• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label nyi girah 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyi girah 1. Tampilkan semua postingan

nyi girah 1

 


DAlAM BENAK banyak orang, filsafat yaitu  ilmu yang

mengawang-ngawang. Mengawang bisa berarti: terlalu tinggi dan

rumit, hingga tak mudah dicerna oleh orang kebanyakan. Tapi

mengawang juga bisa berarti: tidak realistis, konyol, kegiatan orang

yang kurang kerjaan. saat  dunia digerakkan oleh kesibukan mencari

uang sebanyak-banyaknya, dan diramaikan oleh hiruk-pikuk memburu

kenikmatan, karier, popularitas dan kekayaan, filsafat tampak bagai

verbalisme kosong, bagai daftar menu yang menawan tanpa ada

makanannya. saat  ilmu-pengetahuan empirik dan teknologi

menghasilkan demikian banyak hal konkret dan telah mengubah

kehidupan manusia secara mendasar, filsafat terasa bagai bualan

yang menyembunyikan kekosongannya dalam rimba istilah abstrak

yang dirumit-rumitkan.

Lebih buruk lagi, dalam situasi penuh antusiasme keagamaan yang

meledak-ledak, filsafat biasanya bahkan dilihat sebagai kebebasan

nalar yang liar dan "arogan", semacam ancaman menuju kekacauan,

bahaya tafsir bebas yang mengarah pada kemurtadan, atau bahkan

sejenis gejala kegilaan. Dan karenanya, bagi masyarakat umum,

sebaiknya tidak disarankan.

     Dalam suasana konsumerisme yang parah dan gaya hidup

snobistis, kalaupun filsafat masih tampak berharga, itu hanyalah

sebagai parafernalia untuk dekorasi rumah atau gaya bicara. yaitu 

bergengsi memajang buku-buku tua Plato atau Aristoteles di rak buku.

yaitu  terpelajar bila kita menyelipkan satu dua kutipan dari

omongan para filosof dalam pidato-pidato kita. Demikian, filsafat itu

menarik sebagai hiasan, tapi tidak sebagai bahan kajian.

Meskipun demikian, semua cerita di atas itu sebetulnya hanyalah

"karikatur" tentang makhluk yang bernama `filsafat'. Sesungguhnya

filsafat tak mesti dilihat seburuk itu. Pada dasarnya filsafat yaitu 

gerak nalar yang wajar, sealamiah bernapas, aliran pikiran yang pada

titik tertentu tak bisa dibungkam dan dihentikan. Filsafat yaitu 

sistematisasi pengalaman bernalar dan kecenderungan ingin tahu,

yang telah kita miliki sejak masa kanak-kanak. Kecenderungan yang

— ironisnya—sering kali justru menjadi rusak akibat jawaban-

jawaban yang berpretensi mutlak dari bermacam bentuk pengetahuan

(tradisi, sains, ideologi, terutama agama). Filsafat adaah pengalaman

yang bergulat hendak merumuskan kerumitan dirinya yang sebenarnya

tak terumuskan. Suatu upaya tanpa akhir untuk memahami kenyataan

yang mungkin tak akan pernah tuntas terjelaskan.

saat  dalam milenium ketiga ini tradisi tak lagi menjadi sumber

utama pemaknaan atas pengalaman; saat  sistem-sistem nilai dan

norma konvensional diharu-biru kontradiksi intern akibat aneka

perbedaan tafsiran sehingga sebagai patokan tak lagi meyakinkan,

filsafat sebagai pemikiran kritis yang mendalam dan mandiri

sangatlah dibutuhkan. Filsafat memampukan kita menyusun sendiri

pegangan di antara berbagai informasi dan pendapat yang

membingungkan, memampukan kita merumuskan sendiri makna

pengalaman. saat  kini pola-pola baku dan keyakinan-keyakinan

umum digugat dan dipertanyakan ulang, filsafat mengasah kepekaan

kita atas inti persoalan, yakni kepekaan atas mana hal pokok, mana

hal sepele; mana yang layak dibela, mana yang bisa dibiarkan saja.

Ketidakmampuan berpikir secara abstrak filosofis mudah

mengakibatkan kerancuan-kerancuan berpikir yang menyedihkan dan

berbahaya. Berbagai masalah berat di negeri ini umumnya muncul

karena kerancuan berpikir macam itu: dari sejak urusan kinerja

birokrasi yang serba-tidak efisien, korupsi, konflik agama, kerumitan

masalah pendidikan, terorisme, sampai kekacauan angkutan kota.

Filsafat memang terdengar mengawang dan abstrak. Tapi proses

abstraksi itu diperlukan untuk menerangi pengalaman dan melihat

akar-akar dasar tersembunyi di balik segala persoalan konkret.

Meskipun filsafat yaitu  kegiatan olah nalar, yang sebenarnya

digumuli di sana yaitu  kebutuhan terdalam ruh dalam dinamika

jatuh-bangunnya pengalaman: kebutuhan mendasar atas makna dan

arah kehidupan, kebutuhan tentang bagaimana misteri-misteri

kehidupan bisa dijelaskan dan dipahami, kebutuhan untuk mengerti

apa yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa itu sendiri. Seringkali

pada titik terdalam ruh tersentuh dan terisi bukan oleh hal-hal

material, bukan oleh kekuasaan dan kedudukan, bukan oleh sukses

karier spektakuler atau popularitas, bahkan bukan juga oleh doktrin

agama, melainkan oleh rasa penasaran, petualangan pencarian,

keharuan, keheranan, atau kekaguman, yang sering demikian

misterius. Dalam kerangka itulah, pemikiran-pemikiran filosofis yang

abstrak dan pelik dapat menjadi perangsang-perangsang bagus yang

membimbing kita ke dasar kebutuhan batin itu.

      Novel filosofis yang ada di tangan Anda ini yaitu  sebuah

pengantar sangat strategis untuk memasuki khazanah filsafat. Dunia

Nyai girah  yaitu  kombinasi yang menawan dan mengasyikkan antara

lintasan sejarah gagasan-gagasan filosofis besar dengan pengalaman

petualangan menelusuri misteri peristiwa-peristiwa kehidupan.

Keluguan pertanyaan-pertanyaan kanak-kanak yang tajam di padukan

dengan kecerdasan jawaban-jawaban dari para filosof  besar

sepanjang zaman, menyangkut hampir segala bidang kehidupan: dari

urusan alam semesta, manusia, pengetahuan, seni, sains, hingga

agama. Semuanya dijalin dalam alur cerita yang mengalir wajar,

hingga gagasan-gagasan rumit dan mendalam terasa ringan dan masuk

akal. Rasanya Dunia Nyai girah  harus menjadi buku wajib bagi siapa

pun yang hendak memulai belajar filsafat.

Pemikiran para filosof dapat membantu kita melihat struktur

kenyataan dasar yang tadinya tersembunyi di balik permukaan gejala-

gejala sehari-hari, ibarat kamera foto rontgen. Ia juga memungkinkan

kita melihat keterkaitan-keterkaitan baru antar-segala hal. Bagaikan

melihat lingkungan kita dari ketinggian. Bagi dunia keilmuan, filsafat

berguna untuk bersikap kritis terhadap asumsi-asumsi dasar yang

biasanya digunakan saja tanpa dipertanyakan, juga waspada terhadap

konsekuensi-konsekuensi lebih jauh, lebih luas dan lebih abstrak dari

temuan-temuan ilmiah. Filsafat penting untuk menghindari bahaya

kenaifan-empirik-teknis, yaitu anggapan seakan kehidupan dan

manusia hanyalah soal data dan urusan teknis. Sedangkan bagi dunia

keagamaan, filsafat dapat membantu menjaga agar kita terhindar dari

dogmatisme yang picik dan berbahaya atau dari keterjebakan dalam

perkara remeh-temeh yang tak penting; membantu melihat hal-hal

yang lebih pokok; juga memungkinkan kita berpikir lebih arif dalam

menyelesaikan perkara-perkara baru yang tak bisa langsung dirujuk

ke kitab-suci; bahkan akhirnya mungkin juga membantu

menyingkapkan ilusi-ilusi yang tersembunyi di balik agama, yang jika

dibiarkan justru akan merusakkan martabat agama itu sendiri, bagai

kanker yang tak disadari.

Belajar filsafat membuat kemampuan reflektif kita senantiasa

berdenyut. Segala hal akan digugat dan digugat ulang oleh refleksi

kita sendiri. Refleksivitas memang bersifat self-cancelling alias

gemar membatalkan pernyataan-pernyataan yang pernah dibuatnya

sendiri. Itu sebabnya, seribu filosof memberi seribu jawaban atas

pertanyaan dasar hidup yang sama. Jawaban yang satu membantai

jawaban dari filosof lain sebelumnya. Maka berada dalam alam

filosofis membuat hidup kita "nomadik", tak pernah mantap stabil,

bergerak terus mencari. Mungkin tak akan pernah final, hanya saja

pemahaman kita makin kaya, makin kompleks, dan makin luas. Dan

dengan itu budi kita makin halus dan arif, terutama dalam menyikapi

kehidupan yang penuh perbedaan dan pelik ini.

Sebenarnya pikiran para filosof umumnya bersifat hipotetis saja,

sebab omongan-omongan mereka itu menyangkut hal-hal yang

terlampau dalam hingga tak mungkin dibuktikan, hanya mungkin

diargumentasikan. Misalnya saja, filosof yang satu mengatakan

bahwa hidup ini yaitu  proses menuju suatu tujuan yang jelas.

Filosof lain persis kebalikannya, baginya hidup ini yaitu  absurditas

yang tak jelas tujuannya. Keduanya sulit untuk dibuktikan secara

empiris ketat. Maka berfilsafat yaitu  bermain menjajaki berbagai

kemungkinan untuk memahami pengalaman dan kehidupan. Dan dalam

kenyataan memang selalu ada begitu banyak cara dan kemungkinan.

Ukuran bagi kebenarannya hanyalah: argumentasinya lebih

mendalam dibanding argumentasi lainnya, atau daya penjelasannya

(explanatory power) lebih besar,  alias lebih mampu menjelaskan

kompleksitas suatu masalah, ketimbang paham lainnya.

Pada akhirnya, dalam dunia filsafat, kita nyaris tak bisa menyebut

pikiran seorang filosof sebagai total "benar" atau "salah". Maka

filosof sepurba Plato atau Aristoteles pun dalam dunia filsafat tak

pernah terasa kedaluarsa. Semua filosof selalu terasa tetap up to

date. Dan kendati semua filosof besar mempunyai otoritas yang

dikagumi, dunia filsafat pada dasarnya tidak melihat kebenaran

berdasarkan otoritas. Patokannya hanyalah akal sehat dan

pengalaman manusiawi konkret. Maka lebih tepat di katakan bahwa

dalam filsafat "kebenaran" yaitu  sekadar batas penalaran kita,

batas sementara, batas yang nyatanya bergerak terus memperluas diri

juga. Bagai langit batas lautan, yang senantiasa mundur bergerak

menjauh saat kita mulai berlayar.

Belajar filsafat menuntut kita berani dan tekun memasuki rimba

peristilahan yang tak lazim (setiap filosof menciptakan istilah-

istilahnya sendiri) serta memaksa kita mengikuti penalaran-penalaran

sangat panjang dan pelik melelahkan. Pendeknya, dibutuhkan napas

panjang dalam pemikiran. Kalau tubuh perlu olahraga agar tetap

bugar, kehidupan batin (nalar dan ruh) juga perlu latihan agar tetap

waras, dan tumbuh ke tingkat nilai lebih tinggi. Filsafat yaitu  cara

cerdas bagi jiwa untuk tetap waras dan tumbuh berevolusi. Terutama

saat  dunia makin sakit dan sistem nilai kian terdegradasi.[]



TAMAN FIRDAUS

... pada suatu titik, sesuatu pasti berawal dari ketiadaan ...

TOPI PESULAP

... satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik

yaitu  rasa ingin tahu ...

MITOS-MITOS

... suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan

kekuatan jahat ....

PARA FILOSOF ALAM

... tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan ...

DEMOCRITUS

... mainan paling cerdik di dunia ...

TAKDIR

... "peramal"  berusaha meramalkan sesuatu yang tidak dapat

diramalkan ...

SOCRATES

...  yaitu  orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu ...

ATHENA

... beberapa bangunan tinggi bangkit dari reruntuhan ...

PLATO

... suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa ...

GUBUK SANG MAYOR

... gadis dalam cermin itu mengedipkan kedua matanya ...

ARISTOTELES

... seorang organisator yang teliti dan ingin menjernihkan konsep-

konsep kita ...

HELENISME

... sepercik cahaya api ...

KARTU POS

... aku harus menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri ...

DUA KEBUDAYAAN

... satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di

ruang hampa ...

ABAD PERTENGAHAN

... hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan ...

RENAISANS

... wahai keturunan Ilahi yang menyamar sebagai manusia ...

ZAMAN BAROK

... seperti dalam mimpi ...

DESCARTES

... dia ingin membersihkan semua puing dari tempat itu ...

SPINOZA

... Tuhan itu bukan dalang ...

LOCKE

... sama kosongnya seperti sebuah papan tulis sebelum guru datang

...

HUME

... maka masukkanlah ke nyala api ...

BERKELEY

... seperti planet yang berputar mengelilingi matahari yang

membara ...

BJERKELY

... sebuah cermin sihir kuno yang dibeli Nenek-buyut dari seorang

wanita Gipsi ...

ZAMAN PENCERAHAN

...dari cara jarum dibuat hingga cara meriam ditemukan ...

KANT

... langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku ...

ROMANTISISME

... jalan misteri menuntun ke dalam batin ...

HEGEL

... hanya yang masuk akallah yang akan berumur panjang ...

KIERKEGAARD

... Eropa sedang dalam perjalanan menuju kehancuran ...

MARX

... hantu sedang membayangi Eropa ...

DARWIN

... sebuah kapal bermuatan gen-gen yang berlayar sepanjang

kehidupan ...

FREUD

... dorongan egoistik yang dibenci telah muncul dalam dirinya ...

ZAMAN KITA SENDIRI

... manusia dikutuk untuk bebas ...

PESTA TAMAN

... seekor burung gagak putih ...

MELODI GABUNGAN

... dua melodi atau lebih berbunyi bersama ...

DENTUMAN BESAR

... kita juga yaitu  bintang kecil ...

INDEKS

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu

tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.

—GOETHE

Taman Firdaus

***

... pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan ...

Nyai girah  AMUNDSEND sedang dalam perjalanan pulang dari

sekolah. Dia telah menempuh paruh pertama perjalanannya bersama

Joanna. Mereka membicarakan robot. Joanna beranggapan otak

manusia itu seperti komputer yang sangat canggih. Nyai girah  tidak

terlalu sepakat. Tentunya manusia bukan sekadar sepotong perangkat

keras?

saat  sampai di depan pasar swalayan, mereka berpisah. Nyai girah 

tinggal di daerah pinggiran kota dan jaraknya dari sekolah hampir

dua kali lebih jauh daripada rumah Joanna. Tidak ada rumah lain di

sebelahnya. Jadi, rumah ini  seakan-akan berada di ujung dunia.

Di dekat situ ada hutan.

Dia berbelok menuju Clover Close. Di ujung jalan ada tikungan

tajam, yang dikenal sebagai Captain's Bend. Orang-orang jarang

melewati jalan itu, kecuali pada akhir pekan.

Saat ini awal bulan Mei. Di beberapa kebun, pohon-pohon buah

dikelilingi dengan bertandan-tandan daffodil. Pohon birkin telah

diselimuti daun berwarna hijau pucat.

Sungguh luar biasa, betapa semuanya bersemi pada musim ini!

Apa yang membuat limpahan warna hijau dedaunan bermunculan dari

bumi yang mati begitu ia mendapatkan kehangatan dan sisa-sisa salju

yang terakhir menghilang?

Nyai girah 

Gadis 14 tahun yang serba-ingin tahu.

saat  Nyai girah  membuka pintu gerbang halamannya, dia

memandang ke kotak surat. Biasanya ada banyak surat sampah dan

beberapa amplop besar untuk ibunya. Tumpukan surat itu sering

ditinggalkannya begitu saja di meja dapur sebelum dia naik ke kamar

untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah.

Sering kali ada beberapa surat dari bank untuk ayahnya. Tetapi,

ayah Nyai girah  bukanlah seorang ayah yang biasa. Dia yaitu  nakhoda

sebuah tanker minyak besar, dan selalu bepergian hampir sepanjang

tahun. Selama beberapa minggu saat  dia berada di rumah, dia akan

sibuk ke sana kemari untuk membuat rumah itu enak dan nyaman bagi

Nyai girah  dan ibunya. Namun jika dia berada di laut, dia tampaknya

sangat jauh.

Hanya ada sebuah surat di kotak surat—dan itu yaitu  untuk

Nyai girah . Pada amplop putih tertulis: "Nyai girah  Amundsend, 3 Clover

Close." Itu saja; tidak disebutkan siapa pengirimnya. Prangkonya pun

tidak ada.

Setelah Nyai girah  menutup pintu gerbang, dia buru-buru membuka

amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas yang tidak lebih

besar daripada amplopnya sendiri. Bunyinya: Siapakah kamu?

Tidak ada yang lain, hanya dua kata itu, yang ditulis tangan, dan

diikuti dengan sebuah tanda tanya besar.

Dia melihat amplop itu lagi. Surat itu jelas untuknya. Siapakah

yang memasukkannya ke dalam kotak surat?

Nyai girah  segera memasuki rumah merah itu. Sebagaimana biasa,

kucingnya, Sherekan, berusaha menyelinap ke luar dari semak-semak,

melompat ke tangga pertama, dan menyusup masuk melalui pintu

sebelum Nyai girah  menutupnya.

Setiap kali ibu Nyai girah  sedang tidak enak hati, dia akan menyebut

rumah yang mereka tinggali itu yaitu  sebuah kandang. Nyai girah 

memang suka memelihara binatang. Pertama-tama dia punya tiga ekor

ikan mas, Goldtop, Red Ridinghood, dan Black Jack. Selanjutnya dia

mendapatkan dua ekor burung parkit yang dinamakannya Smitt dan

Smule, lalu Govinda si kura-kura darat, dan akhirnya si kucing

pirang, Sherekan. Semua binatang itu diberikan kepadanya untuk

menghiburnya, mengingat bahwa ibunya selalu baru pulang kerja

menjelang senja dan ayahnya yang sangat sering bepergian, berlayar

ke seluruh penjuru dunia.

Nyai girah  melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan meletakkan

semangkuk makanan kucing untuk Sherekan. Lalu, dia duduk di atas

bangku dapur dengan surat misterius di tangannya.

Siapakah kamu?

Dia tidak tahu. Dia yaitu  Nyai girah  Amundsend, tentu saja, tapi

siapakah Nyai girah  itu? Dia benar-benar tidak mengerti—belum.

Bagaimana seandainya dia telah diberi nama lain? Anne Knutsen,

misalnya. Apakah dia lalu menjadi orang lain?

Tiba-tiba, dia ingat bahwa ayahnya semula ingin dia dinamai

Lillemor. Nyai girah  berusaha untuk membayangkan dirinya bersalaman

dan memperkenalkan dirinya sebagai Lillemor Amundsend. Namun,

semua itu tampaknya tidak benar. Tetap saja itu yaitu  orang lain

yang memperkenalkan dirinya.

      Dia melompat dan pergi ke kamar mandi dengan surat aneh di

tangannya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap matanya sendiri.

"Aku Nyai girah  Amundsend," katanya.

Gadis di dalam cermin itu tidak bereaksi sama sekali. Apapun

yang dilakukan Nyai girah , gadis lain itu melakukannya dengan cara yang

persis sama. Nyai girah  berusaha untuk memukul bayangannya dengan

gerakan kilat, tetapi gadis itu pun bergerak sama cepatnya.

"Siapakah kamu?" Nyai girah  bertanya.

Dia tetap tidak menerima tanggapan, tapi merasa sedikit bingung

apakah dia atau bayangannya yang mengajukan pertanyaan itu.

"Nyai girah  menekankan jari telunjuknya ke hidung di cermin itu dan

berkata, "Kamu yaitu  aku."

Karena tidak mendapatkan jawaban, dia membalik kalimat itu dan

berkata, "Aku yaitu  kamu."

Nyai girah  Amundsend sering merasa tidak puas dengan

penampilannya. Orang sering bilang dia memiliki sepasang mata

indah berbentuk buah almond, tetapi itu barangkali hanya diucapkan

orang-orang sebab hidungnya terlalu kecil dan mulutnya agak terlalu

besar. Dan, telinganya terlalu berdekatan dengan matanya. Yang

paling buruk dari semua itu yaitu  rambutnya yang lurus, yang tidak

mungkin bisa diapa-apakan. Kadang-kadang, ayahnya akan membelai

rambutnya dan menyebutnya "gadis dengan rambut jerami". Bagi

ayahnya itu tidak menjadi soal, sebab bukan dia yang dijatuhi kutukan

untuk hidup dengan rambut lurus berwarna gelap. Krim rambut

maupun styling gel sama sekali tidak berpengaruh pada rambut

Nyai girah . Kadang-kadang, dia menganggap dirinya begitu jelek

sehingga dia bertanya-tanya apakah dia terlahir cacat. Namun, apakah

yang sesungguhnya menentukan penampilan kita?

Bukankah aneh bahwa dia tidak mengenal siapa dirinya? Dan,

bukankah tidak masuk akal bahwa dia tidak pernah di izinkan untuk

ikut menentukan bagaimana penampilannya? Dia hanya sekadar

"ditimpa" penampilan seperti itu. Dia memang dapat memilih kawan-

kawannya sendiri, tapi jelas dia tidak dapat memilih dirinya sendiri.

Dia bahkan tidak memilih menjadi seorang manusia.

Apakah manusia itu?

Nyai girah  kembali menatap gadis di cermin itu.

"Ah, sebaiknya aku ke atas dan mengerjakan PR biologiku,"

katanya, nyaris seperti minta maaf. Begitu sampai di ruang tengah,

dia berpikir, Tidak, lebih baik aku pergi ke taman.

"Kitty, kitty, kitty!"

Nyai girah  mengejar-ngejar kucing itu hingga ke tangga serambi dan

menutup pintu depan.

saat  dia berdiri di luar, di atas jalan berkerikil dengan surat

misterius di tangannya, perasaan yang sangat aneh menyerangnya. Dia

merasa seperti sebuah boneka yang tiba-tiba di hidupkan oleh sapuan

sebatang tongkat sihir.

Bukankah ajaib bisa berada di dunia saat ini, berkelana ke sana

kemari dalam suatu petualangan yang mencengangkan!

Sherekan melompat ringan melintasi kerikil dan menyelinap ke

serumpun semak-semak kismis merah. Seekor kucing hidup, yang

penuh energi dari kumis putihnya hingga ekornya yang bergerak-gerak

di ujung badannya yang licin. la juga berada di sini di taman ini,

namun hampir tidak menyadarinya dengan cara seperti Nyai girah 

memikirkannya.

saat  Nyai girah  mulai memikirkan hidup, dia mulai menyadari

bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Aku berada di dunia

sekarang, pikirnya, tapi suatu hari aku akan pergi.

Adakah kehidupan sesudah kematian? Ini yaitu  pertanyaan lain

yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh si kucing.

Belum lama nenek Nyai girah  meninggal. Selama lebih dari enam

bulan Nyai girah  merindukannya dari hari ke hari. Sungguh tidak adil

bahwa kehidupan harus berakhir!

Nyai girah  berdiri di atas jalan berkerikil, berpikir. Dia berusaha

untuk berpikir ekstra-keras mengenai hidup agar dia dapat melupakan

bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Tapi itu mustahil. Begitu dia

berkonsentrasi pada kehidupannya sekarang, pikiran tentang kematian

pun memasuki benaknya. Hal yang sama terjadi sebaliknya: hanya

dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang

pasti mati, maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa

hidup. Ini seperti dua sisi mata uang yang berulang-ulang di balik-

baliknya. Dan, semakin besar dan semakin jelas satu sisi, semakin

besar dan semakin jelas pula sisi lainnya.

Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu

nantinya harus mati, pikirnya. Namun, sama mustahilnya bagi kita

untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa

menakjubkannya hidup itu.

Nyai girah  ingat, Nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari

saat  dokter menyatakan dirinya sakit. "Baru kali inilah aku

menyadari betapa kayanya kehidupan ini," katanya.

Sungguh tragis bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit terlebih

dahulu sebelum mereka memahami betapa berharganya hidup itu.

Atau, kalau tidak, mereka harus menemukan dulu sebuah surat

misterius di dalam kotak surat!

Barangkali dia harus memeriksa kalau-kalau ada lagi surat yang

datang. Nyai girah  bergegas ke pintu gerbang dan melihat ke dalam kotak

surat hijau. Dia terperanjat saat  mendapati bahwa di situ terdapat

sebuah amplop putih lain, persis seperti yang pertama. Tapi, kotak

surat itu jelas-jelas sudah kosong saat  dia mengambil amplop

pertama! Amplop ini bertuliskan namanya pula. Dia menyobeknya

hingga terbuka dan meraih selembar catatan yang ukurannya sebesar

yang pertama.

Dari mana datangnya dunia? dikatakan di situ.

Aku tidak tahu, pikir Nyai girah . Tentunya tidak ada orang yang benar-

b e na r tahu. Bagaimanapun, Nyai girah  menganggap itu sebuah

pertanyaan yang wajar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia

merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya

mempertanyakan dari mana ia berasal.

Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Nyai girah  pusing. Dia

memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya. Sarang itu yaitu 

tempat persembunyian Nyai girah  yang paling rahasia. Ke situlah dia

pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia.

Hari ini dia hanya bingung.

Rumah merah itu dikelilingi oleh sebuah taman luas dengan banyak

petak bunga, semak-semak, pohon berbagai jenis buah, halaman

berumput dengan sebuah peluncur dan paviliun kecil yang dibangun

Kakek saat  Nenek kehilangan anak pertama mereka beberapa

minggu setelah anak ini  di lahirkan. Nama anak itu Marie. Pada

pusaranya tertulis kata-kata: "Marie kecil mendatangi kami,

menyalami kami, dan pergi lagi."

Jauh di sebuah sudut taman di balik semak-semak buah frambus

ada belukar lebat di mana bunga atau buah beri tidak mau tumbuh.

Sesungguhnya, itu yaitu  sebuah pagar tanaman yang menjadi batas

dengan hutan, tapi karena tidak ada orang yang memangkasnya selama

dua puluh tahun terakhir ini, ia berubah menjadi semak yang kacau

dan tak tertembus. Nenek sering berkata bahwa pagar itu menyulitkan

kawanan rubah untuk mencuri ayam pada masa perang, saat  ayam-

ayam itu dilepas leluasa di dalam taman.

Bagi semua orang, kecuali Nyai girah , pagar tanaman kuno itu sama

tak bergunanya dengan kandang kelinci di ujung lain taman itu.

Namun, itu hanya karena mereka belum menemukan rahasia Nyai girah .

Nyai girah  telah menemukan lubang kecil di pagar itu sejak dia bisa

mengingat. saat  merayap ke sana, dia memasuki sebuah rongga di

antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Dia

tahu tak seorang pun dapat menemukannya di sana.

Dengan menggenggam kedua amplop di tangan,  Nyai girah  berlari

melintasi taman, merangkak dengan kedua kaki dan tangannya, serta

membuka jalan menembus pagar tanaman itu. Sarang itu tingginya

hampir sama dengan tinggi tubuhnya saat berdiri tegak, tapi hari ini

dia duduk di atas serumpun akar yang bertonjolan. Dari sana dia

dapat melihat ke luar melalui lubang pengintip kecil di sela-sela

ranting dan dedaunan. Meski tak satu lubang pun yang lebih besar

dari sebuah koin kecil, dia dapat menyapukan pandangannya ke

seluruh taman. saat  masih kecil, dia suka berpikir sungguh

menyenangkan memerhatikan ibu dan ayahnya mencari-carinya di

antara pepohonan di situ.

Nyai girah  selalu menganggap taman itu sudah merupakan dunia

tersendiri. Setiap kali mendengar tentang Taman Firdaus yang

diceritakan dalam Bibel, dia seperti diingatkan untuk duduk di sini di

dalam sarangnya, mengawasi surga kecilnya sendiri.

Dari mana datangnya dunia?

Dia tidak mempunyai gagasan sekilas pun. Nyai girah  tahu bahwa

dunia itu hanyalah sebuah planet kecil di angkasa. Namun, dari mana

asalnya angkasa?

Mungkin saja angkasa itu selalu ada, karena itu dia tidak perlu

mencari tahu dari mana ia berasal. Tapi, mungkinkah sesuatu itu

selalu ada? Jauh di lubuk hatinya, dia memprotes gagasan ini .

Tentunya segala sesuatu yang ada itu ada permulaannya? Jadi,

angkasa pasti telah diciptakan dari sesuatu yang lain.

Akan tetapi, jika angkasa berasal dari sesuatu yang lain, sesuatu

yang lain itu juga pasti berasal dari sesuatu yang lain pula. Nyai girah 

merasa dia hanya menyeret-nyeret permasalahan. Pada satu titik,

sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Namun, apakah itu mungkin?

Bukankah itu sama mustahilnya dengan gagasan bahwa dunia selalu

ada?

Mereka telah belajar di sekolah bahwa Tuhan menciptakan dunia.

Nyai girah  berusaha untuk menghibur dirinya dengan pemikiran bahwa

ini barangkali pemecahan terbaik untuk seluruh masalah itu. Tapi, dia

lalu mulai berpikir lagi. Dia dapat menerima bahwa Tuhan telah

menciptakan angkasa, tapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Apakah

dia menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan? Lagi-lagi ada sesuatu

jauh di lubuk hatinya yang memprotes. Meskipun Tuhan dapat

menciptakan segala macam benda, tidak mungkin dia dapat

menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai "diri". Maka

hanya tinggal satu kemungkinan: Tuhan selalu ada. Tapi dia telah

menolak kemungkinan itu! Segala sesuatu yang ada harus ada

permulaannya.

Oh, persetan!

Dia membuka kedua amplop itu lagi. 

Siapakah kamu?

Dari mana datangnya dunia?

Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh menjengkelkan! Dan,

ngomong-ngomong, dari mana datangnya surat-surat itu? Itu juga

sama misteriusnya, nyaris.

Siapa yang telah menyentakkan Nyai girah  keluar dari keberadaannya

sehari-hari dan dengan tiba-tiba membawanya berhadapan dengan

teka-teki besar tentang alam raya?

Untuk ketiga kalinya, Nyai girah  memeriksa kotak surat. Pak Pos baru

saja mengantarkan kiriman hari itu. Nyai girah  mengaduk setumpukan

surat sampah, terbitan berkala, dan dua surat untuk ibunya. Juga ada

sebuah kartu pos bergambar pantai tropis. Dia membalik kartu itu. Di

situ tertempel sebuah prangko Norwegia dan diberi cap pos

"Batalion PBB". Mungkinkah itu dari Ayah? Tapi, bukankah dia

berada di suatu tempat yang sama sekali lain? Itu juga bukan tulisan

tangannya.

Nyai girah  merasakan detak jantungnya sedikit bertambah cepat saat 

dia melihat kepada siapa kartu pos itu dialamatkan: "count dracula  Moller

Knag, d/a Nyai girah  Amundsend, 3 Clover Close ..." Sisa alamat itu

benar adanya. Kartu itu berbunyi:

count dracula  sayang, selamat ulang tahun ke-15! Karena aku yakin

kamu akan mengerti, aku ingin memberimu sebuah hadiah yang

dapat membantumu berkembang. Maafkan aku telah

mengirimkan kartu ini ke alamat Nyai girah . Itu yaitu  cara yang

paling mudah. Salam sayang dari Ayah.

Nyai girah  lari kembali ke rumah dan masuk ke dapur. Pikirannya

kacau. Siapakah "count dracula " ini, yang berulang tahun tepat sebulan

sebelum ulang tahunnya sendiri?

Nyai girah  mengambil buku telepon. Ada banyak orang yang bernama

Moller, dan hanya sedikit yang bernama Knag. Tapi tak satu pun

dalam buku petunjuk itu yang bernama Moller Knag.

Dia mengamati kartu misterius itu lagi. Tampaknya itu asli juga; di

situ terdapat prangko dan cap pos.

Mengapa seorang ayah mengirimkan sebuah kartu ulang tahun ke

alamat Nyai girah , sedangkan sudah jelas sekali bahwa kartu ini 

ditujukan ke tempat lain? Ayah macam apa yang mau memperdaya

putrinya sendiri lewat sebuah kartu ulang tahun yang dengan sengaja

dikirimkan ke sembarang alamat? Bagaimana mungkin itu merupakan

"jalan termudah"? Dan selain itu, bagaimana dia dapat melacak si

count dracula  ini?

Kini Nyai girah  punya tambahan masalah yang mengganggu. Dia

berusaha untuk meluruskan pikirannya:

Siang ini, dalam waktu hanya dua jam, dia telah dihadapkan

dengan tiga masalah. Masalah pertama yaitu  siapa yang telah

meletakkan dua amplop putih di kotak suratnya. Yang kedua yaitu 

pertanyaan-pertanyaan sulit yang tertulis dalam kedua surat ini .

Masalah ketiga yaitu  siapakah count dracula  Moller Knag, dan mengapa

Nyai girah  yang dikirimi kartu ulang tahunnya. Dia yakin bahwa ketiga

masalah itu saling terkait. Pasti begitu, sebab sejauh ini hidup yang

dijalaninya sungguh biasa-biasa saja.[]


Topi Pesulap

***

... satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof  yang

baik yaitu  rasa ingin tahu ...

Nyai girah  YAKIN  dia akan mendapat kabar dari penulis surat tanpa

nama itu lagi. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapa

pun tentang surat-surat itu untuk saat ini.

Di sekolah, dia sulit memusatkan perhatian pada apa yang

dikatakan guru. Tampaknya mereka hanya membicarakan hal-hal yang

tidak penting. Mengapa mereka tidak membicarakan apakah manusia

itu—atau tentang apakah dunia itu dan bagaimana ia menjadi ada?

Untuk pertama kalinya, dia mulai merasa bahwa di sekolah dan

juga di tempat-tempat lain, orang-orang hanya mengurusi hal-hal

remeh. Padahal sesungguhnya ada masalah-masalah besar yang harus

dipecahkan.

Apakah ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaan-

pertanyaan ini? Nyai girah  merasa bahwa memikirkan hal ini  jauh

lebih penting daripada menghafal perubahan bentuk kata-kerja tak

beraturan.

saat  bel berbunyi setelah pelajaran terakhir, dia buru-buru

meninggalkan sekolah sehingga Joanna harus berlari mengejarnya.

Tak lama kemudian, Joanna bertanya, "Kamu mau ikut main kartu

malam ini?"

Nyai girah  mengangkat bahunya.

"Aku tidak begitu tertarik lagi pada permainan kartu."

Joanna kelihatan kaget.

"Kamu tidak tertarik? Kalau begitu mari kita main badminton."

Nyai girah  menatap jalan aspal di bawah—lalu memandang

kawannya.

"Kukira aku juga tidak ingin main badminton."

"Bercanda kamu!"

Nyai girah  menyadari ada nada kecewa pada suara Joanna.

"Maukah kamu memberitahuku apa yang tiba-tiba jadi begitu

penting?"

Nyai girah  hanya menggelengkan kepalanya. "Itu ... itu rahasia."

"Wah! Kamu mungkin sedang jatuh cinta!"

Kedua gadis itu terus berjalan beberapa saat tanpa mengucapkan

sesuatu. saat  mereka tiba di lapangan sepak bola Joanna berkata,

"Aku mau menyeberang lapangan saja."

Menyeberang lapangan! Itu memang jalan paling cepat untuk

Joanna, tapi dia hanya mau lewat jalan itu jika dia harus buru-buru

pulang karena ada tamu di rumah atau ada janji dengan dokter gigi.

Nyai girah  menyesal telah bersikap buruk kepadanya. Namun, apalagi

yang dapat dikatakannya? Bahwa dia dengan tiba-tiba menjadi begitu

keasyikan untuk mencari tahu siapa dirinya dan dari mana datangnya

dunia sehingga dia tidak punya waktu lagi untuk bermain badminton?

Apakah Joanna akan mengerti?

       Mengapa begitu sulit untuk terserap dalam masalah yang paling

penting dan, dalam satu hal, paling wajar itu?

Dia merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat  dia

membuka kotak surat. Mula-mula, dia hanya menemukan sebuah surat

dari bank dan beberapa amplop besar untuk ibunya. Sialan! Nyai girah 

sudah berharap-harap akan mendapatkan surat lain dari pengirim

yang tak dikenalnya itu.

saat  menutup pintu gerbang di belakangnya, dia mendapati

namanya sendiri tertera di atas salah satu amplop besar. Sewaktu

membaliknya, dia melihat tulisan di bagian belakang: "Pelajaran

Filsafat. Hati-hati."

Nyai girah  berlari sepanjang jalan berkerikil dan melemparkan tas

sekolahnya di anak tangga. Setelah meletakkan surat-surat lain di atas

keset, dia berlari berkeliling menuju taman belakang dan

bersembunyi di sarangnya. Inilah satu-satunya tempat untuk membuka

surat besar itu.

Sherekan melompat-lompat di belakangnya namun Nyai girah  harus

sabar menghadapinya. Dia tahu kucing itu tidak akan membiarkannya

pergi.

Di dalam amplop itu ada tiga halaman saat n yang disatukan

dengan sebuah penjepit kertas. Nyai girah  mulai membaca.

APAKAH FILSAFAT ITU?

Nyai girah  yang baik,

Banyak orang mempunyai hobi. Sebagian orang suka mengoleksi

koin kuno atau prangko luar negeri, sebagian suka merajut, yang lain

mengisi hampir seluruh waktu luangnya dengan olahraga tertentu.

       Banyak orang senang membaca. Namun selera membaca itu ber

beda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran atau komik,

sebagian senang membaca novel, sementara yang lain lebih menyukai

buku tentang astronomi, marga satwa, atau penemuan-penemuan

teknologi.

Jika kebetulan aku tertarik pada kuda atau batu mulia, aku tidak

bisa memaksa orang lain untuk ikut menyukai kesenanganku. Jika aku

suka menonton semua program olahraga di televisi, aku harus

menyadari bahwa orang lain mungkin menganggap olahraga itu

membosankan.

Tidak adakah sesuatu yang memikat hati kita semua? Tidak adakah

sesuatu yang menyangkut kepentingan semua orang—tidak soal siapa

mereka atau di mana mereka tinggal di dunia ini? Ya, Nyai girah  sayang,

memang ada masalah-masalah yang jelas akan menarik minat semua

orang. Dan, ituIah masalah-masalah yang dibahas dalam pelajaran

ini.

Apakah hal terpenting dalam kehidupan? Jika kita bertanya kepada

seseorang yang sedang kelaparan, jawabannya yaitu  makanan. Jika

kita bertanya kepada orang yang sedang kedinginan, jawabannya

yaitu  kehangatan. Jika kita ajukan pertanyaan yang sama kepada

orang yang merasa kesepian dan terasing, jawabannya barang kali

yaitu  ditemani orang lain.

Namun, jika kebutuhan-kebutuhan dasar ini telah terpuaskan—

masih adakah sesuatu yang dibutuhkan semua orang? Para filosof

menganggapnya ada. Mereka yakin bahwa manusia tidak dapat hidup

dengan roti semata. Sudah pasti setiap orang memerlukan  makanan.

Dan, setiap orang memerlukan  cinta dan perhatian. Namun ada

sesuatu yang lain—lepas dari semua itu—yang dibutuhkan setiap

orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada di sini.

      Tertarik pada pertanyaan mengapa kita berada di sini bukanlah

ketertarikan "sambil lalu" seperti mengoleksi prangko. Orang-orang

yang mengajukan pertanyaan semacam itu ikut serta dalam suatu

perdebatan yang telah berlangsung selama manusia hidup di atas

planet ini. Bagaimana alam raya, bumi, dan kehidupan muncul

merupakan suatu pertanyaan yang lebih besar dan lebih penting

daripada siapa yang memenangi medali emas paling banyak dalam

olimpiade yang lalu.

Cara terbaik untuk mendekati filsafat yaitu  dengan mengajukan

beberapa pertanyaan filosofis:

Bagaimana dunia diciptakan? Adakah kehendak atau makna di

balik apa yang terjadi? Adakah kehidupan setelah kematian?

Bagaimana kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Dan

yang terpenting, bagaimana seharusnya kita hidup? Orang-orang telah

mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini selama berabad-abad. Kita

tidak mengenal kebudayaan yang tidak mengaitkan diri dengan

pertanyaan apakah manusia itu dan dari mana datangnya dunia.

Pada dasarnya, tidak banyak pertanyaan filosofis yang harus

diajukan. Kita sudah mengajukan sebagian dari pertanyaan-

pertanyaan yang paling penting. Namun, sejarah memberi kita banyak

jawaban yang berbeda untuk setiap pertanyaan. Maka, yaitu  lebih

mudah untuk mengajukan pertanyaan filosofis daripada

menjawabnya.

Sekarang pun setiap individu harus menemukan jawabannya

sendiri untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kamu tidak akan tahu

apakah ada Tuhan atau apakah ada kehidupan setelah kematian

dengan mencarinya di buku ensiklopedi. Buku ensiklopedi juga tidak

akan memberi tahu kita bagaimana sebaiknya kita hidup. Namun,

membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu kita

untuk merumuskan sudut pandang kehidupan kita sendiri.

Pencarian kebenaran yang dilakukan oleh para filosof menyerupai

sebuah cerita detektif. Sebagian orang berpendapat Andersen yaitu 

pembunuhnya, sementara menurut orang lain Nielsen atau Jensen.

Polisi kadang-kadang mampu memecahkan suatu kasus pembunuhan

sungguhan. Namun, ada kemungkinan pula mereka tidak pernah

sampai ke dasarnya, meskipun ada pemecahan di suatu tempat. Maka,

meski pun sulit untuk menjawab suatu pertanyaan, barangkali ada satu

—dan hanya satu—jawaban yang tepat. Entah itu adanya semacam

eksistensi setelah kematian—atau tidak ada.

Banyak teka-teki kuno yang kini telah berhasil dijelaskan melalui

ilmu pengetahuan. Seperti apa sisi gelap bulan itu sebelumnya pernah

terselubung misteri. Dulu, itu bukanlah sesuatu yang dapat

dipecahkan lewat diskusi, melainkan diserahkan pada imajinasi

setiap individu. Tetapi, kini kita tahu dengan tepat seperti apa sisi

gelap bulan itu, dan tak seorang pun yang masih "percaya" pada

Manusia di Bulan, atau bahwa bulan itu terbuat dari keju hijau.

Seorang filosof Yunani yang hidup lebih dari dua ratus tahun yang

lalu percaya bahwa asal-mula filsafat yaitu  rasa ingin tahu manusia.

Manusia menganggap betapa menakjubkannya hidup itu sehingga

pertanyaan-pertanyaan filosofis pun muncul dengan sendirinya.

Seperti menonton tipuan sulap. Kita tidak mengerti bagaimana

tipuan itu dilakukan. Maka kita bertanya: bagaimana pesulap itu

mengubah sepasang selendang sutra putih menjadi seekor kelinci

hidup?

       Banyak orang menjalani pengalaman di dunia dengan

ketidakpercayaan yang sama seperti saat  seorang pesulap dengan

tiba-tiba menarik seekor kelinci dari topinya, padahal sebelumnya

telah ditunjukkan bahwa topi itu kosong.

Dalam kasus kelinci, kita tahu bahwa pesulap itu telah

memperdaya kita. Yang ingin kita ketahui hanyalah bagaimana dia

melakukannya. Tapi, jika menyangkut dunia, masalahnya agak

berbeda. Kita tahu bahwa dunia bukanlah hasil sulapan tangan dan

tipuan, sebab kita berada di sini di dalamnya, kita merupakan bagian

darinya. Sesungguhnya, kita yaitu  kelinci putih yang ditarik keluar

dari topi. Satu-satunya perbedaanan antara kita dan kelinci putih itu

yaitu  bahwa kelinci tidak menyadari dirinya ikut ambil bagian

dalam suatu tipuan sulap. Tidak seperti kita. Kita merasa kita yaitu 

bagian dari sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana cara

kerjanya.

—N.B. Sepanjang menyangkut kelinci putih, barangkali lebih baik

kita membandingkannya dengan seluruh alam raya. Kita yang hidup di

sini yaitu  serangga-serangga mikroskopis yang hidup di sela-sela

bulu kelinci. Namun, para filosof selalu berusaha untuk memanjat

helaian-helaian lembut bulu binatang itu untuk dapat menatap

langsung ke mata si tukang sulap.

Apakah kamu masih menyimak, Nyai girah ? Bersambung...

Nyai girah  benar-benar kecapaian. Masih menyimak? Dia bahkan tidak

mampu mengingat kapan dia berhasil mencuri waktu untuk bernapas,

sementara dia asyik membaca.

Siapa yang telah membawa surat ini? Tidak mungkin orang vang

sama yang telah mengirim kartu ulang tahun kepada count dracula  Moller

Knag, sebab kartu itu dibubuhi prangko dan cap pos. Amplop cokelat

itu telah dibawa sendiri ke kotak surat persis seperti dua amplop

putih sebelumnya.

Nyai girah  melihat arlojinya. Kini jam tiga kurang seperempat. Ibunya

belum akan pulang kantor dalam waktu dua jam ini.

Nyai girah  merangkak keluar menuju taman lagi dan lari ke kotak

surat. Barangkali masih ada surat lain.

Dia menemukan satu lagi amplop cokelat dengan namanya tertera

di situ. Kali ini, dia melihat berkeliling namun tidak ada seorang pun

yang terlihat. Nyai girah  berlari ke tepi hutan dan memandang ke jalan.

Tidak ada seorang pun di sana. Tiba-tiba, dia mengira dirinya

mendengar bunyi ranting jauh di dalam hutan. Tapi, dia tidak benar-

benar yakin, dan bagai manapun tidak akan ada gunanya mengejar

seseorang yang sudah bertekad untuk melarikan diri.

Nyai girah  masuk ke rumah. Dia berlari naik ke kamarnya dan

mengeluarkan sebuah kaleng kue besar yang berisi batu-batuan yang

indah. Dia mengeluarkan batu-batuan itu ke lantai dan meletakkan

kedua amplop besar itu ke dalam kaleng. Lalu dia bergegas ke taman

lagi, sambil memegang kaleng itu dengan hati-hati dengan kedua

tangannya. Sebelum pergi, dia mengeluarkan makanan untuk

Sherekan.

"Kitty, kitty, kitty!"

Begitu kembali berada di sarang, dia membuka amplop cokelat

kedua dan menarik keluar halaman-halaman saat n baru. Dia mulai

membaca.

MAKHLUK ANEH

Halo lagi! Seperti kamu lihat, pelajaran filsafat yang ringkas ini akan

diberikan sebagian-sebagian. Inilah kelanjutan kata pengantarnya:

Bukankah pernah kukatakan bahwa satu-satunya yang kita butuhkan

untuk menjadi filosof yang baik yaitu  rasa ingin tahu? Jika belum,

kukatakan sekarang: SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

UNTUK MENJADI FILOSOF YANG BAIK yaitu  RASA

INGIN TAHU.

Bayi-bayi mempunyai rasa ini. Itu tidak mengherankan. Setelah

beberapa bulan berada di dalam rahim, mereka keluar dan

menghadapi suatu realitas yang sama sekali baru. Tapi, sementara

mereka bertambah besar, rasa ingin tahu itu tampaknya berkurang.

Mengapa begini? Tahukah kamu?

Jika seorang bayi yang baru lahir dapat berbicara, dia mungkin

akan mengatakan sesuatu tentang dunia luar biasa yang dimasukinya.

Kita melihat bagaimana dia melihat berkeliling dan meraih apa saja

yang dilihatnya dengan penuh rasa ingin tahu.

saat  kata-kata mulai dapat diucapkannya, anak itu akan menatap

dan mengatakan "Guk-guk" setiap kali dia melihat seekor anjing. Dia

melompat-lompat di dalam kereta dorongnya, melambai-lambaikan

tangannya: "Guk-guk! Guk-guk!" Kita yang lebih tua dan lebih tahu

biasanya merasa agak kecapaian melihat semangat si anak. "Baiklah,

baiklah, itu guk-guk," kita bilang, tidak terkesan. "Ayo, duduklah yang

manis." Kita tidak terpesona. Kita sudah pernah melihat seekor

anjing sebelumnya.

Pemandangan yang menggambarkan kegembiraan hatinya itu

mungkin akan berulang ratusan kali sebelum si anak belajar untuk

melewati seekor anjing tanpa menjadi ribut. Atau seekor gajah, atau

seekor kuda nil. Namun, jauh sebelum anak itu belajar berbicara

dengan benar—dan jauh sebelum dia belajar untuk berpikir secara

filosofis—dunia pasti menjadi sesuatu yang biasa baginya.

Sungguh sayang, jika kamu tanya pendapatku.

Aku ingin agar kamu tidak tumbuh menjadi salah seorang dari

mereka yang menganggap dunia itu begini karena memang sudah

seharusnya begitu, Nyai girah  sayang. Maka hanya untuk memastikan

saja, kita akan melakukan beberapa eksperimen dalam pikiran

sebelum kita mulai dengan pelajaran itu sendiri.

Bayangkan bahwa suatu hari kamu keluar untuk berjalan-jalan di

hutan. Tiba-tiba, kamu melihat sebuah pesawat ruang angkasa kecil

di atas jalan di depanmu. Seorang Mars mungil memanjat keluar dari

pesawat ruang angkasa itu dan berdiri di atas tanah sambil

memandangimu ...

Apa yang akan kamu pikirkan? Tidak apa, itu tidak penting. Tapi,

pernahkah terlintas dalam benakmu tentang kenyataan apakah

sesungguhnya kamu sendirilah si orang Mars itu?

Memang sangat mustahil bahwa kamu akan pernah bertemu dengan

makhluk dari planet lain. Kita bahkan tidak tahu apakah ada

kehidupan di planet-planet lain. Tapi kamu mungkin akan menemukan

dirimu sendiri pada suatu hari nanti. Kamu mungkin akan berhenti

dengan tiba-tiba dan memandang dirimu sendiri dengan suatu

kesadaran yang sama sekali baru.

Aku seorang makhluk luar biasa, begitu katamu. Aku seorang

makhluk misterius.

Kamu merasa seakan-akan kamu tengah terbangun dari tidur akibat

disihir. Siapakah aku? Kamu bertanya. Kamu tahu kamu sedang

berkeliaran di atas sebuah planet di alam raya. Tapi, apakah alam

raya itu?

      Jika kamu mendapati dirimu bertanya begini, kamu pasti telah

menemukan sesuatu yang sama misteriusnya dengan orang Mars yang

baru saja kita bicarakan. Kamu bukan hanya telah melihat seorang

makhluk dari luar angkasa. Jauh di lubuk hatimu, kamu akan merasa

bahwa kamu sendiri seorang makhluk luar biasa.

Bisakah kamu memahamiku, Nyai girah ? Mari kita buat eksperimen

lain dalam pikiran:

Suatu pagi, Ibu, Ayah, dan chucky  kecil, yang berusia dua atau

tiga tahun, sedang sarapan di dapur. Tak lama kemudian, Ibu bangkit

dan pergi ke bak cuci, dan Ayah—ya, Ayah—terbang dan melayang

berputar-putar di langit-langit, sementara chucky  duduk menonton.

Kamu kira apa yang dikatakan chucky ? Barangkali dia akan

menunjuk ke arah ayahnya dan berkata: "Ayah terbang!" chucky  pasti

akan terkejut, memang dia sering sekali terkejut. Ayah melakukan

begitu banyak hal aneh sehingga masalah terbang di atas meja

sarapan itu tidak ada bedanya baginya. Setiap hari, Ayah bercukur

dengan mesin yang lucu, kadang-kadang dia memanjat atap dan

memutar-mutar antena televisi—atau dia akan menyurukkan

kepalanya ke bawah moncong mobil dan tahu-tahu keluar dengan

wajah hitam.

Kini giliran Ibu. Dia mendengar apa yang dikatakan chucky  dan

berbalik dengan tiba-tiba. Kamu kira bagaimana reaksinya melihat

Ayah melayang-layang dengan acuh tak acuh di atas meja dapur?

Dia menjatuhkan toples selai di atas lantai dan menjerit ketakutan.

Dia bahkan mungkin memerlukan perawatan medis begitu Ayah

kembali duduk dengan hormat ke kursinya. (Ayah mestinya lebih

mengenal sopan santun sekarang ini!)

Menurutmu, mengapa chucky  dan ibunya bereaksi dengan cara

begitu berbeda?

Semuanya ada hubungannya dengan kebiasaan. (Catat ini!) Ibu

sudah tahu bahwa orang tidak dapat terbang. chucky  belum. Dia

belum yakin apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di dunia ini.

Tapi, bagaimana dengan dunia itu sendiri, Nyai girah ? Apakah kamu

kira ia dapat melakukan apa yang dilakukannya? Dunia juga

melayang-layang di angkasa.

Sedihnya, bukan hanya kekuatan gaya berat sajalah yang terbiasa

kita rasakan saat  kita tumbuh. Dunia itu sendiri dengan serta-merta

menjadi suatu kebiasaan. Tampaknya seakan-akan dalam proses

pertumbuhan kita kehilangan kemampuan untuk bertanya-tanya tentang

dunia. Dan dengan berlaku demikian, kita kehilangan sesuatu yang

sangat penting—sesuatu yang oleh para filosof diusahakan untuk

dipulihkan. Sebab di suatu tempat dalam diri kita sendiri, ada sesuatu

yang mengatakan kepada kita bahwa kehidupan merupakan suatu

misteri yang sangat besar. Inilah sesuatu yang pernah kita alami, jauh

sebelum kita belajar untuk memikirkan pemikiran itu.

Untuk lebih tepatnya: Meskipun pertanyaan-pertanyaan filosofis itu

mengganggu benak kita semua, tidak semua kita menjadi filosof.

Karena berbagai alasan, kebanyakan orang begitu disibukkan oleh

permasalahan sehari-hari sehingga keheranan mereka terhadap dunia

tersuruk ke belakang. (Mereka merayap jauh ke dalam bulu-bulu

kelinci, meringkuk dengan nyaman, dan tinggal di sana sepanjang

hidup mereka.)

Bagi anak-anak, dunia dan segala sesuatu di dalamnya itu baru,

sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Tidak demikian

halnya bagi orang-orang dewasa. Kebanyakan orang dewasa

menerima dunia sebagai sesuatu yang sudah selayaknya demikian.

Di sinilah tepatnya para filosof itu menjadi tokoh istimewa.

Seorang filosof tidak pernah merasa terbiasa dengan dunia. Baginya,

dunia selalu tampak sedikit tidak masuk akal—membingungkan,

bahkan penuh teka-teki. Para filosof dan anak-anak kecil karenanya

sama-sama memiliki indra yang penting. Kamu boleh mengatakan

bahwa sepanjang hidupnya seorang filosof selalu menjadi seorang

anak yang peka.

Maka, kini kamu harus memilih, Nyai girah . Apakah kamu seorang

filosof yang mau bersumpah tidak akan pernah menjadi begitu?

Jika kamu hanya menggelengkan kepalamu, tidak mengakui dirimu

sebagai seorang anak ataupun seorang filosof, kamu telah menjadi

begitu terbiasa dengan dunia, sehingga dunia itu tidak lagi

mengherankanmu. Waspyaitu ! Kamu berada di atas lapisan es yang

tipis. Dan, inilah sebabnya mengapa kamu menerima pelajaran

filsafat ini, hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku tidak akan

membiarkanmu, di antara semua orang lain, ikut berjajar bersama

mereka yang apatis dan acuh tak acuh. Aku ingin kamu selalu ingin

tahu.

Seluruh pelajaran ini gratis. Maka, kamu tidak akan kehilangan

uangmu kalau kamu tidak menyelesaikannya. Jika kamu lebih suka

menghentikan pelajaran, kamu bebas untuk melakukannya. Kalau

memang demikian, kamu harus meninggalkan pesan untukku di kotak

surat. Seekor katak hidup bolehlah. Sesuatu yang berwarna hijau,

paling tidak, supaya pengantar surat tidak menjadi ketakutan.

Ringkasnya: Seekor kelinci ditarik keluar dari topi pesulap.

Karena ia yaitu  kelinci yang amat sangat besar, tipuannya perlu

dipelajari selama ribuan tahun. Semua makhluk hidup dilahirkan di

ujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, di mana mereka berada

dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan itu. Namun,

saat  mereka bertambah umur, mereka sibuk menyelusup semakin

dalam ke balik bulu-bulu itu. Dan di situlah mereka tinggal. Mereka

merasa begitu nyaman sehingga mereka tidak mau mengambil risiko

untuk memanjati kembali bulu-bulu halus itu. Hanya para filosof yang

mau bersusah payah menjalani ekspedisi berbahaya ini. Sebagian di

antara mereka jatuh bertumbangan, namun yang lain tetap bertahan

mati-matian dan meneriaki orang-orang yang terbuai di tengah

kelembutan yang nyaman, menjejali diri mereka dengan makanan dan

minuman lezat.

     "Ibu-ibu dan Bapak-bapak," mereka berteriak, "kami melayang-

layang di angkasa!" Namun, tak seorang pun di antara mereka yang

peduli.

"Huh, gerombolan pembuat onar!" kata mereka. Dan mereka terus

berceloteh: Tolong ambilkan menteganya, ya? Seberapa banyak

saham kita naik hari ini? Berapa harga tomat?

saat  ibu Nyai girah  tiba di rumah sore itu, Nyai girah  masih dalam

keadaan terheran-heran. Kaleng yang menyimpan surat-surat dari

filosof misterius itu tersembunyi aman di sarang. Nyai girah  berusaha

untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun, dia hanya bisa

duduk sambil memikirkan apa yang telah dibacanya.

Dia tidak pernah berpikir sekeras itu sebelumnya. Dia bukan lagi

seorang anak-anak—tapi dia juga belum benar-benar dewasa. Nyai girah 

sadar bahwa dia telah mulai merayap masuk ke dalam bulu-bulu

kelinci yang nyaman, kelinci yang ditarik keluar dari topi alam raya.

Namun, filosof itu telah menghentikannya. Dia—pria atau wanitakah

dia?—telah menangkap bagian belakang lehernya dan menariknya

kembali ke ujung bulu tempat dia telah bermain-main saat  masih

kanak-kanak. Dan di sana, di bagian paling ujung dari bulu yang

lembut itu, dia sekali lagi melihat dunia seakan-akan untuk yang

pertama kali.

Filosof itu telah menyelamatkannya. Tidak diragukan lagi. Penulis

surat yang tak dikenal itu telah menyelamatkannya dari remeh-temeh

eksistensi sehari-hari.

saat  Ibu tiba di rumah jam lima sore, Nyai girah  menyeretnya ke

ruang duduk dan mendorongnya ke sebuah kursi berlengan.

"Bu—tidakkah Ibu pikir mengherankan bahwa kita hidup?" dia

memulai.

Ibunya demikian terkejut sehingga mula-mula dia tidak menjawab.

Nyai girah  biasanya sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya saat  dia

pulang.

"Kukira memang demikian—kadang-kadang," katanya.

"Kadang-kadang? Ya, tapi—tidakkah Ibu pikir mengherankan

bahwa dunia itu ada?"

"Hai, Nyai girah . Mengapa kamu berbicara seperti itu?"

"Mengapa? Barangkali Ibu pikir dunia itu benar-benar biasa?"

"Yah, begitu, kan? Kurang-lebih, begitulah."

Nyai girah  sadar bahwa filosof itu benar. Orang-orang dewasa

menganggap dunia sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan

diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka

yang membosankan.

      "Ibu telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga tidak

ada lagi yang membuat Ibu heran."

"Kamu sedang bicara apa, sih?"

"Aku sedang membicarakan menjadi terbiasa dengan segala

sesuatu. Sama sekali suram, dengan kata lain."

"Aku tidak mau diajak berbicara seperti itu, Nyai girah !"

"Baiklah, aku akan mengemukakannya dengan cara lain. Ibu telah

membiarkan diri Ibu keenakan meringkuk jauh di dalam bulu-bulu

seekor kelinci putih yang ditarik keluar dari topi pesulap alam raya

saat ini. Dan tak lama lagi, Ibu akan memasak kentang. Lalu, Ibu akan

membaca koran dan setelah tidur siang setengah jam, Ibu akan

melihat berita di televisi!"

Kekhawatiran membayang di wajah ibunya. Dia memang pergi ke

dapur dan memasak kentang. Tak lama kemudian, dia kembali ke

ruang duduk, dan kali ini dialah yang mendorong Nyai girah  ke sebuah

kursi berlengan.

"Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu," dia memulai.

Nyai girah  dapat menyimak dari suaranya bahwa itu sesuatu yang serius.

"Kamu mulai minum obat terlarang, iya kan, Sayang?"

Nyai girah  merasa ingin tertawa. Namun, dia tahu, mengapa

pertanyaan itu dikemukakan kepadanya saat ini.

"Apakah kamu gila?" katanya. "Obat-obatan itu hanya membuatmu

semakin dungu!"

Malam itu, tidak ada lagi yang dibicarakan mengenai kelinci putih

maupun obat terlarang.[]

Mitos-Mitos

***

... suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan

kekuatan jahat ...

TIDAK ADA surat untuk Nyai girah  keesokan harinya. Sepanjang hari

yang rasanya tak berkesudahan di sekolah itu benar-benar membuat

dia bosan. Dia berusaha untuk berlaku sangat manis kepada Joanna

saat  istirahat. Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan

rencana berkemah segera setelah hutan cukup kering.

Setelah saat-saat yang tampaknya seperti tanpa akhir itu, dia

kembali melihat kotak surat. Mula-mula dia membuka sebuah surat

dengan cap pos Meksiko. Itu dari ayahnya. Dia menulis tentang

kerinduannya yang sangat besar untuk pulang dan bagaimana untuk

pertama kalinya dia berhasil memukul dada kapten kepala. Selain itu,

dia sudah hampir selesai membaca tumpukan buku yang dibawanya

berlayar setelah cuti musim dinginnya.

Dan kemudian, itu dia—sebuah amplop cokelat dengan namanya

tertera di sana! Setelah meninggalkan tas sekolah dan semua surat

lainnya di dalam rumah, Nyai girah  berlari menuju sarang. Dia menarik

keluar halaman-halaman saat n baru dan mulai membaca:

GAMBARAN MITOLOGIS DUNIA

Halo, Nyai girah ! Banyak yang harus kita lakukan, maka kita akan mulai

tanpa menundanya lagi. Yang kita maksud dengan filsafat yaitu  cara

pikir yang sama sekali baru yang berkembang di Yunani sekitar enam

ratus tahun sebelum kelahiran Kristus. Hingga masa itu, semua

pertanyaan yang diajukan oleh manusia dijawab oleh berbagai

agama. Penjelasan-penjelasan agama ini disampaikan dari generasi

ke generasi dalam bentuk mitos. Mitos yaitu  sebuah cerita

mengenai dewa-dewa untuk menjelaskan mengapa kehidupan

berjalan seperti adanya.

Selama ribuan tahun, banyak sekali penjelasan mitologis bagi

pertanyaan-pertanyaan filsafat yang tersebar ke seluruh dunia. Para

filosof Yunani berusaha untuk membuktikan bahwa penjelasan-

penjelasan ini tidak boleh dipercaya.

Untuk memahami cara berpikir para filosof awal ini, kita harus

paham dulu bagaimana rasanya memiliki suatu lukisan mitologis

tentang dunia. Kita dapat mengambil contoh beberapa mitos

Skandinavia.

Kamu barangkali pernah mendengar cerita tentang Thor dan

palunya. Sebelum agama Kristen masuk ke Norwegia, orang-orang

percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua

ekor kambing melintasi angkasa. saat  dia mengayunkan palunya

akan terdengar guntur dan halilintar. Kata "guntur" dalam bahasa

Norwegia—"Thor-don"—berarti raungan Thor. Dalam bahasa

Swedia, kata untuk guntur yaitu  "aska", aslinya "as-aka", yang

berarti "perjalanan dewa" di atas lapisan-lapisan langit.

Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting

bagi para petani Viking. Maka, Thor dipuja sebagai Dewa

Kesuburan.

       Penjelasan mitologi untuk hujan karenanya yaitu  bahwa Thor

sedang mengayunkan palunya. Dan jika hujan turun, jagung

berkecambah dan tumbuh subur di ladang.

Bagaimana tanam-tanaman di ladang dapat tumbuh dan

menghasilkan panen tidaklah dipahami. Tapi jelas itu dikaitkan

dengan hujan. Dan karena setiap orang percaya bahwa hujan ada

hubungannya dengan Thor, dia menjadi salah satu dewa paling

penting di wilayah Skandinavia.

Masih ada alasan lain mengapa Thor dianggap penting, suatu

alasan yang berkaitan dengan seluruh tata dunia.

Orang-orang Viking percaya bahwa dunia yang dihuni itu

merupakan sebuah pulau yang selalu terancam bahaya dari luar.

Mereka menyebut bagian dunia ini Midgard, yang berarti kerajaan di

tengah. Di dalam Midgard terletak Asgard, tempat bersemayam para

dewa.

Di luar Midgard yaitu  kerajaan Utgard, tempat tinggal para

raksasa yang curang, yang melakukan segala tipuan keji untuk

menghancurkan dunia. Monster-monster jahat seperti ini sering

dianggap sebagai "kekuatan-kekuatan pengacau". Bukan hanya dalam

mitologi Skandinavia, melainkan juga dalam hampir semua

kebudayaan lain, orang-orang mendapati bahwa ada suatu

keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.

Salah satu cara yang digunakan para raksasa untuk menghancurkan

Midgard yaitu  dengan menculik Freyja, Dewi Kesuburan. Jika

mereka dapat melakukan ini, tidak ada yang dapat tumbuh di ladang

dan para wanita tidak dapat lagi mempunyai anak. Maka penting

sekali untuk mencegah usaha para raksasa ini.

Thor yaitu  tokoh utama dalam pertempuran melawan para

raksasa. Palunya bukan hanya digunakan untuk membuat hujan,

melainkan juga merupakan senjata yang menentukan dalam

pertempuran melawan kekuatan pengacau yang berbahaya. Palu itu

memberi Thor kemampuan yang hampir tanpa batas. Misalnya, dia

dapat melemparkannya ke arah para raksasa itu dan membunuh

mereka. Dan dia tidak perlu khawatir palu itu hilang, sebab ia selalu

kembali kepadanya, persis seperti bumerang.

Ini l a h penjelasan mitologis bagaimana keseimbangan alam

dipertahankan dan mengapa selalu terjadi pertempuran antara

kebaikan dan kejahatan. Dan inilah tepatnya jenis penjelasan yang

ditentang oleh para filosof.

Namun, ini bukan masalah penjelasan semata.

Manusia tidak dapat hanya duduk termangu dan menunggu para

dewa turun tangan, sementara bencana seperti kekeringan atau wabah

melanda. Mereka harus bertindak sendiri dalam perjuangan melawan

kejahatan. Ini mereka lakukan dengan menjalankan berbagai upacara

agama, atau ritus.

Upacara keagamaan paling penting di zaman kejayaan Skandinavia

yaitu  upacara persembahan. Memberi persembahan kepada

seorang dewa dapat meningkatkan kekuatan dewa ini . Misalnya,

manusia harus memberikan persembahan kepada para dewa untuk

memberi mereka kekuatan guna mengalahkan kekuatan pengacau.

Mereka dapat melakukan hal ini dengan mengorbankan seekor

binatang kepada sang Dewa. Persembahan untuk Thor biasanya

yaitu  seekor kambing. Persembahan untuk Odin biasanya berbentuk

pengorbanan manusia.

Mitos yang paling dikenal di negeri-negeri Skandinavia berasal

dari puisi Eddic "Syair Thrym". Puisi itu menceritakan bagaimana

Thor, saat  bangun dari tidurnya, mendapati bahwa palunya hilang.

Ini membuatnya begitu marah sehingga kedua tangannya gemetar dan

janggutnya bergoyang. Dengan ditemani pengikutnya, Loki, dia pergi

mendatangi Freyja untuk menanyakan apakah Loki boleh meminjam

sayap Freyja agar dia dapat terbang ke Jotunheim, negeri para

raksasa, dan mencari tahu apakah memang mereka yang telah mencuri

palu Thor.

Di Jotunheim, Loki bertemu dengan Thrym, raja para raksasa, yang

membual bahwa dia telah menyembunyikan palu itu tujuh lapisan di

bawah bumi. Dan dia menambahkan bahwa para dewa tidak akan

mendapatkan kembali palu itu, kecuali jika Freyja diserahkan kepada

Thrym sebagai mempelainya.

Dapatkah kamu membayangkannya, Nyai girah ? Tiba-tiba para dewa

mendapati diri mereka berada di tengah peristiwa penyanderaan.

Para raksasa telah merampas senjata pertahanan paling penting milik

dewa-dewa. Ini yaitu  situasi yang sama sekali tidak dapat diterima.

Selama raksasa-raksasa itu memiliki palu Thor, mereka sepenuhnya

menguasai dunia para dewa dan makhluk hidup lainnya. Sebagai

pengganti palu itu, mereka menuntut Freyja. Tapi, ini sama-sama

tidak dapat diterima. Jika para dewa harus menyerahkan Dewi

Kesuburan mereka—dia yang melindungi seluruh kehidupan—rumput

akan lenyap dari ladang dan semua dewa dan makhluk hidup lainnya

akan mati. Situasinya benar-benar seperti menghadapi jalan buntu.

Loki kembali ke Asgard—demikian dikisahkan dalam mitos—dan

menyuruh Fre