Memiliki
takwa, tidak layak mendapatkan cinta. Kemudian cinta Allah ̂ terhadap
hamba tidak menggebu-gebu, sebagaimana cinta seseorang kepada orang
lain. Sebab jika masalahnya seperti itu, tenru banyak perkara yang bisa terjadi.
Talbis Iblis terhadap Golongan Shabfm
Istilah Shabi’in berasal dan kata perkataan mereka, ‘[Shaba ‘tu”, yaitu
ketika keluar dan sesuatu kepada sesuam yang lain. Shaba‘at an-nujum artinya
bintang terlihat. Shaba‘a bihi artinya keluar. Shabi’in artinya orang-orang yang
keluar dari suatu agama dan berpindah ke agama lain. Ada sepuluh pendapat
di kalangan ulama tentang golongan ini yaitu:
Menurut riwayat Salim dan Sa’id bin Jubair, mereka merupakan
golongan antara Nashrani dan Majusi.
Menurut riwayat Ibnu Abi Najih dan Mujahid, mereka merupakan
golongan antara Yahudi dan Majusi.
Menurut riwayat Al-Qasim bin Abu Bazzah dan Mujahid, mereka
merupakan golongan antara Yahudi dan Nasrani.
Menurut riwayat Abu Shalih dan Ibnu Abbas, mereka merupakan
golongan dan Nashrani yang perkataannya relatif lebih lembut.
Menurut riwayat Al-Qasim dan Mujahid, mereka merupakan golongan
dari orang-orang musyrik yang tidak mempunyai kitab.
Menurut Al-Hasan, mereka serupa dengan Majusi.
Menurut Abul-Aliyah, mereka merupakan golongan dari Ahli Kitab
yang membaca Zabur.
Menurut Qatadah dari Muqatil, mereka adalah orang-orang yang shalat
menghadap kiblat, menyembah malaikat dan membaca Zabur.
1.
2 .
3 .
4 .
5 .
6 .
7 .
I l lBab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Menurut As-Saddi, mereka merupakan î olongan dari Ahli PGtab.
Menurut Ibnu Zaid, mereka adalah orang-orang yang mengucapkan
la i/uha illallah, tetapi mereka tidak mempuiij'ai amalan, ddak mempunyai
kitab dan nabi.
Ini menurut pendapat para ahli tafsir, seperti Ibnu Abbas, Al-Qasim,
Al-Hasan dan lain-lainnya. Sedangkan para teolog berkata, “Sekte Shabi’in
sangat beragam. Di antara mereka ada yang berkata, “Di sana ada benda
benda yang ada sejak dahuiu kala, yang senantiasa membentuk alam ini’.
Mayoritas di antara mereka mengatakan bahwa aJam ini bukan sesuatu yang
baru. Mereka menyebut planet-planet sebagai para malaikat dan sebagian
ada yang menyebumya sebagai tuhan, seraya menyembahnya dan mendirikau
rumah-rumah ibadah. Mereka beranggapan bahwa rumah Allah yang suci
itu hanya ada satu, yaitu rumah ibadah untuk Saturnus. Sebagian yang lain
beranggapan bahwa AUah tidak bisa disifati kecuali dengan penafian, bukan
dengan penetapan. Maka bisa dikatakan, ‘Allah itu tidak baru, tidak matt,
tidak bodoh, tidak lemah’. Menurut mereka, supaya tidak sampai terjadi
penyerupaan. Mereka menetapkan beberapa macam ibadah sesuai dengan
ketetapan syariatnya. Mereka shalat tiga kali sehari, yang pertama delapan
rakaat, yang setiap rakaatnya terdiri dari tiga sujud, yang waktu pelaksanaannya
hingga matahari terbit. Shalat kedua terdiri dari lima rakaat, begitu pula shala-;
yang ketiga. Mereka juga berpuasa dengan jumlah hari yang tertentu, yang
diakhiri dengan shadaqah dan menyembelih hewan. Mereka mengharamkaii
daging onta dan kambing, tetapi lama-kelamaan ketetapan mereka ini sirni.
bersamaan dengan surutnya golongan ini. Mereka percaya bahwa roh yang
baik akan naik ke planet dan ke angkasa, sedangkan roh yang jahat akar
turun ke bumi dan ke tempat-tempat yang gelap. Di antara mereka juga ad;,
yang berpendapat bahwa alam ini tidak fana. Pahala dan siksa hanya berlaki
dalam penitisan roh.”
Yang pasti, anggapan dan pendapat mereka seperti ini tidak perlu untuk
ditanggapi. Sebab apa yang mereka nyatakan itu sama sekali tidak didukung
daUl .
9 .
1 0 .
Iblis telah memperdayai segolongan dari Shabi’in bahwa mereka
meHhat kesempurnaan dalam mendapatkan hubungan antara diri mereka dan
kekuatan roh yang tinggi, dengan cara menggunakan hal-hal yang suci, tatanan
dan seruan. Mereka juga aktif meramal dengan nujum dan praktik
1 1 2 Perangkap Setan
perdukunan. Menurut mereka, hams ada perantara antara Allah dan makhluk-
Nya dalam memperkenalkan hal-hai yang balk dan menunjang kemaslahatan.
hanya saja perantara itu harus bersifat roh dan bukan bersifat fisik. Mereka
berkata, “Kami bisa mendapatkan hubungan yang suci antara diri kami dan
Allah. Maka ini merupakan perantara bagi kami untuk menjaMn hubungan
dengan-Nya.” Sekalipun begitu, mereka tidak mengingkari kebangkitan
s e s u d a h k e m a t i a n .
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Majusi
Yahya bin Bisyr bin Umair An-Nahawundi berkata, “Raja Majusi yang
pertama kali adalah Comoth. Dia datang kepada mereka dan mengaku sebagai
nabi. Dia hidup bersama mereka dan terkenal dengan nama Zaradosta.
Mereka berkata, “Allah itu merupakan sosok rohani yang bisa muncul
sewaktu-waktu. Banyak hal-hal yang bersifat rohani muncul bersama-Nya
secara sempurna.” Zaradosta sendiri berkata, “Tak seorang pun selain dihku
mempunyai potensi untuk menciptakan seperti yang kuciptakan ini.” Dari
jalan pikirannya inilah muncul istilah kegelapan, yang di dalam kegelapan ini
terdapat pengingkaran terhadap kekuasaan yang lain, lalu ia bangkit untuk
mengalahkannya.
Di antara aturan yang ditetapkan Zaradosta ialah penyembahan
terhadap api dan shalat kepada matahari, karena matahari itu dianggap sebagai
penguasa alam, yang muncul pada siang hari dan tenggelam pada malam
hari, menghidupi tanaman dan binatang serta mengirimkan kehangatan ke
tubuhnya. Mereka tidak mengubur orang yang meninggal dunia di dalam
tanah, sebagai pengagungan terhadap bumi dan tanah. Karena dari tanahlah
binatang muncul, jadi tidak sepatumya tanah itu dikotori. Mereka juga tidak
mandi dengan menggunakan air, sebagai pengagungan terhadap air. Karena
menurut mereka, air merupakan kehidupan segala sesuatu. Mereka tidak
meludah ke tanah, tidak membunuh binatang dan menyembelihnya. Mereka
biasa membasuh muka dengan air kencing sapi, sekaligus untuk meminta
barakah kepada sapi itu. Jika sapi itu dilepaskan secara bebas, maka barakahnya
lebih banyak lagi. Mereka memperbolehkan bersetubuh dengan ibu sendiri.
Menurut mereka, anak lebih patut memuaskan birahi ibunya sendiri. jika
seorang laki-laki meninggal dunia, maka anaknya paling berhak untuk
memiliki janda ayahnya. Mereka memperbolehkan seseorang menikahi berapa
wanita pun, seratus bahkan bisa seribu wanita. Jika wanita haid hendak mandi,
1 1 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
maka dia hams menyerahkan uang satu dinar kepada juru kunci, lalu juru
kunci itu membawanya ke rumah api, membungkukkannya dan
membersihkannya dengan jari telunjuk.
Hal-hal seperti ini semakin ditonjolkan Mazdak pada masa
pemerintahan Qubadz. Dia memperbolehkan wanita mana pun yang ingin
dinikahi laki-laki. Karena itu Mazdak juga menikahi istri Qubadz agar menjadi
contoh bagi rakyat. Maka rakyat bisa berbuat seperti itu menurut kehendak
mereka. Ketika ibu Anusyirwan mendengar hal ini, dia berkata kepada
Qubadz, “Temuilah aku. Jika engkau menolak memenuhi birahiku, berarti
imanmu tidak sempurna.” Maka Qubadz bermaksud hendak menyetubuhi
ibu Anusyirwan. Ketika mengetahui hal itu, Anusyirwan menangis di hadapan
Mazdak sambil memegangi kakinya, seraya meminta kepada Qubadz untuk
menghindari ibunya. Maka Qubadz berkata kepada Mazdak, “Bukankah
engkau berpendapat bahwa orang yang beriman itu tidak harus menolak
birahinya?”
“Begitulah,” jawab Mazdak.
“Lalu mengapa engkau menolak birahi Anusyirwan?”
“Aku menyerahkan ibunya” jawab Mazdak.
Di antara pernyataan orang-orang Majusi, “Bumi ini tidak mempunyai
batas jika ditembus ke bawah. Sedangkan langit merupakan salah satu kulit
setan. Petir merupakan gerakan Ifrit tatkala mendengkur dan dalam keadaan
terbelenggu di ufiik. Gunung merupakan mlang Ifrit dan lautan merupakan
air kencing dan darahnya.
Di kalangan orang-orang Majusi muncul seseorang pada masa peraJihan
kekuasaan dari Bani Umay)̂ ah ke Bani Abbasiyah, yang mampu memperdayai
banyak orang. Dia merupakan tokoh Majusi terakhir yang muncul. Menurut
para ulama, orang-orang Majusi mempunyai beberapa kitab yang selalu
dipelajari.
Satu gambaran dari talbis Iblis terhadap mereka, bahwa mereka melihat
dalam perbuatan im ada yang baik dan yang buruk. Lalu mereka merekayasa
di hadapan para pengikutnya, bahwa orang yang berbuat kebaikan tidak akan
berbuat keburukan. Karena itu mereka menetapkan adanya dua tuhan: Tuhan
cahaya yang bijaksana, yang ddak berbuat kecuali kebaikan, dan tuhan setan,
yang tidak berbuat kecuali keburukan.
1 1 4 Perangkap Setan
Talbis Iblis terhadap Ahli Nujum dan Astronomi
Abu Muhammad An-Naubakhti berkata, “Mereka beq^endapat bahwa
perjalanan bintang itu sesuatu yang lama dan tddak ada yang menciptakannya.
Begitulah yang dikisahkan Galenos dan segolongan orang yang berkata,
“Sarurnus adalah satu-satunya yang terlama.”
Itu merupakan alam yang alami
dan murni, tidak mempunyai panas dan dingin, tidak basah dan tidak kering,
tidak berat dan tidak ringan.”
Sebagian yang lain berpendapat bahwa bintang itu merupakan inti )'ang
mengandung api, yang berpisah dengan bumi karena perputarannya yang
terlalu kencang. Yang lain lagi berpendapat, bintang-bintang itu berupa benda
\̂ ang menyerupai batu. Yang lain lagi berkata, “Bintang itu tercipta dari awan,
yang setiap hari padam dan bercahaya pada malam hari, seperti halnya arang
yang bisa menyala dan bisa padam.”
Sebagian yang lain berkata, “Bintang itu terbuat dari air, angin dari
api, yang bentuknya bulat dan mempunyai dua macam gerakan dari timur ke
barat, dan dari barat ke timur. Sedangkan Saturnus berputar pada orbitnya
selama tiga puluh tahun, Jupiter selama dua belas tahun, Mars selama dua
tahun, Matahari, Venus, Mercurius dan Bulan selama tiga puluh hari.”
Sebagian yang lain berkata, “Orbit bintang itu ada tujuh, yang paling
dekat dengan kita adalah Bulan, kemudian Mercurius, Venus, Matahari, Mars,
Jupiter, Saturnus, kemudian planet-planet yang tidak bergerak.”
Mereka saling berbeda pendapat tentang besarnya planet-planet itu.
Mayoritas filosof mengatakan bahwa yang paling besar adalah Matahari, yang
besarnya kira-kira seratus enam puluh enam kali besarnya bumi. Adapun
planet-planet yang tidak bergerak, besarnya mencapai sembilan puluh empat
kali besarnya bumi. Besarnya Jupiter delapan puluh dua kali besarnya bumi,
besarnya Mars satu setengah besarnya bumi.
Sebagian di antara mereka berkata, “Planet itu merupakan sesuatu yang
hidup dari langit merupakan kehidupannya. Di setiap planet ada penghuninya.
Para filosof kuno berpendapat, bahwa bintang-bintang itu bisa berbuat baik
dan buruk, bisa memberi dan menahan, sesuai dengan tabiat masing-masing,
bisa mempengaruhi jiwa dan ia hidup.”
Sebagian di antara mereka berkata.
1 1 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Mengingkari Kebangkitan
Sesudah Kematian
Iblis mampu memperdayai sekian banyak manusia, sehingga di antara
mereka ada yang mengingkari kebangkitan dan menganggapnya sesuatu yang
mustahil. Pendapat mereka itu didukung dua syubhat:
Mereka diperdaya oleh kelemahan mated.
Karena bagian-bagian tubuh sudah berceceran di dalam tanah dan tidak
mungkin dihimpun kembali. Mereka berkata, “Binatang biasa memakan
binatang. Lalu bagaimana mungkin keadaan ini bisa dikembaiikan lagi
Al-Qur’an telah mengisahkan syubhat perkataan mereka ini dalam
firman Allah,
1.
2 .
_ , ^ y t . f ' ’ J ' i J
CSS
{ ra
“Apakah ia menjanjikan kepada kalian, hahiua kalian telah mati dan telah
menjadi tanah serta tulang'helulang, kalian sesungguhnya akan dikeluarkan
(dari kubur kalian)?” (Al'Mukminun: 35)
“Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar
akan berada dalam ciptaan yang baru?” (As-Sajdah: 10)
Begitu pula yang dikatakan mayoritas orang-orang Jahiliyah. Di antara
mereka ada yang berkata,
“Rasul memberitahukan bahuia kita akan dibangkitkan bagaimana dengan
kehidupan bangkai dan tulang belulang? ”
Yang lain lagi berkata, yaitu Abul-Ala’ Al-Ma’ri,
“Kehidupan disusul kematian lalu bangkit dari kuburmu itu adalah perkataan
khurafat wahai Ummu Amru.”
Untuk menjawab syubhat mereka yang pertama, dapat dijawab dengan
syubhat yang kedua, bahwa tanahlah yang menyebabkan permulaan
penciptaannya, yaitu dari setetes air mani, lalu menjadi segumpal darah, lalu
menjadi segumpal daging. Asal mula keturunan Adam adalah Adam, yang
diciptakan dari tanah. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang paling
baik melainkan justru dari mated yang lemah. Allah menciptakan anak
1 1 6 Perangkap Setan
keturunan Adam dari setetes air mani, mendptakan burung merak dari telor,
tanaman yang hijau dari biji-bijian yang kering. Pandangan justru harus
diarahkan kepada kekuatan Pencipta dan kekuasaan-Nya, bukan kepada
kelemahan mated yang didptakan-Nya. Dengan melihat kekuasaan-Nya,
maka jawaban untuk syubhat yang kedua bisa tuntas. Sekadar sebagai contoh
tentang pengumpulan sesuatu yang terpisah-pisah, maka biji-biji emas yang
berhamburan dan bercampur dengan tanah, bisa terkumpul menjadi satu
batangan emas jika dibubuhi sedikit air raksa. Lalu bagaimana dengan
kekuasaan Ilahi, yang segala sesuatu terdpta dari kekuasaan-Nya dan bukan
dari yang lain? Andaikata kita membandingkan tanah ini, maka tidak ada
yang tidak mungkin pada badan manusia, apalagi terhadap jiwanya. Sebab
yang menjadi pertimbangan pada diri anak Adam adalah jiwanya dan bukan
badannya. Toh badannya bisa menjadi kurus, gemuk, menyusut dan berubah
dari kecil menjadi besar sebagaimana lazimnya.
Di antara bukti kebangkitan yang paling menakjubkan, bahwa Allah
telah menampakkan kepada para nabi-Nya sesuatu yang lebih besar dari
kebangkitan, yaitu berubahnya tongkat menjadi ular, onta keluar dari celah
batu, dan juga menampakkan kebangkitan itu sendiri di hadapan Isa > î.
Iblis juga memperdayai sebagian orang yang sebenarnya sudah melihat
kekuasaan Khaliq, namun kemudian terbayang dua syubhat di pelupuk mata,
sehingga mereka menjadi ragu-ragu tentang kebangkitan im. Di antara mereka
ada yang berkata, sebagaimana yang sudah dijelaskan Allah,
“Dan, sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan
mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun icu/’ (Al-
Kahfi: 36)
Orang yang lain lagi (Al-Ash bin Wa’il) berkata,
“Posci aku akan diberi anak dan harta.” (Maryam: 77)
Mereka berkata seperti itu karena dibangkitkan rasa keragu-raguan.
Tentu saja semua ini akibat Iblis yang memperdayai mereka, sehingga
mereka berkata, “Andaikata kami dibangkitkan, tentu kami berada dalam
keadaan yang lebih baik. Sebab yang telah memberikan kenikmatan harta
kepada kami di dunia, tentu tidak akan menahan kenikmatan itu dari kami di
a k h i r a t . ”
1 1 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Talbis Iblis terhadap Orang-orang yang Menganggap Adanya
P e n i t i s a n R o h
Iblis telah memperdayai orang-orang yang mengatakan tentang adanya
penitisan roh. Menurut mereka, tatkala roh orang-orang yang baik keluar
dari badan, maka ia menyusup ke badan orang baik lainnya, sehingga roh itii
menjadi tenang. Sedangkan tatkala roh orang-orang jahat keluar dari badan.
maka ia menyusup ke badan orang jahat lainnya, yang membuatnya selalu
dalam kesulitan. Sekte ini muncul pada zaman Fir’aun yang bermusuhan
dengan Musa.
Abu Qasim Al-Balkhi menuturkan, “Ketika orang-orang yang percaya
kepada penitisan roh melihat penderitaan yang dialami anak-anak, binatang
buas dan hewan apa pun, maka mereka membayangkan bahwa penderitaan
itu merupakan penderitaan roh yang sedang menitis ke tubuhnya, dengan
tujuan untuk mengujinya atau karena hendak menampakkan diri atau tanpa
ada maksud apa pun, karena siapa yang dititisi menjadi budaknya. Boleh jadi
hal itu disebabkan dosa yang pernah dilakukannya sebelum itu”
Dari Ali bin Al-Muhsin, dari ayahnya, dia berkata, “Aku diberitahu
Abul-Hasan Ali bin Nazhif, dia berkata, “Ada seorang syaikh dari golongan
Syi’ah Imamiyah yang datang ke Baghdad bersama-sama kami, yang namanya
Abu Bakar bin Al-Fallas. Dia bercerita kepada kami, bahwa suatu kali dia
menemui seseorang yang juga dikenal sebagai pengikut Syi’ah, tetapi kemudian
orang itu percaya tentang penitisan roh. Dia menuturkan, “Saat itu kuHhat di
hadapannya ada seekor kucing hitam yang dielus-elusnya dan dia juga
menggesek-geseknya di antara kedua matanya. Kulihat mata kucing itu
meneteskan air mata, karena memang begitulah keadaan kucing. Lalu orang
itu menangis sesenggukan.
“Mengapa engkau menangis?” tanyaku.
Dia menjawab, “Celaka engkau. Apakah engkau tidak melihat kucing
ini yang menangis setiap kali aku menggesek-gesek kedua matanya? Tidak
dapat diragukan, ini adalah roh ibuku yang menitis kepadanya. Ibuku
menangis karena meHhatku senantiasa menyesali kematiannya.” Lalu orang
itu berbicara dengan kucing dan membuatnya seakan-akan mengerti
perkataannya. Lalu kucing itu dibuat mengeong sedikit demi sedikit.
“Apakah kucing itu mengerti apa yang engkau ucapkan?’ tanyaku.
“Benar,” jawabnya.
1 1 8 Perangkap Setan
“Apakah engkau mengerd ard meongnya?’ tanyaku.
“Tidak,” jawabnya.
“Kalau begitu engkau tidak lagi menjadi manusia dan kucing itulah
yang menjadi manusia.”
Talbis Iblis Terhadap Umat Islam
Iblis men)oxsup ke akidah umat Islam lewat dua jalan:
Taqlid kepada nenek moyang dan orang-orang terdahulu.
Ilmu yang tidak diketahui kedalamannya, dan siapa pun yang
menyelaminya tidak akan sampai ke dasarnya. Iblis menjerumuskan
orang-orang ini ke berbagai macam pencampuradukan.
Tentang jalan yang pertama, Iblis menampakkan hal-hal yang serba
baik di hadapan orang yang taqlid, bahwa dalil-dalil yang ada pun bisa rancu.
Sementara yang benar masih tersembunyi dan taqlidlah jalan yang paling
selamat. Cukup banyak orang yang tersesat dan binasa karena jalan ini Karena
orang-orang Yahudi dan Nashrani taqlid kepada bapak-bapak dan ulama
mereka, maka mereka pun tersesat. Begitu pula orang-orang Jahiliyah.
Ketahuilah bahwa alasan yang mereka pergunakan untuk memuji taqlid
itu sebenarnya sangat tidak layak. Sebab jika dalil-dalil yang ada adalah rancu
dan yang benar masih tersembunyi, maka mestinya mereka justru menghindari
taqlid kepada nenek moyang mereka. Allah berfirman,
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi
peringatan pun dalam suatu negeri, melainkm orang-orang yang hidup mewah
di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami
menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak
mereka’. (Rasulitu) berkata, ‘Apakah (kalianakanmen^kutijuga) sekalipun
aku membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk
daripada apa yang }<alian dapati bapak-bapak kalian menganutnya/” (Az-
Zukhruf: 23-24)
Dengan kata lain, ‘Apakah kalian tetap akan mengikuti jejak bapak-
bapak kalian, padahal Allah telah befirman,
“Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam
keadaan sesat. Lalu mereka tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua
mereka itu.’’ (Ash-Shaffat: 69-70)
1.
2 .
1 1 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Ketahuilah bahwa orang yang bertaqlid itu sebenarnya tidak merasa
yakin terhadap apa yang ditaqlidinya, dan dalam taqlid ini ada pengguguran
terhadap fungsi akal. Padahal akal itu diciptakan untuk mengamati dan
berpikir. Alangkah buruknya orang yang diberi lilin sebagai penerang, tetapi
justru dia memadamkan lilin itu lalu berjaian dalam kegelapan.
Biasanya, orang-orang yang bertaqiid ini mengkultuskan seseorang,
lalu mereka mengikuti perkataannya tanpa berpikir panjang tentang apa yang
dikatakannya. Tentu saja ini merupakan kesesatan yang nyata. Sebab
pengamatan harus ditujukan kepada apa yang dikatakan dan bukan kepada
siapa yang mengatakan, sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abu Thalib
kepada Harits bin Hauth. Padahal, Harits berkata kepada Ali, “Apakah engkau
mengira bahwa kami menyangka Thalhah dan Az-Zubair berada di atas
k e b a t i l a n ?
Maka Ali menanggapinya, “Wahai Harits, rupanya engkau sudah
terkecoh. Kebenaran itu tidak bisa dikenali karena seseorang, kenalilah
kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa yang benar.”
Ahmad bin Hambal pernah berkata, “Di antara tanda keterbatasan
ilmu seseorang ialah jika dia bertaqlid kepada orang lain dalam keyakinannya.”
Karena itu Ahmad bin Hambal mengikuti perkataan Zaid dalam masalah
kemuliaan dan meninggalkan pendapat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Jika ada yang berkata, “Orang awam banyak yang tidak mengetahui
dalil. Lalu bagaimana agar mereka tidak terjebak taqlid?”
Dapat dijawab sebagai berikut: Dalil tentang akidah sudah jelas, seperti
yang kami isyaratkan tatkala menguraikan golongan ateis. Yang demikian ini
tentu mudah dicerna oleh orang yang memiliki akal. Sedangkan dalam
masalah-masalah furu’iyah, karena macamnya sangat banyak, sehingga orang
awam kesulitan mengetahuinya dan mereka sering terseret dalam kesalahan,
maka cara yang paling tepat dilakukan orang-orang awam adalah taqlid.
Ijtihadnya orang awam adalah memilih siapa yang layak untuk ditaqlidi.
Sedangkan tentang jalan kedua, tatkala Iblis melihat orang-orang yang
bodoh dan taqlid yang mereka iakukan secara berlebih-lebihan, maka Iblis
menuntun mereka ke pasar hewan. Kemudian dia melihat golongan lain yang
memiliki kepandaian dan kecerdikan. Iblis ganti memperdayai mereka sesuai
dengan kemampuannya dalam menghadapi mereka. Di antara mereka ada
yang mencela jumud daripada taqlid dan memerintahkannya untuk
1 2 0 Perangkap Setan
memandang. Kemudian Iblis membujuk masing-masing pihak dengan cara-
cara tertentu. Di antara mereka ada yang diperdayai Iblis, lalu berpendapat
bahwa menggunakan ;;'hahir syariat merupakan kelemahan. Lalu Iblis
menuntun mereka kepada filsafat. Iblis tidak pernah berhenti membujuk,
hingga akhirnya mereka keluar dari Islam.
Di bagian terdahulu sudah kami singgung sanggahan terhadap para
filosof. Di antara filosof im ada yang diperdaya Iblis, agar tidak percaya kecuali
kepada inderanya saja. Iblis berkata kepada mereka, “Dengan indera kalian
bisa mengetahui kebenaran perkataan kalian. Selagi mereka menjawab,
“Benar”, maka seketika itu pula mereka menjadi pongah, karena indera kita
tidak bisa mengetahui apa yang mereka katakan. Apa pun yang diketahui
lewat indera tidak akan ada perselisihan. Jika mereka berkata tanpa
menggunakan indera, mereka pun menolak perkataan mereka sendiri.
Di antara mereka ada yang dihela Iblis untuk melepaskan diri dari taqlid,
lalu menuntun mereka kepada teologi dan menggelud topik-topik filsafat,
agar mereka tidak dianggap sebagai kelompok orang-orang awam. Keadaan
para teolog itu sangat beragam, yang mayoritas mereka menyeret kepada
keragu-raguan dan bahkan sebagian di antaranya ada yang terang-terangan
mengajak kepada ateisme. Sebenarnya para faqaha umat semenjak dahulu
tidak merasa lemah dalam menghadapi para teolog ini. tetapi mereka merasa
tidak ada gunanya menanggapi ocehan para teolog itu. Karena itu Syaikh
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Lebih baik seseorang diuji dengan segala apa yang
dilarang Allah selain syirik, daripada dia mengarahkan pandangannya ke
teologi.”
Syaikh juga berkata, “Jika engkau mendengar seseorang berkata, ‘Nama
itu sama dengan yang dinamai dan yang tidak dinamai’, maka persaksikanlah
bahwa itu berasal dari teologi dan orang itu tidak mempunyai agama.”
Syaikh Imam Asy-Syafi’i juga berkata, “Keputusan saya tentang tokoh-
tokoh teolog, hendaknya tangan mereka dibelenggu, lalu diarak keliling di
perkampungan dan berbagai kabilah, sambil diumumkan, ‘Inilah hukuman
yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah,
serta menekuni ilmu teologi’.”
Ahmad bin Hambal berkata, “Orang yang menekuni ilmu teologi
tidak akan beruntung dan para tokoh teolog sama dengan orang-orang
2indiq.”
1 2 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Bagaimana mungkin teologi tidak dicela, sementara golongan semacan i
Mu’tazilah berkata, ‘Allah mengetahui keindahan segala sesuatu tetapi tidak
mengetahui rincian-rinciannya?’
Jahm bin Shafwan berkata, “Ilmu Allah, kekuasaan dan hidup-Nya
adalah sesuatu yang baru.”
Abu Muhammad An-Naubakhti menukil perkataan dari Jahm, “Allah
tidak bisa berbuat apa-apa.”
Abu Ali Al-Jiba’i dan Abu Hasyim serta orang-orang Bashrah yang
mengikuti keduanya berkata, “Sesuatu yang tidak ada itu adalah sesuatu, dzat.
jiwa, substansi, putih, kuning dan merah. Sementara Allah it tidak mampu
menjadikan dzat sebagai dzat, benda sebagai benda, substansi sebagai
substansi. Dia hanya mampu mengeluarkan dzat dari tidak ada menjadi
a d a . ”
Al-Qadhi Abu Ya’la menuturkan di dalam Ydtahul-Muqtahis, dia berkata,
“Al-Allaf, seorang tokoh Mu’tazilah berkata kepadaku, ‘Kerdkmatan penghuni
surga dan siksa penghuni neraka merupakan sesuatu yang tidak bisa disifati
Allah dengan kekuasaan untuk mengenyahkannya. Kecintaan dan kemarahan
kepada-Nya pada saat itu tidak lagi berlaku. Sebab Dia sudah tidak mampu
lagi mendatangkan kebaikan, keburukan, manfaat dan mudharat’. Dia juga
berkata, ‘Penghuni surga menjadi pasif dan diam, tidak mampu berkata dan
berbuat apa-apa, tidak diri mereka dan tidak pula Kahh mereka untuk
melakukan semuanya. Sebab setiap sesuatu yang baru harus mempunyai
kesudahan dan sesudahnya tidak ada kehidupan apa pun’. Allah Mahatinggi
dan Mahabesar dan segala apa yang mereka katakan.”
Abul-Qasim Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al-Balkhi
menyebutkan di dalam Kitabul-Maqalat, bahwa Abul-Hudzail, nama
lengkapnya Muhammad bin AI-Hudzail Al-’AUaf, seorang penduduk Bashrah
dan Abdul-Qais, pernah menyendiri seraya berkata, “Para penghuni surga
tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam. Andaikata Allah sudah
menetapkan kesudahan hidupnya, lalu mereka keluar untuk berbuat, tentunya
Allah juga berkuasa untuk mensifati yang lain berkuasa.”
Dia juga berkata, “Sesungguhnya ilmu Allah adalah Allah dan
kekuasaan Allah adalah Allah itu pula.”
Abu Hasyim berkata, “Siapa yang bertaubat dari segala sesuatu, yang
kemudian dia meminum khamr sekaUpun hanya seteguk, maka dia akan
1 2 2 Perangkap Setan
clisiksa seperti siksaan yang dijatuhkan kepada orang-orang kafir, kekal selama-
lamanya.
Sesungguhnya Allah tidak berkuasaA n - N i z h a m b e r k a t a ,
menghindarkan kejahatan dari sesuatu. Sementara Iblis mampu berbuat baik
d a n b u r u k . ”
Hisyam Al-Quthi berkata, “Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati
bahwa Dia adalah alam.”
Sebagian orang Mu’tazilah berkata, “Allah boleh berdusta, sekalipun
hal itu tidak pernah terjadi.”
Golongan Mujbirah berkata, “Anak keturunan Adam itu tidak
mempunyai kekuasaan apa-apa, karena ia seperd benda mad, pilihan dan
perbuatannya dibelenggu.”
Golongan Murji’ah berkata, “Siapa pun yang mengucapkan syahadatain
lalu melakukan kedurhakaan, maka dia sama sekali ddak akan masuk neraka.”
Untuk itu mereka mengingkari semua hadits shahih tentang orang-orang
Muwahhidin yang dikeluarkan dari neraka.
Ibnu Aqil berkata, “Alangkah miripnya orang yang meletakkan paham
Murji’ah dengan Zindiq. Tegaknya alam ini karena adanya ancaman dan
keyakinan tentang adanya pahala. Kedka golongan Murji’ah ddak mampu
berbuat apa-apa, apalagi ketika banyak orang yang menghindari dan
golongannya yang jelas bertentangan dengan akal, maka mereka
menggugurkan manfaat ketakutan dan pengawasan Allah. Mereka merupakan
golongan yang paling jahat terhadap Islam.”
Abu Abdullah mengikuti Muhammad bin Kiram, yang memilih
madzhab yang paling buruk, hadits yang paling dha’if atau yang syubhat dan
memperbolehkan sifat bam dalam dzat Allah. Dia berkata, “Sesungguhnya
Allah ddak kuasa mengembalikan badan dan substansi. Dia hanya sanggup
menciptakannya.”
As-Salimiyah berkata, “Sesungguhnya Allah akan muncul pada hari
Kiamat dalam segala sesuatu yang ada, sesuai dengan jenisnya. Maka
keturunan Adam akan melihat-Nya dalam rupa keturunan Adam, dan jenis
jin akan melihat-Nya dalam rupa jin.”
Mereka berkata, “Allah mempunyai rahasia. Andaikata rahasia ini bocor,
maka gitgurlah kekuasaan-Nya.”
1 2 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masaiah Aqidah
Kami berlindung kepada Allah dari pandangan dan ilmu yang
mendorong munculnya paham yang buruk seperti ini. Para tokoh teologi
beranggapan bahwa iman itu belum dianggap sempurna kecuali setelah
mengetahui siapa yang menyusunnya dari kalangan teolog. Tentu saj<.
pendapat mereka ini salah. Sebab Rasulullah 0memerintahkan untuk
beriman, tanpa memerintahkan untuk mencari para teolog. Di samping itu,
derajat para sahabat yang telah diakui pembuat syariat menetapkan bahwv
mereka merupakan generasi manusia yang terbaik.
Dari Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats, dia berkata, “Aku
mendengar Ahmad bin Sinan berkata, “Al-Walid bin Abban Al-Karabisi
adalah pamanku. Tatkkala ajal menghampirinya, dia bertanya kepada anak-
anaknya, “Adakah kalian mengenal seseorang yang lebih mendalami teologi
daripada aku?”
“Tidak,” jawab mereka.
“Apakah kalian sengaja mengejekku?” tanyanya lagi.
“Tidak,” jawab mereka.
“Kalau begitu aku akan memberikan nasihat kepada kalian. Apakah
kalian mau menerimanya?’
‘"Ya,” jawab mereka.
Dia berkata, “Hendaklah kahan mengikuti para ahli hadits. Karena aku
melihat kebenaran ada pada diri mereka.”
Abul-Ma’ali Al-Juwaini berkata, “Aku pernah melancong menemui
berbagai pemeluk Islam dan mempelajari ilmu mereka. Aku juga pernah naik
perahu yang besar dan menyelam di tempat yang dilarang manusia. Semua
itu kulakukan dalam rangka mencari kebenaran dan lari dari taqlid. Kini aku
sudah kembali dari segala sesuatu kepada kalimat kebenaran. Hendaklah
kalian mengikuti agama orang-orang yang lemah. Kalaupun aku tidak
mendapatkan kebenaran dan kelembutan kebaikannya, maka biarlah aku mati
mengikuti agama orang-orang yang lemah dan hidupku berakhir dalam
perjalanan membawa kalimat ikhlas. Kecelakaan bagi Ibnul-Juwaini.” Dia
juga berkata kepada rekan-rekannya, “Wahai rekan-rekanku, janganlah
kalian menyibukkan diri dalam teologi. Andaikata aku tahu bahwa teologi
akan membuatku begini, tentu aku tidak akan sudi menyibukkan diri
dengannya.”
1 2 4 Perangkap Setan
Abul-Wafa’ bin Aqil berkata kepada rekan-rekannya, “Aku berani
memastikan bahwa para sahabat meninggal dunia tanpa mengenal apa itu
yang substansi dan apa itu yang bukan substansi. Jika engkau ridha menjadi
seperti mereka, maka jadilah seperd mereka. Jika engkau memandang jalan
para teolog lebih baik daripada jalan Abu Bakar dan Umar, maka itu
merupakan pandangan yang amat buruk.”
Dia juga berkata, “Teologi menyeret seseorang kepada keragu-raguan,
dan ddak jarang di antara mereka ada yang terseret kepada ateisme. Aroma
ateisme tercium dari untaian kata-kata para teolog. Pasalnya, mereka ddak
pernah merasa puas terhadap syariat yang ada, lalu mereka beralasan mencari
berbagai macam hakikat. Padahal kekuatan akal ddak mampu mengetahui
apa yang ada di sisi Allah, berupa hikmah yang khusus dimiliki Allah. Allah
ddak mengeluarkan dari ilmu-Nya bagi makhluk-Nya, apa yang disebut
dengan hakikat segala urusan.”
Ada segolongan orang yang perhatiannya tertuju kepada benda-benda
yang tampak, lalu hal ini mendorong mereka kepada tuntutan indera. Maka
sebagian di antara mereka berkata, “Sesungguhnya Allah itu berupa fisik.”
Ini merupakan pendapat Hisyam bin Al-Hakam, Ali bin Manshur,
Muhammad bin Al-Khalil dan Yunus bin Abdurrahman. Ternyata masih ada
perbedaan di antara mereka. Sebagian berkata, “Fisik sebagaimana layaknya
fisik.” Yang lain menyanggah, “Tidak sebagaimana layaknya fisik.” Perbedaan
ddak berhenti sampai di sini saja. Di antara mereka ada yang berkata, “Allah
adalah cahaya.” Yang lain berkata, “Dia serupa dengan batangan perak
bewarna pudh.” Begitulah yang dikatakan Hisyam bin Al-Hakam. Dia juga
berkata, “Allah itu setinggi tujuh jengkal. Dia bisa melihat apa yang
tersembunyi di bawah tanah lewat cahaya yang dipantulkan cermin.”
Kami benar-benar tak habis pikir terhadap orang yang menetapkan
ketinggian postur Allah sebanyak tujuh jengkal, serupa dengan postur
m a n u s i a .
Abu Muhammad An-Naubakhd menyebutkan dari Al-Jahizh, dari An-
Nizham, bahwa Hisyam bin Al-Hakam pernah berkata tentang lima pendapat
seputar penyerupaan Allah, yang di bagian akhirnya dia menyatakan bahwa
sesembahannya serupa dengan kednggian badannya, yaitu tujuh jengkal. Ada
yang mengatakan bahwa Alah membentuk batu kristal yang bulat. Jika engkau
mendekadnya, maka engkau akan meUhatnya seperd satu bentuk. Hisyam
1 2 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
berkata, “Dzatnya sangat kecil.” Sampai-sampai dia berkata, “Gunung pun
lebih besar dari-Nya. Dia juga mempunyai dri-dri yang bisa diketahui secara
pasti.”
Tipu daya macam apa pun yang dilakukan Iblis, tentunya dia
memerlukan suatu cara tertentu, di antaranya pengguguran terhadap tauhid.
Sebagaimana yang ditetapkan, hakikat itu tidak akan muncul kecuali dari
sesuatu yang mempunyai jenis dan juga mempunyai bandingan-bandingan.
sehingga dia memerlukan kelainan dan perbedaan dari bandingan-bandingan
itu. Yang pasti, Allah itu bukan termasuk jenis dan tidak mempunyai
bandingan, juga tidak boleh disifati bahwa Dzat-Nya merupakan kehendak-
Nya dan bukan kehendak-Nya, bukan dengan pengertian bahwa Dia pergi
ke berbagai arah tanpa ada kesudahannya. Tetapi yang dimaksudkan bahwa
Dia bukan termasuk fisik dan substansi, sehingga ada kesudahannya.
An-Naubakhti berkata, “Banyak para teolog yang mengisahkan bahwa
Muqatil bin Sulaiman, Nu’aim bin Hammad dan Daud Al-I<huwari berkata,
“Sesungguhnya Allah itu mempunyai rupa dan anggota tubuh.”
Engkau sudah tahu sendiri bagaimana mereka menetapkan sifat
terdahulu bagi Allah yang berlainan dengan keturunan Adam. Lalu mengapa
menurut mereka, Dia tidak tidak boleh mengalami seperti yang dialami
keturunan Adam, seperti sakit atau binasa? Bisa dikatakan kepada orang yang
menganggap bahwa Allah mempunyai fisik, “Dengan dalil yang mana engkau
menetapkan begitu, sehingga engkau bisa mendukung pendapatmu sendiri
bahwa Allah yang engkau yakini itu memiliki fisik yang baru?”
Sebagian di antara mereka berkata, “Allah itu fisik yang berupa angkasa,
dan semua fisik ada pada diri Allah.”
Bayan bin Sam’an beranggapan bahwa Allah itu adalah api yang
terbentuk dalam rupa seorang laki-laki, yang semua anggota badannya musnah
selain wajah-Nya saja. Karena anggapannya seperti ini, akhirnya dia dibunuh
Khalid bin Abdullah. Sementara Al-Mughirah bin Sa’d Al-Ajli beranggapan
bahwa Allah itu berupa seorang laki-laki yang terbentuk dari cahaya, di atas
kepalanya ada mahkota dan cahaya, yang juga mempunyai anggota badan
dan hati, yang dari sinilah muncul hikmah-Nya.
Jika ada orang yang bertanya, “Engkau telah mencela jalan orang-orang
yang bertaqlid dan jalan para teolog. Lalu apa jalan yang paling selamat dari
talhis Iblis?”
1 2 6 Perangkap Setan
Jawabannya: Yaitu jalan yang dilalui Rasulullah para sahabat dan
siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik, yang menetapkan Khaliq dan
sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang disebutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan
berbagai pengabaran, tanpa menafsirinya dan mencari-cari di luar
kesanggupan pengetahuan manusia, percaya bahwa Al-Qur’an adalah kalam
Allah dan bukan makhluk.
All bin Abu Thalib tberkata, “Demi Allah, aku tidak menetapkannya
(Al-Qur’an) sebagai makhluk, tetapi aku menetapkannya sebagai Al-Qur’an
dan yang harus didengar, sebagaimana firman-Nya, '...supaya ia sempat
mendengar kalam Allah’. (At-Taubah: 6). Al-Qur’an itu tertulis di dalam lembar-
lembar mushhaf, sebagaimana firman-Nya, Vadalembaranyangterbuka’. (Ath-
Thur: 3). Kami ddak melangkahi apa yang dikandung ayat-ayatnya dan kami
tidak membicarakannya berdasarkan pendapat kami.”
Ahmad bin Hambal melarang seseorang berkata, ‘Pendapatku tentang
Al-Qur’an adalah makhluk dan bukan makhluk”, agar tidak keluar dan itba’
terhadap orang-orang salaf.
Dari Amr bin Dinar, dia berkata, “Aku pernah bertemu sembilan
sahabat Rasulullah yang semuanya berkata, “Siapa yang berkata bahwa
Al-Qur’an itu makhluk, maka dia adalah kafir.”
Malik bin Anas berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an
itu makhluk, maka dia layak dihinakan. Itu jika dia bertaubat. Jika tidak, maka
dia layak dipenggal.”
Dari Al-Auza’i, dia berkata, “Umar bin Abdul-Aziz berkata, ‘Jika
engkau melihat segolongan orang yang mengatakan sesuatu dalam masalah
agamanya, lain dari kebiasaan orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka
sedang memancangkan kesesatan’.”
Dari Sufyan Ats-Tsauri, dia berkata, ‘Aku mendengar dari Umar bin
Abdul-Aziz, bahwa dia pernah menulis yang ditujukan kepada para
gubernurnya, yang berisi: Aku nasihatkan kepadamu untuk bertakwa kepada
Allah mengikuti Sunnah Rasulullah %dan meninggalkan hal-hal yang
diada-adakan orang-orang sesudahnya, yang mereka itu tidak layak dikasihani.
Ketahuilah bahwa siapa yang menciptakan suatu sunnah dan diketahui
bertentangan dengan sunnah beliau, karena salah, tergelincir atau berlebih-
lebihan, maka sesungguhnya orang-orang yang terdahulu lebih suka berhenti
menggali ilmu dan menahan diri jika ada yang mengritiknya. Memang
1 2 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
mereka lebih bersemangat dalam mengungkap segala sesuatu. Namun tidak
ada orang yang menciptakan sesuatu yang baru melainkan karena mengikuti
selain jalan mereka dan tidak menyukai mereka.”
Dari Abdush-Shamad bin Hassan, dia berkata, “Aku mendengar Sufyari
Ats-Tsauri berkata, ‘Hendaklah kalian mengikuti para kuli, wanita dan anak
anak tatkala berada di rumah, bagaimana mereka membaca Al-Qur’an dar
b e r a m a l ’ . ”
Jika ada yang berkata, “Itu adalah keadaan orang yang lemah dan bukar
keadaan orang laki-laki.”
Jawabannya: Berhenti beramal merupakan urgensi, karena
mendapatkan alasan yang bisa memuaskan akal, tidak dikenal oleh para teolog.
sekalipun mereka sudah menyelami lautan yang paling dalam. Karena itu
mereka diperintahkan untuk berhenti menyelam lalu kembali ke pantai.
Jawaban mengenai hal ini juga sudah kami paparkan di bagian terdahulu.
Talbis Iblis terhadap Golongan Khawarij
Orang Khawarij yang pertama kali dan yang paling buruk keadaannya
ada lah Dzu l -Khuwa ish i rah .
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata, ‘AM bin Abu Thalib 4-^
mengirim utusan dari Yaman untuk menemui Rasulullah 0, sambil
menyerahkan emas yang dibungkus kantong kulit yang sudah disamak. Emas
itu masih asli dan belum disisihkan dari campuran tanahnya. Lalu Rasulullah
Smembagi emas itu kepada empat orang: Zaid Al-Khail, Al-Aqra’ bin Habis,
Uyainah bin Hishn dan Alqamah bin Ulatsah atau Amir bin Ath-Thufail.
Ada yang terasa mengganjal di dalam had Umarah (termasuk orang munafik),
karena dia melihat rekan-rekannya dari kalangan Anshar dan lain-lainnya
memiliki emas itu. Maka Rasulullah ̂ bersabda, ‘Apakah kalian tidak ,lagi
percaya kepadaku, sedangkan aku adalah orang yang dipercaya oleh siapa
yang berada di langit, yang kabar langit datang kepadaku pagi dan petang?”
Tak seberapa lama kemudian ada seorang laki-laki yang kedua matanya
cekung, tulang pipinya menonjol, keningnya menjorok ke depan, jenggotnya
lebat, jubahnya bergerai-gerai dan kepalanya gundul. Dia berkata,
“Bertakwalah kepada Allah wahai Rasulullah!”
Beliau mengangkat kepala memandang orang itu, seraya bersabda,
“Celaka engkau! Bukankah orang yang paling berhak untuk bertakwa kepada
1 2 8 Perangkap Setan
Allah adalah aku?” Setelah orang itu beranjak, Khalid berkata, “Wahai
Rasulullah, bagaimana jika leher orang itu kupenggal?”
Beliau menjawab, “Boleh jadi orang itu mendirikan shalat.”
Khalid berkata, “Sesungguhnya banyak orang yang shalat, namun
dengan lidahnya dia mengatakan apa yang tidak ada di dalam hatinya.”
“Aku tidak diperintahkan untuk menyelidiki hati manusia dan
membelah perutnya.” Kemudian Nabi ememandang Khalid yang hanya diam ,
saja, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya dari kaum ini akan muncul
segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, yang (bacaannya) tidak meiebihi
kerongkongannya. Mereka lepas dan agama sebagai anak panah yang lepas
dari busurnya.”
Orang tersebut bernama Dzul-Khuwaishirah At-Tamimi. Dalam lafazh
lain disebutkan, orang itu berkata, “Berbuat adillah!” Lalu beliau menjawab,
“Celaka engkau! Lalu siapa yang berbuat adil jika aku tidak adil?”
Dialah orang Khawarij yang pertama kali muncul dalam Islam.
Celakanya, dia merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Andaikan dia mau
menelaah lebih jauh, tentu dia akan mengetahui bahwa tidak ada pendapat
yang dapat mengungguli pendapat Rasulullah Orang-orang yang
mengikuti orang ini adalah mereka yang memerangi Ali bin Abu Thalib.
Pasalnya, ketika peperangan antara pasukan Ali bin Abu Thalib dan
Mu’awiyah berlarut-larut, maka rekan-rekan Mu’awiyah mengangkat Mushhaf
Al-Qur’an dan mengajak rekan-rekan Ali untuk berembug. Dari masing-
masing pihak disepakati seorang utusan untuk berembug dan menghalalkan
apa yang terkandung di dalam Kitab AUah. Orang-orang berkata, “Kami ridha
dengan hal ini.”
Utusan dari pihak Mu’awiyah adalah Amr bin Al-Ash. Rekan-rekan
Ali mengusulkan agar dia mengutus Abu Musa. Tetapi Ali berkata, “Aku
kurang sependapat jika menunjuk Abu Musa. Ini ada Ibnu Abbas.”
Namun mereka berkata, “Kami tidak ingin seorang utusan dari
pihakmu itu.'
Akhirnya Ali mengutus Abu Musa. Keputusan ditangguhkan hingga
Ramadhan. Lalu Urwah bin Udzainah berkata, “Kalian mengangkat orang-
orang sebagai penentu hukum mengenai urusan AUah, padahal tidak ada
h u k u m k e c u a l i m i l i k A U a h . ”
1 2 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Ali pulang dari Shiffin dan memasuki Kufah. Namun orang-orang
Khawarij tidak ikut serta bersamanya. Mereka pergi ke Haura’ dan singgah
di Sana, yang jumlahnya ada dua belas ribu orang. Mereka berkata, “Tidak
ada hukum kecuali milik Allah.” Ini merupakan tanda pertama kemunculan
mereka. Ada seseorang di antara mereka yang mengumumkan, bahwa
komandan perang ada di tangan Syabib bin Rab’i At-Taraimi, adapun yang
menjadi imam shalat adalah AbduRah bin Al-Kawa Al-Yasykuri. Orang-orang
Khawarij tetap melakukan ibadah sebagaimana mestinya, hanya saja mereka
percaya bahwa mereka lebih pintar daripada Ali bin Abu Thalib. Tentu saja
ini merupakan penyakit yang sulit diobati.
Dari Sammak bin Rumail, dia berkata, “Abdullah bin Abbas berkata,
Tatkala orang-orang Khawarij menyatakan untuk memisahkan diri, mereka
memasuki suatu tempat, yang jumlah mereka ada enam ribu orang. Mereka
sepakat untuk memerangi Ali bin Abu Thalib. Lalu ada seseorang yang
mengabarkan kepada Ali, “Wahai Amirul-Mukminin, mereka akan memerangi
engkau.”
Ali menjawab, “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka
sehingga mereka memerangi aku, dan rupanya mereka benar-benar akan
melakukannya.”
Abdullah bin Abbas berkata, “Suatu hari aku menemui Ali bin Abu
Thalib sebelum shalat zhuhur, lalu kukatakan kepadanya, Wahai Amirul
Mukminin, buatlah suasananya menjadi dingin. Siapa tahu aku bisa menemui
mereka dan berbicara dengan mereka.”
“Aku mengkhawatirkan keselamatan dirimu,” kata Ali.
“Engkau tidak perlu khawatir. Toh aku dikenal orang yang halus
akhlaknya dan aku juga tidak pernah menyakiti seorang pun,” kataku.
Akhirnya Ali bin Abu Thalib memberiku izin. Dengan mengenakan jubah
Yaman yang paling bagus, aku menghampiri mereka dengan berjalan kaki
selama setengah hari. Aku menemui sekumpulan orang yang tidak pernah
kulihat ijtihadnya sekeras mereka. Di kening mereka ada bekas sujud. Tangan
mereka seperti kaki onta. Pakaian mereka basah oleh keringat dan wajah
mereka terlihat letih karena banyak berjaga pada waktu malam. Aku
mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab, “Selamat datang
wahai Ibnu Abbas. Kabar apa yang engkau bawa?”
1 3 0 Perangkap Setan
Aku menjawab, “Aku datang kepada kalian dari sisi orang-orang
Muhajirin dan Anshar serta dari sisi menantu Rasulullah Kepada merekalah
Al-Qur’an turun dan merekalah yang paling mengetahui ta’wilnya daripada
k a l i a n . ”
Sebagian di antara mereka berkata, “janganlah kalian memerangi orang-
orang Quraisy, karena Allah telah befirman, ‘Sebenarnja mereka adalah kaum
yang suka bertengkar’. ”(Az-Zukhruf: 58)
Kemudian ada dua atau tiga orang yang berkata, “Biarkan kami saja
yang berbicara dengannya.”
Aku berkata kepada mereka, “Berikan alasan, mengapa kalian
mendendam terhadap menantu Rasulullah 0, orang-orang Muhajirin dan
Ansar, padahal kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan? Sementara tak
seorang pun di antara kalian yang termasuk golongan mereka, dan mereka
pun lebih mengetahui ta’wilnya.”
Mereka menjawab, “Ada tiga alasan.”
“Katakan saja!” kataku.
Mereka menjawab, ‘A:ang pertama, karena Ali mengangkat beberapa
orang sebagai pembuat keputusan hukum dalam urusan AUah. Padahal AUah
telah befirman, ‘Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah’. (Al-An’am: 57).
bagaimana hak manusia membuat keputusan hukum setelah ada firman
A U a h ? ”
“Ini alasan yang pertama. Lalu apa alasan lainnya?” tanyaku.
Mereka menjawab, “Alasan yang kedua, karena dia berperang dan
membunuh, tidak mau menawan dan tidak mau mengambil harta rampasan.
Kalau memang mereka benar-benar orang-orang Mukmin, lalu mengapa kami
diperbolehkan memerangi dan membunuh mereka, tetapi tidak diperbolehkan
m e n a w a n m e r e k a ? ”
“Lalu apa alasan yang ketiga?” tanyaku.
Mereka menjawab, “Karena dia (Ali) menghapus sebutan Amirul
Mukminin dari dirinya. Sebab jika bukan Amirul-Mukminin (pemimpin
orang-orang Mukmin), berarti dia adalah pemimpin orang-orang kafir.”
“Apakah kalian masih mempunyai alasan yang lain lagi?” tanyaku.
Mereka menjawab, “Cukup itu saja.”
1 3 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Kukatakan kepada mereka, “Tentang pernyataan lialian, bahwa dia telah
mengangkat beberapa orang untuk membuat keputusan hukum dalam urusari
Allah, maka aku dapat membacakan ayat kepada kalian di daiam Kitab Allah
yang dapat menggugurkan pendapat kalian ini. Kalau memang pendapa:
kalian gugur, apakah kalian mau kembali lagi?”
“Baiklah,” jawab mereka
Aku berkata, “Sesungguhnya Allah telah menyerahkan keputusar
hukum-Nya kepada beberapa orang, untuk membayar empat dirham sebaga
gand pembayaran seekor kelinci, sebagaimana firman-Nya,
“]anganlah kalian membunuh hinatang huruan, ketika kalian sedang
ihram..." dan seterusnya hingga akhir ayat (Al-Maidah: 95).
Begitu pula tentang wanita dan suaminya, Allah telah befirman,
“Dan, jika kalian khawatirkan ada persengketaan antara kednanya, maka
kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari kelnarga
perempnan...” dan setemsnya hingga akhir ayat (An-Nisa*: 35).
Aku berkata lagi, “Maka kupertanyakan kepada kalian atas nama Allah,
apakah kalian juga mengenal keputusan beberapa orang juru pendamai untuk
mendamaikan di antara kalian dan dalam melindungi darah mereka? Lalu
manakah yang lebih utama dengan keputusan hukum mereka tentang seekor
k e l i n c i d a n w a n i t a ? ”
‘^ang benar adalah pendapat kami,” jawab mereka.
“Kalau begitu permasalahannya sudah menyimpang.”
“Benar,” jawab mereka.
Aku berkata, “Sedangkan tentang pendapat kalian bahwa Ali berperang
dan tidak mau menawan serta mengambiJ harta rampasan, lalu apakah kalian
hendak menawan ibu kalian, Aisyah ?Demi Allah, jika kalian berkata,
“Dia bukan ibu kami”, berarti kalian telah keluar dari Islam. Demi Allah, jika
kalian berkata, “Kami boleh menawannya dan kami boleh berbuat apa pun
terhadap dirinya seperti yang kami perbuat terhadap selainnya”, berarti kalian
telah keluar dari Islam. Dengan begitu kalian berada di antara dua kesesatan.
Sebab Allah ^telah befirman,
“Nohi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orangMukmin dandiri mereka
sendiri dan istriAstrinya adalah ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6).
1 3 2 Perangkap Setan
Kutanyakan kepada mereka, “Apakah memang kalian keluar dan hal
i n i ? ”
“Benar,” jawab mereka.
Aku berkata lagi, “Tentang perkataan kalian bahwa dia (Ali) menghapus
dari dirinya sebutan Amirul-Mukminin, maka aku datang dari sisi orang yang
kalian juga meridhai, bahwa pada peristiwa Hudaibiyah Nabi ̂ mengukuhkan
perdamaian dengan dua orang musyrik, Abu Sufyan bin Harb dari Suhail
bin Amr. Saat itu beliau bersabda kepada Ali, “Tulislah selembar tulisan bagi
mereka!” Maka Ali menuliskan bagi mereka, “Ini merupakan perjanjian yang
disepakati Muhammad, Rasul Allah.”
Orang-orang musyr ik berkata, “Demi Al lah, kami t idak
mempercayaimu sebagai Rasul Allah. Andaikan kami mempercayaimu sebagai
Rasul Allah, tentunya kami tidak akan memusuhimu.”
RasuluUah ̂ bersabda, ‘A'a Allah, sebenarnya engkau tahu bahwa aku
memang Rasul Allah. Hapus wahai Ali, dan tulislah: ini merupakan perjanjian
yang disepakad Muhammad bin Abdullah.”
Demi Allah, RasuluUah adalah orang yang lebih baik daripada AU.
Namun beliau menghapus sebutan bagi diri beliau.
Ibnu Abbas berkata, “Akhirnya ada dua ribu orang di antara mereka
yang kembali lagi. Yang lainnya ada yang berusaha kembaU, tetapi mereka
d i b u n u h . ”
Dari Jundab Al-Azdi, dia berkata, “Saat kami menemui orang-orang
Khawarij bersama Ali bin Abu Thalib, maka kami berhadapan dengan
pasukan mereka. Dari tengah mereka keluar suara berdengung karena bacaan
Al-Qur’an.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Ali bin Abu Thalib
sudah menetapkan keputusan, ada dua orang dari Khawarij, yaitu Zar’ah bin
Al-Burj Ath-Tha’i dan Hurqush bin Zuhair As-Sa’di yang menemuinya, seraya
berkata, “Tidak ada ketetapan hukum kecuali milik AUah.”
Ali menyahut, “Memang ddak ada ketetapan hukum kecuaU milik
Allah.^
Hurqush berkata, “Kalau begitu bertaubadah dari kesalahanmu dan
tariklah kembali keputusanmu tentang kami serta bergabunglah bersama kami
menghadapi musuh hingga kita bersua AUah. Jika engkau ddak menarik
1 3 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
kembali keputusanmu mengangkat beberapa orang untuk membuat
keputusan yang sudah ada di dalam Kitab Allah iSife, maka kamilah yang
justru akan menyerangmu. Aku melakukan yang demikian itu karena menca;:i
Wajah Allah.”
LaJu orang-orang Khawarij berkumpul di rumah Abdullah bin Wahb
Ar-Rasiby. Dia berkata, “Tidak selayaknya bagi orang-orang yang berimai
kepada Allah dan menisbatkan dirinya kepada hukum Al-Qur’an untuk
mementingkan dunia ini daripada diri kami, mementingkan apa yang ada
pada dirinya daripada amar ma’ruf nahi mungkar serta perkataan yang benar.
Maka keluarlah bersama golongan kami.”
Lalu Ali bin Abu Thalib menulis surat kepada mereka: “Dua orang
yang telah kalian urus kepada kami dan membuat dua keputusan hukurr,
telah menyalahi Kitab Allah dan hanya mengikuti nafsunya. Kami tetap
mengikuti jejak yang pertama.”
Mereka membalasnya; “Sebenarnya engkau tidak marah kepada Kabb-
mu, tetapi marah kepada dirimu sendiri. Jika engkau mau mempersaksikan
kekufuran atas dirimu lalu engkau bertaubat, maka kami masih bisa
mempertimbangkan lagi hubungan di antara kita. Jika tidak, maka kami akan
m e l i b a s m u . ”
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Abdullah bin Khabbat.
Lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah mendengar sebuali
hadits dari ayahmu, dan RasuluUah ̂ yang menyinggung diri kami?”
‘^a,” jawabnya, “Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari
RasuluUah bahwa beliau menyebutkan suatu cobaan, orang yang duduk
saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih bail:
daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada
orang yang berlari. Jika engkau mendapatkan yang demikian itu, maka jadilah
hamba AUah yang terbunuh.”
Mereka berkata, “Engkau mendengar yang seperti ini dari ayahmu,
bahwa itu benar datang dari RasuluUah?”
“Benar,” jawabnya.
Lalu mereka rnenyeret AbduUah bin Khabbab ke pinggir sungai lalu
memenggal lehernya, hingga darahnya mengalir seperti tali sandal. Mereka
juga membelah perut istrinya yang sedang mengandung anaknya. Mereka
1 3 4 Perangkap Setan
singgah di sebuah kebun korma di kaki bukit di Nahrawan. Secara kebetulan
ada buah korma yang jatuh. Salah seorang di antara mereka mengambilnya
dan memasukkannya ke mulut, hendak memakannya. Orang lain di
sampingnya berkata, “Engkau mengambil buah korma itu tidak menurut
hukumnya dan juga belum membayarnya.” Lalu dia mengambil korma itu
dari mulut temannya dan membuangnya. Orang yang hendak memakan
korma tersebut menghunus pedangnya. Ketika ada seekor babi milik Ahli
Dzimmah, orang yang memakan korma itu memenggal lehernya dan jasadnya
diserahkan kepada babi. Mereka berkata, “Orang semacam ini (yang
menentang perbuatan orang yang memakan korma) merupakan kerusakan
di muka bumi . ”
Ali bin Abu Thalib mengirim utusan untuk menyampaikan pesan:
“Serahkan pembunuh Abdullah bin Khabbab kepada kami!”
Mereka menjawab, “Kami semua pembunuhnya.”
Utusan itu berseru tiga kali dan mereka menjawab dengan jawaban
yang sama pula. Akhirnya Ali berseru kepada pasukannya, “Serang mereka!”
Satu persatu mereka bisa dibunuh. Pada saat peperangan itu berkobar,
sebagian orang-orang Khawarij berkata kepada sebagian yang lain, Bersiap-
siaplah kalian untuk bersua Allah. Pergilah ke surga, pergilah ke surga!”
Kemudian Abdurrahman bin Muljam mengumpulkan teman-temannya
dan menyebutkan orang-orang yang terbunuh di Nahrawan, yang membuat
mereka merasa simpati terhadap teman-teman mereka yang sudah terbunuh.
Maka mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak ingin hidup di dunia ini setelah
teman-teman kami terbunuh, yang mereka itu tidak takut karena urusan Allah
terhadap orang yang suka mencela. Andaikan kami boleh membeli diri kami
karena Allah dan bisa mencari selain para pemimpin yang sesat itu, maka
lebih baik jika kami dipertemukan dengan teman-teman kami yang sudah
terbunuh dan kami bisa terbebas dari orang-orang yang masih hidup.”
Dari Muhammad bin Sa’d, dan beberapa syaikhnya, mereka berkata,
“Ada tiga orang pemuka Khawarij, yaitu Abdurrahman bin Muljam, Al-Barak
bin Abdullah dan Amr bin Bakar At-Tamimi yang berkumpul di Makkah.
Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh
dga orang, yaitu Ali, Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash.
Ibnu Muljam berkata, “Serahkan Ali kepadaku.”
1 3 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Al-Barak berkata, “Serahkan Mu’awiyah kepadaku.”
Amr berkata, “Serahkan Amr bin Al-Ash kepadaku.
Mereka berjanji untuk tidak saling berkhianat dalam masalah ini dalam
menghadapi sasaran masing-masing. Maka Ibnu Muljam pergi ke Kufah. Pada
suatu malam sesuai dengan rencana Ibnu Muljam untuk membunuh Ali 4^,
kebetulan Ali sedang keluar untuk shalat subuh. Maka secara tiba-tiba Ibnu
Muljam menebaskan pedangnya tepat mengenai kening Ali hingga ubun-
ubunnya. Ali berteriak, “Jangan biarkan orang ini lolos!”
Setelah orang-orang mencekalnya, Ummu Kultsum, putri Ali bin Abu
Thalib berkata, “Wahai musuh Allah, engkau telah membunuh Amirul-
M u k m i n i n . ”
7 7
“Toh aku hanya membunuh ayahmu,” jawab Ibnu Muljam.
“Demi Allah, Aku benar-benar berharap semoga Amirul-Mukminin
tidak apa-apa,” kata Ummu Kultsum.
“Lalu mengapa engkau menangis? Demi Allah, Aku sudah merendam
pedangku itu dalam racun selama sebulan. Tidak mungkin dia masih tetap
hidup setelah Aku mati, karena Aku tetap akan berhasil membunuhnya.”
Ketika Ali bin Abu Thalib benar-benar meninggal dunia, Ibnu Muljam
digelandang keluar untuk menjalani hukuman mati. Pertama-tama Abdullah
bin Ja’far memotong kedua tangannya dan kedua kakinya. Diperlakukan
seperti itu Ibnu Muljam sama sekali tidak merintih kesakitan dan juga tidak
berbicara apa-apa. Lalu kedua matanya dicongkel dengan paku yang dibakar.
Dia tetap tidak merintih. Lalu dia membaca ayat, “Baca/ab dengan (menjebut)
nama Kabbmu Yang mendptakan. Dia telah mendptakan manusia dari segumpal
darah “, hingga akhir surat dan Al-Alaq. Barulah dari kedua matanya mengalir
air mata. Ketika lidahnya siap untuk dipotong, dia mulai merintih kesakitan.
“Mengapa engkau merintih kesakitan?” tanya seseorang.
Ibnu Muljam menjawab, “Aku tidak suka di dunia ini ada orang yang
meninggal dunia, seperti Aku yang tidak bisa berdzikir kepada Allah.”
Di kening Ibnu Muljam, yang dilaknat Allah, ada warna kecoklat-
coklatan karena bekas sujud.
Inilah beberapa gambaran tentang jalan pikiran dan pendapat orang-
orang Khawarij. Ketika Al-Hasan hendak mengukuhkan perdamaian
dengan Mu’awiyah, ada salah seorang dari Khawarij yang menemuinya, yaitu
1 3 6 Perangkap Setan
Al-Jarrah bin Sinan, yang berkata kepadanya, “Kamu menjadi musyrik seperti
yang dilakukan ayahmu.” Kemudian Al-Hasan memenggal pangkal paha Al-
Jarrah.
Orang-orang PGiawarij selalu menemui para pemimpin dengan
menawarkan berbagai macam jalan pikiran mereka yang berbeda-beda. Rekan-
rekan Nafi’ bin Al-Azraq berkata, “Kami orang-orang musyrik selagi kami
berada di wilayah yang musyrik. Namun jika kami sudah keluar dan sana,
maka kami adalah orang-orang Muslim.”
Mereka juga berkata, “Orang-orang yang memiliki jalan pikiran yang
berseberangan kami adalah orang-orang musyrik. Orang-orang yang
melakukan dosa besar juga musyrik. Orang-orang yang tidak mau bergabung
dengan kami dalam peperangan adalah orang-orang kafir.”
Mereka menghalalkan darah wanita, anak-anak dan semua orang
Muslim selain golongan mereka, karena mereka menganggap orang lain
sebagai orang musyrik.
Sebenarnya Najdah bin Amir Ats-Tsaqfi termasuk golongan Khawarij.
Hanya saja dia berbeda pendapat dengan Nafi’ bin Al-Azraq dalam masalah
darah orang-orang Muslim dan harta benda mereka. Najdah juga berpendapat
bahwa orang-orang yang berbuat dosa dan para pengikumya diadzab, tetapi
tidak di dalam neraka Jahannam. Sebab neraka Jahannam hanya
diperuntukkan bagi orang-orang yang menyalahi pendapat golongan
Khawarij.
Ibrahim berkata, “Golongan Khawarij adalah golongan orang-orang
kafir. Kita tidak boleh merukah dan mewarisi dari mereka seperti yang terjadi
pada permulaan Islam. Sebagian di antara mereka ada yang berkata,
“Andaikata seseorang mengambil dua keping uang dari harta anak yatim,
maka dia akan masuk neraka. Andaikata tangannya dipotong, dibelah perutnya
atau dibunuh, maka yang membunuhnya tidak akan masuk neraka.”
Banyak kisah tentang mereka, begitu pula jalan-jalan pikiran yang aneh-
aneh dari mereka. Kami melihat tidak perlu memperpanjang pembahasan
tentang mereka, karena kami hanya bermaksud melihat seberapa jauh talbis
Iblis yang dilancarkan terhadap orang-orang bodoh yang hanya melihat sisi
kehidupan mereka sendiri, yang merasa yakin bahwa Ali bin Abu Thalib
Karramahullahu Wajhahu berada pada kesalahan, begitu pula orang-orang
1 3 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidali
Muhajirin dan Anshar yang bersamanya. hanya mereka saja yang benar.
Mereka juga menghalalkan darah anak-anak yang tidak berdosa, tetapi tidak
mengusik orang yang memakan korma tanpa membayarnya terlebih dahulu
Mereka membebani diri dengan ibadah dan jarang tidur malam.
Ketika lidah Ibnu Muljam hendak dipotong, dia merintih karena tidak
bisa berdzikir. Dia merasa benar dengan membunuh Ali bin Abu Thalib.
Mereka juga mengangkat pedang untuk membunuh orang-orang Muslim
Tidak terlalu mengherankan jika mereka merasa hebat dengan ilmunya dan
merasa yakin bahwa mereka lebih pandai daripada Ali Toh rang semacarr
Dzul-Khuwaishirah pernah berkata kepada Rasulullah “Berbuat adillah.
karena engkau tidak berbuat adil.” Tentu saja Iblis tidak melewatkan orang
semacam ini. Kami berlindung kepada AUah dari kesia-siaan.
Dari Muhammad bin Ibrahim, dia berkata, ‘Aku mendengar RasuluUah
bersabda,
> ^ y ) .
^ ^ ^
!VA' dr* d r *
* -
“Akan muncul segolongan orang di tengah kalian dimana shalat mereka lebih
unggul jika dibaruiingkan dengan shalat kalian, puasa mereka lebih unggul
jika dibandingkan dengan puasa kalian, amal mereka jika dibandingkav
dengan amal kalian. Mereka membaca Al-Qur'an, (yang bacaannya) tidak
melebihi tenggorokan. Mereku lepas dari agama sebagaimana anak panah
yang lepas dari busumya.” {HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah
Sbersabda,
“Kh

