qari’ di sini adalah orang zuhud. Ini merupakan
istilah yang sudah dikenal sejak dahulu.
Sesungguhnya Allah memberikan taufiq kepada kebenaran dan kepada-
Nya kembalinya segala sesuatu.B
2 2 7Bab IX: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Zuhud
p
.1:
)
t ' i I
iol bi/diJS g{ifi?o ̂ id;^ tni^ ̂ 'h£p fTfisUiUSsiEJn^
. ‘ LfU/xiiib lEDOifib rtsbw. |
jjb^3;i(<ub ruivr*9d;UpiluLS [jfiainxJcmfn dj;ttA fc'rnilû ruî
sk̂ stdd jiynibcbtKi £̂ - i
I
i f I
»
[1..t
>
4t
■< *
t
■ ' r :
V < ■ I
t ,I n
A V ?■ !
i : ;■ I "<1 i
, Z1
. : i -1
d
> * > /
: i , v
4̂■ ^ f! I« ! t -
I4> I f; > *
ii v|- H ,
1 :\ \ ti ii-I
\ -
tJ
k! I I
I
I
: i - ! 4
i r -
■ - ! - T !I
J r - ^
i I « '
; * >
!. '*!r )r q , C
4
^ ! ‘ --̂ :4 !<v'-: '!!
■ ^
I - ' M ' . tV
A ? ^ . - T
I .V
/ ;
/
!'!f-v*^^ *5.
' i
<r ^
-'"■S' t ;
t
i.
I
i
t.
4_ ii^uS ynw-^w«0 t^>a:Vcrr 4jWv . X . t , » i i > e I
*
4
i .
Bab X:
Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
RANG-ORANG sufi tak jauh berbeda dengan orang-orang zuhud.
Di atas telah kami sebutkan talhis Iblis terhadap orang-orang zuhud.
Hanya saja orang-orang sufi mempunyai beberapa sifat dan keadaan yang
berbeda dengan orang-orang zuhud, dan mereka juga memperlihatkan ciri-
ciri tersendiri. Karena itu kami perlu mengupas keadaan mereka secara
t e r s e n d i r i .
0
Tasawuf merupakan jalan yang berawal dari kalangan orang-orang
zuhud secara keseluruhan. Kemudian muncul orang-orang yang juga
menisbatkan diri kepada zuhud, tetapi menambahinya dengan mendengarkan
syair-syair dan disertai tabuhan. Lalu mereka diikuti orang-orang awam yang
hendak mencari akhirat, karena orang-orang itu menampakkan zuhud.
Sementara orang-orang yang mencari keduniaan juga ikut bergabung, karena
mereka melihat ada kesenangan dan kegembiraan.
Karena itu kami perlu menyingkap talbis Iblis terhadap jalan yang
mereka tempuh, yang tidak bisa disingkap kecuali dengan menyingkap asal
mula jalan ini dan juga cabang-cabangnya serta menguraikan segala
permasalahannya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kebenaran.
Yang menjadi pertimbangan pada zaman Rasulullah #adalah iman
dan Islam. Maka hanya ada istilah Muslim dan Mukmin. Kemudian muncul
istilah orang zuhud dan ahli ibadah. Lalu muncul pula orang-orang yang
mengandalkan zuhud dan ibadah, meninggalkan dunia, mengisolir diri hanya
2 2 9
untuk beribadah. Mereka menjadikan jalan ini sebagai ciri khas mereka dan
menjadikannya sebagai akhlak yang dipegang teguh. Menurut mereka, orang
yang pertama kali dianggap herkhidmat kepada Allah di sisi Baitul-Haram
adalah seseorang yang berjuluk Shufah. Adapun nama aslinya adalah Al-
Ghauts bin Murr. Maka orang-orang menisbatkan diri kepadanya, karena
dia dianggap serupa dengan mereka, yang mengisolir diri unmk beribadah
kepada Allah. Berangkat dari sinilah mereka disebut dengan golongan sufi.
Abu Muhammad Abdul-Ghany bin Sa’id Al-Hafizh berkata, ‘Aku
bertanya kepada Walid bin Al-Qasim, “Dinisbatkan kepada apa mereka
disebut orang-orang sufi?” Dia menjawab, “Ada segolongan orang pada
zaman Jahiliyah, yang disebut Shifah. Mereka mengisolir diri hanya untuk
beribadah kepada Allah, dan mereka mengabdi kepada Ka’bah. Maka siapa
pun yang menyerupai mereka, disebut dengan orang-orang sufi.”
Kerancuan dan Kontradiksi Penisbatan Golongan Sufi
Ada segolongan orang yang berpendapat bahwa istilah tasawuf itu
dinisbatkan kepada Ahlush-Shuffah (orang-orang miskin yang menetap di bilik
masjid). Mereka berpendapat seperti itu, karena Ahlush-Shuffah itu ada
kemiripan dengan orang-orang sufi, yang lebih banyak mengisolir diri untuk
beribadah kepada Allah ̂ dan keadaannya miskin. Mereka datang kepada
Rasulullah Stanpa memiliki keluarga dan harta. Lalu dibuatlah lorong bilik
(shuffah) di masjid Rasulullah bagi mereka. Maka mereka pun disebut
Shuff ah.
Al-Hasan berkata, “Ada lorong bilik yang dibangun bagi orang-orang
Muslim yang lemah. Lalu orang-orang Muslim lainnya memberikan kepada
mereka menurut kesanggupan masing-masing.”
Ahlush-Shuffah itu berdiam di masjid karena terpaksa. Mereka makan
dan shadaqah juga karena terpaksa. Maka ketika Allah memberikan
kemenangan kepada kaum Muslimin, mereka pun tidak lagi membutuhkan
tempat tersebut dan keluar dari sana. Penisbatan istilah sufi kepada Ahlush-
Shuffah juga tidak tepat. Sebab kalau pun begitu penisbatannya, maka akan
dikatakan suffi dan bukannya sufi.
Ada pula segolongan orang yang berpendapat bahwa istilah sufi berasal
dan kata Shufanah, yaitu sejenis kubis yang kecil-kecil. Orang-orang sufi
dinisbatkan kepada Shufanah, karena mereka merasa cukup memakan
2 3 0 Perangkap Setan
tumbuhan di padang pasir. Penisbatan ini pun tidak tepat. Sebab andaikan
begitu, tentunya mereka disebut Shufani dan bukan sufi.
Golongan lain berpendapat, bahwa orang-orang sufi dinisbatkan
kepada bulu-bulu tengkuk yang lembut. Artinya, seakan-akan orang sufi itu
disifatkan kepada kebenaran dan dipisahkan dan orang-orang lain. Ada pula
yang menisbatkan mereka kepada shuf (kain wol),
Yang pasti, istilah sufi ini muncul sebelum tahun dua ratns. Ketika
pertama kali muncul, maka banyak orang yang membicarakannya dengan
berbagai ungkapan. Alhasil, tasawuf dalam pandangan mereka merupakan
latihan jiwa dan usaha mencegah tabiat dari akhlak-akhlak yang hina lalu
membawanya kepada akhlak yang baik, hingga mendatangkan pujian di dunia
dan pahala di akhirat.
Begitulah yang terjadi pada diri orang-orang yang pertama kali
memunculkannya. Lalu datang talhis Iblis terhadap mereka dalam berbagai
hal, lalu Iblis memperdayai orang-orang setelah itu dan pada pengikut mereka.
Setiap kali lewat satu kurun waktu, maka ketamakan Iblis untuk memperdayai
mereka semakin menjadi-jadi pada kurun berikutnya. Begitu seterusnya
hingga mereka yang datang belakangan telah berada dalam talhis Iblis.
Talhis Iblis yang pertama kali terhadap mereka adalah menghalangi
mereka mencari ilmu. la menampakkan kepada mereka bahwa maksud
ilmu adalah amal. Ketika pelita ilmu yang ada di dekat mereka dipadamkan,
mereka pun menjadi linglung dalam kegelapan. Di antara mereka ada yang
diperdaya Iblis, bahwa maksud yang hams digapai adalah meninggalkan dunia
total. Mereka pun menolak hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan
bagi badan, mereka menyerupakan harta dengan kalajengking, mereka
berlebih-lebihan dalam membebani diri bahkan di antara mereka ada yang
sama sekali tidak mau menelentangkan badannya, terlebih lagi tidur.
Sebenarnya tujuan mereka itu bagus. Hanya saja mereka menid jalan
yang tidak benar dan di antara mereka ada yang karena minimnya ilmu, lalu
berbuat berdasarkan hadits-hadits maudhu’, sementara dia tidak
mengetahuinya.
Kemudian datang suatu golongan yang lebih banyak berbicara tentang
lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan hati dan hal-hal yang melintas di dalam
sanubari, lalu mereka membukukan hal-hal itu, seperti yang dilakukan Al-
Harits Al-Muhasibi. Ada pula golongan lain yang mengikuti jalan tasawuf.
s e c a r a
r a s a
2 3 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
menyendiri dengan ciri-ciri tertentu, sepertd mengenakan pakaian tambal-
tambalan, suka mendengarkan syair-syak, menabuh rebana, tepuk tangan
dan sangat berlebih-Iebihan dalam masalah thaharah dan kebersihan. Masalah
ini semakin lama semakin menjadi-jadi, karena para syaikh menciptakan topik-
topik tertentu, berkata menurut pandangannya dan sepakat untuk
menjauhkan diri dari ulama. Memang mereka masih tetap menggeluti ilmu,
tetetapi mereka menamakannya ilmu batin, dan mereka menyebut ilmu syariat
sebagai ilmu zhahir.
Karena rasa lapar yang mendera perut, mereka pun membuat hayalan-
hayalan yang musykil. Mereka menganggap rasa lapar itu sebagai suatu
kenikmatan dan kebenaran. Mereka membayangkan sosok yang bagus
rupanya, yang menjadi teman tidur mereka. Mereka itu berada di antara kufur
dan bid’ah. Kemudian muncul beberapa golongan lain yang mempunyai jal
sendiri-sendiri, dan akhirnya akidah mereka menjadi rusak. Di antara mereka
ada yang berpendapat entang adanya inkarnasi, yaitu Allah menyusup ke
dalam diri makhluk dan ada pula yang mengatakan bahwa Allah menyatu
dengan makhluk. Iblis senantiasa menjerat mereka dengan berbagai
bid’ah, sehingga mereka membuat sunnah tersendiri bagi mereka.
Kemudian muncul Abu Abdurrahman As-Sulami yang menyusun kitab
As-Sunan dan menghimpun HaqaHqut-Tafsir. '̂̂ Di dalam buku ini dia
menyebutkan keanehan dalam menafsiri Al-Qur’an, yang disusun tanpa ada
sandaran kepada suatu dasar ilmu, karena memang mereka hanya
mendasarkannya kepada pendapat mereka semata. Yang aneh, mereka
menghindari makanan, tetapi justru lancang terhadap Al-Qur’an.
Buku-buku Karangan Mereka yang Menyimpang dan Sesat
Abu Nashr As-Sarraj menyusun sebuah buku bagi golongan sufi,
dengan judul huma’ush-Shujijah (Sinar golongan Sufi). Di dalamnya disebutkan
beberapa corak keyakinan yang rusak dan perkataan-perkata
yang sebagiannya akan kami sebutkan di bagian mendatang.
Abu Thalib Al-Makki juga menyusun sebuah buku yang berjudul Qutul-
Qulub (Santapan Hati). Di dalamnya dia menyebutkan hadits-hadits batil dan
a n
m a c a m
yang hina.a n
Menurut Adz-Dzahabi di dalam Sairu A'lamm-Nubaia', 17/252, di dalam buku itu terdapat berbagai
yang sama sekali tidak ada dasarnya, yang menurut beberapa imam berasal dan orang-orang
Zindiq dan Bathiniyah. Kami berlindung dan kesesatan dan perkataan yang berasal dan hawa nafsu.
Yang paling baik adalah mengikuti As-Sunnah, berpegang kepada petunjuk para shahabat dan tabi
u r a i a n
m .
2 3 2 Perangkap Setan
tanpa ada vsanadnya sama sekali, berkaitan dengan masaiah shalat sehari
semalam atau masalah-masalah lainnya. Di dalam buku itu juga menyebutkan
akidah yang rusak. Seringkali dia menyebut kata, “Al-Mukas5^afm berkata.”
Ini jelas perkataan yang mengada-ada. Dia juga mengisahkan dari sebagian
orang sufi, bahwa Allah ̂ menampakkan diri di dunia di hadapan para wali-
Nya.
Abu Thahir Muhammad bin Al-AUaf berkata, “Abu Thalib Al-Makki
memasuki kota Bashrah sepeninggal Abul-Husain bin Salim, lalu
menghidupkan kembali ucapan-ucapannya. Dia juga pergi ke Baghdad.
Orang-orang di Sana berkerumun di sekelilingnya untuk mendengarkan
nasihat-nasihatnya. Dia menyampaikan kata-kata yang rancu. Yang masih
diingat darinya, dia pernah berkata, “Tidak ada yang lebih berbahaya bagi
makhluk kecuali apa yang datang dari Khaliq.” Maka orang-orang mencapnya
sebagai ahli bid’ah, mengucilkannya dan dia tidak boleh lagi berbicara di
hadapan orang banyak.
Kemudian datang Abu Nu’aim Al-Ashbahani, yang menvoisun sebuah
buku bagi golongan sufi, dengan judul Al-Hiljah. Dalam menguraikan
batasan-batasan tasawuf dia menyebutkan berbagai macam kemungkaran
yang buruk. Dia tidak malu sama sekali menyebut Abu Bakar, Umar, Utsman,
Ali dan para pemuka sahabat sebagai golongan sufi. Dia menyebutkan hal-
hal yang aneh tentang mereka. Dia juga memasukkan Syuraih Al-Qadhi, Al-
Hasan Al-Bashri, Sufyan Ats-Tsauri dan Ahmad bin Hambal termasuk
golongan sufi. Begitu pula yang disebutkan As-Sulami di dalam Thabaqatush-
Shufijah, yang memasukkan Al-Fudhail dan Ibrahim bin Adham atau yang
terkenal dengan sebutan Al-Karkhi, ke dalam golongan sufi.
Tasawuf merupakan madzhab yang dikenal menyimpang jauh dari
zuhud. Bukti yang menunjukkan perbedaan antara keduanya, bahwa tak
seorang pun yang mencela zuhud, dan cukup banyak orang yang mencela
tasawuf, sebagaimana yang akan kami sebutkan pada bagian berikut.
Abdul-Karim bin Huwazin Al-Qusyairi juga menyusun buku bagi
mereka dengan judul Ar-Kisalab, yang di dalamnya dia menyebutkan hal-hal
yang aneh tentang masaiah fana’ wa baqa’ (fana dan kekal), penahanan dan
2 8
Memang tasawuf berbeda dengan zuhud. Sebab tasawuf disusupi berbagai jenis keyakinan, pemikiran,
filsafac dan hal-hal baru yang sama sekali tidak terkait dengan zuhud. Siapa yang menisbatkan zuhud
kepada tasawuf secara jelas salah.
2 3 3Bah X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
pelepasan, waktu dan keadaan, pengadaan dan ada, sadar dan mabuk, rasa
dan minum, penghapusan dan penetapan, penciptaan dan kekuasaan, syariat
dan hakikat serta masalah-masalah lain yang dirancukan, dengan tafsir yang
sangat aneh.
Kemudian muncul Muhammad bin Thahir AI-Maqdisi yang menyusun
buku Shafratut-TashawwuJ. Di daiamnya disebutkan berbagai masalah, yang
jika dibawa orang yang berakal, tenru dia akan merasa malu sendiri, yang
akan kami sebutkan di tempamya tersendiri. Syaikh kami, Abul-Fadhl bin
Nashir Al-Hafizh berkata, “Ibnu Thahir termasuk penganut paham
permisivisme. Dia juga menulis sebuah buku, yang di daiamnya disebutkan
tentang diperbolehkannya memandang wanita. Dia menuldl kisah dari Yahya
bin Ma’in, dia berkata, “Aku pernah melihat seorang gadis di Mesir yang
sangat cantik. Allah bershalawat kepada gadis itu.” Ada yang bertanya,
“Apakah engkau juga bershalawat kepada gadis itu?” Dia menjawab, ‘Allah
yang bershalawat kepadanya dan kepada apa pun yang cantik menawan.”
Syaikh kami ini berkata, “Ibnu Thahir bukan termasuk orang yang
perkataannya dapat dijadikan hujjah.”
Kemudian muncul Abu Hamid Al-Ghazali yang menyusun buku A.I-
l^a’ bagi golongan tasawuf. Dia memenuhi buku ini dengan hadits-hadits
batil, sementara dia tidak mengetahui kebatilannya. Dia juga berbicara tentang
ilmu mukasyc^ah (menyingkap yang batin) dan keluar dari tatanan fiqih. Dia
berkata, “Yang dimaksudkan matahari, bintang-gemintang dan rembulan yang
dilihat Ibrahim Shalawatullah Alaihi adalah cahaya-cahaya yang merupakan
tabir Allah ^”Dia ddak memaksudkannya dengan hal-hal itu. Padahal yang
seperti ini termasuk perkataan golongan Bathiniyah.
Dalam bukunya Al-Mufshih Bil-Ahu>al, dia berkata, “Jika orang-orang
sufi itu dalam keadaan sadar, maka mereka bisa menyaksikan para malaikat
dan roh para nabi, dapat mendengarkan suara mereka dan mengambil manfaat
dari mereka. Kemudian keadaan ini meningkat lebih tinggi, dari sekadar
menyaksikan gambaran kepada derajat-derajat yang sempit, yang tidak bisa
diungkapkan lewat kata-kata.”
Latar belakang munculnya buku-buku itu, karena pengarangnya tidak
banyak mengetahui As-Sunnah, Islam dan perkataan para sahabat. Mereka
lebih suka menerima apa yang dianggap baik dari orang-orang itu, karena
sejak sebelumnya mereka sudah merasa respek terhadap zuhud, sehingga
2 3 4 Perangkap Setan
mereka tidak melihat keadaan yang lebih baik daripada keadaan orang-orang
zuhud dan tidak mendengar perkataan yang lebih menarik had daripada
perkataan mereka."̂ Sebenarnya kecenderungan mereka kepada orang-orang
salaf yang tidak suka menonjolkan diri sangat besar. Sebagaimana yang sudah
disinggung di bagian muka, dalam penampakannya mereka menonjolkan
kesucian dari ibadah, dan dalam batinnya mereka menonjolkan kedamaian
dan menyimak syair-syair. Tentu saja tabiat manusla banyak yang condong
kepadanya.
Pada awal mulanya orang-orang tasawuf menghindari dari para
penguasa dan sulthan, sehingga mereka membentuk komunitas orang-orang
yang jujur dan lurus.
Mayoritas buku-buku yang mereka susun ini tidak dilandaskan kepada
suatu dasar. Isinya hanya berupa petikan-petikan peristiwa yang dituturkan
sebagian kepada sebagian yang lain. Setelah dihimpun, mereka menyebutnya
sebagai ilmu batin.
Ishaq bin Hayyah berkata, “Aku menemui Ahmad bin Hambal, yang
saat itu dia sedang ditanya tentang bisikan-bisikan hati dan lintasan sanubari.
Maka dia menjawab,” Para sahabat dan tabi’in tidak pernah membicarakan
m a s a l a h i t u . ”
3 0
Diriwayatkan kepada kami dari Ahmad bin Hambal, bahwa dia pernah
mendengar perkataan Al-Harits Al-Muhasibi. Maka dia berkata kepada
seorang rekannya, “Menurutku, lebih baik engkau jangan bergaul dengan
m e r e k a . ”
Dari Sa’id bin Amr Al-Bardza’i, dia berkata, ‘Aku pernah menyertai
Abu Zur’ah yang sedang ditanya seseorang tentang diri Al-Harits Al-Muhasibi
dari buku-bukunya. Maka dia menjawab, “Awas, jauhilah buku-buku itu,
karena buku-buku itu berisi bid’ah dan kesesatan. Ikutilah perkataan para
sahabat, niscaya engkau tidak lagi membutuhkan buku-buku tersebut.”
Ada yang berkata kepadanya, “Toh di dalam buku-buku tersebut juga
terkandung pelajaran yang berharga.”
AhluS'Sunnah dan da’i-da’inya harus inewaspadai hal seperti ini, karena yang demikian ini termasuk
sesuatu yang halus dan mcnjadi kcbiasaan para ahli bid’ah yang tidak mempunyai ilmu. Kata-kata
mereka lembut, ucapannya halus, sehingga mereka bisa menghimpun manusia dengan cara itu.
Karena mereka bermanis muka di hadapannya dan hanya diam tidak berani menentangnya.
2 3 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Dia menjawab, “Siapa yang tidak mengambil pelajaran di dalam Kitab
Allah, maka dia tidak mempunyai pelajaran. Apakah kalian pernah mendengai'
bahwa Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i dan imam-imam
terdahulu pernah menyusun buku-buku semacam ini yang berisi masalah
bisikan-bisikan hati dan lintasan sanubari? Mereka itu adalah orang-orang
yang bertentangan dengan orang-orang yang berilmu, yang sesekali datang
kepada kita dalam rupa Al-Harits Al-Muhasibi, atau kadang dalam rupa
Abdurrahim Ad-Daibuli, terkadang dalam rupa Hatim Al-Ashm dan
terkadang dalam rupa Syaqiq.”
Setelah itu Abu Zur’ah berkata, “Alangkah cepatnya orang-orang
condong kepada bid’ah.”
Abu Bakar Al-Khallal menyebutkan di dalam Kitabus-Sunnah dari
Ahmad bin Hambal, dia berkata, “Benar-benar waspadalah terhadap Al-
Harits, karena dia merupakan sumber bencana (karena seringkali menukil
perkataan Jahm). Seorang demi seorang pernah berdekatan dengannya,
lalu dia mengarahkannya kepada perkataan Jahm, yang senantiasa menjadi
rujukan para teolog. Al-Harits itu serupa dengan singa yang dibelenggu,
Perhatikanlah, pada hari apa dia biasa meloncat untuk menerkam
m a n u s i a ? ”
Orang-orang Sufi Periode Pertama Menetapkan untuk Kernbali
kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
Orang-orang sufi pada periode-periode pertama menetapkan untuk
mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kemudian Iblis
memperdayai mereka karena ilmu mereka yang minim.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Boleh jadi ada noktah hitam dalam
diriku selama beberapa hari karena pengaruh orang-orang itu. Tetapi aku
tidak bisa menerima dan siapa pun kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu
Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Dari Abdul-Hamid Al-Hubuli, dia berkata, “Aku pernah mendengar
Sari berkata, “Barangsiapa membual tentang batin ilmu yang bertentangan
dengan zhahir hukum, maka dia adalah orang yang salah.”
Dari Al-Junaid, dia berkata, “Madzhab kami ini terikat dengan dasar,
yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah.”
2 3 6 Perangkap Setan
Dia juga berkata, “Ilmu kami mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah. Siapa
yang tidak menjaga Al-Kitab dan ddak menulis hadits, berarti dia belum
memahami dan tidak layak diikuti
Dia juga berkata, “Kami tidak mengambil tasawuf dari perkataan orang
ini dan itu, tetapi dari rasa lapar, meninggalkan dunia, meninggalkan kebiasaan
sehari-hari dari hal-hal yang dianggap baik. Sebab tasawuf itu berasal dari
kesucian mu’amalah dengan Allah dan dasarnya adalah memisahkan diri dari
d u n i a . ”
Abul-Husain An-Nuri berkata kepada sebagian rekannya, “Siapa pun
)'’ang engkau lihat membual mempunyai suatu kondisi bersama Allah, yang
kemudian mengeluarkan dari batasan ilmu syariat, maka janganlah engkau
dekati dia, dan siapa yang engkau lihat membual tentang suatu kondisi,
sementara dia harus menyertainya dengan dalil dan tidak ada saksi, maka
curigailah agamanya.”
Dari Abu Ja’far, dia berkata, “Yang tidak menimbang perkataan,
perbuatan dan keadaannya dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta tidak
memperhatikan keadaan hatinya, maka janganlah engkau menganggapnya
orang terpandang.”
Jika seperti ini yang dikatakan para syaikh mereka, maka dari syaikh-
syaikh yang lain muncul banyak kesalahan dan penyimpangan, karena mereka
menjauhkan diri dari ilmu. Jika memang begitu keadaannya, maka mereka
harus disanggah, karena tidak perlu ada sikap manis muka dalam menegakkan
kebenaran. Jika tidak benar, maka kita tetap harus waspada terhadap perkataan
yang keluar dari golongan mereka.
Sedangkan orang-orang yang menyempakan diri dengan para syaikh
itu, maka mereka sama sekali bukan golongannya. Sebab kesalahan yang
mereka lakukan sangat banyak. Demi Allah, kami tidak bermaksud
mengungkit-ungkit kesalahan orang yang berbuat salah, melainkan sekadar .
untuk membersihkan syariat dari ulah mereka dan karena dorongan ghirah
terhadap syariat. Kami tidak ada urusan dengan pribadi yang mengatakan
dan melakukan. Tetapi kami melakukan yang demikian ini untuk mengemban
amanat ilmu. Toh setiap ulama biasa mengungkap kesalahan rekannya yang
lain, dengan tujuan untuk menjelaskan kebenaran, bukan untuk membuka
aib orang yang berbuat salah.
2 3 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Tidak ada manfaatnya mempeduUkan perkataan orang yang bodoh,
“Bagaimana mungkin engkau menyanggah perkataan Fulan, orang yang
2uhud dan mendapat limpahan barakah?” Yang harus dijadikan panutan
adalah sesuatu yang datang dari syariat, bukan kembali kepada pribadi.
Adakalanya seseorang disebut wali atau calon penghimi surga, padahal dia
mempunyai banyak kesalahan. Keadaannya itu sebenarnya sudah cukup
menjelaskan kesesatannya.
Ketahuiiah, siapa yang melihat kepada keagungan seseorang dan ddak
melihat kepada dalil yang dia gunakan, '̂ maka dia seperti melihat kejadian-
kejadian yang luar biasa di tangan Isa Al-Masih dan tidak melihat kepada diri
beliau, lalu dia membual bahwa pada diri beliau ada unsur ketuhanan.
Andaikan dia melihat diri beliau, yang tidak bisa hidup kecuali dengan makan,
maka dia tidak akan memberikan sebuatan kecuali menurut hak beliau.
Dari Yahya bin Sa’id, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada
Syu’bah, Sufyan bin Sa’id, Sufyan bin Uyainah dari Malik bin Anas, tentang
seseorang yang patut dicurigai perkataannya.” Maka mereka menjawab,
“Urusan dirinya harus dijelaskan.”
Al-Imam Ahmad bin Hambal pernah memuji seseorang hingga agak
berlebihan. Namun setelah itu dia menyebutkan kesalahannya dalam sesuatu
hal. Dia berkata, “Sebaik-baik orang adalah Fulan, andaikan dia tidak
melakukan kesa lahan. ”
Ahmad bin Hambal pernah berkata tentang diri Sari As-Saqathi, “Dia
seorang syaikh yang dikenal karena suka menjamu makanan.” Kemudian ada
yang mengabarinya bahwa dia berkata, bahwa tatkala Allah menciptakan
huruf-huruf, maka huruf ba’ sujud kepada-Nya. Maka seketika itu pula Imam
Ahmad berkata, “Jauhilah dia!”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Keyakinan
Dari Abdullah Ar-Ramli, dia berkata, “Abu Hamzah pernah
menyampaikan ceramah di masjid Jami’ Tharasus. Lalu orang-orang
menyerangnya habis-habisan. Pada suatu hari, tatkala dia sedang
menyampaikan ceramah, ada burung gagak yang berkaok-kaok di atas atap
masjid. Maka Abu Hamzah berteriak ke arah burung gagak itu, ~Labbaik
Karena dalil merupakan landasan segala sesuatu di atasnya. Siapa yang menyalahi dalil, berarti dia telah
mencelakakan diri sendiri. Yang perlu dilihat adalah dalilnya, bukan orangnya.
2 3 8 Perangkap Setan
labbaika’. Maka orang-orang mencapnya sebagai orang zindiq, seraya berkata,
‘Dia adalah orang yang percaya kepada paham inkarnasi dan zindiq’. Lalu
kudanya dijual orang-orang, sambil dikatakan, ‘ini adalah kuda milik orang
zindiq’.”
Dari Abu Bakar Al-Farghani, dia berkata, “Setiap kali Abu Hamzah
mendengar sesuatu, maka dia berkata, ‘Labbaik labbaika. Maka dia pun disebut
orang yang percaya kepada paham inkarnasi.”
As-Sarraj berkata, “Aku pernah mendengar bahwa sekumpulan orang
yang percaya kepada inkarnasi beranggapan bahwa Allah ̂ telah memilih
beberapa jasad yang diberi unsur ketuhanan dan dihilangkan darinya unsur
kemanus iaan . ”
Dia juga berkata, ‘Aku mendengar dari segolongan orang dari
penduduk Syam yang membual dapat melihat apa yang ada di dunia dengan
mata hatinya, sebagaimana mereka bisa melihat dengan mata kepalanya apa
yang terjadi di akhirat.”
Dia juga berkata, “Aku mendengar bahwa Abul-Husain An-Nuri
bersaksi atas dirinya bahwa dia adalah orang yang dicintai Allah. Dia berkata,
‘Aku bercumbu dengan Allah dan Dia pun mencumbuiku. Aku mendengar
Allah befirman, ‘Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya’.
Bukankah cumbuan itu merupakan gambaran cinta?”
Al-Qadhi Abu Ya’la berkata, “Orang-orang yang berpaham inkarnasi
beranggapan bahwa Allah ̂ dapat dicumbu. Yang demikian ini menunjukkan
kebodohannya, yang bisa dUihat dari tiga sudut pandang:
Dari segi istilah. Cumbuan menurut ahli bahasa, tidak dilakukan kecuali
antara dua orang yang sudah menikah.
Sifat-sifat Allah harus dinukil dari ketetapan nash. Yang benar, “Allah
mencintai”, dan tidak dikatakan, ‘Allah mencumbui.”
Dari mana dia tahu bahwa Allah mencintainya? Tentu saja ini
merupakan bualan tanpa disertai dalil.
Dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dia berkata, “Dikisahkan dan Amr
Al-Makki, dia berkata, “Aku berjalan bersama Al-Husain bin Manshur (Al-
Hallaj) di sebuah jalan di Makkah. Saat itu membaca Al-Qur’an, dan dia
mendengarnya. Lalu dia. berkata, “Aku juga bisa berkata seperti itu.” Maka
seketika itu pula aku memisahkan diri darinya.”
1 .
2 .
3 .
2 3 9Bah X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Abu Bakar bin Mamsyad berkata, ‘Di tempat kami, Dinawar ada
seorang pendatang yang membawa keranjang. Siang dan malam keranjang
itu tidak pernah berpisah darinya. Kemudian orang-orang memeriksa isi
keranjang itu, yang ternyata di daiamnya ada sebuah buku karangan Al-Hallaj,
dengan judul Minar-Rabmanir-Kahim ha Fulan bin Fulan. Lalu orang itu dibawa
ke Baghdad dan diadili di sana. Setelah ditanya, orang itu menjawab, “Buku
ini adalah karanganku sendiri.”
Orang-orang bertanya, “Kalau begitu engkau mengaku sebagai nabi
dan juga mengaku sebagai tuhan.”
Dia menjawab, “Aku ddak mengaku seperti itu. Tetapi ini merupakan
penyatuan di antara kami. Bukankah yang menulisnya adalah Allah dan tangan
hanya sebagai alat?”
Ada yang bertanya kepadanya, “Adakah seseorang yang bisa
menguatkan perkataanmu?”
Orang itu menjawab, “Ada, dia adalah Ibnu Atha’, Abu Muhammad
Al-Jurairi, Abu Bakar Asy-Syibli. Abu Muhammad Al-Jurairi dan Asy-Syibli
masih samar-samar. Tetapi jika ada yang menjelaskannya secara gamblang
adalah Ibnu Atha’ . ”
Maka Al-Jurairi didatangkan. Namun dia berkata, “Siapa yang
mengatakan seperti itu adalah orang kafir. Dia layak dibunuh.”
Asy-Syibli yang didatangkan berkafa, “Siapa yang berkata seperti itu
harus dicegah.”
Lalu Ibnu Atha’ ditanya tentang ucapan-ucapan Al-Hallaj. Maka dia
menjelaskannya dan juga menjelaskan sebab dibunuhnya.
Para ulama sudah sepakat untuk menghalalkan darah Al-Hallaj. Yang
pertama kali berpendapat seperti itu adalah Abu Amr Al-Qadhi, lalu disetujui
ulama-ulama yang lain. Sedangkan Abul-Abbas bin Suraij abstain, karena
dia tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Hallaj. Sementara ijma’ ulama
merupakan dalil yang terjaga dari kesalahan. Dari Abu Hurairah dia
berkata, “RasuluUah 0bersabda.
Hadits shahih.
2 4 0 Perangkap Setan
“Sesunggn/in̂ ia Allah melindungi kalian untuk membnat kesepakatan dalam
menghadapi kesesatan dengan melibackan kalian semua.” (Diriwayatkan
Ach'Thabarani).
Dari Abu Bakar bin Daud Al-Ashbahani, dia berkata, “Kalau apa yang
dirurunkan Allah kepada Nabi-Nya adalah benar, berarti apa yang dikatakan
Al-Hallaj adalah batil.”
Dia termasuk orang yang sangat keras terhadap Al-Hallaj. Anehnya,
ada segolongan orang-orang sufi yang fanatik terhadap Al-Hallaj, hanya
karena kebodohan mereka dan ketidaktahuan tentang ijma’ fuqaha’.
Dari Ibrahim bin Muhammad An-Nashrabadzi, dia berkata,
setelah para nabi dan shiddiqin ada orang yang mengaku menyatu dengan
Allah, maka dia adalah Al-Hallaj. Berangkat dari sinilah banyak kisah yang
tersebar pada zaman sekarang, karena kebodohan terhadap syariat. Saya sudah
menulis sebuah buku tentang Al-Hallaj, tentang akal bulusnya, keanehan-
keanehannya dan komentar para ulama tentang dirinya.”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Thaharah
Di bagian terdahulu sudah kami sebutkan talbis Iblis terhadap para
ahli ibadah dalam masalah thaharah. Tetapi yang dilancarkan terhadap orang-
orang sufi ini jauh lebih parah lagi. Rasa was-was mereka lebih kuat dalam
menggunakan air yang banyak, sampai-sampai kami mendengar bahwa Ibnu
Aqil pernah memasuki suatu tempat yang dibatasi tali, lalu dia pun wudhu’.
Orang-orang sufi yang melihatnya tertawa terbahak-bahak, karena air yang
digunakan itu sangat sedikit. Mereka tidak tahu bahwa air untuk v^aidhu’ cukup
yang dapat membasahi anggota tubuh yang memang harus dibasuh.
Kami mendengar bahwa Abu Hamid Asy-Syirazi bertanya kepada
seseorang yang miskin, “Dari mana engkau wudhu’?’
Orang miskin itu menjawab, “Dari sungai. Tetapi aku tetap merasa
was-was dalam bersuci . ”
Abu Hamid berkata, “Yangkulihat tentang orang-orang sufi pada zamanku,
mereka mengejek setan. Sekarang justru setanlah yang mengejek mereka.”
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Shalat
Kami sudah menjelaskan talbis Iblis terhadap para ahli ibadah dalam
masalah shalat. Iblis juga memperdayai orang-orang sufi dalam masalah shalat
ini, dan bahkan lebih gencar lagi.
32
2 4 1Bah X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Muhammad bin Thahir AI-Maqdisi menuturkan bahwa di antara
sunnah orang-orang sufi, yang sekaligus merupakan ciri mereka yang khusu-s
adalah shalat dua rakaat setelah mengenakan kain wol yang ditambal-tambal
dan shalat taubat. Mereka berhujjah dengan hadits Tsumamah bin Utsal,
bahwa Nabi 0memerintahkannya untuk mandi ketika dia masuk Islam.
Alangkah tolokiya orang yang memasuki sesuatu yang bukan dunianya.
Tadinya Tsumamah adalah orang kafir, lalu masuk Islam. Jika orang kafir
masuk Islam, maka dia harus mandi menurut pendapat segolongan fuqaha’,
di antaranya Ahmad bin Hambal. Sedangkan tentang shalat dua rakaat, tak
seorang pun ulama yang memerintahkan melakukannya, terutama bagi orang
yang baru masuk Islam. Di dalam hadits Tsumamah sendiri tidak disebutkan
adanya shalat dua rakaat itu. Mungkin mereka mengqiyaskannya. Yang pasti,
semacam ini adalah bid’ah yang kemudian mereka sebut sebagai sunnah.
Di antara perkataannya (Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi) yang
paling buruk adalah, “Orang-orang sufi mempunyai sunnah tersendiri. Sebab
jika sunnah mereka ini dinisbatkan kepada syariat, maka semua orang Muslim
akan sama. Toh para fuqaha’ lebih tahu tentang syariat itu. Dengan mengaci.
kepada pendapat-pendapamya sendiri, maka mereka bisa menyendiri, karenr.
mereka telah menciptakan sunnah tersendiri.
33
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Tempat
Tinggal
Tentang dibangunnya surau khusus, segolongan ahli ibadah pada zamai:
dahulu menggunakannya sebagai tempat menyendiri untuk beribadah. Kalat
pun tujuan mereka itu benar, mereka ddak bisa lepas dari kesalahan, yang
bisa dilihat dari enam sudut pandang:
Mereka mengada-adakan bangunan ini. Padahal yang seharusnya
dibangun orang Muslim adalah masjid.
Mereka menjadikannya serupa dengan masjid, dan jama’ahnya pun
hanya sedildt.
Mereka tidak mau pergi ke masjid.
Mereka menyerupai orang-orang Nashrani yang menyendiri di dalam
b i a r a .
1.
2 .
3 .
4 .
Hadits ini diriwayatkanAl'Baihaqi dengan sanadshiihih.di dalam As-Swrmnui'Kubra, 1/171. dan Abu
Hura i rah .
2 4 2 Perangkap Setan
Mereka hidup membujang, padahal mereka sangat perlu untuk
menikah, apalagi mereka masih muda-muda.
Mereka mendptakan ciri-dri khusus sebagai orang-orang zuhud, lalu
mereka mengharap agar orang-orang mengunjungi mereka dan
meminta barakah kepada mereka.
Jika tujuan mereka tidak benar, berarti mereka telah membangun arena
untuk bermain-main, lingkungan pengangguran dan dri-dri khusus untuk
memamerkan zuhud. Kami melihat banyak orang-orang muta’akhirin yang
lebih banyak menetap di surau-surau, tidak mau bekerja mencari penghidupan,
makan dan minum, bernyanyi dan menabuh rebana, mencari dunia dari orang-
orang yang zhalim dan tidak takut mencari harta dengan cara yang ddak
benar. Bahkan tidak jarang surau-surau itu dibangun orang-orang yang zhalim.
Iblis membisiki mereka, “Apa yang kalian terima itu merupakan rezeki
kalian. Maka buat apa kalian membebani diri?” Yang lebih mereka pentingkan
adalah urusan perut, makanan yang lezat dan air yang sejuk. Lalu mana rasa
lapar yang kalian dengung-dengungkan? Mana wara’ yang tersembunyi? Mana
semangat yang membara?”
Ada kabar yang kami dengar, bahwa ada seseorang membaca Al-Qur‘an
di dalam surau itu, lalu orang-orang sufi tersebut melarangnya. Kemudian
ada orang lain yang membaca hadits. Maka mereka melarangnya seraya
berkata, “Ini bukan tempat untuk itu.”
5 .
6 .
Talbis Iblis dalam Masalah Harta
Iblis memperdayai orang-orang sufi periode pertama, karena
kesungguhan mereka dalam zuhud, lalu mendorong mereka untuk mencela
harta dan menakut-nakuti mereka tentang kejahatannya, sehingga mereka
melepaskan diri dari urusan harta benda dan rela dengan keadaan mereka
yang fakir miskin. Tujuan mereka ini benar, tetapi perbuatan mereka yang
salah, karena minimnya ilmu mereka.
Tetapi pada zaman sekarang, model seperti ini sudah tidak cocok bagi
Iblis. jika salah seorang di antara mereka mempunyai harta, maka dia akan
membelanjakannya secara boros. Kami tidak mencela orang yang berbuat
seperti itu kalau memang dia mempunyai simpanan yang banyak untuk
kebutuhan dirinya, atau jika dia mempunyai ketrampilan yang dibutuhkan
orang lain, atau jika harta ini diragukan kehalalannya, lalu dia
2 4 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
menshadaqahkannya. Tetapi jika dia membelanjakan seluruh harta yang halal,
ialu dia meminta-minta kepada orang lain, membuat keluarganya dalam
keadaan miskin, bergantung kepada saudara atau rekan, atau mengambil dari
orang-orang yang zhalim, maka perbuatan ini dilarang dan tercela.
Kami tidak terlalu heran terhadap tingkah laku orang-orang zuhud
yang berbuat seperti itu, karena memang ilmu mereka yang minim. Tetapi
kami benar-benar heran terhadap orang-orang yang memiliki ilmu dan akal
yang berbuat seperti itu. Bagaimana mungkin dia berbuat seperti itu dan
menganjurkan kepada orang lain sesuatu yang jelas bertentangan dengan
akal dan syariat?
Al-Harits Al-Muhasibi berbicara panjang lebar mengenai masalah ink
dan Abu Hamid Al-Ghazali menyanjung-nyanjungnya. Padahal Al-Harits
sendiri dalam pandangan kami lebih sulit untuk diterima daripada Al-
Ghazali. Al-Ghazali relatif masih memahami fiqih. Hanya saja karena dia
masuk ke dunia tasawuf, maka mau tidak mau dia hams bergabung dengan
dunia itu.
Pendapat orang-orang sufi yang menghindari harta ini dapat disanggah
dari beberapa segi. Allah sudah mengagungkan kedudukan harta dan
memerintahkan untuk menjaganya. Sebab Allah menjadikan harta itu sebagai
penyangga kehidupan anak keturunan Adam yang mulia. jadi harta itu adalah
sesuam yang mulia. Firman-Nya,
“Dan, janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempuma
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupan.” (An-Nisa’: 5)
Allah juga melarang menyerahkan harta kepada orang yang tidak pandai
mengurusnya. Firman-Nya,
"Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai
memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” {An-
Nisa’: 6)
Telah disebutkan dalam hadits shahih dari RasuluUah yang melarang
menghambur-hamburkan harta. Beliau juga bersabda kepada Sa’d,
- s > 9 . <s > ! f ®
o' ,
al j j)
Or-
(f
2 4 4 Perangkap Setan
‘‘Lebih baik bagimii meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya
daripada meninggalkan mereka dalam keadaan mis/cm memmta-mmta
kepada mannsia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda,
“Tidak ada harm yang memberikan manfaat kepadaku seperti hartanya Abu
Bakar." “(HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Dari Amr bin Al-Ash, dia berkata, “RasuluUah Smengirim utusan
kepadaku untuk menyampaikan pesan, ‘Kenakanlah pakaianmu dan
senjatamu, lalu datanglah kepadaku.”
Maka aku mendatangi beliau, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku
ingin mengutusmu untuk menghadapi sepasukan perang. Semoga Allah
memberikan keselamatan kepadamu dan juga harta rampasan yang banyak.
Aku ingin agar engkau mendapatkan harta yang baik.”
Aku berkata, “Wahai RasuluUah, aku tidak masuk Islam karena harta
benda, tetapi aku masuk Islam karena memang suka kepada Islam.”
Beliau bersabda, “Wahai Amr, sebaik-baik harta yang baik itu milik
orang yang shalih.” (Diriwayatkan Ahmad, AhHakim dan Ibnu Hibban).
Hadits-hadits ini juga ditakhrij di dalam hadits-hadits shahih, yangisinya
berbeda dengan keyakinan orang-orang sufi, bahwa memperbanyak harta
itu bisa menjadi hijab dari hukuman dan menghimpunnya bisa menafikan
t a w a k a l .
3 4
Memang tidak dipungkiri adanya kekhawatiran tentang ujian harta,
sehingga banyak orang yang menghindarinya, karena takut terhadap ujian
harta itu. Sementara hati yang bisa selamat dari ujian ini jarang sekali.
Menyibukkan hati dengan urusan akhirat juga sulit dilakukan selagi di
sampingnya ada harta. Karena itu ujian harta itu sangat ditakuti.
Tentang mencari harta sekadar untuk mencukupi keperluannya dengan
cara yang halal, maka ini merupakan keharusan. Sedangkan orang yang
bertujuan menghimpun harta dan memperbanyaknya dengan cara yang halal,
maka kita perlu melihat tujuannya lebih jauh. Jika dia bertujuan untuk
membanggakan diri maka itu merupakan tujuan yang tidak baik. jika
tujuannya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya dari hal-hal yang
Sanadnya hasan.
2 4 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
tidak baik, dia menyimpan harta untuk kepentingan dirinya dan keluarganya,
untuk memperluas persaudaraan, membantu orang-orang miskin dan
berbagai kemaslahatan lainnya, maka dia mendapat pahala. Niatnya seperti
ini dalam menghimpun harta jauh lebih baik dari ketaatan-ketaatan yang lain.
Niat mayoritas para sahabat dalam mencari dan menghimpun harta
adalah benar, karena tujuan mereka pun benar, sehingga mereka justru
memohon yang lebih banyak lagi.
Bukti yang paling jelas tentang hal ini ialah persetujuan Ya’qub
untuk mengikutsertakan Bunyamin pergi bersama saudara-saudaranya, agar
jatah makanan yang mereka terima dari raja semakin banyak.
Syu’aib juga berhasrat mendapatkan tambahan dari apa yang telah
diterimanya, seraya berkata, “dan, bila kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu
adalah (suatu kebaikan) dari kamu. ”(Al-Qashash: 27)
Ketika Ayyub disembuhkan dari penyakitnya, maka datang kepada
beliau belalang-belalang dari emas. Ivlaka beliau segera memenuhi kantongnya
dengan emas-emas itu hingga menjadi banyak. Dikatakan kepadanya, “Apakah
engkau belum kenyang?” Maka beliau menjawab, “Wahai Rabbi, siapakah
orang yang merasa kenyang terhadap karunia-Mu?”
Ini masalah yang biasa bagi naluri manusia. Jika hal itu dimaksudkan
untuk tujuan yang baik, maka baik pula keadaannya. Perkataan Al-Muhasibj
jelas salah, menunjukkan kebodohannya. Dia berkata, “Allah melarang hamba-
hamba-Nya mengumpulkan harta, dan Rasulullah #melarang umatnya
berbuat hal serupa.” Jelas ini mustahil. Yang benar, Rasulullah ̂ melarang
tujuan yang buruk dan menghimpun harta, atau menghimpunnya dengan
cara yang tidak halal.
Al-Harits juga pernah berkata, “Meninggalkan harta yang halal lebih
baik daripada mengumpulkannya.” ini tidak benar. Tetapi, selagi tujuannya
benar, maka mengumpulkannya lebih baik. Begitulah yang disepakati par:
ulama, tanpa ada perbedaan di antara mereka. Kami benar-benar herar
terhadap Abu Hamid Al-Ghazali yang hanya diam saja menanggap
perkataannya semacam itu, bahkan dia justru mendukungnya, dengan berkata.
“Kehilangan harta lebih baik daripada memiliki harta, sekalipun harta ia
d i m a k s u d k a n u n t u k k e b a i k a n . ”
Al-Harits juga berkata, “Orang yang menghendaki Allah harus keluar
dari kesibukannya mengurus harta.” Kami sudah menjelaskan, itu haruN
2 4 6 Perangkap Setan
dilakukan jika hartanya haram atau ada yang meragukan halal haramnya. Jika
tidak, dia tidak perlu berbuat sepertd itu. Para nabi sendiri, sepertd Ibrahim
mempunyai kebun dan harta benda, begitu pula Syu’aib dan nabi-nabi
lainnya.
Sa’id bin Al-Musa}yab ^pernah berkata, “Tak ada yang baik pada
diri orang yang ddak mau mencari harta, yang dengan harta itu dia bisa
membayar hutangnya, menjaga kehormatan dirinya dan bersilaturrahim
dengan saudara-saudaranya. Kalau pun mati, maka dia meninggalkannya bagi
ahli warisnya.” Ketika meninggal dunia, dia mewariskan empat ratus dinar.
Sufyan Ats-Tsauri juga meninggalkan warisan, sebanyak dua ratus dinar, dan
dia pernah berkata, “Harta pada zaman sekarang merupakan senjata.”
Orang-orang salaf biasa memuji harta dan mengumpulkannya untuk
berbagai macam kependngan dan membantu orang-orang miskin. Yang
menghindarinya adalah orang-orang yang lebih banyak menyibukkan diri
dalam urusan ibadah dan puas dengan sesuatu yang sedikit. Jika ada yang
berkata, “Menyedikitkan harta adalah perbuatan yang lebih baik”, bisa saja
ucapannya benar. Tetapi bisa-bisa dia justru mendekati dosa.
Ketahuilah bahwa kemiskinan itu merupakan penyakit. Siapa yang diuji
dengan kemiskinan ini lalu bersabar, maka dia mendapat pahala karena
kesabarannya. Karena itu orang-orang miskin lebih dahulu masuk surga
daripada orang-orang yang kaya, dengan jarak waktu selama lima ratus tahun,
karena kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan.
Harta adalah nikmat. Sementara nikmat iru memerlukan syukur. Orang
kaya yang mau berpayah-payah seperd mufti dan mujahid. Sedangkan orang
miskin seperd orang yang mengisolir di tempat yang terpencil.
Di dalam buku Sunanush-Shufiyah, Abu Abdurrahman As-Sulami
menyebutkan bab dimakruhkannya meninggalkan sesuatu bagi orang miskin.
Lalu dia menyebutkan hadits tentang seseorang dari Ahlush-Shuffah yang
meninggal dunia dan meninggalkan uang dua dinar. Lalu Rasulullah 0
bersabda, “Ini sama dengan dua kantong uang.”
Dalil ini digunakan orang yang tidak memahami keadaan. Orang miskin
yang meninggal dunia itu biasa bergabung bersama orang-orang miskin
3 5
Sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan Abu Hurairah. Sanadnya
shah ih .
2 4 7Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
lainnya tatkala mengambil shadaqah, lalu dia menyimpan apa yang telah
didapatkannya. Karena itu beliau bersabda seperti itu. Andaikata yang
dimakruhkan adalah meninggalkan harta itu sendiri, tentunya beliau tidak
akan bersabda kepada Sa’d, “Lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu
dalam keadaan kaya daripada meninggallcan mereka dalam keadaan miskin
meminta-minta kepada manusia.”
Umar bin Al-Khathab ̂ berkata, “RasuluUah ̂ menganjurkan untuk
bershadaqah. Lalu aku datang dengan membawa separoh hartaku. Beliau
bertanya, “Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?” Aku menjawab,
“Separohnya lagi.” Ternyata beliau tidak mengingkarinya.
Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Di dalam hadits ini terkandung dalil
tentang kebatilan perkataan orang-orang sufi yang bodoh, bahwa tidak
selayaknya bagi seseorang untuk menyimpan harta hingga untuk keperluan
besoknya. Siapa yang melakukannya, berarti dia telah berburuk sangka kepada
Allah dan tidak bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal kepada-Nya.’'
Ibnu Jarir juga berkata, “Begitu pula sabda RasuluUah S, “Carilah harta
rampasan, karena harta rampasan itu barakah”, yang menunjukkan kebatilan
pendapat orang-orang sufi yang menganggap bahwa tidak diperbolehkan
bagi hamba yang tawakal kepada Allah untuk menyimpan sesuam hingga
mencukupi keperluannya esok hari. Apakah mereka tidak melihat bagaimana
RasuluUah ^menyimpan makanan pokok bagi istri-istri beliau untuk
keperluan selama satu tahun?”
Kritik terhadap Cara Mereka dalam Tawakal
Ada segolongan orang di antara mereka yang pergi membawa harta
mereka yang baik-baik, lalu mereka kembali lagi dalam keadaan kusut dan
meminta-minta. Yang seperti ini terjadi karena keperluan manusia itu terus
berkelanjutan dan tidak terputus. Orang yang berakal tentunya akan
menyiapkan untuk menyongsong masa depannya. Perumpamaan did mereka
yang menghabiskan hartanya, seperti orang yang akan pergi dari Madinah ke
Makkah dalam keadaan tidak haus, lalu dia membuang bekal air yang ada di
tangannya.
Kami menukil dari tuiisan Abul-Wafa’ bin Aqil, dia berkata, “Ibnu
Syad2an berkata, “Ada segolongan orang-orang sufi menemui Asy-Syibli. Lalu
Asy-Syibli mengirim utusan kepada orang yang kaya untuk memintakan
2 4 8 Perangkap Setan
sejumlah uang bagi mereka. Utusan itu disuruh kembali dan menyampaikan
pesan, “Wahai Abu Bakar (Asy-Syibli), engkau mengetahui kebenaran. Lalu
mengapa engkau tidak mencari darinya?” Asy-Syibli berkata kepada utusan
itu untuk menyampaikan pesan kepada orang kaya tersebut, “Dunia ini sesuatu
yang rendah. Maka aku memintanya dari orang yang juga rendah seperti Anda,
dan aku tetap mencari kebenaran dari yang benar.” Maka orang kaya itu
memberinya seratus dinar.
Ibnu Aqil berkata, pemberian sebanyak seratus dinar itu karena
pengaruh perkataan Asy-Syibli yang buruk itu, berarti Asy-Syibli telah
memakan rezeki yang buruk dan memberi makan tamu-tamunya dari rezeki
I t u .
Di antara orang-orang sufi itu ada yang memiliki barang-barang, lalu
dia menshadaqahkannya kepada orang lain, seraya berkata, “Aku hanya ingin
kepercayaanku hanya kepada Allah semata.”
Perkataan seperti ini tidak muncul kecuali dari orang yang ilmunya
sangat minim, sebab dia menganggap tawakal itu sama dengan memotong
sebab dan melepaskan seluruh harta yang dimilikinya. Andaikata dia mengerd
makna tawakal dan ke)'akinan hadnya hanya kepada Allah, mesdnya dia tidak
melepaskan wujud harta itu. Yang pasri, dia berkata seperti itu karena memang
ilmunya yang minim dan pemahamannya yang dangkal. Padahal para pemuka
sahabat dan tabi’in biasa berdagang dan mengumpulkan harta. tetapi tak
seorang pun di antara mereka yang berkata seperti itu.
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa tatkala dia dilarang
untuk mencari penghidupan, agar pekerjaannya khusus menangani khilafah,
maka dia berkata, “Lalu dari mana aku memberi makan keluargaku?’
Perkataan seperti ini tidak bisa diterima orang-orang sufi. Mereka
menganggap orang yang mengatakannya keluar dari wilayah tawakal.
Zuhud dalam Masalah Harta Menurut Orang-orang Sufi
Seperti yang sudah kami jelaskan, orang-orang sufi periode pertama
tidak mau mengurus harta mereka, karena zuhud. Seperti yang telah kami
sebutkan pula, mereka berbuat seperti itu karena tujuan yang baik. Hanya
saja mereka salah dalam menerapkannya, karena mereka jelas bertentangan
dengan akal dan syariat. Sedangkan orang-orang setelah itu lebih banyak yang
condong kepada dunia, suka mengumpulkan harta dengan cara bagaimana
2 4 9Bab X: Talbis Jblis Terliadap Orang-orang Sufi
pun, agar mereka bisa hidup tenang dan dapat melampiaskan nafsu. Di antara
mereka ada yang sebenarnya sanggup berusaha, tetapi tidak mau bergerak.
Dia lebih suka duduk di surau atau di masjid, mengandalkan pemberian
shadaqah dari orang-orang, dan hatinya bergantung kepada ketukan pintu.
Sebagaimana yang diketahui, shadaqah itu tidak boleh diberikan
kepada orang yang kaya dan orang yang badannya kuat lagi sehat, apalagi
yang tidak peduli dari mana asalnya shadaqah itu, karena boleh jadi ia berasal
dari orang zhalim yang menyerahkan pajaknya. Sekalipun begitu mereka
menyebut asal-muasal shadaqah yang tidak halal itu dengan beberapa macam
ungkapan, seperti:
I t u a d a l a h h a r t a t a k i u k a n .
Rezki yang memang menjadi bagian kami harus diberikan kepada kami.
Harta itu datangnya dari Allah, karena itu tidak boleh ditolak dan kami
tidak mensyukuri yang lainnya.
Semua itu bertentangan dengan syariat dan menunjukkan
ketidaktahuan terhadap syariat serta bertentangan dengan kehidupan orang-
orang salaf yang shalih. Nabi 0bersabda,
Uj y j>u\ jij j i
(f
“Yang halal itu nyata dan yang haram itu nyata, dan antara keduanya ada
musytabihat, yang tidak diketahui mayoritas manusia. Siapa yang menjauhi
syubuhat, maka dia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya."
(HR. Al'Bukhari dan Muslim).
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memuntahkan makanan yang berasal
dari hal yang syubhat. Orang-orang shalih tidak mau menerima pemberian
dari orang yang zhalim dan dari orang yang dalam hartanya diketahui ada
yang syubhat. Mereka melakukan hal itu karena menjaga kebersihan dixi
Dari Abu Bakar Al-Marwazi, dia berkata, ‘Aku menceritakan seorang
laki-laki dari kalangan ahli hadits kepada Abu Abdullah. Maka dia berkata,
“Siapa pun dia, andaikan saja tidak mempunyai satu celah....” Dia diam
sejenak. Lalu melanjutkan lagi, “Tidak setiap celah dapat disempurnakan
orang itu.”
2 5 0 Perangkap Setan
Aku bertanya, “Bukankah dia seorang ahli hadits?”
Dia menjawab, “Demi Allah, memang aku pernah menulis darinya.
Tetapi dia mempunyai sacu celah, yaitu dia tidak peduli dari siapa dia menukil.”
Kami mendengar bahwa sebagian orang-orang sufi mencmui para
penguasa zhalim lalu memberinya nasihat. Ketika penguasa itu memberinya
sesuatu, maka dia menerimanya dengan senang had. Penguasa itu berkata,
“Kita semua ini sama seperti orang yang sedang berburu. Hanya saja
perangkap yang digunakan yang saling berbeda.”
Lalu bagaimana keadaan orang-orang sufi itu jika dibandingkan dengan
orang-orang yang memiliki kekayaan dunia? Nabi ̂ bersabda,
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di baivahd’ (HR. AL
Bukhari dan Muslim)
Tangan yang di atas adalah orang yang memberi. Begitulah makna yang
disepakati para ulama dan memang beginilah yang benar. Tetapi mereka
mengartikan tangan yang di atas itu adalah orang yang mengambil. Ibnu
Qutaibah berkata, “Pemahaman seperti ini tidak pernah kudapatkan kecuali
dari orang yang memang hobinya meminta-minta.”
Padahal orang-orang sufi periode pertama masih ada perhatian
terhadap harta, dari mana mereka mendapatkannya, dan juga memenuhi apa
yang diinginkannya. As-Sari berkata, “Aku pernah bergabung dengan pasukan
perang ke medan peperangan. Ketika mereka singgah di sebuah tempat, aku
membuat tungku api dan memasak. Maka mereka makan dari roti yang
k u b u a t . ”
Maka siapa yang memperhatikan keadaan orang-orang sufi pada zaman
sekarang, yang tidak peduli dari mana mereka mengambil harta, tentu dia
benar-benar akan heran. Kami pernah memasuki sebuah surau. Kami
bertanya mana syaikhnya. Ada yang menjawab, “Dia sedang menemui seorang
amir (gubernur) untuk mengucapkan terima kasih karena telah menerima
suatu pemberian darinya.” Padahal amir itu termasuk orang zhalim yang cukup
terkenal .
Kami berkata, “Celaka kalian. Mengapa kalian tidak membuka kios
dan memanggul barang dagangan di atas kepala? Kalian hanya duduk-duduk
2 5 1Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
dan tidak mau bekerja, padahal kalian sanggup. Kalian hanya mengandalkan
shadaqah dan pemberian dari silaturrahim. Tetapi toh itu pun dirasa masih
kurang, lalu kalian mengambil harta dari siapa pun. Itu pun dirasa masih
belum cukup, lalu kalian berkeliling menemui orang-orang zhalim, meminta
sesuatu dari mereka, mengucapkan terima kasih karena kalian diberi pakaian
yang sebenarnya tidak halal. Demi Allah, kalian lebih banyak mendatangkan
mudharat bagi Islam daripada segala mudharat yang ada.”
Banyak syaikh-syaikh mereka yang mengumpulkan harta dari hal-hal
yang syubhat, lalu mereka membagi-bagikannya. Di antara mereka ada yang
membual tentang zuhud sambil menumpuk harta. Tentu saja keadaan ini
kontradiktif. Di antara mereka ada yang memperlihatkan keadaannya yang
miskin, padahal sebenarnya dia rajin mengumpulkan harta. Banyak juga di
antara mereka yang tega memeras orang-orang miskin dengan mengambil
zakat dari mereka. Padahal tidak seharusnya orang-orang miskin itu
mengeluarkan zakat.
Talbis Iblis terhadap Orang-orang Sufi dalam Masalah Pakaian
Ketika orang-orang sufi itu mendengar bahwa Nabi Smenambal
kainnya, dan di pakaian Umar bin Al-Khathab ^juga terdapat tambalan,
dan Uwais Al-Qarani bisa memunguti tambalan kain dari tempat pembuangan
sampah lalu mencucinya di sungai Eufrat dan menggunakannya sebagai bahan
pakaiannya, maka mereka pun sepakat untuk mengenakan pakaian yang
tambal-tambalan. Mereka terlalu jauh dalam menggunakan analog!. Memang
RasuluUah SDan para sahabat lebih menonjolkan pola hidup sederhana
dan membatasi diri dari urusan dunia. Mayoritas di antara mereka melakukan
hal ini karena memang keadaan mereka yang miskin. Telah diriwayatkan
kepada kami dari Maslamah bin Abdul-MaUk, bahwa dia pernah masuk ke
tempat Umar bin Abdul-Aziz, yang sedang mengenakan pakaian yang tampak
kotor. Lalu Maslamah menemui istri Umar, Fathimah dan berkata kepadanya,
“Cucilah baju Amirul-Mukminin.”
Istrinya menjawab, “Demi Allah, dia tidak mempunyai pakaian selain
i t u . ”
Kalau pun bukan karena keadaannya yang miskin atau karena memang
ingin menerapkan pola hidup sederhana, tentunya semua itu tidak akan ada
maknanya.
2 5 2 Perangkap Setan
Sedangkan orang-orang sufi pada zaman sekarang biasa mengenakan
dua atau dga lembar pakaian secara sekaligus, yang setiap pakaian dengan
warna tersendiri. Ada pula selembar kain yang diselempangkan sebagai hiasan.
Mereka melakukan yang demikian itu karena ingin mencari ketenaran dan
karena bisikan nafsu. Pakaian yang seperti ini banyak dilakukan orang-orang,
lalu mereka disebut sebagai ahli zuhud. Mereka berjalan dengan lagak orang-
orang salaf. Begitulah menurut anggapan mereka. Iblis membisiki mereka,
“Kalian adalah orang-orang sufi, karena memang orang-orang sufi
mengenakan pakaian seperd itu, sama dengan kalian.” Apakah engkau melihat
ada makna dalam tasawuf, dan bukan sekadar gambaran yang nyata semata?
Mereka sama sekali ddak mempunyai kemiripan dengan orang-orang salaf,
secara makna maupun gambaran nyatanya.
Menurut gambaran yang nyata, orang-orang salaf menambal
pakaiannya karena terpaksa, ddak bermaksud memamerkan pakaiannya yang
tambal-tambalan dan juga ddak mengenakan baju lain yang warna-warni.
Mereka menata pakaian tambalan itu sedemikian rupa, dan itu memang
merupakan pakaian tambalan.
Saat Umar bin AI-Khathab ̂ dba di Baitul Maqdis, dan para pendeta
dari padri bertanya-tanya tentang Amirul-Mukminin, maka yang menghadap
mereka adalah para komandan pasukan Muslimin, seperd Abu Ubaidah,
PQiaiid bin Al-Walid dan lain-lainnya. Para pendeta itu berkata, “Bukan seperti
kalian ini yang kami gambarkan. Kalian punya amir apa ddak?”
“Kami mempunyai amir ddak seperd mereka ini,” jawab orang-orang
M u s l i m .
‘Apakah dia merupakan pemimpin orang-orang ini?” tanya para
pendeta.
“Benar. Namanya Umar bin Al-Khathab.”
“Kalau begitu kirimlah utusan kepadanya, agar kami dapat berhadapan
langsung dengannya,” kata para pendeta. Mereka berkata lagi, “Kalau memang
dia, maka kami akan menyerah kepada kalian tanpa harus berperang. Jika
bukan dia, maka kami ddak akan menyerah, sekalipun kalian mengepung
kami menurut kesanggupan kalian.”
Maka orang-orang Muslim mengirim utusan untuk menemui Umar
bin Al-Khathab dan mengabarkan masalah ini. Maka dengan mengenakan
2 5 3Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
pakaian yang ada tujuh belas tambalan, Umar menemui mereka. Balikan di
antara tambalan itu ada yang menggunakan kxilit. Ketika mereka melihat
keadaan Umar seperti itu, maka mereka menyerahkan Baitul Maqdis tanpa
ada peperangan.”
Lalu bagaimana jika hal ini dibandingkan dengan orang-orang sufi yang
bodoh pada zaman sekarang?
Dari segi makna, orang-orang salaf itu benar-benar orang yang terlatih
dan zuhud. Di antara orang-orang sufi yang tercela ada yang sengaja
mengenakan kain wol di bagian dalam pakaian luarnya, menyingkap bagian
lengannya, sehingga kain wol yang dikenakannya kelihatan. Ini sama dengan
pencuri pada waktu malam. Di antara mereka ada pula yang mengenakan
kain halus di bagian dalam dan mengenakan kain wol di bagian luarnya. Ini
sama dengan pencuri pada siang hari. Lalu muncul segolongan orang yang
hendak meniru orang-orang sufi, namun mereka merasa kesulitan hidup
sederhana dan leoih suka hidup senang. Sekalipun begitu mereka tidak mau
keluar dari dunia tasawuf, agar mata pencahariannya tidak hLang. Maka
mereka mengenakan selembar kain selendang dan topi yang tinggi tanpa ada
jumbai-jumbainya. Sementara harga pakaian dan selendang kepala mereka
bisa lima kali lipat harga pakaian dari bahan sutera.
Iblis membisikkan kepada mereka, “Kalian adalah orang-orang sufi
yang mahal harganya.” Mereka ingin memadukan antara gambaran tasawuf
dan kemewahan hidup.
Di antara ciri mereka adalah berteman dengan para penguasa dan tidak
mau berkumpul dengan orang-orang miskin, karena menganggap diri mereka
terlalu agung untuk bergaul dengan orang-orang miskin. Isa bin Maryam
.&! pernah berkata, “Wahai Bani Israel, mengapa kalian datang kepadaku
dengan mengenakan baju pendeta padahal hati kalian adalah hati serigala
yang galak. Kenakanlah pakaian hamba sahaya dan lunakkanlah hati kalian
dengan rasa takut.”
Dari hlalik bin Dinar, dia berkata, “Di antara manusia ada segolongan
orang yang apabda bertemu dengan orang-orang sufi, maka mereka sama
persis keadaannya, dan jika mereka bertemu dengan orang-orang zhaliir
dan pemuja dunia, mereka mengambd bagian darinya. Jadilah kalian orang-
orang sufi di mata Allah, semoga kalian diberkahi.”
2 5 4 Perangkap Setan
Dia juga berkata, “Kalian hidup di ̂ aman yang sulit. Tidak ada yang
bisa melihat kecuali orang yang memang mempunyai penglihatan. Kalian
zaman yang banyak diwarnai kekejian. Lidah mereka mudah
mengeluarkan kata-kata, mencari dunia dengan amal akhirat. Maka
waspadailah diri kalian, agar kalian tidak terjebak dalam perangkap mereka.”
Dari Muhammad bin Khafif, dia berkata, “Aku pernah berkata kepada
Ruwaim (bin Ahmad), “Berilah aku nasihat!” Maka dia berkata,
“Korbankanlah ruh. Jika tidak mampu, maka janganlah menyibukkan diri '
dalam kepalsuan orang-orang sufi.”
Ada seseorang berkata kepada Asy-S)ibli, “Beberapa rekanmu ada yang
datang.” Yang saat itu Asy-Syibii sedang berada di masjid Jami’. Lalu orang
itu menyingkir sambiJ melirik pakaian mereka yang tambal-tambalan, sambil
melantunkan syair,
‘‘Kulihat kcTnah yang sama dengan kemah mereka
dan kulihat wanita yang tidak sama dengan uianita mereka.”
Ketahuilah bahwa meniru-niru orang-orang sufi ini hanya dilakukan
orang-orang yang bodoh. Sedangkan orang yang pandai akan tahu bahwa
yang demikian itu adalah kepalsuan belaka.
Kami tidak suka membawa kain selendang dan mengenakan pakaian
tambal-tambalan, karena empat pertimbangan;
Yang demikian itu bukan termasuk pakaian orang-orang salaf yang
shalih. Kalau pun mereka menambal pakaiannya, karena memang
keadaannya yang memaksa.
Yang demikian itu pura-pura memperlihatkan kemiskinan. Padahal
manusia diperintahkan untuk memperlihatkan nikmat Allah atas
dirinya.
Yang demikian itu menunjukkan zuhud, padahal kita diperintahkan
untuk menyembunyikan kezuhudan kita
Yang demikian itu menyerupai orang-orang yang menyimpang dari
syariat. Padahal siapa yang menyerupai suatu golongan, maka dia
termasuk golongan mereka.
Muhammad bin Thahir berkata, “Aku memasuki kota Baghdad dalam
perjalananku kedua kalinya. Di sana aku menemui Syaikh Muhammad
hidup di
1.
2 .
3 .
4 .
2 5 5Bab X: Talbis Iblis Terhadap Orang-orang Sufi
Abdullah bin Ahmad As-Sukkari untuk membacakan hadits kepadanya. Dia
termasuk orang-orang yang mengingkari golongan sufi. Kedka aku sudah
berada di hadapannya untuk membacakan hadits, dia bertanya, “Wahai Syaikh,
jika engkau termasuk orang-orang sufi yang bodoh itu, maka amat
disayangkan. Karena engkau seorang ulama yang banyak menekuni hadits-
hadits Rasulullah 0dan berusaha mencarinya.” Aku berkata, ‘'Wahai syaikh,
adakah sesuatu pada diriku yang engkau ingkari? Tunjukkanlah agar aku
mempertimbangkannya. Kalau memang ada dasarnya dalam syariat, maka
aku akan mengikutinya, dan jika ddak ada dasar hukumnya dalam syariat,
maka aku akan membiarkannya.”
Dia bertanya, “Apakah kain tenunan yang berupa pita di bajumu yang
engkau gunakan sebagai tambalan itu?”
Aku menjawab, ‘Waha




