• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label nyi girah 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyi girah 6. Tampilkan semua postingan

nyi girah 6

 


a orang yang tidak memercayai adanya Tuhan yaitu  ateis, kami

pun mengatakan bahwa seseorang yang tidak memercayai dirinya

sendiri yaitu  ateis. Tidak percaya pada kemuliaan jiwanya sendiri

itulah yang kami sebut ateis."

Pengalaman mistik juga mengandung makna etika. Seorang mantan

Presiden India, Sarvepalli Radhakrishnan, pernah berkata, "Cintailah

tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri sebab

engkau yaitu  tetanggamu. llusilah yang membuatmu berpikir bahwa

tetanggamu yaitu  seseorang yang lain dari dirimu."

Orang-orang pada zaman kita sekarang yang tidak menganut agama

tertentu juga menceritakan pengalaman mistik. Mereka tiba-tiba

mengalami sesuatu yang mereka sebut "kesadaran kosmik" atau

"perasaan menyamudra". Mereka merasakan diri mereka direnggut

dari Waktu dan memandang dunia "dari perspektif keabadian".

Nyai girah  duduk tegak di tempat tidur. Dia harus merasa-rasakan

apakah dia masih memiliki tubuh. saat  semakin asyik membaca

Plato dan para ahli mistik, dia mulai merasa seakan-akan melayang

di seputar kamar, keluar jendela dan melambung jauh di atas kota.

Dari sana, dia menatap ke bawah ke arah orang-orang di alun-alun,

dan melayang semakin jauh dan jauh mengitari bulatan bumi yang

menjadi rumahnya, di atas Laut Utara dan Eropa, turun di atas Sahara

dan melintasi padang-padang rumput Afrika.

Seluruh dunia seperti menjadi seseorang yang hidup, dan rasanya

seolah-olah orang itu yaitu  Nyai girah  sendiri. Dunia yaitu  aku,

pikirnya. Semesta raya yang amat-sangat besar, yang sering

dirasakannya tak terpahami dan menakutkan—yaitu  "aku"-nya

sendiri. Kini pun semesta raya itu amat-sangat besar dan agung,

namun dirinya sendiri juga demikian besar.

Perasaan luar biasa itu berlalu dengan cepat, tapi Nyai girah  yakin dia

tidak akan pernah melupakannya. Rasanya seolah-olah sesuatu di

dalam dirinya telah melesat keluar dari dahinya dan menjadi satu

dengan segala sesuatu yang lain, sebagaimana setetes warna dapat

mewarnai seluruh air di dalam bejana.

saat  semua berakhir, rasanya seperti terbangun dengan kepala

sakit akibat mimpi indah. Dengan sedikit rasa kecewa, Nyai girah 

menyadari bahwa dia memiliki tubuh yang sedang berusaha untuk

bangkit duduk di tempat tidur. Berbaring menelungkup sambil

membaca halaman-halaman tulisan Alberto Knox telah membuat

punggungnya sakit. Tapi dia telah mengalami sesuatu yang tak

terlupakan.

Akhirnya, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya dan berdiri.

Yang pertama dilakukannya yaitu  membuat lubang-lubang pada

seluruh lembaran kertas itu dan menyatukannya dengan penjilid

cincin bersama pelajaran-pelajaran sebelumnya. Lalu, dia pergi ke

taman.

Burung-burung bernyanyi seakan-akan dunia baru saja lahir.

Dedaunan hijau pucat dari pohon birkin di balik kandang-kandang

kelinci begitu jelasnya, sehingga sepertinya Sang Pencipta belum

selesai mencampur warna.

Dapatkah dia benar-benar percaya bahwa segala sesuatu yaitu 

"aku" Ilahi yang satu? Dapatkah dia percaya bahwa dia membawa

serta dalam dirinya suatu jiwa yang merupakan "sepercik cahaya"?

Jika itu benar, sesungguhnya dia yaitu  makhluk Ilahiah.[]

Kartu Pos

***

... aku harus menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri ...

BEBERAPA HARI berlalu tanpa ada berita dari sang guru

filsafat. Besok hari Kamis, 17 Mei—hari nasional Norwegia.

Sekolah juga diliburkan pada tanggal 18. saat  berjalan pulang dari

sekolah, Joanna tiba-tiba berseru, "Mari pergi berkemah!"

Sesaat  Nyai girah  ingin mengatakan bahwa dia tidak bisa jauh-jauh

dari rumahnya untuk waktu lama. Tapi kemudian dia berkata, "Tentu,

mengapa tidak?"

Beberapa jam kemudian, Joanna tiba di depan pintu Nyai girah  dengan

tas punggung yang besar. Nyai girah  juga telah mengepak bekalnya, dan

dia pun membawa tenda. Mereka berdua membawa kasur gulung dan

sweter, alas kasur dan lampu senter, botol termos besar serta banyak

makanan kesukaan mereka.

saat  ibu Nyai girah  tiba di rumah sekitar jam lima, dia menceramahi

mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ibu juga

mendesak mereka untuk mengatakan di mana mereka akan mendirikan

kemah.

Mereka berencana pergi ke Puncak Belibis. Mungkin mereka

cukup beruntung bisa mendengar riuh suara burung-burung belibis

yang hendak kawin keesokan harinya.

       Nyai girah  mempunyai niat terselubung dengan memilih tempat

itu. Dia pikir Puncak Belibis pasti dekat sekali dengan Gubuk sang

Mayor. Sesuatu telah mendorongnya untuk kembali ke sana, tapi dia

tidak berani pergi sendiri.

Kedua gadis itu melewati jalan yang berawal dari gang buntu tepat

di luar pintu gerbang rumah Nyai girah . Mereka berceloteh tentang ini

dan itu, dan Nyai girah  menikmati sedikit waktu jeda dari segala sesuatu

yang ada hubungannya dengan filsafat.

Menjelang jam delapan, mereka telah mendirikan tenda di tanah

terbuka dekat Puncak Belibis. Mereka menyiapkan diri untuk malam

itu dan kasur gulung mereka telah dibuka. saat  mereka sedang

makan sandwich, Nyai girah  bertanya, "Pernahkah kamu mendengar

tentang Gubuk sang Mayor?"

"Gubuk sang Mayor?"

"Ada sebuah gubuk di hutan sekitar sini ... dekat sebuah danau

kecil. Seorang pria aneh pernah tinggal di sana, seorang mayor, itulah

sebabnya tempat itu dinamakan Gubuk sang Mayor."

"Apa ada yang tinggal di sana sekarang?"

"Kamu ingin pergi melihatnya?"

"Di mana itu?"

Nyai girah  menunjuk ke arah pepohonan. Joanna tidak terlalu

bersemangat, tapi akhirnya mereka berangkat. Matahari menggantung

rendah di langit.

Mula-mula mereka berjalan di antara pohon-pohon pinus yang

tinggi, tapi tak lama kemudian mereka mulai menembus semak-semak

dan belukar. Akhirnya, mereka sampai di sebuah jalan. Mungkinkah

ini jalan yang telah di lewati Nyai girah  Minggu pagi itu?

       Tentuya begitu—segera dia dapat melihat sesuatu yang

bersinar di antara pepohonan di arah kanan jalan ini .

"Itu di sana," katanya. Mereka segera tiba di tepi sebuah danau

kecil. Nyai girah  menatap gubuk di seberang danau. Semua jendela kini

tertutup rapat. Bangunan berwarna merah itu merupakan tempat

paling telantar yang pernah dilihatnya.

Joanna berpaling ke arahnya, "Apakah kita harus berjalan di atas

air?"

"Tentu saja tidak. Kita akan mendayung."

Nyai girah  menunjuk ke arah alang-alang. Di sana ada perahu dayung,

persis seperti dulu.

"Pernahkah kamu ke sini sebelumnya?"

Nyai girah  menggelengkan kepala. Berusaha menjelaskan

kunjungannya sebelumnya akan terlalu merepotkan. Oleh karena dia

harus menceritakan Alberto Knox  dan pelajaran filsafat itu pula.

Mereka bersenda gurau sewaktu mendayung menyeberangi danau.

saat  sampai di tepi seberang, Nyai girah  memastikan bahwa mereka

telah menempatkan perahu itu di atas daratan.

Mereka pergi ke pintu depan. Karena jelas tidak ada orang di

dalam gubuk, Joanna mencoba pegangan pintu.

"Terkunci ... kamu tidak berharap pintu ini terbuka, kan?"

"Mungkin kita dapat menemukan kunci," kata Nyai girah .

Dia mulai mencari-cari di celah-celah pondasi dari batu itu.

      "Oh, mari kita kembali ke tenda saja," kata Joanna setelah

beberapa menit. Tapi pada saat itu Nyai girah  berseru, "Ini dia! Aku

menemukannya!"

Dia mengacungkan kunci itu dengan penuh kemenangan. Dia

memasangkannya ke pintu dan pintu pun terbuka.

Kedua sahabat itu menyelinap masuk seakan-akan mereka sedang

melakukan suatu kejahatan. Di dalam gubuk terasa gelap dan dingin.

"Kita tidak dapat melihat apa-apa!" kata Joanna.

Tapi Nyai girah  telah memikirkan hal itu. Dia mengambil sekotak

korek api dari kantong bajunya dan menyalakannya. Sebelum korek

api padam, mereka hanya sempat melihat bahwa gubuk itu telah

ditelantarkan. Nyai girah  menyalakan satu lagi, dan kali ini dia melihat

sebuah puntung lilin pada kandil dari besi tempa di atas tungku. Dia

menyalakannya dengan korek ketiga dan ruangan kecil itu menjadi

cukup terang bagi mereka untuk melihat sekeliling.

"Bukankah aneh bahwa lilin yang begitu kecil dapat menerangi

kegelapan yang begitu luas?"

Kawannya mengangguk.

"Tapi di suatu tempat, lilin itu lenyap ditelan kegelapan," Nyai girah 

meneruskan. "Sesungguhnya, kegelapan itu tidak mempunyai

keberadaan sendiri. Itu hanya karena tidak ada cahaya."

Joanna merinding. "Sungguh mengerikan! Ayolah, mari pergi ..."

Nyai girah  menunjuk ke arah cermin kuningan yang tergantung di atas

kotak laci, persis seperti sebelumnya.

"Bagus sekali!" kata Joanna.

"Tapi itu cermin sihir."

       "Cermin, cermin di dinding, siapa yang paling cantik di dunia

ini?"

"Aku tidak bercanda, Joanna. Aku yakin kamu dapat menatap ke

dalamnya dan melihat sesuatu pada sisi lainnya."

"Apakah kamu yakin kamu tidak pernah ke sini sebelumnya? Dan

mengapa kamu senang betul menakut-nakuti aku terus?"

Nyai girah  tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

"Maaf."

Sekarang, Joannalah yang tiba-tiba menemukan sesuatu di atas

lantai di sudut. Sebuah kotak kecil. Joanna mengambilnya.

"Kartu pos," katanya.

Nyai girah  menahan napas. "Jangan sentuh! Dengar—jangan berani-

berani menyentuhnya!"

Joanna terlompat. Dia menjatuhkan kotak itu seakan-akan

tangannya terbakar. Kartu pos itu bertebaran ke seluruh lantai. Detik

berikutnya dia tertawa.

"Cuma kartu pos!"

Joanna duduk di atas lantai dan memunguti kartu-kartu ini .

Setelah sesaat, Nyai girah  duduk di sampingnya.

"Lebanon ... Lebanon ... Lebanon ... Semuanya diberi cap pos

Lebanon," Joanna berkata.

"Aku tahu," kata Nyai girah . Joanna menatap ke mata Nyai girah . "Jadi

kamu sudah pernah ke sini sebelumnya!"

"Ya, kukira sudah."

     Tiba-tiba, terpikirkan olehnya bahwa akan jauh lebih mudah

jika dia mengakui memang pernah ke sini sebelumnya. Tidak ada

salahnya jika dia membiarkan sahabatnya mengetahui hal-hal

misterius yang telah dialaminya beberapa hari terakhir ini.

"Aku tidak ingin mengatakannya padamu sebelum kita tiba di sini."

Joanna mulai membaca kartu-kartu itu.

"Semua dialamatkan pada seseorang bernama count dracula  Moller Knag."

Nyai girah  belum menyentuh kartu-kartu itu.

"Di mana alamatnya?"

Joanna berkata: "count dracula  Moller Knag, d/a Alberto Knox, Lillesand,

Norwegia."

Nyai girah  mengembuskan napas lega. Dia sudah khawatir kalau-kalau

alamat yang tercantum d/a Nyai girah  Amundsend.

Dia mulai memeriksanya dengan lebih cermat.

"28 April ... 4 Mei ...  6 Mei ... 9 Mei .... Semuanya dicap

beberapa hari yang lalu."

"Tapi ada yang lain. Semua cap pos itu dari Norwegia! Lihat itu ...

Batalion PBB ... prangkonya dari Norwegia juga!"

"Kukira memang begitulah cara mereka. Mereka harus tetap netral,

jadi mereka punya kantor pos Norwegia sendiri di sana."

"Tapi, bagaimana surat itu sampai ke sini?"

"Lewat angkatan udara, mungkin,"

Nyai girah  meletakkan tempat lilin di atas lantai, dan kedua sahabat itu

mulai membaca kartu. Joanna mengaturnya dengan urut dan membaca

kartu pertama:

count dracula  sayang, aku tidak sabar menanti untuk pulang ke

Lillesand. Aku berharap akan mendarat di bandara Kjevik senja

hari pada pertengahan musim panas. Sebenarnya aku lebih suka

tiba tepat pada hari ulang tahunmu yang ke-15, tapi aku kan

terikat perintah militer. Untuk mengobati kekecewaan itu nanti,

aku berjanji akan mencurahkan seluruh perhatian dan kasih

sayangku pada hadiah besar yang akan kamu terima pada hari

ulang tahunmu.

Penuh cinta dari seseorang yang selalu memikirkan masa

depan putrinya.

N.B. Aku mengirimkan salinan kartu ini pada teman kita

bersama. Aku tahu kamu mengerti, count dracula . Untuk saat ini, aku

harus menyimpan rahasia dulu, tapi kamu akan mengerti.

Nyai girah  mengambil kartu berikutnya:

count dracula  sayang, di sini kami menghitung hari demi hari. Jika

ada satu hal yang akan tetap kuingat dari berbulan-bulan di

Lebanon, hanyalah penantian ini. Tapi, aku melakukan apa saja

agar kamu dapat merayakan ulang tahun ke-15 sehebat mungkin,

Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Aku sedang

menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri. Penuh cinta, Ayah.

Kedua sahabat itu duduk menahan napas dengan perasaan nyaris

meledak. Tak seorang pun di antara mereka berbicara, mereka hanya

membaca apa yang tertulis pada kartu-kartu ini :

Anakku sayang, yang paling ingin kulakukan hari ini yaitu 

mengirimkan kepadamu seluruh pikiran rahasiaku lewat seekor

merpati putih. Tapi tidak ada merpati putih di Lebanon. Jika ada

yang dibutuhkan oleh negeri yang tercabik- cabik perang ini,

tentulah merpati putih itu. Aku berdoa agar PBB dapat benar-

benar menciptakan perdamaian di dunia suatu hari nanti.

N.B. Mungkin hadiah ulang tahunmu dapat dibagi dengan

orang lain. Kita akan bicarakan hal itu kalau aku sudah pulang.

Tapi kamu masih belum tahu apa yang aku maksud, bukan?

Dengan penuh cinta dari seseorang yang mempunyai banyak

sekali waktu untuk memikirkan kita berdua.

saat  mereka telah membaca enam kartu, hanya tinggal satu lagi

yang belum terbaca. Bunyinya:

count dracula  sayang, aku sekarang hampir meledak karena rahasia

yang kusimpan untuk ulang tahunmu sehingga aku harus menahan

diriku beberapa kali sehari agar tidak menelepon ke rumah dan

membocorkan rencana. Rahasia ini terus tumbuh dan tumbuh.

Dan seperti kamu tahu, jika sesuatu bertambah besar dan makin

besar, akan sulit sekali untuk menyimpannya sendiri. Penuh cinta

dari Ayah.

    N.B. Suatu hari nanti, kamu akan bertemu seorang gadis

bernama Nyai girah . Untuk menciptakan kesempatan pada kalian

berdua agar saling kenal sebelum kalian bertemu, aku sudah

mulai mengiriminya salinan-salinan dari semua kartu yang

kukirimkan padamu. Kuharap dia mulai mengerti, count dracula . Tapi

yang dia ketahui tidak lebih banyak daripada yang kau ketahui.

Dia mempunyai seorang sahabat bernama Joanna. Barangkali

dia dapat membantu?

Setelah membaca kartu terakhir, Joanna dan Nyai girah  duduk tak

bergerak sambil saling menatap dengan ketakutan. Joanna memegang

pergelangan tangan Nyai girah  erat-erat.

"Aku takut," katanya.

"Aku juga."

"Kapan kartu terakhir itu dicap?"

Nyai girah  menatap lagi kartu itu.

"16 Mei," katanya. "Itu berarti hari ini."

"Tidak mungkin!" teriak Joanna, nyaris marah.

Mereka memeriksa kartu itu dengan cermat, tapi tidak ada yang

salah ... 16 Mei 1990.

"Itu mustahil," Joanna berkeras. "Dan aku tidak dapat

membayangkan siapa yang telah menulisnya. Pasti seseorang yang

mengenal kita. Tapi bagaimana mereka tahu kita akan datang ke sini

tepat pada hari ini?"

Joanna jauh lebih ketakutan dibandingkan dengan Nyai girah . Urusan

dengan count dracula  dan ayahnya tidak baru lagi bagi Nyai girah .

       "Kukira itu ada hubungannya dengan cermin kuningan."

Joanna terlompat lagi. "Kamu benar-benar mengira bahwa kartu-

kartu itu meluncur keluar begitu saja dari cermin begitu dicap di

Lebanon?"

"Apa kamu punya penjelasan lebih baik?"

"Tidak."

Nyai girah  berdiri dan menaikkan lilin yang dipegangnya ke depan dua

potret di dinding. Joanna mendekat dan mengintip kedua lukisan

ini .

"Berkeley dan Bjerkely. Apa artinya?"

"Aku tidak tahu."

Lilin sudah hampir habis.

"Mari pergi," kata Joanna. "Ayolah!"

"Kita harus membawa cermin itu." Nyai girah  mengulurkan tangannya

ke atas dan melepaskan cermin kuningan yang besar itu dari kaitannya

pada dinding di atas peti laci. Joanna berusaha untuk mencegahnya,

tapi Nyai girah  tidak mau dihalangi.

saat  mereka sampai di luar, hari sudah gelap. Tapi masih ada

sedikit cahaya di langit sehingga garis semak-semak dan pepohonan

masih terlihat. Danau kecil itu terhampar bagaikan cermin bagi langit

di atasnya. Kedua gadis itu mendayung seolah tanpa sadar melintas

keseberang.

Tak satu pun di antara mereka berbicara dalam perjalanan pulang

kembali ke tenda, tapi masing-masing tahu bahwa sahabatnya tengah

berpikir keras tentang apa yang telah mereka lihat.

       Sekali-sekali seekor burung yang ketakutan menciap-ciap, dan

beberapa kali terdengar suara keras burung hantu.

Begitu mereka sampai di tenda, mereka merayap ke dalam kasur

gulung. Joanna tidak mau membiarkan cermin itu dimasukkan ke

dalam tenda. Sebelum jatuh tertidur, mereka sepakat bahwa hal itu

cukup menakutkan, mengingat benda itu ada tepat di luar penutup

tenda. Nyai girah  juga telah mengambil semua kartu pos dan

memasukkannya ke dalam salah satu saku tas punggungnya.

Mereka bangun pagi-pagi keesokan harinya. Nyai girah  terjaga lebih

dulu. Dia mengenakan sepatunya dan pergi keluar tenda. Cermin

besar itu tergeletak di rerumputan, tertutup embun.

Nyai girah  menyeka embun dengan sweternya dan menatap ke bawah

pada bayangannya sendiri. Rasanya seakan-akan dia sedang

memandang ke bawah dan ke atas sekaligus. Untungnya dia tidak

menemukan kartu pos dini hari dari Lebanon.

Di atas tanah terbuka di belakang tenda, kabut pagi berarak pelan-

pelan dan berubah menjadi seperti gumpalan-gumpalan kapas.

Burung-burung kecil berkicau dengan penuh semangat, namun Nyai girah 

tidak dapat melihat atau mendengar seekor belibis pun.

Kedua gadis itu mengenakan sweter ekstra dan memakan sarapan

mereka di luar tenda. Percakapan mereka dengan segera beralih ke

Gubuk sang Mayor dan kartu-kartu misterius itu.

Setelah sarapan, mereka melipat tenda dan bersiap-siap pulang.

Nyai girah  menenteng cermin besar itu di ketiaknya. Kadang-kadang, dia

perlu beristirahat—Joanna menolak untuk menyentuhnya.

       saat  tiba di pinggir kota, sesekali mereka mendengar suara

tembakan. Nyai girah  ingat apa yang telah ditulis ayah count dracula  tentang

Lebanon yang dihancurkan perang, dan dia sadar betapa beruntungnya

dia dilahirkan di sebuah negara yang damai. "Tembakan-tembakan"

yang mereka dengar itu berasal dari suara kembang api untuk

merayakan hari libur nasional.

Nyai girah  mengundang Joanna untuk minum cokelat panas. Ibunya

sangat penasaran dari mana mereka menemukan cermin itu. Nyai girah 

menceritakan bahwa mereka menemukannya di luar Gubuk sang

Mayor, dan ibunya mengulang cerita tentang tidak adanya orang yang

tinggal di sana selama bertahun-tahun.

saat  Joanna sudah pergi, Nyai girah  mengenakan gaun merah. Sisa

hari nasional Norwegia itu berlalu biasa-biasa saja. Pada malam

hari, berita televisi menampilkan laporan khusus tentang bagaimana

batalion PBB Norwegia merayakan hari itu di Lebanon. Mata Nyai girah 

sepertinya tertancap ke layar. Salah seorang pria yang sedang

ditatapnya itu bisa jadi ayah count dracula .

Yang terakhir dilakukan Nyai girah  pada 17 Mei yaitu  menggantung

cermin besar itu di dinding kamarnya. Pagi berikutnya, ada amplop

cokelat baru di sarang. Dia menyobeknya hingga terbuka dan cepat-

cepat mulai membaca.[]

 

Dua Kebudayaan

***

... satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di

ruang hampa ...

TIDAK LAMA lagi kita akan bertemu, Nyai girah ku yang baik.

Kukira kamu akan kembali ke Gubuk sang Mayor—itulah sebabnya

aku tinggalkan semua kartu dari ayah count dracula  di sana. Itulah satu-

satunya cara agar kartu-kartu ini  dapat dikirimkan kepadanya.

Jangan pikirkan bagaimana dia akan memperolehnya. Banyak yang

mungkin terjadi sebelum tanggal 15 Juni.

Kita telah tahu bagaimana para filosof Helenistik mendaur-ulang

gagasan-gagasan para filosof sebelumnya. Plotinus nyaris

menyatakan Plato sebagai penyelamat umat manusia.

Tapi seperti yang kita tahu, seorang penyelamat lain dilahirkan

dalam periode yang baru saja kita bicarakan—dan itu terjadi di luar

wilayah Yunani-Romawi. Yang kumaksudkan yaitu  Yesus dari

Nazareth. Dalam bab ini, kita akan mengetahui bagaimana agama

Kristen lambat laun mulai menyusup ke dalam dunia Yunani-Romawi

—kurang-lebih dengan cara yang sama, dunia count dracula  lambat laun

mulai menyusup ke dalam dunia kita.

Yesus yaitu  seorang Yahudi, dan bangsa Yahudi termasuk

kebudayaan Semit. Bangsa Yunani dan Romawi termasuk kebudayaan

Indo-Eropa. Peradaban Eropa berakar pada kedua kebudayaan itu.

Tapi sebelum kita mempelajari lebih jelas tentang cara agama

Kristen memengaruhi kebudayaan Yunani-Romawi, kita harus

menelaah dulu akar-akar ini.

BANGSA INDO-EROPA

Yang kita maksudkan dengan Indo-Eropa yaitu  semua negara dan

kebudayaan yang menggunakan bahasa-bahasa Indo-Eropa. Ini

mencakup seluruh negara Eropa, kecuali yang penduduknya berbicara

dengan bahasa-bahasa Finno-Ugria (Lapp, Finlandia, Estonia, dan

Hungaria) atau Basque. Selain itu, kebanyakan bahasa India dan Iran

termasuk keluarga bahasa Indo-Eropa.

Kira-kira 4.000 tahun yang lalu, bangsa-bangsa Indo-Eropa yang

masih primitif tinggal di wilayah-wilayah yang membatasi Laut

Hitam dan Laut Kaspia. Dari sana, gelombang-gelombang suku Indo-

Eropa ini mulai menjelajah ke tenggara menuju Iran dan India, ke

barat daya menuju Yunani, Italia, dan Spanyol, ke barat melalui

Eropa Tengah menuju Prancis dan Inggris, ke barat laut menuju

Skandinavia dan ke utara menuju Eropa Timur dan Rusia. Ke mana

pun mereka pergi, bangsa-bangsa Indo-Eropa itu membaurkan diri

dengan kebudayaan setempat, meskipun bahasa-bahasa Indo-Eropa

dan agama Indo-Eropa memainkan peranan kuat.

Kitab Veda India kuno dan filsafat Yunani, dan dalam hal itu juga

mitologi Snorri Sturluson semuanya ditulis dalam bahasa-bahasa

yang berkaitan. Tapi bukan hanya bahasa yang terkait. Keterkaitan

bahasa mendorong timbulnya keterkaitan gagasan. Inilah sebabnya

kita biasanya berbicara tentang "kebudayaan" Indo-Eropa

Kebudayaan bangsa Indo-Eropa terutama dipengaruhi oleh

kepercayaan mereka pada dewa-dewa yang banyak jumlahnya. Ini

dinamakan politeisme. Nama-nama para dewa ini serta sebagian

besar terminologi keagamaan sering muncul di seluruh wilayah Indo-

Eropa. Aku akan memberimu beberapa contoh:

Orang-orang India kuno memuja Dewa Langit Dyaus, yang dalam

bahasa Sanskrit berarti angkasa, siang hari, langit/surga. Dalam

bahasa Yunani, dewa ini disebut Zeus, dalam bahasa Latin, Jupiter

(sebenarnya iov-pater, atau "Bapak Langit"), dan dalam bahasa

Norwegia kuno, Tyr. Jadi nama-nama Dyaus, Zeus, lov, dan Tyr

yaitu  variasi dialektis dari kata yang sama.

Kamu mungkin telah mengetahui bahwa bangsa Viking kuno

percaya pada dewa-dewa yang mereka namakan Aser. Ini yaitu 

nama lain yang sering kita temukan di seluruh wilayah Indo-Eropa.

Dalam bahasa Sanskrit, bahasa klasik India kuno, dewa-dewa itu

dinamakan Asura dan dalam bahasa Persia Ahura. Kata lain untuk

"dewa" yaitu  deva dalam bahasa Sanskrit, daeva dalam bahasa

Persia, deus dalam bahasa Latin, dan tivurr dalam bahasa Norwegia

kuno.

Pada zaman kejayaan Viking, orang-orang juga percaya pada

sekelompok dewa kesuburan (seperti Niord, Freyr, dan Freyja).

Dewa-dewa ini disebut dengan nama kolektif khusus, vaner, sebuah

kata yang terkait dengan nama Latin untuk Dewi Kesuburan, Venus.

Bahasa Sanskrit mempunyai kata yang sama yaitu vani, yang berarti

"hasrat".

Beberapa mitos Indo-Eropa juga memiliki keterkaitan yang jelas.

Dalam dongeng Snorri tentang dewa-dewa Norwegia kuno, sebagian

mitos-mitos itu sama dengan mitos-mitos India yang berasal dari dua

atau tiga ribu tahun sebelumnya. Meskipun mitos Snorri

mencerminkan lingkungan Norwegia dan mitos India mencerminkan

lingkungan India, kebanyakan diantaranya menunjukkan jejak asal

usul yang sama. Jejak-jejak ini paling jelas terlihat dalam mitos

mengenai ramuan untuk hidup abadi dan perjuangan para dewa

melawan monster-monster pengacau.

Kita juga dapat melihat kesamaan yang jelas dalam cara berpikir

di seluruh kebudayaan Indo-Eropa. Kesamaan yang khas yaitu  cara

mereka memandang dunia, yaitu sebagai subjek drama yang di

dalamnya kekuatan Baik dan Jahat saling berhadapan dalam

pertarungan yang tak henti-hentinya. Bangsa Indo-Eropa karenanya

sering berusaha untuk "meramalkan" bagaimana peperangan antara

Kebaikan dan Kejahatan akan diakhiri.

Ada benarnya jika orang mengatakan bahwa bukan kebetulan kalau

filsafat Yunani berasal dari lingkungan kebudayaan Indo-Eropa.

Mitologi India, Yunani, dan Norwegia semuanya mempunyai

kecenderungan pada pandangan dunia yang filosofis, atau

"spekulatif".

Bangsa Indo-Eropa mencari "wawasan" ke dalam sejarah dunia.

Kita bahkan dapat melacak sebuah kata tertentu untuk "wawasan"

atau "pengetahuan" dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain di

seluruh dunia Indo-Eropa. Dalam bahasa Sanskrit itu dinamakan

vidya. Kata itu identik dengan kata Yunani idea, yang sangat penting

dalam filsafat Plato. Dari bahasa Latin, kita temukan kata video, tapi

di Romawi kata itu berarti melihat. Dalam bahasa Inggris,"I see"

dapat berarti "I understand", dan dalam cerita kartun, sebuah bola

lampu menyala di gambarkan di atas kepala Woody Woodpecker

saat  dia mendapatkan sebuah gagasan cemerlang. (Baru belakangan

ini saja kata"seeing" menjadi sinonim dengan menatap layar

televisi.) Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata wise dan wisdom

—dalam bahasa jerman, wissen (mengetahui). Dalam bahasa

Norwegia terdapat kata viten, yang mempunyai akar yang sama

dengan kata India vidya, kata Yunani idea, dan kata Latin video.

Mengingat semua itu, dapat kita katakan bahwa penglihatan yaitu 

indra yang paling penting bagi bangsa Indo-Eropa. Literatur bangsa

India, Yunani, Persia, dan Teuton semuanya mempunyai ciri

gambaran (visions) kosmik. (Kata itu muncul lagi: vision berasal

dari kata kerja Latin "video".) Eropa juga mempunyai budaya

membuat gambar dan patung dewa-dewa dan peristiwa-peristiwa

dalam dongeng.

Yang terakhir, bangsa Indo-Eropa mempunyai pandangan sejarah

yang bersifat siklus. Mereka percaya bahwa sejarah berlangsung

dalam lingkaran tertutup, sebagaimana musim-musim dalam setahun.

Oleh karena itu, tidak ada awal dan tidak ada akhir bagi sejarah.

Namun, ada berbagai peradaban yang jatuh bangun dalam peristiwa

saling-pengaruh yang abadi antara kelahiran dan kematian.

Kedua agama besar dari Timur itu, Hindu dan Buddha, asalnya

yaitu  dari Indo-Eropa. Demikian pula filsafat Yunani, dan kita

dapat melihat adanya sejumlah paralel yang nyata antara ajaran

Hindu dan Buddha di satu pihak dan filsafat Yunani di pihak lain.

Bahkan hingga sekarang, ajaran Hindu dan Buddha sarat dengan

renungan filosofis.

Tidak jarang kita temukan dalam ajaran Hindu dan Buddha suatu

penekanan bahwa dewa-dewa itu ada di semua benda (panteisme)

dan bahwa manusia dapat menjadi satu dengan Tuhan melalui

pengalaman religius. (Ingat Plotinus, Nyai girah ?) Untuk mencapai ini

diperlukan praktik penyatuan diri yang mendalam atau meditasi.

Karena itu di Timur, sikap pasif dan menarik diri dapat dianggap

sebagai cita-cita agama. Di Yunani kuno pun ada banyak orang yang

percaya pada cara hidup asketik, atau mengasingkan diri secara

religius, untuk mendapatkan keselamatan jiwa. Banyak aspek

kehidupan monastik Abad Pertengahan dapat ditemukan dalam

kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari kebudayaan Yunani-

Romawi. Begitu pula perpindahan jiwa, atau siklus kelahiran

kembali, merupakan kepercayaan mendasar di banyak kebudayaan

Indo-Eropa. Selama lebih dari 2.500 tahun, tujuan akhir dari

kehidupan setiap orang India yaitu  membebaskan diri dari siklus

kelahiran kembali. Plato juga percaya pada perpindahan jiwa.

Bangsa Semit

Mari kita kembali pada bangsa Semit, Nyai girah . Mereka termasuk

dalam kebudayaan yang sama sekali berbeda dengan bahasa yang

sama sekali berbeda pula. Bangsa Semit berasal dari Jazirah Arab,

tapi mereka juga bermigrasi ke bagian-bagian dunia yang lain.

Bangsa Yahudi hidup jauh dari tanah air mereka selama lebih dari

2.000 tahun. Sejarah dan agama Semit mencapai tempat-tempat yang

jauh dari akarnya melalui ajaran Kristen, meskipun kebudayaan

Semit juga tersebar luas lewat ajaran Islam.

Ketiga agama Barat itu—Yahudi, Kristen, dan Islam—sama-sama

berlatar belakang Semit. Kitab agama Islam, Al-Quran, dan kitab

suci agama Kristen, Perjanjian Lama, ditulis dalam rumpun bahasa

Semit. Salah satu kata dari Perjanjian Lama untuk "tuhan" mempunyai

akar semantik yang sama dengan kata "Allah" yang dipakai kaum

Muslim. (Kata "Allah" berarti, sederhana sekali, "tuhan".)

Dalam hal agama Kristen, gambarannya agak lebih rumit. Agama

Kristen juga mempunyai latar belakang Semit, tapi Perjanjian Baru

ditulis dalam bahasa Yunani. Rumusan teologi atau kredo Kristen

telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Latin, dan karenanya juga

oleh filsafat Helenistik. Bangsa Indo-Eropa percaya pada banyak

dewa yang berbeda. Juga merupakan ciri khas bangsa Semit bahwa

sejak zaman dahulu mereka telah disatukan oleh kepercayaan pada

satu Tuhan. Ini dinamakan monoteisme. Agama Yahudi, Kristen, dan

Islam semuanya mempunyai gagasan dasar yang sama, yaitu bahwa

hanya ada satu Tuhan.

Bangsa Semit mempunyai pandangan linier tentang sejarah.

Dengan kata lain, sejarah dipandang sebagai sebuah garis lurus. Pada

mulanya, Tuhan menciptakan dunia dan itulah awal sejarah. Tapi

suatu hari sejarah akan berakhir dan itu yaitu  Hari Kiamat, saat 

Tuhan mengadili semua makhluk yang hidup maupun yang mati.

Penekanan penting yang diberikan pada sejarah merupakan ciri

ketiga agama Barat ini. Ada kepercayaan bahwa Tuhan ikut campur

tangan pada jalannya sejarah—bahkan sejarah itu ada agar Tuhan

dapat mewujudkan kehendaknya di dunia. Sebagaimana Dia pernah

memimpin Ibrahim menuju "Tanah yang Dijanjikan", Dia pula yang

memimpin langkah umat manusia melalui sejarah menuju Hari

Kiamat. Jika hari itu datang, semua kejahatan di dunia akan

dihancurkan.

Dengan tekanan yang kuat pada aktivitas Tuhan dalam jalannya

sejarah, bangsa Semit disibukkan dengan penulisan sejarah selama

ribuan tahun. Dan akar sejarah ini merupakan inti sari kitab suci

mereka.

Bahkan pada zaman sekarang, Kota Jerusalem merupakan pusat

agama yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi, Kristen, dan

Islam. Ini menunjukkan kesamaan latar belakang ketiga agama

ini .

        Di kota itu terdapat beberapa sinagoge (Yahudi), gereja

(Kristen), dan masjid (Islam) terkemuka. Oleh karena itu, sungguh

tragis bahwa Jerusalem justru menjadi sumber pertikaian—ribuan

orang saling bunuh karena mereka tidak dapat mencapai kesepakatan

tentang siapa yang berhak menguasi "Kota Abadi" ini. Semoga PBB

suatu hari nanti dapat membuat Jerusalem menjadi kuil suci bagi

ketiga agama ini ! (Kita tidak perlu melangkah lebih jauh pada

sisi praktis dari pelajaran filsafat kita untuk saat ini. Kita akan

menyerahkan sepenuhnya ke tangan ayah count dracula . Kamu sekarang

mestinya telah tahu bahwa dia seorang pengamat PBB di Lebanon.

Tepatnya, dapat kukatakan bahwa dia berpangkat mayor. Jika kamu

mulai dapat memahami beberapa kaitan yang ada, memang sudah

seharusnya begitu. Tapi sebaiknya kita tidak meramalkan peristiwa

apapun!)

Kita ketahui bahwa indra yang paling penting bagi bangsa Indo-

Eropa yaitu  penglihatan. Betapa pentingnya pendengaran dalam

kebudayaan Semit pun sama menariknya. Bukan kebetulan bahwa

kredo Yahudi dimulai dengan kata-kata: "Dengarlah, wahai Israel!"

Dalam Perjanjian Lama, kita baca bagaimana orang-orang

"mendengar" firman Tuhan, dan para nabi Yahudi biasanya memulai

khutbah mereka dengan kata-kata: "Demikian kata Jehovah (Tuhan)."

"Mendengar" firman Tuhan juga ditekankan dalam agama Kristen.

Upacara-upacara agama Kristen, Yahudi, dan Islam semuanya

mempunyai ciri membaca keras-keras atau "mengaji".

Aku juga telah mengatakan bahwa bangsa Indo-Eropa selalu

membuat gambar atau patung dewa-dewa mereka. Sebaliknya, ciri

khas bangsa Semit yaitu  bahwa mereka tidak pernah melakukan

yang seperti itu. Mereka tidak diperbolehkan membuat gambar atau

patung Tuhan atau "dewa" mereka. Perjanjian Lama memerintahkan

agar orang-orang tidak membuat citra tentang Tuhan. Ini masih

menjadi hukum hingga sekarang bagi para penganut agama Yahudi

maupun Islam. Dalam Islam bahkan ada keengganan terhadap

fotografi dan lukisan, sebab orang tidak boleh bersaing dengan Tuhan

dalam "menciptakan" sesuatu.

Tapi, gereja-gereja Kristen penuh dengan lukisan Yesus dan

Tuhan, kamu mungkin berkata begitu dalam hati. Memang benar,

Nyai girah , tapi ini hanya salah satu bukti bagaimana agama Kristen telah

terpengaruh oleh dunia Yunani-Romawi. (Dalam Gereja Ortodoks

Yunani—yaitu, di Yunani dan Rusia—"patung berhala", atau patung

dan salib, dari kisah-kisah Bibel masih di larang.)

Berkebalikan dengan agama-agama besar dari Timur, ketiga agama

dari Barat itu menekankan bahwa ada jarak antara Tuhan dan

ciptaan-Nya. Tujuannya bukanlah untuk di bebaskan dari siklus

kelahiran kembali, melainkan untuk ditebus dari dosa dan kesalahan.

Lagi pula, kehidupan keagamaan mereka lebih mementingkan doa,

khutbah, dan telaah kitab suci daripada penyatuan diri dan meditasi.

Israel

Aku tidak berniat untuk bersaing dengan guru agamamu, Nyai girah .

Tapi, marilah kita membuat ikhtisar ringkas mengenai latar belakang

Yahudi dari agama Kristen.

Awalnya yaitu  saat  Tuhan menciptakan dunia. Kamu dapat

membaca bagaimana hal itu terjadi pada halaman pertama Bibel.

Lalu, umat manusia mulai memberontak melawan Tuhan.

Hukumannya bukan hanya Adam dan Hawa diusir dari Taman

Firdaus—Kematian pun datang ke dunia.

Ketidakpatuhan manusia kepada Tuhan merupakan tema yang

selalu ada di seluruh Bibel. Jika kita membaca terus Kitab Kejadian,

kita akan membaca tentang Banjir dan Kapal Nabi Nuh. Lalu, kita

akan membaca bahwa Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim

dan keturunannya. Perjanjian ini menyatakan bahwa Ibrahim dan

seluruh keturunannya akan mematuhi perintah-perintah Tuhan.

Sebagai imbalan, Tuhan berjanji akan melindungi seluruh keturunan

Ibrahim. Perjanjian ini diperbarui saat  kepada Musa diturunkan

Sepuluh perintah di Gunung Sinai pada 1200 SM. Pada waktu itu,

bangsa Israel telah lama dijadikan budak di Mesir, tapi dengan

bantuan Tuhan mereka berhasil dipimpin kembali ke tanah Israel.

Kira-kira 1.000 tahun sebelum kelahiran Kristus—dan karenanya

jauh sebelum ada yang dinamakan filsafat Yunani—kita mendengar

tentang tiga raja besar Israel. Yang pertama yaitu  Saul, lalu muncul

Daud, dan setelah dia, Sulaiman. Kini, seluruh Israel disatukan

dalam satu kerajaan, dan di bawah Raja Daud, terutama, mereka

mengalami masa kejayaan politik, militer, dan budaya.

saat  raja-raja dipilih, mereka diusapi oleh rakyat. Oleh karena

itu, mereka menerima gelar Al-Masih, yang berarti "orang yang

diusapi". Dalam pengertian keagamaan, raja dipandang sebagai

perantara antara Tuhan dan rakyatnya. Oleh karena itu, mereka

menyebutnya "Putra Tuhan" dan kerajaannya disebut "Kerajaan

Tuhan".

Tapi tak lama kemudian, Israel mulai kehilangan kekuasaan dan

kerajaan dibagi menjadi kerajaan Utara (Israel) dan kerajaan Selatan

(Judea). Pada 722 SM, kerajaan Utara ditaklukkan oleh bangsa

Assyria dan kehilangan seluruh kekuatan politik dan keagamaannya.

Kerajaan Selatan mengalami nasib yang tidak lebih baik, karena

ditaklukkan oleh bangsa Babilonia pada 586 SM. Kuilnya

dihancurkan dan kebanyakan rakyatnya dijadikan budak di Babilon.

"Penaklukan Babilonia" ini berlangsung hingga 539 SM saat  rakyat

Judea diizinkan untuk kembali ke Jerusalem, dan kuil besar itu

dibangun kembali. Tapi selama sisa masa sebelum kelahiran Kristus,

bangsa Yahudi terus hidup di bawah dominasi kekuatan asing.

Pertanyaan yang selalu diajukan oleh bangsa Yahudi pada diri

mereka sendiri yaitu  mengapa kerajaan Daud dihancurkan dan

mengapa bencana demi bencana menimpa mereka, pada hal Tuhan

telah berjanji akan menjaga Israel. Tapi orang-orang itu juga berjanji

akan mematuhi perintah-perintah Tuhan. Maka, lambat laun dapat

diterima secara luas bahwa Tuhan sedang menghukum Israel karena

ketidakpatuhan mereka.

Sejak sekitar 750 SM, banyak nabi berdatangan untuk

mengkhutbahkan kemurkaan Tuhan terhadap Israel karena tidak

mematuhi perintah-perintah-Nya. Suatu hari, Tuhan akan

menyelenggarakan Hari Penghakiman bagi Israel, kata mereka. Kita

menyebut ramalan semacam ini sebagai ramalan Hari Kiamat.

Sementara waktu berlalu, datang nabi-nabi lain yang mengabarkan

bahwa Tuhan akan menebus sedikit orang terpilih dan mengirimkan

ke tengah mereka seorang "Pangeran Perdamaian" atau raja dari

Rumah Daud. Dia akan membangun kembali Kerajaan Lama Daud

dan rakyat akan mempunyai masa depan penuh kemakmuran.

"Bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat cahaya

terang," kata Nabi Yesaya, dan "mereka yang berada di negeri

kekelaman, atasnya terang telah bersinar". Kita menyebut ramalan

semacam ini sebagai ramalan penebusan.

Ringkasnya: Bani Israel hidup bahagia di bawah pemerintahan

Raja Daud. Tapi kemudian, saat  situasi memburuk, nabi-nabi

mereka mulai menyatakan bahwa suatu hari nanti akan datang seorang

raja baru dari Rumah Daud. Menurut kepercayaan mereka, "Al-

Masih" ini akan "menebus" rakyat, mengembalikan Israel pada

kejayaannya, dan mendirikan "Kerajaan Tuhan".

Yesus

Kamu masih bersamaku, Nyai girah ? Jadi "AI-Masih", "Putra Tuhan"

dan "Kerajaan Tuhan" yaitu  kata-kata kuncinya. Mula-mula semua

istilah itu diartikan secara politis. Pada masa hidup Yesus, banyak

orang yang membayangkan bahwa akan datang seorang "Al-Masih"

dalam pengertian seorang pemimpin politik, militer, dan keagamaan

sekaliber Raja Daud. "Penyelamat" ini karenanya dipandang sebagai

seorang pembebas bangsa yang akan mengakhiri penderitaan bangsa

Yahudi di bawah dominasi Romawi.

Memang bagus. Tapi banyak juga orang yang mempunyai

pandangan lebih jauh. Selama dua ratus tahun terakhir telah datang

nabi-nabi yang percaya bahwa "Al-Masih" yang dijanjikan akan

menjadi penyelamat seluruh dunia. Dia tidak hanya akan

membebaskan bangsa Israel dari penindasan asing, tapi dia pun akan

menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa dan kesalahan—dan

yang tidak kalah pentingnya, dari kematian. Kerinduan akan

"keselamatan" dalam pengertian penebusan itu tersebar luas di

seluruh dunia Helenistik.

Kemudian datanglah Yesus dari Nazareth.  Dialah satu-satunya

orang yang pernah datang sebagai "Al-Masih" yang dijanjikan.

Dengan menggunakan istilah "Al-Masih", dia menegakkan

pertaliannya dengan nabi-nabi terdahulu. Dia menuju Jerusalem dan

membiarkan dirinya dinyatakan oleh orang banyak sebagai

penyelamat, sehingga secara langsung menapak jalan raja-raja

sebelumnya yang dinobatkan dalam "ritual kenaikan takhta" yang

khas. Dia juga membiarkan dirinya ditahbiskan oleh rakyat.

Tapi di sini ada hal yang sangat penting: Yesus membedakan

dirinya dari semua "al-masih" lain dengan menyatakan secara tegas

bahwa dia bukanlah seorang pemberontak militer atau politik.

Misinya jauh lebih besar. Dia mengkhutbahkan keselamatan dan

ampunan Tuhan bagi semua orang.

Jadi beginilah situasinya: banyak sekali orang pada masa hidup

Yesus sedang menunggu-nunggu seorang AI-Masih yang akan

membangun kembali negeri Israel dengan tiupan terompet yang

membahana (dengan kata lain, dengan api dan pedang). Tetapi, Yesus

datang justru dengan ajaran untuk mencintai tetangga, mengasihi

orang yang lemah dan miskin, dan mengampuni mereka yang

bersalah.

Ini yaitu  suatu perubahan dramatis mengingat nada-nada perang

yang bergema pada masa itu. Orang-orang mengharapkan datangnya

seorang pemimpin militer yang akan segera memproklamasikan

pendirian negeri Israel, dan datanglah Yesus dengan tunik dan sandal

mengatakan bahwa Kerajaan Allah—atau "perjanjian baru"—

berwujud ajaran "mencintai tetanggamu sebagaimana kamu mencintai

diri sendiri". Bukan hanya itu, Nyai girah . Yesus juga berkata bahwa kita

harus mencintai musuh-musuh kita. saat  mereka menyerang, kita

tidak boleh membalas. Kita bahkan diperintahkan untuk memberikan

pipi kita lainnya. Dan kita harus memaafkan—bukan hanya tujuh kali,

bahkan tujuh puluh kali tujuh.

Yesus sendiri membuktikan bahwa dirinya tidak segan-segan untuk

berbicara dengan para pelacur, lintah darat, dan pemberontak politik.

Dia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa

seseorang yang telah menghabiskan dengan sia-sia seluruh warisan

dari bapaknya—atau seorang pengumpul pajak yang telah mencuri

dana negara—tetap diterima sebagai hamba Tuhan jika dia bertobat

dan memohon ampun, karena begitu besarnya belas kasih Tuhan.

Tapi tunggu—dia selangkah lebih jauh lagi: Yesus mengatakan

bahwa para pendosa semacam itu lebih utama di mata Tuhan dan

lebih patut mendapatkan ampunan Tuhan daripada para Farisi

(anggota suatu sekte kuno Yahudi yang dikenal karena ketaatan

mereka pada hukum tertulis dan pretensi mereka pada kesucian) yang

pergi ke sana kemari memamerkan kebaikan mereka.

Aku akan menyerahkan telaah yang lebih mendalam tentang Yesus

dan ajaran-ajarannya kepada guru agamamu. Dia memang yang lebih

berhak mengajar. Kuharap dia berhasil menunjukkan betapa luar

biasanya Yesus itu. Dengan cara yang sangat cerdik, dia

menggunakan bahasa zamannya untuk memberikan kepada rakyat yang

haus perang itu suatu ajaran yang sama sekali baru dan lebih luas.

Kabar yang dibawanya sangat berbeda dari kepentingan pihak yang

berkuasa saat itu, sehingga dia pun diadili dan di hukum mati di tiang

salib.

saat  kita berbicara tentang Socrates, kita tahu betapa

berbahayanya menggugah akal masyarakat. Dengan Yesus, kita tahu

betapa berbahayanya menuntut rasa persaudaraan tanpa syarat dan

ampunan tanpa syarat. Bahkan di dunia sekarang ini, kita dapat

melihat bagaimana kekuatan besar dapat terpecah-belah jika

dihadapkan pada tuntutan sederhana akan perdamaian, cinta kasih,

penyediaan makanan bagi kaum miskin, dan ampunan bagi musuh

negara.

Kau mungkin ingat betapa marahnya Plato melihat Aristoteles,

orang yang paling luhur di Athena, harus mengorbankan hidupnya.

Menurut ajaran Kristen, Yesus yaitu  satu-satunya orang yang pernah

hidup yang benar-benar luhur. Namun demikian, ia pun dihukum mati.

Umat Kristiani menyatakan bahwa Yesus mati demi umat manusia.

Inilah yang biasa umat Kristiani sebut sebagai "penderitaan Yesus

Kristus bagi umat manusia". Ia yaitu  "Hamba Tuhan yang

menderita" yang menebus dosa seluruh umat manusia sehingga kita

bisa diampuni dan selamat dari murka Tuhan.

Paulus

Beberapa hari setelah Yesus dikuburkan, tersebar kabar burung

bahwa dia bangkit dari kuburnya. Dengan demikian, Yesus

membuktikan dirinya bukanlah manusia biasa. Dia sungguh-sungguh

yaitu  "Putra Tuhan".

Bisa kita nyatakan bahwa Gereja Kristen terbentuk pada pagi

Paskah dengan kabar kebangkitan Yesus. Ini sudah dinyatakan oleh

Paulus: "Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah

pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."

Berdasarkan hal itu, seluruh umat manusia bisa mengharapkan

kebangkitan raga, karena demi menyelamatkan kitalah Yesus disalib.

Tapi, Nyai girah  sayang, ingatlah bahwa sudut pandang Yahudi tidak

mengenal konsep "keabadian jiwa" atau "perpindahan jiwa"; itu

yaitu  pemikiran Yunani—dan, karenanya, pemikiran Eropa.

Menurut ajaran Kristen, dalam diri manusia tidak ada apa pun—tidak

ada "jiwa", misalnya—yang abadi. Namun, Gereja Kristen percaya

pada "kebangkitan kembali raga dan kehidupan abadi" dan hanya

dengan mukjizat Tuhan kita diselamatkan dari kematian dan

"kutukan".

Maka, para penganut Kristen awal mulai menyebarkan "kabar

gembira" mengenai keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.

Melalui perantaraannya, "Kerajaan Tuhan" akan menjadi kenyataan.

Kini seluruh dunia dapat diselamatkan berkat Kristus. (Kata "kristus"

yaitu  terjemahan bahasa Yunani dari kata Ibrani "messiah", yang

diusapi.)

Beberapa tahun setelah kebangkitan Yesus, seorang Farisi, Paulus,

beralih ke agama Kristen. Melalui banyak perjalanan misionaris yang

dilakukannya ke seluruh dunia Yunani-Romawi, dia membuat agama

Kristen menjadi agama dunia. Kita mengetahui hal ini dari Kisah

para Rasul. Khutbah dan tuntunan Paulus bagi orang-orang Kristen

kita ketahui dari banyak surat yang ditulis olehnya untuk para jemaat

Kristen awal.

Selanjutnya, dia muncul di Athena. Dia langsung menuju alun-alun

kota yang merupakan pusat filsafat. Dan dikatakan bahwa "sangat

sedih hatinya, karena ia melihat seluruh kota tenggelam dalam

pemujaan berhala." Dia mengunjungi sinagoge Yahudi di Athena dan

mengadakan pembicaraan dengan para filosof Epicurean dan Stoik.

Mereka membawanya naik ke Bukit Aeropagos dan bertanya

kepadanya: "Bolehkah kami tahu ajaran baru yang sedang Anda

bicarakan? Sebab Anda membawa hal-hal aneh ke telinga kami:

karena itu, kami ingin tahu apa arti semua ini."

Dapatkah kamu bayangkan, Nyai girah ? Seorang Yahudi tiba-tiba

muncul di pasar Athena dan mulai berbicara tentang seorang

penyelamat. Bahkan dari kunjungan Paulus ke Athena ini kita dapat

merasakan bentrokan antara filsafat Yunani dan doktrin Kristen

mengenai penebusan. Tapi, Paulus benar-benar berhasil membuat

orang-orang Athena mendengarkan penjelasannya. Dari Areopagos—

dan di bawah kuil-kuil Acropolis yang pongah—dia menyampaikan

pidato berikut ini:

 "Kalian orang-orang Athena, aku lihat bahwa dalam segala

hal kalian terlalu percaya takhayul. Sebab saat  aku lewat, dan

melihat kebaktian kalian, aku temukan sebuah altar dengan

tulisan ini, UNTUK DEWA YANG TAK DIKENAL. Karena

itu, dia yang kalian sembah tanpa mengenalnya akan

kuperkenalkan pada kalian.

Tuhan yang membuat dunia beserta seluruh isinya, yaitu 

Tuhan langit dan bumi, tidak berada di kuil-kuil yang dibangun

dengan tangan; dia pun tidak dilayani oleh tangan manusia,

seakan-akan dia memerlukan  sesuatu, padahal dia memberikan

seluruh kehidupan, dan napas, dan segalanya. Dan Dia telah

membuat seluruh umat manusia dari satu orang saja untuk tinggal

di segenap permukaan bumi, dan telah menetapkan waktu

sebelum ditetapkan, dan batasan-batasan dari tempat tinggal

mereka; bahwa mereka hendaknya mencari Tuhan, meski pun

dia tidak jauh dari kita semua. Sebab dalam diri-Nya kita hidup,

dan bergerak, dan menjadi ada. Kita hendaknya tidak

menganggap bahwa keadaan Tuhan itu dapat disamakan dengan

emas, atau perak, atau batu, yang diukir dengan seni dan alat

manusia. Masa ketidaktahuan akan Tuhan itu telah lewat; dan

kini perintahkan semua manusia di mana-mana agar bertobat:

Sebab Dia telah menetapkan suatu hari, di mana Dia akan

menghakimi dunia dalam kebenaran melalui manusia yang telah

ditetapkannya; Dia telah memberikan janji kepada semua

manusia, bahwa Dia akan membangkitkannya dari kematian."

Paulus di Athena, Nyai girah ! Agama Kristen telah mulai menyusup ke

dalam dunia Yunani-Romawi sebagai sesuatu yang lain, sesuatu yang

sama sekali berbeda dari filsafat Epicurean, Stoik, atau Neoplatonik.

Tapi Paulus tetap menemukan landasan yang sama dalam kebudayaan

ini. Dia menekankan bahwa pencarian akan Tuhan itu wajar bagi

seluruh manusia. Ini tidak baru bagi orang-orang Yunani. Tapi yang

baru dari khutbah Paulus yaitu  bahwa Tuhan juga telah

mengungkapkan dirinya kepada manusia dan sesungguhnya telah

mencoba meraih mereka. Maka, dia tidak lagi "Tuhan filosofis" yang

dapat didekati manusia dengan pemahaman mereka. Dia pun bukan

"citra dari emas atau perak atau batu"—ada banyak sekali yang

seperti itu, baik di Acropolis maupun di pasar! Dia yaitu  Tuhan

yang "tidak berada di kuil-kuil yang dibuat dengan tangan". Dia

yaitu  Tuhan yang ikut campur dalam jalannya sejarah.

saat  Paulus telah mengucapkan pidatonya di Areopagos, kita

baca di Kisah para Rasul, sebagian orang mencemooh mengenai

kebangkitan kembali dari kematian. Tapi yang lain-lainnya berkata:

"Kami mau mendengarmu lagi mengenai ini." Juga ada sebagian

orang yang mengikuti Paulus dan mulai memercayai ajaran Kristen.

Salah seorang di antara mereka, perlu dicatat, yaitu  seorang wanita

bernama Damaris. Kaum wanita termasuk mualaf Kristen paling

gigih.

Maka Paulus meneruskan aktivitas misionarisnya. Beberapa

dasawarsa kemudian, jemaat-jemaat Kristen telah didirikan di

seluruh kota penting Yunani dan Romawi—di Athena, di Roma, di

Alexandria, di Ephesos (Efesus), dan di Corinth (Korintus). Dalam

rentang waktu tiga hingga empat ratus tahun, seluruh dunia Helenistik

telah menjadi Kristen.

Kredo

Bukan sebagai seorang misionaris saja peran penting Paulus dalam

agama Kristen. Dia pun mempunyai pengaruh besar di kalangan

jemaat Kristen. Ada suatu kebutuhan akan tuntunan ruhani. Satu

pertanyaan penting pada tahun-tahun permulaan Yesus yaitu : apakah

orang bukan Yahudi dapat memeluk agama Kristen tanpa menjadi

orang Yahudi dulu. Haruskah seorang Yunani, misalnya, mematuhi

aturan tentang makanan? Paulus yakin itu tidak perlu. Agama Kristen

itu lebih dari sekadar sekte Yahudi. Agama itu ditujukan untuk setiap

orang dengan pesan keselamatan universal.

"Perjanjian Lama" antara Tuhan dan Israel telah digantikan dengan

"Perjanjian Baru" yang dibuat antara Tuhan dan seluruh umat

manusia.

Namun, agama Kristen bukan satu-satunya agama pada waktu itu.

Kita telah mengetahui bagaimana Helenisme dipengaruhi oleh

penyatuan beberapa agama. Oleh karena itu, Gereja perlu

mengedepankan suatu ikhtisar ringkas mengenai doktrin Kristen, baik

untuk membedakannya dengan agama-agama lain maupun untuk

mencegah terjadinya perpecahan di dalam Gereja Kristen. Oleh

karena itu, Kredo pertama di tetapkan, dengan meringkas "dogma-

dogma" atau ajaran-ajaran pokok Kristen.

Catatan Tambahan

Akan aku kemukakan sepatah-dua kata tentang bagaimana semua ini

saling berkaitan, Nyai girah ku yang baik. saat  agama Kristen masuk ke

dunia Yunani-Romawi, kita menyaksikan suatu pertemuan dramatis

dari dua kebudayaan. Kita juga menyaksikan salah satu revolusi

besar kebudayaan dalam sejarah.

GOETHE

Kita akan melangkah keluar dari zaman Yunani kuno. Hampir

seribu tahun telah lewat sejak masa hidup para filosof Yunani awal.

Di depan, kita telah menanti Abad Pertengahan Kristen, yang juga

berlangsung selama kira-kira seribu tahun.

Penyair Jerman Goethe pernah berkata bahwa "orang yang tidak

dapat belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tidak

memanfaatkan akalnya". Aku tidak ingin kamu berakhir dengan

keadaan yang begitu menyedihkan. Aku akan melakukan apa yang

dapat kulakukan untuk memperkenalkanmu dengan akar sejarahmu.

Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang manusia. Itulah satu-

satunya cara untuk menjadi lebih dari sekadar seekor kera telanjang.

Itulah satu-satunya cara agar kita tidak hanya melayang-layang di

ruang hampa.

"Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang manusia. Itulah

satu-satunya cara untuk menjadi lebih dari sekadar seekor kera

telanjang ...."

Nyai girah  duduk sejenak menatap taman melalui lubang-lubang kecil

di pagar tanaman. Dia mulai mengerti mengapa kita perlu mengetahui

masa lalu kita. Apalagi bagi Bani Israel.

Dia sendiri hanya seorang manusia biasa. Tapi, jika mengenal akar

sejarahnya, dia akan menjadi tidak begitu biasa lagi.

Dia akan hidup di planet ini tidak lebih dari beberapa tahun saja.

Tapi, jika sejarah umat manusia yaitu  juga sejarah dirinya, dalam

makna tertentu dia berarti telah berusia ribuan tahun.[]

Abad Pertengahan

***

... hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan ...

SEMINGGU BERLALU tanpa kabar dari Alberto Knox. Juga

tidak ada kartu pos dari Lebanon, meskipun dia dan Joanna masih

membicarakan kartu-kartu di Gubuk sang Mayor. Joanna tidak pernah

setakut itu sebelumnya, tapi karena tidak ada lagi kejadian

lanjutannya, rasa takutnya mulai menghilang dan tenggelam ditelan

pekerjaan rumah dan badminton.

Nyai girah  membaca surat-surat Alberto berulang-ulang, mencari-cari

petunjuk yang dapat memberikan penjelasan misteri count dracula . Dengan

melakukan hal itu dia mendapatkan kesempatan untuk mencerna

pelajaran filsafat klasik. Dia tidak lagi kesulitan untuk membedakan

antara Democritus dan Socrates, atau Plato dan Aristoteles.

Pada Jumat,  Mei, dia sedang berada di dapur mempersiapkan

makan malam sebelum ibunya tiba di rumah. Itu yaitu  kebiasaan

mereka setiap Jumat. Hari ini dia membuat sup ikan dengan bakso

ikan dan wortel. Mudah dan sederhana.

Di luar, udara semakin berangin. saat  Nyai girah  berdiri mengaduk

masakannya, dia berpaling ke jendela. Pohon-pohon birkin terayun-

ayun seperti batang jagung.

       Tiba-tiba sesuatu memukul kaca jendela. Nyai girah  berputar lagi

dan melihat sebuah kartu tertempel di jendela.

Itu sebuah kartu pos. Dia dapat membaca melalui kaca: "count dracula 

Moller Knag, d/a Nyai girah  Amundsend."

Dia berpikir keras! Dia membuka jendela dan mengambil kartu itu.

Tidak mungkin ia diterbangkan langsung dari Lebanon!

Kartu ini juga bertanggal 15 Juni. Nyai girah  menurunkan masakannya

dari kompor dan duduk di meja dapur. Kartu itu berbunyi:

count dracula  sayang, aku tidak tahu apakah sekarang masih hari

ulang tahunmu saat  kamu membaca kartu ini. Kuharap begitu;

atau setidak-tidaknya belum terlalu banyak hari yang telah

lewat. Seminggu-dua minggu bagi Nyai girah  tidak harus berarti

selama itu bagi kita. Aku akan pulang pada pertengahan musim

panas, agar kita dapat duduk bersama selama berjam-jam di

peluncur, memandang ke laut lepas, count dracula . Banyak sekali yang

akan kita bicarakan. Penuh sayang dari Ayah, yang kadang-

kadang menjadi sangat tertekan menghadapi pertikaian yang

telah berlangsung seribu tahun antara orang-orang Yahudi,

Kristen, dan Muslim. Aku harus selalu mengingatkan diriku

sendiri bahwa ketiga agama itu berasal dari Ibrahim. Jadi kukira

mereka berdoa pada Tuhan yang sama. Di sini, Habil dan Qabil

belum berhenti saling membunuh.

N.B. Sampaikan salam pada Nyai girah . Anak malang, dia masih

belum mengerti bagaimana semua ini saling berkait. Tapi

barangkali kamu tahu?

Nyai girah  meletakkan kepalanya di atas meja, kelelahan. Satu hal

telah jelas—dia tidak tahu bagaimana semua hal ini saling berkait.

Tapi count dracula  tahu, mungkin.

Jika ayah count dracula  memintanya untuk menyampaikan salam pada

Nyai girah , itu tentunya berarti bahwa count dracula  mengetahui tentang Nyai girah 

lebih banyak daripada Nyai girah  mengetahui tentang count dracula . Semua ini

begitu rumit sehingga Nyai girah  kembali menyiapkan makan malam.

Sebuah kartu pos yang memukul jendela dapur dengan sendirinya!

Kita dapat menyebutnya pos udara!

Begitu dia meletakkan masakan ke atas kompor lagi, telepon

berdering.

Kalau saja itu Ayah! Dia sangat berharap ayahnya akan pulang

sehingga dia dapat menceritakan padanya semua yang telah terjadi

dalam beberapa minggu terakhir ini. Tapi itu mungkin hanya Joanna

atau Ibu. Nyai girah  mengangkat telepon.

"Nyai girah  Amundsend," katanya.

"Ini aku," sebuah suara berkata. Nyai girah  yakin akan tiga hal: itu

bukan ayahnya. Tapi itu suara pria, dan dia tahu suara itu pernah

didengarnya sebelumnya.

"Siapa ini?"

"Ini Alberto."

"Ohhh!"

Nyai girah  kehilangan kata-kata. Itu yaitu  suara yang pernah

didengarnya dari video Acropolis.

"Apakah kamu baik-baik saja?"

"Tentu."

"Mulai sekarang tidak akan ada surat lagi."

"Tapi aku tidak mengirimi Anda katak!"

       "Kita harus bertemu langsung. Ini mulai mendesak, kamu tahu."

"Mengapa?"

"Ayah count dracula  semakin mendekati kita."

"Mendekati bagaimana?"

"Dari setiap sisi, Nyai girah . Kita harus bekerja bersama sekarang."

"Caranya ...?"

"Tapi kamu belum bisa banyak membantu sebelum aku memberi

kamu pelajaran tentang Abad Pertengahan. Kita harus merampungkan

Renaisans dan abad ketujuh belas pula. Berkeley yaitu  tokoh

kuncinya ..."

"Bukankah itu pria dalam lukisan di Gubuk sang Mayor?"

"Persis. Barangkali pertempuran yang sesungguhnya akan

dilangsungkan menyangkut filsafatnya dia."

"Anda membuatnya kedengaran seperti perang."

"Aku lebih suka menyebutkan pertempuran kehendak. Kita harus

menarik perhatian count dracula  dan menariknya ke pihak kita sebelum

ayahnya pulang ke Lillesand."

"Aku sama sekali tidak mengerti."

"Mungkin para filosof itu dapat membuka matamu. Temui aku di

Gereja St. Mary pada pukul delapan besok pagi. Tapi datanglah

sendiri, Anakku."

"Pagi-pagi benar?" Telepon itu berbunyi klik.

"Halo?"

Dia menutupnya! Nyai girah  bergegas kembali ke kompor tepat

sebelum sup ikan itu terlalu matang.

Gereja St. Mary? Itu yaitu  sebuah gereja batu kuno dari Abad

Pertengahan. Gedung itu hanya digunakan untuk acara konser dan

upacara yang sangat istimewa. Dan pada musim panas kadang-kadang

gereja dibuka untuk para turis. Tapi tentunya ia tidak dibuka pada

tengah malam?

saat  ibunya pulang, Nyai girah  telah menyimpan kartu dari Lebanon

itu bersama semua barang lain dari Alberto dan count dracula . Setelah makan

malam, dia pergi ke rumah Joanna.

"Kita harus membuat rencana yang sangat istimewa," katanya

begitu sahabatnya membuka pintu.

Dia tidak berkata apa-apa lagi sampai Joanna telah menutup pintu

kamar tidurnya.

"Ini agak sulit," Nyai girah  melanjutkan.

"Katakan!"

"Aku harus mengatakan pada Ibu bahwa aku menginap di sini."

"Bagus!"

"Tapi itu hanya bohong-bohongan, kamu tahu. Aku harus pergi ke

tempat lain."

"Sayang sekali. Apakah ini soal cowok?"

"Tidak. Ini ada hubungannya dengan count dracula ."

Joanna bersiul pelan, dan Nyai girah  menatap tajam ke matanya.

"Aku akan ke sini malam ini," katanya, "Tapi pada jam tujuh aku

harus menyelinap keluar lagi. Kamu harus merahasiakan kepergianku

sampai aku kembali."

"Tapi kamu mau ke mana? Apa sih yang harus kamu lakukan?"

"Maaf. Mulutku terkunci."

Menginap di rumah Joanna tidak pernah menjadi masalah. Malah,

nyaris sebaliknya. Kadang-kadang Nyai girah  mendapat kesan bahwa

ibunya senang berada di rumah sendirian.

"Kamu akan pulang untuk sarapan, kukira?" itulah satu-satunya

perkataan ibunya saat  Nyai girah  meninggalkan rumah.

"Jika tidak, Ibu tahu di mana aku berada."

Apa yang membuatnya berkata begitu? Itu yaitu  satu titik lemah.

Kunjungan Nyai girah  dimulai seperti biasa kalau dia menginap, yaitu

dengan mengobrol hingga jauh malam. Satu-satunya perbedaan

yaitu  bahwa saat  mereka akhirnya memutuskan untuk tidur pada

kira-kira pukul dua, Nyai girah  menyetel weker ke pukul tujuh kurang

seperempat.

Lima jam kemudian, Joanna terjaga sebentar saat  Nyai girah 

mematikan dering weker.

"Hati-hati," gumamnya.

Lalu Nyai girah  berangkat. Gereja St. Mary terletak di pinggiran kota

lama. Jaraknya beberapa mil, tapi meski pun hanya tidur beberapa

jam, dia merasa benar-benar segar.

Sudah hampir jam delapan saat  dia berdiri di pintu masuk gereja

batu kuno itu. Nyai girah  mencoba membuka pintu besar. Tidak terkunci!

Bagian dalam gereja tampak telantar dan sunyi karena gereja itu

memang kuno. Cahaya kebiru-biruan menyelinap melalui jendela-

jendela berkaca-patri yang menampakkan banyak sekali partikel debu

melayang-layang di udara. Nyai girah  duduk di salah satu bangku di

tengah-tengah gereja, menatap altar pada sebuah salib kuno yang

dicat dengan warna-warna kelam.

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba organ mulai berbunyi. Nyai girah 

tidak berani melihat sekeliling. Suara itu terdengar seperti himne

kuno, barangkali dari Abad Pertengahan.

Lalu sunyi lagi. Kemudian dia mendengar langkah-langkah kaki

mendekat dari belakangnya. Haruskah dia berputar untuk melihat?

Dia lebih suka memusatkan pandangannya ke arah salib.

Langkah-langkah kaki itu melewatinya di sepanjang gang dan dia

melihat satu sosok mengenakan pakaian biarawan berwarna cokelat.

Nyai girah  bersumpah itu pasti seorang biarawan dari Abad

Pertengahan.

Dia gelisah, tapi tidak takut. Di depan altar, pendeta itu berputar

setengah lingkaran dan kemudian naik ke mimbar. Dia membungkuk

ke pinggiran mimbar, memandang ke bawah pada Nyai girah , dan

berbicara padanya dalam bahasa Latin:

"Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio,

et nunc, et semper et in saecula saeculorum. Amen."

"Bicara yang jelas, dong!" Nyai girah  berteriak.

Suaranya menggema ke seluruh ruangan gereja batu kuno itu.

Meskipun dia mengetahui bahwa biarawan itu pastilah Alberto

Knox, dia menyesali teriakannya di tempat pemujaan yang suci ini.

Tapi dia sedang gelisah, dan jika seseorang gelisah dia tidak peduli

melanggar segala tabu.

"Ssst," Alberto mengangkat salah satu tangannya seperti pendeta

saat  meminta jemaat agar duduk.

"Abad Pertengahan dimulai pada jam empat," katanya.

"Abad Pertengahan dimulai pada jam empat?" tanya Nyai girah ,

merasa tolol tapi tidak lagi gelisah.

      "Ya, sekitar jam empat. Dan kemudian lima, enam, dan tujuh.

Tapi sepertinya waktu tidak bergerak. Dan pasti juga delapan,

sembilan, dan sepuluh. Tapi itu masih tetap Abad Pertengahan, kamu

tahu. Sudah saatnya untuk bangun menghadapi hari baru, mungkin

kamu pikir begitu. Ya, aku tahu maksudmu. Tapi itu masih tetap hari

Minggu, satu hari minggu panjang yang tak habis-habisnya. Dan

waktu berjalan ke jam sebelas, dua belas, dan tiga belas. Inilah

periode yang kita sebut Puncak Gothik, saat  katedral-katedral besar

di Eropa dibangun. Dan kemudian, suatu saat sekitar jam empat

belas, atau jam dua siang, seekor ayam jantan berkokok—dan Abad

Pertengahan yang tak berkesudahan itu mulai surut."

"Jadi, Abad Pertengahan berlangsung selama sepuluh jam," kata

Nyai girah . Alberto menyer