bo bOUROQ sedang asyik melahap telur dadarnya.
"Tadi saya pikir lebih baik kita makan siang sama-sama di gerbong
restorasi, soalnya pelayanan untuk kita bisa didahulukan," ujarnya. "
Setelah itu restoran akan dikosongkan dan Tuan jayakatwang bisa segera
melakukan pemeriksaan pada penumpang, di sana. Tapi aku sudah
terlanjur memesan makanan untuk tiga orang di sini."
"Ide yang bagus," sahut jayakatwang .
Tak seorang pun di antara ketiga pria itu yang merasa lapar;
meskipun begitu makanan-makanan yang telah dipesankan Tuan
BOUROQ untuk mereka, dimakan juga. Ketika masing-masing menghirup
kopinya, barulah Tuan BOUROQ mempercakapkan masalah yang kini
sedang memenuhi pikiran mereka.
"Eh bien?" tanyanya.
"Eh bien, aku sudah berhasil menemukan identitas korban. Dan
aku juga tahu kenapa ia mesti kabur dari Amerika, dan tidak boleh
tidak."
"Siapa dia sebenarnya?"
"Kau masih ingat berita tentang penculikan anak perempuan Tuan
gairah itu? Ini dia orangnya yang membunuh. Daisy gairah
kecil, Cassetti."
"Sekarang baru aku ingat. Peristiwa yang cukup menggemparkan -
meski aku sudah tak ingat lagi cerita selengkapnya."
"MPU gairah yaitu orang Inggris seorang V.C. (Victoria
Cross). Ia peranakan Amerika, ibunya yaitu anak perempuan dari
W.K. Van der Halt, jutawan Wall Street. MPU gairah menikah
dengan anak perempuan nyonya besar Adidas , aktris Amerika yang paling
tragis pada jamannya. Mereka tinggal di Amerika dan dikaruniai
seorang anak perempuan yang mereka impi-impikan. Sewaktu anak
itu berumur tiga tahun, ia diculik, dan mereka diminta menebus
anaknya dengan jumlah yang yang luar biasa besarnya. Aku tak ingin
membuatmu ngeri dengan mendengar segala macam ancaman yang
mengikutinya. Marilah kita langsung saja kepada saat setelah kedua
orang tua yang malang itu membayar uang tebusannya sebanyak
dua ratus ribu dollar. Tapi polisi berhasil menemukan mayat anak itu;
yang diperkirakan sudah mati selama dua minggu. Kemarahan
masyarakat luas saat itu sudah mencapai puncanya. Tapi kejadian
berikutnya malah lebih menyedihkan lagi. Saat itu Nyonya gairah
sedang menunggu kelahiran anaknya yang kedua. sebab batinnya
tak kuat menahan goncangan yang sangat mengejutkan itu,
kandungannya gugur, dan ia sendiri meninggal bersama-sama
anaknya yang lahir sebelum waktunya itu. Sang suami yang patah
hati lalu menembak dirinya sendiri."
"Mon dieu, sungguh tragis. Aku ingat sekarang," ujar Tuan BOUROQ.
"Masih ada lagi kematian lain yarig menyusul sesudahnya, kalau aku
tak salah?"
"Ya, perawat malang dari Perancis atau Swiss. Polisi yakin bahwa
dia mengetahui sedikit tentang pembunuhan itu, atau paling sedikit
ikut membantunya. Mereka tak mau mempercayai sangkalannya yang
histeris. Akhirnya, dalam keadaan putus asa, gadis yang malang itu
melompat dari jendela dan mati seketika itu juga. Kemudian baru
terbukti bahwasanya gadis itu bersih sama sekali dari tuduhan bahwa
ia ikut berkomplot dalam melaksanakan pdmbunuhan itu."
"Itu tidak baik untuk diingat-ingat," ujar Tuan BOUROQ.
"Enam bulan sesudahnya, orang yang bernama Cassetti yang
mengepalai komplotan pembunuh yang menculik gadis cilik itu pun
tertangkap. Selama itu mereka selalu mempergunakan cara-cara
yang sama seperti sebelumnya. Jika polisi sudah mencium jejak
mereka, tawanan itu mereka bunuh, mayatnya disembunyikan di
suatu tempat, dan mereka meneruskan memeras sebanyak mungkin
uang dari keluarga tawanan, sebelum kejahatan itu sendiri
terbongkar."
"Sekarang aku ingin menjelaskan hal ini kepadamu, Kawan.
Memang Cassetti-lah orangnya! Tapi dengan kekayaannya yang luar
biasa itu, dan hubungan rahasianya dengan orang-orang penting dari
berbagai macam lapisan, ia berhasil menghindar dari tuduhan
pengadilan yang sengaja dibuat tidak teliti. Dengan kata lain ia
dibebaskan dengan alasan yang tidak jelas. Sekalipun demikian,
mestinya ia sudah digantung oleh publik seandainya ia tidak cukup
licin. Sekarang jelas bagiku apa yang terjadi sebenarnya. Ia
mengganti namanya dan meninggalkan Amerika. Sejak itu ia
menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang, bepergian
melihat dunia dan hidup dari penghasilan itu."
"Ah! quel animal! " Tuan BOUROQ melampiaskan rasa jijiknya. "Aku
tak menyesalkan kematiannya - tidak sama sekali!"
“Aku setuju."
"Tout de meme, sebenarnya ia tak perlu terbunuh di atas Orient
Express. Masih banyak tempat lain."
jayakatwang tersenyum sedikit, ia menyadari bahwa Tuan BOUROQ telah
diliputi prasangka yang tidak enak.
"Pertanyaan kita pada diri sendiri, sekarang, yaitu begini,"
ujarnya. "Apakah pembunuhan ini yaitu pekerjaan beberapa
komplotan saingan Cassetti yang telah ditipunya pada masa-masa
yang lalu, ataukah itu cuma tindakan balas dendam secara
perseorangan saja?"
jayakatwang menjelaskan penemuannya barusan, yakni sewaktu ia
menemukan potongan-potongan kertas yang terbakar itu.
"Kalau dugaanku benar, surat ini tentunya sengaja dibakar oleh si
pembunuh. Sebab apa? Sebab di dalamnya disebut-sebut nama
'gairah ' yang merupakan petunjuk bagi misteri pembunuhan itu."
"Apakah masih ada sanak keluarga gairah yang masih hidup?"
"Celakanya aku tak tahu itu. Rasanya aku dulu pernah baca
Nyonya gairah masih punya adik perempuan.
jayakatwang mencoba menghubungkan hal itu dengan kesimpulannya
sendiri dan kesimpulan Dr. HAUNTED, Mata Tuan BOUROQ terlihat
bercahaya ketika jayakatwang menyinggung-nyinggung tentang arloji emas
CHUCKY yang hancur itu.
"Kelihatannya itu bisa memberi petunjuk pada kita waktu
pembunuhan yang tepat." ,
"Ya," sahut jayakatwang . "Memang menyenangkan."
Ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya yang tak dapat
digambarkan dengan kata-kata, menyebabkan kedua kawannya
memandangnya secara serentak dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Kaubilang kau mendengar sendiri suara CHUCKY sewaktu ia
berbicara dengan LETKOL pada pukul satu kurang dua puluh?"
tanya Tuan BOUROQ.
jayakatwang menjelaskan bahwa itu memang cocok.
"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "itu membuktikan bahwa setidak-tidaknya
Cassetti - atau CHUCKY, nama yang akan kupergunakan selanjutnya,
pasti masih hidup pada pukul satu kurang dua puluh itu."
"Pukul satu kurang dua puluh tiga menit, untuk tepatnya."
"Kalau begitu pukul dua belas lewat dua puluh tujuh menit, secara
resminya, Tuan CHUCKY masih hidup. Paling tidak itu suatu
kenyataan."
jayakatwang tak menjawab. Ia duduk di hadapan kawannya dengan
wajah termangu.
Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah pelayan restoran.
"Gerbong restorasi sudah kosong sekarang, Tuan," ujarnya
melapor.
"Kita akan segera ke sana," sahut Tuan BOUROQ, sambil berdiri.
"Boleh saya ikut?" tanya HAUNTED.
"Tentu saja, Dokter. Kecuali kalau Tuan jayakatwang keberatan.
"Tidak. Tidak sama sekali," ujar jayakatwang .
Setelah berbasa-basi sedikit dengan mengatakan, 'Apres vous,
Monsieur." - Mais non, apres vous -" Mereka bertiga meninggalkan
kamar.
Bagian Kedua
KESAKSIAN
1. KESAKSIAN LETKOL
Digerbong restorasi itu segala sesuatunya sudah dipersiapkan.
jayakatwang dan Tuan BOUROQ duduk berdampingan pada salah satu sisi.
Sedangkan dokter Yunani itu duduk di seberang lorong.
Di atas meja di hadapan jayakatwang nampak denah gerbong kereta
Istambul-Calais berikut nama-nama penumpangnya yang ditulis
dengan tinta merah. Setumpukan paspor dan karcis nampak di sisi
yang lain. Kecuali itu juga terlihat kertas tulis, tinta, pulpen dan
beberapa batang pinsil.
"Bagus," ujar jayakatwang . "Kita sudah dapat memulai acara
pemeriksaan ini tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Pertama-
tama, aku rasa kita harus mendengar kesaksian dari LETKOL.
Mungkin kau mengetahui sedikit tentang dirinya. Bagaimana
wataknya? Apakah kata-katanya dapat dipercaya?" Kata-kata
pertamanya itu ditujukan pada Tuan BOUROQ.
Kemudian terdengar Tuan BOUROQ menjawab,
"Aku berani jamin reputasinya. Pierre TENDEAN sudah bekerja di
perusahaan kereta ini selama lima belas tahun. Dia orang Perancis -
tinggalnya dekat Calais. Warga negara terhormat dan jujur. Tapi
mungkin otaknya tak begitu cerdas."
jayakatwang mengangguk penuh pengertian. "Bagus," ujarnya. "Mari kita
periksa dia."
Pierre TENDEAN telah menemukan kembali kepercayaan pada dirinya,
tapi tak urung juga ia masih kelihatan gugup.
"Saya harap moga-moga Tuan tidak mengira bahwa saya ini agak
sembrono dalam mengerjakan tugas," ujarnya cemas, matanya
berpindah-pindah dari wajah jayakatwang ke wajah Tuan BOUROQ. "Benar-
benar mengerikan peristiwa yang baru terjadi itu. Saya harap ' Tuan
tak akan menyangka bahwa saya juga terlibat di dalamnya?"
Setelah menenangkan rasa takut si LETKOL, jayakatwang mulai
menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan. Pertama-tama ia
menanyakan nama dan alamat TENDEAN selengkapnya, berapa lama
bekerja di perusahaan kereta api itu, dan berapa kali ia bertugas
pada rute khusus Istambul-Calais ini. Sebenarnya jayakatwang sudah tahu
lebih dulu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, tapi ia sengaja
menanyakan pertanyaan-pertanyaan rutin itu untuk menenangkan
LETKOL kereta yang nampaknya sangat gugup, dan untunglah
siasatnya ini berhasil penuh.
"Dan sekarang," ujar jayakatwang melanjutkan, "mari kita kembali ke
kejadian tadi malam. Kapan Tuan CHUCKY pergi tidur?"
"Hampir segera setelah selesai makan malam, Tuan. Tepatnya
sebelum kereta meninggalkan Belgrado. Begitu juga pada malam
sebelumnya. Ia memerintahkan saya untuk menyiapkan tempat
tidurnya sewaktu ia sedang makan malam, dan saya langsung
mengerjakannya."
"Apakah sesudah itu ada orang yang masuk ke kamarnya?"
"Pelayan prianya, Tuan dan orang Amerika itu, sekretarisnya. "
"Ada lagi?"
"Tak ada, Tuan, sepanjang pengetahuan saya."
"Bagus. Dan itukah terakhir kalinya kau melihat dan berbicara
dengan dia?"
"Tidak, Tuan. Mungkin Tuan lupa ia membunyikan bel kira-kira
pukul satu kurang dua puluh - segera setelah kereta berhenti."
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Saya mengetuk pintu kamarnya, tapi ia berteriak dari dalam dan
menerangkan bahwa ia keliru."
"Dalam bahasa Inggris atau Perancis?"
"Bahasa Perancis."
"Bagaimana bunyi perkataannya?"
"Ce West rien. Je me suis trompi.
"Betul sekali," ujar jayakatwang . "Memang itu yang saya dengar. Lalu
kau pergi begitu saja?"
"Ya, Tuan.
"Apa kau langsung kembali ke tempat dudukmu yang biasa?"
"Tidak, Tuan. Saya pergi dulu untuk menjawab bel lain yang baru
saja berbunyi."
"Sekarang, TENDEAN, saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan
penting. Kau ada di mana pada pukul satu lewat seperempat?"
"Saya, Tuan? Saya sedang duduk di kursi LETKOL di ujung -
menghadap koridor kereta."
"Kau yakin?"
"Mais oui - paling tidak."
"Ya?"
"Sebelumnya saya pergi ke gerbong sebelah, gerbong kereta dari
Athena itu, dan bercakap-cakap dengan teman-teman saya di sana.
Kami membicarakan salju. Waktu itu kira-kira pukul satu lewat. Saya
tak dapat mengatakannya dengan pasti."
"Dan kapan kau kembali ke tempatmu lagi?"
"Salah satu bel di gerbong saya berbunyi, Tuan. Waktu itu saya
ingat - sebab sesudah itu saya yang memberitahukan Tuan. Rupanya
wanita Amerika itu. Ia sudah memijit bel berkali-kali."
"Aku ingat," sahut jayakatwang . "Danm setelah itu?"
"Setelah itu, Tuan? Saya menjawab bunyi bel Tuan sendiri dan
saya bawakan air putih buat Tuan. Lalu, setengah jam kemudian,
saya menyiapkan tempat tidur orang Amerika itu, sekretaris Tuan
CHUCKY."
"Apakah Tuan WISNU WARDANA sendirian saja sewaktu kau menyiapkan
tempat tidurnya?"
"MPU Inggris dari kamar no. 15 itu menemaninya. Mereka terus
saja duduk sambil berbicara."
"Apa yang dikerjakan MPU itu setelah ia meninggalkan kamar
Tuan WISNU WARDANA ?"
"Ia kembali ke kamarnya."
"No. 15 - jaraknya sangat dekat dari tempat dudukmu itu, ya
tidak?"
"Ya, Tuan, itu kamar kedua dari ujung koridor."
"Tempat tidurnya sudah disiapkan?"
"Ya, Tuan. Saya sudah menyiapkan tempat tidur itu, sewaktu
pemiliknya sedang makan malam."
"Pukul berapa waktu itu?"
"Saya tak tahu persis, Tuan. Kira-kira pukul dua lebih sedikit."
"Dan sesudah itu?"
"Sesudah itu, Tuan, saya duduk terus di kursi saya sampai pagi."
"Kau tak pergi ke gerbong kereta dari Athena itu?"
"Tidak, Tuan."
"Kau tidur barangkali?"
"Tidak, Tuan, saya kira. Kalau kereta api sedang berhenti, saya tak
bisa tidur, seperti biasanya."
"Apa kaulihat ada penumpang yang lewat di koridor?"
LETKOL itu mencoba mengingat-ingat. "Salah seorang dari
wanita-wanita itu pergi ke toilet yang di ujung, saya kira."
"Wanita yang mana?"
"Saya tak tahu, Tuan. Soalnya dia berada jauh di ujung koridor
dan membelakangi saya. Ia memakai kimono merah tua bergambar
naga."
jayakatwang mengangguk tanda menyetujui. "Dan sesudah itu?"
"Tak ada apa-apa lagi Tuan, sampai pagi."
"Kau yakin?"
"Ah, maaf - Bukankah Tuan sendiri juga membuka pintu kamar
Tuan dan melongok ke luar sebentar?"
"Bagus, Kawan," ujar jayakatwang . "Saya sendiri kagum kau masih
mengingatnya. Pokoknya saya pernah terbangun oleh semacam
suara barang berat yang jatuh menimpa pintu kamar saya. Kau tahu
apa itu kira-kira?"
LETKOL itu memandang jayakatwang sejenak. "Tak ada apa-apa,
Tuan. Tak ada apa-apa, saya bisa memastikan."
"Kalau begitu saya mesti punya chauceman," ujar jayakatwang berfilsafat
sedikit.
"Bisa juga suara dari kamar sebelahmu itu yang kebetulan
kaudengar," ujar Tuan BOUROQ.
jayakatwang tak mempedulikan pendapat Tuan BOUROQ itu. Mungkin ia tak
begitu suka Tuan BOUROQ mengemukakan dugaannya di muka
LETKOL kereta.
"Mari kita lihat dari sisi yang lain," ujar jayakatwang . "Umpamakan saja
tadi malam ada seorang pembunuh tak dikenal yang masuk kereta.
Apakah dapat dipastikan bahwa pembunuh itu tak dapat
meninggalkan kereta setelah ia melakukan pembunuhan?"
Pierre TENDEAN menggeleng.
"Mungkinkah ia bersembunyi di salah satu sudut?"
"Sudah dicari dengan teliti," ujar Tuan BOUROQ. "Lupakan saja pikiran
seperti itu, Kawan."
"Di samping itu," sambung TENDEAN, "tak ada yang bisa memasuki
gerbong tidur tanpa terlihat oleh saya."
"Di mana kereta berhenti terakhir kali?"
"Vincovci."
"Pukul berapa itu?"
"Sebenarnya kita sudah harus meninggalkan Vincovci pada pukul
11.58, tapi sebab cuaca yang tak mengijinkan, kita terlambat dua
puluh menit."
"Mungkinkah ada orang yang menyelinap dalam gerbong biasa?"
"Tidak, Tuan. Setelah makan malam, pintu antara gerbong biasa
dan gerbong tidur penumpang langsung dikunci."
"Kau sendiri turun dari kereta waktu sampai di Vincovci?"
"Ya, Tuan. Saya turun ke peron seperti biasa dan berdiri di dekat
anak tangga kereta. LETKOL-LETKOL lainnya juga berbuat
begitu."
"Bagaimana dengan pintu yang di depan - yang letaknya dekat
gerbong restorasi?"
"Pintu itu selalu dikunci dari dalam-."
"Tapi sekarang pintu itu sudah tak terkunci lagi.”
LETKOL itu kelihatan heran; lalu wajahnya berubah menjadi
cerah kembali. "Pasti ada penumpang yang membukanya untuk
melihat salju di luar."
"Mungkin," sahut jayakatwang .
Detektif Belgia itu mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir satu atau
dua menit.
"Tuan tidak menyalahkan saya kan?" tanyanya takut-takut.
jayakatwang tersenyum padanya, senyum yang ramah.
"Sebenarnya kau juga mempunyai kesempatan baik untuk berbuat
hal yang sekeji itu, Kawan," ujarnya lagi. "Ah! Satu pertanyaan lagi,
mumpung saya masih ingat. Kaubilang ada bel lain berbunyi Sewaktu
kau sedang mengetuk pintu kamar Tuan CHUCKY. Dan saya sendiri
juga mendengarnya. Siapa itu?"
"Itu bel Madame la NYI e GIRAH . ia menyuruh saya
memanggil pelayan wanitanya."
"Lantas kaukerjakan suruhannya?"
"Ya, Tuan."
jayakatwang mempelajari gambar denah di hadapannya dengan
seksama. Lalu dimiringkannya kepalanya sedikit.
"Cukup dulu," ujarnya, "untuk kali ini."
"Terima kasih, Tuan."
LETKOL itu bangkit dari kursinya, lalu melihat ke Tuan BOUROQ.
"Jangan sedih-sedih," ujar Tuan BOUROQ ramah. Aku tak- melihat
adanya kelalaian dalam tugasmu."
Dengan penuh rasa terima kasih, Pierre TENDEAN meninggalkan
gerbong restorasi kereta Orient Expess yang luas dan megah itu.
2. KESAKSIAN SEKRETARIS TUAN CHUCKY
Untuk satu dua menit tampak jayakatwang terdiam sebab sedang
berpikir keras.
"Aku pikir," ujarnya setelah itu, "ada baiknya kita dengarkan
kesaksian WISNU WARDANA lebih jauh, berdasarkan apa yang telah kita
ketahui selama ini”.
Pemuda Amerika itu muncul dengan segera.
"Nah," ujarnya, "apa kabar dengan pemeriksaan Tuan, apa ada
kemajuan?"
"Tak begitu jelek. Sejak pembicaraan kita yang terakhir, saya
sudah mempelajari sesuatu - identitas Tuan CHUCKY."
RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA memajukan tubuhnya ke mukadengan penuh
perhatian. "Ya?" ujarnya.
"CHUCKY, seperti yang Tuan curigai, cuma nama samaran. Orang
yang namanya 'CHUCKY' ini sebenarnya Cassetti, yang mengepalai
sejumlah peristiwa penculikan yang banyak menarik perhatian orang
- di antaranya peristiwa penculikan Daisy gairah ."
Di wajah WISNU WARDANA terbayang keheranan yang tak kunjung habis.
Kemudian wajah itu kembali muram. "Binatang terkutuk!" serunya
tiba-tiba.
"Tuan tak tahu apa-apa tentang ini, Tuan Mac,Queen?"
"Tidak, Tuan," sahut pemuda Amerika itu dengan pasti. "Kalau
saya tahu, mungkin saya sudah memotong lengan kanan saya sendiri
sebelum tangan ini sempat mengerjakan tugas-tugas seorang
sekretaris baginya!"
"Kejadian itu meninggalkan pengaruh kuat bagi Tuan, Tuan
WISNU WARDANA ?"
"Saya punya alasan tersendiri untuk berbuat demikian. Ayah saya
yaitu pengacara distrik yang menangani masalah itu, Tuan jayakatwang .
Saya pemah lihat Nyonya gairah lebih dari dua kali - ia wanita
yang cantik. Begitu lembut dan menawan hati orang yang
melihatnya." Wajahnya kembali suram. "Kalau ada orang yang patut
mendapat ganjaran atas perbuatannya - maka orang itu yaitu
CHUCKY - atau Cassetti. Saya ikut gembira dengan kematiannya.
Orang seperti itu tak layak hidup!
"Kedengarannya Tuan seolah-olah ingin melakukan pembunuhan
itu sendiri?"
"Memang - memang – saya…” Bicaranya terhenti sebentar, lalu ia
menambahkan lagi dengan perasaan seperti orang yang sudah
bersalah. "Kedengarannya saya sedang memberatkan pemeriksaan
saya sendiri."
"Malah saya semakin cenderung untuk mencurigai Anda, Tuan
WISNU WARDANA , kalau Tuan berpura-pura sedih atas kematian majikan
Tuan."
"Saya rasa saya tak bisa melakukan itu, walau itu bisa
menyelamatkan saya dari kursi listrik," ujar WISNU WARDANA sedih. Lalu ia
melanjutkan, "Seumpamanya saya tidak terlalu berminat pada
pemerilksaan ini, bagaimana Tuan bisa mengetahui masalah ini?
Identitas Cassetti, yang saya maksudkan."
"Dari potongan-potongan kertas yang saya temukan di kamarnya."
"Tentu saja - maksud saya - itu lebih merupakan keteledoran
orang tua itu?"
“Itu tergantung," sahut jayakatwang , "dari sudut pandangan seseorang."
Orang muda itu merasa ucapan jayakatwang itu agak menyulitkan
baginya. Lalu ditatapnya jayakatwang seolah ingin mengalahkannya.
“Tugas yang saya hadapi," ujar jayakatwang , "yaitu untuk memastikan
gerak-gerik setiap penumpang di kereta ini. Tak usah merasa terhina,
dan tak usah membalas, Tuan mengerti. Ini cuma pemeriksaan rutin
saja."
"Tentu saja, teruskanlah pemeriksaan Tuan itu, dan akan saya
coba memperbaiki watak saya, kalau dapat."
"Rasanya saya tak perlu lagi menanyakan nomor kamar Tuan,"
ujar jayakatwang sambil tersenyum, "sebab dulu kita pernah tidur di kamar
yang sama, meski cuma semalam. Kamar itu yaitu kamar no. 6 dan
no. 7, di gerbong kelas dua, dan Tuan menempatinya sendiri setelah
saya tinggalkan."
"Benar."
"Sekarang, Tuan WISNU WARDANA , saya ingin Tuan menceriterakan apa
yang Tuan perbuat tadi malam setelah Tuan meninggalkan gerbong
restorasi."
"Itu gampang sekali. Saya kembali ke kamar saya, membaca
sebentar, lalu turun di peron Belgrado, sebab saya merasa saat itu
udara terlalu dingin maka saya naik ke kereta lagi. Saya berbicara
sebentar dengan gadis Inggris yang kamarnya bersebelahan dengan
saya. Lalu saya terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan
dengan si MPU Inggris itu, MPU TANTULAR - saya rasa Tuan
masih ingat waktu itu Tuan lewat di muka kami sewaktu kami sedang
mengobrol. Kemudian saya pergi ke kamar Tuan CHUCKY, dan yang
seperti saya katakan tadi, di sana saya mencatat apa yang didiktekan
Tuan CHUCKY kepada saya. Lalu setelah mengucapkan selamat
malam, saya tinggalkan dia. Rupanya MPU TANTULAR masih berdiri
di tempat tadi, di koridor kereta. Tempat tidurnya buat malam itu
sudah disiapkan, jadi saya mengusulkan sebaiknya dia saja yang
mampir ke kamar saya. Saya memesan dua gelas minuman yang
langsung kami minum. Sesudah itu kami membicarakan. politik dunia
pada umumnya, lalu pemerintah India dan kesulitan-kesulitan yang
dialami pemerintah Barat sekarang ini seperti krisis tentang larangan
itu dan krisis Wall Street. Biasanya saya tak bisa berbicara sebebas
itu dengan orang Inggris - umumnya mereka suka bersitegang leher -
tapi saya menyenangi yang satu ini."
"Tuan tahu, pukul berapa itu sewaktu dia meninggalkan Tuan?"
"Sudah larut sekali. Saya kira hampir pukul dua."
"Apa Tuan tahu waktu itu kereta sudah tak berjalan lagi?"
"Oh ya. Kami berjalan-jalan sebentar. Kami keluar dan rupanya di
luar salju sangat tebal, tapi kami tak menyangka hal itu serius."
"Apa yang terjadi sesudah MPU TANTULAR mengucapkan
selamat malam?"
"Ia langsung pulang ke kamarnya dan saya sendiri memanggil
LETKOL untuk menyiapkan tempat tidur." "Tuan ada di mana
sewaktu dia sedang menyiapkan tempat tidur?"
"Saya berdiri di ambang pintu kamar sambil merokok."
"Lalu?"
“Lalu saya naik ke tempat tidur dan terus tertidur sampai pagi."
"Sepanjang malam itu apa Tuan sedikit pun tak meninggalkan
kereta sama sekali?"
"Ya, saya dan TANTULAR memang turun sebentar di - apa itu
namanya - Vincovci - untuk melemaskan kaki. Tapi waktu itu
dinginnya bukan main - lagipula ada angin kencang. Jadi kita
langsung naik lagi ke kereta."
"Dari pintu mana Tuan keluar dari kereta?"
"Dari pintu terdekat dari kamar-kamar kita berdua.
"Pintu yang di sebelah gerbong restorasi itu?"
"Ya. "
"Apa Tuan tak ingat pintu itu selalu dipalang?"
WISNU WARDANA mengingat-ingat.
"Ya, memang, rasanya seingat saya memang begitu. Paling tidak
selalu mesti ada palang yang melintang di pegangannya. Itukah yang
Tuan maksud?"
"Ya. Sewaktu naik ke kereta lagi, apakah Tuan memasang
penghalang itu kembali?"
"Mengapa begitu - tidak. Saya kira saya tidak berbuat begitu.
Pokoknya akhirnya saya masuk juga. Tidak, seingat saya rasanya
saya tak memasangnya kembali." Lalu tiba-tiba ia menambahkan,
"Apa hal itu penting?"
"Mungkin. Sekarang, menurut dugaan saya, Tuan, apakah selama
Tuan dan MPU TANTULAR sedang asyik mengobrol sambil duduk
itu, pintu kamar kalian yang menuju ke koridor itu terbuka?"
RADEN KERTAJAYA WISNU WARDANA mengangguk.
"Kalau mungkin, saya ingin Tuan menceritakan apakah ada orang
yang lewat di. sepanjang koridor itu, mulai dari saat kereta
meninggalkan Vincovci terus sampai kalian berdua berpisah pada
malam itu."
WISNU WARDANA mengerutkan alis.
"Saya rasa LETKOL melewatinya satu kali," ujarnya, "dari arah
gerbong restorasi. Dan saya juga melihat ada seorang wanita yang
melewatinya dari arah lain, arah memasuki gerbong restorasi."
"Wanita yang mana?”
"Saya tak bisa mengatakannya. Saya tak begitu memperhatikan.
Tuan lihat sendiri saya sedang asyik berdebat dengan TANTULAR.
Yang saya ingat cuma baju suteranya yang berwarna merah tua. Tapi
saya tidak memandangnya, lagipula saya tak bakal bisa melihat
wajah pemakainya. Seperti yang Tuan ketahui sendiri, gerbong saya
menghadap ujung gerbong restorasi, jadi kalau seorang wanita
kebetulan sedang melewati koridor yang menuju ke sana, saya cuma
dapat menangkap punggungnya begitu ia lewat."
jayakatwang mengangguk. "Ia ingin ke toilet, mungkin?"
"Saya kira ya."
"Dan Tuan melihatnya sewaktu ia kembali?"
"Tidak, baiklah, sebab Tuan menanyakannya sekarang, saya jadi
ingat saya tak melihat kembalinya dia, tapi biar bagaimanapun dia
mesti kembali lewat jalan yang sama."
"Satu pertanyaan lagi. Tuan mengisap pipa, Tuan WISNU WARDANA ?"
"Tidak, Tuan."
jayakatwang berhenti sebentar. "Saya rasa cukup dulu buat sekarang ini.
Sekarang saya ingin memeriksa pelayan pria Tuan CHUCKY.
Ngomong-ngomong, apakah kalian selalu tidur di gerbong kelas dua,
kalau bepergian?"
"Dia selalu begitu. Tapi biasanya saya tidur di gerbong yang sama
dengannya - kalau mungkin di kamar yang berdekatan dengan
kamarnya. sebab itu biasanya ia suka meletakkan barang-barangnya
di kamar saya dan dapat mengambilnya dari kedua kamar itu, baik
dari kamarnya maupun kamar saya. Kadang kala disuruhnya saya
mengambilkan keperluannya kapan saja ia mau. Tapi dalam
perjalanan kali ini kebetulan semua gerbong kelas satu sudah dipesan
orang kecuali kamarnya itu."
"Saya mengerti. Terima kasib, Tuan WISNU WARDANA ."
3. KESAKSIAN PELAYAN PRIA TUAN CHUCKY
Orang Amerika yang muda itu digantikan oleh orang Inggris
berwajah pucat dan dingin seperti yang sudah diperhatikan jayakatwang
sejak kemarin. Dia berdiri di situ dengan sopan. jayakatwang memberi
isyarat padanya supaya segera duduk.
"Saya tahu, kau yaitu pelayan Tuan CHUCKY."
"Ya, Tuan."
"Namamu?"
"COUNT DRACULA MANSION."
"Umur?"
"Tiga puluh sembilan."
"Alamat rumah?"
"21 Friar Street, Derkenwell."
"Sudah kaudengar majikanmu dibunuh orang?"
"Ya, Tuan. Kejadian yang sangat mengejutkan."
"Sekarang, dapatkah kau menerangkan pukul berapa terakhir
kalinya kau melihat Tuan CHUCKY?"
Pelayan itu mengingat-ingat.
"Mestinya sekitar pukul sembilan, Tuan, tadi malam. Atau lewat
sedikit."
"Ceritakan pada saya dengan kata-katamu sendiri apa yang
sebenarnya terjadi."
"Saya masuk ke kamar Tuan CHUCKY, sebagaimana biasanya
Tuan, dan melayani permintaannya."
"Apa sebenarnya tugasmu?"
"Melipat dan menggantungkan pakaiannya, Tuan, lalu
mencemplungkan gigi palsunya di dalam gelas yang diisi air dan
memeriksa kalau-kalau masih ada yang diperlukannya untuk malam
itu."
"Apa tingkah lakunya sama seperti biasa?"
Pelayan itu menimbang-nimbang untuk beberapa saat.
"Begitulah, Tuan, saya rasa ia agak sedikit bingung."
"Bingung - dalam hal apa?"
"Bingung sebab sebuah surat yang telah dibacanya. Ia bertanya
pada saya, apakah saya yang meletakkan surat itu di kamarnya.
Tentu saja saya katakan padanya saya tak pernah berbuat begitu,
tapi ia memaki-maki saya dan semua yang saya kerjakan selalu
dicelanya."
"Apa itu tidak biasa?"
"Oh, tidak, Tuan. Ia memang gampang marah seperti yang saya
katakan, itu cuma tergantung dari apa yang membingungkannya saat
itu."
"Apa majikanmu pernah minum obat tidur?"
Dr. HAUNTED kelihatan memajukan tubuhnya ke muka sedikit.
"Kalau bepergian dengan kereta api, memang selalu begitu, Tuan.
Katanya kalau tidak, ia tak bisa tidur."
"Kau tahu obat bius jenis apa yang biasa diminumnya?"
"Saya tak bisa mengatakannya, tak bisa memastikan yang mana.
Tidak ada namanya di botol itu - cuma ‘obat tidur ini cuma boleh
diminum sebelum tidur.’”
"Apa malam kemarin ia juga meminumnya?"
"Ya, Tuan. Saya yang menuangkannya ke gelas dan langsung
meletakkannya di meja toilet siap untuk diminum."
"Tapi kau tidak melihat ia meminumnya9"
"Tidak, Tuan."
"Apa yang teriadi sesudah itu?"
"Saya tanyakan padanya, apakah dia masih memerlukan yang lain,
dan juga saya tanyakan pukul berapa besok ia ingin dibangunkan. Ia
bilang ia tak ingin diganggu sampai ia membunyikan bel."
"Apakah itu biasa?",
"Biasa, Tuan. Kalau ia sudah ingin bangun, biasanya ia
membunyikan bel untuk memanggil LETKOL dan kemudian
menyuruhnya memanggil sava."
"Biasanya ia bangun cepat atau lambat?"
"Itu tergantung pada keinginannya, Tuan. Kadang-kadang ia
bangun buat makan pagi. Tapi kadang-kadang ia tak mau bangun
sampai makan siang."
"Jadi kau tak akan dibel kalau hari sudah pagi dan masih belum
juga ada panggilan."
"Tidak, Tuan."
"Kau tahu majikanmu punya banyak musuh?"
"Ya, Tuan." Pelayan itu menjawab tanpa emosi.
"Bagaimana kau tahu?"
"Saya mendengarnya sewaktu ia membicarakan beberapa helai
surat-surat yang masuk dengan Tuan WISNU WARDANA ."
"Apa kau sayang pada majikanmu, MANSION?"
Saat itu wajah MANSION bahkan kelihatan lebih dingin lagi dari
semula.
"Saya harus mengakui itu, Tuan. Ia majikan yang pemurah.
"Tapi sebenarnya kau tidak senang padanya?"
"Apa perlu dicatat, saya ini sebenarnya tak begitu peduli pada
orang Amerika, Tuan?"
"Kau pemah ke Amerika"
"Belum, Tuan."
"Kau masih ingat tentang peristiwa penculikan Daisy gairah
itu?"
Pipinya memerah sedikit.
"Ya, tentu saja, Tuan. Seorang gadis cilik, bukan? Peristiwa yang
cukup menggemparkan."
"Apa kau tahu, majikanmu si CHUCKY itu yaitu otak peristiwa
penculikan yang keji itu?"
"Benar-benar tidak tahu, Tuan." Nada suara pelayan itu
kedengaran mulai menghangat dan berperasaan untuk pertama kali.
"Saya hampir-hampir tak percaya bahwa ia yaitu otak penculikan
itu."
"Biar bagaimana juga, memang kenyataannya begitu. Sekarang,
mengenai tingkah lakumu tadi malam. Biasa, ini cuma pemeriksaan
rutin, kau mengerti. Apa yang kauperbuat setelah meninggalkan
kamar majikanmu?"
"Saya memberitahukan Tuan WISNU WARDANA , Tuan, bahwa majikannya
memanggilnya. Lalu saya pergi ke kamar saya sendiri dan membaca."
"Kamarmu yang - "
"Di ujung gerbong kelas dua, Tuan. Persis di sebelah gerbong
restorasi."
jayakatwang memeriksa denahnya sejenak.
"Oh di situ - dan tempat tidurmu yang mana?"
"Yang lebih bawah, Tuan."
"No. 4?"
"Ya, Tuan."
"Ada orang lain di situ?”
"Ya, Tuan. Orang Italia yang tinggi besar itu."
"Dia bisa bahasa Inggris?"
"Begitulah, sejenis bahasa Inggris, Tuan." Nada suaranya seperti
orang yang sedang mencela. "Rasanya ia sudah pernah ke Amerika -
saya kira Chicago.”
"Apa kau dan dia suka ngobrol banyak?
"Tidak, Tuan. Saya lebih suka membaca."
jayakatwang tersenyum. Ia bisa membayangkan suasana di kamar
pelayan itu - di satu pihak ada orang Italia yang suka omong, dan di
pihak lain ada penghuni berwajah dingin dan suka mencela yang
menganggap diri lebih tinggi dari penghuni lainnya.
"Kalau saya boleh tahu, apa yang kaubaca itu?" tanya jayakatwang ingin
tahu.
"Sekarang ini, Tuan, saya sedang membaca Love's Captive karya
Nyonya Arabella Richardson."
"Ceritanya menarik?"
"Kalau menurut saya, ceritanya enak, Tuan."
"Baiklah, mari kita lanjutkan. Kau kembali ke kamarmu dan
membaca Love's Captive - sampai kapan?"
"Sampai sekitar pukul setengah sebelas, Tuan, waktu orang Itali
itu sudah mau pergi tidur. Jadi LETKOL datang dan menyiapkan
tempat tidur untuknya."
"Lalu kau sendiri naik ke tempat tidur dan tertidur?"
"Memang saya naik ke tempat tidur, Tuan, tapi saya tidak tidur."
"Kenapa kau tidak tidur?"
"Saya sakit gigi, Tuan."
"Oh, la - la - mungkin sakit, ya."
"Sakit sekali, Tuan."
"Lalu apa yang kauperbuat untuk menghilangkan rasa sakit itu?"
"Saya gosok-gosokkan dengan minyak cengkeh, Tuan, yang
ternyata bisa meredakan rasa sakit sedikit, tapi saya masih juga
belum bisa tidur. Lalu saya nyalakan lampu di atas kepala saya dan
meneruskan membaca - supaya saya bisa melupakan rasa sakit itu."
"Dan kau tidak tidur sama sekali?"
"Ya, Tuan. Saya baru bisa tidur pukul empat pagi.”
“Dan teman sekamarmu ?"
"Orang Itali itu? Oh, dia sudah mendengkur sejak setengah
sebelas itu."
"Ia sama sekali tak meninggalkan kamar sepanjang malam itu?"
"Tidak, Tuan."
"Dan kau juga tidak?"
"Tidak, Tuan."
"Kaudengar apa-apa sepanjang malam itu?"
"Saya rasa, tidak, Tuan. Tak ada yang aneh, maksud saya. Kereta
yang berhenti menyebabkan suasana di sekitarnya sangat sunyi."
jayakatwang terdiam satu dua menit. Lalu ia mulai berbicara lagi.
"Nah, saya rasa ada sedikit lagi yang harus ditanyakan. Kau tak
dapat menerangkan sesuatu yang berhubungan dengan pembunuhan
majikanmu itu?"
"Saya rasa tidak, Tuan."
"Sepanjang pengetahuanmu, apakah ada pertengkaran antara
majikanmu dan Tuan WISNU WARDANA ?"
"Oh! tidak, Tuan. Tuan WISNU WARDANA orangnya sangat
menyenangkan."
"Di mana kau bekerja sebelum kau bekerja pada Tuan CHUCKY?"
"Pada Sir DRACULA Tomlinson, Tuan, di Grosvernor Square."
"Kenapa kau tidak bekerja di situ lagi?"
"Ia pindah ke Afrika Timur, Tuan, dan tidak membutuhkan saya
lagi. Tapi saya yakin, dia pasti memberi keterangan tentang diri saya,
jika memang diperlukan. Saya bekerja padanya selama bertahun-
tahun."
"Dan berapa lama kau bekerja pada Tuan CHUCKY?"
"Baru sembilan bulan, Tuan."
"Terima kasih, MANSION. Ngomong-ngomong, kau mengisap
pipa?"
"Tidak, Tuan. Saya cuma merokok sigaret saja."
"Terima kasih, cukup sekian dulu."
jayakatwang mengangguk, seolah tak lagi membutuhkan kehadirannya
lagi di situ.
Pelayan pria itu nampak ragu-ragu sejenak.
"Maaf, Tuan. Kelihatannya wanita Amerika setengah umur itu agak
kurang waras pikirannya. Katanya ia tahu semua tentang
pembunuhnya. Ia sangat terpengaruh, Tuan."
"Kalau memang begitu soalnya," sahut jayakatwang tersenyum,
“sebaiknya kita periksa dia berikutnya?"
"Perlu saya panggil Tuan? Ia sudah ingin sekali bertemu dengan
orang yang berhak mengetahuinya sejak lama. LETKOL sudah
mencoba untuk menenangkannya."
"Coba suruh saja dia ke mari, Kawan," ujar jayakatwang . "Kita ingin
mendengarkan ceritanya sekarang.”
4. KESAKSIAN WANITA AMERIKA
Nyonya Hubbard tiba di gerbong restorasi dengan napas
tersengal-sengal dan seperti orang yang ketakutan hingga ia hampir-
hampir tak dapat mengucapkan apa yang ingin diucapkannya.
"Sekarang coba katakan pada saya - siapa orang yang berwenang
di sini? Saya punya keterangan penting, sangat penting, dan saya
ingin mengatakannya kepada pihak yang berwajib secepat mungkin.
Kalau Tuan-tuan di sini -"
Dipandangnya ketiga pria di hadapannya berganti-ganti. jayakatwang
memajukan badannya ke muka:
"Katakanlah pada saya, Nyonya," ujarnya. "Tapi lebih baik
duduklah dulu."
Nyonya Hubbard langsung menghenyakkan diri di kursi, yang
berhadapan dengan kursi yang diduduki detektif Belgia itu.
"Yang harus saya katakan pada Tuan yaitu ini. Kemarin malam
terjadi pembunuhan keji di kereta ini, dan pembunuhnya justru ada
di kamar saya.”
Ia berhenti berbicara untuk membangkitkan kesan dramatis pada
kata-kata yang baru diucapkannya.
"Nyonya yakin akan hal ini?"
"Tentu saja saya, yakinl Bayangkan! Saya tahu apa yang saya
katakan. Saya akan mengatakan semuanya yang dapat saya katakan.
Waktu itu saya baru saja naik ke tempat tidur dan langsung tidur,
tapi tiba-tiba saya terbangun - semuanya gelap tapi saya bisa
merasakan ada orang di kamar saya. Begitu takutnya saya, sampai
saya tak bisa menjerit, kalau saja Tuan tahu apa yang saya
maksudkan. Saya cuma bisa berbaring saja di tempat tidur dengan
badan yang lemas, sambil,berpikir-pikir, 'Mati aku, aku mau dibunuh!'
Sayangnya saya tak bisa menceritakan kepada Tuan, bagaimana
perasaan saya waktu itu. Yang ada di pikiran saya cuma kereta
jahanam ini dan perampok-perampok di kereta yang saya sering baca
itu. Dan saya pikir lagi, 'Biar bagaimanapun, pokoknya dia tak akan
bisa merampok perhiasan-perhiasanku itu' - sebab, Tuan tahu sendiri,
saya menyembunyikan perhiasan-perhiasan saya di dalam kaus kaki
yang saya selipkan di bawah bantal kepala saya - yang memang tak
begitu enak untuk dibawa tidur; biar bagaimanapun rasanya seperti
ada yang mengganjal di bawah kepala, kalau saja Tuan tahu apa
yang saya maksud. Tapi waktu saya meraba-raba, di sana-sini,
perhiasan saya sudah tak ada. Kalau begitu saya tidur di mana waktu
itu?"
"Apa Nyonya sadari apa yang Nyonya katakan tadi, yaitu ada
orang di kamar Nyonya?"
"Ya, tentu saja, saya terbaring dengan mata terpejam, dan
berpikir-pikir apa yang harus saya lakukan. Dan saya bersyukur
bahwa anak perempuan saya tak mengetahui betapa bahayanya
keadaan saya waktu itu. Untunglah, kemudian, entah bagaimana,
saya dapat akal, saya meraba-raba dengan tangan dan langsung
memijit bel untuk memanggil LETKOL. Saya memijit dan memijit
lagi, tapi tak ada jawaban - dan waktu itu rasanya jantung saya
sudah mau berhenti berdenyut. 'Ampun,' kata saya pada diri sendiri,
'mungkin mereka sudah membunuh semua penumpang di kereta ini.'
Saat itu memang saya tak mendengar suara kereta dan suasana pun
jadi sunyi sekali bagai di kuburan. Tapi saya terus juga memijit-mijit
bel itu dan, oh! Alangkah leganya hati saya begitu saya dengar
langkah-langkah kaki yang berlari tergopoh-gopoh dan kemudian
pintu kamar saya diketuk! 'Masuk,' saya langsung berteriak, dan saya
segera menyalakan lampu saat itu juga. Dan Tuan boleh percaya
boleh tidak, tapi tak ada satu makhluk pun di situ!"
Bagi Nyonya Hubbard kelihatannya akhir cerita itu lebih
merupakan puncak ketegangan daripada puncak kelegaan.
"Dan kemudian, apa yang terjadi, Nyonya?"
"Begitulah, saya terangkan pada LETKOL itu apa yang terjadi
dan kelihatannya ia tak percaya pada cerita saya. Kelihatannya ia
mengira saya bermimpi. Lalu saya menyuruhnya melihat sendiri ke
bawah kursi, meski ia berkata tak mungkin ada orang bisa masuk ke
tempat sekecil itu. Jadi jelaslah bahwa orang yang saya maksud itu
rupanya sudah pergi, meski tadi ia benar-benar ada, dan saya malah
jadi bertambah ketakutan sewaktu si LETKOL berusaha
menenangkan saya! Saya bukannya orang yang - suka
membayangkan hal yang tidak-tidak, Tuan… e… rasanya saya belum
tahu nama Tuan?"
"jayakatwang , Nyonya; dan ini Tuan BOUROQ, direktur perusahaan kereta
api ini dan yang satu ini Dr. HAUNTED."
Nyonya Hubbard menggerutu, "Senang sekali bisa berkenalan
dengan Tuan-tuan sekalian," ia berkata begitu sambil berpura-pura
membungkukkan badan seolah acara perkenalan sedang berlangsung
dengan resmi, kemudian ia kembali membenamkan diri dalam cerita
yang dituturkannya itu.
"Saya sama sekali tak mau berpura-pura bahwa saya ini
sebenarnya cerdas. Saya baru teringat bahwa yang tinggal di kamar
sebelah itu - yaitu pria yang saya benci itu dan rupanya dialah yang
terbunuh. Saya memerintahkan LETKOL untuk memeriksa pintu
penghubung kamar, sebab saya yakin betul pintu itu belum
terpalang. Benar saja dugaan saya. sebab itu lekas-lekas saya
menyuruh LETKOL untuk memalangkannya dan setelah dia keluar
kamar, saya menyandarkan koper saya dekat pintu yang sudah
terpalang itu untuk memastikan.”
"Pukul berapa waktu itu, Nyonya Hubbard?"
"Wah, saya tak bisa mengatakan. Saya tak pernah melihat jam.
Saya terlalu bingung."
"Jadi apa pendapat Nyonya sekarang?"
"Begitulah, sama seperti kenyataannya. Laki-laki yang ada di
kamar saya itu pasti seorang pembunuh. Kalau tidak, apa lagi?"
"Dan Nyonya pikir ia kembali lagi ke kamar sebelah?"
"Mana saya tahu ia pergi ke mana? Mata saya tertutup rapat."
"Jangan-jangan ia menyelinap lewat pintu yang menuju koridor."
"Wah itu saya tak dapat memastikan. Tuan tahu sendiri selama itu
mata saya terpejam terus."
Nyonya Hubbard mengeluh keras.
"Ampun ngerinya! Seumpamanya anak perempuan saya tahu -"
"Apa Nyonya tak mengira bahwa suara yang Nyonya dengar itu
yaitu suara yang berasal dari kamar sebelah?"
"Tidak, saya tidak mengira begitu, Tuan - apa tadi? jayakatwang .
Pembunuh itu ada di situ di kamar saya. Lagipula saya tidak bohong -
saya punya bukti-buktinya."
Lalu dengan perasaan menang, diperlihatkannya sebuah tas
tangan wanita yang berukuran besar dan mulai meraba-raba apa
yang ada di dalamnya.
Kemudian dikeluarkannya dua helai sapu tangan bersih, sepasang
kaca mata yang bingkainya terbuat dari tanduk hewan, sebotol
aspirin, sebungkus Glauber's Salt, satu tube permen, serenceng
kunci, sepasang gunting, satu buku cek American Express, sehelai
foto anak kecil yang berwajah pucat, beberapa helai surat, lima untai
manik-manik Oriental tiruan, dan sebuah benda kecil dari logam -
sebuah kancing.
"Tuan lihat kancing ini? Ya, itu bukannya salah satu kancing saya.
Bukan berasal dari baju-baju saya. Saya baru saja menemukannya
pagi ini begitu bangun tidur."
Sewaktu Nyonya Amerika itu meletakkannya di meja di
hadapannya, Tuan BOUROQ memajukan badannya ke muka dan berseru
kaget, "Tapi ini kan kancing baju seragam pelayan restorasi!"
"Tapi ini bisa diterangkan dengan akal sehat," sahut jayakatwang .
Lalu ia berpaling kepada wanita Amerika itu dengan senyum
ramah yang menempel di bibirnya.
"Kancing ini bisa saja lepas dari pakaian seragam LETKOL, entah
sewaktu ia mencari kamar Nyonya, entah sewaktu ia menyiapkan
tempat tidur kemarin malam."
"Sebenamya saya tak habis mengerti apa yang terjadi dengan
Tuan-tuan sekalian. Kelihatannya Tuan-tuan ini tak menginginkan
apa-apa selainnya membantah saya saja. Sekarang dengarkan ke
mari. Kemarin malam saya membaca majalah dulu sebelum tidur.
Dan sebelumnya saya mematikan lampu, saya letakkan majalah itu di
dalam sebuah koper kecil di lantai dekat jendella. Tuan mengerti itu?"
Mereka ramai-ramai meyakinkan Nyonya Hubbard bahwa mereka
memahami ceritanya.
"Baiklah kalau begitu. Perlu Tuan-tuan ketahui bahwa si LETKOL
melihaft ke bawah kursi saya dari ambang pintu, lalu ia masuk ke
kamar saya dan memalang pintu penghubung yang ke kamar
sebelah, tapi ia tak pernah ke pinggir jendela. Begitulah, pagi ini
kancing itu saya temukan persis dl atas majalah yang saya baca tadi
malam dan yang saya letakkan di atas koper kecil itu. Kalau begini,
saya ingin tahu, apa namanya ini, menurut Tuan?"
"Itu saya sebut kesaksian, Nyonya," sahut jayakatwang .
Jawabannya seakan-akan meredakan ketegangan Nyonya
Hubbard dalam bercerita itu, dan berhasil menenangkan hatinya.
"Rasanya saya bisa lebih gila dari ular yang sedang menyerang
kalau keterangan saya tidak dipercaya," ujarnya menegaskan.
"Memang Nyonya telah memberikan kami kesaksian yang sangat
menarik dan berharga," ujar jayakatwang berusaha menenangkan Nyonya
Hubbard yang nampaknya tegang itu. "Dan sekarang, apakah saya
boleh menanyakan beberapa pertanyaan kepada Nyonya?"
"Tentu saja."
"Kenapa kalau Nyonya memang benar-benar ngeri pada orang
yang bernama CHUCKY itu. Nyonya tidak memalang pintu
penghubung antara kamarnya dan kamar Nyonya sendiri?"
"Saya sudah memalangnya," sahut Nyonya Hubbard dengan
segera.
"Oh, Nyonya sudah memalangnya?"
"Begitulah, sebenarnya saya sudah minta tolong kepada gadis
Swedia itu untuk memeriksa apakah pintu penghubung saya sudah
dipalang, dan katanya sudah."
"Bagaimana bisa, Nyonya tidak memeriksanya sendiri?"
"Sebab saya sudah di tempat tidur dan tas saya sudah tergantung
pada pegangan pintunya.”
"Pukul berapa waktu Nyonya minta tolong pada gadis Swedia itu?"
"Tunggu dulu, saya mesti mengingat-ingat. Mestinya waktu itu
sekitar pukul setengah sebelas atau pukul sebelas kurang
seperempat. Ia datang ke kamar saya untuk menanyakan kalau-kalau
saya masih punya aspirin. Saya beritahukan di mana tempatnya dan
dikeluarkannya sebutir dari koperku."
"Waktu itu Nyonya sendiri sedang di tempat tidur?"
"Ya."
Sekonyong-konyong wanita Amerika itu tertawa keras. "Kasihan -
ia begitu bingung kelihatannya! Tuan tahu, dia keliru membuka pintu
kamar sebelah."
"Kamar Tuan CHUCKY?"
"Ya, Tuan tahu sendirl memang sulit untuk menemukan kamar
seseorang kalau begitu Tuan sampai di koridor kereta, semua pintu
kamar penumpang sudah tertutup. Gadis Swedia itu malu sekali.
Kedengarannya CHUCKY tertawa, dan rasanya saya bisa mendengar
kata-katanya yang kurang sopan. Kasihan gadis itu, ia benar-benar
kelihatan seperti orang yang kebingungan. 'Oh! Saya kesalahan,'
katanya. 'Saya malu sekali telah berbuat kesalahan. Dia bukan laki-
laki yang sopan,' katanya lagi. 'Laki-laki itu bilang pada saya, Kau
sudah terlalu tua."'
Dokter HAUNTED tak dapat menahan perasaan gelinya. Ia
tertawa berderai-derai, tapi tiba-tiba Nyonya Hubbard
memandangnya dengan tajam.
"Memang si CHUCKY itu bukan laki-laki yang sopan," ujarnya,
"masa ia berkata begitu pada seorang wanita. Dan bukan pada
tempatnya kita menertawakan hal seperti itu."
Dr. HAUNTED cepat-cepat minta maaf.
"Apa Nyonya dengar suara-suara lagi dari kamar Tuan CHUCKY
sesudah itu?" tanya jayakatwang .
"Yaah - kira-kira begitu."
"Apa yang Nyonya maksudkan?"
"Yaah -" ia berhenti sebentar. “Lelaki itu mendengkur."
"Ah! - ia mendengkur, apa benar?"
"Keras sekali. Malam sebelumnya suara dengkurannya sampai bisa
membangunkan saya."
"Nyonya tak mendengar dengkurnya lagi, setelah Nyonya dibuat
hampir mati ketakutan oleh pria yang ada di kamar Nyonya itu?"
"Kenapa begitu, Tuan jayakatwang , bagaimana saya bisa mendengar
suaranya lagi? Ia sudah mati."
"Ah, ya, betul," sahut jayakatwang mengiyakan. Kelihatannya ia jadi
bingung.
"Nyonya masih ingat pada peristiwa penculikan Daisy gairah ?
Nyonya Hubbard?" tanya jayakatwang lagi.
"Ya, masih. Dan enak betul pembunuhnya bisa lolos begitu saja
tanpa dihukum! Setan, saya ingin sekali menamparnya."
"Ia belum lolos. Ia sudah mati. Sudah mati tadi malam."
"Tuan tidak main-main -?” Nyonya Hubbard kelihatan setengah
berdiri dari kursinya sebab begitu terkejutnya mendengar berita itu.
"Tentu saja. CHUCKY memang otak peristiwa penculikan itu."
"Itulah! Bayangkan kalau kita bisa berpikir sampai ke situ! Saya
mesti cepat-cepat menulis surat kepada anak perempuan saya.
Sekarang, apakah saya tidak menceritakan tadi malam bahwa laki-
laki itu punya wajah iblis? Nah, apa, saya benarkan, Tuan lihat
sendiri. Anak perempuan saya selalu bilang: 'Kalau Mama sudah
menebak, kau boleh mempertaruhkan seluruh hartamu, pasti kena."'
"Apakah Nyonya ada hubungan keluarga dengan keluarga
gairah ?"
"Tidak. Pergaulan mereka terbatas sekali, kebanyakan di antara
kalangan atas saja. Tapi saya dengar Nyonya gairah itu sangat
cantik dan suaminya sangat memujanya."
"'Nah, Nyonya Hubbard, Nyonya telah membantu kami banyak
sekali - banyak sekali. Barangkali Nyonya tak keberatan untuk
memberitahukan nama lengkap Nyonya kepada kami?"
"Tentu saja, kenapa tidak. Caroline Martha Hubbard."
"Maukah Nyonya menuliskan alamat Nyonya di kertas ini?"
Nyonya Hubbard langsung mengerjakan permintaan itu, tanpa
berhenti berbicara. "Saya cuma tak bisa mengatasi itu semua.
Cassetti - ada di kereta ini. Dari semula memang saya sudah punya
prasangka jelek pada orang itu, ya tidak, Tuan jayakatwang ?"
"Ya, memang benar, Nyonya. Ngomong-ngomong, apa Nyonya
punya gaun yang warnanya merah tua? Dari bahan sutera?”
"Ampun! Lucu benar pertanyaannya! Tapi, saya tak punya gaun
seperti itu. Gaun yang saya bawa cuma dua - baju flanel merah muda
yang cocok sekali untuk dipakai di kapal nanti, dan satunya lagi gaun
yang dihadiahkan oleh anak perempuan dari bahan yang tak begitu
mahal - bukan katun halus dari Paris seperti itu. Tapi apa guna sapu
tangan semahal itu kalau akhirnya dipakai untuk menyapu hidung?"
Nampaknya tak seorang pun dari ketiga laki-laki di hadapannya
bisa menjawab pertanyaan Nyonya Hubbard dengan tepat dan
sehabis berkata begitu nyonya itu melangkah ke luar dengan penuh
kemenangan.
5. KESAKSIAN GADIS SWEDIA
Tuan BOUROQ sedang memegangi kancing yang tadi diletakkan
Nyonya Hubbard di alas meja.
"Coba lihat kancing ini, saya tak habis pikir. Apakah ini juga berarti
dalam satu dan lain hal Pierre TENDEAN terlibat dalam pernbunuhan
itu?"
Untuk sesaat ia berhenti berbicara, lalu melanjutkan lagi sewaktu
jayakatwang tidak juga menjawab, "Apa pendapatmu, Kawan?"
"Kancing itu menimbulkan beberapa kemungkinan," sahut jayakatwang
sambil berpikir-pikir. "Mari kita periksa gadis Swedia itu sebelum kita
membahas kesaksian-kesaksian yang sudah kita dengar."
Diambilnya salah satu paspor yang menumpuk di hadapannya.
"Ah! Ini dia, MADAM MENEER, umur empat puluh sembilan tahun."
Tuan BOUROQ segera memberi perintah pada salah seorang pelayan
restorasi, dan saat itu juga muncullah seorang wanita yang
bersanggul kuning dan memiliki wajah yang panjang dan menyerupai
domba. Ia sempat melirik jayakatwang dari balik kaca matanya, tapi tingkah
lakunya sangat tenang.
Ternyata wanita Swedia itu mengerti dan dapat berbahasa
Perancis dengan baik, dan sebab itu pemeriksaan dilakukan dalam
bahasa yang bersangkutan. jayakatwang pertama-tama menanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri sudah mengetahui
jawabannya - yakni nama lengkap wanita Swedia itu, umurnya, dan
alamatnya. Lalu ia menanyakan pekerjaannya sekarang.
Wanita Swedia itu menerangkan bahwa ia menjabat sebagai ibu
asrama sebuah sekolah. misionaris di dekat Istambul. Ia juga
perawat yang sudah berpengalaman.
"Saya rasa Nona sudah tahu apa yang terjadi tentunya,
Mademolselle? "
"Tentu saja. Mengerikan sekali. Dan Nyonya, Amerika itu
memberitahu saya bahwa pembunuhnya ada di kamarnya."
"Saya dengar Nonalah satu-satunya orang terakhir yang melihat si
korban dalam keadaan hidup, ya tidak?"
"Saya tak tahu. Boleh jadi begitu. Saya keliru membuka pintu
kamarnya waktu itu. Saya malu sekali. Itu suatu kesalahan yang
amat memalukan. "
"Jadi Nona benar-benar melihatnya'?"
"Ya. Ia sedang membaca buku. Lalu saya cepat-cepat minta maaf
dan menghilang."
"Apakah dia mengatakan sesuatu pada Nona?"
Pipi wanita itu tampak memerah sebentar.
"Ia tertawa dan mengucapkan beberapa patah kata. Saya - saya
tak bisa menangkapnya dengan jelas."
"Dan apa yang Nona lakukan sesudah itu, Mademoiselle?" tanya
jayakatwang mengalihkan pernbicaraan dengan hati-hati.
"Saya masuk ke kamar nyonya Amerika itu, Nyonva Hubbard. Saya
minta aspirin kepadanya dan dia memberikannya."
“Apakah dia juga minta kepada Nona untuk memeriksa apakah
pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Tuan CHUCKY sudah
dipalang?"
“Ya.”
"Memangnya sudah dipalang?"
'Ya.
"Dan sesudah itu?"'
"Dan sesudah itu saya kembali ke kamar saya, meneguk aspirin itu
dan merebahkan diri di tempat tidur."
"Pukul berapa waktu itu?"
"Sewaktu saya sudah merebahkan diri, rasanya sudah pukul
sebelas kurang lima menit. Saya tahu itu, sebab saya melihatnya
sebelum memutarnya."
"Apakah Nona bisa langsung tidur?"
"Tak bisa langsung. Kepala saya rasanya sudah agak berkurang
sakitnya, tapi saya masih terjaga."
"Apakah kereta sudah berhenti sebelum Nona tertidur?"
"Saya rasa tidak. Saya kira kita berhenti di stasiun itu, persis
waktu saya mulai mengantuk."
"Kalau begitu stasiun itu mestilah stasiun Vincovci. Sekarang,
kamar Nona, apakah yang ini?" jayakatwang menunjuk pada denahnya.
"Ya, itu dia."
"Tempat tidur Nona di atas atau di bawah?"
"Di bawah, no. 10."
"Dan Nona punya teman sekamar?"
"Ya, gadis Inggris yang masih muda. Sangat menyenangkan,
sangat ramah. Ia sudah ada di kereta sejak dari Bagdad."
"Sesudah kereta meninggalkan Vincovci, apakah dia juga
meninggalkan kamar?"
"Tidak, saya yakin tidak."
"Kenapa Nona begitu yakin, padahal saat itu Nona sudah tidur dan
tak tahu apa-apa lagi?"
"Saya tidur tak pernah bisa benar-benar lelap seperti orang lain.
Biasanya kalau ada suara sedikit saja, saya selalu terbangun kaget.
Saya yakin kalau gadis Inggris itu turun dari tempat tidurnya di atas,
saya pasti terbangun."
"Apakah Nona sendiri juga meninggalkan kamar?"
"Tidak, sampai paginya lagi."
"Nona punya kimono merah tua?"
"Tidak. Saya cuma punya daster yang enak dipakai, terbuat dari
bahan Jaeger."
"Bagaimana dengan gadis Inggris teman sekamar Nona itu? Apa
warna dasternya?"
"Warnanya lembayung yang muda sekali, seperti yang orang bisa
beli di Timur."
jayakatwang mengangguk. Lalu ia bertanya dengan nada ramah,
"Kenapa Nona bepergian dengan kereta ini? Sedang liburan?"
“Ya, saya mau pulang ke rumah untuk berlibur. Tapi saya singgah
dulu di Lausanne di rumah kakak saya dan tinggal di sana selama
satu dua minggu."
"Barangkali Nona tak keberatan kalau saya minta alamat kakak
Nona? Bisa tolong tuliskan di sini?”
"Dengan senang hati."
Diambilnya kertas dan pinsil yang disodorkan jayakatwang kepadanya
dan langsung menuliskan nama dan alamat kakak perempuannya
seperti yang diminta.
"Nona pernah ke Amerika?"
"Belum. Dulu, saya hampir ke sana. Sebenarnya saya mau
mendampingi seorang wanita cacad, tapi pada saat-saat mau
berangkat, rencananya dibatalkan. Saya sangat menyesalkan
kejadian itu. Orang-orang Amerika baik-baik. Mereka tak segan-segan
menyumbangkan uang buat mendirikan sekolah atau rumah sakit.
Dan kecuali itu mereka juga sangat praktis."
"Nona masih ingat pada peristiwa penculikan Daisy gairah
itu?"
"Tidak. Apa itu?"
jayakatwang menerangkan.
MADAM MENEER tampak marah. Rambutnya yang tipis dan kuning
seperti bulu jagung itu tampak ikut bergetar dengan emosinya.
"Apa di dunia ini ada orang yang begitu jahat? Orang mesti tabah
kalau bertemu dengan orang macam begini. Kasihan ibunya itu -
saya bisa memahami."
Lalu gadis Swedia yang berhati lembut itu pun pergi, dengan
wajah yang merah padam, dan mata yang kabur oleh air mata.
jayakatwang sibuk menulis di atas kertas.
"Apa yang kautulis di situ, Kawan," tanya Tuan BOUROQ.
"Mon cher, sudah jadi kebiasaanku untuk selalu rapi dan teliti. Aku
sedang mencatat daftar kronologis dari kejadian-kejadian yang
berhubungan dengan peristiwa pembunuhan itu."
Selesai menulis, jayakatwang menyodorkan kertas itu kepada Tuan BOUROQ.
9.15 Kereta meninggalkan Belgrado
sekitar 9.40 Pelayan meninggalkan CHUCKY dengan obat
tidur di sampingnya. Obat tidur itu dilarutkan ke dalam gelas yang
berisi air.
sekitar 10.00 WISNU WARDANA meninggalkan CHUCKY.
sekitar 10.40 MADAM MENEER melihat CHUCKY (terakhir
semasih hidup). N.B. Ia duduk di tempat tidur sambil membaca buku.
0.10 Kereta meninggalkan Vincovci (terlambat)
0.30 Kereta tertahan salju.
0.37 Bel CHUCKY berbunyi. LETKOL menjawabnya.
CHUCKY berkata: "Ce West rien. Je me suis trompe."
sekitar 0.17 Nyonya Hubbard mengira ada pria di
kamarnya. Memijit bel untuk memanggil LETKOL.
Tuan BOUROQ mengangguk tanda setuju.
"Jelas sekali," ujarnya.
"Menurut pendapatmu tak ada yang ganjil sedikit pun?"
"Tidak, kelihatannya semuanya sudah jelas dan bisa masuk akal.
Jadi kelihatannya jelas sekali pembunuhan dilakukan pukul 1.15. Kita
bisa lihat dari urutan waktu-waktu sebelum terjadi pembunuhan,
lagipula cerita Nyonya Hubbard memang cocok. Rasanya aku sudah
bisa menduga identitas pembunuhnya sekarang. Aku bilang,
pembunuhnya yaitu orang Italia yang tinggi besar itu. Dia datang
dari Amerika - dari Chicago - dan ingat, senjata orang Italia itu
biasanya pisau, dan ia tidak menikam satu kali saja, tapi sampai
berkali-kali."
"Benar."
"Tak salah lagi, itulah pemecahan dari misteri ini. Pastilah orang
Itali dan si CHUCKY itu berada dalam satu komplotan sewaktu
menculik Daisy gairah . Cassetti yaitu nama Italia. Dalam satu
dan lain hal Cassetti berhasil menipunya dengan jalan melarikan diri
bersama hasil yang didapat dari pemerasan MPU gairah itu.
Orang Italia itu mencari jejaknya, dengan mengirimkan suratsurat
ancaman dulu, dan akhirnya berhasil membalas dendamnya dengan
cara yang kejam dan tidak terpuji. Itu semuanya sebenarnya sangat
sederhana."
jayakatwang menggeleng, hatinya masih ragu, tak begitu yakin akan
pendapat temannya.
"Saya khawatir soalnya tidak sesederhana itu," gumamnya lagi.
"Kalau saya, saya yakin itulah soal yang sebenarnya," ujar Tuan
BOUROQ, semakin bernafsu atas teorinya.
"Dan bagaimana dengan pelayan yang sakit gigi itu yang bahkan
berani bersumpah bahwa si Italia itu tak pernah meninggalkan
kamar?"
"Justru di situlah letak kesulitannya."
Mata jayakatwang bersinar.
"Ya, itulah yang mengganggu. Tampaknya teorimu tak cukup
beralasan, dan orang Italia itu beruntung sebab pelayan CHUCKY
kebetulan sakit gigi."
"Tapi ini bisa diterangkan," sahut Tuan BOUROQ lagi dengan
keyakinan yang dalam.
jayakatwang kembali menggeleng.
"Tidak, tidak sesederhana itu persoalannya," gumamnya untuk
kedua kali.
6. KESAKSIAN PUTERI RUSIA
"Mari kita dengar apa pendapat Pierre TENDEAN mengenai kancing
ini," ujar Tuan BOUROQ.
LETKOL kereta segera dipanggil. Ia memandang penuh tanda
tanya kepada ketiga orang pria di depannya.
Tuan BOUROQ menjernihkan tenggorokannya.
"TENDEAN," ujarnya, "ini ada kancing dari seragammu. Ditemukan
dalam kamar Nyonya Amerika itu. Apa hubungannya dengan kau?"
LETKOL itu meraba-raba seragamnya tanpa sadar.
"Saya tak kehilangan kancing, Tuan," ujarnya membela diri.
"Keliru barangkali."
"Kedengarannya tak masuk akal."
"Saya tak berani menjamin itu, Tuan." LETKOL itu kelihatannya
heran, tapi wajahnya tak membayangkan kebingungan atau perasaan
bersalah.
Lalu Tuan BOUROQ berkata dengan sungguh-sungguh, "Kalau melihat
situasi di mana kancing ini ditemukan, kancing ini sudah jelas
terjatuh dari baju laki-laki yang menjawab bel Nyonya Hubbard tadi
malam."
"Tapi, Tuan, tak ada orang di sana. Nyonya itu pasti mengkhayal
yang tidak-tidak."
"Ia tidak mengkhayal, TENDEAN. Pembunuh Tuan CHUCKY memang
lewat di sana dan menjatuhkan kancing itu dengan sengaja."
Sewaktu ia baru dapat memahami maksud pernyataan tuannya
dengan jelas, Pierre TENDEAN jadi gelisah.
"Itu tidak benar, Tuan; itu tidak benar!" teriaknya kalap; "Rupanya
Tuan menuduh sayalah pembunuhnya. Saya tak bersalah. Saya
benar-benar tak bersalah! Kenapa saya harus membunuh laki-laki
yang belum pernah saya lihat sebelumnya?"
"Di mana kau, waktu bel Nyonya Hubbard berbunyi?"
“Saya sudah katakan, waktu itu saya sedang bercakap-cakap
dengan teman saya di gerbong sebelah."
"Coba kita panggil dia."
"Panggil saja, Tuan, saya mohon dengan sangat, panggil saja."
LETKOL gerbong sebelah langsung dipanggil. Dengan segera ia
menguatkan pengakuan TENDEAN. Ia juga menambahkan bahwa
LETKOL dari gerbong Bukares juga bersama-sama dengan dia.
Ketiga-tiganya saat itu sedang asyik membicarakan situasi buruk
yang diakibatkan oleh saIju keparat itu. Mereka baru saja berbicara
kira-kiria sepuluh menit, sewaktu TENDEAN mengatakan kalau tidak
salah ia mendengar orang memijit bel. Ketika ia membuka pintu-pintu
yang menghubungkan dua gerbong kereta itu, mereka bertiga dapat
mendengarnya dengan jelas - bel itu berbunyi tak henti-henti. TENDEAN
kemudian berlari tergopoh-gopoh untuk menjawabnya.
"Jadi, Tuan lihat sendiri, saya tak bersalah," teriak TENDEAN penuh
semangat.
"Dan kancing yang terlepas dari seragam LETKOL ini,
bagaimana kau bisa menerangkannya?"
"Saya tak bisa menerangkan, Tuan. Itu seperti misteri bagi saya.
Semua kancing-kancing seragam saya masih lengkap, tak ada satu
pun yang copot."
Kedua LETKOL lainnya juga menjelaskan bahwa kancing-kancing
pada baju seragam mereka tak ada satu pun yang terlepas dan
mereka juga belum pernah memasuki kamar Nyonya Hubbard.
"Tenang, TENDEAN," ujar Tuan BOUROQ membujuk, "dan coba kau-
ingat-ingat lagi sewaktu kau berlari untuk menjawab bunyi bel
Nyonya Hubbard tadi malam. Apa kau berpapasan dengan seseorang
di koridor?"
"Tidak, Monsieur.
"Kaulihat ada orang yang sedang menjauh di koridor, dan sedang
berjalan ke arah lain?"
"Juga tidak, Monsieur."
"Aneh," ujar Tuan BOUROQ lagi.
"Tidak begitu aneh, " sahut jayakatwang . "Itu cuma soal waktu. Nyonya
Hubbard merasa ada orang bersembunyi di kamarnya. Untuk satu
atau dua menit ia berbaring seperti orang lumpuh di atas tempat
tidurnya, dengan mata terpejam. Mungkin waktu itulah orang itu
berhasil menyelinap ke luar dari kamar Nyonya Hubbard. Lalu wanita
Amerika itu mulai memijit bel. Tapi LETKOL tidak segera datang.
Baru pada ketiga atau keempat kali, ia bisa menjawab bunyi bel itu.
Saya rasa sementara itu masih cukup waktu untuk -"
"Untuk apa? Untuk apa, mon cher? Ingat, di sekeliling kereta,
turun hujan salju yang tebal."
"Ada dua kemungkinan yang dapat diambil oleh pembunuh kita
yang misterius ini," ujar jayakatwang lambat-lambat. "Ia bisa
menyembunyikan diri di toilet atau bisa juga ke dalam salah satu
kamar penumpang.”
"Tapi kamar-kamar itu semuanya sudah ada orangnya."
"Ya."
"Maksudmu si pembunuh bisa menyembunyikan diri di dalam
kamarnya sendiri?"
jayakatwang mengangguk.
"Cocok - cocok," gumam Tuan BOUROQ. "Selama sepuluh men



