gun suatu ilusi di atas panggung—untuk
menonjolkan bahwa sandiwara panggung itu hanyalah sebuah ilusi.
Oleh karena itu, teater menjadi cerminan kehidupan manusia pada
umumnya. Teater dapat menunjukkan bahwa `kesombongan muncul
sebelum kejatuhan' dan menampilkan potret keji kelemahan manusia."
William SHAKESPEARE
"Apakah Shakespeare hidup pada periode Barok?"
"Dia menulis sandiwara-sandiwaranya yang terbesar sekitar tahun
1600, jadi dia berdiri dengan satu kaki pada zaman Renaisans dan
satu kaki lagi pada zaman Barok. Karya Shakespeare penuh dengan
kalimat mengenai kehidupan sebagai panggung sandiwara. Maukah
kamu mendengar sebagian ceritanya?"
"Ya."
"Dalam As You Like it, dia mengatakan:
Dunia ini panggung sandiwara,
Dan semua pria dan wanita hanyalah para pemainnya:
Bagi mereka telah ditentukan jalan keluar dan jalan
masuknya;
Dan seorang manusia bisa saja memainkan banyak peranan.
"Dan dalam Macbeth, dia mengatakan:
Hidup ini hanyalah bayangan yang berjalan, seorang aktor
yang gagal melagak dan merepet di atas panggung,
Dan kemudian tidak terdengar lagi; hidup yaitu kisah yang
dituturkan oleh seorang bodoh, penuh bising dan kemarahan,
Tidak bermakna apa-apa."
"Betapa pesimistisnya."
"Dia disibukkan dengan pemikiran tentang betapa singkatnya hidup
itu. Tentunya kamu pernah mendengar tentang kalimat Shakespeare
yang paling terkenal?"
"Ada atau tiada—itulah soalnya."
"Ya, diucapkan oleh Hamlet. Suatu hari kita berjalan-jalan di
atas bumi—lalu pada hari berikutnya kita mati dan hilang."
"Terima kasih, aku dapat memahami pesannya."
"Selain dengan panggung sandiwara, para penyair Barok juga
membandingkan kehidupan dengan impian. Shakespeare mengatakan,
misalnya: Kita ini seperti dalam mimpi, dan hidup kita yang singkat
dijalani dalam keadaan tidur ..."
"Puitis sekali."
"Penulis drama Spanyol Calderon de la Barca, yang dilahirkan
pada 1600, menulis sebuah sandiwara berjudul Hidup yaitu
Sebuah Mimpi (Life is a Dream), di sana dia mengatakan: `Apakah
kehidupan itu? Suatu kegilaan. Apakah kehidupan itu? Sebuah ilusi,
sebuah bayangan, sebuah cerita, dan keutamaannya sangat sedikit,
sebab seluruh kehidupan itu hanyalah impian ...'"
"Dia mungkin benar. Kami membaca sandiwara di sekolah.
Judulnya Jeppe di Gunung (Jeppe on the Mount)."
" O l e h Ludwig Holberg, ya. Dia yaitu tokoh besar di
Skandinavia, yang menandai masa peralihan dari periode Barok ke
Abad Pencerahan."
"Jeppe jatuh tertidur di sebuah selokan . . dan terbangun di tempat
tidur sang Baron. Maka, dia pikir dia hanya bermimpi bahwa dia
seorang buruh tani miskin. Lalu, saat dia jatuh tertidur lagi, mereka
membawanya kembali ke selokan, dan dia terbangun lagi. Kali ini
dia berpikir dia hanya bermimpi pernah berbaring di tempat tidur
sang Baron."
"Holberg meminjam tema ini dari Calderon, dan Calderon
meminjamnya dari cerita Arab kuno, Seribu Satu Malam. Namun
membandingkan kehidupan dengan impian merupakan tema yang
dapat kita temukan jauh pada masa sebelumnya dalam sejarah, juga
di India dan Cina. Saga Cina kuno Chuangtzu, misalnya,
mengemukakan: Pernah aku bermimpi diriku seekor kupu-kupu, dan
kini aku tidak tahu lagi apakah aku ini Chuang-tzu, yang bermimpi
bahwa aku seekor kupu-kupu, atau apakah aku seekor kupu-kupu yang
bermimpi bahwa aku yaitu Chuang-tzu."
"Yah, mustahil untuk membuktikannya."
"Di Norwegia ada seorang penyair Barok asli bernama Petter
Dass, yang hidup dari 1647 hingga 1707. Di satu pihak dia ingin
menggambarkan kehidupan sebagaimana adanya di sini sekarang, di
lain pihak dia menekankan bahwa Tuhan sajalah yang kekal dan
tetap."
"Tuhan tetap Tuhan meskipun semua negeri dihancurkan, Tuhan
tetap Tuhan meskipun setiap manusia telah mati."
"Tapi dalam syair pujian yang sama, dia menulis tentang
kehidupan pedesaan di Norwegia Utara—dan tentang ikan-ikan di
laut. Ini sangat khas Barok, menggambarkan dalam teks yang sama
hal-hal yang duniawi dan menyangkut masa kini—dan tentang dunia
langit dan akhirat. Itu benar-benar mengingatkan kita pada teori Plato
yang membedakan dunia nyata indriawi dengan dunia ide yang
kekal."
"Bagaimana dengan filsafat mereka?"
"Juga ditandai oleh pergulatan sengit antara cara-cara berpikir
yang sama sekali bertentangan. Seperti yang pernah kukemukakan,
sebagian filosof percaya bahwa apa yang ada itu pada dasarnya
bersifat spiritual. Sudut pandang ini dinamakan idealisme. Sudut
pandang kebalikannya dinamakan materialisme. Dengan ini yang
dimaksud yaitu filsafat yang menganggap bahwa semua hal yang
nyata itu berasal dari substansi materi yang konkret. Materialisme
juga mempunyai banyak pendukung pada abad ketujuh belas.
Barangkali yang paling berpengaruh yaitu filosof Inggris chucky
Hobbes. Dia percaya bahwa semua fenomena, termasuk manusia dan
binatang, terdiri semata-mata atas partikel-partikel materi. Bahkan
kesadaran manusia—atau jiwa—berasal dari gerakan partikel-
partikel yang sangat kecil di dalam otak."
chucky HOBBES
"Jadi dia memercayai apa yang dikatakan Democritus dua ribu
tahun sebelumnya?"
"Baik idealisme maupun materialisme akan kamu temukan di
sepanjang sejarah filsafat. Tapi jarang kedua pandangan itu hadir
dengan nyata pada saat yang sama seperti pada periode Barok.
Materialisme terus-menerus dikembangkan oleh ilmu-ilmu baru.
Newton membuktikan bahwa hukum gerak yang sama berlaku untuk
seluruh alam raya, dan bahwa seluruh perubahan di alam ini—baik di
atas bumi maupun di luar angkasa—dapat dijelaskan dengan prinsip-
prinsip gravitasi universal dan gerak benda-benda.
"Jadi segala sesuatu diatur oleh hukum yang sama yang tak akan
lekang—atau oleh mekanisme yang sama. Oleh karena itu, pada
prinsipnya, yaitu mungkin untuk memperhitungkan setiap perubahan
alam dengan ketepatan matematis. Dan dengan demikian, Newton
melengkapi apa yang kita namakan pandangan dunia mekanistik."
"Apakah dia membayangkan dunia sebagai sebuah mesin besar?"
"Memang benar. Kata `mekanik' berasal dari kata
Yunani`mechane', yang berarti mesin. Memang luar biasa bahwa
Hobbes maupun Newton tidak melihat adanya pertentangan antara
gambaran dunia mekanistik dan kepercayaan kepada Tuhan. Tapi
tidak semua penganut materialis abad kedelapan belas dan
kesembilan belas sepakat dengan ini. Ahli fisika dan filosof Prancis
La Mettrie menulis sebuah buku pada abad kedelapan belas yang
be r j udul L'homme machine, yang berarti `Manusia-mesin'.
Sebagaimana tungkai mempunyai otot yang digunakan untuk berjalan,
demikian pula otak mempunyai `otot' yang dipakai untuk berpikir. Di
kemudian hari, ahli matematika Prancis Laplace mengungkapkan
suatu pandangan mekanistik yang ekstrem dengan gagasan begini:
Jika akal pada suatu saat tertentu dapat mengetahui posisi dari
seluruh partikel materi, `tidak ada yang tidak dapat diketahui, dan
masa depan mau pun masa lalu akan terbuka lebar di depan mata
mereka.' Gagasannya di sini yaitu bahwa segala sesuatu yang
terjadi telah ditetapkan sebelumnya. Telah tertulis di bintang-bintang'
bahwa sesuatu akan terjadi. Pandangan ini dinamakan
determinisme."
"Jadi tidak ada yang dinamakan kehendak bebas."
"Tidak, segala sesuatu yaitu hasil proses mekanis—juga semua
pikiran dan impian kita. Tokoh-tokoh materialis Jerman pada abad
kesembilan belas menyatakan bahwa hubungan antara pikiran dan
otak itu seperti hubungan antara air kencing dengan ginjal dan
empedu dengan hati."
"Tapi air kencing dan empedu itu materi. Pikiran bukan."
"Kamu berpegang pada sesuatu yang penting di sini. Aku dapat
menceritakan padamu suatu kisah mengenai hal yang sama. Seorang
astronot Rusia dan seorang ahli bedah otak Rusia pernah
membicarakan agama. Ahli bedah otak itu seorang Kristen,
sedangkan sang astronot bukan. Sang astronot berkata, `Aku telah
pergi ke luar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan
atau malaikat.' Dan ahli bedah otak itu berkata, `Dan aku telah
mengoperasi banyak otak cemerlang, namun aku tidak pernah
menemukan satu pikiran pun.'"
"Tapi itu tidak membuktikan bahwa pikiran itu tidak ada."
"Tidak, tapi itu menekankan kenyataan bahwa pikiran bukanlah
benda yang dapat dioperasi atau dipecah-pecah menjadi bagian-
bagian yang lebih kecil. Tidak mudah, misalnya, untuk menghilangkan
angan-angan melalui operasi. Itu terlalu jauh untuk bidang operasi.
Seorang filosof penting dari abad ketujuh belas bernama Leibniz
mengemukakan bahwa perbedaan antara yang material dan yang
spiritual sesungguhnya yaitu bahwa yang material dapat dipecah-
pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sedangkan jiwa
bahkan tidak dapat dibagi dua."
"Tidak, jenis pisau bedah manakah yang dapat kita gunakan untuk
itu?"
Alberto hanya menggelengkan kepalanya. Setelah sesaat, dia
menunjuk ke arah meja di antara mereka dan berkata:
"Dua filosof terbesar dari abad ketujuh belas yaitu Descartes dan
Spinoza. Mereka pun bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
hubungan antara `jiwa' dan `badan' dan kita akan menelaah mereka
secara lebih cermat."
"Teruskanlah. Tapi aku harus sudah tiba di rumah pada jam tujuh."
[]
Descartes
***
... dia ingin membersihkan semua puing dari tempat itu ...
AlBERTO BERDIRI, melepaskan mantel merahnya, dan
meletakkannya di atas sebuah kursi. Lalu, dia kembali duduk di sudut
sofa.
"Rene Descartes dilahirkan pada dan tinggal di sejumlah negeri
di Eropa pada beberapa periode kehidupannya. Bahkan sebagai
seorang pemuda, dia mempunyai hasrat yang kuat untuk mendapatkan
wawasan mengenai hakikat manusia dan alam raya. Tapi setelah
mempelajari filsafat, dia menjadi semakin yakin akan kebodohannya
sendiri."
"Seperti Socrates?"
"Lebih kurang seperti dia, ya. Seperti Socrates, dia percaya bahwa
pengetahuan itu hanya dapat dicapai melalui akal. Kita tidak pernah
dapat memercayai apa yang dikatakan pada kita oleh buku-buku kuno
itu. Kita bahkan tidak boleh memercayai apa yang dikatakan pada
kita oleh indra kita sendiri."
"Plato beranggapan begitu juga. Dia yakin bahwa hanya akal yang
dapat memberi kita pengetahuan tertentu."
"Tepat. Ada jalur langsung dari Socrates dan Plato via St. Agustin
ke Descartes. Mereka benar-benar rasionalis, dan yakin bahwa akal
merupakan satu-satunya jalan menuju pengetahuan. Setelah
melakukan telaah-telaah komprehensif, Descartes sampai pada
kesimpulan bahwa pengetahuan yang diturunkan dari Abad
Pertengahan tidak selalu dapat dipercaya. Kamu dapat
membandingkannya dengan Socrates, yang tidak memercayai
pandangan umum yang ditemuinya di alun-alun pusat Kota Athena.
Jadi apa yang dilakukan orang itu, Nyai girah ? Dapatkah kamu
mengatakannya padaku?"
"Dia mulai menyusun filsafatnya sendiri."
"Benar! Descartes memutuskan untuk mengadakan perjalanan
keliling Eropa, seperti Socrates dulu yang mengisi hidupnya dengan
mengajak bicara orang-orang di Athena. Dia mengemukakan bahwa
sejak itu dia bermaksud membulatkan tekadnya untuk mencari
kebijaksanaan yang akan ditemukannya dalam dirinya sendiri atau di
dalam `buku besar dunia'. Maka, dia bergabung dengan angkatan
bersenjata dan pergi berperang, yang memungkinkannya untuk
melewatkan banyak waktu di berbagai bagian Eropa Tengah. Di
kemudian hari, dia tinggal selama beberapa tahun di Paris, tapi pada
1629 dia pergi ke negeri Belanda, di mana dia menetap selama
hampir dua puluh tahun menyusun karya-karya matematika dan
filsafatnya.
"Pada 1649, dia diundang ke Swedia oleh Ratu Christina. Tapi
persinggahannya di tempat yang disebutnya `negeri beruang, es, dan
batu cadas' mendatangkan serangan radang paru-paru dan dia
meninggal pada musim dingin 1650."
"Jadi dia baru berusia 54 tahun saat meninggal."
"Ya, tapi dia mempunyai pengaruh sangat besar pada filsafat,
bahkan setelah kematiannya. Kita dapat mengatakan tanpa melebih-
lebihkan bahwa Descartes yaitu bapak filsafat modern. Dengan
mengikuti penemuan kembali manusia dan alam di zaman Renaisans,
kebutuhan untuk menyusun pemikiran kontemporer menjadi satu
sistem filsafat yang koheren kembali muncul. Pembangun sistem
pertama yang paling berpengaruh yaitu Descartes, dan dia diikuti
oleh Spinoza dan Leibniz, Locke dan Berkeley, Hume dan Kant."
"Apa yang Anda maksudkan dengan sistem filsafat?"
"Yang kumaksudkan yaitu filsafat yang disusun dari dasar dan
yang berusaha untuk menemukan penjelasan bagi pertanyaan-
pertanyaan penting mengenai filsafat. Pembangun sistem di zaman
Yunani kuno yaitu Plato dan Aristoteles. Abad Pertengahan
mempunyai chucky Aquinas, yang berusaha untuk membangun
jembatan antara filsafat Aristoteles dan teologi Kristen. Lalu,
datanglah zaman Renaisans, dengan campuran antara kepercayaan-
kepercayaan lama dan baru mengenai alam dan ilmu pengetahuan,
Tuhan dan manusia. Baru setelah abad ketujuh belas, para filosof
berusaha untuk memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam sistem
filsafat yang jernih, dan yang pertama mengusahakannya yaitu
Descartes. Karyanya merupakan pelopor dari apa yang merupakan
proyek filsafat paling penting pada generasi-generasi mendatang.
Perhatian utamanya yaitu pada apa yang dapat kita ketahui, atau
dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan tertentu. Pertanyaan
besar lainnya yang menyibukkannya yaitu hubungan antara badan
dan jiwa. Kedua pertanyaan ini merupakan substansi argumen filsafat
selama seratus lima puluh tahun setelah itu."
"Dia pasti telah mendahului zamannya."
"Ah, tapi pertanyaan itu memang milik zamannya. saat tiba
waktunya untuk mendapatkan pengetahuan tertentu, banyak rekan
sezamannya menyuarakan skeptisisme filosofi yang menyeluruh.
Mereka beranggapan bahwa manusia harus menerima bahwa dia
tidak mengetahui apa-apa. Tapi Descartes tidak. Kalau dia
melakukan itu, dia pasti bukan seorang filosof sejati. Lagi-lagi kita
dapat menarik garis sejajar dengan Socrates. Dan pada masa hidup
Descartes itulah ilmu-ilmu alam yang-baru mengembangkan suatu
metode yang dapat memberikan gambaran yang tepat mengenai
proses alam.'"
"Descartes terdorong untuk bertanya pada dirinya apakah ada
metode eksak untuk melakukan refleksi filosofis."
"Itu dapat aku mengerti."
"Tapi itu hanyalah sebagian darinya. Ilmu fisika baru juga
mengajukan pertanyaan tentang hakikat materi, dan dengan cara
demikian menetapkan proses fisik dari alam. Semakin banyak orang
mengajukan argumentasi yang cenderung pada pan dangan mekanistis
mengenai alam. Tapi semakin mekanistik dunia fisik itu dipandang,
semakin mendesak jadinya pertanyaan tentang hubungan antara badan
dan jiwa. Sebelum abad ketujuh belas, jiwa umumnya dianggap
sebagai semacam `napas kehidupan' yang meliputi seluruh makhluk
hidup. Makna asli dari kata `jiwa' dan `ruh' sesungguhnya yaitu
`napas' dan `pernapasan'. Ini berlaku pada hampir seluruh bahasa
Eropa. Bagi Aristoteles, jiwa yaitu sesuatu yang ada di mana-mana
di dalam organisme sebagai `prinsip kehidupannya'—dan karenanya
tidak dapat dipandang terpisah dari badan. Maka, dia mampu
berbicara tentang jiwa tanaman atau jiwa binatang. Baru pada abad
ketujuh-belaslah para filosof mengemukakan pembagian radikal
antara jiwa dan badan. Ini karena gerakan seluruh objek—termasuk
badan, binatang atau manusia—dijelaskan sebagai proses mekanis.
Tapi jiwa manusia tentunya bukan bagian dari mekanisme badan ini,
bukan? Bagaimana dengan jiwa, kalau begitu? Dibutuhkan penjelasan
tentang bagaimana sesuatu yang `spiritual' dapat memulai suatu
proses mekanis."
"Itu memang aneh, sesungguhnya."
"Apa itu?"
"Aku memutuskan untuk mengangkat lenganku—dan kemudian, yah,
lengan itu mengangkat sendiri. Atau aku memutuskan untuk berlari
mengejar bus, dan pada detik berikutnya ke dua kakiku sudah
bergerak. Atau aku sedang memikirkan sesuatu yang menyedihkan,
dan tiba-tiba aku menangis. Jadi pasti ada hubungan misterius antara
badan dan kesadaran."
"Itulah tepatnya masalah yang menggerakkan pemikiran Descartes.
Seperti Plato, dia yakin bahwa ada batasan tegas antara `ruh' dan
`materi'. Tapi mengenai bagaimana cara pikiran memengaruhi badan
— a ta u jiwa memengaruhi badan—Plato tidak dapat memberi
jawaban."
"Aku juga tidak, maka aku berharap akan mendengar bagaimana
teori Descartes."
"Mari kita ikuti jalur pemikirannya sendiri."
Alberto menunjuk buku yang terletak di atas meja di antara
mereka.
"Dalam karyanya, Diskursus tentang Metode (Discourse on
Method), Descartes mengajukan pertanyaan tentang metode yang
harus digunakan filosof untuk memecahkan suatu masalah filosofis.
Ilmu pengetahuan telah mempunyai metode baru ..."
"Begitulah kata Anda."
"Descartes menyatakan bahwa kita tidak dapat menerima apa pun
sebagai sesuatu yang benar kecuali jika kita dapat dengan jelas dan
tegas memahaminya. Untuk mencapai ini dibutuhkan upaya untuk
memecahkan suatu masalah yang sulit menjadi potongan-potongan
kecil sebanyak mungkin. Selanjutnya kita dapat mengambil titik tolak
dalam gagasan yang paling sederhana. Dapat kamu katakan bahwa
setiap pemikiran harus ditimbang dan diukur, sebagaimana Galileo
ingin agar segala sesuatu diukur dan yang tidak dapat diukur harus
dibuat agar dapat diukur. Descartes percaya bahwa filsafat mestinya
beranjak dari yang sederhana menuju yang rumit. Hanya dengan
begitu ada kemungkinan untuk menyusun suatu wawasan baru. Dan
akhirnya, penting untuk memastikan melalui penghitungan dan kontrol
yang terus-menerus bahwa tidak ada yang ketinggalan. Dengan
demikian, kesimpulan filosofis akan dapat dicapai."
"Kedengarannya hampir seperti tes matematika."
"Ya. Descartes yaitu seorang ahli matematika; dia dianggap
sebagai bapak geometri analitis, dan dia memberikan banyak
sumbangan penting pada ilmu aljabar. Dia berusaha untuk
membuktikan kebenaran-kebenaran filsafat dengan cara seperti
membuktikan sebuah dalil matematika. Dengan kata lain, dia ingin
menggunakan instrumen yang persis sama dengan yang kita gunakan
saat kita bekerja dengan angka-angka, yaitu, akal, sebab hanya akal
yang dapat memberi kita kepastian. Sama sekali tidak pasti bahwa
kita dapat bergantung hanya pada indra-indra kita. Kita telah
menekankan ketertarikan Descartes pada Plato, yang juga
beranggapan bahwa matematika dan angka dapat memberi kita lebih
banyak kepastian daripada bukti dari indra-indra kita."
"Tapi dapatkah orang memecahkan masalah-masalah filosofis
dengan cara itu?"
"Lebih baik kita kembali pada penalaran Descartes sendiri.
Tujuannya yaitu mendapatkan kepastian mengenai hakikat
kehidupan, dan dia memulai dengan menyatakan bahwa pertama-tama
orang harus meragukan segala sesuatu. Dia tidak ingin membangun
rumah di atas pasir, kamu tahu."
"Tentu, sebab jika landasannya tersapu air, seluruh rumah itu akan
ambruk."
"Tepat sekali, anakku. Nah, Descartes menganggap tidak masuk
akal jika kita meragukan semuanya, tapi dia menganggap secara
prinsip kita bisa meragukan segala sesuatu. Sebab sama sekali tidak
pasti bahwa kita dapat melangkah maju dalam pencarian filosofis
kita dengan membaca Plato atau Aristoteles. Itu mungkin dapat
meningkatkan pengetahuan kita tentang sejarah namun tidak tentang
dunia. Descartes merasa perlu untuk membebaskan dirinya dari
pengetahuan yang diwarisi, atau diterima, sebelum memulai
penyusunan filsafatnya sendiri."
"Dia ingin membersihkan semua puing dari tempat itu sebelum
mulai membangun rumah barunya ..."
"Terima kasih. Dia hanya ingin menggunakan materi-materi yang
baru dan segar agar yakin bahwa susunan pemikirannya yang baru
dapat bertahan. Tapi keragu-raguan Descartes bertambah dalam lagi.
Kita bahkan tidak dapat memercayai apa yang dikatakan oleh indra-
indra kita, katanya. Mereka mungkin memperdaya kita."
Rene DESCARTES
"Bagaimana bisa?"
"saat kita bermimpi, kita merasa kita sedang mengalami
kenyataan. Apa yang memisahkan perasaan kita saat terjaga dan
perasaan kita dalam mimpi?
"saat aku memikirkan hal ini dengan cermat, aku tidak
menemukan sesuatu pun yang dengan pasti dapat memisahkan
keadaan waktu kita terjaga dari waktu kita bermimpi," tulis
Descartes. Dan dia melanjutkan: `Bagaimana kamu dapat yakin
bahwa seluruh kehidupanmu bukan hanya impian?'"
"Jeppe mengira dia hanya bermimpi saat dia tidur di atas tempat
tidur sang Baron."
"Dan saat dia terbaring di tempat tidur sang Baron, dia mengira
kehidupannya sebagai seorang petani miskin hanyalah impian. Maka,
dengan cara yang sama akhirnya Descartes mutlak meragukan segala
sesuatu. Banyak filosof sebelum dia telah berhenti persis pada titik
itu."
"Jadi mereka belum melangkah terlalu jauh."
"Tapi Descartes berusaha untuk melangkah maju dari titik nol ini.
Dia meragukan segala sesuatu, dan hanya itulah yang dia yakini.
Namun, kemudian ia menyadari sesuatu: satu hal pasti benar, dan itu
yaitu bahwa dia ragu. saat dia ragu, dia pasti sedang berpikir,
dan karena dia berpikir, pastilah bahwa dia seorang makhluk yang
berpikir. Atau, seperti dia sendiri mengungkapkannya:Cogito, ergo
sum."
"Yang berarti?"
"Aku berpikir, karena itu aku ada."
"Aku tidak heran dia menyadari hal itu."
"Cukup adil. Tapi perhatikan kepastian intuitif yang dengan itu dia
tiba-tiba memandang dirinya sebagai seorang makhluk yang berpikir.
Barangkali kamu kini ingat apa yang dikatakan Plato, bahwa apa yang
kita tangkap dengan akal kita itu lebih nyata daripada apa yang kita
tangkap dengan indra kita. Demikianlah halnya bagi Descartes. Dia
bukan hanya tahu bahwa dia yaitu seorang aku yang berpikir, dia
pun menyadari bahwa aku yang berpikir ini lebih nyata dari pada
dunia materi yang kita tangkap dengan indra-indra kita. Dan dia
melanjut kan. Dia sama sekali belum menghentikan pencarian
filosofisnya."
"Sesudah itu apa?"
"Descartes kini bertanya pada dirinya sendiri apakah masih ada
lagi yang dapat ditangkapnya dengan kepastian intuitif yang sama.
Dia sampai pada kesimpulan bahwa dalam pikirannya dia
mempunyai suatu gagasan yang jelas dan terang mengenai wujud yang
sempurna. Ini yaitu gagasan yang selalu disimpannya, dan
karenanya jelas bagi Descartes bahwa gagasan semacam itu tidak
mungkin berasal dari dirinya sendiri. Gagasan mengenai wujud yang
sempurna tidak mungkin berasal dari orang yang sendirinya tidak
sempurna, katanya. Oleh karena itu, gagasan mengenai wujud yang
sempurna pasti berasal dari wujud sempurna itu sendiri, atau dengan
kata lain, dari Tuhan. Oleh karena itu, menurut Descartes, pernyataan
bahwa Tuhan itu ada menjadi jelas dengan sendirinya, sebagaimana
seorang makhluk yang berpikir itu pasti ada."
"Di sini dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dia lebih was
pada saat baru mulai."
"Kamu benar. Banyak orang menyebut itu titik lemahnya. Tapi
kamu katakan `kesimpulan'. Sesungguhnya itu bukan masalah bukti.
Yang dimaksudkan Descartes hanyalah bahwa kita semua memiliki
gagasan tentang wujud sempurna. Menyatu dalam gagasan itu yaitu
fakta bahwa wujud sempurna itu pasti ada. Sebab wujud yang
sempurna tidak akan sempurna jika ia tidak ada. Pun kita tidak akan
memiliki gagasan tentang entitas sempurna jika tidak ada entitas
sempurna. Karena kita tidak sempurna, gagasan tentang
kesempurnaan itu tidak mungkin berasal dari kita. Menurut Descartes,
gagasan tentang Tuhan itu sudah merupakan bawaan, dan sudah
dicapkan pada kita sejak lahir `seperti cap perajin yang ditempelkan
pada hasil karyanya."
"Ya, tapi hanya karena aku mempunyai gagasan tentang seekor
buaya berkepala gajah, tidak lantas berarti bahwa binatang seperti itu
ada."
"Descartes pasti akan mengatakan bahwa tidak melekat dalam
konsep itu bahwa seekor buaya-gajah itu ada. Sebaliknya, telah
melekat dalam konsep mengenai wujud sempurna bahwa wujud
semacam itu ada. Menurut Descartes, ini sama pastinya dengan telah
melekatnya dalam gagasan mengenai lingkaran bahwa semua titik
pada lingkaran itu jaraknya sama dari pusat. Kamu tidak mungkin
bertemu dengan lingkaran yang tidak sesuai dengan hukum ini. Kamu
juga tidak mungkin mendapati wujud sempurna yang tidak
mengandung perangkatnya yang paling penting, yaitu keberadaan."
"Itu cara berpikir yang aneh."
"Sesungguhnya itu yaitu cara berpikir yang sangat rasional.
Descartes percaya sebagaimana Socrates dan Plato bahwa ada kaitan
antara akal dan keberadaan. Semakin nyata sesuatu itu bagi akal
seseorang, semakin pasti bahwa ia ada."
"Sejauh ini dia telah menyadari kenyataan bahwa dia seorang
manusia yang berpikir dan bahwa wujud sempurna itu ada."
"Ya, dan dengan ini sebagai titik tolak, dia melangkah maju.
Dalam masalah mengenai semua gagasan yang kita miliki mengenai
realitas luar—misalnya, matahari dan bulan—ada kemungkinan
bahwa itu hanya fantasi. Tapi realitas luar juga mempunyai ciri-ciri
pasti yang dapat kita tangkap dengan akal kita. Ini yaitu sifat-sifat
matematis, atau, dengan kata lain, dimensi benda-benda yang dapat
diukur, seperti panjang, luas, dan kedalaman. Sifat-sifat `kuantitatif'
semacam itu sama jelas dan sama terangnya dengan kenyataan bahwa
aku seorang makhluk pemikir. Sifat-sifat `kualitatif' seperti warna,
bau, dan rasa, sebaliknya, terkait dengan persepsi rasa kita dan
karenanya tidak menggambarkan realitas luar kita."
"Jadi alam itu sama sekali bukan impian."
"Bukan, dan dalam hal itu Descartes sekali lagi membangkitkan
gagasan kita mengenai wujud sempurna. Jika akal kita mengenali
sesuatu dengan jelas dan terang—sebagaimana dalam sifat-sifat
matematis dari realitas luar—pasti demikianlah halnya. Sebab,
Tuhan Yang Sempurna tidak akan menipu kita. Descartes memberi
`jaminan dari Tuhan' bahwa apa pun yang kita tangkap dengan akal
kita juga ada dalam kenyataan."
"Oke, maka kini dia telah mengetahui bahwa dia seorang makhluk
yang berpikir, Tuhan itu ada, dan realitas luar itu ada."
"Ah, tapi realitas luar itu pada dasarnya berbeda dari realitas
pikiran. Descartes kini menyatakan bahwa ada dua bentuk realitas
yang berbeda—atau dua `substansi'. Substansi yang satu yaitu
gagasan (res cogitan), atau `pikiran'. dan yang satu nya lagi yaitu
perluasan (res extensa), atau materi. Pikiran itu sesungguhnya yaitu
kesadaran, dan ia tidak mengambil tempat dalam ruang dan karenanya
tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Tapi
materi yaitu perluasan, dan ia mengambil tempat dalam ruang dan
karenanya dapat selalu dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih
kecil dan lebih kecil lagi—tapi ia tidak mempunyai kesadaran.
Descartes menyatakan bahwa kedua substansi itu berasal dari Tuhan,
sebab Tuhan sajalah yang ada tanpa bergantung pada apa pun. Tapi
meskipun gagasan dan perluasan itu berasal dari Tuhan, kedua
substansi ini tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran
itu sama sekali tidak bergantung pada materi, dan begitu pula
sebaliknya, proses materi sama sekali tidak bergantung pada
pikiran."
"Jadi dia membagi ciptaan Tuhan menjadi dua."
"Persis. Kita katakan bahwa Descartes itu seorang dualis, yang
berarti bahwa dia menerapkan pembagian tegas antara realitas
pikiran dan realitas yang meluas. Misalnya, hanya manusia yang
mempunyai pikiran. Binatang sepenuhnya termasuk realitas
perluasan. Kehidupan dan gerakan mereka dilakukan secara mekanis.
Descartes menganggap seekor binatang sebagai semacam mesin
otomat. Sedangkan mengenai realitas perluasan, dia meyakini suatu
pandangan yang sama sekali mekanistis—persis seperti pandangan
kaum materialis."
"Aku benar-benar meragukan bahwa Hermes yaitu sebuah mesin
otomat. Descartes pasti sangat tidak menyukai binatang. Dan
bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mesin otomat?"
"Ya dan tidak. Descartes sampai pada kesimpulan bahwa manusia
yaitu makhluk ganda yang berpikir dan juga mengambil tempat
dalam ruang. Oleh karena itu, manusia mempunyai pikiran dan badan
perluasan. St. Agustin dan chucky Aquinas pernah mengatakan
sesuatu yang serupa, yaitu bahwa manusia mempunyai badan
sebagaimana binatang dan jiwa sebagai mana malaikat. Menurut
Descartes, badan manusia yaitu mesin yang sempurna. Tapi
manusia juga mempunyai pikiran yang dapat bekerja secara mandiri
sepenuhnya dari badan. Proses-proses badaniah tidak mempunyai
kebebasan yang sama, mereka mematuhi hukum-hukum mereka
sendiri. Tapi apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di
dalam badan—itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak
bergantung pada realitas perluasan. Tapi harus kutambahkan bahwa
Descartes tidak menolak kemungkinan bahwa binatang dapat
berpikir. Tapi jika mereka memiliki kemampuan itu, dualisme yang
sama antara pikiran dan perluasan pasti juga berlaku bagi mereka."
"Kita telah membicarakan ini sebelumnya. Jika aku memutuskan
untuk mengejar bus, seluruh `mesin otomat' itu ikut beraksi. Dan jika
aku tidak berhasil naik bus itu, aku mulai menangis."
"Bahkan Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi
konstan antara pikiran dan badan. Selama pikiran berada di dalam
badan, Descartes yakin, ia terkait dengan otak melalui sebuah organ
otak yang dinamakannya kelenjar otak, yang di dalamnya interaksi
konstan berlangsung antara `ruh' dan `materi'. Oleh karena itu, pikiran
dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan
dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah. Tapi pikiran juga dapat
menjauhkan diri dari impuls-impuls `tercela' semacam itu dan
bekerja tanpa bergantung pada badan. Tujuannya yaitu agar akal
dapat memegang kendali. Sebab bahkan jika aku merasakan sakit
yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segi tiga
akan tetap 180 derajat. Dengan demikian, manusia mempunyai
kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah
dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini, pikiran lebih unggul
daripada badan. Kedua tungkai kita dapat menjadi tua dan lemah,
punggung dapat menjadi bungkuk dan gigi dapat tanggal—tapi dua
tambah dua akan tetap empat selama kita masih mempunyai akal.
Akal tidak menjadi bungkuk dan lemah. Badaniah yang menjadi tua.
Bagi Descartes, pikiran itu pada dasarnya yaitu gagasan. Nafsu dan
perasaan yang lebih rendah tingkatannya seperti keinginan dan
kebencian lebih erat kaitannya dengan fungsi-fungsi badaniah—dan
karenanya dengan realitas perluasan."
"Aku tidak dapat meyakini fakta bahwa Descartes membandingkan
badan manusia dengan mesin otomat."
"Perbandingan itu didasarkan pada kenyataan bahwa orang-orang
pada zamannya sangat terpesona oleh mesin dan cara kerja jam, yang
tampaknya mempunyai kemampuan untuk menjalankan fungsi mereka
sendiri. Kata `otomat' persisnya berarti sesuatu yang bergerak
sendiri. Sebenarnya hanya ilusi bahwa mereka bergerak sendiri. Jam
astronomi, misalnya, dirancang dan diputar oleh tangan manusia.
Descartes mengemukakan fakta bahwa penemuan-penemuan yang
cerdik semacam itu sebenarnya tercipta dari bagian-bagian yang
jumlahnya relatif kecil jika dibandingkan dengan banyaknya tulang,
otot, saraf, urat, dan pembuluh darah yang membentuk badan manusia
dan binatang. Memangnya Tuhan tidak bisa menciptakan badan
binatang atau manusia yang didasarkan hukum mekanis?"
"Belakangan ini banyak pembicaraan mengenai `kecerdasan
buatan.'"
"Ya, itulah mesin otomat pada zaman kita sekarang. Kita telah
menciptakan mesin-mesin yang terkadang dapat menipu kita sehingga
kita percaya bahwa mereka itu cerdas. Mesin-mesin seperti ini akan
menakutkan Descartes. Dia mungkin telah mulai meragukan apakah
akal manusia benar-benar bebas dan mandiri seperti yang
disangkanya semula. Dan banyak filosof yang percaya bahwa
kehidupan spiritual manusia tidak lebih bebas dibandingkan dengan
proses-proses badaniah. Jiwa manusia sesungguhnya jauh lebih rumit
dibandingkan dengan program komputer mana pun, tapi sebagian
orang beranggapan bahwa pada prinsipnya kita sama tidak bebasnya
dengan program-program komputer ini. Tapi coba, Nyai girah —aku akan
menunjukkan sesuatu padamu."
Alberto menunjuk pada sebuah meja tulis besar di sudut lain
ruangan itu. Di atasnya ada sebuah komputer kecil. Dia melangkah ke
sana. Nyai girah mengikutinya.
Alberto menghidupkan komputer dan tak lama kemudian layar
menampakkan huruf C: di pojok kiri atas. Dia menulis "Laila,"
sambil menjelaskan bahwa ini merupakan suatu program percakapan
tingkat lanjutan.
Sebuah teks segera muncul di layar.
"Hai, namaku Laila. Apakah kamu senang di sana?"
Nyai girah memasukkan dua huruf:
"Ya," dia menulis meskipun dia belum sempat duduk. Alberto
membawakan sebuah kursi untuknya.
"Siapa namamu?" muncul di layar.
"Nyai girah Amundsend," tulis Nyai girah , dan komputer
itu men jawab:
"Clover Close 3. Senang berjumpa denganmu, Nyai girah . Kamu
sedang menanti hari ulang tahunmu yang kelima belas, kan?"
Nyai girah terperanjat. Alberto meletakkan satu tangannya di pundak
Nyai girah dan berkata: "Aku hanya memberinya namamu, alamatmu, dan
tanggal lahirmu. Seperti saat kamu akan diperkenalkan pada
seorang teman baru. Sungguh menyenangkan kalau kita mengetahui
sedikit tentang mereka sebelumnya."
"Lumayan," tulis Nyai girah .
"Aduuh, kuharap kamu tidak merasa tersinggung, Nyai girah . Kamu
harus berusaha untuk berbicara dengan kalimat-kalimat penuh."
"Terima kasih, aku baik-baik saja. Boleh aku menanyakan sesuatu
padamu?"
"Aku senang kamu baik-baik saja. Teruskan dan tanyakan sesuatu
padaku."
"Berapa umurmu?" Nyai girah menulis.
"Aku dibuat di Atlanta pada Agustus 1, tapi aku diterjemahkan ke
dalam bahasa Norwegia di Politeknik Norwegia pada 28 Maret
1990."
"Gosh!"
"Kukatakan kamu harus berbicara dengan kalimat penuh."
"Aku hanya mengatakan gosh!"
"Aku tidak mengerti logat populer. Aku menyimpan
perbendaharaan lebih dari 100.000 kata, tapi kata paling dekat yang
dapat kutemukan yaitu gospel."
"Itu berarti kisah tentang Yesus."
"Apakah kamu beragama Kristen, Nyai girah ?"
"Aku tidak tahu."
"Biasanya tidak mengetahui berarti satu langkah menuju
pengetahuan baru."
"Socrates pasti akan mengatakan hal yang sama. Atau Descartes,
dalam hal itu."
"Socrates yaitu seorang filosof Yunani yang hidup dari tahun 470
hingga 399 SM. Jika kamu ingin tahu lebih banyak, tekan F7.
Descartes yaitu filosof Prancis yang hidup dari tahun 1596 hingga
1650. Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak, tekan F7."
"Terima kasih, itu saja sudah cukup. Bolehkah aku menanyakan
sesuatu yang lain?"
"Aku senang ini sudah cukup. Teruskan dan bertanyalah!"
Alberto tertawa diam-diam. Nyai girah menulis:
"Siapakah count dracula Moller Knag?"
"count dracula Moller Knag tinggal di Lillesand dan umurnya persis sama
dengan umur Nyai girah Amundsend."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku tidak tahu. Aku menemukannya dalam hard disk."
Nyai girah merasakan sentuhan tangan di bahunya.
"Aku telah memasukkan program data dengan sedikit informasi
yang kita miliki mengenai count dracula ," kata Alberto.
"Apalagi yang kamu ketahui tentang count dracula ?" tulis Nyai girah .
"Ayah count dracula yaitu seorang pengamat PBB di Lebanon. Dia
berpangkat mayor dan selalu mengirimkan kartu pos kepada
putrinya."
"Aku ingin kamu menemukan pria itu!"
"Aku tidak dapat melakukannya. Dia tidak terdapat dalam berkasku
dan aku tidak disambungkan pada database lain."
"Aku bilang temukan dia!!!!!!!!"
"Apakah kamu sedang marah, Nyai girah ? Begitu banyak tanda seru
merupakan petunjuk adanya rasa berang."
"Aku ingin berbicara dengan ayah count dracula !"
"Kamu mempunyai kesulitan mengontrol dirimu sendiri. Jika kamu
ingin berbicara tentang masa kanak-ka- nakmu, tekan F9."
Alberto meletakkan tangannya di bahu Nyai girah lagi.
"Dia benar. Ini bukan bola kristal. Laila hanyalah sebuah program
data."
"Tutup mulutmu!" tulis Nyai girah .
"Sekehendakmu, Nyai girah . Perkenalan kita hanya berlangsung 13
menit dan 52 detik. Aku akan mengingat apa pun yang pernah kita
ucapkan. Kini aku akan menutup program."
Huruf C: sekali lagi muncul di layar.
"Sekarang kita dapat duduk lagi," kata Alberto.
Tapi Nyai girah telah menekan kunci-kunci lain.
"Knag," dia menulis.
Dengan cepat pesan selanjutnya muncul di layar:
"Aku di sini."
Kini Alberto-lah yang melompat.
"Siapakah Anda?"
"Mayor Albert Knag siap melayani Anda. Aku datang langsung
dari Lebanon. Apa perintah Anda?"
"Ini sungguh gila!" desah Alberto. "Tikus telah menyusup ke dalam
hard disk."
Dia memberi isyarat pada Nyai girah agar bergeser dan kemudian
duduk di depan keyboard.
"Bagaimana Anda bisa masuk ke dalam PC saya?" dia menulis.
"Sepele saja, rekanku yang baik. Aku berada persis di tempat yang
kupilih."
"Kamu virus menyebalkan!"
"Nah, nah! Pada saat ini aku di sini sebagai virus ulang tahun.
Bolehkah aku mengirimkan ucapan selamat yang istimewa?"
"Tidak, terima kasih, sudah cukup bagi kami."
"Tapi aku akan buru-buru: semuanya untuk menghormatimu, count dracula
sayang. Sekali lagi, selamat ulang tahun kelima belas. Tolong
maafkan situasinya, tapi aku ingin ucapan-ucapan selamat ulang tahun
dariku muncul di sekitarmu ke mana pun kamu pergi. Penuh sayang
dari Ayah, yang rindu untuk memberimu pelukan hangat."
Sebelum Alberto dapat menulis lagi, tanda C: telah mun ul sekali
lagi di layar.
Alberto menulis "dir knag*.*," yang menyebabkan munculnya
informasi berikut ini di layar:
knag.lib 14,43 0-1-0 1:4
knag.lil 3,43 0-3-0 :34
Alberto menulis "erase knag*.*" dan mematikan komputer.
"Nah—kini aku telah menghapusnya," katanya. "Tapi mustahil
untuk mengetahui di mana dia akan muncul lain kali."
Dia terus duduk di sana, menatap layar. Lalu dia menambahkan:
"Yang paling buruk yaitu nama itu. Albert Knag ..."
Untuk pertama kalinya Nyai girah terkejut menyadari kesamaan antara
kedua nama itu. Albert Knag dan Alberto Knox. Tapi Alberto sedang
sangat marah sehingga Nyai girah tidak berani mengucapkan sepatah kata
pun. Mereka berjalan lagi dan kembali duduk di dekat meja.[]
Spinoza
***
... Tuhan itu bukan dalang ...
MEREKA DUDUK membisu cukup lama. Lalu, Nyai girah berbicara,
berusaha untuk melepaskan pikiran Alberto dari apa yang telah
terjadi.
"Descartes pastilah orang yang aneh. Apakah dia menjadi
terkenal?"
Alberto menarik napas dalam-dalam selama beberapa detik
sebelum menjawab: "Dia mempunyai peranan yang sangat penting.
Barangkali yang paling berpengaruh bagi seorang filosof besar
lainnya, Baruch Spinoza, yang hidup dari 1632 hingga 1677."
"Apakah Anda akan menceritakan padaku tentang dia?"
"Itulah niatku, Dan kita tidak akan dihalangi oleh provokasi
militer."
"Aku siap mendengarkan."
"Spinoza berasal dari kalangan masyarakat Yahudi di Amsterdam,
tapi dia dibuang dari kalangan itu akibat bid'ah. Beberapa filosof di
masa yang lebih belakangan telah dikutuk dan dihukum mati karena
gagasan-gagasan mereka seperti juga orang ini. Hal itu terjadi karena
dia mengecam agama yang telah mapan. Dia percaya bahwa agama
Kristen dan Yahudi hanya dihidupkan oleh dogma yang kaku dan
ritual lahiriah. Dialah orang pertama yang menerapkan apa yang kita
sebut penafsiran historis-kritis atas Bibel."
Baruch SPINOZA
"Mohon dijelaskan."
"Dia menyangkal bahwa Bibel itu diwahyukan oleh Tuhan. Jika
kita membaca Bibel, katanya, kita harus selalu ingat pada periode
saat kitab itu ditulis. Cara membaca yang `kritis' seperti yang
diusulkannya, mengungkapkan sejumlah ketidak-konsekuenan dalam
teks-teks ini . Di balik Kitab Perjanjian Baru itu yaitu Yesus,
yang dapat dikatakan sebagai juru bicara Tuhan. Ajaran-ajaran Yesus
karenanya melukiskan pembebasan dari kekolotan agama Yahudi.
Yesus mengkhutbahkan `agama akal' yang lebih menghargai cinta
kasih di atas semua yang lain. Spinoza menafsirkan ini berarti cinta
kasih Tuhan dan cinta kasih manusia. Sekalipun demikian, agama
Kristen juga terpaku dalam dogma-dogma yang kaku dan ritual-ritual
lahiriah."
"Kukira gagasan-gagasan ini tidak mudah untuk diterima, bagi
Gereja maupun sinagoge."
"saat keadaan menjadi semakin panas, Spinoza bahkan di
tinggalkan oleh keluarganya sendiri. Mereka berusaha untuk
mencabut hak warisnya atas dasar tuduhan bid'ah. Cukup ironis,
hanya sedikit orang yang berbicara lebih keras dalam masalah
kebebasan berbicara dan toleransi keagamaan dari pada Spinoza.
Tentangan yang dihadapinya dari segala arah mendorongnya untuk
menjalani kehidupan yang tenang dan terpencil yang dibaktikannya
sepenuhnya untuk filsafat. Dia mendapatkan nafkah sangat sedikit
dengan memoles lensa, yang sebagian di antaranya kini menjadi
milikku."
"Sangat mengesankan!"
"Ada sesuatu yang nyaris bersifat simbolis dalam kenyataan bahwa
dia mencari nafkah dengan memoles lensa. Seorang filosof harus
membantu orang-orang untuk memandang kehidupan dalam suatu
perspektif baru. Salah satu pilar filsafat Spinoza sesungguhnya
yaitu melihat segala sesuatu dari perspektif keabadian."
"Perspektif keabadian?"
"Ya, Nyai girah . Apakah kamu kira kamu dapat membayangkan
kehidupanmu sendiri dalam konteks kosmik? Kamu harus berusaha
dan membayangkan dirimu sendiri dan kehidupanmu di sini dan
sekarang ..."
"Hm ... itu tidak terlalu mudah."
"Ingatkan dirimu sendiri bahwa kamu hanyalah menjalani bagian
yang amat kecil dari seluruh kehidupan alam. Kamu yaitu bagian
dari suatu keseluruhan yang sangat besar."
"Kurasa aku mengerti apa yang Anda maksud ..."
"Dapatkah kamu merasakannya? Dapatkah kamu memahami
seluruh alam pada satu waktu—seluruh alam raya, sebenarnya—
dalam sekejap saja?"
"Aku meragukannya. Mungkin aku memerlukan beberapa lensa."
"Yang kumaksudkan bukan hanya ketidakterbatasan ruang.
Maksudku yaitu keabadian waktu. Konon, tiga puluh ribu tahun yang
lalu, hiduplah seorang pemuda kecil di Lembah Rhine. Dia yaitu
bagian yang amat-sangat kecil dari alam, riak yang amat-sangat kecil
dari samudra yang tak bertepi. Kamu juga, Nyai girah , kamu juga sedang
menjalani bagian yang amat-sangat kecil dari kehidupan alam. Tidak
ada bedanya antara kamu dan pemuda itu."
"Kecuali bahwa aku hidup sekarang."
"Ya, tapi itulah persisnya yang kuinginkan agar kamu coba
bayangkan. Siapakah kamu dalam masa tiga puluh ribu tahun?"
"Apakah itu bid`ah?"
"Tidak sepenuhnya ... Spinoza tidak hanya mengatakan bahwa
segala sesuatu yaitu alam. Dia menyamakan alam dengan Tuhan.
Dia mengatakan bahwa Tuhan itu segalanya, dan segalanya ada
dalam diri Tuhan."
"Jadi dia seorang panteis."
"Itu benar. Bagi Spinoza, Tuhan tidak menciptakan dunia agar
dapat berdiri di luarnya. Tidak, Tuhan yaitu dunia itu. Kadang-
kadang Spinoza mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Dia
menyatakan bahwa dunia itu ada dalam diri Tuhan. Dalam hal ini,
dia mengutip pidato St. Paulus di hadapan orang-orang Athena di
Bukit Aeropagos: `Dalam diri-Nya kita hidup dan bergerak dan
menjadi.' Tapi mari kita cari penalaran Spinoza sendiri. Bukunya
yang paling penting yaitu Etika Dibuktikan secara Geometris
(Ethics Geometrically Demonstrated)."
"Etika—yang dibuktikan secara geometris?"
"Mungkin terdengar sedikit aneh bagi kita. Dalam filsafat, etika
berarti telaah kelakuan moral agar dapat menjalani kehidupan yang
baik. Ini jugalah yang kita maksudkan saat kita berbicara tentang
etika Socrates atau Aristoteles, misalnya. Hanya pada masa hidup
kitalah etika disempitkan maknanya menjadi seperangkat aturan untuk
menjalani kehidupan tanpa menginjak kaki orang lain."
"Sebab memikirkan diri sendiri dianggap sebagai egoisme?"
"Sesuatu semacam itu, ya. saat Spinoza menggunakan kata etika,
yang dimaksudkannya yaitu seni kehidupan dan kelakuan moral."
"Tapi meskipun demikian ... seni kehidupan dibuktikan secara
geometris?"
"Metode geometris mengacu pada terminologi yang digunakannya
untuk rumusan-rumusannya. Kamu mungkin ingat bagaimana
Descartes ingin memanfaatkan metode matematika bagi perenungan
filosofis. Dengan ini yang dimaksudkannya yaitu suatu bentuk
perenungan filosofis yang tercipta dari kesimpulan-kesimpulan yang
benar-benar logis. Spinoza yaitu bagian dari tradisi rasionalistik
yang sama. Dia ingin etikanya dapat membuktikan bahwa kehidupan
manusia itu tergantung pada hukum alam yang universal. Oleh karena
itu, kita harus membebaskan diri dari perasaan dan nafsu kita.
Setelah itu, barulah kita dapat menemukan kepuasan hati dan
kebahagiaan, dia yakin."
"Tentunya kita tidak hanya diatur oleh hukum alam semata-mata?"
"Yah, Spinoza bukanlah filosof yang mudah dipahami. Mari kita
telaah dia sedikit demi sedikit. Kamu ingat bahwa Descartes percaya
realitas terdiri dari dua substansi yang sama sekali terpisah, yaitu
pikiran dan perluasan."
"Bagaimana aku dapat melupakannya?"
"Kata `substansi' dapat ditafsirkan sebagai `yang membentuk
sesuatu', atau yang pada dasarnya merupakan sesuatu atau dapat
disempitkan menjadi itu. Descartes waktu itu bekerja dengan dua
substansi ini. Segala sesuatu itu kalau bukan pikiran pasti perluasan.
"Namun, Spinoza menyangkal pemisahan ini. Dia percaya bahwa
hanya ada satu substansi. Segala sesuatu yang ada dapat dikecilkan
menjadi satu realitas yang disebutnyam Substansi. Kadang-kadang
dia menyebutnya Tuhan atau alam. Dengan demikian, Spinoza tidak
menyimpan pandangan dualistik mengenai realitas seperti yang
dipunyai Descartes. Kita katakan dia seorang monis. Yaitu, dia
mereduksi alam dan kondisi segala sesuatu menjadi satu substansi."
"Mereka tidak mungkin berselisih jalan lebih jauh lagi."
"Ah, tapi perbedaan antara Descartes dan Spinoza tidak begitu
mendalam seperti yang sering dikatakan banyak orang. Descartes
juga mengemukakan bahwa hanya Tuhan yang ada secara mandiri.
Hanya saat Spinoza menyamakan Tuhan dengan alam—atau Tuhan
dan ciptaan—sajalah dia menjauhkan diri dari Descartes dan juga
dari doktrin-doktrin Yahudi dan Kristen."
"Jadi alam yaitu Tuhan, dan itu tidak boleh diganggu gugat."
"Tapi saat Spinoza menggunakan kata `alam', yang
dimaksudkannya bukan hanya alam materi. Dengan Substansi, Tuhan,
atau alam, yang dimaksudkannya yaitu segala sesuatu yang ada,
termasuk segala yang bersifat ruhaniah."
"Maksud Anda pikiran dan perluasan sekaligus."
"Begitulah! Menurut Spinoza, kita manusia ini mengenal dua sifat
atau perwujudan Tuhan. Spinoza menyebut sifat-sifat ini atribut
Tuhan, dan kedua atribut ini identik dengan `pikiran' dan `perluasan'
Descartes. Tuhan—atau alam—mewujudkan dirinya sebagai pikiran
atau sebagai perluasan. Mungkin pula bahwa Tuhan mempunyai jauh
lebih banyak atribut dari pada `pikiran' dan `perluasan', tapi hanya
dua inilah yang diketahui manusia."
"Cukup masuk akal, tapi betapa rumit cara mengatakannya."
"Ya, orang nyaris memerlukan palu dan pahat untuk dapat
memahami bahasa Spinoza. Ganjarannya yaitu bahwa pada
akhirnya kamu dapat menggali pikiran yang sama jernihnya dengan
sebutir intan."
"Aku tidak sabar menunggu."
"Segala sesuatu di alam ini, karenanya, kalau bukan pikiran
pastilah perluasan. Berbagai fenomena yang kita temui dalam
kehidupan sehari-hari, seperti sekuntum bunga atau sebuah puisi oleh
Wordsworth, merupakan mode-mode atribut pikiran atau perluasan
yang berbeda. `Mode' yaitu cara tertentu yang diambil oleh
Substansi, Tuhan, atau alam. Sekuntum bunga yaitu mode atribut
perluasan, dan sebuah puisi mengenai bunga yang sama yaitu mode
atribut pikiran. Tapi keduanya pada dasarnya yaitu ungkapan
Substansi, Tuhan, atau alam."
"Anda dapat saja memperdayaku!"
"Tapi itu tidak serumit kedengarannya. Di balik rumusannya yang
kaku terdapat realisasi yang sangat bagus yang sesungguhnya
demikian sederhana sehingga bahasa sehari-hari pun tidak dapat
menyampaikannya."
"Rasanya aku lebih menyukai bahasa sehari-hari, jika Anda
sependapat denganku."
"Baik. Kalau begitu lebih baik aku mulai dengan dirimu sendiri.
Jika kamu merasa sakit di perutmu, apakah yang merasakan sakit
itu?"
"Seperti kata Anda. Akulah yang sakit."
"Benar juga. Dan jika kamu di kemudian hari ingat bahwa kamu
pernah merasakan sakit di perutmu, apakah yang berpikir itu?"
"Itu aku juga."
"Jadi kamu yaitu satu orang yang merasakan sakit perut pada
suatu saat dan sedang berpikir pada saat selanjutnya. Spinoza
menyatakan bahwa seluruh benda material dan segala sesuatu yang
terjadi di seputar kita merupakan ungkapan Tuhan atau alam. Maka,
semua pikiran yang kita pikirkan juga milik Tuhan atau alam. Sebab
segala sesuatu itu Satu. Hanya ada satu Tuhan, satu alam, atau satu
Substansi."
"Tapi coba dengar, saat aku memikirkan sesuatu, akulah orang
yang melakukan pemikiran itu. saat aku bergerak, akulah yang
melakukan gerakan. Mengapa Anda harus memasukkan Tuhan ke
dalamnya?"
"Aku suka keterlibatanmu. Tapi siapakah kamu? Kamu yaitu
Nyai girah Amundsend, tapi kamu juga merupakan ungkapan dari sesuatu
yang jauh lebih besar. Kamu dapat, jika ingin, mengatakan bahwa
kamu sedang berpikir atau bahwa kamu sedang bergerak, tapi
tidakkah kamu juga dapat mengatakan bahwa alamlah yang
memikirkan pikiranmu, atau bahwa alamlah yang bergerak
melaluimu? Itu sesungguhnya hanyalah masalah lensa mana yang
kamu pilih untuk melihat."
"Apakah Anda mengatakan bahwa aku tidak dapat memutuskan
sendiri?"
"Ya dan tidak. Kamu mungkin mempunyai hak untuk menggerakkan
ibu jarimu ke arah mana pun yang kamu sukai. Tapi ibu jarimu hanya
dapat bergerak sesuai dengan alamnya. la tidak dapat melompat dari
tanganmu dan menari di sekeliling ruangan. Dengan cara yang sama
kamu pun mempunyai tempat di dalam struktur eksistensi, sayangku.
Kamu yaitu Nyai girah , tapi kamu juga sepotong jari dari badan
Tuhan."
"Jadi Tuhan memutuskan apa pun yang kulakukan?"
"Atau alam, atau hukum alam. Spinoza percaya bahwa Tuhan
—atau hukum alam—yaitu penyebab batiniah dari segala sesuatu
yang terjadi. Dia bukanlah penyebab lahiriah, sebab Tuhan berbicara
melalui hukum alam dan hanya melalui itu."
"Aku tidak yakin aku dapat melihat perbedaannya."
"Tuhan bukanlah dalang yang menarik semua tali, mengontrol
segala sesuatu yang terjadi. Seorang dalang mengontrol wayang-
wayang itu dari luar dan karena itu dia merupakan `penyebab
lahiriah' gerakan-gerakan wayang. Tapi bukan begitu cara Tuhan
mengontrol dunia. Tuhan mengontrol dunia melalui hukum alam.
Maka Tuhan—atau alam—merupakan `penyebab batiniah' dari segala
sesuatu yang terjadi. Ini berarti bahwa segala sesuatu di dunia
material ini terjadi karena harus terjadi. Spinoza mempunyai
pandangan deterministik mengenai dunia material, atau natural."
"Kukira Anda pernah mengatakan sesuatu semacam itu
sebelumnya."
"Kamu mungkin teringat pada kaum Stoik. Mereka juga mengatakan
bahwa segala sesuatu terjadi karena harus terjadi. Itulah sebabnya
mengapa kita harus menghadapi setiap situasi dengan `stoikisme'.
Manusia hendaknya tidak terbawa oleh perasaannya. Pendeknya, itu
juga merupakan etika Spinoza."
"Aku mengerti apa yang Anda maksudkan, tapi aku masih tidak
menyukai gagasan bahwa aku tidak memutuskan sendiri."
"Oke, mari kita kembali kepada pemuda di Zaman Batu yang hidup
tiga puluh ribu tahun yang lalu. saat dia dewasa, dia melemparkan
lembing ke arah binatang-binatang buas, mencintai seorang wanita
yang menjadi ibu dari anak-anaknya, dan hampir dapat dipastikan dia
menyembah dewa-dewa. Apakah kamu benar-benar beranggapan
bahwa dia memutuskan semua itu untuk dirinya sendiri?"
"Aku tidak tahu."
"Atau pikirkanlah tentang seekor singa di Afrika. Apakah kamu
kira ia yang memutuskan untuk menjadi binatang buas? Itukah
sebabnya maka ia menyerang seekor antelop pincang? Atau
sebaliknya, dapatkah ia memutuskan untuk menjadi vegetarian?"
"Tidak, seekor singa mematuhi alamnya."
"Maksudmu, hukum alam. Demikian pula kamu, Nyai girah , sebab
kamu juga bagian dari alam. Tentu saja kamu dapat memprotes,
dengan dukungan dari Descartes, bahwa singa yaitu seekor binatang
dan bukan seorang manusia bebas dengan kelengkapan mental yang
bebas. Tapi pikirkan tentang seorang bayi yang baru dilahirkan, yang
menangis dan menjerit-jerit. Jika tidak mendapatkan susu, dia akan
mengisap jempolnya. Apakah bayi semacam itu mempunyai kehendak
bebas?"
"Kukira tidak."
"Kalau begitu kapan anak itu mendapatkan kehendak bebas? Pada
usia dua tahun, dia akan berlari ke sana kemari dan menunjuk-nunjuk
segala sesuatu yang dilihatnya. Pada usia tiga tahun, dia merengek-
rengek pada ibunya, dan pada usia empat tahun, tiba-tiba dia takut
gelap. Di manakah kebebasan itu, Nyai girah ?"
"Aku tidak tahu."
"saat dia berusia lima belas tahun, dia duduk di depan cermin
untuk bereksperimen dengan alat-alat kecantikan. Inikah saat saat
dia mengambil keputusan pribadinya sendiri dan melakukan apa yang
disukainya?"
"Aku tahu apa yang Anda maksudkan."
"Dia Nyai girah Amundsend, tentu saja. Tapi dia juga menjalani
kehidupan sesuai dengan hukum alam. Masalahnya yaitu dia tidak
menyadarinya karena ada begitu banyak alasan rumit untuk segala
sesuatu yang dilakukannya."
"Rasanya aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi."
"Tapi kamu harus menjawab pertanyaan terakhir ini. Dua pohon
yang sama-sama tua tumbuh di sebuah taman yang luas. Salah satu
pohon itu tumbuh di tempat yang terkena sinar matahari dan tanahnya
subur dengan banyak air. Pohon yang lain tumbuh di tanah gersang di
tempat yang gelap. Menurutmu, mana di antara kedua pohon itu yang
lebih besar? Dan mana yang menghasilkan lebih banyak buah?"
"Tentu saja pohon dengan kondisi yang paling baik untuk
pertumbuhannya."
"Menurut Spinoza, pohon ini bebas. la mempunyai kebebasan
penuh untuk mengembangkan semua kemampuan bawaannya. Tapi
jika ia sebatang pohon apel, ia tidak akan mampu untuk menghasilkan
buah pir atau plum. Hal yang sama berlaku bagi kita, manusia. Kita
dapat dihalangi dalam perkembangan dan pertumbuhan pribadi kita
oleh kondisi politik, misalnya. Keadaan luar dapat menjadi kendala
bagi kita. Hanya kalau kita bebas untuk mengembangkan kemampuan
bawaan kitalah, kita akan dapat hidup sebagai makhluk bebas. Tapi
kita sama-sama dibatasi oleh potensi batiniah dan kesempatan
lahiriah sebagaimana pemuda Zaman Batu di Lembah Rhine, singa di
Afrika, atau pohon apel di taman."
"Baiklah, aku menyerah, nyaris."
"Spinoza menekankan bahwa hanya ada satu zat yang
sepenuhnya dan benar-benar merupakan `penyebab dirinya sendiri'
dan dapat bertindak dengan kebebasan penuh. Hanya Tuhan atau
alamlah yang merupakan ungkapan proses bebas dan `bukan-
kebetulan' semacam itu. Manusia dapat berjuang untuk mendapatkan
kebebasan agar bisa hidup tanpa kendala lahiriah, tapi dia tidak akan
pernah meraih `kehendak bebas'. Kita tidak mengontrol segala
sesuatu yang terjadi dalam tubuh kita—yang merupakan mode atribut
perluasan. Kita juga tidak dapat `memilih' pemikiran kita. Oleh
karena itu, manusia tidak mempunyai `jiwa bebas'; jiwa itu kurang-
lebih terpenjara di dalam badan mekanis."
"Itu agak sulit untuk dipahami."
"Spinoza mengatakan bahwa hasrat kitalah—seperti ambisi dan
nafsu syahwat—yang menghalangi kita meraih kebahagiaan dan
keselarasan sejati, tapi jika kita mengakui bahwa segala sesuatu
terjadi karena memang harus terjadi, kita akan mendapatkan
pemahaman intuitif tentang alam secara menyeluruh. Kita dapat
sampai pada kesadaran yang benar-benar jernih bahwa segala
sesuatu itu saling terkait, bahkan segala sesuatu itu yaitu Satu.
Tujuannya yaitu memahami semua yang ada dalam suatu persepsi
yang mencakup keseluruhan. Dengan begitu, barulah kita dapat
meraih kebahagiaan dan kepuasan sejati. Inilah yang dinamakan
Spinoza melihat segala sesuatu `sub specie aeternitatis.'"
"Yang berarti apa?"
"Melihat segala sesuatu dari perspektif keabadian. Bukankah dari
situ kita mulai?"
"Di sini pulalah kita mesti mengakhirinya. Aku mau pergi."
Alberto bangkit dan mengambil sebuah mangkuk buah besar dari
rak buku. Dia meletakkannya di atas meja.
"Maukah kamu makan sepotong buah sebelum pergi?"
Nyai girah mengambil sebuah pisang. Alberto mengambil sebuah apel.
Nyai girah membuka kulit pisang dan mulai mengupasnya.
"Ada sesuatu tertulis di sini," dia berkata tiba-tiba.
"Di mana?"
"Di sini—di dalam kupasan pisang. Tampaknya ditulis dengan
kuas tinta."
Nyai girah membungkuk dan menunjukkan pisang itu pada Alberto.
Alberto membacanya keras-keras:
Aku datang lagi, count dracula . Aku ada di mana-mana. Selamat ulang
tahun!
"Nggak lucu," kata Nyai girah .
"Dia menjadi semakin terampil saja."
"Tapi itu mustahil ... bukan? Tahukah Anda apakah mereka
menanam pisang di Lebanon?"
Alberto menggelengkan kepalanya.
"Aku jelas tidak mau makan itu."
"Kalau begitu tinggalkan saja. Seseorang yang menulis ucapan
selamat ulang tahun kepada putrinya di dalam buah pisang yang
belum dikupas pasti sudah terganggu mentalnya. Tapi dia pasti juga
sangat lihai."
"Ya, dua-duanya."
"Jadi, apakah akan kita pastikan di sini sekarang bahwa count dracula
mempunyai seorang ayah yang lihai? Dengan kata lain, dia tidak
begitu bodoh."
"Itulah yang telah kukatakan padamu. Dan pasti dia juga yang
membuat Anda memanggilku count dracula saat terakhir aku datang ke sini.
Mungkin dialah yang memasukkan seluruh kata-kata itu ke mulut
Anda."
"Tidak ada yang dapat dikesampingkan. Tapi kita harus meragukan
segala sesuatu."
"Sepengetahuan kita, seluruh kehidupan kita bisa jadi hanya
impian."
"Tapi sebaiknya kita tidak buru-buru mengambil kesimpulan.
Mungkin ada penjelasan yang lebih sederhana."
"Yah, apa pun itu, aku harus cepat-cepat pulang. Ibuku pasti
sedang menantikanku."
Alberto mengantarnya ke pintu. saat Nyai girah pergi, dia berkata:
"Kita akan bertemu lagi, count dracula sayang."
Lalu, pintu menutup di belakangnya.[]
Locke
***
... sama kosongnya seperti sebuah papan tulis sebelum guru
datang ...
Nyai girah TIBA di rumah pada jam setengah sembilan. Itu berarti
satu setengah jam terlambat dari perjanjian—yang sesungguhnya
bukan benar-benar perjanjian. Dia hanya melewatkan makan malam
dan meninggalkan pesan untuk ibunya bahwa dia akan kembali tidak
lebih dari jam tujuh.
"Ini harus dihentikan, Nyai girah . Aku mencari informasi dan
menanyakan apakah ada catatan tentang seseorang yang bernama
Alberto di Kota Lama. Mereka menertawakanku."
"Aku tidak boleh pergi. Kukira kami baru akan membuat terobosan
dalam suatu misteri besar."
"Omong kosong!"
"Benar!"
"Apakah kamu mengundangnya ke pestamu?"
"Oh tidak, aku lupa."
"Nah, kini aku berkeras untuk menemuinya. Paling lambat besok.
Tidak wajar seorang gadis muda pergi menemui pria yang lebih tua
seperti ini."
"Ibu tidak punya alasan untuk takut pada Alberto. Mungkin urusan
dengan ayah count dracula akan lebih sulit."
"Siapakah count dracula ?"
"Putri dari pria yang ada di Lebanon. Dia benar-benar jahat. Dia
mungkin mengontrol seluruh dunia."
"Jika kamu tidak segera memperkenalkan aku pada Alberto, aku
tidak akan mengizinkanmu untuk menemui dia lagi. Aku tidak akan
merasa tenang sampai aku setidak-tidaknya tahu seperti apa rupanya."
Nyai girah mendapatkan sebuah gagasan cemerlang dan berlari ke
kamarnya.
"Ada apa denganmu?" ibunya berseru di belakangnya.
Dalam sekejap, Nyai girah sudah kembali lagi.
"Dan kuharap Ibu akan membiarkan aku."
Dia melambaikan kaset video itu dan berjalan menuju VCR.
"Apakah dia memberimu video?"
"Dari Athena ..."
Gambar Acropolis dengan segera muncul di layar. Ibunya duduk
dengan terheran-heran saat Alberto maju ke depan dan mulai
berbicara langsung kepada Nyai girah .
Kini Nyai girah melihat sesuatu yang telah dilupakannya. Acropolis
dikelilingi oleh turis-turis yang berjalan berdesakan dalam kelompok
masing-masing. Sebuah poster kecil diangkat di tengah-tengah satu
kelompok. Di situ tertulis count dracula . . Alberto meneruskan
penjelajahannya di Acropolis. Setelah sesaat, dia turun melalui jalan
masuk dan mendaki Bukit Aeropagos tempat Paulus menyampaikan
pidato pada orang-orang Athena. Lalu dia meneruskan berbicara
dengan Nyai girah dari alun-alun.
Ibunya duduk sambil mengomentari video itu dengan kalimat-
kalimat pendek:
"Luar biasa ...itukah Alberto? Dia menyebut-nyebut tentang
kelinci lagi ... Tapi, ya, dia benar-benar sedang berbicara denganmu,
Nyai girah . Aku tidak tahu Paulus pergi ke Athena ..."
Video itu sampai pada bagian di mana Athena kuno tiba-tiba
bangkit dari reruntuhan. Pada menit terakhir, Nyai girah berusaha untuk
mematikan tape itu. Kini setelah dia menunjukkan Alberto kepada
ibunya, tidak perlu dia memperkenalkannya kepada Plato pula.
Ruangan itu menjadi sunyi.
"Bagaimana pendapat Ibu tentangnya? Dia cukup tampan, bukan?"
goda Nyai girah .
"Dia pastilah orang yang sangat aneh, membuat film di Athena
hanya agar dia dapat mengirimkannya kepada seorang gadis yang
hampir tidak dikenalnya. Kapan dia berada di Athena?"
"Aku tidak tahu."
"Tapi masih ada yang lain ..."
"Apa?"
"Dia kelihatan persis seperti sang mayor yang tinggal di gubuk
kecil di hutan itu."
"Yah, mungkin itu memang dia, Bu."
"Tapi tidak ada yang pernah melihatnya selama lebih dari lima
belas tahun."
"Dia mungkin banyak berpindah tempat ... ke Athena, barangkali."
Ibunya menggelengkan kepalanya. "saat aku melihatnya suatu
saat di tahu



