tumbuh dan berkembang. Ini dinamakannya "sebab terakhir",
Aristoteles memberikan pada air hujan itu suatu tugas-kehidupan,
atau "tujuan".
Kita mungkin akan membalikkan masalah dan mengatakan bahwa
tanaman tumbuh karena mereka menemukan uap air. Kamu bisa
melihat perbedaannya, bukan, Nyai girah ? Aristoteles percaya bahwa
ada tujuan di balik segala sesuatu di alam ini. Hujan turun agar
tanaman dapat tumbuh; jeruk dan anggur tumbuh agar manusia dapat
memakannya.
Penalaran alamiah masa kini tidak seperti ini. Kita mengatakan
bahwa makanan dan air merupakan syarat penting bagi kehidupan
manusia dan binatang. Jika tidak mempunyai syarat ini, kita tidak
akan hidup. Tapi tujuan dari air atau jeruk itu bukanlah untuk
menjadi makanan kita.
Maka dalam masalah sebab-akibat, kita tergoda untuk mengatakan
bahwa Aristoteles salah. Tapi, sebaiknya kita tidak terburu-buru.
Banyak orang percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia sebagaimana
adanya agar seluruh makhluk-Nya dapat hidup di dalamnya. Jika
dipandang dengan cara ini, dengan sendirinya dapat dikatakan bahwa
ada air di sungai sebab binatang dan manusia memerlukan air untuk
hidup. Tapi kini kita membicarakan tujuan Tuhan. Air hujan dan air
sungai tidak mempunyai kepentingan dengan kesejahteraan kita.
Logika
Perbedaan antara "bentuk" dan "substansi" memainkan peranan
penting dalam penjelasan Aristoteles tentang cara memandang benda-
benda di dunia.
saat kita melihat benda-benda, kita menggolongkan mereka
dalam berbagai kelompok atau kategori. Aku melihat seekor kuda,
lalu aku melihat kuda lainnya, dan yang lainnya. Kuda-kuda itu tidak
persis sama, tapi mereka mempunyai sesuatu yang sama, dan sesuatu
yang sama itu yaitu "bentuk" kuda. Semua yang membedakan, atau
bersifat individual, termasuk ke dalam "substansi" kuda itu.
Dengan demikian, kita bisa mengelompokkan segala sesuatu. Kita
memasukkan sapi ke kandang sapi, kuda ke kandang kuda, babi ke
kandang babi, dan ayam ke kandang ayam, Hal yang sama terjadi
saat Nyai girah Amundsend merapikan kamarnya. Dia meletakkan buku
di rak buku, buku sekolah di tas sekolah, dan majalah di laci. Lalu,
dia melipat pakaiannya dengan rapi dan menyimpannya di lemari—
pakaian dalam di satu rak, sweter di rak lain, dan kaus kaki di dalam
laci tersendiri. Ketahuilah bahwa kita melakukan hal yang sama
dalam benak kita. Kita membedakan benda-benda yang terbuat dari
batu, benda-benda yang terbuat dari wol, dan benda yang terbuat dari
karet. Kita membedakan antara benda hidup dan benda mati, dan kita
membedakan antara tanaman, binatang, dan manusia.
Dapatkah kamu memahaminya, Nyai girah ? Aristoteles ingin
melakukan pembersihan besar-besaran dalam "kamar" alam. Dia
ingin membuktikan bahwa segala sesuatu di alam termasuk dalam
kategori dan subkategori yang berbeda-beda. (Hermes yaitu
makhluk hidup, lebih khusus lagi seekor binatang, lebih khusus lagi
seekor binatang bertulang belakang, lebih khusus lagi seekor
mamalia, lebih khusus lagi seekor anjing, lebih khusus lagi seekor
Labrador, lebih khusus lagi seekor Labrador jantan.)
Masuklah ke kamarmu, Nyai girah . Ambillah sesuatu, apa saja, dari
lantai. Apa pun yang kamu ambil, akan kamu dapati bahwa yang kamu
pegang itu termasuk ke dalam kategori yang lebih tinggi. Pada saat
kamu melihat sesuatu yang tidak dapat kamu golongkan, kamu akan
terkejut. Jika, misalnya, kamu menemukan suatu benda kecil yang
tidak kamu kenal, dan kamu tidak dapat menentukan apakah itu
binatang, tanaman, atau mineral—kukira kamu tidak akan berani
menyentuhnya.
Berbicara tentang binatang, tanaman, dan mineral mengingatkanku
akan permainan pesta. Dalam permainan itu, seorang korban
dikeluarkan dari ruangan, dan saat dia masuk lagi dia harus
menebak apa yang sedang dipikirkan semua orang lain. Semua orang,
misalnya, telah setuju untuk memikirkan Fluffy, si kucing, yang pada
saat itu berada di taman tetangga. Si korban masuk dan mulai
menebak. Yang lainnya harus menjawab "ya" atau "tidak". Jika
korban itu seorang penganut ajaran Aristoteles yang baik—dan
karenanya bukanlah "korban"—permainan itu akan berjalan sebagai
berikut:
Apakah itu nyata? (Ya!) Benda mati? (Tidak!) Apakah ia hidup?
(Ya!) Tanaman? (Tidak!) Binatang? (Ya!) Apakah ia burung?
(Tidak!) Apakah ia binatang menyusui? (Ya!) Apakah ia binatang
berkaki empat? (Ya!) Apakah ia kucing? (Ya!) Apakah ia Fluffy?
(Ya! Tertawa ...)
Jadi, Aristoteleslah yang menemukan permainan itu. Kita harus
memercayai Plato sebagai penemu permainan petak umpet.
Democritus diyakini sebagai penemu permainan Lego.
Aristoteles yaitu seorang organisator yang teliti, yang ingin
menjernihkan konsep-konsep kita. Sesungguhnya, dialah yang
mendirikan ilmu Logika. Dia menunjukkan sejumlah hukum yang
mengatur kesimpulan-kesimpulan atau bukti-bukti yang sah. Satu
contoh sudah cukup. Jika pertama-tama aku katakan bahwa "semua
makhluk hidup akan mati" (premis pertama), dan kemudian kukatakan
bahwa "Hermes yaitu makhluk hidup" (premis kedua), aku dapat
menyimpulkan bahwa "Hermes akan mati".
Contoh itu membuktikan bahwa logika Aristoteles didasarkan pada
korelasi pengertian, dalam hal ini '̀makhluk hidup" dan "akan mati".
Meskipun orang harus mengakui bahwa kesimpulan di atas 100%
benar, kita juga boleh menambahkan bahwa itu hampir tidak
menunjukkan sesuatu yang baru. Kita sudah tahu bahwa Hermes "akan
mati". (la yaitu seekor "anjing" dan semua anjing yaitu "makhluk
hidup"—yang "akan mati", tidak seperti batu cadas di Gunung
Everest.) Tentu saja kita tahu itu, Nyai girah . Tapi hubungan antara
kelompok-kelompok benda tidak selalu jelas. Kadang-kadang kita
harus menjelaskan konsep-konsep kita.
Misalnya: apakah memang mungkin bahwa bayi tikus yang kecil-
mungil menyusu seperti anak domba atau anak babi? Tikus jelas tidak
bertelur (Pernahkah kamu melihat sebutir telur tikus?) Jadi, mereka
melahirkan anak hidup—persis seperti babi dan domba. Tapi kita
menyebut binatang yang melahirkan anak hidup itu mamalia—dan
mamalia yaitu binatang yang menyusu pada ibunya. Jadi—kita bisa
membuat kesimpulan. Kita sudah mendapatkan jawabannya dalam
benak kita. Namun, kita harus memikirkannya benar-benar. Suatu saat
kita bisa saja lupa bahwa tikus memang menyusu dari ibunya.
Mungkin itu karena kita tidak pernah melihat seekor bayi tikus sedang
disusui, alasannya sederhana, yaitu bahwa tikus agaknya malu pada
manusia saat sedang menyusui anaknya.
Tangga Alam
saat Aristoteles "membuat penjelasan" tentang kehidupan,
pertama-tama dia menyatakan bahwa segala sesuatu di alam ini dapat
dibagi menjadi dua kategori utama. Di satu pihak ada benda mati,
seperti batu, tetes air, atau gumpalan tanah. Benda-benda ini tidak
mempunyai potensi untuk berubah. Menurut Aristoteles, benda-benda
mati hanya dapat berubah melalui pengaruh luar. Hanya benda hidup
yang mempunyai potensi untuk berubah.
Aristoteles membagi "benda hidup" ke dalam dua kategori. Yang
satu terdiri dari tanaman, dan yang lain yaitu makhluk.
Akhirnya, "makhluk-makhluk" ini juga dapat dibagi ke dalam dua
subkategori, yaitu binatang dan manusia.
Kamu harus mengakui bahwa kategori-kategori dari Aristoteles itu
jelas dan sederhana. Ada perbedaan nyata antara benda hidup dan
benda mati, misalnya sekuntum mawar dan sebuah batu, sebagaimana
ada perbedaan jelas antara tanaman dan binatang, misalnya sekuntum
mawar dan seekor kuda. Aku juga akan mengemukakan bahwa ada
perbedaan jelas antara seekor binatang dan seorang manusia. Tapi
terdiri dari apakah perbedaan ini persisnya? Dapatkah kamu
mengatakannya kepadaku?
Sayangnya aku tidak punya waktu untuk menunggumu menuliskan
jawabannya dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop merah
jambu dengan segumpal gula, maka aku akan menjawab sendiri
pertanyaan itu. saat Aristoteles membagi fenomena alam ke dalam
berbagai kategori, kriterianya yaitu ciri objek itu, atau secara lebih
khusus apa yang dilakukan atau apa yang dapat dilakukannya.
Semua benda hidup (tanaman, binatang, manusia) mempunyai
kemampuan untuk menyerap makanan, tumbuh, dan berkembang biak.
Semua "makhluk hidup" (binatang dan manusia), sebagai tambahan,
mempunyai kemampuan untuk memahami dunia di sekeliling mereka
dan bergerak ke sana ke mari. Lebih-lebih, semua manusia
mempunyai kemampuan untuk berpikir—atau mengatur persepsi-
persepsi mereka ke dalam berbagai kategori dan golongan.
Maka sesungguhnya, tidak ada batasan tegas di dunia alam ini.
Kita melihat adanya transisi sedikit demi sedikit dari tanaman
sederhana hingga tanaman yang lebih rumit, dari binatang yang
sederhana hingga binatang yang lebih rumit. Di puncak "tangga" ini
yaitu manusia—yang menurut Aristoteles menjalani kehidupan alam
sepenuhnya. Manusia tumbuh dan menyerap makanan seperti
tanaman, dia mempunyai perasaan dan kemampuan untuk bergerak
seperti binatang, tapi dia juga mempunyai ciri khas yang hanya
dimiliki manusia, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional.
Oleh karena itu, manusia mempunyai sepercik akal Ilahi, Nyai girah .
Ya, aku memang mengatakan Ilahi. Berulang-ulang Aristoteles
mengingatkan kita bahwa pasti ada Tuhan yang memulai semua
gerakan di dunia alam ini. Oleh karena itu, Tuhan pasti berada di
puncak paling atas tangga alam.
Aristoteles membayangkan gerakan bintang-bintang dan planet-
planet yang memandu seluruh gerakan di atas Bumi. Tapi, pasti ada
sesuatu yang menyebabkan benda-benda angkasa bergerak.
Aristoteles menamakan ini "penggerak pertama", atau "Tuhan".
"Penggerak pertama" itu sendiri tidak bergerak, tapi ia merupakan
"sebab formal" dari gerakan benda-benda angkasa, dan karenanya
juga semua gerakan di alam ini.
Etika
Mari kita kembali pada manusia, Nyai girah . Menurut Aristoteles,
"bentuk" manusia terdiri dari jiwa, yang mempunyai bagian yang
menyerupai tanaman, bagian binatang, dan bagian rasional. Dan kini
kita bertanya: bagaimana mestinya kita hidup? Apa yang diperlukan
untuk menjalani kehidupan yang baik? Jawabannya: Manusia dapat
mencapai kebahagiaan dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan
kecakapannya.
Aristoteles berpendapat ada tiga bentuk kebahagiaan. Bentuk
pertama kebahagiaan yaitu hidup senang dan nikmat. Bentuk kedua
yaitu menjadi warga negara yang bebas dan bertanggung jawab.
Bentuk ketiga yaitu menjadi seorang ahli pikir dan filosof.
Aristoteles selanjutnya menekankan bahwa ketiga kriteria itu harus
ada pada saat yang sama agar manusia dapat menemukan kebahagiaan
dan kepuasan. Dia menolak segala bentuk ketidakseimbangan. Jika
dia hidup pada zaman ini, dia mungkin akan mengatakan bahwa
seseorang yang hanya mengembangkan tubuhnya pasti menjalani
kehidupan yang sama tak seimbangnya dengan orang yang hanya
memanfaatkan kepalanya. Kedua ekstrem itu merupakan ungkapan
suatu cara hidup yang tidak sehat.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan antarmanusia, yang di
dalamnya Aristoteles mendukung "Jalan Tengah". Kita tidak boleh
bersikap pengecut dan tidak pula gegabah, tetapi berani (terlalu
sedikit keberanian berarti pengecut, terlalu banyak berarti gegabah),
tidak kikir dan tidak pula boros tetapi longgar (tidak cukup longgar
berarti kikir, terlalu longgar berarti boros). Hal yang sama berlaku
untuk makan. Akan berbahaya kalau kita makan terlalu sedikit, tapi
juga berbahaya jika makan terlalu banyak. Etika Plato maupun
Aristoteles menggemakan ajaran pengobatan Yunani: hanya dengan
menjaga keseimbangan dan kesederhanaan sajalah, maka aku dapat
mencapai kehidupan yang bahagia atau "selaras".
Politik
Tercelanya sikap ekstrem juga terungkap dalam pandangan
Aristoteles mengenai masyarakat. Dia mengatakan bahwa manusia
pada dasarnya yaitu "hewan politik". Tanpa masyarakat di
sekeliling kita, kita bukanlah manusia sejati, katanya. Dia
mengemukakan bahwa semua orang perlu memuaskan kebutuhan
pokok akan makanan, kehangatan, perkawinan, dan pendidikan anak.
Tapi bentuk tertinggi persahabatan manusia hanya dapat ditemukan
dalam negara.
Ini mendorong timbulnya pertanyaan bagaimana negara sebaiknya
diatur. (Kamu ingat "negara filosofis" Plato?) Aristoteles
mengemukakan tiga bentuk konstitusi yang baik.
Yang pertama yaitu monarki, atau kerajaan—yang berarti hanya
ada satu kepala negara. Agar bentuk konstitusi ini bisa berjalan baik,
ia tidak boleh melenceng menjadi "tirani"—yaitu jika seorang
pemimpin mengatur negara hanya demi kepentingannya sendiri.
Bentuk konstitusi yang baik lainnya yaitu aristokrasi, yang di
dalamnya ada sekelompok, besar atau kecil, pemimpin. Bentuk
konstitusi ini hendaknya tidak melenceng menjadi "oligarki"—yaitu
pemerintahan yang dijalankan hanya oleh beberapa orang. Contoh
dalam hal itu yaitu junta. Bentuk konstitusi yang baik ketiga yaitu
apa yang dinamakan Aristoteles polity, yang berarti demokrasi. Tapi
bentuk ini juga mempunyai aspek negatif. Suatu demokrasi dapat
dengan cepat berkembang menjadi pemerintahan oleh kawanan (mob
rule). (Bahkan jika si tiran Hitler tidak menjadi kepala negara
Jerman, semua anggota Nazi di bawahnya dapat membentuk mob rule
yang mengerikan.)
Pandangan mengenai Wanita
Akhirnya, mari kita pelajari pandangan Aristoteles mengenai kaum
wanita. Sayangnya, pandangannya tidak begitu menggembirakan
sebagaimana pandangan Plato. Aristoteles lebih cenderung untuk
percaya bahwa kaum wanita itu tidak sempurna dalam beberapa hal.
Seorang wanita yaitu "pria yang belum lengkap". Dalam hal
reproduksi, wanita bersikap pasif dan reseptif, sementara pria aktif
dan produktif; karena anak hanya mewarisi sifat-sifat pria, kata
Aristoteles. Dia percaya bahwa semua sifat anak terkumpul lengkap
dalam sperma pria. Wanita yaitu ladang, yang menerima dan
menumbuhkan benih, sementara pria yaitu "yang menanam". Atau,
dalam bahasa Aristoteles, pria menyediakan "bentuk", sedangkan
wanita menyumbangkan "substansi".
Tentu saja mengejutkan sekaligus patut disayangkan bahwa
seorang pria yang begitu cerdas dapat begitu keliru mengenai
hubungan antara dua jenis kelamin. Tapi ini membuktikan dua hal:
pertama, bahwa Aristoteles pasti tidak mempunyai banyak
pengalaman praktis menyangkut kehidupan kaum wanita dan anak-
anak, dan kedua, itu menunjukkan betapa segala sesuatu dapat
menjadi demikian kacau jika hanya kaum pria dibiarkan menguasai
bidang filsafat dan ilmu pengetahuan.
Pandangan Aristoteles yang keliru mengenai jenis kelamin itu
sangat membahayakan, sebab justru pandangannya—dan bukan
pandangan Plato—yang berpengaruh sepanjang Abad Pertengahan.
Gereja karenanya mewarisi pandangan tentang wanita yang sama
sekali tidak ada landasannya dalam Bibel. Yesus jelas bukan
pembenci wanita!
Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Tapi kamu akan
mendapat kabar dariku lagi.
saat Nyai girah telah membaca bab mengenai Aristoteles satu
setengah kali, dia mengembalikannya ke dalam amplop cokelat dan
tetap duduk, menatap ruang di hadapannya. Tiba-tiba, dia sadar
betapa berantakan sekelilingnya. Buku-buku dan penjilid buku
berbentuk cincin bertebaran di atas lantai. Kaus kaki dan sweter,
celana ketat dan jins setengah menggantung di luar lemari dinding. Di
atas kursi di depan meja tulis ada setumpukan besar pakaian kotor.
Nyai girah merasakan keinginan yang tak tertahankan untuk
membersihkan kamarnya. Yang pertama-tama dilakukannya yaitu
menarik semua pakaiannya keluar dari lemari dinding dan
menumpahkannya ke atas lantai. Dia merasa perlu merapikan
semuanya dari awal lagi. Lalu, dia mulai melipat barang-barangnya
dengan sangat rapi dan menyimpannya dengan teratur di atas rak.
Pada lemari dinding itu ada tujuh rak. Satu untuk pakaian dalam, satu
untuk kaus kaki dan celana ketat, dan satu lagi untuk jins. Sedikit
demi sedikit dia mengisi setiap rak. Dia tidak pernah
mempertanyakan di mana menyimpan sesuatu. Pakaian kotor masuk
ke sebuah tas plastik yang ditemukannya di rak paling bawah. Tapi
ada sesuatu yang aneh—sebuah kaus kaki putih setinggi lutut.
Masalahnya kaus itu hanya satu. Lebih-Iebih, itu bukan milik Nyai girah .
Dia mengamatinya dengan cermat. Tidak ada tanda-tanda yang
dapat menunjukkan pemiliknya, tapi Nyai girah mempunyai kecurigaan
keras mengenai siapa pemiliknya. Dia melemparkannya ke rak paling
atas agar jadi satu dengan Lego, kaset video, dan selendang sutra
merah. Dia telah menyediakan rak paling atas pada lemari dindingnya
khusus untuk benda-benda semacam itu. Itu yaitu satu-satunya
tempat di kamar itu yang tidak dapat sepenuhnya dia kontrol.
Nyai girah mengalihkan perhatiannya ke atas lantai. Dia memilah-
milah buku, penjilid buku, majalah, poster—persis seperti yang telah
digambarkan guru filsafat itu dalam bab mengenai Aristoteles.
Selesai mengerjakan itu, dia membereskan tempat tidurnya dan mulai
merapikan meja tulis.
Yang terakhir dilakukannya yaitu mengumpulkan seluruh halaman
saat n mengenai Aristoteles menjadi satu tumpukan yang rapi. Dia
mencari-cari sebuah penjilid tak terpakai dan alat pelubang kertas.
Dia melubangi tumpukan halaman itu, dan menyatukannya dengan
cincin penjilid. Yang ini juga dimasukkan ke rak paling atas.
Belakangan, pada hari itu, dia membawa masuk kaleng kue dari
sarang.
Mulai sekarang, segala sesuatu harus ditata rapi. Dan maksudnya
bukan hanya di kamarnya. Setelah membaca tentang Aristoteles, dia
sadar betapa pentingnya menata gagasan-gagasannya secara teratur.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari ibunya selama lebih dari
dua jam. Nyai girah pergi ke bawah. Sebelum membangunkan Ibu, dia
memutuskan untuk memberi makan binatang-binatang piaraannya.
Dia membungkuk di atas toples ikan mas di dapur.Salah satu ikan
itu berwarna hitam, yang satu lagi oranye, dan satunya lagi merah-
putih. Inilah sebabnya dia menamai mereka Black Jack, Goldtop, dan
Red Ridinghood.
saat dia memercikkan makanan ikan ke dalam air, dia berkata:
"Kalian termasuk makhluk hidup di alam ini, kalian dapat
menyerap makanan, kalian dapat berkembang dan berkembang biak
sendiri. Lebih khusus lagi, kalian termasuk golongan binatang. Maka,
kalian dapat bergerak ke sana kemari dan melihat-lihat dunia. Lebih
tepat lagi, kalian yaitu ikan, kalian bernapas dengan insang dan
dapat berenang ke depan dan ke belakang di dalam air kehidupan."
Nyai girah meletakkan kembali tutup toples makanan ikan. Dia sangat
puas dengan caranya mendudukkan ikan mas itu pada tangga alam,
dan terutama dia sangat puas dengan ungkapan "air kehidupan". Maka
kini, giliran burung parkit.
Nyai girah menuangkan sedikit makanan burung ke dalam cangkir
makanan mereka dan berkata:
"Smit dan Smule yang baik. Kalian telah menjadi parkit-parkit
kecil tersayang, sebab kalian berkembang dari telur-telur parkit
kecil, dan karena telur-telur ini mempunyai potensi untuk menjadi
parkit, untunglah kalian tidak menjadi burung beo yang suka berkuak-
kuak."
Nyai girah selanjutnya masuk ke kamar mandi besar, tempat kura-
kuranya yang lembam mendekam dalam sebuah kotak besar. Sekali-
sekali saat mandi, Ibu berteriak mengancam akan membunuh kura-
kura itu suatu hari nanti. Tapi selama ini, ancaman itu hanya gertak
sambal. Nyai girah mengambil daun selada dari sebuah toples selai
besar dan meletakkannya di dalam kotak.
"Govinda yang baik," katanya. "Kamu bukan salah satu binatang
tercepat, tapi jelas kamu mampu mengindrai sedikit bagian dari dunia
amat-sangat besar tempat kita hidup. Kamu harus puas dengan
kenyataan bahwa kamu bukan satu-satunya yang tidak dapat
melampaui batas dirimu sendiri."
Sherekan barangkali sedang berburu tikus—memang begitulah sifat
kucing. Nyai girah melintasi ruang duduk menuju kamar tidur ibunya.
Sebuah vas berisi bunga daffodil berdiri di atas meja kopi. Seakan-
akan bunga kuning itu membungkuk dengan hormat saat Nyai girah
lewat. Dia berhenti sejenak dan membiarkan jari-jarinya menyapu
pucuk-pucuk mereka yang lembut. "Kalian termasuk bagian
kehidupan alam pula," katanya. "Sesungguhnya, kalian telah
mendapatkan hak istimewa dibandingkan dengan vas tempat kalian
ditaruh. Tapi sayangnya, kalian tidak mampu menghargainya."
Lalu, Nyai girah berjingkat menuju kamar tidur ibunya. Meskipun
ibunya sedang pulas tidur, Nyai girah meletakkan sebelah tangannya ke
dahi wanita itu.
"Ibu salah seorang yang paling beruntung," katanya, "Sebab Ibu
bukan sekadar hidup seperti bunga bakung di kebun. Dan, Ibu bukan
pula sekadar makhluk hidup seperti Sherekan atau Govinda. Ibu
yaitu manusia, dan karenanya memiliki kemampuan berpikir yang
langka."
"Sedang bicara apa kamu, Nyai girah ?"
Ibunya terbangun lebih cepat daripada biasanya.
"Aku hanya mengatakan bahwa Ibu tampak seperti si kura-kura
pemalas. Kalau tidak, aku akan memberi tahu Ibu bahwa aku telah
merapikan kamarku, dengan kecermatan filosofis."
Ibunya mengangkat kepalanya.
"Aku akan ke sana," katanya. "Kamu yang bikin kopi, ya?"
Nyai girah melakukan apa yang disuruh, dan mereka segera duduk di
dapur menghadapi kopi, sari buah, dan cokelat.
Tiba-tiba Nyai girah berkata, "Pernahkah Ibu bertanya-tanya mengapa
kita hidup, Bu?"
"Oh, jangan dimulai lagi!"
"Ya, sebab kini aku tahu jawabannya. Kita hidup di planet ini agar
ada manusia yang dapat memberi nama pada segala sesuatu."
"Begitu? Aku tidak pernah memikirkannya."
"Makanya, Ibu punya masalah besar. Manusia yaitu binatang
yang berpikir. Jika Ibu tidak berpikir, Ibu bukan manusia sungguhan."
"Nyai girah !"
"Bayangkan jika hanya ada tanaman dan binatang. Maka, tidak
akan ada yang akan memberi tahu perbedaan antara `kucing' dan
`anjing' atau `bunga bakung' dan `buah frambus'. Tanaman dan
binatang hidup juga, tapi hanya kitalah makhluk yang dapat membagi-
bagi alam ke dalam kelompok-kelompok dan kelas-kelas yang
berbeda."
"Kamu benar-benar anak gadisku yang paling istimewa," kata
ibunya.
"Kuharap begitu," kata Nyai girah . "Setiap manusia itu sedikit-banyak
memang istimewa. Aku seorang manusia, maka aku sedikit-banyak
istimewa. Ibu hanya mempunyai seorang anak gadis, maka aku
menjadi yang paling istimewa."
"Yang kumaksudkan yaitu bahwa kamu membuat aku
ketakutan di siang bolong begini dengan semua pembicaraan baru
itu."
"Kalau begitu, Ibu sangat mudah dibuat takut."
Sore itu, Nyai girah kembali ke sarang. Dia berusaha untuk
menyelundupkan kaleng kue besar itu ke kamarnya tanpa ketahuan
Ibu.
Mula-mula, dia menempatkan seluruh halaman itu dengan urutan
yang benar. Lalu, dia membuat lubang-lubang dan memasukkannya
pada penjilid cincin, di depan bab mengenai Aristoteles. Akhirnya,
dia menomori setiap halaman di sudut kanan atas. Semuanya ada
lebih dari lima puluh halaman. Nyai girah sedang dalam proses
menyusun buku filsafatnya sendiri. Memang bukan dia yang menulis,
tapi ditulis khusus untuknya.
Dia tidak punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya
untuk hari Senin. Barangkali mereka akan ujian mata pelajaran
Agama, tapi gurunya selalu mengatakan bahwa dia menghargai
komitmen pribadi dan pendapat murid mengenai moral. Nyai girah
merasa dia mulai memiliki dasar kuat untuk keduanya.[]
Helenisme
***
... sepercik cahaya api ...
MESKIPUN SANG guru filsafat mulai mengirimkan suratnya
langsung ke sarang di pagar tanaman tua itu, Nyai girah tetap melihat ke
kotak surat pada Senin pagi, terutama karena itu sudah menjadi
kebiasaan baginya.
Kotak itu kosong, tidak heran. Dia mulai menapaki jalan Clover
Close. Tiba-tiba, dia melihat sebuah foto di atas trotoar. Itu yaitu
gambar sebuah jip dan bendera biru dengan huruf PBB di atasnya.
Bukankah itu bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa?
Nyai girah membalikkan gambar itu dan tahu bahwa itu sebuah kartu
pos biasa. Kepada "count dracula Moller Knag, d/a Nyai girah Amundsend ..."
Di situ tertempel prangko No r wegia dan di beri cap pos "Batalion
PBB" Jumat, 15 Juni 1990.
15 Juni! Itu hari ulang tahun Nyai girah ! Kartu itu berbunyi:
count dracula sayang, kukira kamu masih merayakan ulang tahun-mu
yang ke-15. Atau, apakah sekarang sudah lewat sehari?
Bagaimanapun, hadiah-hadiah untukmu takkan berubah. Hadiah
itu akan awet seumur hidup. Tapi aku ingin mengucapkan
selamat ulang tahun sekali lagi. Barangkali kamu mengerti
sekarang mengapa aku mengirimkan kartu-kartu itu kepada
Nyai girah . Aku yakin dia akan menyampaikannya padamu.
N.B. Ibu bilang kamu kehilangan dompet. Kamu mungkin akan
bisa mendapatkan kembali kartu pelajarmu sebelum sekolah
tutup untuk liburan musim panas. Sayang selalu dari Ayah.
Nyai girah terpaku di tempatnya. Tanggal berapa kartu sebelumnya
dicap? Dia ingat bahwa kartu pos bergambar pantai itu juga dicap
bulan Juni—meskipun itu sudah lewat sebulan penuh. Dia memang
tidak melihatnya dengan jelas.
Nyai girah melihat arlojinya dan kemudian berlari kembali ke rumah.
Dia pasti akan terlambat datang ke sekolah hari ini!
Nyai girah masuk dan melompat ke atas menuju kamarnya. Dia
mencari kartu pos pertama untuk count dracula di bawah selendang sutra
merah. Ya! Kartu pos itu juga dicap tanggal 15 Juni! Hari ulang tahun
Nyai girah dan hari sebelum mulainya libur musim panas.
Benaknya berpacu, sementara dia lari menuju pasar swalayan
untuk menemui Joanna.
Siapakah count dracula ? Bagaimana bisa ayahnya menganggap Nyai girah
pasti akan bertemu dengannya? Bagaimanapun, dia sungguh tidak
berperasaan karena mengirimkan kartu-kartu itu ke pada Nyai girah dan
bukannya mengalamatkannya langsung kepada putrinya. Tidak
mungkin itu karena dia tidak tahu alamat putrinya sendiri. Apakah ini
hanya lelucon? Apakah dia sedang berusaha untuk memberi kejutan
kepada putrinya pada hari ulang tahunnya dengan menyuruh seseorang
yang sama sekali asing untuk bermain sebagai detektif dan tukang
pos? Inikah sebabnya dia diberi waktu sebulan sejak permainan ini
dimulai? Dan, apakah memanfaatkan Nyai girah sebagai perantara
merupakan cara untuk memberi putrinya seorang kawan baru sebagai
hadiah ulang tahun? Mungkinkah dia yang dimaksud sebagai hadiah
yang akan "awet seumur hidup"?
Jika badut ini benar-benar berada di Lebanon, bagaimana dia bisa
mendapatkan alamat Nyai girah ? Juga, Nyai girah dan count dracula sedikitnya
mempunyai kesamaan dalam dua hal. Jika hari ulang tahun count dracula
yaitu 15 Juni, mereka berdua dilahirkan pada hari yang sama. Dan
mereka berdua mempunyai ayah yang berada di sisi dunia yang
berbeda.
Nyai girah merasa dia sedang diseret menuju suatu dunia yang tidak
wajar. Mungkin tidak ada salahnya kalau kita percaya pada takdir.
Tapi—dia tidak akan tergesa-gesa mengambil kesimpulan; mungkin
akan ada penjelasan yang masuk akal untuk semua ini. Tapi
bagaimana mungkin Alberto Knox bisa menemukan dompet count dracula ,
sedangkan count dracula tinggal di Lille sand? Lillesand jaraknya ratusan mil
dari sini. Dan mengapa Nyai girah menemukan kartu pos ini di trotoar?
Apakah kartu itu jatuh dari tas tukang pos saat dia hendak
membawanya ke kotak surat Nyai girah ? Jika begitu, mengapa dia mesti
menjatuhkan kartu yang ini?
"Apakah kamu benar-benar sudah gila?" Joanna meledak saat
Nyai girah akhirnya sampai di pasar swalayan.
"Maaf!"
Joanna mendelik padanya dengan galak, seperti seorang guru di
sekolahnya.
"Kamu harus memberi penjelasan yang bagus."
"Ini ada hubungannya dengan PBB," kata Nyai girah , "Aku tertahan
oleh pasukan musuh di Lebanon."
"Tentu saja ... Kamu, kan, sedang jatuh cinta!"
Mereka lari ke sekolah secepat mungkin.
Ujian Agama yang belum sempat dipelajari Nyai girah diberikan pada
jam ketiga. Pada kertas soal tertulis:
FILSAFAT TENTANG KEHIDUPAN DAN TOLERANSI
1. Buat daftar tentang hal-hal yang dapat kita ketahui. Lalu, buat
daftar tentang hal-hal yang hanya dapat kita percayai.
2. Kemukakan beberapa faktor yang berperan dalam menentukan
filsafat hidup seseorang.
3. Apa yang dimaksudkan dengan hati nurani? Apakah menurut
Anda hati nurani itu sama bagi setiap orang?
4. Apa yang dimaksud dengan prioritas nilai?
Nyai girah duduk berpikir lama sebelum mulai menulis. Dapatkah dia
menggunakan sebagian dari gagasan yang telah dipelajarinya dari
Alberto Knox? Harusnya begitu, sebab dia tidak pernah membuka
buku pelajaran Agamanya selama berhari-hari. Begitu dia mulai
menulis, kata-kata seperti mengalir begitu saja dari penanya.
Dia menulis bahwa kita tahu bulan itu tidak terbuat dari keju hijau
dan bahwa juga ada kawah-kawah di sisi gelap bulan, bahwa baik
Socrates maupun Yesus dihukum mati, bahwa setiap orang pasti mati
cepat atau lambat, bahwa kuil-kuil besar di Acropolis dibangun
setelah perang melawan Persia pada abad kelima SM, dan bahwa
peramal yang paling penting pada zaman Yunani kuno yaitu peramal
di Delphi. Sebagai contoh dari apa yang hanya dapat kita percayai,
Nyai girah mengemukakan pertanyaan apakah ada kehidupan di planet-
planet lain atau tidak, apakah Tuhan itu ada atau tidak, apakah ada
kehidupan setelah kematian, dan siapakah Nabi Isa itu sebenarnya.
"Jelas kita tidak tahu dari mana asalnya dunia," dia menulis,
melengkapi daftarnya. "Alam raya dapat dibandingkan dengan seekor
kelinci besar yang ditarik keluar dari topi pesulap. Para filosof
berusaha untuk memanjat salah satu helai bulu kelinci dan menatap
langsung ke mata Sang Pesulap Agung. Apakah mereka akan berhasil,
kita tidak tahu. Tapi, jika setiap filosof memanjat punggung salah
seorang kawannya, mereka akan bisa menjadi lebih tinggi di bulu
kelinci itu, dan kemudian, menurut pendapat saya, akan ada
kesempatan bagi mereka untuk berhasil suatu hari nanti. N.B. Dalam
Bibel disebutkan sesuatu yang mungkin merupakan salah satu helai
bulu kelinci. Helai itu dinamakan Menara Babel, dan menara itu
dihancurkan sebab Sang Pesulap tidak ingin serangga manusia yang
kecil-kecil itu merayap naik sejauh itu di helai bulu kelinci putih
yang baru saja diciptakannya."
Lalu pertanyaan berikutnya: "Kemukakan beberapa faktor yang
berperan dalam menentukan filsafat hidup seseorang." Pendidikan
dan lingkungan sangat penting di sini. Orang yang hidup pada zaman
Plato mempunyai filosofi hidup yang berbeda dari yang dianut orang-
orang pada zaman sekarang, sebab mereka hidup pada zaman yang
berbeda dan dalam lingkungan yang berbeda pula. Faktor lainnya
yaitu jenis pengalaman yang mereka pilih sendiri. Akal sehat tidak
ditentukan oleh lingkungan. Setiap orang memilikinya. Mungkin orang
dapat menyejajarkan lingkungan dan situasi sosial dengan kondisi
yang ada jauh di dalam gua Plato. Dengan menggunakan kecerdasan
mereka, setiap individu dapat mulai menyeret diri mereka sendiri
keluar dari kegelapan. Tapi perjalanan semacam itu memerlukan
keberanian pribadi. Socrates yaitu contoh bagus tentang seseorang
yang berusaha untuk membebaskan diri dari pandangan-pandangan
yang umum berlaku pada zamannya dengan memanfaatkan
kecerdasannya sendiri. Akhirnya, dia menulis: "Belakangan ini,
orang-orang dari berbagai negara dan kebudayaan semakin
bercampur dan membaur. Orang Kristen, Muslim, dan Buddha
mungkin tinggal dalam sebuah bangunan apartemen yang sama. Dalam
hal itu, yaitu lebih penting untuk menerima kepercayaan masing-
masing daripada menanyakan mengapa setiap orang tidak
memercayai hal yang sama."
Lumayan, pikir Nyai girah . Dia jelas merasa telah dapat menjawab
sebagian soal-soal itu dengan apa yang telah di pelajarinya dari sang
guru filsafat. Dan dia dapat selalu melengkapinya dengan tambahan
dari pemikirannya sendiri atau dari apa yang mungkin pernah dibaca
atau di dengarnya di tempat lain.
Dia memusatkan perhatian pada pertanyaan ketiga: "Apa yang
dimaksudkan dengan hati nurani? Apakah menurut Anda hati nurani
itu sama bagi setiap orang?" Ini yaitu sesuatu yang banyak mereka
bicarakan di dalam kelas. Nyai girah menulis: hati nurani yaitu
kemampuan orang untuk memahami yang benar dan yang salah.
Menurut pendapat saya pribadi, setiap orang dikaruniai kemampuan
ini. Jadi, dengan kata lain, hati nurani itu sudah ada sejak lahir.
Socrates pasti juga akan mengatakan begitu. Tapi, apa yang
disuarakan oleh hati nurani dapat bervariasi dari satu orang ke orang
lain. Orang dapat mengatakan bahwa kaum Sophis ada benarnya di
sini. Mereka beranggapan bahwa benar atau salah itu sesuatu yang
ditentukan terutama oleh lingkungan tempat individu itu tumbuh.
Socrates, sebaliknya, percaya bahwa hati nurani itu sama bagi setiap
orang. Barangkali kedua pendapat itu sama-sama benar. Mungkin
tidak semua orang merasa bersalah jika bertelanjang di depan umum,
tetapi semua orang sepakat bahwa menyiksa orang lain dengan kejam
bertentangan dengan suara hati nurani. Tapi, harus diingat bahwa
memiliki hati nurani tidak sama dengan menggunakannya. Kadang-
kadang, kelihatannya seseorang bertindak tanpa mengindahkan moral,
tapi saya yakin mereka juga memiliki semacam hati nurani entah di
mana, jauh di dalam jiwanya. Demikian pula, sebagian orang
tampaknya tidak mempunyai pikiran sama sekali, tapi sebenarnya itu
hanya karena mereka tidak menggunakannya. N.B. Baik akal sehat
maupun hati nurani dapat dibandingkan dengan otot. Jika kita tidak
menggunakan otot, makin lama ia akan menjadi makin lemah.
Kini tinggal satu pertanyaan lagi: "Apa yang dimaksud dengan
prioritas nilai?" Ini yaitu soal lain yang banyak mereka bicarakan
belakangan ini. Nilai mungkin diukur dari manfaat. Misalnya,
mungkin sangat bernilai jika kita menyetir mobil dan dapat sampai
dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain. Tapi jika itu
mengakibatkan penebangan hutan dan pencemaran lingkungan, di sini
kita menghadapi pilihan nilai. Setelah mempertimbangkan dengan
cermat Nyai girah merasa dia telah sampai pada kesimpulan bahwa
hutan yang sehat dan lingkungan yang murni lebih bernilai daripada
bisa sampai di tempat kerja dengan cepat. Dia mengemukakan
beberapa contoh lagi. Akhirnya dia menulis: "Secara pribadi, saya
beranggapan bahwa Filsafat yaitu pelajaran yang lebih penting
daripada Tata Bahasa Inggris. Oleh karena itu, akan merupakan
prioritas nilai yang baik jika kita memasukkan Filsafat ke dalam
daftar pelajaran dan mengurangi sedikit pelajaran Bahasa Inggris."
Pada saat istirahat terakhir, gurunya mengajak Nyai girah berbicara
secara pribadi.
"Aku telah membaca ujian Agamamu," katanya. "Kertas ujianmu
kebetulan ada di tumpukan paling atas."
"Saya harap jawaban saya memberi Anda sedikit bahan
pemikiran."
"Itulah persisnya yang ingin kubicarakan denganmu. Jawabanmu
sungguh dewasa. Sungguh menakjubkan. Dan sangat percaya diri.
Tapi sudahkah kamu kerjakan PR-mu, Nyai girah ?"
Nyai girah menjadi sedikit gelisah.
"Nah, kamu bilang setiap orang perlu mempunyai sudut pandang
sendiri."
"Yah, memang ... tapi ada batasnya."
Nyai girah memandang langsung ke matanya. Dia merasa dia boleh
melakukan ini setelah semua yang dialaminya belakangan ini.
"Saya mulai belajar filsafat," katanya. "Filsafat memberi kita latar
belakang yang baik untuk memiliki pendapat pribadi."
"Tapi tidak mudah bagiku untuk memberi nilai pada kertas
kerjamu. Itu bisa D, bisa A."
"Karena saya mungkin sangat benar atau sangat salah? Itukah
yang Anda maksudkan?"
"Kalau begitu kita pilih saja A," kata guru itu. "Tapi lain kali,
kerjakan PR-mu!"
saat Nyai girah pulang sekolah sore itu, dia melemparkan tas
sekolahnya ke anak tangga dan lari menuju sarang. Sebuah amplop
cokelat terletak di atas akar yang bertonjolan. Amplop itu kering di
sudut-sudutnya, jadi pasti telah lama Hermes menjatuhkannya di situ.
Dia membawa amplop itu dan berjalan memasuki pintu depan. Dia
memberi makan binatang-binatangnya dan kemudian naik ke kamar.
Sambil berbaring di tempat tidurnya, dia membuka surat Alberto dan
membaca:
HELENISME
Ketemu lagi, Nyai girah ! Setelah membaca tentang para filosof alam
serta Socrates, Plato, dan Aritoteles, kamu kini telah mengenal dasar-
dasar filsafat Eropa. Maka mulai sekarang, kita akan meniadakan
pertanyaan-pertanyaan pendahuluan yang sebelumnya kamu terima
dalam amplop putih. Kubayangkan kamu mungkin menghadapi banyak
tugas dan ujian di sekolah.
Kini akan kujelaskan padamu periode panjang sejak zaman
Aristoteles menjelang akhir abad keempat SM hingga awal Abad
Pertengahan sekitar 400 M. Perhatikan bahwa kini kita dapat
menuliskan Sebelum Masehi dan Masehi, sebab agama Kristen
memang merupakan salah satu faktor paling penting, dan juga paling
misterius, dalam periode itu.
Aristoteles meninggal pada 322 SM, saat itu Athena telah
kehilangan peran dominannya. Ini karena timbulnya pemberontakan-
pemberontakan politik akibat penaklukan Alexander Agung (356-323
SM).
Alexander Agung yaitu Raja Macedonia. Aristoteles juga berasal
dari Macedonia, dan untuk beberapa lama dia bahkan menjadi guru
Alexander muda. Alexanderlah yang meraih kemenangan terakhir dan
menentukan atas bangsa Persia. Dan lebih- lebih, Nyai girah , dengan
banyak penaklukannya, dia menyatukan Mesir dan dunia timur hingga
India dengan peradaban Yunani.
Ini menandai awal zaman baru dalam sejarah umat manusia. Suatu
peradaban muncul dengan kebudayaan Yunani dan bahasa Yunani
memainkan peranan utama. Periode ini, yang berlangsung selama
kira-kira 300 tahun, dikenal sebagai Helenisme. Istilah Helenisme
mengacu pada periode maupun kebudayaan yang didominasi Yunani
yang berjaya di tiga kerajaan Yunani, yaitu Macedonia, Syria, dan
Mesir.
Sekalipun demikian, sejak sekitar 50 SM, Roma lebih kuat dalam
bidang militer dan politik. Adikuasa baru itu lambat laun
menaklukkan kerajaan-kerajaan Yunani, dan sejak itu kebudayaan
Romawi dan bahasa Latin mendominasi mulai dari Spanyol di barat
hingga jauh menembus Asia. Inilah awal dari periode Romawi, yang
sering kita sebut zaman Yunani Kuno Akhir. Tapi ingatlah satu hal—
sebelum orang-orang Romawi berusaha untuk menaklukkan dunia
Yunani, Roma itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan Yunani.
Maka, kebudayaan Yunani dan filsafat Yunani tetap memainkan
peranan penting jauh sesudah pengaruh politik bangsa Yunani
berlalu.
Agama, Filsafat, dan Ilmu Pengetahuan
Helenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara
berbagai negara dan kebudayaan menjadi terhapus. Sebelumnya,
bangsa Yunani, Romawi, Mesir, Babylonia, Syria, dan Persia telah
menyembah dewa mereka sendiri-sendiri di dalam apa yang secara
umum kita sebut "agama nasional". Kini, kebudayaan yang berbeda-
beda melebur dalam satu cerek besar si tukang sihir yang menampung
gagasan-gagasan agama, politik, dan ilmu pengetahuan.
Barangkali dapat kita katakan bahwa alun-alun kota digantikan
dengan arena dunia. Alun-alun kota yang lama juga dipenuhi dengan
suara-suara, yang suatu kali menawarkan aneka barang ke pasar, dan
pada kali lain menawarkan aneka pemikiran dan gagasan. Aspek
barunya yaitu bahwa alun-alun kota kini dipenuhi dengan barang-
barang dan gagasan-gagasan dari seluruh penjuru dunia. Suara-suara
itu berdengung dalam berbagai bahasa yang berlainan.
Telah kukemukakan bahwa pandangan hidup Yunani kini jauh lebih
tersebar daripada sebelumnya di bekas daerah budaya Yunani. Tapi
sejalan dengan berlalunya waktu, dewa-dewa Timur juga dipuja di
semua negeri Mediterania. Rumusan-rumusan agama yang baru
bermunculan sehingga dapat mengambiI alih dewa-dewa dan
keyakinan-keyakinan dari banyak negeri lama. Ini dinamakan
sinkretisme atau perpaduan keyakinan.
Sebelum ini, orang-orang telah merasakan keterikatan yang kuat
pada bangsa dan negara-kota mereka sendiri. Tapi setelah perbatasan
dihapuskan, banyak orang mulai merasakan keraguan dan
ketidakpastian mengenai filsafat hidup mereka. Zaman Yunani Kuno
Akhir secara umum ditandai dengan keraguan agama, melarutnya
kebudayaan, dan pesimisme. Di katakan bahwa "dunia sudah tua".
Ciri umum pembentukan agama baru sepanjang periode Helenistik
yaitu muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat
terlepas dari kematian. Ajaran ini seringkali merupakan rahasia.
Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang
yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan
yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta
dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk
mendapatkan keselamatan.
Sekian dulu mengenai agama-agama baru itu, Nyai girah . Tapi filsafat
juga bergerak semakin dekat ke arah "keselamatan" dan ketenangan.
Wawasan filsafat kini dianggap tidak hanya memiliki nilai tersendiri;
ia juga harus membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut
akan kematian. Dengan demikian, batasan antara agama dan filsafat
lambat laun hilang.
Secara umum, filsafat Helenisme tidak begitu orisinal. Tidak ada
Plato baru atau Aristoteles baru yang muncul di panggung.
Sebaliknya, ketiga filosof besar Athena itu menjadi sumber ilham
bagi sejumlah aliran filsafat yang akan kukemukakan secara ringkas
sebentar lagi.
llmu pengetahuan Helenistik pun terpengaruh oleh campuran
pengetahuan berbagai kebudayaan. Kota Alexandria memainkan
peranan menentukan di sini sebagai tempat pertemuan antara Timur
dan Barat. Sementara Athena tetap merupakan pusat filsafat yang
masih menjalankan ajaran-ajaran filsafat Plato dan Aristoteles,
Alexandria menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan perpustakaannya
yang sangat besar, kota itu menjadi pusat matematika, astronomi,
biologi, dan ilmu pengobatan.
Kebudayaan Helenistik juga dapat dibandingkan dengan dunia
zaman sekarang. Abad kedua puluh pun terpengaruh oleh peradaban
yang semakin terbuka. Pada zaman kita ini, keterbukaan itu pula yang
mengakibatkan timbulnya gejolak-gejolak besar dalam agama dan
filsafat. Dan sebagaimana di Roma, sekitar permulaan era Kristen,
orang dapat menemukan agama dari Yunani, Mesir, dan agama-
agama dari Timur. Kini, saat kita mendekati akhir abad kedua
puluh, kita dapat menemukan di seluruh kota di Eropa berbagai
agama dari seluruh penjuru dunia.
Sekarang, kita juga menyaksikan bagaimana percampuran agama
lama dan agama baru, berbagai filsafat, dan ilmu pengetahuan dapat
menjadi dasar bagi produk-produk baru yang di tawarkan di pasaran
"pandangan hidup". Sebagian besar "pengetahuan baru" ini
sesungguhnya merupakan sisa-sisa pemikiran lama, yang sebagian
akarnya berasal dari Helenisme.
Seperti yang pernah kukatakan, filsafat Helenistik selalu berusaha
untuk mengatasi masalah-masalah yang dikemukakan oleh Socrates,
Plato, dan Aristoteles. Ciri umum yang ada pada semua filsafat
ini yaitu hasrat untuk mengetahui cara terbaik bagi manusia
dalam menjalani kehidupan dan kematian. Semuanya berbicara
tentang etika. Dalam peradaban baru, inilah proyek filsafat yang
utama. Tekanan terbesar diberikan pada upaya menemukan apakah
kebahagiaan sejati itu dan bagaimana mencapainya. Kita akan
mengenal empat aliran filsafat ini.
Kaum Sinis
Konon, suatu hari, Socrates sedang berdiri menatap sebuah kedai
yang menjual segala macam barang. Akhirnya dia berkata, "Betapa
banyak benda yang tidak kuperlukan!" Pernyataan ini bisa jadi
merupakan moto aliran filsafat Sinis, yang didirikan oleh Antisthenes
di Athena sekitar 400 SM. Antisthenes pernah menjadi murid
Socrates, dan sangat tertarik pada kesederhanaannya.
Kaum Sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat
dalam kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan
politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati terletak pada
ketidaktergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang.
Dan karena kebahagiaan tidak terletak pada keuntungan-keuntungan
semacam ini, semua orang dapat meraihnya. Lebih-lebih, begitu
berhasil diraih, ia tidak akan pernah lepas lagi.
Kaum Sinis yang paling terkenal yaitu Diogenes, seorang murid
Antisthenes, yang konon hidup dalam sebuah tong dan tidak memiliki
apa pun kecuali sebuah mantel, tongkat, dan kantong roti. (Maka tidak
mudah mencuri kebahagiaan darinya!) Suatu hari, saat sedang
duduk di samping tongnya menikmati cahaya matahari, dia dikunjungi
oleh Alexander Agung. Sang Maharaja berdiri di hadapannya dan
bertanya apakah dia dapat melakukan sesuatu untuk membantu
Diogenes. Adakah sesuatu yang diinginkannya? "Ya," Diogenes
menjawab. "Bergeserlah ke samping. Anda menghalangi matahari."
Dengan demikian, Diogenes membuktikan bahwa dia tidak kalah
bahagia dan kaya dibandingkan dengan pria agung di hadapannya.
Dia telah memiliki semua yang diinginkannya.
Kaum Sinis percaya bahwa orang tidak perlu memikirkan
kesehatan diri mereka. Bahkan penderitaan dan kematian tidak boleh
mengganggu mereka. Pun mereka tidak boleh membiarkan diri
tersiksa karena memikirkan kesengsaraan orang lain.
Kini istilah "sinis" dan "sinisme" berarti ketidakpercayaan
yang mengandung cemooh pada ketulusan manusia, dan kedua istilah
itu menunjukkan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain.
Kaum Stoik
Kaum Sinis ikut membantu perkembangan aliran filsafat Stoik,
yang muncul di Athena sekitar 300 SM. Pendirinya yaitu Zeno, yang
aslinya berasal dari Syprus dan bergabung dengan kaum Sinis di
Athena setelah kapalnya karam. Dia sering mengumpulkan para
pengikutnya di bawah serambi. Nama "Stoik" berasal dari kata
Yunani yang berarti serambi ( stoa). Stoikisme di kemudian hari
mempunyai pengaruh besar pada kebudayaan Romawi.
Seperti Heraclitus, kaum Stoik percaya bahwa setiap orang yaitu
bagian dari satu akal—atau "logos"—yang sama. Mereka
beranggapan bahwa setiap orang yaitu seperti sebuah dunia
miniatur, atau "mikrokosmos", yang merupakan cerminan
"makrokosmos".
Ini mendorong pada pemikiran bahwa ada suatu kebenaran
universal, yang dinamakan hukum alam. Dan karena hukum alam ini
didasarkan pada akal manusia yang abadi dan universal, ia tidak
berubah sejalan dengan berlalunya waktu dan berpindahnya tempat.
Jadi, dalam hal ini, kaum Stoik berpihak kepada Socrates yang
bertentangan dengan kaum Sophis.
Hukum alam mengatur seluruh umat manusia, bahkan para budak.
Kaum Stoik menganggap ketentuan undang-undang dari berbagai
negara hanyalah tiruan tidak sempurna dari "hukum" yang tertanam
pada alam itu sendiri.
Sebagaimana kaum Stoik menghapuskan perbedaan antara
individu dan alam raya, mereka pun menyangkal adanya pertentangan
antara "ruh" dan "materi". Hanya ada satu alam, mereka menegaskan.
Gagasan semacam ini disebut monisme (berkebalikan dengan
dualisme atau realitas ganda dari Plato).
Sebagai anak-anak zaman mereka yang sejati, kaum Stoik benar-
benar "kosmopolitan", dalam pengertian bahwa mereka lebih mudah
menerima kebudayaan kontemporer dibandingkan dengan "para
filosof tong" (kaum Sinis). Mereka memberi perhatian pada
persahabatan manusia, sibuk dengan politik, dan kebanyakan dari
mereka, terutama Kaisar Romawi Marcus Aurelius (121-180 M),
yaitu negarawan yang aktif. Mereka mendorong berkembangnya
kebudayaan dan filsafat Yunani di Romawi, dan salah seorang tokoh
yang paling menonjol di antara mereka yaitu sang orator, filosof,
dan negarawanCicero (106-43 SM). Dialah yang membentuk konsep
"humanisme"—yaitu suatu pandangan hidup yang menempatkan
individu sebagai fokus utamanya. Beberapa tahun kemudian, tokoh
Stoik Seneca(4 SM-65 M) mengatakan bahwa "bagi umat manusia,
manusia itu suci". Ini tetap menjadi slogan humanisme hingga
sekarang.
Kaum Stoik, lebih lanjut, menekankan bahwa semua proses alam,
seperti penyakit dan kematian, mengikuti hukum alam yang tak pernah
lekang. Oleh karena itu, manusia harus belajar untuk menerima
takdirnya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Segala
sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Maka, tidak ada gunanya
mengeluh jika takdir sudah datang mengetuk pintu. Mereka
berpendapat bahwa orang juga harus menerima peristiwa-peristiwa
yang membahagiakan dalam hidup tanpa gelisah. Dalam hal ini, kita
melihat pertaliam mereka dengan kaum Sinis, yang menyatakan
bahwa semua kejadian lahiriah itu tidak penting. Bahkan sekarang,
kita menggunakan istilah "ketenangan stoik" untuk seseorang yang
tidak membiarkan perasaan menguasai dirinya.
Kaum Epicurean
Seperti kita tahu, Socrates berusaha untuk mengetahui bagaimana
manusia dapat menjalani kehidupan yang baik. Baik kaum Sinis
maupun Stoik menafsirkan filosofinya dengan menegaskan bahwa
manusia harus membebaskan diri dari kemewahan materi. Tapi,
Socrates juga mempunyai seorang murid bernama Aristippus. Dia
percaya bahwa tujuan hidup yaitu meraih kenikmatan indriawi
setinggi mungkin. "Kebaikan tertinggi yaitu kenikmatan," katanya,
"kejahatan tertinggi yaitu penderitaan." Maka, dia ingin
mengembangkan suatu cara hidup yang tujuannya yaitu menghindari
penderitaan dalam segala bentuknya. (Kaum Sinis dan Stoik percaya
pada usaha untuk menahan segala bentuk penderitaan, yang tidak
sama dengan usaha untuk menghindari kesakitan.)
Sekitar 300 SM, Epicurus (341-270) mendirikan suatu aliran
filsafat di Athena. Para pengikutnya dinamakan kaum Epicurean. Dia
mengembangkan etika kenikmatan Aristippus dan menggabungkannya
dengan teori atom Democritus.
Konon, kaum Epicurean hidup di taman. Oleh karena itu, mereka
dikenal sebagai "para filosof taman". Di atas pintu masuk ke taman
ini katanya digantungkan sebuah pengumuman yang berbunyi, "Orang
asing, di sini kalian akan hidup senang. Di sini kenikmatan yaitu
kebaikan tertinggi."
Epicurus menekankan bahwa hasil-hasil yang menyenangkan
dari suatu tindakan harus selalu mempertimbangkan efek samping
yang mungkin ditimbulkannya. Jika kamu pernah pesta permen
cokelat, kamu tentu tahu maksudku. Jika belum pernah, cobalah ini:
Ambil seluruh tabungan uang sakumu dan beli cokelat seharga dua
ratus crown. (Anggap saja kamu suka cokelat.) Kamu harus makan
semua cokelat itu sekaligus. Sekitar setengah jam kemudian, saat
seluruh cokelat lezat itu sudah termakan, kamu akan mengerti apa
yang dimaksudkan Epicurus dengan akibat sampingan.
Epicurus juga percaya bahwa hasil yang menyenangkan dalam
jangka pendek harus ditahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan
yang lebih besar, lebih kekal, atau lebih hebat dalam jangka panjang.
(Mungkin kamu tidak mau makan cokelat selama setahun penuh sebab
kamu lebih suka menabungkan seluruh uang sakumu dan membeli
sebuah sepeda baru atau menikmati liburan ke luar negeri.) Tidak
seperti binatang, kita mampu merencanakan kehidupan kita. Kita
mempunyai kemampuan untuk membuat "kalkulasi kenikmatan".
Cokelat memang enak, tapi sepeda baru atau wisata ke Inggris lebih
enak lagi.
Namun, Epicurus menekankan bahwa "kenikmatan" tidak lantas
berarti kenikmatan indriawi—makan cokelat, misalnya. Nilai-nilai
seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian juga
termasuk di sini. Lagi pula, untuk menikmati hidup menurut cita-cita
Yunani kuno diperlukan kontrol-diri, kesederhanaan, dan ketulusan.
Nafsu harus di kekang, dan ketenteraman hati akan membantu kita
menahan penderitaan.
Rasa takut kepada para dewa mendorong orang-orang masuk ke
taman Epicurus. Dalam kaitan ini, teori atom Democritus merupakan
obat yang berguna bagi takhayul keagamaan. Supaya bisa menjalani
kehidupan yang baik, kita harus mengatasi rasa takut akan kematian.
Untuk tujuan ini, Epicurus memanfaatkan teori Democritus tentang
"atom jiwa". Kamu mungkin ingat bahwa Democritus percaya tidak
ada kehidupan setelah kematian, sebab saat kita mati, "atom-atom
jiwa" menyebar ke seluruh penjuru.
"Kematian tidak menakutkan kita," kata Epicurus dengan enteng.
"Sebab, selama kita ada, kematian tidak bersama kita. Dan saat ia
datang, kita tidak ada lagi." (Jika kamu berpikiran begitu, tak ada
orang yang merasa khawatir akan mati.)
Epicurus meringkas filsafat pembebasannya dengan apa yang
dinamakannya empat ramuan obat:
Dewa-dewa bukan untuk ditakuti. Kematian tidak perlu
dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu
mudah ditanggulangi.
Dari sudut pandang Yunani, tidak ada yang baru dalam upaya
proyek-proyek filsafat jika dibandingkan dengan proyek-proyek ilmu
pengobatan. Intinya yaitu bahwa manusia harus membekali diri
dengan "kotak obat filosofis" yang memuat keempat unsur yang telah
kusebutkan tadi.
Berkebalikan dengan kaum Stoik, para pengikut Epicurus hanya
menunjukkan sedikit minat atau bahkan tidak berminat sama sekali
pada politik dan masyarakat. "Hidup dalam pengasingan!" itulah yang
dinasihatkan Epicurus. Kita mungkin dapat membandingkan "taman"-
nya dengan komune pada masa kita sekarang. Ada banyak orang pada
masa kita sekarang yang berusaha menemukan "pelabuhan yang
aman"—jauh dari masyarakat.
Meneladani Epicurus, banyak pengikutnya yang mengembangkan
pemanjaan diri yang berlebihan. Moto mereka yaitu "Hidup untuk
saat ini!" Kata "epicurean" digunakan dalam pengertian negatif
belakangan ini untuk menggambarkan seseorang yang hidup hanya
demi kesenangan.
Neoplatonisme
Seperti telah kukatakan padamu, Sinisme, Stoikisme, dan
Epicureanisme semuanya berakar pada ajaran Socrates. Mereka juga
memanfaatkan ajaran tokoh-tokoh sebelum Socrates seperti
Heraclitus dan Democritus.
Tapi, kecenderungan filsafat yang paling mengagumkan pada
periode Helenistik akhir terutama yaitu yang diilhami oleh filsafat
Plato. Oleh karena itu, kita menamakannya Neo-platonisme.
Tokoh paling penting dalam Neoplatonisme yaitu Plotinus (kira-
kira 205-270), yang mempelajari filsafat di Alexandria tapi
kemudian menetap di Roma. Menarik untuk dicatat bahwa dia berasal
dari Alexandria, kota yang menjadi titik temu utama filsafat Yunani
dan mistisme Timur selama berabad-abad. Plotinus membawa ke
Roma suatu doktrin keselamatan yang bersaing keras dengan ajaran
Kristen. Namun, Neoplatonisme juga memberi pengaruh kuat dalam
aliran utama teologi Kristen.
Ingatlah doktrin Plato tentang ide, Nyai girah , dan cara dia
membedakan antara dunia ide dan dunia indra. Ini berarti menetapkan
perbedaan tajam antara jiwa dan raga. Oleh karena itu, manusia
menjadi makhluk ganda: raga kita terdiri dari tanah dan debu seperti
semua yang lain di dunia indra, tapi kita juga memiliki jiwa yang
kekal. Ini dipercaya oleh kebanyakan orang Yunani jauh sebelum
Plato. Plotinus juga sudah mengenal gagasan yang sama dari Asia.
Plotinus percaya bahwa dunia terentang antara dua kutub. Di ujung
yang satu yaitu cahaya Ilahi yang di namakannya Yang Esa.
Kadang-kadang, dia menyebutnya Tuhan. Ujung yang satunya lagi
yaitu kegelapan mutlak, yang tidak menerima cahaya dari Yang Esa.
Tapi maksud Plotinus yaitu bahwa kegelapan ini sesungguhnya
tidak ada. la hanyalah ketiadaan cahaya—dengan kata lain, ia tidak
ada. Yang ada hanyalah Tuhan, atau Yang Esa, tapi sebagaimana
suatu cahaya semakin lama semakin kecil dan akhirnya lenyap, di
suatu tempat ada suatu titik yang di dalamnya cahaya Ilahi tidak dapat
sampai.
Menurut Plotinus, jiwa disinari oleh cahaya dari Yang Esa,
sementara materi yaitu kegelapan yang tidak mempunyai
keberadaan yang nyata. Tapi bentuk-bentuk di alam ini mendapatkan
sedikit cahaya dari Yang Esa.
Bayangkan sebuah api unggun yang menyala pada malam hari. Dari
situ percikan-percikan api terbang ke segala penjuru. Dalam radius
yang cukup luas, api unggun itu membuat malam tampak bagaikan
siang; cahaya api itu dapat dilihat bahkan dari jarak beberapa mil.
Jika berjalan menjauh, kita dapat melihat percikan cahaya seperti
lentera dari kejauhan di tengah kegelapan, dan jika kita berjalan
semakin jauh, pada suatu titik, cahaya itu tidak dapat lagi mencapai
kita. Di suatu tempat, cahaya itu lenyap ditelan malam, dan jika sudah
benar-benar gelap kita tidak dapat me lihat apa-apa. Tidak ada
bentuk maupun bayangan.
Bayangkan sekarang bahwa realitas yaitu api unggun seperti ini.
Sesuatu yang menyala itu yaitu Tuhan—dan kegelapan di luarnya
yaitu materi dingin yang darinya manusia dan binatang tercipta.
Yang paling dekat dengan Tuhan yaitu gagasan-gagasan kekal yang
merupakan bentuk pertama dari semua makhluk. Jiwa manusia
sebenarnya yaitu "sepercik cahaya". Namun di seluruh penjuru alam
sebagian dari cahaya Ilahi ikut memancar. Kita dapat melihatnya
pada semua makhluk hidup; bahkan sekuntum bunga mawar juga
mendapatkan cahaya Ilahi. Yang paling jauh dari Tuhan yang hidup
yaitu tanah dan air serta batu.
Maksudku, segala sesuatu menyimpan sepercik misteri Ilahi. Kita
melihatnya berkilau dalam sekuntum bunga matahari ataupun bunga
melati. Kita semakin merasakan misteri yang tak terselami ini pada
seekor kupu-kupu yang terbang dari satu dahan ke dahan lain—atau
pada seekor ikan mas yang berenang dalam sebuah mangkuk. Tapi
yang paling dekat dengan Tuhan yaitu jiwa kita. Hanya di sana kita
dapat menjadi satu dengan misteri besar kehidupan. Sesungguhnya,
jarang sekali kita menyadari bahwa kita sendirilah misteri itu.
Kiasan Plotinus agak mirip dengan mitos Plato tentang gua:
semakin dekat kita pada mulut gua, semakin dekat kita pada asal
semua eksistensi. Tapi, berkebalikan dengan realitas ganda dari
Plato, doktrin Plotinus dicirikan oleh pengalaman tentang kesatuan.
Segala sesuatu itu satu—sebab segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Bayang-bayang jauh di dalam gua Plato pun mengandung pijaran
lemah dari Yang Esa.
Dalam beberapa kesempatan yang langka dalam hidupnya, Plotinus
mengalami penyatuan antara jiwanya dan Tuhan. Kita biasanya
menyebut ini pengalaman mistik. Bukan Plotinus saja yang
mendapatkan pengalaman itu. Banyak orang telah menceritakan hal-
hal semacam itu sepanjang masa dalam semua kebudayaan.
Perinciannya mungkin berbeda, tapi ciri-ciri pokoknya sama. Mari
kita lihat beberapa ciri ini.
Mistisme
Pengalaman mistik yaitu pengalaman menyatu dengan Tuhan atau
"jiwa kosmik". Banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan
dan Ciptaan, tapi ahli mistik tidak menemui pemisah semacam itu.
Mereka mengalami rasa "penyatuan dengan Tuhan".
Gagasan pokoknya yaitu bahwa apa yang biasanya kita sebut
"Aku" bukanlah "Aku" yang sebenarnya. Secara sekilas kita dapat
mengalami identifikasi dengan "Aku" yang lebih besar. Sebagian ahli
mistik menyebutnya Tuhan, yang lain menyebutnya ruh kosmik, Alam,
atau Semesta Raya. saat penyatuan itu terjadi, ahli mistik
merasakan bahwa dia" kehilangan dirinya"; dia lenyap ke dalam diri
Tuhan atau hilang di dalam diri Tuhan sebagaimana setitik air
kehilangan dirinya saat menyatu dengan samudra. Seorang ahli
mistik India pernah mengungkapkannya begini: "Jika aku mengadu,
Tuhan tiada. Jika Tuhan mengadu, aku pun tiada." Ahli mistik Kristen
Angelus Silesius (1634-1677) mengemukakannya dengan cara lain:
Setiap tetes air menjadi lautan jika ia mengalir menuju samudra,
sebagaimana akhirnya jiwa itu naik dan menjadi Tuhan.
Nah, mungkin kamu merasa tidak begitu menyenangkan untuk
"kehilangan diri". Aku tahu apa maksudmu. Tapi sesungguhnya yang
kamu hilangkan itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang kamu
peroleh. Kamu kehilangan dirimu hanya dalam bentuk yang kamu
miliki saat itu, tapi pada saat yang sama kamu menyadari bahwa
kamu yaitu sesuatu yang jauh lebih besar. Kamulah semesta raya.
Sesungguhnya, kamu yaitu ruh kosmik itu sendiri, Nyai girah . Kamulah
yang "menjadi Tuhan". Jika kamu harus kehilangan dirimu sebagai
Nyai girah Amundsend, kamu boleh merasa lega karena mengetahui
bahwa "aku sehari-hari" ini yaitu sesuatu yang suatu hari nanti akan
hilang. "Aku"-mu yang sebenarnya—yang hanya dapat kamu alami
jika kamu mampu meniadakan dirimu—yaitu , menurut para ahli
mistik, seperti api misterius yang abadi menyala.
Tapi pengalaman mistik seperti ini tidak selalu datang sendiri.
Ahli mistik harus mencari jalan "penyucian dan pencerahan" untuk
bisa bertemu dengan Tuhan. Jalan ini berupa kehidupan sederhana
dan berbagai teknik meditasi. Lalu secara tiba-tiba, ahli mistik itu
mencapai cita-citanya, dan dapat berseru, "Akulah Tuhan" atau
"Akulah Kamu".
Kecenderungan mistik banyak ditemukan di semua agama besar
dunia. Dan gambaran pengalaman-pengalaman mistik yang diberikan
oleh para ahli mistik menunjukkan kesamaan yang luar biasa,
menembus seluruh batasan budaya. Ahli mistik selalu berusaha untuk
memberikan penafsiran keagamaan atau filosofis tentang pengalaman
mistik yang diungkapkan oleh latar belakang budayanya.
Dalam mistisme Barat—yaitu dalam agama Yahudi, Kristen, dan
Islam—ahli mistik menekankan bahwa pertemuannya itu terjadi
dengan Tuhan pribadi. Meskipun Tuhan hadir di alam maupun dalam
jiwa manusia, Dia juga ada jauh di atas dan di luar dunia. Dalam
mistisme Timur—yaitu agama Hindu, Buddha, dan agama Cina—
mereka lebih sering menekankan bahwa ahli mistik mengalami
penyatuan total dengan Tuhan atau "ruh kosmik".
"Akulah ruh kosmik," ahli mistik itu berseru, atau "Akulah
Tuhan." Sebab Tuhan tidak hanya ada di dunia; Dia bisa ada di mana
saja.
Di India, terutama, timbul gerakan-gerakan mistik yang sangat kuat
sejak lama sebelum zaman Plato. Swami Vivekenanda, seorang India
yang berperan besar membawa ajaran Hindu ke Barat, pernah
berkata, "Sebagaimana beberapa agama dunia tertentu mengatakan
bahw




