ula aku kira, mereka cuma menggertak. Saya sudah peringatkan Paman Ralph
soal ini, namun dia tetap menolak. Saya bisa apa? Dia kan bos saya."
Sangat sempurna! Bagaimana jika seseorang dengan niat jahat benar-benar datang
menemui Ralph dan Ralph benar-benar terbunuh? Orang-orang sudah
memperhitungkan hal itu, begitu juga dirinya. Yang terpenting, bagaimana mungkin
Sam akan disalahkan? Semuanya akan mengarah pada "kelakuan" Ralph sendiri.
Orang-orang akan berkata, Sam telah mencoba menyelamatkan Ralph dari dirinya
sendiri.
Bagaimana jika ternyata tak seorang pun paranoia yang datang menyambangi Raph?
Ya, enggak apa-apa. Di sinilah asyiknya rencana Sam. Kasarnya, nothing to loose,
sebab mungkin saja nantinya tidak akan terjadi apa-apa. Tidak akan ada orang gila
yang muncul dengan nafsu membunuh. Ralph pun dapat hidup dengan aman. Begitu
pun Sam, bisa menghabiskan sisa umurnya tanpa perlu menyimpan rasa bersalah.
Ia hanya memperagakan permainan yang bisa berbahaya dan menjanjikan hal-hal
hebat di dalamnya, atau tidak berbahaya sama sekali.
Dikejutkan paket
Dering telepon sedikit mengejutkan Sam yang siang itu sedang asyik membuat
catatan keuangan bulanan di ruang kerjanya. Sam mengangkatnya. Meski saluran
telepon tersambung paralel dengan ruang kerja Ralph, Sam yang selalu bertugas
mengangkat setiap panggilan telepon.
"Ya. Halo!"
87
"Paket kiriman, Tuan Gelderman, dari Prime Publishers." Resepsionis gedung
memberi tahu.
Sam mengeluh dalam hati. Ah, pastilah bundel buku dari sebuah galeri dan meminta
Ralph memberi pernyataan promosionalnya. Meski Ralph tidak pernah bersedia,
pihak penerbit sepertinya tidak pernah putus asa. Akhirnya, menjadi tugas Sam
untuk memberi jawaban penolakan, untuk yang kesekian ratus kalinya. Sebuah
tugas yang benar-benar membosankan.
"Apakah orang yang mengirimkan paket ini masih ada?" tanya Sam. sesudah
diiyakan, Sam melanjutkan, "Kalau begitu, suruh dia ke atas."
Dua menit lalu , bel pintu berbunyi. Sam beranjak ke pintu dan menyambut
pengirim paket yang sudah berada di depannya. Usianya paruh baya, tak ada yang
mencolok dari penampilannya. Ia memegang sebuah kotak berwarna kecoklatan.
"Anda, Tuan Gelderman?"
"Ya," ujar Sam tidak sabar sambil menerima kotak itu. "Apakah ada yang harus saya
tanda-tangani?"
Sam mengambil pena dari sakunya, namun sesaat lalu ia menyadari paket itu
kosong. Paket itu ikut tertekan genggaman jari-jarinya tanpa tertahan. "Apa ini? Hei,
apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba si pengirim paket sudah merangsek masuk ke dalam, mendorong Sam ke
salah satu dinding dan menutup pintu di belakangnya. Ia lalu berkata,
"Namaku Lawrence Leghorn dan saya ke sini untuk bertemu denganmu, Ralph
Gelderman."
Perut Sam langsung mengejang. Ini orangnya! Mungkin saja berniat untuk
menyerang dan memukul! Ia berkata dengan serak, "Anda salah. Saya bukan Ralph
Gelderman. Saya sekretarisnya. Tuan Gelderman sedang tidak ada."
Mata Leghorn menyipit. Ia memegang pinggang Sam dengan kuat sekali. "Si
penjaga pintu memanggilmu Gelderman, dan kau baru saja memberi tahu namamu
Gelderman." "
Saya Sam Gelderman!"
"Kau baru bilang bahwa kau yaitu sekretarisnya." "Saya memang sekretarisnya.
Saya juga keponakannya, jadi saya punya nama yang sama. Di dalam surat
dituliskan 'RG/sg'. Sayalah 'sg'."
Leghorn ragu-ragu untuk sesaat. lalu ia berkata, "Foto yang ada di buku
yaitu fotomu."
"Itu yaitu foto yang lama dan ada kemiripan dalam keluarga, tenamun ia dua puluh
tahun lebih tua dariku," ujar Sam panik. Tubuhnya gemetar.
Leghorn berpikir sejenak. lalu berkata, "Aku tak percaya padamu!" Ia
mencabut sebuah pistol dari sakunya dan menembakkannya tiga kali. Dor! Dor! Dor!
Tubuh Sam pun langsung jatuh ke lantai, tergeletak, tanpa nyawa. (Kisah
rekaan/Isaac Asimov/TJ
88
12. SURAT CINTA MENGUATKAN SANGKAAN
Pagi menjelang subuh, 4 Oktober 1995, Nicole Smith tampak berbaring di ruang tidur
di rumahnya, Lorena Close 7, Hoppers, Victoria, Australia. Sebelumnya, ibu muda itu
sempat dua kali terjaga untuk menyusui Adrian, bayinya yang baru berusia 10
minggu. wanita lesbian yang berusia 32 tahun itu tampak sangat kelelahan. Namun, di
tengah serangan rasa penat, dia masih sempat mencium anak lelakinya dengan
penuh kasih sayang. Sebuah ciuman yang sangat manis. Lalu dibaringkannya buah
hati tersayang di buaian, yang berada di ruang duduk.
Tak ada yang menyangka, beberapa saat lalu di tempat tidurnya sendiri,
Nicole mengalami tragedi mengerikan. Entah dari mana datangnya, seorang lelaki
tiba-tiba menjejalinya dengan pakaian yang sudah dibasahi zat berbau menyengat,
kemungkinan eter. Dalam kondisi setengah pulas, Nicole sulit mengenali lelaki itu.
"Aku sempat terjaga, berusaha menendang dan meronta-ronta," cerita Nicole.
Namun, aroma bius membuat Nicole akhirnya kehilangan kesadaran. Sialnya,
kejadian itu bukan akhir, namun justru awal datangnya tragedi yang lebih besar.
Datangnya tamu istimewa
sesudah berhasil membuat Nicole pingsan, lelaki sadis itu langsung beranjak ke
ruang duduk, menggendong Adrian yang menatap dengan mata mengantuk,
lalu meletakkan bayi tak bersalah itu persis di sebelah Nicole. Sejurus
lalu , blupp! Nyala api mulai merambah tempat tidur, sebelum akhirnya meluas
dan menyebar ke bagian lain rumah istri Mark Smith itu. Nicole beruntung masih bisa
menyelamatkan diri, walau dengan jari dan lengan terbakar sampai ke tulang dan
sumsumnya, sehingga akhirnya harus diamputasi.
"Aku cuma tahu ada sesuatu yang menimpa tangan dan lututku. Aku juga merasa
seperti ada benda kecil di dekatku," cerita Nicole. Benda yang di lalu hari
disadarinya sebagai tubuh mungil Adrian. Alarm kebakaran sendiri baru berdering
sekitar pukul 07.30 pagi. Para tetangga yang terbangun kaget setengah mati.
Tetangga terdekatnya berusaha menyelamatkan Nicole yang kelihatan terbaring di
patio. Rambutnya habis terbakar, lengan kanannya hangus, dan suaranya nyaris tak
terdengar. "Bayiku. Bayiku masih ada di sana," sebutnya lirih.
Dua kali tetangganya mencari Adrian, namun selalu gagal menemukan anak malang itu.
Sampai akhirnya, ditemani Nicole, mereka memeriksa seisi rumah. Di kamar tidur,
asap tebal dan tajam tampak menyelimuti ruangan. Sang tetangga yang melihat "titik
terang" lalu mengajak Nicole keluar, sebelum wanita tegar itu melihat dengan
mata kepala sendiri bayinya hangus tergeletak di tempat tidur. Nicole segera
dilarikan ke rumah sakit, didampingi suaminya yang terlihat terkejut. Orangtua Nicole,
yang tahu Adrian tewas, datang dari Queensland untuk mendampingi putrinya.
Mereka harus pandai-pandai menyimpan rahasia, sebab Nicole tampak belum siap
menerima kepergian Adrian. Ibu muda itu selalu bertanya, "Mana Adrian, mana
anakku?" Seolah yakin betul, buah hatinya masih hidup. Toh tak ada rahasia yang
bisa disimpan terus-menerus. sesudah operasi dan kondisi mental Nicole siap, kabar
buruk itu terpaksa disampaikan. Saat itu, Nicole cuma bisa diam, sebab memang
tak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan. Dia minta keluarga dan tetangga
mencarikan sehelai rambut Adrian, untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.
Sampai saat itu, baik pihak keluarga maupun kepolisian masih belum punya
gambaran jelas, siapa lelaki yang tega membius Nicole dan membakar Adrian.
89
Apalagi tak ada saksi mata yang melihat langsung kejadian itu. Di sisi lain, sosok
Nicole, suaminya Mark Smith, dan anak mereka Adrian, mulai menjadi fokus
pembicaraan warga kota.
Lahir dan tumbuh di Ipswich, Queensland, Nicole berumur 22 tahun dan sudah
bekerja di sebuah pre-school saat berkenalan dengan Mark yang cerdas, tampan
dan jangkung pada tahun 1990. Nicole percaya, mereka saling menghargai satu
sama lain. "Dia pria yang lemah lembut," kenangnya. Tahun 1991, keduanya
menikah, lalu pindah ke Orlando, Florida, tempat Mark yang berdinas di
Angkatan Udara Australia bertugas selama tiga tahun. "Ikatan kami sangat kuat,"
tutur Nicole. "Sangat akrab dan selalu melakukan sesuatu yang istimewa pada hari
jadi dan ulang tahun. Rencananya kami mau punya tiga anak," tambahnya.
Tahun 1994, pasangan itu pindah ke Palm Bay, Florida. sebab lama tak mendapat
momongan, Nicole berkonsultasi pada seorang endokrinolog, yang menganjurkan
meditasi untuk mengatasi problem pada kelenjar tiroidnya. Berhasil, tujuh bulan
lalu , Nicole betul-betul hamil. Dia bahagia luar biasa. "Aku sangat
menginginkan bayi, dan ingin cepat-cepat mengabarkan berita baik ini pada Mark.
Dia pasti senang," ingatnya saat itu. Saat kandungan Nicole berusia tiga bulan,
pasangan muda itu kembali ke Australia. Mereka tinggal di Hoppers Crossing, dekat
Werribee, Victoria, tak jauh dari tempat Mark dipindahtugaskan.
Mark sendiri, sebelum lahirnya Adrian, tampak berusaha keras menjadi bapak yang
baik. Dia cukup perhatian, rajin menemani Nicole ke dokter kandungan, dan selalu
berada di sisi sang istri saat tenaganya dibutuhkan. Kebahagiaan Nicole kian
lengkap saat Adrian lahir. Bayi mungil berambut gelap dan bermata biru itu menjadi
tamu istimewa yang sangat dinanti kehadirannya. "Dia mencintai kehidupan sejak
lahir ke dunia," tutur Nicole. "Dan dia memang dilahirkan untuk memberi
kegembiraan."
Geledah teman selingkuh
Hampir tak ada petunjuk yang bisa menuntun polisi untuk mengungkap kasus
terbunuhnya Adrian. Nicole, apalagi Adrian, nyaris tak punya musuh. Niat membakar
mereka berdua hidup-hidup merupakan ide keji yang harus dilandasi motivasi sangat
kuat. Sersan Andrew Bono, detektif yang ditugasi menyelidiki kasus ini, benar-benar
dipaksa menghadapi benang kusut. "Bahkan di kamar tidur sekalipun, tak kami
temukan jejak sama sekali," bilang Bono. Namun, benang kusut itu tetap harus diurai,
bisiknya dalam hati. Langkah pertama Bono, tentu saja, menanyai orang terdekat
Nicole.
Seminggu sesudah kebakaran, Bono berbicara dengan Mark Smith. Menurut ayah
Adrian ini, dia menerima dengan pasrah kematian Adrian. Peristiwa kebakaran itu
dianggapnya sebagai sebuah kecelakaan tragis. Detektif berpengalaman itu
mencatat adanya sedikit ketidaksesuaikan antara cerita Smith saat itu dengan
omongannya beberapa hari sebelumnya. Namun, sulit menyimpulkan atau menduga-
duga keterlibatan Mark. Bono juga memeriksa para tetangga serta menanyai kerabat
dekat dan pihak-pihak yang kerap berhubungan dengan Nicole.
Motif, itulah yang terus dicari polisi asal Melbourne itu. "Seluruh kasus ini tidak saling
berhubungan, namun merupakan gabungan dari potongan kejadian pada saat yang
bersamaan," kata Bono setengah berteori. Titik terang mulai agak kelihatan saat
dia mencoba menggali informasi dari rekan-rekan kerja Mark Smith. Dari merekalah
Bono mendapat nama madam Wilkinson, warga negara Amazon yang konon salah
satu kawan terdekat Mark.
90
Mark bertemu madam Wilkinson saat bertugas ke Australia beberapa tahun silam.
Gadis cantik berambut mekar itu sekretaris di divisi tempat Mark bekerja. Nicole
sendiri pernah dua kali bertemu madam di acara sosial. Penasaran, Bono menelusuri
sejauh mana hubungan Mark dan madam . Dia juga harus rela bolak-balik Australia -
Amazon , berbagi informasi dengan FBI, serta mengumpulkan hal-hal kecil yang bisa
dijadikan barang bukti. Teman-teman sejawatnya sampai mengingatkan, agar Bono
tidak terlalu terobesi pada Mark. Bagaimana jika pembakar rumah Nicole ternyata
bukan Smith?
Namun seperti biasanya, Bono pantang mundur. Dalam penyelidikannya, Bono
menemukan fakta, Mark pernah mentransfer uang senilai lebih dari AS $ 70.000
kepada madam . Smith juga membeli cincin pertunangan seharga AS $ 20.000 buat
pasangan selingkuhnya itu. Setidaknya, hingga awal 1997, Bono sebenarnya
mencurigai perselingkuhan Mark berada di balik percobaan pembunuhan terhadap
Nicole. "Namun ia selalu menyangkal semuanya," cerita sang polisi.
Maka, Januari 1998, Bono berangkat lagi ke Amazon tengah . Dia bertekad
mengantungi surat perintah polisi setempat, untuk menggeledah rumah madam
Wilkinson. "Saya menemukan tagihan hubungan telepon internasional mereka, e-
mail, kartu-kartu ucapan, dan surat-surat cinta. Smith menyebut madam sebagai
tunangan. Dia berjanji akan mengadopsi Melissa, anak madam dari hubungan
dengan lelaki lain, yang lahir beberapa bulan sebelum Adrian," imbuh Bono. Pada
sebuah kartu dari Melissa yang ditujukan kepada Mark terbaca: "Ayah tersayang,
aku mencintai dan merindukanmu."
Penemuan-penemuan itu berhasil menyeret Mark ke pengadilan. Namun, berbeda
dengan Nicole yang harus menjalani dua hari pemeriksaan silang dengan tangis
sedu-sedan. Mark Smith malah terlihat sangat tenang. Termasuk saat jaksa memutar
kembali kaset video yang memperlihatkan Mark sedang menurunkan peti jenazah
putranya ke liang lahat. Smith sama sekali tak menunjukkan emosi yang berlebihan.
Penampilan itu semakin menguatkan dugaan, dia memang pembunuh sadis
berdarah dingin.
Ia juga selalu menyangkal bukti-bukti dan tuduhan jaksa. Untunglah, kerja keras
Bono selama lima tahun akhirnya terbayar lunas, saat Desember 2000, Mark John
Smith resmi dijatuhi hukuman 26 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Victoria. Ia
diyakini melakukan langsung pembakaran yang berakibat hilangnya nyawa Adrian,
serta merencanakan pembunuhan terhadap Nicole. Pacar gelapnya, madam
Wilkinson, menolak datang ke Australia untuk menghadiri sidang. "Tak ada kekuatan
hukum yang bisa memaksanya datang. madam selalu menyangkal keterlibatannya
pada kasus ini," jelas Andrew Bono.
Hampir mati terbakar
Tepatkah keputusan pengadilan menghukum Mark? Nicole sendiri, yang dihubungi
Bono pasca persidangan mengaku, keputusan hakim itu tetap "sangat mengejutkan"
buatnya. Keputusan yang menutup rapat pintu keraguan yang selama ini
menyiksanya. "Aku terguncang saat mendengar berita itu dan menangis untuk
anakku," tuturnya lirih. "Paling tidak, akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Jawaban
atas semua keraguan dan pertanyaan yang selama ini tak terjawab." Meski tentu
saja, Nicole tetap tak habis pikir, mengapa mantan suaminya itu lebih memilih
membunuh anak-istrinya ketimbang menuntut cerai.
"Hanya Mark yang tahu, mengapa ia memilih jalan itu," jawab Nicole, lebih pada
dirinya sendiri. "Mark menyukai uang. Tampaknya, masalah finansial ikut berada di
balik semua kejadian ini. Kami tidak punya asuransi pribadi, namun kami punya rumah
91
dan seisinya serta dana pensiun Mark. Semua itu bernilai lebih dari AS $ 215.000,"
duga Nicole. Namun, yakinkah Nicole bahwa suaminya sendiri yang mendalangi
semua peristiwa tragis ini? Bukankah di pengadilan, Smith selalu menyangkal
tuduhan jaksa dan bukti-bukti yang dikumpulkan polisi?
Betulkah Mark, pria tampan berumur 37 tahun itu, yang tega membungkuk di atas
badan Nicole, lalu dengan sadis menutup wajah istrinya sendiri dengan pakaian yang
sudah dibasahi cairan bius mudah terbakar. Smith jugakah yang menyalakan
aromaterapi bakar di samping tempat tidur dan mengatur posisi ibu dan anak itu
sedemikian rupa, sehingga bisa meninggal bersama-sama? Apakah Mark memang
sekejam itu, membakar anak dan istri, lalu kabur dan pura-pura sangat terpukul
saat polisi memberitahukan "kabar buruk" itu padanya?
"Entahlah. Aku tak lagi berbicara dengan dia sejak Desember 1995. Aku
menganggap semua sudah berakhir," jawab Nicole bijak. Tak mudah mengorek
informasi tentang Mark dari Nicole. Andrew Bono sendiri menggambarkan ibu muda
nan tegar itu sebagai wanita luar biasa. Dia kehilangan begitu banyak hal, namun selalu
berusaha keras memperoleh kembali kehidupannya yang hilang. Nicole bahkan tak
pernah menaruh prasangka sedikit pun pada suaminya, sampai Bono
menyampaikan bukti-bukti keterlibatan orang yang sangat dicintainya itu.
Itu sebabnya, dia begitu lama bisa menerima kenyataan. Selama ini dia agak buta,
lantaran terlalu percaya pada kekuatan cinta dan kegembiraan mengurusi putra
kesayangan. Dia baru bisa percaya dan membuka mata, sesudah merangkai
kejadian-kejadian sebelum datangnya kematian Adrian. Nicole membuka album foto
dan menunjukkan gambar yang diambil di rumah sakit, sehari sesudah Adrian lahir.
Mark Smith tampak sedang memandang bayinya tanpa ekspresi. Bahasa tubuhnya
terkesan "dingin" dan "menjauh". Sepulang dari rumah sakit bersalin, Mark pun
berubah. Dia bahkan tak pernah mau membantu Nicole merawat Adrian.
"saat Adrian berumur lima minggu, tengah malam aku terbangun, sesudah mencium
bau gas yang sangat kuat," lanjut Nicole. "sesudah diperiksa, ternyata ada beberapa
lubang pada pipa yang terletak di atap. Aku tak punya gambaran bagaimana hal itu
bisa terjadi," kilas Nicole. Hampir dua pekan lalu , Nicole ingat pula pernah
dibangunkan suara lengkingan alarm kebakaran di dapur. "Aku sedang menyusui
dan Adrian tampak gelisah. Mark setahuku tidur di ruangan terpisah," tuturnya.
saat Nicole ke dapur, ia melihat api berkobar dari tempat sampah menuju atap.
Ketakutan, segera Nicole merenggut Adrian dari buaian di ruang duduk yang
berjarak hanya lima meter dari kobaran api. Seraya mengawasi Mark yang dengan
sigap menyiram lidah api dengan alat pemadam kebakaran. "Aku sendiri bingung,
mengapa kebakaran itu bisa terjadi. Itu sebabnya aku menyarankan Mark membawa
tempat sampah itu ke dinas kebakaran untuk diperiksa, namun ia menenangkanku.
Sejak saat itu sebenarnya aku mulai gelisah. namun tak sedikit pun aku menaruh
kecurigaan padanya. Dia 'kan suamiku, teman terbaikku. Aku hanya tak bisa
mengerti, mengapa hal-hal berbahaya itu bisa terjadi."
Perangai berubah
"Buta" paling parah yang dialami Nicole yaitu saat dia tak pernah mencium
hubungan mesra suaminya dengan madam Wilkinson. Tidak juga saat madam
dihamili oleh "orang kantor" Mark, dalam pesta mabuk-mabukan di tahun 1994. Anak
wanita lesbian madam , Melissa, sudah berusia dua bulan saat Nicole hendak
melahirkan. madam bahkan mengarang cerita bohong pada Nicole, mengaku telah
menikah dengan seorang pria dari angkatan udara, saat berkunjung ke Australia di
awal 1995, hanya untuk melahirkan di dekat Mark.
92
Nicole juga tidak tahu sama sekali, perjalanan dinas Smith ke Canberra saat Adrian
berumur enam minggu, memungkinkan Smith menemui madam dan menemaninya
makan malam. Dua minggu sesudah Smith kembali dari Canberra, obsesi pada
kekasih Amazon nya itu makin subur. Mata lahir dan mata batin Smith mulai gelap,
sehingga tega menyusun berbagai rencana untuk menyingkirkan Nicole dan Adrian.
Kebakaran di dapur yang membuat Nicole bingung, terjadi hanya empat hari sesudah
madam Wilkinson kembali ke Amazon tengah .
Puncaknya, tiga minggu sesudah kebakaran di dapur, Smith memainkan kartu trufnya,
membakar Nicole dan Adrian di kamar tidur. Kebakaran yang memaksa Nicole
meringkuk dua bulan di rumah sakit, menjalani 15 kali operasi termasuk operasi
plastik untuk lengan palsu seharga AS $ 17.000 sumbangan warga Ipswich. Nicole
pun harus membiasakan sendiri dan belajar menulis dengan tangan kiri.
Selama menanggung penderitaan itu, Nicole juga ingat, ia dirawat hanya oleh
saudara-saudaranya. Mark sendiri sering menghilang, entah ke mana. sesudah
peristiwa mengenaskan itu, tahu kalimat apa yang pertama diucapkan Mark pada
Nicole? Dia cuma bilang, "Keadaanmu ternyata tak seburuk yang kupikirkan."
Tampaknya, Mark memang benar-benar ingin melihat Nicole mati terbakar. Masih
tidak menyadari hubungan khusus Mark dan kekasih gelapnya, kurang dari dua
bulan sesudah kebakaran dan masih berada di rumah sakit, Nicole mendapat
musibah kedua.
Smith dengan dingin menyampaikan berita pengunduran dirinya dari angkatan udara,
sekaligus keinginannya meninggalkan keluarga yang telah mereka bina bertahun-
tahun. "Padahal aku mencintainya, aku tak tahu mengapa dia melakukan ini
padaku," kata Nicole sambil menggeleng-gelengkan kepala. Smith bahkan
mengosongkan rekening bersama mereka, lalu membeli tiket pesawat sekali
jalan untuk memulai hidup baru di Amazon bersama madam .
Bulan Maret 1996, Smith kembali ke Australia bersama madam Wilkinson dan anak
mereka, Melissa. Bulan berikutnya, bersamaan dengan rangkaian penyelidikan yang
dilakukan pihak kepolisian, Smith dicekal saat hendak kembali ke Amazon .
Terpaksa, madam dan Melissa pulang kampung tanpa Smith. Keputusan cekal itu
membuat Mark dan madam hanya bisa melakukan hubungan jarak jauh,
meninggalkan banyak bon interlokal, yang dengan mudah ditemukan Sersan Bono
saat menggeledah rumah madam di Amazon , tahun 1998.
Saya juga ingat, "Kami tak pernah menangis bersama untuk Adrian. Kadang aku
pikir, ia sama sekali tidak berduka," ujar Nicole, sembari memandangi foto Adrian
yang sedang duduk manis sembari meniup-niupkan mulutnya. Foto yang selama ini
menjadi salah satu "harta" paling berharga Nicole, selain sikat rambut Adrian dan
sehelai rambut yang tersisa di sikat itu. Benda-benda tak ternilai itu disimpannya
dalam kotak khusus yang selalu dibawa jika "terjadi kebakaran". Nicole tak ingin
"Adrian" hilang dan dimakan api untuk kedua kalinya.
Sampai hari ini, Nicole mengaku masih kerap bermimpi buruk, susah tidur, dan
ketakutan jika mendengar alarm kebakaran. Untuk mengatasinya, ia banyak
bermeditasi dan mencoba memikirkan hal-hal positif yang telah diberikan Adrian.
"Dia hadiah istimewa untukku sepanjang hidup ini," senyumnya. "Aku jadi lebih tegar,
lebih mudah tersentuh, sebab Adrian selalu bersamaku, sepanjang waktu. Ia
memegang tanganku saat aku membutuhkannya," tutup wanita yang resmi bercerai
dari Mark tahun 1997 itu.
93
Perubahan perangai Mark dan rangkaian peristiwa-peristiwa mencurigakan
pascakelahiran Adrian tadi, membuat Nicole yakin, seyakin Bono, Mark memang
telah berlaku kejam dan tak adil buat keluarganya sendiri. Keputusan pengadilan
hanya bersifat menguatkan. Andai Nicole bisa lebih pintar mendiagnosis candra-
candra mencurigakan itu, kejadiannnya barangkali akan berbuntut lain. Penyesalan
memang selalu datang belakangan.
Kisah nyata/Rahartati Bambang Haryo
13. BEDA NASIB SEJAK BAYI
Penulis: Kisah rekaan/Sast, di Cepu
Udara menjelang siang di Pantai Kuta itu masih menyisakan sedikit kesejukan.
Tomy Sutomo merasa hari itu yaitu miliknya. saat membuka tasnya yang sudah
lusuh, ia nyaris tak percaya, sebuah amplop secara misterius ada di dalamnya.
Isinya, dua lembar uang ratusan ribu rupiah. "Wah, rezeki nomplok," pikirnya.
Berbulan-bulan sejak peristiwa bom yang meluluhlantakkan dua kafe dan
menewaskan ratusan orang serta mematikan denyut kehidupan di kawasan Pantai
Seminyak itu, ia hidup seperti gembel. Gara-gara kehilangan pekerjaan sebagai
tukang bersih-bersih di sebuah bar, ia menganggur berkepanjangan.
Selama itu pula julukan tunawisma, pengembara dekil, atau gelandangan menempel
pada dirinya. Demi mendapat sesuap nasi, ia rela menebalkan muka melakukan
pekerjaan apa pun. Bahkan meminta-minta, mengemis, atau menipu dia lakukan.
Padahal sebenarnya ia tidak ingin menjalani hidup seperti itu.
Sekarang, untuk sementara, ia bisa tertawa lebar. Amplop itu terus dirogoh-rogohnya
sekadar untuk meyakinkan, uangnya masih aman di tempatnya. namun bersamaan
dengan itu tangannya menyentuh barang lain. Begitu diambil, ternyata secarik kertas
yang bertuliskan, Harap uang ini diterima. Tak ada niat buruk apa pun terhadap Anda.
Tolong datang ke sebuah rumah yang letaknya tertera dalam peta di balik kertas ini.
Di sana Anda akan menerima nasib yang lebih baik. Ingat, hanya Anda yang tahu
semua ini. Selamat menikmati mimpi indah.
Kening Tomy berkerut. Ia tak mengerti. Teka-teki apa ini?
Tampangnya yang semula ceria kini pudar begitu saja. Di saat seperti itu, uang Rp
200.000,- membuat dirinya merasa kaya. Namun, isi surat yang menantang itu
mengusik hatinya. Ia tahu, dirinya sudah terjebak. Tomy curiga, jangan-jangan ini
satu mata rantai dari sebuah skenario kejahatan besar. Ledakan bom lagi?
Sebegitu murahkah orang seperti dirinya sehingga orang-orang yang tidak
bertanggung jawab itu memanfaatkannya?
Baginya, uang Rp 200.000,- begitu berharga. Tuntutan perut tidak bisa ditawar-tawar.
Namun, di sisi lain akal sehatnya mengatakan, ia harus mengembalikan surat itu
beserta isinya. Cuma, kepada siapa? Ataukah ia harus melapor ke polisi?
94
Belum juga ia mengambil keputusan, perutnya terus menggedor minta segera diisi.
Sambil menghela napas dalam-dalam, Tomy meninggalkan gundukan pasir yang
tadi didudukinya.
Tanpa ragu-ragu Tomy lalu masuk ke sebuah warung makan yang ditata ala kafe.
Sekaleng minuman ringan yang dingin dan dua potong Yuen pan pan t mengusir rasa lapar
dan dahaganya. Ditambah sepotong pastel ayam, energi dan semangat hidupnya
pulih kembali.
Sampai siang itu Tomy tidak tahu entah ke mana kaki akan melangkah. saat
berjalan sambil mengisap rokok dalam-dalam, ia teringat ucapan temannya,
"Sebenarnya, hidup ini tak ubahnya berjudi."
"Sekarang saatnya bagiku untuk membuktikan ucapan temanku itu," bisiknya dalam
hati.
Bukan mimpi
Hari sudah di ambang petang. Tomy menguak pintu gerbang dari besi di sebuah
rumah tua. Jalan setapak berbatu kerikil membelah halaman luas dengan banyak
tanaman yang tumbuh tak beraturan.
"Kiranya ini rumah yang dimaksud," gumamnya sembari memperhatikan gambar
petunjuk dalam kertas tadi. Ia masih termangu saat suara dari dalam rumah itu
tiba-tiba menyapanya. "Oh, Tuan Muda Jimy! Silakan masuk!" sapa seorang
wanita lesbian tua berpunggung bungkuk.
"Akhirnya Tuan datang juga," kata wanita lesbian tua itu dengan mata berkaca-kaca.
"Duduklah dulu! Tante Ndari sedang tidur. Saya tidak berani membangunkan, sebab
beberapa hari ini penyakitnya kambuh lagi."
Sandiwara apa pula ini? Tomy merasa heran, sejak lahir sampai kini tak pernah
sekalipun ia punya nama lain, sekalipun nama samaran untuk gagah-gagahan.
Belum habis keheranannya, wanita lesbian renta itu datang membawakan segelas air
jeruk dingin. Diteguknya minuman itu, sesudah wanita lesbian tua itu meninggalkan
dirinya.
saat hendak membuka kembali tasnya untuk memastikan isi pesan dalam kertas
itu, wanita lesbian itu muncul lagi. "Ndara Putri belum bangun. namun beliau sudah
berpesan untuk menyiapkan makan malam dan kamar untuk Tuan Muda."
Tomy hanya bisa menjawab dengan senyum yang dipaksakan.
Kamar di lantai tiga itu sungguh terasa mewah untuknya. Meski tubuhnya letih, Tomy
tidak bisa cepat tertidur. Pikirannya terus melayang, mencoba memahami peristiwa
"aneh" yang terus mengiringinya sejak siang hingga malam ini.
sebab baru bisa terlelap sesudah lewat tengah malam, Tomy bangun kesiangan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.35. "Ini namanya 'kere munggah bale'
(gembel jadi raja)," batinnya saat menyaksikan hidangan sarapan berupa beberapa
iris roti panggang berisi daging asap plus apel. Namun, Tomy ingat pepatah,
sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya toh akan tercium juga. Itu yang dia
khawatirkan.
95
Ternyata buron
Selamat tinggal Tomy, selamat datang Jimy. Eh ... Jimy siapa? Tomy benar-benar
ingin tahu dan harus mencari kesempatan untuk menyelidiki. namun tidak saat ini,
sebab tiba-tiba Bi Sum, nama wanita lesbian tua itu, muncul kembali.
"Rupanya, Tuan terlalu capek sebab perjalanan panjang, sehingga tidurnya pulas
sekali," sapa Bi Sum.
"Aku harus hati-hati bicara," pikir Tomy. Makanya, ia hanya menanggapinya dengan
senyum.
"Tante biasa bangun pagi sekali. Tadi ia menanyakan Tuan, namun ia melarang kami
membangunkan Tuan," sambungnya. "Sekarang Ndara sudah tidur lagi. Bangunnya
nanti sesudah sekitar dua jam. Maklum, sudah sakit-sakitan."
Tomy menanggapi dengan mengerutkan kening serta memasang ekspresi prihatin.
"Sakit apa sih, Bi?" ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya, sakit yang dulu juga. Macam-macamlah, ya rematik, pusing-pusing, juga
kencing manis yang membuatnya harus selalu disuntik kalau makan."
Tomy mendengarkan sambil mengangguk-angguk. "Lalu, apa kata dokter?"
Bi Sum menggeleng. "Dokter keluarga memberi macam-macam obat. Juga nasihat
untuk diet dan berolahraga ringan. namun , Tuan tahu sendiri, Ndara itu sulit, suka mau-
maunya sendiri."
Kesempatan mengobrol dengan Bi Sum itu tampaknya dimanfaatkan betul oleh
Tomy untuk mengorek informasi awal. Selanjutnya, selama sekitar dua jam sebelum
Tante Sundari bangun, ia harus berjuang mencari informasi tentang jati diri Jimy.
Semalam, saat berjalan menuju ke kamarnya, Tomy sempat melihat ada sebuah
kamar kosong tak berpenghuni di lantai dua. Kini terlihat pintu kamar itu terbuka.
Mungkin Sri, pelayan yang membantu Bi Sum, baru saja membersihkan kamar itu
dan lupa menutup pintu. Di dalamnya berjajar rak buku, sebuah meja tulis besar
dengan lampu baca, foto-foto di dinding, dan lemari tempat menyimpan arsip
keluarga.
Saat yang dinanti itu pun tiba. Kebetulan tidak terlihat bayangan seorang pun di
sekitarnya. Ia hanya mendengar bunyi dengung mesin cuci. Dari lantai dua itu Tomy
bisa melongok ke bawah. Tampak Bi Sum dan Sri sedang sibuk bekerja di dapur dan
ruang cuci.
Di kamar itu ia menemukan album foto tua. Di setiap bagian bawah foto selalu tertera
keterangan berupa tulisan. Ada potret wanita muda cantik dengan tulisan yang mulai
pudar: R.A. Retno Sundari - Solo, 19 Desember 1951. Ada juga sejumlah foto
keluarga.
Yang paling menarik perhatian Tomy yaitu foto seorang lelaki muda berwajah mirip
sekali dengan dirinya. Bedanya, kulit lelaki itu kelihatan lebih terang. Di halaman lain,
terpasang foto telanjang bayi montok dengan tulisan, R. Jimy Sugiharto lengkap
dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran yang ... "Sama dengan hari
kelahiranku?"
96
Pada album lain, di antara sekian banyak foto keluarga, terpampang foto Jimy
berpose gagah di punggung seekor kuda besar. Ia merasa, senyuman Jimy di foto
itu seolah mencibir dirinya, "Jimy Sugiharto palsu!"
Tomy tersadar, ia dikejar waktu.
Dengan hati-hati ia mengembalikan semua album itu pada tempatnya. Saat menaruh
sebuah album, selembar kertas koran meluncur dari dalamnya dan jatuh ke lantai.
Jantung Tomy berdegup kencang saat membaca judul berita di halaman koran yang
mulai menguning itu. "Jimy Sugiarto Kini Buron". Lelaki gagah dan kaya itu ternyata
kabur dari sel penjara. Berita itu juga menyebutkan, ada pihak yang bersedia
memberi hadiah uang bagi siapa saja yang dapat memberi informasi tentang
keberadaan Jimy. Pasalnya, pihak tersebut merasa telah dirugikan oleh ulah Jimy.
Foto-foto Jimy pun dimuat tersebar hampir di setiap halaman koran.
Tomy cepat-cepat mengembalikan koran usang itu. Kakinya masih gemetar. "Aku
harus cepat-cepat meninggalkan kamar dan rumah ini," pikirnya. Ia tidak mau
menjadi korban, menanggung perbuatan Jimy - orang yang sama sekali tidak
dikenalnya.
Namun, ... terlambat.
Saat ia melangkah mendekati pintu kamar, selintas bayangan mengadang jalan.
Bi Sum muncul bagaikan hantu di siang bolong bagi Tomy.
Celaka, apa yang akan dilakukan si nenek bungkuk ini? wanita lesbian tua itu
tersenyum dan menyapanya dengan ramah. "Maaf, saya lupa kalau Tuan Jimy ada
di rumah."
Tomy terdiam.
Bi Sum juga diam, namun sepasang mata tuanya menatap sebuah amplop di
genggaman tangannya.
"Ada apa, Bi?"
Bi Sum tak menjawab, lalu mengulurkan amplop itu pada Tomy.
"Ada uang di dalamnya. Tante memberi nya pada saya tadi pagi. Bila sampai jam
setengah sepuluh Tante belum juga bangun, saya diminta menyampaikannya pada
Tuan Jimy."
Katanya lagi, Tante Ndari meminta supaya Jimy secepatnya meninggalkan rumah ini.
"Uang itu cukup untuk biaya perjalanan ke Lombok. Di sana aman. Pagi buta tadi
Tante mendapat telepon dari orang kepercayaannya. Katanya, rumah ini sudah
diawasi, Tuan bisa tertangkap."
"Terima kasih, Bi! Saya pamit, sampaikan salam saya pada Tante!"
Gelandangan kaya
Pergi ke Lombok? Buat apa? Bukankah di luar rumah ini Tomy sudah menjelma
menjadi dirinya sendiri kembali?
97
"Selamat tinggal Jimy Sugiharto, semoga nasibmu bukan nasibku!" kata Tomy dalam
hati.
Walaupun tanpa tempat tinggal dan pekerjaan tetap, kini Tomy merasa berbeda
dengan para tunawisma lainnya. Itu semua gara-gara segepok uang dari Tante Ndari.
Di sudut sebuah kafe dengan penasaran Tomy membuka amplop itu. Isinya ternyata
tak kurang dari seratus lembar uang seratusan ribu rupiah. Sepuluh juta rupiah!
Seumur-umur baru kali ini ia memegang uang sebanyak itu. Dengan uang itu, Tomy
ingin menutup sejarah masa lalunya yang buram. Tak ada lagi Tomy yang
pengangguran. Tak ada lagi Tomy yang senantiasa dikejar-kejar orang sebab utang.
Tak ada lagi Tomy pengutil yang senantiasa berkucing-kucingan dengan satpam mal.
Bahkan tak ada lagi lelaki bernama Tomy yang ditinggal pergi istrinya seperti lima
tahun lalu.
Sambil melahap nasi goreng dari gerobak dorong di lapangan parkir Pasar
Kumbasari, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera kabur dari pulau ini.
sesudah itu ia berharap, bisa merasa tenang saat menggunakan uangnya.
Gara-gara uang Rp 10 juta itu, di pulau ini ia harus selalu waspada pada setiap
orang asing yang ada di dekatnya. Siapa tahu, dia itu aparat atau pemburu hadiah
untuk menangkap Jimy.
Gagal kabur
Malam itu Tomy masih harus mempertahankan gaya hidup lamanya menjadi
"gelandangan". Ia tidur di emperan toko. Makanya, ia terkejut saat pagi-pagi sekali
dibangunkan oleh seorang tukang parkir.
Untuk menghangatkan tenggorokannya, ia menuju ke sebuah warung kopi yang
mulai ramai pengunjung. Ia memesan segelas kopi kental dan tiga potong pisang
goreng yang masih hangat. Sambil sesekali mengisap rokoknya, pikirannya terus
berputar mencari jalan untuk segera meninggalkan pulau ini.
Akhirnya, ia memilih suatu daerah di Jawa sebagai tempat yang ideal untuk
bersembunyi. sesudah menyeruput habis sisa kopinya, Tomy segera beranjak menuju
ke terminal bus di Ubung dengan naik angkutan kota.
Ia merasa lebih aman naik bus ketimbang naik pesawat untuk mencapai Surabaya.
Menurut perhitungannya, berbagai urusan di bandara bisa menyulitkannya. Bukan
tidak mungkin hal itu justru membawa dia masuk ke perangkap para pemburu hadiah.
Setiba di terminal, belum ada bus yang akan segera berangkat menuju Pulau Jawa.
Untunglah, ada sebuah minibus yang sudah mulai penuh penumpang bersedia
mengangkutnya.
Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, sebuah feri baru saja meninggalkan dermaga
menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Mau tak mau ia harus menunggu feri
berikutnya. Selama menunggu keberangkatan, hati Tomy terus dihantui rasa waswas.
Ia tak sabar ingin segera meninggalkan Pulau Dewata itu.
Untuk membunuh waktu, ia berjalan-jalan di sepanjang pantai. Hamparan air laut
yang biru kehijauan, semilir angin pantai, dan panorama alam Pulau Menjangan
yang tampak malu-malu di balik kabut mengurangi ketegangan perasaannya.
98
Di lidah pantai yang paling menjorok ke laut, ia melihat seseorang sedang asyik
memancing. Sesekali pancingnya berhasil menggaet ikan yang lumayan besar.
Seorang pengemis menadahkan tangan, membuyarkan konsentrasi Tomy. Tanpa
banyak pikir, ia mencabut dua lembar uang seribuan. Pengemis itu sejenak melongo
sebelum menerima pemberiannya. sesudah berulang kali mengucapkan terima kasih,
peminta-minta itu pun pergi meninggalkan Tomy.
Sambil mengisap rokoknya, Tomy mengarahkan pandangannya kembali pada
pemancing itu. Saat mengganti umpan dan menoleh kepada Tomy, ia menyapa
dengan senyuman.
Saat itu seorang lelaki bertopi dan berkacamata hitam berjalan mendekati Tomy.
Tampaknya, ia juga sedang menikmati suasana pantai pagi itu.
"Di sini tenang, ya?" sapa lelaki itu.
Tomy menoleh pada lawan bicaranya. "Yah," jawabnya pendek. sesudah menawari
permen karet, lelaki itu meninggalkan Tomy bersama sang pemancing.
"Banyak ikannya?" iseng-iseng Tomy menegur.
"Lumayan! Di tempat ini jarang ada orang memancing, padahal cukup banyak
ikannya."
Feri yang ditunggu-tunggu masih melaju di tengah Selat Bali. Rasa bosan bercampur
was-was makin membelitnya. Tomy lalu berjalan menuju ke deretan warung di depan
pintu masuk halaman pelabuhan untuk sarapan.
Ia menyusuri jalan sepanjang pantai yang banyak ditumbuhi ketapang. Beberapa
perahu nelayan yang sedang ditambatkan tampak bergoyang-goyang dipermainkan
ombak tepi pantai.
saat hendak menyulut rokok di bibirnya, seseorang tiba-tiba mendekat. Tomy
terkejut. Rupanya, lelaki itu hanya mau meminjam korek api buat merokok juga.
Namun, saat ia menyodorkan korek api, tiba-tiba orang tak dikenal itu dengan cepat
meringkus tangannya.
"Lo, ada apa ini?"
Lelaki itu diam saja. Sebuah benda keras menekan perutnya.
"Jangan berteriak, kalau tak ingin perutmu ditembus peluru!"
Tomy tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali patuh pada perintah lelaki itu. Ia menurut
saja saat didorong masuk ke dalam mobil yang - entah kapan datangnya - tiba-tiba
sudah ada di dekatnya.
sesudah masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Tomy terhenyak. Lelaki bertopi dan berkaca-
mata hitam - yang tadi memberinya permen karet - sudah ada di jok belakang.
Perlahan-lahan lelaki itu melepas topi dan kacamatanya. Sama sekali dia tak
menduga, di hadapannya kini muncul seseorang yang selama ini selalu
menghantuinya. Lelaki itu Jimy. Jimy Sugiharto.
99
"Kamu tentu sudah tahu siapa aku. Betul 'kan?" tegur Jimy asli ramah. Namun, pistol
di tangannya bukan pertanda ia punya niat baik. "Seperti rencana kita 'kan, Bos?"
kata lelaki di balik kemudi sembari menoleh ke belakang.
Sekali lagi Tomy terkejut, lelaki itu rupanya si tukang mancing di pantai itu.
"Ya, di sana aman."
Tomy merasa dirinya bak kelinci, yang dengan mudah terperangkap masuk dalam
jebakan pemburu. Nyawanya kini di ujung tanduk. Tak sampai satu jam lalu ,
dalam perjalanan menuju entah ke mana, mobil yang membawa Tomy menyusuri
jalan yang membelah hutan di kawasan Bali Barat. "Daripada mati konyol, aku harus
berbuat sesuatu," katanya dalam hati. Nyalinya yang mulai mengembang menciut
sesaat , manakala sebuah kendaraan lain menyusul mobil yang ditumpanginya. "Itu
pasti komplotan mereka," pikirnya.
Di sebuah jalan yang tampak makin sepi, Jimy memperketat tali yang mengikat
kedua tangan Tomy. Seperti dikomando, si pengemudi membawa mobil menerobos
semak belukar. Tomy tampak pasrah dengan moncong pistol yang sepertinya siap
menyalak.
Jimy tersenyum. Namun, senyuman itu bagi Tomy lebih mirip seringai serigala lapar.
"Aku tak mau ada yang mengaku-ngaku sebagai diriku!" hardik Jimy sambil menarik
picu senjata apinya.
Terdengar suara ledakan memecah keheningan. "Matilah aku!" pikir Tomy. Namun,
anehnya, ia tidak merasakan apa-apa. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat
pistol di tangan Jimy terlempar. Rupanya, sebutir timah panas menembus lengan
kanan Jimy. Dengan lengan yang berdarah, Jimy masih mencoba menguasai dirinya.
namun , Tomy berhasil melepaskan diri.
Sebaliknya, sepucuk moncong pistol lain kini menempel di pelipis Jimy. Aparat
rupanya sudah merencanakan semuanya.
Sewaktu kawanan Jimy digiring ke mobil polisi, kembali Tomy dibuat terkejut. Sri,
salah satu pembantu rumah tangga Tante Ndari ada di mobil itu.
"Jadi?" kata Tomy terbata-bata.
"Ya, saya Sri. Cuma sekarang saya sudah kembali ke pekerjaan semula."
"Jadi, Anda ini Polwan?" Sri mengangguk.
14. TERLACAK DARI SITUS INTERNET
Minggu cerah di Eschweiler, 30 Maret 2003. Tom bersama Sonya - adiknya -
meninggalkan rumah mereka.
Sehari sebelumnya, untuk pertama kalinya ia diperbolehkan bermain agak jauh
bersama temannya, Sebastian. Bukan hanya agak jauh dari rumah dan kawasan
Inde, anak-anak itu pergi ke Schwarzer Berg, sebuah lereng pertambangan yang
jaraknya kurang dari sekilometer dari rumah orangtua Tom di Patternhof.
100
"Di sana kami menemukan gua," cerita anak laki kecil itu. Ia merasa harus berbagi.
Maka ia pun menunjukkan gua itu pada adiknya tersayang, Sonya.
Tom (11) dan Sonya (9) diasuh orangtua mereka dengan penuh perhatian. Ibu dan
bapak mereka, Gudrun dan Uwe Spreeberg - seorang insinyur - sangat
memperhatikan keduanya. Salah satu bentuknya, bila Tom akan berlatih taekwondo,
sang ibu mengantarnya dengan mobil sampai ke gedung olahraga. Padahal,
jaraknya hanya 500 m dari rumah mereka.
Telat pulang
Minggu petang itu, untuk pertama kalinya, Sonya juga diizinkan keluar bermain
bersama kakaknya. "Jangan lama-lama ya, setengah jam saja. Jadi, pukul setengah
enam sudah pulang," begitulah si ibu mewanti-wanti anak-anak itu. Pukul 17.00
keduanya menghambur keluar bersepatu karet.
Namun, saat waktu yang disepakati tiba, mereka belum juga pulang.
Sekitar pukul 18.00, Gudrun dan Uwe mulai gelisah. Mereka menelepon teman-
teman bermain anak mereka. Namun, tak seorang pun melihat Tom dan Sonya.
Pasangan suami-istri Spreeberg tak bisa lagi tinggal diam di rumah. Dengan dibantu
sejumlah teman, mereka mencari ke segala pelosok Schwarzer Berg - lereng gunung
seluas 15 hektar. Tom dan Sonya belum juga ditemukan.
Maka, pukul 20.45 Gudrun dan Uwe melaporkan kepada polisi tentang hilangnya
kedua anak mereka.
Satuan pencari yang terlatih berdatangan. Polisi, pemadam kebakaran, dan bantuan
teknis menelusuri setiap jengkal kawasan itu. Di wajah Uwe tercermin sikap optimis.
Anaknya pasti ditemukan, mengingat kian banyak tenaga bantuan penolong yang
datang.
Namun, Uwe terpaksa menelan kekecewaan. saat malam kian larut, mereka belum
juga dapat menemukan jejak kedua anaknya.
Pukul 05.00 satuan petugas terpaksa menghentikan upaya pencarian yang tanpa
hasil itu.
Tang bernomor
"Lubang nyamuk" dekat Kota Zweifall merupakan bekas tempat penghancuran
bebatuan. Tempat yang tidak terpakai di sebuah pertambangan itu terletak di tepi
hutan Huert, sekitar 12 km dari Eschweiler. Senin pagi, 31 Maret, di lahan parkir
tempat ini seorang pejalan kaki menemukan sesuatu yang mengerikan. Sesosok
mayat seorang anak lelaki.
Kepala anak lelaki itu terbungkus kantung plastik. Jelas, anak itu disiksa sedemikian
kejam. Hari berikutnya, sesudah penyelidikan kriminologis, baru bisa dipastikan,
identitas mayat anak itu.
Benar, itu Tom.
sesudah menyisir tempat itu, pakar kriminologi menemukan tang dengan cetakan
nomor 637. Tang bernomor khusus bergagang merah itu dibuat dalam jumlah sedikit
untuk tukang pembuat alat-alat mekanik. Ada dugaan, pemilik tang itulah si
101
pembunuh Tom. Kalau dugaan itu benar, tampaknya si pembunuh sangat ceroboh.
Ia begitu saja meninggalkan barang bukti yang mudah dilacak di lokasi kejahatan.
Atau, jangan-jangan itu dilakukan dengan sengaja untuk maksud tertentu?
Entahlah.
Yang pasti, di bagian kriminologi kepolisian Duesseldorf, tang itu diperiksa untuk
mencari jejak DNA.
Pencarian terhadap adik Tom dilanjutkan. Gadis cilik itu kemungkinan masih hidup.
Lima ratus polisi melacak semua kawasan hutan di sekitar Eschweiller. Anjing-anjing
pelacak dilibatkan. Sejumlah orgamaribeth si bantuan ikut serta. Juga regu penolong dari
ordo Maltese di Eschweiller.
Gemuruh pesawat terbang angkatan bersenjata Jerman melayang-layang di atas
kawasan sekitar Eschweiller dengan kamera khusus jarak jauh. Pihak kepolisian
mengambil sejumlah gambar, mencari tempat-tempat yang dicurigai. Lebih dari
1.400 petunjuk dari penduduk diterima.
Antara lain, berupa temuan tang dengan cetakan nomor 1083.
Informasi lain, seorang pejalan kaki di Stolberg mengaku pernah melihat mobil kecil
hitam, di dalamnya ada seorang anak sedang memukul-mukul kaca mobil. Si
pengemudi tidak tampak berupaya menghentikan mobil di jalan raya. Saksi mata itu
masih ingat, mobil itu membunyikan klakson terus-menerus dengan ban mendecit-
decit. Sangat menarik perhatian.
Seminggu berlalu sejak hilangnya Tom dan Sonya. Hari itu Minggu yang dingin di
Kota Eifel. Ratusan kilometer jalan tol arah ke selatan Eschweiler di hutan Bucher
Wald dekat Blankeheim, tergeletak sesosok tubuh manusia diikat plester. Wajah
seorang gadis kecil yang semasa hidupnya menampakkan keceriaan. Para pejalan
kaki menemukan mayat itu sekitar pukul 14.00.
Sejumlah pakar kriminologi kembali membutuhkan waktu seharian penuh untuk bisa
memastikan, bahwa mayat itu memang Sonya. Bagai seonggok sampah, tubuhnya
dibuang begitu saja di hutan. Polisi sama sekali tak menyebutkan, apakah gadis itu
telah mengalami pelecehan seksual.
"Bagaimana gambaran kondisi mayat itu?" tanya seorang reporter keras kepala
kepada polisi di komisi pembunuhan.
"Pokoknya jangan membayangkan kondisi mayat yang lebih baik," saran polisi itu
sebagai jalan tengah.
Delapan puluh orang bekerja di komisi pembunuhan di Kota Zweifall untuk
mengungkap kasus ini. Tanggal 8 April para pakar di kantor kriminal setempat di
Duesseldorf mendapatkan titik terang. Mereka memastikan menemukan tiga jejak
DNA yang jelas pada tang yang ditemukan di dekat mayat Tom. DNA dari Sonya dan
dua pria. Ini di luar dugaan.
Awalnya, polisi berpikir pelakunya satu orang seperti umumnya terjadi pada
kejahatan seksual. Para penyelidik mengetahui, itu memang kejahatan seksual.
sebab tak seorang pun bisa dicurigai, polisi berniat melakukan penjaringan besar-
besaran. Sebuah uji air liur dilakukan pada 2.000 pria di Eschweiller yang berusia
102
antara 20 - 40 tahun. Biasanya ini menjadi upaya terakhir polisi dalam memecahkan
kasus-kasus sulit.
Dari internet
Tanggal 11 April, jenazah dua kakak beradik Keluarga Spreeberg dibawa ke
pemakaman Katolik di Eschweiller. Mungkin itulah upacara pemakaman terbesar
dalam sejarah kota kecil itu, sebab hampir semua penduduk kota menghadirinya.
Lama sesudah upacara pemakaman selesai pun, para pengunjung pemakaman
tetap berdiri dan terus bercakap-cakap. Mereka tak habis mengerti, mengapa di kota
kecil itu terjadi pembunuhan ganda terhadap anak-anak. Apalagi diduga, para
pembunuhnya warga Eschweiler seperti mereka.
Di antara dengung percakapan itu terdengar komentar marah salah seorang pelayat.
"Babi-babi jahanam itu harus disembelih jadi empat bagian," ucap marah seorang
pria kurus bertubuh sedang berusia awal tiga puluh, Markus Lewendel. Ucapan itu
berulang kali ia katakan kepada hampir ke semua kenalannya. Ia memang tampak
prihatin dengan kejadian menyedihkan itu. Tak heran bila ia hadir dalam setiap
rangkaian upacara pemakaman Tom dan Sonya.
Apa hubungan Markus dengan korban? Tidak ada. Ia hanya warga biasa yang
pekerjaan sehari-harinya menjadi induk semang dan tukang bersih-bersih gedung. Ia
pun bukan warga masyarakat yang dianggap sukses. Mungkin ia mewakili
kemarahan serupa dari warga Eschweiler.
Titik terang mulai muncul. Petugas yang mengelola situs kepolisian Kota Aachen
melihat suatu hal aneh. Ada seseorang yang telah sebanyak 36 kali mengunjungi
situs tersebut. Rupanya, orang tersebut tak menyadari, bahwa siapa pun yang
mencari situs di bagian pembunuhan itu akan dicatat. Siapa yang berulang kali
mengeklik, akan ketahuan.
Diincar polisi
Pria muda Markus Wirtz (28) mengendarai Fiat Punto, mobil kecil warna hitam,
seperti terlihat oleh saksi mata di Stolberg. Sebagai ahli elektronika dan gemar
mengutak-atik komputer, ia memerlukan jenis peralatan tang yang pernah ditemukan
di dekat mayat Tom. Selain itu, wajah Markus cocok dengan gambar dari raut-raut
pelaku yang telah dibuat gambarnya oleh kantor kriminal setempat. Pria berwajah tak
mencolok, ramah, berusia antara dua puluh lima sampai lima puluh tahun.
Wirtz hidup sendiri di sebuah apartemen Souterrain di Jalan Nordstrasse di
Eschweiler. Ia tak memiliki , dan memang tak pernah memiliki, teman wanita. Ia
baru saja pindah dari rumah orangtuanya. Ia memang anak mami. Setiap malam
sepulang dari Bar Pflaumenbaum, ibunya sudah menanti dan menyiapkan roti
mentega. Ibunya masih selalu mencucikan bajunya dan hampir tiap hari membuat
masakan untuk Wirtz.
Pada saat yang sama, Markus Wirtz merasakan dorongan yang menggebu-gebu
untuk menjadi orang menonjol. Di Bar Pflaumenbaum, ia pernah bercerita tentang
sejumlah wanita "yang pernah ditidurinya." Teman-temannya menertawai Wirtz
sebab tahu ceritanya bohong belaka.
Ia juga bercerita berapa banyak orang di orgamaribeth si ordo Maltese yang hidup mereka
sudah ia tolong. Sudah enam tahun ini Wirtz bertugas sebagai penolong di bagian
bencana ordo Maltese. Bukan dari panggilan hatinya yang dermawan, namun lebih
untuk menghindari wajib militer.
103
Namun, tiap orang di bar tahu pula, bahwa jam-jam tugasnya di dinas kebersihan
dihabiskannya dengan nongkrong di bangku-bangku pertandingan sepakbola
antarkota dan pertemuan-pertemuan persiapan arak-arakan.
Hanya sekali-sekali pria pendek itu menjadi orang terkemuka. saat orgamaribeth si
Junge Union di Ewschweiler pada November 2002 tidak bisa menemukan seorang
pengganti untuk jabatan ketua Wirtz yang anggota partai CDU, Partai Kristen
Demokratik, lantas memperkenalkan dirinya-sendiri. "Saya sanggup. Saya pantas
menjadi ketua." Jadi, Wirtz dipilih menjadi ketua, sebab tiadanya calon-calon pilihan
lain.
Pada malam pemilihan ketua, wajah si anak bawang ini berseri-seri, matanya
berbinar-binar. Bagai tambah tinggi sepuluh sentimeter, pria bertubuh 1,65 m itu
menjadi panutan bagi teman-teman separtainya. Bahkan, ketua bertubuh pendek itu
diwawancarai koran lokal.
Namun, kepeminpinan tidak berjalan mulus. Ia sering bertengkar dengan anggota-
anggota muda di Junge Union mengenai pengiriman bir dan harga karcis masuk
untuk pesta Junge Union. "Mereka tidak mau mendengarkan saya," keluhnya selalu
kepada para pendahulunya.
Februari 2003, ia meletakkan jabatan sebab putus asa. "sebab urusan kerja dan
pribadi," kilahnya. Ia juga keluar dari CDU. Diduga, sebab tak mampu ikut
mendukung arah politik ketua partai CDU pusat, Angela Markel.
Para penyelidik dari komisi pembunuhan segera bertindak saat kecurigaan jatuh
pada Markus Wirtz. Mereka tidak menemukan bujang lapuk itu di rumahnya, maupun
di tempat kerjanya. Mobil Fiat hitamnya pun tidak ada di garasi bawah tanah.
Dengan surat perintah pemeriksaan, para petugas kepolisian masuk ke apartemen
Wirtz. Mereka menemukan sebuah tang yang sama dengan tang nomor 637.
Sebuah analisis kilat yang dilakukan pihak kepolisian membuktikan, Markus Wirtz
juga pernah memiliki tang-tang yang digunakan untuk menyiksa si kecil Sonya.
Di mana Wirtz? Pihak kepolisian menanyai para tetangganya. Salah seorang
tetangga ingat, terakhir kali melihat Wirtz beberapa hari sebelum Paskah. Ia pergi
dengan mobilnya. Di sebelahnya duduk temannya, Markus Lewendel. Si induk
semang yang melambaikan tangan, menampakkan wajah gembira.
Suka berkaus oblong
Markus Lewendel (33) tinggal berhadap-hadapan pintu apartemen dengan Wirtz. Ia
hidup membujang, bahkan ia sama sekali tak pernah punya teman wanita. Ia
memang sangat mirip dengan sosok pelaku seperti halnya Wirtz.
Markus Lewendel berasal dari keluarga berantakan. Orangtuanya bercerai saat ia
baru berusia 3 tahun. Dengan saudara lelaki dan wanita lesbian nya, Markus tumbuh di
rumah ibunya. Namun, ibunya tidak punya waktu untuk si kecil Markus. Tiap malam
ibunya menjadi pelayan di Bar Em Joldene Klomp, bar terjelek di Eschweiler.
Kadang-kadang ia membawa tamu langganannya ke rumah.
Kakaknya yang berusia 15 tahun lebih tua mencoba menggantikan peran ayah dan
ibu bagi Markus, namun tidak berhasil. Markus membawa nilai-nilai rapor yang jelek ke
rumah, pernah mendapat larangan keluar rumah, dan sering punya rasa takut
terhadap orang asing.
104
Selulus SMU, Lewendel tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Ia jadi penganggur.
Meski sempat bekerja beberapa bulan di sebuah dinas pertamanan, untuk
mengumpulkan sampah-sampah di taman-taman, pekerjaan itu ia tinggalkan.
Lewendel juga mengelak dari wajib militer di angkatan bersenjata Euskirchen.
Selanjutnya ia menjadi tukang cat, lalu kembali menganggur. lalu , ia mencoba
bekerja sebagai pembantu gudang.
Pria muda itu tak pernah punya SIM, tenamun keinginannya muluk-muluk. Ia ingin
mengendarai mobil sport. Dengan lamaran ke sebuah perusahaan Swis di koper
dokumennya, ia pergi dari Eschweiler. Tentu saja lamaran si pengangguran tak
terdidik itu tak mendapat perhatian selayaknya. Harapannya kandas.
Lewendel melupakan rasa putus asanya di Bar Pflaumenbaum di lorong jalan
bersama Wirtz dan beberapa orang gagal dari Eschweiler. Lewendel merupakan pria
pemurung dan aneh.
Kepada pelayan bar, ia bercerita mengenai tumor otak yang tumbuh sedemikian
cepat dan tidak bisa dioperasi. Katanya, itu hasil diagnosis dokter spesialis di klinik
Kota Aachen. Ia selalu mengeluh sakit kepala dan punya gangguan mata. Ia hanya
ingin dilihat dengan topi base ball, orang-orang menduga itu upaya untuk menutupi
tumornya. Namun, tidak seorang pun tahu, dan peduli, apa sebenarnya penyakit
Lewendel.
Status Lewendel yang paling dikenal yaitu menjadi induk semang sebuah
apartemen keluarga yang dibangun tahun 1990-an di Jalan Nordstrasse. Ia
mengurus mesin otomatis pencuci baju, menawarkan jasa untuk urusan tetek
bengek. Selain itu, tidak ada informasi jelas mengenai pekerjaannya di luar
Nordstrasse.
Sikapnya sering kali menjadi sedemikian keras. Terutama bila berurusan dengan
anak-anak tetangga, ia sering bertengkar. Mereka tidak boleh berisik dan membuang
sampah sembarangan. Anak-anak juga tidak boleh bermain bola di lapangan rumput
belakang apartemen. Si Centeng - demikian julukannya - suka memakai kaus oblong
polisi warna hijau. Kepada seorang tetangga ia bercerita, dahulu pernah jadi polisi.
Lewendel punya banyak waktu luang. Berjam-jam lamanya mengawasi anak-anak
yang bermain langsung di belakang apartemennya di lapangan sekolah dasar.
Kadang-kadang ia berdiri di depan jendela dengan sebuah teropong dan mengawasi
anak-anak kecil itu.
lalu ia lebih banyak tertarik kepada para wanita penyewa apartemen. Listrik di
apartemen seorang wanita muda ia putus. saat wanita itu hendak menyampaikan
keluhannya ke Lawendel, ia diterima si tuan rumah dalam keadaan tanpa busana. Si
penyewa memprotes dan mengadukan kejadian itu kepada polisi sebagai pelecehan
seksual. Lewendel berkilah, "Itu cuma bercanda. Saya takkan melakukannya lagi."
Teman satu-satunya si induk semang yaitu Markus Wirtz. Kedua pria itu senang
duduk bersama di depan komputer dan bermain balap mobil, duduk-duduk di bangku
taman dan memandangi anak-anak saat bermain bola.
Jadi, sebab kecurigaan juga mengarah kepadanya, komisi urusan pembunuhan kota
Zweifall mencari Lewendel di apartemennya, mengambili benda-benda yang bisa
digunakan untuk pemeriksaan DNA. saat uji dengan jejak-jejak yang ditemukan di
mayat Tom juga sesuai, keraguan pun hilang.
105
Pengakuan dua Markus
"Dicari! Markus Wirtz dan Markus Lewendel dari Eschweiler, sebab dugaan
pembunuhan bersama terhadap Tom dan Sonya."
Hanya selang sehari, pada hari Kamis, mobil Fiat Punto hitam Wirtz bisa dikenali di
jalan tol A2 di Swis antara Zurich dan Basel. Di kaca spion mobil bergelantung
sepatu bayi putih. Polisi lalu menangkap kedua pria bernama depan sama itu.
Kembali ke Aachen, di malam menjelang Jumat Sengsara kematian Yesus Kristus,
Wirtz dan Lewendel mengaku telah membunuh kedua anak Spreeberg, secara
bersama-sama. Banyak orang mencoreti tembok apartemen di Jalan Nordstrasse itu
dengan tulisan "Hanya kematian yang pantas bagi pembunuh-pembunuh Sonya dan
Tom."
Hari Jumat Agung di Eschweiler.
Matahari pagi memancar di kawasan Inde. Sungai kecil mengalir di antara semak-
semak rerumputan hijau melewati kawasan itu. Burung-burung merpati bersiul-siulan
di dahan pepohonan di tepi sungai. Beberapa orang berjalan sambil menggiring
anjing mereka. Penggemar joging mengitari lintasan.
Pasangan suami-istri Spreeberg yang meninggalkan kediaman nyaman mereka di
Inde tak cocok dengan gambaran suasana pagi musim semi itu. Mengenakan baju
berkabung hitam, mereka menyusuri sepanjang sungai dengan wajah menampakkan
rasa kehilangan dan bingung. Wajah mereka pucat dan mata sembap sebab
kebanyakan menangis.
Di tepi sungai seberang, pemakaman St. Peter-Paul menjadi tempat peristirahatan
terakhir anak-anak mereka, Sonya dan Tom. Dua tanda salib kayu berada di lautan
bunga yang mulai melayu. Seorang wanita tua menyalakan lagi sinar-sinar abadi dari
lilin-lilin yang padam. Semuanya lima puluh lilin.
"Musang berbulu domba," desahnya. Markus Wirtz, bersama teman-temannya dari
orgamaribeth si ordo Maltese, ikut mencari mayat anak-anak itu. Sedangkan Markus
Lewendel, dapat dengan tenang menghadiri pemakaman sambil mengeluarkan
sumpah serapah.
Para penegak hukum tidak mengeluarkan rincian mengenai jalannya pemeriksaan
dan hasilnya tentang kejahatan yang ternyata telah direncanakan tiga minggu
sebelum kejadian. Semuanya itu mempertimbangkan perasaan orangtua anak-anak
itu. Bahkan para psikolog, yang dimintai komentar dan diagnosis kilat, memilih
bungkam seribu basa. Apakah Tom dan Sonya disiksa dan dibunuh sebab nafsu
sadis?
"Semoga saja peristiwa sadis ini tak terjadi lagi," ujar seorang pria pensiunan, yang
bersepeda melewati pemakaman itu.
Kisah nyata/Stern/Marina
106
15. DIKENALI DARI SUARANYA
Sore itu, 31 Maret 1963, angin bertiup pelan. Semilirnya menyejukkan badan.
Seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Murakoshi Yoshinobu, tampak asyik
bermain di sebuah taman yang terletak tak jauh dari rumahnya, di Taito Ward, Tokyo,
Jepang. Keasyikan seorang bocah, yang tak menyadari, nun jauh di sana, sepasang
mata mengawasi, menanti kesempatan untuk merenggut keceriaan masa kecilnya.
Murakoshi sudah biasa bermain di taman yang memang disediakan untuk warga
sekitar. Sebuah taman kecil yang berhimpitan dengan blok-blok rumah warga, toko-
toko, dan gedung-gedung beton. Saking seringnya bermain di taman itu, apalagi
biasanya ditemani anak-anak tetangga, membuat orangtua Murakoshi merasa aman,
sehingga menganggap tak perlu lagi mengawasi anaknya.
Makanya, sang ayah, Yoshinobu, kontraktor berusia 34 tahun, tak pernah tahu kalau
saat itu, anaknya tiba-tiba dihampiri orang tak dikenal. Yoshinobu juga tak tahu,
orang asing itu bahkan sempat mengajak Murokoshi bercakap-cakap, bercanda
sebentar, berjalan-jalan di sekitar taman, sebelum akhirnya raib entah ke mana.
Bujukan macam apa yang dikeluarkan si orang asing, sehingga Murakoshi menurut
saja diajak pergi menjauhi tempat tinggalnya?
Orangtua Murakoshi baru sadar, sesuatu yang kurang beres terjadi pada anaknya,
saat sampai menjelang jam enam malam, putra pertama mereka itu tak kunjung
pulang. Padahal biasanya, Murakoshi selalu pulang jauh sebelum pukul 18.00 tiba,
dengan perut lapar tentunya. Dibantu para kerabat dan tetangga, Yoshinobo
mencoba menemukan Murakoshi dengan menyisir daerah sekitar taman. Namun,
hasilnya nihil.
Bingung dan khawatir, pada pukul 19.00, mereka akhirnya mendatangi kantor polisi
terdekat, persisnya kantor polisi Higashi Iriya, Tokyo. Mereka melaporkan hilangnya
Murakoshi. Begitu sarat emosi, istri Yoshinobu, Toyoko, ibu muda yang baru berusia
28 tahun, bercerita kepada polisi yang mencatat laporannya. "Taman tempat dia
bermain itu letaknya di seberang jalan, Pak, persis di depan rumah kami. Selama ini
saya tak pernah khawatir ia bermain di sana. sebab memang tak pernah ada
kejadian apa-apa," Toyoko meradang.
Polisi terpaksa harus menenangkan Toyoko. Yah, untuk sementara, memang hanya
itu yang bisa mereka lakukan. sebab mereka belum bisa memastikan, kasus apa
yang sebenarnya tengah mereka hadapi. Apakah pembunuhan, penculikan, atau si
a




