• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label setan iblis 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setan iblis 3. Tampilkan semua postingan

setan iblis 3

 


dari satu tempat ke

lain tempat, hingga terdampar di Jeddah. Ketika air sudah surut, berhala-

berhala itu berada di pinggir pantai. Hembusan angin menerbangkan debu-

debu dan membuat berhala-berhala ini terpendam.

Al-Kalbi berkata, ‘A.mr bin Luhay yang dijuluki Abu Tsumamah adalah

seorang dukun. Dia mempunyai pembantu dari golongan jin, yang berkata

kepadanya, “Cepat-cepatlah pergi dari Tihamah dengan keselamatan dan

sejahtera, lalu datangiJah batu-batu karang di Jeddah. Di sana Anda akan

mendapatkan beberapa berhala yang terpendam di dalam tanah. Bawalah

berhala-berhala ini ke Tihamah dan janganlah Anda takut. Kemudian ajaklah

orang-orang Arab untuk menyembah berhala-berhala itu. Tentu mereka akan

memenuhi ajakan Anda.”

Maka Amr bin Luhay mendatangi sebuah sungai di Jeddah dan

mendapatkan berhala-berhala itu setelah mencarinya. Kemudian dia

membawanya ke Tihamah. Ketika tiba musim haji, dia mengajak semua orang-

orang Arab untuk menyembah berhala-berhala itu. Pada awal mulanya Auf

bin Adzrah bin Zaid Al-Lata yang memenuhi ajakannya. Amr bin Luha}’

menyerahkan berhala Wud kepada Auf lalu dia membawa berhala itu. Dia

hidup di Wadil-Qura di Dumatul-Jandal. Dia menamai anaknya Abdi Wud,

sekaligus merupakan nama pertama yang dinisbatkan kepada berhala Wud.

Auf mengangkat anaknya itu sebagai pemimpin yang mengurus berhala Wud.

Maka anak keturunannya tetap mempertahankan penyembahan terhadap

Wud, hingga Islam datang.

Al-Kalbi berkata, “Aku diberitahu Malik bin Haritsah, bahwa dia pernah

melihat Wud. Dia berkata, ‘Ayahku mengutusku untuk menyajikan air susu

kepada berhala Wud, seraya berkata, ‘Guyurlah tuhanmu dan berilah ia

minuman’. Malik berkata, “Kemudian aku juga melihat KhaJid bin Al-Walid

8 4 Perangkap Setan

yang merobohkan berhala itu dan membuatnya berkeping-keping. RasuIuUah

^mengutus Khalid bin Al-Walid sepulang dari perang Tabuk untuk

menghancurkannya. Ada seseorang dari Bani Abdi Wud yang bemsaha untuk

menghalangi Khalid. Namanya Quthn bin Suraih. Setelah Quthn terbunuh,

ibunya datang sambil berkata,

“Ini adalah kasih sayang yang tak bertahan lama

tiada pula kenikmatan yang abadi sepanjang masa

tak selamanya debu menempel di tubuh bayi

sekalipun ada seorang ibu yang menyayangi."

Kemudian dia berkata lagi,

“Wahai yang menghimpun isi perut dan dada

andaikan saja ibumu tak dilahirkan dan tak melahirkan.”

Setelah itu dia menelungkup di atas jasad anaknya, dan seketika itu

pula dia meninggal.

Al-Kalbi berkata, “Aku berkata kepada Malik bin Haritsah,

“Gambarkanlah berhala Wud kepadaku secara jelas, sehingga seakan-akan

aku bisa melihatnya secara langsung.”

Malik menjawab, “la adalah sebuah berhala seorang laki-laki yang tinggi

besar, lebih besar dari ukuran siapa pun. Jadi ia tidak bisa disamakan dengan

siapa pun. Ada dua lembar pakaian yang dikenakan padanya, yang satu berkait

dengan yang lain. la membawa sebilah pedang yang terhunus dan

menyandang busur. Di tangannya ada geriba yang diberi bendera dan juga

ada kantong anak panahnya.”

Mudhar bin Nizar memenuhi ajakan Amr bin Luhay. Maka dia

menyerahkan berhala Suwa’ kepada seseorang dari Bani Hudzaii, yaitu Al-

Harits bin Tamim bin Sa’d bin Hudzaii bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar.

Dia hidup di sebuah perkampungan Rahath di wilayah Nakhlah. Berhala

Suwa’ menjadi sesembahan anak keturunan Mudhar. Seseorang berkata,

“Kau lihat mereka berk^umun di sekeliling kiblacnya

sebagaimana Bani Hudzaii yang berkerumun di sekitar Swwa’

korban domba disajikan ke hadapannya

diambil dan simpanan pemimpin mereka.”

8 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Ajakan Am‘r bin Luhay juga dipenuhi Bani Madzhaj. Maka dia

menyerahkan Yaghuts kepada An’um bin Amr Al-Muradi. Dia hidup di

Akmah di Yaman. Maka Yaghuts dijadikan sesembahan Bani Madzhaj dar

keturunannya.

Ajakan Amr bin Luhay juga disambut Bani Hamdan. Maka dis

menyerahkan berhala Ya’uq kepada Malik dan Martsad bin Jusyam. Dia hidup

di sebuah dusun yang bernama Jawan di Yaman. Maka Bani Hamdan dan

keturunannya menjadikan Ya’uq sebagai sesembahan.

Ajakan Amr bin Luhay juga disambut Bani Himyar. Maka dia

menyerahkan berhala Nasr kepada seseorang dari Dzi Ru’am, yang juga

disebut Ma’di Karib, suatu tempat di negeri Saba’ di bilangan Balkh. Maka

Bani Himyar dan keturunannya menjadikan berhala Nasr sebagai sesembahan.

Semua berhala-berhala ini senantiasa disembah hingga Allah mengutus

Muhammad ̂ dan memerintahkan agar beliau menghancurkannya.

Ibnu Hisyam berkata, “Kami diberitahu Al-Kalbi, dari Abush-Shalih,

dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah ^bersabda, “Aku dibawa naik

untuk meHhat neraka. Kulihat Amr bin Luhay, orang yang perawakannya

pendek, kulitnya kemerah-merahan, menyeret ususnya ke neraka. Aku

bertanya, Siapakah orang itu?”

Ada yang menjawab, “Itu adalah Amr bin Luhay, orang yang pertama

kali memuja bahirah, saHbah, ivashilah, han^, merubah agama Isma’il dan

mengajak orang-orang Arab untuk menyembah berhala.”

Hisyam berkata, Aku diberitahu ayahku dan juga lain-lainnya, bahwa

tatkala Isma’il =55 '̂ menetap di Makkah, mempunyai anak yang banyak, hingga

keturunan-keturunannya memenuhi Makkah dan mereka juga bisa

memusnahkan kaum Amaliq, maka mereka merasa bahwa Makkah terlalu

sempit bagi mereka. Karena itu muncul peperangan dan permusuhan di antara

’Bahirah adalah onta betina yang telah beranak lima kali, sedang anak yang kelima adalah jantan.

Telinga onta itu dibelah, lalu dilepaskan dan tidak boleh diganggu gugat, tidak boleh dijadikan

tunggangan dan tidak boleh diambil air susunya.

Sa'ihah adalah onta betina yang dibiarkan bebas berkeliatan semaunya karena suatu nadzar. Wosfiiiali

adalah domba betina yang melahirkan anak kembar, terdiri dan jantan dan betina. Anak dotnba yang

jantan itu disebut washikh, yang tidak boleh diganggu gugat dan dipersemhahkan kepada berhala

sebagai korban.

Ham adalah onta jantan yang dibiarkan bebas dan tidak boleh diganggu gugat, karena ia telah

membuntingkan seekor onta betina sepuluh kali.

Pemujaan terhadap binatang-binatang ini diciptakan Amr bin Luhay di kalangan bangsa Arab, dan

telah difirmankan Allah dalam surat AI-Maidah: 103, pent.

8 6 Perangkap Setan

sesama mereka. Sebagian mengusir sebagian yang lain, lalu mereka berpencar-

pencar ke segala penjuru untuk mencari penghidupan. Yang mendorong

mereka untuk menyembah berhala dan bebatuan, karena mereka yang

menyingkir dari Makkah pasti membawa serta batu tanah suci, sebagai

penghormatan terhadap tanah suci dan pemeliharaan terhadap nama Makkah.

Setelah berada di suatu tempat di luar Makkah, mereka berkeliljng di sekitar

batu yang mereka bawa, sebagaimana mereka thawaf di sekeliling Ka’bah,

sebagai wujud pengabdian terhadap Ka’bah dan kecintaan kepada tanah suci,

karena memang mereka sangat mengagungkan Ka’bah dan Makkah,

melaksanakan haji dan umrah, mengikuti jejak Ibrahim dan Isma’il.”

Perjalanan berikutnya mereka menyembah apa pun yang menurut

pandangan mereka dianggap baik dan melupakan apa yang pernah mereka

lakukan. Mereka juga mengganti agama Ibrahim dan Isma’il dengan agama

lain, lalu mereka menyembah berhala, sehingga mereka tak ada bedanya

dengan umat-umat yang terdahulu, seperti yang dilakukan kaum Nuh.

Memang di tengah mereka masih ada sisa-sisa dari agama Ibrahim dan Isma’il,

yang senantiasa dipegang teguh, seperti pengagungan Ka’bah, thawaf di

sekelilingnya, melaksanakan haji dan umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah,

yembelih korban, membaca talbiyah waktu haji dan umrah. Saat

bertalbiyah ini Nizar biasa berkata, ‘l̂ bbaik allahumma labbaik, labbaik la

ârika laka ilia ̂ arikan huwa laka, tamlikuhu wa tua malaka

Yang pertama kali mengubah agama Isma’il, mendirikan berhala,

memuji sa'ibah dan washilah adalah Amr bin Rabi’ah, atau Luhay bin Haritsah,

yang juga dipanggil Abu Khuza’ah. Adapun ibu Amr bin Luhay adalah

Fuhairah bind Amir bin Al-Harits. Al-Harks adalah orang yang berkompeten

mengurus Ka’bah. Ketika Amr bin Luhay mendengar penyerahan kekuasaan

maka dia merebutnya dengan membunuh Jurhum bin Isma’il. Setelah

kekuasaan terhadap penanganan Ka’bah ada di tangannya, dia mengenyahkan

mereka dari Makkah. Suatu kali dia sakit keras. Lalu ada seseorang yang

memberitahunya, “Di Baiqa’, yang terletak di negeri Syam ada sumber air

panas. Jika engkau datang ke sana, tentu engkau bisa sembuh.” Maka dia

datang ke sana, berendam di air panas im hingga akhirnya dia benar-benar

m e n

» 6

i n

*Artinya: Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi

panggiian-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau berhak

memilikinya dan dia tidak berhak.

8 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidali

sembuh dari penyakimya. Dia melihat para penduduk di sana menyembah

berhala. Dia bertanya, “Apa ini?”

Mereka menjawab, “Kami meminta hujan kepadanya, juga meminta

bantuan tatkala menghadapi musuh.”

Amr bin Luhay meminta sebagian berhala yang mereka sembah itu,

lain dia membawanya ke Makkah dan meletakkannya di sekeliling Ka’bah.

Maka orang-orang Arab juga membuat berhala-berhala lain.

Yang paling ma di antara berhala-berhala itu adalah Manat, yang

ddetakkan di pinggir pantai, terletak di Qudaid, di jalur perjalanan

Makkah dan Madinah. Semua orang Arab memujanya, begitu pula Aus dan

Khazraj. Mereka biasa menyembelih korban dan disajikan kepadanya.

Hisyam berkata, “Kami diberitahu seseorang dari Quraisy, dari Abu

Ubaidah bin Abdullah bin Abu Ubaidah bin Muhammad bin Amir bin Yasir,

dia berkata, “Aus dan Khazraj dan siapa pun dari penduduk Yatsrib dan lain-

lainnya biasa menunaikan haji. Bersama semua orang mereka wuquf di

tempat-tempat wuquf dan tidak mencukur rambut. Ketika melakukan nafar,

mereka mendatangi berhala Manat, mencukur rambut di hadapannya dan

berada di sana. Mereka menganggap pelaksanaan haji tidak sempurna kecuali

dengan cara ini Sebenarnya Manat itu milik Bani Hudzail dan Khuza’ah.

Pada waktu pembebasan Makkah, RasuluUah Smengutus Ali bin Abu Thalib

untuk menghancurkannya.”

Mereka juga menyembah Lata yang berada di Tha’if, yang umurnya

lebih muda daripada Manat. Lata berada di sebuah hamparan tanah tinggi,

yang berada di bawah kekuasaan baru Tsaqif. Mereka juga mendirikan

bangunan bagi Manat. Orang-orang Quraisy dan semua orang Arab

memujanya. Orang-orang Arab biasa menyebut Zaid Al-Lata dan Taim Al-

Lata. Letaknya secara tepat berada di bangunan menara masjid Tha’if yang

sekarang. Mereka senantiasa memuja dan mengagungkan Lata, hingga Bani

Tsaqif masuk Islam. Kemudian RasuluUah ̂ mengutus AJ-Mughirah bin

Syu’bah untuk menghancurkannya dan membakarnya.

Mereka juga membuat Uzza yang usianya lebih muda daripada Lata.

Yang membuamya adalah Zhalim bin As’ad. Letaknya di Wadi Nakhlah di

atas Dzatu Irq. Mereka mendirikan bangunan bagi Uzza, yang di tempat itu

mereka biasa memperdengarkan mantera-mantera.

a n t a r a

8 8 Perangkap Setan

Hisyam berkata, “Aku diberitahu ayahku, dari Abush-Shalih, dari Ibnu

Abbas dia berkata, “Uzza adalah sosok setan perempuan yang biasa

didatangi dengan melewati tiga batang pohon di lembah Nakhlah. Tatkala

Rasulullah 0membebaskan Makkah, maka beliau mengutus Khalid bin Al-

Walid, seraya bersabda, “Datanglah ke lembah Nakhlah, di Sana engkau akan

mendapatkan tiga batang pohon. Tebanglah pohon yang pertama. Maka

Khalid mendatangi pohon itu dan menebangnya. Tatkala dia kembali ke

tempat Rasulullah beliau bertanya, “Apakah engkau mendapatkan sesuatu?”

Khalid menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Tebanglah pohon yang kedua!”

Maka Khalid bin Al-Walid mendatangi pohon yang kedua dan

menebangnya. Kemudian dia menemui beliau, dan beliau bertanya, “Apakah

engkau melihat sesuatu?”

“Tidak,” jawab Khalid.

“Kalau begitu tebanglah pohon yang ketiga!” sabda beliau.

Maka Khalid bin Al-Walid mendatangi pohon yang ketiga. Di sana dia

mendapatkan berhala perempuan yang menguraikan rambumya, meletakkan

tangannya di atas pundaknya, menyeringai dengan memperlihatkan taring-

taringnya, di belakangnya orang yang menjaganya. Khalid berkata, “Wahai

Uzza, kamu bukanlah sesuatu yang layak disucikan. Aku melihat Allah telah

menghinakanmu.”

Setelah itu Khalid merobohkan berhala iru dan juga menebang pohon

serta membunuh penjaganya. Lalu dia menemui Nabi #dan menceritakan

apa yang terjadi. Beliau bersabda, “Itulah Uzza, dan setelah ini tidak ada lagi

Uzza bagi bangsa Arab.”

Hisyam berkata, “Orang-orang Quraisy mempunyai banyak berhala

yang diletakkan di dalam Ka’bah dan di sekitarnya. Yang paling besar bernama

Hubal. Menurut apa yang kudengar dari Aqiq, berhala Hubal berbentuk

seorang laki-laki, tangan kanannya putus, lalu mereka menyambungnya

dengan bahan dari emas.”

Yang pertama kali memancangkan Hubal adalah Khuzaimah bin

Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Dulunya Hubal berada di dalam Ka’bah. Di

hadapannya ada tujuh batang anak panah, yang salah sarunya ada tulisannya,

sedangkan lainnya kosong. Jika mereka ada masalah tentang status seorang

8 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

anak, maka mereka menyajikan korban kepadanya, lalu mengundi anak-anal<

panah iru. Jika yang keluar adalah anak panah yang ada tulisannya, maka

mereka mengakui anak itu, dan jika yang keluar anak panah yang tidak ada

tulisannya, maka mereka menolak anak itu. Jika mereka berselisih dalam suatu

urusan atau hendak mengadakan perjalanan jauh atau sedang mempunyai

pekerjaan besar, mereka datang ke hadapan Hubal dan mengundi dengan

anak-anak panah itu.

Inilah yang dikatakan Abu Sufyan pada waktu perang Uhud.

“Junjunglah Hubal, agar agamamu menjadi tinggi.”

Mendengar perkataan Abu Sufyan itu, Rasulullah 0bertanya kepada

para shahabat, “Apakah kalian tidak ingin menyahumya?”

Mereka bertanya, “Apa yang harus kami ucapkan?”

Bekau menjawab, “Ucapkanlah, Allah Mahatinggi dan Mahaagung.”

Mereka juga mempunyai dua berhala yang disebut Isaf dan Na’ilah.

Hisyam berkata, ‘Al-Kalbi memberitahu, dari Abush-Shalih, daii Ibnu Abbas,

bahwa tadinya Isaf adalah seorang laki-laki dari jurhum. Nama lengkapnya

adalah Isaf bin Ya’Ia. Adapun Na’ilah adalah Na’ilah bind Zaid, yang juga

berasal dari Jurhum. Keduanya merupakan sepasang kekasih semenjak di

Yaman. Dengan menyamar keduanya masuk ke dalam Ka’bah, yaitu tatkala

keduanya melihat tidak ada orang yang melihat mereka dan di sana ada tempat

yang longgar. Di dalam Ka’bah itulah keduanya saling bersetubuh. Ketika

orang-orang mendapatkan keduanya, maka keduanya telah berubah menjadi

batu. Mereka mengeluarkan berhala keduanya dari dalam Ka’bah dan

meletakkannya di tempat tertentu, lalu berhala keduanya disembah Khuza’ah,

Quraisy dan bangsa Arab yang sedang menunaikan haji.

Hisyam berkata, “Ketika keduanya berubah menjadi berhala batu, maka

keduanya diletakkan di dekat Ka’bah, agar orang lain mengambil pelajaran

dari perbuatan keduanya. Namun ketika dua berhala ini senantiasa berada

di Sana dan penyembahan terhadap berhala serta berhala semakin menjadi-

jadi, maka berhala keduanya pun dijadikan sesembahan. Salah satu berhala

ini diletakkan menempei di dinding Ka’bah, dan satunya lagi diletakkan di

dekat Zamzam. Lalu orang-orang Quraisy menukar tempat keduanya,

dan mereka biasa menyembelih korban dan disajikan kepada keduanya.

Di antara berhala-berhala itu ada yang bernama Dzul-Khalashah.

Berhala ini terbuat dari batu api bewarna putih yang dipahat, di atas kepalanya

9 0 Perangkap Setan

ada semacam mahkota, yang diletakkan di Tabalah, suatu tempat antara

Makkah dan Madinah, yang bisa dicapai dengan perjalanan selama tujuh

malam dari arah Makkah. Baru Khats’am dan jailah sangat memuja-muja

berhala ini, menyajikan korban dan hadiah kepadanya. RasuluUah bersabda

kepada Jarir “Mengapa engkau tidak segera mewakiliku untuk

menghancurkan Dzul-Khalashah?” Maka Jarir menuju ke sana dengan penuh

semangat. Tentu saja Bani Khats’am dan juga Bahilah hendak menghalangi

maksudnya. Namun akhirnya dia bisa mengalahkan mereka, lalu dia

merobohkan bangunan yang mengelilingi Dzul-Khalashah hingga menjadi

abu. Letaknya secara tepat pada zaman sekarang adalah di depan pintu masjid

Ta b a l a h .

Bani Daud mempunyai sebuah berhala yang bernama Dzul-Kaffain.

Ketika mereka masuk Islam, RasuluUah 0mengutus Ath-Thufail bin Amr,

lalu dia membakarnya.

Bani Al-Harits bin Yasykur mempunyai sebuah berhala yang bernama

Dzuts-Tsara. Bani Qudha’ah, Lakham, Judzam, Amilah dan Ghathafan

mempunyai sebuah berhala di daerah perbatasan Syam, yang bernama Al-

Uqaishir. Bani Muzainah mempunyai sebuah berhala yang disebut Fahm.

Karena itu mereka juga disebut Abdi Fahm. Bani Anzah mempunyai sebuah

berhala yang disebut Sa’ir. Bani Thay’ mempunyai sebuah berhala yang disebut

A l - F i l s .

Yang pasti, setiap kaum di Makkah mempunyai sebuah berhala di

tengah perkampungan mereka yang disembah-sembah. ApabUa salah seorang

di antara mereka hendak bepergian jauh, maka yang terakhir kali dia lakukan

adalah mengusap berhala itu. Begitu pula yang pertama kali dia lakukan kedka

dba. Bahkan di antara mereka ada yang membuat sebuah rumah khusus.

Siapa yang tidak mempunyai berhala dan rumah, maka dia harus

memancangkan sebuah batu yang dianggapnya baik, lalu dia berkelilmg di

sekitarnya. Batu-batu yang demikian ini disebut Al-Anshab. Jika seseorang

mengadakan perjalanan lalu dia singgah di suatu tempat, maka dia mengambil

empat buah batu, lalu memilih salah satu di antaranya yang paling bagus

menurutnya, lalu dia menjadikannya sebagai sesembahan. Jika perjalanan

dilanjutkan, dia meninggalkan batu itu. Begitulah yang dia lakukan sedap

kali singgah di suatu tempat. Kedka RasuluUah ̂ dba di Makkah, beliau

memasuki masjid, sementara berbagai macam berhala terpancang di sekeliling

9 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Ka’bah. Beliau menunjuk dengan busur beliau pada mata dan muka berhala-

berhala itu, seraya bersabda, ‘"Yang benar telah datang dan yang batil telah

sirna. Sesungguhnya yang batil itu pasti sirna.” Kemudian beliau

memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala itu. Setelah

disingkirkan dari dalam masjid, semuanya dibakar.

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Berhala-berhala disembah pada

2aman Yazad Barad dan banyak yang beralih dari Islam.”

Dari Mahdi bin Maimun, dia berkata, “Aku mendengar Abu Raja’

berkata, ‘Tatkala Rasulullah #diutus sebagai rasul dan kami pun

mendengarnya, kami bertemu dengan Musailamah Ai-Kadzdzab. Kami

bertemu ketika sedang mengeHlingi api dan dulu kami sama-sama menyembah

baru semasa Jahiliyah. Jika kami mendapatkan batu yang lebih bagus, maka

kami membuang batu sebelumnya dan mengambil yang lebih bagus itu. Jika

kami belum mendapatkan sebuah batu, maka kami menghimpun tumpukan

tanah, lalu kami mendatangkan domba untuk diperah di dekatnya, dan kami

pun berthawaf di sekelilingnya’.”

Dari Imarah Al-Mi’wali, dia berkata, “Aku mendengar Abu Raja’ Al-

Atharidi berkata, ‘Dulu kami biasa mengumpulkan pasir lalu menumpuknya,

lalu kami memerah susu untuk dijadikan sesaji dan kami menyembahnya.

Kami juga biasa mengambil batu putih, lalu kami menyembahnya untuk

sekian lama, setelah itu kami membuangnya’.”

Dari Al-Hajjaj bin Zainab, dia berkata, “Aku mendengar Abu Utsman

An-Nahdi berkata, ‘Semasajahiliyah kami biasa menyembah bebatuan. Suatu

kali kami mendengar suara yang berseru, ‘Wahai penduduk kampung,

sesungguhnya tuhan kalian telah binasa. Maka carilah tuhan yang lain bagi

kalian’. Maka kami mencari kesana kemari. Tatkala kami sedang mencari-

cari itu, di antara kami ada yang berseru, ‘Sesungguhnya kami sudah

mendapatkan tuhan bagi kalian atau yang serupa dengannya’. Ternyata yang

dimaksudkan orang yang berseru itu juga sebuah batu. Maka kami

menyembelih korban untuknya’.”

Dari Amr bin Anbasah, dia berkata, “Dulu aku termasuk orang yang

biasa menyembah bebatuan. Aku singgah di suatu perkampungan yang tidak

mempunyai tuhan. Lalu penduduk kampung itu keluar menemuiku sambil

membawa empat buah batu. Tiga buah batu digunakan sebagai penyangga

panci dan satu batu yang paling bagus kujadikan mhan untuk disembah.

9 2 Perangkap Setan

Sebelum meninggalkan tempat ini aku masih berharap agar bisa menemukan

batu yang lebih baik, yang setelah icu pun sebenarnya juga kutinggalkan.”

Dari seseorang yang sudah tua dari penduduk Makkah, dia berkata,

“Sufyan bin Uyainah pernah ditanya seseorang, “Bagaimana orang-orang

Arab menyembah bebatuan dan berhala?”

Dia menjawab, “Dasar penyembahan mereka terhadap bebatuan ialah

dengan berkata, ‘Ka’bah terbuat dari batu. Maka batu macam apa pun yang

kami pancangkan, maka ia sama kedudukannya dengan Ka’bah.”

Abu Ma’syar berkata, “Mayoritas penduduk India merasa yakin tentang

adanya tuhan yang disembah. Mereka juga mengakui adanya Allah dan para

malaikat Hanya saja mereka meyakini Allah itu dalam rupa yang paling bagus.

Sementara para malaikat memiliki tubuh yang indah. Allah dan para malaikat

bersembunyi di langit. Lalu mereka membuat berhala-berhala, ada yang

diserupakan Allah dan ada yang diserupakan malaikat, lalu mereka

menyembahnya. Mereka juga menyajikan korban dan meletakkannya di suatu

tempat yang sekiranya tepat menurut mereka. Ada yang membisiki sebagian

di antara mereka, “Sesungguhnya para malaikat, bintang dan planet

merupakan benda-benda yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena

irn meneka memuja-muja bintang dan planet, bekorban karenanya dan

membuat berha la -berha la . ”

Segolongan orang dahulu membangun beberapa bangunan bag!

berhala-berhala. Bangunan pertama terletak di sebuah puncak gunung di

Ashbahan, yang di dalamnya terdapat beberapa buah berhala. Bangunan

kedua dan ketiga ada di negeri India. Bangunan keempat ada di kota Balkh,

yang dibangun Bani Syahr. Ketika muncul Islam, bangunan itu dirobohkan.

Bangunan yang kelima ada di Shan’a, yang namanya Az-Zuhrah (Venus).

Bangunan ini dirobohkan Utsman bin Affan. Bangunan keenam dibangun

Qabus Al-Malik, yang diberi nama bangunan matahari, di kota Farghanah,

yang kemudian dirobohkan Al-Mu’tashim.

Yahya bin Bisyr An-Nahawundi menuturkan bahwa tatanan agama

yang diterapkan di India dibuat seorang laki-laki Brahma, yang kemudian dia

menciptakan berhala-berhala bagi penduduk dan mendirikan bangunan yang

paling besar di Militan, sebuah kota di wilayah Sind. Berhala yang paling

besar berada di dalam bangunan itu, berupa sosok raksasa yang berbadan

besar dan menakutkan. Kota ini ditaklukkan pada masa Al-Hajjaj. Ketika

9 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

berhala itu akan dirobohkan, ada yang berkata, “J^ka kalian membiarkan

berhala ini dan tidak merobohkannya, maka kami akan menyerahkan sepertiga

dari pemasukannya.” Maka Abdul-Malik bin Marwan memerintahkan untuk

membiarkan berhala i tu.

Penduduk India melakukan haji ke tempat ini. Setiap orang yang berhaji

harus membawa sejumlah dirham yang memang disanggupinya, antara seratus

hingga sepuluh ribu dirham, tidak boleh kurang dari itu dan tidak boleh lebih.

Siapa yang tidak memenuhi syarat ini, maka hajinya dianggap tidak sempurna.

Uang dirham itu harus dimasukkan ke dalam kotak besar yang sudah disiapkan

di Sana, lalu mereka berputar mengelilingi berhala. Jika yang berhaji sudah

pergi, harta itu dikumpulkan, sepertiganya diserahkan kepada orang-orang

Muslim seperti yang telah disepakati semula, sepertiganya untuk anggaran

belanja kota dan menguatkan benteng pertahanannya, dan sepertiga lagi untuk

para pengurus berhala dan kepentingannya.

Abul-Faraj berkata, “Perhatikanlah bagaimana setan mempermainkan

orang-orang itu, sehingga akal mereka tidak berfungsi sebagaimana layaknya.

Mereka memahat sendiri apa yang mereka sembah. Alangkah tepatnya

celaan yang disampaikan Allah terhadap berhala-berhala mereka, dalam

firman-Nya,

^!'t ”f p'ft ,’f ,VT- !" f A ^ i f05^1 ^ J j l ^

i

I\^o Lj- i ^

“Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat

berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan

keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat a t a u

mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat meruiengar?” (Al-A’raf: 195)

Isyarat lebih tepatnya ditujukan kepada manusia. Dengan kata lain:

Kalian bisa berjalan, memegang, melihat dan mendengar. Sementara

berhala-berhala im lemah, tidak mampu melakukan semua itu dan ia adalah

benda mati atau binatang. Lalu bagaimana mungkin makhluk yang sempurna

menyembah yang tidak sempurna? Andaikata mereka mau berpikir, tentu

mereka akan tahu bahwa yang disembah itu adalah yang menciptakan segala

sesuatu dan bukannya yang diciptakan, yang menghimpun dan bukan yang

dihimpun, yang menegakkan segala sesuatu dan bukan yang ditegakkan.

9 4 Perangkap Setan

Manusia harus menyembah siapa yang menciptakannya dan bukan

menyembah apa yang diciptakannya. Yang mereka bayangkan, bahwa berhala-

berhala itu bisa memberikan syafaat. Ini merupakan bayangan yang sama

sekali tidak bisa dijadikan gantungan.

Talbis Iblis terhadap Para Penyembah Api, Matahari dan Rembulan

Iblis teiah memperdayai segolongan orang yang menganggap baik

penyembahan terhadap api. Mereka berkata, “Api adalah inti yang pasti

dibutuhkan alam.” Berangkat dari sinilah penyembahan terhadap api

berkembang menjadi penyembahan terhadap matahari.

Abu ja’far bin Jarir Ath-Thabari menuturkan, bahwa tatkala Qabil

membunuh Habil dan lari dari ayahnya, Adam menuju Yaman, Iblis

menemui Qabil seraya berkata, “Sesungguhnya hanya korban Habillah yang

diterima, lalu korbannya itu dimakan api, karena dia juga mempergunakan

api dan menyembahnya. Maka buatlah api, agar api iru menjadi milikmu dan

orang-orang di belakangmu.” Maka Qabil membuat rumah api. Dengan

begitu Qabillah yang pertama kali membuat penyembahan terhadap api.

Al-Jahizh menuturkan, kemudian muncul Zaradosta di Balkh, yang

menganut agama Majusi. Dia mengeluarkan pernyataan bahwa wahyu turun

kepadanya di atas gunung Ceylan. Lalu dia menyeru penduduk daerah yang

dingin itu, yang hanya mengenal udara dingin. Dia mengeluarkan peringatan

tentang ancaman udara yang semakin dingin, lalu dia mengeluarkan

pernyataan kepada mereka, bahwa dia tidak diutus kecuali hanya kepada

gunung itu. Dia membuat tatanan kepada para pengikutnya untuk wudhu’

dengan air kencing dan lendir para ibu serta memuja api. Di antara perkataan

Zaradosta, “Allah itu sendirian. Ketika Dia semakin kesepian, maka Dia mulai

berpikir-pikir. Dari pikiran-Nya ini lahir Iblis. Ketika Iblis muncul di hadapan-

Nya, maka Dia hendak membunuhnya, tetapi Iblis tidak mau. Karena

Iblis menolak, maka Dia membiarkannya tetap hidup.”

Syaikh Abul-Faraj berkata, “Para penyembah api teiah mendirikan

berbagai bangunan untuk pemujaan. Yang pertama kali merancang pendirian

bangunan ini adalah Afridon. Dia mendirikannya di Thorsus dan yang lain

lagi di Bukhara. Bahman juga mendirikannya di Sijistan. Abu Qubadz juga

mendirikannya di Bukhara. Setelah itu banyak bermunculan bangunan-

bangunan lain untuk pemujaan terhadap api.”

9 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Zaradosta membuat api sebagai sesembahan, karena dia menganggap

bahwa api itu berasal dari langit, yang memakan korban-korbannya. Untuk

im dia mendirikan sebuah bangunan dan meletakkan sebuah cermin di bagiaii

tengahnya. Korban diletakkan di atas tumpukan kayu dan di tumpukan kayu

itu diberi serbuk korek api. Selagi matahari berada di tengah ufuk, maka

sinarnya akan masuk ke dalam bangunan, lewat lubang yang telah dibuat dj

bagian atas bangunan. Sinar matahari mengenai cermin, yang kemudian

dipantulkan ke tumpukan kayu hingga terbakar. Dia berkata, “Kalian tidak

boleh memadamkan api ini”

Iblis juga memperdayai segolongan orang yang menyembah rembulan

dan bintang-gemintang.

Ibnu Qutaibah berkata, “Ada segolongan orang pada masa Jahiliyah

yang menyembah komet dan mereka menganggapnya baik. Abu Kabsyah,

yang orang-orang musyrik menisbatkan diri Rasulullah ̂ kepadanya, adalah

orang pertama yang menyembah komet. Dia berkata, “Aku membelah langit

pada waktu malam, dan langit tidak bisa membelah sendiri.” Dia menyembah

komet dan tentu saja berseberangan dengan keyakinan orang-orang Quraisy.

Ketika Rasulullah ̂ diutus sebagai rasul, menyeru kepada penyembahan

AUah dan meninggalkan berhala, maka orang-orang berkata, “Im dia Ibnu

Abi Kabsyah.” Dengan kata lain, dia menyerupakan diri kepada beiiau,

sebagaimana yang dikatakan Bani Israel terhadap Maryam, “Wahai saudari

Harun.” Yang artinya, ‘Wahai yang serupa dengan Harun.” Jadi keduanya

dianggap kembaran atau dua hal yang hampir serupa, seperti dua planet yang

berdekatan .

Iblis yang dilaknat Allah memperdayai golongan manusia lain yang

menyembah para malaikat, dengan berkata, “Para malaikat itu adalah putri-

putri AUah.” Padahal Allah terbebas dari anggapan seperti itu. Ada pula

golongan lain yang menyembah kuda dan sapi. Kaum Samiry biasa

menyembah sapi. Karena itu mereka membuat berhala anak sapi. Disebutkan

dalam sebuah kisah, bahwa kaum Fir’aun menyembah kambing hutan. Yang

pasti, mereka semua tidak mempergunakan akalnya dan tidak mau berpikir

tentang apa yang dilakukannya. Kami memohon keseiamatan kepada AUah

di dunia dan di akhirat.

9 6 Perangkap Setan

Talbis Ihlis terhadap Orang-orang Jahiliyah

Sudah kami terangkan bagaimana talhis Iblis terhadap orang-orang yang

menyembah berhala. Di antara talhis Iblis yang paling buruk dalam masalah

ini adalah taqlid terhadap nenek moyang, tanpa mau melihat kepada dalil,

sebaga'mana firman Allah,

‘uif- ^ i j c ? ' ^ 1 3

{'(V- '^3 y 3 '

“Dan, jika  dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan

Allah’, mereka menjaivab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang

telah kami dapaci dari (perbuatan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka

akan mengikuti juga), ivalaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui

suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Iblis telah mcmperdayai sebagian di antara mereka, hingga mereka

berpendapat seperd pendapatnya golongan ateis yang mengingkari Sang

Pencipta dan hari berbangkit. Atau mereka mengakui adanya Sang Pencipta,

tetapi mereka mengingkari para rasul dan hari berbangkit. Golongan yang

lain lagi ada yang beranggapan bahwa para malaikat itu adalah putri-putri

Allah, dan yang lain lagi ada yang berpendapat seperd pendapatnya orang-

orang Yahudi atau Majusi. Di kalangan Bani Tamim ada seorang tokoh dalam

masalah ini, yaitu Zurarah bin Judais At-Tamimi dan anaknya, Hajib.

Kalangan Jahiliyah yang mengakui adanya Khaliq, permulaan

penciptaan, hari kebangkitan, pahala dan siksa adalah Abdul-Muthalib bin

Hasyim, Zaid bin Amr bin Nufail, Qus bin Sa’idah dan Amir bin Azh-Zharb.

jika melihat seseorang yang berbuat zhalim, maka Abdul Muthalib ddak

menghukumnya, tetapi dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya sesudah

tempat dnggal ini (dunia) ada tempat dnggal lain, yang saat itu orang yang

berbuat baik dan berbuat buruk akan mendapat balasannya masing-masing.”

Yang juga termasuk dalam golongan ini adalah Zuhair bin Abu Salma, yang

berkata dalam syairnya,

“Ada penangguhan tertulis dan disimpan di sebuah kitab

di Sana ada balasan ataukah siksaan pada hari hisab.”

Yang juga termasuk dalam golongan ini adalah Zaid Al-Fawaris bin

Hishn dan Al-Qamis bin Umay}'ah Al-Kinani. Suatu hari dia berpidato di

9 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

hadapan orang-orang, “Wahai semua orang Arab, taadah kepadaku, niscaya

kalian akan mendapatkan petunjuk jalan lurus.”

“Apa itu?” tanya mereka.

Dia menjawab, “Hanya kalianlah yang memiliki banyak sesembahan.

Aku tabu bahwa sebenarnya Allah tidak ridha terhadap

Sesungguhnya Allah adalah penguasa atas semua sesembahan kalian ini. Dia

suka menjadi satu-satunya yang disembah.”

Seketika itu pula mereka berhamburan meninggalkannya dan tidak

mau mendengar nasihatnya.

Di kalangan Jahiliyah juga ada segolongan orang yang berkata, “Siapa

yang mati, lalu di atas kuburannya diikat seekor hewan tunggangannya dan

dibiarkan hingga mati, maka orang yang mati itu akan dibangkitkan dengan

naik hewan tunggangannya itu. Sedang siapa yang mati dan hewan

tungganggannya tidak diikat di atas kuburannya hingga mati, maka dia akan

dibangkitkan dalam keadaan berjalan kaki.” Di antara orang yang berkata

seperti ini adalah Amr bin Zaid Al-Kalbi.

Masih banyak corak-corak keyakinan mereka yang lain, yang semuanya

tidak lepas dari syirik. Memang di antara mereka ada yang berpegang kepada

tauhid dan menolak penyembahan terhadap berhala, tetapi jumlahnya sedikit

sekaH, seperti halnya Qus bin Sa’idah dan Zaid. Pada masa Jahiliyah itu selalu

muncul model-model baru, seperti penghalalan bulan halal dan pengharaman

bulan haram. Pasalnya, bangsa Arab dulunya berpegang kepada agama

Ibrahim î \ yang mengharamkan (mensucikan) empat bulan. Jika mereka

merasa perlu untuk menghalalkan apa yang diharamkan pada bulan-bulan

haram (suci) seperti untuk berperang, maka mereka menangguhkan

pengharamannya ke bulan Shafar.

Jika ada salah seorang di antara kalian meninggal dunia, maka istrinya

bisa diwarisi orang yang paling dekat dengannya. Mereka juga memuja hahirah,

sa‘ibah, wasbilah, ham. Mereka berkata, “Allah telah memerintahkan untuk

melakukan semua ini.” Inilah makna firman AUah,

“Allah sekali'kali tidak pemah mensyariatkan adanya bahirah, saHbah,

washilah dan ham. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan

terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Al-Maidah:

103)

s e m u a m i .

9 8 Perangkap Setan

Kemudian Allah ^menyanggah pendapat mereka yang

mengharamkan hahirah, sa‘ibah dan hewan-hewan lainnya, atau apa yang

mereka halalkan, sebagaimana perkataan mereka,

“Apa yang ada dalam perut binatang temak ini adalah khnsus untuk pria

kami dan diharamkan atas wanita kami.” (Al-An’am: 139)

Maka Allah menjawab,

“Katakanlah, ‘Apakah dm yang jantan yang diharamkan Allah ataukah

dm yang beam?” (Al-An’ara: 143)

Ardnya, andaikata Allah mengharamkan dua anak jantan, berarti semua

yang jantan adalah haram. Andaikata Allah mengharamkan dua anak yang

betina, berard semua yang bedna adalah haram. Jika dua jenis anak yang ada

di dalam perut binatang diharamkan, berarti semua yang jantan maupun yang

bedna juga diharamkan.

Iblis juga memperdayai orang-orang Jahiliyah untuk membunuh

anak-anak putri mereka, sementara anjing milik mereka dibiarkan hidup dan

diberi makan.

Di antara fa/b/s Iblis terhadap mereka, maka di antara mereka ada

yang berkata, “Andaikata Allah menghendaki, tentu kami ddak akan menjadi

orang-orang musyrik.” Dengan kata lain, kalau memang Allah ddak ridha

terhadap syirik kami, tentunya Dia akan membuat penghalang antara diri

kami dan syirik. Mereka hanya bergantung kepada kehendak Allah,

membiarkan urusan dan kehendak Allah melipud segala hal, sementara

kehendak dirinya sendiri dibiarkan bebas. Padahal ddak selayaknya bagi

manusia bergantung kepada kehendak Allah, setelah suatu urusan dia lakukan.

Pendapat-pendapat yang mereka ciptakan sendiri sangat banyak, yang ddak

cukup disebutkan satu persatu di sini.

Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Mengingkari Nubuwah

Iblis telah memperdayai para pengikut Brahma dan Hindu serta lain-

lainnya, seraya menganggap baik pengingkaran terhadap nubuwah, agar jalan

yang bisa menghantarkan kepada Ailah bisa dihalangi. Penduduk India ada

yang ateis, ada yang dualistis, ada yang mengikuti ajaran Brahma, ada yang

hanya meyakini nubuwah Adam dan Ibrahim saja.

Abu Muhammad An-Naubakhd telah menuturkan di dalam KitabulAra

Wad-Diyanat, bahwa ada segolongan orang dari penduduk India yang

9 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

mengikuti ajaran Brahma, mengakui adanya BChaliq, para rasul, surga dan

neraka. Mereka berpendapat bahwa rasul mereka adalah seorang malaikat

yang datang dalam rupa manusia, tanpa membawa kitab, yang memiliki empat

tangan dan dua belas kepala, yang terdiri dari kepala manusia, singa, kuda,

onta, babi dan kepala binatang lainnya. Malaikat ini menyuruh mereka untuk

memuja api, melarang mereka membunuh dan menyembelih binatang, kecuaJi

jika dijadikan korban untuk api. Dia juga melarang dusta dan minum khami,

memperbolehkan zina dan menyuruh mereka menyembelih sapi. Siapa yang

murtad, lalu dia kembali lagi, maka rambutnya harus dipangkas habis hingga

gundul, begitu pula jenggot, alls dan bulu matanya, lalu disuruh menyembah

sapi sambil mengucapkan mantera-mantera sekian lama.

Iblis telah menyusupkan enam macam syubhat kepada para pengikut

Brahma, yaitu:

Pertama: Mereka menganggap mustahil apa-apa yang seharusnya

tersembunyi pada diri rasul, sehingga tidak bisa diketahui yang lain. Karen i

itu mereka berkata,

'‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian.” (Al'Mukminur:

24)

Artinya, “Bagaimana aku bisa melihat apa yang seharusnya tersembumi

pada diri kalian?”

Inilah jawaban syubhat ini: Andaikata mereka mau menggunakaa

akalnya, tentu akal itu bisa menerima jika seseorang memilih orang lain karena

keistimewaan-keistimewaan tertentu, yang karenanya dia lebih unggul dan

orang lain, sehingga dia layak menerima wahjoi. Sebab tidak semua orang

layak menerima wahyu. Tentunya semua orang juga sudah tahu bahwa AUaii

t̂elah menyusun berbagai macam keragaman, lalu mengeluarkan obat yang

dapat menyembuhkan ketidakberesan di badan. Selagi Allah menciptaka i

tanaman dan bebatuan dengan ciri-cirinya yang khusus demi kemaslahatan

badan, maka badan itu justru diciptakan dalam keadaan fana di dunia da:i

kekal di akhirat. Tidak ada yang aneh jika Allah menciptakan seseorang di

antara makhluk-Nya, yang memiliki hikmah lebih unggul dan menyeru ke

jalan-Nya, memperbaiki orang yang berbuat kerusakan di bumi karena akhlak

dan perbuatannya yang buruk. Sebagaimana yang sudah diketahui, oran ;̂-

orang yang mengingkari keberadaan para rasul juga mengakui segi positif

segolongan orang yang memiliki hikmah, untuk meluruskan tabiat orang lain

1 0 0 Perangkap Setan

yang memimpang, dengan memberinya nasihat. Lalu bagaimana mungkin

mereka mengingkari Allah yang menciptakan sebagian manusia yang

membawa risalah, kemaslahatan dan nasihat, agar kehidupan dunia ini menjadi

baik, akhlak mereka menjadi lurus Allah telah mengisyaratkan hal ini dalam

firman-Nya,

“Patutkah menjadi /ceheraruzn hagi manusia bahwa Kami mewahyukan

kepada seorang lakiAaki di antara mereka, ‘Berilah peringatan kepada

manusia?” (Yunus: 2).

Kedua: Mereka berkata, “Mengapa Allah tidak mengangkat seorang

malaikat sebagai rasul? Bukankah malaikat lebih dekat kepada Allah? Di

samping itu, tidak ada yang perlu disangsikan pada diri malaikat. Sebab

manusia itu lebih suka kepada kekuasaan terhadap orang lain, sehingga hal

ini bisa menimbulkan kesangsian.”

Pernyataan mereka seperti ini dapat dijawab dari tiga sudut, yaitu:

Dalam kekuatan malaikat ada inti kekuatan gunung dan padang pasir.

Jadi tidak mungkin menampakkan mukjizat yang menunjukkan

kebenaran para malaikat. Sebab yang namanya mukjizat itu harus

lain dari yang lain, lain dari kebiasaan. Sementara yang lain dari

kebiasaan itu merupakan kebiasaan malaikat. Mukjizat yang nyata

adalah yang muncul dari manusia yang lemah, agar bisa menjadi bukti

kebenarannya.

Sesama jenis lebih mudah mengundang kecenderungan. Maka

sudah benar jika Allah mengutus kepada mereka seseorang dari jenis

mereka sendiri, agar mereka tidak lari darinya dan berpikir tentang

dirinya. Kemudian adanya keistimewaan utusan itu yang tidak dimiliki

yang lain, merupakan bukti kebenarannya.

Kekuatan manusia tidak bisa melihat malaikat. Tetapi Allah

memberikan kekuatan kepada para nabi, sehingga bisa melihat para

malaikat. Karena itu Allah befirman,

“Dan, kalau Kami jadikan rasul itu seorang malaikat, tentulahKamijadikan

dia berupa seorang laki-laki.” (Al-An’am: 9)

Dengan kata lain, agar mereka memperhatikannya, hidup berdekatan

dengannya dan mencari pemahaman darinya. Kemudian Allah befirman lagi

dalam ayat yang sama,

1 .

2 .

3 .

1 0 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

“Dan (kalau Kami jadikan dia herupa seorang laki-laki), tentulah Kam

meragU'Tagukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri merekc.

sendiri."

Dengan kata lain, mereka menjadi sangsi dan ragu-ragu, apakah rasu'

itu malaikat ataukah manusia keturunan Adam?

Ketiga: Mereka berkata, “Kami melihat apa yang disampaikan para nab:

itu, berupa masalah-masalah ghaib dan mukjizat, yang mereka terima lewat

wahyu, tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan para dukun dan tukan^

sihir. Sehingga kami tidak mempunyai bukti lain unruk membedakan mana

yang benar dan mana yang salah.”

Jawaban dapat kami katakan sebagai berikut: Sesungguhnya Allah sudah

menjelaskan berbagai hujjah, membeberkan syubhat dan membebani akal

untuk membedakan yang ini dan yang itu. Tukang sihir tidak mampu

menghidupkan orang yang sudah mati atau merubah tongkat menjadi ular

yang besar. Sedangkan dukun bisa salah dan bisa benar. Keadaan ini berbeda

dengan nabi, yang sama sekali tidak bisa salah.

Keempat: Mereka berkata, “Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, bahwa

para nabi membawa sesuatu yang bisa diterima akal ataupun yang tidak bisa

diterima akal. Jika mereka membawa sesuatu yang ditolak akal, tentunya akal

itu tidak bisa menerimanya. Jika mereka membawa sesuatu yang sesuai dengan

akal, tentunya akal itu membutuhkannya.”

Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Sebagaimana yang sudah

diakui bersama, bahwa banyak manusia yang tidak sanggup menangam

kehidupan dunia, sehingga mereka memerlukan orang lain yang lebih

sempurna, seperti orang-orang yang bijak dan para penguasa. Lalu bagaimana

dengan urusan ilahiyah dan akhirat? Sanggupkah mereka?

Kelima. Mereka berkata, “Berbagai syariat telah turun dengan membawa

hal-hal yang tidak bisa diterima akal. Lalu bagaimana mungkin syariat-syariat

itu bisa dikatakan benar? Misalnya adalah penyembelihan binatang.”

Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Memang akal tidak bisa

menerima penyembelihan terhadap sebagian binatang. Namun jika Khalic]

sudah menetapkan hukum tentang diperbolehkannya menyembeUh binatang,

maka tidak ada alasan bagi akal untuk menolaknya. Jelasnya, akal sudah

mengetahui hikmah yang dimiliki Khaliq, yang di dalamnya tidak ada celah

dan kekurangan. Pengetahuan ini harus disertai ketundukan tentang apa yang

1 0 2 Perangkap Setan

ddak diketahuinya. Selagi ada kerancuan atau keragu-raguan dalam masalah

tertentu, maka kita ddak boleh menetapkan kebadlannya secara mutlak, yang

ternyata di baliknya ada hikmah. Kita tabu bahwa binatang lebih utama

daripada benda mad, kemudian makhluk yang berakal lebih utama daripada

makhluk yang tidak mempunyai akal, karena dia diberi pemahaman,

kecerdikan, kekuatan pandangan dan menggali pengetahuan. Makhluk yang

berakal ini merasa perlu untuk mempertahankan pemahaman dan

kekuatannya, dengan cara mengkonsumsi daging, karena di dalam daging itu

terkandung manfaat yang banyak bagi tubuh manusia. Di samping itu, hewan

binatang diciptakan untuk kemaslahatan hewan yang lebih mulia, yaitu

manusia. Andaikata binatang ddak disembelih, jumlahnya tentu menjadi

semakin membengkak dan tempat penggembalaan tidak mampu

menampungnya, yang akhirnya binatang-binatang itu akan mad sendiri secara

mengenaskan, sehingga justru mengundang rasa belas kasihan manusia.

Sehingga, dalam keadaan seperti ini justru tidak ada manfaatnya sama sekali.

Tentang penderitaan binatang saat disembelih, tidak bisa diukur.

Bahkan ada yang berpendapat, bahwa binatang itu sama sekali tidak

merasakannya, karena rasa sakit hanya ada di dalam selaput otak, yang di

situlah terdapat susunan syaraf perasa. Karena itu jika manusia terdmpa

sesuatu tepat di otaknya atau karena jatuh, maka dia sama sekali tidak

merasakan sakit. Jika urat leher dipotong secepat mungkin, maka rasa sakit

di badan tidak akan sampai ke pusat rasa. Karena itu RasuluUah ̂ bersabda,

o' o ^ A' ‘ f ' ' ' ! r i

“jika  salah seorang di antara kalian menyembelih (binatang), hendaklah

dia menajamkan parangnya dan menggegaskan sembelihannya.”

Keenam: Mereka berkata, “Boleh jadi para rasul membawa syariat

beruntung mendapatkan batu atau kayu yang khusus.”

Jawabannya; Orang yang mengeluarkan perkataan semacam ini layak

merasa malu tentang tujuan yang dikehendakinya. Tidak ada satu pun

pepohonan dan bebatuan melainkan sudah ada kejelasan ciri-ciri dan

kandungannya. Andaikan salah seorang di antara para nabi itu ada yang

beruntung mendapatkan batu tertentu lalu dia menunjukkan keistimewaannya,

maka para pakar tentu akan menolaknya, seraya berkata, “Ini tidak terjadi

karena dirimu, tetapi memang begitulah ciri-cirinya.” Di samping itu, mukjizat

1 0 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

itu tidak hanya satu macam, tetapi bermacam-macam. Ada seekor onta yang

keluar dari celah batu, ada tongkat yang berubah menjadi ular, ada batu yang

memancar mengeluarkan air, termasuk pula A1-Qur’an yang turun sejak

sekian lama. Pendengaran bisa mengetahuinya, pikiran bisa menelaah dan

memahaminya terus-menerus. Seseorang tidak bisa mengkhususkan diri pada

satu surat di dalam Al-Qur’an. Lalu bagaimana jika Al-Qur’an ini

dibandingkan dengan sihir atau mantera-mantera?

Abul-Wafa’ Ali bin Aqil ̂ berkata, “Hati orang-orang ateis keluar dari

agama, karena kalimat yang benar dan syariat menyebar kemana-mana, serta

banyak orang yang mengikuti perintah-perintahnya, seperti Ibnu Ar-Rawandi

dan Abul-Ala’. Apaiagi perkataan mereka tidak lagi dianggap dan

berpengaruh. Semua orang dan semua pendengaran menyimak pengagungan

terhadap masalah Nabi 0serta mengakui apa yang beliau bawa. Manusia

rela mengorbankan harta dan jiwa untuk melaksanakan haji, sekalipun harus

menghadapi berbagai rintangan dan perjalanan yang berat, menijiggalkan

keluarga dan anak-anak.

Di antara mereka ada yang menyusup ke kalangan ahli hadits, ikut

terlibat dalam masalah sanad yang rusak, ikut menetapkan masalah

perikehidupan seseorang dari pengabaran. Di antara mereka ada yang

meriwayatkan sesuatu yang mendekati mukjizat, seperti menyebutkan

keis t imewaan te r ten tu da lam bebatuan dan ha l -ha l d i luar keb iasaan d i

berbagai negeri, pengabaran tentang hal-hal ghaib dan pada dukun dari ahli

nujum. Sampai-sampai ada di antara mereka yang berlaku kelewatan, dengan

mengacu kepada perkataan orang yang sakit ingatan tatkala sedang

dikerangkeng, “Biji gandum di air kencing anak kuda.”

Kini banyak para dukun yang berdialog dengan setan yang menguasai

orang yang gila, lalu orang gila itu mengatakan apa yang pernah terjadi dan

apa yang akan terjadi, yang semuanya itu merupakan khurafat. Siapa yang

melihat orang semacam ini tentu menganggap akalnya kurang waras, begitu

pula tujuan yang hendak dicapai orang-orang ateis dengan perkataannya,

‘Apakah yang dibawa para nabi hanya sebatas ini?”

Perkataan dukun, “Biji gandum di kencing anak kuda”, jauh lebih sulit

dicerna dari apa yang dikatakan seorang nabi (Al-Masih),

- x'.' A ,{ i ^ J T } ^

1 0 4 Perangkap Setan

“Dan, aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang

kalian simpan di rumah kalian." (Ali Imran: 49)

Apakah setelah ini masih ada yang terasa mengganjal di dalam hati?

Bukankah yang semacam ini hanya layak muncul dari seorang nabi?

Demi Allah, apa yang mereka maksudkan itu hanya sebatas yang

tampak di permukaan. Mereka berkata, “Marilah kita memperhatikan lebih

banyak apa yang terjadi di berbagai tempat, pada diri manusia, bintang dan

berbagai benda. Mukjizat yang dialami para nabi itu pasti ada kesesuaiannya

dengan apa yang terjadi dalam kehidupan ini, sehingga mukjizat itu

membenarkan apa yang terjadi dalam kehidupan dan justru membatilkan

apa yang dibawa para nabi sebagai sesuatu yang keluar dari kebiasaan.”

Kemudian ada segolongan orang-orang sufi yang membual bahwa ada

Fulan pernah terjun ke sungai Tigris tatkala sedang membawa bejananya.

Kedka keluar dari sungai, bejananya itu penuh berisi emas. Kejadian ini

clianggap sebagai sesuatu yang biasa karena karamah yang diterima orang-

orang sufi, atau bisa saja hal itu terjadi karena perbuatan ahli nujum, orang-

orang khusus atau dukun. Lalu bagaimana dengan perkataan Isa Al-Masih,

“Dan, aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang

kalian simpan di rumah kalian?” Lalu bagaimana dengan hal-hal yang keluar

dari kebiasaan lainnya? Apakah kebiasaan itu hanya sekadar sesuatu yang

sering terjadi? Jika ada orang berakal dan lurus agamanya memperingatkan

kerusakan hal ini, maka mereka balik bertanya, “Apakah engkau mengingkari

karamahannya para wali?’

Sementara para pakar juga menyerang, “Apakah engkau mengingkari

magnit yang menarik besi?”

Lebih baik jika engkau diam saja menghadapi orang-orang hatinya

sudah dibungkus pengingkaran. Kecelakaan bagi orang-orang yang mengikuti

jalan mereka, seperd orang-orang badniyah, ahli nujum dan penyembah batu.

Sebab mereka tidak percaya kecuali kepada perkataannya sendiri.

Mahasuci Allah yang telah memelihara agama ini dan meninggikan

kalimat-Nya. Semoga sedap golongan yang berada di bawah kekuasaan

kalimat Allah senandasa menjaga nubuwah dan meiibas orang-orang yang

mengingkarinya.

1 0 5Bab V: Talbis Mis dalam Masalah Aqidah

Talbis Iblis terhadap Orang'Orang Yahudi

Iblis telah memperdayai mereka dalam berbagai hal, yang akan kam

sebutkan sebagian di antaranya secara singkat, sekadar sebagai bukd tentang

kebenarannya.

Di antaranya adalah tindakan mereka yang menyerupakan Khaliq

dengan makhluk. Andaikata apa yang mereka lakukan itu benar, tentunya

apa yang diperbolehkan terhadap Allah juga diperbolehkan terhadap mereka.

Abu Abdullah bin Hamid mengisahkan dari rekan-rekan kami tentang

orang-orang Yahudi, yang beranggapan bahwa Allah yang disembah adalah

berupa seorang laki-laki yang terbuat dari api, duduk di atas kursi dan api, di

atas kepalanya tersematkan mahkota dan api, dan dia mempunyai anggota

badan sebagaimana anggota badan manusia.

Mereka juga mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah. Andaikata

mereka mau memahami bahwa hakikat peranakan ddak bisa terjadi kecuali

dengan pertemuan dua unsur peranakan, padahal Khaliq tidak mempunyai

unsur peranakan, karena Dia bukan termasuk sesuatu yang nyata, tentunya

mereka tidak akan berani menyatakan adanya peranakan itu. Di samping itu,

jika ada sebutan anak tentunya ada sebutan bapak. Padahal Uzair tidak bisa

berbuat apa-apa kecuali setelah diberi makan. Sementara yang disebut Allah

adalah yang keberadaan-Nya bisa membuat segala sesuatu tegak, dan bukan

yang ditegakkan sesuatu. Yang mendorong mereka berpendapat seperti ini,

di samping kebodohan mereka terhadap hakikat, karena mereka melihat Uzair

itu dapat bangkit kembali setelah mad, lalu membaca Taurat secara hapalan.

Karena itu mereka berkata yang macam-macam tentang hal ini Di antara

bukd yang menunjukkan kebodohan mereka, ialah tatkala mereka melihat

laut terbelah lalu mereka bisa melewatinya dan menyelamatkan did dari kejaran

Fir’aun, lalu mereka melihat berhala-berhala yang disembah manusia, maka

mereka meminta berhala yang seperti itu,

{\''A [ S S ' L i )

f - !

“Hai Musa, bmtlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka

mempunyai beberapa tuhan (berhala). “(Al-A’raf: 138)

Ketika Musa mencela apa yang mereka pinta itu, ternyata niat itu tetap

terpendam di dalam had mereka. Apa yang tersembunyi ini terlihat jelas tatkala

1 0 6 Perangkap Setan

mereka menyembah anak sapi. Ada dua hal yang menyebabkan mereka

berbuat sepertd ini:

Ketidaktahuan mereka tentang Khaliq.

Mereka menurud apa yang diinginkan rasa, karena mereka terlalu

dikuasai perasaan dan jauh dari pemikiran. Andai bukan karena

kebodohan mereka tentang Khaliq, tentu mereka ddak selancang itu

terhadap Allah, seperd perkataan mereka,

1 .

2 .

1Lw^l a J J l ( ^ l

“Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya. “(Ali Imran: 181)

Begitu pula ucapan mereka.

(Al-Maidah: 64)‘Tangan Allah terbelenggu.

Di antara talbis Iblis terhadap orang-orang Yahudi, bahwa mereka

berkata, “Tidak boleh ada penghapusan syariat.” Padahal mereka tahu, di

antara ajaran agama Adam ialah diperbolehkannya menikahi saudari

sendiri dan mahram serta bekerja pada hari Sabtu. Lalu semua ini dihapus

oleh syariat Musa. Mereka berkata, “Jika Allah memerintahkan sesuatu, maka

itulah yang menjadi ketetapan hukumnya dan ddak boleh diubah.”

Kami katakan, “Pada saat tertentu perubahan justru mendatangkan

hikmah. Perubahan keadaan anak keturunan Adam dari sehat ke sakit, dari

sakit ke sehat, membawa hikmah tersendiri. Adakalanya ada suam pekerjaan

yang harus engkau kefjakan pada hari Sabtu dan engkau baru menganggur

pada hari Ahad. Inikah jenis yang engkau ingkari? Allah juga telah

memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya, kemudian

melarangnya.”

Di antara talbis Iblis terhadap orang-orang Yahudi lainnya adalah yang

tecermin dalam ucapan mereka,

{a.

“Kami sekali'kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa

hari saja.’’ (Al-Baqarah: 80)

Maksudnya ialah selama mereka menyembah anak sapi. Sementara

kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan amat banyak. Kemudian Iblis

1 0 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

mendorong mereka untuk membangkang secara total, hingga mereka

mengingkari apa pun yang tertulis di dalam kitab mereka, seperti sifat Nabi

Muhammad Sdan merubahnya. Padahal mereka telah diperintahkan unmk

beriman kepada beliau. Rupanya mereka ridha terhadap siksa akhirat. Para

ulama mungkir dan orang-orang yang bodoh mengikuti mereka. Yang aneh,

mereka mengubah apa yang diperintahkan dan merombak sesuatu dengan

keingnan mereka. Lalu di mana ibadah harus diletakkan di hadapan orang

yang meninggalkan perintah dan berbuat semau sendiri menurut hawa

nafsunya? Kemudian mereka menentang Musa dan menyembahnya, hingga

mereka mengatakan bahwa beliau adalah Adar. Bahkan mereka menuduh

beliau telah membunuh Harun dan menuduh Daud telah menikahi Auria.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah Smendatangi Baitul-

Midras, seraya bersabda, ‘Tergilah kalian ke orang yang paling pandai di antara

k a l i a n . ”

Maka mereka menemui Abdullah bin Shuria. Lalu beliau berbicara

berdua dengannya, mengajaknya kepada Allah dan masuk agama-Nya,

mengingatkan apa yang pernah dilimpahkan Allah kepada mereka, yang telah

memberikan Manna dan Salwa kepada mereka serta memayungi mereka

dengan awan.

“Tahukah kalian bahwa aku adalah Rasul Allah?” tanya beliau.

Mereka menjawab, “Demi Allah, kami mengetahuinya. Mereka juga

tahu seperti yang kuketahui. Sifat dan ciri-cirimu sudah dijelaskan di dalam

Taurat. Tetapi mereka mendendam kepadamu.”

“Kalau begitu apa yang menghalangi dirimu?’ tanya beliau.

Abdullah bin Shuria menjawab, ‘A.ku tidak ingin berseberangan dengan

kaumku. Semoga saja mereka mau mengikutimu dan masuk Islam, sehingga

aku pun akan masuk Islam.”

Dari Salamah bin Salamah bin Waqsy, dia berkata, “Kami mempunyai

seorang tetangga Yahudi dan Bani Abdil-Asyhal. Suatu hari dia keluar dari

rumahnya sebelum RasuluUah diangkat sebagai rasul, hingga dia tiba di tempat

pertemuan Bani Al-Asyhal. Salamah menuturkan, “Saat itu aku adalah orang

yang paling muda di antara semua yang ada. Aku tidur telentang di serambi

rumah sambil mengenakan mantel. Lalu orang Yahudi itu menyebut-nyebut

tentang hari berbangkit, Hari Kiamat, hisab, timbangan, surga dan neraka.”

1 0 8 Perangkap Setan

Dia berkata, “Adapun orang-orang yang syirik dan penyembah berhala

tidak mengenal kebangkitan manusia sesudah kematian.”

Orang-orang naenyanggahnya, “Celaka kau hai Fulan. Begitukah

pendapatmu tentang manusia? Jika manusia dibangkitkan lagi sesudah mad,

apakah mereka ada yang dibawa ke surga atau ke neraka sebagai balasan

perbuatannya?”

“Benar ”jawab orang Yahudi itu, “demi yang mau bersumpah kepada

Allah, salah seorang di antara mereka ingin merasakan api neraka itu barang

sesaat, maka dia bisa berada di atas tungku api yang besar di dalam rumahnya,

lalu tetap berada di atasnya. Namun besok dia akan selamat dari api itu.”

“Celaka kau,” kata orang-orang, “apa buktinya?”

‘Akan ada seorang nabi yang diutus dari negeri ini,” katanya sambil

menunjuk ke arah Makkah dan Yaman.

“Kapan kami bisa melihatnya?”

Orang Yahudi itu memandang ke arahku, yang saat itu aku paling muda.

Dia berkata, “Jika umur anak ini panjang, maka dia akan melihamya.”

Salamah berkata, “Demi Allah, rasanya siang dan malam lama sekali

berlalu, hingga Allah mengutus Rasulullah orang yang berasal dan kalangan

kami. Maka kami beriman kepada beliau, sementara orang Yahudi itu kufur

dan dengki. Lalu kami berkata kepadanya, “Celaka kau hai Fulan. Bukankah

engkau dulu yang berkata kepada kami seperti yang telah engkau katakan?”

Dia menjawab, “Benar. tetapi yang kumaksudkan bukan dia.”

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Nasrani

Talbis Iblis terhadap mereka banyak sekali. Di antaranya, Iblis membuat

mereka beranggapan bahwa Allah adalah satu substansi. Orang-orang yang

mengikuti Ya’qub (Ya’qubiyah), pengikut agama yang menuhankan malaikat

(Malakiyah) dan para pengikut Nestorius mengatakan bahwa Allah itu

merupakan satu substansi terdiri dari tiga oknum. Substansi Allah itu satu

terdiri dari tiga oknum (Person of Trinity). Tuhan yang pertama adalah Bapak,

yang kedua Anak dan yang kedga Roh Kudus. Sebagian di antara mereka

mengatakan bahwa tuhan-tuhan ini adalah para pemimpin, sebagian lain

mengatakannya sifat dan sebagian lain mengatakannya pribadi-pribadi

tertentu. Mereka lupa bahwa andaikata Allah itu substansi, tentunya akan

1 0 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

berlaku bagi Allah apa yang berlaku bagi substansi, seperti berada di suatu

tempat, bergerak, diam dan lain-lainnya. Kemudian sebagian yang lain

menganggap bahwa Al-Masih itulah AHah.

Abu Muhammad An-Naubakhti berkata, “Golongan Malakiyah dan

Ya’qubiyah berpendapat bahwa bayi yang dilahirkan Maryam adalah Allah.

Sementara IbHs memperdayai sebagian di antara mereka bahwa Al-Masih

adalah anak Al lah.”

Sebagian yang lain mengatakan bahwa Al-Masih memiliki dua substansi,

lama dan baru. Di samping pendapatnya seperti ini mereka juga menetapkan

bahwa Al-Masih memerlukan makanan. Tidak ada pertentangan tentang

masalah ini. Kalau pun akhirnya Al-Masih disalib dan dia tidak sanggup

melindungi dirinya sendiri, maka mereka menjawab, bahwa hal ini terjadi

karena dalam kapasitasnya sebagai manusia. Maka adakah unsur kemanusiaan

yang dapat menolak unsur ketuhanan?

Kemudian Iblis memperdayai mereka tentang masalah nabi kita

Muhammad 0, hingga mereka mengingkari beliau. Padahal nama beliau telah

disebutkan di dalam InjU. Di antara Ahli Kitab ada yang berkata tentang

nabi kita, “Memang dia adalah seorang nabi. Tetapi dia diutus hanya kepada

bangsa Arab.” Tentu saja ini merupakan talbis Iblis yang memperdayai mereka

tentang masalah ini. Kalau memang ada ketetapan bahwa beliau adalah

seorang nabi, tentunya beliau tidak akan berdusta. Sementara beliau bersabda,

“Aku diutus kepada manusia semuanya.” Begitu pula yang beliau tulis dalam

surat yang dikirimkan kepada Qishra dan Kaisar serta berbagai raja di luar

A r a b .

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Yahudi dan Nasrani

Mereka berkata, “Allah tidak akan mengadzab kami karena ada orang-

orang yang terdahulu di antara kami, karena di antara kami ada para wali dan

n a b i . ”

Allah telah memberitahukan kepada kita tentang perkataan mereka

yang tidak mendasar sama sekali,

1jaU 1 1{lA .

“Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Al-

Maidah: 18)

1 1 0 Perangkap Setan

Dengan kata lain, karena di tengah kami ada anak Allah, yaitu Uzair

dan Isa Al-Masih. Kebohongan ini dapat disingkap sebagai berikut: Setiap

orang akan dituntut berdasarkan hak Allah atas dirinya. Hal ini tidak bisa

ditolak karena adanya hubungan kekerabatan. Jika karena cinta mendorong

seseorang untuk berbuat zhalim kepada orang lain karena hubungan

kekerabatannya, tentunya dia juga akan berbuat zhalim kepada yang lain lagi.

Sementara Nabi pernah bersabda kepada putri beliau, Fathimah, “Aku

tidak bisa berkuasa sedikit pun terhadap dirimu dari ketetapan Allah.”

Keutamaan orang yang dicintai ialah karena takwa. Siapa yang tidak rh