• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 1. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 1

  


01. STAG NIGHT MEMBAWA PETAKA 

 

 Chucky  cupacup memang belum menjadi selebriti. Namun, siapa pun yang pernah 

bertemu, apalagi mengenal gadis ini dengan baik, pasti setuju kalau dia memiliki 

pesona yang tidak dimiliki gadis muda berusia 21 tahun lainnya. Selain punya wajah 

cantik dan tubuh menarik, Chucky  - yang bekerja paruh waktu di sebuah toko roti di 

Bermuda , hutan hujan , Amazon  tengah  - juga dikenal sebagai gadis yang cerdas dan 

mandiri.  

 

madam  NYI girah  - bibinya - masih ingat betapa keponakannya itu sangat perhatian 

kepada orang lain. "Jiwa sosialnya tinggi, terutama kepada keluarga dan kawan-

kawan dekatnya," ungkap madam . Tak aneh kalau madam  lalu  berkesimpulan, 

"Untuk gadis seumur dia, Chucky  benar-benar sosok yang luar biasa dan sempurna."  

 

madam  lantas bercerita, betapa keponakannya itu lebih memilih tinggal di sebuah 

apartemen, bersama seorang temannya, teman wanita tentu. Keputusan pindah itu 

tak diherani madam . "Sejak usia belasan tahun, Chucky  sudah terbiasa melakukan 

banyak hal sendirian," tegas sang bibi lagi. Kalaupun butuh kawan, yang paling 

sering menemani dia hanyalah sepeda motor kesayangannya. Sepeda motor itu 

dibeli dari hasil tabungannya sendiri.  

 

Di kalangan teman-temannya, Chucky  pun sangat populer dan supel. Tak heran, dia 

gampang sekali menarik perhatian lawan jenis. Namun teman-temannya tak ingat, 

sudah berapa banyak cowok yang pernah menjadi teman kencan Chucky . "Kami tak 

pernah mau ikut campur terlalu jauh pada urusan pribadinya. Chucky  terlalu baik 

untuk dibuat marah atau tersinggung," sahut seorang teman kerjanya.  

 

Pendek kata, Chucky  cupacup bak mutiara yang sinarnya sangat terang dan diperkirakan 

bakal makin benderang di masa yang akan datang. "Bukan tidak mungkin, dengan 

karakter dan semua bakat yang dimilikinya, kelak dia akan menjadi seorang bintang. 

Seorang selebriti," madam  kembali angkat bicara.  

 

Namun, manusia memang hanya bisa memohon, sebab  pada akhirnya, junjungan  jua 

yang menentukan. Doa dan harapan mereka terhadap Chucky  tak pernah 

kesampaian. Bukan junjungan  tak mau mendengarkan, namun  Dia tampaknya punya 

rencana lain untuk sang "calon bintang". Rencana yang tak pernah diketahui 

manusia.  

 

Menuju jalan buntu 

Sabtu pagi itu, awal tahun 1970-an, di tengah cuaca gerimis, Chucky  cupacup ditemukan 

kawan seapartemennya dalam keadaan tergeletak tak berdaya di tempat tidur, di 

apartemen mereka di Bermuda . Luka terbuka, meski tidak menganga, juga 

ditemukan di tubuhnya. Komentar-komentar terkejut terdengar dari kawan, tetangga, 

terlebih keluarga.  

 

Bersamaan dengan itu, suasana sedih dan duka menyergap sesaat . Terutama, 

sesudah  muncul kepastian dari kepolisian dan rumah sakit bahwa nyawa Chucky  tak 

bisa diselamatkan. Sang "calon bintang" telah meninggalkan alam fana untuk 

selamanya. Kepergian yang terlalu pagi sebenarnya.  

 

sesudah  itu, duka berubah menjadi luka, sebab  cara Chucky  tewas sungguh sangat 

mengenaskan. Hasil autopsi menyimpulkan, gadis manis itu mengalami kekerasan 

seksual. "Tampaknya, ia diperkosa, lalu  dicekik. Atau sebaliknya, dicekik dulu 

baru diperkosa. Kita belum bisa memastikan," tukas seorang anggota tim forensik. 

Chucky  diperkirakan meninggal antara pukul 05.30 - 06.00.  

 

"Saya sangat kaget, benar-benar kaget. Seperti ada orang yang baru saja 

menembakkan peluru karet ke perut ini," madam  bercerita sembari memegang perut. 

"Saya tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi orangtua Chucky  saat itu. Mereka 

pasti sangat menderita," tambah madam . 

 

Detektif Ron wilyatikta  dan detektif Tom jayakatwang yang tiba di tempat kejadian perkara 

(TKP) tak lama sesudah  ditelepon, langsung menyisir lokasi. Police line pun dipasang 

bersamaan dengan kesibukan polisi mengamankan barang bukti. sesudah  

mengamati kondisi mayat dan TKP, Ron dan Tom mulai menanyai sejumlah saksi. 

Keluarga, teman-teman korban, tetangga, semua disambangi.  

 

Seperti madam , mereka semua tidak percayaan. "Mana mungkin ada orang yang 

tega berbuat begitu sadis pada gadis sebaik dan secantik Chucky ?" tegas mereka, 

dalam irama yang sama. Berdasarkan masukan-masukan itu, polisi lalu  

mengarahkan penyelidikannya pada Ibnu Taimiyah  bin hamdalah , seorang pemuda asal Iran 

yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar.  

 

Ron dan Tom mendengar selentingan kabar dari teman-teman Chucky , saat itu 

Ibnu Taimiyah  masih dalam status pacaran dengan korban. Meski belakangan, 

ketidakcocokan mulai muncul, sehingga hubungan mereka kabarnya agak 

merenggang.  

 

"Pada kasus pembunuhan seperti ini, yang pertama kali kita selidiki biasanya yaitu  

orang-orang yang mengenal dan dikenal korban. Apalagi motif terbunuhnya Chucky  

jelas sebab  sesuatu yang sifatnya pribadi. Ini bukan perampokan, sebab  tak ada 

barang-barang milik korban yang hilang. Saat ini, kami sedang menyelidiki 

kemungkinan keterlibatan teman dekat korban," detektif Ron wilyatikta  memberi  

keterangan kepada wartawan. 

 

Ron sengaja merahasiakan nama Ibnu Taimiyah , untuk mendukung azas praduga tak 

bersalah. Detektif Tom jayakatwang yang mendampingi Ron, ikut menganggukkan kepala, 

seraya menambahkan, "Beberapa hari sebelum kejadian, orangtua korban sempat 

berbicara dengan anaknya. Mereka bilang, Chucky  tak ingin lagi bertemu, apalagi 

melanjutkan hubungan dengan pacarnya itu." 

 

"Sang pacar marah, lalu membunuh Chucky ?" tanya wartawan.  

 

"Itu salah satu kemungkinan skenario yang perlu didalami," jawab Ron dan Tom 

tanpa dikomando.  

 

"Orangtua Chucky  tahu apa pemicu  retaknya hubungan mereka?" cecar wartawan. 

 

"Tidak secara spesifik. namun  Chucky  sempat berkata, dia agak khawatir pada sikap 

temperamental Ibnu Taimiyah ," balas Ron. 

 

"Apakah polisi memiliki  calon tersangka lain, selain teman dekat korban?"  

 

"Kemungkinan itu juga sedang kami selidiki." Ya.  

 

Tak lama sesudah  itu, Ron dan Tom memang langsung mengumpulkan data dan 

fakta, menyusunnya menjadi semacam puzzle yang harus dipecahkan. Mereka 

berhasil menemukan sidik jari Ibnu Taimiyah  di dinding yang mengarah pada kamar tempat 

mayat Chucky  ditemukan. Polisi juga menemukan beberapa helai rambut di tubuh 

sang gadis, yang warna hitamnya mirip dengan rambut di sisir milik Ibnu Taimiyah . 

 

Kumpulan barang bukti itu makin menguatkan kecurigaan aparat kepolisian pada 

pemuda asal seberang lautan itu. Sayangnya, pihak berwajib tak pernah memiliki 

kesempatan menginterogasi Ibnu Taimiyah . Calon tersangka itu tampaknya menyadari 

kerepotan yang bakal dihadapinya, jika terus bertahan di Amazon  tengah . Hanya 

selang beberapa hari sejak tewasnya Chucky , Ibnu Taimiyah  menjual mobilnya, lalu terbang 

ke negara asalnya. Sebagian barang-barangnya bahkan ditinggalkan begitu saja di 

Bermuda .  

 

Polisi tentu kebakaran jenggot. Mereka tak mau kehilangan buruannya begitu saja. 

Tanpa membuang waktu, mereka segera menghubungi rekan sejawatnya di Iran, 

minta agar Ibnu Taimiyah  ditahan, sebab  dugaan terlibat dalam kasus pembunuhan dan 

pemerkosaan. Namun, tanpa barang bukti, yang bisa dilakukan polisi Iran hanyalah 

"menginterogasi" Ibnu Taimiyah  dalam hitungan jam.  

 

"Kami tak punya bukti untuk menahan dia. namun  kami akan memenuhi permintaan 

Anda, untuk mengirim sampel rambut Ibnu Taimiyah  ke Amazon ," Ron menirukan 

keterangan dan janji yang didengarnya dari koleganya di seberang lautan. 

 

Herannya, atau malah hebatnya, sesudah  diteliti, sampel rambut yang dikirim 

Kepolisian Iran itu ternyata sama sekali tidak cocok dengan contoh rambut yang 

ditemukan di tubuh korban. Bahkan sampel itu juga tak cocok dengan rambut yang 

ditemukan di sisir milik Ibnu Taimiyah , yang tertinggal di bekas kediamannya di Bermuda . 

Polisi betul-betul dibikin bingung, sekaligus frustrasi. 

 

"Kami tak bisa melakukan apa-apa, sebab  memang tak ikut menyaksikan, saat 

sampel diambil dari Ibnu Taimiyah ," jelas Ron.  

 

Alhasil, sebab  ketiadaan bukti, lima bulan sesudah  ditemukannya mayat Chucky , polisi 

akhirnya menghentikan (sementara) perburuan terhadap Ibnu Taimiyah  bin hamdalah . Ibnu Taimiyah  

sendiri sejak kejadian itu tak pernah lagi berkunjung ke Amazon  tengah . Saat itu, 

keluarga dan teman-teman Chucky  mulai merasa, upaya menemukan siapa 

pembunuh dan pemerkosa Chucky , tampaknya mengarah ke sebuah jalan, bernama 

jalan buntu!  

 

Alibi tak terbantah 

 Dua tahun sesudah  mentok di jalan buntu, polisi masih terus memburu pemerkosa 

dan pembunuh Chucky  cupacup. Mereka melakukan check and recheck terhadap orang-

orang yang pernah diwawancarai. Polisi juga mencari dan memintai keterangan 

saksi-saksi baru. Berbagai kemungkinan dan skenario pun coba dipikirkan. Polisi 

berusaha keras, apakah ada orang lain di luar Ibnu Taimiyah  yang pantas dimasukkan 

dalam daftar tersangka.  

 

Dalam kurun waktu dua tahun itu pula, polisi sempat menawarkan hadiah uang buat 

mereka yang dapat memberi  petunjuk penting, atau mengarah pada 

ditemukannya pembunuh Chucky . Mereka berhasil menjaring keterangan dari sekitar 

150 orang saksi. Dari situlah daftar tersangka baru kasus pembunuhan dan 

pemerkosaan Chucky  dibuat. 

 

Selain Ibnu Taimiyah , dua nama lain yang masuk dalam daftar tersangka yaitu  Antonio 

diablo bela belo  (sepupu teman seapartemen Chucky ) dan count  Louis Vuitton . diablo bela belo  yang 

pernah menumpang beberapa waktu di apartemen itu dicurigai memiliki  kaitan 

dengan kematian Chucky , menyusul ditemukannya kemiripan antara sampel rambut 

diablo bela belo  dengan rambut hitam yang ditemukan di tubuh korban. 

 

Namun, polisi dengan hanya mengandalkan teknologi yang dimiliki saat itu belum 

dapat memastikan, sejauh mana tingkat kesamaan antara sampel rambut diablo bela belo  

dengan rambut yang ditemukan di tubuh Chucky . Jadi, bukti fisik terhadap Alvarez 

sangat minim, bahkan paling minim jika dibandingkan dengan dua tersangka lainnya. 

 

Bagaimana dengan count  Louis Vuitton ? Nah, yang satu ini agak unik. Saat kabar 

pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky  menyeruak, status Louis Vuitton  yaitu  

pengantin baru yang sedang menghabiskan malam pertama bulan madunya di 

sebuah tempat peristirahatan di luar Bermuda . Louis Vuitton  sendiri sebenarnya berasal dari 

keluarga cukup berada, tenamun  dia kerap berurusan dengan polisi, bahkan sempat 

masuk hotel prodeo, lantaran terlibat peredaran obat-obat terlarang.  

 

Detektif jayakatwang pernah beberapa kali berjumpa Louis Vuitton . 

 

"Melihat betapa gugupnya dia saat  berbicara tentang Chucky , insting saya bilang, 

inilah pembunuh Chucky  yang sesungguhnya," sergah Tom jayakatwang.  

 

Louis Vuitton  memang tidak meninggalkan jejak rambut di tubuh korban. Namun, dia 

mengakui pernah menjadi pacar dan berhubungan seksual dengan Chucky  cupacup. 

Hubungan intim terakhir yang mereka lakukan konon hanya sekitar sepekan sebelum 

pembunuhan. Polisi juga menemukan sidik jari Louis Vuitton  di meja rias dekat tubuh Chucky  

ditemukan. Kini, Louis Vuitton  menjadi calon tersangka paling sempurna di antara tiga calon 

tersangka dalam daftar polisi. 

 

Masalahnya, Louis Vuitton  justru satu-satunya calon tersangka yang memiliki alibi paling 

sulit dibantah. Saat terjadinya pembunuhan, seperti berkali-kali diceritakannya pada 

polisi, Louis Vuitton  sedang berada sekitar 65 mil dari Bermuda , persisnya di sebuah cottage 

di kawasan wisata lembah  tengkorak . Di sana, bersama istri yang baru saja dinikahinya, 

Louis Vuitton  menghabiskan malam pertama bulan madu.  

 

Apakah masuk akal, orang yang sedang berbulan madu menyempatkan diri 

memperkosa dan membunuh bekas pacarnya? Secara logika, mestinya tidak. 

Akhirnya, perlahan namun  pasti, arsip kasus Chucky  cupacup dimasukkan ke dalam peti. 

Dengan kata lain, untuk kedua kalinya, polisi mengarah ke jalan yang sama, jalan 

buntu. Polisi bahkan "tersesat" di jalan buntu itu selama hampir 20 tahun!  

 

Saksi tua renta 

Makanya, menjadi "berkah" tersendiri, saat  arsip kasus Chucky  cupacup akhirnya 

dibuka kembali pada 1994. saat  itu, pihak kepolisian Bermuda  bertekad 

mengadakan penyelidikan ulang atas kasus berumur puluhan tahun ini. Beberapa 

detektif - yang saat peristiwa pembunuhan Chucky  terjadi masih remaja - bergerak 

mendatangi saksi-saksi yang dulu pernah dimintai keterangan.  

 

Jelas tak gampang, sebab  orang-orang yang dulu segar bugar, kini banyak yang 

sudah berusia setengah baya dan sakit-sakitan. Sedangkan mereka yang 20 tahun 

lalu sudah menjadi orangtua atau berusia setengah baya, bahkan sudah ada yang 

meninggal dunia. Termasuk kedua orangtua Chucky , yang meninggal dengan 

membawa serta semua kedukaannya ke alam baka.  

 

"Mudah-mudahan, dengan ditemukannya bukti-bukti baru yang mengarah pada 

tertangkapnya tersangka, arwah Chucky  dan orangtuanya bisa beristirahat dengan 

lebih tenang. Kasihan mereka," bilang Yuen pan pan . 

 7

 

Yuen pan pan  kali ini memang boleh berharap banyak, sebab  polisi berhasil mendapatkan 

sejumlah fakta baru dan penting. Bukan tentang Ibnu Taimiyah  bin hamdalah  atau Antonio 

Alvarez, namun  tentang si pemilik alibi terkuat, count  Louis Vuitton . Louis Vuitton  yang selama 20 

tahun berlindung pada alibi bulan madunya itu kini harus menghadapi kesaksian 

demi kesaksian yang perlahan-lahan membungkam "senjata" yang selama ini 

meloloskannya dari cengkeraman aparat penegak hukum.  

 

Polisi menyebut kebiasaan buruk Louis Vuitton  yang tak bisa "menjaga mulut" sebagai salah 

satu faktor yang meringankan pekerjaan mereka. Detektif Roy Hwang Jang Lee  - kini sudah 

pensiun - yang ikut membuka kembali kasus Chucky  cupacup pada 1994 bersaksi bahwa 

Louis Vuitton  pernah bilang, Chucky  hanyalah satu dari lima wanita lesbian  yang pernah 

ditidurinya dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.  

 

Selain Roy Hwang Jang Lee , masih banyak saksi lain yang merekam bahwa pada tahun-tahun 

pertama sesudah  terbunuhnya Chucky , Louis Vuitton  kerap berperilaku dan berbicara aneh 

tentang pembunuhan yang menimpa mantan kekasihnya itu. Bekas teman satu sel 

Louis Vuitton  - saat ia dipenjara sebab  masalah narkoba - pun mengaku Louis Vuitton  sering sekali 

berbicara tentang pembunuhan itu, baik dalam keadaan sadar maupun mengigau. 

Seorang mantan napi lainnya, bahkan berani bersumpah, Louis Vuitton  pernah mengaku 

terus terang: dialah pembunuh Chucky !  

 

Polisi juga mendapat "kutipan berharga" dari seorang wanita lesbian  - bekas pacar 

Louis Vuitton  - yang pernah menemaninya berkendara jauh pada 1976, dua tahun sesudah  

kematian Chucky . "Saya tidak berniat melakukannya. Sungguh, saya benar-benar 

tidak berniat melakukannya," demikian ucapan yang sering didengar sang mantan 

pacar sepanjang perjalanan. "Ucapan-ucapan Louis Vuitton  akan menjadi bukti penting bagi 

kami, untuk menjebloskannya ke dalam bui," sebut polisi.  

 

Bukti-bukti lisan itu makin meyakinkan, jika ditambah "temuan lama", berupa sidik jari 

Louis Vuitton  di meja rias, tak jauh dari lokasi tempat ditemukannya mayat Chucky . Faktor 

pemberat penemuan sidik jari itu, lantaran letaknya hanya beberapa inci dari posisi 

kepala korban saat ditemukan. "Hampir bisa dipastikan, sidik jari seperti itu biasanya 

ditinggalkan oleh si pembunuh," jelas polisi. 

 

Namun, gong dari semua gong yaitu  keterangan mantan istri Louis Vuitton , linda lin  merana . 

Begitu mematikannya "nyanyian" linda lin , sehingga bulan madu hari pertama yang 

selama ini menjadi alibi tak tergoyahkan, akhirnya tidak lagi menjadi bagian yang 

hilang (missing link) yang mengganggu penyelidikan polisi. sesudah  bercerai dari 

Louis Vuitton , linda lin  akhirnya mau berterus terang.  

 

"sesudah  melakukan hubungan intim, Louis Vuitton  sebenarnya sempat keluar kamar. Aku 

enggak tahu ke mana, sebab  aku sendiri langsung tertidur. Yang pasti, sebelum 

Matahari terbit, dia sudah kembali ke cottage," sang mantan istri membuka kisahnya. 

linda lin  yang terbangun oleh kedatangan Louis Vuitton , sempat menyatakan keheranannya.  

 

"Kamu dari mana, honey?" Louis Vuitton  tak langsung menjawab.  

 

"Astaga, apa yang terjadi. Kamu terluka?" 

 

"Bukan, ini darah kelinci. saat  sedang mencari angin segar di luar, tiba-tiba muncul 

seekor kelinci. Ehh, mungkin dia mau menyeberang jalan. sebab  kaget, aku enggak 

sempat ngerem. Yaaa, akhirnya ketabrak. Bangkainya sampai nyangkut di roda. Nah, 

saat aku mau menarik bangkainya - seperti kamu lihat sekarang - sebagian darahnya 

malah menempel di baju," Louis Vuitton  beralasan, sembari menunjuk bercak darah di 

bajunya.  

 

Saat itu, linda lin  cuma manggut-manggut. Dia merasa harus percaya pada cerita 

suaminya. Lagi pula, bulan madu bukanlah saat yang tepat untuk bertengkar. linda lin  

juga tak ingin memeriksa mobil, yang disebut-sebut Louis Vuitton  baru saja menabrak kelinci, 

sehingga ia tak tahu apakah masih tersisa noda darah di roda. Dia benar-benar ingin 

menikmati suasana romantis bulan madu. Hanya itu.  

 

Nyanyian mantan istri 

linda lin  bahkan tak terlalu ambil pusing, saat  beberapa jam lalu , persisnya jam 

11.00 siang, Louis Vuitton  sempat bertingkah aneh saat menyaksikan berita pembunuhan 

dan pemerkosaan Chucky  di televisi lokal. "Saat menonton, dia mengeluarkan suara 

parau, aneh sekali, rasanya mirip orang menangis. namun  sesudah  aku perhatikan lebih 

teliti, ternyata dia cuma sedang berakting. Akting pura-pura menangis," imbuh linda lin . 

 

Saat linda lin  menatap Louis Vuitton  dengan pandangan heran, lelaki itu hanya berucap ringan, 

tanpa ekspresi, "Lihat. wanita lesbian  yang terbunuh itu, dia itu bekas pacarku. Pacar 

terakhir, sebelum aku menikahi kamu."  

 

Kesaksian linda lin  menjadi kartu As polisi untuk mematahkan alibi yang selama 30 

tahun terakhir ini menyelamatkan Louis Vuitton  dari ancaman hukuman berat. Keberhasilan 

yang amat sangat disyukuri keluarga besar Chucky . "Orangtua Chucky  memang tak 

bisa lagi menyaksikan jalannya sidang kasus pembunuhan anaknya. Adik saya 

bahkan sampai meninggal sebab  stres. namun  saya, atas nama keluarga, merasa 

sangat bahagia jika kasus ini akhirnya terungkap," ucap madam , bibi Chucky . 

 

madam  memang menjadi anggota keluarga Chucky  yang paling rajin mengikuti sidang. 

Sejak 30 tahun lalu, dia tak pernah absen membela Chucky , yang disayanginya 

melebihi anak sendiri.  

 

Di persidangan, polisi merangkai teka-teki kematian Chucky  cupacup dengan 

merekonstruksi peristiwa menghebohkan 30 tahun lalu itu. Meski sudah memilih linda lin  

menjadi istri, Louis Vuitton  ternyata masih berusaha mengencani Chucky  untuk terakhir 

kalinya, sebelum betul-betul menjadi "suami". Entah apa yang ada di benak Louis Vuitton  

saat itu, sekadar iseng atau hati kecilnya sebetulnya lebih mencintai Chucky  

ketimbang linda lin .  

 

Yang pasti, meski raganya berada di rumah peristirahatan di lembah  tengkorak  (sekitar 

satu jam perjalanan dari Bermuda ), pikiran Louis Vuitton  tetap tak bisa lepas dari apartemen 

Chucky . Keinginan bercinta untuk terakhir kalinya dengan bekas pacar, persis 

sebelum melakukan hubungan resmi sebagai suami istri, sering juga disebut "stag 

night", menjadi motif pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky . Namun 

malam itu, kesempatan yang ditunggu-tunggu tak jua datang.  

 

Dari pagi hingga menjelang malam, linda lin  tak pernah mau lepas dari Louis Vuitton . Hampir 

setiap aktivitas mereka lakukan bersama-sama. Tentu saja, linda lin  tak menyadari 

kegelisahan Louis Vuitton  saat itu.  

 

Louis Vuitton  baru punya "waktu luang", justru sesudah  dia selesai menunaikan tugas 

sebagai suami di malam pertama bulan madunya. Toh, betapa pun telatnya, niat 

Louis Vuitton  untuk menyambangi apartemen Chucky  tetap menggebu. Alhasil, malam atau 

dini hari itu juga, dia meraih kunci kontak mobil, lalu melarikannya ke Bermuda , 

tempat tinggal sang mantan pacar. Niatnya jelas, ingin berkencan, bukan 

memperkosa, apalagi membunuh.  

 

Sayangnya, kedatangan Louis Vuitton  tak mendapat sambutan hangat Chucky . Sebaliknya, 

dia malah mendapat semprotan. "Kamu sudah melakukan hubungan suami-istri, jadi 

sudah resmi jadi suami linda lin . Tak ada lagi stag night, dan saya tidak mau 

berhubungan seksual dengan lelaki beristri," bisa jadi begitulah bentuk semprotan 

Chucky . Bisa ditebak, penolakan itu membuat Louis Vuitton  naik pitam. Kekerasan fisik dan 

seksual pun diterima Chucky  yang mengakibatkan sedikit luka terbuka. Lalu, 

wanita lesbian  malang yang diharapkan menjadi selebriti oleh kawan dan keluarganya 

itu dicekik, sampai napasnya tak lagi berembus. "Louis Vuitton  punya kemampuan untuk 

melakukan itu. Saya sangat yakin. sebab  belakangan, kami juga mendapat bukti, 

sebelumnya dia telah dua kali berusaha membunuh Chucky , entah untuk alasan apa." 

 

Bahkan mantan istri Louis Vuitton , linda lin , ikut bersaksi, "Saya yakin ia melakukannya. Ia 

memang punya kebiasaan buruk memukuli istri." Namun, kesaksian terakhir ini 

ditolak mentah-mentah di pengadilan, baik oleh Louis Vuitton  maupun pengacaranya.  

 

Dua puluh tahun sejak terjadinya pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Chucky  

cupacup, atau 10 tahun sejak kasus menghebohkan itu diangkat kembali dari peti X-file 

Kepolisian Bermuda , tepatnya tahun 2004, akhirnya dengan yakin, polisi 

mendudukkan count  Louis Vuitton  di kursi terdakwa.  

 

Louis Vuitton  yang pada saat itu berumur 55 tahun harus mempertanggungjawabkan dosa 

yang dibuatnya di masa muda. Seperti diucapkan seorang perwira polisi, "Tak ada 

kata terlambat untuk memenjarakan seorang pembunuh." Terlebih pembunuh 

mutiara yang sedang bersinar terang. Seorang calon selebriti asal Bermuda 

 

 

 

02. TERKECOH PIRINGAN HITAM 

 

Jam menunjukkan pukul 23.12, saat  telepon dari Tuan Stanley Fung  yang tinggal 

berseberangan dengan keluarga Nora lung  berdering di kantor kepolisian terdekat. 

Sepuluh menit sebelumnya, Stanley Fung  terbangun gara-gara mendengar suara 

seseorang menjerit, yang datang dari arah depan rumahnya. Ia segera menyambar 

jas di dekat tempat tidur untuk menutupi piyama yang dikenakannya.  

 

Pak Stanley Fung  lalu  menghampiri Barbara lin  Swenson, pembantu rumah tangga 

keluarga Nora lung , yang masih berteriak kencang sebab  ketakutan, tepat di depan 

pintu masuk rumah. Beberapa menit lalu , polisi datang ke lokasi. Mereka 

mendapati mayat nyonya  Nora lung  terbujur kaku di tempat tidurnya. Dari kepalanya, 

darah segar masih basah mengalir akibat luka bacok. Tempat lilin yang terbuat dari 

kuningan, yang biasanya diletakkan di atas perapian, dipenuhi darah. Rupanya, 

kepala nyonya  dipukul dengan benda dari kuningan itu.  

 

nyonya  juga dicekik. Hal itu tampak dari memar keunguan di sekitar leher. Isi kamar 

tampak berantakan tak keruan. Laci-laci dikeluarkan dari tempatnya dan isinya 

berhamburan keluar. Dompet manik-manik milik nyonya  didapati dalam keadaan 

kosong.  

 

Polisi menemukan potongan kaca nako yang berasal dari jendela belakang. 

Ditemukan juga sebuah jam kuno terbuat dari kuningan di lantai. Kacanya pecah, 

namun jarum jamnya menunjukkan angka 22.35. Kepada polisi, Barbara lin  mengaku 

pertama kali mendapati mayat pukul 23.00. Saat itu, seperti biasa, wanita berdarah 

Belgia itu selalu menaruh segelas jus jeruk di meja samping tempat tidur majikannya. 

nyonya , yang sedang dalam perawatan dokter sejak kena serangan batu empedu, 

memang sering terbangun di tengah malam sebab  batuk kecil. Ia merasa, sesudah  

minum jus jeruk, tenggerokannya lebih nyaman, sehingga batuk pun reda. Tanpa 

membuang waktu, polisi langsung mencari dean shek  Nora lung , suami korban.  

 

Dibunuh atau dirampok? 

 Dari dalam ruangan di kantornya, dean shek  dapat mendengar Joe Phillip ko fei , asistennya, 

menerima kedatangan beberapa tamu. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan, 

sebab  suara mereka terdengar seperti setengah berbisik. Tak lama lalu , Phillip ko fei  

mengetuk pintu ruangan. Dua polisi berbadan tegap ikut masuk. Saat itu, dean shek  

mulai punya firasat buruk tentang keluarganya. Wajahnya pucat pasi.  

 

"Istri bapak terbunuh. Kami minta Anda segera ke rumah," ujar salah seorang polisi. 

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dean shek  kembali ke rumah. Dengan langkah 

gontai, dean shek  memasuki kamar tidurnya yang dipenuhi beberapa orang polisi. 

Sebagian memakai seragam, lainnya tidak. dean shek  menatap mayat istrinya dengan 

perasaan berkecamuk. Rambutnya lengket oleh darah dari luka di kepala. Ia tak tega 

menyaksikan kepergian nyonya  dengan cara tragis seperti ini.  

 

"Istri Anda, Tuan?" tanya seorang polisi.  

 

"Ya," kata dean shek  dengan suara pelan, hampir tak kedengaran. Tak lama lalu , 

seorang pria berwajah ramah datang bersama seorang stenografer. Pria itu, 

Inspektur Dicky Cheung  MC Donald  dari Divisi Pembunuhan Kepolisian Amazon . Ia 

segera mengumpulkan keterangan dari tetangga seberang rumah, seraya membaca 

laporan tertulis kesaksian Barbara lin . sesudah  itu, menghampiri dean shek .  

 

"Sepanjang sore ini Anda di kantor, 'kan?" tanya MC Donald .  

 

"Ya," jawab dean shek . Ia menunggu pertanyaan apa lagi yang akan diajukan inspektur. 

Namun pria itu hanya mengangguk dan berlalu.  

 

Baru pagi harinya, Nora lung  dipanggil ke kantor polisi. Pertanyaan Dicky Cheung  masih 

sama dengan pertanyaan semalam. Hanya lebih detail. dean shek  terlihat siap. Joe 

Phillip ko fei  ikut mendampingi, kalau-kalau keterangannya masih diperlukan.  

 

Tiga detektif lain masuk dan ikut mendengarkan keterangan Nora lung . Salah seorang 

menjelaskan hasil sementara penyelidikan mereka atas pembunuhan nyonya  

Nora lung .  

 

"Kami menyimpulkan, istri Anda dibunuh oleh pencuri yang dipergoki berada di 

ruangan ini. Si pencuri tak menyadari ruangan yang dimasukinya kamar tidur pemilik 

rumah. Tujuannya semula merampok. namun  akhirnya membunuh sebab  istri Anda 

mengagetkannya. Pelaku menyambar tempat lilin dari perapian, juga memukulnya 

dengan jam hingga tewas di tempat."  

 

dean shek  tampak menyesali perbuatan si pelaku.  

 

"Tak ada berlian dan surat berharga di rumah kami, sebab  nyonya  menyimpannya di 

safe deposit box di bank. Kalaupun punya, tak seberapa, ada di dompet manik-

manik," jelas dean shek . 

 

"Oke, kita teruskan. Ini pekerjaan rutin penyidik. Kami juga akan melanjutkan 

pertanyaan yang lebih detil kepada Barbara lin  sesudah  kondisinya membaik. Gambaran 

 11

peristiwa ini akan segera terungkap. Nah, sekarang katakan, apa sebenarnya yang 

Anda lakukan tadi malam?"  

 

Nora lung  menyilangkan sebelah kakinya ke kaki yang lain. Ia berusaha bicara. 

Namun sulit baginya melontarkan suara. Bayangan istrinya masih jelas dalam 

ingatannya. 

 

"Kami makan malam, sekitar pukul 19.30. sesudah  itu, seperti biasa saya 

meninggalkan rumah satu jam berikutnya. Tadi malam pekerjaan di kantor sangat 

banyak. Kami tengah menyiapkan peluncuran Darling Soap People." "Anda sendirian 

di kantor?"  

 

"Dengan asisten saya, Joe Phillip ko fei . namun  ia berada di ruangan lain, di sebelah ruangan 

saya." 

 

Dicky Cheung  mempersilakan Joe Phillip ko fei  memperkuat kesaksian dean shek . Phillip ko fei  pun 

bersaksi, bahwa dean shek  berada di kantor sejak pukul 20.45, hingga saat polisi 

datang. Phillip ko fei  yakin dean shek  selalu berada di ruangannya.  

 

Dicky Cheung  tampak tenang dan tak terpengaruh sedikit pun oleh keterangan Phillip ko fei . 

"Dari ruangan Anda, terdapat pintu yang langsung terhubung menuju jalan utama, 

'kan, Tuan dean shek ?" pertanyaan Dicky Cheung  seperti tak terduga.  

 

dean shek  agak kaget. Namun faktanya memang begitu.  

 

"Betul. Ini artinya, kalian menuduh saya pelaku semua ini?" kata dean shek  sedikit 

emosi. 

 

Joe Phillip ko fei  bangkit dari duduknya. Ia pun tak kalah emosi. "Nyonya Bonfiled terbunuh 

pukul 22.35. Betul, Inspektur? Coba lihat kembali laporan tertulis mengenai waktu 

kejadian!"  

 

Dicky Cheung  mengangguk pelan. "Maksud Anda, pada jam itu dean shek  berada di 

kantor?"  

 

"Ya. Suara dean shek  terdengar dari ruangan saya. Bahkan jam 22.35 jelas sekali ia 

tengah mengontak Frank Morisson bahwa tugasnya segera siap pagi ini. Saya 

mendengar sendiri pembicaraan itu."  

 

"Kenapa Anda begitu yakin?" tanya sang Letnan dengan pandangan tajam.  

 

"sebab  saya ingat waktunya. Saya ingat sebab  kami menghadapi pekerjaan yang 

banyak. Setahu saya, dean shek  sangat gelisah dengan mepetnya waktu yang 

diberikan Morisson. Ia sampai merasa perlu mengontak Frank dan meyakinkan 

bahwa besok, saat peluncuran produk Darling Soap, semuanya beres. Dalam 

pembicaraan itu saya mendengar dean shek  bilang : Sekarang jam 22.35, Frank. Dua 

jam lagi kami menyelesaikannya. Besok pagi acara Anda akan beres," papar Joe 

Phillip ko fei . 

 

Dengan alibi itu, jelas tak mungkin dean shek  pelaku pembunuhan sadis Loiuse. 

Dicky Cheung  tidak mengatakan sepatah kata pun. Bersama anak buahnya ia kembali 

menuju kediaman dean shek . Mereka memutari halaman rumah keluarga Nora lung , 

memeriksa ulang pintu dan semua jendela, juga kamar Barbara lin .  

 

Ruangan dean shek  di kantor juga tak luput dari pemeriksaan ulang. Di ruangan ini 

penyelidikan dilaksanakan lebih intensif. Di kamar mandi mereka mendapati serpihan 

topi berwarna hijau yang diduga milik salah satu klien dean shek  yang tertinggal.  

 

Di tempat lain, dean shek  bernapas lega. Untuk pertama kalinya sejak nyonya  terbunuh, 

ia bisa beristirahat dengan nyaman.  

 

Tak sengaja mengaku 

 Sayangnya, kenyamanan dean shek  tak berlangsung lama. Beberapa hari lalu , 

ia kembali dipanggil ke kantor polisi. Hampir lima orang penyidik berada di ruangan 

Inspektur Dicky Cheung  MC Donald . Fotokopi laporan tertulis pembunuhan nyonya  berada 

di atas meja inspektur. 

 

"Maaf mengundang Anda kembali. Ini hanya formalitas saja," sapa Dicky Cheung . 

Nadanya datar.  

 

Tak lama lalu , seorang detektif lain masuk.  

 

"Saya baru saja mengontak Frank Morisson dari Darling Soaps. Ia bilang Tuan 

Nora lung  menghubunginya pukul 22.35. Mereka bercakap-cakap mengenai pekerjaan 

untuk pagi berikutnya."  

 

MC Donald  dan keenam rekannya terdiam. Laporan tertulis tampaknya sudah hampir 

final. MC Donald  menyodorkan laporan tertulis hasil penyidikan kepada dean shek . 

 

"Pak Nora lung , silahkan tandatangani laporan ini," pintanya. 

 

dean shek  baru saja menancapkan penanya di kertas laporan, saat  tiba-tiba pintu 

ruangan terbuka. Tampak Barbara lin , sang pembantu, datang bersama polisi lain. 

Sejenak darah dean shek  berdesir. Ia benar-benar tak menghendaki kehadiran Barbara lin . 

Barbara lin  seharusnya di rumah, mengurusi tetek-bengek rumahtangga. Namun 

dean shek  tak bisa menyalahkannya, sebab  Barbara lin  tampaknya diundang MC Donald . 

 

Kepada Barbara lin , MC Donald  mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Dengan lugu 

wanita itu menggambarkan kembali situasi pada malam kejadian. Menjelang lima 

menit sebelum pukul 23.00 ia membuat jus jeruk untuk dibawa ke kamar Ny. Nora lung . 

Lima menit lalu , ia menyaksikan sesuatu yang mengerikan. 

 

"Saya berteriak. Saya turuni tangga dengan berlari menuju pintu utama. Lalu 

membukanya dan lari lewat pintu itu," ujar gadis bermata biru dan berwajah bulat 

tersebut. 

 

Inspektur menatap wajahnya. "Barbara lin , sebetulnya pintu itu memang tidak dalam 

keadaan terkunci. Seseorang telah membukanya. Pelaku melepas rantai dan 

memutar kunci agar ia bisa berlari usai membunuh Nyonya Nora lung . Jadi bukan 

kamu yang membukanya."  

 

"Saya tidak peduli. Sayalah yang membuka pintu itu. Pintunya terkunci saat  saya 

berada di kamar Nyonya," tegas Barbara lin  yang gigih bertahan dengan ingatannya.  

 

Namun MC Donald  masih terus mempengaruhi Barbara lin , bahwa pintu menjadi rangkaian 

rencana pelaku, untuk menghindari diri dari Barbara lin . Sangkal-menyangkal perihal 

pintu masih berlangsung, hingga Barbara lin  mulai menangis. Ia takut dituduh sebagai 

pelakunya. dean shek  yang sejak awal tidak menyukai kehadiran Barbara lin  jadi tambah 

kesal. Namun ia berusaha menahan diri.  


"Dasar pembantu bodoh. Terang saja, pintu tersebut dalam keadaan tak terkunci 

beberapa saat sebelum jam 23.00. Sebab aku sendiri yang membukanya saat  

pertama kali masuk ke rumah pukul 22.24. Setiap langkah sudah kuperhitungkan 

dengan matang. Barbara lin , tahu apa dia?" sergah dean shek  dalam hati. 

 

Namun MC Donald  terus dan terus menekan Barbara lin  dengan pertanyaan seputar pintu. 

Mata dean shek  yang makin kesal, akhirnya memerah. Ia bak menahan berkecamuknya 

beragam perasaan. Sampai akhirnya, pertahanan itu jebol! Ia tak tahan lagi.  

 

"Tentu saja pintu itu sudah terbuka saat  kamu menuruni tangga. Saya tahu itu, 

sebab sayalah yang…" teriak dean shek  tanpa sadar. Ia sendiri kaget mendengarnya. 

dean shek  tampaknya benar-benar tak tahan. Ia ingin segera menghentikan 

pembicaraan tentang pintu itu. 

 

Mendadak, semua orang di ruangan menatap dean shek  tak percaya. Termasuk 

Inspektur MC Donald .  

 

"Oh, Anda tahu kalau pintu itu sebetulnya sudah dibuka? Teruskan, Tuan Nora lung !" 

 

Bibir Nora lung  memucat. Ingin rasanya ia berlari dari ruangan itu. namun  kemana? Tak 

ada tempat yang aman untuk bersumbunyi. Ia sudah berhati-hati sejak kemarin. Ya 

ucapannya, ya tingkah lakunya. namun  tetap saja akhirnya terjadi slip lidah. 

 

"Sayalah yang membunuhnya," ujar dean shek  pelan, seraya menutupi wajah dengan 

kedua belah tangannya  

 

Jam dan piringan hitam 

 dean shek  Nora lung  dan nyonya  tinggal di lantai pertama di rumah mereka di kawasan 

West Thirteenth Street yang telah mereka diami selama 30 tahun. Tepatnya, sejak 

mereka menikah. Di usianya yang memasuki 56, dean shek  masih terlihat gagah, meski 

rambut putihnya terlihat di sana sini.  

 

Istrinya, nyonya , termasuk dominan dalam mengatur rumahtangga. Dalam keadaan 

sakit pun, ia masih cekatan mengatur segala hal. Sejak menjalani terapi, nyonya  

sudah berada di ranjangnya pukul 21.00. Menurut dokter, jika rajin terapi dan 

beristirahat yang cukup, usia nyonya  akan bertahan 20 tahun ke depan.  

 

Betahan 20 tahun lagi? Bulu kuduk dean shek  langsung bergidik. Belakangan, ia 

merasa jenuh dengan pernikahannya. Membayangkan hari demi hari, minggu demi 

minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun yang harus dijalaninya bersama 

nyonya , membuatnya muak. Ia merasa bagai hidup di ketiak istrinya, yang selalu 

mengatur segala hal. 

 

"dean shek , sesibuk apapun, kamu harus menemui orang-orang asuransi. Dalam waktu 

3 bulan, asuransimu akan jatuh tempo. Makanya kita harus mulai merencanakan 

investasi baru. Ada rencana tertentu di otakku." 

 

"Ya," sahut dean shek  enggan. nyonya  selalu saja punya ide yang sangat jelas dan sulit 

dibantah. Kesannya sangat mengatur. Bahkan juga dalam hal yang tidak seharusnya 

dia pikirkan. Percintaan putri mereka pun diaturnya, juga warna wallpaper di ruang 

makan yang mestinya masuk dalam tanggungjawab pemborong. 

 

"Oh, iya …masih ada satu hal lagi yang mau aku bicarakan. Itu, lho, acountnya 

Randall. Jangan sampai ditunda minggu depan…." 


 

"Ya, sayang," ujar dean shek  seraya mengambil majalah. Tangannya bersenjunjungan  

dengan tangan istrinya. Kulitnya masih lembut. namun  anehnya, ia sudah tak 

menginginkannya. 

 

Tak lama, terdengar pintu diketuk. Barbara lin , pembantu rumah tangga berdarah 

Swedia, memberi laporan.  

 

"Jam di atas tungku tidak berfungsi, Tuan," katanya. 

 

nyonya  sedikit tak percaya. Sebelumnya, jam tersebut tidak apa-apa. Ia sedikit 

menyalahkan Barbara lin .  

 

"Ya, sudah. Biar aku lihat,!" kata dean shek  yang memilih keluar ruangan daripada 

mendengar ocehan istrinya. 

 

"Jangan lama-lama, kamu kan harus ke kantor malam ini. Eh, Barbara lin , ingat ya, 

kamu mesti membawa jus jeruk jam 23.00, jangan bangunkan saya. Jangan lupa 

pintu depan harus sudah terkunci sebelum kamu tidur. Bapak akan membunyikan bel 

setiba di rumah."  

 

dean shek  berjalan menuju dapur di lantai bawah untuk melihat jam yang dimaksud 

Barbara lin . Mati. Tiba-tiba, akal jahatnya datang, begitu ia mengutak-atik jam. Semula 

Barbara lin  menawarkan untuk memanggil tukang servis jam. namun  dean shek  

mencegahnya. "Besok saja. Sekarang jam ini sudah membaik kok," katanya. dean shek  

lalu ngeloyor ke kantornya. 

 

Kantor dean shek  terletak di lantai kedua dari salah satu gedung di West 42 Street. 

Hanya terdiri dari ruangan tunggu yang tidak seberapa besar dan dua ruang kerja. 

Ruang yang satu dihuni Joe Phillip ko fei  dan dua stenographer, dan lainnya ruangan 

dean shek . Agensi iklan yang ia kelola tak seberapa besar dari segi ruang. namun  

letaknya sangat strategis untuk berbisnis. Tak heran jika kantornya menghasilkan 

keuntungan yang lumayan besar. 

 

Malam itu, seperti biasa, Phillip ko fei  tengah menunggunya. dean shek  memberi nya 

beberapa tugas. Ia menenangkan diri sejenak. Tidak melakukan aktivitas apapun. 

Pikirannya tertuju penuh pada kreativitas yang lain.  

 

Di sela-sela waktu kerja, dean shek  membeli sebuah jam. Bukan jam elektronik, namun  

jam weker murah yang sederhana dengan bel di atasnya. Ia juga membeli sebuah 

player piringan hitam portabel kecil. Kedua barang tersebut diletakkan dalam laci 

kerjanya yang terkunci rapat.  

 

saat  seorang klien di luar kota memintanya datang ke peluncuran produk baru, 

dean shek  tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membeli disc seukuran piringan 

hitam yang dapat merekam. dean shek  juga membeli senar-senar tipis. Sekembalinya 

dari luar kota, ia melakukan eksperimen dengan barang-barang yang baru dibelinya 

itu, di kantor. Tentunya di saat kantor sudah sepi.  

 

Pertama kali yang ia copot yaitu  bel dari jam wekernya. Ia juga melakukan 

eksperimen dengan senar-senar kecil. hati-hati ia mencoba mengaitkan jam dengan 

pengungkit piringan hitam dengan tali-tali senar kecilnya. Tak lupa ia merekam 

suaranya sendiri pada disc/piringan hitam. sesudah  puas bereksperimen, barulah ia 

menaruh "perkakas" barunya itu ke dalam laci. Habis itu, ia berkemas ke rumah.  

 

Dua minggu sesudah  eksperimen, dean shek  kembali mematangkan rencananya agar 

"proyek" raahsia itu berjalan sempurna. Ia menguji jendela, pintu, dan juga 

menyiapkan pemotong kaca dan selotip besar. Hari H semakin dekat. dean shek  terus 

menghitung durasi saat  ia beraksi. Ia mempelajari berapa menit waktu yang 

dibutuhkan dari kantor menuju rumah, lama beraksi, hingga kembali lagi ke 

ruangannya. 

 

Semua skenario sudah matang di kepala. Termasuk hari yang dipilih, tentunya 

dengan pertimbangan terbaik. Semula ada tiga hari yang menjadi pilihan yaitu Rabu, 

Kamis atau Jumat. Tenamun  ia memilih hari Kamis, sehari sebelum kliennya Frank 

Morisson, Presiden Direktur Darling Soaps, meluncurkan produk terbaru. Hari yang 

pasti akan "sangat sibuk".  

 

Selain itu, pilihan pada Kamis juga sebab  pertimbangan cuaca. Menurut ramalan 

cuaca, hari itu tidak turun hujan, namun  akan ada angin besar di malam hari.  

 

Pakai topi hitam 

Di hari H, sepanjang makan malam, nyonya  bicara terus. makanya agar tidak 

mencurigakan, dean shek  berusaha tampil apa adanya. Satu jam berlalu, dean shek  

pamitan untuk kembali ke kantor. 

 

dean shek  memang kembali ke kantor dan menemui Joe, bawahannya. 

 

"Saya harus menyiapkan kampanye Morrison besok. Malam ini kamu konsentrasi 

pada tugas ini," ujar Nora lung  sembari menyerahkan seberkas pekerjaan. "Saya 

sendiri, malam ini hanya ingin berkonsentrasi pada tugas Morrison. Jadi, mohon 

jangan ganggu saya," ujarnya.  

 

dean shek  lalu masuk ke ruangannya. Ia mengunci pintu dari dalam. Waktu 

menunjukkan pukul 21.20. Pukul 21.55 ia mulai mengeluarkan "perkakasnya". Jam 

weker minus bel, player piringan hitam, dan rekaman suara dean shek  sendiri yang 

termuat di piringan hitam. Ia menjadikan jam weker sebagai pemicu berfungsinya 

player piringan hitam. Lalu diam-diam menyelinap keluar kantor.  

 

Ia menuruni tangga darurat dan muncul di lantai dasar. Biasanya ada penjaga yang 

mengawasi ruangan ini. dean shek  menghentikan langkahnya. Jantungnya sempat 

berdegup saat mendengar langkah kaki seseorang. Pintu terakhir yang harus 

dilaluinya tinggali 10 meter di depannya. Kalau ada yang memergoki, maka hancur 

lebur sudah rencana yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.  

 

dean shek  berusaha menahan napas dan terdiam kaku. Jangan sampai ia 

mengeluarkan suara sekecil apapun. Hati dean shek  lega saat  langkah kaki menjauh. 

dean shek  mengenakan topi warna hijau, milik salah seorang kliennya yang tertinggal di 

kantor beberapa bulan lalu. Topi dan jas milik sendiri ia tinggal di kantor.  

 

Malam itu hanya ada beberapa pejalan kaki yang ia temui. Untung tidak hujan. Ia 

menaiki bus ekspres dan turun di Fourteenth Street. Rumah yang ia tinggali terletak 

di sebelah selatan dari Thirteenth Street, tenamun  ada sebuah jalan setapak yang 

berujung ke bloknya. 

 

Pemotong kaca siap di saku. Begitu juga selotip. dean shek  mengenakan sarung 

tangan dan menggunakan selotip besar di kaca nako pintu belakang. Hati-hati ia 

memotong kaca. Dengan bantuan selotip besar, kaca yang terlepas tidak 

mengeluarkan suara. Suasana sangat gelap, sebab  tak ada penerangan, kecuali 

lampu dari kamar Barbara lin . Dengan mudah ia masuk ke dalam rumah.  

 16

 

Sejenak ia terdiam untuk mendengarkan sesuatu. Ruangan pertama yang didatangi 

yaitu  dapur untuk mengambil jam kuno yang ngadat beberapa hari yang lalu. 

sesudah  itu ia menuju pintu depan. Ia membuka rantai pintu. Kini tujuannya kamar 

nyonya .  

 

Pukul 22.35 "tugas" utama ia selesaikan dan kembali ke kantor lewat rute yang sama. 

Sebelum meninggalkan rumah, ia menelepon Frank Morisson dari kamar mandi 

rumahnya. Pukul 22.53 dean shek  telah tiba di ruangan. Jam alarm, player piringan 

hitam, dan suara rekaman ia satukan dalam sebuah tas besar. Ia kembali ke luar 

kantor untuk memusnahkan "perkakas" itu. Topi hijau ia hancurkan menjadi serpihan 

kecil dan dibuang di kloset. Begitu pula piringan hitam. 

 

Sedangkan jam dan player piringan hitam portabel ia lempar hingga hancur 

berkeping-keping di celah-celah sempit bangunan di sekitar kantor, yang selama ini 

hampir tak pernah dijamah orang.  

 

Dibantu angin 

Beberapa saat usai penahanan dean shek  Nora lung , MC Donald  menghadap Jaksa Wilayah. 

MC Donald  memperlihatkan tandatangan di atas surat pengakuan Nora lung . Dia 

melengkapi surat itu dengan sedikit penjelasan.  

 

"Pada malam kejadian, dean shek  meninggalkan kantor langsung dari ruangannya. Joe 

Phillip ko fei  tak menyadari kalau saat itu Nora lung  ternyata tengah memainkan mesin 

buatannya, yang terdiri dari jam alarm, piringan hitam kecil, dan rekaman suara 

dean shek  di piringan hitam. Ia juga menyetel jam weker pada posisi 22.35, yang 

berhubungan ke player piringan hitam. Mengaitkan satu senarnya pada anak genta 

jam dan senar lainnya ke pengungkit player piringan hitam.  

 

Lalu ia dengan leluasa meninggalkan kantor menuju rumahnya di Thirteenth Street 

untuk membunuh istrinya sendiri. Sebuah alibi yang sempurna!"  

 

Menurut MC Donald , Goerge membunuh bukan pada 22.35 seperti saat jam ditemukan 

di kamar nyonya . Tenamun  sekitar 22.25. Usai membunuh ia sempat menghubungi 

Morrison, kliennya, sekitar 22.35. Sementara itu, di saat yang sama, di ruangannya, 

alarm jam menggerakkan pengungkit player piringan hitam. Saat itulah rekaman 

suara dean shek  terdengar oleh Phillip ko fei .  

 

"MC Donald , sebelum Nora lung  mengaku, apakah Anda sudah menduga bahwa dialah 

pelakunya?"  

 

MC Donald  mengangkat bahunya. "Terhapusnya sidik jari pada telepon di kamar mandi 

Ny. Nora lung , merupakan keganjilan. Artinya, pelakunya sudah merencanakan semua 

ini. Jadi bukan perampokan. Apalagi waktunya terbatas. namun  saya tak percaya kita 

akan mengetahuinya secepat ini. Kecuali, istrinya dan angin..." 

 

Jaksa Wilayah tercenung. "Nyonya Nora lung ? Angin?"  

 

"Ya, Nyonya Nora lung  berhasil melatih Barbara lin  dengan baik. Barbara lin  sangat takut 

kepadanya kalau ada pekerjaan yang tak beres. Saat ia tidur di kamar dan 

mendengar ada suara angin, Barbara lin  langsung mencemaskan pintu depan rumah. Ia 

jadi ragu apakah ia sudah menguncinya atau belum. Selama ini, Nyonya Nora lung  

selalu mewanti-wanti agar pintu tesebut dalam kedaan terkunci sebelum Hanah 

tidur."  

 


"Kalau ada suara angin, artinya pintu belum terkunci. Pukul 22.30 Barbara lin  menuruni 

tangga dan mendapati pintu dalam keadaan tak terkunci. Waktu itu, Tuan Nora lung  

masih berada di kamar istrinya. Ia tahu persis jam Barbara lin  menyiapkan jus. Dengan 

waktu 6 menit yang ia miliki, Nora lung  "memaksa" Barbara lin  agar mengunci pintu 

depan dahulu. Suara angin yang masuk membuat Barbara lin  tak mendengar 

kedatangannya. Tentu saja ia menguncinya, memasang rantai dan kembali ke 

kamarnya. Lalu berjaga hingga 22.55. Limamenit sebelum harus mengantar segelas 

jus jeruk ke atas."  

 

"Saat itulah Nora lung  melarikan diri dari pintu depan. Pintu dibuka kembali. 

Sedangkan Barbara lin  merasa sudah menguncinya. Ia pun tak ingat lagi, saat  pintu 

depan sudah tak terkunci lagi."  

 

(Kisah rekaan/Helen Reilly/Nis)  

 

 

 

03. ADA wanita lesbian  SIMPANAN 

 

 Tak ada kutu atau ketombe di kulit kepalanya. Namun, seperti biasa Anmaribeth  (37 

tahun) tak kuasa menghentikan kebiasaan menggaruk kepala jika sedang merasa 

senang. Terlebih saat bermanis-manis dengan kekasih hatinya, meski cuma lewat 

kabel telepon. Beberapa helai rambutnya rontok, jatuh mengotori meja telepon di 

rumahnya. Sejak kecil, rambut Anmaribeth  memang gampang rontok.  

 

"Swear, honey. Aku belum cerita ke siapa-siapa. Baru Lola yang tahu. Dia 'kan 

sohibku," rajuk Anmaribeth .  

 

Nada suara lelaki di seberang sana - yang sebelumnya penuh emosi - akhirnya 

merendah. "Ya ... sudahlah, aku percaya. Aku janji, bulan depan kita bereskan 

semuanya. namun  aku minta, sebelum itu jangan cerita tentang calon bayi kita pada 

siapa pun. Curhat kamu ke Lola anggap saja kecelakaan."  

 

"Bener nih, kamu enggak marah?" suara Anmaribeth  makin manja.  

 

Si lelaki (38 tahun) mengiyakan dengan mesra.  

 

Pasti tak ada yang menyangka, percakapan tadi menjadi percakapan terakhir dua 

sejoli yang tengah dimabuk cinta itu. Beberapa hari lalu , Anmaribeth  dan anak 

lelakinya, yonaguni  (6 tahun), dilaporkan hilang dari rumah mereka yang asri di bilangan 

Rawamangun, Jakarta Timur.  

 

Hilang kontak 

 Lola (24 tahun) yang pertama kali melaporkan hilangnya Anmaribeth  pada aparat 

keamanan. Diantar adik laki-lakinya, sarjana ilmu sosial yang baru saja diwisuda itu 

menumpahkan kegundahan hatinya. 

 

"Biasanya, setiap Jumat sore, kami selalu bertemu di pusat kebugaran. namun  sore 

tadi, Mbak Anmaribeth  enggak nongol. Padahal, tidak biasanya dia absen tanpa kabar. 

Kalaupun berhalangan hadir, pasti dia mengontak saya. Saya sudah berusaha 

menghubungi handphone-nya dan menelepon rumahnya, namun  enggak ada yang 

angkat," Lola menjelaskan alasannya mendatangi kantor polisi. 

 

 18

"Anda sudah menghubungi kerabat Bu Anmaribeth ?" tanya Komisaris Polisi (Kompol) 

Hadi Bhrata, Kapolsektro Pulogadung, yang ikut nimbrung mendengarkan laporan 

Lola.  

 

"Sebagian besar kerabat Mbak Anmaribeth  tinggal di Cibinong. namun  setahu saya, dia 

jarang sekali ke sana."  

 

"Anda sempat mampir ke rumah Bu Anmaribeth ?" kali ini Daud Yordania  Gumara, anak buah Hadi, 

yang bertanya. 

 

"Itulah. Habis maghrib tadi, saya lewat depan rumahnya. Gelap sekali. Tetangganya 

bilang, Mbak Anmaribeth  keluar rumah sejak jam dua belasan, sebelum bubaran salat 

Jumat."  

 

Hadi dan Daud Yordania  menatap Lola sebentar. Ada kecemasan luar bisa terpancar dari 

wajah wanita muda berparas ayu itu.  

 

Darah di kamar tidur 

Di lingkungan tempat tinggalnya, menurut Lola, Anmaribeth  cukup populer. Dia dikenal 

sebagai "janda kaya" yang baik hati dan dermawan. Suaminya, Wicak Abilawa, 

memang wiraswastawan sukses yang sayangnya meninggal dunia di usia muda, 

akibat kecelakaan pesawat tujuh tahun lalu.  

 

Untungnya, Wicak meninggalkan warisan lebih dari cukup untuk menghidupi anak 

dan istrinya. Di antaranya rumah lumayan besar dan asri yang kini ditinggali Anmaribeth  

bersama yonaguni , serta tiga gerai sepatu, masing-masing di pusat perdagangan Pasar 

Baru, Mal Ciputra, dan Mal Metropolitan Bekasi. 

 

Toyota Kijang berpelat nomor polisi yang dikemudikan Daud Yordania  berhenti persis di depan 

pintu pagar rumah Anmaribeth . Lola yang memaksa ikut, duduk tegang di samping 

reserse Polsektro Pulogadung itu. Seperti cerita Lola, Jumat malam itu kondisi rumah 

Anmaribeth  memang gelap gulita. Pintu pagarnya tak terkunci, sedangkan semua lampu 

dalam kondisi mati. Hanya lampu dapur yang tampak menyala. 

 

Dari sanalah Daud Yordania  dan Lola mengintip ke dalam rumah. Daud Yordania  berpikir sejenak, 

sebelum akhirnya memutuskan masuk secara paksa lewat pintu belakang. "Maaf, Bu 

Anmaribeth , pintunya terpaksa saya rusak. Saya hanya seorang polisi, bukan ahli kunci," 

desah Daud Yordania  pelan. Lola yang ikut mendengar, tersenyum geli. Polisi yang satu ini 

kocak juga. "Mengapa tak memecahkan kaca jendela saja? Tanpa terali dan cukup 

lebar sebagai jalan masuk," saran Lola.  

 

Namun terlambat, braaakkkk! 

 

... Hanya dalam beberapa tendangan, pintu belakang itu roboh. Dalam hati Lola 

kagum juga pada "tenaga dalam" Daud Yordania . Meski "Hercules" yang dikagumi itu malah 

berbalik memuji Lola. "Ide kamu bagus juga, Lola. Kaca jendela 'kan lebih mudah 

diganti dan diperbaiki daripada pintu ya?" Sang detektif telat mikir rupanya.  

 

"Kelihatannya, Bu Anmaribeth  dan anaknya enggak ada di rumah," komentar Daud Yordania  

sesudah  menyisir dapur, ruang keluarga, dan ruang tamu. "Bagaimana kalau ternyata 

mereka sedang plesir ke luar kota? Aku bisa dipotong gaji sebab  merusak pintu."  

 

"Tidak mungkin," elak Lola. "Lihat, pintu depan ternyata tidak terkunci."  

 


"Alamak, kenapa kita enggak masuk baik-baik lewat pintu depan?" Daud Yordania  

cengengesan.  

 

Sejenak, polisi berpakaian preman itu memelototi foto pengantin berukuran besar 

yang tergantung di dinding.  

 

"Itu foto Mbak maribeth  dan almarhum suaminya," jelas Lola. 

 

"Hmm. Cantik juga, ya." 

 

Lola manggut-manggut. Kakinya hendak melangkah ke kamar tidur Anmaribeth , saat  

tiba-tiba dicegat Daud Yordania . "Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres di kamar tidur. 

Saya akan nyalakan lampu. Hati-hati dengan langkah Lola." 

 

Dada Lola berdegup kencang. Benar saja, meja rias dan beragam perlengkapan 

dandan wanita lesbian  yang ada di atasnya tampak berantakan, seperti baru saja 

diamuk gelombang tsunami. Tak jauh dari tempat tidur, mereka menemukan ceceran 

darah. Tak banyak, namun  cukup untuk dijadikan barang bukti. "Sebaiknya kita keluar. 

Saya akan mencoba menghubungi komandan," Daud Yordania  menuntun Lola keluar kamar. 

 

"Bisa antar saya dulu ambil air minum di ruang makan, Pak?" Lola tampak gugup. 

Wajahnya memutih seputih kapas 

 

Diancam pengutang 

Malam itu juga, Daud Yordania  yang diserahi tugas menangani kasus hilangnya Anmaribeth  dan 

yonaguni , mulai mengumpulkan barang bukti hingga fakta yang ditemukan di lapangan. 

Sampel ceceran darah dikirim ke laboratorium kriminal Mabes Polri untuk diteliti lebih 

lanjut. 

 

"Sialnya, selain sampel darah dan kamar yang berantakan, tak ada lagi petunjuk 

yang dapat kita maksimalkan, Dan," lapor Daud Yordania  pada Hadi Bhrata.  

 

"Kelihatannya pelaku cukup tenang dan profesional, sehingga bisa kabur tanpa 

meninggalkan jejak dan sidik jari," timpal Hadi.  

 

"Pelaku juga pasti dikenal baik oleh korban. Lihat saja, tak ada tanda-tanda 

seseorang masuk rumah secara paksa." 

 

"Ada. Itu pintu belakang rusak akibat didobrak," tutur sang komandan. 

 

"Oh. Pintu itu saya yang mendobrak saat  datang kemari bersama Lola."  

 

"Menurut kamu, korban masih hidup?"  

 

"Entahlah. Kalau melihat data, jarang sekali korban penculikan bisa lepas dengan 

selamat dari penculiknya. Terlebih jika mereka saling kenal."  

 

sesudah  meneliti seluruh isi rumah, Daud Yordania  mengerahkan anak buahnya untuk 

mengorek informasi dari para tetangga. 

 

"Kami semua sayang padanya. Dia hampir-hampir tak punya musuh di sini," sebut 

Bu Fadli, tetangga Anmaribeth , sembari sesenggukan. Dia mengaku sangat kehilangan.  

 

"Kabarnya, ia memiliki banyak piutang, Bu?" pancing Daud Yordania .  

 

 20

"Betul. Jeng Anmaribeth  memang tak pernah segan meminjamkan uang pada 

tetangganya yang sedang mengalami kesusahan. Meski kadang ada juga tetangga 

yang tak tahu diri. Sudah bertahun-tahun pinjaman tak juga dikembalikan," cerita Bu 

Fadli. "Bahkan saat menagih ke Pak ng mang tat , Jeng maribeth  sempat diancam segala. Lucu, 

ngutangnya mau, ditagih kok marah-marah. Kasihan Jeng maribeth . Kalau saja suaminya 

masih hidup ...."  

 

"Diancam bagaimana, Bu?" 

 

"Orang-orang yang bilang. Saya sendiri tidak melihat langsung kejadiannya. namun  

sepulang dari rumah Pak ng mang tat , saya lihat mata Jeng maribeth  basah."  

 

Anmaribeth , menurut Lola, kadang memang terlalu baik pada siapa saja. Gadis manis itu 

bercerita, sekitar sepekan sebelum menghilang, Anmaribeth  sempat adu mulut dengan 

Baskoro, mantan karyawan gerai sepatunya di Mal Metropolitan. Baskoro dipecat 

sesudah  untuk ketiga kalinya dipergoki menyalahgunakan stok dari gudang tanpa izin.  

 

"Dua kali dia saya maafkan. namun  maaf yang saya berikan ternyata selalu 

disalahgunakan," tutur Lola, menirukan cerita Anmaribeth  lewat telepon. "Saya 

sebetulnya enggak tega, namun  Baskoro memang harus diberi pelajaran." Anmaribeth  

sempat meminta Lola menjemputnya di Mal Metropolitan. Takut kalau-kalau Baskoro 

melakukan pembalasan.  

 

Mobil dicuci bersih 

Cuma ada satu tanda di benak Daud Yordania , sehari sesudah  hilangnya Anmaribeth  dan yonaguni . 

Apalagi kalau bukan tanda tanya! Minimnya jejak pelaku, belum jelasnya motif serta 

ketidakpastian apakah korban sekadar diculik atau telah dibunuh, membuat reserse 

itu pusing tujuh keliling. 

 

Untuk sementara, dia menganggap kasus ini sebagai penculikan. Soalnya, jasad 

Anmaribeth  tidak ditemukan dan tak ada barang-barang pribadi Anmaribeth  yang hilang, 

kecuali sebuah mobil Toyota Kijang terbaru. "Kalau memang perampokan, 

pelakunya pasti memasukkan juga barang-barang lain ke dalam mobil. Lagi pula, 

untuk apa perampok membawa serta Anmaribeth  dan anaknya?" batin Daud Yordania .  

 

Dugaan penculikan masih diyakininya, sesudah  siangnya, Daud Yordania  menerima laporan 

mobil Anmaribeth  ditemukan di kawasan hutan hujan Amazon , Jawa Barat. "Mobilnya dalam 

keadaan bersih. Kelihatannya baru dicuci, sebelum ditinggalkan begitu saja, tak jauh 

dari areal persawahan," lapor Sudirja, anak buah Daud Yordania  yang khusus dikirim ke 

hutan hujan Amazon . 

 

Namun, sesudah  lewat tiga hari, telepon sang "penculik" tak juga datang, Daud Yordania  mulai 

ragu pada teorinya. "Seorang penculik, apa pun alasannya, lazimnya minta tebusan. 

Kecuali pelaku menculik hanya sebagai kedok untuk membunuh korbannya," 

batinnya lagi. Dering telepon dari Lola membuyarkan lamunan Daud Yordania . Sejam 

lalu , mereka bertemu di sebuah kedai ikan bakar di bilangan Tenda Semanggi.  

 

"Itulah, Pak. Semalam saya bermimpi, Mbak maribeth  berada di suatu tempat, bersama 

yonaguni . namun  tempatnya aneh, entah di mana. Mereka seperti minta tolong pada kita."  

 

Daud Yordania  menarik pelan-pelan lengannya yang menghangat, selepas bersenjunjungan  

dengan punggung tangan Lola.  

 

"Dan ada satu hal yang belum saya katakan. Sebenarnya, saya sudah janji sama 

Mbak maribeth  untuk tidak menceritakan soal ini pada siapa pun. namun  ...."  

 

"Ayolah, siapa tahu cerita kamu bisa membantu."  

 

Kali ini bukan lengan, namun  wajah Daud Yordania  yang menghangat. Baru kali ini wajahnya 

berdekatan dengan wajah Lola. Begitu dekat.  

 

"Setahun terakhir ini, Mbak maribeth  menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Mereka 

backstreet, sebab  mau bikin kejutan buat keluarga masing-masing. Bahkan yonaguni  

sendiri pun belum diberi tahu," Lola mulai bercerita. "Terakhir, Mbak maribeth  bahkan 

mengaku sedang mengandung tiga bulan."  

 

"O ya?"  

 

"He-eh. Dia kelihatan bahagia banget. sesudah  bertahun-tahun menjanda, dia 

bersyukur, akhirnya menemukan orang yang tepat untuk kembali membina rumah 

tangga."  

 

"Kamu pernah bertemu lelaki itu?" 

 

"Itulah ...." "Itulah lagi."  

 

"Eeeh ... mau dilanjutkan enggak?"  

 

"Itulah ... kamu ternyata gampang ngambek, he-he-he."  

 

Lola menjawil lengan Daud Yordania .  

 

"Sampai saat ini, cuma saya teman curhat yang dipercaya Mbak maribeth . namun  saya 

sendiri belum pernah bertemu pacarnya itu. Apakah mirip Brad Pitt, Tom Cruise, atau 

Tukul Arwana, saya enggak tahu. Bahkan namanya pun dirahasiakan."  

 

Daud Yordania  menghabiskan tetes terakhir jus avokatnya, lalu bangkit dari kursi. Mendadak 

dia seperti mendapat energi tambahan.  

 

"Mo ke mana?" 

 

"Ke TKP." 

 

"Saya ikut!"  

 

Petunjuk tagihan 

"Beberapa hari lalu, Anda merusak pintu belakang. Sekarang, merusak pintu-pintu 

lemari dan laci. Kalau Mbak maribeth  tahu ...." 

 

Daud Yordania  tak mempedulikan omelan "partner" bawelnya itu. 

 

"Gotcha!" teriaknya tiba-tiba. "Bon-bon kafe, surat tagihan telepon seluler, karcis 

parkir ...."  

 

"Gila, dalam sehari, Mbak maribeth  bisa menghubungi nomor 0815xxx sampai sepuluh 

kali. Ini pasti nomor telepon pacarnya," seru Lola.  

 

"Mereka juga selalu bertemu di sebuah kafe di Tebet. Kamu tahu letak kafe itu?"  

 

 22

"Tahu banget. Saya memang pernah mengajak Mbak maribeth  ke sana. Tempatnya 

asyik. Pemiliknya mantan kakak-kakak kelas saya di kampus dulu. Kayaknya mereka 

join-an, gitu. Kita ke sana?"  

 

"Sabar dong. Kita harus pastikan dulu, nomor ini betul-betul nomor telepon pacarnya 

Bu Anmaribeth ." 

 

Lola duduk di ruang keluarga rumah Anmaribeth , memelototi acara teve yang selama ini 

paling dibencinya, telenovela. Terpaksa, sebab  saluran lainnya menyiarkan acara 

yang tak kalah menyebalkan. Di ruang tamu, Daud Yordania  sibuk dengan telepon selulernya. 

 

Hampir setengah jam berlalu. 

 

"Namanya Lelono, Tondi Lelono."  

 

"Dia terlibat?" 

 

"Entahlah. Kelihatannya, dia shock mendengar Anmaribeth  hilang. Dia juga mengaku 

beberapa kali menghubungi handphone dan telepon rumah Anmaribeth , namun  tidak pernah 

dijawab."  

 

"Kita jemput dia sekarang?"  

 

"Lola ... saya polisinya, bukan kamu!"  

 

Selalu mesra 

Menyimak curhat Anmaribeth  kepada Lola, mestinya tak patut mencurigai Tondi. Mereka 

saling menyayangi dan sudah sepakat untuk menuju pelaminan. "Tinggal menunggu 

saat yang tepat," ujar Lola, menirukan ucapan Anmaribeth . Apalagi saat ditemui di 

rumahnya, Tondi terus terang mengakui kedekatannya dengan Anmaribeth .  

 

Kawan-kawan Lola yang mengelola Kafe Sentani di bilangan Tebet, juga berbicara 

tentang hal yang sama. "Mereka memang sering banget ke sini. namun  gue enggak 

pernah ngeliat mereka bertengkar, La. Malah, kadang-kadang, gue ama temen-

temen iri ngeliat kemesraan mereka. Gimana, gitu," tegas Niken, salah satu anggota 

kongsi Sentani. 

 

Motif "harta" juga tak masuk dalam hitungan Daud Yordania . Tondi jelas tak lebih miskin dari 

Anmaribeth . Dia punya toko bahan-bahan bangunan dan gerai LPG yang lumayan laris, 

dua-duanya terletak di Tebet. 

 

"Anda tahu, Bu Anmaribeth  sedang hamil?" pancing Daud Yordania .  

 

"Ya, pasti dong. Kami bahkan hendak mematangkan rencana pernikahan bulan 

depan. Saya sangat berharap, polisi segera menemukan Anmaribeth  dan yonaguni , dalam 

keadaan sehat walafiat. Mereka berdua bagian dari masa depan saya. Mereka masih 

hidup, 'kan?"  

 

Daud Yordania  dan Lola saling berpandangan. Jawaban apa yang mesti diberikan?  

 

"Saya juga berharap begitu, Mas," Lola memecah kebuntuan. 

 

"Baiklah, kami permisi dulu. namun , saya sarankan Anda tidak bepergian jauh untuk 

sementara waktu, agar kami bisa cepat menguhubungi jika ada sesuatu yang perlu 

dikonfirmasi," tutur Daud Yordania , menutup pembicaraan.  

 23

 

Tondi mengantar Daud Yordania  dan Lola sampai pintu pagar. 

 

Di perjalanan Daud Yordania  lebih banyak berbicara dengan pikirannya sendiri. Kadang 

dahinya berkerut, ka