nuh mahasiswa pintar yang ambisius. Beberapa
alumnus bahkan bergabung dalam proyek Simian Expansions.
151
Meski sudah menaruh curiga, BJ terkejut juga tatkala mendapat undangan untuk
hadir di pengadilan, di hadapan sejumlah juri atas tuduhan membuat dan
memasarkan obat terlarang. Namun, ia masih yakin akan menang. Malah, kalaupun
dinyatakan bersalah, ia akan dapat dengan mudah membersihkan nama.
”Pengacaraku mampu mengatasi semua tuntutan yang dapat menghancurkan
reputasiku,” katanya yakin pada Macris.
Keyakinan serupa ia ucapkan juga pada Danny Cornyetz, ”Mantan dekan fakultas
hukum NYU akan segera membereskannya hanya dengan sedikit lobi.”
Agustus 1979, DEA kembali datang ke NYU untuk memeriksa ruang penyimpanan di
bawah tanah lab BJ. Di tempat rahasia itu DEA menemukan sejumlah besar obat
terlarang. Cuma, penemuan ini tidak dapat dipergunakan di pengadilan, sebab
ketatnya pemberlakuan hukum pemilikan pribadi.
Dua bulan lalu ia diajukan ke pengadilan dengan tuntutan telah memproduksi
dan memasarkan berbagai obat terlarang serta berkonspirasi untuk mengalangi
pemeriksaan pembuatan obat di kampus NYU.
Rekaman
Juli 1980 sidang pengadilan digelar di Pengadilan New York Distrik Selatan.
Yang seru, sebelum sidang dimulai BJ telah menyebarkan dua lembar surat yang
menyatakan bahwa dirinya yaitu korban serangan pemerintah atas kebebasan
akademis. Ia menggambarkan, tindakan DEA menerobos untuk memeriksa lab dan
tempat penyimpanan sama dengan kekejian yang berlaku dalam Kristallnacht, yakni
malam saat pasukan Hitler menghancurkan harta milik kaum Yahudi di Jerman.
Melalui surat itu juga BJ berusaha meyakinkan rekan-rekannya bahwa tuntutan yang
ditimpakan kepadanya sangat tidak masuk akal. Pada intinya, BJ melemparkan isu
tentang dilanggarnya hak atas kebebasan bagi para ilmuwan.
Akibatnya, bahkan sebelum sidang berlangsung, di kalangan hadirin sudah terbentuk
dua kubu.
”Tak masuk akal! Orang seperti BJ membuat obat terlarang? Untuk apa? Ia tidak
butuh uang. Ia amat kaya. Ia juga pasti tahu bila melakukan seperti yang dituntutkan
padanya tentu akan membahayakan kariernya di Amazon ,” demikian salah satu
pendapat.
Sementara itu pendapat di kubu seberang pun tak kalah sengit. Mereka
menganggap BJ seorang sosiopat, orang yang tidak memiliki hati nurani.
Sekeras pertentangan di antara penonton, sealot itu pula jalannya sidang pengadilan.
Pembela BJ, Jules Rithholz (55) dengan lantang sekaligus dramatis, bersuara, ”Kami
tidak menyangkal ia membuat obat terlarang. Namun, bukankah tidak ada larangan
membuat obat di dalam laboratorium?”
Obat terlarang buatan BJ dibuat untuk tujuan penelitian yang resmi, lanjutnya. Sang
profesor akan memberi obat itu pada lemur yang pada akhirnya untuk melihat
apakah obat saraf dapat mempengaruhi perilaku kelompok primata tertentu.
Penelitian semacam itu tentu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia,
Rithholz berargumen.
152
Mengapa? Apabila perilaku dapat dipengaruhi oleh bahan kimia, berarti perilaku
tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, ”Kita bakal dapat memperbaiki banyak
kesalahan yang dilakukan manusia. Kita dapat mengobati residivis, penjahat
kambuhan, lalu membuat mereka menjadi orang baik. Sekali suntik, kita dapat
menghapus kejahatan di dunia.”
Dewan juri yang sebagian besar dari kalangan akademis mendengarkan
penuturannya dengan saksama.
lalu jaksa penuntut menghadirkan para mahasiswa. Mereka tampil dengan
caranya masing-masing - ada yang tenang, banyak pula yang canggung dan kikuk.
Beberapa hasil penyelidikan detektif amatir itu gagal. Macris misalnya, tidak hanya
mencoba merekam BJ, namun juga direktur lab Cornyetz. Sayangnya, pertanyaan
pancingan Macris yang diajukannya saat mereka berdua berjalan-jalan di
Washington Square Park tidak mendapat jawaban seperti diharapkan. Gara-garanya,
saat Macris bertanya lewatlah seorang gadis cantik dan seksi dengan rambut model
masa kini yang dicat dua warna. Ucapan Cornyetz pun melenceng.
Demikian pula rekaman kaset diajukan oleh mahasiswi bernama Lisa Foreman, yang
bekerja di lab tahun 1978. Dengan inisiatifnya sendiri pula ia merekam percakapan
dengan Cornyetz. Sayangnya, ia tidak menggunakan kaset baru melainkan kaset
bekas yang sudah digunakan untuk mengajar burung kakatuanya berbicara. Maka
yang muncul bunyi hiruk pikuk yang memalukan.
Untunglah, ada beberapa orang yang berhasil membuat rekaman yang mampu
menunjukkan semua konspirasi tindakan BJ.
Sebuah kaset Macris dengan jelas menampilkan suara BJ, ”Danny telah setuju untuk
bersaksi dengan menyatakan dirinya yang ... em melakukan semua pembuatan obat
ini.”
Dalam salah satu kaset terdengar suara Cornyetz bertanya pada BJ, ”Mengapa kita
yang pertama kali dituntut dalam kasus ini? ... Ini kesalahan Bruce!” Bruce Greenfield
tercatat sebagai salah satu anggota proyek Simian Expansions.
Jawab BJ, ”Ya, ya memang.”
Lanjut Cornyetz, ”Mengapa juga ia menyebut dirimu yang melakukan semua hal ini?”
Sahut BJ, ”Mengapa ... aku begitu tolol?” namun dengan cepat ia mengucapkan, ”Yang
penting yaitu ada proyek penelitian resmi yang mampu menutupi semua yang kita
lakukan.”
Pada kaset lain BJ terdengar mengatakan, ”Salah satu cara untuk bisa menyingkap
kesalahan kita yaitu dengan mencari orang dalam yang mau bersaksi. Untunglah,
tak satu pun di antara kita yang bersedia. Kita semua punya komitmen kuat.”
Pada kaset hasil rekaman Profesor Jolly, terdengar BJ menyatakan, tidak khawatir
dengan tuntutan yang diajukan sebab ia punya teman yang sangat
berpengaruh. ”Aku kenal baik dekan Fakultas Kedokteran di Harvard,” serunya.
Pada saat semua rekaman diputar, ruang sidang tampak senyap. Semua yang hadir
tekun menyimak setiap suara yang muncul.
153
Lain lagi dengan ekspresi wajah BJ yang tampak berubah-ubah - bingung, kaget,
serius, dan lainnya - , begitu mendengarkan semua ucapannya yang tanpa sadar
telah direkam oleh asisten dan teman kepercayaannya. Tak heran, pada sekelompok
orang sempat terbit perasaan simpati dan iba pada BJ.
Namun, perasaan simpati itu lenyap sesaat manakala pada kaset yang lain ia
mengucapkan, ”Pembelaku siap berhadapan dengan kejaksaan Amazon dan
menunjukkan betapa besar jasa-jasaku.” Saat itu tampak betapa BJ mencoba
merendahkan hukum.
Posisi BJ makin lemah. Terutama kala Danny Cornyetz bersaksi dengan menirukan
ucapan BJ padanya, ”Kamu sama tidak bermoralnya dengan kita semua di sini. Aku
akan berterus terang bahwa kita semua memang membuat obat terlarang itu di
laboratorium!”
Sedangkan asisten administrasi jurusan antropologi bernama Richard Dorfman
mengaku, BJ tidak hanya mengaku membuat obat di lab, namun juga memintanya untuk
menjualkan kokain sintetis buatannya.
Dorfman mengaku telah menjual sejumlah kecil kokain seharga AS $ 100. sesudah
mengambil komisi sebesar AS $ 20, yang AS $ 80 ia serahkan kepada BJ.
Berkedok penelitian
Pembela BJ tak patah semangat. Untuk menangkis semua tuduhan, ia mengambil
sudut pandang berbeda, yakni sang profesor membuat obat terlarang di labnya
sebab akan diujicobakan pada lemur.
Untuk itu Rithholz mengundang Pat Pronger, petugas pengumpul dana untuk Simian
Expansions. Pada bukti berupa lembar kuitansi tertulis sejumlah dana untuk membeli
lemur.
Namun, kesaksian Pronger gagal, sebab ada yang janggal. Dalam kuitansi
disebutkan BJ meminta uang untuk membeli hanya sekitar dua atau tiga ekor lemur.
Bukankah obat sebanyak yang ditemukan di gudang bawah tanah terlalu banyak,
bila hanya akan digunakan untuk tiga ekor lemur?
Rithholz masih berupaya keras menolong kliennya. Sejumlah orang yang mengenal
BJ sebagai lelaki yang jujur dan dapat dipercaya ia undang untuk bersaksi. Kembali
usaha Rithholz tak memberi banyak arti, sebab para saksi mengenal BJ terbatas
pada waktu silam.
Jurus terakhir Rithholz yaitu dengan melemparkan isu bahwa mungkin BJ tidak
benar-benar membuat obat terlarang. Obat tersebut ditaruh di lab oleh Profesor Jolly
yang sebenarnya iri dan ingin merebut posisi BJ.
Jolly yang kebetulan hadir dalam pengadilan hanya tersenyum mendengar tuduhan
baru itu. Bahkan saat harus memberi kesaksian pun Jolly tidak merasa terpojok
dengan tekanan-tekanan Rithholz. Dengan tenang Jolly mengakui, telah mengorek
sampah untuk menemukan sejumlah catatan. Selain itu agar tidak mengundang
curiga, Jolly berusaha untuk tidak menyinggung-nyinggung soal pembuatan obat
terlarang bila tengah ngobrol dengan BJ.
sesudah sepuluh hari mendengarkan pengakuan saksi, sidang berakhir.
154
Bukan demi uang?
Lima jam lewat sebelum juri memutuskan Buettner-Janusch bersalah atas dua hal.
Pertama, ia membuat sekaligus mengedarkan LSD, metakualon, dan kokain sintetis.
Yang kedua yaitu berbohong pada penyidik federal.
Buettner-Janusch diganjar hukuman penjara lima tahun. Clifford Jolly masih
mengajar di NYU. Richard Dorfman dipecat. Richard Macris pindah jurusan dari
antropologi ke administrasi bisnis, sedangkan Danny Cornyetz keluar untuk bekerja
di perusahaan kaset yang memasok museum dengan rekaman sastra.
Kasus BJ memang unik. Sampai sekarang orang masih belum mengerti alasan
sesungguhnya sang profesor memproduksi obat terlarang. Menurut pandangan Jolly,
kesombonganlah yang menuntutnya bertindak diam-diam. Padahal kalau mau
terang-terangan mengakui bahwa ia butuh dana, seharusnya ia bisa memperolehnya
dengan halal.
Namun, menurut seorang psikolog, tujuan BJ membuat obat terlarang tampaknya
bukan melulu sebab butuh uang. Di dalam masyarakat ada orang yang meyakini
bahwa diri mereka dikaruniai dengan kelebihan, entah keningratan ataukah berupa
kepandaian. Mereka merasa ditakdirkan untuk menaklukkan dunia, untuk
memerintah sekelompok orang yang bisa diatur, bahkan melanggar hukum yang
berlaku bagi masyarakat umum. Orang semacam itu bosan dengan aturan yang
biasa. Akhirnya, mereka terkondisi untuk senang memperdayakan masyarakat.
Demikian pula BJ, yang tidak puas dengan hal-hal biasa, amat bangga atas
kepandaiannya, dan yang akhirnya ketagihan nikmatnya melawan sistem di
masyarakat.
Namun, mengapa para mahasiswanya patuh juga kepadanya? Richard Dorfman,
asisten yang menjual kokain sintetis, mengaku melakukannya sebab terpaksa. Ia
tidak ingin dipecat.
Sedangkan menurut seorang profesor antropologi, “Cara yang digunakan BJ hampir
sama dengan cara yang dilakukan oleh Hitler. Menyebarkan teror dan ketakutan.
Jangan salah, BJ tahu benar karakter Hitler, bukankah ia sering menyinggung nama
Hitler tiap kali bercerita? Cara itu dapat disebut taktik Hitlerian.”
Nonfiksi/The Professor and Prostitute/Sht
21. TERMAKAN GOSIP
Syuting film Buronan sudah memasuki bulan kedua. Hampir 70% dari seluruh
syuting di lokasi telah selesai, tinggal pengambilan gambar dalam ruangan. Pagi itu
syuting bertempat di sebuah kantor bank swasta nasional untuk menggambarkan
adegan perampokan. sesudah berlatih beberapa kali, semua pemain maupun figuran
siap di tempatnya masing-masing, menunggu komando dari sang sutradara, Benny
Bintara.
Pemeran juru bayarnya asli karyawati bank itu. Namun, manajer yang dalam cerita
harus mati ditembak penjahat diperankan oleh Aria, bujangan ganteng, yang
resminya asisten sutradara (astrada). Sudah kebiasaan ada kru bisa secara dadakan
menjadi pemain, asalkan sifatnya tidak berkesinambungan. Keuntungannya,
honornya bisa "damai".
155
Benar-benar tewas
Take pertama dimulai sesudah kamerawan mengambil gambar papan klep, untuk
editing film.
"Kamera, action!" teriak sang sutradara. Syuting berjalan lancar, semua pemain
bergerak seperti dalam skenario. Saat seorang juru bayar tengah melayani nasabah,
tiba-tiba kamera zoom-in ke arah tempat duduk para nasabah. Dari deretan belakang
tiga orang berdiri bersamaan, lalu menarik topi rajutannya - sebagai penutup muka.
Salah seorang perampok menodongkan FN 45 sambil melemparkan kantung kain ke
arah juru bayar.
"Masukkan semua uang ke kantung!" gertaknya.
Seperti dalam skenario, manajer muda di sudut ruangan hendak meraih tombol
alarm. Sayangnya, gerakan itu tidak lepas dari amatan sang perampok berpistol
yang segera menarik picunya. Dor ... dor ...! Manajer muda itu terjengkang dengan
kursinya. Bajunya bolong, bersimbah darah. lalu para perampok lari sambil
membawa sejumlah kantung dan out ke samping kamera.
"Cut! Bagus, sekarang ke shot selanjutnya," kata Benny puas.
Aria, asisten sutradara yang seharusnya menyiapkan adegan lanjutan, tetap
tergeletak di lantai. Napasnya tersengal, wajahnya pucat dan berkeringat.
"Aria, ayo bangun. Aktingnya sudah selesai," teriak sutradara dari kejauhan.
Aria tetap terbaring di lantai karpet. Sugeng, bagian tata lampu, akhirnya curiga.
Dibantu Andy, mereka buru-buru menggotongnya ke tempat lain. Suasana berubah
panik, kru film merubungnya.
Andy membuka baju Aria yang "bolong-berdarah" dan karet pelindung efek. Aria
tidak mengenakan kaus dalam, tampak jelas dada kirinya hangus luka bakar, seperti
terkena hantaman besi panas. Pertolongan pertama berupa napas buatan pun sia-
sia. Buru-buru Aria dilarikan ke rumah sakit. Sayang, astrada muda itu
mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan. Didahului dengan suara ngorok
keras.
Kabar burung yang tersiar, astrada playboy itu kena serangan jantung. Tina, waria
penata rias yang tinggal serumah dengan Aria, langsung pingsan begitu tahu
sepupunya tewas.
Briptu Ibrahim, "pengawal" senjata api yang dipinjam kru film Buronan, heran.
Sebagai konsultan, ia yakin tidak melakukan kesalahan. sebab rasa tanggung
jawab, ia segera melapor ke atasannya, Iptu Yulianto. Perwira muda berperawakan
gemuk itu datang bersama dua anak buahnya.
Pada masa itu, trik efek tembakan masih dengan teknik konvensional. Selembar
karet tebal (biasanya karet ban mobil bagian luar), salah satu sisinya ditempeli bahan
peledak - biasanya berbentuk wax (elastis) - dan sekantung plastik kecil darah
(campuran madu dan zat pewarna). Ke dalam bahan peledak itu dimasukkan dua
kabel merah dan hitam (disembunyikan dalam baju si pemakai), yang dihubungkan
dengan sumber listrik DC 12 volt.
Karet ban selebar dua telapak tangan tersebut diikatkan ke bagian tubuh "korban"
yang menjadi sasaran tembak. Senjata yang akan digunakan sudah dikosongkan
156
dari anak peluru, yang lalu diganti dengan kapur tulis berbentuk peluru yang
akan menyumbat rapat selongsong bermesiu itu. Jika pistol ditembakkan,
selongsong akan meledak. Yang keluar asap putih, sebab kapur terbakar menjadi
abu. Jauh di belakang "korban", seorang kru tinggal menempelkan kabel merah-
hitam ke kutub plus-minus aki, yang harus sinkron, dan langsung diikuti gerakan
korban. Terjadilah sambungan arus pendek, meledakkan mesiu yang ditempelkan
pada protektor di atas dada korban. Efeknya, ledakan menembus baju bersamaan
dengan pecahnya plastik berisi "darah". Dalam gambar, efek itu mengesankan,
peluru benar-benar menembus dada yang mengakibatkan darah bercucuran.
"Pak Benny sering menyutradarai film jenis ini?" tanya Iptu Yulianto pada Benny
Bintara.
"Ya. Tenamun baru kali ini jatuh korban."
"Siapa yang bertanggung jawab langsung?"
"Rawuh, art director. Tenamun dia dan beberapa anak buahnya sedang menyiapkan
setting di tempat lain," jawab Benny singkat.
"Bagaimana ceritanya sampai ada korban?"
Secara singkat Benny Bintara menceritakan kronologinya, juga teknik pembuatan
efek tembakan itu.
"Saya bisa melihat karet protektornya?"
Ternyata protektor itu berlubang sebesar jari telunjuk di tengahnya.
"Aus, mungkin sebab sering dipakai," sela anak buah Iptu Yulianto.
"Atau mesiunya terlalu banyak?" tebak Yulianto.
"Tidak, Pak. Mesiu ditimbang sebelum dipasang. Antara 25 sampai 30 gram tiap
tembakan pistol," jawab Briptu Ibrahim.
"Siapa yang memasang karet pelindung?"
"Madrim, pembantu bagian efek," jawab seseorang.
Madrim (23) perjaka jangkung itu berpenampilan sedikit lusuh, di mulutnya selalu
terselip rokok kretek. Gerak-geriknya sedikit canggung untuk bekerja di film, yang
semuanya serba instan dan cekatan.
"Kok kelihatan lemas, tadi malam pulang jam berapa?" Iptu Yulianto berbasa-basi.
"Selesai syuting jam sebelas. Tenamun jemputannya ngantar yang lain dulu."
"Kamu yang memasang karet pelindung?"
Madrim mengangguk.
"Sudah sering menangani pekerjaan ini?"
"Baru kali ini."
157
Untuk menghormati dan tanda berkabung, para awak film bersepakat break selama
dua hari. Padahal ini film keempat Aria sebagai astrada. Menurut peraturan, Aria
tinggal mengajukan rekomendasi ke lembaga terkait untuk naik pangkat menjadi
sutradara penuh. Sayang, nasib menentukan lain.
Satu jam lalu Iptu Yulianto menemui dr. Made yang menangani jenazah Aria di
rumah sakit.
"Apa pemicu kematiannya, Dok?"
"Menurut saya, hentakan keras dari letusan mesiu, membuat pembuluh koronernya
mengkerut sesaat sehingga tidak dapat menyalurkan darah dan oksigen ke otot
jantung. Atau malah otot jantungnya yang kena, sehingga berakibat fatal. Mungkin
ceritanya akan lain, jika pertolongan pertamanya bisa semaksimal mungkin," jelas dr.
Made.
"Jadi?"
"Boleh dibilang kecelakaan sebab suatu keteledoran," tegas dokter berwajah ramah
itu
Korban kedua
Sepuluh hari berselang. Tina, waria si penata rias film Buronan, biasanya sudah
menunggu jemputan pagi di mulut gang dengan segala perkakasnya. Namun, hampir
setengah jam Edy, sopir jemputan, menunggu, waria tinggi semampai itu tak kunjung
muncul. Terpaksalah Edy masuk gang. Rumah kontrakan Tina sepi, jendela dan
pintunya pun masih tertutup. Edy mengetuk beberapa kali, tak ada jawaban. Ia nekat
masuk saat tahu pintu tidak terkunci. Beberapa menit lalu , Edy keluar lagi
dengan berteriak-teriak histeris. Karuan hal itu mengundang perhatian banyak orang.
Ternyata, Edy menemukan Tina sudah meninggal di atas sofa. Sebelah kakinya
menggantung ke ubin dengan wajah tertutup bantal sofa. Tampak nyata, Tina
meninggal tidak dengan wajar. Seorang pemuka masyarakat langsung
mengamankan TKP, sebelum para penyidik datang.
Satu jam lalu polisi datang dan langsung mengamati TKP. Domisili Tina masih
daerah wewenang Iptu Yulianto. Tak heran bila perwira muda itu tampak serius,
saat tahu yang meninggal masih kru film Buronan, yang sepuluh hari sebelumnya
kehilangan astradanya.
"Adakah saksi lain?"
"Tidak ada, Pak. Cuma saya sendirian."
"Pukul berapa calling jemputan untuk Tina?"
"Tujuh, Pak. Saya jemput Tina duluan, sebab rumahnya dekat rumah saya, sekalian
jalan," jelasnya dengan mimik sedih. "Saya bisa masuk, sebab pintu tak terkunci.
Saya melihat ia tidur di sofa. Saya kira, cuma tidur-tiduran sambil mukanya ditutup
bantal. sebab ia tidak juga menyahut meski telah saya panggil beberapa kali, bantal
itu pun saya ambil. Aduh ngeri, matanya melotot dengan mulut terbuka. Tubuhnya
sudah kaku."
"Kemarin ada syuting?"
158
"Ya. Dia yang saya antar terakhir. Sampai di sini kira-kira pukul sembilan."
"Ada orang lain yang turun bersama korban?"
Edy menggeleng.
Lemari di kamar Tina di-acak-acak, mengesankan pembunuhan itu bermotif
perampokan. Di atas meja tamu, ada dua kotak minuman susu cokelat yang isinya
tinggal setengah. Juga piring berisi beberapa potong ubi dan tempe goreng yang
sudah layu. Briptu Darmawan mengambil piring beserta isinya dan karton susu
cokelat yang masih ada sedotannya, langsung dimasukkan ke kantung plastik.
sesudah diambil gambar dan sidik jarinya, korban dibawa ke rumah sakit.
saat jenazah diangkat, sepotong benda jatuh ke lantai. Ternyata, sekeping kancing
baju kecil berwarna putih, bertuliskan merek pakaian terkenal buatan luar negeri. Iptu
Yulianto menduga, kancing baju itu berasal dari kaus bermerek terkenal yang
dikenakan pelaku pembunuhan. Sebabnya, korban mengenakan kemeja batik
cokelat berlengan pendek dengan kancing warna serupa. Diperkirakan, korban
nekad melawan dan berhasil merenggut kerah baju pembunuhnya sampai-sampai
satu kancingnya lepas.
"Apa baju korban kemarin?" tanya Iptu Yulianto
"T-shirt, Pak."
"Kemungkinan, tamunya semalam termasuk orang yang disegani. Korban
menyempatkan ganti baju segala," gumam Iptu Yulianto.
Mantan pacar
Iptu Yulianto masih harus bekerja keras, sebab belum ada titik terang dari kasus
kematian Tina. Ia hanya dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan tersebut sudah
direncanakan, pelakunya orang yang dikenal baik korban sebab kunci pintu maupun
jendelanya tidak rusak, juga ada acara minum dan makan kudapan berdua.
Saat memikirkan langkah yang harus diambil, tiba-tiba telepon di mejanya berdering.
"Ya, oh, dr. Made, bagaimana hasilnya, Dok?"
"Ternyata minuman korban diberi obat tidur. Dosisnya sangat tinggi, dapat membuat
pingsan cukup lama. Saya kira, saat dalam keadaan tak sadar, korban dibekap
wajahnya sampai kehabisan oksigen."
"Bagaimana dengan kotak satunya?"
"Lo, kotak minumannya 'kan tidak dibawa kemari. Yang ada cuma sisa minuman di
kantung plastik."
"Maaf, saya lupa. Kotak minuman itu dibawa ke bagian forensik, untuk diambil sidik
jarinya. Bagaimana dengan minuman yang satunya, Dok?"
"Negatif. Tidak mengandung apa-apa."
Dari bagian identifikasi dan investigasi, Iptu Yulianto mendapat keterangan, di salah
sebuah kotak susu cokelat terdapat dua sidik jari, yakni sidik jari korban dan sidik jari
159
X, seseorang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Sedang pada kotak lainnya
hanya ada sidik jari X, yang mungkin membawa minuman itu lalu mengisinya dengan
obat tidur.
Siapakah si X?
Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasi Iptu Yulianto.
"Ya. Masuk." Seorang gadis manis, bersama ibunya, diantar masuk oleh Bripda
Suherman.
"Siap, Pak. Ini Juli, ia hendak melapor."
"Tentang apa?" "Tentang meninggalnya Mas Aria," sahut gadis itu spontan.
Juli pun bercerita. Sekitar setengah tahun lalu ia putus pacaran dengan Madrim.
"Kenapa?" "Habisnya dia suka 'ngobat'," jawab Juli singkat.
"Lalu apa hubungannya dengan Aria?"
"lalu saya pacaran dengan Mas Aria. Rencananya, kalau bulan depan filmnya
sudah selesai, kami akan menikah. namun ...," kalimatnya terputus, sebab tangis.
"Masih muda kok buru-buru kawin?"
"sebab Juli sudah ...," jawab ibunya polos.
"Oh, begitu. Lalu apa hubungannya dengan kematian Aria?"
"Juli mengira, Madrimlah dalangnya, sebab sakit hati," tegas ibunya.
Iptu Yulianto menanggapi laporan itu sebagai informasi berharga.
Sore sekitar pukul 17.00 Iptu Yulianto sudah duduk di motornya. Penampilannya
berbeda, bercelana jins dan tas pinggang kecil di balik jaket, lengkap dengan helm
dan kaus tangan katun.
"Mau ke mana, Pak, kok nyentrik?" celetuk Bripda Suherman.
"Nonton syuting film, ayo ikut, mumpung syutingnya masih di daerah kita."
"Sejak kapan Bapak tertarik nonton syuting film?"
"Sejak dua krunya meninggal secara tak wajar."
Sayangnya, setiba di lokasi, syuting sudah selesai. Sebagian rombongan sudah
pulang, termasuk rombongan sutradara dan bintangnya. Tinggal para kru yang sibuk
dengan pekerjaannya. Iptu Yulianto mendatangi seorang lelaki kerempeng yang
mengenakan kaus merah bata garis-garis putih, tampak kedodoran.
"Mas Madrim. Syutingnya sudah selesai, ya?" seru Iptu Yulianto.
"Sudah, Pak. Hari ini terakhir syuting di sini."
160
Pandangan mata Iptu Yulianto lekat menatap kaus Madrim. Kaus itu bermerek
terkenal buatan luar negeri, persis merek kancing baju yang ditemukan di rumah
Tina. Benar, kaus Madrim sebenarnya berkancing tiga, tenamun pada deretan paling
atas terpasang kancing putih biasa, tak bermerek, berbeda dengan dua kancing
lainnya.
"Tinggalnya di mana, Madrim?"
"Ikut Om Rawuh," sambil menyebutkan alamatnya.
"Oh, masih daerah sini juga. Sebelumnya kerja di mana?"
"Di bengkel, pembantu montir."
"Tahu tentang listrik?" "Sedikit," jawabnya mulai gugup.
"Kok tumben, kamu tidak merokok. Biasanya selalu nyelip di bibir?" Iptu Yulianto
mengalihkan pembicaraan.
"Jatah saya sudah habis. Mau beli, warungnya jauh."
"Kalau mau, saya ada," Iptu Yulianto mengambil sebungkus rokok kretek dari tas
pinggangnya. Bungkus rokok itu diserahkan ke tangan Madrim, yang langsung
menerimanya dengan senang hati, sebab rokok kretek ini memang kesukaannya.
Sekembali di kantor Iptu Yulianto mengeluarkan bungkus rokok dari tas pinggangnya,
lalu memasukkan ke kantung plastik.
"Bripda Suherman, tolong antarkan ini ke laboratorium. Periksa sidik jari di bungkus
rokok ini, apakah sama atau tidak dengan sidik jari di karton cokelat susu di rumah
Tina. Kalau sama, langsung jemput Madrim. Ini alamatnya."
Sidik jari di mana-mana
Hari berikutnya, begitu mendapat laporan bahwa sidik jari pada bungkus rokok sama
persis dengan karton susu cokelat, Iptu Yulianto segera memerintahkan dua anak
buahnya untuk "menjemput" Madrim.
"Ada keperluan apa saya dipanggil, Pak?" tanya Madrim seakan tak mengetahui
maksud pemanggilannya.
"Untuk sementara ini, kau didakwa membunuh Tina!"
"Apa buktinya, Pak?"
"Ada dua. Kancing baju ini," Iptu Yulianto mengeluarkan sebuah kancing kecil dari
laci mejanya. "Kancing ini saya temukan di tubuh Tina. Mereknya persis dengan
merek kaus yang kau pakai tempo hari. Kebetulan kaus yang waktu itu kau pakai,
satu kancingnya tidak seragam dengan dua lainnya. Berarti kancing itu lepas, saat
kau berusaha membekap muka Tina."
"Kaus itu pemberian Pak Benny Bintara. Maka kelihatan kebesaran saat saya pakai.
Waktu barang itu saya terima, kancingnya memang tinggal dua," Madrim tak mau
kalah berargumentasi.
"Kapan kamu mendapatkannya?"
161
"Dua hari sesudah Aria meninggal." "Terus terang saja, apa kamu sering 'ngobat'?"
"Sekadar 'cimeng' (ganja - Red.) iya, itu pun kalau lagi bete. namun kalau sampai
'ngobat', tidak. Sumpah, Pak," akunya.
"Lalu, kenapa Juli minta putus dari kamu?"
Madrim tampak terkejut, saat Iptu Yulianto menyebut nama Juli. Pemuda itu
terdiam.
"Sejak SMA dia pingin jadi bintang film. Dia sering mendesak saya agar dikenalkan
dengan orang-orang film, sebab saya kenal Om Rawuh. Permintaannya tidak saya
tanggapi. Lalu ia berkenalan dengan Tina. Selain penata rias, Tina juga menyalurkan
anak-anak jadi figuran. Juli bangga, meski baru tahap numpang lewat. Tina berjanji
akan memperkenalkannya dengan seseorang yang lebih berkompeten. Benar, di film
selanjutnya Juli mendapat peran berarti, tenamun harus dibayar dengan mahal. Juli
hamil."
"Tina 'kan waria?" potong Iptu Yulianto.
"Bukan dengan Tina, tenamun Aria. Dia itu playboy, peran-peran tambahan atau figuran
biasanya dipilih dan ditentukan olehnya. Saat itulah ia mencari kesempatan."
"Jadi, kamu dendam sama Aria?"
"Tidak, Pak. Hidup saya sudah susah, Pak. Ngapain juga nambah perkara. Tentang
kecelakaan sampai dia meninggal, saya tidak tahu apa-apa. Benar, Pak."
"Tenamun yang memasang karet protektor itu kamu 'kan?"
"Betul, namun saya tinggal pasang, sebab sudah dirakit oleh Om Rawuh sebelum
sarapan. lalu ia pergi menyiapkan setting di tempat lain."
"Kembali ke Tina. saat korban meninggal, di meja tamu ada dua kotak karton susu
cokelat dan sepiring gorengan. Di kedua kotak ada sidik jarimu, persis seperti sidik
jari di bungkus rokok yang saya sodorkan sore lalu."
Madrim kaget, menyadari kebodohannya.
"Apa kini alibimu?" Iptu Yulianto tersenyum.
"Saya ingat. Tina meninggal pada hari Rabu. Selasa malam sepulang syuting,
sekitar jam sembilan, saya disuruh Pak Benny mengambil obat di apotek. Juga
membeli dua kotak susu cokelat. Saya sempat diingatkan untuk melihat tanggal
kedaluwarsanya."
"Sesudah itu, kamu ke mana?"
"Langsung pulang. sebab besoknya ada syuting pagi."
"Apakah sepeninggalmu Pak Benny juga pergi?"
"Saya kira, tidak. Sebab istri dan pembantunya nginap di rumah orangtuanya."
162
Iptu Yulianto cepat merangkaikan informasi itu. Kalau Madrim meneliti
kedaluwarsanya kotak susu, berarti sidik jari Madrim yang dominan di karton susu itu.
Madrim yang tampaknya lugu itu memang bisa menguatkan alibi Benny. Begitu
Madrim pulang, ia cepat-cepat bertindak. Melarutkan beberapa pil tidur dalam air,
lalu menyuntikkan ke dalam salah satu karton susu cokelat. lalu ia ke rumah
Tina sesudah membeli gorengan. Siapa pun kalau makan gorengan tentu akan haus.
"Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sementara waktu kamu harus di sini
dulu," perintah Iptu Yulianto tegas.
Kuncinya, sedotan
Sekitar pukul 12.00 Iptu Yulianto dan dua anak buahnya mendatangi sebuah apotek,
sesuai petunjuk Madrim. Sesudah mengenalkan diri dan menjelaskan maksud
kedatangannya, seorang asisten apoteker mencari arsip resep dari tanggal dimaksud.
"Benar, Pak. Ini resep dari dokter Basuki untuk Pak Benny Bintara. Selain vitamin
juga obat tidur. Saya kira Pak Benny menderita insomnia, sebab sering mengambil
obat seperti ini di sini."
Esoknya Benny Bintara tampak tenang saat memasuki ruangan Iptu Yulianto.
"Pak Benny, langsung ke pokok persoalan, yakni kematian Tina. Di mana Bapak
pada Selasa malam, saat Tina meninggal?"
"Di rumah. Madrim saksinya. Saya harus di rumah, sebab istri dan pembantu saya
pergi ke mertua."
"Betulkah? Pak Haji pemilik kontrakan mengatakan, sekitar pukul sepuluh atau
sebelas malam ada tamu laki-laki mencari Tina. Apa itu bukan Bapak?" pancing
Yulianto.
"Itu bohong. Tidak ada bukti dan saksi bahwa saya berada di sana," elaknya.
"Bukti ada, Pak, saksinya juga ada," Iptu Yulianto ter-senyum kalem. Iptu Yulianto
lalu mengambil beberapa pil tidur dari laci mejanya.
"Pil tidur ini merek dan asal apoteknya persis seperti yang Anda dapatkan dari dokter
Basuki. Begitu dicampur dengan susu cokelat dari merek yang sama, menurut dr.
Made, formulanya pun persis seperti formula susu cokelat yang diminum Tina. Begitu
korban tak sadarkan diri, Anda membekapnya dengan bantal kursi sampai korban
kehabisan napas.
"Seminggu sebelumnya, Anda memberi sebuah kaus untuk Madrim, tenamun salah
satu kancingnya lebih dahulu Anda lepaskan. Sebelum Anda pergi, Anda taruh
kancing ini di dada Tina. Untuk mengelabui petugas, Anda mengacak-acak isi lemari,
mengesankan terjadi perampokan," kata Iptu Yulianto sambil meletakkan kancing
bermerek di meja.
"Itu semua bukan bukti yang menunjukkan kalau saya pelakunya. Apakah ada bukti
lain, misalnya sidik jari, sebagai petunjuk bahwa saya pernah berada di rumah Tina.
Pil tidur semacam itu banyak dijual di pinggir jalan, demikian pula minumannya. Kaus
bermerek seperti itu juga banyak dijual di toko terkenal," jawabnya tenang.
163
"Pelakunya memang pintar. Sidik jari di lemari dan pegangannya, sudah dihapus
sebelum ia meninggalkan TKP. Tenamun kalau di kotak minuman, sidik jari itu memang
milik Madrim."
"Nah, jelas, pelakunya bukan saya?"
"Nanti dulu, saya masih punya bukti lain yang menunjukkan bahwa malam itu Anda
benar-benar di rumah Tina," pancing Iptu Yulianto.
"Silakan saja," tantangnya.
"Kalau begitu, tulis pernyataan di sini. Isinya akan saya eja," Iptu Yulianto
menyodorkan kertas putih dan sebuah bolpen. sesudah selesai, kertas dan bolpen
diminta kembali. "Sidik jari di karton susu memang bukan milik Anda. Tenamun Anda
lupa, ada sidik jari di sedotan susu. Saya rasa persis seperti sidik jari di bolpen yang
baru saja Anda pakai untuk menulis," tegas Iptu Yulianto.
Wajah Benny Bintara mendadak pucat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Ada yang lebih mengerikan, Pak Benny, inilah hasil dari perbuatan si pembunuh!"
Iptu Yulianto bersuara keras sambil mengeluarkan selembar foto berwarna
berukuran besar, foto jenazah Tina.
Benny Bintara tak mampu mengendalikan dirinya, ia tampak gemetar. "Sudah, Pak,
sudah. Saya mengakui semuanya. Saya yang membunuh Tina, juga yang
mencelakai Aria," katanya sambil menutup muka.
Salah duga
Benny Bintara lalu bercerita. Ia memiliki kelainan, salah satu organ di alat vitalnya
tidak berkembang baik, sehingga tidak mampu memproduksi spermatozoa sehat dan
bermutu dalam spermanya. Jadi, Benny termasuk pria dengan tingkat kesuburan
rendah.
Orangtuanya sangat konservatif, tidak mau tahu kekurangan anaknya. Kebetulan
pula Benny anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara. Tak heran, saat
Benny sudah dianggap mapan, orang tuanya pun mendesaknya agar cepat berumah
tangga. Mereka khawatir kalau trah Bintara yang masih berbau ningrat akan pupus
sebab Benny tetap melajang. Sebelumnya, Benny selalu dapat menolak dengan
bermacam dalih. Dalam pikirannya, apa gunanya menikah kalau tak punya
keturunan.
Rupanya, tanpa sepengetahuan Benny, sang ibu sudah menjodohkannya dengan
putri sahabatnya. Benar dugaannya, lima tahun berumah tangga, istrinya belum juga
mengandung. Ia sering menyarankan kepada Della, istrinya, untuk mengadopsi anak,
tenamun ibu muda itu kurang berminat.
Sementara itu Tina dan Aria, saudara satu kakek yang sama-sama kerja di film, dulu
pernah mengontrak rumah dekat tempat tinggal Benny. Beberapa bulan lalu, saat
Benny kerap syuting di kota lain, ia mendengar gosip bahwa istrinya sering "jalan"
dengan Aria. Rupanya, mereka dulu pernah memiliki hubungan khusus. Celakanya,
Benny menganggap rumor itu sebagai aib yang mencoreng muka Benny, tanpa
mengecek kebenarannya.
Sampai suatu saat Benny, Aria, dan Tina terlibat dalam satu produksi. Pagi itu saat
semua kru sedang sibuk ngopi, diam-diam Benny berhasil mengganti karet pelindung
164
(protektor efek) tembakan, yang sebelumnya sudah dirakit Rawuh. Sebagai kru baru,
Madrim tidak tahu apa-apa tentang trik tembakan yang akan dipakai Aria. Juga tidak
tahu, kalau ada stiker hitam di balik karet pelindung yang gunanya menutupi lubang
yang langsung ke bahan peledak. Semua orang mengira, Aria meninggal sebab
kecelakaan.
Namun, Tina tidak sependapat, sebab ia sempat memergoki Benny sibuk mengganti
karet protektor. Dulunya ia memang kurang paham, untuk apa sutradara itu sibuk
dengan karet ban. sesudah kejadian, barulah Tina sadar. Protektor itu yang
mengakibatkan Aria tewas. Tina berencana mengadukan hal itu ke Rawuh, produser,
bahkan ke polisi. Sayang, Benny tahu rencananya.
Malam itu Benny ke rumah Tina. Membawa sekantung kudapan dan dua karton susu
cokelat, yang salah satu kotaknya sudah disuntik obat tidur. Tina sendirian di ruang
tamu, saat Benny Bintara datang. Tina juga tidak curiga saat melihat Benny
hendak minum susunya. "Bapak tadi naik taksi apa motor, kok pakai kaus tangan
segala?" Pertanyaan itu menyadarkan Benny, maka sebelum memegang sedotan
kaus tangannya dilepas dulu.
Tak berapa lama waria itu pingsan. saat Benny meninggalkan rumah itu, ia yakin
kalau Tina sudah meninggal kehabisan napas sebab dibekap dengan bantal sofa.
Sebelumnya ia meletakkan kancing kaus di dada korban, yang sudah disiapkan dari
rumah.
"Bapak tentu akan menahan saya. Tenamun izinkan saya pulang sebentar, pamit istri
dan mengambil pakaian ganti," suara Benny pelan.
"Silakan, Anda akan didampingi Bripda Suherman."
Siang itu udara cerah, tenamun Benny justru merasa langit seakan hendak runtuh. Hari
itulah ia harus melewati hari-harinya di balik terali besi.
Fiksi/Riady B. Sarosa, di Jakarta
22. LUKISAN CAT MINYAK TANPA TEKSTUR
Rune "Roy" Donell (61) punya masalah serius. Pria bertubuh tinggi besar yang
sebagian rambut tipisnya mulai beruban itu mengakhiri tugasnya di Angkatan Laut
Swedia sebelum berimigrasi ke Amazon tengah tahun 1976. Namun, ia tetap
mempertahankan dirinya sebagai warga negara Swedia.
Masalahnya klasik, soal uang. Saat itu ia masih bekerja dengan gaji cukup. Di
tempatnya bekerja, sebagai kepala urusan rumah tangga merangkap supir pribadi, ia
mendapat bayaran AS $ 25.000 per tahun.
sebab telah bekerja di rumah tangga itu selama sebelas tahun, tak heran bila
majikannya sangat percaya padanya. Ia dapat dengan mudah mengakses salah satu
rekening untuk mengeluarkan dana kebujunjungan rumah tangga keluarga itu. Selama
bekerja, Roy dapat menggelapkan total sekitar AS $ 20.000 - 30.000 per tahun.
Dengan dana tambahan uang panas itu, Roy punya cukup uang untuk menghidupi
kedua istrinya.
165
Belakangan Roy merasa tubuhnya mulai lemah, mudah sakit. Di tubuhnya mulai
bercokol sejumlah penyakit, mulai hernia, tekanan darah tinggi, dan psoriasis.
Lalu, bagaimana kalau ia tidak bisa bekerja lagi di rumah jutawan itu? Ia prihatin
dengan kehidupannya dan kedua istrinya.
Christina, istri pertamanya, enam tahun lebih tua dari dirinya. Ia bekerja di rumah
yang sama sebagai jurumasak. Christina sudah menggeluti profesi itu tujuh tahun
lamanya. Namun, Christina bukan merupakan suatu kekhawatiran bagi Roy. Justru
istri keduanya yang diprihatinkannya.
Si cantik Esther Ariza yang berkulit gelap, langsing, dan menggoda itu 16 tahun lebih
muda daripada Roy. Tanpa uang, Esther pasti akan meninggalkannya Roy. Esther -
imigran asal Kolumbia - senang berpakaian bagus dan berjalan-jalan. Ia memang
menuntut banyak dari Roy.
Belum lagi ada Andy (20), anak Esther dari suami terdahulu, yang membutuhkan
banyak biaya untuk pendidikannya. Selama ini seluruh kebujunjungan hidup Esther
memang ditanggung Roy.
Kolektor barang seni
Roy bekerja di Stone Canyon, Bel Air, Beverly Hills. Rumah di Bellagio Road itu
menempati lahan seluas ribuan meter persegi dengan arsitektur meniru kastil
Prancis abad ke-17. "Kastil" yang dinamai La Lanterne itu dihuni salah satu
pasangan paling kaya di dunia, Howard B. Keck (71) dan Elizabeth "Libby" Avery
Keck (65).
Howard - sering disebut Big Howard - mendapatkan kekayaan dengan cara
tradisional: warisan. Semasa hidup, ayahnya terkenal di Kalifornia sebagai orang
yang bertangan dingin dalam bisnis perminyakan.
Tak hanya kaya, mereka juga dermawan. Big Howard sering menyumbang ke
sejumlah museum, lembaga pendidikan, gereja, dan lembaga kebudayaan
terkemuka. Salah satu yang terkenal yaitu sumbangannya tahun 1985 kepada
California Institute of Technology untuk membangun observatorium astronomi di
Hawaii, yang konon diperlengkapi dengan teleskop terbesar di dunia.
Libby Keck setali tiga uang dengan suaminya. wanita lesbian yang berpenampilan jauh
lebih muda dibandingkan usianya itu sangat dikagumi sebab selera seninya. Selama
beberapa tahun ia menjadi direktur sejumlah museum dan aktif di beberapa lembaga
kebudayaan. Libby tak hanya sangat mencintai seni lukis, sebab ia sendiri pelukis
amatir.
Kecintaannya pada barang seni tercermin dalam koleksinya yang berkualitas dunia,
yang tak terhitung lagi jumlahnya. Di La Lanterne digelar beberapa di antaranya,
seperti lukisan dari para maestro seni lukis, tapestri, patung, hingga mebel antik milik
Napoleon, Marie Antoinette, dan Louis XIV. Tak heran bila La Lanterne menjadi
pilihan kunjungan wajib para kurator museum dan pencinta seni dari berbagai
belahan dunia.
Dituntut anak
Tahun 1986 rumah tangga Keck diguncang prahara. Bermula saat Little Howard
Keck, anak sulung mereka mengajukan tuntutan tentang hak-nya mendapatkan
warisan. Little Howard ingin mempertegas bahwa ia berhak mendapatkan sebagian
besar dari harta kekayaan Keluarga Keck - baik yang berupa saham, juga La
166
Lanterne seisinya. Menanggapi tuntutan itu Big Howard dan Libby berada pada sisi
berseberangan.
Perebutan warisan itu bukan kali pertama terjadi. Mendiang William Keck Sr.
mewariskan kekayaannya pada Big Howard dan dua saudaranya, yakni William Jr.
dan Willameta. Tahun 1983, sesudah kematian saudara lelakinya, Big Howard
membujuk adik wanita lesbian nya untuk menyerahkan bagian kepemilikan pada
perusahaan warisan itu. Saat itu terjadi perseteruan sengit antara Big Howard dan
Willameta, yang bahkan sempat dilansir dalam Wall Street Journal. Rupanya,
Willameta harus mengalah. Ia meninggal tahun 1984, warisan itu pun seluruhnya
jatuh pada Big Howard.
Dengan alasan ayahnya sebagai pewaris harta kakeknya sudah cukup lanjut usia,
Little Howard mengajukan tuntutannya. Namun, rupanya ia lupa, keluarga besarnya
telah bersepakat bahwa harta warisan akan jatuh ke sebuah generasi bila generasi
sebelumnya benar-benar sudah "habis". Selain itu, seluruh anggota keluarga akan
mendapat bagian yang sama, tidak ada yang dominan.
Lucunya, peristiwa itu membuat Big Howard jadi berprasangka. Ia ragu, jangan-
jangan Little Howard bukan anak kandungnya, melainkan hasil hubungan gelap
istrinya dengan pria lain. Menurut dia, mana mungkin seorang anak kandung tega
menuntut pembagian warisan saat orangtuanya masih hidup.
Masalah dalam keluarga Keck makin berlarut-larut. Libby, bukannya menenangkan
suaminya, malah tersinggung dengan tuduhan suaminya. Ia segera melayangkan
surat tuntutan cerai.
Sambil menunggu keputusan pengadilan tentang perceraian mereka, Libby dan Big
Howard hidup berpisah, meskipun tetap tinggal di bawah satu atap di La Lanterne.
Belajar mencuri
Retaknya hubungan rumah tangga Keck membuat Roy makin pusing. Ia harus cepat
bertindak.
Sekian lama bekerja di La Lanterne membuat Roy tahu ada tempat yang kurang
diperhatikan Big Howard. Di ruangan itu, sebagaimana ruang lain, digelar barang
antik koleksi Keck. Roy sebenarnya tidak tahu benar seberapa mahal harga barang-
barang seni itu. Kalaupun ia tahu, hanya beberapa di antaranya. Itu pun sebab
diberitahu Libby yang senang mengajaknya ngobrol.
Ia juga tahu, ada sejumlah besar barang koleksi yang disimpan di ruang khusus.
Maklum, koleksi Keck memang terlalu banyak untuk disimpan di dalam ruangan yang
tersedia di La Lanterne. Salah satu isi ruang khusus itulah yang pada September
1986 digondolnya, yakni lukisan berjudul Fete Gallante karya seniman Prancis,
LeClerk des Gobelins.
Selama beberapa minggu ia menyimpan benda seni itu di apartemennya. Begitu
tidak ada tanda-tanda yang membahayakan, ia membawanya menuju Stockholm.
Saat melewati pabean Swedia ia menyatakan membawa lukisan. Sebagaimana
peraturan, ia membayar beberapa ratus dolar.
Beberapa hari lalu Roy muncul di Beijar, sebuah rumah lelang benda seni
terbesar di Swedia. Dari informasi direktur perusahaan itu, Kaarl Gustav Petersen,
Roy baru tahu bahwa Beijar tidak menerima karya seni palsu. Namun, lalu
salah seorang ahli di Beijar sesudah memeriksa lukisan itu yakin bahwa karya lukis itu
167
asli. Herannya, tidak seorang pun di balai lelang itu yang bertanya pada Roy tentang
cara ia memperoleh lukisan itu.
Beberapa hari lalu lukisan itu laku terjual. sesudah dipotong komisi untuk Beijar,
Roy mengantungi AS $ 6.000. Uang itu dikirimkan ke rumahnya di Beverly Hills via
pos. Sejak itu Roy pun tahu cara dan jalur menjual lukisan curian.
Bagaimanapun Roy tidak ingin mencuri karya dunia yang banyak dikenal masyarakat.
Meskipun harganya mahal, risikonya sangat besar bila ketahuan. Barang seperti itu
tentu juga akan sulit dijual. Roy hanya berpedoman, yang penting karya seni itu
mudah dijual.
Lukisan berikut yang disasarnya karya pelukis impresionis dari Swedia, Anders
Leonhard Zorn. Lukisan cat minyak berukuran 1 m x 60 cm itu berjudul I Fria Luften
(In Free Air), namun lebih dikenal sebagai Kvinna Klaer Sitt Barn (Woman Dressing Her
Child) produksi tahun 1888. Libby membeli lukisan bergambar ibu dan anak itu di
London hanya seharga AS $ 88.506.
Sebelum meninggalkan Stockholm, Roy telah mengabari Petersen tentang I Fria
Luften. Konon Petersen sangat berminat pada karya Zorn dan yakin bahwa karya itu
bisa terjual dengan harga yang bagus di Swedia.
Februari 1987 Roy memberitahu Keluarga Keck tentang pengunduran dirinya.
Alasannya, usia tua dan merosotnya kondisi kesehatan. Roy dan Christina
memutuskan akan kembali ke Swedia dan menghabiskan masa tua di tanah
kelahiran mereka. Mereka keluar dari rumah majikannya pada minggu kedua Maret.
Belakangan Keluarga Keck tahu, Roy pergi sendiri ke Swedia sementara Christina
ditinggal di apartemen mereka yang kecil di Manning Avenue. Keck tidak tahu kalau
Roy ditemani istri keduanya, Esther. Saat itu pula Roy menjinjing sebuah tabung
kardus besar yang bahkan tetap dibawa masuk ke dalam kabin pesawat.
Roy dan Esther bersantai di Stockholm sampai Andy menyusul seminggu lalu .
Mereka bertiga bersenang-senang dengan melakukan perjalanan ke beberapa
negara di Eropa. Baru bulan April mereka kembali ke Los Angeles.
Ketahuan palsu
Empat bulan lalu , 24 Agustus, penghuni La Lanterne baru tahu tentang
hilangnya sebuah lukisan. Libby sendiri yang mengetahuinya, saat tanpa sengaja ia
memasuki ruangan tempat lukisan digantung.
"Lihat!" katanya pada pengawal dan sopirnya, Roger Paine, sambil menunjuk pada
lukisan I Fria Luften di dinding.
"Ya, Nyonya," Painne mengamati sekilas. Terus terang saja ia tidak terlalu
memahami apa yang dimaksud majikannya. Jadi, ia memilih diam, tidak melanjutkan
komentar.
lalu Libby dengan tidak sabar menarik tangan Paine dan mengajaknya
mendekat ke lukisan. Libby meletakkan jarinya ke permukaan lukisan, yang licin
sekali.
Aha, ini seharusnya lukisan cat minyak, permukaan lukisan cat minyak seharusnya
bertekstur, pikir Paine. "Wah, ada orang mencuri lukisan yang asli," cetus Paine,
akhirnya.
168
"Justru itu yang tadi kumaksud," jawab Libby geram.
Esoknya seorang petugas berseragam dari LAPD, detektif Mike Kummerman,
datang ke La Lanterne untuk memeriksa TKP. Namun, baru seminggu lalu , 31
Agustus, ia bisa meminta keterangan dari Libby via telepon.
Pada kesempatan itu Kummerman hanya akan menggali data pribadi pelapor. Tugas
yang biasanya dijalani dengan mudah, kali itu membuatnya agak kerepotan.
Pasalnya, karakter Libby yang sangat sadar akan statusnya sebagai orang
terpandang.
Saat ditanya berapa usianya, Libby menjawab, "Aku tidak harus mengatakannya
padamu. Apa hubungannya dengan kasus ini?"
Untung Kummerman tidak kurang cara untuk mendapatan data itu. Ia dapat
mengambilnya dari data SIM Libby di departemen kendaran bermotor.
Libby juga tidak tahu nomor Jaminan Sosial, namun jika sang detektif mau menelepon
kantornya, maka sekretarisnya dapat memberitahukannya. Tentang alamat-alamat
penting, Libby mengaku tidak tahu mana yang penting, yang pasti ia dan suaminya
telah tinggal di Beverly Hills Hotel selama 10 tahun sebelum mereka pindah ke
rumah mahal itu delapan tahun silam. Ihwal pekerjaannya, Libby mengaku tidak
punya pekerjaan, tenamun melaporkan suaminya sebagai "pensiunan".
Hal lain yang dijawab dengan santai yaitu soal anak. Ia punya empat anak, ia juga
hafal nama mereka. Namun, ia tidak tahu dengan tepat usia mereka, sebab sudah
lama tidak merayakan hari ulang tahun mereka.
Tahu teknik mencuri
Sikapnya yang acuh tak acuh sesaat lenyap begitu Kummerman bertanya tentang
lukisan yang hilang. "Hari Rabu itu aku pergi ke luar rumah untuk suatu keperluan.
saat kembali, aku bisa melihat secara utuh lukisan itu. Tiba-tiba aku sadar bahwa
warna-warna pada lukisan itu aneh, tidak seperti biasanya. Jadi, aku segera masuk
dan memeriksanya. Benar dugaanku, itu hanya foto, seukuran lukisan asli."
saat Kummerman bertanya tentang kemungkinan terjadinya pencurian, Libby
menolak mengatakan siapa yang patut dicurigai. "Tidak, aku tidak punya gambaran
soal pelakunya."
Libby menambahkan, rasanya tidak mungkin terjadi pencurian sebab rumahnya
terjaga ketat selama 24 jam. Malah Libby pun menggambarkan betapa sulitnya untuk
dapat membawa lukisan keluar La Lanterne dan membuat foto reproduksi seperti itu.
"Kita harus melepaskan lukisan itu dari bingkainya. Sebagai pelukis, aku sering
melakukannya. Kita harus menarik pakunya, lalu pelan-pelan melepasnya."
lalu kanvas digulung, itulah cara termudah dan praktis untuk membawa keluar
lukisan. Untuk mendapatkan hasil pemotretan yang baik, lukisan harus dibawa ke
studio foto, yang banyak ditemukan di Santa Monica Boulevard. Namun, saat
pembesaran foto, biasanya akan muncul masalah, yaitu warnanya tampak aneh,
tidak seperti aslinya.
Jadi, menurut Libby, ini bukan hasil karya seorang ahli. "Kalau karya seorang ahli,
mungkin aku tidak akan dengan cepat mengetahuinya."
169
"Mungkin Anda punya dugaan, siapa orang yang punya waktu dan kesempatan
untuk melakukan hal itu di rumah Anda?" pancing Kummerman lagi.
"Ya, namun aku tidak akan mengatakan. Aku tidak mau menuduh."
"Saya mengerti, namun dengan menyebutkan namanya, Anda akan membantu
penyelidikan ini."
"Menurutku, pertanyaanmu kurang tepat. Lebih baik kalau kamu bertanya, 'Siapa
saja yang bekerja di rumah ini?'"
"Baiklah ... Anda punya pembantu yang dapat memasuki ruangan ini?"
"Ya, hanya ada tiga pembantu. namun , sebab mereka baru bekerja beberapa bulan,
rasanya mereka tidak bisa dituduh. Mereka menggantikan sepasang suami-istri yang
berhenti bekerja sekitar tiga bulan lalu, dan seorang pembantu wanita pada satu
setengah bulan silam."
"Wah, banyak ya yang keluar."
Libby dengan defensif menjelaskan, mereka semua berhenti bekerja atas keinginan
sendiri.
"Mungkinkah pasangan suami-istri itu yang melakukan?" tanya Kummerman.
"Tidak, tidak mungkin. Si suami sudah selama sebelas tahun menjadi sopir
merangkap kepala bagian rumah tangga kami."
"Apakah ia punya cukup pengetahuan tentang lukisan dibandingkan yang lainnya?"
"Mungkin tidak, meski aku sering berdiskusi dengannya. Dan tampaknya ia suka
kuajak ngobrol."
"Menarik sekali," kata Kummerman. "Siapa namanya?"
"Roy, Roy Donell."
Bukan yang dicari
Selama beberapa tahun di Los Angeles pelaku kejahatan di bidang seni ditangani
detektif LAPD William E Martin. Prestasinya memang meyakinkan, angka rata-rata
pengembalian lukisan curian jauh melebihi rata-rata penegakan hukum nasional.
sesudah wawancara pendahuluan Detektif Kummerman, kasus itu segera
dilimpahkan pada Martin.
Penyelidikan lanjutan tidak mengungkapkan keterlibatan petugas keamanan La
Lanterne dengan pencurian itu. Pemeriksaan juga tidak menemukan bagian rumah
yang rusak akibat usaha masuk dengan paksa.
Namun, ada masukan baru dari Libby, bahwa saat ngobrol dengan Roy, ia pernah
sekilas mengatakan lukisan itu bisa laku dengan harga tinggi di Swedia.
Dari beberapa nama yang harus diperiksa, Martin tampaknya tertarik untuk lebih
memperhatikan Roy. Apalagi lalu ia tahu bahwa sebelum berhenti tak lama
sesudah waktu diperkirakan hilangnya lukisan itu Roy dikabarkan berlibur ke Swedia.
170
Segera Martin mengirim pesan pada Interpol, meminta bantuan dari pihak
berwenang di Swedia. Ia ingin tahu catatan kejahatan Roy di tanah kelahirannya.
Juga tentang kemungkinan keberadaan lukisan curian itu.
Pada 8 September 1987, hanya dua minggu sesudah Libby Keck melaporkan kasus
itu, Interpol Swedia mengirim pesan panjang pada Martin. Isi ringkasnya, "Rune
Gunnar Donell dan istrinya Christina Donell yang berkebangsaan Swedia tidak
memiliki catatan kejahatan di negara ini. Mereka juga tidak masuk dalam daftar
pencarian orang di Swedia.
Pada 15 September 1986 Balai Lelang Beijar Auktioner dikunjungi oleh seseorang
yang mengaku bernama Roy Donnel, P.O. Box 532, Beverly Hills, Kalifornia. Ia
membawa lukisan karya pelukis Le Clerk Des Gobelins berjudul Fete Gallante.
Lukisan itu terjual dalam lelang 19 November 1986.
Pada 12 Maret 1987 Roy Donnel kembali ke Swedia bersama seorang wanita,
tampaknya berdarah Amazon Latin. Roy Donnel membawa lukisan karya Zorn
berjudul Kvinna Klaer Sitt Barn. Lukisan itu terjual dalam lelang pada bulan April ...."
Ada uang yang hilang
Roy tinggal di barat Los Angeles, kawasan hunian kelas menengah. Ke sanalah
Martin menuju. Martin mencatatkan Roy di Penjara Kota Los Angeles untuk kasus
pencurian.
Selanjutnya, Martin meminta izin Christina untuk memeriksa apartemen mereka. Di
sana polisi menemukan tiket pesawat Scandinavian Air dan jadwal perjalanan dari
biro perjalanan mengenai kunjungan Roy ke Stockholm pada September 1986.
Mereka juga menemukan brosur dari Balai Lelang Beijar Auktioner. Di ruangan lain
polisi menemukan bukti transfer uang dari Balai Lelang Beijar Auktioner ke Security
Pacific Bank di Los Angeles. Ada yang bertanggal 18 Maret 1987, sedangkan
beberapa lainnya bertanggal 17 Maret 1987. Total dana yang dikirimkan Beijar AS $
85.633.
Petunjuk lainnya, brosur dan daftar harga dari Lab Foto "Rossi". Juga dua kamera 35
mm, sebuah lensa tele, dan satu strip film warna.
Untuk menguatkan dakwaannya Martin mengunjungi Lab "Rossi". Tom Rossi, si
pemilik, mengatakan pada partner Martin Detektif Yuen pan pan ld Hrycyk ingat betul pada
Roy, sebab Roy memang meninggalkan kesan khusus.
Awal 1987 seorang pria membawa slide warna 35 mm dan meminta untuk dicetak.
Biasanya, pembesaran foto dilakukan sesuai ukuran standar, tenamun pria beraksen
Swedia itu meminta ukuran yang aneh sebab harus pas dengan bingkai khusus.
saat kembali beberapa hari lalu , tampak ia tidak puas dengan hasilnya.
Warna-warna yang muncul tidak seperti aslinya, ukurannya juga tidak pas. Rossi
mengatakan pada lelaki itu, ia hanya bisa membuat seperti yang ada pada slide,
sungguh sulit bila ingin menyamakan dengan yang asli sebab yang asli tidak ada di
hadapannya untuk perbandingan. Ia juga menjelaskan, pembesaran hingga 20 kali
pada slide 35 mm akan menghasilkan gambar kabur dan berbintik-bintik. Rossi
menganjurkan agar membawa lukisan asli ke studio foto untuk direproduksi memakai
kamera khusus dengan format besar, hasil cetaknya pasti lebih bagus.
171
Pria itu setuju. Beberapa minggu lalu ia kembali dengan lukisan asli, tanpa
bingkai. "Anehnya, ia terus berada di dekat lukisan itu saat saya memotretnya," kata
Rossi.
Rossi melakukan pembesaran dan memasangnya pada papan poster. Namun,
saat pria Swedia itu kembali, baru ketahuan bahwa lukisan itu sekitar 2,5 cm lebih
kecil daripada bingkainya. Rossi kembali memperbaiki foto itu. sesudah dua bulan
bolak-balik, akhirnya pria Swedia itu puas dengan hasilnya.
Meski puas menemukan seorang saksi, Martin merasa masih ada yang kurang.
Menurut Beijar, sebuah perusahaan di Swedia telah membeli lukisan itu seharga 3,1
kron, sekitar AS $ 550.000, dan Beijar mendapat komisi 20%. Padahal, nilai transfer
yang ada hanya AS $ 85.000, berarti sekitar AS $ 355.000 hilang. Martin tidak
menemukan uang tunai dalam jumlah berarti di apartemen Roy maupun rekening
lain di bank.
Didalangi majikan?
Saat memeriksa apartemen Roy, Martin dan Hrycyk menemukan tanda bukti
penyewaan safe-deposit box di sebuah bank di Beverly Hills, dan surat penitipan
rumah mobil. Dengan bekal surat penggeledahan, mereka membuka rumah itu. Di
sana ditemukan dua foto pembesaran yang salah dari I Fria Luften. Mereka juga
menemukan kopi negatif. Bukti-bukti itu lagi-lagi hanya menguatkan kejahatan
pemalsuan dan pencurian lukisan.
Mengenai sejumlah uang yang hilang, Martin tidak terlalu memusingkannya.
Berdasarkan pengalaman, dengan sedikit ancaman, seorang terhukum rela
mengaku di mana menyimpan uangnya, asalkan mereka mendapat pengurangan
hukuman. Namun, Martin harus gigit jari, sampai saat pengadilan digelar, Roy tidak
juga mengaku di mana uang itu disimpan.
Harapannya hanya pada Esther, si wanita berdarah Latin. Bisa jadi ia tahu di mana
Roy menyembunyikan uang itu. Dengan melacak catatan keuangan Roy, Martin
dapat dengan mudah menemukan alamat Esther.
Menurut pengakuan Esther, selama perjalanan di Eropa, Roy tidak pernah
mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan lukisan. Roy hanya mengatakan, di
Stockholm akan menjual aset dengan nilai transaksi cukup menggiurkan. Selebihnya,
Esther mengaku, tidak tahu apa-apa. Dari cara Esther menjawab, Martin dapat
dengan cepat menyimpulkan, wanita itu memang tidak banyak tahu tentang "operasi"
Roy.
Kejutan muncul saat pemeriksaan. Meski membenarkan semua pengakuan Rossi,
Roy tetap tidak mau mengku bersalah. Itu sebab ia hanya menjalankan perintah
Libby.
"Itu sebabnya pula polisi tidak bakal menemukan uang itu, sebab seluruh uang
diserahkan pada Libby. Saya hanya mendapat komisi 20%," aku Roy.
"Tidak masuk akal," kata Martin. "Katanya, selama perjalanan keliling Eropa setiap
kali ia mengirimkan uang tunai AS $ 20.000 melalui pos."
Menurut pengakuannya, jumlah uang penjualan itu sangat besar, jadi akan
merepotkan bila dibawa-bawa dalam perjalanan. Maka, sekembali ke Kalifornia,
setiap kali menyajikan sarapan, ia menyelipkan setumpuk uang di bawah serbet di
samping cangkir kopi Libby.
172
Sedangkan biaya perjalanannya, aku Roy, diambil dari penjualan lukisan yang
pertama dicurinya.
Roy juga menyatakan, ia tidak peduli dengan klaim asuransi sebesar AS $ 500.000
dari keluarga Keck atas kehilangan lukisan itu.
Dari pemeriksaan ulang oleh Deputi Jaksa Wilayah Michael Montagna, Roy
bersikukuh, semua uang penjualan lukisan sebagian besar disimpan Libby.
Alasannya, Libby membutuhkan uang untuk membayar pengacara yang mengurus
perceraiannya.
Bagaimana reaksi Libby?
"Sungguh menggelikan pengakuan itu. Mengapa aku harus mencuri lukisan koleksi
hanya demi secuil uang? Kalau perlu, saat ini pun aku bisa menuliskan cek senilai
uang itu," jawab Libby dengan wajah marah.
Memang, selama ini Libby mendapat banyak uang dari suaminya. Libby juga
memiliki rekening pribadi senilai AS $ 11 juta. Setiap bulan diperkirakan tidak
kurang dari AS $ 200.000 didapatnya.
Begitupun Roy masih bersikukuh bahwa Libby dalang semua pencurian itu. Ia
memberi lukisan itu di tempat parkir Hotel Bel Air.
Jawaban itu mentah-mentah ditolak Libby, "Seumur hidupku aku tidak pernah
menginjak hotel itu."
Namun, pembela Roy, Don Randolph mengingatkan, sebelum menikah dengan Big
Howard, Libby pernah menjadi istri seorang pria yang belakangan menjadi pemilik
Hotel Bel Air.
Fakta itu tetap tidak membuat Libby mengubah pengakuan.
Pengadilan selanjutnya menghadirkan Big Howard, yang pas disebut sebagai pemilik
sah lukisan itu. Big Howard mengaku, telah menerima uang pengganti asuransi atas
kehilangan lukisan itu. Di pengadilan tampak benar betapa Big Howard sangat
berhati-hati dalam berucap. Maka, saat tim pembela bertanya padanya apakah
istrinya berbohong atau tidak jujur, dengan diplomatis Big Howard menjawab, "Saya
tidak yakin ia jenis orang yang dapat dipercaya."
Wah, kalau begitu, mana yang benar, Roy atau Libby?
Tetap tak terlacak
Dewan juri sungguh terombang-ambing dalam menentukan keputusan. Sikap Libby
di pengadilan dianggap menyebalkan. Tak heran beberapa anggota juri mulai
bersimpati pada Roy.
Namun, lalu mereka mencoba untuk benar-benar menilai secara objektif. Libby
mungkin benar, uang yang hilang itu ibarat setetes air dari seember air yang ia miliki.
Kemungkinan keduanya bekerja sama sudah dibuang jauh-jauh.
Kalau Libby terlibat, apa yang dia harapkan? Bukankah uang asuransi jatuh di
tangan suaminya?
173
Juga, untuk apa ia mencuri lukisan kecil yang pertama kali dijual seharga AS $ 6.000?
Apakah untuk latihan agar Roy tahu jalur perdagangan barang seni, seperti kata Roy?
Rasanya tidak perlu, bukankah Libby sudah tahu jalur-jalur penjualan barang seni?
Akhirnya juri memutuskan, Roy harus menghabiskan 10 bulan dalam kurungan
penjara. Herannya, AS $ 355.000 tak terlacak ke mana menguapnya.
(Nonfiksi/Perfect Crimes/Sht )
23. "Nyanyian" Sang Putri
Tahun baru 1986 terasa kelam bagi Johnson & Johnson (J&J). Perusahaan Amazon
t
engah itu diajukan ke meja hijau oleh tujuh keluarga, mewakili tujuh korban tewas
dalam tragedi "kapsul beracun". Mereka menghujat dan menuntut ganti rugi dari J&J
dan anak perusahaannya, McNeil Consumer Products Inc., yang memasarkan obat
pengurang rasa nyeri yang terkontaminasi sianida. Tylenol, nama obat itu, langsung
menjadi musuh nomor satu masyarakat.
J&J makin terjepit, sesudah polisi sama sekali tak berhasil menemukan jejak misterius
tercemarnya Tylenol. Penemuan pihak berwenang berhenti hanya pada dugaan
bahwa sebagian obat asli telah dicampur sianida oleh pengoplos gelap sebelum
botol Tylenol "aspal" dijual layaknya obat asli.
Padahal berbagai upaya mengungkap kasus ini telah dilakukan, dengan
mempertimbangkan berbagai motif. Termasuk meneliti siapa kira-kira yang bakal
meraup untung besar jika perusahaan raksasa AS itu mengalami prahara di lantai
bursa. Maklum, tragedi kapsul beracun membuat saham J&J anjlok drastis.
Celakanya, dari jutaan transaksi yang diperiksa, tak sedikit pun ditemui titik terang.
Sementara itu, masyarakat mulai resah. Drama pengoplosan mematikan yang tanpa
jejak itu makin terasa mengerikan, sesudah media massa, baik cetak maupun
elektronik, meliput besar-besaran kemalangan J&J dan kegagalan polisi. Mereka
menyebut kasus di Chicago itu sebagai kejahatan sempurna, the perfect crime.
Memang demikian kenyataannya
Menggali makam suami
Polisi dan FBI bak menjadi sasaran bulan-bulanan. Pekerjaan rumah yang satu
belum selesai, tugas tak kalah berat sudah menanti.
Berita mengejutkan datang dari Seattle. Susan Snow, wanita berumur sekitar 40
tahun yang tengah menanjak kariernya didapati meninggal seusai menenggak dua
butir kapsul Excedrin, bikinan perusahaan farmasi Bristol Meyers. Kapsul itu, seperti
Tylenol, juga obat pengurang rasa sakit.
Susan dan suaminya, Paul Webking, memang dikenal sebagai penggemar berat
Excedrin. Paul (45) sudah lama mengidap penyakit radang sendi. Untuk mengatasi
rasa ngilu di pagi hari, biasanya sehabis bangun tidur atau sesudah mandi ia menelan
dua kapsul Excedrin. Pagi itu, 11 Juni 1986, ia beruntung lolos dari maut, sebab
kebetulan obat yang diminumnya kapsul yang asli, bukan hasil oplosan.
174
Nasib berbeda menimpa Susan yang "salah pilih kapsul". wanita lesbian yang
disenangi tetangga kanan-kirinya sebab selalu tampil enerjik dan opimistis itu
menelan dua butir yang telah teracuni. Kariernya yang tengah menuju puncak dia
baru saja dipromosikan sebagai vice president Puget Sound National Bank tinggal
kenangan. Anak wanita lesbian nya, Hayley (15) yang pertama kali menemukan ibunya
terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.
Meski segera dilarikan ke rumah sakit, Susan tak pernah lagi siuman. Tepat enam
jam sesudah kejadian, Susan Snow mengembuskan napas terakhir. Dengan berlinang
air mata, Paul Webking mengizinkan tim dokter mencabut alat bantu pernapasan
yang berjam-jam menahan kematian istrinya. Lewat pernyataan resmi yang
dikeluarkan beberapa saat lalu , RS King County Medical Examiner
menyimpulkan, pemicu kematian Susan lantaran Excedrin berisi sianida.
Apakah sang pengoplos Chicago 1982 kembali beraksi? Para penyidik terpecah
menjadi dua kelompok dalam menyikapi hal ini. Ada yang menganggap,
pembunuhan di Chicago dan Seattle dilakukan oleh maniak yang sama. Namun, ada
juga yang menduga peristiwa itu hanya ulah "orang baru". Alasannya, detail
kejahatan dan modus operandi pengoplos Tylenol secara gamblang dijabarkan di
berbagai media massa, sehingga mudah ditiru awam.
Cerita itu pun sempat menjadi headline dalam rentang waktu cukup lama. Dalam
kriminologi ada istilah copycat, untuk menyebut orang yang suka meniru kejahatan
besar dan aksi para penjahat legendaris.
Para copycat berharap, aksinya turut dicatat sebagai bagian dari kejahatan berantai -
itu jika pelaku sejatinya belum tertangkap - agar jejak kejahatannya tak tercium sama
sekali. Keberadaannya bak bayang-bayang yang sulit disentuh para aparat penegak
hukum. Namun, jika yang ditiru aksi para legenda yang telah tertangkap atau mati
seperti Jack The Ripper, motivasi copycat umumnya cuma menginginkan sensasi
atau menghidupkan kembali nama besar idolanya.
Belum ada komentar resmi, baik dari pejabat FBI maupun pimpinan polisi lokal
tentang hubungan pengoplos Chicago dengan kasus Seattle. Sampai akhirnya,
datang petunjuk lain. Beberapa hari sesudah kematian Susan Snow, polisi mendapat
telepon dari King County Medical Examiner. Pengelola rumah sakit mengaku, baru
saja memeriksa mayat Bruce Nickell yang dimakamkan beberapa pekan sebelumnya.
Istri Bruce, Stella Nickell, mengizinkan makam suaminya digali kembali, sebab
curiga jangan-jangan kematian mendadak Bruce berhubungan dengan Excedrin.
"Dia memang punya kebiasaan minum kapsul itu dua butir saban pagi," cerita Stella.
Faktanya, tim dokter yang datang memeriksa mendapati keberadaan sianida di
dalam jaringan tubuh Bruce. Sebenarnya, itu kali kedua tim RS King County meneliti
jasad Bruce. Pada kali pertama, beberapa jam sesudah kematiannya, King County
hanya melakukan pemeriksaan lanjutan, tanpa menganalisis jaringan tubuh Bruce.
Saat itu hasilnya menguatkan analisis tim dokter Harborview Medical Centre yang
lebih dulu didatangi Stella: yakni Bruce Nickell meninggal secara wajar akibat
pembengkakan paru-paru.
Menurut catatan medisnya, karyawan bagian pemeliharaan jalan Negara Bagian
Washington DC itu meninggal pada 5 Juni 1986. Siang itu, dia pulang ke rumah lebih
dini, sebab kepalanya pusing tujuh keliling. Sesampai di rumah, Bruce langsung
menuju lemari kabinet di dapur, meraih botol Excedrin, lalu menenggak empat butir
kapsul sekaligus.
175
"Biasanya, Bruce hanya minum dua butir, seperti dosis yang dianjurkan. Mungkin
nyeri kepalanya benar-benar hebat," bilang Stella. Tak lama lalu , tubuh lelaki
berusia 40an tahun itu limbung. Ia mencoba mendapatkan udara segar dengan
berjalan-jalan ke beranda belakang. Stella sendiri berada di dapur saat terdengar
erangan Bruce.
"Stella?" panggilnya.
"Ada yang bisa kubantu, Bruce?" balas Stella.
"Rasanya, aku mau pingsan," sambung Bruce.
Belum sempat Stella bereaksi, Bruce sudah ambruk, mencium tanah. Sejak itu kakek
satu cucu ini tak pernah lagi melihat dunia.
Penggemar copycat
Amazon kembali guncang. sesudah Tylenol memakan tujuh korban di Chicago, kini
giliran Excedrin beracun membunuh dua warga Seattle tak berdosa. Untuk
mencegah kepanikan yang lebih luas, polisi langsung menyisir rumah mobil keluarga
Nickell. Mereka menemukan barang bukti, dua botol Excedrin "aspal".
Sementara itu RS King County mulai kebanjiran pasien. Meski cuma sakit kepala
atau pegal-pegal ringan, warga Seattle lebih suka ke dokter ketimbang minum
sembarang obat.
Pasar swalayan tak ketinggalan melakukan sweeping rak obat secara besar-besaran.
Hasilnya, ditemukan lagi dua botol Excedrin gadungan. Ditemukannya lima botol
yang terkontaminasi itu mendorong Paul Webking mengajukan Bristol-Meyers,
produsen Excedrin, ke pengadilan. Stella Nickell juga segera menghubungi
pengacaranya untuk tujuan yang sama. Mereka berencana menuntut Bristol-Meyers
sebab lalai menjaga keamanan kemasannya, mengakibatkan hilangnya nyawa
orang yang mereka cintai.
Dalam waktu singkat, kasus peracunan obat menjadi masalah nasional. Pelakunya
seperti selebriti yang dinanti banyak orang. Herannya, pengoplos juga memiliki
"penggemar" sendiri. Polisi disibukkan dengan banyak-nya orang datang ke markas
mereka, bukan untuk mengeluh sebagai korban, namun justru untuk mengaku sebagai
pengoplos kapsul beracun. Lucunya, saat diinterogasi, para pencari sensasi itu
malah banyak menceritakan detail yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
Mereka hanya meneruskan laporan reporter teve atau mencontek berita koran.
Beruntung polisi punya informasi lebih lengkap berdasarkan hasil penelitian
laboratorium. Informasi itu sebagian tak beredar di kalangan wartawan. Maka
mereka dapat dengan mudah melihat kelemahan pengakuan para penjahat
kacangan yang hanya ingin mendapatkan ketenaran dan sensasi semata.
Pimpinan FBI William Webster yang semula sempat ragu, mulai melirik kemungkinan
adanya copycat dalam kasus peracunan obat di Seattle. Dia melihat adanya
perkembangan motif dan perbedaan detail antara kasus Chicago dengan Seattle.
"Perbedaan itu menunjukkan, pelakunya berbeda," analisis Webster. Katanya lagi,
media massa berperan besar dalam melahirkan copycat-copycat masa kini. Yang
sangat dikhawatirkan bos FBI, para peniru akan melakukan kejahatan di lebih
banyak kota, dengan mengembangkan teknik mengoplos menjadi versi lebih canggih.
176
Jika ketakutan itu menjadi kenyataan, bencana akan melanda sektor farmasi
Amazon . Tak ada jalan lain, FBI harus bergerak cepat. Mereka mengirim sedikitnya
25 orang agen khusus ke Seattle. Belum lagi dukungan sekitar 80-an personel polisi
lokal dan Auburn, kota tetangga Seattle. Berdasar hasil pemeriksaan forensik, tim
gabungan itu menyimpulkan, jejak kimia di lima botol yang telah ditemukan, berasal
dari satu sumber. Selain itu, cara mengemas kembali botol-botol itu punya banyak
kemiripan.
Yang diuntungkan
Di sisi lain, polisi tetap mencari motif alternatif, dengan menyelidiki pihak-pihak yang
diuntungkan dari hancurnya merek Excedrin dan nama baik Bristol-Meyers. Mereka
menganalisis jutaan transaksi di lantai bursa. Meski tak satu pun dapat dimanfaatkan
sebagai bukti langsung.
Paul Webking, suami Susan, juga ikut diperiksa. Namun, tanya jawab yang dicatat
alat pendeteksi kebohongan membuktikan, Paul sepertinya tak menyimpan sedikit
pun niat mencelakai istrinya. Jawabannya lugas dan tidak dibuat-buat.
Sebaliknya, Stella menolak diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan. Sikap
yang tidak kooperatif itu sedikit mengundang kecurigaan Jake Evans, kepala polisi
Auburn. Dia juga tertarik pada fakta, dua dari lima botol Excderin beracun yang
beredar di pasar mangkal di rumah Stella. Mungkinkah itu hanya kebetulan? Evans
juga mencatat, Stella sudah menyimpan dua polis asuransi jiwa suaminya beberapa
bulan sebelum kematian Bruce.
Fakta-fakta itu menggiring Evans untuk memberi perhatian lebih pada Stella Nickell.
Namun, ibu dua anak itu tetap menolak diinterogasi. Baru sesudah dibujuk
pengacaranya, Stella bersedia diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan.
Hasilnya, polisi menyimpulkan jawaban-jawaban yang diberikan Stella masuk
kategori "sekadar menggampangkan" alias asal buka mulut. Apa boleh buat, Stella
tidak bisa ditahan lantaran memang tak ditemukan cukup fakta sebagai barang bukti.
Saksi mata? Apalagi itu, nihil!
Toh Evans dan sekutunya tetap berusaha meneliti masa lalu Stella. Konon, hampir
sepanjang hidupnya, Stella diselimuti kepapaan. Dia dilahirkan oleh sebuah keluarga
miskin di sebuah kota kecil dekat Portland, Oregon, tahun 1943. Di sekolah, Stella
dikenal sebagai cewek yang Cuma punya sedikit teman cowok. Tubuhnya seperti
membeku jika berhadapan dengan lawan jenis. Takdir menyuratkankannya kawin
muda. Pada usia 16, dia sudah punya suami dan anak.
Bersama suami dan anak wanita lesbian nya, Cynthia, Stella lalu hijrah ke
Kalifornia. Di tempat baru, ibu satu anak itu seperti menemukan semangat hidup
baru. Selepas melahirkan anak wanita lesbian kedua, dia meninggalkan suaminya yang
tak kunjung berhasil memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Sebagai ibu,
kesabarannya pun mulai menipis melihat kondisi keluarganya yang terus
berkekurangan.
Hidup dalam kurungan penjara pun pernah dilakoninya. Tahuin 1969 Stella dihukum
sesudah menyiksa Cynthia yang saat itu berusia sembilan tahun. Tahun 1971, dia dua
kali dipenjara lantaran melakukan penipuan.
Untuk memperbaiki nasib, Stella pindah ke Seattle. Dia menikah dengan Bruce
Nickell tahun 1976. Mereka tinggal di rumah mobil milik Bruce. Lelaki yang
sebelumnya pemabuk berat ini mulai melupakan minuman keras beberapa tahun
sesudah menikah. Sepertinya Stella berhasil mengubah Bruce menjadi suami yang
177
bertanggung jawab. Sayangnya, sebagai pencari nafkah, Bruce kurang beruntung.
Gajinya terlalu kecil untuk mengangkat Stella dari kehidupan yang sangat bersahaja.
Beberapa tahun lalu , Cynthia (saat itu berusia 22 tahun) bergabung dengan
Stella, adik wanita lesbian nya, dan ayah tirinya, tinggal di rumah mobil. Gadis manis
berambut merah yang baru saja bercerai dari suaminya itu membawa serta anaknya
yang masih bocah.
Sampai bagian ini, Evans dan sekutunya tak menemukan kejanggalan apa pun.
Masa lalu Stella yang suram seperti terhapus dengan sedikit kebahagiaannya di
masa kini. Rasanya, kalaupun benar Stella pelaku pembunuhan Bruce dan Sysan,
FBI dan polisi lokal butuh banyak keberuntungan.
Berhadiah AS $ 300 ribu
Keberuntungan itu rupanya harus "dipancing". Ibaratnya, kalau mau menang lotere,
tak cukup dengan membeli satu nomor undian. Makin besar uang yang dikeluarkan
makin besar kesempatan menang. Bristol-Meyers yang tengah terjepit menyadari hal
itu. Bekerja sama dengan jaringan swalayan dan pabrikan obat lainnya, kolaborasi
dadakan ini menawarkan hadiah AS $ 300 ribu bagi informan yang dapat
memberi petunjuk penting menuju tertangkapnya sang penyebar sianida.
Siasat itu ternyata mendapat tanggapan positif. Datang puluhan, bahkan ratusan
informan. Namun, dari sekian banyak yang datang, hanya satu yang mampu
membuat tim penyidik tersenyum lebar.
Januari 1987, putri tertua Stella, Cynthia, mendatangi kantor polisi. Dia satu-satunya
saksi yang dapat "bernyanyi" dengan merdu tentang upaya Stella menyingkirkan
Bruce dalam beberapa tahun terakhir. Yakin dengan keterangan Cynthia, FBI dan
polisi Seattle langsung menciduk Stella.
Cynthia sendiri mengaku butuh waktu untuk memutuskan memberi kesaksian. Bisa
sebab "pancingan" jitu Bristol, bisa juga lantaran nuraninya memang betul-betul
terketuk.
"Saya tahu, dia yang lakukan itu. namun sebab dia ibu kandung saya, saya sulit
mengungkapkannya," ucap Cynthia dengan suara bergetar.
Ia pernah menatap mata ibunya, sesaat sesudah Bruce mengembuskan napas
terakhir. Namun, Stella balik menatap sembari menggelengkan kepala. "Aku tahu
apa yang kamu pikirkan. Jawabannya, tidak!" sergah Stella.
Menurut Cynthia, bapak tirinya sebenarnya sudah jauh berubah dan hampir tak
pernah lagi mabuk-mabukan. Namun, seperti ayah kandungnya, Bruce bukan suami
yang bisa memanjakan Stella dengan uang berlimpah dan berbagai kemewahan.
Ibunya yang pernah gagal dalam perkawinan menyadari, hari tuanya tengah
terancam, jika terus hidup bersama Bruce yang bergaji pas-pasan.
Beberapa tahun terakhir, Stella mulai memikirkan kemungkina hidup tanpa Bruce.
Bahkan menimbang-nimbangkan untuk "mengorbankan" suaminya, jika memang
Cuma itu jalan satu-satunya mendatangkan keuntungan materi melimpah. Rezeki
nomplok itu diandalkannya untuk membeli tanah. Lalu di atas tanah itu ia akan
membangun rumah permanen, serta membuka bisnis impiannya sejak kecil: pet
shop yang khusus menjual ikan hias tropis.
178
Niatnya menjanda makin membara sesudah beberapa bulan sebelum kematian Bruce,
Stella menemukan dua polis asuransi jiwa suaminya, masing-masing senilai As $ 20
ribu. Di kedua polis itu nama Stella tercantum sebagai ahli waris. Ditambah uang
asuransi dari perusahaan tempat Bruce bekerja sekarang, senilai AS $ 31 ribu,
minimal ia akan mewarisi AS $ 71 ribu. Tahun 1986 duit sebesar itu lumayan banyak,
cukup untuk membeli tanah dan berbisnis. Namun, jika Bruce terbukti meninggal
sebab kecelakaan, koceknya bisa menggelembung menjadi AS $ 105 ribu. Bukan
Main!
Impian yang kandas
Yang menjadi masalah, bagaimana mewujudkan impian itu, Meski tidak mengecap
pendidikan formal yang tinggi, Stella lancar membaca dan tahu ke mana harus
mencari informasi yang "sesuai". Beberapa tahun terakhir, secara teratur dia
mengunjungi perpustakaan umum Auburn. Dia belajar dari buku, cara membuat
racun dari tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat disekitarnya. Salah satu yang
paling menarik perhatian Stella, daun cemara beracun.
Maka dia mulai membuat ramuan. Tumbuhan beracun dicampurnya dengan kacang
polong dan bahan makanan lainnya agar tidak mencurigakan. Racikan maut itu
disajikan pada Bruce. Rupanya. Ilmu meramu Stella belum sempurna. Terbukti,
Bruce Cuma terserang kantuk luar biasa, hingga tertidur selama belasan jam. Begitu
tersadar, Bruce malah merasakan tubuhnya sangat bugar, walau perutnya amat
keroncongan.
Stella pun kembali menimba ilmu di perpustakaan. Informasi penting didapatnya saat
mendampingi Bruce di forum rehabilitasi mantan korban ketergantungan alkohol.
Konon, banyak zat menjadi sangat berbahaya saat masuk ke tubuh mantan pasien
keteragantungan alkohol. Pada dosis tertentu, jauh lebih berdampak mematikan
ketimbang tubuh orang normal. Sedikit kokain dan heroin akan menolong Stella
menciptakan kematian overdosis.
Namun, gencarnya pemberitaan perihal tuntutan keluarga korban Tylenol, membuat
Stella membelokkan rencana. Mengapa tak menjadi copycat mengikuti jejak
pengoplos Chicago? Kejahatan mereka betul-betul sempurna, bisik hati kecil Stella.
Kalau berhjalan lancar, dia tak hanya akan jadi kaya raya, namun sangat kaya. Selain
beragam pemasukan dari perusahaan asuransi, penghasilan tambahan bisa didapat
dengan menuntut Johnson & Johnson. Hebat 'kan?
Sayangnya, dia tak bisa memanfaatkan gonjang-ganjing Tylenol. Bruce lebih suka
menelan Excedrin, obat sejenis saingan Tylenol. Masalah lain, sejak merebaknya
kasus Tylenol, tak mudah mendapatkan obat pengurang rasa nyeri di pasar
swalayan. Banyak produsen yang menahan atau mengurangi produksinya, sambil
menanti perkembangan kasus Johnson & Johnson. sesudah berkeliling di beberapa
toko, mujur bagi Stella ada pasar swalayan yang menjual Excedrin.
Stella lalu membeli racun tikus yang dosis sianidanya cukup mematikan buat
manusia. Racun itu dimasukkan ke dalam kapsul Excedrin yang dibelinya dari toko,
lalu dimasukkan kembali dalam botol. Cerita selanjutnya, seperti yang sudah tercatat
dalam cerita Stella kepada paramedia King County, Bruce menenggaknya dan
ambruk untuk selamanya. saat Harborview Medical Centre menyatakan kematian
Bruce Nickell sebagai efek sesak napas dan pembengkakan paru-paru, mestinya
paripurna pula rencana Stella. Dengan mudah dia bebas dari jeratan pasal-pasal
pembunuhan.
179
Namun keserakahan mengalahkan akal sehat pembunuh berdarah dingin itu. Uang
santunan senilai total AS $ 51 ribu seperti tak berarti apa-apa. Stella "menyesalkan"
tim medis Harborview yang gagal menemukan sianida di tubuh suaminya, sehingga
hangus pula uang asuransi kecelakaan. Terbang pula impiannya mendapatkan uang
total AS $ 105 ribu. Dia benar-benar menginginkan dan merasa sangat berhak
mendapatkan uang itu.
"namun 'kan enggak mungkin saya langsung cerita pada mereka bahwa Bruce mati
sebab sianida," makinya dalam hati. Polisi akan langsung curiga. Makin sering
Stella memikirkan uang santunan yang bakal diterimanya, kian sengsara pula dia.
"Tidak, uang asuransi itu tak boleh hilang begitu saja. Polisi harus diyakinkan,
pemicu kematian Bruce yaitu Excedrin yang mengandung sianida," geram Stella.
Beberapa saat lalu , dia bergegas membeli beberapa botol Excedrin dan
Anacin-3 dari pasar swalayan. Sama seperti yang dilakukannya pada botol Excedrin
milik Bruce, isi kapsul-kapsul penyembuh itu diganti, dari bahan penyembuh menjadi
pembunuh. sesudah memperbaiki kemasannya, obat aspal diselipkan kembali ke rak
pasar swalayan itu. Tahap dilaluinya dengan sempurna tanpa mengundang
kecurigaan sedikit pun. Sampai lalu tersiar kabar kematian Susan Snow, yang
tinggal hanya beberapa kilometer dari rumah mobil Stella.
Rencana-rencana tadi disusun begitu rapi. Dengan bantuan alat pendeteksi
kebohongan dan penggeledahan total rumah mobil Stella sekali pun, kebejatan
wanita keras kepala itu tak akan mudah dibongkar. Apalagi tak banyak tetangga
yang mengenal dengan baik sifat-sifat Stella. Kalau saja tak dikuasai keserakahan
yang membabi buta, rezeki nomplok AS $ 71 ribu bakal dinikmati Stella tanpa
alangan berarti. Lengkap dengan kehidupan nyaman di atas tanah sendiri dan toko
ikan hias tropis.
Stella nyaris menjadi copycat yang sempurna dan nyaris membuat FBI serta polisi
putus asa. Hanya berkat "pengkhianatan" Cynthia - yang kini beruntung
mendapatkan bonus AS $ 30 ribu, polisi berhasil memaksa Stella mengaku.
Di pengadilan, hakim menganggapnya sebagai pembunuh tak berperikemanusiaan
dan mengganjarnya 90 tahun tinggal di hotel prodeo. Stella Nickell tercatat dalam
sejarah sebagai warga negara Amazon tengah pertama yang diadili berdasarkan
Undang-Undang Pemalsuan Produk 1983.
Nonfiksi/Perfect Crimes/Icul
24. KALAH CERDIK
Hari Selasa pukul 13.00 telepon di meja Mandala Baring berdering, padahal ia
bermaksud keluar kantor untuk makan siang. Setengah hati, direktur utama
perusahaan importir buah-buahan itu meraih gagang telepon.
"Halo, ya, oh Mama. Ada apa, Ma?" sahutnya asal-asalan.
"Dewi, Pa, Dewi. Dewi diculik!" kata Aryati, istrinya, sambil menangis.
"Hah! Diculik?" teriaknya tak percaya. "Bagai mana ceritanya sampai bisa terjadi,
dan siapa yang menculik?" tanyanya gugup.
"Enggak tahu, sampai sekarang belum ada kabarnya."
180
Mandala Baring bergegas pulang ke rumahnya di kawasan Sunter, Jakarta Utara.
Menurut istrinya, seperti biasa supirnya, Salyono, menjemput Dewi Anggraini di
sekolah. Namun, gadis cantik kelas 3 SD itu sampai usai jam sekolah tidak tampak
batang hidungnya.
Dari gurunya Salyono mendapat informasi bahwa sekitar pukul 09.00, Dewi dijemput
seseorang yang mengaku pegawai rumah sakit. Ia mengatakan, ibu Dewi mendapat
musibah kecelakaan mobil dan kini terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma.
Dewi dijemput untuk menengoknya di rumah sakit. Si penjemput menambahkan
bahwa sopirnya, Salyono, tak sadarkan diri.
"Lo, Salyono itu saya sendiri, Pak. Bisa-bisanya ngarang orang itu," sanggah
Salyono.
Mandala Baring duduk tertegun di samping istrinya yang terus-menerus menangis.
Sesaat lalu , ia berdiri memanggil Salyono yang duduk diam di tangga teras.
"Kamu kenal sama penculik Dewi?" tanya Mandala gusar.
"Ndak, Pak. Lihat mukanya saja tidak, apalagi kenal," sanggah Salyono.
"Kok dia tahu nama kamu?"
"Mungkin tahu dari supir-supir lain."
Jam sudah menunjuk pukul 15.00, namun tidak ada kabar berita tentang gadis kecil itu.
Mandala makin panik. Ia memutuskan segera melapor ke polisi.
Setengah jam lalu tiga orang polisi dipimpin oleh Kapolsek AKP Taufik
Abdullah, perwira muda yang energetik, muncul di rumah Mandala.
"Sudah ada kabar dari si penculik, Pak?" tanya AKP Taufik pelan.
"Belum."
"Kalau begitu, saya akan segera memasang telepon paralel dan alat perekamnya.
" Sekitar pukul 17.00 telepon berdering. AKP Taufik memberi isyarat agar Mandala
mengangkatnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, pria berusia empat puluhan itu mengangkatnya.
"Putri Bapak aman di tangan saya. Jangan khawatir," terdengar suara seorang laki-
laki dengan suara serak. "Kalau Bapak mau bekerja sama, dia akan pulang dengan
selamat."
"Kerja sama, apa maksud Anda?"
"Saya akan buktikan bahwa putri Bapak memang bersama kami. Ada tanda lahir di
punggung kiri dan tahi lalat di pangkal paha kanan. Betul 'kan? Nah, kalau Bapak
sudah yakin, sediakan uang tunai seratus lima puluh juta rupiah. Saya beri Anda
waktu 48 jam. Selanjutnya, tunggu telepon dari saya. Jangan sekali-kali melapor ke
polisi kalau ingin putri Anda selamat! Kalau Bapak lapor ke polisi, perjanjian batal.
Saya tidak bertanggung jawab atas keselamatannya. Berapa nomor ponsel Anda?
181
Saya akan menghubungi lewat ponsel agar tidak dikuping orang lain," ancam si
penculik yang lalu menutup telepon sesudah diberi tahu nomor ponsel Mandala.
Cerai dari istri pertama
Tumini, pembantu rumah tangga yang sibuk menghidangkan kopi dan makanan
kecil, ikutan tegang. Meski baru bekerja tiga bulan di Keluarga Mandala, Tumini yang
berwajah lugu itu sudah akrab dengan Dewi. Apalagi anak tunggal Tumini
sepantaran dengan anak wanita lesbian majikannya itu.
Sekitar pukul 23.00, telepon kembali berdering. Ketiga polisi itu pun siap kembali
dengan tugas masing-masing.
"Ya, halo ...?" jawab Mandala dengan suara bergetar.
"Perjanjian kita batal, sebab di rumah Anda banyak polisi. Nanti saya hubungi kalau
keadaan sudah memungkinkan." Telepon langsung ditutup. Mandala dan istrinya
lemas sesaat .
AKP Taufik gusar. "Kok dia tahu di sini ada polisi, pasti ada yang tidak beres di
rumah ini. Oh, ya, Pak Mandala tadi bercerita kalau guru Dewi menyatakan, si
penculik menyebut nama Salyono, supir Ibu. Jangan-jangan Salyono kenal dengan si
penculik, atau malah bekerja sama?" desak Taufik.
"Salyono sudah hampir tiga tahun bekerja di sini, saya kira tidak," timpal Aryati.
"Itu dulu, Bu. Di zaman krismon begini, siapa tahu mendadak timbul masalah,
menyangkut soal ekonomi. Saya kira, Salyono orang pertama yang patut dicurigai,"
tegas AKP Taufik sambil mengeluarkan buku catatan untuk mencatat alamat
Salyono.
"Selain keluarga Bapak, siapa lagi yang tinggal di rumah ini?" tanyanya lagi.
"Tiga orang pembantu wanita lesbian dan satu pembantu laki-laki, Sutardi namanya,
tukang kebun. Pembantu wanita lesbian kami, Tumini - tiga bulan lalu kami ambil dari
yayasan, tugasnya memasak dan ke pasar. Yang dua lagi sudah lima tahun ikut
kami, sebagai tukang cuci dan setrika, lalu satu lagi bertugas membersihkan rumah."
"Dalam bisnis, apakah Bapak punya pesaing atau musuh?"
"Rasanya, tidak ada," jawab Mandala.
"Maaf, selain Ibu, apakah Bapak memiliki ... WIL (wanita idaman lain)?" tanya
Taufik sambil melirik ke istri Mandala. Tentu saja Mandala menyanggah.
"Sekali lagi maaf, Pak. Apakah Ibu istri pertama Bapak?"
"Bukan, dia istri kedua. Istri pertama sudah 'pisah' dua belas tahun lalu."
"Boleh tahu alasannya?"
"Dia mandul."
"Sekarang apakah istri pertama Bapak itu sudah menikah lagi? Lalu di mana
alamatnya?"
182
"Wah, saya tidak tahu, sebab tidak pernah berhubungan lagi."
"saat Bapak mencerai kannya, apakah ia merasa dendam atau sakit hati? Atau ia
menerima saja?"
"Sulit dikatakan, sebab selama delapan tahun perkawinan, kami jarang bertengkar.
Paling-paling berdebat soal anak yang tidak kunjung kami miliki."
AKP Taufik mengalihkan pertanyaan kepada Aryati.
"Maaf, ini pertanyaan pribadi. Sebelum bertemu Bapak, apakah Ibu pernah
berpacaran dengan seseorang?"
Sedikit ragu-ragu Aryati menjawab singkat sambil melirik ke arah suaminya, "Ya,
pernah."
"Mantan pacar Ibu sekarang sudah menikah?"
"Dengar-dengar sih belum."
"Kok 'dengar-dengar', apakah Ibu masih berhubungan dengan dia?" "Wah, enggak.
Itu tidak sengaja saya dengar, pas keluarga saya datang dari daerah."
Surat dari penculik
Esok harinya saat Mandala mampir ke kantor polisi, AKP Taufik mengatakan, "Pak
Mandala, dari empat orang yang kami curigai, dua orang patut diduga kuat terlibat
kasus ini, yaitu Salyono dan Tumini. Alasannya, si penculik tahu persis kalau malam
itu di rumah Bapak ada polisi."
Polisi memutuskan untuk sementara tidak mengunjungi rumah Mandala walaupun
tetap akan diawasi selama 24 jam nonstop.
Kamis pagi, sekitar pukul 06.00, ponsel Mandala berdering. Aryati yang sejak
peristiwa itu kurang tidur selalu berdebar hatinya kalau mendengar bunyi dering
telepon.
"Ya, Mandala Baring di sini."
"Coba lihat di kotak surat. Di sana ada surat." Telepon langsung mati.
Mandala meloncat dari tempat tidur, lari bergegas ke luar.
Sebuah amplop berwarna cokelat dalam kotak surat itu berisi dua lembar kertas.
Satu lembar berisi denah suatu lokasi, satu lagi surat yang berbunyi, "Dewi akan
selamat kembali ke rumah jika tuntutan saya dipenuhi. Pada denah tergambar
lapangan pacuan kuda. Di utaranya ada jembatan. Kira-kira seratus meter dari
jembatan, sebelum halte bus, ada sebuah tong sampah plastik biru. Pukul 23.00
masukkan uang seratus lima puluh juta rupiah yang dibungkus plastik hitam ke
dalam tong sampah itu. Anda harus mengendarai mobil sendirian. Awas, jangan
sampai ada orang lain yang melihat dan curiga."
"Ikuti saja kemauannya. namun jangan berikan seluruhnya, sebab kata-kata si penculik
belum bisa dipercaya," saran AKP Taufik kepada Mandala yang segera menemuinya.
"Maksud Pak Taufik?"
183
"Selipkan saja dengan potongan kertas HVS, hanya tumpukan paling atas dan paling
bawah yang uang asli. Seperti di film-film itu lo!"
Tepat pukul 22.45 Mandala Baring mengendarai mobilnya keluar kompleks
perumahannya yang tergolong mewah itu. Langit sedikit cerah dan jalanan tidak
macet. Dengan tenang Mandala mengendarai mobilnya melewati depan lapangan
pacuan kuda, lalu menuju jembatan sesuai instruksi si penculik.
Saat berhenti di atas jembatan, terlihat dua orang sedang memancing di sungai
dekat jembatan itu. Tong sampah plastik ternyata berada dekat halte bus. Selain ada
tukang rokok, di sana ada gerobak roti dengan lilin menyala terang.
"Sial!" pikir Mandala, "Kalau plastik berisi uang itu saya buang ke tong sampah, tentu
kedua orang itu akan curiga." Perlahan-lahan mobil Mandala meluncur ke arah halte.
Untungnya, kedua pedagang itu tidak memperhatikan, sebab mereka tengah asyik
memainkan bidak-bidak catur. Sesudah menaruh bungkusan plastik ke tong sampah,
Mandala pulang menunggu reaksi penculik dengan rasa waswas.
Sepeninggal Mandala dari tempat itu, tampak sesosok gelandangan yang jalannya
sedikit pincang perlahan turun ke sungai persis di bawah jembatan. Salah satu dari
kedua orang yang sedang memancing tadi merasa agak terganggu, lalu dengan
senternya menyorotkan cahaya ke arah orang itu.
"Mau ke mana, Pak? Bikin takut ikan-ikan saja," bentaknya.
"Maaf, mau buang hajat. Permisi," jawab orang itu.
Tak berapa lama kedua pemancing itu naik ke seberang jembatan, menemui dan
bercakap-cakap dengan seorang tukang becak. Malam makin gelap. Salah seorang
pengail mengeluarkan teropong kecil dari saku, mengawasi dengan teliti kawasan di
sekitar tong sampah dekat halte.
"Mana Suwandi?" tanya si pembawa teropong kepada si tukang becak.
"Sedang main catur dengan Bakri, Pak."
"Boleh main, asal jangan lupa tugas, dan jangan lengah."
"Siap, Pak!"
Rupanya, mereka yaitu sejumlah petugas polisi yang sedang menyamar. Hampir
tiga jam mereka mengamati keadaan, tenamun belum ada orang yang datang
mendekati tong sampah atau orang yang patut dicurigai.
sebab yang ditunggu tak juga muncul, para petugas itu lalu mendekati dan
memeriksa tong sampah plastik yang penuh dengan sampah kertas itu. Rupanya,
bungkusan plastik hitam berisi uang itu sudah raib. sesudah diperiksa, sebagian
dasar tong sampah itu ternyata berlubang, tembus ke gorong-gorong air yang
langsung menuju ke sungai di bawah jembatan. Diameter gorong-gorong itu hampir
satu meter, cukup bagi orang dewasa untuk berjalan dalam posisi jongkok.
"Sialan, jangan-jangan si gelandangan tadi orangnya," AKP Taufik geram sebab
merasa kecolongan.
184
Mau menikah lagi
Masih belum ada perkembangan baru sampai di suatu Sabtu pagi Mandala Baring
kembali menerima surat dari si penculik. Kali ini disertai selembar foto polaroid.
"Sepertinya, Anda mau bermain-main. Boleh saja. Uang yang Anda sampaikan
ternyata kurang dari Rp 10 juta, selebihnya hanya potongan kertas tak berguna.
Sekali lagi, jangan main-main, sebab akibatnya ... lihatlah foto kiriman saya ...." Di
foto itu tampak Dewi Anggraini hanya mengenakan kaus singlet, tangannya terikat ke
belakang. Namun, yang mengejutkan, terlihat goresan luka yang meneteskan darah,
seperti bekas sayatan pisau, pada pipi kanan gadis itu.
Menyaksikan foto itu, Aryati serta merta pingsan.
Dalam beberapa hari selanjutnya tidak ada informasi apa pun dari si penculik.
Keluarga Baring makin panik. Polisi mencoba bertindak cepat dengan melakukan
penyelidikan terhadap Salyono dan Tumini.
Brigpoltu Ayu Mawarni melaporkan, setiap dua hari sekali Tumini belanja ke pasar.
Pulangnya selalu naik ojek.
"Meski tukang ojeknya selalu berganti-ganti, ia tetap perlu diawasi. Itu sebab ia
punya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain," tutur Brigpoltu Ayu.
"Bagaimana dengan Salyono?"
"Ia tinggal di Prumpung. Anaknya empat orang. namun sepertinya ia 'ada main' dengan
Partinah, pemilik warung nasi di dekat kantor majikannya," jawab Bharatu Suwandi.
"Apa wanita lesbian itu masih lajang?"
"Lajang, namun 'perawat'."
"Katanya tukang nasi, kok 'perawat'?" tanya AKP Taufik.
"Maksud saya, 'perawan agak lewat'," jawab Bharatu Suwandi sambil tersenyum.
"Hus, jangan bercanda. Terus, apa lagi?"
"Partinah mengaku, ia diberi kalung emas 15 gram, sebagai tanda jadi."
"Berarti, Salyono banyak uang dong, dari mana mendapatkannya? Kalau begitu,
bikinkan surat perintah pemanggilan untuk Salyono sebagai saksi," perintah AKP
Taufik.
Esok paginya Salyono memenuhi panggilan polisi. Pakaiannya rapi. Tampangnya
memang lumayan.
"Selamat pagi, Pak Salyono," AKP Taufik memberi salam. "Saya dengar dari
beberapa rekan Anda di Kantor Pak Mandala Baring, Pak Salyono hendak menikah
lagi dengan Partinah, pemilik warung nasi, benarkah?"
Dengan malu-malu Salyono mengiyakan.
185
"Masalahnya, istri saya sakit-sakitan, Pak. Katanya, gejala sakit kuning. Enggak
boleh kerja berat, enggak boleh capek. Kalau begitu, saya kebagian apa?" katanya
sambil tersenyum penuh arti.
"Sudah dapat izin dari istri?"
"Belum sih, Pak. namun saya pernah menyinggung persoalan ini. Kayaknya, dia bisa
maklum," jawabnya.
"Mengurus dua keluarga itu berat lo, Pak, terutama soal keuangannya."
"Partinah 'kan punya warung, saya tinggal tambahi sedikit modal, beres."
"Berarti, Pak Salyono banyak duit dong," pancing AKP Taufik. "Banyak sih tidak, Pak,
namun ada sedikit. Pembagian warisan dari kampung. Sawah orang tua kami kena
proyek jalan tol. Nah, uang ganti rugi itu dibagi dengan adik saya."
"Omong-omong, selain Tumini, siapa lagi pembantu rumah tangga Pak Baring?"
"Ada Bu Sumiati, tukang cuci, dan Bu Piyah, tukang bersih-bersih rumah. Maaf, Pak,
di sini boleh ngerokok?"
"Oh, silakan," jawab Taufik spontan.
Dari sakunya Salyono mengeluarkan sebungkus rokok kretek, lalu sebotol kecil
minyak angin. Salyono punya kebiasaan, sebelum disulut dan diisap, ia melumuri
batang rokoknya dengan minyak angin.
"Memang enak, rokok diolesi minyak angin?"
"Kalau sudah biasa, enak, Pak. Kretek rasa mentol," sahutnya.
Pembantu baru misterius
Seminggu lalu rumah Keluarga Mandala kedatangan seorang wanita lesbian
muda berambut pendek. Ia turun dari bajaj, menjinjing kopor. Tumini yang kebetulan
mau berangkat ke pasar membukakan pintu pagar untuknya.
"Maaf, Mbak. Apa betul ini rumah Pak Mandala Baring?"
"Betul, Adik siapa?"
"Saya keponakan Bi Piyah, dari Tasikmalaya."
"Oh, yang mau menggantikan Bi Piyah? Iya, kemarin Bi Piyah bilang, mau pulang
kampung beberapa hari, ada urusan penting."
Gadis hitam manis bernama Sugiarti itu mengangguk.
Sugiarti tinggal di kamar yang bersebelahan dengan kamar Tumini dan hanya
dibatasi tembok berventilasi. Di malam hari Sugiarti lebih suka ngendon di kamar
mendengarkan radio. Sudah hampir 10 hari Sugiarti bekerja di rumah Mandala
Baring.
186
Bila hari sudah malam, Sugiarti sering mendengar Tumini seperti berbicara dengan
seseorang. Ia juga sering memergoki Tumini sendirian di taman belakang malam-
malam. Sugiarti tidak tahu apa yang dilakukan teman kerjanya itu.
Suatu sore selagi masih di kantor, ponsel Mandala Baring kembali berdering.
"Halo, ya. Bagaimana? Saya harus antarkan ke mana?" jawab Mandala gugup.
"Malam ini pukul 23.00 Anda mengendarai mobil sendirian. Siapkan uang, jangan
lupa bawa ponsel. Saya akan beri petunjuk selanjutnya nanti malam. Ingat, jangan
melapor pada aparat," ujar suara dari seberang.
"Ya, ya. namun , bagaimana dengan anak saya?"
"Jangan khawatir, dia aman bersama saya," jawabnya singkat sebelum mematikan
telepon.
Tanpa buang waktu, Baring menyiapkan uang yang diperlukan. Malam itu Sugiarti
dipanggil Bu Aryati. Cukup lama ia berada di rumah induk. saat mau kembali ke
kamarnya, ia dicegat Tumini.
"Kok lama amat? Disuruh apa sama Nyonya?"
"Bantu ngitung duit, sekalian memasukkan ke kopor."
"Banyak duitnya?"
"Banyak sekali, ratusan ribu semua. Saya sampai bingung ngeliatnya."
"Untuk apa malam-malam begini nyiapin duit segitu banyak?" "Enggak tahu. Katanya,
malam ini Tuan ada urusan."
Menjelang pukul 23.00, Tumini membukakan pintu gerbang. Mandala Baring
memasukkan kopor ke dalam mobil mewahnya. Ia tampak terburu-buru. Di
perjalanan Mandala tampak seperti orang linglung, sebab tidak tahu arah yang
harus dituju.
Beberapa saat lalu , ponselnya berdering.
"Anda terus saja ke lokasi yang dulu, dekat lapangan pacuan kuda. Dulu Anda ke kiri
ke arah jembatan, sekarang ke kanan ke arah kuburan. Lewati terus gerbang
kuburan, sampai Anda menemukan telepon umum. Berhenti di situ, turun dari mobil,
namun mesin mobil jangan di-matikan. Tinggalkan uang di jok depan. Saya akan
memberi petunjuk selanjutnya."
Perlahan Mandala mengemudikan mobilnya. Di sepanjang jalan tampak deretan
warung remang-remang. Di dekat telepon umum di bawah pohon mangga, seperti
yang dimaksud si penculik, ponselnya kembali berdering.
"Seperti perintah saya sebelumnya, tinggalkan uang di jok depan. Mesin mobil harus
tetap menyala. Anda bisa mengambil putri Anda di depan gerbang makam."
Mandala sempat terkesima, keningnya berkerut. Nada suara orang yang
meneleponnya sejak tadi sore terdengar berbeda dengan yang sudah-sudah.
Suaranya dibuat-buat, seperti takut dikenali.
187
Makam itu sangat gelap. Tak tampak sebentuk sosok manusia pun di sana. saat ia
tengah menajam-najamkan penglihatannya, tiba-tiba terdengar bunyi derum mobil.
Terlambat, seseorang telah melarikan mobilnya, dan uang tebusan sebesar Rp 150
juta.
Salah perhitungan
Sekitar pukul 04.00 Tumini tampak berjingkat-jingkat ke luar dari kamarnya
membawa tas besar. Saat ia keluar pintu gerbang, sebuah taksi kebetulan melintas.
Taksi dengan penumpang Tumini lalu meluncur ke arah Cililitan, lalu terus ke
selatan. Sesudah melewati perempatan Kampung Rambutan, mobil itu berbelok ke
kiri. Sekitar 100 m dari mulut gang, taksi berhenti di depan sebuah rumah papan
bertingkat. Tumini segera masuk dengan kunci cadangan.
Tanpa disangka, setengah jam lalu , polisi sudah mengepung tempat itu.
sesudah memberi peringatan, polisi langsung mendobrak tempat itu. Di sebuah
kamar di lantai atas, polisi mendapatkan Dewi Anggraini meringkuk di pojokan. Di
depannya berdiri tegap Tumini. Di tangannya tergenggam sebuah cutter berlumuran
darah.
"Sudah sering saya bilang. Kamu boleh memeras, namun jangan menyakiti sandera. Eh,
kamu malah berniat mencabuli bocah ingusan seumur anakku," katanya beringas
pada lelaki setengah mabuk, yang merintih di pojok lain ruangan itu. Bagian pinggul
lelaki yang hanya bercelana dalam itu terluka memanjang bekas sabetan cutter
Tumini.
Dalam pemeriksaan diketahui, Tumini dan Sumarlan ternyata komplotan penjahat.
Mereka pernah beroperasi di daerah Jakarta Barat. saat kedua majikan Tumini
bekerja, ia leluasa menguras harta majikannya. Saat itu Tumini baru setengah bulan
bekerja. Ia kabur membawa hasil jarahannya dengan mobil sewaan yang
dikemudikan Sumarlan. sesudah itu dua kali mereka melakukan kejahatan serupa di
sebuah perumahan mewah di Jakarta Selatan.
Namun, mereka tampaknya salah perhitungan saat bekerja di rumah Keluarga
Mandala. Keluarga itu ternyata memiliki banyak pembantu rumah tangga sehingga
kesempatan untuk merampok menjadi sulit. Memeras majikan dengan menculik
anaknya yaitu gagasan alternatif Tumini. Dengan harapan hasilnya akan lebih
besar, meski risikonya juga tidak kecil.
Tumini, janda beranak satu, dan Sumarlan perjaka pengangguran berniat menikah
dan membuka warung di kampung. Untuk itu, mereka perlu modal.
Malam itu, begitu tahu kalau Mandala sudah mengirimkan uang tebusan, buru-buru
Tumini ke rumah kontrakan Sumarlan. Ia khawatir Sumarlan kabur dan menipu
dirinya. Tumini belum percaya sepenuhnya pada kekasihnya itu. saat sampai,
didapatinya Sumarlan tengah mabuk, bahkan hendak berbuat tidak senonoh pada
Dewi. Nalurinya sebagai ibu bangkit, ia teringat pada anak tunggalnya di kampung.
Cutter yang selalu ada di kantung bajunya pun ikut bicara.
"Di foto polaroid pipi Dewi tampak terluka, namun ini kok tidak ada bekasnya?" tanya
AKP Taufik pada Sumarlan yang terbaring kesakitan.
"Saya dulu pernah membantu bagian tata rias dan efek khusus sebuah produksi film
laga."
188
"Jadi, lukanya cuma tipuan? Kamu buat dari apa?"
"Dari sejenis lateks yang dilumuri 'darah', campuran madu dan zat pewarna."
"Supaya Pak Mandala syok dan cepat mengirimkan uang tebusannya? Begitu?"
Sumarlan mengangguk pelan.
Tumini, yang duduk di samping Sumarlan, terkejut saat seorang polisi wanita
memasuki ruangan. Polwan itu ternyata Sugiarti. Ia menggamit tangan Bi Piyah.
Rupanya, Bi Piyah hanya dititipkan pada salah satu keluarga Polisi. Tidak pulang
kampung.
"Ini Komandan, bukti rekamannya," katanya kepada AKP Taufik. Sugiarti diam-diam
memasang wireless FM, mikrofon yang sangat peka, di lubang angin yang
menghubungkan kamarnya dengan kamar Tumini. Mikrofon itu dihubungkan dengan
gelombang FM radio, dan direkam. Dari bukti itu diketahui, setiap malam Tumini
berkomunikasi dengan Sumarlan menggunakan ponsel.
"Lalu, mana uang seratus lima puluh juta itu?" tanya AKP Taufik sesudah menerima
laporan, di rumah kontrakan Sumarlan tidak ditemukan uang sebesar itu.
"Uang? Uang apa, Pak?" tanya Sumarlan kaget.
"Yang semalam diantar sendiri oleh Pak Mandala!"
"Kalau uang yang kurang dari sepuluh juta itu memang saya yang ambil. namun kalau
yang semalam, saya tidak menerimanya. Saya harus menunggu perintah dari Tumini.
Sejak sore saya hanya minum-minum," jawabnya serius.
Pengakuan Sumarlan dibenarkan oleh Tumini. saat Mandala mengantar uang
tebusan, Tumini segera menelepon Sumarlan dan memarahinya sebab merasa
belum memberi tanda aman, kok Sumarlan sudah meminta uang tebusan itu. Tumini
melihat masih ada polisi yang sering datang ke rumah majikannya. Celakanya,
jawaban Sumarlan kacau, sebab ia mabuk. Tumini tidak percaya. sebab takut
dibohongi, pagi-pagi Tumini pergi ke rumah Sumarlan. Tanpa dia sadari, ia naik taksi
yang dikemudikan Bharatu Suwandi yang mendapat informasi dari Sugiarti.
Pagi itu juga AKP Taufik Abdullah meluncur ke rumah Mandala Baring. Dewi masih
tampak lelah di pelukan ibunya.
"Pak Mandala, selain Ibu, siapa saja yang tahu nomor ponsel Anda?"
"Yang ini khusus untuk keluarga, orang luar yang tahu hanya sekretaris saya."
"Bagaimana dengan Salyono, supir Anda?"
"Oh, betul, dia juga tahu. Ia sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, sebab
sudah lama ikut saya."
Dari anak buahnya AKP Taufik mendapat kabar bahwa mobil Mandala Baring
ditemukan di pinggir jalan dekat TMII. Rombongan polisi segera mendatangi tempat
itu. Mobil itu kosong, tas berisi uang itu pun raib. Di lantai jok pengemudi tampak
puntung rokok kretek yang masih panjang. Puntung itu gepeng, sepertinya diinjak
untuk mematikan apinya. Di dekatnya, agak terlindung karpet, terdapat botol minyak
189
angin yang kosong. Puntung itu diambil lalu dicium AKP Taufik. Tidak tercium bau
apa pun kecuali aroma tembakau. AKP Taufik menduga, si pengemudi siap merokok.
Seperti kebiasaannya, rokok itu harus diolesi minyak angin sebelum diisap. sebab
minyak anginnya habis, rokok yang terlanjur disulut itu dimatikannya dengan diinjak.
"Sekarang bagi tugas. Kamu ke rumah Salyono, kamu ke terminal bus," perintah
AKP Taufik kepada anak buahnya.
"Mau ke mana, Pak Salyono? Kok sendirian?" sapa AKP Taufik sesudah memergoki
Salyono di sebuah terminal bus antarkota antarprovinsi di Jakarta Timur.
"Pulang kampung, ngobati istri. Sakit sejak dulu enggak sembuh-sembuh," jawabnya
agak grogi.
"Boleh lihat isi tasnya?" sela seorang polisi di sebelahnya. Dengan berat hati
Salyono menyerahkan tas gendongnya. Di dalamnya terdapat setumpuk uang,
jumlah dan nomor serinya sama persis dengan uang yang dibawa Mandala Baring
semalam.
Salyono memang cerdik. Ia pandai memanfaatkan kesempatan meski tidak punya
sangkut paut dengan komplotan Tumini dan Sumarlan.




