Ibnu Syaudzab, dia berkata, “Al-Hasan menghadapi sebagian
orang seraya berkata, “Seseorang ada yang wudhu’ dengan air dari satu geriba,
mandi dengan banyak guyuran, setimba demi setimba, karena hendak
menyiksa diri sendiri dan menyalahi Sunnah Nabinya.”
Abul-Wafa’ bin Aqil berkata, “Sesuatu paling berharga yang dicari
orang-orang yang berakal adalah waktu, dan yang paling sedikit digunakan
orang yang beribadah adalah air.”
Dari akhlak RasuluUah tidak pernah dikenal adanya ibadah dengan
menggunakan air yang banyak.
Talbis Ib l is dalam Masalah Adzan
Di antaranya adalah melagukan adzan. Malik bin Anas dan ulama-ulama
lainnya memakruhkan dengan keras melagukan adzan, karena yang demikian
itu mengalihkan pengagungan terhadap Allah menjadi lantunan lagu.
Yang lain lagi ada yang menambahi adzan subuh dengan dzikir, tasbih
dan peringatan, sehingga adzan ada diapit oleh peringatan-peringatan ini.
Para ulama memakruhkan apa pun yang ditambahkan kepada adzan.
Ada pula yang malam-malam berdiri di menara, lalu dia bersuara lantang
memberi peringatan dan mengingatkan, atau ada pula yang membaca surat-
surat Al-Qur’an dengan suara nyaring, sehingga mengganggu tidurnya
manusia dan juga mengganggu orang yang sedang shalat tahajjud. Semua ini
termasuk kemungkaran.
Talb is Ib l is dalam Masalah Thaharah
Di antaranya dalam masalah pakaian yang dikenakan. Engkau lihat
salah seorang di antara mereka mencuci pakaiannya yang sudah suci hingga
Sanadnya shahih. Dalam masalah ini juga ada hadits lain dan Sa’d bin Abi Waqqash yang diriwayatkan
Ath'Thayalisi, Abu Daud dan Ahmad.
1 9 6 Perangkap Setan
beberapa kali. Boleh jadi ada orang Muslim lainnya yang menyentuh
pakaiannya itu, sehingga dia merasa perlu untuk mencucinya.
Di antara mereka ada yang mencuci pakaiannya di sungai yang mengalir
dan merasa ddak cukup hanya mencucinya di rumah. Ada pula yang
mencelupkan pakaian yang dicucinya di dalam sumur, seperd yang biasa
dilakukan orang-orang Yahudi. Para sahabat ddak pernah berbuat seperti
iru. Bahkan mereka pernah shalat dengan mengenakan kain dad Persia tatkala
mereka menaklukkan negeri Persia. Di antara mereka ada yang selalu merasa
was-was, sehingga mencuci pakaiannya hanya karena terkena setetes air. Ada
pula yang lebih baik meninggalkan shalat jama’ah hanya karena hujan rindk-
rintik, karena dia takut air hujan itu akan mengotorinya.
Semoga saja ddak ada seseorang yang beranggapan bahwa kami merasa
alergi terhadap kebersihan, tetapi yang ddak kami setujul adalah sikap berlebih-
lebihan yang keluar dan batasan syariat dan hanya menghabiskan waktu,
seperti talbis Iblis dalam masalah niat shalat. Di antara mereka ada yang
berucap, “Aku berniat shalat....” Bahkan dia mengulanginya sekali lagi, karena
beranggapan bahwa ada yang belum beres dalam niatnya. Niat itu ddak
mengenal isdlah batal, sekalipun mungkin lafazhnya ddak memuaskan. Atau,
di antara mereka ada yang bertakbir, lalu membatalkannya, kemudian
bertakbir lagi, begitulah dia melakukannya hingga beberapa kali. Jika imam
sudah ruku’, dia baru sibuk dengan takbir. Lalu apa yang membuamya sibuk
dengan niat pada saat itu? Yang demildan itu tiada lain karena Iblis
memperdayainya, agar dia ketinggalan mendapatkan sesuatu yang lebih utama.
Semua ini merupakan talbis Iblis. Sementara syariat Islam sangat luwes
dan mudah, terbebas dari hal-hal yang demildan itu. RasuluUah dan para
sahabat ddak pernah berbuat seperd itu.
Kami mendengar dari Abu Hazim, bahwa suatu kali dia memasuki
masjid. Lalu Iblis membisikinya, “Engkau shalat tanpa wudhu’.” Maka dia
berkata, “Apa yang kamu katakan ini ddak akan mempengaruhiku.”
Untuk men^dngkap talbis Iblis ini, dapat dikatakan kepada orang yang
selalu merasa was-was, Jika engkau hendak berniat, maka niat itu secara
otomatis akan datang. Karena engkau berdiri untuk mengerjakan fardhu. ini
sudah disebut niat, yang letaknya ada di dalam had, bukan pada lafazh. Jika
engkau ingin meralat lafazh, maka sesungguhnya lafazh itu ddak diwajibkan.
1 9 7Bab VIII: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Apalagi jika engkau sudah mengucapkannya secara benar, lalu buat apa engkau
mengulangnya sekali lagi?”
Sebagian syaikh mengisahkan kepada kami, dari Ibnu Aqil. Kisahnya
cukup unik, yaitu berkaitan dengan seseorang yang bertemu dengannya, seraya
berkata, ‘Aku sudah membasuh satu anggota tubuh. tetapi aku merasa belutn
membasuhnya. Lalu aku bertakbir (shalat), tetapi aku merasa belum
b e r t a k b i r . ”
Ibnu Aqil berkata kepada orang lain, “Tinggalkan shalat, karena shalat
itu tidak lagi wajib atas dirimu.”
Karena ucapan Ibnu Aqil ini orang-orang bertanya, “Bagaimana
mungkin engkau berkata seperti itu?”
Maka Ibnu Aqil menjawab, “Nabi ̂ bersabda, “Ada keringanan bagi
orang yang gila, hingga dia menjadi sadar.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, Ad-
Darimi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Orang yang bertakbir mengawali shalat, namun dia merasa belum
bertakbir, bukanlah orang yang waras. Sementara orang yang tidak waras
tidak diwajibkan shalat.
Ketahuilah bahwa perasaan was-was saat berniat untuk shalat
disebabkan adanya ketidakberesan di akal dan kebodohan terhadap syariat.
Sebagaimana yang diketahui, jika ada seseorang didatangi seorang ulama,
lalu dia bangkit menyongsong kedatangannya, seraya berkata, “Aku berniat
berdiri menyambutnya, karena hendak menghormati kedatangan ulama ini
karena ilmunya”, berarti ada yang tidak beres dalam pikiran orang itu.
Tentunya gambaran seperti itulah yang ada dalam pikirannya semenjak
pertama kali melihat kedatangan ulama itu.
Maka tatkala seseorang berdiri untuk mengerjakan shalat, yang berarti
hendak melaksanakan fardhu, tentunya seketika itu pula sudah terbayan^
dalam jiwanya dan tidak perlu pengunduran tempo waktu. Yang memakan
waktu adalah lafazhnya. Sementara lafazh itu tidak diwajibkan. Jadi, perasaan
was-was itu sama dengan kebodohan.
Orang yang selalu merasa was-was membebani dirinya dengan
menghadirkan di dalam hatinya sesuaru yang berkaitan dengan penampakan
pelaksanaan dan kewajiban dalam waktu yang sama dengan lafazh-lafazhnya
yang terinci dan dia harus menghayatinya. Tentu saja ini sangat sulit. Andaikar
1 9 8 Perangkap Setan
dia membebani dirinya seperti itu tatkala berdiri menyongsong kedatangan
seorang ulama, tentunya akan sulit diiakukan. Siapa yang menyadari ha! ini
tentu bisa menyadari masalah niat.
Kemudian ada yang mengatakan bahwa niat itu boleh dilafazhkan !
sesaat sebelum shaiat, asalkan jaraknya tidak terlalu lama. Lalu buat apa harus
melakukan hal yang menjoilitkan ini sebelum takbir, kalau pun takbir itu
sendiri bisa dilaksanakan tanpa menyertainya dengan lafazh niat?
Dari Mis’ar, dia berkata, “Ma’n bin Abdurrahman menunjukkan sebuah
tulisan kepadaku, dan dia bersumpah demi Allah, bahwa itu merupakan tulisan
ayahnya, yang di dalamnya disebutkan, Abdullah berkata, ‘Demi yang tak
ada llah selain-Nya, aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih keras
daripada orang-orang yang suka berlebih-lebihan, selain dari RasuluUah
dan aku tidak pernah melihat sesudah beliau orang yang lebih takut daripada
mereka, selain dari Abu Bakar, dan kukira Umar adalah orang di muka bumi
yang lebih takut daripada orang-orang yang suka berlebih-lebihan itu’.”
Talbis Iblis dalam Masalah Shalat
Kalau pun di antara orang-orang yang selalu merasa was-was dapat
berniat secara benar, lalu dia bertakbir, ternyata bagian-bagian shalamya yang
lain diiakukan secara serampangan. Seakan-akan maksud dan shalat itu hanya
t a k b i r s e m a t a .
Talbis Iblis ini dapat disingkap, bahwa takbir itu dimaksudkan sebagai
tanda masuk ke dalam ibadah. Lalu bagaimana mungkin ibadah yang bisa
diibaratkan tempat tinggal ini diabaikan dan perhatian hanya ditujukan ke
pintunya semata?
Di antara mereka ada yang bertakbir secara benar di belakang imam,
semcntara waktu yang tersisa dalam rakaat yang diikutinya itu sudah mepet.
Toh sekalipun begitu dia membaca doa iftitah. Ketika dia masih membaca
ta’awudz, imam sudah ruku’. Ini juga termasuk talbis Iblis. Sebab pensyariatan
doa iftitah dan ta’awudz hukumnya sunat. Sementara yang dia tinggalkan,
yaitu bacaan Al-Fatihah termasuk yang wajib dibaca makmum menurut
segolongan ulama. Jadi, tidak seharusnya dia mendahulukan yang sunat
daripada yang wajib.
Kami pernah shalat di belakang syaikh kami, Abu Bakar Ad-Dmawari,
seorang ahli fiqih selagi kami masih kecil. Suatu kali dia melihatku berbuat
1 9 9Bab VIII: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
seperti itu. Lalu dia berkata, ‘Wahai anakku, memang para fiiqaha saling
berbeda pendapat tentang bacaan Al-Fatihah di belakang imam, tetapi mereka
tidak berbeda pendapat bahwa doa iftitah itu adalah sunat. Lakukanlah yang
wajib dan tinggalkanlah yang sunat. 1 4
Meninggalkan yang Sunat
Iblis memperdayai sebagian orang, lalu mereka meninggalkan sekiar
banyak sunat karena berdasarkan perdmbangan mereka sendiri. Di antara
mereka ada yang sengaja tidak ikut dalam shaf yang pertama, seraya berkata,,
“Karena aku ingin mencari ketenangan hati.” Di antara mereka ada yang
tidak meletakkan satu tangan di atas tangan yang satunya lagi, seraya berkata
“Aku tidak suka memperlihatkan kekhusyukan yang tidak ada di dalam
h a t i k u . ”
Telah diriwayatkan kepada kami dua macam perbuatan ini dan pani
pemuka orang-orang yang shalih. Yang demikian ini terjadi karena minimnya
iJmu. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah 4^,
dari Nabi S, beliau bersabda,
“Andaikan manusia itu tahu pohala dalam adzan dan shaf pertama, kemudiai i
mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara diundi, tentulah mereka
mau diundi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Juga dari Abu Hurairah, dari RasuluUah S, beliau bersabda,
. . s i j j ) . L i L i J l i - J \ u i(r
“Sebaik-'baik shaf kaum laki-laki adalah yang pertama, dan seburuk^buruk
shaf nya adalah yang terakhir." (HR. Muslim)
Sedangkan meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunat.
Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya, bahwa Ibnuz-Zubair berkata,
“Meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunat.”
Artinya, ketika yang sunat itu dibandingkan dengan yang wajib, bukan meninggalkan yang sunat itu
secara mutlak.
2 0 0 Perangkap Setan
Ibnu Mas’ud pernah shalat dengan meletakkan tangan kiri di atas
tangan. Ketika Nabi S* melihatnya, beliau meletakkan tangan kanan di atas
tangan kin. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, sanadnya hasan).
Engkau tidak perlu membesar-besarkan pengingkaran kami terhadap
orang yang berkata, “Aku ingin mencari ketenangan had dan tidak meletakkan
tangan yang satu di atas tangan lainnya.” Yang mengingkari hal ini bukanlah
kami, tetapi syariat.
Ada seseorang yang mengabarkan kepada Ahmad bin Hambal bahwa
Ibnul-Mubarak berkata begin! dan begitu. Maka Ahmad bin Hambal
menjawab, “Sesungguhnya Ibnul-Mubarak tidak turun dari langit”
Ada pula yang mengabarkan kepadanya tentang perkataan Ibrahim
bin Adham. Maka dia menjawab, “Kalian datang menemuiku sambil
membawa jalan yang bercabang-cabang. Hendaklah kalian mengikuti yang
pokok.”
Ketentuan syariat tidak boleh ditinggalkan hanya karena mengikuti
seseorang yang diagungkan. Syariat itu jauh lebih agung. Bisa saja seseorang
salah dalam menakwiii, atau boleh jadi dia belum pernah mendengar
haditsnya. ’ I S
Iblis memperdayai sebagian orang yang mendirikan shalat, berkaitan
dengan makhraj\wxt\x{. Engkau lihat bagaimana dia mengucapkan, “Alhamdu...
al-hamdu....” dua kali, yang justru keluar dari adab shalat. Adakalanya Iblis
melancarkan talbis dalam masalah tasydid, atau dalam makhraj huruf dhad
saat membaca al-maghddhub (dalam surat Al-Fatihah). Dia mengucapkannya
sambil mengeluarkan ludah, dengan maksud untuk memantapkan bacaannya.
Iblis mendorong mereka untuk melebihi batasan yang sewajarnya dan
membuat mereka sibuk dalam pengucapan huruf, sehingga tidak lagi
memahami apa yang dibaca. Semua ini merupakan bisikan yang datangnya
dari Iblis.
Dari Utsman bin Abul-Ash, dia berkata, “Aku pernah berkata kepada
Rasulullah “Sesungguhnya Iblis telah membatasi antara diriku dan shalatku
serta bacaanku. la menyamarkannya atas diriku.”
Beliau bersabda,
Ini merupakan alasan yang bisa diterima Mushannif terhadap orang yang dia anggap salah. Tidak ayal,
kcsalahan ini disusul dengan dosa, seperti kerancuan yang cerjadi di antara manusia. Maka
perhatikanlah baik-baik masalah ini.
2 0 1Bab VIII: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
© ^ © ^
ij ju; 01^j i j i j ^ a j L ' <
*'jj) ' ^ j ' ~ ^ .
“Itulah setan yang disebut Khinzab. Jika engkau merasakannya, maka
berlindunglah kepada Allah darinya tiga kali dan melndahlah ke arah kirimu. ”
(HR. Muslim).
Maka sesudah itu aku melakukan seperti anjuran beliau, hingga Allah
dapat mengenyahkan setan dariku.”
Iblis telah memperdayai mayoritas ahii ibadah yang bodoh. Mereka
mengira bahwa ibadah itu hanya sekadar berdiri dan duduk. Karena itu mereka
rajin melaksanakan ibadah-ibadah sunat, hingga meninggalkan yang wajib,
sementara mereka tidak menyadarinya. Kami perhatikan ada sebagian orang
yang ikut salam tatkala imam salam, padahal dia masih mempunyai kewajiban
lain setelah tasyahhud itu, yang cukup diwakili oleh imam. Di antara mereka
ada pula yang memanjangkan shalat, membanyakkan bacaan, meninggalkan
yang sunat dan mengerjakan yang makruh. Sebagian ahli ibadah ada yang
mengerjakan shalat sunat pada siang hari dan mengeraskan bacaannya. Kami
katakan kepadanya “Sesungguhnya membaca secara nyaring pada siang hari
itu makruh.”^'^
Orang itu menjawab, “Aku bermaksud menghilangkan rasa kantuk
dengan membacanya secara nyaring.”
‘"Yang sunat tidak boleh ditinggalkan hanya karena engkau berjaga
pada malam hari. Kalau memang engkau mengantuk, tidurlah, karena dirimu
mempunyai hak atas kamu.”
Te rus -menerus Sha la t Ma lam
Ta/b '̂s Iblis dilancarkan terhadap para ahli ibadah, lalu mereka banyak-
banyak mendirikan shalat malam. Bahkan di antara mereka ada yang berjaga
sepanjang malam, lebih suka mendirikan shalat malam dan shalat dhuha dalam
porsi yang lebih banyak daripada kesukaannya mendirikan shalat fardhu. Maka
ketika mendekati waktu fajar, dia tertidur dan kednggalan shalat fardhu, atau
dia bangun namun kednggalan mengerjakan shalat fardhu secara berjama’ah,
Begicu pula pada malam hari. Karena dasar hukum dalam dzikir, doa dan bacaan adalah secara
tersembunyi dan tidak terang-terangan.
2 0 2 Perangkap Setan
ampunan, lain dia pun membaca sambil mencaci maki dirinya.” (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)
Dilihat dari sudut pandang akal, maka tidur itu bisa memperbarui
kekuatan setelah berjaga pada malam hari. Jika rasa kantuk ini ditahan-tahan.
padahal dia perlu tidur, tentu saja akan berpengaruh terhadap kondisi badan
dan akalnya. Kami berlindung kepada Allah dan kebodohan.
jika ada seseorang berkata, “Engkau sudah meriwayatkan kepada kami
tentang segolongan orang-orang salaf yang biasa menghidupkan waktu-waktu
malamnya. Lalu bagaimana ini?”
Jawabannya: Mereka sudah melatih diri sedemikian rupa, sehingga
mereka kuat melaksanakannya. Mereka juga merasa sangat yakin dapat
menjaga shalat subuh secara berjama’ah. Mereka juga menjaga tubuh dengan
tidur sebentar pada siang hari dan tidak banyak makan, sehingga tubuh mereka
tetap sehat. Yang pasti, kami tidak pernah mendengar bahwa Rasulullah
berjaga sepanjang malam dan sama sekali tidak tidur. Sunnah beliaulah yang
layak diikuti.
Iblis memperdayai orang-orang yang biasa mendirikan shalat malam,
lalu mereka membicarakannya pada siang hari. Boleh jadi salah seorang di
antara mereka berkata, “Fulan mengumandangkan adzan pada jam sekian,
agar orang-orang tahu bahwa dialah yang mengingatkan.”
Keadaan yang paling ringan kalau pun mereka terbebas dan riya’, ialah
menampakkan apa yang seharusnya mereka sembunyikan. Dengan begitu
pahala mereka menjadi berkurang.
Ada segolongan orang yang lebih suka menyendiri di dalam masjid
untuk mendirikan shalat dan beribadah, sehingga keadaan dan kebiasaan
mereka ini diketahui orang-orang, yang kemudian bergabung bersama mereka
dan shalat bersama mereka pula. Lama-kelamaan mereka menjadi terkenal.
Yang seperti ini termasuk tipu daya Iblis, meskipun yang demikian itu
mendorong mereka untuk tekun beribadah, karena ternyata tindakan mereka
itu hanya untuk mencari pujian.
Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Nabi Mbersabda,
( r
2 0 4 Perangkap Setan
“Sesunggu/in îa shalai seseorang yang paling utama adalah di dalam
rumahnya, kecuali shalat wajih." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Amir bin Abdi Qais ridak suka jika orang-orang melihat dia sedang
mendirikan shalat. Karena itu dia tidak pernah shalat sunat di masjid. Jika
Ibnu Abi Laila sedang shalat (sunat), lalu ada seseorang memasuki rumahnya,
maka dia pun telentang.
Di antara para ahli ibadah ada yang suka menangis, sementara di
sekitarnya banyak orang. Tangis ini terjadi begitu saja dan sulit unaik di tahan.
Siapa yang mampu menyembun^dkannya, namun dia tetap menampakkannya,
maka dia termasuk orang yang riya’. Dari Ashim, dia berkata, “Abu Wa’li
biasa shalat (sunat) di dalam rumahnya, dan tatkala shalat itu dia menangis
sesenggukan. Andaikata ada seseorang melihamya, maka dia ddak menangis,”
Sementara jika Aĵ oib As-Sakhtiyani tidak mampu menahan tangisnya, maka
dia bangkit berdiri.
Ada di antara ahli ibadah yang mendirikan shalat siang dan malam,
tanpa mau berpikir untuk memperbaiki aib batinnya dan tidak pula
memperhatikan makannya. Padahal lebih baik baginya jika dia mau
memperhatikan masalah itu, daxipada dia terus-menerus melaksanakan ibadah
s u n a t .
Talbis Iblis dalam Masalah Membaca Al-Qur’an
Iblis memperdayai segolongan orang dengan banyak-banyak membaca
Al-Qur’an. Mereka membacanya dengan cara yang cepat, tanpa farti'/ dan
tidak disertai peresapan hati. Yang seperti ini bukan termasuk yang terpuji.
Mereka membaca AI-Qur’an di menara masjid pada malam hari, dengan suara
yang nyaring, satu juz demi satu juz, sehingga di samping mengganggu tidur
manusia, mereka juga menampakkan riya’. Di antara mereka ada pula yang
membaca Al-Qur’an pada saat adzan dikumandangkan. Kejadian paling lucu
dari yang pernah kami lihat, ada seseorang yang shalat subuh bersama orang-
orang pada hari Jum’at, lalu dia menoleh ke arah kiri dan kanan, membaca
surat Al-Falaq dan An-Nas, lalu membaca doa khatam Al-Qur’an, dengan
maksud untuk pamer kepada mereka, “Inilah aku telah mengkhatamkan Al-
Qur’an.”
Yang demikian itu bukan jalan orang-orang salaf, karena mereka suka
menyembunyikan ibadahnya. Bahkan semua amal yang dilakukan Ar-Rabi’
2 0 5Bab VIII: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
bin Khutsaim tersembunyi. Ketika ada seseorang masuk ke dalam rumahnya,
yang saat itu dia sedang menggelar Mushhaf, maka dia segera menutupi
Mushhaf dengan selembar kain. Ahmad bin Hambal juga senantiasa
membaca Al-Qur’an, namun tidak pernah diketahui kapan dia
mengkhatamkannya.
Talbis Ibl is dalam Masalah Puasa
Iblis memperdayai segolongan orang, lalu mereka menganggap baik
puasa secara terus-menerus. Memang yang demikian itu diperbolehkan, selagi
dia tidak berpuasa pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa. Hanya
saja di sini ada dua bencana:
Boleh jadi puasanya itu membuat badannya lemah, sehingga dia tidak
sanggup mencari penghidupan untuk keluarganya atau tidak sanggup
memenuh i hak -hak i s t r i . D i da lam Ash -Shah iha in d i sebu tkan da r i
Rasulullah beliau bersabda,
‘'Sesungguhnya istrimu mempunjai hak atas dirimu. ”
Berapa banyak ibadah fardhu yang terlantar karena ibadah yang
hukumnya sunat ini.
Puasa secara terus-menerus ini justru menghilangkan yang lebih utama.
Diriwayatkan dari Rasulullah beliau bersabda,
“Puasa yang paling utama adalah puasa Daud AlaihishShalatu Was-
Salam. Beliau berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
Dari Abdullah bin Amr, dia berkata, “Rasulullah 0menemuiku, lalu
bertanya, “Benarkah apa yang kudengar darimu bahwa engkau shalat pada
malam hari, dan engkau pula yang berkata, Aku benar-benar akan mendirikan
shalat malam dan berpuasa pada siang harinya?’
“Benar wahai Rasuluhah. Aku memang berkata demikian,” jawab
A b d u l l a h b i n A m r .
Beliau bersabda, “Dirikanlah shalat dan tidurlah, berpuasalah dan
janganlah berpuasa, dan berpuasalah tiga hari dalam setiap bulannya, maka
engkau mendapat pahala seperti puasa setahun penuh.”
Abdullah bin Amr berkata, “Wahai Rasulullah, aku masih sanggup
mengerjakan yang lebih dari itu.”
1 .
2 .
2 0 6 Perangkap Setan
Beliau bersabda, “Berpuasalah sehari dan janganlah berpuasa sehari,
karena yang demikian itu merupakan puasa yang paling baik. Itu adalah puasa
D a u d . ”
Abdullah berkata, “Aku masih sanggup mengerjakan yang lebih dari icu.”
Rasulullah Sbersabda, “Tidak ada yang lebih baik dari itu.” (HR.Al-
Bukhari dan Muslim)
Banyak para ahli ibadah yang berpuasa setahun penuh, dan puasa
mereka yang seperti itu diketahui orang-orang. Karena itu dia tidak berani
menampakkan din sedang tidak berpuasa, agar pamornya tidak turun. Ini
namanya riya’ yang tersembunyi. Jika memang niatnya ikhlas dan bermaksud
menyembunyikan keadaannya, tentunya dia ddak merasa malu menampakkan
dirinya sedang tidak berpuasa di hadapan orang yang tahu bahwa dia suka
berpuasa, lalu dia berpuasa tanpa diketahui orang lain.
Di antara mereka ada yang sengaja menunjukkan dirinya sedang
berpuasa, seraya berkata, “Semenjak dua puluh tahun hingga hari ini aku
selalu berpuasa.” Iblis membisikkan kepadanya, “Engkau berbuat seperti
itu agar ditiru orang lain.” Padahal Allah lebih mengetahui tentang
maksudnya.
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Seorang hamba benar-benar melakukan
amal secara sembunyi-sembunyi. Lalu setan senantiasa membisikinya, hingga
akhirnya dia beralih dari sembunyi-sembunyi ke terang-terangan.
Di antara mereka ada yang biasa berpuasa Senin dan Kamis. Jika
diundang ke jamuan makan, maka dia menjawab, “Hari ini adalah hari Kamis.”
jika dia hanya menjawab, “Hari ini aku sedang berpuasa”, dirasa masih belum
cukup. Sebab dengan berkata, “Hari ini adalah hari Kamis”, lebih menegaskan
pernyataan bahwa dia selalu berpuasa setiap hari Kamis. Biasanya dia
memandang rendah orang-orang lain, karena dia berpuasa, sedang mereka
t i d a k .
Di antara mereka ada yang senantiasa berpuasa, namun tidak peduli
dengan cara bagaimana dia mendapatkan makanan, tidak menghindar dari
ghibah dan tidak mengurangi perkataannya yang berlebihan. Iblis
membisikinya, “Puasamu dapat mengenyahkan dosa-dosamu.” Tentu saja
semua ini termasuk talbis-ny2L.
2 0 7Bah Vlll: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Talbis Iblis dalam Haji
Adakalanya seseorang meninggalkan suatu kewajiban karena hendak
melaksanakan haji. Yang demikian ini salah. Apalagi jika dia tidak
mendapatkan restu orangtua. Atau adakalanya seseorang berangkat haji, tetapi
dia masih mempunyai hutang atau suatu kezhaliman. Atau mungkin dia pergi
haji hanya sekadar untuk jalan-jalan, atau menunaikan haji dengan harta yang
diragukan halal haramnya. Atau mungkin di antara mereka ada yang ingin
mendapat sebutan Haji. Kebanyakan di antara mereka tidak mempedulikan
kewajiban thaharah dan shalat selagi dalam perjalanan, lalu mereka berkumpul
di sekeliling Ka’bah dengan had yang kotor dan batin yang tidak bersih. Iblis
memperlihatkan gambaran haji kepada mereka dan memperdayai mereka,
bahwa maksud dari haji adalah mendekatkan diri dengan hati, bukan dengan
badan semata. Karena itu harus dilaksanakan atas dasar takwa.
Berapa banyak orang yang menunaikan haji ke Makkah, karena hendak
menghitung jumlah hajinya, seraya berkata, “Aku sudah pernah wuquf
sebanyak dua puluh kali.” Berapa banyak orang yang pergi ke Makkah, tetapi
mereka justru mengabaikan shalamya, berlaku curang dalam timbangan ketika
berjual beli, dengan anggapan bahwa haji yang dilaksanakannya bisa
menghapus dosanya.
Di antara mereka ada yang mengada-adakan manasik baru di luar
ketetapan syariat, seperti berpura-pura ketika ihram, tetap membuka salah
satu pundaknya, tetap seperti itu hingga beberapa hari, dibakar terik matahari
hingga kulitnya rusak, dan ada juga yang berhias.
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi #pernah melihat seorang laki-laki
melaksanakan thawaf di sekeliling Ka’bah sambil membawa sebuah tongkat
atau yang sejenisnya. Maka beliau mematahkan tongkat itu.
Hadits ini mengandung larangan melakukan hal yang macam-rhacam
dalam agama, sekalipun dimaksudkan untuk ketaatan.
Talb is Ib l is dalam Masalah Tawakal
Iblis memperdayai segolongan orang yang mengaku tawakal, lalu
mereka bepergian jauh tanpa membawa bekal, karena mereka menganggap
tindakan semacam ini termasuk tawakal. Tentu saja mereka itu salah.
Ada seseorang berkata kepada Al-Imam Ahmad bin Hambal, “Aku
hendak pergi ke Makkah atas dasar tawakal tanpa membawa bekal.”
2 0 8 Perangkap Setan
Al-Imam Ahmad berkata, “Kalau begitu pergilah sendirian tanpa ikut
rombongan.
“Tidak bisa. Aku harus ikut bersama merekajawab orang itu.
“Apakah dengan mengandalkan bekal orang lain itu engkau juga
menyebut tawakal?”
Talbis Iblis terhadap Prajurit Perang
Iblis memperdayai sekian banyak orang, lalu mereka pergi untuk
berjihad dengan niat membanggakan diri dan riya’, agar dia disebut-sebut
sebagai prajurit perang. Atau boleh jadi agar dia disebut-sebut sebagai seorang
pemberani, atau mungkin dia bermaksud mencari harta rampasan.
Sesungguhnya amal-amal itu tergantung kepada niatnya.
Dari Abu Musa, dia berkata, “Ada seorang laki-laki menemui Nabi 0,
seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapat engkau tentang orang yang
berperang karena keberanian, berperang karena sifat kesatria dan berperang
karena riya’? Manakah di antara hal-hal itu yang ada di jalan Allah?”
Rasulullah menjawab,
“Siapa yang berperang agar kalimat Allahlah yang tinggi, maka dia berada
di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud dia berkata, “Janganlah kalian berkata, ‘Fulan
mati syahid’, atau, ‘Fulan terbunuh sebagai syahid’.
Sesungguhnya seseorang itu berperang untuk mendapatkan harta
rampasan, berperan agar namanya dikenang, dan berperang agar
kedudukannya terpandang.
Dari Abu Hurairah dia berkata, “Orang yang pertama kali diadili
pada Hari Kiamat adalah tiga golongan:
” 1 8
Di sini terkandung pelajaran yang sangac beharga dan sekaligus hardikan bagi orang yang biasa
memberikan scbutan “Syahid” kepada siapa pun yang dia sukai, tanpa disertai wara’ dan merasa takut
kepada Allah. Siapa yang terpaksa harus berkata seperti itu, maka dia harus menyertai perkataannya
dengan kata-kata, ‘Begitulah menurut perkiraan kami, karena kita tidak bisa menganggap seseorang
itu suci di sisi Allah." Al-Imam A1-Bukhari telah membuat bab tersendiri di dalam Sfia/iifi-nya, yaitu
bab: Jangan katakan, “Fulan mati syahid."
2 0 9Bab VIII: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Pertama: Orang yang dianggap mati syahid. Dia didatangkan, nikmat-
nikmatnya diperkenalkan dan dia pun mengenalnya. Allah bertanya
kepadanya, “Apa yang engkau lakukan saat itu?”
Orang itu menjawab^ “Aku berperang karena Engkau hingga aku
te rbunuhJ
Allah befirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar
dikatakan, ‘Dia seorang pemberani’, dan memang begitulah yang dikatakan
orang-orang.” Lalu turun perintah agar wajahnya ditelungkupkan, lalu
dilemparkan ke dalam neraka.
K.edua. Orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta
membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan dan diperkenalkan nikmat-nikmatnya.
Maka dia mengenalnya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan
s a a t i t u ? ”
Orang itu menjawab, “Aku mempelajari ilmu karena Engkau,
mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an karena Engkau.”
Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu aga::
engkau dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu’, dan memang begitulah
yang dikatakan orang-orang. Engkau membaca Al-Qur’an, agar engkau
dikatakan, ‘Dia adalah seorang qari’, dan memang begitulah yang dikatakan
orang-orang.” Kemudian turun perintah, agar wajahnya ditelungkupkan, lalu
dilemparkan ke dalam neraka.
Ketiga. Orang yang diberi kelapangan oleh Allah. Dia melimpahinya
segala jenis kekayaan. Dia didatangkan, diperkenalkan nikmat-nikmatnya,
maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkai:
l a k u k a n s a a t i t u ? ”
Orang itu menjawab, “Aku ddak meninggalkan suatu jalan yang Engkat.
suka agar dikeluarkan nafkah padanya, melainkan aku menafkahkannya
karena Engkau.”
Allah befirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau berbuat seperti itu agar
engkau dikatakan, ‘Dia adalah orang yang murah had’, dan memang begitulah
yang dikatakan orang-orang.” Kemudian turun perintah, agar wajahnya
ditelungkupkan, lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
2 1 0 Pemngkap Setan
Talbis Iblis dalam Masalah Harta Rampasan
Iblis memperdayai seorang mujahid tatkala mendapatkan harta
rampasan. Boleh jadi dia mengambil apa yang semestinya dia tidak boleh
mengambii dari harta rampasan iru. Boleh jadi karena memang ilmunya
minim, sehingga dia berpendapat bahwa harta benda orang-orang kafir adalah
mubah bagi siapa pun yang hendak mengambilnya. Dia tid^t tahu bahwa
dendam itu merupakan kedurhakaan.
D i da lam Ash -Shah iha in d i sebu tkan da r i had i t s Abu Hu ra i rah d ia
berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah ^ke Khaibar. Lalu Allah
memberikan kemenangan kepada kami. Saat itu kami tidak mendapatkan
harta rampasan berupa emas dan mata uang, tetapi berupa barang-barang
perabot, makanan dan kain. Kemudian kami pergi ke arah lembah. Ada
seorang hamba sahaya yang juga ikut serta bersama Rasulullah Saat kami
singgah di suatu tempat, hamba sahaya itu bangkit dan memisahkan diri,
hingga dia terkena anak panah dari musuh hingga meninggal dunia. Kami
berkata, “Selamat atas dirinya yang mati syahid wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Sama sekali tidak. Demi yang diri Muhammad ada
di Tangan-Nya, sesungguhnya mantelnya berubah menjadi api yang
membakarnya, karena dia mengambil mantel itu dari harta rampasan Khaibar,
padahal itu bukan merupakan bagiannya.
Maka orang-orang menjadi ketakutan. Ada seseorang yang datang
sambil membawa satu atau dua tali sandal, seraya berkata, “Aku
mendapatkannya pada waktu perang Khaibar.”
Rasulullah ̂ bersabda, “Ini adalah tali sandal dari api neraka.”
Adakalanya seorang prajurit perang mengetahui mana yang haram.
Hanya saja dia melihat barang-barang yang melimpah, sehingga dia tidak
kuat menahan diri, atau mungkin dia mengira bahwa jihadnya itu
mendorongnya untuk berbuat apa pun. Dari sini dapat diketahui seberapa
jauh pengaruh ilmu dan iman.”
Talbis Iblis Terhadap Orang yang Melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi
Mungkar
Orang yang melaksanakan a/war ma'ruf nahi munkar bisa dibedakan
menjadi dua golongan; Orang yang pandai dan orang yang bodoh. Iblis
menyusup ke dalam diri orang yang pandai atau berilmu lewat dua jalan:
2 1 1Bab VHI: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Membagus-baguskan tindakannya, mencaii ketenaran dan ujuh karena
amalnya.
Telah diriwayatkan kepada kami dengan suatu isnad dari Ahmad bin
Abul-Hawari, dia berkata, Aku pernah mendengar Abu Salman berkata,
“Aku mendengar Abu Ja’far Al-Manshur menangis saat dia
menyampaikan khutbah Jum’at. Tiba-tiba saja aku merasa marah dan
tebesit di dalam hati untuk bangkit untuk memperingatkan dndakannya
itu selagi dia sudah turun dari mimbar. Namun aku juga merasa enggan
untuk menghampiri khalifah. Maka aku pun siap-siap hendak
memperingatkannya. Sementara orang-orang duduk sambil
mengarahkan pandangan kepadaku. Lalu aku berpikir untuk bersikap
lunak, agar aku tidak dibunuh olehnya dengan cara yang tidak benar.
Maka aku pun duduk dan diam saja.”
Marah kepada diri sendiri. Barangkali inilah yang terjadi pada awal
mulanya, atau barangkali itulah yang terjadi saat melaksanakan amar
maWuf, karena dia mendapatkan pelecehan dari orang yang
mengingkarinya. Lalu dia pun memusuhi diri sendiri, sebagaimana yang
dikatakan Umar bin Abdul-Aziz, “Kalau bukan karena aku sedang
marah, tentu aku sudah menghukummu.”
Sedangkan jika orang yang melaksanakan amar ma‘ruf adalah orang
yang bodoh, maka Iblis akan mempermainkan dirinya. Sehingga kerusakan
yang ditimbulkannya justru lebih banyak daripada kemaslahatan yang
dihasilkannya. Karena boleh jadi dia melarang sesuatu yang sebenarnya
diperbolehkan menurut ijma’ ulama, atau dia mengingkari suatu ta’wil dan
seseorang yang mengikuti sebagian madzhab.’̂ Boleh jadi dia bertindak kasar,
memukul pelaku kemungkaran dan mencaci makinya. Jika orang-orang
memberi jawaban yang dirasa sulit menurutnya, maka dia menjadi marah-
m a r a h .
1.
2 .
Di antara talbis terhadap orang yang mencegah kemungkaran, dia duduk
di sekeMling orang banyak, lalu banyak bercerita tentang apa yang dilakukannya
dan membanggakan diri mencaci dan menyindir orang-orang yang melakukan
kemungkaran dengan cacian yang keras serta mengutuk mereka. Padahal
Dengan syarat, mengikuti suatu madzhab itu didasarkan kepada pengecabuan atau mcmang ada dalil
yang diikutinya, bukan merupakan ketetapan ahli fiqih atau sesuatu yang menyimpang dan seorang
u lama .
2 1 2 Perangkap Setan
boleh jadi orang-orang yang dia kutuk itu telah bertaubat, atau bahkan menjadi
lebih baik dari dirinya, karena mereka sudah menyesali diri sementara dia
menjadi takabur. Kemudian perkataannya semakin merembet ke mana-mana,
dengan membuka aib orang-orang Muslim, dia memberitahukan orang yang
sebelumnya tidak tahu. Padahal menutupi aib orang Muslim iru wajib, sebisa
mungkin.
Kami mendengar sebagian orang bodoh yang mencegah kemungkaran,
dengan menyerang segolongan orang, yang dia sendiri tidak merasa yakin
tentang keadaan mereka. Dia menyerang sana menyerang sini, yang semuanya
bermula dari kebodohannya.
Namun jika yang melakukan pencegahan adalah orang yang pandai,
maka engkau akan merasa aman. Orang-orang salaf bersikap lemah lembut
dalam mencegah kemungkaran. Suatu kali Shilah bin Usyaim melihat seorang
laki-laki yang mengobrol dengan seorang wanita. Maka dia berkata,
“Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua. Semoga Dia menutupi aib kita
dan aib kalian berdua.”
Suatu kali dia melihat sekumpulan orang yang bermain dan bercanda.
Maka dia berkata dengan lemah lembut, “Wahai saudara-saudaraku, apa
pendapat kalian tentang seseorang yang sedang mengadakan perjalanan jauh,
namun dia tidur sepanjang malam dan bermain-main sepanjang hari, lalu
kapan perjalanannya akan berakhir ke tujuan?”
Orang yang paling layak untuk bersikap lemah lembut adalah para
penguasa. Ada baiknya jika dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah
telah mengangkat derajat kalian. Maka lihatlah nikmat Allah ini. Karena
nikmat-nikmat-Nya bisa bertahan karena syukur. Tidak tepat jika kalian
menerima nikmat itu dengan kedurhakaan.”
Iblis memperdayai sebagian ahli ibadah, sehingga dia tidak mau
mencegah kemungkaran yang terlihat di depan hidungnya. Dia berkata, ‘Yang
berhak memerintah dan mencegah adalah orang yang pantas. Sementara aku
bukanlah orang yang pantas melakukannya. Maka bagaimana mungkin aku
memerintah dan melarang orang lain?” Ini merupakan kesalahan. Dia tetap
berkewajiban memerintah dan melarang, sekalipun ada kedurhakaan pada
dirinya. Hanya saja jika dia mengingkari orang yang sudah menjauhi
kemungkaran, maka tindakannya itu akan sia-sia. Agar tindakannya efektif,
maka terlebih dahulu dia harus menata dirinya sendiri.
2 1 3Bab Vlll: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam ...
Ibnu Aqil berkata, “Kami melihat orang semacam Abu Bakar Al-Aqfali
pada zaman kami. Jika dia bangkit untuk mengingkari kemungkaran, maka
dia mengikutsertakan para syaikh yang tidak makan kecuali dari keringatnya
sendiri, seperti Abu Bakar Al-Khabbar dan orang-orang lain yang mengambil
shadaqah, namun ddak mau menerima pemberian hadiah. Mereka juga orang-
orang yang banyak shalat malam dan puasa pada siang harinya. Jika dalam
rombongannya ada orang yang meragukan, maka dia menolaknya, seraya
berkata, “Jika dalam pasukan kami ada orang yang meragukan, maka kami
akan kalah.”B
2 1 4 Perangkap Setan
Bab IX:
Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
A DA orang awam yang pernah mendengar celaan terhadap dunia yang
disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Lalu dia melihat jalan
keselamatan ialah dengan meninggalkan dunia. Dia tidak tahu bahwa bukan
dunia itu yang harus dicela. Iblis memperdayainya dengan berkata, “Engkau
tidak akan selamat di akhirat kecuali dengan meninggalkan dunia.” Sekedka
itu pula dia pergi ke gunung, ddak mau ikut shalat jama’ah dan Jum’at serta
mencari ilmu. Dia mengira bahwa inilah yang disebut zuhud yang hakiki.
Pasalnya, dia mendengar ada orang lain yang juga berbuat hal yang sama.
Boleh jadi dia mempunyai keluarga yang terlantar di rumah, atau ibu yang
selalu menangis karena harus berpisah dengannya. Atau boleh jadi dia tidak
tahu sama sekali rukun-rukun shalat sebagaimana mestinya, atau boleh jadi
dia mempunyai kezhaliman yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Dia tersusupi talbis Iblis, karena ilmunya yang minim, atau karena dia
memang bodoh dan ridha terhadap ilmu yang dimilikinya. Andaikata dia
banyak berkumpul dengan fiiqaha’, tentu dia akan memahami banyak hakikat,
tentu dia akan tahu bahwa bukan dunia itulah yang harus dicela. Bagaimana
mungkin dia mencela sesuatu yang dikaruniakan Allah dan merupakan urgensi
untuk kelanggengan anak Adam, yang menjadi penolongnya untuk mencari
ilmu dan beribadah, berupa 'makanan, minuman, pakaian dan masjid yang
digunakan untuk shalat? Yang layak dicela adalah mengambil sebagian dari
dunia yang tidak dihalalkan, atau mengambilnya secara berlebih-lebihan, tidak
2 1 5
menurut kadar keperluan dan tidak menurut perkenan syariat. Pergi ke gunung
untuk mengisolir diri adalah tindakan yang dilarang. RasuluUah Smelarang
seseorang dnggal sendirian, Apalagi jika dia meninggalkan shalat jama’ah
dan shalat Jum’at, tentu merupakan kerugian yang besar, di samping hal itu
menjauhkan diri dari ilmu dan ulama, menguatkan belenggu kebodohan,
berpisah dengan ayah dan ibu, yang bisa menyerupai kedurhakaan kepada
keduanya.
Kalau pun ada kabar yang menyebutkan tentang orang-orang yang^
pergi ke gunung, karena memang boleh jadi mereka tidak mempunyai
orangtua, tidak mempunyai anak istri. Karena itu mereka bisa pergi ke suatu
tempat untuk beribadah di Sana secara bersama-sama. Tetapi jika keadaan
mereka tidak memungkinkan untuk berbuat seperti itu, maka apa yang mereki.
lakukan itu salah kaprah.
Sebagian orang salaf ada yang berkata, “Kami pergi ke gunung untut
beribadah. Lalu Sufyan Ats-Tsauri menemui kami di sana dan menolak
perbuatan kami.”
Di antara gambaran talbis Iblis terhadap para zuhud ialah keengganaii
mereka mendalami ilmu, karena mereka menyibukkan diri dalam urusan
zuhud. Mereka menganggap telah mengganti sesuatu yang kurang baik
dengan sesuatu yang lebih baik. Padahal manfaat orang zuhud itu tidak pernah
keluar dari ambang pintunya. Sementara manfaat orang yang berilmu merebak
ke mana-mana. Berapa banyak orang berilmu yang dapat menuntun ahli
ibadah kepada kebenaran.
Talbis Iblis yang lain, dia membuat mereka beranggapan bahwa yang
disebut zuhud itu ialah meninggalkan hal-hal yang mubah. Di antara mereka
ada yang tidak mau makan makanan yang lebih baik dan roti dari adonan
gandum. Yang lain lagi tidak mau makan buah-buahan yang segar. Yang lain
lagi makan sedikit makanan, sehingga badannya menjadi kurus kerontang,
mengenakan pakaian ala kadarnya dan tidak mau minum air yang dingin lagi
s e g a r .
Yang demikin itu sama sekali bukan jalan RasuluUah Spara sahabat
dan orang-orang yang mengikuti mereka. Memang mereka biasa kelaparan,
karena memang tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Tetapi jika ada makanan,
mereka pun meraakannya. RasuluUah 0biasa makan daging dan
2 1 6 Perangkap Setan
menyukainya, makan daging ayam, menyukai yang manis-manis dan
menikmati air yang dingin lagi segar.
Ada seseorang yang berkata, “Aku tidak makan kue poding, karena
aku justru tidak bisa bangkit untuk mensjoikurinya.”
Mendengar perkataan orang ini, Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Itu
namanya orang bodoh. Apakah dia juga harus bangkit untuk mens}’ukuri air
yang dingin?”
Jika sedang mengadakan perjalanan jauh, Sufyan Ats-Tsauri biasa
membawa bekal daging dendeng dan kue poding.
Seseorang harus tahu bahwa dirinya adalah kendaraannya, yang berard
dia harus memperlakukannya secara lemah lembut, agar dia bisa mencapai
tujuan yang dikehendaki. Maka hendakiah dia melakukan apa yang
memberikan maslahat bagi dirinya, meninggalkan apa yang dapat
mengganggunya, seperti makan terlalu kenyang dan berlebih-lebihan
mengumbar nafsu, karena yang demikian ini bisa mengganggu badan dan
juga agamanya.
Sedap manusia berbeda-beda tabiatnya. Jika orang-orang Arab Badui
mengenakan pakaian wol dan sedikit minum susu, maka kita harus bisa
memakluminya. Karena kendaraan badan mereka sudah sanggup membawa
beban yang demikian itu. Jika orang-orang kuUt hitam mengenakan kain wol
dan memakan acar, maka kita harus bisa memakluminya dan kita tidak bisa
berkata, “Mereka telah membebani diri sendiri.” Sebab memang begitulah
kebiasaan mereka. Tetapi jika badan seseorang dimanja dengan makanan-
makanan yang lezat, maka ia pun akan terbiasa dengannya. Karena itu kami
melarang orangnya untuk membawa beban berat. Namun jika dia zuhud,
tentu akan bisa meninggalkan nafsunya. Karena makanan yang halal itu lebih
cenderung menjauhi hal-hal yang berlebih-lebihan, atau karena makanan yang
lezat itu akan mendorongnya untuk makan dalam porsi yang lebih banyak,
lalu akhirnya menimbulkan rasa malas dan mengantuk. Dalam keadaan seperti
ini harus diberitahukan mana yang mendatangkan mudharat dan mana yang
mendatangkan manfaat, lalu dia harus mengambil porsi yang dapat menunjang
kekuatannya, tanpa menimbulkan gangguan terhadap dirinya.
20
Semua ini disebuckan di dalam hadits shahih dan kuat.
2 1 7Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
Kita boleh mengacu kepada Al-Harits Al-Muhasibi dan Abu Thalib
Al-Makki, yang menurut cerita, keduanya biasa makan sedikit dan menahan
diri dari hal-hal yang sebenarnya dimubahkan. Mengikuti RasuluUah Sdan
para sahabat jauh lebih pantas.
Ibnu Aqil berkata, “Urusan kalian dalam beragama benar-benar
mengherankan. Entah karena nafsu yang diikuti, entah karena pola kehidupan
rahib yang diada-adakan, antara menyeret mainan sewaktu kecil, meremehkan
hak, menelantarkan keluarga dan berdiam di pojok-pojok masjid. Mengapa
mereka tidak beribadah berdasarkan nalar dan syariat?’
Di antara gambaran talhis terhadap mereka, ia membuat mereka
beranggapan bahwa zuhud adalah rasa puas dalam masalah makan dan
berpakaian semata. Mereka menunjukkan kepuasan dalam masalah itu saja,
padahal di dalam hati mereka terpendam ambisi untuk mendapatkan
kedudukan dan mencari ketenaran. Maka engkau lihat bagaimana mereka
mendatangi para penguasa secara kucing-kucingan, bersikap hormat hanya
kepada orang-orang kaya dan sama sekali tidak menghormati orang-orang
miskin, berpura-pura khusyu’ saat berpapasan dengan orang lain, seakan-
akan mereka baru keluar dari panggung pertunjukan. Adakalanya salah
seorang di antara mereka menolak pemberian harta, agar tidak dikatakan,
“Kedok zuhudnya sudah terkuak.’ Padahal mereka membentangkan tangan
di hadapan pintu kekuasaan dunia, karena memang tujuan mereka adalah
k e d u n i a a n d a n k e d u d u k a n .
Talhis yang paling banyak disusupkan Iblis ke dalam diri para ahli ibadah
dan zuhud adalah riya’ yang tersembunyi. Sedangkan riya’ yang.nyata tidak
termasuk dalam talbis-ny î, seperti menampakkan badan yang kurus, wajah
yang pucat, rambut yang acak-acakan, untuk menunjukkan bahwa mereka
adalah orang-orang zuhud. Begitu pula berbicara pelan-pelan untuk
menunjukkan kekhus)oikan, riya’ dengan shalat dan shadaqah. Semua ini
termasuk riya’ yang tampak dan tidak bisa disembunyikan. Yang kami
maksudkan di sini adalah riya’ yang tersembunyi, sebagaimana yang
diisyaratkan RasuluUah “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung kepada
niat.” Selagi suatu amal tidak dimaksudkan untuk mencari Wajah AUah, maka
a m a l i t u d d a k d i t e r i m a .
MaUk bin Dinar berkata, “Katakanlah kepada orang-orang yang tidak
benar niamya, ‘Engkau tidak perlu berpayah-payah’.
2 1 8 Perangkap Setan
Ketahuilah bahwa orang Mukmin itu ddak meniatkan amalnya kecuali
karena Allah semata. Namun kemudian ada riya’ yang tersembunyi menjaisup
ke Sana, sehingga urusannya menjadi berbalik. Sementara untuk
menyelamatkan diri dari riya’ ini juga su!it.
Dari Yassar, dia berkata, ‘Y’usuf bin Asbath pernah berkata kepadaku,
‘Pelajarilah amal yang benar dan amal yang ddak benar. Karena aku sudah
melakukan yang demikian itu selama dua puluh dua tahun.”
Karena takut kepada riya’ inilah orang-orang shalih biasa
menyembunyikan amal-amal mereka dan menampakkan sikap sebaliknya.
Ibnu Sirin biasa tersen^oim pada siang had, namun dia banyak menangis pada
malam harinya. Jika Ibnu Adham sakit, maka dia memperlihatkan makanannya
seperd yang biasa dimakan orang yang sehat.
Dari Bakar bin Abdullah, bahwa dia mendengar Wahib bin Munabbih
berkata, “Ada seorang laki-Iaki yang termasuk salah seorang terpandang pada
zamannya, yang biasa dikunjungi, lalu dia pun akan menyampaikan nasihat.
Suatu had orang-orang berkumpul di hadapannya, lalu dia berkata, “Kami
ini seakan-akan sudah ddak hidup lagi di dunia, sudah meninggalkan keluarga
dan harta benda, karena takut terhadap kesewenang-wenangan. Aku sendiri
selalu merasa takut andaikata ada kesewenang-wenangan yang men^usup
ke dalam diriku, lebih banyak daripada kesewenang-wenangan yang
men)Tasup ke dalam diri orang yang kaya karena kekayaannya. Kami melihat
salah seorang di antara kami suka jika keperluan-keperluannya dipenuhi. Jika
berpapasan dengan orang lain, maka dia dipuji dan disanjung karena
agamanya.”
Perkataan orang itu tersebar ke mana-mana, sehingga didengar raja.
Dia pun merasa taajub terhadap perkataannya itu. Maka dengan naik
kendaraan, raja hendak menemui orang itu, untuk mengucapkan salam dan
melihat keadaannya. Tatkala orang itu melihat kedatangan raja, ada yang
berkata, “Itu raja hendak bertemu denganmu untuk mengucapkan salam.”
“Apa yang menarik perhatiannya?” tanya orang itu.
“Karena dia mendengar nasihat yang pernah engkau sampaikan kepada
kami,” mereka menjawab.
Orang itu bertanya kepada pembantunya, “Apakah engkau mempunyai
m a k a n a n ? ’
2 1 9Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
“Ada sedikit buah-buahan yang biasa engkau pergunakan untuk
berbukajawab pembantunya.
Maka dia memerintahkan untuk mengambil buah-buahan itu dan
meletakkannya di atas nampan, lalu dia letakkan di hadapannya seraya
memakannya. Padahal setiap harinya dia selalu berpuasa. Raja berdiri di
hadapan orang itu dan mengucapkan salam kepadanya. Orang itu menjawab
dengan suara pelan, kemudian memakan lagi buah di hadapannya.
“Mana orang yang kalian ceritakan itu?” tanya raja.
Ada yang menjawab, “Ya orang ini.”
“Orang yang sedang makan itu?” tanya raja.
“ B e n a r . ”
“Ternyata tidak ada yang baik pada dirinya,” kata raja lalu pergi
meninggalkannya.
Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat raja itu
pergi .
Dalam riwayat lain disebutkan dari Wahb, bahwa tatkala raja itu datang,
maka orang tersebut menghidangkan makanan kepadanya. Dia sendiri
mengambil satu suapan besar dan mencelupkannya ke dalam minyak, lalu
memakannya dengan lahap. Raja berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai
F u l a n ? ”
Orang itu menjawab, “Seperti orang lain.”
Maka raja segera menarik tali kekang hewan tunggangannya dan pergi
seraya berkata, “Tidak ada yang baik pada diri orang ini.”
Maka orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membuamya
pergi dari hadapanku. Ini lebih baik bagiku.”
Di antara orang-orang zuhud ada yang menggunakan zuhud sebagai
kehidupan lahir dan batinnya. Tetapi dia tidak bisa menghindar dari perkataan
teman-temannya atau istrinya bahwa dia telah meninggalkan dunia, sehingga
dia tidak bisa bersabar menghadapi keadaan ini. Andaikata zuhudnya ini
murni, tentu dia akan makan sekadarnya bersama keluarganya, selagi dapat
menjaga kehormatan dirinya dan harus berusaha agar mereka tidak
membicarakan dirinya. Daud bin Abu Hindun berpuasa selama dua puluh
tahun. Tetapi selama itu keluarganya tidak ada yang tahu. Dia biasa mengambil
2 2 0 Perangkap Setan
makan siangnya lalu pergi ke pasar, lalu dia menshadaqahkannya di tengah
perjalanan. Sementara orang-orang yang berada di pasar mengira bahwa dia
telah makan di rumah, sedangkan keluarganya yang ada di rumah mengira
bahwa dia makan di pasar.
Di antara orang-orang zuhud ada yang berasa kuat bila berada di masjid
atau ketika dengan cara bergayut di seutas tali. Hatinya merasa senang karena
orang-orang mengetahui kesendiriannya. Boleh jadi dia memberikan alasan
tentang kesendiriannya itu, ‘Aku khawatir jika keluar akan meiihat berbagai
kemungkaran.” Yang demikian itu dia lakukan karena takabur dan
memandang hina orang lain. Ada pula yang alasannya takut kurang khidmat,
atau karena hendak menjaga citra dirinya, sehingga andaikan dia berbaur
dengan orang-orang akan mengurangi citranya sebagai orang zuhud. Boleh
jadi tujuannya untuk menutupi aib dan keburukannya atau kebodohannya.
Dia suka jika dikunjungi orang lain dan ddak suka mengunjungi, senang
dengan kedatangan para penguasa kepadanya, orang-orang awam berkumpul
di depan pintu rumahnya, mencium tangannya saat berjabatan, sementara
dia tidak mau menjenguk orang sakit, menghadiri dan mengikuti jenazah.
Orang-orang berkata, “Maklumilah dia, karena memang begitulah
kebiasaannya.”
Semua ini jelas bertentangan dengan syariat. Andaikan dia memerlukan
makanan, sementara dia tidak mempunyai uang untuk membelinya, maka
dia bersabar menahan lapar dan tidak mau membeli makanan sendiri. Dia
merasa terlalu tehormat untuk berjalan di tengah orang-orang awam. Menurut
pandangannya, andaikan dia keluar dan membeli makanan, dtra dirinya tentu
a k a n t u r u n .
Sementara Rasulullah #pergi ke pasar dan membeli berbagai macam
keperluan serta membawanya sendiri. Abu Bakar biasa berjual beli kain
dan memanggulnya di atas pundak.
Dari Abdullah bin Hanzhalah, dia berkata, “Abdullah bin Salam lewat
sambil memanggul kayu bakar di atas kepalanya. Lalu orang-orang bertanya
kepadanya, “Apa yang mendorongmu berbuat sepetti itu, padahal Allah sudah
memberi kecukupan kepadamu?”
Dia menjawab, “Dengan cara ini aku ingin menghilangkan rasa takabur.
Karena aku pernah mendengar Nabi bersabda,
2 2 1Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
mengangguk-anggukkan kepala, menampakkan kesedihan, tetapi setelah
berlaiu, wajahnya pun tampak berseri-seri.
Orang-orang salaf ddak suka sesuam yang menunjuk ke arah dirinya
dan lari dari tempat yang bisa membuat dirinya terkenal. Yusuf bin Asbath
berkata, “Aku pergi dari Sabaj (nama tempat) dengan berjalan kaki hingga
tiba di Mishishah, sambil membawa kantong di pundak. Lalu ada seseorang
yang keluar dari kiosnya seraya mengucapkan salam kepadaku, lalu disusul
orang-orang lainnya. Aku melempar kantong dan masuk ke dalam masjid
untuk shalat dua rakaat. Orang-orang yang ada di situ terus memandangiku.
Lalu ada seseorang yang meiongok di depanku. Aku berkata sendiri, “Sampai
kapan hadku kuat menghadapi hal seperti ini?” Akhirnya aku mengambil
kantong dan kembali lagi ke Sabaj. Selama dua tahun aku harus
menentramkan hadku karena kejadian tersebut.
Di antara orang-orang zuhud ada yang mengenakan kain terusan dan
ddak menjahitnya, ddak mau membetulkan ikat kepalanya dan membiarkan
jenggotnya dalam keadaan semrawut, agar orang-orang tahu bahwa keadaan
dirinya seperd itu lebih baik daripada dunia.
Semua ini termasuk riya’. Andaikata niatnya benar dalam memelihara
jenggot, maka hal itu ddak apa-apa. Seseorang pernah bertanya kepada Daud
Ath-Tha’i, “Mengapa engkau ddak menata jenggotmu?” Dia menjawab,
“Karena aku terlalu sibuk untuk mengurusinya.” Sebenarnya dia pun menid
jalan yang kurang tepat. Sebab yang demikian itu bukan termasuk jalan
RasuluUah Sdan para shahabat. Betiau tetap merapikan jenggot, mengenakan
minyak dan wewangian. Padahal beliau adalah orang yang paling sibuk. Abu
Bakar dan Umar bin Al-Khathab juga biasa memakai celak. Padahal keduanya
orang yang paling takut dan zuhud. Maka siapa yang membual lebih dnggi
dari Sunnah dan perbuatan orang-orang yang besar (semacam Abu Bakar
dan Umar), maka dia ddak perlu dipedulikan.
Di antara orang-orang zuhud ada yang hanya diam saja, ddak mau
berbaur dengan keluarganya, sehingga mereka merasa terganggu karena
akhlaknya ini. Dia lupa sabda Nabi
“Sesungguhnja keluargamu mempunjai hak atas dirimu. ”
Nabi #biasa bercanda, bergurau dengan anak-anak, berbincang-
bincang dengan istri-istri beliau, berlomba lari dengan Aisyah dan lain-lainnya
yang menunjukkan perilaku beliau yang lemah lembut. Sementara orang
2 2 3Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
zuhud ini menjadikan istrinya seperd janda dan menjadikan anaknya seperd
anak yatim, karena dia memisahkan diri dengan mereka dan karena
perangainya yang kasar, yang dalam pandangannya, urusan keluarga bisa
mengaJihkan penhatiannya dan masalah akhirat. Karena ilmunya yang minim,
dia ddak tahu bahwa berbaur dengan keluarga itu justru bisa membantunya
untuk memperhatikan masalah akhirat.
Di dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Nabi 0bertanya kepada
Jabir, “Mengapa engkau ddak menikahi gadis, agar engkau bisa mencandainya
dan dia pun mencandaimu?”
Boleh jadi orang zuhud itu sudah bersikap apads, sehingga dia ddak
mau bercampur dengan istrinya. Berard dia telah meninggalkan yang wajib
untuk mengerjakan sunat yang kurang terpuji.
Di antara mereka ada yang memandang amalnya, lalu dia pun ujub.
Jika dikatakan kepadanya, “Engkau termasuk pasak bumi”, maka dia
mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan perkataan itu.
Di antara mereka ada yang menunggu-nunggu munculnya karamah
pada dirinya. Dia membayangkan dapat berjalan di permukaan air. Jika ada
sesuatu hal, lalu dia memanjatkan doa, dan ternyata doanya ddak makbul,
maka dia menggerutu memarahi diri sendiri. Seakan-akan dia adalah buruh
yang mengharapkan upah dari pekerjaannya. Andaikata dia diberi
pemahaman, tentu dia akan tahu bahwa dia hanyalah seorang hamba sahaya.
Seorang hamba sahaya itu ddak boleh mengharapkan sesuatu dari amalnya.
Andaikata dia mau melihat taufiq Allah, sehingga dia bisa beramal, tentu dia
akan bersyukur dan takut andaikan ada yang kurang dalam amalnya.
Ketakutan kalau-kalau dalam amalnya itu ada yang kurang, harus
mendorongnya untuk melihat lagi amalnya. Maka ada yang berkata, “Aku
memohon ampun kepada Allah karena aku merasa ada yang ddak benar dalam
perkataanku.” Kedka dia ditanya, “Apakah engkau merasa yakin amalmu
diterima?” Maka dia menjawab, “Andaikata itu yang terjadi, maka ketakutanku
akan kembali lagi kepada diriku.”
Di antara falbis Iblis terhadap orang-orang zuhud yang hanya memiliki
sedikit Umu itu, bahwa mereka beramal berdasarkan pandangannya sendiri
dan ddak mau melihat pendapat fuqaha’.
2 3
“Pasak bumi”merupakan istilahyang berkembangdikalangan orang-orang sufi, yangsamasekali tidak
fermaktub di dalam Al-Kicab dan As-Sunnah.
2 2 4 Perangkap Setan
Ibnu Aqil berkata, “Abu Ishaq Al-Khazzaz adalah orang yang shalih.
Dialah orang pertama yang mengajariku Kitab Allah. Di antara kebiasaannya
ialah tidak mau berbicara pada bulan Ramadhan. Kalau pun harus berbicara,
maka dia mengucapkan penggalan-penggalan ayat Al-Qur’ an yang
menunjukkan keperluannya. Jika dia menyilakan seseorang untuk masuk
rumah, maka dia menukil penggalan ayat,
“Serbulah mereka dengan melaluipintu gerbang (kota) itu.(Al-Maidah 23)
Pada senja hari dia berkata kepada anaknya, seraya menukil penggalan
ayat, ‘̂ erupa sajur mayur dan mentimun, yang maksudnya agar anaknya itu
membeli sajoir mayur.
Melihat hal itu, aku berkata kepadanya, ‘'Yang engkau yakini sebagai
ibadah ini adalah suatu kedurhakaan.” Dia merasa keberatan menerima
perkataanku ini. Lalu kukatakan lagi, “Al-Qur'an yang mulia ini diturunkan
unmk menjelaskan hukum-hukum syariat, tidak digunakan untuk kehidupan
dunia sehari-hari. Yang demikian ini tak ubahnya suara gemerisik dedaunan
atau seperti suara aliran air di lembar-lembar Mushaf, atau karena engkau
menggunakannya sebagai bantal.”
Mendengar perkataanku ini dia pun marah dan sama sekali tidak mau
memberikan alasan.^'*
Orang-orang salaf selalu mengingkari orang zuhud, sekalipun dia
memiliki banyak ilmu dan bisa mengeluarkan fatwa. Sebab bagaimanapun
juga dia belum memenuhi syarat sebagai mufti. Lalu bagaimana jika mereka
melihat orang-orang zuhud pada zaman sekarang yang mudah mengeluarkan
fatwa berdasarkan pandangannya sendiri?
Dari Isma’U bin Sabbat, dia berkata, “Aku memasuki tempat tinggal
Ahmad bin Hambal, yang saat itu Ahmad bin Harb juga sudah datang
menghadapnya dari Makkah. Ahmad bin Hambal bertanya kepadaku,
“Siapakah orang Khurrasan yang lebih dahulu datang ini?”
Aku menjawab, “Dilihat dari zuhudnya, maka dia orang yang begini
dan begitu. Jika dilihat dan wara’nya, maka dia orang yang begini dan begitu.”
Gambanm seperti ini juga banyak dilakukan para syaikh pada zaman sekarang. Mereka sama sekali tidak
mau memperhatikan hujjah dan tidak mau mendengar dalil. Mereka ridha dengan apa yang mereka
terima dari para gurunya dan bapak-bapaknya, atau memang yang demikian itu sudah menjadi tradisi
di tengah masyarakatnya. Karena itu dia perlu menyesuaikan diri dengan orang banyak dan menjaga
agar tidak muncul suara-suara sumbang centang dirinya.
2 2 5Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
Ahmad bin Hambal berkata “Orang yang dianggap seperti itu tadi
tidak layak mengeluarkan fatwa.
> 3 2 5
Antara Orang^orang Zuhud dan Fuqaha’
Di antara talbis Iblis terhadap orang-orang zuhud, mereka biasa
melecehkan para ulama dan mencelanya. Mereka berkata, “Yang dimaksut.
ilmu adalah amal.” Mereka tidak paham bahwa ilmu itu merupakan cahay:.
hati. Andaikan mereka tahu martabat ulama dalam menjaga syariat, dan itu
sama dengan martabat para nabi,̂ ^ tentu mereka akan melihat dirinya sepert
orang biasa di hadapan orang yang fasih bicaranya, atau seperti orang buta
di hadapan orang yang bisa melihat. Ulama adalah para penunjuk jalan.
sementara orang-orang ada di belakangnya. Kalau pun mereka berjalan
sendirian, maka dia juga selamat.
Dari Saht bin Sa’d, bahwa Nabi 0bersabda kepada AH,
“Demi Allah, lebih baik bagimu jika Allah memberikan petunjuk kepada
seseorang lewat dirimu, daripada keledai yang paling bagus." (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)
Di antara perkara yang dicela orang-orang zuhud pada diri ulama,
karena para ulama itu memberikan kelonggaran dalam hal-hal yang mubah,
yang dikuatkan berdasarkan kajian ilmu. Mereka juga mencela karena para
ulama mengumpulkan harta. Andaikata orang-orang zuhud itu memahami
makna mubah, tentu mereka tidak akan mencela orang yang melakukan hal
mubah. Yang pasti, mereka merasa lebih hebat daripada orang lain. Lalu
layakkah orang yang mengerjakan shalat malam mencela orang yang
mengerjakan shalat fardhu atau tidur? Yang lebih celaka lagi tentang celaan
yang datang dari orang zuhud yang bodoh, dia melihat keutamaan sebagai
kewajiban. Seharusnya orang zuhud belajar dari para ulama. Jika tidak mau
belajar, lebih baik diam saja.
Dari Malik bin Dinar dia berkata, “Sesungguhnya setan itu bermain-
main dengan qari’, sebagaimana anak kecil yang bermain-main dengan bola.”
Karena tnasalah fatwa merupakan masatah yang sangat urgen, yang justru seringkali dirancukan
manusia. Karena itu masalah fatwa ini harus dilakukan secara hati-hati dan ditekuni.
Sebagaimana yangdisebutkandidalamhadits, “Para ulama itu adalah pewarispada nabi. (Diriwayatkan
Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban). Di dalam sanadnya ada yang dha’if. Tetapi
dikuatkan jalan lain yang diriwayatkan Abu Daud.
2 2 6 Perangkap Setan
Yang dimaksudkan

