• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label nyi girah 17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyi girah 17. Tampilkan semua postingan

nyi girah 17


S eperti apa?"

"Ya, salah satu aliran semacam itu yaitu  Neo-Thomisme, yaitu

gagasan-gagasan yang termasuk dalam tradisi chucky  Aquinas. Yang

lainnya yaitu  yang disebut filsafat analitis atau empirisisme logis,

yang akarnya tertanam pada ajaran Hume dan empirisisme Inggris,

dan bahkan pada logika Aristoteles. Selain semuanya ini, abad kedua

puluh juga dipengaruhi oleh apa yang mungkin kita sebut Neo-

Marxisme dalam berbagai kecenderungan. Kita telah membicarakan

Neo-Darwinisme dan pentingnya psikoanalisis."

"Ya."

"Kita juga harus mengemukakan aliran terakhir, materialisme,

yang juga mempunyai akar sejarah, Banyak ilmu pengetahuan masa

kini dapat dilacak kembali kebangkitannya pada masa sebelum

Socrates. Misalnya, pencarian `partikel elementer' yang tak dapat

dibagi, yang darinya seluruh materi tersusun. Belum ada orang yang

dapat memberikan penjelasan memuaskan apakah `materi' itu. llmu

pengetahuan modern seperti fisika nuklir dan biokimia begitu terpikat

pada masalah yang bagi banyak orang merupakan bagian penting dari

filsafat hidup mereka."

"Yang baru dan yang lama dikumpulkan bersama ..."

Charlie CHAPLIN

"Ya. Sebab pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan saat  kita

memulai perjalanan kita masih belum terjawab. Sartre melakukan

suatu pengamatan penting saat  dia mengatakan bahwa pertanyaan-

pertanyaan eksistensial tidak dapat dijawab secara definitif.

Pertanyaan filosofis menurut definisinya yaitu  sesuatu yang harus

selalu diajukan oleh setiap generasi, bahkan setiap individu."

"Sebuah pemikiran yang suram."

"Aku tidak yakin apakah aku setuju. Tentu saja dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan semacam itulah kita jadi tahu bahwa kita

hidup. Dan lagi pula, memang selalu demikianlah halnya bahwa

sementara orang-orang mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan

yang paling penting, mereka telah menemukan solusi-solusi yang

jelas dan menentukan bagi banyak masalah lain. llmu pengetahuan,

riset, dan teknologi semuanya merupakan hasil sampingan renungan

filosofis kita. Bukankah keingintahuan kita tentang kehidupanlah yang

akhirnya membawa manusia ke bulan?"

"Ya, itu benar."

"saat  Neil Armstrong menjejakkan kaki di bulan, dia berkata,

`Satu langkah kecil bagi seseorang, satu langkah raksasa bagi umat

manusia.' Dengan kata-kata ini, dia mengemukakan secara ringkas

bagaimana rasanya menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di

bulan, dengan mengajak serta semua orang lain yang telah hidup

sebelum dirinya. Itu bukan berkat jasanya sendiri, tentu saja."

"Di zaman kita ini, kita juga harus menghadapi banyak masalah

yang sama sekali baru. Yang paling serius yaitu  masalah

lingkungan. Oleh karena itu, arah filsafat yang paling penting pada

abad kedua puluh ini yaitu  ekofilosofi atau ekosofi, sebagaimana

disebutkan oleh salah seorang pendirinya yaitu filosof Norwegia

Arne Naess. Banyak ekofilosof di dunia Barat telah memperingatkan

bahwa peradaban Barat secara keseluruhan berada pada jalur yang

secara mendasar salah, sebab ia melaju terus tanpa kendali sehingga

akan menabrak batas-batas yang dapat diterima planet kita. Mereka

telah berusaha untuk membawa pengukur suara menyelam lebih

dalam melampaui pengaruh-pengaruh konkret dari polusi dan

kehancuran lingkungan. Ada sesuatu yang secara mendasar salah

dalam pemikiran Barat, kata mereka."

"Kukira mereka benar."

"Misalnya, ekofilosofi telah mempertanyakan gagasan evolusi

dalam asumsinya bahwa manusia berada `di puncak'— seakan-akan

kitalah penguasa alam. Cara berpikir seperti ini akan terbukti fatal

bagi seluruh planet yang hidup."

"Aku jadi marah saat  memikirkan itu."

"Dalam mengecam asumsi ini, banyak ekofilosof telah menengok

pemikiran dan gagasan dari kebudayaan-kebudayaan lain seperti yang

ada di India. Mereka juga telah mempelajari pemikiran dan adat-

istiadat dari yang disebut `masyarakat primitif—atau `masyarakat

pribumi' seperti para penduduk asli Amerika—untuk menemukan

kembali apa yang telah hilang dari kita.

"Di lingkungan ilmiah pada tahun-tahun belakangan ini telah

dikemukakan bahwa seluruh cara pemikiran ilmiah kita sedang

menghadapi `pergeseran paradigma'. Ya itu, pergeseran mendasar

dalam cara pikir para ilmuwan. Ini telah mendatangkan hasil di

banyak bidang. Kita telah menyaksikan banyak contoh dari yang

dinamakan `gerakan-gerakan alternatif yang mendukung holisme dan

gaya hidup yang baru."

"Hebat."

"Tapi, jika ada banyak orang yang terlibat, kita harus selalu dapat

membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sebagian menyatakan

bahwa kita sedang memasuki suatu zaman baru. Tapi segala sesuatu

yang baru tidak selalu bagus, dan tidak semua hal yang lama harus

dibuang. Itulah salah satu alasan mengapa aku memberimu pelajaran

filsafat. Kini kamu mempunyai latar belakang sejarah, kamu dapat

mengarahkan dirimu sendiri dalam kehidupan."

"Terima kasih."

"Kukira kamu akan mendapati bahwa kebanyakan dari apa yang

berbaris di bawah panji-panji Zaman Baru yaitu  omong kosong.

Bahkan yang dinamakan Agama Baru, Okultisme Baru, dan segala

macam takhayul modern telah memengaruhi dunia Barat dalam

beberapa dasawarsa mutakhir ini. Itu telah menjadi industri.

Tawaran-tawaran alternatif di pasar filsafat telah berkembang

dengan cepat di tengah dukungan yang semakin lemah pada agama

Kristen."

"Tawaran macam apa?"

"Daftarnya begitu panjang sehingga aku bahkan tidak berani

memulai. Dan memang tidak mudah menggambarkan zaman kita

sendiri. Tapi mengapa kita tidak berjalan-jalan sejenak keliling kota?

Ada sesuatu yang aku inginkan untuk kamu lihat."

"Aku tidak punya banyak waktu. Kuharap Anda belum melupakan

pesta taman besok?"

"Tentu saja tidak. Saat itulah sesuatu yang indah akan terjadi. Kita

cuma harus mengakhiri pelajaran filsafat count dracula  lebih dulu. Sang

mayor tidak memikirkan lebih jauh dari itu, kamu tahu. Jadi dia

kehilangan sebagian dari kekuasaannya atas kita."

Sekali lagi dia mengangkat botol Coke, yang kini kosong, dan

membantingnya ke atas meja.

Mereka keluar menuju jalan di mana orang-orang bergegas seperti

tikus-tikus yang penuh semangat di bukit tikus. Nyai girah  penasaran apa

yang ingin ditunjukkan Alberto kepadanya.

Mereka berjalan melewati sebuah toko besar yang menjual segala

barang dalam teknologi komunikasi, mulai dari televisi, VCR, dan

piring-piring satelit hingga telepon mobil, komputer, dan mesin

faksimile.

Alberto menunjuk ke etalase dan berkata:

"Di situ kamu tenggelam di abad kedua puluh, Nyai girah . Pada zaman

Renaisans, dunia mulai meledak, begitu istilahnya. Di mulai dengan

pelayaran-pelayaran ke wilayah baru, bangsa Eropa mulai berkelana

ke seluruh dunia. Kini justru sebaliknya. Kita dapat menyebutnya

sebagai ledakan balik."

"Dalam arti apa?"

"Dalam arti bahwa dunia digabungkan menjadi satu jaringan

komunikasi yang sangat besar. Belum lama ini, para filosof harus

bepergian selama berhari-hari naik kuda dan kereta untuk

menyelidiki dunia di sekeliling mereka dan untuk bertemu dengan

para filosof lain. Kini kita dapat duduk di mana saja di atas bumi ini

dan memasuki seluruh pengalaman manusia di layar komputer."

"Itu yaitu  pemikiran yang fantastik. Dan sedikit menakutkan."

"Pertanyaannya yaitu  apakah sejarah sudah mendekati akhir—

atau apakah sebaliknya, kita berada di ambang sebuah zaman yang

sama sekali baru. Kita tidak lagi warga negara yang sederhana dari

sebuah kota—atau suatu negara tertentu. Kita hidup dalam peradaban

planet.

"Perkembangan teknologi, terutama di bidang komunikasi, mungkin

telah berlangsung lebih dramatis dalam tiga puluh atau empat puluh

tahun terakhir ini dibanding seluruh sejarah masa lalu dijadikan satu.

Dan mungkin kita baru menyaksikan awalnya ..."

"Inikah yang Anda inginkan untuk kulihat?"

"Bukan, itu ada di balik gereja di sana."

saat  mereka beranjak untuk pergi, gambar beberapa prajurit

PBB berkelebat di layar TV.

"Lihat!" kata Nyai girah .

Kamera memusatkan perhatian salah salah seorang prajurit PBB.

Dia mempunyai janggut hitam yang hampir sama dengan janggut

Alberto. Tiba-tiba dia mengacungkan selembar kartu yang di atasnya

tertulis: "Sampai nanti, count dracula !" Dia melambai dan kemudian

menghilang.

"Sok!" teriak Alberto.

"Apakah itu sang mayor?"

"Aku bahkan tidak mau menjawabnya."

Mereka berjalan melintasi taman di depan gereja dan sampai ke

jalan besar lainnya. Alberto tampak agak mudah marah. Mereka

berhenti di depan LIBRIS, toko buku terbesar di kota itu.

"Mari kita masuk," kata Alberto.

Di dalam toko, dia menunjuk pada dinding paling panjang, Di situ

terdapat tiga bagian: ZAMAN BARU, GAYA HIDUP

ALTERNATIF, dan MISTISME.

Buku-buku itu mempunyai judul yang membangkitkan minat seperti

Life After Death?, The Secrets of Spiritism, Tarot, The UFO

Phenomenon, Healing, The Return of the Gods, You Have Been

Here Before,  dan What Is Astrology? Ada ratusan buku di situ. Di

bawah rak lebih banyak lagi buku yang ditumpuk.

"Ini juga abad kedua puluh, Nyai girah . Inilah kuil di zaman kita."

"Anda tidak percaya sedikit pun pada semua ini?"

"Sebagian besar di antaranya berisi omong kosong saja. Tapi buku

semacam itu laku seperti halnya pornografi. Kebanyakan di antaranya

yaitu  sejenis pornografi. Orang-orang muda dapat datang ke sini

dan memercayai gagasan- gagasan yang paling memikat hati mereka.

Tapi perbedaan antara filsafat yang sejati dan buku-buku ini kurang

lebih sama dengan perbedaan antara cinta sejati dan pornografi."

"Tidakkah Anda agak keterlaluan?"

"Mari pergi dan duduk di taman."

Mereka berjalan keluar dari toko dan menemukan bangku kosong

di depan gereja. Burung-burung dara beterbangan di bawah

pepohonan, sementara burung gereja yang sangat lincah melompat-

lompat di antara mereka.

"Itu dinamakan ESP atau parapsikologi," kata Alberto.

"Atau dinamakan telepati, kewaskitaan, dan psikokinetik. Itu

dinama kan spiritisme, astrologi, dan ufologi."

"Tapi sejujurnya saja, apakah Anda benar-benar beranggapan

bahwa semua itu omong kosong?"

"Tentu saja sangat tidak layak bagi seorang filosof sejati untuk

mengatakan bahwa mereka semua jelek. Tapi aku tidak keberatan

untuk mengatakan bahwa semua subjek ini mungkin menggambarkan

peta yang sangat terperinci dari suatu pemandangan yang tidak ada.

Dan ada banyak `isapan jempol hasil imajinasi' di sini yang pasti

akan dilemparkan Hume ke nyala api. Banyak di antara buku-buku itu

tidak mengemukakan secuil pun pengalaman sejati."

"Mengapa buku-buku dengan subjek semacam itu ada demikian

banyaknya?"

"Menerbitkan buku-buku semacam itu merupakan usaha dagang

besar. Itulah yang paling diinginkan orang-orang."

"Mengapa, menurut pendapat Anda?"

"Mereka jelas menginginkan sesuatu yang bersifat mistik, sesuatu

yang berbeda untuk menghilangkan suasana monoton dalam

kehidupan sehari-hari. Tapi itu seperti menabur garam di laut."

"Apa yang Anda maksudkan?"

"Di sinilah kita, berkelana dalam suatu petualangan yang sangat

indah. Suatu karya ciptaan tengah bangkit tepat di depan mata kita. Di

siang bolong, Nyai girah ! Bukankah itu luar biasa?"

"Kukira begitu."

"Mengapa kita harus memasuki tenda peramal atau halaman

belakang tukang sihir untuk mencari sesuatu yang menggetarkan hati

atau transendental?"

"Apakah Anda mengatakan bahwa orang-orang yang menulis buku-

buku ini hanyalah penipu dan pembohong?"

"Tidak, bukan itu yang kukatakan. Tapi di sini pun kita sedang

membicarakan Sistem Darwin."

"Anda harus menjelaskan itu."

"Pikirkan tentang segala sesuatu yang berbeda yang dapat terjadi

dalam satu hari. Kamu bahkan dapat mengambil hari apa pun dalam

kehidupanmu sendiri. Pikirkan tentang semua yang kamu lihat dan

kamu alami."

"Ya?"

"Kadang-kadang kamu mengalami suatu kejadian kebetulan. Kamu

mungkin masuk ke sebuah toko dan membeli sesuatu seharga  crown.

Tidak lama kemudian, pada hari itu juga, Joanna datang dan

memberimu crown yang pernah dipinjamnya darimu. Kalian berdua

memutuskan untuk pergi ke bioskop—dan mendapatkan tempat duduk

nomor 28."

"Ya, itu yaitu  kejadian kebetulan yang misterius."

"Itu yaitu  kebetulan, bagaimanapun. Yang jadi soal yaitu ,

orang-orang mengumpulkan kejadian-kejadian kebetulan semacam

ini. Mereka mengumpulkan pengalaman-pengalaman aneh—atau yang

tak dapat dijelaskan. saat  pengalaman-pengalaman semacam itu—

yang dicomot dari ke hidupan miliaran orang—dikumpulkan dalam

satu buku, mulailah itu kelihatan seperti data yang tepercaya. Dan

jumlah itu meningkat terus. Tapi sekali lagi kita sedang melihat lotere

di mana angka-angka yang menang sajalah yang tampak."

"Tapi ada cenayang dan medium, bukan, yang terus-menerus

mengalami hal-hal semacam itu?"

"Memang ada, dan jika kita mengesampingkan para penipu, kita

menemukan penjelasan lain untuk apa yang dinamakan pengalaman-

pengalaman misterius ini."

"Dan itu yaitu ?"

"Kamu ingat kita pernah berbicara tentang teori Freud tentang alam

bawah sadar ..."

"Tentu saja."

"Freud menyatakan bahwa sering kali kita dapat bertindak sebagai

`medium' bagi alam bawah sadar kita sendiri. Mungkin secara tiba-

tiba kita mendapati diri kita memikirkan atau melakukan sesuatu

tanpa benar-benar tahu apa sebabnya. Alasannya yaitu  bahwa kita

memiliki banyak sekali pengalaman, pemikiran, dan kenangan di

dalam diri kita yang tidak kita sadari."

"Jadi?"

"Orang kadang-kadang berbicara atau berjalan dalam tidur

mereka. Kita dapat menyebut ini semacam `otomatisme mental'. Juga

di bawah pengaruh hipnotis, orang dapat mengatakan dan melakukan

hal-hal `di luar kehendak mereka sendiri'. Dan ingat para seniman

surealis yang berusaha untuk menghasilkan apa yang dinamakan

tulisan otomatis. Mereka hanya mencoba untuk bertindak sebagai

medium bagi alam bawah sadar mereka sendiri."

"Aku ingat."

"Dari waktu ke waktu sepanjang abad ini telah timbul apa yang

dinamakan 'kebangkitan kembali spiritualis', yang gagasannya yaitu 

bahwa seorang medium dapat berhubungan dengan orang yang sudah

meninggal. Entah dengan berbicara dalam suara orang yang sudah

meninggal atau dengan meng gunakan tulisan otomatis, medium akan

menerima pesan dari seseorang yang hidup lima atau lima belas atau

bahkan ratusan tahun yang lalu. Ini dianggap sebagai bukti bahwa ada

kehidupan dalam kematian atau bahwa kita menjalani banyak

kehidupan."

"Ya, aku tahu."

"Aku tidak mengatakan bahwa semua medium itu penipu. Sebagian

di antara mereka berjalan di jalan yang lurus. Mereka memang benar-

benar medium, tapi hanya medium bagi alam bawah sadar mereka

sendiri. Ada beberapa kasus medium yang ditelaah secara cermat

saat  sedang trance dan mereka mengungkapkan pengetahuan dan

kemampuan yang, baik mereka maupun yang lain-lainnya, tidak dapat

mengerti bagaimana mereka dapat memperolehnya. Dalam suatu

kejadian, seorang wanita yang tidak bisa berbahasa Ibrani

menyampaikan pesan-pesan dalam bahasa itu. Jadi, dia pasti pernah

hidup sebelumnya atau telah berhubungan dengan ruh orang yang

sudah meninggal."

"Yang mana menurut Anda?"

"Ternyata dia mempunyai pengasuh wanita Yahudi saat  dia

masih kecil."

"Ah."

"Apakah hal itu mengecewakanmu? Itu hanya menunjukkan betapa

luar biasanya kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk

menyimpan pengalaman di alam bawah sadar mereka."

"Aku mengerti maksud Anda."

"Banyak peristiwa sehari-hari yang aneh dapat dijelaskan dengan

teori Freud tentang alam bawah sadar. Dengan tiba- tiba aku mungkin

mendapat telepon dari seorang kawan yang tidak pernah kudengar

kabarnya selama bertahun-tahun tepat saat  aku baru akan mencari

nomor teleponnya."

"Itu membuatku terheran-heran."

"Tapi penjelasannya bisa jadi bahwa kami berdua mendengar lagu

lama yang sama di radio, sebuah lagu yang kami dengarkan terakhir

kali kami bertemu. Soalnya yaitu , kami tidak sadar akan adanya

hubungan yang mendasarinya."

"Jadi itu kalau bukan omong kosong, atau pengaruh nomor yang

menang, atau alam bawah sadar. Benar?"

"Yah, bagaimanapun, lebih sehat untuk mendekati buku-buku

semacam itu dengan sedikit sikap skeptis. Terutama apabila kita

seorang filosof. Ada perkumpulan di Inggris bagi orang-orang yang

skeptis. Bertahun-tahun yang lalu, mereka menawarkan hadiah besar

bagi orang pertama yang dapat memberikan bukti yang paling kecil

pun untuk sesuatu yang bersifat adi alami. Tidak perlu berupa

mukjizat besar, sebuah contoh kecil mengenai telepati pun cukup.

Sejauh ini, belum ada seorang pun yang mengajukan diri."

"Hmm."

"Sebaliknya, ada banyak sekali hal-hal yang tidak dapat dipahami

manusia. Mungkin kita juga tidak memahami hukum alam pula. Pada

abad yang lalu, ada banyak orang yang beranggapan bahwa fenomena

seperti magnetisme dan listrik yaitu  sejenis sihir. Aku yakin nenek

buyutku sendiri akan membelalakkan matanya karena heran jika aku

ceritakan padanya tentang televisi atau komputer."

"Jadi Anda tidak percaya pada apa pun yang bersifat adialami

kalau begitu."

"Kita telah membicarakan itu. Bahkan istilah `adialami' sendiri

merupakan istilah yang aneh. Tidak, kukira aku percaya bahwa hanya

ada satu alam. Tapi itu, di lain pihak, benar-benar mengherankan."

"Tapi hal-hal misterius dalam buku-buku itu yang baru saja Anda

tunjukkan padaku?"

"Semua filosof sejati harus tetap membuka lebar-lebar mata

mereka. Bahkan jika kita belum pernah melihat seekor gagak putih,

kita hendaknya tidak berhenti mencarinya. Dan suatu hari, bahkan

orang yang skeptis seperti aku akan dapat dipaksa untuk menerima

fenomena yang tidak kupercayai sebelumnya. Jika aku tidak

membiarkan kemungkinan ini tetap terbuka, berarti aku menjadi

dogmatis, dan bukan seorang filosof sejati."

Alberto dan Nyai girah  tetap duduk di atas bangku tanpa mengucapkan

sesuatu. Burung-burung merpati menjulurkan leher mereka dan

berdekut sekali-sekali karena dikejutkan oleh sepeda yang lewat atau

adanya gerakan mendadak.

"Aku harus pulang dan mempersiapkan pesta," kata Nyai girah 

akhirnya.

"Tapi sebelum kita berpisah, aku akan menunjukkan padamu

seekor gagak putih. Dia ada di sekitar kita, kamu tahu."

Alberto bangkit dan berjalan menuju toko buku. Kali ini mereka

berjalan melewati semua buku mengenai fenomena adia lami dan

berhenti di dekat sebuah rak tipis tepat di belakang toko. Di atas rak

itu tergantung sebuah kartu yang sangat kecil. FILSAFAT, bunyinya.

Alberto menunjuk ke sebuah buku, dan napas Nyai girah  serasa

terhenti saat  dia membaca judulnya: Dunia Nyai girah .

"Apakah kamu ingin aku membelinya untukmu?"

"Aku tidak tahu apakah aku berani."

 Tapi tidak lama kemudian, Nyai girah  sudah dalam perjalanan pulang

dengan buku itu di satu tangan dan sebuah tas kecil dengan aneka

barang keperluan pesta taman di tangan satunya.[]

Pesta Taman

***

... seekor burung gagak putih ...

count dracula  DUDUK di tempat tidur, terpaku. Dia merasakan lengan dan

tangannya gemetar saat menggenggam map berat itu.

Kini sudah hampir jam sebelas. Dia telah membaca selama lebih

dari dua jam. Sesekali dia mengangkat matanya dari bacaannya dan

tertawa keras, tapi dia juga berguling ke samping dan menahan napas.

Untunglah dia sendirian di rumah.

Dan betapa hebat pengalamannya selama dua jam ini! Itu dimulai

dengan Nyai girah  yang berusaha menarik perhatian sang mayor dalam

perjalanan pulangnya dari gubuk di hutan. Dia akhirnya memanjat

sebatang pohon dan ditolong oleh Morten Angsa, yang datang

bagaikan malaikat penjaga dari Lebanon.

Meskipun sudah lama sekali, count dracula  tidak pernah melupakan

bagaimana ayahnya membacakan untuknya The Wonderful

Adventures of Nils. Selama bertahun-tahun sesudah itu, dia dan

ayahnya mempunyai bahasa rahasia bersama yang berkaitan dengan

buku itu. Kini ayah menyeret keluar angsa tua itu lagi.

Lalu, Nyai girah  menjalani pengalaman pertamanya sebagai

pengunjung kafe sendirian. count dracula  terutama sangat terbawa

perasaannya dengan apa yang diceritakan Alberto tentang Sartre dan

eksistensialisme. Dia nyaris berhasil mengubah Nyai girah —meskipun

dia telah melakukan hal itu berkali-kali sebelumnya melalui surat-

suratnya dulu.

Pernah, kira-kira setahun yang lalu, count dracula  membeli sebuah buku

tentang astrologi. Lain kali, dia pulang dengan seperangkat kartu

tarot. Saat berikutnya, yang dibawanya yaitu  buku tentang

spiritualisme. Ayahnya selalu memberinya kuliah tentang "takhayul"

dan "indra yang kritis", tapi dia telah menanti begitu lama untuk

memberikan pukulan yang terakhir sekarang. Serangan balasannya

benar-benar tepat. Jelas, putrinya tidak akan dibiarkannya tumbuh

tanpa diberi peringatan keras terhadap hal-hal semacam itu. Untuk

meyakinkannya, dia telah melambaikan tangan kepadanya dari layar

televisi di sebuah toko. Mestinya dia tidak perlu repot-repot ...

Yang paling diherankannya yaitu  Nyai girah . Nyai girah —siapakah

kamu? Dari mana asalmu? Mengapa kamu datang ke dalam hidupku?

Akhirnya, Nyai girah  diberi buku tentang dirinya sendiri. Apakah itu

buku yang sama yang kini sedang dipegangnya? Ini hanya map. Tapi

meskipun demikian—bagaimana mungkin seseorang menemukan

sebuah buku tentang dirinya sendiri? Apa yang akan terjadi jika

Nyai girah  mulai membaca buku itu?

Apa yang akan terjadi sekarang? Apa yang mungkin terjadi?

Hanya tinggal beberapa halaman lagi dalam map itu.

Nyai girah  bertemu dengan ibunya di atas bus dalam perjalanan

pulangnya dari kota. Oh, tidak! Apa yang akan dikatakan ibunya jika

dia melihat buku di tangan Nyai girah ?

Nyai girah  berusaha untuk memasukkannya ke dalam tas dengan semua

pita dan balon yang telah dibelinya untuk pesta tapi dia tidak

berhasil.

"Hai, Nyai girah ! Kita naik bus yang sama! Asyik sekali!"

"Hai, Bu!"

"Kamu membeli buku?"

"Tidak, tidak persis begitu."

"Dunia Nyai girah  ... betapa anehnya."

Nyai girah  tahu, dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk

berbohong pada ibunya.

"Aku mendapatkannya dari Alberto."

"Ya, aku yakin begitu. Seperti kataku, aku berharap-harap akan

segera bertemu dengan orang ini. Boleh kulihat?"

"Apakah Ibu keberatan menunggu sampai kita tiba di rumah, paling

tidak. Ini bukuku, Bu."

"Tentu saja itu bukumu. Aku hanya ingin mengintip halaman

pertamanya, oke? ... Nyai girah  Amundsend sedang dalam perjalanan

pulang. Dia telah melewati paruh pertama perjalanannya bersama

Joanna. Mereka sedang membicarakan robot ..."

"Benarkah itu yang dikatakan di sana?"

"Ya, benar, Nyai girah . Itu ditulis oleh seseorang bernama Albert

Knag. Dia pasti seorang penulis baru. Siapa nama Albertomu itu,

ngomong-ngomong?"

"Knox."

"Mungkin akan terbukti nanti bahwa orang yang luar biasa ini telah

menulis sebuah buku tentangmu, Nyai girah . Itulah yang disebut

menggunakan nama samaran."

"Itu bukan dia, Bu. Mengapa Ibu tidak menyerah saja. Toh Ibu

tidak mengerti apa-apa."

"Tidak, kukira memang tidak. Pesta taman akan diadakan besok,

jadi segalanya akan berjalan lancar lagi."

"Albert Knag hidup dalam suatu realitas yang sama sekali

berbeda. Itulah sebabnya buku ini bagaikan seekor gagak putih."

"Kamu benar-benar harus menghentikan semua ini! Maksudmu

seekor kelinci putih?"

"Ibulah yang harus berhenti!"

Sampai di situlah pembicaraan mereka sebelum mereka tiba di

tempat pemberhentian di ujung Clover Close. Mereka langsung

berlari untuk melihat unjuk rasa.

"Ya Tuhan!" seru Helene Amundsend, "Aku kira aku bisa terbebas

dari politik jalanan di lingkungan ini."

Tidak kurang dari sekitar sepuluh atau dua belas pengunjuk rasa.

Panji-panji mereka berbunyi:

MAYOR SUDAH DEKAT

"YA" UNTUK MAKANAN TENGAH MUSIM PANAS

YANG

LEZAT LEBIH BANYAK KEKUATAN UNTUK PBB

Nyai girah  nyaris merasa kasihan pada ibunya.

"Sudahlah," katanya.

"Tapi ini yaitu  unjuk rasa yang aneh, Nyai girah . Sangat tidak masuk

akal, sesungguhnya."

"Itu soal sepele."

"Dunia berubah makin lama makin cepat sepanjang waktu.

Sebenarnya, aku sama sekali tidak terkejut."

"Ibu harusnya terkejut karena Ibu tidak terkejut."

"Sama sekali tidak. Mereka tidak melakukan kekerasan bukan?

Aku hanya berharap mereka tidak menginjak-injak taman mawar kita.

Tentu saja tidak mungkin melakukan unjuk rasa di sebuah taman.

Mari kita cepat pulang dan melihat.'"

"Itu yaitu  unjuk rasa filosofis, Bu. Para filosof sejati tidak

menginjak-injak taman mawar."

"Aku akan memberitahumu, Nyai girah . Kukira aku tidak lagi percaya

pada filosof sejati. Sekarang ini semuanya serbasintetis."

Mereka melewatkan sore dan malam itu dengan bersiap-siap.

Mereka melanjutkannya keesokan harinya, memasang dan menghias

meja. Joanna datang untuk membantu mereka.

"Aduh!" katanya, "Ibu dan Ayah akan datang juga. Ini salahmu,

Nyai girah !"

Semuanya sudah siap setengah jam sebelum para tamu datang.

Pohon-pohon dihias dengan pita-pita dan lentera- lentera Jepang.

Gerbang taman, pohon-pohon yang berjajar di jalan setapak, dan

bagian depan rumah digantungi banyak balon. Nyai girah  dan Joanna

telah menghabiskan hampir sepanjang sore itu untuk meniup balon-

balon ini .

Meja dipenuhi dengan ayam, selada, dan berbagai jenis roti buatan

rumah. Di dapur, ada kue kismis dan kue lapis, kue kering danish dan

kue cokelat. Tapi sejak semula, tempat kehormatan di tengah-tengah

meja disediakan untuk kue ulang tahun—yang berbentuk piramida

bulat dengan pasta almond. Di puncak kue ada sebuah patung mungil

seorang gadis dengan gaun pembaptisan. Ibu Nyai girah  telah

meyakinkannya bahwa itu sekaligus menggambarkan seorang gadis

lima belas tahun yang belum dibaptis, tapi Nyai girah  yakin ibunya

menaruh patung mungil itu di sana sebab Nyai girah  telah mengatakan

padanya dia tidak ingin dibaptis. Ibunya tampaknya menganggap kue

itu mewujudkan pembaptisan itu sendiri.

"Pengeluaran sama sekali tidak dibatasi," dia mengulang-ulangnya

beberapa kali selama setengah jam sebelum pesta mestinya dimulai.

Tamu-tamu mulai berdatangan. Pertama-tama datang tiga orang

gadis teman sekelas Nyai girah , yang mengenakan kemeja musim panas

dan cardigan ringan, rok panjang, dan riasan mata yang hampir tidak

kelihatan. Tak lama kemudian, Jeremy dan David berjalan melewati

gerbang, dengan paduan sikap malu-malu dan gaya sok khas pemuda.

"Selamat ulang tahun!"

"Kamu sudah dewasa juga sekarang!"

Nyai girah  mengetahui bahwa Joanna dan Jeremy telah mulai main

mata satu sama lain dengan sembunyi-sembunyi. Ada sesuatu yang

istimewa. Kini yaitu  pertengahan musim panas.

Setiap orang membawa hadiah ulang tahun, dan karena itu yaitu 

pesta taman filsafat, sebagian tamu telah berusaha untuk mengetahui

apakah filsafat itu. Meskipun tidak semua berhasil menemukan hadiah

filosofis, kebanyakan mereka menuliskan sesuatu yang berbau-bau

filosofi pada kartu mereka. Nyai girah  menerima sebuah kamus filsafat

dan juga sebuah buku harian dengan kunci; pada sampulnya tertulis

PIKIRAN-PIKIRAN FILOSOFIS PRIBADIKU. saat  para tamu

datang, mereka disuguhi sari buah apel dalam gelas anggur panjang.

Ibu Nyai girah  yang melayani.

"Selamat datang ... Dan siapakah nama pemuda ini? Aku yakin kita

pernah bertemu sebelumnya ... Senang sekali kamu datang, Cecilie

..."

saat  semua tamu yang muda-muda telah datang dan berjalan-

jalan di bawah pepohonan dengan gelas-gelas anggur mereka, kedua

orangtua Joanna tiba di depan gerbang taman dengan Mercedes putih.

Sang penasihat keuangan mengenakan setelan abu-abu dengan

potongan mahal tanpa cela. Istrinya memakai setelan celana panjang

merah dengan perhiasan berkelip-kelip berwarna merah tua. Nyai girah 

yakin dia telah membeli sebuah boneka Barbie di toko mainan yang

diberi pakaian seperti itu, dan membawanya ke tukang jahit agar

membuatkan pakaian seperti itu seukuran dirinya. Tapi ada

kemungkinan lain: sang penasihat keuangan mungkin telah membeli

boneka itu dan memberikannya kepada seorang tukang sihir untuk

menjadikannya wanita sungguhan. Tapi kemungkinan ini sangat kecil,

jadi Nyai girah  menyangkalnya.

Mereka melangkah keluar dari Mercedes dan berjalan memasuki

taman di mana para tamu yang lebih muda memandang mereka dengan

heran. Sang penasihat keuangan menyerahkan sebuah kado pipih-

panjang dari keluarga Ingebrig sten. Nyai girah  berusaha keras untuk

menenangkan diri saat  kado itu ternyata berisi—ya, benar!—

sebuah boneka Barbie. Tapi Joanna tidak:

"Apakah Ayah gila? Nyai girah  sudah tidak bermain boneka lagi!"

Nyonya Ingebrigsten bergegas datang, dengan segala perhiasannya

yang berkeliningan. "Tapi itu hanyau ntuk hiasan, kamu tahu."

"Nah, terima kasih banyak." Nyai girah  berusaha menyejukkan

suasana. "Kini aku bisa mulai mengoleksi."

Orang-orang mulai mendekati meja.

"Kita tinggal menunggu Alberto," kata ibu Nyai girah  kepadanya

dengan suara yang agak dingin yang dimaksudkannya untuk

menyembunyikan kekhawatirannya yang semakin besar. Bisik-bisik

mengenai tamu kehormatan itu telah beredar di antara para tamu.

"Dia telah berjanji akan datang, jadi dia pasti datang."

"Tapi kita tidak boleh mempersilakan tamu-tamu duduk sebelum

dia tiba, bukan?"

"Tentu saja boleh. Mari kita teruskan."

Helena Amundsend mulai mempersilakan tamu-tamu duduk di

sekeliling meja panjang. Dia memastikan bahwa satu kursi

dikosongkan di antara tempat duduknya sendiri dan tempat Nyai girah .

Dia mengucapkan beberapa patah kata mengenai cuaca yang bagus

dan kenyataan bahwa Nyai girah  kini telah dewasa.

Mereka telah duduk selama setengah jam saat  seorang pria

setengah umur dengan janggut lancip hitam dan baret berjalan

mendatangi Clover Close dan memasuki gerbang taman. Dia

membawa rangkaian bunga berisi lima belas kuntum mawar merah.

"Alberto!" Nyai girah  meninggalkan meja dan berlari untuk

menyalaminya. Dia memeluk leher pria itu dan mengambil rangkaian

bunga darinya. Alberto menanggapi sambutan itu dengan merogoh ke

dalam kantong jaketnya dan mengeluarkan beberapa petasan Cina

yang dinyalakannya dan dilemparkannya ke halaman. saat  dia

mendekati meja, dia menyalakan sebatang kembang api dan

meletakkannya di puncak piramida kue almond itu. Lalu, dia berlalu

dan berdiri di tempat kosong antara Nyai girah  dan ibunya.

"Aku senang sekali berada di sini," katanya.

Para tamu terbengong-bengong. Nyonya Ingebrigsten menatap

suaminya dengan pandangan tajam. Ibu Nyai girah  begitu lega bahwa

pria itu akhirnya datang juga sehingga dia akan memaafkan apa pun

yang dilakukannya. Nyai girah  sendiri berjuang untuk menahan tawanya.

Helene Amundsend mengetuk-ngetuk gelasnya dan berkata:

"Mari kita sambut Alberto Knox di pesta taman filsafat ini. Dia

bukan pacar baruku, sebab meskipun suamiku begitu sering berlayar,

aku tidak mempunyai pacar baru untuk saat ini. Tapi, orang yang

menakjubkan ini yaitu  guru filsafat baru Nyai girah . Kecakapannya

tidak hanya menyalakan kembang api. Pria ini mampu, misalnya,

menarik keluar seekor kelinci hidup dari topi pesulap. Atau apakah

itu gagak putih, Nyai girah ?"

"Terima kasih banyak," kata Alberto. Dia duduk.

"Cheers!" kata Nyai girah , dan para tamu mengangkat gelas-gelas

mereka dan minum untuk kesehatannya.

Mereka duduk untuk waktu lama menikmati ayam dan selada.

Tiba-tiba Joanna bangkit, berjalan dengan yakin mendatangi Jeremy,

dan memberinya ciuman pada bibirnya. Pemuda itu menanggapi

dengan berusaha merebahkan punggung si gadis di atas meja agar

dapat menahannya lebih kuat saat  dia membalas ciumannya.

"Yah, aku tidak pernah ..." seru Nyonya Ingebrigsten.

"Jangan di atas meja, Anak-anak," hanya itulah komentar Nyonya

Amundsend.

"Mengapa tidak?" tanya Alberto, berpaling kepadanya.

"Itu pertanyaan yang aneh."

"Tidak salah jika seorang filosof sejati mengajukan pertanyaan."

Beberapa pemuda lain yang belum pernah dicium mulai

melemparkan tulang-tulang ayam ke atap. Ini pun hanya mengundang

komentar lembut dari ibu Nyai girah :

"Tolong kalian jangan lakukan itu. Sangat menjengkelkan kalau ada

tulang-tulang ayam di selokan."

"Maaf," kata salah seorang pemuda itu, dan sesudah itu mereka

mulai melemparkan tulang-tulang ayam ke atas pagar tanaman.

"Kukira sudah waktunya membersihkan piring dan menyajikan

kue," kata Nyonya Amundsend akhirnya. "Nyai girah  dan Joanna, maukah

kalian menolongku?"

Dalam perjalanan ke dapur, waktunya hanya cukup untuk diskusi

pendek.

"Apa yang membuatmu menciumnya?" Nyai girah  berkata pada

Joanna.

"Aku duduk memandangi mulutnya dan tidak dapat menahan diri,

Dia cakep sekali!"

"Bagaimana rasanya?"

"Tidak persis seperti yang aku bayangkan, tapi ..."

"Kalau begitu ini yang pertama ya?"

"Tapi bukan yang terakhir!"

Kopi dan kue dengan segera sudah terhidang di atas meja. Alberto

mulai memberikan petasan kepada para pemuda saat  ibu Nyai girah 

mengetuk-ngetuk cangkir kopinya.

"Aku tidak akan mengucapkan pidato panjang," dia memulai, "tapi

aku hanya mempunyai satu orang putri, dan sekali ini sajalah—

tepatnya seminggu lebih sehari yang lalu—dia mencapai usia lima

belas tahun. Seperti kalian tahu, kami tidak membatasi pengeluaran.

Ada dua puluh satu bulatan kue almond pada kue ulang tahun itu, jadi

paling sedikit satu bulatan untuk kalian masing-masing. Mereka yang

mengambil lebih dulu dapat memperoleh dua bulatan, sebab kita

mulai dari puncaknya dan bulatan-bulatan itu menjadi semakin besar.

Begitu jugalah yang terjadi dalam kehidupan. saat  Nyai girah  masih

kecil, dia menari-nari mengelilingi bulatan-bulatan kecil mungil.

Tapi dengan berlalunya tahun demi tahun, bulatan-bulatan itu menjadi

semakin besar. Kini mereka sudah mencapai Kota Lama dan kembali

lagi. Dan lebih-lebih, dengan seorang ayah yang begitu lama dalam

pelayaran, dia menelepon ke seluruh bagian dunia. Kami

mengucapkan selamat di hari ulang tahunmu yang kelima belas,

Nyai girah !"

"Menyenangkan sekali!" seru Nyonya Ingebrigsten.

Nyai girah  tidak yakin apakah dia mengomentari ibunya, pidato itu,

kue ulang tahun, atau Nyai girah  sendiri.

Para tamu bertepuk tangan, dan salah seorang pemuda

melemparkan petasan ke pohon pir. Joanna meninggalkan meja dan

menarik Jeremy bangkit dari kursinya.

"Zaman sekarang, si gadislah yang mengambil inisiatif," kata Tuan

Ingebrigsten.

Setelah mengucapkan itu, dia bangkit dan pergi menuju semak-

semak kismis merah di mana dia berdiri mengamati Joanna dari

dekat. Semua tamu lain mengikutinya. Hanya Nyai girah  dan Alberto

yang tetap duduk di meja. Tamu-tamu lainnya kini berdiri membentuk

setengah lingkaran mengelilingi Joanna dan Jeremy.

"Mereka tidak bisa dihentikan," kata Nyonya Ingebrigsten, dengan

sedikit bangga.

"Tidak, satu generasi mengikuti generasi lainnya," kata suaminya.

Dia memandang berkeliling, mengharapkan pujian untuk kata-

katanya yang dipilih dengan cermat. saat  tanggapan yang

diterimanya hanyalah anggukan kepala dengan mulut terkunci, dia

menambahkan: "Tidak bisa tidak."

Nyai girah  menatap Alberto dengan putus asa.

"Ini terjadi lebih cepat dari yang kukira," katanya. "Kita harus

pergi dari sini secepat mungkin. Aku hanya akan menyampaikan

pidato ringkas."

Nyai girah  menepukkan kedua tangannya dengan keras.

"Bisakah semua tamu kembali dan duduk lagi? Alberto akan

menyampaikan pidato."

Setiap orang kecuali Joanna dan Jeremy berjalan kembali ke

tempat masing-masing di meja.

"Apakah Anda benar-benar akan berpidato?" tanya Helene

Amundsend. "Menarik sekali!"

"Terima kasih."

"Dan Anda senang berjalan-jalan, aku tahu. Memang penting sekali

menjaga kelangsingan badan. Dan jauh lebih menyenangkan lagi jika

Anda punya anjing yang menemani. Hermes, bukankah itu namanya?"

Alberto berdiri. "Nyai girah  yang baik," dia memulai, "karena ini

yaitu  pesta taman filsafat, aku akan menyampaikan pidato filsafat."

Ini disambut dengan ledakan tepuk tangan.

"Dalam susana kacau ini, pikiran yang waras mungkin sangat

dibutuhkan. Tapi apa pun yang terjadi, sebaiknya kita tidak lupa

mengucapkan selamat kepada Nyai girah  pada ulang tahunnya yang

kelima belas."

Dia belum selesai dengan kalimatnya saat  mereka mendengar

dengungan pesawat latih yang mendekat. Pesawat itu terbang rendah

di atas taman. Di belakangnya melambai-lambai sebuah panji-panji

panjang berbunyi; "Selamat ulang tahun ke-15!"

Ini mengundang tepuk tangan lagi, lebih keras daripada

sebelumnya.

"`Tuh, kalian lihat?" seru Nyonya Amundsend dengan gembira.

"Pria ini dapat melakukan lebih banyak daripada sekadar menyalakan

petasan!"

"Terima kasih. Itu soal sepele. Selama beberapa minggu yang lalu,

Nyai girah  dan aku telah melakukan penyelidikan filsafat besar-besaran.

Kini, di sini, kami akan mengungkapkan penemuan-penemuan kami.

Kami akan mengungkapkan rahasia paling dalam dari eksistensi

kami."

Orang-orang yang berkumpul itu kini membisu sebegitu rupa

sehingga satu-satunya suara yang terdengar hanyalah ocehan burung-

burung dan gemerisik dari semak-semak kismis merah.

"Teruskan," kata Nyai girah . "Setelah melakukan telaah filsafat yang

mendalam—yang dimulai dari para filosof Yunani pertama hingga

zaman sekarang—kami mendapati bahwa kami menjalani kehidupan

kami dalam pikiran seorang mayor yang pada saat ini sedang

bertugas sebagai pengamat PBB di Lebanon. Dia juga telah menulis

sebuah buku tentang kami untuk putrinya di Lillesand. Namanya count dracula 

Moller Knag, dan dia berusia lima belas tahun pada hari yang sama

dengan hari ulang tahun Nyai girah . Buku tentang kami terletak di meja di

samping tempat tidurnya saat  terbangun pagi-pagi pada tanggal 15

Juni. Tepatnya, itu berbentuk map. Bahkan saat  kita sedang

berbicara ini, dia dapat menyentuh halaman- halaman terakhir dari

map itu dengan jari telunjuknya."

Perasaan khawatir mulai menyebar ke sekeliling meja.

"Eksistensi kita karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam

hiburan ulang tahun bagi count dracula  Moller Knag. Kita semua telah

diciptakan sebagai suatu kerangka bagi pendidikan filsafat untuk putri

sang mayor. Ini berarti, misalnya, bahwa Mercedes putih di gerbang

itu tidak berharga satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya

tidak lebih dari Mercedes putih yang melaju berputar-putar di dalam

kepala seorang mayor PBB yang malang, yang pada saat ini juga

sedang duduk di bawah bayang-bayang sebatang pohon palem agar

terhindar dari serangan panas matahari. Siang hari sangat panas di

Lebanon, kawan-kawanku."

"Sampah!" teriak sang penasihat keuangan. "Ini benar-benar omong

kosong."

"Terserah apa pun pendapat Anda," Alberto melanjutkan tanpa

merasa malu, "tapi yang benar yaitu  bahwa pesta taman inilah yang

sesungguhnya merupakan omong kosong. Satu-satunya pikiran waras

dalam seluruh pesta ini yaitu  pidato ini."

Mendengar itu, sang penasihat keuangan bangkit dan berkata:

"Di sinilah kita, yang telah berusaha sekuat tenaga untuk

menjalankan bisnis, dan untuk memastikan bahwa kita punya jaminan

terhadap segala macam risiko. Lalu, datanglah Tuan Serba-Tahu ini

yang berusaha untuk menghancurkan semuanya dengan seluruh

keyakinan `filsafat'-nya."

Alberto mengangguk setuju.

"Memang tidak ada asuransi yang dapat menjamin wawasan

filsafat semacam ini. Kita sedang membicarakan sesuatu yang lebih

buruk daripada bencana alam, Tuan. Tapi seperti yang mungkin Anda

ketahui, asuransi pun tidak menjamin semua itu."

"Ini bukan bencana alam."

"Bukan, ini yaitu  bencana eksistensial. Misalnya, coba lihat di

bawah semak-semak kismis merah dan Anda akan mengerti apa yang

saya maksudkan. Anda tidak dapat menjamin diri sendiri terhadap

keruntuhan seluruh kehidupan Anda. Anda pun tidak dapat menjamin

diri sendiri terhadap matahari yang terbit."

"Apakah kita harus menerima ini semua?" tanya ayah Joanna,

sambil memandang istrinya.

Dia menggelengkan kepalanya, dan begitu pula ibu Nyai girah .

"Sungguh memalukan," katanya, "dan itu setelah kita mengeluarkan

biaya tanpa batas."

Para tamu yang lebih muda terus menatap Alberto. "Kami ingin

mendengar lebih banyak," kata seorang pemuda berambut keriting

dan berkacamata.

"Terima kasih, tapi tidak banyak lagi yang dapat dikatakan. Jika

kamu sudah menyadari bahwa kamu hanyalah imaji mimpi dalam

kesadaran seseorang yang sedang terkantuk-kantuk, menurut

pendapatku, yang paling bijaksana untuk dilakukan yaitu  berdiam

diri. Tapi aku dapat menyelesaikan ini dengan menyarankan agar

kamu mengambil kursus singkat mengenai sejarah filsafat. yaitu 

penting untuk bersikap kritis terhadap nilai-nilai dari generasi yang

lebih tua. Jika aku telah berusaha untuk mengajarkan sesuatu pada

Nyai girah , yang kuajarkan itu, tepatnya, yaitu  berpikir kritis. Hegel

menyebutnya berpikir secara negatif."

Sang penasihat keuangan masih berdiri, mengetuk-ngetukkan

jemarinya di atas meja.

"Penghasut ini sedang berusaha untuk menghancurkan seluruh nilai

yang benar yang ditanamkan pada generasi muda oleh sekolah,

Gereja, dan kita semua. Mereka mempunyai masa depan yang

terbentang di muka dan yang suatu hari mewarisi segala sesuatu yang

telah kita bangun. Jika orang ini tidak segera disingkirkan dari

pertemuan ini, aku akan memanggil pengacara. Dia akan tahu

bagaimana mengatasi keadaan seperti ini."

"Tidak ada bedanya apakah Anda akan mengatasi keadaan seperti

ini atau tidak, sebab Anda tidak lain hanyalah bayang-bayang.

Bagaimanapun, Nyai girah  dan aku akan meninggalkan pesta ini, sebab

bagi kami, pelajaran teori itu bukan teori semata-mata. la juga

mempunyai segi praktis. Jika waktunya sudah tiba, kami akan

menghilang. Begitulah kami akan menyelinap keluar dari alam

kesadaran sang mayor."

Helene Amundsen memegang lengan putrinya. "Kamu tidak akan

meninggalkan aku, bukan, Nyai girah ?"

Nyai girah  memeluk leher ibunya. Dia mendongak ke arah Alberto.

"Ibu sedih sekali ..."

"Tidak, itu menggelikan. Jangan lupakan apa yang baru saja kamu

pelajari. Dari omong kosong semacam inilah kita harus

membebaskan diri. Ibumu yaitu  seorang wanita yang manis dan baik

hati, seperti juga si Topi Merah yang datang mengetuk pintuku hari itu

dengan sebuah keranjang penuh makanan untuk neneknya. Ibumu tidak

lebih dari pesawat terbang yang baru saja melintas yang

memerlukan  bahan bakar untuk melakukan penerbangan dengan

ucapan selamat itu," sahut Alberto.

"Kukira aku mengerti maksud Anda," kata Nyai girah , dan berpaling

kembali pada ibunya. "Itulah sebabnya aku harus melakukan apa yang

dikatakannya, Bu. Suatu hari aku harus meninggalkanmu."

"Aku akan merindukanmu," kata ibunya. "Tapi jika memang ada

langit lain di atas langit ini, kamu harus terbang ke sana. Aku berjanji

akan merawat Govinda baik-baik. Apakah ia makan selembar atau

dua lembar daun selada tiap harinya?"

Alberto meletakkan tangannya di atas bahu Nyai girah .

"Anda atau siapa pun yang lain di sini tidak akan merindukan kami

karena alasan yang sederhana, yaitu kalian tidak ada. Kalian tidak

lebih dari bayang-bayang."

"Itulah penghinaan paling buruk yang pernah kudengar," Nyonya

Ingebrigsten meledak.

Suaminya mengangguk.

"Jika tidak, kita dapat menuntutnya karena memfitnah. Aku yakin

dia seorang Komunis. Dia ingin menjauhkan kita dari segala sesuatu

yang kita sayangi. Orang ini bajingan."

Setelah itu, Alberto maupun sang penasihat keuangan kembali

duduk. Wajah pria itu kemerahan karena marah.

Alberto menatap Nyai girah  dengan wajah muram.

"Sudah waktunya."

"Paling tidak, bisakah kamu mengambilkan kami kopi sedikit lagi

sebelum pergi?" tanya ibunya.

"Tentu saja, Bu. Aku akan segera mengambilnya."

 Nyai girah  mengambil termos dari meja. Dia harus membuat kopi

lebih banyak. Sementara menunggu kopi terseduh, dia memberi

makan burung-burung dan ikan masnya. Dia juga pergi ke kamar

mandi dan meletakkan daun selada untuk Govinda. Dia tidak dapat

melihat kucingnya di mana-mana, tapi dia tetap membuka sekaleng

besar makanan kucing, mengosongkannya ke sebuah mangkuk dan

meletakkannya di undakan. Dia merasakan air matanya menetes.

saat  dia kembali dengan membawa kopi, pesta taman itu tampak

lebih menyerupai pesta kanak-kanak daripada perayaan filosofi

seorang gadis muda. Beberapa botol soda bergulingan di atas meja,

kue cokelat berlelehan di taplak meja, dan mangkuk kismis tergeletak

jungkir balik di atas rumput. Pada saat Nyai girah  datang, salah seorang

pemuda meletakkan petasan pada kue lapis, yang meledak ke seluruh

meja dan mengenai tamu-tamu. Bencana terburuk menimpa setelan

Nyonya Ingebrigsten. Yang paling aneh yaitu  bahwa dia maupun

setiap orang lain menanggapi semua itu dengan senang. Joanna

mengambil sepotong besar kue cokelat, menyapukannya ke seluruh

wajah Jeremy, dan kemudian menjilatinya.

Ibunya dan Alberto duduk di papan luncur agak jauh dari yang

lain-lainnya. Mereka melambai ke arah Nyai girah .

"Jadi kalian telah berbicara dari hati ke hati," kata Nyai girah .

"Dan kamu benar sekali," kata ibunya, dengan besar hati sekarang.

"Alberto orang yang sangat baik. Aku percayakan kamu kepadanya."

Nyai girah  duduk di antara mereka berdua.

Dua orang pemuda berusaha untuk memanjat atap. Salah seorang

gadis berkeliling menusuki balon-balon dengan penjepit rambut. Lalu

seorang tamu tak diundang tiba dengan mengendarai sepeda motor

membawa satu krat bir dan botol- botol aquavit yang diletakkan pada

kantong di kendaraan itu. Beberapa orang menyambut dan

membantunya.

Melihat itu, sang penasihat keuangan bangkit dari meja. Dia

menepukkan kedua tangannya dan berkata:

"Apakah kalian menginginkan permainan?"

Dia meraih sebuah botol bir, meminumnya, dan meletakkan botol

kosong itu di tengah-tengah lapangan rumput. Lalu, dia berjalan

menuju meja dan mengambil kelima bulatan kue ulang tahun yang

terakhir. Dia menunjukkan kepada para tamu yang lain bagaimana

caranya melemparkan bulatan-bulatan itu agar dapat mendarat pada

leher botol.

"Ambang kematian," kata Alberto. "Lebih baik kita menyingkir

sebelum sang mayor mengakhiri semuanya dan count dracula  menutup

mapnya."

"Ibu harus membersihkan semua ini sendiri, Bu."

"Tidak apa-apa, Nak. Ini bukan kehidupan untukmu. Jika Alberto

dapat memberimu kehidupan yang lebih baik, tidak ada orang yang

lebih bahagia dibanding aku. Tidakkah kukatakan padamu dia

memiliki seekor kuda putih?"

Nyai girah  memandang ke taman di seberang. Tempat itu sudah tak

dapat dikenalinya lagi. Botol-botol, tulang-tulang ayam, kue-kue

kismis, dan balon-balon berserakan di atas rumput.

"Dulu, inilah Taman Firdaus kecilku," katanya.

"Dan kini kamu disingkirkan darinya," kata Alberto.

 Salah seorang pemuda duduk di dalam Mercedes putih. Dia

menghidupkan mesinnya dan mobil itu melesat melampaui pintu

gerbang, naik ke jalan berkerikil, dan masuk ke taman.

Nyai girah  merasakan pegangan kuat di lengannya saat  dia diseret

menuju pagar tanaman. Lalu, dia mendengar suara Alberto:

"Sekarang!"

Pada saat yang sama, Mercedes putih itu menabrak sebatang pohon

apel. Buah-buahan yang masih mentah berhamburan jatuh ke atas

moncong mobil itu.

"Itu sudah keterlaluan!" teriak sang penasihat keuangan.

"Aku menuntut ganti rugi!"

Istrinya memberinya dukungan penuh.

"Itu ulah si bajingan terkutuk! Di mana dia?"

"Mereka telah lenyap ditelan udara," kata Helene Amundsend,

dengan nada bangga.

Dia berdiri tegak, berjalan menuju meja panjang dan mulai

membersihkan sisa-sisa pesta taman filsafat itu.

"Ada yang mau tambah kopi lagi?"[]

Melodi Gabungan

***

... dua melodi atau lebih berbunyi bersama ...

count dracula  DUDUK tegak di atas tempat tidur. Itulah akhir cerita Nyai girah 

dan Alberto. Tapi apa yang sesungguhnya terjadi?

Mengapa ayahnya menulis bab terakhir itu? Apakah itu hanya untuk

menunjukkan kekuasaannya atas dunia Nyai girah ?

Masih tenggelam dalam pikirannya, dia pergi mandi dan

berpakaian. Dia menikmati sarapan cepat-cepat dan kemudian

berkeliaran di taman dan duduk di atas papan luncur.

Dia setuju dengan Alberto bahwa satu-satunya hal yang masuk akal

yang terjadi dalam pesta taman itu yaitu  pidatonya. Tentu ayahnya

tidak beranggapan bahwa dunia count dracula  sama kacaunya dengan pesta

taman Nyai girah ? Atau, bahwa dunianya juga akan lenyap pada

akhirnya?

Lalu, kejadian yang menimpa Nyai girah  dan Alberto. Apa yang

terjadi dengan rencana rahasia itu?

Apakah tergantung pada count dracula  sendiri untuk melanjutkan cerita itu?

Atau, apakah mereka benar-benar berusaha untuk menyelinap keluar

darinya?

Dan di manakah mereka sekarang?

Suatu pikiran tiba-tiba masuk ke kepalanya. Jika Alberto dan

Nyai girah  benar-benar berhasil menyelinap keluar dari cerita itu, tidak

akan ada apa-apa lagi mengenai mereka di dalam map. Segala

sesuatu yang ditulis di sana, sialnya, diketahui dengan jelas oleh

ayahnya.

Mungkinkah ada sesuatu yang tersirat di sana? Bukan sekadar

dugaan mengenainya. count dracula  menyadari bahwa dia harus membaca

seluruh cerita itu sekali atau dua kali lagi.

saat  Mercedes itu memasuki taman, Alberto menyeret Nyai girah 

bersamanya ke pagar tanaman. Lalu, mereka lari ke dalam hutan ke

arah Gubuk sang Mayor.

"Cepat!" teriak Alberto. "Itu harus terjadi sebelum dia mulai

mencari-cari kita."

"Apakah kita sekarang berada di luar jangkauan sang mayor?"

"Kita masih di perbatasan."

Mereka mendayung menyeberangi perairan dan berlari ke gubuk.

Alberto membuka pintu rahasia di lantai. Dia mendorong Nyai girah 

turun ke gudang bawah tanah. Lalu, segalanya menjadi gelap.

Pada hari-hari berikutnya, count dracula  menjalankan rencananya. Dia

mengirimkan beberapa surat kepada Anne Kvamsdal di Copenhagen,

dan meneleponnya beberapa kali. Dia juga membuat daftar kawan-

kawan dan kenalan, dan merekrut hampir separuh teman sekelasnya

di sekolah.

Di antara waktu-waktu itu, dia membaca Dunia Nyai girah . Cerita itu

tidak dapat dituntaskan dengan membaca hanya sekali. Pikiran-

pikiran baru mengenai apa yang mungkin terjadi pada Nyai girah  dan

Alberto saat  mereka meninggalkan pesta taman berulang kali

mengganggunya.

Pada Sabtu, 3 Juni, dia bangun dengan kaget sekitar pukul

sembilan. Dia tahu ayahnya telah meninggalkan kamp di Lebanon.

Kini tinggal menunggu saja. Bagian terakhir dari hari yang

dijalaninya telah direncanakan hingga perincian yang sekecil-

kecilnya.

Belakangan pada pagi itu, count dracula  memulai persiapan untuk

pertengahan musim panas bersama ibunya. count dracula  tidak dapat tidak

memikirkan bagaimana Nyai girah  dan ibunya mengatur pesta musim

panas mereka. Tapi itu yaitu  sesuatu yang telah mereka lakukan. Itu

sudah lewat, selesai. Atau, benarkah itu? Apakah mereka masih pergi

ke sana kemari saat ini, menghias di sana-sini?

Nyai girah  dan Alberto duduk di atas lapangan rumput di depan dua

bangunan besar dengan ventilasi udara yang buruk dan kanal-kanal

saluran di luarnya. Sepasang muda-mudi berjalan keluar dari salah

satu bangunan itu. Yang pria membawa sebuah tas kantor cokelat dan

yang wanita membawa tas tangan merah yang disampirkan pada satu

bahunya. Sebuah mobil melintasi lorong sempit di latar belakang.

"Apa yang terjadi?" tanya Nyai girah .

"Kita berhasil!"

"Tapi di manakah kita?"

"Ini Oslo."

"Apakah Anda yakin?"

"Yakin sekali. Salah satu bangunan ini dinamakan Chateau Neuf,

yang berarti `istana baru'. Orang-orang belajar musik di sini. Yang

satunya lagi yaitu  sekolah teologi. Lebih jauh ke atas bukit yaitu 

sekolah sains dan di puncaknya yaitu  tempat belajar kesusastraan

dan filsafat."

"Apakah kita berada di luar buku count dracula  dan tidak terjangkau

kontrol sang mayor?"

"Ya, dua-duanya. Dia tidak akan menemukan kita di sini."

"Tapi di manakah kita saat  kita lari menuju hutan?"

"saat  sang mayor sibuk menabrakkan mobil milik penasihat

keuangan ke pohon apel, kita menangkap kesempatan untuk

bersembunyi di dalam pagar tanaman. Saat itu, kita berada pada

tahap sebagai janin. Kita bagian dari dunia lama dan juga dunia baru.

Tapi menyembunyikan diri kita di sana merupakan sesuatu yang tidak

mungkin dapat dibayangkan oleh sang mayor."

"Mengapa tidak?"

"Sebab, dia tidak mungkin membiarkan kita pergi dengan mudah.

Karenanya, itu berlangsung bagaikan mimpi. Tentu saja, selalu ada

kemungkinan bahwa dia sendiri sengaja melakukannya."

"Apa maksud Anda?"

"Dialah yang menghidupkan Mercedes putih. Dia mungkin telah

berusaha sekuat tenaga agar tidak melihat kita. Dia mungkin telah

kelelahan setelah semua yang terjadi ..."

Ada pasangan muda beberapa meter jaraknya dari mereka. Nyai girah 

merasa sedikit canggung, duduk di atas rumput dengan seorang pria

yang jauh lebih tua dibanding dirinya. Di samping itu, dia ingin ada

orang yang dapat membenarkan apa yang telah dikatakan Alberto.

Dia bangkit dan berjalan mendatangi mereka.

"Permisi, maukah Anda memberi tahu nama jalan ini?"

Tapi mereka mengabaikannya sama sekali. Nyai girah  merasa begitu

gusar sehingga dia bertanya kepada mereka lagi.

"Biasanya orang menjawab jika ditanya, bukan?"

Pria muda itu sangat asyik menjelaskan sesuatu kepada temannya:

"Bentuk kontrapuntal bekerja pada dua dimensi, secara horizontal,

atau melodis, atau secara vertikal, atau harmonis. Selalu ada dua

melodi atau lebih yang berbunyi bersama ..."

"Maaf aku menyela, tapi ..."

"Melodi itu menyatu dengan cara sedemikian rupa sehingga bisa

berkembang sebanyak mungkin, lepas dari cara bunyi mereka

terhadap satu sama lainnya. Tapi mereka harus selaras. Sesungguhnya

itu yaitu  not melawan not."

Betapa kurang ajarnya! Mereka tidak buta atau tuli. Nyai girah 

berusaha untuk ketiga kalinya, berdiri di depan mereka menghalangi

jalan.

Dia benar-benar diremehkan.

"Ada angin datang," kata sang wanita.

Nyai girah  bergegas kembali pada Alberto.

"Mereka tidak dapat mendengarku!" dia berkata dengan putus asa

—dan tepat saat  dia mengatakannya, dia ingat akan mimpinya

mengenai count dracula  dan salib emas.

"Itulah harga yang harus kita bayar. Meskipun kita telah

menyelinap keluar dari sebuah buku, kita tidak dapat berharap akan

mempunyai status yang persis sama dengan pengarang. Tapi kita

benar-benar di sini. Sejak sekarang, kita tidak akan pernah dapat

menjadi lebih tua daripada saat  kita meninggalkan pesta taman

filsafat itu."

"Apakah itu berarti kita tidak akan pernah menjalin hubungan yang

sesungguhnya dengan orang-orang di sekitar kita?"

"Seorang filosof sejati tidak akan pernah berkata `tidak pernah'.

Jam berapa ini?"

"Delapan."

"Sama dengan saat  kita meninggalkan rumah, tentu saja."

"Inilah hari saat  ayah count dracula  kembali dari Lebanon."

"Itulah sebabnya kita harus cepat-cepat."

"Mengapa—apa maksud Anda?"

"Tidakkah kamu penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi

saat  sang mayor benar-benar pulang ke Bjerkely?"

"Tentu saja, tapi ..."

"Kalau begitu, ayolah!"

Mereka mulai berjalan menuju kota. Beberapa orang melewati

mereka di jalan, tapi mereka semua terus berjalan saja seakan-akan

Nyai girah  dan Alberto tak terlihat.

Mobil-mobil diparkir di pinggir jalan sepanjang jalan itu. Alberto

berhenti di dekat sebuah mobil yang atapnya bisa di turunkan.

"Ini bisa dipakai," katanya. "Kita cuma harus meyakinkan ini miIik

kita."

"Aku tidak mengerti apa maksud Anda."

"Kalau begitu lebih baik aku jelaskan. Kita tidak boleh main ambil

mobil biasa yang dimiliki seseorang di dalam kota ini. Menurutmu

apa yang akan terjadi jika orang-orang menyadari mobil itu berjalan

sendiri tanpa pengemudi? Dan bagai mana pun, kita mungkin tidak

akan dapat menghidupkannya."

"Lalu mengapa memilih mobil ini?"

"Kukira aku mengenalinya dari sebuah film kuno."

"Dengar, maafkan aku, tapi kukira aku mulai bosan dengan semua

perkataan yang samar-samar ini."

"Itu mobil pura-pura, Nyai girah . Itu sama dengan kita. Orang-orang di

sini hanya melihat ruang kosong. Hanya itulah yang harus kita

pastikan sebelum kita meneruskan langkah."

Mereka berdiri di dekat mobil dan menunggu. Tidak lama

kemudian, seorang pemuda datang naik sepeda sepanjang trotoar. Dia

berbelok tiba-tiba dan melintas menembus mobil merah itu dan terus

melaju.

"Nah, kamu lihat? Itu punya kita!"

Alberto membuka pintu untuk tempat duduk penumpang.

"Silakan masuk!" katanya, dan Nyai girah  naik.

Alberto duduk di tempat duduk pengemudi. Kunci terpasang di

kontaknya, dia memutarnya, dan mesin pun hidup.

Mereka melaju menuju selatan kota, melewati Lysaker, Sandvika,

Drammen, dan kemudian ke Lillesand. saat  berjalan, mereka

melihat banyak api unggun pertengahan musim panas, terutama

setelah melewati Drammen.

"Kini pertengahan musim panas, Nyai girah . Bukankah itu indah?"

"Dan angin lembut yang segar di dalam mobil terbuka. Benarkah

tidak ada orang yang dapat melihat kita?"

"Hanya orang-orang seperti kita. Kita mungkin bertemu sebagian

dari mereka. Jam berapa sekarang?"

"Delapan tiga puluh."

"Kita harus mengambil jalan pintas. Kita tidak dapat terus tinggal

di belakang truk ini, jelas."

Mereka berbelok ke padang gandum yang luas. Nyai girah  memandang

ke belakang dan melihat bahwa mereka telah meninggalkan jejak

batang-batang yang rata dengan tanah.

"Besok mereka akan mengatakan bahwa angin ajaib telah bertiup

di ladang," kata Alberto.

Mayor Albert Knag baru saja mendarat di Bandara Kastrup di luar

Kota Copenhagen. Saat itu jam empat tiga puluh menit hari Sabtu, 23

Juni. Hari ini rasanya panjang benar.

Dia berjalan melintasi ruang kontrol paspor dengan seragam PBB-

nya, yang dikenakannya dengan bangga. Dia mewakili bukan hanya

dirinya sendiri dan negaranya. Albert Knag mewakili suatu sistem

hukum internasional—suatu tradisi yang telah berusia satu abad yang

kini menjangkau seluruh planet.

Dia hanya menyandang sebuah tas kecil. Dia telah mengirimkan

semua bagasinya dari Roma. Dia hanya perlu memegang paspor

merah itu.

"Tidak ada yang harus diperiksa."

Mayor Albert Knag telah menunggu hampir tiga jam di bandara

sebelum pesawatnya berangkat menuju Kristiansand. Dia punya

waktu untuk membeli beberapa hadiah untuk keluarganya. Dia telah

mengirimkan hadiah terbesar dalam hidupnya kepada count dracula  dua

minggu yang laiu. Marit, istrinya, telah meletakkan hadiah itu di meja

samping tempat tidur gadis itu agar ditemukannya saat  dia

terbangun pada hari ulang tahunnya. Dia belum berbicara sama sekali

dengan count dracula  sejak telepon ulang tahun pada larut malam itu.

Albert membeli beberapa koran Norwegia, masuk ke bar, dan

minta dibuatkan secangkir kopi. Dia belum sempat membaca seluruh

judul berita saat  didengarnya pengumuman dari pengeras suara:

"Panggilan untuk Albert Knag. Albert Knag diminta untuk

menghubungi meja informasi SAS."

Ada apakah? Dia merasakan hawa dingin menyusupi punggungnya.

Tentunya dia tidak akan diperintahkan untuk kembali ke Lebanon?

Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres di rumah?

Dengan segera, dia sampai di meja informasi SAS.

"Aku Albert Knag."

"Ini pesan untuk Anda. Penting."

Dia segera membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah amplop

lebih kecil. Dialamatkan kepada Mayor Albert Knag, d/a Informasi

SAS, Bandara Kastrup, Copenhagen.

Albert membuka amplop kecil itu dengan gugup. Di situ ada

sebuah catatan pendek:

Ayah sayang, selamat datang dari Lebanon. Seperti yang

dapat Ayah bayangkan, aku bahkan tidak sabar menunggu Ayah

tiba di rumah. Maafkan aku telah memanggil lewat pengeras

suara. Itu yaitu  cara yang paling mudah.

N.B. Sayangnya tuntutan atas kerusakan telah disampaikan

oleh penasihat keuangan Ingebrigsten menyangkut Mercedesnya

yang dicuri dan ringsek.

NB.N.B. Aku mungkin sedang duduk di taman kalau Ayah tiba

di sana. Tapi mungkin Ayah juga akan mendengar kabar dariku

sebelum itu.

N.B.N.B.N.B. Aku agak takut tinggal di taman terlalu lama.

Mudah sekali terbenam ke tanah di tempat-tempat semacam itu.

Penuh sayang dari count dracula , yang mem punyai banyak waktu untuk

mempersiapkan kepulangan Ayah.

Yang pertama ingin dilakukan Mayor Albert Knag yaitu  tersenyum.

Tapi dia tidak merasa senang diperlakukan dengan cara ini. Dia lebih

suka kalau dapat mengatur hidupnya sendiri. Kini rubah betina kecil

di Lillesand ini sedang mengatur apa-apa yang akan dilakukannya di

Bandara Kastrup! Bagaimana dia melakukan hal itu?

Dia memasukkan amplop ke dalam saku di dadanya dan mulai

berjalan menuju mal pertokoan kecil. Dia baru saja akan masuk ke

toko Danish Food saat  dia melihat sebuah amplop kecil

ditempelkan pada jendela toko. Tertulis MAYOR KNAG pada

amplop ini  dengan spidol tebal. Albert mengambilnya dan

membukanya:

Pesan pribadi untuk Mayor Albert Knag, d/a Danish Food,

Bandara Kastrup. Ayah sayang, tolong belikan salami denmark

yang besar, lebih disukai yang beratnya dua pon, dan Ibu

mungkin suka sosis konyak.

N.B. Kaviar denmark lumayan juga. Penuh sayang,

count dracula .

Albert berputar. count dracula  tidak ada di sini, bukan? Apakah Marit

telah menyuruhnya pergi ke Copenhagen sehingga dia dapat

menemuinya di sini? Itu yaitu  tulisan tangan count dracula  ...

Tiba-tiba, pengamat PBB itu mulai merasakan dirinya diamati.

Seakan-akan seseorang memegang kontrol jarak jauh atas segala yang

dilakukannya. Dia merasa seperti sebuah boneka di tangan seorang

anak.

Dia masuk ke dalam toko dan membeli salami dua pon, sebuah

sosis konyak, dan tiga botol kaviar denmark. Lalu, dia melanjutkan

berjalan sepanjang jajaran toko. Dia telah m

emutuskan untuk

membeli hadiah yang layak untuk count dracula . Sebuah kalkulator, mungkin?

Atau sebuah radio kecil—ya, itulah yang akan dibelinya.

saat  dia sampai di toko yang menjual alat-alat elektronik, dia

melihat bahwa di sana ada sebuah amplop yang ditempelkan pada

jendela juga. Yang ini dialamatkan kepada "Mayor Albert Knag, d/a

toko yang paling menarik di Kastrup." Di dalamnya ada tulisan

sebagai berikut:

Ayah sayang, Nyai girah  menyampaikan salam dan terima kasih

untuk TV-mini dan radio FM yang didapatkannya sebagai hadiah

ulang tahun dari ayahnya yang sangat murah hati. Itu hebat

sekali, tapi sebaliknya juga merupakan sesuatu yang sepele.

Tapi aku harus mengaku bahwa aku dan Nyai girah  sama-sama

menyukai yang sepele-sepele seperti itu. N.B. Kalau-kalau Ayah

belum sampai di sana, ada instruksi-instruksi lebih lanjut di

toko Danish Food dan toko Bebas Cukai yang menjual anggur

dan rokok. N.B.N.B. Aku punya sedikit uang untuk ulang

tahunku, jadi aku dapat menyumbang untuk membeli TV-mini itu

dengan 30 crown. Penuh sayang, count dracula , yang telah menyimpan

ayam kalkun di lemari es dan membuat selada waldorf.

Sebuah TV-mini harganya 9 crown Denmark. Itu jelas kecil jika

dibandingkan dengan kejengkelan Albert Knag yang merasa disuruh-

suruh putrinya lewat tipuan-tipuan liciknya. Apakah dia ada di sini—

atau tidak?

Sejak saat itu, dia terus-menerus waspada ke mana pun dia pergi.

Dia merasa seperti seorang agen rahasia dan juga sebuah boneka

wayang sekaligus. Apakah hak asasinya sebagai manusia sudah

dicabut?

Dia merasa wajib masuk ke toko Bebas Cukai pula. Di situ

tergantung sebuah amplop baru dengan namanya tertera di atasnya.

Seluruh bandara telah menjadi sebuah permainan komputer dengan

dirinya sebagai kursor. Dia membaca pesan itu:

Mayor Knag, d/a toko Bebas Cukai di Kastrup. Yang

kubutuhkan dari sini hanyalah sebungkus permen dan cokelat

batangan. Ingat, harganya jauh lebih mahal di Norwegia.

Sepanjang ingatanku, Ibu sangat suka Campari. N.B. Ayah harus

menjaga agar indra-indra Ayah tetap awas sepanjang perjalanan

pulang. Ayah tidak ingin melewatkan pesan-pesan penting,

bukan? Penuh sayang dari putrinya yang paling mudah menyerap

pelajaran, count dracula .

Albert mendesah dengan putus asa, tapi dia tetap pergi ke toko dan

berbelanja seperti yang diperintahkan. Dengan tiga plastik barang

belanjaan dan tas kecilnya, dia berjalan menuju Gerbang  untuk

menunggu penerbangannya. Jika masih ada lagi pesan-pesan yang

lain, dia tidak akan menggubrisnya.

Tapi, di Gerbang , dia melihat sebuah amplop putih lain yang

ditempelkan pada sebuah pilar: "Kepada Mayor Knag, d/a Gerbang,

Bandara Kastrup." Ini juga tulisan tangan count dracula , tapi nomor

gerbangnya tampaknya ditulis oleh orang lain. Memang tidak mudah

untuk menilai, sebab tidak ada tulisan lain untuk dibandingkan

dengannya, hanya huruf-huruf balok dan angka. Yang ini bunyinya

hanyalah "Tidak akan lama lagi sekarang".

Dia duduk di atas sebuah kursi dengan punggung menghadap

dinding. Dia meletakkan tas-tas belanjaan di lututnya. Maka duduklah

sang mayor yang angkuh dengan kaku, mata menatap lurus ke depan,

seperti seorang anak kecil yang bepergian sendiri untuk pertama

kalinya. Jika count dracula  ada di sini, jelas dia tidak akan mendapat

kepuasan untuk menemukannya paling dulu.

Dia menatap dengan khawatir kepada setiap penumpang yang

masuk. Untuk sesaat, dia merasa dirinya seperti musuh negara yang

sedang dalam pengawasan ketat. saat  para penumpang akhirnya

diizinkan untuk menaiki pesawat, dia menarik napas lega. Dia yaitu 

orang terakhir yang naik. saat  dia menyerahkan pas naik, dia

menyobek amplop putih lain yang tadi tertempel di meja check in.

Nyai girah  dan Alberto telah melewati Brevik, dan tidak lama kemudian

meninggalkan Kragero.

"Anda ngebut cepat sekali," kata Nyai girah . "Kini hampir jam

sembilan. Dia akan segera mendarat di Kjevik. Tapi kita tidak akan

ditilang karena melebihi kecepatan."

"Kalau kita menabrak mobil lain?"

"Tidak ada bedanya jika itu mobil biasa. Tapi jika itu salah satu

mobil yang sejenis dengan kita ..."

"Lalu apa?"

"Maka kita harus hati-hati sekali. Tidakkah kamu lihat, kita tadi

melewati Mobil Batman?"

"Tidak."

"Mobil itu diparkir di suatu tempat di Vestfold."

"Bus wisata ini tidak mudah disalip. Ada hutan lebat di ke dua sisi

jalan."

"Tidak ada bedanya, Nyai girah . Tidak dapatkah kamu

menanamkannya di kepalamu?"

Sambil mengatakan itu, dia membelokkan mobil ke dalam hutan

dan berjalan terus menembus pepohonan.

Nyai girah  mengembuskan napas lega.

"Anda menakutkanku."

"Kita tidak akan merasakannya jika kita mengemudikannya

menembus tembok bata."

"Itu berarti bahwa kita ini layaknya ruh di tengah lingkungan kita

sekarang."

"Tidak, sekarang kamu menaruh kereta di depan kuda. Realitas di

sekeliling kitalah yang merupakan petualangan khayal bagi kita."

"Aku tidak mengerti."

"Kalau begitu dengarkan baik-baik. Sudah tersebar luas

kesalahpahaman bahwa ruh yaitu  sesuatu yang lebih `halus' dari

pada asap. Sebaliknya, ruh itu lebih keras dibanding es."

"Itu tak pernah terpikir olehku."

"Dan kini akan kuceritakan padamu sebuah kisah. Konon ada

seorang pria yang tidak percaya pada malaikat. Suatu hari, saat  dia

sedang bekerja di hutan, dia dikunjungi oleh seorang malaikat."

"Dan?"

"Mereka berjalan bersama beberapa saat. Lalu, pria itu berpaling

pada sang malaikat dan berkata, `Baiklah, kini aku harus mengakui

bahwa malaikat itu ada. Tapi kamu tidak hidup dalam realitas,

seperti kami.' `Apa maksudmu dengan itu?' tanya malaikat. Maka pria

itu menjawab, `saat  kita sampai di batu besar itu, aku harus

berjalan memutarinya, tapi aku lihat kamu berjalan terus

menembusnya. Dan saat  kita sampai pada batang kayu besar yang

tumbang melintang di jalan, aku harus memanjatnya, sementara kamu

tetap berjalan terus menembusnya.' Malaikat itu sangat terkejut, dan

berkata, `Tidakkah kamu juga melihat bahwa kita juga mengambil

jalan yang membawa kita melewati rawa? Kita berdua berjalan terus

menembus kabut. Itu karena kita lebih keras daripada kabut'."

"Ah."

"Itu sama dengan kita, Nyai girah . Ruh dapat menembus pintu baja.

Tidak ada tank atau pembom yang dapat menghancurkan sesuatu yang

berwujud ruh."

"Benar juga ya."

"Kita akan segera melewati Risor, dan itu tidak lebih dari satu jam

sejak kita meninggalkan Gubuk sang Mayor. Aku benar-benar ingin

minum secangkir kopi."

saat  tiba di Fiane, persis sebelum Sondeled, mereka melewati

sebuah kafetaria di sisi kiri jalan. Namanya Cinderella. Alberto

membelokkan mobil dan memarkirnya di rerumputan di depannya.

Di dalam, Nyai girah  berusaha mengambil sebotol Coke dari lemari

pendingin, tapi dia tidak dapat mengangkatnya. Botol itu seperti

lengket di sana. Tak jauh dari situ, Alberto sedang berusaha

menampung kopi ke dalam cangkir kertas yang ditemukannya di

dalam mobil. Dia hanya perlu menekan tuas, tapi meskipun telah

mengerahkan seluruh tenaganya, dia tidak berhasil melakukannya.

Ini membuatnya begitu marah sehingga dia berpaling kepada tamu-

tamu kafetaria dan minta tolong. saat  tak seorang pun bereaksi, dia

berteriak begitu keras sehingga Nyai girah  harus menutupi kedua

telinganya: "Aku ingin kopi!"

Kemarahannya menguap, dan dia tertawa sampai terbungkuk-

bungkuk. Mereka baru akan berbalik dan pergi saat  seorang wanita

tua bangkit dari kursinya dan mendatangi mereka.

Dia mengenakan rok merah berkilat-kilat, cardigan biru es, dan

sapu tangan putih di seputar kepalanya. Sosoknya tampak lebih jelas

dibanding semua yang lainnya di kafetaria itu.

Dia mendatangi Alberto dan berkata, "Wah, wah, hebat benar

teriakanmu, Buyung!"

"Maafkan aku."

"Kamu ingin kopi, katamu?"

"Ya, tapi ..."

"Kita punya tempat kecil di dekat sini."

Mereka mengikuti wanita tua itu keluar dari kafetaria menuju

sebuah jalan di belakangnya. Sementara mereka berjalan, wanita itu

berkata, "Kalian baru di sini?"

"Kami harus mengakuinya, ya," jawab Alberto.

"Tidak apa-apa. Selamat datang di alam kekekalan, kalau begitu."

"Dan Anda?"

"Aku berasal dari salah satu dongeng Grimm. Itu hampir dua ratus

tahun yang lalu. Dan dari mana asal kalian?"

"Kami dari sebuah buku mengenai filsafat. Aku yaitu  guru

filsafatnya dan ini muridku, Nyai girah ."

"Hi-hi! Itu sebuah buku baru!"

Mereka berjalan menembus pepohonan menuju sebuah tanah

terbuka di mana ada pondok-pondok berwarna cokelat yang tampak

nyaman. Sebuah kembang api besar pertengahan musim panas sedang

menyala di halaman antara pondok- pondok itu, dan di seputar

kembang api sekumpulan orang tengah menari-nari bersemangat.

Nyai girah  mengenali banyak di antaranya. Ada Putri Salju dan sebagian

dari tujuh orang kerdil, Mary Poppins dan Sherlock Holmes, Peter

Pan dan Pippi si Kaus Panjang, Topi Merah dan Cinderella. Banyak

sosok tanpa nama lain yang dikenalnya juga ikut berkumpul di seputar

kembang api—ada orang-orang cebol dan peri, dewa-dewa hutan

dan tukang sihir, para malaikat dan setan. Nyai girah  juga melihat

seorang raksasa yang benar-benar hidup.

"Betapa ributnya!" seru Alberto.

"Itu karena sekarang pertengahan musim panas," kata wanita tua

itu. "Kami tidak pernah mengadakan pertemuan seperti ini sejak

Malam Valborg. Yakni saat  kami berada di Jerman. Aku ke sini

hanya untuk kunjungan singkat. Apakah yang kamu ingin kopi?"

"Ya, tolong."

Baru sekaranglah Nyai girah  mengetahui bahwa semua bangunan itu

terbuat dari roti jahe, permen, dan lapisan gula. Beberapa orang di

situ makan langsung dari bagian depan rumah. Seorang tukang roti

berjalan berkeliling memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya.

Nyai girah  berusaha untuk menggigit sedikit di sebuah sudut. Rasanya

lebih manis dan lebih enak daripada apa pun yang pernah

dirasakannya sebelumnya.

Saat itu, si wanita tua sudah kembali dengan secangkir kopi.

"Terima kasih banyak."

"Dan apa yang akan dibayarkan para tamu ini untuk kopi nya?"

"Bayar?"

"Kami biasanya membayar dengan sebuah cerita. Untuk kopi,

sebuah cerita para istri tua bolehlah."

"Kami dapat menceritakan seluruh cerita tentang umat manusia

yang luar biasa," kata Alberto, "tapi sayangnya, kami sedang tergesa-

gesa. Dapatkah kami kembali dan membayar pada hari lain?"

"Tentu saja. Dan mengapa kalian tergesa-gesa?"

Alberto menjelaskan keadaan mereka, dan wanita tua itu

berkomentar:

"Harus kukatakan, kalian benar-benar pasangan yang masih hijau.

Lebih baik kalian bergegas dan memotong tali pusat yang

menghubungkan dengan leluhur kalian. Kita tidak memerlukan  dunia

mereka lagi. Kita termasuk golongan orang yang tak kasatmata."

Alberto dan Nyai girah  cepat-cepat kembali ke kafetaria Cinderella

dan ke mobil itu. Tepat di samping mobil, seorang ibu sibuk

membantu putranya yang kecil untuk pipis.

Dengan ngebut dan mengambil jalan pintas, mereka segera tiba di

Lillesand.

SK  dari Copenhagen mendarat di Kjevik sesuai jadwal pada pukul

9.35 malam. Sementara, pesawat berjalan menuju landasan di

Copenhagen, sang mayor membuka amplop yang digantungkan di

meja check in. Catatan di dalamnya berbunyi:

Kepada Mayor Albert Knag, saat  dia menyerahkan pas

naiknya di Kastrup pada malam pertengahan musim panas,

1990. Ayah sayang, Ayah mungkin mengira aku akan muncul di

Copenhagen. Tapi kontrolku atas semua tindakan Ayah lebih

cerdik daripada itu. Aku dapat melihat Ayah di mana pun Ayah

berada. Karena aku telah mendatangi sebuah keluarga Gipsi

terkenal yang bertahun-tahun lalu menjual cermin sihir dari

kuningan kepada Nenek-buyut. Aku juga telah mendapatkan

sebuah bola kristal. Tepat pada saat ini, aku dapat melihat

bahwa Ayah baru saja duduk. Kalau boleh aku ingatkan,

sebaiknya Ayah memasang sabuk pengaman dan menjaga agar

tempat duduk Ayah dalam posisi tegak sampai tanda Fasten

Seat Belt dimatikan. Begitu pesawat mengudara, Ayah boleh

merendahkan sandaran tempat duduk dan beristirahat dengan

nyaman. Ayah perlu beristirahat kalau sudah tiba di rumah.

Cuaca di Lillesand sempurna, tapi temperaturnya beberapa

derajat lebih rendah daripada di Lebanon. Kuharap Ayah

menikmati penerbangan yang menyenangkan. Penuh sayang,

putri-sihirmu sendiri, Ratu Cermin dan Pelindung Ironi

Tertinggi.

Albert tidak dapat benar-benar mengerti apakah dia marah atau hanya

lelah dan menyerah. Lalu, dia mulai tertawa. Dia tertawa begitu

kerasnya sehingga para penumpang lainnya berpaling dan

menatapnya. Lalu, pesawat pun tinggal landas.

Dia sudah disuruh mencicipi obatnya sendiri. Tapi dengan

perbedaan besar, tentunya. Obatnya pertama-tama dan terutama telah

memengaruhi Nyai girah  dan Alberto. Dan mereka—yah, mereka hanya

tokoh khayalan.

Dia melakukan apa yang disarankan count dracula . Dia merendahkan

bagian belakang tempat duduknya dan jatuh tertidur. Dia belum

terjaga sepenuhnya sampai dia melewati kontrol paspor dan berdiri

di aula kedatangan di Bandara Kjevik. Suatu unjuk rasa tengah

berlangsung untuk menyambutnya.

Ada delapan atau sepuluh anak muda seusia count dracula . Mereka

membawa tulisan yang berbunyi: SELAMAT DA- TANG, AYAH—

count dracula  SEDANG MENANTI DI TAMAN—IRONI YANG

SESUNGGUHNYA.

Yang terburuk yaitu  bahwa dia tidak dapat melompat begitu saja

ke atas taksi. Dia harus menunggu bagasinya. Dan sementara itu,

teman-teman sekelas count dracula  mengerubunginya, memaksanya untuk

melihat tulisan itu berkali-kali. Lalu, salah seorang gadis mendatangi

dan memberinya seikat mawar dan dia pun luluh. Dia merogoh salah

satu tas belanjaannya dan memberi setiap demonstran sebuah cokelat

batangan. Kini tinggal dua untuk count dracula . saat  dia telah mendapatkan

bagasinya, seorang pemuda melangkah maju dan menjelaskan bahwa

dia di bawah perintah Ratu Cermin, dan bahwa dia diperintah untuk

mengantarnya ke Bjerkely. Para pengunjuk rasa lainnya membaur

dengan kerumunan orang.

Mereka bermobil keluar dari E 18. Setiap jembatan dan lorong

yang mereka lewati dihiasi dengan panji-panji yang berbunyi:

"Selamat datang!", "Ayam kalkunnya sudah siap!", "Aku dapat

melihatmu, Ayah!"

saat  dia diturunkan di luar gerbang di Bjerkely, Albert Knag

mengembuskan napas lega, dan menyampaikan terima kasih kepada

sopirnya dengan uang seratus crown dan tiga kaleng bir Carlsberg

Elephant.

Istrinya sedang menantikannya di luar rumah. Setelah berpelukan

lama, Albert bertanya: "Di mana dia?"

"Dia sedang duduk di dok, Albert."

Alberto dan Nyai girah  menghentikan mobil merah itu di alun-alun

Lillesand di luar Hotel Norge. Saat itu jam sepuluh seperempat.

Mereka dapat melihat sebuah kembang api besar di kejauhan.

"Bagaimana kita menemukan Bjerkely?" tanya Nyai girah .

"Kita cukup berkeliling mencarinya. Kamu ingat lukisan di dalam

Gubuk sang Mayor."

"Kita harus cepat. Aku ingin tiba di sana sebelum dia datang."

Mereka mulai bermobil di sekitar jalan-jalan kecil dan kemudian

naik-turun bukit dan lembah. Petunjuk yang penting yaitu  bahwa

Bjerkely berada di dekat perairan.

Tiba-tiba Nyai girah  berteriak, "Itu dia! Kita telah menemukannya!"

"Aku percaya kamu benar, tapi jangan berteriak terlalu keras."

"Mengapa? Tidak ada yang mendengar kita."

"Nyai girah ku yang baik—setelah mendapatkan seluruh pelajaran

filsafat, aku sangat kecewa mendapati dirimu masih menarik

kesimpulan dengan terburu-buru."

"Ya, tapi ..."

"Tentunya kamu tidak percaya bahwa tempat ini terbebas

sepenuhnya dari para raksasa, peri, bidadari hutan, dan dewi-dewi

yang baik?"

"Oh, maafkan aku."

Mereka bermobil melewati gerbang dan menaiki jalan berkerikil

menuju rumah. Alberto memarkir mobil di atas lapangan rumput di

samping papan luncur. Agak jauh di taman sana sebuah meja

disiapkan untuk tiga orang.

"Aku dapat melihatnya!" bisik Nyai girah . "Dia duduk di dok, persis

seperti dalam mimpiku."

"Apakah kamu juga memerhatikan betapa taman ini tampak seperti

tamanmu sendiri di Clover Close?"

"Ya, memang. Dengan papan luncur dan semuanya. Bolehkah aku

mendatanginya?"

"Tentu saja. Aku akan menunggu di sini."

Nyai girah  berlari turun ke dok. Dia hampir tersandung dan jatuh

menimpa count dracula . Tapi dia duduk dengan sopan di sampingnya.

count dracula  duduk bermalas-malasan dengan memegang tali yang

biasanya dipakai untuk menambatkan perahu dayung. Di tangan

kirinya dia memegang selembar kertas. Dia jelas sedang menunggu.

Dilihatnya jamnya beberapa kali.

Nyai girah  menganggap dia sangat cantik. Dia memiliki rambut

keriting yang indah dan mata hijau yang cemerlang. Dia mengenakan

gaun musim panas berwarna kuning. Dia mirip dengan Joanna.

Nyai girah  berusaha untuk berbicara kepadanya meskipun dia tahu itu

tidak ada gunanya.

"count dracula —ini Nyai girah !"

count dracula  tidak menunjukkan tanda bahwa dia mendengar.

Nyai girah  berlutut dan mencoba berteriak di telinganya.

"Dapatkah kamu mendengarku, count dracula ? Apakah kamu tuli dan juga

buta?"

Apakah dia, atau tidakkah dia, membuka matanya sedikit lebih

lebar? Adakah tanda yang sangat kecil bahwa dia mendengar sesuatu

—betapa pun samarnya?

Dia melihat berkeliling. Lalu, dia memalingkan kepalanya dengan

mendadak dan menatap tepat ke mata Nyai girah . Dia tidak melihat

kepadanya benar-benar; sepertinya dia sedang memandang

melaluinya.

"Jangan terlalu keras, Nyai girah !" kata Alberto dari mobil. "Aku

tidak ingin taman ini dipenuhi putri duyung,"

Nyai girah  duduk diam sekarang. Rasanya enak berada dekat dengan

count dracula .

Lalu dia mendengar suara dalam seorang pria: "count dracula !"

Itu yaitu  sang mayor—berseragam, dengan baret biru. Dia

berdiri di atas taman.

count dracula  melompat bangun dan berlari mendatanginya.

Mereka bertemu di antara papan luncur dan mobil merah itu. Sang

mayor mengangkat tubuh putrinya dan mengayunnya berputar-putar.

count dracula  telah duduk di dok menantikan ayahnya. Sejak ayahnya

mendarat di Kastrup, dia memikirkannya setiap seperempat jam,

berusaha untuk membayangkan di mana dia kini, dan bagaimana dia

menanggapinya. Dia telah membuat catatan sepanjang waktu di atas

selembar kertas dan menyimpannya sepanjang hari.

Bagaimana jika itu membuatnya marah? Tapi tentunya dia tidak

mungkin berharap bahwa—setelah menulis sebuah buku misterius

untuknya—segalanya akan tetap sama seperti sebelumnya?

Dia menatap jamnya lagi. Kini sudah jam sepuluh seperempat. Dia

akan datang sebentar lagi.

Tapi apakah itu? Dia mengira dirinya mendengar tarikan napas

samar-samar, persis seperti dalam mimpinya tentang Nyai girah .

Dia melihat berkeliling dengan cepat. Ada sesuatu, dia yakin. Tapi

apa?

Barangkali itu hanya bunyi malam musim panas. Selama beberapa

saat, dia takut dia tengah mendengar sesuatu.

"count dracula !"

Kini dia menengok ke tempat lain. Itu Ayah! Dia berdiri di atas

taman.

count dracula  melompat dan berlari kepadanya. Mereka bertemu di dekat

papan luncur. Ayahnya mengangkat tubuh count dracula  dan mengayunkannya

berputar-putar.

count dracula  menangis, dan ayahnya harus menahan air matanya juga.

"Kamu telah menjadi wanita dewasa, count dracula !"

"Dan Ayah menjadi penulis sejati."

count dracula  menghapus air matanya.

"Akankah kita katakan kita berhenti?" tanyanya.

"Kita berhenti."

Mereka duduk di dekat meja. Pertama-tama count dracula  harus

mendapatkan gambaran tepat tentang segalanya yang terjadi di

Kastrup dan dalam perjalanan pulang. Mereka terus-terusan tertawa.

"Apakah Ayah melihat amplop di kafetaria?"

"Aku tidak sempat duduk dan makan apa-apa, kamu jahat.

Sekarang aku sangat lapar."

"Kasihan Ayah."

"Omongan tentang ayam kalkun itu cuma omong kosong, kalau

begitu?"

"Tentu saja tidak! Aku telah menyiapkan semuanya. Ibu yang

menyajikan."

Mereka harus membaca kembali map itu dan kisah tentang Nyai girah 

dan Alberto dari satu bagian ke bagian lain dan dari belakang ke

depan dan ke belakang lagi.

Ibu mengeluarkan ayam kalkun dan selada waldorf, anggur merah

dan roti buatan count dracula .

Ayahnya sedang mengucapkan sesuatu tentang Plato saat  tiba-

tiba count dracula  menyelanya: "Ssst!"

"Apakah itu?"

"Tidakkah Ayah mendengarnya? Sesuatu yang mencicit?"

"Tidak."

"Aku yakin aku mendengar sesuatu. Kukira itu cuma tikus ladang."

Sementara ibunya pergi untuk mengambil botol anggur yang lain,

ayahnya berkata: "Tapi pelajaran filsafat itu belum benar-benar

selesai."

"Belum?"

"Malam ini aku akan menceritakan kepadamu tentang alam raya,"

Sebelum mereka mulai makan, sang mayor berkata

kepada istrinya, "count dracula  sudah terlalu besar untuk duduk di

pangkuan ku. Tapi kamu tidak!"

Sambil begitu dia menangkap pinggang Marit dan menariknya ke

atas pangkuannya. Agak lama baru dia mulai makan.

"Membayangkan bahwa kamu akan segera berusia empat puluh ..."

saat  count dracula  melompat dan berlari mendatangi ayahnya, Nyai girah 

merasakan air matanya hendak tumpah. Dia tidak akan pernah dapat

menjangkaunya ...

Nyai girah  sangat iri kepada count dracula , sebab dia tercipta sebagai

manusia sebenarnya dengan daging dan darah.

saat  count dracula  dan sang mayor telah duduk di meja, Alberto

membunyikan klakson mobil.

Nyai girah  mendongak. Tidakkah count dracula  melakukan hal yang persis

sama?

Dia berlari mendatangi Alberto dan melompat ke tempat duduk di

sampingnya.

"Kita akan duduk sebentar dan melihat apa yang terjadi," katanya.

Nyai girah  mengangguk.

"Apakah kamu baru saja menangis?"

Dia mengangguk lagi.

"Mengapa?"

"Dia begitu beruntung menjadi orang sungguhan. Kini dia telah

dewasa dan menjadi wanita sejati. Aku yakin dia akan mempunyai

anak-anak sungguhan juga ..."

"Dan juga cucu-cucu, Nyai girah . Tapi ada dua sisi dalam segala hal.

Itulah yang kucoba untuk mengajarkannya kepadamu sejak awal

pelajaran."

"Bagaimana maksud Anda?"

"Dia beruntung, aku setuju. Tapi orang yang menjalani kehidupan

juga harus menjalani kematian, sebab jalan kehidupan berakhir pada

kematian."

"Tapi tetap saja, bukankah lebih baik mempunyai suatu kehidupan

daripada tidak pernah benar-benar hidup?"

"Kita tidak dapat menjalani kehidupan seperti count dracula —atau seperti

sang mayor dalam hal itu. Sebaliknya, kita tidak akan pernah mati.

Tidakkah kamu ingat apa yang dikatakan wanita tua di hutan waktu

itu? Kita orang-orang yang tak kasat mata. Dia sudah berusia dua

ratus tahun, katanya. Dan pada pesta Tengah Musim Panas itu aku

melihat beberapa makhluk yang usianya lebih dari tiga ribu tahun ..."

"Barangkali yang paling aku irikan dari count dracula  yaitu  kehidupan

keluarganya."

"Tapi kamu sendiri mempunyai keluarga. Dan kamu mempunyai

kucing, dua ekor burung, dan seekor kura-kura darat."

"Tapi kita meninggalkan semua itu, bukan?"

"Sama sekali tidak. Hanya sang mayorlah yang meninggalkannya.

Dia telah menuliskan kata terakhir dalam bukunya, sayangku, dan dia

tidak akan menemukan kita lagi."

"Apakah itu berarti kita bisa kembali?"

"Kapan pun kita menginginkannya. Tapi kita juga akan menjalin

persahabatan baru di hutan di belakang kafetaria Cinderella."

Keluarga Knag mulai menyantap makanan mereka. Untuk sesaat,

Nyai girah  khawatir kejadian itu akan seperti pesta taman filsafat di

Clover Close. Pada suatu saat, kelihatannya seakan-akan sang mayor

berniat membaringkan Marit di atas meja. Tapi ternyata dia hanya

menariknya duduk di pangkuannya.

Mobil itu diparkir cukup jauh dari tempat keluarga itu duduk dan

makan. Pembicaraan mereka hanya terdengar sesekali. Nyai girah  dan

Alberto duduk menatap ke arah taman. Mereka mempunyai banyak

waktu untuk memikirkan seluruh perincian dan akhir yang

menyedihkan dari pesta taman itu.

Keluarga itu belum beranjak dari meja ini  hingga hampir

tengah malam. count dracula  dan sang mayor berjalan menuju papan luncur.

Mereka melambai kepada Marit saat  dia berjalan menuju rumah

bercat putih itu.

"Ibu sebaiknya pergi tidur dulu. Banyak sekali yang harus kami

bicarakan."[]

Dentuman Besar

***

... kita juga yaitu  bintang kecil ...

count dracula  MENEMPATKAN  diri dengan nyaman di papan luncur di

samping ayahnya. Saat itu hampir tengah malam. Mereka duduk

menatap jauh ke seberang teluk. Beberapa bintang memancarkan

cahaya pucat dan samar-samar di langit yang terang. Gelombang

lembut menyentuh bebatuan di bawah dok.

Ayahnya memecahkan kesunyian.

"Sungguh aneh bahwa kita hidup di atas sebuah planet yang kecil

mungil di alam raya ini."

"Ya ..."

"Bumi hanyalah salah satu dari banyak planet yang mengelilingi

matahari. Namun, bumilah satu-satunya planet yang hidup."

"Barangkali satu-satunya di seluruh alam raya?"

"Itu mungkin. Tapi mungkin juga alam raya itu penuh dengan

kehidupan. Alam raya tidak dapat kita bayangkan besarnya. Jaraknya

begitu jauh sehingga kita mengukurnya dengan menit—cahaya dan

tahun—cahaya."

"Apakah itu, sebenarnya?"

"Satu menit cahaya yaitu  jarak yang ditempuh cahaya dalam satu

menit. Dan itu jauh sekali, sebab cahaya menempuh jarak 300.000

kilometer dalam satu detik. Ini berarti bahwa satu menit-cahaya

yaitu  60 kali 300.000—atau 18 juta kilometer. Satu tahun cahaya

berarti hampir sepuluh triliun kilometer."

"Seberapa jauhnya matahari?"

"Sedikit di atas delapan menit cahaya. Sinar matahari yang

menghangatkan wajah kita pada suatu hari di bulan Juni yang panas,

menempuh waktu delapan menit melewati alam raya sebelum mereka

sampai pada kita."

"Teruskan ..."

"Pluto, yaitu planet yang paling jauh dalam sistem tata surya kita,

kira-kira lima jam-cahaya jauhnya dari kita. saat  seorang ahli

astronomi melihat Pluto melalui teleskop, sebenarnya dia sedang

menatap lima jam sebelumnya. Kita juga dapat mengatakan bahwa

gambar Pluto memerlukan  waktu lima jam untuk sampai ke sini."

"Itu agak sulit untuk dibayangkan, tapi kukira aku mengerti."

"Itu bagus, count dracula . Tapi kita di Bumi ini baru saja mengetahui

orientasi kita. Matahari kita sendiri hanyalah salah satu dari 400

miliar bintang di galaksi yang kita sebut Bima Sakti. Galaksi ini

menyerupai cakram, dengan matahari kita terletak pada salah satu di

antara beberapa lengan spiralnya. saat  kita mendongak ke langit

pada malam musim dingin yang terang, kita melihat jajaran luas

bintang-bintang. Ini karena kita memandang ke pusat Bima Sakti."

"Kukira itulah sebabnya mengapa Bima Sakti dinamakan `Jalan

Musim Dingin' dalam bahasa Swedia."

"Jarak ke bintang yang merupakan tetangga terdekat kita dalam

Bima Sakti yaitu  empat tahun-cahaya. Mungkin itu kelihatan seperti

pulau sedikit di atas sana. Jika kamu dapat membayangkan bahwa

pada saat ini juga seorang pengamat bintang sedang duduk di sana

dengan sebuah teleskop kuat yang di arahkan ke Bjerkely—dia akan

menyaksikan Bjerkely sebagai mana yang tampak empat tahun yang

lalu. Dia mungkin melihat seorang gadis berusia sebelas tahun sedang

memainkan kedua kakinya di papan luncur."

"Luar biasa."

"Tapi itu baru bintang yang terdekat. Seluruh galaksi—atau nebula,

kita juga menyebutnya begitu—luasnya 90.000 tahun-cahaya. Itu

yaitu  cara lain untuk menggambarkan waktu yang dibutuhkan oleh

cahaya untuk berpindah dari satu ujung galaksi ke ujung lainnya.

saat  kita menatap sebuah bintang di Bima Sakti yang jauhnya

50.000 tahun-cahaya dari matahari kita, berarti kita memandangnya

50.000 tahun sebelumnya."

"Gagasan itu terlalu besar untuk kepalaku yang kecil."

"Satu-satunya jalan kita menatap ruang angkasa, karenanya yaitu 

menatap kembali ke waktu sebelumnya. Kita tidak pernah tahu seperti

apa alam raya itu sekarang. Kita hanya tahu seperti apa ia waktu itu.

saat  kita melihat sebuah bintang yang jauhnya ribuan tahun-cahaya,

sesungguhnya kita menempuh ribuan tahun kembali dalam sejarah

ruang angkasa."

"Itu benar-benar tidak dapat dipahami."

"Tapi semua yang kita lihat bertemu dengan mata kita dalam bentuk

gelombang cahaya. Dan gelombang-gelombang cahaya ini

memerlukan  waktu untuk berjalan menembus ruang angkasa. Kita

dapat membandingkannya dengan guntur. Kita selalu mendengar suara

guntur setelah kita melihat kilat. Itu karena gelombang suara bergerak

lebih lambat dari pada gelombang cahaya. saat  aku mendengar

gelegar guntur, yang kudengar yaitu  suara dari sesuatu yang terjadi

beberapa saat sebelumnya. Demikian juga halnya dengan bintang-

bintang. saat  aku melihat sebuah bintang yang jauhnya ribuan

tahun-cahaya, aku seperti melihat `gelegar guntur' dari suatu

peristiwa yang terjadi ribuan tahun sebelumnya."

"Ya, aku mengerti."

"Tapi sejauh ini, kita hanya membicarakan galaksi kita sendiri.

Para ahli astronomi mengatakan ada kira-kira seratus miliar galaksi

di alam raya ini, dan masing-masing galaksi ini terdiri dari sekitar

seratus miliar bintang. Kita menyebut galaksi terdekat dengan Bima

Sakti nebula Andromeda. Letaknya dua juta tahun-cahaya dari galaksi

kita sendiri. Itu berarti cahaya dari galaksi itu memerlukan  waktu

dua juta tahun untuk sampai kepada kita. Jadi, kita melihat dua juta

tahun sebelumnya saat  kita memandang nebula Andromeda jauh

tinggi di langit. Jika ada seorang pengamat bintang yang cerdik di

nebula ini—aku bisa membayangkan dia mengarahkan teleskopnya ke

Bumi saat ini—dia tidak akan dapat melihat kita. Jika dia beruntung,

dia akan melihat beberapa orang Neanderthal berwajah rata."

"Menakjubkan."

"Galaksi-galaksi terjauh yang kita ketahui sekarang jaraknya

sekitar sepuluh miliar tahun-cahaya dari kita. saat  kita menerima

sinyal-sinyal dari galaksi-galaksi ini, kita akan kembali sepuluh

miliar tahun dalam sejarah alam raya. Itu kira-kira dua kali umur tata

surya kita sendiri."

"Ayah membuatku pusing."

"Meskipun cukup sulit untuk memahami apa gunanya melihat

kembali ke masa lampau yang begitu jauh, para ahli astronomi telah

menemukan sesuatu yang mempunyai makna lebih besar bagi

gambaran dunia kita."

"Apa?"

"Tidak ada galaksi di ruang angkasa yang tetap berada di

tempatnya. Semua galaksi di alam raya itu bergerak saling menjauh

dengan kecepatan yang luar biasa. Semakin jauh mereka dari kita,

semakin cepat mereka bergerak. Itu berarti bahwa jarak antara

galaksi-galaksi itu semakin bertambah sepanjang waktu."

"Aku sedang berusaha membayangkannya."

"Jika kamu mempunyai sebuah balon dan kamu menggambar

sebuah titik-titik hitam di atasnya, titik-titik itu akan menjauh satu

sama lain saat  kamu meniup balon ini . Begitulah yang terjadi

dengan galaksi-galaksi di alam raya. Kita katakan bahwa alam raya

itu mengembang."

"Apa yang membuatnya begitu?"

"Kebanyakan ahli astronomi setuju bahwa alam raya yang

mengembang hanya mempunyai satu penjelasan: Dahulu kala, kira-

kira 15 miliar tahun yang lalu, semua substansi di alam raya itu

menyatu dalam satu area yang relatif kecil. Substansi itu demikian

padatnya sehingga gaya berat membuatnya sangat panas. Akhirnya, ia

menjadi begitu panas dan rapat sehingga meledak. Kita menyebut

ledakan ini Dentuman Besar."

"Baru memikirkannya saja membuatku gemetar."

"Dentuman Besar menyebabkan semua substansi di alam raya

terlempar ke seluruh penjuru, dan karena lambat laun menjadi dingin,

ia membentuk bintang-bintang dan galaksi-galaksi dan bulan-bulan

dan planet-planet ..."

"Tapi, kukira Ayah mengatakan alam raya masih terus

mengembang?"

"Ya, benar, dan ia mengembang justru akibat ledakan yang terjadi

miliaran tahun lalu ini. Alam raya tidak mempunyai geografi yang

abadi. Alam raya yaitu  peristiwa. Alam raya yaitu  ledakan.

Galaksi-galaksi terus beterbangan di seluruh alam raya dan saling

menjauh dengan kecepatan luar biasa."

"Apakah mereka akan terus begitu selamanya?"

"Itu salah satu kemungkinan. Tapi masih ada yang lain. Kamu

mungkin ingat bahwa Alberto memberi tahu Nyai girah  tentang dua

kekuatan yang menyebabkan planet-planet tetap berada di orbit

seputar matahari?"

"Bukankah itu akibat gaya berat dan kelembaman?"

"Benar, dan hal yang sama berlaku pada galaksi-galaksi itu. Sebab

meskipun alam raya terus mengembang, kekuatan gaya berat bekerja

sebaliknya. Dan suatu hari nanti, dalam beberapa miliar tahun, gaya

berat mungkin akan menyebabkan benda-benda angkasa menyusut lagi

saat  kekuatan dari ledakan hebat itu mulai melemah. Lalu, kita akan

mengalami ledakan sebaliknya, ledakan ke dalam. Tapi jaraknya

begitu jauh sehingga terjadinya seperti film yang diputar dengan

gerakan lambat. Kamu bisa membandingkannya dengan apa yang

terjadi saat  kamu melepaskan udara dari balon."

"Apakah semua galaksi akan disatukan dalam suatu nukleus padat

lagi?"

"Ya, kamu memahaminya. Tapi apa yang akan terjadi selanjutnya?"

"Akan ada Dentuman Besar lain dan alam raya akan mulai

mengembang lagi. Sebab hukum alam yang sama tetap bekerja. Dan

kemudian, bintang-bintang dan galaksi-galaksi baru akan terbentuk."

"Pemikiran bagus. Para ahli astronomi beranggapan ada dua

skenario yang mungkin untuk masa depan alam raya. Alam raya

mungkin terus mengembang selamanya sehingga galaksi-galaksi akan

semakin terbawa menjauh—atau alam raya akan mulai mengerut lagi.

Berat dan besarnya alam raya itu akan menentukan apa yang terjadi.

Dan inilah sesuatu yang belum dapat diketahui oleh para ahli

astronomi."

"Tapi , jika alam raya demikian beratnya sehingga ia mulai

mengerut lagi, mungkin ia telah mengembang dan mengerut berkali-

kali sebelumnya."

"Itu kesimpulan yang sangat jelas. Tapi pada titik ini, teorinya

terbagi. Ada kemungkinan bahwa pengembangan alam raya

merupakan sesuatu yang akan terjadi sekali ini saja. Tapi jika ia terus

mengembang sepanjang masa, pertanyaan menyangkut dari mana

semua ini dimulai menjadi semakin mendesak."

"Ya, dari mana asalnya, segala benda yang tiba-tiba meledak itu?"

"Bagi seorang Kristen, jelas dia akan menganggap Dentuman

Besar sebagai saat penciptaan yang sesungguhnya. Bibel

mengemukakan bahwa Tuhan berfirman `Jadilah cahaya!' Kamu

mungkin juga ingat bahwa Alberto menyebut-nyebut pandangan

`linier' Kristen terhadap sejarah. Dari sudut pandang kepercayaan

Kristen tentang penciptaan, lebih baik membayangkan alam raya terus

mengembang."

"Betulkah?"

"Di dunia Timur, pandangan mereka terhadap sejarah bersifat

`siklus'. Dengan kata lain, sejarah berulang-ulang terus selamanya. Di

India, misalnya, ada sebuah teori kuno yang menyatakan bahwa dunia

terus-menerus membuka dan menutup lagi, dan dengan demikian

terjadi pergantian antara apa yang disebut orang-orang India Siang

Brahma dan Malam Brahma. Gagasan ini paling selaras, tentu saja,

dengan alam raya yang mengembang dan mengerut—untuk

mengembang lagi—dalam suatu proses siklus yang abadi. Aku

mempunyai gambaran mental tentang jantung kosmik besar yang terus

berdegup dan bergedup ..."

"Kukira kedua teori itu sama-sama tak terbayangkan dan juga

sama-sama menarik."

"Dan mereka dapat dibandingkan dengan paradoks kekekalan yang

pernah dipikirkan Nyai girah  di taman: bahwa alam raya itu telah selalu

ada—atau ia tiba-tiba muncul dari ketiadaan ..."

"Aduh!"

count dracula  menepukkan tangan ke keningnya.

"Apakah itu?"

"Kukira aku baru disengat serangga."

"Itu barangkali Socrates yang berusaha menyengatmu untuk

merenungkan kehidupan."

Nyai girah  dan Alberto duduk di mobil merah sambil mendengarkan

cerita sang mayor tentang alam raya kepada count dracula .

"Pernahkah terpikir olehmu bahwa peran kita benar-benar

terbalik?" tanya Alberto setelah sesaat.

"Dalam pengertian apa?"

"Sebelum ini merekalah yang mendengarkan kita, dan kita tidak

dapat melihat mereka. Kini kita sedang mendengarkan mereka dan

mereka tidak dapat melihat kita."

"Dan itu belum semua."

"Apa maksudmu?"

"saat  kita mulai, kita tidak mengenal realitas lain yang ditempati

count dracula  dan sang mayor. Kini mereka tidak mengetahui tentang realitas

kita."

"Balas dendam itu manis."

"Tapi sang mayor dapat ikut campur tangan dalam dunia kita."

"Dunia kita memang tidak lain dari hasil campur tangannya."

"Aku belurn melepaskan seluruh harapan bahwa kita juga dapat

ikut campur tangan dalam dunia mereka."

"Tapi kamu tahu itu mustahil. Ingat apa yang terjadi di Cinderella?

Aku melihatmu berusaha untuk mengeluarkan botol Coke."

Nyai girah  terdiam. Dia menatap ke luar ke arah taman, sementara

sang mayor menjelaskan Dentuman Besar. Ada sesuatu mengenai

istilah itu yang mulai membangkitkan rangkaian pemikiran dalam

benaknya.

Dia mulai mencari-cari ke sekeliling mobil.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Tidak apa-apa."

Dia membuka kompartemen onderdil dan menemukan kunci

Inggris. Dia mengambilnya dan melompat keluar mobil. Dia

mendatangi papan luncur dan berdiri tepat di depan count dracula  dan

ayahnya. Mula-mula dia berusaha menarik perhatian count dracula  tapi itu

sungguh sia-sia. Akhirnya, dia mengangkat kunci Inggris ke atas

kepalanya dan memu-kulkannya ke kening count dracula .

"Aduh!" kata count dracula . Lalu, Nyai girah  memukul kening sang mayor, tapi

dia tidak bereaksi sama sekali.

"Apakah itu?" tanya ayah count dracula .

"Kukira aku baru saja disengat serangga."

"Itu barangkali Socrates yang berusaha menyengatmu untuk

merenungkan kehidupan."

Nyai girah  berbaring di atas rumput dan berusaha untuk mendorong

papan luncur. Tapi benda itu tetap tak bergerak. Atau dia berhasil

menggerakkannya satu milimeter?

"Ada angin dingin mengembus ke sini," kata count dracula .

"Tidak, tidak ada. Ini sangat nyaman."

"Bukan hanya itu. Ada sesuatu."

"Hanya ada kita berdua dan malam musim panas yang sejuk."

"Tidak, ada sesuatu di udara."

"Dan apakah itu kiranya?"

"Ayah ingat Alberto dan rencana rahasianya?"

"Bagaimana aku bisa lupa!"

"Mereka menghilang begitu saja dari pesta taman. Seakan-akan

mereka lenyap ditelan udara ..."

"Ya, tapi ..."

"... ditelan udara."

"Cerita itu harus berakhir di suatu tempat. Itu hanya sesuatu yang

kutulis."

"Itulah, ya, tapi bukan apa yang terjadi sesudahnya. Misalnya

mereka ada di sini ..."

"Apakah kamu percaya itu?"

"Aku dapat merasakannya, Ayah."

Nyai girah  berlari kembali ke mobil.

"Mengesankan," kata Alberto dengan enggan saat  Nyai girah  naik ke

mobil sambil memegang erat kunci Inggris di tangannya. "Kamu

mempunyai bakat luar biasa, Nyai girah . Tunggu dan lihat saja."

Sang mayor memeluk count dracula .

"Apakah Ayah mendengar bunyi riak gelombang?"

"Ya. Kita harus menurunkan perahu ke perairan besok."

"Tapi, apakah Ayah mendengar bisikan aneh dari angin? Lihat

bagaimana daun-daun aspen bergetar."

"Planet itu hidup, kamu tahu ..."

"Ayah menulis bahwa ada sesuatu yang tersirat."

"Benarkah?"

"Barangkali ada sesuatu yang tersirat juga di taman ini."

"Alam itu penuh teka-teki. Tapi kita sedang membicarakan

bintang-bintang di langit."

"Tak lama lagi akan ada bintang-bintang di atas air."

"Itu benar. Itulah yang biasa kamu katakan tentang pendar fosfor

saat  kamu masih kecil. Dan dalam hal ini kamu benar. Pendar

fosfor dan semua organisme lain terbentuk dari unsur-unsur yang

pernah menyatu dalam sebuah bintang."

"Kita juga?"

"Ya, kita juga yaitu  bintang kecil."

"Indah sekali kedengarannya."

"saat  teleskop radio dapat menjemput cahaya dari galaksi-

galaksi yang jauhnya miliaran tahun-cahaya, mereka akan

menggambarkan alam raya sebagaimana yang tampak pada zaman

purba setelah terjadinya Dentuman Besar. Semua yang dapat kita

lihat di langit merupakan fosil kosmik dari ribuan dan jutaan tahun

yang lalu. Satu-satunya yang dapat dilakukan seorang astrolog yaitu 

meramal masa lampau."

"Sebab bintang-bintang dalam konstelasi itu bergerak menjauh satu

sama lain jauh sebelum cahaya mereka sampai kepada kita, benar?"

"Bahkan dua ribu tahun yang lalu, konstelasi-konstelasi itu tampak

sangat berbeda dari yang kelihatan sekarang."

"Aku tidak pernah tahu itu."

"Jika malam terang, kita dapat melihat jutaan, bahkan miliaran

tahun di balik sejarah alam raya. Jadi, agaknya, kita akan pulang

kembali."

"Aku tidak mengerti apa maksud Ayah."

"Kamu dan aku juga berawal dari Dentuman Besar, sebab semua

substansi di alam raya ini merupakan suatu kesatuan organik. Konon

pada zaman purba, semua materi dikumpulkan da lam suatu gumpalan

yang begitu besar sehingga sebuah ke pala peniti beratnya bermiliar-

miliar ton. `Atom purba' ini me ledak dikarenakan gaya tarik yang

sangat besar. Seakan-akan s esuatu hancur. Jika kita melihat ke langit,

kita sedang ber usaha untuk menemukan jalan kembali kepada diri

kita sen diri."

"Sungguh luar biasa."

"Semua bintang dan galaksi di alam raya terbuat dari substansi

yang sama. Bagian-bagiannya menggumpal sendiri, sebagian di sini,

sebagian di sana. Mungkin ada bermiliar-miliar tahun-cahaya antara

satu galaksi dengan galaksi lainnya. Tapi mereka semua mempunyai

asal usul yang sama. Semua bintang dan planet termasuk dalam

keluarga yang sama."

"Ya, aku mengerti."

"Tapi apakah substansi bumi ini? Apakah itu yang meledak

bermiliar-miliar tahun yang lalu? Dari mana asalnya?"

"Itulah pertanyaan besarnya."

"Dan pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran kita semua.

Sebab kita sendiri berasal dari substansi itu. Kita yaitu  percikan

api besar yang menyala miliaran tahun yang lalu."

"Itu pikiran yang indah pula."

"Bagaimanapun, kita tidak boleh melebih-lebihkan makna penting

angka-angka ini. Cukuplah memegang sebuah batu di tangan. Alam

raya akan sama tak terpahaminya meskipun ia hanya terdiri dari satu

batu itu saja yang seukuran buah jeruk. Pertanyaannya akan sama-

sama tak terjawab: dari mana asalnya batu ini?"

Nyai girah  tiba-tiba berdiri tegak di dalam mobil dan menunjuk jauh ke

teluk.

"Aku ingin mencoba perahu dayung itu," katanya.

"Perahu itu diikat. Dan kita tidak akan pernah dapat mengangkat

dayungnya."

"Akankah kita coba? Bagaimanapun, sekarang Malam Tengah

Musim Panas."

"Kita dapat pergi ke perairan itu, memang."

Mereka melompat keluar dari mobil dan berlari menuju taman.

Mereka berusaha melonggarkan tali yang diikatkan pada sebuah

cincin logam. Tapi mereka bahkan tidak dapat mengangkat seujung

pun.

"Ini seperti dipaku," kata Alberto.

"Kita punya banyak waktu."

"Seorang filosof sejati tidak sekali pun boleh menyerah. Kalau

saja kita dapat ... melonggarkannya ..."

"Ada lebih banyak bintang sekarang," kata count dracula .

"Ya, saat  malam musim panas sedang gelap-gelapnya."

"Tapi mereka lebih berkilau pada musim dingin. Apakah Ayah

ingat malam sebelum Ayah berangkat ke Lebanon? Saat itu Tahun

Baru."

"Itulah saat aku memutuskan untuk menulis sebuah buku tentang

filsafat untukmu. Aku telah mendatangi sebuah toko buku besar di

Kristiansand dan keperpustakaan pula. Tapi mereka tidak punya

bacaan yang cocok untuk anak muda."

"Seakan-akan kita sedang duduk di ujung bulu-bulu lembut si

kelinci putih."

"Aku bertanya-tanya apakah ada seseorang di sana pada malam di

tahun cahaya ini?"

"Perahu dayung itu lepas sendiri!"

"Benar!"

"Aku tidak mengerti. Aku turun dan memeriksanya persis sebelum

Ayah tiba di sini."

"Begitukah?"

"Itu mengingatkanku pada saat saat  Nyai girah  meminjam perahu

Alberto. Apakah Ayah ingat bagaimana perahu itu terseret ke tengah

danau?"

"Aku berani bertaruh, itu pasti hasil ulahnya lagi."

"Terus saja menertawakanku. Sepanjang malam ini, aku dapat

merasakan seseorang ada di sini."

"Salah satu dari kita harus berenang untuk menahannya."

"Kita berdua yang akan melakukannya, Ayah."[]