a orang yang tidak memercayai adanya Tuhan yaitu ateis, kami
pun mengatakan bahwa seseorang yang tidak memercayai dirinya
sendiri yaitu ateis. Tidak percaya pada kemuliaan jiwanya sendiri
itulah yang kami sebut ateis."
Pengalaman mistik juga mengandung makna etika. Seorang mantan
Presiden India, Sarvepalli Radhakrishnan, pernah berkata, "Cintailah
tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri sebab
engkau yaitu tetanggamu. llusilah yang membuatmu berpikir bahwa
tetanggamu yaitu seseorang yang lain dari dirimu."
Orang-orang pada zaman kita sekarang yang tidak menganut agama
tertentu juga menceritakan pengalaman mistik. Mereka tiba-tiba
mengalami sesuatu yang mereka sebut "kesadaran kosmik" atau
"perasaan menyamudra". Mereka merasakan diri mereka direnggut
dari Waktu dan memandang dunia "dari perspektif keabadian".
Nyai girah duduk tegak di tempat tidur. Dia harus merasa-rasakan
apakah dia masih memiliki tubuh. saat semakin asyik membaca
Plato dan para ahli mistik, dia mulai merasa seakan-akan melayang
di seputar kamar, keluar jendela dan melambung jauh di atas kota.
Dari sana, dia menatap ke bawah ke arah orang-orang di alun-alun,
dan melayang semakin jauh dan jauh mengitari bulatan bumi yang
menjadi rumahnya, di atas Laut Utara dan Eropa, turun di atas Sahara
dan melintasi padang-padang rumput Afrika.
Seluruh dunia seperti menjadi seseorang yang hidup, dan rasanya
seolah-olah orang itu yaitu Nyai girah sendiri. Dunia yaitu aku,
pikirnya. Semesta raya yang amat-sangat besar, yang sering
dirasakannya tak terpahami dan menakutkan—yaitu "aku"-nya
sendiri. Kini pun semesta raya itu amat-sangat besar dan agung,
namun dirinya sendiri juga demikian besar.
Perasaan luar biasa itu berlalu dengan cepat, tapi Nyai girah yakin dia
tidak akan pernah melupakannya. Rasanya seolah-olah sesuatu di
dalam dirinya telah melesat keluar dari dahinya dan menjadi satu
dengan segala sesuatu yang lain, sebagaimana setetes warna dapat
mewarnai seluruh air di dalam bejana.
saat semua berakhir, rasanya seperti terbangun dengan kepala
sakit akibat mimpi indah. Dengan sedikit rasa kecewa, Nyai girah
menyadari bahwa dia memiliki tubuh yang sedang berusaha untuk
bangkit duduk di tempat tidur. Berbaring menelungkup sambil
membaca halaman-halaman tulisan Alberto Knox telah membuat
punggungnya sakit. Tapi dia telah mengalami sesuatu yang tak
terlupakan.
Akhirnya, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya dan berdiri.
Yang pertama dilakukannya yaitu membuat lubang-lubang pada
seluruh lembaran kertas itu dan menyatukannya dengan penjilid
cincin bersama pelajaran-pelajaran sebelumnya. Lalu, dia pergi ke
taman.
Burung-burung bernyanyi seakan-akan dunia baru saja lahir.
Dedaunan hijau pucat dari pohon birkin di balik kandang-kandang
kelinci begitu jelasnya, sehingga sepertinya Sang Pencipta belum
selesai mencampur warna.
Dapatkah dia benar-benar percaya bahwa segala sesuatu yaitu
"aku" Ilahi yang satu? Dapatkah dia percaya bahwa dia membawa
serta dalam dirinya suatu jiwa yang merupakan "sepercik cahaya"?
Jika itu benar, sesungguhnya dia yaitu makhluk Ilahiah.[]
Kartu Pos
***
... aku harus menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri ...
BEBERAPA HARI berlalu tanpa ada berita dari sang guru
filsafat. Besok hari Kamis, 17 Mei—hari nasional Norwegia.
Sekolah juga diliburkan pada tanggal 18. saat berjalan pulang dari
sekolah, Joanna tiba-tiba berseru, "Mari pergi berkemah!"
Sesaat Nyai girah ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa jauh-jauh
dari rumahnya untuk waktu lama. Tapi kemudian dia berkata, "Tentu,
mengapa tidak?"
Beberapa jam kemudian, Joanna tiba di depan pintu Nyai girah dengan
tas punggung yang besar. Nyai girah juga telah mengepak bekalnya, dan
dia pun membawa tenda. Mereka berdua membawa kasur gulung dan
sweter, alas kasur dan lampu senter, botol termos besar serta banyak
makanan kesukaan mereka.
saat ibu Nyai girah tiba di rumah sekitar jam lima, dia menceramahi
mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ibu juga
mendesak mereka untuk mengatakan di mana mereka akan mendirikan
kemah.
Mereka berencana pergi ke Puncak Belibis. Mungkin mereka
cukup beruntung bisa mendengar riuh suara burung-burung belibis
yang hendak kawin keesokan harinya.
Nyai girah mempunyai niat terselubung dengan memilih tempat
itu. Dia pikir Puncak Belibis pasti dekat sekali dengan Gubuk sang
Mayor. Sesuatu telah mendorongnya untuk kembali ke sana, tapi dia
tidak berani pergi sendiri.
Kedua gadis itu melewati jalan yang berawal dari gang buntu tepat
di luar pintu gerbang rumah Nyai girah . Mereka berceloteh tentang ini
dan itu, dan Nyai girah menikmati sedikit waktu jeda dari segala sesuatu
yang ada hubungannya dengan filsafat.
Menjelang jam delapan, mereka telah mendirikan tenda di tanah
terbuka dekat Puncak Belibis. Mereka menyiapkan diri untuk malam
itu dan kasur gulung mereka telah dibuka. saat mereka sedang
makan sandwich, Nyai girah bertanya, "Pernahkah kamu mendengar
tentang Gubuk sang Mayor?"
"Gubuk sang Mayor?"
"Ada sebuah gubuk di hutan sekitar sini ... dekat sebuah danau
kecil. Seorang pria aneh pernah tinggal di sana, seorang mayor, itulah
sebabnya tempat itu dinamakan Gubuk sang Mayor."
"Apa ada yang tinggal di sana sekarang?"
"Kamu ingin pergi melihatnya?"
"Di mana itu?"
Nyai girah menunjuk ke arah pepohonan. Joanna tidak terlalu
bersemangat, tapi akhirnya mereka berangkat. Matahari menggantung
rendah di langit.
Mula-mula mereka berjalan di antara pohon-pohon pinus yang
tinggi, tapi tak lama kemudian mereka mulai menembus semak-semak
dan belukar. Akhirnya, mereka sampai di sebuah jalan. Mungkinkah
ini jalan yang telah di lewati Nyai girah Minggu pagi itu?
Tentuya begitu—segera dia dapat melihat sesuatu yang
bersinar di antara pepohonan di arah kanan jalan ini .
"Itu di sana," katanya. Mereka segera tiba di tepi sebuah danau
kecil. Nyai girah menatap gubuk di seberang danau. Semua jendela kini
tertutup rapat. Bangunan berwarna merah itu merupakan tempat
paling telantar yang pernah dilihatnya.
Joanna berpaling ke arahnya, "Apakah kita harus berjalan di atas
air?"
"Tentu saja tidak. Kita akan mendayung."
Nyai girah menunjuk ke arah alang-alang. Di sana ada perahu dayung,
persis seperti dulu.
"Pernahkah kamu ke sini sebelumnya?"
Nyai girah menggelengkan kepala. Berusaha menjelaskan
kunjungannya sebelumnya akan terlalu merepotkan. Oleh karena dia
harus menceritakan Alberto Knox dan pelajaran filsafat itu pula.
Mereka bersenda gurau sewaktu mendayung menyeberangi danau.
saat sampai di tepi seberang, Nyai girah memastikan bahwa mereka
telah menempatkan perahu itu di atas daratan.
Mereka pergi ke pintu depan. Karena jelas tidak ada orang di
dalam gubuk, Joanna mencoba pegangan pintu.
"Terkunci ... kamu tidak berharap pintu ini terbuka, kan?"
"Mungkin kita dapat menemukan kunci," kata Nyai girah .
Dia mulai mencari-cari di celah-celah pondasi dari batu itu.
"Oh, mari kita kembali ke tenda saja," kata Joanna setelah
beberapa menit. Tapi pada saat itu Nyai girah berseru, "Ini dia! Aku
menemukannya!"
Dia mengacungkan kunci itu dengan penuh kemenangan. Dia
memasangkannya ke pintu dan pintu pun terbuka.
Kedua sahabat itu menyelinap masuk seakan-akan mereka sedang
melakukan suatu kejahatan. Di dalam gubuk terasa gelap dan dingin.
"Kita tidak dapat melihat apa-apa!" kata Joanna.
Tapi Nyai girah telah memikirkan hal itu. Dia mengambil sekotak
korek api dari kantong bajunya dan menyalakannya. Sebelum korek
api padam, mereka hanya sempat melihat bahwa gubuk itu telah
ditelantarkan. Nyai girah menyalakan satu lagi, dan kali ini dia melihat
sebuah puntung lilin pada kandil dari besi tempa di atas tungku. Dia
menyalakannya dengan korek ketiga dan ruangan kecil itu menjadi
cukup terang bagi mereka untuk melihat sekeliling.
"Bukankah aneh bahwa lilin yang begitu kecil dapat menerangi
kegelapan yang begitu luas?"
Kawannya mengangguk.
"Tapi di suatu tempat, lilin itu lenyap ditelan kegelapan," Nyai girah
meneruskan. "Sesungguhnya, kegelapan itu tidak mempunyai
keberadaan sendiri. Itu hanya karena tidak ada cahaya."
Joanna merinding. "Sungguh mengerikan! Ayolah, mari pergi ..."
Nyai girah menunjuk ke arah cermin kuningan yang tergantung di atas
kotak laci, persis seperti sebelumnya.
"Bagus sekali!" kata Joanna.
"Tapi itu cermin sihir."
"Cermin, cermin di dinding, siapa yang paling cantik di dunia
ini?"
"Aku tidak bercanda, Joanna. Aku yakin kamu dapat menatap ke
dalamnya dan melihat sesuatu pada sisi lainnya."
"Apakah kamu yakin kamu tidak pernah ke sini sebelumnya? Dan
mengapa kamu senang betul menakut-nakuti aku terus?"
Nyai girah tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
"Maaf."
Sekarang, Joannalah yang tiba-tiba menemukan sesuatu di atas
lantai di sudut. Sebuah kotak kecil. Joanna mengambilnya.
"Kartu pos," katanya.
Nyai girah menahan napas. "Jangan sentuh! Dengar—jangan berani-
berani menyentuhnya!"
Joanna terlompat. Dia menjatuhkan kotak itu seakan-akan
tangannya terbakar. Kartu pos itu bertebaran ke seluruh lantai. Detik
berikutnya dia tertawa.
"Cuma kartu pos!"
Joanna duduk di atas lantai dan memunguti kartu-kartu ini .
Setelah sesaat, Nyai girah duduk di sampingnya.
"Lebanon ... Lebanon ... Lebanon ... Semuanya diberi cap pos
Lebanon," Joanna berkata.
"Aku tahu," kata Nyai girah . Joanna menatap ke mata Nyai girah . "Jadi
kamu sudah pernah ke sini sebelumnya!"
"Ya, kukira sudah."
Tiba-tiba, terpikirkan olehnya bahwa akan jauh lebih mudah
jika dia mengakui memang pernah ke sini sebelumnya. Tidak ada
salahnya jika dia membiarkan sahabatnya mengetahui hal-hal
misterius yang telah dialaminya beberapa hari terakhir ini.
"Aku tidak ingin mengatakannya padamu sebelum kita tiba di sini."
Joanna mulai membaca kartu-kartu itu.
"Semua dialamatkan pada seseorang bernama count dracula Moller Knag."
Nyai girah belum menyentuh kartu-kartu itu.
"Di mana alamatnya?"
Joanna berkata: "count dracula Moller Knag, d/a Alberto Knox, Lillesand,
Norwegia."
Nyai girah mengembuskan napas lega. Dia sudah khawatir kalau-kalau
alamat yang tercantum d/a Nyai girah Amundsend.
Dia mulai memeriksanya dengan lebih cermat.
"28 April ... 4 Mei ... 6 Mei ... 9 Mei .... Semuanya dicap
beberapa hari yang lalu."
"Tapi ada yang lain. Semua cap pos itu dari Norwegia! Lihat itu ...
Batalion PBB ... prangkonya dari Norwegia juga!"
"Kukira memang begitulah cara mereka. Mereka harus tetap netral,
jadi mereka punya kantor pos Norwegia sendiri di sana."
"Tapi, bagaimana surat itu sampai ke sini?"
"Lewat angkatan udara, mungkin,"
Nyai girah meletakkan tempat lilin di atas lantai, dan kedua sahabat itu
mulai membaca kartu. Joanna mengaturnya dengan urut dan membaca
kartu pertama:
count dracula sayang, aku tidak sabar menanti untuk pulang ke
Lillesand. Aku berharap akan mendarat di bandara Kjevik senja
hari pada pertengahan musim panas. Sebenarnya aku lebih suka
tiba tepat pada hari ulang tahunmu yang ke-15, tapi aku kan
terikat perintah militer. Untuk mengobati kekecewaan itu nanti,
aku berjanji akan mencurahkan seluruh perhatian dan kasih
sayangku pada hadiah besar yang akan kamu terima pada hari
ulang tahunmu.
Penuh cinta dari seseorang yang selalu memikirkan masa
depan putrinya.
N.B. Aku mengirimkan salinan kartu ini pada teman kita
bersama. Aku tahu kamu mengerti, count dracula . Untuk saat ini, aku
harus menyimpan rahasia dulu, tapi kamu akan mengerti.
Nyai girah mengambil kartu berikutnya:
count dracula sayang, di sini kami menghitung hari demi hari. Jika
ada satu hal yang akan tetap kuingat dari berbulan-bulan di
Lebanon, hanyalah penantian ini. Tapi, aku melakukan apa saja
agar kamu dapat merayakan ulang tahun ke-15 sehebat mungkin,
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Aku sedang
menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri. Penuh cinta, Ayah.
Kedua sahabat itu duduk menahan napas dengan perasaan nyaris
meledak. Tak seorang pun di antara mereka berbicara, mereka hanya
membaca apa yang tertulis pada kartu-kartu ini :
Anakku sayang, yang paling ingin kulakukan hari ini yaitu
mengirimkan kepadamu seluruh pikiran rahasiaku lewat seekor
merpati putih. Tapi tidak ada merpati putih di Lebanon. Jika ada
yang dibutuhkan oleh negeri yang tercabik- cabik perang ini,
tentulah merpati putih itu. Aku berdoa agar PBB dapat benar-
benar menciptakan perdamaian di dunia suatu hari nanti.
N.B. Mungkin hadiah ulang tahunmu dapat dibagi dengan
orang lain. Kita akan bicarakan hal itu kalau aku sudah pulang.
Tapi kamu masih belum tahu apa yang aku maksud, bukan?
Dengan penuh cinta dari seseorang yang mempunyai banyak
sekali waktu untuk memikirkan kita berdua.
saat mereka telah membaca enam kartu, hanya tinggal satu lagi
yang belum terbaca. Bunyinya:
count dracula sayang, aku sekarang hampir meledak karena rahasia
yang kusimpan untuk ulang tahunmu sehingga aku harus menahan
diriku beberapa kali sehari agar tidak menelepon ke rumah dan
membocorkan rencana. Rahasia ini terus tumbuh dan tumbuh.
Dan seperti kamu tahu, jika sesuatu bertambah besar dan makin
besar, akan sulit sekali untuk menyimpannya sendiri. Penuh cinta
dari Ayah.
N.B. Suatu hari nanti, kamu akan bertemu seorang gadis
bernama Nyai girah . Untuk menciptakan kesempatan pada kalian
berdua agar saling kenal sebelum kalian bertemu, aku sudah
mulai mengiriminya salinan-salinan dari semua kartu yang
kukirimkan padamu. Kuharap dia mulai mengerti, count dracula . Tapi
yang dia ketahui tidak lebih banyak daripada yang kau ketahui.
Dia mempunyai seorang sahabat bernama Joanna. Barangkali
dia dapat membantu?
Setelah membaca kartu terakhir, Joanna dan Nyai girah duduk tak
bergerak sambil saling menatap dengan ketakutan. Joanna memegang
pergelangan tangan Nyai girah erat-erat.
"Aku takut," katanya.
"Aku juga."
"Kapan kartu terakhir itu dicap?"
Nyai girah menatap lagi kartu itu.
"16 Mei," katanya. "Itu berarti hari ini."
"Tidak mungkin!" teriak Joanna, nyaris marah.
Mereka memeriksa kartu itu dengan cermat, tapi tidak ada yang
salah ... 16 Mei 1990.
"Itu mustahil," Joanna berkeras. "Dan aku tidak dapat
membayangkan siapa yang telah menulisnya. Pasti seseorang yang
mengenal kita. Tapi bagaimana mereka tahu kita akan datang ke sini
tepat pada hari ini?"
Joanna jauh lebih ketakutan dibandingkan dengan Nyai girah . Urusan
dengan count dracula dan ayahnya tidak baru lagi bagi Nyai girah .
"Kukira itu ada hubungannya dengan cermin kuningan."
Joanna terlompat lagi. "Kamu benar-benar mengira bahwa kartu-
kartu itu meluncur keluar begitu saja dari cermin begitu dicap di
Lebanon?"
"Apa kamu punya penjelasan lebih baik?"
"Tidak."
Nyai girah berdiri dan menaikkan lilin yang dipegangnya ke depan dua
potret di dinding. Joanna mendekat dan mengintip kedua lukisan
ini .
"Berkeley dan Bjerkely. Apa artinya?"
"Aku tidak tahu."
Lilin sudah hampir habis.
"Mari pergi," kata Joanna. "Ayolah!"
"Kita harus membawa cermin itu." Nyai girah mengulurkan tangannya
ke atas dan melepaskan cermin kuningan yang besar itu dari kaitannya
pada dinding di atas peti laci. Joanna berusaha untuk mencegahnya,
tapi Nyai girah tidak mau dihalangi.
saat mereka sampai di luar, hari sudah gelap. Tapi masih ada
sedikit cahaya di langit sehingga garis semak-semak dan pepohonan
masih terlihat. Danau kecil itu terhampar bagaikan cermin bagi langit
di atasnya. Kedua gadis itu mendayung seolah tanpa sadar melintas
keseberang.
Tak satu pun di antara mereka berbicara dalam perjalanan pulang
kembali ke tenda, tapi masing-masing tahu bahwa sahabatnya tengah
berpikir keras tentang apa yang telah mereka lihat.
Sekali-sekali seekor burung yang ketakutan menciap-ciap, dan
beberapa kali terdengar suara keras burung hantu.
Begitu mereka sampai di tenda, mereka merayap ke dalam kasur
gulung. Joanna tidak mau membiarkan cermin itu dimasukkan ke
dalam tenda. Sebelum jatuh tertidur, mereka sepakat bahwa hal itu
cukup menakutkan, mengingat benda itu ada tepat di luar penutup
tenda. Nyai girah juga telah mengambil semua kartu pos dan
memasukkannya ke dalam salah satu saku tas punggungnya.
Mereka bangun pagi-pagi keesokan harinya. Nyai girah terjaga lebih
dulu. Dia mengenakan sepatunya dan pergi keluar tenda. Cermin
besar itu tergeletak di rerumputan, tertutup embun.
Nyai girah menyeka embun dengan sweternya dan menatap ke bawah
pada bayangannya sendiri. Rasanya seakan-akan dia sedang
memandang ke bawah dan ke atas sekaligus. Untungnya dia tidak
menemukan kartu pos dini hari dari Lebanon.
Di atas tanah terbuka di belakang tenda, kabut pagi berarak pelan-
pelan dan berubah menjadi seperti gumpalan-gumpalan kapas.
Burung-burung kecil berkicau dengan penuh semangat, namun Nyai girah
tidak dapat melihat atau mendengar seekor belibis pun.
Kedua gadis itu mengenakan sweter ekstra dan memakan sarapan
mereka di luar tenda. Percakapan mereka dengan segera beralih ke
Gubuk sang Mayor dan kartu-kartu misterius itu.
Setelah sarapan, mereka melipat tenda dan bersiap-siap pulang.
Nyai girah menenteng cermin besar itu di ketiaknya. Kadang-kadang, dia
perlu beristirahat—Joanna menolak untuk menyentuhnya.
saat tiba di pinggir kota, sesekali mereka mendengar suara
tembakan. Nyai girah ingat apa yang telah ditulis ayah count dracula tentang
Lebanon yang dihancurkan perang, dan dia sadar betapa beruntungnya
dia dilahirkan di sebuah negara yang damai. "Tembakan-tembakan"
yang mereka dengar itu berasal dari suara kembang api untuk
merayakan hari libur nasional.
Nyai girah mengundang Joanna untuk minum cokelat panas. Ibunya
sangat penasaran dari mana mereka menemukan cermin itu. Nyai girah
menceritakan bahwa mereka menemukannya di luar Gubuk sang
Mayor, dan ibunya mengulang cerita tentang tidak adanya orang yang
tinggal di sana selama bertahun-tahun.
saat Joanna sudah pergi, Nyai girah mengenakan gaun merah. Sisa
hari nasional Norwegia itu berlalu biasa-biasa saja. Pada malam
hari, berita televisi menampilkan laporan khusus tentang bagaimana
batalion PBB Norwegia merayakan hari itu di Lebanon. Mata Nyai girah
sepertinya tertancap ke layar. Salah seorang pria yang sedang
ditatapnya itu bisa jadi ayah count dracula .
Yang terakhir dilakukan Nyai girah pada 17 Mei yaitu menggantung
cermin besar itu di dinding kamarnya. Pagi berikutnya, ada amplop
cokelat baru di sarang. Dia menyobeknya hingga terbuka dan cepat-
cepat mulai membaca.[]
Dua Kebudayaan
***
... satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di
ruang hampa ...
TIDAK LAMA lagi kita akan bertemu, Nyai girah ku yang baik.
Kukira kamu akan kembali ke Gubuk sang Mayor—itulah sebabnya
aku tinggalkan semua kartu dari ayah count dracula di sana. Itulah satu-
satunya cara agar kartu-kartu ini dapat dikirimkan kepadanya.
Jangan pikirkan bagaimana dia akan memperolehnya. Banyak yang
mungkin terjadi sebelum tanggal 15 Juni.
Kita telah tahu bagaimana para filosof Helenistik mendaur-ulang
gagasan-gagasan para filosof sebelumnya. Plotinus nyaris
menyatakan Plato sebagai penyelamat umat manusia.
Tapi seperti yang kita tahu, seorang penyelamat lain dilahirkan
dalam periode yang baru saja kita bicarakan—dan itu terjadi di luar
wilayah Yunani-Romawi. Yang kumaksudkan yaitu Yesus dari
Nazareth. Dalam bab ini, kita akan mengetahui bagaimana agama
Kristen lambat laun mulai menyusup ke dalam dunia Yunani-Romawi
—kurang-lebih dengan cara yang sama, dunia count dracula lambat laun
mulai menyusup ke dalam dunia kita.
Yesus yaitu seorang Yahudi, dan bangsa Yahudi termasuk
kebudayaan Semit. Bangsa Yunani dan Romawi termasuk kebudayaan
Indo-Eropa. Peradaban Eropa berakar pada kedua kebudayaan itu.
Tapi sebelum kita mempelajari lebih jelas tentang cara agama
Kristen memengaruhi kebudayaan Yunani-Romawi, kita harus
menelaah dulu akar-akar ini.
BANGSA INDO-EROPA
Yang kita maksudkan dengan Indo-Eropa yaitu semua negara dan
kebudayaan yang menggunakan bahasa-bahasa Indo-Eropa. Ini
mencakup seluruh negara Eropa, kecuali yang penduduknya berbicara
dengan bahasa-bahasa Finno-Ugria (Lapp, Finlandia, Estonia, dan
Hungaria) atau Basque. Selain itu, kebanyakan bahasa India dan Iran
termasuk keluarga bahasa Indo-Eropa.
Kira-kira 4.000 tahun yang lalu, bangsa-bangsa Indo-Eropa yang
masih primitif tinggal di wilayah-wilayah yang membatasi Laut
Hitam dan Laut Kaspia. Dari sana, gelombang-gelombang suku Indo-
Eropa ini mulai menjelajah ke tenggara menuju Iran dan India, ke
barat daya menuju Yunani, Italia, dan Spanyol, ke barat melalui
Eropa Tengah menuju Prancis dan Inggris, ke barat laut menuju
Skandinavia dan ke utara menuju Eropa Timur dan Rusia. Ke mana
pun mereka pergi, bangsa-bangsa Indo-Eropa itu membaurkan diri
dengan kebudayaan setempat, meskipun bahasa-bahasa Indo-Eropa
dan agama Indo-Eropa memainkan peranan kuat.
Kitab Veda India kuno dan filsafat Yunani, dan dalam hal itu juga
mitologi Snorri Sturluson semuanya ditulis dalam bahasa-bahasa
yang berkaitan. Tapi bukan hanya bahasa yang terkait. Keterkaitan
bahasa mendorong timbulnya keterkaitan gagasan. Inilah sebabnya
kita biasanya berbicara tentang "kebudayaan" Indo-Eropa
Kebudayaan bangsa Indo-Eropa terutama dipengaruhi oleh
kepercayaan mereka pada dewa-dewa yang banyak jumlahnya. Ini
dinamakan politeisme. Nama-nama para dewa ini serta sebagian
besar terminologi keagamaan sering muncul di seluruh wilayah Indo-
Eropa. Aku akan memberimu beberapa contoh:
Orang-orang India kuno memuja Dewa Langit Dyaus, yang dalam
bahasa Sanskrit berarti angkasa, siang hari, langit/surga. Dalam
bahasa Yunani, dewa ini disebut Zeus, dalam bahasa Latin, Jupiter
(sebenarnya iov-pater, atau "Bapak Langit"), dan dalam bahasa
Norwegia kuno, Tyr. Jadi nama-nama Dyaus, Zeus, lov, dan Tyr
yaitu variasi dialektis dari kata yang sama.
Kamu mungkin telah mengetahui bahwa bangsa Viking kuno
percaya pada dewa-dewa yang mereka namakan Aser. Ini yaitu
nama lain yang sering kita temukan di seluruh wilayah Indo-Eropa.
Dalam bahasa Sanskrit, bahasa klasik India kuno, dewa-dewa itu
dinamakan Asura dan dalam bahasa Persia Ahura. Kata lain untuk
"dewa" yaitu deva dalam bahasa Sanskrit, daeva dalam bahasa
Persia, deus dalam bahasa Latin, dan tivurr dalam bahasa Norwegia
kuno.
Pada zaman kejayaan Viking, orang-orang juga percaya pada
sekelompok dewa kesuburan (seperti Niord, Freyr, dan Freyja).
Dewa-dewa ini disebut dengan nama kolektif khusus, vaner, sebuah
kata yang terkait dengan nama Latin untuk Dewi Kesuburan, Venus.
Bahasa Sanskrit mempunyai kata yang sama yaitu vani, yang berarti
"hasrat".
Beberapa mitos Indo-Eropa juga memiliki keterkaitan yang jelas.
Dalam dongeng Snorri tentang dewa-dewa Norwegia kuno, sebagian
mitos-mitos itu sama dengan mitos-mitos India yang berasal dari dua
atau tiga ribu tahun sebelumnya. Meskipun mitos Snorri
mencerminkan lingkungan Norwegia dan mitos India mencerminkan
lingkungan India, kebanyakan diantaranya menunjukkan jejak asal
usul yang sama. Jejak-jejak ini paling jelas terlihat dalam mitos
mengenai ramuan untuk hidup abadi dan perjuangan para dewa
melawan monster-monster pengacau.
Kita juga dapat melihat kesamaan yang jelas dalam cara berpikir
di seluruh kebudayaan Indo-Eropa. Kesamaan yang khas yaitu cara
mereka memandang dunia, yaitu sebagai subjek drama yang di
dalamnya kekuatan Baik dan Jahat saling berhadapan dalam
pertarungan yang tak henti-hentinya. Bangsa Indo-Eropa karenanya
sering berusaha untuk "meramalkan" bagaimana peperangan antara
Kebaikan dan Kejahatan akan diakhiri.
Ada benarnya jika orang mengatakan bahwa bukan kebetulan kalau
filsafat Yunani berasal dari lingkungan kebudayaan Indo-Eropa.
Mitologi India, Yunani, dan Norwegia semuanya mempunyai
kecenderungan pada pandangan dunia yang filosofis, atau
"spekulatif".
Bangsa Indo-Eropa mencari "wawasan" ke dalam sejarah dunia.
Kita bahkan dapat melacak sebuah kata tertentu untuk "wawasan"
atau "pengetahuan" dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain di
seluruh dunia Indo-Eropa. Dalam bahasa Sanskrit itu dinamakan
vidya. Kata itu identik dengan kata Yunani idea, yang sangat penting
dalam filsafat Plato. Dari bahasa Latin, kita temukan kata video, tapi
di Romawi kata itu berarti melihat. Dalam bahasa Inggris,"I see"
dapat berarti "I understand", dan dalam cerita kartun, sebuah bola
lampu menyala di gambarkan di atas kepala Woody Woodpecker
saat dia mendapatkan sebuah gagasan cemerlang. (Baru belakangan
ini saja kata"seeing" menjadi sinonim dengan menatap layar
televisi.) Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata wise dan wisdom
—dalam bahasa jerman, wissen (mengetahui). Dalam bahasa
Norwegia terdapat kata viten, yang mempunyai akar yang sama
dengan kata India vidya, kata Yunani idea, dan kata Latin video.
Mengingat semua itu, dapat kita katakan bahwa penglihatan yaitu
indra yang paling penting bagi bangsa Indo-Eropa. Literatur bangsa
India, Yunani, Persia, dan Teuton semuanya mempunyai ciri
gambaran (visions) kosmik. (Kata itu muncul lagi: vision berasal
dari kata kerja Latin "video".) Eropa juga mempunyai budaya
membuat gambar dan patung dewa-dewa dan peristiwa-peristiwa
dalam dongeng.
Yang terakhir, bangsa Indo-Eropa mempunyai pandangan sejarah
yang bersifat siklus. Mereka percaya bahwa sejarah berlangsung
dalam lingkaran tertutup, sebagaimana musim-musim dalam setahun.
Oleh karena itu, tidak ada awal dan tidak ada akhir bagi sejarah.
Namun, ada berbagai peradaban yang jatuh bangun dalam peristiwa
saling-pengaruh yang abadi antara kelahiran dan kematian.
Kedua agama besar dari Timur itu, Hindu dan Buddha, asalnya
yaitu dari Indo-Eropa. Demikian pula filsafat Yunani, dan kita
dapat melihat adanya sejumlah paralel yang nyata antara ajaran
Hindu dan Buddha di satu pihak dan filsafat Yunani di pihak lain.
Bahkan hingga sekarang, ajaran Hindu dan Buddha sarat dengan
renungan filosofis.
Tidak jarang kita temukan dalam ajaran Hindu dan Buddha suatu
penekanan bahwa dewa-dewa itu ada di semua benda (panteisme)
dan bahwa manusia dapat menjadi satu dengan Tuhan melalui
pengalaman religius. (Ingat Plotinus, Nyai girah ?) Untuk mencapai ini
diperlukan praktik penyatuan diri yang mendalam atau meditasi.
Karena itu di Timur, sikap pasif dan menarik diri dapat dianggap
sebagai cita-cita agama. Di Yunani kuno pun ada banyak orang yang
percaya pada cara hidup asketik, atau mengasingkan diri secara
religius, untuk mendapatkan keselamatan jiwa. Banyak aspek
kehidupan monastik Abad Pertengahan dapat ditemukan dalam
kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari kebudayaan Yunani-
Romawi. Begitu pula perpindahan jiwa, atau siklus kelahiran
kembali, merupakan kepercayaan mendasar di banyak kebudayaan
Indo-Eropa. Selama lebih dari 2.500 tahun, tujuan akhir dari
kehidupan setiap orang India yaitu membebaskan diri dari siklus
kelahiran kembali. Plato juga percaya pada perpindahan jiwa.
Bangsa Semit
Mari kita kembali pada bangsa Semit, Nyai girah . Mereka termasuk
dalam kebudayaan yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang
sama sekali berbeda pula. Bangsa Semit berasal dari Jazirah Arab,
tapi mereka juga bermigrasi ke bagian-bagian dunia yang lain.
Bangsa Yahudi hidup jauh dari tanah air mereka selama lebih dari
2.000 tahun. Sejarah dan agama Semit mencapai tempat-tempat yang
jauh dari akarnya melalui ajaran Kristen, meskipun kebudayaan
Semit juga tersebar luas lewat ajaran Islam.
Ketiga agama Barat itu—Yahudi, Kristen, dan Islam—sama-sama
berlatar belakang Semit. Kitab agama Islam, Al-Quran, dan kitab
suci agama Kristen, Perjanjian Lama, ditulis dalam rumpun bahasa
Semit. Salah satu kata dari Perjanjian Lama untuk "tuhan" mempunyai
akar semantik yang sama dengan kata "Allah" yang dipakai kaum
Muslim. (Kata "Allah" berarti, sederhana sekali, "tuhan".)
Dalam hal agama Kristen, gambarannya agak lebih rumit. Agama
Kristen juga mempunyai latar belakang Semit, tapi Perjanjian Baru
ditulis dalam bahasa Yunani. Rumusan teologi atau kredo Kristen
telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Latin, dan karenanya juga
oleh filsafat Helenistik. Bangsa Indo-Eropa percaya pada banyak
dewa yang berbeda. Juga merupakan ciri khas bangsa Semit bahwa
sejak zaman dahulu mereka telah disatukan oleh kepercayaan pada
satu Tuhan. Ini dinamakan monoteisme. Agama Yahudi, Kristen, dan
Islam semuanya mempunyai gagasan dasar yang sama, yaitu bahwa
hanya ada satu Tuhan.
Bangsa Semit mempunyai pandangan linier tentang sejarah.
Dengan kata lain, sejarah dipandang sebagai sebuah garis lurus. Pada
mulanya, Tuhan menciptakan dunia dan itulah awal sejarah. Tapi
suatu hari sejarah akan berakhir dan itu yaitu Hari Kiamat, saat
Tuhan mengadili semua makhluk yang hidup maupun yang mati.
Penekanan penting yang diberikan pada sejarah merupakan ciri
ketiga agama Barat ini. Ada kepercayaan bahwa Tuhan ikut campur
tangan pada jalannya sejarah—bahkan sejarah itu ada agar Tuhan
dapat mewujudkan kehendaknya di dunia. Sebagaimana Dia pernah
memimpin Ibrahim menuju "Tanah yang Dijanjikan", Dia pula yang
memimpin langkah umat manusia melalui sejarah menuju Hari
Kiamat. Jika hari itu datang, semua kejahatan di dunia akan
dihancurkan.
Dengan tekanan yang kuat pada aktivitas Tuhan dalam jalannya
sejarah, bangsa Semit disibukkan dengan penulisan sejarah selama
ribuan tahun. Dan akar sejarah ini merupakan inti sari kitab suci
mereka.
Bahkan pada zaman sekarang, Kota Jerusalem merupakan pusat
agama yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi, Kristen, dan
Islam. Ini menunjukkan kesamaan latar belakang ketiga agama
ini .
Di kota itu terdapat beberapa sinagoge (Yahudi), gereja
(Kristen), dan masjid (Islam) terkemuka. Oleh karena itu, sungguh
tragis bahwa Jerusalem justru menjadi sumber pertikaian—ribuan
orang saling bunuh karena mereka tidak dapat mencapai kesepakatan
tentang siapa yang berhak menguasi "Kota Abadi" ini. Semoga PBB
suatu hari nanti dapat membuat Jerusalem menjadi kuil suci bagi
ketiga agama ini ! (Kita tidak perlu melangkah lebih jauh pada
sisi praktis dari pelajaran filsafat kita untuk saat ini. Kita akan
menyerahkan sepenuhnya ke tangan ayah count dracula . Kamu sekarang
mestinya telah tahu bahwa dia seorang pengamat PBB di Lebanon.
Tepatnya, dapat kukatakan bahwa dia berpangkat mayor. Jika kamu
mulai dapat memahami beberapa kaitan yang ada, memang sudah
seharusnya begitu. Tapi sebaiknya kita tidak meramalkan peristiwa
apapun!)
Kita ketahui bahwa indra yang paling penting bagi bangsa Indo-
Eropa yaitu penglihatan. Betapa pentingnya pendengaran dalam
kebudayaan Semit pun sama menariknya. Bukan kebetulan bahwa
kredo Yahudi dimulai dengan kata-kata: "Dengarlah, wahai Israel!"
Dalam Perjanjian Lama, kita baca bagaimana orang-orang
"mendengar" firman Tuhan, dan para nabi Yahudi biasanya memulai
khutbah mereka dengan kata-kata: "Demikian kata Jehovah (Tuhan)."
"Mendengar" firman Tuhan juga ditekankan dalam agama Kristen.
Upacara-upacara agama Kristen, Yahudi, dan Islam semuanya
mempunyai ciri membaca keras-keras atau "mengaji".
Aku juga telah mengatakan bahwa bangsa Indo-Eropa selalu
membuat gambar atau patung dewa-dewa mereka. Sebaliknya, ciri
khas bangsa Semit yaitu bahwa mereka tidak pernah melakukan
yang seperti itu. Mereka tidak diperbolehkan membuat gambar atau
patung Tuhan atau "dewa" mereka. Perjanjian Lama memerintahkan
agar orang-orang tidak membuat citra tentang Tuhan. Ini masih
menjadi hukum hingga sekarang bagi para penganut agama Yahudi
maupun Islam. Dalam Islam bahkan ada keengganan terhadap
fotografi dan lukisan, sebab orang tidak boleh bersaing dengan Tuhan
dalam "menciptakan" sesuatu.
Tapi, gereja-gereja Kristen penuh dengan lukisan Yesus dan
Tuhan, kamu mungkin berkata begitu dalam hati. Memang benar,
Nyai girah , tapi ini hanya salah satu bukti bagaimana agama Kristen telah
terpengaruh oleh dunia Yunani-Romawi. (Dalam Gereja Ortodoks
Yunani—yaitu, di Yunani dan Rusia—"patung berhala", atau patung
dan salib, dari kisah-kisah Bibel masih di larang.)
Berkebalikan dengan agama-agama besar dari Timur, ketiga agama
dari Barat itu menekankan bahwa ada jarak antara Tuhan dan
ciptaan-Nya. Tujuannya bukanlah untuk di bebaskan dari siklus
kelahiran kembali, melainkan untuk ditebus dari dosa dan kesalahan.
Lagi pula, kehidupan keagamaan mereka lebih mementingkan doa,
khutbah, dan telaah kitab suci daripada penyatuan diri dan meditasi.
Israel
Aku tidak berniat untuk bersaing dengan guru agamamu, Nyai girah .
Tapi, marilah kita membuat ikhtisar ringkas mengenai latar belakang
Yahudi dari agama Kristen.
Awalnya yaitu saat Tuhan menciptakan dunia. Kamu dapat
membaca bagaimana hal itu terjadi pada halaman pertama Bibel.
Lalu, umat manusia mulai memberontak melawan Tuhan.
Hukumannya bukan hanya Adam dan Hawa diusir dari Taman
Firdaus—Kematian pun datang ke dunia.
Ketidakpatuhan manusia kepada Tuhan merupakan tema yang
selalu ada di seluruh Bibel. Jika kita membaca terus Kitab Kejadian,
kita akan membaca tentang Banjir dan Kapal Nabi Nuh. Lalu, kita
akan membaca bahwa Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim
dan keturunannya. Perjanjian ini menyatakan bahwa Ibrahim dan
seluruh keturunannya akan mematuhi perintah-perintah Tuhan.
Sebagai imbalan, Tuhan berjanji akan melindungi seluruh keturunan
Ibrahim. Perjanjian ini diperbarui saat kepada Musa diturunkan
Sepuluh perintah di Gunung Sinai pada 1200 SM. Pada waktu itu,
bangsa Israel telah lama dijadikan budak di Mesir, tapi dengan
bantuan Tuhan mereka berhasil dipimpin kembali ke tanah Israel.
Kira-kira 1.000 tahun sebelum kelahiran Kristus—dan karenanya
jauh sebelum ada yang dinamakan filsafat Yunani—kita mendengar
tentang tiga raja besar Israel. Yang pertama yaitu Saul, lalu muncul
Daud, dan setelah dia, Sulaiman. Kini, seluruh Israel disatukan
dalam satu kerajaan, dan di bawah Raja Daud, terutama, mereka
mengalami masa kejayaan politik, militer, dan budaya.
saat raja-raja dipilih, mereka diusapi oleh rakyat. Oleh karena
itu, mereka menerima gelar Al-Masih, yang berarti "orang yang
diusapi". Dalam pengertian keagamaan, raja dipandang sebagai
perantara antara Tuhan dan rakyatnya. Oleh karena itu, mereka
menyebutnya "Putra Tuhan" dan kerajaannya disebut "Kerajaan
Tuhan".
Tapi tak lama kemudian, Israel mulai kehilangan kekuasaan dan
kerajaan dibagi menjadi kerajaan Utara (Israel) dan kerajaan Selatan
(Judea). Pada 722 SM, kerajaan Utara ditaklukkan oleh bangsa
Assyria dan kehilangan seluruh kekuatan politik dan keagamaannya.
Kerajaan Selatan mengalami nasib yang tidak lebih baik, karena
ditaklukkan oleh bangsa Babilonia pada 586 SM. Kuilnya
dihancurkan dan kebanyakan rakyatnya dijadikan budak di Babilon.
"Penaklukan Babilonia" ini berlangsung hingga 539 SM saat rakyat
Judea diizinkan untuk kembali ke Jerusalem, dan kuil besar itu
dibangun kembali. Tapi selama sisa masa sebelum kelahiran Kristus,
bangsa Yahudi terus hidup di bawah dominasi kekuatan asing.
Pertanyaan yang selalu diajukan oleh bangsa Yahudi pada diri
mereka sendiri yaitu mengapa kerajaan Daud dihancurkan dan
mengapa bencana demi bencana menimpa mereka, pada hal Tuhan
telah berjanji akan menjaga Israel. Tapi orang-orang itu juga berjanji
akan mematuhi perintah-perintah Tuhan. Maka, lambat laun dapat
diterima secara luas bahwa Tuhan sedang menghukum Israel karena
ketidakpatuhan mereka.
Sejak sekitar 750 SM, banyak nabi berdatangan untuk
mengkhutbahkan kemurkaan Tuhan terhadap Israel karena tidak
mematuhi perintah-perintah-Nya. Suatu hari, Tuhan akan
menyelenggarakan Hari Penghakiman bagi Israel, kata mereka. Kita
menyebut ramalan semacam ini sebagai ramalan Hari Kiamat.
Sementara waktu berlalu, datang nabi-nabi lain yang mengabarkan
bahwa Tuhan akan menebus sedikit orang terpilih dan mengirimkan
ke tengah mereka seorang "Pangeran Perdamaian" atau raja dari
Rumah Daud. Dia akan membangun kembali Kerajaan Lama Daud
dan rakyat akan mempunyai masa depan penuh kemakmuran.
"Bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat cahaya
terang," kata Nabi Yesaya, dan "mereka yang berada di negeri
kekelaman, atasnya terang telah bersinar". Kita menyebut ramalan
semacam ini sebagai ramalan penebusan.
Ringkasnya: Bani Israel hidup bahagia di bawah pemerintahan
Raja Daud. Tapi kemudian, saat situasi memburuk, nabi-nabi
mereka mulai menyatakan bahwa suatu hari nanti akan datang seorang
raja baru dari Rumah Daud. Menurut kepercayaan mereka, "Al-
Masih" ini akan "menebus" rakyat, mengembalikan Israel pada
kejayaannya, dan mendirikan "Kerajaan Tuhan".
Yesus
Kamu masih bersamaku, Nyai girah ? Jadi "AI-Masih", "Putra Tuhan"
dan "Kerajaan Tuhan" yaitu kata-kata kuncinya. Mula-mula semua
istilah itu diartikan secara politis. Pada masa hidup Yesus, banyak
orang yang membayangkan bahwa akan datang seorang "Al-Masih"
dalam pengertian seorang pemimpin politik, militer, dan keagamaan
sekaliber Raja Daud. "Penyelamat" ini karenanya dipandang sebagai
seorang pembebas bangsa yang akan mengakhiri penderitaan bangsa
Yahudi di bawah dominasi Romawi.
Memang bagus. Tapi banyak juga orang yang mempunyai
pandangan lebih jauh. Selama dua ratus tahun terakhir telah datang
nabi-nabi yang percaya bahwa "Al-Masih" yang dijanjikan akan
menjadi penyelamat seluruh dunia. Dia tidak hanya akan
membebaskan bangsa Israel dari penindasan asing, tapi dia pun akan
menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa dan kesalahan—dan
yang tidak kalah pentingnya, dari kematian. Kerinduan akan
"keselamatan" dalam pengertian penebusan itu tersebar luas di
seluruh dunia Helenistik.
Kemudian datanglah Yesus dari Nazareth. Dialah satu-satunya
orang yang pernah datang sebagai "Al-Masih" yang dijanjikan.
Dengan menggunakan istilah "Al-Masih", dia menegakkan
pertaliannya dengan nabi-nabi terdahulu. Dia menuju Jerusalem dan
membiarkan dirinya dinyatakan oleh orang banyak sebagai
penyelamat, sehingga secara langsung menapak jalan raja-raja
sebelumnya yang dinobatkan dalam "ritual kenaikan takhta" yang
khas. Dia juga membiarkan dirinya ditahbiskan oleh rakyat.
Tapi di sini ada hal yang sangat penting: Yesus membedakan
dirinya dari semua "al-masih" lain dengan menyatakan secara tegas
bahwa dia bukanlah seorang pemberontak militer atau politik.
Misinya jauh lebih besar. Dia mengkhutbahkan keselamatan dan
ampunan Tuhan bagi semua orang.
Jadi beginilah situasinya: banyak sekali orang pada masa hidup
Yesus sedang menunggu-nunggu seorang AI-Masih yang akan
membangun kembali negeri Israel dengan tiupan terompet yang
membahana (dengan kata lain, dengan api dan pedang). Tetapi, Yesus
datang justru dengan ajaran untuk mencintai tetangga, mengasihi
orang yang lemah dan miskin, dan mengampuni mereka yang
bersalah.
Ini yaitu suatu perubahan dramatis mengingat nada-nada perang
yang bergema pada masa itu. Orang-orang mengharapkan datangnya
seorang pemimpin militer yang akan segera memproklamasikan
pendirian negeri Israel, dan datanglah Yesus dengan tunik dan sandal
mengatakan bahwa Kerajaan Allah—atau "perjanjian baru"—
berwujud ajaran "mencintai tetanggamu sebagaimana kamu mencintai
diri sendiri". Bukan hanya itu, Nyai girah . Yesus juga berkata bahwa kita
harus mencintai musuh-musuh kita. saat mereka menyerang, kita
tidak boleh membalas. Kita bahkan diperintahkan untuk memberikan
pipi kita lainnya. Dan kita harus memaafkan—bukan hanya tujuh kali,
bahkan tujuh puluh kali tujuh.
Yesus sendiri membuktikan bahwa dirinya tidak segan-segan untuk
berbicara dengan para pelacur, lintah darat, dan pemberontak politik.
Dia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa
seseorang yang telah menghabiskan dengan sia-sia seluruh warisan
dari bapaknya—atau seorang pengumpul pajak yang telah mencuri
dana negara—tetap diterima sebagai hamba Tuhan jika dia bertobat
dan memohon ampun, karena begitu besarnya belas kasih Tuhan.
Tapi tunggu—dia selangkah lebih jauh lagi: Yesus mengatakan
bahwa para pendosa semacam itu lebih utama di mata Tuhan dan
lebih patut mendapatkan ampunan Tuhan daripada para Farisi
(anggota suatu sekte kuno Yahudi yang dikenal karena ketaatan
mereka pada hukum tertulis dan pretensi mereka pada kesucian) yang
pergi ke sana kemari memamerkan kebaikan mereka.
Aku akan menyerahkan telaah yang lebih mendalam tentang Yesus
dan ajaran-ajarannya kepada guru agamamu. Dia memang yang lebih
berhak mengajar. Kuharap dia berhasil menunjukkan betapa luar
biasanya Yesus itu. Dengan cara yang sangat cerdik, dia
menggunakan bahasa zamannya untuk memberikan kepada rakyat yang
haus perang itu suatu ajaran yang sama sekali baru dan lebih luas.
Kabar yang dibawanya sangat berbeda dari kepentingan pihak yang
berkuasa saat itu, sehingga dia pun diadili dan di hukum mati di tiang
salib.
saat kita berbicara tentang Socrates, kita tahu betapa
berbahayanya menggugah akal masyarakat. Dengan Yesus, kita tahu
betapa berbahayanya menuntut rasa persaudaraan tanpa syarat dan
ampunan tanpa syarat. Bahkan di dunia sekarang ini, kita dapat
melihat bagaimana kekuatan besar dapat terpecah-belah jika
dihadapkan pada tuntutan sederhana akan perdamaian, cinta kasih,
penyediaan makanan bagi kaum miskin, dan ampunan bagi musuh
negara.
Kau mungkin ingat betapa marahnya Plato melihat Aristoteles,
orang yang paling luhur di Athena, harus mengorbankan hidupnya.
Menurut ajaran Kristen, Yesus yaitu satu-satunya orang yang pernah
hidup yang benar-benar luhur. Namun demikian, ia pun dihukum mati.
Umat Kristiani menyatakan bahwa Yesus mati demi umat manusia.
Inilah yang biasa umat Kristiani sebut sebagai "penderitaan Yesus
Kristus bagi umat manusia". Ia yaitu "Hamba Tuhan yang
menderita" yang menebus dosa seluruh umat manusia sehingga kita
bisa diampuni dan selamat dari murka Tuhan.
Paulus
Beberapa hari setelah Yesus dikuburkan, tersebar kabar burung
bahwa dia bangkit dari kuburnya. Dengan demikian, Yesus
membuktikan dirinya bukanlah manusia biasa. Dia sungguh-sungguh
yaitu "Putra Tuhan".
Bisa kita nyatakan bahwa Gereja Kristen terbentuk pada pagi
Paskah dengan kabar kebangkitan Yesus. Ini sudah dinyatakan oleh
Paulus: "Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."
Berdasarkan hal itu, seluruh umat manusia bisa mengharapkan
kebangkitan raga, karena demi menyelamatkan kitalah Yesus disalib.
Tapi, Nyai girah sayang, ingatlah bahwa sudut pandang Yahudi tidak
mengenal konsep "keabadian jiwa" atau "perpindahan jiwa"; itu
yaitu pemikiran Yunani—dan, karenanya, pemikiran Eropa.
Menurut ajaran Kristen, dalam diri manusia tidak ada apa pun—tidak
ada "jiwa", misalnya—yang abadi. Namun, Gereja Kristen percaya
pada "kebangkitan kembali raga dan kehidupan abadi" dan hanya
dengan mukjizat Tuhan kita diselamatkan dari kematian dan
"kutukan".
Maka, para penganut Kristen awal mulai menyebarkan "kabar
gembira" mengenai keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.
Melalui perantaraannya, "Kerajaan Tuhan" akan menjadi kenyataan.
Kini seluruh dunia dapat diselamatkan berkat Kristus. (Kata "kristus"
yaitu terjemahan bahasa Yunani dari kata Ibrani "messiah", yang
diusapi.)
Beberapa tahun setelah kebangkitan Yesus, seorang Farisi, Paulus,
beralih ke agama Kristen. Melalui banyak perjalanan misionaris yang
dilakukannya ke seluruh dunia Yunani-Romawi, dia membuat agama
Kristen menjadi agama dunia. Kita mengetahui hal ini dari Kisah
para Rasul. Khutbah dan tuntunan Paulus bagi orang-orang Kristen
kita ketahui dari banyak surat yang ditulis olehnya untuk para jemaat
Kristen awal.
Selanjutnya, dia muncul di Athena. Dia langsung menuju alun-alun
kota yang merupakan pusat filsafat. Dan dikatakan bahwa "sangat
sedih hatinya, karena ia melihat seluruh kota tenggelam dalam
pemujaan berhala." Dia mengunjungi sinagoge Yahudi di Athena dan
mengadakan pembicaraan dengan para filosof Epicurean dan Stoik.
Mereka membawanya naik ke Bukit Aeropagos dan bertanya
kepadanya: "Bolehkah kami tahu ajaran baru yang sedang Anda
bicarakan? Sebab Anda membawa hal-hal aneh ke telinga kami:
karena itu, kami ingin tahu apa arti semua ini."
Dapatkah kamu bayangkan, Nyai girah ? Seorang Yahudi tiba-tiba
muncul di pasar Athena dan mulai berbicara tentang seorang
penyelamat. Bahkan dari kunjungan Paulus ke Athena ini kita dapat
merasakan bentrokan antara filsafat Yunani dan doktrin Kristen
mengenai penebusan. Tapi, Paulus benar-benar berhasil membuat
orang-orang Athena mendengarkan penjelasannya. Dari Areopagos—
dan di bawah kuil-kuil Acropolis yang pongah—dia menyampaikan
pidato berikut ini:
"Kalian orang-orang Athena, aku lihat bahwa dalam segala
hal kalian terlalu percaya takhayul. Sebab saat aku lewat, dan
melihat kebaktian kalian, aku temukan sebuah altar dengan
tulisan ini, UNTUK DEWA YANG TAK DIKENAL. Karena
itu, dia yang kalian sembah tanpa mengenalnya akan
kuperkenalkan pada kalian.
Tuhan yang membuat dunia beserta seluruh isinya, yaitu
Tuhan langit dan bumi, tidak berada di kuil-kuil yang dibangun
dengan tangan; dia pun tidak dilayani oleh tangan manusia,
seakan-akan dia memerlukan sesuatu, padahal dia memberikan
seluruh kehidupan, dan napas, dan segalanya. Dan Dia telah
membuat seluruh umat manusia dari satu orang saja untuk tinggal
di segenap permukaan bumi, dan telah menetapkan waktu
sebelum ditetapkan, dan batasan-batasan dari tempat tinggal
mereka; bahwa mereka hendaknya mencari Tuhan, meski pun
dia tidak jauh dari kita semua. Sebab dalam diri-Nya kita hidup,
dan bergerak, dan menjadi ada. Kita hendaknya tidak
menganggap bahwa keadaan Tuhan itu dapat disamakan dengan
emas, atau perak, atau batu, yang diukir dengan seni dan alat
manusia. Masa ketidaktahuan akan Tuhan itu telah lewat; dan
kini perintahkan semua manusia di mana-mana agar bertobat:
Sebab Dia telah menetapkan suatu hari, di mana Dia akan
menghakimi dunia dalam kebenaran melalui manusia yang telah
ditetapkannya; Dia telah memberikan janji kepada semua
manusia, bahwa Dia akan membangkitkannya dari kematian."
Paulus di Athena, Nyai girah ! Agama Kristen telah mulai menyusup ke
dalam dunia Yunani-Romawi sebagai sesuatu yang lain, sesuatu yang
sama sekali berbeda dari filsafat Epicurean, Stoik, atau Neoplatonik.
Tapi Paulus tetap menemukan landasan yang sama dalam kebudayaan
ini. Dia menekankan bahwa pencarian akan Tuhan itu wajar bagi
seluruh manusia. Ini tidak baru bagi orang-orang Yunani. Tapi yang
baru dari khutbah Paulus yaitu bahwa Tuhan juga telah
mengungkapkan dirinya kepada manusia dan sesungguhnya telah
mencoba meraih mereka. Maka, dia tidak lagi "Tuhan filosofis" yang
dapat didekati manusia dengan pemahaman mereka. Dia pun bukan
"citra dari emas atau perak atau batu"—ada banyak sekali yang
seperti itu, baik di Acropolis maupun di pasar! Dia yaitu Tuhan
yang "tidak berada di kuil-kuil yang dibuat dengan tangan". Dia
yaitu Tuhan yang ikut campur dalam jalannya sejarah.
saat Paulus telah mengucapkan pidatonya di Areopagos, kita
baca di Kisah para Rasul, sebagian orang mencemooh mengenai
kebangkitan kembali dari kematian. Tapi yang lain-lainnya berkata:
"Kami mau mendengarmu lagi mengenai ini." Juga ada sebagian
orang yang mengikuti Paulus dan mulai memercayai ajaran Kristen.
Salah seorang di antara mereka, perlu dicatat, yaitu seorang wanita
bernama Damaris. Kaum wanita termasuk mualaf Kristen paling
gigih.
Maka Paulus meneruskan aktivitas misionarisnya. Beberapa
dasawarsa kemudian, jemaat-jemaat Kristen telah didirikan di
seluruh kota penting Yunani dan Romawi—di Athena, di Roma, di
Alexandria, di Ephesos (Efesus), dan di Corinth (Korintus). Dalam
rentang waktu tiga hingga empat ratus tahun, seluruh dunia Helenistik
telah menjadi Kristen.
Kredo
Bukan sebagai seorang misionaris saja peran penting Paulus dalam
agama Kristen. Dia pun mempunyai pengaruh besar di kalangan
jemaat Kristen. Ada suatu kebutuhan akan tuntunan ruhani. Satu
pertanyaan penting pada tahun-tahun permulaan Yesus yaitu : apakah
orang bukan Yahudi dapat memeluk agama Kristen tanpa menjadi
orang Yahudi dulu. Haruskah seorang Yunani, misalnya, mematuhi
aturan tentang makanan? Paulus yakin itu tidak perlu. Agama Kristen
itu lebih dari sekadar sekte Yahudi. Agama itu ditujukan untuk setiap
orang dengan pesan keselamatan universal.
"Perjanjian Lama" antara Tuhan dan Israel telah digantikan dengan
"Perjanjian Baru" yang dibuat antara Tuhan dan seluruh umat
manusia.
Namun, agama Kristen bukan satu-satunya agama pada waktu itu.
Kita telah mengetahui bagaimana Helenisme dipengaruhi oleh
penyatuan beberapa agama. Oleh karena itu, Gereja perlu
mengedepankan suatu ikhtisar ringkas mengenai doktrin Kristen, baik
untuk membedakannya dengan agama-agama lain maupun untuk
mencegah terjadinya perpecahan di dalam Gereja Kristen. Oleh
karena itu, Kredo pertama di tetapkan, dengan meringkas "dogma-
dogma" atau ajaran-ajaran pokok Kristen.
Catatan Tambahan
Akan aku kemukakan sepatah-dua kata tentang bagaimana semua ini
saling berkaitan, Nyai girah ku yang baik. saat agama Kristen masuk ke
dunia Yunani-Romawi, kita menyaksikan suatu pertemuan dramatis
dari dua kebudayaan. Kita juga menyaksikan salah satu revolusi
besar kebudayaan dalam sejarah.
GOETHE
Kita akan melangkah keluar dari zaman Yunani kuno. Hampir
seribu tahun telah lewat sejak masa hidup para filosof Yunani awal.
Di depan, kita telah menanti Abad Pertengahan Kristen, yang juga
berlangsung selama kira-kira seribu tahun.
Penyair Jerman Goethe pernah berkata bahwa "orang yang tidak
dapat belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tidak
memanfaatkan akalnya". Aku tidak ingin kamu berakhir dengan
keadaan yang begitu menyedihkan. Aku akan melakukan apa yang
dapat kulakukan untuk memperkenalkanmu dengan akar sejarahmu.
Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang manusia. Itulah satu-
satunya cara untuk menjadi lebih dari sekadar seekor kera telanjang.
Itulah satu-satunya cara agar kita tidak hanya melayang-layang di
ruang hampa.
"Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang manusia. Itulah
satu-satunya cara untuk menjadi lebih dari sekadar seekor kera
telanjang ...."
Nyai girah duduk sejenak menatap taman melalui lubang-lubang kecil
di pagar tanaman. Dia mulai mengerti mengapa kita perlu mengetahui
masa lalu kita. Apalagi bagi Bani Israel.
Dia sendiri hanya seorang manusia biasa. Tapi, jika mengenal akar
sejarahnya, dia akan menjadi tidak begitu biasa lagi.
Dia akan hidup di planet ini tidak lebih dari beberapa tahun saja.
Tapi, jika sejarah umat manusia yaitu juga sejarah dirinya, dalam
makna tertentu dia berarti telah berusia ribuan tahun.[]
Abad Pertengahan
***
... hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan ...
SEMINGGU BERLALU tanpa kabar dari Alberto Knox. Juga
tidak ada kartu pos dari Lebanon, meskipun dia dan Joanna masih
membicarakan kartu-kartu di Gubuk sang Mayor. Joanna tidak pernah
setakut itu sebelumnya, tapi karena tidak ada lagi kejadian
lanjutannya, rasa takutnya mulai menghilang dan tenggelam ditelan
pekerjaan rumah dan badminton.
Nyai girah membaca surat-surat Alberto berulang-ulang, mencari-cari
petunjuk yang dapat memberikan penjelasan misteri count dracula . Dengan
melakukan hal itu dia mendapatkan kesempatan untuk mencerna
pelajaran filsafat klasik. Dia tidak lagi kesulitan untuk membedakan
antara Democritus dan Socrates, atau Plato dan Aristoteles.
Pada Jumat, Mei, dia sedang berada di dapur mempersiapkan
makan malam sebelum ibunya tiba di rumah. Itu yaitu kebiasaan
mereka setiap Jumat. Hari ini dia membuat sup ikan dengan bakso
ikan dan wortel. Mudah dan sederhana.
Di luar, udara semakin berangin. saat Nyai girah berdiri mengaduk
masakannya, dia berpaling ke jendela. Pohon-pohon birkin terayun-
ayun seperti batang jagung.
Tiba-tiba sesuatu memukul kaca jendela. Nyai girah berputar lagi
dan melihat sebuah kartu tertempel di jendela.
Itu sebuah kartu pos. Dia dapat membaca melalui kaca: "count dracula
Moller Knag, d/a Nyai girah Amundsend."
Dia berpikir keras! Dia membuka jendela dan mengambil kartu itu.
Tidak mungkin ia diterbangkan langsung dari Lebanon!
Kartu ini juga bertanggal 15 Juni. Nyai girah menurunkan masakannya
dari kompor dan duduk di meja dapur. Kartu itu berbunyi:
count dracula sayang, aku tidak tahu apakah sekarang masih hari
ulang tahunmu saat kamu membaca kartu ini. Kuharap begitu;
atau setidak-tidaknya belum terlalu banyak hari yang telah
lewat. Seminggu-dua minggu bagi Nyai girah tidak harus berarti
selama itu bagi kita. Aku akan pulang pada pertengahan musim
panas, agar kita dapat duduk bersama selama berjam-jam di
peluncur, memandang ke laut lepas, count dracula . Banyak sekali yang
akan kita bicarakan. Penuh sayang dari Ayah, yang kadang-
kadang menjadi sangat tertekan menghadapi pertikaian yang
telah berlangsung seribu tahun antara orang-orang Yahudi,
Kristen, dan Muslim. Aku harus selalu mengingatkan diriku
sendiri bahwa ketiga agama itu berasal dari Ibrahim. Jadi kukira
mereka berdoa pada Tuhan yang sama. Di sini, Habil dan Qabil
belum berhenti saling membunuh.
N.B. Sampaikan salam pada Nyai girah . Anak malang, dia masih
belum mengerti bagaimana semua ini saling berkait. Tapi
barangkali kamu tahu?
Nyai girah meletakkan kepalanya di atas meja, kelelahan. Satu hal
telah jelas—dia tidak tahu bagaimana semua hal ini saling berkait.
Tapi count dracula tahu, mungkin.
Jika ayah count dracula memintanya untuk menyampaikan salam pada
Nyai girah , itu tentunya berarti bahwa count dracula mengetahui tentang Nyai girah
lebih banyak daripada Nyai girah mengetahui tentang count dracula . Semua ini
begitu rumit sehingga Nyai girah kembali menyiapkan makan malam.
Sebuah kartu pos yang memukul jendela dapur dengan sendirinya!
Kita dapat menyebutnya pos udara!
Begitu dia meletakkan masakan ke atas kompor lagi, telepon
berdering.
Kalau saja itu Ayah! Dia sangat berharap ayahnya akan pulang
sehingga dia dapat menceritakan padanya semua yang telah terjadi
dalam beberapa minggu terakhir ini. Tapi itu mungkin hanya Joanna
atau Ibu. Nyai girah mengangkat telepon.
"Nyai girah Amundsend," katanya.
"Ini aku," sebuah suara berkata. Nyai girah yakin akan tiga hal: itu
bukan ayahnya. Tapi itu suara pria, dan dia tahu suara itu pernah
didengarnya sebelumnya.
"Siapa ini?"
"Ini Alberto."
"Ohhh!"
Nyai girah kehilangan kata-kata. Itu yaitu suara yang pernah
didengarnya dari video Acropolis.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Tentu."
"Mulai sekarang tidak akan ada surat lagi."
"Tapi aku tidak mengirimi Anda katak!"
"Kita harus bertemu langsung. Ini mulai mendesak, kamu tahu."
"Mengapa?"
"Ayah count dracula semakin mendekati kita."
"Mendekati bagaimana?"
"Dari setiap sisi, Nyai girah . Kita harus bekerja bersama sekarang."
"Caranya ...?"
"Tapi kamu belum bisa banyak membantu sebelum aku memberi
kamu pelajaran tentang Abad Pertengahan. Kita harus merampungkan
Renaisans dan abad ketujuh belas pula. Berkeley yaitu tokoh
kuncinya ..."
"Bukankah itu pria dalam lukisan di Gubuk sang Mayor?"
"Persis. Barangkali pertempuran yang sesungguhnya akan
dilangsungkan menyangkut filsafatnya dia."
"Anda membuatnya kedengaran seperti perang."
"Aku lebih suka menyebutkan pertempuran kehendak. Kita harus
menarik perhatian count dracula dan menariknya ke pihak kita sebelum
ayahnya pulang ke Lillesand."
"Aku sama sekali tidak mengerti."
"Mungkin para filosof itu dapat membuka matamu. Temui aku di
Gereja St. Mary pada pukul delapan besok pagi. Tapi datanglah
sendiri, Anakku."
"Pagi-pagi benar?" Telepon itu berbunyi klik.
"Halo?"
Dia menutupnya! Nyai girah bergegas kembali ke kompor tepat
sebelum sup ikan itu terlalu matang.
Gereja St. Mary? Itu yaitu sebuah gereja batu kuno dari Abad
Pertengahan. Gedung itu hanya digunakan untuk acara konser dan
upacara yang sangat istimewa. Dan pada musim panas kadang-kadang
gereja dibuka untuk para turis. Tapi tentunya ia tidak dibuka pada
tengah malam?
saat ibunya pulang, Nyai girah telah menyimpan kartu dari Lebanon
itu bersama semua barang lain dari Alberto dan count dracula . Setelah makan
malam, dia pergi ke rumah Joanna.
"Kita harus membuat rencana yang sangat istimewa," katanya
begitu sahabatnya membuka pintu.
Dia tidak berkata apa-apa lagi sampai Joanna telah menutup pintu
kamar tidurnya.
"Ini agak sulit," Nyai girah melanjutkan.
"Katakan!"
"Aku harus mengatakan pada Ibu bahwa aku menginap di sini."
"Bagus!"
"Tapi itu hanya bohong-bohongan, kamu tahu. Aku harus pergi ke
tempat lain."
"Sayang sekali. Apakah ini soal cowok?"
"Tidak. Ini ada hubungannya dengan count dracula ."
Joanna bersiul pelan, dan Nyai girah menatap tajam ke matanya.
"Aku akan ke sini malam ini," katanya, "Tapi pada jam tujuh aku
harus menyelinap keluar lagi. Kamu harus merahasiakan kepergianku
sampai aku kembali."
"Tapi kamu mau ke mana? Apa sih yang harus kamu lakukan?"
"Maaf. Mulutku terkunci."
Menginap di rumah Joanna tidak pernah menjadi masalah. Malah,
nyaris sebaliknya. Kadang-kadang Nyai girah mendapat kesan bahwa
ibunya senang berada di rumah sendirian.
"Kamu akan pulang untuk sarapan, kukira?" itulah satu-satunya
perkataan ibunya saat Nyai girah meninggalkan rumah.
"Jika tidak, Ibu tahu di mana aku berada."
Apa yang membuatnya berkata begitu? Itu yaitu satu titik lemah.
Kunjungan Nyai girah dimulai seperti biasa kalau dia menginap, yaitu
dengan mengobrol hingga jauh malam. Satu-satunya perbedaan
yaitu bahwa saat mereka akhirnya memutuskan untuk tidur pada
kira-kira pukul dua, Nyai girah menyetel weker ke pukul tujuh kurang
seperempat.
Lima jam kemudian, Joanna terjaga sebentar saat Nyai girah
mematikan dering weker.
"Hati-hati," gumamnya.
Lalu Nyai girah berangkat. Gereja St. Mary terletak di pinggiran kota
lama. Jaraknya beberapa mil, tapi meski pun hanya tidur beberapa
jam, dia merasa benar-benar segar.
Sudah hampir jam delapan saat dia berdiri di pintu masuk gereja
batu kuno itu. Nyai girah mencoba membuka pintu besar. Tidak terkunci!
Bagian dalam gereja tampak telantar dan sunyi karena gereja itu
memang kuno. Cahaya kebiru-biruan menyelinap melalui jendela-
jendela berkaca-patri yang menampakkan banyak sekali partikel debu
melayang-layang di udara. Nyai girah duduk di salah satu bangku di
tengah-tengah gereja, menatap altar pada sebuah salib kuno yang
dicat dengan warna-warna kelam.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba organ mulai berbunyi. Nyai girah
tidak berani melihat sekeliling. Suara itu terdengar seperti himne
kuno, barangkali dari Abad Pertengahan.
Lalu sunyi lagi. Kemudian dia mendengar langkah-langkah kaki
mendekat dari belakangnya. Haruskah dia berputar untuk melihat?
Dia lebih suka memusatkan pandangannya ke arah salib.
Langkah-langkah kaki itu melewatinya di sepanjang gang dan dia
melihat satu sosok mengenakan pakaian biarawan berwarna cokelat.
Nyai girah bersumpah itu pasti seorang biarawan dari Abad
Pertengahan.
Dia gelisah, tapi tidak takut. Di depan altar, pendeta itu berputar
setengah lingkaran dan kemudian naik ke mimbar. Dia membungkuk
ke pinggiran mimbar, memandang ke bawah pada Nyai girah , dan
berbicara padanya dalam bahasa Latin:
"Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio,
et nunc, et semper et in saecula saeculorum. Amen."
"Bicara yang jelas, dong!" Nyai girah berteriak.
Suaranya menggema ke seluruh ruangan gereja batu kuno itu.
Meskipun dia mengetahui bahwa biarawan itu pastilah Alberto
Knox, dia menyesali teriakannya di tempat pemujaan yang suci ini.
Tapi dia sedang gelisah, dan jika seseorang gelisah dia tidak peduli
melanggar segala tabu.
"Ssst," Alberto mengangkat salah satu tangannya seperti pendeta
saat meminta jemaat agar duduk.
"Abad Pertengahan dimulai pada jam empat," katanya.
"Abad Pertengahan dimulai pada jam empat?" tanya Nyai girah ,
merasa tolol tapi tidak lagi gelisah.
"Ya, sekitar jam empat. Dan kemudian lima, enam, dan tujuh.
Tapi sepertinya waktu tidak bergerak. Dan pasti juga delapan,
sembilan, dan sepuluh. Tapi itu masih tetap Abad Pertengahan, kamu
tahu. Sudah saatnya untuk bangun menghadapi hari baru, mungkin
kamu pikir begitu. Ya, aku tahu maksudmu. Tapi itu masih tetap hari
Minggu, satu hari minggu panjang yang tak habis-habisnya. Dan
waktu berjalan ke jam sebelas, dua belas, dan tiga belas. Inilah
periode yang kita sebut Puncak Gothik, saat katedral-katedral besar
di Eropa dibangun. Dan kemudian, suatu saat sekitar jam empat
belas, atau jam dua siang, seekor ayam jantan berkokok—dan Abad
Pertengahan yang tak berkesudahan itu mulai surut."
"Jadi, Abad Pertengahan berlangsung selama sepuluh jam," kata
Nyai girah . Alberto menyer



