• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita kriminal 7. Tampilkan semua postingan

Cerita kriminal 7

 


gan menyodorkan saksi-saksi baru. Meski upaya itu 

kandas, banyak orang tetap percaya Tracie tidak bersalah. Hingga April 1999, Tracie 

membuat pengakuan yang mengejutkan.  

 

Lewat sebuah surat yang dikirim dari penjara Bullwood Hall Essex, Tracie mengaku 

telah menusuk Lee Harvey dalam sebuah pertengkaran yang disebutnya lepas 

kontrol. Surat yang dimuat News of The World itu menyatakan, pada malam 

pembunuhuhan keduanya bermaksud pulang ke rumah.  

 

"Di tengah jalan terjadi pertengkaran. Lee mengeluarkan pisau dan mengancam 

akan menyayat wajahku atau akan menusuk," tulis Tracie. Masalahnya, Lee 

cemburu kepada Andy, mantan pacar Tracie.  

 

Keduanya lalu  keluar dari mobil, lalu Lee menghampiri dan menjambak rambut 

kekasihnya itu. Lee mengancam dengan pisau, "Lihat saja jika Andy 

menginginkanmu lagi."  

 

 128

Tracie mengaku saat itu takut setengah mati. namun  lalu  ia sempat menjegal Lee 

hingga terjatuh. Lee ternyata menariknya, sehingga keduanya terjatuh ke rumput. 

Lee memukulnya lagi.  

 

Tracie berusaha berdiri. Keduanya sempat saling memaki. Saat itulah Tracie melihat 

ada pisau di tanah yang segera diambilnya. Saat Lee ingin bertindak kasar lagi, 

Tracie segera bereaksi dengan pisau.  

 

"Aku harus menusuknya. Jika tidak, dia akan terus memukuliku. Aku sempat mundur. 

Yang kuingat, aku menjadi gelap mata. Aku marah, gemetar, dan kehilangan kontrol. 

Belum pernah aku mengalami kehilangan kontrol seperti malam itu," aku Tracie.  

 

Sejenak Lee mencoba membalas, sebelum akhirnya terjatuh. Tracie menghampiri 

Lee dan mencoba mengajaknya berbicara. Ia mengguncang tubuh Lee. Bunyi 

napasnya berat dan matanya mendelik. "Aku merasa ngeri. Tanganku terasa basah."  

 

Sewaktu meraih mayat pacarnya, tulis Tracie, muncul perasaan sangat sedih dan 

bersalah. Terlebih saat menyadari Lee telah tewas, ia merasa seluruh hidupnya 

sudah berakhir.  

 

Saat itu yang ada hanya kebingungan dan ketakutan. Sampai akhirnya, ia 

memutuskan untuk mengarang cerita bahwa mereka diserang seseorang. Pisau itu 

lalu  disembunyikan di celananya, dan saat di rumah sakit, dihanyutkannya ke 

toilet.  

 

"Aku merasa seharusnya dihukum untuk pembunuhan tak disengaja. Aku memang 

seharusnya jujur pada kesempatan pertama," tulis Tracie.  

 

Benarkah itu semua pernyataan jujur Tracie?  

 

Lee Harvey, menurut rekan-rekannya, tidak pernah membawa pisau. Mereka yakin, 

Tracie sengaja membawanya dari rumah malam itu. Entah untuk tujuan apa.  

 

Kisah nyata/Road Rage/Tj  

 

 

18. GARA-GARA PATAH HATI 

 

 

 Alpine Manor, panti jompo lokal di Grand Rapids, hutan hujan , tahun 1986. Mata 

seorang penyelia memicing. Cathy, yang ditatap begitu tajam, jadi grogi.  

 

"Jadi, suami meninggalkan Anda bersama seorang anak?"  

 

Dengan menunduk, Cathy mengangguk lemah. Wajahnya mendung, hampir 

menangis. Padahal, hatinya terbahak, menertawai Kenneth - suaminya - yang pasti 

tengah repot mengasuh putri tunggal mereka.  

 

"Baik, Anda diterima bekerja. Mulai hari ini."  

 

Cathy terbelalak. Tubuhnya yang berbobot 198 kg berguncang. Syukurlah, ia sudah 

bosan menganggur lama.  

 

 129

Ia segera bekerja sebagai pembantu perawat di panti dengan lebih dari 200 kamar 

tidur, masing-masing berisi dua pasien. Sebagian besar pasien menderita penyakit 

Alzheimer atau penyakit otak organik lainnya. Sebagian lain menderita sklerosis 

ganda atau arthritis parah.  

 

Agak ragu dan tersipu, Cathy memulai kerja. Oleh rekan-rekan kerjanya mungkin ia 

dianggap terlalu sopan, atau bahkan kurang percaya diri, lantaran ia memilih makan 

sendirian, terpisah dari yang lainnya. 

 

Luka batin 

Mata Cathy tertanam ke televisi, saat  Kenneth pulang bekerja pukul enam sore. 

Pria pendiam itu hanya bisa menarik napas dalam. Ia mendapati rumah mereka amat 

berantakan. Piring dan gelas kotor berserakan, bungkus snacks dan baju kotor 

tertebar di lantai. Sementara Cathy - sang nyonya rumah - asyik menikmati opera 

sabun di televisi sambil terus mengunyah junkfood.  

 

"Aku benci tugas rumah tangga!" Itu kalimat yang selalu disiramkan Cathy ke telinga 

Ken, setiap kali ia ditegur. sebab nya, tanpa banyak cakap, Ken membereskan 

rumah, lalu mengurus putri tunggal mereka, Mary, yang juga terbengkelai.  

 

Perkawinan mereka memang berliku. Kenneth Wood baru 19 tahun saat  Catherine 

May Carpenter alias Cathy yang baru 16 tahun "menembak"nya.  

 

"Pilih aku atau hobimu!" begitu katanya.  

 

Belum habis kaget Ken, tiba-tiba mereka sudah berpacaran. Cathy, kelahiran tahun 

1962 di hutan hujan , AS, di mata Ken, gadis yang unik. Ia lahir di tengah keluarga 

kurang harmonis. Ayahnya seorang sopir truk gudang yang pernah bekerja di 

Vietnam, dan ibunya petugas pembukuan.  

 

Sang ayah yang pemabuk berat sering memukulinya dan selalu mengatainya "si 

gemuk".  

 

Tumbuh tanpa belaian kasih sayang, Cathy pun kurang dicintai ibunya. Sebagai 

anak tertua, begitu banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Termasuk merawat dua 

adiknya.  

 

Itu sebabnya, Cathy lebih suka mengurung diri di kamar ketimbang bergaul dengan 

teman sebaya. Untuk mengendurkan stres, Cathy sering ngemil dan makan dalam 

jumlah banyak. Akibatnya, badannya terus memuai.  

 

Ken mengenal Cathy sudah dalam keadaan overweight. Namun, ia melihat gadis ini 

amat haus kasih sayang. Ken merasa iba, ingin sekali ia mengisi kekosongan 

jiwanya. Ia berharap, bisa memberi Cathy sedikit kebahagiaan.  

 

saat  Cathy mengaku hamil, Ken pun amat gembira. Mereka putuskan segera 

menikah, pada Agustus 1979. Usia Ken waktu itu 20, sedangkan Cathy 17. Ken 

bekerja di pabrik mobil, lalu melanjutkan sekolah hingga menjelang kelahiran 

anaknya.  

 

Yang agak disayangkan, Cathy kurang memiliki rasa keibuan terhadap putri mereka. 

Jika si anak sakit, Cathy mengabaikan penyakit anaknya. Ia malah sibuk 

menyalahkan si mungil Mary yang dianggapnya tak bisa menjaga kesehatan. Ken 

merasa tak ada gunanya menegur Cathy, sebab yang terjadi lalu  pasti perang 

mulut.  

 130

 

Ken berusaha memahami masa lalu Cathy yang menorehkan luka batin hingga saat 

itu. Walau Cathy kurang lembut hati, malah cenderung kasar, Ken tetap 

mencintainya.  

 

Kekasih baru 

Sedemikian bergairah Cathy bekerja, sehingga dalam beberapa bulan saja beratnya 

menguap jadi tinggal 132 kg. Herannya, kenapa ia jadi pesolek? Penampilannya pun 

berubah. Rambutnya dicat warna platinum. Ia juga suka membeli baju baru dan agak 

ganjen.  

 

Namun, di balik tampilan baru dan kesigapannya bekerja, Cathy tak bisa 

menyembunyikan kekasaran jiwanya. Terutama dalam menangani pasien. Pernah, 

penyelia memanggilnya.  

 

"Cathy, ada pasien mengeluhkan pelayananmu."  

 

"Oh ya, akan kuperbaiki sikapku," sahutnya enteng seraya melenggang pergi bak 

selebriti.  

 

Sulit mengukur perilaku buruk apa yang telah diubah Cathy. Bahkan, ia melakukan 

lagi apa yang dulu pernah mengisi masa remajanya - yakni berhubungan seksual 

dengan teman sejenis. Ia menjalin hubungan lesbian dengan rekan kerjanya.  

 

Sekali dua ia berhasil menarik wanita ke dalam pelukannya. Rupanya, itu telah 

menggembungkan egonya sedemikian rupa. Ia mengira, dirinya sedemikian 

menggoda bagi wanita lesbi lainnya, yang kebetulan bekerja bersamanya.  

 

Hanya dalam bilangan minggu ia betah memberi dan menerima kehangatan dari 

seorang wanita. Selaiknya para pria pencumbu, demikian pula perilaku Cathy. 

sesudah  puas mereguk habis madu sang kekasih, ia akan mencampakkannya. 

Selanjutnya, ia siap berburu wanita lain yang lebih menggairahkan.  

 

Dengan penuh percaya diri, cukup dengan mengedipkan mata, wanita buruannya 

langsung paham maksudnya. Dengan bujuk rayu sekadarnya, biasanya wanita itu 

langsung lumat dalam dadanya yang besar dan lebar.  

 

Apakah perilakunya mengimbas hingga ke rumah?  

 

Tentu. Ken merasakan perubahan itu. Entah sudah berapa bulan mereka tak 

berhubungan suami-istri. Cathy seperti sudah mati gairah. Dari salah satu karyawan 

panti jompo Ken mendengar istrinya terlibat sejumlah percintaan sejenis. Ia tak dapat 

berbuat apa pun untuk membendungnya. sebab  lebih membela keujunjungan  rumah 

tangga, ia biarkan istrinya dengan segala polahnya itu. Juga saat  Cathy mulai 

minum alkohol dan kerap mabuk di rumah.  

 

Cathy lepas kendali. Di rumah jompo maupun di rumah, tak ada lagi yang bisa 

"memegang" dirinya. Bukan saja berlaku bak primaYuen pan pan , di tempat kerja pun ia mulai 

menggunakan kekuasaan.  

 

Terhadap rekan kerja yang dibencinya, entah sebab  menolak diajak bercinta atau 

oleh sebab lain, ia menumpahkan air ke selimut pasien mereka. Ia lalu melaporkan 

ke penyelia bahwa tempat tidur pasien basah sebab  ompol, namun  petugas yang 

bertanggung jawab tidak menggantinya.  

 

 131

Bualannya berhasil, sebab lalu  lawannya itu mendapat peringatan keras. 

Cathy menyeringai sinis saat lewat di depannya. "Aku menang," sorak hatinya.  

 

Entah apa yang merasuki Cathy hingga ia merasa amat puas bila melihat orang lain 

hancur tak berdaya oleh "power" yang dimilikinya. Tak seorang pun koleganya berani 

macam-macam padanya.  

 

Demikian pula para pasien, mereka melihat Cathy seperti melihat monster. Maka, ia 

pun makin leluasa menanamkan pengaruh pada lingkungan kerja yang mental dan 

emosinya sudah ia rapuhkan.  

 

Hingga pada suatu siang ....  

 

Cathy tengah rebahan di ranjang, saat  penyelia mengetuk kamarnya.  

 

"Ini Gwen. Pembantu perawat baru. Ia akan sekamar denganmu."  

 

Setengah mengangguk, tanpa banyak bicara Cathy langsung membuka lemari 

pakaian. sesudah  penyelia pergi, Gwen beringsut mengurai isi kopornya. Ia merasa 

canggung sebab  pandangan mata Cathy seperti menelanjangi dirinya.  

 

"Siapa namamu?"  

 

"Gwendolin Gail Graham."  

 

"Usiamu?" "Dua puluh tiga tahun. Aku lahir di Santa Monica, 1963."  

 

Beberapa menit lalu , mereka sudah akrab. Gwen bercerita, ia anak sulung dari 

tiga bersaudara. saat  berusia 22 tahun, ibunya yang miskin sudah memiliki tiga 

anak balita. Sementara itu ayahnya jarang di rumah sebab  pekerjaannya. Linda, 

ibunya, biasa memukuli anak-anak-nya dengan sabuk.  

 

"Waktu umurku 18 bulan, ibu sering menyabetiku dengan kabel listrik," kata Gwen 

getir.  

 

Adapun Mack, ayah Gwen, kerap berganti pekerjaan. Kerja serabutan memaksa istri 

dan kelima anaknya berpindah-pindah ke seluruh Kalifornia. Sikapnya cukup keras 

pada anak-anak. Tak pernah ia menggendong anaknya yang menangis.  

 

"Lihat, di lenganku banyak bekas luka sundutan rokok ayahku." Selama beberapa 

tahun, Gwen sering mendapat serangan seksual dari ayahnya. Untuk melepaskan 

siksaan emosi, Gwen pun sering menyakiti dirinya sendiri.  

 

Cathy terpaku. Bukan oleh isi cerita Gwen, melainkan oleh gerakan bibir tipis gadis 

manis itu saat bercerita. Acap kali matanya menyapu goyangan dada Gwen saat 

diguncang emosi.  

 

Cathy tak perlu menunggu lama. saat  Gwen mulai terisak, sudah cukup alasan 

baginya untuk memeluk tubuhnya. Sambil pura-pura berempati, ia leluasa menjamah 

dan menekan tubuh Gwen.  

 

Cathy hanya butuh waktu sehari untuk memikat Gwen menjadi kekasih barunya. 

Namun, Cathy sedikit tercengang mendapati Gwen pun cukup mahir berpasangan 

dengannya.  

 

 132

Ternyata, sedari umur 17, Gwen sudah bertualang. Bahkan pernah tinggal bersama 

seorang wanita berumur 20 tahun, yang amat mencintainya. Pasangan itu sering 

minum sampai mabuk dan terkadang juga saling berkelahi.  

 

"Pacar saya itu mendapat pekerjaan di Grand Rapids. Sejak sebulan lalu kami 

putus," adu Gwen.  

 

Cathy menanggapi dengan pelukan.  

 

Usir suami 

Hanya seminggu Gwen bekerja dengan baik. Ia amat telaten merawat para lansia. 

Rambutnya yang kemerahan dengan senyuman manis dan lugu, membuat para 

nenek teringat cucu mereka. Gwen disenangi hampir seluruh penghuni.  

 

Namun, saat  dengan amat posesif Cathy "menguasai" Gwen, tampak sekali 

kekecewaan mereka. Setiap kali pasangan ini masuk ke kamar penghuni, para 

sepuh itu memandang cemas - bahkan ada yang sangat ketakutan, seolah disatroni 

monster.  

 

Dengan mesra mereka menutup pintu kamar, hal yang melanggar peraturan panti 

jompo itu. Sambil saling berbisik dan cekikikan, mereka membersihkan dan 

mengurus pasien. Bahkan, gilanya, saat  memandikan pasien usia lanjut itu, mereka 

berdua pura-pura melakukan aktivitas bercinta. Tindakan serupa pun dilakukan di 

ruang tunggu perawat.  

 

Mereka memang sangat keterlaluan. Apalagi saat  Cathy menceritakan affair-nya itu 

pada Ken. Bukan skandal itu yang menyentak Ken, melainkan ucapan Cathy ....  

 

"Aku serius dengan Gwen. Kuminta kau keluar dari rumah ini, sebab  aku dan Gwen 

akan tinggal bersama di sini!"  

 

"Kamu gila?" sembur Ken.  

 

"Benar. Aku gila asmara. Pergilah kau!"  

 

Dengan amat marah, Ken membopong Mary pergi.  

 

"Ingat Cathy, suatu saat kau akan menyesali keputusanmu ini!"  

 

Cathy membalas dengan seringai. Tak sampai sejam lalu , Gwen sudah berada 

di sana. Mereka hidup seatap tak ubahnya suami-istri. Keduanya sedemikian 

kekanak-kanakan, mengekspresikan cinta dengan saling berbalas puisi yang buruk 

kualitas, serta saling meninggalkan pesan cinta pada mesin penjawab telepon. 

Persis remaja kasmaran.  

 

sebab  kerekatan itu mengganggu suasana kerja, seorang penyelia berusaha 

memisahkan mereka berdua dengan menerapkan sistem shift. Namun, keduanya tak 

mematuhinya. saat  pasangan ini bekerja secara terpisah, mereka pun sering 

bertukar tugas dengan pembantu perawat lainnya, agar bisa selalu bersama.  

 

Kematian beruntun 

Pernah, beberapa kali beberapa pasien mengadu pada pembantu perawat lainnya, 

bahwa mereka diancam dibunuh oleh seseorang. Namun, sebab  sebagian besar 

menderita Alzheimer, maka tak ada perawat yang mau percaya pada mereka. 

Begitupun saat  seorang pasien kedapatan memar pada pergelangan tangan dan 

 133

kakinya, tak seorang pun pembantu perawat tertarik akan hal itu. Perawat hanya 

melakukan tugas rutin. Celoteh mulut-mulut keriput itu cenderung segera mereka 

lupakan.  

 

Apalagi maut memang bisa sewaktu-waktu menjemput para jompo itu.  

 

Contohnya, Marguerita Chambers (60) seorang nenek yang lima tahun sebelumnya 

didiagnosis menderita Alzheimer, ditemukan tewas di tempat tidurnya pada Januari 

1987. Keluarganya terkejut akan kematian mendadak itu. Namun, sebab  nenek 

malang itu masuk ke tempat ini dengan menyandang penyakit, maka kematiannya 

pun dianggap tinggal menunggu waktu saja.  

 

Sebulan lalu , Februari 1987, Myrtle Luce juga meninggal dunia. Seorang 

perawat sempat memperhatikan hidung Myrtle Luce berdarah, tenamun  ia mengira 

akibat tekanan darah tinggi atau panasnya suhu di panti jompo. Dengan usia 95 

tahun dan berat badan yang terus menurun, siapa peduli akan pemicu  

kematiannya?  

 

Wanita ketiga yang tewas di ranjang yaitu  Mae Mason (79). Tak pula ada yang 

tertarik menyelidiki pemicu nya. Pihak keluarga pun menganggap sebagai takdir 

yang sudah digariskan.  

 

Akhir Februari 1987, seorang pembantu perawat yang kurang disukai Cathy masuk 

ke kamar Belle Burkhard (74) untuk mengurus pasiennya itu. Ia terkejut melihat 

wanita tua itu tewas dengan lengan terlipat di balik tubuhnya. Memang ada memar di 

kedua lengan itu, namun  mungkin itu sebab  Belle sering mengalami serangan kejang. 

Tak ada yang serius menanggapinya, pihak keluarga juga sudah pasrah.  

 

Edith Cook (80) yang sakit parah dan sering mendapat obat penenang. Kondisi 

tubuhnya terlalu lemah untuk dirawat sebab  ia juga menderita gangrene. Ia 

ditemukan meninggal dunia pada Maret 1987.  

 

Malah, suasana sepi dan tak nyaman itu diartikan oleh pasangan kasmaran Cathy 

dan Gwen sebagai suasana yang amat romantis. Di dalam suasana itu, mereka kian 

erat berpagut. Tak terpisahkan. Bahkan mereka berjanji takkan pernah saling 

meninggalkan.  

 

Namun, bukankah pohon cinta menjadi berbunga sebab  rasa cemburu? 

Kecemburuan itu kerap membuat cinta terasa makin indah. Pisau cemburu di 

kalangan cinta sejenis biasanya lebih tajam dari sembilu.  

 

Cathy dan Gwen juga menggunakan cemburu sebagai lem perekat saat mereka 

rujuk kembali. Hanya, selalu Cathy yang mencemburui Gwen, sebab  secara fisik 

Gwen memang berdaya jual lebih tinggi. Tubuh, bibir, dan kemanjaannya sering 

membuat gemas - bukan hanya pria, melainkan juga wanita.  

 

Cathy pun jadi amat khawatir kehilangan Gwen. Terutama saat  ia mencurigai si 

manis itu sudah tak loyal lagi padanya. Hal itu terasa pada sikapnya yang mulai 

melonggar, dan menghindari rujuk kembali.  

 

Ternyata benar, Gwen sedang melirik Robin, gadis semampai, pembantu perawat 

baru di Alpine Manor. Cathy amat cemburu. Sebelumnya, biasanya ia yang 

mencampakkan kekasih. Kali ini ia yang dicampakkan. Mula-mula ia merasa rendah 

diri, saat membandingkan dirinya dengan Robin. Ia muak dengan badan gemuknya.  

 

 134

Dari hari ke hari ia memergoki pasangan Gwen dan Robin semakin mesra. 

Berpegangan tangan dan saling mencumbu. Hatinya tertusuk raca cemburu, perih 

sekali.  

 

Hancurlah hidup Cathy saat  akhirnya Gwen dan Robin memutuskan pindah ke 

Phillip ko fei , Texas, pada April 1987. Mereka bekerja sebagai pembantu perawat, kali itu 

mengurusi bayi. Selama beberapa bulan bekerja di sana, Gwen bekerja dengan baik 

dan manis.  

 

Bisikan rahasia  

Sepeninggal Gwen, Cathy menjadi pemurung dan penyendiri. Ia seperti kehilangan 

gairah. Di rumah, sering ia menangis sendiri, menyesali nasibnya. Cathy butuh 

seseorang, yang bisa mendinginkan luka hatinya.  

 

Orang itu Kenneth.  

 

Ken datang tepat waktu. Melihat suaminya pulang ke rumah, Cathy langsung 

menubruk dan meraung di dadanya. Seperti dulu, Ken lumer. Ia iba melihat keadaan 

istrinya. sesudah  itu ia membawa si mungil Mary. Untuk pertama kalinya rumah itu 

menemukan kedamaian. Seluruh dinding, lantai, dan langit-langit merasakan 

keriangan penghuninya.  

 

Hingga tibalah pada suatu malam, bulan Agustus 1987, sebelum berangkat tidur, 

Ken mendapati istrinya terisak. Lembut ia memegang bahu Cathy. Saat itu, Cathy 

merasakan betapa tulus cinta suaminya, yang selama ini ia sia-siakan.  

 

"Begitu sulitkah untukmu menerima kami kembali?" suara Ken menelusup kalbu.  

 

Cathy menggeleng. sesudah  berjuang keras mengalahkan keraguan, akhirnya 

bibirnya terkuak, "Aku takut kau tak percaya ...."  

 

Lalu Cathy membisikkan sesuatu ke telinga Ken.  

 

Cathy mengaku, pernah menekan hidung beberapa pasien yang terikat. Tentunya, 

itu pasti bukan tindakan seorang wanita yang pemalu. Ia juga mengakui, pernah 

mengguyur air sedingin es ke muka bayi wanita lesbian nya untuk mendiamkan 

tangisnya.  

 

Ken tersentak. Memandangnya ragu. Sambil memejamkan mata, Cathy 

mengangguk berkali-kali.  

 

"Aku serius, Ken."  

 

Namun, Ken mengubur hal itu dalam-dalam. Ia merasa, istrinya baru mengalami 

keguncangan hebat. Apalagi sesudah  beberapa bulan bersamanya kembali, ia 

merasakan Cathy masih mengalami ketidakseimbangan emosi, dingin, dan penuh 

dendam benci.  

 

Empat belas bulan lamanya Ken tak merasa tenang. Ia terus diganggu oleh apa 

yang disampaikan Cathy malam itu. Tak tahan terus digigiti masalah itu, akhirnya 

hati nuraninya membawa langkahnya ke kantor polisi, pada Oktober 1988.  

 

Agak gugup, di depan polisi, dengan suara gemetar ia mengulangi kembali 

pernyataan Cathy.  

 

 135

Polisi bereaksi cepat. Cathy dijemput saat itu juga untuk dikonfrontir dengan laporan 

suaminya. Polisi tak perlu bersusah payah. Hanya dalam hitungan menit, dengan 

enteng, seolah melepas beban berat dari batinnya, Cathy mengaku.  

 

"Benar, pembunuhan itu dilakukan Gwen, sedang aku mengawasi pintu."  

 

Ia tak ingat lagi nama semua korban, namun  ia persempit masa periode kejadiannya 

cuma beberapa minggu. Ia memberi detail shift yang ia jalani bersama Gwen selama 

periode itu, serta siapa saja yang bertugas di tempat lain pada waktu bersamaan.  

 

saat  diperiksa silang, informasi ini dibenarkan oleh catatan panti jompo. namun  polisi 

tak habis pikir, bahwa Cathy dan Gwen mengalami dan menikmati "kepuasan seks" 

yang spektakuler saat melakukan semua tindakan keji itu.  

 

Cathy setuju menjalani serangkaian uji kebohongan. namun  ia terlihat menekankan 

kedua kakinya kuat-kuat ke lantai saat  menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu, 

sebuah taktik yang konon dipakai untuk mengelabui detektor.  

 

Gwen langsung diciduk. Ia sama sekali tak berusaha berkelit. Ini memperlancar BAP 

polisi.  

 

Cekikikan berantai  

 September 1989. Dalam sidang pengadilan, Cathy Wood dituduh bersalah 

melakukan pembunuhan tingkat dua. Ia pun setuju untuk bersaksi melawan Gwen 

Graham.  

 

Ia mengaku, mereka berdua sepakat melakukan pembunuhan secara bergiliran. Jadi, 

masing-masing tak punya bukti yang saling melemahkan satu sama lain.  

 

Anehnya, ia mengatakan tak mampu terlibat dalam aksi pembunuhan itu. saat  

Gwen mencekik korban pertama - Marguerite Chambers, Cathy mengaku 

memandang kearah lain sebelum pembunuhan selesai dilakukan.  

 

"Saya hanya bisa mendengar - bukan melihat - sewaktu Gwen mencekik Myrtle Luce, 

Mae Mason, Edith Cook, dan Belle Burkhard. Malah Gwen bilang, ia terpaksa 

menekankan kedua lututnya kuat-kuat ke atas tubuh Belle, yang menyebabkan salah 

satu lengannya memar," ucap Cathy lantang.  

 

Diakui, Cathy tak ingin kehilangan Gwen, sehingga ia ikut dalam pembunuhan 

tersebut. Ia juga memberi  kesan, secara fisik ia takut akan pacarnya itu.  

 

Pengakuannya itu mendengungkan gumam hadirin sidang. Masa iya, Cathy yang 

beratnya 150 kg takut pada Gwen yang mungil?  

 

Salah seorang saksi pernah melihat, dalam suatu pertengkaran Cathy mengangkat 

tubuh Gwen dan melemparkannya dengan kasar. Saksi yang lain pernah melihat 

Gwen berkelahi dengan wanita lain. Bahkan, Gwen maupun Cathy pernah 

menyerang suami Cathy, Ken, saat  ia datang ke rumah untuk mengambil pakaian.  

 

Dalam beberapa jam sidang, Gwen Graham dinyatakan bersalah atas semua 

tuduhan dan divonis hukuman seumur hidup berganda.  

 

Robin, pacar Gwen, marah. Kepada wartawan ia berteriak, "Gwen dituntut atas 

dasar kabar burung, dan hanya didasarkan pada kesaksian Cathy Wood."  

 

 136

Namun, Gwen sendiri pernah mengaku pada Robin, benar melakukan pembunuhan 

itu dan khawatir Cathy akan melaporkannya kepada yang berwajib. Namun, di depan 

sidang, Gwen menarik ucapan itu, dan tak pernah mengaku terlibat dalam 

pembunuhan.  

 

Mata hukum tak pernah berkedip.  

 

Hukuman terhadap Gwen Graham membuang kemungkinan pembebasan bersyarat. 

Jadi, ia takkan pernah dibebaskan kecuali ada bukti baru yang akan membawa pada 

pengadilan baru.  

 

Sebaliknya, Kenneth, suami Cathy, mati-matian berbicara di hadapan publik untuk 

membela istrinya.  

 

Bulan berikutnya, Cathy muncul di hadapan hakim Kent County. Ia diganjar hukuman 

antara 20 - 40 tahun penjara. Namun, ia memohon agar tidak dikirim ke penjara yang 

sama dengan Gwen Graham. saat  ternyata lalu  ia mendapati dirinya berada 

di tempat yang sama bersama Gwen, ia menolak melakukan kontak mata dengan 

mantan kekasihnya itu.  

 

Cathy Wood berhak atas pembebasan bersyarat sesudah  menjalani hukuman 

kurungan selama 16 tahun. Tanggal pembebasan bersyarat bagi Cathy baru sah 

pada 2005.  

 

Nonfiksi/Carol Anne Davis/Not  

 

 

19.  SAKU MANTEL ITU MENGGELEMBUNG 

 

 

 Suatu sore pada musim gugur di Marine Parade, sebuah resor dekat laut dan 

pelabuhan Quangate (Kanal Inggris). Lomax Harder dan John Franting berjalan 

beriringan. Dari pakaiannya yang necis, kedua lelaki berumur sekitar 35-an tahun itu 

bisa dipastikan berasal dari kelompok menengah atas.  

 

Lomax Harder, lelaki yang tampak santun, berdahi lebar, berambut jarang, dan agak 

ringkih itu dengan sedikit gugup mengancingkan mantelnya - berusaha mengalangi 

terpaan angin laut.  

 

Tiba-tiba John Franting, pria yang satu lagi, berhenti di depan sebuah toko dengan 

papan nama: "Gontle - Penjual Senjata". Pria berdahi sempit, berdagu berat, 

berwajah suram, dan agak garang itu mantan petinju amatir. Ia masuk ke toko Gontle 

yang kecil dan cenderung kumuh.  

 

"Selamat sore," sapa Gontle (50) yang saat itu mengenakan jas beludru hitam.  

 

Meski tokonya kecil dan terlihat kumuh, Gontle terkenal tidak saja di sepanjang 

pantai Kanal, namun  di seluruh Inggris. Ia menjadi rujukan soal senjata.  

 

"Sore," balas Franting dengan sedikit gugup.  

 

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gontle, "Tidak usah takut. Toko ini resmi kok."  

 

"Saya butuh revolver," kata Franting cepat.  

 137

 

"Ah, revolver! Seberapa banyak Anda tahu tentang revolver?" tanya Gontle, sambil 

memperlihatkan beberapa pucuk senjata.  

 

"Sedikit."  

 

"Anda tahu Webley Mark III? Ini dia. Yang terbaik untuk segala keperluan. Multi 

fungsi."  

 

Franting mengamati Webley Mark III.  

 

"Ini unggul pada magazinnya. Kalau belum tertutup dengan benar, senjata ini tidak 

bisa dipakai."  

 

"Bisa untuk bunuh diri?" Franting menyeringai.  

 

"Ah, jangan bercanda."  

 

"Bisa diuji? Sekaligus tunjukkan cara mengisi pelurunya," ujar Franting.  

 

Gontle pun mengambil amunisi.  

 

"Wah, larasnya sedikit tergores. Ganti dong dengan yang baru," kata Franting.  

 

"Ini ada yang lain. Khusus untuk Anda," kata Gontle.  

 

"Sudahlah, isikan saja pelurunya. Saya ingin mencobanya," kata Franting.  

 

"Silakan," kata Gontle sambil menunjukkan pintu menuju tempat untuk mencoba 

senjata di belakang toko.  

 

Bunyi tembakan 

Lomax Harder ditinggal sendirian di toko. Ia sempat ragu-ragu sebelum akhirnya 

mengambil revolver yang ditampik Franting. Senjata itu ditimang-timang, ditaruh 

kembali, lalu diambil lagi. Tiba-tiba pintu belakang tempat Franting dan Gontle keluar 

tadi terbuka, membuat Harder terkejut. Secara refleks, tanpa berpikir panjang akan 

akibatnya, ia memasukkan pistol yang dipegangnya ke saku mantelnya.  

 

"Berapa peluru yang kaubutuhkan?" tanya Gontle.  

 

"Lima saja, saya rasa cukup untuk saat ini. Berapa kalibernya?" tanya Franting.  

 

"Coba saya lihat ... Empat inci."  

 

Franting lalu membayar revolvernya, lalu  melangkah keluar toko dengan 

senjata di tangan.  

 

"Anda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gontle kepada Harder.  

 

Harder tiba-tiba saja sadar kalau Gontle telah menelantarkan dirinya. Padahal ia 

masuk tak lama sesudah  Franting. Franting dan Harder tidak bercakap-cakap selama 

di dalam toko. Hal itu mengesankan mereka tidak saling kenal.  

 

"Saya butuh kertas timah," sahut Harder sekenanya.  

 

 138

"Kertas timah!" seru Gontle. "Apa Anda tidak tahu kalau ini toko senjata?"  

 

sesudah  meminta maaf, Harder ngeloyor pergi.  

 

"Akan kutelepon Gontle dan membayar senjata curian ini," batin Harder. "Jangan, 

nanti malah berabe. Kukirim saja lewat pos, anonim."  

 

Harder melintasi Marine Parade. Tampak Franting, sosok kecil kidal di keramaian, 

memegang revolver. Sayup-sayup Harder mendengar bunyi tembakan, tenamun  jarak 

yang jauh membuat dia tak yakin. Apakah Franting serius soal bunuh diri itu? Ia 

mencoba melihat lagi, di kejauhan Franting berjalan ke barat memotong pantai 

secara diagonal. Ah, ternyata Franting hanya berkelakar.  

 

"Ia akan kembali ke Bellevue," pikir Harder.  

 

Bellevue yaitu  hotel tempat ia dan Franting keluar setengah jam sebelumnya. Ia 

berjalan pelan-pelan menuju hotel putih itu. Dari luar ia melihat Franting duduk di 

lounge. lalu  Franting berdiri dan menghilang turun ke lorong panjang di 

samping lounge. Harder mencoba menyusul.  

 

Di ujung lorong Harder menemukan Franting di ruang biliar. Setengah bagian 

dindingnya terbuat dari batu bata dan setengahnya lagi kayu. Ruangan dikelilingi 

halaman belakang dari bangunan utama hotel. Senja luruh. Sepotong kobaran api 

menyala dalam tungku pemanas.  

 

Franting masih berbalut mantel. Sebatang sigaret terjepit di bibir. Ia duduk 

membungkuk di dekat tungku. Begitu melihat Harder, ia langsung mendongak.  

 

"Kamu masih membuntuti aku," kata Franting sinis.  

 

"Ya. Aku ingin berbicara secara khusus denganmu. Sepertinya kamu tidak mau 

bicara sewaktu di jalan tadi, namun  kita harus bicara," kata Harder tenang sambil 

mendekati meja biliar.  

 

Franting bangkit, tangannya terkepal.  

 

"Dengar," katanya dingin. "Aku malas membicarakan soal ini. Jadi, kalau sudah 

selesai bicara, segeralah pergi. Aku muak melihatmu. Aku sudah tahu tentang 

hubunganmu dengan istriku. Aku juga tahu kalau istriku sudah memiliki tiket ke 

Kopenha gen dengan kapal laut dari Harwich. Ia sudah memperlihatkan paspor serta 

mengepak barang-barangnya. Kamu juga mau ke sana 'kan?"  

 

Harder hanya diam.  

 

"Semua itu bukan urusanku. Semua itu juga tidak ada artinya bagiku. Emily sering 

berkencan denganmu, terlebih satu atau dua minggu terakhir. Aku tak peduli dengan 

semua itu. Aku tahu, Emily membenci tabiatku. Namun, sebenarnya itu masalah 

kami berdua. Kamu jangan mencampuri urusan kami. Jangan kau racuni dia agar 

berpaling dariku. Jangan sok menjadi pendengar setia."  

 

"namun , kami tidak ...."  

 

"Jangan potong pembicaraanku! Biarkan Emily sendiri yang memutuskan, apakah 

tetap bersamaku atau memilih bercerai. Namun, aku sangsi, ia punya niat berpisah. 

Kami sudah menjalani masa sulit dan senang selama puluhan tahun."  

 139

 

"Aku mengerti," sahut Harder lirih.  

 

"Bagaimanapun, Emily istriku. Meski aku suami terburuk di muka Bumi ini, aku yakin 

ia sulit untuk mengambil keputusan cerai. Kami sedang berusaha menata kehidupan 

rumah tangga kami. Sampai akhirnya kamu masuk, dan meruntuhkan upaya itu. Aku 

baru saja menerima surat darinya. Ia tahu aku berada di sini. Itu juga 'kan yang 

menjelaskan, mengapa kamu tahu keberadaanku di sini?"  

 

Lomax Harder hanya menatap ke luar jendela.  

 

Salah satu harus mati 

 Franting mengeluarkan secarik surat dari saku, lalu membukanya.  

 

"Aku telah memutuskan untuk meninggalkanmu. Aku tidak tahan lagi dengan situasi 

ini. Boleh jadi kamu sangat mencintaiku, namun  sikap dan perilakumu sangat 

menyakitkan. Kalaupun ada orang yang bersedia menolongku, kamu tak perlu tahu 

siapa dia." Dan seterusnya, dan seterusnya. Franting membaca beberapa kalimat 

keras-keras.  

 

Franting menyobek surat itu menjadi dua, membuang separuhnya ke lantai dan 

memilin bagian lainnya, membakar, lalu menggunakannya untuk menyulut sigaret.  

 

"Kamu si penolong itu 'kan? Bagus. Aku tidak menuduhmu jatuh cinta dengannya, 

atau sebaliknya. Namun, jika kamu tidak mencintainya, mengapa pula kamu 

bersedia mengambil alih semua kesulitannya. Jujur saja, kamu ingin menjadi dewa 

penolong, atau punya motif lain?" katanya sambil menyelipkan sigaret di bibir.  

 

Wajah Harder pucat mendengar tuduhan itu.  

 

"Masa bodoh dengan semua itu. Aku yakin, Emily tak bakal meninggalkanku. 

Camkan ini, aku tidak akan membiarkan dia pergi. Kekayaannya yaitu  nafkah 

hidupku. Aku memang menumpang hidup padanya. Aku bakal serasa di neraka jika 

ia meninggalkan aku."  

 

Tiba-tiba Franting terdiam. Ia seperti sadar dengan ucapannya.  

 

"namun , alasan utamaku, bukan melulu soal materi. Seorang istri tetaplah istri, yang 

tidak dapat begitu saja menceraikan suaminya. Aku punya komitmen kuat terhadap 

ikatan perkawinan."  

 

Franting mengambil revolver dari kantung mantelnya, dan menunjukkannya kepada 

Harder. "Lihat barang ini, yang kubeli tadi. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan 

mengancammu, apalagi menghabisimu. Meski kamu sudah mengganggu rumah 

tangga kami.  

 

"namun  ini untuk istriku, jika ia meninggalkan aku - entah gara-gara kamu atau orang 

lain atau apa pun. Aku akan terus memburunya, ke mana pun ia pergi. Bahkan 

sampai ke Kutub Utara sekalipun, akan kuburu dan kuhabisi dia dengan revolver ini. 

Sekarang kamu boleh keluar!"  

 

Franting mengantungi kembali revolvernya dan mulai menyedot sigaretnya kuat-kuat.  

 

Lomax Harder melihat wajah Franting berubah menyeramkan. Ia sadar, Franting 

tidak main-main. Jika Emily sampai meninggalkan Franting, nyawa Emily akan 

 140

terancam. Tidak seorang pun bisa mencegah Franting. Di sisi lain, tidak ada yang 

bisa membujuk Emily untuk tetap bersama suaminya. Ia telah memutuskan untuk 

berpisah.  

 

Harder melangkah sepanjang sisi meja biliar. Secara serentak Franting melangkah 

juga pada arah berlawanan.  

 

Mereka pun beradu badan. Secepat kilat Harder menyentak revolver di sakunya, 

membidik, dan menarik pelatuknya.  

 

Franting roboh.  

 

Setengah badannya ambruk di atas meja biliar. Ia tewas. Di telinga Harder suara 

letusan itu bak bunyi dawai biola yang digesek dengan jari tangan. Ia melihat lubang 

kemerahan di pelipis kanan Franting.  

 

Sekilas Harder melirik ke mayat Franting. Rokoknya masih menyala, abunya jatuh di 

meja biliar.  

 

"Yah, salah satu harus mati. Lebih baik dia daripada Emily," Harder membatin. Di 

balik penyesalan atas nasib Franting, Harder merasa telah bertindak benar.  

 

Membuang barang bukti 

Sejenak lalu  muncul rasa takut. Harder takut harus menghadapi hukuman. Ia 

juga takut, Emily bakal sendirian dan tak lagi punya teman sebaik dirinya. 

Memikirkan hal itu ia memutuskan segera kabur.  

 

Harder menyibakkan kain pengalang di jendela, lalu meloncat keluar. Di sekeliling 

tidak ada orang. Ia melangkah melalui pintu hijau yang membawanya melewati 

sebuah lorong, menuju Marine Parade.  

 

Kini ia seorang pelarian. Apa yang harus dilakukannya? Tiba-tiba muncul ide brilian. 

Ia masuk ke hotel dari pintu utama. Ia berjalan perlahan-lahan masuk ke serambi 

bertiang, tempat porter berumur sekitar 50-an tahun berdiri dalam kejenuhan.  

 

"Selamat malam, Pak."  

 

"Malam. Ada kamar kosong?"  

 

"Mungkin ada. Kepala kamar sedang pergi sebentar, namun  ia akan segera kembali. 

Manajer hotel sedang ke London."  

 

Lomax Harder masuk dan duduk.  

 

"Saya butuh minuman selama menunggu," kata Harder ramah.  

 

"Akan saya siapkan, Pak. namun  pelayan bar sedang cuti. Mohon sabar menunggu."  

 

"Hotel apa ini? Semua pelayan tidak di tempatnya. Apa semuanya ditangani oleh 

porter?"  

 

Aneh, tidak adakah yang mendengar bunyi tembakan tadi? Padahal hotel ini dekat 

dengan tempat kejadian perkara (TKP).  

 

 141

Mengingat kembali peristiwa itu membuat Harder ingin berlari keluar. namun , bila ia lari, 

orang bisa curiga. Setengah dipaksakan, ia mencoba duduk dengan tenang.  

 

Porter datang membawa nampan berisi minuman pesanannya. Tanpa sungkan 

Harder menenggak habis minuman itu.  

 

"Saya akan pergi sebentar," kata Harder sambil berjalan ke luar hotel, kembali ke 

Marine Parade.  

 

Ia bersandar pada dinding dermaga Quangate. Tidak ada lagi orang di sini. Malam 

telah lindap. Di kejauhan mercusuar berkelap-kelip. Cahayanya berpendar, kadang 

merah, kadang hijau, ditimpali sinar putih. Riak gelombang menghantam dinding 

dermaga. Angin bertiup dari barat daya, tidak dingin.  

 

Harder melihat ke sekeliling, mengambil revolver dari saku mantel, dan diam-diam 

menjatuhkannya ke laut. Jam taman berdentang, sudah tengah malam.  

 

Dihantui rasa takut 

Bagaimanapun dalam diri Harder lahir rasa takut yang luar biasa. Ia tidak yakin 

apakah ada saksi yang melihat perbuatannya atau tidak, atau ada orang yang 

mendengar bunyi letupan senjatanya atau tidak. Meski kecil, kemungkinan itu tetap 

ada.  

 

Bisa jadi, ada orang yang mengenal Franting tahu kalau sore itu Franting berjalan-

jalan dengan seseorang. Nah, orang itu bisa memberi  keterangan detail sosok 

dirinya.  

 

namun , Harder tetap tenang. Tidak ada bentuk fisiknya yang menonjol, kecuali dahi 

lebar. Untungnya, waktu itu ia memakai topi. Selain itu, sidik jarinya tidak tertinggal di 

jendela. Begitu juga jejak kaki sebab  lantai paving. Ia juga tidak tolol untuk kembali 

ke tempat kejadian, seperti umumnya pelaku kejahatan lainnya.  

 

Kendati begitu, ia menyesal harus membunuh Franting. Namun, ia sadar sangat 

menyukai Emily Franting yang kini menjanda. Rasa suka mendorongnya untuk tega 

menyakiti siapa pun yang mengganggu kebahagiaan Emily. Jangankan satu, 100 

orang pun akan dia hadapi. Niatnya tulus, tidak mengharapkan sesuatu dari Emily.  

 

Ia hanya berniat melindunginya. Ia menyesalkan Emily mau diperistri Franting yang 

sangat obsesif. Ulah Franting menyobek surat Emily sebagai penyulut sigaretnya 

membangunkan api kebencian pada diri Harder.  

 

Jarum jam bergulir ke angka empat. Harder berjalan cepat ke depan dermaga, 

langsung menghampiri taksi yang sedang menunggu penumpang. Ia batal menginap 

di hotel. Sesegera mungkin ia pergi dan mencari Emily.  

 

Taksi melaju ke stasiun.  

 

Sebuah kekhawatiran muncul tiba-tiba. Jangan-jangan hasil tindak kejahatannya 

sudah diketahui! Polisi bisa jadi sedang mengorek informasi dari para wisatawan 

yang masih berkeliaran.  

 

Sopir taksi melihat dirinya tidak tenang dengan sorot mata aneh dari kaca spion di 

dalam mobil. Sial, rasa takut dan curiga itu terus menghantui.  

 

 142

Tiba di pelataran stasiun, perasaan ragu-ragu mencuat kembali. Namun, akhirnya ia 

masuk juga sesudah  menunjukkan tiket ke petugas. Ia menoleh ke segala arah, namun  

tak tampak tanda-tanda keberadaan polisi. Aman. Begitu masuk ke kereta tidur, 

sudah ada lima penumpang di sana. Kereta berjalan.  

 

Victoria menjadi bagian tersulit dalam pikirannya, akibat ketakutan berlebihan. 

Jangan-jangan ada detektif yang ditugasi menyergap dirinya di sana.  

 

Tidak! Harder menenangkan dirinya. Kereta ini penuh wisatawan. Peronnya disesaki 

para pelaku bisnis. Dari hasil bertanya sana-sini, ia tahu akan ada konferensi 

internasional di Kopenhagen. Pikiran kalut membuatnya tidak menyimak berita di 

media cetak atau elektronik.  

 

Hampir putus asa ia mencari Emily dalam kompartemen besar yang sedang berjalan 

itu. Namun, ia yakin, Emily pasti ada di sini. Bukankah ia yang juga membelikan tiket 

untuk Emily? Selain itu, Emily amat disiplin soal waktu. Tak ada kata tergesa-gesa 

dalam kamusnya. namun , di gerbong mana?  

 

Jangan-jangan, hal buruk menimpa Emily? Misalnya, ada polisi yang menelepon 

bahwa suaminya ditemukan tewas dengan sebuah peluru bersarang di otaknya.  

 

Perjalanan dua jam itu amat menyiksa. Ia ingat telah ceroboh meninggalkan bagian 

surat yang tidak terbakar di tempat kejadian perkara. Celaka, itu benar-benar konyol!  

 

Di Dermaga Parketson kebingungan kembali menyergap, gara-gara kerumunan 

penumpang kereta. Namun, di sisi lain, kerumunan itu menguntungkan Harder. 

Detektif akan kesulitan mencarinya. Kecuali bila detektif menghentikan dan 

mengisolasi kereta.  

 

Kapal mengeluarkan tanda keberangkatan. Perlahan-lahan kapal menjauhi dermaga, 

merayapi kanal yang berliku-liku menuju mulut pelabuhan, bebas ke Laut Utara. 

Inggris mengecil dihiasi pendar-pendar sinar.  

 

Harder menjelajah tiap dek, dari haluan ke buritan. Emily belum juga dia temukan. 

Mungkinkah ia ketinggalan kereta, atau ia gagal masuk kapal sebab  ia tidak 

menemukannya?  

 

Kengerian kembali mencengkeram hatinya. Mungkinkah di Esjberg nanti ia akan 

dijemput detektif di dermaga?  

 

Semua kekalutan itu sesaat  berubah, membuncah menjadi kelegaan tatkala Emily 

muncul di hadapannya. Kedua insan itu pun meluapkan kegembiraan mereka. 

Tampak benar betapa mereka saling membutuhkan.  

 

"Jadi?" bisik Emily.  

 

"Aku tidak akan pergi bersama. Pergilah, nikmati kebebasanmu," kata Harder.  

 

"Kuharap, keputusanmu benar," ujar Emily tanpa protes.  

 

Jejak tertinggal  

Superintenden Polisi Brian McKnight dan Sersan Detektif Trevor Berbick berada di 

ruang biliar Bellevue. Keduanya berpakaian preman. Lampu sorot di ruang biliar 

mengenai mayat John Franting yang belum dipindahkan.  

 

 143

"Saya tinggal dengan teman saya, Dr. Furnival," kata seorang pria yang tiba-tiba 

bergabung dengan keduanya. "sebab  ia sibuk menangani kasus lain, saya 

menawarkan diri untuk datang memenuhi telepon Anda. Kita pernah bertemu di 

Scotland Yard."  

 

"Dr. Austin Bond!" teriak Brian McKnight, lelaki kurus dengan bibir tipis dan kumis 

kucingnya.  

 

"Hai," kata temannya.  

 

Selain segan, sebenarnya Brian McKnight enggan berhubungan dengan Austin Bond. 

Soalnya, meski pakar dalam bidangnya, Bond sering melecehkan polisi yang bekerja 

kurang sigap. Sedangkan Trevor Berbick, belum apa-apa sudah merasa kecut 

mendengar nama Dr. Austin Bond.  

 

Bond memang detektif hebat. Ia berhasil memecahkan berbagai misteri terkenal 

seperti The Yellow Hat, The Three Towns, The Three Feathers, serta The Gold 

Spoon. Pergaulan dan wawasan luas membentuknya tidak sekadar seorang 

"pemeriksa" mayat korban pembunuhan. Akses langsung ke petinggi Scotland Yard 

membuat semua polisi memperlakukannya dengan sangat sopan.  

 

"Ya," kata Bond sesudah  mengamati mayat dengan seksama. "Ditembak sekitar 90 

menit lalu. Lelaki malang! Siapa yang menemukan dia?"  

 

"Wanita pelayan yang baru saja keluar. Ia menengok ke dalam sesudah  terjadi 

tembakan."  

 

"Berapa lama?"  

 

"Sekitar sejam lalu."  

 

"Apakah pelurunya ditemukan?" Berbick sekilas memandang McKnight.  

 

"Ada, ini," kata McKnight mengangsurkan bukti temuannya.  

 

"Kaliber 38," desis Austin Bond.  

 

"Sersan, tolong pindahkan mayat ini sekarang. Dr. Bond akan melakukan 

pemeriksaan, bukan begitu, Dok?"  

 

"Tentu, korban merupakan perokok sigaret," katanya.  

 

"Bisa juga pembunuhnya."  

 

"Anda mendapat petunjuk lain?"  

 

"O, ya," kata Brian McKnight kalem. "Lihat ke sini. Senternya, Sersan."  

 

Sersan detektif mengeluarkan senternya dari saku. Brian McKnight mengarahkan ke 

ambang jendela.  

 

"Ada yang lebih aneh," kata Bond ikut mengeluarkan senter miliknya.  

 

 144

McKnight menunjukkan sidik jari pada bingkai jendela, jejak kaki pada ambang 

jendela, dan beberapa helai benang baju murahan. Bond lalu  mengeluarkan 

kaca pembesar, dan memperhatikan jejak-jejak tadi pada jarak amat dekat.  

 

"Pembunuhnya pasti bertubuh tinggi. Ini tampak dari sudut tembakan. Ia 

mengenakan baju biru, yang terkoyak di kusen jendela. Salah satu sepatunya 

berlubang di tengah pada solnya. Ia hanya punya tiga jari pada tangan kirinya. Ia 

mestinya masuk dan keluar melalui jendela, sebab porter yakin tidak ada orang yang 

masuk lounge dari pintu mana pun kecuali korban selama sekitar sejam," Brian 

McKnight dengan bangga mengurai beberapa data temuannya.  

 

"Nanti dulu, mungkinkah John Franting membiarkan seseorang memasuki ruangan 

melalui jendela! Apalagi orang dekil seperti itu," sahut Bond jumawa.  

 

"Lo, memangnya Anda kenal korban?"  

 

"Tidak! namun  saya tahu ia John Franting."  

 

"Bagaimana Anda bisa tahu?"  

 

"Keberuntungan."  

 

"Sersan," kata Brian McKnight memperingatkan. "Bawa porter hotel kemari."  

 

Mantan petinju kidal  

 Austin Bond berjalan mondar-mandir, melihat-lihat sekeliling dengan saksama. Ia 

mengambil secarik kertas yang terselip di antara tangga panggung yang 

menghubungkan dua sisi ruang untuk memberi  tempat pengunjung bisa 

memandang sekeliling. Ia memandang sejenak, lalu  menjatuhkan lagi.  

 

"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang masuk ke sini 

sesore ini?" tanya Brian McKnight kepada si petugas porter.  

 

"Sebab saya berada di ruangan saya sepanjang waktu itu, Pak."  

 

Si porter terpaksa berbohong, demi kelangsungan asap dapurnya. Padahal 

sebelumnya ia sudah diingatkan akan akibatnya jika sampai berbohong.  

 

"Pada posisi itu, apa kamu bisa melihat ke seluruh ruangan?"  

 

"Bisa, Pak."  

 

"Mungkin ia sudah berada di ruangan itu," timpal Bond.  

 

"Tidak mungkin. Wanita pelayan datang dua kali. Pertama sebelum Franting datang. 

Ia melihat api pemanas hampir padam, jadi ia pergi mengambil batu bara. Ia kembali 

lagi membawa batu bara. Saat itulah ia melihat mayat Franting, yang membuatnya 

takut. Ia pun pergi lagi - masih dengan membawa batu bara."  

 

"Ya, saya juga melihatnya," kata si porter.  

 

Satu kebohongan lain.  

 

"Saya harus berbicara dengan wanita pelayan itu," kata Bond, sesudah  sebelumnya 

meminta si porter pergi.  

 145

 

Brian McKnight ragu-ragu. Apa maunya detektif ini? Bukankah tak ada orang yang 

meminta bantuannya? Namun lalu  McKnight teringat akan akses Austin 

dengan Scotland Yard. Jadi, terpaksa ia membolehkannya bertemu wanita pelayan 

itu.  

 

"Apakah Anda membersihkan jendela hari ini?" Austin Bond mulai menginterogasi.  

 

"Ya, Pak."  

 

"Tunjukkan tangan kirimu? Bagaimana jari-jari tanganmu bisa hilang?"  

 

"Akibat kecelakan mesin cuci, Pak."  

 

"Maukah kamu menuju jendela, dan taruh tanganmu di sana. namun , lepas dulu sepatu 

kirimu."  

 

wanita lesbian  itu mulai menangis, ketakutan.  

 

"Jangan khawatir. Pakaianmu tersangkut di jendela 'kan?" bujuk Bond.  

 

saat  wanita itu selesai menjalankan perintah dan akan beranjak pergi, sambil 

menjinjing sepatu kirinya, Dr. Austin Bond berkata dengan ramah kepada Brian 

McKnight.  

 

"Hanya dengan keberuntungan. Saya kebetulan sempat memperhatikan, wanita itu 

memiliki tiga jari di tangan kiri saat  ia berlalu di koridor. Maaf, saya membuyarkan 

teori Anda. Namun, sejak awal saya hampir yakin, pembunuhnya tidak masuk atau 

pergi mendadak melalui jendela."  

 

"Lalu bagaimana?"  

 

"Saya pikir, ia masih ada dalam ruangan ini."  

 

Dua petugas polisi menyapu pandangan ruangan itu dengan saksama.  

 

"Saya pikir ia ada di sana," kata Austin Bond menunjuk ke mayat Franting.  

 

"Jadi, ia bunuh diri?"  

 

"namun , di mana ia menyembunyikan revolvernya sesudah  mencabut nyawanya?" tanya 

Brian McKnight mencoba membangun kembali kepercayaan dirinya yang sempat 

terjerembap.  

 

"Saya juga sedang mencari jawabannya," tukas Dr. Austin Bond. "Anda lihat saku kiri 

mantel itu? Perhatikan, agak menggelembung 'kan? Sesuatu yang tidak lazim 

tersimpan di situ. Sesuatu yang berbentuk seperti - coba bayangkan."  

 

Brian McKnight memeriksa saku dan menarik sebuah revolver dari saku mantel 

mayat itu.  

 

"Ah, Webley Mark III. Masih baru!" Brian McKnight membongkar senjata itu.  

 

 146

"Ada tiga ruang kosong. Aneh, mana yang dua lagi? Sekarang, di mana pelor itu? 

Anda mengerti? Ia menembak kepalanya. Tangannya terkulai, dan revolvernya 

masuk ke saku mantel."  

 

"Menembak dengan tangan kiri?" tanya Brian McKnight.  

 

"Yah, begitulah. Beberapa tahun yang lalu, Franting bisa jadi petinju amatir kelas 

berat-menengah terbaik di Inggris. Alasan mengapa ia menembak dengan tangan 

kiri, sebab  ia kidal. Ia memang sering merepotkan lawannya, tangan kirinya lebih 

mematikan dibandingkan dengan tangan kanannya. Beberapa kali saya melihatnya 

bertarung."  

 

lalu  Bond melangkah menuju tangga tempat ia menemukan secarik kertas tadi.  

 

"Ini, mungkin bisa menjadi petunjuk. Ini bagian dari surat. Anda bisa melihat, bagian 

yang terbakar ini mungkin sambungan surat yang ada di dekat tungku perapian. Ia 

mungkin menyalakan sigaret menggunakan surat ini. Coba baca ini."  

 

Brian McKnight membacanya. "... saya sadar, kamu sangat mencintai aku, namun  kamu 

telah menumpas rasa sayangku padamu. Aku akan meninggalkan rumah kita besok. 

Ini sudah menjadi keputusan terakhir. E."  

 

Austin Bond kembali mendemonstrasikan kepiawaiannya memecahkan solusi yang 

membuat para polisi itu mirip sekumpulan orang dungu.  

 

Nun jauh di sana, Emily Franting sedang duduk di lobi Palads Hotel, Kopenhagen. 

Lomax Harder baru saja menelepon mengabarkan kepadanya soal sidang 

terbunuhnya John Franting dari koran yang dibacanya. Juri memutuskan bahwa 

korban melakukan bunuh diri. Air mata mengalir di pipi Emily. Bahagia atau sedih? 

Tak ada yang tahu.  

 

Fiksi/Great Law and Order Stories/Yds  

 

 

20. DI BALIK DINDING KAMPUS 

 

 Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia memang tak pernah bisa 

menduga-duga peristiwa yang bakal menimpanya. Uniknya pula, di balik peristiwa 

yang tampaknya membahagiakan, terkadang tersembunyi masalah pelik yang siap 

menghadang. Bagaimanapun, kebaikan dan kebenaran tetap harus ditegakkan.  

 

Demikian pula nasib Richard Macris (19), mahasiswa New York University (NYU). 

Musim semi tahun 1977 ia serasa mendapat durian runtuh saat  terpilih menjadi 

asisten di la boratorium   Dr. John    Buettner-Janush, ketua jurusan antropologi. Ia 

memang sangat bangga sebab  untuk bisa bergabung dalam tim BJ, begitu ilmuwan 

terkenal itu acap disebut, harus melewati serangkaian tes yang bahkan lebih sulit 

ketimbang ujian tulis formal di sekolah.  

 

Macris dengan penuh semangat melakukan tugasnya - menganalisis sampel-sampel 

darah. BJ amat dikenal di kalangan ilmuwan, terutama sebab  sebuah proyek 

penelitian beberapa tahun sebelumnya. Penelitian biologis itu mampu menunjukkan 

hubungan antara protein darah pada lemur dengan kelompok kera pada tingkat yang 

lebih tinggi, misalnya gorila. Macris yakin, tugasnya kini berkaitan dengan penelitian 

 147

BJ yang sedang tertarik membandingkan faktor darah antara manusia dengan 

monyet. 

 

BJ meraih gelar B.A., B.S., dan M.A. dari University of Chicago, sedangkan Ph.D-nya 

dari University of hutan hujan . Pengalaman mengajar didapat dengan memberi  

kuliah di Yale selama tujuh tahun. Pada masa-masa itu ia menulis buku teks 

antropologi yang amat terkenal, The Origins of Man.   

 

lalu  ia pindah ke Duke University di North Carolina. Di sanalah ia melakukan 

percobaan unik tentang hubungan darah antara lemur, monyet, dan manusia. 

Penelitian ini, menurut dia, bakal menjadi kunci jawaban tentang evolusi. 

 

Pada 1973, di usia 49 tahun, BJ sudah menjadi antropolog terkemuka, bukan hanya 

di AS namun juga di dunia. Dana penelitian dari National Science Foundation (NSF) 

secara teratur mengalir deras. Dengan catatan akademis dan sejarah karier yang 

meyakinkan itulah BJ dianggap cukup pantas untuk ”dibajak” oleh NYU. Tahun itu, ia 

rela meninggalkan Duke gara-gara iming-iming fasilitas penelitian yang baru dan 

mewah dengan nilai tak kurang dari AS $ 200.000.   

 

Lain cerita dengan Macris, anak keluarga Yunani ortodoks. Berasal dari 

kalangan ”biasa-biasa” saja, orang tuanya harus bekerja keras untuk dapat 

mengirimkannya ke perguruan tinggi. Syukurlah, melihat prestasinya mereka merasa 

pengorbanan itu tidak sia-sia. Apalagi kini di laboratorium BJ, Macris optimis akan 

lebih mudah mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban orang tua.  

 

Rumor aneh 

 Sayang, tak lama sesudah  bergabung dalam tim BJ, ia mendengar gosip yang 

mengganggu. Sejumlah asisten yang telah lama bekerja di situ 

berbisik, ”Sebenarnya BJ sama sekali tidak melakukan penelitian pada lemur.” Lalu 

apa?  

 

Yang lebih membuatnya miris sekaligus penasaran, salah seorang mengingatkannya 

untuk selalu mencuci tangan bersih-bersih seusai bekerja di lab. ”Materi yang kamu 

pegang bisa membuatmu gila!” kata James, seorang asisten, dengan wajah serius. 

 

Meski awalnya tidak serius menanggapi, lama-kelamaan Macris terpengaruh juga. 

Gara-garanya, ia mengamati memang ada beberapa hal mencurigakan. Misalnya 

saja beberapa kali ia melihat sejumlah mantan murid BJ, yang sudah lama lulus, 

datang berkunjung ke lab pada waktu yang tidak lazim, yakni malam hari. 

Perbincangan mereka dengan BJ pun dilakukan dengan berbisik-bisik. 

 

Sampai suatu kali BJ meminta Macris datang pada hari Sabtu. Begitu ia tiba, BJ 

segera menutup semua pintu untuk pengamanan. Ia diberi tahu, mereka akan 

membuat asam anasetil antranilat, calon LSD. 

 

Kecurigaannya mulai tumbuh. Jangan-jangan rumor itu benar. sebab  penasaran, 

awal Februari 1979 Macris memberanikan diri bertanya kepada BJ apa sebenarnya 

yang sedang ia kerjakan. 

 

”Membuat obat saraf untuk lemur,” jawab BJ enteng.  

 

”Obat saraf seperti itu ’kan sudah tersedia di pasar?” 

 

”Benar, namun  obat yang diperdagangkan biasanya tidak cukup murni.” 

 

 148

Masuk akal juga, tenamun  bisa juga rumor itu benar. Macris memutuskan untuk 

bertindak. Sadar tidak mungkin bertindak sendiri, ia mencari orang yang tepat untuk 

berkonsultasi. Pilihannya jatuh pada Dr. Clifford Jolly, antropolog yang bekerja di lab 

yang bertetangga dengan lab mereka.  

 

Jolly tampak kaget mendengarkan penuturan Macris. Meski begitu, Jolly mencoba 

tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. 

 

”Yang kamu lakukan cukup berisiko. Jika yang kamu katakan benar, berarti BJ telah 

melanggar hukum. Ia akan menghadapi masalah besar. Sebaliknya, bila kecurigaan 

itu tidak benar, kamu yang akan menghadapi masalah besar,” tutur Jolly 

mengingatkan. 

 

Jolly menasihati Macris untuk sementara waktu menyimpan semua kecurigaan itu. 

 

”Cobalah membuat catatan tentang semua percobaan yang kalian lakukan di lab,” 

lanjut Jolly sambil berjanji akan membantu mencari bukti. 

 

Dulu Jolly juga pengagum berat BJ. Pun pernah menjadi anggota timnya. Bahkan 

kesertaan dalam tim BJ itulah yang membawanya masuk ke dalam NYU. Jelas Jolly 

menyegani mantan bosnya, namun  beberapa waktu lalu ia merasakan ada yang aneh 

dengan BJ, meski tidak menemukan apa pemicu nya.  

 

Semua bermula pada musim dingin 1978, saat  NSF tanpa dinyana-nyana menolak 

permintaan bantuan dana BJ. Menurut pengakuan BJ pada Jolly, ia tidak khawatir 

sebab  tahu banyak cara lain untuk mendapatkan dana. Semula Jolly tidak terlalu 

memikirkan ucapan itu, yang sesaat  teringat kembali sesudah  Macris 

menyampaikan kecurigaannya.  

 

Detektif amatir 

Selama beberapa bulan berikutnya, Jolly berperilaku bak detektif amatir. Di malam 

hari, manakala asisten labnya sudah pulang, ia mengendap-endap ke dalam lab BJ 

untuk jeprat-jepret memotret situasi di dalamnya. Ia juga mengacak-acak keranjang 

sampah, melacak catatan yang dibuang para asisten lab. Siapa tahu ada yang 

berguna. Selain itu, dua minggu sekali ia mengambil sampel bahan kimia dari labu 

Erlenmeyer dan vial. Semua barang temuannya itu disimpan rapi di rak buku di 

rumahnya.  

 

Begitu jumlahnya dirasa cukup, Jolly menyerahkan sampel bahan kimia itu pada 

Drug Enforcement Agency (DEA), lembaga pengawasan obat tingkat federal. Dalam 

waktu singkat DEA, yang sengaja tidak diberi tahu dari mana asal bahan-bahan 

kimia itu, memberi  laporan bahwa salah satu sampel yaitu  metakualon - yang 

dikenal sebagai Quaalude - obat terlarang. 

 

Berbekal laporan itu Jolly mengajak Macris menemui John C. Sawhill, Rektor NYU, 

untuk melaporkan penemuan mereka. Masih dengan setengah terkejut, Sawhill 

segera menghubungi kantor kejaksaan.  

 

Esok malamnya diam-diam - tentu dengan seizin NYU - beberapa anggota DEA 

memeriksa lab BJ. Setiap peralatan dan sekian banyak bahan kimia tak ada yang 

luput dari pengamatan mereka. Bahan kimia itu segera dianalisis. Yang ditemukan 

antara lain LSD, metakualon, juga kokain sintetis.  

 

Dengan bukti tersebut kejaksaan memerintahkan untuk dijalankannya operasi 

penyelidikan rahasia. Dalam operasi itu bukan hanya anggota DEA yang bergerak, 

 149

tenamun  para asisten lab BJ juga dilibatkan. Sebagian besar dengan sukarela, meski 

ada juga yang harus dengan dibujuk-bujuk. Umumnya yang dengan cepat menerima 

memiliki  dua alasan. Bila bukan sebab  tanggung jawab moral, tentu sebab  

mereka tidak mau terseret dalam kasus itu.  

 

Mereka diminta memperhatikan setiap ucapan BJ. Bahkan beberapa orang 

diperlengkapi dengan alat perekam tersembunyi untuk merekam pembicaraan 

dengan BJ. 

 

Ilmuwan kaya 

Mula-mula operasi itu berjalan lancar. BJ tidak sadar tengah diamati. Sampai pada 

suatu malam, Macris dan Jolly membiarkan petugas DEA masuk melalui pintu. 

Petugas itu sengaja memecah kaca pintu lab untuk memberi  kesan perampokan.   

Baru esok paginya BJ mengetahui ”perampokan” itu. Namun, kedongkolannya hanya 

berlangsung sesaat. Otaknya yang biasa berpikir logis segera menduga ada sesuatu 

yang tidak beres. Menurut dia, itu bukan sembarang perampokan.  

 

Kecurigaan itu sempat ditangkap Macris, sebab  seminggu lalu  ia bertanya 

pada Macris, ”Ada seseorang yang telah mengadukan diriku. namun  siapa dia?” 

 

Prasangka serupa diucapkannya pula pada Danny Cornyetz, mahasiswa yang 

menjabat direktur lab. ”Aku tahu ada yang tidak wajar dengan perampokan itu, namun  

aku tidak tahu siapa informan itu!” seru BJ marah. 

 

Sebagai orang yang menuntut kesetiaan, ia tidak bisa mentoleransi asisten yang 

mengkhianati dirinya. Bukankah selama ini ia telah memberi mereka kesempatan 

dan kebaikan hati?  

 

Kabarnya, BJ juga menjalankan labnya dengan otoriter. Bahkan, ada yang 

menjulukinya serupa diktator. Asistennya harus memusuhi juga semua musuhnya.  

 

Tuntutan itu dipatuhi oleh hampir sebagian besar muridnya. ”Kami tidak berani 

mengambil mata kuliah yang pengajarnya tidak disukai BJ,” kata salah seorang 

mahasiswa. 

 

”Kalau kami tetap mengikuti mata kuliah mereka tanpa mengindahkan peringatan BJ, 

kami tidak bakal lulus. Celakanya, salah satu profesor yang dimusuhi BJ mengepalai 

sebuah jurusan dan berwenang mencairkan dana beasiswa yang jumlahnya ribuan 

dolar. Tak satu pun dari kami mampu mendapatkannya,” keluh yang lain. 

 

Posisi BJ makin tersudut. Sosoknya sebagai ilmuwan juga makin kabur bila 

menyimak kesaksian teman-teman akademisnya.  

 

Ia dikenal berselera tinggi, senang barang-barang mahal. Di balik undangan makan 

malam untuk para kenalannya, sepertinya tersimpan motif lain juga, pamer. Memang, 

apartemennya yang luas di Washington Square dipenuhi keramik dan benda 

pajangan mahal.  

 

Meski istrinya, Vina Mallowitz, pakar biokimia, meninggal tahun 1977, BJ tak begitu 

kesepian. Pergaulannya luas. Selain dari kalangan ilmuwan, ia punya banyak kawan 

dari kalangan seniman, mulai pemain drama, novelis, dan pelukis.  

 

Ia memang sering mengadakan pesta. Pestanya pun bukan sembarangan, tenamun  

pesta gala, dengan hidangan didatangkan dari katering terkenal dan pelayan 

berseragam.  

 150

 

Betapapun, selain hidup mewah ia punya kebiasaan aneh. BJ senang menarik 

perhatian dengan cara mengejek atau menyakiti orang lain.  

 

Bila datang surat yang salah mengeja namanya, atau ada bagian dari isinya yang 

dianggapnya kurang santun, ia bisa sesaat  mengirimkan kembali surat itu disertai 

sejumlah koreksi disertai catatan tinta merah “Ganti surat ini! Gunakan kaidah 

bahasa yang benar!” 

 

Kebiasaan buruk itu memakan korban pula. Sebuah pengalaman pahit dituturkan 

oleh sesama rekan profesor yang memilih keluar dari NYU lalu pindah ke University 

of Maryland. Alasannya, ”Tidak hanya menyemprot saya di hadapan rekan seprofesi, 

BJ juga tega mempermalukan saya di depan para mahasiswa.” 

 

Kehilangan dana 

Itulah kenyataannya. BJ telah membuat banyak orang sakit hati. Tak heran apabila 

banyak beredar rumor negatif tentang dirinya. Di antaranya, ada rekan kerja yang 

menuduhnya telah melakukan plagiat terhadap karya sejumlah muridnya pada saat 

ia mengajar di hutan hujan . Untuk kasus ini, pihak universitas di hutan hujan  menolak 

memberi keterangan.  

 

Ada juga yang mengatakan, ia mengorupsi uang makan dan akomodasi sebuah 

ekspedisi antropologi. Saat ekspedisi berlangsung, ia masih bertugas di University of 

Chicago. Namun, tuduhan itu pun tidak pernah ditindak lanjuti. 

 

Ada rumor lain, yang ini lebih serius. Kabarnya, BJ tidak pernah melakukan 

penelitian. Penelitiannya semasa di Duke sesungguhnya dilakukan oleh sang istri. 

 

Betapapun, lepas dari rumor dan perilaku kasar, BJ tetap dipandang terhormat di 

kalangan akademisi. Setiap tahun ia makin terkenal dan makin sering menerima 

bantuan dana penelitian.  

 

Sampai tahun 1977, manakala Dewi Fortuna tak lagi bersamanya. Tahun itu NSF 

menolak memberi  bantuan penelitian kepadanya. BJ menuduh penolakan itu 

berdasarkan alasan pribadi, bukan akademis, sebab  ada bocoran dari orang dalam 

di NSF yang memberi tahu dia.   

 

Namun, Dr. Nancie Gonzales, direktur program antropologi di NSF saat itu, 

mengatakan, “Kalau NSF menolak memberi  bantuan, ya selalu hanya 

berdasarkan satu alasan - karya tersebut kurang tepat mendapat penghargaan 

ilmiah.” Memang, lab BJ telah dikunjungi oleh tim NSF, proposalnya pun telah 

diperiksa.   

 

Penolakan itu tentu memberi pukulan berat bagi BJ. Bukan hanya ego, tenamun  

kepiawaiannya dalam melakukan penelitian serasa turut dilecehkan. Tentu pula 

kelancaran penelitiannya jadi terganggu. Tanpa bantuan dana mana mungkin ia 

membeli bahan penelitian dan membayar asisten.  

 

Namun, November tahun yang sama sang profesor yang cerdas ini menemukan 

solusi. Ia mendirikan perusahaan dengan nama samaran Simian Expansions. 

Tujuannya, mengumpulkan dana dari kalangan swasta untuk membiayai penelitian 

atas lemur. Sejak itu, meski tanpa dana dari NYU, lab BJ di NYU tetap aktif, 

peralatannya lengkap, dan pe