gan menyodorkan saksi-saksi baru. Meski upaya itu
kandas, banyak orang tetap percaya Tracie tidak bersalah. Hingga April 1999, Tracie
membuat pengakuan yang mengejutkan.
Lewat sebuah surat yang dikirim dari penjara Bullwood Hall Essex, Tracie mengaku
telah menusuk Lee Harvey dalam sebuah pertengkaran yang disebutnya lepas
kontrol. Surat yang dimuat News of The World itu menyatakan, pada malam
pembunuhuhan keduanya bermaksud pulang ke rumah.
"Di tengah jalan terjadi pertengkaran. Lee mengeluarkan pisau dan mengancam
akan menyayat wajahku atau akan menusuk," tulis Tracie. Masalahnya, Lee
cemburu kepada Andy, mantan pacar Tracie.
Keduanya lalu keluar dari mobil, lalu Lee menghampiri dan menjambak rambut
kekasihnya itu. Lee mengancam dengan pisau, "Lihat saja jika Andy
menginginkanmu lagi."
128
Tracie mengaku saat itu takut setengah mati. namun lalu ia sempat menjegal Lee
hingga terjatuh. Lee ternyata menariknya, sehingga keduanya terjatuh ke rumput.
Lee memukulnya lagi.
Tracie berusaha berdiri. Keduanya sempat saling memaki. Saat itulah Tracie melihat
ada pisau di tanah yang segera diambilnya. Saat Lee ingin bertindak kasar lagi,
Tracie segera bereaksi dengan pisau.
"Aku harus menusuknya. Jika tidak, dia akan terus memukuliku. Aku sempat mundur.
Yang kuingat, aku menjadi gelap mata. Aku marah, gemetar, dan kehilangan kontrol.
Belum pernah aku mengalami kehilangan kontrol seperti malam itu," aku Tracie.
Sejenak Lee mencoba membalas, sebelum akhirnya terjatuh. Tracie menghampiri
Lee dan mencoba mengajaknya berbicara. Ia mengguncang tubuh Lee. Bunyi
napasnya berat dan matanya mendelik. "Aku merasa ngeri. Tanganku terasa basah."
Sewaktu meraih mayat pacarnya, tulis Tracie, muncul perasaan sangat sedih dan
bersalah. Terlebih saat menyadari Lee telah tewas, ia merasa seluruh hidupnya
sudah berakhir.
Saat itu yang ada hanya kebingungan dan ketakutan. Sampai akhirnya, ia
memutuskan untuk mengarang cerita bahwa mereka diserang seseorang. Pisau itu
lalu disembunyikan di celananya, dan saat di rumah sakit, dihanyutkannya ke
toilet.
"Aku merasa seharusnya dihukum untuk pembunuhan tak disengaja. Aku memang
seharusnya jujur pada kesempatan pertama," tulis Tracie.
Benarkah itu semua pernyataan jujur Tracie?
Lee Harvey, menurut rekan-rekannya, tidak pernah membawa pisau. Mereka yakin,
Tracie sengaja membawanya dari rumah malam itu. Entah untuk tujuan apa.
Kisah nyata/Road Rage/Tj
18. GARA-GARA PATAH HATI
Alpine Manor, panti jompo lokal di Grand Rapids, hutan hujan , tahun 1986. Mata
seorang penyelia memicing. Cathy, yang ditatap begitu tajam, jadi grogi.
"Jadi, suami meninggalkan Anda bersama seorang anak?"
Dengan menunduk, Cathy mengangguk lemah. Wajahnya mendung, hampir
menangis. Padahal, hatinya terbahak, menertawai Kenneth - suaminya - yang pasti
tengah repot mengasuh putri tunggal mereka.
"Baik, Anda diterima bekerja. Mulai hari ini."
Cathy terbelalak. Tubuhnya yang berbobot 198 kg berguncang. Syukurlah, ia sudah
bosan menganggur lama.
129
Ia segera bekerja sebagai pembantu perawat di panti dengan lebih dari 200 kamar
tidur, masing-masing berisi dua pasien. Sebagian besar pasien menderita penyakit
Alzheimer atau penyakit otak organik lainnya. Sebagian lain menderita sklerosis
ganda atau arthritis parah.
Agak ragu dan tersipu, Cathy memulai kerja. Oleh rekan-rekan kerjanya mungkin ia
dianggap terlalu sopan, atau bahkan kurang percaya diri, lantaran ia memilih makan
sendirian, terpisah dari yang lainnya.
Luka batin
Mata Cathy tertanam ke televisi, saat Kenneth pulang bekerja pukul enam sore.
Pria pendiam itu hanya bisa menarik napas dalam. Ia mendapati rumah mereka amat
berantakan. Piring dan gelas kotor berserakan, bungkus snacks dan baju kotor
tertebar di lantai. Sementara Cathy - sang nyonya rumah - asyik menikmati opera
sabun di televisi sambil terus mengunyah junkfood.
"Aku benci tugas rumah tangga!" Itu kalimat yang selalu disiramkan Cathy ke telinga
Ken, setiap kali ia ditegur. sebab nya, tanpa banyak cakap, Ken membereskan
rumah, lalu mengurus putri tunggal mereka, Mary, yang juga terbengkelai.
Perkawinan mereka memang berliku. Kenneth Wood baru 19 tahun saat Catherine
May Carpenter alias Cathy yang baru 16 tahun "menembak"nya.
"Pilih aku atau hobimu!" begitu katanya.
Belum habis kaget Ken, tiba-tiba mereka sudah berpacaran. Cathy, kelahiran tahun
1962 di hutan hujan , AS, di mata Ken, gadis yang unik. Ia lahir di tengah keluarga
kurang harmonis. Ayahnya seorang sopir truk gudang yang pernah bekerja di
Vietnam, dan ibunya petugas pembukuan.
Sang ayah yang pemabuk berat sering memukulinya dan selalu mengatainya "si
gemuk".
Tumbuh tanpa belaian kasih sayang, Cathy pun kurang dicintai ibunya. Sebagai
anak tertua, begitu banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Termasuk merawat dua
adiknya.
Itu sebabnya, Cathy lebih suka mengurung diri di kamar ketimbang bergaul dengan
teman sebaya. Untuk mengendurkan stres, Cathy sering ngemil dan makan dalam
jumlah banyak. Akibatnya, badannya terus memuai.
Ken mengenal Cathy sudah dalam keadaan overweight. Namun, ia melihat gadis ini
amat haus kasih sayang. Ken merasa iba, ingin sekali ia mengisi kekosongan
jiwanya. Ia berharap, bisa memberi Cathy sedikit kebahagiaan.
saat Cathy mengaku hamil, Ken pun amat gembira. Mereka putuskan segera
menikah, pada Agustus 1979. Usia Ken waktu itu 20, sedangkan Cathy 17. Ken
bekerja di pabrik mobil, lalu melanjutkan sekolah hingga menjelang kelahiran
anaknya.
Yang agak disayangkan, Cathy kurang memiliki rasa keibuan terhadap putri mereka.
Jika si anak sakit, Cathy mengabaikan penyakit anaknya. Ia malah sibuk
menyalahkan si mungil Mary yang dianggapnya tak bisa menjaga kesehatan. Ken
merasa tak ada gunanya menegur Cathy, sebab yang terjadi lalu pasti perang
mulut.
130
Ken berusaha memahami masa lalu Cathy yang menorehkan luka batin hingga saat
itu. Walau Cathy kurang lembut hati, malah cenderung kasar, Ken tetap
mencintainya.
Kekasih baru
Sedemikian bergairah Cathy bekerja, sehingga dalam beberapa bulan saja beratnya
menguap jadi tinggal 132 kg. Herannya, kenapa ia jadi pesolek? Penampilannya pun
berubah. Rambutnya dicat warna platinum. Ia juga suka membeli baju baru dan agak
ganjen.
Namun, di balik tampilan baru dan kesigapannya bekerja, Cathy tak bisa
menyembunyikan kekasaran jiwanya. Terutama dalam menangani pasien. Pernah,
penyelia memanggilnya.
"Cathy, ada pasien mengeluhkan pelayananmu."
"Oh ya, akan kuperbaiki sikapku," sahutnya enteng seraya melenggang pergi bak
selebriti.
Sulit mengukur perilaku buruk apa yang telah diubah Cathy. Bahkan, ia melakukan
lagi apa yang dulu pernah mengisi masa remajanya - yakni berhubungan seksual
dengan teman sejenis. Ia menjalin hubungan lesbian dengan rekan kerjanya.
Sekali dua ia berhasil menarik wanita ke dalam pelukannya. Rupanya, itu telah
menggembungkan egonya sedemikian rupa. Ia mengira, dirinya sedemikian
menggoda bagi wanita lesbi lainnya, yang kebetulan bekerja bersamanya.
Hanya dalam bilangan minggu ia betah memberi dan menerima kehangatan dari
seorang wanita. Selaiknya para pria pencumbu, demikian pula perilaku Cathy.
sesudah puas mereguk habis madu sang kekasih, ia akan mencampakkannya.
Selanjutnya, ia siap berburu wanita lain yang lebih menggairahkan.
Dengan penuh percaya diri, cukup dengan mengedipkan mata, wanita buruannya
langsung paham maksudnya. Dengan bujuk rayu sekadarnya, biasanya wanita itu
langsung lumat dalam dadanya yang besar dan lebar.
Apakah perilakunya mengimbas hingga ke rumah?
Tentu. Ken merasakan perubahan itu. Entah sudah berapa bulan mereka tak
berhubungan suami-istri. Cathy seperti sudah mati gairah. Dari salah satu karyawan
panti jompo Ken mendengar istrinya terlibat sejumlah percintaan sejenis. Ia tak dapat
berbuat apa pun untuk membendungnya. sebab lebih membela keujunjungan rumah
tangga, ia biarkan istrinya dengan segala polahnya itu. Juga saat Cathy mulai
minum alkohol dan kerap mabuk di rumah.
Cathy lepas kendali. Di rumah jompo maupun di rumah, tak ada lagi yang bisa
"memegang" dirinya. Bukan saja berlaku bak primaYuen pan pan , di tempat kerja pun ia mulai
menggunakan kekuasaan.
Terhadap rekan kerja yang dibencinya, entah sebab menolak diajak bercinta atau
oleh sebab lain, ia menumpahkan air ke selimut pasien mereka. Ia lalu melaporkan
ke penyelia bahwa tempat tidur pasien basah sebab ompol, namun petugas yang
bertanggung jawab tidak menggantinya.
131
Bualannya berhasil, sebab lalu lawannya itu mendapat peringatan keras.
Cathy menyeringai sinis saat lewat di depannya. "Aku menang," sorak hatinya.
Entah apa yang merasuki Cathy hingga ia merasa amat puas bila melihat orang lain
hancur tak berdaya oleh "power" yang dimilikinya. Tak seorang pun koleganya berani
macam-macam padanya.
Demikian pula para pasien, mereka melihat Cathy seperti melihat monster. Maka, ia
pun makin leluasa menanamkan pengaruh pada lingkungan kerja yang mental dan
emosinya sudah ia rapuhkan.
Hingga pada suatu siang ....
Cathy tengah rebahan di ranjang, saat penyelia mengetuk kamarnya.
"Ini Gwen. Pembantu perawat baru. Ia akan sekamar denganmu."
Setengah mengangguk, tanpa banyak bicara Cathy langsung membuka lemari
pakaian. sesudah penyelia pergi, Gwen beringsut mengurai isi kopornya. Ia merasa
canggung sebab pandangan mata Cathy seperti menelanjangi dirinya.
"Siapa namamu?"
"Gwendolin Gail Graham."
"Usiamu?" "Dua puluh tiga tahun. Aku lahir di Santa Monica, 1963."
Beberapa menit lalu , mereka sudah akrab. Gwen bercerita, ia anak sulung dari
tiga bersaudara. saat berusia 22 tahun, ibunya yang miskin sudah memiliki tiga
anak balita. Sementara itu ayahnya jarang di rumah sebab pekerjaannya. Linda,
ibunya, biasa memukuli anak-anak-nya dengan sabuk.
"Waktu umurku 18 bulan, ibu sering menyabetiku dengan kabel listrik," kata Gwen
getir.
Adapun Mack, ayah Gwen, kerap berganti pekerjaan. Kerja serabutan memaksa istri
dan kelima anaknya berpindah-pindah ke seluruh Kalifornia. Sikapnya cukup keras
pada anak-anak. Tak pernah ia menggendong anaknya yang menangis.
"Lihat, di lenganku banyak bekas luka sundutan rokok ayahku." Selama beberapa
tahun, Gwen sering mendapat serangan seksual dari ayahnya. Untuk melepaskan
siksaan emosi, Gwen pun sering menyakiti dirinya sendiri.
Cathy terpaku. Bukan oleh isi cerita Gwen, melainkan oleh gerakan bibir tipis gadis
manis itu saat bercerita. Acap kali matanya menyapu goyangan dada Gwen saat
diguncang emosi.
Cathy tak perlu menunggu lama. saat Gwen mulai terisak, sudah cukup alasan
baginya untuk memeluk tubuhnya. Sambil pura-pura berempati, ia leluasa menjamah
dan menekan tubuh Gwen.
Cathy hanya butuh waktu sehari untuk memikat Gwen menjadi kekasih barunya.
Namun, Cathy sedikit tercengang mendapati Gwen pun cukup mahir berpasangan
dengannya.
132
Ternyata, sedari umur 17, Gwen sudah bertualang. Bahkan pernah tinggal bersama
seorang wanita berumur 20 tahun, yang amat mencintainya. Pasangan itu sering
minum sampai mabuk dan terkadang juga saling berkelahi.
"Pacar saya itu mendapat pekerjaan di Grand Rapids. Sejak sebulan lalu kami
putus," adu Gwen.
Cathy menanggapi dengan pelukan.
Usir suami
Hanya seminggu Gwen bekerja dengan baik. Ia amat telaten merawat para lansia.
Rambutnya yang kemerahan dengan senyuman manis dan lugu, membuat para
nenek teringat cucu mereka. Gwen disenangi hampir seluruh penghuni.
Namun, saat dengan amat posesif Cathy "menguasai" Gwen, tampak sekali
kekecewaan mereka. Setiap kali pasangan ini masuk ke kamar penghuni, para
sepuh itu memandang cemas - bahkan ada yang sangat ketakutan, seolah disatroni
monster.
Dengan mesra mereka menutup pintu kamar, hal yang melanggar peraturan panti
jompo itu. Sambil saling berbisik dan cekikikan, mereka membersihkan dan
mengurus pasien. Bahkan, gilanya, saat memandikan pasien usia lanjut itu, mereka
berdua pura-pura melakukan aktivitas bercinta. Tindakan serupa pun dilakukan di
ruang tunggu perawat.
Mereka memang sangat keterlaluan. Apalagi saat Cathy menceritakan affair-nya itu
pada Ken. Bukan skandal itu yang menyentak Ken, melainkan ucapan Cathy ....
"Aku serius dengan Gwen. Kuminta kau keluar dari rumah ini, sebab aku dan Gwen
akan tinggal bersama di sini!"
"Kamu gila?" sembur Ken.
"Benar. Aku gila asmara. Pergilah kau!"
Dengan amat marah, Ken membopong Mary pergi.
"Ingat Cathy, suatu saat kau akan menyesali keputusanmu ini!"
Cathy membalas dengan seringai. Tak sampai sejam lalu , Gwen sudah berada
di sana. Mereka hidup seatap tak ubahnya suami-istri. Keduanya sedemikian
kekanak-kanakan, mengekspresikan cinta dengan saling berbalas puisi yang buruk
kualitas, serta saling meninggalkan pesan cinta pada mesin penjawab telepon.
Persis remaja kasmaran.
sebab kerekatan itu mengganggu suasana kerja, seorang penyelia berusaha
memisahkan mereka berdua dengan menerapkan sistem shift. Namun, keduanya tak
mematuhinya. saat pasangan ini bekerja secara terpisah, mereka pun sering
bertukar tugas dengan pembantu perawat lainnya, agar bisa selalu bersama.
Kematian beruntun
Pernah, beberapa kali beberapa pasien mengadu pada pembantu perawat lainnya,
bahwa mereka diancam dibunuh oleh seseorang. Namun, sebab sebagian besar
menderita Alzheimer, maka tak ada perawat yang mau percaya pada mereka.
Begitupun saat seorang pasien kedapatan memar pada pergelangan tangan dan
133
kakinya, tak seorang pun pembantu perawat tertarik akan hal itu. Perawat hanya
melakukan tugas rutin. Celoteh mulut-mulut keriput itu cenderung segera mereka
lupakan.
Apalagi maut memang bisa sewaktu-waktu menjemput para jompo itu.
Contohnya, Marguerita Chambers (60) seorang nenek yang lima tahun sebelumnya
didiagnosis menderita Alzheimer, ditemukan tewas di tempat tidurnya pada Januari
1987. Keluarganya terkejut akan kematian mendadak itu. Namun, sebab nenek
malang itu masuk ke tempat ini dengan menyandang penyakit, maka kematiannya
pun dianggap tinggal menunggu waktu saja.
Sebulan lalu , Februari 1987, Myrtle Luce juga meninggal dunia. Seorang
perawat sempat memperhatikan hidung Myrtle Luce berdarah, tenamun ia mengira
akibat tekanan darah tinggi atau panasnya suhu di panti jompo. Dengan usia 95
tahun dan berat badan yang terus menurun, siapa peduli akan pemicu
kematiannya?
Wanita ketiga yang tewas di ranjang yaitu Mae Mason (79). Tak pula ada yang
tertarik menyelidiki pemicu nya. Pihak keluarga pun menganggap sebagai takdir
yang sudah digariskan.
Akhir Februari 1987, seorang pembantu perawat yang kurang disukai Cathy masuk
ke kamar Belle Burkhard (74) untuk mengurus pasiennya itu. Ia terkejut melihat
wanita tua itu tewas dengan lengan terlipat di balik tubuhnya. Memang ada memar di
kedua lengan itu, namun mungkin itu sebab Belle sering mengalami serangan kejang.
Tak ada yang serius menanggapinya, pihak keluarga juga sudah pasrah.
Edith Cook (80) yang sakit parah dan sering mendapat obat penenang. Kondisi
tubuhnya terlalu lemah untuk dirawat sebab ia juga menderita gangrene. Ia
ditemukan meninggal dunia pada Maret 1987.
Malah, suasana sepi dan tak nyaman itu diartikan oleh pasangan kasmaran Cathy
dan Gwen sebagai suasana yang amat romantis. Di dalam suasana itu, mereka kian
erat berpagut. Tak terpisahkan. Bahkan mereka berjanji takkan pernah saling
meninggalkan.
Namun, bukankah pohon cinta menjadi berbunga sebab rasa cemburu?
Kecemburuan itu kerap membuat cinta terasa makin indah. Pisau cemburu di
kalangan cinta sejenis biasanya lebih tajam dari sembilu.
Cathy dan Gwen juga menggunakan cemburu sebagai lem perekat saat mereka
rujuk kembali. Hanya, selalu Cathy yang mencemburui Gwen, sebab secara fisik
Gwen memang berdaya jual lebih tinggi. Tubuh, bibir, dan kemanjaannya sering
membuat gemas - bukan hanya pria, melainkan juga wanita.
Cathy pun jadi amat khawatir kehilangan Gwen. Terutama saat ia mencurigai si
manis itu sudah tak loyal lagi padanya. Hal itu terasa pada sikapnya yang mulai
melonggar, dan menghindari rujuk kembali.
Ternyata benar, Gwen sedang melirik Robin, gadis semampai, pembantu perawat
baru di Alpine Manor. Cathy amat cemburu. Sebelumnya, biasanya ia yang
mencampakkan kekasih. Kali ini ia yang dicampakkan. Mula-mula ia merasa rendah
diri, saat membandingkan dirinya dengan Robin. Ia muak dengan badan gemuknya.
134
Dari hari ke hari ia memergoki pasangan Gwen dan Robin semakin mesra.
Berpegangan tangan dan saling mencumbu. Hatinya tertusuk raca cemburu, perih
sekali.
Hancurlah hidup Cathy saat akhirnya Gwen dan Robin memutuskan pindah ke
Phillip ko fei , Texas, pada April 1987. Mereka bekerja sebagai pembantu perawat, kali itu
mengurusi bayi. Selama beberapa bulan bekerja di sana, Gwen bekerja dengan baik
dan manis.
Bisikan rahasia
Sepeninggal Gwen, Cathy menjadi pemurung dan penyendiri. Ia seperti kehilangan
gairah. Di rumah, sering ia menangis sendiri, menyesali nasibnya. Cathy butuh
seseorang, yang bisa mendinginkan luka hatinya.
Orang itu Kenneth.
Ken datang tepat waktu. Melihat suaminya pulang ke rumah, Cathy langsung
menubruk dan meraung di dadanya. Seperti dulu, Ken lumer. Ia iba melihat keadaan
istrinya. sesudah itu ia membawa si mungil Mary. Untuk pertama kalinya rumah itu
menemukan kedamaian. Seluruh dinding, lantai, dan langit-langit merasakan
keriangan penghuninya.
Hingga tibalah pada suatu malam, bulan Agustus 1987, sebelum berangkat tidur,
Ken mendapati istrinya terisak. Lembut ia memegang bahu Cathy. Saat itu, Cathy
merasakan betapa tulus cinta suaminya, yang selama ini ia sia-siakan.
"Begitu sulitkah untukmu menerima kami kembali?" suara Ken menelusup kalbu.
Cathy menggeleng. sesudah berjuang keras mengalahkan keraguan, akhirnya
bibirnya terkuak, "Aku takut kau tak percaya ...."
Lalu Cathy membisikkan sesuatu ke telinga Ken.
Cathy mengaku, pernah menekan hidung beberapa pasien yang terikat. Tentunya,
itu pasti bukan tindakan seorang wanita yang pemalu. Ia juga mengakui, pernah
mengguyur air sedingin es ke muka bayi wanita lesbian nya untuk mendiamkan
tangisnya.
Ken tersentak. Memandangnya ragu. Sambil memejamkan mata, Cathy
mengangguk berkali-kali.
"Aku serius, Ken."
Namun, Ken mengubur hal itu dalam-dalam. Ia merasa, istrinya baru mengalami
keguncangan hebat. Apalagi sesudah beberapa bulan bersamanya kembali, ia
merasakan Cathy masih mengalami ketidakseimbangan emosi, dingin, dan penuh
dendam benci.
Empat belas bulan lamanya Ken tak merasa tenang. Ia terus diganggu oleh apa
yang disampaikan Cathy malam itu. Tak tahan terus digigiti masalah itu, akhirnya
hati nuraninya membawa langkahnya ke kantor polisi, pada Oktober 1988.
Agak gugup, di depan polisi, dengan suara gemetar ia mengulangi kembali
pernyataan Cathy.
135
Polisi bereaksi cepat. Cathy dijemput saat itu juga untuk dikonfrontir dengan laporan
suaminya. Polisi tak perlu bersusah payah. Hanya dalam hitungan menit, dengan
enteng, seolah melepas beban berat dari batinnya, Cathy mengaku.
"Benar, pembunuhan itu dilakukan Gwen, sedang aku mengawasi pintu."
Ia tak ingat lagi nama semua korban, namun ia persempit masa periode kejadiannya
cuma beberapa minggu. Ia memberi detail shift yang ia jalani bersama Gwen selama
periode itu, serta siapa saja yang bertugas di tempat lain pada waktu bersamaan.
saat diperiksa silang, informasi ini dibenarkan oleh catatan panti jompo. namun polisi
tak habis pikir, bahwa Cathy dan Gwen mengalami dan menikmati "kepuasan seks"
yang spektakuler saat melakukan semua tindakan keji itu.
Cathy setuju menjalani serangkaian uji kebohongan. namun ia terlihat menekankan
kedua kakinya kuat-kuat ke lantai saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu,
sebuah taktik yang konon dipakai untuk mengelabui detektor.
Gwen langsung diciduk. Ia sama sekali tak berusaha berkelit. Ini memperlancar BAP
polisi.
Cekikikan berantai
September 1989. Dalam sidang pengadilan, Cathy Wood dituduh bersalah
melakukan pembunuhan tingkat dua. Ia pun setuju untuk bersaksi melawan Gwen
Graham.
Ia mengaku, mereka berdua sepakat melakukan pembunuhan secara bergiliran. Jadi,
masing-masing tak punya bukti yang saling melemahkan satu sama lain.
Anehnya, ia mengatakan tak mampu terlibat dalam aksi pembunuhan itu. saat
Gwen mencekik korban pertama - Marguerite Chambers, Cathy mengaku
memandang kearah lain sebelum pembunuhan selesai dilakukan.
"Saya hanya bisa mendengar - bukan melihat - sewaktu Gwen mencekik Myrtle Luce,
Mae Mason, Edith Cook, dan Belle Burkhard. Malah Gwen bilang, ia terpaksa
menekankan kedua lututnya kuat-kuat ke atas tubuh Belle, yang menyebabkan salah
satu lengannya memar," ucap Cathy lantang.
Diakui, Cathy tak ingin kehilangan Gwen, sehingga ia ikut dalam pembunuhan
tersebut. Ia juga memberi kesan, secara fisik ia takut akan pacarnya itu.
Pengakuannya itu mendengungkan gumam hadirin sidang. Masa iya, Cathy yang
beratnya 150 kg takut pada Gwen yang mungil?
Salah seorang saksi pernah melihat, dalam suatu pertengkaran Cathy mengangkat
tubuh Gwen dan melemparkannya dengan kasar. Saksi yang lain pernah melihat
Gwen berkelahi dengan wanita lain. Bahkan, Gwen maupun Cathy pernah
menyerang suami Cathy, Ken, saat ia datang ke rumah untuk mengambil pakaian.
Dalam beberapa jam sidang, Gwen Graham dinyatakan bersalah atas semua
tuduhan dan divonis hukuman seumur hidup berganda.
Robin, pacar Gwen, marah. Kepada wartawan ia berteriak, "Gwen dituntut atas
dasar kabar burung, dan hanya didasarkan pada kesaksian Cathy Wood."
136
Namun, Gwen sendiri pernah mengaku pada Robin, benar melakukan pembunuhan
itu dan khawatir Cathy akan melaporkannya kepada yang berwajib. Namun, di depan
sidang, Gwen menarik ucapan itu, dan tak pernah mengaku terlibat dalam
pembunuhan.
Mata hukum tak pernah berkedip.
Hukuman terhadap Gwen Graham membuang kemungkinan pembebasan bersyarat.
Jadi, ia takkan pernah dibebaskan kecuali ada bukti baru yang akan membawa pada
pengadilan baru.
Sebaliknya, Kenneth, suami Cathy, mati-matian berbicara di hadapan publik untuk
membela istrinya.
Bulan berikutnya, Cathy muncul di hadapan hakim Kent County. Ia diganjar hukuman
antara 20 - 40 tahun penjara. Namun, ia memohon agar tidak dikirim ke penjara yang
sama dengan Gwen Graham. saat ternyata lalu ia mendapati dirinya berada
di tempat yang sama bersama Gwen, ia menolak melakukan kontak mata dengan
mantan kekasihnya itu.
Cathy Wood berhak atas pembebasan bersyarat sesudah menjalani hukuman
kurungan selama 16 tahun. Tanggal pembebasan bersyarat bagi Cathy baru sah
pada 2005.
Nonfiksi/Carol Anne Davis/Not
19. SAKU MANTEL ITU MENGGELEMBUNG
Suatu sore pada musim gugur di Marine Parade, sebuah resor dekat laut dan
pelabuhan Quangate (Kanal Inggris). Lomax Harder dan John Franting berjalan
beriringan. Dari pakaiannya yang necis, kedua lelaki berumur sekitar 35-an tahun itu
bisa dipastikan berasal dari kelompok menengah atas.
Lomax Harder, lelaki yang tampak santun, berdahi lebar, berambut jarang, dan agak
ringkih itu dengan sedikit gugup mengancingkan mantelnya - berusaha mengalangi
terpaan angin laut.
Tiba-tiba John Franting, pria yang satu lagi, berhenti di depan sebuah toko dengan
papan nama: "Gontle - Penjual Senjata". Pria berdahi sempit, berdagu berat,
berwajah suram, dan agak garang itu mantan petinju amatir. Ia masuk ke toko Gontle
yang kecil dan cenderung kumuh.
"Selamat sore," sapa Gontle (50) yang saat itu mengenakan jas beludru hitam.
Meski tokonya kecil dan terlihat kumuh, Gontle terkenal tidak saja di sepanjang
pantai Kanal, namun di seluruh Inggris. Ia menjadi rujukan soal senjata.
"Sore," balas Franting dengan sedikit gugup.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gontle, "Tidak usah takut. Toko ini resmi kok."
"Saya butuh revolver," kata Franting cepat.
137
"Ah, revolver! Seberapa banyak Anda tahu tentang revolver?" tanya Gontle, sambil
memperlihatkan beberapa pucuk senjata.
"Sedikit."
"Anda tahu Webley Mark III? Ini dia. Yang terbaik untuk segala keperluan. Multi
fungsi."
Franting mengamati Webley Mark III.
"Ini unggul pada magazinnya. Kalau belum tertutup dengan benar, senjata ini tidak
bisa dipakai."
"Bisa untuk bunuh diri?" Franting menyeringai.
"Ah, jangan bercanda."
"Bisa diuji? Sekaligus tunjukkan cara mengisi pelurunya," ujar Franting.
Gontle pun mengambil amunisi.
"Wah, larasnya sedikit tergores. Ganti dong dengan yang baru," kata Franting.
"Ini ada yang lain. Khusus untuk Anda," kata Gontle.
"Sudahlah, isikan saja pelurunya. Saya ingin mencobanya," kata Franting.
"Silakan," kata Gontle sambil menunjukkan pintu menuju tempat untuk mencoba
senjata di belakang toko.
Bunyi tembakan
Lomax Harder ditinggal sendirian di toko. Ia sempat ragu-ragu sebelum akhirnya
mengambil revolver yang ditampik Franting. Senjata itu ditimang-timang, ditaruh
kembali, lalu diambil lagi. Tiba-tiba pintu belakang tempat Franting dan Gontle keluar
tadi terbuka, membuat Harder terkejut. Secara refleks, tanpa berpikir panjang akan
akibatnya, ia memasukkan pistol yang dipegangnya ke saku mantelnya.
"Berapa peluru yang kaubutuhkan?" tanya Gontle.
"Lima saja, saya rasa cukup untuk saat ini. Berapa kalibernya?" tanya Franting.
"Coba saya lihat ... Empat inci."
Franting lalu membayar revolvernya, lalu melangkah keluar toko dengan
senjata di tangan.
"Anda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Gontle kepada Harder.
Harder tiba-tiba saja sadar kalau Gontle telah menelantarkan dirinya. Padahal ia
masuk tak lama sesudah Franting. Franting dan Harder tidak bercakap-cakap selama
di dalam toko. Hal itu mengesankan mereka tidak saling kenal.
"Saya butuh kertas timah," sahut Harder sekenanya.
138
"Kertas timah!" seru Gontle. "Apa Anda tidak tahu kalau ini toko senjata?"
sesudah meminta maaf, Harder ngeloyor pergi.
"Akan kutelepon Gontle dan membayar senjata curian ini," batin Harder. "Jangan,
nanti malah berabe. Kukirim saja lewat pos, anonim."
Harder melintasi Marine Parade. Tampak Franting, sosok kecil kidal di keramaian,
memegang revolver. Sayup-sayup Harder mendengar bunyi tembakan, tenamun jarak
yang jauh membuat dia tak yakin. Apakah Franting serius soal bunuh diri itu? Ia
mencoba melihat lagi, di kejauhan Franting berjalan ke barat memotong pantai
secara diagonal. Ah, ternyata Franting hanya berkelakar.
"Ia akan kembali ke Bellevue," pikir Harder.
Bellevue yaitu hotel tempat ia dan Franting keluar setengah jam sebelumnya. Ia
berjalan pelan-pelan menuju hotel putih itu. Dari luar ia melihat Franting duduk di
lounge. lalu Franting berdiri dan menghilang turun ke lorong panjang di
samping lounge. Harder mencoba menyusul.
Di ujung lorong Harder menemukan Franting di ruang biliar. Setengah bagian
dindingnya terbuat dari batu bata dan setengahnya lagi kayu. Ruangan dikelilingi
halaman belakang dari bangunan utama hotel. Senja luruh. Sepotong kobaran api
menyala dalam tungku pemanas.
Franting masih berbalut mantel. Sebatang sigaret terjepit di bibir. Ia duduk
membungkuk di dekat tungku. Begitu melihat Harder, ia langsung mendongak.
"Kamu masih membuntuti aku," kata Franting sinis.
"Ya. Aku ingin berbicara secara khusus denganmu. Sepertinya kamu tidak mau
bicara sewaktu di jalan tadi, namun kita harus bicara," kata Harder tenang sambil
mendekati meja biliar.
Franting bangkit, tangannya terkepal.
"Dengar," katanya dingin. "Aku malas membicarakan soal ini. Jadi, kalau sudah
selesai bicara, segeralah pergi. Aku muak melihatmu. Aku sudah tahu tentang
hubunganmu dengan istriku. Aku juga tahu kalau istriku sudah memiliki tiket ke
Kopenha gen dengan kapal laut dari Harwich. Ia sudah memperlihatkan paspor serta
mengepak barang-barangnya. Kamu juga mau ke sana 'kan?"
Harder hanya diam.
"Semua itu bukan urusanku. Semua itu juga tidak ada artinya bagiku. Emily sering
berkencan denganmu, terlebih satu atau dua minggu terakhir. Aku tak peduli dengan
semua itu. Aku tahu, Emily membenci tabiatku. Namun, sebenarnya itu masalah
kami berdua. Kamu jangan mencampuri urusan kami. Jangan kau racuni dia agar
berpaling dariku. Jangan sok menjadi pendengar setia."
"namun , kami tidak ...."
"Jangan potong pembicaraanku! Biarkan Emily sendiri yang memutuskan, apakah
tetap bersamaku atau memilih bercerai. Namun, aku sangsi, ia punya niat berpisah.
Kami sudah menjalani masa sulit dan senang selama puluhan tahun."
139
"Aku mengerti," sahut Harder lirih.
"Bagaimanapun, Emily istriku. Meski aku suami terburuk di muka Bumi ini, aku yakin
ia sulit untuk mengambil keputusan cerai. Kami sedang berusaha menata kehidupan
rumah tangga kami. Sampai akhirnya kamu masuk, dan meruntuhkan upaya itu. Aku
baru saja menerima surat darinya. Ia tahu aku berada di sini. Itu juga 'kan yang
menjelaskan, mengapa kamu tahu keberadaanku di sini?"
Lomax Harder hanya menatap ke luar jendela.
Salah satu harus mati
Franting mengeluarkan secarik surat dari saku, lalu membukanya.
"Aku telah memutuskan untuk meninggalkanmu. Aku tidak tahan lagi dengan situasi
ini. Boleh jadi kamu sangat mencintaiku, namun sikap dan perilakumu sangat
menyakitkan. Kalaupun ada orang yang bersedia menolongku, kamu tak perlu tahu
siapa dia." Dan seterusnya, dan seterusnya. Franting membaca beberapa kalimat
keras-keras.
Franting menyobek surat itu menjadi dua, membuang separuhnya ke lantai dan
memilin bagian lainnya, membakar, lalu menggunakannya untuk menyulut sigaret.
"Kamu si penolong itu 'kan? Bagus. Aku tidak menuduhmu jatuh cinta dengannya,
atau sebaliknya. Namun, jika kamu tidak mencintainya, mengapa pula kamu
bersedia mengambil alih semua kesulitannya. Jujur saja, kamu ingin menjadi dewa
penolong, atau punya motif lain?" katanya sambil menyelipkan sigaret di bibir.
Wajah Harder pucat mendengar tuduhan itu.
"Masa bodoh dengan semua itu. Aku yakin, Emily tak bakal meninggalkanku.
Camkan ini, aku tidak akan membiarkan dia pergi. Kekayaannya yaitu nafkah
hidupku. Aku memang menumpang hidup padanya. Aku bakal serasa di neraka jika
ia meninggalkan aku."
Tiba-tiba Franting terdiam. Ia seperti sadar dengan ucapannya.
"namun , alasan utamaku, bukan melulu soal materi. Seorang istri tetaplah istri, yang
tidak dapat begitu saja menceraikan suaminya. Aku punya komitmen kuat terhadap
ikatan perkawinan."
Franting mengambil revolver dari kantung mantelnya, dan menunjukkannya kepada
Harder. "Lihat barang ini, yang kubeli tadi. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan
mengancammu, apalagi menghabisimu. Meski kamu sudah mengganggu rumah
tangga kami.
"namun ini untuk istriku, jika ia meninggalkan aku - entah gara-gara kamu atau orang
lain atau apa pun. Aku akan terus memburunya, ke mana pun ia pergi. Bahkan
sampai ke Kutub Utara sekalipun, akan kuburu dan kuhabisi dia dengan revolver ini.
Sekarang kamu boleh keluar!"
Franting mengantungi kembali revolvernya dan mulai menyedot sigaretnya kuat-kuat.
Lomax Harder melihat wajah Franting berubah menyeramkan. Ia sadar, Franting
tidak main-main. Jika Emily sampai meninggalkan Franting, nyawa Emily akan
140
terancam. Tidak seorang pun bisa mencegah Franting. Di sisi lain, tidak ada yang
bisa membujuk Emily untuk tetap bersama suaminya. Ia telah memutuskan untuk
berpisah.
Harder melangkah sepanjang sisi meja biliar. Secara serentak Franting melangkah
juga pada arah berlawanan.
Mereka pun beradu badan. Secepat kilat Harder menyentak revolver di sakunya,
membidik, dan menarik pelatuknya.
Franting roboh.
Setengah badannya ambruk di atas meja biliar. Ia tewas. Di telinga Harder suara
letusan itu bak bunyi dawai biola yang digesek dengan jari tangan. Ia melihat lubang
kemerahan di pelipis kanan Franting.
Sekilas Harder melirik ke mayat Franting. Rokoknya masih menyala, abunya jatuh di
meja biliar.
"Yah, salah satu harus mati. Lebih baik dia daripada Emily," Harder membatin. Di
balik penyesalan atas nasib Franting, Harder merasa telah bertindak benar.
Membuang barang bukti
Sejenak lalu muncul rasa takut. Harder takut harus menghadapi hukuman. Ia
juga takut, Emily bakal sendirian dan tak lagi punya teman sebaik dirinya.
Memikirkan hal itu ia memutuskan segera kabur.
Harder menyibakkan kain pengalang di jendela, lalu meloncat keluar. Di sekeliling
tidak ada orang. Ia melangkah melalui pintu hijau yang membawanya melewati
sebuah lorong, menuju Marine Parade.
Kini ia seorang pelarian. Apa yang harus dilakukannya? Tiba-tiba muncul ide brilian.
Ia masuk ke hotel dari pintu utama. Ia berjalan perlahan-lahan masuk ke serambi
bertiang, tempat porter berumur sekitar 50-an tahun berdiri dalam kejenuhan.
"Selamat malam, Pak."
"Malam. Ada kamar kosong?"
"Mungkin ada. Kepala kamar sedang pergi sebentar, namun ia akan segera kembali.
Manajer hotel sedang ke London."
Lomax Harder masuk dan duduk.
"Saya butuh minuman selama menunggu," kata Harder ramah.
"Akan saya siapkan, Pak. namun pelayan bar sedang cuti. Mohon sabar menunggu."
"Hotel apa ini? Semua pelayan tidak di tempatnya. Apa semuanya ditangani oleh
porter?"
Aneh, tidak adakah yang mendengar bunyi tembakan tadi? Padahal hotel ini dekat
dengan tempat kejadian perkara (TKP).
141
Mengingat kembali peristiwa itu membuat Harder ingin berlari keluar. namun , bila ia lari,
orang bisa curiga. Setengah dipaksakan, ia mencoba duduk dengan tenang.
Porter datang membawa nampan berisi minuman pesanannya. Tanpa sungkan
Harder menenggak habis minuman itu.
"Saya akan pergi sebentar," kata Harder sambil berjalan ke luar hotel, kembali ke
Marine Parade.
Ia bersandar pada dinding dermaga Quangate. Tidak ada lagi orang di sini. Malam
telah lindap. Di kejauhan mercusuar berkelap-kelip. Cahayanya berpendar, kadang
merah, kadang hijau, ditimpali sinar putih. Riak gelombang menghantam dinding
dermaga. Angin bertiup dari barat daya, tidak dingin.
Harder melihat ke sekeliling, mengambil revolver dari saku mantel, dan diam-diam
menjatuhkannya ke laut. Jam taman berdentang, sudah tengah malam.
Dihantui rasa takut
Bagaimanapun dalam diri Harder lahir rasa takut yang luar biasa. Ia tidak yakin
apakah ada saksi yang melihat perbuatannya atau tidak, atau ada orang yang
mendengar bunyi letupan senjatanya atau tidak. Meski kecil, kemungkinan itu tetap
ada.
Bisa jadi, ada orang yang mengenal Franting tahu kalau sore itu Franting berjalan-
jalan dengan seseorang. Nah, orang itu bisa memberi keterangan detail sosok
dirinya.
namun , Harder tetap tenang. Tidak ada bentuk fisiknya yang menonjol, kecuali dahi
lebar. Untungnya, waktu itu ia memakai topi. Selain itu, sidik jarinya tidak tertinggal di
jendela. Begitu juga jejak kaki sebab lantai paving. Ia juga tidak tolol untuk kembali
ke tempat kejadian, seperti umumnya pelaku kejahatan lainnya.
Kendati begitu, ia menyesal harus membunuh Franting. Namun, ia sadar sangat
menyukai Emily Franting yang kini menjanda. Rasa suka mendorongnya untuk tega
menyakiti siapa pun yang mengganggu kebahagiaan Emily. Jangankan satu, 100
orang pun akan dia hadapi. Niatnya tulus, tidak mengharapkan sesuatu dari Emily.
Ia hanya berniat melindunginya. Ia menyesalkan Emily mau diperistri Franting yang
sangat obsesif. Ulah Franting menyobek surat Emily sebagai penyulut sigaretnya
membangunkan api kebencian pada diri Harder.
Jarum jam bergulir ke angka empat. Harder berjalan cepat ke depan dermaga,
langsung menghampiri taksi yang sedang menunggu penumpang. Ia batal menginap
di hotel. Sesegera mungkin ia pergi dan mencari Emily.
Taksi melaju ke stasiun.
Sebuah kekhawatiran muncul tiba-tiba. Jangan-jangan hasil tindak kejahatannya
sudah diketahui! Polisi bisa jadi sedang mengorek informasi dari para wisatawan
yang masih berkeliaran.
Sopir taksi melihat dirinya tidak tenang dengan sorot mata aneh dari kaca spion di
dalam mobil. Sial, rasa takut dan curiga itu terus menghantui.
142
Tiba di pelataran stasiun, perasaan ragu-ragu mencuat kembali. Namun, akhirnya ia
masuk juga sesudah menunjukkan tiket ke petugas. Ia menoleh ke segala arah, namun
tak tampak tanda-tanda keberadaan polisi. Aman. Begitu masuk ke kereta tidur,
sudah ada lima penumpang di sana. Kereta berjalan.
Victoria menjadi bagian tersulit dalam pikirannya, akibat ketakutan berlebihan.
Jangan-jangan ada detektif yang ditugasi menyergap dirinya di sana.
Tidak! Harder menenangkan dirinya. Kereta ini penuh wisatawan. Peronnya disesaki
para pelaku bisnis. Dari hasil bertanya sana-sini, ia tahu akan ada konferensi
internasional di Kopenhagen. Pikiran kalut membuatnya tidak menyimak berita di
media cetak atau elektronik.
Hampir putus asa ia mencari Emily dalam kompartemen besar yang sedang berjalan
itu. Namun, ia yakin, Emily pasti ada di sini. Bukankah ia yang juga membelikan tiket
untuk Emily? Selain itu, Emily amat disiplin soal waktu. Tak ada kata tergesa-gesa
dalam kamusnya. namun , di gerbong mana?
Jangan-jangan, hal buruk menimpa Emily? Misalnya, ada polisi yang menelepon
bahwa suaminya ditemukan tewas dengan sebuah peluru bersarang di otaknya.
Perjalanan dua jam itu amat menyiksa. Ia ingat telah ceroboh meninggalkan bagian
surat yang tidak terbakar di tempat kejadian perkara. Celaka, itu benar-benar konyol!
Di Dermaga Parketson kebingungan kembali menyergap, gara-gara kerumunan
penumpang kereta. Namun, di sisi lain, kerumunan itu menguntungkan Harder.
Detektif akan kesulitan mencarinya. Kecuali bila detektif menghentikan dan
mengisolasi kereta.
Kapal mengeluarkan tanda keberangkatan. Perlahan-lahan kapal menjauhi dermaga,
merayapi kanal yang berliku-liku menuju mulut pelabuhan, bebas ke Laut Utara.
Inggris mengecil dihiasi pendar-pendar sinar.
Harder menjelajah tiap dek, dari haluan ke buritan. Emily belum juga dia temukan.
Mungkinkah ia ketinggalan kereta, atau ia gagal masuk kapal sebab ia tidak
menemukannya?
Kengerian kembali mencengkeram hatinya. Mungkinkah di Esjberg nanti ia akan
dijemput detektif di dermaga?
Semua kekalutan itu sesaat berubah, membuncah menjadi kelegaan tatkala Emily
muncul di hadapannya. Kedua insan itu pun meluapkan kegembiraan mereka.
Tampak benar betapa mereka saling membutuhkan.
"Jadi?" bisik Emily.
"Aku tidak akan pergi bersama. Pergilah, nikmati kebebasanmu," kata Harder.
"Kuharap, keputusanmu benar," ujar Emily tanpa protes.
Jejak tertinggal
Superintenden Polisi Brian McKnight dan Sersan Detektif Trevor Berbick berada di
ruang biliar Bellevue. Keduanya berpakaian preman. Lampu sorot di ruang biliar
mengenai mayat John Franting yang belum dipindahkan.
143
"Saya tinggal dengan teman saya, Dr. Furnival," kata seorang pria yang tiba-tiba
bergabung dengan keduanya. "sebab ia sibuk menangani kasus lain, saya
menawarkan diri untuk datang memenuhi telepon Anda. Kita pernah bertemu di
Scotland Yard."
"Dr. Austin Bond!" teriak Brian McKnight, lelaki kurus dengan bibir tipis dan kumis
kucingnya.
"Hai," kata temannya.
Selain segan, sebenarnya Brian McKnight enggan berhubungan dengan Austin Bond.
Soalnya, meski pakar dalam bidangnya, Bond sering melecehkan polisi yang bekerja
kurang sigap. Sedangkan Trevor Berbick, belum apa-apa sudah merasa kecut
mendengar nama Dr. Austin Bond.
Bond memang detektif hebat. Ia berhasil memecahkan berbagai misteri terkenal
seperti The Yellow Hat, The Three Towns, The Three Feathers, serta The Gold
Spoon. Pergaulan dan wawasan luas membentuknya tidak sekadar seorang
"pemeriksa" mayat korban pembunuhan. Akses langsung ke petinggi Scotland Yard
membuat semua polisi memperlakukannya dengan sangat sopan.
"Ya," kata Bond sesudah mengamati mayat dengan seksama. "Ditembak sekitar 90
menit lalu. Lelaki malang! Siapa yang menemukan dia?"
"Wanita pelayan yang baru saja keluar. Ia menengok ke dalam sesudah terjadi
tembakan."
"Berapa lama?"
"Sekitar sejam lalu."
"Apakah pelurunya ditemukan?" Berbick sekilas memandang McKnight.
"Ada, ini," kata McKnight mengangsurkan bukti temuannya.
"Kaliber 38," desis Austin Bond.
"Sersan, tolong pindahkan mayat ini sekarang. Dr. Bond akan melakukan
pemeriksaan, bukan begitu, Dok?"
"Tentu, korban merupakan perokok sigaret," katanya.
"Bisa juga pembunuhnya."
"Anda mendapat petunjuk lain?"
"O, ya," kata Brian McKnight kalem. "Lihat ke sini. Senternya, Sersan."
Sersan detektif mengeluarkan senternya dari saku. Brian McKnight mengarahkan ke
ambang jendela.
"Ada yang lebih aneh," kata Bond ikut mengeluarkan senter miliknya.
144
McKnight menunjukkan sidik jari pada bingkai jendela, jejak kaki pada ambang
jendela, dan beberapa helai benang baju murahan. Bond lalu mengeluarkan
kaca pembesar, dan memperhatikan jejak-jejak tadi pada jarak amat dekat.
"Pembunuhnya pasti bertubuh tinggi. Ini tampak dari sudut tembakan. Ia
mengenakan baju biru, yang terkoyak di kusen jendela. Salah satu sepatunya
berlubang di tengah pada solnya. Ia hanya punya tiga jari pada tangan kirinya. Ia
mestinya masuk dan keluar melalui jendela, sebab porter yakin tidak ada orang yang
masuk lounge dari pintu mana pun kecuali korban selama sekitar sejam," Brian
McKnight dengan bangga mengurai beberapa data temuannya.
"Nanti dulu, mungkinkah John Franting membiarkan seseorang memasuki ruangan
melalui jendela! Apalagi orang dekil seperti itu," sahut Bond jumawa.
"Lo, memangnya Anda kenal korban?"
"Tidak! namun saya tahu ia John Franting."
"Bagaimana Anda bisa tahu?"
"Keberuntungan."
"Sersan," kata Brian McKnight memperingatkan. "Bawa porter hotel kemari."
Mantan petinju kidal
Austin Bond berjalan mondar-mandir, melihat-lihat sekeliling dengan saksama. Ia
mengambil secarik kertas yang terselip di antara tangga panggung yang
menghubungkan dua sisi ruang untuk memberi tempat pengunjung bisa
memandang sekeliling. Ia memandang sejenak, lalu menjatuhkan lagi.
"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang masuk ke sini
sesore ini?" tanya Brian McKnight kepada si petugas porter.
"Sebab saya berada di ruangan saya sepanjang waktu itu, Pak."
Si porter terpaksa berbohong, demi kelangsungan asap dapurnya. Padahal
sebelumnya ia sudah diingatkan akan akibatnya jika sampai berbohong.
"Pada posisi itu, apa kamu bisa melihat ke seluruh ruangan?"
"Bisa, Pak."
"Mungkin ia sudah berada di ruangan itu," timpal Bond.
"Tidak mungkin. Wanita pelayan datang dua kali. Pertama sebelum Franting datang.
Ia melihat api pemanas hampir padam, jadi ia pergi mengambil batu bara. Ia kembali
lagi membawa batu bara. Saat itulah ia melihat mayat Franting, yang membuatnya
takut. Ia pun pergi lagi - masih dengan membawa batu bara."
"Ya, saya juga melihatnya," kata si porter.
Satu kebohongan lain.
"Saya harus berbicara dengan wanita pelayan itu," kata Bond, sesudah sebelumnya
meminta si porter pergi.
145
Brian McKnight ragu-ragu. Apa maunya detektif ini? Bukankah tak ada orang yang
meminta bantuannya? Namun lalu McKnight teringat akan akses Austin
dengan Scotland Yard. Jadi, terpaksa ia membolehkannya bertemu wanita pelayan
itu.
"Apakah Anda membersihkan jendela hari ini?" Austin Bond mulai menginterogasi.
"Ya, Pak."
"Tunjukkan tangan kirimu? Bagaimana jari-jari tanganmu bisa hilang?"
"Akibat kecelakan mesin cuci, Pak."
"Maukah kamu menuju jendela, dan taruh tanganmu di sana. namun , lepas dulu sepatu
kirimu."
wanita lesbian itu mulai menangis, ketakutan.
"Jangan khawatir. Pakaianmu tersangkut di jendela 'kan?" bujuk Bond.
saat wanita itu selesai menjalankan perintah dan akan beranjak pergi, sambil
menjinjing sepatu kirinya, Dr. Austin Bond berkata dengan ramah kepada Brian
McKnight.
"Hanya dengan keberuntungan. Saya kebetulan sempat memperhatikan, wanita itu
memiliki tiga jari di tangan kiri saat ia berlalu di koridor. Maaf, saya membuyarkan
teori Anda. Namun, sejak awal saya hampir yakin, pembunuhnya tidak masuk atau
pergi mendadak melalui jendela."
"Lalu bagaimana?"
"Saya pikir, ia masih ada dalam ruangan ini."
Dua petugas polisi menyapu pandangan ruangan itu dengan saksama.
"Saya pikir ia ada di sana," kata Austin Bond menunjuk ke mayat Franting.
"Jadi, ia bunuh diri?"
"namun , di mana ia menyembunyikan revolvernya sesudah mencabut nyawanya?" tanya
Brian McKnight mencoba membangun kembali kepercayaan dirinya yang sempat
terjerembap.
"Saya juga sedang mencari jawabannya," tukas Dr. Austin Bond. "Anda lihat saku kiri
mantel itu? Perhatikan, agak menggelembung 'kan? Sesuatu yang tidak lazim
tersimpan di situ. Sesuatu yang berbentuk seperti - coba bayangkan."
Brian McKnight memeriksa saku dan menarik sebuah revolver dari saku mantel
mayat itu.
"Ah, Webley Mark III. Masih baru!" Brian McKnight membongkar senjata itu.
146
"Ada tiga ruang kosong. Aneh, mana yang dua lagi? Sekarang, di mana pelor itu?
Anda mengerti? Ia menembak kepalanya. Tangannya terkulai, dan revolvernya
masuk ke saku mantel."
"Menembak dengan tangan kiri?" tanya Brian McKnight.
"Yah, begitulah. Beberapa tahun yang lalu, Franting bisa jadi petinju amatir kelas
berat-menengah terbaik di Inggris. Alasan mengapa ia menembak dengan tangan
kiri, sebab ia kidal. Ia memang sering merepotkan lawannya, tangan kirinya lebih
mematikan dibandingkan dengan tangan kanannya. Beberapa kali saya melihatnya
bertarung."
lalu Bond melangkah menuju tangga tempat ia menemukan secarik kertas tadi.
"Ini, mungkin bisa menjadi petunjuk. Ini bagian dari surat. Anda bisa melihat, bagian
yang terbakar ini mungkin sambungan surat yang ada di dekat tungku perapian. Ia
mungkin menyalakan sigaret menggunakan surat ini. Coba baca ini."
Brian McKnight membacanya. "... saya sadar, kamu sangat mencintai aku, namun kamu
telah menumpas rasa sayangku padamu. Aku akan meninggalkan rumah kita besok.
Ini sudah menjadi keputusan terakhir. E."
Austin Bond kembali mendemonstrasikan kepiawaiannya memecahkan solusi yang
membuat para polisi itu mirip sekumpulan orang dungu.
Nun jauh di sana, Emily Franting sedang duduk di lobi Palads Hotel, Kopenhagen.
Lomax Harder baru saja menelepon mengabarkan kepadanya soal sidang
terbunuhnya John Franting dari koran yang dibacanya. Juri memutuskan bahwa
korban melakukan bunuh diri. Air mata mengalir di pipi Emily. Bahagia atau sedih?
Tak ada yang tahu.
Fiksi/Great Law and Order Stories/Yds
20. DI BALIK DINDING KAMPUS
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Manusia memang tak pernah bisa
menduga-duga peristiwa yang bakal menimpanya. Uniknya pula, di balik peristiwa
yang tampaknya membahagiakan, terkadang tersembunyi masalah pelik yang siap
menghadang. Bagaimanapun, kebaikan dan kebenaran tetap harus ditegakkan.
Demikian pula nasib Richard Macris (19), mahasiswa New York University (NYU).
Musim semi tahun 1977 ia serasa mendapat durian runtuh saat terpilih menjadi
asisten di la boratorium Dr. John Buettner-Janush, ketua jurusan antropologi. Ia
memang sangat bangga sebab untuk bisa bergabung dalam tim BJ, begitu ilmuwan
terkenal itu acap disebut, harus melewati serangkaian tes yang bahkan lebih sulit
ketimbang ujian tulis formal di sekolah.
Macris dengan penuh semangat melakukan tugasnya - menganalisis sampel-sampel
darah. BJ amat dikenal di kalangan ilmuwan, terutama sebab sebuah proyek
penelitian beberapa tahun sebelumnya. Penelitian biologis itu mampu menunjukkan
hubungan antara protein darah pada lemur dengan kelompok kera pada tingkat yang
lebih tinggi, misalnya gorila. Macris yakin, tugasnya kini berkaitan dengan penelitian
147
BJ yang sedang tertarik membandingkan faktor darah antara manusia dengan
monyet.
BJ meraih gelar B.A., B.S., dan M.A. dari University of Chicago, sedangkan Ph.D-nya
dari University of hutan hujan . Pengalaman mengajar didapat dengan memberi
kuliah di Yale selama tujuh tahun. Pada masa-masa itu ia menulis buku teks
antropologi yang amat terkenal, The Origins of Man.
lalu ia pindah ke Duke University di North Carolina. Di sanalah ia melakukan
percobaan unik tentang hubungan darah antara lemur, monyet, dan manusia.
Penelitian ini, menurut dia, bakal menjadi kunci jawaban tentang evolusi.
Pada 1973, di usia 49 tahun, BJ sudah menjadi antropolog terkemuka, bukan hanya
di AS namun juga di dunia. Dana penelitian dari National Science Foundation (NSF)
secara teratur mengalir deras. Dengan catatan akademis dan sejarah karier yang
meyakinkan itulah BJ dianggap cukup pantas untuk ”dibajak” oleh NYU. Tahun itu, ia
rela meninggalkan Duke gara-gara iming-iming fasilitas penelitian yang baru dan
mewah dengan nilai tak kurang dari AS $ 200.000.
Lain cerita dengan Macris, anak keluarga Yunani ortodoks. Berasal dari
kalangan ”biasa-biasa” saja, orang tuanya harus bekerja keras untuk dapat
mengirimkannya ke perguruan tinggi. Syukurlah, melihat prestasinya mereka merasa
pengorbanan itu tidak sia-sia. Apalagi kini di laboratorium BJ, Macris optimis akan
lebih mudah mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban orang tua.
Rumor aneh
Sayang, tak lama sesudah bergabung dalam tim BJ, ia mendengar gosip yang
mengganggu. Sejumlah asisten yang telah lama bekerja di situ
berbisik, ”Sebenarnya BJ sama sekali tidak melakukan penelitian pada lemur.” Lalu
apa?
Yang lebih membuatnya miris sekaligus penasaran, salah seorang mengingatkannya
untuk selalu mencuci tangan bersih-bersih seusai bekerja di lab. ”Materi yang kamu
pegang bisa membuatmu gila!” kata James, seorang asisten, dengan wajah serius.
Meski awalnya tidak serius menanggapi, lama-kelamaan Macris terpengaruh juga.
Gara-garanya, ia mengamati memang ada beberapa hal mencurigakan. Misalnya
saja beberapa kali ia melihat sejumlah mantan murid BJ, yang sudah lama lulus,
datang berkunjung ke lab pada waktu yang tidak lazim, yakni malam hari.
Perbincangan mereka dengan BJ pun dilakukan dengan berbisik-bisik.
Sampai suatu kali BJ meminta Macris datang pada hari Sabtu. Begitu ia tiba, BJ
segera menutup semua pintu untuk pengamanan. Ia diberi tahu, mereka akan
membuat asam anasetil antranilat, calon LSD.
Kecurigaannya mulai tumbuh. Jangan-jangan rumor itu benar. sebab penasaran,
awal Februari 1979 Macris memberanikan diri bertanya kepada BJ apa sebenarnya
yang sedang ia kerjakan.
”Membuat obat saraf untuk lemur,” jawab BJ enteng.
”Obat saraf seperti itu ’kan sudah tersedia di pasar?”
”Benar, namun obat yang diperdagangkan biasanya tidak cukup murni.”
148
Masuk akal juga, tenamun bisa juga rumor itu benar. Macris memutuskan untuk
bertindak. Sadar tidak mungkin bertindak sendiri, ia mencari orang yang tepat untuk
berkonsultasi. Pilihannya jatuh pada Dr. Clifford Jolly, antropolog yang bekerja di lab
yang bertetangga dengan lab mereka.
Jolly tampak kaget mendengarkan penuturan Macris. Meski begitu, Jolly mencoba
tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
”Yang kamu lakukan cukup berisiko. Jika yang kamu katakan benar, berarti BJ telah
melanggar hukum. Ia akan menghadapi masalah besar. Sebaliknya, bila kecurigaan
itu tidak benar, kamu yang akan menghadapi masalah besar,” tutur Jolly
mengingatkan.
Jolly menasihati Macris untuk sementara waktu menyimpan semua kecurigaan itu.
”Cobalah membuat catatan tentang semua percobaan yang kalian lakukan di lab,”
lanjut Jolly sambil berjanji akan membantu mencari bukti.
Dulu Jolly juga pengagum berat BJ. Pun pernah menjadi anggota timnya. Bahkan
kesertaan dalam tim BJ itulah yang membawanya masuk ke dalam NYU. Jelas Jolly
menyegani mantan bosnya, namun beberapa waktu lalu ia merasakan ada yang aneh
dengan BJ, meski tidak menemukan apa pemicu nya.
Semua bermula pada musim dingin 1978, saat NSF tanpa dinyana-nyana menolak
permintaan bantuan dana BJ. Menurut pengakuan BJ pada Jolly, ia tidak khawatir
sebab tahu banyak cara lain untuk mendapatkan dana. Semula Jolly tidak terlalu
memikirkan ucapan itu, yang sesaat teringat kembali sesudah Macris
menyampaikan kecurigaannya.
Detektif amatir
Selama beberapa bulan berikutnya, Jolly berperilaku bak detektif amatir. Di malam
hari, manakala asisten labnya sudah pulang, ia mengendap-endap ke dalam lab BJ
untuk jeprat-jepret memotret situasi di dalamnya. Ia juga mengacak-acak keranjang
sampah, melacak catatan yang dibuang para asisten lab. Siapa tahu ada yang
berguna. Selain itu, dua minggu sekali ia mengambil sampel bahan kimia dari labu
Erlenmeyer dan vial. Semua barang temuannya itu disimpan rapi di rak buku di
rumahnya.
Begitu jumlahnya dirasa cukup, Jolly menyerahkan sampel bahan kimia itu pada
Drug Enforcement Agency (DEA), lembaga pengawasan obat tingkat federal. Dalam
waktu singkat DEA, yang sengaja tidak diberi tahu dari mana asal bahan-bahan
kimia itu, memberi laporan bahwa salah satu sampel yaitu metakualon - yang
dikenal sebagai Quaalude - obat terlarang.
Berbekal laporan itu Jolly mengajak Macris menemui John C. Sawhill, Rektor NYU,
untuk melaporkan penemuan mereka. Masih dengan setengah terkejut, Sawhill
segera menghubungi kantor kejaksaan.
Esok malamnya diam-diam - tentu dengan seizin NYU - beberapa anggota DEA
memeriksa lab BJ. Setiap peralatan dan sekian banyak bahan kimia tak ada yang
luput dari pengamatan mereka. Bahan kimia itu segera dianalisis. Yang ditemukan
antara lain LSD, metakualon, juga kokain sintetis.
Dengan bukti tersebut kejaksaan memerintahkan untuk dijalankannya operasi
penyelidikan rahasia. Dalam operasi itu bukan hanya anggota DEA yang bergerak,
149
tenamun para asisten lab BJ juga dilibatkan. Sebagian besar dengan sukarela, meski
ada juga yang harus dengan dibujuk-bujuk. Umumnya yang dengan cepat menerima
memiliki dua alasan. Bila bukan sebab tanggung jawab moral, tentu sebab
mereka tidak mau terseret dalam kasus itu.
Mereka diminta memperhatikan setiap ucapan BJ. Bahkan beberapa orang
diperlengkapi dengan alat perekam tersembunyi untuk merekam pembicaraan
dengan BJ.
Ilmuwan kaya
Mula-mula operasi itu berjalan lancar. BJ tidak sadar tengah diamati. Sampai pada
suatu malam, Macris dan Jolly membiarkan petugas DEA masuk melalui pintu.
Petugas itu sengaja memecah kaca pintu lab untuk memberi kesan perampokan.
Baru esok paginya BJ mengetahui ”perampokan” itu. Namun, kedongkolannya hanya
berlangsung sesaat. Otaknya yang biasa berpikir logis segera menduga ada sesuatu
yang tidak beres. Menurut dia, itu bukan sembarang perampokan.
Kecurigaan itu sempat ditangkap Macris, sebab seminggu lalu ia bertanya
pada Macris, ”Ada seseorang yang telah mengadukan diriku. namun siapa dia?”
Prasangka serupa diucapkannya pula pada Danny Cornyetz, mahasiswa yang
menjabat direktur lab. ”Aku tahu ada yang tidak wajar dengan perampokan itu, namun
aku tidak tahu siapa informan itu!” seru BJ marah.
Sebagai orang yang menuntut kesetiaan, ia tidak bisa mentoleransi asisten yang
mengkhianati dirinya. Bukankah selama ini ia telah memberi mereka kesempatan
dan kebaikan hati?
Kabarnya, BJ juga menjalankan labnya dengan otoriter. Bahkan, ada yang
menjulukinya serupa diktator. Asistennya harus memusuhi juga semua musuhnya.
Tuntutan itu dipatuhi oleh hampir sebagian besar muridnya. ”Kami tidak berani
mengambil mata kuliah yang pengajarnya tidak disukai BJ,” kata salah seorang
mahasiswa.
”Kalau kami tetap mengikuti mata kuliah mereka tanpa mengindahkan peringatan BJ,
kami tidak bakal lulus. Celakanya, salah satu profesor yang dimusuhi BJ mengepalai
sebuah jurusan dan berwenang mencairkan dana beasiswa yang jumlahnya ribuan
dolar. Tak satu pun dari kami mampu mendapatkannya,” keluh yang lain.
Posisi BJ makin tersudut. Sosoknya sebagai ilmuwan juga makin kabur bila
menyimak kesaksian teman-teman akademisnya.
Ia dikenal berselera tinggi, senang barang-barang mahal. Di balik undangan makan
malam untuk para kenalannya, sepertinya tersimpan motif lain juga, pamer. Memang,
apartemennya yang luas di Washington Square dipenuhi keramik dan benda
pajangan mahal.
Meski istrinya, Vina Mallowitz, pakar biokimia, meninggal tahun 1977, BJ tak begitu
kesepian. Pergaulannya luas. Selain dari kalangan ilmuwan, ia punya banyak kawan
dari kalangan seniman, mulai pemain drama, novelis, dan pelukis.
Ia memang sering mengadakan pesta. Pestanya pun bukan sembarangan, tenamun
pesta gala, dengan hidangan didatangkan dari katering terkenal dan pelayan
berseragam.
150
Betapapun, selain hidup mewah ia punya kebiasaan aneh. BJ senang menarik
perhatian dengan cara mengejek atau menyakiti orang lain.
Bila datang surat yang salah mengeja namanya, atau ada bagian dari isinya yang
dianggapnya kurang santun, ia bisa sesaat mengirimkan kembali surat itu disertai
sejumlah koreksi disertai catatan tinta merah “Ganti surat ini! Gunakan kaidah
bahasa yang benar!”
Kebiasaan buruk itu memakan korban pula. Sebuah pengalaman pahit dituturkan
oleh sesama rekan profesor yang memilih keluar dari NYU lalu pindah ke University
of Maryland. Alasannya, ”Tidak hanya menyemprot saya di hadapan rekan seprofesi,
BJ juga tega mempermalukan saya di depan para mahasiswa.”
Kehilangan dana
Itulah kenyataannya. BJ telah membuat banyak orang sakit hati. Tak heran apabila
banyak beredar rumor negatif tentang dirinya. Di antaranya, ada rekan kerja yang
menuduhnya telah melakukan plagiat terhadap karya sejumlah muridnya pada saat
ia mengajar di hutan hujan . Untuk kasus ini, pihak universitas di hutan hujan menolak
memberi keterangan.
Ada juga yang mengatakan, ia mengorupsi uang makan dan akomodasi sebuah
ekspedisi antropologi. Saat ekspedisi berlangsung, ia masih bertugas di University of
Chicago. Namun, tuduhan itu pun tidak pernah ditindak lanjuti.
Ada rumor lain, yang ini lebih serius. Kabarnya, BJ tidak pernah melakukan
penelitian. Penelitiannya semasa di Duke sesungguhnya dilakukan oleh sang istri.
Betapapun, lepas dari rumor dan perilaku kasar, BJ tetap dipandang terhormat di
kalangan akademisi. Setiap tahun ia makin terkenal dan makin sering menerima
bantuan dana penelitian.
Sampai tahun 1977, manakala Dewi Fortuna tak lagi bersamanya. Tahun itu NSF
menolak memberi bantuan penelitian kepadanya. BJ menuduh penolakan itu
berdasarkan alasan pribadi, bukan akademis, sebab ada bocoran dari orang dalam
di NSF yang memberi tahu dia.
Namun, Dr. Nancie Gonzales, direktur program antropologi di NSF saat itu,
mengatakan, “Kalau NSF menolak memberi bantuan, ya selalu hanya
berdasarkan satu alasan - karya tersebut kurang tepat mendapat penghargaan
ilmiah.” Memang, lab BJ telah dikunjungi oleh tim NSF, proposalnya pun telah
diperiksa.
Penolakan itu tentu memberi pukulan berat bagi BJ. Bukan hanya ego, tenamun
kepiawaiannya dalam melakukan penelitian serasa turut dilecehkan. Tentu pula
kelancaran penelitiannya jadi terganggu. Tanpa bantuan dana mana mungkin ia
membeli bahan penelitian dan membayar asisten.
Namun, November tahun yang sama sang profesor yang cerdas ini menemukan
solusi. Ia mendirikan perusahaan dengan nama samaran Simian Expansions.
Tujuannya, mengumpulkan dana dari kalangan swasta untuk membiayai penelitian
atas lemur. Sejak itu, meski tanpa dana dari NYU, lab BJ di NYU tetap aktif,
peralatannya lengkap, dan pe




