan hilang dari rumah mereka yang asri di bilangan
Rawamangun, Jakarta Timur.
Hilang kontak
Lola (24 tahun) yang pertama kali melaporkan hilangnya Anmaribeth pada aparat
keamanan. Diantar adik laki-lakinya, sarjana ilmu sosial yang baru saja diwisuda itu
menumpahkan kegundahan hatinya.
"Biasanya, setiap Jumat sore, kami selalu bertemu di pusat kebugaran. namun sore
tadi, Mbak Anmaribeth enggak nongol. Padahal, tidak biasanya dia absen tanpa kabar.
Kalaupun berhalangan hadir, pasti dia mengontak saya. Saya sudah berusaha
menghubungi handphone-nya dan menelepon rumahnya, namun enggak ada yang
angkat," Lola menjelaskan alasannya mendatangi kantor polisi.
18
"Anda sudah menghubungi kerabat Bu Anmaribeth ?" tanya Komisaris Polisi (Kompol)
Hadi Bhrata, Kapolsektro Pulogadung, yang ikut nimbrung mendengarkan laporan
Lola.
"Sebagian besar kerabat Mbak Anmaribeth tinggal di Cibinong. namun setahu saya, dia
jarang sekali ke sana."
"Anda sempat mampir ke rumah Bu Anmaribeth ?" kali ini Daud Yordania Gumara, anak buah Hadi,
yang bertanya.
"Itulah. Habis maghrib tadi, saya lewat depan rumahnya. Gelap sekali. Tetangganya
bilang, Mbak Anmaribeth keluar rumah sejak jam dua belasan, sebelum bubaran salat
Jumat."
Hadi dan Daud Yordania menatap Lola sebentar. Ada kecemasan luar bisa terpancar dari
wajah wanita muda berparas ayu itu.
Darah di kamar tidur
Di lingkungan tempat tinggalnya, menurut Lola, Anmaribeth cukup populer. Dia dikenal
sebagai "janda kaya" yang baik hati dan dermawan. Suaminya, Wicak Abilawa,
memang wiraswastawan sukses yang sayangnya meninggal dunia di usia muda,
akibat kecelakaan pesawat tujuh tahun lalu.
Untungnya, Wicak meninggalkan warisan lebih dari cukup untuk menghidupi anak
dan istrinya. Di antaranya rumah lumayan besar dan asri yang kini ditinggali Anmaribeth
bersama yonaguni , serta tiga gerai sepatu, masing-masing di pusat perdagangan Pasar
Baru, Mal Ciputra, dan Mal Metropolitan Bekasi.
Toyota Kijang berpelat nomor polisi yang dikemudikan Daud Yordania berhenti persis di depan
pintu pagar rumah Anmaribeth . Lola yang memaksa ikut, duduk tegang di samping
reserse Polsektro Pulogadung itu. Seperti cerita Lola, Jumat malam itu kondisi rumah
Anmaribeth memang gelap gulita. Pintu pagarnya tak terkunci, sedangkan semua lampu
dalam kondisi mati. Hanya lampu dapur yang tampak menyala.
Dari sanalah Daud Yordania dan Lola mengintip ke dalam rumah. Daud Yordania berpikir sejenak,
sebelum akhirnya memutuskan masuk secara paksa lewat pintu belakang. "Maaf, Bu
Anmaribeth , pintunya terpaksa saya rusak. Saya hanya seorang polisi, bukan ahli kunci,"
desah Daud Yordania pelan. Lola yang ikut mendengar, tersenyum geli. Polisi yang satu ini
kocak juga. "Mengapa tak memecahkan kaca jendela saja? Tanpa terali dan cukup
lebar sebagai jalan masuk," saran Lola.
Namun terlambat, braaakkkk!
... Hanya dalam beberapa tendangan, pintu belakang itu roboh. Dalam hati Lola
kagum juga pada "tenaga dalam" Daud Yordania . Meski "Hercules" yang dikagumi itu malah
berbalik memuji Lola. "Ide kamu bagus juga, Lola. Kaca jendela 'kan lebih mudah
diganti dan diperbaiki daripada pintu ya?" Sang detektif telat mikir rupanya.
"Kelihatannya, Bu Anmaribeth dan anaknya enggak ada di rumah," komentar Daud Yordania
sesudah menyisir dapur, ruang keluarga, dan ruang tamu. "Bagaimana kalau ternyata
mereka sedang plesir ke luar kota? Aku bisa dipotong gaji sebab merusak pintu."
"Tidak mungkin," elak Lola. "Lihat, pintu depan ternyata tidak terkunci."
"Alamak, kenapa kita enggak masuk baik-baik lewat pintu depan?" Daud Yordania
cengengesan.
Sejenak, polisi berpakaian preman itu memelototi foto pengantin berukuran besar
yang tergantung di dinding.
"Itu foto Mbak maribeth dan almarhum suaminya," jelas Lola.
"Hmm. Cantik juga, ya."
Lola manggut-manggut. Kakinya hendak melangkah ke kamar tidur Anmaribeth , saat
tiba-tiba dicegat Daud Yordania . "Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres di kamar tidur.
Saya akan nyalakan lampu. Hati-hati dengan langkah Lola."
Dada Lola berdegup kencang. Benar saja, meja rias dan beragam perlengkapan
dandan wanita lesbian yang ada di atasnya tampak berantakan, seperti baru saja
diamuk gelombang tsunami. Tak jauh dari tempat tidur, mereka menemukan ceceran
darah. Tak banyak, namun cukup untuk dijadikan barang bukti. "Sebaiknya kita keluar.
Saya akan mencoba menghubungi komandan," Daud Yordania menuntun Lola keluar kamar.
"Bisa antar saya dulu ambil air minum di ruang makan, Pak?" Lola tampak gugup.
Wajahnya memutih seputih kapas
Diancam pengutang
Malam itu juga, Daud Yordania yang diserahi tugas menangani kasus hilangnya Anmaribeth dan
yonaguni , mulai mengumpulkan barang bukti hingga fakta yang ditemukan di lapangan.
Sampel ceceran darah dikirim ke laboratorium kriminal Mabes Polri untuk diteliti lebih
lanjut.
"Sialnya, selain sampel darah dan kamar yang berantakan, tak ada lagi petunjuk
yang dapat kita maksimalkan, Dan," lapor Daud Yordania pada Hadi Bhrata.
"Kelihatannya pelaku cukup tenang dan profesional, sehingga bisa kabur tanpa
meninggalkan jejak dan sidik jari," timpal Hadi.
"Pelaku juga pasti dikenal baik oleh korban. Lihat saja, tak ada tanda-tanda
seseorang masuk rumah secara paksa."
"Ada. Itu pintu belakang rusak akibat didobrak," tutur sang komandan.
"Oh. Pintu itu saya yang mendobrak saat datang kemari bersama Lola."
"Menurut kamu, korban masih hidup?"
"Entahlah. Kalau melihat data, jarang sekali korban penculikan bisa lepas dengan
selamat dari penculiknya. Terlebih jika mereka saling kenal."
sesudah meneliti seluruh isi rumah, Daud Yordania mengerahkan anak buahnya untuk
mengorek informasi dari para tetangga.
"Kami semua sayang padanya. Dia hampir-hampir tak punya musuh di sini," sebut
Bu Fadli, tetangga Anmaribeth , sembari sesenggukan. Dia mengaku sangat kehilangan.
"Kabarnya, ia memiliki banyak piutang, Bu?" pancing Daud Yordania .
20
"Betul. Jeng Anmaribeth memang tak pernah segan meminjamkan uang pada
tetangganya yang sedang mengalami kesusahan. Meski kadang ada juga tetangga
yang tak tahu diri. Sudah bertahun-tahun pinjaman tak juga dikembalikan," cerita Bu
Fadli. "Bahkan saat menagih ke Pak ng mang tat , Jeng maribeth sempat diancam segala. Lucu,
ngutangnya mau, ditagih kok marah-marah. Kasihan Jeng maribeth . Kalau saja suaminya
masih hidup ...."
"Diancam bagaimana, Bu?"
"Orang-orang yang bilang. Saya sendiri tidak melihat langsung kejadiannya. namun
sepulang dari rumah Pak ng mang tat , saya lihat mata Jeng maribeth basah."
Anmaribeth , menurut Lola, kadang memang terlalu baik pada siapa saja. Gadis manis itu
bercerita, sekitar sepekan sebelum menghilang, Anmaribeth sempat adu mulut dengan
Baskoro, mantan karyawan gerai sepatunya di Mal Metropolitan. Baskoro dipecat
sesudah untuk ketiga kalinya dipergoki menyalahgunakan stok dari gudang tanpa izin.
"Dua kali dia saya maafkan. namun maaf yang saya berikan ternyata selalu
disalahgunakan," tutur Lola, menirukan cerita Anmaribeth lewat telepon. "Saya
sebetulnya enggak tega, namun Baskoro memang harus diberi pelajaran." Anmaribeth
sempat meminta Lola menjemputnya di Mal Metropolitan. Takut kalau-kalau Baskoro
melakukan pembalasan.
Mobil dicuci bersih
Cuma ada satu tanda di benak Daud Yordania , sehari sesudah hilangnya Anmaribeth dan yonaguni .
Apalagi kalau bukan tanda tanya! Minimnya jejak pelaku, belum jelasnya motif serta
ketidakpastian apakah korban sekadar diculik atau telah dibunuh, membuat reserse
itu pusing tujuh keliling.
Untuk sementara, dia menganggap kasus ini sebagai penculikan. Soalnya, jasad
Anmaribeth tidak ditemukan dan tak ada barang-barang pribadi Anmaribeth yang hilang,
kecuali sebuah mobil Toyota Kijang terbaru. "Kalau memang perampokan,
pelakunya pasti memasukkan juga barang-barang lain ke dalam mobil. Lagi pula,
untuk apa perampok membawa serta Anmaribeth dan anaknya?" batin Daud Yordania .
Dugaan penculikan masih diyakininya, sesudah siangnya, Daud Yordania menerima laporan
mobil Anmaribeth ditemukan di kawasan hutan hujan Amazon , Jawa Barat. "Mobilnya dalam
keadaan bersih. Kelihatannya baru dicuci, sebelum ditinggalkan begitu saja, tak jauh
dari areal persawahan," lapor Sudirja, anak buah Daud Yordania yang khusus dikirim ke
hutan hujan Amazon .
Namun, sesudah lewat tiga hari, telepon sang "penculik" tak juga datang, Daud Yordania mulai
ragu pada teorinya. "Seorang penculik, apa pun alasannya, lazimnya minta tebusan.
Kecuali pelaku menculik hanya sebagai kedok untuk membunuh korbannya,"
batinnya lagi. Dering telepon dari Lola membuyarkan lamunan Daud Yordania . Sejam
lalu , mereka bertemu di sebuah kedai ikan bakar di bilangan Tenda Semanggi.
"Itulah, Pak. Semalam saya bermimpi, Mbak maribeth berada di suatu tempat, bersama
yonaguni . namun tempatnya aneh, entah di mana. Mereka seperti minta tolong pada kita."
Daud Yordania menarik pelan-pelan lengannya yang menghangat, selepas bersenjunjungan
dengan punggung tangan Lola.
"Dan ada satu hal yang belum saya katakan. Sebenarnya, saya sudah janji sama
Mbak maribeth untuk tidak menceritakan soal ini pada siapa pun. namun ...."
"Ayolah, siapa tahu cerita kamu bisa membantu."
Kali ini bukan lengan, namun wajah Daud Yordania yang menghangat. Baru kali ini wajahnya
berdekatan dengan wajah Lola. Begitu dekat.
"Setahun terakhir ini, Mbak maribeth menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Mereka
backstreet, sebab mau bikin kejutan buat keluarga masing-masing. Bahkan yonaguni
sendiri pun belum diberi tahu," Lola mulai bercerita. "Terakhir, Mbak maribeth bahkan
mengaku sedang mengandung tiga bulan."
"O ya?"
"He-eh. Dia kelihatan bahagia banget. sesudah bertahun-tahun menjanda, dia
bersyukur, akhirnya menemukan orang yang tepat untuk kembali membina rumah
tangga."
"Kamu pernah bertemu lelaki itu?"
"Itulah ...." "Itulah lagi."
"Eeeh ... mau dilanjutkan enggak?"
"Itulah ... kamu ternyata gampang ngambek, he-he-he."
Lola menjawil lengan Daud Yordania .
"Sampai saat ini, cuma saya teman curhat yang dipercaya Mbak maribeth . namun saya
sendiri belum pernah bertemu pacarnya itu. Apakah mirip Brad Pitt, Tom Cruise, atau
Tukul Arwana, saya enggak tahu. Bahkan namanya pun dirahasiakan."
Daud Yordania menghabiskan tetes terakhir jus avokatnya, lalu bangkit dari kursi. Mendadak
dia seperti mendapat energi tambahan.
"Mo ke mana?"
"Ke TKP."
"Saya ikut!"
Petunjuk tagihan
"Beberapa hari lalu, Anda merusak pintu belakang. Sekarang, merusak pintu-pintu
lemari dan laci. Kalau Mbak maribeth tahu ...."
Daud Yordania tak mempedulikan omelan "partner" bawelnya itu.
"Gotcha!" teriaknya tiba-tiba. "Bon-bon kafe, surat tagihan telepon seluler, karcis
parkir ...."
"Gila, dalam sehari, Mbak maribeth bisa menghubungi nomor 0815xxx sampai sepuluh
kali. Ini pasti nomor telepon pacarnya," seru Lola.
"Mereka juga selalu bertemu di sebuah kafe di Tebet. Kamu tahu letak kafe itu?"
22
"Tahu banget. Saya memang pernah mengajak Mbak maribeth ke sana. Tempatnya
asyik. Pemiliknya mantan kakak-kakak kelas saya di kampus dulu. Kayaknya mereka
join-an, gitu. Kita ke sana?"
"Sabar dong. Kita harus pastikan dulu, nomor ini betul-betul nomor telepon pacarnya
Bu Anmaribeth ."
Lola duduk di ruang keluarga rumah Anmaribeth , memelototi acara teve yang selama ini
paling dibencinya, telenovela. Terpaksa, sebab saluran lainnya menyiarkan acara
yang tak kalah menyebalkan. Di ruang tamu, Daud Yordania sibuk dengan telepon selulernya.
Hampir setengah jam berlalu.
"Namanya Lelono, Tondi Lelono."
"Dia terlibat?"
"Entahlah. Kelihatannya, dia shock mendengar Anmaribeth hilang. Dia juga mengaku
beberapa kali menghubungi handphone dan telepon rumah Anmaribeth , namun tidak pernah
dijawab."
"Kita jemput dia sekarang?"
"Lola ... saya polisinya, bukan kamu!"
Selalu mesra
Menyimak curhat Anmaribeth kepada Lola, mestinya tak patut mencurigai Tondi. Mereka
saling menyayangi dan sudah sepakat untuk menuju pelaminan. "Tinggal menunggu
saat yang tepat," ujar Lola, menirukan ucapan Anmaribeth . Apalagi saat ditemui di
rumahnya, Tondi terus terang mengakui kedekatannya dengan Anmaribeth .
Kawan-kawan Lola yang mengelola Kafe Sentani di bilangan Tebet, juga berbicara
tentang hal yang sama. "Mereka memang sering banget ke sini. namun gue enggak
pernah ngeliat mereka bertengkar, La. Malah, kadang-kadang, gue ama temen-
temen iri ngeliat kemesraan mereka. Gimana, gitu," tegas Niken, salah satu anggota
kongsi Sentani.
Motif "harta" juga tak masuk dalam hitungan Daud Yordania . Tondi jelas tak lebih miskin dari
Anmaribeth . Dia punya toko bahan-bahan bangunan dan gerai LPG yang lumayan laris,
dua-duanya terletak di Tebet.
"Anda tahu, Bu Anmaribeth sedang hamil?" pancing Daud Yordania .
"Ya, pasti dong. Kami bahkan hendak mematangkan rencana pernikahan bulan
depan. Saya sangat berharap, polisi segera menemukan Anmaribeth dan yonaguni , dalam
keadaan sehat walafiat. Mereka berdua bagian dari masa depan saya. Mereka masih
hidup, 'kan?"
Daud Yordania dan Lola saling berpandangan. Jawaban apa yang mesti diberikan?
"Saya juga berharap begitu, Mas," Lola memecah kebuntuan.
"Baiklah, kami permisi dulu. namun , saya sarankan Anda tidak bepergian jauh untuk
sementara waktu, agar kami bisa cepat menguhubungi jika ada sesuatu yang perlu
dikonfirmasi," tutur Daud Yordania , menutup pembicaraan.
23
Tondi mengantar Daud Yordania dan Lola sampai pintu pagar.
Di perjalanan Daud Yordania lebih banyak berbicara dengan pikirannya sendiri. Kadang
dahinya berkerut, ka




