a dalam
kaitan dengan hasrat erotik atau seksual. Dan seperti telah kukatakan
sebelumnya, Freud menyatakan bahwa keinginan-keinginan yang
`tidak pantas' ini telah menampakkan dirinya sejak awal masa kanak-
kanak."
"Bagaimana caranya?"
"Kini kita mengetahui bahwa bayi senang menyentuh alat kelamin
mereka. Kita dapat melihat ini di pantai mana saja. Pada masa hidup
Freud, perilaku ini dapat mengakibatkan jentikan pada jari-jari si
anak yang berusia dua atau tiga tahun itu, mungkin disertai dengan
ucapan ibunya, `Nakal!' atau `Jangan lakukan itu!' atau `Letakkan
tanganmu di atas celana!"
"Sungguh memuakkan!"
"Itulah awal mula timbulnya perasaan bersalah tentang segala
sesuatu yang ada kaitannya dengan alat kelamin dan seksualitas.
Karena perasaan bersalah ini tetap ada dalam superego, banyak
orang—menurut Freud, hampir semua orang—merasa bersalah dalam
kaitan dengan seks sepanjang hidup mereka. Pada saat yang sama, dia
membuktikan bahwa hasrat dan kebutuhan seksual itu wajar dan
penting bagi manusia. Dan dengan demikian, Nyai girah sayang,
panggung itu ditata untuk konflik sepanjang hidup antara hasrat dan
rasa bersalah."
"Tidakkah Anda berpendapat bahwa konflik itu telah banyak
menghilang sejak masa hidup Freud?"
"Memang. Tapi banyak pasien Freud mengalami konflik itu
demikian parahnya sehingga mereka mengembangkan apa yang
disebut Freud neurosis. Salah seorang dari banyak pasien wanitanya,
misalnya, diam-diam jatuh cinta pada kakak iparnya. saat kakak
perempuannya meninggal karena sakit, dia berpikir: `Kini pria itu
bebas untuk menikahiku!' Pikiran ini jelas berbenturan dengan
superegonya, dan merupakan gagasan yang begitu mengerikan
sehingga dia menekannya, kata Freud. Dengan kata lain, dia
menguburnya dalam-dalam ke alam bawah sadar. Freud menulis:
`Gadis muda itu sakit dan menunjukkan gejala-gejala histeris berat.
saat aku mulai merawatnya, ternyata dia telah melupakan sama
sekali adegan di sisi tempat tidur kakak perempuannya dan impuls
egoistik yang dibenci yang telah muncul dalam dirinya. Tapi selama
berlangsungnya analisis dia mengingatnya, dan dalam kegelisahan
hebat dia memunculkan kembali saat patogenik itu dan melalui
perawatan ini dia dapat disembuhkan'."
"Kini aku dapat lebih memahami apa yang Anda maksudkan
dengan arkeologi jiwa."
"Jadi kita dapat memberikan suatu deskripsi umum mengenai jiwa
manusia. Setelah melalui bertahun-tahun pengalaman merawat
pasien, Freud menyimpulkan bahwa kesadaran hanya mengisi
sebagian kecil pikiran manusia. Kesadaran itu bagaikan puncak
gunung es yang muncul di permukaan laut. Di bawah permukaan laut
—atau di bawah ambang batas kesadaran—ada `lubuk hati', atau
bawah sadar."
"Jadi bawah sadar yaitu segala sesuatu yang ada di dalam diri
kita yang telah kita lupakan atau tidak kita ingat?"
"Seluruh pengalaman kita tidak dapat muncul dalam kesadaran kita
sepanjang waktu. Tapi hal-hal yang pernah kita pikirkan atau alami,
dan yang dapat kita ingat jika kita `arahkan pikiran kita kepadanya',
diistilahkan Freud sebagai pra-kesadaran. Dia menggunakan istilah
`bawah sadar' untuk hal-hal yang telah kita tekan. Yaitu, hal-hal yang
kita usahakan untuk melupakannya sebab hal-hal ini mungkin
`tidak menyenangkan', `tidak pantas', atau `menjijikkan'. Jika kita
mempunyai hasrat dan dorongan yang tidak dapat diterima oleh
kesadaran, superego membuangnya jauh-jauh. Enyah!"
"Aku memahaminya."
"Mekanisme ini dapat bekerja dalam diri semua orang sehat. Tapi
dapat menjadi kendala yang sangat berat bagi sebagian orang untuk
menjauhkan pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan dan terlarang
dari kesadaran sehingga hal itu dapat mengakibatkan timbulnya
penyakit mental. Apa pun yang ditekan dengan cara ini akan berusaha
dengan caranya sendiri untuk masuk kembali ke dalam kesadaran.
Bagi sebagian orang, dibutuhkan usaha keras untuk menjaga agar
impuls- impuls semacam itu tetap berada di bawah kontrol
kesadaran. saat Freud berada di Amerika pada 1909 untuk
memberi kuliah psikoanalisis, dia memberi contoh tentang cara kerja
mekanis mepenekanan ini."
"Aku ingin mendengarnya!"
"Dia berkata: `Misalnya di sini, di dalam aula ini, dan di tengah
khalayak ini, yang sangat saya hargai ketenangan dan perhatiannya,
ada seorang individu yang menimbulkan kekacauan, dan, dengan
caranya yang buruk, tertawa, berbicara, dengan menyaruk-nyarukkan
kakinya, mengalihkan perhatian saya dari tugas saya di sini. Saya
jelaskan bahwa saya tidak dapat melanjutkan kuliah dengan keadaan
seperti ini, dan setelah itu beberapa pria kuat di antara kalian bangkit
dan, setelah adu otot sebentar, menyingkirkan pengacau ketenangan
itu dari aula. Dia kini ditekan, dan saya dapat melanjutkan kuliah
saya. Tapi agar kekacauan itu tidak terulang, kalau-kalau orang yang
baru saja dilempar keluar itu berusaha untuk masuk kembali ke
ruangan ini, tuan-tuan yang telah menjalankan saran saya tadi
membawa kursi mereka ke pintu dan menempatkan diri mereka di
sana sebagai penahan, untuk menjaga tekanan itu. Nah, jika kalian
memindahkan kedua lokasi itu ke dalam jiwa, dengan menyebut ini
kesadaran, dan yang ada di luar itu bawah sadar, kalian telah
mendapatkan ilustrasi yang sangat bagus tentang proses penekanan.'"
"Aku setuju." "Tapi, pengacau ketenangan itu berkeras untuk masuk
lagi, Nyai girah . Setidak-tidaknya, begitulah yang terjadi dengan pikiran-
pikiran dan dorongan-dorongan hati yang ditekan. Kita terus-menerus
hidup di bawah tekanan pikiran yang berusaha untuk membebaskan
diri dari bawah sadar. Itulah sebabnya kita sering mengatakan atau
melakukan hal-hal yang tidak kita niatkan. Karena itu reaksi bawah
sadar mendorong perasaan dan tindakan kita."
"Dapatkah Anda memberikan sebuah contoh?"
"Freud bekerja dengan beberapa mekanisme ini. Salah satunya
yaitu yang disebutnya parapraksis—keselip lidah atau pena.
Dengan kata lain, kita secara tidak sengaja mengatakan atau
melakukan hal-hal yang pernah kita usahakan untuk menekannya.
Freud memberikan contoh tentang seorang mandor toko yang harus
bersulang untuk bosnya. Masalahnya yaitu bahwa bos ini sangat
tidak disukai. Dapat dikatakan, orang itu pantas disebut babi."
"Ya?"
"Mandor itu berdiri, mengangkat gelasnya, dan berkata `Untuk
babi!'"
"Aku terpana!"
"Begitu pula mandor itu. Sesungguhnya dia hanya mengatakan apa
yang benar-benar dimaksudkannya. Tapi dia tidak bermaksud untuk
mengatakannya. Apakah kamu ingin mendengar contoh yang lain?"
"Ya, silakan."
"Seorang uskup datang untuk minum teh di rumah pendeta
setempat, yang mempunyai keluarga besar dengan gadis-gadis kecil
yang berperilaku baik. Uskup ini kebetulan mempunyai hidung yang
luar biasa besar. Gadis-gadis kecil itu diperintah kan agar tidak
menyebut-nyebut sama sekali tentang hidung sang uskup, karena anak-
anak sering mengucapkan kata-kata secara spontan mengenai orang-
orang sebab mekanisme represif mereka belum berkembang. Sang
uskup tiba, dan gadis-gadis yang ceria itu menahan diri mereka
semampunya untuk tidak mengomentari hidungnya. Mereka bahkan
berusaha untuk tidak melihatnya dan untuk melupakannya. Tapi
mereka terus memikirkannya. Dan kemudian, salah satu di antara
mereka diminta untuk mengedarkan gula. Dia memandang pada uskup
yang terhormat itu dan berkata, `Apakah Anda memasukkan gula ke
dalam hidung Anda?'"
"Sungguh mengerikan!"
"Hal lain yang dapat kita lakukan yaitu mencari-cari dalih. Itu
berarti kita tidak memberikan alasan yang sebenarnya terhadap apa
yang sedang kita kerjakan baik kepada diri sendiri mau pun kepada
orang lain, sebab alasan yang sebenarnya tidak dapat diterima."
"Seperti apa?"
"Aku dapat menghipnotismu untuk membuka jendela. Sementara
kamu berada di bawah pengaruh hipnotis, kuperintahkan padamu
bahwa jika aku mulai mengetukkan jari-jariku ke atas meja kamu
harus bangkit dan membuka jendela. Aku mengetuk meja—dan kamu
membuka jendela. Sesudah itu aku tanyakan padamu mengapa kamu
membuka jendela dan kamu mungkin berkata bahwa kamu
melakukannya karena cuaca panas. Tapi itu bukan alasan yang
sebenarnya. Kamu enggan untuk mengakui pada dirimu sendiri bahwa
kamu melakukan sesuatu karena diperintah melalui hipnotis. Jadi
kamu mencari-cari dalih."
"Ya, aku mengerti."
"Kita menemui hal semacam itu praktis setiap hari."
"Saudara sepupuku yang baru berusia empat tahun ini, kukira tidak
mempunyai banyak kawan bermain, jadi dia sangat senang kalau aku
berkunjung. Suatu hari kukatakan padanya aku harus bergegas pulang
ke rumah ibuku. Tahukah Anda apa yang dikatakannya?"
"Apa yang dikatakannya?"
"Katanya, ibuku bodoh!"
"Ya, itu jelas merupakan kasus mencari-cari dalih. Maksud anak
lelaki itu tidak seperti yang diucapkannya. Yang dimaksud kannya
yaitu kamu bodoh karena harus pergi, tapi dia terlalu malu untuk
mengatakannya. Hal lain yang kita lakukan yaitu proyeksi."
"Apakah itu?"
"saat kita melakukan proyeksi, kita memindahkan ciri-ciri yang
kita usahakan untuk menekannya dalam diri kita sendiri kepada orang
lain. Orang yang sangat pelit, misalnya, akan mengatakan bahwa
orang lain itu pemulung receh. Dan seseorang yang tidak mau
mengakui dirinya asyik memikirkan seks akan menjadi orang pertama
yang marah karena fiksasiseks orang lain."
"Hmm."
"Freud menyatakan bahwa kehidupan sehari-hari kita dipenuhi
oleh mekanisme bawah sadar seperti ini. Kita lupa nama orang
tertentu, kita meraba-raba baju kita saat sedang berbicara, atau kita
memindahkan apa yang tampak sebagai objek-objek acak di seputar
ruangan. Kita juga keliru mengucap kata-kata dan keselip lidah atau
pena yang tampaknya sangat wajar. Maksud Freud yaitu bahwa
keselip-keselip ini bukannya terjadi tanpa sengaja atau wajar seperti
yang kita kira. Tindakan ceroboh ini sesungguhnya dapat
mengungkapkan rahasia-rahasia yang paling dalam."
"Sejak sekarang aku akan menjaga benar-benar seluruh ucapanku."
"Bahkan jika kamu melakukannya, kamu tidak akan mampu
menghindar dari impuls-impuls bawah sadar. Untuk itu, janganlah
terlalu keras berusaha mengubur hal-hal tidak menyenangkan di alam
bawah sadarmu. Itu sama dengan berusaha menghalangi jalan masuk
menuju sarang tikus air. Kamu bisa memastikan bahwa tikus air itu
akan muncul di bagian lain di taman itu. Sesungguhnya tindakan yang
sehat yaitu membiarkan pintu terbuka lebar antara alam kesadaran
dan bawah sadar."
"Jika kita mengunci pintu itu, kita akan sakit mental, benar?"
"Ya. Seorang neurotik yaitu orang seperti itu, yang menggunakan
energi terlalu banyak dalam usahanya mengeluarkan hal-hal `yang tak
menyenangkan' dari kesadarannya. Sering kali ada suatu pengalaman
tertentu yang diusahakan setengah mati oleh orang itu untuk
menekannya. Namun, dia ingin sekali agar dokter dapat membantunya
menemukan kembali jalannya menuju trauma-trauma yang
tersembunyi."
"Bagaimana dokter itu melakukannya?"
"Freud mengembangkan sebuah teknik yang dinamakannya asosiasi
bebas. Dengan kata lain, dia membiarkan pasien berbaring dalam
posisi santai dan berbicara apa saja yang kebetulan masuk ke dalam
pikirannya—meskipun pembicaraan itu kedengarannya tidak relevan,
acak, tidak menyenangkan, atau memalukan. Tujuannya yaitu
mendobrak `tutup' atau `kontrol' yang telah berkembang untuk
menyamarkan trauma-trauma itu, sebab trauma-trauma itulah yang
sesungguhnya menyebabkan pasien sakit. Mereka aktif sepanjang
waktu, namun tidak secara sadar."
"Semakin besar usaha kita untuk melupakan sesuatu, semakin
banyak kita memikirkannya secara tidak sadar?"
"Tepat. Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk
menyadari adanya tanda-tanda bawah sadar kita. Menurut Freud,
jalan paling jelas menuju alam bawah sadar yaitu mimpi-mimpi
kita. Karya utamanya ditulis mengenai subjek ini—The
Interpretation of Dreams, yang diterbitkan pada 1900, di sana dia
membuktikan bahwa mimpi-mimpi kita itu tidak sembarangan. Bawah
sadar kita berusaha untuk menjalin hubungan dengan kesadaran kita
melalui mimpi."
"Teruskan."
"Setelah menjalani bertahun-tahun pengalaman bersama para
pasien—dan terutama setelah menganalisis mimpi- mimpinya sendiri
—Freud menyatakan bahwa semua mimpi merupakan pemenuhan
keinginan. Ini dapat kita amati dengan jelas pada anak-anak, katanya.
Mereka memimpikan es krim dan buah ceri. Tapi pada orang
dewasa, keinginan- keinginan yang akan dipenuhi dalam mimpi
disamarkan. Sebabnya yaitu , bahkan saat kita tidur, sensor tetap
bekerja terhadap apa yang boleh kita lakukan. Dan meskipun sensor,
atau mekanisme represi, ini jauh lebih lemah saat kita tidur
dibanding saat kita terjaga, ia masih cukup kuat untuk mendorong
mimpi-mimpi kita agar menyimpangkan impian-impian yang tidak
dapat kita akui."
"Itulah sebabnya mimpi harus ditafsirkan."
"Freud membuktikan bahwa kita harus membedakan antara mimpi
aktual sebagaimana kita mengingatnya pada pagi hari dan makna yang
sesungguhnya dari mimpi itu. Dia mengistilahkan mimpi aktual itu
imaji—yaitu,' film' atau 'video' yang kita impikan—mimpi yang
terwujud. Isi mimpi yang `jelas' ini selalu mengambil bahan atau
skenario dari hari sebelumnya. Tapi mimpi juga mengandung makna
yang lebih dalam yang tersembunyi dari kesadaran. Freud menyebut
ini pikiran mimpi laten, dan pikiran-pikiran yang tersembunyi ini
yang merupakan isi sebenarnya mimpi itu, berasal dari masa lalu
yang jauh, dari masa kanak-kanak paling awal, misalnya."
"Jadi, kita harus menganalisis mimpi sebelum kita dapat
memahaminya."
"Ya, dan bagi orang yang sakit mental, ini harus dilakukan bersama
sang terapis. Tapi, bukan dokterlah yang menafsirkan mimpi itu. Dia
hanya dapat melakukannya dengan bantuan pasien. Dalam situasi ini,
dokter hanya memenuhi fungsi sebagai `bidan' Socrates, yang
membantu selama berlangsungnya penafsiran."
"Aku mengerti."
"Proses sebenarnya untuk mengubah pikiran mimpi laten menjadi
aspek mimpi yang terwujud diistilahkan oleh Freud sebagai cara
kerja mimpi. Kita dapat menyebutnya `pemasangan topeng' atau
`pemberian kode' pada isi mimpi yang sebenarnya. Dalam
menafsirkan mimpi, kita harus melalui proses sebaliknya dan
membuka topeng atau menguraikan kode atas mimpinya agar dapat
mencapai temanya."
"Dapatkah Anda memberikan contoh?"
"Buku Freud penuh dengan contoh. Kita dapat menyusun sendiri
contoh yang sederhana dan sangat khas Freud. Kita katakan saja
seorang pemuda bermimpi bahwa dia diberi dua balon oleh saudara
sepupu perempuannya ..."
"Ya?"
"Teruskan, cobalah menafsirkan sendiri mimpi itu."
"Hmm ... ada sebuah mimpi yang terwujud, seperti yang Anda
katakan: seorang pemuda mendapat dua balon dari saudara sepupu
perempuannya."
"Teruskan."
"Anda mengatakan bahwa skenarionya selalu datang dari hari
sebelumnya. Jadi dia pergi ke pekan raya pada hari sebelumnya—
atau mungkin dia melihat gambar balon di koran."
"Itu mungkin, tapi dia hanya perlu melihat kata `balon', atau sesuatu
yang mengingatkannya akan sebuah balon."
"Tapi, apakah pikiran mimpi laten yang merupakan isi sebenarnya
dari mimpi itu?"
"Kamulah penafsirnya."
"Mungkin dia cuma ingin beberapa balon."
"Tidak, itu tidak mungkin. Kamu benar mengenai mimpi sebagai
pemenuhan keinginan. Tapi, seorang pemuda tidak mungkin
mempunyai keinginan yang sangat besar untuk memiliki balon. Dan
sekalipun demikian, dia tidak perlu sampai memimpikannya."
"Kukira aku telah mendapat jawabannya: dia sangat menginginkan
saudara sepupunya—dan kedua balon itu yaitu payudaranya."
"Ya, itu penjelasan yang jauh lebih mungkin. Dan disyaratkan
bahwa dia menganggap keinginannya sebagai sesuatu yang
memalukan."
"Dengan kata lain, mimpi kita membuat banyak jalan memutar?"
"Ya. Freud percaya bahwa mimpi yaitu `pemenuhan tersamar
dari keinginan yang ditekan'. Tapi apa tepatnya yang kita tekan sudah
banyak berubah sejak Freud menjadi dokter di Vienna.
Bagaimanapun, mekanisme isi mimpi tersamar itu masih tetap utuh."
"Ya, aku mengerti."
"Psikoanalisis Freud sangat penting pada 1920-an, terutama bagi
penyembuhan pasien-pasien psikiatrik tertentu. Teorinya mengenai
alam bawah sadar juga sangat penting bagi kesenian dan
kesusastraan."
"Para seniman menjadi tertarik pada kehidupan mental bawah-
sadar seseorang?"
"Tepatnya begitu, meskipun ini telah menjadi aspek kesusastraan
yang menonjol pada dasawarsa terakhir abad ke sembilan belas—
sebelum psikoanalisis Freud dikenal. Itu semata-mata menunjukkan
bahwa munculnya psikoanalisis Freud pada masa yang tertentu itu,
tahun 1890-an, bukan suatu kebetulan."
"Anda maksudkan itu merupakan semangat masa itu?"
"Freud sendiri tidak menyatakan dirinya telah menemukan
fenomena seperti tekanan, mekanisme pertahanan, atau pencarian
dalih. Dia hanyalah orang pertama yang menerapkan pengalaman-
pengalaman manusia ini pada psikiatri. Dia juga sangat mumpuni
dalam memberikan ilustrasi bagi teori-teorinya dengan contoh-contoh
literatur. Tapi seperti yang telah kukemukakan, sejak 1920-an,
psikoanalisis Freud mempunyai pengaruh yang lebih langsung pada
kesenian dan kesusastraan."
"Dalam hal apa?"
"Para penyair dan pelukis, terutama penganut aliran surealis,
berusaha untuk memanfaatkan kekuatan bawah sadar dalam karya
mereka."
"Apakah surealis itu?"
"Kata surealisme berasal dari bahasa Prancis, dan berarti
`superrealisme'. Pada 1924, Andre Breton menerbitkan sebuah
`manifesto surealis', yang menyatakan bahwa kesenian harus berasal
dari alam bawah sadar. Oleh karena itu, seniman harus mendapatkan
ilham sebebas-bebasnya dari imaji-imaji impiannya dan berusaha
mencapai `superrealisme' yang di dalamnya batas-batas antara
impian dan kenyataan melebur. Seniman pun harus mendobrak sensor
kesadaran dan membiarkan kata-kata dan imaji-imaji itu bermain
dengan bebas."
"Aku dapat mengerti itu."
"Sedikit banyak, Freud membuktikan bahwa ada bakat seni dalam
diri setiap orang. Sebuah impian, bagaimanapun, yaitu sebuah karya
seni yang kecil, dan ada mimpi-mimpi baru setiap malam. Untuk
menafsirkan mimpi para pasiennya, Freud sering harus berusaha
menembus bahasa yang penuh perlambang—bukannya seperti kita
menafsirkan sebuah lukisan atau sebuah teks sastra."
"Dan kita bermimpi setiap malam?"
"Riset mutakhir menunjukkan bahwa kita bermimpi selama kira-
kira dua puluh persen dari jam tidur kita, yaitu, antara satu hingga dua
jam setiap malam. Jika kita diganggu pada saat bermimpi, kita
menjadi gelisah dan mudah marah. Ini berarti bahwa setiap orang
mempunyai kebutuhan bawaan untuk memberikan ungkapan artistik
pada situasi eksistensialnya. Bagaimanapun, mimpi kita yaitu
tentang diri kita sendiri. Kitalah sutra daranya; kita menyusun
skenario dan memainkan seluruh peranan. Seseorang yang
mengatakan bahwa dia tidak mengerti seni berarti dia tidak mengenal
dirinya sendiri dengan baik."
"Aku mengerti."
"Freud juga mengemukakan bukti yang mengesankan tentang
keajaiban pikiran manusia. Hasil kerjanya dengan pasien-pasiennya
meyakinkannya bahwa kita menyimpan segala sesuatu yang pernah
kita lihat dan alami di suatu tempat di dalam ke sadaran kita, dan
semua kesan ini dapat dimunculkan lagi. Jika kita lupa akan sesuatu,
dan tidak lama kemudian sesuatu itu `sudah di ujung lidah' dan
selanjutnya `secara tiba-tiba mengingatnya', itu berarti yang sedang
kita bicarakan yaitu sesuatu yang telah ada di alam bawah sadar
dan tiba-tiba menyelinap masuk melalui pintu setengah- terbuka
menuju kesadaran."
"Tapi kadang-kadang dibutuhkan waktu sebentar."
"Semua seniman sadar akan hal itu. Tapi kemudian secara tiba-
tiba, seakan-akan semua pintu dan semua laci terbuka. Segala
sesuatunya berhamburan keluar sendiri, dan kita dapat menemukan
seluruh kata-kata dan imaji-imaji yang kita butuhkan. Inilah saatnya
saat kita telah `mengangkat tutup' alam bawah sadar. Kita dapat
menyebutnya ilham, Nyai girah . Rasanya seakan-akan apa yang sedang
kita lukis atau kita tulis datang dari sumber luar."
"Itu pastilah perasaan yang luar biasa."
"Tapi kamu tentunya pernah mengalaminya sendiri. Kamu sering
melihat datangnya ilham pada diri anak-anak yang kelelahan. Mereka
kadang-kadang begitu kelelahan sehingga tampaknya mereka benar-
benar terjaga. Tiba-tiba mereka mulai mendongeng—seakan-akan
mereka menemukan kata-kata yang belum pernah mereka pelajari.
Sesungguhnya mereka pernah mempelajarinya; kata-kata dan
gagasan-gagasan itu telah tersimpan `laten' di dalam kesadaran
mereka, tapi kini, saat seluruh perhatian dan seluruh sensor
dilepaskan, mereka naik kepermukaan. Juga penting bagi seorang
seniman agar tidak membiarkan akal dan perenungan mengontrol
ungkapan bawah sadar. Akankah kuceritakan padamu sebuah kisah
untuk menggambarkan hal ini?"
"Tentu saja."
"Ini yaitu kisah yang sangat menyedihkan."
"Oke."
"Konon ada seekor lipan yang sangat pandai menari dengan seratus
kakinya, Semua makhluk di hutan berkumpul untuk melihat setiap kali
lipan itu menari, dan mereka semua sangat terkesan oleh tariannya
yang indah. Tapi ada satu makhluk yang tidak senang melihat lipan
menari—dan itu yaitu kura-kura darat."
"Mungkin dia hanya iri."
"Bagaimana aku bisa membuat lipan itu berhenti menari? pikir si
kura-kura. Dia tidak mungkin mengatakan begitu saja bahwa dia tidak
menyukai tarian itu. Pun dia tidak dapat mengatakan bahwa dia
sendiri dapat menari dengan lebih baik, yang jelas tidak benar. Maka
dia membuat suatu rencana jahat."
"Coba kita dengar."
"Dia duduk dan menulis surat kepada lipan. `Wahai lipan yang
tiada tara,' tulisnya, `aku yaitu seorang pengagum tarianmu yang
sangat indah. Aku harus mengetahui bagaimana kamu melakukannya
saat kamu menari. Apakah kamu mengangkat kaki kirimu nomor 28
dan kemudian kaki kananmu nomor 39? Atau apakah kamu mulai
dengan mengangkat kaki kananmu nomor 17 sebelum kamu angkat
kaki kirimu nomor 44? Aku menanti-nanti jawabanmu dengan penuh
harap. Dengan penuh hormat, Kura-kura!"
"Betapa jahatnya!"
"saat lipan itu membaca suratnya, segera saja dia mulai
memikirkan apa yang sebenarnya dia lakukan saat sedang menari.
Kaki mana yang diangkatnya lebih dulu? Dan sesudah itu kaki mana
lagi? Menurutmu, apa yang terjadi pada akhirnya?"
"Lipan itu tidak pernah menari lagi."
"Itulah tepatnya yang terjadi. Dan begitulah caranya imajinasi
terserimpung oleh pertimbangan akal."
"Kisah yang menyedihkan."
"yaitu penting bagi seniman agar mampu `membiarkan lepas'.
Para seniman surealis berusaha memanfaatkan hal ini dengan
menempatkan diri mereka dalam keadaan di mana segala sesuatu
terjadi dengan sendirinya. Mereka mempunyai selembar kertas putih
dan mereka mulai menulis tanpa memikirkan apa yang mereka tulis.
Mereka menyebutnya tulisan otomatis. Ungkapan itu aslinya berasal
dari dunia spiritualisme, di mana seorang medium percaya bahwa ruh
orang yang telah meninggal menuntun gerakan pena. Tapi kukira kita
akan membicarakan lebih banyak tentang hal itu besok.
"Dalam satu pengertian, seniman surealis juga seorang medium,
yaitu suatu sarana atau penghubung. Dia yaitu medium bagi alam
bawah sadarnya sendiri. Tapi barangkali ada unsur dari alam bawah
sadar dalam setiap proses kreatif, sebab apa yang sesungguhnya kita
maksudkan dengan kreativitas?"
"Aku tidak tahu. Apakah itu saat kita menciptakan sesuatu?"
"Benar juga, dan itu terjadi dalam suatu hubungan saling pengaruh
yang rumit antara imajinasi dan akal. Tapi sering kali, akal
menghambat imajinasi dan itu berbahaya, sebab tanpa imajinasi,
tidak akan tercipta sesuatu yang baru. Aku percaya bahwa imajinasi
itu seperti sistem Darwin."
"Maaf, tapi itu tidak kumengerti."
"Yah, Darwinisme menyatakan bahwa mutan-mutan alam
bermunculan satu demi satu, tapi hanya sedikit di antara mereka yang
dapat dimanfaatkan. Hanya sebagian di antara mereka yang berhak
hidup."
"Jadi?"
"Begitulah caranya kita mendapatkan ilham dan dibanjiri banyak
gagasan baru. Mutan-pikiran muncul dalam kesadaran satu demi satu,
setidak-tidaknya jika kita tidak lagi menyensor diri kita terlalu keras.
Tapi hanya sebagian dari pikiran-pikiran ini yang dapat
dimanfaatkan. Di sini, akal datang sendiri. Ia pun mempunyai fungsi
penting. saat hasil sudah di tangan, kita tidak boleh lupa untuk
tetap selektif."
"Itu bukan perbandingan yang buruk."
"Bayangkan jika segala sesuatu yang `masuk ke benak kita'
dibiarkan keluar dari bibir kita! Apalagi membiarkan blok not kita
keluar dari laci meja! Dunia akan tenggelam karena keberatan
menanggung impuls-impuls yang berdatangan dan seleksi tidak lagi
berjalan."
"Jadi, akallah yang menentukan pilihan di antara semua gagasan
ini?"
"Ya, tidakkah kamu berpendapat begitu? Mungkin imajinasi
menciptakan sesuatu yang baru, tapi imajinasi tidak melakukan
seleksi yang sebenarnya. Imajinasi tidak `membuat komposisi'. Suatu
komposisi—dan setiap karya seni yaitu komposisi—tercipta akibat
saling-pengaruh yang luar biasa antara imajinasi dan akal, atau antara
pikiran dan renungan. Sebab akan selalu ada unsur kebetulan dalam
proses kreatif. Kamu harus melepaskan domba-domba di padang
sebelum mulai menggembala mereka."
Alberto duduk tenang, menatap keluar jendela. saat dia duduk di
sana, Nyai girah tiba-tiba melihat serombongan tokoh Disney dengan
warna-warni meriah di dekat danau.
"Itu Goofy," serunya, "dan Donald Bebek dengan keponakan-
keponakannya ... Lihat, Alberto. Itu Mickey Tikus dan ..."
Alberto berpaling ke arahnya: "Ya, sungguh menyedihkan, Nak."
"Apa maksud Anda?"
"Di sini kita dijadikan korban-korban tak berdaya dari kawanan
Domba sang Mayor. Tapi ini salahku, tentu saja. Akulah yang mulai
membicarakan asosiasi gagasan yang bebas."
"Tentu saja Anda tidak boleh menyalahkan diri sendiri..."
"Aku hendak mengatakan sesuatu mengenai pentingnya imajinasi
bagi para filosof. Agar dapat memperoleh pemikiran baru, kita harus
cukup berani membiarkan diri kita bebas. Tapi saat ini, dia
melangkah agak jauh."
"Jangan khawatir."
"Aku hendak mengatakan pentingnya perenungan, dan di sinilah
kita, disuguhi kedunguan yang mengerikan ini. Dia harusnya malu
pada diri sendiri!"
"Apakah Anda bersikap ironis sekarang?"
"Dialah yang ironis, bukan aku. Tapi aku mempunyai satu
penghibur—dan itu yaitu inti rencanaku."
"Kini aku benar-benar bingung."
"Kita telah membicarakan impian. Ada sentuhan ironi dalam hal
itu juga. Sebab apalah kita ini kecuali imaji-imaji impian sang
mayor?"
"Ah!"
"Tapi masih ada satu hal yang belum diperhitungkannya."
"Apakah itu?"
"Barangkali dia, dengan rasa malu, menyadari impiannya sendiri.
Dia tahu segala sesuatu yang kita katakan dan lakukan—sebagaimana
pemimpi ingat akan aspek mimpi yang terwujud dalam mimpinya.
Dialah yang membentuk mimpi itu dengan menggunakan penanya.
Tapi, bahkan jika dia ingat segala sesuatu yang kita ucapkan satu
sama lain, dia tetap belum benar-benar terjaga."
"Apa maksud Anda?"
"Dia tidak mengetahui pikiran-pikiran mimpi latennya, Nyai girah . Dia
lupa bahwa ini pun merupakan impian yang tersamar."
"Aneh sekali cara Anda berbicara."
"Sang mayor berpendapat begitu juga. Itu karena dia tidak mengerti
bahasa impiannya sendiri. Marilah kita bersyukur karenanya. Itu
memberi kita sedikit ruang gerak, kamu tahu. Dan dengan ruang gerak
ini, kita akan segera terbang jauh dari kesadarannya yang kotor
seperti tikus air melompat keluar untuk mendapatkan sinar matahari
pada suatu siang pada musim panas."
"Apakah Anda kira kita akan berhasil?"
"Kita harus berhasil. Dalam beberapa hari, aku akan memberimu
suatu cakrawala baru. Selanjutnya, sang mayor tidak akan tahu lagi di
mana tikus air itu berada atau di mana mereka akan melompat keluar
lain kali."
"Tapi bahkan jika kita hanyalah imaji-imaji impian, aku masih
tetap putri ibuku. Dan kini sudah jam lima. Aku harus pulang untuk
mempersiapkan pesta taman."
"Hmm ... dapatkah kamu memberikan pertolongan kecil dalam
perjalanan pulangmu?"
"Apa?"
"Cobalah menarik lebih banyak perhatian. Cobalah agar sang
mayor selalu memerhatikanmu sepanjang perjalanan pulang. Cobalah
dan pikirkan tentang dia saat kamu tiba di rumah ... dan dia akan
memikirkan dirimu juga."
"Apa manfaatnya?"
"Agar aku dapat melanjutkan rencanaku tanpa terganggu. Aku akan
menyelam jauh-jauh ke dalam alam bawah sadar sang mayor. Di
situlah aku akan berada hingga kita bertemu lagi."[]
Zaman Kita Sendiri
***
... manusia dikutuk untuk bebas ...
JAM WEKER menunjuk angka 11.55 malam. count dracula berbaring
menatap langit-langit. Dia berusaha membiarkan khayalannya terbang
bebas. Setiap kali selesai dengan satu rangkaian pemikiran, dia
berusaha untuk bertanya pada dirinya sendiri, mengapa.
Mungkinkah ada sesuatu yang dia usahakan untuk menekannya?
Kalau saja dia dapat mengesampingkan seluruh sensor, dia
mungkin telah menyelinap ke dunia impian. Sedikit menakutkan,
pikirnya.
Semakin santai dan semakin terbuka dirinya terhadap pemikiran-
pemikiran serta imaji-imaji yang datang dengan bebas, semakin dia
merasa seakan-akan dia berada di Gubuk sang Mayor di dekat danau
kecil di tengah hutan.
Apakah yang mungkin direncanakan Alberto? Tentu saja,
ayahnyalah yang merencanakan agar Alberto merencanakan sesuatu.
Apakah dia selalu tahu apa yang akan dilakukan Alberto? Barangkali
dia tengah berusaha untuk membebaskan dirinya, sehingga apa pun
yang terjadi, pada akhirnya akan muncul sebagai suatu kejutan
baginya juga.
Kini tinggal sedikit halaman yang belum dibacanya. Haruskah dia
mengintip pada halaman terakhir? Tidak, itu curang. Dan selain itu,
count dracula yakin bahwa apa yang akan terjadi pada halaman terakhir sama
sekali belum ditentukan.
Bukankah itu pikiran yang aneh? Map itu ada tepat di sini dan
ayahnya tidak mungkin kembali ke waktu sebelumnya untuk
menambahkan sesuatu di sana. Tidak mungkin, kecuali Alberto
melakukan sesuatu sendiri. Suatu kejutan ...
count dracula sendiri sedang merancang beberapa kejutan, untuk berjaga-
jaga. Ayahnya tidak mengontrolnya. Tapi apakah dia dapat
mengontrol dirinya sendiri sepenuhnya?
Apakah kesadaran itu? Bukankah itu salah satu teka-teki terbesar
alam raya? Apakah ingatan itu? Apa yang membuat kita "ingat"
segala sesuatu yang telah kita lihat dan alami?
Mekanisme macam apa yang mendorong kita menciptakan mimpi-
mimpi indah malam demi malam?
Dia menutup matanya sebentar. Lalu, dia membukanya dan
menatap langit-langit lagi. Akhirnya, dia lupa untuk membukanya
lagi.
Dia tertidur.
saat jeritan parau seekor camar membangunkannya, count dracula keluar
dari tempat tidur. Seperti biasa, dia melintasi ruangan menuju jendela
dan berdiri memandang ke luar ke seberang teluk. Itu sudah menjadi
kebiasaan, pada musim panas maupun dingin.
saat dia berdiri di sana, tiba-tiba dia merasa banyak sekali
warna-warni yang memenuhi kepalanya. Dia ingat apa yang telah
diimpikannya. Tapi rasanya itu lebih dari sebuah impian biasa,
dengan warna-warni dan bentuk-bentuknya yang begitu hidup ...
Dia bermimpi ayahnya pulang dari Lebanon, dan seluruh mimpi itu
merupakan lanjutan impian Nyai girah saat dia mendapati salib emas
di atas dok.
count dracula sedang duduk di ujung dok—persis seperti dalam mimpi
Nyai girah . Lalu, dia mendengar suara yang sangat lembut berbisik,
"Namaku Nyai girah !" count dracula tetap berada di tempat sebelumnya, duduk
tak bergerak, berusaha untuk mendengarkan dari mana suara itu
berasal. Suara itu berlanjut, seperti desir yang nyaris tak dapat
didengar, seakan-akan seekor serangga berbicara dengannya: "Kamu
pasti tuli dan buta!" Tepat pada waktu itu, ayahnya datang ke taman
itu dengan seragam PBB. "count dracula !" dia berseru, count dracula berlari ke
arahnya dan memeluk lehernya. Di situlah mimpi itu berakhir.
Dia ingat beberapa baris puisi oleh Arnulf Overland:
Terbangun suatu malam karena impian yang aneh
dan sebuah suara yang tampaknya mengajakku
berbicara
bagaikan sungai bawah tanah di tempat yang jauh
aku bangkit dan bertanya: Apa yang kau inginkan
dariku?
Dia masih berdiri di jendela saat ibunya masuk.
"Hai! Kamu sudah bangun?"
"Aku tidak yakin ..."
"Aku akan pulang sekitar jam empat, seperti biasa."
"Oke, Bu."
"Nikmatilah liburan yang menyenangkan, count dracula !"
"Semoga Ibu senang juga."
saat dia mendengar ibunya menutup pintu depan, dia menyusup
kembali ke tempat tidur dengan map besar itu.
"Aku akan menggali dalam-dalam ke alam bawah sadar sang
mayor. Di situlah aku akan berada sampai kita bertemu lagi."
Di situ, ya. count dracula mulai membaca lagi. Dia dapat merasakan di
bawah jari telunjuk kanannya bahwa hanya tinggal beberapa halaman
lagi yang belum dibacanya.
saat Nyai girah meninggalkan Gubuk sang Mayor, dia masih dapat
melihat beberapa tokoh Disney di tepi perairan, tapi mereka
sepertinya hendak menghilang saat dia mendekat. Pada waktu dia
mencapai perahu, mereka semua telah lenyap.
Sementara mendayung, dia menyeringai. Dan setelah dia menarik
perahu naik ke tengah alang-alang di sisi lain, dia melambaikan
kedua tangannya ke sana kemari. Dia berusaha setengah mati untuk
menarik perhatian sang mayor sehingga Alberto dapat duduk tanpa
terganggu di dalam gubuk.
Dia menari sepanjang jalan setapak, melompat dan meloncat. Lalu
dia berusaha berjalan seperti boneka mekanis. Untuk tetap menarik
perhatian sang mayor, dia mulai menyanyi pula. Suatu saat dia
berdiri diam, memikirkan seperti apakah rencana Alberto nantinya.
saat sadar, kesadaran yang dia dapatkan begitu buruk sehingga dia
mulai memanjat sebatang pohon.
Nyai girah memanjat setinggi mungkin. saat dia hampir mencapai
puncak, dia menyadari dia tidak dapat turun. Dia memutuskan untuk
menunggu sebentar sebelum mencoba lagi. Tapi sementara itu dia
tidak dapat berdiam diri saja di tempatnya. Sebab sang mayor akan
bosan memandangnya dan akan mulai mengalihkan perhatiannya pada
apa yang sedang dilakukan Alberto.
Nyai girah melambaikan tangannya, berusaha berkokok seperti ayam
jantan beberapa kali, dan akhirnya mulai bernyanyi dengan berteriak-
teriak. Itu yaitu pertama kali sepanjang hidupnya selama lima belas
tahun, Nyai girah bernyanyi seperti itu. Dia merasa sangat senang dengan
perbuatannya.
Dia berusaha sekali lagi untuk turun, tapi dia benar-benar terpaku
di tempatnya. Tiba-tiba, seekor angsa yang sangat besar hinggap di
salah satu cabang tempat Nyai girah berpegangan. Setelah melihat
sekawanan tokoh Disney belum lama ini, Nyai girah sama sekali tidak
terkejut saat angsa itu mulai berbicara.
"Namaku Morten," kata si angsa. "Sebenarnya, aku seekor angsa,
tapi dalam kesempatan istimewa ini aku telah terbang dari Lebanon
dengan kawanan angsa liar. Tampaknya seakan-akan kamu
memerlukan pertolongan untuk turun dari pohon ini."
"Kamu terlalu kecil untuk dapat membantuku," kata Nyai girah .
"Kamu terburu-buru mengambil kesimpulan, gadis muda. Kamulah
yang terlalu besar."
"Itu sama saja, bukan?"
"Aku mestinya memberitahumu bahwa aku telah membawa seorang
pemuda petani persis seumurmu ke seluruh penjuru Swedia.
Namanya Nils Holgersson."
"Umurku lima belas tahun."
"Dan Nils empat belas. Setahun lebih atau kurang tidak ada
bedanya bagi sarana pengangkut."
"Bagaimana caramu menggendongnya?"
"Aku memberikan tamparan kecil dan dia semaput. saat dia
terbangun, dia tidak lebih besar dari sebuah ibu jari."
"Mungkin kamu dapat memberi tamparan kecil juga, sebab aku
tidak dapat duduk di atas sini selamanya. Dan aku akan
menyelenggarakan pesta taman filsafat pada hari Sabtu."
"Itu sangat menarik. Kalau begitu, aku yakin ini pasti sebuah buku
filsafat. saat aku terbang menjejajahi Swedia bersama Nils
Holgersson, kami mendarat di Marbacka di Varmland, di mana Nils
bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang merencanakan untuk
menulis sebuah buku mengenai Swedia untuk anak-anak sekolah.
Buku itu harus mendidik dan benar, katanya. saat dia mendengar
cerita tentang petualangan Nils, dia memutuskan untuk menulis
sebuah buku tentang segala sesuatu yang telah dilihatnya di atas
punggung angsa."
"Itu aneh sekali."
"Terus terang, itu agak ironis, sebab kami telah ada di buku itu."
Tiba-tiba Nyai girah merasa sesuatu menampar pipinya dan saat
selanjutnya dia telah menjadi tidak lebih besar dari ibu jari. Pohon
itu tampak seperti hutan seluruhnya dan angsa itu sama besarnya
dengan seekor kuda.
"Kalau begitu, ayolah," kata si angsa.
Nyai girah berjalan sepanjang cabang pohon itu dan memanjat naik ke
punggung angsa. Bulu-bulunya lembut, tapi karena kini dia sangat
kecil, bulu-bulu itu lebih terasa menusuk-nusuk tubuhnya daripada
menggelitikinya.
Begitu dia sudah duduk dengan nyaman, angsa itu mulai terbang.
Mereka terbang di atas puncak-puncak pepohonan. Nyai girah melihat ke
bawah ke arah danau dan Gubuk sang Mayor. Di dalamnya duduk
Alberto, mempersiapkan rencananya yang berbelit-belit.
"Tamasya sejenak cukuplah untuk hari ini," kata si angsa, sambil
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya.
Dengan perkataan itu, dia terbang turun ke kaki pohon yang tadi
dipanjat Nyai girah . saat angsa itu mendarat, Nyai girah terlempar ke atas
tanah. Setelah berguling di atas tanaman perdu beberapa kali, dia
duduk tegak. Dia menyadari dengan penuh keheranan bahwa dia
sudah kembali pada ukurannya semula.
Angsa itu ber jalan bergoyang-goyang mengitarinya beberapa kali.
"Terima kasih atas bantuanmu," kata Nyai girah .
"Itu soal sepele. Apakah tadi kamu katakan bahwa ini sebuah buku
filsafat?"
"Tidak, itu kan katamu."
"Oh yah, semua sama saja. Jika aku yang disuruh memilih, aku
akan senang menerbangkanmu melewati seluruh sejarah filsafat,
seperti aku menerbangkan Nils Holgersson menjelajahi Swedia. Kita
dapat berkeliling di atas Miletus dan Athena, Jerusalem dan
Alexandria, Roma dan Florensia, London dan Paris, Jena dan
Heidelberg, Berlin dan Copenhagen..."
"Terima kasih, itu sudah cukup."
"Tapi terbang melintasi abad demi abad akan merupakan tugas
yang berat bahkan untuk seekor angsa yang sangat ironis. Melintasi
wilayah-wilayah Swedia jauh lebih ringan."
Dengan berkata demikian, angsa itu lari beberapa langkah dan
mengepak-ngepakkan sayapnya ke angkasa.
Nyai girah kelelahan, tapi saat dia merayap keluar dari pagar
tanaman menuju taman, tidak lama kemudian dia berpikir bahwa
Alberto pasti senang sekali dengan usaha pengalihan perhatian yang
telah dilakukannya. Sang mayor pasti tidak terlalu memikirkan
Alberto pada saat itu. Jika ya, pastilah dia mempunyai masalah
kepribadian terbelah.
Nyai girah baru saja berjalan memasuki pintu depan saat ibunya
pulang dari tempat kerjanya. Itu menyelamatkannya dari keharusan
untuk menceritakan pertolongan angsa menurunkannya dari sebatang
pohon tinggi.
Setelah makan malam mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk
pesta taman. Mereka mengambil daun meja sepanjang empat meter
beserta kuda-kudanya dari ruang loteng dan membawanya ke taman.
Mereka telah merencanakan untuk menempatkan meja panjang itu
di bawah pohon buah-buahan. Terakhir kali mereka menggunakan
meja dengan kuda-kuda itu yaitu pada ulang tahun perkawinan
orangtua Nyai girah yang ke sepuluh. Nyai girah baru berumur delapan tahun
waktu itu, tapi dia ingat dengan jelas pesta taman besar dengan
seluruh teman dan keluarga yang hadir.
Laporan cuaca lumayan bagus. Tidak pernah turun hujan sama
sekali sejak terjadinya badai yang mengerikan sehari sebelum ulang
tahun Nyai girah . Sekalipun demikian, mereka memutuskan untuk
mempersiapkan meja dan menghiasinya pada Sabtu pagi.
Pada malam itu, mereka memanggang dua jenis roti yang berbeda.
Mereka akan menghidangkan ayam dan selada. Dan soda. Nyai girah
khawatir beberapa pemuda dari kelasnya akan membawa bir. Dia
takut itu menimbulkan kekacauan.
saat Nyai girah berangkat tidur, ibunya bertanya lagi padanya
apakah Alberto akan datang ke pesta mereka.
"Tentu saja dia akan datang. Dia bahkan sudah berjanji akan
menyajikan tipuan filosofis,"
"Tipuan filosofis? Tipuan macam apa itu?"
"Entahlah ... jika dia seorang tukang sulap, dia pasti akan bermain
sulap. Dia mungkin akan menarik keluar seekor ke linci putih dari
topi ..."
"Apa, itu lagi?"
"Tapi karena dia seorang filosof, dia akan menyajikan tipuan
filosofis sebagai gantinya. Bagaimanapun, acara itu kan pesta taman
filsafat. Apakah Ibu merencanakan untuk melakukan sesuatu juga?"
"Sebenarnya, memang begitu."
"Pidato?"
"Tidak akan kukatakan sekarang. Selamat malam, Nyai girah !"
Pagi-pagi keesokan harinya, Nyai girah dibangunkan oleh ibunya, yang
masuk ke kamarnya untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum dia
pergi bekerja. Dia memberi Nyai girah daftar barang-barang yang
kelupaan untuk dibeli di kota untuk pesta taman.
Begitu ibunya meninggalkan rumah, telepon berdering. Itu Alberto.
Dia pasti tahu dengan tepat kapan Nyai girah berada sendirian di rumah.
"Bagaimana kabar rahasia Anda?"
"Ssst! Tak sepatah kata pun. Bahkan jangan beri dia kesempatan
untuk memikirkannya."
"Kukira aku berhasil menarik perhatiannya kemarin."
"Bagus."
"Apakah pelajaran filsafatnya sudah selesai?"
"Itulah sebabnya aku menelepon. Kita telah berada di abad kita
sendiri. Sejak sekarang kamu harus mampu berorientasi pada dirimu
sendiri. Dasar-dasar itulah yang paling penting. Tapi kita tetap harus
bertemu untuk membicarakan zaman kita sendiri."
"Tapi aku harus pergi ke kota ..."
"Bagus sekali. Kukatakan bahwa zaman kita sendirilah yang harus
kita bicarakan."
"Sungguh?"
"Jadi yang paling praktis yaitu bertemu di kota, maksudku."
"Haruskah aku datang ke tempat Anda?"
"Tidak, jangan di sini. Segalanya kacau balau. Aku telah mencari-
cari mikrofon tersembunyi."
"Ah!"
"Ada sebuah kafe yang baru buka di Main Square. Kafe Pierre.
Apakah kamu tahu?"
"Ya. Kapan aku harus tiba di sana?"
"Dapatkah kita bertemu pada jam dua belas?"
"Oke. Bye."
Beberapa menit selepas pukul dua belas, Nyai girah berjalan
memasuki Kafe Pierre. Tempat itu disusun dengan meja bulat kecil
dan kursi-kursi berwarna hitam, botol-botol anggur putih yang
diletakkan terbalik pada dispenser.
Ruangan itu kecil, dan hal pertama yang diketahui Nyai girah yaitu
bahwa Alberto tidak ada. Banyak orang lain duduk di meja-meja
bulat di sana, tapi Alberto tidak ada di antara mereka.
Dia tidak biasa mengunjungi kafe sendirian. Haruskah dia berbalik
saja dan pergi, dan kembali nanti untuk melihat apakah dia telah tiba?
Dia memesan secangkir teh lemon di bar pualam dan duduk di
salah satu meja yang kosong. Dia menatap ke arah pintu. Orang-orang
datang dan pergi sepanjang waktu, tapi Alberto tetap belum muncul.
Kalau saja dia punya koran!
Sementara waktu berlalu, dia mulai melihat berkeliling. Dia
mendapatkan beberapa tatapan balasan. Untuk sesaat Nyai girah merasa
dirinya seperti seorang wanita muda. Dia baru lima belas tahun, tapi
dia pasti dapat kelihatan lebih dari tujuh belas tahun—atau setidak-
tidaknya, enam belas setengah.
Dia bertanya-tanya dalam hati apa yang dipikirkan semua orang di
sini tentang kehidupan. Kelihatannya mereka sudah mengesampingkan
pemikiran semacam itu, seakan-akan mereka hanya duduk di sini
secara kebetulan. Mereka bercakap-cakap, menggerakkan tangan
dengan penuh semangat, tapi tampaknya mereka tidak sedang
membicarakan sesuatu yang penting.
Tiba-tiba, dia memikirkan Kierkegaard, yang pernah mengatakan
bahwa yang merupakan ciri khas kerumunan orang yaitu obrolan
omong kosong. Apakah semua orang ini hidup pada tahap estetika?
Atau, apakah ada sesuatu yang secara eksitensial penting bagi
mereka?
Dalam salah satu surat awalnya untuk Nyai girah , Alberto
membicarakan kesamaan antara anak-anak dan para filosof. Dia
menyadari bahwa dia lagi-lagi takut untuk menjadi dewasa. Kalau
dia juga berakhir dengan merangkak masuk ke dalam bulu-bulu halus
si kelinci putih yang ditarik keluar dari topi pesulap alam raya!
Dia tetap mengarahkan pandangannya ke pintu. Tiba-tiba, Alberto
berjalan masuk. Meskipun kini pertengahan musim panas, dia
mengenakan baret hitam dan mantel ke labu dari bulu sepanjang
pangkal pahanya. Dia bergegas mendatangi Nyai girah . Rasanya aneh
sekali bertemu dengannya di depan umum.
"Kini jam dua belas seperempat!"
"Itulah yang dikenal sebagai seperempat jam akademis. Apakah
kamu mau makanan kecil?"
Alberto duduk dan menatap matanya. Nyai girah mengangkat bahunya.
"Tentu. Sandwich, mungkin."
Alberto pergi ke bar. Tak lama kemudian, dia kembali dengan
secangkir kopi dan dua potong sandwich dengan keju dan daging.
"Apakah itu mahal?"
"Sepele saja, Nyai girah ."
"Apakah Anda punya alasan mengapa datang terlambat?"
"Tidak. Aku sengaja. Aku akan menjelaskannya sekarang."
Dia menggigit sandwich-nya. Lalu berkata:
"Marilah kita bicara tentang abad kita sendiri."
"Apakah terjadi sesuatu yang menarik dalam bidang filsafat?"
"Banyak sekali ... gerakan-gerakan bermunculan ke segala arah.
Kita akan mulai dengan satu arah yang sangat penting, dan itu yaitu
eksistensialisme. Ini yaitu istilah kolektif untuk beberapa aliran
filsafat yang mengambil situasi eksistensial manusia sebagai titik
tolak. Biasanya kita membicarakan filsafat eksistensial abad kedua
puluh. Beberapa filosof eksistensial ini, atau para eksistensialis,
mendasarkan gagasan-gagasan mereka bukan hanya pada
Kierkegaard, melainkan juga Hegel dan Marx."
"Hmm."
"Filosof penting yang mempunyai pengaruh besar pada abad kedua
puluh yaitu Friedrich Nietzsche dari Jerman, yang hidup dari 1844
hingga 1900. Dia pun bereaksi menentang filsafat Hegel dan
`historisisme' Jerman. Dia mengemukakan kehidupan itu sendiri
sebagai suatu imbangan berat bagi minat yang sangat kecil pada
sejarah dan apa yang disebutnya `moralitas budak' Kristen. Dia
berusaha menjalankan suatu `revolusi dari seluruh nilai', sehingga
daya hidup orang yang terkuat tidak dirintangi oleh yang lemah.
Menurut Nietzsche, agama Kristen maupun filsafat tradisional telah
meninggalkan dunia nyata dan menunjuk ke `surga' atau `dunia
gagasan'. Tapi apa yang sampai kini dianggap sebagai dunia `nyata'
sesungguhnya yaitu dunia samaran. `Jujurlah pada dunia,' katanya.
`Jangan dengarkan mereka yang menawarkan padamu harapan-
harapan adialamiah.'"
"Jadi ..."
"Tokoh yang terpengaruh oleh Kierkegaard dan Nietzsche
sekaligus yaitu filosof eksistensial Jerman Martin Heidegger. Tapi
kita akan memusatkan perhatian pada eksistensialis Prancis Jean-
Paul Sartre, yang hidup dari 1905 hingga 1980. Dialah pelopor di
antara tokoh-tokoh eksistensialis—setidak-tidaknya, bagi publik yang
lebih luas. Eksistensialismenya menjadi sangat populer pada tahun
lima puluhan, tak lama sesudah perang. Di kemudian hari, dia
menggabungkan diri dengan gerakan Marxis di Prancis, tapi dia tidak
pernah menjadi anggota partai apa pun."
"Itukah sebabnya kita bertemu di sebuah kafe Prancis?"
"Ini bukan hanya kebetulan, aku mengaku. Sartre sendiri
melewatkan banyak waktu di kafe-kafe. Dia bertemu dengan sahabat
sepanjang hidupnya Simone de Beauvoir di sebuah kafe. Wanita itu
juga seorang filosof eksistensial."
Friedrich NIETZSCHE
"Seorang wanita filosof?"
"Itu benar."
"Sungguh melegakan bahwa umat manusia pada akhirnya menjadi
beradab."
"Sekalipun demikian, banyak masalah baru bermunculan di masa
hidup kita ini."
"Anda akan membicarakan eksistensialisme."
"Sartre mengatakan bahwa `eksistensialisme yaitu humanisme'.
Dengan itu, yang dimaksudkannya yaitu bahwa para eksistensialis
berangkat dari ketiadaan menuju ke manusiaan itu sendiri. Perlu
kutambahkan bahwa humanisme yang diacunya mengambil pandangan
yang jauh lebih suram tentang si tua si manusia daripada humanisme
yang kita temui dalam Renaisans."
"Mengapa begitu?"
"Baik Kierkegaard maupun beberapa filosof eksistensial abad ini
beragama Kristen. Tapi keberpihakan Sartre yaitu pada apa yang
dapat kita sebut eksistensialisme ateis. Filosofinya dapat dianggap
sebagai analisis yang kejam terhadap situasi manusia saat `Tuhan
telah mati'. Ungkapan Tuhan telah mati' berasal dari Nietzsche."
"Teruskan."
"Kata kunci dalam filsafat Sartre, seperti dalam filosofi
Kierkegaard, yaitu `eksistensi'. Tapi, eksistensi tidak berarti sama
dengan hidup. Tanaman dan binatang juga hidup, mereka eksis, tapi
mereka tidak harus memikirkan apa yang diimplikasikannya. Manusia
yaitu satu-satunya makhluk hidup yang sadar akan eksistensinya
sendiri. Sartre mengatakan bahwa benda material itu semata-mata
`ada dalam dirinya sendiri', sedangkan manusia ada `untuk dirinya
sendiri'. Keberadaan manusia karenanya tidak sama dengan
keberadaan benda-benda."
"Aku tidak dapat tidak setuju dengan itu."
"Sartre mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului dirinya.
Kenyataan bahwa aku ada mendahului apakah aku ini. `Eksistensi
mendahului esensi'."
"Itu pernyataan yang sangat rumit."
"Dengan esensi, yang kita maksudkan yaitu sesuatu yang menjadi
isi dari sesuatu—hakikat, atau keberadaan, dari sesuatu. Tapi
menurut Sartre, manusia tidak mempunyai `hakikat' bawaan semacam
itu. Oleh karena itu, manusia harus menciptakan dirinya sendiri. Dia
harus menciptakan hakikatnya atau `esensi'-nya sendiri, sebab itu
tidak ditetapkan sebelumnya."
"Kukira aku mengerti maksud Anda."
"Sepanjang sejarah filsafat, para filosof berusaha untuk
menemukan apakah manusia itu—atau apakah hakikat manusia itu.
Tapi, Sartre percaya bahwa manusia tidak mempunyai `hakikat' kekal
semacam itu yang dapat dijadikannya sandaran. Karena itulah tidak
ada gunanya untuk mencari makna dari kehidupan pada umumnya.
Kita memang ditakdirkan untuk membuatnya sendiri. Kita seperti
aktor-aktor yang diseret ke atas panggung tanpa mengetahui peran
kita, tanpa naskah dan tanpa juru bisik yang akan membisikkan
kepada kita apa yang harus kita lakukan di atas panggung. Kita harus
memutuskan sendiri bagaimana cara kita hidup."
"Itu benar, sesungguhnya. Jika orang dapat melihat pada Bibel saja
—atau pada buku filsafat—untuk mengetahui bagaimana caranya
hidup, itu tentu akan mudah sekali."
"Kamu mengerti maksudnya. Jika orang-orang menyadari mereka
hidup dan suatu hari akan mati—dan tidak ada makna yang dijadikan
pegangan—mereka mengalami ketakutan, kata Sartre. Kamu mungkin
ingat ketakutan itu, rasa takut yang juga merupakan ciri gambaran
Kierkegaard tentang seseorang dalam situasi eksistensial."
"Ya."
"Sartre mengatakan bahwa manusia merasa terasing dalam sebuah
dunia tanpa makna. saat dia menggambarkan `keterasingan'
manusia, dia menggemakan gagasan-gagasan utama Hegel dan Marx.
Perasaan terasing manusia di dunia menciptakan keputusasaan,
kebosanan, kemuakan, dan absurditas."
"Memang normal untuk merasa tertekan, atau merasa bahwa segala
sesuatunya membosankan."
"Ya, memang. Sartre tengah menggambarkan penghuni kota abad
kedua puluh. Kamu ingat bahwa kaum humanis Renaisans telah
menarik perhatian, nyaris dengan penuh kemenangan, pada kebebasan
dan kemerdekaan manusia? Sartre menganggap kemerdekaan manusia
sebagai suatu kutukan. `Manusia dikutuk untuk bebas', katanya.
`Dikutuk karena dia tidak menciptakan dirinya sendiri—dan
bagaimanapun, bebas. Sebab, begitu dilemparkan ke dunia, dia
bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya."
"Tapi kita tidak minta diciptakan sebagai individu bebas."
"Itulah persisnya maksud Sartre. Bagaimanapun, kita yaitu
individu-individu yang bebas, dan kebebasan ini mengutuk kita untuk
membuat pilihan-pilihan sepanjang hidup kita. Tidak adanya nilai
atau norma kekal yang dapat kita patuhi, membuat pilihan-pilihan
kita lebih penting lagi. Sebab kita sepenuhnya bertanggung jawab
terhadap segala sesuatu yang kita lakukan. Sartre menekankan bahwa
manusia tidak boleh sekali pun melepaskan tanggung jawab terhadap
tindakan-tindakannya. Kita pun tidak dapat mengelak dari tanggung
jawab untuk membuat pilihan-pilihan kita sendiri dengan alasan
bahwa kita `harus' pergi bekerja, atau kita `harus' hidup sesuai
dengan harapan-harapan kelas menengah tertentu menyangkut cara
kita seharusnya hidup. Mereka yang menyusup ke tengah massa tanpa
nama tidak akan pernah menjadi lain, kecuali anggota kawanan
impersonal, karena telah lari menuju penipuan diri. Sebaliknya,
kebebasan kita mewajibkan kita untuk memanfaatkan diri kita sendiri,
untuk hidup dengan cara yang `asli' atau `jujur'."
"Ya, aku mengerti."
"Demikian pula halnya dengan pilihan-pilihan etika kita. Kita tidak
akan pernah dapat menyalahkan `sifat manusia' atau `kelemahan
manusia' atau sesuatu semacam itu. Kadang-kadang, manusia
bertindak seperti babi dan kemudian menyalahkan `Bapa Adam'. Tapi
sebenarnya tidak ada `Bapa Adam'. Dia hanyalah tokoh yang kita
jadikan pegangan untuk menghindari tanggung jawab bagi tindakan-
tindakan kita."
"Mestinya ada batasan untuk kesalahan yang dapat ditimpakan
pada manusia."
"Meskipun Sartre menyatakan bahwa tidak ada makna bawaan
bagi kehidupan, yang dimaksudkannya bukan bahwa tidak ada sesuatu
pun yang berarti. Dia bukanlah apa yang kita sebut nihilis."
"Apakah itu?"
"Itulah orang yang beranggapan bahwa tidak ada sesuatu pun yang
mempunyai arti dan apa saja boleh dilakukan. Sartre percaya bahwa
kehidupan pasti mempunyai arti. Tidak bisa tidak. Tapi kita
sendirilah yang harus menciptakan arti ini dalam kehidupan kita.
Eksis berarti menciptakan kehidupan kita sendiri."
Martin HEIDEGGER
"Dapatkah Anda menjelaskan itu?"
"Sartre berusaha membuktikan bahwa kesadaran sendiri bukan
apa-apa hingga ia menangkap sesuatu. Karena kesadaran selalu sadar
akan sesuatu. Dan `sesuatu' ini diadakan oleh diri kita sendiri dan
juga oleh lingkungan kita. Kita setengahnya hanya pendukung dalam
memutuskan apa yang kita lihat dengan memilih apa yang penting bagi
kita."
"Dapatkah Anda memberi contoh?"
"Dua orang dapat saja berada di dalam ruangan yang sama, namun
tetap merasakannya dengan cara yang sangat berbeda. Ini karena kita
memberikan makna kita sendiri— atau kepentingan kita sendiri—
saat kita melihat sekeliling kita. Seorang wanita yang sedang hamil
mungkin merasa melihat wanita-wanita hamil lain ke mana pun dia
memandang. Itu bukan karena sebelumnya tidak pernah ada wanita
hamil, tapi karena sekarang dia dalam keadaan hamil maka dia
memandang dunia dengan mata yang berbeda. Seorang tahanan yang
melarikan diri mungkin merasa melihat polisi di mana-mana ..."
"Mm, aku mengerti."
"Kehidupan kita sendiri memengaruhi cara kita memandang segala
sesuatu di dalam ruangan. Jika sesuatu tidak menarik perhatianku, aku
tidak melihatnya. Maka kini mungkin akan dapat menjelaskan
mengapa aku terlambat hari ini."
"Itu kesengajaan, bukan?"
"Katakan dulu padaku apa yang kamu lihat saat kamu masuk ke
sini."
"Yang pertama-tama kulihat yaitu bahwa Anda tidak ada di sini."
"Bukankah aneh bahwa yang pertama-tama kamu ketahui yaitu
sesuatu yang tidak ada?"
"Mungkin, tapi Andalah yang mestinya kutemui."
"Sartre menggunakan kunjungan ke kafe itu untuk membuktikan cara
kita `menghilangkan' apa pun yang tidak relevan untuk kita."
"Anda datang terlambat ke sini hanya untuk membuktikan itu?"
"Untuk memungkinkan kamu memahami hal terpenting dalam
filsafat Sartre ini, ya. Sebutlah itu latihan."
"Curang!"
"Jika kamu jatuh cinta, dan sedang menantikan kekasihmu
meneleponmu, kamu mungkin `mendengar'-nya tidak meneleponmu
semalaman. Kamu berencana untuk bertemu dengannya di kereta;
orang ramai berjubel di peron dan kamu tidak dapat melihatnya di
mana-mana. Mereka semua menjadi penghalang, mereka tidak penting
bagimu. Kamu mungkin menganggap mereka tidak menyenangkan,
bahkan menjengkelkan. Mereka mengambil ruang terlalu banyak.
Satu-satunya yang kamu perhatikan yaitu bahwa dia tidak ada di
sana."
"Betapa sedihnya."
"Simone de Beauvoir berusaha untuk menerapkan eksistensialisme
pada feminisme. Sartre pernah mengatakan bahwa manusia tidak
mempunyai `sifat' dasar untuk bergantung. Kita menciptakan diri kita
sendiri."
"Benarkah?"
"Demikian juga cara kita memandang jenis kelamin. Simone de
Beauvoir menyangkal adanya `sifat dasar perempuan' atau `sifat
dasar laki-laki'. Misalnya, umum dikatakan bahwa pria mempunyai
sifat `mencari' atau meraih sesuatu. Oleh karena itu, dia akan mencari
makna dan arah di luar rumah. Wanita dikatakan mempunyai filosofi
kehidupan yang berkebalikan. Dia `selalu ada', yang berarti bahwa
dia ingin berada di tempat dia berada. Oleh karena itu, dia merawat
keluarganya, memerhatikan lingkungan dan hal-hal yang lebih bersifat
kerumahtanggaan. Belakangan ini mungkin kita katakan bahwa kaum
wanita lebih peduli dengan `nilai-nilai feminin' dibanding kaum
pria."
"Apakah dia benar-benar memercayai hal itu?"
"Kamu tidak memerhatikan aku. Simone de Beauvoir sesungguhnya
tidak percaya pada adanya `sifat wanita' atau `sifat pria' semacam
itu. Sebaliknya, dia percaya bahwa kaum wanita dan kaum pria harus
membebaskan diri mereka dari prasangka-prasangka atau ide-ide
yang mendarah daging itu."
"Aku setuju."
"Karya utamanya, yang diterbitkan pada 1949, berjudul The
Second Sex."
"Apa yang dimaksudkannya dengan itu?"
"Dia tengah membicarakan kaum wanita. Dalam kebudayaan kita,
kaum wanita diperlakukan sebagai jenis kelamin nomor dua. Kaum
pria bertindak seakan-akan merekalah subjeknya, dengan
memperlakukan wanita sebagai objek, dan dengan demikian
membebaskan mereka dari tanggung jawab terhadap kehidupan
mereka sendiri."
"Yang dia maksud yaitu bahwa kami kaum wanita bisa bebas dan
mandiri sebagaimana yang kami inginkan?"
"Ya, kamu dapat mengatakannya begitu. Eksistensialisme juga
berpengaruh besar pada kesusastraan, dari tahun empat puluhan
hingga hari ini, terutama pada drama. Sartre sendiri menulis
sandiwara dan juga novel. Para penulis penting lainnya yaitu Albert
Camus dari Prancis, Samuel Beckett dari Irlandia, Eugene lonesco
dari Rumania, dan Witold Gombrowicz dari Polandia. Gaya mereka
yang khas, dan juga gaya dari banyak penulis modern yang lain, itulah
yang kita sebut absurdisme. Istilah itu digunakan secara khusus
dalam `teater absurd'."
"Ah."
"Tahukah kamu apa yang kita maksudkan dengan `absurd'?"
"Bukankah itu sesuatu yang tak bermakna atau irasional?"
"Tepat. Teater absurd menyajikan suatu kontras dengan teater
realistik. Tujuannya yaitu menunjukkan tiadanya makna dalam
kehidupan untuk mengundang ketidaksetujuan penonton. Gagasannya
bukanlah untuk mengolah yang tak bermakna. Justru sebaliknya. Tapi
dengan menunjukkan dan memamerkan yang absurd itu dalam situasi
sehari-hari, para penonton dipaksa untuk mencari sendiri kehidupan
yang lebih sejati dan lebih mendasar."
"Kedengarannya menarik."
"Teater absurd sering melukiskan situasi-situasi yang benar-benar
sepele. Karenanya, itu juga disebut semacam 'hiperrealisme'. Orang-
orang dilukiskan persis sebagaimana adanya. Tapi jika kamu
menyajikan di atas panggung secara tepat apa yang terjadi di dalam
kamar mandi di suatu pagi yang biasa di sebuah rumah yang juga
biasa, penonton akan tertawa. Tawa mereka dapat ditafsirkan sebagai
mekanisme pertahanan karena melihat diri mereka sendiri dicerca di
atas panggung."
"Ya, tepat sekali."
"Teater absurd bisa juga memiliki ciri-ciri surealistik tertentu.
Tokoh-tokohnya sering mendapati diri mereka sendiri daam situasi
yang sangat tidak realistik dan seperti mimpi. Jika mereka menerima
ini tanpa merasa kaget, penonton dipaksa untuk bereaksi kaget karena
ketidakkagetan para tokoh ter sebut. Beginilah yang dilakukan
Charlie Chaplin dalam film-film bisunya. Pengaruh lucu dalam film-
film bisu ini sering merupakan penerimaan Chaplin atas segala hal
yang absurd yang terjadi pada dirinya. Itu memaksa penonton untuk
memandang diri mereka sendiri untuk mencari sesuatu yang lebih
sejati dan benar."
"Sungguh mengejutkan orang-orang bisa bersabar menanggungnya
tanpa protes."
"Kadang-kadang ada benarnya jika kita rasakan: Ini sesuatu yang
harus kujauhi—meskipun aku tidak tahu ke mana akan pergi."
"Jika rumah terbakar kamu harus keluar, bahkan jika kamu tidak
punya tempat lain untuk tinggal."
"Itu benar. Maukah kamu secangkir teh lagi? Atau Coke mungkin?"
"Oke. Tapi aku tetap menganggap Anda tolol karena datang
terlambat."
"Aku dapat menerimanya."
Alberto kembali dengan secangkir espresso dan Coke. Sementara
itu, Nyai girah telah mulai menyukai lingkungan kafe itu. Dia juga mulai
berpikir bahwa percakapan yang dilakukan di meja-meja lain
mungkin tidak sesepele yang dikiranya semula.
Alberto mengentakkan botol Coke ke meja dengan bunyi keras.
Beberapa orang di meja-meja lain mendongak.
"Dan itu membawa kita ke ujung jalan," katanya.
"Maksud Anda sejarah filsafat berhenti bersama Sartre dan
eksistensialisme?"
"Tidak. Itu berlebihan sekali. Filsafat eksistensialis mempunyai
makna yang sangat penting bagi banyak orang di seluruh dunia.
Seperti yang telah kita ketahui, akarnya merambah jauh ke dalam
sejarah melalui Kierkegaard dan kembali ke Socrates. Abad kedua
puluh juga menyaksikan perkembangan dan pembaruan aliran-aliran
filsafat lain yang telah kita bahas sebelum ini."
"S




