• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 8. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 8


 nuh mahasiswa pintar yang ambisius. Beberapa 

alumnus bahkan bergabung dalam proyek Simian Expansions.  

 

 151

Meski sudah menaruh curiga, BJ terkejut juga tatkala mendapat undangan untuk 

hadir di pengadilan, di hadapan sejumlah juri atas tuduhan membuat dan 

memasarkan obat terlarang. Namun, ia masih yakin akan menang. Malah, kalaupun 

dinyatakan bersalah, ia akan dapat dengan mudah membersihkan nama.  

 

”Pengacaraku mampu mengatasi semua tuntutan yang dapat menghancurkan 

reputasiku,” katanya yakin pada Macris. 

 

Keyakinan serupa ia ucapkan juga pada Danny Cornyetz, ”Mantan dekan fakultas 

hukum NYU akan segera membereskannya hanya dengan sedikit lobi.” 

 

Agustus 1979, DEA kembali datang ke NYU untuk memeriksa ruang penyimpanan di 

bawah tanah lab BJ. Di tempat rahasia itu DEA menemukan sejumlah besar obat 

terlarang. Cuma, penemuan ini tidak dapat dipergunakan di pengadilan, sebab  

ketatnya pemberlakuan hukum pemilikan pribadi. 

 

Dua bulan lalu  ia diajukan ke pengadilan dengan tuntutan telah memproduksi 

dan memasarkan berbagai obat terlarang serta berkonspirasi untuk mengalangi 

pemeriksaan pembuatan obat di kampus NYU. 

 

Rekaman 

Juli 1980 sidang pengadilan digelar di Pengadilan New York Distrik Selatan.  

 

Yang seru, sebelum sidang dimulai BJ telah menyebarkan dua lembar surat yang 

menyatakan bahwa dirinya yaitu  korban serangan pemerintah atas kebebasan 

akademis. Ia menggambarkan, tindakan DEA menerobos untuk memeriksa lab dan 

tempat penyimpanan sama dengan kekejian yang berlaku dalam Kristallnacht, yakni 

malam saat pasukan Hitler menghancurkan harta milik kaum Yahudi di Jerman.  

 

Melalui surat itu juga BJ berusaha meyakinkan rekan-rekannya bahwa tuntutan yang 

ditimpakan kepadanya sangat tidak masuk akal. Pada intinya, BJ melemparkan isu 

tentang dilanggarnya hak atas kebebasan bagi para ilmuwan.  

 

Akibatnya, bahkan sebelum sidang berlangsung, di kalangan hadirin sudah terbentuk 

dua kubu.  

 

”Tak masuk akal! Orang seperti BJ membuat obat terlarang? Untuk apa? Ia tidak 

butuh uang. Ia amat kaya. Ia juga pasti tahu bila melakukan seperti yang dituntutkan 

padanya tentu akan membahayakan kariernya di Amazon ,” demikian salah satu 

pendapat. 

 

Sementara itu pendapat di kubu seberang pun tak kalah sengit. Mereka 

menganggap BJ seorang sosiopat, orang yang tidak memiliki hati nurani.  

 

Sekeras pertentangan di antara penonton, sealot itu pula jalannya sidang pengadilan.  

 

Pembela BJ, Jules Rithholz (55) dengan lantang sekaligus dramatis, bersuara, ”Kami 

tidak menyangkal ia membuat obat terlarang. Namun, bukankah tidak ada larangan 

membuat obat di dalam laboratorium?” 

 

Obat terlarang buatan BJ dibuat untuk tujuan penelitian yang resmi, lanjutnya. Sang 

profesor akan memberi  obat itu pada lemur yang pada akhirnya untuk melihat 

apakah obat saraf dapat mempengaruhi perilaku kelompok primata tertentu. 

Penelitian semacam itu tentu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, 

Rithholz berargumen.  

 152

 

Mengapa? Apabila perilaku dapat dipengaruhi oleh bahan kimia, berarti perilaku 

tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, ”Kita bakal dapat memperbaiki banyak 

kesalahan yang dilakukan manusia. Kita dapat mengobati residivis, penjahat 

kambuhan, lalu membuat mereka menjadi orang baik. Sekali suntik, kita dapat 

menghapus kejahatan di dunia.”  

 

Dewan juri yang sebagian besar dari kalangan akademis mendengarkan 

penuturannya dengan saksama.  

 

lalu  jaksa penuntut menghadirkan para mahasiswa. Mereka tampil dengan 

caranya masing-masing - ada yang tenang, banyak pula yang canggung dan kikuk.   

 

Beberapa hasil penyelidikan detektif amatir itu gagal. Macris misalnya, tidak hanya 

mencoba merekam BJ, namun  juga direktur lab Cornyetz. Sayangnya, pertanyaan 

pancingan Macris yang diajukannya saat mereka berdua berjalan-jalan di 

Washington Square Park tidak mendapat jawaban seperti diharapkan. Gara-garanya, 

saat Macris bertanya lewatlah seorang gadis cantik dan seksi dengan rambut model 

masa kini yang dicat dua warna. Ucapan Cornyetz pun melenceng.  

 

Demikian pula rekaman kaset diajukan oleh mahasiswi bernama Lisa Foreman, yang 

bekerja di lab tahun 1978. Dengan inisiatifnya sendiri pula ia merekam percakapan 

dengan Cornyetz. Sayangnya, ia tidak menggunakan kaset baru melainkan kaset 

bekas yang sudah digunakan untuk mengajar burung kakatuanya berbicara. Maka 

yang muncul bunyi hiruk pikuk yang memalukan.  

 

Untunglah, ada beberapa orang yang berhasil membuat rekaman yang mampu 

menunjukkan semua konspirasi tindakan BJ.  

 

Sebuah kaset Macris dengan jelas menampilkan suara BJ, ”Danny telah setuju untuk 

bersaksi dengan menyatakan dirinya yang ... em melakukan semua pembuatan obat 

ini.” 

 

Dalam salah satu kaset terdengar suara Cornyetz bertanya pada BJ, ”Mengapa kita 

yang pertama kali dituntut dalam kasus ini? ... Ini kesalahan Bruce!” Bruce Greenfield 

tercatat sebagai salah satu anggota proyek Simian Expansions. 

 

Jawab BJ, ”Ya, ya memang.” 

 

Lanjut Cornyetz, ”Mengapa juga ia menyebut dirimu yang melakukan semua hal ini?” 

 

Sahut BJ, ”Mengapa ... aku begitu tolol?” namun  dengan cepat ia mengucapkan, ”Yang 

penting yaitu  ada proyek penelitian resmi yang mampu menutupi semua yang kita 

lakukan.” 

 

Pada kaset lain BJ terdengar mengatakan, ”Salah satu cara untuk bisa menyingkap 

kesalahan kita yaitu  dengan mencari orang dalam yang mau bersaksi. Untunglah, 

tak satu pun di antara kita yang bersedia. Kita semua punya komitmen kuat.” 

 

Pada kaset hasil rekaman Profesor Jolly, terdengar BJ menyatakan, tidak khawatir 

dengan tuntutan yang diajukan sebab  ia punya teman yang sangat 

berpengaruh. ”Aku kenal baik dekan Fakultas Kedokteran di Harvard,” serunya.  

 

Pada saat semua rekaman diputar, ruang sidang tampak senyap. Semua yang hadir 

tekun menyimak setiap suara yang muncul. 

 153

 

Lain lagi dengan ekspresi wajah BJ yang tampak berubah-ubah - bingung, kaget, 

serius, dan lainnya - , begitu mendengarkan semua ucapannya yang tanpa sadar 

telah direkam oleh asisten dan teman kepercayaannya. Tak heran, pada sekelompok 

orang sempat terbit perasaan simpati dan iba pada BJ.  

 

Namun, perasaan simpati itu lenyap sesaat  manakala pada kaset yang lain ia 

mengucapkan, ”Pembelaku siap berhadapan dengan kejaksaan Amazon  dan 

menunjukkan betapa besar jasa-jasaku.” Saat itu tampak betapa BJ mencoba 

merendahkan hukum.  

 

Posisi BJ makin lemah. Terutama kala Danny Cornyetz bersaksi dengan menirukan 

ucapan BJ padanya, ”Kamu sama tidak bermoralnya dengan kita semua di sini. Aku 

akan berterus terang bahwa kita semua memang membuat obat terlarang itu di 

laboratorium!” 

 

Sedangkan asisten administrasi jurusan antropologi bernama Richard Dorfman 

mengaku, BJ tidak hanya mengaku membuat obat di lab, namun  juga memintanya untuk 

menjualkan kokain sintetis buatannya.  

 

Dorfman mengaku telah menjual sejumlah kecil kokain seharga AS $ 100. sesudah  

mengambil komisi sebesar AS $ 20, yang AS $ 80 ia serahkan kepada BJ. 

 

Berkedok penelitian 

Pembela BJ tak patah semangat. Untuk menangkis semua tuduhan, ia mengambil 

sudut pandang berbeda, yakni sang profesor membuat obat terlarang di labnya 

sebab  akan diujicobakan pada lemur.  

 

Untuk itu Rithholz mengundang Pat Pronger, petugas pengumpul dana untuk Simian 

Expansions. Pada bukti berupa lembar kuitansi tertulis sejumlah dana untuk membeli 

lemur.  

 

Namun, kesaksian Pronger gagal, sebab  ada yang janggal. Dalam kuitansi 

disebutkan BJ meminta uang untuk membeli hanya sekitar dua atau tiga ekor lemur. 

Bukankah obat sebanyak yang ditemukan di gudang bawah tanah terlalu banyak, 

bila hanya akan digunakan untuk tiga ekor lemur?  

 

Rithholz masih berupaya keras menolong kliennya. Sejumlah orang yang mengenal 

BJ sebagai lelaki yang jujur dan dapat dipercaya ia undang untuk bersaksi. Kembali 

usaha Rithholz tak memberi  banyak arti, sebab  para saksi mengenal BJ terbatas 

pada waktu silam.   

 

Jurus terakhir Rithholz yaitu  dengan melemparkan isu bahwa mungkin BJ tidak 

benar-benar membuat obat terlarang. Obat tersebut ditaruh di lab oleh Profesor Jolly 

yang sebenarnya iri dan ingin merebut posisi BJ. 

 

Jolly yang kebetulan hadir dalam pengadilan hanya tersenyum mendengar tuduhan 

baru itu. Bahkan saat  harus memberi  kesaksian pun Jolly tidak merasa terpojok 

dengan tekanan-tekanan Rithholz. Dengan tenang Jolly mengakui, telah mengorek 

sampah untuk menemukan sejumlah catatan. Selain itu agar tidak mengundang 

curiga, Jolly berusaha untuk tidak menyinggung-nyinggung soal pembuatan obat 

terlarang bila tengah ngobrol dengan BJ. 

 

sesudah  sepuluh hari mendengarkan pengakuan saksi, sidang berakhir. 

 

 154

Bukan demi uang? 

Lima jam lewat sebelum juri memutuskan Buettner-Janusch bersalah atas dua hal. 

Pertama, ia membuat sekaligus mengedarkan LSD, metakualon, dan kokain sintetis. 

Yang kedua yaitu  berbohong pada penyidik federal.  

 

Buettner-Janusch diganjar hukuman penjara lima tahun. Clifford Jolly masih 

mengajar di NYU. Richard Dorfman dipecat. Richard Macris pindah jurusan dari 

antropologi ke administrasi bisnis, sedangkan Danny Cornyetz keluar untuk bekerja 

di perusahaan kaset yang memasok museum dengan rekaman sastra. 

 

Kasus BJ memang unik. Sampai sekarang orang masih belum mengerti alasan 

sesungguhnya sang profesor memproduksi obat terlarang. Menurut pandangan Jolly, 

kesombonganlah yang menuntutnya bertindak diam-diam. Padahal kalau mau 

terang-terangan mengakui bahwa ia butuh dana, seharusnya ia bisa memperolehnya 

dengan halal.  

 

Namun, menurut seorang psikolog, tujuan BJ membuat obat terlarang tampaknya 

bukan melulu sebab  butuh uang. Di dalam masyarakat ada orang yang meyakini 

bahwa diri mereka dikaruniai dengan kelebihan, entah keningratan ataukah berupa 

kepandaian. Mereka merasa ditakdirkan untuk menaklukkan dunia, untuk 

memerintah sekelompok orang yang bisa diatur, bahkan melanggar hukum yang 

berlaku bagi masyarakat umum. Orang semacam itu bosan dengan aturan yang 

biasa. Akhirnya, mereka terkondisi untuk senang memperdayakan masyarakat. 

Demikian pula BJ, yang tidak puas dengan hal-hal biasa, amat bangga atas 

kepandaiannya, dan yang akhirnya ketagihan nikmatnya melawan sistem di 

masyarakat.  

 

Namun, mengapa para mahasiswanya patuh juga kepadanya? Richard Dorfman, 

asisten yang menjual kokain sintetis, mengaku melakukannya sebab  terpaksa. Ia 

tidak ingin dipecat.   

 

Sedangkan menurut seorang profesor antropologi, “Cara yang digunakan BJ hampir 

sama dengan cara yang dilakukan oleh Hitler. Menyebarkan teror dan ketakutan. 

Jangan salah, BJ tahu benar karakter Hitler, bukankah ia sering menyinggung nama 

Hitler tiap kali bercerita? Cara itu dapat disebut taktik Hitlerian.” 

 

Nonfiksi/The Professor and Prostitute/Sht   

 

 

21. TERMAKAN GOSIP 

 

Syuting film Buronan sudah memasuki bulan kedua. Hampir 70% dari seluruh 

syuting di lokasi telah selesai, tinggal pengambilan gambar dalam ruangan. Pagi itu 

syuting bertempat di sebuah kantor bank swasta nasional untuk menggambarkan 

adegan perampokan. sesudah  berlatih beberapa kali, semua pemain maupun figuran 

siap di tempatnya masing-masing, menunggu komando dari sang sutradara, Benny 

Bintara.  

 

Pemeran juru bayarnya asli karyawati bank itu. Namun, manajer yang dalam cerita 

harus mati ditembak penjahat diperankan oleh Aria, bujangan ganteng, yang 

resminya asisten sutradara (astrada). Sudah kebiasaan ada kru bisa secara dadakan 

menjadi pemain, asalkan sifatnya tidak berkesinambungan. Keuntungannya, 

honornya bisa "damai".  

 

 155

Benar-benar tewas  

Take pertama dimulai sesudah  kamerawan mengambil gambar papan klep, untuk 

editing film.  

 

"Kamera, action!" teriak sang sutradara. Syuting berjalan lancar, semua pemain 

bergerak seperti dalam skenario. Saat seorang juru bayar tengah melayani nasabah, 

tiba-tiba kamera zoom-in ke arah tempat duduk para nasabah. Dari deretan belakang 

tiga orang berdiri bersamaan, lalu menarik topi rajutannya - sebagai penutup muka. 

Salah seorang perampok menodongkan FN 45 sambil melemparkan kantung kain ke 

arah juru bayar.  

 

"Masukkan semua uang ke kantung!" gertaknya.  

 

Seperti dalam skenario, manajer muda di sudut ruangan hendak meraih tombol 

alarm. Sayangnya, gerakan itu tidak lepas dari amatan sang perampok berpistol 

yang segera menarik picunya. Dor ... dor ...! Manajer muda itu terjengkang dengan 

kursinya. Bajunya bolong, bersimbah darah. lalu  para perampok lari sambil 

membawa sejumlah kantung dan out ke samping kamera.  

 

"Cut! Bagus, sekarang ke shot selanjutnya," kata Benny puas.  

 

Aria, asisten sutradara yang seharusnya menyiapkan adegan lanjutan, tetap 

tergeletak di lantai. Napasnya tersengal, wajahnya pucat dan berkeringat.  

 

"Aria, ayo bangun. Aktingnya sudah selesai," teriak sutradara dari kejauhan.  

 

Aria tetap terbaring di lantai karpet. Sugeng, bagian tata lampu, akhirnya curiga. 

Dibantu Andy, mereka buru-buru menggotongnya ke tempat lain. Suasana berubah 

panik, kru film merubungnya.  

 

Andy membuka baju Aria yang "bolong-berdarah" dan karet pelindung efek. Aria 

tidak mengenakan kaus dalam, tampak jelas dada kirinya hangus luka bakar, seperti 

terkena hantaman besi panas. Pertolongan pertama berupa napas buatan pun sia-

sia. Buru-buru Aria dilarikan ke rumah sakit. Sayang, astrada muda itu 

mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan. Didahului dengan suara ngorok 

keras.  

 

Kabar burung yang tersiar, astrada playboy itu kena serangan jantung. Tina, waria 

penata rias yang tinggal serumah dengan Aria, langsung pingsan begitu tahu 

sepupunya tewas.  

 

Briptu Ibrahim, "pengawal" senjata api yang dipinjam kru film Buronan, heran. 

Sebagai konsultan, ia yakin tidak melakukan kesalahan. sebab  rasa tanggung 

jawab, ia segera melapor ke atasannya, Iptu Yulianto. Perwira muda berperawakan 

gemuk itu datang bersama dua anak buahnya.  

 

Pada masa itu, trik efek tembakan masih dengan teknik konvensional. Selembar 

karet tebal (biasanya karet ban mobil bagian luar), salah satu sisinya ditempeli bahan 

peledak - biasanya berbentuk wax (elastis) - dan sekantung plastik kecil darah 

(campuran madu dan zat pewarna). Ke dalam bahan peledak itu dimasukkan dua 

kabel merah dan hitam (disembunyikan dalam baju si pemakai), yang dihubungkan 

dengan sumber listrik DC 12 volt.  

 

Karet ban selebar dua telapak tangan tersebut diikatkan ke bagian tubuh "korban" 

yang menjadi sasaran tembak. Senjata yang akan digunakan sudah dikosongkan 

 156

dari anak peluru, yang lalu  diganti dengan kapur tulis berbentuk peluru yang 

akan menyumbat rapat selongsong bermesiu itu. Jika pistol ditembakkan, 

selongsong akan meledak. Yang keluar asap putih, sebab  kapur terbakar menjadi 

abu. Jauh di belakang "korban", seorang kru tinggal menempelkan kabel merah-

hitam ke kutub plus-minus aki, yang harus sinkron, dan langsung diikuti gerakan 

korban. Terjadilah sambungan arus pendek, meledakkan mesiu yang ditempelkan 

pada protektor di atas dada korban. Efeknya, ledakan menembus baju bersamaan 

dengan pecahnya plastik berisi "darah". Dalam gambar, efek itu mengesankan, 

peluru benar-benar menembus dada yang mengakibatkan darah bercucuran.  

 

"Pak Benny sering menyutradarai film jenis ini?" tanya Iptu Yulianto pada Benny 

Bintara.  

 

"Ya. Tenamun  baru kali ini jatuh korban."  

 

"Siapa yang bertanggung jawab langsung?"  

 

"Rawuh, art director. Tenamun  dia dan beberapa anak buahnya sedang menyiapkan 

setting di tempat lain," jawab Benny singkat.  

 

"Bagaimana ceritanya sampai ada korban?"  

 

Secara singkat Benny Bintara menceritakan kronologinya, juga teknik pembuatan 

efek tembakan itu.  

 

"Saya bisa melihat karet protektornya?"  

 

Ternyata protektor itu berlubang sebesar jari telunjuk di tengahnya.  

 

"Aus, mungkin sebab  sering dipakai," sela anak buah Iptu Yulianto.  

 

"Atau mesiunya terlalu banyak?" tebak Yulianto.  

 

"Tidak, Pak. Mesiu ditimbang sebelum dipasang. Antara 25 sampai 30 gram tiap 

tembakan pistol," jawab Briptu Ibrahim.  

 

"Siapa yang memasang karet pelindung?"  

 

"Madrim, pembantu bagian efek," jawab seseorang.  

 

Madrim (23) perjaka jangkung itu berpenampilan sedikit lusuh, di mulutnya selalu 

terselip rokok kretek. Gerak-geriknya sedikit canggung untuk bekerja di film, yang 

semuanya serba instan dan cekatan.  

 

"Kok kelihatan lemas, tadi malam pulang jam berapa?" Iptu Yulianto berbasa-basi.  

 

"Selesai syuting jam sebelas. Tenamun  jemputannya ngantar yang lain dulu."  

 

"Kamu yang memasang karet pelindung?"  

 

Madrim mengangguk.  

 

"Sudah sering menangani pekerjaan ini?"  

 

"Baru kali ini."  

 157

 

Untuk menghormati dan tanda berkabung, para awak film bersepakat break selama 

dua hari. Padahal ini film keempat Aria sebagai astrada. Menurut peraturan, Aria 

tinggal mengajukan rekomendasi ke lembaga terkait untuk naik pangkat menjadi 

sutradara penuh. Sayang, nasib menentukan lain.  

 

Satu jam lalu  Iptu Yulianto menemui dr. Made yang menangani jenazah Aria di 

rumah sakit.  

 

"Apa pemicu  kematiannya, Dok?"  

 

"Menurut saya, hentakan keras dari letusan mesiu, membuat pembuluh koronernya 

mengkerut sesaat  sehingga tidak dapat menyalurkan darah dan oksigen ke otot 

jantung. Atau malah otot jantungnya yang kena, sehingga berakibat fatal. Mungkin 

ceritanya akan lain, jika pertolongan pertamanya bisa semaksimal mungkin," jelas dr. 

Made.  

 

"Jadi?"  

 

"Boleh dibilang kecelakaan sebab  suatu keteledoran," tegas dokter berwajah ramah 

itu 

 

Korban kedua 

Sepuluh hari berselang. Tina, waria si penata rias film Buronan, biasanya sudah 

menunggu jemputan pagi di mulut gang dengan segala perkakasnya. Namun, hampir 

setengah jam Edy, sopir jemputan, menunggu, waria tinggi semampai itu tak kunjung 

muncul. Terpaksalah Edy masuk gang. Rumah kontrakan Tina sepi, jendela dan 

pintunya pun masih tertutup. Edy mengetuk beberapa kali, tak ada jawaban. Ia nekat 

masuk saat  tahu pintu tidak terkunci. Beberapa menit lalu , Edy keluar lagi 

dengan berteriak-teriak histeris. Karuan hal itu mengundang perhatian banyak orang.  

 

Ternyata, Edy menemukan Tina sudah meninggal di atas sofa. Sebelah kakinya 

menggantung ke ubin dengan wajah tertutup bantal sofa. Tampak nyata, Tina 

meninggal tidak dengan wajar. Seorang pemuka masyarakat langsung 

mengamankan TKP, sebelum para penyidik datang.  

 

Satu jam lalu  polisi datang dan langsung mengamati TKP. Domisili Tina masih 

daerah wewenang Iptu Yulianto. Tak heran bila perwira muda itu tampak serius, 

saat  tahu yang meninggal masih kru film Buronan, yang sepuluh hari sebelumnya 

kehilangan astradanya.  

 

"Adakah saksi lain?"  

 

"Tidak ada, Pak. Cuma saya sendirian."  

 

"Pukul berapa calling jemputan untuk Tina?"  

 

"Tujuh, Pak. Saya jemput Tina duluan, sebab  rumahnya dekat rumah saya, sekalian 

jalan," jelasnya dengan mimik sedih. "Saya bisa masuk, sebab  pintu tak terkunci. 

Saya melihat ia tidur di sofa. Saya kira, cuma tidur-tiduran sambil mukanya ditutup 

bantal. sebab  ia tidak juga menyahut meski telah saya panggil beberapa kali, bantal 

itu pun saya ambil. Aduh ngeri, matanya melotot dengan mulut terbuka. Tubuhnya 

sudah kaku."  

 

"Kemarin ada syuting?"  

 158

 

"Ya. Dia yang saya antar terakhir. Sampai di sini kira-kira pukul sembilan."  

 

"Ada orang lain yang turun bersama korban?"  

 

Edy menggeleng.  

 

Lemari di kamar Tina di-acak-acak, mengesankan pembunuhan itu bermotif 

perampokan. Di atas meja tamu, ada dua kotak minuman susu cokelat yang isinya 

tinggal setengah. Juga piring berisi beberapa potong ubi dan tempe goreng yang 

sudah layu. Briptu Darmawan mengambil piring beserta isinya dan karton susu 

cokelat yang masih ada sedotannya, langsung dimasukkan ke kantung plastik. 

sesudah  diambil gambar dan sidik jarinya, korban dibawa ke rumah sakit.  

 

saat  jenazah diangkat, sepotong benda jatuh ke lantai. Ternyata, sekeping kancing 

baju kecil berwarna putih, bertuliskan merek pakaian terkenal buatan luar negeri. Iptu 

Yulianto menduga, kancing baju itu berasal dari kaus bermerek terkenal yang 

dikenakan pelaku pembunuhan. Sebabnya, korban mengenakan kemeja batik 

cokelat berlengan pendek dengan kancing warna serupa. Diperkirakan, korban 

nekad melawan dan berhasil merenggut kerah baju pembunuhnya sampai-sampai 

satu kancingnya lepas.  

 

"Apa baju korban kemarin?" tanya Iptu Yulianto  

 

"T-shirt, Pak."  

 

"Kemungkinan, tamunya semalam termasuk orang yang disegani. Korban 

menyempatkan ganti baju segala," gumam Iptu Yulianto.  

 

Mantan pacar 

Iptu Yulianto masih harus bekerja keras, sebab  belum ada titik terang dari kasus 

kematian Tina. Ia hanya dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan tersebut sudah 

direncanakan, pelakunya orang yang dikenal baik korban sebab  kunci pintu maupun 

jendelanya tidak rusak, juga ada acara minum dan makan kudapan berdua.  

 

Saat memikirkan langkah yang harus diambil, tiba-tiba telepon di mejanya berdering.  

 

"Ya, oh, dr. Made, bagaimana hasilnya, Dok?"  

 

"Ternyata minuman korban diberi obat tidur. Dosisnya sangat tinggi, dapat membuat 

pingsan cukup lama. Saya kira, saat dalam keadaan tak sadar, korban dibekap 

wajahnya sampai kehabisan oksigen."  

 

"Bagaimana dengan kotak satunya?"  

 

"Lo, kotak minumannya 'kan tidak dibawa kemari. Yang ada cuma sisa minuman di 

kantung plastik."  

 

"Maaf, saya lupa. Kotak minuman itu dibawa ke bagian forensik, untuk diambil sidik 

jarinya. Bagaimana dengan minuman yang satunya, Dok?"  

 

"Negatif. Tidak mengandung apa-apa."  

 

Dari bagian identifikasi dan investigasi, Iptu Yulianto mendapat keterangan, di salah 

sebuah kotak susu cokelat terdapat dua sidik jari, yakni sidik jari korban dan sidik jari 

 159

X, seseorang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Sedang pada kotak lainnya 

hanya ada sidik jari X, yang mungkin membawa minuman itu lalu mengisinya dengan 

obat tidur.  

 

Siapakah si X?  

 

Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasi Iptu Yulianto.  

 

"Ya. Masuk." Seorang gadis manis, bersama ibunya, diantar masuk oleh Bripda 

Suherman.  

 

"Siap, Pak. Ini Juli, ia hendak melapor."  

 

"Tentang apa?" "Tentang meninggalnya Mas Aria," sahut gadis itu spontan.  

 

Juli pun bercerita. Sekitar setengah tahun lalu ia putus pacaran dengan Madrim.  

 

"Kenapa?" "Habisnya dia suka 'ngobat'," jawab Juli singkat.  

 

"Lalu apa hubungannya dengan Aria?"  

 

"lalu  saya pacaran dengan Mas Aria. Rencananya, kalau bulan depan filmnya 

sudah selesai, kami akan menikah. namun  ...," kalimatnya terputus, sebab  tangis.  

 

"Masih muda kok buru-buru kawin?"  

 

"sebab  Juli sudah ...," jawab ibunya polos.  

 

"Oh, begitu. Lalu apa hubungannya dengan kematian Aria?"  

 

"Juli mengira, Madrimlah dalangnya, sebab  sakit hati," tegas ibunya.  

 

Iptu Yulianto menanggapi laporan itu sebagai informasi berharga.  

 

Sore sekitar pukul 17.00 Iptu Yulianto sudah duduk di motornya. Penampilannya 

berbeda, bercelana jins dan tas pinggang kecil di balik jaket, lengkap dengan helm 

dan kaus tangan katun.  

 

"Mau ke mana, Pak, kok nyentrik?" celetuk Bripda Suherman.  

 

"Nonton syuting film, ayo ikut, mumpung syutingnya masih di daerah kita."  

 

"Sejak kapan Bapak tertarik nonton syuting film?"  

 

"Sejak dua krunya meninggal secara tak wajar."  

 

Sayangnya, setiba di lokasi, syuting sudah selesai. Sebagian rombongan sudah 

pulang, termasuk rombongan sutradara dan bintangnya. Tinggal para kru yang sibuk 

dengan pekerjaannya. Iptu Yulianto mendatangi seorang lelaki kerempeng yang 

mengenakan kaus merah bata garis-garis putih, tampak kedodoran.  

 

"Mas Madrim. Syutingnya sudah selesai, ya?" seru Iptu Yulianto.  

 

"Sudah, Pak. Hari ini terakhir syuting di sini."  

 

 160

Pandangan mata Iptu Yulianto lekat menatap kaus Madrim. Kaus itu bermerek 

terkenal buatan luar negeri, persis merek kancing baju yang ditemukan di rumah 

Tina. Benar, kaus Madrim sebenarnya berkancing tiga, tenamun  pada deretan paling 

atas terpasang kancing putih biasa, tak bermerek, berbeda dengan dua kancing 

lainnya.  

 

"Tinggalnya di mana, Madrim?"  

 

"Ikut Om Rawuh," sambil menyebutkan alamatnya.  

 

"Oh, masih daerah sini juga. Sebelumnya kerja di mana?"  

 

"Di bengkel, pembantu montir."  

 

"Tahu tentang listrik?" "Sedikit," jawabnya mulai gugup.  

 

"Kok tumben, kamu tidak merokok. Biasanya selalu nyelip di bibir?" Iptu Yulianto 

mengalihkan pembicaraan.  

 

"Jatah saya sudah habis. Mau beli, warungnya jauh."  

 

"Kalau mau, saya ada," Iptu Yulianto mengambil sebungkus rokok kretek dari tas 

pinggangnya. Bungkus rokok itu diserahkan ke tangan Madrim, yang langsung 

menerimanya dengan senang hati, sebab rokok kretek ini memang kesukaannya.  

 

Sekembali di kantor Iptu Yulianto mengeluarkan bungkus rokok dari tas pinggangnya, 

lalu memasukkan ke kantung plastik.  

 

"Bripda Suherman, tolong antarkan ini ke laboratorium. Periksa sidik jari di bungkus 

rokok ini, apakah sama atau tidak dengan sidik jari di karton cokelat susu di rumah 

Tina. Kalau sama, langsung jemput Madrim. Ini alamatnya."  

 

Sidik jari di mana-mana 

Hari berikutnya, begitu mendapat laporan bahwa sidik jari pada bungkus rokok sama 

persis dengan karton susu cokelat, Iptu Yulianto segera memerintahkan dua anak 

buahnya untuk "menjemput" Madrim.  

 

"Ada keperluan apa saya dipanggil, Pak?" tanya Madrim seakan tak mengetahui 

maksud pemanggilannya.  

 

"Untuk sementara ini, kau didakwa membunuh Tina!"  

 

"Apa buktinya, Pak?"  

 

"Ada dua. Kancing baju ini," Iptu Yulianto mengeluarkan sebuah kancing kecil dari 

laci mejanya. "Kancing ini saya temukan di tubuh Tina. Mereknya persis dengan 

merek kaus yang kau pakai tempo hari. Kebetulan kaus yang waktu itu kau pakai, 

satu kancingnya tidak seragam dengan dua lainnya. Berarti kancing itu lepas, saat  

kau berusaha membekap muka Tina."  

 

"Kaus itu pemberian Pak Benny Bintara. Maka kelihatan kebesaran saat  saya pakai. 

Waktu barang itu saya terima, kancingnya memang tinggal dua," Madrim tak mau 

kalah berargumentasi.  

 

"Kapan kamu mendapatkannya?"  

 161

 

"Dua hari sesudah Aria meninggal." "Terus terang saja, apa kamu sering 'ngobat'?" 

"Sekadar 'cimeng' (ganja - Red.) iya, itu pun kalau lagi bete. namun  kalau sampai 

'ngobat', tidak. Sumpah, Pak," akunya.  

 

"Lalu, kenapa Juli minta putus dari kamu?"  

 

Madrim tampak terkejut, saat  Iptu Yulianto menyebut nama Juli. Pemuda itu 

terdiam.  

 

"Sejak SMA dia pingin jadi bintang film. Dia sering mendesak saya agar dikenalkan 

dengan orang-orang film, sebab  saya kenal Om Rawuh. Permintaannya tidak saya 

tanggapi. Lalu ia berkenalan dengan Tina. Selain penata rias, Tina juga menyalurkan 

anak-anak jadi figuran. Juli bangga, meski baru tahap numpang lewat. Tina berjanji 

akan memperkenalkannya dengan seseorang yang lebih berkompeten. Benar, di film 

selanjutnya Juli mendapat peran berarti, tenamun  harus dibayar dengan mahal. Juli 

hamil."  

 

"Tina 'kan waria?" potong Iptu Yulianto.  

 

"Bukan dengan Tina, tenamun  Aria. Dia itu playboy, peran-peran tambahan atau figuran 

biasanya dipilih dan ditentukan olehnya. Saat itulah ia mencari kesempatan."  

 

"Jadi, kamu dendam sama Aria?"  

 

"Tidak, Pak. Hidup saya sudah susah, Pak. Ngapain juga nambah perkara. Tentang 

kecelakaan sampai dia meninggal, saya tidak tahu apa-apa. Benar, Pak."  

 

"Tenamun  yang memasang karet protektor itu kamu 'kan?"  

 

"Betul, namun  saya tinggal pasang, sebab  sudah dirakit oleh Om Rawuh sebelum 

sarapan. lalu  ia pergi menyiapkan setting di tempat lain."  

 

"Kembali ke Tina. saat  korban meninggal, di meja tamu ada dua kotak karton susu 

cokelat dan sepiring gorengan. Di kedua kotak ada sidik jarimu, persis seperti sidik 

jari di bungkus rokok yang saya sodorkan sore lalu."  

 

Madrim kaget, menyadari kebodohannya.  

 

"Apa kini alibimu?" Iptu Yulianto tersenyum.  

 

"Saya ingat. Tina meninggal pada hari Rabu. Selasa malam sepulang syuting, 

sekitar jam sembilan, saya disuruh Pak Benny mengambil obat di apotek. Juga 

membeli dua kotak susu cokelat. Saya sempat diingatkan untuk melihat tanggal 

kedaluwarsanya."  

 

"Sesudah itu, kamu ke mana?"  

 

"Langsung pulang. sebab  besoknya ada syuting pagi."  

 

"Apakah sepeninggalmu Pak Benny juga pergi?"  

 

"Saya kira, tidak. Sebab istri dan pembantunya nginap di rumah orangtuanya."  

 

 162

Iptu Yulianto cepat merangkaikan informasi itu. Kalau Madrim meneliti 

kedaluwarsanya kotak susu, berarti sidik jari Madrim yang dominan di karton susu itu. 

Madrim yang tampaknya lugu itu memang bisa menguatkan alibi Benny. Begitu 

Madrim pulang, ia cepat-cepat bertindak. Melarutkan beberapa pil tidur dalam air, 

lalu menyuntikkan ke dalam salah satu karton susu cokelat. lalu  ia ke rumah 

Tina sesudah membeli gorengan. Siapa pun kalau makan gorengan tentu akan haus.  

 

"Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sementara waktu kamu harus di sini 

dulu," perintah Iptu Yulianto tegas.  

 

Kuncinya, sedotan  

Sekitar pukul 12.00 Iptu Yulianto dan dua anak buahnya mendatangi sebuah apotek, 

sesuai petunjuk Madrim. Sesudah mengenalkan diri dan menjelaskan maksud 

kedatangannya, seorang asisten apoteker mencari arsip resep dari tanggal dimaksud.  

 

"Benar, Pak. Ini resep dari dokter Basuki untuk Pak Benny Bintara. Selain vitamin 

juga obat tidur. Saya kira Pak Benny menderita insomnia, sebab sering mengambil 

obat seperti ini di sini."  

 

Esoknya Benny Bintara tampak tenang saat  memasuki ruangan Iptu Yulianto.  

 

"Pak Benny, langsung ke pokok persoalan, yakni kematian Tina. Di mana Bapak 

pada Selasa malam, saat  Tina meninggal?"  

 

"Di rumah. Madrim saksinya. Saya harus di rumah, sebab istri dan pembantu saya 

pergi ke mertua."  

 

"Betulkah? Pak Haji pemilik kontrakan mengatakan, sekitar pukul sepuluh atau 

sebelas malam ada tamu laki-laki mencari Tina. Apa itu bukan Bapak?" pancing 

Yulianto.  

 

"Itu bohong. Tidak ada bukti dan saksi bahwa saya berada di sana," elaknya.  

 

"Bukti ada, Pak, saksinya juga ada," Iptu Yulianto ter-senyum kalem. Iptu Yulianto 

lalu  mengambil beberapa pil tidur dari laci mejanya.  

 

"Pil tidur ini merek dan asal apoteknya persis seperti yang Anda dapatkan dari dokter 

Basuki. Begitu dicampur dengan susu cokelat dari merek yang sama, menurut dr. 

Made, formulanya pun persis seperti formula susu cokelat yang diminum Tina. Begitu 

korban tak sadarkan diri, Anda membekapnya dengan bantal kursi sampai korban 

kehabisan napas.  

 

"Seminggu sebelumnya, Anda memberi  sebuah kaus untuk Madrim, tenamun  salah 

satu kancingnya lebih dahulu Anda lepaskan. Sebelum Anda pergi, Anda taruh 

kancing ini di dada Tina. Untuk mengelabui petugas, Anda mengacak-acak isi lemari, 

mengesankan terjadi perampokan," kata Iptu Yulianto sambil meletakkan kancing 

bermerek di meja.  

 

"Itu semua bukan bukti yang menunjukkan kalau saya pelakunya. Apakah ada bukti 

lain, misalnya sidik jari, sebagai petunjuk bahwa saya pernah berada di rumah Tina. 

Pil tidur semacam itu banyak dijual di pinggir jalan, demikian pula minumannya. Kaus 

bermerek seperti itu juga banyak dijual di toko terkenal," jawabnya tenang.  

 

 163

"Pelakunya memang pintar. Sidik jari di lemari dan pegangannya, sudah dihapus 

sebelum ia meninggalkan TKP. Tenamun  kalau di kotak minuman, sidik jari itu memang 

milik Madrim."  

 

"Nah, jelas, pelakunya bukan saya?"  

 

"Nanti dulu, saya masih punya bukti lain yang menunjukkan bahwa malam itu Anda 

benar-benar di rumah Tina," pancing Iptu Yulianto.  

 

"Silakan saja," tantangnya.  

 

"Kalau begitu, tulis pernyataan di sini. Isinya akan saya eja," Iptu Yulianto 

menyodorkan kertas putih dan sebuah bolpen. sesudah  selesai, kertas dan bolpen 

diminta kembali. "Sidik jari di karton susu memang bukan milik Anda. Tenamun  Anda 

lupa, ada sidik jari di sedotan susu. Saya rasa persis seperti sidik jari di bolpen yang 

baru saja Anda pakai untuk menulis," tegas Iptu Yulianto.  

 

Wajah Benny Bintara mendadak pucat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.  

 

"Ada yang lebih mengerikan, Pak Benny, inilah hasil dari perbuatan si pembunuh!" 

Iptu Yulianto bersuara keras sambil mengeluarkan selembar foto berwarna 

berukuran besar, foto jenazah Tina.  

 

Benny Bintara tak mampu mengendalikan dirinya, ia tampak gemetar. "Sudah, Pak, 

sudah. Saya mengakui semuanya. Saya yang membunuh Tina, juga yang 

mencelakai Aria," katanya sambil menutup muka.  

 

Salah duga  

Benny Bintara lalu bercerita. Ia memiliki kelainan, salah satu organ di alat vitalnya 

tidak berkembang baik, sehingga tidak mampu memproduksi spermatozoa sehat dan 

bermutu dalam spermanya. Jadi, Benny termasuk pria dengan tingkat kesuburan 

rendah.  

 

Orangtuanya sangat konservatif, tidak mau tahu kekurangan anaknya. Kebetulan 

pula Benny anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara. Tak heran, saat  

Benny sudah dianggap mapan, orang tuanya pun mendesaknya agar cepat berumah 

tangga. Mereka khawatir kalau trah Bintara yang masih berbau ningrat akan pupus 

sebab  Benny tetap melajang. Sebelumnya, Benny selalu dapat menolak dengan 

bermacam dalih. Dalam pikirannya, apa gunanya menikah kalau tak punya 

keturunan.  

 

Rupanya, tanpa sepengetahuan Benny, sang ibu sudah menjodohkannya dengan 

putri sahabatnya. Benar dugaannya, lima tahun berumah tangga, istrinya belum juga 

mengandung. Ia sering menyarankan kepada Della, istrinya, untuk mengadopsi anak, 

tenamun  ibu muda itu kurang berminat.  

 

Sementara itu Tina dan Aria, saudara satu kakek yang sama-sama kerja di film, dulu 

pernah mengontrak rumah dekat tempat tinggal Benny. Beberapa bulan lalu, saat  

Benny kerap syuting di kota lain, ia mendengar gosip bahwa istrinya sering "jalan" 

dengan Aria. Rupanya, mereka dulu pernah memiliki hubungan khusus. Celakanya, 

Benny menganggap rumor itu sebagai aib yang mencoreng muka Benny, tanpa 

mengecek kebenarannya.  

 

Sampai suatu saat Benny, Aria, dan Tina terlibat dalam satu produksi. Pagi itu saat  

semua kru sedang sibuk ngopi, diam-diam Benny berhasil mengganti karet pelindung 

 164

(protektor efek) tembakan, yang sebelumnya sudah dirakit Rawuh. Sebagai kru baru, 

Madrim tidak tahu apa-apa tentang trik tembakan yang akan dipakai Aria. Juga tidak 

tahu, kalau ada stiker hitam di balik karet pelindung yang gunanya menutupi lubang 

yang langsung ke bahan peledak. Semua orang mengira, Aria meninggal sebab  

kecelakaan.  

 

Namun, Tina tidak sependapat, sebab  ia sempat memergoki Benny sibuk mengganti 

karet protektor. Dulunya ia memang kurang paham, untuk apa sutradara itu sibuk 

dengan karet ban. sesudah  kejadian, barulah Tina sadar. Protektor itu yang 

mengakibatkan Aria tewas. Tina berencana mengadukan hal itu ke Rawuh, produser, 

bahkan ke polisi. Sayang, Benny tahu rencananya.  

 

Malam itu Benny ke rumah Tina. Membawa sekantung kudapan dan dua karton susu 

cokelat, yang salah satu kotaknya sudah disuntik obat tidur. Tina sendirian di ruang 

tamu, saat  Benny Bintara datang. Tina juga tidak curiga saat  melihat Benny 

hendak minum susunya. "Bapak tadi naik taksi apa motor, kok pakai kaus tangan 

segala?" Pertanyaan itu menyadarkan Benny, maka sebelum memegang sedotan 

kaus tangannya dilepas dulu.  

 

Tak berapa lama waria itu pingsan. saat  Benny meninggalkan rumah itu, ia yakin 

kalau Tina sudah meninggal kehabisan napas sebab  dibekap dengan bantal sofa. 

Sebelumnya ia meletakkan kancing kaus di dada korban, yang sudah disiapkan dari 

rumah.  

 

"Bapak tentu akan menahan saya. Tenamun  izinkan saya pulang sebentar, pamit istri 

dan mengambil pakaian ganti," suara Benny pelan.  

 

"Silakan, Anda akan didampingi Bripda Suherman."  

 

Siang itu udara cerah, tenamun  Benny justru merasa langit seakan hendak runtuh. Hari 

itulah ia harus melewati hari-harinya di balik terali besi.  

 

Fiksi/Riady B. Sarosa, di Jakarta  

 

 

22. LUKISAN CAT MINYAK TANPA TEKSTUR 

 

 

Rune "Roy" Donell (61) punya masalah serius. Pria bertubuh tinggi besar yang 

sebagian rambut tipisnya mulai beruban itu mengakhiri tugasnya di Angkatan Laut 

Swedia sebelum berimigrasi ke Amazon  tengah  tahun 1976. Namun, ia tetap 

mempertahankan dirinya sebagai warga negara Swedia.  

 

Masalahnya klasik, soal uang. Saat itu ia masih bekerja dengan gaji cukup. Di 

tempatnya bekerja, sebagai kepala urusan rumah tangga merangkap supir pribadi, ia 

mendapat bayaran AS $ 25.000 per tahun.  

 

sebab  telah bekerja di rumah tangga itu selama sebelas tahun, tak heran bila 

majikannya sangat percaya padanya. Ia dapat dengan mudah mengakses salah satu 

rekening untuk mengeluarkan dana kebujunjungan  rumah tangga keluarga itu. Selama 

bekerja, Roy dapat menggelapkan total sekitar AS $ 20.000 - 30.000 per tahun. 

Dengan dana tambahan uang panas itu, Roy punya cukup uang untuk menghidupi 

kedua istrinya.  

 

 165

Belakangan Roy merasa tubuhnya mulai lemah, mudah sakit. Di tubuhnya mulai 

bercokol sejumlah penyakit, mulai hernia, tekanan darah tinggi, dan psoriasis.  

 

Lalu, bagaimana kalau ia tidak bisa bekerja lagi di rumah jutawan itu? Ia prihatin 

dengan kehidupannya dan kedua istrinya.  

 

Christina, istri pertamanya, enam tahun lebih tua dari dirinya. Ia bekerja di rumah 

yang sama sebagai jurumasak. Christina sudah menggeluti profesi itu tujuh tahun 

lamanya. Namun, Christina bukan merupakan suatu kekhawatiran bagi Roy. Justru 

istri keduanya yang diprihatinkannya.  

 

Si cantik Esther Ariza yang berkulit gelap, langsing, dan menggoda itu 16 tahun lebih 

muda daripada Roy. Tanpa uang, Esther pasti akan meninggalkannya Roy. Esther - 

imigran asal Kolumbia - senang berpakaian bagus dan berjalan-jalan. Ia memang 

menuntut banyak dari Roy.  

 

Belum lagi ada Andy (20), anak Esther dari suami terdahulu, yang membutuhkan 

banyak biaya untuk pendidikannya. Selama ini seluruh kebujunjungan  hidup Esther 

memang ditanggung Roy.  

 

Kolektor barang seni 

Roy bekerja di Stone Canyon, Bel Air, Beverly Hills. Rumah di Bellagio Road itu 

menempati lahan seluas ribuan meter persegi dengan arsitektur meniru kastil 

Prancis abad ke-17. "Kastil" yang dinamai La Lanterne itu dihuni salah satu 

pasangan paling kaya di dunia, Howard B. Keck (71) dan Elizabeth "Libby" Avery 

Keck (65).  

 

Howard - sering disebut Big Howard - mendapatkan kekayaan dengan cara 

tradisional: warisan. Semasa hidup, ayahnya terkenal di Kalifornia sebagai orang 

yang bertangan dingin dalam bisnis perminyakan.  

 

Tak hanya kaya, mereka juga dermawan. Big Howard sering menyumbang ke 

sejumlah museum, lembaga pendidikan, gereja, dan lembaga kebudayaan 

terkemuka. Salah satu yang terkenal yaitu sumbangannya tahun 1985 kepada 

California Institute of Technology untuk membangun observatorium astronomi di 

Hawaii, yang konon diperlengkapi dengan teleskop terbesar di dunia.  

 

Libby Keck setali tiga uang dengan suaminya. wanita lesbian  yang berpenampilan jauh 

lebih muda dibandingkan usianya itu sangat dikagumi sebab  selera seninya. Selama 

beberapa tahun ia menjadi direktur sejumlah museum dan aktif di beberapa lembaga 

kebudayaan. Libby tak hanya sangat mencintai seni lukis, sebab  ia sendiri pelukis 

amatir.  

 

Kecintaannya pada barang seni tercermin dalam koleksinya yang berkualitas dunia, 

yang tak terhitung lagi jumlahnya. Di La Lanterne digelar beberapa di antaranya, 

seperti lukisan dari para maestro seni lukis, tapestri, patung, hingga mebel antik milik 

Napoleon, Marie Antoinette, dan Louis XIV. Tak heran bila La Lanterne menjadi 

pilihan kunjungan wajib para kurator museum dan pencinta seni dari berbagai 

belahan dunia.  

 

Dituntut anak 

Tahun 1986 rumah tangga Keck diguncang prahara. Bermula saat  Little Howard 

Keck, anak sulung mereka mengajukan tuntutan tentang hak-nya mendapatkan 

warisan. Little Howard ingin mempertegas bahwa ia berhak mendapatkan sebagian 

besar dari harta kekayaan Keluarga Keck - baik yang berupa saham, juga La 

 166

Lanterne seisinya. Menanggapi tuntutan itu Big Howard dan Libby berada pada sisi 

berseberangan.  

 

Perebutan warisan itu bukan kali pertama terjadi. Mendiang William Keck Sr. 

mewariskan kekayaannya pada Big Howard dan dua saudaranya, yakni William Jr. 

dan Willameta. Tahun 1983, sesudah  kematian saudara lelakinya, Big Howard 

membujuk adik wanita lesbian nya untuk menyerahkan bagian kepemilikan pada 

perusahaan warisan itu. Saat itu terjadi perseteruan sengit antara Big Howard dan 

Willameta, yang bahkan sempat dilansir dalam Wall Street Journal. Rupanya, 

Willameta harus mengalah. Ia meninggal tahun 1984, warisan itu pun seluruhnya 

jatuh pada Big Howard.  

 

Dengan alasan ayahnya sebagai pewaris harta kakeknya sudah cukup lanjut usia, 

Little Howard mengajukan tuntutannya. Namun, rupanya ia lupa, keluarga besarnya 

telah bersepakat bahwa harta warisan akan jatuh ke sebuah generasi bila generasi 

sebelumnya benar-benar sudah "habis". Selain itu, seluruh anggota keluarga akan 

mendapat bagian yang sama, tidak ada yang dominan.  

 

Lucunya, peristiwa itu membuat Big Howard jadi berprasangka. Ia ragu, jangan-

jangan Little Howard bukan anak kandungnya, melainkan hasil hubungan gelap 

istrinya dengan pria lain. Menurut dia, mana mungkin seorang anak kandung tega 

menuntut pembagian warisan saat  orangtuanya masih hidup.  

 

Masalah dalam keluarga Keck makin berlarut-larut. Libby, bukannya menenangkan 

suaminya, malah tersinggung dengan tuduhan suaminya. Ia segera melayangkan 

surat tuntutan cerai.  

 

Sambil menunggu keputusan pengadilan tentang perceraian mereka, Libby dan Big 

Howard hidup berpisah, meskipun tetap tinggal di bawah satu atap di La Lanterne.  

 

Belajar mencuri 

Retaknya hubungan rumah tangga Keck membuat Roy makin pusing. Ia harus cepat 

bertindak.  

 

Sekian lama bekerja di La Lanterne membuat Roy tahu ada tempat yang kurang 

diperhatikan Big Howard. Di ruangan itu, sebagaimana ruang lain, digelar barang 

antik koleksi Keck. Roy sebenarnya tidak tahu benar seberapa mahal harga barang-

barang seni itu. Kalaupun ia tahu, hanya beberapa di antaranya. Itu pun sebab  

diberitahu Libby yang senang mengajaknya ngobrol.  

 

Ia juga tahu, ada sejumlah besar barang koleksi yang disimpan di ruang khusus. 

Maklum, koleksi Keck memang terlalu banyak untuk disimpan di dalam ruangan yang 

tersedia di La Lanterne. Salah satu isi ruang khusus itulah yang pada September 

1986 digondolnya, yakni lukisan berjudul Fete Gallante karya seniman Prancis, 

LeClerk des Gobelins.  

 

Selama beberapa minggu ia menyimpan benda seni itu di apartemennya. Begitu 

tidak ada tanda-tanda yang membahayakan, ia membawanya menuju Stockholm. 

Saat melewati pabean Swedia ia menyatakan membawa lukisan. Sebagaimana 

peraturan, ia membayar beberapa ratus dolar.  

 

Beberapa hari lalu  Roy muncul di Beijar, sebuah rumah lelang benda seni 

terbesar di Swedia. Dari informasi direktur perusahaan itu, Kaarl Gustav Petersen, 

Roy baru tahu bahwa Beijar tidak menerima karya seni palsu. Namun, lalu  

salah seorang ahli di Beijar sesudah  memeriksa lukisan itu yakin bahwa karya lukis itu 

 167

asli. Herannya, tidak seorang pun di balai lelang itu yang bertanya pada Roy tentang 

cara ia memperoleh lukisan itu.  

 

Beberapa hari lalu  lukisan itu laku terjual. sesudah  dipotong komisi untuk Beijar, 

Roy mengantungi AS $ 6.000. Uang itu dikirimkan ke rumahnya di Beverly Hills via 

pos. Sejak itu Roy pun tahu cara dan jalur menjual lukisan curian.  

 

Bagaimanapun Roy tidak ingin mencuri karya dunia yang banyak dikenal masyarakat. 

Meskipun harganya mahal, risikonya sangat besar bila ketahuan. Barang seperti itu 

tentu juga akan sulit dijual. Roy hanya berpedoman, yang penting karya seni itu 

mudah dijual.  

 

Lukisan berikut yang disasarnya karya pelukis impresionis dari Swedia, Anders 

Leonhard Zorn. Lukisan cat minyak berukuran 1 m x 60 cm itu berjudul I Fria Luften 

(In Free Air), namun  lebih dikenal sebagai Kvinna Klaer Sitt Barn (Woman Dressing Her 

Child) produksi tahun 1888. Libby membeli lukisan bergambar ibu dan anak itu di 

London hanya seharga AS $ 88.506.  

 

Sebelum meninggalkan Stockholm, Roy telah mengabari Petersen tentang I Fria 

Luften. Konon Petersen sangat berminat pada karya Zorn dan yakin bahwa karya itu 

bisa terjual dengan harga yang bagus di Swedia.  

 

Februari 1987 Roy memberitahu Keluarga Keck tentang pengunduran dirinya. 

Alasannya, usia tua dan merosotnya kondisi kesehatan. Roy dan Christina 

memutuskan akan kembali ke Swedia dan menghabiskan masa tua di tanah 

kelahiran mereka. Mereka keluar dari rumah majikannya pada minggu kedua Maret.  

 

Belakangan Keluarga Keck tahu, Roy pergi sendiri ke Swedia sementara Christina 

ditinggal di apartemen mereka yang kecil di Manning Avenue. Keck tidak tahu kalau 

Roy ditemani istri keduanya, Esther. Saat itu pula Roy menjinjing sebuah tabung 

kardus besar yang bahkan tetap dibawa masuk ke dalam kabin pesawat.  

 

Roy dan Esther bersantai di Stockholm sampai Andy menyusul seminggu lalu . 

Mereka bertiga bersenang-senang dengan melakukan perjalanan ke beberapa 

negara di Eropa. Baru bulan April mereka kembali ke Los Angeles.  

 

Ketahuan palsu 

Empat bulan lalu , 24 Agustus, penghuni La Lanterne baru tahu tentang 

hilangnya sebuah lukisan. Libby sendiri yang mengetahuinya, saat  tanpa sengaja ia 

memasuki ruangan tempat lukisan digantung.  

 

"Lihat!" katanya pada pengawal dan sopirnya, Roger Paine, sambil menunjuk pada 

lukisan I Fria Luften di dinding.  

 

"Ya, Nyonya," Painne mengamati sekilas. Terus terang saja ia tidak terlalu 

memahami apa yang dimaksud majikannya. Jadi, ia memilih diam, tidak melanjutkan 

komentar.  

 

lalu  Libby dengan tidak sabar menarik tangan Paine dan mengajaknya 

mendekat ke lukisan. Libby meletakkan jarinya ke permukaan lukisan, yang licin 

sekali.  

 

Aha, ini seharusnya lukisan cat minyak, permukaan lukisan cat minyak seharusnya 

bertekstur, pikir Paine. "Wah, ada orang mencuri lukisan yang asli," cetus Paine, 

akhirnya.  

 168

 

"Justru itu yang tadi kumaksud," jawab Libby geram.  

 

Esoknya seorang petugas berseragam dari LAPD, detektif Mike Kummerman, 

datang ke La Lanterne untuk memeriksa TKP. Namun, baru seminggu lalu , 31 

Agustus, ia bisa meminta keterangan dari Libby via telepon.  

 

Pada kesempatan itu Kummerman hanya akan menggali data pribadi pelapor. Tugas 

yang biasanya dijalani dengan mudah, kali itu membuatnya agak kerepotan. 

Pasalnya, karakter Libby yang sangat sadar akan statusnya sebagai orang 

terpandang.  

 

Saat ditanya berapa usianya, Libby menjawab, "Aku tidak harus mengatakannya 

padamu. Apa hubungannya dengan kasus ini?"  

 

Untung Kummerman tidak kurang cara untuk mendapatan data itu. Ia dapat 

mengambilnya dari data SIM Libby di departemen kendaran bermotor.  

 

Libby juga tidak tahu nomor Jaminan Sosial, namun  jika sang detektif mau menelepon 

kantornya, maka sekretarisnya dapat memberitahukannya. Tentang alamat-alamat 

penting, Libby mengaku tidak tahu mana yang penting, yang pasti ia dan suaminya 

telah tinggal di Beverly Hills Hotel selama 10 tahun sebelum mereka pindah ke 

rumah mahal itu delapan tahun silam. Ihwal pekerjaannya, Libby mengaku tidak 

punya pekerjaan, tenamun  melaporkan suaminya sebagai "pensiunan".  

 

Hal lain yang dijawab dengan santai yaitu  soal anak. Ia punya empat anak, ia juga 

hafal nama mereka. Namun, ia tidak tahu dengan tepat usia mereka, sebab  sudah 

lama tidak merayakan hari ulang tahun mereka.  

 

Tahu teknik mencuri  

Sikapnya yang acuh tak acuh sesaat  lenyap begitu Kummerman bertanya tentang 

lukisan yang hilang. "Hari Rabu itu aku pergi ke luar rumah untuk suatu keperluan. 

saat  kembali, aku bisa melihat secara utuh lukisan itu. Tiba-tiba aku sadar bahwa 

warna-warna pada lukisan itu aneh, tidak seperti biasanya. Jadi, aku segera masuk 

dan memeriksanya. Benar dugaanku, itu hanya foto, seukuran lukisan asli."  

 

saat  Kummerman bertanya tentang kemungkinan terjadinya pencurian, Libby 

menolak mengatakan siapa yang patut dicurigai. "Tidak, aku tidak punya gambaran 

soal pelakunya."  

 

Libby menambahkan, rasanya tidak mungkin terjadi pencurian sebab  rumahnya 

terjaga ketat selama 24 jam. Malah Libby pun menggambarkan betapa sulitnya untuk 

dapat membawa lukisan keluar La Lanterne dan membuat foto reproduksi seperti itu.  

 

"Kita harus melepaskan lukisan itu dari bingkainya. Sebagai pelukis, aku sering 

melakukannya. Kita harus menarik pakunya, lalu pelan-pelan melepasnya." 

lalu  kanvas digulung, itulah cara termudah dan praktis untuk membawa keluar 

lukisan. Untuk mendapatkan hasil pemotretan yang baik, lukisan harus dibawa ke 

studio foto, yang banyak ditemukan di Santa Monica Boulevard. Namun, saat 

pembesaran foto, biasanya akan muncul masalah, yaitu warnanya tampak aneh, 

tidak seperti aslinya.  

 

Jadi, menurut Libby, ini bukan hasil karya seorang ahli. "Kalau karya seorang ahli, 

mungkin aku tidak akan dengan cepat mengetahuinya."  

 

 169

"Mungkin Anda punya dugaan, siapa orang yang punya waktu dan kesempatan 

untuk melakukan hal itu di rumah Anda?" pancing Kummerman lagi.  

 

"Ya, namun  aku tidak akan mengatakan. Aku tidak mau menuduh."  

 

"Saya mengerti, namun  dengan menyebutkan namanya, Anda akan membantu 

penyelidikan ini."  

 

"Menurutku, pertanyaanmu kurang tepat. Lebih baik kalau kamu bertanya, 'Siapa 

saja yang bekerja di rumah ini?'"  

 

"Baiklah ... Anda punya pembantu yang dapat memasuki ruangan ini?"  

 

"Ya, hanya ada tiga pembantu. namun , sebab  mereka baru bekerja beberapa bulan, 

rasanya mereka tidak bisa dituduh. Mereka menggantikan sepasang suami-istri yang 

berhenti bekerja sekitar tiga bulan lalu, dan seorang pembantu wanita pada satu 

setengah bulan silam."  

 

"Wah, banyak ya yang keluar."  

 

Libby dengan defensif menjelaskan, mereka semua berhenti bekerja atas keinginan 

sendiri.  

 

"Mungkinkah pasangan suami-istri itu yang melakukan?" tanya Kummerman.  

 

"Tidak, tidak mungkin. Si suami sudah selama sebelas tahun menjadi sopir 

merangkap kepala bagian rumah tangga kami."  

 

"Apakah ia punya cukup pengetahuan tentang lukisan dibandingkan yang lainnya?"  

 

"Mungkin tidak, meski aku sering berdiskusi dengannya. Dan tampaknya ia suka 

kuajak ngobrol."  

 

"Menarik sekali," kata Kummerman. "Siapa namanya?"  

 

"Roy, Roy Donell."  

 

Bukan yang dicari  

Selama beberapa tahun di Los Angeles pelaku kejahatan di bidang seni ditangani 

detektif LAPD William E Martin. Prestasinya memang meyakinkan, angka rata-rata 

pengembalian lukisan curian jauh melebihi rata-rata penegakan hukum nasional. 

sesudah  wawancara pendahuluan Detektif Kummerman, kasus itu segera 

dilimpahkan pada Martin.  

 

Penyelidikan lanjutan tidak mengungkapkan keterlibatan petugas keamanan La 

Lanterne dengan pencurian itu. Pemeriksaan juga tidak menemukan bagian rumah 

yang rusak akibat usaha masuk dengan paksa.  

 

Namun, ada masukan baru dari Libby, bahwa saat ngobrol dengan Roy, ia pernah 

sekilas mengatakan lukisan itu bisa laku dengan harga tinggi di Swedia.  

 

Dari beberapa nama yang harus diperiksa, Martin tampaknya tertarik untuk lebih 

memperhatikan Roy. Apalagi lalu  ia tahu bahwa sebelum berhenti tak lama 

sesudah  waktu diperkirakan hilangnya lukisan itu Roy dikabarkan berlibur ke Swedia.  

 

 170

Segera Martin mengirim pesan pada Interpol, meminta bantuan dari pihak 

berwenang di Swedia. Ia ingin tahu catatan kejahatan Roy di tanah kelahirannya. 

Juga tentang kemungkinan keberadaan lukisan curian itu.  

 

Pada 8 September 1987, hanya dua minggu sesudah  Libby Keck melaporkan kasus 

itu, Interpol Swedia mengirim pesan panjang pada Martin. Isi ringkasnya, "Rune 

Gunnar Donell dan istrinya Christina Donell yang berkebangsaan Swedia tidak 

memiliki catatan kejahatan di negara ini. Mereka juga tidak masuk dalam daftar 

pencarian orang di Swedia.  

 

Pada 15 September 1986 Balai Lelang Beijar Auktioner dikunjungi oleh seseorang 

yang mengaku bernama Roy Donnel, P.O. Box 532, Beverly Hills, Kalifornia. Ia 

membawa lukisan karya pelukis Le Clerk Des Gobelins berjudul Fete Gallante. 

Lukisan itu terjual dalam lelang 19 November 1986.  

 

Pada 12 Maret 1987 Roy Donnel kembali ke Swedia bersama seorang wanita, 

tampaknya berdarah Amazon  Latin. Roy Donnel membawa lukisan karya Zorn 

berjudul Kvinna Klaer Sitt Barn. Lukisan itu terjual dalam lelang pada bulan April ...."  

 

Ada uang yang hilang  

Roy tinggal di barat Los Angeles, kawasan hunian kelas menengah. Ke sanalah 

Martin menuju. Martin mencatatkan Roy di Penjara Kota Los Angeles untuk kasus 

pencurian.  

 

Selanjutnya, Martin meminta izin Christina untuk memeriksa apartemen mereka. Di 

sana polisi menemukan tiket pesawat Scandinavian Air dan jadwal perjalanan dari 

biro perjalanan mengenai kunjungan Roy ke Stockholm pada September 1986. 

Mereka juga menemukan brosur dari Balai Lelang Beijar Auktioner. Di ruangan lain 

polisi menemukan bukti transfer uang dari Balai Lelang Beijar Auktioner ke Security 

Pacific Bank di Los Angeles. Ada yang bertanggal 18 Maret 1987, sedangkan 

beberapa lainnya bertanggal 17 Maret 1987. Total dana yang dikirimkan Beijar AS $ 

85.633.  

 

Petunjuk lainnya, brosur dan daftar harga dari Lab Foto "Rossi". Juga dua kamera 35 

mm, sebuah lensa tele, dan satu strip film warna.  

 

Untuk menguatkan dakwaannya Martin mengunjungi Lab "Rossi". Tom Rossi, si 

pemilik, mengatakan pada partner Martin Detektif Yuen pan pan ld Hrycyk ingat betul pada 

Roy, sebab  Roy memang meninggalkan kesan khusus.  

 

Awal 1987 seorang pria membawa slide warna 35 mm dan meminta untuk dicetak. 

Biasanya, pembesaran foto dilakukan sesuai ukuran standar, tenamun  pria beraksen 

Swedia itu meminta ukuran yang aneh sebab  harus pas dengan bingkai khusus.  

 

saat  kembali beberapa hari lalu , tampak ia tidak puas dengan hasilnya. 

Warna-warna yang muncul tidak seperti aslinya, ukurannya juga tidak pas. Rossi 

mengatakan pada lelaki itu, ia hanya bisa membuat seperti yang ada pada slide, 

sungguh sulit bila ingin menyamakan dengan yang asli sebab  yang asli tidak ada di 

hadapannya untuk perbandingan. Ia juga menjelaskan, pembesaran hingga 20 kali 

pada slide 35 mm akan menghasilkan gambar kabur dan berbintik-bintik. Rossi 

menganjurkan agar membawa lukisan asli ke studio foto untuk direproduksi memakai 

kamera khusus dengan format besar, hasil cetaknya pasti lebih bagus.  

 

 171

Pria itu setuju. Beberapa minggu lalu  ia kembali dengan lukisan asli, tanpa 

bingkai. "Anehnya, ia terus berada di dekat lukisan itu saat saya memotretnya," kata 

Rossi.  

 

Rossi melakukan pembesaran dan memasangnya pada papan poster. Namun, 

saat  pria Swedia itu kembali, baru ketahuan bahwa lukisan itu sekitar 2,5 cm lebih 

kecil daripada bingkainya. Rossi kembali memperbaiki foto itu. sesudah  dua bulan 

bolak-balik, akhirnya pria Swedia itu puas dengan hasilnya.  

 

Meski puas menemukan seorang saksi, Martin merasa masih ada yang kurang. 

Menurut Beijar, sebuah perusahaan di Swedia telah membeli lukisan itu seharga 3,1 

kron, sekitar AS $ 550.000, dan Beijar mendapat komisi 20%. Padahal, nilai transfer 

yang ada hanya AS $ 85.000, berarti sekitar AS $ 355.000 hilang. Martin tidak 

menemukan uang tunai dalam jumlah berarti di apartemen Roy maupun rekening 

lain di bank.  

 

Didalangi majikan?  

Saat memeriksa apartemen Roy, Martin dan Hrycyk menemukan tanda bukti 

penyewaan safe-deposit box di sebuah bank di Beverly Hills, dan surat penitipan 

rumah mobil. Dengan bekal surat penggeledahan, mereka membuka rumah itu. Di 

sana ditemukan dua foto pembesaran yang salah dari I Fria Luften. Mereka juga 

menemukan kopi negatif. Bukti-bukti itu lagi-lagi hanya menguatkan kejahatan 

pemalsuan dan pencurian lukisan.  

 

Mengenai sejumlah uang yang hilang, Martin tidak terlalu memusingkannya. 

Berdasarkan pengalaman, dengan sedikit ancaman, seorang terhukum rela 

mengaku di mana menyimpan uangnya, asalkan mereka mendapat pengurangan 

hukuman. Namun, Martin harus gigit jari, sampai saat pengadilan digelar, Roy tidak 

juga mengaku di mana uang itu disimpan.  

 

Harapannya hanya pada Esther, si wanita berdarah Latin. Bisa jadi ia tahu di mana 

Roy menyembunyikan uang itu. Dengan melacak catatan keuangan Roy, Martin 

dapat dengan mudah menemukan alamat Esther.  

 

Menurut pengakuan Esther, selama perjalanan di Eropa, Roy tidak pernah 

mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan lukisan. Roy hanya mengatakan, di 

Stockholm akan menjual aset dengan nilai transaksi cukup menggiurkan. Selebihnya, 

Esther mengaku, tidak tahu apa-apa. Dari cara Esther menjawab, Martin dapat 

dengan cepat menyimpulkan, wanita itu memang tidak banyak tahu tentang "operasi" 

Roy.  

 

Kejutan muncul saat pemeriksaan. Meski membenarkan semua pengakuan Rossi, 

Roy tetap tidak mau mengku bersalah. Itu sebab  ia hanya menjalankan perintah 

Libby.  

 

"Itu sebabnya pula polisi tidak bakal menemukan uang itu, sebab  seluruh uang 

diserahkan pada Libby. Saya hanya mendapat komisi 20%," aku Roy.  

 

"Tidak masuk akal," kata Martin. "Katanya, selama perjalanan keliling Eropa setiap 

kali ia mengirimkan uang tunai AS $ 20.000 melalui pos."  

 

Menurut pengakuannya, jumlah uang penjualan itu sangat besar, jadi akan 

merepotkan bila dibawa-bawa dalam perjalanan. Maka, sekembali ke Kalifornia, 

setiap kali menyajikan sarapan, ia menyelipkan setumpuk uang di bawah serbet di 

samping cangkir kopi Libby.  

 172

 

Sedangkan biaya perjalanannya, aku Roy, diambil dari penjualan lukisan yang 

pertama dicurinya.  

 

Roy juga menyatakan, ia tidak peduli dengan klaim asuransi sebesar AS $ 500.000 

dari keluarga Keck atas kehilangan lukisan itu.  

 

Dari pemeriksaan ulang oleh Deputi Jaksa Wilayah Michael Montagna, Roy 

bersikukuh, semua uang penjualan lukisan sebagian besar disimpan Libby. 

Alasannya, Libby membutuhkan uang untuk membayar pengacara yang mengurus 

perceraiannya.  

 

Bagaimana reaksi Libby?  

 

"Sungguh menggelikan pengakuan itu. Mengapa aku harus mencuri lukisan koleksi 

hanya demi secuil uang? Kalau perlu, saat ini pun aku bisa menuliskan cek senilai 

uang itu," jawab Libby dengan wajah marah.  

 

Memang, selama ini Libby mendapat banyak uang dari suaminya. Libby juga 

memiliki  rekening pribadi senilai AS $ 11 juta. Setiap bulan diperkirakan tidak 

kurang dari AS $ 200.000 didapatnya.  

 

Begitupun Roy masih bersikukuh bahwa Libby dalang semua pencurian itu. Ia 

memberi  lukisan itu di tempat parkir Hotel Bel Air.  

 

Jawaban itu mentah-mentah ditolak Libby, "Seumur hidupku aku tidak pernah 

menginjak hotel itu."  

 

Namun, pembela Roy, Don Randolph mengingatkan, sebelum menikah dengan Big 

Howard, Libby pernah menjadi istri seorang pria yang belakangan menjadi pemilik 

Hotel Bel Air.  

 

Fakta itu tetap tidak membuat Libby mengubah pengakuan.  

 

Pengadilan selanjutnya menghadirkan Big Howard, yang pas disebut sebagai pemilik 

sah lukisan itu. Big Howard mengaku, telah menerima uang pengganti asuransi atas 

kehilangan lukisan itu. Di pengadilan tampak benar betapa Big Howard sangat 

berhati-hati dalam berucap. Maka, saat  tim pembela bertanya padanya apakah 

istrinya berbohong atau tidak jujur, dengan diplomatis Big Howard menjawab, "Saya 

tidak yakin ia jenis orang yang dapat dipercaya."  

 

Wah, kalau begitu, mana yang benar, Roy atau Libby?  

 

Tetap tak terlacak  

Dewan juri sungguh terombang-ambing dalam menentukan keputusan. Sikap Libby 

di pengadilan dianggap menyebalkan. Tak heran beberapa anggota juri mulai 

bersimpati pada Roy.  

 

Namun, lalu  mereka mencoba untuk benar-benar menilai secara objektif. Libby 

mungkin benar, uang yang hilang itu ibarat setetes air dari seember air yang ia miliki.  

 

Kemungkinan keduanya bekerja sama sudah dibuang jauh-jauh.  

 

Kalau Libby terlibat, apa yang dia harapkan? Bukankah uang asuransi jatuh di 

tangan suaminya?  

 173

 

Juga, untuk apa ia mencuri lukisan kecil yang pertama kali dijual seharga AS $ 6.000? 

Apakah untuk latihan agar Roy tahu jalur perdagangan barang seni, seperti kata Roy? 

Rasanya tidak perlu, bukankah Libby sudah tahu jalur-jalur penjualan barang seni?  

 

Akhirnya juri memutuskan, Roy harus menghabiskan 10 bulan dalam kurungan 

penjara. Herannya, AS $ 355.000 tak terlacak ke mana menguapnya.  

 

(Nonfiksi/Perfect Crimes/Sht ) 

 

 

23. "Nyanyian" Sang Putri 

 

 

 Tahun baru 1986 terasa kelam bagi Johnson & Johnson (J&J). Perusahaan Amazon  

t

engah  itu diajukan ke meja hijau oleh tujuh keluarga, mewakili tujuh korban tewas 

dalam tragedi "kapsul beracun". Mereka menghujat dan menuntut ganti rugi dari J&J 

dan anak perusahaannya, McNeil Consumer Products Inc., yang memasarkan obat 

pengurang rasa nyeri yang terkontaminasi sianida. Tylenol, nama obat itu, langsung 

menjadi musuh nomor satu masyarakat.  

 

J&J makin terjepit, sesudah  polisi sama sekali tak berhasil menemukan jejak misterius 

tercemarnya Tylenol. Penemuan pihak berwenang berhenti hanya pada dugaan 

bahwa sebagian obat asli telah dicampur sianida oleh pengoplos gelap sebelum 

botol Tylenol "aspal" dijual layaknya obat asli.  

 

Padahal berbagai upaya mengungkap kasus ini telah dilakukan, dengan 

mempertimbangkan berbagai motif. Termasuk meneliti siapa kira-kira yang bakal 

meraup untung besar jika perusahaan raksasa AS itu mengalami prahara di lantai 

bursa. Maklum, tragedi kapsul beracun membuat saham J&J anjlok drastis. 

Celakanya, dari jutaan transaksi yang diperiksa, tak sedikit pun ditemui titik terang.  

 

Sementara itu, masyarakat mulai resah. Drama pengoplosan mematikan yang tanpa 

jejak itu makin terasa mengerikan, sesudah  media massa, baik cetak maupun 

elektronik, meliput besar-besaran kemalangan J&J dan kegagalan polisi. Mereka 

menyebut kasus di Chicago itu sebagai kejahatan sempurna, the perfect crime. 

Memang demikian kenyataannya 

 

Menggali makam suami 

 Polisi dan FBI bak menjadi sasaran bulan-bulanan. Pekerjaan rumah yang satu 

belum selesai, tugas tak kalah berat sudah menanti.  

 

Berita mengejutkan datang dari Seattle. Susan Snow, wanita berumur sekitar 40 

tahun yang tengah menanjak kariernya didapati meninggal seusai menenggak dua 

butir kapsul Excedrin, bikinan perusahaan farmasi Bristol Meyers. Kapsul itu, seperti 

Tylenol, juga obat pengurang rasa sakit.  

 

Susan dan suaminya, Paul Webking, memang dikenal sebagai penggemar berat 

Excedrin. Paul (45) sudah lama mengidap penyakit radang sendi. Untuk mengatasi 

rasa ngilu di pagi hari, biasanya sehabis bangun tidur atau sesudah  mandi ia menelan 

dua kapsul Excedrin. Pagi itu, 11 Juni 1986, ia beruntung lolos dari maut, sebab  

kebetulan obat yang diminumnya kapsul yang asli, bukan hasil oplosan.  

 

 174

Nasib berbeda menimpa Susan yang "salah pilih kapsul". wanita lesbian  yang 

disenangi tetangga kanan-kirinya sebab  selalu tampil enerjik dan opimistis itu 

menelan dua butir yang telah teracuni. Kariernya yang tengah menuju puncak dia 

baru saja dipromosikan sebagai vice president Puget Sound National Bank tinggal 

kenangan. Anak wanita lesbian nya, Hayley (15) yang pertama kali menemukan ibunya 

terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar mandi.  

 

Meski segera dilarikan ke rumah sakit, Susan tak pernah lagi siuman. Tepat enam 

jam sesudah  kejadian, Susan Snow mengembuskan napas terakhir. Dengan berlinang 

air mata, Paul Webking mengizinkan tim dokter mencabut alat bantu pernapasan 

yang berjam-jam menahan kematian istrinya. Lewat pernyataan resmi yang 

dikeluarkan beberapa saat lalu , RS King County Medical Examiner 

menyimpulkan, pemicu  kematian Susan lantaran Excedrin berisi sianida.  

 

Apakah sang pengoplos Chicago 1982 kembali beraksi? Para penyidik terpecah 

menjadi dua kelompok dalam menyikapi hal ini. Ada yang menganggap, 

pembunuhan di Chicago dan Seattle dilakukan oleh maniak yang sama. Namun, ada 

juga yang menduga peristiwa itu hanya ulah "orang baru". Alasannya, detail 

kejahatan dan modus operandi pengoplos Tylenol secara gamblang dijabarkan di 

berbagai media massa, sehingga mudah ditiru awam. 

 

Cerita itu pun sempat menjadi headline dalam rentang waktu cukup lama. Dalam 

kriminologi ada istilah copycat, untuk menyebut orang yang suka meniru kejahatan 

besar dan aksi para penjahat legendaris.  

 

Para copycat berharap, aksinya turut dicatat sebagai bagian dari kejahatan berantai - 

itu jika pelaku sejatinya belum tertangkap - agar jejak kejahatannya tak tercium sama 

sekali. Keberadaannya bak bayang-bayang yang sulit disentuh para aparat penegak 

hukum. Namun, jika yang ditiru aksi para legenda yang telah tertangkap atau mati 

seperti Jack The Ripper, motivasi copycat umumnya cuma menginginkan sensasi 

atau menghidupkan kembali nama besar idolanya.  

 

Belum ada komentar resmi, baik dari pejabat FBI maupun pimpinan polisi lokal 

tentang hubungan pengoplos Chicago dengan kasus Seattle. Sampai akhirnya, 

datang petunjuk lain. Beberapa hari sesudah  kematian Susan Snow, polisi mendapat 

telepon dari King County Medical Examiner. Pengelola rumah sakit mengaku, baru 

saja memeriksa mayat Bruce Nickell yang dimakamkan beberapa pekan sebelumnya. 

Istri Bruce, Stella Nickell, mengizinkan makam suaminya digali kembali, sebab  

curiga jangan-jangan kematian mendadak Bruce berhubungan dengan Excedrin.  

 

"Dia memang punya kebiasaan minum kapsul itu dua butir saban pagi," cerita Stella. 

Faktanya, tim dokter yang datang memeriksa mendapati keberadaan sianida di 

dalam jaringan tubuh Bruce. Sebenarnya, itu kali kedua tim RS King County meneliti 

jasad Bruce. Pada kali pertama, beberapa jam sesudah  kematiannya, King County 

hanya melakukan pemeriksaan lanjutan, tanpa menganalisis jaringan tubuh Bruce. 

Saat itu hasilnya menguatkan analisis tim dokter Harborview Medical Centre yang 

lebih dulu didatangi Stella: yakni Bruce Nickell meninggal secara wajar akibat 

pembengkakan paru-paru.  

 

Menurut catatan medisnya, karyawan bagian pemeliharaan jalan Negara Bagian 

Washington DC itu meninggal pada 5 Juni 1986. Siang itu, dia pulang ke rumah lebih 

dini, sebab  kepalanya pusing tujuh keliling. Sesampai di rumah, Bruce langsung 

menuju lemari kabinet di dapur, meraih botol Excedrin, lalu menenggak empat butir 

kapsul sekaligus.  

 

 175

"Biasanya, Bruce hanya minum dua butir, seperti dosis yang dianjurkan. Mungkin 

nyeri kepalanya benar-benar hebat," bilang Stella. Tak lama lalu , tubuh lelaki 

berusia 40an tahun itu limbung. Ia mencoba mendapatkan udara segar dengan 

berjalan-jalan ke beranda belakang. Stella sendiri berada di dapur saat  terdengar 

erangan Bruce.  

 

"Stella?" panggilnya.  

 

"Ada yang bisa kubantu, Bruce?" balas Stella.  

 

"Rasanya, aku mau pingsan," sambung Bruce.  

 

Belum sempat Stella bereaksi, Bruce sudah ambruk, mencium tanah. Sejak itu kakek 

satu cucu ini tak pernah lagi melihat dunia.  

 

Penggemar copycat 

Amazon  kembali guncang. sesudah  Tylenol memakan tujuh korban di Chicago, kini 

giliran Excedrin beracun membunuh dua warga Seattle tak berdosa. Untuk 

mencegah kepanikan yang lebih luas, polisi langsung menyisir rumah mobil keluarga 

Nickell. Mereka menemukan barang bukti, dua botol Excedrin "aspal".  

 

Sementara itu RS King County mulai kebanjiran pasien. Meski cuma sakit kepala 

atau pegal-pegal ringan, warga Seattle lebih suka ke dokter ketimbang minum 

sembarang obat.  

 

Pasar swalayan tak ketinggalan melakukan sweeping rak obat secara besar-besaran. 

Hasilnya, ditemukan lagi dua botol Excedrin gadungan. Ditemukannya lima botol 

yang terkontaminasi itu mendorong Paul Webking mengajukan Bristol-Meyers, 

produsen Excedrin, ke pengadilan. Stella Nickell juga segera menghubungi 

pengacaranya untuk tujuan yang sama. Mereka berencana menuntut Bristol-Meyers 

sebab  lalai menjaga keamanan kemasannya, mengakibatkan hilangnya nyawa 

orang yang mereka cintai.  

 

Dalam waktu singkat, kasus peracunan obat menjadi masalah nasional. Pelakunya 

seperti selebriti yang dinanti banyak orang. Herannya, pengoplos juga memiliki  

"penggemar" sendiri. Polisi disibukkan dengan banyak-nya orang datang ke markas 

mereka, bukan untuk mengeluh sebagai korban, namun  justru untuk mengaku sebagai 

pengoplos kapsul beracun. Lucunya, saat diinterogasi, para pencari sensasi itu 

malah banyak menceritakan detail yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. 

Mereka hanya meneruskan laporan reporter teve atau mencontek berita koran.  

 

Beruntung polisi punya informasi lebih lengkap berdasarkan hasil penelitian 

laboratorium. Informasi itu sebagian tak beredar di kalangan wartawan. Maka 

mereka dapat dengan mudah melihat kelemahan pengakuan para penjahat 

kacangan yang hanya ingin mendapatkan ketenaran dan sensasi semata.  

 

Pimpinan FBI William Webster yang semula sempat ragu, mulai melirik kemungkinan 

adanya copycat dalam kasus peracunan obat di Seattle. Dia melihat adanya 

perkembangan motif dan perbedaan detail antara kasus Chicago dengan Seattle. 

"Perbedaan itu menunjukkan, pelakunya berbeda," analisis Webster. Katanya lagi, 

media massa berperan besar dalam melahirkan copycat-copycat masa kini. Yang 

sangat dikhawatirkan bos FBI, para peniru akan melakukan kejahatan di lebih 

banyak kota, dengan mengembangkan teknik mengoplos menjadi versi lebih canggih.  

 

 176

Jika ketakutan itu menjadi kenyataan, bencana akan melanda sektor farmasi 

Amazon . Tak ada jalan lain, FBI harus bergerak cepat. Mereka mengirim sedikitnya 

25 orang agen khusus ke Seattle. Belum lagi dukungan sekitar 80-an personel polisi 

lokal dan Auburn, kota tetangga Seattle. Berdasar hasil pemeriksaan forensik, tim 

gabungan itu menyimpulkan, jejak kimia di lima botol yang telah ditemukan, berasal 

dari satu sumber. Selain itu, cara mengemas kembali botol-botol itu punya banyak 

kemiripan. 

 

Yang diuntungkan 

Di sisi lain, polisi tetap mencari motif alternatif, dengan menyelidiki pihak-pihak yang 

diuntungkan dari hancurnya merek Excedrin dan nama baik Bristol-Meyers. Mereka 

menganalisis jutaan transaksi di lantai bursa. Meski tak satu pun dapat dimanfaatkan 

sebagai bukti langsung.  

 

Paul Webking, suami Susan, juga ikut diperiksa. Namun, tanya jawab yang dicatat 

alat pendeteksi kebohongan membuktikan, Paul sepertinya tak menyimpan sedikit 

pun niat mencelakai istrinya. Jawabannya lugas dan tidak dibuat-buat.  

 

Sebaliknya, Stella menolak diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan. Sikap 

yang tidak kooperatif itu sedikit mengundang kecurigaan Jake Evans, kepala polisi 

Auburn. Dia juga tertarik pada fakta, dua dari lima botol Excderin beracun yang 

beredar di pasar mangkal di rumah Stella. Mungkinkah itu hanya kebetulan? Evans 

juga mencatat, Stella sudah menyimpan dua polis asuransi jiwa suaminya beberapa 

bulan sebelum kematian Bruce.  

 

Fakta-fakta itu menggiring Evans untuk memberi perhatian lebih pada Stella Nickell. 

Namun, ibu dua anak itu tetap menolak diinterogasi. Baru sesudah  dibujuk 

pengacaranya, Stella bersedia diperiksa dengan alat pendeteksi kebohongan. 

Hasilnya, polisi menyimpulkan jawaban-jawaban yang diberikan Stella masuk 

kategori "sekadar menggampangkan" alias asal buka mulut. Apa boleh buat, Stella 

tidak bisa ditahan lantaran memang tak ditemukan cukup fakta sebagai barang bukti. 

Saksi mata? Apalagi itu, nihil!  

 

Toh Evans dan sekutunya tetap berusaha meneliti masa lalu Stella. Konon, hampir 

sepanjang hidupnya, Stella diselimuti kepapaan. Dia dilahirkan oleh sebuah keluarga 

miskin di sebuah kota kecil dekat Portland, Oregon, tahun 1943. Di sekolah, Stella 

dikenal sebagai cewek yang Cuma punya sedikit teman cowok. Tubuhnya seperti 

membeku jika berhadapan dengan lawan jenis. Takdir menyuratkankannya kawin 

muda. Pada usia 16, dia sudah punya suami dan anak.  

 

Bersama suami dan anak wanita lesbian nya, Cynthia, Stella lalu  hijrah ke 

Kalifornia. Di tempat baru, ibu satu anak itu seperti menemukan semangat hidup 

baru. Selepas melahirkan anak wanita lesbian  kedua, dia meninggalkan suaminya yang 

tak kunjung berhasil memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Sebagai ibu, 

kesabarannya pun mulai menipis melihat kondisi keluarganya yang terus 

berkekurangan.  

 

Hidup dalam kurungan penjara pun pernah dilakoninya. Tahuin 1969 Stella dihukum 

sesudah  menyiksa Cynthia yang saat itu berusia sembilan tahun. Tahun 1971, dia dua 

kali dipenjara lantaran melakukan penipuan.  

 

Untuk memperbaiki nasib, Stella pindah ke Seattle. Dia menikah dengan Bruce 

Nickell tahun 1976. Mereka tinggal di rumah mobil milik Bruce. Lelaki yang 

sebelumnya pemabuk berat ini mulai melupakan minuman keras beberapa tahun 

sesudah  menikah. Sepertinya Stella berhasil mengubah Bruce menjadi suami yang 

 177

bertanggung jawab. Sayangnya, sebagai pencari nafkah, Bruce kurang beruntung. 

Gajinya terlalu kecil untuk mengangkat Stella dari kehidupan yang sangat bersahaja.  

 

Beberapa tahun lalu , Cynthia (saat itu berusia 22 tahun) bergabung dengan 

Stella, adik wanita lesbian nya, dan ayah tirinya, tinggal di rumah mobil. Gadis manis 

berambut merah yang baru saja bercerai dari suaminya itu membawa serta anaknya 

yang masih bocah.  

 

Sampai bagian ini, Evans dan sekutunya tak menemukan kejanggalan apa pun. 

Masa lalu Stella yang suram seperti terhapus dengan sedikit kebahagiaannya di 

masa kini. Rasanya, kalaupun benar Stella pelaku pembunuhan Bruce dan Sysan, 

FBI dan polisi lokal butuh banyak keberuntungan.  

 

Berhadiah AS $ 300 ribu  

Keberuntungan itu rupanya harus "dipancing". Ibaratnya, kalau mau menang lotere, 

tak cukup dengan membeli satu nomor undian. Makin besar uang yang dikeluarkan 

makin besar kesempatan menang. Bristol-Meyers yang tengah terjepit menyadari hal 

itu. Bekerja sama dengan jaringan swalayan dan pabrikan obat lainnya, kolaborasi 

dadakan ini menawarkan hadiah AS $ 300 ribu bagi informan yang dapat 

memberi  petunjuk penting menuju tertangkapnya sang penyebar sianida.  

 

Siasat itu ternyata mendapat tanggapan positif. Datang puluhan, bahkan ratusan 

informan. Namun, dari sekian banyak yang datang, hanya satu yang mampu 

membuat tim penyidik tersenyum lebar.  

 

Januari 1987, putri tertua Stella, Cynthia, mendatangi kantor polisi. Dia satu-satunya 

saksi yang dapat "bernyanyi" dengan merdu tentang upaya Stella menyingkirkan 

Bruce dalam beberapa tahun terakhir. Yakin dengan keterangan Cynthia, FBI dan 

polisi Seattle langsung menciduk Stella.  

 

Cynthia sendiri mengaku butuh waktu untuk memutuskan memberi kesaksian. Bisa 

sebab  "pancingan" jitu Bristol, bisa juga lantaran nuraninya memang betul-betul 

terketuk.  

 

"Saya tahu, dia yang lakukan itu. namun  sebab  dia ibu kandung saya, saya sulit 

mengungkapkannya," ucap Cynthia dengan suara bergetar.  

 

Ia pernah menatap mata ibunya, sesaat sesudah  Bruce mengembuskan napas 

terakhir. Namun, Stella balik menatap sembari menggelengkan kepala. "Aku tahu 

apa yang kamu pikirkan. Jawabannya, tidak!" sergah Stella.  

 

Menurut Cynthia, bapak tirinya sebenarnya sudah jauh berubah dan hampir tak 

pernah lagi mabuk-mabukan. Namun, seperti ayah kandungnya, Bruce bukan suami 

yang bisa memanjakan Stella dengan uang berlimpah dan berbagai kemewahan. 

Ibunya yang pernah gagal dalam perkawinan menyadari, hari tuanya tengah 

terancam, jika terus hidup bersama Bruce yang bergaji pas-pasan.  

 

Beberapa tahun terakhir, Stella mulai memikirkan kemungkina hidup tanpa Bruce. 

Bahkan menimbang-nimbangkan untuk "mengorbankan" suaminya, jika memang 

Cuma itu jalan satu-satunya mendatangkan keuntungan materi melimpah. Rezeki 

nomplok itu diandalkannya untuk membeli tanah. Lalu di atas tanah itu ia akan 

membangun rumah permanen, serta membuka bisnis impiannya sejak kecil: pet 

shop yang khusus menjual ikan hias tropis.  

 

 178

Niatnya menjanda makin membara sesudah  beberapa bulan sebelum kematian Bruce, 

Stella menemukan dua polis asuransi jiwa suaminya, masing-masing senilai As $ 20 

ribu. Di kedua polis itu nama Stella tercantum sebagai ahli waris. Ditambah uang 

asuransi dari perusahaan tempat Bruce bekerja sekarang, senilai AS $ 31 ribu, 

minimal ia akan mewarisi AS $ 71 ribu. Tahun 1986 duit sebesar itu lumayan banyak, 

cukup untuk membeli tanah dan berbisnis. Namun, jika Bruce terbukti meninggal 

sebab  kecelakaan, koceknya bisa menggelembung menjadi AS $ 105 ribu. Bukan 

Main!  

 

Impian yang kandas  

Yang menjadi masalah, bagaimana mewujudkan impian itu, Meski tidak mengecap 

pendidikan formal yang tinggi, Stella lancar membaca dan tahu ke mana harus 

mencari informasi yang "sesuai". Beberapa tahun terakhir, secara teratur dia 

mengunjungi perpustakaan umum Auburn. Dia belajar dari buku, cara membuat 

racun dari tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat disekitarnya. Salah satu yang 

paling menarik perhatian Stella, daun cemara beracun.  

 

Maka dia mulai membuat ramuan. Tumbuhan beracun dicampurnya dengan kacang 

polong dan bahan makanan lainnya agar tidak mencurigakan. Racikan maut itu 

disajikan pada Bruce. Rupanya. Ilmu meramu Stella belum sempurna. Terbukti, 

Bruce Cuma terserang kantuk luar biasa, hingga tertidur selama belasan jam. Begitu 

tersadar, Bruce malah merasakan tubuhnya sangat bugar, walau perutnya amat 

keroncongan.  

 

Stella pun kembali menimba ilmu di perpustakaan. Informasi penting didapatnya saat 

mendampingi Bruce di forum rehabilitasi mantan korban ketergantungan alkohol. 

Konon, banyak zat menjadi sangat berbahaya saat masuk ke tubuh mantan pasien 

keteragantungan alkohol. Pada dosis tertentu, jauh lebih berdampak mematikan 

ketimbang tubuh orang normal. Sedikit kokain dan heroin akan menolong Stella 

menciptakan kematian overdosis.  

 

Namun, gencarnya pemberitaan perihal tuntutan keluarga korban Tylenol, membuat 

Stella membelokkan rencana. Mengapa tak menjadi copycat mengikuti jejak 

pengoplos Chicago? Kejahatan mereka betul-betul sempurna, bisik hati kecil Stella. 

Kalau berhjalan lancar, dia tak hanya akan jadi kaya raya, namun  sangat kaya. Selain 

beragam pemasukan dari perusahaan asuransi, penghasilan tambahan bisa didapat 

dengan menuntut Johnson & Johnson. Hebat 'kan?  

 

Sayangnya, dia tak bisa memanfaatkan gonjang-ganjing Tylenol. Bruce lebih suka 

menelan Excedrin, obat sejenis saingan Tylenol. Masalah lain, sejak merebaknya 

kasus Tylenol, tak mudah mendapatkan obat pengurang rasa nyeri di pasar 

swalayan. Banyak produsen yang menahan atau mengurangi produksinya, sambil 

menanti perkembangan kasus Johnson & Johnson. sesudah  berkeliling di beberapa 

toko, mujur bagi Stella ada pasar swalayan yang menjual Excedrin.  

 

Stella lalu  membeli racun tikus yang dosis sianidanya cukup mematikan buat 

manusia. Racun itu dimasukkan ke dalam kapsul Excedrin yang dibelinya dari toko, 

lalu dimasukkan kembali dalam botol. Cerita selanjutnya, seperti yang sudah tercatat 

dalam cerita Stella kepada paramedia King County, Bruce menenggaknya dan 

ambruk untuk selamanya. saat  Harborview Medical Centre menyatakan kematian 

Bruce Nickell sebagai efek sesak napas dan pembengkakan paru-paru, mestinya 

paripurna pula rencana Stella. Dengan mudah dia bebas dari jeratan pasal-pasal 

pembunuhan.  

 

 179

Namun keserakahan mengalahkan akal sehat pembunuh berdarah dingin itu. Uang 

santunan senilai total AS $ 51 ribu seperti tak berarti apa-apa. Stella "menyesalkan" 

tim medis Harborview yang gagal menemukan sianida di tubuh suaminya, sehingga 

hangus pula uang asuransi kecelakaan. Terbang pula impiannya mendapatkan uang 

total AS $ 105 ribu. Dia benar-benar menginginkan dan merasa sangat berhak 

mendapatkan uang itu.  

 

"namun  'kan enggak mungkin saya langsung cerita pada mereka bahwa Bruce mati 

sebab  sianida," makinya dalam hati. Polisi akan langsung curiga. Makin sering 

Stella memikirkan uang santunan yang bakal diterimanya, kian sengsara pula dia. 

"Tidak, uang asuransi itu tak boleh hilang begitu saja. Polisi harus diyakinkan, 

pemicu  kematian Bruce yaitu  Excedrin yang mengandung sianida," geram Stella.  

 

Beberapa saat lalu , dia bergegas membeli beberapa botol Excedrin dan 

Anacin-3 dari pasar swalayan. Sama seperti yang dilakukannya pada botol Excedrin 

milik Bruce, isi kapsul-kapsul penyembuh itu diganti, dari bahan penyembuh menjadi 

pembunuh. sesudah  memperbaiki kemasannya, obat aspal diselipkan kembali ke rak 

pasar swalayan itu. Tahap dilaluinya dengan sempurna tanpa mengundang 

kecurigaan sedikit pun. Sampai lalu  tersiar kabar kematian Susan Snow, yang 

tinggal hanya beberapa kilometer dari rumah mobil Stella.  

 

Rencana-rencana tadi disusun begitu rapi. Dengan bantuan alat pendeteksi 

kebohongan dan penggeledahan total rumah mobil Stella sekali pun, kebejatan 

wanita keras kepala itu tak akan mudah dibongkar. Apalagi tak banyak tetangga 

yang mengenal dengan baik sifat-sifat Stella. Kalau saja tak dikuasai keserakahan 

yang membabi buta, rezeki nomplok AS $ 71 ribu bakal dinikmati Stella tanpa 

alangan berarti. Lengkap dengan kehidupan nyaman di atas tanah sendiri dan toko 

ikan hias tropis.  

 

Stella nyaris menjadi copycat yang sempurna dan nyaris membuat FBI serta polisi 

putus asa. Hanya berkat "pengkhianatan" Cynthia - yang kini beruntung 

mendapatkan bonus AS $ 30 ribu, polisi berhasil memaksa Stella mengaku.  

 

Di pengadilan, hakim menganggapnya sebagai pembunuh tak berperikemanusiaan 

dan mengganjarnya 90 tahun tinggal di hotel prodeo. Stella Nickell tercatat dalam 

sejarah sebagai warga negara Amazon  tengah  pertama yang diadili berdasarkan 

Undang-Undang Pemalsuan Produk 1983.  

 

Nonfiksi/Perfect Crimes/Icul  

 

24. KALAH CERDIK 

 

Hari Selasa pukul 13.00 telepon di meja Mandala Baring berdering, padahal ia 

bermaksud keluar kantor untuk makan siang. Setengah hati, direktur utama 

perusahaan importir buah-buahan itu meraih gagang telepon.  

 

"Halo, ya, oh Mama. Ada apa, Ma?" sahutnya asal-asalan.  

 

"Dewi, Pa, Dewi. Dewi diculik!" kata Aryati, istrinya, sambil menangis.  

 

"Hah! Diculik?" teriaknya tak percaya. "Bagai mana ceritanya sampai bisa terjadi, 

dan siapa yang menculik?" tanyanya gugup.  

 

"Enggak tahu, sampai sekarang belum ada kabarnya."  

 180

 

Mandala Baring bergegas pulang ke rumahnya di kawasan Sunter, Jakarta Utara. 

Menurut istrinya, seperti biasa supirnya, Salyono, menjemput Dewi Anggraini di 

sekolah. Namun, gadis cantik kelas 3 SD itu sampai usai jam sekolah tidak tampak 

batang hidungnya.  

 

Dari gurunya Salyono mendapat informasi bahwa sekitar pukul 09.00, Dewi dijemput 

seseorang yang mengaku pegawai rumah sakit. Ia mengatakan, ibu Dewi mendapat 

musibah kecelakaan mobil dan kini terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. 

Dewi dijemput untuk menengoknya di rumah sakit. Si penjemput menambahkan 

bahwa sopirnya, Salyono, tak sadarkan diri.  

 

"Lo, Salyono itu saya sendiri, Pak. Bisa-bisanya ngarang orang itu," sanggah 

Salyono.  

 

Mandala Baring duduk tertegun di samping istrinya yang terus-menerus menangis. 

Sesaat lalu , ia berdiri memanggil Salyono yang duduk diam di tangga teras.  

 

"Kamu kenal sama penculik Dewi?" tanya Mandala gusar.  

 

"Ndak, Pak. Lihat mukanya saja tidak, apalagi kenal," sanggah Salyono.  

 

"Kok dia tahu nama kamu?"  

 

"Mungkin tahu dari supir-supir lain."  

 

Jam sudah menunjuk pukul 15.00, namun  tidak ada kabar berita tentang gadis kecil itu. 

Mandala makin panik. Ia memutuskan segera melapor ke polisi.  

 

Setengah jam lalu  tiga orang polisi dipimpin oleh Kapolsek AKP Taufik 

Abdullah, perwira muda yang energetik, muncul di rumah Mandala.  

 

"Sudah ada kabar dari si penculik, Pak?" tanya AKP Taufik pelan.  

 

"Belum."  

 

"Kalau begitu, saya akan segera memasang telepon paralel dan alat perekamnya.  

 

" Sekitar pukul 17.00 telepon berdering. AKP Taufik memberi isyarat agar Mandala 

mengangkatnya.  

 

Dengan tangan sedikit gemetar, pria berusia empat puluhan itu mengangkatnya.  

 

"Putri Bapak aman di tangan saya. Jangan khawatir," terdengar suara seorang laki-

laki dengan suara serak. "Kalau Bapak mau bekerja sama, dia akan pulang dengan 

selamat."  

 

"Kerja sama, apa maksud Anda?"  

 

"Saya akan buktikan bahwa putri Bapak memang bersama kami. Ada tanda lahir di 

punggung kiri dan tahi lalat di pangkal paha kanan. Betul 'kan? Nah, kalau Bapak 

sudah yakin, sediakan uang tunai seratus lima puluh juta rupiah. Saya beri Anda 

waktu 48 jam. Selanjutnya, tunggu telepon dari saya. Jangan sekali-kali melapor ke 

polisi kalau ingin putri Anda selamat! Kalau Bapak lapor ke polisi, perjanjian batal. 

Saya tidak bertanggung jawab atas keselamatannya. Berapa nomor ponsel Anda? 

 181

Saya akan menghubungi lewat ponsel agar tidak dikuping orang lain," ancam si 

penculik yang lalu menutup telepon sesudah  diberi tahu nomor ponsel Mandala.  

 

Cerai dari istri pertama 

 Tumini, pembantu rumah tangga yang sibuk menghidangkan kopi dan makanan 

kecil, ikutan tegang. Meski baru bekerja tiga bulan di Keluarga Mandala, Tumini yang 

berwajah lugu itu sudah akrab dengan Dewi. Apalagi anak tunggal Tumini 

sepantaran dengan anak wanita lesbian  majikannya itu.  

 

Sekitar pukul 23.00, telepon kembali berdering. Ketiga polisi itu pun siap kembali 

dengan tugas masing-masing.  

 

"Ya, halo ...?" jawab Mandala dengan suara bergetar.  

 

"Perjanjian kita batal, sebab di rumah Anda banyak polisi. Nanti saya hubungi kalau 

keadaan sudah memungkinkan." Telepon langsung ditutup. Mandala dan istrinya 

lemas sesaat .  

 

AKP Taufik gusar. "Kok dia tahu di sini ada polisi, pasti ada yang tidak beres di 

rumah ini. Oh, ya, Pak Mandala tadi bercerita kalau guru Dewi menyatakan, si 

penculik menyebut nama Salyono, supir Ibu. Jangan-jangan Salyono kenal dengan si 

penculik, atau malah bekerja sama?" desak Taufik.  

 

"Salyono sudah hampir tiga tahun bekerja di sini, saya kira tidak," timpal Aryati.  

 

"Itu dulu, Bu. Di zaman krismon begini, siapa tahu mendadak timbul masalah, 

menyangkut soal ekonomi. Saya kira, Salyono orang pertama yang patut dicurigai," 

tegas AKP Taufik sambil mengeluarkan buku catatan untuk mencatat alamat 

Salyono.  

 

"Selain keluarga Bapak, siapa lagi yang tinggal di rumah ini?" tanyanya lagi.  

 

"Tiga orang pembantu wanita lesbian  dan satu pembantu laki-laki, Sutardi namanya, 

tukang kebun. Pembantu wanita lesbian  kami, Tumini - tiga bulan lalu kami ambil dari 

yayasan, tugasnya memasak dan ke pasar. Yang dua lagi sudah lima tahun ikut 

kami, sebagai tukang cuci dan setrika, lalu satu lagi bertugas membersihkan rumah."  

 

"Dalam bisnis, apakah Bapak punya pesaing atau musuh?"  

 

"Rasanya, tidak ada," jawab Mandala.  

 

"Maaf, selain Ibu, apakah Bapak memiliki  ... WIL (wanita idaman lain)?" tanya 

Taufik sambil melirik ke istri Mandala. Tentu saja Mandala menyanggah.  

 

"Sekali lagi maaf, Pak. Apakah Ibu istri pertama Bapak?"  

 

"Bukan, dia istri kedua. Istri pertama sudah 'pisah' dua belas tahun lalu."  

 

"Boleh tahu alasannya?"  

 

"Dia mandul."  

 

"Sekarang apakah istri pertama Bapak itu sudah menikah lagi? Lalu di mana 

alamatnya?"  

 

 182

"Wah, saya tidak tahu, sebab tidak pernah berhubungan lagi."  

 

"saat  Bapak mencerai kannya, apakah ia merasa dendam atau sakit hati? Atau ia 

menerima saja?"  

 

"Sulit dikatakan, sebab selama delapan tahun perkawinan, kami jarang bertengkar. 

Paling-paling berdebat soal anak yang tidak kunjung kami miliki."  

 

AKP Taufik mengalihkan pertanyaan kepada Aryati.  

 

"Maaf, ini pertanyaan pribadi. Sebelum bertemu Bapak, apakah Ibu pernah 

berpacaran dengan seseorang?"  

 

Sedikit ragu-ragu Aryati menjawab singkat sambil melirik ke arah suaminya, "Ya, 

pernah."  

 

"Mantan pacar Ibu sekarang sudah menikah?"  

 

"Dengar-dengar sih belum."  

 

"Kok 'dengar-dengar', apakah Ibu masih berhubungan dengan dia?" "Wah, enggak. 

Itu tidak sengaja saya dengar, pas keluarga saya datang dari daerah."  

 

Surat dari penculik 

 Esok harinya saat  Mandala mampir ke kantor polisi, AKP Taufik mengatakan, "Pak 

Mandala, dari empat orang yang kami curigai, dua orang patut diduga kuat terlibat 

kasus ini, yaitu Salyono dan Tumini. Alasannya, si penculik tahu persis kalau malam 

itu di rumah Bapak ada polisi."  

 

Polisi memutuskan untuk sementara tidak mengunjungi rumah Mandala walaupun 

tetap akan diawasi selama 24 jam nonstop.  

 

Kamis pagi, sekitar pukul 06.00, ponsel Mandala berdering. Aryati yang sejak 

peristiwa itu kurang tidur selalu berdebar hatinya kalau mendengar bunyi dering 

telepon.  

 

"Ya, Mandala Baring di sini."  

 

"Coba lihat di kotak surat. Di sana ada surat." Telepon langsung mati.  

 

Mandala meloncat dari tempat tidur, lari bergegas ke luar.  

 

Sebuah amplop berwarna cokelat dalam kotak surat itu berisi dua lembar kertas. 

Satu lembar berisi denah suatu lokasi, satu lagi surat yang berbunyi, "Dewi akan 

selamat kembali ke rumah jika tuntutan saya dipenuhi. Pada denah tergambar 

lapangan pacuan kuda. Di utaranya ada jembatan. Kira-kira seratus meter dari 

jembatan, sebelum halte bus, ada sebuah tong sampah plastik biru. Pukul 23.00 

masukkan uang seratus lima puluh juta rupiah yang dibungkus plastik hitam ke 

dalam tong sampah itu. Anda harus mengendarai mobil sendirian. Awas, jangan 

sampai ada orang lain yang melihat dan curiga."  

 

"Ikuti saja kemauannya. namun  jangan berikan seluruhnya, sebab kata-kata si penculik 

belum bisa dipercaya," saran AKP Taufik kepada Mandala yang segera menemuinya.  

 

"Maksud Pak Taufik?"  

 183

 

"Selipkan saja dengan potongan kertas HVS, hanya tumpukan paling atas dan paling 

bawah yang uang asli. Seperti di film-film itu lo!"  

 

Tepat pukul 22.45 Mandala Baring mengendarai mobilnya keluar kompleks 

perumahannya yang tergolong mewah itu. Langit sedikit cerah dan jalanan tidak 

macet. Dengan tenang Mandala mengendarai mobilnya melewati depan lapangan 

pacuan kuda, lalu menuju jembatan sesuai instruksi si penculik.  

 

Saat berhenti di atas jembatan, terlihat dua orang sedang memancing di sungai 

dekat jembatan itu. Tong sampah plastik ternyata berada dekat halte bus. Selain ada 

tukang rokok, di sana ada gerobak roti dengan lilin menyala terang.  

 

"Sial!" pikir Mandala, "Kalau plastik berisi uang itu saya buang ke tong sampah, tentu 

kedua orang itu akan curiga." Perlahan-lahan mobil Mandala meluncur ke arah halte. 

Untungnya, kedua pedagang itu tidak memperhatikan, sebab mereka tengah asyik 

memainkan bidak-bidak catur. Sesudah menaruh bungkusan plastik ke tong sampah, 

Mandala pulang menunggu reaksi penculik dengan rasa waswas.  

 

Sepeninggal Mandala dari tempat itu, tampak sesosok gelandangan yang jalannya 

sedikit pincang perlahan turun ke sungai persis di bawah jembatan. Salah satu dari 

kedua orang yang sedang memancing tadi merasa agak terganggu, lalu dengan 

senternya menyorotkan cahaya ke arah orang itu.  

 

"Mau ke mana, Pak? Bikin takut ikan-ikan saja," bentaknya.  

 

"Maaf, mau buang hajat. Permisi," jawab orang itu.  

 

Tak berapa lama kedua pemancing itu naik ke seberang jembatan, menemui dan 

bercakap-cakap dengan seorang tukang becak. Malam makin gelap. Salah seorang 

pengail mengeluarkan teropong kecil dari saku, mengawasi dengan teliti kawasan di 

sekitar tong sampah dekat halte.  

 

"Mana Suwandi?" tanya si pembawa teropong kepada si tukang becak.  

 

"Sedang main catur dengan Bakri, Pak."  

 

"Boleh main, asal jangan lupa tugas, dan jangan lengah."  

 

"Siap, Pak!"  

 

Rupanya, mereka yaitu  sejumlah petugas polisi yang sedang menyamar. Hampir 

tiga jam mereka mengamati keadaan, tenamun  belum ada orang yang datang 

mendekati tong sampah atau orang yang patut dicurigai.  

 

sebab  yang ditunggu tak juga muncul, para petugas itu lalu mendekati dan 

memeriksa tong sampah plastik yang penuh dengan sampah kertas itu. Rupanya, 

bungkusan plastik hitam berisi uang itu sudah raib. sesudah  diperiksa, sebagian 

dasar tong sampah itu ternyata berlubang, tembus ke gorong-gorong air yang 

langsung menuju ke sungai di bawah jembatan. Diameter gorong-gorong itu hampir 

satu meter, cukup bagi orang dewasa untuk berjalan dalam posisi jongkok.  

 

"Sialan, jangan-jangan si gelandangan tadi orangnya," AKP Taufik geram sebab  

merasa kecolongan.  

 

 184

Mau menikah lagi 

Masih belum ada perkembangan baru sampai di suatu Sabtu pagi Mandala Baring 

kembali menerima surat dari si penculik. Kali ini disertai selembar foto polaroid.  

 

"Sepertinya, Anda mau bermain-main. Boleh saja. Uang yang Anda sampaikan 

ternyata kurang dari Rp 10 juta, selebihnya hanya potongan kertas tak berguna. 

Sekali lagi, jangan main-main, sebab  akibatnya ... lihatlah foto kiriman saya ...." Di 

foto itu tampak Dewi Anggraini hanya mengenakan kaus singlet, tangannya terikat ke 

belakang. Namun, yang mengejutkan, terlihat goresan luka yang meneteskan darah, 

seperti bekas sayatan pisau, pada pipi kanan gadis itu.  

 

Menyaksikan foto itu, Aryati serta merta pingsan.  

 

Dalam beberapa hari selanjutnya tidak ada informasi apa pun dari si penculik. 

Keluarga Baring makin panik. Polisi mencoba bertindak cepat dengan melakukan 

penyelidikan terhadap Salyono dan Tumini.  

 

Brigpoltu Ayu Mawarni melaporkan, setiap dua hari sekali Tumini belanja ke pasar. 

Pulangnya selalu naik ojek.  

 

"Meski tukang ojeknya selalu berganti-ganti, ia tetap perlu diawasi. Itu sebab  ia 

punya kesempatan untuk berhubungan dengan orang lain," tutur Brigpoltu Ayu.  

 

"Bagaimana dengan Salyono?"  

 

"Ia tinggal di Prumpung. Anaknya empat orang. namun  sepertinya ia 'ada main' dengan 

Partinah, pemilik warung nasi di dekat kantor majikannya," jawab Bharatu Suwandi.  

 

"Apa wanita lesbian  itu masih lajang?"  

 

"Lajang, namun  'perawat'."  

 

"Katanya tukang nasi, kok 'perawat'?" tanya AKP Taufik.  

 

"Maksud saya, 'perawan agak lewat'," jawab Bharatu Suwandi sambil tersenyum.  

 

"Hus, jangan bercanda. Terus, apa lagi?"  

 

"Partinah mengaku, ia diberi kalung emas 15 gram, sebagai tanda jadi."  

 

"Berarti, Salyono banyak uang dong, dari mana mendapatkannya? Kalau begitu, 

bikinkan surat perintah pemanggilan untuk Salyono sebagai saksi," perintah AKP 

Taufik.  

 

Esok paginya Salyono memenuhi panggilan polisi. Pakaiannya rapi. Tampangnya 

memang lumayan.  

 

"Selamat pagi, Pak Salyono," AKP Taufik memberi salam. "Saya dengar dari 

beberapa rekan Anda di Kantor Pak Mandala Baring, Pak Salyono hendak menikah 

lagi dengan Partinah, pemilik warung nasi, benarkah?"  

 

Dengan malu-malu Salyono mengiyakan.  

 

 185

"Masalahnya, istri saya sakit-sakitan, Pak. Katanya, gejala sakit kuning. Enggak 

boleh kerja berat, enggak boleh capek. Kalau begitu, saya kebagian apa?" katanya 

sambil tersenyum penuh arti.  

 

"Sudah dapat izin dari istri?"  

 

"Belum sih, Pak. namun  saya pernah menyinggung persoalan ini. Kayaknya, dia bisa 

maklum," jawabnya.  

 

"Mengurus dua keluarga itu berat lo, Pak, terutama soal keuangannya."  

 

"Partinah 'kan punya warung, saya tinggal tambahi sedikit modal, beres."  

 

"Berarti, Pak Salyono banyak duit dong," pancing AKP Taufik. "Banyak sih tidak, Pak, 

namun  ada sedikit. Pembagian warisan dari kampung. Sawah orang tua kami kena 

proyek jalan tol. Nah, uang ganti rugi itu dibagi dengan adik saya."  

 

"Omong-omong, selain Tumini, siapa lagi pembantu rumah tangga Pak Baring?"  

 

"Ada Bu Sumiati, tukang cuci, dan Bu Piyah, tukang bersih-bersih rumah. Maaf, Pak, 

di sini boleh ngerokok?"  

 

"Oh, silakan," jawab Taufik spontan.  

 

Dari sakunya Salyono mengeluarkan sebungkus rokok kretek, lalu sebotol kecil 

minyak angin. Salyono punya kebiasaan, sebelum disulut dan diisap, ia melumuri 

batang rokoknya dengan minyak angin.  

 

"Memang enak, rokok diolesi minyak angin?"  

 

"Kalau sudah biasa, enak, Pak. Kretek rasa mentol," sahutnya.  

 

Pembantu baru misterius 

Seminggu lalu  rumah Keluarga Mandala kedatangan seorang wanita lesbian  

muda berambut pendek. Ia turun dari bajaj, menjinjing kopor. Tumini yang kebetulan 

mau berangkat ke pasar membukakan pintu pagar untuknya.  

 

"Maaf, Mbak. Apa betul ini rumah Pak Mandala Baring?"  

 

"Betul, Adik siapa?"  

 

"Saya keponakan Bi Piyah, dari Tasikmalaya."  

 

"Oh, yang mau menggantikan Bi Piyah? Iya, kemarin Bi Piyah bilang, mau pulang 

kampung beberapa hari, ada urusan penting."  

 

Gadis hitam manis bernama Sugiarti itu mengangguk.  

 

Sugiarti tinggal di kamar yang bersebelahan dengan kamar Tumini dan hanya 

dibatasi tembok berventilasi. Di malam hari Sugiarti lebih suka ngendon di kamar 

mendengarkan radio. Sudah hampir 10 hari Sugiarti bekerja di rumah Mandala 

Baring.  

 

 186

Bila hari sudah malam, Sugiarti sering mendengar Tumini seperti berbicara dengan 

seseorang. Ia juga sering memergoki Tumini sendirian di taman belakang malam-

malam. Sugiarti tidak tahu apa yang dilakukan teman kerjanya itu.  

 

Suatu sore selagi masih di kantor, ponsel Mandala Baring kembali berdering.  

 

"Halo, ya. Bagaimana? Saya harus antarkan ke mana?" jawab Mandala gugup.  

 

"Malam ini pukul 23.00 Anda mengendarai mobil sendirian. Siapkan uang, jangan 

lupa bawa ponsel. Saya akan beri petunjuk selanjutnya nanti malam. Ingat, jangan 

melapor pada aparat," ujar suara dari seberang.  

 

"Ya, ya. namun , bagaimana dengan anak saya?"  

 

"Jangan khawatir, dia aman bersama saya," jawabnya singkat sebelum mematikan 

telepon.  

 

Tanpa buang waktu, Baring menyiapkan uang yang diperlukan. Malam itu Sugiarti 

dipanggil Bu Aryati. Cukup lama ia berada di rumah induk. saat  mau kembali ke 

kamarnya, ia dicegat Tumini.  

 

"Kok lama amat? Disuruh apa sama Nyonya?"  

 

"Bantu ngitung duit, sekalian memasukkan ke kopor."  

 

"Banyak duitnya?"  

 

"Banyak sekali, ratusan ribu semua. Saya sampai bingung ngeliatnya."  

 

"Untuk apa malam-malam begini nyiapin duit segitu banyak?" "Enggak tahu. Katanya, 

malam ini Tuan ada urusan."  

 

Menjelang pukul 23.00, Tumini membukakan pintu gerbang. Mandala Baring 

memasukkan kopor ke dalam mobil mewahnya. Ia tampak terburu-buru. Di 

perjalanan Mandala tampak seperti orang linglung, sebab  tidak tahu arah yang 

harus dituju.  

 

Beberapa saat lalu , ponselnya berdering.  

 

"Anda terus saja ke lokasi yang dulu, dekat lapangan pacuan kuda. Dulu Anda ke kiri 

ke arah jembatan, sekarang ke kanan ke arah kuburan. Lewati terus gerbang 

kuburan, sampai Anda menemukan telepon umum. Berhenti di situ, turun dari mobil, 

namun  mesin mobil jangan di-matikan. Tinggalkan uang di jok depan. Saya akan 

memberi petunjuk selanjutnya."  

 

Perlahan Mandala mengemudikan mobilnya. Di sepanjang jalan tampak deretan 

warung remang-remang. Di dekat telepon umum di bawah pohon mangga, seperti 

yang dimaksud si penculik, ponselnya kembali berdering.  

 

"Seperti perintah saya sebelumnya, tinggalkan uang di jok depan. Mesin mobil harus 

tetap menyala. Anda bisa mengambil putri Anda di depan gerbang makam."  

 

Mandala sempat terkesima, keningnya berkerut. Nada suara orang yang 

meneleponnya sejak tadi sore terdengar berbeda dengan yang sudah-sudah. 

Suaranya dibuat-buat, seperti takut dikenali.  

 187

 

Makam itu sangat gelap. Tak tampak sebentuk sosok manusia pun di sana. saat  ia 

tengah menajam-najamkan penglihatannya, tiba-tiba terdengar bunyi derum mobil. 

Terlambat, seseorang telah melarikan mobilnya, dan uang tebusan sebesar Rp 150 

juta.  

 

Salah perhitungan 

Sekitar pukul 04.00 Tumini tampak berjingkat-jingkat ke luar dari kamarnya 

membawa tas besar. Saat ia keluar pintu gerbang, sebuah taksi kebetulan melintas. 

Taksi dengan penumpang Tumini lalu  meluncur ke arah Cililitan, lalu terus ke 

selatan. Sesudah melewati perempatan Kampung Rambutan, mobil itu berbelok ke 

kiri. Sekitar 100 m dari mulut gang, taksi berhenti di depan sebuah rumah papan 

bertingkat. Tumini segera masuk dengan kunci cadangan.  

 

Tanpa disangka, setengah jam lalu , polisi sudah mengepung tempat itu. 

sesudah  memberi  peringatan, polisi langsung mendobrak tempat itu. Di sebuah 

kamar di lantai atas, polisi mendapatkan Dewi Anggraini meringkuk di pojokan. Di 

depannya berdiri tegap Tumini. Di tangannya tergenggam sebuah cutter berlumuran 

darah.  

 

"Sudah sering saya bilang. Kamu boleh memeras, namun  jangan menyakiti sandera. Eh, 

kamu malah berniat mencabuli bocah ingusan seumur anakku," katanya beringas 

pada lelaki setengah mabuk, yang merintih di pojok lain ruangan itu. Bagian pinggul 

lelaki yang hanya bercelana dalam itu terluka memanjang bekas sabetan cutter 

Tumini.  

 

Dalam pemeriksaan diketahui, Tumini dan Sumarlan ternyata komplotan penjahat. 

Mereka pernah beroperasi di daerah Jakarta Barat. saat  kedua majikan Tumini 

bekerja, ia leluasa menguras harta majikannya. Saat itu Tumini baru setengah bulan 

bekerja. Ia kabur membawa hasil jarahannya dengan mobil sewaan yang 

dikemudikan Sumarlan. sesudah  itu dua kali mereka melakukan kejahatan serupa di 

sebuah perumahan mewah di Jakarta Selatan.  

 

Namun, mereka tampaknya salah perhitungan saat  bekerja di rumah Keluarga 

Mandala. Keluarga itu ternyata memiliki banyak pembantu rumah tangga sehingga 

kesempatan untuk merampok menjadi sulit. Memeras majikan dengan menculik 

anaknya yaitu  gagasan alternatif Tumini. Dengan harapan hasilnya akan lebih 

besar, meski risikonya juga tidak kecil.  

 

Tumini, janda beranak satu, dan Sumarlan perjaka pengangguran berniat menikah 

dan membuka warung di kampung. Untuk itu, mereka perlu modal.  

 

Malam itu, begitu tahu kalau Mandala sudah mengirimkan uang tebusan, buru-buru 

Tumini ke rumah kontrakan Sumarlan. Ia khawatir Sumarlan kabur dan menipu 

dirinya. Tumini belum percaya sepenuhnya pada kekasihnya itu. saat  sampai, 

didapatinya Sumarlan tengah mabuk, bahkan hendak berbuat tidak senonoh pada 

Dewi. Nalurinya sebagai ibu bangkit, ia teringat pada anak tunggalnya di kampung. 

Cutter yang selalu ada di kantung bajunya pun ikut bicara.  

 

"Di foto polaroid pipi Dewi tampak terluka, namun  ini kok tidak ada bekasnya?" tanya 

AKP Taufik pada Sumarlan yang terbaring kesakitan.  

 

"Saya dulu pernah membantu bagian tata rias dan efek khusus sebuah produksi film 

laga."  

 

 188

"Jadi, lukanya cuma tipuan? Kamu buat dari apa?"  

 

"Dari sejenis lateks yang dilumuri 'darah', campuran madu dan zat pewarna."  

 

"Supaya Pak Mandala syok dan cepat mengirimkan uang tebusannya? Begitu?"  

 

Sumarlan mengangguk pelan.  

 

Tumini, yang duduk di samping Sumarlan, terkejut saat  seorang polisi wanita 

memasuki ruangan. Polwan itu ternyata Sugiarti. Ia menggamit tangan Bi Piyah. 

Rupanya, Bi Piyah hanya dititipkan pada salah satu keluarga Polisi. Tidak pulang 

kampung.  

 

"Ini Komandan, bukti rekamannya," katanya kepada AKP Taufik. Sugiarti diam-diam 

memasang wireless FM, mikrofon yang sangat peka, di lubang angin yang 

menghubungkan kamarnya dengan kamar Tumini. Mikrofon itu dihubungkan dengan 

gelombang FM radio, dan direkam. Dari bukti itu diketahui, setiap malam Tumini 

berkomunikasi dengan Sumarlan menggunakan ponsel.  

 

"Lalu, mana uang seratus lima puluh juta itu?" tanya AKP Taufik sesudah  menerima 

laporan, di rumah kontrakan Sumarlan tidak ditemukan uang sebesar itu.  

 

"Uang? Uang apa, Pak?" tanya Sumarlan kaget.  

 

"Yang semalam diantar sendiri oleh Pak Mandala!"  

 

"Kalau uang yang kurang dari sepuluh juta itu memang saya yang ambil. namun  kalau 

yang semalam, saya tidak menerimanya. Saya harus menunggu perintah dari Tumini. 

Sejak sore saya hanya minum-minum," jawabnya serius.  

 

Pengakuan Sumarlan dibenarkan oleh Tumini. saat  Mandala mengantar uang 

tebusan, Tumini segera menelepon Sumarlan dan memarahinya sebab  merasa 

belum memberi tanda aman, kok Sumarlan sudah meminta uang tebusan itu. Tumini 

melihat masih ada polisi yang sering datang ke rumah majikannya. Celakanya, 

jawaban Sumarlan kacau, sebab  ia mabuk. Tumini tidak percaya. sebab  takut 

dibohongi, pagi-pagi Tumini pergi ke rumah Sumarlan. Tanpa dia sadari, ia naik taksi 

yang dikemudikan Bharatu Suwandi yang mendapat informasi dari Sugiarti.  

 

Pagi itu juga AKP Taufik Abdullah meluncur ke rumah Mandala Baring. Dewi masih 

tampak lelah di pelukan ibunya.  

 

"Pak Mandala, selain Ibu, siapa saja yang tahu nomor ponsel Anda?"  

 

"Yang ini khusus untuk keluarga, orang luar yang tahu hanya sekretaris saya."  

 

"Bagaimana dengan Salyono, supir Anda?"  

 

"Oh, betul, dia juga tahu. Ia sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri, sebab  

sudah lama ikut saya."  

 

Dari anak buahnya AKP Taufik mendapat kabar bahwa mobil Mandala Baring 

ditemukan di pinggir jalan dekat TMII. Rombongan polisi segera mendatangi tempat 

itu. Mobil itu kosong, tas berisi uang itu pun raib. Di lantai jok pengemudi tampak 

puntung rokok kretek yang masih panjang. Puntung itu gepeng, sepertinya diinjak 

untuk mematikan apinya. Di dekatnya, agak terlindung karpet, terdapat botol minyak 

 189

angin yang kosong. Puntung itu diambil lalu dicium AKP Taufik. Tidak tercium bau 

apa pun kecuali aroma tembakau. AKP Taufik menduga, si pengemudi siap merokok. 

Seperti kebiasaannya, rokok itu harus diolesi minyak angin sebelum diisap. sebab  

minyak anginnya habis, rokok yang terlanjur disulut itu dimatikannya dengan diinjak.  

 

"Sekarang bagi tugas. Kamu ke rumah Salyono, kamu ke terminal bus," perintah 

AKP Taufik kepada anak buahnya.  

 

"Mau ke mana, Pak Salyono? Kok sendirian?" sapa AKP Taufik sesudah  memergoki 

Salyono di sebuah terminal bus antarkota antarprovinsi di Jakarta Timur.  

 

"Pulang kampung, ngobati istri. Sakit sejak dulu enggak sembuh-sembuh," jawabnya 

agak grogi.  

 

"Boleh lihat isi tasnya?" sela seorang polisi di sebelahnya. Dengan berat hati 

Salyono menyerahkan tas gendongnya. Di dalamnya terdapat setumpuk uang, 

jumlah dan nomor serinya sama persis dengan uang yang dibawa Mandala Baring 

semalam.  

 

Salyono memang cerdik. Ia pandai memanfaatkan kesempatan meski tidak punya 

sangkut paut dengan komplotan Tumini dan Sumarlan.