ati. Mereka juga berjuang demi
penghapusan perbudakan dan perlakuan yang lebih manusiawi
terhadap para penjahat."
"Kukira aku setuju dengan sebagian besar diantaranya."
"Prinsip menyangkut `individu yang tidak dapat diganggu-gugat'
mencapai puncaknya pada Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga
Negara yang diterima oleh Majelis Nasional Prancis pada 1789.
Deklarasi Hak Asasi Manusia ini merupakan dasar bagi Konstitusi
Norwegia 1814."
"Tapi banyak orang masih harus berjuang untuk merebut hak asasi
ini."
"Ya, sayang sekali. Tapi para filosof Pencerahan ingin
menetapkan hak-hak tertentu yang dimiliki oleh setiap orang sejak
mereka dilahirkan. Itulah yang mereka maksudkan dengan hak
alamiah.
"Kita masih membicarakan `hak alamiah' yang sering
dipertentangkan dengan hukum negara. Dan kita masih selalu
menemukan orang-orang, atau bahkan seluruh negara, yang menuntut
`hak alamiah' ini saat mereka memberontak melawan anarki,
perbudakan, dan penindasan."
"Bagaimana dengan hak kaum wanita?"
"Revolusi Prancis 1787 menetapkan sejumlah hak bagi semua
`warga negara'. Tapi yang dianggap warga negara nyaris selalu pria.
Namun, Revolusi Prancis itulah yang memberi kita isyarat pertama
menyangkut feminisme."
"Memang sudah waktunya."
"Sejak 1787, filosof Pencerahan Condorcet menerbitkan sebuah
risalah mengenai hak kaum wanita. Dia berpendapat bahwa kaum
wanita mempunyai `hak alamiah' yang sama dengan kaum pria. Pada
Revolusi 1789, kaum wanita sangat aktif dalam pertempuran
melawan rezim feodal yang lama. Misalnya, kaum wanitalah yang
memimpin demonstrasi-demonstrasi yang memaksa raja keluar dari
istananya di Versailles. Kelompok-kelompok wanita dibentuk di
Paris. Selain tuntutan akan hak politik yang sama dengan kaum pria,
mereka juga menuntut perubahan dalam hukum perkawinan dan dalam
kondisi sosial kaum wanita."
"Apakah mereka berhasil mendapatkan hak yang sama?"
"Tidak. Sebagaimana yang hampir selalu terjadi, masalah hak
asasi kaum wanita dikobar-kobarkan di tengah maraknya perjuangan,
namun begitu rezim baru berkuasa, masyarakat lama yang didominasi
kaum pria kembali bertakhta."
"Khas benar!"
"Salah seorang yang berjuang paling gigih demi membela hak
asasi kaum wanita selama Revolusi Prancis yaitu Olympe de
Gouges. Pada 1791—dua tahun setelah revolusi—wanita itu
menerbitkan sebuah deklarasi hak asasi kaum wanita. Deklarasi hak
asasi warga negara tidak memasukkan satu artikel pun mengenai hak
alamiah kaum wanita. Olympe de Gouges menuntut seluruh hak yang
sama bagi kaum wanita sebagaimana yang diberikan kepada kaum
pria."
"Apa yang terjadi?"
"Kepalanya dipenggal pada 1793. Dan seluruh aktivitas politik
bagi kaum wanita dilarang."
"Sungguh memalukan."
"Pada abad kesembilan belas, barulah feminisme benar-benar
bergerak, bukan hanya di Prancis, melainkan juga di seluruh Eropa.
Sedikit demi sedikit perjuangan ini menghasilkan buah. Tapi di
Norwegia, misalnya, kaum wanita belum mendapatkan hak untuk
memberikan suara hingga 1913. Dan bagi kaum wanita di berbagai
bagian dunia ini masih banyak yang harus diperjuangkan."
"Mereka dapat mengandalkan dukunganku."
Alberto duduk menatap seberang danau. Setelah beberapa saat-dia
berkata:
"Kurang lebih itulah yang ingin kukatakan tentang Pencerahan."
"Apa maksud Anda dengan kurang lebih?"
"Aku mempunyai perasaan tidak akan ada lagi yang lain."
Tapi saat dia mengatakan ini, sesuatu mulai terjadi di tengah
danau. Sesuatu bergolak naik dari kedalaman. Seekor makhluk
raksasa dan mengerikan bangkit dari permukaan air.
"Seekor naga laut!" teriak Nyai girah .
Monster hitam itu bergelung maju-mundur beberapa kali dan
kemudian lenyap lagi ke dalam danau. Air kembali tenang seperti
sebelumnya.
Alberto telah berpaling. "Sekarang kita masuk," katanya.
Mereka pergi ke dalam gubuk kecil itu. Nyai girah berdiri menatap
kedua lukisan Berkeley dan Bjerkely.
Dia menunjuk ke arah lukisan Bjerkely dan berkata:
"Kukira count dracula tinggal di suatu tempat di dalam lukisan itu."
Sebuah sulaman kini tergantung di antara kedua lukisan ini .
Bunyinya: KEBEBASAN, KESETARAAN, DAN
PERSAUDARAAN. Nyai girah berpaling kepada Alberto: "Anda yang
menggantungkannya di sana?"
Alberto hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. Lalu
Nyai girah menemukan sebuah amplop kecil di atas papan di atas tungku.
"Untuk count dracula dan Nyai girah ," bunyinya. Nyai girah langsung tahu dari mana
datangnya surat itu, tapi sepertinya angin baru telah bertiup kini
setelah dia mulai memperhitungkan Nyai girah . Dia membuka surat itu
dan membacanya keras-keras:
Dua gadis tersayang, guru filsafat Nyai girah seharusnya telah
menekankan makna penting Pencerahan Prancis bagi cita-cita
dan prinsip-prinsip yang mendasari berdirinya PBB. Dua ratus
tahun yang lalu, slogan "Kebebasan, Kesetaraan, dan
Persaudaraan" berhasil menyatukan rakyat Prancis. Kini, kata-
kata yang sama mestinya dapat menyatukan seluruh dunia. Kini
terasa lebih penting dari pada sebelumnya untuk menjadi Satu
Keluarga Besar Manusia. Keturunan kita yaitu anak-anak dan
cucu-cucu kita. Dunia macam apa yang mereka warisi dari kita?
Ibu count dracula meneriakkan dari ruang bawah bahwa cerita
misteri akan dimulai sepuluh menit lagi dan bahwa dia telah
memasukkan pizza ke dalam oven. count dracula benar-benar kecapaian
setelah membaca begitu lama. Dia telah terjaga sejak jam enam pagi.
Dia memutuskan untuk melewatkan waktu sore dengan merayakan
hari ulang tahunnya bersama ibunya. Tapi pertama-tama dia harus
melihat sesuatu dulu di dalam ensiklopedinya.
Gouges ... bukan. De Gouges? Lagi-lagi bukan. Olympe de
Gouges? Masih kosong. Ensiklopedi ini tidak menuliskan sepatah
kata pun mengenai wanita yang dipenggal kepalanya karena komitmen
politiknya. Bukankah itu memalukan?
Tentunya wanita itu bukan hanya seseorang yang dikarang-karang
sendiri oleh ayahnya?
count dracula berlari menuruni tangga untuk mengambil ensiklopedi yang
lebih besar.
"Aku harus mencari sesuatu," dia berkata kepada ibunya yang
terheran-heran.
Dia mengambil jilid FORV hingga GP dari ensiklopedi keluarga
yang besar dan lari lagi ke kamarnya.
Gouges ... itu dia!
Gouges, Marie Olympe (1748-1793), pengarang Prancis,
memainkan peranan penting selama terjadinya Revolusi Prancis
dengan menulis banyak brosur mengenai masalah sosial dan
beberapa naskah drama. Salah satu dari sedikit orang dari masa
Revolusi yang mengampanyekan hak-hak asasi manusia untuk
diterapkan pada kaum wanita. Pada 1791 menerbitkan
"Declaration on the Rights of Women". Dipenggal kepalanya
pada 1793 karena berani membela Louis XVI dan menentang
Robespierre. (Lit: L. Lacour, "Les Origines du féminisme con
temporain," 1900).[]
Kant
***
... langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku
...
SUDAH MENJElANG tengah malam saat Mayor Albert Knag
menelepon ke rumah untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada
count dracula . Ibu count dracula yang mengangkat telepon.
"Ini untukmu, count dracula ."
"Halo?"
"Ini Ayah."
"Apakah Ayah gila? Ini hampir tengah malam!"
"Aku hanya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun ..."
"Ayah sudah melakukannya sepanjang hari."
"... tapi aku tidak ingin menelepon sebelum hari ini lewat."
"Mengapa?"
"Tidakkah kamu menerima hadiah dariku?"
"Ya, memang. Terima kasih banyak."
"Aku tidak sabar menunggu bagaimana pendapatmu tentang itu."
"Hebat sekali. Aku hampir tidak makan sepanjang hari, sangat
menarik."
"Aku harus tahu sejauh mana kamu telah membaca."
"Mereka baru saja memasuki Gubuk sang Mayor, sebab Ayah
mulai menggoda mereka dengan seekor naga laut."
"Abad Pencerahan."
"Dan Olympe de Gouges."
"Jadi aku tidak terlalu salah."
"Salah dalam hal apa?"
"Kukira ada satu lagi ucapan selamat ulang tahun yang akan datang.
Tapi yang itu dimasukkan dalam musik."
"Lebih baik aku membaca sedikit lagi sebelum pergi tidur."
"Jadi kamu belum menyerah?"
"Aku belajar lebih banyak dalam satu hari ini daripada seluruh
hari sebelumnya. Aku hampir tidak percaya bahwa tidak sampai dua
puluh empat jam berlalu sejak Nyai girah pulang dari sekolah dan
menemukan amplop pertama."
"Aneh sekali betapa sedikitnya waktu yang dibutuhkan untuk
membaca."
"Tapi mau tak mau aku merasa kasihan kepadanya."
"Kepada Ibu?"
"Tidak, kepada Nyai girah , tentu saja."
"Mengapa?"
"Gadis malang itu kini benar-benar kebingungan."
"Tapi dia hanya ..."
"Ayah akan mengatakan dia hanya tokoh rekaan."
"Ya, sesuatu semacam itu."
"Kukira Nyai girah dan Alberto benar-benar ada."
"Kita akan membicarakan itu lebih banyak kalau aku sudah sampai
di rumah."
"Oke."
"Bersenang-senanglah."
"Apa?"
"Maksudku, selamat malam."
"Selamat malam."
saat count dracula pergi ke tempat tidur setengah jam kemudian
hari masih cukup terang sehingga dia dapat melihat taman dan teluk
kecil itu. Memang langit tidak pernah benar-benar gelap pada musim
ini.
Dia bermain-main dengan gagasan bahwa dia berada di dalam
lukisan yang digantung di dinding dalam gubuk kecil di tengah hutan
itu. Dia bertanya-tanya apakah orang dalam lukisan itu dapat melihat
ke luar pada benda-benda di sekelilingnya.
Sebelum jatuh tertidur, dia membaca beberapa halaman lagi dari
map besar itu.
Nyai girah mengembalikan surat dari ayah count dracula ke atas papan di atas
tungku.
"Apa yang dikatakannya mengenai PBB bukannya tidak penting,"
kata Alberto, "tapi aku tidak suka dia ikut campur dalam kuliahku."
"Kukira aku tidak perlu terlalu risau mengenai hal itu."
"Sekalipun demikian, mulai sekarang aku berniat akan
mengabaikan semua fenomena luar biasa seperti naga laut dan yang
semacam itu. Mari kita duduk di sini di dekat jendela, sementara aku
bercerita tentang Kant padamu."
Nyai girah melihat sepasang kacamata di atas sebuah meja kecil
antara dua kursi berlengan. Dia juga memerhatikan bahwa lensanya
berwarna merah.
Mungkin itu kacamata penahan sinar matahari yang sangat kuat ...
"Kini hampir jam dua," katanya. "Aku harus sudah di rumah
sebelum jam lima. Ibu mungkin telah membuat berbagai rencana
untuk ulang tahunku."
"Berarti kita punya waktu tiga jam."
"Mari kita mulai."
"Immanuel Kant dilahirkan pada 1724 di sebuah kota di Prusia
Timur bernama Konigsberg, putra seorang pembuat pelana kuda. Dia
tinggal di sana praktis sepanjang hidupnya hingga dia meninggal pada
umur delapan puluh tahun. Keluarganya sangat saleh, dan keyakinan
agamanya sendiri menjadi latar belakang penting bagi filosofinya.
Seperti Berkeley, dia merasa sangatlah penting untuk melestarikan
dasar-dasar kepercayaan Kristiani."
"Aku telah banyak mendengar tentang Berkeley, terima kasih."
"Kant yaitu filosof pertama yang sejauh ini kita ketahui pernah
mengajarkan filsafat di universitas. Dia yaitu profesor dalam
bidang filsafat."
"Profesor?"
"Ada dua jenis filosof. Yang satu yaitu orang yang mencari
jawaban sendiri bagi pertanyaan-pertanyaan filosofis. Yang satunya
lagi yaitu orang yang menjadi ahli dalam sejarah filsafat tapi tidak
menyusun filosofinya sendiri."
"Dan Kant yaitu jenis yang itu?"
"Kant yaitu dua-duanya. Jika dia hanya seorang profesor yang
cemerlang dan ahli mengenai gagasan-gagasan dari para filosof lain,
dia tidak akan pernah mengukir namanya sendiri dalam sejarah
filsafat. Tapi penting untuk dicatat bahwa Kant mempunyai landasan
kuat dalam tradisi filsafat masa lalu. Dia akrab dengan
rasionalismenya Descartes dan Spinoza serta empirisismenya Locke,
Berkeley, dan Hume."
Immanuel KANT
"Aku minta Anda tidak menyebut Berkeley lagi."
"Ingatlah bahwa kaum rasionalis percaya bahwa dasar dari seluruh
pengetahuan manusia ada di dalam pikiran. Dan bahwa kaum
empirisis percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal
dari indra. Lagi pula, Hume telah mengemukakan bahwa ada batasan-
batasan jelas tentang kesimpulan-kesimpulan mana yang dapat kita
ambil melalui persepsi indra kita."
"Dan siapa yang disetujui Kant?"
"Dia beranggapan bahwa kedua pandangan itu sama-sama benar
separuh, tapi juga sama-sama salah separuh. Pertanyaan yang
dipikirkan oleh setiap orang yaitu apa yang dapat kita ketahui
tentang dunia. Proyek filsafat ini telah menyibukkan semua filosof
sejak Descartes."
"Dua kemungkinan utama dikemukakan: dunia itu persis seperti
yang kita lihat, atau dunia itu seperti yang tampak dalam pikiran kita."
"Dan apa sesungguhnya pendapat Kant?"
"Kant beranggapan bahwa baik `indra' maupun `akal' sama-sama
memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. Tapi dia
beranggapan bahwa kaum rasionalis melangkah terlalu jauh dalam
pernyataan mereka tentang seberapa banyak akal dapat memberikan
sumbangan, dan dia juga beranggapan bahwa kaum empirisis
memberikan tekanan terlalu besar pada pengalaman indra."
"Jika Anda tidak segera memberi contoh, semua itu hanya akan
menjadi kumpulan kata-kata."
"Dalam titik tolaknya, Kant setuju dengan Hume dan kaum
empirisis bahwa seluruh pengetahuan kita tentang dunia berasal dari
indra kita. Tapi—dan di sinilah Kant mengulurkan tangannya kepada
kaum rasionalis—dalam akal kita juga terdapat faktor-faktor pasti
yang menentukan bagaimana kita memandang dunia di sekitar kita.
Dengan kata lain, ada kondisi-kon disi tertentu dalam pikiran
manusia yang ikut menentukan konsepsi kita tentang dunia."
"Contohnya?"
"Mari kita lakukan sebuah percobaan kecil. Tolong ambilkan
kacamata itu dari meja di sana? Terima kasih. Sekarang, pakailah."
Nyai girah memakainya. Semua yang ada di sekitarnya menjadi merah.
Warna-warna pucat menjadi merah jambu dan warna-warna gelap
menjadi merah tua.
"Apa yang kamu lihat?"
"Yang kulihat persis sama seperti sebelumnya, kecuali bahwa
semuanya berwarna merah."
"Itu karena kacamata ini membatasi cara kamu memandang
realitas. Segala sesuatu yang kamu lihat yaitu bagian dari dunia di
sekelilingmu, tapi bagaimana kamu melihatnya ditentukan oleh
kacamata yang kamu pakai. Jadi kamu tidak dapat mengatakan bahwa
dunia itu merah meski pun kamu melihatnya demikian."
"Tidak, tentu saja."
"Jika kamu sekarang berjalan-jalan di hutan, atau pulang ke rumah,
kamu akan melihat segala sesuatu yang biasanya kamu lihat. Tapi apa
pun yang kamu lihat, semuanya berwarna merah."
"Selama aku tidak melepaskan kacamata itu, ya."
"Dan, Nyai girah , itulah tepatnya yang dimaksudkan oleh Kant saat
dia mengatakan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang mengatur
cara kerja pikiran dan memengaruhi cara kita memandang dunia."
"Kondisi macam apa?"
"Apa pun yang kita lihat pertama-tama dan terutama akan dianggap
sebagai fenomena dalam waktu dan ruang. Kant menyebut `waktu'
dan `ruang' itu dua `bentuk intuisi' kita. Dan dia menekankan bahwa
kedua `bentuk' ini dalam pikiran kita mendahului setiap pengalaman.
Dengan kata lain, kita dapat mengetahui sebelum kita mengalami
sesuatu bahwa kita akan menganggapnya sebagai fenomena dalam
waktu dan ruang. Sebab kita tidak dapat melepaskan `kacamata'
akal."
"Jadi dia beranggapan bahwa memandang segala sesuatu dalam
waktu dan ruang itu bawaan lahir?"
"Ya, sedikit banyak. Apa yang kita lihat mungkin bergantung pada
apakah kita dibesarkan di India atau di Greenland, tapi apa pun kita,
kita memandang dunia sebagai serangkaian proses dalam waktu dan
ruang. Ini dapat kita ketahui sebelum mengalaminya."
"Tapi bukankah waktu dan ruang itu ada sebelum diri kita
sendiri?"
"Tidak. Kant berpendapat bahwa waktu dan ruang termasuk pada
kondisi manusia. Waktu dan ruang pertama-tama dan terutama yaitu
cara pandang dan bukan atribut dunia fisik."
"Itu yaitu cara yang benar-benar baru dalam memandang segala
sesuatu."
"Sebab pikiran manusia bukan hanya `lilin pasif' yang hanya
menerima sensasi dari luar. Pikiran meninggalkan jejaknya pada cara
kita memahami dunia. Kamu dapat membanding kannya dengan apa
yang terjadi saat kamu menuangkan air ke dalam sebuah kendi air.
Bentuk air mengikuti bentuk kendi ini . Begitu pula cara persepsi
kita menyesuaikan diri dengan `bentuk-bentuk intuisi' kita."
"Kukira aku mengerti apa yang Anda maksudkan."
"Kant menyatakan bahwa bukan hanya pikiran yang menyesuaikan
diri dengan segala sesuatu. Segala sesuatu itu sendiri menyesuaikan
diri dengan pikiran. Kant menyebut ini Revolusi Copernicus dalam
masalah pengetahuan manusia.
"Dengan itu yang dimaksudkannya yaitu bahwa itu sama baru
dan sama berbedanya dari pemikiran sebelumnya seperti saat
Copernicus menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari
dan bukan sebaliknya."
"Aku mengerti sekarang bagaimana dia dapat menyatakan bahwa
kaum rasionalis maupun kaum empirisis sama-sama benar sampai
titik tertentu. Kaum rasionalis hampir melupakan makna penting
pengalaman, dan kaum empirisis telah menutup mata mereka terhadap
pengaruh pikiran terhadap cara kita memandang dunia."
"Dan bahkan hukum kausalitas—yang diyakini Hume tidak
mungkin dialami manusia—termasuk dalam pikiran, menurut Kant."
"Tolong jelaskan itu."
"Kamu ingat bagaimana Hume menyatakan bahwa kebiasaan
sajalah yang membuat kita melihat adanya hubungan kausal di balik
semua proses alamiah. Menurut Hume, kita tidak dapat menganggap
bola biliar hitam sebagai penyebab bergeraknya bola putih. Oleh
karena itu, kita tidak dapat membuktikan bahwa bola biliar hitam itu
akan selalu menggerakkan bola putih."
"Ya, aku ingat."
"Tapi justru hal yang dikatakan Hume tidak dapat kita buktikan
yaitu yang dianggap oleh Kant sebagai atribut akal manusia. Hukum
kausalitas itu kekal dan mutlak sebab akal manusia menerima segala
sesuatu yang terjadi sebagai masalah sebab dan akibat."
"Sekali lagi, aku mestinya beranggapan bahwa hukum kausalitas
ada pada dunia fisik itu sendiri, bukan di dalam pikiran kita."
"Filsafat Kant menyatakan bahwa itu melekat pada diri kita.
Dia setuju dengan Hume bahwa kita tidak dapat mengetahui secara
pasti seperti apa dunia `itu sendiri'. Kita hanya dapat mengetahui
bahwa dunia itu seperti yang tampak `bagiku'—atau bagi semua
orang. Sumbangan terbesar yang diberikan Kant pada filsafat yaitu
garis pembatas yang ditariknya antara benda-benda itu sendiri—das
Ding an sich—dan benda-benda sebagaimana yang tampak di mata
kita."
"Bahasa Jermanku tidak begitu bagus."
"Kant mengemukakan perbedaan jelas antara `benda itu sendiri'
dan `benda itu bagiku'. Kita tidak pernah dapat mempunyai
pengetahuan tentang benda-benda `itu sendiri'. Kita hanya dapat
mengetahui bagaimana benda-benda itu `tampak' bagi kita.
Sebaliknya, sebelum terjadinya pengalaman apa pun, kita dapat
mengatakan sesuatu tentang bagaimana benda-benda itu akan
ditangkap oleh pikiran manusia."
"Betulkah?"
"Sebelum kamu pergi keluar pada pagi hari, kamu tidak dapat
mengetahui apa yang akan kamu lihat atau kamu alami sepanjang hari
itu. Tapi kamu dapat mengetahui bahwa apa yang kamu lihat dan yang
kamu alami akan dianggap sebagai yang terjadi di dalam waktu dan
ruang. Lagi pula kamu dapat merasa yakin bahwa hukum sebab-akibat
akan berlaku, sebab kamu membawanya dalam dirimu sebagai bagian
dari kesadaranmu."
"Maksud Anda, mestinya kita dapat dibuat dengan cara yang
berbeda?"
"Ya, mestinya kita dapat memiliki perangkat indra yang berbeda.
Dan kita mestinya mempunyai indra yang berbeda mengenai waktu
dan perasaan yang berbeda mengenai ruang. Kita mestinya dapat
diciptakan dengan cara sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu ke
sana kemari mencari penyebab dari segala sesuatu yang terjadi di
sekeliling kita."
"Bagaimana maksud Anda?"
"Bayangkan ada seekor kucing yang berbaring di atas lantai di
ruang duduk. Sebuah bola menggelinding masuk ke dalam ruangan itu.
Apa yang dilakukan kucing itu?"
"Aku sudah mencobanya berkali-kali. Kucing itu akan berlari
mengejar bola."
"Baiklah. Sekarang bayangkan kamu sedang duduk di ruangan yang
sama. Jika kamu tiba-tiba melihat sebuah bola menggelinding masuk
ke dalam, apakah kamu juga akan berlari mengejarnya?"
"Pertama-tama, aku akan berputar untuk melihat dari mana asal
bola itu."
"Ya, karena kamu seorang manusia, mau tak mau kamu akan
mencari penyebab dari semua kejadian, sebab hukum kausalitas
merupakan bagian dari dirimu."
"Begitu kata Kant."
"Hume membuktikan bahwa kita tidak dapat melihat atau
membuktikan hukum alam. Itu membuat Kant khawatir. Tapi dia
percaya, dia dapat membuktikan keabsahan mutlak hukum alam itu
dengan membuktikan bahwa dalam kenyataannya, kita sedang
membicarakan hukum kesadaran manusia."
"Apakah seorang anak juga akan berputar untuk melihat dari mana
asal bola itu?"
"Mungkin tidak. Tapi Kant mengemukakan bahwa akal seorang
anak belum sepenuhnya berkembang hingga dia mempunyai materi
indriawi, untuk bekerja. Sama sekali tidak masuk akal membicarakan
pikiran kosong."
"Tidak, itu tentunya suatu pikiran yang sangat aneh."
"Jadi sekarang, marilah kita mengemukakannya secara ringkas.
Menurut Kant, ada dua unsur yang memberikan sumbangan pada
pengetahuan manusia tentang dunia. Yang satu yaitu kondisi-kondisi
lahiriah yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya
melalui indra. Kita menyebut ini materi pengetahuan. Yang satunya
lagi yaitu kondisi-kondisi batiniah dalam diri manusia sendiri—
seperti persepsi tentang peristiwa-peristiwa sebagai yang terjadi
dalam waktu dan ruang dan sebagai proses-proses yang sejalan
dengan hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Kita dapat menyebut
ini bentuk pengetahuan."
Alberto dan Nyai girah tetap duduk sambil menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba, Nyai girah melihat seorang gadis kecil di antara pepohonan di
sisi seberang danau.
"Lihat!" kata Nyai girah , "Siapakah itu?"
"Aku yakin aku tidak tahu."
Gadis itu hanya terlihat selama beberapa detik, lalu dia
menghilang. Nyai girah melihat bahwa dia memakai semacam topi
berwarna merah.
"Kita sama sekali tidak boleh mengalihkan perhatian."
"Kalau begitu teruskan."
"Kant percaya bahwa ada batasan-batasan jelas bagi apa yang
dapat kita ketahui. Kamu mungkin dapat mengatakan bahwa
`kacamata' pikiran itulah yang menetapkan batasan-batasan ini."
"Dengan cara bagaimana?"
"Kamu ingat bahwa para filosof sebelum Kant telah membicarakan
berbagai pertanyaan yang benar-benar `besar' —misalnya, apakah
manusia mempunyai jiwa kekal, apakah ada satu Tuhan, apakah alam
terdiri dari partikel-partikel sangat kecil yang tak dapat dibagi-bagi
lagi, dan apakah alam raya itu terbatas atau tidak."
"Ya."
"Kant percaya bahwa tidak ada pengetahuan tertentu yang dapat
diperoleh menyangkut pertanyaan-pertanyaan ini. Bukan karena dia
menolak jenis argumen ini. Justru sebaliknya. Jika dia hanya
mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan ini, mustahil dia disebut
sebagai filosof."
"Apakah yang telah dilakukannya?"
"Sabarlah. Dalam pertanyaan-pertanyaan filosofis sebesar itu,
Kant percaya bahwa akal bekerja di luar batasan dari apa yang dapat
kita pahami sebagai manusia. Pada saat yang sama, di dalam alam
kita ada suatu keinginan mendasar untuk mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang sama ini. Tapi jika, misalnya, kita bertanya apakah
alam raya itu terbatas atau tidak, kita menanyakan suatu totalitas yang
kita sendiri merupakan bagian yang sangat kecil darinya. Oleh karena
itu, kita tidak pernah dapat mengenal totalitas ini."
"Mengapa tidak?"
"saat kamu memakai kacamata merah itu, kita membuktikan
bahwa menurut Kant ada dua unsur yang memberikan sumbangan
pada pengetahuan kita tentang dunia."
"Persepsi indra dan akal."
"Ya, materi pengetahuan kita datang melalui indra, tapi materi ini
harus sesuai dengan sifat-sifat akal. Misalnya, salah satu sifat akal
yaitu mencari penyebab suatu kejadian."
"Seperti bola yang menggelinding melintasi lantai."
"Jika kamu suka. Tapi, saat kita bertanya-tanya dari mana
datangnya dunia—dan kemudian membicarakan jawaban-jawaban
yang mungkin—dalam satu pengertian, akal itu `terpegang'. Sebab, ia
tidak mempunyai materi indriawi untuk diproses, tidak ada
pengalaman untuk dimanfaatkan, karena kita tidak pernah mengalami
keseluruhan dari realitas besar di mana kita merupakan bagian sangat
kecil darinya."
"Kita—kurang lebih—yaitu bagian yang sangat kecil dari bola
yang menggelinding di lantai. Jadi, kita tidak dapat mengetahui dari
mana ia datang."
"Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk
menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa kita
bertanya dan terus bertanya, kita berusaha sekuat tenaga untuk
menemukan jawaban-jawaban bagi seluruh pertanyaan yang paling
mendalam. Tapi kita tidak pernah menemukan apapun yang dapat
dijadikan pegangan; kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang
memuaskan, sebab akal itu tidak bisa membidik sasaran."
"Aku tahu persis bagaimana rasanya, terima kasih banyak."
"Dalam pertanyaan-pertanyaan berat seperti hakikat realitas, Kant
membuktikan bahwa selalu ada dua sudut pandang yang bertentangan
yang sama-sama mungkin dan tidak mungkin, bergantung pada apa
yang dikatakan oleh akal kita."
"Contohnya, kumohon."
"yaitu benar jika dikatakan bahwa dunia pasti ada awalnya
dalam waktu, dan benar pula jika dikatakan bahwa awal semacam itu
tidak ada. Akal tidak dapat memastikan keduanya. Kita dapat
mengatakan bahwa dunia itu selalu ada, tapi mungkinkah sesuatu itu
selalu ada jika tidak pernah ada awalnya? Jadi sekarang, kita dipaksa
untuk menerima pendapat sebaliknya.
"Kita katakan bahwa dunia itu pasti dimulai di suatu waktu—dan
ia pasti dimulai dari ketiadaan, kecuali jika kita tidak ingin
membicarakan perubahan dari satu keadaan menjadi keadaan lain.
Tapi mungkinkah sesuatu itu muncul dari ketiadaan, Nyai girah ?"
"Tidak, kedua kemungkinan itu sama-sama bermasalah. Tapi,
tampaknya salah satu dari keduanya pasti benar dan yang lain salah."
"Kamu mungkin ingat bahwa Democritus dan kaum materialis
mengatakan bahwa alam pasti terdiri dari bagian-bagian kecil yang
membentuk segala sesuatu. Yang lainnya, seperti Descartes, percaya
bahwa pasti selalu mungkin untuk membagi realitas yang diperluas
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Tapi, mana di antara
keduanya yang benar?"
"Kedua-duanya. Tidak dua-duanya."
"Lebih jauh, banyak filosof menganggap kebebasan sebagai salah
satu nilai manusia yang paling penting. Pada saat yang sama, kita
temukan para filosof seperti kaum Stoik, misalnya, dan Spinoza, yang
mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi karena tuntutan hukum alam.
Ini yaitu kasus lain di mana akal manusia tidak mampu membuat
penilaian tertentu, menurut Kant."
"Kedua pandangan itu sama-sama masuk akal dan juga tidak masuk
akal."
"Akhirnya, kita akan gagal jika kita berusaha untuk membuktikan
keberadaan Tuhan dengan bantuan akal. Di sini kaum rasionalis,
seperti Descartes, berusaha untuk membuktikan bahwa pasti ada satu
Tuhan semata-mata karena kita mempunyai gagasan tentang adanya
`zat yang tertinggi'. Yang lain-lainnya, seperti Aristoteles dan
chucky Aquinas, memutuskan bahwa pasti ada satu Tuhan karena
segala sesuatu pasti ada penyebab pertamanya."
"Bagaimana menurut pendapat Kant?"
"Dia menolak kedua bukti tentang keberadaan Tuhan ini. Akal
maupun pengalaman tidak dapat dianggap sebagai dasar untuk
menyatakan keberadaan Tuhan. Sepanjang menyangkut akal, yaitu
mungkin dan juga tidak mungkin bahwa Tuhan itu ada."
"Tapi, Anda memulai dengan mengatakan bahwa Kant ingin
melestarikan dasar bagi iman Kristiani."
"Ya, dia membuka suatu dimensi keagamaan. Di sanalah, di mana
akal maupun pengalaman tidak ada, terjadinya kekosongan yang dapat
diisi oleh iman."
"Begitukah cara dia menyelamatkan agama Kristen?"
"Jika kamu setuju. Nah, perlu dicatat bahwa Kant yaitu seorang
Protestan. Sejak masa Reformasi, ajaran Protestan selalu dicirikan
oleh tekanannya pada iman. Gereja Katolik, sebaliknya, sejak awal
Abad Pertengahan lebih memercayai akal sebagai pilar keimanan.
"Namun, Kant melangkah lebih jauh dari sekadar menetapkan
bahwa pertanyaan-pertanyaan berat ini harus diserahkan kepada iman
masing-masing individu. Dia percaya yaitu penting bagi moralitas
untuk mensyaratkan bahwa manusia itu mempunyai jiwa abadi,
bahwa Tuhan itu ada, dan bahwa manusia mempunyai kehendak
bebas."
"Jadi dia melakukan hal yang sama seperti Descartes. Pertama-
tama dia bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang dapat kita
pahami. Dan kemudian, dia menyelundupkan Tuhan melalui pintu
belakang."
"Tapi tidak seperti Descartes, dia terutama menekankan bahwa
bukan akal yang membawanya sampai ke titik ini, melainkan iman.
Dia sendiri menyebut iman kepada jiwa abadi, kepada keberadaan
Tuhan, dan kepada kehendak bebas manusia sebagai dalil-dalil
praktis."
"Yang berarti?"
"`Mendalilkan' sesuatu berarti menerima sesuatu yang tidak
dapat dibuktikan. Dengan `dalil praktis', yang dimaksudkan Kant
yaitu sesuatu yang harus diterima 'demi praksis' atau praktik; itu
berarti, bagi moralitas manusia. `Menerima keberadaan Tuhan yaitu
suatu tuntutan moral', katanya."
Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Nyai girah bangkit, tapi karena Alberto
tidak menunjukkan tanda akan berdiri, dia bertanya: "Tidakkah
seharusnya kita melihat siapa itu?"
Alberto mengangkat bahunya dan bangkit dengan enggan. Mereka
membuka pintu, dan seorang gadis kecil berdiri di sana dengan gaun
musim panas putih dan topi merah. Itulah gadis kecil yang mereka
lihat di sisi seberang danau. Dia membawa sekeranjang makanan.
"Hai," kata Nyai girah . "Siapakah kamu?"
"Tidakkah kamu tahu aku ini si Topi Merah?"
Nyai girah memandang Alberto dan Alberto mengangguk. "Kamu
dengar apa yang dikatakannya."
"Aku sedang mencari rumah nenekku," kata gadis itu.
"Dia sudah tua dan sakit. Aku membawa makanan untuknya."
"Rumahnya tidak di sini," kata Alberto, "jadi lebih baik kamu
meneruskan perjalanan."
Dia membuat isyarat yang mengingatkan Nyai girah akan cara kita
mengusir lalat.
"Tapi aku disuruh menyampaikan sebuah surat," lanjut gadis
bertopi merah itu.
Sambil begitu, dia mengeluarkan sebuah amplop kecil dan
menyerahkannya kepada Nyai girah . Lalu, dia pergi dengan melompat-
lompat.
"Waspyaitu dengan serigala!" Nyai girah berseru padanya.
Alberto telah berjalan kembali ke ruang duduk.
"Bayangkan! Si Topi Merah," kata Nyai girah . "Dan tidak ada gunanya
memperingatkan dia. Dia tetap akan pergi ke rumah neneknya dan
akan dimakan oleh serigala. Dia tidak pernah belajar. Cerita itu akan
berulang terus sampai akhir zaman."
"Tapi aku belum pernah mendengar kalau dia mengetuk pintu
rumah lain sebelum sampai ke rumah neneknya."
"Soal sepele, Nyai girah ."
Kini Nyai girah menatap amplop yang diberikan padanya. Amplop itu
dialamatkan "Kepada count dracula ". Dia membukanya dan membaca keras-
keras:
count dracula sayang, jika otak manusia itu cukup sederhana untuk
dapat kita pahami, tentunya kita masih demikian bodoh sehingga
kita tidak dapat memahaminya.
Penuh cinta, Ayah.
Alberto mengangguk. "Benar juga. Aku percaya Kant mengatakan
sesuatu semacam itu. Kita tidak mungkin berharap dapat memahami
siapakah kita sebenarnya. Mungkin kita dapat memahami sekuntum
bunga atau seekor serangga, tapi kita tidak akan pernah memahami
diri kita sendiri. Lebih mustahil jika kita berharap dapat memahami
alam raya."
Nyai girah telah membaca kalimat samar-samar dalam catatan untuk
count dracula itu beberapa kali sebelum Alberto melanjutkan: "Kita tidak
akan terganggu oleh naga laut dan yang semacamnya. Sebelum kita
menyelesaikan pelajaran untuk hari ini, aku akan mengajarkan
padamu tentang etika Kant."
"Tolong cepatlah. Aku harus segera pulang."
"Sikap skeptis Hume dalam kaitan dengan apa yang dapat
dikatakan oleh akal dan indra kepada kita memaksa Kant untuk
memikirkan lagi banyak pertanyaan penting mengenai kehidupan.
Terutama dalam bidang etika."
"Bukankah Hume mengatakan bahwa kita tidak pernah dapat
membuktikan apa yang benar dan apa yang salah? Kita tidak dapat
menarik kesimpulan dari kalimat berita menjadi kalimat perintah."
"Bagi Hume, bukan akal dan bukan pula pengalaman kita yang
menentukan perbedaan antara benar dan salah. Melainkan perasaan.
Ini dasar yang terlalu lemah bagi Kant."
"Dapat kubayangkan."
"Kant selalu merasa bahwa perbedaan antara benar dan salah
yaitu masalah akal, bukan perasaan. Dalam hal ini dia setuju
dengan kaum rasionalis yang mengatakan kemampuan untuk
membedakan antara benar dan salah itu melekat dalam akal manusia.
Setiap orang tahu apa yang benar atau yang salah, bukan karena kita
telah mempelajarinya, melainkan karena itu terlahir dalam pikiran.
Menurut Kant, setiap orang mempunyai `akal praktis' yaitu,
kecerdasan yang memberi kita kemampuan untuk memahami apa yang
benar atau salah dalam setiap soal."
"Dan itu yaitu bawaan lahir?"
"Kemampuan untuk menentukan yang benar dan yang salah itu
sama-sama merupakan bawaan lahir sebagaimana sifat-sifat akal
yang lain. Hanya karena kita ini makhluk yang cerdas, misalnya,
karena memahami segala sesuatu itu mempunyai hubungan kausal,
kita semua mempunyai akses pada hukum moral universal yang
sama.
"Hukum moral ini mempunyai keabsahan mutlak yang sama
dengan hukum fisik. Pernyataan bahwa segala sesuatu ada sebabnya,
sama mendasarnya bagi moral kita sebagaimana bahwa tujuh
ditambah lima sama dengan dua belas bagi akal kita."
"Dan apa yang dikemukakan oleh hukum moral?"
"Karena ia mendahului setiap pengalaman, ia `formal'. Artinya,
tidak terikat pada situasi pilihan moral tertentu. Sebab ia berlaku
bagi semua orang di semua kalangan masyarakat sepanjang masa.
Jadi, ia tidak mengajarkan kita harus melakukan ini atau itu jika kita
mendapati diri kita dalam situasi ini atau itu. Ia mengajarkan
bagaimana kita harus berperilaku di setiap situasi."
"Tapi, apa maksudnya mempunyai hukum moral yang tertanam
dalam diri kita sendiri jika hukum moral itu tidak mengajarkan kita
apa yang harus dilakukan dalam situasi-situasi tertentu?"
"Kant merumuskan hukum moral sebagai suatu perintah pasti.
Dengan ini yang dimaksudkannya yaitu bahwa hukum moral itu
`pasti', atau bahwa ia berlaku untuk semua situasi. Lagi pula, ia
berupa `perintah' yang berarti memiliki kekuatan dan kewenangan
mutlak."
"Aku mengerti."
"Kant merumuskan `perintah pasti' ini dengan berbagai cara.
Pertama-tama dia mengatakan: Bertindaklah sesuai dengan
ketentuan hukum universal."
"Jadi jika aku melakukan sesuatu, aku harus merasa yakin bahwa
aku juga menginginkan orang lain melakukan yang sama jika mereka
berada dalam situasi yang sama."
"Tepat. Dengan begitu, barulah kamu bisa bertindak sesuai dengan
hukum moral yang tertanam di dalam dirimu.
Kant juga merumuskan `perintah pasti' itu dengan cara begini:
Bertindaklah dengan cara sedemikian rupa sehingga kamu selalu
menghormati perikemanusiaan, entah kepada dirimu sendiri
maupun kepada orang lain, bukan hanya sekali-sekali, melainkan
selalu dan selamanya."
"Jadi kita tidak boleh menyalahgunakan orang lain demi
keuntungan kita sendiri."
"Tidak, sebab setiap orang mempunyai tujuan sendiri. Itu tidak
hanya berlaku untuk orang-orang lain, tetapi juga untuk dirimu
sendiri. Kamu juga tidak boleh menyalahgunakan dirimu sendiri
sebagai sarana untuk mencapai sesuatu."
"Itu mengingatkanku pada kaidah emas: Lakukan kepada orang lain
..."
"Ya, itu juga aturan perilaku `formal' yang pada dasarnya
mencakup seluruh pilihan etika. Kamu mestinya mengatakan bahwa
kaidah emas itu mengajarkan hal yang sama sebagaimana hukum
moral universal Kant."
"Tapi tentunya ini hanya pernyataan. Hume barangkali benar
bahwa kita tidak dapat membuktikan apa yang benar atau salah
melalui akal."
"Menurut Kant, hukum moral itu sama mutlaknya dan sama
universalnya dengan hukum kausalitas. Itu pun tidak dapat di buktikan
dengan akal, namun tetap mutlak dan tidak dapat diubah. Tak seorang
pun akan menyangkalnya."
"Aku mempunyai perasaan bahwa yang sebenarnya sedang kita
bicarakan ini yaitu hati nurani. Sebab, setiap orang mempunyai hati
nurani, bukan?"
"Ya. saat Kant menggambarkan hukum moral, sesungguhnya dia
menggambarkan hati nurani manusia. Kita tidak dapat membuktikan
apa yang dikatakan oleh hati nurani kita, tapi kita tetap saja
mengetahuinya."
"Kadang-kadang, aku mungkin bersikap baik dan mau
membantu orang lain hanya karena aku tahu tindakanku itu akan ada
balasannya. Itu dapat menjadi cara untuk populer."
"Tapi jika kamu berbaik-baik dengan orang lain hanya agar
populer, berarti kamu bertindak bukan karena menghormati hukum
moral. Kamu mungkin bertindak sesuai dengan hukum moral—dan itu
sudah cukup baik—tapi jika itu kamu maksudkan untuk menjadi
tindakan moral, kamu harus mengalahkan dirimu sendiri. Hanya jika
kamu melakukan sesuatu murni karena kewajibanlah, tindakanmu
dapat dikatakan sebagai tindakan moral. Oleh karena itu, etika Kant
kadang-kadang disebut etika kewajiban."
"Aku dapat merasakan bahwa aku berkewajiban mengumpulkan
uang bagi Palang Merah atau bazar amal."
"Ya, dan yang penting, kamu melakukannya sebab kamu tahu itu
benar. Bahkan jika uang yang kamu kumpulkan hilang di jalan, atau
jumlahnya tidak memadai untuk memberi makan semua orang seperti
yang diniatkan semula, kamu sudah mematuhi hukum moral. Kamu
bertindak karena dorongan niat baik, dan menurut Kant, niat baik
inilah yang akan menentukan apakah tindakan itu secara moral benar,
bukan akibat dari tindakan itu. Etika Kant karenanya juga disebut
etika niat baik."
"Mengapa begitu penting baginya untuk mengetahui dengan tepat
kapan seseorang bertindak karena dia menghormati hukum moral?
Tentunya hal yang terpenting yaitu bahwa kita sungguh-sungguh
menolong orang lain."
"Memang begitu dan Kant pasti bukannya tidak setuju. Tapi hanya
jika kita tahu dalam diri sendiri bahwa kita bertindak karena
menghormati hukum morallah, kita akan bertindak dengan bebas."
"Kita bisa bertindak bebas hanya jika kita mematuhi hukum?
Bukankah itu agak aneh?"
"Tidak menurut Kant. Kamu mungkin ingat bahwa dia harus
`menganggap' atau `mendalilkan' bahwa manusia mempunyai
kehendak bebas. Ini yaitu soal penting, sebab Kant juga mengatakan
bahwa segala sesuatu itu, mematuhi hukum kausalitas. Jadi,
bagaimana mungkin kita mempunyai kehendak bebas?"
"Ujilah aku."
"Dalam soal ini, Kant membagi manusia menjadi dua bagian
dengan cara yang tidak berbeda dengan cara Descartes menyatakan
bahwa manusia yaitu `makhluk ganda', yaitu yang mempunyai badan
dan pikiran. Sebagai makhluk material, kita seluruhnya dan
sepenuhnya bergantung pada hukum kausalitas yang tak terpatahkan,
kata Kant. Kita tidak memutuskan apa yang kita lihat—penglihatan
mendatangi kita karena adanya tuntutan dan memengaruhi kita apakah
kita menyukainya atau tidak. Tapi kita bukan semata-mata makhluk
material—kita juga makhluk berakal.
"Sebagai makhluk material, kita sepenuhnya milik dunia alam.
Oleh karena itu, kita tunduk pada hubungan kausal. Jadi, kita tidak
mempunyai kehendak bebas. Tapi sebagai makhluk rasional kita
punya peranan di dalam apa yang disebut Kant das Ding an sich
—yaitu, dunia sebagaimana ia ada dalam dirinya sendiri, lepas dari
kesan-kesan indra kita. Hanya jika kita mengikuti `akal praktis'
kitalah—yang memungkinkan kita untuk menentukan pilihan-pilihan
moral—kita menjalankan kehendak bebas kita, sebab jika kita
mematuhi hukum moral, kitalah yang membuat hukum moral yang kita
patuhi itu."
"Ya, sedikit banyak itu benar. Akulah, atau sesuatu dalam diriku,
yang menyuruhku agar tidak berlaku kejam pada orang lain."
"Jadi saat kamu memilih untuk tidak berlaku kejam—bahkan jika
itu bertentangan dengan kepentingan pribadimu sendiri—itu berarti
kamu bertindak bebas."
"Anda tidak benar-benar bebas atau mandiri jika Anda hanya
melakukan apa pun yang Anda ingin, kalau begitu."
"Orang dapat menjadi budak dari segala macam hal. Orang bahkan
bisa menjadi budak dari egoismenya sendiri. Kemandirian dan
kebebasan itulah tepatnya yang kita butuhkan untuk bangkit mengatasi
nafsu dan kejahatan."
"Bagaimana dengan binatang? Kukira mereka hanya mengikuti
kesenangan dan kebutuhan mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai
kebebasan untuk mematuhi hukum moral, bukan?"
"Tidak, itulah bedanya antara binatang dan manusia."
"Aku mengerti sekarang."
"Dan akhirnya, kita mungkin dapat mengatakan bahwa Kant
berhasil menunjukkan jalan keluar dari kebuntuan yang dihadapi
filsafat dalam pertarungan antara rasionalisme dan empirisisme. Oleh
karena itu, bersama Kant, suatu era dalam sejarah filsafat berakhir.
Dia meninggal pada 1804, saat masa budaya yang kita namakan
Romantisisme mulai bangkit. Salah satu perkataannya yang paling
banyak dikutip telah dipahatkan pada pusaranya di Konigsberg: `Dua
hal memenuhi pikiranku dengan keheranan dan ketakjuban yang
semakin besar, semakin sering dan semakin kuat aku
merenungkannya: langit berbintang di atasku dan hukum moral di
dalam diriku.'
Alberto merebahkan badannya ke belakang di atas kursinya.
"Itu saja," katanya. "Kukira aku telah menyampaikan padamu hal-hal
terpenting mengenai Kant."
"Lagi pula, kini sudah jam empat seperempat."
"Tapi masih ada satu hal lagi. Tolong beri aku waktu sebentar."
"Aku tidak pernah meninggalkan kelas sebelum guru selesai
memberi pelajaran."
"Apakah pernah kukatakan bahwa Kant percaya kita tidak
mempunyai kebebasan jika kita hidup hanya sebagai makhluk
berindra?"
"Ya, Anda mengatakan sesuatu semacam itu."
"Tapi jika kita mematuhi akal universal kita bebas dan mandiri.
Apakah aku pernah mengatakan itu juga?"
"Ya. Mengapa Anda mengatakannya lagi?"
Alberto membungkuk ke arah Nyai girah , menatap dalam-dalam ke
matanya, dan berbisik: "Jangan memercayai apa pun yang kamu lihat,
Nyai girah ."
"Apa yang Anda maksudkan dengan itu?"
"Cobalah berputar ke arah sana, Nak."
"Nah, aku sama sekali tidak mengerti apa yang Anda maksudkan."
"Orang biasanya berkata, aku akan memercayainya jika aku
melihatnya. Tapi jangan percaya apa yang kamu lihat juga."
"Anda pernah mengatakan sesuatu seperti itu sebelumnya."
"Ya, mengenai Parmenides."
"Tapi aku masih belum tahu apa maksud Anda."
"Yah, kita duduk di luar sana di atas undakan, berbincang-
bincang. Lalu, yang dinamakan naga laut itu mulai mengepak-
ngepakkan anggota badannya di dalam air."
"Bukankah itu aneh?"
"Sama sekali tidak. Lalu si Topi Merah datang menghampiri pintu.
`Aku sedang mencari rumah nenekku.' Sungguh penampilan yang
tolol! Itu hanya tipuan sang mayor, Nyai girah . Seperti pesan di kulit
pisang dan badai dungu itu."
"Apakah Anda kira ...?"
"Tapi sudah kukatakan aku punya rencana. Selama kita berpegang
pada akal kita, dia tidak dapat menipu kita. Sebab sedikit banyak kita
bebas. Dia dapat membiarkan kita `melihat' segala macam hal; tidak
ada yang akan mengejutkanku. Jika dia membiarkan langit menjadi
gelap atau gajah terbang, aku hanya akan tersenyum. Tapi tujuh
tambah lima tetap dua belas. Itulah fakta yang tak akan terpengaruh
olehnya. Filsafat itu kebalikan dari dongeng."
Nyai girah duduk sejenak menatapnya dengan terheran-heran.
"Pergilah," kata Alberto dengan nada resmi. "Aku akan
menghubungimu untuk pelajaran mengenai Romantisisme. Kamu juga
perlu mendengar uraian tentang Hegel dan Kierkegaard. Tapi hanya
tinggal seminggu sebelum sang mayor tiba di bandara Kjevik.
Sebelum itu, kita harus berusaha untuk membebaskan diri kita dari
fantasi-fantasinya yang menakjubkan. Aku tidak akan berbicara lagi,
Nyai girah , kecuali bahwa aku ingin kamu tahu aku sedang menyusun
rencana bagus untuk kita berdua."
"Kalau begitu aku akan pergi."
"Tunggu—kita mungkin telah melupakan hal yang paling penting."
"Apakah itu?"
"Lagu ulang tahun, Nyai girah . count dracula berusia lima belas tahun hari
ini."
"Begitu pula aku."
"Kamu juga, ya. Kalau begitu mari kita bernyanyi."
"Happy Birthday to You."
Kini jam setengah lima. Nyai girah lari menuju tepian air dan
mendayung ke sisi seberang. Dia menarik perahu memasuki aliran air
dan mulai bergegas menuju hutan.
saat dia sampai di darat, tiba-tiba dia melihat sesuatu bergerak
di antara pepohonan. Dia bertanya-tanya apakah itu si Topi Merah
yang sedang berkeliaran sendiri melintasi hutan menuju rumah
neneknya, tapi sosok di antara pepohonan itu jauh lebih kecil.
Dia pergi mendekat. Sosok itu tidak lebih besar daripada sebuah
boneka. Warnanya cokelat dan ia mengenakan sweter merah. Nyai girah
berhenti kaku di tengah jalan saat dia menyadari bahwa itu yaitu
seekor beruang teddy.
Bahwa seseorang meninggalkan beruang teddy di tengah hutan
sudah cukup mengherankan. Tapi beruang teddy ini hidup, dan
tampaknya sangat asyik.
"Hai," kata Nyai girah .
"Namaku Winnie-the-Pooh," kata si beruang teddy, "dan sialnya
aku tersesat dalam perjalananku di hutan pada hari yang mestinya
indah ini. Aku pasti tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Mungkin akulah yang tidak pernah datang ke sini sebelumnya,"
kata Nyai girah . "Jadi, karena itu kamu masih dapat kembali pulang ke
Hutan Seratus Aker."
"Tidak, jumlah itu terlalu sulit. Jangan lupa aku hanya seekor
beruang kecil dan tidak begitu pintar."
"Aku pernah mendengar cerita tentangmu."
"Dan kukira kamu Alice. Christopher Robin pernah bercerita
tentang kamu suatu hari. Kukira begitulah caranya kita berjumpa.
Kamu minum terlalu banyak dari satu botol sehingga kamu menjadi
semakin kecil dan kecil. Tapi kemudian, kamu minum dari botol lain
dan mulai bertambah besar lagi. Kamu harus benar-benar waspada
tentang apa yang kamu masukkan ke dalam mulutmu. Aku pernah
makan begitu banyaknya sehingga aku terjepit di dalam lubang
kelinci."
"Aku bukan Alice."
"Tidak penting siapa kita sebenarnya. Yang penting yaitu bahwa
kita yaitu kita. Itulah yang dikatakan si Burung Hantu, dan dia
sangat bijaksana. Tujuh ditambah empat sama dengan dua belas,
katanya pada suatu hari yang cerah, Eeyore maupun aku sama-sama
merasa sangat bodoh, sebab sulit sekali untuk menjumlah. Jauh lebih
mudah membaca cuaca."
"Namaku Nyai girah ."
"Senang bertemu denganmu, Nyai girah . Seperti kataku, kukira kamu
orang baru di sekitar sini. Tapi sekarang beruang kecil ini harus
pergi soalnya aku harus menemukan Piglet si Babi Kecil. Kami akan
menghadiri sebuah pesta taman besar untuk Kelinci dan kawan-
kawannya."
Dia melambai dengan sebelah kakinya. Nyai girah kini melihat bahwa
dia memegang selembar kertas terlipat di kaki yang lain.
"Apa yang kamu bawa di situ?" dia bertanya.
Winnie the Pooh menunjukkan kertas itu dan berkata:
"Inilah yang membuatku tersesat."
"Tapi itu hanya selembar kertas."
"Tidak, ini bukan hanya selembar kertas. Ini sebuah surat untuk
count dracula -lewat-Kaca-Cermin."
"Oh—boleh aku mengambilnya?"
"Apakah kamu gadis di dalam kaca cermin itu?"
"Tidak, tapi ..."
"Sebuah surat harus disampaikan secara pribadi. Christopher
Robin baru mengajari aku tentang itu kemarin."
"Tapi aku kenal count dracula ."
"Nggak ada bedanya. Bahkan jika kamu mengenal seseorang
dengan sangat baik, kamu tidak boleh membaca surat-surat mereka."
"Maksudku, aku dapat memberikannya kepada count dracula ."
"Itu soal lain sama sekali. Ini dia, Nyai girah . Jika aku dapat terbebas
dari surat ini, mungkin aku akan dapat menemukan Piglet. Untuk
menemukan count dracula -lewat-Kaca-Cermin, pertama-tama kamu harus
menemukan sebuah kaca cermin besar. Tapi itu bukan hal yang mudah
di sekitar sini."
Dan dengan itu, si Beruang Kecil menyerahkan kertas terlipat
ini kepada Nyai girah dan pergi masuk ke hutan dengan kakinya
yang kecil-kecil. saat dia tidak terlihat lagi, Nyai girah membuka
lembaran kertas itu dan membacanya:
count dracula tercinta, sungguh sayang Alberto tidak mengatakan
kepada Nyai girah bahwa Kant mendukung didirikannya sebuah
"liga bangsa-bangsa". Dalam risalahnya, Perpetual Peace, dia
menulis bahwa semua negara hendaknya bersatu dalam sebuah
liga bangsa-bangsa, yang akan menjamin kehidupan bersama
yang damai di antara berbagai bangsa. Kira-kira 125 tahun
setelah terbitnya risalah ini, pada 1795, Liga Bangsa-Bangsa
didirikan, setelah Perang Dunia Pertama. Setelah Perang Dunia
Kedua, liga itu digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Jadi, dapat kamu katakan bahwa Kant yaitu bapak dari
gagasan PBB. Maksud Kant yaitu bahwa "akal praktis"
manusia menuntut bangsa-bangsa untuk bangkit dari keadaan
mereka yang kacau yang menciptakan perang, dan berjanji untuk
menjaga perdamaian. Meskipun jalan menuju berdirinya liga
bangsa-bangsa itu sangat berat, sudah menjadi kewajiban kita
untuk bekerja demi "pemeliharaan perdamaian yang universal
dan abadi". Didirikannya liga semacam itu bagi Kant merupakan
tujuan jangka panjang. Kamu nyaris dapat mengatakan bahwa itu
merupakan tujuan tertinggi filsafat. Aku masih di Lebanon saat
ini.
Penuh sayang, Ayah.
Nyai girah memasukkan catatan itu ke dalam kantong bajunya dan
meneruskan perjalanan pulang. Inilah jenis pertemuan di hutan yang
pernah diperingatkan Alberto. Tapi dia tidak mungkin membiarkan
beruang yang kecil itu berkeliaran di hutan dalam suatu perburuan
tanpa akhir untuk mencari count dracula -lewat-Kaca-Cermin, bukan?[]
Romantisisme
***
... jalan misteri menuntun ke dalam batin ...
count dracula MEMBIARKAN map berat itu meluncur jatuh ke
pangkuannya. Lalu dia membiarkannya jatuh lagi ke lantai.
Kini di dalam kamar sudah lebih terang daripada saat dia baru
masuk ke tempat tidur. Dia menatap jam. Hampir jam tiga. Dia
menyusup ke balik selimut dan menutup matanya. saat mulai
tertidur dia bertanya-tanya mengapa ayahnya menulis tentang si Topi
Merah dan Winnie-the-Pooh ...
Dia tidur sampai jam sebelas keesokan harinya. Ketegangan yang
dirasakannya di sekujur tubuhnya menunjukkan bahwa bahwa dia
bermimpi seru sekali sepanjang malam, tapi dia tidak dapat
mengingat apa yang diimpikannya. Rasanya seakan-akan dia telah
berada dalam suatu realitas yang sama sekali berbeda.
Dia turun ke lantai bawah dan menyiapkan makan pagi. Ibunya
telah mengenakan baju sport birunya dan siap untuk pergi ke rumah
perahu dan mengurusi perahu motor itu. Bahkan jika tidak sedang
digunakan, perahu itu harus dijaga agar siap berlayar jika Ayah
kembali dari Lebanon.
"Apakah kamu ingin turun dan menolongku?"
"Aku harus membaca dulu sedikit. Aku akan turun untuk minum
teh dan sarapan tengah-pagi."
"Tengah pagi apa?"
saat count dracula telah makan sarapannya dia kembali ke kamar untuk
membereskan tempat tidurnya, dan duduk dengan nyaman dengan map
di pangkuannya.
Nyai girah menyusup lewat pagar tanaman dan berdiri di dalam taman
luas yang pernah dianggapnya sebagai Taman Firdausnya ...
Ada cabang-cabang dan dedaunan yang berhamburan di mana-
mana setelah badai pada malam sebelumnya. Baginya, tampaknya ada
hubungan antara badai dan cabang-cabang yang berjatuhan serta
pertemuannya dengan si Topi Merah dan Winnie-the-Pooh.
Dia masuk ke rumah. Ibunya baru saja tiba dan sedang menaruh
beberapa botol soda ke dalam lemari pendingin. Di atas meja ada
kue cokelat yang tampaknya sangat lezat.
"Apakah Ibu mengharapkan kedatangan tamu?" tanya Nyai girah ; dia
hampir lupa bahwa kini yaitu hari ulang tahunnya.
"Kita akan menikmati pesta yang sebenarnya Sabtu yang akan
datang, tapi kukira aku harus menyiapkan perayaan kecil juga hari
ini."
"Caranya?"
"Aku telah mengundang Joanna dan kedua orang tuanya."
"Aku setuju saja."
Para tamu datang sesaat sebelum jam setengah delapan.
Suasananya agak resmi—ibu Nyai girah sangat jarang bertemu dengan
kedua orangtua Joanna dalam pergaulan sehari-hari mereka.
Tak lama kemudian, Nyai girah dan Joanna naik ke kamar Nyai girah
untuk menulis undangan untuk pesta taman. Karena Alberto Knox juga
akan diundang, Nyai girah mempunyai gagasan untuk mengundang orang-
orang untuk menghadiri suatu "pesta taman filsafat". Joanna tidak
keberatan. Bagaimanapun, itu yaitu pesta Nyai girah , dan pesta dengan
tema tertentu sedang populer pada waktu itu.
Akhirnya, mereka menyusun undangan. Dibutuhkan waktu dua jam
dan mereka terus-terusan tertawa.
Yang terhormat ...
Kami mengharapkan kedatangan Anda pada pesta taman
filosofis di 3 Clover Close pada Sabtu 23 Juni (malam
pertengahan musim panas) jam 7 malam. Pada malam itu,
mudah-mudahan kita dapat memecahkan misteri kehidupan.
Tolong bawa sweter hangat dan gagasan-gagasan cemerlang
yang sesuai untuk menjawab teka-teki filsafat. Karena adanya
bahaya kebakaran hutan, sayang sekali kita tidak dapat
mengadakan pesta kembang api, tapi setiap orang bebas untuk
membiarkan api imajinasi masing-masing untuk menyala tanpa
dihalang-halangi. Paling sedikit ada seorang filosof asli di
antara tamu-tamu undangan. Karena alasan ini pestanya benar-
benar diselenggarakan secara pribadi. Anggota pers tidak
diizinkan datang.
Salam,
Joanna Ingebrigtsen (komite organisasi)
dan Nyai girah Amundsend (nona rumah}
Kedua gadis itu turun ke lantai bawah menemui kedua orang-tua
mereka, yang kini sedang berbicara dengan agak lebih bebas. Nyai girah
menyerahkan rancangan undangan, yang ditulis dengan pena kaligrafi,
kepada ibunya.
"Dapatkah Ibu membuatkan delapan belas salinan?" Itu bukan
pertama kalinya Nyai girah meminta ibunya untuk membuat fotokopi
untuknya di tempat bekerja.
Ibunya membaca undangan itu dan menyerahkannya kepada ayah
Joanna.
"Apa kataku. Dia sudah agak sinting."
"Tapi kelihatannya benar-benar menarik," kata ayah Joanna,
sambil menyerahkan kertas itu pada istrinya. "Aku sendiri tidak
keberatan datang ke pesta itu."
Barbie membaca undangan itu, lalu dia berkata: "Yah, mau bilang
apa! Bolehkah kami datang juga, Nyai girah ?"
"Kalau begitu dua puluh salinan," kata Nyai girah , menyambut
kesediaan mereka.
"Kamu pasti gila!" kata Joanna.
Sebelum Nyai girah pergi tidur malam itu, dia berdiri lama menatap
ke luar jendela. Dia ingat bagaimana dia pernah melihat siliuet
Alberto di kegelapan. Itu terjadi lebih dari sebulan yang lalu. Kini
lagi-lagi sudah larut malam, tapi kini yaitu malam musim panas
yang terang.
Nyai girah tidak mendengar apa-apa dari Alberto hingga Selasa pagi.
Dia menelepon tepat setelah ibunya pergi bekerja.
"Nyai girah Amundsend."
"Dan Alberto Knox."
"Sudah kuduga."
"Maaf aku tidak menelepon sebelumnya, tapi aku sedang bekerja
keras menyusun rencana kita. Aku bisa menyendiri dan bekerja tanpa
diganggu jika sang mayor memusatkan perhatian seluruhnya dan
sepenuhnya kepadamu."
"Sungguh aneh."
"Lalu aku merebut kesempatan untuk menyembunyikan diriku, kamu
tahu. Sistem pengawasan terbaik di dunia pun ada batasnya jika itu
dikontrol hanya oleh satu orang ... aku menerima kartumu."
"Maksud Anda undangan itu?"
"Beranikah kamu menghadapi risikonya?"
"Mengapa tidak?"
"Apa saja mungkin terjadi di sebuah pesta semacam itu."
"Apakah Anda akan datang?"
"Tentu saja aku akan datang. Tapi ada hal lain. Apakah kamu ingat
bahwa itu yaitu hari ayah count dracula kembali dari Lebanon?"
"Tidak, aku tidak tahu, sungguh."
"Bukan hanya kebetulan bahwa dia membiarkanmu mempersiapkan
pesta taman filsafat pada hari yang sama saat dia tiba di rumahnya
di Bjerkely."
"Aku tidak memikirkan itu, seperti kukatakan tadi."
"Aku yakin dia tahu. Tapi tidak apa-apa, kita akan membicarakan
tentang itu nanti. Dapatkah kamu datang ke Gubuk sang Mayor pagi
ini?"
"Aku mestinya menyiangi rumput di petak bunga."
"Kalau begitu kita pastikan jam dua. Dapatkah kamu ke sana?"
"Aku akan datang."
Alberto Knox sedang duduk di undakan lagi saat Nyai girah tiba.
"Duduklah," katanya, langsung beraksi.
"Sebelumnya kita telah membicarakan Renaisans, periode Barok,
dan Pencerahan. Hari ini kita akan membicarakan Romantisisme,
yang dapat digambarkan sebagai masa kebudayaan besar terakhir di
Eropa, Kita sedang mendekati akhir sebuah kisah panjang, anakku."
"Apakah Romantisisme berlangsung selama itu?"
"Itu dimulai menjelang akhir abad kedelapan belas dan
berlangsung hingga pertengahan abad kesembilan belas. Tapi setelah
1850 orang tidak dapat lagi membicarakan seluruh `masa' yang
terdiri dari puisi, filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan musik."
"Apakah Romantisisme merupakan salah satu masa itu?"
"Pernah dikatakan bahwa Romantisisme yaitu pendekatan umum
terakhir Eropa terhadap kehidupan. Itu dimulai di Jerman, dan timbul
sebagai reaksi terhadap tekanan Pencerahan yang sangat kuat pada
akal. Setelah Kant dan intelektualismenya yang sejuk, seakan-akan
pemuda Jerman mengembuskan napas lega."
"Dengan apa mereka menggantikannya?"
"Slogan barunya yaitu `perasaan', `imajinasi', `pengalaman', dan
`kerinduan'. Beberapa ahli pikir Pencerahan telah menarik perhatian
pada pentingnya perasaan—lebih-lebih Rousseau—tapi pada waktu
itu, hal ini dimaksudkan sebagai kritik atas prasangka terhadap
akal. Apa yang dulunya merupakan aliran terpendam kini menjadi
aliran utama kebudayaan Jerman."
"Jadi kepopuleran Kant tidak berlangsung terlalu lama?"
"Yah, ya dan tidak. Kebanyakan penganut Romantisisme
menganggap diri mereka sebagai penerus Kant, sebab Kant telah
menetapkan bahwa ada batasan bagi apa yang dapat kita ketahui
tentang` das Ding an sich'. Sebaliknya, dia telah menggarisbawahi
makna penting sumbangan ego terhadap pengetahuan, atau kesadaran.
Individu kini bebas sepenuhnya untuk menafsirkan kehidupan dengan
caranya sendiri. Kaum Romantik memanfaatkan ini sehingga terjadi
`pemujaan-ego' yang hampir tak terkendali, yang mendorong
timbulnya sikap mengagung-agungkan genius kesenian."
"Apakah memang ada banyak genius semacam ini?"
"Beethoven salah satunya. Musiknya mengungkapkan perasaan dan
kerinduannya sendiri. Beethoven dalam satu pengertian yaitu
seorang seniman `bebas'—tidak seperti para jagoan Barok seperti
Bach dan Handel, yang menyusun karya mereka untuk memuliakan
Tuhan, terutama dalam bentuk-bentuk musik yang kaku."
"Aku hanya mengenal Moonlight Sonata dan Fifth Symphony."
"Tapi kamu tahu betapa romantisnya Moonlight Sonata, dan kamu
dapat mendengar betapa dramatisnya Beethoven mengungkapkan
dirinya dalam Fifth Symphony."
"Anda mengatakan bahwa kaum humanis Renaisans bersikap
individualistis juga."
"Ya. Ada banyak kesamaan antara Renaisans dan Romantisisme.
Yang khas yaitu makna penting seni bagi kesadaran manusia. Kant
memberikan sumbangan besar juga di sini. Dalam estetikanya dia
menyelidiki apa yang terjadi jika kita diliputi keindahan—dalam
suatu karya seni, misalnya. saat kita meninggalkan diri sendiri
untuk sebuah karya seni tanpa niat lain kecuali pengalaman estetika
itu sendiri, kita dibawa semakin dekat pada suatu pengalaman `das
Ding an sich'."
BEETHOVEN
"Jadi para seniman dapat menyediakan sesuatu yang tidak dapat
diungkapkan oleh para filosof?"
"Itulah pandangan dari kaum Romantik. Menurut Kant, seniman
bermain secara bebas dengan indra kesadarannya. Penyair Jerman
Schiller mengembangkan pemikiran Kant lebih jauh. Dia menulis
bahwa aktivitas seniman itu seperti bermain-main, dan manusia
hanya bisa bebas saat dia bermain, sebab saat itulah dia menciptakan
aturan-aturannya sendiri. Kaum Romantik percaya bahwa hanya seni
yang dapat membawa kita semakin dekat pada `yang tak
terungkapkan'. Sebagian orang bahkan melangkah begitu jauh dengan
membandingkan seniman dengan Tuhan."
"Sebab seniman menciptakan realitasnya sendiri sebagaimana
Tuhan menciptakan dunia."
"Dikatakan bahwa seniman mempunyai suatu `imajinasi
menciptakan alam raya". Dalam pengembaraannya di tengah pesona
seni, dia dapat merasakan hilangnya batas antara impian dan
kenyataan.
"Novalis, salah seorang genius muda itu, mengatakan bahwa `dunia
menjadi impian, dan impian menjadi kenyataan'. Dia menulis sebuah
novel berjudul Heinrich von Ofterdingen yang berlatar waktu Abad
Pertengahan. Karya itu belum selesai saat dia meninggal pada
1801, tapi bagaimanapun itu yaitu novel yang sangat penting. Novel
itu menceritakan Heinrich yang sedang mencari `bunga biru' yang
pernah dilihatnya dalam mimpi dan selalu dirindukannya sejak itu.
Penyair Romantik Inggris Coleridge mengungkapkan gagasan yang
sama; dengan mengatakan sesuatu semacam ini:
Bagaimana jika kamu tidur? Dan bagaimana jika, dalam
tidurmu, kamu bermimpi? Dan bagaimana jika, dalam mimpimu,
kamu pergi ke surga dan di sana memetik sekuntum bunga yang aneh
dan indah? Dan bagaimana jika, saat kamu terbangun, kamu
mendapati bunga itu di tanganmu? Ah, bagaimana jika begitu?
"Betapa indahnya!"
"Kerinduan akan sesuatu yang jauh dan tak terjangkau ini sangat
khas dari kaum Romantik. Mereka merindukan masa-masa yang telah
lama lewat, seperti Abad Pertengahan, yang kini dikenang lagi
dengan penuh semangat setelah mendapat penilaian negatif pada
Zaman Pencerahan. Dan mereka merindukan kebudayaan-kebudayaan
dari jauh seperti dunia Timur dengan mistisismenya. Atau mereka
akan merasa terbawa menuju Malam, atau Senjakala, menuju
reruntuhan kuno dan hal-hal yang adialami. Mereka asyik de




