• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuhan di kereta 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan di kereta 2. Tampilkan semua postingan

pembunuhan di kereta 2

 


bo bOUROQ sedang asyik melahap telur dadarnya. 

"Tadi saya pikir lebih baik kita makan siang sama-sama di gerbong 

restorasi, soalnya pelayanan untuk kita bisa didahulukan," ujarnya. " 

Setelah itu restoran akan dikosongkan dan Tuan jayakatwang  bisa segera 

melakukan pemeriksaan pada penumpang, di sana. Tapi aku sudah 

terlanjur memesan makanan untuk tiga orang di sini." 

"Ide yang bagus," sahut jayakatwang . 

Tak seorang pun di antara ketiga pria itu yang merasa lapar; 

meskipun begitu makanan-makanan yang telah dipesankan Tuan 

BOUROQ untuk mereka, dimakan juga. Ketika masing-masing menghirup 

kopinya, barulah Tuan BOUROQ mempercakapkan masalah yang kini 

sedang memenuhi pikiran mereka. 

"Eh bien?" tanyanya. 

"Eh bien, aku sudah berhasil menemukan identitas korban. Dan 

aku juga tahu kenapa ia mesti kabur dari Amerika, dan tidak boleh 

tidak." 

"Siapa dia sebenarnya?" 

"Kau masih ingat berita tentang penculikan anak perempuan Tuan 

gairah  itu? Ini dia orangnya yang membunuh. Daisy gairah  

kecil, Cassetti." 

"Sekarang baru aku ingat. Peristiwa yang cukup menggemparkan - 

meski aku sudah tak ingat lagi cerita selengkapnya." 

"MPU  gairah  yaitu  orang Inggris seorang V.C. (Victoria 

Cross). Ia peranakan Amerika, ibunya yaitu  anak perempuan dari 

W.K. Van der Halt, jutawan Wall Street. MPU  gairah  menikah 

dengan anak perempuan nyonya besar  Adidas , aktris Amerika yang paling 

tragis pada jamannya. Mereka tinggal di Amerika dan dikaruniai 

seorang anak perempuan yang mereka impi-impikan. Sewaktu anak 

itu berumur tiga tahun, ia diculik, dan mereka diminta menebus 

anaknya dengan jumlah yang yang luar biasa besarnya. Aku tak ingin 

membuatmu ngeri dengan mendengar segala macam ancaman yang 

mengikutinya. Marilah kita langsung saja kepada saat setelah kedua 

orang tua yang malang itu membayar uang tebusannya sebanyak 

dua ratus ribu dollar. Tapi polisi berhasil menemukan mayat anak itu; 

yang diperkirakan sudah mati selama dua minggu. Kemarahan 

masyarakat luas saat itu sudah mencapai puncanya. Tapi kejadian 

berikutnya malah lebih menyedihkan lagi. Saat itu Nyonya gairah  

sedang menunggu kelahiran anaknya yang kedua. sebab batinnya 

tak kuat menahan goncangan yang sangat mengejutkan itu, 

kandungannya gugur, dan ia sendiri meninggal bersama-sama 

anaknya yang lahir sebelum waktunya itu. Sang suami yang patah 

hati lalu menembak dirinya sendiri." 

"Mon dieu, sungguh tragis. Aku ingat sekarang," ujar Tuan BOUROQ. 

"Masih ada lagi kematian lain yarig menyusul sesudahnya, kalau aku 

tak salah?" 

"Ya, perawat malang dari Perancis atau Swiss. Polisi yakin bahwa 

dia mengetahui sedikit tentang pembunuhan itu, atau paling sedikit 

ikut membantunya. Mereka tak mau mempercayai sangkalannya yang 

histeris. Akhirnya, dalam keadaan putus asa, gadis yang malang itu 

melompat dari jendela dan mati seketika itu juga. Kemudian baru 

terbukti bahwasanya gadis itu bersih sama sekali dari tuduhan bahwa 

ia ikut berkomplot dalam melaksanakan pdmbunuhan itu." 

"Itu tidak baik untuk diingat-ingat," ujar Tuan BOUROQ. 

"Enam bulan sesudahnya, orang yang bernama Cassetti yang 

mengepalai komplotan pembunuh yang menculik gadis cilik itu pun 

tertangkap. Selama itu mereka selalu mempergunakan cara-cara 

yang sama seperti sebelumnya. Jika polisi sudah mencium jejak 

mereka, tawanan itu mereka bunuh, mayatnya disembunyikan di 

suatu tempat, dan mereka meneruskan memeras sebanyak mungkin 

uang dari keluarga tawanan, sebelum kejahatan itu sendiri 

terbongkar." 

"Sekarang aku ingin menjelaskan hal ini kepadamu, Kawan. 

Memang Cassetti-lah orangnya! Tapi dengan kekayaannya yang luar 

biasa itu, dan hubungan rahasianya dengan orang-orang penting dari 

berbagai macam lapisan, ia berhasil menghindar dari tuduhan 

pengadilan yang sengaja dibuat tidak teliti. Dengan kata lain ia 

dibebaskan dengan alasan yang tidak jelas. Sekalipun demikian, 

mestinya ia sudah digantung oleh publik seandainya ia tidak cukup 

licin. Sekarang jelas bagiku apa yang terjadi sebenarnya. Ia 

mengganti namanya dan meninggalkan Amerika. Sejak itu ia 

menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang, bepergian 

melihat dunia dan hidup dari penghasilan itu." 

"Ah! quel animal! " Tuan BOUROQ melampiaskan rasa jijiknya. "Aku 

tak menyesalkan kematiannya - tidak sama sekali!" 

“Aku setuju." 

"Tout de meme, sebenarnya ia tak perlu terbunuh di atas Orient 

Express. Masih banyak tempat lain." 

jayakatwang  tersenyum sedikit, ia menyadari bahwa Tuan BOUROQ telah 

diliputi prasangka yang tidak enak. 

"Pertanyaan kita pada diri sendiri, sekarang, yaitu  begini," 

ujarnya. "Apakah pembunuhan ini yaitu  pekerjaan beberapa 

komplotan saingan Cassetti yang telah ditipunya pada masa-masa 

yang lalu, ataukah itu cuma tindakan balas dendam secara 

perseorangan saja?" 

jayakatwang  menjelaskan penemuannya barusan, yakni sewaktu ia 

menemukan potongan-potongan kertas yang terbakar itu. 

"Kalau dugaanku benar, surat ini tentunya sengaja dibakar oleh si 

pembunuh. Sebab apa? Sebab di dalamnya disebut-sebut nama 

'gairah ' yang merupakan petunjuk bagi misteri pembunuhan itu." 

"Apakah masih ada sanak keluarga gairah  yang masih hidup?" 

"Celakanya aku tak tahu itu. Rasanya aku dulu pernah baca 

Nyonya gairah  masih punya adik perempuan. 

jayakatwang  mencoba menghubungkan hal itu dengan kesimpulannya 

sendiri dan kesimpulan Dr. HAUNTED, Mata Tuan BOUROQ terlihat 

bercahaya ketika jayakatwang  menyinggung-nyinggung tentang arloji emas 

CHUCKY yang hancur itu. 

"Kelihatannya itu bisa memberi petunjuk pada kita waktu 

pembunuhan yang tepat." , 

"Ya," sahut jayakatwang . "Memang menyenangkan." 

Ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya yang tak dapat 

digambarkan dengan kata-kata, menyebabkan kedua kawannya 

memandangnya secara serentak dengan rasa ingin tahu yang besar. 

"Kaubilang kau mendengar sendiri suara CHUCKY sewaktu ia 

berbicara dengan LETKOL pada pukul satu kurang dua puluh?" 

tanya Tuan BOUROQ. 

jayakatwang  menjelaskan bahwa itu memang cocok. 

"Nah," ujar Tuan BOUROQ, "itu membuktikan bahwa setidak-tidaknya 

Cassetti - atau CHUCKY, nama yang akan kupergunakan selanjutnya, 

pasti masih hidup pada pukul satu kurang dua puluh itu." 

"Pukul satu kurang dua puluh tiga menit, untuk tepatnya." 

"Kalau begitu pukul dua belas lewat dua puluh tujuh menit, secara 

resminya, Tuan CHUCKY masih hidup. Paling tidak itu suatu 

kenyataan." 

jayakatwang  tak menjawab. Ia duduk di hadapan kawannya dengan 

wajah termangu. 

Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah pelayan restoran. 

"Gerbong restorasi sudah kosong sekarang, Tuan," ujarnya 

melapor. 

"Kita akan segera ke sana," sahut Tuan BOUROQ, sambil berdiri. 

"Boleh saya ikut?" tanya HAUNTED. 

"Tentu saja, Dokter. Kecuali kalau Tuan jayakatwang  keberatan. 

"Tidak. Tidak sama sekali," ujar jayakatwang . 

Setelah berbasa-basi sedikit dengan mengatakan, 'Apres vous, 

Monsieur." - Mais non, apres vous -" Mereka bertiga meninggalkan 

kamar. 

 

Bagian Kedua 

 

KESAKSIAN 

 

1. KESAKSIAN LETKOL 

 

Digerbong restorasi itu segala sesuatunya sudah dipersiapkan. 

jayakatwang  dan Tuan BOUROQ duduk berdampingan pada salah satu sisi. 

Sedangkan dokter Yunani itu duduk di seberang lorong. 

Di atas meja di hadapan jayakatwang  nampak denah gerbong kereta 

Istambul-Calais berikut nama-nama penumpangnya yang ditulis 

dengan tinta merah. Setumpukan paspor dan karcis nampak di sisi 

yang lain. Kecuali itu juga terlihat kertas tulis, tinta, pulpen dan 

beberapa batang pinsil. 

"Bagus," ujar jayakatwang . "Kita sudah dapat memulai acara 

pemeriksaan ini tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Pertama-

tama, aku rasa kita harus mendengar kesaksian dari LETKOL. 

Mungkin kau mengetahui sedikit tentang dirinya. Bagaimana 

wataknya? Apakah kata-katanya dapat dipercaya?" Kata-kata 

pertamanya itu ditujukan pada Tuan BOUROQ. 

Kemudian terdengar Tuan BOUROQ menjawab, 

"Aku berani jamin reputasinya. Pierre TENDEAN sudah bekerja di 

perusahaan kereta ini selama lima belas tahun. Dia orang Perancis - 

tinggalnya dekat Calais. Warga negara terhormat dan jujur. Tapi 

mungkin otaknya tak begitu cerdas." 

jayakatwang  mengangguk penuh pengertian. "Bagus," ujarnya. "Mari kita 

periksa dia." 

Pierre TENDEAN telah menemukan kembali kepercayaan pada dirinya, 

tapi tak urung juga ia masih kelihatan gugup. 

"Saya harap moga-moga Tuan tidak mengira bahwa saya ini agak 

sembrono dalam mengerjakan tugas," ujarnya cemas, matanya 

berpindah-pindah dari wajah jayakatwang  ke wajah Tuan BOUROQ. "Benar-

benar mengerikan peristiwa yang baru terjadi itu. Saya harap ' Tuan 

tak akan menyangka bahwa saya juga terlibat di dalamnya?" 

Setelah menenangkan rasa takut si LETKOL, jayakatwang  mulai 

menghujaninya dengan sejumlah pertanyaan. Pertama-tama ia 

menanyakan nama dan alamat TENDEAN selengkapnya, berapa lama 

bekerja di perusahaan kereta api itu, dan berapa kali ia bertugas 

pada rute khusus Istambul-Calais ini. Sebenarnya jayakatwang  sudah tahu 

lebih dulu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, tapi ia sengaja 

menanyakan pertanyaan-pertanyaan rutin itu untuk menenangkan 

LETKOL kereta yang nampaknya sangat gugup, dan untunglah 

siasatnya ini berhasil penuh. 

"Dan sekarang," ujar jayakatwang  melanjutkan, "mari kita kembali ke 

kejadian tadi malam. Kapan Tuan CHUCKY pergi tidur?" 

"Hampir segera setelah selesai makan malam, Tuan. Tepatnya 

sebelum kereta meninggalkan Belgrado. Begitu juga pada malam 

sebelumnya. Ia memerintahkan saya untuk menyiapkan tempat 

tidurnya sewaktu ia sedang makan malam, dan saya langsung 

mengerjakannya." 

"Apakah sesudah itu ada orang yang masuk ke kamarnya?" 

"Pelayan prianya, Tuan dan orang Amerika itu, sekretarisnya. " 

"Ada lagi?" 

"Tak ada, Tuan, sepanjang pengetahuan saya." 

"Bagus. Dan itukah terakhir kalinya kau melihat dan berbicara 

dengan dia?" 

"Tidak, Tuan. Mungkin Tuan lupa ia membunyikan bel kira-kira 

pukul satu kurang dua puluh - segera setelah kereta berhenti." 

"Apa yang terjadi sebenarnya?" 

"Saya mengetuk pintu kamarnya, tapi ia berteriak dari dalam dan 

menerangkan bahwa ia keliru." 

"Dalam bahasa Inggris atau Perancis?" 

"Bahasa Perancis." 

"Bagaimana bunyi perkataannya?" 

"Ce West rien. Je me suis trompi. 

"Betul sekali," ujar jayakatwang . "Memang itu yang saya dengar. Lalu 

kau pergi begitu saja?" 

"Ya, Tuan. 

"Apa kau langsung kembali ke tempat dudukmu yang biasa?" 

"Tidak, Tuan. Saya pergi dulu untuk menjawab bel lain yang baru 

saja berbunyi." 

"Sekarang, TENDEAN, saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan 

penting. Kau ada di mana pada pukul satu lewat seperempat?" 

"Saya, Tuan? Saya sedang duduk di kursi LETKOL di ujung - 

menghadap koridor kereta." 

"Kau yakin?" 

"Mais oui - paling tidak." 

"Ya?" 

"Sebelumnya saya pergi ke gerbong sebelah, gerbong kereta dari 

Athena itu, dan bercakap-cakap dengan teman-teman saya di sana. 

Kami membicarakan salju. Waktu itu kira-kira pukul satu lewat. Saya 

tak dapat mengatakannya dengan pasti." 

"Dan kapan kau kembali ke tempatmu lagi?" 

"Salah satu bel di gerbong saya berbunyi, Tuan. Waktu itu saya 

ingat - sebab sesudah itu saya yang memberitahukan Tuan. Rupanya 

wanita Amerika itu. Ia sudah memijit bel berkali-kali." 

"Aku ingat," sahut jayakatwang . "Danm setelah itu?" 

"Setelah itu, Tuan? Saya menjawab bunyi bel Tuan sendiri dan 

saya bawakan air putih buat Tuan. Lalu, setengah jam kemudian, 

saya menyiapkan tempat tidur orang Amerika itu, sekretaris Tuan 

CHUCKY." 

"Apakah Tuan WISNU WARDANA  sendirian saja sewaktu kau menyiapkan 

tempat tidurnya?" 

"MPU  Inggris dari kamar no. 15 itu menemaninya. Mereka terus 

saja duduk sambil berbicara." 

"Apa yang dikerjakan MPU  itu setelah ia meninggalkan kamar 

Tuan WISNU WARDANA ?" 

"Ia kembali ke kamarnya." 

"No. 15 - jaraknya sangat dekat dari tempat dudukmu itu, ya 

tidak?" 

"Ya, Tuan, itu kamar kedua dari ujung koridor." 

"Tempat tidurnya sudah disiapkan?" 

"Ya, Tuan. Saya sudah menyiapkan tempat tidur itu, sewaktu 

pemiliknya sedang makan malam." 

"Pukul berapa waktu itu?" 

"Saya tak tahu persis, Tuan. Kira-kira pukul dua lebih sedikit." 

"Dan sesudah itu?" 

"Sesudah itu, Tuan, saya duduk terus di kursi saya sampai pagi." 

"Kau tak pergi ke gerbong kereta dari Athena itu?" 

"Tidak, Tuan." 

"Kau tidur barangkali?" 

"Tidak, Tuan, saya kira. Kalau kereta api sedang berhenti, saya tak 

bisa tidur, seperti biasanya." 

"Apa kaulihat ada penumpang yang lewat di koridor?" 

LETKOL itu mencoba mengingat-ingat. "Salah seorang dari 

wanita-wanita itu pergi ke toilet yang di ujung, saya kira." 

"Wanita yang mana?" 

"Saya tak tahu, Tuan. Soalnya dia berada jauh di ujung koridor 

dan membelakangi saya. Ia memakai kimono merah tua bergambar 

naga." 

jayakatwang  mengangguk tanda menyetujui. "Dan sesudah itu?" 

"Tak ada apa-apa lagi Tuan, sampai pagi." 

"Kau yakin?" 

"Ah, maaf - Bukankah Tuan sendiri juga membuka pintu kamar 

Tuan dan melongok ke luar sebentar?" 

"Bagus, Kawan," ujar jayakatwang . "Saya sendiri kagum kau masih 

mengingatnya. Pokoknya saya pernah terbangun oleh semacam 

suara barang berat yang jatuh menimpa pintu kamar saya. Kau tahu 

apa itu kira-kira?" 

LETKOL itu memandang jayakatwang  sejenak. "Tak ada apa-apa, 

Tuan. Tak ada apa-apa, saya bisa memastikan." 

"Kalau begitu saya mesti punya chauceman," ujar jayakatwang  berfilsafat 

sedikit. 

"Bisa juga suara dari kamar sebelahmu itu yang kebetulan 

kaudengar," ujar Tuan BOUROQ. 

jayakatwang  tak mempedulikan pendapat Tuan BOUROQ itu. Mungkin ia tak 

begitu suka Tuan BOUROQ mengemukakan dugaannya di muka 

LETKOL kereta. 

"Mari kita lihat dari sisi yang lain," ujar jayakatwang . "Umpamakan saja 

tadi malam ada seorang pembunuh tak dikenal yang masuk kereta. 

Apakah dapat dipastikan bahwa pembunuh itu tak dapat 

meninggalkan kereta setelah ia melakukan pembunuhan?" 

Pierre TENDEAN menggeleng. 

"Mungkinkah ia bersembunyi di salah satu sudut?" 

"Sudah dicari dengan teliti," ujar Tuan BOUROQ. "Lupakan saja pikiran 

seperti itu, Kawan." 

"Di samping itu," sambung TENDEAN, "tak ada yang bisa memasuki 

gerbong tidur tanpa terlihat oleh saya." 

"Di mana kereta berhenti terakhir kali?" 

"Vincovci." 

"Pukul berapa itu?" 

"Sebenarnya kita sudah harus meninggalkan Vincovci pada pukul 

11.58, tapi sebab cuaca yang tak mengijinkan, kita terlambat dua 

puluh menit." 

"Mungkinkah ada orang yang menyelinap dalam gerbong biasa?" 

  

"Tidak, Tuan. Setelah makan malam, pintu antara gerbong biasa 

dan gerbong tidur penumpang langsung dikunci." 

"Kau sendiri turun dari kereta waktu sampai di Vincovci?" 

"Ya, Tuan. Saya turun ke peron seperti biasa dan berdiri di dekat 

anak tangga kereta. LETKOL-LETKOL lainnya juga berbuat 

begitu." 

"Bagaimana dengan pintu yang di depan -  yang letaknya dekat 

gerbong restorasi?" 

"Pintu itu selalu dikunci dari dalam-." 

"Tapi sekarang pintu itu sudah tak terkunci lagi.” 

LETKOL itu kelihatan heran; lalu wajahnya berubah menjadi 

cerah kembali. "Pasti ada penumpang yang membukanya untuk 

melihat salju di luar."  

"Mungkin," sahut jayakatwang . 

Detektif Belgia itu mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir satu atau 

dua menit. 

"Tuan tidak menyalahkan saya kan?" tanyanya takut-takut. 

jayakatwang  tersenyum padanya, senyum yang ramah. 

"Sebenarnya kau juga mempunyai kesempatan baik untuk berbuat 

hal yang sekeji itu, Kawan," ujarnya lagi. "Ah! Satu pertanyaan lagi, 

mumpung saya masih ingat. Kaubilang ada bel lain berbunyi Sewaktu 

kau sedang mengetuk pintu kamar Tuan CHUCKY. Dan saya sendiri 

juga mendengarnya. Siapa itu?" 

"Itu bel Madame la NYI e GIRAH . ia menyuruh saya 

memanggil pelayan wanitanya." 

"Lantas kaukerjakan suruhannya?" 

"Ya, Tuan." 

jayakatwang  mempelajari gambar denah di hadapannya dengan 

seksama. Lalu dimiringkannya kepalanya sedikit. 

"Cukup dulu," ujarnya, "untuk kali ini." 

"Terima kasih, Tuan." 

LETKOL itu bangkit dari kursinya, lalu melihat ke Tuan BOUROQ. 

"Jangan sedih-sedih," ujar Tuan BOUROQ ramah. Aku tak- melihat 

adanya kelalaian dalam tugasmu." 

Dengan penuh rasa terima kasih, Pierre TENDEAN meninggalkan 

gerbong restorasi kereta Orient Expess yang luas dan megah itu. 

 

2. KESAKSIAN SEKRETARIS TUAN CHUCKY 

 

Untuk satu dua menit tampak jayakatwang  terdiam sebab sedang 

berpikir keras. 

"Aku pikir," ujarnya setelah itu, "ada baiknya kita dengarkan 

kesaksian WISNU WARDANA  lebih jauh, berdasarkan apa yang telah kita 

ketahui selama ini”. 

Pemuda Amerika itu muncul dengan segera. 

"Nah," ujarnya, "apa kabar dengan pemeriksaan Tuan, apa ada 

kemajuan?" 

"Tak begitu jelek. Sejak pembicaraan kita yang terakhir, saya 

sudah mempelajari sesuatu - identitas Tuan CHUCKY." 

RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  memajukan tubuhnya ke mukadengan penuh 

perhatian. "Ya?" ujarnya. 

"CHUCKY, seperti yang Tuan curigai, cuma nama samaran. Orang 

yang namanya 'CHUCKY' ini sebenarnya Cassetti, yang mengepalai 

sejumlah peristiwa penculikan yang banyak menarik perhatian orang 

- di antaranya peristiwa penculikan Daisy gairah ." 

Di wajah WISNU WARDANA  terbayang keheranan yang tak kunjung habis. 

Kemudian wajah itu kembali muram. "Binatang terkutuk!" serunya 

tiba-tiba. 

"Tuan tak tahu apa-apa tentang ini, Tuan Mac,Queen?" 

"Tidak, Tuan," sahut pemuda Amerika itu dengan pasti. "Kalau 

saya tahu, mungkin saya sudah memotong lengan kanan saya sendiri 

sebelum tangan ini sempat mengerjakan tugas-tugas seorang 

sekretaris baginya!" 

"Kejadian itu meninggalkan pengaruh kuat bagi Tuan, Tuan 

WISNU WARDANA ?" 

"Saya punya alasan tersendiri untuk berbuat demikian. Ayah saya 

yaitu  pengacara distrik yang menangani masalah itu, Tuan jayakatwang . 

Saya pemah lihat Nyonya gairah  lebih dari dua kali - ia wanita 

yang cantik. Begitu lembut dan menawan hati orang yang 

melihatnya." Wajahnya kembali suram. "Kalau ada orang yang patut 

mendapat ganjaran atas perbuatannya - maka orang itu yaitu  

CHUCKY - atau Cassetti. Saya ikut gembira dengan kematiannya. 

Orang seperti itu tak layak hidup! 

"Kedengarannya Tuan seolah-olah ingin melakukan pembunuhan 

itu sendiri?" 

"Memang - memang – saya…” Bicaranya terhenti sebentar, lalu ia 

menambahkan lagi dengan perasaan seperti orang yang sudah 

bersalah. "Kedengarannya saya sedang memberatkan pemeriksaan 

saya sendiri." 

"Malah saya semakin cenderung untuk mencurigai Anda, Tuan 

WISNU WARDANA , kalau Tuan berpura-pura sedih atas kematian majikan 

Tuan." 

"Saya rasa saya tak bisa melakukan itu, walau itu bisa 

menyelamatkan saya dari kursi listrik," ujar WISNU WARDANA  sedih. Lalu ia 

melanjutkan, "Seumpamanya saya tidak terlalu berminat pada 

pemerilksaan ini, bagaimana Tuan bisa mengetahui masalah ini? 

Identitas Cassetti, yang saya maksudkan." 

"Dari potongan-potongan kertas yang saya temukan di kamarnya." 

"Tentu saja - maksud saya - itu lebih merupakan keteledoran 

orang tua itu?" 

“Itu tergantung," sahut jayakatwang , "dari sudut pandangan seseorang." 

Orang muda itu merasa ucapan jayakatwang  itu agak menyulitkan 

baginya. Lalu ditatapnya jayakatwang  seolah ingin mengalahkannya. 

“Tugas yang saya hadapi," ujar jayakatwang , "yaitu  untuk memastikan 

gerak-gerik setiap penumpang di kereta ini. Tak usah merasa terhina, 

dan tak usah membalas, Tuan mengerti. Ini cuma pemeriksaan rutin 

saja." 

"Tentu saja, teruskanlah pemeriksaan Tuan itu, dan akan saya 

coba memperbaiki watak saya, kalau dapat." 

"Rasanya saya tak perlu lagi menanyakan nomor kamar Tuan," 

ujar jayakatwang  sambil tersenyum, "sebab dulu kita pernah tidur di kamar 

yang sama, meski cuma semalam. Kamar itu yaitu  kamar no. 6 dan 

no. 7, di gerbong kelas dua, dan Tuan menempatinya sendiri setelah 

saya tinggalkan." 

"Benar." 

"Sekarang, Tuan WISNU WARDANA , saya ingin Tuan menceriterakan apa 

yang Tuan perbuat tadi malam setelah Tuan meninggalkan gerbong 

restorasi." 

"Itu gampang sekali. Saya kembali ke kamar saya, membaca 

sebentar, lalu turun di peron Belgrado, sebab saya merasa saat itu 

udara terlalu dingin maka saya naik ke kereta lagi. Saya berbicara 

sebentar dengan gadis Inggris yang kamarnya bersebelahan dengan 

saya. Lalu saya terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan 

dengan si MPU  Inggris itu, MPU  TANTULAR - saya rasa Tuan 

masih ingat waktu itu Tuan lewat di muka kami sewaktu kami sedang 

mengobrol. Kemudian saya pergi ke kamar Tuan CHUCKY, dan yang 

seperti saya katakan tadi, di sana saya mencatat apa yang didiktekan 

Tuan CHUCKY kepada saya. Lalu setelah mengucapkan selamat 

malam, saya tinggalkan dia. Rupanya MPU  TANTULAR masih berdiri 

di tempat tadi, di koridor kereta. Tempat tidurnya buat malam itu 

sudah disiapkan, jadi saya mengusulkan sebaiknya dia saja yang 

mampir ke kamar saya. Saya memesan dua gelas minuman yang 

langsung kami minum. Sesudah itu kami membicarakan. politik dunia 

pada umumnya, lalu pemerintah India dan kesulitan-kesulitan yang 

dialami pemerintah Barat sekarang ini seperti krisis tentang larangan 

itu dan krisis Wall Street. Biasanya saya tak bisa berbicara sebebas 

itu dengan orang Inggris - umumnya mereka suka bersitegang leher - 

tapi saya menyenangi yang satu ini." 

"Tuan tahu, pukul berapa itu sewaktu dia meninggalkan Tuan?" 

"Sudah larut sekali. Saya kira hampir pukul dua." 

"Apa Tuan tahu waktu itu kereta sudah tak berjalan lagi?" 

"Oh ya. Kami berjalan-jalan sebentar. Kami keluar dan rupanya di 

luar salju sangat tebal, tapi kami tak menyangka hal itu serius." 

"Apa yang terjadi sesudah MPU  TANTULAR mengucapkan 

selamat malam?" 

"Ia langsung pulang ke kamarnya dan saya sendiri memanggil 

LETKOL untuk menyiapkan tempat tidur." "Tuan ada di mana 

sewaktu dia sedang menyiapkan tempat tidur?" 

"Saya berdiri di ambang pintu kamar sambil merokok." 

"Lalu?" 

“Lalu saya naik ke tempat tidur dan terus tertidur sampai pagi." 

"Sepanjang malam itu apa Tuan sedikit pun tak meninggalkan 

kereta sama sekali?" 

"Ya, saya dan TANTULAR memang turun sebentar di - apa itu 

namanya - Vincovci - untuk melemaskan kaki. Tapi waktu itu 

dinginnya bukan main - lagipula ada angin kencang. Jadi kita 

langsung naik lagi ke kereta." 

"Dari pintu mana Tuan keluar dari kereta?" 

"Dari pintu terdekat dari kamar-kamar kita berdua. 

"Pintu yang di sebelah gerbong restorasi itu?" 

"Ya. " 

"Apa Tuan tak ingat pintu itu selalu dipalang?"  

WISNU WARDANA  mengingat-ingat. 

"Ya, memang, rasanya seingat saya memang begitu. Paling tidak 

selalu mesti ada palang yang melintang di pegangannya. Itukah yang 

Tuan maksud?" 

"Ya. Sewaktu naik ke kereta lagi, apakah Tuan memasang 

penghalang itu kembali?" 

"Mengapa begitu - tidak. Saya kira saya tidak berbuat begitu. 

Pokoknya akhirnya saya masuk juga. Tidak, seingat saya rasanya 

saya tak memasangnya kembali." Lalu tiba-tiba ia menambahkan, 

"Apa hal itu penting?" 

"Mungkin. Sekarang, menurut dugaan saya, Tuan, apakah selama 

Tuan dan MPU  TANTULAR sedang asyik mengobrol sambil duduk 

itu, pintu kamar kalian yang menuju ke koridor itu terbuka?" 

RADEN KERTAJAYA  WISNU WARDANA  mengangguk. 

"Kalau mungkin, saya ingin Tuan menceritakan apakah ada orang 

yang lewat di. sepanjang koridor itu, mulai dari saat kereta 

meninggalkan Vincovci terus sampai kalian berdua berpisah pada 

malam itu." 

WISNU WARDANA  mengerutkan alis. 

"Saya rasa LETKOL melewatinya satu kali," ujarnya, "dari arah 

gerbong restorasi. Dan saya juga melihat ada seorang wanita yang 

melewatinya dari arah lain, arah memasuki gerbong restorasi." 

"Wanita yang mana?” 

"Saya tak bisa mengatakannya. Saya tak begitu memperhatikan. 

Tuan lihat sendiri saya sedang asyik berdebat dengan TANTULAR. 

Yang saya ingat cuma baju suteranya yang berwarna merah tua. Tapi 

saya tidak memandangnya, lagipula saya tak bakal bisa melihat 

wajah pemakainya. Seperti yang Tuan ketahui sendiri, gerbong saya 

menghadap ujung gerbong restorasi, jadi kalau seorang wanita 

kebetulan sedang melewati koridor yang menuju ke sana, saya cuma 

dapat menangkap punggungnya begitu ia lewat." 

jayakatwang  mengangguk. "Ia ingin ke toilet, mungkin?" 

"Saya kira ya." 

"Dan Tuan melihatnya sewaktu ia kembali?" 

"Tidak, baiklah, sebab Tuan menanyakannya sekarang, saya jadi 

ingat saya tak melihat kembalinya dia, tapi biar bagaimanapun dia 

mesti kembali lewat jalan yang sama." 

"Satu pertanyaan lagi. Tuan mengisap pipa, Tuan WISNU WARDANA ?" 

"Tidak, Tuan." 

jayakatwang  berhenti sebentar. "Saya rasa cukup dulu buat sekarang ini. 

Sekarang saya ingin memeriksa pelayan pria Tuan CHUCKY. 

Ngomong-ngomong, apakah kalian selalu tidur di gerbong kelas dua, 

kalau bepergian?" 

"Dia selalu begitu. Tapi biasanya saya tidur di gerbong yang sama 

dengannya - kalau mungkin di kamar yang berdekatan dengan 

kamarnya. sebab itu biasanya ia suka meletakkan barang-barangnya 

di kamar saya dan dapat mengambilnya dari kedua kamar itu, baik 

dari kamarnya maupun kamar saya. Kadang kala disuruhnya saya 

mengambilkan keperluannya kapan saja ia mau. Tapi dalam 

perjalanan kali ini kebetulan semua gerbong kelas satu sudah dipesan 

orang kecuali kamarnya itu." 

"Saya mengerti. Terima kasib, Tuan WISNU WARDANA ." 

 

3. KESAKSIAN PELAYAN PRIA TUAN CHUCKY 

 

Orang Amerika yang muda itu digantikan oleh orang Inggris 

berwajah pucat dan dingin seperti yang sudah diperhatikan jayakatwang  

sejak kemarin. Dia berdiri di situ dengan sopan. jayakatwang  memberi 

isyarat padanya supaya segera duduk. 

"Saya tahu, kau yaitu  pelayan Tuan CHUCKY."  

"Ya, Tuan." 

"Namamu?" 

"COUNT  DRACULA  MANSION." 

"Umur?" 

"Tiga puluh sembilan." 

"Alamat rumah?" 

"21 Friar Street, Derkenwell." 

"Sudah kaudengar majikanmu dibunuh orang?"  

"Ya, Tuan. Kejadian yang sangat mengejutkan."  

"Sekarang, dapatkah kau menerangkan pukul berapa terakhir 

kalinya kau melihat Tuan CHUCKY?" 

Pelayan itu mengingat-ingat. 

"Mestinya sekitar pukul sembilan, Tuan, tadi malam. Atau lewat 

sedikit." 

"Ceritakan pada saya dengan kata-katamu sendiri apa yang 

sebenarnya terjadi." 

"Saya masuk ke kamar Tuan CHUCKY, sebagaimana biasanya 

Tuan, dan melayani permintaannya." 

"Apa sebenarnya tugasmu?" 

"Melipat dan menggantungkan pakaiannya, Tuan, lalu 

mencemplungkan gigi palsunya di dalam gelas yang diisi air dan 

memeriksa kalau-kalau masih ada yang diperlukannya untuk malam 

itu." 

"Apa tingkah lakunya sama seperti biasa?" 

Pelayan itu menimbang-nimbang untuk beberapa saat. 

"Begitulah, Tuan, saya rasa ia agak sedikit bingung." 

"Bingung - dalam hal apa?" 

"Bingung sebab sebuah surat yang telah dibacanya. Ia bertanya 

pada saya, apakah saya yang meletakkan surat itu di kamarnya. 

Tentu saja saya katakan padanya saya tak pernah berbuat begitu, 

tapi ia memaki-maki saya dan semua yang saya kerjakan selalu 

dicelanya." 

"Apa itu tidak biasa?" 

"Oh, tidak, Tuan. Ia memang gampang marah seperti yang saya 

katakan, itu cuma tergantung dari apa yang membingungkannya saat 

itu." 

"Apa majikanmu pernah minum obat tidur?" 

Dr. HAUNTED kelihatan memajukan tubuhnya ke muka sedikit. 

"Kalau bepergian dengan kereta api, memang selalu begitu, Tuan. 

Katanya kalau tidak, ia tak bisa tidur." 

"Kau tahu obat bius jenis apa yang biasa diminumnya?" 

"Saya tak bisa mengatakannya, tak bisa memastikan yang mana. 

Tidak ada namanya di botol itu - cuma  ‘obat tidur ini cuma boleh 

diminum sebelum tidur.’” 

"Apa malam kemarin ia juga meminumnya?" 

"Ya, Tuan. Saya yang menuangkannya ke gelas dan langsung 

meletakkannya di meja toilet siap untuk diminum." 

"Tapi kau tidak melihat ia meminumnya9" 

"Tidak, Tuan." 

"Apa yang teriadi sesudah itu?" 

"Saya tanyakan padanya, apakah dia masih memerlukan yang lain, 

dan juga saya tanyakan pukul berapa besok ia ingin dibangunkan. Ia 

bilang ia tak ingin diganggu sampai ia membunyikan bel." 

"Apakah itu biasa?", 

"Biasa, Tuan. Kalau ia sudah ingin bangun, biasanya ia 

membunyikan bel untuk memanggil LETKOL dan kemudian 

menyuruhnya memanggil sava." 

"Biasanya ia bangun cepat atau lambat?" 

"Itu tergantung pada keinginannya, Tuan. Kadang-kadang ia 

bangun buat makan pagi. Tapi kadang-kadang ia tak mau bangun 

sampai makan siang." 

"Jadi kau tak akan dibel kalau hari sudah pagi dan masih belum 

juga ada panggilan." 

"Tidak, Tuan." 

"Kau tahu majikanmu punya banyak musuh?" 

"Ya, Tuan." Pelayan itu menjawab tanpa emosi. 

"Bagaimana kau tahu?" 

"Saya mendengarnya sewaktu ia membicarakan beberapa helai 

surat-surat yang masuk dengan Tuan WISNU WARDANA ." 

"Apa kau sayang pada majikanmu, MANSION?" 

Saat itu wajah MANSION bahkan kelihatan lebih dingin lagi dari 

semula. 

"Saya harus mengakui itu, Tuan. Ia majikan yang pemurah. 

"Tapi sebenarnya kau tidak senang padanya?" 

"Apa perlu dicatat, saya ini sebenarnya tak begitu peduli pada 

orang Amerika, Tuan?" 

"Kau pemah ke Amerika" 

"Belum, Tuan." 

"Kau masih ingat tentang peristiwa penculikan Daisy gairah  

itu?" 

Pipinya memerah sedikit. 

"Ya, tentu saja, Tuan. Seorang gadis cilik, bukan? Peristiwa yang 

cukup menggemparkan." 

"Apa kau tahu, majikanmu si CHUCKY itu yaitu  otak peristiwa 

penculikan yang keji itu?" 

"Benar-benar tidak tahu, Tuan." Nada suara pelayan itu 

kedengaran mulai menghangat dan berperasaan untuk pertama kali. 

"Saya hampir-hampir tak percaya bahwa ia yaitu  otak penculikan 

itu."  

"Biar bagaimana juga, memang kenyataannya begitu. Sekarang, 

mengenai tingkah lakumu tadi malam. Biasa, ini cuma pemeriksaan 

rutin, kau mengerti. Apa yang kauperbuat setelah meninggalkan 

kamar majikanmu?" 

"Saya memberitahukan Tuan WISNU WARDANA , Tuan, bahwa majikannya 

memanggilnya. Lalu saya pergi ke kamar saya sendiri dan membaca." 

"Kamarmu yang - " 

"Di ujung gerbong kelas dua, Tuan. Persis di sebelah gerbong 

restorasi." 

jayakatwang  memeriksa denahnya sejenak. 

"Oh di situ - dan tempat tidurmu yang mana?"  

"Yang lebih bawah, Tuan." 

"No. 4?" 

"Ya, Tuan." 

"Ada orang lain di situ?” 

"Ya, Tuan. Orang Italia yang tinggi besar itu."  

"Dia bisa bahasa Inggris?" 

"Begitulah, sejenis bahasa Inggris, Tuan." Nada suaranya seperti 

orang yang sedang mencela. "Rasanya ia sudah pernah ke Amerika - 

saya kira Chicago.” 

"Apa kau dan dia suka ngobrol banyak? 

"Tidak, Tuan. Saya lebih suka membaca." 

jayakatwang  tersenyum. Ia bisa membayangkan suasana di kamar 

pelayan itu - di satu pihak ada orang Italia yang suka omong, dan di 

pihak lain ada penghuni berwajah dingin dan suka mencela yang 

menganggap diri lebih tinggi dari penghuni lainnya. 

"Kalau saya boleh tahu, apa yang kaubaca itu?" tanya jayakatwang  ingin 

tahu. 

"Sekarang ini, Tuan, saya sedang membaca Love's Captive karya 

Nyonya Arabella Richardson." 

"Ceritanya menarik?" 

"Kalau menurut saya, ceritanya enak, Tuan." 

"Baiklah, mari kita lanjutkan. Kau kembali ke kamarmu dan 

membaca Love's Captive - sampai kapan?" 

"Sampai sekitar pukul setengah sebelas, Tuan, waktu orang Itali 

itu sudah mau pergi tidur. Jadi LETKOL datang dan menyiapkan 

tempat tidur untuknya." 

"Lalu kau sendiri naik ke tempat tidur dan tertidur?" 

"Memang saya naik ke tempat tidur, Tuan, tapi saya tidak tidur." 

"Kenapa kau tidak tidur?" 

"Saya sakit gigi, Tuan." 

"Oh, la - la - mungkin sakit, ya." 

"Sakit sekali, Tuan." 

"Lalu apa yang kauperbuat untuk menghilangkan rasa sakit itu?" 

"Saya gosok-gosokkan dengan minyak cengkeh, Tuan, yang 

ternyata bisa meredakan rasa sakit sedikit, tapi saya masih juga 

belum bisa tidur. Lalu saya nyalakan lampu di atas kepala saya dan 

meneruskan membaca - supaya saya bisa melupakan rasa sakit itu." 

"Dan kau tidak tidur sama sekali?" 

"Ya, Tuan. Saya baru bisa tidur pukul empat pagi.” 

“Dan teman sekamarmu ?" 

"Orang Itali itu? Oh, dia sudah mendengkur sejak setengah 

sebelas itu." 

"Ia sama sekali tak meninggalkan kamar sepanjang malam itu?" 

"Tidak, Tuan." 

"Dan kau juga tidak?" 

"Tidak, Tuan." 

"Kaudengar apa-apa sepanjang malam itu?" 

"Saya rasa, tidak, Tuan. Tak ada yang aneh, maksud saya. Kereta 

yang berhenti menyebabkan suasana di sekitarnya sangat sunyi." 

jayakatwang  terdiam satu dua menit. Lalu ia mulai berbicara lagi. 

"Nah, saya rasa ada sedikit lagi yang harus ditanyakan. Kau tak 

dapat menerangkan sesuatu yang berhubungan dengan pembunuhan 

majikanmu itu?" 

"Saya rasa tidak, Tuan." 

"Sepanjang pengetahuanmu, apakah ada pertengkaran antara 

majikanmu dan Tuan WISNU WARDANA ?" 

"Oh! tidak, Tuan. Tuan WISNU WARDANA  orangnya sangat 

menyenangkan." 

"Di mana kau bekerja sebelum kau bekerja pada Tuan CHUCKY?" 

"Pada Sir DRACULA  Tomlinson, Tuan, di Grosvernor Square." 

"Kenapa kau tidak bekerja di situ lagi?" 

"Ia pindah ke Afrika Timur, Tuan, dan tidak membutuhkan saya 

lagi. Tapi saya yakin, dia pasti memberi keterangan tentang diri saya, 

jika memang diperlukan. Saya bekerja padanya selama bertahun-

tahun." 

"Dan berapa lama kau bekerja pada Tuan CHUCKY?" 

"Baru sembilan bulan, Tuan." 

"Terima kasih, MANSION. Ngomong-ngomong, kau mengisap 

pipa?" 

"Tidak, Tuan. Saya cuma merokok sigaret saja." 

"Terima kasih, cukup sekian dulu." 

jayakatwang  mengangguk, seolah tak lagi membutuhkan kehadirannya 

lagi di situ. 

Pelayan pria itu nampak ragu-ragu sejenak. 

"Maaf, Tuan. Kelihatannya wanita Amerika setengah umur itu agak 

kurang waras pikirannya. Katanya ia tahu semua tentang 

pembunuhnya. Ia sangat terpengaruh, Tuan." 

"Kalau memang begitu soalnya," sahut jayakatwang  tersenyum, 

“sebaiknya kita periksa dia berikutnya?" 

"Perlu saya panggil Tuan? Ia sudah ingin sekali bertemu dengan 

orang yang berhak mengetahuinya sejak lama. LETKOL sudah 

mencoba untuk menenangkannya." 

"Coba suruh saja dia ke mari, Kawan," ujar jayakatwang . "Kita ingin 

mendengarkan ceritanya sekarang.” 

 

4. KESAKSIAN WANITA AMERIKA 

 

Nyonya Hubbard tiba di gerbong restorasi dengan napas 

tersengal-sengal dan seperti orang yang ketakutan hingga ia hampir-

hampir tak dapat mengucapkan apa yang ingin diucapkannya. 

"Sekarang coba katakan pada saya - siapa orang yang berwenang 

di sini? Saya punya keterangan penting, sangat penting, dan saya 

ingin mengatakannya kepada pihak yang berwajib secepat mungkin. 

Kalau Tuan-tuan di sini -" 

Dipandangnya ketiga pria di hadapannya berganti-ganti. jayakatwang  

memajukan badannya ke muka: 

"Katakanlah pada saya, Nyonya," ujarnya. "Tapi lebih baik 

duduklah dulu." 

Nyonya Hubbard langsung menghenyakkan diri di kursi, yang 

berhadapan dengan kursi yang diduduki detektif Belgia itu. 

"Yang harus saya katakan pada Tuan yaitu  ini. Kemarin malam 

terjadi pembunuhan keji di kereta ini, dan pembunuhnya justru ada 

di kamar saya.” 

Ia berhenti berbicara untuk membangkitkan kesan dramatis pada 

kata-kata yang baru diucapkannya. 

"Nyonya yakin akan hal ini?" 

"Tentu saja saya, yakinl Bayangkan! Saya tahu apa yang saya 

katakan. Saya akan mengatakan semuanya yang dapat saya katakan. 

Waktu itu saya baru saja naik ke tempat tidur dan langsung tidur, 

tapi tiba-tiba saya terbangun - semuanya gelap tapi saya bisa 

merasakan ada orang di kamar saya. Begitu takutnya saya, sampai 

saya tak bisa menjerit, kalau saja Tuan tahu apa yang saya 

maksudkan. Saya cuma bisa berbaring saja di tempat tidur dengan 

badan yang lemas, sambil,berpikir-pikir, 'Mati aku, aku mau dibunuh!' 

Sayangnya saya tak bisa menceritakan kepada Tuan, bagaimana 

perasaan saya waktu itu. Yang ada di pikiran saya cuma kereta 

jahanam ini dan perampok-perampok di kereta yang saya sering baca 

itu. Dan saya pikir lagi, 'Biar bagaimanapun, pokoknya dia tak akan 

bisa merampok perhiasan-perhiasanku itu' - sebab, Tuan tahu sendiri, 

saya menyembunyikan perhiasan-perhiasan saya di dalam kaus kaki 

yang saya selipkan di bawah bantal kepala saya - yang memang tak 

begitu enak untuk dibawa tidur; biar bagaimanapun rasanya seperti 

ada yang mengganjal di bawah kepala, kalau saja Tuan tahu apa 

yang saya maksud. Tapi waktu saya meraba-raba, di sana-sini, 

perhiasan saya sudah tak ada. Kalau begitu saya tidur di mana waktu 

itu?" 

"Apa Nyonya sadari apa yang Nyonya katakan tadi, yaitu ada 

orang di kamar Nyonya?" 

"Ya, tentu saja, saya terbaring dengan mata terpejam, dan 

berpikir-pikir apa yang harus saya lakukan. Dan saya bersyukur 

bahwa anak perempuan saya tak mengetahui betapa bahayanya 

keadaan saya waktu itu. Untunglah, kemudian, entah bagaimana, 

saya dapat akal, saya meraba-raba dengan tangan dan langsung 

memijit bel untuk memanggil LETKOL. Saya memijit dan memijit 

lagi, tapi tak ada jawaban - dan waktu itu rasanya jantung saya 

sudah mau berhenti berdenyut. 'Ampun,' kata saya pada diri sendiri, 

'mungkin mereka sudah membunuh semua penumpang di kereta ini.' 

Saat itu memang saya tak mendengar suara kereta dan suasana pun 

jadi sunyi sekali bagai di kuburan. Tapi saya terus juga memijit-mijit 

bel itu dan, oh! Alangkah leganya hati saya begitu saya dengar 

langkah-langkah kaki yang berlari tergopoh-gopoh dan kemudian 

pintu kamar saya diketuk! 'Masuk,' saya langsung berteriak, dan saya 

segera menyalakan lampu saat itu juga. Dan Tuan boleh percaya 

boleh tidak, tapi tak ada satu makhluk pun di situ!" 

Bagi Nyonya Hubbard kelihatannya akhir cerita itu lebih 

merupakan puncak ketegangan daripada puncak kelegaan. 

"Dan kemudian, apa yang terjadi, Nyonya?" 

"Begitulah, saya terangkan pada LETKOL itu apa yang terjadi 

dan kelihatannya ia tak percaya pada cerita saya. Kelihatannya ia 

mengira saya bermimpi. Lalu saya menyuruhnya melihat sendiri ke 

bawah kursi, meski ia berkata tak mungkin ada orang bisa masuk ke 

tempat sekecil itu. Jadi jelaslah bahwa orang yang saya maksud itu 

rupanya sudah pergi, meski tadi ia benar-benar ada, dan saya malah 

jadi bertambah ketakutan sewaktu si LETKOL berusaha 

menenangkan saya! Saya bukannya orang yang - suka 

membayangkan hal yang tidak-tidak, Tuan… e… rasanya saya belum 

tahu nama Tuan?" 

"jayakatwang , Nyonya; dan ini Tuan BOUROQ, direktur perusahaan kereta 

api ini dan yang satu ini Dr. HAUNTED." 

Nyonya Hubbard menggerutu, "Senang sekali bisa berkenalan 

dengan Tuan-tuan sekalian," ia berkata begitu sambil berpura-pura 

membungkukkan badan seolah acara perkenalan sedang berlangsung 

dengan resmi, kemudian ia kembali membenamkan diri dalam cerita 

yang dituturkannya itu. 

"Saya sama sekali tak mau berpura-pura bahwa saya ini 

sebenarnya cerdas. Saya baru teringat bahwa yang tinggal di kamar 

sebelah itu - yaitu  pria yang saya benci itu dan rupanya dialah yang 

terbunuh. Saya memerintahkan LETKOL untuk memeriksa pintu 

penghubung kamar, sebab saya yakin betul pintu itu belum 

terpalang. Benar saja dugaan saya. sebab itu lekas-lekas saya 

menyuruh LETKOL untuk memalangkannya dan setelah dia keluar 

kamar, saya menyandarkan koper saya dekat pintu yang sudah 

terpalang itu untuk memastikan.” 

"Pukul berapa waktu itu, Nyonya Hubbard?" 

"Wah, saya tak bisa mengatakan. Saya tak pernah melihat jam. 

Saya terlalu bingung." 

"Jadi apa pendapat Nyonya sekarang?" 

"Begitulah, sama seperti kenyataannya. Laki-laki yang ada di 

kamar saya itu pasti seorang pembunuh. Kalau tidak, apa lagi?" 

"Dan Nyonya pikir ia kembali lagi ke kamar sebelah?" 

"Mana saya tahu ia pergi ke mana? Mata saya tertutup rapat." 

"Jangan-jangan ia menyelinap lewat pintu yang menuju koridor." 

"Wah itu saya tak dapat memastikan. Tuan tahu sendiri selama itu 

mata saya terpejam terus." 

Nyonya Hubbard mengeluh keras. 

"Ampun ngerinya! Seumpamanya anak perempuan saya tahu -" 

"Apa Nyonya tak mengira bahwa suara yang Nyonya dengar itu 

yaitu  suara yang berasal dari kamar sebelah?" 

"Tidak, saya tidak mengira begitu, Tuan - apa tadi? jayakatwang . 

Pembunuh itu ada di situ di kamar saya. Lagipula saya tidak bohong - 

saya punya bukti-buktinya." 

Lalu dengan perasaan menang, diperlihatkannya sebuah tas 

tangan wanita yang berukuran besar dan mulai meraba-raba apa 

yang ada di dalamnya. 

Kemudian dikeluarkannya dua helai sapu tangan bersih, sepasang 

kaca mata yang bingkainya terbuat dari tanduk hewan, sebotol 

aspirin, sebungkus Glauber's Salt, satu tube permen, serenceng 

kunci, sepasang gunting, satu buku cek American Express, sehelai 

foto anak kecil yang berwajah pucat, beberapa helai surat, lima untai 

manik-manik Oriental tiruan, dan sebuah benda kecil dari logam - 

sebuah kancing. 

"Tuan lihat kancing ini? Ya, itu bukannya salah satu kancing saya. 

Bukan berasal dari baju-baju saya. Saya baru saja menemukannya 

pagi ini begitu bangun tidur." 

Sewaktu Nyonya Amerika itu meletakkannya di meja di 

hadapannya, Tuan BOUROQ memajukan badannya ke muka dan berseru 

kaget, "Tapi ini kan kancing baju seragam pelayan restorasi!" 

"Tapi ini bisa diterangkan dengan akal sehat," sahut jayakatwang . 

Lalu ia berpaling kepada wanita Amerika itu dengan senyum 

ramah yang menempel di bibirnya. 

"Kancing ini bisa saja lepas dari pakaian seragam LETKOL, entah 

sewaktu ia mencari kamar Nyonya, entah sewaktu ia menyiapkan 

tempat tidur kemarin malam." 

"Sebenamya saya tak habis mengerti apa yang terjadi dengan 

Tuan-tuan sekalian. Kelihatannya Tuan-tuan ini tak menginginkan 

apa-apa selainnya membantah saya saja. Sekarang dengarkan ke 

mari. Kemarin malam saya membaca majalah dulu sebelum tidur. 

Dan sebelumnya saya mematikan lampu, saya letakkan majalah itu di 

dalam sebuah koper kecil di lantai dekat jendella. Tuan mengerti itu?" 

Mereka ramai-ramai meyakinkan Nyonya Hubbard bahwa mereka 

memahami ceritanya. 

"Baiklah kalau begitu. Perlu Tuan-tuan ketahui bahwa si LETKOL 

melihaft ke bawah kursi saya dari ambang pintu, lalu ia masuk ke 

kamar saya dan memalang pintu penghubung yang ke kamar 

sebelah, tapi ia tak pernah ke pinggir jendela. Begitulah, pagi ini 

kancing itu saya temukan persis dl atas majalah yang saya baca tadi 

malam dan yang saya letakkan di atas koper kecil itu. Kalau begini, 

saya ingin tahu, apa namanya ini, menurut Tuan?"  

"Itu saya sebut kesaksian, Nyonya," sahut jayakatwang . 

Jawabannya seakan-akan meredakan ketegangan Nyonya 

Hubbard dalam bercerita itu, dan berhasil menenangkan hatinya. 

"Rasanya saya bisa lebih gila dari ular yang sedang menyerang 

kalau keterangan saya tidak dipercaya," ujarnya menegaskan. 

"Memang Nyonya telah memberikan kami kesaksian yang sangat 

menarik dan berharga," ujar jayakatwang  berusaha menenangkan Nyonya 

Hubbard yang nampaknya tegang itu. "Dan sekarang, apakah saya 

boleh menanyakan beberapa pertanyaan kepada Nyonya?" 

"Tentu saja." 

"Kenapa kalau Nyonya memang benar-benar ngeri pada orang 

yang bernama CHUCKY itu. Nyonya tidak memalang pintu 

penghubung antara kamarnya dan kamar Nyonya sendiri?" 

"Saya sudah memalangnya," sahut Nyonya Hubbard dengan 

segera. 

"Oh, Nyonya sudah memalangnya?" 

"Begitulah, sebenarnya saya sudah minta tolong kepada gadis 

Swedia itu untuk memeriksa apakah pintu penghubung saya sudah 

dipalang, dan katanya sudah." 

"Bagaimana bisa, Nyonya tidak memeriksanya sendiri?" 

"Sebab saya sudah di tempat tidur dan tas saya sudah tergantung 

pada pegangan pintunya.” 

"Pukul berapa waktu Nyonya minta tolong pada gadis Swedia itu?" 

"Tunggu dulu, saya mesti mengingat-ingat. Mestinya waktu itu 

sekitar pukul setengah sebelas atau pukul sebelas kurang 

seperempat. Ia datang ke kamar saya untuk menanyakan kalau-kalau 

saya masih punya aspirin. Saya beritahukan di mana tempatnya dan 

dikeluarkannya sebutir dari koperku." 

"Waktu itu Nyonya sendiri sedang di tempat tidur?" 

"Ya." 

Sekonyong-konyong wanita Amerika itu tertawa keras. "Kasihan - 

ia begitu bingung kelihatannya! Tuan tahu, dia keliru membuka pintu 

kamar sebelah." 

"Kamar Tuan CHUCKY?" 

"Ya, Tuan tahu sendirl memang sulit untuk menemukan kamar 

seseorang kalau begitu Tuan sampai di koridor kereta, semua pintu 

kamar penumpang sudah tertutup. Gadis Swedia itu malu sekali. 

Kedengarannya CHUCKY tertawa, dan rasanya saya bisa mendengar 

kata-katanya yang kurang sopan. Kasihan gadis itu, ia benar-benar 

kelihatan seperti orang yang kebingungan. 'Oh! Saya kesalahan,' 

katanya. 'Saya malu sekali telah berbuat kesalahan. Dia bukan laki-

laki yang sopan,' katanya lagi. 'Laki-laki itu bilang pada saya, Kau 

sudah terlalu tua."' 

Dokter HAUNTED tak dapat menahan perasaan gelinya. Ia 

tertawa berderai-derai, tapi tiba-tiba Nyonya Hubbard 

memandangnya dengan tajam. 

"Memang si CHUCKY itu bukan laki-laki yang sopan," ujarnya, 

"masa ia berkata begitu pada seorang wanita. Dan bukan pada 

tempatnya kita menertawakan hal seperti itu." 

Dr. HAUNTED cepat-cepat minta maaf. 

"Apa Nyonya dengar suara-suara lagi dari kamar Tuan CHUCKY 

sesudah itu?" tanya jayakatwang . 

"Yaah - kira-kira begitu." 

"Apa yang Nyonya maksudkan?" 

"Yaah -" ia berhenti sebentar. “Lelaki itu mendengkur." 

"Ah! - ia mendengkur, apa benar?" 

"Keras sekali. Malam sebelumnya suara dengkurannya sampai bisa 

membangunkan saya." 

"Nyonya tak mendengar dengkurnya lagi, setelah Nyonya dibuat 

hampir mati ketakutan oleh pria yang ada di kamar Nyonya itu?" 

"Kenapa begitu, Tuan jayakatwang , bagaimana saya bisa mendengar 

suaranya lagi? Ia sudah mati." 

"Ah, ya, betul," sahut jayakatwang  mengiyakan. Kelihatannya ia jadi 

bingung. 

"Nyonya masih ingat pada peristiwa penculikan Daisy gairah ? 

Nyonya Hubbard?" tanya jayakatwang  lagi. 

"Ya, masih. Dan enak betul pembunuhnya bisa lolos begitu saja 

tanpa dihukum! Setan, saya ingin sekali menamparnya." 

"Ia belum lolos. Ia sudah mati. Sudah mati tadi malam." 

"Tuan tidak main-main -?” Nyonya Hubbard kelihatan setengah 

berdiri dari kursinya sebab begitu terkejutnya mendengar berita itu. 

"Tentu saja. CHUCKY memang otak peristiwa penculikan itu." 

"Itulah! Bayangkan kalau kita bisa berpikir sampai ke situ! Saya 

mesti cepat-cepat menulis surat kepada anak perempuan saya. 

Sekarang, apakah saya tidak menceritakan tadi malam bahwa laki-

laki itu punya wajah iblis? Nah, apa, saya benarkan, Tuan lihat 

sendiri. Anak perempuan saya selalu bilang: 'Kalau Mama sudah 

menebak, kau boleh mempertaruhkan seluruh hartamu, pasti kena."' 

"Apakah Nyonya ada hubungan keluarga dengan keluarga 

gairah ?" 

"Tidak. Pergaulan mereka terbatas sekali, kebanyakan di antara 

kalangan atas saja. Tapi saya dengar Nyonya gairah  itu sangat 

cantik dan suaminya sangat memujanya." 

"'Nah, Nyonya Hubbard, Nyonya telah membantu kami banyak 

sekali - banyak sekali. Barangkali Nyonya tak keberatan untuk 

memberitahukan nama lengkap Nyonya kepada kami?" 

"Tentu saja, kenapa tidak. Caroline Martha Hubbard." 

"Maukah Nyonya menuliskan alamat Nyonya di kertas ini?" 

Nyonya Hubbard langsung mengerjakan permintaan itu, tanpa 

berhenti berbicara. "Saya cuma tak bisa mengatasi itu semua. 

Cassetti - ada di kereta ini. Dari semula memang saya sudah punya 

prasangka jelek pada orang itu, ya tidak, Tuan jayakatwang ?" 

"Ya, memang benar, Nyonya. Ngomong-ngomong, apa Nyonya 

punya gaun yang warnanya merah tua? Dari bahan sutera?” 

"Ampun! Lucu benar pertanyaannya! Tapi, saya tak punya gaun 

seperti itu. Gaun yang saya bawa cuma dua - baju flanel merah muda 

yang cocok sekali untuk dipakai di kapal nanti, dan satunya lagi gaun 

yang dihadiahkan oleh anak perempuan dari bahan yang tak begitu 

mahal - bukan katun halus dari Paris seperti itu. Tapi apa guna sapu 

tangan semahal itu kalau akhirnya dipakai untuk menyapu hidung?" 

Nampaknya tak seorang pun dari ketiga laki-laki di hadapannya 

bisa menjawab pertanyaan Nyonya Hubbard dengan tepat dan 

sehabis berkata begitu nyonya itu melangkah ke luar dengan penuh 

kemenangan. 

 

5. KESAKSIAN GADIS SWEDIA 

 

Tuan BOUROQ sedang memegangi kancing yang tadi diletakkan 

Nyonya Hubbard di alas meja. 

"Coba lihat kancing ini, saya tak habis pikir. Apakah ini juga berarti 

dalam satu dan lain hal Pierre TENDEAN terlibat dalam pernbunuhan 

itu?" 

Untuk sesaat ia berhenti berbicara, lalu melanjutkan lagi sewaktu 

jayakatwang  tidak juga menjawab, "Apa pendapatmu, Kawan?" 

"Kancing itu menimbulkan beberapa kemungkinan," sahut jayakatwang  

sambil berpikir-pikir. "Mari kita periksa gadis Swedia itu sebelum kita 

membahas kesaksian-kesaksian yang sudah kita dengar." 

Diambilnya salah satu paspor yang menumpuk di hadapannya. 

"Ah! Ini dia, MADAM  MENEER, umur empat puluh sembilan tahun." 

Tuan BOUROQ segera memberi perintah pada salah seorang pelayan 

restorasi, dan saat itu juga muncullah seorang wanita yang 

bersanggul kuning dan memiliki wajah yang panjang dan menyerupai 

domba. Ia sempat melirik jayakatwang  dari balik kaca matanya, tapi tingkah 

lakunya sangat tenang. 

Ternyata wanita Swedia itu mengerti dan dapat berbahasa 

Perancis dengan baik, dan sebab itu pemeriksaan dilakukan dalam 

bahasa yang bersangkutan. jayakatwang  pertama-tama menanyakan 

pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri sudah mengetahui 

jawabannya - yakni nama lengkap wanita Swedia itu, umurnya, dan 

alamatnya. Lalu ia menanyakan pekerjaannya sekarang. 

Wanita Swedia itu menerangkan bahwa ia menjabat sebagai ibu 

asrama sebuah sekolah. misionaris di dekat Istambul. Ia juga 

perawat yang sudah berpengalaman. 

"Saya rasa Nona sudah tahu apa yang terjadi tentunya, 

Mademolselle? " 

"Tentu saja. Mengerikan sekali. Dan Nyonya, Amerika itu 

memberitahu saya bahwa pembunuhnya ada di kamarnya." 

"Saya dengar Nonalah satu-satunya orang terakhir yang melihat si 

korban dalam keadaan hidup, ya tidak?" 

"Saya tak tahu. Boleh jadi begitu. Saya keliru membuka pintu 

kamarnya waktu itu. Saya malu sekali. Itu suatu kesalahan yang 

amat memalukan. " 

"Jadi Nona benar-benar melihatnya'?" 

"Ya. Ia sedang membaca buku. Lalu saya cepat-cepat minta maaf 

dan menghilang." 

"Apakah dia mengatakan sesuatu pada Nona?" 

Pipi wanita itu tampak memerah sebentar. 

"Ia tertawa dan mengucapkan beberapa patah kata. Saya - saya 

tak bisa menangkapnya dengan jelas." 

"Dan apa yang Nona lakukan sesudah itu, Mademoiselle?" tanya 

jayakatwang  mengalihkan pernbicaraan dengan hati-hati. 

"Saya masuk ke kamar nyonya Amerika itu, Nyonva Hubbard. Saya 

minta aspirin kepadanya dan dia memberikannya." 

“Apakah dia juga minta kepada Nona untuk memeriksa apakah 

pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Tuan CHUCKY sudah 

dipalang?" 

“Ya.” 

"Memangnya sudah dipalang?" 

'Ya. 

"Dan sesudah itu?"' 

"Dan sesudah itu saya kembali ke kamar saya, meneguk aspirin itu 

dan merebahkan diri di tempat tidur." 

"Pukul berapa waktu itu?" 

"Sewaktu saya sudah merebahkan diri, rasanya sudah pukul 

sebelas kurang lima menit. Saya tahu itu, sebab saya melihatnya 

sebelum memutarnya." 

"Apakah Nona bisa langsung tidur?" 

"Tak bisa langsung. Kepala saya rasanya sudah agak berkurang 

sakitnya, tapi saya masih terjaga." 

"Apakah kereta sudah berhenti sebelum Nona tertidur?" 

"Saya rasa tidak. Saya kira kita berhenti di stasiun itu, persis 

waktu saya mulai mengantuk." 

"Kalau begitu stasiun itu mestilah stasiun Vincovci. Sekarang, 

kamar Nona, apakah yang ini?" jayakatwang  menunjuk pada denahnya. 

"Ya, itu dia." 

"Tempat tidur Nona di atas atau di bawah?" 

"Di bawah, no. 10." 

"Dan Nona punya teman sekamar?" 

"Ya, gadis Inggris yang masih muda. Sangat menyenangkan, 

sangat ramah. Ia sudah ada di kereta sejak dari Bagdad." 

"Sesudah kereta meninggalkan Vincovci, apakah dia juga 

meninggalkan kamar?" 

"Tidak, saya yakin tidak." 

"Kenapa Nona begitu yakin, padahal saat itu Nona sudah tidur dan 

tak tahu apa-apa lagi?" 

"Saya tidur tak pernah bisa benar-benar lelap seperti orang lain. 

Biasanya kalau ada suara sedikit saja, saya selalu terbangun kaget. 

Saya yakin kalau gadis Inggris itu turun dari tempat tidurnya di atas, 

saya pasti terbangun." 

"Apakah Nona sendiri juga meninggalkan kamar?" 

"Tidak, sampai paginya lagi." 

"Nona punya kimono merah tua?" 

"Tidak. Saya cuma punya daster yang enak dipakai, terbuat dari 

bahan Jaeger." 

"Bagaimana dengan gadis Inggris teman sekamar Nona itu? Apa 

warna dasternya?" 

"Warnanya lembayung yang muda sekali, seperti yang orang bisa 

beli di Timur." 

jayakatwang  mengangguk. Lalu ia bertanya dengan nada ramah, 

"Kenapa Nona bepergian dengan kereta ini? Sedang liburan?" 

“Ya, saya mau pulang ke rumah untuk berlibur. Tapi saya singgah 

dulu di Lausanne di rumah kakak saya dan tinggal di sana selama 

satu dua minggu."  

"Barangkali Nona tak keberatan kalau saya minta alamat kakak 

Nona? Bisa tolong tuliskan di sini?” 

"Dengan senang hati." 

Diambilnya kertas dan pinsil yang disodorkan jayakatwang  kepadanya 

dan langsung menuliskan nama dan alamat kakak perempuannya 

seperti yang diminta. 

"Nona pernah ke Amerika?" 

"Belum. Dulu, saya hampir ke sana. Sebenarnya saya mau 

mendampingi seorang wanita cacad, tapi pada saat-saat mau 

berangkat, rencananya dibatalkan. Saya sangat menyesalkan 

kejadian itu. Orang-orang Amerika baik-baik. Mereka tak segan-segan 

menyumbangkan uang buat mendirikan sekolah atau rumah sakit. 

Dan kecuali itu mereka juga sangat praktis." 

"Nona masih ingat pada peristiwa penculikan Daisy gairah  

itu?" 

"Tidak. Apa itu?" 

jayakatwang  menerangkan. 

MADAM  MENEER tampak marah. Rambutnya yang tipis dan kuning 

seperti bulu jagung itu tampak ikut bergetar dengan emosinya. 

"Apa di dunia ini ada orang yang begitu jahat? Orang mesti tabah 

kalau bertemu dengan orang macam begini. Kasihan ibunya itu - 

saya bisa memahami." 

Lalu gadis Swedia yang berhati lembut itu pun pergi, dengan 

wajah yang merah padam, dan mata yang kabur oleh air mata. 

jayakatwang  sibuk menulis di atas kertas. 

"Apa yang kautulis di situ, Kawan," tanya Tuan BOUROQ. 

"Mon cher, sudah jadi kebiasaanku untuk selalu rapi dan teliti. Aku 

sedang mencatat daftar kronologis dari kejadian-kejadian yang 

berhubungan dengan peristiwa pembunuhan itu." 

Selesai menulis, jayakatwang  menyodorkan kertas itu kepada Tuan BOUROQ. 

 

9.15 Kereta meninggalkan Belgrado  

sekitar 9.40  Pelayan meninggalkan CHUCKY dengan obat 

tidur di sampingnya. Obat tidur itu dilarutkan ke dalam gelas yang 

berisi air. 

sekitar 10.00  WISNU WARDANA  meninggalkan CHUCKY. 

sekitar 10.40  MADAM  MENEER melihat CHUCKY (terakhir 

semasih hidup). N.B. Ia duduk di tempat tidur sambil membaca buku. 

0.10  Kereta meninggalkan Vincovci (terlambat) 

0.30  Kereta tertahan salju. 

0.37  Bel CHUCKY berbunyi. LETKOL menjawabnya. 

CHUCKY berkata: "Ce West rien. Je me suis trompe." 

sekitar 0.17  Nyonya Hubbard mengira ada pria di 

kamarnya. Memijit bel untuk memanggil LETKOL. 

 

Tuan BOUROQ mengangguk tanda setuju. 

"Jelas sekali," ujarnya. 

"Menurut pendapatmu tak ada yang ganjil sedikit pun?" 

"Tidak, kelihatannya semuanya sudah jelas dan bisa masuk akal. 

Jadi kelihatannya jelas sekali pembunuhan dilakukan pukul 1.15. Kita 

bisa lihat dari urutan waktu-waktu sebelum terjadi pembunuhan, 

lagipula cerita Nyonya Hubbard memang cocok. Rasanya aku sudah 

bisa menduga identitas pembunuhnya sekarang. Aku bilang, 

pembunuhnya yaitu  orang Italia yang tinggi besar itu. Dia datang 

dari Amerika - dari Chicago - dan ingat, senjata orang Italia itu 

biasanya pisau, dan ia tidak menikam satu kali saja, tapi sampai 

berkali-kali." 

"Benar." 

"Tak salah lagi, itulah pemecahan dari misteri ini. Pastilah orang 

Itali dan si CHUCKY itu berada dalam satu komplotan sewaktu 

menculik Daisy gairah . Cassetti yaitu  nama Italia. Dalam satu 

dan lain hal Cassetti berhasil menipunya dengan jalan melarikan diri 

bersama hasil yang didapat dari pemerasan MPU  gairah  itu. 

Orang Italia itu mencari jejaknya, dengan mengirimkan suratsurat 

ancaman dulu, dan akhirnya berhasil membalas dendamnya dengan 

cara yang kejam dan tidak terpuji. Itu semuanya sebenarnya sangat 

sederhana." 

jayakatwang  menggeleng, hatinya masih ragu, tak begitu yakin akan 

pendapat temannya. 

"Saya khawatir soalnya tidak sesederhana itu," gumamnya lagi. 

"Kalau saya, saya yakin itulah soal yang sebenarnya," ujar Tuan 

BOUROQ, semakin bernafsu atas teorinya. 

"Dan bagaimana dengan pelayan yang sakit gigi itu yang bahkan 

berani bersumpah bahwa si Italia itu tak pernah meninggalkan 

kamar?" 

"Justru di situlah letak kesulitannya." 

Mata jayakatwang  bersinar. 

"Ya, itulah yang mengganggu. Tampaknya teorimu tak cukup 

beralasan, dan orang Italia itu beruntung sebab pelayan CHUCKY 

kebetulan sakit gigi."  

"Tapi ini bisa diterangkan," sahut Tuan BOUROQ lagi dengan 

keyakinan yang dalam. 

jayakatwang  kembali menggeleng. 

"Tidak, tidak sesederhana itu persoalannya," gumamnya untuk 

kedua kali. 

 

6. KESAKSIAN PUTERI RUSIA 

 

"Mari kita dengar apa pendapat Pierre TENDEAN mengenai kancing 

ini," ujar Tuan BOUROQ. 

LETKOL kereta segera dipanggil. Ia memandang penuh tanda 

tanya kepada ketiga orang pria di depannya. 

Tuan BOUROQ menjernihkan tenggorokannya. 

"TENDEAN," ujarnya, "ini ada kancing dari seragammu. Ditemukan 

dalam kamar Nyonya Amerika itu. Apa hubungannya dengan kau?" 

LETKOL itu meraba-raba seragamnya tanpa sadar. 

"Saya tak kehilangan kancing, Tuan," ujarnya membela diri. 

"Keliru barangkali." 

"Kedengarannya tak masuk akal." 

"Saya tak berani menjamin itu, Tuan." LETKOL itu kelihatannya 

heran, tapi wajahnya tak membayangkan kebingungan atau perasaan 

bersalah. 

Lalu Tuan BOUROQ berkata dengan sungguh-sungguh, "Kalau melihat 

situasi di mana kancing ini ditemukan, kancing ini sudah jelas 

terjatuh dari baju laki-laki yang menjawab bel Nyonya Hubbard tadi 

malam." 

"Tapi, Tuan, tak ada orang di sana. Nyonya itu pasti mengkhayal 

yang tidak-tidak." 

"Ia tidak mengkhayal, TENDEAN. Pembunuh Tuan CHUCKY memang 

lewat di sana dan menjatuhkan kancing itu dengan sengaja." 

Sewaktu ia baru dapat memahami maksud pernyataan tuannya 

dengan jelas, Pierre TENDEAN jadi gelisah. 

"Itu tidak benar, Tuan; itu tidak benar!" teriaknya kalap; "Rupanya 

Tuan menuduh sayalah pembunuhnya. Saya tak bersalah. Saya 

benar-benar tak bersalah! Kenapa saya harus membunuh laki-laki 

yang belum pernah saya lihat sebelumnya?" 

"Di mana kau, waktu bel Nyonya Hubbard berbunyi?" 

“Saya sudah katakan, waktu itu saya sedang bercakap-cakap 

dengan teman saya di gerbong sebelah." 

"Coba kita panggil dia." 

"Panggil saja, Tuan, saya mohon dengan sangat, panggil saja." 

LETKOL gerbong sebelah langsung dipanggil. Dengan segera ia 

menguatkan pengakuan TENDEAN. Ia juga menambahkan bahwa 

LETKOL dari gerbong Bukares juga bersama-sama dengan dia. 

Ketiga-tiganya saat itu sedang asyik membicarakan situasi buruk 

yang diakibatkan oleh saIju keparat itu. Mereka baru saja berbicara 

kira-kiria sepuluh menit, sewaktu TENDEAN mengatakan kalau tidak 

salah ia mendengar orang memijit bel. Ketika ia membuka pintu-pintu 

yang menghubungkan dua gerbong kereta itu, mereka bertiga dapat 

mendengarnya dengan jelas - bel itu berbunyi tak henti-henti. TENDEAN 

kemudian berlari tergopoh-gopoh untuk menjawabnya. 

"Jadi, Tuan lihat sendiri, saya tak bersalah," teriak TENDEAN penuh 

semangat. 

"Dan kancing yang terlepas dari seragam LETKOL ini, 

bagaimana kau bisa menerangkannya?" 

"Saya tak bisa menerangkan, Tuan. Itu seperti misteri bagi saya. 

Semua kancing-kancing seragam saya masih lengkap, tak ada satu 

pun yang copot." 

Kedua LETKOL lainnya juga menjelaskan bahwa kancing-kancing 

pada baju seragam mereka tak ada satu pun yang terlepas dan 

mereka juga belum pernah memasuki kamar Nyonya Hubbard. 

"Tenang, TENDEAN," ujar Tuan BOUROQ membujuk, "dan coba kau- 

ingat-ingat lagi sewaktu kau berlari untuk menjawab bunyi bel 

Nyonya Hubbard tadi malam. Apa kau berpapasan dengan seseorang 

di koridor?" 

"Tidak, Monsieur. 

"Kaulihat ada orang yang sedang menjauh di koridor, dan sedang 

berjalan ke arah lain?" 

"Juga tidak, Monsieur." 

"Aneh," ujar Tuan BOUROQ lagi. 

"Tidak begitu aneh, " sahut jayakatwang . "Itu cuma soal waktu. Nyonya 

Hubbard merasa ada orang bersembunyi di kamarnya. Untuk satu 

atau dua menit ia berbaring seperti orang lumpuh di atas tempat 

tidurnya, dengan mata terpejam. Mungkin waktu itulah orang itu 

berhasil menyelinap ke luar dari kamar Nyonya Hubbard. Lalu wanita 

Amerika itu mulai memijit bel. Tapi LETKOL tidak segera datang. 

Baru pada ketiga atau keempat kali, ia bisa menjawab bunyi bel itu. 

Saya rasa sementara itu masih cukup waktu untuk -" 

"Untuk apa? Untuk apa, mon cher? Ingat, di sekeliling kereta, 

turun hujan salju yang tebal." 

"Ada dua kemungkinan yang dapat diambil oleh pembunuh kita 

yang misterius ini," ujar jayakatwang  lambat-lambat. "Ia bisa 

menyembunyikan diri di toilet atau bisa juga ke dalam salah satu 

kamar penumpang.” 

"Tapi kamar-kamar itu semuanya sudah ada orangnya." 

"Ya." 

"Maksudmu si pembunuh bisa menyembunyikan diri di dalam 

kamarnya sendiri?" 

jayakatwang  mengangguk. 

"Cocok - cocok," gumam Tuan BOUROQ. "Selama sepuluh men

it 
kosong, sementara menanti LETKOL datang, pembunuh itu keluar 
dari kamarnya sendiri, kemudian memasuki kamar CHUCKY, 
membunuhnya, mengunci pintu kamarnya dengan rantai dari dalam, 
keluar lagi melalui kamar Nyonya Hubbard dan telah kembali dengan 
selamat di kamarnya sendiri, begitu LETKOL datang." 
"Rasanya tak sesederhana itu, Kawan," gumam jayakatwang . "Kawan 
kita, Dokter HAUNTED akan menerangkannya untukmu." 
Saat itu Tuan BOUROQ memberi isyarat kepada ke tiga LETKOL 
kereta untuk meninggalkan ruangan. 
"Kita masih harus memeriksa delapan penumpang lagi," ujar 
jayakatwang . "Lima penumpang kelas satu - NYI  GIRAH , Count 
dan Countess Andrenyi, MPU  TANTULAR, dan Tuan BAALPEOR. 
Kemudian tiga penumpang kelas dua - Nona GRAVESm, HWANG  
JANG LEE, dan pelayan wanita NYI  GIRAH  - Nona Schmidt." 
"Siapa yang kau ingin periksa lebih dulu – orang Itali itu?" 
"Getol benar kau dengan orang Itali-mu itu! Tidak, kita akan mulai 
dengan urutan yang paling atas. Mungkin Madame la NYI e 
bersedia meluangkan waktunya sedikit untuk kita. Coba sampaikan 
berita ini padanya, TENDEAN." 
"Oui, Monsieur, " sahut LETKOL itu, seakan tidak sabar lagi 
menunggu di situ lama-lama dan sudah ingin beranjak dari tempat 
itu. 
"Katakan padanya kami bersedia memeriksanya di kamarnya kalau 
ia tidak bersedia datang ke sini," ujar Tuan BOUROQ memerintahkan. 
Tapi NYI  GIRAH  tak mau memenuhi tawaran Tuan BOUROQ. 
Ia datang sendiri ke gerbong restorasi, dengan kepala yang 
dimiringkan sedikit, lalu duduk di hadapan jayakatwang . 
Wajahnya yang mirip kodok itu malah kelihatan lebih kuning 
daripada sehari sebelumnya. Ia memang benar-benar jelek, dan 
meskipun wajahnya mirip kodok, ia masih mempunyai sepasang mata 
yang bagaikan permata, hitam dan anggun, mencerminkan energi 
yang mantap dan kesan intelektuil yang dapat dirasakan dalam 
sekejap. 
Suaranya dalam, lembut tapi terasa sangat meyakinkan. 
Ia cepat-cepat memotong pernyataan maaf Tuan BOUROQ yang 
terdengar berlebih-lebihan. 
"Tak usah meminta maaf, Tuan-tuan. Saya tahu ada pembunuhan 
di kereta ini. Tentu saja Tuan-tuan mesti mewawancarai semua 
penumpangnya. Saya akan senang sekali kalau dapat memberi 
bantuan kepada Tuan-tuan dengan sekuat kemampuan saya." 
"Nyonya baik sekali," sahut jayakatwang . 
"Tidak sama sekali. Sudah tugas saya. Apa yang Tuan ingin tahu?" 
"Nama permandian Nyonya selengkapnya. Barangkali Nyonya lebih 
suka menuliskannya sendiri?" 
jayakatwang  menyodorkan secarik kertas dan sebuah pinsil, tapi Puteri 
GIRAH  menampiknya. 
"Tuan bisa menuliskannya untuk saya," ujarnya. 
"Tak begitu susah. Nathalia GIRAH , 17 Avenue Kleber, Paris." 
"Nyonya mau pulang ke rumah? Dari Konstantinopel?" 
"Ya, saya sudah bermalam di Kedutaan Austria. Pelayan wanita 
saya juga ikut bersama saya." 
"Nyonya tak keberatan untuk menjelaskan apa saja yang Nyonya 
lakukan kemarin malam, sehabis bersantap?" 
"Dengan senang hati. Saya memerintahkan LETKOL untuk 
menyiapkan tempat tidur saya sewaktu saya masih di gerbong 
restorasi. Saya segera naik ke tempat tidur sehabis makan malam. 
Saya membaca sampai kira-kira pukul sebelas, dan sesudah itu 
mematikan lampu. Saya tak bisa tidur sebab reumatik saya kambuh 
lagi. Sekitar pukul satu kurang seperempat saya membunyikan bel, 
memanggil pelayan saya. Ia memijit badan saya dan membacakan 
saya cerita dari buku yang saya baca tadi dengan suara keras, terus 
sampai saya mengantuk. Saya tak dapat memastikan kapan ia 
meninggalkan kamar saya. Bisa setengah jam kemudian, bisa juga 
lebih lambat lagi." 
"Apa waktu itu kereta sudah tak jalan?" 
"Sudah tak jalan." 
"Selama itu Nyonya tak mendengar apa-apa? Suara yang aneh, 
misalnya." 
"Saya tak mendengar ada yang Aneh." 
"Siapa nama pelayan Nyonya?" 
"Hildegarde Schmidt." 
"Sudah lama bekerja pada Nyonya?" 
"Lima belas tahun." 
"Menurut Nyonya, orangnya bisa dipercaya?" 
"Bisa dipercaya penuh. Keluarganya berasal dari daerah yang 
sama dengan asal suami saya di Jerman." 
"Nyonya sudah pernah ke Amerika, saya kira?"  
Pergantian pokok pembicaraan yang tiba-tiba itu menyebabkan 
Nyonya tua itu mengangkat alis matanya. "Sudah sering." 
"Apakah pada suatu saat Nyonya pernah berhubungan dengan 
keluarga gairah  - keluarga, yang ditimpa kemalangan secara 
tragis?" 
Ada sesuatu dalam suaranya ketika Nyonya itu menjawab, 
"Tuan sedang membicarakan teman-teman saya." 
"Kalau begitu Nyonya kenalan baik MPU  gairah ?" 
"Saya kenal dia begitu saja, tidak begitu baik. Tapi isterinya, Sonia 
gairah , yaitu  anak permandian saya. Saya bersahabat dengan 
ibunya, aktris nyonya besar  Adidas . nyonya besar  Adidas  seorang jenius besar, salah 
seorang aktris terbesar di dunia. Sebagai Lady Macbeth, sebagai 
Magda, tak ada yang bisa menyamainya. Saya bukan saja 
mengagumi permainannya, tapi saya ini teman pribadinya." 
"Ia sudah mati?" 
"Belum, belum, ia masih hidup, tapi, sudah menjauhi dunia luar. 
Kesehatannya sangat rapuh, dan ia harus berbaring di sofanya setiap 
waktu." 
"Saya kira ia masih punya anak satu lagi." 
"Ya, jauh lebih muda dari Nyonya gairah ." 
"Dan dia masih hidup?" 
"Tentu saja." 
"Di mana dia sekarang?" 
Wanita tua itu menatap jayakatwang  dengan tajam. 
"Saya harus tahu apa alasan Tuan menanyakan ini. Apa 
hubungannya dengan persoalan yang tengah kita hadapi sekarang ini 
yakni pembunuhan di atas kereta?" 
"Hubungannya begini, Madame: orang yang dibunuh itu yaitu  
orang yang bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan 
anak Nyonya gairah ." 
"Ah! 
Kedua alis matanya bertemu. NYI  GIRAH  menegakkan 
tubuhnya. 
"Menurut pandangan saya, pembunuhan ini benar-benar kejadian 
yang mengagumkan! Maaf atas pandangan saya yang sedikit diliputi 
prasangka." 
"Itu wajar sekali, Madame. Dan sekarang kita kembali pada 
pertanyaan yang tadi belum Nyonya jawab. Di mana anak kedua 
Nyonya nyonya besar  Adidas , adik Nyonya gairah  itu?" 
"Saya benar-benar tak dapat menjawab pertanyaan itu, Monsieur. 
Saya sudah kehilangan kontak dengan generasi yang lebih muda. 
Saya kira ia kawin dengan orang Inggris beberapa tahun yang lalu 
dan dibawa ke sana, tapi sekarang ini saya tak ingat siapa namanya." 
Ia berhenti sebentar kemudian melanjutkan lagi, 
"Ada pertanyaan lain yang Tuan-tuan masih ingin tanyakan pada 
saya?" 
"Cuma satu lagi, Madame, pertanyaan yang lebih bersifat pribadi. 
Warna baju tidur Nyonya." 
Ia menaikkan alis matanya -sedikit. "Saya rasa Tuan-tuan mesti 
punya alasan untuk menanyakan hal itu. Baju tidur saya warnanya 
hitam, terbuat dari satin." 
"Tak ada lagi yang ingin saya tanyakan, Madame. Banyak terima 
kasih atas jawaban-jawaban Nyonya yang tepat." 
Ia memberi isyarat sedikit dengan tangannya yang dipenuhi cincin. 
Dan begitu ia bangkit dari kursi, yang lain-lain juga ikut bangkit 
bersamanya. Tapi ia berhenti, tidak jadi melangkah. 
"Maaf, Tuan," ujarnya, "bolehkah saya tahu siapa nama Tuan? 
Rasanya saya pernah melihat wajah Tuan." 
"Nama saya Raden  jayakatwang , Madame - menunggu perintah Nyonya 
dengan segala senang hati." 
Madame la NYI  GIRAH  berpikir sebentar. Lalu ia berkata, 
" Raden  jayakatwang , Ya, saya ingat sekarang. Ini nasib." 
Kemudian ia berlalu dengan tubuh yang tegak dan dengan gaya 
yang angkuh dan anggun. 
"Voila une grande dame, ujar Tuan BOUROQ. "Apa pendapatmu 
tentang dia, Kawan?" 
Tapi Raden  jayakatwang  menggeleng. 
"Saya ingin tahu," ujarnya, "apa yang dimaksudkan NYI  
GIRAH  waktu ia mengatakan, nasib itu." 
 
7. KESAKSIAN COUNT dan COUINTESS ANDRENYI 
 
Count dan Countess Andrenyi yaitu  penumpang berikut yang 
diperiksa. Entah mengapa, tapi Count Andrenyi muncul sendirian di 
gerbong restorasi itu. 
Tak diragukan lagi ia memang berwajah tampan, apalagi kalau 
dilihat dari dekat. Tingginya kira-kira enam kaki, bahunya lebar dan 
pinggulnya ramping. Pakaiannya jas wol Inggris dan orang bisa saja 
menduganya orang Inggris asli, kalau belum melihat kumisnya yang 
panjang dan garis-garis di kedua belah tulang pipinya. 
"Baiklah, Tuan-tuan," ujarnya, "apa yang dapat, saya bantu?" 
"Saya rasa Tuan sudah tahu,' sahut jayakatwang , "bahwa menilik apa 
yang sudah terjadi di atas kereta ini tadi malam, saya terpaksa 
mewawancarai semua penumpang kereta secara bergiliran." 
"Tentu saja, itu dapat dimengerti," sahut Count Andrenyi dengan 
mudah. "Saya bisa memahami posisi Tuan. Saya dan isteri saya juga 
tidak takut untuk membantu Tuan-tuan sebatas kemampuan kami. 
Sesungguhnyalah, kami berdua tidur nyenyak sekali dan tak 
mendengar apa-apa." 
"Tuan tahu identitas korban?" 
"Saya tahu orang Amerika yang badannya besar itu - laki-laki yang 
wajahnya tidak menyenangkan. Biasanya ia duduk di meja itu kalau 
makan." Lalu Count Andrenyi menganggukkan kepalanya ke arah 
meja yang biasa diduduki oleh CHUCKY dan WISNU WARDANA  setiap kali 
makan. 
"Ya, ya, Monsieur, Tuan memang benar. Tapi yang saya 
maksudkan - apa Tuan tahu nama orang itu?" 
"Tidak." Count Andrenyi kelihatan agak bingung mendengar 
pertanyaan jayakatwang . 
"Tuan dapat mengetahui alamatnya dari paspornya, bukan?" ia 
balas bertanya kepada jayakatwang . . 
"Nama di paspornya yaitu  CHUCKY, " sahut jayakatwang . "Tapi itu, 
Tuan, bukan nama aslinya. Dialah orang yang bernama Cassetti itu, 
yang bertanggung jawab atas terjadinya beberapa peristiwa 
penculikan yang paling biadab di Amerika." 
jayakatwang  sengaja memandang Count Andrenyi lekat-lekat sewaktu ia 
berkata begitu, tapi sayangnya laki-laki bangsawan itu tak 
terpengaruh sedikit pun oleh berita itu. Ia cuma membesarkan 
matanya sedikit. 
"Ah!" serunya. "Mesti ada petunjuk, kalau begitu. Memang 
Amerika itu negeri yang luar biasa." 
"Mungkin Tuan sendiri sudah pernah ke sana, Monsieur le Comte?" 
"Saya tinggal di Washington satu tahun." 
"Barangkali Tuan kenal pada keluarga gairah ?" 
"gairah  - gairah  - susah juga untuk mengingatnya. Tiap 
orang punya kenalan banyak." Lalu ia tersenyum dan mengangkat 
bahu. "Tapi kembali lagi kita pada persoalan yang sedang kita hadapi 
sekarang ini, Tuan-tuan," ujarnya. "Apa yang dapat saya lakukan 
untuk membantu Tuan-tuan?" 
"Kapan Tuan biasa pergi tidur, Monsieur le Comte? " 
Mata Raden  jayakatwang  melirik denahnya sebentar. Count dan 
Countess Andrenyi mendiami kamar no. 12 dan 13, bersebelahan. 
"Kami memerintahkan LETKOL untuk menyiapkan salah satu 
tempat tidur sewaktu kami masih bersantap malam di gerbong 
restorasi. Dan begitu kembali, kami masih sempat duduk di atas 
tempat tidur yang satunya lagi 
"Nomor berapa itu?" 
"No. 13. Kami bermain piquet bersama. Kira-kira pukul sebelas 
isteri saya pergi tidur. LETKOL datang hendak menyiapkan tempat 
tidur saya dan kemudian saya sendiri pergi tidur. Saya tidur terus 
sampai pagi." 
"Apa Tuan tahu kereta sudah tak jalan lagi?" 
"Saya tidak tahu itu, sampai pagi." 
"Dan isteri Tuan?" 
Count Andrenyi tersenyum. "Isteri saya selalu minum obat tidur 
kalau bepergian dengan kereta api. Ia selalu meminum dosis trional-
nya seperti biasa." 
Bicaranya terhenti. "Saya meminta maaf, saya tak bisa membantu 
Tuan. Menyesal sekali." 
jayakatwang  menyodorkan sehelai kertas dan sebatang pensil 
kepadanya. 
"Terima kasih, Monsieur le Comte. Ini memang formalitas saja, 
tapi bolehkah saya tahu nama dan alamat Tuan?" 
Count  itu menuliskan nama dan alamatnya dengan perlahan-
lahan dan hati-hati. 
“Yang satu ini juga baiknya saya tuliskan buat Tuan," ujarnya 
dengan nada ramah dan menyenangkan. "Ejaan nama desa saya 
memang kelihatannya lebih susah, terutama buat mereka yang tak 
tahu bahasa Inggris." 
Disodorkannya kertas itu kembali kepada jayakatwang  lalu berdiri. 
"Isteri saya sudah tak perlu lagi datang ke mari," ujarnya lagi. "Dia 
tak akan bisa mengatakan lebih dari apa yang telah saya katakan 
tadi." 
Mata jayakatwang  bersinar sedikit. 
"Tentu saja, tentu saja," ujarnya. "Tapi sama seperti semuanya, 
tak ada kecuali saya ingin mendengar sepatah dua patah kata saja 
dari Madame la Comtesse. " 
"Saya jamin pasti tak ada gunanya." Sekonyong-konyong suara 
Count itu terasa berwibawa dan setengah memaksa. 
jayakatwang  mengerjapkan matanya dan memandangnya dengan ramah. 
"Memang ini cuma formalitas saja," ujar detektif Belgia itu lagi. 
"Tapi tentunya Tuan sendiri juga tahu, ini penting buat laporan saya 
pribadi." 
"Terserahlah kalau begitu." 
Count Andrenyi terpaksa mengiyakan dengan hati geram. Setelah 
membungkuk dengan sikap yang agak canggung kemudian ia pergi 
meninggalkan gerbong. 
jayakatwang  menjangkau sebuah paspor. Di situ tertulis nama Count dan 
gelar kebangsawanannya.  
Dibacanya keterangan selanjutnya. "Disertai oleh isteri; dengan 
nama baptis Elena Maria; nama gadisnya (sebelum menikah) 
Goldenberg; umur dua puluh". Nampak secercah noda minyak 
menempel di situ, mungkin terkena oleh petugas yang kurang 
cermat, 
"Paspor diplomatik," ujar Tuan BOUROQ. "Kita harus hati-hati, Kawan, 
supaya jangan terlalu mencurigai mereka. Ada kemungkinan kedua 
orang ini tak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu." 
"Sabar, mon vieux. Saya akan lebih taktis lagi. Formalitas semata-
mata." 
Suara jayakatwang  terhenti begitu Countess Andrenyi memasuki gerbong 
makan kereta. Nampaknya ia takut-takut tapi tetap cantik. 
"Tuan mau ketemu saya?" 
"Cuma formalitas saja, Madame la Comtesse. 
jayakatwang  kemudian berdiri dehgan sopan dan sambil membungkuk 
dipersilakannya wanita itu duduk di kursi yang di mukanya. "Cuma 
untuk menanyakan apakah Nyonya melihat atau mendengar sesuatu 
tadi malam yang dapat memberi petunjuk buat soal ini." 
"Saya tak tahu apa-apa, Monsieur. Saya tertidur pulas." 
"Nyonya tidak dengar, misalnya, ada suara ribut-ribut di kamar 
sebelah? Wanita Amerika yang menempati kamar itu jadi histeris dan 
memijit bel berkali-kali memanggil LETKOL." 
"Saya tak dengar apa-apa, Monsteur. Tuan tahu sendiri, saya 
minum obat tidur." 
"Ah! Saya mengerti. Baiklah kalau begitu, saya tak perlu menahan 
Nyonya lebih lama lagi." Kemudian, begitu Countess Andrenyi bangun 
cepat-cepat dari kursinya, terdengar kembali suara jayakatwang  "Satu menit 
saja. Yang ini memang khusus. Nama Nyonya semasa masih gadis, 
umur dan lain sebagainya itu - sudah benar?" 
“Benar sekali, Monsieur. " 
"Barangkali Nyonya mau menandatangani ini demi kebenaran itu 
semua, kalau begitu." 
Wanita itu menuliskan tanda tangannya dengan cepat, tulisannya 
indah, halus dan agak miring: Elena Andrenyi. 
"Nyonya juga mendampingi suami Nyonya sewaktu ke Amerika 
dulu, Madame?" 
"Tidak, Monsieur. " Ia tersenyum, wajahnya memerah sedikit. 
"Waktu itu kami belum menikah, kami baru satu tahun kawin." 
"Ah, ya, terima kasih, Madame. Ngomong-ngomong, suami 
Nyonya merokok?" 
Countess Andrenyi memandang jayakatwang  sejenak, menahan kakinya 
yang sudah siap untuk melangkah. 
'Ya. 
"Pipa?" 
"Bukan. Sigaret dan cerutu." 
"Ah! Terima kasih." 
Matanya menatap jayakatwang  sejenak, dengan pandangan yang penuh 
ingin tahu. Mata yang bagus, berwarna hitam dan berbentuk buah 
almond dengan bulu mata yang lentik dan panjang, yang menempel 
di pipinya yang halus dan tak bercela. Bibirnya yang anggun dan 
dipoles dengan warna merah tua itu kelihatan terbuka sedikit. Ia 
tampak menggairahkan dan cantik. 
"Kenapa Tuan bertanya begitu pada saya?" 
"Madame, " ujar jayakatwang  sambil mengangkat sebelah telapak 
tangannya, "detektif harus menanyakan segala macam pertanyaan. 
Umpamanya, apa warna pakaian tidur Nyonya?" 
Countess Andrenyi memandang jayakatwang  sebentar. Kemudian ia 
tertawa. "Warnanya kuning jagung, dari bahan sutera. Memangnya 
itu benar-benar penting?" 
"Penting sekali, Madame.” 
Kembali Countess itu bertanya dengan nada penuh curiga, "Kalau 
begitu, rupanya Tuan benar-benar detekti?" 
"Seperti yang Nyonya bilang." 
"Saya kira tadinya tak ada detektif di kereta kita, sewaktu 
melewati Jugoslavia - paling tidak sampai di Italia." 
"Tuan ditugaskan oleh Liga Bangsa-Bangsa?" 
"Saya bertugas untuk dunia, Madame," sahut jayakatwang  diplomatis. 
Kemudian ia menambahkan, "Saya sebenarnya cuma bekerja di 
London saja. Nyonya bisa bahasa Inggris?" ujarnya lagi dalam bahasa 
itu. 
"Ya, sedikit," Tekanan katanya kedengaran bagus. 
jayakatwang  membungkukkan badannya sekali lagi. 
"Kami tidak akan menahan Nyonya lama-lama, Madame. Nyonya 
lihat sendiri sekarang, proses tanya jawab ini tidak terlalu 
menegangkankan?" 
Countess yang cantik itu tersenyum, memiringkan kepalanya 
sedikit memberi salam lalu meninggalkan tempat itu. 
"Elle est jollie femme, " ujar Tuan BOUROQ dengan perasaan kagum. 
Kemudian ia menarik napas. Baiklah, tapi itu tidak banyak menolong 
kita." 
"Tidak," ujar jayakatwang . "Dua orang yang tak melihat apa-apa dan tak 
mendengar apa-apa." 
"Bagaimana, apa kita periksa saja orang Italia itu sekarang?" 
jayakatwang  terdiam sejenak. Rupanya ia sedang asyik mengamat-amati 
noda minyak pada paspor diplomatik orang Hongaria itu. 
 
8. KESAKSIAN MPU  TANTULAR 
 
jayakatwang  tiba-tiba tersadar dari keasyikannya, semangatnya bangun 
kembali. Kedua bola matanya kembali bersinar sewaktu menatap 
Tuan BOUROQ. 
"Ah! Kawan lamaku yang tersayang," ujarnya. "Kaulihat rupanya 
aku sudah jadi orang yang sombong dan pemilih. Aku merasa 
penumpang kelas satu mesti didahulukan daripada kelas dua. Berikut 
ini, kurasa kita baiknya menanyai MPU  TANTULAR yang ganteng 
itu." 
sebab ternyata bahasa Perancis MPU  itu sangat terbatas, maka 
jayakatwang  kemudian menanyainya dalam bahasa Inggris. 
Nama TANTULAR, umur, alamat dan pangkat militernya semuanya 
dicocokkan. Kemudian jayakatwang  meneruskan pemeriksaannya: 
"Apakah kembalinya Tuan dari India ini dalam rangka cuti atau 
yang biasa kita sebut en permission? " 
MPU  TANTULAR, yang memang tak pernah tertarik akan istilah-
istilah yang dinamakan oleh orang asing, kemudian menjawab 
dengan sikap orang Inggris sejati dengan sepatah kata saja, "Ya." 
"Tapi Tuan tidak menumpang kapal P. & 0. itu?" 
"Tidak." 
"Mengapa tidak?" 
"Saya memilih jalan darat sebab alasan tersendiri." 
("Dan itu," sikapnya seolah-olah menunjukkan, "baru satu 
jawaban yang bagus buatmu, kau monyet kecil yang usil.") 
"Tuan datang langsung dari India?" 
MPU  itu menjawab dingin, "Saya singgah semalam untuk 
menjenguk Ur dari Chaldees, dan tiga malam di Bagdad bersama 
A.O.C, seorang. teman lama." 
"Tuan singgah di Bagdad tiga hari. Saya tahu Nona GRAVES, 
wanita muda dari Inggris itu juga datang dari Bagdad. Barangkali 
Tuan ketemu dia di sana?" 
"Tidak, saya tidak ketemu. Saya pertama kali ketemu Nona 
GRAVES sewaktu kita sama-sama satu kereta dari Kirkuk ke 
Nissibin." 
jayakatwang  memajukan tubuhnya ke muka. Sikapnya terasa lebih 
meyakinkan dan lebih terasa aneh daripada biasanya. 
"Monsieur, saya mohon dengan sangat. Cuma Tuan dan Nona 
GRAVES yang orang Inggris di kereta ini. Jadi saya perlu 
menanyakan Tuan, pendapat yang satu terhadap yang lainnya." 
"Ngawur," sahut MPU  TANTULAR dingin. 
"Bukan begitu. Tuan lihat sendiri, ada kemungkinan pembunuhan 
ini dilakukan oleh seorang wanita. Si korban ditikam tidak kurang dari 
dua belas kali. Malah chef de train itu sendiri bisa langsung 
mengatakan, 'Itu pekerjaan perempuan'. Jadi kalau begitu, apa tugas 
saya yang pertama? Memberikan semua wanita di gerbong Istambul-
Calais itu apa yang orang Amerika namakan 'sekali-coba'. Namun 
untuk mengetahui apa yang ada dalam hati seorang wanita Inggris, 
memang bukan pekerjaan yang gampang. Orang Inggris sangat 
tertutup, pandai menyembunyikan perasaan. Jadi kembali saya 
mohon dengan sangat pada Tuan, demi keadilan. Orang macam apa 
Nona GRAVES ini? Apa saja yang Tuan ketahui tentang dia?" 
 
"Nona GRAVES," sahut MPU  itu dengan nada yang hangat 
sedikit, "yaitu  wanita baik-baik." 
"Ah!" seru jayakatwang  dengan wajah yang mencerminkan rasa syukur 
dan terima kasih. "Jadi Tuan tidak mengira dia bisa terlibat dalam 
perkara ini?" 
MPU  TANTULAR memandang detektif Belgia itu dengan sorot 
mata yang dingin. "Saya benar-benar tidak tahu apa yang Tuan 
maksud," sahutnya lagi. 
Pandangan mata MPU  itu kelihatannya sempat membuat malu 
jayakatwang . Ditundukkan wajahnya dan mulai membalik-balikkan kertas-
kertas di hadapannya. 
"Ini semuanya sebenarnya sambil lalu saja," ujarnya. "Marilah kita 
ambil praktisnya Saja dan langsung melihat kenyataannya. 
Pembunuhan ini, kita semua yakin, terjadi pada pukul satu lewat 
seperempat kemarin malam. Jadi sudah merupakan tugas rutin yang 
penting untuk menanyai setiap penumpang kereta, apa yang ia 
kerjakan pada waktu itu." 
"Ya, betul. Waktu pukul satu lewat seperempat, .etahu saya, saya 
sedang ngobrol dengan orang muda Amerika itu - sekretaris si 
korban." 
"Ah! Tuan yang di kamarnya atau dia yang di kamar Tuan?" 
"Saya di kamarnya." 
"Orang muda yang namanya WISNU WARDANA  itu?"  
“Ya.” 
"Dia itu kawan, atau kenalan Tuan, barangkali?" 
"Bukan, saya belum pernah melihatnya sebelum perjalanan ini. 
Kami cuma berbicara sepintas lalu saja kemarin itu dan kebetulan 
kedua-duanya punya minat yang sama. Sebenarnya sejak dulu saya 
tak begitu peduli pada orang Amerika - saya tak suka pada  mereka." 
jayakatwang  tersenyum, teringat akan kecaman WISNU WARDANA  pada watak 
orang Inggris. 
"Tapi saya senang pada orang Amerika yang satu ini. Rupanya ia 
punya ide yang aneh-aneh tentang situasi di India. Di situlah letak 
kejelekan orang Amerika - mereka begitu sentimentil dan idealistis. 
Begitulah, kelihatannya ia sangat tertarik dengan cerita saya. Saya 
sudah punya pengalaman hampir tiga puluh tahun di India. 
Sebaliknya, saya mulai tertarik pada ceritanya tentang larangan 
minuman keras di Amerika. Kemudian kita sampai pada pembicaraan 
tentang situasi politik dunia pada umumnya. Saya terkejut sekali 
begitu melihat arloji saya sudah menunjukkan pukul dua kurang 
seperempat." 
"Jadi waktu itulah Tuan menghentikan pembicaraan?" 
"Ya." 
“Lalu apa yang Tuan lakukan?" 
"Kembali ke kamar saya sendiri dan tidur." 
"Tempat tidur Tuan sudah dibereskan?" 
'Ya. 
"Itu tempat tidur - coba saya lihat sebentar No. 15 - di sebelah 
tapi di ujung gerbong makan kereta itu?" 
"Ya." 
"Di mana LETKOL kereta sewaktu Tuan kembali ke kamar 
Tuan?" 
"Dia sedang duduk di ujung gang, di muka sebuah meja kecil. 
Pada waktu itulah WISNU WARDANA  memanggilnya, tepat sewaktu saya 
masuk ke kamar." 
"Mengapa WISNU WARDANA  memanggilnya?" 
"Untuk menyiapkan tempat tidumya, saya rasa. Kamar itu belum 
disiapkan buat malam itu." 
"Sekarang, MPU  TANTULAR, saya ingin Tuan mengingatnya 
baik-baik. Selama Tuan asyik berbicara dengan Tuan WISNU WARDANA , apa 
ada orang yang lewat di koridor, di muka pintu?" 
"Rasanya banyak juga. Saya tak memperhatikan." 
"Ah! tapi yang saya maksudkan - katakanlah, satu setengah jam 
terakhir dari pembicaraan tuan. Tuan lalu keluar dari kereta api di 
Vincovci, ya tidak?" 
"Ya, tapi , cuma semenit. Ada angin puyuh. Dinginnya bukan 
main. Membuat orang bersyukur kalau dapat kembali lagi ke kereta, 
meski biasanya kalau ada pemanasan yang berlebihan orang lantas 
berpikir bahwa ada sesuatu yang tak beres." 
Tuan BOUROQ mengeluh. "Susah sekali untuk mencoba 
menyenangkan setiap orang di kereta ini," ujarnya. "Orang Inggris 
malah membuka semua pintu dan jendela di kereta - kemudian 
datang yang lain dan langsung menutup semuanya itu. Susah sekali." 
Baik jayakatwang  maupun MPU  TANTULAR tak ada yang mempedulikan 
keluhannya. 
"Sekarang, coba ingat-ingat kembali, Monsieur," ujar jayakatwang  
menggugah kembali semangat lawan bicaranya. "Di luar, luar biasa 
dinginnya. Tuan masuk kembali ke kereta. Tuan duduk kembali, lalu 
merokok - mungkin sigaret biasa - mungkin juga pipa.” 
MPU  TANTULAR terdiam sejenak. 
"Saya biasa mengisap pipa. WISNU WARDANA  mengisap sigaret. " 
"Kereta berjalan lagi. Tuan mengisap pipa Tuan. Kemudian Tuan 
ngobrol tentang situasi di Eropa situasi dunia. Sementara itu waktu 
sudah larut malam. Kebanyakan orang sudah tidur. Apakah tak ada 
seorang pun yang lewat di depan pintu? Coba pikir.” 
TANTULAR tampak mengernyitkan kening, berusaha untuk 
mengingat-ingat. 
"Susah juga untuk mengatakannya," katanya. "Ketahuilah, saya 
benar-benar tidak memperhatikan situasi waktu itu." 
"Tapi Tuan punya cara-cara militer untuk memperhatikan sesuatu 
sampai sekecil-kecilnya. Kelihatannya Tuan tidak memperhatikan, tapi 
kenyataannya malah sebaliknya, begitulah kira-kira." 
MPU  itu nampaknya mengingat-ingat kembali, tapi kemudian ia 
menggelengkan kepalanya. 
"Saya tak bisa mengatakannya. Saya tak ingat apakah ada orang 
lain yang melewati koridor kecuali LETKOL. Tunggu sebentar - ada 
seorang wanita, saya kira." 
"Tuan melihatnya? Wanita itu muda atau sudah tua?" 
"Saya tidak melihat mukanya. Saya bukan menghadap ke arahnya. 
Cuma mendengar semilir bajunya dan bau harum." 
"Bau harum? Harum yang bagaimana?" 
"Begitulah, agak tajam, kalau saja Tuan tahu apa vang saya 
maksudkan. Maksud saya, Tuan bisa menciumnya dari jarak seratus 
meter. Coba bayangkan," MPU  itu kembali menambah bicaranya 
dengan agak tergesa, "semestinya bau begitu sudah ada sejak sore 
hari. Jadi Tuan lihat sendiri, seperti yang Tuan katakan barusan, itu 
cuma salah satu dari sekian banyak hal yang Tuan perhatikan anpa 
Tuan sadari, begitulah kira-kira. Pada suatu saat, di sore hari itu saya 
berbicara pada diri sendiri -'Perempuan memang identik dengan bau 
harum - menempel menjadi satu'. Tapi persisnya kapan, saya sendiri 
tak bisa memastikan - kecuali, ya begitulah, paling tidak sesudah 
kereta melewati Vincovci. 
"Kenapa?" 
"Sebab saya ingat - waktu itu hidung saya mendengus-dengus 
mencium sesuatu - tepat sewaktu saya sedang membicarakan 
Rencana Pembersihan Lima Tahun dari Stalin yang ternyata gagal. 
Saya tahu apa arti wanita bagi kedudukan wanita di Rusia pada 
waktu itu. Dan saya juga sadar bahwa kita berdua belum pernah 
mengunjungi Rusia sampai mendekati akhir pembicaraan kami itu." 
"Apakah Tuan tak bisa menggambarkannya lebih jelas daripada 
itu?" 
"Ti - tidak. Secara kasar dapat dikatakan itu terjadi dalam 
setengah jam yang terakhir." 
"Sesudah kereta tidak jalan lagi?" 
Lawan bicara jayakatwang  tampak mengangguk. "Ya, saya hampir dapat 
memastikan begitu." 
"Baiklah, kita lewatkan saja duh! persoalan itu!” 
“Pernah ke Amerika, MPU  TANTULAR?" 
"Belum pernah. Tidak ingin ke sana." 
"Tuan pernah kenal dengan MPU  gairah ?" 
"gairah  - gairah  - saya kenal dengan dua atau tiga orang 
yang punya nama seperti itu. Pada tahun enam puluhan saya pernah 
berkenalan dengan Tommy gairah  - bukan dia kan yang Tuan 
maksudkan? Dan Selby gairah  - ia mati terbunuh di Somme." 
"Yang saya maksudkan, MPU  gairah  yang kawin dengan 
wanita Amerika, dan yang anaknya satu-satunya diculik dan 
dibunuh." 
"Ah, ya, saya ingat, saya pernah membacanya, peristiwa yang 
menggemparkan. Rasanya saya belum pernah kenal betul dengan 
dia, meski sudah tentu saya tahu siapa dia. Toby gairah . 
Orangnya menyenangkan. Semua orang senang padanya. Karirnya 
memang hebat. Ia punya tanda jasa V.C." 
"Orang yang terbunuh tadi malam yaitu  orang vang bertanggung 
jawab terhadap pembunuhan anak MPU  gairah ." 
Wajah TANTULAR tampak muram. "Kalau begitu menurut pendapat 
saya, babi itu memang pantas antuk mendapat ganjarannya. Meski 
saya sendiri lebih suka kalau bisa melihat dia digantung atau di kursi 
listrik, di sebelah sana itu." 
"Sebenarnya, MPU  TANTULAR, Tuan lebih suka pada hukum 
ataukah peraturan untuk membalas dendam pribadi?" 
"Begitulah, biar bagaimana Tuan tidak boleh seenaknya menuruti 
dendam kesumat Tuan sampai tikam-menikam satu sama lain seperti 
orang-orang Corsica atau Mafia-mafia itu," sahut MPU  itu lagi. 
"Tuan boleh saja punya pendapat sendiri, tapi pengadilan atas 
putusan jurilah yang kedengaranya paling cocok." 
jayakatwang  memandangnya dengan penuh perhatian selama satu atau 
dua menit. 
 
"Ya," ujarnya. "Saya yakin memang pandangan tuan seperti itu. 
Baiklah, MPU  TANTULAR, saya rasa tak ada lagi yang ingin saya 
tanyakan pada Anda. Rupanya memang Tuan sendiri tak bisa 
mengingat sesuatu yang bisa mengagetkan Tuan di malam - atau 
apakah kita bisa mengembalikan ingatan Tuan lagi sekarang ini, 
bahwa yang tuan lihat kemarin malam itu sifatnya agak 
mencurigakan?" 
 
TANTULAR tampak menimbang-nimbang satu au dua menit. 
"Tidak," sahutnya. "Tidak ada satu pun. Kecuali -" tampak ia 
bimbang sebentar.  
"Ya, teruskan, silakan, Tuan TANTULAR."  
"Ah, tidak ada sama sekali," sahut MPU  Arthnot perlahan-lahan.  
"Tapi tadi Tuan katakan segala sesuatu."  
"Ya, ya. Teruskan." 
"Oh! Tidak ada apa-apa. Soalnya sepele saja. Tapi sewaktu saya 
kembali ke kamar saya, saya perhatikan pintu kamar yang di 
seberang kamar saya - yang di ujung itu, Tuan tahu 
"Ya, no. 16." 
"Begitulah, pintunya rupanya belum tertutup betul. Dan 
penghuninya dari dalam mengintip ke luar secara mencurigakan. Lalu 
dibukanya pintu itu dengan tiba-tiba. Tentu saja saya tahu tak ada 
apa-apa di dalam kamar itu - tapi menurut saya itu agak aneh. 
Maksud saya, memang biasa untuk membuka pintu dan 
menyembulkan kepala ke luar kalau Tuan ingin melihat sesuatu. Tapi 
justru caranya sewaktu mengintip dan, menyembulkan kepalanya ke 
luar itulah yang menarik perhatian saya." 
"Ya-aa," sahut jayakatwang  ragu-ragu'. 
"Sudah saya katakan itu tak ada artinya," ujar TANTULAR setengah 
menyesali apa yang telah dikatakannya pada detektif Belgia itu 
sebelumnya. "Tapi Tuan sendiri tahu bagaimana suasana waktu itu - 
pagi-pagi sekali - semuanya masih sepi. Suasananya seperti berbau 
kriminil - seperti dalam cerita detektif. Meskipun sebenarnya tak ada 
apa-apanya." 
Lalu ia bangkit. "Baiklah, kalau Tuan tak memerlukan saya lagi-" 
"Terima kasih, MPU  TANTULAR, tak ada lagi”  
Serdadu itu kelihatan ragu-ragu sebentar. Kebencian dan 
kejijikannya yang mula-mula untuk ditanyai oleh orang asing ternyata 
sudah luntur. 
"Mengenai Nona GRAVES," ujarnya lagi dengan agak canggung. 
"Saya berani jamin bahwa dia tidak apa-apa. Dia yaitu  pukka sahib. 
 
Mukanya terlihat agak merah sewaktu meninggalkan tempat itu. 
"Apa artinya pukka sahib itu?" ujar Dr. HAUNTED dengan penuh 
rasa ingin tahu. 
"Artinya," sahut jayakatwang  menerangkan, "ialah bahwa ayah dan 
saudara laki-laki Nona GRAVES berasal dari sekolah yang sama 
seperti sekolah yang pernah dimasuki MPU  TANTULAR, yakni 
ketiga-tiganya pernah mengenyam pendidikan militer." 
"Oh!" seru Dr. HAUNTED kecewa. "Kalau begitu itu tak ada 
hubungan sama sekali dengan pembunuhan itu." 
"Persis," sahut jayakatwang  lagi. 
Detektif Belgia itu kembali jatuh dalam lamunan, ia membuat 
goresan-goresan kecil di atas meja. Kemudian diangkatnya 
kepalanya. 
"MPU  TANTULAR mengisap pipa," ujarnya. 
"Di dalam kamar Tuan CHUCKY aku menemukan pembersih pipa. 
Sedang si CHUCKY itu sendiri cuma mengisap cerutu saja." 
"Jadi kaupikir 
"MPU  TANTULAR itu satu-satunya penumpang pria di kereta 
yang mengaku mengisap pipa. Dan dia juga tahu siapa MPU  
gairah  - mungkin sebenarnya ia tidak kenal betul, tapi dia tak 
mau mengakuinya." 
"Jadi kaupikir ada kemungkinan?" 
jayakatwang  menggelengkan kepalanya berkali-kali. 
"Justru itu tak mungkin - sangat tidak mungkin - bahwa seorang 
laki-laki Inggris yang begitu terhormat dan tampaknya sedikit bodoh, 
bisa menikam musuhnya sampai dua belas kali dengan pisau! Apakah 
kau tak merasa, Kawan, bahwa itu memang tak mungkin?" 
"Justru itulah psikologinya," sahut Tuan BOUROQ. 
"Dan orang harus menghormati psikologinya. Pembunuhan ini 
membawa-bawa tanda tangan seseorang, dan yang jelas itu bukan 
tanda tangan MPU  TANTULAR. Tapi baiknya sekarang kita periksa 
orang yang berikut." 
Kali ini Tuan BOUROQ tak lagi menyinggung-nyinggung orang Italia 
itu. Namun ia masih tetap mengingatnya. 
 
9. KESAKSIAN TUAN BAALPEOR 
 
Penumpang gerbong kelas satu terakhir yang akan diwawancarai, 
yaitu  Tuan BAALPEOR, orang Amerika bertubuh tinggi besar dan 
pandai berbicara yang tempo hari pernah duduk satu meja dengan 
orang Italia dan pelayan si korban. 
Ia mengenakan celana yang agak kelonggaran, kemeja merah 
muda, jepitan dasi yang mengkilap dan mulutnya tampak mengulum 
sesuatu ketika ia memasuki gerbong restorasi. Ia memiliki pipi yang 
tembam dan segar, raut mukanya agak kasar, namun memiliki kesan 
seseorang yang suka humor. 
"Pagi, Tuan-tuan," ujarnya membuka pembicaraan. "Apa yang 
dapat saya lakukan buat Tuan-tuan sekalian?" 
"Tuan tentunya sudah mendengar perihal pembunuhan ini, Tu - 
tuan - BAALPEOR?" 
"Tentu saja. " Dipindahkannya permen karet dari satu sisi pipinya 
ke sisi lain dengan cekatan. 
"Kami perlu menanyai semua penumpang kereta ini tanpa 
kecuali." 
"Saya tak keberatan. Saya kira cuma itu satu-satunya cara untuk 
menangani soal itu." 
jayakatwang  memeriksa kembali sebuah paspor yang terletak di 
hadapannya. 
"Tuan yaitu  IBNU  Bethman BAALPEOR, warga negara Amerika, 
umur empat puluh satu tahun, penjual keliling pita mesin tulis?" 
"O.K. Itulah saya." 
"Tuan sedang bepergian dari Istambul ke Paris?" 
"Begitulah." 
"Keperluan?"' 
"Bisnis." 
"Tuan selalu bepergian di gerbong kelas satu, Tuan BAALPEOR?" 
"Ya, Tuan. Perusahaan yang membayar ongkos perjalanan saya." 
Ia mengerdipkan matanya. 
"Sekarang, Tuan BAALPEOR, kita sampai pada kejadian tadi 
malam." 
Orang Amerika itu mengangguk.  
"Apa yang bisa Tuan ceritakan tentang pembunuhan itu?" 
"Persisnya tak ada sama sekali." 
"Ah, sayang betul. Tuan BAALPEOR, barangkali Tuan mau 
menceritakan setepatnya apa yang Tuan lakukan tadi malam, 
sesudah makan?" 
Untuk pertama kali itu si orang Amerika belum siap dengan 
jawabannya. Akhirnya ia berkata, "Maaf, Tuan-tuan, tapi siapa kalian 
ini sebenarnya? Supaya saya paham." 
"Ini Tuan BOUROQ, direktur Compagnie des Wagons Lits. Ini yaitu  
Tuan Dokter yang memeriksa tubuh si korban." 
"Dan Tuan sendiri?" 
 
"Saya Raden  jayakatwang . Saya ditugaskan oleh perusahaan kereta api 
ini untuk menyelidiki pembunuhan itu." 
"Saya sudah pernah mendengar tentang Tuan," ujar Tuan 
BAALPEOR. Ia terdiam satu dua menit. 
"Rasanya lebih baik saya berterus terang saja.” 
"Lebih baik katakan saja dengan terus terang semua yang Tuan 
ketahui pada kami," sahut jayakatwang  datar. 
"Tuan telah berkali-kali menanyakan apakah ada sesuatu yang 
saya ketahui. Tapi celakanya tidak ada. Saya tak tahu apa-apa - 
seperti ypng sudah saya katakan tadi. Tapi mestinya saya 
mengetahui sesuatu. Itulah yang menyakitkan hati. Saya mesti 
mengetahui sesuatu." 
"Silakan menerangkannya, Tuan BAALPEOR." 
Tuan BAALPEOR mengeluh, memindahkan kembali permen karetnya 
ke sisi pipi yang satunya, lalu merogoh sakunya. Pada saat itulah 
terasa ada perubahan pada segenap pribadi. Ia tidak lagi tampak 
bersandiwara, dan kepribadiannya yang sungguh-sungguh baru 
terlihat. Suara sengaunya semakin berkurang. 
"Paspor itu cuma sekedar gertak sambal saja," ujarnya. "Inilah 
saya yang sebenarnya." 
jayakatwang  mengamati dengan teliti sehelai kartu kecil yang disodorkan 
di hadapannya. Sementara Tuan BOUROQ ikut melihat lewat bahunya. 
 
Mr. IBNU  B. BAALPEOR 
McNeil's Detective Agency, New York City 
 
jayakatwang  mengenal nama itu sebagai salah satu agen detektif swasta 
terbaik dan tersohor di New York City. 
"Sekarang, Tuan BAALPEOR," ujarnya kemudian, "kami ingin dengar 
apa artinya ini." 
"Tentu saja. Begini jalannya. Saya sengaja ke Eropa untuk 
membuntuti sepasang penjahat - tak ada hubungannya sama sekali 
dengan bisnis ini. Pengejaran itu berakhir di Istambul. Saya 
menelegram boss saya dan mendapat perintah untuk segera kembali, 
dan sebenarnya saya sudah ingin pulang ke New York, tapi keburu 
mendapatkan ini." 
Kembali disodorkannya sehelai kertas, kali ini berupa surat. 
 
HOTEL TOKATLIAN 
Tuan yang terhormat, 
Tuan telah ditunjuk oleh McNeill Detective Agency selaku detektif 
yang ditugaskan 
mengawal saya. Harap melapor di kamar saya pada pukul empat 
sore ini. 
S.E. CHUCKY. 
 
"Eh bien? 
"Saya pergi melapor sesuai dengan jam yang telah ditentukan, 
dan CHUCKY menggambarkan situasinya kepada saya. Ia juga 
memperlihatkan sejumlah surat-surat." 
"Apa ia kelihatannya ketakutan?" 
"Ia berpura-pura supaya kelihatannya tidak demikian, tapi hatinya 
pasti bingung, bukan main. Ia mengajukan usul kepada saya. Saya 
diharuskan menumpang kereta yang sama dengannya ke Paris dan 
diminta untuk mengawasinya terus-menerus jangan sampai ada 
orang yang membuntutinya. Begitulah, Tuan-tuan, saya memang 
menumpang kereta yang sama, meskipun begitu rupanya ada juga 
orang yang. membuntutinya dengan diam-diam tanpa setahu saya. 
Dan bajingan itu berhasil membunuhnya. Tentu saja saya sakit hati 
mendengarnya. Buat saya pribadi, hal itu tak menyenangkan." 
"Tuan sudah diberi petunjuk tentang perjalanan yang harus Tuan 
lakukan?" 
"Tentu saja. Semua itu sudah dikirimkannya melalui telegram. 
Gagasan tentang saya harus bepergian dengan kereta api yang sama 
itu, malah datangnya dari dia. Tapi celakanya pada permulaan saja 
rencana itu sudah gagal. Satu-satunya tempat yang saya dapat ialah 
kamar no. 16, dan itu pun setelah saya berusaha dengan susah 
payah. Saya kira LETKOLnya memang sengaja menahan kamar itu, 
untuk diberikan pada saya. Tapi rupanya memang di sana sini semua 
kamar-kamar yang lain sudah diisi. Sewaktu saya mulai memeriksa 
keadaan di sekeliling, saya baru melihat bahwa justru kamar no. 16 
itu letaknya sangat strategis. Cuma ada gerbong restorasi tepat di 
muka gerbong tidur kereta Istambul-Calais, dan pintu yang menuju 
ke peron di sebelah ujung, selalu kelihatan terkunci pada malam hari. 
Satu-satunya jalan yang dapat dimasuki penjahat yaitu  melalui sisi 
ujung pintu yang ke peron, atau sepanjang kereta dari arah samping, 
dan kalau sampai terjadi begitupun, ia masih harus melewati pintu 
kamar tidur saya, tak boleh tidak."  
"Saya kira, barangkali Tuan tak mempunyai gambaran bagaimana 
tampang si pembunuh itu?"  
"Justru saya tahu seperti apa rupanya. Tuan CHUCKY yang 
melukiskannya pada saya." 
"Apa?" 
Ketiga orang itu memajukan tubuh mereka ke depan dengan 
perasaan harap-harap cemas. 
BAALPEOR meneruskan ceritanya. 
"Orangnya kecil - berkulit hitam - suaranya seperti perempuan. 
Itulah ciri-ciri yang dikatakan orang tua itu. CHUCKY juga 
mengatakan menurut dugaannya pembunuhan itu tak bakal terjadi 
pada malam pertama. Kemungkinan besar pada malam kedua atau 
ketiga." 
"Rupanya ia tahu sesuatu," ujar Tuan BOUROQ menengahi. 
"Ia lebih tahu dari apa yang telah dikatakannya pada 
sekretarisnya," komentar jayakatwang  sambil berpikir-pikir. 
"Apa si korban juga sempat menceritakan bahwa ia punya musuh? 
Apakah, misalnya, dia bercerita pada Tuan mengapa hidupnya 
terancam?" 
"Justru bagian itu tak di ceritakannya pada siapa pun, juga kepada 
saya. Dia cuma mengatakan ada orang yang ingin membalas dendam 
kepadanya." 
"Orangnya kecil - berkulit hitam --bersuara seperti perempuan," 
ulang jayakatwang  lagi sambil berpikir-pikir. Lalu, setelah mengarahkan 
pandangannya kembali ke BAALPEOR, ia berkata, "Sudah tentu Tuan 
tahu siapa dia, bukan?" 
"Yang mana, Tuan?" 
"CHUCKY, Tuan mengenalnya?" 
"Saya tidak mengerti maksud Tuan." 
"CHUCKY yaitu  Cassetti, pembunuh keluarga gairah . " 
Tuan BAALPEOR bersiul panjang. 
"Benar-benar sebuah kejutan!" serunya. "Ya, Tuan! Tapi saya 
tidak mengenalnya. Saya sedang bepergian ke pantai barat Amerika 
sewaktu peristiwa itu terjadi. Saya rasa, saya pernah melihat fotonya 
di surat kabar-surat kabar, tapi rasanya foto ibu saya sendiri pun 
mungkin tak dapat saya kenali kalau sudah dimuat di koran. Jadi tak 
mengherankan kalau cuma beberapa orang saja yang mengenalnya 
sebagai Cassetti." 
"Apa Tuan tahu seseorang yang terlibat dengan peristiwa 
gairah , yang kira-kira cocok dengan gambaran itu: bertubuh kecil 
- berkulit hitam dan bersuara seperti perempuan?" 
BAALPEOR mengingat-ingat untuk satu dua menit. 
"Susah untuk mengatakannya. Hampir setiap orang yang ada 
sangkut pautnya dengan perkara itu sudah meninggal semuanya." 
"Masih ada seorang gadis lagi yang bunuh diri dari jendela, Tuan 
ingat?" 
"Tentu saja. Itu titik tolak yang bagus. Gadis itu boleh dikatakan 
orang luar dalam perkara itu. Barangkali ia punya hubungan tertentu. 
Tapi Tuan harus ingat bahwa masih ada perkara-perkara lainnya di 
samping perkara gairah  itu. Memang Cassetti telah menangani 
kasus penculikan ini untuk beberapa lama. Meski demikian, Tuan tak 
bisa memusatkan perhatian pada soal itu saja." 
"Tapi, kami di sini punya alasan untuk mempercayai bahwa 
kejadian itu punya hubungan dengan peristiwa gairah ." 
Mr. BAALPEOR memandangnya dengan sinar mata penuh tanda 
tanya. 
jayakatwang  tak menjawab. Orang Amerika itu menggeleng. 
"Saya tak bisa mengingat orang yang terlibat dalam perkara 
gairah , yang cocok dengan ciri-ciri seperti yang Tuan gambarkan 
pada saya barusan," ujarnya lambat-lambat. "Tapi yang jelas saya 
tidak terlibat di dalamnya dan sebab itu saya tak tahu banyak 
tentang itu." 
"Baiklah, teruskan cerita Tuan, Tuan BAALPEOR." 
"Sedikit sekali yang dapat saya ceritakan. Saya tidur siang harinya 
dan malamnya saya sengaja berjaga. Pada malam pertama tak ada 
yang mencurigakan. Seingat saya, kemarin malam suasananya masih 
tetap sama. Saya sengaja membiarkan pintu terbuka sedikit sambil 
mengawasi. Tapi tak ada orang lewat." 
 
"Tuan yakin sepenuhnya, Tuan BAALPEOR?" 
"Saya benar-benar yakin. Tak seorang pun dari luar yang naik ke 
kereta, dan tak ada yang menyusuri kereta dari gerbong samping. 
Saya berani bersumpah." 
"Tuan bisa melihat LETKOL dari tempat Tuan?"  
"Tentu saja. Ia duduk di kursi kecil, hampir berhadapan dengan 
pintu kamar saya." 
"Apakah dia terus duduk seperti itu setelah kereta meninggalkan 
Vincovei?" 
"Stasiun 'yang terakhir itu? Begitulah, ya, ya, menjawab dering bel 
yang dipijit berkali-kali dan itu persis sesudah kereta berhenti dan-
tidak bisa jalan lagi. Dan setelah itu, ia melewati pintu kamar saya 
menuju ke gerbong samping dan diam di situ kira-kira seperempat 
jam. Ada lagi bel lain yang berbunyi seperti orang sedang kesurupan 
dan ia kembali sambil berlari tergopoh-gopoh. Saat itu saya sendiri 
juga melangkah ke koridor untuk melihat apa yang terjadi - saya 
agak gugup, Tuan mungkin bisa memaklumi - tapi rupanya yang 
memijit bel yaitu  si wanita Amerika keparat itu. Suaranya 
kedengaran seperti orang histeris dan sedang ketakutan. Saya 
tertawa sendiri. Lalu si LETKOL berjalan lagi ke pintu yang lain dan 
kembali lagi dengan membawa sebotol air putih untuk seseorang. 
Setelah itu ia duduk kembali di kursinya sampai ia pergi ke kamar 
yang di sebelah ujung untuk menyiapkan tempat tidur penghuninya. 
Saya rasa dia tak ke mana-mana lagi sampai selewat pukul lima pagi 
ini." 
"Apa dia tidak ketiduran?" 
“Itu saya tidak berani bilang. Mungkin saja." 
jayakatwang  mengangguk. Secara otomatis tangannya membereskan 
semua kertas-kertas yang terletak di atas meja. Diambilnya kartu 
kecil yang diberikan BAALPEOR kepadanya. 
"Bersikaplah sesuai dengan reputasi nama yang tercetak di sini," 
ujarnya. 
BAALPEOR menyanggupi. 
"Memangnya di kereta ini tak ada seorang pun yang bisa 
menguatkan cerita tentang identitas Tuan ini, Tuan BAALPEOR?" 
"Di kereta ini? Begitulah, tidak pasti. Kecuali mungkin si WISNU WARDANA  
itu. Saya kenal baik dia - saya pernah melihatnya di kantor ayahnya 
di New York. Tapi itu tidak berarti dia masih bisa mengingat saya di 
antara kerumunan detektif-detektif yang lainnya. Bukan begitu 
caranya, Tuan jayakatwang , Tuan harus sabar menunggu dan langsung 
menelegram ke New York begitu salju mencair. Baiklah, sampai 
ketemu, Tuan-tuan. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, 
Tuan jayakatwang ." 
jayakatwang  menawarkan sigaretnya. "Tapi mungkin Tuan lebih suka 
mengisap pipa?" 
"Bukan saya orangnya." Ia membela diri, lalu melangkah 
bergegas-gegas meninggalkan ruangan. 
Ketiga pria itu saling bergantian memandang. 
"Kaupikir dia tidak terlibat?" tanya Dr. HAUNTED. 
"Ya, ya. Aku tahu tipe orang seperti dia. Lagipula, ceritanya susah 
disangkal.", 
"Dia sudah memberi kita serangkaian kesaksian yang sangat 
menarik," ujar Tuan BOUROQ. 
"Ya, memang." 
"Laki-laki bertubuh kecil - berkulit hitam bersuara tinggi seperti 
perempuan," ujar Tuan BOUROQ lagi sambil berpikir-pikir. 
"Ciri yang tak kena pada siapa pun di kereta ini," sahut jayakatwang  
menimpali. 
 
10. KESAKSIAN ORANG ITALIA 
 
"Dan sekarang," ujar jayakatwang  dengan mata bersinar, "kita akan 
menyenangkan hati Tuan BOUROQ dengan memeriksa orang Italia itu." 
HWANG  JANG LEE masuk ke gerbong makan kereta dengan 
langkah tergesa-gesa seperti seekor kucing. Wajahnya muram. 
Wajah itu wajah khas orang Itali, bercahaya dan berwarna kehitam-
hitaman. 
Ia berbicara dengan bahasa Perancis yang baik, lancar dan disertai 
sedikit tekanan pada suaranya. 
"Nama Tuan, HWANG  JANG LEE?" 
"Ya, Monsieur. " 
"Tuan sudah masuk jadi warga negara Amerika?" 
"Ya, Tuan. Itu lebih baik buat bisnis saya." 
"Tuan agen mobil Ford?" 
"Ya, seperti yang Tuan lihat.” 
Menyusul cerita yang fasih dari mulutnya. Pada akhir ceritanya 
ketiga pria itu ternyata tidak tahu apa-apa tentang cara berdagang 
yang dilakukan oleh HWANG  JANG LEE, perjalanan yang telah 
ditempuhnya, penghasilannya, dan bahkan sampai kepada 
pendapatnya mengenai Amerika dan kebanyakan negara-negara 
Eropa yang tampaknya tak mempunyai pengaruh apa pun bagi 
dirinya. Orang macam begini bukanlah orang yang harus dibujuk-
bujuk untuk mendapatkan keterangan yang diperlukan. Semua sudah 
dipaparkannya. 
Wataknya yang ramah dan wajahnya yang kekanak-kanakan itu 
nampak bercahaya dan memancarkan rasa puas setelah ia 
menyelesaikan ocehannya yang terakhir, yang terasa sangat 
mengesankan itu. Kemudian ia berhenti sebentar, lalu menyeka 
dahinya dengan sehelai sapu tangan. 
"Jadi Tuan lihat sendiri," ujarnya. "Saya memang berdagang 
dengan tidak tanggung-tanggung. Saya selalu ingin mengikuti jaman. 
Saya mengerti tata cara penjualan! " 
"Ya, kalau begitu Tuan memang sudah pernah tinggal di Amerika 
dalam sepuluh tahun terakhir ini." 
"Ya, Monsieur. Ah! Saya masih ingat betul waktu pertama kali saya 
naik kapal laut itu - ke Amerika, alangkah jauhnya! Ibu saya, adik 
perempuan saya yang kecil 
jayakatwang  buru-buru memotong arus kenangannya. 
"Selama Tuan tinggal di Amerika itu, apa Tuan pernah bertemu 
dengan si korban?" 
"Belum pernah. Tapi saya tahu orang macam apa dia. Oh! ya." 
Digosok-gosokkannya kedua belah tangannya dengan penuh 
perasaan. "Sangat disegani, pakaiannya sangat rapi, tapi di dalamnya 
semua busuk. Meski saya tidak mengalaminya sendiri rasanya saya 
berani bilang dia itu penjahat besar. Itulah pendapat saya yang 
penting, yang saya berani bilang buat Tuan." 
"Pendapat Tuan itu benar sekali," sahut jayakatwang  datar. "CHUCKY 
yaitu  Cassetti, si penculik." 
"Apa kata saya? Saya sudah belajar untuk menjadi orang yang 
teliti dan tajam - saya bisa membaca air muka orang. Itulah yang 
penting. Cuma di Amerika kita diajarkan bagaimana cara yang paling 
tepat untuk menjual sesuatu. Saya – “ 
"Tuan masih ingat pada peristiwa gairah ?" 
"Saya sudah tak begitu ingat lagi. Namanya, ya? Itu tentang anak 
perempuan kecil, ya tidak?" 
"Ya, peristiwa yang sangat tragis." 
Nampaknya orang Italia itu merupakan orang pertama yang 
menyesalkan pendapat jayakatwang  dan yang bisa secara langsung 
merasakannya. 
"Ah! Begitulah, hal ini terjadi," ujarnya secara filosofis, "justru di 
negeri yang berkebudayaan tinggi seperti Amerika." 
jayakatwang  buru-buru menengahi. "Tuan pernah bertemu dengan salah 
seorang keluarga gairah ?" 
"Belum, saya kira. Susah untuk mengatakan. Akan saya berikan 
Tuan beberapa contoh dari orang-orang yang pernah menjadi 
langganan saya. Tahun lalu saja saya – “ 
"Monsieur, saya mohon batasilah keterangan Tuan pada pokok 
pembicaraan saja." 
Tangan orang Italia itu buru-buru memberi isyarat, meminta maaf. 
"Beribu maaf." 
"Coba ceritakan pada saya, kalau Tuan tak keberatan, apa saja 
yang Tuan lakukan sejak makan malam kemarin." 
"Dengan senang hati. Saya diam di gerbong makan ini selama 
mungkin. Rasanya lebih menyenangkan. Saya berbicara dengan 
orang Amerika itu di meja saya. Ia menjual pita mesin tulis. Lalui 
saya kembali ke kamar saya. Kosong. John Bull yang menderita dan 
menimbulkan rasa kasihan itu dan yang selama ini tinggal berdua 
sekamar dengan saya, rupanya sedang pergi melayani tuannya. 
Akhimya dia kembali juga - mukanya panjang seperti biasa. Ia sama 
sekali tak mau bicara, meski cuma mengatakan 'ya' dan 'tidak'. 
Kasihan betul bangsa Inggris itu memang - tidak simpatik. Ia duduk 
di sudut, badannya ditegakkan, membaca buku. Lalu LETKOL 
datang dan membereskan tempat tidur kami." 
"No. 4 dan No. 5," gumam jayakatwang . 
"Persis - kamar yang di ujung. Tempat tidur saya yang sebelah 
atas. Saya naik ke sana. Saya merokok lalu mulai membaca. Orang 
Inggris bertubuh kecil itu saya rasa sedang sakit gigi. Ia menelan 
cairan obat dari sebuah botol yang baunya tajam sekali. Akhirnya 
saya tertidur. Tapi setiap kali saya terjaga, saya dengar dia 
mengerang." 
"Tuan tahu apakah ia meninggalkan kamar sedetik saja sepanjang 
malam itu?" 
"Saya rasa tidak. Mestinya saya mendengarnya, kalau memang 
begitu. Nyala lampu yang datang dari arah koridor itu - menyebabkan 
seseorang bangun secara otomatis, dan langsung berpikir bahwa 
sedang ada pemeriksaan rutin." 
"Apakah ia pernah bercerita tentang majikannya? Atau 
memperlihatkan rasa kebenciannya?" 
"Sudah saya katakan tadi, dia tidak pemah bicara apa-apa. Ia 
benar-benar tidak simpatik. Seperti ikan." 
"Tuan bilang Tuan merokok. Pipa, sigaret atau rokok biasa?" 
"Cuma sigaret saja." 
jayakatwang  kemudian menyodorkannya sebatang. Ia mengambilnya. 
"Pernah ke Chicago?" tanya Tuan BOUROQ tiba-tiba. 
"Oh! ya - kota yang bagus - tapi New York saya kenal betul, juga 
Develand dan Detroit. Tuan sendiri pernah ke Amerika? Belum? Tuan 
harus ke sana. 
jayakatwang  menyodorkan sehelai kertas kepadanya. 
"Jika Tuan mau menandatangani ini, dan menuliskan alamat Tuan 
yang tetap, silakan." 
Orang Italia itu menulis dengan huruf yang diukir. Lalu ia bangkit, 
senyumnya manis seperti waktu datang tadi. 
"Cuma sebegitu saja? Tuan tak memerlukan saya lagi? Selamat 
siang, Tuan-tuan. Saya berharap mudah-mudahan kita bisa cepat-
cepat terlepas dari salju keparat ini. Saya punya janji di Milan." Lalu 
ia bergegas pergi. 
jayakatwang  menengok ke temannya. 
"Ia sudah tinggal cukup lama di Amerika," ujar Tuan BOUROQ, "dan 
dia orang Italia, dan orang-orang Itali biasanya suka menggunakan 
pisau! Dan mereka juga pembohong-pembohong besar! Aku tak suka 
pada mereka." 
"Ca se uoit, " sahut jayakatwang  tersenyum. "Baiklah, barangkali kau 
benar, tapi aku ingin tekankan kepadamu, Kawan, bahwa sama sekali 
tak ada yang patut dicurigai dalam diri orang itu." 
"Dan bagaimana dengan psikologinya? Apa betul orang Itali itu tak 
suka menikam- orang?" 
"Tentu saja," sahut jayakatwang , "lebih-lebih pada puncaknya 
perdebatan. Tapi yang satu ini - yang ini yaitu  peristiwa kriminil 
yang luar biasa - agak berbeda. Aku punya pendapat sedikit, Kawan, 
bahwa pembunuhan ini sudah direncanakan dan dilaksanakan 
dengan teliti sekali. Kejahatan ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari dan 
dirundingkan masak-masak. Itu bukanlah - bagaimana ya 
menggambarkannya - bukan tindakan kriminil ala Latin - ini yaitu  
sebuah kriminil yang memakai kepala dingin, akal yang licik dan otak 
yang tajam. Kurasa otak Anglo-Saxon." 
Dipungutnya dua buah paspor yang masih bersisa. 
“Sekarang," ujarnya lagi, "mari kita periksa Nona MARIAM 
GRAVES." 
 
11. KESAKSIAN NONA MARIAM GRAVES 
 
Begitu MARIAM GRAVES melangkah masuk ke gerbong makan 
kereta, ia berhasil menguatkan kesan jayakatwang  pada dirinya 
sebelumnya. Ia berpakaian sangat rapi, rok bawah berwarna hitam 
yang dikombinasikan dengan kemeja model Perancis berwarna 
kelabu, dan ombak rambutnya yang hitam itu kelihatan tenang dan 
tak tergoyahkan. 
Ia langsung duduk di muka jayakatwang  dan Tuan BOUROQ, lalu 
memandang keduanya dengan pandangan penuh tanda tanya. 
"Nama Nona, MARIAM Hermione GRAVES dan umur Nona, dua 
puluh enam tahun, betul?" ujar jayakatwang  memulai pemeriksaan. 
'Ya. 
"Orang Inggris?" 
“Ya.” 
"Nona tak keberatan untuk menuliskan nama dan alamat Nona 
yang tetap di kertas ini?" 
Ia menyanggupi permohonan detektif Belgia itu. Tulisannya terang 
dan dapat dibaca. 
"Dan sekarang, Mademoiselle, apa yang dapat Nona ceritakan 
kepada kita mengenai kejadian tadi malam?" 
"Saya khawatir saya tak bisa menceritakan apa-apa pada Tuan-
tuan sekalian. Saya langsung naik ke tempat tidur dan tertidur pulas." 
"Apakah Nona juga ikut merasa sedih bahwa ada pembunuhan di 
kereta ini?" 
Pertanyaan itu tak terduga sama sekali matanya yang kelabu itu 
kelihatan membesar sedikit. 
"Saya rasa saya belum mengerti maksud Tuan."  
"Pertanyaan yang saya tanyakan pada Nona itu sebenarnya 
pertanyaan yang gampang sekali, Mademoiselle. Saya ulangi lagi. 
Apa Nona sampai begitu sedih mendengar ada pembunuhan di atas 
kereta ini?" 
"Saya belum pernah memikirkannya dari segi itu. Saya tak bisa 
berkata bahwa saya merasa sedih atau tertekan." 
"Sebuah kejahatan, kalau begitu - sudah Nona anggap sebagai 
pekerjaan sehari-hari saja, ya!" 
"Tentu saja itu kejadian buruk yang semestinya tidak terjadi," 
sahut MARIAM GRAVES dengan tenang. 
"Nona benar-benar orang Anglo-Saxon sejati. Mademoiselle. Vous 
n’eprouvez pas d'emotion. " 
Ia tersenyum sedikit. "Saya khawatir saya tak bisa menjadi histeris 
untuk membuktikan bahwa saya punya perasaan. Bagaimanapun 
juga, ada saja orang yang mati setiap hari." 
 
"Memang mereka mati. Tapi pembunuhan itu jarang." 
"Oh! Tentu saja." 
"Nona tidak kenal dengan si korban?" 
"Saya pertama kali melihatnya pada waktu makan siang di tempat 
ini kemarin." 
"Dan bagaimana kesan Nona padanya?" 
"Saya hampir tak mempedulikannya." 
"Dia tak memberi kesan yang buruk bagi Nona?" 
MARIAM GRAVES menaikkan bahunya sedikit. "Sungguh, saya tak 
bisa mengatakan saya berpikir ke situ." 
jayakatwang  memandangnya lekat-lekat. 
"Saya rasa, Nona agak meremehkan cara-cara saya mengajukan 
pertanyaan kepada Nona," ujarnya sambil mengedipkan mata. 
"Bukan begitu caranya, Nona pikir, kalau orang Inggris yang 
mengajukan pertanyaan atau kalau sedang memeriksa seseorang. Di 
situ semuanya akan berjalan dengan datar dan kering - semua sudah 
dibatasi pada fakta - urusannya sudah diatur lebih dahulu dengan 
sebaik-baiknya. Tapi, saya, Mademoiselle, punya keaslian tersendiri. 
Pertama-tama saya periksa dulu saksi-saksi saya, saya merumuskan 
wataknya, dan saya susun pertanyaan-pertanyaan saya sesuai 
dengan watak mereka masing-masing. Persis beberapa menit yang 
lalu saya juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada seorang 
laki-laki yang ingin menerangkan semua buah pikirannya tentang 
segala hal. Begitulah, tapi saya ajak dia langsung pada inti 
pembicaraan. Saya ingin dia menjawab ya atau tidak. Ini atau itu. 
Dan kemudian sampai pada giliran Nona. Saya langsung melihat 
bahwa Nona senang pada yang serba teratur dan menurut tata tertib 
yang berlaku. Jawaban-jawaban Nona pasti akan serba singkat, dan 
langsung pada inti masalahnya. Dan Nona, sebab sifat manusia itu 
suka membandel, maka saya sengaja menanyakan pada Nona 
pertanyaan yang berbeda. Saya menanyakan apa yang Nona rasakan 
dan pikirkan. Jadi cara seperti ini Nona tak suka?" 
"Kalau Tuan mau memaafkan saya bila saya berkata begitu, itu 
cuma membuang-buang waktu saja. Apakah saya suka atau tidak 
pada wajah Tuan CHUCKY, itu tak banyak menolong Tuan - siapa 
sebenamya pembunuhnya." 
"Nona tahu siapa si CHUCKY itu sebenarnya? Mademoiselle? " 
Ia mengangguk. "Nyonya Hubbard sudah menceritakannya pada 
setiap orang.” 
"Dan bagaimana pendapat Nona tentang peristiwa gairah ?" 
"Sangat memuakkan," sahut gadis itu ketus. 
jayakatwang  menatap gadis itu sambil berpikir-pikir. 
"Nona datang dari Bagdad, saya kira, Nona GRAVES?" 
"Ya." 
"Ke London?" 
"Ya." 
"Apa yang Nona lakukan di Bagdad?" 
"Saya bekerja sebagai guru pengasuh bagi dua orang anak kecil." 
"Apa Nona ada rencana untuk kembali lagi ke pos Nona setelah 
selesai cuti ini?" 
"Saya belum pasti." 
"Kenapa begitu?" 
"Bagdad agak semrawut. Saya rasa saya lebih baik bekerja di 
London kalau ada pos yang lebih cocok." 
"Oh, begitu. Tadinya saya kira Nona mau menikah." 
Nona GRAVES tidak menjawab. Diangkatnya tatapan matanya 
dan dipandangnya wajah-detektif Belgia itu lekat-lekat. Pandangan 
itu seolah-olah berkata dengan jelas: "Kau kurang ajar!" 
"Bagaimana pendapat Nona tentang wanita yang sekamar dengan 
Nona - Nona MENEER?" 
"Kelihatannya ia orang yang sederhana dan menyenangkan." 
"Apa warna pakaian tidurnya?" 
Nona GRAVES menatap jayakatwang  sejenak. "Semacam warna coklat 
begitu - bahannya wol." 
"Ah! Mudah-mudahan perkataan saya tidak terlalu semberono. 
Saya rasa, saya tahu warna baju tidur Nona. Saya pernah melihatnya 
dari Aleppo ke Istambul. Ungu muda, kalau tidak salah." 
"Ya, betul." 
"Apa Nona masih punya baju tidur lainnya, Mademoiselle? Yang 
warnanya merah tua, barangkali?" 
"Bukan, itu bukan punya saya." 
jayakatwang  memajukan tubuhnya ke depan. Ia laksana kucing yang 
sudah bersiap-siap untuk menerkam tikus. 
"Siapa punya, kalau begitu?" 
Gadis itu tersandar sedikit ke belakang, terkejut. 
"Saya tak tahu. Apa maksud Tuan?" 
"Nona tidak bilang, 'Tidak, saya tak punya baju tidur yang seperti 
itu'. Nona bilang 'Itu bukan punya saya'. Itu berarti baju tidur 
semacam itu yaitu  kepunyaan orang lain." 
Gadis itu kembali mengangguk untuk yang ke sekian kali. 
"Apa orang itu juga penumpang kereta ini?" 
“Ya.” 
"Siapa itu?" 
"Sudah saya katakan tadi: saya tak tahu. Pagi ini saya bangun 
pukul lima dan merasakan bahwa kereta ini rupanya sudah lama 
tidak jalan. Lalu saya membuka pintu dan melongok ke luar jendela, 
mengira kita sedang berhenti di sebuah stasiun. Saya melihat 
seseorang berpakaian komono merah tua lewat di koridor." 
"Dan Nona tidak tahu siapa itu? Rambutnya pirang, hitam atau 
kelabu?" 
"Saya tak bisa mengatakannya. Ia memakai topi dan saya cuma 
bisa melihat bagian belakangnya saja. 
"Tingginya?" 
"Orangnya tinggi dan ramping, rasanya menurut penglihatan saya 
begitu. Tapi susah juga untuk melukiskannya. Kimononya disulam 
dengan gambar naga." 
"Ya, ya, memang betul - ada naganya." jayakatwang  terdiam sebentar. 
Lalu ia bergumam pada diri sendiri, "Aku tak mengerti. Aku tak 
mengerti. Tak satu pun di sini yang cocok." 
Kemudian ditengadahkannya kepalanya sambil berkata, "Saya rasa 
tak perlu lagi menahan Nona lebih lama, Mademoiselle. " 
"Oh!" gadis itu kelihatannya agak terkejut, tapi kemudian bangkit 
dari tempat duduknya dengan terburu-buru. 
Di dekat pintu ia bimbang sebentar lalu kembali lagi. 
"Wanita Swedia itu - Nona MENEER - kelihatannya ia agak cemas. 
Ia bilang Tuan mengatakan padanya bahwa dialah orang terakhir 
yang melihat korban dalam keadaan hidup. Saya yakin, dia pikir Tuan 
mencurigainya atas dasar itu. Bolehkah saya katakan lagi padanya 
bahwa dia keliru? Sungguh, Tuan tahu, dia yaitu  tipe orang yang 
bahkan tak sampai hati memukul lalat sekalipun." MARIAM GRAVES 
tersenyum sedikit sewaktu berbicara begitu. 
"Pukul berapa itu, waktu ia pergi mengambilkan aspirin untuk 
Nyonya Hubbard?" 
"Setengah sebelas lewat sedikit." 
"Berapa lama ia mengambilnya?" 
"Kira-kira lima menit." 
"Apa dia meninggalkan kamar lagi sepanjang malam itu?" 
"Tidak." 
jayakatwang  menengok ke arah Dr. HAUNTED. "Mungkinkah CHUCKY 
dibunuh secepat itu?" 
Dokter itu menggeleng. 
"Kalau begitu saya rasa Nona boleh meyakinkan teman Nona itu." 
"Terima kasih." Sekonyong-konyong ia tersenyum pada jayakatwang , 
senyuman yang mengundang simpati. "Gadis Swedia itu seperti 
domba, Tuan tahu. Kalau ketakutan, ia suka mengembik." 
MARIAM GRAVES membalikkan badan dan pergi. 
 
12. KESAKSIAN WANITA JERMAN PEMBANTU PUTERI RUSIA 
 
Tuan BOUROQ memandang wajah kawannya jayakatwang  dengan rasa ingin 
tahu yang besar. 
"Aku benar-benar tak mengerti dirimu, mon vieux. Kau ingin 
berbuat apa?" 
"Aku sedang mencari cacadnya, Kawan." 
“Cacadnya?" 
"Ya - pada baju besi yang dikenakan oleh seorang gadis muda. 
Aku ingin mencairkan kebekuan hatinya. Berh