Pengertian Ruh
Untuk memahami persoalan ruh, marilah kita kaji ayat-ayat berikut : Ayat; 87. Surat Al Baqoroh
: “dan sungguh telah kami berikan Al Kitab kepada Musa dan kami utus sesudahnya beberapa
seorang Rasul, dan kami berikan kepada Isa Ibn Maryam beberapa Mukjizat yang nyata. Dan
kami perkuatkannya dengan ruh yang disajikan. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul,
yang membawa sesuatu yang tidak kamu sukai, maka (kemudian ) kamu menyombongkan diri ?
Maka sebagian Rasul kamu dustakan dan sebagian yang lain kamu bunuh”
Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Isa relah diperkuat dengan ruh yang disucikan. Pada
umumnya orang yang mengartikan Ruh yang disucikan (Rukhul Qudus) = Jibril. Dan mengingat
bahwa tugas Jibril yaitu sebagai utusan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para Rasul,
sedang Rasul bukan hanya Nabi Isa saja, maka mengapa untuk Rasul-rasul lain yang tentunya
juga memperoleh wahyu sebagaimana diperileh oleh Nabi Isa—tidak pernah disertai keterangan
: Diperkuat dengan Rukhul qudus ? Ini mengandung arti bahwa Ruhul Qudus bukan Jibril, sebab
Jibril akan senantiasa mendampingi setiap Rasul, sebab tugas Jibril penyampai wahyu dan
bukan hanya khusus mendampingi Isa. Justru sebab salah pemahaman inilah sesatlah kaum
nasrani dengan ajaran : Trinitasnya. Trio Tuhan yang terdiri dari : Tuhan Bapak yang ada si
Surga, Tuhan anak dalam wujud Nabi Isa dan Ruhul Qudus yaitu Jibril. Prinsip Rukhuk Qudus
Jibril harus kita kaji kembali.
Sekurang-kurangnya ada tiga buah ayat lagi yang menyebutkan tentang Rukhul Kudus. Antara
lain : Al Baqoroh 253, Al Maidah 110 dan An Nahl 102. Marilah pengertian Ruhul qudus dari
ayat 87 itu kita fushshilatkan dengan Al Baqoroh 253. “ Itulah Rasul yang lain. Diantara mereka
ada Rasul yang Allah berbicara langsung dengan dia. Dan Allah telah mengangkat sebagian
mereka beberapa derajat lebih tinggi dari yang lain. Dan kami telah berikan kepada Isa anak
Maryam, tanda tanda yang nyata dan kami telah menguatkannya dengan Ruhul Kudus. Dan
sekiranya Allah berkehendak tentulah tiada berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah
rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda yang nyata, akan namun
mereka perselisihkan. Maka diantara mereka ada yang beriman, dan ada pula yang tidak
beriman. Dan sekiranya Allah berkehendak, tentulah mereka tidak berbunuh-bunuhan. Akan
namun Allah mengerjakan apa yang Ia kehendaki.
Pemahaman :Meskipun semua para mursalin itu yaitu utusan Allah, semuanya pantas untuk
diteladani dan layak untuk diikuti. Namun sebagian mereka mendapat keistimewaan-
keisimewaan tertentu. Keistimewaan atau keutamaan tertentu hanya kehendak Allah dan hanya
Allah saja yang mengetahui persis dari segala hikmahnya. Misalnya :
a. Nabi Adam disebut dengan Kholqillah, sebab Adam diciptakan langsung oleh Allah,
tanpa perantara. Lihat Ali Imroon 59.
b. Nabi Ibrahim diberi gelar “Kholilullah”. Kesayangan Allah. sebab semua tugasnya
diselesaikan dengan sangat tuntas. Lihat An-Nisa 125
c. Nabi Musa berpredikat Kalamullah. Sebab hanya dia yang pernah pernah langsung diajak
berbicara dengan Allah. Nabi musa memperoleh wahyu tanpa perantara Jibril. An Nisa
164
d. Isa Ibn Maryam digelari Ruukhillah. Sebab dia diperkuat dengan ruhul qudus.
e. Nabi Muhammad berfungsi sebagai “Rakhmatan Lil Alamin = pembawa rakhmat untuk
semesta alam. Lihat An- Anbiya 107
Jadi Ruhul Qudus itu yaitu suatu keistimewaan yang khas bagi Nabi Isa. Dan sesudah kita
selesai membahas ayat ini, kita akan kembali kepada ruhul Kudus yang menjadi keistimewaan
Nabi Isa. “ Akan namun Allah mengerjakan apa yang Ia kehendaki, yaitu bahwa bunuh-bunuhan,
sesudah zaman Rasul, padahal mereka sudah mendengar berbagai keterangan mengenai
keagamaan. Marilah kita Lihat peristiwa sejarah manusia :
a. Perang Salib merupakn perang antara agam langit untuk memperebutkan tempat suci
yaitu Baitul Maqdis. Kaum muslimin dan orang nashara saling bunuh membunuh sebab
persoalan agama.
b. Kasus perang di eropa antara Katolik dan Protestan menimbulkan korban yang tidak
sedikit.
c. Perang saudara antara Ali Bin Abi Tholib dengan Ma’awiyah memakan banyak korban.
Demikan contoh-contoh yang bisa kita ambil dari sejarah. Dan marilah kita coba mencari apa
yang menjadi seba-musabab dari timbulnya peperangan ini .
a. Agama yaitu sesuatu yang sangat peka. sebab agama sesorang bisa menjadi demikian
emosionalnya, yang dengan sendirinya mudah tersinggung. Mudah tersinggungnya inilah
yang biasanya meletupkan insiden yang menjadi penyeba khusus dari suatu peristiwa
berdarah.
b. Masalah agama yaitu masalah yang pelik, yang membutuhkan pemahaman yang
sesungguhnya serius. sebab pada umumnya dari manusia yaitu berpembawaan
pemalas, maka mereka tidak mau bersusah-payah untuk memahami masalah agama yang
pelik ini . Dan sebagai akibatnya akan mudah sekali timbul kesalahpahaman.
Kesalahpahaman pada mulanya diawali dengan cekcok mulut, yang akhirnya berujung
dengan kekerasan fisik, yang jika dalam ukuran besar melibatkan umat tentu bisa terjadi
peperangan.
c. Dasar agama yaitu ke-Ikhlasan. Jika orang beragama telah kehilangan ke-Ikhlasannya,
maka sesungguhnya dia telah kehilangan agamanya. Dia sebenarnya sudah tidak
beragama lagi! Sebab secara ukhrowi dia tidak akan mendapatkan hasil usahanya selama
perjuangannya di Dunia. Mengapa begitu ? Lalu untuk siapa dia beramal ? Mungkin
untuk ambisinya atau untuk kehormatannya atau kepentingan ekonominya. Yang penting
jika bukan sebab keikhlasannya maka berarti bukan untuk Allah, namun untuk selain Nya.
Dan jika sudah tercabut ke-Ikhlasannya maka akan berlaku : Tujuan menghalalkan segala
cara, sehingga bunuh-membunuh bila perlu diperlukan demi tercapainya maksud.
d. Azas Kebebasan beragama. Antara manusia sesamanya, hanya menjadi pengingat satu
sama lain. Tidak lebih dari itu. Bikan jadi pemaksa kehendak. Jika Prinsip kebebasan itu
kita lepaskan maka yang pertama-tama akan terjadi yaitu cara beragama tanpa disertai
kesadaran beragama. Akibatnya Dhohir beragama, namun hakikinya tidak beragama. Orang
yang kosong seperti ini akan mudah dihasut untuk melibatkan diri dalam suatu
pergolakan yang hanya akan menimbulkan bencana.
e. Prinsip bahwa peperangan bersifat darurat. Allah hanya mengizinkan melakukan
peperangan untuk kepentingan menghilangkan fitnah. Dan fitnah itu yaitu suatu usaha
yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghalangi peribadatan kita. Dan inilah
yang sesungguhnya maksud dari ungkapan : Al Fitnatu Asyaddu Minal Qotli = Fitnah
lebih kejam daripada pembunuhan ialah bahwa tindakan orang kafir merintangi
peribadatan kita yaitu jahat. Dan tingkat kejahatannya lebih besar dari pada pembalasan
yang kita lakukan berupa pembunuhan dalam peperangan. Kita tidak akan berperang
kecuali kita kehilangan hak kemerdekaan kita untuk melaksanakan peribadatan . Kita
mengenal dua macam kekafiran : Kafir Kharby dan kafir dimmy, kafir kharby yang
memerangi dan kafir dimmy yang kita lindungi. Bunyi ayat Al baqoroh 191 “Bunuhlah
mereka itu dimana saja kamu dapati dan usirlah mereka itu sebagaimana mereka
mengusir kamu. Fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan. Dan janganlah kamu
perangi mereka di sisi Masjidil Kharam, kecuali jika kamu diperangi disana. Jika mereka
memerangi kamu, maka bunuhlah mereka. Demikian balasan untuk orang kafir.
f. Memudarnya wibawa agama. Untuk ummat kita –umat islam—puncak dari segala
puncak kebaikan ummat terjadi di zaman Khoeroh Ummah. Periode ini kurang lebihnya
berlangsung 30 tahun. Berakhir pada Kholifah Ali Bin Abi Tholib. Sesudah itu, zaman
kesultanan, zaman dimana istana lebih dominan daripada agama. Makin lama makin
pudarlah wibawa wibawa agama hingga sekarang, umat telah kehilangan mutunya
sebagai ummat yang beriman. Dan inilah sunnatullah yang harus berlaku !dan sudah
barang tentu ummat yang tanpa mutu seperti ini akan mudah terlibat dalam peristiwa-
peristiwa yang sebenarnya tidak pernah menguntungkan kejayaan agama.
Marilah kita kembali kepada masalah : apa yang dikehendaki oleh Allah tentang berbunuh-
bunuhnya manusia. Berdasarkan uraian ini kiranya Allah berkenan menguji manusia, dalam hal-
hal kita sebagai berikut :
a. Sentimen keagamaan yang timbul dari dari kepekaan agama berdampak ke arah ingin
menjadi pahlawan di saat damai tidak ada peperangan ataukah berdampak syuhada dari
jihad fi sabilillah. Orang yang beriman dan memiliki keberanian tentu akan menyimpan
keberaniannya di masa damai dan baru akan mendemonstrasikannya pada saat benar-
benar dibutuhkan pada waktu terjadinya peperangan.
b. Rasa tanggapnya tehadap peliknya masalah agama apakah berkecenderungan
bermujaddalah atau perdebatan yang menimbulkan permusuhan ataukah ke arah mencari
kebenaran sejati dengan tempat rujukan pokok Al-Quran dan Hadist. Di dalam masalah
agama, orang yang hanya senang untuk melakukan debat kusir, tandanya bahwa dia
tidak serius dalam agamanya. Orang yang serius dalam agamnya merupakan pembawa
perdamaian dalam masalah kebenaran sejati. Sedang mereka yang tidak serius yaitu
pembuat kerusuhan.
c. Adapun ujian ke-Ikhlasan yaitu bahwa orang yang ikhlas akan menempatkan
kepentingan agamanya di atas kepentingan segalanya. Dan mereka yang tidak ihklas akan
menempatkan kepentingan agama di bawah kepentingan yang lain.
d. Orang yang beragama dengan penuh kesadaran mengetahui apa yang menjadi tanggung
jawab atas dirinya dan tanggung jawab terhadap Allah atas orang lain. Mereka akan
memegang prinsip : Peliharalah dirimu dan ahlimu dari siksa api neraka. Dan yang
sebaliknya orang yang kosong akan menjadi penganjur bagi orang lain, namun melupakan
diri sendiri. Dia memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu.
e. Cara pembelaan terhadap agama yang dibenarkan oleh Allah yaitu hanya ditujukan
terhadap kepentingan menghilangkan fitnah. Jenisnya peperangan sama sekali tidak
diizinkan.
f. Pengaruh wibawa agama dapat terlihat pada materialistis atau tidak materialitasnya para
pengikutnya. Jika suatu agama sudah materialistis, maka runtuhlan wibawa dari agam itu.
Agama yang tujuannya yaitu akhirat, maka tujuan ini makin memudar berganti dengan
serba kemunafikan, kepura-puraan untuk mengejar kepentingan pribadi namun kedoknya
agama. Dan dalam keadaan seperti inilah dalam keadaan konflik masing-masing pihak
sedang mengejar kepentingan sendiri-sendiri, maka satu sama lain baik antara orang-
orang yang seagamanya maupim berlainan agama berhadap-hadapan sebagai lawan dari
kepentingan yang dibelanya. Tingkat permusuhannya, dimulai dari saling menjegal dan
bila perlu saling membunuh.
Kesimpulan :Peperangan agama yang seharusnya tidak bisa terjadi kecuali jika prinsip Al
Fitnatu Asyaddu Minal Qotli terpaksa harus dilaksanakan , sebab prinsip ini sudah dikalahkan
oleh : Sentimen agama yang tidak sehat, nafsu permusuhan yang timbul sebagai akibat
kebuntuan dalam mencari kebenaran agama, dan memudarnya wibawa agama, sehingga
terjadilah pengaliran darah yang seharunya tidak harus tejadi.
Catatan :Jenis peperangan yang tampak dhohirnya tidak berlatar belakang agama, seperti perang
dunia I dan II, perang Vietnam, perang Korea, perang kemerdekaan dan terakhir perang teluk,
penyebabnya yaitu sebab ekonomi. Orang menjadi materialistis disebabkan oleh memudarnya
agama sehingga darah manusia menjadi halal sebab nya.
Perhatian :Peristiwa peristiwa yang melukiskan permusuhan agama dan contoh paling kecil :
masalah khilafiyah hinnga terjadi peperangan sebagai contoh terbesarakan selalu disaksikan oleh
dunia, hingga terjadinya hari kiamat. Sebab itulah ujian dari Allah tentang hakekat kehidupan ini.
Kita ,,tidak usah terkejut jika membaca sejarah bahwa di Baghdad pernah terjadi peristiwa bunuh
membunuh diantara pemeluk agama islam madzhab Syafi’I dengan madzhab Hambali hanya
sebab perkara : Mengeraskan bacaan Basmallah dalam Sholat. Demikkianlah fakta yang ada!
Oleh sebab itu bukankah yang terbaik bagi kita yaitu melaksanakan perintah : Quu anfusakum
wa ahlikum naaro ! Semoga kita lulus dari ujian !
Masalah : Rukhul qudus
Seperti yang telah kita ketahui bahwa ruhul qudus yaitu keistimewaan Nabi Isa. Pada ayat 253
al Baqoroh Allah hanya menyatakan “Kami telah menguatkannya dengan ruhul qudus. Apa
keistimewaan yang Allah berikan pada Nabi Isa dengan rukhul qudusnya ? Yang bisa menjawab
ayat ini dengan setepeat-tepatnya yaitu ayat –ayat berikut :An-Nisa 171. “Hai Ahli kitab,
janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu dan janganlah kamu berkata terhadap Allah
melainkan dengan kebenaran. Sesungguhnya Al Masih Isa anak Maryam, hanyalah seorang
Rasul Allah dan kalimatnya, disampaikanNya kalimat itu kepada Maryam dan ruh itu dari
padaNya. Sebab itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulnya dan janganlah kamu
katakan Tuhan itu bertiga. Berhentilah kamu, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allah
Tuhan yang Esa. Maha suci dia, dari mempunyai anak. Baginya apa apa yang ada di langit dan
apa apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai wakil.
Pemahaman :Yang dimaksud dengan berlebihan-lebihan dalam agama yaitu meyakini dan
mengimani bahwa Isa ibn Maryam yaitu putra Tuhan sebab : ruhnya berasal dari Tuhan, hanya
sebab pemahaman terhadap bagian ayat yang menyatakan: “dan ruh itu daripadanya” = yaitu
ruhnya Allah sehingga Isa menjadi Putra Tuhan. Yang benar yaitu : 1. Al Masih Isa Ibn
Maryam hanyalah rasul dari Allah. 2. “dan kalimatnya” = kata, Kun. Dari Allah telah
disampaikannya kepada Maryam dan kata Kun benar-benar berasal dari Allah dan bukan yang
lain.
Singkatnya :Nabi Isa hanyalah seorang Rasul dari Allah sedang kejadiannya di istimewakan
oleh Allah , tidak dari prosedur Sunatullah yang lazim. namun melalui kehendakNya dengan kata
: Kun, sehingga jadilah Nabi Isa sebagaimana dikehendaki Allah. Maksudnya jika Allah
berfirman : Kun terhadap kejadiannya Nabi Isa, maka fa yakunlah Nabi Isa ini , artinya =
maka jadilah Nabi Isa ini . Dan inilah ilmu Allah !. Untuk lebih jelasnya, kita periksa Al
Imroon 45 “(ingatlah) ketika malaikat berkata : ya Maryam Sesungguhnya Allah memberi kabar
gembira kepada engkau dengan kalimat dari padaNya(yaitu seorang anak), Namanya : Al Masih
Isa ibn Maryam, yang mempunyai kebesaran di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang
yang dekat dengan Allah”
Penjelasan :Kejadiannya Nabi Isa yaitu melalui kata Kun dari Allah. Sementara itu bisa kita
Fushshilatkan dengan Al Imroon 59 : “Sesungguhnya umpama (kejadiannya) Isa di sisi Allah,
seperti (kejadiannya) Adam. Allah jadikan dia dari tanah. Kemudian Allah berkata padanya :
Jadilah ! maka jadilah ia “. Untuk melengkapi uraian mengenai masalah Ruh, marilah kita kutip
ayat 26-29 Al Hijr : “Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari tanah kering, dari tanah
hitam yamg telah berubah. Jin kami ciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas.
(Ingatlah) ketika Tuhan berkata kepada malaikat : “Sesungguhnya Aku meciptakan manusia dari
tanah kering yang telah berubah. Apabila Aku sempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan ke
dalamnya dari Ruh-ku, maka meniaraplah mereka sujud kepadanya (Adam)”
Penjelasan :Maksud dari “dan kutiupkan ke dalamnya dari RuhKu = dan kufirmankan untuk
kesempurnaan Adam itu dengan kalimat : Kun !. Jika kata Kutiupkan ke dalamnya diartikan
secara harfiah tentu akan memberikan kesan batang tubuh adam yang terbuat dari tanah itu
seolah-olah seperti gelembung kosong yang kemudian Allah meniupkan Ruhnya atau nyawanya
kedalamnya. Yang seperti ini teknologinya manusia dan bukan teknologi dari Allah yang cukup
dengan kata : Kun.
Kesimpulan :Kata ruh harus diartikan kalimat Kun dari firman Allah bila Dia menghendaki
sesuatu harus berwujud. Dan kata ruh sama sekali bukan berarti nyawa. Ruhul qudus bukan
Jibril, namun kalimat Kun yang merupakan ilmu dan teknologinya Allah bila Dia berkenan
menghendaki sesuatu.
Marilah kita kembali pada ayat An Nisa 171 yang sedang kita kaji : “dan janganlah kamu berkata
terhadap Allah melainkan dengan kebenaran = Janganlah kamu katakana bahwa Tuhan bertiga,
yaitu : Trinitas yang terdiri dari Tuhan Bapa, Tuhan putra =yesus, dan Ruhul Qudus. Atau Allah,
Yesus dan Maryam. Yang benar yaitu : 1. Allah yaitu Tuhan yang Maha Esa. 2. Bahwa Allah
Maha suci dari segala sifat-sifat dari mahkluknya, seperti punya anak dan lain-lain seperti yang
termaktub di dalam Kejadian pasal 6 Ayat 6 yang mengatakan “Maka bersesallah Tuhan sebab
telah dijadikannya manusia di atas bumi, maka ia menduka citakan hatinya”. Selanjutnya Allah
memerintahkan kepada Ahli kitab: “Berhentilah kamu, itu lebih baik bagimu! Maksudnya yaitu
: 1. Supaya Ahli Kitab kembali pada kemurnian tauhid. 2. Jangan mengubah isi Taurat dan Injil
(jangan berkata mengenai Allah kecuali dengan kebenaran). Maksud dari : “Baginya apa-apa
yang di langit dan apa apa yang di Bumi = Semua yang ada di Bumi yaitu makhluk Allah
termasuk Nabi Isa pun yaitu makhluk Allah dan bukan Putra Allah sebagaimana diajarkan oleh
aslinya agama langit. Oleh sebab Allah itu sesungguhnya Maha perkasa, maka walaupun Dia
tunggal –Allah yaitu Esa—namun baginya cukup seorang diri untuk menjadi wakil atau pelindung
dari semua makhluknya
Kesimpulan dari An Nisa 171 yaitu :
a. Meng-ada-ada di dalam masalah ketuhanan sebagaimana dilakukan oleh Ahli Kitab dan
kaum musyrikin pada umumnya –meninggalkan ajaran kemurnian tauhid—dinamakan
berlebih-lebihan dalam agama.
b. Mengubah-ubah isi kitab suci yaitu : Mengatakan mengenai Allah tanpa didasari
kebenaran.
c. Kejadiannya Nabi Isa yaitu berdasarkan : Kalimat KunNya dari Allah.
d. Ajaran kemurnian Tauhid yaitu : Semua yang ada di langit dan di bumi yaitu milik
Allah, tidak boleh dipertuhankan.
e. Bagi orang beriman hanya membutuhkan Allah selaku pelindung.
Catatan :
a. Di dalam Bahasa semit –Bahasa arab dan ibrani—terdapat dua perkataan yang didalam
Bahasa arabnya : Ibnun dan Waladun, yang keduanya mempunyai arti sama yaitu : anak.
Beda antara keduanya ialah :Ibnun mempunyai arti majazi atau rati ungkapan, sedang
waladun yaitu arti yang sebenar-benarnya. Orang yahudi bukan tidak mengetahui—namun
memang sengaja pura-pura tidak tahu—tentang makna : Uzer Ibnullah, misalnya yaitu
Uzer kekasih Allah, bukan user anak Allah. Saking cerdasnya tokoh ini dia diberi gelar
Ibnullah. Sebagaimana misalnya juga bisa terjadi bahwa orang yang sangat jahat bisa
dinamakan “anak setan”, yang juga mempunyai arti majazi atau ungkapan, bukan arti
anak setan dalam arti yang sebenarnya. namun kaum nasrani telah mengartikan kata Ibnun
dengan waladun, sehingga akibatnya nabi Isa yang Ibnullah diartikan sebagai putra Allah.
Inilah kesalahan kedua mereka sesudah kesalah mengartikan ruhillah dengan nyawa
Allah.
b. Sehubungan dengan fakta bahwa Isa Ibn Maryam telah dipertuhankan oleh umat Nasrani,
maka Rasullullah sedemikian khawatirnya terhadap kemungkinan kesalahan ummatnya
sendiri sehingga beliau pernah bersabda : “Janganlah kamu angkat-angkat aku,
sebagaimana orang Nasrani mengangkat-angkat anak Maryam. Aku ini lain tidak yaitu
hamba Allah. Sebab itu katakanlah : hamba Allah dan utusan Allah” (H.R Bukhori)
c. Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan kepada sahabat-sahabatnya : “Demi Allah.
Tidaklah aku senang hati jika kamu angkat-angkat aku melebihi dari kedudukan yang
telah didudukan aku oleh Allah padanya. Aku ini yaitu Muhammad anak Abdullah,
seorang hamba Allah dan Rasulnya.
Dari pembahasan diatas ternyata memberikan kesimpulan bahwa ruh yaitu ilmu dan
teknologinya Allah, bila Dia berkenan mewujudkan sesuatu yang dikehendakinya, cukuplah
baginya dengan hanya berfirman : kun maka fayakunlah apa yang Dia kehendaki. Untuk lebih
meyakinkan lagi, marilah kita kaji lebih lanjut masalah ruh ini, satu dan lain hal agar supaya
lengkaplah pembahasan ruh ini dan dengan lengkapnya uraian yang diharapkan bahwa kita akan
makin yakin terhadap kemampuan Allah selaku Kholiq dengan teknologi Kun-Nya.
Ayat An-nahl 1-9 : “ Telah hampir dating siksa Allah, maka janganlah kamu meminta
dipercepat, Maha suci Allah dan Maha Tinggi dia dari pada apa yang mereka persekutukan(1).
Allah mengutus Malaikat untuk melaksanakan ruh dari perintahnya kepada siapa yang
dikehendakiNya, diantara hamba-hambaNya, yaitu hendaknya kamu membawa kabar takut,
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, sebab itu takutlah kamu kepadaKu(2). Allah telah
menjadikan langit dan bumi dengan haq, Maha Tinggi Allah dari pada apa yang mereka
persekutukan(3). Allah telah menjadikan manusia itu dari air mani, maka tiba-tiba manusia itu
menjadi penantang yang nyata(4). Dan Allah telah menjadikan binatang-binatang yang empat
kaki, kamu memperoleh padanya yang memanaskan badanmu dan beberapa manfaat lain dan
dari padanya kamu makan(5). Pada binatang-binatang itu kamu mendapat keindahan, ketika
kamu membawanya ke kandang dan ketika melepaskannya(6). Binatang-binatang itu membawa
beban kamu ke negeri yang tidak dapat kamu sampai padanya, melainkan dengan susah payah.
Sesungguhnya tuhanmu Maha Penyantun lagi maha Penyayang(7). (Dia cipatakan) Kuda, bighal
dan keledai, supaya kamu mengendarainya dan menjadi perhiasan. Dan dia menciptakan apa
yang tidak kamu ketahui(8). Hanya Allah menerangkan jalan yang lurus, diantaranya ada jalan
yang bengkok. Kalau dia menghendaki, niscaya ditunjukiNya kamu semuanya(9).
Pemahaman : ayat 1 : berbeda dengan Nabi-nabi sebelumnya , dengan Nabi Muhammad saw
Allah terikat janji bahwa adzab baru akan jatuh bila yang bersangkutan telah sampai ajalnya.
Sebagaimana diterangkan pada ayat An-Ankabut 53 : “Mereka(kaum Musrikin Quraisy) itu
minta kepada engkau supaya disegerakan siksa itu. Kalau tiyaitu janji yang sudah ditentukan,
niscaya mereka ditimpa siksa itu. Demi siksa itu akan tiba pada mereka dengan sekonyong-
konyongnya, sedang mereka tidak sadar”
Penjelasan :permintaan orang Quraisy itu bersifat olok-olok sebab mereka sesungguhnya tidak
yakin bahwa siksa Allah akan datang kepada mereka. Ayat ini memang ditujukan untuk kepada
kaum musyirikan, ketika orang musyrikin meminta supaya—dalam arti menantang—siksa atas
mereka dipercepat, Allah hanya menjawab : “Telah hampir datang siksa Allah”. Dan ketika
Allah menjawab kaum orang musyrikin quraisy dengan firman : “ataa amrullohi”Maka
gelisahlah hati para sahabat Rasulullah, sehingga turunlah kelanjutan ayat itu: “Fa laa tasta jiluu”
= maka janganlah meminta untuk dipercepat, sehingga mereka merasa tenteram kembali
(diriwayatkan oleh Marduwaih dari Ibn Abbas). Di ujung ayatnya Allah memperingatkan kepada
kaum musyrikin bahwa Allah terlalu suci dan terlalu tinggi derajatnya jika hanya dibandingkan
dengan berhala-berhaa yang mereka pertuhankan.
Ayat 2 :, juga melayani ceewetnya kaum musyrikin Qurys. Orang-orang kafir bertanya kepada
Muhammad : Bagaimana engkau mengetahui segala urusan-urusan itu, yang hanya diketahui
oleh Allah sendiri ? Dan bagaimana engkau bisa mengetahui rahasia-rahasia Allah dan hokum-
hukumnya ? Maka Allah menjawabnya dengan ayat 2 ini : “Allah mengutus malaikat untuk
melaksanakan Ruh dari perintahnya” = Allah mengutus malaikat untuk melaksanakan kehendak
KunNya Allah agar supaya dikuasainya ilmu mengenai rahasia-rahasia Allah dan hukum-
hukumnya, yang mestinya hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Jelasnya : Allah mengutus
Jibril untuk memberikan kursus mengenai : rahasia-rahasia Allah dan hukum-hukumnya dengan
metodologi Ilmu dan Teknologi Kun. Kepada siapa siapa kursus itu diberikan ? Kursus itu
diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya, diantara hamba-hambaNya. Dan tentuny a yang
dimaksud yaitu : para Nabi dan rasul. Bukan sembarangan orang beroleh kesempatan ini.
Hanya orang-orang pilihan Allah saja yang diberi kesempatan menjadi pintar secara mendadak
dan mengagumkan. Dan diantara orang yang pernah memperoleh kursus semacam ini tentunya
Nabi kita Muhammad saw. Para Nabi dan rasul sesudah menguasai rahasia ketuhanan dan
hukum-hukumnya. sebab mereka telah dikursus dengan metodologi Kun, berkewajiban untuk :
mengajar manusia/umatnya supaya : 1. Takut kepada Allah. 2. Hanya bertuhankan Allah. 3.
Memahami bahwa Adzab Allah yaitu pedih. = Dan dengan ilmu dan teknologi : Kun Allah,
juga menjadikan :
a. Langit dan bumi dengan sebenar-benarnya
b. Manusia dari air mani
c. Binatang ternak
d. Binatang-binatang pengangkut seperti : kuda, Bighal, dan kedelai. = namun dalam
kenyataannya Allah yang Maha tinggi itu, oleh kebanyakan manusia telah :
dipersekutukan dengan yang selainnya dan ditantang dengan cara yang nyata. Padahal
Allah yang menciptakan kesemuanya ini, termasuk manusia. = yang dimaksud penantang
yang nyata, menurut peristiwanya yaitu –Ubay Ibn Khafah, yang tidak bisa percaya
bahwa manusia akan dibangkitkan kembali besok pada hari kiamat sesudah menjadi
tulang belulang, bahkan telah menjadi debu dan tanah. Dia datang kepada Rasulullah saw
dengan membawa sepotong tulang yang sudah rusak berkata : Apakah engkau ya
Muhammad mengajarkan bahwa Allah bakal menghidupkan tulang ini, sesudah yang
rusak seperti ini ? berkenaan dengan kasus ini, maka turunlah An Nahl ayat 4 = manfaat
binatang ternak bagi manusia yaitu sedemikian besarnya seperti ; daging, susunya,
sebagai alat angkut dan merupakan hiasan dan keindahan yang membawa perasaan
bahagia tersendiri bagi pemiliknya dan yang melihatnya. = ayat-ayat yang relevan dengan
masalah ternak yaitu :
a. Ayat : 21-22 Surat Al Mu’minun : “Sesungguhnya tentang binatang-binatang ternak
itu menjadi Ibrokh(pengajaran) untukmu. Kami beri kamu dengan (air susunya) yang
dalam perutnya dan binatang-binatang ternak itu banyak manfaatnya untukmu dan
diataranya kamu makan (dagingnya)(21). Dan diatas binatang-binatang itu dan diatas
kapal kamu diangkut”(22)
b. Ayat : 79-80 surat Al Mu’min : “Allah menjadikan binatang-binatang ternak untukmu
supaya kamu kendarai sebagiannya dan sebagiannya kamu makan (dagingnya)(79).
Dan untukmu ada beberapa manfaat pada ternak itu, dan diatasnya kamu dapat
menyampaikan hajat yang dalam dadamu dan diatas punggung ternak dan diatas
kapal yang kamu diangkat(80)
Catatan : Walaupun pada zaman sekarang, binatang sebagai alat transportasi sudah
makin berkurang peranannya, namun kiranya tidak mustahil jika dikatakan bahwa
transportasi modern jaman sekarang ini pertumbuhannya tidak akan secepat seperti
yang pernah kita saksikan sekiranya tenaga kuda tidak mengilhami manusia untuk
menggantikannya dengan mesin. = pada ujung ayat 7, dinyatakan bahwa Allah Maha
Penyantun dan Maha Penyayang. Penyantun yaitu suatu sifat yang memperhatikan
terhadap apa yang menjadi kebutuhan. Artinya Allah sangat memperhatikan
kebutuhan manusia. Dan ini bisa dibuktikan bahwa segala yang ada di bumi memang
disediakan bagi keperluan manusia. Gabungan penyantun dan penyayang menjadi
sangat sempurna, yaitu semua milik Allah semua milik Allah diberikan untuk
kepentingan kebahagian manusia. = ujung ayat 8 menyatakan : “Dan Dia
menciptakan apa yang tidak kamu ketahui”. Ada pun penjelasannya sebagai berikut :
Allah memiliki Ilmu dan teknologi ruh atau kun, untuk mewujudkan apa yang
dikehendakiNya. Yang manusia biasa bisa melihat ciptaan Allah sangat terbatas.
Dengan demikian sangatlah terbatanya pengetahuan manusia terhadap Kun nya Allah.
Dan ini lah sebabnya mengapa Allah dalam Surat Al Isna 85 menyatakan : “mereka
bertanya kepada engkau tentang Ruh (atau Kun). Katakanlah : Ruh (Kun) itu
sebagina dari urusan Tuhanku. Kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit”
Marilah persoalan ini kita fushshilatkan dengan :
a. Ayat Al kahfli 109 : “katakanlah :”kalau sekiranya (air) lautan menjadi tinta untuk
(menuliskan) Kalimat Kun nya Tuhanku, niscaya keringlah air lautan itu,
sebelum habis kalimat Kun Nya tuhan, sekalipun kami datangkan tinta sebanyak
itu sebagai tambahan”
Penjelasan : Yang terbanyak yaitu kalimat Kun nya Allah yang difirmankan
untuk memenuhi permintaan penduduk surge
b. Ayat Luqman 27 : “Kalau sekiranya pohon-pohon di Muka Bumi pena dan Laut
menjadi tinta, ditambaha kemudian dengan tujuh laut lagi, niscaya tidak habis
kalimat Allah(dituliskan). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana:
Kesimpulan :
1. Kalimat atau Kata Ruh atau kalimat Kun yaitu ilmu dan teknologi Allah
sebagai Maha Pencipta atau Kholiq.
2. Pengetahuan manusia tehadap kalimat ruh sangat sedikit. = Paket yang sedang
kita bicarakan : ayat 1-9 An Nahl yaitu mengenai : Ilmu dan Teknologi
kalimat Ruh yang merupakan ilmu Allah secara monopoli. Tidak pernah akan
ada pihak lain mana pun yang memlikinya. Hanya sang Maha Pencipta sajalah
yang memiliki ilmu khusus ini! Yang menjadi persoalan sekarang yaitu :
Apakah hubungan anatara kalimat Ruh dengan peringatan Allah yang tertulis
pada pangkal ayat 9. : “Hanya Allah menerangkan jalan yang lurus,
diantaranya ada jalan yang bengkok”. Jalan yang lurus yaitu jalan yang tidak
bengkok, yang tidak sesat, berarti yang tidak Musyrik. Dan Musrik artinya
menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluknya. Contoh : Allah
mempunyai anak. Lalu misal : Di dalam mencipta makhluknya Allah memang
bekerja. Allah itu sendiri Maha Bekerja. namun ketahuilah bahwa cara Allah
tidak sama seperti cara bekerja manusia. Maksud ujung ayat :”Sekiranya
Allah menghendaki, niscaya ditunjukinya kamu semuanya = sekirannya Allah
tidak bermaksud menguji manusia, maka semua manusia –tanpa melalui
perjuangan beribadah—secara otomatis tidak musyrik, sehingga masuk sorga
semuanya.
Ruukhul Amien = Ruukhul Qudus
Ayat 192-212 Asy-Syu’ara : “Dan bahwasanya Al Quran yaitu kitab yang
diturunkan oleh Tuhan yang memelihara segala alam ini (192). Telah diturunkan
dengan Ar-Ruukhul Amien (193). Ke dalam jiwa engkau supaya menjadi salah
seorang yang membawa kabar takut (194). Di turunkan dalam bahasa arab yang
nyata. (195). Dan bahwanya sebutan Al Quran ini sungguh terdapat dalam kitab-kitab
orang-orang dahulu (196). Apakah tidak menjadi suatu tanda bagi mereka bahwa ahli
– ahli agama Bani Israel megetahui akan hal ini(197). Dan sekirannya kami turunkan
Al Quran itu datas sebagian orang Ajam (198). Lalu dibacakannya kepada mereka,
tiyaitu mereka beriman (199) Sedimikan kami telah teguhkan nafsu mengingkarkan
itu dalam jiwa-jiwa orang yang berdosa(200). Maka mereka tidak akan beriman
hingga mereka melihat adzab yang pedih (201). Maka adzab akan kudatangkan
kepada mereka secara tiba-tiba sedang mereka tidak mengetahuinya (202) Maka
mereka berkata : Apakah tidak diberikan perunundaan kepada kita ini ? (203).
Apakah mereka meminta di segerakan adzab kami (204). Bagaimana pendapat
engkau jika kami berikan kepada mereka kejayaan hidup beberapa lama masanya
(205). Kemudian datang kepada mereka adzab yang dijanjikan (206). Tidyaitu
kejayaan mereka itu dan kemewahan hidupnya memlihara mereka dari adzab (207).
Dan tidak kami binasakan suatu kota melainkan telah ada baginya Rasul-rasul yang
dipertakutkan mereka (208). Untuk peringatan kepada mereka. Dan tiyaitu kami ini
orang yang dzolim (209). Dan tiyaitu setan-setan itu yang menurunkannya dan tidak
akan sanggup menurunkannya (211). Bahwasanya setan-setan itu sungguh
disingkirkan dari pada dapat mendengar pembicaraan malaikat (212).
Pemahaman :(192) kiranya cukup jelas. Yakni al quran bukan berasal dari siapa pun
kecuali dari Allah.(193-194) Menerangkan mengenai teknik penyampaian dan tujuan
diturunkannya Al Quran/ Allah melalui Jibril dengan menggunakan ilmu dan
teknologi rukhul amien = kalimat rukhul qudus = kalimat Kun, menanamkan Al
Quran dalam dada dan pengertian jiwa nabi saw sehingga beliau mengerti betul
tentang : 1. Maknanya. 2. Maksud dan tujuannya. 3. Cara menyampaikannya kepada
manusia. 4. Cara menerpakannya hokum-hukumnya kepada umat. Inti penyampaian
da’wah Rasulullah saw—dan demikian juga pada da’wah pada zaman kapan pun—
yaitu agar manusia mempunyai rasa takut kepada Allah. Manusia harus menjadi
ulama –sebagai pewaris atau generasi penerus Rasulullah saw—sehingga agama
islam lestari adanya. Dengan demikian kualitas umat tidak merosot menjadi umat
yang ma’siyat seperti sekarang keadaannya. Uamt tanpa mutu seperti buih air bah.
Umat yang takut pada Allah yaitu umat yang beriman. Yang yakin pada agamaNya,
keakinan yang bukan sekedar keyakinanyang terucapkan pada mulut. namun terhunjam,
tertanam dalam hati yang bisa dibuktikan dengan amalan peribadatan yang nyata,
baik amalan fisik maupun amalan harta. = jika Allah menetapkan dan menguatkan ke
imanan dalam dada dan jiwa orang –orang neriman dengan ilmu dan teknologinya
kalimat Ruh atau kalimat Kun sebagaimana disebutkan oleh ayat 22 Al Mujahaddah
“Tidak kamu dapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir yang berkasih
sayang dengan kaum-kaum yang melawan Allah dan Rasulnya, walaupun orang itu
Bapa Mereka, anak mereka atau saudaera mereka atau keluarga mereka. Itulah orang-
orang yang dituliskan oleh Allah keimanannya di dalam hati-hati mereka dan Allah
menguatkan mereka dengan sesuatu ruh dari padaNya; dan Allah masukan mereka ke
dalam surge yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya.
Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi Allah. Itulah Hizbullah. Ketahuilah
bahwa Hizbullah itu orang-orang yang mendapat kemenangan.
Penjelasan :Azbabun Nuzulnya ayat ini mengenai Abu Ubaidah Ibn Jarrah yang
dalam pertempurannya badan Abu ubaidah selalu di tantang oleh ayahnya. Dan Abu
Ubaidah berusaha menghindarkan diri. Oleh sebab tantangan ayahnya bersifat sangat
mendesak, maka dengan terpaksa menamatkan riwayat ayahnya. Seorang muslim
yang sejati yaitu yang cintanya pada Allah, Rasul dan Jihad agamanya lebih besar
terhadap orang tuanya. Dan tehadap orang macam Abu Ubaidah Allah mengeluarkan
Surat Keputusan Kalimat ruh demi memperkukuh keimannanya. Dan siapa mereka
itu ?mereka yaitu Hizbullah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir yang
benar-benar bersifat tegar terhadap musuh-musuh Allah dan Rasulnya. Walaupun
mereka itu : bapaknya atau anaknya atau saudaranya atau familinya sendiri.
Kesimpulan : Hizbullah yaitu pejuang agama di medan tempur, yang benar-benar
beriman pada Allah dan hari akhir, yang benar-benar bersifat tegar terhadap musuh-
musuh Allah dan Rasulnya sehingga sebab nya Allah mengukuhkan keimanannya
dengan kalimat Ruh Nya.
Salah satu tugas Rasul yaitu : Litakuuna minal mundzarin = menjadi pembawa
kabar takut. Jika sesudah kita mengetahui masalah agama, namun rasa takut kita pada
Allah tidak bertambah, hal itu merupakan pertanda bahwa pengetahuan agama yang
kita peroleh sesungguhnya belum menembus ke dalam hati kita. Pengetahuan itu baru
bernilai teoritis dan belum bersifat praktis yang langsung bermanfaat terhadap arti
kehidupan agama kita. Sentuhan pokok agama terhadap manusia yaitu rasa takutnya
kepada Allah. Inilah masalah kunci, yang menyebabkan orang terhindar dari dosa dan
memperoleh pahala. Dan bagi mereka yang takut pada Allah, mereka tidak peduli
apakah :
1. Al Quran diturunkan di dalam bahasa arab ataupun Ajam akan tetap yakin akan
kebenaran sejati yang dikandungnya (195,198,,199)
2. Sebutan Al Quran itu terdapat pada kitab-kitab orang-orang terdahulu atau tidak,
mereka tetap meyakini kebenarannya (196) dan
3. Ada pengakuan atau tidak dari ahli-ahli agama Yahudi, keyakinannya tidak
pernah berubah. (197)
Singkatnya : ayng beriman sebab merasa takut kepada Allah, sedang yang tidak pada
Allah bagaimanapun tidak akan pernah berima, kecuali jika mereka sudah melihat
adzab yang pedih, yang merupakan kesdaran yang datangnya terlambat(201). = Dan
yang tidak beriman sebab tidak takut kepada Allah tidak akan pernah menyadari
bahwa siksa yang akan menimpa mereka akan datang secara tiba-tiba, sebab
datangnya kematian bukankah tidak bisa disangka-sangka ? (202). = Dan yang tidak
takut kepada Allah, sebab nya tidak pernah beriman, pada saat kematian itu datang,
minta agar supaya diberi waktu tangguh (203). Pdahal pada saat mereka hidup
mereka selalu menantang dengan dengan cara olok-plok agar supaya siksa itu
dipercepat (204). = jika dilihat dari kasusnya maka yang dimaksud dengan orang
yang tidak takut kepada Allah itu musuh-musuh Allah dan orang Qurys dan orang-
orang Yahudi dan mereka dengan terang-terangan memerangi Nabi saw dan para
sahabatnya.
Kasusnya : Orang yang tidak takut kepada Allah, akum mujrimin yang terdiir dari
kaum musyrikin Qurys dan kaum Yahudi, memerangi Allah dan Rasulnya, mereka
benar-benar musuh Allah menjadi Aduwwal Lillahi.
Hikmah Ajarannya : Pada zaman sesudah Rasul wafat, maka yang menjadi musuh
Allah dan Rasulnya yaitu umat islam itu sendiri, yaitu mereka yang oleh Allah yang
telah dianugerahi kenikmatan hidup selama bertahun-tahun, namun kekayaan yang
mereka kuasai itu tidaklah berguna bagi mereka sendiri bahkan hanya menyebabkan
datangnya adzab api neraka saja. Penjelasan dari hikmah ajaran ini yaitu
sebagai berikut : ayat 205.206.2007 dari Asy-Syu’ara ini dengan azbaabun Nuzul
sebagai berikut : Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Azbaabun Nuzul sebagai
berikut : Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari Nabi saw tampak
gelisah, sehingga para sahabat bertanya kepadanya. Beliau menjawab : mengapa tidak
? tampak kepadaku bahwa musuhku yaitu umatku sendiri sesudah aku mati. Pada
saat itu Nabi sedang dalam keadaan gelisah, sebab pada waktu itu Allah sedang
memberikan ramalan –tentu melalui Jibril—nubuah atau ramalan mengenai nasib
ummatnya pada waktu yang akan datang, berbarengan dengan itu Allah menurunkan
ayat 205-207 yang dimulai dengan pertanyaan Allah terhadap beliau : tentang
pendapat Nabi terhadap orang-orang yang oleh Allah telah diberi anugrah kenikmatan
harta benda selama bertahun-tahun, sayangnya yang bersangkutan tidak mampu
memanfaatkan nikmat Allah ini . Hal mana terbukti dengan adanya ancaman
adzab Allah kepada mereka. Maka jawaban dari Nabi : Bahwa musuh Islam yaitu
umat islam itu sendiri !. Jawaban ini ganda terhadap pernyataan Allah, sebab melalui
295 Allah menanyakan pendapat beliau. Sedang para sahabat menanyakan tentang
kegelisahan beliau, kebanyakan dari orang islam yang oleh Allah diberi anugrah
kekayaan tidak menggunakan fungsi social dari hartanya, sebab menngingkari
kewajiban : Infaq, Sodaqoh dan zakat. Dan oramg macam ini lah : orang munafik
setulen-tulennya. Mereka yaitu apa yang dinamakan : Musuh dalam selimut kaum
muslimin.
Kesimpulan :Musuh dalam selimutnya kaum muslimin yaitu kaum munafiqin yaitu
orang-orang kaya dikalangan kaum muslimin yang mengingkari fungsi social dari
harta yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya sebab mereka ingkar membayar :
infaq, sodaqoh, dan zakat.Ayat( 208-209)Perhatikan sejarah umat terdahulu ! bahwa
mereka dibinasakan oleh Allah yaitu umat yang durhaka berlaku ma’siyat terhadap
Allah, sebab mereka tidak takut kepada Allah. Walaupun terhadap mereka oleh rasul
Allah diserukan agar supaya takut pada Allah. Tidak ada umat yang dibinasakan oleh
Allah tanpa sebab kedurhakaan, yakni : sesudah Allah mengutus Rasul terhadap
ummat itu demi menyerukan takut pada Allah namun tidak dihiraukannya, maka Allah
kemudian terpaksa membinasakannya. Ayat yang senada yaitu : 1. An Nisa 15 :
“Barang siapa mendapat petunjuk, maka hanya mendapat petunjuk untuk dirinya.
Barang siapa yang sesat, maka bahaya kesesatan hanya atas dirinya sendiri pula.
Orang yang memikul dosa tiada akan memikul dosa orang lain. Kami tiada menyiksa
suatu kaum, sehingga kami utus seorang Rasul kepadanya”. 2. Al Qoshosh 59 :
“Tuhanmu tiada membinasakan (penduduk) suatu negeri melainkan lebih dulu
diutusnya seorang Rasul di negerinya yang membacakan ayat-ayat kami kepada
mereka. Dan kami tidak membinasakan negeri-negeri itu, melainkan bila
penduduknya dalam melakukan kezaliman”
Seperti sudah dikatakan : tidak ada umat dibinasakan oleh Allah tanpa sebab
kedurhakan. Ini merupakan pembelaan Allah atas diriNya bahwa Allah tidak pernah
berlaku Dzalim, sebagaimana dinyatakan oleh ayat 209 : Harap di ingat bahwa Allah
tidak pernah berlaku Dzolim.
Adapun ayat-ayat yang senada dengan bahwa Allah tidak berlaku Dzolim antara lain :
1. Ali-Imroon 108 : “Demikianlah ayat ayat Allah kami bacakan kepada engkau
dengan sebenarnya. Dan Allah tiada hendak menganiaya orang-orang dalam alam”. 2.
At Taubah 70 : “Tidaklah sampai kepada mereka kabar orang-orang yang terdahulu
sebelum mereka ? (yaitu) kaum Nuh, Ad Tsamud, Kaum Ibrahim, penduduk
Madyan(kaum Syuaib) dan penduduk kaum Luth. ? Telah datang kepada mereka
Rasul-rasul yang keterangan. Bukanlah Allah hendak menganiaya mereka., namun
mereka hendak menganiaya diri mereka sendiri. = Untuk menjawab ocehan-ocehan
orang kafir-Musyirikin Qurys, yang antara lain mengatakan : “Muhammad yaitu
seorang Kahin (dukun) dan Al Quran itu yaitu tenungan yang dibisikan oleh setan
kepada Muhammad, maka Allah menurunkan 210-212 surat Asy-Syu’ara.
Kesimpulan :
1. Rukhul Amien = Rukhul Qudus
2. Jika Allah dengan teknik dan ilmu kalimat Ruhul AMien atau kalimat Ruhul
Qudus menanamkan pengertian Al Quran dalam dada dan jiwa Rasulullah saw
maka demikian pula lah : a. Allah menetapkan dan menguatkan keimanan dalam
dada dan jiwa orang yang beriman untuk menjadi Hizbullah. B. Allah
memperteguhkan nafsu berlaku kafir dalam jiwa kaum mujrimin, disebabkan
mereka tidak takut pada Allah.
Catatan :
Untuk ummat Muhammad saw siksa tidak bersifat tunai di dunia, namun tangguh di
akhirat. Oleh sebab itu pembinasaan Allah terhadap mereka yang durhaka baru akan
dilaksanakan dalam bentuk siksa di akhirat. Dan ini sesungguhnya mengandung arti
sebagai : pemberian kesempatan untuk bertaubat.
Mu’jizat termasuk dalam ruukhul qudus
Ayat : 110 Al Maidah : “Ingatlah ketika Allah berfirman : Hai Isa anak Maryam,
ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkan engkau
dengan ruukhul Qudus (sehingga engkau mampu) bercakap-cakap dengan manusia
dalam buaian (bayi). Dan ketika dewasa Aku mengajarkan kitab hikmah taurat dan
Injil kepadamu dan ketika engkau perbuat bentuk burung daripada tanah dengan
izinku, kemudian engkau tiup padanya, lalu ia menjadi burung dengan izinKu. Dan
engkau sembuhkan orang-orang buta dan yang kena penyakit lepra dengan izinku.
Dan ketika engkau keluarkan orang mati(dari kuburnya dan hidup kembali) dengan
izinku. Dan kerika Aku tahan Bani Israel hendak membunuhmu, ketika engkau
memberikan keterangan kepada mereka, lalu mereka berkata, orang yang kafir
diantara mereka : Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.
Pemahaman :
sebab adanya ruukhul qudus, maka : antara lain Nabi Isa berkemampuan berbicara
dengan manusia pada saat bayi. Dengan demikian, rukhul qudus artinya mu’jizat.
Pada waktu beliau sudah dewasa beliau mampu melakukan seperti hal-hal yang
disebutkan diatas.
Kesimpulan :
Mu’jizat termasuk kedalam : ilmu dan teknologinya ruukhul Qudus.
Ruukhul Qudus memenuhi kebutuhan Risalah
Ayat : 101-105 An-Nahl : “Dan apabila kami letakan suatu ayat di tempat ayat yang
lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui (terhadap) apa yang
diturunkannya, mereka berkata “Sesungguhnya kamu yaitu orang yang mengada-
ada saja”. Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (101). Katakanlah : Rukhul
Qudus bekerja menurunkan ayat-ayat dari Tuihanmu dengan cara sedemikan rupa
untuk memenuhi kebutuhan risalah, untuk memperteguh (hati) orang-orang yang
beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri (102). Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata :
“Sesungguhna Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya
(Muhammmad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad
belajar kepadanya yaitu bahasa ajam (bukan bahasa arab), sedang Al Qur’an yaitu
dalam bahasa arab setulen-tulennya (103). Sesungguhnya orang-orang tidak beriman
keada ayat-ayat Allah, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi
mereka yaitu adzab yang pedih (104). Sungguhnya yang megada-adakan
kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan
mereka itulah orang-orang yang pendusta(105).
Pemahaman :
Ini yaitu masalah : nasakh-mansukh, ayat yang menggantikan dan ayat yang
digantikan. Atau ayat yang menghapuskan sesuatu ayat lain yang dihapuskan. Dan
untuk menerangkan ayat :101, jalan lain yang lebih singkat tidak terlihat kecuali mem
fushshilatkan dengan Al Baqoroh 106-107 : “Tiyaitu kami hapuskan suatu ayat dari
sesuatu ayat atau kami jadikan dia terlupa(niscaya) kami datangkan yang lebih baik
dari padanya atau yang seumpamanya. Tidakkah engkau ketahui bahwasanya Allah
atas tiap-tiap sesuatu yaitu maha kuasa(106) Tidakkah engkau ketahui bahwasanya
Allah, kepunyaanNya lah kerajaan semua langit dan bumi dan tidaklah ada bagi kamu
selain Allah, akan pelindung dan penolong(107).
Marilah kita perhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Allah menghalalkan kepada Nabi Adam untuk mengawinkan putrinya dengan
putranya, kemudian mengharamkannya. Adam pernah besanan dengan dirinya
sendiri
b. Juga Allah menghalalkan Bani Israel menikah dua bersaudara, sekaligus.
Kemudian Allah mengharamkannya dalam undang-undang syariat Taurat dan
sesudahnya
c. Allah memerintahkan Bani Israel membunuh penyembah-penyembah anak lembu,
kemudian menghentikannya.
d. Nabi Isa menghalalkan kembali Bani Israel untuk : mencari ikan di hari sabtu,
makan ikan, daging onta dan gajih yang di zaman Nabi Musa pernah diharamkan.
Jadi keliatannya bahwa yang mansukh—yang dihapuskan yaitu hokum yang oleh
Allah dipandang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman, demi memenuhi
kebutuhan risalah hokum untuk bisa berjalannya syariat agama –yaitu hokum-
hukum Taurat atau Injil. Dan yang bisa menasakhkan yaitu Al Quran. Inilah sebab
sebabnya kaum Yahudi merasa sangat berkepentingan apabila Al Quran
melaksanakan penggantian hokum-hukum Taurat atau Injil. Sehingga mereka
mengatakan : “Sesungguhnya kamu(Muhammad) yaitu orang-orang yang mengada-
ada saja”. KaumYahudi menilai bahwa melaksanakan penggantian hokum taurat atau
injil dengan hokum final dari Al-Quran sebagai tindakan Nabi Muhammad yang
bersifat mengada-ada saja. Hal ini berarti bahwa Nasakh-Mansukh yang ada pada Al
Quran mereka anggap tidak berdasar. Padahal : Nasakh-mansukh termasuk sebagian
dari pekerjaan Allah dengan ilmu dan teknologinya KunNya atau ruukhul qudusNya
sebagaimana diterangkan oleh ayat 102, demi memenuhi kebutuhan risalah. Allah
yang Maha Tahu tentang kebutuhanNya dalam menata makhluk ciptaanNya. Protes
kaum Yahudi terhadap nasakh-mansukh dengan peryataanya : Bahwa Nabi
Muhammad melakukan tindakan yang bersifat mengada-adakan, merupakan protes
terhadap kebijaksanaan Allah. Mereka yang berbuat seperti ini, tidak ridho terhadapa
keputusan Allah! Ini berbahaya ! bukankah Allah yang memiliki kesemuanya ini ?
apa hak kita untuk protes ?
Kesimpulan :
Dengan mempergunakan ilmu dan teknologinya kalimat Kun atau ruukhul qudusNya
Allah di dalam Al Quran me-nasakh-mansukhkan hokum-hukum taurat dan injil,
demi memenuhi kebutuhan risalah syariat agama islam.
Catatan :
Didalam Al-Quran tidak terdapat Nasakh-Mansukh. Pernyataan yang benar yaitu :
Al Quran menasakh-mansukhkan Taurat-Injil. Ayat-ayat dalam Al Quran bukan
bernasakh-mansukh, namun merupakan ayat-ayat peralihan.
Marilah kita bicarakan 103.
Azbabun Nuzul : Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah saw mengajar
seorang abid romawi bule yang bernama Bal’am. Ia tidak bisa berbahasa arab dengan
fasikh. Ketika kaum musyrikin melihat Rasulullah sering keluar masuk rumah Bal’am
mereka berkata : “Tentu Bal’am mengajarnya”. Maka Allah menurunkan ayat ini
sebagai bantahannya.
Ketahuilah bahwa cara Allah mengajarkan Al Quran kepada RasulNya yaitu dengan
ilmu dan teknologi kalimat Kun atau Ruukhul Qudus. Dan kefahaman Rasulullah saw
terhadap Al Quran yaitu sedimikian rupa, sehingga beliaupun dijamin tidak akan
lupa terhadap ayat-ayat Quran seperti yang dinyatakan oleh Al’A’la 6 : “ Nanti kami
bacakan kepadamu (ya Muhammad), sehingga engkau tidak lupa. Alah seterusnya
menerangkan bahwa seandainya Muhammad belajar dari Bal’am, maka tentunya Al
Quran yang berbahasa arab setulen-tulennya, tidak akan bisa disusun oleh pribadi
Muhahammad, mengingat Bal’am bukan bahasa arab, bahkan dia tidak fasih bahasa
arab.
= orang-orang yang tidak beriman – ternasuk orang-orang musyrikin—banyak
cincongnya—antara lain : Al Quran dinyatakan sebagai hasil dari belajarnya
Rasulullah dengan mengambil guru abid romawi : Bal’am. Mereka ini sesungguhnya
hanya mengada-ada sesuatu masalah! Mereka ini hanya mencari satu masalah : yaitu
supaya bisa terus menerus bermusuhan dengan Rasulullah saw dan kaum mu’minin.
Dan inilah fitnah dalam arti sebenar-benar fitnah, yaitu merintangi orang menuju
jalan Allah. Ada pun mengenai teknik yang mereka pakai : kebohongan dan
kedustaan. Dan hakekat dari orang-orang macam ini ialah : mereka tidak beriman.
Demikianlah pemahaman 104-105.
Ternyata rangkaian ayat 102-105 yaitu suatu kasus.
Kasusnya :
Di zaman Rasulullah, orang yang menuduh bahwa Al Quran bukan berasal dari Allah,
namun dari sumber lain misalnya dari Bal’am maka mereka dikategorikan sebagai
pendusta atau mengada-adakan kebohongan
Hikmah ajarannya :
Di zaman sekarang, yang disebut dengan pendusta yaitu siapa saja yang tidak
beriman, yaitu mereka yang membohongi dirinya sendiri demi memuaskan hawa
nafsunya, sebagaimana kaum musrikin membohongi diri.
Ilmu dan Teknologi manusia dibandingkan dengan kalimat ruukh
Ayat 1-18 Al Ma’arif : “orang yang menuntut telah (mengajukan) tuntutan siksa,
ayng (pasti) akan terjadi(1). Bagi orang kafir yang tak dapat menolaknya(2). Adzab
itu datangnya dari Allah yang mempunyai tangga-tangga untuk naik(3). Malaikkat
dan ruukh naik padanya dalam sehari yang ukurannya sama dengan 50 ribu tahun(4).
sebab itu sabarlah engkau dengan kesabaran yang baik(5). Sesungguhnya mereka itu
memandang adzab amat jauhnya(6). Dan kami memandangnya amat dekat (7). Di
hari langit cair bagai hancuran tembaga(8). Dan Gunung-gunung bagai bulu yang
ditiup(9). Dan tiada seorang teman setia (kerabat) menyakan temannya (10). Padahal
mereka itu berpandang-pandangan. Orang berdosa ingin, kalau dapat mereka
menebusi dirinya dari adzab pada hari itu dengan memberikan anak-anaknya(11).
Dengan isteri dan saudaranya (12). Dan keluarganya, yang memerikan tempat tinggal
kepadanya(13). Dan dengan semua orang yang ada di bumi. Dia ingin melepaskan
dirinya dari pada adzab dengan cara yang demikan itu(14). Tidak ! sekali-kali tidak !
sesungguhnya neraka itu yaitu api yang menyala (15). Yang mengupas kulit kepala
(16) dia memanggil orang yang membelakang dan berpaling (17). Dan orang yang
mengumpulkan kekayaan dan menyimpannya (18).
Pemahamannya :





