• www.coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • www.kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

  • www.berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

Tampilkan postingan dengan label sistem dajjal 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sistem dajjal 7. Tampilkan semua postingan

sistem dajjal 7


 malan penghuni Api, sehingga dia mati 

beserta amalan penghuni Api dan dengan itu Allah memasukkan dia ke 

dalam Api.""  

Yahya meriwayatkan kepada saya dari Malik bahwa dia mendengar 

Rasulullah saw berkabda, 'Aku meninggalkan dua perkara bersama kalian. 

Selama kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat. 

Keduanya yaitu  al-Qu'ran dan as-Sunnah."  

Yahya meriwayatkan kepada saya dari Malik dari Ziyad bin Sa'd dari Amr 

bin Muslim bahwa Tawus al-Yamani berkata, "Saya mendengar dari 

beberapa orang sahabat Rasulullah saw berkata, 'Segala sesuatu di bawah 

takdir.'" Tawus menyambung, "Saya mendengar Abdullah bin Umar ra 

berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Segala sesuatu di bawah 

takdir -termasuk ketidak-mampuan dan kemampuan' (atau 'kemampuan 

dan ketidak-mampuan')." (al-Muwatta' dari Imam Malik:46.1.2-4)  

Allah berfirman di al-Qur'an:  

Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. 

(Qur'an: surat as-Shaaffaat 96)  

Kejahilan mentah-mentah kepada perkara-perkara tadilah yang menyebabkan 

kafir tidak saja hanya mengandalkan perbuatannya sendiri dan bukan mengandalkan 

Allah -Sumber segala perbuatan -tapi juga berasuransi untuk berjaga-jaga atas apa 

yang dalam peristilahan asuransi kafir didefinisikan sebagai 'risiko'. Padahal pada 

kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang disebut risiko, begitu pula tidak ada 

sesuatu pun yang disebut keberuntungan. Rahmat Allah lebih besar daripada 

murkaNya, dan jalan Islam yaitu  sarana untuk merasakan rahmatNya dan 

menghindari murkaNya.  

Hakikat dari sistem bisnis asuransi kafir, dan begitu pula dengan seluruh sistem 

keuangan kafir yaitu , sistem-sistem itu dirancang dengan cermat untuk 

menyempurnakan keterlibatan sebanyak mungkin manusia ke dalam sistem 

produsen-konsumen, dan demi mengeruk uang sebanyak mungkin dari keterlibatan 

itu.  

Sistem asuransi berperan penting dalam kelangsungan bursa-bursa komoditi 

yang menjual-belikan bahan baku hasil pertambangan, pertanian dan peternakan, 

dalam jumlah besar dan di masa depan (futures trading). Bursa menjual-belikan hasil 

pertanian yang belum ditanam, buah-buahan yang masih mentah, bahan logam yang 

belum ditambang, dan binatang ternak yang belum lahir. Dengan berdagang di masa 

depan, laba akan meningkat, sementara kerugian yang mungkin terjadi akibat 

peristiwa-peristiwa yang belum terjadi, dapat dijaga dengan asuransi. Dan 

premi-premi asuransi itu dibayar dengan keuntungan besar yang diperoleh dari selisih 

harga -sebab  harga yang dibayar di muka kepada para produsen komoditi yang 

belum ada akan jauh lebih murah dibanding dengan harga yang mesti dibayar untuk 

membeli secara kontan komoditi yang telah ada.  

Inilah contoh lain bagaimana sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, menciptakan suatu 

pola kegiatan yang sama sekali tak perlu demi mengeruk uang. Para pemenang 

yaitu  mereka yang mengatur pasar bursa dan memiliki perusahaan asuransi. Para 

pecundang yaitu  khalayak di dasar piramida perusahaan -yang sebenarnya 

melaksanakan seluruh pekerjaan beratnya.  

Alasan di balik pola kegiatan jual-beli di masa yang akan datang ini -suatu 

kegiatan yang terlarang untuk Muslimin -bukan semata-mata keserakahan, tapi juga 

sebab  rasa gelisah yang mengakar atas nafkah. Muslim yang tidak memiliki 

kegelisahan ini dan hanya berjual-beli barang yang sudah ada, sesuai dengan jalan 

hidup Muhammad saw, yang menegaskan, pertama, bahwa perjual-belian di masa 

depan seperti itu haram, -yaitu terlarang sebab  tidak bermanfaat -dan kedua, 

seorang pedagang tidak dibenarkan untuk mengambil rabat lebih dari tigapuluh 

persen atas barang-barang pokok dan komoditas -agar khalayak tidak mungkin bisa 

diperas. sebab  Muslim hanya berjual-beli di masa sekarang, bukan di masa depan, 

dan sebab  dia yakin kepada Allah, dan percaya kepada sesama Muslim yang 

berjual-beli dengannya, maka nyatalah bahwa di dunia bisnis Muslim asuransi sama 

sekali tidak diperlukan.  

Seandainya asuransi kafir bukan perangkat untuk mengeruk uang dari khalayak, 

maka pasti perusahaan-perusahaan asuransi tidak akan pernah berdiri. Jumlah uang 

yang siap mereka bayarkan, dan keadaan serta persyaratan pembayaran itu, telah 

diperhitungkan secara cermat supaya jumlah total pembayaran itu jauh lebih kecil dari 

jumlah premi-premi yang diterima dan ditanam -dan tentunya kalau pun terjadi 

'bencana' berskala besar yang sebenarnya sangat kecil kemungkinannya, namun 

tetap diasuransikan, yang berakibat semua perhitungan tentang kemungkinan di 

masa depan ternyata tidak bermanfaat, maka segera dibutuhkan akrobat pakar dan 

penyusunan ulang untuk menyelamatkan perusahaan asuransi ini .  

sebab  keuntungan-keuntungan besar yang diperolehnya, maka 

perusahaan-perusahaan asuransi mampu memanfaatkan proses hukum perdata 

untuk kepentingannya sendiri, baik dengan mempekerjakan pakar-pakar hukum untuk 

mencapai keputusan peradilan yang menyenangkan sebab  membatasi 

kewajiban-kewajiban mereka dalam klaim-klaim yang masih diperselisihkan, atau 

dengan menawarkan sejumlah bayaran yang jauh lebih kecil dari pada yang 

seharusnya -sebab  perusahaan asuransi paham bahwa orang atau perusahaan 

nasabahnya, tidak akan mampu menyeret mereka ke meja hijau, dan dengan 

demikian nasabah harus mau menerima apa pun yang ditawarkan perusahaan 

asuransi dengan menyepakati semua persyaratan yang mereka berikan. Sedangkan, 

bila kedua pihak yang berselisih mampu membawa perkaranya ke pengadilan, maka 

hal ini akan melanggengkan pekerjaan para petugas proses hukum perdata. Inilah 

contoh lain bagaimana keterkaitan di antara sub-sub sistem di sistem kafir, yaitu 

sistem Dajjal, memastikan kesibukan satu sama lainnya dengan saling memberikan 

pekerjaan.  

Begitu seseorang atau sebuah perusahaan membeli polis asuransi, atau 

misalnya, menandatangani perjanjian sewa beli atau angsuran rumah, atau 

meminjam uang dari bank, maka ini berarti, orang atau perusahaan ini  harus 

semakin memantapkan diri untuk terus bekerja di sistem produsen-konsumen, agar 

mampu membayar premi-premi, maupun cicilan-cicilan, maupun angsuran-angsuran, 

bahkan pelunasan overdraft mereka masing-masing. Semakin anda berasuransi, 

maka semakin berat beban keuangan anda, dan anda harus bekerja semakin keras 

agar bisa membayarnya, akhirnya semakin dalam anda terperosok dan diperbudak 

oleh sistem produsen-konsumen.  

Sistem-sistem media dengan pengaruh yang sangat menghancurkan, 

digunakan tidak hanya untuk menggalakkan khalayak berbelanja, tetapi secara lebih 

khusus, agar khalayak hidup melampaui kemampuan dan mau berhutang. Begitu 

mereka masuk perangkap hutang, maka sangatlah mudah untuk menciptakan uang 

dari nihil, yaitu dengan menerapkan bunga atas hutang itu. Dengan kata lain, anda 

bisa mendapatkan beberapa belanjaan yang dijanjikan sistem kafir yaitu sistem Dajjal, 

sekarang, tetapi tebusannya anda harus membayar lebih tinggi dibanding harga yang 

seharusnya -yaitu bila anda mampu membayar kontan pada saat pembeliannya.  

Tujuan utama aneka muslihat "ambil sekarang, bayar nanti" yaitu  untuk 

menciptakan hutang-hutang, sebab  dengan adanya hutang maka bunga bisa 

dikenakan. Bahkan, transaksi semacam ini pun mendorong pembeli untuk 

mengasuransikan barang-barang yang dibelinya, apalagi bila barang itu mahal, 

sebab  tak ada yang lebih gondok dibanding dengan membayar terus angsuran 

sesuatu yang sudah tak berharga atau tercuri, apalagi bila anda harus membayar 

bunga untuk mendapatkan barang itu! Tetapi apa pun barang itu, sebenarnya tipis 

kemungkinannya hingga kehilangan harganya. Walhasil, anda tidak saja harus 

membayar bunga dari pinjaman awalnya, tetapi juga harus membayar biaya 

tambahan untuk asuransinya.  

Dengan metode-metode penggembungan harga-harga barang di masyarakat 

kafir, para elit pengendali freemason menjamin agar khalayak yang dikendalikannya 

akan tetap diperbudak oleh sistem produsen-konsumen, sembari mengeruk untung 

dari mereka.  

Hidup terpuruk dalam hutang yang melampaui batas menyebabkan banyak 

orang berjudi, sebab  hanya mukjizat kemenanganlah yang dapat menghapus 

hutang-hutang yang terus membesar. Akibatnya tentu sebagian besar penjudi akan 

semakin terperosok dalam hutang yang lebih banyak lagi -sebab  segala macam judi 

hanya diadakan untuk mengeruk uang para penjudi, bukan untuk membantu mereka. 

Akhirnya kebanyakan orang akan mencari uang bukan untuk membayar 

hutang-hutangnya, tetapi asal cukup untuk melayani hutangnya, yaitu agar dapat 

membayar angsuran-angsuran wajib per bulannya. sebab  mereka mencapai keadaan 

"tak mungkin menang -tak mungkin menghindar", maka kebanyakan dari mereka 

akan terdorong untuk berasuransi terhadap kemungkinan ketidakmampuan mereka 

menunaikan kewajiban-kewajiban pembayaran hutangnya -gara-gara mereka sakit 

atau kehilangan pekerjaan.   

Walhasil kini, hampir semua hutang semakin ditingkatkan dengan penambahan 

premi-premi untuk polis-polis "perlindungan" seperti ini.  

Kegiatan-kegiatan gabungan berbagai lembaga keuangan kafir membuat 

pengumpulan lautan harta menjadi kenyataan. Hanya dengan premi bulanan sebesar 

1 dolar dari sejuta pemegang polls kecil-kecilan, perusahaan asuransi akan 

menangguk uang sebesar 12 juta dolar untuk dimainkan. Pada negara-negara kafir 

yang rumit di High Tec North, di mana hampir setiap jenis kegiatan melibatkan 

sebentuk asuransi atau lebih, tentu harta yang terkumpul tidak sekedar berjuta-juta, 

tetapi bahkan akan mencapai ratusan ribu juta milyaran. Tentunya apa yang telah 

digambarkan mengenai perusahaan asuransi kafir ini, berlaku juga pada 

perusahaan-perusahaan sewa-beli kafir, lembaga-lembaga kreditor perumahan kafir, 

dan terutama pada bank-bank kafir.  

Di antara semua lembaga keuangan kafir, yang paling banyak mengumpulkan 

harta yaitu  bank kafir, sebab  mereka tidak saja rnembebankan bunga atas 

pinjaman, tetapi mereka pun menggalakkan khalayak untuk menyimpan uangnya (jika 

ada kelebihan), dan agar kelebihan itu dideposito dalam bank. Walaupun bank 

membayarkan bunga atas deposito, tentu uangnya ditanam di tempat lain dan 

menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang harus mereka bayarkan. Apalagi, 

mereka pun punya lebih banyak lagi uang menganggur dari rekening-rekening giro 

untuk dimainkan, dan atas uang ini mereka tidak harus membayarkan bunga. Maka 

hasil apa pun yang mereka peroleh dari penanaman uang-uang rekening giro, yaitu  

murni keuntungan semata. Bank-bank telah menemukan bahwa rata-rata, untuk 

setiap 13 rupiah yang berdiam di bank, maka permintaan gabungan dari semua 

nasabah selalu hanya sebesar 1 rupiah tunai. Ini menyisakan 12 rupiah dari 13 rupiah 

itu untuk dimainkan oleh bank.  

Jumlah total uang yang bisa dimainkan oleh bank sungguh menakjubkan, 

sebab  hampir semua lembaga keuangan kafir lainnya, beserta semua perusahaan 

dan badan usaha, dan tentunya sebagian besar khalayak, menyimpan uangnya di 

bank. Bank yaitu  alat untuk mengumpulkan lautan harta -misalnya, dari setiap 13 

milyar rupiah yang ada pada mereka, mereka bebas untuk menanamkan 12 milyar 

rupiah tidak saja untuk mencari keuntungan, tetapi juga, yang lebih penting, yaitu  

untuk mendanai dan membantu rekayasa sosial apa pun yang sedang menjadi 

agenda politiknya. Tanpa bank-bank, tata dunia baru tidak mungkin terwujud.  

Bank-bank dikendalikan oleh para freemason. Perusahaan-perusahaan raksasa 

dalam proses produsen-konsumen kafir, yaitu sistem Dajjal, dikendalikan oleh para 

freemason. Pemerintahan-pemerintahan negara-negara kafir dikendalikan oleh para 

freemason. Artinya para freemason mempunyai wewenang untuk memakai  

lautan harta yang dikumpulkan oleh bank-bank untuk mendanai proyek-proyek yang 

akan memberikan pekerjaan-pekerjaan kepada perusahaan-perusahaan raksasa 

mereka, dan tentunya, kegiatan-kegiatan ini akan didukung oleh keputusan resmi dari 

pemerintah dan diizinkan oleh sistem hukum kafir.  

Proyek-proyek besar yang mempengaruhi kehidupan semua orang yang bekerja 

di dalamnya itu, ditetapkan atas mereka semua, tanpa bertanya apakah itu 

benar-benar yang mereka inginkan atau tidak. Proyek mulai dijalankan, dan mereka 

yang bekerja di dalamnya bekerja sebab  memerlukan uang, bukan sebab  mereka 

mempercayai proyek itu. Tentu saja para elit pengendali freemason akan menentukan 

proyek-proyek apa yang akan menguntungkan mereka. Padahal kenyataannya, 

proyek apa pun akan menguntungkan mereka, pertama, sebab  para pekerjanya 

dibayar kurang dari jumlah yang telah diterima perusahaan-perusahaan yang 

memperkerjakan mereka, kedua, sebab  uang yang diterima para pekerja harus 

melalui bank -di mana bank akan memakai  berapa pun sisa uang nasabahnya 

untuk mendanai proyek yang lainnya lagi.  

Sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, yaitu  sebuah sistem yang rnelestarikan dirinya 

sendiri. Begitu ada khalayak yang bekerja di dalamnya dan untuknya, kegiatan 

mereka akan menciptakan kegiatan lainnya, dan semua kegiatan ini menghasilkan 

uang. Perusahaan-perusahaan raksasa itu sebenarnya tidak benar-benar ada. 

Mereka hanya merupakan kedok efektif untuk menyamarkan kegiatan-kegiatan para 

freemason yang mengendalikannya, dan sebagai bangunan maya yang 

memerangkap khalayak pekerjanya. Dengan memakai  perusahaan-perusahaan 

kafir raksasa ini sebagai ujung tombaknya, para freemason menyalurkan lautan harta 

yang dikendalikannya guna mendanai proyek-proyek sosial yang akan menjamin 

kelanggengan keuntungan dan kekuasaan mereka sendiri, yang juga akan menjamin 

kelanggengan penghambaan orang-orang yang terjerat bekerja pada proyek-proyek 

sosial itu,  

Dilihat dari sudut ini, jelaslah bahwa sistem perpajakan kafir pun sebenarnya 

hanyalah bagian lain dari sistem keuangan kafir, yang bertugas untuk memastikan 

agar khalayak tidak punya terlalu banyak uang untuk dimainkan, sehingga sebab  itu 

mereka terpaksa harus terus bekerja dalam proses produsen-konsumen kafir, sebab  

pajak-pajak telah dikumpulkan -dan jumlah keseluruhan dan hasilnya disamarkan 

dengan meragamkan nama-nama pajak, dan dengan memajak tidak saja dari 

pendapatan, tapi juga dari transaksi apa pun di mana ada dana yang bertambah atau 

berpindah, dan di mana terdapat suatu jasa atau benda dibeli atau dimanfaatkan 

-uang yang telah terkumpul itu kemudian bisa digunakan untuk mendanai 

proyek-proyek sosial pilihan para elit penguasa freemason sendiri, Sebagai contoh, 

pemerintah yang dikendalikan freemason akan memberikan kontrak menggiurkan 

kepada perusahaan pengembang yang dikendalikan oleh freemason, untuk 

membangun bangunan-bangunan yang diperlukan untuk menaungi semua kegiatan 

infrastruktur birokrasi yang digunakan pemerintah untuk mengumpulkan pajak-pajak 

yang diperlukan untuk mengendalikan negara yang dikuasainya.  

Dalih yang menyatakan bahwa sebab  pemerintah diangkat oleh rakyat, maka 

pasti kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah yaitu  apa yang diinginkan dan 

didukung rakyat, yaitu  omong kosong. Pertama, sebab  pemerintahan yang dipilih 

rakyat bukanlah pemerintah yang sebenarnya, melainkan hanya pemerintahan 

boneka, untuk mengalihkan perhatian khalayak dari para elit penguasa yang 

sebenarnya, yaitu para freemason. Kedua, hakikat dari sebuah proses pemilihan yang 

"demokratis" kini yaitu , bahwa pemerintahan boneka tadi selalu diangkat oleh kaum 

minoritas dari jumlah rakyat yang tinggal di negara kafir ini , walaupun 

pemerintahan itu hasil pemilihan umum dari kaum mayoritas yang cukup peduli untuk 

memberikan suaranya.  

Begitu banyak orang tidak punya kepedulian untuk memberikan suaranya, 

sebab  mereka setidaknya mempunyai secuil kecurigaan bahwa sebenarnya dalam 

perkara itu mereka tidak punya pilihan sama sekali. Mereka hanya dihadapkan pilihan 

yang terbatas yang nampaknya baik-baik semua, biasanya tak lebih dari dua, dan 

keduanya mengumbar janji-janji yang biasanya tak pernah ditepati, dan tak satu pun 

dari para calon itu yang benar-benar mewakili aspirasi orang-orang yang akhirnya 

memilih calon itu, semata-mata sebab  memang tidak ada calon lain yang bisa dipilih. 

Melalui sistem media, khalayak digalang untuk memilih dan memberikan suaranya, 

dengan alasan, sebab  ini negeri mereka, maka sudah sepatutnya mereka memilih 

siapa yang bakal memimpinnya, padahal nyatanya khalayak hanya bisa memilih 

sesiapa yang namanya tercantum dalam lembar pemilihan -dan mereka yang 

namanya bisa tercantum dalam lembar pemilihan hanyalah orang-orang yang secara 

rahasia atau secara tak sadar mendukung kegiatan para elit penguasa freemason, 

dan sebaliknya didukung pula oleh para freemason, sebab  tidak mungkin 

menjalankan kampanye pemilihan yang sukses tanpa bantuan media yang semuanya 

membutuhkan biaya yang sangat besar.  

Siapa pun yang dipilih rakyat, atau bahkan kalau pun mereka tidak memberikan 

suaranya -yang artinya mereka tak ingin dipimpin oleh satu pun dari calon-calon yang 

disajikan -tetap saja pemerintahan bakal terpilih, dan kekuasaan yang sebenarnya 

memimpin di belakang layar panggung pemilihan umum, yaitu para elit penguasa 

freemason, tetap berkuasa. Tentu ada pula negara-negara kafir yang tidak merasa 

perlu mengadakan pemilihan umum. Sebagai gantinya sang pemimpin boneka 

mengaku bahwa kepentingan-kepentingan rakyat bersemayam di sanubarinya, dan 

sebagai bukti boleh saja negaranya disebut "republik rakyat", walaupun ungkapan 

yang tak bermakna ini tidak akan mengubah apa pun.  

Kini, mereka yang benar-benar memerintah negara-negara kafir, yaitu  mereka 

yang mengendalikan lembaga-lembaga keuangan dan badan-badan usaha kafir, 

yaitu para freemason. Para freemason lah yang menentukan apa yang bakal dijadikan 

proyek-proyek sosial. Badan-badan usaha yang dikendalikan oleh para freemason 

menjalankan proyek-proyek ini , seraya memperbudak kaum pekerja di dalam 

proyek-proyek itu. Proyek-proyek ini didanai oleh lembaga-lembaga keuangan yang 

dikendalikan para freemason.  

Inti lembaga keuangan kafir yaitu  sistem perbankan, sebab  sistem inilah yang 

mengelola darah dan nyawa proses produsen-konsumen: uang, Pentingnya sistem 

perbankan dapat dilihat dari kenyataan bahwa sistem ini tidak saja mem-ermudah 

transaksi dana secara nasional, tetapi juga memungkinkan terjadinya transaksi di 

antara negara-negara berbeda dengan mata uang yang berbeda. Akibat dari 

transaksi-transaksi internasional ini yaitu , uang itu sendiri menjadi komoditi. 

Sebagaimana uang dapat dicipta dari nihil melalui pemungutan komisi setiap kali satu 

mata uang ditukar ke mata uang lainnya, uang juga dapat dicipta dengan sekedar 

membeli dan menjual berbagai mata uang dalam selang-selang waktu yang strategis. 

Transaksi-transaksi ini sangat ajaib sebab  biasanya tidak ada uang yang berpindah 

tangan, tapi dengan membeli dan menjualnya di hari yang sama, laba bisa saja 

diperoleh dan direkam dalam komputer di bank.  

Kegiatan ini serupa dengan apa yang terjadi di bursa saham, yaitu tempat di 

mana badan-badan usaha swasta dan pemerintah bisa mendapatkan modalnya, 

dengan menjanjikan bagi basil (bunga) kepada para pemegang saham saat uang itu 

secara efektif digunakan perusahaan yang meminjamnya.  

Mendapatkan modal dengan cara ini sangat menarik bagi perusahaan swasta 

maupun pemerintah, sebab  akhirnya cara ini bisa jadi lebih murah daripada 

meminjamnya dari bank. Meminjamkan uang dengan cara ini lebih menarik bagi 

pemegang saham, sebab  jika perusahaan ini  memperoleh laba besar, maka 

bagi hasil per tahun akan lebih besar daripada seluruh bunga majemuk yang tekumpul 

andaikan uang itu didepositokan di bank.  

Kemudian yang terjadi yaitu , bagai mata uang, maka saham-saham pun bisa 

menjadi komoditi juga. Saham bisa dibeli dan bisa dijual. Anda bisa 

memperjualbelikan saham sebab  berbagai alasan. Misalnya, untuk memperoleh atau 

melepaskan pengendalian atas perusahaan yang menerbitkan saham itu. Ini bisa 

terjadi sebab , jika anda mendanai sebagian besar keuangan perusahaan maka anda 

memiliki hak untuk memutuskan bagaimana perusahaan itu dijalankan. Dan tentu saja 

para freemason punya maksud untuk mengendalikan semua perusahaan penting, toh 

merekalah satu-satunya pihak yang punya cukup dana untuk mencapai maksud itu. 

Artinya, melalui sistem pengendalian perusahaan seperti ini, yaitu dengan cara 

menguasai sebagian besar sahamnya, maka para freemason dapat mengambil-alih 

siapa saja yang mereka kehendaki, hanya sebab  merekalah yang mampu membayar 

berapa pun untuknya. Begitu mereka memiliki cukup saham agar bisa 

mengendalikan, maka langsung orang-orangnya akan ditempatkan di perusahaan itu. 

Beginilah salah satu wujud pengambil-alihan Dajjal.  

Biasanya, alasan memperjual-belikan saham bisa sekedar untuk memperoleh 

uang dengan menanamnya secara bijak, atau agar memperoleh uang dengan cepat 

bila anda memerlukannya (dengan menjual saham-saham itu). Alasan lain untuk 

memperjualbelikan saham yaitu  untuk memperoleh laba cepat tanpa harus berpisah 

dengan sepeser pun dalam setiap tahap transaksi. Sebagaimana perjudian yang 

terjadi di pertukaran mata uang, semua kejadian ini terjadi di atas kertas, atau 

(misalnya) di layar komputer via Internet. Salah satu siasat favorit yaitu  dengan 

membeli saham-saham -walaupun anda tidak ada uang untuk pembeliannya -dan 

berharap untuk dapat menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi, sebelum 

saat pembayaran anda tiba. Cara lainnya yaitu , anda bisa saja menjual saham yang 

sebenarnya tidak anda miliki, dengan harapan bahwa anda dapat membeli saham 

ini  dari orang lain dengan harga lebih rendah dari jumlah yang bakal anda 

dapatkan, dan tentunya dengan harapan bahwa anda bisa membeli saham-saham 

yang lebih murah itu sebelum tiba waktu anda harus "memindah-tangankan" 

saham-saham yang belum anda miliki itu kepada pembeli aslinya. Dengan cara yang 

mana pun, keuntungan besar dapat diperoleh tanpa modal sedikitpun, kecuali 

kemahiran berakrobat di saluran-saluran telepon. Tentu saja, seperti para freemason, 

jika anda sudah punya modal besar yang bisa anda mainkan kapan saja di mana saja, 

maka anda bisa jual-beli saham dengan mudah, seraya berharap bahwa kekuatan 

pasar pada akhirnya akan memudahkan anda menjual di atas harga belinya, atau 

memudahkan anda membeli di bawah harga jualnya nanti,  

Perebutan kekuasaan atas pengendalian sistem produsen-konsumen kafir, yaitu 

sistem Dajjal , berlangsung dalam ajang komoditi, saham dan penukaran mata uang. 

Dan dari perebutan kekuasaan inilah didapat keuntungan. Jadi sebenarnya, bahkan di 

puncak piramida produsen-konsumen pun prinsip memecah-belah lalu menguasai 

tetap berlangsung. Pembelahan utamanya yaitu  antara siapa yang mengendalikan 

dan siapa yang dikendalikan. Dalam kerangka keuangan hal ini sama dengan: siapa 

yang meminjamkan (kreditur) dan siapa peminjamnya (debitur).    

Perusahaan baru macam mana pun perlu meminjam uang agar dapat tumbuh. 

Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang banyak, yaitu  dengan meminjam 

dari satu sumber kemudian datang ke sumber kedua untuk meminjam lebih banyak 

lagi -dengan menjadikan pinjaman yang pertama itu sebagai agunan. Ini 

mengakibatkan uang anda bisa berlipat ganda dari nihil, kemudian anda datang ke 

sumber ketiga untuk meminjam uang yang lebih banyak lagi, dengan mengagunkan 

uang pinjaman yang anda sudah kumpulkan sebelumnya. Oleh sebuah perusahaan 

yang cukup besar yang punya kelayakan kredit yang bagus, proses itu biasanya dapat 

dijalankan sampai 8 kali berturut-turut. Dengan terkumpulnya dana yang cukup 

melalui cara tadi, perusahaan itu pun kemudian harus meniti sebuah usaha yang akan 

dapat memberi keuntungan yang cukup untuk melunasi semua pinjaman beserta 

bunganya masing-masing. Dan agar bisa melakukan ini, para pengendali perusahaan 

harus bersikap kejam, dan memang demikianlah tabiat semua perusahaan yang 

sukses.  

Ada kalanya, sebuah perusahaan sukses sudah bisa menghasilkan cukup 

banyak kegiatan usaha, dan sudah mengumpulkan cukup dana sehingga tidak perlu 

berhutang lagi. Pada tahap seperti ini, perusahaan itu bisa mulai mengambil-alih 

perusahaan-perusahaan kecil lainnya, baik melalui kesepakatan bersama maupun 

melalui kelihaian di lantai bursa saham. Maka akan tiba suatu masa di mana, sebuah 

perusahaan raksasa telah mengumpulkan cukup banyak dana di cukup banyak 

negara-negara yang berbeda, sehingga memungkinkan ia memiliki sistem 

perbankannya sendiri, yang berdiri-sendiri tetapi tidak bersaing dengan sistem 

perbankan internasional yang utama. Pada akhirnya, „bank‟ milik perusahaan 

multi-nasional ini ada dalam kedudukan untuk memburu semua kegiatan 

menguntungkan, yang dinikmati oleh perbankan kafir secara keseluruhan -seperti 

memberi pinjaman berbunga dan mendanai proyek-proyek menguntungkan -seraya 

melepaskan perusahaannya dari semua kewajiban yang membebaninya, jika 

perusahaan itu masih bergantung pada sistem perbankan kafir -misalnya, kewajiban 

untuk membayar biaya bank setiap kali dana dalam jumlah besar harus dipindahkan 

dari satu negara ke negara lainnya, atau harus manut pada peraturan yang 

mengendalikan pertukaran uang, atau harus membayar bunga pinjaman 

proyek-proyek barunya.  

Dengan 'bank-bank' miliknya sendiri, perusahaan-perusahaan multi-nasional 

memastikan keleluasaan geraknya. Dan sebab  antara mereka dengan sistem 

perbankan kafir yang utama tidak ada persaingan, sebab  semua elit penguasanya 

yaitu  para freemason, maka uang yang dikeluarkan oleh semua perusahaan 

multi-nasional itu, lambat-laun akan menemukan jalan masuk ke sistem perbankan 

utama, yang akan membuat uang itu tumbuh dengan meminjamkan 12 per 13 darinya 

secara berbunga, atau dengan menanam sebagian dari uang itu di bursa saham.  

Pada tahap ini, sistem perbankan kafir utama tak ada henti-hentinya dapat 

menciptakan uang dari nihil. Pertama, sebab  uang hasil pengenaan bunga bisa 

dipinjamkan lagi dan akan menghasilkan bunga-bunga tambahan, proses ini bisa 

berlaku terus ad infinitum (hingga tak berhingga), Dan kedua, sebab  misalnya 

seseorang meminjam 1 juta rupiah, kemungkinan besar ia akan menyimpan sebagian 

dari pinjaman itu di bank, maka walaupun bagi si peminjam uang itu yaitu  sebuah 

jumlah yang "negatif" alias bukan benar-benar miliknya -sebab  jumlah itu toh pada 

akhirnya harus ia kembalikan lagi -namun bagi bank jumlah itu yaitu  jumlah yang 

"positif", dalam arti bahwa 12 per 13 darinya bisa dipinjamkan lagi ke pihak lain, atau 

bisa ditanamkan lagi. Proses ini pun bisa berlangsung ad infinitum.  

Sejauh perhatian transaksi-transaksi "masyarakat umum", praktek-praktek 

perbankan yang baru disebutkan nampaknya tak berarti, walaupun sebenarnya, jika 

seluruh transaksi-transaksi kecil di dunia digabungkan, tentulah sistem perbankan 

pun memperoleh laba yapg lumayan besarnya. Praktek-praktek perbankan 

sedemikian menjadi berarti dalam transaksi-transaksi internasional yang besar. 

Dalam waktu yang singkat, pinjaman beberapa juta dollar atau pound saja dapat 

menumbuhkan bunga yang besar pula. Ini berarti ketergantungan debitur kepada 

bank kreditur juga membesar. Ini juga berarti bahwa lautan harta bank kreditur yang 

dikumpulkan dengan cara melipat-gandakannya melalui pengenaan bunga atas 

pinjaman, akan bertambah dengan begitu cepat sehingga tak penting lagi apakah 

suatu pinjaman bisa terlunasi atau tidak. Tak seorang pun di bank akan kelaparan jika 

pinjaman tidak dikembalikan. Namun yang terpenting yaitu , bahwa bank 

berkedudukan untuk mendikte peminjamnya, mengenai persyaratan apa yang bisa 

menghapuskan kewajiban pembayaran bunga atau pinjaman atau keduanya, bahkan 

bank memperoleh kedudukan yang lebih kuat untuk menentukan 

persyaratan-persyaratan lebih lanjut untuk peminjaman selanjutnya, misalnya dalam 

hal, ke mana atau pada proyek-proyek apa pinjaman-pinjaman baru boleh 

ditanamkan. Akhirnya, melalui penciptaan hutang-hutang, bank bisa mengendalikan 

siapa pun yang meminjam uang.  

Perwujudan pemungkas gejala penyakit "pengendalian melalui hutang" dan 

"dorongan melalui ketakutan" ini, dapat kita simak dari kegiatan International 

Monetary Fund dan World Bank. Lazimnya, IMF meminjamkan uang kepada 

negara-negara "berkembang" High Tec North, sedangkan World Bank meminjamkan 

uang kepada negara-negara dunia "ketiga", yaitu negara-negara "belum berkembang" 

dari Poor South. Kedua lembaga keuangan ini uangnya berlimpah, setidaknya di atas 

kertas -atau dalam komputer -yang sebenarnya tidak mempunyai makna sebagai 

uang sebenarnya, Namun arti yang sesungguhnya yaitu  bagaimana pengendalian 

atas semua pemerintahan di dunia -sebab  kini, tidak ada satu pun pemerintahan di 

dunia yang tidak terbelit hutang -sebab  begitu sebuah pemerintahan terbelit hutang, 

maka pemerintahan itu dapat diatur bagaimana cara mempergunakan uang yang 

akan dipinjamkan kepada mereka; dan mereka dapat disetir bahwa jika mereka 

melakukan "ini" maka akan disediakan lebih banyak lagi dana untuk dipinjam; dan 

sebaliknya bila mereka melakukan "itu" maka tak ada lagi dana untuk dipinjam.  

Inilah siasat utama bagaimana usaha elit freemason penguasa sistem kafir, yaitu 

sistem Dajjal, untuk menguasai dunia. Sistem perbankan yang dikendalikan 

freemason meminjamkan uang ke setiap pemerintahan, dan akan terus memberikan 

pinjaman walau pun hutang negara itu sudah begitu besar -tak punya harapan lagi 

untuk dapat melunasi seluruh hutang ini  -dengan syarat negara itu hams 

menaati apa yang diperintahkan pada mereka. Inilah kenyataan dari apa yang disebut 

sebagai neo-kolonialisme. Walau dinyatakan bahwa sebuah negara telah diberikan 

apa yang katanya kemerdekaan, sesungguhnya kemerdekaan itu hanya akan 

diberikan jika negara ini  sudah sepenuhnya terlibat dalam proses 

produsen-konsumen kafir, dan sudah sepenuhnya bergantung pada sistem 

perbankan kafir untuk mendanai proses ini .  

Sebagian besar hutang nasional negeri-negeri non-Muslim diciptakan dan 

dikembangkan pada abad kedelapanbelas dan abad kesembilanbelas, sedang 

hutang nasional negeri-negeri Muslim diciptakan selama abad keduapuluh ini, 

sebagian besar berkat hasil karya Jamal‟ud-Din Al-Afghani, Muhammad Abdou, dan 

Rashid Reda, setelah mereka diberikan kehormatan semu untuk menjadi anggota 

wisma freemason Lord Cromer -Lord Cromer yaitu  anggota keluarga bank Barings 

yang menghebohkan itu -mereka berhasil "membujuk" (kebanyakan melalui suap dan 

ajaran-ajaran Islam yang telah diselewengkan) penguasa-penguasa Muslim pada 

masa itu untuk menerima bahwa beberapa jenis bunga tertentu "tidak haram", dan 

bahwa memakai  uang kertas tidak saja "halal" malah dianjurkan -dengan 

demikian semua ini melancarkan masuknya sistem bank yang mutlak haram ke 

wilayah-wilayah muslim, atas nama kemajuan, perkembangan dan modernisasi.  

sebab  semua hutang nasional telah diatur sedemikian rupa sehingga tidak 

akan pernah bisa dilunasi -bahkan hutang nasional Inggris, yang dimulai dengan 

pinjaman sebesar 1,2 juta pound kepada Raja William dari Orange, secara sengaja 

diatur berdasar pengguliran tahunan (annuiti) yang tak bisa dihapus -dan dengan 

penerapan bunga majemuk serta tambahan-tambahan pinjaman yang selalu terjadi 

saat perang, maka tentu semua hutang nasional akan selalu bertambah besar -dan 

pada saat artikel  ini ditulis, hutang nasional Inggris kini hampir mencapai 300 milyar 

pound -maka salah satu akibat yang tak terelakkan yaitu  berlakunya pemajakan 

atas khalayak di semua negara kafir di dunia, dan pajak-pajak ini dari waktu ke waktu 

terus meningkat -itulah mengapa saat ini khalayak yang memberikan suara 

cenderung memilih siapa pun yang berjanji untuk memungut pajak terkecil.  

Inilah sebenarnya dasar ekonomi "demokrasi modern": sebuah negara yang 

pemerintahnya dipilih untuk melayani hutang nasional, dengan mernajak para pemilih 

umum. Inilah kenyataan gejala-gejala penyakit "pengendalian melalui hutang" dan 

"dorongan melalui ketakutan". Inilah dasar tata dunia baru. Pengendalian ekonomi 

zalim yang disamarkan debat politik liberal.   

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kini, mereka yang sebenarnya mengatur 

negara-negara kafir bukanlah para politikus yang muncul di televisi, tetapi yang 

sebenarnya berkuasa yaitu  mereka yang mengendalikan lembaga-lembaga 

keuangan dan bisnis yang utama, yaitu para freemason. Pengendalian yang efektif 

khususnya dilaksanakan dengan memakai  sistem perbankan kafir untuk 

menciptakan hutang yang berbunga, yang berkembang sedemikian besarnya 

sehingga tidak akan bisa dilunasi. Seperti yang telah kita ketahui, para freemason, 

dalam rangka mempercepat proses penciptaan hutang, menyulut keadaan-keadaan 

pertikaian yang bisa mendatangkan laba dengan menjual barang-barang -khususnya 

persenjataan dan makanan -kebutuhan pihak-pihak yang terjebak dalam pertikaian 

dengan harga yang tinggi, dan dari situlah hutang-hutang tercipta, yaitu dengan 

memberikannya sebagai hutang yang berbunga.  

Pertikaian yang direkayasa oleh para freemason bermacam-macam, mulai dari 

manipulasi kekuatan-kekuatan pasar -terutama di bursa-bursa komoditi. bursa saham 

dan bursa pertukaran uang -hingga merekayasa perang berskala besar. Sebagai 

contoh, dalam rangka membelokkan kekayaan negeri-negeri Muslim penghasil 

minyak pada saat boom minyak pada tahun 1970-an -apalagi sebab  pada tahun 1973 

harga minyak dilipat-empatkan oleh OPEC sebagai tindak pembalasan atas 

dukungan negara-negara High Tec North kepada serangan militer Israel ke 

negara-negara Arab pada Perang Yom Kippur -harga minyak mentah dari Timur 

Tengah segera dipangkas, tidak saja dengan cara menawar-ulang harga-harga 

minyak per barel, tetapi juga dengan mendevaluasi mata uang semua negara 

penghasil minyak itu -dengan cara menakar-ulang nilai-nilai tukarnya di sistem 

perbankan internasional, atau memanipulasi pasokan dan permintaan mata-mata 

uang itu di bursa pasar uang internasional (dan dengan demikian mempengaruhi 

nilainya masing-masing).  

Sepanjang tahun 1980-an, untuk menyulut perang dan melemahkan Iran, Iraq 

dipersenjatai dengan biayanya sendiri. Begitu hal ini dicapai -sembari meningkatkan 

ketergantungan Iraq dan Iran kepada sistem perbankan internasional -Iraq kemudian 

didorong untuk menyerbu Kuwait, sedangkan pada saat yang sama, Arab Saudi dan 

negara-negara Teluk lainnya diwanti-wanti bahwa Iraq akan menyerbu mereka 

sebagai sasaran berikutnya jika pasukan-pasukan Amerika -yang dibantu 

pasukan-pasukan simbolis dari negara lain, untuk menciptakan kesan bahwa ini 

yaitu  masalah "internasional" -tidak diizinkan untuk datang menjadi juru selamat 

negara-negara itu, atas biaya negara-negara itu masing-masing. Pasukan-pasukan 

pun tiba, Perang Teluk pun berkobar, semua senjata-senjata berteknologi mutakhir 

pun diuji-cobakan (termasuk senjata-senjata kimia-biologisnya lengkap beserta 

penawarnya masing-masing), Kuwait pun kena penghancuran dan kemudian harus 

dibangun kembali atas biayanya sendiri, sebagian besar Iraq pun kena penghancuran 

dan sebagian penduduknya terpangkas, dan tentu saja Arab Saudi dan semua 

negara-negara Teluk lainnya menghabiskan milyaran dolar untuk membiayai perang 

itu dan untuk kemudian membeli persenjataan yang sudah ketinggalan zaman dalam 

rangka memastikan agar hal serupa itu tidak terulang kembali.  

Dengan demikian tentu saja sepanjang awal 1990-an, laba yang berlimpah 

diperoleh industri persenjataan, dan laba yang berlimpah pula diperoleh sistem 

perbankan internasional sebab  dana-dana mengucur dari Timur Tengah dalam satu 

nilai tukar masuk ke High Tec North yang kemudian seusai perang kembali lagi ke 

Timur Tengah dalam nilai tukar yang lain. Walhasil, Timur Tengah yang kaya minyak 

itu telah terkuras menjadi hampa, lalu seakan-akan menggaris-bawahi kuasa yang 

kini dinikmati sistem perbankan atas Arab Saudi dan negara-negara Teluk, maka 

dalam hanya semalam saja bank BCCI Arab ditutup, dan besertanya terhapuslah 

sebagian besar "kekayaan" Muslimin di seluruh dunia.  

Sekali lagi, semua telah berjalan sesuai dengan rencana, dan para arsitek tata 

dunia baru menang lagi. Seperti inilah kegiatan yang telah direkayasa secara cermat, 

yang dipahami dengan baik oleh Ezra Pound dan Adolf Hitler, yang keduanya pun 

telah berusaha untuk mencegah kegiatan itu, namun gagal.   

Mungkin, salah satu sebab mengapa Pound dan Hitler gagal membongkar dan 

menghancurkan kegiatan para freemason, yaitu  sebab  mereka tidak sepenuhnya 

sadar akan hakikat kehidupan. Hakikatnya yaitu  bahwa tak ada sesuatu pun, 

kecuali Allah. Ini berarti bahwa apa pun selain Allah hanya seolah-olah ada jika kita 

menganggapnya nyata.   

Jalan hidup Nabi Muhammad saw berarti kenyataan hanyalah untuk Allah. Jalan 

hidup kufr artinya kenyataan diberikan ke selain Allah.  

Jika terdapat cukup banyak orang yang kini sedang diperbudak oleh sistem kafir, 

yaitu sistem Dajjal -maka dengan demikian mereka terperangkap dalam cara 

pandang kehidupan ala kafir -memutuskan untuk mengikuti jalan hidup Nabi 

Muhammad saw, dan dengan demikian berhenti memberikan kenyataan atas 

apa-apa yang telah dikondisikan kepada mereka sebagai kenyataan oleh sistem 

media dan pendidikan, maka proses produsen-konsumen akan runtuh dan berhenti 

jadi kenyataan -apalagi bila para Muslim meninggalkan bank-bank dengan uang-uang 

kertas dan uang-uang plastiknya yang tak berharga.  

Jadi, cara melawan sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, bukanlah dengan 

melawannya, tapi dengan meninggalkannya. Abaikan saja. Jalan keluar dari sistem 

biadab ini yaitu  dengan mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad saw. Sistem ini 

sudah berada diambang keruntuhannya. Dan sebab  itu akan semakin mudah dan 

semakin mudah lagi untuk meninggalkannya, dan mudah pula untuk mengikuti 

jalannya Nabi Muhammad -dan sebab  sistem itu runtuh, hanyalah para Muslim yang 

dapat menghadapi apa pun yang terjadi setelah itu. Putuskan pilihan anda sekarang 

juga.  

 Salah satu sebab-sebab utama kenapa sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, berada 

dalam tahap akhir pembinasaan-diri dan di ambang keruntuhannya, yaitu  sebab  

uang, yang merupakan darah dan nyawa bagi proses produsen-konsumen, yang 

dijadikan perantara dan alat kendali melalui hutang-piutang dalam sistem perbankan, 

sebenarnya nilainya hanya senilai kertas yang dipakai untuk mencetaknya. Sebagai 

darah dan nyawa sistem produsen-konsumen, uang menderita penyakit kurang darah 

yang parah.  

Keberhasilan uang berperan sebagai alat kendali melalui hutang-piutang yang 

diejawantahkan sistem perbankan, sebab  cukup banyak orang yang yakin bahwa 

uang ada nilainya. Uang, sebenarnya, hanya punya nilai sejauh taksiran manusia dan 

tidak punya nilai bawaannya sendiri. Uang hanyalah angka-angka yang dicetak di 

atas iembaran-lembaran kertas atau disimpan dalam pusat-pusat data komputer.  

Siapa pun yang memakai  uang semacam ini terlibat dalam tipu-daya 

raksasa atas kepercayaan. Begitu tipuan ini terbongkar, maka siapa pun tidak akan 

mungkin percaya lagi kepada uang kertas, uang plastik, maupun uang micro-chip.  

Perdebatan yang tak henti-hentinya mengenai inflasi, dan semua usaha sia-sia 

yang dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan masalah inflasi yang maya ini, 

yaitu  umpan tipuan, impian kosong atau kucing dalam karung, semuanya sebagai 

samaran dari kenyataan bahwa masalah sebenarnya bukanlah mengenai 

berkurangnya nilai uang, sebab  bukankah sudah sejak awalnya sebenarnya uang 

tidak punya nilai hakiki yang dapat dikurangi?  

Mengapa kini uang tidak punya nilai apa pun, kecuali nilai semu hasil taksiran 

masyarakat yang telah dikondisikan untuk menerimanya, yaitu  berkat cara 

penanganan sistem perbankan dan pasar uang internasional. Sebagai buktinya, 

penting kita tinjau asal-usul uang sebelum adanya sistem perbankan.   

Dahulu, umumnya uang terbuat dari emas dan perak. sebab  dibuat dari 

logam-logam berharga, maka tentu saja uang ini  bernilai. Sekalipun dilebur, 

nilainya tidak akan berubah (berbeda dengan uang kertas yang pada suhu 233°C 

kontan terbakar dan menjadi abu). Begitu kadar dan mutu emas atau perak yang 

dipakai sebagai uang logam dapat ditentukan, maka cukup dengan menimbangnya, 

uang logam yang dibuat di negara mana saja dapat dipakai sebagai nilai tukar di 

negara lain mana saja, tanpa kecuali. Sebagai akibatnya, nilai sebuah mata uang 

akan berada pada rentang yang tetap, sedangkan nilai tukar barang-barang yang 

dibeli dengan uang itu akan berubah sesuai dengan kekuatan pasar, yaitu dengan 

adanya perubahan pasokan dan permintaan.  

Bahkan pada masa Reformasi Gereja Trinitas Eropa di abad keenambelas, 

semua jenis transaksi yang melibatkan riba dilarang bagi dan dihindari oleh semua 

yang beriman dari kalangan Yahudi, Kristen dan Muslim. Namun sewaktu Reformasi 

itu, Yahudi berdalih bahwa mereka berhak mengenakan bunga kepada non-Yahudi, 

Kristen berdalih bahwa mereka akan membolehkan "bunga yang kecil" sebagai 

pengganti "tanpa bunga", dan jauh setelah itu sebagian Muslim berdalih bahwa 

andaikan bunga diberi istilah lain, misalnya "biaya jasa", maka itu bukanlah bunga. 

Begitu bunga mulai dikenakan, langsung nilai uang terkena pengaruhnya, dan sebab  

uang pun telah menjadi komoditi (bukan sebagai alat nilai tukar saja) maka nilainya 

menjadi rentan terhadap pengaruh kekuatan pasar, yaitu tingkat pasokan dan 

permintaan.  

Pada awalnya, perbankan dibentuk untuk memelihara uang milik orang lain 

dengan cara menyimpannya di tempat yang aman, walaupun pada saat itu uang 

masih dibuat dari bentuk yang gamblang dan ada nilai hakikinya. Tata-kramanya 

begini, jikalau ada seorang yang menitipkan emas atau peraknya dalam bank, sang 

bankir akan memberinya tanda terima, di mana dia berjanji akan membayar kembali 

emas atau perak ini  "tunai kepada pembawa" pada saat tanda terima itu 

dipertunjukkan kembali kepadanya. Tak lama kemudian ditemukan bahwa 

tanda-tanda terima ini dapat dipindah-tangankan. Ini membolehkan sang penitip emas 

membeli barang keperluannya senilai dengan titipan emasnya di bank, dengan cara 

memberikan tanda terimanya kepada sang pedagang. Lalu sang pedagang itu pun 

dapat pergi ke bank untuk mendapatkan emas yang dimaksud, walaupun bukan dia 

yang menitipkan emas itu di sana.  

sebab  emas dan perak itu berat sedangkan kertas ringan, para bankir pun 

kemudian menemukan gagasan untuk mencetak uang kertas. Siapa pun yang 

menitipkan emas dan perak dalam banknya akan mendapatkan uang kertas ini. 

Kertas ini  kini dapat digunakan untuk jumlah transaksi beruntun yang tak 

berhingga, tentunya dengan kepahaman bahwa kapan saja dan siapa saja yang 

memiliki sejumlah "nota bank" ini, sesuai kehendaknya, dapat datang ke bank dan 

menukar kertas-kertasnya kembali menjadi emas atau perak, sejumlah yang tertera 

pada kertas-kertas itu.  

Sewaktu masih sesederhana itu, sekitar pertengahan abad kesembilanbelas, 

semua nota kertas didukung oleh jumlah yang sama dalam emas dan perak. Kita bisa 

menukar satu dengan lainnya dengan mudah. Pada masa inilah, atau malah 

sebelumnya, para bankir menemukan bahwa pada setiap saat untuk setiap 13 kilo 

emas atau perak yang dititipkan biasanya hanya 1 kilo yang dibutuhkan nasabah 

untuk berbelanja, dengan demikian 12 kilo sisanya, dapat digunakan oleh para bankir 

untuk memberikan pinjaman berbunga, atau mengadakan penanaman modal yang 

menguntungkan.  

Pengejawantahannya yaitu , untuk setiap "13 kilo" nota kertas, hanya satu nota 

yang perlu didukung oleh emas, dan inilah yang terjadi. Sudah bukan saatnya lagi 

untuk setiap nota kertas didukung penuh dengan emas atau perak sesuai jumlahnya. 

Sebaliknya, kini untuk setiap kilo emas atau perak yang tersimpan dalam bank, 

sejumlah 13 kilo nota kertas-lah yang dicetak.  

Walaupun dalam keadaan seperti ini, kita masih bisa datang ke bank, 

memperlihatkan "l kilo" nota kertas, minta untuk ditukar dengan "1 kilo" emas, dan 

mendapatkan emas. Tentu dengan syarat tidak semua orang ingin menukar uang 

kertasnya dengan emas pada saat yang sama, dan semua bank sebenarnya "aman", 

walaupun semua uang kertas sudah tidak didukung penuh dengan emas lagi, Kini, 

secara nyata, "nilai" uang kertas hanyalah sepertigabelas dari nilainya yang dahulu.  

Secara bertahap masyarakat menjadi begitu terbiasa memakai  uang 

kertas, sehingga sudah tidak ada lagi yang datang ke bank untuk menukarnya jadi 

emas atau perak. Semuanya telah yakin bahwa uang kertas punya "nilai" sesuai 

dengan apa yang tertera pada kedua sisinya, yaitu nilai "muka"nya. Pada saat yang 

sama jumlah kegiatan bisnis bank-bank terus meningkat, dan pada saat inilah 

cikal-bakal proses produsen-konsumen dimulai dan menjadi mapan. Ini artinya sistem 

perbankan menciptakan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang, bukan dengan cara 

mencetak uang, tetapi dengan mengenakan bunga.  

Piutang-piutang perbankan -khususnya hutang-hutang nasional raksasa 

-selama dalam keadaan bunga majemuk, tumbuh membesar dalam pemartikel an, 

yaitu "di atas kertas", tetapi uang yang diciptakan dengan cara begini tidak punya 

hubungan langsung dengan uang yang sudah ada dalam peredaran, yaitu uang yang 

didukung dengan perbandingan 13 kertas dan 1 emas atau perak itu. Sebenarnya, 

uang dari bunga itu diciptakan dari "nihil" dan uang yang "dari nihil" ini pun tidak 

digamblangkan menjadi uang kertas, tetapi hanya diberi kenyataan pahit dalam 

bentuk catatan di pemartikel an, atau sebagaimana biasanya hari ini, dalam bentuk 

catatan di komputer.  

Semua ini membuat bank-bank berada dalam keadaan yang gamang. Misalnya, 

jika saja secara bersamaan semua orang memutuskan untuk menarik uangnya dari 

bank, bank-bank itu benar-benar tidak akan mampu untuk memenuhinya, ini sebab  

jumlah uang itu, yang tercatat dalam pemartikel an dan komputer itu, jauh lebih besar 

dari jumlah uang kertas yang sebenarnya ada dalam peredaran. Maka datanglah 

keperluan bagi para bankir untuk memainkan dua muslihat kredibilitas, guna 

menyiasati jumlah nasabah yang semakin banyak, yang diperlukan bank guna 

menarik keuntungan dan memanipulasi.  

Muslihat yang pertama yaitu  agar semua Orang dapat percaya bahwa semua 

uang kertas itu masih "didukung" dengan emas, walaupun masyarakat sudah tak 

biasa lagi menukarkan uangnya dengan emas. Muslihat yang kedua yaitu  membuat 

semua orang berpikir bahwa semua uang yang jumlahnya sesuai dengan catatan 

pemartikel an dan komputer itu, memang ada dalam bentuk uang kertas. Tak satu pun 

dari khayalan yang diciptakan oleh para bankir-penyihir freemason ini yaitu  sebuah 

kenyataan, tetapi selama mayoritas penduduk menyangka itu semua nyata, maka 

seluruh sihir yang benar-benar khayal ini masih bisa berjalan terus, dan memang 

masih berjalan hingga kini.  

Akibat marak dan luasnya hutang-hutang yang diciptakan selama perang dunia 

pertama -yang menurut sumber perkiraan "resmi" hutang-hutang ini meningkat hingga 

475 persen, ini secara keseluruhan bila dihitung dari tahun 1914 hingga 1920 -maka 

jurang yang besar telah tercipta antara jumlah uang yang diciptakan melalui bunga 

dengan jumlah uang kertas yang dicetak, perbedaan ini begitu mencolok sehingga 

sudah tak mungkin lagi mempertahankan perbandingan 13 kertas dan 1 emas. Maka 

dari itu, selama dasawarsa berikutnya, sistem perbankan internasionat ramai-ramai 

meninggalkan standar emas, dan mulai dari saat itu sudah tak mungkin lagi 

membawa uang kertas ke bank untuk ditukar dengan persamaannya dalam emas 

atau perak. Sejak itulah, "nilai" sebuah mata uang dapat diubah dengan 

semena-mena oleh sistem perbankan dan pasar mata uang internasional. Sejak itulah 

"nilai" uang semakin ditentukan oleh kekuatan pasar uang internasional dan oleh 

"kebijaksanaan pemerintah" mengenai jumlah ekspor, impor dan neraca pembayaran.   

Sebagai akibat dari lebih banyak lagi hutang-hutang yang diciptakan sewaktu 

perang dunia kedua, dan dengan terus berjalannya bunga majemuk selama dua ratus 

tahun, kini hutang-hutang negara-negara di dunia menjadi sedemikian besarnya, 

sehingga diperlukan pembentukan lembaga-lembaga keuangan supra-nasional 

seperti IMF dan World Bank, untuk mengatur keadaan di mana jutaan dan milyaran 

dan trilyunan dapat hilang atau hadir sejalan dengan rumus-rumus matematika -yang 

kini semuanya sudah otomatis dikomputerisasi -yang sudah ditentukan sebelumnya. 

Dengan demikian datang dan menetaplah "inflasi".  

Jelaslah bahwa salah satu bahaya terbesar bagi sistem perbankan freemason, 

yaitu  bila terlalu banyak orang yang akan minta uang kertas pada saat yang 

bersamaan. Walau jumlah uang kertas tambahan yang tak berbatas dapat dicetak 

dengan mudah, yang bila perlu, untuk menentukan nilainya bisa saja dicetak lengkap 

dengan angka yang sangat besar pada muka-mukanya, namun akan selalu ada 

bahaya bahwa mayoritas penduduk dapat menembus tabir khayalan, dan segera 

sadar bahwa sebesar apa pun nilai yang tertera pada kertas itu, tetap saja tak lebih 

berharga dari satu sen.  

Jadi, hanya dengan secara sangat berhati-hati mengatur perputaran uang kertas 

-tak terlalu longgar, tak terlalu ketat -maka khayalan tentang kewajaran dan "seperti 

biasa", dapat dipelihara dan dipertahankan. Toh, hanya sedikit sekali orang yang 

hartanya terbelit dalam sistem perbankan, yang berani membayangkan bahwa "jaring 

pengaman" yang amat rapuh itu dapat terhempas dengan sekali tiupan, bahwa 

seluruh sistem itu runtuh, bahwa ribuan, jutaan, bahkan milyaran trilyunan mereka, 

ternyata semuanya sama-sama tak berharga.  

Dalam rangka mengatur sulitnya keseimbangan pasokan dan permintaan, dan 

untuk mengatur rentang nilai uang yang sekarang berubah-ubah agar tetap berada 

dalam batas-batas yang sepertinya "wajar", pakar-pakar ekonorni seperti John 

Maynard Keynes senantiasa menggagas teori-teori ekonomi baru demi 

mempertahankan mata-mata uang dunia yang berdasar-kertas dan 

berbunga-terinflasi itu, seluruh teorinya itu dirancang sebagai pengganti teori-teori 

lama yang sudah usang, yaitu teori iaissez fairs (biarkan saja), yang hanya dapat 

berlaku bilamana uang "nyata" yang dipakai -yaitu uang yang didukung dengan emas 

dan perak yang bernilai hakiki.  

Pada intinya, Keynes menarik perhatian khalayak bahwa tingkat permintaan 

atas jumlah uang yang berada di tangan sebenarnya dapat diatur, dengan cara 

mengatur hasrat berbelanja dan hasrat menabung, melalui peningkatan suku bunga 

perbankan, yaitu tingkat pengenaan bunga ke atas pinjaman dan tingkat bunga yang 

dibayarkan atas deposito. Ringkasnya, semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin 

tinggi biaya pinjaman dan semakin banyak bunga yang akan didapat para deposan. 

Dengan demikian suku bunga yang tinggi mendorong khalayak untuk sedikit 

berhutang, sedikit belanja, dan lebih banyak menabung. Sebaliknya suku bunga 

rendah mendorong khalayak untuk banyak berhutang, tentunya ini berarti lebih 

banyak belanja dan sedikit menabung, sebab  jikalau uang tidak akan "tumbuh" pesat 

dalam simpanan, sebaiknya dibelanjakan saja.  

Kenyataannya, teori-teori ekonomi Keynes ini nampak seperti mencapai dua 

hasil. Yang pertama, bila digunakan dalam proses produsen-konsumen, nampak 

berhasil dalam pengaturan tingkat kelancaran dan keleluasaan dunia usaha, dengan 

cara membuat dunia usaha sepertinya akan menguntungkan atau tidak, dengan 

demikian memungkinkan atau tidak, Yang kedua, bila digunakan untuk mengatur 

permintaan uang di tangan, dengan cara mengatur tingkat kelancaran dan 

keleluasaan kegiatan simpan-pinjam, yang pada akhirnya mengatur tingkat 

perbelanjaan.  

Perkembangan termutakhir dalam siasat sistem perbankan internasional, 

menjamin bahwa tidak akan ada terlalu banyak orang yang perlu uang pada saat yang 

sama, yang sebenarnya tidak ada dalam bentuk uang kertas, sekaligus membiarkan 

uang berada dalam catatan komputer saja. Pada dasarnya apa yang sedang 

diusahakan oleh mereka yaitu  membuat uang tidak diperlukan sama sekali. Ini 

semua telah terlaksana bukan hanya dengan menganjurkan transaksi giral melalui 

cek dan sebagainya, tetapi juga dengan meningkatkan penggu-naan 

transaksi-transaksi kartu plastik.  

Cara kerja transaksi kartu plastik yaitu  bilamana kita menunjukkan kartu plastik 

kita, yang memuat data pribadi kita, bersama-sama dengan jaminan dari bank bahwa 

mereka akan memenuhi keperluan dana kita yang terjadi akibat pemakaian kartu itu, 

kemudian rincian transaksi ini  dibuat dan dikirim ke bank kita, kemudian atas 

dasar laporan itu bank akan mendebet rekening kita dan akan mengkredit rekening 

pihak yang, misalnya, kita belanja darinya.  

Dalam transaksi seperti ini tidak ada uang yang berpindah tangan. Apa yang 

terjadi hanyalah sejumlah angka-angka dipindahkan dari satu kolom isian ke kolom 

isian lainnya dalam sistem jaringan data perbankan. Dengan semakin marak dan 

umumnya transaksi seperti ini, uang kertas semakin tak ada artinya. Jikalau saja cara 

transaksi seperti ini dijalankan sampai semaksimal mungkin, pada akhirnya sama 

sekali tidak akan ada permintaan uang kertas, sebab  ham-pir seluruh transaksi akan 

dilaksanakan via kartu plastik, dan akibat moneternya tercatat dalam komputer bank 

-penambahan di sini, pengurangan di sana -dan tentunya, untuk banknya, secuil dari 

sini dan secuil dari sana, bukan hanya dari bunga yang dikenakan atas apa pun yang 

kita "pinjam" dalam rangka menutupi transaksi kita, tapi juga ditambah dengan rabat 

yang dikenakan atas nilai transaksi apa pun yang didapat sang penjual.  

Salah satu akibat kecenderungan ini -yang ditunjang dengan maraknya layanan 

pendebetan dan pengkreditan otomatis -seperti yang terjadi di Inggris, salah satu 

contohnya, sejak tahun 1986 seseorang tak lagi punya hak untuk mendapatkan 

gajinya dalam bentuk tunai -yang dahulu hingga pertengahan abad ke-19 biasanya 

emas atau perak, bukan kertas, hingga kemudian emas dan perak itu ditarik dari 

peredaran dan digantikan dengan kertas. Kini seorang majikan tak lagi berkewajiban 

membayar pegawainya secara tunai, artinya para pegawai tadi bisa saja dibayar 

dengan cek atau dengan pengkreditan langsung kepada rekening pribadinya. Dengan 

kata lain, hampir semua orang di Inggris kini "memerlukan" sebuah rekening bank 

untuk bisa mendapatkan gajinya dengan mudah. Dengan kata lain, hampir semua 

orang di negara Inggris kini bergantung kepada sistem perbankan.  

Pada umumnya, sasaran yang hendak dicapai yaitu  dengan memberlakukan 

cara kerja kartu plastik secara mendunia, ini akan berarti bahwa hampir semua orang 

di seluruh dunia akan bergantung kepada sistem perbankan, artinya semua orang 

akan lebih mudah dikendalikan. Andai saja, katakanlah, seluruh "harta"mu tersimpan 

dalam data bankmu, tentu saja bisa "dibekukan" dengan mudah, atau pendebetan 

dapat berlangsung sesuai dengan, misalnya,. sebuah keputusan pengadilan. Dengan 

kata lain, jikalau anda merasa perlu dengan "uang"mu, haruslah anda berkelakuan 

baik.  

Sebaliknya, dilihat dari sudut yang lain, inilah sebabnya para perampok bank 

yang mutakhir tak perlu lagi sebilah golok, sebuah clurit, senjata api, maupun motor 

curian untuk melarikan diri, tetapi kini lebih diperlukan sebuah komputer, sebuah 

modem, dan perangkat lunak dan sedikit kemampuan untuk merasuk ke dalam dan ke 

luar sistem jaringan komputer perbankan.  

Jika saja kecenderungan dalam sistem perbankan ini dibiarkan terus berlanjut 

secara alami, maka pada abad ke-21 nanti kartu-kartu kredit juga akan menjadi kartu 

tanda pengenal diri setiap orang. Dan data-data pribadi setiap orang akan tercatat 

dalam komputer, pendapatan dan pembelanjaan setiap orang dapat dijadikan bahan 

analisa dan prakiraan, daya-kredit setiap orang dapat diawasi, bahkan pergerakan 

mereka pun dapat diketahui via rekaman dan catatan peng-gunaan kartu-kartu 

plastiknya pada waktu dan tempat kartu ini  digunakan -dan sudah tentu semua 

orang akan dianjurkan untuk membelanjakan lebih dari yang dimilikinya, dalam 

rangka senantiasa berada dalam hutang, persis seperti pemerintahan mana pun yang 

mereka dukung dan "pilih" itu -yang, apa pun status neraca pembayarannya, akan 

selalu mempunyai hutang nasional yang bertarnbah besar, selama sistem ini 

langgeng.  

Dan seiring dengan semakin saling-berkaitnya semua sumber-sumber data 

komputer yang berbeda-beda -sumber data perbankan, data kepemilikan TV, data 

pertanahan dan perumahan, data kepemilikan kendaraan bermotor, data listnk, gas 

dan air minum, data telepon, data rumah sakit dan kedokteran, data pensiun dan hari 

tua, data calon wakit rakyat, pendataan di kepolisian dan data badan pertahanan 

keamanan, dan semua ini baru secuil -maka mungkin saja lakon yang digambarkan 

dalam artikel  karya George Orwell yang berjudul Nineteen Eighty-Four (1984) tak akan 

terlalu jauh dari kenyataan, dibanding dengan keadaan pada saat artikel  itu baru terbit 

pada tahun 1949 -bahkan bila dibandingkan dengan keadaan di tahun 1984, di mana 

pada saat itu tata dunia baru belum diproklamirkan secara luas.   

Dengan demikian, tampaklah oleh kita bahwa, pengaruh sistem kafir, yaitu 

sistem Dajjal, melalui sistem perbankan internasional, telah nyaris mencapai tahap di 

mana uang kertas bukan hanya tak berharga, tapi juga bahwa tidak ada masalah 

dalam ke-tak-berhargaan-nya, toh sernua orang kini bergantung kepada layanan 

bank untuk menjalankan transaksi-transaksi keuangan mereka, jadi untuk apa uang 

kertas berharga. Bank juga dengan sendirinya telah menjadi alat tukar -sekarang 

semua transaksi dapat dilakukan dengan sekeping plastik, atau melalui pembicaraan 

di telepon, atau melalui Internet. Uang kertas sudah nyaris jadi pelengkap penderita. 

Dan seiring dengan bertambah kokohnya Internet, transaksi-transaksi keuangan 

menjadi lebih gaib dan kehilangan bentuk.  

Andaikan kita memakai  Internet untuk membuat suatu transaksi, kita tak 

perlu lagi menyerahkan kartu kredit kita ke orang-lain guna diambil datanya, tidak pula 

harus menanda-tangani apa-apa; bahkan kita sudah tak perlu lagi bertelepon dan 

berbicara kepada siapa-siapa untuk memberikan nomor dan masa berlakunya kartu 

kredit kita; kini yang dibutuhkan cukup dengan sedikit sebab n pada papan kunci 

komputer, sedikit pencetan pada mouse kita, langsung saja barang dapat diiklankan 

atau dibeli, tagihan dibayar atau dikirim, saham dapat dibeli dan dijual, dan 

keuntungan didapatkan atau hilang.  

Dan apabila sumber daya yang membuat semua jaringan lemah ini bisa 

berfungsi tiba-tiba diputus, terus kita mau apa? Allah yaitu  Daya yang memberi daya 

kepada semua sumber daya. Tidak ada daya dan upaya selain dari Allah.  

yaitu  dengan asas riba-lah tata dunia baru didirikan -dan oleh sebab  asas riba 

inilah semua akan runtuh, sebab  riba dilarang, dan sebab  Allah dan RasulNya telah 

menyatakan perang terhadap riba:  

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan 

tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang 

beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka 

ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (Qur'an: 

al-Baqarah 278-279)  

Adakah sesiapa yang pernah menang berperang melawan Allah dan RasulNya? 

Dan walau pun perang kepada riba tidak ada, segala sesuatu pasti berakhir.   

Khalayak di masyarakat kafir tak hanya dikendalikan agar perlu kepada sistem 

perbankan, sebagaimana telah kita lihat, mereka pun didorong untuk belanja lebih 

dari yang ia miliki, dan dengan demikian menjadi senantiasa berhutang kepada 

beragam badan keuangan, khususnya kepada bank. Inilah yang melanggengkan 

adanya ketergantungan kepada sistem perbankan hasil rekayasa para freemason, 

baik untuk seseorang di cabang lokalnya, maupun untuk pemerintah sebuah negara 

pada bank "sentral"nya atau pada World Bank atau IMF. Di tingkat inilah jauhnya 

jangkauan hutang-hutang tadi dipandang tak usah masuk perhitungan, Toh semua 

hanya nyata dalam catatan komputer.  

Apa yang perlu kita catat yaitu , dengan besarnya ketergantungan pada sistem 

perbankan, dan dengan semakin bertambahnya ketergantungan itu, maka bertambah 

besar pula kemampuan manipulasi pengendaliannya, walhasil bertambah besar 

pengaruh sistem kafir, yaitu sistem Dajjal, ke atas dunia. Sepenting dan sejauh 

apakah kendali dan pengaruh ini , dapat diukur dengan cara begini: andai saja 

kita coba tutup semua bank walau sejen