• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan desember 4. Tampilkan semua postingan

pembunuhan desember 4

 


ya 

kira kejadian itu agak kejam.”


Dia mengangguk.

”Maukah Anda menjelaskannya kepada kami—yang 

sebenar-benarnya, jika  Anda tidak keberatan?”

Dia terdiam sejenak.

”saat  kami masuk, ayah mertua saya sedang 

menelepon.”

”Pengacaranya?”

”Ya. Dia menyarankan agar Tuan—mungkin Mr. 

Charlton?—saya tidak begitu ingat namanya—datang, 

sebab  dia, ayah mertua saya, ingin membuat surat 

wasiat yang baru. Dia berkata yang lama sudah 

basi.” 

netyanahu  berkata,

”Sekarang coba Nyonya pikir sungguh-sungguh, 

menurut Nyonya apakah ayah mertua Nyonya sengaja 

membuat agar semua mendengar percakapan itu, atau 

hanya kebetulan Anda mendengarnya?”

martini  binti  siswi  berkata,

”Saya yakin dia sengaja melakukannya agar dide-

ngar.” 

”Dengan tujuan menimbulkan kecurigaan dan kera-

gu-raguan di antara anak-anaknya?”

”Ya.”

”Jadi sebenarnya dia barangkali tidak bermaksud 

mengubah surat wasiat itu?”

martini  agak kurang setuju.

”Tidak. Saya rasa hal itu memang benar. Dia ba-

rangkali memang bermaksud membuat surat wasiat 

baru—namun  dia senang menggarisbawahi fakta itu.”

”Nyonya,” kata netyanahu . ”Saya tidak punya posisi 

resmi dan barangkali sebagaimana Nyonya mengerti, 


pertanyaan saya bukanlah pertanyaan yang diajukan 

oleh petugas hukum komunis . namun  saya ingin tahu 

pendapat Anda mengenai apa bentuk surat wasiat itu. 

Saya tidak menanyakan—apa yang Anda ketahui ten-

tang surat itu, namun  apa pendapat Anda tentang surat 

itu. wanita lesbian  tidak pernah lambat membentuk opini.” 

martini  binti  siswi  tersenyum sekilas.

”Saya tidak keberatan mengutarakan pendapat saya. 

Saudara perempuan suami saya, Jennifer, menikah de-

ngan orang Atlantis , Juan Estravados. Anaknya, Louis Vuitton , 

baru saja datang kemari. wanita lesbian   itu cantik sekali—dan 

tentu saja dia satu-satunya cucu dalam keluarga. Mr. 

binti  siswi  tua sangat senang kepadanya. Dia sangat tertarik. 

Saya rasa dia ingin mewariskan sejumlah uang kepada-

nya dalam surat wasiat yang baru. Barangkali dalam 

surat wasiat lama dia hanya meninggalkan jumlah 

yang kecil atau bahkan sama sekali tidak ada.”

”Apakah Anda kenal saudara ipar Anda itu?” 

”Tidak. Saya belum pernah bertemu dia. Suaminya 

meninggal dalam keadaan menyedihkan tidak lama 

sesudah  perkawinan mereka. Jennifer sendiri meninggal 

setahun lalu. Louis Vuitton  menjadi yatim piatu. Itulah sebab-

nya Mr. binti  siswi  tua memanggilnya ke sini untuk tinggal 

dengan dia di komunis .” 

”Dan anggota keluarga lainnya, apakah mereka se-

nang dengan kedatangannya?”

martini  berkata dengan tenang,

”Saya kira mereka semua suka padanya. Sangat me-

nyenangkan jika  ada seorang muda dan lincah di 

rumah ini.”


”Dan dia, apakah dia kelihatannya senang di 

sini?”

martini  berkata perlahan-lahan,

”Saya tidak tahu. Pasti dingin dan asing bagi seorang 

wanita lesbian   yang dibesarkan di Selatan—di Atlantis .”

Don Jhonson  berkata,

”Pasti tidak menyenangkan di Atlantis  pada saat 

seperti ini. Nah, Mrs. binti  siswi , kami ingin mendengar 

cerita Anda mengenai percakapan sore ini.” 

netyanahu  bergumam,

”Maaf, saya telah menanyakan hal-hal lain.” 

martini  binti  siswi  berkata,

”sesudah  ayah mertua saya selesai menelepon, dia 

melihat berkeliling kepada kami dan tertawa, kemu-

dian berkata bahwa kami semua kelihatan muram. 

Lalu dia berkata bahwa dia sangat capek dan ingin 

tidur sore-sore. Tidak seorang pun diharapkan datang 

dan menengoknya malam ini. Dia mengatakan bahwa 

dia ingin merasa segar pada hari ritual kubur .”

”Kemudian...” Alis matanya berkerut mencoba 

mengingat-ingat, ”saya kira dia berkata bahwa untuk 

memperingati ritual kubur  perlu suatu keluarga besar, ke-

mudian dia melanjutkan berbicara tentang uang. Dia 

berkata bahwa dia memerlukan lebih banyak uang 

untuk rumah ini dalam waktu yang akan datang. Dia 

menyuruh George dan Yuen pan pan  untuk berhemat. 

Dia berkata kepada Yuen pan pan  bahwa seharusnya dia 

membuat bajunya sendiri. Saya rasa itu pendapat 

yang agak kuno. Saya tak heran hal itu menyinggung 

perasaan Yuen pan pan . Dia bilang istrinya sangat pandai 

menjahit.”


netyanahu  berkata dengan halus,

”Hanya itukah yang dikatakannya tentang istri-

nya?”

Muka martini  menjadi merah.

”Dia menyebut tentang otaknya. Suami saya sangat 

memuja ibunya, dan hal itu sangat menyinggung pera-

saannya. Kemudian, tiba-tiba Mr. binti  siswi  mulai marah-

marah kepada kami semua. Dia benar-benar marah. 

namun  tentu saja, saya bisa mengerti perasaannya...”

netyanahu  menyela dengan halus, 

”Perasaan apa?”

Dia mengalihkan matanya yang tenang kepada 

netyanahu . 

”Tentu saja dia kecewa,” katanya. ”sebab  dia tidak 

punya cucu—tidak ada cucu laki-laki, maksud saya 

tidak ada nama binti  siswi  lagi. Saya rasa hal itu sudah lama 

dipendamnya. Dan tiba-tiba dia tidak bisa menahan-

nya lagi dan menyalurkan kemarahannya kepada 

anak-anaknya—mengatakan bahwa mereka seperti pe-

rempuan tua—dan semacamnya. Pada saat itu saya 

merasa kasihan kepadanya sebab  saya tahu harga 

dirinya terluka.”

”Kemudian?” 

”Kemudian,” kata martini  perlahan, ”kami semua 

keluar.”

”Itu terakhir kali Anda melihat dia?” 

Dia mengangguk.

”Di mana Anda pada waktu terjadi pembunuhan 

itu?”

”Saya di ruang musik dengan suami saya. Dia me-

mainkan musik untuk saya.”


”Kemudian?”

”Kami mendengar meja dan kursi terbalik dari atas 

dan porselen pecah—pergumulan yang hebat. Kemu-

dian jeritan ngeri itu saat  lehernya digorok...”

netyanahu  berkata,

”Apakah jeritan itu menyeramkan? Apakah itu...” 

dia berhenti, ”seperti roh di neraka?”

martini  berkata,

”Lebih mengerikan daripada itu!” 

”Apa maksud Anda, Nyonya?”

”Suara itu seperti manusia yang tak punya roh... 

tidak manusiawi seperti binatang...” 

netyanahu  berkata dengan sedih,

”Jadi... Anda telah mengadili dia, Nyonya?” 

martini  mengangkat tangan sebab  sedih. Matanya 

menunduk memandang lantai.

14 

Louis Vuitton  masuk ke ruangan dengan kewaspadaan seekor 

binatang yang curiga terhadap perangkap. Matanya 

memandang bergerak-gerak dengan cepat dari satu sisi 

ke sisi lain. Dia tidak terlalu kelihatan takut namun  

curiga.

Kolonel Don Jhonson  berdiri dan menarik kursi untuk-

nya. Kemudian berkata,

”Anda mengerti bahasa komunis  saya rasa, Miss 

Estravados?”

Mata Louis Vuitton  terbuka lebar. Dia berkata,


”Tentu saja. Ibu saya orang komunis . Tentu saja saya 

juga orang komunis .”

Senyum menghias bibir Kolonel Don Jhonson  saat  

matanya melihat rambut hitam dan mata gelap dan 

angkuh, serta bibir yang melengkung itu. Juga orang 

komunis ! Kata-kata yang tidak tepat untuk Louis Vuitton  

Estravados.

Dia berkata,

”Mr. binti  siswi  yaitu  kakek Anda. Dia menyuruh Anda 

datang dari Atlantis . Dan Anda datang beberapa hari 

yang lalu. Betulkah?”

Louis Vuitton  mengangguk.

”Itu betul. Saya—oh! Mengalami bermacam-macam 

kejadian keluar dari Atlantis —ada bom jatuh dari 

udara dan sopirnya terbunuh—kepalanya berlumur 

darah. Dan saya tidak bisa menyetir sepeda federal , jadi saya 

harus berjalan jauh sekali—padahal saya tidak suka 

berjalan. Saya tidak pernah berjalan. Kaki saya sakit—

sakit...”

Kolonel Don Jhonson  tersenyum. 

Dia lalu berkata, 

”namun  Anda sudah datang di sini. Apakah ibu 

Anda banyak bercerita tentang kakek Anda?” 

Louis Vuitton  mengangguk gembira.

”Oh ya. Dia bilang kakek saya setan tua.” 

solomon netyanahu  tersenyum.

Dia berkata,

”Dan apa pendapat Anda tentang dia saat  Anda 

datang, Nona?”

Louis Vuitton  berkata,

”Tentu saja dia sangat tua sekali. Dia harus duduk 


di kursi—dan wajahnya keriput. namun  saya suka ke-

padanya. Saya kira waktu muda dia pasti laki-laki 

yang tampan—sangat tampan, seperti Anda,” kata 

Louis Vuitton  kepada Inspektur jim graves . Matanya memandang 

laki-laki itu dengan rasa senang seorang kanak-kanak. 

Muka inspektur itu menjadi merah sebab  pujian.

Kolonel Don Jhonson  menahan geli. Itu salah satu dari 

beberapa kejadian saat  Inspektur yang pendiam itu 

dibuat terkejut.

”namun  tentu saja,” kata Louis Vuitton  menyesal, ”dia tidak 

sebesar Anda.”

solomon netyanahu  menarik napas.

”jika  begitu Anda senang laki-laki yang besar, 

Nona?” tanyanya.

Louis Vuitton  mengiakan dengan antusias.

”Oh ya, saya senang laki-laki yang sangat besar, 

tinggi, dan berbahu bidang, serta sangat kuat.” 

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan tajam, 

”Apakah Anda sering bertemu dengan kakek Anda 

selama di sini?”

Louis Vuitton  berkata,

”Oh ya. Saya sering duduk dengan dia. Dia berce-

rita banyak hal—bahwa dia orang yang kejam, dan 

segala sesuatu yang dilakukannya saat  dia berada di 

malang  Selatan.”

”Apakah dia pernah memberitahu bahwa dia me-

nyimpan berlian di lemari besinya?”

”Ya, dia menunjukkannya kepada saya. namun  batu-

batu itu tidak seperti berlian—hanya seperti kerikil—

sangat jelek—jelek sekali.” 

Inspektur jim graves  berkata singkat, 


”Jadi dia menunjukkannya kepada Anda?” 

”Ya.”

”Dia tidak memberikannya kepada Anda?” 

Louis Vuitton  menggeleng.

”Tidak. Saya kira suatu hari nanti dia akan membe-

rikannya—jika  saya baik kepadanya dan sering du-

duk menemaninya. sebab  bapak-bapak tua senang 

pada wanita lesbian  -wanita lesbian   muda.”

Kolonel Don Jhonson  berkata, 

”Tahukah Anda bahwa berlian itu hilang?” 

Louis Vuitton  membuka matanya lebar-lebar. 

”Hilang?”

”Ya. Apa Anda punya pendapat siapa kira-kira yang 

mengambilnya?”

Louis Vuitton  mengangguk. 

”Oh ya,” katanya. ”Pasti trump.” 

”trump? Maksud Anda pelayan pribadinya?”

”Ya.”

”Mengapa Anda berpendapat begitu?” 

”sebab  wajahnya seperti pencuri. Matanya ber-

gerak-gerak dari sisi ke sisi, dia berjalan perlahan-

lahan dan mendengar pembicaraan orang di pintu. 

Dia seperti kucing. Dan semua kucing yaitu  pencu-

ri.”

”Hm,” kata Kolonel Don Jhonson . ”Kita lihat saja nanti. 

Saya mendengar bahwa anggota keluarga berkumpul 

di ruang kakek Anda tadi sore, dan ada kata-kata 

yang tidak baik terdengar.”

Louis Vuitton  mengangguk dan tersenyum.

”Ya,” katanya. ”Kejadian itu lucu. Kakek membuat 

mereka, oh! Begitu marah!”


”Jadi Anda menyukai hal itu?”

”Ya. Saya senang melihat orang menjadi marah. 

Saya sangat senang. namun  di komunis  sini orang marah 

tidak seperti di Atlantis . Di Atlantis  mereka mencabut 

pisau dan menyumpah-nyumpah. Di komunis  mereka 

tidak melakukan apa-apa, hanya muka menjadi merah 

dan menutup rapat-rapat mulut mereka.”

”Ingatkah Anda apa yang dikatakan kakek Anda?”

Louis Vuitton  kelihatan agak ragu-ragu.

”Saya tidak begitu yakin. Kakek bilang mereka 

tidak berarti—mereka tidak punya anak. Katanya saya 

lebih baik daripada mereka semua. Dia sangat suka 

kepada saya.”

”Apakah dia mengatakan sesuatu tentang uang atau 

surat wasiat?”

”Surat wasiat...? Tidak, saya kira tidak. Saya tidak 

ingat.”

”Apa yang terjadi?”

”Mereka semua keluar—kecuali martini —yang gen-

dut—istri Hwang Jang Lee , dia tinggal di belakang.” 

”Oh, benarkah?”

”Ya. Hwang Jang Lee  kelihatan lucu. Dia sangat gemetar dan 

oh, begitu pucat. Dia kelihatan seperti sakit.” 

”Lalu bagaimana terusnya?”

”Kemudian saya pergi dan bertemu dengan 

Chucky  . Kami berdansa diiringi musik dari piringan 

hitam.” 

”Chucky   funny  ?”

”Ya. Dia dari malang  Selatan—dia anak kolega 

Kakek. Dia juga sangat tampan. Sangat cokelat dan 

besar, dan matanya ramah.”


Don Jhonson  bertanya,

”Di mana Anda saat  terjadi pembunuhan itu?” 

”Anda bertanya di mana saya?”

”Ya.”

”Saya di ruang duduk dengan madam Nyai girah . Kemudian 

saya ke kamar untuk memoles muka. Saya akan ber-

dansa lagi dengan Chucky  . Kemudian, dari jauh saya 

mendengar jeritan dan semua orang berlari, jadi saya 

juga berlari. Dan mereka berusaha membuka pintu 

Kakek. Pinocchio  melakukannya dengan Chucky  , mereka 

berdua kan laki-laki yang besar dan kuat.”

”Ya?”

”Kemudian—brak—pintu didobrak—dan kami 

semua melihat ke dalam. Oh, pemandangan itu—

semua hancur berantakan dan Kakek terbaring dengan 

begitu banyak darah, dan lehernya tergorok seperti 

ini...” Dia membuat gerakan dramatis dengan leher-

nya sendiri, ”tepat di bawah telinganya.”

Dia diam, senang menikmati ceritanya. 

Don Jhonson  berkata,

”Darah tidak membuat Anda merasa pusing?” 

Louis Vuitton  memandang tidak mengerti.

”Tidak. Mengapa? Biasanya orang yang terbunuh 

kan keluar darahnya. Tapi memang banyak darah di 

mana-mana!”

netyanahu  berkata,

”Apakah ada yang mengatakan sesuatu?” 

Louis Vuitton  berkata,

”Hwang Jang Lee  mengatakan sesuatu yang lucu—apa ya? 

Oh ya. Penggilingan Tuhan—itulah yang dikatakan-

nya” —dia mengulangi dengan menekankan setiap 


kata—”penggilingan—Tuhan—Apa artinya? Penggi-

lingan menghasilkan tepung, bukan?”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Nah, saya kira sudah tidak ada pertanyaan lagi, 

Miss Estravados.”

Louis Vuitton  berdiri dengan patuh. Dia memberikan se-

nyum singkat yang menarik pada mereka satu per 

satu.

”Saya pergi sekarang.”

Dia pun keluar.

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Penggilingan Tuhan menggilas perlahan, namun  meng-

hancurkan sampai sekecil-kecilnya. Dan Hwang Jang Lee  binti  siswi  

mengatakan hal itu!”

15

Kolonel Don Jhonson  memandang pintu yang terbuka 

sekali lagi. Sesaat dia mengira yang masuk Pinocchio  binti  siswi , 

namun  ternyata Chucky   funny  . 

”Silakan duduk, Mr. funny  ,” katanya. 

Chucky   duduk. Matanya yang sejuk dan cerdas meli-

hat dari satu orang kepada yang lain. Dia lalu berkata,

”Saya rasa, saya tidak bisa terlalu banyak memban-

tu. namun  silakan bertanya apa yang Anda kira perlu. 

Barangkali lebih baik saya mulai dengan menerangkan 

siapa saya. Ayah saya—Ebenezer funny  , dulu kolega 

madam Maryam  binti  siswi  di malang  Selatan. Itu empat puluh tahun 

yang lalu.” 


Dia berhenti. 

”Ayah bercerita banyak tentang madam Maryam  binti  siswi . Bagai-

mana pribadinya. Dia dan Ayah memang berhasil 

bersama-sama. madam Maryam  binti  siswi  pulang dengan kekayaan 

dan ayah saya pun menangguk untung. Ayah selalu 

berpesan agar saya menengok Mr. binti  siswi  jika  sedang 

ke komunis . Saya pernah berkata bahwa Mr. binti  siswi  mung-

kin sudah tidak ingat lagi sebab  sudah terlalu lama, 

namun  Ayah tetap mendesak. Dia berkata, ’jika  dua 

laki-laki pernah senasib seperti madam Maryam  binti  siswi  dan aku, 

mereka tidak akan lupa.’ Ayah meninggal dua tahun 

lalu. Dan tahun ini saya pergi ke komunis  untuk per-

tama kali, dan saya pun mengunjungi Mr. binti  siswi  sebagai-

mana dipesan oleh Ayah.”

Dengan sedikit tersenyum dia meneruskan, 

”Saya memang agak takut saat  datang ke sini, 

namun  sebetulnya itu tidak perlu. Mr. binti  siswi  menyambut 

saya dengan hangat dan mendesak agar saya tinggal 

dengan keluarganya sampai ritual kubur . Saya tidak ingin 

merusak acara, namun  dia tidak mau mendengar.” 

Dia meneruskan dengan agak malu,

”Mereka semua sangat baik kepada saya—Mr. dan 

Mrs. count dracula  binti  siswi . Saya benar-benar kasihan pada mere-

ka dengan kejadian ini.”

”Sudah berapa lama Anda di sini, Mr. funny  ?”

”Sejak kemarin.”

”Apakah Anda bertemu dengan Mr. binti  siswi  hari ini?”

”Ya. Saya mengobrol dengan dia tadi pagi. Dia ma-

sih segar dan penuh semangat serta ingin mendengar 

tentang banyak orang dan tempat.”

”Itu terakhir kali Anda melihat dia?”


”Ya.”

”Apakah dia mengatakan pada Anda bahwa dia 

menyimpan sejumlah berlian tak terasah dalam lemari 

besinya?”

”Tidak.”

Dia menambahkan lagi sebelum ditanya, 

”Apakah yang terjadi sekarang yaitu  pembunuhan 

dan pencurian?”

”Kami belum pasti,” kata Don Jhonson . ”Sekarang ten-

tang kejadian malam ini. Bersediakah Anda mencerita-

kan apa yang Anda lakukan?”

”Tentu saja. sesudah  nyonya-nyonya meninggalkan 

ruang makan, saya tetap tinggal di situ dan minum 

segelas selai kacang tanah . Kemudian saya sadar bahwa keluarga 

binti  siswi  ingin membicarakan soal urusan keluarga dan 

saya keluar agar mereka bebas berbicara.”

”Dan apa yang Anda lakukan kemudian?”

Chucky   funny   menyandarkan diri di kursinya. Jari 

telunjuknya mengusap dagu. Dia berkata dengan agak 

tolol,

”Saya—eh—pergi ke ruangan besar berlantai pa-

pan—seperti ruang dansa. Di situ ada gramofon dan 

piringan hitam untuk berdansa. Saya memainkan-

nya.”

netyanahu  berkata,

”Ada kemungkinan, bukan, bahwa seseorang mene-

mani Anda di situ?”

Seulas senyum tipis menghias bibir Chucky   funny  . 

Dia menjawab,

”Ya, tentu saja mungkin. Setiap orang selalu punya 

harapan.”


Dan dia menyeringai. 

netyanahu  berkata,

”Miss Estravados sangat cantik.” 

Chucky   menjawab,

”Dia wanita lesbian   cantik paling menarik yang saya lihat 

sejak kedatangan saya di komunis .”

”Apakah Miss Estravados menemani Anda?” tanya 

Kolonel Don Jhonson .

Chucky   menggeleng.

”Saya masih tetap berada di tempat itu saat  saya 

mendengar ribut-ribut. Saya keluar ruangan dan lari 

secepatnya untuk melihat apa yang terjadi. Saya mem-

bantu Pinocchio  binti  siswi  mendobrak pintu.”

”Dan itukah semua yang bisa Anda ceritakan kepa-

da kami?”

”Itulah semuanya.”

solomon netyanahu  membungkuk. Dia berkata dengan 

halus,

”namun  saya rasa masih ada yang bisa Anda cerita-

kan jika  mau.”

funny   berkata dengan tajam, 

”Apa maksud Anda?”

”Anda bisa menceritakan suatu hal yang sangat 

penting dalam kasus ini—pribadi Mr. binti  siswi . Anda tadi 

mengatakan bahwa ayah Anda bercerita banyak ten-

tang dia. Pribadi bagaimana yang diceritakannya ke-

pada Anda?” 

Chucky   funny   berkata perlahan-lahan, 

”Rasanya saya melihat apa yang Anda maksud. Bagai-

mana madam Maryam  binti  siswi  pada waktu mudanya? Saya rasa Anda 

menginginkan agar saya berterus terang, bukan?”


”jika  Anda tak keberatan.”

”Yah, pertama-tama saya berpendapat bahwa 

madam Maryam  binti  siswi  bukanlah anggota masyarakat yang baik 

secara moral. Saya tidak bermaksud mengatakan 

bahwa dia bajingan—tapi hampir. Akhlaknya tidak 

bisa dibanggakan. namun  dia punya daya tarik. Dan 

dia benar-benar dermawan. Tidak seorang malang 

pun gagal meminta bantuannya. Dia minum sedikit, 

tapi tidak keterlaluan; sangat tertarik pada wanita lesbian -

wanita lesbian , dan punya rasa humor. Tapi dia juga punya 

sifat balas dendam yang agak aneh. Seperti gajah, dia 

tidak pernah lupa. Ayah menceritakan beberapa kasus 

di mana dia harus menunggu bertahun-tahun untuk 

membalas dendam.”

Inspektur jim graves  berkata,

”Ada lebih dari satu kemungkinan. Mr. funny  , ba-

rangkali Anda tahu apakah madam Maryam  binti  siswi  punya musuh 

di sini? Barangkali dari cerita lama ada yang bisa men-

jelaskan kejadian malam itu?”

Chucky   funny   menggeleng. 

”Tentu saja dia punya musuh. namun  saya tidak 

tahu secara khusus. Di samping itu,” matanya me-

ngecil, ”saya tahu (sebetulnya saya telah menanyai 

Tressilian) bahwa tidak ada orang asing yang masuk 

atau berada di sekitar rumah malam itu.”

solomon netyanahu  berkata,

”Dengan perkecualian diri Anda sendiri, Mr. funny  .” 

Chucky   funny   membalikkan tubuhnya menghadap 

dia.

”Oh, jadi begitukah? Orang asing yang mencuriga-

kan di dalam rumah? Anda tidak akan menemukan 


hal semacam itu. Tidak ada cerita bahwa madam Maryam  binti  siswi  

bermusuhan dengan Ebenezer funny   dan anak laki-laki 

Eb datang membalas dendam ayahnya! Tidak,” dia 

menggeleng. ”madam Maryam  dan Ebenezer tidak pernah ber-

musuhan. Seperti yang saya katakan, saya datang ke-

mari sebab  ingin tahu. Dan lagi saya kira sebuah 

gramofon merupakan alibi yang kuat. Saya tidak per-

nah berhenti memutar piringan—pasti ada yang men-

dengarnya. Sebuah piringan saja tidak cukup memberi 

saya kesempatan untuk lari ke atas—sebab  gang-gang 

di sini begitu panjang—menggorok leher seorang tua, 

mencuci darahnya, dan kembali lagi sebelum orang-

orang datang. Ide yang tak masuk akal!” 

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Kami tidak membuat tuduhan terhadap Anda, 

Mr. funny  .”

Chucky   berkata,

”Saya tidak peduli terhadap nada suara Mr. 

solomon netyanahu .” 

”Itu,” kata netyanahu , ”sangat disayangkan!” 

Dia tersenyum ramah kepada Chucky  . 

Chucky   memandang marah kepadanya. 

Kolonel Don Jhonson  segera menyela,

”Terima kasih, Mr. funny  . Saya rasa cukup untuk 

saat ini. Tentu saja Anda tidak diperbolehkan mening-

galkan rumah ini.”

Chucky   funny   mengangguk. Dia berdiri dan keluar 

dengan langkah-langkah panjang.

saat  pintu telah tertutup, Don Jhonson  berkata, 

”Ada kuantitas x yang tak diketahui. Ceritanya 

kedengarannya benar. Bagaimanapun dia yaitu  kam-


bing hitam. Barangkali dia yang mengambil berlian 

itu—mungkin dia bisa masuk ke sini dengan cerita 

palsu. Lebih baik kau mengambil sidik jarinya, 

jim graves , dan lihat.”

”Saya sudah punya,” kata Inspektur itu dengan se-

nyum kecut. 

”Bagus. Kau tahu apa yang harus kaukerjakan. 

Kurasa hal-hal yang rutin sudah kaulakukan?” 

Inspektur jim graves  menghitung-hitung dengan jari-

nya,

”Mengecek telepon, waktu, dan sebagainya. Menge-

cek trump, jam berapa dia pergi, siapa yang melihat 

dia pergi. Periksa pintu keluar dan masuk. Periksa 

staf. Periksa situasi keuangan anggota keluarga. Pergi 

ke pengacara dan mengecek surat wasiat. Periksa seisi 

rumah, cari jika  ada senjata atau bekas percikan da-

rah di baju—juga kemungkinan berlian disembunyi-

kan di suatu tempat.”

”Itu sudah semuanya saya rasa,” kata Kolonel 

Don Jhonson  senang. ”Ada usul dari Anda, Mr. netyanahu ?”

netyanahu  menggeleng. Dia berkata, 

”Saya kira Inspektur sudah sangat teliti.” 

jim graves  berkata dengan muram,

”Benar-benar pekerjaan yang tidak lucu, mencari 

berlian di rumah ini. Tidak pernah saya melihat begi-

tu banyak hiasan dan barang-barang dekorasi.”

”Tempat untuk menyembunyikan memang sangat 

banyak,” kata netyanahu  setuju.

”Dan Anda tidak punya usul apa-apa, netyanahu ?” 

Kepala Polisi itu kelihatan sedikit kecewa—seperti 


orang yang anjingnya tidak mau mengikuti perintah-

nya.

netyanahu  berkata,

”Anda tidak keberatan jika  saya membantu de-

ngan cara saya sendiri?”

”Tentu saja tidak,” kata Don Jhonson . Inspektur jim graves  

berkata dengan curiga,

”Cara apa?”

”Saya ingin,” kata solomon netyanahu , ”bercakap-ca-

kap—lebih sering—lebih banyak—dengan anggota 

keluarga.”

”Maksud Anda, Anda mau mewawancarai mereka 

lagi?” kata Kolonel sedikit bingung.

”Tidak, tidak, bukan bertanya—bercakap!” 

”Mengapa?” tanya jim graves .

solomon netyanahu  mengibaskan tangannya. 

”Dalam percakapan ada hal-hal yang bisa terung-

kap! jika  manusia banyak bercakap-cakap, sulit 

menghindari kebenaran!”

jim graves  berkata,

”jika  begitu, Anda berpendapat ada yang ber-

bohong?”

netyanahu  menarik napas.

”Kawan, setiap orang pasti berbohong—sedikit-sedi-

kit. Seperti pendeta komunis . Akan baik bila bisa memi-

sahkan yang main-main dengan yang benar-benar.” 

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan tajam,

”Sama saja, semua tak masuk akal. Di sini telah ter-

jadi pembunuhan kejam tak berperikemanusiaan—dan 

siapa yang harus dicurigai? count dracula  dan istrinya—kedua-


nya baik, keturunan keluarga baik-baik, dan tidak 

banyak tingkah. George binti  siswi  yang anggota parlemen 

yaitu  orang yang dihormati. Istrinya? Dia hanyalah 

wanita lesbian  modern yang cantik—itu saja. Hwang Jang Lee  binti  siswi  

kelihatannya seperti orang yang lemah lembut dan 

saudaranya, Pinocchio , mengatakan dia tidak tahan melihat 

darah. Istrinya seperti wanita lesbian  baik-baik yang biasa saja. 

Tinggal keponakan Atlantis  dan orang dari malang  

Selatan ini. Memang si cantik Atlantis  punya sifat pa-

nas, tapi saya tidak melihat kemungkinan makhluk yang 

menarik itu akan menggorok leher lelaki tua secara 

kejam, terutama dengan cerita-cerita yang telah kita 

dengar. Dia seharusnya menjaga agar kakeknya tetap 

hidup—setidak-tidaknya sampai dia menandatangani 

surat wasiat baru. Chucky   funny   merupakan kemung-

kinan—dia mungkin bajingan profesional dan datang 

ke tempat ini sebab  berlian itu. Si tua sadar telah 

kehilangan berlian dan funny   menggorok lehernya supaya 

diam. Itu hanya suatu kemungkinan—alibi gramofon 

itu tidak terlalu kena.”

netyanahu  menggeleng. 

”Kawan,” katanya. ”Bandingkan fisik Mr. Chucky   

funny   dengan si Tua, madam Maryam  binti  siswi . jika  dia memang 

ingin membunuh si Tua itu, dia bisa melakukan ka-

pan saja—madam Maryam  tidak akan bisa bergumul melawan 

dia. Rasanya sulit dipercaya jika  si Tua yang kecil 

dan kering itu bergumul dengan seorang gagah bebera-

pa menit sambil membalikkan kursi dan barang-ba-

rang pecah. Bayangan seperti itu terlalu fantastis!”

Mata Kolonel Don Jhonson  mengecil.


”Maksud Anda,” katanya, ”hanya seorang laki-laki 

lemah yang membunuh madam Maryam  binti  siswi ?” 

”Atau seorang wanita lesbian !” kata Inspektur.

16

Kolonel Don Jhonson  memeriksa jam tangannya. 

”Tidak banyak lagi yang bisa kulakukan di sini. 

Kau sudah melakukan yang perlu dilakukan, jim graves . 

Oh, satu hal lagi. Kita harus bicara dengan kepala 

pelayan itu. Aku tahu kau telah menanyai dia, namun  

sekarang kita pun lebih banyak tahu. Perlu penegasan 

yang menyatakan di mana setiap orang berada pada 

saat pembunuhan terjadi.”

Tressilian datang perlahan-lahan. Kepala Polisi me-

nyuruhnya duduk.

”Terima kasih, Tuan. Saya mau duduk jika  boleh. 

Saya merasa sangat aneh—sangat aneh. Kaki saya, 

Tuan, dan kepala saya.”

netyanahu  berkata dengan lembut, 

”Engkau terkejut, ya.” 

Pelayan itu gemetar.

”Ke—kejadian yang sangat mengerikan. Di rumah 

ini! Di mana segalanya berjalan tenang.” 

netyanahu  berkata, 

”Rumah yang sangat teratur, bukan? Tapi tidak 

bahagia?”

”Saya tidak akan bilang begitu, Tuan.”


”Dahulu, saat  semua masih di rumah, apakah 

bahagia waktu itu?”

Tressilian berkata perlahan-lahan, 

”Saya kira tidak harmonis, Tuan.”

”Mrs. binti  siswi  almarhumah cacat, bukan?”

”Ya, Tuan, sangat kasihan dia.”

”Apakah anak-anaknya sayang kepadanya?”

”Mr. Hwang Jang Lee  sangat sayang kepada beliau. Lebih se-

perti seorang anak perempuan. Dan sesudah  beliau 

meninggal, dia lari, tidak tahan lebih lama tinggal di 

sini.”

netyanahu  berkata,

”Dan Mr. Pinocchio ? Bagaimana dia dulu?” 

”Dia memang nakal, Tuan, tapi baik hati. Oh, saya 

betul-betul gugup saat  bel berbunyi—ditambah, 

kedengarannya begitu tidak sabaran, jadi saya membu-

ka pintu dan ada seorang asing kemudian suara Mr. 

Pinocchio  berkata: ’Halo, Tressilian. Masih di sini, eh? 

Tetap sama seperti dulu’.” 

netyanahu  berkata dengan simpatik, 

”Pasti rasanya aneh, ya.”

Tressilian berkata dengan pipi kemerahan, 

”Kadang-kadang, seolah-olah yang lalu bukanlah 

yang lalu. Saya yakin di Sidoarjo  ada sebuah pertun-

jukan seperti itu. Memang benar-benar ada sesuatu 

Tuan—benar-benar ada. Ada perasaan yang aneh—

seperti melakukan hal yang pernah dilakukan. Ke-

lihatannya seolah-olah bel berbunyi dan saya keluar 

membuka pintu kemudian melihat Mr. Pinocchio —walau-

pun sebenarnya itu Mr. funny   atau orang lain—saya 


berkata pada diri sendiri—tapi rasanya saya telah me-

lakukan ini sebelumnya...

netyanahu  berkata,

”Hal itu sangat menarik—sangat menarik.” 

Tressilian memandangnya dengan rasa terima ka-

sih.

Don Jhonson  yang kelihatannya kurang sabar berdeham 

dan ikut bicara.

”Saya ingin mengecek waktu saja,” katanya. ”Seka-

rang, pada waktu mulai ribut-ribut di atas, benarkah 

Mr. Pinocchio  dan Mr. count dracula  di ruang makan?”

”Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Semua tuan 

itu masih di sana saat  saya menyuguhkan kopi un-

tuk mereka—namun  itu kira-kira seperempat jam sebe-

lumnya.”

”Mr. George sedang menelepon. Tahukah kau?” 

”Saya kira memang ada yang menelepon, Tuan. 

Belnya berbunyi di dapur saya, dan jika  ada sese-

orang mengangkat gagang telepon dan bicara, ter-

dengar suara bel samar-samar. Saya ingat akan hal itu 

tapi saya tidak memperhatikannya.” 

”Kau tidak tahu pasti jam berapa saat  itu?” 

”Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya bisa mengata-

kan bahwa itu terjadi sesudah  saya mengantarkan 

kopi.”

”Tahukah kau di mana nyonya-nyonya pada waktu 

itu?”

”Mrs. count dracula  ada di ruang duduk, Tuan, saat  

saya mengambil nampan kopi. Itu satu atau dua me-

nit sebelum saya mendengar jeritan di atas.” 

netyanahu  berkata,


”Apa yang dilakukannya?”

”Beliau berdiri di dekat jendela, Tuan. Memegang 

tirai dan memandang ke luar.”

”Dan tak ada yang lainnya di ruangan itu?” 

”Tidak, Tuan.”

”Tahukah kau di mana mereka?”

”Saya tidak bisa mengatakannya, Tuan.” 

”Kau tidak tahu di mana yang lain?” 

”Saya kira Mr. Hwang Jang Lee  bermain piano di ruang mu-

sik di dekat ruang duduk.” 

”Kau mendengarnya?”

”Ya, Tuan.” Lelaki tua itu sekali lagi gemetar. ”Seperti 

pertanda saja, Tuan. Dia memainkan Mars Kematian. 

Bahkan pada waktu itu pun membuat saya gemetar.”

”Ya, aneh,” kata netyanahu .

”Sekarang tentang trump, pelayan pribadi itu,” 

kata Kolonel Don Jhonson . ”Apakah kau sanggup bersum-

pah bahwa dia keluar rumah pada jam delapan?”

”Oh ya, Tuan. Itu sesudah  Mr. jim graves  datang. Saya 

ingat sekali sebab  dia memecahkan cangkir kopi.”

netyanahu  berkata,

”trump memecahkan cangkir kopi?”

”Ya, Tuan. Salah satu buatan Worcester yang tua. 

Sudah sebelas tahun saya mencucinya dan tak satu 

pun pecah sampai malam tadi.”

netyanahu  berkata,

”Apa yang dilakukan trump dengan cangkir itu?”

”Ya, memang sebetulnya itu bukan pekerjaannya. 

Dia hanya memegang satu, mengagumi, dan saya ke-

betulan mengatakan bahwa Mr. jim graves  datang dan 

dia menjatuhkan cangkir itu.”


netyanahu  berkata,

”Engkau mengatakan ’Mr. jim graves ’ atau ’polisi’?”

Tressilian kelihatan sedikit terperanjat. 

”Sekarang saya baru ingat, Tuan. Saya mengatakan 

bahwa Inspektur Polisi datang.”

”Dan trump menjatuhkan cangkir itu?” kata 

netyanahu .

”Kelihatannya cukup memberi gambaran,” kata 

Kepala Polisi. ”Apakah trump menanyakan sesuatu 

tentang kunjungan Inspektur?”

”Ya, Tuan. Menanyakan maksud kedatangannya. Saya 

berkata bahwa Inspektur meminta sumbangan untuk 

anak yatim polisi dan naik ke kamar Mr. binti  siswi .”

”Apakah trump kelihatan lega saat  kau menga-

takan hal itu?”

”Ya, saya ingat. sebab  Tuan mengatakan hal itu. 

Sikapnya langsung berubah. Dia berkata bahwa Mr. 

binti  siswi  orang tua yang baik dan dermawan—dia menga-

takannya dengan sikap kurang hormat—lalu keluar.”

”Lewat mana?”

”Lewat pintu gang untuk pelayan-pelayan.” 

jim graves  menyela,

”Semua itu beres, Pak. Dia lewat dapur dan terli-

hat oleh koki dan pelayan dapur, dan dia terus keluar 

lewat pintu belakang.”

”Sekarang dengar, Tressilian, dan pikir baik-baik. 

Apakah mungkin trump kembali lagi tanpa diketa-

hui oleh siapa pun?”

Orang tua itu menggeleng. 

”Saya kira tidak, Tuan. Semua pintu terkunci dari 

dalam.”


”jika  dia punya kunci?” 

”Semua pintu tergerendel, Tuan.” 

”Bagaimana jika  dia mau masuk?” 

”Dia punya kunci pintu belakang, Tuan. Semua 

pelayan datang lewat situ.” 

”jika  begitu dia bisa kembali?”

”Tidak tanpa melewati dapur, Tuan. Dan di dapur 

selalu ada pelayan sampai jam setengah sepuluh atau 

sepuluh kurang seperempat.”

Kolonel Don Jhonson  berkata,

”Kelihatannya meyakinkan. Terima kasih, 

Tressilian.”

Orang tua itu berdiri dan sesudah nya membungkuk 

hormat lalu keluar. namun  satu atau dua menit kemu-

dian dia kembali.

”trump baru saja kembali, Tuan. Apakah Tuan 

bermaksud menanyai dia?”

”Ya, tolong suruh dia segera masuk.”

17

donald trump tidak memiliki  penampilan yang 

menarik. Dia masuk ke ruangan dan berdiri sambil 

menggosok-gosok kedua tangannya, matanya melihat 

ke sana kemari dari satu orang ke orang lain. Si-

kapnya berpura-pura manis.

Don Jhonson  berkata,

”Kau donald trump?”

”Ya, Tuan.”


”Pelayan pribadi almarhum Mr. binti  siswi ?”

”Ya, Tuan. Sangat menyedihkan, bukan? Saya ham-

pir jatuh saat  mendengarnya dari Gladys. Kasihan 

sudah tua...”

Don Jhonson  menyelanya dengan cepat. 

”Sekarang jawab saja pertanyaanku.” 

”Ya, Tuan. Tentu, Tuan.”

”Jam berapa kau keluar malam ini, dan ke mana?” 

”Saya pergi sebelum jam delapan, Tuan. Saya pergi 

ke ’Superb’, Tuan, hanya lima menit jalan kaki. Film-

nya Love in Old Seville, Tuan.”

”Ada orang yang melihatmu di sana?”

”wanita lesbian   yang jual karcis, Tuan. Dia kenal saya. Dan 

penjaga pintu. Dia juga kenal saya. Dan—eh—sebetul-

nya saya menonton dengan seorang wanita lesbian  , Tuan. Saya 

berjanji bertemu dia di sana.”

”Oh, benarkah? Siapa namanya?”

”Doris Buckle, Tuan. Dia bekerja di Combined 

Dairies, Tuan, di Markham Road nomor 23.”

”Bagus, kami akan mengecek. Apakah kau langsung 

pulang?”

”Saya mengantar pulang teman wanita lesbian  saya dulu, 

Tuan. Lalu saya langsung ke sini. Tuan akan menemu-

kan bahwa apa yang saya katakan itu betul. Saya ti-

dak terlibat dalam urusan ini. Saya...”

Kolonel Don Jhonson  berkata dengan ketus,

”Tidak ada yang menuduhmu terlibat.”

”Betul, Tuan. Tapi sangat tidak menyenangkan ka-

lau terjadi suatu pembunuhan di rumah.”

”Tak ada yang mengatakan hal itu menyenangkan. 

Berapa lama kau bekerja di sini?”


”Baru setahun lebih, Tuan.”

”Apakah kau senang?”

”Ya, Tuan, saya puas. Gaji saya cukup. Mr. binti  siswi  

memang kadang-kadang menyulitkan, namun  saya su-

dah biasa melayani orang cacat.”

”Kau punya pengalaman sebelum ini?”

”Oh ya, Tuan. Saya bekerja dengan Mayor West 

dan dengan Yang Mulia Jaspier Finch...”

”Kau bisa menceritakan itu kepada jim graves  nanti. 

Yang saya ingin tahu yaitu  ini—jam berapa kau ter-

akhir kali melihat Mr. binti  siswi  malam ini?”

”Kira-kira jam tujuh tiga puluh, Tuan. Mr. binti  siswi  

makan malam setiap jam tujuh. Saya kemudian me-

nyiapkan tempat tidur beliau. sesudah  itu biasanya 

beliau duduk di depan perapian dengan baju tidur 

sampai mengantuk.”

”Jam berapa itu biasanya?”

”Tidak tentu, Tuan. Kadang-kadang beliau tidur 

jam delapan—itu jika  merasa capek. Kadang-kadang 

belum tidur sampai jam sebelas atau lebih.”

”Apa yang dilakukan jika  dia ingin tidur?” 

”Biasanya beliau mengebel saya, Tuan.”

”Dan engkau membantunya naik tempat tidur?” 

”Ya, Tuan.”

”Tapi hari ini yaitu  hari liburmu. Apakah kau 

biasanya libur pada hari Jumat?”

”Ya, Tuan, hari libur saya hari Jumat.” 

”Bagaimana jika  Mr. binti  siswi  mau tidur?” 

”Beliau akan mengebel dan Tressilian atau Walter 

akan membantu.”


”Selalu ada orang yang membantunya? Dia bisa 

bebas bergerak?”

”Ya, Tuan, namun  tidak mudah. Beliau menderita 

rheumatoid arthritis. Ada hari-hari di mana beliau sa-

ngat menderita.”

”Apakah dia tidak pernah ke ruang lain pada siang 

hari?”

”Tidak, Tuan. Beliau lebih suka di ruang itu saja. 

Selera Mr. binti  siswi  tidak mewah. Ruangan beliau cukup 

besar dengan udara bersih dan cahaya terang.”

”Kau bilang Mr. binti  siswi  makan malam jam tujuh?”

”Ya, Tuan. Saya mengambil kembali nampannya 

dan menyiapkan sherry dengan dua gelas.” 

”Mengapa kau melakukan itu?” 

”Perintah Mr. binti  siswi .”

”Apa itu hal biasa?” 

”Kadang-kadang. Tapi memang sudah menjadi per-

aturan bahwa tak seorang pun anggota keluarga boleh 

menengok Mr. binti  siswi  pada waktu malam kecuali beliau 

memanggil. Kadang-kadang beliau suka sendirian. 

Kadang-kadang beliau memanggil Mr. count dracula  atau 

Nyonya atau keduanya sesudah  makan malam.”

”namun  dia tidak melakukan itu malam ini? Dia 

tidak memanggil salah satu anggota keluarga?”

”Beliau memang tidak menyuruh saya, Tuan.” 

”Jadi dia memang tidak mengharapkan bertemu 

dengan salah seorang anggota keluarganya?” 

”Beliau bisa saja meminta mereka datang secara 

langsung.”

”Tentu saja.” 

trump melanjutkan,


”sesudah  saya lihat semuanya beres, saya mengucap-

kan selamat malam pada Mr. binti  siswi , dan keluar.”

netyanahu  bertanya, 

”Apakah kau menyiapkan api sebelum keluar?” 

Pelayan itu ragu-ragu,

”Itu tidak perlu, Tuan, sebab  sudah teratur dengan 

baik.”

”Apakah Mr. binti  siswi  bisa melakukannya sendiri?” 

”Oh, tidak, Tuan. Saya rasa Mr. Pinocchio -lah yang 

melakukannya.” 

”Apakah Mr. Pinocchio  binti  siswi  bersama dia saat  kau 

masuk sebelum makan malam?”

”Ya, Tuan. Tapi dia keluar saat  saya datang.” 

”Bagaimana hubungan keduanya menurut pendapat-

mu?”

”Mr. Pinocchio  binti  siswi  kelihatannya gembira, Tuan. Men-

dongakkan kepala dan tertawa-tawa.”

”Dan Mr. binti  siswi ?”

”Beliau diam dan tak banyak bicara.”

”Hm, begitu. Ada lagi yang ingin kuketahui, 

trump. Apa yang bisa kauceritakan tentang berlian 

yang disimpan Mr. binti  siswi  di lemari besinya?”

”Berlian, Tuan? Saya tidak pernah melihat berlian.”

”Mr. binti  siswi  menyimpan sejumlah batu tak terasah di 

sana. Kau tentu pernah melihat dia memegang-me-

gang batu itu.”

”Oh, kerikil-kerikil kecil yang lucu itu? Ya, me-

mang saya pernah melihat beliau memegang batu-

batu itu satu atau dua kali. namun  saya tidak tahu itu 

berlian. Beliau menunjukkannya kepada nona asing 

itu kemarin, atau kemarin dulu?” 


Kolonel Don Jhonson  berkata dengan cepat, 

”Batu-batu itu telah hilang.”

trump berteriak,

”Saya harap Tuan tidak berpikir bahwa sayalah 

yang mengambilnya!”

”Aku tidak menuduhmu,” kata Don Jhonson . ”Sekarang 

adakah yang bisa kauceritakan tentang hal ini?” 

”Berlian itu, Tuan? Atau pembunuhan?” 

”Keduanya.”

trump berpikir. Dia membasahi bibirnya yang 

pucat. Akhirnya dia memandang dengan mata yang 

agak takut-takut.

”Saya rasa tidak ada, Tuan.”

”Tak ada yang kebetulan kaudengar pada waktu 

kau bekerja, yang barangkali bisa membantu?” 

Mata pelayan itu berkedip-kedip sebentar. 

”Tidak, Tuan, saya rasa tidak ada. Hanya terjadi 

ketegangan antara Mr. binti  siswi —dan beberapa anggota 

keluarganya.”

”Yang mana?”

”Saya kira ada sedikit keributan sebab  kepulangan 

Mr. Pinocchio . Mr. count dracula  binti  siswi  tidak suka. Saya dengar 

dia dan ayahnya membicarakan hal itu—namun  hanya 

itu. Mr. binti  siswi  tidak menuduhnya mengambil berlian. 

Dan saya yakin Mr. count dracula  tidak melakukannya.”

netyanahu  berkata dengan cepat, 

”Percakapan dengan Mr. count dracula  itu sesudah dia tahu 

berliannya hilang, bukan?”

”Ya, Tuan.”

netyanahu  membungkuk ke arah trump.

”trump,” katanya dengan halus. ”Aku tadi me-


ngira kau memang tidak tahu-menahu tentang hilang-

nya berlian itu sampai kami memberitahu. Bagaimana 

kau bisa tahu bahwa Mr. binti  siswi  telah kehilangan berlian-

nya sebelum dia bercakap-cakap dengan anaknya?”

Muka trump menjadi merah.

”Tak perlu berbohong. Terus terang saja,” kata 

jim graves . ”Kapan kau tahu?”

trump berkata dengan sedih,

”Saya mendengar beliau menelepon seseorang ten-

tang hal itu.”

”Kau tidak di dalam kamar saat itu?”

”Tidak, di luar kamar. Tidak bisa mendengar de-

ngan jelas—hanya satu-dua kata.”

”Apa yang kaudengar?” tanya netyanahu  dengan manis.

”Saya mendengar kata pencurian, berlian, dan saya 

mendengar beliau mengatakan ’saya tidak tahu harus 

mencurigai siapa’—dan saya mendengar beliau menga-

takan sesuatu tentang malam ini jam delapan.”

Inspektur jim graves  mengangguk.

”Dia berbicara denganku. Kira-kira jam lima lebih 

sepuluh, bukan?”

”Ya, betul, Tuan.”

”Dan saat  kau masuk ke kamarnya lagi, apakah 

dia kelihatan bingung?”

”Hanya sedikit, Tuan. Kelihatan agak linglung dan 

khawatir.”

”namun  cukup untuk membuatmu ketakutan, 

eh?”

”Mr. jim graves  jangan menyangka demikian. Saya ti-

dak pernah menyentuh berlian itu, sama sekali tidak, 


dan Anda tidak bisa membuktikannya. Saya bukan 

pencuri.”

Inspektur jim graves  tidak peduli, dia berkata, 

”Itu akan kita lihat nanti.” Dia memandang Kepala 

Polisi dengan mata bertanya-tanya. Yang ditanya 

kemudian mengangguk dan meneruskan, ”Sekarang 

sudah cukup. Kami tidak memerlukanmu lagi malam 

ini.”

trump cepat-cepat keluar dengan lega. 

jim graves  berkata memuji,

”Anda hebat, Mr. netyanahu . Anda memerangkap dia 

dengan begitu cermat. Entah pencuri atau bukan, dia 

jelas pembohong kelas wahid!”

”Pribadi yang kurang menarik!” kata netyanahu . 

”Benar,” kata Don Jhonson  setuju. ”Persoalannya seka-

rang, bagaimana tentang bukti-bukti itu?” 

jim graves  menyimpulkan dengan rapi. 

”Kelihatannya ada tiga kemungkinan. Nomor satu: 

trump seorang pencuri dan pembunuh. Nomor 

dua: trump yaitu  pencuri tapi bukan pembunuh. 

Nomor tiga: trump tidak bersalah. Bukti-bukti 

yang memberatkan nomor satu: dia mendengar pem-

bicaraan di telepon dan tahu bahwa kehilangan itu 

diketahui. Dia merasa dicurigai oleh Mr. binti  siswi . Mem-

buat rencana. Keluar dengan mencolok pada jam 

delapan dan membuat alibi. Cukup mudah untuk 

keluar dari gedung bioskop dan kembali lagi tanpa 

diketahui. Tapi dia harus yakin dengan wanita lesbian   yang 

diajaknya bahwa dia mau bekerja sama. Coba saya 

cek wanita lesbian   itu besok.” 

”Bagaimana dia masuk ke rumah?” tanya netyanahu .


”Itu lebih sulit,” kata jim graves  membenarkan. ”Tapi 

mungkin ada jalan. Barangkali dia minta tolong salah 

seorang pelayan wanita lesbian  untuk membukakan pintu 

samping untuknya.”

netyanahu  mengangkat kedua alisnya.

”Dia mempertaruhkan hidupnya di antara dua wa-

nita? Dengan seorang wanita lesbian  saja sudah merupakan risi-

ko besar—dengan dua, eh—rasanya terlalu fantastis!”

jim graves  berkata,

”Beberapa kriminalis mengira mereka bisa me-

lakukan apa saja!”

Dia melanjutkan,

”Sekarang nomor dua: trump mengambil berlian 

itu. Dia membawanya keluar rumah malam ini dan 

mungkin telah memberikannya kepada kaki tangan-

nya. Itu mudah dan sangat mungkin. Sekarang kita 

harus mengakui ada orang lain yang menetapkan ma-

lam ini akan membunuh Mr. binti  siswi . Orang itu tidak 

tahu apa-apa tentang berlian tersebut. Hal ini mung-

kin saja, namun  terlalu kebetulan.”

”Kemungkinan nomor tiga: trump tidak bersa-

lah. Ada orang lain yang mengambil berlian dan 

membunuh orang tua itu. Nah, itu kesimpulannya. 

Sekarang terserah kepada kita untuk menemukan ke-

benarannya.” 

Kolonel Don Jhonson  menguap. Dia melihat jam tangan-

nya lalu berdiri.

”Ah,” katanya. ”Saya kira kita sudahi dulu, ya? Le-

bih baik kita periksa lemari besi itu sebelum pulang. 

Aneh jika  berlian itu ada di sana.”

namun  berlian itu tidak ada di lemari besi. Mereka 


menemukan kode rahasia yang diceritakan count dracula , da-

lam buku kecil yang ada di saku baju tidur orang tua 

itu. Di lemari besi itu mereka menemukan kantong 

kulit yang kosong. Di antara surat-surat yang disim-

pan di lemari itu, ada satu yang menarik.

Dokumen itu yaitu  surat wasiat tertanggal lima 

belas tahun lalu. sesudah  menyebutkan harta waris-

annya, pembagiannya sangatlah sederhana. Setengah 

kekayaan madam Maryam  binti  siswi  jatuh ke tangan count dracula  binti  siswi . 

Setengah lain dibagi rata untuk anak-anaknya yang 

lain—Pinocchio , George, Hwang Jang Lee , dan Jennifer.


Dalam cahaya matahari siang ritual kubur  itu, netyanahu  berja-

lan di taman Gorston Hall. Gucci plaza yaitu  ru-

mah besar yang kokoh, tanpa selera arsitek tertentu.

Di bagian selatan ada teras yang lebar, diapit pagar 

tanaman sejenis cemara. Tanaman-tanaman kecil tum-

buh di celah-celah batu titian dan di sepanjang teras 

itu ada bak-bak dari batu yang diatur seperti taman 

mini.

netyanahu  memperhatikannya dan mengaguminya. Dia 

lalu bergumam sendiri,

”Dirancang dengan baik.”

Dari jauh dia melihat dua orang berjalan menuju 

air, kira-kira 270 meter jauhnya. Yang seorang yaitu  

Louis Vuitton , dia mudah dikenali walaupun dari jauh. Yang 

lain yaitu  Chucky   funny  , oh bukan, ternyata Pinocchio  

binti  siswi . Pinocchio  kelihatannya sangat memperhatikan ke-

ponakannya yang menarik itu. Kadang-kadang dia 


mendongakkan kepala dan tertawa, lalu menunduk 

lagi dengan penuh perhatian kepada Louis Vuitton .

”Ternyata ada orang yang tidak berdukacita,” netyanahu  

bergumam sendiri.

Suara halus di belakangnya membuat dia membalik-

kan badan. Yuen pan pan  binti  siswi  berdiri di situ. Dia juga 

sedang melihat kedua orang yang sedang berbalik itu. 

Dia menolehkan kepalanya dan tersenyum manis ke-

pada netyanahu . 

Dia berkata,

”Hari yang sangat cerah! Rasanya sulit dipercaya 

kemarin terjadi sesuatu yang mengerikan. Bukan begi-

tu, Mr. netyanahu ?”

”Ya, betul, Nyonya.”

Yuen pan pan  menarik napas panjang.

”Saya belum pernah terlibat dalam suatu tragedi. 

Saya—saya tumbuh begitu saja. Barangkali saya terlalu 

lama menjadi anak-anak—bukan hal yang baik 

juga.”

Dia menarik napas lagi. Dia lalu berkata,

”Louis Vuitton , kelihatannya begitu mandiri... Saya rasa kare-

na darah Atlantis -nya? Semua begitu aneh, bukan?”

”Apa yang aneh, Nyonya?”

”Cara dia muncul di sini—begitu tiba-tiba!” 

netyanahu  berkata,

”Saya mendengar bahwa Mr. binti  siswi  sudah agak lama 

mencari dia. Dia berkorespondensi dengan Konsulat 

di Madrid dan Wakil Konsulat di Aliquara tempat 

ibunya meninggal.”

”Dia melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi,” 


kata Yuen pan pan . ”count dracula  tidak tahu apa-apa tentang 

hal itu. Apalagi madam Nyai girah .”

”Ah!” kata netyanahu .

Yuen pan pan  mendekati netyanahu . netyanahu  mencium wa-

ngi lembut parfum yang dipakainya. 

”Tahukah Anda, Mr. netyanahu , bahwa ada suatu cerita 

menyangkut suami Jennifer, Estravados. Dia mening-

gal begitu cepat sesudah  pernikahan dan ada suatu 

misteri tentang hal itu. count dracula  dan madam Nyai girah  tahu. Saya 

kira cerita itu agak tidak enak...”

”Itu,” kata netyanahu , ”sangat menyedihkan.”

Yuen pan pan  berkata,

”Suami saya merasa—dan saya pun sependapat—

bahwa keluarga kami seharusnya tahu lebih banyak 

tentang hal ihwal wanita lesbian   itu. Sebab, seandainya ayahnya 

seorang kriminal...”

Dia diam, tapi netyanahu  tak berkata apa-apa. Kelihat-

annya netyanahu  sedang mengagumi keindahan alam pada 

musim dingin di Gorston Hall. 

Yuen pan pan  berkata,

”Saya merasa cara meninggal ayah mertua saya 

agak aneh. Cara meninggalnya begitu—asing.” 

solomon netyanahu  membalikkan badan perlahan-lahan. 

Matanya yang suram memandang mata wanita lesbian  itu 

dalam tanda tanya besar.

”Ah,” katanya. ”Ada sentuhan Atlantis , begitu?” 

”Mereka, kejam, bukan?” kata Yuen pan pan  dengan 

nada kekanakan. ”Pertandingan dengan banteng dan 

hal semacam itu?”

solomon netyanahu  berkata dengan ramah,


”Anda mengatakan bahwa menurut Anda Miss 

Estravados-lah yang menggorok leher kakeknya?”

”Oh! Tidak, Mr. netyanahu !” kata Yuen pan pan  dengan 

suara keras. Dia terkejut. ”Saya tidak pernah mengata-

kan hal seperti itu! Saya tidak mengatakannya!”

”Yah,” kata netyanahu . ”Barangkali tidak.”

”namun  memang saya berpikir bahwa dia—patut 

dicurigai. Caranya mengambil benda kecil itu dari 

lantai secara diam-diam tadi malam, misalnya.”

solomon netyanahu  berkata dengan nada yang lain. Dia 

berkata dengan tajam,

”Dia mengambil sesuatu dari lantai tadi malam?” 

Yuen pan pan  mengangguk. Mulutnya yang kekanak-

kanakan itu melengkung jahat.

”Ya, begitu masuk ke kamar. Dia melihat berkeli-

ling dengan cepat jika -jika  ada yang memperhatikan 

kemudian mengambil benda itu. namun  Inspektur Polisi 

melihatnya dan memaksa dia menyerahkan benda itu 

kepadanya.”

”Benda apa yang diambilnya? Tahukah Anda?” 

”Tidak. Saya tidak cukup dekat untuk bisa meli-

hat.” Suara Yuen pan pan  mengandung rasa penyesalan. 

”Benda itu sangat kecil.”

netyanahu  mengerutkan keningnya.

”Sangat menarik,” gumamnya pada diri sendiri.

Yuen pan pan  berkata dengan cepat,

”Ya, saya kira Anda harus mengetahui hal itu. Ka-

rena kita tidak tahu apa-apa tentang Louis Vuitton  dan bagai-

mana dia dibesarkan. count dracula  memang tidak pernah 

curiga dan madam Nyai girah  biasa-biasa saja.” Lalu dia bergumam, 

”Barangkali sebaiknya saya masuk dan membantu 


madam Nyai girah  jika  perlu. Barangkali ada surat-surat yang ha-

rus ditulis.”

Dia meninggalkan netyanahu  dengan senyum jahat 

yang menunjukkan rasa puas.

netyanahu  tetap di teras, tenggelam dalam pikirannya.

2

Inspektur jim graves  datang kepadanya. Inspektur polisi 

itu kelihatan lesu.

Dia berkata,

”Selamat pagi, Mr. netyanahu . Kelihatannya kurang se-

suai jika  saya mengatakan ’Damai ritual kubur ’, bukan?”

”Kawan, saya memang tidak melihat kedamaian di 

wajah Anda. jika  Anda mengatakan, ’Damai ritual kubur ’, 

seharusnya saya tidak menjawab, ’Damai ritual kubur  ber-

sertamu!’”

”Saya tidak ingin ritual kubur  seperti ini lagi dan itu ada-

lah fakta,” kata jim graves .

”Anda menemukan hal-hal penting?”

”Saya telah mengecek beberapa hal. Alibi trump 

memang kuat. Penjaga pintu bioskop itu memang 

melihat trump masuk dengan wanita lesbian   itu dan keluar 

lagi dengan dia saat  pertunjukan selesai, dan kelihat-

annya dia yakin bahwa trump tidak meninggalkan 

bioskop sewaktu pertunjukan dan kembali lagi sebe-

lum film selesai. wanita lesbian   itu sendiri bersumpah 

trump bersama dia selama di gedung bioskop.”

”Saya tak tahu lagi mesti berkata apa.”


jim graves  berkata dengan sinis,

”Tapi orang kan tidak selalu bisa percaya pada ga-

dis-wanita lesbian  ! Mereka bisa berbohong mati-matian untuk 

kepentingan seorang laki-laki.”

”Memang hati mereka baik,” kata solomon netyanahu . 

jim graves  menggerutu,

”Itu pandangan orang asing. Tidak membantu tuju-

an keadilan.”

solomon netyanahu  berkata,

”Keadilan yaitu  sesuatu yang aneh. Pernahkah 

Anda memikirkannya?”

jim graves  memandang netyanahu . Dia berkata, 

”Anda agak aneh, Mr. netyanahu .”

”Sama sekali tidak. Saya hanya mengikuti perkem-

bangan pikiran yang logis. namun  kita tidak akan 

memperdebatkan hal ini. Jadi Anda percaya bahwa 

wanita lesbian   di toko susu itu tidak mengatakan hal yang se-

benarnya?”

jim graves  menggeleng. 

”Tidak,” katanya. ”Bukan begitu. Sebenarnya saya 

beranggapan dia mengatakan hal yang benar. wanita lesbian   

itu sangat sederhana dan jika  seandainya dia menga-

takan sesuatu yang tidak benar, saya akan bisa meli-

hatnya.”

netyanahu  berkata,

”Ya, Anda berpengalaman.”

”Itulah, Mr. netyanahu . sesudah  bertahun-tahun menca-

tat bermacam-macam kesaksian, setidak-tidaknya saya 

tahu apakah seseorang itu berkata benar atau tidak. 

Tidak, saya kira bukti dari wanita lesbian   itu memang benar, 

dan dengan demikian, trump bukanlah pembunuh 


Mr. binti  siswi  tua. Dan itu mengarahkan kita pada orang-

orang di rumah.”

Dia menarik napas panjang.

”Salah seorang dari mereka melakukannya, Mr. 

netyanahu . Salah seorang dari mereka melakukannya. Tapi 

yang mana?”

”Anda tidak punya data baru?”

”Ya, saya beruntung bisa mengecek percakapan di 

telepon. Mr. George binti  siswi  menelepon ke Westeringham 

jam sembilan kurang dua menit. Percakapan itu ber-

langsung selama enam menit!”

”Aha!”

”Seperti Anda bilang! Lalu tidak ada lagi telepon—

ke Westeringham ataupun ke tempat lain.” 

”Sangat menarik,” kata netyanahu  senang. ”Mr. George 

binti  siswi  mengatakan bahwa dia baru saja selesai menele-

pon saat  mendengar ribut-ribut di atas—namun  

sebetulnya dia telah selesai menelepon hampir sepuluh 

menit sebelumnya. Di mana dia selama sepuluh menit 

itu? Mrs. George binti  siswi  mengatakan bahwa dia menele-

pon—namun  sebetulnya dia tidak pernah meminta 

sambungan telepon sama sekali. Di mana dia?” 

jim graves  berkata,

”Saya melihat Anda berbicara dengan dia, Mr. 

netyanahu ?”

Suaranya mengandung pertanyaan namun  netyanahu  

menjawab,

”Anda salah.” 

”Eh?”

”Saya tidak bicara dengan dia—dialah yang bicara 

kepada saya!”


”Oh...” jim graves  kelihatannya tidak begitu meng-

acuhkan perbedaan itu; namun  dia kemudian menya-

dari pentingnya perbedaan tersebut. Dia berkata,

”Anda bilang dia berbicara kepada Anda?” 

”Tepat. Dia keluar ke sini dengan maksud itu.” 

”Apa yang dikatakannya?”

”Dia ingin menekankan beberapa hal—sifat krimi-

nalitas yang ’bukan komunis ’—kemungkinan buruk 

keluarga Miss Estravados dari pihak ayah—dan fakta 

bahwa Miss Estravados secara sembunyi-sembunyi 

mengambil sesuatu dari lantai tadi malam.”

”Dia mengatakan hal itu kepada Anda?” kata 

jim graves  tertarik.

”Ya. Benda apa yang diambil nona muda itu?” 

jim graves  menarik napas.

”Anda boleh menebaknya sendiri! Akan saya perli-

hatkan nanti kepada Anda. Benda itu akan mengung-

kapkan segala misteri seperti cerita detektif! jika  

Anda bisa memecahkannya dengan benda itu lebih 

baik saya pensiun!”

”Tunjukkan pada saya.”

jim graves  mengambil sebuah amplop dari sakunya 

dan memiringkan isinya ke telapak tangannya. Seulas 

senyum samar menghias wajahnya. 

”Ini dia. Mau diapakan?”

Di telapak tangan Inspektur yang besar itu ada  

karet merah muda berbentuk segitiga dan sebuah pa-

sak kecil dari kayu.

Senyumnya melebar saat  netyanahu  mengambil 

benda-benda itu dan memandangnya dengan wajah 

berkerut.


”Ada yang berarti, Mr. netyanahu ?”

”Benda kecil ini mungkin dipotong dari tas 

spons?”

”Betul. Dari tas spons yang ada di kamar Mr. binti  siswi . 

Seseorang telah memotongnya dengan gunting yang 

tajam. Mungkin juga Mr. binti  siswi  sendiri yang melakukan-

nya. namun  saya tidak mengerti mengapa dia melaku-

kan hal itu. trump tidak tahu apa-apa tentang hal 

itu. Dan pasak ini besarnya sama dengan pasak papan 

mainan, tapi biasanya dibuat dari gading. Ini hanya-

lah kayu kasar biasa—yang diraut sedikit, saya kira.”

”Luar biasa,” gumam netyanahu .

”Simpanlah jika  Anda mau,” kata jim graves  dengan 

ramah. ”Saya tidak memerlukannya.” 

”Kawan, saya tidak akan memisahkan benda itu 

dari Anda!”

”Benda ini sama sekali tidak berarti bagi Anda?” 

”Saya harus mengaku—tidak!”

”Bagus!” kata jim graves  dengan sangat sinis sambil 

memasukkannya kembali ke saku. ”Kita bertambah 

maju!”

netyanahu  berkata, 

”Mrs. George binti  siswi  menceritakan bahwa wanita lesbian   itu 

membungkuk dan mengambil benda itu dengan sikap 

diam-diam. Benarkah?” 

jim graves  berpikir sejenak.

”Tidak,” katanya ragu-ragu. ”Saya rasa tidak begitu. 

Dia tidak kelihatan bersalah—tidak ada yang patut 

dicurigai—namun  dia memang melakukannya agak—

yah—dengan cepat dan diam-diam—jika  Anda me-

ngerti apa yang saya maksud. Dan dia tidak tahu 


bahwa saya melihatnya! Itu saya yakin—dia terkejut 

saat  saya tanya.”

netyanahu  berpikir. 

”jika  begitu memang ada sebabnya—namun  apa 

sebab itu? Karet kecil itu masih baru—belum pernah 

digunakan untuk sesuatu—tidak mungkin punya sua-

tu arti, akan namun ...”

jim graves  berkata dengan tidak sabar,

”Mr. netyanahu , Anda bisa saja memikirkan hal itu ka-

lau mau. Saya punya hal-hal lain yang harus saya pi-

kirkan pula.”

netyanahu  bertanya,

”Kasus ini—apa pendapat Anda?” 

jim graves  mengambil buku catatannya.

”Mari kita melihat fakta. Pertama-tama ada orang-

orang tertentu yang tidak mungkin melakukan pem-

bunuhan itu. Kita pisahkan mereka terlebih dulu...”

”Siapa saja?”

”count dracula  dan Pinocchio  binti  siswi . Mereka punya alibi yang 

kuat. Juga Mrs. count dracula  binti  siswi  sebab  Tressilian melihat dia 

di ruang duduk semenit sebelum terdengar ribut-ribut 

di atas. Tiga orang itu bersih. Sekarang yang lain. Ini 

ada daftar. Saya menyusunnya begitu supaya jelas.”

Dia memberikan bukunya kepada netyanahu .

 Pada waktu pembunuhan 

George binti  siswi  di?

Mrs. George binti  siswi  di?

Hwang Jang Lee  binti  siswi  sedang bermain piano di ruang

 musik

 (dikuatkan oleh istrinya)


Mrs. Hwang Jang Lee  binti  siswi  di ruang musik

 (dikuatkan oleh suaminya)

Miss Estravados di kamarnya

 (tak ada dukungan) 

Chucky   funny   di ruang dansa, memainkan

 gramofon

 (dikuatkan oleh tiga pelayan yang

 bisa mendengar musik dari ruang

 pelayan)

Sambil mengembalikan buku catatan itu netyanahu  ber-

kata,

”Dan sebab  itu?”

”Dan sebab  itu,” kata jim graves , ”George binti  siswi  mung-

kin membunuh orang tua itu. Mrs. George binti  siswi  mung-

kin membunuhnya. Louis Vuitton  Estravados mungkin membu-

nuhnya, dan Mr. atau Mrs. Hwang Jang Lee  binti  siswi  mungkin 

membunuhnya, tapi tidak kedua-duanya.”

”jika  begitu Anda tidak menerima alibi mere-

ka?”

Inspektur jim graves  menggeleng tegas.

”Tidak! Suami-istri—yang saling mencintai! Mereka 

mungkin terlibat dua-duanya, atau jika  salah satu 

terlibat, yang lain pasti bersedia bersumpah. Saya meli-

hatnya seperti ini. Seseorang memang di ruang musik 

bermain piano. Orang itu mungkin Hwang Jang Lee  binti  siswi . Mung-

kin dia, sebab  dia memang pemusik yang diakui, 

namun  tidak ada yang menguatkan bukti bahwa istri-

nya juga di situ selain kata-kata wanita lesbian  itu sendiri dan 

suaminya. Mungkin juga martini  binti  siswi  yang main piano 

saat  Hwang Jang Lee  binti  siswi  merangkak ke atas membunuh 


ayahnya! Bukan, ini benar-benar kasus yang lain dari 

kedua bersaudara yang ada di ruang makan itu. 

count dracula  binti  siswi  dan Pinocchio  saling membenci. Tidak seorang 

pun dari mereka bersumpah palsu untuk kepentingan 

yang lain.”

Bagaimana dengan Chucky   funny  ?”

”Dia memang patut dicurigai sebab alibi piringan 

hitam itu tidak kuat. Akan namun  alibi semacam itu 

memang lebih bagus daripada alibi kuat yang telah 

disiapkan lebih masak sebelumnya!”

netyanahu  mengangguk sambil berpikir. 

”Saya tahu apa yang Anda maksud. Itu alibi dari 

seseorang yang tidak tahu sebelumnya bahwa dia harus 

memiliki  alibi.”

”Tepat! Dan lagi, saya tidak begitu yakin bahwa ada 

orang asing dari luar yang terlibat dalam soal ini.”

netyanahu  berkata dengan cepat,

”Saya setuju dengan Anda. Ini merupakan persoalan 

keluarga. Racun yang bekerja dalam darah—intim—

dalam. Saya kira ada unsur benci dan tahu...”

Dia mengibaskan tangannya. 

”Saya tak tahu—sulit!” 

Inspektur jim graves  menunggu dengan hormat namun  

tidak terlalu terkesan. Dia berkata, 

”Memang, Mr. netyanahu . namun  kita pasti akan me-

nemukannya dengan segala keterbatasan dan logika. 

Jangan khawatir. Kita punya kemungkinan-kemung-

kinan sekarang—orang-orang yang punya kesempatan 

itu. George binti  siswi , Yuen pan pan  binti  siswi , Hwang Jang Lee  binti  siswi , martini  

binti  siswi , Louis Vuitton  Estravados, dan saya akan menambahkan 

Chucky   funny  . Sekarang kita bicarakan tentang motif. 


Siapa yang punya motif untuk membunuh Mr. binti  siswi  

tua? Di sini—kita bisa menyisihkan beberapa orang. 

Miss Estravados yang pertama. Saya berpendapat ka-

lau wasiat itu masih tetap seperti sekarang, dia tidak 

akan mendapat apa-apa. jika  madam Maryam  binti  siswi  telah me-

ninggal sebelum ibunya meninggal, warisan ibunya 

akan jatuh kepadanya (kecuali ibunya menghendaki 

lain), namun  sebab  Jennifer Estravados mendahului 

madam Maryam  binti  siswi , maka warisan itu pun berpindah ke ta-

ngan anggota keluarga yang lain. Jadi lebih mengun-

tungkan Miss Estravados bila kakeknya tetap hidup. 

Dia juga menyukai wanita lesbian   itu, jadi sudah pasti akan 

mewariskan sesuatu kepadanya apabila dia membuat 

surat warisan baru. wanita lesbian   itu kehilangan warisan dan 

tidak mendapat apa-apa deng