itu tampak
khusyu’.
Pendorong ghibah pada diri pemimpin dan guru ialah karena
raenampakkan kasih sayang, seperti ucapan, “Kasihan benar Fulan, dia
mendapat cobaan begini, dia mendapat musibah begitu. Kami berlindung
kepada Allah dari kesia-siaan.” Lalu dia juga menampakkan rasa kasihan
kepada saudaranya, pura-pura berdoa bagi dirinya, seraya berkata, “Aku
menampakkan yang demikian ini agar kalian juga banyak mendoakannya.
Kami berlindung kepada Allah dai ghibah yang sembunyi-sembunyi
atau terang-terangan. Hindarilah ghibah, karena Al-Qur’an sudah menjelaskan
kebenciannya terhadap ghibah,
Ub^ ^ ^ ''' ^
“Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang
sudah rnati? Maka tentulahkarnurnerasajijikkepadanya” (ALHujurat: 12 '
Banyak hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi menjelaskari
ghibah ini.
Di antara fa/bis Iblis terhadap ulama ahli hadits adalah periwayatar.
hadits maudhu’, tanpa menjelaskan bahwa itu adalah hadits maudhu’. Yan^;
demikian ini merupakan dndak kejahatan terhadap syariat. Tujuan mereka
ialah untuk menawarkan haditsnya dan memperbanyak riwayatnya. Rasulullat
^bersabda,
1 6 6 Perangkap Setan
“Barangsiapa meriwayatkan sebuah hadiis dariku seraya memperlihatkan
bahuia hadics itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta. “
(HR. Muslim dan Ahmad).
Gambaran lainnya, mereka membuat tipuan dalam riwayat. Contohnya,
salah seorang di antara mereka berkata, “Fulan dan Fulan”, atau dia berkata,
“Fulan berkata dari Fulan”. Dia membayangkan bahwa Fulan yang pertama
mendengar dari Fulan yang kedua yang sebenarnya riwayatnya terputus dan
juga tidak pernah mendengar darinya. Tentu saja ini merupakan tindakan
yang buruk, karena dia menjadikan riwayat yang terputus seakan bersambung.
Di antara mereka ada yang meriwayatkan dari orang yang dha’if dan
dusta, laiu dia menafikan nama orang yang dha’if itu, atau menamakan dirinya
dengan nama lain atau membuat julukan baginya, atau menasabkannya kepada
kakeknya, agar jati dirinya tidak diketahui secara pasti. Tentu merupakan
tindakan kejahatan terhadap syariat, karena dia mengukuhkan suatu hukum
yang sebenarnya tidak layak dikukuhkan.
Adapun jika orang yang diambil riwayamya termasuk orang yang tsiqat
(dapat dipercaya), lalu yang meriwayatkan darinya menisbatkannya kepada
kakeknya atau cukup menyebut julukannya, agar tidak terlihat bahwa dia
meragukan riwayat darinya, atau karena agar orang yang diambil riwayatnya
tidak termasuk dalam martabat rawi, sehingga orang yang meriwayatkan
darinya merasa malu, maka yang demikian ini hukumnya makruh, tetapi
dengan syarat, orang yang diambil riwayatnya itu adalah tsiqat.
Talbis Iblis terhadap Fuqaha^
Para fuqaha’ pada zaman dahulu adalah ahli Al-Qur’an dan hadits. Lalu
lama-kelamaan status ini semakin menurun, hingga akhirnya muta’akhirin
berkata, “Kami cukup mengetahui ayat-ayat tentang hukum di dalam Al-
Qur’an dan kami cukup mengacu kepada kitab.-kitab yang terkenal dalam
masalah hadits, seperti Sunan Aim Dawud dan lainnya.”
Bahkan status ini semakin merosot, sehingga salah seorang di antara
mereka ada yang berhujjah dengan satu ayat saja, tanpa mengetahui maknanya,
atau cukup mengacu kepada satu hadits yang tidak dikenalnya secara pasti,
apakah hadits itu shahih ataukah tidak.
Atau boleh jadi dia mengacu kepada qiyas yang bertentangan dengan
sebuah hadits shahih, sementara dia tidak mengetahuinya, karena minatnya
1 6 7Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
sangat minim untuk mengetahui riwayat-riwayat hadits. Yang namanya fiqih
itu harus disimpulkan dari Al-Kitab dan As~Sunnah. Lalu bagaimana mungkin
seseorang bisa menyimpulkan dan sesuatu yang tidak diketahuinya?
Yang juga fatal ialah mengaitkan suatu hukum kepada hadits yang tidak
diketahuinya, apakah hadits itu shahih ataukah tidak. Memang untuk
mengetahui apakah suatu hadits itu shahih ataukah tidak, merupakan pe
kerjaan yang berat. Seseorang harus melakukan perjalanan yang jauh dan
harus bersusah payah untuk menelusurinya, hingga dia benar-benar
mengetahuinya secara pasti. Tetapi toh sekarang berbagai buku sudah disusun,
hadits-hadits sudah ditetapkan, sehingga yang shahih sudah bisa dipisahkan
dari yang cacat. Tetapi orang-orang muta’akhirin lebih banyak malasnya untuk
menelaah ilmu hadits. Sehingga kami sering meiihat sebagian fuqaha’ yang
sudah punya nama, hanya mengatakan di dalam buku karangannya tentang
iafazh-Iafazh di dalam hadits-hadits shahih. Tidak selayaknya Rasulullah
bersabda seperd ini.” Kami melihatnya berhujjah seperti itu dalam mengupas
suatu masalah. Dia berkata, “DaHl kami adalah riwayat sebagian orang di
antara mereka, bahwa Rasulullah 0bersabda begitu.” Celakanya, orang lain
yang berperkara dengannya juga memberikan jawaban tentang suatu hadits
shahih yang dijadikannya hujjah, dengan berkata, “Hadits ini tidak dikenal.”
Semua ini merupakan tindak kejahatan terhadap Islam.
Talbis Iblis lainnya terhadap fuqaha’, mereka lebih banyak
mengandalkan kepada hasd berdebat, yang menurut mereka sebagai upaya
unmk mencari dalil dari suatu hukum, menyimpulkan detail-detail syariat dan
alasan-alasan berbagai madzhab. Andaikata bualan mereka ini benar, tentunya
mereka akan sibuk dalam semua permasalahan. Padahal seharusnya cukup
menyibukkan diri dalam masalah-masalah yang besar, agar pembahasan
mereka dalam masalah-masalah yang besar ini benar-benar tuntas, sehingga
kalaupun ada yang menyanggahnya di antara manusia, bisa terjadi dialog yang
sehat berdasarkan pandangan yang benar. Tujuan salah seorang di antara
mereka yang menyusun rangka-rangka perdebatan dan mencari-cari
kelemahan orang lain ialah karena hendak mencari ketenaran dan kebanggaan.
Padahal boleh jadi dia tidak tahu hukum tentang masalah-masalah yang kecil
sekalipun. Akibamya, muncul cobaan di mana-mana.
Talbis Ibhs lainnya terhadap fuqaha’ tatkala berdebat ialah dengan
menyisipkan perkataan para filosof dan juga mempercayai topik-topik filsafat.
1 6 8 Perangkap Setan
Gambarannya, mereka lebih mementingkan qiyas (analog!) daripada hadits
yang seharusnya bisa dijadikan dalil dalam suatu masalah, agar wawasan
pandangannya dikatakan luas. Kalaupun ada di antara mereka yang berhujjah
dengan suatu hadits, maka dia langsung dilihat dengan sebelah mata. Padahal
adab yang harus diperhatikan adalah mendahulukan pembuktian dengan
h a d i t s .
Mereka lebih banyak menyibukkan diri dalam mencari sisi pandang
pemikiran dan tidak menyertainya dengan tindakan yang bisa melunakkan
had, seperti membaca Al-Qur’an, mendengarkan hadits dan sirah RasuluUah
^serta para sahabat beliau. Sebagaimana yang sudah dimaklumi, had itu
ddak akan bisa khus}^!’ hanya dengan sering membersihkan najis, sementara
air pun bisa berubah. Yang diperiukan had adalah nasihat dan dzikir, agar ia
bisa bangkit untuk mencari akhirat.
Masalah-masalah khilafiyah, sekalipun termasuk dalam ilmu syariat,
ddak mampu membangkitkan segala sesuatu yang dicari. Siapa yang ddak
menelaah rahasia-rahasia perikehidupan orang-orang salaf yang seharusnya
dijadikan madzhabnya, tentu ddak akan bisa mengikud jejak mereka.
Yang perlu diketahui, bahwa tabiat itu serupa dengan pencuri. Jika ia
hidup bersama orang-orang yang hidup pada zaman sekarang, maka ia akan
mencuri tabiat mereka, lalu menjadikannya serupa dengan mereka. Tetapi
jika ia menelaah perikehidupan orang-orang terdahulu, maka ia akan
mengikud akhlak mereka. Di antara orang salaf ada yang berkata, “Perkataan
yang dapat melunakkan hadku lebih aku sukai daripada seratus keputusan
yang ditetapkan Syuraih.
Dia berkata seperd itu, karena had yang lunak merupakan tujuannya,
yang tentunya ada sebab-sebab lain untuk itu.
Talbis Iblis yang lain, ada anggapan bahwa berdebat itu harus dilakukan
agar yang benar menjadi jelas. Padahal maksud orang-orang salaf adalah
memberi nasihat dengan cara menampakkan yang benar. Mereka berpindah
dari satu dalil ke dalil yang lain. Jika ada salah seorang di antara mereka yang
ddak mengetahui sebagian di antaranya, maka yang lain memberitahukannya.
Sebab maksud mereka adalah menampakkan yang benar. Jika ada seorang
fuqaha’ di antara mereka yang mengqiyaskan kepada suatu dasar hukum.
>»io
Syuraih adalah seorang hakim yang sangac tcrkenal, mcninggal pada tahun 78 Hijriyah.
1 6 9Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
dengan suatu alasan berdasarkan perkiraannya, maka akan ada yang bertanya
kepadanya, “Apa dalilnya bahwa suatu dasar hukum harus dilandaskan kepada
alasan itu?” Maka orang itu akan menjawab, “Inilah yang kurasa bena:r
menurutku. Tetapi jika kalian melihat ada yang lebih benar, maka katakanlah.
Sebab biasanya orang yang menyanggah tidak berani menyebutkan
sanggahannya di hadapanku.”
Ta/his Iblis yang lain, adakalanya salah seorang di antara mereka melihat
dirinyalah yang benar tatkala berdebat dengan lawannya dan dia tidak man
mundur sama sekali. Lalu hatinya merasa tertekan, sambil berpikir bagaimana
agar kebenaran itu dapat diterima lawannya. Boleh jadi dia akan berusaha
semampunya untuk menyanggah pendapat lawannya, apalagi dia mengetahui
bahwa dirinyalah yang benar. Yang demikian ini termasuk keburukan yang
paling buruk. Sebab seharusnya berdebat itu dimaksudkan untuk menjelaslcan
k e b e n a r a n .
Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang, lalu
dia mengingkari hujjah, melainkan namanya jatuh dalam penglihatanku. Jika
dia menerimanya, maka aku enggan kepadanya. Jika Aku berdebat dengar.
seseorang, lalu aku merasa simpati terhadap hujjahnya, maka aku akan
mengikutinya.”
Ta/bis Iblis yang lain, karena mereka hendak mencari kedudukan dengar.
cara berdebat, mendorong mereka untuk membangkitkan apa yang
terpendam di dalam had. Jika salah seorang di antara mereka melihat
pendapatnya tidak kuat, maka dia berusaha menekan lawannya, lalu tampj
dengan cara menyombongkan diri, Jika dia melihat lawannya lebih banyak
berbicara, maka dia berlindung kepada kesombongan dirinya dar
menghadapinya dengan caci maid. Akhirnya perdebatan berubah raenjad:
ajang pelecehan.
Adakalanya Iblis membisikkan ta/bis kepada mereka bahwa fiqih itulak
yang menjadi ilmu syariat dan bukan yang lainnya. Jika disebutkan istilah ahk
hadits kepada mereka, maka mereka berkata, “Dia tidak bisa memahanr
sesuatu pun.” Mereka lupa bahwa hadits itu merupakan dasar. Jika disebutkan
kepada mereka perkataan yang dapat melumerkan had, maka mereka berkata,
“Ini adalah perkataan para penasihat.”
Gambaran ta/bis Iblis lainnya, mereka terlalu berani mengeluarkan
fatwa, padahal mereka belum layak mendapatkan martabat sebagai orang
1 7 0 Perangkap Setan
yang mengeluarkan fatwa. Boleh jadi mereka mengeluarkan fatwa berdasarkan
pola kehidupannya yang bertentangan dengan nash. Padahal andaikan mereka
menahan diri, tentu akan lebih balk bagi mereka.
Abdurrahman bin Abu Laila berkata, “Aku pernah bertemu seratus
dua puluh sahabat Rasulullah Jika salah seorang di antara mereka ditanya
mengenai suatu masalah, maka mereka melimpahkannya kepada sahabat
yang lain, lain akhirnya masalah yang ditanyakan itu berputar kembali lagi
ke orang yang pertama.”
Dalam suatu lafazh darinya, dia berkata, ‘Aku pernah bertemu di dalam
masjid ini seratus dua puluh sahabat Rasulullah dari kalangan Anshar.
Jika ada salah seorang di antara mereka menyampaikan suatu hadits, maka
dia ingin agar ada sahabat Iain yang juga membenarkan hadits itu. Jika dia
ditanya tentang suatu fatwa, maka dia ingin agar ada sahabat lain yang
membenarkan fa twa i tu . ”
Telah diriwayatkan kepada kami dari Ibrahim An-Nakha’i, bahwa ada
seorang laki-laki yang ditanya tentang suatu masalah. Lalu orang itu menjawab,
“Apakah engkau mendapatkan orang lain yang bisa engkau tanya?”
Dari Malik bin Anas dia berkata, “Aku tidak mengeluarkan fatwa
kecuali setelah bertanya kepada tujuh puluh syaikh, “Apakah kalian melihatku
layak mengeluarkan fatwa?’
Mereka pun menjawab, “Ya.”
Ada yang bertanya, “Bagaimana jika para syaikh itu melarangmu
mengeluarkan fatwa?”
“Aku tidak akan mengeluarkan fatwa jika mereka menolakku,” jawabnya.
Begitulah kebiasaan orang-orang salaf, karena mereka khawatir
dan takut kepada Allah Siapa yang menelaah sirah mereka tentu akan
mengikuti adab mereka.
Talhis Iblis yang lain terhadap fuqaha’ ialah kebiasaan mereka
berdekatan dengan para penguasa dan mencari muka di hadapan mereka
serta tidak berani mengingkari mereka sekalipun sebenarnya mampu
melakukannya. Adakalanya para fiiqaha’ itu membuat rukhshah (keringanan
hukum agama) bagi mereka tentang sesuatu yang seharusnya ddak boleh
ada rukhshah, agar para fuqaha’ itu menerima sejumlah imbalan. Yang
demikian ini akan mendatangkan kerusakan bagi tiga golongan:
1 7 1Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
Penguasa. Dia berkata, “Kalaupun aku tidak benar, fuqaha’ itu tentu
akan mengingkariku. Bagaimana mungkin aku tidak benar, sementara
fuqaha’ itu makan dari hartaku?”
Orang awam. Dia berkata, “Penguasa itu tidak salah, begitu pula harta
dan perbuatannya. tetapi fuqaha’ itulah yang tidak layak berada di
sisinya.”
Fuqaha’. Dengan tindakannya itu dia telah merusak agamanya.
Adakalanya Iblis memperdayai mereka yang biasa menemui penguasa,
sehingga dia berkata, “Aku menemui penguasa agar aku bisa memintakan
syafaat bagi orang Muslim.”
Talhh Iblis ini baru terungkap, ketika ada orang Muslim selain dia yang
juga meminta syafaat kepada penguasa, maka dia merasa tidak suka. Bahkan
boleh jadi dia menjelek-jelekkan orang lain tersebut di hadapan penguasa,
agar hanya dia saja yang mempunyai peluang untuk itu.
Talbis Iblis yang lain adalah kegemarannya mendapatkan uang dari
penguasa, yang berkata kepadanya, “Engkau berhak mendapatkan uang ini.”
Padahal sebagaimana diketahui, jika harta penguasa itu berasal dari yang
haram, maka diharamkan bagi fuqaha’ untuk menerimanya, walaupun sedikit.
Jika asal mula kekayaan penguasa itu meragukan, maka meninggalkannya
lebih utama. Jika berasal dari yang mubah, bolehlah dia mengambil sebagian
di antaranya, sesuai dengan kedudukannya dalam agama, bukan berdasarkan
kebutuhan orang-orang yang hidup foya-foya. Karena boleh jadi orang-orang
awam akan meniru perbuatannya yang tampak dan mereka memperbolehkan
apa yang diperbolehkannya.
Namun Iblis juga melancarkan talbis terhadap sekelompok ulama yang
tidak mau berhubungan sama sekali dengan penguasa, karena mereka hanya
ingin membatasi diri dalam urusan ibadah dan agama. Lalu' Iblis membuat
mereka menganggap bagus untuk mengghibah ulama lain yang suka menemui
penguasa. Dengan cara ini mereka meraup dua bencana: Mengghibah orang
lain dan memuji dirinya sendiri.
Secara umum berdekatan dengan para penguasa itu mendatangkan
bahaya yang besar. Sebab bisa saja niatnya bagus saat awal mula menemuinya,
tetapi lama-kelamaan niatnya berubah untuk menghormati dan membuat
para penguasa itu merasa puas, lalu disusul ketamakan untuk mendapatkan
1 .
2 .
3 .
1 7 2 Perangkap Setan
kekayaan dari mereka. Hal ini tidak lepas dan tindakan mencari muka, berpura-
pura dan tidak berani mengingkari penguasa.
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku tidak takut para penguasa itu akan
melecehkan diriku. Tetapi yang kutakutkan adalah tindakanku yang memuji-
muji mereka, lalu hatiku pun menjadi condong kepada mereka.”
Para ulama salaf biasa menjauhi para penguasa, karena mereka lebih
banyak yang berbuat sewenang-wenang. Sehingga para penguasalah yang
meminta kepada para ulama untuk memberikan fatwa yang diperlukan. Ada
beberapa orang yang sangat berambisi mendapatkan keduniaan. Lalu mereka
mendalami ilmu yang bisa menguntungkan para penguasa, sehingga iimu ini
bisa membawa mereka ke sisi penguasa. Dengan cara ini mereka bisa
mendapatkan dunia yang diharapkannya. Sebagai bukti bahwa banyak orang
yang mempelajari ilmu karena hendak mendekati penguasa, bahwa dulu tatkala
para penguasa suka mendengarkan hujjah-hujjah dalam masalah asal-muasal,
maka banyak orang yang menampakkan teologi. Ketika para penguasa suka
kepada perdebatan dalam masalah fiqih, maka orang-orang menampakkan
ilmu berdebat. Ketika para penguasa condong kepada nasihat, maka banyak
para pelajar yang juga condong mempelajari nasihat. Ketika orang-orang
awam suka kepada kisah-kisah, maka para pengisah pun bermunculan di
mana-mana, sementara fuqaha’nya hanya sedikit.
Talbis Iblis yang lain terhadap para fuqaha’, bahwa di antara mereka
ada yang memakan dari wakaf sekolah yang didirikan untuk orang-orang
yang berniat berkhidmat demi ilmu pengetahuan. Sekian lama dia hanya duduk
ongkang-ongkang tanpa mau menyibukkan diri merasa puas dengan ilmunya
yang ada dan tidak memberikan andil apa pun terhadap wakaf sekolah.
Padahal sekolah itu didirikan untuk orang-orang yang mau mendalami ilmu.
Kecuali kalau memang dia aktif sebagai pengawas atau guru, sehingga
akdvitasnya terus berkelanjutan di sekolah itu. Bahkan di antara mereka ada
yang melakukan hal-hal yang dilarang, seperti mengenakan kain dari sutera,
mengenakan perhiasan emas dan lain-lainnya. Ada beberapa sebab yang
mendorong mereka berbuat seperti itu. Di antara mereka ada yang memang
akidahnya rusak. Dia belajar fiqih sebagai kamuflase belaka, agar dia mendapat
kedudukan, atau agar bisa menjadi pimpinan. Di antara mereka ada yang
akidahnya benar. Tetapi dia dikuasai hawa nafsunya dan mencintai syahwat,
padahal dia tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Manusia bisa
1 7 3Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
menjadi lurus karena latihan dan suka membawa sirah orang-orang salaf.
Sementara mereka tidak mau melakukan hal ini. Mereka hanya memiliki
sesuatu yang membantu kesombongannya. Dengan begitu dia memberi
kebebasan kepada hawa nafsunya. Di antara mereka ada yang dibisiki Iblis,
“Engkau adalah seorang ulama dan mufti. Ilmu iru menjadi tameng bagi orang
yang memilikinya.” Nonsens. Justru ilmu itu merupakan hujjah atas dirinya
dan siksanya akan dilipatgandakan.
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya yang disebut seorang
fuqaha’ itu hanyalah orang yang takut kepada Allah.”
Ibnu Aqil berkata, “Aku pernah melihat seorang fuqaha dari Khurasan
yang mengenakan kain sutera dari cincin dan emas. Aku bertanya kepadanya,
“Apa yang engkau kenakan ini?”
Dia menjawab, “Pemberian dari sulthan dan rampasan dari musuh.”
“Tetapi itu merupakan kegembiraan musuh atas kekalahan dirimu,
kalau memang engkau orang Muslim. Sebab Iblis adalah musuhmu. Selagi
dia berhadapan denganmu, maka dia akan mengenakan pada dirimu apa yang
membuamya tidak suka kepada syariat. Dengan begitu engkau membuatnya
gembira. Apakah pemberian Sulthan bisa melawan larangan Allah? Sungguh
engkau perlu dikasihani. Sulthan memberikan hadiah kepadamu, lalu engkau
melepaskan iman karenanya. Padahal seharusnya Sulthan itu yang harus
melepaskan pakaian kefasikan lewat dirimu, lalu mengenakan pakaian takwa
kepadamu.”
Di antara talhis Iblis yang lain terhadap mereka, dia membuat mereka
beranggapan baik untuk melecehkan para pemberi nasihat dan melarang
mereka berkumpul bersama para fuqaha’, seraya berkata, “Siapakah kalian
ini? Apakah kalian para penutur kisah?”
Maksud Iblis, agar para fuqaha’ itu tidak bercampur dengan orang atau
di tempat yang bisa melunakkan had dan mefijadikannya khusyu’. Tidak ada
yang perlu dicela pada diri para penutur kisah, sebatas sebutan. penutur kisah.
Sebab Allah telah befirman,
“Kami menceritakan kepadamu kisah yangpaling haik. “(Yusuf: 3)
“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu.” (Al-A’raf: 176)
Celaan terhadap para penutur kisah, karena mayoritas di antara mereka
hanya menuturkan kisah-kisah yang panjang lebar tanpa menyebutkan hikmah
1 7 4 Perangkap Setan
yang bermanfaat di balik kisah itu. Mayoritas di antara mereka juga
mencampur aduk kisah yang disampaikan, yang boleh jadi ada hal-hal yang
mustahil di dalam kisahnya. Jika kisah-kisah itu benar dan disisipi dengan
nasihat, maka itu adalah sesuatu yang terpuji. Ahmad bin Hambal berkata,
“Manusia sangat membutuhkan penutur kisah yang jujur.”
Talbis Iblis terhadap Para Penasihat dan Penutur Kisah
Para penasihat pada zaman dahulu juga berstatus ulama dan fuqaha.
Abdullah bin Umar ^pernah mendatangi majlis Ubiiid bin Umair. Tadinya
Umar bin Abdul-Aziz juga biasa mendatangi majlis seorang penutur kisah,
tetapi lama-kelamaan dia mulai jarang mendatanginya. Kemudian yang biasa
mendatanginya adalah orang-orang bodoh. Sementara orang-orang yang
tcrpandang tidak banyak yang datang. Akhirnya para penutur kisah ini menjadi
tumpuan perhatian orang-orang awam dan para wanita. Mereka lebih suka
mendengarkan kisah-kisah yang bisa menarik minat orang-orang bodoh.
Akhirnya dalam kisah-kisah yang disampaikan ini terselip berbagai macam
k i s a h .
Kami sudah membukukan bencana ini dalam jU-Qushash Wal-
Mudi^kkirin. Kami sebutkan sebagian di antaranya di sini.
Sebagian penutur kisah itu ada yang lebih banyak mengacu kepada
hadits-hadits dha’if tentang targhib dan tarhib (anjuran dan peringatan). Lalu
Iblis memperdayai mereka, hingga mereka berkata, “Kami bermaksud
menganjurkan manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari
keburukan.” Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap syariat. Sebab di
samping perbuatan ini masih jauh dari sempurna, mereka juga melalaikan
s a b d a R a s u l u l l a h
“Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, maka hendaklah
berada di atas tempat duduknya dari api neraka.”
Mereka juga menyampaikan kisah-kisah yang dapat menggetarkan hati
dan mengguncangkan jiwa, karena itu mereka harus membuat variasi kata-
kata. Engkau melihat bagaimana mereka melantunkan syair-syair dan pantun-
pantun cinta yang merdu merayu. Iblis membisiki mereka untuk berkata,
“Kami bermaksud memberi isyarat tentang cinta terhadap Allah.”
Sebagaimana yang diketahui, mayoritas orang-orang yang mendatangi
para penutur kisah adalah orang-orang awam, yang hati mereka termuati hawa
1 7 5Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
nafsu. Keadaan ini semakin memudahkan penutur kisah untuk menjadi sesai
dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang menampakkan kealiman daii
kekhusyukan, lebih banyak daripada porsi yang ada di dalam dirinya.
Banyaknya orang-orang yang mendengarkan kisahnya semakin menambab
aksinya yang dibuat-buat, sehingga dia juga semakin pintar berpura-pura
menangis dan menampakkan kekhusyukan.
Di antara mereka ada yang menyertai pembacaan kisah dengan gerak-
gerik. Sementara kisah yang mereka baca pada zaman sekarang lebih
menyerupai nyanyian, sehingga hukumnya lebih dekat dengan haram. Pemain
latar menabuh ala musik dan penutur kisah melantunkan syair-syair disertai
tepukan tangan dan ajoman kaki, sehingga menyerupai orang yang sedang
mabuk. Gerakan-gerakan yang demikian itu bisa membangkitkan birahi,
mengguncang jiwa dan mengundang teriakan laki-laki dan wanita. Karena
had orang-orang yang mendengarkannya sudah termuati hawa nafsu, maka
mereka pun keluar dari majlis itu, sambil berucap, “Majlis ini benar-benar
bagus.” Mereka berkomentar seperti itu untuk sesuatu yang tidak
diperkenankan.
Di antara mereka ada pula yang meiakukan hal-hal seperti itu, tetapi
yang dibaca adalah syair-syair tentang orang-orang yang sudah meninggal
dunia, menceritakan penderitaan yang mereka alami dan kematiannya di
tempat yang terasing, sehingga tempat itu seperti tempat duka karena
kematian. Terlebih lagi jika disertai tangis para wanita. Padahal yang
seharusnya dilakukan adalah menasihati untuk sabar karena kehilangan orang
yang dicintai, dengan cara yang tidak mengguncangkan hati.
Di antara mereka ada yang menyampaikan detail-detail zuhud dan cinta
kepada Allah. Lalu setan membisikinya, “Sesungguhnya engkau termasuk
orang-orang sufi. Sebenarnya engkau belum layak disebut orang zuhud, tetapi
rupanya engkau sudah bisa mengetahui apa yang engkau sampaikan, karena
itu engkau telah meniti jalan zuhud.” Talbis Iblis ini mengungkapkan bahwa
sifat itu merupakan ilmu dan perilaku bukan merupakan ilmu.
Di antara mereka ada yang menyampaikan hal-hal yang keluar dari
syariat, lalu mengukuhkannya dengan syair-syair cinta. Tujuannya, agar
majlisnya mendapat applaus, sekalipun applaus itu muncul karena perkataan
yang rusak. Berapa banyak di antara para penutur kisah yang menggunakan
ungkapan-ungkapan kata yang tidak ada artinya. Mayoritas kisah-kisah yang
1 7 6 Perangkap Setan
mereka tuturkan adalah tentang Musa dan gunung, Zulaikha dan Yusuf.
Praktis mereka tidak pernah menyampaikan perkara-perkara yang wajib dan
melarang hal-hal yang dilarang, semacam dusta. Lalu kapan orang-orang yang
suka berzina dan pemakan riba mau sadar? Kapan para wanita tahu hak-hak
suami dan menjaga shalatnya? Hal ini sama sekali tidak akan terjadi. Sepulang
dari menghadiri majlis para penutur kisah, para pendengarnya pulang tanpa
ada yang peduli terhadap syariat. Mereka lebih suka mengeluarkan harta.
Karena ternyata kebenaran itu berat dan kebatilan itu ringan.
Di antara mereka ada yang menganjurkan kepada zuhud dan shalat
malam, tanpa mau menjelaskan maksudnya kepada orang-orang awam.
Boleh jadi di antara orang-orang awam itu ada yang ingin bertaubat dari dosa-
dosanya, lalu dia mengisolir diri, pergi ke puncak gunung, meninggalkan
keluarganya terlantar tanpa memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhannya
s e h a r i - h a r i .
Di antara'mereka ada yang berbicara tentang harapan dan tamak, tanpa
membedakan apa yang harus ditakuti dan apa yang harus diwaspadai, sehingga
justru dia mendorong manusia semakin berani melakukan kedurhakaan.
Keadaan ini semakin diperparah oleh ceritanya yang lebih condong kepada
keduniaan, tentang kendaraan yang nyaman dan pakaian yang wah. Dengan
begitu, had manusia menjadi rusak karena ulahnya.
Memang ada di antara para pemberi nasihat dan penceramah yang
berkata jujur dan bertujuan memberi nasihat. hanya saja dia haus kekuasaan
dan pamor. Dia suka dipuja. Tandanya, jika ada penasihat lain yang
menggandkan tugasnya atau membantunya dalam menghadapi massa, tampak
kebencian pada dirinya. Padahal orang lain itu tulus tujuannya dan memang
benar-benar ingin membantunya.
Di antara penutur kisah ada yang mencampur laki-laki dan wanita dalam
majlisnya. Dia juga menyaksikan sendiri bagaimana para wanita berteriak-
teriak karena pengaruh penuturan kisahnya, namun dia sama sekali ddak
mengingkari hal itu, karena dia ingin menyenangkan had mereka.
Pada zaman sekarang ini muncul para penutur kisah yang ddak masuk
ke dalam talbis Iblis, karena permasalahannya sudah jelas, bahwa apa yang
dilakukannya itu dimaksudkan untuk mencari penghidupan. Mereka
memenuhi undangan para penguasa dan orang-orang kaya, seperti saat
penguburan. Mereka menuturkan berbagai macam derita dari perpisahan
1 7 7Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
dengan orang-orang yang dicintai, sehingga membuat para wanita menangis.
Padahal seharusnya dia menganjurkan manusia untuk bersabar.
Adakalanya Iblis memperdayai pemberi nasihat yang lurus dan sadar
akan ucapannya, seraya berkata, “Orang seperti dirimu ini sebenarnya tidak
layak memberi nasihat. Yang pantas memberikan nasihat adalah orang yang
bisa berpura-pura.” Karena itu dia tidak lagi mau memberi nasihat. Jelas ini
merupakan talhis Iblis yang ingin mencegahnya melakukan kebaikan, sambil
berkata, “Justru engkau bisa tenang dan santai. jika engkau memberi
nasihat, boleh jadi akan muncul riya’ dalam perkataanmu. Menyendiri justru
lebih selamat.” Tujuan Iblis ialah mencegahnya melakukan kebaikan.
Talbis Iblis terhadap Ahli Bahasa dan Sastra
Iblis memperdayai para ahli bahasa dan sastra, dengan membuat
!mereka sibuk menekuni masalah nahwu dan bahasa, melupakan tugas-tugas
pokok yang merupakan fardhu ain, seperti keharusan dirinya mengetahui
berbagai macam ibadah, adab, menata hati, atau mengetahui ilmu-ilmu lain
yang sebenarnya lebih utama, seperti ilmu tafsir, hadits dan fiqih. Mereka
menghabiskan umur untuk menekuni ilmu yang tidak dikembalikan kepada
ilmu itu sendiri, tetapi bagi ilmu yang lain. Jika seseorang sudah memahami
sebuah kata, maka dia harus meningkat kepada pengamalannya, karena
pengetahuan tentang kata-kata itu dimaksudkan untuk selainnya. Sehingga
engkau melihat para ahli bahasa dan sastra yang ddak memahami adab-adab
syariat, kecuali hanya sebagian kecil di antara mereka, terlebih lagi ilmu fiqih
dan tidak peduli untuk membersihkan jiwanya serta memperbaiki hatinya.
Di samping semua ini, di dalam diri mereka bercokol perasaan
sombong. Iblis membisikkan kepada mereka, “Kalian adalah para ulama
Islam. Karena ilmu nahwu dan bahasa termasuk ilmu-ilmu Islam, yang dengan
ilmu ini dapat diketahui makna Al-Qur’an yang muUa.
Memang hal ini tidak dipungkiri. Tetapi mendalami ilmu nahwu yang
mendasar untuk memperbaiki lisan dan yang dibutuhkan untuk tafsir Al-
Qur’an serta hadits, tidak harus bertele-tele. Selain itu termasuk masalah
tambahan yang tidak terlalu diperlukan. Menghabiskan waktu untuk sesuatu
yang sifatnya tambahan, yang berarti tidak terlalu penting, dengan
meninggalkan yang lebih penting, adalah suatu kesalahan besar.
Mementingkan ilmu nahwu dan sastra daripada yang lebih bermanfaat dan
1 7 8 Perangkap Setan
lebih tinggi derajatnya, adalah suatu kebodohan. Kalau pun ada kesempatan
untuk mengetahui semuanya, tentu saja baik. Tetapi bukankah umur manusia
amat pendek? Karena itu dia harus mendahulukan yang lebih penting dan
lebih utama.
Karena mereka lebih banyak menekuni syair-syair Jahiliyah dan tabiat -
mereka tidak dibenruk dengan cara menelaah berbagai hadits dan menyimak
sirah orang-orang salaf yang shalih, maka tabiat mereka mengalir ke arah
jurang nafsu dan patriotisme yang sia-sia. Sehingga jarang di antara mereka
yang peduli terhadap masalah takwa. Sebab masalah nahwu lebih sering
dituntut para penguasa, lalu mereka mempergunakan kesempatan ini untuk
mendapatkan harta penguasa yang haram, seperd yang dilakukan Abu Ali
Al-Farisi yang bisa menempatkan dirinya di sisi penguasa.
Di antara mereka ada yang mengira diperbolehkannya sesuatu,
padahal ia tidak diperbolehkan, seperti yang dikatakan Az-Zajjaj Abu Ishaq
Ibrahim bin As-Sari, “Dulu aku senantiasa mengajari Al-Qasim bin Abdullah.
Lalu kukatakan kepadanya, “Jika engkau sudah menggantikan kedudukan
ayahmu, yaitu sebagai menteri, apa yang akan engkau lakukan terhadap
d i r i k u ? ”
Al-Qasim menjawab, “Apa pun yang engkau sukai.”
“Kalau begitu gajilah aku dua puluh ribu dinar, karena inilah cita-citaku
yang paling tinggi,” kataku.
Tak seberapa lama kemudian Al-Qasim diangkat menjadi menteri dan
aku pun senantiasa mengiringinya. Sebenarnya ada pula rasa menyesal di
dalam had. Tetapi nafsuku selalu mengusik untuk mengingatkan janji Al-
Qasim. Pada hari kedga setelah dia diangkat sebagai menteri, dia berkata
kepadaku, “Wahai Abu Ishaq, kulihat engkau belum mengingatkan aku
tentang nadzar yang pernah kujanjikan kepadamu.” Perhadanku lebih banyak
tertuju kepada masalah kementerian yang dilimpahkan Allah ini. Toh nadzar
yang memang harus dipenuhi itu ddak perlu diingatkan lagi.”
Al-Qasim berkata, “Aku harus meminta bantuan untuk memenuhinya,
karena jika aku harus membayarnya sekaligus, tentu aku ddak akan sanggup.
Tetapi aku juga khawatir jika orang-orang mendengarnya. Maka
perkenankanlah aku untuk membayarnya dengan cara mencicil.”
Boleh,” jawabku.
1 7 9Bah VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
“Kalau begitu temuilah orang-orang yang mempunyai keperluan yang
amat penting, lalu buatlah selembar kertas untuk kutandatangani, sebaga
tanda penarikan bea dan dahulukan pelayanannya, hingga jumlah uang yang
pernah kunadzarkan kepadamu terpenuhi.”
Maka aku melakukan sarannya. Setiap hari aku menyodorkan kertas^
untuk ditandatangani Al-Qasim, lalu aku menarik bea kepada orang-orang
Semakin hari jumlah bea yang masuk semakin banyak, sesuai dengan batasan
yang telah dia tetapkan, hingga akhirnya mencapai jumlah yang pernah
dijanjikan Al-Qasim, yaitu dua puluh ribu dinar, dan bahkan lebih. Setelah
berlalu beberapa bulan, Al-Qasim bertanya kepadaku, ‘'Wahai Abu Ishaq,
apakah uang yang pernah kujanjikan sudah terpenuhi?”
“Belum,” jawabku berdusta.
Al-Qasim diam termangu. Setiap bulan dia bertanya seperti itu
kepadaku, dan selalu kujawab belum, karena aku takut pemasukan ini akan
berhenti. Setelah jumlahnya menjadi berlipat ganda, suatu hari dia
menanyakannya kepadaku. Aku merasa malu karena terus-menerus berdusta
kepadanya. Maka kujawab, “Telah tercapai berkat bantuan Tuan Menteri.”
“Demi Allah, engkau telah membebaskan diriku dari tanggungan ini.
Selama ini hatiku selalu risau, hingga engkau bisa mendapatkannya,” kata
Al-Qasim.
Kemudian Al-Qasim mengambil pulpen dan menuliskan gaji untukku
sebanyak tiga ribu dinar, lalu dia serahkan kepada bendaharanya. Maka aku
mendapatkan gaji sebanyak itu setiap bulan. Aku tidak menyampaikan
kepadanya apa yang pernah terjadi. Keesokan harinya aku menemui Al-Qasim
dan duduk di hadapannya sambil membawa daftar bea yang pernah kutarik
dari orang-orang sesuai dengan tanda tangan yang dibubuhkan Al-Qasim.
Dia memberi isyarat agar aku menunjukkan daftar yang ada di tanganku,
agar dia dapat mengontrol tanda tangan yang pernah dibubuhkannya dalam
daftar penarikan bea.
Aku berkata, “Aku tidak pernah menarik bea lagi dari mereka, karena
janji yang pernah Tuan nadzarkan sudah terpenuhi, sementara aku juga
bingung bagaimana cara meminta tanda tangan dan Tuan.”
Al-Qasim berkata, “Subhanallah. Aku tidak mungkin menghentikan
sesuatu yang sudah biasa engkau terima, lalu orang-orang akan mengetahui
1 8 0 Perangkap Setan
hal ini, padahal engkau mempunyai kedudukan dan nama yang terpandang
di hadapan mereka, lalu tiba-tdba apa yang biasa engkau terima ddak lagi bisa
engkau terima, sehingga muncul anggapan bahwa kedudukanmu menjadi
berkurang di sisiku atau gajimu yang dikurangi. Berikan saja daftarmu
kepadaku dan ambil bea menurut kehendakmu.”
Maka sedap hari Aku menyodorkan daftar untuk ditandatangani Al-
Qasim dan Aku bisa menarik bea dari orang-orang, sampai Al-Qasim
meninggal dunia.”
Perhadkanlah apa yang dilakukan orang yang ddak tabu tentang fiqih.
Orang besar dalam bidang nahwu dan bahasa ini ddak akan menceritakan
keadaan dirinya dengan nada menyombong andaikan dia mengetahui bahwa
apa yang dilakukannya itu tidak diperbolehkan menurut syariat.
Menyampaikan kezhaliman adalah wajib dan untuk dndakan ini seseorang
ddak perlu mengambil upah, apalagi memanfaatkan kedudukan seorang
menteri. Dengan begitu dapat diketahui derajat fiqih daripada ilmu yang lain.
Talbis Iblis terhadap Para Penyair
Iblis telah memperdayai mereka dan membisikkan kepada mereka
bahwa mereka adalah para sastrawan, yang memiliki kecerdikan tersendiri
yang tidak dimiliki orang lain, sehingga pasti ada ampunan andaikan mereka
melakukan kesalahan. Berkat bisikan Iblis ini engkau lihat di sedap tempat
mereka bergumul dengan kebohongan, tuduhan, caci maid, pelecehan
kehormatan diri dan kata-kata yang keji. Keadaan yang paling ringan dari
para penyair adalah memuji-muji seseorang, tidak berani menyerangnya dan
menghindari kejahatannya, atau dia memuji seseorang di hadapan orang
banyak dan membuatnya tersipu malu di hadapan mereka. Semua ini termasuk
jenis penjilatan.
Adakalanya engkau melihat sebagian penyair dan sastrawan yang ddak
risih mengenakan kain sutra, memuji-muji secara dusta hingga keluar batas.
Mereka berkumpul untuk melontarkan kata-kata yang keji, sambil minum
khamr dan lain-lainnya. Apa pun jenis adab tidak boleh dilakukan kecuali
beserta Allah dan memperhadkan takwa kepada-Nya. Tidak ada artinya
kepintaran dalam urusan keduniaan dan ddak ada ardnya ungkapan kata-
kata di sisi Allah selagi ddak menggambarkan takwa kepada-Nya. Banyak di
antara penyair yang keadaannya miskin, mengumpat sana mengumpat sini
1 8 1Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
dan cenderung kepada kekufuran. Mereka pun menyalahkan takdir, sepert]
yang dikatakan sebagian di antara mereka,
“Sekalipun hasratku membumbung ringgi
nasibku tetap saja menempel di permukaan bumi
seringkali ivaktu tidak memberi kesenangan padaku
berapa banyak masa yangjuga berbuatjahat padaku.”
Mereka lupa bahwa kedurhakaanlah yang membuat mereka melarat.
Ada anggapan bahwa merekaiah yang lebih layak mendapatkan kenikmatan
dan bebas dari musibah, sementara mereka tidak pernah terkemk untuk
melaksanakan perintah syariat. Karena itu mereka menjadi sesat.
Talbis Iblis terhadap Para Ulama yang Mapan
Di antara manusia ada yang memiliki hasrat dan semangat yang tinggi,
sehingga mereka bisa mendalami berbagai cabang ilmu syariat, berupa ilmu
Ai-Qur’an, hadits, fiqih dan sastra. Lalu Iblis mendatangi mereka dengan
talhis-nĵ yang lembut, sambil membisikkan kesombongan kepada mereka,
karena mereka bisa mendalami berbagai macam ilmu dan bisa mengulurkan
manfaat kepada orang lain. Di antara mereka ada yang tidak pernah bosan
menggali ilmu dan merasakan kenikmatan dalam penggaJian ini, yang tentu
saja karena bisikan IbEs. Iblis bertanya kepadanya, “Sampai kapan engkau
merasa letih melakukan semua ini? Tenangkan badanmu dalam memikul
beban ini dan lapangkan hatimu dalam menikmati ilmu. Karena jika engkau
melakukan kesalahan, maka ilmu dapat membebaskan dirimu dari hukuman,”
Lalu Iblis membisikinya tentang kelebihan yang dirruliki para ulama. Jika
seseorang terkecoh dan menerima bisikan serta talbis Iblis in maka dia akan
celaka.
Jika setuju, maka dia dapat berkata, “Jawaban atas pernyataanmu dapat
ditinjau dari tiga sisi:
Memang para ulama mendapat keutamaan karena ilmu. Namun
andaikan tidak ada amal, maka ilmu itu tidak ada artinya apa-apa. Jika
aku tidak mengamalkannya, berarti aku sama dengan orang yang tidak
mengerti maksudnya, hingga keadaan diriku tak ubahnya orang yang
mengumpulkan makanan dan memberikan makanan itu kepada orang-
orang yang kelaparan, tetapi dia sendiri tidak makan dan tidak
mempergunakan makanan im untuk menghilangkan rasa laparnya.
1 .
1 8 2 Perangkap Setan
Dapat menyanggahnya dengan celaan yang ditujukan kepada orang
yang tidak mengamalkan ilmu, seperti kisah Rasulullah ^tentang
seseorang yang dilemparkan ke dalam neraka, laiu ususnya terburai,
seraya berkata, “Dulu aku menyuruh kepada yang ma’ruf namun aku
justru tidak melaksanakannya, dan aku mencegah dan yang mungkar,
namun justru aku melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Abud-Darda’ ̂ berkata, “Celaka bagi orang yang tidak berilmu (sekali),
dan kecelakaan bagi orang yang berilmu namun tidak beramal (tujuh
kali).”
Menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang berilmu, karena tidak
mau mengamalkan ilmunya, seperti Iblis dan lain-lainnya. Celaan
terhadap orang yang berilmu namun tidak beramal adalah dengan
firman Allah,
“Seperti keledaiyangmembawa kitah-kdtabyang tebal." (Al-Jumu’ah: 5).
Iblis memperdayai orang-orang yang mendalami ilmu dan juga beramal
dari sisi lain. Iblis membaguskan di hadapan mereka sikap sombong karena
ilmu, dengki terhadap saingan, riya’ dalam mencari kedudukan. Kadang-
kadang Iblis menunjukkan kepada mereka, bahwa yang demikian itu termasuk
hal yang wajib mereka lakukan. Jika tidak melakukannya, justru mereka
melakukan suatu kesalahan.
Jalan keluar bagi siapa yang enggan melihat dosa takabur, dengki dan
riya’, bahwa dmu ddak bisa menghalangi akibat dari hal-hal itu, bahkan
hukumannya berlipat karena kelipatan hujjah hukuman itu. Siapa yang melihat
sirah para ulama salaf yang juga aktif beramal, tentu akan memandang hina
dirinya sendiri dan tidak berani takabur. Siapa yang mengetahui Allah, tentu
tidak akan berbuat riya’, dan siapa yang memperhatikan takdir Allah yang
ditetapkan menurut kehendak-Nya, maka dia tidak akan berani mendengki.
Iblis menyusup ke dalam diri mereka sambil membawa syubhat dengan
cara yang pintar, seraya berkata, “Yang kalian cari adalah ketinggian
kedudukan dan bukan takabur, karena kalian adalah para pembawa syariat.
Yang kalian cari adalah kemuliaan agama dan memberantas ahli bid’ah. Jika
kalian membicarakan orang-orang yang dengki, akan menimbulkan
kemarahan terhadap syariat. Sebab para pendengki itu suka mencela siapa
pun yang menghadapi mereka. Jadi apa yang kalian kira sebagai riya’, sama
2 .
3 .
1 8 3Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulama
sekali bukan riya’. Sebab siapa pun di antara kalian akan menjadi panutan,
sekalipun dia hanya berpura-pura khusyu’ dan pura-pura menangis,
sebagaimana dokter yang menjadi panutan orang yang sakit.”
Ta/bis Iblis ini baru terungkap, jika ada seseorang di antara mereka
yang bersikap sombong kepada yang lain atau menampakkan kedengkian
kepadanya, maka ulama itu ddak marah kepadanya seperti kemarahannya
jika kesombongan atau kedengkian itu tertuju kepada dirinya, sekalipun
mereka semua termasuk dalam jajaran ulama.
Iblis juga memperdayai orang-orang yang menekuni dmu, sehingga
mereka senantiasa berjaga pada malam hari dan tekun pada siang hari dalam
menyusun kitab. Iblis membisikkan kepada mereka bahwa maksud perbuatan
ini iaJah menyebarkan agama. Padahal maksud mereka yang sesungguhm'a
adalah agar namanya terkenal dan statusnya sebagai penulis menjadi tenar.
Ta/bis Iblis ini tersingkap, tatkala orang-orang memanfaatkan karangannya
dan membacanya, sementara karangan orang lain tidak dibaca, maka dia
merasa senang, sekalipun memang tujuannya untuk menyebarkan ilmu. Di
antara orang salaf ada yang berkata, “Apa pun ilmu yang kumiUki, lalu ada
yang memanfaatkannya, sekalipun tanpa menisbatkannya kepada diriku, maka
aku merasa senang.”
Di antaranya ada yang merasa senang karena banyak pengikutnya. Iblis
menciptakan fa/bis, bahwa kesenangan ini karena banyaknya orang yang
mencari ilmu. Padahal dia senang karena banyak yang menyebut nama dirinya.
Dia merasa ujub karena perkataan Lian ilmu mereka yang ditimba darinya.
Ta/bis Iblis ini tersingkap, ketika ada di antara mereka yang memisahkan diri
darinya lalu bergabung dengan ulama lain yang lebih tenar darinya, maka dia
merasa berat had. Yang demikian ini bukan merupakan sifat orang-orang
yang tulus dalam mengajarkan ilmu. Perumpamaan orang yang tulus dalam
mengajar ialah seperti para dokter yang mengobati beberapa pasien karena
AUah. Jika sebagian pasien itu ada yang sembuh, maka yang lain merasa
s e n a n g .
Ada para ulama yang selamat dari ta/bis Ibhs yang nyata. tetapi Iblis
tetap mendatangi mereka dengan ta/bis-nya. yang tersembunyi, seraya berkata
kepadanya, ‘Aku tidak pernah bertemu seseorang seperti dirimu.” Jika ulama
itu senang dengan ucapan semacam ini, maka dia telah melakukan kesalahan
karena Jika tidak, berarti dia telah selamat.
1 8 4 Perangkap Setan
As-Sari As-Saqathi berkata, “Andaikan seseorang memasuki sebuah
kebun yang di dalamnya ada semua pepohonan yang diciptakan Allah, ada
semua burung yang diciptakan Allah, lalu makhluk-makhluk itu berkata
kepadanya dengan bahasanya masing-masing, ‘"Wahai wall Allah’, lalu dia
merasa senang mendengarnya, maka dia menjadi tawanan di tangan makhluk-
m a k h l u k i t u . ” B
1 8 5Bab VI: Talbis Iblis Terhadap Ulanm
1 f
1 I(
! -
■
w
t r t. t
Uue«mofri .j^R^iad i a a e J - a fl
iliit^cyA i^Ofloqq^.numae shif jr^nraito
jri «it ;ioI(ywrvitaifUftiti vljoi na;6;3qjDii) jin /̂ ̂ fuautittuip I
«iii picl /risUA ilfiw icrU’iK^* !^twcun-^fiiurii £,'î>̂:
! iifijjnsi Hj ojiiawi.1 il»(U3m nib Kiiiiiii ,£Yrii£j(n3f>c«*a;t
■'.tfli iUjIrbir
1 ^ ^ »
i i > -
i
■: i
i .
»
I
I
r ii
I i ■i ‘1 i
5
1 ^ >
7
» J } !
: t -
>
I
I
f
! f
f‘Ji
- r i
\ , l h
!
1
j
♦
■ VJ
;
4i
' i
: T
5 i ' !
J :
i ;
1 ^ '■ i f
■ » i
J
I
I
H'
(
1
s
i
iv. ! ■ ■
i
I'1
.
i
®. .I - - I
t4
' I
I
I ' J
\ ■
J
pI * t r
' .« ;
J (■
ĵ f: r. J
I
i^r ■
■^1- ‘ ^ »»teanaT ^UitlwiluT :W 4id%!
j
\ i
i(«»
i
- A
r
j -■ f
0 7
Bab VII:
Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa
BLIS memperdayai para penguasa dari berbagai sisi. Kami sebutkan
sebagian di antaranya yang penting-penung:
Iblis membisikkan kepada mereka bahwa AUah mencintai mereka.
Andaikan Allah tidak mencintai, tentunya Dia tidak akan mengangkat
mereka menjadi penguasa dan menjadikan mereka sebagai wakil-Nya
di tengah hamba-hamba-Nya. Kalau pun mereka itu benar-benar wakil
Allah, mestinya mereka menerapkan hukum-hukum-Nya dan mencari
keridhaan-Nya. Pada saat itulah mereka merupakan orang-orang yang
dicintai Allah karena taat kepada-Nya.
Tidak jarang kekuasaan dan kerajaan diberikan kepada orang yang
justru dibenci-Nya. Dia juga menghamparkan dunia kepada orang yang
sebenarnya tidak dilihat-Nya, lalu membuatnya berkuasa terhadap
orang-orang shalih. Karena berkuasa, para raja itu membunuhi orang-
orang yang shalih dan wali-wali Allah, sehingga apa yang dilimpahkan
Allah kepada mereka merupakan dosa bagi mereka dan bukan
merupakan anugerah bagi mereka. Yang demikian inilah yang termasuk
dalam firman Allah,
f
1.
^\VA Ji} j I j
"Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanjalah supaya
hertambah-tamhah dosa mereka. “(Ali Imran: 178)
1 8 7
2. Iblis berkata kepada mereka, “Kekuasaan itu memerlukan pamor.
Karena itu mereka pun bersikap takabur, tidak mau mencari ilmu,
duduk bersama para ulama, mengamalkan pendapat para ulama dan
a g a m a .
Sebagaimana yang sudah diketahui, tabiat itu mencuri dan orang-orang
yang berdekatan. Jika para penguasa yang lebih mementingkan
keduniaan ini bergaul dengan orang-orang yang tidak mengetahui
syariat, maka tabiat akan mencuri dari orang-orang yang bodoh itu
dengan segala sifat yang dimiliki, tidak mau melihat apa pun yang
menghalanginya, tidak mau mendengar apa pun yang menghardiknya,
dan ini semua merupakan penyebab kehancuran.
Iblis membuat para penguasa itu selalu merasa takut terhadap musuh,
memerintahkan agar mereka mengokohkan pertahanan, agar apa yang
ada di tangan tidak bisa terjarah.
Abu Maryam Al-Asadi meriwayatkan dan Nabi S, beliau bersabda,
3 .
i i L l L i
a^ ^
‘̂ arangsiapa yang diangkat Allah menjadi waliyul-amri dan sebagian
orang-orangMusHm, lalu dia tidak memenuhi kebutuhan heperluan dan kefakiran
mereka, maka Allah wa Jalla tidak akan memenuhi kebutuhan, keperluan
dan kefakirannya. ”(HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ath-Thabrani)
Mereka mengangkat orang-orang yang tidak mumpuni dan mereka
yang tidak mempunyai ilmu dan tidak kuat, lalu dengan mudah dia
menguasai mereka untuk menzhaUmi manusia, memberi mereka gaji
dari basil yang haram, bersikap keras kepada orang yang seharusnya
tidak diperlakukan seperti itu, dan mereka pun mengira akan terbebas
dari hukuman Allah, karena mereka hanya sebagai pembantu penguasa.
Sama sekali tidak. Jika seorang penanggung jawab zakat mengangkat
orang-orang fasik untuk membagi-bagikan zakat dan mereka
berkhianat maka penanggung jawab zakat itu juga akan dimintai
tanggung jawabnya.
u r u s a n
4.
1 8 8 Perangkap Setan
Iblis membujuk mereka untuk bertindak menurut pikirannya. Maka
mereka memberikan bagian kepada orang yang sebenarnya tidak boleh
diberi bagian, membunuh orang yang sebenarnya tidak boleh dibunuh,
lain mereka beranggapan bahwa semua ini untuk pertimbangan politik.
Lebih jauh lagi, mereka beranggapan bahwa syariat Islam masih ada
yang kurang, sehingga perlu dilengkapi. Karena itu kita bisa
melengkapinya dengan pendapat kita.
Ini merupakan tipu daya yang paling buruk. Sebab syariat merupakan
aturan Ilahi. Jelas tak mungkin ada celah dalam aturan Ilahi, yang
dimaksudkan untuk mengatur makhluk. Firman Allah,
‘'Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitah. ”(A1 An’am 38)
'T>an, Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nja), tidak ada yang
menolak ketetapan-Nja. “(Ar-Ra’d: 41)
Seorang politikus yang menganggap ada celah di dalam syariat, sama
dengan kufur. Ada riwayat yang sampai kepada kami, bahwa ada
seorang penguasa yang jatuh hati kepada seorang gadis. Hatinya benar-
benar galau memikirkan gadis tersebut. Lalu dia memerintahkan agar
menenggelamkan gadis itu, agar hatinya tidak lagi terganggu, lalu dia
pun terganggu dalam mengurus negara. Tentu saja ini merupakan
tindakan yang gila. Sebab membunuh orang Muslim tanpa ada
kejahatan yang dilakukannya adalah tidak boleh. Keyakinannya bahwa
tindakannya ini diperbolehkan adalah kufur. Jika dia melihat tindakan
ini tidak boleh, namun dia melihatnya dari segi kemaslahatan, maka
tidak ada istilah kemaslahatan untuk sesuatu yang bertentangan dengan
syariat.
Iblis membisikkan kepada mereka untuk menguasai harta, dengan
anggapan bahwa semua harta ada dalam kekuasaannya. Ini merupakan
talbis Iblis, yang bisa disingkap dengan kebiasaan manusia untuk
bersikap ekonomis dalam membelanjakan uangnya sendiri. Lalu
bagaimana dengan seorang upahan yang diperintahkan untuk menjaga
harta orang lain? Dia boleh mendapat bagian uang menurut kadar
pekerjaannya dan tidak mempunyai kekuasaan untuk mempergunakan
harta yang dipercayakan kepadanya.
Ibnu Aqil berkata, “Telah diriwayatkan dari Hammad, bahwa dia
pernah melantunkan beberapa bait syair di hadapan Al-Walid bin Yazid.
5.
6 .
1 8 9Bab VII: Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa
Lalu Al-Walid memberinya lima puluh ribu dirham dan dua budak.
Dia berkata, “ini terjadi karena dia menyampaikan pujian terhadap Al-
Walid, yang sebenarnya merupakan celaan baginya, sebab dia telah
menghambur-hamburkan uang yang diambil dari Baitul-mal milik
orang-orang Muslim.”
Kebalikan dari menghambur-hamburkan uang adalah mencegah
pemberian harta kepada orang yang berhak menerimanya.
Iblis membisikkan kepada mereka unmk melakukan kedurhakaan dan
memperdayai mereka bahwa tindakan mereka yang mengamankan
keadaan negara bisa mencegah mereka dari hukuman macam apa pun.
Untuk menanggapi hal ini dapat dikatakan, “Kalian diangkat sebagai
waliyul-amri agar kalian menjaga stabilitas negara dan mengamankan
jalan-jalan. Itu merupakan kewajiban kalian, kedurhakaan yang kalian
lakukan tetap dilarang dan hal ini tidak ada keringanan bagi kalian.”
Iblis memperdayai mayoritas di antara mereka, bahwa mereka telah
melaksanakan apa yang diwajibkan. Hal ini bisa dilihat bahwa segala
permasalahannya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Padahal kalau
disimak lebih lanjut, di sana masih banyak terdapat celah yang hams
d i b e n a h i .
Iblis menjadikan mereka memandang bagus tindakan mereka yang
merampas harta, memerintahkan manusia untuk mengeluarkan harta
lewat pajak yang mencekik leher, lalu mengangkat orang-orang yang
suka berkhianat. Padahal seharusnya seorang penguasa menindak
secara nyata siapa pun yang berkhianat.
Kami meriwayatkan dari Umar bin Abdul-Aziz, bahwa ada seorang
pemuda yang menulis surat kepadanya, “Sesungguhnya ada beberapa
orang yang berkhianat dalam mengurus harta Allah. Aku tidak sanggup
lagi meminta kembali apa yang ada di tangan mereka, kecuali dengan
c a r a k e k e r a s a n . ”
Lalu Umar bin Abdul-Aziz menulis surat balasan, yang isinya,
“Andaikata orang-orang itu bertemu Allah dalam keadaan berkhianat,
itu lebih kusukai daripada aku menemui mereka, sedang mereka dalam
keadaan ber lumuran darah.”
7.
8 .
9 .
Ini merupakan gambaran keadilan dan benih yang muncul karena takwa dan wara’.
1 9 0 Perangkap Setan
Iblis menjadikan mereka memandang bagus tindakan mereka yang
mengeluarkan uang setelah marah-marah. Menurut pandangan mereka,
hal ini dapat menghapus apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Iblis berkata, “Shadaqah senilai satu dirham dapat menghapus dosa
sepuluh kali marah.” Tentu saja ini sesuatu yang mustahil. Dosa karena
marah tetap ada, dan shadaqah satu dirham yang dikeluarkan karena
marah, tidak mendatangkan pahala. Shadaqah itu- harus dikeluarkan
dari sesuatu yang halal, dan juga tidak dapat mengenyahkan dosa marah.
Sebab memberi seorang fakir tidak bisa menghapus dosa yang
dilakukan terhadap orang lain.
Iblis menjadikan mereka memandang bagus kedurhakaan yang
dilakukan terus-menerus, dengan cara mengunjungi orang-orang shalih
dan meminta doa kepada mereka. Dalam pandangan mereka, hal ini
bisa meringankan dosa karena kedurhakaan yang dilakukan. Perlu
diketahui, kebaikan semacam ini tidak bisa menghapus kejahatan.
Di antara mereka ada yang bertindak demi atasannya, lalu
memerintahkannya untuk berbuat zhalim. Maka Iblis memperdayainya
dengan berkata, “Dosanya akan ditanggung atasanmu dan bukan ada
di pundakku.”
Tentu saja ini anggapan yang batil. Sebab dia termasuk orang yang
membantu kezhaliman atau kedurhakaan. Rasulullah ^melaknat
sepuluh orang yang berkaitan dengan khamr, juga melaknat pemakan
riba, wakilnya, penulisnya dan saksinya. Yang serupa dengan ini adalah
mengumpulkan harta bagi atasannya, padahal dia tahu atasannya akan
menghambur-hamburkan uang tersebut dan berkhianat. Yang demikian
ini juga disebut membantu kezhaliman.
Malik bin Dinar berkata, “Cukuplah seseorang disebut pengkhianat
selagi dia melindungi suatu pengkhianatan.”*
1 0 .
11 .
12.
1 9 1Bab VII: Talbis Iblis Terhadap Para Penguasa
!1‘ ’X t''JUi Tu
if ij r
! » t
3 l
i lolui'jfT' ai;;ji^hqp ,ei^ftd ^^ru/a irn nia-v&ea ^ i l ( ^ > ( ' i i
’^jieKrt nft.uni i>nxMj .fjb̂ UBoî cktam rUb]̂ ; n£u.ne;iî sib̂ ^
! i - ;1
1
i
IiDO- j - i r
>
■■ tivoi :)£96 ifVii b^iods ; K ) a ? h ^ s U c fl
T! ' ■ * ’ ‘ ‘ ^
tfts? 4itp<i.‘«/{e.a£b !ri/::!s4^
I
V
.
7 ' i f
I
:
;-#n AC<»b.i
\ti Wz«ft ftjkjb i^d r i ^ o u m
'i j j i i fi i J 4 a u & q c h j s f h ^ t
I o£B î̂ Hxub:ut ^U7;g£t:t goidjn&msoi
4ii» )̂tfto-̂ Qa:u î;[Cudn^U'n ios:/ rts^nsb
e£^i3co a^iaib^ci.Jfy^^ -gafetofi r;b«q2d nob taomim fufa
.d£3(u7t^)il} Pcj^Kdauib:»2l 9gut;>. fx&4n&i^^0tii t:*i6
[ £^td JWiu uifecniaw*?® , i n r l i j 9 ; J i t
A
12 4
1
I
O '
' i i
i . i
}i5:1r
&
)
I irn^b khu fidsiimi £is3q» fd ^
îinxpnm eitd} *.rniiiuix i&udiud Asmw ĉ ŝidjenhsiio^ *
r̂ f̂ d anr]iiB:i£T& ̂Kj|̂ â ib 08;j}̂ i.-((4£̂ QCr* «UiU&d
. ) .
#
r
> k i
J
i 1 .\ r r
Ii
^oi io i l i ic£fni:>!.fitb dftcla^ J^diui Rf«e,<rtf?c>rt
ibcrt (M qsiC^iiiU'iyt pjtjs ^u^ulsdsa^ unutd^fft '
;lai:>u> tt^ .i<n«r1;l d u k > q A «
Iq} tiB^psb nr^uv>i^tui( o^ii K^?git*n^^;alU|iw ^di?
f|HL- 74^^A?,aas^ia cirki fiih ,jr̂ anA2&]L q̂ d £iiBd fi£̂ (Un]fm î;parĵ
.xiBfrabffcJ i/jĵ dfn3friiuda8ifa-65(ui î ;; J
lodsaib gojrKi3K3?^ste^fead. iJUTiG^ ‘
■' .mncnstfb^pdq ui&a$ igmtbmtam &i>> !
\
I .
! fd i n n
i I
{!J
i
r «
T
4
■ ‘ t - !
j j
Hl 1#U!
* I
{
f.
!1
i n i i 1 i ;I
I
I r - 1̂'i ■
1 i4
j
e
\4 fi \:
i
(I Ii
! J
I
T=1>
li\
\: r#® (J «itiH 4sil<n ?«UuT *.^ »!dSi
i 1
l i u . t ^
b - J i . . .A . i A
Bab VIII:
Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah
dalam Berbagai Macam Ibadah
k ETAHUILAH bahwa pintu terbesar yang dimasuki Iblis terhadap
diri manusia adalah kebodohan. Iblis menyusup ke dalam diri orang-
orang yang bodoh dengan berbagai anggapan. Sedangkan orang yang berilmu
tidak bisa disusupi Iblis, kecuali dengan cara mencuri-curi jalan. Iblis telah
memperdayai para ahii ibadah karena minimnya ilmu mereka. Sebab mayoritas
di antara mereka hanya menyibukkan diri dalam urusan ibadah dan tidak
m a u m e n d a l a m i i l m u .
Talbis Iblis yang pertama terhadap mereka, ialah mereka lebih
mementingkan ibadah daripada ilmu, padahal ilmu lebih utama daripada
ibadah nafilah. Iblis menampakkan kepada mereka bahwa maksud ilmu adalah
amal. Sementara yang mereka pahami tentang amal ini hanya sekadar amal
anggota tubuh, dan apa yang harus mereka ketahui, bahwa amal itu adalah
amal hati, dan amal had lebih utama daripada amal anggota tubuh.
Mutharrif bin Abdullah berkata, “Keutamaan iknu lebih baik daripada
keutamaan ibadah.”
Yusuf bin Asbath berkata, “Satu bab ilmu yang engkau pelajari, lebih
baik daripada tujuh puluh orang yang berperang.”
Al-Mu’afi bin Imran berkata, “Menulis satu hadits lebih aku sukai
daripada shalat sepanjang malam.”
1 9 3
Ketika talhis Iblis ini mengena, lalu mereka lebih mementingkan ibadah
daripada ilmu, maka terbuka kesempatan bagi Iblis untuk mendptakan talbis
yang lain dalam berbagai macam ibadah Di antaranya:
Talbis Iblis dalam Masalah Hadats dan Sesuatu yang Dianggapnya
L e b i h B a i k
Iblis menyuruh mereka untuk berlama-lama berada di dalam WC.
Padahal yang demikian itu bisa mengganggu fungsi paru-paru. Seseorang
boleh berada di dalam WC menurut kadarnya. Di antara mereka ada yang
buang hajat sambil berdiri, berjalan atau sambil berdehem-dehem, atau
mengangkat salah satu kakinya, dengan anggapan untuk menuntaskan kotoran
yang masih ada di dalam. Padahal jika yang demikian ini terus-menerus
dilakukan bisa menyebabkan keluarnya air kendng. Penjelasannya, karena
air kendng mengalir ke kantong kemih dan dikumpulkan di sana. Jika
seseorang berkeinginan untuk kencing, maka air kencing yang sudah
terkumpul ini akan keluar. Jika dia berjalan atau berdehem-dehem, maka air
kencing yang lain akan tetap menetes terus. Dia cukup menghentikan yang
terasa merembes dengan menjepit penisnya dengan dua jari lalu
membersihkannya dengan air.
Di antara mereka ada yang menganggap baik penggunaan air yang
melimpah. Dia baru merasa puas jika dapat menghilangkan hadats sebanyak
tujuh kali sesuai dengan madzhab yang paling keras. Siapa yang tidak puas
terhadap ketetapan syariat, maka dia layak disebut ahli bid’ah, bukan orang
yang melakukan itha\
Talbis Ib l is dalam Masalah Wudhu^
Di antara mereka ada yang diperdaya setan dalam masalah niat, dengan
berucap, “Aku berniat menghilangkan hadats.” Lalu berkata, “Untuk sahnya
shalat.” Lalu berkata lagi, “Aku berniat rnenghilangkan hadats.”
Sebab talbis Iblis ini ialah kebodohan terhadap syariat. Sebab yang
namanya niat itu ada di dalam had, bukan dengan lafazh. Memaksakan niat
dengan lafazh merupakan sesuatu yang sama sekali tidak diperlukan, di
samping tidak ada maknanya.
Di antara mereka ada yang dikecoh Iblis tatkala memandang air yang
digunakan untuk wudhu’, dengan berkata, “Dari mana engkau tahu bahwa
1 9 4 Perangkap Setan
air itu suci?” Lalu dia membuat berbagai kemungkinan yang macam-macam.
Padahai fatwa syariat sudah cukup baginya bahwa dasar hukum air adaiah
suci. Yang dasar ini tidak boleh ditinggalkan hanya karena kemungkinan-
kemungkinan.
Di antara mereka ada yang dikecoh dengan masalah banyaknya air.
Padahai banyaknya air menghimpun empat macam kemakruhan:
Berlebih-lebihan dalam penggunaan air
Menghabiskan wakru yang sangat beharga dalam perkara yang bukan
wajib dan bukan pula sunat.
Melangkahi syariat, karena dia tidak merasa puas terhadap sesuatu yang
sudah dicukupkan syariat, kaitannya dengan penggunaan air yang
sedik i t .
Memasuki perkara yang ddarang, berupa sikap yang berlebih-lebihan
dalam tiga perkara di atas.
Adakalanya dia wudhu’ dalam jangka waktu yang lama, sehingga
tertinggal waktu shalat, atau tidak bisa shalat pada awal waktu atau ketinggalan
mengikuti shalat jama’ah. Andaikata dia memikirkan urusannya, tentu dia
akan tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang kontradiksi dan juga
berlebih-lebihan. Kita sering melihat orang yang sangat memperhatikan
masalah was-was ini, sementara dia tidak mau memperhatikan masalah makan
dan minumnya, tidak menjaga lidah dan ghibah. Andaikan saja dia mau
membalik urusannya. Di dalam sebuah hadits disebutkan dari Abdullah bin
Amr bin Al-Ash, bahwa Nabi ̂ pernah melewati Sa’d yang sedang wudhu’,
lalu beliau bertanya, “Mengapa engkau berlebih-lebihan seperti ini wahai
Sa’d?”
1.
2 .
3.
4.
Sa’d ganti bertanya, “Apakah di dalam wudhu’ juga ada istilah berlebih-
l e b i h a n ? ”
Beliau menjawab, “Benar, sekalipun engkau berada di sungai yang
mengahr.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari Abu Na’amah, bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar
anaknya berkata (berdoa), ‘Y^a Allah, sesungguhnya aku memohon surga
12
’’ Sanadnya hasan, sekalipun ada yang dibicarakan dalam sanadnya {Huyai Al'Mu’afirt). Kamijuga
menyebuckan hadits ini dalam buku yang lain, bahwa riwayat Qutaibah dan Abu Luhai’ah ini bagus
dan shahih insya Allah.
1 9 5Bab VIIl: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Firdaus kepada-Mu, aku memohon istana bewarna putih di sebelah kanan
dari surga saat aku memasukinya.”
Lalu Abdullah berkata, “Mohonlah surga kepada Allah dan
berlindunglah dari neraka. Karena aku mendengar Nabi #bersabda,
“Akan muncul di tengah umac ini segolongan orang yang berlebih-lebihan
dalam berdoa dan bersud." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari

