tentang orang-orang dan negeri itu.
Di atas pintu masuk ke kuil di Delphi, terpampang tulisan terkenal:
KENALI DIRIMU SENDIRI! Itu mengingatkan para pengunjung
bahwa manusia tidak boleh memercayai bahwa dirinya lebih dari
sekadar makhluk hidup yang kelak akan mati—dan tak seorang pun
dapat lolos dari takdirnya.
Orang-orang Yunani menyimpan banyak cerita tentang orang-orang
yang takdirnya selalu membuntuti mereka. Sejalan dengan berlalunya
waktu, sejumlah sandiwara—tragedi—ditulis tentang orang-orang
yang "tragis" ini. Yang paling terkenal yaitu tragedi Raja Oedipus.
Sejarah dan llmu Pengobatan
Tapi, takdir tidak hanya mengatur kehidupan individu. Orang-
orang Yunani percaya bahwa sejarah dunia pun diatur oleh Takdir,
dan bahwa keberuntungan dalam perang dapat diubah oleh campur
tangan para dewa. Kini masih banyak orang yang percaya bahwa
Tuhan atau kekuatan misterius lainlah yang menentukan jalannya
sejarah.
Namun pada saat yang sama saat para filosof Yunani berusaha
untuk menemukan penjelasan alamiah terhadap proses alam, para ahli
sejarah pertama mulai mencari-cari penjelasan alamiah mengenai
jalannya sejarah. Jika sebuah negara kalah dalam perang, balas
dendam para dewa tidak lagi merupakan penjelasan yang dapat
mereka terima. Ahli sejarah Yunani paling terkenal yaitu
Herodotus (484-424 SM) dan Thucydides (460-400 SM).
Orang Yunani juga percaya bahwa penyakit dapat dianggap
sebagai akibat campur tangan Ilahi. Sebaliknya, para dewa dapat
membuat orang kembali sehat jika mereka memberikan persembahan
yang layak.
Gagasan ini bukan hanya milik orang Yunani. Sebelum
berkembangnya ilmu pengobatan modern, pandangan yang paling luas
diterima yaitu bahwa penyakit itu muncul karena sebab-sebab
supranatural. Kata "influenza" benar-benar mengandung arti pengaruh
(influence) jahat dari bintang-bintang.
Bahkan kini, ada banyak orang yang percaya bahwa beberapa
penyakit—AIDS, misalnya—merupakan hukuman Tuhan. Banyak
pula orang yang percaya bahwa orang yang sakit dapat disembuhkan
dengan bantuan kekuatan supranatural.
Bersamaan dengan timbulnya arah baru dalam filsafat Yunani, ilmu
pengobatan Yunani pun bangkit dan berusaha untuk menemukan
penjelasan alamiah menyangkut penyakit dan kesehatan. Pendiri ilmu
pengobatan Yunani kabarnya yaitu Hippocrates, yang dilahirkan di
Pulau Cos sekitar 460 SM.
Pelindung paling penting untuk melawan penyakit, menurut tradisi
medis Hippocrates, yaitu sikap tidak berlebihan dan cara hidup
yang sehat. Kesehatan yaitu kondisi alamiah. Jika penyakit datang,
itu merupakan tanda bahwa Alam telah melenceng dari jalurnya
dikarenakan adanya ketidakseimbangan fisik atau mental. Jalan
menuju kesehatan bagi setiap orang yaitu melalui sikap moderat,
keselarasan, dan "jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat".
Kini, banyak pembicaraan mengenai "etika medis", yang
merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa seorang dokter harus
mempraktikkan ilmu pengobatan sesuai dengan aturan-aturan etika
tertentu. Misalnya, seorang dokter tidak boleh memberi orang yang
sehat resep narkotik. Seorang dokter juga harus menjaga kerahasiaan
profesi, yang berarti bahwa dia tidak diizinkan untuk mengungkapkan
sesuatu yang diceritakan oleh pasien kepadanya mengenai
penyakitnya. Gagasan-gagasan ini berasal dari Hippocrates. Dia
menuntut para muridnya untuk mengucapkan sumpah berikut ini:
Saya akan mengikuti sistem atau aturan yang, menurut
kemampuan dan penilaian saya, saya anggap bermanfaat bagi
pasien saya, dan menghindar dari apa pun yang merusak dan
mengganggu. Saya tidak akan memberikan obat yang dapat
mematikan kepada siapa saja meskipun diminta atau
menyarankan nasihat semacam itu, dan dengan cara yang sama
saya tidak akan memberi seorang wanita sarana untuk
melakukan pengguguran kandungan. Setiap kali saya diminta
mendatangi sebuah rumah, saya akan datang demi kebaikan si
sakit dan akan menjauhkan diri dari tindakan jahat dan keji, dan
lebih jauh, dari rayuan kaum wanita atau pria, baik mereka
orang merdeka maupun budak. Apa pun, dalam kaitan dengan
praktik profesional saya, yang saya Iihat atau dengar mengenai
sesuatu yang tidak boleh diungkapkan sembarangan, saya akan
tetap merahasiakannya. Selama saya tetap mematuhi sumpah ini,
semoga saya diperkenankan untuk menikmati hidup dan
memraktikkan ilmu ini, dihormati oleh semua manusia di
sepanjang zaman. Namun, seandainya saya melanggar sumpah
ini, semoga nasib sebaliknyalah yang menimpa saya.
Nyai girah bangun dengan kaget pada Sabtu pagi. Apakah itu hanya
impian atau dia benar-benar telah melihat sang filosof?
Dia mencari-cari di bawah bantal dengan satu tangan. Ya, di situ
ada surat yang diterimanya semalam. Itu bukan hanya impian.
Jelas dia telah melihat sang filosof! Dan lagi pula, dengan matanya
sendiri, dia melihat orang itu mengambil suratnya!
Dia meringkuk di atas lantai dan menarik semua halaman ktikan
dari bawah tempat tidur. Tapi apa itu? Tepat di dekat tembok, ada
sesuatu berwarna merah. Sebuah selendang, mungkin?
Nyai girah menyusupkan tubuhnya ke bawah tempat tidur dan menarik
keluar selendang sutra merah. Itu bukan miliknya, pasti!
Dia mengamatinya lebih teliti dan mengembuskan napas panjang
saat dilihatnya nama count dracula tertulis dengan tinta di sepanjang
kelimannya.
count dracula ! Tapi siapakah count dracula ? Bagaimana mungkin jalan mereka
selalu berselisih begini?[]
Socrates
**
... orang yang paling bijaksana yaitu orang yang mengetahui
bahwa dia tidak tahu ...
Nyai girah SEGERA mengenakan daster dan bergegas menuju
dapur. Ibunya sedang berdiri di dekat meja dapur. Nyai girah
memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun mengenai selendang
sutra itu.
"Apakah Ibu sudah mengambil koran?" tanyanya.
Ibunya berpaling.
"Maukah kamu mengambilkannya untukku?"
Nyai girah melesat keluar pintu dalam sekejap, menuju kotak surat.
Hanya koran. Dia tidak boleh berharap akan mendapat jawaban
dalam waktu dekat, kiranya. Di halaman depan koran itu dia
membaca sesuatu mengenai batalion PBB Norwegia di Lebanon.
Batalion PBB ... bukankah itu cap pos yang terdapat pada kartu
dari ayah count dracula ? Namun, prangkonya Norwegia. Barangkali para
serdadu PBB Norwegia mempunyai kantor pos sendiri.
"Kamu menjadi sangat tertarik pada koran," kata ibunya saat
Nyai girah kembali ke dapur.
Untungnya, ibunya tidak lagi berbicara tentang kotak surat dan
sebagainya, baik saat sarapan maupun selanjutnya pada hari itu.
saat ibu pergi berbelanja, Nyai girah membawa surat mengenai Takdir
ke sarang.
Dia terkejut melihat sebuah amplop putih kecil di samping kaleng
kue dengan surat-surat lain dari sang filosof. Nyai girah yakin sekali dia
tidak meletakkannya di sana.
Amplop ini juga basah di sudut-sudutnya. Dan di situ terdapat
beberapa lubang, persis seperti yang telah diterimanya kemarin.
Apakah sang filosof telah datang ke sini? Apakah dia tahu tentang
tempat persembunyian rahasianya? Mengapa amplop itu basah?
Semua pertanyaan ini membuat kepalanya pusing. Dia membuka
surat itu dan membaca isinya
Nyai girah yang baik, aku membaca suratmu dengan penuh minat—dan
bukannya tanpa sedikit penyesalan. Sayangnya, aku harus
mengecewakanmu berkenaan dengan undangan itu. Kita akan bertemu
suatu hari nanti, tetapi mungkin agak lama juga sebelum aku dapat
datang sendiri ke sana.
Aku harus menambahkan bahwa mulai sekarang aku tidak lagi
dapat mengirimkan sendiri surat-suratku. Lama-lama itu akan terlalu
berbahaya. Kelak, surat-surat akan dikirimkan oleh utusan kecilku.
Selain itu, surat-surat ini akan dibawa langsung ke tempat n
rahasia di taman ini.
Kamu boleh terus menghubungiku kapan saja kamu merasa perlu.
Caranya, letakkan sebuah amplop merah jambu dengan sepotong kue
atau segumpal gula di dalamnya. Jika utusan itu menemukannya, dia
akan membawanya langsung kepadaku.
N.B. Sungguh tidak menyenangkan menolak undangan seorang
gadis muda untuk minum kopi, tapi kadang-kadang itu terpaksa
dilakukan.
N.B. lagi. Jika kamu menemukan selembar selendang sutra merah
di suatu tempat, tolong simpan baik-baik. Kadang-kadang, barang
milik pribadi suka tercampur-campur. Terutama di sekolah dan
tempat-tempat semacam itu, dan ini yaitu sebuah kursus filsafat.
Salam, Alberto Knox.
Nyai girah telah menjalani kehidupan hampir selama lima belas tahun,
dan telah menerima begitu banyak surat di usianya yang masih muda,
setidak-tidaknya pada setiap hari Natal dan hari ulang tahunnya. Tapi
surat ini yaitu yang paling aneh yang pernah diterimanya.
Tidak ada cap pos di situ. Bahkan surat itu tidak ditaruh di kotak
surat, tetapi dibawa langsung ke tempat persembunyian Nyai girah yang
paling rahasia di semak-semak tua. Kenyataan bahwa surat itu basah
pada musim semi yang kering juga merupakan sesuatu yang misterius.
Yang paling aneh dari semuanya yaitu selendang sutra itu, tentu
saja. Sang filosof pasti mempunyai seorang murid lain. Pasti begitu.
Dan murid lain ini telah kehilangan selendang sutra merah. Benar.
Namun, bagaimana benda itu bisa sampai di bawah tempat tidur
Nyai girah ?
Dan, Alberto Knox ... nama macam apa itu? Satu hal sudah jelas—
kaitan antara sang filosof dengan count dracula Moller Knag. Tapi bahwa
ayah count dracula sendiri sampai salah menuliskan alamat—itu benar-benar
tidak dapat dipahami.
Nyai girah duduk lama sambil memikirkan hubungan apa yang mungkin
ada antara count dracula dan dirinya. Akhirnya, dia menyerah. Sang filosof
telah menulis bahwa dia akan bertemu dengannya suatu hari nanti.
Barangkali dia juga akan bertemu dengan count dracula .
Dia membalik-balik surat itu. Kini, dia juga melihat bahwa ada
beberapa kalimat yang ditulis di belakang:
Adakah sesuatu yang disebut kesopanan alamiah?
Orang yang paling bijaksana yaitu yang mengetahui
bahwa dia tidak tahu ...
Pengetahuan yang sejati berasal dari dalam.
Barang siapa mengetahui yang benar akan bertindak
benar.
Nyai girah tahu bahwa kalimat-kalimat pendek yang tertulis di dalam
amplop putih itu dimaksudkan untuk mempersiapkannya menerima
amplop besar berikutnya, yang akan tiba tak lama kemudian. Tiba-
tiba, dia mendapatkan gagasan. Jika si "utusan" datang ke sarang
untuk mengirimkan amplop cokelat itu, Nyai girah dapat duduk saja di
sana menantikan pria itu. Atau, dia seorang wanita? Dia pasti hanya
dapat bertanya-tanya hingga pria atau wanita itu memberitahunya
tentang sang filosof! Surat itu menyebutkan bahwa si "utusan" itu
kecil. Mungkinkah dia seorang anak?
"Adakah sesuatu yang disebut kesopanan alamiah?"
Nyai girah tahu bahwa "kesopanan" yaitu kata yang sudah
ketinggalan zaman untuk rasa malu—misalnya, karena terlihat
telanjang. Tapi, apakah memang wajar untuk merasa malu karena itu?
Jika sesuatu itu wajar, pikirnya, itu sama bagi setiap orang. Jadi,
pastilah masyarakat yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh
kita lakukan. saat Nenek masih muda, tentu saja kita tidak boleh
berjemur dengan dada terbuka. Tapi kini, kebanyakan orang
menganggapnya "wajar", meski pun hal itu dilarang keras di banyak
negara. Inikah filsafat? Nyai girah bertanya-tanya.
Kalimat berikutnya yaitu : "Orang yang paling bijaksana yaitu
yang mengetahui bahwa dia tidak tahu."
Lebih bijaksana dari siapa? Jika yang dimaksudkan sang filosof
yaitu bahwa seseorang yang menyadari dia tidak mengetahui segala
sesuatu di dunia itu lebih bijaksana dibandingkan dengan seseorang
yang hanya mengetahui sedikit, tetapi mengira bahwa dia mengetahui
segalanya—yah, itu memang tidak sulit untuk disetujui. Nyai girah tidak
pernah memikirkan itu sebelumnya. Tapi semakin dalam dia berpikir,
semakin jelas baginya bahwa mengetahui apa yang tidak kita ketahui
yaitu juga semacam pengetahuan. Hal paling tolol yang
diketahuinya yaitu jika orang bersikap seolah-olah dia mengetahui
segala sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya.
Kalimat berikutnya yaitu tentang pengetahuan sejati yang berasal
dari dalam. Tapi, bukankah semua pengetahuan itu masuk ke kepala
setiap orang dari luar? Selain itu, Nyai girah dapat mengingat beberapa
kejadian saat ibunya atau para guru di sekolah berusaha untuk
mengajarinya sesuatu yang belum dapat diterimanya. Dan dia baru
benar-benar mengetahui sesuatu saat dia telah menambah suatu
pengetahuan kepada dirinya sendiri. Bahkan, kadang-kadang, dia
tiba-tiba memahami sesuatu yang sama sekali tidak dapat dia pahami
sebelumnya. Itulah barangkali yang di maksudkan orang dengan
"pencerahan".
Sejauh ini, tidak ada masalah. Nyai girah mengira dia telah dapat
mencerna dengan baik ketiga pertanyaan pertama. Tapi pernyataan
berikutnya begitu aneh, sehingga mau tak mau, dia tersenyum:
"Barang siapa mengetahui yang benar akan bertindak benar."
Apakah itu berarti bahwa jika seorang perampok bank merampok
sebuah bank, itu karena dia tidak mengetahui hal yang lebih baik?
Nyai girah tidak berpendapat begitu.
Sebaliknya, dia berpendapat bahwa baik anak-anak mau pun orang
dewasa, melakukan hal-hal tolol yang mungkin mereka sesali
sesudahnya, justru karena mereka telah melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan penilaian mereka sendiri yang lebih baik.
saat tengah duduk sambil berpikir, Nyai girah mendengar sesuatu
menggerisik di tengah belukar kering di sisi lain pagar tanaman yang
paling dekat dengan hutan. Mungkinkah itu si utusan? Jantungnya
mulai berdegup lebih kencang. Kedengarannya seperti seekor
binatang sedang mendekat dengan suara terengah-engah.
Saat berikutnya, seekor Labrador besar mendesak masuk ke dalam
sarang. Mulutnya menggigit sebuah amplop cokelat besar yang
dijatuhkannya di kaki Nyai girah . Itu terjadi begitu cepat sehingga Nyai girah
tidak sempat bereaksi. Saat berikutnya, dia duduk dengan amplop
besar di kedua tangannya—dan si Labrador keemasan telah berlari
masuk ke hutan lagi.
Begitu semuanya berlalu, dia baru bereaksi. Dia mulai menangis.
Dia duduk seperti itu sejenak, kehilangan seluruh perasaan akan
waktu.
Lalu tiba-tiba, dia melihat ke atas.
Jadi, itulah utusannya yang termasyhur! Nyai girah mengembuskan
napas lega. Jelas itulah sebabnya mengapa pinggiran amplop-amplop
itu basah dan ada lubangnya. Mengapa hal ini tidak pernah
terpikirkan olehnya? Kini, akalnya bisa menerima saran sang filosof
agar menaruh sebuah kue atau segumpal gula dalam amplop jika dia
menulis surat kepada sang filosof.
Dia mungkin tidak selalu secerdas yang diinginkannya, tapi siapa
yang dapat menduga bahwa utusan itu yaitu seekor anjing yang
terlatih! Itu memang sedikit di luar kebiasaan. Kini dia bisa
mengabaikan sama sekali keinginannya memaksa si utusan untuk
mengungkapkan tempat tinggal Alberto Knox.
Nyai girah membuka amplop besar itu dan mulai membaca:
FILSAFAT ATHENA
Nyai girah yang baik, saat kamu membaca ini, kamu mungkin telah
bertemu Hermes. Tapi kalau belum, aku tambahkan di sini bahwa dia
yaitu seekor anjing. Tapi jangan khawatir. Kelakuannya sangat baik
—dan lagi pula, jauh lebih cerdas dibandingkan dengan banyak
orang. Dia sama sekali tidak pernah berusaha untuk menimbulkan
kesan bahwa dia lebih pandai daripada yang sebenarnya.
Perlu juga kamu ketahui bahwa namanya bukannya tanpa makna.
Dalam mitologi Yunani, Hermes yaitu utusan para dewa. Dia
juga dewa para pelaut. Tapi kita tidak akan mengurusi hal itu,
setidak-tidaknya untuk saat ini. Yang lebih penting yaitu bahwa
Hermes juga memberikan namanya untuk kata "hermetic", yang
berarti tersembunyi atau tak terjangkau—bukannya tidak cocok
dengan tugas Hermes untuk menjaga agar kita berdua tetap ter
sembunyi satu sama lain.
Jadi, si utusan telah diperkenalkan. Tentu saja dia akan datang
kalau namanya dipanggil dan berkelakuan sangat baik.
Tapi kembali pada filsafat. Kita telah menyelesaikan bagian
pertama pelajaran itu. Aku mengacu kepada para filosof alam dan
tindakan mereka untuk tegas-tegas menjauhkan diri dari gambaran
mitologis dunia. Kini, kita akan bertemu dengan tiga filosof klasik
besar: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Masing-masing dengan
caranya sendiri, para filosof ini memengaruhi seluruh peradaban
Eropa.
Para filosof alam itu juga disebut pra-Socrates, sebab mereka
hidup sebelum zaman Socrates. Meskipun Democritus meninggal
beberapa tahun setelah Socrates, semua gagasannya termasuk filsafat
alam pra-Socrates. Socrates mewakili suatu era baru, secara
geografis maupun temporal. Dia yaitu filosof besar pertama yang
dilahirkan di Athena, dan baik dia maupun kedua penerusnya hidup
dan bekerja di sana. Kamu mungkin ingat bahwa Anaxagoras juga
hidup di Athena sebentar, tetapi kemudian diusir keluar, sebab dia
mengatakan bahwa matahari yaitu sebuah batu merah-panas. (Nasib
Socrates tidak lebih baik!)
Sejak zaman Socrates, Athena merupakan pusat kebudayaan
Yunani. Juga penting untuk dicatat perubahan karakter dalam proyek
filsafat itu sendiri, sementara ia berkembang dari filsafat alam hingga
Socrates. Tapi, sebelum kita menemui Socrates, mari kita ketahui
sedikit tentang kaum Sophis, yang menguasai panggung Athena pada
masa hidup Socrates.
Angkat tirai, Nyai girah ! Sejarah gagasan-gagasan itu seperti sebuah
drama dengan banyak babak.
Manusia sebagai Pusat
Setelah sekitar 450 SM, Athena merupakan pusat kebudayaan di
dunia Yunani. Sejak masa ini, filsafat mengambil arah baru.
Para filosof alam hanya memusatkan perhatian pada hakikat dunia
fisik semata. Karena itulah mereka menempati posisi sentral dalam
sejarah sains. Di Athena, minat kini di pusatkan pada individu dan
kedudukannya dalam masyarakat. Secara lambat laun, demokrasi
berkembang, dengan majelis-majelis rakyat dan pengadilan hukum.
Agar demokrasi dapat dijalankan, orang-orang harus cukup
berpendidikan agar dapat ambil bagian dalam proses demokrasi.
Kita telah melihat di zaman kita sendiri bagaimana demokrasi yang
masih muda memerlukan keterbukaan pikiran masyarakat. Bagi para
penduduk Athena, yang paling penting yaitu menguasai seni
berpidato, yang berarti mengatakan berbagai hal dengan cara yang
meyakinkan.
Sekelompok guru dan filosof keliling dari koloni-koloni Yunani
berkumpul di Athena. Mereka menamakan diri kaum Sophis. Kata
"sophis" berarti seseorang yang bijaksana dan berpengetahuan. Di
Athena, kaum Sophis mencari nafkah dengan mengajar para warga
negara dengan imbalan uang.
Kaum Sophis mempunyai satu ciri yang sama dengan para filosof
alam: mereka bersikap kritis terhadap mitologi tradisional. Namun
pada saat yang sama, kaum Sophis menolak apa yang mereka anggap
sebagai spekulasi filsafat yang tak berguna. Mereka berpendapat
bahwa meskipun ada jawaban untuk pertanyaan filosofis, manusia
tidak dapat mengetahui kebenaran mengenai teka-teki alam dan jagat
raya. Dalam filsafat, pandangan seperti ini dinamakan skeptisisme.
Namun bahkan jika kita tidak dapat mengetahui jawaban seluruh
teka-teki alam, kita tahu bahwa orang-orang harus belajar untuk hidup
bermasyarakat. Kaum Sophis memilih untuk menyibukkan diri mereka
dengan masalah manusia dan kedudukannya dalam masyarakat.
"Manusia yaitu ukuran dari segala sesuatu," kata seorang Sophis
Protagoras (kira-kira 485-410 SM). Dengan itu, yang di
maksudkannya yaitu bahwa masalah, apakah sesuatu itu benar atau
salah, baik atau buruk, harus selalu dipertimbangkan dalam kaitannya
dengan kebutuhan-kebutuhan seseorang. saat ditanya apakah dia
percaya kepada para dewa Yunani, dia menjawab, "Pertanyaan itu
terlalu kompleks sedangkan hidup ini terlalu singkat." Seseorang
yang tidak mampu mengatakan dengan tegas apakah dewa-dewa atau
Tuhan itu ada di namakan seorang agnostik.
Kaum Sophis biasanya orang-orang yang telah banyak bepergian
dan melihat berbagai bentuk pemerintahan. Baik aturan maupun
hukum setempat di negara-negara kota bisa sangat beragam. Ini
mendorong kaum Sophis untuk bertanya apakah yang alamiah dan
apa yang diharuskan karena desakan dari masyarakat. Dengan
melakukan ini, mereka merintis jalan bagi timbulnya kritik sosial di
negara-kota Athena.
Misalnya, mereka dapat mengemukakan bahwa penggunaan
ungkapan seperti "kesopanan alamiah" tidak selalu dapat
dipertahankan, sebab jika memang kesopanan itu "alamiah", mestinya
itu yaitu sesuatu yang terlahir bersama kita, suatu bawaan lahir.
Tapi apakah itu memang bawaan lahir, Nyai girah —ataukah itu karena
desakan masyarakat? Bagi seseorang yang telah menjelajahi dunia,
jawabannya mestinya sederhana: yaitu tidak "alamiah"—atau
bukan bawaan lahir—jika kita merasa malu bertelanjang di tempat
umum. Sopan atau tidak—jelas merupakan masalah aturan sosial.
Seperti yang dapat kamu bayangkan, kaum musafir Sophis itu
menciptakan pergulatan sengit di Athena dengan mengemukakan
bahwa tidak ada norma mutlak untuk menentukan apa yang benar dan
apa yang salah.
Socrates, sebaliknya, berusaha untuk membuktikan bahwa
beberapa norma itu sesungguhnya mutlak dan secara universal benar.
Siapakah Socrates
Socrates (470-399 SM) barangkali yaitu tokoh paling penuh
teka-teki dalam seluruh sejarah filsafat. Dia tidak pernah menulis
sebaris kalimat pun. Namun, dia merupakan salah seorang filosof
yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa,
dan itu sama sekali bukan karena cara kematiannya yang dramatis.
Kita tahu dia dilahirkan di Athena, dan bahwa dia menjalani
sebagian besar hidupnya di alun-alun dan pasar-pasar untuk
berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. "Pohon-
pohon di daerah pedesaan tidak mengajarkan apa-apa padaku,"
katanya. Dia juga dapat tenggelam dalam pemikiran selama berjam-
jam tanpa henti.
Bahkan pada masa hidupnya, dia dianggap agak membingungkan,
dan tak lama setelah kematiannya, dia dianggap sebagai pendiri
sejumlah aliran pemikiran filsafat yang berbeda-beda. Kenyataan
bahwa dia begitu penuh teka-teki dan membingungkan telah
memungkinkan berbagai aliran pemikiran yang berlainan untuk
menyatakan dia sebagai pendirinya.
SOCRATES
Kita tahu pasti bahwa dia sangat buruk rupa. Perutnya gendut,
matanya menonjol, dan hidungnya pendek serta besar. Namun di
katakan bahwa batinnya "sangat bahagia". Juga dikatakan bahwa
"Anda dapat menemukannya pada masa sekarang, Anda dapat
menemukannya di masa lampau, tapi Anda tidak akan pernah
menemukan padanannya." Sekali pun demikian dia dihukum mati
karena aktivitas filsafatnya.
Kehidupan Socrates hanya dapat kita ketahui melalui tulisan-
tulisan Plato, yaitu salah seorang muridnya dan yang menjadi salah
satu filosof terbesar sepanjang masa. Plato menulis sejumlah Dialog,
atau diskusi-diskusi yang didramatisasi mengenai filsafat, tempat dia
menggunakan Socrates sebagai tokoh utama dan juru bicaranya.
Karena Plato menyuarakan filsafatnya sendiri melalui mulut
Socrates, kita tidak dapat yakin apakah kata-kata dalam dialog-dialog
itu benar-benar pernah diucapkan olehnya. Maka, tidak mudah untuk
membedakan antara ajaran-ajaran Socrates dan filsafat Plato.
Masalah yang sama menimpa banyak tokoh sejarah lain yang tidak
meninggalkan penjelasan tertulis. Contoh klasik, tentu saja, yaitu
Yesus. Kita tidak dapat merasa yakin bahwa Yesus "dalam sejarah"
itu benar-benar mengucapkan kata-kata yang dinyatakan oleh Matias
dan Lukas berasal darinya. Begitu pula, apa yang sesungguhnya
diucapkan oleh Socrates "dalam sejarah" akan selalu diliputi misteri.
Namun, siapa Socrates "sesungguhnya", relatif tidak penting.
Penggambaran Plato mengenai Socrates itulah yang telah mengilhami
para pemikir di dunia Barat selama hampir 2.500 tahun.
Seni Berdiskusi
Hakikat seni Socrates terletak dalam fakta bahwa dia tidak ingin
menggurui orang. Sebaliknya, dia memberi kesan sebagai seseorang
yang selalu ingin belajar dari orang-orang lain yang diajaknya
berbicara. Jadi, bukannya memberi kuliah seperti layaknya seorang
guru tradisional, dia mengajak berdiskusi.
Tentu saja dia tidak mungkin dapat menjadi seorang filosof
termasyhur kalau dia membatasi diri dengan hanya mendengarkan
orang-orang lain. Dia pun tidak akan dihukum mati jika begitu.Tapi,
dia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, terutama untuk
memulai percakapan, seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa.
Dalam diskusi itu, dia biasanya berhasil membuat para penentangnya
mengakui kelemahan argumen-argumen mereka, dan, karena tersudut,
mereka akhirnya menyadari apa yang benar dan apa yang salah.
Socrates, yang ibunya yaitu seorang bidan, sering mengatakan
bahwa ilmunya itu seperti ilmu bidan. Dia tidak melahirkan sendiri
anak itu, tetapi dia ada untuk membantu selama kelahiran. Begitu
pula, Socrates menganggap tugasnya seperti membantu orang-orang
"melahirkan" wawasan yang benar, sebab pemahaman yang sejati
harus timbul dari dalam diri sendiri. Itu tidak dapat ditanamkan oleh
orang lain. Dan hanya pemahaman yang timbul dari dalam itulah yang
dapat menuntun kepada wawasan yang benar.
Akan aku kemukakan dengan lebih jelas: Kemampuan untuk
melahirkan yaitu suatu ciri alamiah. Dengan cara yang sama, setiap
orang dapat menangkap kebenaran-kebenaran filosofis jika mereka
mau menggunakan akal mereka sendiri. Menggunakan akal sendiri
berarti masuk ke dalam diri sendiri dan memanfaatkan apa yang ada
di sana.
Dengan berlagak bodoh, Socrates memaksa orang-orang yang
ditemuinya untuk menggunakan akal sehat mereka. Socrates dapat
berpura-pura bodoh—atau menunjukkan dirinya lebih tolol daripada
yang sebenarnya. Kita menamakan ini ironi Socrates. Ini
memungkinkannya untuk terus mengungkap kelemahan pemikiran
orang-orang. Dia tidak keberatan untuk melakukan ini di tengah alun-
alun kota. Jika kamu bertemu Socrates, kamu mungkin akan
dipermalukan di depan publik.
Maka tidaklah mengherankan bahwa, sejalan dengan berlalunya
waktu, orang-orang menganggapnya sangat menjengkelkan, terutama
orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat.
"Athena itu seperti seekor kuda yang lembam," demikian
perkataannya yang sangat terkenal, "dan akulah pengganggu yang
menyengatnya agar beringas."
(Apa yang kita lakukan terhadap para pengganggu, Nyai girah ?)
Suara llahi
Bukan maksudnya untuk menyiksa sesama makhluk jika Socrates
terus menyengat mereka. Suara hatinya tidak memberinya pilihan
lain. Dia selalu mengatakan bahwa dia menyimpan "suara Ilahi"
dalam dirinya. Socrates mengajukan protes, misalnya, terhadap
tindakan menghukum mati orang. Dia juga menolak untuk memberi
informasi kepada musuh-musuh politiknya. Inilah yang akhirnya
membuatnya kehilangan nyawa.
Pada 399 SM, dia didakwa "memperkenalkan dewa-dewa baru
dan merusak kaum muda", serta tidak memercayai dewa-dewa yang
telah diterima. Dengan mayoritas tipis, juri yang terdiri dari lima
ratus orang menyatakannya bersalah.
Besar kemungkinan dia dapat mengajukan kelonggaran. Setidak-
tidaknya, dia dapat menyelamatkan nyawanya dengan setuju untuk
meninggalkan Athena. Tapi kalau dia melakukan ini, dia bukanlah
Socrates. Dia menghargai hati nuraninya—dan kebenaran—lebih
tinggi dibandingkan dengan nyawanya sendiri. Dia meyakinkan juri
bahwa dia hanya bertindak demi kepentingan negara. Namun, dia
tetap dihukum untuk meminum racun cemara. Tak lama kemudian, dia
minum racun itu di hadapan sahabat-sahabatnya, dan meninggal.
Mengapa, Nyai girah ? Mengapa Socrates harus mati? Orang-orang
telah mengajukan pertanyaan ini selama 2.400 tahun. Namun, dia
bukan satu-satunya orang dalam sejarah yang mempertahankan
pendirian hingga akhir hayatnya dan menyongsong kematian demi
keyakinannya. Aku telah menyebutkan Yesus sebelum ini, dan
sesungguhnya ada beberapa hal yang sama antara keduanya.
Baik Yesus maupun Socrates yaitu tokoh yang penuh teka-teki,
juga bagi rekan-rekan sezaman mereka. Tak satu pun di antara
mereka menuliskan sendiri ajaran-ajarannya, maka kita terpaksa
memercayai gambaran yang kita dapatkan tentang mereka dari murid-
murid mereka. Tapi kita tahu bahwa mereka berdua yaitu jagoan
dalam seni berdiskusi. Mereka berdua berbicara dengan keyakinan
diri yang khas yang dapat memikat, tetapi juga menjengkelkan orang.
Dan yang tak kalah penting, mereka berdua percaya bahwa mereka
berbicara atas nama sesuatu yang lebih besar dari pada mereka
sendiri. Mereka menantang kekuasaan masyarakat dengan mengecam
segala bentuk ketidakadilan dan korupsi. Dan akhirnya—aktivitas-
aktivitas mereka mengakibatkan mereka kehilangan nyawa.
Pengadilan Yesus dan Socrates juga menunjukkan kesejajaran yang
sangat jelas.
Mereka berdua dapat menyelamatkan diri dengan memohon belas
kasihan. Namun, mereka merasa mempunyai sebuah misi yang pasti
gagal kecuali jika mereka tetap teguh pada pendirian hingga akhir
hayat. Dan dengan menyongsong kematian secara berani, mereka
berhasil mendapatkan pengikut yang sangat banyak, juga setelah
mereka meninggal.
Aku tidak bermaksud menyarankan bahwa Yesus dan Socrates itu
sama. Aku hanya ingin menunjukkan fakta bahwa mereka berdua
mempunyai pesan yang terkait erat dengan keberanian pribadi
mereka.
Seorang Badut di Athena
Socrates, Nyai girah ! Kita belum selesai dengannya. Kita telah
membicarakan metodenya. Tapi, apakah proyek filsafatnya?
Socrates hidup pada masa yang sama dengan para Sophis. Seperti
mereka, dia lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya di
dalam masyarakat daripada masalah kekuatan alam. Sebagaimana
dikatakan oleh seorang filosof Roma, Cicero, mengenai dirinya
beberapa ratus tahun kemudian, Socrates "menurunkan filsafat dari
langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-
rumah, dan memaksanya untuk menelaah kehidupan, etika, kebaikan,
dan kejahatan".
Tapi, Socrates berbeda dari para Sophis dalam satu hal yang
sangat penting. Dia tidak menganggap dirinya sebagai seorang
"sophis"—yaitu, seseorang yang pandai dan bijaksana. Tidak seperti
kaum Sophis, dia mengajar bukan untuk mendapatkan uang. Tidak,
Socrates menyebut dirinya seorang filosof dalam pengertian yang
sebenarnya dari kata itu. Kata "filosof" sesungguhnya berarti "orang
yang mencintai kebijaksanaan".
Apakah kamu duduk dengan nyaman, Nyai girah ? Karena untuk seluruh
pelajaran ini, kamu harus memahami sepenuhnya perbedaan antara
seorang sophis dan seorang filosof. Kaum Sophis mendapatkan uang
untuk penjelasan-penjelasan mereka yang ruwet, dan sophis semacam
ini telah ada sejak zaman prasejarah. Aku mengacu pada semua guru
sekolah dan orang yang menganggap dirinya tahu segalanya, yang
sudah puas dengan sedikit pengetahuan yang mereka miliki, atau yang
membual bahwa mereka mengetahui segala hal mengenai subjek-
subjek yang sedikitpun tidak mereka ketahui. Barang kali kamu
pernah bertemu beberapa sophis semacam ini dalam usiamu yang
masih belia. Seorang filosof sejati, Nyai girah , sama sekali berbeda—
sangat berkebalikan, sesungguhnya. Seorang filosof mengetahui
bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit yang diketahuinya. Itulah
sebabnya dia selalu berusaha untuk meraih pengetahuan sejati.
Socrates yaitu salah seorang manusia langka ini. Dia tahu bahwa
dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan dan dunia. Dan kini muncul
bagian yang penting: dia merasa gelisah karena hanya sedikit sekali
yang diketahuinya.
Oleh karena itu, filosof yaitu seseorang yang mengakui bahwa
ada banyak hal yang tidak dipahaminya, dan dia merasa terganggu
karenanya. Dalam pengertian itu, dia masih lebih bijaksana daripada
semua orang yang membual tentang pengetahuan mereka mengenai
segala sesuatu yang tidak mereka ketahui. "Orang yang paling
bijaksana yaitu yang mengetahui bahwa dia tidak tahu," kataku
sebelum ini. Socrates sendiri berkata, "Hanya satu yang aku tahu,
yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa."
Ingat pernyataan ini, sebab itu yaitu pengakuan yang langka,
bahkan di kalangan para filosof. Lagi pula, bisa berbahaya sekali
mengucapkan itu di depan umum karena nyawamu jadi taruhannya.
Orang yang paling subversif yaitu yang selalu bertanya. Memberi
jawaban tidaklah begitu berbahaya. Mengajukan satu pertanyaan
dapat lebih memancing ledakan dibandingkan dengan seribu
jawaban.
Kamu ingat cerita tentang baju baru sang maharaja?
Maharaja sesungguhnya telanjang bulat, tetapi tak seorang rakyat
pun berani mengatakannya. Tiba-tiba seorang anak berteriak, "Tapi
dia tidak mengenakan apa-apa!" Itu yaitu anak yang berani, Nyai girah .
Seperti Socrates, yang berani mengatakan pada orang-orang betapa
sedikit yang diketahui manusia. Persamaan antara anak-anak dan
filosof sudah kita bicarakan sebelumnya.
Tepatnya: Umat manusia dihadapkan pada sejumlah pertanyaan
sulit yang tidak dapat kita temukan jawabannya yang memuaskan.
Maka muncul dua kemungkinan: Kita dapat memperdayai diri sendiri
dan seluruh dunia dengan berpura-pura bahwa kita mengetahui segala
hal yang harus diketahui, atau kita dapat menutup mata terhadap
masalah-masalah penting dan tinggal diam. Dalam hal ini, manusia
terbagi dua. Secara umum, mereka merasa sangat yakin atau sama
sekali tidak peduli. (Keduanya merayap jauh ke dalam bulu-bulu si
kelinci!)
Itu seperti membagi sebungkus kartu menjadi dua tumpukan,
Nyai girah . Kamu meletakkan kartu-kartu hitam di satu tumpukan dan
yang merah di tumpukan satunya. Tapi berulang kali si badut muncul
dari kartu hati atau klaver, wajik atau sekop. Socrates yaitu badut
ini di Athena. Dia tidak merasa yakin dan tidak pula acuh tak acuh.
Yang diketahuinya hanyalah bahwa dia tidak tahu apa-apa—dan hal
ini mengganggunya. Maka, dia menjadi filosof—orang yang tidak
mau menyerah, tetapi terus berusaha tanpa kenal lelah mencari
kebenaran.
Diceritakan bahwa seorang penduduk Athena pernah bertanya
kepada peramal di Delphi tentang siapakah manusia yang paling
bijaksana di Athena. Sang peramal menjawab bahwa Socrates yaitu
yang paling bijaksana dari semua manusia. saat Socrates
mendengar ini, dia sangat terkejut. (Dia pasti tertawa, Nyai girah !) Dia
pergi mendatangi seseorang di kota yang oleh dirinya, maupun semua
orang lainnya, dianggap sangat bijak sana. Tapi saat ternyata orang
ini tidak mampu memberi Socrates jawaban yang memuaskan
terhadap pertanyaannya, Socrates sadar bahwa peramal itu benar.
Socrates merasa yaitu penting untuk membangun landasan yang
kuat untuk pengetahuan kita. Dia percaya bahwa landasan ini terletak
pada akal manusia. Dengan keyakinannya yang tak tergoyahkan pada
akal manusia, jelaslah bahwa dia seorang rasionalis.
Wawasan yang Benar Menuntun pada Tindakan yang Benar
Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Socrates menyatakan bahwa
dia dituntun oleh suara batin Ilahi, dan bahwa "hati nurani" ini
mengatakan kepadanya apa yang benar. "Orang yang mengetahui apa
yang baik akan berbuat baik," katanya,
Dengan ini, yang dimaksudkannya yaitu bahwa wawasan yang
benar akan menuntun pada tindakan yang benar. Dan hanya orang
yang bertindak benar sajalah yang dapat menjadi "orang yang berbudi
luhur". Jika kita melakukan kesalahan, itu karena kita tidak tahu.
Itulah sebabnya penting sekali untuk terus belajar. Socrates berusaha
untuk menemukan definisi-definisi yang jelas dan secara universal
diterima mengenai benar dan salah. Tidak seperti kaum Sophis, dia
percaya bahwa kemampuan untuk membedakan benar dan salah
terletak pada akal manusia, bukan masyarakat.
Barangkali kamu beranggapan bahwa bagian terakhir ini agak
terlalu kabur, Nyai girah . Coba aku kemukakan begini: Socrates
menganggap bahwa tidak mungkin seseorang dapat bahagia jika
mereka bertindak menentang penilaian mereka yang lebih baik. Dan
orang yang tahu cara meraih kebahagiaan akan melakukan hal itu.
Oleh karena itu, orang yang tahu apa yang benar akan bertindak
benar. Sebab, untuk apa orang memilih menjadi tidak bahagia?
Bagaimana pendapatmu, Nyai girah ? Dapatkah kamu menjalani
kehidupan yang bahagia jika kamu terus melakukan hal-hal yang jauh
di lubuk hati kamu tahu salah? Banyak sekali orang yang berbohong
dan menipu dan menjelek-jelekkan orang lain. Apakah mereka sadar
bahwa semua ini tidak benar—atau tidak adil? Apakah kamu pikir
orang-orang ini bahagia?
Menurut Socrates tidak.
Setelah Nyai girah membaca surat itu, dengan cepat di masukkannya
ke dalam kaleng kue dan dia merangkak ke luar menuju taman. Dia
sudah ingin berada di dalam rumah sebelum ibunya kembali dari
berbelanja untuk menghindari pertanyaan dari mana dia tadi. Dan dia
telah ber janji akan mencuci piring.
Dia baru saja mengisi bak cuci dengan air saat ibunya datang
sempoyongan dengan dua kantong belanja yang sangat besar.
Mungkin itulah sebab ibunya berkata, "Kamu agak sibuk belakangan
ini, Nyai girah ."
"Begitu pula Socrates." Nyai girah tidak tahu mengapa dia
mengucapkan itu; kata-kata ini keluar begitu saja dari mulutnya.
"Socrates?"
Ibunya terperanjat, matanya membesar.
"Sungguh menyedihkan dia harus mati karenanya," Nyai girah
meneruskan sambil berpikir.
"Ya ampun! Nyai girah ! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan!"
"Tidak juga Socrates. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dia tidak
tahu apa-apa. Toh dia yaitu orang paling bijak di Athena."
Ibunya tidak mampu mengucapkan apa-apa.
Akhirnya dia berkata, "Apakah ini sesuatu yang kamu pelajari di
sekolah?"
Nyai girah menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Kami tidak belajar apa-apa di sana. Perbedaan antara guru
sekolah dan filosof yaitu bahwa guru sekolah mengira mereka tahu
banyak hal yang mereka coba paksakan masuk ke tenggorokan kami.
Filosof berusaha untuk memahami segala sesuatu bersama murid-
murid mereka."
"Kini kita kembali pada kelinci putih lagi! Kamu tahu? Aku
menuntut untuk diberitahu siapa sesungguhnya teman priamu. Kalau
tidak, aku akan mulai menganggap dia sedikit terganggu otaknya."
Nyai girah berbalik membelakangi tumpukan piring-piring itu dan
menunjuk ibunya dengan lap piring.
"Bukan dia yang terganggu. Tapi dia yang suka mengganggu orang-
orang lain—untuk menggugah mereka dari kelembaman."
"Sudah cukup! Kukira dia terlalu kurang ajar." Nyai girah kembali
pada cuciannya.
"Dia tidak kurang ajar dan juga tidak sopan," kata Nyai girah . "Tapi
dia berusaha untuk meraih kebijaksanaan sejati. Itulah perbedaan
besar antara seorang badut yang sesungguhnya dan semua kartu lain
dalam bungkus itu."
"Apakah kamu bilang seorang badut?"
Nyai girah mengangguk. "Pernahkah Ibu berpikir tentang kenyataan
bahwa ada banyak hati dan wajik dalam sebungkus kartu? Dan
banyak sekop dan klaver. Tapi hanya ada satu badut."
"Sungguh menyedihkan, bagaimana kamu membalas ucapan Ibu,
Nyai girah !"
"Dan bagaimana Ibu bertanya!"
Ibunya telah menyimpan semua bahan makanan. Kini, dia
mengambil koran dan pergi ke ruang duduk. Nyai girah mengira dia
menutup pintu lebih keras daripada biasanya.
Nyai girah selesai mencuci piring dan naik ke kamarnya. Dia telah
meletakkan selendang sutra merah di rak lemari dinding paling atas
bersama balok-balok Lego. Dia menurunkannya dan mengamatinya
dengan cermat.
count dracula ...[]
Athena
***
... beberapa bangunan tinggi bangkit dari reruntuhan ...
SENJA ITU ibu Nyai girah mengunjungi seorang teman. Begitu dia
keluar rumah, Nyai girah mendatangi taman dan pergi ke sarangnya. Di
sana dia menemukan sebuah paket tebal di samping kaleng kue besar.
Nyai girah menyobeknya hingga terbuka. Sebuah kaset video.
Dia berlari kembali ke rumah. Sebuah kaset video! Bagaimana
bisa sang filosof tahu mereka mempunyai VCR? Dan apa yang ada di
dalam kaset itu?
Nyai girah memasukkan kaset itu ke dalam pemutarnya. Sebuah kota
yang berantakan muncul di layar televisi. saat kamera membidik
Acropolis, Nyai girah menyadari bahwa itu pastilah Athena. Dia sudah
sering melihat gambar-gambar yang menunjukkan reruntuhan di sana.
Itu yaitu rekaman langsung. Para turis berpakaian musim panas
dengan kamera tersandang di bahu berkerumun di seputar reruntuhan.
Salah seorang di antara mereka tampak seperti menenteng sebuah
papan pengumuman. Itu lagi. Tidakkah itu berbunyi "count dracula "?
Setelah satu-dua menit, tampak gambar close-up seorang pria
setengah umur. Dia agak pendek, dengan janggut hitam yang dicukur
rapi, dan mengenakan sebuah baret biru. Dia memandang ke arah
kamera dan berkata: "Selamat datang di Athena, Nyai girah . Seperti yang
mungkin kamu duga, akulah Alberto Knox.
Jika tidak, aku akan mengulangi pernyataanku bahwa si kelinci
besar tengah ditarik keluar dari topi pesulap alam raya.
"Kami sedang berdiri di Acropolis. Kata itu berarti "benteng"—
atau yang lebih tepat lagi, "kota di atas bukit". Manusia telah ada di
sini sejak Zaman Batu. Alasannya, tentu saja, yaitu lokasinya yang
unik. Dataran tinggi memberi perlindungan kuat dari serangan musuh.
Dari Acropolis dapat dilihat dengan jelas salah satu pelabuhan
terbaik di Laut Tengah. saat orang-orang Athena awal mulai
berkembang di wilayah bawah dataran tinggi itu, Acropolis
digunakan sebagai kubu dan kuil suci ... Pada paruh pertama abad
kelima SM, sebuah perang sengit berlangsung melawan bangsa
Persia, dan pada 480 Raja Persia Xerxes merampas Athena dan
membakar seluruh bangunan batu di Acropolis. Satu tahun kemudian,
bangsa Persia berhasil dikalahkan, dan itulah awal Zaman Keemasan
Athena. Acropolis dibangun kembali—lebih hebat dan lebih indah
daripada sebelumnya—dan kini semata-mata menjadi kuil suci.
"Inilah masa saat Socrates berkelana di jalan-jalan dan alun-
alun, berbicara dengan para penduduk Athena. Dengan demikian, dia
telah menyaksikan kelahiran kembali Acropolis dan menyaksikan
pembangunan seluruh gedung indah yang kita lihat di sekitar itu. Dan
betapa hebatnya lingkungan bangunan itu! Di belakangku, kamu dapat
melihat kuil terbesar, Parthenon, yang berarti "Tempat sang
Perawan". Itu dibangun sebagai penghormatan kepada Athene, Dewi
Pelindung Athena. Struktur marmer yang sangat besar itu tidak
mempunyai satu garis lurus pun; keempat sisinya sedikit melengkung
sehingga membuat gedung itu tampak tidak terlalu berat. Lepas dari
dimensi-dimensinya yang kolosal, ia memberi kesan ringan. Dengan
kata lain, ia memberi ilusi optis. Tiang-tiangnya sedikit melengkung
ke dalam, dan akan membentuk piramida setinggi 1.500 meter jika
membubung lurus ke atas kuil. Kuil itu tidak berisi apa-apa, kecuali
sebuah patung Athena setinggi dua belas meter. Marmer putihnya,
yang pada masa itu dilukis dengan warna-warna yang cemerlang,
dikirimkan ke sini dari sebuah gunung sejauh enam kilometer."
Nyai girah duduk ketakutan. Apakah ini benar-benar sang filosof yang
sedang berbicara dengannya? Dia pernah melihat profilnya sekali itu
dalam kegelapan. Mungkinkah itu orang yang sama yang kini berdiri
di Acropolis di Athena?
Pria itu mulai berjalan sepanjang kuil dan kamera mengikutinya.
Dia berjalan tepat ke ujung teras dan menunjuk ke arah pemandangan
di depan. Kamera memusatkan pandangan pada sebuah teater yang
terletak di bawah dataran tinggi Acropolis.
"Di sana kamu bisa melihat Teater Dionysos kuno," lanjut pria
dengan baret itu. "Ini barangkali teater paling tua di Eropa. Di sinilah
tragedi-tragedi besar Aeschylus, Sophocles, dan Euripides
ditampilkan pada zaman Socrates. Sebelumnya, aku pernah
menyebut-nyebut Raja Oedipus yang bernasib buruk. Tragedi
mengenainya, oleh Sophocles, pertama kali ditampilkan di sini. Tapi
mereka juga memainkan komedi. Penulis komedi terbaik yaitu
Aristophanes, yang juga menulis komedi balas dendam mengenai
Socrates sebagai badut Athena. Tepat di belakang, kamu dapat
melihat tembok batu yang digunakan para aktor sebagai latar
belakang. Itu disebut skênê, dan merupakan asal usul dari kata bahasa
Inggris scene. Secara kebetulan, kata theater berasal dari sebuah
kata kuno Yunani yang berarti "melihat". Tapi kita harus kembali
kepada para filosof, Nyai girah . Kita akan berkeliling Parthenon dan
turun melalui gerbang ..."
Pria kecil itu berjalan di sekeliling kuil besar dan melewati
beberapa kuil yang lebih kecil di sebelah kanannya Lalu dia mulai
menuruni beberapa anak tangga di antara beberapa tiang tinggi.
saat dia sampai di kaki Acropolis, dia mendaki sebuah bukit kecil
dan menunjuk ke arah Athena: "Bukit tempat kami berdiri dinamakan
Aeropagos. Di sinilah pengadilan tinggi memberikan putusannya
dalam sidang-sidang pembunuhan. Beratus-ratus tahun kemudian, St.
Paul sang Utusan berdiri di sini dan berkhutbah mengenai Yesus dan
agama Kristen kepada orang-orang Athena. Kita akan kembali pada
apa yang di katakannya di sini dalam kesempatan lain. Di sebelah
kiri, kamu dapat melihat reruntuhan lapangan kota tua di Athena,
Agora. Dengan perkecualian kuil besar Hephaestos, dewa para
pandai besi dan pekerja logam, hanya beberapa balok marmer yang
berhasil dilestarikan. Mari kita ke bawah ..."
Saat berikutnya, dia muncul di antara reruntuhan kuno. Jauh tinggi
di kaki langit—di puncak layar Nyai girah —menjulang kuil Athena yang
monumental di Acropolis. Guru filsafatnya telah duduk di atas salah
satu balok marmer. Dia memandang ke arah kamera dan berkata:
"Kami duduk di Agora kuno di Athena. Suatu pemandangan yang
menyedihkan, bukan? Kini, maksudku. Tapi dulu, ia dikelilingi oleh
kuil-kuil indah, gedung-gedung pengadilan dan kantor-kantor publik
lainnya, toko-toko, sebuah gedung konser, dan bahkan sebuah
bangunan olahraga yang besar. Semuanya terletak di seputar alun-
alun, yang merupakan sebuah ruang terbuka yang sangat luas ...
Seluruh peradaban Eropa diawali dari daerah sederhana ini.
"Kata-kata seperti politik dan demokrasi, ekonomi dan sejarah,
biologi dan fisika, matematika dan logika, teologi dan filsafat, etika
dan psikologi, teori dan metode, ide dan sistem, semuanya berasal
dari populasi kecil yang kehidupan sehari-harinya terpusat di alun-
alun ini. Di sinilah Socrates melewatkan sebagian besar waktunya
berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya. Dia mungkin pernah
menghentikan seorang budak yang sedang membawa toples minyak
zaitun untuk mengajaknya bercakap-cakap, dan menanyakan kepada
orang yang sedang sial itu sebuah pertanyaan filosofis, sebab
Socrates beranggapan bahwa seorang budak mempunyai akal sehat
yang sama dengan seorang pria terhormat. Barangkali dia sedang
terlibat dalam pertengkaran seru dengan salah seorang warganegara
—atau dalam pembicaraan lembut dengan muridnya yang masih
muda, Plato. Sungguh luar biasa kalau dibayangkan. Kita masih
berbicara tentang filsafat Socrates atau Plato, tapi menjadi Plato atau
Socrates yang sebenarnya tentu lain soal."
Nyai girah memang beranggapan itu luar biasa. Namun menurutnya,
sama luar biasanya cara sang filosof tiba-tiba berbicara kepadanya
dalam sebuah pita video yang telah di bawa ke tempat
persembunyiannya di taman oleh seekor anjing misterius.
Sang filosof bangkit dari balok marmer yang didudukinya dan
berkata perlahan: "Memang sebelumnya kuniatkan untuk
membiarkannya begitu saja, Nyai girah . Aku ingin kamu melihat
Acropolis dan sisa-sisa Agora kuno di Athena. Tapi aku belum yakin
kalau kamu telah menangkap betapa indahnya lingkungan di sini dulu
... maka aku tergoda untuk melangkah sedikit lebih jauh. Sangat tidak
biasa tentu saja ... tapi aku yakin kita dapat merahasiakan ini. Nah,
bagaimanapun selintas pandangan sudah cukup memadai ..."
Dia tidak berbicara lagi, tetapi tetap berdiri di sana lama,
memandang ke arah kamera. Tiba-tiba, beberapa gedung tinggi
bangkit dari reruntuhan. Seakan-akan dengan kekuatan sihir, seluruh
gedung itu sekali lagi berdiri. Di atas kaki langit, Nyai girah masih dapat
melihat Acropolis, tetapi kini bangunan itu dan seluruh gedung di
lapangan tampak baru. Semuanya dilapisi emas dan dicat dengan
warna-warna berkilauan. Orang-orang berpakaian meriah berjalan-
jalan di seputar alun-alun. Sebagian menyandang pedang, yang lain
menyunggi kendi di kepala, dan salah seorang di antara mereka
mengepit segulung lontar di bawah lengannya.
Selanjutnya, Nyai girah mengenali guru filsafatnya. Dia masih
mengenakan baret biru, tapi kini berpakaian tunik kuning dengan gaya
yang sama seperti semua orang lain di situ. Dia mendatangi Nyai girah ,
memandang ke arah kamera, dan berkata:
"Ini lebih baik! Kini kita berada di Athena zaman kuno, Nyai girah .
Aku ingin kamu datang sendiri ke sini. Kita berada di tahun 402 SM,
hanya tiga tahun sebelum Socrates meninggal. Aku harap kamu
menghargai kunjungan eksklusif ini, sebab sangat sulit untuk
menyewa sebuah kamera video ..."
Nyai girah merasa pusing. Bagaimana bisa orang yang aneh ini berada
di Athena 2.400 tahun yang lalu? Bagaimana bisa dia menyaksikan
sebuah film video dari suatu zaman yang sama sekali berbeda? Tidak
ada video di zaman kuno ... jadi mungkinkah ini sebuah film?
Tapi, semua gedung marmer itu tampak nyata. Jika mereka telah
membangun kembali seluruh alun-alun kuno di Athena itu dan juga
Acropolis hanya demi sebuah film—adegan itu pasti besar sekali
biayanya. Bagaimanapun, harga itu akan terlalu mahal jika hanya
untuk mengajari Nyai girah tentang Athena.
Pria berbaret itu mendongak kembali ke arah Nyai girah . "Apakah
kamu melihat kedua pria di sana di bawah barisan tiang penopang
atap?"
Nyai girah melihat seorang pria tua dengan tunik kusut. Dia
mempunyai janggut yang tidak terurus, hidung pendek dan besar,
sepasang mata seperti gerek kayu, dan pipi tembem. Di sampingnya
berdiri seorang pria ganteng.
"Itulah Socrates dan muridnya yang masih muda, Plato. Kamu akan
bertemu sendiri dengan mereka."
Sang filosof mendatangi kedua pria itu, melepaskan baretnya, dan
mengucapkan sesuatu yang tidak dipahami Nyai girah . Itu pasti
pembicaraan dalam bahasa Yunani. Lalu, dia memandang ke arah
kamera dan berkata, "Aku katakan kepada mereka bahwa kamu
seorang gadis Norwegia yang sangat ingin bertemu dengan mereka.
Maka, kini Plato akan memberi beberapa pertanyaan untuk kamu
pikirkan. Tapi, kita harus melakukannya cepat-cepat sebelum para
pengawal menemukan kami."
Nyai girah merasa darah mengaliri pelipisnya saat pria muda itu
melangkah maju dan memandang kamera.
"Selamat datang di Athena, Nyai girah ," katanya dengan suara
lembut. Dia berbicara dengan aksen pada suaranya. "Namaku Plato
dan aku akan memberimu empat tugas. Pertama, kamu harus
memikirkan bagaimana seorang tukang roti membuat lima puluh buah
kue yang persis sama. Selanjutnya kamu dapat menanyakan kepada
dirimu sendiri mengapa semua kuda itu sama. Lalu, kamu harus
memutuskan apakah manusia itu mempunyai jiwa yang kekal. Dan
akhirnya, kamu harus menjawab apakah pria dan wanita sama-sama
bijaksana. Semoga sukses!"
Lalu, gambar di layar televisi menghilang. Nyai girah memutar dan
memutar kembali pita itu tapi dia sudah melihat semua yang terekam
di sana.
Nyai girah berusaha untuk memikirkan segalanya dengan jernih.
Namun, begitu dia memikirkan sesuatu, sesuatu yang lain menyerbu
masuk sebelum dia selesai memikirkan yang pertama hingga tuntas.
Dia sudah tahu sejak awal bahwa guru filsafatnya eksentrik. Tapi,
saat dia mulai menggunakan metode pengajaran yang menyimpang
dari hukum alam, Nyai girah menganggap dia sudah melangkah terlalu
jauh.
Apakah dia benar-benar telah melihat Socrates dan Plato di
televisi? Tentu saja tidak, itu mustahil. Tapi jelas itu bukan film
kartun.
Nyai girah mengeluarkan kaset dari pemutar video dan lari ke atas
menuju kamarnya dengan benda itu. Dia meletakkannya di rak paling
atas bersama semua balok Lego. Lalu, dia tenggelam di tempat
tidurnya, kelelahan, dan jatuh tertidur.
Beberapa jam kemudian, ibunya masuk ke kamar. Dia
menggoyang-goyang Nyai girah dengan lembut dan berkata:
"Ada apa, Nyai girah ?"
"Mmmm?"
"Kamu pergi tidur dengan mengenakan baju lengkap."
Nyai girah mengedip-ngedipkan matanya dengan mengantuk.
"Aku baru saja pergi ke Athena," gumamnya. Hanya itulah yang
dapat dikatakannya sebelum dia berguling dan kembali tertidur.[]
Plato
***
... suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa ...
Nyai girah BANGUN pagi-pagi keesokan harinya. Dia melihat jam.
Baru pukul lima lebih sedikit, tetapi dia telah benar-benar terbangun
sehingga dia duduk di atas tempat tidur. Mengapa dia masih
mengenakan gaun? Lalu, dia ingat semuanya.
Dia memanjat bangku tinggi dan melongok ke rak lemari dinding
paling atas. Ya—di sana, di bagian belakang, ada kaset video itu.
Bagaimanapun, itu bukan mimpi; setidak-tidaknya, tidak seluruhnya.
Tapi dia tidak mungkin benar-benar telah melihat Plato dan
Socrates ... oh, sudahlah! Dia tidak mempunyai energi lagi untuk
memikirkan hal itu. Barangkali ibunya benar, barangkali dia
bertindak sedikit sinting belakangan ini.
Tapi dia tidak kembali tidur. Mungkin dia harus turun ke sarang
dan melihat kalau-kalau anjing itu telah meninggalkan surat lain.
Nyai girah menuruni tangga pelan-pelan, mengenakan sepatu joging, dan
pergi ke luar.
Di taman, segalanya sangat terang dan sunyi. Burung-burung
berkicau penuh semangat sehingga Nyai girah hampir tidak dapat
menahan senyum. Embun pagi berkelip-kelip di rerumputan seperti
butir-butir kristal. Sekali lagi dia terpukau oleh keajaiban dunia yang
luar biasa ini.
Di dalam pagar tanaman rasanya juga sangat lembap. Nyai girah tidak
melihat surat baru dari sang filosof, tetapi dia tetap mengelap salah
satu akar tebal itu dan duduk.
Dia ingat bahwa Plato dalam video telah mengajukan beberapa
pertanyaan kepadanya yang harus dijawab. Yang pertama yaitu
bagaimana seorang tukang roti dapat membuat lima puluh kue yang
sama.
Nyai girah harus berpikir dengan sangat hati-hati mengenai itu, sebab
itu jelas tidak mudah. saat ibunya sekali waktu memanggang
sejumlah kue, mereka tidak pernah benar-benar sama. Tapi memang
ibunya bukan seorang koki kue yang hebat; kadang-kadang dapur
tampak seperti sebuah kapal yang baru saja meledak. Bahkan kue-kue
yang mereka beli di toko roti tidak bisa benar-benar sama. Setiap
potong kue dibentuk secara terpisah dengan tangan si tukang roti.
Lalu, sebuah senyum puas terkembang di wajah Nyai girah . Dia ingat
bagaimana dulu dia dan ayahnya pergi berbelanja, sementara ibunya
sibuk memanggang kue-kue Natal. saat mereka kembali, ada
banyak kue jahe berbentuk orang terletak di meja dapur. Meskipun
mereka semua tidak sempurna, dalam hal tertentu mereka semua
sama. Dan mengapa begitu? Jelas karena ibunya telah menggunakan
cetakan yang sama.
Nyai girah merasa begitu puas dengan dirinya karena dapat mengingat
peristiwa itu sehingga dia merasa telah berhasil menjawab
pertanyaan pertama. Jika seorang tukang roti membuat lima puluh kue
yang persis sama, dia pasti menggunakan cetakan kue yang sama
untuk semuanya. Dan itulah jawabannya!
Kemudian, Plato dalam video memandang ke arah kamera dan
bertanya mengapa semua kuda sama. Tapi mereka sama sekali tidak
sama! Sebaliknya, Nyai girah beranggapan tidak ada dua kuda yang
sama, seperti halnya tidak ada dua orang yang sama.
Dia baru saja akan menyerah saat dia ingat apa yang tadi
dipikirkannya tentang kue-kue itu. Tak satu pun di antaranya yang
persis sama dengan yang lain. Sebagian sedikit lebih tebal
dibandingkan dengan yang lain, dan sebagian tipis. Tapi tetap saja
setiap orang dapat melihat bahwa kue-kue itu—dalam hal tertentu
—"persis sama".
Yang sesungguhnya ditanyakan oleh Plato barangkali yaitu
mengapa seekor kuda selalu menjadi kuda, dan bukan, misalnya,
persilangan antara kuda dan babi. Sebab, meskipun beberapa kuda
sama cokelatnya dengan beruang dan yang lainnya sama putihnya
dengan anak biri-biri, semua kuda mempunyai sesuatu yang sama.
Nyai girah belum pernah menemui seekor kuda dengan enam atau
delapan kaki, misalnya.
Tapi tentunya Plato tidak percaya bahwa semua kuda sama karena
dibuat dengan cetakan yang sama?
Selanjutnya, Plato mengajukan pertanyaan yang benar-benar sulit.
Apakah manusia mempunyai jiwa yang kekal? itu yaitu sesuatu
yang Nyai girah merasa tidak sanggup menjawab. Yang diketahuinya
hanyalah bahwa tubuh-tubuh yang telah mati itu kemudian dibakar
atau dikubur, sehingga tidak ada masa depan lagi bagi mereka. Jika
manusia mempunyai jiwa yang kekal, kita harus percaya bahwa
seseorang terdiri dari dua bagian yang terpisah: tubuh yang akan
menjadi rusak setelah lewat bertahun-tahun—dan jiwa yang bekerja
secara mandiri di luar apa yang menimpa tubuh. Neneknya pernah
berkata bahwa dia merasa hanya tubuhnyalah yang tua. Di dalam, dia
tetap seorang gadis muda yang sama.
Pikiran tentang "gadis muda" mendorong Nyai girah pada pertanyaan
terakhir: Apakah pria dan wanita sama-sama bijaksana? Dia tidak
begitu yakin tentang hal itu. Tergantung pada Plato apa yang
dimaksudkannya dengan bijaksana.
Sesuatu yang pernah dikatakan sang filosof mengenai Socrates
masuk ke benaknya. Socrates menyatakan bahwa setiap orang dapat
memahami kebenaran filosofis jika mereka menggunakan akal sehat
mereka. Dia juga berkata bahwa seorang budak mempunyai akal
sehat yang sama sebagaimana seorang pria terhormat. Nyai girah yakin
bahwa dia pasti akan mengatakan bahwa wanita mempunyai akal
sehat yang sama sebagaimana pria.
saat dia duduk sambil berpikir, tiba-tiba terdengar suara
gemeresik di pagar tanaman, dan suara dari sesuatu yang bertiup dan
memukul seperti mesin uap. Saat berikutnya, Labrador keemasan itu
menyelinap ke dalam sarang. la membawa sebuah amplop besar di
mulutnya.
"Hermes!" seru Nyai girah . "Jatuhkan! Jatuhkan!"
Anjing itu menjatuhkan amplop di pangkuan Nyai girah , dan Nyai girah
mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anjing itu.
"Bagus, Hermes!" katanya. Anjing itu berbaring dan membiarkan
dirinya dielus. Tapi setelah beberapa menit, ia bangun dan
menerobos pagar tanaman dengan cara yang sama seperti saat ia
datang. Nyai girah mengikuti dengan amplop cokelat di tangan. Dia
merayap melalui semak-semak yang tebal dan dengan segera tiba di
luar taman.
Hermes berlari menuju tepi hutan. Nyai girah mengikuti beberapa
meter di belakangnya. Dua kali anjing itu menengok dan menggeram,
namun Nyai girah tidak mundur.
Kali ini, dia telah membulatkan hati untuk menemukan sang filosof
—meskipun jika itu berarti dia harus berlari sampai Athena.
Anjing itu berlari lebih cepat dan tiba-tiba berbelok masuk ke
sebuah jalan sempit. Nyai girah masih mengejarnya, tapi setelah
beberapa saat, binatang itu berbalik dan menghadapnya, menyalak
seperti seekor anjing penjaga. Nyai girah masih tidak mau menyerah, dan
memanfaatkan kesempatan dengan memperpendek jarak antara
mereka.
Hermes berbalik dan berlari kencang sepanjang jalan itu. Nyai girah
menyadari bahwa dia tidak akan pernah dapat menyusulnya. Dia
berdiri diam lama sekali, mendengarkan anjing itu berlari semakin
jauh dan jauh. Lalu, semuanya sunyi.
Dia duduk di atas sebuah tunggul pohon di dekat tanah terbuka di
hutan itu. Dia masih memegang amplop cokelat di tangan. Dia
membukanya, menarik keluar beberapa halaman saat n, dan mulai
membaca:
AKADEMl PLATO
Terima kasih untuk saat menyenangkan yang telah kita lewati
bersama, Nyai girah . Di Athena, maksudku. Maka kini, setidak-tidaknya
aku telah memperkenalkan diriku. Dan, karena aku juga telah
memperkenalkan Plato, kita dapat mulai tanpa ribut-ribut lagi.
Plato (428-347 SM) berusia dua puluh sembilan tahun saat
Socrates minum racun cemara. Dia telah menjadi murid Socrates
selama beberapa waktu dan telah mengikuti pengadilannya dengan
cermat. Kenyataan bahwa Athena dapat menghukum mati warga
negaranya yang paling mulia menimbulkan lebih dari sekadar kesan
mendalam terhadapnya. Hal itu menciptakan jalan bagi seluruh upaya
filosofisnya.
Bagi Plato, kematian Socrates merupakan contoh mencolok dari
konflik yang dapat timbul antara masyarakat sebagaimana adanya dan
masyarakat sejati atau ideal. Tindakan Plato yang pertama sebagai
seorang filosof yaitu menerbitkan karya Socrates, Apologi, suatu
penjelasan tentang pembelaannya di hadapan juri.
Seperti yang pasti kamu ingat, Socrates tidak pernah menuliskan
apa pun, meski banyak orang sebelum Socrates melakukannya.
Masalahnya yaitu hampir tidak ada lagi materi tertulis yang
tertinggal. Namun dalam kasus Plato, kita yakin bahwa seluruh karya
utamanya telah dilestarikan. (Di samping karya Socrates Apologi,
Plato menulis kumpulan Epistles dan kira-kira dua puluh lima Dialog
filsafat.) Kita bisa mendapatkan karya-karya ini sekarang berkat
tindakan Plato mendirikan sekolah filsafatnya sendiri di sebuah hutan
kecil tidak jauh dari Athena, yang dinamai sesuai dengan nama
pahlawan legendaris Yunani, Academus. Karenanya, sekolah itu
dikenal sebagai Akademi. (Sejak itu, ribuan "akademi" di dirikan di
seluruh dunia.)
Subjek-subjek yang diajarkan di Akademi Plato yaitu filsafat,
matematika, dan olahraga—meskipun barangkali "diajarkan"
bukanlah kata yang tepat. Diskusi yang hidup dianggap paling penting
di Akademi Plato. Maka, bukan kebetulan kalau tulisan-tulisan Plato
mengambil bentuk dialog. Kebenaran Abadi, Keindahan A




