dari satu tempat ke
lain tempat, hingga terdampar di Jeddah. Ketika air sudah surut, berhala-
berhala itu berada di pinggir pantai. Hembusan angin menerbangkan debu-
debu dan membuat berhala-berhala ini terpendam.
Al-Kalbi berkata, ‘A.mr bin Luhay yang dijuluki Abu Tsumamah adalah
seorang dukun. Dia mempunyai pembantu dari golongan jin, yang berkata
kepadanya, “Cepat-cepatlah pergi dari Tihamah dengan keselamatan dan
sejahtera, lalu datangiJah batu-batu karang di Jeddah. Di sana Anda akan
mendapatkan beberapa berhala yang terpendam di dalam tanah. Bawalah
berhala-berhala ini ke Tihamah dan janganlah Anda takut. Kemudian ajaklah
orang-orang Arab untuk menyembah berhala-berhala itu. Tentu mereka akan
memenuhi ajakan Anda.”
Maka Amr bin Luhay mendatangi sebuah sungai di Jeddah dan
mendapatkan berhala-berhala itu setelah mencarinya. Kemudian dia
membawanya ke Tihamah. Ketika tiba musim haji, dia mengajak semua orang-
orang Arab untuk menyembah berhala-berhala itu. Pada awal mulanya Auf
bin Adzrah bin Zaid Al-Lata yang memenuhi ajakannya. Amr bin Luha}’
menyerahkan berhala Wud kepada Auf lalu dia membawa berhala itu. Dia
hidup di Wadil-Qura di Dumatul-Jandal. Dia menamai anaknya Abdi Wud,
sekaligus merupakan nama pertama yang dinisbatkan kepada berhala Wud.
Auf mengangkat anaknya itu sebagai pemimpin yang mengurus berhala Wud.
Maka anak keturunannya tetap mempertahankan penyembahan terhadap
Wud, hingga Islam datang.
Al-Kalbi berkata, “Aku diberitahu Malik bin Haritsah, bahwa dia pernah
melihat Wud. Dia berkata, ‘Ayahku mengutusku untuk menyajikan air susu
kepada berhala Wud, seraya berkata, ‘Guyurlah tuhanmu dan berilah ia
minuman’. Malik berkata, “Kemudian aku juga melihat KhaJid bin Al-Walid
8 4 Perangkap Setan
yang merobohkan berhala itu dan membuatnya berkeping-keping. RasuIuUah
^mengutus Khalid bin Al-Walid sepulang dari perang Tabuk untuk
menghancurkannya. Ada seseorang dari Bani Abdi Wud yang bemsaha untuk
menghalangi Khalid. Namanya Quthn bin Suraih. Setelah Quthn terbunuh,
ibunya datang sambil berkata,
“Ini adalah kasih sayang yang tak bertahan lama
tiada pula kenikmatan yang abadi sepanjang masa
tak selamanya debu menempel di tubuh bayi
sekalipun ada seorang ibu yang menyayangi."
Kemudian dia berkata lagi,
“Wahai yang menghimpun isi perut dan dada
andaikan saja ibumu tak dilahirkan dan tak melahirkan.”
Setelah itu dia menelungkup di atas jasad anaknya, dan seketika itu
pula dia meninggal.
Al-Kalbi berkata, “Aku berkata kepada Malik bin Haritsah,
“Gambarkanlah berhala Wud kepadaku secara jelas, sehingga seakan-akan
aku bisa melihatnya secara langsung.”
Malik menjawab, “la adalah sebuah berhala seorang laki-laki yang tinggi
besar, lebih besar dari ukuran siapa pun. Jadi ia tidak bisa disamakan dengan
siapa pun. Ada dua lembar pakaian yang dikenakan padanya, yang satu berkait
dengan yang lain. la membawa sebilah pedang yang terhunus dan
menyandang busur. Di tangannya ada geriba yang diberi bendera dan juga
ada kantong anak panahnya.”
Mudhar bin Nizar memenuhi ajakan Amr bin Luhay. Maka dia
menyerahkan berhala Suwa’ kepada seseorang dari Bani Hudzaii, yaitu Al-
Harits bin Tamim bin Sa’d bin Hudzaii bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar.
Dia hidup di sebuah perkampungan Rahath di wilayah Nakhlah. Berhala
Suwa’ menjadi sesembahan anak keturunan Mudhar. Seseorang berkata,
“Kau lihat mereka berk^umun di sekeliling kiblacnya
sebagaimana Bani Hudzaii yang berkerumun di sekitar Swwa’
korban domba disajikan ke hadapannya
diambil dan simpanan pemimpin mereka.”
8 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Ajakan Am‘r bin Luhay juga dipenuhi Bani Madzhaj. Maka dia
menyerahkan Yaghuts kepada An’um bin Amr Al-Muradi. Dia hidup di
Akmah di Yaman. Maka Yaghuts dijadikan sesembahan Bani Madzhaj dar
keturunannya.
Ajakan Amr bin Luhay juga disambut Bani Hamdan. Maka dis
menyerahkan berhala Ya’uq kepada Malik dan Martsad bin Jusyam. Dia hidup
di sebuah dusun yang bernama Jawan di Yaman. Maka Bani Hamdan dan
keturunannya menjadikan Ya’uq sebagai sesembahan.
Ajakan Amr bin Luhay juga disambut Bani Himyar. Maka dia
menyerahkan berhala Nasr kepada seseorang dari Dzi Ru’am, yang juga
disebut Ma’di Karib, suatu tempat di negeri Saba’ di bilangan Balkh. Maka
Bani Himyar dan keturunannya menjadikan berhala Nasr sebagai sesembahan.
Semua berhala-berhala ini senantiasa disembah hingga Allah mengutus
Muhammad ̂ dan memerintahkan agar beliau menghancurkannya.
Ibnu Hisyam berkata, “Kami diberitahu Al-Kalbi, dari Abush-Shalih,
dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah ^bersabda, “Aku dibawa naik
untuk meHhat neraka. Kulihat Amr bin Luhay, orang yang perawakannya
pendek, kulitnya kemerah-merahan, menyeret ususnya ke neraka. Aku
bertanya, Siapakah orang itu?”
Ada yang menjawab, “Itu adalah Amr bin Luhay, orang yang pertama
kali memuja bahirah, saHbah, ivashilah, han^, merubah agama Isma’il dan
mengajak orang-orang Arab untuk menyembah berhala.”
Hisyam berkata, Aku diberitahu ayahku dan juga lain-lainnya, bahwa
tatkala Isma’il =55 '̂ menetap di Makkah, mempunyai anak yang banyak, hingga
keturunan-keturunannya memenuhi Makkah dan mereka juga bisa
memusnahkan kaum Amaliq, maka mereka merasa bahwa Makkah terlalu
sempit bagi mereka. Karena itu muncul peperangan dan permusuhan di antara
’Bahirah adalah onta betina yang telah beranak lima kali, sedang anak yang kelima adalah jantan.
Telinga onta itu dibelah, lalu dilepaskan dan tidak boleh diganggu gugat, tidak boleh dijadikan
tunggangan dan tidak boleh diambil air susunya.
Sa'ihah adalah onta betina yang dibiarkan bebas berkeliatan semaunya karena suatu nadzar. Wosfiiiali
adalah domba betina yang melahirkan anak kembar, terdiri dan jantan dan betina. Anak dotnba yang
jantan itu disebut washikh, yang tidak boleh diganggu gugat dan dipersemhahkan kepada berhala
sebagai korban.
Ham adalah onta jantan yang dibiarkan bebas dan tidak boleh diganggu gugat, karena ia telah
membuntingkan seekor onta betina sepuluh kali.
Pemujaan terhadap binatang-binatang ini diciptakan Amr bin Luhay di kalangan bangsa Arab, dan
telah difirmankan Allah dalam surat AI-Maidah: 103, pent.
8 6 Perangkap Setan
sesama mereka. Sebagian mengusir sebagian yang lain, lalu mereka berpencar-
pencar ke segala penjuru untuk mencari penghidupan. Yang mendorong
mereka untuk menyembah berhala dan bebatuan, karena mereka yang
menyingkir dari Makkah pasti membawa serta batu tanah suci, sebagai
penghormatan terhadap tanah suci dan pemeliharaan terhadap nama Makkah.
Setelah berada di suatu tempat di luar Makkah, mereka berkeliljng di sekitar
batu yang mereka bawa, sebagaimana mereka thawaf di sekeliling Ka’bah,
sebagai wujud pengabdian terhadap Ka’bah dan kecintaan kepada tanah suci,
karena memang mereka sangat mengagungkan Ka’bah dan Makkah,
melaksanakan haji dan umrah, mengikuti jejak Ibrahim dan Isma’il.”
Perjalanan berikutnya mereka menyembah apa pun yang menurut
pandangan mereka dianggap baik dan melupakan apa yang pernah mereka
lakukan. Mereka juga mengganti agama Ibrahim dan Isma’il dengan agama
lain, lalu mereka menyembah berhala, sehingga mereka tak ada bedanya
dengan umat-umat yang terdahulu, seperti yang dilakukan kaum Nuh.
Memang di tengah mereka masih ada sisa-sisa dari agama Ibrahim dan Isma’il,
yang senantiasa dipegang teguh, seperti pengagungan Ka’bah, thawaf di
sekelilingnya, melaksanakan haji dan umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah,
yembelih korban, membaca talbiyah waktu haji dan umrah. Saat
bertalbiyah ini Nizar biasa berkata, ‘l̂ bbaik allahumma labbaik, labbaik la
ârika laka ilia ̂ arikan huwa laka, tamlikuhu wa tua malaka
Yang pertama kali mengubah agama Isma’il, mendirikan berhala,
memuji sa'ibah dan washilah adalah Amr bin Rabi’ah, atau Luhay bin Haritsah,
yang juga dipanggil Abu Khuza’ah. Adapun ibu Amr bin Luhay adalah
Fuhairah bind Amir bin Al-Harits. Al-Harks adalah orang yang berkompeten
mengurus Ka’bah. Ketika Amr bin Luhay mendengar penyerahan kekuasaan
maka dia merebutnya dengan membunuh Jurhum bin Isma’il. Setelah
kekuasaan terhadap penanganan Ka’bah ada di tangannya, dia mengenyahkan
mereka dari Makkah. Suatu kali dia sakit keras. Lalu ada seseorang yang
memberitahunya, “Di Baiqa’, yang terletak di negeri Syam ada sumber air
panas. Jika engkau datang ke sana, tentu engkau bisa sembuh.” Maka dia
datang ke sana, berendam di air panas im hingga akhirnya dia benar-benar
m e n
» 6
i n
*Artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi
panggiian-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau berhak
memilikinya dan dia tidak berhak.
8 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidali
sembuh dari penyakimya. Dia melihat para penduduk di sana menyembah
berhala. Dia bertanya, “Apa ini?”
Mereka menjawab, “Kami meminta hujan kepadanya, juga meminta
bantuan tatkala menghadapi musuh.”
Amr bin Luhay meminta sebagian berhala yang mereka sembah itu,
lain dia membawanya ke Makkah dan meletakkannya di sekeliling Ka’bah.
Maka orang-orang Arab juga membuat berhala-berhala lain.
Yang paling ma di antara berhala-berhala itu adalah Manat, yang
ddetakkan di pinggir pantai, terletak di Qudaid, di jalur perjalanan
Makkah dan Madinah. Semua orang Arab memujanya, begitu pula Aus dan
Khazraj. Mereka biasa menyembelih korban dan disajikan kepadanya.
Hisyam berkata, “Kami diberitahu seseorang dari Quraisy, dari Abu
Ubaidah bin Abdullah bin Abu Ubaidah bin Muhammad bin Amir bin Yasir,
dia berkata, “Aus dan Khazraj dan siapa pun dari penduduk Yatsrib dan lain-
lainnya biasa menunaikan haji. Bersama semua orang mereka wuquf di
tempat-tempat wuquf dan tidak mencukur rambut. Ketika melakukan nafar,
mereka mendatangi berhala Manat, mencukur rambut di hadapannya dan
berada di sana. Mereka menganggap pelaksanaan haji tidak sempurna kecuali
dengan cara ini Sebenarnya Manat itu milik Bani Hudzail dan Khuza’ah.
Pada waktu pembebasan Makkah, RasuluUah Smengutus Ali bin Abu Thalib
untuk menghancurkannya.”
Mereka juga menyembah Lata yang berada di Tha’if, yang umurnya
lebih muda daripada Manat. Lata berada di sebuah hamparan tanah tinggi,
yang berada di bawah kekuasaan baru Tsaqif. Mereka juga mendirikan
bangunan bagi Manat. Orang-orang Quraisy dan semua orang Arab
memujanya. Orang-orang Arab biasa menyebut Zaid Al-Lata dan Taim Al-
Lata. Letaknya secara tepat berada di bangunan menara masjid Tha’if yang
sekarang. Mereka senantiasa memuja dan mengagungkan Lata, hingga Bani
Tsaqif masuk Islam. Kemudian RasuluUah ̂ mengutus AJ-Mughirah bin
Syu’bah untuk menghancurkannya dan membakarnya.
Mereka juga membuat Uzza yang usianya lebih muda daripada Lata.
Yang membuamya adalah Zhalim bin As’ad. Letaknya di Wadi Nakhlah di
atas Dzatu Irq. Mereka mendirikan bangunan bagi Uzza, yang di tempat itu
mereka biasa memperdengarkan mantera-mantera.
a n t a r a
8 8 Perangkap Setan
Hisyam berkata, “Aku diberitahu ayahku, dari Abush-Shalih, dari Ibnu
Abbas dia berkata, “Uzza adalah sosok setan perempuan yang biasa
didatangi dengan melewati tiga batang pohon di lembah Nakhlah. Tatkala
Rasulullah 0membebaskan Makkah, maka beliau mengutus Khalid bin Al-
Walid, seraya bersabda, “Datanglah ke lembah Nakhlah, di Sana engkau akan
mendapatkan tiga batang pohon. Tebanglah pohon yang pertama. Maka
Khalid mendatangi pohon itu dan menebangnya. Tatkala dia kembali ke
tempat Rasulullah beliau bertanya, “Apakah engkau mendapatkan sesuatu?”
Khalid menjawab, “Tidak.”
Beliau bersabda, “Tebanglah pohon yang kedua!”
Maka Khalid bin Al-Walid mendatangi pohon yang kedua dan
menebangnya. Kemudian dia menemui beliau, dan beliau bertanya, “Apakah
engkau melihat sesuatu?”
“Tidak,” jawab Khalid.
“Kalau begitu tebanglah pohon yang ketiga!” sabda beliau.
Maka Khalid bin Al-Walid mendatangi pohon yang ketiga. Di sana dia
mendapatkan berhala perempuan yang menguraikan rambumya, meletakkan
tangannya di atas pundaknya, menyeringai dengan memperlihatkan taring-
taringnya, di belakangnya orang yang menjaganya. Khalid berkata, “Wahai
Uzza, kamu bukanlah sesuatu yang layak disucikan. Aku melihat Allah telah
menghinakanmu.”
Setelah itu Khalid merobohkan berhala iru dan juga menebang pohon
serta membunuh penjaganya. Lalu dia menemui Nabi #dan menceritakan
apa yang terjadi. Beliau bersabda, “Itulah Uzza, dan setelah ini tidak ada lagi
Uzza bagi bangsa Arab.”
Hisyam berkata, “Orang-orang Quraisy mempunyai banyak berhala
yang diletakkan di dalam Ka’bah dan di sekitarnya. Yang paling besar bernama
Hubal. Menurut apa yang kudengar dari Aqiq, berhala Hubal berbentuk
seorang laki-laki, tangan kanannya putus, lalu mereka menyambungnya
dengan bahan dari emas.”
Yang pertama kali memancangkan Hubal adalah Khuzaimah bin
Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Dulunya Hubal berada di dalam Ka’bah. Di
hadapannya ada tujuh batang anak panah, yang salah sarunya ada tulisannya,
sedangkan lainnya kosong. Jika mereka ada masalah tentang status seorang
8 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
anak, maka mereka menyajikan korban kepadanya, lalu mengundi anak-anal<
panah iru. Jika yang keluar adalah anak panah yang ada tulisannya, maka
mereka mengakui anak itu, dan jika yang keluar anak panah yang tidak ada
tulisannya, maka mereka menolak anak itu. Jika mereka berselisih dalam suatu
urusan atau hendak mengadakan perjalanan jauh atau sedang mempunyai
pekerjaan besar, mereka datang ke hadapan Hubal dan mengundi dengan
anak-anak panah itu.
Inilah yang dikatakan Abu Sufyan pada waktu perang Uhud.
“Junjunglah Hubal, agar agamamu menjadi tinggi.”
Mendengar perkataan Abu Sufyan itu, Rasulullah 0bertanya kepada
para shahabat, “Apakah kalian tidak ingin menyahumya?”
Mereka bertanya, “Apa yang harus kami ucapkan?”
Bekau menjawab, “Ucapkanlah, Allah Mahatinggi dan Mahaagung.”
Mereka juga mempunyai dua berhala yang disebut Isaf dan Na’ilah.
Hisyam berkata, ‘Al-Kalbi memberitahu, dari Abush-Shalih, daii Ibnu Abbas,
bahwa tadinya Isaf adalah seorang laki-laki dari jurhum. Nama lengkapnya
adalah Isaf bin Ya’Ia. Adapun Na’ilah adalah Na’ilah bind Zaid, yang juga
berasal dari Jurhum. Keduanya merupakan sepasang kekasih semenjak di
Yaman. Dengan menyamar keduanya masuk ke dalam Ka’bah, yaitu tatkala
keduanya melihat tidak ada orang yang melihat mereka dan di sana ada tempat
yang longgar. Di dalam Ka’bah itulah keduanya saling bersetubuh. Ketika
orang-orang mendapatkan keduanya, maka keduanya telah berubah menjadi
batu. Mereka mengeluarkan berhala keduanya dari dalam Ka’bah dan
meletakkannya di tempat tertentu, lalu berhala keduanya disembah Khuza’ah,
Quraisy dan bangsa Arab yang sedang menunaikan haji.
Hisyam berkata, “Ketika keduanya berubah menjadi berhala batu, maka
keduanya diletakkan di dekat Ka’bah, agar orang lain mengambil pelajaran
dari perbuatan keduanya. Namun ketika dua berhala ini senantiasa berada
di Sana dan penyembahan terhadap berhala serta berhala semakin menjadi-
jadi, maka berhala keduanya pun dijadikan sesembahan. Salah satu berhala
ini diletakkan menempei di dinding Ka’bah, dan satunya lagi diletakkan di
dekat Zamzam. Lalu orang-orang Quraisy menukar tempat keduanya,
dan mereka biasa menyembelih korban dan disajikan kepada keduanya.
Di antara berhala-berhala itu ada yang bernama Dzul-Khalashah.
Berhala ini terbuat dari batu api bewarna putih yang dipahat, di atas kepalanya
9 0 Perangkap Setan
ada semacam mahkota, yang diletakkan di Tabalah, suatu tempat antara
Makkah dan Madinah, yang bisa dicapai dengan perjalanan selama tujuh
malam dari arah Makkah. Baru Khats’am dan jailah sangat memuja-muja
berhala ini, menyajikan korban dan hadiah kepadanya. RasuluUah bersabda
kepada Jarir “Mengapa engkau tidak segera mewakiliku untuk
menghancurkan Dzul-Khalashah?” Maka Jarir menuju ke sana dengan penuh
semangat. Tentu saja Bani Khats’am dan juga Bahilah hendak menghalangi
maksudnya. Namun akhirnya dia bisa mengalahkan mereka, lalu dia
merobohkan bangunan yang mengelilingi Dzul-Khalashah hingga menjadi
abu. Letaknya secara tepat pada zaman sekarang adalah di depan pintu masjid
Ta b a l a h .
Bani Daud mempunyai sebuah berhala yang bernama Dzul-Kaffain.
Ketika mereka masuk Islam, RasuluUah 0mengutus Ath-Thufail bin Amr,
lalu dia membakarnya.
Bani Al-Harits bin Yasykur mempunyai sebuah berhala yang bernama
Dzuts-Tsara. Bani Qudha’ah, Lakham, Judzam, Amilah dan Ghathafan
mempunyai sebuah berhala di daerah perbatasan Syam, yang bernama Al-
Uqaishir. Bani Muzainah mempunyai sebuah berhala yang disebut Fahm.
Karena itu mereka juga disebut Abdi Fahm. Bani Anzah mempunyai sebuah
berhala yang disebut Sa’ir. Bani Thay’ mempunyai sebuah berhala yang disebut
A l - F i l s .
Yang pasti, setiap kaum di Makkah mempunyai sebuah berhala di
tengah perkampungan mereka yang disembah-sembah. ApabUa salah seorang
di antara mereka hendak bepergian jauh, maka yang terakhir kali dia lakukan
adalah mengusap berhala itu. Begitu pula yang pertama kali dia lakukan kedka
dba. Bahkan di antara mereka ada yang membuat sebuah rumah khusus.
Siapa yang tidak mempunyai berhala dan rumah, maka dia harus
memancangkan sebuah batu yang dianggapnya baik, lalu dia berkelilmg di
sekitarnya. Batu-batu yang demikian ini disebut Al-Anshab. Jika seseorang
mengadakan perjalanan lalu dia singgah di suatu tempat, maka dia mengambil
empat buah batu, lalu memilih salah satu di antaranya yang paling bagus
menurutnya, lalu dia menjadikannya sebagai sesembahan. Jika perjalanan
dilanjutkan, dia meninggalkan batu itu. Begitulah yang dia lakukan sedap
kali singgah di suatu tempat. Kedka RasuluUah ̂ dba di Makkah, beliau
memasuki masjid, sementara berbagai macam berhala terpancang di sekeliling
9 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Ka’bah. Beliau menunjuk dengan busur beliau pada mata dan muka berhala-
berhala itu, seraya bersabda, ‘"Yang benar telah datang dan yang batil telah
sirna. Sesungguhnya yang batil itu pasti sirna.” Kemudian beliau
memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Setelah
disingkirkan dari dalam masjid, semuanya dibakar.
Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Berhala-berhala disembah pada
2aman Yazad Barad dan banyak yang beralih dari Islam.”
Dari Mahdi bin Maimun, dia berkata, “Aku mendengar Abu Raja’
berkata, ‘Tatkala Rasulullah #diutus sebagai rasul dan kami pun
mendengarnya, kami bertemu dengan Musailamah Ai-Kadzdzab. Kami
bertemu ketika sedang mengeHlingi api dan dulu kami sama-sama menyembah
baru semasa Jahiliyah. Jika kami mendapatkan batu yang lebih bagus, maka
kami membuang batu sebelumnya dan mengambil yang lebih bagus itu. Jika
kami belum mendapatkan sebuah batu, maka kami menghimpun tumpukan
tanah, lalu kami mendatangkan domba untuk diperah di dekatnya, dan kami
pun berthawaf di sekelilingnya’.”
Dari Imarah Al-Mi’wali, dia berkata, “Aku mendengar Abu Raja’ Al-
Atharidi berkata, ‘Dulu kami biasa mengumpulkan pasir lalu menumpuknya,
lalu kami memerah susu untuk dijadikan sesaji dan kami menyembahnya.
Kami juga biasa mengambil batu putih, lalu kami menyembahnya untuk
sekian lama, setelah itu kami membuangnya’.”
Dari Al-Hajjaj bin Zainab, dia berkata, “Aku mendengar Abu Utsman
An-Nahdi berkata, ‘Semasajahiliyah kami biasa menyembah bebatuan. Suatu
kali kami mendengar suara yang berseru, ‘Wahai penduduk kampung,
sesungguhnya tuhan kalian telah binasa. Maka carilah tuhan yang lain bagi
kalian’. Maka kami mencari kesana kemari. Tatkala kami sedang mencari-
cari itu, di antara kami ada yang berseru, ‘Sesungguhnya kami sudah
mendapatkan tuhan bagi kalian atau yang serupa dengannya’. Ternyata yang
dimaksudkan orang yang berseru itu juga sebuah batu. Maka kami
menyembelih korban untuknya’.”
Dari Amr bin Anbasah, dia berkata, “Dulu aku termasuk orang yang
biasa menyembah bebatuan. Aku singgah di suatu perkampungan yang tidak
mempunyai tuhan. Lalu penduduk kampung itu keluar menemuiku sambil
membawa empat buah batu. Tiga buah batu digunakan sebagai penyangga
panci dan satu batu yang paling bagus kujadikan mhan untuk disembah.
9 2 Perangkap Setan
Sebelum meninggalkan tempat ini aku masih berharap agar bisa menemukan
batu yang lebih baik, yang setelah icu pun sebenarnya juga kutinggalkan.”
Dari seseorang yang sudah tua dari penduduk Makkah, dia berkata,
“Sufyan bin Uyainah pernah ditanya seseorang, “Bagaimana orang-orang
Arab menyembah bebatuan dan berhala?”
Dia menjawab, “Dasar penyembahan mereka terhadap bebatuan ialah
dengan berkata, ‘Ka’bah terbuat dari batu. Maka batu macam apa pun yang
kami pancangkan, maka ia sama kedudukannya dengan Ka’bah.”
Abu Ma’syar berkata, “Mayoritas penduduk India merasa yakin tentang
adanya tuhan yang disembah. Mereka juga mengakui adanya Allah dan para
malaikat Hanya saja mereka meyakini Allah itu dalam rupa yang paling bagus.
Sementara para malaikat memiliki tubuh yang indah. Allah dan para malaikat
bersembunyi di langit. Lalu mereka membuat berhala-berhala, ada yang
diserupakan Allah dan ada yang diserupakan malaikat, lalu mereka
menyembahnya. Mereka juga menyajikan korban dan meletakkannya di suatu
tempat yang sekiranya tepat menurut mereka. Ada yang membisiki sebagian
di antara mereka, “Sesungguhnya para malaikat, bintang dan planet
merupakan benda-benda yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena
irn meneka memuja-muja bintang dan planet, bekorban karenanya dan
membuat berha la -berha la . ”
Segolongan orang dahulu membangun beberapa bangunan bag!
berhala-berhala. Bangunan pertama terletak di sebuah puncak gunung di
Ashbahan, yang di dalamnya terdapat beberapa buah berhala. Bangunan
kedua dan ketiga ada di negeri India. Bangunan keempat ada di kota Balkh,
yang dibangun Bani Syahr. Ketika muncul Islam, bangunan itu dirobohkan.
Bangunan yang kelima ada di Shan’a, yang namanya Az-Zuhrah (Venus).
Bangunan ini dirobohkan Utsman bin Affan. Bangunan keenam dibangun
Qabus Al-Malik, yang diberi nama bangunan matahari, di kota Farghanah,
yang kemudian dirobohkan Al-Mu’tashim.
Yahya bin Bisyr An-Nahawundi menuturkan bahwa tatanan agama
yang diterapkan di India dibuat seorang laki-laki Brahma, yang kemudian dia
menciptakan berhala-berhala bagi penduduk dan mendirikan bangunan yang
paling besar di Militan, sebuah kota di wilayah Sind. Berhala yang paling
besar berada di dalam bangunan itu, berupa sosok raksasa yang berbadan
besar dan menakutkan. Kota ini ditaklukkan pada masa Al-Hajjaj. Ketika
9 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
berhala itu akan dirobohkan, ada yang berkata, “J^ka kalian membiarkan
berhala ini dan tidak merobohkannya, maka kami akan menyerahkan sepertiga
dari pemasukannya.” Maka Abdul-Malik bin Marwan memerintahkan untuk
membiarkan berhala i tu.
Penduduk India melakukan haji ke tempat ini. Setiap orang yang berhaji
harus membawa sejumlah dirham yang memang disanggupinya, antara seratus
hingga sepuluh ribu dirham, tidak boleh kurang dari itu dan tidak boleh lebih.
Siapa yang tidak memenuhi syarat ini, maka hajinya dianggap tidak sempurna.
Uang dirham itu harus dimasukkan ke dalam kotak besar yang sudah disiapkan
di Sana, lalu mereka berputar mengelilingi berhala. Jika yang berhaji sudah
pergi, harta itu dikumpulkan, sepertiganya diserahkan kepada orang-orang
Muslim seperti yang telah disepakati semula, sepertiganya untuk anggaran
belanja kota dan menguatkan benteng pertahanannya, dan sepertiga lagi untuk
para pengurus berhala dan kepentingannya.
Abul-Faraj berkata, “Perhatikanlah bagaimana setan mempermainkan
orang-orang itu, sehingga akal mereka tidak berfungsi sebagaimana layaknya.
Mereka memahat sendiri apa yang mereka sembah. Alangkah tepatnya
celaan yang disampaikan Allah terhadap berhala-berhala mereka, dalam
firman-Nya,
^!'t ”f p'ft ,’f ,VT- !" f A ^ i f05^1 ^ J j l ^
i
I\^o Lj- i ^
“Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat
berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan
keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat a t a u
mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat meruiengar?” (Al-A’raf: 195)
Isyarat lebih tepatnya ditujukan kepada manusia. Dengan kata lain:
Kalian bisa berjalan, memegang, melihat dan mendengar. Sementara
berhala-berhala im lemah, tidak mampu melakukan semua itu dan ia adalah
benda mati atau binatang. Lalu bagaimana mungkin makhluk yang sempurna
menyembah yang tidak sempurna? Andaikata mereka mau berpikir, tentu
mereka akan tahu bahwa yang disembah itu adalah yang menciptakan segala
sesuatu dan bukannya yang diciptakan, yang menghimpun dan bukan yang
dihimpun, yang menegakkan segala sesuatu dan bukan yang ditegakkan.
9 4 Perangkap Setan
Manusia harus menyembah siapa yang menciptakannya dan bukan
menyembah apa yang diciptakannya. Yang mereka bayangkan, bahwa berhala-
berhala itu bisa memberikan syafaat. Ini merupakan bayangan yang sama
sekali tidak bisa dijadikan gantungan.
Talbis Iblis terhadap Para Penyembah Api, Matahari dan Rembulan
Iblis teiah memperdayai segolongan orang yang menganggap baik
penyembahan terhadap api. Mereka berkata, “Api adalah inti yang pasti
dibutuhkan alam.” Berangkat dari sinilah penyembahan terhadap api
berkembang menjadi penyembahan terhadap matahari.
Abu ja’far bin Jarir Ath-Thabari menuturkan, bahwa tatkala Qabil
membunuh Habil dan lari dari ayahnya, Adam menuju Yaman, Iblis
menemui Qabil seraya berkata, “Sesungguhnya hanya korban Habillah yang
diterima, lalu korbannya itu dimakan api, karena dia juga mempergunakan
api dan menyembahnya. Maka buatlah api, agar api iru menjadi milikmu dan
orang-orang di belakangmu.” Maka Qabil membuat rumah api. Dengan
begitu Qabillah yang pertama kali membuat penyembahan terhadap api.
Al-Jahizh menuturkan, kemudian muncul Zaradosta di Balkh, yang
menganut agama Majusi. Dia mengeluarkan pernyataan bahwa wahyu turun
kepadanya di atas gunung Ceylan. Lalu dia menyeru penduduk daerah yang
dingin itu, yang hanya mengenal udara dingin. Dia mengeluarkan peringatan
tentang ancaman udara yang semakin dingin, lalu dia mengeluarkan
pernyataan kepada mereka, bahwa dia tidak diutus kecuali hanya kepada
gunung itu. Dia membuat tatanan kepada para pengikutnya untuk wudhu’
dengan air kencing dan lendir para ibu serta memuja api. Di antara perkataan
Zaradosta, “Allah itu sendirian. Ketika Dia semakin kesepian, maka Dia mulai
berpikir-pikir. Dari pikiran-Nya ini lahir Iblis. Ketika Iblis muncul di hadapan-
Nya, maka Dia hendak membunuhnya, tetapi Iblis tidak mau. Karena
Iblis menolak, maka Dia membiarkannya tetap hidup.”
Syaikh Abul-Faraj berkata, “Para penyembah api teiah mendirikan
berbagai bangunan untuk pemujaan. Yang pertama kali merancang pendirian
bangunan ini adalah Afridon. Dia mendirikannya di Thorsus dan yang lain
lagi di Bukhara. Bahman juga mendirikannya di Sijistan. Abu Qubadz juga
mendirikannya di Bukhara. Setelah itu banyak bermunculan bangunan-
bangunan lain untuk pemujaan terhadap api.”
9 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Zaradosta membuat api sebagai sesembahan, karena dia menganggap
bahwa api itu berasal dari langit, yang memakan korban-korbannya. Untuk
im dia mendirikan sebuah bangunan dan meletakkan sebuah cermin di bagiaii
tengahnya. Korban diletakkan di atas tumpukan kayu dan di tumpukan kayu
itu diberi serbuk korek api. Selagi matahari berada di tengah ufuk, maka
sinarnya akan masuk ke dalam bangunan, lewat lubang yang telah dibuat dj
bagian atas bangunan. Sinar matahari mengenai cermin, yang kemudian
dipantulkan ke tumpukan kayu hingga terbakar. Dia berkata, “Kalian tidak
boleh memadamkan api ini”
Iblis juga memperdayai segolongan orang yang menyembah rembulan
dan bintang-gemintang.
Ibnu Qutaibah berkata, “Ada segolongan orang pada masa Jahiliyah
yang menyembah komet dan mereka menganggapnya baik. Abu Kabsyah,
yang orang-orang musyrik menisbatkan diri Rasulullah ̂ kepadanya, adalah
orang pertama yang menyembah komet. Dia berkata, “Aku membelah langit
pada waktu malam, dan langit tidak bisa membelah sendiri.” Dia menyembah
komet dan tentu saja berseberangan dengan keyakinan orang-orang Quraisy.
Ketika Rasulullah ̂ diutus sebagai rasul, menyeru kepada penyembahan
AUah dan meninggalkan berhala, maka orang-orang berkata, “Im dia Ibnu
Abi Kabsyah.” Dengan kata lain, dia menyerupakan diri kepada beiiau,
sebagaimana yang dikatakan Bani Israel terhadap Maryam, “Wahai saudari
Harun.” Yang artinya, ‘Wahai yang serupa dengan Harun.” Jadi keduanya
dianggap kembaran atau dua hal yang hampir serupa, seperti dua planet yang
berdekatan .
Iblis yang dilaknat Allah memperdayai golongan manusia lain yang
menyembah para malaikat, dengan berkata, “Para malaikat itu adalah putri-
putri AUah.” Padahal Allah terbebas dari anggapan seperti itu. Ada pula
golongan lain yang menyembah kuda dan sapi. Kaum Samiry biasa
menyembah sapi. Karena itu mereka membuat berhala anak sapi. Disebutkan
dalam sebuah kisah, bahwa kaum Fir’aun menyembah kambing hutan. Yang
pasti, mereka semua tidak mempergunakan akalnya dan tidak mau berpikir
tentang apa yang dilakukannya. Kami memohon keseiamatan kepada AUah
di dunia dan di akhirat.
9 6 Perangkap Setan
Talbis Ihlis terhadap Orang-orang Jahiliyah
Sudah kami terangkan bagaimana talhis Iblis terhadap orang-orang yang
menyembah berhala. Di antara talhis Iblis yang paling buruk dalam masalah
ini adalah taqlid terhadap nenek moyang, tanpa mau melihat kepada dalil,
sebaga'mana firman Allah,
‘uif- ^ i j c ? ' ^ 1 3
{'(V- '^3 y 3 '
“Dan, jika dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah’, mereka menjaivab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang
telah kami dapaci dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka
akan mengikuti juga), ivalaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)
Iblis telah mcmperdayai sebagian di antara mereka, hingga mereka
berpendapat seperd pendapatnya golongan ateis yang mengingkari Sang
Pencipta dan hari berbangkit. Atau mereka mengakui adanya Sang Pencipta,
tetapi mereka mengingkari para rasul dan hari berbangkit. Golongan yang
lain lagi ada yang beranggapan bahwa para malaikat itu adalah putri-putri
Allah, dan yang lain lagi ada yang berpendapat seperd pendapatnya orang-
orang Yahudi atau Majusi. Di kalangan Bani Tamim ada seorang tokoh dalam
masalah ini, yaitu Zurarah bin Judais At-Tamimi dan anaknya, Hajib.
Kalangan Jahiliyah yang mengakui adanya Khaliq, permulaan
penciptaan, hari kebangkitan, pahala dan siksa adalah Abdul-Muthalib bin
Hasyim, Zaid bin Amr bin Nufail, Qus bin Sa’idah dan Amir bin Azh-Zharb.
jika melihat seseorang yang berbuat zhalim, maka Abdul Muthalib ddak
menghukumnya, tetapi dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya sesudah
tempat dnggal ini (dunia) ada tempat dnggal lain, yang saat itu orang yang
berbuat baik dan berbuat buruk akan mendapat balasannya masing-masing.”
Yang juga termasuk dalam golongan ini adalah Zuhair bin Abu Salma, yang
berkata dalam syairnya,
“Ada penangguhan tertulis dan disimpan di sebuah kitab
di Sana ada balasan ataukah siksaan pada hari hisab.”
Yang juga termasuk dalam golongan ini adalah Zaid Al-Fawaris bin
Hishn dan Al-Qamis bin Umay}'ah Al-Kinani. Suatu hari dia berpidato di
9 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
hadapan orang-orang, “Wahai semua orang Arab, taadah kepadaku, niscaya
kalian akan mendapatkan petunjuk jalan lurus.”
“Apa itu?” tanya mereka.
Dia menjawab, “Hanya kalianlah yang memiliki banyak sesembahan.
Aku tabu bahwa sebenarnya Allah tidak ridha terhadap
Sesungguhnya Allah adalah penguasa atas semua sesembahan kalian ini. Dia
suka menjadi satu-satunya yang disembah.”
Seketika itu pula mereka berhamburan meninggalkannya dan tidak
mau mendengar nasihatnya.
Di kalangan Jahiliyah juga ada segolongan orang yang berkata, “Siapa
yang mati, lalu di atas kuburannya diikat seekor hewan tunggangannya dan
dibiarkan hingga mati, maka orang yang mati itu akan dibangkitkan dengan
naik hewan tunggangannya itu. Sedang siapa yang mati dan hewan
tungganggannya tidak diikat di atas kuburannya hingga mati, maka dia akan
dibangkitkan dalam keadaan berjalan kaki.” Di antara orang yang berkata
seperti ini adalah Amr bin Zaid Al-Kalbi.
Masih banyak corak-corak keyakinan mereka yang lain, yang semuanya
tidak lepas dari syirik. Memang di antara mereka ada yang berpegang kepada
tauhid dan menolak penyembahan terhadap berhala, tetapi jumlahnya sedikit
sekaH, seperti halnya Qus bin Sa’idah dan Zaid. Pada masa Jahiliyah itu selalu
muncul model-model baru, seperti penghalalan bulan halal dan pengharaman
bulan haram. Pasalnya, bangsa Arab dulunya berpegang kepada agama
Ibrahim î \ yang mengharamkan (mensucikan) empat bulan. Jika mereka
merasa perlu untuk menghalalkan apa yang diharamkan pada bulan-bulan
haram (suci) seperti untuk berperang, maka mereka menangguhkan
pengharamannya ke bulan Shafar.
Jika ada salah seorang di antara kalian meninggal dunia, maka istrinya
bisa diwarisi orang yang paling dekat dengannya. Mereka juga memuja hahirah,
sa‘ibah, wasbilah, ham. Mereka berkata, “Allah telah memerintahkan untuk
melakukan semua ini.” Inilah makna firman AUah,
“Allah sekali'kali tidak pemah mensyariatkan adanya bahirah, saHbah,
washilah dan ham. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan
terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Al-Maidah:
103)
s e m u a m i .
9 8 Perangkap Setan
Kemudian Allah ^menyanggah pendapat mereka yang
mengharamkan hahirah, sa‘ibah dan hewan-hewan lainnya, atau apa yang
mereka halalkan, sebagaimana perkataan mereka,
“Apa yang ada dalam perut binatang temak ini adalah khnsus untuk pria
kami dan diharamkan atas wanita kami.” (Al-An’am: 139)
Maka Allah menjawab,
“Katakanlah, ‘Apakah dm yang jantan yang diharamkan Allah ataukah
dm yang beam?” (Al-An’ara: 143)
Ardnya, andaikata Allah mengharamkan dua anak jantan, berarti semua
yang jantan adalah haram. Andaikata Allah mengharamkan dua anak yang
betina, berard semua yang bedna adalah haram. Jika dua jenis anak yang ada
di dalam perut binatang diharamkan, berarti semua yang jantan maupun yang
bedna juga diharamkan.
Iblis juga memperdayai orang-orang Jahiliyah untuk membunuh
anak-anak putri mereka, sementara anjing milik mereka dibiarkan hidup dan
diberi makan.
Di antara fa/b/s Iblis terhadap mereka, maka di antara mereka ada
yang berkata, “Andaikata Allah menghendaki, tentu kami ddak akan menjadi
orang-orang musyrik.” Dengan kata lain, kalau memang Allah ddak ridha
terhadap syirik kami, tentunya Dia akan membuat penghalang antara diri
kami dan syirik. Mereka hanya bergantung kepada kehendak Allah,
membiarkan urusan dan kehendak Allah melipud segala hal, sementara
kehendak dirinya sendiri dibiarkan bebas. Padahal ddak selayaknya bagi
manusia bergantung kepada kehendak Allah, setelah suatu urusan dia lakukan.
Pendapat-pendapat yang mereka ciptakan sendiri sangat banyak, yang ddak
cukup disebutkan satu persatu di sini.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Mengingkari Nubuwah
Iblis telah memperdayai para pengikut Brahma dan Hindu serta lain-
lainnya, seraya menganggap baik pengingkaran terhadap nubuwah, agar jalan
yang bisa menghantarkan kepada Ailah bisa dihalangi. Penduduk India ada
yang ateis, ada yang dualistis, ada yang mengikuti ajaran Brahma, ada yang
hanya meyakini nubuwah Adam dan Ibrahim saja.
Abu Muhammad An-Naubakhd telah menuturkan di dalam KitabulAra
Wad-Diyanat, bahwa ada segolongan orang dari penduduk India yang
9 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
mengikuti ajaran Brahma, mengakui adanya BChaliq, para rasul, surga dan
neraka. Mereka berpendapat bahwa rasul mereka adalah seorang malaikat
yang datang dalam rupa manusia, tanpa membawa kitab, yang memiliki empat
tangan dan dua belas kepala, yang terdiri dari kepala manusia, singa, kuda,
onta, babi dan kepala binatang lainnya. Malaikat ini menyuruh mereka untuk
memuja api, melarang mereka membunuh dan menyembelih binatang, kecuaJi
jika dijadikan korban untuk api. Dia juga melarang dusta dan minum khami,
memperbolehkan zina dan menyuruh mereka menyembelih sapi. Siapa yang
murtad, lalu dia kembali lagi, maka rambutnya harus dipangkas habis hingga
gundul, begitu pula jenggot, alls dan bulu matanya, lalu disuruh menyembah
sapi sambil mengucapkan mantera-mantera sekian lama.
Iblis telah menyusupkan enam macam syubhat kepada para pengikut
Brahma, yaitu:
Pertama: Mereka menganggap mustahil apa-apa yang seharusnya
tersembunyi pada diri rasul, sehingga tidak bisa diketahui yang lain. Karen i
itu mereka berkata,
'‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian.” (Al'Mukminur:
24)
Artinya, “Bagaimana aku bisa melihat apa yang seharusnya tersembumi
pada diri kalian?”
Inilah jawaban syubhat ini: Andaikata mereka mau menggunakaa
akalnya, tentu akal itu bisa menerima jika seseorang memilih orang lain karena
keistimewaan-keistimewaan tertentu, yang karenanya dia lebih unggul dan
orang lain, sehingga dia layak menerima wahjoi. Sebab tidak semua orang
layak menerima wahyu. Tentunya semua orang juga sudah tahu bahwa AUaii
t̂elah menyusun berbagai macam keragaman, lalu mengeluarkan obat yang
dapat menyembuhkan ketidakberesan di badan. Selagi Allah menciptaka i
tanaman dan bebatuan dengan ciri-cirinya yang khusus demi kemaslahatan
badan, maka badan itu justru diciptakan dalam keadaan fana di dunia da:i
kekal di akhirat. Tidak ada yang aneh jika Allah menciptakan seseorang di
antara makhluk-Nya, yang memiliki hikmah lebih unggul dan menyeru ke
jalan-Nya, memperbaiki orang yang berbuat kerusakan di bumi karena akhlak
dan perbuatannya yang buruk. Sebagaimana yang sudah diketahui, oran ;̂-
orang yang mengingkari keberadaan para rasul juga mengakui segi positif
segolongan orang yang memiliki hikmah, untuk meluruskan tabiat orang lain
1 0 0 Perangkap Setan
yang memimpang, dengan memberinya nasihat. Lalu bagaimana mungkin
mereka mengingkari Allah yang menciptakan sebagian manusia yang
membawa risalah, kemaslahatan dan nasihat, agar kehidupan dunia ini menjadi
baik, akhlak mereka menjadi lurus Allah telah mengisyaratkan hal ini dalam
firman-Nya,
“Patutkah menjadi /ceheraruzn hagi manusia bahwa Kami mewahyukan
kepada seorang lakiAaki di antara mereka, ‘Berilah peringatan kepada
manusia?” (Yunus: 2).
Kedua: Mereka berkata, “Mengapa Allah tidak mengangkat seorang
malaikat sebagai rasul? Bukankah malaikat lebih dekat kepada Allah? Di
samping itu, tidak ada yang perlu disangsikan pada diri malaikat. Sebab
manusia itu lebih suka kepada kekuasaan terhadap orang lain, sehingga hal
ini bisa menimbulkan kesangsian.”
Pernyataan mereka seperti ini dapat dijawab dari tiga sudut, yaitu:
Dalam kekuatan malaikat ada inti kekuatan gunung dan padang pasir.
Jadi tidak mungkin menampakkan mukjizat yang menunjukkan
kebenaran para malaikat. Sebab yang namanya mukjizat itu harus
lain dari yang lain, lain dari kebiasaan. Sementara yang lain dari
kebiasaan itu merupakan kebiasaan malaikat. Mukjizat yang nyata
adalah yang muncul dari manusia yang lemah, agar bisa menjadi bukti
kebenarannya.
Sesama jenis lebih mudah mengundang kecenderungan. Maka
sudah benar jika Allah mengutus kepada mereka seseorang dari jenis
mereka sendiri, agar mereka tidak lari darinya dan berpikir tentang
dirinya. Kemudian adanya keistimewaan utusan itu yang tidak dimiliki
yang lain, merupakan bukti kebenarannya.
Kekuatan manusia tidak bisa melihat malaikat. Tetapi Allah
memberikan kekuatan kepada para nabi, sehingga bisa melihat para
malaikat. Karena itu Allah befirman,
“Dan, kalau Kami jadikan rasul itu seorang malaikat, tentulahKamijadikan
dia berupa seorang laki-laki.” (Al-An’am: 9)
Dengan kata lain, agar mereka memperhatikannya, hidup berdekatan
dengannya dan mencari pemahaman darinya. Kemudian Allah befirman lagi
dalam ayat yang sama,
1 .
2 .
3 .
1 0 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
“Dan (kalau Kami jadikan dia herupa seorang laki-laki), tentulah Kam
meragU'Tagukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri merekc.
sendiri."
Dengan kata lain, mereka menjadi sangsi dan ragu-ragu, apakah rasu'
itu malaikat ataukah manusia keturunan Adam?
Ketiga: Mereka berkata, “Kami melihat apa yang disampaikan para nab:
itu, berupa masalah-masalah ghaib dan mukjizat, yang mereka terima lewat
wahyu, tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan para dukun dan tukan^
sihir. Sehingga kami tidak mempunyai bukti lain unruk membedakan mana
yang benar dan mana yang salah.”
Jawaban dapat kami katakan sebagai berikut: Sesungguhnya Allah sudah
menjelaskan berbagai hujjah, membeberkan syubhat dan membebani akal
untuk membedakan yang ini dan yang itu. Tukang sihir tidak mampu
menghidupkan orang yang sudah mati atau merubah tongkat menjadi ular
yang besar. Sedangkan dukun bisa salah dan bisa benar. Keadaan ini berbeda
dengan nabi, yang sama sekali tidak bisa salah.
Keempat: Mereka berkata, “Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, bahwa
para nabi membawa sesuatu yang bisa diterima akal ataupun yang tidak bisa
diterima akal. Jika mereka membawa sesuatu yang ditolak akal, tentunya akal
itu tidak bisa menerimanya. Jika mereka membawa sesuatu yang sesuai dengan
akal, tentunya akal itu membutuhkannya.”
Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Sebagaimana yang sudah
diakui bersama, bahwa banyak manusia yang tidak sanggup menangam
kehidupan dunia, sehingga mereka memerlukan orang lain yang lebih
sempurna, seperti orang-orang yang bijak dan para penguasa. Lalu bagaimana
dengan urusan ilahiyah dan akhirat? Sanggupkah mereka?
Kelima. Mereka berkata, “Berbagai syariat telah turun dengan membawa
hal-hal yang tidak bisa diterima akal. Lalu bagaimana mungkin syariat-syariat
itu bisa dikatakan benar? Misalnya adalah penyembelihan binatang.”
Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Memang akal tidak bisa
menerima penyembelihan terhadap sebagian binatang. Namun jika Khalic]
sudah menetapkan hukum tentang diperbolehkannya menyembeUh binatang,
maka tidak ada alasan bagi akal untuk menolaknya. Jelasnya, akal sudah
mengetahui hikmah yang dimiliki Khaliq, yang di dalamnya tidak ada celah
dan kekurangan. Pengetahuan ini harus disertai ketundukan tentang apa yang
1 0 2 Perangkap Setan
ddak diketahuinya. Selagi ada kerancuan atau keragu-raguan dalam masalah
tertentu, maka kita ddak boleh menetapkan kebadlannya secara mutlak, yang
ternyata di baliknya ada hikmah. Kita tabu bahwa binatang lebih utama
daripada benda mad, kemudian makhluk yang berakal lebih utama daripada
makhluk yang tidak mempunyai akal, karena dia diberi pemahaman,
kecerdikan, kekuatan pandangan dan menggali pengetahuan. Makhluk yang
berakal ini merasa perlu untuk mempertahankan pemahaman dan
kekuatannya, dengan cara mengkonsumsi daging, karena di dalam daging itu
terkandung manfaat yang banyak bagi tubuh manusia. Di samping itu, hewan
binatang diciptakan untuk kemaslahatan hewan yang lebih mulia, yaitu
manusia. Andaikata binatang ddak disembelih, jumlahnya tentu menjadi
semakin membengkak dan tempat penggembalaan tidak mampu
menampungnya, yang akhirnya binatang-binatang itu akan mad sendiri secara
mengenaskan, sehingga justru mengundang rasa belas kasihan manusia.
Sehingga, dalam keadaan seperti ini justru tidak ada manfaatnya sama sekali.
Tentang penderitaan binatang saat disembelih, tidak bisa diukur.
Bahkan ada yang berpendapat, bahwa binatang itu sama sekali tidak
merasakannya, karena rasa sakit hanya ada di dalam selaput otak, yang di
situlah terdapat susunan syaraf perasa. Karena itu jika manusia terdmpa
sesuatu tepat di otaknya atau karena jatuh, maka dia sama sekali tidak
merasakan sakit. Jika urat leher dipotong secepat mungkin, maka rasa sakit
di badan tidak akan sampai ke pusat rasa. Karena itu RasuluUah ̂ bersabda,
o' o ^ A' ‘ f ' ' ' ! r i
“jika salah seorang di antara kalian menyembelih (binatang), hendaklah
dia menajamkan parangnya dan menggegaskan sembelihannya.”
Keenam: Mereka berkata, “Boleh jadi para rasul membawa syariat
beruntung mendapatkan batu atau kayu yang khusus.”
Jawabannya; Orang yang mengeluarkan perkataan semacam ini layak
merasa malu tentang tujuan yang dikehendakinya. Tidak ada satu pun
pepohonan dan bebatuan melainkan sudah ada kejelasan ciri-ciri dan
kandungannya. Andaikan salah seorang di antara para nabi itu ada yang
beruntung mendapatkan batu tertentu lalu dia menunjukkan keistimewaannya,
maka para pakar tentu akan menolaknya, seraya berkata, “Ini tidak terjadi
karena dirimu, tetapi memang begitulah ciri-cirinya.” Di samping itu, mukjizat
1 0 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
itu tidak hanya satu macam, tetapi bermacam-macam. Ada seekor onta yang
keluar dari celah batu, ada tongkat yang berubah menjadi ular, ada batu yang
memancar mengeluarkan air, termasuk pula A1-Qur’an yang turun sejak
sekian lama. Pendengaran bisa mengetahuinya, pikiran bisa menelaah dan
memahaminya terus-menerus. Seseorang tidak bisa mengkhususkan diri pada
satu surat di dalam Al-Qur’an. Lalu bagaimana jika Al-Qur’an ini
dibandingkan dengan sihir atau mantera-mantera?
Abul-Wafa’ Ali bin Aqil ̂ berkata, “Hati orang-orang ateis keluar dari
agama, karena kalimat yang benar dan syariat menyebar kemana-mana, serta
banyak orang yang mengikuti perintah-perintahnya, seperti Ibnu Ar-Rawandi
dan Abul-Ala’. Apaiagi perkataan mereka tidak lagi dianggap dan
berpengaruh. Semua orang dan semua pendengaran menyimak pengagungan
terhadap masalah Nabi 0serta mengakui apa yang beliau bawa. Manusia
rela mengorbankan harta dan jiwa untuk melaksanakan haji, sekalipun harus
menghadapi berbagai rintangan dan perjalanan yang berat, menijiggalkan
keluarga dan anak-anak.
Di antara mereka ada yang menyusup ke kalangan ahli hadits, ikut
terlibat dalam masalah sanad yang rusak, ikut menetapkan masalah
perikehidupan seseorang dari pengabaran. Di antara mereka ada yang
meriwayatkan sesuatu yang mendekati mukjizat, seperti menyebutkan
keis t imewaan te r ten tu da lam bebatuan dan ha l -ha l d i luar keb iasaan d i
berbagai negeri, pengabaran tentang hal-hal ghaib dan pada dukun dari ahli
nujum. Sampai-sampai ada di antara mereka yang berlaku kelewatan, dengan
mengacu kepada perkataan orang yang sakit ingatan tatkala sedang
dikerangkeng, “Biji gandum di air kencing anak kuda.”
Kini banyak para dukun yang berdialog dengan setan yang menguasai
orang yang gila, lalu orang gila itu mengatakan apa yang pernah terjadi dan
apa yang akan terjadi, yang semuanya itu merupakan khurafat. Siapa yang
melihat orang semacam ini tentu menganggap akalnya kurang waras, begitu
pula tujuan yang hendak dicapai orang-orang ateis dengan perkataannya,
‘Apakah yang dibawa para nabi hanya sebatas ini?”
Perkataan dukun, “Biji gandum di kencing anak kuda”, jauh lebih sulit
dicerna dari apa yang dikatakan seorang nabi (Al-Masih),
- x'.' A ,{ i ^ J T } ^
1 0 4 Perangkap Setan
“Dan, aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang
kalian simpan di rumah kalian." (Ali Imran: 49)
Apakah setelah ini masih ada yang terasa mengganjal di dalam hati?
Bukankah yang semacam ini hanya layak muncul dari seorang nabi?
Demi Allah, apa yang mereka maksudkan itu hanya sebatas yang
tampak di permukaan. Mereka berkata, “Marilah kita memperhatikan lebih
banyak apa yang terjadi di berbagai tempat, pada diri manusia, bintang dan
berbagai benda. Mukjizat yang dialami para nabi itu pasti ada kesesuaiannya
dengan apa yang terjadi dalam kehidupan ini, sehingga mukjizat itu
membenarkan apa yang terjadi dalam kehidupan dan justru membatilkan
apa yang dibawa para nabi sebagai sesuatu yang keluar dari kebiasaan.”
Kemudian ada segolongan orang-orang sufi yang membual bahwa ada
Fulan pernah terjun ke sungai Tigris tatkala sedang membawa bejananya.
Kedka keluar dari sungai, bejananya itu penuh berisi emas. Kejadian ini
clianggap sebagai sesuatu yang biasa karena karamah yang diterima orang-
orang sufi, atau bisa saja hal itu terjadi karena perbuatan ahli nujum, orang-
orang khusus atau dukun. Lalu bagaimana dengan perkataan Isa Al-Masih,
“Dan, aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang
kalian simpan di rumah kalian?” Lalu bagaimana dengan hal-hal yang keluar
dari kebiasaan lainnya? Apakah kebiasaan itu hanya sekadar sesuatu yang
sering terjadi? Jika ada orang berakal dan lurus agamanya memperingatkan
kerusakan hal ini, maka mereka balik bertanya, “Apakah engkau mengingkari
karamahannya para wali?’
Sementara para pakar juga menyerang, “Apakah engkau mengingkari
magnit yang menarik besi?”
Lebih baik jika engkau diam saja menghadapi orang-orang hatinya
sudah dibungkus pengingkaran. Kecelakaan bagi orang-orang yang mengikuti
jalan mereka, seperd orang-orang badniyah, ahli nujum dan penyembah batu.
Sebab mereka tidak percaya kecuali kepada perkataannya sendiri.
Mahasuci Allah yang telah memelihara agama ini dan meninggikan
kalimat-Nya. Semoga sedap golongan yang berada di bawah kekuasaan
kalimat Allah senandasa menjaga nubuwah dan meiibas orang-orang yang
mengingkarinya.
1 0 5Bab V: Talbis Mis dalam Masalah Aqidah
Talbis Iblis terhadap Orang'Orang Yahudi
Iblis telah memperdayai mereka dalam berbagai hal, yang akan kam
sebutkan sebagian di antaranya secara singkat, sekadar sebagai bukd tentang
kebenarannya.
Di antaranya adalah tindakan mereka yang menyerupakan Khaliq
dengan makhluk. Andaikata apa yang mereka lakukan itu benar, tentunya
apa yang diperbolehkan terhadap Allah juga diperbolehkan terhadap mereka.
Abu Abdullah bin Hamid mengisahkan dari rekan-rekan kami tentang
orang-orang Yahudi, yang beranggapan bahwa Allah yang disembah adalah
berupa seorang laki-laki yang terbuat dari api, duduk di atas kursi dan api, di
atas kepalanya tersematkan mahkota dan api, dan dia mempunyai anggota
badan sebagaimana anggota badan manusia.
Mereka juga mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah. Andaikata
mereka mau memahami bahwa hakikat peranakan ddak bisa terjadi kecuali
dengan pertemuan dua unsur peranakan, padahal Khaliq tidak mempunyai
unsur peranakan, karena Dia bukan termasuk sesuatu yang nyata, tentunya
mereka tidak akan berani menyatakan adanya peranakan itu. Di samping itu,
jika ada sebutan anak tentunya ada sebutan bapak. Padahal Uzair tidak bisa
berbuat apa-apa kecuali setelah diberi makan. Sementara yang disebut Allah
adalah yang keberadaan-Nya bisa membuat segala sesuatu tegak, dan bukan
yang ditegakkan sesuatu. Yang mendorong mereka berpendapat seperti ini,
di samping kebodohan mereka terhadap hakikat, karena mereka melihat Uzair
itu dapat bangkit kembali setelah mad, lalu membaca Taurat secara hapalan.
Karena itu mereka berkata yang macam-macam tentang hal ini Di antara
bukd yang menunjukkan kebodohan mereka, ialah tatkala mereka melihat
laut terbelah lalu mereka bisa melewatinya dan menyelamatkan did dari kejaran
Fir’aun, lalu mereka melihat berhala-berhala yang disembah manusia, maka
mereka meminta berhala yang seperti itu,
{\''A [ S S ' L i )
f - !
“Hai Musa, bmtlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka
mempunyai beberapa tuhan (berhala). “(Al-A’raf: 138)
Ketika Musa mencela apa yang mereka pinta itu, ternyata niat itu tetap
terpendam di dalam had mereka. Apa yang tersembunyi ini terlihat jelas tatkala
1 0 6 Perangkap Setan
mereka menyembah anak sapi. Ada dua hal yang menyebabkan mereka
berbuat sepertd ini:
Ketidaktahuan mereka tentang Khaliq.
Mereka menurud apa yang diinginkan rasa, karena mereka terlalu
dikuasai perasaan dan jauh dari pemikiran. Andai bukan karena
kebodohan mereka tentang Khaliq, tentu mereka ddak selancang itu
terhadap Allah, seperd perkataan mereka,
1 .
2 .
1Lw^l a J J l ( ^ l
“Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya. “(Ali Imran: 181)
Begitu pula ucapan mereka.
(Al-Maidah: 64)‘Tangan Allah terbelenggu.
Di antara talbis Iblis terhadap orang-orang Yahudi, bahwa mereka
berkata, “Tidak boleh ada penghapusan syariat.” Padahal mereka tahu, di
antara ajaran agama Adam ialah diperbolehkannya menikahi saudari
sendiri dan mahram serta bekerja pada hari Sabtu. Lalu semua ini dihapus
oleh syariat Musa. Mereka berkata, “Jika Allah memerintahkan sesuatu, maka
itulah yang menjadi ketetapan hukumnya dan ddak boleh diubah.”
Kami katakan, “Pada saat tertentu perubahan justru mendatangkan
hikmah. Perubahan keadaan anak keturunan Adam dari sehat ke sakit, dari
sakit ke sehat, membawa hikmah tersendiri. Adakalanya ada suam pekerjaan
yang harus engkau kefjakan pada hari Sabtu dan engkau baru menganggur
pada hari Ahad. Inikah jenis yang engkau ingkari? Allah juga telah
memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya, kemudian
melarangnya.”
Di antara talbis Iblis terhadap orang-orang Yahudi lainnya adalah yang
tecermin dalam ucapan mereka,
{a.
“Kami sekali'kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa
hari saja.’’ (Al-Baqarah: 80)
Maksudnya ialah selama mereka menyembah anak sapi. Sementara
kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan amat banyak. Kemudian Iblis
1 0 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
mendorong mereka untuk membangkang secara total, hingga mereka
mengingkari apa pun yang tertulis di dalam kitab mereka, seperti sifat Nabi
Muhammad Sdan merubahnya. Padahal mereka telah diperintahkan unmk
beriman kepada beliau. Rupanya mereka ridha terhadap siksa akhirat. Para
ulama mungkir dan orang-orang yang bodoh mengikuti mereka. Yang aneh,
mereka mengubah apa yang diperintahkan dan merombak sesuatu dengan
keingnan mereka. Lalu di mana ibadah harus diletakkan di hadapan orang
yang meninggalkan perintah dan berbuat semau sendiri menurut hawa
nafsunya? Kemudian mereka menentang Musa dan menyembahnya, hingga
mereka mengatakan bahwa beliau adalah Adar. Bahkan mereka menuduh
beliau telah membunuh Harun dan menuduh Daud telah menikahi Auria.
Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah Smendatangi Baitul-
Midras, seraya bersabda, ‘Tergilah kalian ke orang yang paling pandai di antara
k a l i a n . ”
Maka mereka menemui Abdullah bin Shuria. Lalu beliau berbicara
berdua dengannya, mengajaknya kepada Allah dan masuk agama-Nya,
mengingatkan apa yang pernah dilimpahkan Allah kepada mereka, yang telah
memberikan Manna dan Salwa kepada mereka serta memayungi mereka
dengan awan.
“Tahukah kalian bahwa aku adalah Rasul Allah?” tanya beliau.
Mereka menjawab, “Demi Allah, kami mengetahuinya. Mereka juga
tahu seperti yang kuketahui. Sifat dan ciri-cirimu sudah dijelaskan di dalam
Taurat. Tetapi mereka mendendam kepadamu.”
“Kalau begitu apa yang menghalangi dirimu?’ tanya beliau.
Abdullah bin Shuria menjawab, ‘A.ku tidak ingin berseberangan dengan
kaumku. Semoga saja mereka mau mengikutimu dan masuk Islam, sehingga
aku pun akan masuk Islam.”
Dari Salamah bin Salamah bin Waqsy, dia berkata, “Kami mempunyai
seorang tetangga Yahudi dan Bani Abdil-Asyhal. Suatu hari dia keluar dari
rumahnya sebelum RasuluUah diangkat sebagai rasul, hingga dia tiba di tempat
pertemuan Bani Al-Asyhal. Salamah menuturkan, “Saat itu aku adalah orang
yang paling muda di antara semua yang ada. Aku tidur telentang di serambi
rumah sambil mengenakan mantel. Lalu orang Yahudi itu menyebut-nyebut
tentang hari berbangkit, Hari Kiamat, hisab, timbangan, surga dan neraka.”
1 0 8 Perangkap Setan
Dia berkata, “Adapun orang-orang yang syirik dan penyembah berhala
tidak mengenal kebangkitan manusia sesudah kematian.”
Orang-orang naenyanggahnya, “Celaka kau hai Fulan. Begitukah
pendapatmu tentang manusia? Jika manusia dibangkitkan lagi sesudah mad,
apakah mereka ada yang dibawa ke surga atau ke neraka sebagai balasan
perbuatannya?”
“Benar ”jawab orang Yahudi itu, “demi yang mau bersumpah kepada
Allah, salah seorang di antara mereka ingin merasakan api neraka itu barang
sesaat, maka dia bisa berada di atas tungku api yang besar di dalam rumahnya,
lalu tetap berada di atasnya. Namun besok dia akan selamat dari api itu.”
“Celaka kau,” kata orang-orang, “apa buktinya?”
‘Akan ada seorang nabi yang diutus dari negeri ini,” katanya sambil
menunjuk ke arah Makkah dan Yaman.
“Kapan kami bisa melihatnya?”
Orang Yahudi itu memandang ke arahku, yang saat itu aku paling muda.
Dia berkata, “Jika umur anak ini panjang, maka dia akan melihamya.”
Salamah berkata, “Demi Allah, rasanya siang dan malam lama sekali
berlalu, hingga Allah mengutus Rasulullah orang yang berasal dan kalangan
kami. Maka kami beriman kepada beliau, sementara orang Yahudi itu kufur
dan dengki. Lalu kami berkata kepadanya, “Celaka kau hai Fulan. Bukankah
engkau dulu yang berkata kepada kami seperti yang telah engkau katakan?”
Dia menjawab, “Benar. tetapi yang kumaksudkan bukan dia.”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Nasrani
Talbis Iblis terhadap mereka banyak sekali. Di antaranya, Iblis membuat
mereka beranggapan bahwa Allah adalah satu substansi. Orang-orang yang
mengikuti Ya’qub (Ya’qubiyah), pengikut agama yang menuhankan malaikat
(Malakiyah) dan para pengikut Nestorius mengatakan bahwa Allah itu
merupakan satu substansi terdiri dari tiga oknum. Substansi Allah itu satu
terdiri dari tiga oknum (Person of Trinity). Tuhan yang pertama adalah Bapak,
yang kedua Anak dan yang kedga Roh Kudus. Sebagian di antara mereka
mengatakan bahwa tuhan-tuhan ini adalah para pemimpin, sebagian lain
mengatakannya sifat dan sebagian lain mengatakannya pribadi-pribadi
tertentu. Mereka lupa bahwa andaikata Allah itu substansi, tentunya akan
1 0 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
berlaku bagi Allah apa yang berlaku bagi substansi, seperti berada di suatu
tempat, bergerak, diam dan lain-lainnya. Kemudian sebagian yang lain
menganggap bahwa Al-Masih itulah AHah.
Abu Muhammad An-Naubakhti berkata, “Golongan Malakiyah dan
Ya’qubiyah berpendapat bahwa bayi yang dilahirkan Maryam adalah Allah.
Sementara IbHs memperdayai sebagian di antara mereka bahwa Al-Masih
adalah anak Al lah.”
Sebagian yang lain mengatakan bahwa Al-Masih memiliki dua substansi,
lama dan baru. Di samping pendapatnya seperti ini mereka juga menetapkan
bahwa Al-Masih memerlukan makanan. Tidak ada pertentangan tentang
masalah ini. Kalau pun akhirnya Al-Masih disalib dan dia tidak sanggup
melindungi dirinya sendiri, maka mereka menjawab, bahwa hal ini terjadi
karena dalam kapasitasnya sebagai manusia. Maka adakah unsur kemanusiaan
yang dapat menolak unsur ketuhanan?
Kemudian Iblis memperdayai mereka tentang masalah nabi kita
Muhammad 0, hingga mereka mengingkari beliau. Padahal nama beliau telah
disebutkan di dalam InjU. Di antara Ahli Kitab ada yang berkata tentang
nabi kita, “Memang dia adalah seorang nabi. Tetapi dia diutus hanya kepada
bangsa Arab.” Tentu saja ini merupakan talbis Iblis yang memperdayai mereka
tentang masalah ini. Kalau memang ada ketetapan bahwa beliau adalah
seorang nabi, tentunya beliau tidak akan berdusta. Sementara beliau bersabda,
“Aku diutus kepada manusia semuanya.” Begitu pula yang beliau tulis dalam
surat yang dikirimkan kepada Qishra dan Kaisar serta berbagai raja di luar
A r a b .
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Yahudi dan Nasrani
Mereka berkata, “Allah tidak akan mengadzab kami karena ada orang-
orang yang terdahulu di antara kami, karena di antara kami ada para wali dan
n a b i . ”
Allah telah memberitahukan kepada kita tentang perkataan mereka
yang tidak mendasar sama sekali,
1jaU 1 1{lA .
“Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Al-
Maidah: 18)
1 1 0 Perangkap Setan
Dengan kata lain, karena di tengah kami ada anak Allah, yaitu Uzair
dan Isa Al-Masih. Kebohongan ini dapat disingkap sebagai berikut: Setiap
orang akan dituntut berdasarkan hak Allah atas dirinya. Hal ini tidak bisa
ditolak karena adanya hubungan kekerabatan. Jika karena cinta mendorong
seseorang untuk berbuat zhalim kepada orang lain karena hubungan
kekerabatannya, tentunya dia juga akan berbuat zhalim kepada yang lain lagi.
Sementara Nabi pernah bersabda kepada putri beliau, Fathimah, “Aku
tidak bisa berkuasa sedikit pun terhadap dirimu dari ketetapan Allah.”
Keutamaan orang yang dicintai ialah karena takwa. Siapa yang tidak rh




