Telah dihamparkan Allah untuk menyempumakannya, sesuai dengan ketetapan dan
syariat'Nya. justru mengabaikan sehab-sebab ini bisa mengurangi bobot tawakal ini merupakan
pernyataan yang sangat gamblang berkaitan dengan masalah yang sangat penting ini. Semoga Allah
melimpahkan pahala kepada Ibnul-Qayyim yang telah mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum
M u s l i m i n .
3 1 0 Perangkap Setan
atau menyelubunginya dengan kain atau mantel. Dalam keadaan seperti
ini dia akan mendengar seruan kebenaran dan menyaksikan keagungan
A l l a h . ”
Perhadkanlah pernyataan ini. Yang lebih mengherankan, pernyataan
itu justru keluar dari seorang ulama dan ahli fiqih. Dari mana dia tahu bahwa
yang didengarnya itu adalah seruan kebenaran dan yang disaksikannya adalah
keagungan Allah? Tidak ada jaminan bahwa yang dialaminya itu adalah bisikan
setan dan hayalan-hayalan yang absurd. Femomena seperti inilah yang
mendorong seseorang untuk makan sedikit, hingga dia bisa mendapatkan
halusinasi. Memang ada manusia yang bisa selamat dari halusinasi dalam
keadaan seperti ini, tetapi jika dia berselubung dengan kain sambil
memejamkan mata, maka pikirannya bisa menerawang ke mana-mana,
sehingga dia bisa mendapatkan berbagai macam imajinasi, lalu dia
menganggapnya sebagai kehadiran keagungan Allah. Kami berlindung kepada
Allah dari hayalan, imajinasi dan halusinasi seperti ini.
Diriwayatkan dari Ubaid At-Tustari, bahwa pada awal-awal Ramadhan
dia biasa masuk rumah dan berkata kepada istrinya, “Kuncilah pintu rumah,
dan temui aku setiap malam dan masukkan segumpal rod dari lubang kecil
ini.” Ketika tiba Idul-Fitri, istrinya masuk ke dalam rumah dan mendapatkan
tiga puluh rod teronggok di bagian pojok. Rupanya Ubaid sama sekali ddak
makan, ddak minum dan ddak pernah melakukan persiapan untuk shalat,
karena dia tetap dalam keadaan suci selama sebulan penuh.
Menurut hemat kami, kisah ini ddak valid, yang bisa dilihat dari dua
s u d u t :
Selama sebulan penuh manusia ddak berhadats, tidak tidur, ddak buang
air besar, ddak buang air kecil dan ddak kentut.
Orang Muslim meninggalkan shalat Jum’at dan jama’ah. Padahal shalat
Jum’at adalah wajib.
Taruhlah bahwa kisah ini benar, maka itu jelas merupakan ulah Iblis
yang telah memperdayainya. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Busyanji
seorang sufi yang mencela siapa pun yang meninggalkan shalat Jum’at atau
ketinggalan datang ke shalat Jum’at. Dia berkata, “Jika barakah itu ada dalam
shalat jama’ah, maka keselamatan ada dalam ut^ahr
1 .
2 .
3 1 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Kekhusyu’an,
Mengangguk'anggukkan Kepala dan Menonjolkan Ciri'ciri
Te r t e n t u
Jika rasa takut benar-benar bersemayam di dalam had, tentu akan
menimbulkan kekhusyu’an yang mau ddak mau akan tampak nyata dan
pelakunya ddak bisa mengelak darinya, sehingga engkau juga akan melihatnya
mendengkurkan kepala, tawadhu’ dan khusyu’. Orang-orang yang seperd ini
sebenarnya sudah berusaha untuk menyembunyikan keadaannya itu.
hluhammad bin Sirin biasa tersenyum pada siang hari, namun pada malam
harinya dia lebih banyak menangis.
Kami ddak memerintahkan para ulama untuk memperlihatkan
perbuatannya itu kepada orang-orang awam, karena yang demikian itu
membuat mereka merasa terganggu. Telah diriwayatkan dari Ali bin Abu
Thalib dia berkata, “Jika kalian mengajarkan ilmu, maka tahanlah diri
dan jangan menyertainya dengan tawa, karena hal itu bisa mengganggu had.”
Yang demikian ini ddak disebut riya’. Sebab pikiran orang-orang awam
ddak mampu menakwili apa yang dilakukan ulama, sekalipun itu hal-hal yang
mubah. Mereka menerima semuanya dengan pasif dan tetap memperhatikan
adab. Yang kami cela adalah memaksakan kekhusyu’an, pura-pura menangis
sambil mengangguk-anggukkan kepala, agar orang-orang memandang
pelakunya dari sudut pandang zuhud, lalu mereka pun bersiap-siap berjabat
tangan sambil mencium tangannya. Bahkan boleh jadi dikatakan kepadanya,
“Berdoalah untuk kami.” Maka orang itu pun bersiap-siap untuk memanjatkan
doa, seakan-akan ada jaminan doanya makbul.
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, bahwa suatu saat ada seseorang
yang berkata kepadanya, “Berdoalah untuk kami!” Maka dia sangat marali
karena ucapan orang itu.
Ada di antara orang-orang sufi yang karena rasa takut di dalam hadnya
benar-benar memuncak, maka dia terus menundukkan kepala, di samping
karena rasa malu, dan sama sekali ddak berani mendongakkan kepala. Yang
demikian ini sama sekali bukan merupakan tindakan yang utama. Sebab ddak
ada kekhusyu’an yang melebihi kekhusyu’an RasuluUah 0. Sementara beliati
ddak pernah berbuat seperd itu. Di dalam Shahib Muslim disebutkan dar:
hadits Musa, dia berkata, ‘RasuluUah lebih banyak mendongakkan kepala kt
langit.”
3 1 2 Perangkap Setan
Di dalam hadits ini terkandung dalil tentang anjuran memandang ke
arah langit, unmk mengambil pelajaran dari tanda-tanda keagungan Allah
yang ada di sana. Allah befirman,
“Maka apakah mereka tidak melibat langit yang ada di atas mereka,
bagaiTnana Kami meninggikannya?" (Qaf: 6)
Bid’ah orang-orang sufi ini ditambahi lagi dengan simbol-simbol
tertentu yang selalu ditiru. Sekiran)̂ a mereka tahu bahwa kepala mereka yang
mengangguk-angguk dan mendengkur ke bawah itu sama dengan posisi
kepala mereka yang mendongak ke atas di mata Allah dalam kaitannya dengan
rasa malu, tentu mereka tidak akan melakukannya. Yang demikian ini terjadi
karena memang Iblis hanya bisa mempermainkan orang-orang yang bodoh.
Sedangkan orang-orang yang berilmu dijauhi dan ditakuti Iblis, karena mereka
mengetahui segala urusan Iblis dan mewaspadai tipu dayanya.
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab bahwa dia pernah melihat
seorang pemuda yang selalu menundukkan kepalanya. Maka Umar berkata
kepadanya, “Mengapa engkau begitu? Angkatlah kepalamu, karena
kekhusyu’an itu tidak menambah apa yang ada di dalam hati, dari orang yang
pura-pura khusyu’ melebihi apa yang ada di dalam hatinya, berarti dia telah
menampakkan kemunafikan di atas kemunafikan yang lain.
Dari Ashim bin Kulaib Al-Jarmi, dia berkata, “Ayahku pernah
berpapasan dengan Abu Abdurrahman bin Al-Aswad, yang biasa berjalan
secara sembunyi-sembunyi di pinggir-pinggir tembok sambil menunjukkan
kekhusyu’annya. Maka Abu Malik mengabarkan, “Memang begitulah
kebiasaannya saat berjalan. Demi Allah, sesungguhnya Umar, maka langkah-
langkah kakinya tegap di atas bumi dan nyaring bunyinya.”
Orang-orang salaf biasa menyembunjdkan keadaan dirinya dan tidak
pernah berpura-pura dalam tindak-tanduknya. Kami telah meriwayatkan dari
Ayyub As-Sakhtiyani, bahwa dia pernah mengenakan kain yang relatif lebih
panjang, untuk menutupi keadaan dirinya. Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata,
“Aku tidak terbiasa memperlihatkan amalku.” Dia pernah berkata kepada
seorang teman yang dilihatnya sedang shalat, “Apa yang mendorongmu berani
mendirikan shalat, sementara semua orang melihatmu?”
Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata, “Abu Umamah melewati
seseorang yang sedang sujud. Lalu dia berkata, “Buat apa dia mendirikan
shalat itu? Andaikan saja dia mendirikannya di dalam rumahnya.”
3 1 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Asy-Syafi’i berkata, “Biarkan saja orang-orang yang menemuimu
dengan menampakkan diri sebagai seorang ahli ibadah, tetapi jika sudah
menyendiri mereka tak ubahnya serigala yang ganas.”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi karena Mereka Tidak Mau
M e n i k a h
Pernikahan yang didorong rasa takut terseret kepada zina adalah wajib
dan pernikahan yang tidak didorong rasa takut akan berbuat zina adalah sunat
mu’akkad. Begitulah yang dikatakan jumhur fuqaha’. Menurut pendapat Abu
Hanifah dan Ahmad bin Hambal, pernikahan dalam keadaan seperti itu lebih
utama dari segala ibadah yang sunat, karena di samping itu, pernikahan bisa
mendapatkan keturunan. Rasulullah Sbersabda,
“Nikahilah wanita yangpenuh kasih sayangdan banyak anak (subur), karena
aku merasa bangga terhadap kalian yang berbangsa-bangsa.” (HR. An-
Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Dari Sa’d bin Abi Waqqash, dia berkata, “Rasulullah ^menolak
keinginan Utsman bin Mazh’un untuk hidup membujang. Andaikan saat itu
beliau mengizinkannya untuk hidup membujang, maka kami pun akan
mengikutinya.”
Kisah tentang tiga orang sahabat yang terus-menerus puasa, yang tidak
pernah tidur malam dan yang tidak mau menikah dengari*wanita, sudah cukup
terkenal, yang kemudian beliau melarang semua itu dikerjakan secara berlebih-
lebihan. Ahmad bin Hambal berkata, “Hidup membujang sama sekaH tidak
diperintahkan Islam. Bahkan Nabi Spernah menikahi empat belas wanita,
dan ada sembilan istri yang ada di sisi beliau saat beliau meninggal dunia.
Andaikan manusia tidak mau menikah, tentunya mereka tidak akan bisa
berperang, tidak bisa menunaikan haji dan kewajiban-kewajiban lainnya. Nabi
Stidak mempunyai kekayaan apa pun, tetapi beliau tetap menikah,
menganjurkannya dan melarang hidup membujang. Siapa yang tidak menyukai
perbuatan beliau, berarti dia sama sekaJi tidak benar. Bahkan ketika Ya’qub
dirundung musibah, justru menikah dan mempunyai anak. Nabi ̂ bersabda,
“Yang paling knsukai adalah ivanita" (HR. An-Nasa’i, Ahmad dan Ah
Bathaqi)
3 1 4 Perangkap Setan
Iblis telah memperdayai sebagian besar dari orang-orang sufi, sehingga
di antara mereka ada yang ddak mau menikah. Kalau pun orang-orang sufi
yang terdahulu ddak menikah, itu karena mereka mengkhususkan diri dalam
beribadah dan mereka melihat pernikahan itu dapat mengusik ketaatan mereka
kepada Allah. Padahal jika mereka merasa ingin menikah, namun ddak mau
menikah, maka akan berbahaya bagi tubuh dan agamanya. Jika mereka merasa
tidak memerlukan pernikahan, berarti mereka telah kehilangan satu
keutamaan. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Hurairah
dari RasuluUah Sbeliau bersabda, “Di dalam persetubuhan salah seorang di
antara kalian ada (pahala) shadaqah.”
Para sahabat bertanya, “Adakah salah seorang di antara kita
ilielampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala karenanya?”
Beliau menjawab, “Bagaimana menurut pendapat kalian andaikan dia
meletakkan syahwat itu pada yang haram, bukankah dia mendapat dosa?”
Mereka menjawab, “Benar.”
Beliau bersabda lagi, “Begitu pun jika dia meletakkannya pada yang
halal, berarti dia mendapatkan pahala.” Kemudian beliau bertanya, “Apakah
kalian hanya memperhitungkan keburukan dan tidak memperhitungkan
k e b a i k a n ? ”
Di antara orang-orang sufi ada yang berkata, ‘TPernikahan itu mengharus-
kan adanya nafkah. Padahal mencari penghidupan tidaklah gampang.”
Ini merupakan alasan untuk mengalihkan perhatian agar mereka tidak
perlu berpayah-payah mencari penghidupan. Di dalam Ash-Shahihain
disebutkan dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda,
©✓y X V
^ ‘UAAji jUj^J ‘‘^J OSjIjI jUj^J
' « ' ^ ' '
1
.?f
A~eoi\ jUJ.5
-ULfljaJ O U i J
“Dinar (uang) yang engkau nafkahkan fi sabilillah, dinar yang engkau
nafkahkan untuk memerdekakan budak perempuan, dinar yang engkau
nafkahkan untuk shadaqah dan dinar yang engkau nafkahkan untuk
keluargamu, maka yang paling utama adalah dinar yang engkau nafkahkan
untuk keluargamu.”
3 1 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Di antara mereka ada yang berkata, “Pernikahan itu mengharuskan
seseorang untuk condong kepada keduniaan.”
Kami meriwayatkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani, dia berkata, “Jika
seseorang mencari hadits, atau bepergian mencari penghidupan atau menikah,
berarti dia telah condong kepada keduniaan.”
Ini semua jelas bertentangan dengan ketetapan syariat. Bagaimana
mungkin seseorang tidak boleh mencari hadits, padahal para malaikat
merundukkan sayapnya kepada orang yang sedang mencari ilmu? Bagaimana
mungkin seseorang tidak boleh mencari penghidupan, padahal Umar bin
Al-Khathab pernah berkata, “Lebih baik aku mati dalam perjalanan
mencari apa yang kuperlukan untuk menjaga kehormatan diriku, daripada
mati berperangy?sabililla})?'’ Kami tidak melihat keadaan seperti itu melainkan
bertentangan dengan syariat.
Sedangkan orang-orang sufi yang belakangan tidak mau menikah agar
dikatakan, “Dia adalah orang zuhud.” Sementara orang-orang awam terbiasa
menyanjung orang sufi yang tidak menikah, seraya berkata, “Orang itu tidak
pernah mengenal wanita sama sekali.” Ini namanya pola kehidupan pendeta
yang jelas menyalahi syariat kita.
Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Orang yang menginginkan jalan Allah
tidak perlu menyibukkan diri dengan urusan pernikahan, karena pernikahan
itu akan mengganggu perilakunya dan dia bersanding dengan istrinya. Padahaj
siapa yang bersanding dengan selain Allah, berarti dia melalaikan Allah.”
Benar-benar aneh perkataan Al-Ghazali ini. Apakah dia benar-benaj
tidak tahu bahwa orang yang ingin menjaga kesucian dirinya dan mendapatkan
keturunan atau menjaga kehormatan istri, maka dia sama sekali tidak keluar
dari perilaku yang baik? Ataukah dia berpendapat bahwa bersanding dan
bercumbu dengan istri menurut kebutuhan nalurinya bisa melalaikan hati
untuk menaati Allah? Padahal Allah telah memberikan karunia kepada
makhluk-Nya, dengan befirman,
{'f'' ^ ^
“Dan, di antara tanda-tanda keknasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk
kalian istri-istri darijenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan meras6
tentram kepadanya.” (Ar-Rum: 21)
3 1 6 Perangkap Setan
Jika seseorang tidak mau menikah dalam jangka waktu sekian lama,
terutama orang sufi yang masih muda, maka bisa muncul tiga dampak negatif:
Sakit karena terus menahan keluarnya mani. Sebab jika seseorang
tidak bisa melampiaskan dorongan seksualnya, bisa berdampak kurang
baik terhadap badannya.
Bisa mencari pelampiasan. Boleh jadi ketika masih berkumpul, mereka
bisa bersabar dan dapat menahan diri untuk tidak melampiaskan
dorongan seksualnya. Namun ketika dorongan seksual ini sudah
memuncak dan mani sudah berhimpun, maka mereka berusaha
mencari wanita, sehingga kejahatannya lebih parah, karena mereka
hendak melampiaskan apa yang tidak bisa mereka kerjakan pada saat-
saat sebelumnya.
Melakukan penyimpangan seksual kepada anak-anak kecil. Karena
mereka merasa putus asa untuk dapat menikah, padahal mereka
memerlukan pelampiasan, maka akhirnya mereka melampiaskannya
kepada anak-anak kecil yang tampan (homoseks).
Ada juga di antara orang-orang sufi itu yang menikah. Namun mereka
berkata, “Aku menikah bukan karena syahwat.”
Jika yang mereka maksudkan dari pernikahan itu karena mengikuti
As-Sunnah, perkataan mereka itu masih bisa diterima. Tetapi jika yang mereka
maksudkan dengan pernikahan itu terlepas dari syahwat, tentu saja hal itu
adalah mustahi l .
Ada juga di antara mereka yang mengebiri kelaminnya, karena mereka
merasa malu terhadap Allah. Tentu saja ini merupakan tindakan yang amat
bodoh. Sebab Allah telah memuliakan kaum laki-laki dengan alat kelaminnya
itu daripada kaum wanita, yang dengannya dia bisa mendapatkan keturunan.
Siapa yang menyadari keadaan dirinya tentu akan berkata, ‘"Yang benar adalah
k e b a l i k a n d a r i t i n d a k a n m e r e k a . ”
1.
2 .
3 .
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Berkelana
dan Perjalanan Jauh
Iblis telah memperdayai sebagian besar orang-orang sufi, lalu
mendorong mereka melakukan perjalanan jauh, tanpa diketahui mana tempat
yang akan dituju dan bukan karena hendak mencari ilmu. Bahkan tidak jarang
di antara mereka ada yang berkelana sendirian dan tanpa bekal yang memadai.
3 1 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Su fi
karena dia menganggap yang demikian ini termasuk tawakal. Padahal berapa
banyak fadhilah dan kewajiban yang kemudian dia tinggalkan, tetapi tetap
saja dia menganggap tindakannya ini sebagai ketaatan dan untuk mendekatkan
dirinya ke derajat wali, padahal dia termasuk orang-orang durhaka yanj^
menyalahi Sunnah RasuluUah 0.
Rasuluilah ̂ melarang berkelana tanpa mengetahui mana tempat yang
hendak dituju, apalagi tanpa maksud yang jelas dan keperluan. Abu Dawuc
meriwayatkan di dalam Sunan-ny2i, dari hadits Abu Umamah, bahwa adi.
seseorang berkata, “Wahai Rasuluilah, izinkanlah aku melakukan berkelana.”
Beliau menjawab, “Bepergian jauh yang dilakukan umatku adalah ji sahiHllah. ’
Ishaq bin Ibrahim bin Hani’ meriwayatkan dari Imam Ahmad bin
Hambal, bahwa dia pernah ditanya tentang seseorang yang lebih suka
berkelana untuk ibadah daripada dia menetap di suatu tempat. Maka Ahmac,
bin Hambal menjawab, “Berkelana sama sekali bukan merupakan bagian dan
Islam, bukan pula merupakan kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih.
Rasuluilah juga melarang seseorang bepergian jauh hanya sendirian.
Sabda beliau,
S i
“Satu orang yang bepergian adalah setan. Dm orang yang bepergian adalah
duasetan, dan tiga orang yang heper̂ an adalah kafilah." (HR. Abu Daud,
At'Tirmidzi, AbHakim, AbBaihaqi dan Ahmad)
Adakalanya di antara orang-orang sufi. itu melakukan perjalanan pada
malam hari hanya sendirian. Nabi juga melarang yang demikian Ini. Dari
Ibnu Umar dia berkata, “Rasuluilah ^bersabda,
o'! ! 1 1 ^ l l T ® ■ ' ®
(f
“Andaikan manusia tahu apa yang terjadi kala dia sendirian, tentu seseorang
sama sekali cidak akan bepergian sendirian pada malam hari.” (HR. Al-
Bukhari)
Iblis memperdayai sebagian besar di antara mereka, sehingga merek.i
menganggap bepergian jauh tanpa membawa bekal yang memadai sebagai
Berkelana yang dilakukan orang-orang sufi ini dengan kebiasaan beberapa jama’ah yang melakuka i
kegiatan dakwah. Mereka pergi selama beberapa bulan meninggalkan anak, keluarga dan pekerjaar.,
yang menurut mereka, itu adalah/isabililla/i. Padahal tak adasatu riwayat pun dari orang-orang salaf
yang berbuat seperti itu. Syaikh Al-Albani menganggap mereka ini sebagai orang-orang sufi moderr,.
3 1 8 Perangkap Setan
tawakal. Tetapi ternyata anggapan ini tetap saja menyebar di kalangan orang-
orang yang bodoh itu. Celakanya, muncul pula para penutur kisah yang
meriwayatkan dari mereka sambil menyisipkan pujian, sehingga banyak orang
yang kemudian ikut-ikutan melakukan seperti yang mereka lakukan dan juga
melontarkan pujian. Akhirnya banyak keadaan yang menjadi rusak dari orang-
orang awam tidak tabu mana jalan yang benar.
Kisah tentang orang-orang sufi yang mengadakan perjalanan jauh dan
berkelana sangat banyak, yang semuanya menggambarkan tdndakan mereka
yang bertentangan dengan syariat. Inilah sebagian di antaranya:
Abu Hamzah Al-Khurasani berkata, “Suatu kali aku pergi untuk haji.
Di tengah perjalanan, aku tercebur ke sebuah lubang bekas sumur. Maka
muncul inisiatif dalam diriku untuk berteriak meminta tolong. Namun aku
berkata kepada diri sendiri, “Demi Allah, aku tidak akan berteriak meminta
tolong.” Selagi pikiran ini masih bergelung-gelung di dalam benakku, tiba-
tiba ada dua orang yang terlihat di mulut sumur. Salah seorang berkata kepada
temannya, “Mari kita tutup mulut sumur ini.” Maka mereka berdua menutup
mulut sumur dengan potongan-potongan kayu dan tikar, lalu menimbunnya.
Aku bergumam kepada diri sendiri, “Siapakah di antara kalian berdua yang
lebih dekat dengan Allah?” Kemudian aku diam untuk beberapa lama. Tiba-
tiba mulut sumur diobrak-abrik, yang rupanya ada orang lain yang datang ke
mulut sumur dan membuka lubangnya. Ada yang mengulurkan kakinya,
sambil berkata menggumam, “Hendaklah Anda berpegangan ke kakiku ini!”
Maka aku pun berpegangan ke kaki yang terjulur itu hingga aku dapat keluar
dari lubang sumur. Ketika aku melihat, ternyata di depanku ada beberapa
binatang buas. Lalu ada sebuah suara yang berkata kepadaku, “Wahai Abu
Hamzah, bukankah sudah impas jika aku menyelamatkanmu dari mulut singa
ke mulut buaya?”
Orang-orang saling berbeda pendapat tentang siapa sebenarnya Abu
Hamzah ini. Tetapi siapa pun orangnya, sikapnya itu tidak bisa dibenarkan
dan dengan diamnya itu dia telah menyalahi syariat, karena dia tidak mau
menolong diri sendiri dengan sikap diamnya itu, padahal seharusnya dia
berteriak meminta pertolongan, sebagaimana dia harus berusaha membela
diri dari hal-hal yang membahayakannya. Perkataannya, “Aku tidak akan
berteriak meminta pertolongan”, sama dengan orang yang berkata, “Aku tidak
mau makan dan minum air”. Tentu saja ini merupakan sikap yang teramat
3 1 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
bodoh dan bertentangan dengan hikmah diciptakannya dunia. Allah
menciptakan segala sesuatu berdasarkan suatu hikmah. Allah menciptakan
tangan bagi manusia agar dia dapat membela diri, menciptakan lidah agar
dia berbicara, menciptakan akal agar dia terbimbing untuk menghindari
mudharat dan mencari kemaslahatan, menciptakan makanan dan obat-obatan
untuk kebaikan manusia. Siapa yang tidak mau memanfaatkan apa yang telah
diciptakan Allah dan apa yang telah ditunjukkan kepadanya, berarti dia telah
menolak perintah syariat dan menyia-nyiakan hikmah Allah.
Jika ada orang bodoh berkata, “Bagaimana caraku untuk berhad-hati
dan waspada, sementara sudah ada ketentuan takdir?”
Dapat kami sampaikan pertanyaan balik: Bagaimana mungkin kita tidak
mau bersikap waspada padahal sudah ada perintah Dzat yang menetapkan
takdir itu? Firman-Nya, “Hai orang-orangyang beriman, bersiap siagalah kalian
(An-Nisa: 71)
Nabi Sbersembunyi di dalam gua untuk menghindari kejaran orang
orang musyrik. Beliau tidak bersabda kepada diri sendiri, “Keluarlah dan
gua karena alasan tawakal.” Berarti beliau tidak mengabaikan sebab untuk
melindungi diri dan tidak mengabaikan apa yang ada di dalam had. Ini
termasuk prinsip yang sudah kami singgung di bagian terdahulu.
Perkataan Abu Hamzah, “Aku bergumam kepada diri sendiri',
merupakan perkataan kepada diri sendiri yang bodoh dan yang di dalam dir
itu ada kebodohan, karena dia beranggapan bahwa tawakal adalal
mengabaikan sebab, karena syariat tidak menuntut dari manusia apa yang
telah dilarangnya. Lalu mengapa akhirnya dia bergelayut ke kaki yang
dijulurkan kepadanya dari mulut sumur? Tindakan ini jelas bertentangan
dengan bualannya yang ingin meninggalkan sebab dan menganggapnya
sebagai tawakal. Lalu mengapa dia tidak mau tetap diam di dalam lubang
sumur sampai ada yang menyelamatkan dkinya tanpa satu sebab pun?
Bagaimana jika dia menyanggah, “Ini atas kehendak Allah?”
Dapat dijawab: Memang apa yang terjadi sehingga dia tercebur ke
lubang sumur adalah karena Allah. Namun lidah yang berteriak meininta
pertolongan juga berkat ciptaan-Nya. Andaikan dia berteriak, berarti dia telah
mempergunakan sebab yang diciptakan Allah, sehingga dia bisa
memanfaatkannya untuk melindungi diri. Tetapi rupanya dia tidak mau
mempergunakannya. Dengan diamnya itu berarti dia telah mengabaikan sebab
3 2 0 Perangkap Setan
yang diciptakan Allah dan menolak hikmah-Nya. Maka dia pun layak
mendapat cercaan.
Dari Mu’ammal Al-Mughabi, dia berkata, “Aku pernah menyertai
Muhammad bin As-Samin ketika mengadakan perjalanan antara Tikrit dan
Maushil. Tatkala kami sedang melewati sebuah lembah, tiba-tiba muncul
binatang buas tak jauh dari tempat kami. Seketika itu pula badanku gemetar
ketakutan dan aku yakin wajahku pucat pasi. Maka aku sudah siap-siap untuk
lari. Namun Muhammad bin As-Samin mencegah niatku untuk lari. Dia
berkata, “Hai Mu’ammal. Tawakal itu justru ada di tempat ini dan sekarang
ini, bukan di masjid jami’.”
Memang tidak dapat diragukan bahwa tawakal itu akan berpengaruh
terhadap did orang yang bertawakal tatkala sedang menghadapi krisis. Tetapi
di antara syaratnya bukan berarti pasrah kepada terkaman binatang buas.
Tentu saja hal ini tidak diperbolehkan.
Ada seseorang berkata kepada Ali Ar-Razi, “Tumben engkau tidak
menyertai Abu Thalib Al-Jurjani.”
Ali Ar-Razi menimpali, “Pasalnya, aku pernah pergi bersamanya. Ketika
kami sedang tidur di suatu tempat, ada seekor binatang buas yang tak jauh
dari tempat kami. Ketika dia melihatku tidak mau memejamkan mata gara-
gara ada binatang buas itu, maka dia pun mengusirku seraya berkata, “Sejak
saat ini pula engkau tidak boleh menyertaiku.”
Abu Thalib Al-Jurjani telah berbuat kelewat batas, karena dia
menginginkan agar temannya mengubah naluri yang telah tercipta pada
dirinya, yaitu perasaan takut terhadap sesuatu yang mengancam
keselamatannya. Padahal yang demikian itu di luar kekuasaannya, dan tindakan
seperti itu juga dituntut syariat. Musa pun tidak mampu menghindari dari
perasaan takut melihat ular yang menjadi mukjizatnya. Semua ini
mencerminkan kebodohan orang-orang sufi yang bersikap seperti itu. Lalu
di manakah letak tawakal dalam perbuatan yang bertentangan dengan akal
dan syariat ini?
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Siapa yang lapar kemudian dia tidak mau
meminta-minta hingga meninggal dunia, maka dia masuk neraka.”
Perhatikan perkataan salah seorang fuqaha’ ini. Allah telah menciptakan
beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan orang yang kelaparan. Jika dia
3 2 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
tidak mendapatkan sebab yang praktis untuk mendapatkan makanan, maka
masih ada kemungkinan baginya untuk meminta-minta, yang mungkin hanya
cara inilah yang bisa dia lakukan. Namun jika dia tidak mau melakukannya.
berarti dia telah berbuat aniaya terhadap hak dirinya, yang merupakan titipan
baginya, yang berarti dia layak mendapat hukuman.
Abu Bakar Ad-Daqqaq berkata, “Aku pernah bertamu di suatu
perkampungan Arab Badui. Di Sana aku berpapasan dengan seorang gadis
yang cantik jelita. Karena aku telah memandangi gadis itu, maka sebelah
mataku kucongkel, sambil kukatakan kepada biji mata yang telah kucongkel
itu, “Mata sepertimu mana mungkin mau memandang karena Allah?!”
Perhatikanlah bagaimana kebodohan orang ini terhadap hukum syariat.
Sebab kalau pun dia memandang gadis itu tanpa sengaja, maka tiada dosa
baginya. Jika^ dia memandangnya secara sengaja, berarti dia telah melakukan
dosa kecil, yang bisa terhapus dengan cara menyesalinya. Namun dia
men}oisuli dosa kecil ini dengan dosa besar, yaitu mencongkel matanya dan
tidak ada pernyataan taubat darinya. Pasalnya, dia menganggap tindakannya
itu sebagai taqarrub kepada Allah dan meyakini larangan itu sebagai taqarrub.
yang berarti kesalahannya sudah terhapus. Boleh jadi dia pernah mendengar
kisah serupa dari sebagian orang dari Bani Israel yang juga mencongkel
matanya karena telah memandang seorang wanita. Sekalipun mungkin apa
yang dilakukan Orang Israel itu dibenarkan syariat, tetapi rasanya sulit untuk
diterima. Yang jelas, syariat kita melarang yang demikian ini.
Seakan-akan orang-orang semacam ini perlu membuat aturan-aturan
baru yang kemudian disebut dengan tasawuf, yang berarti harus meninggalkan
syariat RasuluUah Kami berlindung kepada Allah dari ta/his Iblis semacam
i n i .
Ada kebalikan dari kejadian ini, sebagaimana yang diriwayatkan dan
Dzun-Nun Al-Mishri dan lain-lainnya, dia berkata, “Aku berpapasan dengan
seorang wanita di suatu padang, lalu kami saling beradu pandang.”
Namun suatu kali dia pernah kena batunya, karena berhadapan dengan
\\'anita yang menyadari hukum, sebagaimana yang dituturkan Muhammac:
bin Ya’qub Al-Urji, dia berkata, ‘Aku pernah mendengar Dzun-Nun berkata.
“Aku berpapasan dengan seorang wanita di daerah Bajjah, lalu aku
memanggil-manggil wanita itu, tetapi dia menyemprotku, “Apa urusannya
3 2 2 Perangkap Setan
laki-laki berbicara dengan wanita? Kalau bukan karena akalmu yang kurang
waras, tentu aku sudah menimpukmu.”
Dari Abu Sa’id Al-Kharraz, dia berkata, “Aku pernah mengarungi
hamparan padang pasir tanpa bekal sama sekali. Di suatu tempat aku seakan
tak kuat lagi menahan rasa dahaga. Dalam keadaan seperti itu aku melihat
sebuah perkampungan di kejauhan. Maka semangatku menjadi bangkit untuk
mencapai tempat itu. Namun kemudian terpikir olehku, bahwa dengan cara
itu berarti aku telah mengeluh dan bergantung (bertawakal) kepada selain
Allah. Maka aku menahan keinginan untuk memasuki perkampungan kecuali
jika ada yang membawaku ke sana. Lalu aku menggali lubang di pasir dan
tubuhku kupendam sampai bagian dada. Pada tengah malam aku mendengar
sebuah suara yang nyaring, “Wahai penduduk kampung, sesungguhnya Allah
mempunyai seorang wall yang mengubur dirinya di tengah padang pasir. Maka
carilah ia. Tak lama kemudian ada sekumpulan orang yang mendatangi
tempatku dan mengeluarkan tubuhku dari timbunan pasir dan membawaku
ke perkampungan tersebut.”
Orang ini rupanya terlalu berlebih-lebihan dalam menggambarkan
tabiat dirinya. Dia menghendaki sesuatu yang tidak diciptakan pada dirinya,
karena tabiat Bani Adam itu menyambut sesuatu yang disukainya. Tidak ada
jeleknya seseorang yang kehausan untuk merasa gembira jika akan
mendapatkan air, atau orang lapar yang akan mendapatkan makanan, begitu
pula siapa pun yang merasa senang terhadap sesuatu yang memang
diinginkannya. Kami berlindung kepada Allah dari perbuatan seperti itu, yang
sama sekali tidak mencerminkan kepandaian dan nalarnya. Dengan cara itu
berard dia tidak mengikuti shalat jama’ah, yang berard ini merupakan
keburukan. Tindakan yang dianggap sebagai taqarrub kepada Allah ini pada
hakikatnya merupakan cermin kebodohannya. Orang yang berilmu tentu akan
menyadari bahwa dndakan seperd itu haram, karena yang demikian itu
merupakan talhis Iblis yang ditujukan kepada orang-orang zuhud dan ahli
ibadah yang bodoh.
Masih banyak kisah-kisah lain yang menjelaskan kebiasaan orang-orang
sufi yang bepergian jauh tanpa membawa bekal sama sekali, dengan
menyisipkan kejadian-kejadian yang sullt diterima akal. Padahal syaikh-syaikh
mereka yang terdahulu memerintahkan para musafir agar mempersiapkan
bekal sebelum berangkat. Dari Al-Farghani, dia berkata, “Ibrahim Al-
3 2 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Khawwash adaiah orang yang sangat mementingkan tawakal dan mendalam
dalam menghayati makna tawakal. Tetapi dia tidak pernah meninggalkan
jarum, benang, kantong air dan gunting. Ada seseorang bertanya kepadanya,
“Wahai Abu Ishaq, mengapa engkau selalu membawa barang-barang itu,
padahal engkau suka menolak segala sesuatu?” Dia menjawab, “Barang-
barang seperti ini tidak mengurangi tawakal. Sebab Allah ̂ telah menetapkan
beberapa fardhu kepada kita. Sementara orang fakir sepertiku tidak
mempunyai baju kecuali hanya satu lembar. Boleh jadi baju yang hanya satu
lembar itu sobek. Jika dia tidak membawa jarum dan benang, maka auratnya
akan kelihatan, sehingga shalamya menjadi tidak sah. Thaharahnya juga bisa
batal, karena itu harus tersedia kantong air. Jika engkau melihat ada orang
fakir tidak mempunyai kantong air, jarum dan benang, maka shalamya perlu
diwaspadai.”
Kemudian jika orang sufi itu tiba dari bepergian jauh, yang pertama
kali diiakukan adaiah masuk ke mushalla yang di dalamnya sudah ada banyak
orang. Dia tidak langsung mengucapkan salam kepada mereka, tetapi wudhu
dulu di tempat wudhu’, lalu masuk mushalla, shalat dua rakaat, mengucapkan
salam kepada syaikhnya, baru kemudian mengucapkan salam kepada semu î
yang hadir di tempat itu.
Ini merupakan bid’ah yang diciptakan orang-orang sufi periode
muta’akhirin yang jelas menyalahi syariat. Sebab para fuqaha’ telah sepakat
bahwa siapa yang bertemu dengan sekumpulan orang harus langsung
mengucapkan salam kepada mereka, dalam keadaan suci atau tidak. Merck;
itu tak ubahnya anak kecil. Sebab jika anak kecil ditanya, ‘Mengapa engkar
tidak mau mengucapkan salam kepada kami?” Maka dia akan menjawab,
“ K a r e n a a k u b e l u m m e m b a s u h m u k a k u . ” A t a u b a h k a n a n a k - a n a k l e b i h
mengetahui kewajiban ini daripada mereka.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi Jika Ada Seseorang di antarn
Mereka yang Meninggal Dunia
Ada dua macam talbis dalam hal ini:
'Pertama:
Orang yang meninggal dunia tidak boleh ditangisi sama sekaii. Siapa
yang menangisinya, maka dia telah keluar dari jalan ahli ma’rifat.
3 2 4 Perangkap Setan
Ibnu Aqil menanggapi: Yang demikian ini melebihi kapasitas syariat,
itu merupakan perkataan khurafat, menyimpang dari adat dan tabiat
serta kewajaran. Yang perlu dilakukan adalah menghibur orang yang sedang
berduka dengan cara-cara yang wajar dan diperbolehkan. Sebab Allah telah
mengabarkan tentang keadaan Nabi-Nya, Ya’qub,
“Dan, kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang
yangmenahan amarahnya (terhadap anak^anaknya)(Yusuf: 84)
RasuIuUah ̂ juga menangis saat kematian Ibrahim, putra beliau, seraya
berkata, “Sesungguhnya mata itu benar-benar boleh menangis.” (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)
Fathimah juga pernah berkata kepada ayahnya, Rasulullah %saat beliau
sakit yang disusul dengan kematian beliau, “Wahai ayah betapa menderitanya
engkau!” Dan beliau tidak mengingkari perkataan Fathimah itu.
Wajar saja seseorang berduka karena ada musibah yang menimpanya.
Bahkan orang yang perasaannya tidak tergerak karena hal-hal yang menyentuh
perasaan dan suka, maka dia lebih dekat dengan sifat benda mad. Nabi 0
mencela orang yang keluar dari tabiamya sebagai manusia yang berperasaan.
Kedka ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Aku tidak pernah memeluk
anakku”, padahal dia mempunyai sepuluh anak, maka beliau bersabda, “Aku
tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirimu jika Allah mencabut rasa kasih
sayang dari hatimu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Orang yang keluar dari batasan syariat dan menyimpang dari tabiat
kemanusiaannya, berarti dia adalah orang bodoh, yang menuntut sesuatu
karena kebodohannya. Memang syariat telah menetapkan agar kita tidak
menempeleng muka dan mencabik-cabik saku baju saat berduka. Tetapi tidak
ada celaan terhadap mata yang meneteskan air mata (tanpa sedu sedan dan
ratap tangis) dan had yang berduka.
K e d u a :
Mereka membuat undangan saat ada kematian dan menyelenggarakan
acara tersendiri, ada nyanyian dan tabuhan rebana. Mereka berkata, “Kami
bergembira karena orang yang meninggal telah sampai ke hadapan Rabb-
nya.”
m a n u s i a
Tindakan seperti ini jelas merupakan talbis Iblis, yang bisa dilihat dari
tiga sudut pandang
3 2 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Yang disunnahkan adalah mempersiapkan makanan bagi keluarga yang
sedang berduka, karena keadaan mereka yang sedang berduka itu
mereka tidak bisa mempersiapkan makanan untuk diri mereka sendiri.
Bukan merupakan Sunnah jika tuan rumah yang sedang berduka
mempersiapkan makanan dan dihidangkan kepada orang lain.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far, bahwa tatkala mayat Ja’far tiba.
maka Nabi ^bersabda, “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far.
karena mereka mendapat musibah yang membuat mereka masyghul.’’
(HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Mereka bergembira karena keadaan orang yang meninggal, yang
menurut mereka telah sampai kepada Rabb-nya. Tak ada alasan bag.
mereka untuk bergembira. Sebab kita tidak yakin orang yang meningga
itu diampuni Allah. Jika tidak diampuni, maka tidak selayaknya orang
Mukmin bergembira di hadapan orang-orang yang mendapat siksaan.
Maka Umar bin Dzarr berkata tatkala anaknya meninggal dunia, “Kami
bersedih atas kematianmu dan kami lupakan kesedihan atas apa yang
menimpamu.
Dari Ummul-Ala’, dia berkata, “Tatkala Utsman bin Mazh’un
meninggal dunia, RasuluUah 0datang ke tempat kami. Aku berkata,
Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Abus-Sa’id. Aku
bersaksi atas dir imu bahwa Al lah memuliakan dir imu.”
Lalu Nabi ^menimpali, “Sebatas
telah memuliakannya?” (HR. Ai-Bukhari)
Dalam acara itu mereka bernyanyi dan bercanda. Hal ini bertentangan
dengan kewajaran tabiat manusia, yang bersedih karena ditinggal mati
seseorang. Mereka melakukan hal itu sebagai ungkapan rasa syukut
karena orang yang meninggal dunia dianggap telah diampuni dosa-
dosanya.
1 .
2 .
engkau tahu bahwa AUalim a n a
3.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi karena Mereka Tidak Mau
M e n c a r i I l m u
Talbis Iblis yang pertama terhadap manusî adalah menghalangi mereka
unmk mencari ilmu. Sebab iknu itu merupakan cahaya. Jika pelita mereka
dipadamkan, maka Iblis bisa memperdayai mereka dalam kegelapan sesuai
3 2 6 Perangkap Setan
dengan kehendaknya. Iblis menyusup ke dalam diri orang-orang sufi dalam
masalah ini lewat beberapa pintu:
Iblis menghalangi mayoritas orang-orang sufi mencari ilmu secara total,
karena mencari ilmu itu berat dan harus bersusah payah. Iblis membisiki
bahwa bersikap santai itu justru lebih baik. Asy-Syafi’i berkata,
“Tasawuf itu dilandaskan kepada kemalasan.”
Asy-Syafi’i menjelaskan lebih lanjut, bahwa yang diinginkan manusia
i t u a d a d u a m a c a m : K e k u a s a a n d a n m e r a i h k e d u n i a a n . M e r a i h
keduniaan harus dengan ilmu, yang tentu saja harus didapatkan dalam
jangka waktu yang panjang dan juga melelahkan. Itu pun ada yang
tidak berhasil dan ada juga yang berhasil. Sementara orang-orang sufi
ingin cepat-cepat mendapatkan kekuasaan dan meraih keduniaan.
Mereka memandangnya dari kaca mata zuhud. Dengan cara inilah
mereka cepat memperolehnya.
Dari Abu Hafsh bin Syahin, dia berkata, “Di antara orang-orang sufi
ada yang mencela para ulama. Dia menganggap kegiatan mencari ilmu
merupakan tindakan yang sia-sia. Mereka berkata, “Ilmu kami tanpa
memiliki sarana.” Mereka melihat jalan yang membentang jauh dalam
mencari ilmu. Karena itu mereka menyingsingkan baju, menambal
mantel, membawa kantong air dan memperlihatkan zuhud.
Di antara mereka ada yang cukup puas dengan sedikit ilmu dan tidak
meninggalkan yang lebih utama dengan mencari ilmu yang lebih banyak
lagi. Mereka tidak mau mendalami ilmu hadits dan menganggap
menelusuri sanad hadits sebagai tindakan mencari kekuasaan dan dunia
serta kesenangan.
Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa yang dimaksudkan
ilmu adalah amal. Mereka tidak paham bahwa mencari ilmu merupakan
pekerjaan yang paling mulia. Di samping itu, sekalipun orang yang
berilmu itu tidak seberapa banyak amalnya, tetapi amalnya dijamin
benar. Tetapi ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu tidak akan berada
di jalan yang benar
Menurut mereka, yang disebut orang berilmu itu ialah orang yang
mencari hal-hal yang berkaitan dengan batin, sehingga ada di antara
mereka yang membayangkan adanya bisikan dalam batinnya, dengan
berkata, “Hatiku mendapat bisikan dari Allah.” Mereka menyebut ilmu
1.
2 .
3 .
4 .
3 2 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
syariat sebagai ilmu zhahir, sedangkan bisikan-bisikan hati disebut
sebagai ilmu batin. Mereka mengacu kepada riwayat Ali bin Abu Thalib,
dan Nabi 0, beliau bersabda, “Ilmu batin adalah salah satu dari rahasia-
rahasia Allah dan salah satu dari hukum-hukum Allah, yang disusupkan
Allah ke dalam had siapa pun yang dikehendaki-Nya dan wali-waii-
Nya.”
Hadits ini sama sekali tidak mempunyai landasan yang berasal dari
Nabi S. Di dalam isnadnya ada orang-orang yang tidak dikenal dan diketahui
identitasnya.
Dari Abu Musa, dia menuturkan, “Pada zaman Abu Yazid ada seorang
ulama dan ahli fiqih. Suatu kali ulama ini menemui Abu Yazid, seraya berkata,
“Aku mendengar ada beberapa keajaiban yang diriwayatkan darimu.”
“Rupanya engkau belum seberapa banyak mendengar keajaiban-
keajaiban dariku,” kata Abu Yazid.
Ulama itu bertanya, “Wahai Abu Yazid, ilmu itu berasal dari siapa, dari
mana dan engkau peroleh melalui siapa?”
“Ilmu berasal dari Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi ‘Siapa
yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya
ilmu tentang sesuatu yang tidak diketahuinya’.̂ Dan, juga sebagaimana sabda
beliau, ‘Ilmu itu ada dua macam; Ilmu zhahir, yaitu hujjah Allah terhadap
makhluk-Nya, dan ilmu batin, yaitu ilmu yang bermanfaat’. Ilmumu wahai
syaikh berasal dari penukilan lidah ke lain lidah melalui pengajaran. Sedangkan
ilmuku berasal dari Allah, berupa ilham yang berasal dari sisi-Nya.”
Ulama itu menimpali, “Ilmuku berasal dari orang-orang yang dapat
dipercaya, dari RasuluUah S, dari Jibril dan dari Allah.”
Abu Yazid bertanya, “Wahai syaikh, toh Nabi Smempunyai ilmu yang
tidak diketahui Jibril dan Mikail.”
Ulama itu menjawab, “Benar, tetapi aku menginginkan agar ilmumu
yang engkau katakan berasal dan Allah itu benar dan sah.”
Menurut Abu Nu’aim, Ahmad bin Hambal menyebutkan perkataan ini dari sebagian tabi’in, dari Isa
bin Maryam lalu sebagian rawinya mengira-ngira bahwa perkataan ini diriwayatkan dari Nabi
dengan dilandaskan kepada isnadnya agar lebih mudah. Dengan cara ini, tidak mungkin perkataan
tersebut dinisbatkan kepada Ahmad bin Hambal yang pasti, dalam isnadnya ada orang-orang yang tidak
dikenal .
3 2 8 Perangkap Setan
Abu Yazid berkata, “Kalau begitu aku akan menjelaskannya menurut
pengetahuan yang ada di dalam hadku.”
Kemudian ulama itu bertanya, ‘Wahai Syaikh, tahukah engkau bahwa
Allah pernah befkman kepada Musa dan juga befirman kepada Muhammad,
dan sesungguhnya mimpi para nabi itu adalah wahyu?”
Abu Yazid menjawab, “Begitulah.”
Ulama itu bertanya lagi, “Apakah engkau tidak tahu bahwa perkataan
shiddiqin dan para wali itu berdasarkan ilham dari Allah, sedangkan
pemanfaatannya dari had mereka, sehingga mereka berkata berdasarkan
hikmah dan memberikan manfaat kepada umat? Aku bisa menguatkan
perkataanku ini dengan apa yang telah diilhamkan Allah kepada ibu Musa
agar meletakkan putranya ke dalam Tabut lalu meletakkannya di permukaan
air sungai. Begitu pula Allah yang mengilhamkan kepada Hidhir dalam urusan
perahu dan anak kecil ”
Diriwayatkan pula bahwa orang-orang mendatangi majlis Abu Yazid.
Mereka mengabarkan kepadanya, “Fulan bertemu Fulan dan mengambil ilmu
darinya dan menulis banyak penukilan darinya.” Maka Abu Yazid berkata,
“Orang-orang yang perlu dikasihani. Mereka mengambU ilmu yang mad dari
orang yang mad. Tetapi kami mengambil ilmu dari yang hidup (Allah) dan
yang tak mengenal mad,”
Pemahaman yang dimiliki Abu Yazid dalam kisah yang pertama
menunjukkan ilmunya yang minim. Sebab andaikata dia mempunyai ilmu,
tentu dia tahu bahwa ilham terhadap sesuatu itu tidak menafikan ilmu dan
ddak membatasinya. Allah tidak mengingkari untuk mengilhamkan sesuatu
kepada manusia, sebagaimana yang disabdakan Nabi “Sesungguhnya di
antara umat-umat itu ada yang diberi ilham. Kalaupun yang semacam ini di
tengah umatku, maka dia adalah Umar.”
Yang dimaksudkan ilham di sini adalah ilham kebenaran. Kalau pun
ilham itu benar-benar datang, maka ilham itu tidak bertentangan dengan ilmu.
Jika iihamnya tidak memperbolehkannya untuk mencari ilmu, berarti itu
berasal dari setan bukan berasal dari Allah. Sedangkan Khidhir, yang pasti
dia adalah nabi.
Ilham yang berkaitan dengan suatu perkara dalam masalah ilmu bukan
merupakan buah dari ilmu dan ketakwaan, lalu orangnya dianggap telah
3 2 9Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
mendapatkan taufik dan ilham kepada kebenaran. Jika seseorang tidak mau
mencari ilmu dan hanya bersandar kepada ilham dan bisikan hati, maka dia
tidak dibenarkan sama sekali. Sebab tanpa mendapatkan iknu yang berasai
dari orang lain, tentu kita tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam jiwa,
apakah yang diketahui itu memang berasai dan ilham kebenaran ataukah dari
b i s i k a n s e t a n ?
Harap diketahui, bahwa ilmu yang bersifat ilham yang disusupkan ke
dalam hati, tidak cukup hanya dengan ilmu yang didapat dari orang lain,
sebagaimana berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak cukup didapatkan
hanya dari ilmu-ilmu syariat, seperti ilmu tentang gizi, obat-obatan dan lain-
lainnya.
Tentang perkataan Abu Yazid, “Mereka mengambil ilmu yang mat!
dari orang yang mati”, semoga saja dia sedang tidak sadar ketika mengucapkan
perkataan ini. Jika tidak, maka ini merupakan pelecehan terhadap syariat.
Abu Hafsh bin Syahin pernah berkata, “Di antara orang-orang sufi ada yang
melihat penggalian ilmu syariat itu adalah perbuatan yang sia-sia, lalu mereka
berkata, “Ilmu kami tanpa perantaraan.” Padahal orang-orang sufi yang
terdahulu adalah para pemuka dalam ilmu Al-Qur’an, fiqih, hadits dan tafsir.
Tetapi rupanya orang-orang sufi sesudah mereka lebih suka pengangguran.
Abu Hamid Ath-Thusi berkata, “Kecenderungan orang-orang sufi
hanya kepada ilmu-ilmu Ilahiyah yang tidak bisa dipelajari, sehingga mereka
tidak perlu belajar dan membaca buku-buku. Bahkan mereka berkata, 'Yang
disebut thariqah ialah upaya meniadakan sifat-sifat yang tercela, memutuskan
semua hubungan dan menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh jiwa’.
Dengan begitu seseorang tidak perlu merasa tertarik untuk memperhatikan
keluarga, anak, harta dan ilmu, lalu dia menyendiri di tempat terpencil
mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan sunat, tidak perlu memperhatikan
keadaan dirinya, tidak perlu membaca Al-Qur’an, tidak perlu menulis hadits
dan ilmu-ilmu lainnya, lidahnya harus senantiasa berucap, ‘Allah, Allah.
Allah....’ hingga lidahnya kelu.”
Kami tak habis piktr, mengapa perkataan seperti ini bisa keluar dan
seorang ahli fiqih? Jelas ini merupakan perkataan yang buruk dan
mengandung pelecehan terhadap syariat yang menganjurkan membaca Al-
Qur’an dan mencari ilmu. Karena itu para ulama di berbagai tempat yang
mempunyai kemuliaan, tidak mau mengikuti jalan orang-orang sufi seperti
3 3 0 Perangkap Setan
ini. Karena orang semacam Abu Hamid itu tidak memiliki ilmu yang dapat
dijadikan tameng untuk melepaskan diri dari hayalan dan bisikan-bisikan
seperti itu, maka Iblis begitu leluasa mempermainkan dirinya. Memang kami
tidak memungkiri kemungkinan hatinya yang bersih, lalu dia mendapat cahaya
petunjuk, sehingga dia bisa memandang berkat cahaya Allah. Tetapi proses
pen}aician hati itu hams berdasarkan batasan ilmu dan bukan dengan sesuatu
yang bertentangan dengan ilmu. Membuat perut kelaparan, berjaga terus-
menerus dan tidak mau tidur, sekian lama menjalani waktu dalam bayang-
bayang hayalan, merupakan tindakan yang dilarang syariat. Tidak ada manfaat
yang bisa diambil dan sesuatu yang dilarang syariat. Di samping itu, tidak
ada pertentangan antara ilmu dan usaha melatih diri. Bahkan ilmulah yang
mengajari bagaimana tata cara melatih diri dan meluruskannya. Setan dapat
mempermainkan orang-orang yang menjauhi ilmu, karena mereka melatih
diri dengan sesuatu yang dilarang ilmu, sehingga ilmu jauh dari mereka. Maka
dari itu kadang-kadang mereka melakukan sesuatu yang dilarang ilmu, dan
kadang-kadang mereka lebih mementingkan sesuatu yang tidak penting. Yang
bisa memberikan fatwa atas semua kejadian adalah ilmu, tetapi justru mereka
menjauhinya.
Banyak orang-orang sufi yang memisahkan antara syariat dan hakikat.̂ ^
Ini merupakan kebodohan orang yang mengatakannya. Sebab seluruh syariat
adalah hakikat. Kalaupun yang mereka maksudkan adalah rukhshah dan hasrat,
maka keduanya juga ada di dalam syariat.
Padahal ada di antara orang-orang sufi terdahulu yang mengingkari
sikap mereka yang menyimpang dari zhahir syariat.
Sahi bin Abdullah berkata kepada seseorang yang meminta nasihat
kepadanya, “Dunia ini semuanya adalah cermin kebodohan, kecuali yang
menggambarkan ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah kecuali yang diamalkan.
Semua amal tertolak kecuali yang berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. As-
Sunnah harus didasarkan kepada takwa.”
Dia juga pernah berkata, “Tidak ada jalan kepada Allah yang lebih
baik daripada ilmu. Selangkah saja engkau menyimpang dari jalan ilmu, maka
engkau akan terjerumus ke dalam kegelapan selama empat puluh hari.”
Istilah hakikat di kalangan orang-orang sufi mempunyai pengertian tersendiri, dengan segala simbol
dan rahasia-rahasianya.
3 3 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Dari Abu Bakar Ad-Daqqaq, dia berkata, “Aku pernah mendengar
Abu Sa’id Al-Kharraz berkata, ‘Setiap sesuatu yang dikatakan batin
bertentangan dengan zhahir, maka ia adalah batif.”
Bahkan Abu Hamid Al-Ghazali telah memperingatkan masalah ini di
dalam Al-lhja’, dengan berkata, “Siapa yang berkata bahwa hakikat itu
bertentangan dengan syariat, atau yang batin itu bertentangan dengan yang
zhahir, berarti dia lebih dekat dengan kufur daripada dengan iman.”
Menurut Ibnu Aqil, orang-orang sufi menyebut syariat dengan nama
tertentu, dan yang mereka maksudkan adalah hakikat. Tentu saja ini
merupakan anggapan yang sangat buruk. Sebab syariat ditetapkan Allah untuk
kemaslahatan makhluk dan mengatur ibadah mereka. Berarti hakikat yang
mereka sebutkan itu hanya sekadar sesuatu yang melintas di dalam jiwa, yang
sengaja disusupkan Iblis. Siapa yang menganggap hakikat ada di luar syariat,
berarti dia adalah orang yang tertipu dan terpedaya.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi yang Mengingkari Orang-
orang yang Menyibukkan Diri dalam Dunia Ilmu
Dalam kaitannya dengan ilmu, orang-orang sufi itu ada dua macam:
Orang yang malas mencari ilmu dan orang yang beranggapan bahwa
ilmu itu adalah apa yang ada di dalam jiwa sebagai buah dan ibadah, yang
kemudian mereka sebut dengan ilmu batin. Karena itu mereka semua menjadi
malas menyibukkan diri dalam ilmu-ilmu zhahir.
Dari Ja’far Al-PChuldi, dia berkata, “Jika aku ditinggalkan orang-orang
sufi, tentu aku akan datang kepada kalian untuk membawa kepada dunia.
Selagi masih kecil aku pernah belajar kepada Abbas Ad-Duri. Dalam suatu
majlis aku menulis sesuatu darinya. Kemudian aku bertemu dengan sebagian
orang yang dulunya sama-sama belajar dari orang-orang sufi. Temanku itu
bertanya, “Apa yang kau bawa itu?”
Setelah aku memperlihatkannya, maka dia berkata, “Celaka kau!
Bagaimana mungkin engkau meninggalkan ilmu batin dan beralih ke
Umu yang tertulis dalam lembaran kertas?” Seketika ini dia merebut tulisan
dari tanganku dan membakarnya. Ternyata aku cukup terpengaruh
oleh ucapannya itu sehingga aku tidak mau lagi berguru kepada Abbas Ad-
D u r i .
3 3 2 Perangkap Setan
Ja’far Al-I<Chuldi juga menuturkan, “Aku mendengar Abu Sa’id Al-Kindi
berkata, Aku pernah bergabung di suatu mushalla milik orang-orang sufi.
Lalu secara sembunyi-sembunyi aku mencari hadits, sehingga mereka tidak
tahu apa yang kulakukan. Suatu kali puipen yang kusembunyikan di lengan
baju jatuh. Maka di antara mereka ada yang berkata kepadaku,
‘Sembunyikanlah aibmu’.”
Al-Husain bin Ahmad Ash-Shaffar berkata, “Aku sedang memegang
puipen. Lalu Asy-Syibli berkata kepadaku, ‘Jangan kau perlihatkan aibmu
kepadaku. Aku cukup dengan apa yang ada di dalam hatiku’.”
Penentangan terhadap Allah yang paling besar adalah menghalangi
manusia dari jalan Allah, dan jalan untuk menuju kepada Allah yang paling
nyata adalah ilmu, Karena ilmu merupakan bukti untuk mengetahui Allah,
yang bisa menjelaskan hukum-hukum dari syariat Allah, menjabarkan apa
yang disukai Allah dan apa yang dibenci-Nya. Maka menghalangi pencarian
ilmu sama dengan penentangan terhadap Allah dan syariat-Nya, tetapi
rupanya orang-orang yang menghalangi pendalaman ilmu itu tidak menyadari
apa yang dilakukannya.
Dari Abdullah bin Khaflf, dia berkata, “Sibukkanlah diri kalian dalam
upaya mempelajari ilmu, dan janganlah kalian terpedaya oleh perkataan orang-
orang sufi. Dulu aku pernah menyembunyikan pulpenku di saku tambalan
dan lipatan celanaku. Aku juga biasa menemui para ulama secara sembunyi-
sembunyi. Jika orang-orang sufi itu mengetahui apa yang kulakukan, tentu
mereka akan menyerangku habis-habisan, seraya berkata, ‘Engkau tidak akan
beruntung’. Setelah itu mereka menyodorkan berbagai alasan kepadaku.”
Imam Ahmad pernah melihat beberapa puipen di tangan para pemuda
yang sedang mencari ilmu. Maka dia berkata, “Ini adalah jalan Islam.” Dia
juga senantiasa membawa puipen sekalipun usianya sudah tua. Lalu ada
seseorang bertanya kepadanya, “Sampai kapan engkau membawa puipen
wahai Abu AbduUah?’ Dia menjawab, “Puipen ini akan kubawa ke kuburan.”
Tentang sabda Rasulullah “Ada segolongan orang dari umatku yang
senantiasa mendapat pertolongan, mereka tidak mendapat mudharat dan
orang-orang yang menelantarkan mereka hingga hari Kiamat”, maka Imam
Ahmad berkata, “Kalau bukan ahli hadits yang dimaksudkan dalam hadits
ini, maka aku tidak tahu lagi siapa selain mereka.”
3 3 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Namun ketika ada seseorang yang mengabarkan kepadanya, bahwa di
kalangan ahli hadits itu ada orang yang buruk akhlaknya, maka dia menjawab,
“Dia adalah orang 2indiq.”
Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika aku melihat seseorang dan ahli
hadits, maka seakan-akan aku sedang melihat seseorang dari para sahabat
Rasulul lah S. ”
Lalu apa komentar orang-orang sufi tentang ilmu itu sendiri?
Ketahuilah, karena mereka meninggalkan pencarian ilmu, maka mereka pun
menyendiri bermujahadah menurut pendapat mereka sendiri. Mereka tidak
sabar jika membicarakan ilmu. Mereka hanya mau berbicara berdasarkan pola
kehidupan mereka, sehingga terjadi kesalahan yang mencolok. Memang ada
kalanya mereka berbicara tentang tafsir Al-Qur’an, hadits, fiqih dan lain-
lainnya, tetapi semua im tak lepas dari jalan pikiran mereka yang tenmnya
amat terbatas. tetapi Allah senantiasa memunculkan di setiap zaman
segolongan orang yang siap menyanggah orang-orang yang menyimpang dan
menjelaskan kesalahan mereka.
Berikut ini beberapa gambaran tentang jalan pikiran mereka dalam
memahami Al-Qur’ an.
Dari Ja’far bin Muhammad Al-Khuldi, dia berkata, ‘Aku pernah
menemui syaikh kami, Al-Junaid, yang saat itu sedang ditanya oleh Kaisar
tentang firman Allah, “Kami akan membacakan (A.l-Qur 'an) kepadamu
(Muhammad), maka kamu tidak akan lupa. “(Al-A’la: 6)
Maka Al-Junaid menjawab, “Janganlah engkau lupa amalmu.”
Dia juga menanyakan firman Allah, “Padahal mereka telah mempelajari
apayang disebutkan di dalamnya “. (Al-A’raf; 169) Al-Junaid menjawab, “Karena
mereka tidak mau mengamalkannya.”
Jawaban Al-Junaid, “Janganlah engkau lupa amalnya”, merupakan
penafsiran yang tidak ada dasarnya sama sekali dan kesalahannya sangat jelas.
karena dia menafsiri ayat di atas sebagai larangan. Padahal yang benar tidak
begitu. Ayat itu merupakan pengabaran, bukan merupakan larangan.
Maknanya secara jelas: Engkau (wahai Muhammad) tidak akan lupa. Sebab
jika diartikan larangan, maka bentuknya harus pasti merupakan larangan. Di
samping itu, penafsiran Al-Junaid itu bertentangan dengan ijma’ ulama. Begitu
pula penafsirannya terhadap ayat yang kedua, yang artinya memang
mempelajari, yang bisa dilakukan dengan cara membaca.
3 3 4 Perangkap Setan
Tentang firman Allah, “Semua tipu d(̂ a itu adalah dalam kekuasaan Allah. ”
(Ar-Ra’d: 42), Al-Husain berkata, “Tidak ada tipu daya yang lebih nyata
daripada tipu daya Allah terhadap hamba-Nya, yang memberikan gambaran
kepada mereka, bahwa mereka bisa mendapatkan jalan untuk menuju kepada-
Nya, dalam keadaan bagaimana pun.”
Siapa yang menyimak lebih mendalam penafsiran Al-Husain ini, maka
dia akan tahu bahwa penafsiran itu lebih dekat kepada kufur, sebab dia
mengisyaratkan penafsiran itu secara main-main. Al-Husain ini tidak lain
adalah Al-Hailaj.
Di dalam berbagai buku telah dijelaskan penafsiran mereka, termasuk
pula golongan Bathiniyah, berupa penafsiran-penafsiran yang jauh
menyimpang maknanya, seperti dalam kitab Al-Luwa’ karangan Abnu Nashr
As-Sarraj, dia berkata, “Orang-orang sufi mempunyai kesimpulan tersendiri
dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah, ‘Aku mengajak
hpadaAllahdenganhujjahyangnyata '̂. (Yusuf: 108) Al-Wasithi berkata, “Artinya
aku tidak tahu diriku sendiri.”
Tentu saja ini merupakan penafsiran yang sama sekali tidak ada
dasarnya dan jelas kcsalahannya.
Firman Alla) tentang perkataan Ibrahim, "Dan, jauhkanlah aku dari
anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.‘' (Ibrahim: 35), Abu Hamid Ath-
Thusi berkata di dalam kitabnya, D:(ammul-mal, ‘Y'ang kumaksudkan adalah
emas dan perak”. Sebab kedudukan sebagai nabi terlalu agung andaikan
seorang nabi sampai menyembah berhala. Karena itu dia mengartikan berhala
sebagai kecintaan terhadap emas dan perak.
Tak satu pun mufasir yang berpendapat seperti itu. Sebagaimana yang
diketahui, memang tidak mungkin ada nabi yang cenderung kepada syirik,
karena mereka ma’shum dan bukan karena itu merupakan sesuatu yang
mustahil. Sebagaimana yang diketahui pula, bahwa bangsa Arab dan anak
cucunya telah menyembah berhala.
Abu Hafsh bin Syahin telah menjelaskan penafsiran yang sama sekali
tidak layak yang dilakukan orang-orang sufi, seperti terhadap firman Allah,
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
slang terdapat tanda-tanda bagi orang-orangyang berakal”. (AJi Imran: 190) Menurut
mereka, orang-orang yang berakal itu merupakan tanda-tanda.
3 3 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Dengan penafsiran seperti itu berard mereka telah menambahkan apa
yang ditetapkan Allah, yang berard mengubah ketetapan Al-Qur’an.
Masih banyak penyimpangan mereka dalam menafsiri dan memahami
ayat-ayat Al-Qur’an. Keadaan mereka yang jauh dari ilmu dan kepuasan
mereka terhadap pola kehidupan yang mereka jalani, membuat mereka banyak
melakukan kesalahan. Sementara pola kehidupan dan apa yang melintas dj
dalam pikiran merupakan buah dari ilmu. Orang yang berilmu akan
menghasilkan jalan pikiran yang benar, dan siapa yang ddak memiliki ilmu
akan menghasilkan kebodohan.
Kelancangan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ddak berbeda jauh
dengan kelancangan mereka terhadap hadits.
Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata, “Suatu kali Abu
Turab An-Nakhsyabi menemui ayahku, lalu ayahku berkata, ‘Fulan ini adalah
orang yang dha’if, dan Fulan itu adalah orang yang tsiqat’.”
Abu Turab menyela, ‘Wahai syaikh, janganlah engkau mencela para
ulama!
Ayahku menoleh ke arahnya lalu berkata dengan berang, “Celaka kau.
Ini nasihat bukan ghibah.”
Dari Muhammad bin Al-Fadhl Al-Abbasi, dia berkata, “Kami berada
di tempat Abdurrahman bin Abu Hadm yang sedang membacakan Al-]arb
lF /̂-Ti?Wkepada kami. Dia berkata, “Aku sampaikan kepada kalian keadaan
para ulama yang tsiqat dan yang ddak tsiqat.”
Lalu Yusuf bin AJ-Husain menimpali, “Aku merasa malu kepadaki
wahai Abu Muhammad. Berapa banyak orang-orang yang telah berkeliaraj*
di surga semenjak seratus atau dua ratus tahun yang lampau, sementara padr.
saat ini engkau menyebut-nyebut nama mereka dan menggunjing diri merekn
untuk mendapatkan makanan di dunia.”
Mendengar perkataan Yusuf itu, Abdurrahman menangis, lalu dia
berkata, “Wahai Abu Ya’qub, andaikan aku mendengar perkataanmu ini
sebelum aku menyusun kitab ini, tentu aku ddak akan menjTjsunnya.”
Semoga Allah mengampuni Abu Hadm. Andaikan dia seorang ahli
fiqih, tentu dia akan menyanggah perkataan Yusuf itu dengan perkataan yang
keras seperd yang biasa dilakukan Al-Imam Ahmad terhadap Abu Turab.
3 3 6 Perangkap Setan
Padahal seandainya tidak ada kitah A/-Jarh Waf-Ta‘di/, lalu dari mana kita bisa
mengetahui mana hadits yang shahih dan mana hadits yang batil?
Dari mana Yusuf bin Husain tabu orang-orang itu ada di dalam surga?
Taruhlah bahwa mereka benar-benar berada di dalam surga, tetapi bukan
berarti diri mereka ddak boleh disebut-sebut. Di samping itu, siapa yang
tidak mengetahui al-jarh wat-ta‘dil, maka dia tidak akan tahu mana perkataan
seseorang yang benar.
Abul-Abbas bin Atha’ berkata, “Siapa yang mengetahui Allah, maka
dia tidak perlu lagi meminta pertolongan kepada-Nya, karena toh dia tahu
bahwa Allah sudah mengetahui segala keadaannya.”
Ini namanya menutup pintu permohonan dari doa. Tentu saja ini
berasal dari kebodohan.
Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Ada seorang sufi yang kehilangan
anaknya yang masih kecil. Lalu ada seseorang yang memberinya saran,
“Berdoalah kepada Allah agar Dia mengembalikan anakmu.” Maka orang
sufi itu berkata, “Menentang apa yang telah ditetapkan AUah terhadap diriku
lebih berat bagiku daripada kehilangan anak.”
Kami tak habis pikir, bagaimana mungkin Al-GhazaU mengisahkan
kejadian seperti ini dan mengkategorikannya sebagai tindakan yang baik dan
terpuji? Padahal dia tahu bahwa berdoa dan memohon kepada Allah itu bukan
merupakan penentangan atau pembangkangan terhadap takdir-Nya. Ini
semua menunjukkan seberapa jauh pemahaman mereka. Maka waspadalah
dalam menghadapi ilmu dan pemahaman mereka yang salah.
Talbis Iblis terhadap Orang'orang Sufi tentang Bualan dan
Perkataan yang Mengada-ada
Ketahuilah bahwa ilmu mewariskan perasaan takut, menghinakan diri
sendi




