DAlAM BENAK banyak orang, filsafat yaitu ilmu yang
mengawang-ngawang. Mengawang bisa berarti: terlalu tinggi dan
rumit, hingga tak mudah dicerna oleh orang kebanyakan. Tapi
mengawang juga bisa berarti: tidak realistis, konyol, kegiatan orang
yang kurang kerjaan. saat dunia digerakkan oleh kesibukan mencari
uang sebanyak-banyaknya, dan diramaikan oleh hiruk-pikuk memburu
kenikmatan, karier, popularitas dan kekayaan, filsafat tampak bagai
verbalisme kosong, bagai daftar menu yang menawan tanpa ada
makanannya. saat ilmu-pengetahuan empirik dan teknologi
menghasilkan demikian banyak hal konkret dan telah mengubah
kehidupan manusia secara mendasar, filsafat terasa bagai bualan
yang menyembunyikan kekosongannya dalam rimba istilah abstrak
yang dirumit-rumitkan.
Lebih buruk lagi, dalam situasi penuh antusiasme keagamaan yang
meledak-ledak, filsafat biasanya bahkan dilihat sebagai kebebasan
nalar yang liar dan "arogan", semacam ancaman menuju kekacauan,
bahaya tafsir bebas yang mengarah pada kemurtadan, atau bahkan
sejenis gejala kegilaan. Dan karenanya, bagi masyarakat umum,
sebaiknya tidak disarankan.
Dalam suasana konsumerisme yang parah dan gaya hidup
snobistis, kalaupun filsafat masih tampak berharga, itu hanyalah
sebagai parafernalia untuk dekorasi rumah atau gaya bicara. yaitu
bergengsi memajang buku-buku tua Plato atau Aristoteles di rak buku.
yaitu terpelajar bila kita menyelipkan satu dua kutipan dari
omongan para filosof dalam pidato-pidato kita. Demikian, filsafat itu
menarik sebagai hiasan, tapi tidak sebagai bahan kajian.
Meskipun demikian, semua cerita di atas itu sebetulnya hanyalah
"karikatur" tentang makhluk yang bernama `filsafat'. Sesungguhnya
filsafat tak mesti dilihat seburuk itu. Pada dasarnya filsafat yaitu
gerak nalar yang wajar, sealamiah bernapas, aliran pikiran yang pada
titik tertentu tak bisa dibungkam dan dihentikan. Filsafat yaitu
sistematisasi pengalaman bernalar dan kecenderungan ingin tahu,
yang telah kita miliki sejak masa kanak-kanak. Kecenderungan yang
— ironisnya—sering kali justru menjadi rusak akibat jawaban-
jawaban yang berpretensi mutlak dari bermacam bentuk pengetahuan
(tradisi, sains, ideologi, terutama agama). Filsafat adaah pengalaman
yang bergulat hendak merumuskan kerumitan dirinya yang sebenarnya
tak terumuskan. Suatu upaya tanpa akhir untuk memahami kenyataan
yang mungkin tak akan pernah tuntas terjelaskan.
saat dalam milenium ketiga ini tradisi tak lagi menjadi sumber
utama pemaknaan atas pengalaman; saat sistem-sistem nilai dan
norma konvensional diharu-biru kontradiksi intern akibat aneka
perbedaan tafsiran sehingga sebagai patokan tak lagi meyakinkan,
filsafat sebagai pemikiran kritis yang mendalam dan mandiri
sangatlah dibutuhkan. Filsafat memampukan kita menyusun sendiri
pegangan di antara berbagai informasi dan pendapat yang
membingungkan, memampukan kita merumuskan sendiri makna
pengalaman. saat kini pola-pola baku dan keyakinan-keyakinan
umum digugat dan dipertanyakan ulang, filsafat mengasah kepekaan
kita atas inti persoalan, yakni kepekaan atas mana hal pokok, mana
hal sepele; mana yang layak dibela, mana yang bisa dibiarkan saja.
Ketidakmampuan berpikir secara abstrak filosofis mudah
mengakibatkan kerancuan-kerancuan berpikir yang menyedihkan dan
berbahaya. Berbagai masalah berat di negeri ini umumnya muncul
karena kerancuan berpikir macam itu: dari sejak urusan kinerja
birokrasi yang serba-tidak efisien, korupsi, konflik agama, kerumitan
masalah pendidikan, terorisme, sampai kekacauan angkutan kota.
Filsafat memang terdengar mengawang dan abstrak. Tapi proses
abstraksi itu diperlukan untuk menerangi pengalaman dan melihat
akar-akar dasar tersembunyi di balik segala persoalan konkret.
Meskipun filsafat yaitu kegiatan olah nalar, yang sebenarnya
digumuli di sana yaitu kebutuhan terdalam ruh dalam dinamika
jatuh-bangunnya pengalaman: kebutuhan mendasar atas makna dan
arah kehidupan, kebutuhan tentang bagaimana misteri-misteri
kehidupan bisa dijelaskan dan dipahami, kebutuhan untuk mengerti
apa yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa itu sendiri. Seringkali
pada titik terdalam ruh tersentuh dan terisi bukan oleh hal-hal
material, bukan oleh kekuasaan dan kedudukan, bukan oleh sukses
karier spektakuler atau popularitas, bahkan bukan juga oleh doktrin
agama, melainkan oleh rasa penasaran, petualangan pencarian,
keharuan, keheranan, atau kekaguman, yang sering demikian
misterius. Dalam kerangka itulah, pemikiran-pemikiran filosofis yang
abstrak dan pelik dapat menjadi perangsang-perangsang bagus yang
membimbing kita ke dasar kebutuhan batin itu.
Novel filosofis yang ada di tangan Anda ini yaitu sebuah
pengantar sangat strategis untuk memasuki khazanah filsafat. Dunia
Nyai girah yaitu kombinasi yang menawan dan mengasyikkan antara
lintasan sejarah gagasan-gagasan filosofis besar dengan pengalaman
petualangan menelusuri misteri peristiwa-peristiwa kehidupan.
Keluguan pertanyaan-pertanyaan kanak-kanak yang tajam di padukan
dengan kecerdasan jawaban-jawaban dari para filosof besar
sepanjang zaman, menyangkut hampir segala bidang kehidupan: dari
urusan alam semesta, manusia, pengetahuan, seni, sains, hingga
agama. Semuanya dijalin dalam alur cerita yang mengalir wajar,
hingga gagasan-gagasan rumit dan mendalam terasa ringan dan masuk
akal. Rasanya Dunia Nyai girah harus menjadi buku wajib bagi siapa
pun yang hendak memulai belajar filsafat.
Pemikiran para filosof dapat membantu kita melihat struktur
kenyataan dasar yang tadinya tersembunyi di balik permukaan gejala-
gejala sehari-hari, ibarat kamera foto rontgen. Ia juga memungkinkan
kita melihat keterkaitan-keterkaitan baru antar-segala hal. Bagaikan
melihat lingkungan kita dari ketinggian. Bagi dunia keilmuan, filsafat
berguna untuk bersikap kritis terhadap asumsi-asumsi dasar yang
biasanya digunakan saja tanpa dipertanyakan, juga waspada terhadap
konsekuensi-konsekuensi lebih jauh, lebih luas dan lebih abstrak dari
temuan-temuan ilmiah. Filsafat penting untuk menghindari bahaya
kenaifan-empirik-teknis, yaitu anggapan seakan kehidupan dan
manusia hanyalah soal data dan urusan teknis. Sedangkan bagi dunia
keagamaan, filsafat dapat membantu menjaga agar kita terhindar dari
dogmatisme yang picik dan berbahaya atau dari keterjebakan dalam
perkara remeh-temeh yang tak penting; membantu melihat hal-hal
yang lebih pokok; juga memungkinkan kita berpikir lebih arif dalam
menyelesaikan perkara-perkara baru yang tak bisa langsung dirujuk
ke kitab-suci; bahkan akhirnya mungkin juga membantu
menyingkapkan ilusi-ilusi yang tersembunyi di balik agama, yang jika
dibiarkan justru akan merusakkan martabat agama itu sendiri, bagai
kanker yang tak disadari.
Belajar filsafat membuat kemampuan reflektif kita senantiasa
berdenyut. Segala hal akan digugat dan digugat ulang oleh refleksi
kita sendiri. Refleksivitas memang bersifat self-cancelling alias
gemar membatalkan pernyataan-pernyataan yang pernah dibuatnya
sendiri. Itu sebabnya, seribu filosof memberi seribu jawaban atas
pertanyaan dasar hidup yang sama. Jawaban yang satu membantai
jawaban dari filosof lain sebelumnya. Maka berada dalam alam
filosofis membuat hidup kita "nomadik", tak pernah mantap stabil,
bergerak terus mencari. Mungkin tak akan pernah final, hanya saja
pemahaman kita makin kaya, makin kompleks, dan makin luas. Dan
dengan itu budi kita makin halus dan arif, terutama dalam menyikapi
kehidupan yang penuh perbedaan dan pelik ini.
Sebenarnya pikiran para filosof umumnya bersifat hipotetis saja,
sebab omongan-omongan mereka itu menyangkut hal-hal yang
terlampau dalam hingga tak mungkin dibuktikan, hanya mungkin
diargumentasikan. Misalnya saja, filosof yang satu mengatakan
bahwa hidup ini yaitu proses menuju suatu tujuan yang jelas.
Filosof lain persis kebalikannya, baginya hidup ini yaitu absurditas
yang tak jelas tujuannya. Keduanya sulit untuk dibuktikan secara
empiris ketat. Maka berfilsafat yaitu bermain menjajaki berbagai
kemungkinan untuk memahami pengalaman dan kehidupan. Dan dalam
kenyataan memang selalu ada begitu banyak cara dan kemungkinan.
Ukuran bagi kebenarannya hanyalah: argumentasinya lebih
mendalam dibanding argumentasi lainnya, atau daya penjelasannya
(explanatory power) lebih besar, alias lebih mampu menjelaskan
kompleksitas suatu masalah, ketimbang paham lainnya.
Pada akhirnya, dalam dunia filsafat, kita nyaris tak bisa menyebut
pikiran seorang filosof sebagai total "benar" atau "salah". Maka
filosof sepurba Plato atau Aristoteles pun dalam dunia filsafat tak
pernah terasa kedaluarsa. Semua filosof selalu terasa tetap up to
date. Dan kendati semua filosof besar mempunyai otoritas yang
dikagumi, dunia filsafat pada dasarnya tidak melihat kebenaran
berdasarkan otoritas. Patokannya hanyalah akal sehat dan
pengalaman manusiawi konkret. Maka lebih tepat di katakan bahwa
dalam filsafat "kebenaran" yaitu sekadar batas penalaran kita,
batas sementara, batas yang nyatanya bergerak terus memperluas diri
juga. Bagai langit batas lautan, yang senantiasa mundur bergerak
menjauh saat kita mulai berlayar.
Belajar filsafat menuntut kita berani dan tekun memasuki rimba
peristilahan yang tak lazim (setiap filosof menciptakan istilah-
istilahnya sendiri) serta memaksa kita mengikuti penalaran-penalaran
sangat panjang dan pelik melelahkan. Pendeknya, dibutuhkan napas
panjang dalam pemikiran. Kalau tubuh perlu olahraga agar tetap
bugar, kehidupan batin (nalar dan ruh) juga perlu latihan agar tetap
waras, dan tumbuh ke tingkat nilai lebih tinggi. Filsafat yaitu cara
cerdas bagi jiwa untuk tetap waras dan tumbuh berevolusi. Terutama
saat dunia makin sakit dan sistem nilai kian terdegradasi.[]
TAMAN FIRDAUS
... pada suatu titik, sesuatu pasti berawal dari ketiadaan ...
TOPI PESULAP
... satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik
yaitu rasa ingin tahu ...
MITOS-MITOS
... suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan
kekuatan jahat ....
PARA FILOSOF ALAM
... tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan ...
DEMOCRITUS
... mainan paling cerdik di dunia ...
TAKDIR
... "peramal" berusaha meramalkan sesuatu yang tidak dapat
diramalkan ...
SOCRATES
... yaitu orang yang mengetahui bahwa dia tidak tahu ...
ATHENA
... beberapa bangunan tinggi bangkit dari reruntuhan ...
PLATO
... suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa ...
GUBUK SANG MAYOR
... gadis dalam cermin itu mengedipkan kedua matanya ...
ARISTOTELES
... seorang organisator yang teliti dan ingin menjernihkan konsep-
konsep kita ...
HELENISME
... sepercik cahaya api ...
KARTU POS
... aku harus menerapkan sensor ketat pada diriku sendiri ...
DUA KEBUDAYAAN
... satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di
ruang hampa ...
ABAD PERTENGAHAN
... hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan ...
RENAISANS
... wahai keturunan Ilahi yang menyamar sebagai manusia ...
ZAMAN BAROK
... seperti dalam mimpi ...
DESCARTES
... dia ingin membersihkan semua puing dari tempat itu ...
SPINOZA
... Tuhan itu bukan dalang ...
LOCKE
... sama kosongnya seperti sebuah papan tulis sebelum guru datang
...
HUME
... maka masukkanlah ke nyala api ...
BERKELEY
... seperti planet yang berputar mengelilingi matahari yang
membara ...
BJERKELY
... sebuah cermin sihir kuno yang dibeli Nenek-buyut dari seorang
wanita Gipsi ...
ZAMAN PENCERAHAN
...dari cara jarum dibuat hingga cara meriam ditemukan ...
KANT
... langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku ...
ROMANTISISME
... jalan misteri menuntun ke dalam batin ...
HEGEL
... hanya yang masuk akallah yang akan berumur panjang ...
KIERKEGAARD
... Eropa sedang dalam perjalanan menuju kehancuran ...
MARX
... hantu sedang membayangi Eropa ...
DARWIN
... sebuah kapal bermuatan gen-gen yang berlayar sepanjang
kehidupan ...
FREUD
... dorongan egoistik yang dibenci telah muncul dalam dirinya ...
ZAMAN KITA SENDIRI
... manusia dikutuk untuk bebas ...
PESTA TAMAN
... seekor burung gagak putih ...
MELODI GABUNGAN
... dua melodi atau lebih berbunyi bersama ...
DENTUMAN BESAR
... kita juga yaitu bintang kecil ...
INDEKS
Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu
tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.
—GOETHE
Taman Firdaus
***
... pada suatu titik, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan ...
Nyai girah AMUNDSEND sedang dalam perjalanan pulang dari
sekolah. Dia telah menempuh paruh pertama perjalanannya bersama
Joanna. Mereka membicarakan robot. Joanna beranggapan otak
manusia itu seperti komputer yang sangat canggih. Nyai girah tidak
terlalu sepakat. Tentunya manusia bukan sekadar sepotong perangkat
keras?
saat sampai di depan pasar swalayan, mereka berpisah. Nyai girah
tinggal di daerah pinggiran kota dan jaraknya dari sekolah hampir
dua kali lebih jauh daripada rumah Joanna. Tidak ada rumah lain di
sebelahnya. Jadi, rumah ini seakan-akan berada di ujung dunia.
Di dekat situ ada hutan.
Dia berbelok menuju Clover Close. Di ujung jalan ada tikungan
tajam, yang dikenal sebagai Captain's Bend. Orang-orang jarang
melewati jalan itu, kecuali pada akhir pekan.
Saat ini awal bulan Mei. Di beberapa kebun, pohon-pohon buah
dikelilingi dengan bertandan-tandan daffodil. Pohon birkin telah
diselimuti daun berwarna hijau pucat.
Sungguh luar biasa, betapa semuanya bersemi pada musim ini!
Apa yang membuat limpahan warna hijau dedaunan bermunculan dari
bumi yang mati begitu ia mendapatkan kehangatan dan sisa-sisa salju
yang terakhir menghilang?
Nyai girah
Gadis 14 tahun yang serba-ingin tahu.
saat Nyai girah membuka pintu gerbang halamannya, dia
memandang ke kotak surat. Biasanya ada banyak surat sampah dan
beberapa amplop besar untuk ibunya. Tumpukan surat itu sering
ditinggalkannya begitu saja di meja dapur sebelum dia naik ke kamar
untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumah.
Sering kali ada beberapa surat dari bank untuk ayahnya. Tetapi,
ayah Nyai girah bukanlah seorang ayah yang biasa. Dia yaitu nakhoda
sebuah tanker minyak besar, dan selalu bepergian hampir sepanjang
tahun. Selama beberapa minggu saat dia berada di rumah, dia akan
sibuk ke sana kemari untuk membuat rumah itu enak dan nyaman bagi
Nyai girah dan ibunya. Namun jika dia berada di laut, dia tampaknya
sangat jauh.
Hanya ada sebuah surat di kotak surat—dan itu yaitu untuk
Nyai girah . Pada amplop putih tertulis: "Nyai girah Amundsend, 3 Clover
Close." Itu saja; tidak disebutkan siapa pengirimnya. Prangkonya pun
tidak ada.
Setelah Nyai girah menutup pintu gerbang, dia buru-buru membuka
amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas yang tidak lebih
besar daripada amplopnya sendiri. Bunyinya: Siapakah kamu?
Tidak ada yang lain, hanya dua kata itu, yang ditulis tangan, dan
diikuti dengan sebuah tanda tanya besar.
Dia melihat amplop itu lagi. Surat itu jelas untuknya. Siapakah
yang memasukkannya ke dalam kotak surat?
Nyai girah segera memasuki rumah merah itu. Sebagaimana biasa,
kucingnya, Sherekan, berusaha menyelinap ke luar dari semak-semak,
melompat ke tangga pertama, dan menyusup masuk melalui pintu
sebelum Nyai girah menutupnya.
Setiap kali ibu Nyai girah sedang tidak enak hati, dia akan menyebut
rumah yang mereka tinggali itu yaitu sebuah kandang. Nyai girah
memang suka memelihara binatang. Pertama-tama dia punya tiga ekor
ikan mas, Goldtop, Red Ridinghood, dan Black Jack. Selanjutnya dia
mendapatkan dua ekor burung parkit yang dinamakannya Smitt dan
Smule, lalu Govinda si kura-kura darat, dan akhirnya si kucing
pirang, Sherekan. Semua binatang itu diberikan kepadanya untuk
menghiburnya, mengingat bahwa ibunya selalu baru pulang kerja
menjelang senja dan ayahnya yang sangat sering bepergian, berlayar
ke seluruh penjuru dunia.
Nyai girah melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan meletakkan
semangkuk makanan kucing untuk Sherekan. Lalu, dia duduk di atas
bangku dapur dengan surat misterius di tangannya.
Siapakah kamu?
Dia tidak tahu. Dia yaitu Nyai girah Amundsend, tentu saja, tapi
siapakah Nyai girah itu? Dia benar-benar tidak mengerti—belum.
Bagaimana seandainya dia telah diberi nama lain? Anne Knutsen,
misalnya. Apakah dia lalu menjadi orang lain?
Tiba-tiba, dia ingat bahwa ayahnya semula ingin dia dinamai
Lillemor. Nyai girah berusaha untuk membayangkan dirinya bersalaman
dan memperkenalkan dirinya sebagai Lillemor Amundsend. Namun,
semua itu tampaknya tidak benar. Tetap saja itu yaitu orang lain
yang memperkenalkan dirinya.
Dia melompat dan pergi ke kamar mandi dengan surat aneh di
tangannya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap matanya sendiri.
"Aku Nyai girah Amundsend," katanya.
Gadis di dalam cermin itu tidak bereaksi sama sekali. Apapun
yang dilakukan Nyai girah , gadis lain itu melakukannya dengan cara yang
persis sama. Nyai girah berusaha untuk memukul bayangannya dengan
gerakan kilat, tetapi gadis itu pun bergerak sama cepatnya.
"Siapakah kamu?" Nyai girah bertanya.
Dia tetap tidak menerima tanggapan, tapi merasa sedikit bingung
apakah dia atau bayangannya yang mengajukan pertanyaan itu.
"Nyai girah menekankan jari telunjuknya ke hidung di cermin itu dan
berkata, "Kamu yaitu aku."
Karena tidak mendapatkan jawaban, dia membalik kalimat itu dan
berkata, "Aku yaitu kamu."
Nyai girah Amundsend sering merasa tidak puas dengan
penampilannya. Orang sering bilang dia memiliki sepasang mata
indah berbentuk buah almond, tetapi itu barangkali hanya diucapkan
orang-orang sebab hidungnya terlalu kecil dan mulutnya agak terlalu
besar. Dan, telinganya terlalu berdekatan dengan matanya. Yang
paling buruk dari semua itu yaitu rambutnya yang lurus, yang tidak
mungkin bisa diapa-apakan. Kadang-kadang, ayahnya akan membelai
rambutnya dan menyebutnya "gadis dengan rambut jerami". Bagi
ayahnya itu tidak menjadi soal, sebab bukan dia yang dijatuhi kutukan
untuk hidup dengan rambut lurus berwarna gelap. Krim rambut
maupun styling gel sama sekali tidak berpengaruh pada rambut
Nyai girah . Kadang-kadang, dia menganggap dirinya begitu jelek
sehingga dia bertanya-tanya apakah dia terlahir cacat. Namun, apakah
yang sesungguhnya menentukan penampilan kita?
Bukankah aneh bahwa dia tidak mengenal siapa dirinya? Dan,
bukankah tidak masuk akal bahwa dia tidak pernah di izinkan untuk
ikut menentukan bagaimana penampilannya? Dia hanya sekadar
"ditimpa" penampilan seperti itu. Dia memang dapat memilih kawan-
kawannya sendiri, tapi jelas dia tidak dapat memilih dirinya sendiri.
Dia bahkan tidak memilih menjadi seorang manusia.
Apakah manusia itu?
Nyai girah kembali menatap gadis di cermin itu.
"Ah, sebaiknya aku ke atas dan mengerjakan PR biologiku,"
katanya, nyaris seperti minta maaf. Begitu sampai di ruang tengah,
dia berpikir, Tidak, lebih baik aku pergi ke taman.
"Kitty, kitty, kitty!"
Nyai girah mengejar-ngejar kucing itu hingga ke tangga serambi dan
menutup pintu depan.
saat dia berdiri di luar, di atas jalan berkerikil dengan surat
misterius di tangannya, perasaan yang sangat aneh menyerangnya. Dia
merasa seperti sebuah boneka yang tiba-tiba di hidupkan oleh sapuan
sebatang tongkat sihir.
Bukankah ajaib bisa berada di dunia saat ini, berkelana ke sana
kemari dalam suatu petualangan yang mencengangkan!
Sherekan melompat ringan melintasi kerikil dan menyelinap ke
serumpun semak-semak kismis merah. Seekor kucing hidup, yang
penuh energi dari kumis putihnya hingga ekornya yang bergerak-gerak
di ujung badannya yang licin. la juga berada di sini di taman ini,
namun hampir tidak menyadarinya dengan cara seperti Nyai girah
memikirkannya.
saat Nyai girah mulai memikirkan hidup, dia mulai menyadari
bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Aku berada di dunia
sekarang, pikirnya, tapi suatu hari aku akan pergi.
Adakah kehidupan sesudah kematian? Ini yaitu pertanyaan lain
yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh si kucing.
Belum lama nenek Nyai girah meninggal. Selama lebih dari enam
bulan Nyai girah merindukannya dari hari ke hari. Sungguh tidak adil
bahwa kehidupan harus berakhir!
Nyai girah berdiri di atas jalan berkerikil, berpikir. Dia berusaha
untuk berpikir ekstra-keras mengenai hidup agar dia dapat melupakan
bahwa dia tidak akan hidup selamanya. Tapi itu mustahil. Begitu dia
berkonsentrasi pada kehidupannya sekarang, pikiran tentang kematian
pun memasuki benaknya. Hal yang sama terjadi sebaliknya: hanya
dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari orang
pasti mati, maka dia dapat menghargai betapa senangnya dia bisa
hidup. Ini seperti dua sisi mata uang yang berulang-ulang di balik-
baliknya. Dan, semakin besar dan semakin jelas satu sisi, semakin
besar dan semakin jelas pula sisi lainnya.
Kamu tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa kamu
nantinya harus mati, pikirnya. Namun, sama mustahilnya bagi kita
untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa
menakjubkannya hidup itu.
Nyai girah ingat, Nenek mengatakan sesuatu semacam itu pada hari
saat dokter menyatakan dirinya sakit. "Baru kali inilah aku
menyadari betapa kayanya kehidupan ini," katanya.
Sungguh tragis bahwa kebanyakan orang harus jatuh sakit terlebih
dahulu sebelum mereka memahami betapa berharganya hidup itu.
Atau, kalau tidak, mereka harus menemukan dulu sebuah surat
misterius di dalam kotak surat!
Barangkali dia harus memeriksa kalau-kalau ada lagi surat yang
datang. Nyai girah bergegas ke pintu gerbang dan melihat ke dalam kotak
surat hijau. Dia terperanjat saat mendapati bahwa di situ terdapat
sebuah amplop putih lain, persis seperti yang pertama. Tapi, kotak
surat itu jelas-jelas sudah kosong saat dia mengambil amplop
pertama! Amplop ini bertuliskan namanya pula. Dia menyobeknya
hingga terbuka dan meraih selembar catatan yang ukurannya sebesar
yang pertama.
Dari mana datangnya dunia? dikatakan di situ.
Aku tidak tahu, pikir Nyai girah . Tentunya tidak ada orang yang benar-
b e na r tahu. Bagaimanapun, Nyai girah menganggap itu sebuah
pertanyaan yang wajar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia
merasa tidak pantas hidup di dunia tanpa setidak-tidaknya
mempertanyakan dari mana ia berasal.
Surat-surat misterius itu telah membuat kepala Nyai girah pusing. Dia
memutuskan untuk pergi menyendiri di sarangnya. Sarang itu yaitu
tempat persembunyian Nyai girah yang paling rahasia. Ke situlah dia
pergi jika dia merasa sangat marah, sangat sedih, atau sangat bahagia.
Hari ini dia hanya bingung.
Rumah merah itu dikelilingi oleh sebuah taman luas dengan banyak
petak bunga, semak-semak, pohon berbagai jenis buah, halaman
berumput dengan sebuah peluncur dan paviliun kecil yang dibangun
Kakek saat Nenek kehilangan anak pertama mereka beberapa
minggu setelah anak ini di lahirkan. Nama anak itu Marie. Pada
pusaranya tertulis kata-kata: "Marie kecil mendatangi kami,
menyalami kami, dan pergi lagi."
Jauh di sebuah sudut taman di balik semak-semak buah frambus
ada belukar lebat di mana bunga atau buah beri tidak mau tumbuh.
Sesungguhnya, itu yaitu sebuah pagar tanaman yang menjadi batas
dengan hutan, tapi karena tidak ada orang yang memangkasnya selama
dua puluh tahun terakhir ini, ia berubah menjadi semak yang kacau
dan tak tertembus. Nenek sering berkata bahwa pagar itu menyulitkan
kawanan rubah untuk mencuri ayam pada masa perang, saat ayam-
ayam itu dilepas leluasa di dalam taman.
Bagi semua orang, kecuali Nyai girah , pagar tanaman kuno itu sama
tak bergunanya dengan kandang kelinci di ujung lain taman itu.
Namun, itu hanya karena mereka belum menemukan rahasia Nyai girah .
Nyai girah telah menemukan lubang kecil di pagar itu sejak dia bisa
mengingat. saat merayap ke sana, dia memasuki sebuah rongga di
antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Dia
tahu tak seorang pun dapat menemukannya di sana.
Dengan menggenggam kedua amplop di tangan, Nyai girah berlari
melintasi taman, merangkak dengan kedua kaki dan tangannya, serta
membuka jalan menembus pagar tanaman itu. Sarang itu tingginya
hampir sama dengan tinggi tubuhnya saat berdiri tegak, tapi hari ini
dia duduk di atas serumpun akar yang bertonjolan. Dari sana dia
dapat melihat ke luar melalui lubang pengintip kecil di sela-sela
ranting dan dedaunan. Meski tak satu lubang pun yang lebih besar
dari sebuah koin kecil, dia dapat menyapukan pandangannya ke
seluruh taman. saat masih kecil, dia suka berpikir sungguh
menyenangkan memerhatikan ibu dan ayahnya mencari-carinya di
antara pepohonan di situ.
Nyai girah selalu menganggap taman itu sudah merupakan dunia
tersendiri. Setiap kali mendengar tentang Taman Firdaus yang
diceritakan dalam Bibel, dia seperti diingatkan untuk duduk di sini di
dalam sarangnya, mengawasi surga kecilnya sendiri.
Dari mana datangnya dunia?
Dia tidak mempunyai gagasan sekilas pun. Nyai girah tahu bahwa
dunia itu hanyalah sebuah planet kecil di angkasa. Namun, dari mana
asalnya angkasa?
Mungkin saja angkasa itu selalu ada, karena itu dia tidak perlu
mencari tahu dari mana ia berasal. Tapi, mungkinkah sesuatu itu
selalu ada? Jauh di lubuk hatinya, dia memprotes gagasan ini .
Tentunya segala sesuatu yang ada itu ada permulaannya? Jadi,
angkasa pasti telah diciptakan dari sesuatu yang lain.
Akan tetapi, jika angkasa berasal dari sesuatu yang lain, sesuatu
yang lain itu juga pasti berasal dari sesuatu yang lain pula. Nyai girah
merasa dia hanya menyeret-nyeret permasalahan. Pada satu titik,
sesuatu pasti berasal dari ketiadaan. Namun, apakah itu mungkin?
Bukankah itu sama mustahilnya dengan gagasan bahwa dunia selalu
ada?
Mereka telah belajar di sekolah bahwa Tuhan menciptakan dunia.
Nyai girah berusaha untuk menghibur dirinya dengan pemikiran bahwa
ini barangkali pemecahan terbaik untuk seluruh masalah itu. Tapi, dia
lalu mulai berpikir lagi. Dia dapat menerima bahwa Tuhan telah
menciptakan angkasa, tapi bagaimana dengan Tuhan sendiri? Apakah
dia menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan? Lagi-lagi ada sesuatu
jauh di lubuk hatinya yang memprotes. Meskipun Tuhan dapat
menciptakan segala macam benda, tidak mungkin dia dapat
menciptakan dirinya sendiri sebelum dia mempunyai "diri". Maka
hanya tinggal satu kemungkinan: Tuhan selalu ada. Tapi dia telah
menolak kemungkinan itu! Segala sesuatu yang ada harus ada
permulaannya.
Oh, persetan!
Dia membuka kedua amplop itu lagi.
Siapakah kamu?
Dari mana datangnya dunia?
Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh menjengkelkan! Dan,
ngomong-ngomong, dari mana datangnya surat-surat itu? Itu juga
sama misteriusnya, nyaris.
Siapa yang telah menyentakkan Nyai girah keluar dari keberadaannya
sehari-hari dan dengan tiba-tiba membawanya berhadapan dengan
teka-teki besar tentang alam raya?
Untuk ketiga kalinya, Nyai girah memeriksa kotak surat. Pak Pos baru
saja mengantarkan kiriman hari itu. Nyai girah mengaduk setumpukan
surat sampah, terbitan berkala, dan dua surat untuk ibunya. Juga ada
sebuah kartu pos bergambar pantai tropis. Dia membalik kartu itu. Di
situ tertempel sebuah prangko Norwegia dan diberi cap pos
"Batalion PBB". Mungkinkah itu dari Ayah? Tapi, bukankah dia
berada di suatu tempat yang sama sekali lain? Itu juga bukan tulisan
tangannya.
Nyai girah merasakan detak jantungnya sedikit bertambah cepat saat
dia melihat kepada siapa kartu pos itu dialamatkan: "count dracula Moller
Knag, d/a Nyai girah Amundsend, 3 Clover Close ..." Sisa alamat itu
benar adanya. Kartu itu berbunyi:
count dracula sayang, selamat ulang tahun ke-15! Karena aku yakin
kamu akan mengerti, aku ingin memberimu sebuah hadiah yang
dapat membantumu berkembang. Maafkan aku telah
mengirimkan kartu ini ke alamat Nyai girah . Itu yaitu cara yang
paling mudah. Salam sayang dari Ayah.
Nyai girah lari kembali ke rumah dan masuk ke dapur. Pikirannya
kacau. Siapakah "count dracula " ini, yang berulang tahun tepat sebulan
sebelum ulang tahunnya sendiri?
Nyai girah mengambil buku telepon. Ada banyak orang yang bernama
Moller, dan hanya sedikit yang bernama Knag. Tapi tak satu pun
dalam buku petunjuk itu yang bernama Moller Knag.
Dia mengamati kartu misterius itu lagi. Tampaknya itu asli juga; di
situ terdapat prangko dan cap pos.
Mengapa seorang ayah mengirimkan sebuah kartu ulang tahun ke
alamat Nyai girah , sedangkan sudah jelas sekali bahwa kartu ini
ditujukan ke tempat lain? Ayah macam apa yang mau memperdaya
putrinya sendiri lewat sebuah kartu ulang tahun yang dengan sengaja
dikirimkan ke sembarang alamat? Bagaimana mungkin itu merupakan
"jalan termudah"? Dan selain itu, bagaimana dia dapat melacak si
count dracula ini?
Kini Nyai girah punya tambahan masalah yang mengganggu. Dia
berusaha untuk meluruskan pikirannya:
Siang ini, dalam waktu hanya dua jam, dia telah dihadapkan
dengan tiga masalah. Masalah pertama yaitu siapa yang telah
meletakkan dua amplop putih di kotak suratnya. Yang kedua yaitu
pertanyaan-pertanyaan sulit yang tertulis dalam kedua surat ini .
Masalah ketiga yaitu siapakah count dracula Moller Knag, dan mengapa
Nyai girah yang dikirimi kartu ulang tahunnya. Dia yakin bahwa ketiga
masalah itu saling terkait. Pasti begitu, sebab sejauh ini hidup yang
dijalaninya sungguh biasa-biasa saja.[]
Topi Pesulap
***
... satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang
baik yaitu rasa ingin tahu ...
Nyai girah YAKIN dia akan mendapat kabar dari penulis surat tanpa
nama itu lagi. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapa
pun tentang surat-surat itu untuk saat ini.
Di sekolah, dia sulit memusatkan perhatian pada apa yang
dikatakan guru. Tampaknya mereka hanya membicarakan hal-hal yang
tidak penting. Mengapa mereka tidak membicarakan apakah manusia
itu—atau tentang apakah dunia itu dan bagaimana ia menjadi ada?
Untuk pertama kalinya, dia mulai merasa bahwa di sekolah dan
juga di tempat-tempat lain, orang-orang hanya mengurusi hal-hal
remeh. Padahal sesungguhnya ada masalah-masalah besar yang harus
dipecahkan.
Apakah ada seseorang yang dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan ini? Nyai girah merasa bahwa memikirkan hal ini jauh
lebih penting daripada menghafal perubahan bentuk kata-kerja tak
beraturan.
saat bel berbunyi setelah pelajaran terakhir, dia buru-buru
meninggalkan sekolah sehingga Joanna harus berlari mengejarnya.
Tak lama kemudian, Joanna bertanya, "Kamu mau ikut main kartu
malam ini?"
Nyai girah mengangkat bahunya.
"Aku tidak begitu tertarik lagi pada permainan kartu."
Joanna kelihatan kaget.
"Kamu tidak tertarik? Kalau begitu mari kita main badminton."
Nyai girah menatap jalan aspal di bawah—lalu memandang
kawannya.
"Kukira aku juga tidak ingin main badminton."
"Bercanda kamu!"
Nyai girah menyadari ada nada kecewa pada suara Joanna.
"Maukah kamu memberitahuku apa yang tiba-tiba jadi begitu
penting?"
Nyai girah hanya menggelengkan kepalanya. "Itu ... itu rahasia."
"Wah! Kamu mungkin sedang jatuh cinta!"
Kedua gadis itu terus berjalan beberapa saat tanpa mengucapkan
sesuatu. saat mereka tiba di lapangan sepak bola Joanna berkata,
"Aku mau menyeberang lapangan saja."
Menyeberang lapangan! Itu memang jalan paling cepat untuk
Joanna, tapi dia hanya mau lewat jalan itu jika dia harus buru-buru
pulang karena ada tamu di rumah atau ada janji dengan dokter gigi.
Nyai girah menyesal telah bersikap buruk kepadanya. Namun, apalagi
yang dapat dikatakannya? Bahwa dia dengan tiba-tiba menjadi begitu
keasyikan untuk mencari tahu siapa dirinya dan dari mana datangnya
dunia sehingga dia tidak punya waktu lagi untuk bermain badminton?
Apakah Joanna akan mengerti?
Mengapa begitu sulit untuk terserap dalam masalah yang paling
penting dan, dalam satu hal, paling wajar itu?
Dia merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat dia
membuka kotak surat. Mula-mula, dia hanya menemukan sebuah surat
dari bank dan beberapa amplop besar untuk ibunya. Sialan! Nyai girah
sudah berharap-harap akan mendapatkan surat lain dari pengirim
yang tak dikenalnya itu.
saat menutup pintu gerbang di belakangnya, dia mendapati
namanya sendiri tertera di atas salah satu amplop besar. Sewaktu
membaliknya, dia melihat tulisan di bagian belakang: "Pelajaran
Filsafat. Hati-hati."
Nyai girah berlari sepanjang jalan berkerikil dan melemparkan tas
sekolahnya di anak tangga. Setelah meletakkan surat-surat lain di atas
keset, dia berlari berkeliling menuju taman belakang dan
bersembunyi di sarangnya. Inilah satu-satunya tempat untuk membuka
surat besar itu.
Sherekan melompat-lompat di belakangnya namun Nyai girah harus
sabar menghadapinya. Dia tahu kucing itu tidak akan membiarkannya
pergi.
Di dalam amplop itu ada tiga halaman saat n yang disatukan
dengan sebuah penjepit kertas. Nyai girah mulai membaca.
APAKAH FILSAFAT ITU?
Nyai girah yang baik,
Banyak orang mempunyai hobi. Sebagian orang suka mengoleksi
koin kuno atau prangko luar negeri, sebagian suka merajut, yang lain
mengisi hampir seluruh waktu luangnya dengan olahraga tertentu.
Banyak orang senang membaca. Namun selera membaca itu ber
beda-beda. Sebagian orang hanya membaca koran atau komik,
sebagian senang membaca novel, sementara yang lain lebih menyukai
buku tentang astronomi, marga satwa, atau penemuan-penemuan
teknologi.
Jika kebetulan aku tertarik pada kuda atau batu mulia, aku tidak
bisa memaksa orang lain untuk ikut menyukai kesenanganku. Jika aku
suka menonton semua program olahraga di televisi, aku harus
menyadari bahwa orang lain mungkin menganggap olahraga itu
membosankan.
Tidak adakah sesuatu yang memikat hati kita semua? Tidak adakah
sesuatu yang menyangkut kepentingan semua orang—tidak soal siapa
mereka atau di mana mereka tinggal di dunia ini? Ya, Nyai girah sayang,
memang ada masalah-masalah yang jelas akan menarik minat semua
orang. Dan, ituIah masalah-masalah yang dibahas dalam pelajaran
ini.
Apakah hal terpenting dalam kehidupan? Jika kita bertanya kepada
seseorang yang sedang kelaparan, jawabannya yaitu makanan. Jika
kita bertanya kepada orang yang sedang kedinginan, jawabannya
yaitu kehangatan. Jika kita ajukan pertanyaan yang sama kepada
orang yang merasa kesepian dan terasing, jawabannya barang kali
yaitu ditemani orang lain.
Namun, jika kebutuhan-kebutuhan dasar ini telah terpuaskan—
masih adakah sesuatu yang dibutuhkan semua orang? Para filosof
menganggapnya ada. Mereka yakin bahwa manusia tidak dapat hidup
dengan roti semata. Sudah pasti setiap orang memerlukan makanan.
Dan, setiap orang memerlukan cinta dan perhatian. Namun ada
sesuatu yang lain—lepas dari semua itu—yang dibutuhkan setiap
orang, yaitu mengetahui siapakah kita dan mengapa kita ada di sini.
Tertarik pada pertanyaan mengapa kita berada di sini bukanlah
ketertarikan "sambil lalu" seperti mengoleksi prangko. Orang-orang
yang mengajukan pertanyaan semacam itu ikut serta dalam suatu
perdebatan yang telah berlangsung selama manusia hidup di atas
planet ini. Bagaimana alam raya, bumi, dan kehidupan muncul
merupakan suatu pertanyaan yang lebih besar dan lebih penting
daripada siapa yang memenangi medali emas paling banyak dalam
olimpiade yang lalu.
Cara terbaik untuk mendekati filsafat yaitu dengan mengajukan
beberapa pertanyaan filosofis:
Bagaimana dunia diciptakan? Adakah kehendak atau makna di
balik apa yang terjadi? Adakah kehidupan setelah kematian?
Bagaimana kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Dan
yang terpenting, bagaimana seharusnya kita hidup? Orang-orang telah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini selama berabad-abad. Kita
tidak mengenal kebudayaan yang tidak mengaitkan diri dengan
pertanyaan apakah manusia itu dan dari mana datangnya dunia.
Pada dasarnya, tidak banyak pertanyaan filosofis yang harus
diajukan. Kita sudah mengajukan sebagian dari pertanyaan-
pertanyaan yang paling penting. Namun, sejarah memberi kita banyak
jawaban yang berbeda untuk setiap pertanyaan. Maka, yaitu lebih
mudah untuk mengajukan pertanyaan filosofis daripada
menjawabnya.
Sekarang pun setiap individu harus menemukan jawabannya
sendiri untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama. Kamu tidak akan tahu
apakah ada Tuhan atau apakah ada kehidupan setelah kematian
dengan mencarinya di buku ensiklopedi. Buku ensiklopedi juga tidak
akan memberi tahu kita bagaimana sebaiknya kita hidup. Namun,
membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu kita
untuk merumuskan sudut pandang kehidupan kita sendiri.
Pencarian kebenaran yang dilakukan oleh para filosof menyerupai
sebuah cerita detektif. Sebagian orang berpendapat Andersen yaitu
pembunuhnya, sementara menurut orang lain Nielsen atau Jensen.
Polisi kadang-kadang mampu memecahkan suatu kasus pembunuhan
sungguhan. Namun, ada kemungkinan pula mereka tidak pernah
sampai ke dasarnya, meskipun ada pemecahan di suatu tempat. Maka,
meski pun sulit untuk menjawab suatu pertanyaan, barangkali ada satu
—dan hanya satu—jawaban yang tepat. Entah itu adanya semacam
eksistensi setelah kematian—atau tidak ada.
Banyak teka-teki kuno yang kini telah berhasil dijelaskan melalui
ilmu pengetahuan. Seperti apa sisi gelap bulan itu sebelumnya pernah
terselubung misteri. Dulu, itu bukanlah sesuatu yang dapat
dipecahkan lewat diskusi, melainkan diserahkan pada imajinasi
setiap individu. Tetapi, kini kita tahu dengan tepat seperti apa sisi
gelap bulan itu, dan tak seorang pun yang masih "percaya" pada
Manusia di Bulan, atau bahwa bulan itu terbuat dari keju hijau.
Seorang filosof Yunani yang hidup lebih dari dua ratus tahun yang
lalu percaya bahwa asal-mula filsafat yaitu rasa ingin tahu manusia.
Manusia menganggap betapa menakjubkannya hidup itu sehingga
pertanyaan-pertanyaan filosofis pun muncul dengan sendirinya.
Seperti menonton tipuan sulap. Kita tidak mengerti bagaimana
tipuan itu dilakukan. Maka kita bertanya: bagaimana pesulap itu
mengubah sepasang selendang sutra putih menjadi seekor kelinci
hidup?
Banyak orang menjalani pengalaman di dunia dengan
ketidakpercayaan yang sama seperti saat seorang pesulap dengan
tiba-tiba menarik seekor kelinci dari topinya, padahal sebelumnya
telah ditunjukkan bahwa topi itu kosong.
Dalam kasus kelinci, kita tahu bahwa pesulap itu telah
memperdaya kita. Yang ingin kita ketahui hanyalah bagaimana dia
melakukannya. Tapi, jika menyangkut dunia, masalahnya agak
berbeda. Kita tahu bahwa dunia bukanlah hasil sulapan tangan dan
tipuan, sebab kita berada di sini di dalamnya, kita merupakan bagian
darinya. Sesungguhnya, kita yaitu kelinci putih yang ditarik keluar
dari topi. Satu-satunya perbedaanan antara kita dan kelinci putih itu
yaitu bahwa kelinci tidak menyadari dirinya ikut ambil bagian
dalam suatu tipuan sulap. Tidak seperti kita. Kita merasa kita yaitu
bagian dari sesuatu yang misterius dan kita ingin tahu bagaimana cara
kerjanya.
—N.B. Sepanjang menyangkut kelinci putih, barangkali lebih baik
kita membandingkannya dengan seluruh alam raya. Kita yang hidup di
sini yaitu serangga-serangga mikroskopis yang hidup di sela-sela
bulu kelinci. Namun, para filosof selalu berusaha untuk memanjat
helaian-helaian lembut bulu binatang itu untuk dapat menatap
langsung ke mata si tukang sulap.
Apakah kamu masih menyimak, Nyai girah ? Bersambung...
Nyai girah benar-benar kecapaian. Masih menyimak? Dia bahkan tidak
mampu mengingat kapan dia berhasil mencuri waktu untuk bernapas,
sementara dia asyik membaca.
Siapa yang telah membawa surat ini? Tidak mungkin orang vang
sama yang telah mengirim kartu ulang tahun kepada count dracula Moller
Knag, sebab kartu itu dibubuhi prangko dan cap pos. Amplop cokelat
itu telah dibawa sendiri ke kotak surat persis seperti dua amplop
putih sebelumnya.
Nyai girah melihat arlojinya. Kini jam tiga kurang seperempat. Ibunya
belum akan pulang kantor dalam waktu dua jam ini.
Nyai girah merangkak keluar menuju taman lagi dan lari ke kotak
surat. Barangkali masih ada surat lain.
Dia menemukan satu lagi amplop cokelat dengan namanya tertera
di situ. Kali ini, dia melihat berkeliling namun tidak ada seorang pun
yang terlihat. Nyai girah berlari ke tepi hutan dan memandang ke jalan.
Tidak ada seorang pun di sana. Tiba-tiba, dia mengira dirinya
mendengar bunyi ranting jauh di dalam hutan. Tapi, dia tidak benar-
benar yakin, dan bagai manapun tidak akan ada gunanya mengejar
seseorang yang sudah bertekad untuk melarikan diri.
Nyai girah masuk ke rumah. Dia berlari naik ke kamarnya dan
mengeluarkan sebuah kaleng kue besar yang berisi batu-batuan yang
indah. Dia mengeluarkan batu-batuan itu ke lantai dan meletakkan
kedua amplop besar itu ke dalam kaleng. Lalu dia bergegas ke taman
lagi, sambil memegang kaleng itu dengan hati-hati dengan kedua
tangannya. Sebelum pergi, dia mengeluarkan makanan untuk
Sherekan.
"Kitty, kitty, kitty!"
Begitu kembali berada di sarang, dia membuka amplop cokelat
kedua dan menarik keluar halaman-halaman saat n baru. Dia mulai
membaca.
MAKHLUK ANEH
Halo lagi! Seperti kamu lihat, pelajaran filsafat yang ringkas ini akan
diberikan sebagian-sebagian. Inilah kelanjutan kata pengantarnya:
Bukankah pernah kukatakan bahwa satu-satunya yang kita butuhkan
untuk menjadi filosof yang baik yaitu rasa ingin tahu? Jika belum,
kukatakan sekarang: SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN
UNTUK MENJADI FILOSOF YANG BAIK yaitu RASA
INGIN TAHU.
Bayi-bayi mempunyai rasa ini. Itu tidak mengherankan. Setelah
beberapa bulan berada di dalam rahim, mereka keluar dan
menghadapi suatu realitas yang sama sekali baru. Tapi, sementara
mereka bertambah besar, rasa ingin tahu itu tampaknya berkurang.
Mengapa begini? Tahukah kamu?
Jika seorang bayi yang baru lahir dapat berbicara, dia mungkin
akan mengatakan sesuatu tentang dunia luar biasa yang dimasukinya.
Kita melihat bagaimana dia melihat berkeliling dan meraih apa saja
yang dilihatnya dengan penuh rasa ingin tahu.
saat kata-kata mulai dapat diucapkannya, anak itu akan menatap
dan mengatakan "Guk-guk" setiap kali dia melihat seekor anjing. Dia
melompat-lompat di dalam kereta dorongnya, melambai-lambaikan
tangannya: "Guk-guk! Guk-guk!" Kita yang lebih tua dan lebih tahu
biasanya merasa agak kecapaian melihat semangat si anak. "Baiklah,
baiklah, itu guk-guk," kita bilang, tidak terkesan. "Ayo, duduklah yang
manis." Kita tidak terpesona. Kita sudah pernah melihat seekor
anjing sebelumnya.
Pemandangan yang menggambarkan kegembiraan hatinya itu
mungkin akan berulang ratusan kali sebelum si anak belajar untuk
melewati seekor anjing tanpa menjadi ribut. Atau seekor gajah, atau
seekor kuda nil. Namun, jauh sebelum anak itu belajar berbicara
dengan benar—dan jauh sebelum dia belajar untuk berpikir secara
filosofis—dunia pasti menjadi sesuatu yang biasa baginya.
Sungguh sayang, jika kamu tanya pendapatku.
Aku ingin agar kamu tidak tumbuh menjadi salah seorang dari
mereka yang menganggap dunia itu begini karena memang sudah
seharusnya begitu, Nyai girah sayang. Maka hanya untuk memastikan
saja, kita akan melakukan beberapa eksperimen dalam pikiran
sebelum kita mulai dengan pelajaran itu sendiri.
Bayangkan bahwa suatu hari kamu keluar untuk berjalan-jalan di
hutan. Tiba-tiba, kamu melihat sebuah pesawat ruang angkasa kecil
di atas jalan di depanmu. Seorang Mars mungil memanjat keluar dari
pesawat ruang angkasa itu dan berdiri di atas tanah sambil
memandangimu ...
Apa yang akan kamu pikirkan? Tidak apa, itu tidak penting. Tapi,
pernahkah terlintas dalam benakmu tentang kenyataan apakah
sesungguhnya kamu sendirilah si orang Mars itu?
Memang sangat mustahil bahwa kamu akan pernah bertemu dengan
makhluk dari planet lain. Kita bahkan tidak tahu apakah ada
kehidupan di planet-planet lain. Tapi kamu mungkin akan menemukan
dirimu sendiri pada suatu hari nanti. Kamu mungkin akan berhenti
dengan tiba-tiba dan memandang dirimu sendiri dengan suatu
kesadaran yang sama sekali baru.
Aku seorang makhluk luar biasa, begitu katamu. Aku seorang
makhluk misterius.
Kamu merasa seakan-akan kamu tengah terbangun dari tidur akibat
disihir. Siapakah aku? Kamu bertanya. Kamu tahu kamu sedang
berkeliaran di atas sebuah planet di alam raya. Tapi, apakah alam
raya itu?
Jika kamu mendapati dirimu bertanya begini, kamu pasti telah
menemukan sesuatu yang sama misteriusnya dengan orang Mars yang
baru saja kita bicarakan. Kamu bukan hanya telah melihat seorang
makhluk dari luar angkasa. Jauh di lubuk hatimu, kamu akan merasa
bahwa kamu sendiri seorang makhluk luar biasa.
Bisakah kamu memahamiku, Nyai girah ? Mari kita buat eksperimen
lain dalam pikiran:
Suatu pagi, Ibu, Ayah, dan chucky kecil, yang berusia dua atau
tiga tahun, sedang sarapan di dapur. Tak lama kemudian, Ibu bangkit
dan pergi ke bak cuci, dan Ayah—ya, Ayah—terbang dan melayang
berputar-putar di langit-langit, sementara chucky duduk menonton.
Kamu kira apa yang dikatakan chucky ? Barangkali dia akan
menunjuk ke arah ayahnya dan berkata: "Ayah terbang!" chucky pasti
akan terkejut, memang dia sering sekali terkejut. Ayah melakukan
begitu banyak hal aneh sehingga masalah terbang di atas meja
sarapan itu tidak ada bedanya baginya. Setiap hari, Ayah bercukur
dengan mesin yang lucu, kadang-kadang dia memanjat atap dan
memutar-mutar antena televisi—atau dia akan menyurukkan
kepalanya ke bawah moncong mobil dan tahu-tahu keluar dengan
wajah hitam.
Kini giliran Ibu. Dia mendengar apa yang dikatakan chucky dan
berbalik dengan tiba-tiba. Kamu kira bagaimana reaksinya melihat
Ayah melayang-layang dengan acuh tak acuh di atas meja dapur?
Dia menjatuhkan toples selai di atas lantai dan menjerit ketakutan.
Dia bahkan mungkin memerlukan perawatan medis begitu Ayah
kembali duduk dengan hormat ke kursinya. (Ayah mestinya lebih
mengenal sopan santun sekarang ini!)
Menurutmu, mengapa chucky dan ibunya bereaksi dengan cara
begitu berbeda?
Semuanya ada hubungannya dengan kebiasaan. (Catat ini!) Ibu
sudah tahu bahwa orang tidak dapat terbang. chucky belum. Dia
belum yakin apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di dunia ini.
Tapi, bagaimana dengan dunia itu sendiri, Nyai girah ? Apakah kamu
kira ia dapat melakukan apa yang dilakukannya? Dunia juga
melayang-layang di angkasa.
Sedihnya, bukan hanya kekuatan gaya berat sajalah yang terbiasa
kita rasakan saat kita tumbuh. Dunia itu sendiri dengan serta-merta
menjadi suatu kebiasaan. Tampaknya seakan-akan dalam proses
pertumbuhan kita kehilangan kemampuan untuk bertanya-tanya tentang
dunia. Dan dengan berlaku demikian, kita kehilangan sesuatu yang
sangat penting—sesuatu yang oleh para filosof diusahakan untuk
dipulihkan. Sebab di suatu tempat dalam diri kita sendiri, ada sesuatu
yang mengatakan kepada kita bahwa kehidupan merupakan suatu
misteri yang sangat besar. Inilah sesuatu yang pernah kita alami, jauh
sebelum kita belajar untuk memikirkan pemikiran itu.
Untuk lebih tepatnya: Meskipun pertanyaan-pertanyaan filosofis itu
mengganggu benak kita semua, tidak semua kita menjadi filosof.
Karena berbagai alasan, kebanyakan orang begitu disibukkan oleh
permasalahan sehari-hari sehingga keheranan mereka terhadap dunia
tersuruk ke belakang. (Mereka merayap jauh ke dalam bulu-bulu
kelinci, meringkuk dengan nyaman, dan tinggal di sana sepanjang
hidup mereka.)
Bagi anak-anak, dunia dan segala sesuatu di dalamnya itu baru,
sesuatu yang membangkitkan keheranan mereka. Tidak demikian
halnya bagi orang-orang dewasa. Kebanyakan orang dewasa
menerima dunia sebagai sesuatu yang sudah selayaknya demikian.
Di sinilah tepatnya para filosof itu menjadi tokoh istimewa.
Seorang filosof tidak pernah merasa terbiasa dengan dunia. Baginya,
dunia selalu tampak sedikit tidak masuk akal—membingungkan,
bahkan penuh teka-teki. Para filosof dan anak-anak kecil karenanya
sama-sama memiliki indra yang penting. Kamu boleh mengatakan
bahwa sepanjang hidupnya seorang filosof selalu menjadi seorang
anak yang peka.
Maka, kini kamu harus memilih, Nyai girah . Apakah kamu seorang
filosof yang mau bersumpah tidak akan pernah menjadi begitu?
Jika kamu hanya menggelengkan kepalamu, tidak mengakui dirimu
sebagai seorang anak ataupun seorang filosof, kamu telah menjadi
begitu terbiasa dengan dunia, sehingga dunia itu tidak lagi
mengherankanmu. Waspyaitu ! Kamu berada di atas lapisan es yang
tipis. Dan, inilah sebabnya mengapa kamu menerima pelajaran
filsafat ini, hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku tidak akan
membiarkanmu, di antara semua orang lain, ikut berjajar bersama
mereka yang apatis dan acuh tak acuh. Aku ingin kamu selalu ingin
tahu.
Seluruh pelajaran ini gratis. Maka, kamu tidak akan kehilangan
uangmu kalau kamu tidak menyelesaikannya. Jika kamu lebih suka
menghentikan pelajaran, kamu bebas untuk melakukannya. Kalau
memang demikian, kamu harus meninggalkan pesan untukku di kotak
surat. Seekor katak hidup bolehlah. Sesuatu yang berwarna hijau,
paling tidak, supaya pengantar surat tidak menjadi ketakutan.
Ringkasnya: Seekor kelinci ditarik keluar dari topi pesulap.
Karena ia yaitu kelinci yang amat sangat besar, tipuannya perlu
dipelajari selama ribuan tahun. Semua makhluk hidup dilahirkan di
ujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, di mana mereka berada
dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan itu. Namun,
saat mereka bertambah umur, mereka sibuk menyelusup semakin
dalam ke balik bulu-bulu itu. Dan di situlah mereka tinggal. Mereka
merasa begitu nyaman sehingga mereka tidak mau mengambil risiko
untuk memanjati kembali bulu-bulu halus itu. Hanya para filosof yang
mau bersusah payah menjalani ekspedisi berbahaya ini. Sebagian di
antara mereka jatuh bertumbangan, namun yang lain tetap bertahan
mati-matian dan meneriaki orang-orang yang terbuai di tengah
kelembutan yang nyaman, menjejali diri mereka dengan makanan dan
minuman lezat.
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak," mereka berteriak, "kami melayang-
layang di angkasa!" Namun, tak seorang pun di antara mereka yang
peduli.
"Huh, gerombolan pembuat onar!" kata mereka. Dan mereka terus
berceloteh: Tolong ambilkan menteganya, ya? Seberapa banyak
saham kita naik hari ini? Berapa harga tomat?
saat ibu Nyai girah tiba di rumah sore itu, Nyai girah masih dalam
keadaan terheran-heran. Kaleng yang menyimpan surat-surat dari
filosof misterius itu tersembunyi aman di sarang. Nyai girah berusaha
untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun, dia hanya bisa
duduk sambil memikirkan apa yang telah dibacanya.
Dia tidak pernah berpikir sekeras itu sebelumnya. Dia bukan lagi
seorang anak-anak—tapi dia juga belum benar-benar dewasa. Nyai girah
sadar bahwa dia telah mulai merayap masuk ke dalam bulu-bulu
kelinci yang nyaman, kelinci yang ditarik keluar dari topi alam raya.
Namun, filosof itu telah menghentikannya. Dia—pria atau wanitakah
dia?—telah menangkap bagian belakang lehernya dan menariknya
kembali ke ujung bulu tempat dia telah bermain-main saat masih
kanak-kanak. Dan di sana, di bagian paling ujung dari bulu yang
lembut itu, dia sekali lagi melihat dunia seakan-akan untuk yang
pertama kali.
Filosof itu telah menyelamatkannya. Tidak diragukan lagi. Penulis
surat yang tak dikenal itu telah menyelamatkannya dari remeh-temeh
eksistensi sehari-hari.
saat Ibu tiba di rumah jam lima sore, Nyai girah menyeretnya ke
ruang duduk dan mendorongnya ke sebuah kursi berlengan.
"Bu—tidakkah Ibu pikir mengherankan bahwa kita hidup?" dia
memulai.
Ibunya demikian terkejut sehingga mula-mula dia tidak menjawab.
Nyai girah biasanya sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya saat dia
pulang.
"Kukira memang demikian—kadang-kadang," katanya.
"Kadang-kadang? Ya, tapi—tidakkah Ibu pikir mengherankan
bahwa dunia itu ada?"
"Hai, Nyai girah . Mengapa kamu berbicara seperti itu?"
"Mengapa? Barangkali Ibu pikir dunia itu benar-benar biasa?"
"Yah, begitu, kan? Kurang-lebih, begitulah."
Nyai girah sadar bahwa filosof itu benar. Orang-orang dewasa
menganggap dunia sebagaimana adanya. Mereka telah membiarkan
diri terbuai dalam tidur yang memabukkan dari eksistensi mereka
yang membosankan.
"Ibu telah menjadi begitu terbiasa dengan dunia sehingga tidak
ada lagi yang membuat Ibu heran."
"Kamu sedang bicara apa, sih?"
"Aku sedang membicarakan menjadi terbiasa dengan segala
sesuatu. Sama sekali suram, dengan kata lain."
"Aku tidak mau diajak berbicara seperti itu, Nyai girah !"
"Baiklah, aku akan mengemukakannya dengan cara lain. Ibu telah
membiarkan diri Ibu keenakan meringkuk jauh di dalam bulu-bulu
seekor kelinci putih yang ditarik keluar dari topi pesulap alam raya
saat ini. Dan tak lama lagi, Ibu akan memasak kentang. Lalu, Ibu akan
membaca koran dan setelah tidur siang setengah jam, Ibu akan
melihat berita di televisi!"
Kekhawatiran membayang di wajah ibunya. Dia memang pergi ke
dapur dan memasak kentang. Tak lama kemudian, dia kembali ke
ruang duduk, dan kali ini dialah yang mendorong Nyai girah ke sebuah
kursi berlengan.
"Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu," dia memulai.
Nyai girah dapat menyimak dari suaranya bahwa itu sesuatu yang serius.
"Kamu mulai minum obat terlarang, iya kan, Sayang?"
Nyai girah merasa ingin tertawa. Namun, dia tahu, mengapa
pertanyaan itu dikemukakan kepadanya saat ini.
"Apakah kamu gila?" katanya. "Obat-obatan itu hanya membuatmu
semakin dungu!"
Malam itu, tidak ada lagi yang dibicarakan mengenai kelinci putih
maupun obat terlarang.[]
Mitos-Mitos
***
... suatu keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan
kekuatan jahat ...
TIDAK ADA surat untuk Nyai girah keesokan harinya. Sepanjang hari
yang rasanya tak berkesudahan di sekolah itu benar-benar membuat
dia bosan. Dia berusaha untuk berlaku sangat manis kepada Joanna
saat istirahat. Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan
rencana berkemah segera setelah hutan cukup kering.
Setelah saat-saat yang tampaknya seperti tanpa akhir itu, dia
kembali melihat kotak surat. Mula-mula dia membuka sebuah surat
dengan cap pos Meksiko. Itu dari ayahnya. Dia menulis tentang
kerinduannya yang sangat besar untuk pulang dan bagaimana untuk
pertama kalinya dia berhasil memukul dada kapten kepala. Selain itu,
dia sudah hampir selesai membaca tumpukan buku yang dibawanya
berlayar setelah cuti musim dinginnya.
Dan kemudian, itu dia—sebuah amplop cokelat dengan namanya
tertera di sana! Setelah meninggalkan tas sekolah dan semua surat
lainnya di dalam rumah, Nyai girah berlari menuju sarang. Dia menarik
keluar halaman-halaman saat n baru dan mulai membaca:
GAMBARAN MITOLOGIS DUNIA
Halo, Nyai girah ! Banyak yang harus kita lakukan, maka kita akan mulai
tanpa menundanya lagi. Yang kita maksud dengan filsafat yaitu cara
pikir yang sama sekali baru yang berkembang di Yunani sekitar enam
ratus tahun sebelum kelahiran Kristus. Hingga masa itu, semua
pertanyaan yang diajukan oleh manusia dijawab oleh berbagai
agama. Penjelasan-penjelasan agama ini disampaikan dari generasi
ke generasi dalam bentuk mitos. Mitos yaitu sebuah cerita
mengenai dewa-dewa untuk menjelaskan mengapa kehidupan
berjalan seperti adanya.
Selama ribuan tahun, banyak sekali penjelasan mitologis bagi
pertanyaan-pertanyaan filsafat yang tersebar ke seluruh dunia. Para
filosof Yunani berusaha untuk membuktikan bahwa penjelasan-
penjelasan ini tidak boleh dipercaya.
Untuk memahami cara berpikir para filosof awal ini, kita harus
paham dulu bagaimana rasanya memiliki suatu lukisan mitologis
tentang dunia. Kita dapat mengambil contoh beberapa mitos
Skandinavia.
Kamu barangkali pernah mendengar cerita tentang Thor dan
palunya. Sebelum agama Kristen masuk ke Norwegia, orang-orang
percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua
ekor kambing melintasi angkasa. saat dia mengayunkan palunya
akan terdengar guntur dan halilintar. Kata "guntur" dalam bahasa
Norwegia—"Thor-don"—berarti raungan Thor. Dalam bahasa
Swedia, kata untuk guntur yaitu "aska", aslinya "as-aka", yang
berarti "perjalanan dewa" di atas lapisan-lapisan langit.
Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting
bagi para petani Viking. Maka, Thor dipuja sebagai Dewa
Kesuburan.
Penjelasan mitologi untuk hujan karenanya yaitu bahwa Thor
sedang mengayunkan palunya. Dan jika hujan turun, jagung
berkecambah dan tumbuh subur di ladang.
Bagaimana tanam-tanaman di ladang dapat tumbuh dan
menghasilkan panen tidaklah dipahami. Tapi jelas itu dikaitkan
dengan hujan. Dan karena setiap orang percaya bahwa hujan ada
hubungannya dengan Thor, dia menjadi salah satu dewa paling
penting di wilayah Skandinavia.
Masih ada alasan lain mengapa Thor dianggap penting, suatu
alasan yang berkaitan dengan seluruh tata dunia.
Orang-orang Viking percaya bahwa dunia yang dihuni itu
merupakan sebuah pulau yang selalu terancam bahaya dari luar.
Mereka menyebut bagian dunia ini Midgard, yang berarti kerajaan di
tengah. Di dalam Midgard terletak Asgard, tempat bersemayam para
dewa.
Di luar Midgard yaitu kerajaan Utgard, tempat tinggal para
raksasa yang curang, yang melakukan segala tipuan keji untuk
menghancurkan dunia. Monster-monster jahat seperti ini sering
dianggap sebagai "kekuatan-kekuatan pengacau". Bukan hanya dalam
mitologi Skandinavia, melainkan juga dalam hampir semua
kebudayaan lain, orang-orang mendapati bahwa ada suatu
keseimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
Salah satu cara yang digunakan para raksasa untuk menghancurkan
Midgard yaitu dengan menculik Freyja, Dewi Kesuburan. Jika
mereka dapat melakukan ini, tidak ada yang dapat tumbuh di ladang
dan para wanita tidak dapat lagi mempunyai anak. Maka penting
sekali untuk mencegah usaha para raksasa ini.
Thor yaitu tokoh utama dalam pertempuran melawan para
raksasa. Palunya bukan hanya digunakan untuk membuat hujan,
melainkan juga merupakan senjata yang menentukan dalam
pertempuran melawan kekuatan pengacau yang berbahaya. Palu itu
memberi Thor kemampuan yang hampir tanpa batas. Misalnya, dia
dapat melemparkannya ke arah para raksasa itu dan membunuh
mereka. Dan dia tidak perlu khawatir palu itu hilang, sebab ia selalu
kembali kepadanya, persis seperti bumerang.
Ini l a h penjelasan mitologis bagaimana keseimbangan alam
dipertahankan dan mengapa selalu terjadi pertempuran antara
kebaikan dan kejahatan. Dan inilah tepatnya jenis penjelasan yang
ditentang oleh para filosof.
Namun, ini bukan masalah penjelasan semata.
Manusia tidak dapat hanya duduk termangu dan menunggu para
dewa turun tangan, sementara bencana seperti kekeringan atau wabah
melanda. Mereka harus bertindak sendiri dalam perjuangan melawan
kejahatan. Ini mereka lakukan dengan menjalankan berbagai upacara
agama, atau ritus.
Upacara keagamaan paling penting di zaman kejayaan Skandinavia
yaitu upacara persembahan. Memberi persembahan kepada
seorang dewa dapat meningkatkan kekuatan dewa ini . Misalnya,
manusia harus memberikan persembahan kepada para dewa untuk
memberi mereka kekuatan guna mengalahkan kekuatan pengacau.
Mereka dapat melakukan hal ini dengan mengorbankan seekor
binatang kepada sang Dewa. Persembahan untuk Thor biasanya
yaitu seekor kambing. Persembahan untuk Odin biasanya berbentuk
pengorbanan manusia.
Mitos yang paling dikenal di negeri-negeri Skandinavia berasal
dari puisi Eddic "Syair Thrym". Puisi itu menceritakan bagaimana
Thor, saat bangun dari tidurnya, mendapati bahwa palunya hilang.
Ini membuatnya begitu marah sehingga kedua tangannya gemetar dan
janggutnya bergoyang. Dengan ditemani pengikutnya, Loki, dia pergi
mendatangi Freyja untuk menanyakan apakah Loki boleh meminjam
sayap Freyja agar dia dapat terbang ke Jotunheim, negeri para
raksasa, dan mencari tahu apakah memang mereka yang telah mencuri
palu Thor.
Di Jotunheim, Loki bertemu dengan Thrym, raja para raksasa, yang
membual bahwa dia telah menyembunyikan palu itu tujuh lapisan di
bawah bumi. Dan dia menambahkan bahwa para dewa tidak akan
mendapatkan kembali palu itu, kecuali jika Freyja diserahkan kepada
Thrym sebagai mempelainya.
Dapatkah kamu membayangkannya, Nyai girah ? Tiba-tiba para dewa
mendapati diri mereka berada di tengah peristiwa penyanderaan.
Para raksasa telah merampas senjata pertahanan paling penting milik
dewa-dewa. Ini yaitu situasi yang sama sekali tidak dapat diterima.
Selama raksasa-raksasa itu memiliki palu Thor, mereka sepenuhnya
menguasai dunia para dewa dan makhluk hidup lainnya. Sebagai
pengganti palu itu, mereka menuntut Freyja. Tapi, ini sama-sama
tidak dapat diterima. Jika para dewa harus menyerahkan Dewi
Kesuburan mereka—dia yang melindungi seluruh kehidupan—rumput
akan lenyap dari ladang dan semua dewa dan makhluk hidup lainnya
akan mati. Situasinya benar-benar seperti menghadapi jalan buntu.
Loki kembali ke Asgard—demikian dikisahkan dalam mitos—dan
menyuruh Fre




