malan penghuni Api, sehingga dia mati
beserta amalan penghuni Api dan dengan itu Allah memasukkan dia ke
dalam Api.""
Yahya meriwayatkan kepada saya dari Malik bahwa dia mendengar
Rasulullah saw berkabda, 'Aku meninggalkan dua perkara bersama kalian.
Selama kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat.
Keduanya yaitu al-Qu'ran dan as-Sunnah."
Yahya meriwayatkan kepada saya dari Malik dari Ziyad bin Sa'd dari Amr
bin Muslim bahwa Tawus al-Yamani berkata, "Saya mendengar dari
beberapa orang sahabat Rasulullah saw berkata, 'Segala sesuatu di bawah
takdir.'" Tawus menyambung, "Saya mendengar Abdullah bin Umar ra
berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Segala sesuatu di bawah
takdir -termasuk ketidak-mampuan dan kemampuan' (atau 'kemampuan
dan ketidak-mampuan')." (al-Muwatta' dari Imam Malik:46.1.2-4)
Allah berfirman di al-Qur'an:
Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.
(Qur'an: surat as-Shaaffaat 96)
Kejahilan mentah-mentah kepada perkara-perkara tadilah yang menyebabkan
kafir tidak saja hanya mengandalkan perbuatannya sendiri dan bukan mengandalkan
Allah -Sumber segala perbuatan -tapi juga berasuransi untuk berjaga-jaga atas apa
yang dalam peristilahan asuransi kafir didefinisikan sebagai 'risiko'. Padahal pada
kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang disebut risiko, begitu pula tidak ada
sesuatu pun yang disebut keberuntungan. Rahmat Allah lebih besar daripada
murkaNya, dan jalan Islam yaitu sarana untuk merasakan rahmatNya dan
menghindari murkaNya.
Hakikat dari sistem bisnis asuransi kafir, dan begitu pula dengan seluruh sistem
keuangan kafir yaitu , sistem-sistem itu dirancang dengan cermat untuk
menyempurnakan keterlibatan sebanyak mungkin manusia ke dalam sistem
produsen-konsumen, dan demi mengeruk uang sebanyak mungkin dari keterlibatan
itu.
Sistem asuransi berperan penting dalam kelangsungan bursa-bursa komoditi
yang menjual-belikan bahan baku hasil pertambangan, pertanian dan peternakan,
dalam jumlah besar dan di masa depan (futures trading). Bursa menjual-belikan hasil
pertanian yang belum ditanam, buah-buahan yang masih mentah, bahan logam yang
belum ditambang, dan binatang ternak yang belum lahir. Dengan berdagang di masa
depan, laba akan meningkat, sementara kerugian yang mungkin terjadi akibat
peristiwa-peristiwa yang belum terjadi, dapat dijaga dengan asuransi. Dan
premi-premi asuransi itu dibayar dengan keuntungan besar yang diperoleh dari selisih
harga -sebab harga yang dibayar di muka kepada para produsen komoditi yang
belum ada akan jauh lebih murah dibanding dengan harga yang mesti dibayar untuk
membeli secara kontan komoditi yang telah ada.
Inilah contoh lain bagaimana sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, menciptakan suatu
pola kegiatan yang sama sekali tak perlu demi mengeruk uang. Para pemenang
yaitu mereka yang mengatur pasar bursa dan memiliki perusahaan asuransi. Para
pecundang yaitu khalayak di dasar piramida perusahaan -yang sebenarnya
melaksanakan seluruh pekerjaan beratnya.
Alasan di balik pola kegiatan jual-beli di masa yang akan datang ini -suatu
kegiatan yang terlarang untuk Muslimin -bukan semata-mata keserakahan, tapi juga
sebab rasa gelisah yang mengakar atas nafkah. Muslim yang tidak memiliki
kegelisahan ini dan hanya berjual-beli barang yang sudah ada, sesuai dengan jalan
hidup Muhammad saw, yang menegaskan, pertama, bahwa perjual-belian di masa
depan seperti itu haram, -yaitu terlarang sebab tidak bermanfaat -dan kedua,
seorang pedagang tidak dibenarkan untuk mengambil rabat lebih dari tigapuluh
persen atas barang-barang pokok dan komoditas -agar khalayak tidak mungkin bisa
diperas. sebab Muslim hanya berjual-beli di masa sekarang, bukan di masa depan,
dan sebab dia yakin kepada Allah, dan percaya kepada sesama Muslim yang
berjual-beli dengannya, maka nyatalah bahwa di dunia bisnis Muslim asuransi sama
sekali tidak diperlukan.
Seandainya asuransi kafir bukan perangkat untuk mengeruk uang dari khalayak,
maka pasti perusahaan-perusahaan asuransi tidak akan pernah berdiri. Jumlah uang
yang siap mereka bayarkan, dan keadaan serta persyaratan pembayaran itu, telah
diperhitungkan secara cermat supaya jumlah total pembayaran itu jauh lebih kecil dari
jumlah premi-premi yang diterima dan ditanam -dan tentunya kalau pun terjadi
'bencana' berskala besar yang sebenarnya sangat kecil kemungkinannya, namun
tetap diasuransikan, yang berakibat semua perhitungan tentang kemungkinan di
masa depan ternyata tidak bermanfaat, maka segera dibutuhkan akrobat pakar dan
penyusunan ulang untuk menyelamatkan perusahaan asuransi ini .
sebab keuntungan-keuntungan besar yang diperolehnya, maka
perusahaan-perusahaan asuransi mampu memanfaatkan proses hukum perdata
untuk kepentingannya sendiri, baik dengan mempekerjakan pakar-pakar hukum untuk
mencapai keputusan peradilan yang menyenangkan sebab membatasi
kewajiban-kewajiban mereka dalam klaim-klaim yang masih diperselisihkan, atau
dengan menawarkan sejumlah bayaran yang jauh lebih kecil dari pada yang
seharusnya -sebab perusahaan asuransi paham bahwa orang atau perusahaan
nasabahnya, tidak akan mampu menyeret mereka ke meja hijau, dan dengan
demikian nasabah harus mau menerima apa pun yang ditawarkan perusahaan
asuransi dengan menyepakati semua persyaratan yang mereka berikan. Sedangkan,
bila kedua pihak yang berselisih mampu membawa perkaranya ke pengadilan, maka
hal ini akan melanggengkan pekerjaan para petugas proses hukum perdata. Inilah
contoh lain bagaimana keterkaitan di antara sub-sub sistem di sistem kafir, yaitu
sistem Dajjal, memastikan kesibukan satu sama lainnya dengan saling memberikan
pekerjaan.
Begitu seseorang atau sebuah perusahaan membeli polis asuransi, atau
misalnya, menandatangani perjanjian sewa beli atau angsuran rumah, atau
meminjam uang dari bank, maka ini berarti, orang atau perusahaan ini harus
semakin memantapkan diri untuk terus bekerja di sistem produsen-konsumen, agar
mampu membayar premi-premi, maupun cicilan-cicilan, maupun angsuran-angsuran,
bahkan pelunasan overdraft mereka masing-masing. Semakin anda berasuransi,
maka semakin berat beban keuangan anda, dan anda harus bekerja semakin keras
agar bisa membayarnya, akhirnya semakin dalam anda terperosok dan diperbudak
oleh sistem produsen-konsumen.
Sistem-sistem media dengan pengaruh yang sangat menghancurkan,
digunakan tidak hanya untuk menggalakkan khalayak berbelanja, tetapi secara lebih
khusus, agar khalayak hidup melampaui kemampuan dan mau berhutang. Begitu
mereka masuk perangkap hutang, maka sangatlah mudah untuk menciptakan uang
dari nihil, yaitu dengan menerapkan bunga atas hutang itu. Dengan kata lain, anda
bisa mendapatkan beberapa belanjaan yang dijanjikan sistem kafir yaitu sistem Dajjal,
sekarang, tetapi tebusannya anda harus membayar lebih tinggi dibanding harga yang
seharusnya -yaitu bila anda mampu membayar kontan pada saat pembeliannya.
Tujuan utama aneka muslihat "ambil sekarang, bayar nanti" yaitu untuk
menciptakan hutang-hutang, sebab dengan adanya hutang maka bunga bisa
dikenakan. Bahkan, transaksi semacam ini pun mendorong pembeli untuk
mengasuransikan barang-barang yang dibelinya, apalagi bila barang itu mahal,
sebab tak ada yang lebih gondok dibanding dengan membayar terus angsuran
sesuatu yang sudah tak berharga atau tercuri, apalagi bila anda harus membayar
bunga untuk mendapatkan barang itu! Tetapi apa pun barang itu, sebenarnya tipis
kemungkinannya hingga kehilangan harganya. Walhasil, anda tidak saja harus
membayar bunga dari pinjaman awalnya, tetapi juga harus membayar biaya
tambahan untuk asuransinya.
Dengan metode-metode penggembungan harga-harga barang di masyarakat
kafir, para elit pengendali freemason menjamin agar khalayak yang dikendalikannya
akan tetap diperbudak oleh sistem produsen-konsumen, sembari mengeruk untung
dari mereka.
Hidup terpuruk dalam hutang yang melampaui batas menyebabkan banyak
orang berjudi, sebab hanya mukjizat kemenanganlah yang dapat menghapus
hutang-hutang yang terus membesar. Akibatnya tentu sebagian besar penjudi akan
semakin terperosok dalam hutang yang lebih banyak lagi -sebab segala macam judi
hanya diadakan untuk mengeruk uang para penjudi, bukan untuk membantu mereka.
Akhirnya kebanyakan orang akan mencari uang bukan untuk membayar
hutang-hutangnya, tetapi asal cukup untuk melayani hutangnya, yaitu agar dapat
membayar angsuran-angsuran wajib per bulannya. sebab mereka mencapai keadaan
"tak mungkin menang -tak mungkin menghindar", maka kebanyakan dari mereka
akan terdorong untuk berasuransi terhadap kemungkinan ketidakmampuan mereka
menunaikan kewajiban-kewajiban pembayaran hutangnya -gara-gara mereka sakit
atau kehilangan pekerjaan.
Walhasil kini, hampir semua hutang semakin ditingkatkan dengan penambahan
premi-premi untuk polis-polis "perlindungan" seperti ini.
Kegiatan-kegiatan gabungan berbagai lembaga keuangan kafir membuat
pengumpulan lautan harta menjadi kenyataan. Hanya dengan premi bulanan sebesar
1 dolar dari sejuta pemegang polls kecil-kecilan, perusahaan asuransi akan
menangguk uang sebesar 12 juta dolar untuk dimainkan. Pada negara-negara kafir
yang rumit di High Tec North, di mana hampir setiap jenis kegiatan melibatkan
sebentuk asuransi atau lebih, tentu harta yang terkumpul tidak sekedar berjuta-juta,
tetapi bahkan akan mencapai ratusan ribu juta milyaran. Tentunya apa yang telah
digambarkan mengenai perusahaan asuransi kafir ini, berlaku juga pada
perusahaan-perusahaan sewa-beli kafir, lembaga-lembaga kreditor perumahan kafir,
dan terutama pada bank-bank kafir.
Di antara semua lembaga keuangan kafir, yang paling banyak mengumpulkan
harta yaitu bank kafir, sebab mereka tidak saja rnembebankan bunga atas
pinjaman, tetapi mereka pun menggalakkan khalayak untuk menyimpan uangnya (jika
ada kelebihan), dan agar kelebihan itu dideposito dalam bank. Walaupun bank
membayarkan bunga atas deposito, tentu uangnya ditanam di tempat lain dan
menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang harus mereka bayarkan. Apalagi,
mereka pun punya lebih banyak lagi uang menganggur dari rekening-rekening giro
untuk dimainkan, dan atas uang ini mereka tidak harus membayarkan bunga. Maka
hasil apa pun yang mereka peroleh dari penanaman uang-uang rekening giro, yaitu
murni keuntungan semata. Bank-bank telah menemukan bahwa rata-rata, untuk
setiap 13 rupiah yang berdiam di bank, maka permintaan gabungan dari semua
nasabah selalu hanya sebesar 1 rupiah tunai. Ini menyisakan 12 rupiah dari 13 rupiah
itu untuk dimainkan oleh bank.
Jumlah total uang yang bisa dimainkan oleh bank sungguh menakjubkan,
sebab hampir semua lembaga keuangan kafir lainnya, beserta semua perusahaan
dan badan usaha, dan tentunya sebagian besar khalayak, menyimpan uangnya di
bank. Bank yaitu alat untuk mengumpulkan lautan harta -misalnya, dari setiap 13
milyar rupiah yang ada pada mereka, mereka bebas untuk menanamkan 12 milyar
rupiah tidak saja untuk mencari keuntungan, tetapi juga, yang lebih penting, yaitu
untuk mendanai dan membantu rekayasa sosial apa pun yang sedang menjadi
agenda politiknya. Tanpa bank-bank, tata dunia baru tidak mungkin terwujud.
Bank-bank dikendalikan oleh para freemason. Perusahaan-perusahaan raksasa
dalam proses produsen-konsumen kafir, yaitu sistem Dajjal, dikendalikan oleh para
freemason. Pemerintahan-pemerintahan negara-negara kafir dikendalikan oleh para
freemason. Artinya para freemason mempunyai wewenang untuk memakai
lautan harta yang dikumpulkan oleh bank-bank untuk mendanai proyek-proyek yang
akan memberikan pekerjaan-pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan raksasa
mereka, dan tentunya, kegiatan-kegiatan ini akan didukung oleh keputusan resmi dari
pemerintah dan diizinkan oleh sistem hukum kafir.
Proyek-proyek besar yang mempengaruhi kehidupan semua orang yang bekerja
di dalamnya itu, ditetapkan atas mereka semua, tanpa bertanya apakah itu
benar-benar yang mereka inginkan atau tidak. Proyek mulai dijalankan, dan mereka
yang bekerja di dalamnya bekerja sebab memerlukan uang, bukan sebab mereka
mempercayai proyek itu. Tentu saja para elit pengendali freemason akan menentukan
proyek-proyek apa yang akan menguntungkan mereka. Padahal kenyataannya,
proyek apa pun akan menguntungkan mereka, pertama, sebab para pekerjanya
dibayar kurang dari jumlah yang telah diterima perusahaan-perusahaan yang
memperkerjakan mereka, kedua, sebab uang yang diterima para pekerja harus
melalui bank -di mana bank akan memakai berapa pun sisa uang nasabahnya
untuk mendanai proyek yang lainnya lagi.
Sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, yaitu sebuah sistem yang rnelestarikan dirinya
sendiri. Begitu ada khalayak yang bekerja di dalamnya dan untuknya, kegiatan
mereka akan menciptakan kegiatan lainnya, dan semua kegiatan ini menghasilkan
uang. Perusahaan-perusahaan raksasa itu sebenarnya tidak benar-benar ada.
Mereka hanya merupakan kedok efektif untuk menyamarkan kegiatan-kegiatan para
freemason yang mengendalikannya, dan sebagai bangunan maya yang
memerangkap khalayak pekerjanya. Dengan memakai perusahaan-perusahaan
kafir raksasa ini sebagai ujung tombaknya, para freemason menyalurkan lautan harta
yang dikendalikannya guna mendanai proyek-proyek sosial yang akan menjamin
kelanggengan keuntungan dan kekuasaan mereka sendiri, yang juga akan menjamin
kelanggengan penghambaan orang-orang yang terjerat bekerja pada proyek-proyek
sosial itu,
Dilihat dari sudut ini, jelaslah bahwa sistem perpajakan kafir pun sebenarnya
hanyalah bagian lain dari sistem keuangan kafir, yang bertugas untuk memastikan
agar khalayak tidak punya terlalu banyak uang untuk dimainkan, sehingga sebab itu
mereka terpaksa harus terus bekerja dalam proses produsen-konsumen kafir, sebab
pajak-pajak telah dikumpulkan -dan jumlah keseluruhan dan hasilnya disamarkan
dengan meragamkan nama-nama pajak, dan dengan memajak tidak saja dari
pendapatan, tapi juga dari transaksi apa pun di mana ada dana yang bertambah atau
berpindah, dan di mana terdapat suatu jasa atau benda dibeli atau dimanfaatkan
-uang yang telah terkumpul itu kemudian bisa digunakan untuk mendanai
proyek-proyek sosial pilihan para elit penguasa freemason sendiri, Sebagai contoh,
pemerintah yang dikendalikan freemason akan memberikan kontrak menggiurkan
kepada perusahaan pengembang yang dikendalikan oleh freemason, untuk
membangun bangunan-bangunan yang diperlukan untuk menaungi semua kegiatan
infrastruktur birokrasi yang digunakan pemerintah untuk mengumpulkan pajak-pajak
yang diperlukan untuk mengendalikan negara yang dikuasainya.
Dalih yang menyatakan bahwa sebab pemerintah diangkat oleh rakyat, maka
pasti kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah yaitu apa yang diinginkan dan
didukung rakyat, yaitu omong kosong. Pertama, sebab pemerintahan yang dipilih
rakyat bukanlah pemerintah yang sebenarnya, melainkan hanya pemerintahan
boneka, untuk mengalihkan perhatian khalayak dari para elit penguasa yang
sebenarnya, yaitu para freemason. Kedua, hakikat dari sebuah proses pemilihan yang
"demokratis" kini yaitu , bahwa pemerintahan boneka tadi selalu diangkat oleh kaum
minoritas dari jumlah rakyat yang tinggal di negara kafir ini , walaupun
pemerintahan itu hasil pemilihan umum dari kaum mayoritas yang cukup peduli untuk
memberikan suaranya.
Begitu banyak orang tidak punya kepedulian untuk memberikan suaranya,
sebab mereka setidaknya mempunyai secuil kecurigaan bahwa sebenarnya dalam
perkara itu mereka tidak punya pilihan sama sekali. Mereka hanya dihadapkan pilihan
yang terbatas yang nampaknya baik-baik semua, biasanya tak lebih dari dua, dan
keduanya mengumbar janji-janji yang biasanya tak pernah ditepati, dan tak satu pun
dari para calon itu yang benar-benar mewakili aspirasi orang-orang yang akhirnya
memilih calon itu, semata-mata sebab memang tidak ada calon lain yang bisa dipilih.
Melalui sistem media, khalayak digalang untuk memilih dan memberikan suaranya,
dengan alasan, sebab ini negeri mereka, maka sudah sepatutnya mereka memilih
siapa yang bakal memimpinnya, padahal nyatanya khalayak hanya bisa memilih
sesiapa yang namanya tercantum dalam lembar pemilihan -dan mereka yang
namanya bisa tercantum dalam lembar pemilihan hanyalah orang-orang yang secara
rahasia atau secara tak sadar mendukung kegiatan para elit penguasa freemason,
dan sebaliknya didukung pula oleh para freemason, sebab tidak mungkin
menjalankan kampanye pemilihan yang sukses tanpa bantuan media yang semuanya
membutuhkan biaya yang sangat besar.
Siapa pun yang dipilih rakyat, atau bahkan kalau pun mereka tidak memberikan
suaranya -yang artinya mereka tak ingin dipimpin oleh satu pun dari calon-calon yang
disajikan -tetap saja pemerintahan bakal terpilih, dan kekuasaan yang sebenarnya
memimpin di belakang layar panggung pemilihan umum, yaitu para elit penguasa
freemason, tetap berkuasa. Tentu ada pula negara-negara kafir yang tidak merasa
perlu mengadakan pemilihan umum. Sebagai gantinya sang pemimpin boneka
mengaku bahwa kepentingan-kepentingan rakyat bersemayam di sanubarinya, dan
sebagai bukti boleh saja negaranya disebut "republik rakyat", walaupun ungkapan
yang tak bermakna ini tidak akan mengubah apa pun.
Kini, mereka yang benar-benar memerintah negara-negara kafir, yaitu mereka
yang mengendalikan lembaga-lembaga keuangan dan badan-badan usaha kafir,
yaitu para freemason. Para freemason lah yang menentukan apa yang bakal dijadikan
proyek-proyek sosial. Badan-badan usaha yang dikendalikan oleh para freemason
menjalankan proyek-proyek ini , seraya memperbudak kaum pekerja di dalam
proyek-proyek itu. Proyek-proyek ini didanai oleh lembaga-lembaga keuangan yang
dikendalikan para freemason.
Inti lembaga keuangan kafir yaitu sistem perbankan, sebab sistem inilah yang
mengelola darah dan nyawa proses produsen-konsumen: uang, Pentingnya sistem
perbankan dapat dilihat dari kenyataan bahwa sistem ini tidak saja mem-ermudah
transaksi dana secara nasional, tetapi juga memungkinkan terjadinya transaksi di
antara negara-negara berbeda dengan mata uang yang berbeda. Akibat dari
transaksi-transaksi internasional ini yaitu , uang itu sendiri menjadi komoditi.
Sebagaimana uang dapat dicipta dari nihil melalui pemungutan komisi setiap kali satu
mata uang ditukar ke mata uang lainnya, uang juga dapat dicipta dengan sekedar
membeli dan menjual berbagai mata uang dalam selang-selang waktu yang strategis.
Transaksi-transaksi ini sangat ajaib sebab biasanya tidak ada uang yang berpindah
tangan, tapi dengan membeli dan menjualnya di hari yang sama, laba bisa saja
diperoleh dan direkam dalam komputer di bank.
Kegiatan ini serupa dengan apa yang terjadi di bursa saham, yaitu tempat di
mana badan-badan usaha swasta dan pemerintah bisa mendapatkan modalnya,
dengan menjanjikan bagi basil (bunga) kepada para pemegang saham saat uang itu
secara efektif digunakan perusahaan yang meminjamnya.
Mendapatkan modal dengan cara ini sangat menarik bagi perusahaan swasta
maupun pemerintah, sebab akhirnya cara ini bisa jadi lebih murah daripada
meminjamnya dari bank. Meminjamkan uang dengan cara ini lebih menarik bagi
pemegang saham, sebab jika perusahaan ini memperoleh laba besar, maka
bagi hasil per tahun akan lebih besar daripada seluruh bunga majemuk yang tekumpul
andaikan uang itu didepositokan di bank.
Kemudian yang terjadi yaitu , bagai mata uang, maka saham-saham pun bisa
menjadi komoditi juga. Saham bisa dibeli dan bisa dijual. Anda bisa
memperjualbelikan saham sebab berbagai alasan. Misalnya, untuk memperoleh atau
melepaskan pengendalian atas perusahaan yang menerbitkan saham itu. Ini bisa
terjadi sebab , jika anda mendanai sebagian besar keuangan perusahaan maka anda
memiliki hak untuk memutuskan bagaimana perusahaan itu dijalankan. Dan tentu saja
para freemason punya maksud untuk mengendalikan semua perusahaan penting, toh
merekalah satu-satunya pihak yang punya cukup dana untuk mencapai maksud itu.
Artinya, melalui sistem pengendalian perusahaan seperti ini, yaitu dengan cara
menguasai sebagian besar sahamnya, maka para freemason dapat mengambil-alih
siapa saja yang mereka kehendaki, hanya sebab merekalah yang mampu membayar
berapa pun untuknya. Begitu mereka memiliki cukup saham agar bisa
mengendalikan, maka langsung orang-orangnya akan ditempatkan di perusahaan itu.
Beginilah salah satu wujud pengambil-alihan Dajjal.
Biasanya, alasan memperjual-belikan saham bisa sekedar untuk memperoleh
uang dengan menanamnya secara bijak, atau agar memperoleh uang dengan cepat
bila anda memerlukannya (dengan menjual saham-saham itu). Alasan lain untuk
memperjualbelikan saham yaitu untuk memperoleh laba cepat tanpa harus berpisah
dengan sepeser pun dalam setiap tahap transaksi. Sebagaimana perjudian yang
terjadi di pertukaran mata uang, semua kejadian ini terjadi di atas kertas, atau
(misalnya) di layar komputer via Internet. Salah satu siasat favorit yaitu dengan
membeli saham-saham -walaupun anda tidak ada uang untuk pembeliannya -dan
berharap untuk dapat menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi, sebelum
saat pembayaran anda tiba. Cara lainnya yaitu , anda bisa saja menjual saham yang
sebenarnya tidak anda miliki, dengan harapan bahwa anda dapat membeli saham
ini dari orang lain dengan harga lebih rendah dari jumlah yang bakal anda
dapatkan, dan tentunya dengan harapan bahwa anda bisa membeli saham-saham
yang lebih murah itu sebelum tiba waktu anda harus "memindah-tangankan"
saham-saham yang belum anda miliki itu kepada pembeli aslinya. Dengan cara yang
mana pun, keuntungan besar dapat diperoleh tanpa modal sedikitpun, kecuali
kemahiran berakrobat di saluran-saluran telepon. Tentu saja, seperti para freemason,
jika anda sudah punya modal besar yang bisa anda mainkan kapan saja di mana saja,
maka anda bisa jual-beli saham dengan mudah, seraya berharap bahwa kekuatan
pasar pada akhirnya akan memudahkan anda menjual di atas harga belinya, atau
memudahkan anda membeli di bawah harga jualnya nanti,
Perebutan kekuasaan atas pengendalian sistem produsen-konsumen kafir, yaitu
sistem Dajjal , berlangsung dalam ajang komoditi, saham dan penukaran mata uang.
Dan dari perebutan kekuasaan inilah didapat keuntungan. Jadi sebenarnya, bahkan di
puncak piramida produsen-konsumen pun prinsip memecah-belah lalu menguasai
tetap berlangsung. Pembelahan utamanya yaitu antara siapa yang mengendalikan
dan siapa yang dikendalikan. Dalam kerangka keuangan hal ini sama dengan: siapa
yang meminjamkan (kreditur) dan siapa peminjamnya (debitur).
Perusahaan baru macam mana pun perlu meminjam uang agar dapat tumbuh.
Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang banyak, yaitu dengan meminjam
dari satu sumber kemudian datang ke sumber kedua untuk meminjam lebih banyak
lagi -dengan menjadikan pinjaman yang pertama itu sebagai agunan. Ini
mengakibatkan uang anda bisa berlipat ganda dari nihil, kemudian anda datang ke
sumber ketiga untuk meminjam uang yang lebih banyak lagi, dengan mengagunkan
uang pinjaman yang anda sudah kumpulkan sebelumnya. Oleh sebuah perusahaan
yang cukup besar yang punya kelayakan kredit yang bagus, proses itu biasanya dapat
dijalankan sampai 8 kali berturut-turut. Dengan terkumpulnya dana yang cukup
melalui cara tadi, perusahaan itu pun kemudian harus meniti sebuah usaha yang akan
dapat memberi keuntungan yang cukup untuk melunasi semua pinjaman beserta
bunganya masing-masing. Dan agar bisa melakukan ini, para pengendali perusahaan
harus bersikap kejam, dan memang demikianlah tabiat semua perusahaan yang
sukses.
Ada kalanya, sebuah perusahaan sukses sudah bisa menghasilkan cukup
banyak kegiatan usaha, dan sudah mengumpulkan cukup dana sehingga tidak perlu
berhutang lagi. Pada tahap seperti ini, perusahaan itu bisa mulai mengambil-alih
perusahaan-perusahaan kecil lainnya, baik melalui kesepakatan bersama maupun
melalui kelihaian di lantai bursa saham. Maka akan tiba suatu masa di mana, sebuah
perusahaan raksasa telah mengumpulkan cukup banyak dana di cukup banyak
negara-negara yang berbeda, sehingga memungkinkan ia memiliki sistem
perbankannya sendiri, yang berdiri-sendiri tetapi tidak bersaing dengan sistem
perbankan internasional yang utama. Pada akhirnya, „bank‟ milik perusahaan
multi-nasional ini ada dalam kedudukan untuk memburu semua kegiatan
menguntungkan, yang dinikmati oleh perbankan kafir secara keseluruhan -seperti
memberi pinjaman berbunga dan mendanai proyek-proyek menguntungkan -seraya
melepaskan perusahaannya dari semua kewajiban yang membebaninya, jika
perusahaan itu masih bergantung pada sistem perbankan kafir -misalnya, kewajiban
untuk membayar biaya bank setiap kali dana dalam jumlah besar harus dipindahkan
dari satu negara ke negara lainnya, atau harus manut pada peraturan yang
mengendalikan pertukaran uang, atau harus membayar bunga pinjaman
proyek-proyek barunya.
Dengan 'bank-bank' miliknya sendiri, perusahaan-perusahaan multi-nasional
memastikan keleluasaan geraknya. Dan sebab antara mereka dengan sistem
perbankan kafir yang utama tidak ada persaingan, sebab semua elit penguasanya
yaitu para freemason, maka uang yang dikeluarkan oleh semua perusahaan
multi-nasional itu, lambat-laun akan menemukan jalan masuk ke sistem perbankan
utama, yang akan membuat uang itu tumbuh dengan meminjamkan 12 per 13 darinya
secara berbunga, atau dengan menanam sebagian dari uang itu di bursa saham.
Pada tahap ini, sistem perbankan kafir utama tak ada henti-hentinya dapat
menciptakan uang dari nihil. Pertama, sebab uang hasil pengenaan bunga bisa
dipinjamkan lagi dan akan menghasilkan bunga-bunga tambahan, proses ini bisa
berlaku terus ad infinitum (hingga tak berhingga), Dan kedua, sebab misalnya
seseorang meminjam 1 juta rupiah, kemungkinan besar ia akan menyimpan sebagian
dari pinjaman itu di bank, maka walaupun bagi si peminjam uang itu yaitu sebuah
jumlah yang "negatif" alias bukan benar-benar miliknya -sebab jumlah itu toh pada
akhirnya harus ia kembalikan lagi -namun bagi bank jumlah itu yaitu jumlah yang
"positif", dalam arti bahwa 12 per 13 darinya bisa dipinjamkan lagi ke pihak lain, atau
bisa ditanamkan lagi. Proses ini pun bisa berlangsung ad infinitum.
Sejauh perhatian transaksi-transaksi "masyarakat umum", praktek-praktek
perbankan yang baru disebutkan nampaknya tak berarti, walaupun sebenarnya, jika
seluruh transaksi-transaksi kecil di dunia digabungkan, tentulah sistem perbankan
pun memperoleh laba yapg lumayan besarnya. Praktek-praktek perbankan
sedemikian menjadi berarti dalam transaksi-transaksi internasional yang besar.
Dalam waktu yang singkat, pinjaman beberapa juta dollar atau pound saja dapat
menumbuhkan bunga yang besar pula. Ini berarti ketergantungan debitur kepada
bank kreditur juga membesar. Ini juga berarti bahwa lautan harta bank kreditur yang
dikumpulkan dengan cara melipat-gandakannya melalui pengenaan bunga atas
pinjaman, akan bertambah dengan begitu cepat sehingga tak penting lagi apakah
suatu pinjaman bisa terlunasi atau tidak. Tak seorang pun di bank akan kelaparan jika
pinjaman tidak dikembalikan. Namun yang terpenting yaitu , bahwa bank
berkedudukan untuk mendikte peminjamnya, mengenai persyaratan apa yang bisa
menghapuskan kewajiban pembayaran bunga atau pinjaman atau keduanya, bahkan
bank memperoleh kedudukan yang lebih kuat untuk menentukan
persyaratan-persyaratan lebih lanjut untuk peminjaman selanjutnya, misalnya dalam
hal, ke mana atau pada proyek-proyek apa pinjaman-pinjaman baru boleh
ditanamkan. Akhirnya, melalui penciptaan hutang-hutang, bank bisa mengendalikan
siapa pun yang meminjam uang.
Perwujudan pemungkas gejala penyakit "pengendalian melalui hutang" dan
"dorongan melalui ketakutan" ini, dapat kita simak dari kegiatan International
Monetary Fund dan World Bank. Lazimnya, IMF meminjamkan uang kepada
negara-negara "berkembang" High Tec North, sedangkan World Bank meminjamkan
uang kepada negara-negara dunia "ketiga", yaitu negara-negara "belum berkembang"
dari Poor South. Kedua lembaga keuangan ini uangnya berlimpah, setidaknya di atas
kertas -atau dalam komputer -yang sebenarnya tidak mempunyai makna sebagai
uang sebenarnya, Namun arti yang sesungguhnya yaitu bagaimana pengendalian
atas semua pemerintahan di dunia -sebab kini, tidak ada satu pun pemerintahan di
dunia yang tidak terbelit hutang -sebab begitu sebuah pemerintahan terbelit hutang,
maka pemerintahan itu dapat diatur bagaimana cara mempergunakan uang yang
akan dipinjamkan kepada mereka; dan mereka dapat disetir bahwa jika mereka
melakukan "ini" maka akan disediakan lebih banyak lagi dana untuk dipinjam; dan
sebaliknya bila mereka melakukan "itu" maka tak ada lagi dana untuk dipinjam.
Inilah siasat utama bagaimana usaha elit freemason penguasa sistem kafir, yaitu
sistem Dajjal, untuk menguasai dunia. Sistem perbankan yang dikendalikan
freemason meminjamkan uang ke setiap pemerintahan, dan akan terus memberikan
pinjaman walau pun hutang negara itu sudah begitu besar -tak punya harapan lagi
untuk dapat melunasi seluruh hutang ini -dengan syarat negara itu hams
menaati apa yang diperintahkan pada mereka. Inilah kenyataan dari apa yang disebut
sebagai neo-kolonialisme. Walau dinyatakan bahwa sebuah negara telah diberikan
apa yang katanya kemerdekaan, sesungguhnya kemerdekaan itu hanya akan
diberikan jika negara ini sudah sepenuhnya terlibat dalam proses
produsen-konsumen kafir, dan sudah sepenuhnya bergantung pada sistem
perbankan kafir untuk mendanai proses ini .
Sebagian besar hutang nasional negeri-negeri non-Muslim diciptakan dan
dikembangkan pada abad kedelapanbelas dan abad kesembilanbelas, sedang
hutang nasional negeri-negeri Muslim diciptakan selama abad keduapuluh ini,
sebagian besar berkat hasil karya Jamal‟ud-Din Al-Afghani, Muhammad Abdou, dan
Rashid Reda, setelah mereka diberikan kehormatan semu untuk menjadi anggota
wisma freemason Lord Cromer -Lord Cromer yaitu anggota keluarga bank Barings
yang menghebohkan itu -mereka berhasil "membujuk" (kebanyakan melalui suap dan
ajaran-ajaran Islam yang telah diselewengkan) penguasa-penguasa Muslim pada
masa itu untuk menerima bahwa beberapa jenis bunga tertentu "tidak haram", dan
bahwa memakai uang kertas tidak saja "halal" malah dianjurkan -dengan
demikian semua ini melancarkan masuknya sistem bank yang mutlak haram ke
wilayah-wilayah muslim, atas nama kemajuan, perkembangan dan modernisasi.
sebab semua hutang nasional telah diatur sedemikian rupa sehingga tidak
akan pernah bisa dilunasi -bahkan hutang nasional Inggris, yang dimulai dengan
pinjaman sebesar 1,2 juta pound kepada Raja William dari Orange, secara sengaja
diatur berdasar pengguliran tahunan (annuiti) yang tak bisa dihapus -dan dengan
penerapan bunga majemuk serta tambahan-tambahan pinjaman yang selalu terjadi
saat perang, maka tentu semua hutang nasional akan selalu bertambah besar -dan
pada saat artikel ini ditulis, hutang nasional Inggris kini hampir mencapai 300 milyar
pound -maka salah satu akibat yang tak terelakkan yaitu berlakunya pemajakan
atas khalayak di semua negara kafir di dunia, dan pajak-pajak ini dari waktu ke waktu
terus meningkat -itulah mengapa saat ini khalayak yang memberikan suara
cenderung memilih siapa pun yang berjanji untuk memungut pajak terkecil.
Inilah sebenarnya dasar ekonomi "demokrasi modern": sebuah negara yang
pemerintahnya dipilih untuk melayani hutang nasional, dengan mernajak para pemilih
umum. Inilah kenyataan gejala-gejala penyakit "pengendalian melalui hutang" dan
"dorongan melalui ketakutan". Inilah dasar tata dunia baru. Pengendalian ekonomi
zalim yang disamarkan debat politik liberal.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kini, mereka yang sebenarnya mengatur
negara-negara kafir bukanlah para politikus yang muncul di televisi, tetapi yang
sebenarnya berkuasa yaitu mereka yang mengendalikan lembaga-lembaga
keuangan dan bisnis yang utama, yaitu para freemason. Pengendalian yang efektif
khususnya dilaksanakan dengan memakai sistem perbankan kafir untuk
menciptakan hutang yang berbunga, yang berkembang sedemikian besarnya
sehingga tidak akan bisa dilunasi. Seperti yang telah kita ketahui, para freemason,
dalam rangka mempercepat proses penciptaan hutang, menyulut keadaan-keadaan
pertikaian yang bisa mendatangkan laba dengan menjual barang-barang -khususnya
persenjataan dan makanan -kebutuhan pihak-pihak yang terjebak dalam pertikaian
dengan harga yang tinggi, dan dari situlah hutang-hutang tercipta, yaitu dengan
memberikannya sebagai hutang yang berbunga.
Pertikaian yang direkayasa oleh para freemason bermacam-macam, mulai dari
manipulasi kekuatan-kekuatan pasar -terutama di bursa-bursa komoditi. bursa saham
dan bursa pertukaran uang -hingga merekayasa perang berskala besar. Sebagai
contoh, dalam rangka membelokkan kekayaan negeri-negeri Muslim penghasil
minyak pada saat boom minyak pada tahun 1970-an -apalagi sebab pada tahun 1973
harga minyak dilipat-empatkan oleh OPEC sebagai tindak pembalasan atas
dukungan negara-negara High Tec North kepada serangan militer Israel ke
negara-negara Arab pada Perang Yom Kippur -harga minyak mentah dari Timur
Tengah segera dipangkas, tidak saja dengan cara menawar-ulang harga-harga
minyak per barel, tetapi juga dengan mendevaluasi mata uang semua negara
penghasil minyak itu -dengan cara menakar-ulang nilai-nilai tukarnya di sistem
perbankan internasional, atau memanipulasi pasokan dan permintaan mata-mata
uang itu di bursa pasar uang internasional (dan dengan demikian mempengaruhi
nilainya masing-masing).
Sepanjang tahun 1980-an, untuk menyulut perang dan melemahkan Iran, Iraq
dipersenjatai dengan biayanya sendiri. Begitu hal ini dicapai -sembari meningkatkan
ketergantungan Iraq dan Iran kepada sistem perbankan internasional -Iraq kemudian
didorong untuk menyerbu Kuwait, sedangkan pada saat yang sama, Arab Saudi dan
negara-negara Teluk lainnya diwanti-wanti bahwa Iraq akan menyerbu mereka
sebagai sasaran berikutnya jika pasukan-pasukan Amerika -yang dibantu
pasukan-pasukan simbolis dari negara lain, untuk menciptakan kesan bahwa ini
yaitu masalah "internasional" -tidak diizinkan untuk datang menjadi juru selamat
negara-negara itu, atas biaya negara-negara itu masing-masing. Pasukan-pasukan
pun tiba, Perang Teluk pun berkobar, semua senjata-senjata berteknologi mutakhir
pun diuji-cobakan (termasuk senjata-senjata kimia-biologisnya lengkap beserta
penawarnya masing-masing), Kuwait pun kena penghancuran dan kemudian harus
dibangun kembali atas biayanya sendiri, sebagian besar Iraq pun kena penghancuran
dan sebagian penduduknya terpangkas, dan tentu saja Arab Saudi dan semua
negara-negara Teluk lainnya menghabiskan milyaran dolar untuk membiayai perang
itu dan untuk kemudian membeli persenjataan yang sudah ketinggalan zaman dalam
rangka memastikan agar hal serupa itu tidak terulang kembali.
Dengan demikian tentu saja sepanjang awal 1990-an, laba yang berlimpah
diperoleh industri persenjataan, dan laba yang berlimpah pula diperoleh sistem
perbankan internasional sebab dana-dana mengucur dari Timur Tengah dalam satu
nilai tukar masuk ke High Tec North yang kemudian seusai perang kembali lagi ke
Timur Tengah dalam nilai tukar yang lain. Walhasil, Timur Tengah yang kaya minyak
itu telah terkuras menjadi hampa, lalu seakan-akan menggaris-bawahi kuasa yang
kini dinikmati sistem perbankan atas Arab Saudi dan negara-negara Teluk, maka
dalam hanya semalam saja bank BCCI Arab ditutup, dan besertanya terhapuslah
sebagian besar "kekayaan" Muslimin di seluruh dunia.
Sekali lagi, semua telah berjalan sesuai dengan rencana, dan para arsitek tata
dunia baru menang lagi. Seperti inilah kegiatan yang telah direkayasa secara cermat,
yang dipahami dengan baik oleh Ezra Pound dan Adolf Hitler, yang keduanya pun
telah berusaha untuk mencegah kegiatan itu, namun gagal.
Mungkin, salah satu sebab mengapa Pound dan Hitler gagal membongkar dan
menghancurkan kegiatan para freemason, yaitu sebab mereka tidak sepenuhnya
sadar akan hakikat kehidupan. Hakikatnya yaitu bahwa tak ada sesuatu pun,
kecuali Allah. Ini berarti bahwa apa pun selain Allah hanya seolah-olah ada jika kita
menganggapnya nyata.
Jalan hidup Nabi Muhammad saw berarti kenyataan hanyalah untuk Allah. Jalan
hidup kufr artinya kenyataan diberikan ke selain Allah.
Jika terdapat cukup banyak orang yang kini sedang diperbudak oleh sistem kafir,
yaitu sistem Dajjal -maka dengan demikian mereka terperangkap dalam cara
pandang kehidupan ala kafir -memutuskan untuk mengikuti jalan hidup Nabi
Muhammad saw, dan dengan demikian berhenti memberikan kenyataan atas
apa-apa yang telah dikondisikan kepada mereka sebagai kenyataan oleh sistem
media dan pendidikan, maka proses produsen-konsumen akan runtuh dan berhenti
jadi kenyataan -apalagi bila para Muslim meninggalkan bank-bank dengan uang-uang
kertas dan uang-uang plastiknya yang tak berharga.
Jadi, cara melawan sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, bukanlah dengan
melawannya, tapi dengan meninggalkannya. Abaikan saja. Jalan keluar dari sistem
biadab ini yaitu dengan mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw. Sistem ini
sudah berada diambang keruntuhannya. Dan sebab itu akan semakin mudah dan
semakin mudah lagi untuk meninggalkannya, dan mudah pula untuk mengikuti
jalannya Nabi Muhammad -dan sebab sistem itu runtuh, hanyalah para Muslim yang
dapat menghadapi apa pun yang terjadi setelah itu. Putuskan pilihan anda sekarang
juga.
Salah satu sebab-sebab utama kenapa sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, berada
dalam tahap akhir pembinasaan-diri dan di ambang keruntuhannya, yaitu sebab
uang, yang merupakan darah dan nyawa bagi proses produsen-konsumen, yang
dijadikan perantara dan alat kendali melalui hutang-piutang dalam sistem perbankan,
sebenarnya nilainya hanya senilai kertas yang dipakai untuk mencetaknya. Sebagai
darah dan nyawa sistem produsen-konsumen, uang menderita penyakit kurang darah
yang parah.
Keberhasilan uang berperan sebagai alat kendali melalui hutang-piutang yang
diejawantahkan sistem perbankan, sebab cukup banyak orang yang yakin bahwa
uang ada nilainya. Uang, sebenarnya, hanya punya nilai sejauh taksiran manusia dan
tidak punya nilai bawaannya sendiri. Uang hanyalah angka-angka yang dicetak di
atas iembaran-lembaran kertas atau disimpan dalam pusat-pusat data komputer.
Siapa pun yang memakai uang semacam ini terlibat dalam tipu-daya
raksasa atas kepercayaan. Begitu tipuan ini terbongkar, maka siapa pun tidak akan
mungkin percaya lagi kepada uang kertas, uang plastik, maupun uang micro-chip.
Perdebatan yang tak henti-hentinya mengenai inflasi, dan semua usaha sia-sia
yang dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan masalah inflasi yang maya ini,
yaitu umpan tipuan, impian kosong atau kucing dalam karung, semuanya sebagai
samaran dari kenyataan bahwa masalah sebenarnya bukanlah mengenai
berkurangnya nilai uang, sebab bukankah sudah sejak awalnya sebenarnya uang
tidak punya nilai hakiki yang dapat dikurangi?
Mengapa kini uang tidak punya nilai apa pun, kecuali nilai semu hasil taksiran
masyarakat yang telah dikondisikan untuk menerimanya, yaitu berkat cara
penanganan sistem perbankan dan pasar uang internasional. Sebagai buktinya,
penting kita tinjau asal-usul uang sebelum adanya sistem perbankan.
Dahulu, umumnya uang terbuat dari emas dan perak. sebab dibuat dari
logam-logam berharga, maka tentu saja uang ini bernilai. Sekalipun dilebur,
nilainya tidak akan berubah (berbeda dengan uang kertas yang pada suhu 233°C
kontan terbakar dan menjadi abu). Begitu kadar dan mutu emas atau perak yang
dipakai sebagai uang logam dapat ditentukan, maka cukup dengan menimbangnya,
uang logam yang dibuat di negara mana saja dapat dipakai sebagai nilai tukar di
negara lain mana saja, tanpa kecuali. Sebagai akibatnya, nilai sebuah mata uang
akan berada pada rentang yang tetap, sedangkan nilai tukar barang-barang yang
dibeli dengan uang itu akan berubah sesuai dengan kekuatan pasar, yaitu dengan
adanya perubahan pasokan dan permintaan.
Bahkan pada masa Reformasi Gereja Trinitas Eropa di abad keenambelas,
semua jenis transaksi yang melibatkan riba dilarang bagi dan dihindari oleh semua
yang beriman dari kalangan Yahudi, Kristen dan Muslim. Namun sewaktu Reformasi
itu, Yahudi berdalih bahwa mereka berhak mengenakan bunga kepada non-Yahudi,
Kristen berdalih bahwa mereka akan membolehkan "bunga yang kecil" sebagai
pengganti "tanpa bunga", dan jauh setelah itu sebagian Muslim berdalih bahwa
andaikan bunga diberi istilah lain, misalnya "biaya jasa", maka itu bukanlah bunga.
Begitu bunga mulai dikenakan, langsung nilai uang terkena pengaruhnya, dan sebab
uang pun telah menjadi komoditi (bukan sebagai alat nilai tukar saja) maka nilainya
menjadi rentan terhadap pengaruh kekuatan pasar, yaitu tingkat pasokan dan
permintaan.
Pada awalnya, perbankan dibentuk untuk memelihara uang milik orang lain
dengan cara menyimpannya di tempat yang aman, walaupun pada saat itu uang
masih dibuat dari bentuk yang gamblang dan ada nilai hakikinya. Tata-kramanya
begini, jikalau ada seorang yang menitipkan emas atau peraknya dalam bank, sang
bankir akan memberinya tanda terima, di mana dia berjanji akan membayar kembali
emas atau perak ini "tunai kepada pembawa" pada saat tanda terima itu
dipertunjukkan kembali kepadanya. Tak lama kemudian ditemukan bahwa
tanda-tanda terima ini dapat dipindah-tangankan. Ini membolehkan sang penitip emas
membeli barang keperluannya senilai dengan titipan emasnya di bank, dengan cara
memberikan tanda terimanya kepada sang pedagang. Lalu sang pedagang itu pun
dapat pergi ke bank untuk mendapatkan emas yang dimaksud, walaupun bukan dia
yang menitipkan emas itu di sana.
sebab emas dan perak itu berat sedangkan kertas ringan, para bankir pun
kemudian menemukan gagasan untuk mencetak uang kertas. Siapa pun yang
menitipkan emas dan perak dalam banknya akan mendapatkan uang kertas ini.
Kertas ini kini dapat digunakan untuk jumlah transaksi beruntun yang tak
berhingga, tentunya dengan kepahaman bahwa kapan saja dan siapa saja yang
memiliki sejumlah "nota bank" ini, sesuai kehendaknya, dapat datang ke bank dan
menukar kertas-kertasnya kembali menjadi emas atau perak, sejumlah yang tertera
pada kertas-kertas itu.
Sewaktu masih sesederhana itu, sekitar pertengahan abad kesembilanbelas,
semua nota kertas didukung oleh jumlah yang sama dalam emas dan perak. Kita bisa
menukar satu dengan lainnya dengan mudah. Pada masa inilah, atau malah
sebelumnya, para bankir menemukan bahwa pada setiap saat untuk setiap 13 kilo
emas atau perak yang dititipkan biasanya hanya 1 kilo yang dibutuhkan nasabah
untuk berbelanja, dengan demikian 12 kilo sisanya, dapat digunakan oleh para bankir
untuk memberikan pinjaman berbunga, atau mengadakan penanaman modal yang
menguntungkan.
Pengejawantahannya yaitu , untuk setiap "13 kilo" nota kertas, hanya satu nota
yang perlu didukung oleh emas, dan inilah yang terjadi. Sudah bukan saatnya lagi
untuk setiap nota kertas didukung penuh dengan emas atau perak sesuai jumlahnya.
Sebaliknya, kini untuk setiap kilo emas atau perak yang tersimpan dalam bank,
sejumlah 13 kilo nota kertas-lah yang dicetak.
Walaupun dalam keadaan seperti ini, kita masih bisa datang ke bank,
memperlihatkan "l kilo" nota kertas, minta untuk ditukar dengan "1 kilo" emas, dan
mendapatkan emas. Tentu dengan syarat tidak semua orang ingin menukar uang
kertasnya dengan emas pada saat yang sama, dan semua bank sebenarnya "aman",
walaupun semua uang kertas sudah tidak didukung penuh dengan emas lagi, Kini,
secara nyata, "nilai" uang kertas hanyalah sepertigabelas dari nilainya yang dahulu.
Secara bertahap masyarakat menjadi begitu terbiasa memakai uang
kertas, sehingga sudah tidak ada lagi yang datang ke bank untuk menukarnya jadi
emas atau perak. Semuanya telah yakin bahwa uang kertas punya "nilai" sesuai
dengan apa yang tertera pada kedua sisinya, yaitu nilai "muka"nya. Pada saat yang
sama jumlah kegiatan bisnis bank-bank terus meningkat, dan pada saat inilah
cikal-bakal proses produsen-konsumen dimulai dan menjadi mapan. Ini artinya sistem
perbankan menciptakan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang, bukan dengan cara
mencetak uang, tetapi dengan mengenakan bunga.
Piutang-piutang perbankan -khususnya hutang-hutang nasional raksasa
-selama dalam keadaan bunga majemuk, tumbuh membesar dalam pemartikel an,
yaitu "di atas kertas", tetapi uang yang diciptakan dengan cara begini tidak punya
hubungan langsung dengan uang yang sudah ada dalam peredaran, yaitu uang yang
didukung dengan perbandingan 13 kertas dan 1 emas atau perak itu. Sebenarnya,
uang dari bunga itu diciptakan dari "nihil" dan uang yang "dari nihil" ini pun tidak
digamblangkan menjadi uang kertas, tetapi hanya diberi kenyataan pahit dalam
bentuk catatan di pemartikel an, atau sebagaimana biasanya hari ini, dalam bentuk
catatan di komputer.
Semua ini membuat bank-bank berada dalam keadaan yang gamang. Misalnya,
jika saja secara bersamaan semua orang memutuskan untuk menarik uangnya dari
bank, bank-bank itu benar-benar tidak akan mampu untuk memenuhinya, ini sebab
jumlah uang itu, yang tercatat dalam pemartikel an dan komputer itu, jauh lebih besar
dari jumlah uang kertas yang sebenarnya ada dalam peredaran. Maka datanglah
keperluan bagi para bankir untuk memainkan dua muslihat kredibilitas, guna
menyiasati jumlah nasabah yang semakin banyak, yang diperlukan bank guna
menarik keuntungan dan memanipulasi.
Muslihat yang pertama yaitu agar semua Orang dapat percaya bahwa semua
uang kertas itu masih "didukung" dengan emas, walaupun masyarakat sudah tak
biasa lagi menukarkan uangnya dengan emas. Muslihat yang kedua yaitu membuat
semua orang berpikir bahwa semua uang yang jumlahnya sesuai dengan catatan
pemartikel an dan komputer itu, memang ada dalam bentuk uang kertas. Tak satu pun
dari khayalan yang diciptakan oleh para bankir-penyihir freemason ini yaitu sebuah
kenyataan, tetapi selama mayoritas penduduk menyangka itu semua nyata, maka
seluruh sihir yang benar-benar khayal ini masih bisa berjalan terus, dan memang
masih berjalan hingga kini.
Akibat marak dan luasnya hutang-hutang yang diciptakan selama perang dunia
pertama -yang menurut sumber perkiraan "resmi" hutang-hutang ini meningkat hingga
475 persen, ini secara keseluruhan bila dihitung dari tahun 1914 hingga 1920 -maka
jurang yang besar telah tercipta antara jumlah uang yang diciptakan melalui bunga
dengan jumlah uang kertas yang dicetak, perbedaan ini begitu mencolok sehingga
sudah tak mungkin lagi mempertahankan perbandingan 13 kertas dan 1 emas. Maka
dari itu, selama dasawarsa berikutnya, sistem perbankan internasionat ramai-ramai
meninggalkan standar emas, dan mulai dari saat itu sudah tak mungkin lagi
membawa uang kertas ke bank untuk ditukar dengan persamaannya dalam emas
atau perak. Sejak itulah, "nilai" sebuah mata uang dapat diubah dengan
semena-mena oleh sistem perbankan dan pasar mata uang internasional. Sejak itulah
"nilai" uang semakin ditentukan oleh kekuatan pasar uang internasional dan oleh
"kebijaksanaan pemerintah" mengenai jumlah ekspor, impor dan neraca pembayaran.
Sebagai akibat dari lebih banyak lagi hutang-hutang yang diciptakan sewaktu
perang dunia kedua, dan dengan terus berjalannya bunga majemuk selama dua ratus
tahun, kini hutang-hutang negara-negara di dunia menjadi sedemikian besarnya,
sehingga diperlukan pembentukan lembaga-lembaga keuangan supra-nasional
seperti IMF dan World Bank, untuk mengatur keadaan di mana jutaan dan milyaran
dan trilyunan dapat hilang atau hadir sejalan dengan rumus-rumus matematika -yang
kini semuanya sudah otomatis dikomputerisasi -yang sudah ditentukan sebelumnya.
Dengan demikian datang dan menetaplah "inflasi".
Jelaslah bahwa salah satu bahaya terbesar bagi sistem perbankan freemason,
yaitu bila terlalu banyak orang yang akan minta uang kertas pada saat yang
bersamaan. Walau jumlah uang kertas tambahan yang tak berbatas dapat dicetak
dengan mudah, yang bila perlu, untuk menentukan nilainya bisa saja dicetak lengkap
dengan angka yang sangat besar pada muka-mukanya, namun akan selalu ada
bahaya bahwa mayoritas penduduk dapat menembus tabir khayalan, dan segera
sadar bahwa sebesar apa pun nilai yang tertera pada kertas itu, tetap saja tak lebih
berharga dari satu sen.
Jadi, hanya dengan secara sangat berhati-hati mengatur perputaran uang kertas
-tak terlalu longgar, tak terlalu ketat -maka khayalan tentang kewajaran dan "seperti
biasa", dapat dipelihara dan dipertahankan. Toh, hanya sedikit sekali orang yang
hartanya terbelit dalam sistem perbankan, yang berani membayangkan bahwa "jaring
pengaman" yang amat rapuh itu dapat terhempas dengan sekali tiupan, bahwa
seluruh sistem itu runtuh, bahwa ribuan, jutaan, bahkan milyaran trilyunan mereka,
ternyata semuanya sama-sama tak berharga.
Dalam rangka mengatur sulitnya keseimbangan pasokan dan permintaan, dan
untuk mengatur rentang nilai uang yang sekarang berubah-ubah agar tetap berada
dalam batas-batas yang sepertinya "wajar", pakar-pakar ekonorni seperti John
Maynard Keynes senantiasa menggagas teori-teori ekonomi baru demi
mempertahankan mata-mata uang dunia yang berdasar-kertas dan
berbunga-terinflasi itu, seluruh teorinya itu dirancang sebagai pengganti teori-teori
lama yang sudah usang, yaitu teori iaissez fairs (biarkan saja), yang hanya dapat
berlaku bilamana uang "nyata" yang dipakai -yaitu uang yang didukung dengan emas
dan perak yang bernilai hakiki.
Pada intinya, Keynes menarik perhatian khalayak bahwa tingkat permintaan
atas jumlah uang yang berada di tangan sebenarnya dapat diatur, dengan cara
mengatur hasrat berbelanja dan hasrat menabung, melalui peningkatan suku bunga
perbankan, yaitu tingkat pengenaan bunga ke atas pinjaman dan tingkat bunga yang
dibayarkan atas deposito. Ringkasnya, semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin
tinggi biaya pinjaman dan semakin banyak bunga yang akan didapat para deposan.
Dengan demikian suku bunga yang tinggi mendorong khalayak untuk sedikit
berhutang, sedikit belanja, dan lebih banyak menabung. Sebaliknya suku bunga
rendah mendorong khalayak untuk banyak berhutang, tentunya ini berarti lebih
banyak belanja dan sedikit menabung, sebab jikalau uang tidak akan "tumbuh" pesat
dalam simpanan, sebaiknya dibelanjakan saja.
Kenyataannya, teori-teori ekonomi Keynes ini nampak seperti mencapai dua
hasil. Yang pertama, bila digunakan dalam proses produsen-konsumen, nampak
berhasil dalam pengaturan tingkat kelancaran dan keleluasaan dunia usaha, dengan
cara membuat dunia usaha sepertinya akan menguntungkan atau tidak, dengan
demikian memungkinkan atau tidak, Yang kedua, bila digunakan untuk mengatur
permintaan uang di tangan, dengan cara mengatur tingkat kelancaran dan
keleluasaan kegiatan simpan-pinjam, yang pada akhirnya mengatur tingkat
perbelanjaan.
Perkembangan termutakhir dalam siasat sistem perbankan internasional,
menjamin bahwa tidak akan ada terlalu banyak orang yang perlu uang pada saat yang
sama, yang sebenarnya tidak ada dalam bentuk uang kertas, sekaligus membiarkan
uang berada dalam catatan komputer saja. Pada dasarnya apa yang sedang
diusahakan oleh mereka yaitu membuat uang tidak diperlukan sama sekali. Ini
semua telah terlaksana bukan hanya dengan menganjurkan transaksi giral melalui
cek dan sebagainya, tetapi juga dengan meningkatkan penggu-naan
transaksi-transaksi kartu plastik.
Cara kerja transaksi kartu plastik yaitu bilamana kita menunjukkan kartu plastik
kita, yang memuat data pribadi kita, bersama-sama dengan jaminan dari bank bahwa
mereka akan memenuhi keperluan dana kita yang terjadi akibat pemakaian kartu itu,
kemudian rincian transaksi ini dibuat dan dikirim ke bank kita, kemudian atas
dasar laporan itu bank akan mendebet rekening kita dan akan mengkredit rekening
pihak yang, misalnya, kita belanja darinya.
Dalam transaksi seperti ini tidak ada uang yang berpindah tangan. Apa yang
terjadi hanyalah sejumlah angka-angka dipindahkan dari satu kolom isian ke kolom
isian lainnya dalam sistem jaringan data perbankan. Dengan semakin marak dan
umumnya transaksi seperti ini, uang kertas semakin tak ada artinya. Jikalau saja cara
transaksi seperti ini dijalankan sampai semaksimal mungkin, pada akhirnya sama
sekali tidak akan ada permintaan uang kertas, sebab ham-pir seluruh transaksi akan
dilaksanakan via kartu plastik, dan akibat moneternya tercatat dalam komputer bank
-penambahan di sini, pengurangan di sana -dan tentunya, untuk banknya, secuil dari
sini dan secuil dari sana, bukan hanya dari bunga yang dikenakan atas apa pun yang
kita "pinjam" dalam rangka menutupi transaksi kita, tapi juga ditambah dengan rabat
yang dikenakan atas nilai transaksi apa pun yang didapat sang penjual.
Salah satu akibat kecenderungan ini -yang ditunjang dengan maraknya layanan
pendebetan dan pengkreditan otomatis -seperti yang terjadi di Inggris, salah satu
contohnya, sejak tahun 1986 seseorang tak lagi punya hak untuk mendapatkan
gajinya dalam bentuk tunai -yang dahulu hingga pertengahan abad ke-19 biasanya
emas atau perak, bukan kertas, hingga kemudian emas dan perak itu ditarik dari
peredaran dan digantikan dengan kertas. Kini seorang majikan tak lagi berkewajiban
membayar pegawainya secara tunai, artinya para pegawai tadi bisa saja dibayar
dengan cek atau dengan pengkreditan langsung kepada rekening pribadinya. Dengan
kata lain, hampir semua orang di Inggris kini "memerlukan" sebuah rekening bank
untuk bisa mendapatkan gajinya dengan mudah. Dengan kata lain, hampir semua
orang di negara Inggris kini bergantung kepada sistem perbankan.
Pada umumnya, sasaran yang hendak dicapai yaitu dengan memberlakukan
cara kerja kartu plastik secara mendunia, ini akan berarti bahwa hampir semua orang
di seluruh dunia akan bergantung kepada sistem perbankan, artinya semua orang
akan lebih mudah dikendalikan. Andai saja, katakanlah, seluruh "harta"mu tersimpan
dalam data bankmu, tentu saja bisa "dibekukan" dengan mudah, atau pendebetan
dapat berlangsung sesuai dengan, misalnya,. sebuah keputusan pengadilan. Dengan
kata lain, jikalau anda merasa perlu dengan "uang"mu, haruslah anda berkelakuan
baik.
Sebaliknya, dilihat dari sudut yang lain, inilah sebabnya para perampok bank
yang mutakhir tak perlu lagi sebilah golok, sebuah clurit, senjata api, maupun motor
curian untuk melarikan diri, tetapi kini lebih diperlukan sebuah komputer, sebuah
modem, dan perangkat lunak dan sedikit kemampuan untuk merasuk ke dalam dan ke
luar sistem jaringan komputer perbankan.
Jika saja kecenderungan dalam sistem perbankan ini dibiarkan terus berlanjut
secara alami, maka pada abad ke-21 nanti kartu-kartu kredit juga akan menjadi kartu
tanda pengenal diri setiap orang. Dan data-data pribadi setiap orang akan tercatat
dalam komputer, pendapatan dan pembelanjaan setiap orang dapat dijadikan bahan
analisa dan prakiraan, daya-kredit setiap orang dapat diawasi, bahkan pergerakan
mereka pun dapat diketahui via rekaman dan catatan peng-gunaan kartu-kartu
plastiknya pada waktu dan tempat kartu ini digunakan -dan sudah tentu semua
orang akan dianjurkan untuk membelanjakan lebih dari yang dimilikinya, dalam
rangka senantiasa berada dalam hutang, persis seperti pemerintahan mana pun yang
mereka dukung dan "pilih" itu -yang, apa pun status neraca pembayarannya, akan
selalu mempunyai hutang nasional yang bertarnbah besar, selama sistem ini
langgeng.
Dan seiring dengan semakin saling-berkaitnya semua sumber-sumber data
komputer yang berbeda-beda -sumber data perbankan, data kepemilikan TV, data
pertanahan dan perumahan, data kepemilikan kendaraan bermotor, data listnk, gas
dan air minum, data telepon, data rumah sakit dan kedokteran, data pensiun dan hari
tua, data calon wakit rakyat, pendataan di kepolisian dan data badan pertahanan
keamanan, dan semua ini baru secuil -maka mungkin saja lakon yang digambarkan
dalam artikel karya George Orwell yang berjudul Nineteen Eighty-Four (1984) tak akan
terlalu jauh dari kenyataan, dibanding dengan keadaan pada saat artikel itu baru terbit
pada tahun 1949 -bahkan bila dibandingkan dengan keadaan di tahun 1984, di mana
pada saat itu tata dunia baru belum diproklamirkan secara luas.
Dengan demikian, tampaklah oleh kita bahwa, pengaruh sistem kafir, yaitu
sistem Dajjal, melalui sistem perbankan internasional, telah nyaris mencapai tahap di
mana uang kertas bukan hanya tak berharga, tapi juga bahwa tidak ada masalah
dalam ke-tak-berhargaan-nya, toh sernua orang kini bergantung kepada layanan
bank untuk menjalankan transaksi-transaksi keuangan mereka, jadi untuk apa uang
kertas berharga. Bank juga dengan sendirinya telah menjadi alat tukar -sekarang
semua transaksi dapat dilakukan dengan sekeping plastik, atau melalui pembicaraan
di telepon, atau melalui Internet. Uang kertas sudah nyaris jadi pelengkap penderita.
Dan seiring dengan bertambah kokohnya Internet, transaksi-transaksi keuangan
menjadi lebih gaib dan kehilangan bentuk.
Andaikan kita memakai Internet untuk membuat suatu transaksi, kita tak
perlu lagi menyerahkan kartu kredit kita ke orang-lain guna diambil datanya, tidak pula
harus menanda-tangani apa-apa; bahkan kita sudah tak perlu lagi bertelepon dan
berbicara kepada siapa-siapa untuk memberikan nomor dan masa berlakunya kartu
kredit kita; kini yang dibutuhkan cukup dengan sedikit sebab n pada papan kunci
komputer, sedikit pencetan pada mouse kita, langsung saja barang dapat diiklankan
atau dibeli, tagihan dibayar atau dikirim, saham dapat dibeli dan dijual, dan
keuntungan didapatkan atau hilang.
Dan apabila sumber daya yang membuat semua jaringan lemah ini bisa
berfungsi tiba-tiba diputus, terus kita mau apa? Allah yaitu Daya yang memberi daya
kepada semua sumber daya. Tidak ada daya dan upaya selain dari Allah.
yaitu dengan asas riba-lah tata dunia baru didirikan -dan oleh sebab asas riba
inilah semua akan runtuh, sebab riba dilarang, dan sebab Allah dan RasulNya telah
menyatakan perang terhadap riba:
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang
beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (Qur'an:
al-Baqarah 278-279)
Adakah sesiapa yang pernah menang berperang melawan Allah dan RasulNya?
Dan walau pun perang kepada riba tidak ada, segala sesuatu pasti berakhir.
Khalayak di masyarakat kafir tak hanya dikendalikan agar perlu kepada sistem
perbankan, sebagaimana telah kita lihat, mereka pun didorong untuk belanja lebih
dari yang ia miliki, dan dengan demikian menjadi senantiasa berhutang kepada
beragam badan keuangan, khususnya kepada bank. Inilah yang melanggengkan
adanya ketergantungan kepada sistem perbankan hasil rekayasa para freemason,
baik untuk seseorang di cabang lokalnya, maupun untuk pemerintah sebuah negara
pada bank "sentral"nya atau pada World Bank atau IMF. Di tingkat inilah jauhnya
jangkauan hutang-hutang tadi dipandang tak usah masuk perhitungan, Toh semua
hanya nyata dalam catatan komputer.
Apa yang perlu kita catat yaitu , dengan besarnya ketergantungan pada sistem
perbankan, dan dengan semakin bertambahnya ketergantungan itu, maka bertambah
besar pula kemampuan manipulasi pengendaliannya, walhasil bertambah besar
pengaruh sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, ke atas dunia. Sepenting dan sejauh
apakah kendali dan pengaruh ini , dapat diukur dengan cara begini: andai saja
kita coba tutup semua bank walau sejen




