• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 5. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 5


 ula aku kira, mereka cuma menggertak. Saya sudah peringatkan Paman Ralph 

soal ini, namun  dia tetap menolak. Saya bisa apa? Dia kan bos saya."  

 

Sangat sempurna! Bagaimana jika seseorang dengan niat jahat benar-benar datang 

menemui Ralph dan Ralph benar-benar terbunuh? Orang-orang sudah 

memperhitungkan hal itu, begitu juga dirinya. Yang terpenting, bagaimana mungkin 

Sam akan disalahkan? Semuanya akan mengarah pada "kelakuan" Ralph sendiri. 

Orang-orang akan berkata, Sam telah mencoba menyelamatkan Ralph dari dirinya 

sendiri.  

 

Bagaimana jika ternyata tak seorang pun paranoia yang datang menyambangi Raph? 

Ya, enggak apa-apa. Di sinilah asyiknya rencana Sam. Kasarnya, nothing to loose, 

sebab  mungkin saja nantinya tidak akan terjadi apa-apa. Tidak akan ada orang gila 

yang muncul dengan nafsu membunuh. Ralph pun dapat hidup dengan aman. Begitu 

pun Sam, bisa menghabiskan sisa umurnya tanpa perlu menyimpan rasa bersalah.  

 

Ia hanya memperagakan permainan yang bisa berbahaya dan menjanjikan hal-hal 

hebat di dalamnya, atau tidak berbahaya sama sekali.  

 

Dikejutkan paket 

Dering telepon sedikit mengejutkan Sam yang siang itu sedang asyik membuat 

catatan keuangan bulanan di ruang kerjanya. Sam mengangkatnya. Meski saluran 

telepon tersambung paralel dengan ruang kerja Ralph, Sam yang selalu bertugas 

mengangkat setiap panggilan telepon.  

 

"Ya. Halo!"  

 

 87

"Paket kiriman, Tuan Gelderman, dari Prime Publishers." Resepsionis gedung 

memberi tahu.  

 

Sam mengeluh dalam hati. Ah, pastilah bundel buku dari sebuah galeri dan meminta 

Ralph memberi pernyataan promosionalnya. Meski Ralph tidak pernah bersedia, 

pihak penerbit sepertinya tidak pernah putus asa. Akhirnya, menjadi tugas Sam 

untuk memberi  jawaban penolakan, untuk yang kesekian ratus kalinya. Sebuah 

tugas yang benar-benar membosankan.  

 

"Apakah orang yang mengirimkan paket ini masih ada?" tanya Sam. sesudah  

diiyakan, Sam melanjutkan, "Kalau begitu, suruh dia ke atas."  

 

Dua menit lalu , bel pintu berbunyi. Sam beranjak ke pintu dan menyambut 

pengirim paket yang sudah berada di depannya. Usianya paruh baya, tak ada yang 

mencolok dari penampilannya. Ia memegang sebuah kotak berwarna kecoklatan.  

 

"Anda, Tuan Gelderman?"  

 

"Ya," ujar Sam tidak sabar sambil menerima kotak itu. "Apakah ada yang harus saya 

tanda-tangani?"  

 

Sam mengambil pena dari sakunya, namun  sesaat lalu  ia menyadari paket itu 

kosong. Paket itu ikut tertekan genggaman jari-jarinya tanpa tertahan. "Apa ini? Hei, 

apa yang kau lakukan?"  

 

Tiba-tiba si pengirim paket sudah merangsek masuk ke dalam, mendorong Sam ke 

salah satu dinding dan menutup pintu di belakangnya. Ia lalu  berkata, 

"Namaku Lawrence Leghorn dan saya ke sini untuk bertemu denganmu, Ralph 

Gelderman."  

 

Perut Sam langsung mengejang. Ini orangnya! Mungkin saja berniat untuk 

menyerang dan memukul! Ia berkata dengan serak, "Anda salah. Saya bukan Ralph 

Gelderman. Saya sekretarisnya. Tuan Gelderman sedang tidak ada."  

 

Mata Leghorn menyipit. Ia memegang pinggang Sam dengan kuat sekali. "Si 

penjaga pintu memanggilmu Gelderman, dan kau baru saja memberi tahu namamu 

Gelderman." " 

 

Saya Sam Gelderman!"  

 

"Kau baru bilang bahwa kau yaitu  sekretarisnya." "Saya memang sekretarisnya. 

Saya juga keponakannya, jadi saya punya nama yang sama. Di dalam surat 

dituliskan 'RG/sg'. Sayalah 'sg'."  

 

Leghorn ragu-ragu untuk sesaat. lalu  ia berkata, "Foto yang ada di buku 

yaitu  fotomu."  

 

"Itu yaitu  foto yang lama dan ada kemiripan dalam keluarga, tenamun  ia dua puluh 

tahun lebih tua dariku," ujar Sam panik. Tubuhnya gemetar.  

 

Leghorn berpikir sejenak. lalu  berkata, "Aku tak percaya padamu!" Ia 

mencabut sebuah pistol dari sakunya dan menembakkannya tiga kali. Dor! Dor! Dor!  

 

Tubuh Sam pun langsung jatuh ke lantai, tergeletak, tanpa nyawa. (Kisah 

rekaan/Isaac Asimov/TJ  

 88

 

12. SURAT CINTA MENGUATKAN SANGKAAN 

 

Pagi menjelang subuh, 4 Oktober 1995, Nicole Smith tampak berbaring di ruang tidur 

di rumahnya, Lorena Close 7, Hoppers, Victoria, Australia. Sebelumnya, ibu muda itu 

sempat dua kali terjaga untuk menyusui Adrian, bayinya yang baru berusia 10 

minggu. wanita lesbian  yang berusia 32 tahun itu tampak sangat kelelahan. Namun, di 

tengah serangan rasa penat, dia masih sempat mencium anak lelakinya dengan 

penuh kasih sayang. Sebuah ciuman yang sangat manis. Lalu dibaringkannya buah 

hati tersayang di buaian, yang berada di ruang duduk.  

 

Tak ada yang menyangka, beberapa saat lalu  di tempat tidurnya sendiri, 

Nicole mengalami tragedi mengerikan. Entah dari mana datangnya, seorang lelaki 

tiba-tiba menjejalinya dengan pakaian yang sudah dibasahi zat berbau menyengat, 

kemungkinan eter. Dalam kondisi setengah pulas, Nicole sulit mengenali lelaki itu. 

"Aku sempat terjaga, berusaha menendang dan meronta-ronta," cerita Nicole. 

Namun, aroma bius membuat Nicole akhirnya kehilangan kesadaran. Sialnya, 

kejadian itu bukan akhir, namun  justru awal datangnya tragedi yang lebih besar.  

 

Datangnya tamu istimewa 

 sesudah  berhasil membuat Nicole pingsan, lelaki sadis itu langsung beranjak ke 

ruang duduk, menggendong Adrian yang menatap dengan mata mengantuk, 

lalu  meletakkan bayi tak bersalah itu persis di sebelah Nicole. Sejurus 

lalu , blupp! Nyala api mulai merambah tempat tidur, sebelum akhirnya meluas 

dan menyebar ke bagian lain rumah istri Mark Smith itu. Nicole beruntung masih bisa 

menyelamatkan diri, walau dengan jari dan lengan terbakar sampai ke tulang dan 

sumsumnya, sehingga akhirnya harus diamputasi.  

 

"Aku cuma tahu ada sesuatu yang menimpa tangan dan lututku. Aku juga merasa 

seperti ada benda kecil di dekatku," cerita Nicole. Benda yang di lalu  hari 

disadarinya sebagai tubuh mungil Adrian. Alarm kebakaran sendiri baru berdering 

sekitar pukul 07.30 pagi. Para tetangga yang terbangun kaget setengah mati. 

Tetangga terdekatnya berusaha menyelamatkan Nicole yang kelihatan terbaring di 

patio. Rambutnya habis terbakar, lengan kanannya hangus, dan suaranya nyaris tak 

terdengar. "Bayiku. Bayiku masih ada di sana," sebutnya lirih.  

 

Dua kali tetangganya mencari Adrian, namun  selalu gagal menemukan anak malang itu. 

Sampai akhirnya, ditemani Nicole, mereka memeriksa seisi rumah. Di kamar tidur, 

asap tebal dan tajam tampak menyelimuti ruangan. Sang tetangga yang melihat "titik 

terang" lalu  mengajak Nicole keluar, sebelum wanita tegar itu melihat dengan 

mata kepala sendiri bayinya hangus tergeletak di tempat tidur. Nicole segera 

dilarikan ke rumah sakit, didampingi suaminya yang terlihat terkejut. Orangtua Nicole, 

yang tahu Adrian tewas, datang dari Queensland untuk mendampingi putrinya.  

 

Mereka harus pandai-pandai menyimpan rahasia, sebab  Nicole tampak belum siap 

menerima kepergian Adrian. Ibu muda itu selalu bertanya, "Mana Adrian, mana 

anakku?" Seolah yakin betul, buah hatinya masih hidup. Toh tak ada rahasia yang 

bisa disimpan terus-menerus. sesudah  operasi dan kondisi mental Nicole siap, kabar 

buruk itu terpaksa disampaikan. Saat itu, Nicole cuma bisa diam, sebab  memang 

tak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan. Dia minta keluarga dan tetangga 

mencarikan sehelai rambut Adrian, untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.  

 

Sampai saat itu, baik pihak keluarga maupun kepolisian masih belum punya 

gambaran jelas, siapa lelaki yang tega membius Nicole dan membakar Adrian. 

 89

Apalagi tak ada saksi mata yang melihat langsung kejadian itu. Di sisi lain, sosok 

Nicole, suaminya Mark Smith, dan anak mereka Adrian, mulai menjadi fokus 

pembicaraan warga kota.  

 

Lahir dan tumbuh di Ipswich, Queensland, Nicole berumur 22 tahun dan sudah 

bekerja di sebuah pre-school saat berkenalan dengan Mark yang cerdas, tampan 

dan jangkung pada tahun 1990. Nicole percaya, mereka saling menghargai satu 

sama lain. "Dia pria yang lemah lembut," kenangnya. Tahun 1991, keduanya 

menikah, lalu  pindah ke Orlando, Florida, tempat Mark yang berdinas di 

Angkatan Udara Australia bertugas selama tiga tahun. "Ikatan kami sangat kuat," 

tutur Nicole. "Sangat akrab dan selalu melakukan sesuatu yang istimewa pada hari 

jadi dan ulang tahun. Rencananya kami mau punya tiga anak," tambahnya.  

 

Tahun 1994, pasangan itu pindah ke Palm Bay, Florida. sebab  lama tak mendapat 

momongan, Nicole berkonsultasi pada seorang endokrinolog, yang menganjurkan 

meditasi untuk mengatasi problem pada kelenjar tiroidnya. Berhasil, tujuh bulan 

lalu , Nicole betul-betul hamil. Dia bahagia luar biasa. "Aku sangat 

menginginkan bayi, dan ingin cepat-cepat mengabarkan berita baik ini pada Mark. 

Dia pasti senang," ingatnya saat  itu. Saat kandungan Nicole berusia tiga bulan, 

pasangan muda itu kembali ke Australia. Mereka tinggal di Hoppers Crossing, dekat 

Werribee, Victoria, tak jauh dari tempat Mark dipindahtugaskan.  

 

Mark sendiri, sebelum lahirnya Adrian, tampak berusaha keras menjadi bapak yang 

baik. Dia cukup perhatian, rajin menemani Nicole ke dokter kandungan, dan selalu 

berada di sisi sang istri saat tenaganya dibutuhkan. Kebahagiaan Nicole kian 

lengkap saat  Adrian lahir. Bayi mungil berambut gelap dan bermata biru itu menjadi 

tamu istimewa yang sangat dinanti kehadirannya. "Dia mencintai kehidupan sejak 

lahir ke dunia," tutur Nicole. "Dan dia memang dilahirkan untuk memberi  

kegembiraan."  

 

Geledah teman selingkuh 

 Hampir tak ada petunjuk yang bisa menuntun polisi untuk mengungkap kasus 

terbunuhnya Adrian. Nicole, apalagi Adrian, nyaris tak punya musuh. Niat membakar 

mereka berdua hidup-hidup merupakan ide keji yang harus dilandasi motivasi sangat 

kuat. Sersan Andrew Bono, detektif yang ditugasi menyelidiki kasus ini, benar-benar 

dipaksa menghadapi benang kusut. "Bahkan di kamar tidur sekalipun, tak kami 

temukan jejak sama sekali," bilang Bono. Namun, benang kusut itu tetap harus diurai, 

bisiknya dalam hati. Langkah pertama Bono, tentu saja, menanyai orang terdekat 

Nicole.  

 

Seminggu sesudah  kebakaran, Bono berbicara dengan Mark Smith. Menurut ayah 

Adrian ini, dia menerima dengan pasrah kematian Adrian. Peristiwa kebakaran itu 

dianggapnya sebagai sebuah kecelakaan tragis. Detektif berpengalaman itu 

mencatat adanya sedikit ketidaksesuaikan antara cerita Smith saat itu dengan 

omongannya beberapa hari sebelumnya. Namun, sulit menyimpulkan atau menduga-

duga keterlibatan Mark. Bono juga memeriksa para tetangga serta menanyai kerabat 

dekat dan pihak-pihak yang kerap berhubungan dengan Nicole.  

 

Motif, itulah yang terus dicari polisi asal Melbourne itu. "Seluruh kasus ini tidak saling 

berhubungan, namun  merupakan gabungan dari potongan kejadian pada saat yang 

bersamaan," kata Bono setengah berteori. Titik terang mulai agak kelihatan saat  

dia mencoba menggali informasi dari rekan-rekan kerja Mark Smith. Dari merekalah 

Bono mendapat nama madam  Wilkinson, warga negara Amazon  yang konon salah 

satu kawan terdekat Mark. 

 

 90

Mark bertemu madam  Wilkinson saat bertugas ke Australia beberapa tahun silam. 

Gadis cantik berambut mekar itu sekretaris di divisi tempat Mark bekerja. Nicole 

sendiri pernah dua kali bertemu madam  di acara sosial. Penasaran, Bono menelusuri 

sejauh mana hubungan Mark dan madam . Dia juga harus rela bolak-balik Australia - 

Amazon , berbagi informasi dengan FBI, serta mengumpulkan hal-hal kecil yang bisa 

dijadikan barang bukti. Teman-teman sejawatnya sampai mengingatkan, agar Bono 

tidak terlalu terobesi pada Mark. Bagaimana jika pembakar rumah Nicole ternyata 

bukan Smith?  

 

Namun seperti biasanya, Bono pantang mundur. Dalam penyelidikannya, Bono 

menemukan fakta, Mark pernah mentransfer uang senilai lebih dari AS $ 70.000 

kepada madam . Smith juga membeli cincin pertunangan seharga AS $ 20.000 buat 

pasangan selingkuhnya itu. Setidaknya, hingga awal 1997, Bono sebenarnya 

mencurigai perselingkuhan Mark berada di balik percobaan pembunuhan terhadap 

Nicole. "Namun ia selalu menyangkal semuanya," cerita sang polisi.  

 

Maka, Januari 1998, Bono berangkat lagi ke Amazon  tengah . Dia bertekad 

mengantungi surat perintah polisi setempat, untuk menggeledah rumah madam  

Wilkinson. "Saya menemukan tagihan hubungan telepon internasional mereka, e-

mail, kartu-kartu ucapan, dan surat-surat cinta. Smith menyebut madam  sebagai 

tunangan. Dia berjanji akan mengadopsi Melissa, anak madam  dari hubungan 

dengan lelaki lain, yang lahir beberapa bulan sebelum Adrian," imbuh Bono. Pada 

sebuah kartu dari Melissa yang ditujukan kepada Mark terbaca: "Ayah tersayang, 

aku mencintai dan merindukanmu."  

 

Penemuan-penemuan itu berhasil menyeret Mark ke pengadilan. Namun, berbeda 

dengan Nicole yang harus menjalani dua hari pemeriksaan silang dengan tangis 

sedu-sedan. Mark Smith malah terlihat sangat tenang. Termasuk saat jaksa memutar 

kembali kaset video yang memperlihatkan Mark sedang menurunkan peti jenazah 

putranya ke liang lahat. Smith sama sekali tak menunjukkan emosi yang berlebihan. 

Penampilan itu semakin menguatkan dugaan, dia memang pembunuh sadis 

berdarah dingin.  

 

Ia juga selalu menyangkal bukti-bukti dan tuduhan jaksa. Untunglah, kerja keras 

Bono selama lima tahun akhirnya terbayar lunas, saat  Desember 2000, Mark John 

Smith resmi dijatuhi hukuman 26 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Victoria. Ia 

diyakini melakukan langsung pembakaran yang berakibat hilangnya nyawa Adrian, 

serta merencanakan pembunuhan terhadap Nicole. Pacar gelapnya, madam  

Wilkinson, menolak datang ke Australia untuk menghadiri sidang. "Tak ada kekuatan 

hukum yang bisa memaksanya datang. madam  selalu menyangkal keterlibatannya 

pada kasus ini," jelas Andrew Bono.  

 

Hampir mati terbakar 

Tepatkah keputusan pengadilan menghukum Mark? Nicole sendiri, yang dihubungi 

Bono pasca persidangan mengaku, keputusan hakim itu tetap "sangat mengejutkan" 

buatnya. Keputusan yang menutup rapat pintu keraguan yang selama ini 

menyiksanya. "Aku terguncang saat mendengar berita itu dan menangis untuk 

anakku," tuturnya lirih. "Paling tidak, akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Jawaban 

atas semua keraguan dan pertanyaan yang selama ini tak terjawab." Meski tentu 

saja, Nicole tetap tak habis pikir, mengapa mantan suaminya itu lebih memilih 

membunuh anak-istrinya ketimbang menuntut cerai.  

 

"Hanya Mark yang tahu, mengapa ia memilih jalan itu," jawab Nicole, lebih pada 

dirinya sendiri. "Mark menyukai uang. Tampaknya, masalah finansial ikut berada di 

balik semua kejadian ini. Kami tidak punya asuransi pribadi, namun  kami punya rumah 

 91

dan seisinya serta dana pensiun Mark. Semua itu bernilai lebih dari AS $ 215.000," 

duga Nicole. Namun, yakinkah Nicole bahwa suaminya sendiri yang mendalangi 

semua peristiwa tragis ini? Bukankah di pengadilan, Smith selalu menyangkal 

tuduhan jaksa dan bukti-bukti yang dikumpulkan polisi?  

 

Betulkah Mark, pria tampan berumur 37 tahun itu, yang tega membungkuk di atas 

badan Nicole, lalu dengan sadis menutup wajah istrinya sendiri dengan pakaian yang 

sudah dibasahi cairan bius mudah terbakar. Smith jugakah yang menyalakan 

aromaterapi bakar di samping tempat tidur dan mengatur posisi ibu dan anak itu 

sedemikian rupa, sehingga bisa meninggal bersama-sama? Apakah Mark memang 

sekejam itu, membakar anak dan istri, lalu kabur dan pura-pura sangat terpukul 

saat  polisi memberitahukan "kabar buruk" itu padanya?  

 

"Entahlah. Aku tak lagi berbicara dengan dia sejak Desember 1995. Aku 

menganggap semua sudah berakhir," jawab Nicole bijak. Tak mudah mengorek 

informasi tentang Mark dari Nicole. Andrew Bono sendiri menggambarkan ibu muda 

nan tegar itu sebagai wanita luar biasa. Dia kehilangan begitu banyak hal, namun  selalu 

berusaha keras memperoleh kembali kehidupannya yang hilang. Nicole bahkan tak 

pernah menaruh prasangka sedikit pun pada suaminya, sampai Bono 

menyampaikan bukti-bukti keterlibatan orang yang sangat dicintainya itu.  

 

Itu sebabnya, dia begitu lama bisa menerima kenyataan. Selama ini dia agak buta, 

lantaran terlalu percaya pada kekuatan cinta dan kegembiraan mengurusi putra 

kesayangan. Dia baru bisa percaya dan membuka mata, sesudah  merangkai 

kejadian-kejadian sebelum datangnya kematian Adrian. Nicole membuka album foto 

dan menunjukkan gambar yang diambil di rumah sakit, sehari sesudah  Adrian lahir. 

Mark Smith tampak sedang memandang bayinya tanpa ekspresi. Bahasa tubuhnya 

terkesan "dingin" dan "menjauh". Sepulang dari rumah sakit bersalin, Mark pun 

berubah. Dia bahkan tak pernah mau membantu Nicole merawat Adrian.  

 

"saat  Adrian berumur lima minggu, tengah malam aku terbangun, sesudah  mencium 

bau gas yang sangat kuat," lanjut Nicole. "sesudah  diperiksa, ternyata ada beberapa 

lubang pada pipa yang terletak di atap. Aku tak punya gambaran bagaimana hal itu 

bisa terjadi," kilas Nicole. Hampir dua pekan lalu , Nicole ingat pula pernah 

dibangunkan suara lengkingan alarm kebakaran di dapur. "Aku sedang menyusui 

dan Adrian tampak gelisah. Mark setahuku tidur di ruangan terpisah," tuturnya. 

saat  Nicole ke dapur, ia melihat api berkobar dari tempat sampah menuju atap.  

 

Ketakutan, segera Nicole merenggut Adrian dari buaian di ruang duduk yang 

berjarak hanya lima meter dari kobaran api. Seraya mengawasi Mark yang dengan 

sigap menyiram lidah api dengan alat pemadam kebakaran. "Aku sendiri bingung, 

mengapa kebakaran itu bisa terjadi. Itu sebabnya aku menyarankan Mark membawa 

tempat sampah itu ke dinas kebakaran untuk diperiksa, namun  ia menenangkanku. 

Sejak saat itu sebenarnya aku mulai gelisah. namun  tak sedikit pun aku menaruh 

kecurigaan padanya. Dia 'kan suamiku, teman terbaikku. Aku hanya tak bisa 

mengerti, mengapa hal-hal berbahaya itu bisa terjadi."  

 

Perangai berubah 

"Buta" paling parah yang dialami Nicole yaitu  saat  dia tak pernah mencium 

hubungan mesra suaminya dengan madam  Wilkinson. Tidak juga saat  madam  

dihamili oleh "orang kantor" Mark, dalam pesta mabuk-mabukan di tahun 1994. Anak 

wanita lesbian  madam , Melissa, sudah berusia dua bulan saat  Nicole hendak 

melahirkan. madam  bahkan mengarang cerita bohong pada Nicole, mengaku telah 

menikah dengan seorang pria dari angkatan udara, saat berkunjung ke Australia di 

awal 1995, hanya untuk melahirkan di dekat Mark.  

 92

 

Nicole juga tidak tahu sama sekali, perjalanan dinas Smith ke Canberra saat  Adrian 

berumur enam minggu, memungkinkan Smith menemui madam  dan menemaninya 

makan malam. Dua minggu sesudah  Smith kembali dari Canberra, obsesi pada 

kekasih Amazon nya itu makin subur. Mata lahir dan mata batin Smith mulai gelap, 

sehingga tega menyusun berbagai rencana untuk menyingkirkan Nicole dan Adrian. 

Kebakaran di dapur yang membuat Nicole bingung, terjadi hanya empat hari sesudah  

madam  Wilkinson kembali ke Amazon  tengah .  

 

Puncaknya, tiga minggu sesudah  kebakaran di dapur, Smith memainkan kartu trufnya, 

membakar Nicole dan Adrian di kamar tidur. Kebakaran yang memaksa Nicole 

meringkuk dua bulan di rumah sakit, menjalani 15 kali operasi termasuk operasi 

plastik untuk lengan palsu seharga AS $ 17.000 sumbangan warga Ipswich. Nicole 

pun harus membiasakan sendiri dan belajar menulis dengan tangan kiri.  

 

Selama menanggung penderitaan itu, Nicole juga ingat, ia dirawat hanya oleh 

saudara-saudaranya. Mark sendiri sering menghilang, entah ke mana. sesudah  

peristiwa mengenaskan itu, tahu kalimat apa yang pertama diucapkan Mark pada 

Nicole? Dia cuma bilang, "Keadaanmu ternyata tak seburuk yang kupikirkan." 

Tampaknya, Mark memang benar-benar ingin melihat Nicole mati terbakar. Masih 

tidak menyadari hubungan khusus Mark dan kekasih gelapnya, kurang dari dua 

bulan sesudah  kebakaran dan masih berada di rumah sakit, Nicole mendapat 

musibah kedua.  

 

Smith dengan dingin menyampaikan berita pengunduran dirinya dari angkatan udara, 

sekaligus keinginannya meninggalkan keluarga yang telah mereka bina bertahun-

tahun. "Padahal aku mencintainya, aku tak tahu mengapa dia melakukan ini 

padaku," kata Nicole sambil menggeleng-gelengkan kepala. Smith bahkan 

mengosongkan rekening bersama mereka, lalu  membeli tiket pesawat sekali 

jalan untuk memulai hidup baru di Amazon  bersama madam .  

 

Bulan Maret 1996, Smith kembali ke Australia bersama madam  Wilkinson dan anak 

mereka, Melissa. Bulan berikutnya, bersamaan dengan rangkaian penyelidikan yang 

dilakukan pihak kepolisian, Smith dicekal saat  hendak kembali ke Amazon . 

Terpaksa, madam  dan Melissa pulang kampung tanpa Smith. Keputusan cekal itu 

membuat Mark dan madam  hanya bisa melakukan hubungan jarak jauh, 

meninggalkan banyak bon interlokal, yang dengan mudah ditemukan Sersan Bono 

saat menggeledah rumah madam  di Amazon , tahun 1998.  

 

Saya juga ingat, "Kami tak pernah menangis bersama untuk Adrian. Kadang aku 

pikir, ia sama sekali tidak berduka," ujar Nicole, sembari memandangi foto Adrian 

yang sedang duduk manis sembari meniup-niupkan mulutnya. Foto yang selama ini 

menjadi salah satu "harta" paling berharga Nicole, selain sikat rambut Adrian dan 

sehelai rambut yang tersisa di sikat itu. Benda-benda tak ternilai itu disimpannya 

dalam kotak khusus yang selalu dibawa jika "terjadi kebakaran". Nicole tak ingin 

"Adrian" hilang dan dimakan api untuk kedua kalinya.  

 

Sampai hari ini, Nicole mengaku masih kerap bermimpi buruk, susah tidur, dan 

ketakutan jika mendengar alarm kebakaran. Untuk mengatasinya, ia banyak 

bermeditasi dan mencoba memikirkan hal-hal positif yang telah diberikan Adrian. 

"Dia hadiah istimewa untukku sepanjang hidup ini," senyumnya. "Aku jadi lebih tegar, 

lebih mudah tersentuh, sebab  Adrian selalu bersamaku, sepanjang waktu. Ia 

memegang tanganku saat aku membutuhkannya," tutup wanita yang resmi bercerai 

dari Mark tahun 1997 itu.  

 

 93

Perubahan perangai Mark dan rangkaian peristiwa-peristiwa mencurigakan 

pascakelahiran Adrian tadi, membuat Nicole yakin, seyakin Bono, Mark memang 

telah berlaku kejam dan tak adil buat keluarganya sendiri. Keputusan pengadilan 

hanya bersifat menguatkan. Andai Nicole bisa lebih pintar mendiagnosis candra-

candra mencurigakan itu, kejadiannnya barangkali akan berbuntut lain. Penyesalan 

memang selalu datang belakangan.  

 

Kisah nyata/Rahartati Bambang Haryo  

 

 

13. BEDA NASIB SEJAK BAYI 

 

Penulis: Kisah rekaan/Sast, di Cepu  

  

Udara menjelang siang di Pantai Kuta itu masih menyisakan sedikit kesejukan.  

 

Tomy Sutomo merasa hari itu yaitu  miliknya. saat  membuka tasnya yang sudah 

lusuh, ia nyaris tak percaya, sebuah amplop secara misterius ada di dalamnya. 

Isinya, dua lembar uang ratusan ribu rupiah. "Wah, rezeki nomplok," pikirnya.  

 

Berbulan-bulan sejak peristiwa bom yang meluluhlantakkan dua kafe dan 

menewaskan ratusan orang serta mematikan denyut kehidupan di kawasan Pantai 

Seminyak itu, ia hidup seperti gembel. Gara-gara kehilangan pekerjaan sebagai 

tukang bersih-bersih di sebuah bar, ia menganggur berkepanjangan.  

 

Selama itu pula julukan tunawisma, pengembara dekil, atau gelandangan menempel 

pada dirinya. Demi mendapat sesuap nasi, ia rela menebalkan muka melakukan 

pekerjaan apa pun. Bahkan meminta-minta, mengemis, atau menipu dia lakukan. 

Padahal sebenarnya ia tidak ingin menjalani hidup seperti itu.  

 

Sekarang, untuk sementara, ia bisa tertawa lebar. Amplop itu terus dirogoh-rogohnya 

sekadar untuk meyakinkan, uangnya masih aman di tempatnya. namun  bersamaan 

dengan itu tangannya menyentuh barang lain. Begitu diambil, ternyata secarik kertas 

yang bertuliskan, Harap uang ini diterima. Tak ada niat buruk apa pun terhadap Anda. 

Tolong datang ke sebuah rumah yang letaknya tertera dalam peta di balik kertas ini. 

Di sana Anda akan menerima nasib yang lebih baik. Ingat, hanya Anda yang tahu 

semua ini. Selamat menikmati mimpi indah.  

 

Kening Tomy berkerut. Ia tak mengerti. Teka-teki apa ini?  

 

Tampangnya yang semula ceria kini pudar begitu saja. Di saat seperti itu, uang Rp 

200.000,- membuat dirinya merasa kaya. Namun, isi surat yang menantang itu 

mengusik hatinya. Ia tahu, dirinya sudah terjebak. Tomy curiga, jangan-jangan ini 

satu mata rantai dari sebuah skenario kejahatan besar. Ledakan bom lagi?  

 

Sebegitu murahkah orang seperti dirinya sehingga orang-orang yang tidak 

bertanggung jawab itu memanfaatkannya?  

 

Baginya, uang Rp 200.000,- begitu berharga. Tuntutan perut tidak bisa ditawar-tawar. 

Namun, di sisi lain akal sehatnya mengatakan, ia harus mengembalikan surat itu 

beserta isinya. Cuma, kepada siapa? Ataukah ia harus melapor ke polisi?  

 

 94

Belum juga ia mengambil keputusan, perutnya terus menggedor minta segera diisi. 

Sambil menghela napas dalam-dalam, Tomy meninggalkan gundukan pasir yang 

tadi didudukinya.  

 

Tanpa ragu-ragu Tomy lalu masuk ke sebuah warung makan yang ditata ala kafe. 

Sekaleng minuman ringan yang dingin dan dua potong Yuen pan pan t mengusir rasa lapar 

dan dahaganya. Ditambah sepotong pastel ayam, energi dan semangat hidupnya 

pulih kembali.  

 

Sampai siang itu Tomy tidak tahu entah ke mana kaki akan melangkah. saat  

berjalan sambil mengisap rokok dalam-dalam, ia teringat ucapan temannya, 

"Sebenarnya, hidup ini tak ubahnya berjudi."  

 

"Sekarang saatnya bagiku untuk membuktikan ucapan temanku itu," bisiknya dalam 

hati.  

  

Bukan mimpi 

 Hari sudah di ambang petang. Tomy menguak pintu gerbang dari besi di sebuah 

rumah tua. Jalan setapak berbatu kerikil membelah halaman luas dengan banyak 

tanaman yang tumbuh tak beraturan.  

 

"Kiranya ini rumah yang dimaksud," gumamnya sembari memperhatikan gambar 

petunjuk dalam kertas tadi. Ia masih termangu saat  suara dari dalam rumah itu 

tiba-tiba menyapanya. "Oh, Tuan Muda Jimy! Silakan masuk!" sapa seorang 

wanita lesbian  tua berpunggung bungkuk.  

 

"Akhirnya Tuan datang juga," kata wanita lesbian  tua itu dengan mata berkaca-kaca.  

 

"Duduklah dulu! Tante Ndari sedang tidur. Saya tidak berani membangunkan, sebab 

beberapa hari ini penyakitnya kambuh lagi."  

 

Sandiwara apa pula ini? Tomy merasa heran, sejak lahir sampai kini tak pernah 

sekalipun ia punya nama lain, sekalipun nama samaran untuk gagah-gagahan.  

 

Belum habis keheranannya, wanita lesbian  renta itu datang membawakan segelas air 

jeruk dingin. Diteguknya minuman itu, sesudah  wanita lesbian  tua itu meninggalkan 

dirinya.  

 

saat  hendak membuka kembali tasnya untuk memastikan isi pesan dalam kertas 

itu, wanita lesbian  itu muncul lagi. "Ndara Putri belum bangun. namun  beliau sudah 

berpesan untuk menyiapkan makan malam dan kamar untuk Tuan Muda."  

 

Tomy hanya bisa menjawab dengan senyum yang dipaksakan.  

 

Kamar di lantai tiga itu sungguh terasa mewah untuknya. Meski tubuhnya letih, Tomy 

tidak bisa cepat tertidur. Pikirannya terus melayang, mencoba memahami peristiwa 

"aneh" yang terus mengiringinya sejak siang hingga malam ini.  

 

sebab  baru bisa terlelap sesudah  lewat tengah malam, Tomy bangun kesiangan. 

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.35. "Ini namanya 'kere munggah bale' 

(gembel jadi raja)," batinnya saat  menyaksikan hidangan sarapan berupa beberapa 

iris roti panggang berisi daging asap plus apel. Namun, Tomy ingat pepatah, 

sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya toh akan tercium juga. Itu yang dia 

khawatirkan.  

 

 95

Ternyata buron 

Selamat tinggal Tomy, selamat datang Jimy. Eh ... Jimy siapa? Tomy benar-benar 

ingin tahu dan harus mencari kesempatan untuk menyelidiki. namun  tidak saat ini, 

sebab tiba-tiba Bi Sum, nama wanita lesbian  tua itu, muncul kembali.  

 

"Rupanya, Tuan terlalu capek sebab  perjalanan panjang, sehingga tidurnya pulas 

sekali," sapa Bi Sum.  

 

"Aku harus hati-hati bicara," pikir Tomy. Makanya, ia hanya menanggapinya dengan 

senyum.  

 

"Tante biasa bangun pagi sekali. Tadi ia menanyakan Tuan, namun  ia melarang kami 

membangunkan Tuan," sambungnya. "Sekarang Ndara sudah tidur lagi. Bangunnya 

nanti sesudah  sekitar dua jam. Maklum, sudah sakit-sakitan."  

 

Tomy menanggapi dengan mengerutkan kening serta memasang ekspresi prihatin. 

"Sakit apa sih, Bi?" ia memberanikan diri untuk bertanya.  

 

"Ya, sakit yang dulu juga. Macam-macamlah, ya rematik, pusing-pusing, juga 

kencing manis yang membuatnya harus selalu disuntik kalau makan."  

 

Tomy mendengarkan sambil mengangguk-angguk. "Lalu, apa kata dokter?"  

 

Bi Sum menggeleng. "Dokter keluarga memberi macam-macam obat. Juga nasihat 

untuk diet dan berolahraga ringan. namun , Tuan tahu sendiri, Ndara itu sulit, suka mau-

maunya sendiri."  

 

Kesempatan mengobrol dengan Bi Sum itu tampaknya dimanfaatkan betul oleh 

Tomy untuk mengorek informasi awal. Selanjutnya, selama sekitar dua jam sebelum 

Tante Sundari bangun, ia harus berjuang mencari informasi tentang jati diri Jimy.  

 

Semalam, saat berjalan menuju ke kamarnya, Tomy sempat melihat ada sebuah 

kamar kosong tak berpenghuni di lantai dua. Kini terlihat pintu kamar itu terbuka. 

Mungkin Sri, pelayan yang membantu Bi Sum, baru saja membersihkan kamar itu 

dan lupa menutup pintu. Di dalamnya berjajar rak buku, sebuah meja tulis besar 

dengan lampu baca, foto-foto di dinding, dan lemari tempat menyimpan arsip 

keluarga.  

 

Saat yang dinanti itu pun tiba. Kebetulan tidak terlihat bayangan seorang pun di 

sekitarnya. Ia hanya mendengar bunyi dengung mesin cuci. Dari lantai dua itu Tomy 

bisa melongok ke bawah. Tampak Bi Sum dan Sri sedang sibuk bekerja di dapur dan 

ruang cuci.  

 

 

Di kamar itu ia menemukan album foto tua. Di setiap bagian bawah foto selalu tertera 

keterangan berupa tulisan. Ada potret wanita muda cantik dengan tulisan yang mulai 

pudar: R.A. Retno Sundari - Solo, 19 Desember 1951. Ada juga sejumlah foto 

keluarga.  

 

Yang paling menarik perhatian Tomy yaitu  foto seorang lelaki muda berwajah mirip 

sekali dengan dirinya. Bedanya, kulit lelaki itu kelihatan lebih terang. Di halaman lain, 

terpasang foto telanjang bayi montok dengan tulisan, R. Jimy Sugiharto lengkap 

dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran yang ... "Sama dengan hari 

kelahiranku?"  

 

 96

Pada album lain, di antara sekian banyak foto keluarga, terpampang foto Jimy 

berpose gagah di punggung seekor kuda besar. Ia merasa, senyuman Jimy di foto 

itu seolah mencibir dirinya, "Jimy Sugiharto palsu!"  

 

Tomy tersadar, ia dikejar waktu.  

 

Dengan hati-hati ia mengembalikan semua album itu pada tempatnya. Saat menaruh 

sebuah album, selembar kertas koran meluncur dari dalamnya dan jatuh ke lantai.  

 

Jantung Tomy berdegup kencang saat membaca judul berita di halaman koran yang 

mulai menguning itu. "Jimy Sugiarto Kini Buron". Lelaki gagah dan kaya itu ternyata 

kabur dari sel penjara. Berita itu juga menyebutkan, ada pihak yang bersedia 

memberi hadiah uang bagi siapa saja yang dapat memberi  informasi tentang 

keberadaan Jimy. Pasalnya, pihak tersebut merasa telah dirugikan oleh ulah Jimy. 

Foto-foto Jimy pun dimuat tersebar hampir di setiap halaman koran.  

 

Tomy cepat-cepat mengembalikan koran usang itu. Kakinya masih gemetar. "Aku 

harus cepat-cepat meninggalkan kamar dan rumah ini," pikirnya. Ia tidak mau 

menjadi korban, menanggung perbuatan Jimy - orang yang sama sekali tidak 

dikenalnya.  

 

Namun, ... terlambat.  

 

Saat ia melangkah mendekati pintu kamar, selintas bayangan mengadang jalan.  

 

Bi Sum muncul bagaikan hantu di siang bolong bagi Tomy.  

 

Celaka, apa yang akan dilakukan si nenek bungkuk ini? wanita lesbian  tua itu 

tersenyum dan menyapanya dengan ramah. "Maaf, saya lupa kalau Tuan Jimy ada 

di rumah."  

 

Tomy terdiam.  

 

Bi Sum juga diam, namun  sepasang mata tuanya menatap sebuah amplop di 

genggaman tangannya.  

 

"Ada apa, Bi?"  

 

Bi Sum tak menjawab, lalu mengulurkan amplop itu pada Tomy.  

 

"Ada uang di dalamnya. Tante memberi nya pada saya tadi pagi. Bila sampai jam 

setengah sepuluh Tante belum juga bangun, saya diminta menyampaikannya pada 

Tuan Jimy."  

 

Katanya lagi, Tante Ndari meminta supaya Jimy secepatnya meninggalkan rumah ini. 

"Uang itu cukup untuk biaya perjalanan ke Lombok. Di sana aman. Pagi buta tadi 

Tante mendapat telepon dari orang kepercayaannya. Katanya, rumah ini sudah 

diawasi, Tuan bisa tertangkap."  

 

"Terima kasih, Bi! Saya pamit, sampaikan salam saya pada Tante!"  

 

Gelandangan kaya 

Pergi ke Lombok? Buat apa? Bukankah di luar rumah ini Tomy sudah menjelma 

menjadi dirinya sendiri kembali?  

 

 97

"Selamat tinggal Jimy Sugiharto, semoga nasibmu bukan nasibku!" kata Tomy dalam 

hati.  

 

Walaupun tanpa tempat tinggal dan pekerjaan tetap, kini Tomy merasa berbeda 

dengan para tunawisma lainnya. Itu semua gara-gara segepok uang dari Tante Ndari.  

 

Di sudut sebuah kafe dengan penasaran Tomy membuka amplop itu. Isinya ternyata 

tak kurang dari seratus lembar uang seratusan ribu rupiah. Sepuluh juta rupiah! 

Seumur-umur baru kali ini ia memegang uang sebanyak itu. Dengan uang itu, Tomy 

ingin menutup sejarah masa lalunya yang buram. Tak ada lagi Tomy yang 

pengangguran. Tak ada lagi Tomy yang senantiasa dikejar-kejar orang sebab  utang. 

Tak ada lagi Tomy pengutil yang senantiasa berkucing-kucingan dengan satpam mal. 

Bahkan tak ada lagi lelaki bernama Tomy yang ditinggal pergi istrinya seperti lima 

tahun lalu.  

 

Sambil melahap nasi goreng dari gerobak dorong di lapangan parkir Pasar 

Kumbasari, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera kabur dari pulau ini. 

sesudah  itu ia berharap, bisa merasa tenang saat menggunakan uangnya.  

 

Gara-gara uang Rp 10 juta itu, di pulau ini ia harus selalu waspada pada setiap 

orang asing yang ada di dekatnya. Siapa tahu, dia itu aparat atau pemburu hadiah 

untuk menangkap Jimy.  

 

Gagal kabur 

Malam itu Tomy masih harus mempertahankan gaya hidup lamanya menjadi 

"gelandangan". Ia tidur di emperan toko. Makanya, ia terkejut saat  pagi-pagi sekali 

dibangunkan oleh seorang tukang parkir.  

 

Untuk menghangatkan tenggorokannya, ia menuju ke sebuah warung kopi yang 

mulai ramai pengunjung. Ia memesan segelas kopi kental dan tiga potong pisang 

goreng yang masih hangat. Sambil sesekali mengisap rokoknya, pikirannya terus 

berputar mencari jalan untuk segera meninggalkan pulau ini.  

 

Akhirnya, ia memilih suatu daerah di Jawa sebagai tempat yang ideal untuk 

bersembunyi. sesudah  menyeruput habis sisa kopinya, Tomy segera beranjak menuju 

ke terminal bus di Ubung dengan naik angkutan kota.  

 

Ia merasa lebih aman naik bus ketimbang naik pesawat untuk mencapai Surabaya. 

Menurut perhitungannya, berbagai urusan di bandara bisa menyulitkannya. Bukan 

tidak mungkin hal itu justru membawa dia masuk ke perangkap para pemburu hadiah.  

 

Setiba di terminal, belum ada bus yang akan segera berangkat menuju Pulau Jawa. 

Untunglah, ada sebuah minibus yang sudah mulai penuh penumpang bersedia 

mengangkutnya.  

 

Sesampai di Pelabuhan Gilimanuk, sebuah feri baru saja meninggalkan dermaga 

menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Mau tak mau ia harus menunggu feri 

berikutnya. Selama menunggu keberangkatan, hati Tomy terus dihantui rasa waswas. 

Ia tak sabar ingin segera meninggalkan Pulau Dewata itu.  

 

Untuk membunuh waktu, ia berjalan-jalan di sepanjang pantai. Hamparan air laut 

yang biru kehijauan, semilir angin pantai, dan panorama alam Pulau Menjangan 

yang tampak malu-malu di balik kabut mengurangi ketegangan perasaannya.  

 

 98

Di lidah pantai yang paling menjorok ke laut, ia melihat seseorang sedang asyik 

memancing. Sesekali pancingnya berhasil menggaet ikan yang lumayan besar.  

 

Seorang pengemis menadahkan tangan, membuyarkan konsentrasi Tomy. Tanpa 

banyak pikir, ia mencabut dua lembar uang seribuan. Pengemis itu sejenak melongo 

sebelum menerima pemberiannya. sesudah  berulang kali mengucapkan terima kasih, 

peminta-minta itu pun pergi meninggalkan Tomy.  

 

Sambil mengisap rokoknya, Tomy mengarahkan pandangannya kembali pada 

pemancing itu. Saat mengganti umpan dan menoleh kepada Tomy, ia menyapa 

dengan senyuman.  

 

Saat itu seorang lelaki bertopi dan berkacamata hitam berjalan mendekati Tomy. 

Tampaknya, ia juga sedang menikmati suasana pantai pagi itu.  

 

"Di sini tenang, ya?" sapa lelaki itu.  

 

Tomy menoleh pada lawan bicaranya. "Yah," jawabnya pendek. sesudah  menawari 

permen karet, lelaki itu meninggalkan Tomy bersama sang pemancing.  

 

"Banyak ikannya?" iseng-iseng Tomy menegur.  

 

"Lumayan! Di tempat ini jarang ada orang memancing, padahal cukup banyak 

ikannya."  

 

Feri yang ditunggu-tunggu masih melaju di tengah Selat Bali. Rasa bosan bercampur 

was-was makin membelitnya. Tomy lalu berjalan menuju ke deretan warung di depan 

pintu masuk halaman pelabuhan untuk sarapan.  

 

Ia menyusuri jalan sepanjang pantai yang banyak ditumbuhi ketapang. Beberapa 

perahu nelayan yang sedang ditambatkan tampak bergoyang-goyang dipermainkan 

ombak tepi pantai.  

 

saat  hendak menyulut rokok di bibirnya, seseorang tiba-tiba mendekat. Tomy 

terkejut. Rupanya, lelaki itu hanya mau meminjam korek api buat merokok juga. 

Namun, saat ia menyodorkan korek api, tiba-tiba orang tak dikenal itu dengan cepat 

meringkus tangannya.  

 

"Lo, ada apa ini?"  

 

Lelaki itu diam saja. Sebuah benda keras menekan perutnya.  

 

"Jangan berteriak, kalau tak ingin perutmu ditembus peluru!"  

 

Tomy tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali patuh pada perintah lelaki itu. Ia menurut 

saja saat  didorong masuk ke dalam mobil yang - entah kapan datangnya - tiba-tiba 

sudah ada di dekatnya.  

 

sesudah  masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Tomy terhenyak. Lelaki bertopi dan berkaca-

mata hitam - yang tadi memberinya permen karet - sudah ada di jok belakang.  

 

Perlahan-lahan lelaki itu melepas topi dan kacamatanya. Sama sekali dia tak 

menduga, di hadapannya kini muncul seseorang yang selama ini selalu 

menghantuinya. Lelaki itu Jimy. Jimy Sugiharto.  

 

 99

"Kamu tentu sudah tahu siapa aku. Betul 'kan?" tegur Jimy asli ramah. Namun, pistol 

di tangannya bukan pertanda ia punya niat baik. "Seperti rencana kita 'kan, Bos?" 

kata lelaki di balik kemudi sembari menoleh ke belakang.  

 

Sekali lagi Tomy terkejut, lelaki itu rupanya si tukang mancing di pantai itu.  

 

"Ya, di sana aman."  

 

Tomy merasa dirinya bak kelinci, yang dengan mudah terperangkap masuk dalam 

jebakan pemburu. Nyawanya kini di ujung tanduk. Tak sampai satu jam lalu , 

dalam perjalanan menuju entah ke mana, mobil yang membawa Tomy menyusuri 

jalan yang membelah hutan di kawasan Bali Barat. "Daripada mati konyol, aku harus 

berbuat sesuatu," katanya dalam hati. Nyalinya yang mulai mengembang menciut 

sesaat , manakala sebuah kendaraan lain menyusul mobil yang ditumpanginya. "Itu 

pasti komplotan mereka," pikirnya.  

 

Di sebuah jalan yang tampak makin sepi, Jimy memperketat tali yang mengikat 

kedua tangan Tomy. Seperti dikomando, si pengemudi membawa mobil menerobos 

semak belukar. Tomy tampak pasrah dengan moncong pistol yang sepertinya siap 

menyalak.  

 

Jimy tersenyum. Namun, senyuman itu bagi Tomy lebih mirip seringai serigala lapar. 

"Aku tak mau ada yang mengaku-ngaku sebagai diriku!" hardik Jimy sambil menarik 

picu senjata apinya.  

 

Terdengar suara ledakan memecah keheningan. "Matilah aku!" pikir Tomy. Namun, 

anehnya, ia tidak merasakan apa-apa. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat 

pistol di tangan Jimy terlempar. Rupanya, sebutir timah panas menembus lengan 

kanan Jimy. Dengan lengan yang berdarah, Jimy masih mencoba menguasai dirinya. 

namun , Tomy berhasil melepaskan diri.  

 

Sebaliknya, sepucuk moncong pistol lain kini menempel di pelipis Jimy. Aparat 

rupanya sudah merencanakan semuanya.  

 

Sewaktu kawanan Jimy digiring ke mobil polisi, kembali Tomy dibuat terkejut. Sri, 

salah satu pembantu rumah tangga Tante Ndari ada di mobil itu.  

 

"Jadi?" kata Tomy terbata-bata.  

 

"Ya, saya Sri. Cuma sekarang saya sudah kembali ke pekerjaan semula."  

 

"Jadi, Anda ini Polwan?" Sri mengangguk.  

 

 

14. TERLACAK DARI SITUS INTERNET 

 

 

 Minggu cerah di Eschweiler, 30 Maret 2003. Tom bersama Sonya - adiknya - 

meninggalkan rumah mereka.  

 

Sehari sebelumnya, untuk pertama kalinya ia diperbolehkan bermain agak jauh 

bersama temannya, Sebastian. Bukan hanya agak jauh dari rumah dan kawasan 

Inde, anak-anak itu pergi ke Schwarzer Berg, sebuah lereng pertambangan yang 

jaraknya kurang dari sekilometer dari rumah orangtua Tom di Patternhof.  

 100

 

"Di sana kami menemukan gua," cerita anak laki kecil itu. Ia merasa harus berbagi. 

Maka ia pun menunjukkan gua itu pada adiknya tersayang, Sonya.  

 

Tom (11) dan Sonya (9) diasuh orangtua mereka dengan penuh perhatian. Ibu dan 

bapak mereka, Gudrun dan Uwe Spreeberg - seorang insinyur - sangat 

memperhatikan keduanya. Salah satu bentuknya, bila Tom akan berlatih taekwondo, 

sang ibu mengantarnya dengan mobil sampai ke gedung olahraga. Padahal, 

jaraknya hanya 500 m dari rumah mereka.  

 

Telat pulang 

Minggu petang itu, untuk pertama kalinya, Sonya juga diizinkan keluar bermain 

bersama kakaknya. "Jangan lama-lama ya, setengah jam saja. Jadi, pukul setengah 

enam sudah pulang," begitulah si ibu mewanti-wanti anak-anak itu. Pukul 17.00 

keduanya menghambur keluar bersepatu karet.  

 

Namun, saat waktu yang disepakati tiba, mereka belum juga pulang.  

 

Sekitar pukul 18.00, Gudrun dan Uwe mulai gelisah. Mereka menelepon teman-

teman bermain anak mereka. Namun, tak seorang pun melihat Tom dan Sonya.  

 

Pasangan suami-istri Spreeberg tak bisa lagi tinggal diam di rumah. Dengan dibantu 

sejumlah teman, mereka mencari ke segala pelosok Schwarzer Berg - lereng gunung 

seluas 15 hektar. Tom dan Sonya belum juga ditemukan.  

 

Maka, pukul 20.45 Gudrun dan Uwe melaporkan kepada polisi tentang hilangnya 

kedua anak mereka.  

 

Satuan pencari yang terlatih berdatangan. Polisi, pemadam kebakaran, dan bantuan 

teknis menelusuri setiap jengkal kawasan itu. Di wajah Uwe tercermin sikap optimis. 

Anaknya pasti ditemukan, mengingat kian banyak tenaga bantuan penolong yang 

datang.  

 

Namun, Uwe terpaksa menelan kekecewaan. saat  malam kian larut, mereka belum 

juga dapat menemukan jejak kedua anaknya.  

 

Pukul 05.00 satuan petugas terpaksa menghentikan upaya pencarian yang tanpa 

hasil itu.  

 

Tang bernomor 

"Lubang nyamuk" dekat Kota Zweifall merupakan bekas tempat penghancuran 

bebatuan. Tempat yang tidak terpakai di sebuah pertambangan itu terletak di tepi 

hutan Huert, sekitar 12 km dari Eschweiler. Senin pagi, 31 Maret, di lahan parkir 

tempat ini seorang pejalan kaki menemukan sesuatu yang mengerikan. Sesosok 

mayat seorang anak lelaki.  

 

Kepala anak lelaki itu terbungkus kantung plastik. Jelas, anak itu disiksa sedemikian 

kejam. Hari berikutnya, sesudah  penyelidikan kriminologis, baru bisa dipastikan, 

identitas mayat anak itu.  

 

Benar, itu Tom.  

 

sesudah  menyisir tempat itu, pakar kriminologi menemukan tang dengan cetakan 

nomor 637. Tang bernomor khusus bergagang merah itu dibuat dalam jumlah sedikit 

untuk tukang pembuat alat-alat mekanik. Ada dugaan, pemilik tang itulah si 

 101

pembunuh Tom. Kalau dugaan itu benar, tampaknya si pembunuh sangat ceroboh. 

Ia begitu saja meninggalkan barang bukti yang mudah dilacak di lokasi kejahatan. 

Atau, jangan-jangan itu dilakukan dengan sengaja untuk maksud tertentu?  

 

Entahlah.  

 

Yang pasti, di bagian kriminologi kepolisian Duesseldorf, tang itu diperiksa untuk 

mencari jejak DNA.  

 

Pencarian terhadap adik Tom dilanjutkan. Gadis cilik itu kemungkinan masih hidup. 

Lima ratus polisi melacak semua kawasan hutan di sekitar Eschweiller. Anjing-anjing 

pelacak dilibatkan. Sejumlah orgamaribeth si bantuan ikut serta. Juga regu penolong dari 

ordo Maltese di Eschweiller.  

 

Gemuruh pesawat terbang angkatan bersenjata Jerman melayang-layang di atas 

kawasan sekitar Eschweiller dengan kamera khusus jarak jauh. Pihak kepolisian 

mengambil sejumlah gambar, mencari tempat-tempat yang dicurigai. Lebih dari 

1.400 petunjuk dari penduduk diterima.  

 

Antara lain, berupa temuan tang dengan cetakan nomor 1083.  

 

Informasi lain, seorang pejalan kaki di Stolberg mengaku pernah melihat mobil kecil 

hitam, di dalamnya ada seorang anak sedang memukul-mukul kaca mobil. Si 

pengemudi tidak tampak berupaya menghentikan mobil di jalan raya. Saksi mata itu 

masih ingat, mobil itu membunyikan klakson terus-menerus dengan ban mendecit-

decit. Sangat menarik perhatian.  

 

Seminggu berlalu sejak hilangnya Tom dan Sonya. Hari itu Minggu yang dingin di 

Kota Eifel. Ratusan kilometer jalan tol arah ke selatan Eschweiler di hutan Bucher 

Wald dekat Blankeheim, tergeletak sesosok tubuh manusia diikat plester. Wajah 

seorang gadis kecil yang semasa hidupnya menampakkan keceriaan. Para pejalan 

kaki menemukan mayat itu sekitar pukul 14.00.  

 

Sejumlah pakar kriminologi kembali membutuhkan waktu seharian penuh untuk bisa 

memastikan, bahwa mayat itu memang Sonya. Bagai seonggok sampah, tubuhnya 

dibuang begitu saja di hutan. Polisi sama sekali tak menyebutkan, apakah gadis itu 

telah mengalami pelecehan seksual.  

 

"Bagaimana gambaran kondisi mayat itu?" tanya seorang reporter keras kepala 

kepada polisi di komisi pembunuhan.  

 

"Pokoknya jangan membayangkan kondisi mayat yang lebih baik," saran polisi itu 

sebagai jalan tengah.  

 

Delapan puluh orang bekerja di komisi pembunuhan di Kota Zweifall untuk 

mengungkap kasus ini. Tanggal 8 April para pakar di kantor kriminal setempat di 

Duesseldorf mendapatkan titik terang. Mereka memastikan menemukan tiga jejak 

DNA yang jelas pada tang yang ditemukan di dekat mayat Tom. DNA dari Sonya dan 

dua pria. Ini di luar dugaan.  

 

Awalnya, polisi berpikir pelakunya satu orang seperti umumnya terjadi pada 

kejahatan seksual. Para penyelidik mengetahui, itu memang kejahatan seksual.  

 

sebab  tak seorang pun bisa dicurigai, polisi berniat melakukan penjaringan besar-

besaran. Sebuah uji air liur dilakukan pada 2.000 pria di Eschweiller yang berusia 

 102

antara 20 - 40 tahun. Biasanya ini menjadi upaya terakhir polisi dalam memecahkan 

kasus-kasus sulit.  

  

Dari internet 

 Tanggal 11 April, jenazah dua kakak beradik Keluarga Spreeberg dibawa ke 

pemakaman Katolik di Eschweiller. Mungkin itulah upacara pemakaman terbesar 

dalam sejarah kota kecil itu, sebab  hampir semua penduduk kota menghadirinya.  

 

Lama sesudah upacara pemakaman selesai pun, para pengunjung pemakaman 

tetap berdiri dan terus bercakap-cakap. Mereka tak habis mengerti, mengapa di kota 

kecil itu terjadi pembunuhan ganda terhadap anak-anak. Apalagi diduga, para 

pembunuhnya warga Eschweiler seperti mereka.  

 

Di antara dengung percakapan itu terdengar komentar marah salah seorang pelayat. 

"Babi-babi jahanam itu harus disembelih jadi empat bagian," ucap marah seorang 

pria kurus bertubuh sedang berusia awal tiga puluh, Markus Lewendel. Ucapan itu 

berulang kali ia katakan kepada hampir ke semua kenalannya. Ia memang tampak 

prihatin dengan kejadian menyedihkan itu. Tak heran bila ia hadir dalam setiap 

rangkaian upacara pemakaman Tom dan Sonya.  

 

Apa hubungan Markus dengan korban? Tidak ada. Ia hanya warga biasa yang 

pekerjaan sehari-harinya menjadi induk semang dan tukang bersih-bersih gedung. Ia 

pun bukan warga masyarakat yang dianggap sukses. Mungkin ia mewakili 

kemarahan serupa dari warga Eschweiler.  

 

Titik terang mulai muncul. Petugas yang mengelola situs kepolisian Kota Aachen 

melihat suatu hal aneh. Ada seseorang yang telah sebanyak 36 kali mengunjungi 

situs tersebut. Rupanya, orang tersebut tak menyadari, bahwa siapa pun yang 

mencari situs di bagian pembunuhan itu akan dicatat. Siapa yang berulang kali 

mengeklik, akan ketahuan.  

  

Diincar polisi 

Pria muda Markus Wirtz (28) mengendarai Fiat Punto, mobil kecil warna hitam, 

seperti terlihat oleh saksi mata di Stolberg. Sebagai ahli elektronika dan gemar 

mengutak-atik komputer, ia memerlukan jenis peralatan tang yang pernah ditemukan 

di dekat mayat Tom. Selain itu, wajah Markus cocok dengan gambar dari raut-raut 

pelaku yang telah dibuat gambarnya oleh kantor kriminal setempat. Pria berwajah tak 

mencolok, ramah, berusia antara dua puluh lima sampai lima puluh tahun.  

 

Wirtz hidup sendiri di sebuah apartemen Souterrain di Jalan Nordstrasse di 

Eschweiler. Ia tak memiliki , dan memang tak pernah memiliki, teman wanita. Ia 

baru saja pindah dari rumah orangtuanya. Ia memang anak mami. Setiap malam 

sepulang dari Bar Pflaumenbaum, ibunya sudah menanti dan menyiapkan roti 

mentega. Ibunya masih selalu mencucikan bajunya dan hampir tiap hari membuat 

masakan untuk Wirtz.  

 

Pada saat yang sama, Markus Wirtz merasakan dorongan yang menggebu-gebu 

untuk menjadi orang menonjol. Di Bar Pflaumenbaum, ia pernah bercerita tentang 

sejumlah wanita "yang pernah ditidurinya." Teman-temannya menertawai Wirtz 

sebab  tahu ceritanya bohong belaka.  

 

Ia juga bercerita berapa banyak orang di orgamaribeth si ordo Maltese yang hidup mereka 

sudah ia tolong. Sudah enam tahun ini Wirtz bertugas sebagai penolong di bagian 

bencana ordo Maltese. Bukan dari panggilan hatinya yang dermawan, namun  lebih 

untuk menghindari wajib militer.  

 103

 

Namun, tiap orang di bar tahu pula, bahwa jam-jam tugasnya di dinas kebersihan 

dihabiskannya dengan nongkrong di bangku-bangku pertandingan sepakbola 

antarkota dan pertemuan-pertemuan persiapan arak-arakan.  

 

Hanya sekali-sekali pria pendek itu menjadi orang terkemuka. saat  orgamaribeth si 

Junge Union di Ewschweiler pada November 2002 tidak bisa menemukan seorang 

pengganti untuk jabatan ketua Wirtz yang anggota partai CDU, Partai Kristen 

Demokratik, lantas memperkenalkan dirinya-sendiri. "Saya sanggup. Saya pantas 

menjadi ketua." Jadi, Wirtz dipilih menjadi ketua, sebab  tiadanya calon-calon pilihan 

lain.  

 

Pada malam pemilihan ketua, wajah si anak bawang ini berseri-seri, matanya 

berbinar-binar. Bagai tambah tinggi sepuluh sentimeter, pria bertubuh 1,65 m itu 

menjadi panutan bagi teman-teman separtainya. Bahkan, ketua bertubuh pendek itu 

diwawancarai koran lokal.  

 

Namun, kepeminpinan tidak berjalan mulus. Ia sering bertengkar dengan anggota-

anggota muda di Junge Union mengenai pengiriman bir dan harga karcis masuk 

untuk pesta Junge Union. "Mereka tidak mau mendengarkan saya," keluhnya selalu 

kepada para pendahulunya.  

 

Februari 2003, ia meletakkan jabatan sebab  putus asa. "sebab  urusan kerja dan 

pribadi," kilahnya. Ia juga keluar dari CDU. Diduga, sebab  tak mampu ikut 

mendukung arah politik ketua partai CDU pusat, Angela Markel.  

 

Para penyelidik dari komisi pembunuhan segera bertindak saat  kecurigaan jatuh 

pada Markus Wirtz. Mereka tidak menemukan bujang lapuk itu di rumahnya, maupun 

di tempat kerjanya. Mobil Fiat hitamnya pun tidak ada di garasi bawah tanah.  

 

Dengan surat perintah pemeriksaan, para petugas kepolisian masuk ke apartemen 

Wirtz. Mereka menemukan sebuah tang yang sama dengan tang nomor 637. 

Sebuah analisis kilat yang dilakukan pihak kepolisian membuktikan, Markus Wirtz 

juga pernah memiliki tang-tang yang digunakan untuk menyiksa si kecil Sonya.  

 

Di mana Wirtz? Pihak kepolisian menanyai para tetangganya. Salah seorang 

tetangga ingat, terakhir kali melihat Wirtz beberapa hari sebelum Paskah. Ia pergi 

dengan mobilnya. Di sebelahnya duduk temannya, Markus Lewendel. Si induk 

semang yang melambaikan tangan, menampakkan wajah gembira.  

 

Suka berkaus oblong  

Markus Lewendel (33) tinggal berhadap-hadapan pintu apartemen dengan Wirtz. Ia 

hidup membujang, bahkan ia sama sekali tak pernah punya teman wanita. Ia 

memang sangat mirip dengan sosok pelaku seperti halnya Wirtz.  

 

Markus Lewendel berasal dari keluarga berantakan. Orangtuanya bercerai saat  ia 

baru berusia 3 tahun. Dengan saudara lelaki dan wanita lesbian nya, Markus tumbuh di 

rumah ibunya. Namun, ibunya tidak punya waktu untuk si kecil Markus. Tiap malam 

ibunya menjadi pelayan di Bar Em Joldene Klomp, bar terjelek di Eschweiler. 

Kadang-kadang ia membawa tamu langganannya ke rumah.  

 

Kakaknya yang berusia 15 tahun lebih tua mencoba menggantikan peran ayah dan 

ibu bagi Markus, namun  tidak berhasil. Markus membawa nilai-nilai rapor yang jelek ke 

rumah, pernah mendapat larangan keluar rumah, dan sering punya rasa takut 

terhadap orang asing.  

 104

 

Selulus SMU, Lewendel tidak berhasil mendapatkan pekerjaan. Ia jadi penganggur. 

Meski sempat bekerja beberapa bulan di sebuah dinas pertamanan, untuk 

mengumpulkan sampah-sampah di taman-taman, pekerjaan itu ia tinggalkan. 

Lewendel juga mengelak dari wajib militer di angkatan bersenjata Euskirchen. 

Selanjutnya ia menjadi tukang cat, lalu kembali menganggur. lalu , ia mencoba 

bekerja sebagai pembantu gudang.  

 

Pria muda itu tak pernah punya SIM, tenamun  keinginannya muluk-muluk. Ia ingin 

mengendarai mobil sport. Dengan lamaran ke sebuah perusahaan Swis di koper 

dokumennya, ia pergi dari Eschweiler. Tentu saja lamaran si pengangguran tak 

terdidik itu tak mendapat perhatian selayaknya. Harapannya kandas.  

 

Lewendel melupakan rasa putus asanya di Bar Pflaumenbaum di lorong jalan 

bersama Wirtz dan beberapa orang gagal dari Eschweiler. Lewendel merupakan pria 

pemurung dan aneh.  

 

Kepada pelayan bar, ia bercerita mengenai tumor otak yang tumbuh sedemikian 

cepat dan tidak bisa dioperasi. Katanya, itu hasil diagnosis dokter spesialis di klinik 

Kota Aachen. Ia selalu mengeluh sakit kepala dan punya gangguan mata. Ia hanya 

ingin dilihat dengan topi base ball, orang-orang menduga itu upaya untuk menutupi 

tumornya. Namun, tidak seorang pun tahu, dan peduli, apa sebenarnya penyakit 

Lewendel.  

 

Status Lewendel yang paling dikenal yaitu  menjadi induk semang sebuah 

apartemen keluarga yang dibangun tahun 1990-an di Jalan Nordstrasse. Ia 

mengurus mesin otomatis pencuci baju, menawarkan jasa untuk urusan tetek 

bengek. Selain itu, tidak ada informasi jelas mengenai pekerjaannya di luar 

Nordstrasse.  

 

Sikapnya sering kali menjadi sedemikian keras. Terutama bila berurusan dengan 

anak-anak tetangga, ia sering bertengkar. Mereka tidak boleh berisik dan membuang 

sampah sembarangan. Anak-anak juga tidak boleh bermain bola di lapangan rumput 

belakang apartemen. Si Centeng - demikian julukannya - suka memakai kaus oblong 

polisi warna hijau. Kepada seorang tetangga ia bercerita, dahulu pernah jadi polisi.  

 

Lewendel punya banyak waktu luang. Berjam-jam lamanya mengawasi anak-anak 

yang bermain langsung di belakang apartemennya di lapangan sekolah dasar. 

Kadang-kadang ia berdiri di depan jendela dengan sebuah teropong dan mengawasi 

anak-anak kecil itu.  

 

lalu  ia lebih banyak tertarik kepada para wanita penyewa apartemen. Listrik di 

apartemen seorang wanita muda ia putus. saat  wanita itu hendak menyampaikan 

keluhannya ke Lawendel, ia diterima si tuan rumah dalam keadaan tanpa busana. Si 

penyewa memprotes dan mengadukan kejadian itu kepada polisi sebagai pelecehan 

seksual. Lewendel berkilah, "Itu cuma bercanda. Saya takkan melakukannya lagi."  

 

Teman satu-satunya si induk semang yaitu  Markus Wirtz. Kedua pria itu senang 

duduk bersama di depan komputer dan bermain balap mobil, duduk-duduk di bangku 

taman dan memandangi anak-anak saat bermain bola.  

 

Jadi, sebab  kecurigaan juga mengarah kepadanya, komisi urusan pembunuhan kota 

Zweifall mencari Lewendel di apartemennya, mengambili benda-benda yang bisa 

digunakan untuk pemeriksaan DNA. saat  uji dengan jejak-jejak yang ditemukan di 

mayat Tom juga sesuai, keraguan pun hilang.  

 105

 

Pengakuan dua Markus  

 "Dicari! Markus Wirtz dan Markus Lewendel dari Eschweiler, sebab  dugaan 

pembunuhan bersama terhadap Tom dan Sonya."  

 

Hanya selang sehari, pada hari Kamis, mobil Fiat Punto hitam Wirtz bisa dikenali di 

jalan tol A2 di Swis antara Zurich dan Basel. Di kaca spion mobil bergelantung 

sepatu bayi putih. Polisi lalu menangkap kedua pria bernama depan sama itu.  

 

Kembali ke Aachen, di malam menjelang Jumat Sengsara kematian Yesus Kristus, 

Wirtz dan Lewendel mengaku telah membunuh kedua anak Spreeberg, secara 

bersama-sama. Banyak orang mencoreti tembok apartemen di Jalan Nordstrasse itu 

dengan tulisan "Hanya kematian yang pantas bagi pembunuh-pembunuh Sonya dan 

Tom."  

 

Hari Jumat Agung di Eschweiler.  

 

Matahari pagi memancar di kawasan Inde. Sungai kecil mengalir di antara semak-

semak rerumputan hijau melewati kawasan itu. Burung-burung merpati bersiul-siulan 

di dahan pepohonan di tepi sungai. Beberapa orang berjalan sambil menggiring 

anjing mereka. Penggemar joging mengitari lintasan.  

 

Pasangan suami-istri Spreeberg yang meninggalkan kediaman nyaman mereka di 

Inde tak cocok dengan gambaran suasana pagi musim semi itu. Mengenakan baju 

berkabung hitam, mereka menyusuri sepanjang sungai dengan wajah menampakkan 

rasa kehilangan dan bingung. Wajah mereka pucat dan mata sembap sebab  

kebanyakan menangis.  

 

Di tepi sungai seberang, pemakaman St. Peter-Paul menjadi tempat peristirahatan 

terakhir anak-anak mereka, Sonya dan Tom. Dua tanda salib kayu berada di lautan 

bunga yang mulai melayu. Seorang wanita tua menyalakan lagi sinar-sinar abadi dari 

lilin-lilin yang padam. Semuanya lima puluh lilin.  

 

"Musang berbulu domba," desahnya. Markus Wirtz, bersama teman-temannya dari 

orgamaribeth si ordo Maltese, ikut mencari mayat anak-anak itu. Sedangkan Markus 

Lewendel, dapat dengan tenang menghadiri pemakaman sambil mengeluarkan 

sumpah serapah.  

 

Para penegak hukum tidak mengeluarkan rincian mengenai jalannya pemeriksaan 

dan hasilnya tentang kejahatan yang ternyata telah direncanakan tiga minggu 

sebelum kejadian. Semuanya itu mempertimbangkan perasaan orangtua anak-anak 

itu. Bahkan para psikolog, yang dimintai komentar dan diagnosis kilat, memilih 

bungkam seribu basa. Apakah Tom dan Sonya disiksa dan dibunuh sebab  nafsu 

sadis?  

 

"Semoga saja peristiwa sadis ini tak terjadi lagi," ujar seorang pria pensiunan, yang 

bersepeda melewati pemakaman itu.  

 

Kisah nyata/Stern/Marina  

 

 

 

 

 106

15. DIKENALI DARI SUARANYA 

 

Sore itu, 31 Maret 1963, angin bertiup pelan. Semilirnya menyejukkan badan. 

Seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Murakoshi Yoshinobu, tampak asyik 

bermain di sebuah taman yang terletak tak jauh dari rumahnya, di Taito Ward, Tokyo, 

Jepang. Keasyikan seorang bocah, yang tak menyadari, nun jauh di sana, sepasang 

mata mengawasi, menanti kesempatan untuk merenggut keceriaan masa kecilnya.  

 

Murakoshi sudah biasa bermain di taman yang memang disediakan untuk warga 

sekitar. Sebuah taman kecil yang berhimpitan dengan blok-blok rumah warga, toko-

toko, dan gedung-gedung beton. Saking seringnya bermain di taman itu, apalagi 

biasanya ditemani anak-anak tetangga, membuat orangtua Murakoshi merasa aman, 

sehingga menganggap tak perlu lagi mengawasi anaknya.  

 

Makanya, sang ayah, Yoshinobu, kontraktor berusia 34 tahun, tak pernah tahu kalau 

saat itu, anaknya tiba-tiba dihampiri orang tak dikenal. Yoshinobu juga tak tahu, 

orang asing itu bahkan sempat mengajak Murokoshi bercakap-cakap, bercanda 

sebentar, berjalan-jalan di sekitar taman, sebelum akhirnya raib entah ke mana. 

Bujukan macam apa yang dikeluarkan si orang asing, sehingga Murakoshi menurut 

saja diajak pergi menjauhi tempat tinggalnya?  

 

Orangtua Murakoshi baru sadar, sesuatu yang kurang beres terjadi pada anaknya, 

saat  sampai menjelang jam enam malam, putra pertama mereka itu tak kunjung 

pulang. Padahal biasanya, Murakoshi selalu pulang jauh sebelum pukul 18.00 tiba, 

dengan perut lapar tentunya. Dibantu para kerabat dan tetangga, Yoshinobo 

mencoba menemukan Murakoshi dengan menyisir daerah sekitar taman. Namun, 

hasilnya nihil.  

 

Bingung dan khawatir, pada pukul 19.00, mereka akhirnya mendatangi kantor polisi 

terdekat, persisnya kantor polisi Higashi Iriya, Tokyo. Mereka melaporkan hilangnya 

Murakoshi. Begitu sarat emosi, istri Yoshinobu, Toyoko, ibu muda yang baru berusia 

28 tahun, bercerita kepada polisi yang mencatat laporannya. "Taman tempat dia 

bermain itu letaknya di seberang jalan, Pak, persis di depan rumah kami. Selama ini 

saya tak pernah khawatir ia bermain di sana. sebab  memang tak pernah ada 

kejadian apa-apa," Toyoko meradang.  

 

Polisi terpaksa harus menenangkan Toyoko. Yah, untuk sementara, memang hanya 

itu yang bisa mereka lakukan. sebab  mereka belum bisa memastikan, kasus apa 

yang sebenarnya tengah mereka hadapi. Apakah pembunuhan, penculikan, atau si 

a