• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label setan iblis 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setan iblis 11. Tampilkan semua postingan

setan iblis 11

 


Telah dihamparkan Allah untuk menyempumakannya, sesuai dengan ketetapan dan

syariat'Nya. justru mengabaikan sehab-sebab ini bisa mengurangi bobot tawakal ini merupakan

pernyataan yang sangat gamblang berkaitan dengan masalah yang sangat penting ini. Semoga Allah

melimpahkan pahala kepada Ibnul-Qayyim yang telah mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum

M u s l i m i n .

3 1 0 Perangkap Setan

atau menyelubunginya dengan kain atau mantel. Dalam keadaan seperti

ini dia akan mendengar seruan kebenaran dan menyaksikan keagungan

A l l a h . ”

Perhadkanlah pernyataan ini. Yang lebih mengherankan, pernyataan

itu justru keluar dari seorang ulama dan ahli fiqih. Dari mana dia tahu bahwa

yang didengarnya itu adalah seruan kebenaran dan yang disaksikannya adalah

keagungan Allah? Tidak ada jaminan bahwa yang dialaminya itu adalah bisikan

setan dan hayalan-hayalan yang absurd. Femomena seperti inilah yang

mendorong seseorang untuk makan sedikit, hingga dia bisa mendapatkan

halusinasi. Memang ada manusia yang bisa selamat dari halusinasi dalam

keadaan seperti ini, tetapi jika dia berselubung dengan kain sambil

memejamkan mata, maka pikirannya bisa menerawang ke mana-mana,

sehingga dia bisa mendapatkan berbagai macam imajinasi, lalu dia

menganggapnya sebagai kehadiran keagungan Allah. Kami berlindung kepada

Allah dari hayalan, imajinasi dan halusinasi seperti ini.

Diriwayatkan dari Ubaid At-Tustari, bahwa pada awal-awal Ramadhan

dia biasa masuk rumah dan berkata kepada istrinya, “Kuncilah pintu rumah,

dan temui aku setiap malam dan masukkan segumpal rod dari lubang kecil

ini.” Ketika tiba Idul-Fitri, istrinya masuk ke dalam rumah dan mendapatkan

tiga puluh rod teronggok di bagian pojok. Rupanya Ubaid sama sekali ddak

makan, ddak minum dan ddak pernah melakukan persiapan untuk shalat,

karena dia tetap dalam keadaan suci selama sebulan penuh.

Menurut hemat kami, kisah ini ddak valid, yang bisa dilihat dari dua

s u d u t :

Selama sebulan penuh manusia ddak berhadats, tidak tidur, ddak buang

air besar, ddak buang air kecil dan ddak kentut.

Orang Muslim meninggalkan shalat Jum’at dan jama’ah. Padahal shalat

Jum’at adalah wajib.

Taruhlah bahwa kisah ini benar, maka itu jelas merupakan ulah Iblis

yang telah memperdayainya. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Busyanji

seorang sufi yang mencela siapa pun yang meninggalkan shalat Jum’at atau

ketinggalan datang ke shalat Jum’at. Dia berkata, “Jika barakah itu ada dalam

shalat jama’ah, maka keselamatan ada dalam ut^ahr

1 .

2 .

3 1 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Kekhusyu’an,

Mengangguk'anggukkan Kepala dan Menonjolkan Ciri'ciri

Te r t e n t u

Jika rasa takut benar-benar bersemayam di dalam had, tentu akan

menimbulkan kekhusyu’an yang mau ddak mau akan tampak nyata dan

pelakunya ddak bisa mengelak darinya, sehingga engkau juga akan melihatnya

mendengkurkan kepala, tawadhu’ dan khusyu’. Orang-orang yang seperd ini

sebenarnya sudah berusaha untuk menyembunyikan keadaannya itu.

hluhammad bin Sirin biasa tersenyum pada siang hari, namun pada malam

harinya dia lebih banyak menangis.

Kami ddak memerintahkan para ulama untuk memperlihatkan

perbuatannya itu kepada orang-orang awam, karena yang demikian itu

membuat mereka merasa terganggu. Telah diriwayatkan dari Ali bin Abu

Thalib dia berkata, “Jika kalian mengajarkan ilmu, maka tahanlah diri

dan jangan menyertainya dengan tawa, karena hal itu bisa mengganggu had.”

Yang demikian ini ddak disebut riya’. Sebab pikiran orang-orang awam

ddak mampu menakwili apa yang dilakukan ulama, sekalipun itu hal-hal yang

mubah. Mereka menerima semuanya dengan pasif dan tetap memperhatikan

adab. Yang kami cela adalah memaksakan kekhusyu’an, pura-pura menangis

sambil mengangguk-anggukkan kepala, agar orang-orang memandang

pelakunya dari sudut pandang zuhud, lalu mereka pun bersiap-siap berjabat

tangan sambil mencium tangannya. Bahkan boleh jadi dikatakan kepadanya,

“Berdoalah untuk kami.” Maka orang itu pun bersiap-siap untuk memanjatkan

doa, seakan-akan ada jaminan doanya makbul.

Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, bahwa suatu saat ada seseorang

yang berkata kepadanya, “Berdoalah untuk kami!” Maka dia sangat marali

karena ucapan orang itu.

Ada di antara orang-orang sufi yang karena rasa takut di dalam hadnya

benar-benar memuncak, maka dia terus menundukkan kepala, di samping

karena rasa malu, dan sama sekali ddak berani mendongakkan kepala. Yang

demikian ini sama sekali bukan merupakan tindakan yang utama. Sebab ddak

ada kekhusyu’an yang melebihi kekhusyu’an RasuluUah 0. Sementara beliati

ddak pernah berbuat seperd itu. Di dalam Shahib Muslim disebutkan dar:

hadits Musa, dia berkata, ‘RasuluUah lebih banyak mendongakkan kepala kt

langit.”

3 1 2 Perangkap Setan

Di dalam hadits ini terkandung dalil tentang anjuran memandang ke

arah langit, unmk mengambil pelajaran dari tanda-tanda keagungan Allah

yang ada di sana. Allah befirman,

“Maka apakah mereka tidak melibat langit yang ada di atas mereka,

bagaiTnana Kami meninggikannya?" (Qaf: 6)

Bid’ah orang-orang sufi ini ditambahi lagi dengan simbol-simbol

tertentu yang selalu ditiru. Sekiran)̂ a mereka tahu bahwa kepala mereka yang

mengangguk-angguk dan mendengkur ke bawah itu sama dengan posisi

kepala mereka yang mendongak ke atas di mata Allah dalam kaitannya dengan

rasa malu, tentu mereka tidak akan melakukannya. Yang demikian ini terjadi

karena memang Iblis hanya bisa mempermainkan orang-orang yang bodoh.

Sedangkan orang-orang yang berilmu dijauhi dan ditakuti Iblis, karena mereka

mengetahui segala urusan Iblis dan mewaspadai tipu dayanya.

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab bahwa dia pernah melihat

seorang pemuda yang selalu menundukkan kepalanya. Maka Umar berkata

kepadanya, “Mengapa engkau begitu? Angkatlah kepalamu, karena

kekhusyu’an itu tidak menambah apa yang ada di dalam hati, dari orang yang

pura-pura khusyu’ melebihi apa yang ada di dalam hatinya, berarti dia telah

menampakkan kemunafikan di atas kemunafikan yang lain.

Dari Ashim bin Kulaib Al-Jarmi, dia berkata, “Ayahku pernah

berpapasan dengan Abu Abdurrahman bin Al-Aswad, yang biasa berjalan

secara sembunyi-sembunyi di pinggir-pinggir tembok sambil menunjukkan

kekhusyu’annya. Maka Abu Malik mengabarkan, “Memang begitulah

kebiasaannya saat berjalan. Demi Allah, sesungguhnya Umar, maka langkah-

langkah kakinya tegap di atas bumi dan nyaring bunyinya.”

Orang-orang salaf biasa menyembunjdkan keadaan dirinya dan tidak

pernah berpura-pura dalam tindak-tanduknya. Kami telah meriwayatkan dari

Ayyub As-Sakhtiyani, bahwa dia pernah mengenakan kain yang relatif lebih

panjang, untuk menutupi keadaan dirinya. Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata,

“Aku tidak terbiasa memperlihatkan amalku.” Dia pernah berkata kepada

seorang teman yang dilihatnya sedang shalat, “Apa yang mendorongmu berani

mendirikan shalat, sementara semua orang melihatmu?”

Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata, “Abu Umamah melewati

seseorang yang sedang sujud. Lalu dia berkata, “Buat apa dia mendirikan

shalat itu? Andaikan saja dia mendirikannya di dalam rumahnya.”

3 1 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Asy-Syafi’i berkata, “Biarkan saja orang-orang yang menemuimu

dengan menampakkan diri sebagai seorang ahli ibadah, tetapi jika sudah

menyendiri mereka tak ubahnya serigala yang ganas.”

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi karena Mereka Tidak Mau

M e n i k a h

Pernikahan yang didorong rasa takut terseret kepada zina adalah wajib

dan pernikahan yang tidak didorong rasa takut akan berbuat zina adalah sunat

mu’akkad. Begitulah yang dikatakan jumhur fuqaha’. Menurut pendapat Abu

Hanifah dan Ahmad bin Hambal, pernikahan dalam keadaan seperti itu lebih

utama dari segala ibadah yang sunat, karena di samping itu, pernikahan bisa

mendapatkan keturunan. Rasulullah Sbersabda,

“Nikahilah wanita yangpenuh kasih sayangdan banyak anak (subur), karena

aku merasa bangga terhadap kalian yang berbangsa-bangsa.” (HR. An-

Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Dari Sa’d bin Abi Waqqash, dia berkata, “Rasulullah ^menolak

keinginan Utsman bin Mazh’un untuk hidup membujang. Andaikan saat itu

beliau mengizinkannya untuk hidup membujang, maka kami pun akan

mengikutinya.”

Kisah tentang tiga orang sahabat yang terus-menerus puasa, yang tidak

pernah tidur malam dan yang tidak mau menikah dengari*wanita, sudah cukup

terkenal, yang kemudian beliau melarang semua itu dikerjakan secara berlebih-

lebihan. Ahmad bin Hambal berkata, “Hidup membujang sama sekaH tidak

diperintahkan Islam. Bahkan Nabi Spernah menikahi empat belas wanita,

dan ada sembilan istri yang ada di sisi beliau saat beliau meninggal dunia.

Andaikan manusia tidak mau menikah, tentunya mereka tidak akan bisa

berperang, tidak bisa menunaikan haji dan kewajiban-kewajiban lainnya. Nabi

Stidak mempunyai kekayaan apa pun, tetapi beliau tetap menikah,

menganjurkannya dan melarang hidup membujang. Siapa yang tidak menyukai

perbuatan beliau, berarti dia sama sekaJi tidak benar. Bahkan ketika Ya’qub

dirundung musibah, justru menikah dan mempunyai anak. Nabi ̂ bersabda,

“Yang paling knsukai adalah ivanita" (HR. An-Nasa’i, Ahmad dan Ah

Bathaqi)

3 1 4 Perangkap Setan

Iblis telah memperdayai sebagian besar dari orang-orang sufi, sehingga

di antara mereka ada yang ddak mau menikah. Kalau pun orang-orang sufi

yang terdahulu ddak menikah, itu karena mereka mengkhususkan diri dalam

beribadah dan mereka melihat pernikahan itu dapat mengusik ketaatan mereka

kepada Allah. Padahal jika mereka merasa ingin menikah, namun ddak mau

menikah, maka akan berbahaya bagi tubuh dan agamanya. Jika mereka merasa

tidak memerlukan pernikahan, berarti mereka telah kehilangan satu

keutamaan. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Hurairah

dari RasuluUah Sbeliau bersabda, “Di dalam persetubuhan salah seorang di

antara kalian ada (pahala) shadaqah.”

Para sahabat bertanya, “Adakah salah seorang di antara kita

ilielampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala karenanya?”

Beliau menjawab, “Bagaimana menurut pendapat kalian andaikan dia

meletakkan syahwat itu pada yang haram, bukankah dia mendapat dosa?”

Mereka menjawab, “Benar.”

Beliau bersabda lagi, “Begitu pun jika dia meletakkannya pada yang

halal, berarti dia mendapatkan pahala.” Kemudian beliau bertanya, “Apakah

kalian hanya memperhitungkan keburukan dan tidak memperhitungkan

k e b a i k a n ? ”

Di antara orang-orang sufi ada yang berkata, ‘TPernikahan itu mengharus-

kan adanya nafkah. Padahal mencari penghidupan tidaklah gampang.”

Ini merupakan alasan untuk mengalihkan perhatian agar mereka tidak

perlu berpayah-payah mencari penghidupan. Di dalam Ash-Shahihain

disebutkan dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda,

©✓y X V

^ ‘UAAji jUj^J ‘‘^J OSjIjI jUj^J

' « ' ^ ' '

1

.?f

A~eoi\ jUJ.5

-ULfljaJ O U i J

“Dinar (uang) yang engkau nafkahkan fi sabilillah, dinar yang engkau

nafkahkan untuk memerdekakan budak perempuan, dinar yang engkau

nafkahkan untuk shadaqah dan dinar yang engkau nafkahkan untuk

keluargamu, maka yang paling utama adalah dinar yang engkau nafkahkan

untuk keluargamu.”

3 1 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Di antara mereka ada yang berkata, “Pernikahan itu mengharuskan

seseorang untuk condong kepada keduniaan.”

Kami meriwayatkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani, dia berkata, “Jika

seseorang mencari hadits, atau bepergian mencari penghidupan atau menikah,

berarti dia telah condong kepada keduniaan.”

Ini semua jelas bertentangan dengan ketetapan syariat. Bagaimana

mungkin seseorang tidak boleh mencari hadits, padahal para malaikat

merundukkan sayapnya kepada orang yang sedang mencari ilmu? Bagaimana

mungkin seseorang tidak boleh mencari penghidupan, padahal Umar bin

Al-Khathab pernah berkata, “Lebih baik aku mati dalam perjalanan

mencari apa yang kuperlukan untuk menjaga kehormatan diriku, daripada

mati berperangy?sabililla})?'’ Kami tidak melihat keadaan seperti itu melainkan

bertentangan dengan syariat.

Sedangkan orang-orang sufi yang belakangan tidak mau menikah agar

dikatakan, “Dia adalah orang zuhud.” Sementara orang-orang awam terbiasa

menyanjung orang sufi yang tidak menikah, seraya berkata, “Orang itu tidak

pernah mengenal wanita sama sekali.” Ini namanya pola kehidupan pendeta

yang jelas menyalahi syariat kita.

Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Orang yang menginginkan jalan Allah

tidak perlu menyibukkan diri dengan urusan pernikahan, karena pernikahan

itu akan mengganggu perilakunya dan dia bersanding dengan istrinya. Padahaj

siapa yang bersanding dengan selain Allah, berarti dia melalaikan Allah.”

Benar-benar aneh perkataan Al-Ghazali ini. Apakah dia benar-benaj

tidak tahu bahwa orang yang ingin menjaga kesucian dirinya dan mendapatkan

keturunan atau menjaga kehormatan istri, maka dia sama sekali tidak keluar

dari perilaku yang baik? Ataukah dia berpendapat bahwa bersanding dan

bercumbu dengan istri menurut kebutuhan nalurinya bisa melalaikan hati

untuk menaati Allah? Padahal Allah telah memberikan karunia kepada

makhluk-Nya, dengan befirman,

{'f'' ^ ^

“Dan, di antara tanda-tanda keknasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk

kalian istri-istri darijenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan meras6

tentram kepadanya.” (Ar-Rum: 21)

3 1 6 Perangkap Setan

Jika seseorang tidak mau menikah dalam jangka waktu sekian lama,

terutama orang sufi yang masih muda, maka bisa muncul tiga dampak negatif:

Sakit karena terus menahan keluarnya mani. Sebab jika  seseorang

tidak bisa melampiaskan dorongan seksualnya, bisa berdampak kurang

baik terhadap badannya.

Bisa mencari pelampiasan. Boleh jadi ketika masih berkumpul, mereka

bisa bersabar dan dapat menahan diri untuk tidak melampiaskan

dorongan seksualnya. Namun ketika dorongan seksual ini sudah

memuncak dan mani sudah berhimpun, maka mereka berusaha

mencari wanita, sehingga kejahatannya lebih parah, karena mereka

hendak melampiaskan apa yang tidak bisa mereka kerjakan pada saat-

saat sebelumnya.

Melakukan penyimpangan seksual kepada anak-anak kecil. Karena

mereka merasa putus asa untuk dapat menikah, padahal mereka

memerlukan pelampiasan, maka akhirnya mereka melampiaskannya

kepada anak-anak kecil yang tampan (homoseks).

Ada juga di antara orang-orang sufi itu yang menikah. Namun mereka

berkata, “Aku menikah bukan karena syahwat.”

Jika yang mereka maksudkan dari pernikahan itu karena mengikuti

As-Sunnah, perkataan mereka itu masih bisa diterima. Tetapi jika yang mereka

maksudkan dengan pernikahan itu terlepas dari syahwat, tentu saja hal itu

adalah mustahi l .

Ada juga di antara mereka yang mengebiri kelaminnya, karena mereka

merasa malu terhadap Allah. Tentu saja ini merupakan tindakan yang amat

bodoh. Sebab Allah telah memuliakan kaum laki-laki dengan alat kelaminnya

itu daripada kaum wanita, yang dengannya dia bisa mendapatkan keturunan.

Siapa yang menyadari keadaan dirinya tentu akan berkata, ‘"Yang benar adalah

k e b a l i k a n d a r i t i n d a k a n m e r e k a . ”

1.

2 .

3 .

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Berkelana

dan Perjalanan Jauh

Iblis telah memperdayai sebagian besar orang-orang sufi, lalu

mendorong mereka melakukan perjalanan jauh, tanpa diketahui mana tempat

yang akan dituju dan bukan karena hendak mencari ilmu. Bahkan tidak jarang

di antara mereka ada yang berkelana sendirian dan tanpa bekal yang memadai.

3 1 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Su fi

karena dia menganggap yang demikian ini termasuk tawakal. Padahal berapa

banyak fadhilah dan kewajiban yang kemudian dia tinggalkan, tetapi tetap

saja dia menganggap tindakannya ini sebagai ketaatan dan untuk mendekatkan

dirinya ke derajat wali, padahal dia termasuk orang-orang durhaka yanj^

menyalahi Sunnah RasuluUah 0.

Rasuluilah ̂ melarang berkelana tanpa mengetahui mana tempat yang

hendak dituju, apalagi tanpa maksud yang jelas dan keperluan. Abu Dawuc

meriwayatkan di dalam Sunan-ny2i, dari hadits Abu Umamah, bahwa adi.

seseorang berkata, “Wahai Rasuluilah, izinkanlah aku melakukan berkelana.”

Beliau menjawab, “Bepergian jauh yang dilakukan umatku adalah ji sahiHllah. ’

Ishaq bin Ibrahim bin Hani’ meriwayatkan dari Imam Ahmad bin

Hambal, bahwa dia pernah ditanya tentang seseorang yang lebih suka

berkelana untuk ibadah daripada dia menetap di suatu tempat. Maka Ahmac,

bin Hambal menjawab, “Berkelana sama sekali bukan merupakan bagian dan

Islam, bukan pula merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih.

Rasuluilah juga melarang seseorang bepergian jauh hanya sendirian.

Sabda beliau,

S i

“Satu orang yang bepergian adalah setan. Dm orang yang bepergian adalah

duasetan, dan tiga orang yang heper̂ an adalah kafilah." (HR. Abu Daud,

At'Tirmidzi, AbHakim, AbBaihaqi dan Ahmad)

Adakalanya di antara orang-orang sufi. itu melakukan perjalanan pada

malam hari hanya sendirian. Nabi juga melarang yang demikian Ini. Dari

Ibnu Umar dia berkata, “Rasuluilah ^bersabda,

o'! ! 1 1 ^ l l T ® ■ ' ®

(f

“Andaikan manusia tahu apa yang terjadi kala dia sendirian, tentu seseorang

sama sekali cidak akan bepergian sendirian pada malam hari.” (HR. Al-

Bukhari)

Iblis memperdayai sebagian besar di antara mereka, sehingga merek.i

menganggap bepergian jauh tanpa membawa bekal yang memadai sebagai

Berkelana yang dilakukan orang-orang sufi ini dengan kebiasaan beberapa jama’ah yang melakuka i

kegiatan dakwah. Mereka pergi selama beberapa bulan meninggalkan anak, keluarga dan pekerjaar.,

yang menurut mereka, itu adalah/isabililla/i. Padahal tak adasatu riwayat pun dari orang-orang salaf

yang berbuat seperti itu. Syaikh Al-Albani menganggap mereka ini sebagai orang-orang sufi moderr,.

3 1 8 Perangkap Setan

tawakal. Tetapi ternyata anggapan ini tetap saja menyebar di kalangan orang-

orang yang bodoh itu. Celakanya, muncul pula para penutur kisah yang

meriwayatkan dari mereka sambil menyisipkan pujian, sehingga banyak orang

yang kemudian ikut-ikutan melakukan seperti yang mereka lakukan dan juga

melontarkan pujian. Akhirnya banyak keadaan yang menjadi rusak dari orang-

orang awam tidak tabu mana jalan yang benar.

Kisah tentang orang-orang sufi yang mengadakan perjalanan jauh dan

berkelana sangat banyak, yang semuanya menggambarkan tdndakan mereka

yang bertentangan dengan syariat. Inilah sebagian di antaranya:

Abu Hamzah Al-Khurasani berkata, “Suatu kali aku pergi untuk haji.

Di tengah perjalanan, aku tercebur ke sebuah lubang bekas sumur. Maka

muncul inisiatif dalam diriku untuk berteriak meminta tolong. Namun aku

berkata kepada diri sendiri, “Demi Allah, aku tidak akan berteriak meminta

tolong.” Selagi pikiran ini masih bergelung-gelung di dalam benakku, tiba-

tiba ada dua orang yang terlihat di mulut sumur. Salah seorang berkata kepada

temannya, “Mari kita tutup mulut sumur ini.” Maka mereka berdua menutup

mulut sumur dengan potongan-potongan kayu dan tikar, lalu menimbunnya.

Aku bergumam kepada diri sendiri, “Siapakah di antara kalian berdua yang

lebih dekat dengan Allah?” Kemudian aku diam untuk beberapa lama. Tiba-

tiba mulut sumur diobrak-abrik, yang rupanya ada orang lain yang datang ke

mulut sumur dan membuka lubangnya. Ada yang mengulurkan kakinya,

sambil berkata menggumam, “Hendaklah Anda berpegangan ke kakiku ini!”

Maka aku pun berpegangan ke kaki yang terjulur itu hingga aku dapat keluar

dari lubang sumur. Ketika aku melihat, ternyata di depanku ada beberapa

binatang buas. Lalu ada sebuah suara yang berkata kepadaku, “Wahai Abu

Hamzah, bukankah sudah impas jika aku menyelamatkanmu dari mulut singa

ke mulut buaya?”

Orang-orang saling berbeda pendapat tentang siapa sebenarnya Abu

Hamzah ini. Tetapi siapa pun orangnya, sikapnya itu tidak bisa dibenarkan

dan dengan diamnya itu dia telah menyalahi syariat, karena dia tidak mau

menolong diri sendiri dengan sikap diamnya itu, padahal seharusnya dia

berteriak meminta pertolongan, sebagaimana dia harus berusaha membela

diri dari hal-hal yang membahayakannya. Perkataannya, “Aku tidak akan

berteriak meminta pertolongan”, sama dengan orang yang berkata, “Aku tidak

mau makan dan minum air”. Tentu saja ini merupakan sikap yang teramat

3 1 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

bodoh dan bertentangan dengan hikmah diciptakannya dunia. Allah

menciptakan segala sesuatu berdasarkan suatu hikmah. Allah menciptakan

tangan bagi manusia agar dia dapat membela diri, menciptakan lidah agar

dia berbicara, menciptakan akal agar dia terbimbing untuk menghindari

mudharat dan mencari kemaslahatan, menciptakan makanan dan obat-obatan

untuk kebaikan manusia. Siapa yang tidak mau memanfaatkan apa yang telah

diciptakan Allah dan apa yang telah ditunjukkan kepadanya, berarti dia telah

menolak perintah syariat dan menyia-nyiakan hikmah Allah.

Jika ada orang bodoh berkata, “Bagaimana caraku untuk berhad-hati

dan waspada, sementara sudah ada ketentuan takdir?”

Dapat kami sampaikan pertanyaan balik: Bagaimana mungkin kita tidak

mau bersikap waspada padahal sudah ada perintah Dzat yang menetapkan

takdir itu? Firman-Nya, “Hai orang-orangyang beriman, bersiap siagalah kalian

(An-Nisa: 71)

Nabi Sbersembunyi di dalam gua untuk menghindari kejaran orang

orang musyrik. Beliau tidak bersabda kepada diri sendiri, “Keluarlah dan

gua karena alasan tawakal.” Berarti beliau tidak mengabaikan sebab untuk

melindungi diri dan tidak mengabaikan apa yang ada di dalam had. Ini

termasuk prinsip yang sudah kami singgung di bagian terdahulu.

Perkataan Abu Hamzah, “Aku bergumam kepada diri sendiri',

merupakan perkataan kepada diri sendiri yang bodoh dan yang di dalam dir

itu ada kebodohan, karena dia beranggapan bahwa tawakal adalal

mengabaikan sebab, karena syariat tidak menuntut dari manusia apa yang

telah dilarangnya. Lalu mengapa akhirnya dia bergelayut ke kaki yang

dijulurkan kepadanya dari mulut sumur? Tindakan ini jelas bertentangan

dengan bualannya yang ingin meninggalkan sebab dan menganggapnya

sebagai tawakal. Lalu mengapa dia tidak mau tetap diam di dalam lubang

sumur sampai ada yang menyelamatkan dkinya tanpa satu sebab pun?

Bagaimana jika dia menyanggah, “Ini atas kehendak Allah?”

Dapat dijawab: Memang apa yang terjadi sehingga dia tercebur ke

lubang sumur adalah karena Allah. Namun lidah yang berteriak meininta

pertolongan juga berkat ciptaan-Nya. Andaikan dia berteriak, berarti dia telah

mempergunakan sebab yang diciptakan Allah, sehingga dia bisa

memanfaatkannya untuk melindungi diri. Tetapi rupanya dia tidak mau

mempergunakannya. Dengan diamnya itu berarti dia telah mengabaikan sebab

3 2 0 Perangkap Setan

yang diciptakan Allah dan menolak hikmah-Nya. Maka dia pun layak

mendapat cercaan.

Dari Mu’ammal Al-Mughabi, dia berkata, “Aku pernah menyertai

Muhammad bin As-Samin ketika mengadakan perjalanan antara Tikrit dan

Maushil. Tatkala kami sedang melewati sebuah lembah, tiba-tiba muncul

binatang buas tak jauh dari tempat kami. Seketika itu pula badanku gemetar

ketakutan dan aku yakin wajahku pucat pasi. Maka aku sudah siap-siap untuk

lari. Namun Muhammad bin As-Samin mencegah niatku untuk lari. Dia

berkata, “Hai Mu’ammal. Tawakal itu justru ada di tempat ini dan sekarang

ini, bukan di masjid jami’.”

Memang tidak dapat diragukan bahwa tawakal itu akan berpengaruh

terhadap did orang yang bertawakal tatkala sedang menghadapi krisis. Tetapi

di antara syaratnya bukan berarti pasrah kepada terkaman binatang buas.

Tentu saja hal ini tidak diperbolehkan.

Ada seseorang berkata kepada Ali Ar-Razi, “Tumben engkau tidak

menyertai Abu Thalib Al-Jurjani.”

Ali Ar-Razi menimpali, “Pasalnya, aku pernah pergi bersamanya. Ketika

kami sedang tidur di suatu tempat, ada seekor binatang buas yang tak jauh

dari tempat kami. Ketika dia melihatku tidak mau memejamkan mata gara-

gara ada binatang buas itu, maka dia pun mengusirku seraya berkata, “Sejak

saat ini pula engkau tidak boleh menyertaiku.”

Abu Thalib Al-Jurjani telah berbuat kelewat batas, karena dia

menginginkan agar temannya mengubah naluri yang telah tercipta pada

dirinya, yaitu perasaan takut terhadap sesuatu yang mengancam

keselamatannya. Padahal yang demikian itu di luar kekuasaannya, dan tindakan

seperti itu juga dituntut syariat. Musa pun tidak mampu menghindari dari

perasaan takut melihat ular yang menjadi mukjizatnya. Semua ini

mencerminkan kebodohan orang-orang sufi yang bersikap seperti itu. Lalu

di manakah letak tawakal dalam perbuatan yang bertentangan dengan akal

dan syariat ini?

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Siapa yang lapar kemudian dia tidak mau

meminta-minta hingga meninggal dunia, maka dia masuk neraka.”

Perhatikan perkataan salah seorang fuqaha’ ini. Allah telah menciptakan

beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan orang yang kelaparan. Jika dia

3 2 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

tidak mendapatkan sebab yang praktis untuk mendapatkan makanan, maka

masih ada kemungkinan baginya untuk meminta-minta, yang mungkin hanya

cara inilah yang bisa dia lakukan. Namun jika dia tidak mau melakukannya.

berarti dia telah berbuat aniaya terhadap hak dirinya, yang merupakan titipan

baginya, yang berarti dia layak mendapat hukuman.

Abu Bakar Ad-Daqqaq berkata, “Aku pernah bertamu di suatu

perkampungan Arab Badui. Di Sana aku berpapasan dengan seorang gadis

yang cantik jelita. Karena aku telah memandangi gadis itu, maka sebelah

mataku kucongkel, sambil kukatakan kepada biji mata yang telah kucongkel

itu, “Mata sepertimu mana mungkin mau memandang karena Allah?!”

Perhatikanlah bagaimana kebodohan orang ini terhadap hukum syariat.

Sebab kalau pun dia memandang gadis itu tanpa sengaja, maka tiada dosa

baginya. Jika^ dia memandangnya secara sengaja, berarti dia telah melakukan

dosa kecil, yang bisa terhapus dengan cara menyesalinya. Namun dia

men}oisuli dosa kecil ini dengan dosa besar, yaitu mencongkel matanya dan

tidak ada pernyataan taubat darinya. Pasalnya, dia menganggap tindakannya

itu sebagai taqarrub kepada Allah dan meyakini larangan itu sebagai taqarrub.

yang berarti kesalahannya sudah terhapus. Boleh jadi dia pernah mendengar

kisah serupa dari sebagian orang dari Bani Israel yang juga mencongkel

matanya karena telah memandang seorang wanita. Sekalipun mungkin apa

yang dilakukan Orang Israel itu dibenarkan syariat, tetapi rasanya sulit untuk

diterima. Yang jelas, syariat kita melarang yang demikian ini.

Seakan-akan orang-orang semacam ini perlu membuat aturan-aturan

baru yang kemudian disebut dengan tasawuf, yang berarti harus meninggalkan

syariat RasuluUah Kami berlindung kepada Allah dari ta/his Iblis semacam

i n i .

Ada kebalikan dari kejadian ini, sebagaimana yang diriwayatkan dan

Dzun-Nun Al-Mishri dan lain-lainnya, dia berkata, “Aku berpapasan dengan

seorang wanita di suatu padang, lalu kami saling beradu pandang.”

Namun suatu kali dia pernah kena batunya, karena berhadapan dengan

\\'anita yang menyadari hukum, sebagaimana yang dituturkan Muhammac:

bin Ya’qub Al-Urji, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Dzun-Nun berkata.

“Aku berpapasan dengan seorang wanita di daerah Bajjah, lalu aku

memanggil-manggil wanita itu, tetapi dia menyemprotku, “Apa urusannya

3 2 2 Perangkap Setan

laki-laki berbicara dengan wanita? Kalau bukan karena akalmu yang kurang

waras, tentu aku sudah menimpukmu.”

Dari Abu Sa’id Al-Kharraz, dia berkata, “Aku pernah mengarungi

hamparan padang pasir tanpa bekal sama sekali. Di suatu tempat aku seakan

tak kuat lagi menahan rasa dahaga. Dalam keadaan seperti itu aku melihat

sebuah perkampungan di kejauhan. Maka semangatku menjadi bangkit untuk

mencapai tempat itu. Namun kemudian terpikir olehku, bahwa dengan cara

itu berarti aku telah mengeluh dan bergantung (bertawakal) kepada selain

Allah. Maka aku menahan keinginan untuk memasuki perkampungan kecuali

jika ada yang membawaku ke sana. Lalu aku menggali lubang di pasir dan

tubuhku kupendam sampai bagian dada. Pada tengah malam aku mendengar

sebuah suara yang nyaring, “Wahai penduduk kampung, sesungguhnya Allah

mempunyai seorang wall yang mengubur dirinya di tengah padang pasir. Maka

carilah ia. Tak lama kemudian ada sekumpulan orang yang mendatangi

tempatku dan mengeluarkan tubuhku dari timbunan pasir dan membawaku

ke perkampungan tersebut.”

Orang ini rupanya terlalu berlebih-lebihan dalam menggambarkan

tabiat dirinya. Dia menghendaki sesuatu yang tidak diciptakan pada dirinya,

karena tabiat Bani Adam itu menyambut sesuatu yang disukainya. Tidak ada

jeleknya seseorang yang kehausan untuk merasa gembira jika akan

mendapatkan air, atau orang lapar yang akan mendapatkan makanan, begitu

pula siapa pun yang merasa senang terhadap sesuatu yang memang

diinginkannya. Kami berlindung kepada Allah dari perbuatan seperti itu, yang

sama sekali tidak mencerminkan kepandaian dan nalarnya. Dengan cara itu

berard dia tidak mengikuti shalat jama’ah, yang berard ini merupakan

keburukan. Tindakan yang dianggap sebagai taqarrub kepada Allah ini pada

hakikatnya merupakan cermin kebodohannya. Orang yang berilmu tentu akan

menyadari bahwa dndakan seperd itu haram, karena yang demikian itu

merupakan talhis Iblis yang ditujukan kepada orang-orang zuhud dan ahli

ibadah yang bodoh.

Masih banyak kisah-kisah lain yang menjelaskan kebiasaan orang-orang

sufi yang bepergian jauh tanpa membawa bekal sama sekali, dengan

menyisipkan kejadian-kejadian yang sullt diterima akal. Padahal syaikh-syaikh

mereka yang terdahulu memerintahkan para musafir agar mempersiapkan

bekal sebelum berangkat. Dari Al-Farghani, dia berkata, “Ibrahim Al-

3 2 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Khawwash adaiah orang yang sangat mementingkan tawakal dan mendalam

dalam menghayati makna tawakal. Tetapi dia tidak pernah meninggalkan

jarum, benang, kantong air dan gunting. Ada seseorang bertanya kepadanya,

“Wahai Abu Ishaq, mengapa engkau selalu membawa barang-barang itu,

padahal engkau suka menolak segala sesuatu?” Dia menjawab, “Barang-

barang seperti ini tidak mengurangi tawakal. Sebab Allah ̂ telah menetapkan

beberapa fardhu kepada kita. Sementara orang fakir sepertiku tidak

mempunyai baju kecuali hanya satu lembar. Boleh jadi baju yang hanya satu

lembar itu sobek. Jika dia tidak membawa jarum dan benang, maka auratnya

akan kelihatan, sehingga shalamya menjadi tidak sah. Thaharahnya juga bisa

batal, karena itu harus tersedia kantong air. Jika engkau melihat ada orang

fakir tidak mempunyai kantong air, jarum dan benang, maka shalamya perlu

diwaspadai.”

Kemudian jika orang sufi itu tiba dari bepergian jauh, yang pertama

kali diiakukan adaiah masuk ke mushalla yang di dalamnya sudah ada banyak

orang. Dia tidak langsung mengucapkan salam kepada mereka, tetapi wudhu

dulu di tempat wudhu’, lalu masuk mushalla, shalat dua rakaat, mengucapkan

salam kepada syaikhnya, baru kemudian mengucapkan salam kepada semu î

yang hadir di tempat itu.

Ini merupakan bid’ah yang diciptakan orang-orang sufi periode

muta’akhirin yang jelas menyalahi syariat. Sebab para fuqaha’ telah sepakat

bahwa siapa yang bertemu dengan sekumpulan orang harus langsung

mengucapkan salam kepada mereka, dalam keadaan suci atau tidak. Merck;

itu tak ubahnya anak kecil. Sebab jika anak kecil ditanya, ‘Mengapa engkar

tidak mau mengucapkan salam kepada kami?” Maka dia akan menjawab,

“ K a r e n a a k u b e l u m m e m b a s u h m u k a k u . ” A t a u b a h k a n a n a k - a n a k l e b i h

mengetahui kewajiban ini daripada mereka.

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi Jika Ada Seseorang di antarn

Mereka yang Meninggal Dunia

Ada dua macam talbis dalam hal ini:

'Pertama:

Orang yang meninggal dunia tidak boleh ditangisi sama sekaii. Siapa

yang menangisinya, maka dia telah keluar dari jalan ahli ma’rifat.

3 2 4 Perangkap Setan

Ibnu Aqil menanggapi: Yang demikian ini melebihi kapasitas syariat,

itu merupakan perkataan khurafat, menyimpang dari adat dan tabiat

serta kewajaran. Yang perlu dilakukan adalah menghibur orang yang sedang

berduka dengan cara-cara yang wajar dan diperbolehkan. Sebab Allah telah

mengabarkan tentang keadaan Nabi-Nya, Ya’qub,

“Dan, kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang

yangmenahan amarahnya (terhadap anak^anaknya)(Yusuf: 84)

RasuIuUah ̂ juga menangis saat kematian Ibrahim, putra beliau, seraya

berkata, “Sesungguhnya mata itu benar-benar boleh menangis.” (HR. Al-

Bukhari dan Muslim)

Fathimah juga pernah berkata kepada ayahnya, Rasulullah %saat beliau

sakit yang disusul dengan kematian beliau, “Wahai ayah betapa menderitanya

engkau!” Dan beliau tidak mengingkari perkataan Fathimah itu.

Wajar saja seseorang berduka karena ada musibah yang menimpanya.

Bahkan orang yang perasaannya tidak tergerak karena hal-hal yang menyentuh

perasaan dan suka, maka dia lebih dekat dengan sifat benda mad. Nabi 0

mencela orang yang keluar dari tabiamya sebagai manusia yang berperasaan.

Kedka ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Aku tidak pernah memeluk

anakku”, padahal dia mempunyai sepuluh anak, maka beliau bersabda, “Aku

tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirimu jika Allah mencabut rasa kasih

sayang dari hatimu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Orang yang keluar dari batasan syariat dan menyimpang dari tabiat

kemanusiaannya, berarti dia adalah orang bodoh, yang menuntut sesuatu

karena kebodohannya. Memang syariat telah menetapkan agar kita tidak

menempeleng muka dan mencabik-cabik saku baju saat berduka. Tetapi tidak

ada celaan terhadap mata yang meneteskan air mata (tanpa sedu sedan dan

ratap tangis) dan had yang berduka.

K e d u a :

Mereka membuat undangan saat ada kematian dan menyelenggarakan

acara tersendiri, ada nyanyian dan tabuhan rebana. Mereka berkata, “Kami

bergembira karena orang yang meninggal telah sampai ke hadapan Rabb-

nya.”

m a n u s i a

Tindakan seperti ini jelas merupakan talbis Iblis, yang bisa dilihat dari

tiga sudut pandang

3 2 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Yang disunnahkan adalah mempersiapkan makanan bagi keluarga yang

sedang berduka, karena keadaan mereka yang sedang berduka itu

mereka tidak bisa mempersiapkan makanan untuk diri mereka sendiri.

Bukan merupakan Sunnah jika tuan rumah yang sedang berduka

mempersiapkan makanan dan dihidangkan kepada orang lain.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, bahwa tatkala mayat Ja’far tiba.

maka Nabi ^bersabda, “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far.

karena mereka mendapat musibah yang membuat mereka masyghul.’’

(HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Mereka bergembira karena keadaan orang yang meninggal, yang

menurut mereka telah sampai kepada Rabb-nya. Tak ada alasan bag.

mereka untuk bergembira. Sebab kita tidak yakin orang yang meningga

itu diampuni Allah. Jika tidak diampuni, maka tidak selayaknya orang

Mukmin bergembira di hadapan orang-orang yang mendapat siksaan.

Maka Umar bin Dzarr berkata tatkala anaknya meninggal dunia, “Kami

bersedih atas kematianmu dan kami lupakan kesedihan atas apa yang

menimpamu.

Dari Ummul-Ala’, dia berkata, “Tatkala Utsman bin Mazh’un

meninggal dunia, RasuluUah 0datang ke tempat kami. Aku berkata,

Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Abus-Sa’id. Aku

bersaksi atas dir imu bahwa Al lah memuliakan dir imu.”

Lalu Nabi ^menimpali, “Sebatas

telah memuliakannya?” (HR. Ai-Bukhari)

Dalam acara itu mereka bernyanyi dan bercanda. Hal ini bertentangan

dengan kewajaran tabiat manusia, yang bersedih karena ditinggal mati

seseorang. Mereka melakukan hal itu sebagai ungkapan rasa syukut

karena orang yang meninggal dunia dianggap telah diampuni dosa-

dosanya.

1 .

2 .

engkau tahu bahwa AUalim a n a

3.

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi karena Mereka Tidak Mau

M e n c a r i I l m u

Talbis Iblis yang pertama terhadap manusî  adalah menghalangi mereka

unmk mencari ilmu. Sebab iknu itu merupakan cahaya. Jika pelita mereka

dipadamkan, maka Iblis bisa memperdayai mereka dalam kegelapan sesuai

3 2 6 Perangkap Setan

dengan kehendaknya. Iblis menyusup ke dalam diri orang-orang sufi dalam

masalah ini lewat beberapa pintu:

Iblis menghalangi mayoritas orang-orang sufi mencari ilmu secara total,

karena mencari ilmu itu berat dan harus bersusah payah. Iblis membisiki

bahwa bersikap santai itu justru lebih baik. Asy-Syafi’i berkata,

“Tasawuf itu dilandaskan kepada kemalasan.”

Asy-Syafi’i menjelaskan lebih lanjut, bahwa yang diinginkan manusia

i t u a d a d u a m a c a m : K e k u a s a a n d a n m e r a i h k e d u n i a a n . M e r a i h

keduniaan harus dengan ilmu, yang tentu saja harus didapatkan dalam

jangka waktu yang panjang dan juga melelahkan. Itu pun ada yang

tidak berhasil dan ada juga yang berhasil. Sementara orang-orang sufi

ingin cepat-cepat mendapatkan kekuasaan dan meraih keduniaan.

Mereka memandangnya dari kaca mata zuhud. Dengan cara inilah

mereka cepat memperolehnya.

Dari Abu Hafsh bin Syahin, dia berkata, “Di antara orang-orang sufi

ada yang mencela para ulama. Dia menganggap kegiatan mencari ilmu

merupakan tindakan yang sia-sia. Mereka berkata, “Ilmu kami tanpa

memiliki sarana.” Mereka melihat jalan yang membentang jauh dalam

mencari ilmu. Karena itu mereka menyingsingkan baju, menambal

mantel, membawa kantong air dan memperlihatkan zuhud.

Di antara mereka ada yang cukup puas dengan sedikit ilmu dan tidak

meninggalkan yang lebih utama dengan mencari ilmu yang lebih banyak

lagi. Mereka tidak mau mendalami ilmu hadits dan menganggap

menelusuri sanad hadits sebagai tindakan mencari kekuasaan dan dunia

serta kesenangan.

Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa yang dimaksudkan

ilmu adalah amal. Mereka tidak paham bahwa mencari ilmu merupakan

pekerjaan yang paling mulia. Di samping itu, sekalipun orang yang

berilmu itu tidak seberapa banyak amalnya, tetapi amalnya dijamin

benar. Tetapi ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu tidak akan berada

di jalan yang benar

Menurut mereka, yang disebut orang berilmu itu ialah orang yang

mencari hal-hal yang berkaitan dengan batin, sehingga ada di antara

mereka yang membayangkan adanya bisikan dalam batinnya, dengan

berkata, “Hatiku mendapat bisikan dari Allah.” Mereka menyebut ilmu

1.

2 .

3 .

4 .

3 2 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

syariat sebagai ilmu zhahir, sedangkan bisikan-bisikan hati disebut

sebagai ilmu batin. Mereka mengacu kepada riwayat Ali bin Abu Thalib,

dan Nabi 0, beliau bersabda, “Ilmu batin adalah salah satu dari rahasia-

rahasia Allah dan salah satu dari hukum-hukum Allah, yang disusupkan

Allah ke dalam had siapa pun yang dikehendaki-Nya dan wali-waii-

Nya.”

Hadits ini sama sekali tidak mempunyai landasan yang berasal dari

Nabi S. Di dalam isnadnya ada orang-orang yang tidak dikenal dan diketahui

identitasnya.

Dari Abu Musa, dia menuturkan, “Pada zaman Abu Yazid ada seorang

ulama dan ahli fiqih. Suatu kali ulama ini menemui Abu Yazid, seraya berkata,

“Aku mendengar ada beberapa keajaiban yang diriwayatkan darimu.”

“Rupanya engkau belum seberapa banyak mendengar keajaiban-

keajaiban dariku,” kata Abu Yazid.

Ulama itu bertanya, “Wahai Abu Yazid, ilmu itu berasal dari siapa, dari

mana dan engkau peroleh melalui siapa?”

“Ilmu berasal dari Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘Siapa

yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya

ilmu tentang sesuatu yang tidak diketahuinya’.̂  Dan, juga sebagaimana sabda

beliau, ‘Ilmu itu ada dua macam; Ilmu zhahir, yaitu hujjah Allah terhadap

makhluk-Nya, dan ilmu batin, yaitu ilmu yang bermanfaat’. Ilmumu wahai

syaikh berasal dari penukilan lidah ke lain lidah melalui pengajaran. Sedangkan

ilmuku berasal dari Allah, berupa ilham yang berasal dari sisi-Nya.”

Ulama itu menimpali, “Ilmuku berasal dari orang-orang yang dapat

dipercaya, dari RasuluUah S, dari Jibril dan dari Allah.”

Abu Yazid bertanya, “Wahai syaikh, toh Nabi Smempunyai ilmu yang

tidak diketahui Jibril dan Mikail.”

Ulama itu menjawab, “Benar, tetapi aku menginginkan agar ilmumu

yang engkau katakan berasal dan Allah itu benar dan sah.”

Menurut Abu Nu’aim, Ahmad bin Hambal menyebutkan perkataan ini dari sebagian tabi’in, dari Isa

bin Maryam lalu sebagian rawinya mengira-ngira bahwa perkataan ini diriwayatkan dari Nabi

dengan dilandaskan kepada isnadnya agar lebih mudah. Dengan cara ini, tidak mungkin perkataan

tersebut dinisbatkan kepada Ahmad bin Hambal yang pasti, dalam isnadnya ada orang-orang yang tidak

dikenal .

3 2 8 Perangkap Setan

Abu Yazid berkata, “Kalau begitu aku akan menjelaskannya menurut

pengetahuan yang ada di dalam hadku.”

Kemudian ulama itu bertanya, ‘Wahai Syaikh, tahukah engkau bahwa

Allah pernah befkman kepada Musa dan juga befirman kepada Muhammad,

dan sesungguhnya mimpi para nabi itu adalah wahyu?”

Abu Yazid menjawab, “Begitulah.”

Ulama itu bertanya lagi, “Apakah engkau tidak tahu bahwa perkataan

shiddiqin dan para wali itu berdasarkan ilham dari Allah, sedangkan

pemanfaatannya dari had mereka, sehingga mereka berkata berdasarkan

hikmah dan memberikan manfaat kepada umat? Aku bisa menguatkan

perkataanku ini dengan apa yang telah diilhamkan Allah kepada ibu Musa

agar meletakkan putranya ke dalam Tabut lalu meletakkannya di permukaan

air sungai. Begitu pula Allah yang mengilhamkan kepada Hidhir dalam urusan

perahu dan anak kecil ”

Diriwayatkan pula bahwa orang-orang mendatangi majlis Abu Yazid.

Mereka mengabarkan kepadanya, “Fulan bertemu Fulan dan mengambil ilmu

darinya dan menulis banyak penukilan darinya.” Maka Abu Yazid berkata,

“Orang-orang yang perlu dikasihani. Mereka mengambU ilmu yang mad dari

orang yang mad. Tetapi kami mengambil ilmu dari yang hidup (Allah) dan

yang tak mengenal mad,”

Pemahaman yang dimiliki Abu Yazid dalam kisah yang pertama

menunjukkan ilmunya yang minim. Sebab andaikata dia mempunyai ilmu,

tentu dia tahu bahwa ilham terhadap sesuatu itu tidak menafikan ilmu dan

ddak membatasinya. Allah tidak mengingkari untuk mengilhamkan sesuatu

kepada manusia, sebagaimana yang disabdakan Nabi “Sesungguhnya di

antara umat-umat itu ada yang diberi ilham. Kalaupun yang semacam ini di

tengah umatku, maka dia adalah Umar.”

Yang dimaksudkan ilham di sini adalah ilham kebenaran. Kalau pun

ilham itu benar-benar datang, maka ilham itu tidak bertentangan dengan ilmu.

Jika iihamnya tidak memperbolehkannya untuk mencari ilmu, berarti itu

berasal dari setan bukan berasal dari Allah. Sedangkan Khidhir, yang pasti

dia adalah nabi.

Ilham yang berkaitan dengan suatu perkara dalam masalah ilmu bukan

merupakan buah dari ilmu dan ketakwaan, lalu orangnya dianggap telah

3 2 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

mendapatkan taufik dan ilham kepada kebenaran. Jika seseorang tidak mau

mencari ilmu dan hanya bersandar kepada ilham dan bisikan hati, maka dia

tidak dibenarkan sama sekali. Sebab tanpa mendapatkan iknu yang berasai

dari orang lain, tentu kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam jiwa,

apakah yang diketahui itu memang berasai dan ilham kebenaran ataukah dari

b i s i k a n s e t a n ?

Harap diketahui, bahwa ilmu yang bersifat ilham yang disusupkan ke

dalam hati, tidak cukup hanya dengan ilmu yang didapat dari orang lain,

sebagaimana berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak cukup didapatkan

hanya dari ilmu-ilmu syariat, seperti ilmu tentang gizi, obat-obatan dan lain-

lainnya.

Tentang perkataan Abu Yazid, “Mereka mengambil ilmu yang mat!

dari orang yang mati”, semoga saja dia sedang tidak sadar ketika mengucapkan

perkataan ini. Jika tidak, maka ini merupakan pelecehan terhadap syariat.

Abu Hafsh bin Syahin pernah berkata, “Di antara orang-orang sufi ada yang

melihat penggalian ilmu syariat itu adalah perbuatan yang sia-sia, lalu mereka

berkata, “Ilmu kami tanpa perantaraan.” Padahal orang-orang sufi yang

terdahulu adalah para pemuka dalam ilmu Al-Qur’an, fiqih, hadits dan tafsir.

Tetapi rupanya orang-orang sufi sesudah mereka lebih suka pengangguran.

Abu Hamid Ath-Thusi berkata, “Kecenderungan orang-orang sufi

hanya kepada ilmu-ilmu Ilahiyah yang tidak bisa dipelajari, sehingga mereka

tidak perlu belajar dan membaca buku-buku. Bahkan mereka berkata, 'Yang

disebut thariqah ialah upaya meniadakan sifat-sifat yang tercela, memutuskan

semua hubungan dan menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh jiwa’.

Dengan begitu seseorang tidak perlu merasa tertarik untuk memperhatikan

keluarga, anak, harta dan ilmu, lalu dia menyendiri di tempat terpencil

mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan sunat, tidak perlu memperhatikan

keadaan dirinya, tidak perlu membaca Al-Qur’an, tidak perlu menulis hadits

dan ilmu-ilmu lainnya, lidahnya harus senantiasa berucap, ‘Allah, Allah.

Allah....’ hingga lidahnya kelu.”

Kami tak habis piktr, mengapa perkataan seperti ini bisa keluar dan

seorang ahli fiqih? Jelas ini merupakan perkataan yang buruk dan

mengandung pelecehan terhadap syariat yang menganjurkan membaca Al-

Qur’an dan mencari ilmu. Karena itu para ulama di berbagai tempat yang

mempunyai kemuliaan, tidak mau mengikuti jalan orang-orang sufi seperti

3 3 0 Perangkap Setan

ini. Karena orang semacam Abu Hamid itu tidak memiliki ilmu yang dapat

dijadikan tameng untuk melepaskan diri dari hayalan dan bisikan-bisikan

seperti itu, maka Iblis begitu leluasa mempermainkan dirinya. Memang kami

tidak memungkiri kemungkinan hatinya yang bersih, lalu dia mendapat cahaya

petunjuk, sehingga dia bisa memandang berkat cahaya Allah. Tetapi proses

pen}aician hati itu hams berdasarkan batasan ilmu dan bukan dengan sesuatu

yang bertentangan dengan ilmu. Membuat perut kelaparan, berjaga terus-

menerus dan tidak mau tidur, sekian lama menjalani waktu dalam bayang-

bayang hayalan, merupakan tindakan yang dilarang syariat. Tidak ada manfaat

yang bisa diambil dan sesuatu yang dilarang syariat. Di samping itu, tidak

ada pertentangan antara ilmu dan usaha melatih diri. Bahkan ilmulah yang

mengajari bagaimana tata cara melatih diri dan meluruskannya. Setan dapat

mempermainkan orang-orang yang menjauhi ilmu, karena mereka melatih

diri dengan sesuatu yang dilarang ilmu, sehingga ilmu jauh dari mereka. Maka

dari itu kadang-kadang mereka melakukan sesuatu yang dilarang ilmu, dan

kadang-kadang mereka lebih mementingkan sesuatu yang tidak penting. Yang

bisa memberikan fatwa atas semua kejadian adalah ilmu, tetapi justru mereka

menjauhinya.

Banyak orang-orang sufi yang memisahkan antara syariat dan hakikat.̂ ^

Ini merupakan kebodohan orang yang mengatakannya. Sebab seluruh syariat

adalah hakikat. Kalaupun yang mereka maksudkan adalah rukhshah dan hasrat,

maka keduanya juga ada di dalam syariat.

Padahal ada di antara orang-orang sufi terdahulu yang mengingkari

sikap mereka yang menyimpang dari zhahir syariat.

Sahi bin Abdullah berkata kepada seseorang yang meminta nasihat

kepadanya, “Dunia ini semuanya adalah cermin kebodohan, kecuali yang

menggambarkan ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah kecuali yang diamalkan.

Semua amal tertolak kecuali yang berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. As-

Sunnah harus didasarkan kepada takwa.”

Dia juga pernah berkata, “Tidak ada jalan kepada Allah yang lebih

baik daripada ilmu. Selangkah saja engkau menyimpang dari jalan ilmu, maka

engkau akan terjerumus ke dalam kegelapan selama empat puluh hari.”

Istilah hakikat di kalangan orang-orang sufi mempunyai pengertian tersendiri, dengan segala simbol

dan rahasia-rahasianya.

3 3 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Dari Abu Bakar Ad-Daqqaq, dia berkata, “Aku pernah mendengar

Abu Sa’id Al-Kharraz berkata, ‘Setiap sesuatu yang dikatakan batin

bertentangan dengan zhahir, maka ia adalah batif.”

Bahkan Abu Hamid Al-Ghazali telah memperingatkan masalah ini di

dalam Al-lhja’, dengan berkata, “Siapa yang berkata bahwa hakikat itu

bertentangan dengan syariat, atau yang batin itu bertentangan dengan yang

zhahir, berarti dia lebih dekat dengan kufur daripada dengan iman.”

Menurut Ibnu Aqil, orang-orang sufi menyebut syariat dengan nama

tertentu, dan yang mereka maksudkan adalah hakikat. Tentu saja ini

merupakan anggapan yang sangat buruk. Sebab syariat ditetapkan Allah untuk

kemaslahatan makhluk dan mengatur ibadah mereka. Berarti hakikat yang

mereka sebutkan itu hanya sekadar sesuatu yang melintas di dalam jiwa, yang

sengaja disusupkan Iblis. Siapa yang menganggap hakikat ada di luar syariat,

berarti dia adalah orang yang tertipu dan terpedaya.

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi yang Mengingkari Orang-

orang yang Menyibukkan Diri dalam Dunia Ilmu

Dalam kaitannya dengan ilmu, orang-orang sufi itu ada dua macam:

Orang yang malas mencari ilmu dan orang yang beranggapan bahwa

ilmu itu adalah apa yang ada di dalam jiwa sebagai buah dan ibadah, yang

kemudian mereka sebut dengan ilmu batin. Karena itu mereka semua menjadi

malas menyibukkan diri dalam ilmu-ilmu zhahir.

Dari Ja’far Al-PChuldi, dia berkata, “Jika aku ditinggalkan orang-orang

sufi, tentu aku akan datang kepada kalian untuk membawa kepada dunia.

Selagi masih kecil aku pernah belajar kepada Abbas Ad-Duri. Dalam suatu

majlis aku menulis sesuatu darinya. Kemudian aku bertemu dengan sebagian

orang yang dulunya sama-sama belajar dari orang-orang sufi. Temanku itu

bertanya, “Apa yang kau bawa itu?”

Setelah aku memperlihatkannya, maka dia berkata, “Celaka kau!

Bagaimana mungkin engkau meninggalkan ilmu batin dan beralih ke

Umu yang tertulis dalam lembaran kertas?” Seketika ini dia merebut tulisan

dari tanganku dan membakarnya. Ternyata aku cukup terpengaruh

oleh ucapannya itu sehingga aku tidak mau lagi berguru kepada Abbas Ad-

D u r i .

3 3 2 Perangkap Setan

Ja’far Al-I<Chuldi juga menuturkan, “Aku mendengar Abu Sa’id Al-Kindi

berkata, Aku pernah bergabung di suatu mushalla milik orang-orang sufi.

Lalu secara sembunyi-sembunyi aku mencari hadits, sehingga mereka tidak

tahu apa yang kulakukan. Suatu kali puipen yang kusembunyikan di lengan

baju jatuh. Maka di antara mereka ada yang berkata kepadaku,

‘Sembunyikanlah aibmu’.”

Al-Husain bin Ahmad Ash-Shaffar berkata, “Aku sedang memegang

puipen. Lalu Asy-Syibli berkata kepadaku, ‘Jangan kau perlihatkan aibmu

kepadaku. Aku cukup dengan apa yang ada di dalam hatiku’.”

Penentangan terhadap Allah yang paling besar adalah menghalangi

manusia dari jalan Allah, dan jalan untuk menuju kepada Allah yang paling

nyata adalah ilmu, Karena ilmu merupakan bukti untuk mengetahui Allah,

yang bisa menjelaskan hukum-hukum dari syariat Allah, menjabarkan apa

yang disukai Allah dan apa yang dibenci-Nya. Maka menghalangi pencarian

ilmu sama dengan penentangan terhadap Allah dan syariat-Nya, tetapi

rupanya orang-orang yang menghalangi pendalaman ilmu itu tidak menyadari

apa yang dilakukannya.

Dari Abdullah bin Khaflf, dia berkata, “Sibukkanlah diri kalian dalam

upaya mempelajari ilmu, dan janganlah kalian terpedaya oleh perkataan orang-

orang sufi. Dulu aku pernah menyembunyikan pulpenku di saku tambalan

dan lipatan celanaku. Aku juga biasa menemui para ulama secara sembunyi-

sembunyi. Jika orang-orang sufi itu mengetahui apa yang kulakukan, tentu

mereka akan menyerangku habis-habisan, seraya berkata, ‘Engkau tidak akan

beruntung’. Setelah itu mereka menyodorkan berbagai alasan kepadaku.”

Imam Ahmad pernah melihat beberapa puipen di tangan para pemuda

yang sedang mencari ilmu. Maka dia berkata, “Ini adalah jalan Islam.” Dia

juga senantiasa membawa puipen sekalipun usianya sudah tua. Lalu ada

seseorang bertanya kepadanya, “Sampai kapan engkau membawa puipen

wahai Abu AbduUah?’ Dia menjawab, “Puipen ini akan kubawa ke kuburan.”

Tentang sabda Rasulullah “Ada segolongan orang dari umatku yang

senantiasa mendapat pertolongan, mereka tidak mendapat mudharat dan

orang-orang yang menelantarkan mereka hingga hari Kiamat”, maka Imam

Ahmad berkata, “Kalau bukan ahli hadits yang dimaksudkan dalam hadits

ini, maka aku tidak tahu lagi siapa selain mereka.”

3 3 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Namun ketika ada seseorang yang mengabarkan kepadanya, bahwa di

kalangan ahli hadits itu ada orang yang buruk akhlaknya, maka dia menjawab,

“Dia adalah orang 2indiq.”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika aku melihat seseorang dan ahli

hadits, maka seakan-akan aku sedang melihat seseorang dari para sahabat

Rasulul lah S. ”

Lalu apa komentar orang-orang sufi tentang ilmu itu sendiri?

Ketahuilah, karena mereka meninggalkan pencarian ilmu, maka mereka pun

menyendiri bermujahadah menurut pendapat mereka sendiri. Mereka tidak

sabar jika membicarakan ilmu. Mereka hanya mau berbicara berdasarkan pola

kehidupan mereka, sehingga terjadi kesalahan yang mencolok. Memang ada

kalanya mereka berbicara tentang tafsir Al-Qur’an, hadits, fiqih dan lain-

lainnya, tetapi semua im tak lepas dari jalan pikiran mereka yang tenmnya

amat terbatas. tetapi Allah senantiasa memunculkan di setiap zaman

segolongan orang yang siap menyanggah orang-orang yang menyimpang dan

menjelaskan kesalahan mereka.

Berikut ini beberapa gambaran tentang jalan pikiran mereka dalam

memahami Al-Qur’ an.

Dari Ja’far bin Muhammad Al-Khuldi, dia berkata, ‘Aku pernah

menemui syaikh kami, Al-Junaid, yang saat itu sedang ditanya oleh Kaisar

tentang firman Allah, “Kami akan membacakan (A.l-Qur 'an) kepadamu

(Muhammad), maka kamu tidak akan lupa. “(Al-A’la: 6)

Maka Al-Junaid menjawab, “Janganlah engkau lupa amalmu.”

Dia juga menanyakan firman Allah, “Padahal mereka telah mempelajari

apayang disebutkan di dalamnya “. (Al-A’raf; 169) Al-Junaid menjawab, “Karena

mereka tidak mau mengamalkannya.”

Jawaban Al-Junaid, “Janganlah engkau lupa amalnya”, merupakan

penafsiran yang tidak ada dasarnya sama sekali dan kesalahannya sangat jelas.

karena dia menafsiri ayat di atas sebagai larangan. Padahal yang benar tidak

begitu. Ayat itu merupakan pengabaran, bukan merupakan larangan.

Maknanya secara jelas: Engkau (wahai Muhammad) tidak akan lupa. Sebab

jika diartikan larangan, maka bentuknya harus pasti merupakan larangan. Di

samping itu, penafsiran Al-Junaid itu bertentangan dengan ijma’ ulama. Begitu

pula penafsirannya terhadap ayat yang kedua, yang artinya memang

mempelajari, yang bisa dilakukan dengan cara membaca.

3 3 4 Perangkap Setan

Tentang firman Allah, “Semua tipu d(̂ a itu adalah dalam kekuasaan Allah. ”

(Ar-Ra’d: 42), Al-Husain berkata, “Tidak ada tipu daya yang lebih nyata

daripada tipu daya Allah terhadap hamba-Nya, yang memberikan gambaran

kepada mereka, bahwa mereka bisa mendapatkan jalan untuk menuju kepada-

Nya, dalam keadaan bagaimana pun.”

Siapa yang menyimak lebih mendalam penafsiran Al-Husain ini, maka

dia akan tahu bahwa penafsiran itu lebih dekat kepada kufur, sebab dia

mengisyaratkan penafsiran itu secara main-main. Al-Husain ini tidak lain

adalah Al-Hailaj.

Di dalam berbagai buku telah dijelaskan penafsiran mereka, termasuk

pula golongan Bathiniyah, berupa penafsiran-penafsiran yang jauh

menyimpang maknanya, seperti dalam kitab Al-Luwa’ karangan Abnu Nashr

As-Sarraj, dia berkata, “Orang-orang sufi mempunyai kesimpulan tersendiri

dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah, ‘Aku mengajak

hpadaAllahdenganhujjahyangnyata '̂. (Yusuf: 108) Al-Wasithi berkata, “Artinya

aku tidak tahu diriku sendiri.”

Tentu saja ini merupakan penafsiran yang sama sekali tidak ada

dasarnya dan jelas kcsalahannya.

Firman Alla) tentang perkataan Ibrahim, "Dan, jauhkanlah aku dari

anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.‘' (Ibrahim: 35), Abu Hamid Ath-

Thusi berkata di dalam kitabnya, D:(ammul-mal, ‘Y'ang kumaksudkan adalah

emas dan perak”. Sebab kedudukan sebagai nabi terlalu agung andaikan

seorang nabi sampai menyembah berhala. Karena itu dia mengartikan berhala

sebagai kecintaan terhadap emas dan perak.

Tak satu pun mufasir yang berpendapat seperti itu. Sebagaimana yang

diketahui, memang tidak mungkin ada nabi yang cenderung kepada syirik,

karena mereka ma’shum dan bukan karena itu merupakan sesuatu yang

mustahil. Sebagaimana yang diketahui pula, bahwa bangsa Arab dan anak

cucunya telah menyembah berhala.

Abu Hafsh bin Syahin telah menjelaskan penafsiran yang sama sekali

tidak layak yang dilakukan orang-orang sufi, seperti terhadap firman Allah,

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan

slang terdapat tanda-tanda bagi orang-orangyang berakal”. (AJi Imran: 190) Menurut

mereka, orang-orang yang berakal itu merupakan tanda-tanda.

3 3 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi

Dengan penafsiran seperti itu berard mereka telah menambahkan apa

yang ditetapkan Allah, yang berard mengubah ketetapan Al-Qur’an.

Masih banyak penyimpangan mereka dalam menafsiri dan memahami

ayat-ayat Al-Qur’an. Keadaan mereka yang jauh dari ilmu dan kepuasan

mereka terhadap pola kehidupan yang mereka jalani, membuat mereka banyak

melakukan kesalahan. Sementara pola kehidupan dan apa yang melintas dj

dalam pikiran merupakan buah dari ilmu. Orang yang berilmu akan

menghasilkan jalan pikiran yang benar, dan siapa yang ddak memiliki ilmu

akan menghasilkan kebodohan.

Kelancangan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ddak berbeda jauh

dengan kelancangan mereka terhadap hadits.

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata, “Suatu kali Abu

Turab An-Nakhsyabi menemui ayahku, lalu ayahku berkata, ‘Fulan ini adalah

orang yang dha’if, dan Fulan itu adalah orang yang tsiqat’.”

Abu Turab menyela, ‘Wahai syaikh, janganlah engkau mencela para

ulama!

Ayahku menoleh ke arahnya lalu berkata dengan berang, “Celaka kau.

Ini nasihat bukan ghibah.”

Dari Muhammad bin Al-Fadhl Al-Abbasi, dia berkata, “Kami berada

di tempat Abdurrahman bin Abu Hadm yang sedang membacakan Al-]arb

lF /̂-Ti?Wkepada kami. Dia berkata, “Aku sampaikan kepada kalian keadaan

para ulama yang tsiqat dan yang ddak tsiqat.”

Lalu Yusuf bin AJ-Husain menimpali, “Aku merasa malu kepadaki

wahai Abu Muhammad. Berapa banyak orang-orang yang telah berkeliaraj*

di surga semenjak seratus atau dua ratus tahun yang lampau, sementara padr.

saat ini engkau menyebut-nyebut nama mereka dan menggunjing diri merekn

untuk mendapatkan makanan di dunia.”

Mendengar perkataan Yusuf itu, Abdurrahman menangis, lalu dia

berkata, “Wahai Abu Ya’qub, andaikan aku mendengar perkataanmu ini

sebelum aku menyusun kitab ini, tentu aku ddak akan menjTjsunnya.”

Semoga Allah mengampuni Abu Hadm. Andaikan dia seorang ahli

fiqih, tentu dia akan menyanggah perkataan Yusuf itu dengan perkataan yang

keras seperd yang biasa dilakukan Al-Imam Ahmad terhadap Abu Turab.

3 3 6 Perangkap Setan

Padahal seandainya tidak ada kitah A/-Jarh Waf-Ta‘di/, lalu dari mana kita bisa

mengetahui mana hadits yang shahih dan mana hadits yang batil?

Dari mana Yusuf bin Husain tabu orang-orang itu ada di dalam surga?

Taruhlah bahwa mereka benar-benar berada di dalam surga, tetapi bukan

berarti diri mereka ddak boleh disebut-sebut. Di samping itu, siapa yang

tidak mengetahui al-jarh wat-ta‘dil, maka dia tidak akan tahu mana perkataan

seseorang yang benar.

Abul-Abbas bin Atha’ berkata, “Siapa yang mengetahui Allah, maka

dia tidak perlu lagi meminta pertolongan kepada-Nya, karena toh dia tahu

bahwa Allah sudah mengetahui segala keadaannya.”

Ini namanya menutup pintu permohonan dari doa. Tentu saja ini

berasal dari kebodohan.

Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Ada seorang sufi yang kehilangan

anaknya yang masih kecil. Lalu ada seseorang yang memberinya saran,

“Berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikan anakmu.” Maka orang

sufi itu berkata, “Menentang apa yang telah ditetapkan AUah terhadap diriku

lebih berat bagiku daripada kehilangan anak.”

Kami tak habis pikir, bagaimana mungkin Al-GhazaU mengisahkan

kejadian seperti ini dan mengkategorikannya sebagai tindakan yang baik dan

terpuji? Padahal dia tahu bahwa berdoa dan memohon kepada Allah itu bukan

merupakan penentangan atau pembangkangan terhadap takdir-Nya. Ini

semua menunjukkan seberapa jauh pemahaman mereka. Maka waspadalah

dalam menghadapi ilmu dan pemahaman mereka yang salah.

Talbis Iblis terhadap Orang'orang Sufi tentang Bualan dan

Perkataan yang Mengada-ada

Ketahuilah bahwa ilmu mewariskan perasaan takut, menghinakan diri

sendi