• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label setan iblis 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setan iblis 4. Tampilkan semua postingan

setan iblis 4


 Memiliki

takwa, tidak layak mendapatkan cinta. Kemudian cinta Allah ̂ terhadap

hamba tidak menggebu-gebu, sebagaimana cinta seseorang kepada orang

lain. Sebab jika masalahnya seperti itu, tenru banyak perkara yang bisa terjadi.

Talbis Iblis terhadap Golongan Shabfm

Istilah Shabi’in berasal dan kata perkataan mereka, ‘[Shaba ‘tu”, yaitu

ketika keluar dan sesuatu kepada sesuam yang lain. Shaba‘at an-nujum artinya

bintang terlihat. Shaba‘a bihi artinya keluar. Shabi’in artinya orang-orang yang

keluar dari suatu agama dan berpindah ke agama lain. Ada sepuluh pendapat

di kalangan ulama tentang golongan ini yaitu:

Menurut riwayat Salim dan Sa’id bin Jubair, mereka merupakan

golongan antara Nashrani dan Majusi.

Menurut riwayat Ibnu Abi Najih dan Mujahid, mereka merupakan

golongan antara Yahudi dan Majusi.

Menurut riwayat Al-Qasim bin Abu Bazzah dan Mujahid, mereka

merupakan golongan antara Yahudi dan Nasrani.

Menurut riwayat Abu Shalih dan Ibnu Abbas, mereka merupakan

golongan dan Nashrani yang perkataannya relatif lebih lembut.

Menurut riwayat Al-Qasim dan Mujahid, mereka merupakan golongan

dari orang-orang musyrik yang tidak mempunyai kitab.

Menurut Al-Hasan, mereka serupa dengan Majusi.

Menurut Abul-Aliyah, mereka merupakan golongan dari Ahli Kitab

yang membaca Zabur.

Menurut Qatadah dari Muqatil, mereka adalah orang-orang yang shalat

menghadap kiblat, menyembah malaikat dan membaca Zabur.

1.

2 .

3 .

4 .

5 .

6 .

7 .

I l lBab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Menurut As-Saddi, mereka merupakan î olongan dari Ahli PGtab.

Menurut Ibnu Zaid, mereka adalah orang-orang yang mengucapkan

la i/uha illallah, tetapi mereka tidak mempuiij'ai amalan, ddak mempunyai

kitab dan nabi.

Ini menurut pendapat para ahli tafsir, seperti Ibnu Abbas, Al-Qasim,

Al-Hasan dan lain-lainnya. Sedangkan para teolog berkata, “Sekte Shabi’in

sangat beragam. Di antara mereka ada yang berkata, “Di sana ada benda

benda yang ada sejak dahuiu kala, yang senantiasa membentuk alam ini’.

Mayoritas di antara mereka mengatakan bahwa aJam ini bukan sesuatu yang

baru. Mereka menyebut planet-planet sebagai para malaikat dan sebagian

ada yang menyebumya sebagai tuhan, seraya menyembahnya dan mendirikau

rumah-rumah ibadah. Mereka beranggapan bahwa rumah Allah yang suci

itu hanya ada satu, yaitu rumah ibadah untuk Saturnus. Sebagian yang lain

beranggapan bahwa AUah tidak bisa disifati kecuali dengan penafian, bukan

dengan penetapan. Maka bisa dikatakan, ‘Allah itu tidak baru, tidak matt,

tidak bodoh, tidak lemah’. Menurut mereka, supaya tidak sampai terjadi

penyerupaan. Mereka menetapkan beberapa macam ibadah sesuai dengan

ketetapan syariatnya. Mereka shalat tiga kali sehari, yang pertama delapan

rakaat, yang setiap rakaatnya terdiri dari tiga sujud, yang waktu pelaksanaannya

hingga matahari terbit. Shalat kedua terdiri dari lima rakaat, begitu pula shala-;

yang ketiga. Mereka juga berpuasa dengan jumlah hari yang tertentu, yang

diakhiri dengan shadaqah dan menyembelih hewan. Mereka mengharamkaii

daging onta dan kambing, tetapi lama-kelamaan ketetapan mereka ini sirni.

bersamaan dengan surutnya golongan ini. Mereka percaya bahwa roh yang

baik akan naik ke planet dan ke angkasa, sedangkan roh yang jahat akar

turun ke bumi dan ke tempat-tempat yang gelap. Di antara mereka juga ad;,

yang berpendapat bahwa alam ini tidak fana. Pahala dan siksa hanya berlaki

dalam penitisan roh.”

Yang pasti, anggapan dan pendapat mereka seperti ini tidak perlu untuk

ditanggapi. Sebab apa yang mereka nyatakan itu sama sekali tidak didukung

daUl .

9 .

1 0 .

Iblis telah memperdayai segolongan dari Shabi’in bahwa mereka

meHhat kesempurnaan dalam mendapatkan hubungan antara diri mereka dan

kekuatan roh yang tinggi, dengan cara menggunakan hal-hal yang suci, tatanan

dan seruan. Mereka juga aktif meramal dengan nujum dan praktik

1 1 2 Perangkap Setan

perdukunan. Menurut mereka, hams ada perantara antara Allah dan makhluk-

Nya dalam memperkenalkan hal-hai yang balk dan menunjang kemaslahatan.

hanya saja perantara itu harus bersifat roh dan bukan bersifat fisik. Mereka

berkata, “Kami bisa mendapatkan hubungan yang suci antara diri kami dan

Allah. Maka ini merupakan perantara bagi kami untuk menjaMn hubungan

dengan-Nya.” Sekalipun begitu, mereka tidak mengingkari kebangkitan

s e s u d a h k e m a t i a n .

Talbis Iblis terhadap Orang-orang Majusi

Yahya bin Bisyr bin Umair An-Nahawundi berkata, “Raja Majusi yang

pertama kali adalah Comoth. Dia datang kepada mereka dan mengaku sebagai

nabi. Dia hidup bersama mereka dan terkenal dengan nama Zaradosta.

Mereka berkata, “Allah itu merupakan sosok rohani yang bisa muncul

sewaktu-waktu. Banyak hal-hal yang bersifat rohani muncul bersama-Nya

secara sempurna.” Zaradosta sendiri berkata, “Tak seorang pun selain dihku

mempunyai potensi untuk menciptakan seperti yang kuciptakan ini.” Dari

jalan pikirannya inilah muncul istilah kegelapan, yang di dalam kegelapan ini

terdapat pengingkaran terhadap kekuasaan yang lain, lalu ia bangkit untuk

mengalahkannya.

Di antara aturan yang ditetapkan Zaradosta ialah penyembahan

terhadap api dan shalat kepada matahari, karena matahari itu dianggap sebagai

penguasa alam, yang muncul pada siang hari dan tenggelam pada malam

hari, menghidupi tanaman dan binatang serta mengirimkan kehangatan ke

tubuhnya. Mereka tidak mengubur orang yang meninggal dunia di dalam

tanah, sebagai pengagungan terhadap bumi dan tanah. Karena dari tanahlah

binatang muncul, jadi tidak sepatumya tanah itu dikotori. Mereka juga tidak

mandi dengan menggunakan air, sebagai pengagungan terhadap air. Karena

menurut mereka, air merupakan kehidupan segala sesuatu. Mereka tidak

meludah ke tanah, tidak membunuh binatang dan menyembelihnya. Mereka

biasa membasuh muka dengan air kencing sapi, sekaligus untuk meminta

barakah kepada sapi itu. Jika sapi itu dilepaskan secara bebas, maka barakahnya

lebih banyak lagi. Mereka memperbolehkan bersetubuh dengan ibu sendiri.

Menurut mereka, anak lebih patut memuaskan birahi ibunya sendiri. jika

seorang laki-laki meninggal dunia, maka anaknya paling berhak untuk

memiliki janda ayahnya. Mereka memperbolehkan seseorang menikahi berapa

wanita pun, seratus bahkan bisa seribu wanita. Jika wanita haid hendak mandi,

1 1 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

maka dia hams menyerahkan uang satu dinar kepada juru kunci, lalu juru

kunci itu membawanya ke rumah api, membungkukkannya dan

membersihkannya dengan jari telunjuk.

Hal-hal seperti ini semakin ditonjolkan Mazdak pada masa

pemerintahan Qubadz. Dia memperbolehkan wanita mana pun yang ingin

dinikahi laki-laki. Karena itu Mazdak juga menikahi istri Qubadz agar menjadi

contoh bagi rakyat. Maka rakyat bisa berbuat seperti itu menurut kehendak

mereka. Ketika ibu Anusyirwan mendengar hal ini, dia berkata kepada

Qubadz, “Temuilah aku. Jika engkau menolak memenuhi birahiku, berarti

imanmu tidak sempurna.” Maka Qubadz bermaksud hendak menyetubuhi

ibu Anusyirwan. Ketika mengetahui hal itu, Anusyirwan menangis di hadapan

Mazdak sambil memegangi kakinya, seraya meminta kepada Qubadz untuk

menghindari ibunya. Maka Qubadz berkata kepada Mazdak, “Bukankah

engkau berpendapat bahwa orang yang beriman itu tidak harus menolak

birahinya?”

“Begitulah,” jawab Mazdak.

“Lalu mengapa engkau menolak birahi Anusyirwan?”

“Aku menyerahkan ibunya” jawab Mazdak.

Di antara pernyataan orang-orang Majusi, “Bumi ini tidak mempunyai

batas jika ditembus ke bawah. Sedangkan langit merupakan salah satu kulit

setan. Petir merupakan gerakan Ifrit tatkala mendengkur dan dalam keadaan

terbelenggu di ufiik. Gunung merupakan mlang Ifrit dan lautan merupakan

air kencing dan darahnya.

Di kalangan orang-orang Majusi muncul seseorang pada masa peraJihan

kekuasaan dari Bani Umay)̂ ah ke Bani Abbasiyah, yang mampu memperdayai

banyak orang. Dia merupakan tokoh Majusi terakhir yang muncul. Menurut

para ulama, orang-orang Majusi mempunyai beberapa kitab yang selalu

dipelajari.

Satu gambaran dari talbis Iblis terhadap mereka, bahwa mereka melihat

dalam perbuatan im ada yang baik dan yang buruk. Lalu mereka merekayasa

di hadapan para pengikutnya, bahwa orang yang berbuat kebaikan tidak akan

berbuat keburukan. Karena itu mereka menetapkan adanya dua tuhan: Tuhan

cahaya yang bijaksana, yang ddak berbuat kecuali kebaikan, dan tuhan setan,

yang tidak berbuat kecuali keburukan.

1 1 4 Perangkap Setan

Talbis Iblis terhadap Ahli Nujum dan Astronomi

Abu Muhammad An-Naubakhti berkata, “Mereka beq^endapat bahwa

perjalanan bintang itu sesuatu yang lama dan tddak ada yang menciptakannya.

Begitulah yang dikisahkan Galenos dan segolongan orang yang berkata,

“Sarurnus adalah satu-satunya yang terlama.”

Itu merupakan alam yang alami

dan murni, tidak mempunyai panas dan dingin, tidak basah dan tidak kering,

tidak berat dan tidak ringan.”

Sebagian yang lain berpendapat bahwa bintang itu merupakan inti )'ang

mengandung api, yang berpisah dengan bumi karena perputarannya yang

terlalu kencang. Yang lain lagi berpendapat, bintang-bintang itu berupa benda

\̂ ang menyerupai batu. Yang lain lagi berkata, “Bintang itu tercipta dari awan,

yang setiap hari padam dan bercahaya pada malam hari, seperti halnya arang

yang bisa menyala dan bisa padam.”

Sebagian yang lain berkata, “Bintang itu terbuat dari air, angin dari

api, yang bentuknya bulat dan mempunyai dua macam gerakan dari timur ke

barat, dan dari barat ke timur. Sedangkan Saturnus berputar pada orbitnya

selama tiga puluh tahun, Jupiter selama dua belas tahun, Mars selama dua

tahun, Matahari, Venus, Mercurius dan Bulan selama tiga puluh hari.”

Sebagian yang lain berkata, “Orbit bintang itu ada tujuh, yang paling

dekat dengan kita adalah Bulan, kemudian Mercurius, Venus, Matahari, Mars,

Jupiter, Saturnus, kemudian planet-planet yang tidak bergerak.”

Mereka saling berbeda pendapat tentang besarnya planet-planet itu.

Mayoritas filosof mengatakan bahwa yang paling besar adalah Matahari, yang

besarnya kira-kira seratus enam puluh enam kali besarnya bumi. Adapun

planet-planet yang tidak bergerak, besarnya mencapai sembilan puluh empat

kali besarnya bumi. Besarnya Jupiter delapan puluh dua kali besarnya bumi,

besarnya Mars satu setengah besarnya bumi.

Sebagian di antara mereka berkata, “Planet itu merupakan sesuatu yang

hidup dari langit merupakan kehidupannya. Di setiap planet ada penghuninya.

Para filosof kuno berpendapat, bahwa bintang-bintang itu bisa berbuat baik

dan buruk, bisa memberi dan menahan, sesuai dengan tabiat masing-masing,

bisa mempengaruhi jiwa dan ia hidup.”

Sebagian di antara mereka berkata.

1 1 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Mengingkari Kebangkitan

Sesudah Kematian

Iblis mampu memperdayai sekian banyak manusia, sehingga di antara

mereka ada yang mengingkari kebangkitan dan menganggapnya sesuatu yang

mustahil. Pendapat mereka itu didukung dua syubhat:

Mereka diperdaya oleh kelemahan mated.

Karena bagian-bagian tubuh sudah berceceran di dalam tanah dan tidak

mungkin dihimpun kembali. Mereka berkata, “Binatang biasa memakan

binatang. Lalu bagaimana mungkin keadaan ini bisa dikembaiikan lagi

Al-Qur’an telah mengisahkan syubhat perkataan mereka ini dalam

firman Allah,

1.

2 .

_ , ^ y t . f ' ’ J ' i J

CSS

{ ra

“Apakah ia menjanjikan kepada kalian, hahiua kalian telah mati dan telah

menjadi tanah serta tulang'helulang, kalian sesungguhnya akan dikeluarkan

(dari kubur kalian)?” (Al'Mukminun: 35)

“Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar

akan berada dalam ciptaan yang baru?” (As-Sajdah: 10)

Begitu pula yang dikatakan mayoritas orang-orang Jahiliyah. Di antara

mereka ada yang berkata,

“Rasul memberitahukan bahuia kita akan dibangkitkan bagaimana dengan

kehidupan bangkai dan tulang belulang? ”

Yang lain lagi berkata, yaitu Abul-Ala’ Al-Ma’ri,

“Kehidupan disusul kematian lalu bangkit dari kuburmu itu adalah perkataan

khurafat wahai Ummu Amru.”

Untuk menjawab syubhat mereka yang pertama, dapat dijawab dengan

syubhat yang kedua, bahwa tanahlah yang menyebabkan permulaan

penciptaannya, yaitu dari setetes air mani, lalu menjadi segumpal darah, lalu

menjadi segumpal daging. Asal mula keturunan Adam adalah Adam, yang

diciptakan dari tanah. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang paling

baik melainkan justru dari mated yang lemah. Allah menciptakan anak

1 1 6 Perangkap Setan

keturunan Adam dari setetes air mani, mendptakan burung merak dari telor,

tanaman yang hijau dari biji-bijian yang kering. Pandangan justru harus

diarahkan kepada kekuatan Pencipta dan kekuasaan-Nya, bukan kepada

kelemahan mated yang didptakan-Nya. Dengan melihat kekuasaan-Nya,

maka jawaban untuk syubhat yang kedua bisa tuntas. Sekadar sebagai contoh

tentang pengumpulan sesuatu yang terpisah-pisah, maka biji-biji emas yang

berhamburan dan bercampur dengan tanah, bisa terkumpul menjadi satu

batangan emas jika dibubuhi sedikit air raksa. Lalu bagaimana dengan

kekuasaan Ilahi, yang segala sesuatu terdpta dari kekuasaan-Nya dan bukan

dari yang lain? Andaikata kita membandingkan tanah ini, maka tidak ada

yang tidak mungkin pada badan manusia, apalagi terhadap jiwanya. Sebab

yang menjadi pertimbangan pada diri anak Adam adalah jiwanya dan bukan

badannya. Toh badannya bisa menjadi kurus, gemuk, menyusut dan berubah

dari kecil menjadi besar sebagaimana lazimnya.

Di antara bukti kebangkitan yang paling menakjubkan, bahwa Allah

telah menampakkan kepada para nabi-Nya sesuatu yang lebih besar dari

kebangkitan, yaitu berubahnya tongkat menjadi ular, onta keluar dari celah

batu, dan juga menampakkan kebangkitan itu sendiri di hadapan Isa > î.

Iblis juga memperdayai sebagian orang yang sebenarnya sudah melihat

kekuasaan Khaliq, namun kemudian terbayang dua syubhat di pelupuk mata,

sehingga mereka menjadi ragu-ragu tentang kebangkitan im. Di antara mereka

ada yang berkata, sebagaimana yang sudah dijelaskan Allah,

“Dan, sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan

mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun icu/’ (Al-

Kahfi: 36)

Orang yang lain lagi (Al-Ash bin Wa’il) berkata,

“Posci aku akan diberi anak dan harta.” (Maryam: 77)

Mereka berkata seperti itu karena dibangkitkan rasa keragu-raguan.

Tentu saja semua ini akibat Iblis yang memperdayai mereka, sehingga

mereka berkata, “Andaikata kami dibangkitkan, tentu kami berada dalam

keadaan yang lebih baik. Sebab yang telah memberikan kenikmatan harta

kepada kami di dunia, tentu tidak akan menahan kenikmatan itu dari kami di

a k h i r a t . ”

1 1 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Menganggap Adanya

P e n i t i s a n R o h

Iblis telah memperdayai orang-orang yang mengatakan tentang adanya

penitisan roh. Menurut mereka, tatkala roh orang-orang yang baik keluar

dari badan, maka ia menyusup ke badan orang baik lainnya, sehingga roh itii

menjadi tenang. Sedangkan tatkala roh orang-orang jahat keluar dari badan.

maka ia menyusup ke badan orang jahat lainnya, yang membuatnya selalu

dalam kesulitan. Sekte ini muncul pada zaman Fir’aun yang bermusuhan

dengan Musa.

Abu Qasim Al-Balkhi menuturkan, “Ketika orang-orang yang percaya

kepada penitisan roh melihat penderitaan yang dialami anak-anak, binatang

buas dan hewan apa pun, maka mereka membayangkan bahwa penderitaan

itu merupakan penderitaan roh yang sedang menitis ke tubuhnya, dengan

tujuan untuk mengujinya atau karena hendak menampakkan diri atau tanpa

ada maksud apa pun, karena siapa yang dititisi menjadi budaknya. Boleh jadi

hal itu disebabkan dosa yang pernah dilakukannya sebelum itu”

Dari Ali bin Al-Muhsin, dari ayahnya, dia berkata, “Aku diberitahu

Abul-Hasan Ali bin Nazhif, dia berkata, “Ada seorang syaikh dari golongan

Syi’ah Imamiyah yang datang ke Baghdad bersama-sama kami, yang namanya

Abu Bakar bin Al-Fallas. Dia bercerita kepada kami, bahwa suatu kali dia

menemui seseorang yang juga dikenal sebagai pengikut Syi’ah, tetapi kemudian

orang itu percaya tentang penitisan roh. Dia menuturkan, “Saat itu kuHhat di

hadapannya ada seekor kucing hitam yang dielus-elusnya dan dia juga

menggesek-geseknya di antara kedua matanya. Kulihat mata kucing itu

meneteskan air mata, karena memang begitulah keadaan kucing. Lalu orang

itu menangis sesenggukan.

“Mengapa engkau menangis?” tanyaku.

Dia menjawab, “Celaka engkau. Apakah engkau tidak melihat kucing

ini yang menangis setiap kali aku menggesek-gesek kedua matanya? Tidak

dapat diragukan, ini adalah roh ibuku yang menitis kepadanya. Ibuku

menangis karena meHhatku senantiasa menyesali kematiannya.” Lalu orang

itu berbicara dengan kucing dan membuatnya seakan-akan mengerti

perkataannya. Lalu kucing itu dibuat mengeong sedikit demi sedikit.

“Apakah kucing itu mengerti apa yang engkau ucapkan?’ tanyaku.

“Benar,” jawabnya.

1 1 8 Perangkap Setan

“Apakah engkau mengerd ard meongnya?’ tanyaku.

“Tidak,” jawabnya.

“Kalau begitu engkau tidak lagi menjadi manusia dan kucing itulah

yang menjadi manusia.”

Talbis Iblis Terhadap Umat Islam

Iblis men)oxsup ke akidah umat Islam lewat dua jalan:

Taqlid kepada nenek moyang dan orang-orang terdahulu.

Ilmu yang tidak diketahui kedalamannya, dan siapa pun yang

menyelaminya tidak akan sampai ke dasarnya. Iblis menjerumuskan

orang-orang ini ke berbagai macam pencampuradukan.

Tentang jalan yang pertama, Iblis menampakkan hal-hal yang serba

baik di hadapan orang yang taqlid, bahwa dalil-dalil yang ada pun bisa rancu.

Sementara yang benar masih tersembunyi dan taqlidlah jalan yang paling

selamat. Cukup banyak orang yang tersesat dan binasa karena jalan ini Karena

orang-orang Yahudi dan Nashrani taqlid kepada bapak-bapak dan ulama

mereka, maka mereka pun tersesat. Begitu pula orang-orang Jahiliyah.

Ketahuilah bahwa alasan yang mereka pergunakan untuk memuji taqlid

itu sebenarnya sangat tidak layak. Sebab jika dalil-dalil yang ada adalah rancu

dan yang benar masih tersembunyi, maka mestinya mereka justru menghindari

taqlid kepada nenek moyang mereka. Allah berfirman,

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi

peringatan pun dalam suatu negeri, melainkm orang-orang yang hidup mewah

di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami

menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak

mereka’. (Rasulitu) berkata, ‘Apakah (kalianakanmen^kutijuga) sekalipun

aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk

daripada apa yang }<alian dapati bapak-bapak kalian menganutnya/” (Az-

Zukhruf: 23-24)

Dengan kata lain, ‘Apakah kalian tetap akan mengikuti jejak bapak-

bapak kalian, padahal Allah telah befirman,

“Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam

keadaan sesat. Lalu mereka tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua

mereka itu.’’ (Ash-Shaffat: 69-70)

1.

2 .

1 1 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Ketahuilah bahwa orang yang bertaqlid itu sebenarnya tidak merasa

yakin terhadap apa yang ditaqlidinya, dan dalam taqlid ini ada pengguguran

terhadap fungsi akal. Padahal akal itu diciptakan untuk mengamati dan

berpikir. Alangkah buruknya orang yang diberi lilin sebagai penerang, tetapi

justru dia memadamkan lilin itu lalu berjaian dalam kegelapan.

Biasanya, orang-orang yang bertaqiid ini mengkultuskan seseorang,

lalu mereka mengikuti perkataannya tanpa berpikir panjang tentang apa yang

dikatakannya. Tentu saja ini merupakan kesesatan yang nyata. Sebab

pengamatan harus ditujukan kepada apa yang dikatakan dan bukan kepada

siapa yang mengatakan, sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abu Thalib

kepada Harits bin Hauth. Padahal, Harits berkata kepada Ali, “Apakah engkau

mengira bahwa kami menyangka Thalhah dan Az-Zubair berada di atas

k e b a t i l a n ?

Maka Ali menanggapinya, “Wahai Harits, rupanya engkau sudah

terkecoh. Kebenaran itu tidak bisa dikenali karena seseorang, kenalilah

kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa yang benar.”

Ahmad bin Hambal pernah berkata, “Di antara tanda keterbatasan

ilmu seseorang ialah jika dia bertaqlid kepada orang lain dalam keyakinannya.”

Karena itu Ahmad bin Hambal mengikuti perkataan Zaid dalam masalah

kemuliaan dan meninggalkan pendapat Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Jika ada yang berkata, “Orang awam banyak yang tidak mengetahui

dalil. Lalu bagaimana agar mereka tidak terjebak taqlid?”

Dapat dijawab sebagai berikut: Dalil tentang akidah sudah jelas, seperti

yang kami isyaratkan tatkala menguraikan golongan ateis. Yang demikian ini

tentu mudah dicerna oleh orang yang memiliki akal. Sedangkan dalam

masalah-masalah furu’iyah, karena macamnya sangat banyak, sehingga orang

awam kesulitan mengetahuinya dan mereka sering terseret dalam kesalahan,

maka cara yang paling tepat dilakukan orang-orang awam adalah taqlid.

Ijtihadnya orang awam adalah memilih siapa yang layak untuk ditaqlidi.

Sedangkan tentang jalan kedua, tatkala Iblis melihat orang-orang yang

bodoh dan taqlid yang mereka iakukan secara berlebih-lebihan, maka Iblis

menuntun mereka ke pasar hewan. Kemudian dia melihat golongan lain yang

memiliki kepandaian dan kecerdikan. Iblis ganti memperdayai mereka sesuai

dengan kemampuannya dalam menghadapi mereka. Di antara mereka ada

yang mencela jumud daripada taqlid dan memerintahkannya untuk

1 2 0 Perangkap Setan

memandang. Kemudian Iblis membujuk masing-masing pihak dengan cara-

cara tertentu. Di antara mereka ada yang diperdayai Iblis, lalu berpendapat

bahwa menggunakan ;;'hahir syariat merupakan kelemahan. Lalu Iblis

menuntun mereka kepada filsafat. Iblis tidak pernah berhenti membujuk,

hingga akhirnya mereka keluar dari Islam.

Di bagian terdahulu sudah kami singgung sanggahan terhadap para

filosof. Di antara filosof im ada yang diperdaya Iblis, agar tidak percaya kecuali

kepada inderanya saja. Iblis berkata kepada mereka, “Dengan indera kalian

bisa mengetahui kebenaran perkataan kalian. Selagi mereka menjawab,

“Benar”, maka seketika itu pula mereka menjadi pongah, karena indera kita

tidak bisa mengetahui apa yang mereka katakan. Apa pun yang diketahui

lewat indera tidak akan ada perselisihan. Jika mereka berkata tanpa

menggunakan indera, mereka pun menolak perkataan mereka sendiri.

Di antara mereka ada yang dihela Iblis untuk melepaskan diri dari taqlid,

lalu menuntun mereka kepada teologi dan menggelud topik-topik filsafat,

agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok orang-orang awam. Keadaan

para teolog itu sangat beragam, yang mayoritas mereka menyeret kepada

keragu-raguan dan bahkan sebagian di antaranya ada yang terang-terangan

mengajak kepada ateisme. Sebenarnya para faqaha umat semenjak dahulu

tidak merasa lemah dalam menghadapi para teolog ini. tetapi mereka merasa

tidak ada gunanya menanggapi ocehan para teolog itu. Karena itu Syaikh

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Lebih baik seseorang diuji dengan segala apa yang

dilarang Allah selain syirik, daripada dia mengarahkan pandangannya ke

teologi.”

Syaikh juga berkata, “Jika engkau mendengar seseorang berkata, ‘Nama

itu sama dengan yang dinamai dan yang tidak dinamai’, maka persaksikanlah

bahwa itu berasal dari teologi dan orang itu tidak mempunyai agama.”

Syaikh Imam Asy-Syafi’i juga berkata, “Keputusan saya tentang tokoh-

tokoh teolog, hendaknya tangan mereka dibelenggu, lalu diarak keliling di

perkampungan dan berbagai kabilah, sambil diumumkan, ‘Inilah hukuman

yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah,

serta menekuni ilmu teologi’.”

Ahmad bin Hambal berkata, “Orang yang menekuni ilmu teologi

tidak akan beruntung dan para tokoh teolog sama dengan orang-orang

2indiq.”

1 2 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Bagaimana mungkin teologi tidak dicela, sementara golongan semacan i

Mu’tazilah berkata, ‘Allah mengetahui keindahan segala sesuatu tetapi tidak

mengetahui rincian-rinciannya?’

Jahm bin Shafwan berkata, “Ilmu Allah, kekuasaan dan hidup-Nya

adalah sesuatu yang baru.”

Abu Muhammad An-Naubakhti menukil perkataan dari Jahm, “Allah

tidak bisa berbuat apa-apa.”

Abu Ali Al-Jiba’i dan Abu Hasyim serta orang-orang Bashrah yang

mengikuti keduanya berkata, “Sesuatu yang tidak ada itu adalah sesuatu, dzat.

jiwa, substansi, putih, kuning dan merah. Sementara Allah it tidak mampu

menjadikan dzat sebagai dzat, benda sebagai benda, substansi sebagai

substansi. Dia hanya mampu mengeluarkan dzat dari tidak ada menjadi

a d a . ”

Al-Qadhi Abu Ya’la menuturkan di dalam Ydtahul-Muqtahis, dia berkata,

“Al-Allaf, seorang tokoh Mu’tazilah berkata kepadaku, ‘Kerdkmatan penghuni

surga dan siksa penghuni neraka merupakan sesuatu yang tidak bisa disifati

Allah dengan kekuasaan untuk mengenyahkannya. Kecintaan dan kemarahan

kepada-Nya pada saat itu tidak lagi berlaku. Sebab Dia sudah tidak mampu

lagi mendatangkan kebaikan, keburukan, manfaat dan mudharat’. Dia juga

berkata, ‘Penghuni surga menjadi pasif dan diam, tidak mampu berkata dan

berbuat apa-apa, tidak diri mereka dan tidak pula Kahh mereka untuk

melakukan semuanya. Sebab setiap sesuatu yang baru harus mempunyai

kesudahan dan sesudahnya tidak ada kehidupan apa pun’. Allah Mahatinggi

dan Mahabesar dan segala apa yang mereka katakan.”

Abul-Qasim Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al-Balkhi

menyebutkan di dalam Kitabul-Maqalat, bahwa Abul-Hudzail, nama

lengkapnya Muhammad bin AI-Hudzail Al-’AUaf, seorang penduduk Bashrah

dan Abdul-Qais, pernah menyendiri seraya berkata, “Para penghuni surga

tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam. Andaikata Allah sudah

menetapkan kesudahan hidupnya, lalu mereka keluar untuk berbuat, tentunya

Allah juga berkuasa untuk mensifati yang lain berkuasa.”

Dia juga berkata, “Sesungguhnya ilmu Allah adalah Allah dan

kekuasaan Allah adalah Allah itu pula.”

Abu Hasyim berkata, “Siapa yang bertaubat dari segala sesuatu, yang

kemudian dia meminum khamr sekaUpun hanya seteguk, maka dia akan

1 2 2 Perangkap Setan

clisiksa seperti siksaan yang dijatuhkan kepada orang-orang kafir, kekal selama-

lamanya.

Sesungguhnya Allah tidak berkuasaA n - N i z h a m b e r k a t a ,

menghindarkan kejahatan dari sesuatu. Sementara Iblis mampu berbuat baik

d a n b u r u k . ”

Hisyam Al-Quthi berkata, “Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati

bahwa Dia adalah alam.”

Sebagian orang Mu’tazilah berkata, “Allah boleh berdusta, sekalipun

hal itu tidak pernah terjadi.”

Golongan Mujbirah berkata, “Anak keturunan Adam itu tidak

mempunyai kekuasaan apa-apa, karena ia seperd benda mad, pilihan dan

perbuatannya dibelenggu.”

Golongan Murji’ah berkata, “Siapa pun yang mengucapkan syahadatain

lalu melakukan kedurhakaan, maka dia sama sekali ddak akan masuk neraka.”

Untuk itu mereka mengingkari semua hadits shahih tentang orang-orang

Muwahhidin yang dikeluarkan dari neraka.

Ibnu Aqil berkata, “Alangkah miripnya orang yang meletakkan paham

Murji’ah dengan Zindiq. Tegaknya alam ini karena adanya ancaman dan

keyakinan tentang adanya pahala. Kedka golongan Murji’ah ddak mampu

berbuat apa-apa, apalagi ketika banyak orang yang menghindari dan

golongannya yang jelas bertentangan dengan akal, maka mereka

menggugurkan manfaat ketakutan dan pengawasan Allah. Mereka merupakan

golongan yang paling jahat terhadap Islam.”

Abu Abdullah mengikuti Muhammad bin Kiram, yang memilih

madzhab yang paling buruk, hadits yang paling dha’if atau yang syubhat dan

memperbolehkan sifat bam dalam dzat Allah. Dia berkata, “Sesungguhnya

Allah ddak kuasa mengembalikan badan dan substansi. Dia hanya sanggup

menciptakannya.”

As-Salimiyah berkata, “Sesungguhnya Allah akan muncul pada hari

Kiamat dalam segala sesuatu yang ada, sesuai dengan jenisnya. Maka

keturunan Adam akan melihat-Nya dalam rupa keturunan Adam, dan jenis

jin akan melihat-Nya dalam rupa jin.”

Mereka berkata, “Allah mempunyai rahasia. Andaikata rahasia ini bocor,

maka gitgurlah kekuasaan-Nya.”

1 2 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masaiah Aqidah

Kami berlindung kepada Allah dari pandangan dan ilmu yang

mendorong munculnya paham yang buruk seperti ini. Para tokoh teologi

beranggapan bahwa iman itu belum dianggap sempurna kecuali setelah

mengetahui siapa yang menyusunnya dari kalangan teolog. Tentu saj<.

pendapat mereka ini salah. Sebab Rasulullah 0memerintahkan untuk

beriman, tanpa memerintahkan untuk mencari para teolog. Di samping itu,

derajat para sahabat yang telah diakui pembuat syariat menetapkan bahwv

mereka merupakan generasi manusia yang terbaik.

Dari Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats, dia berkata, “Aku

mendengar Ahmad bin Sinan berkata, “Al-Walid bin Abban Al-Karabisi

adalah pamanku. Tatkkala ajal menghampirinya, dia bertanya kepada anak-

anaknya, “Adakah kalian mengenal seseorang yang lebih mendalami teologi

daripada aku?”

“Tidak,” jawab mereka.

“Apakah kalian sengaja mengejekku?” tanyanya lagi.

“Tidak,” jawab mereka.

“Kalau begitu aku akan memberikan nasihat kepada kalian. Apakah

kalian mau menerimanya?’

‘"Ya,” jawab mereka.

Dia berkata, “Hendaklah kahan mengikuti para ahli hadits. Karena aku

melihat kebenaran ada pada diri mereka.”

Abul-Ma’ali Al-Juwaini berkata, “Aku pernah melancong menemui

berbagai pemeluk Islam dan mempelajari ilmu mereka. Aku juga pernah naik

perahu yang besar dan menyelam di tempat yang dilarang manusia. Semua

itu kulakukan dalam rangka mencari kebenaran dan lari dari taqlid. Kini aku

sudah kembali dari segala sesuatu kepada kalimat kebenaran. Hendaklah

kalian mengikuti agama orang-orang yang lemah. Kalaupun aku tidak

mendapatkan kebenaran dan kelembutan kebaikannya, maka biarlah aku mati

mengikuti agama orang-orang yang lemah dan hidupku berakhir dalam

perjalanan membawa kalimat ikhlas. Kecelakaan bagi Ibnul-Juwaini.” Dia

juga berkata kepada rekan-rekannya, “Wahai rekan-rekanku, janganlah

kalian menyibukkan diri dalam teologi. Andaikata aku tahu bahwa teologi

akan membuatku begini, tentu aku tidak akan sudi menyibukkan diri

dengannya.”

1 2 4 Perangkap Setan

Abul-Wafa’ bin Aqil berkata kepada rekan-rekannya, “Aku berani

memastikan bahwa para sahabat meninggal dunia tanpa mengenal apa itu

yang substansi dan apa itu yang bukan substansi. Jika engkau ridha menjadi

seperti mereka, maka jadilah seperd mereka. Jika engkau memandang jalan

para teolog lebih baik daripada jalan Abu Bakar dan Umar, maka itu

merupakan pandangan yang amat buruk.”

Dia juga berkata, “Teologi menyeret seseorang kepada keragu-raguan,

dan ddak jarang di antara mereka ada yang terseret kepada ateisme. Aroma

ateisme tercium dari untaian kata-kata para teolog. Pasalnya, mereka ddak

pernah merasa puas terhadap syariat yang ada, lalu mereka beralasan mencari

berbagai macam hakikat. Padahal kekuatan akal ddak mampu mengetahui

apa yang ada di sisi Allah, berupa hikmah yang khusus dimiliki Allah. Allah

ddak mengeluarkan dari ilmu-Nya bagi makhluk-Nya, apa yang disebut

dengan hakikat segala urusan.”

Ada segolongan orang yang perhatiannya tertuju kepada benda-benda

yang tampak, lalu hal ini mendorong mereka kepada tuntutan indera. Maka

sebagian di antara mereka berkata, “Sesungguhnya Allah itu berupa fisik.”

Ini merupakan pendapat Hisyam bin Al-Hakam, Ali bin Manshur,

Muhammad bin Al-Khalil dan Yunus bin Abdurrahman. Ternyata masih ada

perbedaan di antara mereka. Sebagian berkata, “Fisik sebagaimana layaknya

fisik.” Yang lain menyanggah, “Tidak sebagaimana layaknya fisik.” Perbedaan

ddak berhenti sampai di sini saja. Di antara mereka ada yang berkata, “Allah

adalah cahaya.” Yang lain berkata, “Dia serupa dengan batangan perak

bewarna pudh.” Begitulah yang dikatakan Hisyam bin Al-Hakam. Dia juga

berkata, “Allah itu setinggi tujuh jengkal. Dia bisa melihat apa yang

tersembunyi di bawah tanah lewat cahaya yang dipantulkan cermin.”

Kami benar-benar tak habis pikir terhadap orang yang menetapkan

ketinggian postur Allah sebanyak tujuh jengkal, serupa dengan postur

m a n u s i a .

Abu Muhammad An-Naubakhd menyebutkan dari Al-Jahizh, dari An-

Nizham, bahwa Hisyam bin Al-Hakam pernah berkata tentang lima pendapat

seputar penyerupaan Allah, yang di bagian akhirnya dia menyatakan bahwa

sesembahannya serupa dengan kednggian badannya, yaitu tujuh jengkal. Ada

yang mengatakan bahwa Alah membentuk batu kristal yang bulat. Jika engkau

mendekadnya, maka engkau akan meUhatnya seperd satu bentuk. Hisyam

1 2 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

berkata, “Dzatnya sangat kecil.” Sampai-sampai dia berkata, “Gunung pun

lebih besar dari-Nya. Dia juga mempunyai dri-dri yang bisa diketahui secara

pasti.”

Tipu daya macam apa pun yang dilakukan Iblis, tentunya dia

memerlukan suatu cara tertentu, di antaranya pengguguran terhadap tauhid.

Sebagaimana yang ditetapkan, hakikat itu tidak akan muncul kecuali dari

sesuatu yang mempunyai jenis dan juga mempunyai bandingan-bandingan.

sehingga dia memerlukan kelainan dan perbedaan dari bandingan-bandingan

itu. Yang pasti, Allah itu bukan termasuk jenis dan tidak mempunyai

bandingan, juga tidak boleh disifati bahwa Dzat-Nya merupakan kehendak-

Nya dan bukan kehendak-Nya, bukan dengan pengertian bahwa Dia pergi

ke berbagai arah tanpa ada kesudahannya. Tetapi yang dimaksudkan bahwa

Dia bukan termasuk fisik dan substansi, sehingga ada kesudahannya.

An-Naubakhti berkata, “Banyak para teolog yang mengisahkan bahwa

Muqatil bin Sulaiman, Nu’aim bin Hammad dan Daud Al-I<huwari berkata,

“Sesungguhnya Allah itu mempunyai rupa dan anggota tubuh.”

Engkau sudah tahu sendiri bagaimana mereka menetapkan sifat

terdahulu bagi Allah yang berlainan dengan keturunan Adam. Lalu mengapa

menurut mereka, Dia tidak tidak boleh mengalami seperti yang dialami

keturunan Adam, seperti sakit atau binasa? Bisa dikatakan kepada orang yang

menganggap bahwa Allah mempunyai fisik, “Dengan dalil yang mana engkau

menetapkan begitu, sehingga engkau bisa mendukung pendapatmu sendiri

bahwa Allah yang engkau yakini itu memiliki fisik yang baru?”

Sebagian di antara mereka berkata, “Allah itu fisik yang berupa angkasa,

dan semua fisik ada pada diri Allah.”

Bayan bin Sam’an beranggapan bahwa Allah itu adalah api yang

terbentuk dalam rupa seorang laki-laki, yang semua anggota badannya musnah

selain wajah-Nya saja. Karena anggapannya seperti ini, akhirnya dia dibunuh

Khalid bin Abdullah. Sementara Al-Mughirah bin Sa’d Al-Ajli beranggapan

bahwa Allah itu berupa seorang laki-laki yang terbentuk dari cahaya, di atas

kepalanya ada mahkota dan cahaya, yang juga mempunyai anggota badan

dan hati, yang dari sinilah muncul hikmah-Nya.

Jika ada orang yang bertanya, “Engkau telah mencela jalan orang-orang

yang bertaqlid dan jalan para teolog. Lalu apa jalan yang paling selamat dari

talhis Iblis?”

1 2 6 Perangkap Setan

Jawabannya: Yaitu jalan yang dilalui Rasulullah para sahabat dan

siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik, yang menetapkan Khaliq dan

sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan

berbagai pengabaran, tanpa menafsirinya dan mencari-cari di luar

kesanggupan pengetahuan manusia, percaya bahwa Al-Qur’an adalah kalam

Allah dan bukan makhluk.

All bin Abu Thalib tberkata, “Demi Allah, aku tidak menetapkannya

(Al-Qur’an) sebagai makhluk, tetapi aku menetapkannya sebagai Al-Qur’an

dan yang harus didengar, sebagaimana firman-Nya, '...supaya ia sempat

mendengar kalam Allah’. (At-Taubah: 6). Al-Qur’an itu tertulis di dalam lembar-

lembar mushhaf, sebagaimana firman-Nya, Vadalembaranyangterbuka’. (Ath-

Thur: 3). Kami ddak melangkahi apa yang dikandung ayat-ayatnya dan kami

tidak membicarakannya berdasarkan pendapat kami.”

Ahmad bin Hambal melarang seseorang berkata, ‘Pendapatku tentang

Al-Qur’an adalah makhluk dan bukan makhluk”, agar tidak keluar dan itba’

terhadap orang-orang salaf.

Dari Amr bin Dinar, dia berkata, “Aku pernah bertemu sembilan

sahabat Rasulullah yang semuanya berkata, “Siapa yang berkata bahwa

Al-Qur’an itu makhluk, maka dia adalah kafir.”

Malik bin Anas berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an

itu makhluk, maka dia layak dihinakan. Itu jika dia bertaubat. Jika tidak, maka

dia layak dipenggal.”

Dari Al-Auza’i, dia berkata, “Umar bin Abdul-Aziz berkata, ‘Jika

engkau melihat segolongan orang yang mengatakan sesuatu dalam masalah

agamanya, lain dari kebiasaan orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka

sedang memancangkan kesesatan’.”

Dari Sufyan Ats-Tsauri, dia berkata, ‘Aku mendengar dari Umar bin

Abdul-Aziz, bahwa dia pernah menulis yang ditujukan kepada para

gubernurnya, yang berisi: Aku nasihatkan kepadamu untuk bertakwa kepada

Allah mengikuti Sunnah Rasulullah %dan meninggalkan hal-hal yang

diada-adakan orang-orang sesudahnya, yang mereka itu tidak layak dikasihani.

Ketahuilah bahwa siapa yang menciptakan suatu sunnah dan diketahui

bertentangan dengan sunnah beliau, karena salah, tergelincir atau berlebih-

lebihan, maka sesungguhnya orang-orang yang terdahulu lebih suka berhenti

menggali ilmu dan menahan diri jika ada yang mengritiknya. Memang

1 2 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

mereka lebih bersemangat dalam mengungkap segala sesuatu. Namun tidak

ada orang yang menciptakan sesuatu yang baru melainkan karena mengikuti

selain jalan mereka dan tidak menyukai mereka.”

Dari Abdush-Shamad bin Hassan, dia berkata, “Aku mendengar Sufyari

Ats-Tsauri berkata, ‘Hendaklah kalian mengikuti para kuli, wanita dan anak

anak tatkala berada di rumah, bagaimana mereka membaca Al-Qur’an dar

b e r a m a l ’ . ”

Jika ada yang berkata, “Itu adalah keadaan orang yang lemah dan bukar

keadaan orang laki-laki.”

Jawabannya: Berhenti beramal merupakan urgensi, karena

mendapatkan alasan yang bisa memuaskan akal, tidak dikenal oleh para teolog.

sekalipun mereka sudah menyelami lautan yang paling dalam. Karena itu

mereka diperintahkan untuk berhenti menyelam lalu kembali ke pantai.

Jawaban mengenai hal ini juga sudah kami paparkan di bagian terdahulu.

Talbis Iblis terhadap Golongan Khawarij

Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya

ada lah Dzu l -Khuwa ish i rah .

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata, ‘AM bin Abu Thalib 4-^

mengirim utusan dari Yaman untuk menemui Rasulullah 0, sambil

menyerahkan emas yang dibungkus kantong kulit yang sudah disamak. Emas

itu masih asli dan belum disisihkan dari campuran tanahnya. Lalu Rasulullah

Smembagi emas itu kepada empat orang: Zaid Al-Khail, Al-Aqra’ bin Habis,

Uyainah bin Hishn dan Alqamah bin Ulatsah atau Amir bin Ath-Thufail.

Ada yang terasa mengganjal di dalam had Umarah (termasuk orang munafik),

karena dia melihat rekan-rekannya dari kalangan Anshar dan lain-lainnya

memiliki emas itu. Maka Rasulullah ̂ bersabda, ‘Apakah kalian tidak ,lagi

percaya kepadaku, sedangkan aku adalah orang yang dipercaya oleh siapa

yang berada di langit, yang kabar langit datang kepadaku pagi dan petang?”

Tak seberapa lama kemudian ada seorang laki-laki yang kedua matanya

cekung, tulang pipinya menonjol, keningnya menjorok ke depan, jenggotnya

lebat, jubahnya bergerai-gerai dan kepalanya gundul. Dia berkata,

“Bertakwalah kepada Allah wahai Rasulullah!”

Beliau mengangkat kepala memandang orang itu, seraya bersabda,

“Celaka engkau! Bukankah orang yang paling berhak untuk bertakwa kepada

1 2 8 Perangkap Setan

Allah adalah aku?” Setelah orang itu beranjak, Khalid berkata, “Wahai

Rasulullah, bagaimana jika leher orang itu kupenggal?”

Beliau menjawab, “Boleh jadi orang itu mendirikan shalat.”

Khalid berkata, “Sesungguhnya banyak orang yang shalat, namun

dengan lidahnya dia mengatakan apa yang tidak ada di dalam hatinya.”

“Aku tidak diperintahkan untuk menyelidiki hati manusia dan

membelah perutnya.” Kemudian Nabi ememandang Khalid yang hanya diam ,

saja, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya dari kaum ini akan muncul

segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, yang (bacaannya) tidak meiebihi

kerongkongannya. Mereka lepas dan agama sebagai anak panah yang lepas

dari busurnya.”

Orang tersebut bernama Dzul-Khuwaishirah At-Tamimi. Dalam lafazh

lain disebutkan, orang itu berkata, “Berbuat adillah!” Lalu beliau menjawab,

“Celaka engkau! Lalu siapa yang berbuat adil jika aku tidak adil?”

Dialah orang Khawarij yang pertama kali muncul dalam Islam.

Celakanya, dia merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Andaikan dia mau

menelaah lebih jauh, tentu dia akan mengetahui bahwa tidak ada pendapat

yang dapat mengungguli pendapat Rasulullah Orang-orang yang

mengikuti orang ini adalah mereka yang memerangi Ali bin Abu Thalib.

Pasalnya, ketika peperangan antara pasukan Ali bin Abu Thalib dan

Mu’awiyah berlarut-larut, maka rekan-rekan Mu’awiyah mengangkat Mushhaf

Al-Qur’an dan mengajak rekan-rekan Ali untuk berembug. Dari masing-

masing pihak disepakati seorang utusan untuk berembug dan menghalalkan

apa yang terkandung di dalam Kitab AUah. Orang-orang berkata, “Kami ridha

dengan hal ini.”

Utusan dari pihak Mu’awiyah adalah Amr bin Al-Ash. Rekan-rekan

Ali mengusulkan agar dia mengutus Abu Musa. Tetapi Ali berkata, “Aku

kurang sependapat jika menunjuk Abu Musa. Ini ada Ibnu Abbas.”

Namun mereka berkata, “Kami tidak ingin seorang utusan dari

pihakmu itu.'

Akhirnya Ali mengutus Abu Musa. Keputusan ditangguhkan hingga

Ramadhan. Lalu Urwah bin Udzainah berkata, “Kalian mengangkat orang-

orang sebagai penentu hukum mengenai urusan AUah, padahal tidak ada

h u k u m k e c u a l i m i l i k A U a h . ”

1 2 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Ali pulang dari Shiffin dan memasuki Kufah. Namun orang-orang

Khawarij tidak ikut serta bersamanya. Mereka pergi ke Haura’ dan singgah

di Sana, yang jumlahnya ada dua belas ribu orang. Mereka berkata, “Tidak

ada hukum kecuali milik Allah.” Ini merupakan tanda pertama kemunculan

mereka. Ada seseorang di antara mereka yang mengumumkan, bahwa

komandan perang ada di tangan Syabib bin Rab’i At-Taraimi, adapun yang

menjadi imam shalat adalah AbduRah bin Al-Kawa Al-Yasykuri. Orang-orang

Khawarij tetap melakukan ibadah sebagaimana mestinya, hanya saja mereka

percaya bahwa mereka lebih pintar daripada Ali bin Abu Thalib. Tentu saja

ini merupakan penyakit yang sulit diobati.

Dari Sammak bin Rumail, dia berkata, “Abdullah bin Abbas berkata,

Tatkala orang-orang Khawarij menyatakan untuk memisahkan diri, mereka

memasuki suatu tempat, yang jumlah mereka ada enam ribu orang. Mereka

sepakat untuk memerangi Ali bin Abu Thalib. Lalu ada seseorang yang

mengabarkan kepada Ali, “Wahai Amirul-Mukminin, mereka akan memerangi

engkau.”

Ali menjawab, “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka

sehingga mereka memerangi aku, dan rupanya mereka benar-benar akan

melakukannya.”

Abdullah bin Abbas berkata, “Suatu hari aku menemui Ali bin Abu

Thalib sebelum shalat zhuhur, lalu kukatakan kepadanya, Wahai Amirul

Mukminin, buatlah suasananya menjadi dingin. Siapa tahu aku bisa menemui

mereka dan berbicara dengan mereka.”

“Aku mengkhawatirkan keselamatan dirimu,” kata Ali.

“Engkau tidak perlu khawatir. Toh aku dikenal orang yang halus

akhlaknya dan aku juga tidak pernah menyakiti seorang pun,” kataku.

Akhirnya Ali bin Abu Thalib memberiku izin. Dengan mengenakan jubah

Yaman yang paling bagus, aku menghampiri mereka dengan berjalan kaki

selama setengah hari. Aku menemui sekumpulan orang yang tidak pernah

kulihat ijtihadnya sekeras mereka. Di kening mereka ada bekas sujud. Tangan

mereka seperti kaki onta. Pakaian mereka basah oleh keringat dan wajah

mereka terlihat letih karena banyak berjaga pada waktu malam. Aku

mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab, “Selamat datang

wahai Ibnu Abbas. Kabar apa yang engkau bawa?”

1 3 0 Perangkap Setan

Aku menjawab, “Aku datang kepada kalian dari sisi orang-orang

Muhajirin dan Anshar serta dari sisi menantu Rasulullah Kepada merekalah

Al-Qur’an turun dan merekalah yang paling mengetahui ta’wilnya daripada

k a l i a n . ”

Sebagian di antara mereka berkata, “janganlah kalian memerangi orang-

orang Quraisy, karena Allah telah befirman, ‘Sebenarnja mereka adalah kaum

yang suka bertengkar’. ”(Az-Zukhruf: 58)

Kemudian ada dua atau tiga orang yang berkata, “Biarkan kami saja

yang berbicara dengannya.”

Aku berkata kepada mereka, “Berikan alasan, mengapa kalian

mendendam terhadap menantu Rasulullah 0, orang-orang Muhajirin dan

Ansar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan? Sementara tak

seorang pun di antara kalian yang termasuk golongan mereka, dan mereka

pun lebih mengetahui ta’wilnya.”

Mereka menjawab, “Ada tiga alasan.”

“Katakan saja!” kataku.

Mereka menjawab, ‘A:ang pertama, karena Ali mengangkat beberapa

orang sebagai pembuat keputusan hukum dalam urusan AUah. Padahal AUah

telah befirman, ‘Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah’. (Al-An’am: 57).

bagaimana hak manusia membuat keputusan hukum setelah ada firman

A U a h ? ”

“Ini alasan yang pertama. Lalu apa alasan lainnya?” tanyaku.

Mereka menjawab, “Alasan yang kedua, karena dia berperang dan

membunuh, tidak mau menawan dan tidak mau mengambil harta rampasan.

Kalau memang mereka benar-benar orang-orang Mukmin, lalu mengapa kami

diperbolehkan memerangi dan membunuh mereka, tetapi tidak diperbolehkan

m e n a w a n m e r e k a ? ”

“Lalu apa alasan yang ketiga?” tanyaku.

Mereka menjawab, “Karena dia (Ali) menghapus sebutan Amirul

Mukminin dari dirinya. Sebab jika bukan Amirul-Mukminin (pemimpin

orang-orang Mukmin), berarti dia adalah pemimpin orang-orang kafir.”

“Apakah kalian masih mempunyai alasan yang lain lagi?” tanyaku.

Mereka menjawab, “Cukup itu saja.”

1 3 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Kukatakan kepada mereka, “Tentang pernyataan lialian, bahwa dia telah

mengangkat beberapa orang untuk membuat keputusan hukum dalam urusari

Allah, maka aku dapat membacakan ayat kepada kalian di daiam Kitab Allah

yang dapat menggugurkan pendapat kalian ini. Kalau memang pendapa:

kalian gugur, apakah kalian mau kembali lagi?”

“Baiklah,” jawab mereka

Aku berkata, “Sesungguhnya Allah telah menyerahkan keputusar

hukum-Nya kepada beberapa orang, untuk membayar empat dirham sebaga

gand pembayaran seekor kelinci, sebagaimana firman-Nya,

“]anganlah kalian membunuh hinatang huruan, ketika kalian sedang

ihram..." dan seterusnya hingga akhir ayat (Al-Maidah: 95).

Begitu pula tentang wanita dan suaminya, Allah telah befirman,

“Dan, jika kalian khawatirkan ada persengketaan antara kednanya, maka

kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari kelnarga

perempnan...” dan setemsnya hingga akhir ayat (An-Nisa*: 35).

Aku berkata lagi, “Maka kupertanyakan kepada kalian atas nama Allah,

apakah kalian juga mengenal keputusan beberapa orang juru pendamai untuk

mendamaikan di antara kalian dan dalam melindungi darah mereka? Lalu

manakah yang lebih utama dengan keputusan hukum mereka tentang seekor

k e l i n c i d a n w a n i t a ? ”

‘^ang benar adalah pendapat kami,” jawab mereka.

“Kalau begitu permasalahannya sudah menyimpang.”

“Benar,” jawab mereka.

Aku berkata, “Sedangkan tentang pendapat kalian bahwa Ali berperang

dan tidak mau menawan serta mengambiJ harta rampasan, lalu apakah kalian

hendak menawan ibu kalian, Aisyah ?Demi Allah, jika kalian berkata,

“Dia bukan ibu kami”, berarti kalian telah keluar dari Islam. Demi Allah, jika

kalian berkata, “Kami boleh menawannya dan kami boleh berbuat apa pun

terhadap dirinya seperti yang kami perbuat terhadap selainnya”, berarti kalian

telah keluar dari Islam. Dengan begitu kalian berada di antara dua kesesatan.

Sebab Allah ^telah befirman,

“Nohi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orangMukmin dandiri mereka

sendiri dan istriAstrinya adalah ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6).

1 3 2 Perangkap Setan

Kutanyakan kepada mereka, “Apakah memang kalian keluar dan hal

i n i ? ”

“Benar,” jawab mereka.

Aku berkata lagi, “Tentang perkataan kalian bahwa dia (Ali) menghapus

dari dirinya sebutan Amirul-Mukminin, maka aku datang dari sisi orang yang

kalian juga meridhai, bahwa pada peristiwa Hudaibiyah Nabi ̂ mengukuhkan

perdamaian dengan dua orang musyrik, Abu Sufyan bin Harb dari Suhail

bin Amr. Saat itu beliau bersabda kepada Ali, “Tulislah selembar tulisan bagi

mereka!” Maka Ali menuliskan bagi mereka, “Ini merupakan perjanjian yang

disepakati Muhammad, Rasul Allah.”

Orang-orang musyr ik berkata, “Demi Al lah, kami t idak

mempercayaimu sebagai Rasul Allah. Andaikan kami mempercayaimu sebagai

Rasul Allah, tentunya kami tidak akan memusuhimu.”

RasuluUah ̂ bersabda, ‘A'a Allah, sebenarnya engkau tahu bahwa aku

memang Rasul Allah. Hapus wahai Ali, dan tulislah: ini merupakan perjanjian

yang disepakad Muhammad bin Abdullah.”

Demi Allah, RasuluUah adalah orang yang lebih baik daripada AU.

Namun beliau menghapus sebutan bagi diri beliau.

Ibnu Abbas berkata, “Akhirnya ada dua ribu orang di antara mereka

yang kembali lagi. Yang lainnya ada yang berusaha kembaU, tetapi mereka

d i b u n u h . ”

Dari Jundab Al-Azdi, dia berkata, “Saat kami menemui orang-orang

Khawarij bersama Ali bin Abu Thalib, maka kami berhadapan dengan

pasukan mereka. Dari tengah mereka keluar suara berdengung karena bacaan

Al-Qur’an.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Ali bin Abu Thalib

sudah menetapkan keputusan, ada dua orang dari Khawarij, yaitu Zar’ah bin

Al-Burj Ath-Tha’i dan Hurqush bin Zuhair As-Sa’di yang menemuinya, seraya

berkata, “Tidak ada ketetapan hukum kecuali milik AUah.”

Ali menyahut, “Memang ddak ada ketetapan hukum kecuaU milik

Allah.^

Hurqush berkata, “Kalau begitu bertaubadah dari kesalahanmu dan

tariklah kembali keputusanmu tentang kami serta bergabunglah bersama kami

menghadapi musuh hingga kita bersua AUah. Jika engkau ddak menarik

1 3 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

kembali keputusanmu mengangkat beberapa orang untuk membuat

keputusan yang sudah ada di dalam Kitab Allah iSife, maka kamilah yang

justru akan menyerangmu. Aku melakukan yang demikian itu karena menca;:i

Wajah Allah.”

LaJu orang-orang Khawarij berkumpul di rumah Abdullah bin Wahb

Ar-Rasiby. Dia berkata, “Tidak selayaknya bagi orang-orang yang berimai

kepada Allah dan menisbatkan dirinya kepada hukum Al-Qur’an untuk

mementingkan dunia ini daripada diri kami, mementingkan apa yang ada

pada dirinya daripada amar ma’ruf nahi mungkar serta perkataan yang benar.

Maka keluarlah bersama golongan kami.”

Lalu Ali bin Abu Thalib menulis surat kepada mereka: “Dua orang

yang telah kalian urus kepada kami dan membuat dua keputusan hukurr,

telah menyalahi Kitab Allah dan hanya mengikuti nafsunya. Kami tetap

mengikuti jejak yang pertama.”

Mereka membalasnya; “Sebenarnya engkau tidak marah kepada Kabb-

mu, tetapi marah kepada dirimu sendiri. Jika engkau mau mempersaksikan

kekufuran atas dirimu lalu engkau bertaubat, maka kami masih bisa

mempertimbangkan lagi hubungan di antara kita. Jika tidak, maka kami akan

m e l i b a s m u . ”

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Abdullah bin Khabbat.

Lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah mendengar sebuali

hadits dari ayahmu, dan RasuluUah ̂ yang menyinggung diri kami?”

‘^a,” jawabnya, “Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari

RasuluUah bahwa beliau menyebutkan suatu cobaan, orang yang duduk

saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih bail:

daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada

orang yang berlari. Jika engkau mendapatkan yang demikian itu, maka jadilah

hamba AUah yang terbunuh.”

Mereka berkata, “Engkau mendengar yang seperti ini dari ayahmu,

bahwa itu benar datang dari RasuluUah?”

“Benar,” jawabnya.

Lalu mereka rnenyeret AbduUah bin Khabbab ke pinggir sungai lalu

memenggal lehernya, hingga darahnya mengalir seperti tali sandal. Mereka

juga membelah perut istrinya yang sedang mengandung anaknya. Mereka

1 3 4 Perangkap Setan

singgah di sebuah kebun korma di kaki bukit di Nahrawan. Secara kebetulan

ada buah korma yang jatuh. Salah seorang di antara mereka mengambilnya

dan memasukkannya ke mulut, hendak memakannya. Orang lain di

sampingnya berkata, “Engkau mengambil buah korma itu tidak menurut

hukumnya dan juga belum membayarnya.” Lalu dia mengambil korma itu

dari mulut temannya dan membuangnya. Orang yang hendak memakan

korma tersebut menghunus pedangnya. Ketika ada seekor babi milik Ahli

Dzimmah, orang yang memakan korma itu memenggal lehernya dan jasadnya

diserahkan kepada babi. Mereka berkata, “Orang semacam ini (yang

menentang perbuatan orang yang memakan korma) merupakan kerusakan

di muka bumi . ”

Ali bin Abu Thalib mengirim utusan untuk menyampaikan pesan:

“Serahkan pembunuh Abdullah bin Khabbab kepada kami!”

Mereka menjawab, “Kami semua pembunuhnya.”

Utusan itu berseru tiga kali dan mereka menjawab dengan jawaban

yang sama pula. Akhirnya Ali berseru kepada pasukannya, “Serang mereka!”

Satu persatu mereka bisa dibunuh. Pada saat peperangan itu berkobar,

sebagian orang-orang Khawarij berkata kepada sebagian yang lain, Bersiap-

siaplah kalian untuk bersua Allah. Pergilah ke surga, pergilah ke surga!”

Kemudian Abdurrahman bin Muljam mengumpulkan teman-temannya

dan menyebutkan orang-orang yang terbunuh di Nahrawan, yang membuat

mereka merasa simpati terhadap teman-teman mereka yang sudah terbunuh.

Maka mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak ingin hidup di dunia ini setelah

teman-teman kami terbunuh, yang mereka itu tidak takut karena urusan Allah

terhadap orang yang suka mencela. Andaikan kami boleh membeli diri kami

karena Allah dan bisa mencari selain para pemimpin yang sesat itu, maka

lebih baik jika kami dipertemukan dengan teman-teman kami yang sudah

terbunuh dan kami bisa terbebas dari orang-orang yang masih hidup.”

Dari Muhammad bin Sa’d, dan beberapa syaikhnya, mereka berkata,

“Ada tiga orang pemuka Khawarij, yaitu Abdurrahman bin Muljam, Al-Barak

bin Abdullah dan Amr bin Bakar At-Tamimi yang berkumpul di Makkah.

Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh

dga orang, yaitu Ali, Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash.

Ibnu Muljam berkata, “Serahkan Ali kepadaku.”

1 3 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah

Al-Barak berkata, “Serahkan Mu’awiyah kepadaku.”

Amr berkata, “Serahkan Amr bin Al-Ash kepadaku.

Mereka berjanji untuk tidak saling berkhianat dalam masalah ini dalam

menghadapi sasaran masing-masing. Maka Ibnu Muljam pergi ke Kufah. Pada

suatu malam sesuai dengan rencana Ibnu Muljam untuk membunuh Ali 4^,

kebetulan Ali sedang keluar untuk shalat subuh. Maka secara tiba-tiba Ibnu

Muljam menebaskan pedangnya tepat mengenai kening Ali hingga ubun-

ubunnya. Ali berteriak, “Jangan biarkan orang ini lolos!”

Setelah orang-orang mencekalnya, Ummu Kultsum, putri Ali bin Abu

Thalib berkata, “Wahai musuh Allah, engkau telah membunuh Amirul-

M u k m i n i n . ”

7 7

“Toh aku hanya membunuh ayahmu,” jawab Ibnu Muljam.

“Demi Allah, Aku benar-benar berharap semoga Amirul-Mukminin

tidak apa-apa,” kata Ummu Kultsum.

“Lalu mengapa engkau menangis? Demi Allah, Aku sudah merendam

pedangku itu dalam racun selama sebulan. Tidak mungkin dia masih tetap

hidup setelah Aku mati, karena Aku tetap akan berhasil membunuhnya.”

Ketika Ali bin Abu Thalib benar-benar meninggal dunia, Ibnu Muljam

digelandang keluar untuk menjalani hukuman mati. Pertama-tama Abdullah

bin Ja’far memotong kedua tangannya dan kedua kakinya. Diperlakukan

seperti itu Ibnu Muljam sama sekali tidak merintih kesakitan dan juga tidak

berbicara apa-apa. Lalu kedua matanya dicongkel dengan paku yang dibakar.

Dia tetap tidak merintih. Lalu dia membaca ayat, “Baca/ab dengan (menjebut)

nama Kabbmu Yang mendptakan. Dia telah mendptakan manusia dari segumpal

darah “, hingga akhir surat dan Al-Alaq. Barulah dari kedua matanya mengalir

air mata. Ketika lidahnya siap untuk dipotong, dia mulai merintih kesakitan.

“Mengapa engkau merintih kesakitan?” tanya seseorang.

Ibnu Muljam menjawab, “Aku tidak suka di dunia ini ada orang yang

meninggal dunia, seperti Aku yang tidak bisa berdzikir kepada Allah.”

Di kening Ibnu Muljam, yang dilaknat Allah, ada warna kecoklat-

coklatan karena bekas sujud.

Inilah beberapa gambaran tentang jalan pikiran dan pendapat orang-

orang Khawarij. Ketika Al-Hasan hendak mengukuhkan perdamaian

dengan Mu’awiyah, ada salah seorang dari Khawarij yang menemuinya, yaitu

1 3 6 Perangkap Setan

Al-Jarrah bin Sinan, yang berkata kepadanya, “Kamu menjadi musyrik seperti

yang dilakukan ayahmu.” Kemudian Al-Hasan memenggal pangkal paha Al-

Jarrah.

Orang-orang PGiawarij selalu menemui para pemimpin dengan

menawarkan berbagai macam jalan pikiran mereka yang berbeda-beda. Rekan-

rekan Nafi’ bin Al-Azraq berkata, “Kami orang-orang musyrik selagi kami

berada di wilayah yang musyrik. Namun jika kami sudah keluar dan sana,

maka kami adalah orang-orang Muslim.”

Mereka juga berkata, “Orang-orang yang memiliki jalan pikiran yang

berseberangan kami adalah orang-orang musyrik. Orang-orang yang

melakukan dosa besar juga musyrik. Orang-orang yang tidak mau bergabung

dengan kami dalam peperangan adalah orang-orang kafir.”

Mereka menghalalkan darah wanita, anak-anak dan semua orang

Muslim selain golongan mereka, karena mereka menganggap orang lain

sebagai orang musyrik.

Sebenarnya Najdah bin Amir Ats-Tsaqfi termasuk golongan Khawarij.

Hanya saja dia berbeda pendapat dengan Nafi’ bin Al-Azraq dalam masalah

darah orang-orang Muslim dan harta benda mereka. Najdah juga berpendapat

bahwa orang-orang yang berbuat dosa dan para pengikumya diadzab, tetapi

tidak di dalam neraka Jahannam. Sebab neraka Jahannam hanya

diperuntukkan bagi orang-orang yang menyalahi pendapat golongan

Khawarij.

Ibrahim berkata, “Golongan Khawarij adalah golongan orang-orang

kafir. Kita tidak boleh merukah dan mewarisi dari mereka seperti yang terjadi

pada permulaan Islam. Sebagian di antara mereka ada yang berkata,

“Andaikata seseorang mengambil dua keping uang dari harta anak yatim,

maka dia akan masuk neraka. Andaikata tangannya dipotong, dibelah perutnya

atau dibunuh, maka yang membunuhnya tidak akan masuk neraka.”

Banyak kisah tentang mereka, begitu pula jalan-jalan pikiran yang aneh-

aneh dari mereka. Kami melihat tidak perlu memperpanjang pembahasan

tentang mereka, karena kami hanya bermaksud melihat seberapa jauh talbis

Iblis yang dilancarkan terhadap orang-orang bodoh yang hanya melihat sisi

kehidupan mereka sendiri, yang merasa yakin bahwa Ali bin Abu Thalib

Karramahullahu Wajhahu berada pada kesalahan, begitu pula orang-orang

1 3 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidali

Muhajirin dan Anshar yang bersamanya. hanya mereka saja yang benar.

Mereka juga menghalalkan darah anak-anak yang tidak berdosa, tetapi tidak

mengusik orang yang memakan korma tanpa membayarnya terlebih dahulu

Mereka membebani diri dengan ibadah dan jarang tidur malam.

Ketika lidah Ibnu Muljam hendak dipotong, dia merintih karena tidak

bisa berdzikir. Dia merasa benar dengan membunuh Ali bin Abu Thalib.

Mereka juga mengangkat pedang untuk membunuh orang-orang Muslim

Tidak terlalu mengherankan jika mereka merasa hebat dengan ilmunya dan

merasa yakin bahwa mereka lebih pandai daripada Ali Toh rang semacarr

Dzul-Khuwaishirah pernah berkata kepada Rasulullah “Berbuat adillah.

karena engkau tidak berbuat adil.” Tentu saja Iblis tidak melewatkan orang

semacam ini. Kami berlindung kepada AUah dari kesia-siaan.

Dari Muhammad bin Ibrahim, dia berkata, ‘Aku mendengar RasuluUah

bersabda,

> ^ y ) .

^ ^ ^

!VA' dr* d r *

* -

“Akan muncul segolongan orang di tengah kalian dimana shalat mereka lebih

unggul jika dibaruiingkan dengan shalat kalian, puasa mereka lebih unggul

jika dibandingkan dengan puasa kalian, amal mereka jika dibandingkav

dengan amal kalian. Mereka membaca Al-Qur'an, (yang bacaannya) tidak

melebihi tenggorokan. Mereku lepas dari agama sebagaimana anak panah

yang lepas dari busumya.” {HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah

Sbersabda,

“Kh