aiuarij itu adalah anjing-anjing penghuni neraka.”
Di antara pendapat golongan Khawarij, kepemimpinan itu tidak
tergantung kepada seseorang. Mereka disatukan ilmu dan zuhud. Jika
seseorang memiliki ilmu dan zuhud, maka dialah sang pemimpin, sekalipun
dia rakyat jelata.
Karena golongan Khawarij inilah kemudian muncul golongan
Mu’tazilah yang menyerahkan ukuran baik dan buruk kepada akal. Keadilan
1 3 8 Perangkap Setan
juga muncul dari akal. Kemudian muncul pula golongan Qadariyah pada
sahabat, yang diciptakan Ma’bad Al-Juhanni dan Ghailan Ad-Dimasqi
serta Al-Ja’d bin Dirham. Yang menisbatkan dirinya kejalan pikiran Ma’bad
Al-Juhanni adalah Washil bin Atha’ (pemimpin Mu’tazilah), yang kemudian
didukung Amr bin Ubaid. Pada masa-masa itu juga muncul golongan Murji’ah
yang mengatakan, “Kedurhakaan tidak bisa mengusik iman, sebagaimana
kufur tidak dapat berbuat apa-apa selagi sudah ada ketaatan.”
Kemudian Abul-Hudzail bin Al-AUaf, An-Nizham, Ma’mar dan Al-
Jahizh dan golongan Mu’tazilah menekuni buku-buku filsafat pada masa
khalifah Al-Ma’mun. Dari buku-buku filsafat itu mereka membuat beberapa
kesimpulan yang dicampur aduk dengan topik-topik syariat, seperti
munculnya istilah substansi, nonsubstansi, masa, tempat dan alam. Masalah
pertama yang mereka cuatkan ke permukaan adalah masalah status Al-Qur’an
sebagai makhluk. Maka era ini disebut dengan era ilmu kalam (teologi).
Masalah ini diikuti dengan masalah-masalah lain tentang sifat, seperti
ilmu, kekuasaan, hidup, mendengar, melihat. Di antara mereka ada yang
berkata, “Sifat-sifat itu merupakan makna-makna yang ditambahkan ke dzat.”
Lalu Mu’tazUah menentangnya, seraya berkata, “Allah mengetahui terhadap
Dzat-Nya, berkuasa terhadap Dzat-Nya. begitu seterusnya.
Tadinya Abul-Hasan Al-Asy’ari mengikuti golongan Jubba’iyah (dan
Mu’tazilah), tetapi kemudian menyatakan keluar darinya, lalu menetapkan
sifat-sifat Allah. Namun sebagian orang-orang yang menetapkan sifat-sifat
Allah beralih meyakini penyerupaan dan penitisan. Sesungguhnya Allah
memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Talbis Iblis terhadap Golongan Rafidhah
Kebalikan dari talbis Iblis terhadap orang-orang Khawarij, sehingga
mereka membunuh Ali bin Abu ThaHb, Iblis membisiki segolongan orang
lain untuk mencintai Ali secara berlebih-lebihan hingga keluar dari batas
kewajaran. Di antara mereka ada yang menganggap Ali sebagai tuhan, yang
lain menganggapnya lebih baik dari para nabi, yang lain lagi mencaci maki
Abu Bakar dan Umar, sampai-sampai ada yang menganggap keduanya kafir,
dan masih banyak pendapat-pendapat lain, yang terlalu panjang untuk
disebutkan semuanya di sini. Kami akan mengisyaratkan sebagian di antaranj'a
saja.
m a s a
1 3 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Yang menganggap Ali sebagai fuhan adalah Ishaq bin Muhammad An-
Nakha’i Al-Ahmar. Di Mada’in ada segolongan orang yang sangat berlebih-
lebihan, yang dikenal dengan golongan Ishaqiyah, karena menisbatkan kepada
n a m a n y a .
Al-Khathib berkata, “Saya pernah membaca buku karangan Abu
Muhammad Al-Hasan bin Yahya An-Naubakhti, yang menyanggah pendapat
orang-orang yang berlebih-lebihan itu. Dulunya An-Naubakhti termasuk
teolog Syi’ah Imamiyah. Dia juga menyebutkan beberapa buku yang memuat
pendapat mereka. Di antara orang yang mirip orang tidak waras karena
sikapnya yang berlebih-lebihan adalah Ishaq bin Muhammad, yang dikenal
dengan sebutan Al-Ahmar. Dia menganggap Ali adalah Allah yang bisa
muncul pada setiap saat. Begitu pula Al-Hasan dan Al-Husain. Alilah yang
mengutus Muhammad sebagai rasul.”
Segolongan Rafidhah ada yang berpendapat bahwa Abu Bakar dan
Umar adalah orang kafir. Yang lain lagi menganggap keduanya telah murtad
sepeninggal Rasulullah Yang lain lagi menganggap keduanya keluar dari
golongan Ali. Orang-orang Syi’ah menuntut kepada Zaid bin Ali untuk
memisahkan diri dari orang-orang yang berseberangan dengan imamah Ali.
Namun Zaid menolak tuntutan mereka. Tentu saja mereka menolak (rafadha)
sikap Zaid ini, sehingga mereka disebut dengan golongan Rafidhah (orang-
orang yang menolak).
Di antara mereka ada juga yang berpendapat bahwa imamah itu ada di
tangan Musa bin Ja’far, kemudian ke tangan anaknya, Ali, kemudian ke tangan
Muhammad bin Ali, kemudian ke tangan Ali bin Muhammad, kemudian ke
tangan Al-Hasan bin Muhammad Al-Askari, kemudian ke tangan anaknya,
Muhammad, kemudian ke tangan imam yang kedua belas, yaitu imam yang
ditunggu-tunggu, yang menurut mereka belum meninggal dunia, dan di akhir
zaman akan muncul kembali dan memenuhi dunia dengan keadilan.
Abu Manshur Al-Majia berkata, “Imam yang ditunggu-tunggu itu
adalah Muhammad bin Ali Al-Baqir, yang juga dianggap sebagai khalifah.
Dia naik ke langit, dan AUah mengusap kepalanya dengan Tangan-Nya.”
Segolongan Rafidhah ada yang disebut dengan kelompok Janahiyah.
Mereka merupakan pengikut Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far,
yang memiliki dua sayap (janahain). Mereka berkata, “Sesungguhnya roh Ilahi
berputar-putar di dalam tulang sulbi para nabi dan wali, hingga berakhir ke
1 4 0 Perangkap Setan
Abdullah. Dia tidak pernah meninggal dan dialah imam yang ditunggu-
tunggu.”
Di antara mereka ada kelompok yang disebut Ghurabiyah, yang
menganggap ada sekutu dalam nubuwah. Kelompok lain ada yang disebut
Mufawwidhah. Mereka berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan
Muhammad, lalu beliau menyerahkan penciptaan alam ini kepada beliau.”
Kelompok lain ada yang disebut Dzammamiyah. Mereka mencaci maki
Jibril dan berkata, “Sebenarnya Jibril diperintahkan untuk turun kepada Ali
bin Abu Thalib. tetapi dia justru turun kepada Muhammad.”
Kelompok lain ada yang berpendapat bahwa Abu Bakar telah
menzhalimi Fathimah dalam masalah warisan yang seharusnya dia terima.
Kami meriwayatkan dari As-Saffah (khalifah Abbasiyah), bahwa suatu
hari dia berpidato. Lalu ada seorang laki-laki dari keturunan Ali bin Abu
Thalib yang berdiri, seraya berkata, “Aku termasuk keturunan Ali
dia berkata lagi, “Wahai Amirul-Mukminin, bawalah aku menghadapi orang
yang telah menzhalimi aku.”
“Siapa yang telah menzhalimimu?” Tanya As-Saffah.
Orang itu menjawab, “Aku adalah dan keturunan Ali. Yang telah
menzhalimi aku adalah Abu Bakar, karena dia telah mengambil tanah Fadak
dari tangan Fathimah.”
“Apakah dia senantiasa menzhalimimu?” Tanya As-Saffah.
“Benar” jawab orang itu.
“Siapakah yang menggantikan sesudahnya?”
“ U m a r . ”
“Apakah Umar senantiasa menzhalimimu?”
“ B e n a r . ”
L a l u4i ’
“Siapa yang menggantikan sesudahnya?” tanya As-Saffah.
Orang itu menjawab, “Utsman.”
“Apakah dia senantiasa menzhalimimu?”
“Benar,” jawab orang itu.
As-Saffah bertanya, “Siapa yang menggantikan sesudahnya?’
Orang itu menengok ke kiri dan ke kanan, berusaha untuk lari
menghindar.
1 4 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Ibnu Aqil berkata, “Yang pasti, siapa pun yang mendirikan sekte
Rafidhah adalah orang yang bermaksud hendak menyerang dasar agama dan
nubuwah. Sebab apa yang dibawa RasuluUah ̂ merupakan masalah ghaib
dan kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti. FCita hanya meyakini semuanya
menurut riwayat yang dinukil orang-orang salaf dan kesungguhan pandangan
orang-orang yang memandangnya. jadi seakan-akan kita memandang, dengan
diwakili orang yang kita percayai agama dan akalnya.” Jika ada seseorang
berkata, “Ternyata merekalah yang pertama kali berbuat zhalim sepeninggal
beliau terhadap keluarga beliau dalam masalah khilafah, dan juga terhadap
putri beliau dalam masalah warisan”, maka ini tidak lain hanya karena muncul
dari kepercayaan yang tidak utuh terhadap orang yang sudah meninggal dunia.
Keyakinan yang utuh, terlebih lagi kepada para nabi, mengharuskan untuk
menjaga aturan mereka, keluarga dan keturunan mereka.”
Jika ada golongan Rafidhah yang berkata, “Sesungguhnya mereka telah
merebut semua ini sepeninggal beliau”, maka bisa saja harapan kami terhadap
syariat menjadi sia-sia. Sebab yang ada di antara kami dan mereka hanyalah
penuldlan dari mereka dan kepercayaan terhadap mereka. Jika seperti itu
kesimpulan yang mereka tarik sepeninggal beliau, berarti kami juga sia-sia
menukil dari mereka. Tetapi kepercayaan kami terhadap orang-orang yang
berakal masih tetap utuh. Sebenarnya kami juga tidak percaya begitu saja
bahwa orang-orang Rafidhah itu tidak tahu apa yang mesti diikuti. Mereka
men}impan di dalam hati semasa beliau masih hidup, lalu berbalik dari syariat
setelah beliau meninggal dunia, sehingga tidak ada yang bertahan pada agama
beliau kecuali sebagian kecil saja, yaitu yang berkenaan dengan-mukjizat. Tentu
saja ini merupakan cobaan yang besar terhadap syariat.
Sikap golongan Rafidhah yang berlebih-lebihan dalam mencintai Ali
bin Abu Thalib, mendorong mereka membuat hadits-hadits maudhu’ tentang
kelebihan Ali, yang kebanyakan berupa hal-hal yang menggambarkan belas
kasihan terhadap Ali. Kami sudah menyebutkan sebagian di antaranya di
dalam Kitabul-Maudhu'at. Di antaranya berbunyi, “Matahari terlanjur
tenggelam, padahal Ali belum mengerjakan shalat ashar. Lalu matahari itu
muncul kembali karena Ali”. DiKhat dari sisi penukilannya, hadits ini jelas
merupakan hadits maudhu’, tidak diriwayatkan orang-orang yang tsiqat.
Apalagi jika ditiJik dari segi maknanya. Yang namanya waktu itu terus berjalan.
Kalau pun matahari benar-benar muncul kembali setelah tenggelam, toh tidak
akan mampu mengembakkan waktu yang telah berlalu.
1 4 2 Perangkap Setan
Mereka juga menciptakan hadits maudhu’ lainnya, yang berbunyi,
“Sesungguhnya Fathimah mandi lalu mad, dan dia berwasiat agar dia tidak
perlu dimandikan lagi”. Tentu saja ini dusta dan menunjukkan minimnya
pemahaman, karena mereka menganggap mandi untuk membersihkan hadats
disamakan dengan memandikan mayat. Lalu bagaimana mungkin hal ini bisa
diterima akal? Yang pasti, mereka menciptakan khurafat-kliurafat yang tidak
ada sandaranya sama sekali.
Mereka juga mempunyai beberapa pendapat dalam masalah flqih, yang
mereka ciptakan dan telah mereka sepakati. Kami nukil sebagian
permasalahannya dari penuturan Ibnu Aqil. Dia berkata, “Menukil pendapat-
pendapat ini dari kitab Al-Murtadha Fima Injaradatil-lmamah. Di antaranya
d i s e b u t k a n :
Tidak boleh sujud di atas hamparan yang bukan tanah atau dedaunan.
Sujud di atas permadani, kulit atau kain wol adalah tidak sah.
Istijmar (membersihkan hadats dengan batu) tidak berlaku untuk
kencing, tetapi hanya berlaku untuk kotoran saja.
Mengusap rambut (ketika wudhu’) dengan sisa air yang menempel di
tangan, tidak mendapat pahala.
Mengharamkan wanita Ahli Kitab.
Thalaq dianggap tidak sah kecuali setelah ada dua orang saksi yang
a d i l .
Siapa yang tidur sejak petang, sehingga belum mendirikan shalat isya’,
lalu tengah malam dia bangun, maka dia harus mengqadha’ shalat
isya’nya itu, lalu esoknya dia harus berpuasa sebagai kafarat bagi
kelalaiannya.
Wanita yang memotong rambutnya harus membayar kafarat,
sebagaimana dia telah melakukan pembunuhan secara tidak sengaja.
Siapa yang menikahi seorang wanita, padahal wanita itu masih
mempunyai suami, sementara dia tidak tahu hal itu, maka dia harus
mengeluarkan shadaqah sebanyak lima dirham.
Peminum khamr yang sudah dijatuhi hukuman pada kedua kalinya,
maka dia harus dibunuh pada ketiga kalinya.
Pemotongan tangan pencuri pada pangkal jarinya, sehingga telapak
tangannya masih utuh. Jika dia mencuri lagi, maka kaki kirinya yang
1.
2
3 .
4 .
5 .
6 .
7 .
8 .
9 .
1 0 .
1 4 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
harus dipotong. Jika dia mencuri lagi pada ketiga kalinya, maka dia
dijebloskan penjara hingga mati.
Mereka mengharamkan ikan yang hidup di air dan daging hewan yang
dibunuh AhJi Katab.
Penyembelihan harus dilakukan dengan menghadap ke arah kiblat.
Dan, masih banyak masalah-masalah lain yang telah mereka sepakati.
Yang pastd, semua ini merupakan talhis Iblis dan upu daya terhadap mereka,
apalagi mereka sama sekali tidak melandaskannya kepada atsar atau pun
kepada qiyas. Keburukan-keburukan Rafidhah terlalu banyak untuk
disebutkan di sini.
Mereka tidak mau shalat berjama’ah dengan yang lain, karena mereka
menuntut imam yang ma’shum, dan mereka juga senantiasa mencaci maki
para sahabat. Padahal telah disebutkan di dalam AshSbahihain, dari Rasuluilah
beliau bersabda,
11 .
1 2 .
SJ y0^ '' !?'®l * '' f1^ ( ■ ' * f
X# X > - 1 j J j S j j j X > - 1 u p
^ K\'' ^ ' ' f
i A y r
“Janganlah kalian mencaci para sahabatku, karena jika salah seorangdi antara
kalian menginfakkan harta sebesar gunung UKud, maka hal itu tidak bisa
menyamai satu mud salah seorang di antara mereka, tidak pula setengahnya.”
Dari Abdurrahman bin Salim bin Abdullah bin Uwaim bin Sa’idah,
dan ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, “Rasuluilah ̂ bersabda,
1 rtiil oJ ( j - « ^
*ay'y*a y y y y ayXa^ ^ y ’ ’ y
.Vdp IdjkP< L L a < 0 i 1 I
“Sesungguhn)ia Allah telah memilihku dan memilih para sahabat bagiku,
lalu menjadikan bagiku di antara mereka para menteri, Anshar dan besan.
Siapa yang mencaci mereka, maka laknat Allah, para malaikat dan semua
manusia layak ditujukan kepadanya. Allah tidak akan menerima darinya
pada Hari Kiamat, yang wajib maupun yang sunat. ”
Dari Suwaid bin Ghaflah, dia berkata, “Aku melewati sekumpulan
orang dari golongan Syi’ah yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar
o f ^
' j
> 9
1 4 4 Perangkap Setan
serta menjelek-jelekkan keduanya. Lalu aku menemui Ali bin Abu Thalib.
Kukatakan kepadanya, “Wahai Amirul-Mukminin, tadi aku melewati
sekumpulan orang dari pasukanmu yang menyebut-nyebut diri Abu Bakar
dan Umar tidak seperti keadaan yang sesungguhnya pada keduanya. Andaikan
mereka tidak melihat engkau menyimpan maksud tertentu terhadap keduanya
seperti yang mereka nyatakan, tentunya mereka tidak akan selancang itu.”
Ali berkata, “Aku berlindung kepada Allah. Aku berlindung kepada
Allah untuk menyimpan maksud tertentu terhadap keduanya, kecuali seperti
kepercayaan Nabi kepadaku. Allah melaknat siapa pun yang menyimpan
maksud terhadap keduanya kecuali maksud yang baik. Abu Bakar dan Umar
adalah saudara RasuluUah S, teman karib, menteri dan orang yang sangat
d i k a s i h i b e l i a u . ”
Lalu Ali bangkit dengan kedua mata yang meneteskan air mata,
menangis sambil memegangi tanganku, hingga dia masuk masjid. Kemudian
dia naik ke atas mimbar dan duduk sementara waktu di sana. Setelah orang-
orang berkumpul, dia mengawali pidato secara singkat, lalu berkata, “Apa
yang terjadi dengan orang-orang yang menyebut-nyebut dua pemimpin
Quraisy dan bapak orang-orang Muslim, padahal aku menghindari yang
seperti itu dan aku melepaskan diri apa yang mereka katakan itu? Fasti ada
yang akan membalas terhadap apa yang mereka katakan itu. Demi yang
membelah benih dan yang menyembuhkan orang sakit, tidak ada yang
mencintai keduanya kecuali orang Mukmin yang bertakwa dan tidak ada yang
membenci keduanya kecuali orang jahat yang menderita. Keduanya adalah
rekan RasuluUah S, yang membenarkan dan setia, keduanya juga melarang,
memerintah, marah, memberi hukuman, namun keduanya tidak melebihi
pendapat dan yang dilakukan RasuluUah dan beliau juga tidak berpendapat
yang bertentangan dengan pendapat keduanya serta tidak mencintai seorang
pun seperti cinta beliau kepada keduanya. RasuluUah 0meninggal dunia
dan beliau ridha kepada keduanya. Orang-orang Mukmin meninggal dunia
dan mereka ridha kepada keduanya.
RasuluUah 0mengangkat Abu Bakar Sebagai imam shalat orang-
orang Mukmin, sehingga dia mengimami mereka (sebagai ganti beliau saac
sakit) selama sembilan hari, selagi beliau masih hidup. Ketika Allah
mewafatkan Nabi-Nya, orang-orang Mukmin mengangkatnya sebagai
pemimpin. Mereka menyerahkan kepercayaan kepadanya, kemudian mereka
1 4 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
menyatakan baiat kepadanya untuk taat dan bukan karena terpaksa. Sedans;
aku adaJah orang pertama yang melakukan hal itu dari Bani Abdul-Muththalib.
Sebenarnya dia kurang suka hal ini, dia ingin agar ada orang lain dari kami
yang mewakili. Demi Allah, dia adalah orang yang baik di antara orang yang
ada, paling belas kasihan, paling lemah lembut, paling berumur, paling wara‘,
paling tua dan paling sehat. Rasululiah pernah menyerupakan dirinya
dengan Mika’il dalam hal kasih sayang, kelemahlembutan, pemaaf dan
kewibawaannya. Dia berjalan berdasarkan sira/j Rasululiah Sj hingga yang
demikian itu menjadi rahmat Allah atas dirinya.
Kemudian yang menggantikan sesudah itu adalah Umar ̂ dan akii
termasuk orang yang meridhainya. Dia menegakkan urusan berdasarkan
Rasululiah S' dan rekannya (Abu Bakar). Dia mengikuti jejak keduanya.
sebagaimana anak yang disapih yang mengekor di belakang ibunya. Dem;
Allah, dia adalah orang yang sangat lemah lembut dan mengasihi orang-oran ĵ
lemah, menolong orang yang dizhalimi dalam menghadapi orang yang zhalim.
dan dia tidak peduli terhadap celaan orang yang suka mencela karena urusan
Allah. Allah menurunkan kebenaran lewat lidahnya, menjadikan kebenaran
pada keadaan dirinya, sehingga kami benar-benar pernah menyangka, bahwa
ada seorang malaikat yang berkata lewat lidahnya. Allah menguatkan Islam
dengan keislamannya, menjadikan hijrahnya kepada agama sebagai sendi dan
menyusupkan rasa takut di hati orang-orang munafik terhadap dirinya dan
memasukkan rasa cinta kepadanya ke dalam hati orang-orang Mukmin.
Rasululiah Spernah menyerupakan dirinya dengan JibrH, karena ketegaran
dan kekerasannya dalam menghadapi musuh.
Lalu siapakah di antara kalian yang menyerupai keduanya, yang
dirahmati Allah dan yang menganugerahkan kepada kita untuk mengikuti
jalan keduanya? Siapa yang mencintai aku hendaklah mencintai keduanya.
dan siapa yang tidak mencintai keduanya berarti dia membuatku marah dan
aku terbebas dari dirinya. Andaikata aku sempat menyelidiki kalian dalam
masalah keduanya, tentu aku akan menjatuhkan hukuman yang keras.
Ketahuilah, siapa yang setelah hari ini aku mendengar ada yang berkata
seperti itu lagi, maka dia layak dijatuhi hukuman seperti hukuman yang
dijatuhkan kepada orang yang membuat laporan palsu. Ketahuilah, orang
yang terbaik di tengah umat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar
.Kemudian Allah lebih tahu siapa yang lebih baik setelah itu. Kututupi
1 4 6 Perangkap Setan
perkataanku ini sambil memohon ampunan kepada Allah bagiku dan bagi
k a l i a n . ”
Dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata, “Pada akhir zaman akan muncul
segolongan orang yang mereka itu mempunyai julukan, yaitu Rafldhah.
Mereka mengaku golongan kami, padahal mereka bukan golongan kami.
Tandanya, mereka mencaci maki Abu Bakar dan Umar. Di mana pun kalian
mendapatkan mereka, maka perangilah mereka dengan gigih, karena mereka
adalah orang-orang musyrik.”
Talbis Iblis terhadap Golongan Bathiniyah
Golongan Bathiniyah adalah sekumpulan orang-orang yang
bersembunyi di balik nama Islam, namun mereka condong untuk menolaknya.
Keyakinan dan amal mereka sama sekali bertentangan dengan Islam. Di antara
ind perkataan mereka adalah meniadakan Sang Pencipta, menggugurkan
nubuwah dan ibadah serta mengingkari kebangkitan. Pada awal mulanya
mereka tidak menampakkan semua ini, tetapi mereka tetap menyatakan bahwa
Allah itu benar, Muhammad dan Islam itu benar. Tentu saja mereka
menyatakan pendapatnya secara sembunyi-sembunyi dan tidak berani terang-
terangan. Setelah Iblis berhasil memperdayai mereka, maka mereka pun
semakin berani. Mereka mempunyai banyak pendapat, dan mereka juga
mempunyai delapan sebutan, yaitu:
1. bathiniyah.
Mereka disebut bathiniyah, karena mereka beranggapan bahwa zhahir
Al-Qur’an dan hadits itu mempunyai batin, yang bisa dilepas dari zhahirnya,
seperti isi yang bisa dilepas dari kulitnya. Dengan menggambarkan yang badn
ini, orang yang bodoh bisa membaj^angkan gambaran-gambaran yang jelas,
yang di kalangan para ulama disebut dengan istilah simbol dan isyarat untuk
mencapai hakikat yang tersembunyi. Menurut mereka, siapa yang membawa
akalnya kepada hal-hal yang tersembunyi, rahasia, hal-hal badn dan ind serta
merasa puas dengan zhahirnya, yang di sanalah terhadap kewajiban-kewajiban
syariat, lalu naik ke ilmu badn, maka dia bisa terbebas dan beban syariat.
Menurut mereka, orang semacam inilah yang dimaksudkan dalam firman
Allah, 'T)an, mereka memhstang beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada
diri mereka (Al-A’raf: 157)
1 4 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Artdnya menurut mereka, bahwa mereka harus melepaskan diri dar
akidah yang mengharuskan mereka melakukan hai-hal yang zhahir, Sehinggii
mereka bisa menciptakan hukum sendiri secara batil dan menggugurkan
ketentuan syariat.
2. IsmaHliyab.
Mereka menisbatkan diri kepada nama pemimpin mereka, Muhammad
bin Isma’il bin Ja’far. Mereka berpendapat bahwa giliran imamah harus
berhenti pada dirinya, karena dia merupakan imam yang ketujuh. Mereka
beralasan, karena langit itu ada tujuh, begitu pula bumi. Karena itu kelanjutan
imamah harus disempurnakan pada bilangan tujuh pula. Pemikiran seperti
ini pula yang berkaitan dengan pendapat Al-Manshur, dengan urutannya
secara turun-temurun: Al-Abbas, Abdullah, Ali, Muhammad bin Ali, Ibrahim,
As-Saffah, kemudian Al-Manshur.
3. Sab‘ijah.
Mereka disebut kelompok Sab’iyah, karena dua hal:
Mereka yakin bahwa periode imamah itu harus tujuh tujuh. Pada giliran
ketujuh yang terakhir merupakan giliran terakhir yang menjadi tanda
H a r i K i a m a t .
1.
2 . Pengaturan alam bawah tergantung kepada tujuh planet: Saturnus,
Jupiter, Mars, Venus, Matahari, Mercurios dan Bulan.
4. Babahjah.
Mereka merupakan kelompok yang mengikuti seorang pemimpin yang
bernama Babak Al-Khurrami, yang tadinya menjadi pengikut Bathiniyah. Dia
merupakan anak dari hubungan zina. Dia muncul di tengah penduduk di
sebuah pegunungan di wilayah Adzrabaijan pada tahun dua ratus satu Hijriyah.
Di Sana dia mendapat pengikut yang banyak dan menghalalkan hal-hal yang
dilarang. Jika dia melihat di suatu rumah ada wanita yang cantik, maka dia
meminta wanita itu untuk dirinya. Jika keluarga itu menolak, maka dia akan
membunuh mereka dan mengambil wanita yang dimaksudkan. Dia menetap
di wilayah itu selama dua puluh tahun dan sudah membunuh delapan puluh
ribu orang. Ada yang mengatakan lima puluh ribu lima ratus orang. Dia dan
para pengikutnya dapat ditundukkan Al-Mu’tashim. Bersama seorang
saudaranya, Babak dibawa ke hadapan Al-Mu’tashim pada tahun dua ratus
dua puluh Hijriyah. AI-Mu’tashim berkata, “Hai Babak, engkau telah
1 4 8 Perangkap Setan
melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan seorang pun. Maka sekarang
bersabarlah dengan suatu kesabaran yang belum dilakukan seorang pun.”
“Engkau akan melihat kesabaranku,” jawab Babak.
Lalu Al-Mu’tashim memerintahkan untuk memotong kedua tangan
dan kakinya. Ketika hukuman ini sudah dilaksanakan, Babak melumuri
wajahnya dengan darahnya sendiri. Al-Mu’tashim bertanya, “Rupanya engkau
benar-benar seorang pemberani, tetapi mengapa engkau melumuri wajahmu
dengan darah? Apakah engkau takut mati?”
“Sama sekali tidak,” jawab Babak, “tetapi ketika engkau memotong
anggota badanku, dari Sana darahku pun mengalir. Maka aku khawatir ada
orang yang mengatakan bahwa wajahku pucat karena takut mati. Karena im
aku melumuri wajahku dengan darah, agar kalau pun aku benar-benar pucat,
tidak akan kelihatan.”
Setelah ini lehernya dipenggal dan jasadnya dimasukkan ke dalam api.
Begitu pula yang dijatuhkan terhadap saudara Babak. Sekalipun diperlakukan
seperti itu, keduanya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, tidak
mengaduh dan berteriak. Sungguh Allah melaknat keduanya.
Babakiyah ini masih men3dsakan satu kelompok yang mempunyai satu
kebiasaan, bahwa pada satu malam dalam setiap tahunnya mereka berkumpul
di suatu tempat, laki-laki dan wanita. Lampu di tempat itu dipadamkan, lalu
yang laki-laki mencari seorang wanita. Siapa pun wanita yang didapatkannya,
maka dia bebas berhubungan dengannya. Mereka menyamakan hal ini dengan
berburu, sementara berburu itu dihalalkan.
5 . M u h a m m i r a h .
Mereka disebut begitu, karena mereka mencelup kain mereka dengan
warna merah, lalu mereka mengenakannya.
6. Qaramithah.
Ada dua sebab mereka disebut begitu menurut para pakar sejarah, yaitu:
Ada seorang laki-laki dari penduduk Khuzistan yang mendatangi para
pemuka Kufah sambil memperlihatkan kezuhudannya dan mengajak
mereka untuk mengikuti seorang imam dari keluarga RasuluUah
Dia singgah di rumah salah seorang di antara mereka yang disebut
Karamaithah. Namun penguasa wilayah itu menangkapnya lalu
menjebloskannya ke dalam penjara. Ada seorang gadis yang merasa
1.
1 4 9Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
kasihan terhadap nasibnya. Maka gadis ini mengendap-endap
mengambil kunci yang disimpan di bawah bantal sang penguasa. Setelah
kunci di tangan, gadis itu membuka pintu sel penjara, mengeluarkannya
lalu mengembalikan kunci ke bawah bantal seperti keadaan semula.
Ketika penguasa itu menengok ke dalam sel dan tidak mendapatkan,
maka orang-orang menjadi simpati kepada orang tersebut. Lalu dia
pindah ke Syam dan menamakan dirinya Karamaithah, seperti nama
orang yang telah menampungnya di Kufah. Lalu dia menyingkat
namanya agar lebih mudah dilafazhkan, dengan sebutan Qarmath.
Sepeninggalnya, dia digantiltan keluarga dan anak-anaknya.
Orang-orang menyebut Qaramithah karena menisbatkannya kepada
pemimpinnya yang bernama Hamdan Qarmath. Setelah banyak
pengikutnya, mereka disebut Qaramithah atau Qarmathiyah. Orang
ini berasal dari penduduk Kufah, yang condong kepada zuhud. Dia
bertemu salah seorang penyeru Bathiniyah di sebuah persimpangan
ketika dalam perjalanan ke sebuah desa.
“Kemana tujuanmu?” tanya Hamdan kepada pengikut Bathiniyah yang
dianggapnya seorang penggembala.
Orang itu menyebutkan desa Hamdan. Hamdan berkata, “Naiklah
sapiku ini, agar engkau tidak letih.”
“Aku tidak diperintahkan untuk naik sapi,” jawab orang itu.
“Sepertinya engkau tidak berbuat sesuatu melainkan berdasarkan
perintah,” kata Hamdan bertanya-tanya.
“Benar,” jawab orang Bathiniyah.
‘Atas perintah siapa?” tanya Hamdan.
‘Atas perintah penguasa diriku, penguasa dirimu, penguasa dunia dan
akhirat,” jawab orang Bathiniyah.
“Berarti dia adalah Allah Kabbul-alamin?
“Engkau benar,” jawab orang Bathiniyah.
“Apa tujuanmu datang ke desa itu?’ tanya Hamdan.
“Aku diperintahkan untuk menyeru penduduknya dari kebodohan
kepada ilmu, dan kesesatan kepada petunjuk, dari penderitaan kepada
kebahagiaan, agar aku menyelamatkan mereka dari belenggu kehinaan dan
kemiskinan, dan agar aku membantu mereka dan kesusahan.”
2 .
1 5 0 Perangkap Setan
“Kalau begitu tolonglah aku, niscaya Allah akan menolongmu.
Curahkan ilmu kepadaku, agar aku tetap dapat hidup, karena aku sangat
membutuhkan keadaan yang demikian itu,” kata Hamdan.
“Aku ddak diperintah untuk membocorkan rahasia yang tersimpan
rapi kepada setiap orang, kecuali setelah percaya kepadanya dan membuat
perjanjian dengannya.”
“Apa perjanjiannya? Aku akan menjaganya,” kata Hamdan.
“Engkau harus menjadikan diriku sebagai imam atas dirimu
berdasarkan sumpah dan janji kepada Allah, engkau tidak boleh
membocorkan rahasia imam yang akan kusampaikan kepadamu dan rahasia
macam apa pun.”
Kemudian orang tersebut mengajarinya berbagai macam ilmu dan
memerintahkannya untuk menyebarkan ilmu itu kepada manusia. Maka
Hamdan menjadi penyeru pertama kepada bid’ah ini, lalu para pengikutnya
disebut Qaramithah.
Keluarga dan keturunannya terus mewarisi ajaran-ajaran Hamdan.
Di antara mereka yang paling sadis adalah seseorang yang bernama Abu Sa’id,
yang mulai punya nama pada tahun dua ratus delapan puluh enam Hijriyah.
Entah sudah berapa orang Muslim yang menjadi korban kebiadabannya,
berapa masjid yang dia bakar dan berapa banyak Mushhaf Al-Qur’an yang
dia musnahkan. Dia menghapus ibadah haji, membuat model-model tertentu
bagi keluarga dan para pengikutnya. Jika membunuh seseorang, dia berkata,
“Aku dijanjikan kemenangan pada saat ini.”
Kedka Abu Sa’id meninggal dunia, orang-orang membangun sebuah
kubah di atas kuburannya, yang di ujung atasnya diberi patung burung yang
terbuat dari batu kapur. Mereka berkata, “Jika burung ini dapat terbang, maka
Abu Sa’id akan keluar dan kuburnya.” Di atas kuburannya juga ditambad
seekor kuda, pakaian dan senjata. Iblis memperdayai kelompok ini bahwa
siapa yang mad dan di atas kuburannya ditambatkan seekor kuda, maka dia
akan dibangkitkan dan dihimpun pada Hari Kiamat sambil naik kuda. Jika
ddak, maka dia akan dibangkitkan dalam keadaan berjalan kaki.
Mereka bershalawat kepada Abu Sa’id dan ddak bershalawat kepada
RasuluUah 0. Jika mereka mendengar seseorang bershalawat kepada beliau,
maka mereka berkata, “Apakah engkau memakan rezeki Abu Sa’id dan
bershalawat kepada Abul-Qasim?
1 5 1Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
Setelah itu muncul Abu Thahir yang juga berbuat hal yang sama. Dia
menyerang Ka’bah dan mengambil berbagai macam harta benda yang
tersimpan di dalamnya dan mengambil Hajar Aswad dari tempatnya, lalu dia
bawa ke negerinya.
7. Khurramiyah.
Khurram bukan termasuk kosakata Arab. Artinya sesuatu yang
mendatangkan kenikmatan dan kesenangan bagi manusia. Maksudnya,
kelompok ini diberi kebebasan untuk mengikuti hawa nafsu dan mencari
kesenangan, dengan cara bagaimana pun serta dibebaskan dari kewajiban
syariat. Kelompok ini mirip dengan Mazdakiyah, para penganut permisivisme
dari kalangan Majusi yang muncul pada era penguasa Qubadz. Kaum laki-
laki juga diperbolehkan berhubungan dengan wanita-wanita mahramnya dari
hal-hal yang diharamkan menjadi halal.
B. TaHimiyah.
Mereka disebut begitu, karena prinsip madzhab mereka menafikan
fimgsi akal dan menggugurkan pendapat macam apa pun. Mereka hanya boleh
menerima pelajaran dari imam yang ma’shum. Mereka tidak bisa menerima
ilmu kecuali dengan cara belajar kepada imam itu.
Ketahuilah, bahwa mereka semua (orang-orang Bathiniyah ini)
bermaksud hendak memisahkan diri dari agama. Karena itu mereka
berkomplot dengan orang-orang Majusi, Mazdakiyah, Tsanwiyah, orang-
orang ateis dan filosof. Mereka sampai kepada satu kesimpulan untuk
melepaskan dari dominasi dan pengaruh para pemeluk agama terhadap diri
mereka. Sampai-sampai mereka berani menyatakan keyakinannya yang
mengingkari Sang Pencipta, mendustakan para rasul dan mengingkari
kebangkitan setelah kematian. Menurut mereka, para nabi telah menyimpang
dan kotor. Mereka melihat agama Muhammad telah terlanjur berpencar
kemana-mana, sehingga mereka tidak sanggup menghadapinya. Namun
mereka berkata, “Kita harus mengikuti keyakinan segolongan di antara
mereka, yang paling jernih akalnya, paling tepat pemikirannya, paling bisa
menerima hal-hal yang dianggap mustahil dan membenarkan yang dusta-
dusta, yaitu golongan Rafidhah. Ada baiknya jika kita membentengi diri
dengan cara berhubungan dengan mereka dan mencintai mereka, dengan
cara memperlihatkan kesedihan terhadap nasib yang menimpa keluarga
Muhammad, yang dizhalimi dan dihinakan. Ada baiknya juga jika kita mencaci
1 5 2 Perangkap Setan
maki orang-orang terdahulu 3'ang telah menuldl syariat kepada mereka. Jika
orang-orang terdahulu itu dihinakan, tentunya semua orang tidak akan mau
peduli terhadap apa yang mereka sampaikan, sehingga ada peluang bagi kita
untuk mengalihkan manusia dari agama. Jika masih ada orang yang berpegang
kepada zhahir Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita beritahukan bahwa yang
zhahir itu mempunyai rahasia dari batin, bahwa siapa yang terpedaya oleh
zhahirnya adalah orang yang bodoh. Orang yang pandai adalah yang meyakini
batinnya.”
Mereka juga berkata, “Kita harus memilih seseorang yang bisa
membantu jalan pemikiran ini dan yang mau mengaku bahwa dia berasal
dan ahlul-bait. Kemudian semua orang diharuskan mengikuti orang itu dan
taat kepadanya, karena dia merupakan khalifah (penerus) Rasulullah yang
dijaga Allah dari kesalahan dan kekeliruan. Seruan ini sendiri tidak akan
muncul dari diri khalifah yang ma’shum itu.”
Yang pasti, tujuan mereka adalah kedudukan dan keinginan menguasai
harta benda manusia serta sebagai ajang balas dendam, karena pada masa
sebelumnya darah mereka ditumpahkan dan harta mereka dirampas. Inilah
yang menjadi tujuan utama dan sekaiigus sebagai pendorongnya.
Mereka mempunyai berbagai macam cara untuk menundukkan
manusia. Mereka membeda-bedakan, siapa orang yang akan dijadikan sasaran.
Jika mereka melihat seseorang hendak dijadikan sasaran, maka mereka melihat
tabiatnya. Jika orang tersebut condong kepada zuhud, mereka menyerunya
kepada amanat, kejujuran dan meninggalkan syahwat. Namun jika orang yang
dihadapi condong kepada kebebasan, mereka mengatakan di hadapannya
bahwa ibadah itu sia-sia, wara’ itu cermin kebodohan dan yang pandai adalah
mengikuti kesenangan di dunia yang fana ini. Mereka juga menetapkan apa
yang dirasa sesuai dengan madzhab yang dihadapinya, lalu menciptakan
keragu-raguan. Sehingga yang bergabung dengan mereka ada dari kalangan
orang-orang yang bodoh, putra-putra kaisar dari pemimpin orang-orang
Majusi, yang dahulunya pemerintahan mereka pernah dihancurleburkan
pemerintahan Islam. Yang mau bergabung dengan mereka juga orang-orang
yang gila kedudukan, sehingga jika bergabung dengan mereka bisa membuka
kesempatan untuk mendapatkan kedudukan itu, atau orang-orang Rafidhah
yang suka mencaci maki para sahabat, atau filosof yang ateis, atau orang
yang tidak mempunyai pendirian dalam agama, atau orang yang sudah dikuasai
1 5 3Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
kecintaan kepada kesenangan dan tidak mau mengerjakan kewajiban yanp
dibebankan .
Abu Hamid Ath-Thusi berkata, “Golongan Bathiniyah adalah orang-
orang yang yang mengaku Isiam, naraun condong kepada Rafidhah.
Keyakinan dan amal mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Di
antara pendapat mereka adalah tentang adanya dua tuhan yang terdahulu
dan tanpa ada permulaannya. Namun yang satu merupakan penyebab
munculnya tuhan yang lain. Yang lebih dahulu tidak bisa disifati sebagai ada
atau tidak ada, diketahui atau tidak diketahui, disifati atau tidak disifati. Dari
tuhan yang pertama ini muncul tuhan yang kedua. Menurut mereka, Nabi ̂
merupakan ungkapan tentang seseorang yang mendapat limpahan kekuatan
yang suci dan jernih dari tuhan yang pertama lewat tuhan yang kedua. Menurut
mereka, Jibril merupakan ungkapan tentang akal, dan bukan merupakan
s o s o k .
Mereka Sf̂ pakat bahwa setiap zaman harus ada imam yang ma’shum,
yang menegakl'̂ an kebenaran, yang menjadi rujukan taVil semua kejadian
yang ada dan sama kema’shumannya dengan Rasulullah S. Mereka
mengingkari tempat kembali (ma‘ad). Karena makna ma‘adadalah kembalinya
sesuatu kepada asalnya, yang berarti kembalinya jiwa kepada asalnya.
Ketika mereka tidak mampu mengalihkan perhatian manusia dari Al-
Qur’an dan As-Sunnah, maka mereka mengalihkan dari makna yang
sesungguhnya kepada pendapat yang aneh-aneh. Sebab jika mereka
menafikan AJ-Qur’an dan As-Sunnah secara terus terang, tentu mereka akan
d i b u n u h .
Mereka juga mengatakan, “Tatkala Allah menciptakan roh, maka Dia
muncul di tengah roh-roh yang diciptakan-Nya dalam rupa orang yang tua
renta. Mereka tidak menyadari bahwa lelaki tua itu adalah Allah. Yang pertama
kali mengenalnya adalah Saknan Al-Farisi, Al-Miqdad dan Abu Dzarr. Adapun
yang pertama kali mengingkari-Nya adalah Iblis yang bernama Umar bin Al-
K h a t h a b . ”
Semua khurafat yang mereka ciptakan ini tidak perlu disebut secara
panjang lebar, karena hanya akan menghabiskan waktu. Orang-orang
semacam mereka tidak hanya berpegang kepada syubhat yang memerlukan
bandingan, tetapi mereka juga menciptakan model-model baru berdasarkan
kehidupan mereka, sesuai dengan keinginan mereka.
1 5 4 Perangkap Setan
Ibnu Aqil berkata, “Islam menjadi rusak karena talbis dua golongan,
Bathiniyah dan Zhahiriyah. Golongan Bathiniyah mengabaikan zhahir syariat
dan ddak menerima penjelasannya. Sehingga tidak ada yang menyisa sedikit
pun dalam syariat. Tetapi di balik ini mereka meletakkan makna tersendiri,
lalu mereka menggugurkan yang wajib dan yang dilarang.
Sedangkan Zhahiriyah mengambil dari yang zhahir, sekalipun ia masih
memerlukan ta’wil, lalu mereka mena’wili asma’ dan sifat sesuai dengan jalan
pikiran mereka. Yang benar adalah antara dua golongan ini. Kita harus
mengambil yang zhahir selagi tidak ada dalil lain yang mengalihkan kita
darinya. Kita harus menolak segala yang batin yang ddak didukung satu pun
dalil syariat.
Andaikan kami berpapasan dengan golongan yang dikenal dengan
sebutan Bathiniyah, maka kami tidak akan mau menuntut ilmu bersama.
Bahkan kami harus melecehkan akal dan pikiran serta para pengikutnya. Kami
katakan, “Sesungguhnya harapan itu mempunyai jalan yang bisa ditempuh
dari arah yang menghantarkan ke tujuan. Meletakkan harapan di wadah
keputusasaan merupakan kebodohan. Sebagaimana yang sudah diketahui,
dan sekian banyak agama yang paling layak untuk diterapkan di dalam
kehidupan dunia ini, yang paling dekat adalah syariat Islam yang kalian serang
dan yang hendak kalian rusak. Tampaknya syariat Islam itu terlalu tangguh
untuk dibodoh-bodohkan, terlebih lagi dilenyapkan. Ini adalah pemikiran
yang bodoh. Jika terlintas dalam benak kalian untuk mengeruhkan air laut
yang membentang luas dan memberantas agama ini, maka ketahuilah bahwa
dari beribu-ribu mimbar di berbagai penjuru tempat setiap harinya
dikumandangkan lafazh â hadu alia ilaha illallah wa anna Muhammad rasulullah.
Yang kalian perlukan saat ini ialah berbicara empat mata, menyendiri di
puncak gunung, bertukar pendapat, dan anjing-anjing harus dibunuh. Kapan
ada orang yang berakal di antara kalian yang mau berbicara kepada dirinya
tentang munculnya pemikiran kalian yang merebak kemana-mana ini?
Nyatanya kami ddak melihat seorang pun yang paling bodoh di antara kalian
yang mau membuat perbandingan dengan keterangan-keterangan yang
ras iona l . ”
Bara Bathiniyah berkobar-kobar pada masa belakangan, yaitu pada
tahun empat ratus sembilan puluh empat. Pada saat itu Sulthan Jalalud Daulah
memerangi para pengikut Bathiniyah, ketika dirasakan mereka semakin
1 5 5Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
bertambah kuat. Jumlah korban dan golongan Bathiniyah lebih Hari tiga ratus
ribu orang. Ketika harta mereka dirampas dan diselidiki, ternyata salah seorang
di antara mereka ada yang mempunyai tujuh puluh buah rumah. Khalifah
diberitahu tentang keadaan golongan Bathimyah, lain dia memerintahkan
agar siapa pun yang mempunyai kaitan dengan golongan ini agar ditangkap
dan hartanya dirampas. Cukup banyak orang yang terjaring dalam operasi
ini, apalagi orang-orang awam juga ikut berperan dalam melakukan
penangkapan terhadap mereka yang layak dicurigai.
Awal mula diketahuinya golongan Bathiniyah ini pada masa Malik Syah
Jalalud-Daulah. Mereka berkumpul sendiri untuk mendirikan shalat Id di
wilayah Sawah. Lalu mereka ditangkap polisi dan dipenjara. Tetapi tak lama
kemudian mereka dilepas lagi.
Mereka juga membunuh seorang mu’adzin Sawah. Pasalnya, mereka
membunjuk mu’adzin ini agar mau masuk golongan mereka. Tetapi mu’adzin
itu menolaknya. Mereka khawadr akan membocorkan bujukan mereka, lalu
membunuhnya secara sembunyi-sembunyi. Kabar tentang dibunuhnya
mu’adzin ini didengar seorang wakil Al-Malik. Maka dia mencari sendiri siapa
yang dicurigai sebagai pembunuhnya, lalu dia membunuhnya. Ternyata yang
dibunuhnya adalah seorang tukang kayu. Inilah kelancangan mereka yang
pertama terhadap penguasa, dengan berkata, “Kalian membunuh seorang
tukang kayu yang dicurigai anggota kami, dan kami dapat membunuhnya
lewat tangan wakil Al-Malik.”
Golongan Bathiniyah yang berada di Ashbahan adalah orang-orang
yang paling beringas. Kedka Malik Syah meninggal dunia, keadaan mereka
semakin menjadi-jadi, sampai-sampai mereka berani menculik orang, lalu
membunuhnya dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang. Jika sudah
mendekad petang hari, semua orang dicekam ketakutan. Lalu ada orang-
orang yang menyelidiki tempat-tempat tertentu yang dicurigai sebagai milik
anggota Bathiniyah. Di suatu tempat mereka mendapatkan seorang wanita
yang tidak pernah beranjak dari tikar yang digelarnya. Kedka wanita itu
disingkirkan dari atas dkar, ternyata di bawahnya ada sebuah lubang, dan di
dalam lubang itu ada empat puluh orang yang sudah menjadi mayat. Maka
mereka membunuh wanita pengikut Bathiniyah itu dan membakar rumahnya.
Ada pula seorang laki-laki tua yang suka duduk-duduk di ujung lorong.
Kedka ada orang lewat di dekatnya, dia meminta untuk menuntunnya masuk
1 5 6 Perangkap Setan
ke lorong. Ketika keduanya sudah berjalan beberapa langkah, tepatnya
melewati sebuah rumah para pengikut Bathiniyah, orang-orang yang ada di
dalam rumah itu membekuk orang yang menuntun orang buta itu dan
membunuhnya. Maka orang-orang Muslim terus-menerus memburu para
pengikut Bathini)’ah dan membunuh mayoritas di antara mereka.
Benteng yang dimiliki golongan Bathiniyah yang pertama kali adalah
benteng Rauzabad di wilayah Dailam. Sebelumnya benteng itu milik
Qammah, rekan Maliksyah. Dia ingin melepaskan benteng itu agar tidak
dituduh sebagai pengikut Bathiniyah. Maka dia menjualnya dengan harga
seribu dua ratus dinar dan menyerahkan benteng kepada mereka pada tahun
delapan puluh tiga, pada masa Maliksyah. Yang pertama kali menghidupkan
Bathiniyah di sana adalah Al-Hasan bin Ash-Shabbah. Ketika berada di Mesir,
dia belajar kepada para pemuka Bathiniyah, dan setelah kembali lagi ke Dailam
dia menjadi pemimpin Bathiniyah. Di antara ciri seruannya, dia tidak mengajak
kecuali orang yang bodoh, yang tidak bisa membedakan mana tangan kiri
dan mana tangan kanannya serta yang tidak mengetahui masalah agama. Dia
biasa menjamu mereka dengan makanan-makanan yang lezat dan dia juga
menuturkan kezhaliman yang dialami ahlu bait Rasulullah S, dan yang
demikian itu merembet kepada dirinya.
Berapa banyak orang Zindiq yang di dalam hatinya terpendam dendam
terhadap Islam. Dia muncul, berseru dan mengeluarkan pernyataan-
pernyataan yang tujuannya untuk menjerumuskan manusia kepada Zindiq.
Tujuan pokoknya dalam keyakinan ialah melepaskan diri dari agama. Dalam
masalah amal, mereka selalu mencari kesenangan dan menghalalkan yang
dilarang. Di antara mereka ada yang bernama Babak Al-Khurrami yang bisa
menyeret manusia kepada kesenangan. Tetapi selanjutnya dia suka membantai
manusia dan bertindak sewenang-wenang. Kemudian ada pula golongan
orang-orang Qaramithah yang mampu menyesatkan para raja Sudan. Akibat
yang ditimbulkan di dunia benar-benar sangat buruk. Di antara mereka ada
yang tidak pernah berhenti membuat kerusakan, sehingga dia tidak
mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akhirat. Contohnya adalah Ar-
R a w a n d i d a n A l - M a ’ r i .
Dari Abul-Qasim Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhyu, dan ayahnya, dia
berkata, “Anak Ar-Rawandi ada yang mengikuti golongan Rafidhah dan juga
1 5 7Bab V: Talbis Iblis dalam Masalah Aqidah
orang-orang ateis. Jika dia diejek, maka dia menjawab, ‘Aku hanya ingin
mengetahui dan mengenal jalan pikiran mereka’.”
Siapa yang meneliti keadaan Ibnur-Rawandi dari kakeknya, tentu dia
akan tabu bahwa ternyata mereka adalah para tokoh ateis. Dia menyusun
sebuah buku yang berjudul, Ad-Damigh (Sesuatu yang tak terbantahkan).
Menurutnya, dia menciptakan syariat yang tidak terbantahkan. Dia
menetapkan seperti. itu selagi masih muda belia. Dia menentang Al-Qur’an,
menganggapnya tidak sempurna dan tidak bisa dibaca secara baik.
Menurutnya, orang-orang Arab yang fasih merasa bingung tatkala mendengar
bacaan Al-Qur’an. Lalu bagaimana halnya dengan orang tidak fasih?
Sedangkan syair-syair Abul-Ala’ Ai-Ma’ri secara jelas menggambarkan
ateisme. Dia sangat berlebih-lebihan dalam memusuhi para nabi. Karena syair-
syairnya itu, hidupnya selalu dibayangi ketakutan dan menetap di suatu tempat
secara sembunyi-sembunyi, karena takut akan dibunuh. Akhirnya dia
meninggal dunia karena dibayangi ketakutannya sendiri.
Tidak ada suatu zaman yang diwarnai dua golongan ini, melainkan
ada segolongan orang yang memberantas mereka. Memang tidak ada orang
yang lebih menyimpang jalannya dan lebih buruk kehidupannya selain dari
orang Bathiniyah. Kami sudah mengupas dua golongan ini dalam At-Tarikh.
Maka kami cukupkan sekian saja uraian mengenai hal ini.B
1 5 8 Perangkap Setan
Bab VI:
Talbis Iblis Terhadap Ulama
k ETAHUILAH bahwa fa/bis Iblis tatkala menjoisup ke dalam diri manusia
lewat beberapa jalan. Di antaranya ada yang permasalahan terlihat mata.
Toh sekalipun begitu manusia tetap masih dikalahkan bisikan hawa nafsunya
dan matanya tidak melihat pengetahuan, sehingga membuatnya menjadi hina.
Di antaranya ada yang tidak terlihat dan tersembunyi, yang biasanya tidak
disadari sekian banyak ulama.
Kami mengisyaratkan beberapa rona fa/bis Iblis, agar dengan
menyebutkannya bisa mengingatkan orang-orang yang dibuat lalai oleh Iblis.
Sebab jika harus disebutkan satu persatu dan beberapa jalan ini, tentu akan
berkepanjangan uraiannya.
Talbis Iblis terhadap Para Qari^
Di antara gambarannya, salah seorang di antara mereka ada yang
menyibukkan diri dalam bacaan-bacaan yang tidak senonoh dan juga
mencarinya, sehingga banyak umurnya yang terbuang unruk mengumpulkan
buku-buku bacaannya, menyusunnya dan bahkan menceritakannya kepada
orang lain. Yang demikian itu bisa membuamya lalai mengerjakan yangwajib.
Adakalanya engkau melihat seorang imam masjid yang menggemakan
bacaannya, sementara dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu bisa merusak
1 5 9
shalat. Boleh jadi dia berbuat seperti itu karena ingin mencari ketenaran.
agar tidak dianggap sebelah mata saat berkumpul dengan para ulama atau
saat dia belajar dari mereka.
Andaikan mau berpikir, tentu mereka akan tabu bahwa yang
dimaksudkan adalah menghapal Al-Qur’an, meluruskan bacaan, memahami
dan mengamalkannya, lalu berbuat apa yang bermanfaat bagi dirinya,
membersihkan akhlaknya, kemudian menyibukkan diri dalam dmu syariat
yang dirasa lebih penting. Sungguh merupakan kelaiaian yang nyata jika dia
menyia-nyiakan waktu dalam hal-hal yang kurang penting.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Al-Qur’an itu diturunkan untuk
diamalkan, tetapi banyak manusia yang menganggap membaca Al-Qur’an
sebagai amal.” Dengan kata lain, mereka hanya mencukupkan diri dengan
.membacanya saja dan tidak mengamalkan isinya.
Di antara mereka ada pula yang membaca Al-Qur’an di mihrabnya
dengan cara yang salah dan meninggalkan cara yang sudah disepakati
kebenarannya. Yang benar menurut para ulama, shalat dianggap tidak sah
jika dengan bacaan yang salah. Boleh jadi dia memaksudkan untuk
menirnbulkan keanehan tersendiri untuk menarik perhatian dan pujian
manusia, agar mereka beranggapan bahwa dia orang yang rajin membaca
Al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang menyatukan beberapa jenis bacaan, seperti:
Maliki, maaliki, mallaaki. Yang demikian ini tidak diperbolehkan, karena bisa
keluar dan susunan bahasa Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang
merangkapkan sajdah, tahlil dan takbir. Yang demikian ini makruh.
Di antara mereka ada yang menyalakan beberapa buah lampu saat
mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, lalu mengundang orang-orang untuk
berkumpul dan menghambur-hamburkan uang serta mengumpulkan laki-
laki dan wanita di satu tempat pada waktu malam, mirip dengan kebiasaan
orang-orang Majusi. Iblis menampakkan kepada mereka bahwa yang seperti
itu dianggap dapat mengangkat nama Islam. Tentu saja ini merupakan tipu
daya yang besar. Sebab kalau ingin mengangkat syariat ialah dengan
mempraktikkan apa yang disyariatkan.
Di antara mereka ada pula yang bertoleransi mengakui kemampuan
membaca, mewakili orang yang sebenarnya tidak membaca, karena mungkin
1 6 0 Perangkap Setan
ada sertifikat tersendiri untuk kemampuan ini. Orang yang diwakili berkata,
“Berkatalah atas namaku, sekadar sebagai siasat.” Dia menganggap hal ini
langsung beres begitu saja, karena dia melihat ini adalah masalah qira’at dan
menganggapnya baik. Dia lupa bahwa yang demikian itu termasuk perbuatan
dusta yang layak mendapat hukuman dusta.
Ada pula di antara qari’ yang sudah hebat mengambil dua atau tiga
jenis qira’at, lalu dia mengabarkan bahwa orang yang diambilnya itu sudah
termasuk orang yang mampu membaca, padahal hadnya ddak bisa menerima
yang demikian itu. Lalu dia menulisnya dalam daftar orang yang sudah
menguasai qira’at ini dan itu.
Ada sekelompok qari’ lain yang berlomba-lomba tentang banyaknya
qira’at. Pernah kulihat bagaimana sebagian syaikh yang menghimpun manusia,
lalu dia menunjuk seseorang, membaca Al-Qur’an sepanjang hari hingga
khatam tiga kali,” Entah bagaimana bacaannya, entah sempurna entah tidak.
Pada saat itu orang-orang juga berkumpul untuk melihat dan mendengarkan,
yang tentu saja mereka akan menganggapnya sebagai perbuatan baik. Iblis
memperlihatkan kepada mereka bahwa banyak bacaannya sama dengan
banyak pahalanya. Tentu saja ini termasuk tipu daya IbHs. Sebab qira’ah Al-
Qur’an harus diniatkan karena Allah, bukan untuk mencari simpati orang
banyak. Saat membacanya pun harus pelan-pelan. Allah befirman,
“Dan, Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur, agar
kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.” (Al-Isra’: 106)
“Dan, bacalah Al-Qur’an secara tartil.” (Al-Muzzammil: 4)
Ada pula sebagian qari’ yang menciptakan suatu bacaan yang berlagu.
Sekalipun mungkin hanya sedikit, tetapi Ahmad bin Hambal dan juga ulama
lain memakruhkannya. Asy-Syafii’i berkata, “Sedangkan mendengarkan vokal
lagu (tanpa iringan musik) dan nasyid Arab termasuk diperbolehkan, begitu
pula qira’ah Al-Qur’an dengan lagu dan membaguskan suara.”
Kami katakan, Asy-Syafi’i hanya ingin mengisyaratkan kejadian pada
zamannya, bahwa mereka bisa berlagu dengan suara yang pelan, tetapi pada
zaman sekarang? Mereka menciptakan nada-nada qira’ah berdasarkan nada-
nada lagu, yang akhirnya tak jauh berbeda dengan nyanyian, sehingga semakin
^ Hal ini bertencangan dengan petunjuk Nabi yang pemah bersabda, ‘Tidak akan bisa memahami AI-
Qur’an orang yang membacanya lebih sedikir dari tiga kali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
1 6 1Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
menambah kemakruhannya. Jika Al-Qur’an sampai dibawa keluar dari
batasannya yang layak, maka hukumnya adalah haram.
Di antara para qari’ ada pula yang bertenggang rasa terhadap sedikit
kesalahan, seperti menggunjing saingan. Padahal tindakan ini bisa membawa
mereka kepada dosa yang lebih besar. Mereka percaya bahwa menghafal Al-
Qur’an bisa membebaskan mereka dari siksa, karena berhujjah kepada sabda
Nabi 0,
“Andaikan Al'Qur’an itu diletakkan di atas kobaran api, maka ia tidak
akan terbakar." (HR. Ath-Thabarani dan Ibnu Adi).®
Tentu saja ini merupakan ta/bis Iblis terhadap mereka. Sebab siksa yang
ditimpakan kepada yang mengetahui, lebih keras daripada siksa yang
ditimpakan kepada orang yang tidak mengetahui. Sebab tambahan ilmu
seharusnya bisa menguatkan hujjah. Status sebagai qari’ tidak membuarnya
lebih tehormat, sehingga dia terlindung dan dosa seperti yang dilakukan orang
lain. Allah befirman,
“Adakah orang yang mengetahui bahiua apa yang diturunkan kepadamu
dari Rabbmu itu benar, sama dengan orang yang burn?" (Ar-Ra’d: 19)
Allah befirman tentang istri-istri Nabi
"Hai istri'istri Nabi, siapa di antara kalian yang mengerjakan perbuatan
keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua
kali lipat." (AbAhzab; 30)
Talbis Iblis terhadap para Ahli Hadits
Ada di antara mereka yang menghabiskan umurnya untuk
mendengarkan hadits, pergi kesana kemari untuk keperluan itu, menghimpun
berbagai jalan hadits, mencari sanad-sanadnya yang tinggi dan matannya yang
aneh-aneh. Mereka ini ada dua macam:
Pertama: Segolongan orang yang bertujuan menjaga syariat, dengan cara
mengetahui hadits yang shahih dan hadits yang dha’if. Keberadaan mereka
perlu disyukuri. Hanya saja Iblis memperdayai agar mereka tetap menjibukkan
diri dalam urusan ini, melupakan fardhu ain dan apa yang harus mereka
lakukan, lupa berijtihad melaksanakan yang wajib dan menelaah hadits itu
s e n d i r i .
Di dalam sanadnya ada yang dha’if. Namun hadits mi mempunyai pengiiat dan Uqbah bin Amir dalam
riwayat Ad-Darimi yang sanadnya hasan.
1 6 2 Perangkap Setan
Jika ada orang yang berkata, “Padahal banyak orang-orang salaf 3^ang
melakukan hal ini seperti Yahya bin Ma’in, Ibnul-Madini, Al-Bukhari, Muslim
dan lain-lainnya. Lalu bagaimana hal ini?”
jawabannya: Mereka itu mampu mengompromikan antara mengetahui
mana yang penting dari urusan agama dan mendalaminya, dan antara apa
yang mereka cari dari hadits. Keadaan yang demikian ini dibatu dengan adanya
isnad yang tidak terlalu panjang dan sedikitnya hadits, sehingga dua tujuan
bisa dicakup semuanj^a pada masa itu.
Sedangkan pada zaman sekarang, jalan hadits menjadi panjang sekall,
tetapi buku-buku yang sudah dikarang cukup banj'ak, sehingga dua tujuan
ini tidak bisa dicakup secara berbjirengan. Adakalanya seorang ahli hadits
sudah mendengar hadits selama lima puluh tahun, menjnasun beberapa kitab,
namun dia tidak tahu apa yang terkandung di dalamnya. Andaikata terjadi
sesuatu dalam shalamya, tentu dia akan mencari informasi dari ahli fiqih,
3^ang juga tidak tuntas dalam mendengar hadits. Karena itu terbuka
kemungkinan munculnya orang-orang yang menyerang para ahli hadits, yang
berkata, “Itulah orang-orang yang bersanding dengan kitab-kitab, namun tidak
tahu apa yang ada di depan mata.”
Kalau pun ada di antara mereka yang beruntung dan menelaah hadits
yang diriwayatkannya, boleh jadi dia mengamalkan hadits yang sebenarnya
sudah dihapus, atau dia memahami suatu hadits dengan pemahaman orang
awam yang bodoh, lalu dia mengamalkannya tidak seperti yang dimaksudkan
kandungan hadits.
Al-Khathabi berkata, “Sebagian syaikh kami ada yang meriwayatkan
hadits, bahwa Nabi ̂ melarang mengadakan halaqah (al-hilaq) sebelum shalat
Jum’at.̂ Sementara dia membacanya al-haiqu yang ardn '̂̂ a mencukur rambut.
Maka selama empat puluh tahun dia ddak pernah mencukur rambutnya
sebelum shalat Jum’at. Lalu kukatakan kepadanya, bahwa maksudnya bukan
mencukur rambut (al-haiqu), tetapi mengadakan halaqah ilmu (al-hilaqu), yaitu
jama’ dan halaqah. Dimakruhkan mengadakan halaqah sebelum shalat Jum’at
untuk mengkaji ilmu atau dzikir, dan beliau memerintahkan agar menyibukkan
din dalam shalat serta bersiap-siap mendengarkan khutbali. Maka syaikh kami
itu berkata, “Engkau telah memberikan jalan keluar kepadaku.”
Hadits ini diriwayackan Abu Daud, At-Tirtnidzi dan An-Nasa’i. Sanadnya hasan.
1 6 3Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
Kami telah meriwayatkan pada zaman ini beberapa orang yang
menyusun beberapa kitab dan banyak mendengarkan hadits, tetapi ternyata
dia tidak paham apa kandungannya.
Di antara mereka ada yang tidak hapal Al-Qur’an dan tidak mengetahui
rukun-rukun shalat, tetapi mereka menyibukkan diri dalam fardhu-fardhu
kifayah dan melalaikan fardhu ain. Mementingkan apa yang tidak penting
dan yang penting termasuk ialhis Iblis.
Kedua: Segolongan orang ada yang lebih banyak mendengarkan hadits,
namun tujuannya tidak benar dan tidak ingin mengetahui yang shahih dan
yang lainnya dari keseluruhan jalan hadits. Tujuannya ialah mencari yang aneh-
aneh dan sulit. Lalu mereka pun berputar-putar ke berbagai penjuru tempat.
agar salah seorang di antara mereka bisa berkata, “Aku sudah bertemu Fulan,
dan aku mempunyai sanad yang tidak ada pada yang lain, dan aku mempunyai
hadits yang tidak ada pada yang lain.”
Tatkala kami datang ke Baghdad, ada beberapa orang yang sedang
mencari hadits. Di sana dia mengajak seorang syaikh lalu duduk-duduk di
sebuah taman di pinggiran sungai Tigris. Lalu dia meminta untuk dibacakan
hadits, yang gambaran berikutnya dia berkata, ‘Aku mendengar hadits dari
Fulan dan Fulan di sebuah taman di tepi sungai Tigris.” Dengan begitu orang-
orang punya anggapan bahwa dia telah tiba di wilayah Syam, sehingga mereka
menganggapnya telah berpayah-payah untuk mencari hadits.
Pada kesempatan lain dia duduk-duduk dengan seorang syaikh lain di
tepi sungai Isa dan Eufrat, lalu dia berkata, “Fulan di seberang sungai
menyampaikan hadits kepadaku”, dengan tujuan agar orang-orang
beranggapan bahwa dia sudah tiba di Khurasan dalam upayanya mencari
hadits.
Dia juga berkata, “Fulan menyampaikan hadits kepadaku dalam
pcrjalananku yang kedua dan ketiga”, dengan tujuan untuk member! tahu
orang lain bahwa dia telah bersusah payah mencari hadits. Akhirnya dia tidak
mendapat barakah dan mati dalam perjalanan.
Semua ini sama sekali tidak mencerminkan keikhlasan, karena maksud
mereka hanya mencari ketenaran dan membanggakan diri. Karena itu banyak
di antara mereka yang mengikuti hadits-hadits yang cacat dan aneh. Boleh
jadi salah seorang di antara mereka beruntung mendengar dari saudaranya
1 6 4 Perangkap Setan
sesama Muslim, lalu dia menyembunyikan hadits itu, agar dia menyendiri
dalam periwayatannya. Namun akhirnya dia keburu meninggal dunia sebelum
sempat meniwayatkannya, sehingga apa yang telah dilakukannya menjadi sia-
s i a .
Di antara talbis Iblis terhadap para ahli hadits ialah saling mencemarkan
nama baik, karena hendak saling membalas. Untuk itu mereka membuat takhrij
menurut ukuran jarh n>at-ta’dil seperd yang digunakan orang-orang terdahulu
dan umat ini untuk membela syariat. Sementara AUah lebih mengetahui apa
maksud yang terkandung di dalam had.
Di antara bukd tujuan mereka yang tidak benar ialah mereka hanya
diam saja terhadap orang yang haditsnya mereka ambil. Padahal orang-orang
terdahulu ddak begitu. Ali bin Al-Madini pernah meriwayatkan hadits dari
ayahnya, sementara ayahnya adalah dha’̂ Lalu dia berkata, “Di dalam hadits
Syaikh ini ada sesuatu yang meragukan.”
Yusuf bin Al-Husain berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-
Muhasibi tentang ghibah. Maka dia menjawab, “Hindarilah, karena ghibah
itu merupakan perbuatan yang buruk. Apa pendapatmu tentang sesuam yang
bisa merampas kebaikan-kebaikanmu, lalu hal ini justru menyenangkan
musuh-musuhmu? Seseorang yang engkau bend di dunia, maka bagaimana
mungkin engkau membuamya ridha pada Hari Kiamat? Karena dia akan
mengambil kebaikan-kebaikanmu, atau engkau yang mengambil keburukan-
keburukannya. Padahal saat itu ddak ada dirham dan dinar. Maka hindarilah
ghibah, kenalilah sumbernya. Sesungguhnya sumber ghibah bagi orang yang
bodoh dan lemah adalah untuk memuaskan kemarahan, keinginan yang
menggebu-gebu, dengki dan su'u^-^an. Yang demikian itu akan tampak
sendiri dan ddak bisa ditutup-tutupi. Sedangkan sumber ghibahnya ulama
ialah karena dpuan jiwa dengan kedok ingin memberi nasihat dan mena’wili
kebaikan yang tidak diperbolehkan dita’wili. Andaikan boleh dita’wiLi, maka
bisa jadi hal itu ddak menjurus kepada ghibah. Sebagai contoh ucapan,
“Bagaimana jika kalian ddak menyebut-nyebut orang itu? Sebudah menurut
apa adanya!” Dia berkata seperd itu untuk memperingatkan manusia.”
Andaikan kabar itu benar dan disimpan, ddak dimaksudkan untuk
memperlihatkan keburukan saudaramu sesama Muslim, tanpa harus
menyelidiki dirinya, lalu ada orang yang lurus datang kepadamu seraya berkata,
“Aku hendak menikahkan putriku dengan Fulan”, padahal engkau tahu Fulan
1 6 5Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
itu suka melakukan bid’ah, atau dia tidak bisa menjaga kehormatan orang-
orang Muslim, maka engkau bisa mengatakan apa adanya tentang dirii Fulaii
itti. Atau boleh jadi engkau didatangi orang lain yang berkata, “Aku akan
menitipkan uangku kepada Fulan”, padahal Fulan itu tidak bisa dipegang
amanatnya untuk dititipi uang, maka engkau bisa mengatakan apa adanya
tentang diri Fulan itu. Atau boleh jadi ada orang lain yang berkata kepadamu,
“Aku akan shalat di belakang Fulan, atau aku akan menjadilvannya sebagai
guruku”, maka engkau bisa mengatakan apa adanya tentang diri Fulan itu,
dan engkau tidak boleh memperlihatkan kebencian kepada Fulan itu ketika
mengatakannya.
Adapun pendorong ghibah pada diri qari’ dan ahli ibadah ialah
semacam ujub yang dia perlihatkan kepada orang lain, lalu dia pura-pura
mendoakan orang lain yang berjauhan dan membuat doanya

